MANAJEMEN MAGANG INDUSTRI GURU PRODUKTIF
TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN
DI SMK NEGERI KABUPATEN CILACAP
Tesis
Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
dalam Mendapatkan Gelar Magister Manajemen Pendidikan Program Studi
Magister Pendidikan Guru Vokasi
Diajukan oleh:
Novie Herawati
1907049011
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN GURU VOKASI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2021
i
ABSTRAK
Novie Herawati, 1907049011, MANAJEMEN MAGANG INDUSTRI GURU PRODUKTIF
TEKNIK KOMPUTER JARINGAN DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI
KABUPATEN CILACAP, Tesis, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan, menganalisis pelaksanaan, dan
menganalisis evaluasi magang industri guru produktif Teknik Komputer dan Jaringan di SMK
Negeri Kabupaten Cilacap.
Metode penelitian adalah deskripsi kualitatif. Data penelitian diperoleh dengan menggali
fakta dari narasumber secara langsung. Subjek penelitian diambil menggunakan teknik sample
acak berdasar area (cluster random sampling) yang terdiri dari tiga guru magang, dua kepala
SMK, dan perwakilan dari industri. Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 1 Binangun, dan SMK
Negeri 1 Cilacap. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan dokumentasi, teknik
validasi pengumpulan data menggunakan triangulasi, mengumpulkan bukti penelitian, analisis
data menggunakan metode interaktif Miles dan Huberman yang diawali dengan pengumpulan
data, reduksi, penyajian data, dan verifikasi data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan magang kerja bagi guru produktif TKj
perlu dibuat petunjuk teknis kegiatan magang, pelaksanaan magang menunjukan bahwa
kompetensi, penerapan K3, peralatan praktik di sekolah belum sesuai dengan standar industri,
evaluasi kegiatan magang meliputi penambahan kuota magang, upgrade kompetensi guru,
sinkronisasi peralatan, kurikulum sesuaistandar industri
Kata kunci : perencanaan magang kerja, pelaksanaan magang kerja industri, sarana dan prasarana
praktik.
ii
ABSTRAC
The research aimed; 1. To analyze the plannig industrial apprenticeship of productive
teachers in computer and network engineering at Vocational High School in Cilacap Regency. 2.
To elaborate the problem in processing of apprenticeship computer and network engineering
teacher at Vocational High School in Cilacap Regency. 3. To analyze problem solving of industrial
apprenticeship computer and network engineering teacher at Vocational High School in Cilacap
Regency.
This research was done in two Vocational High School which had done industrial
apprenticeship for teacher expertise competence in computer and network, they were SMK N 1
Binangun and SMK N 1 Cilacap. The method used in research were descriptive with a qualitative
approach. The research data obtained by obtaining some facts from direct interviewee. The
research subjects were taken using random techniques based on area (Cluster Random Sampling),
data collection validation technique using triangulation research evidence. Data analysis using
interactive method by Miles Huberman that begun with data collection, reduction, data
presentation and data verification.
The results of the research are (1) Planning for industrial productive teacher
apprenticeships in Computer and Network Engineering, so far the apprentice teacher has been
appointed by the principal, the quota for apprenticeship teachers is determined by industry, schools
are trying to collaborate with industry to provide a quota for teacher apprentices, (2) problems
include long apprenticeship time which causes teacher duties at school to pile up, the solution is
that the schedule for apprenticeship is carried out when students carry out field work practices or
school holidays, the application of occupational health and safety so far is only theory and
equipment not yet according to industry standards, the solution is that schools complete equipment
according to industry standards and teachers implement occupational health and safety according
to standards, (3) Evaluation of industrial industrial apprenticeships for productive teachers of
Computer and Network Engineering from the industry is a review of work carried out by
apprentice teachers, from the school it is only limited to reporting activities and has not there is
dissemination to other teachers.
Keywords: TKJ Teachers, Industrial, Internships,
iii
PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Novie Herawati
NIM : 1907049011
Email : [email protected]
Program Studi : Magister Pendidikan Guru Vokasi
Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Judul Tesis : MANAJEMEN MAGANG INDUSTRI GURU PRODUKTIF
TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN DI SEKOLAH
MENENGAH KEJURUAN NEGERI KABUPATEN CILACAP.
Dengan ini menyatakan bahwa:
1. Hasil karya yang saya serahkan ini adalah asli dan belum pernah diajukan
untuk mendapatkan gelar kesarjanaan di Universitas Ahmad Dahlan
Yogyakarta maupun Universitas lain.
2. Hasil karya ini bukan terjemahan/saduran melainkan merupakan gagasan
atau rumusan dan hasil pelaksanaan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan
pihak lain kecuali arahan pembimbing dan narasumber.
3. Hasil karya ini merupakan revisi terakhir setelah diujikan yang telah
diketahui dan disetujui oleh pembimbing.
4. Hasil karya ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang
lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi, dan tidak
terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang
lain kecuali secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka.
Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya, apabila dikemudian hari terbukti
ada penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, saya bersedia
menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena
karya saya ini, serta sanksi lain yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Yogyakarta,
Novie Herawati
1907049011
iv
Tesis
MANAJEMEN MAGANG INDUSTRI GURU PRODUKTIF
TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN
DI SMK N KABUPATEN CILACAP
Diajukan oleh:
Novie Herawati
1907049011
Tesis ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar
Magister Pendidikan Program Studi Magister Pendidikan Guru Vokasi
telah disetujui oleh Pembimbing II
Pembimbing I
Dr. Edhy Susatya Dr. Bambang Noor Achsan Kristiyanto,MT
NIY. 60160996 NIY. 60171043
Mengetahui
Kaprodi Magister Pendidikan Guru Vokasi
Dr. Tri Kuat
NIY. 60160990
v
TESIS
MANAJEMEN MAGANG INDUSTRI GURU PRODUKTIF
TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN
DI SMK NEGERI KABUPATEN CILACAP
Yang dipersiapkan dan disusun oleh:
Novie Herawati
1907049011
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji
Pada tanggal 09 Bulan April Tahun 2021
dan dinyatakan telah memenuhi syarat
Ketua Susunan Dewan Penguji …………….....
