The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

light novel Puti-legenda siamang putih-siska dian utami

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Siska Dian Utami, 2023-08-10 07:59:16

light novel Puti-legenda siamang putih-siska dian utami

light novel Puti-legenda siamang putih-siska dian utami

Keywords: light novel,fiksi remaja

151 Tirai Kembali terbuka dengan semua pemain saling bergandengan tangan, membuk hormat pada penonton. Tepuk tangan mulai menggema, saking bagusnya penghayatan mereka dalam drama ini sampai penonton yang menyaksika berfikir ada kesalahan teknis. “wah bagus sekali anak drama!!!” “tahun depan tampil lagi woi!!” “Basil jangan lupa trakter lo!!” “selamat kalian, tampilan yang bagus” “sangat menawan” “aku mintak foto ya anak drama” Dan banyak sorakan lainnya, hal ini sangat dihargai mereka yang berpartisipasi dalam penampilan ini. Puti walau dengan semua rasa pahit di tenggorokannya menyaksikan peristiwa dalam kehidupannya sebelumnya. Rasanya ia merasa bodoh dengan dirinya yang dulu, bisa-bisanya ia membuat sumpah hanya karena mereka sudah bertunangan, wajah sedih Puti diperhatikan oleh Dhatu yang menyenggil sikunya untuk mendapatkan perhatiannya. “apa yang terjadih?, ada apa dengan wajah itu?, kita mendapat respon yang baik dari penonton jadi ada apa?”. “tidak ada” senyumnya, tidak mau membuat Puti tidak nyaman ia lebih memilih melepaskannya. “mungkin orang tuanya tidak datang lagi” ungkap Dhatu dalam hati. Setelah tirai Kembali tertutup mereka disambut dengan semua rekan yang mendapat peran dibelakang panggung. Merka saling bersorak atas keberhasilan mereka, memuji betapa hebatnya mereka.


152 “terimakasih atas kerja kerasnya teman-teman, sekarang kalian bisa istirahat. Guru sudah menyiapkan orang yang akan membereskan tempat ini. Jadi kita bisa menikmati festifalnya sekarang” azada dengan santai mulai melepaskan kostusnya, mengusak wajahnya yang penuh make up. Bahkan ia tidak peduli dengan semua orang yang memperhatikannya. “benar-benar tidak peduli ya” kekeh Anulika. “lihat kamu tampil dengan menawankan” bukti Dhatu dengan seringai nakal pada Anulika. “jangan menggodanya” “Dhatu ayo cari cireng” tampa mempedulika jawabannya Bin meyeret ujung lengan pakaian Dhatu. Bahkan dengan semua protesan yang dilontarkan Dhatu ia menulikan pendengarannya. “woi Bin jangan Tarik-tarik” protes Dhatu beruusaha menahan posisinya agar tidak terseret.


153 “apaan?, gue kan cuman mengang baju lo aja jadi jangan banyak alasan” sanggah Bin dengan wajah tampa dosa yang membuat Dhatu menggerutu. “kapan mereka jadi dekat?” heran Basil tidak mengerti, bukankah mereka jarang bicar?. “ngak tau juga, mungkin Bin ngak punya teman buat diajak pergi jadi dia bawa orang yang paling ngak narik perhatian banyak orang. Ya Dhatu sih orangnya emang cuek dan ngak pedulian” pendapat Puti dengan pandangan bertanya. “biarkan saja, ayo Puti kita harus buka semua ini gerah banget pakai baju kek gini” keluh Anulika dengan tangan mengibas-ngibas seolah itu akan menghasilkan angin kencang. “baru juga dipakai sayang kalau dibukak sekarang, ayo pakai aja dulu kita keliling aja” ajak Puti dengan santai. “tapi kan… ah ok ya sudah” ia sekarang sadar apa tujuan Puti menyarankan ia tetap memakainya. Ini merupakan festifal budaya tentu saja kalau mereka keluar seperti ini akan menarik perhatian sehingga akan ada yang sekedar berfoto atau bertanya tentang pakaian yang mereka kenakan. “lah gue ditinggal!...sekarang gue mau ngapain?” tanya Basil pada dirinya sendiri, tangannya menggantung dengan bingung. Padahal ia berencana mengjak Puti berkeliling, ya mungkin saja mereka bisa dekat kan. “woi Basil dasar anak narsis, bisa juga lo main drama gitu!” perkataan ini mengejutkannya, apalagi dengan legan kuar yang mengaoit lehernya. Teman-temannya dalam tim baskes terkadang tidak bisa menahan diri sama sekali. “woi sakit lebasin apaan sih” kelus nya. “lu udah cukup banyak pengemar ini mah bakalan tambah lagi” keluh seorang teman dengan gaya yang berlebihan. “dasar bagi-bagi kek, ini diborong semuanya”


