51 “ lagian kita cuman jalan bareng sampai tempat parkir doang, ngak kayak kita jalan kaki juga sampai rumah bareng.” Dengan senyuman Puti membalas nya. Setelah percapakan singkat itu berahir Puti dan Anulika berpisah dengan Anulika melambai penuh semangat sambil mengucapkan sampai jumpa, dengan lambaian lemah Puti membalasnya karena mereka jadi pusat perhatian siswa yang lain dengan teriakan semangat Anulika. Membuat Puti entah kenapa jadi malu sendiri dengan tingkah kawannya itu. Hanya butuh waktu sebentar untuk menunggu sopirnya menjemput Puti untuk diantar pulang. Dalam perjalanan pulang hanya ada kesunyian yang menenangkan, sesekali sopirnya akan bertanya bagaimana harinya di sekolah yang akan dibalas dengan senang hati oleh Puti. Walau butuh waktu untuk membiasakan diri ia merasa nyaman dan secara alami membaur dengan yang lain. Mungkin memang bawaan dari pemilik tubuh ini sudah ceria dan mudah bergaul. Jadi mudah baginya untuk menyesuaikan diri. Ditambah memiliki teman seperti Anulika yang sangan membantu kesehariannya. Berdiri disampingnya seakan ia adalah cahanya sehingga perhatian semua orang patis akan tertuju padanya. Berkat itu dirinya yang kurang nyaman berinteraksi dengan banyak siswa sangat tertolong. Membiasakan diri dengan kehidupan yang jauh berbeda membutuhkan waktu. Tentu Puti menyadari banyaknya bisikan dibelakangnya setiap kali ia melewati beberapa siswa. Tentang siapa dia atau kenapa ia merubah cara berpakaiannya. Walau ia ingin menjadikannya angin lalu jauh dilubuk hatinya ia seakan tidak mau menerima itu semua. Seakan ia ingin sekali membalas semua bisikan itu dengan berteriak langsung di wajah mereka. Rasa depresi yang juga bawaan buruk dari pemilik tubuh ini. Aku belum pernah merasakan perasaan tidak nyaman ini dalam hidupku. Apa begini perasaan gelisah yang mungkin dirasakan banyak orang yang tidak pernah aku alami dalam hidupku yang tentram.
52 Lamunanku buyar oleh suara mesin yang mati, bertanda aku telah sampai. Sebelum aku bisa membuka pintunya, sopirku sudah melakukannya lebih dulu. Aku membalasnya dengan ucapan terimakasih sambil tersenyum simpul. Rumah ini tampak selalu mengagumkan setiap kali aku melihatnya. Kenapa harus membuat rumah sebesar ini kalau hanya akan ditinggali oleh tiga orang di dalamnya?. Terkadang aku bertanya dalam hati apa sebenarnya yang ingin mereka lalukan dengan rumah sebesar ini. Memasuki rumah aku mulai berjalan menuju kamarku di lantai dua rumah ini. Bahkan rasanya tempat ini sepi sekali pantas saja pemilik tubuh ini tidak tahan dengan kesendiriaan. Sebelum aku dapat membuka pintu kamarku sebuah pelukan hangat menyambutku, yang benar-benar mengagetkanku. “ sayang lah pulang mah, nah babereh lah makan siang basamo wak [sayang kamu sudah pulang nak, ayo siap-siap kita makan siang bareng].” Itu adalah ibuku, ia mencium pipi kananku lalu piki kiriku kemudian keningku. Ini sangat mengagetkan melihat ibu ada di rumah jam segini. Aku menengok ke belakan dimana ayah berada yang memberikan ku senyum lembut. Entah kenapa rasanya mataku panas dengan muatan air yang mulai mengalir dengan sendirinya. “ondeh nak ba a kok manangih ko?, apo yang salah?, ado nan jahek tdi di sikola?. [nak kenapa menangis? Apa ada yang salah? Ada yang menjahilimu tadi di sekolah?]” dengan sigap ayah langsung menghapus air mataku yang tidak bisa lagi kutahan. “ “ ado nan sakik sayang? Siko lah bia ibu caliak [sayang apa ada yang sakit nak, sini ibu lihat].” Dengan wajah panik ibuku mulai memeriksa tubuhku bolak-balik. Dengan semangat aku memeluk kedua orang tuaku dengan erat. “ndak ado yang sakik doh, ndak do yang jahek tadi doh, aia matoko kalua surang enyo…. [tidak ada yang sakit, semuanya baik-baik saja di sekolah. Air mataku menetes dengan sendirinya.” Ucapku dengan cekukan kecil, rasanya aku benar-benar menginginka ini rasa rindu dengan kehangatan pelukan kasih orang tuaku. “…raso indak ka mungkin ibu jo ayah ado dumah jam saiko, biasoe dak do si dumah doh. [rasanya ini seakan tidak mungkin
53 melihat ibu dan ayah di rumah jam segini].” Pekataanku jelas membuat kedua orang tuaku menegangkan tubuhnya sesaat sebelum menjadi rileks Kembali. Mereka mengelus kepalaku ambil mengucapkan nada penengang agar aku berhenti menangis, yang malah membuatku ingin terus menangis saja. Setelah acara peluk-pelukan itu aku mulai memasuki kamarku Bersiap menganti pakaian untuk cepat-cepat turun ke bawah. Pasti sulit untuk meluangkan waktu di jam sibuk mereka, aku harus cepat agar tidak semakin mengikis waktu berkumpul kami. Benar saja ayah dan ibu sudah duduk di meja makan dengan banyak jenis lauk pauk di atasnya. Mereka tersenyum padaku sambil melambai agar aku cepat ke sana. Baru mulai makan getaran ponsel kedua orang tuaku sudah menggagu acara makan siang kami yang tenang. Ayah dan ibu tidak menghiraukannya dan tetap makan, denga sesekali memberiku senyuman. Ibu selalu memandangku dengan sayang. Kami melanjutkan makan dengan ditemani getaran ponsel dari kedua orang tuaku. Ini sangat tidak nyaman membuat mereka harus memaksakan hadir saat ini untuk menemaniku. Setekah semua makanan kami habis para pelayan mulai mengemasi. Aku bisa melihat tatapan gelisah orang tuaku pada ponsel mereka. “ bukankah ayah dan ibu harus pergi sekarang…” saat aku mengatakan ini mereka langsung menengok kearahku dengan tatapan bersalah.”…aku tidak keberatan sama sekali, aku sangat senang ayah dan ibu meluangkan waktu untukku siang ini, tapi jangan sampai membuat ayah dan ibu melalaikan pekerjaan lain karena aku” ucapku dengan senyum menengakan. Raut wajah kedua orang tuaku masih kurang enak di pandang. Jelas mereka takut meninggalkan ku sendirian setelah apa yang terjadi terahirkali. Tapi kalau ini membuat mereka semakin susah aku juga jadi tidak enak hati. Dengan senyum cerah aku mencium pipi kedua orang tuaku, mereka tampak kaget denga napa yang baru ku lakukan. “ tidak apapa ini sudah lebih dari cukup, aku sangat menikmatinya jadi ayah dan ibu jangan malas kerjanya semangat ya” ucapku dengan penuh kasih sayang memeluk kedua orang tuaku.
54 “ tapi nak kamu akan sendirian nanti.” Ayah masih saja merasa enggan melepas pelukan kami. “benar sayang kami tidak mau kamu kesepian lagi” aku mendengar nada tercekat dalam ucapan ibu. “ ibu ayah aku sangat menyayangi kalian lebih dari apapun, aku selalu ingin pelukan ini lebih dari yang kalian tau. Tapi aku juga akan mengerti keadaan kita saat ini. Jagan jadikan aku sebagai alasan ayah dan ibu untuk membolos kerja.” Ucapku dengan main-main menggoda oaring tuaku. “ aku akan mengikuti kegiatan club sepulang sekolah jadi itu akan baik-baik saja, temanku selalu menyarankan agar aku ikut satu, bagaimana menurut ayah dan ibu?.” “ tentu saja sayang kalau itu membuatmu senang lakukanlah.” Dengan lembut ibu mencium keningku. Ayah hanya tersenyum sebagi tanggapannya. Kami berpelukan sebentar sampai ponsel orang tuaku Kembali bergetar yang membuat kami tertawa. Sengan pelukan terahir ayah dan ibu pamit untuk menghadiri pertemuan di tempat kerja. Dengan ciuman di keningku oleh ibu dan usapan di kepalaku oleh ayah aku melambai sebagai salam selamat jalan. Aku tidak boleh manja, besok mungkin aku harus mencari club yang cocok denganku. Mungkin Anulika akan sangat membantu dengan sikapnya yang antusias. Semuanya akan berbeda mulai besok. Hari ini adalah akhir dari sebuah awal, namun juga awal dari sebuah akhir. Waktunya untuk memulai lembaran baru dalam hidup ini.
55
56 Alaramku berdenging kencang, yang mulai mengusik tidur nyenyakku. Cahaya Mentari dengan malu-malu mengintip melalui celah tirai. Aku mulai bangun dengan limbung, sambil mengucek mataku mengumpulkan kesadaran. Aku merenggangkan tubuhku yang kaku dengan merentangkan tanganku. Bunyi keributan kota mulai terdengar mengganggu, obrolan klakson kendaraan saling berbisikan, menyebarkan gosip hirarki kehipupan. Kakiku mulai melangkah menuruni Kasur, menerima dinginnnya lantai kamarku. Aku mulai merapikan selimut dengan melipatnya, menepuk bantal dan Menyusun semuanya dengan rapi. Setelah ku rasa cukup memuaskan aku beranjak menuju jendelan untuk menyibak gorden kamarku. Kini cahaya sudah masuk sepenuhnya menerangi setiap sudut ruang pribadiku. Aku mulai mencari handuk dan semua peralatan yang aku butuhkan untuk Bersiap-siap mandi. Setelah semuanya beres aku mulai keluar dari kamar menuju dapur dengan menuruni tangga. Aroma manis roti panggang sudah tercium. Dapat kulihat ayah yang sedang membaca koran ditemi secangkir kopi. Ibu sedang asik bersenangdung kecil dengan mengoleskan selai kacang pada permukaan roti. Rasanya pemandangan ini selalu ingin ku lihat setiap pagi, sepertinya kehadiranku belum terlalu disadari. Dengan mengendap aku mulai berjinjit agar suaraku tidak mengusik kegiatan mereka. Aku mulai mendekat dengan seringai jahil, setelah berada tepat dibelang ayah aku dengan sigap menutup kedua mata yang sedang focus menbaca koran. Ibu melihat ini dengan tawa kecil mengiringi. “ ondeh sia ko?” dengan nada gurau ayah mulai meletakan koran yang ia baca. Tampa peringatan ayah menarik kedua tanganku sampai aku terhuyung kedepan. Hingga kini aku duduk dipangkuan ayah, aku tertawa karena tidak siap denga napa yang ayah lakukan.” Anak gadih wak kiro e mah” dengan jail ayah mulai mengelitikiku, ibu hanya melihat dengan menggelengkan kepalanya. “ usah bagaluik juo, lah jam bara hari ko?, talambek beko lai. Capek lah makan tu lai.” Dengan lembut ibu mulai menarik kursi untuk ia duduki. Aku mulai mencoba melepaskan diri dari pelukan ayah. Setelah lolos aku segera duduk di samping ibu sambil menjulurkan lidah ku untuk menggoda ayah yang dibalas dengan hal yang sama oleh ayah.