Dr. Edhy Susatya
Penguji I Dr. Budi Santosa 04 Mei 2021
Penguji II Dr. Tri Kuat .04 Mei.2021
Sekretaris Dr. Bambang Noor Achsan Kristiyanto,MT 04 Mei 2021
Yogyakarta, 09 April 2021
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Ahmad Dahlan
Dr. Trikinasih Handayani, M.Si.
NIP. 195909071985032002
vi
HALAMAN PERSEMBAHAN
Kupersembahkan untuk yang selalu menanyakan kapan tesis selesai dan
selalu memberikan dukungan serta bantuan.
vii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT, atas
segala karunia dan Ridho Alloh SWT, sehingga tesis dengan judul Manajemen
Magang Industri Guru Teknik Komputer dan Jaringan di Sekolah Menengah
Kejuruan Negeri Kabupaten Cilacap dapat diselesaikan.
Tesis ditulis sebagai persyaratan memperoleh gelar Magister Pendidikan
Program Studi Magister Pendidikan Guru Vokasi Universitas Ahmad Dahlan
Yogyakarta. Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada
1. Dr. Muchlas, M.T. Rektor Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
2. Dr. Trikinasih Handayani, M. Si Dekan FKIP Universitas Ahmad Dahlan
Yogyakarta.
3. Dr. Tri Kuat Ketua Program studi Magister Pendidikan Guru Vokasi.
4. Dr. Edhy Susatya, sebagai dosen pembimbing I yang telah meluangkan
waktu dan banyak memberikan masukan dalam penyelesaian tesis.
5. Dr. Bambang Noor Achsan sebagai dosen pembimbing II yang telah
meluangkan waktu dan banyak memberikan masukan dalam penyelesaian
tesis.
6. Dosen Magister Pendidikan Guru Vokasi.
7. Ariyanto dan Ibu Nia dari Pihak Telkom Purwokerto.
8. Widi Linggih, S T, M. Kom Dosen STT Telkom Bandung.
9. Sri Utami, S.Pd. MM kepala SMK Negeri 1 Binangun.
10. Hendarto, S.Pd. MPd kepala SMKN 1 Cilacap
viii
11. Lukman Riyan, Bimo, Wawan, sebagai narasumber.
12. Teman teman guru Teknik Komputer dan Jaringan.
13. Keluargaku semua.
14. Ary Yosep selalu memberikan dukungan
15. Elfrida yang selalu memberikan semangat untuk cepat menyelesaikan tesis.
16. Rekan-rekan mahasiswa MPGV.
Dengan segala keterbatasan pengalaman, ilmu maupun pustaka yang
ditinjau, saya menyadari tesis ini banyak kekurangan, semoga dapat dimanfaatkan
untuk pengembangan lebih lanjut.
Yogyakarta,
ix
DAFTAR ISI
ABSTRAK .............................................................................................................. ii
PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT ..................................................................... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN............................................................................ vii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii
DAFTAR ISI........................................................................................................... x
DAFTAR TABEL................................................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
PENDAHULUAN................................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah....................................................................................... 14
C. Pembatasan Masalah...................................................................................... 15
D. Rumusan Masalah.......................................................................................... 15
E. Tujuan Penelitian. .......................................................................................... 15
F. Manfaat Penelitian. ........................................................................................ 16
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 17
A. Kajian Pustaka. .............................................................................................. 17
1. Kompetensi Guru. .......................................................................................... 17
2. Magang. ......................................................................................................... 24
3. Dunia Usaha Dunia Industri........................................................................... 46
4. Teknik Komputer dan Jaringan...................................................................... 48
x
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 52
A. Jenis Penelitian............................................................................................... 52
B. Tempat dan Waktu Penelitian. ....................................................................... 53
C. Subjek dan Objek Penelitian.......................................................................... 53
D. Teknik Pengumpulan data dan Instrumen...................................................... 53
1. Teknik Pengumpulan data.............................................................................. 53
a. Teknik Observasi. .......................................................................................... 55
b. Teknik Dokumentasi...................................................................................... 55
c. Teknik Wawancara. ....................................................................................... 56
E. Teknik Analisis Data...................................................................................... 61
BAB IV. HASIL PENELEITIAN........................................................................ 67
A. HASIL PENELITIAN. .................................................................................. 67
1. Data Sekolah Lokasi Penelitian. .................................................................... 67
2 Data Hasil Wawancara dan Jenis Dokumen. ................................................. 75
B. PEMBAHASAN ............................................................................................ 81
1. Perencanaan Magang. ................................................................................... 81
2. Pelaksanaan magang industri guru produktif teknik komputer dan jaringan. 86
C. Keterbatasan Penelitian .............................................................................. 103
BAB V PENUTUP.............................................................................................. 104
A. Kesimpulan. ................................................................................................. 104
B. Implikasi ...................................................................................................... 105
C. Saran. ........................................................................................................... 106
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 107
xi
LAMPIRAN........................................................................................................ 148
DAFTAR TABEL
Tabel 4. 1. Data Guru SMK Negeri 1 Binangun................................................... 70
Tabel 4. 2. Daftar guru TKJ SMK Negeri 1 Binangun ......................................... 71
Tabel 4. 3. Peta kompetensi guru TKJ SMK N 1 Binangun. ................................ 72
Tabel 4. 4. Jumlah Rombongan Belajar SMK Negeri 1 Binangun. ...................... 73
Tabel 4. 5. Daftar kompetensi keahlian di SMK N 1 Cilacap............................... 74
Tabel 4. 6. Data guru SMK N 1 Cilacap. .............................................................. 74
Tabel 4. 7. Data hasil wawancara dengan guru magang 1, 2, dan 3 ..................... 76
Tabel 4. 8. Hasil wawancara dengan kepala SMK................................................ 77
Tabel 4. 9. Hasil wawancara dengan industri. ...................................................... 78
Tabel 4. 10. Data kegiatan peningkatan kompetensi guru TKJ di SMK N 1
Binangun ............................................................................................................... 79
Tabel 4. 11. Data kegiatan peningkatan kompetensi guru TKJ di SMK N 1
Cilacap................................................................................................................... 80
Tabel 4. 12. Data guru magang. ............................................................................ 81
Tabel 4. 13. Pola pelaksanaan magang guru TKJ ................................................. 86
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1. Komponen pendukung terciptanya budaya kerja. ........................... 43
Gambar 2. 2. Konsep Magang guru TKJ ............................................................. 51
Gambar 3. 1. Triangulasi dengan tiga sumber data............................................... 54
Gambar 3. 2. Triangulasi dengan tiga teknik pengumpulan data.......................... 54
Gambar 3. 3. Teknik Analisis Data Miles and Huberman. ................................... 63
Gambar 3. 4. Teknik Validasi Data....................................................................... 63
Gambar 3. 5. Proses Penyusunan Laporan............................................................ 66
xiii
BAB I
PEN D A HU LUA N
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Tuntutan dunia usaha dunia industri (DUDI) di Indonesia adalah Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) menghasilkan tamatan terampil dan displin. Karena
itu, SMK perlu mempersiapkan dan membekali peserta didik dengan pengetahuan
dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan DUDI. Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa SMK
merupakan lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak lulusan yang memiliki
keterampilan untuk menangani suatu pekerjaan tertentu. Berdasarkan program
prioritas Direktorat Pembinaan SMK yang mencanangkan tema pembangunan
pendidikan jangka panjang 2005 - 2024, pembangunan SMK diarahkan pada
peningkatan daya saing internasional sebagai pondasi dalam membangun
kemandirian dan daya saing bangsa dalam menghadapi persaingan global. Upaya
mewujudkan program ini, berbagai kebijakan telah dicanangkan, antara lain
Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia menegaskan bahwa SMK harus semakin mendekatkan diri dengan
dunia kerja.