154 “dahlah yok cari makan” “bajingan lo Basil, bisa juga ya jadi berwibawa gitu” Mereka mulai menjalani satu persatu setiap stan, berwisata sambil menikmati semua yang di sajikan setiap kelas. Puti dan Anulika seperti yang diniatkan mereka menjadi pusat perhatian dengan setiap orang ingin berfoto. Banyak pula yang menanyai tentang pakaian yang mereka kenakan, yang dengan senang hati dibahas Puti sampai keakarnya. Mereka seakan menjadi mascot untuk festival tahun ini. Puti sangat senang dengan kesempatan kedua yang diberikan padanya. Awalnya memang sulit dipercaya namun semakin lama ia menjalaninya, akhirnya ia bisa menikmati kehidupan gadis malang ini. Semua perasaan gelisah yang ia rasakan mulai berkurang, mungkin dengan temanteman baru yang ia dapatkan akan semakin membuatnya membaik. Keadaan rumah juga mulai membaik, orang tuanya mulai mengerti apa yang benar-benar ia butuhkan. Saking senang nya Puti tidak menyadari dua orang yang mendekatinya dari belang. “Puti” perhatiannya langsung terfokus pada pemilik suara tersebut. “ayah? Ibu? Kenapa…” sebelum ia dapat menyelesaikan perakataannya, ia sudah disambut dengan pelukan hangat ibunya. Dan ada apa dengan wajah penuh penyesalan ayahnya. “kami sudah berusaha untuk datang untuk menyaksikan pementasanmu tapi sepertinya sudah terlambat ya” sesal ibu dengan mengeratkan pelukannya pada Puti. “maaf ya nak, kami Kembali mengecewakanmu” usapan pada kepalanya dari ayah teras sangat lembut. “bukankah aku sudah bilang kalau tidak bisa jangan dipaksakan” “nak apa kamu marah sama kami” tanya ibu sambil menatap matanya dengan sesal. “maaf ya sayang padahal ibu sudah janji”.


155 “sungguh aku tidak marah, aku mengerti bagaimana keadaanya jadi permintaan maaf tidak diperlukan. Tapi aku tetap senang ayah dan ibu datang untukku. Ayo kit acari makan” ajak Puti dengan senyum izin kepada Anulika yang hanya menyaksikan interaksi keluarga itu dengan senyum tenang. Betapa bahagianya ia melihat keluarga Puti Kembali utuh, ia iri tapi juga senang bisa melihat temannya Bahagia. “jadi karena kita sendirian, mau makan seblak” kehadiran Azada di belakangnya membuat Anulika terkaget dengan tidak elitnya. Atasgah apa ketos yang satu ini tidak punya hawa keberadaan suka sekali datang tiba-tiba. “keluargamu tidak datang?” tanyanya setelah menghilangkan keterkejutan. “tidak, ibuku sedang bekerja jam segini, adikku pastilah sekolah jadi tidak ada yang akan datang. Ikut ngak” ia mulai berjalan, melihat tidak ada yang salah dengan itu Anulika pergi mencari seblak dengan Azada.


156 Walau Azada yang mengajaknya makan seblak ia sendiri sudah memerah dengan banyak keringat dalam beberapa suap. “ngak kuat pedas rupanya toh” gelakn Anulika watados.. “mana tau gue kalau bakalan sepedas ini” sanggahnya dengan Kembali menenggak air putih. Memutar matanya “ngak pesar kok, lu nya aja yang lemah” Azada tidak menangapi apapun lagi.