57 Kami makan dengan tenang tampa adanya bunyi dentingan yang berlebihan. Sudah ku duga apapun yang ibu sediakan akan telasa lebih nikmat. Aku makan roti panggang dengan selai coklat, meminum susu dengan sedikit madu di dalamnya. Belum genap setengah roti kami makan aku sudah merasakan getaran pada meja makan kami. Moodku turun dengan drastic, aku tau ayah dan ibu juga tampak sama. Kami saling menatap satu sama lain kemudian menertawakan apa yang baru saja terjadi. “ yak! Sepertinya hari ini akan sibuk.” Dengan desahan lembut ayah memandangku dengan tatapan minta maaf. “ tentu semangat kerjanya ayah ibu.” Ucapku dengan senyum yang dipaksakan. Melihat suasana hatiku yang buruk ibu langsung memeluku dengan mengusap kepalaku lembut. Aku tau ini akan terjadi tapi tetap saja rasanya menyakitkan. Padahal waktu sarapan cuman sebentar tapi harus terganggu lagi dan lagi. “ ayah janji kita akan makan malam bareng nanti ya, semangat di sekolahnya sayang” ayah ikut memelukku lalu mencium keningku. Sarapan kami masih tingal setengah harus ditinggalkan. Ayah dan ibu pamit untuk menghadiri rapat pagi. Sekarang aku tingal sendiri di meja makan dengan sisa sarapan kami, entah kenapa rasanya sarapanku sudah menjadi basi dengan kesunyian ini. Aku melihat jam di dekatku, sepertinya erangkat sekarang juga tidak masalah. Saat aku sedang mencuci tangan aku melihat kotak bekal dengan catatan di atasnya. Untuk bayi kecilku Dimakanya sayang, maaf kalau kami Harus pergi tampa menyelesaikan Sarapan kita lagi. Lain kali kami akan usahakan ya Sayang cinta kami Ibu dan ayah
58 Membacanya membuat aku tersenyum dengan senang, wajahku mulai memanas karena kebahagian. Mereka tidak melupakanku, mereka akan ada untukku. Aku tidak boleh menyusahkan ayah dan ibu. Ini sangat manis sampai aku ingin berteriak, dengan semangata aku memasukan catatan it uke dalam dompetku. Kotak makan siang aku genggam dengan kedua tanganku ke pelukanku, Rasanya senang sekali entah mengapa. Perjalanan menuju sekolah tidak membutuhkan waktu yang lama. Setelah sampai tepat di depan gerbang aku turun dan mengucapkan terimakasih kepada pak sopir. Kemudian aku mulai memasuki Kawasan sekolah, rasanya masih sepi dan damai. Sampai aku mulai mendengar seseorang memanggil namaku sehingga merusak kesunyian. “ PUTI, selamat pagi.” Ia berlari dengan bersemangat dengan tanggannya yang melambai-lambai kearah ku. “ jangan teriak-teriak masih pagi udah berisik aja sih Anu.” Ucapku dengan nada memarahi. “ hei karena pasih pagi makanya bateraiku masih full, semangat empat lima.” “ ok ok sekarang ayo kita ke kelas aja malu dilihatin nih” “ yah ngapain juga peduli sama mereka, biarin aja kan mereka punya mata makanya ngeliat kita. Itu tandanya kita menarik untuk di pandangi” semangatnya. “ anak cewek ngak boleh ngomong keras-keras gitu ngak baik tauk.” Nasehat Puti. “ kenapa?, kitakan harus percaya diri jangan mono aja kamu mah ngak asik Puti” renggut Anulika. “ kalau kamu teriak-teriak gitu bakalan nurunin kualitas kamu sebagai Wanita, cewek itu harus punya wibawa agar disegani” balas Puti. “ apa hubungannya coba sama aku yang pakai suara keras?” tanya Anulika dengan nada sebal.
59 “ semakin banyak suara semakin sedikit wibawa yang akan kau pancarkan. singa itu disegani bukan karena aumannya tapi karena ketenanganya.” Jelas Puti singkat sambil berjalan menuju kelas meningalkan Anulika yang termenung. “ eh tunggu aku Puti!” Anulika Kembali berteriak yang membuat Puti menhela nafas berat. Selama perjalanan Kembali terjadi perhentian sedian saat ada saja yang menyapa Anulika. Ini hanya ditanggapai Puti dengan senyum simpul melihat keceriaan temannya. Mau bagaimanapun keadaannya Anulika memang sinar matahari berjalan. Semakin terang cahanyanya semakin gelap pula bayangan yang dihasilkan. Hal ini membuat Puti yang tidak ingin diperhatikan menjadi sangat senang menjadi bayangan dari Anulika karena kalau mereka jalan berdua semua perhatian akan selalu tertuju pada Anulika. “ lo dari kelas 1-C kan, ini brosur festifal budaya buat kelas lo. Kasih ke ketua kelas lo soalnya gue cari ngak ketemu dia” dengan suara monoton yang kaku ia menyodorkan lembaran itu pada Puti. “ astagah bikin kaget aja! Dari mana sih datangnya ni orang kayak hantu aja!” rutuk Puti dalam hati dengan wajah bingung ia menerima lembaran-lembaran itu. Tampa mengucapkan sepatah katapun orang itu pergi begitu saja. “ rasanya pernah liat deh tapi di mana ya?” gumam Puti sambil melihat lembaranlembaran yang kini ada ditangannya. “ apaan tuh yang dikasih Ketos?.” Dengan semangat Anulika menyela gumaman Puti. Sebelum dapat menjelaskan apapun semua lembaran itu direbut oleh Anulika. “ wah ini fastifal buday!...” soraknya dengan semangat mengelora, “… asik bakalan banyak makanan nih”. “Jadi si Anu senenng bukan karena bisa liat festifal budayanya tapi makanan doank toh” ini hanya disampaikan Puti dalam hati saja. Namun bagaimanapun Anulika ia tetap tertawa kecil melihat kecerian temannya. “ masak cuman makanan nya aja sih budaya nya juga donk” utaraku dengan menyenggol lengan Anulika main-main.
60 “yak an tampilannya juga bakalan itu-itu aja ngak ada yang baru juga mah bosen juga litanya.” “ emang kamu pernah liat sampai selesai pas pementasanya atau pameran kebudayaan yang disediakan setiap kelas?” tanya Puti dengan nada main-main. “ kamu kan cuman ngejar jajanan aja terus makan, jajan lagi makan lagi kapan emang kamu pernah liat?” lanjutku. “ yak kan itu… dah lah pokoknya ngak seru aja.” Balas Anulika dengan terus membolak balikan lembaran untuk Festifa Budaya. “ makanya coba liat dulu kamu pasti bakalan terpesona” dengan itu mereka sampai kelas yang sudah di isi oleh beberapa siswa. Seperti biasa Anulika akan menjadi lonceng yang selalu berdentang, semua perhatian langsung tertuju padanya. Ia mulai menyampaikan tentang festifal budaya kepada semua siswa yang kini berfokus padanya. Puti hanya geleng-geleng kepala dengan senyum lembut melihat kelakuan Anulika kemudian ia berjalan ke bangkunya meletakan tasnya pada kursi mulai mengeluarkan beberapa buku dan alat tulis. Puti hanya menyimak kelas dengan tenang sampai bel kelas berbunyi., yang membuat kelas langsung buru-buru duduk di bangku masing-masing. Tidak lama setelah itu kelas dimulai yang kebetulan merupakan wali kelas mereka sendiri. Setelah satu jam pelajaran usai wali kelas kami menjelaskan tentang festifal budaya yang akan datang. Apa yang akan ditampilkan, kebuatuhan lain-lainnya disampaikan selengkap mungkin oleh wali kami. Semuanya tampak normal, kelas kami memilih untuk membuka stan jajanan pasar yang disetujui oleh wali kami. Sampai kami mendengar kabar kalau akan ada tampilan drama sebagai acara puncak Festifal Budaya. Setiap kelas harus menyertakan dua perwakilan mereka untuk ini. Kelas menjadi ricuh karena mereka tidak mau meningalkan stan yang sudah direncanakan. Mungkin lebih pada mereka tidak mau menyediakan waktu lebih untuk lebih lama berlati di sekolah. Mendengar keributan kami wali kelas menyarankan untuk mencabut nama secara acak serti arisan.
61 “ ingat siapapun Namanya yang keluar harus setuju tampa protes paham” dengan tatapan tegas wali kami menatap tidak ingin menerima protes apapun. “ ya buk!” sorang kami serentak. Wadah mulai dikocok perlahan agar semakin dramatis, dua kertas sudah keluar. Ini membuat seluruh kelas hening senjenak. Wali kami mulai membuka kertas pertama dengan mengintipnya. Sebelum ada diatara kami yang bertanya wali kami Kembali membuka kertas kedua lalu ia tersenyum menatap kami. “ ingat tidak ada yang boleh protes ini sudah titik ya awas ada diantara yang dua ini meminta ulang.” Dengan tramatis wali kami membalik nama menghadap kami yang pasti tidak dapat kami baca karena ukurannya yang kecil. “ ini perwakilan dari kelas kita, ANULIKA dan PUTI selamat kepada kalian berdua” setelah mendengar ini Anulika pasti akan menyemburkan air kalau ia sedang minum. Ia sudah mengap-mengap ingin protes tapi tidak ada yang tersuarakan karena tatapan maut wali kami. Yang membuat Puti tertawa kecil melihatnya. “ ngak bisa protes Anu jadi pasrah aja” dengan lembut Puti menyentuh bahu Anulika untuk menenangkanya. “ jadi kalian berdua akan menemui teman-teman kalian yang menjadi perwakilan kelas lainnya di ruang osis sepulang sekolah, sekian kita lanjutkan pelajarannya” erangan protes dari setiap warga kelas terdengar. Entah mengapa mereka sangat membenci pelajaran, padahal ini kegiatan yang sangat menyenangkan. Mungkin hanya aku yang mengangapnya begitu atau memang mereka yang punya selera rendah. Pendidikan adalah barang mewah dimasaku, hanya mereka kalangan bangsawan yang memperolehnya. Itupun mereka dari kau madam yang lebih diutamakan, mau bagaimana lagi Wanita pada zaman itu lebih banyak dianjurkan untuk melatih kemampuan rumahtangga saja. Sehinga aku cukup bingung mengapa anak-anak zaman sekarang mengeluh karena mendapatkan jaminan pendidikan begini?. Dengan acuh aku kembalim memperhatikan
62 guru yang sedang mengajar. Anulika selalu bembicarakan caraku memandang guru seperti aku melihat idolaku yang sedang manggung. Seakan ada binar kagum yang menyala-nyala di dalamnya. Aku tidak terlalu peduli dengan itu. Goresan demi goresan tinta pada bukuku yang putih mulai teruntai. Aku sangat menyukai kegiatan ini. Sebenarnya semua kegiatan yang dilakukan selama itu belajar aku menyukainya. Bahkan aku sekarang dapat belajar Bahasa asing juga. Memang suli awalnya tapi karena aku selalu memperhatikan guru dengan seksama kemudian bertanya bila ada yang ingin ku perjelas. Semua metode tambahan agar aku lehih mudah memahaminya membuat semua guruku menjadi menyukaiku. Sulit memang mendapat kepercayaan guru pada awalnya, seperti mereka memandangku dengan senyum bisnis dan memanggilku dengan nama ayahku. Seolah-olah aku hanya ingin mempermainkan merekalewat kekuasaan orang tuaku sebagai penyumbang dana di sekolah ini. Aku kesal tentu saja tapi mau dikata apa, hanya dengan pembuktuan semuanya dapat terbayar tuntas. Kini setiap aku mendekati mereka untuk bertanya senyum mereka tidak lagi kaku. Semuanya sudah layaknya hubungan guru dan murid yang aku inginkan. Namun seakan dihantam kenyataan, setelah aku memperbaiki hubungan dengan para guru. Aku mulai mendengar dengungang tidak sedap tentangku dari siswa lain. Padahal aku tidak mengenal mereka tapi seakan mereka ingin aku mengetahui bahwa kehadiranku tidak disukai. Mereka akan berbisik dengan kencang agar aku dapat mendengarnya. Semua itu hanya akan terjadi kalau aku kebetulan jalan sendirian, bisikan itu seakan langsung ditoakan pada telingaku. Rasanya aku sudah cukup mengabaikan semua itu, kalau kebetulan kami akan bertatap muka meraka akan menyapaku seakan kami adalah teman. Terkadang saat berjalan dengan Anulika aku mendapat pandangan buruk yang diarahkan padaku. Sebagian akan mengobrol dengan Anulika Sebagian akan menatapku seakan aku ini hama. Tentu aku tetap diam dan memberi mereka senyuman yang akan berdampak pada mereka akan menganggapku meremehkan mereka.