Tanggung jawab pemerintah dalam pengembangan SMK di Indonesia
adalah pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) melalui peningkatan
kompetensi guru produktif SMK berbasis industri. Menurut Peraturan Menteri
1
2
Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar isi, disebutkan
bahwa guru produktif adalah guru SMK yang mengajar kelompok mata pelajaran
dasar kompetensi keahlian dan kompetensi keahlian. Pengembangan kompetensi
secara berkelanjutan guru produktif SMK berbasis industri menyangkut
peningkatan kompetensi guru produktif agar sesuai dengan kebutuhan industri,
pola kerjasama sekolah dengan industri, dan magang guru ke industri. Dalam hal
pengembangan guru, Undang - undang Nomor 23 Tahun 2014 tantang Pemerintah
Daerah, memberikan pengalihan kewenangan sekolah menengah kejuruan kepada
pemerintah provinsi untuk merumuskan pola/model pengelolaan dan
pengembangan SMK secara efektif dan efisien.
Posisi guru produktif SMK sangat strategis dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa. Hal ini mengandung makna bahwa ketersediaan jumlah dan kualitas guru
produktif yang kompeten akan berdampak sinergis dalam mewujudkan
pendidikan SMK yang bermutu. Undang - Undang Nomor 4 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen secara eksplisit mengamanatkan adanya pembinaan dan
pengembangan profesi guru secara berkelanjutan sebagai aktualisasi dari sebuah
profesi pendidik. Standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari 4
kompetensi utama, yaitu (1) Kompetensi pedagogik, (2) Kompetensi kepribadian,
(3) Kompetensi sosial, (4) Kompetensi profesional.
Suharno (2015) menyatakan bahwa pemberlakuan Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah memunculkan beberapa permasalahan
penting, antara lain sulitnya mendapatkan guru yang kompeten, khususnya
kompetensi keterampilan pada guru produktif. Berdasarkan permasalahan diatas
3
terlihat bahwa guru produktif SMK merupakan unsur pokok yang harus mendapat
perhatian untuk dikembangkan kompetensinya, karena ketersediaan guru yang
kompeten dapat meningkatkan mutu dan relevansi lulusan SMK. Upaya
meningkatkan kompetensi guru produktif SMK, Presiden telah menerbitkan
Instruksi Presiden (Inpres) Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang
Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan dalam rangka Peningkatan Kualitas dan
Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia. Melalui Inpres ini, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) diinstruksikan untuk meningkatkan
jumlah dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di SMK.
Undang - undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Kompetensi Guru, pasal
10 ayat (1) menjelaskan kompetensi guru mencakup empat kompetensi yaitu
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan
kompetensi profesional. Profesionalitas guru tersebut selalu meningkat, maka
guru seharusnya mengadakan refleksi terhadap kinerja sendiri secara terus
menerus dan memanfaatkan hasil refleksi untuk meningkatkan profesinya,
Mukhlason, Winanti, & Yundra (2020) menyimpulkan bahwa bahwa faktor-faktor
banyaknya tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada jenjang SMK diantaranya
Keterbatasan guru produktif/kejuruan dari segi kuantitas maupun kualitas, (2)
Peranan DUDI pasangan masih belum optimal bahkan ada ketidaksesuaian antara
DU/DI dengan komptensi keahlian sekolah, dan (3) Terjadi mismatch antara
komptensi keahlian yang dikembangkan sekolah dengan keahlian yang
dibutuhkan DUDI.
4
Guru dapat mengembangkan profesi dan kompetensi melalui belajar dari
berbagai program pelatihan baik dari sekolah maupun luar sekolah. Guru mampu
bersikap profesional dalam proses pendidikan dan sekolah wajib menyediakan
pelatihan, sumber belajar, dan memiliki manajemen pengembangan kompetensi
guru. Data Pokok Pendidikan Menengah Tahun 2019 menyebutkan bahwa
Ketersedian guru produktif SMK di provinsi Jawa Tengah masih sedikit apabila
dibandingkan dengan guru mata pelajaran yang lain (normatif dan adaptif),
Jumlah guru produktif pada tahun pelajaran 2018/2019 hanya 17.076 orang dari
jumlah guru SMK 40.536. Suharno (2015) menyatakan kurangnya tenaga guru
produktif di Provinsi Jawa Tengah menimbulkan beberapa permasalahan, antara
lain sulitnya mendapatkan guru yang kompeten, khususnya kompetensi
keterampilan pada guru produktif). Berdasarkan permasalahan diatas terlihat
bahwa guru produktif SMK merupakan unsur pokok yang harus mendapat
perhatian untuk dikembangkan kompetensinya, karena ketersediaan guru yang
kompeten dapat meningkatkan mutu dan relevansi lulusan SMK.
Pawellangi (2017) menyatakan bahwa data peserta uji kompetensi guru
(UKG) tahun 2015 sejumlah 10.053 orang yang tersebar pada 34 provinsi, 462
kabupaten/kota, dan 4.986 sekolah. Jumlah butir soal yang diujikan sebanyak 633
butir untuk semua program keahlian. Menunjukan bahwa peningkatan
profesionalitas guru banyak dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai pelatihan
namun hasilnya belum optimal, guru yang pernah mengikuti pelatihan tidak
berbeda secara signifikan dengan guru yang belum pernah mengikuti pelatihan.
