The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

light novel Puti-legenda siamang putih-siska dian utami

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Siska Dian Utami, 2023-08-10 07:59:16

light novel Puti-legenda siamang putih-siska dian utami

light novel Puti-legenda siamang putih-siska dian utami

Keywords: light novel,fiksi remaja

101 Ia tidak mengerti kenapa mereka semua tidak menghargai dirinya sebagai perempuan. Mau saja digandeng, disentuh, duduk berdekatan tampa jarak dengan lawan jenis. Bahkan bukanaya risau atau tidak nyaman mereka malah terlihat senang. Sepertinya mengan sekarang ini sendok nan mangaja bubuie, karambia mamanjek baruak sudah biasa. Benar-benar miris betapa Wanita itu sendiri yang menghancurkan dan merendahkan dirinya sendiri. Sebelum ia bertambah kesal Puti melanjutkan. “ selanjutnya sumbang kato dimana gadis Minang diharuskan bertutur kata lemah lembut, berkata dengan perlahan agar dapat didengar maksutnya dengan baik. Mendengarkan orang yang sedang bicara dengan baik, tidak menyela pembicaraan orang dengarkan sampai selesai terlebih dahulu. Selalu berkata-kata yang baik” Mendengar penjelasan ini Anulika merasa dihantam batu besar. Walau ia yakin Puti tidak bermaksut menyindirnya sama sekali. “selanjutnya ada sumbang caliak dimana akan kurang tertib bagi seorang Wanita Ketika suka menantang pandangan lawan jenis jadi alihkan pandangan pada yang lain atau menunduk akan lebih baik. Sifat malu ini harus ditanamkan pada setiap hati anak gadis sejak dini” ia diam sesaat untuk melanjutkan. “ nah selanjutnya merupakan pembelajaran langsung yang dipraktekan oleh Basil tadi” mendengar Namanya disebut Basil menunjuk dirinya sendiri dengan wajah binggung. “ ya ini sumbang makan jadi makan pastilah memiliki aturannya sendiri dalam masyarakat. Pantang makan sambil berdiri, jika makan dengan tangan genggam nasi dengan ujung jari. Bawa kemulut pelan-pelan, dan jangan membuka mulut terlalu lebar. Ketika makan dengan sendok jangan sampai sendok beradu dengan gigi. Ingat-ingat kalau ingin menambah makan, ambil seperlunya jangan berlebihan kalau masih lapar tambah sedikit. Ini dimaksutkan agar tidak ada nasi yang terbuang” ia tersenyum lalu memandang Basil “ tentu saja tidak boleh makan sambil bicara apalagi dengan mutut penuh” sambungnya. “maaflah ngak lagi deh” sesal Basil dengan membuang muka karena memerah. Ini membuat yang lain menahan tawa.


102 “ selanjutnya sumbang pakai, perempuan Minangkabau tidak boleh mengenakan pakaian yang ketat apalagi menerawang. Tidak boleh menampakan rahasia tubuh apalagi tersibak atas bawah. Gunakan baju yang longgar itu juga baik untuk sirkulasi udara, pakaian harus serasi dengan warna kulit ini dimaksutkan agar enak dipandang”. “ada lagi sumbang karajo, seperti halnya Wanita yang memiliki kekuatan kurang dari pria, perempuan Minangkabau pantang berkerja yang berat, harus yang ringan-ringan saja. Pekerjaan berat serahkanlah pada kau pria”. Jelas Puti dengan tenang. “bukankah itu tidak adil?, maksutku apalagi dizaman ini dimana Wanita ingin setara tidak ingin dibedakan dengan kau pria” Anulika Kembali menyela, ia cukup tidak menyukai ini. Bukankah itu terkesan Wanita tidak berdaya, selalu diperlakukan dibawah pria. Ia sama sekali tidak menyukai yang ini. “apa maksutmu Anu?, keadilan yang mana yang kamu bicarakan?” Puti tidak menyukai intonasi Anulika yang meninggi padanya. Bukankah ia baru menjelaskan tentang sumbang kato tadi. “di zaman ini sumbang karajo itu sudah tidak cocok lagi” ia bersikeras dengan pendapatnya. “aku tidak suka pokoknya”. “ayo dengarkan dulu penjelasan Puti hingga selesai” Dhatu Kembali mengambil inisiatif menengahi. Senyum terimakasih Puti tumbuh. “begini setiap individu memiliki prinsipnya sendiri, niniak mamak cadiak pandai tidak akan membuat aturan kalau tidak memiliki manfaat yang baik. Walau kedengarannya seperti membatasi perempuan namun ini juga merupakan peringatan untuk pria juga”. Jelas Puti dengan santai, yang membuat ketiga Pria diantara mereka tersentak. “karena perempuan bisa melakukan banyak hal dalam waktu yang sama ini akan membuat egonya besar kalau terus dibiarkan. Lihatlah sekarang ini banyak perempuan yang tidak ingin mememiliki anak karena tidak mau merusak tubuhnya” sedihnya diakhir kalimat.


103 “Wanita zaman sekarang beranggapan kalau ia bisa hidup bahkan tampa seorang pria ia akan baik-baik saja. Dan itu memang benar ia bisa memiliki karir yang bagus, harta yang berlimbah dengan semua koneksi pendukung lainnya, tapi ia mulai kehilangan jatidirinya yang seorang Wanita.” “maksutnya apa?” Basil bertanya dengan wajah heran. “menjadi seorang ibu” ucapnya dengan wajah sendu, dua gadis lain merasakan desiran dalam dirinya. “ bagaimana mungkin mereka tidak mau mengandung dengan alasan konyok tidak mau merusak tubuhnya atau mengangap anak hanya inverstasi tidak pasti. Ini semua berawal dari pernyataan kesetaraan jender yang diumbar-umbar sekarang ini” ia sedikit tidak nyaman membahas ini karena banyak pendapat dalam persoalan tersebut. “inilah kenapa pria yang harus mengerjakan pekerjaan berat, pria harus membuktikan dirinya berguna dalam kehidupan seorang wanita. Sama halnya dengan harimau betina yang menarik lawan jenisnya dengan aroma yang memabukan. Ia tidak akan membiarkan dirinya didekati oleh penjantan yang lemah. Ia akan melihat pejantan mana yang akan menang dalm pertarungan, karena hanya pemamenang yang akan menjadi pilihannya”. Jeda Puti menghirup nafas baru melanjutkan. “pria memiliki harga diri, terkadang kata kesetaraan jender dipakai untuk bermalasmalasan oleh banyak pria. Membiarkan perembuan mengerjakan pekerjaan yang harusnya bisa ia emban. Ini membuat ia sendiri yang menurunkan harga dirinya. Karena setangguh apapun Wanita ia akan membutuhkan pria dalam hidupnya”. “jadi maksutnya peraturan itu untuk mengekang perkembangan Wanita?” kesal Anulika. “bukan begitu, maksutnya aturan ini selagi ada pria Wanita tidak perlu melakukan pekerjaan berat. Karena dalam hidup Wanita tecipta untuk menjadi tulang rusuk pria diaman ia ada untuk dilindungi dan diayomi. Bukanya tulang punggung yang kuat untuk menopang tubuh”


104 “sumbang karajo ini untuk menunjukan porsi dalam berkerja sama dalam masyarakat. Dimana pria akan mengambil tugas berat dengan Wanita sebagi pendukungnya. Tidak ada yang merendahkan ini merupakan sikap saling melengkapi”. “benar Wanita itu bisa mengeejakan segala sesuatu lebih banyak dalam waktu yang bersamaan namun dalam lingkup yang kecil. Sedangkan pria ia sulit untuk berkonsentrasi untuk banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Itulah mengapa menjadi ibu adalah pekerjaan terbaik di dunia” jelas Puti. “saling menghargai, saling menghormati merupakan kuncinya. Dengan kerja sama ini masyarakat Minangkabau memiliki porsinya sendiri-sendiri dalam bermasyarakat tampa merasa kecil” Puti Kembali menambahkan. “ayo jangan terlalu tegang kita sedang mempelajari adat kebudayaan baru, jadi kalau ada perbedaan pendapat adalah hal biasa” Dhatu sangat bersemangat dengan ilmu baru ini sehingga ia tidak ingin waktu dihabiskan hanya dengan meributkan sesuatu yang berboalkbalik. “biklah sampai mana tadi ya?, ah ok selanjutnya sumbang tanyo, setelah sumbang kato ini juga penting. Dimana gadih Minang tidak boleh bertanya macam menguji seseorang. Bertanyalah lemah lembut, simak terlebih dahulu dengan baik dan bertanya dengan jelas”. “seiringan dengan itu ada sumbang jawek dimana Ketika menjawab seseorang harus dengan baik, jangan asal dalam menjawab pertanyaan. Jawablah sekedar yang perlu didawab kemudian tinggalkan yang tidak perlu”. “kemudian ada sumbang bagaua seoarng gadis sebaiknya tidak bergaul dengan lakilaki jika hanya dirinya sendirian. Tidak boleh bergaul dengan anak kecil apalagi ikut-ikitan bermain Bersama mereka. Pelihara lidah dalam bergaul agar tidak menyakiti orang, iklaslah dalam menolong agar senang orang berteman dengan kita”. Sepertinya mulutnya mulai banyak berair karena penjelasan ini. “ini yang terhir sumbang kurenah dalam pergaulan tidak baik berbisik-bisik saat tengah Bersama. Menutup hidung saat berada dalam keramaian, tidak boleh tertawa atas


105 penderitaan orang lain, apalagi hingga terbahak-bahak itu sangat tidak sopan. Jika berbicara timbang-timbang jangan samoai menyinggu orang lain yang mendengar. Jagalah kepercayaan olang lain karena kepercayaan merupakan hal paling krusial dalam berhubungan, jan jadi musang babulu ayam nah udah semuanya dari pantang dua belas” final Puti dengan senyum Lelah. “wah ap aitu hanya untuk Wanita saja?” tanya Basil. “beberapa juga berlakku untuk pria, aturan ini tidak tertulis tapi sudah dijalani Bagai bernafas dalam masyarakat Minangkabau. Tidak ada yang keberatan dengan ini semua karena tujuannya untuk melindungi kaum Wanita dari hal-hal yang akan merusaknya” tambah Puti dengan senyum simpul. “kamu hapal semua ini dengan baik ya, seakan memang itulah kamu” komentar Dhatu dengan memutup notebooknya. “seumur hidupku aku selalu menjalaninya” guman Puti tidak begitu didengar yang lain, saat Anulika ingin bertanya ia diintruksikan oleh bunyi gemuruh. “sepertinya kita harus Kembali, kita akan lanjutkan Latihan dan persiapan property besiok dengan yang lain” dengan itu mereka mulai berjalan keluar dari taman. Memesan gocar yang Kembali dipesan oleh Azada. Perjalannan pulang relative tenang, bahkan ada yang tertidur karen Lelah. Suara hujan menjadi melodi penghatar tidur yang sangat menenangkang. Walau dengan banyaknya ilmu yang mereda dapatkan tetap saja ada rasa haus tersendiri dalam diri Dhatu. Ia berniat bertanya lebih banya pada Puti namun terurung karena melihat wajah tidur temannya. “sepertinya ini hari yang berat untuknya” Azada membuka suara dengan pelan. “ya setauku Puti memang lebih suka diam daripada bicara. Mungkin menjelaskan semua itu membuatnya Lelah” “setidaknya coba ingatkan dia kalau ada sopir yang bisa menjemputnya agar ia tidak berlari lagi”


106 “oh sangat perhatian ketua” ejek Dhatu dengan nada main-main. “terserahlah” Percakapan berahir disitu dengan kesunyian mereka merasa tenang. Mengenal satu sama lain akan membutuhkan waktu. Tapi ini cukup menyenangkan dengan semua kemungkinannya. Drama mereka pasti akan menjadi sesuatu nantinya.