63 Setiap kali semua bisikan itu terdengar seakan ada tangan-tangan hitam yang terus mengerayapiku. Semakinlama semakin menumpuk semakin pekat. Aku berusaha tetap tenang dengan tidak menghiraukan perasaan itu. Tapi semakin aku tidak menerimanya semakin aku membenci diriku sendiri. Rasanya ada sesuatu didalam diriku yang menyuruhku untuk melukai diriku sendiri. Itu benar-benar menakutkan, aku harus bertahan dari rasa menjijikan ini. Aku membutuhkan pertolongan tapi dari siapa? Untuk apa aku lari? Siapa yang bisa menolongku?. Fikiranfikiran buruk mulai menggerogotiku. Tanganku mulai gemetar, keringatku mulai bercucuran. Ingatan ini harus segera kukeluarkan. Ini buruk seseorang tolong aku!, siapa saja tolong aku. “ Put..TI…PUTI!!,” teriakan itu menyadarkan lamunan burukku. Aku langsung mendongak keatas untuk melihat siapa itu. Wajahnya tampak sangat kahwatr tapi aku masih kurang jelas untuk mendengar apa yang ia katakana. Apa yang sedang Anulika lakukan? Kenapa ia bernafas seperti itu?, bernafas?, iya bernafas!. Aku langsung menghirup udara sebanyak yang ku bisa satu kali dua kali Tarik hembuskan Tarik hembuskan. Nafasku mulai tenang. Kami masih saling tatap kini wajah Anulika terlihat lega. Aku bahkan lupa kalau aku tidak bernafas. Ku edarka pandanganku keseluruh kelas. Kosong, kelas sudah kosong tidak ada orang lain selain aku dan Anulika. Apa aku terjebak dalam fikiranku lagi?. “ Puti kamu baik-baik saja?” pandangan mata Anulika sangat lembut ia mengusap punggungku dengan hati-hat,. Rasanya aku mau menangis saja.
64 “ terimakasih Anu” hanya itu yang aku ucapkan, bibirku masih terasa kelu untuk mengutarakan hal yang lain. Anulika hanya tersenyum menanggapiku, ia mulai menuntunku pergi. Kami harus menuju ruang osis untuk menerima arahan tentang apa yang akan kami tampilkan untuk festifal budaya. Kami berjalan dalam hening, bahkan Anulika hanya melambai pada setiap temannya yang menyapa tampa berhenti. Sehinga membuat mereka Kembali memandangku dengan sinis. Tentu saja itu dilakukan dibelakang Anulika. Padahal aku tidak mengenal mereka, kenapa mereka bicra buruk tentangku?. Aku hanya mencoba menjadi diriku sendiri seperti yang dikatakannya. Tapi tetap saja sulit kalau lingkungannya seperti ini. Apalagi dengan kecendrunganku untuk melukai diriku sendiri. Itu semakin mempersulit segalanya. “ Puti kita sudah sampai, jangan ngelamun terus lah.” Gurau Anulika dengan senyuman cerah. Aku tau ia ingin menghiburku yang sangat aku hargai. Aku membalas senyumnya kemudia kami memasuki ruang osis. Ternyata masih banyak yang belum datang dilihat dari banyaknya kursi yang kosong. Kami mengambil tempat dibagian pojok kanan dekat jendela yang sangat bagus melihat pemandangan dari sana. Anginnya juga sejuk dari sini, Anulika memang paling tau kebutuhanku akan ruang disaat-saat seperti ini. Aku hanya melihatkeluar jendela menyaksikan dedaunan ditiup angin, pohon-pohon bergoyang seirama. Ada burung yang sedang bercanda langit juga sangat biru ditemani awan putih seperti kapas. Setiap perwakilan kelas mulai memasuki ruangan. Mengisi setiap bangku yang kosong. Obrolan dalam ruangan ini mulai terasa lebih bersemangat. Bahkan sudah ada yang menggosip dengan Anulika. Tidak butuh waktu yang lama semua kursi sudah terisi, kini kami tingal menunggu penanggung jawab acara saja yang akan menjelaskan segala keperluan untuk tampilan kami di festifal budaya.
65 “ perkenalkan semuanya saya Azada, seperti yang kalian lihat saya adalah ketua osis dan untuk saat ini akan mengambil alih tugas ketua pelaksana acara” suaranya tegas, agak kaku diirinin dengan sikap formalitas. Kami mendengarkan semua arahan dan petunjuk yang ia sampaikan, ada beberapa yang tidak terlalu menyimak dengan obrolan dianrata mereka. “ untuk mempersingkat waktu kita akan pakai undian untuk menentukan apa yang akan kita tampilkan untuk pementasannya” Ia mengeluarkan dua gelas yang berisi beberapa gulungan kertas kecil, masing-msing bertuliskan tampilan dan pembagian peran. “ yang pertama kita akan pilih untuk mencari tau apa yang akan kita tampilkan” gelas mulai dikocok pelan sampai keluar satu gulungan kertas. “ ingat apapun yang keluar sudah sah untuk menjadi pilihan tidak ada protes tambahan” gulungan itu perlahan dibuka, alisnya sedikit menyengit setelah membacanya. “ huh…! Ini akan merepotkan…” ia menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan “…kita akan menampilkan drama.” “ wah drama…!” “ ap aitu romoe dan jainudin?” “ woi jainudin!? apaan coba Juliet, Romeo dan Juliet” “ drama romansa!” “ mungkin saja itu Putri tidur atau Rafunzel” Ruangan mulai ribut mengutarakan semua yang ingin mereka tampilkan. “ tidak satupun ini festifal budaya kenapa kalian malah berfikir akan menampilkan itu” dengan Langkah lambat ia memasuki ruangan yang membuat ruangan itu hening seketika. “ siapa?” hampir semua yang ada diruangan mempertanyakannya.
66 “ kenapa terlambat Dhatu?” tanya ketua osis “ seperti biasa” jawabnya sederhana sambil menyerahkan beberapa kertas. “…dan ini semua laporan setiap kelas untuk festifal budaya, ah iya aku juga akan ikut ambil bagian di sini sebagai perwakilan kelas.” Seisi kelas baru menyadari kalau memang ada kursi kosong di sudutt ruangan yang belum terisi. “ ok, mari kita lanjutkan. Kita akan menampilkan drama salah satu legenda di Indonesia yakni Legenda Siamang Putih” mendenar ini Puti langsung terkesiap yang mendapatkan pandangan tanda tanya dari Anulika. Namun ia hanya tersenyum tidak enak sebagai balasannya. “ ada ya legenda yang kayak gitu?” salah satu perwakilan bertanya yang diikuti anggukan setuju dari yang lain. “ kita akan cari tau itu nanti, sekarang kita akan ke pembagian peran, dalam gelas ini sudah ada setiap peran yang dibutuhkan. Sebagian akan berperan dalam drama dan akan ada yang berkerja di belakang layer. Jadi, tidak ada perotes apapun untuk peran yang di dapatkan.” Salah seorang perwakilan mengacungkan tangang “ apa boleh bertukar peran dengan yang lain?.” “ tidak” hanya itu tanggapan Azada, yang langsung membungkam semua protesan. “ aku akan mulai dari yang paling kanan, jangan dibuka dulu, tunggu sampai semuanya dapat baru buka Bersama.” Gelas mulai digilir satu persatu perwakilan kelas mulai mendapatkan peran dalam gulungan. Beberapa langsung ingin mengintip dengan tidak sabar tampa membukannya, yang lain tampak pasrah saja. “ baik ini kertas terahir akan menjadi peranku” ucapnya dengan menunjukan gelas kosong. “ sekarang mari lihat peran apa yang akan kita dapatkan.” Finalnya.
67 Puti mulai membuka gulungan itu dengan perlahan. Ia sangat tidak ingin memainkan peran nyasendiri. Gulungan itu mulai memperlihatkan huruh demi huruf, belum genap kertas itu terbuka aku dikagetkan dengan teriakan kencang Anulika. “ AH AKU DAPAT PERAN UTAMA WANITA!” ia sangat bersemangat bahkan tampa sadar mengguncangkan tubuh Puti tampa sempat melihat peran apa yang ia dapatkan. “ Ok Anu bisa berhenti aku menjatuhkan kertas peranku.” Keluh Puti Lelah. “ ah maaf Puti” mengangkat kedua tangannya dengan wajah tampa dosa ia hanya cengengesan. “ hehe kamu dapat peran apa Puti?” ucapnya mencondongkan tubuhnya agar dapat melihat kertas yang kini sudah jatuh dekat kaki Puti. “ aku belum lihat, jadi tunggu dulu” Puti mulai membungkuk untuk mengambil kertasnya yang jatuh. Membukanya dengan perlahan untuk menggoda Anulika. “ oh sepertinya aku akan jadi ibu mu” dengan senyumnya yang jelas mengejek Anulika. “ yah kenapa kamu malah dapat peran ibu sih!?’ “memang kenapa? Dari pada dapat peran yang aneh kan?” “ apa bakalan ada adegan romens nya ya?” guman Anulika. “ ya iya lah in ikan kisah cinta” sinis Puti. “ lah kamu tau dari mana kalau ini kisah cinta kan belum dikasih tau sama ketos ceritanya gimana?” dengan pandangan curiga Anulika memandang Puti yang sedikit tersentak. Ia mulai mengalihkan pandangannya kesegala arah dengan keringat dingin. “ ya aku kan asli Minangkabau jadi tau cerita ini” gugupnya “mana mungkin ku bilang kalau ini cerita hidupku, dikira caper lah nanti” rutuknya dalam hati. “ wah bagus donk kalau gitu. Apa kisahnya akan berahir seperti putri Disney?” “ mana ada, ini kisah kutukan lu pikir semua cerita romens selalu ada kata dan mereka hidup Bahagia selamanya jangan kebanyakan dongeng deh” perkataan mereka disela tibatiba yang mengejutkan Puti dan Anulika.
68 “ astagah kamu bikin kaget aja sih! Siapa coba?” kaget Anulika. “ ini Dhatu, gue dapat peran juga nih jadi pengawal” ia menggoyang-goyangkan kertas gulungan dengan malas. “ tunggu dulu” sela Anullika “ kok cewek dapat peran pengawal sih aneh banget, ngak mau tukar sama yang lain.” “kan ngak boleh tukar” ujar Dhuta malas. “ yah iya ya” “ berarti kita satu grub, aku dapat peran jadi anak saudagar namaku Basil salam kenal.” Ucap seorang siswa dengan bersemangat. “ salam kenal aku Anulika, ini temanku Puti dan yang ini teman baruku Dhatu” Anulika langsung memperkenalkan kami, ia sangat bersemangat kalau untuk menambah teman baru. Pria itu langsung meliahat kearahku dengan senyum cerah dengan tanganya yang terulur untuk ku sambut. Aku hanya menyambut uluran tanganya dengan seyuman canggung. Sebelum mereka dapat melanjutkan cerita, ketos memberikan intruksi untuk mulai berdiskusi dengan teman satu bagiannya. “ aku dapat peran dalam drama, siapa yang sama ikut denganku.” Setelah mengatakan itu Azada langsung pergi begitu saja. Melihat ini mereka langsung mengikutinya dengan tergesa-gesa. Kini mereka sudah berada dalam ruang aula, Azada tampak sedang duduk dengan beberapa lembar kertas yang ia bolak balik dengan wajah bosan.
69
70 “ ok kita mulai saja, peranku dalam drama ini menjadi Datuak Rajo Kaciak. Bagaimana dengan kalian?” “ Aku Anulika dapat peran Puti Julia, eh tunggu Namanya sama dengan mu Puti.” Melambaikan tangannya dengan semangat menunjuk dirinya sendiri. “ ya kenapa emangnya?” binggung puti dengan memiringkang kepalanya ke kiri. “ terlalu kebetulan” guman Anulika, puti hanya mengangkat bahu tidak peduli. “ aku dapat peran Sultan Rumandang, dan namaku Basil” memamerkan senyum cerahnya. “ wah siapa ni yang ku temui di sini!” ucapnya dengan arogan “ sekalian aja gw dapat peran jadi anak saudagar kaya sepertinya kita jadi saingan ya Singa pemalas” garamnya. “ lu apaan sih Bin! baru ketemu udah cari ribut aja!” kesalnya. “ lu aja yang baperan” mereka mulai melontarkan kalimat-kalimat penghinaan satu sama lain. Sebelum mereka memperparah keributan Dhatu langsung menyela dengan monoton. “ gue dapat peran pengawal, seperti yang kalian tau gue Dhatu” ucapnya dengan malas. “ cih!” dengus Bin dan Basil dengan serempak, mereka saling lirik sinis lalu membuang muka. “jadi kita akan atur jadwal Latihan dulu, aku bisa kapan saja asal itu sepulang sekolah” Azada Kembali melanjutkan. “ gue terserah ajalah” malas Dhatu dengan menguap yang ia tutupi dengan punggung tangan kirinya. “ sepulang sekolah gue biasanya ada Latihan basket” Basil memberi alasan. “ biar cepat kita pakai hari minggu untuk full Latihan seharian, hari lain sepulang sekolah setelah selesai dengan semua kegiatan tambahan, kalian bisa datang ke sini untuk Latihan juga. Tidak perlu lama mungkin satu sampai dua jam. Setuju?” Azada menengahi, sepertinya ia ingin segera pergi karena selalu melihat jam nya dengan sering.