5
Sutijono (2016) menyatakan bahwa kualitas profesional guru juga harus
ditingkatkan agar kompetensi profesional yang dimiliki guru meningkat juga, hal
ini dikarenakan guru di sekolah berperan sebagai fasilitator yang dianggap
profesional dan mampu meningkatkan kompetensi dan keahlian siswa sehingga
kemampuan dan pengetahuan siswa relevan dengan kebutuhan dunia usaha dunia
industri. Oleh karena itu guru harus memiliki wawasan mengenai dunia usaha
dunia industri terlebih dahulu sebelum mengajar. Pengetahuan itu bisa diperoleh
melalui magang guru di industri yang dilaksanakan secara langsung di industri
agar guru mengetahui tentang industri yang berguna untuk meningkatkan
keterampilan dalam mengajarkannya ke peserta didik. Magang guru produktif
diharapkan mampu mencetak tenaga pendidik yang sesuai dengan kompetensinya.
Guru produktif SMK yang profesional yaitu yang mampu menyediakan lulusan
SMK sesuai kebutuhan di industri.
Magang merupakan salah satu bentuk pendidikan dan pelatihan yang akan
membentuk kompetensi guru. National training board Australia (1995) dalam
Anonim (2008) mendeskripsikan bahwa competency based educational and
training (CBET) adalah pendidikan dan pelatihan yang menitikberatkan pada
penguasaan suatu pengetahuan dan keterampilan khusus serta penerapannya di
lapangan kerja. Pengetahuan dan keterampilan ini harus dapat didemonstrasikan
dengan standar industri yang ada, bukan standar relatif yang ditentukan oleh
keberhasilan seseorang di dalam suatu kelompok.
Magang industri dimaksudkan untuk mempersiapkan seseorang dalam
rangka untuk diantar memasuki dunia kerja dan siap untuk bekerja. Lembaga-
6
lembaga pendidikan jelas merupakan salah satu utama rekrutmen tenaga kerja
baru, baik yang menyelenggarakan pendidikan umum maupun pendidikan
kejuruan (Sondang, 2014). Pelaksanaan magang ini bervariasi di setiap
perusahaan, dalam arti tidak di semua perusahaan guru magang dapat melakukan
pekerjaan yang sesuai dengan konsentrasi jurusannya. Prakteknya di lapangan,
banyak guru magang belum mendapatkan kepercayaan untuk melakukan
pekerjaan yang sebenarnya.
Program magang diharapkan menjembatani antara SMK dengan dunia
usaha. Namun ternyata apa yang diharapkan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Guru magang hanya sekedar mengikuti kegiatan magang namun tidak memiliki
arti penting. Pada sisi yang lain, tidak adanya evaluasi dalam proses magang.
Dalam arti guru magang tidak diberi pengarahan dan bimbingan sebelum dan
selama magang. Pihak SMK selama ini hanya bertugas menerima laporan yang
dikerjakan guru selama kegiatan magang. Sehingga kegiatan magang sendiri tidak
dapat dikontrol dengan baik pelaksanaannya. Sistem pelaksanaan program
magang yang sekarang masih banyak permasalahan karena lemahnya koordinasi
di antara fihak-fihak yang terlibat, kurang terstruktur, dan kurang selektif,
sehingga perlu penyempurnaan. Maka dipandang perlu untuk melakukan
penelitian tentang problem magang di industri bagi guru produktif TKJ, Sehingga
nantinya akan didapat sebuah rekomendasi program magang yang efektif dan
sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Hal inilah yang menjadi sinkronisasi
dunia industri dan SMK, atau yang dikenal dengan link and match.
7
Permasalahan yang dihadapi pendidikan di Indonesia khususnya SMK
adalah lemahnya kompetensi profesional guru produktif. Guru produktif harus
mengaktualisasi kompetensi sesuai dengan kebutuhan industri. Dengan program
revitalisasi SMK guru produktif menjadi perhatian khusus pemerintah dengan
cara memberi kesempatan seluas-luasnya untuk magang guru di industri sesuai
dengan kompetensi keahlian, namun demikian kesempatan melaksanakan magang
tersebut belum terbuka dengan mudah.
Suharno (2018) menyatakan Permasalahan magang guru di industri selama
ini terletak pada ketidak seimbangan antara kemampuan teori dan praktik yang
dikuasai oleh guru, dan belum diterapkan dengan benar, hal ini ditunjukan dari
data BPS tentang hasil uji kompetensi guru produktif tahun 2016 bahwa hanya
ada 22,6 % guru yang dinyatakan kompeten, sisanya dikategorikan rendah, hal ini
disebabkan kurangnya pelatihan yang diikuti oleh guru produktif. Hal ini bisa
dilihat dari sedikitnya jumlah tenaga guru produktif di masing-masing sekolah,
sehingga apabila sekolah mengirimkan gurunya ke industri, kondisi sekolah
menjadi tidak kondusif, apalagi jika guru mengikuti pelatihan magang dengan
durasi waktu yang lama, hal ini menjadikan pihak SMK tidak mau mengirimkan
gurunya untuk mengikuti magang di industri.
Budaya di industri dengan budaya di sekolah, hal ini sangat berpengaruh
terhadap mental guru ketika berada di industri. Indonesia menganut kebiasaan
ketimuran dimana guru dipandang sebagai sosok yang paling mulia, jadi ketika
mereka berada di industri guru tetap dianggap sebagai orang yang profesional,
namun kenyataannya penguasaan kompetensi yang dimiliki guru sudah tidak
8
relevan lagi dengan tuntutan industri saat ini, sikap dari pihak industri yang
seperti ini hendaknya dihilangkan, jadi ketika guru berada di industri semestinya
ditempatkan sebagai peserta magang bukan guru lagi. Sudarno (2019) menyatakan
bahwa tujuan magang guru di industri adalah membekali guru dan tenaga
pendidik agar lebih mengerti kebutuhan dunia industri yang sebenarnya.