107


108 Matahari bersinar cukup terik hari ini, bahkan awan sangat enggan untuk sekedar lewat. Walau burung terdengar berkicau sangat merdu. Semua kebisingan perkotaan cukup mengganggu pendengaran. Asap kendraan merusak indahnya cuaca hari ini. Sebagai ketua osis azada selalu menyempatkan diri pergi lebih awal dari siswa kebanyakan. Bahkan ia seakan ingin mengalahkan giatnya pekerja kantoran magang. Hari yang melelahkan seperti biasanya. Akan ada kalanya aku bosan dan ingin pergi menjauh dari rutinitas ini. Tapi kemana aku harus pergi?, dunia seakan begitu sempit. "Bagaimana dengan progres drama yang akan ditampilkan Azada?" Tanya seorang guru yang kebetulan melihatku. Padahal aku sedang kepayahan dengan semua dokumen ini. "Semuanya berjalan baik buk, para pemeran dalam drama juga sudah mulai mendalami karakter" tetap bersikap propesional, tersenyumlah walau itu palsu. "Ketua pelaksana memang bisa diandalkan" tangannya menepuk pundak Azada dengan ringan. "Bagaimana dengan tugas Ketos mu?, apa tidak sulit menjalaninya. Ibuk dengar kamu juga dapat peran dalam pementasan". "Semua aman buk" akuku dengan menunduk hormat. "Memang anak yang rajin, semangat ya! Kalau begitu ibuk lanjut ke kantor dulu". Akhirnya terlepas juga, aku harus celat menyerahkan ini sebelum ada keluhan lain yang masuk. Bagaimanapun juga ini berjalan baik dengan semua koneksi yang ku dapatkan. Mempermudah menerima informasi apapun tentang perguruan tinggi. Aku harus bisa mendapatkan biasiswa penuh agar tidak merepotkan ibu. Aku masih harus memikirkan dua adik perempuanku. Semua yang berat akan menjadi ringan dikemudian hari. Aku hanya perlu lebih giat dan tekun untuk mendapatkan semua yang aku rencanakan.


109 Aku pasti bisa membuat ibu bangga dan menyenangkan kedua adik kecilku. Rumah itu terlalu sempit untuk kami, jadi aku haru bisa sukses dan punya banyak uang untuk membeli rumah atau mengontak apapun itu asal keluar dari rumah penuh sesak itu. Pagi ini siswa lumayan ramai, kalau dilihat-lihat mereka bahkan tampak bersemangat. Festifal budaya memang kegiatan paling ditunggu sih. Wajar saja mereka sangat giat mempersiapkannya. Saat aku melangkah memasuki ruangan Dhatu sudah tampak bersih-bersih. Ia menatapnya sebentar kemudian melanjutkan tampa berkata sepatahpun. Kami sudah saling mengenal sejak awal tahun ajaran. Entah kenapa tapi kami selalu secara kebetulan bertemu dalam setiap kegiatan. Sampai pada akhirnya kami masuk osis bahkan satu devisi. Dhatu gadis yang pendiam, selalu bicara seperlunya. Jarang bersemangat akan suatu hal. Begitulah awal penilaianku terhadapnya. "Apa yang lu liat sih!?, cepat letakan saja di sana" Dhatu menunjuk sebuah meja disudut ruangan. "Kenapa lu sering banget gue liat bersih-bersih setiap pagi?" Ini cukup membuatku penasaran. "Memang apa yang salah dengan itu?" "Tidak ada sih cuman mau tau aja. Lu dateng paling pagi dan gue yakin lu juga pulang paling akhir, kenapa coba?" "Lu beneran ngak tau?" "Kagaklah, kalau tau ngapain gue nanya" gerutuanku mulai jengkel. "Gue kerja buat bersihin sekolah, buat uang jajan tambahan" jelas Dhatu santai masih dengan kegiatan membersihkan ruangan. "Lu punya orang tua yang mampu ngapain harus kerja segala?" Apa keperluannya sangat banyak? Padahal Dhuta bukan gadis yang bermewah-mewah.


110 "Gabut aja sih lagian cepet pulang buat apaan ngak ada kerjaan juga di rumah" tambahnya santai, ia mulai mengumpulkan semua alat kebersihan. Mengangkut mereka lalu meketakannya dalam gudang kecil dalam ruangan ini. "Apa itu alasan mu mengatakan iya dalam setiap pertemuan?, untuk mengisi waktu luang toh" anggukku. "Jangan tanya gue lagian lu juga sama aja semua kegiatan bakalan lu libas aja" "Benar bodohnya gue nanya" Walau kami mengobrol dengan cukup asik, tangannya tidak berhenti bergerak. Dhatu sangat rapi dan cekatan dalam melaksanakan tugas. "Nanti sepulang sekolah latihan donk ya?" Tanyaku pada Dhatu singkat. "Ya semoga mereka sudah menghafal dialognya dengan baik, aku tidak mau terlalu bertele-tele". " aku tidak masalah dengan yang lain, tapi duo pembuat onar itu apa mereka akan baik-baik saja?" Pusingku memikirkan. "Jangan terlalu kawatir pada mereka, walau koplak sekalipun mereka selalu berkerja sama dengan sangat baik". Hibur Dhatu, Aku hanya mengguguk dengan yakin. "Festifal budaya tahun ini akan sangat menarik" kalimat ini diucaokan dengan kelotikan geli. Semalam sangat dingin, ditambah perjalanan kemarin membuat seluruh tubuhku pegal-pegal. Sudah lama aku tidak menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan. Saking nyenyaknya sampai malas untuk bersiap. Tapi pagi ini sepertinya orang tuaku sangat bersemangat. Sampai suaranya terdengar hinga kamar tidurku. Berhubung aku malas dan rumah ramai kombinasi yang mengagumkan untuk membangunkan mata. "Selamat pagi ayah ibu" aku berlari menuruni tangga. Mencapai ayah terlehih dahulu mencium pipinya, kemudian memeluk ibu dengan gembira. Tentu satu kecupan ku berikan pada ibu juga.


111 "Bersemangat untuk hari ini sayang?" Ibu tampak rapi dengan baju kantornya. "Tentu bu, kami akan mulai membuat busana dan tata panggung hari ini" seruku dengan semangat. "Wah ayah jadi tidak sabar melihat putri cantikku ini tampil" punji ayah dengan menepuk kepalaku. "Jangan memaksakan diri kalau memang tidak bisa datang" ucapku dengan tenang. Setelah beberapa saat entah kenapa keheningan ini aneh. Aku mendongakan kepalaku untuk menatap orang tuaku. Wajah mereka tampak takut?, tapi untuk apa?. "Ada apa ?" Tanyaku pelan. "Kenapa kamu bilang gitu sayang?, tanya ibu dengan wajah kahwatir. "Kami akan mengusahakan untuk datang nak" ayah tersenyum tapi dengan aneh, kenapa tatapan kahwatir itu selalu terpampang?. "Tidak masalah, aku mengerti keadaannya bila sampai ayah atau ibu tidak bisa hadir" dengan wajah ceria dan penuh senyum aku menatap ayah dan ibu. "Bailaha nak" orang tuaku saling lirik lalu tersenyum. Memandangku dengan sayang walau masih ada tatapan aneh yang kurang ku suka. Setelahnya kami makan sarapan dengan tenang. Ibu membuat bubur kacang hijau. Ditambah dengan roti tawar rasanya mengenyangkan. Apalagi kalau buatan ibu pasti rasanya bertambah lezat. Setelah tegukan terahir susu, kami lempar senyum semangat. Aku bangkit dari kursi, membereskan piring dan gelas yang kami pakai. Menarunya pada tempat cuci piring, untuk memudahkan art mencucinya. Aku berangkat dengan mood yang baik. Aku sangat tidak sabar untuk melihat kostum yang akan kami gunakan. Apa akan terlihat seperti punyaku dulu ya?.


112 Setelah keluar dari mobil aku langsung melihat Anulika dengan skuternya masuk gerbang. Nah kira-kira selerti apa Anulika dalam memerankanku ya. Kepribadian kami cukup berlawanan jadi aku berharap ia tidak terlalu kesusahan. Proses belajar mengajar berjalan lancar dengan sedikit drama dari Anulika yang lupa mengerjakan pr bahasa indonesia. Ia terlalu lelah sampai lupa ada pr katanya?, padahal emang ngak buat aja. Untung bukan jam pagi Pr itu harus diserahkan, lagipula Anulika sangat ahli dalam mengelabui guru. Bahkan dengan mepetnya waktu ia sudah menyelesaikan Salinan PRnya. Dari semuanya yang paling berkesan adalah tulisannya yang tidak pernah mengecewakan. “udah pro banget ya nyalin tugasnya rapi bener” kagumku melihat susunan tulisan tersebut. “ah masak sih Puti bisa aja deh” malunya dengan wajah memerah. “Puti jangan dipuji nanti dia ngak buat PR terus” celetuk teman di sebelahku. “ jangan menghasut Puti deh, nanti dia sadarkan aku yang repot” sebalnya. “bukankah perkataan itu harusnya tidak disiarkan, aku denger loh” keluhku, aku yakin ia tidak mendengarnya. Lihatlah Anulika mulai berdebat dengan banyak teman di kelas. “oh tadi aku dapat kabar baik loh!...” ia memutar tubuhnya cepat kearah Puti. “…katanya kostum kita udah sampai, ya itu yang sementara sih buat Latihan aja. Aku jadi ngak sabar” ia mulai melonjak dengan girang. “benarkah?, syukurlah” menghela lega, Anulika sangat menikmati ini ternyata. Padahal awal-awal ia selalu mengeluh karena akan megurangi jatah kulinerannya. Waktu berlalu dengan sama cerahnya bagi Puti, ia tampak bersinar dalam mengahiri kelas. Berbeda dengan Anulika yang kepalanya mulai berasap imajiner, bahkan seperti ada arwahnya yang keluar dari mulut.


113 Puti terus mendengarkan semua keluhan Anulika dengan seksama. Menanggapinya seadanya untuk menghibur temannya. “padahal udah susah-susah nyalin tugasnya tadi gurunya malah ngak dateng. Paling parah malah ninggalin tugas sama PR tambahan juga” keluhnya dengan lesu. “bukankah itu baik, dari pada kelas kosong ngak ada kerjaan” polos Puti. “baiklah cuman kamu yang berpendapat begitu dasar otak encer” sungut Anulika dengan menunjuk Puti. “seharusnya otak emang lembek tapi kalau encer bukankah cukup menakutkan ya” Puti mulai menggigil membayangkannya. “apa aku perlu kerumah sakit?, bagaimana kalau cairan otakku malah keluar dari idung?” paniknya. “hahahah…Puti aku becanda loh, aduh kamu ini gimana sih” gelak Anulika sambil memegang perutnya. “nah kamu udah ketawa lagi jadi aman deh Latihan kita nanti” senyum Puti dengan menarik Anulika masuk keruang Latihan. “jadi kamu nipu aku ya” bantahnya dengan ekpresi sebal yang ketara. “yang penting kamu ketawa” balas Puti dengan senyum tampa dosa. “wah udah keliatan aja hasil kerjanya” panggung sudah mulai tertata dengan beberapa pendukung. Mulai dari set rumah, Pelabuhan, pohon-pohon. Tim property sangat sigap ternyata. “Put,i Anulika ayo sini liat ini kostumnya bisa dicoba dulu” ditangannya ada dua pasang pakaian yang langsung ia serakan pada kedua gadis tersebut. “Basil pelan-pelan nanti bajunya jatoh” keluh Anulika dengan delikan tajam pada sang pelaku. “maaf aku sangat bersemangat untuk ini, ayo Puti tukar gih” Basil mengalihkan pandangannya dari Anulika, ia memandang Puti dengan penuh harap.