71 Tanggapan yang kami lakukan hanya diam, saling melirik dan mengangguk setuju. Dengan itu Azada membubarkan kami untuk Kembali menghadiri kelas. “ ayok Puti!, dadah semuanya sampai ketemu pulang sekolah” dengan mengandeng tangan Puti keluar dari Aula. Bahkan basil yang ingin mengenal Puti tidak diberi kesempatan, hanya ditingalkan dengan mengap-mengap. “ eh kok buru-buru banget sih” desah Basil dengan kecewa. “ dasar singa pemalas, sana masuk kelas jagan keganjenan lo” ejek Bin dengan seringai di bibirnya. Tampa mau mendengarkan balasan dari Basil ia langsung pergi meningalkannya begitu saja. “ ni anak emang suka banget nebar galam di atas luka” perempatan imajiner berkedutkedut di pelipis Basil. Ia mehela nafas kemudia pamit kepada Azada dan Dhatu yang masih berdiam diri. “ kelompok yang menyebalkan” desah Azada Kembali duduk bersandar dengan Lelah. “ bakalan rame banget kayaknya” balas Dhatu seadanya, ia memandang Azada sebentar kemudian keluar dari ruangan, “ ah! Jangan lupa kunci ruangan ini Za”. Azada mengacungkan jempolnya tampa memandang Dhatu, ia masih bersandar Lelah membayangkan seperti apa Latihan dengan keadaan grub yang kacau menurutnya. “ tentu ini akan baik-baik saja. Apa yang lebih buruk dari ini” Sepulang sekolah seperti yang sudah disetujui mereka Kembali berkumpul di aula. Mereka entah kebetulan atau memang serentak mendapat izin untuk meningalkan club lebih awal. “ Puti bukannya ketos belum menceritakan alur dari drama kita ya?, ngapain buru-buru amat sih tadi bubarinnya kan bisa langsung aja bahas tadi. Jadi ngak perlu kita masuk kelas fisika.” Keluh Anulika dengan wajah lesu. “ ingat ada Pr fisika jangan ngalin punya ku terus, sesekali coba kerjain sendiri.” Balas Puti dengan memutar matanya.
72 “ yah kamu kan baik jadi tetaplah dermawan” ia mulai bergaya lucu untuk meluluhkan Puti, yang hanya dibalas gelengan kepala tidak habis pikir. “ jadi tidak sabar mendengar jalan ceritanya” “ tidak ada yang menarik dari kisah itu” guman Puti dengan nada suram. “ kamu ngomong apa puti?” “ ngak ada kamu salah dengar Anu” “ ngomong-ngomong kalian ada yang sudah tau cerita ini?” tanya Azada menyeluruh.” Karena naskahnya belum diserahkan pihak sekolah”. “ Puti bilang dia tau!” dengan semangat Anulika memamerkan temanya. Puti hanya menghela nafas dengan senyumcanggung. Ia tampak kurang nyaman dengan banyaknya perhatian. Bukannya ia membencinya juga. Tapi alam bawah sadarnya selalu menyuruhnya untu lari seakan ini tidak benar, seakan ia seharusnya tidak berada dalam kelompok ini. Seakan ia tidak pernah pantas untuk bergabung. Lamunannya buyar oleh tepukan lembut di bahunya, ternyata itu Anulika yang memandangnya dengan kahwatir. “ kamu termenung lagi puti, ada apa?” tanya Anulika dengan pandangan bersalah. “ tidak ada” singkatnya. “jadi bagaimana tepatnya cerita ini berjalan?” dengan lembut Dhatu bertanya walau suaranya masih terdengar malas. Puti mulai bercerita secara singkat, “ ini kisah legenda yang berasal dari Ranah Minang. Berkisahkan seorang gadis keturunan bangsawan yang begitu dimanja oleh kakeknya. Ia sangat menawan namun tidak ada pemuda yang sanggup untuk meminangnya karena status bangsawan yang ia miliki…” entah kenapa menceritakan dirinya sendiri terasa aneh. Tapi sekali lagi tidak ada diantara mereka yang tau. “ …sampai suatu saat ia bermimpi bertemu pemuda yang akan melamarnya.” Sebelum sempat melanjutkan ucapan Puti terpotong oleh pertanyaan Basil. “ wow apa pemuda itu seperti cinta sejatinya yang akan hidup Bahagia selamanya?”
73 “ lihat!, bahkan untuk mendengarkan saja lu ngak bisa dasar singa pemalas” ini dari Bin seperti biasa mencari keributan dengan Basil yang langsung disela oleh Dhatu dengan menjewer telinga mereka berdua. “ bisa diem aja ngak, ntar makin lama pulangnya gue masih ada yang mau dikerjain” sebal Dhatu kemudian melepas kedua telinga mereka. “ aduh iya maaf lanjut aja Puti” mengusap bekas jeweran Dhatu yang sudah memerah. Azada hanya menyimak tampa mau memisahkan, tidak peduli atau terlalu malas untuk membuang tenaga. Toh Dhatu dapat menanganinya. “ pada titik tertentu aku mengharapkan hal yang demikian…” dengan nada sedih Puti mualai melanjutkan, ini cukup menjadi perhatian mereka tapi tetap memilih diam. “… memang pemuda itu sungguh datang tapi setelah pertunangan ia harus pergi melanjutkan karir dagangnya. Sehingga harus meningalkan gadis itu Kembali untuk menunggu…” perhatian mereka mulai terfokus pada mata Puti yang berkaca-kaca seakan ingin menumpahkan muataya.”…hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tanhun pemuda yang menjadi tunangannya tidak kunjung Kembali sampai genap dua tahun telah berlalu”. “ di zaman sekarang tidak ada Wanita yang akan begitu setia” sela Basil dengan enteng. “ bukan hanya saat ini zaman itu pun sama, digantung tampa kepastian sangat menyakitkan. Apalagi setelah menunggu begitu lama. Bahkan dengan sumpah yang sudah mereka kumandangkan semuanya tetap sia-sia” tambah Puti dengan lesu. “ Bagaimana itu bisa sia-sia gadis itu menunggu dengan sabar?” tanya Anulika penasaran “ bukankah kesabaran selalu berbuah manis?” tanyanya tidak yakin. “sayangnya ia tidak sesabar itu, walau dengan sumpah akan menunggu seberapa lamapun ia sanggupi. Bahkan dengan jaminan bila meanggar akan menerima kutukan menjadi siamang putih. Gadis itu tetap kalah dengan kesepiannya” “ maksutmu ia melanggar sumpahnya?, bukankah pria itu adalah yang ia temui dalam mimpinya? Apa yang membuatnya goyah?”
74 “ cinta yang lain” singkat Puti memandang mereka dengan seksama. “ berarti itu peran anak bangsawan ya, bahkan dalam drama lu tetap dapat peran brengsek Basil” Kembali Bin mencari keributan. Basil ingin membalan namun ia urungkan karena mendapat pelototan dari Dhatu. “tunggu dulu! Kalau gadis itu membuat sumpah bagaimana dengan tunangannya apa ia bersumpah juga Puti?” buru-buru Anulika menanyakannya sebelum Bin dan Balis Kembali ingin ribut. “ tentu ia juga berjanji akan setia dan Kembali pada gadis itu dengan mengatakan kalau ia melanggar sumpah maka kapalnya akan termakan badai di laut.” “lalu apa yang terjadi kisah ini berahir dengan penghianatan dikedua belah pihak” tanya Dhatu. “ ya bisa dibilang begitu. Ini bukan kisah yang berakhir baik semuanya seakan sia-sia tampa adanya kebahagian. Bahkan setelah kutukan itu menjadi nyata, gadis yang sudah berubah menjadi siamang putih tetap menunggu dengan setia tunangannya. Sampai akhir hayatnya ia tidak pernah merasakan ap aitu cinta sejati”. Akhir Puti dengan helaan nafas berat seakan baru menumpahkan beban yang sudah ia tahan. “ kalau aku jadi gadis ini tidak akan mau mengambil sumpah tidak jelas begitu” ucap Dhatu dengan kesal. “ mengapa ia harus mengambil resiko yang sangat besar sedangkan pria ini bahkan tidak serius dengannya.” Lanjut Dhatu dengan nada marah. “bagaimana kamu tau dia tidak serius , bukankah mereka bertunangan” dari pada pertanyaan itu lebih seperti pernyataan dari Anulika. “ tentu saja pria ini tidak serius, kalau memang ia serius apa susahnya nikahi gadis itu kemudian bawa ia berlayar untuk berdagang Bersama toh mereka sudah menikah. Apalagi Orang Minang suka merantau jadi apa salahnya.” Perkataan Dhatu seakan menghantam Puti dengan telak. Ia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya. Yang ada dalam benaknya kala itu hanya kehidupa Bahagia yang akan ia
75 jalani seperti kedua orang tuanya. Ia begitu terpaku pada mimpi itu sampai tidak memikirkan kemungkinan lainnya. “ cerita ini sangat menyebalkan, untung aku tidak Jadi Puti Julia” ucap malas Dhatu dengan tangannya yang mengibas. “ hei ini hanya lengenda itu tidak nyata jadi jangan terlalu emisional Dhatu” perkataan Anulika membuat hati Puti berdenyut sakit. Bagaimana kalau itu nyata, apa mereka akan mempercayainya?. Apa yang akan mereka lakukan jika tau Gadis yang mereka olok-olok tepat ada di depan mereka?, ya walau ini bukan tubuhnya tapi jiwa yang mengisinya masih Puti Julia. “ Puti kamu termenung lagi, tidak usah difikirkan” Gurau Anulika dengan tepukan kecil di bahunya, Puti hanya membalas dengan senyum canggung. Ia ketauan sedang melamun lagi. “ eh!? Ma maaf Anu tadi sampai dimana?” pura-pura mengalihkan perhatian. “mungkin saja ia menerima pertunangan itu karena gadis ini merupakan bangsawan ternama di sana. Sehinga ia melangsungkan pertunanga agar proses niaganya di daerah itu lancar”. Mendengar seroloh Basil, entah kenapa Puti jadi jengkel mendengarnya, apa benar begitu?, betapa bodohnya ia mempercayain pemuda itu. “ Jadi ia menolak untuk langsung menikah dengan alasan ingin sukses dulu supaya bisa pergi tampa hambatan berarti”. “ bukankah harta warisan akan jatuh ke tangan pihak Wanita di Minangkabau?, kenapa ia susah-susah pergi lagi kalau sudah dapat hidup terjamin di sana?” bingung Basil, menatap Puti untuk kejelasan. “ bukan seperti itu konsep kerja harta warisan di Minangkabau.” Terang Puti dengan tenang, sepertinya ia akan banyak menjelaskan pada temannya. “ harta di Minangkabau terbagi jdi dua, yakni harto tinggi dan harto randah. Harta tinggi itu merupakan harta yang akan diwariskan kepada anak perempuan dalam kaum. Harta ini diwariskan turun temurun tampa boleh diperjual belikan”.