157 Seharian mereka menghabiskan waktu festifal dengan kegiatan masing-masing. Basil dengan teman basketnya yang mencoba berbagai mainan tradisional. Puti yang menikmati kebarsamaannya dengan kedua ornag tuanya. Dhatu dan Bin yang mencoba berbagai jajanan pasar, dengan Bin selalu menggaram yang hanya dibalas dengusan oleh Dhatu. Disisi lain hal paling tidak terduga keanehan nyaman antara Anulika dan Azada mereka tampak akur mendatangi setiap stan. “nak bagaimana keseharianmu apa kamu menikmatinya?” tanya sang ayah dengan mengelus sayang kepalanya. “ya aku sangat menikmati semuanya” antusias Puti dengan senyum cerah pada ayah dan ibunya. “kalau begitu kamu harus bangun” kata ibunya. “apa maksut ib…” Matanya terbuka lebar dengan sembrono ia duduk yang menghasilkan sakit kepala sesaat. Mengedarkan padangannya kesekitar, ia dapat melihat ukiran kayu dan ayaman bambu yang sangat familiar baginya. Dinding kamar biasanya dihiasi dengan kain tenun yang indah dengan warna-warna cerah. Ia memperhatikan tempatnya berbaring, tempat tidur tersebut berada ditengah kamar cukup besar sangat nyaman rasanya. Bantal-bantal empuk dengan warna-warni cerah, di sekeliling tempat tidur terdapat ukiran-ukiran kayu nan indah, yang menambah kesan klasik dan tradisional. Di sudut kamar terdapat meja rias yang dilengkapi dengan cermin besar dan kursi yang tampak nyaman. Di atas meja rias terdapat berbagai macam alat kosmetik yang sangat ia kenali. Di sudut lain ada sebuah lemari besar dengan pintu-pintu yang dihiasi ukiran kayu yang indah. Di lantai kamar terdapat karpet yang lembut dengan warna merah mendominasi


158 Di sudut kamar terdapat kursi santai dengan meja kecil disampingnya, begitu nyaman untuk menikmati suasana kamar yang indah dan nyaman. “bukankah ini kamarku dikehidupanku sebagai Puti Julia?,kenapa aku bisa sampai Kembali kesini sih?, ia merasa cemas entah karena apa, semua ini sangat membinggungkan. Pintu kamarnya tebuka dengan Langkah kaki terburu, apa yang ia lihat di depan matanya tidak dapat ia percaya. “ada apa Puti, apa kamu mimpi buruk sayang?.Lihat kamu banyak berkeringat” kahwatirnya. “ini tidak masuk akal” bagaimana bisa ia Kembali ke timeline waktunya Kembali, orang yang ada di depannya ini ibunya. Ibu dari kehidupannya sebagai Puti Julia. “sudahlah, hari ini tunanganmu akan pergi berlayar. Bundo tau kalau kamu sedih dengan kepergiannya. Ayo Bersiaplah, tunangganmu sudah menunggumu di dermaga” dengan nada keibuan yang sangat ia rindukan. Mengelus rambutnya dengan lembut, tersenyum menatap wajah bingung anaknya. Kemudian ia keluar kamar dengan menyuruh Puti untuk cepat Bersiap. “apa-apaan sih ini!?, kenapa aku Kembali ke sini!?, ini mimpi atau apa sebenarnya!?” bingung Puti clingak-clinguk seperti orang nyasar. “kalau dipikir-pikir ini ada bagusnya juga, sekarang aku bisa mengubah nasip burukku. Kutukan itu bisa dihindari sekarang” entah kenapa ia ingin tertawa dengan nasip yang ia alami. Ia menyibak selimut untuk segera Bersiap-siap, ia tidak sabar untuk menemui tunangannya. Sebelum keluar kamar ia memandangbayangannya pada cermin. Wajah itu bukan lagi remaja sma yang selama ini ia jalani. Dengan senyum penuh arti ia segera keluar dari kamar tidak lupa menutup pintu.