114 “Ayo Puti, Ayo” Anulika mulai menarik tangan kanan Puti untuk mengikutinya keruang ganti. Begitu bersemangatnya sampai tidak melihat keadaan sekitar. “Anulika dengan energi tercas penuh, seperti biasa” dengan nada monoton Dhatu geleng-geleng kepala. “kalau tidak begitu kurang seru lah” Basil tertawa penuh semangat. “jadi pergi sana ganti baju lo jangan cengengesan aja di sini” ia mendorong ringan punggung Basil untuk menghentikan tawanya. “setiap waktu berharga tik tok tik tok” ia mulai mengerak-gerakan jarinya bergantian untuk mengikuti alunan waktu. “Dhatu padahal belum pakai juga” sungutnya menatap sinis pada Dhatu yang dihadiahi hal yang sama olehnya. “sudah ku pakai tadi, tapi kekecilan jadi harus buat lagi” sanggahnya dengan tangan berlipat dada. “ok ok aku pergi, kalau Bin sudah datang ingatkan dia hal yang sama” teriaknya sambil meningalkan ruangan, bahkan kata-katanya kurang terdengar dengan baik. Persiapan berjalan sebagaimana mestinya, tata panggung lancar, keuangan aman, dengan sedikit drama makan siang. Ya bukan masalah mereka menjadi tim yang baik. Latihan juga berjalan lancar dengan perbaikan disana sini. Walau aka nada perkelahian antara Basil dan Bin yang sudah menjadi tontonan lumrah. Mereka tetap akan kompak dalam bertindak. Semakin parah pertengkaran mereka semakin baik pula Kerjasama yang mereka jalani. Azada seperti biasa merupakan pemimpin yang baik dan sangat telaten. Walau agak menyebalkan dengan segala ketepatan dan segala tindak disiplin yang selalu ia ingatkan. Tidak menjadi halangan apapun dalam pelatihan ini. Memang aka nada perdebatan tentang segala sesuatu walau itu hal kecil yang akan tiba-tiba menjadi alot dan segit. Namun setelah saling berteriang mereka akan menertawakannya dan pelatihan berjanjut lagi.


115 “huh akhirnya selesai juga hari ini” lega Basil dengan meneguk sebotol air mineral, ia juga membasahi wajahnya dengan mencipratkan air itu. “hei lantainya jadi basah nih jagan main air dalam ruangan” omel Dhatu dengan geraman rendah. “nanti gue lap deh panas banget nih” keluh Basil sambil megibas-ngibaskan kerahnya. “sangat menyenangkang berbagi waktu dengan kalian” celetuk Puti tiba-tiba yang membuat perhatian teralih padanya. “tapi setelah festifal budaya ap akita akan tetap seperti ini?” tanya Puti dengan lesu. Ia mulai merasa nyaman dengan teman-teman barunya. Bukan berarti ia kurang puas memiliki Anulika dalam hidupnya. “hei tenang saja, kita akan terus berteman mungkin kita bisa main kapan-kapan ke taman hiburan bareng” Basil mengibas tanganya dengan gugup untuk menghalau wajah sedih Puti. “woi anak singa ini mah emang maunya keluyuran, lu ajak kemana juga dia ngikut” dengan mengapit leher Basil untuk merangkulnya. Walau mendapat protes keras untuk melepaskan Bin tidak menghiraukan sama sekali. “benarkah begitu?, baguslah jadi temanku bertambah banyak” semangatnya dengan senyum cerah bikin silau. “lagian aku ada kunjungan kerumahmu ingat?” tanya Dhatu dengan wajah menggoda. Puti bahkan lupa kalau ia mengundang Dhatu untuk main ke kerumahnya. “wah benar, benar aku ingat hehe” senangnya. Azada seperti biasa menjadi bapak yang baik hanya mengawasi anak-anaknya. Liat ia hanya tersenyum simpul dengan tatapan lembut. Walau tidak ada yang memperhatikannya. Ujung dari pembicaraan itu penuh dengan gelak tawa. Sampai pada saat mereka pulang menuju jalan yang berbeda-benda.


116 Tentu saja Puti sudah ditunggu oleh sopirnya di depan gerbang, bahkan pak sopir sedang asik bergosip dengan sapam sekolah. Puti bergegas melangkah tidak mau membuat pak sopirnya menunggu lebih lama. Di parkiran sudah tampak sepi, hanya tingal beberapa kendaraan yang sepertinya milik siswa yang melakukan persiapan festival budaya sama sepertinya. “sudah sepi aja ya” gumam Anulika dengan tangan yang mengusap-usapkan. Langit tampak mulai mendung, hujan akan segera turun sepertinya ia harus cepat pulang sebelum air turun. “hei kau melihat penampilan anak drama tadi?” “tentu saja mereka sangat heboh bagaimana bisa ku lewatkan” “bukankah gadis yang memerankan ibu sangat cantik?” “benar sekali seharusnya ia memainkan peran Puti Julia saja” “ya pasti sangat cocok dengannya” “kenapa juga si Anulika itu yang dapat peran gadis Anggun sih kan gak cocok” “iya tuh...! apalagi rambutnya terlalu pendek untuk menjadi gadis seutuhnya” “padahal gayanya feminism banget tapi rambutnya kayak cowok” “mungkin rambutnya rontok makanya dipotong pendek” “kalau pemeran ibu tadi memiliki rambut Panjang yang bergelombang, hitam kebiruan sangat menawan. Lu kenal ngak sama cewek itu?” “kagak sih coba tanya aja sama Anulika mereka sering barengkan” “beruntung banget dia temenan sama cewek cantik kayak gitu” “atau besok kita liat aja lagi latihannya, sapa tau bisa minta nomornya kan?” Belum juga ia menaiki skuternya, Anulika sudah mendengar bisikan yang tidak mengenakan. Ia yang tidak terlihat atau mereka yang sengaja melakukannya. Mendengar


117 semua ini ia tidak sangup menahan panas pada matanya. Tangannya terkepal kuat hingga kukunya memutih. Bergegas ia memakai helmnya, menaiki skuter lalu memasukan kunci dengan cepat menghidupkan mesin kendraannya. Ia bergegas keluar memacu dengan cepat dan berusaha fokus pada jalan. Pandangn matanya mulai mengabur oleh air yang meluap tampa bisa ditahan lagi. Beruntungnya ia hujan menyamarkan air matanya. Padahal tadi ia berharap bisa pulang sebelum hujan turun. “mereka tidak tau apa-apa!” ini terus ia gumamkan dengan rasa sakit di hatinya. “aku tidak pernah menginginkan ini, apa hanya mereka yang memiliki rambut Panjang yang disebut gadis Anggun?, apa salahnya dengan rambutku yang pendek?” isaknya tersamar oleh gemuruh hujan. Bajunya basah kuyup, tampa mengatakan apapun dengan Langkah goyah Anulika melangkahkan kakinya melawati setiap ruangan menuju kamarnya. Beruntung kakek dan neneknya sedang tidak di rumah. Air mulai menetes dari pakaiannya, ia berdiri berhadapan dengan cermin. Memandang bayangan dirinya. Menyentuh helaian rambut yang menempel di wajahnya. Memandangnya penuh rindu dengan rasa sakit di hatinya Kembali berdenyut. “kakak lihat aku dibelikan boneka oleh ayah” seorang gadis kecil dengan semangat menunjukan mainan barunya. Yang lebih tua memandangnya dengan senyum antusias pada gadis lima tahun tersebut. “wah imutnya, kamu kasih nama siapa dek?” tanya singkat penuh sayang. “hmmm.. siapa ya ? belum ada gimana donk kk?” wajah bingung si bungsu begitu menghiburnya. “ayo duduk sini” ajak si sulung dengan menepuk pahanya untuk dijadikan kursi. “hahahah..kakak apa nama yang bagus ya?” tanya si bunggu setelah duduk dengan nyaman ia menyandarkan tubuhnya pada sang kakak.


118 “apapun yang adek kasih akan bagus” kepala si bungsu diusap sayang sesekali ia memberikan ciuman lembut pada topi yang dikenakan sang adik. “kalau gitu..hmmm..mimi ya, kamu setujukan. mimi adalah namamu mulai sekarang” boneka itu digoyangkan dengan semangat. “kakak kita akan bermain bertiga terus ya” lanjutnya. “tentu saja kakak akan selalu Bersama adek, kita main sampai puas semuanya sesuai dengan keinginanmu” mendengar ini si bunggu sangat senang iya memeluk kakaknya dengan erat. “hari minggu kita pergi ke kebun Binatang ya kak?” mohon sang adik dengan mata besar penuh binar harapan. “bagaimana kakak akan menolak permintaanmu, asalkan adek minum obat dengan teratur kakak pasti ajak adek ke kebun Binatang” “kakak janji? Kelingki kecil teracung dengan semangat memimta sang kakak mengunci janjinya. “kamu harus sembuh dulu kalau mau main ke kebun Binatang, yok ini udah jadwal minum obat” dengan senyuman sang kakak menuntun adiknya duduk sendiri. Ia mengambil beberapa obat yang diharuskan. Adiknya memandang dengan ajakan bermusuhan pada obat-obatan itu membuat ia tertawa lucu. “obatnya pait,” keluhnya “kapan aku bisa berhenti meminumnya kk?” setelah menanyakan hal tersebut yang termuda meminum obat-obat itu dengan wajah jelek. “saat kamu sembuh tentunya” singkatnya. “BOHONG!” suaranya meninggi dengan wajah yang penuh rasa sakit. “semuanya percuma saja, ayah dan ibu selalu bertengkar karena ini. AKU TIDAK AKAN SEMBUH DOKTER YANG BILANG. SEMUA OBAT INI TIDAK ADA GUNANYA. RAMBUTKU JUGA HILANG, AKU TIDAK BOLEH MAIN KELUAR, KENAPA KAKAK BERBOHONG!” teriakan ini menarik perhatian orang tuanya. Dengan tergopoh-gopoh ayah dan ibu mulai menghampiri mereka.


119 “Anulika…! Kenapa ini?” teriak ibunya dengan tatapan marah. “kenapa kamu membuat adikmu menangis?, kamu tau kan dia…”kalimat itu tidak pernah selaesai. “apa yang ku lakukan?, itu salah kalian yang membiarkannya mendengar semua omong kosong ini” kesal dengan tuduhan orang tuanya. Padahal mereka tidak pernah memperhatikan ia dan adiknya. Setiap saat mereka akan ribut tampa memperhatikan sekitar. “semua ini salah kalian, kenapa kalian bertengkar di rumah padahal kami ada di dalamnya, kalau bukan untuk ku lakukanlah untuk adikku” dengan itu ia berlari keluar rumah, kakinya terus melangkah tampa mengetahui kapan akan berhenti. Ia berjongkok lalu berteriak kencang membuang semmua rasa frustasiinya. Ia benci harus meningalkan adiknya di rumah, benci pada dirinya sendiri yang tidak bisa menghibur kegundahan hatinya. Keluarganya selama ini sangat Bahagia, hidup berkecukupan dengan kasih sayang yang selalu diumbar. Apalagi sejak kedatangan sang adik, kebahagiaannya bertambah-tambah ia merasa semuanya sangat sempurna. Tangisan adiknya tidak pernah membuatnya jengkel, setiap rengekan dan air mata adiknya selalu ia balas dengan senyum untuk menghiburnya. Namun semua itu harus hancur saat adiknya berusia tiga tahun, adiknya dinyatakan kangker darah. Berita ini menghancurkan hatinya dengan sangat menyakitkan. Orang tuanya mulai sering ribut mempermasalahkan biaya pengobatan sang bunggu. Mereka selalu berdebat bahkan tampa mempedulihan adik kecilnya yang meringkuk ketakutan mendengar setiap lontaran kalimat-kalimat kotor yang orang tuanya siarkan. Mereka berpelukan, ia menutup telinga adiknya untuk meredam suara. Membisikan kaliamt yang menenangkan. Walau itu percuman saja dengan kehebohan orang tuanya.