76 “ kenapa tidak boleh diperjual belikan?, bagaimana kalau ada krisis keuangan dalam keluarga?” tanya Azada yang sejak tadi hanya diam menyimak. “ karena harta tinggi merupakan kepemilikan kaum, artinya milik Bersama bukan perorangan. Kalau memang ada keadaan yang mengharuskan memakai harta tinggi itu pun cuman diperbolehkan untuk menggadainya” ucap Puti mengingat-ingat. “ ada tiga keadaan yang mengizinkan harta tinggi untuk digadai seperti mayid tabujua di tangah rumah, rumah gadang katirisan, gadih gadang alun balaki, mambangkik batang tarandam. Puti memandang teman-temanya dengan pandangan limbung. Meliaht mereka sepertinya tidak mengerti apa yang ia katakana, Kekehan kecil keluar dari bibirnya. “ pada zaman dulu semua itu merupakan hal yang krusial dalam kaum, seperti harga diri atau gengsi “ tambah Puti dengan senyum simpul. “ nah mungkin itu dulu soal harta tinggi yang diwariskan turuntemurun kepada Wanita Minang.” Ia menepuk tangan sekali dengan senyum canggung. “ bagaimana dengan harta rendah itu?, kenapa hanya perempuan saja yang mendapat harta warisan?, bukannya seharusnya yang pria lebih banyak menerima hak waris?” ini dari Anulika yang kini sedang nyemil kacang yang endah sejak kapan ia dapatkan. “ seperti kata pepatah adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah. Harta tinggi itu milik Bersama dimana pihak Wanita yang mengelolanya namun pihak prialah yang menjadi penjaganya. Jadi, walau tidak memiliki hak untuk memakai atau mengelola pihak pria ini memiliki kewajiban untuk menjaga dan melindungi harta tinggi. Kalau-kalau ada kemungkinan harta tingi ini mau di gadai itu pun harus atas izin dari pihak pria dalam hal ini niniak mamak dalam kaum. Nah kalau harta rendah itu merupakan harta yang diperoleh individu dimana pembagian warisnya sesuai syariad islam.” Puti mulai Lelah harus menjelaskan ini pada teman barunya. “ itu mengagumkan bagaimana mereka mengatur tatakelola harta warisan ini. Bukankah dengan begitu harta mereka akan tetap berada dalam kaum, aman sampai anak cucu mereka. Jadi semiskin-miskin apapun mereka akan tetap memiliki harta pusaka ini untuk dikelola.” Ujar Basil dengan penuh semangat dengan memandang Puti.
77 “ ya begitulah” singkat Puti dengan pandangan menerawang. “ baiklah kita sudai tentang harta warisan ini. Jadi bagaimana dengan Puti Julia dalam cerita ini. Kita harus mencari tau tentang banyak hal karena diantara kita hanya Puti yang tau cerita legenda ini” kening Azada sedikit berkerut memikirkannya. Ia tidak mengetahui dengan bai kapa yang harus dilakukan. Mereka tidak mungkin hanya memainkan peran tampa tau seluk beluk mendalam Adat Minangkabau. Ia sangat berharap drama yang akan mereka tampilkan memukau. Hanya ada satu cara agar mereka tampil maksimal. Ia menatap semua temannya satu persatu, sampai ia mengambil kesimpulan. “baiklah kita akan pergi ke Musium hari minggu ini” dengan satu jentikan jari ia menatap grub itu. “apa ada yang punya acara lain pada hari itu?” lanjut Azada dengan santai. Yang hanya ditanggapi dengan gelengan oleh yang lain. “ ok sudah diputuskan hari minggu kita akan ke Musium Adat, jam sembilan tidak masalah?” yang Kembali diangguki. Setelah pembicaraan itu kami semua mulai membubarkan diri, aku dan Anulika Kembali menyusuri Lorong dengan keheningan yang sangat jarang terjadi. Merasa heran dengan keterdiaman Anulika membuatku menoleh padanya. Raut wajahnya tampak berfikir keras, dengan tanganya yang terus mengotak atik rambutnya. “ Sedang memikirkan apa? Kamu tampak jelek kalau sedang befikir” ejek Puti bergurau. “ bukankah akan lebih baik kalau kamu yang memerankan Puti Julia?, rasanya kepribadianku tidak cocok dengan Gadis Minang. Aku merasa terlalu sembrono untuk bersikap Anggun atau lemah lembut seperti gadis ini “ intonasinya terdegar sendu dengan wajah redup, untuk pertama kalinya aku melihat pandangan ini. Biasanya Anulika akan sangat bersemangat akan apapun, kenapa hanya karena drama ini ia jadi begini?. “ hei ini akan baik-baik saja, kamu bisa melakukannya kita akan belajar Bersama” kataku menghiburnya dengan senyuman hangat. Wajahnya tidak terlalu berubah, namun ia berusaha memberiku senyum meyakinkan. Sebenarnya apa yang begitu mengusiknya?, aku tau ia bukan orang Minang tapi bukan berarti ia tidak dapat memerankan peran itu kan. Lagian dirinya sendiri merasa enggan
78 kalau harus memerankan dirinya lagi dikehidupan ini, rasanya aneh saja mengulangi halhal yang ia sendiri ingin lupakan. “ tentu saja Puti!” ia sudah terdengar bersemangat. “ kalau begitu sampai jumpa besok Puti” dengan tangan melambai ia berlari menuju tempat parkir, Puti yang melihat semangat temannya sudah Kembali tersenyum lega dengan membalas lambaian Kembali. Setelah berpisah dari Puti, Anulika merubah raut wajahnya menjadi masam. Ia mulai mengingat-ngingat kejadian yang lalu saat pertama kali melihat perubahan Puti. “bukankah itu Puti?, dia tampak lain ya makin cantik aja” “iya tampilannya berubah banget” “agak aneh juga liat Puti pakai baju ketutup gitu, tapi entah kenapa ia jadi makin Anggun aja” “bukan cuman itu auranya jadi kayak bangsawan yang susuah didekati” “hei bukankah yang disamping Puti itu anak seni ya?, siapa Namanya Anulika bukan ya?” “iya deh dia kan yang suka ngintilin Puti dari awal tahun ajar” “berarti ia kenal donk sama Puti ini, dia canti sih tapi potongan rambutnya terlalu pendek” “iya padahal pakaiannya feminism gitu kan kalau rambutnya Panjang kayak puti bakalan bagus jadinya” “kita deketin aja dia sapa tau ntar bisa minta nomornya aja sama Puti kan” Semua bisikan itu selalu berseliuran dekat telinganya, entah di Lorong, kantin, bahakan di ruang seni. Setiap ia berjalan selalu mendengarkan semua ocehan murahan ini. Bahkan mereka terang-terangan mendekatinya hanya untuk menanyakan apakah Puti punya tipe tertentu atau apapun itu. Setiap kali ia berjalan berdua dengan Puti semua kenalan yang ia temui di jalan akan menanyakan tentang siapa teman yang berjalan di sampingnya.
79 “hei Anulika itu siapa kok dia diem aja” bisik seorang teman Prianya. “itu Puti dia emang suka diem sih” dengan canggung aku terkekeh kecil. “udah punya pacar belum ya si Puti?” “kalau tipenya kira-kira gue masuk ngak ya?” “kalau ngak salah dia juga pinter ngak ada harapan lo mah” “sapa tau kan” Anulika mulai merasa terasingkan, ia menatap pada Puti yang membalas dengan senyum lembut. Tidak ada yang salah dengan tanggapan itu namun entah dari mana ia merasakalau itu seperti mengejeknya seakan mengatakan kalau ia lebih baik darinya. Merasa pembicaraan mulai ngelantur dan tidak ada hubungannya dengannya Anulika memilih pamit pada mereka. “eh jangan lupa tanyain tipenya ya” “buru-buru amat sih, sampein salam dari gue ya buat Puti” Muak ia hanya membalas dengan lampaian acuh tersenyum pada Puti dan mulai menuntunnya ke kelas. Ia tidak perah membenci Puti, tapi terkadang ia merasa selalu berada dibawahnya. Puti memiliki segalanya, ia punya ayah dan ibu yang selalu memenuhi kebutuhannya. Ia punya otak yang encer, juga anak dari orang kaya yang berlimbah harta. Tapi ia selalu menyia-yiakan semua itu dengan sikap pembuat onar yang ia lakukan. Walau dengan semua keonaran yang diperbuatnya Puti akan selalu keluar dari masalah karena orang tuanya. Seberapa bermasahnya ia tetap mendapat kemudahan dari semua guru. Semua wajah penjilat yang mereka tunjukan agar tidak mendapat masalah. Tapi tatapan mata Puti yang selalu kesepian seakan ingin berteriak kalau ia butuh pertolongan membuatku mendekatinya.
80 Awalnya sangat sulit untuk mendekatinya, ia selalu menjauh dengan segala macam cara. Mengatakan kalau ia hanya akan membawa pengaruh buruk yang tidak bisa ditangani oleh Anulika. Tapi karena keras kepalanya untuk menjadikannya teman membuahkan hasil yang memuaskan dahaganya. Akhirnya ia dan Puti menjadi teman, Puti mualai membuk hati untuknya. “kenapa Anulika mau berteman dengan berandalan banyak duit kayak dia” “mungkin dia kasihan sama anak itu” “iya Anulika cuman berbuat baik dengan menjadikannya teman” “diamlah mereka lewat tuh, sama Anulika yuk” Memang awalnya ia terlihat begitu terang, sampai hari itu datang. Puti yang bahkan tidak diketahui Namanya oleh siswa lain mulai bersinar. Mata hanya tertuju padanya, walau ia tau bahwa ada juga pandangan iri dan sinis tapi pandangan kagum lebih mendominasi. Sejak pulang dari liburan bersam orang tuanya Puti berubah seakan ia bukan dirinya yang dulu. Cara ia berpakaian menjadi lebih tertutup dengan rok dan kemeja Panjang. Caranya berjalan tidak lagi menunduk takut memandang orang. Melainkan tegap dengan penuh percaya diri. Setiap Langkah nya seakan kelopak bunga dan cahanya imajiner selalu menyelubunginya. Cara ia berbicara terlalu halus, senyumnya lebuh banyak menjawab pertanyaan. Tidak pernah menyela pembicaraan dengan mendadak. Selalu mendengarkan semua yang dikatakan sampai akhir tampa mau memotong. Tidak mengolok-olok atau memandang sesuatu secara berlebihan. Ini terlalu mencurigakan seakan Puti bukan lagi dirinya yang dulu. Sampai sekarang ia mulai mendengar banyak teman lelakinya yang membicarakan Puti dibelakangnya karena penasaran. Mengetahui ia yang sering berjalan berdua dengannya membuat ia menjadi sasaran pertanyaan. Yang membuat ia makin jengkel adalah tanggapan mereka saat mengetahui kalau gadis yang bicarakan merupakan Puti.
81 “gila itu Puti? Berubah banyak dia yam akin cantik” “seharusnya dari dulu aja si Puti gitu” Dan banyak lagi pujian seakan Namanya sudah terlupakan. Walau ia yang selalu berbicara kepada mereka, semua yang ingin mereka tanyakan hanya Puti inilah Puti itulah. Padahal orangnya ada di dekat mereka tapi kenapa harus kepadanya sih ditanya. “kamu ngak mau manjangin rambut aja Anulika biar kayak Puti jadih gadis sepenuhnya” Dari semua perkataan mereka ini adalah yang paling menggagunya. Mereka tidak tau apapun!, beraninya mereka menghakimin cara ia berpenampilan. Emang apa salahnya kalau rambutnya pendek?, bahkan saking tidak tahanya matanya mulai memanas yang ia tahan dengan mengepalkan tangannya. Tampa banyak kata ia hanya membalas dengan tawa ceria hampa yang tidak terlalu disadari temannya. Lamunannya terhenti dengan getaran di sakunya, memerikasa siapa yang mengiriminya pesan. Ia mendapati sms dari ibunya dan beberapa dari ayahnya ia hanya menatapnya kemudia Kembali memasukan hp itu ke dalam sakunya. Lalu mulai menaiki skuternya untuk berjalan pulang. Masaih dalam lngkungan sekolah tepatnya di sebuah Lorong menuju Gudang belakang sekolah. Terlihat dua orang siswa yang sedang berdebat sambil tetap berjalan cepat. “ woi Bin berhenti dulu, lu mau kemanasih?” desak Basil berusaha menghentikan Langkah Panjang Bin. “ bukan urusan lo, urus aja diri lo sendiri” seakan tidak peduli Bin terus melangkah menuju Gudang. “ lu masih ngak mau pulang?, ayah lu nanyain terus kapan lu pulang” mendengar perkatan Basil membuat Bin meradang, ia berhenti tiba-tiba dengan cepat ia meraih kerah kemeja Basil dengan menatap matanya sebal.