159


160


161


162 Awan keabuan mulaibanyak memenuhi langit yang tadinya cerah, angin dingin mulai melambai menerpa kulitku. Rasanya sangat nyaman bila sampai di rumah secepatnya setelah aktifitas kami di musium tadi. “kenapa kau menatapku seperti itu?, aku bahkan merasakan lubang mengaga di keningku lewat tatapanmu itu” ujarnya dengan guyonan menggoda, pada dasarnya mengang sengaja ingin merusak moodnya. “kenapa aku harus ada dalam situasi ini sih?!” sesalnya melihat keluar jendela dengan wajah jengkel. “benar sekali kita sangat beruntung karena aku cepat membawamu ke sini. Jadi kita tidak basah deh” senyumnya makin terlihat menyebalkan dimataku. “seharusnya aku lebih cepat menghindarimu sehinga tidak perlu terjebak di sini bersamamu” kesalnya dengan mata memicing tajam menatap lawan bicaranya yang hanya membalas dengan senyum mengejek. “sudahku bilang kan kalau kita akan berkencang sehabis dari musium. Aku yakin ingatanmu tidak tumpul dengan semua kegiatanmu sebagai sekretaris osis, Dhatu” senyum main-main itu tidak lepas dari wajahnya matanya sampai menyipit. “aku tidak merasa berhutang untuk ini” dengan kesal ia memasukan sepotong kue coklat kemulutnya, tampa mempedulikan tatapan lawan bicaranya. “dan berhenti menatap makan saja cepat agar aku bisa pulang” sugutnya. “kenapa buru-buru bukannya kau tidak suka berada di rumah ya, jadi kita punya banyak waktu untuk mengobrol dari hati ke hati” menyeruput coklat panas dengan desahan nikmat diakhir. “Bin aku tidak punya waktu untuk dibuang dengan hal-hal ini” keluhnya namun tetap menikmati kue coklat yang tingal setengah.


163 “hei kita sudahi perdebatan ini nikmati saja waktu kita lagipula diluar hujan jadi kau terjebak denganku di sini suka atau tidak aku tidak peduli” ia menaik turunkan alis dengan maksut mempermainkan emosi Dhatu. “pergilah ke neraka dasar orang aneh” gumamnya, melahap potongan terahir kue tersebut. Rasanya sungguh enak mungkin ia akan datang lagi lain kali. “tidak bisa!, kalau aku jadi penghuni neraka bagaimana aku bisa menemui bidadari seperti dirimu yang tinggal di surga?” mendengar ini wajah Dhatu langsung merah sempurna, apalagi Bin menyuarakannya sangat keras sehinga pengunjung yang berada di kafe mulai menapat mereka. Bahkan ada yang mengeluh kepada pasangannya karena tidak seromantis itu. “berhenti mengucapkan omong kosong, lihat kau membuat mereka salah paham!” dengan menahan malu Dhatu berbisik. “ah! Kalau memang akan menjadi pehuni neraka mungkin aku harus meniru Hades yang menculik keponakannya Persephone untuk dijadikan istri. aku akan mengurungmu bersamaku agar tidak ada seorangpun yang bisa memandangmu lagi, hanya aku yang akan kau lihat sepanjang hidupmu. Bukankah itu ide yang bagus?...” sebelum ia melanjutkan semua omong kosong lainnya aku menyumpal mulutnya dengan pastel yang ada di meja sebelah kami. “astghfirullah…!, berhenti ngak dasar mulut lo tu bisa diem ngak sih bikin malu aja!” keluh Dhatu yang hanya ditanggapi Bin dengan menikmati pastel yang disumpalkan Dhatu. “wah Dhatu sangat romantis sampai repot-repot menyuapiku segala” dengan ekspresi geli ia melanjutkan mengunyah pastel yang ada dalam mulutnya. “sayang lihat mereka lucu sekali ya, jadi ingat masa muda” seorang Wanita dekat mereka melamun dengan senyum nostalgia. “ya tapi kalau di ingat kamu yang sering menggoda, jadi itu seperti kebalikan dari kita” balas sang pria. “hehehe masa muda masa muda” ucap seorang pria paruh baya.