Pelaksanaan kegiatan magang guru di industri memerlukan waktu sekitar
tiga sampai dengan bulan, hal ini bertujuan supaya kegiatan guru dalam
melaksanakan magang optimal, dan memberikan hasil yang maksimal yang
nantinya dipergunakan untuk diajarkan kepada peserta didik, pengalaman yang
ada di industri semakin lama akan semakin baik, Yangming Jing & Jianying
Zhang (2019) menyatakan bahwa proses magang yang diselenggarakan dalam
waktu yang singkat atau pendek akan memberikan hasil kurang optimal,
diharapkan baik dari pemerintah, SMK, dan industri mengalokasikan waktu yang
maksimal bagi guru untuk mengambil kompetensi yang ada di industri sampai
benar benar menguasai.
Kompetensi guru produktif SMK, sangat perlu dikembangkan ke arah
kompetensi keterampilan berbasis industri. Pengembangan kompetensi guru
produktif SMK berbasis industri perlu pedoman yang baku. Oleh sebab itu
Direktorat PSMK perlu mengembangan suatu pedoman berbasis hasil kajian yang
memuat model pengembangan kompetensi guru produktif SMK yang berbasis
industri melalui kajian tentang Model Pengembangan Kompetensi Guru Produktif
SMK Berbasis Industri dengan memperhatikan aspek kebutuhan pengembangan
kompetensi guru yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dunia industri.
9
Magang industri bagi guru produktif mendapatkan perhatian yang serius
dari pemerintah melalui Direktorat Pembinaan SMK menyelenggarakan magang
industri bagi 1500 guru SMK tahun 2017 yang dibantu oleh pemerintah Jerman
baik magang di dalam negeri maupun luar negeri. Namun kesempatan tersebut
belum sepenuhnya merata di seluruh SMK dari 292.2012 jumlah guru SMK (Data
PSMK Tahun 2017). Samidjo (2017) pedoman magang sebagai acuan hendaknya
dijadikan pedoman dalam penentuan kebijakan program magang. SMK Negeri 1
Batam telah ditunjuk untuk mengembangkan Program SMK Kawasan Industri
tahun 2017 dimana telah mengirimkan 25 guru produktif sebagai guru magang di
industri yang berasal dari SMK Negeri dan Swasta di Wilayah Provinsi Kepri
yaitu dari Batam, Tanjung Pinang dan Singkep. 10 SMK dari Batam, 1 SMK dari
Tanjung Pinang yaitu SMKN 3 Tanjung Pinang dan 1 SMK dari Singkep yaitu
SMKN 1 Singkep dengan total 12 SMK. Pemagangan guru dilaksanakan selama 5
hari. Sesuai dengan kesediaan perusahaan, maka rentang tanggal pemagangan
diberikan mulai tanggal 23 Oktober 2017 hingga 11 November 2017. Guru yang
akan magang di industri berasal dari kompetensi keahlian Teknik Pemesinan,
Teknik Otomasi Industri, Teknik Mekatronika, Teknik Pengelasan, Teknik
Komputer Jaringan, Teknik Elektronika Daya dan Komunikasi, Administrasi
Perkantoran dan Multimedia. Guru yang mengikuti kegiatan pemagangan
ditempatkan pada 10 perusahaan yang dimana mendukung program pemerintah
berupa revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berbasis kompetensi link
and match dengan industri. Perusahaan tersebut adalah PT. Batam Bintan
Telekomunikasi, PT. Caterpillar Indonesia Batam, PT. Kinema Systrans
10
Multimedia, PT. Labtech Penta International, PT. Panasonic Industrial Devices
Batam, PT. Schneider Electric Manufacturing Batam, PT. Siix Electronics
Indonesia, PT. Batamindo Investment Cakrawala, PT. Telekomunikasi Indonesia
Tbk, PT. Vortex Energy Batam, dengan alokasi waktu lima hari magang di
industri kurang efektif dan guru belum sepenuhnya memahami kompetensi yang
ada di industri. Samidjo (2017) menyimpulkan waktu yang dilakukan untuk
melaksanakan kegiatan magang sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan
dicapai, apabila magang dilaksanakan diatas 256 jam bisa dikategorikan efektif.
Tahun 2019 SMKN 1 Cimahi mengirimkan guru Teknik Komputer dan
Jaringan di Jepang di Seogang Collage, dan industri Commax Korea Selatan
selama 3 bulan dalam kegiatan magang tersebut guru terjun langsung di industri,
setelah dievaluasi efektif ternyata sangat bermanfaat dan menambah pengalaman
lebih banyak.(Pikiran Rakyat:2019). Di SMK negeri 1 Cilacap mendapatkan
kuota 2 orang melaksanakan magang di Cina, Korea dan Jerman, namun
pelaksanaan kegiatan magang satu bulan. Pelaksanaan kegiatan magang selama
satu bulan sudah dianggap cukup memahami budaya di industri, dan kegiatannya.
Waktu yang diperlukan masih kurang karena guru berada di industri hanya 30
hari. Dari tiga uraian diatas peneliti mengambil latar belakang bahwa pelaksanaan
magang di industri masih kurang alokasi waktu yang disediakan bagi guru untuk
melaksanakan magang serta dapat dilihat bahwa pemerataan kesempatan magang
guru di industri masih terbatas. Wahana, T. B. (2019) menyatakan bahwa
Pelaksanaan program magang industri guru produktif SMK masing kurang baik
11
dalam pelaksanaannya karena belum semua sekolah melaksanakan kegiatan
tersebut dan baru beberapa guru produktif yang telah melaksankannya.
Wahana (2019) menyimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan magang
industri guru produktif adalah program yang baik, namum dalam pelaksanaanya
berbanding terbalik pelaksanaannya masih ada kendala mengenai belum
terselenggara secara menyeluruh di SMK. Dikarenakan proses administrasi antara
perusahaan dengan sekolah dan jadwal guru mengajar yang padat
Kabupaten Cilacap memiliki dua Sekolah Menengah Kejuruan Negeri yang
menyelenggarakan Kompetensi Keahlian TKJ, yaitu SMK Negeri 1 Binangun dan
SMK Negeri 1 Cilacap. Data Guru TKJ di dua sekolah tersebut sejumlah 13
orang, dengan rincian guru yang sudah melaksanakan magang industri ada dua
orang, sedangkan 10 guru belum melaksanakan magang industri. (sumber; data
MGMP TKJ Kabupaten Cilacap Tahun 2018) hal ini dirasakan sejumlah guru
produktif TKJ di SMK Negeri Kabupaten Cilacap dengan sedikitnya kesempatan
untuk magang di industri karena kuota yang diberikan dari pihak kementerian atau
dukungan dari pihak SMK sendiri untuk mengirimkan gurunya ke industri untuk
magang dirasakan masih kurang, hal ini dikarenakan pihak SMK belum
sepenuhnya memfasilitasi kebutuhan guru magang, baik dari segi perencanaan,
monitoring dan evaluasi itu sendiri, karena pihak SMK masih mempunyai
pemikiran selain program magang industri upaya meningkatkan guru produktif di
SMK Negeri Kabupaten Cilacap dilakukan dengan kegiatan pelatihan yang
mengambil instruktur dari salah satu guru. Kegiatan pelatihan dilaksanakan
12
sewaktu liburan sekolah, namun waktu sangat pendek maka hasil kurang
maksimal.