120 Bahkan dengan semua yang sudah dilakukan tidak berbuah manis, keadaan adiknya semakin memburuk. Setiap saat ia selalu ingin Bersama sang adik, memberikan semua yang ia minta. Tapi bagaimana dengan yang terakhir. “kak apa aku masih cantik?” tanya sang adik dengan lemah, infus dan alat bantu nafas terpasang pada tubuh kecilnya. Ia mengenggam lembut tangan adiknya, takut akan menghancurkan tangan mungilnya. “tentu saja kamu sangat cantik seperti apapun keadaannya” dengan menahan tangis ia mencoba kuat untuk adiknya. “rambutku akan tumbuh lag ikan kak?, akum au cantik dengan rambut Panjang seperti kakak” suara si bungsu begitu lirih, matanya yang sayu menatap kakaknya dengan penuh harap. “kamu akan sembuh dan rambut yang Panjang lebat akan tumbuh” ucapnya dengan tegar. “hari minggu kita pergi ke kebun Binatang ya kak?” “tentu saja. Adek harus sembuh dulu ya” “aku pasti sembuh terus pergi sama kakak ke kebun Binatang, aku janji” Janji kosong itu tidak pernah terwujut, kini ia hanya dapat menatap batu nisan dengan nama adiknya terukir dengan indah dipermukaannya. “pada akhirnya kamu yang berbohong padaku dek” air matanya mulai mengembun. “bukankah kita akan pergi ke kebun Binatang hari ini?, lalu kenpa kamu pergi? Kamu sudah janji akan sembuhkan” isakan mulai keluar dari bibirnya. “lihat kakak udah beli tiket untik kita, kakak sudah membelinya, jadi kenapa kamu tidur di sini? Siapa yang akan main sama kakak? Kamu jahat dek”. Sakit sekali, dadanya terasa sesak, ia ingin berteriak, memaki siapa saja untuk mengeluarkan amarah dan rasa sakitnya. Lehernya terasa tercekik sulit untuk membayangkan hari ini akan datang. “nak, ayo kita harus pulang sudah mau hujan” bujuk sang ibu.


121 “ayo nak kita tidak bisa di sini selamanya” ujar sang ayah. “semua salah kalian” gumamnya berbalik meningalkan kedua orang tuanya tampa mempedulikan panggilan ibunya. Rumah rasanya tidak seperti sebelumnya, kini ia sendirian, adik yang ia sayangi sudah tidak akan menghibur nya lagi. Adiknya yang selalu tersenyum menyambut kepulanganku dari sekolah. Adik ku yang cerewet menanyakan apa saja yang aku lakukan. Ia memasuki kamarnya dengan gusar, matanya tampak sembab, ia memandang bayangngan dirinya pada cermin, menyentuh rambutnya dengan tatapan kecewa. Ia mencari gunting, mulai memotong rambutnya sedikit demi sedikit. Menyerapi setiap helaian yang berjatuhan pada lantai. Sampai potongan terahir yang ia genggam dengan erat di tangannya. Semuanya sudah tidak ada artinya, ia mandi dengan bersih. Mengenakan kemeja putih berlengan pendek. Rok bermottif kotak-kotak di atas lutut, sepatu merah dengan kaos kaki panjang sampai ke lututnya. Rambutnya kini berpotongan pendek, ia mengenakan bando kesukaan adiknya, bibirnya dipoles dengan lip pink pudar. Ia mulai tersenyum memasang topeng menutupi semua kesedihannya. Ini adalah awal mula kepribadian cerianya, ia mulai mengikuti setiap ekpresi sang adik. Berperilaku ceria apapun masalahnya sama seperti adiknya. Disaat ia mencoba mulai membiasakan diri dengan kesunyian, tiba saat dimana hatinya Kembali hancur oleh orang yang paling tidak ia harapan. “ayah dan ibu akan bercerai, mulai besok kita tidak akan hidup Bersama lagi. Jadi kamu mau ikut dengan siapa?” ibunya memulai pembicaraan dengan santai seakan apa yang dia ucapkan bukan suatu hal yang besar. “sebaiknya kamu mulai berkemas kalau mau ikut dengan ayah” ayahnya menimpali dengan melihat jam seakan waktunya sudah terkikis. “tidak” geramnya dengan penekanan.


122 “apa maksutmu nak?, hubungan ayah dan ibu tidak bisa dilanjutkan lagi. Perpisahan ini yang terbaik” jelas ayah dengan menatapnya. “tidak seorang pun dari kalian!, aku akan berkemas dan tingal dengan nenek dan kakek saja” dengan itu ia beranjak memasuki kamar, ia memasukan semua bajunya dengan tergesa-gesa. Tampa mempedulikan ayah atau ibunya yang membujuknya untuk tinggal Bersama salah satu dari mereka. Sejak saat itu aku tingal Bersama kakek dan nenek, mereka selalu menghiburku dengan segala cara. Meyakinkanku untuk menemui ayah dan ibu, walau jawabanku tetap sama tidak mau menemui mereka. Apalagi dengan keluarga yang mereka miliki sekarang. Aku hanya akan menjadi orang asing dimanapun aku berada, lebih baik begini akan lebih tenang hatiku bila bisa tingal Bersama kakek dan nenek yang jelas sangat meyayangiku. Ting Tong Bel rumah mulai berbunyi membuyarkan lamunannya, ia buru-buru menghapus air matanya tidak mau siapa pun melihatnya. Dengan senyum terpampang menutupi semua kesedihannya, siapapun yang datang bukan kakek neneknya. Karena kalau kakek atau neneknya tidak pernah membunyikan bel. Tarik nafas, hembuskan, pasang seyum ceria. Ia membuka pintu dengan topeng ceria yang biasa ia pakai. Matanya membola terkejut melihat Dhatu dan Puti yang basah kuyup dengan senyum cangung dari Puti dan wajah poker Dhatu. “maaf karena datang tampa diundang Anu” ucap Puti dengan tangan terkatup didepan dadanya. “aku basah lo, masak dibiarin berdiri depan pintu” Dhatu seperti biasa tidak ingin membuang sedetik pun waktu yang ia punya. “ah iya aku ambil aduk dulu” berbalik dengan Langkah cepat Anulika Kembali memasuki rumah tampa mempersilahkan tamunya masuk.


123 “kita dibiarkan berdiri di depan pintu, sungguh tuan rumah yang baik” ejek Dhatu main-main, jelas ia tidak serius dengan setiap katanya. Justru sangat terhibur dengan sikap kikuk Anulika. “kita datang tampa memberi tau tentu Anu akan kaget” terang Puti. “ini dia handuknya, ayo masuk kita duduk di sofa depan tv aja” ajak Anulika dengan gembira. “permisi” kompak Dhatu dan puti. Mereka duduk dengan mengusap wajah dan bagian yang basa lainnya. Anulika menyajikan teh hangat dengan beberapa cemilan, untuk menemani obrolan mereka. “ada apa kemari tampa memberi kabar dulu?, untung aku di rumah kalau tidak kalian akan melakukan perjalanan yang sia-sia” ia menyeruput the hangat dengan lambat menikmai setia rasanya. “kita akan membahas tentang dramanya, karena Dhatu datang tadi kerumahku kami sudah membahas beberapa hal untuk didiskusikan” semangat Puti. “lihat kamu bermain tampa mengajakku” kelus Anulika dengan wajah sebal. “makanya kami kemari” balas Dhatu singkat. “ya… pementasanya tingal dua minngu lagi jadi kita harus lebih bersemangat” tambah Puti dengan antusias. “baik kita akan bahas apa sekarang?” tanya Anulika dengan menggosokan tapak tangannya pada permukaan cangkir. Ia sedikit gugup, agak emosional dengan mengingingat sang adik. Dhatu memperhatikan perubahan raut muka Anulika, sepertinya mereka datang disaat yang tidak tepat. Agaknya ia merasa tidak enak hati, ia mulai mengalihkan perhatian dengan Kembali ketopik awal.


124 “kita akan membahas gadis Minang lagi tentunya, karena kita cewek semua disini akan lebih enak. Kadang-kadang anak cowok hanya akan menggangu” jelas Dhatu tidak menyukai keramaian apa lagi kalau itu akan memotong ilmu yang ingin ia dengar. “baik, kalau begitu aku mau tanya duluan, sebenarnya perempuan Minang itu seperti apa?” wajah bingung Anulika tidak terlalu dominan, Ia lebih seperti ingin menuntuk sesuatu dari Puti. “terkadang aku berfikir kalian suku Minangkabau sangat mengagungkan Wanita, dan sedikit pilih kasih dengan kaum pria” “tidak ada yang Namanya pilih kasih, semua sudah diatur dengan sedimikianrupa sehingga masyarakat dapat berjalan sesuai sebagaimana mestinya. Aku sudah pernah menjelaskan ini padamu sebelumnya. Wanita Minangkabau memang memiliki keistimewaan dan kedudukan yang agung. Namun selaras dengan itu ada serangkaian upaya yang harus dipenuhi dan dijaga. Oleh para pendahulu, Wanita Minangkabau sejak usia dini sudah ditetapkan aturan dan pendidikan norma-norma. Sebagian besar sudah ku jelaskan jugakan waktu di musium, sumbang duo baleh. Sesuatu yang tidak patut atau tidak layak dilakukan Wanita Minangkabau” Puti berhenti sebentar untuk menyesap tehnya. “permpuan dalam masyarakat Minangkabau dijadikan sebagai lambing kehormatan dan kemuliaan, sebagai Bundo Kanduang. Kok padusi indak bamalu, jadi cacek saumua hiduik. Bak pintu indak bapasak, mudah rang maliang mamasuakinyo. Bak parahu indak ba kamudi, biaso sasek dalam balayia. Perempuan Minangkabau harus memiliki rasa malu yang tinggi, dalam artian malu yang bertujuan untuk menjaga kehormatan dan kekhasan Wanita Muslimah, maka akan mengalami penyesalan dan Kesia-siaan dalam hidup” keudian Puti memandang Anulika yang kini tengah tercengang, wajahnya tampak akan meledak dengan semua kuliah yang disampaikan Puti. Berbeda dengan Dhatu yang sangat antusias mencatat setiap poin penting dalam notebooknya. Wajah keduanya tampak sangat kontras yang membuat Puti tersenyum maklum.