164 “kya.. seharusnya kamu bisa seromantis pasangan itu, kau membosankan” keluh seorang gadis pada pasangannya. Mendengar semua ini membuat Dhatu ingin bersembuji keinti terdalam bumi saking malunya. Sebenarnya apa yang ada dalam otak Bin sehingga menarik perhatian semua orang seperti ini. “sudah ku bilang aku akan menyembunyikanmu jadi tidak perlu pergi jauh keinti bumi untuk bersembuji” dengan santai Bin menyeka sisa minyak pastel pada bibirnya, dengan menatap Dhatu mengunakan senyum konyol, yang membuat Dhatu memelototinya dengan wajah sebal, bagaimana ia tau itu. “…terlihat jelas pada wajah berkerut yang kau tampilkan, sangat tidak cocok untuk bidadari sepertimu” godanya berlanjut. “apa yang salah dengan otakmu, berhentilah membuat semua orang salah paham” keluh Dhatu dengan menghela nafas berat iya tau bahwa banyak pengunjung yang cekikikan melihat kearah mereka. “tidak ada yang salah paham di sini mereka hanya suka menonton hal-hal manis jadi biasakanlah kalau kamu jadi istriku ini akan sering terjadi” ucapnya tampa menyaring setiap kata yang ia ucapkan. Membuat banyak gadis yang mendengarnya bersorang iri pada Dhatu. Bahkan ada sekelompok orang dalam satu meja yang memparodikan pertengkaran mereka. “siapa bilang aku mau jadi istrimu!, cari saja orang lain yang tahan dengan semua omong kosongmu ini” Dhatu sudah tidak tau lagi harus menaru dimana mukanya sekarang. “tidak usah malu, lagipula kau yang mendekatiku lebih dulu jadi terima saja kosekuensinya” ia melambaikan tangannya memanggil pelayan yang segera mendekatinya, sebelum Dhatu dapat protes lebih lanjut ia memotong nya. “nah karena hujan makin deras dan suhuh terasa semakin dingin sepertinya calon istriku butuh sesuatu yang hangat. Jadi kami pesan seblak dua porsi jangan lupa yang pedas ya” dengan segera pelayan tersebut mengiayan dengan cekikikan akan kejenakaan Bin, bahkan protesan Dhatu seakan tidak ia dengarkan.


165 “berhentilah membual, kita sekarang tingat dua SMA semua yang kau katakan terdengar sangat murahan” keluh Dhatu dengan ia yang menengelamkan wajahnya pada lipatan tangannya. “hahahahah…aku suka melihat wajahmu memerah, itu lucu karena kau selalu tampak bosan disetiap pertemua kita. Jadi anggap saja ini hari liburmu tidak perlu tengang dengan topeng palsumu itu terus menerus” Dhatu tidak menanggapi apapun, ia hanya tersenyum di balik lipatan tangannya. Tidak membiarkan siapapun melihatnya. “bodoh, katakana itu pada dirimu sendiri” setelah gumaman ini tidak ada yang melanjutkan percakapan. Hanya suara hujan yang semakin deras terdengar, dengan angin yang sepertinya ribut sekali. Mereka saling lirik memahami lewat tatapan, kegiatan tatap menatap berhenti setelah seblak pesanan mereka datang. Setelah mengucapkan terimaksih mereka melanjutkan makan tampa pembicaraan apapun. Ya seblaknya cukup enak, jadi mereka melupakan percakapan untuk sekarang lebih memilih unuk menikmati kuah pedas nan hangat. Dhatu berfikir kafe ini sangat bagus dalam manunya, jadi ia pastikan akan datang lagi mungkin dengan Puti dan Anulika. “kita harus Kembali kesini lagi untuk berkencan lain kali…” godaan Bin tidak berlanjut berkat kedatangan seseorang yang menyelang dengan keras. “jadi ini yang dinamakan perjalanan dengan teman ke musium, aku yakin ini kafe bukan musium apa kau nyasar atau apa hah!?” nada yang dilontarkan sangat tajam pada Dhatu yang hanya menatap sekilas tampa mempedulikan semua nada kasar yang dilontarkan pendatang baru ini. “hei tidak perlu membentak seperti itu” protes Bin tidak suka. “aku tidak bicara padamu, enyahlah…!” bentaknya Kembali. “oh apakah ini semacam cinta segitiga?, perebutan cinta oleh duo pria tampan pasti seru” “wah drama lagi nih” “hei ayo pesan makan lagi kayaknya seru nih”


166 Dhatu menepuk keningnya dengan geraman ia bemci berada dalam perhatian yang tidak penting ini. Kenapa orang ini harus kesini segala sih. “jangan keras-keras bikin malu aja deh” keluh Dhatu memandang mereka dengan bosan, ayolah cuaca makin dingin ia hanya ingin pulang dan tidur dengan nyaman. “kalau begitu ikut aku kita bicarakan ini nanti” ia mulai menarik Dhatu untuk berdiri yang yang langsung dihentikan oleh Bin. “hei sudah ku bilang jangan kasar” “siapa kau hah!?, sudah ku bilang enyahlah” “hei berhenti membuat keributan” Dhatu mencoba menghentikan Tindakan bodoh mereka. “ku fikir kenapa lama sekali ternyata sedang drama rupanya” ucap pria yang baru saja memasuki ruangan mendekati mereka bertiga. Dengan santai ia menarik Dhatu dalam pelukannya tampa mempedulikan sekitar. “aku yang akan mebawanya pulang, kalian kalau mau adu jotos lanjut aja” ujarnya dengan santai masih dengan Dhatu dipelukannya yang tampak ingin protes namun tidak bisa. “sudahku bilang tunggu di luar saja kenapa ikutan masuk sih” kesalnya pada pendatang baru, ia Kembali menatap Bin dengan tatapan tajam. “menjauh darinya aku tidak suka ada yang mendekati Dhatu, mengerti!?” tekannya pada Bin yang tak gentar tetap menatap mata lawannya. “kenapa aku harus?, aku tidak melanggar apapun untuk dekat dengannya” lawan Bin dengan santai. “ikuti saja apa yang dikatakannya kalau tidak terima saja akibanya nanti, kau tidak akan suka” ucap pria yang masih memiliki Dhatu dalam pelukannya.