Pelaksanaan magang guru di industri tidak lepas dari ketersediaan industri
yang relevan. Di Kabupaten Cilacap jumlah dunia usaha dunia industri yang
relevan dan siap menampung guru produktif TKJ untuk melaksanakan magang
hanya ada tiga yaitu (Nocola IOT Solution, Namora Laut Biru, AKMAKOM, PT
Solusi Bangun Indonesia Tbk), sehingga daya tampung di industri bagi guru untuk
melakukan magang kurang dan guru produktif TKJ melakukan kegiatan pelatihan
atau magang harus keluar daerah (Aptiknas Cilacap, 2019). Sebagian besar
industri di wilayah Kabupaten Cilacap berada pada sektor Perikanan, dan
pertanian serta Tambang, untuk Industri Skala besar yang berhubungan erat
dengan kompetensi keahlian TKJ masih sedikit. Industri di Kabupaten Cilacap
yang berhubungan dengan TKJ mayoritas baru sebatas jual beli dan perbaikan
peralatan IT, belum ada Industri skala Nasional.Tarbiyatun (2019) menyatakan
bahwa dari industri yang menyediakan layanan internet (ISP) hanya satu yang
mau menjalin kerjasama dengan SMKN 1 Juwiring dalam hal kemitraan sekolah
dengan industri dengan syarat bahwa sekolah tersebut harus membuka kelas
industri dari ISP tersebut agar dapat mengirimkan guru untuk magang.
Keberadaan dunia usaha dunia industri yang relevan dengan kompetensi
keahlian TKJ sebagian besar berada di luar daerah, sehingga memerlukan waktu
khusus untuk pelaksanaan magang. Selama ini pihak sekolah memberikan waktu
untuk mengikuti kegiatan pelatihan di industri hanya diberikan waktu satu minggu
13
hal ini dirasa masih kurang karena apa yang mestinya diperoleh guru sebagian
masih harus dipelajari sendiri.
Budaya di industri berbeda dengan di sekolah, sehingga walau kadang status
sebagai guru di sekolah namun ketika di industri seharusnya statusnya adalah
sebagai pekerja magang, tetapi biasanya pihak industri tidak mau memberikan
pekerjaan kepada guru magang ada unsur etika yang membuat instruktur di
industri menjadi menjaga jarak dan tidak mau menganggap guru sebagai peserta
magang.
Fadillah, Suherman, & Ariyano (2019) mengidentifikasi bahwa penerapan
keselamatan kerja di tempat praktik pemesinan SMK belum layak dan belum
mengacu pada standar industri dan menyebabkan terhambatnya proses
pembelajaran pada praktikum pemesinan di tempat praktik pemesinan SMKN 2
Bandung, sehingga guru menyebabkan kompetensi guru dalam hal K3 tidak
relevan dengan standar K3 industri. Sejalan dengan kondisi yang ada di SMK
Negeri di Kabupaten Cilacap, untuk perlatan K3 yang dimiliki oleh sekolah belum
sesuai dengan standar industri Teknik Komputer dan Jaringan.
Guru melaksanakan magang di industri mental, kebiasaan guru juga masih
belum sesuai standar kerja di industri. Bisa dilihat dari cara menggunakan
peralatan kesehatan , keselamatan kerja (K3). Selain itu mental guru juga belum
terbentuk ketika berhadapan langsung dengan industri karena mungkin selama ini
menggunakan media pembelajaran secara virtual, dan peralatan yang digunakan di
sekolah jauh dari standar industri. Sehingga perlu adanya kebiasaan guru untuk
memegang alat secara nyata, jadi ketika di industri sudah tidak kaget, untuk
14
mewujudkannya perlu adanya kontribusi dari pihak sarana diri SMK. Ghalby
(2020) menyatakan bahwa pengetahuan umum mahasiswa mengenai K3, namun
dapat menjadi peringatan awal untuk menyadari pentingnya pengetahuan K3 bagi
mahasiswa ketika bereksperimen di laboratorium kimia. Berdasarkan hasil ini
disarankan agar pengetahuan tentang K3 harus lebih intensif diberikan kepada
mahasiswa karena pengetahuan tersebut sangat penting bagi para mahasiswa
untuk bereksperimen dengan benar, sehat, dan aman di laboratorium kimia.
B. Identifikasi Masalah.
Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan, maka identifikasi masalah
sebagai berikut:
1. Implementasi pelaksanaan magang industri di SMK Negeri di Kabupaten
Cilacap selama ini masih menunggu kuota dari pemerintah hal ini
menyebabkan kesempatan magang guru di industri bagi guru TKJ di SMK
Negeri Kabupaten Cilacap belum optimal.
2. Alokasi waktu kegiatan magang guru produktif di industri masih kurang
bagi guru untuk memperdalam kompetensinya sesuai bidang studi sehingga
kompetensi profesional guru produktif TKJ di SMK Negeri Kabupaten
Cilacap belum sesuai dengan industri.
3. Jumlah ketersedian dunia usaha dunia industri yang relevan dengan
kompetensi keahlian TKJ di wilayah Kabupaten Cilacap sedikit.
4. Peralatan K3 yang dimiliki sekolah belum standar dengan industri.
5. Budaya kerja yang dimiliki guru belum sesuai dengan budaya industri.
15
6. Manajemen magang industri guru produktif TKJ di SMK Negeri Kabupaten
Cilacap belum maksimal.