125 “terlalu banyak informasi” keluhnya “rasanya telingaku panas ingin mengeluarkan asap” ia mengusak rambutnya dengan frustasi. Kemudian memandang Dhatu yang sangat anteng dengan semua goresan dalam notebooknya. “Dhatu sepertinya sangat senang” gumamnya dengan wajah masam. “jangan mengeluh kamu yang bertanya” tanggapan monoton dari Dhatu sama sekali tidak membantu mood Anulika yang semakin merenggut. “kamu kayak anak usia lima tahun yang baru saja diambil permennya oleh seseorang” “wah aku terlihat sangat imut” bangganya. “aku Tarik Kembali” padahal bukan itu yang dimaksut Dhatu. “terlalu positif” gumamnya. “oh upiak sibiran tulang, pagang bana patuah bundo ko. Bahulu dalam kabek pinggang, buruak urang dek lakunyo. Kok roman nan indak dapek diubah, tapi kok laku jo parangai lai dapek ba ubah” saat Puti mengatakan ini perdebatan Dhatu dan Anulika langsung berhenti. Mereka memandang puti dengan wajah heran membuatnya ingin tertawa yang pasti tidak ia lakukan. “maksutnya, tolak ukur kualitas seseorang bisa diukur dari tingkah laku dan kepribadiannya dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Seorang Wanita haruslah menyadari bahwa rupa tidak bisa diubah, namun kelakuan dan perangai kita dapat berubah kepada yang lebih baik, dengan niat dan usaha yang pasti” Puti sedikit menerawang. “zaman sekarang banyak Wanita lebih memilih memperbaiki rupanya dari pada kepribadian dan akhlak. Padahal dengan kepribadian yang baik rupa tidak akan terlalu penting. Anduang pernah bilang kalau kebaikan dan akhlak mulia seseorang akan membuat ia menjadi menawan dengan sendirinya. Percuma wajah rupawan kalau kualitas diri tidak sepadan” lanjutnya dengan senyum kecil. “pergi liburan di rumah nenekmu benar-benar merubahmu, aku jadi mau main ke kampung halamanmu saja” dengan meno[ang dagu, Dhatu memandang Puti dengan tenang. Bisa dibilang ia sedikit iri dengan kedekatan keluarga Puti.


126 “bagaimana dengan kampung halamanmu dendiri?” tanya Anulika, ia penasaran juga. Lagipula mereka baru dekat wajar kalau ia penasaran. “orang tuaku dari etnis yang berbeda, ibuku keturunan aceh dan ayah berasal dari suku Minang tepatnya orang Pariaman” Dhuta membuat wajah mengingat dengan tangan kanan yang senantiasa menopang dagunya. “perbedaan adat membuat hubungan mertua dan menantu yang sedikit merenggang. Jadi aku jarang bisa berkomunikasi dengan kakek nenek ku” ada jeda dalam kalimatnya, “bahkan bisa dibilang aku tidak pernah bertemu langsung dengan kedua kakek nenekku”. Keduanya menyimak dengan rasa pahit tersendiri dalam setiap kata yang dilontarkan Dhatu. Mereka tidak tau kalau ia mau menceritakan tentang masalah keluarga yang ia alami. Puti berniat untuk mengalihkan pembicaraan tapi ia juga tidak mau menyela Dhatu. “ini yang membuatku jadi anak yang ingin tau banyak hal, melihat teman-temanku yang selalu menceritakan tentang nenek kakek mereka membuatku iri. Aku tidak pernah dapat merasakan semua itu karena posisi orang tuaku” ia memejamkan mata sesaat kemudian membukanya lagi. “saat aku bertanya kenapa kita tidak pernah menemui kakek nenek pasti orang tua ku akan menghindari semua pertanyaanku. Mereka akan lebih milih membahas pencapaianku atau apa aku ingin sesuatu untuk itu” ia mendegus. “setiap ku tanya apa kita punya kampung halamat untuk pelang wajah ayah dan ibu langsung sedih seakan pertanyaanku merobek jantung mereka. Sejak itu aku berhenti bertanya dan lebih memilih diam sampai aku mendengar masalah ini dari mulut kakak tertuaku. Ia dan ayah tengah berdebat akan sesuatu sampai menyinggung masalah orang tuaku dengan kakek nenek” Dhatu menyengit tidak suka mengenang peristiwa tersebut. “jadi, dari pada bertanya aku lebih suka mencari tau sendiri, mencatat dan menyimpulkannya, hal ini membuatku menjauh dari teman sebayaku, mereka beranggapan kalau aku ini aneh dengan semua gumaman dan catatan yang ku buat” kini wajah sebal yang Dhatu perlihatkan.


127 “mereka pikir aku peduli dengan semua yang mereka katakana tentangku. Aku malah senang mereka menjauh karena hanya akan menghalangin semua yang ingin aku capai” wajah Dhatu berubah menjadi bersemangat dengan seringai licik. “memang kenapa dengan perbedaan adat?, apa sangat krusial sampai hubungan keluarga harus rengang begitu?, hmmm aku tidak ingin membuat mu tidak nyaman kalau memang tidak ma di jawab juga tidak papa” Anulika mulai gagap dengan wajah panik, tangannya dikibas-kibas unuk menguramgi kegugupannya. “nah tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu, tapi sepertinya Puti lebih tau masalah ini kan” yakin Dhatu dengan santai meminum the hangatnya yang mulai mendingin. “kan ini masalah orang tuamu dengan mertuanya kenapa Puti yang lebih paham?” heran Anulika dengan keyakinan yang dimiliki Dhatu. “aku tidak pernah terjun langsung ke kampung halamanku, tidak ada yang peranah membicakan apa masalahnya. Semua orang di rumah seakan tidak mau membuka luka yang hanya akan menambahkan garam diatasnya” balas Dhatu dengan bersandar pada sofa, agaknya ia Lelah dengan keadaannya yang serba salah ini. “hmm…Puti jangan diam aja ayo apa kamu tau ini?” Anulika mulai tidak sabar, ia mulai dengan rengekan yang akan membuat umurnya mundur jadi lima tahun. “gini, perbedaan adat memang terkadang sulit untuk diterima Sebagian besar suku. Terkadang perbedaan itu menyebapkan perselisian yang berkepanjangan bila kedua belah pihak saling bersikeras dengan adat yang mereka miliki. Sampai kata sepakat tidak pernah keluar, sehinga pihak mempelai yang sama kerasnya akan lebih memilih tetap menjalankan pernikahan dengan resiko memiliki hubungan buruk dengan keluarganya” rasanya Puti tidak mau menjelaskan apapun, ini adalah hal yang sensitive baginya, tapi melihat wajah biasa saja dari Dhatu membuatnya melanjutkan saja, bahkan Dhatu sudah mulai membuat catatan Kembali dengan semangat. “di Pariman ada yang disebut uang japutan, biasanya ini yang menjadi titik masalah terbesarnya jika bertemu dengan luar orang Pariaman. Bahkan dalam suku minang sendiri


128 ada yang tidak merestui hubungan putrinya dengan lelaki Pariaman” jelas Puti membuat wajah Anulika Kembali tampak bodoh. “japutan apa?” tanya Anulika. “uang yang diperuntukan untuk membeli mempelai pria” jawab Dhatu dengan santai. “maksutmu mahar?, itu seharusnya pihak pria yang memberi untuk wanitanya kan” heran Anulika dengan penjelasan setenga-setengah ini. “bukan Anu. Ini dua hal yang berbeda. Mahar tetap akan diberikan kepada pihak Wanita sesuai dengan syariad islam. Sedangkan uang japutan berhubungan dengan adat yang adat. Tidak bisa mencampur adukan agama dengan adat karena itu dua hal yang berbeda. Makanya butuh pemikiran yang terbuka akan hal ini” Puti menjelaskan Kembali. “wajar akan ada ketegangan kalau tidak adanya komunikasi yang baik dari kedua belah pihak. Kecendrungan untuk mempertahankan adat terkadang menjadi ego tersendiri. Seharusnya perbedaan ini tidak menjadi masalah jika kedua belah pihak dapat mengkomunikasikannya dengan benar. Tepi kenyataannya ego sering menjadi juaranya” penjelasan Puti membuat Dhatu tersentak, ia seakan memahamin sesuatu. “huh..aku bahkan tidak tau dimana posisiku dalam adat, tidak bisa bilang kalau aku orang aceh karena suku mengikuti ayah sedang ayahku orang minang dimana suku mengikuti garis keturunan ibu” dengan Lelah Dhatu menjahtuhkan punggungnya lebih dalam pada sndaran sofa. “hmmm…” Anulika ingin menaikan suasana yang kurang enak ini, tapi ia sendiri jadi takut salah bicara dan malah membuat suasana jadi semakin runyam. “apa ayah dan ibu mu pernah mencoba menghubungi orang tuanya?” tanya Puti pelan memandang Dhatu yang tampak santai-santai saja. “mereka keras kepala, batu ketemu batu mau dikata apa?, dari tatapan mereka aku tau kalau ayah dan ibuku sangat ingin memperbaiki keadaan keluarga kami. Tapi seperti


129 apa yang kamu bilang Puti ego mereka juaranya” ia Kembali duduk dengan tegak, merenggangkan punggungnya untuk menyamarkan kekecewaan di wajahnya. “kalau begitu kamu yang mulai dulu” usul Puti dengan senyuman teduh. “bagaimana aku bisa?, bahkan dengan aku yang tidak mengenal dengan baiksiapa keluargaku ini?” Dhatu meragukan dirinya sendiri, kalau orang tuanya tidak mau menyelesaikan masalahnya bagaimana ia yang notabennya tidak tau apa-apa bisa membantu?. “selalu ada yang pertama untuk segala hal, kamu cucunya seorang nenek atau kakek akan luluh bila melihat cucu kecilnya tumbuh. Terkadang seorang anak bisa lebih dewasa dari pada orang tuanya sendiri. Coba saja mungkin mulai dari orang terdekat ayah atau ibumu, siapa tau mereka memiliki nomor telfon kakek nenekmu” senyum Puti hadiahkan untuk mendukung temannya, ia meremas lembut bahu Dhatu untuk menguatkan. Ia sendiri semasa hidup belum mengalami perselisihan seperti ini, hidup di tengah masyarakat yang damai memang membuat ku syok kalau-kalau menghadapi masalah yang rumit. Apalagi aku yang selalu dimanjakan. “aku tidak tau apa yang mungkin akan ku capai dengan ini, tapia pa salahnya mencoba. Baik atau buruknya kita liat saja nanti” Dhatu sangat senang dengan dukungan yang diberikan Puti. Ia selalu menyelesaikan masalah seorang diri merasa sangat terbantu. Tidak pernah ada seorangpun yang mengerti kegundahannya. Ia selalu ingin berteriak, memaki, tapi tidak tau apa yang membuatnya gelisah. Perselisian orang tuanya ternyata cukup membebaninya. Terkadang ia ingin melarikan diri dari dunia barang sebentar saja. Hidup dengan cukup harta tampa kekurangan, memiliki rumah yang nyaman dengan keluarga yang lengkap. Selama ini aku selalu bertanya apa yang sebenarnya membuatku tidak nyaman.