82 “ jangan bahas ini lagi! Lo pulang aja ini bukan urusan lo. Gue ngak akan pulang ngak akan pernah sekalipun!” Bin melepaskan kerah Basil dengan menyentaknya kuat. Basil hanya dapat menghela nafas berat, mengusak surainya dengan frustasi. Apa lagi yang bisa ia lakukan agar hubungan ayah anak ini tidak semakin buruk?. Mereka berdua sama-sama keras kepala dengan ego yang kuat. “ bibik aku bingung bangaimana menghadapi putramu” keluh Basil pada angin lalu, ia cemberut dengan kerutan di dahnya lalu memilih untuk meninggalkan Bin untuk menenangkan diri. Mungkin lain kali ia culik saja temannya itu agar bisa bicara empat mata dengan ayahnya. Sepertinya bukan ide yang buruk. Dengan pemikiran konyolnya Basil pergi pulang masih walau hati dongkol. Tampa mereka sadari perselisihan itu, memiliki pengamat yang hanya menyaksikan dari kejauhan Dengan tatapan yang sulit diartikan. Bin dengan Langkah kesal melangkah menuju tempat ia biasa menenangkah hatinya. Tentu itu spot kesukaannya, Gudang belakang sekolah walau hari sudah mulai senja ia tidak menhiraukannya. Bersandar dengan helaan nafas gusar ia memejamkan mata. Menikmati suasana lembab dengan aroma kayu lapuk di sekitarnya. Tidak mau hanya bermenung ia merogoh sakunya bernia mengeluarkan bungkusan rokok yang biasa ia bawa. “ lu lagi di sini, pulang sana ngapain sih mojok sendirian di Gudang.” Bahkan sebelum Bin dapat mengeluarkan rokok dari sakunya sudah diintrusi oleh suara yang familiar. Ia menatap dengan bosan orang yang menggagu waktu berharganya. “ lu lagi cewek nyebelin” deliknya dengan bosan. “ lu mau ngerokok lagi kan.” Itu bukan pertanyaan jelas ia menyatakannya dengan tajam menadang Bin tidak suka. “ iya! Lagian lu ngapa sih gusik gue terus” sebal Bin dengan dengusan malas.
83 “ pergi pulang sana lagian lu bisa ngerokok di rumah ngapain lu malah gerokok di sini coba” merotasi matanya dengan tangan bersidekap dada. “ bukan urusan lu, mending lu yang pulang cewek ngapain masih di sini coba jam segini ntar emak lu nyari” dengan ini Bin siap mengeluarkan bungkus rokoknya. Namun ia tidak menemukan apapun yang membuatnya bingung. “ mencari ini?” sebungkus rokok digoyang-goyangkan dihadapannya. Melihat itu Bin berniat merebutnya. “ eit…! Ini gue sita aja lagian lu ngak mau dengerin gue” siswa itu mulai meningalkan Bin yang memiliki ekpresi marah pada wajahnya. “ woi! Dhatu…” panggil Bin dengan nanda keras hal ini menghentikan Langkah Dhatu kemudian menengok kehadapan Bin. “ liat ini!...” ditangan Bin sudah ada benda persegi yang sangat dikenali Dhatu. “ ID lu…!” ucapnya dengan sinis. “ terus!?” balas sinis Dhatu. “ balikin rokok gue, kita barter” tawar Bin dengan seringai arogan seakan memenangkan sesuatu. “ menyebalkan” guman Dhatu “ ok ini…” Dhatu melemparkan bukusan perusak paru-paru itu kepada Bin, yang di tangkap dengan mudah olehnya. Kemudian Dhatu menegadahkan tangan kananya pada Bin meminta IDnya Kembali. Saat Bin mengulurkan ID itu pada Dhatu sebelum sampai pada tangan pemiliknya Bin menarik Kembali tangannya dengan seringai mengejek melihat wajah Dhatu yang mendelik padanya. “ hmmm ngak dulu deh” ucapnya main-main dengan Id Dhatu, “ ini bakalan gue balikin setelah kita kencan hari minggu sepulang dari Musium” tampa dosa Bin pergi begitu saja meningalkan Dhatu yang tercengong dengan Tindakan Bin. “ apa-apan sih tu anak seenakanya aja!?” menenangkan dirinya dengan menghitung sampai sepuluh Dhatu memilih mengalah. “ terserahlah “
84
85 Waktu berlalu dengan cepat, tampa terasa sudah tiba hari yang mereka janjikan. Puti seperti setiap harinya yang biasa, Bersiap-siap dengan cepat. ia tidak ingin membuat teman-temannya menunggu. Sampai-sampai ia melupakan sarapan paginya hanya untuk datang tepat waktu. “ karena buru-buru sampai lupa sarapan.” Keluhnya, ia bahkan lupa untuk sekedar minum. “ saking semangatnya aku bahkan lupa kalau ada sopir yang bisa nganter, malah lari kesini”. Berlari membuat nafasnya sendat, sedikit batuk, ia mulai mengatur nafas dan menyeka keringatnya. “ Puti kok keringetan?, kamu lari ya kesini”, mendengar suara tidak bersemangat dari belakangnya. Puti sampai terlonjak kaget dibuatnya. “ eh… Dhatu rupanya, bikin kaget aja. Maaf seprtinya aku terlalu bersemangat, malah lupa diri jadinya” gelaknya, dengan kekehan gugup merasa malu akan tindakannya sendiri. “ngapain minta maaf coba, ini aku ada roti sama susu kamu ambil gih, yuk duduk di bangku sana” tunjut Dhatu pada kursi dekat pohon manga. Ia mulai berjalan tampa menunggu jawaban Puti. Melihat ini puti langsung bergegas mengikutinya. “ terimakasih atas makanannya Dhatu” Puti mulai mebuka bungkus plastik dengan lambat. Menggigit kecil untuk mencoba rasanya. Menelan gigitan pertama matanya membola karena rasa yang ia dapat “ hmmm…ini sangat gurih dan lembut, terimakasih sekali lagi” tambahnya. “ terimakasih Kembali, aku emang sengaja bawa banyak jadi santai aja” sikapnya acuh sambil melambai tangan malas. Setelah itu mereka duduk dalam diam, menikmati sejuknya angin pagi ditemani kikauan burung. Tidak ada yang membuat suara, sangat tenang seakan mereka punya dunianya masing-masing. Walau Dhatu begitu menyukai keheningan ini terlalu canggung rasanya.
86 Mungkin karena mereka baru mengenal, atau memang keadaan ini agak aneh. Ia mulai melihat Puti yang sedang menikmati suguhannya tadi. Mempesona, merupakan kalimat yang terlintas dalam benaknya. Puti seakan menikmati roti dan susu. Mengolah, memahami, kebudian saat ia menelannya seakan kepuasan atas rasa yang ia dapat. Dhatu tidak pernah merasa masakannya akan dihargai sedemikian rupa. Seoalah ia baru saja menjadi koki untuk seoarang putri raja. Melihat ini ia jadi merasa kebanggaan tersendiri. “ mungkin aku buatkan mereka juga” tampa sadar Dhatu berguman cukup keras. “ ada apa Dhatu?, kamu ngomong sesuatu tadi?”, puti yang mendengar langsung bertanya penasaran. Dhatu hanya menggeleng sambil tersenyum simpul, yang membuat Puti enggan bertanya lagi ia mengalihkan pembicaraan “ kamu cepat juga sampai sini ya, bukannya masih kepagian ya. Apa Dhuta sama bersemangatnya denganku?” “ tidak juga, cuman ngak ada kegiatan di rumah jadi ya sekalian olahraga aja. Tapi Puti yang lebih kayak olahraga soalnya keringetan gitu” tawanya. “ ah iya jadi basah rambutku dibuatnya” keluh Puti merasakan kelembapan pada rambutnya sendiri. “ berarti Dhuta jalan santai aja donk ke sini”. “ bisa dibilang gitu, ini masih setengah jam lagi sih jadi santai aja”. “ wah kalian pagi sekali datangnya!” sapa seseorang dengan nada Lelah. “ oh Aza rupanya” sungut Dhatu dengan melemparkan roti dan sekotak susu padanya. Merasa terganggu dengan kedatangan ketua osis tersebut. Padahal ia sudah mulai bisa bicara lancar sama Puti. “ thank ya” singkat, padat dan jelas. Azada mengambil tempat duduk tepat dibawah pohon manga. Memakan roti dengan tenang tampa bicara lagi. “ dia santai sekali ya, sepertinya kalian sudah akrab.” setelah tegukan terahir susunya Puti membuang sampah tepat pada tong di sebelahnya.
87 “ aku sudah berada di osis sejak kelas satu sama sepertinya jadi wajar kami sering bertemu” “ya waktu itu juga pertama kali kita bertemu kalian juga Bersama” “ biasalah ketua sama sekretaris kan emang sering jalan bareng” “ ngomong-ngomong ini si Anulika mana ya lama juga dia” binggung Puti, temannya yang satu itu biasanya sangat bersemangat untuk hal-hal seperti ini seharusnya. Melihatnya tidak datang paling awal terasa janggal. Tapi mau bagaimana lagi ia bahkan lupa menanyakan tadi lewat wa. “ ini hari minggu jadi mungkin urusan rumah, Namanya juga cewek” sambung Dhatu. “ ah!! Aku tidak tau itu. Apa Anu lagi pergi ke sungai ya?” Puti lebih menanyakan ini pada dirinya sendiri dari pada Dhatu. Pertanyaan ini membuat kening Dhatu berkerut samar. “ ngapain ke sungai?” ia coba bertanya, melihat Puti yang sepertinya sedang merenung. Memandang jauh seakan mengenang sesuatu yang jauh. “ ya aku biasanya dulu pergi ke sungai setiap minggu untuk mandi dengan daun Nangka dan pandan Bersama teman-temanku di desa.” Mengatakan ini Puti tersenyum sampai matanya tertutup. Azada yang berada tidak jauh dari mereka hanya menyimak apa yang dibicarakan dua gadis itu dengan tenang. Lebih tepatnya tidak peduli dengan pembicaraan Wanita. “ ada apa dengan daun singkong dan pandan?, kenapa pakai itu untuk mandi?” Dhatu agaknya cukup heran dengan penjelasan Puti. Memang kapa nada sungai dekat sini sih?. “ orang tua dulu-dulu sering mewejangkan beberapa hal pada anak gadisnya” semangat Puti tiba-tiba, ia merasa senang akan pembicaraan kehidupan itu. “ daun Nangka dan panda akan menghasilkan aroma harum yang khas sehinga sangat dianjurkan anak gadis Minang untuk melakukan rutinitas ini setidaknya sekali seminggu.”
88 “ benarkah aku tidak pernah tau ini” Dhuta mulai bersemangat lagi, kalau ini ilmu baru ia tidak akan menolak toh yang lain belum datang juga. “ aku akan mencobanya lain kali, bagaimana dengan yang lain, perawatan tubuh yang berguna lainnya”. “ hmmm… aku senang Dhatu bertanya, nah ada lagi dimana gadis minang mendapat wejangan tentang larangan memakan telur asin dan lobak mentah. Oh iya lobak mentah ini maksutku kol ya” ralat Puti karena melihat wajah bertanya Dhatu. “ padahal enak” keluh Dhatu, ia akan mengurangin memakan kol mentah sekarang. Kalau telur asin ia tidak terlalu menyukainya jadi tidak masalah. “ hehe.. tidak apapa, coba menguranginya akan baik untuk mu. Orang Minang dulu sering memperingatkan anak gadisnya untuk tidak memakan ini karena akan menimbulkan bau pada tubuh terutama saat mentruasi” berbisik pada bagian akhir kalimatnya, yang diangguki Dhatu seakan mereka baru saja berbagi rahasia penting. “ kalau untuk mengharumkan badan apa ada cara yang lain? “ Dhatu selalu menjadi kutu buku untuk ilmu-ilmu langka seperti ini. Bukan tiap hari kamu akan menemui orang yang memahami resep perawatan tradisional. “ mungkin rebusan daun tapak leman atau bisa dibilang daun mangkokan. Kamu bisa merebus lima lembar daunnya untuk diminum” tambah Puti dengan senang hati. “ ok ini sangat menyenangkan, sayangnya aku tidak membawa buku catatanku. Seharusnya aku membawanya kalau tau akan dapat ilmu begini. Aku akan segera mencatatnya sesampai dirimah nanti lalu mencari tau lebih banya di internet. Resep cantik ala Minangkabau akan menjadi judul baru dalam jurnalku, akau tidak sa..” sadar denga semua gumamannya Dhatu langsung menutup mulutnya dengan pandangan bersalah pada Puti. “ hehe kamu sangat bersemangat aku senang Dhatu menyukainya. Kalau mau tanya lagi yang lain juga boleh. Mungkin mau main ke rumahku juga makin baik jadi aku akan menceritakan semuanya pada Dhatu” mata Puti tampak berbinar indah, mendapat respon positif tentang yang ia bicarakan sangat menyenangkan.