C. Pembatasan Masalah.
Berdasarkan identifikasi masalah, rumusan masalah penelitian dibatasi pada
manajemen magang industri bagi guru TKJ di SMK Negeri di Kabupaten Cilacap
ditinjau dari segi: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, dan (3) evaluasi magang
industri.
D. Rumusan Masalah.
Berdasarkan pembatasan masalah dapat disusun rumusan penelitian sebagai
berikut:
1. Bagaimana perencanaan magang industri guru produktif TKJ di SMK
Negeri Kabupaten Cilacap?
2. Bagaimana pelaksanaan magang industri guru produktif TKJ di SMK
Negeri Kabupaten Cilacap?
3. Bagaimana evaluasi magang industri guru produktif TKJ di SMK Negeri
Kabupaten Cilacap?
E. Tujuan Penelitian.
Penelitian magang guru di dunia usaha dunia industri bertujuan untuk:
1. Menganalisis perencanaan magang industri guru produktif TKJ di SMK
Negeri Kabupaten Cilacap.
2. Menguraikan pelaksanaan magang industri guru produktif TKJ di SMK
Negeri Kabupaten Cilacap.
16
3. Menguraikan evaluasi magang industri guru produktif TKJ di SMK Negeri
Kabupaten Cilacap.
F. Manfaat Penelitian.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu perkembangan
ilmu bagi peneliti dan masyarakat, sedangkan manfaat praktis dan teoritis yang
ingin dicapai dalam penelitian adalah :
1. Memberikan informasi mengenai perencanan magang industri guru
produktif TKJ di SMK Negeri di Kabupaten Cilacap.
2. Memberikan informasi mengenai pelaksanaan magang industri guru
produktif TKJ di SMK Negeri di Kabupaten Cilacap
3. Memberikan informasi mengenai evaluasi magang industri guru produktif
TKJ di SMK Negeri di Kabupaten Cilacap
4. Memberikan sumbangan pemikiran positif terhadap pengembangan ilmu
pengetahuan khususnya bidang pengembangan kompetensi guru melalui
pelaksanaan magang industri bagi guru produktif TKJ di SMK Negeri
Kabupaten Cilacap.
5. Memberikan sumbangan pemikiran dan pengembangan kompetensi dalam
penyesuaian kurikulum di sekolah dengan kebutuhan di industri.
BAB II
. KAJIAN PUSTAKAINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka.
1. Kompetensi Guru.
Pendidikan era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan sekaligus peluang
bagi dunia pendidikan kita, perubahan infrastruktur dimulai dari Kepala Sekolah,
guru dan tenaga kependidikan harus melakukan perubahan kualitas pendidikan,
perluasan akses dan relevansi memanfaatkan teknologi sehingga menghasilkan
peserta didik yang memiliki keterampilan di abad 21 dengan tolak ukur berpikir
cerdas, mampu memecahkan masalah, kreativitas, inovasi, mampu berkolaborasi ,
komunikasi, dan penguasaan literasi teknologi. Wahyuni (2018) menyimpulkan
tuntutan era 4.0 bagi dunia pendidikan, guru sebagai garda terdepan dunia
pendidikan harus melakukan perubahan dimulai dari lima kompetensi yang harus
dipersiapkan guru memasuki era Revolusi Industri 4.0, yaitu, pertama,
educational competence. Kedua, competence for technological
commercialization, Ketiga, competence in globalization, Keempat, competence in
future strategies, dan kelima, counselor competence.
Guru adalah pengelola kegiatan di dalam kelas yang bertugas membimbing
dan mengarahkan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan, sehingga guru
merupakan kunci utama dalam proses pembelajaran di sebuah sekolah. Rofiq
(2009) menyimpulkan bahwa Pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan
guru untuk mengkondisikan kelas dengan mengoptimalisasikan berbagai sumber
(potensi yang ada pada diri guru, sarana dan lingkungan belajar di kelas) yang
17
18
ditujukan agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan perencanaan
dan tujuan yang ingin dicapai.
Undang - undang Nomor 14 Tahun 2005 pasal (7) menjelaskan bahwa,
profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan
prinsip sebagai berikut. (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme,
(2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan,
ketakwaan, dan akhlak mulia, (3) memiliki kualifikasi akademik dan latar
belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas, (4) memiliki kompetensi yang
diperlukan sesuai bidang tugas, (5) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan
tugas keprofesionalan, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai
dengan prestasi kerja, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan
keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (8)
memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan,dan (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai
kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.
Profesi seorang guru merupakan sebuah profesi yang berangkat dari
kemauan diri untuk memberikan pengalaman kepada peserta didik Merupakan
sebuah kesadaran dalam jiwa untuk menciptakan pengaruh yang lebih baik kepada
peserta didik dengan kesesuaian pada bidang keahlian dan kompetensi yang
dimiliki. Tanpa adanya kesadaran diri, profesi guru sebuah profesi tanpa makna,
karena hakikat pendidikan bukan hanya menjadikan peserta didik dari yang tidak
tahu menjadi tahu, melainkan dengan pengetahuan baru yang dimiliki, peserta
didik mampu bersikap dengan bijak atas suatu hal yang menimpanya. Guru
19
bukanlah sumber kebenaran mutlak, sehingga guru dituntut untuk selalu
mengembangkan kapasitas dan kapabilitas keilmuannya setiap saat. Keilmuan
seorang guru harus senantiasa diperharuai dan selalu melakukan pengembangan
kompetensinya (Musfah, 2012).
Anwar (2018) menyimpulkan guru merupakan pekerjaan yang kompleks
dan tidak mudah seiring dengan perubahan besar dan cepat pada lingkungan
sekolah yang didorong oleh kemajuan ilmu dan teknologi, perubahan demografi,
globalisasi dan lingkungan. Guru profesional tidak lagi sekedar guru yang mampu
mengajar dengan baik melainkan guru yang mampu menjadi pembelajar dan agen
perubahan sekolah, dan juga mampu menjalin dan mengembangkan hubungan
untuk peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya.
Kutipan diatas diambil kesimpulan bahwa guru adalah pendidik profesional
yang bertugas mendidik, mengajar, melatih, menilai, mengevaluasi peserta didik,
dan memegang peranan sebagai pemimpin perubahan yang mampu membawa
peserta didik ke perkembangan masa depan yang lebih maju, sehingga guru harus
mampu dan mau mengikuti perkembangan dan mengembangkan kompetensi.