130 Apa itu ayah dan ibu yang tidak pernah mau membahas keluarga besarnya. Atau kakak tertua yang selalu berdebat dengan ayah, adik laki-lakiku yang sering membuat masalah di sekolah. Rumah kami selalu ramai tapi bukan dengan keadaan yang hangat. Kakak dan adik ku tidak menyukai keberadaanku, setiap kami bertemu hanya akan saling lirik kemudian berlalu begitu saja. Kami tidak memiliki hubungan saudara yang baik, kakak selalu mengatakan kalau aku terlalu sibuk di luar rimah. Tidak mempedulikan orang tua kami yang begitu mengkhawatirkanku. Biasanya aku tidak mendengarkan mereka, dan itu semakin membuat hubungan kami renggang. Kami makan satu meja namu tidak pernah ada obrolan yang menyertainya. Kami satu atap tapi tidak saling tegur sapa. Ayah dan ibu selalu memperhatikan ku bahkan saat aku tidak mengacuhkan mereka. Setiap kali aku di rumah semua perhatian akan tertuju padaku. Itu membuat rasa iri berkembang pada saudaraku yang lain. Hal ini membuatku lebih memilih memadatkan kegiatanku di luar rumah. Aktif dalam organisasi, berkerja paruh waktu bahkan saat aku mendapatkan uang jajan yang lebih dari cukup. Semakin aku tidak di rumah, setiap kali aku pulang kakak akan mulai menguliahiku dengan betapa tidak menyenangkannya sikapku ini. Aku sangat ingin rumah yang damai, dimana kami dapat mengutarakan semua keluh kesah kami dengan nyaman. Pernah sekali sewaktu aku duduk di bangku taman kanak-kanak, hari itu aku mendapatkan piala pertamaku. Hanya posisi ketiga tidak terlalu memuaskanku, tapi aku sangat senang dengan pencapaian itu sampai-sampai aku berlari untuk segera memperlihatkannya pada ayah dan ibu. Saat aku membuka pintu dengan pelan untuk tidak membuat suara. Aku mulai mengendap kedalam rumah, dapatku dengar sepertinya kakak dan adik Bersama ayah ibu sedang berbincang ceria. Senyumku mereka indah karena ingin menunjukan pencapaianku pada kakak dan adiku juga.


131 Ayah sedang mengelus kepala adik dengan wajah bangga, ibu memuji kakak atas pencapaiannya. Mereka tampak sangat senang dengan tawa yang indah. Aku menyukai suasana itu sampai enggan untuk beranjak sehinga aku hanya menatap dengan senyum cerah. Namun itu tidak bertahan lama, saat ibu melihatku perhatian semua orang langsung tertuju padaku. Wajah ibu tampak sangat senang ia segera berlari kearahku menyambutku dengan pelukan hangat. Ayah juga melakukan hal yang sama, tapi kakak dan adik tidak memiliki ekspresi Bahagia. Adik mencoba menarik perhatian ayah dan ibu namun mereka hanya mengabaikan dengan beralih memujiku. Kakak memiliki tatapan yang paling tidak enak. Ada apa dengan keadaan ini?, kenapa suasananya jadi suram begini?. Waktu itu aku tidak mengerti kenapa ayah dan ibu berperilaku demikian. Bahkan saat aku mendapat luka kecil saja ibu sudah panik bukan main. Aku bahkan tidak menangis tapi ibu yang isteris. Sampai saat aku tengah mebermain dengan kakak dan adik di halaman depan. Kami baik-baik saja dengan permainan kami masing-masing. Dalam keadaan yang damai tiba-tiba petaka itu datang, saat kakak dan adik saling tending bola, tidak sengaja bola itu mengarah pada timpukan kayu di sebelahku. Aku yang tidak menyadarinya terlambat menghindar, sehingga aku mendapatkan cedera yang lumaayan parah pada tangan kananku. Mendengar bunyi dentuman yang keras membuat orang tuaku bergegas keluar. Melihat keadaanku ibu sangat histeris mungkin tangisan ibu lebih kerar dariku. Ayah segera mengeluarkan mobil untuk membawaku ke rumah sakit. Sebelum aku masuk kedalam mobil, dapat ku dengar ayah memarahi kedua saudaraku dengan suara yang keras. Sejak saat itu kakak dan adik tidak mau mendekat kepadaku, saat aku duduk di depan tv mereka tidak akan mau duduk disampingku bahkan dengan acara kartun fovorit mereka sekalipun. Mereka lebih memilih pergi menjauh dari pada sekedar berbagi udara denganku.


132 Aku sering mendengar adik meminta mainan tertentu kepada ibu atau ayah namun selalu mendapat penundaan. Bahkan terkadang ayah ibu menolak memberikannya karena dirasa sudah kucup banyak memiliki yang hampir serupa. Padahal apapun yang ku minta pasti akan ku dapatkan sekalipun ibu barang yang sama. Aku jadi bertanya kenapa demikian?, apa bedaku dengan kedua saudaraku?, kenapa perlakuan mereka terhadapku sangat berbeda dengan kedua saudaraku?. Jadi setiap kakak atau adik meminta sesuatu pada orang tua kami, aku akan membelikannya dengan uang yang ku tabung. Tentu ini kulakukan secara diam-diam tampa sepengetahuan kakak dan adik. Aku lebih suka mereka tersenyum dan beranggapan kalau ayah dan ibu lah yang membelinya. Kalau mereka tau itu aku mungkin tampa pikir panjang akan langsung dihancurkan. Aku sudah menjlani rutinitas ini sampai sekarang, membelikan hadiah untuk saudaraku menjadi kebiasaan yang terus aku lakukan. Aku senang bila melihat mereka Bahagia. Itulah alasan kenapa aku lebih memilih untuk memperbanyak waktu di luar rumah. Aku merasa itu akan lebih baik, memandang kebahagiaan keluargaku, aku merasa keberadaanku tidak seharunya ada. Seperti yang selalu saudaraku utarakan. “kalau kau tidak lahir ayah dan ibu tidak akan seperti ini…!” “kalau kau tidak ada ayah dan ibu akan memprhatikan kami” “setiap kali kau ada semua yang kami lakukan tidak aka nada artinya” Aku tidak pernah marah denga napa yang mereka katakana. Karena aku juga sependapat dengan apa yang mereka katakana. Sampai aku mendengar alasan Tindakan orang tuaku. Sampai aku mendengar cerita kalau ayah dan ibu sangat menginginkan anak perempuan, saat hamil pertama ibu sangat senang. Hal itu bertambah membahagiakan saat usg dan didapati kalau calon anak sulung mereka perempuan.


133 Namun semua itu pupus saat ibu mengalami keguguran karena kecelakaan dalam perjalanan cek kehamilan rutinnya. Ayah sangat sedih namun berusaha untuk tegar, ibu begitu terpuruk sampai sering sakit. Sampai kabar baik datang lima bulan kemudian, ibu Kembali hamil, dengan kehamilan yang sehat. Ayah dan ibu lebih berhati-hati dalam penjagaannya. Sampai dalam usg di umumkan kalau calon bayi merupakan anak perempuan. Tapi, kelahiran datang ternyata seorang bayi laki-laki yang sehat menangis keras. Ayah dan ibu yang sudah menanti kehadiran anak perempuan membuat mereka kecewa dengan kesalahan usg tersebut. Mungkin ini yang membuat mereka kurang memperhatikan kakak. Kehadiranku di saat kakak berumur tiga tahun bagaikan hadiah terindah yang didapatkan orang tuaku. Sehingga perhatian yang mereka berikan seakan terfokus padaku seorang. Orang tuaku sangat senang memiliki dua anak, mereka sudah merencanakan kalau hanya akan memiliki dua anak saja. Namun saat umurku belum genap satu tahun ibu Kembali hamil. Ini menyebabkan sedikit perkara apa yang harus dilakukan. Umurku dan adik hanya berjarak satu tahun, sehinga kami seperti seumuran. Pembagian kasih sayang orang tuaku yang timpang juga tidak membntu. Setiap kali akua da perhatian ayah dan ibu hanya tertuju padaku. Ini membuat saudaraku semakin membenciku dalam banyak keadaan. Di sekolah mereka engan menolongku bila ada yang menggangguku. Mereka seakan tidak peduli apa yang terjadi padaku. Di rumah kami Bagai orang asing yang tidak saling kenal. Entah kapan hubungan kami akan seperti ini terus, tapi aku tidak pernah membenci mereka. Sampai kapanpun aku sangat menyayangi saudaraku. Biar saja mereka Bahagia tampa kehadirnku asal senyum mereka tetap ada. “Dhatu..oi Dhatu kamu melamun” sorakan Anulika membuyarkan segala lamunannya. Tatapan kahwatir dari Puti membuatnya tidak enak.


134 “maaf sepertinya aku sudah mengantuk” ucapnya pura-pura meguap, yang tidak dipercaya oleh mereka, namun memilih untuk tidak bertanya.


135


136 Banyak kebisingan yang terdengar, suara penuh semangat yang begitu ceria, sekolah tampak seperti pasar yang penuh warna. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, Puti dengan kagum memandang setiap hiasa yang terpajang. Baginya ini sangat istimewa, untuk kali pertama ia menghadiri acara seperti ini. Berbagai masakan tradisional sudah tersaja apik. Pernak-pernik lucu, bahkan ada yang terkesan mistis imitasi juga ada. Setiap kelas mengerahkan semua yang mereka miliki untuk menarik perhatian pengunjung. Mereka berhak mengundang siapapun untuk menghadiri acara ini. Tentunya itu membuat sekolah semakin ramai. Puti sudah sampai pada ruang ganti, ia menatap Anulika yang hanya memandangi kostumnya dengan aneh. “ada apa Anu?, kok belum siap-siap?” tanyanya heran. “kamu yakin ngak mau tukar aja perannya sama aku?” suaranya terdengar sangat tertekan. “kenapa kamu bilang gitu?, kamu udah berlatih keras untuk ini jadi ayo semangat” “Puti kamu ngak ngerti, semua orang berharap kamu yang meranin Puti Julia ini. Mereka terus mengeluh-eluhkanmu. Menyayangkan kenapa aku yang mendapatkan peran ini, disaat kamu sangat alami bergerak seperti tokok Puti Julia” dengan nada membentak Anulika menatap mata Puti tajam. Walau dengan gugup dan keringat dingin yang mulai terlihat mendengar perkataan Anulika. “tentu saja aku kan memang Puti Julia” ucapnya dalam hati. “kenapa kamu dengerin mereka yang mau tampil kan kita bukan mereka jadi kamu ngak perlu ambil pusing apa yang mereka katakana” jelas Puti lembut mencoba meraih bahu Anulika yang langsung diteppisnya kasar. “tapi mereka terus berbisik dibelakangku!, tertawa dengan menyembunyikan ejekan mereka dan memuji penampilan di depanku tapi menjelekanku dibelakang. Mereka


137 hanya mengolok-olong semua usahaku” marahnya dengan melemparkan kostum yang seharusnya ia pakai. Puti terdiam oleh bentakan Anulika, ia belum pernah melihat temannya semarah ini. Puti tidak tau mulai sejak kapan masalah ini menumpuk pada Anulika. Amarahnya sekan sudah ia tahan namun meledak dalam sekali senggolan. Puti binggu harus berkata apa dengan kondisi Anulika yang penuh amarah ini. “CECENGUK ITU!!” Anulika langsung diam seketika, membalik badannya untuk melihat siapa yang memasuki ruangan. “berhenti mengamuk seperti balita, kenakan kostum itu dan buktikan bahwa kamu bisa. Menyerah akan membuat mereka senang, jadi balas mereka dengan kesuksesanmu” ia menyerahkan kostum yang tergeletak dilantai Kembali pada Anulika. “Dhatu aku, tapi aku…” terbata ia tidak dapat mengucapkan apapun. “aku percaya padamu, tidak tapi kami percaya padamu. Setiap Wanita itu cantik dengan caranya sendiri. Kamu adalah kamu orang lain tidak tau apapun selain kulit luarnya saja” jelas Puti dengan tatapan lembut. “aku akan membantumu memakainya” Anulika mulai meneteskan air mata, tangisnya pecah melihat perhatian temannya. Pelukan hangat diberikan Puti untuk mendukungnya. Begitu melihat ini Dhatu ikut bergabung dalam pelukan besar. Mereka menertawakan apa yang baru saja terjadi. “sudah jangan menangis lagi, nanti riasanya tidak mau nempel” godaan Dhatu dengan bersidekap dada. Puti hanya tersenyum dan mulai membantu menyiapkan Anulika. Mereka akan segera tampil, menampilkan kisah hidupnya Puti Julia dirinya sendiri. Ruangan itu gelap gulita dengan banyak orang duduk dengan nyaman pada kursi masing-masing. Ditambah dengan emilan yang mereka bawa untuk menjadi teman nonton. Tirai merah masih menutup dengan rapat rahasia dibaliknya. Semuanya hening seketika saat mendengar alunan saluang yang menghanyutkan suasana. Mulai terdengar suara kisauan burung dan gesekan rerumputan. Bayangan angin sejuk pedesaan Minangkabau mulai terasa kental.