89 “ aku sangat menghargainya “ mereka mulai tertawa dengan pelan, seakan tidak mau ada yang mendengarnya. Azada yang terlupakan menarik sedikit ujung bibirnya. Ia sudah lama mengenal Dhatu, sejak awal ia selalu berfikir apa yang akan menarik minatnya untuk bersemangat. Dhatu selalu tampak malas dalam segala hal. Namun, melihat kecocokannya dengan Puti membuatnya senang. Terkadang ia melihat Dhatu terlalu fokus mengerjakan tugas osis. Ia selalu melihat tatapan bosan seakan bukan itu yang diinginkannya. Sampai suatu hari ia tidak sengaja melihatnya membaca sebuah buku yang akan kusam. Bahkan dari jauh ia yakin itu sangat berdebu. Mata Dhatu tampak bersinar, ia mulai berguman Panjang, buru-buru mencari pulpen dan kertas, menulis semua yang ia inginkan. Binar mata itu langsung meredup saat beberapa siswa melewatinya. Dari jauh saja aku tau kalau mereka mengolok apa yang dilakukan Dhatu. Ini lah alasan mengapa ia tidak pernah mau bergaul dengan siapapun di sekolah. Seakan semua orang yang ia temui hanya rekan kerja yang bisa selalu bertukar. Terkadang Azada juga berusaha memberikan judul-judul menarik untuk referensi bacaan padanya. Walau binar pada mata Dhatu tidak terlalu terlihat ia tau bahwa apa yang ia sampaikan membuatnya senang. Buktinya adalah semua judul buku yang ia sebutkan pasti sudah ada didekatnya keesokan harinya. Ia senang kini mungkin Dhatu sudah menemukan teman yang ia cari. Mereka berdua tampak sangat cocok dalam percakapan, bahkan rasanya mereka lupa kalau ada aku di sini. “ wah kalian asik sekali, kok ngak nungguin aku sih” Anulika dengan semangat yang sama seperti setiap hari. Duduk dengan tiba-tiba di samping Puti sambil memeluknya. Ini mengejutkan mereka bertiga, terkata Anulika bisa juga datang seperti hantu yang mengejutkan. “ Anu kamu mencekikku” seru Puti sulit bernafas.
90 Mendengar ini Anulika langsung melepaskannya, “ so sorry “ cegegesnya dengan wajah tampa dosa. Azada hanya mendengus kecil dengan Dhuta yang Kembali tenang. “ sekarang tinggal dua pembuat onar yang belum datang” lilik Dhuta kanan kiri, sepertinya mereka akan telat datang. Berhubung ini sudah menunjukan pukul Sembilan. “ ya itu sudah diduga dari dua anak bermasalah” ujar Azada dengan bosan. Ia cukup berharap mereka akan datang tepat waktu. “ kita tunggu sebentar lagi kalau tidak juga datang kita pergi saja tampa mereka”. Putus Azada. “ apa mereka bertengkar lagi ya di jalan?” tanya Anulika dengan wajah polos, jarinya terletak pada dagu dengan mata melihat keatas. “BIIINN…!!” Mendengar teriakan Basil yang menggelegar meyakinkan mereka kalau itu benar. Azada mengusap wajahnya frustasi sedang ketigas gadis disana hanya saling lirik kemudian tertawa. “ hari tidak akan lebih buruk dari ini kan?” pertanyaan ini tidak pernah disuarakan oleh Azada, ia hanya menatap pertengkaran Basil dan Bin dari kejauhan. Mereka sangat bersemangat untuk hari minggu. “ aku akan pesan Gocar untuk kita”. Hal ini hanya diangguki para gadis setuju. Setiba Bin dan Basil di tempat mereka berkumpul. Dapat dengan jelas mereka melihat wajah masam Basil, dengan tatapan mematikan pada Bin yang hanya memalingkan muka tidak bersalah. Puti rasanya ingin tertawa terbahak-bahak kalau saja ia tidak mengigat ajaran orang tuanya dulu. Wajah kedua temannya itu terlihat sangat lucu, seperti temannya yang selalu bertengkar dengan saudaranya. Puti tidak pernah beruntung untuk memiliki saudara baik dulu atau dikehidupannya yang sekarang. Ia selalu menjadi anak tungggal kaya raya, dengan segala kemewahan. Terkadang ia berharap memiliki saudara untuk berdebat hal-hal konyol yang tidak berarti. Kemudia setelah pertengkaran itu, mereka akan menertawakan kekonyolan mereka.
91 Bahkan sampai sekarang Basil dan Bin masih saja berdebat, walau sudah direlai Azada sepeertinya mereka bahkan tidak menganggap nya ada. Melihat tidak ada perubahan akan suasana Azada menyerah untuk menghentikan perdebatan mereka. “ berhenti bertengkar!, kalian bahkan mengalahkan kicauan burung muarai “ Dhatu mulai angkat bicara, dengan tatapan tajam, tangan bersidekap dada. Dari suaranya sudah dipastikan ia tidak ingin ada bantahan. Hal ini membuat Basil merinding, saat ingin Kembali berdebat klakson mobil menghentikan niat tersebut. “ ini pesanan kita, ayo naik kita tidak bisa membuang waktu untuk pertengkaran konyol lainnya” final Azada, ia bahkan sudah memasuki mobil dengan duduk di sebelah supir. Tampa mau memandang yang lain tidak peduli. Bergegas mereka memasuki mobil satu-persatu, dengan para gadis duduk bertiga di posisi tengah. Basil dan Bin terpaksa duduk berdua pada bangku paling belakang masih
92 dengan diiringi dorongan dan sikutan. Memeka saling menatap jengkel sebelum membuang muka satu sama lain. “ betapa bersemangatnya anak muda “ Lelah sang driver menyaksikan segala kelakuan mereka. Tentu ini hanya gumaman yang didengar Azada dengan acuh tak acuh. Perjalanan relative sunyi , hanya ada bisikan dari para gadis yang tidak dapat begitu didegar. Sepertinya mereka sedang membahas rahasia dunia lainnya. Basil dan Bin masih dengan kerutan yang sama sejak mereka harus duduk berdekatan. Dalam hal ini Basil sudah benar-benar muak dengan kekeraskepalaan Bin. Bagaimana ia bisa terus mempertahankan argumennya untuk tidak menemui orang tuanya. Pertengkaran mereka sudah hampir putus asa. Disaat ayahnya berusaha menjelaskan masalah Bin akan selalu lari seakan sudah mengerti segalanya. Hari ini ia berangkat cukup pagi untuk menemui Bin di apartemennya. Ia yakin cara paling cepat untuk berbicara dengan Bin. Perselisian antara Bin dan ayahnya sudah berlangsung sejak pernikahan keduanya. Mereka mulai berdenbat, Bin selalu beranggapan kalau ayahnya menghianati cinta ibunya. Perselisian yang berujung dengan keluarnya Bin dari rumah, hubungannya dengan Bin juga mulai memburuk sejak pernikahan itu. Mereka yang dulunya sangat dekat Bagai saudara kini sangat jauh. Bin beranggapan kalau aku merupakan perantara antara ia dengan ayahnya. Sehinga setiap kali mereka bertemu akan ribut dan saling serang, seakan musuh berbuyutan. Pertemanan mereka semakin jauh, sejak mamasuki sekolah dasar Basil hanya bisa mengawasinya tampa bisa mendekatinya. Bin tidak pernah ingin menjalin pertemanan dengan siapapun. Setiap ada yang mendekat ia akan selalu mendorongnya menjauh. Suatu hari ia melihat Bin berkelahi dengan senior, wajahnya penuh goresan, ada setitik air pada ujung matanya. Nafasnya terengah-engah, wajahnya tampak sangat puas dengan seringai kemenangan yang ia pamerkan. Di mataku Bin sangat keren, mungkin mataku berbinar memandangnya dari balik tembok. Aku tidak ingin Bin melihatku, tapi mata kami saling tatap begitu terkunci satu sama lain.
93 Pada ujung keteganganku ia mendengus berlalu begitu saja meningalkan senior yang tergeletak megelus kesakitan. Setelah kejadian itu ia sering menjadi ajang taruan para senior untuk mengalakan Bin. Bahkan dengan semua permusuhan yang ditunjukan para senior Bin tidak pernah gentar, ia melawan mereka dengan gagah berani. Walau ia selalu sendiri kemenangan akan ada digengamannya. Sehingga membuat jengkel para senior. Ia selalu beranggapan kalau perkelahian tersebut merupakan kenakalan bocah semata. Kami baru di sekolah dasar tentu aku beranggapan begitu. Tapi aku teralu naif, salah seorang senior sangat menaru dendam pada Bin sehingga ia menyewa preman untuk menghajarnya. Mendengar ini aku tidak bisa diam, rasanya dadaku bergemuruh penuh kecemasan. Bukankah ini sudah berlebihan untuk anak sd. Aku berlari sekuat yang ku bisa, suara pukulan mulai ku dengar degan nyaring. Semoga Bin baik-baik saja, kalau tidak aku akan selalu merasa tidak berguna. Janji yang aku buat dengan ibunya sangat mengikatku. Langkahku langsung terhenti, nafasku keluar masuk dengan cepat, mataku membola sempurna. Sial aku tau dia sangat mengagumkan, bahkan dengan preman sewaan ia masih menang dengan wajah pongah. Aku terkekeh dengan serigai mengusap wajahku kemudian tertawa. “ bodohnya aku menghawatirkanmu Bin “ gumamku sebelum Bin berbalik melihatku aku berlari menjauh. Sejak itu aku tidak pernah ragu akan kemampuan baku hantam Bin. Terkadang aku berfikir mungkin ia mau mengikuti kompetisi atau apapun itu untuk mengasah kemampuannya. Namun saat ayahnya mengetahui perkelahian Bin dengan preman itu mereka mulai berdebat lagi. Aku tau ayahnya hanya kawatir, tapi dari tatapan mata Bin aku dapat melihat kekecewaan dan rasa sakit. Sejak hari itu Bin tidak pernah berbicara lagi dengan ayahnya, jangankan berbicara sekedar menatap matanya saja sudah jarang. Ia sering keluar rumah, pulang larut malam, dengan banyak lebam dan goresan.
94 Hal ini semakin membuat ayahnya marah namun tatapan itu aku selalu yakin bahwa rasa kahwatir lebih besar. Tapi Bin akan selalu menjadi Bin, ia tidak pernah bisa melihat itu. Untuk menenangkan hati ayahnya aku berjanji akan selalu mengawasi Bin. Setiap hari aku akan menceritakan apa saja yang ia lakukan. Terkadang ayahnya tersenyum, kadang akan ada tatapan sendu. “ aku yakin Bin akan jadi petinju dengan kemampuannya yang sekarang” kekehku dengan semangat, ayah Bin juga ikut tertawa walau tatapan kahwatir tidak lepas darinya. “ awasi Bin untukku ya, nak” permintaan yang sama dengan ibu Bin, “ dia tidak mau mendengarkanku, kamu adalah temannya jadi ia akan lebih terbukan denganmu. Diakui atau tidak dia selalu menyebutmu sebagai adiknya. Setiap kali ia menceritakan kemersamaan kalian wajahnya sangat senang melebihi saat ia mendapat hadiah yang ia tunggu selama sebulan”. Kepalaku mulai mendapatkan usapan sayang. “ kenapa aku yang jadi adik disini “ ambekku dengan wajah pura-pura kesal, Ayah Bin hanya tertawa sebagai tanggapan. “ berjanjilah padaku nak, kamu akan selalu ada untuknya seberapapun ia mendorongmu pergi “ kelingkingnya teracung tepat di hadapanku, senyumnya jelas penuh harap. “ bahkan tampa janji ini aku akan selalu berada di belakangnya, mengawasi punggungnya sampai suatu saat nanti kami Kembali berjalan bersebelahan” kelingking kami bertautan dengan senyum lega ayah Bin dan wajah penuh tekatku. Lamunanku buyar berkat lemparan handuk pada wajahku, aku menatap sinis pelaku yang hanya menunjukan seringainya yang biasa. “ wajah mu makin jelek aja kalau lagi mikir gitu “ ejekan dengan seringai yang paling aku benci dari Bin. “ jangan cari gara-gara dah, gue diem aja lo mulai-mulai!” amukku dengan Kembali menembalikan handuk yang ia lempar padaku tadi.