167


168 “lagipula kalian ini siapa sih ganggu kencan kami saja” keluh Bin dengan mengangkat kedua tangannya seolah menyerah dalam perdebatan. Ia menatap Dhatu yang memberinya tatapan untuk berhenti berdebat. Penonton tampak sangat menyukai drama live yang mereka lihat. Seakan benarbenar menonton tayangan di layer biokop. “kak, dek. Udah deh yuk pulang aja, kalian ngak malu diliatin banyak orang apa?. Aku Lelah dan ingin tidur” ia menusuk ulu hati orang yang memeluknya berlalu meningalkan mereka begitu saja. “oalah saudara Dhatu toh, kalau begitu salam kenal kakak ipar adek ipar” dengan santai Bin menyapa seolah tidak terjadi apapun diantara mereka tadi. “apa!? Siapa bilang gw setuju lo jadi ipar kita” keluh yang tertua, ia menggengam kerah Bin tampa ada niatan melepaskannya. “bang udahlah kita susul tuh si Dhatu ntar keburu dia kabur ke rumah temannya” perawakannya benar-benar sebelas dua belas dengan Dhatu yang biasa Bin temui di sekolah. “awas aja lo dekat-dekat lagi sama Dhatu si Aza itu sudah cukup menyita waktu Dhatu. Gw ngak butuh satu orang lagi yang akan menguras waktu Dhatu untuk keluar rumah” balas tertua. “lah kalian kan saudaranya sedangkan gw calon suaminya cepat atau lambat kalian bakalan lepasin dia juga kan” kebiasaan Bin untuk menggoda tidak pernah memudar. “Bang! Astagah udah keburu kabur tuh Si Dhatu ngapain dengerin omongan ni orang sih” keluh si bungsu sambil melihat jam tangannya. “cih… dasar…” sebelum ia bisa mengeluh lebih lanjut. “masih juga berdebat seperti anak kecil, kita pulang atau aku benar-benar akan menginap di rumah temanku” dengan nada bosan Dhatu Kembali ke dalam menatap mereka bertiga dengan tatapan mematikan, ia sudah bosan menunggu di luar dan lihat mereka masih asik berdebat.


169 “da dah sampai besok di sekolah Dhatu…” Bin melambai padanya yang hanya dibalas dengusan oleh Dhatu. “Dhatu ayo balik” ucap si bungsu dengan berani Kembali memeluknya. Si sulung mendorong kedua adiknya untuk segera meningalkan kafe. Tidak lupa memberikan tatapan tidak suka pada Bin yang hanya dibalas dengan lambaian tangan. “pada akhirnya kartu id nya masih ditanganku…” gumam Bin dengan seringai licik. “jadi apa aku harus bayar semua yang kami makan ya…” “ya semua sudah dibayar sih” ucap pelayan kafe. “wah kakak iparku baik sekali rupanya” gelak Bin. “sebenarnya yang membayar pacar anda sih” lanjut pelayan. “yah.. kecolongan donk gw, kalau begitu kita harus kencan lagi biar impas. Bukan begitu…”tanya Bin pada pelayan yang hanya dibalas dengan kekehan setuju. “ah dan satu lagi dia bukan pacarku perlu diingat ya” lanjutnya yang membuat pelayan itu bingung. “jadi kalian tidak berpacaran?” “ya tidak lah untuk apa pacaran itu adalah hubungan yang tidak jelas” keluh Bin. “lalu ada apa dengan semua gombalan mu itu” heran pelayan tersebut. “siapa yang menggombal?, jangan bercanda padaku semua yang ku katakana adalah janji yang akan ku tepati dikemudian hari. Dhatu itu calon istriku bukan pacar atau apapun itu” lanjut Bin dengan percaya diri, yang membuat pelayan tersebut semakin terkekeh lucu mendengar ocehan anak SMA yang terlalu. “kalau begitu kau harus berjuang cukup keras karena ia punya dua serigala yang menjanganya. Belum lagi ayahnya kau butuh banyak usaha agar unggul” “nah gampangnya gw tinagl dekati ibunya. Mau seberapa kuat ayah dan anak mereka akan selalu tidak berkutik kalau sudah seorang ibu yang bicara,hahahahaah…” gelak Bin dengan seriangai jahat.