138 Suara narator mulai terdengar mengalun dengan indahnya.menyampaikan bait demi bait penuh dengan penghayatan, yang semakin membuat gejolak rasa penasaran semakin memuncah. Dikisahkan pada zaman dahulu, di Kampung Alai hiduplah seoarang gadis Bernama Puti Julia yang begitu dicintai oleh keluarganya. Ia memiliki ayah dan ibu yang begitu disegani dalam masyarakat, ia memiliki seorang kakek yang selalu memanjakan cucu perempuan tunggalnya itu. Walau dengan semua kemewahan yang ia dapatkan Puti Julia dilanda gundah karena pada usianya yang telah cukup untuk memulai rumah tangga belum ada pemuda yang minangnya. Tirai mulai terbuka lebar, penonton terkesiap saat menyaksikan pemandangan yang ada di depan mereka. Seorang gadis tengah duduk dengan tenang sambil menyulam benang. Gerakan tangannya begitu halus, lembut dalam ayunan benang. Ia duduk bersimpuh pada sebuah tikar dibawah pohon. Seakan begitu malu ia menampakan wajahnya yang ayu dengan selalu menunduk. Rupanya yang belum terlihat membuat banyak penonton tertegun penasaran. “Puti Julia cucuku kenapa menyulam sendirian disini?” tanya lembut pria tua yang masih tegap dengan tatapan sayang. “aku sedang menyulam kek, tadi ibu bersamaku tapi Kembali kedalam rumah untuk mengambil sesuatu” kini semua penonton dapat melihat wajah gadis itu. Suara tercekat banyak dari mereka menyaksikan kalau itu adalah Anulika. Aura yang ia mtampilkan sangat berbeda dengan dia yang biasanya, kini ia begitu Anggun dalam setiap gerakannya. Seakan memang putri bangsawan itu sendiri. Bisikan kagum mulai terdengar sumbang. Tentu ini tidak terdengar oleh para pemain. “akhir-akhir ini wajahmu tampak sedih apa gerangan yang terjadih?” pria tua itu mengambil posisi duduk di sebelah cucunya.


139 “apa yang salah denganku kakek, kenapa belum ada pemuda yang mau meminangku?” wajah itu tampak sangat terluka, apa ia melakukan kesalahan selama ini sehinga tidak ada yang mau mendekatinya. “mungkin memang belum jodohnya saja” kakeknya juga tidak menyukai keadaan ini. Ia tau posisinya saat ini akan sangat mempengaruhi cucunya. Hidup sebagai keturunan bangsawan akan membuat orang disekitar minder. “kakekmu benar putriku, suatu saat nanti aka nada pemuda yang gagah berani akan datang kemari untuk meminangmu” alunan suara lembut keibuan ini membuat penonton bersorak kaget. Melihat sosok Puti teman mereka yang kini tampak sangat berwibawa dengan aurang kebangsawannan yang kental. Banyak pandangan tidak percaya ditunjukan padanya. Bagaimana gadis kecil itu bebegi cocok dengan perannya sebagi seorang ibu. “tapi kapan itu ibu, usiaku sudah cukup untuk berumah tangga” “semua akan terjadi bila waktunya telah tepat putriku. Setiap pertemuan sudah diatus dengan sebagaimana mestinya. Asam jauah di gunuang ikan baranang di lauik dalam balango basuo juo. Sejauh apapun jarak bila patut bertemu tidak aka nada yang menghalagi. Jadi putriku tidak perlu mencemaskan apapun” suara keibuan ini membuat penonton hanyut akan melodinya. Hari berganti hari sampai suatu malam Puti Julia bermimpi seorang pemuda tampan datang menemuinya. Pemuda itu Bernama Sultan Rumandang, ia berkata akan melamarnya saat mereka bertemu. Pagi harinya, dengan hati yang senang Puti Julia mulai menceritakan mimpinya pada ibu dan kakeknya. Mendengar ini sang kakek dengan semangat mulai mencari pemuda yang Bernama Sultan rumandang itu. Namun pil pahit harus Kembali Puti Julia telan. Bagaimanapun usaha yang dilakukan kakeknya tidak membuahkan hasil. Pemuda yang Bernama Sultan Rumandang tidak pernah ditemukan.


140 Walau dengan hati yang sakit dan kegelisahan yang semakin menggerogoti, Puti Julia tetap meyakini kedatangan pemuda ini. Hari demi hari Kembali ia jalani dengan penuh harap cemas akan kedatangan Sultan Rumandang. Sampai suatu Ketika ada kapal yang berlabu di dermaga, dengan kedatangannya yang tiba-tiba menarik perhatian penduduk sekitar. Mereka mulai datang berkumpul untuk mendekati kapal tersebut. Alangkah beruntungnya saudagar pemilik kapal itu merupakan pemuda yang selama ini dicari oleh Puti Julia. Mendapat kabar baik ini sang kakek Datuak Rajo Katek memerintahkan seseorang untuk mengundang Sultan Rumandang kekediamannya. Penonton Kembali dikejutkan dengan apa yang ada di hadapan mereka. Bahkan Sebagian banyak yang meragukan pernglihatanya sendiri. “anak muda selamat datang di kampung Alai, ada gerangan apa tuan muda bertandang ke negeri kami?” tanya Datuak Rajo Ketek dengan wibawa penuh. Melihat pembawaan Azada dalam perannya tidak mengejutkan penonton, karena ia memang sudah memiliki kebiasaan ini setiap hari. “ambo datang kamari untuk berniaga, jikalau Datuak mengijinkan…” tindak tanduk Basil diperhatikan dengan baik oleh semua yang berada di kursi penonton. Semua decakan tidak percaya menggema dengan jelas. Susut pandang penonton. “sial si playboy itu jadi berubah 180 derjat” “pembuat onar maksutmu, astagah dia tampak seperti orang yang berbeda” “Basil makan obat apa ya biar bisa gitu” “pastikan kita mintak tips dari dia nanti” “hahahhah Basil dasar anak kurang ajar, belum puas lo sama pengemar dilapangan sampai tebar pesona di atas penggung juga”


141 Dan masih banyak lagi racauan yang bahkan tidak mereka tahan sama sekali, Sebagian benar-benar menyorakannya dengan kencang untuk di dengar oleh siempunya nama. Ia yang menjadi bahan olok-olok temannya mulai kesal dengan perempatan imajiner di keningnya. Kalau saja ia tidak sedang tampil sudah dipastikan akan menjitak kepala temannya satu persatu. Bisa-bisanya mereka mempermalukannya saat pementasan. Suasana Kembali hening berkat kehadiran Puti Julia yang memasuki panggung dengan membawa dua cangkir kopi. Ia masuk sambil menunjuk dengan senyum kecil yang ia lontarkan pada Sultan Rumandang. “ayo diminum kopinya” ajak Datuak Rajo Ketek dengan mempersilahkan. “terimakasih Datuak” ucapnya singkat, ia menyempatkan diri untuk menculi lirik kearah Puti Julia pergi. “ada apa tuan muda?” tanya Datuak menguji, ia sudah tau kemana arah pembicaraan ini. “tidak Datuak, itu tadi siapa?” tanyanya dengan sopan. “itu cucuku satu-satunya, Namanya Puti Julia. Ada apa tuan muda bertanya demikian?” tentu ini hanya bas abasi semata. Datuak sudah mulai mewanti-wanti bila ini terjadi. “cucumu sangat menawan Datuak, kalau diizinkan bolehkah saya mengenalnya?” “tuan muda, cucuku sudah cukup umur untuk menikah. Jikalau tuan muda hanya penasaran dan ingin main-main sebaiknya urungkan niat untuk mengenalnya. Hati cucuku terlalu polos soal cinta yang selama ini ia idamkan. Bila tuan muda ingin serius aku memperbolehkannya, namun jangan kecewakan hati gadis itu. Apakah tuan muda dapat menerimanya” “saya selalu serius dengan apapun yang saya lakukan. Rombongan saya akan tinggal lumayan lama di sini, seharusnya waktu itu cukup untuk saling mengenal”


142 Mendengar ini Datuak hanya menampilkan senyum, dengan tepukan kepercayaan pada Pundak Sultan Rumandang. Penonton benar-benar dibuat tabjuk dengan penokohan yang mereka mainkan. Bahkan tidak ada lagi yang berkomentar apapun hanya menikmati obrolan Datuak dengan Sultan Rumandang seakan memandang sesuatu yang benar-benar langka. Setelah restu yang diterimanya Sultan Rumandang memulai perniagaan di tempat itu. Semua berjalan lancar ia diterima baik oleh semua warga, barang yang ia tawarkan berkualitas bagus dengan harga yang terjangkau. Disela-sela kegiatannya terkadang Sultan Rumandang akan mendapati Puti Julia berjalan dengan beberapa temannya. Baik itu di pasar tempat ia menjajakan dagangannya atau pun kebetulan dalam perjalanan ketempet penginapannya. Setiap kali mereka bertemu hanya saling lempar senyum, sengan wajah malu-malu yang selalu ditunjukan Puti Julia. Semakin hari mereka semakin dekat sampai tiba saatnya Sultan Rumandang mengambil keputusan untuk melamarnya. Pertungan dilakukan terlebih dahulu mengingat ia yang masih akan melaksanakan perniagaan ke negeri lain. Ia memintak izin untuk mencari harta yang lebih banyak terlebih dahulu sebelum meminang Puti Julia secara utuh. Sultan rumandang beranggapan bahwa ia perlu mamantaskan diri terlebih dahulu sebelum meminang Puti Julia yang merupakan keturunan bangsawan Pagaruyuang.


143


144 “aku akan segera Kembali jadi tunggulah kedatanganku” sulit rasanya Sultan Rumandang dalam menyampaikan berita kepergiannya pada sang tunangan. “Kito saliang tajalin kisah jo carito, Di antaro rindu nan takana, Ado saatnyo, katiko ambo jatuah cinto, Ka adiak di titiak paliang dalam. Banyak tumbuah rumpuik Banto, Mati sadonyo dek kanai racun, Jarak mamisah diantaro Kito, Jagolah cinto nan lah tabangun. Sabanyak banyak bintang di langik, Sadalam dalam aia di lawik, Sadareh aia di banda, Nan namo adiak ndk pernah uda lupoan” Mendengar sajak indah yang disampaikan tunangannya membuat mata Puti Julia berkaca-kaca. Ia merasa semakin merasa berat untuk melepas tunangannya. Mempersiapkan diri akan jarak yang harus Kembali memisahkannya. “berjanjilah kau akan Kembali secara utuh untukku” tuntut Puti Julian dengan air mata yang mulai menetes.