95 “ Diam kalian!!” hanya dengan geraman Dhatu mereka langsung menghentikan niat baku hantamnya. Perjalannan Kembali hening, Basil mendengus dengan menyandarkan punggungnya Lelah. Perjalannan masih Panjang, terjebak dekat dengan Bin akan membuatnya sangat gatal ingin menanyakan banyak hal. Ia mengusak wajahnya sebal dengan keadaannya saat ini. “ Apa?” tiba-tiba Bin bertanya dengan suara pelan, aku menatapnya dengan tanda tanya besar di wajahku. “ wajah bodohmu semakin menyebalkan kalau sedang ingin bertanya” pandangan Bin tetap lurus kedepan, seolah bukan aku yang ia ajak bicara. “ dari semuanya, gue lebih tertarik dengan alasan lo main volley pas sma. Kenapa volley?, bukankah lo jelas suka baku hantam, jadi petinju lebih cocok, kenapa berhenti?” itu sudah menjadi pertanyaanku sejak lama. Sejak memasuki smp Bin mulai berlatih dengan lebih serius, mengikuti turnamen bahkan memenangkannya. Ayahnya sangat senang dengan semua keberhasilan Bin diluar semua memar yang ia dapat tentunya. Namun, sejak memasuki sma bin hanya berlatih sekali seminggu. Mulai jarang mengikuti turnamen sampai membuat pelatihnya mengeluh karena menyia-nyiakan bakatnya. Paling parah ia memilih bermain volley yang memegang bola saja tidak pernah. Aku tidak habis pikir dengan jalan otak nya. “ heh..” seringai itu lagi “…dia sangat manis dengan tekat di matanya yang cantik, jadi apa salanya kalau gue ambil tekatnya itu” ok ni Bin emang konslet kayaknya. “ lo ngomong apa coba?” tanya ku heran, “ apa hubungannya sama pertanyaan gue?!” kesalku. “ hei..” panggil Bin dengan tenang. “ untuk yang satu ini gue pengen simpan sampai dia sadar kalau itu gue”. Tatapannya menjadi tajam penuh tekat. “ tunggu dulu apa lo…” bahkan tampa menyelesaikan kalimatku aku mengerti dari tatapannya. Bahkan senyum yang ia perlihatkan kepadaku sudah cukup meyakinkan yang
96 aku pikirkan benar. “ sial lo lagi jatuh cinta!” sial gadis itu pasti sangat menarik perhatiannya, sampai-sampai Bin rela melepas sarung tinjunya. “ apa yang salah dengan itu, bocah kecil yang bisa menjatuhkan preman dengan sekali hantam, sangat mengagumkan”. Wajah Bin jadi penuh obsesi, yang membuatku sedikit merinding. “ lo pedofil” bisikku tidak percaya. “ bukan goblok, gue ketemu sama dia pas kelas enam sd ya kalau gue sebut bocah masih pantes” jelasnya tidak lupa satu pukulan dibelakang kepalaku. “ sialnya sekarang pas ketemu dia malah ngak kenal sama gue!, nyebelin banget”. “ wajah lo babak belur kali pas ketemu dia. Wajar kalau ngak inget” gumamku tidak ingin mendapat lirikan tajam Dhatu lagi. “ nah iya juga ya!, sekarangkan gue udah ganteng gini mana kenal dia” kalimat percaya diri Bin membuatku mual. Astagah kapan terahir kali kami bicara seperti ini, sebagai teman bukan saling melempar hinaan. Gadis ini kalau ketemu harus sungkem sama dia, emang cinta bikin orang jadi bodoh tiba-tiba. Sementara itu para gadis sedang membicarakan hal-hal acak dengan topik yang selalu diangkat oleh Anulika, dimana Dhatu hanya menyimak sesekali mengiyakan atau hanya mendengus tidak setuju. Puti sendiri hanya tersenyum dengan setiap lelucon yang diutarakan Anulika. Mereka mulai akrab tampa disadari. Mengisi setiap celah yang kurang dari masing-masing orang. “ Bin dan Basil sekarang mulai berbisik-bisik” rasa penasaran Anulika Kembali memuncah melihat keakraban duo pembuat onar. “bukankah baik kalau mereka tenang sesekali” balas Dhatu dengan hembusan nafas pelan, ia tampak Lelah atau mulai bosan dengan perjalanan ini. “Namanya juga kawan, kalau aku yang liat mereka seperti saudara yang kalau dekat selalu pengennya saling senggol” mengingat bagaimana temanku dengan saudaranya yang
97 membuatku iri. “baitulah badunsanak jo basaudaro, dakek mako ka berang, jauah mako ka sayang. Hubungan yang tidak pernah beruntung aku miliki. Baik sekarang tau dulu sama saja, aku selalu menjadi anak tunggal”. “walau aku tidak mengerti maksut mu dengan kata dulu itu, seakan kamu memiliki kehidupan sebelumnya. Tapi yang jelas sama seperti Bin dan Basil kamu bisa menganggap kami saudaramu juga Puti. Bukankah Anulika bisa dibilang dekat denganmu, sekarang aku juga bisa masuk di dalamnya” senyum dan sentuhan lembut Dhatu mengobati kekosongan yang selalu dirasakan hatinya. “benar sekali, aku juga sendiri jadi kita akan berbagi sebagi saudara kalau itu menyenangkan hatimu Puti” menepuk dadanya dengan hidung terangkat Anulika dengan bangga memamerkan dirinya. Rasanya ingin menangis, tapi aku sangat senang dengan teman yang ada disisiku. Belum pernah aku benar-benar merasakan orang yang mau menjadi temanku tampa memandang status bangsawanku. Dulu bagaimana pun aku menganggap mereka adalah teman, perlakuan mereka lebih seperti terpaksa, senyum dan segala yang mereka perlihatkan padaku tidak pernah murni. Jadi, ini dia perasaan rindu yang aku rasakan selama ini akhirnya bisa terbalas. Memiliki seseorang karena aku sendiri bukan keharusan semata. “sebentar lagi kita akan sampai” peringatan itu berasal dari Azada yang mengamati rute kami lewat hpnya. Segala yang kami bahas langsung berhenti, bahkan aku lupa kalau ada Azada saking diamnya ia. Perjalanan Kembali berjalan tenang, aku memandang keluar jendela hari tampak sangat cerah dengan lalu-lalang manusia serta kendaraan. Sungguh kota yang sibuk dengan segala hal yang tidak mungkin dapat ku lihat dulu.
98 Akhirnya perjalan kami mencapai tujuan, kami turun dengan sedikit cekcok Bin dan Basil. Tentu kami tidak teralu menghiraukannya, aku memperhatikan sekitar dengan seksama. Tempat ini cukup ramai mungkin karna hari libur. “ baiklah ayo kita mulai saja, tujuan kita untuk mempelajari lebih jauh budaya Minangkabau. Jadi pastikan kalian fokus dan tidak membuang-buang waktu untuk pertengkaran yang tidak perlu” kaliamat terahir secara khusus ditujukan pada Bin dan Basil. “ ok ok gue ngerti” dengan tangan terangkat menunjukan penyerahanya pada tatapan Azada. Basil hanya mendengus lalu membuang muka, sedang Bin menunjukan wajah mengejek seakan tidak peduli dengan peringatan Azada. “ayo masuk!” Anulika dengan semangat menyeret dua gadis lain nya meningalkan tiga lainnya cengong. “dia selalu besemangat untuk segala hal” ungkap Basil dengan wajah heran. “bersemangat Bagai balita” dengus Azada kemudian berlalu begitu saja, yang diikuti dua lainnya. Dalam musium mereka meliaht banyak hal, berbagai macam peralatan masak tradisional, bumbu-bumbu yang bahkan tidak bisa mereka ingat dengan bai kapa perbedaannya. “hei Puti kira-kira apa yang harus ku pelajari pertama kali tentang gadis Minang ini?” tanya Anulika dengan gaya berbisik seakan ingin merahasiakan dari yang lain. “mungkin pantang duo baleh gadih Minang akan menjadi dasar yang baik untukmu” mengapit dagunya dengan gaya berfikir puti menjelaskan. “dimana aku bisa melihatnya di sini?” Kembali Anulika bersemangat sampai menarik perhatian pengunjung lainnya. “tidak ada, itu pelajaran lisan bukan hal yang bisa dipamerkan pada museum” pandang Puti melihat patung dengan pakaian adat tradisional Minangkabau. “bahkan museum ini tidak selengkap itu” tambahnya.
99 “percuma donk ke sini” rengek Anulika dengan kekanak-kanakan. “tidak juga, kita sudah mendapatkan gambaran apa saja yang diperlukan untuk persiapan panggungnya. Dasar-dasar pengetahuan secara umum juga sudah kita dapatkan. Jadi tidak ada yang Namanya percuma” Dhatu mengatakan ini sambil mempeerlihatkan notebook yang entah kapan ia dapatkan kini sudah penuh dengan semua tulisan. “wah Dhuta sangat cepat tanggap” kagum Anulika dengan mata berbinar. “kita sudah dapat mempersiapkan kostum dan tata panggung dengan ini” Azada tiba-tiba muncul di belakang Dhatu sambil memperhatikan catatan yang ia buat dari balik bahunya. “jangan muncul seperti hantu Aza!” notebook ditanganya menghantam wajah Azada dengan tidak elitnya. Hal ini membuat Bin tertawa namun ia menahanya dengan tangan. “hei jangan kasar Dhuta!” mengusap wajahnya dengan tatapan tidak terima pada Dhatu. Tentu ini tidak mengefek apapun pada Dhatu yang hanya mendengus tidak peduli. “hei Puti pantang duo baleh itu apa?” tidak peduli dengan keadaan Azada kini Basil bertanya. “ya aku akan mempelajarinya dari gadis Minang langsung” Anulika Kembali dengan binar cerah pada matanya. “tentu kita bisa cari tempat duduk karena ini cukup Panjang untuk dijelaskan” tuntun Puti menuju kursi terdekat dari mereka. Tempat yang mereka pilih cukup sejuk untuk memulai percakaan yang Panjang. Ada banyak tanaman hijau dan bunga-bunga disekitarnya. “baik kita mulai dari pantang duduak” Puti memulai. “ duduk dilarang gitu?” heran Anulika. “jangan menyela dengar dulu baru komentar” Dhatu ambil suara.
100 “ok sorry” kekeh Anulika dengan menunjukan dua jarinya pada Dhatu. Ketiga pria dalam kelompok itu hanya menyimak untuk mendengarkan. “ begini sumbang duduak atau pantang duduak merupakan sopan santu perempuan Minangkabau dalam posisi duduknya. Perempuan haruslah duduk dengan posisi bersimpuh, bukan bersila atau menyilangkan kaki macam laki-laki. Apalagi mencangkung atau menegakkan lutut itu sangat tidak sopan. Kalau duduk di atas kursi duduklah dengan menyamping, rapatkan paha itu memperlihatkan keanggunan seoarng perempuan Minang”. Mendengar ini Anulika langsung memperbaiki posisi duduknya. “bagaimana dengan berbonceng atau mengendarai motor atau sepeda?” tanya penasaran Basil dengan mulutnya yang penuh roti pemberian Dhatu, yang mendapat pelotitan instan darinya. “telan dulu baru ngomong dasar ceroboh!” kesal Dhatu. “lanjutkan saja Puti” “nah berhubungan dengan itu, dahulu Wanita tidak mengendarain apapun. Mereka akan selalu diantar oleh wali mereka. Kalau berbonceng dipastikan tidak boleh mengangkang. Ini akan berlanjut pada sumbang jalan dimana gadis Minang tidak boleh jalan sendirian, harus berkawan yang paling kurang dengan anak kecil. Berjalan dengan stabil tidak boleh tergesa-gesa, apalagi mendongkak-dongkak”. Puti Kembali memandang teman-temannya. “kalau berjalan dengan lelaki ia akan jalan di belakangnya untuk menghindari fitnah atau perkataan buruk lainnya dari masyarakat dan tentu saja tidak boleh menghalangi jalan Ketika bersam dengan teman sebaya”. Dengan senyuman Puti menjelaskan. Mereka tetap diam dan menyimak dengan seksama. Bahkan Dhatu sudah mencatat banyak poin pada notebook nya. “kemudian kalau ada sumbang duduak tentu aka nada sumbang tagak dimana perempuan Minagkabau dilarang berdiri di depan pintu atau tangga. Berdiri di pinggir jalan tampa ada yang dinanti juga tidak diperbolehkan. Nah yang paling krusial ialah sumbang berdiri berduaan dengan yang bukan muhrim” kalimat terahir aga kia tekankan, melihat bagaiman teman-temanya di sekolah yang tidak mengerti jarak sangat menggangguna.