170 “aku suka semangatmu anak muda pertahankan” balas pelayan kafe dengan menepuk bahu Bin cukup keras yang tidak diperotes sedikit pun olehnya. “tentu lihat saja paman” dengan itu Bin meningalkan kafe, seringai terpampang jelas pada bibirnya. Semua pelanggan mengeluh iri pada pasangan tersebut, mereka juga menikmati drama live dengan suka cita.


171 Profil Penulis Perkenalkan saya Siska, dengan nama lengkap pemberian orang tua Siska Dian Utami. Jangan tanya apa artinya karena yang memberi nama sering berkilah dengan canda gurau. Saya cukup yakin dengan banyak hal dalam hidup memiliki alasan untuk terjadi. Banyaknya pengalaman hidup dengan teman yang silih berganti menghadirkan warna yang beragam dalam hidup saya. Menulis bukan hal yang saya ahli sejak mengenalnya, bahkan tidak terbayangkan akan menyelesaikan sebuah buku dengan saya sebagai penulisnya. Ini pencapaian yang benarbenar saya impikan sejak saya mengenal sastra di kelas tiga sekolah dasar. Bagaimana guru saya memuji hasil karangan saya cukup mengherankan, karena menurutku itu biasa saja. Sampai aku menyadari bahwa hanya aku yang selesai mengerjakan tugas itu. Mulai saat itulah saya suka menbaca lebih banyak, dengan berbagai untaian indah dari banyak penulis. Sampai pada keinginan kecil untuk suatu saat menghadirkan sebuah buku yang saya tulis sendiri. Selain suka membaca dan menulis saya selalu kagum dengan adat istiadat Minangkabau. Bahkan di perantauan disaat saya tidak tau apapun tentang saya yang juga gadis Minang. Saya begitu kagum dengan setiap Gerakan tari, kokohnya Rumah Gadang sampai saya merengek ingin melihatnya sendiri. Tapi betapa kikuknya saya disaat orang tua saya jelas-jelas mendirikan Rumah Makan Padang di perantauan. Jelas saya makan enak setiap hari jangan iri untuk yang satu ini. Saya belum menyadari banyak hal, sampai akhirnya kami Pulang Abih dari perantauan. Saya semakin dalam mengenal budaya dan Bahasa ibu yang selama ini dicengkoki ayah pada saya. Setiap saraf saya selalu bergetar setiap kali mendengar eloknya petatah petitih yang saya pelajari di sekolah dasar, yang sayang sekali sudah tidak ada lagi matpel BAM. Alasan


172 simple saya ingin kebudayaan elok ini menjadi bagian dalam buku impian saya. Begitulah akhirnya saya berhasil merampungkan buku light novel dengan judul “PUTI: Legenda Siamang Putih”. Tentu kesempurnaan hanya milik Allah SWT tuhan yang maha esa. Saya sebagai mahluk serbakekurangan mengharapkan pergertian dari pembaca sekalian. Mungkin masih banyak kekurangan dari buku ini, namun dengan segala hormat segala masukan bisa pembaca keluhkan kotak person di bawah nanti. Segala masukan yang akan membangaun sangat penulis harapkan. Bagi para pembaca yang penasaran dengan kisah Puti dan kawan-kawan bisa tanya-tanya atau mampir ke sosial media penulis yang tertera. Semua pertanyaan akan penulis terima dan jawab sebisa mungkin. Bagi kalian yang merasa greget dengan akhir light novel ini bisa protes ke kontak dibawah ini ya…^ - ^ /….!!!. Kontak Person Email : [email protected] Ig : @KoeNcek_ijau / @kun_art_


173


174


Click to View FlipBook Version