145 “hati ko cando tanalah duo katiko hari ko tibo. Kito basamo baitu singkek kini lah tibo saaik papisahan. Barek raso nan ka malapeh uda ka rantau, takuik basuo bunggo nan lain” air mata mulai tidak tertahankan, mengalir menganak sungai dengan kurang ajarnya. Penonton semakin histeris saat melihat Basil yang memerankan Sultan Rumandang menghapus air mata Puti Julia dengan ibu jarinya. Para siswi sudah berdecak iri pada keberuntungan Anulika bisa dipasangkan dengan Basil yang notabennya memiliki banyak penggemar. “aku bersumpah atas segala usahaku, aku akan Kembali lagi untuk membawamu pergi berlayar bersamaku. Tidak aka nada Wanita lain yang bisa mengisi hatiku ini. Aku bersumpah akan selalu setia pada pertunangan kita, jika aku melanggarnya suatu saat nanti kapalku akan dihantam gelombang laut hinga tidak ada yang tersisa” ikrar itu sangat meyakinkan, membuat semua penonton mengharapkan akhir Bahagia untuk pasagan itu. “aku memiliki sumpah yang sama, akan setia menunggu kepulanganmu berapapun lama waktu yang kau butuhkan aku akan setia menunggu. Jika sumpah ini ku langar maka aku akan berubah menjadi siamang putih sebagai gantinya” sumpah lain Kembali terdengar, menciptakan efek berat yang dirasakan penonton. Mereka hanya bisa membisu dengan semua penampilan menabjukan yang disugukan pasangan tersebut. Seakan terbawa melodi kesedihan saat menyaksikan perpisahan mereka yang entah sampai kapan. Disaat kau memeluk pertemuan saat itu pula kau harus menyiapkan hati untuk melepaskannya dengan perpisahan. Pertemuan mereka yang singkat harus Kembali diuji dengan penantian tampa kepastian. Puti Julia menanti setiap hari dengan selalu mendoakan kebaikan tunangannya. Berharap segala keselamatan selalu menyertainya. Hari berganti minggu, bulan berkanti tahun kesetiaan itu tetap dipertahankan Puti Julia dengan iklas. Hatinya gelisah, seakan penantiannya tidak pernah terbayar, kabar tidak kunjung ia dengar. Sampai dua tahun telah berlalu tidak jua ada kabar baik sampai ketelinganya.


146 Rindu ko indak ka puda Bia jarak jauah nan kito tampauah Hati ko ka satio mananti Katiko malam tibo Maranuang dek marindukan uda ba’a na uda jauah dirantau urang denai di diko masih manunggu bilo uda ka pulang Puti Julia tampak termenung memandang ke kejauhan laut, tatapan rindu yang kian tidak terbendung. Ada kekecewaan dan rasa sedih yang mendalam. “bukankah kau tidak perlu datang ke pelabuhan setiap hari, sepertinya tunanganmu tidak akan datang Kembali” penampilan Dhatu sangat bijaksana, ia memakai pakaian hitam dengan ikat kepala dari kain bermotif batik, jelas ada senjata kerambit disetiap sisi kain yang ia lilitkan pada pinggangnya. Pembawaan Dhatu yang begitu tenang menunjukan betapa garangnya ia akan kedudukannya sebagai ahli beladiri. “aku tidak boleh putus asa sedikitpun, masih ada banyak harapan selama kita masih bernafas. “aku hanya menyampaikan pendapatku saja, menerimanya atau tidak itu urusanmu” “aku tau kamu peduli tapi aku baik-baik saja” Sesampainya di pelabuhan terlihat suasana yang sedikit ricuh, banyak yang mengatakan betapa megahnya kapal yang terdampar ditempat mereka untuk memperbaiki kerusakan pada lambung kapal.


147 Mendengar hal demikian membuat Puti Julia dan temannya bergegas menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Puti sangat berharap kalau kapal tersebut milik tunangannya. Namun ternyata harapannya Kembali sirna lewat pemberitahuan dari bisikan warga yang mengatakan bahwa kapal itu merupakan kapal dari sudagar seberang. Semuanya begitu ceepat, mata mereka saling terkunci, mengegumi penampilan satu sama lain. Seakan waktu berhenti saat itu juga, suara detik jam mulai terdengar, angin berhembus lambat, suara di sekitarnya mulai teredam seakan dunia milik mereka berdua. “hehem…” lamunan indah mereka buyar. “masih banyak orang di sini loh” lanjutnya. Mendengar ini wajah Puti Julia sepenuhnya merah, ia menunduk permisi pergi begitu saja meningalkan mereka. penonton sangat terhanyut dalam penampilan tersebut, bahkan mereka begitu penasaran dengan pemeran saudagar kaya tersebut. Hanya beberapa orang yang mengenalinya, bahkan mereka cukup terkejut ia mau memainkan peran dalam pementasan itu. Berbeda dengan Sultan Rumandang yang hanya meminta untuk ditunangkan dengan Puti Julia. Saudagar kaya lebih memilih langsung menikahi Puti Julia, ia ingin mengesahkan hubungannya sehinga tidak ada halangan baginya untuk membawa Puti Julia dalam perjalanan dagangnya. Pada awalnya Datuak Rajo Ketek meragukannya, namun melihat kesungguhan yang ditunjukannya akhirnya diperbolehkan. Sampai tibalah saat akad nikah akan dilaksanakan, semua orang tampak sangat antusias dalam mempersiapkan segala keperluan. Berhubung yang akan melangsungkan pernikahan merupakan anak gadis satusatunya, membuat semua keluarga besar ingin memberikan yang terbaik. “kamuy akin dengan keputusan ini?” tanya Dhatu yang kini sedang membantu menata pakaian yang dikenakan Puti Julia.


148 “tentu saja, bukankah kamu sendiri yang bilang kalau penantian ini sudah terlalu lama” ujar Puti Julia binggung dengan pertanyaannya. “bagaimana kalau tunanganmu tiba-tiba datang saat kau sudah menikah? Apa yang akan kau lakukan?” “selama ini aku sudah menunggu dalam ketidakpastian, saat tiba saatnya ada pemuda yang melamarku ingin mempersuntingku apa yang bisa ku lakukan” wajah Puti Julia tampak sedih, dengan rasa cemas aneh dalam hatinya. “aku memang mengatakan akan mendukungmu apapun yang terjadi, jadi keputusan ini juga temasuk didalamnya” Dhatu tersenyum dengan tatapan syukur pada wajahnya. “terimakasih sudah selalu menjadi temanku, setelah ini jaga ibu dan kakek untuk ku ya” mereka saling berpelukan, sebelum Puti Julia meneteskan air mata karena perasaan haru Dhatu cepat-cepat menghapusnya. “tidak ada air mata hari ini, bahkan jika itu air mata Bahagia ini akan merusak make up mu” omel Dhatu. “tidak masalahkan kamu bisa bantu aku lagi” “ayo ini sudah waktunya” ibu Puti Julia memasuki kamar putrinya. Mereka saling lihat dengan senyum mereka mulai menuntun Puti Julia menuju tempat akad akan dilaksanakan. Para tamu undangan sudah menenuhi tempat yang tersedia, wajah Bahagia dengan tawa menghiasi suasana. Terlihat mempelai pria sudah menunggu dengan tenang dihadapan Datuak Rajo Kete dengan penghulu. Tingal menunggu kedatangan mempelai Wanita yang tampaknya masih malu-malu untuk bergegas datang. Saat mempelai Wanita memasuki ruangan suasana langsung hening, semua mata terjutu pada mempelai Wanita yang tampak sangat menawan.


149 Penampilan ini menghipnotis semua penonton, decakan kagum dengan suasana yang ditata sedemikian rupa. Sehinga kalau ini bukan di atas panggung pasti mereka akan beranggapan kalau ini benar-benar acara pernikahan. “pementasan tahun ini anggota tata panggung dan tata riasnya sangat niat” “kalau aku tidak tau ini sebuah drama, pasti sudah numpang makan nih” “wah Anulika jadi beda banget ya” “Puti juga aura keibuannya keluar baget” Semua bisikan pujian yang dilontarkan penonton membuat mereka yang bekerja dibelakang panggung merasa sangat bangga dengan semua kerja keras mereka. Penonton Kembali fokus pada panggung, melihat Puti Julia dituntun duduk bersebelahan dengan mempelai pria. Ia menunduk dengan malu, Datuak Rajo Ketek tersenyum melihat sikap malu-malu cucu kesayangannya. “karena kedua mempelai sudah datang kita akan mulai saja” ucap Datuak Rajo Ketek kepada penghulu, yang dianggukinya dengan tatapan beralih pada mempela pria. “bailah sebelum kita memulainya ada pertanyaan yang akan saya perlu tanyakan terlebih dahulu. Apakah mempelai pria tidak memiliki janji akan menikah dengan gadis lain sebelumnya?” “tidak” jawabnya dengan tegas. “baikalah selanjutnya bagaimana dengan mempelai Wanita, apakah Ananda terikat janji dengan pemuda sebelumnya?” tanya penghulu menatam mempelai Wanita. “a..aku…” suaranya mualai tercekat kesulitan mengeluarkan suaranya. Tubuhnya mulai bergetar hebat. Rasa panas mulai dirasakan Puti Julia. Panasnya tidak dapat dibendung membuatnya berteriak dengan isteris. Mendengar ini para penonton jadi binggu denga napa yang terjadi, banyak yang mempertanyaan apa yang sebenarnya terjadi, bukankah suasananya sedang sangat khusyuk.


150 Wajah cemas dari penonton membuat mereka yang bekerja dibelakang panggung tersenyum atas penghayatan teman mereka dalam drama. Puti Julia berlari begitu saja meningalkan mempelai pria yang tampak sangat cemas dengan keadaannya. Ibu dan kakeknya mengejar Puti Julia secepat yang mereka bisa. Dhatu disisi lain mulai menghubungkan titik-titik setiap kejadian yang membuat perasaan nya gelisah selama ini. Setelah menyadarinya dengan syok ia mengejar Puti Julia. “astagah…ap aitu mungkin…?!” ucapnya dengan tangan menutup mulutnya terkejut, matanya ikut membola sempurna memikirkan apa yang mungkin akan terjadi. Lampu ruangan tiba-tiba mati, mendapatkan pekikan protes dari penonton yang penasaran apa yang sebenarnya terjadi dalam drama itu. Suara narrator mulai berkumandang Kembali menghentikan semua keluahan yang ingin diproteskan mereka. Apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur, sumpah yang Puti Julia ikralkan sebelum perpisahnya dengan sang tunangan menjadi kutukan. Kini pernikahan yang ia harapkan tidak pernah akan terlaksana, ia akan Kembali kepenantian tidak berujung dalam rupa siamang putih. Melihat kutukan ini membuat kakek dan ibunya tidak dapat berbuat banyak. Mereka hanya mendengar kabar dari banyak orang kalau mereka melihat siamang putih selalu menatap ke kejauhan laut seakan menantikan sang tunangan seperti biasa. Sampai kabar duka Kembali membuat mereka kecewa. Tunangan Puti Julia ternyanya juga menghianati hubungan mereka. Terbukti dengan kabar kapal pemuda itu yang dihantam badai dengan gadis yang akan menjadi tunangan barunya di atasnya. Pada akhirnya mereka sama-sama melupakan sumpah janji yang membawa petaka pada keduanya. Ini merupakan akhir kisah perjalanan Puti Julia yang berahir dengan kutukan dipihak keduanya. Betapa pentingnya menjaga janji kesetiaan itu, begitu sulit sampai melanggarnya akan menjadi pilihan.


Click to View FlipBook Version