Kompetensi profesional guru merupakan kemampuan seseorang dalam
menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar
isi program satuan pendidikan, mata pelajaran yang diampu, menguasai konsep,
metode keilmuan, dan menerapkan teknologi relevan yang secara konseptual
menaungi program satuan pendidikan mata pelajaran yang diampunya.
Pembelajaran profesional guru semakin diminati sebagai salah satu cara untuk
mendukung keterampilan yang semakin kompleks yang perlu dipelajari siswa
20
dalam persiapan untuk pendidikan lebih lanjut dan bekerja di abad ke-21. Bentuk
pengajaran yang canggih diperlukan untuk mengembangkan kompetensi siswa
seperti penguasaan konten yang menantang, pemikiran kritis, pemecahan masalah
yang kompleks, komunikasi dan kolaborasi yang efektif, dan pengarahan diri
sendirikompetensi profesional sangat penting dimiliki oleh seorang guru.
Usman (2002) menegaskan bahwa guru merupakan jabatan atau profesi
yang memerlukan keahlian khusus. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang
yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai
guru. Orang yang pandai berbicara dalam bidang-bidang tertentu, belum dapat
disebut sebagai guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus,
apalagi sebagai guru profesional yang harus menguasai seluk-beluk pendidikan
dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya.
Connel (1978) peran guru adalah: (1) sebagai pendidik yang memberi
dorongan, supervisi, pendisiplinan peserta didik, (2) sebagai model perilaku yang
akan ditiru, (3) sebagai pengajar dan pembimbing dalam proses pembelajaran, (4)
sebagai pengajar yang selalu meningkatkan profesinya khususnya untuk
memperbarui materi yang akan diajarkan, (5) sebagai komunikator terhadap orang
tua siswa dan masyarakat, (6) sebagai tata usaha terhadap administrasi kelas yang
diajarnya, dan (7) sebagai anggota organisasi profesi pendidikan.
Mulyasa (2007) menyatakan peran guru dalam proses pembelajaran sebagai
berikut : (1) guru sebagai pendidik, (2) guru sebagai fasilitator, (3) guru sebagai
pembimbing, (4) guru sebagai pelatih, (5) guru sebagai penasihat, (6) guru sebagai
inovator, (7) guru sebagai model atau teladan, (8) guru sebagai peneliti, (9) guru
21
sebagai pendorong kreatifitas, (10) guru sebagai pembangkit pandangan, (11)
guru sebagai pribadi, (12) guru sebagai pekerjaan rutin, (13) guru sebagai
pemindah kemah, (14) guru sebagai pembawa cerita, (15) guru sebagai aktor, (16)
guru sebagai emansipator, (17) guru sebagai evaluator, (18) guru sebagai
pengawet, (19) guru sebagai kulminator.
Berdasarkan pemaparan para ahli di atas maka dapatlah dipahami bahwa
peran dan fungsi guru sangatlah strategis dalam menyukseskan pelaksanaan
pendidikan dan pembelajaran. Peran strategis tersebut tidak dapat tergantikan oleh
siapapun, memang melalui penggunaan teknologi, penyampaian materi pelajaran
terhadap peserta didik dapat dilakukan, tetapi hanya sekedar itu, peran-peran
lainnya dari seorang guru tidak dapat tergantikan terutama dalam pembentukan
nilai-nilai moral, religiusitas dan kemandirian.
Spencer and Spencer (1993) menguraikan bahwa kompetensi dapat dibagi
atas dua (2) kategori yaitu “threshold” dan “differentiating” menurut kinerja yang
digunakan memprediksikan kinerja suatu pekerjaan.
Terkait dengan peran strategis sumber daya manusia, kompetensi dilakukan
dengan pemahaman organisasi tentang peran sumber daya manusia yang semula
people issues menjadi people related business issues. Wijaya (2018) menyatakan
Kompetensi profesional guru merupakan kemampuan yang harus dimiliki dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang meliputi; 1) menguasai materi,
struktur konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang
diampu, 2) menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
yang diampu, 3) mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara kreatif, 4)
22
mengembangkan keprofesian secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan
reflektif, 5) memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
Goodlad (2002) menyebutkan tiga tingkatan guru profesional guru. Pertama
memiliki tingkat bakat dan keterampilan yang tinggi, kedua menggunakan
keilmuannya untuk mendukung pekerjaan, ketiga dapat membuat keputusan untuk
menggabungkan antara kemampuan keterampilan dengan pengetahuan. Safitri
(2016) menyimpulkan kompetensi profesional guru dapat dilihat kinerja
keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta kemampuan
untuk mencapai tujuan standar yang sudah ditetapkan.
Kualitas adalah suatu alat untuk mencapai tujuan berupa produk akhir yang
memenuhi standar tertentu atau sesuai dengan kebutuhan, harapan dan aspirasi
pemakai (Gaffar, 1994). Kualitas guru bisa ditunjukan dengan sertifikat
keterampilan yang diperoleh dari hasil uji kompetensi guru (UKG) yang meliputi
empat kompetensi. Kualitas guru dapat dilakukan dengan cara melihat kualifikasi
akademik yang diperoleh oleh guru. Menurut Undang-undang Guru dan Dosen
bahwa kualifikasi akademik adalah jenjang pendidikan akademik yang harus
dimiliki oleh guru dan dosen sesuai dengan jenis jenjang dan satuan pendidikan
formal di tempat penugasan. Silverius (1977); Zulfadli (2006) dengan kualitas
manusia yang cerdas dan handal akan mampu bertarung dalam era kompetitif.
Kemajuan dan persaingan di dunia yang semakin terbuka tidak mungkin dihadapi
dengan kualitas manusia yang minimal. Muchtadi (2004) guru yang berkualitas
memiliki ciri-ciri antara lain mengajar dimengerti oleh siswa, wawasan
23
keilmuannya baik, suri tauladan bagi pendidikan moral siswanya, dan punya
keinginan untuk meng-upgrade dirinya, dan totalitas bagi pendidikan
Kusnandar (2007) menyatakan “kompetensi guru merupakan seperangkat
penguasaan kemampuan yang ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan
kinerjanya secara tepat dan efektif. Gina (2020) menyimpulkan bahwa
pengalaman guru melalui proses pembelajaran bisa didapat dari ilmu
pengetahuan, sosial , profesional, dan personal. Kompetensi guru terbagi menjadi
empat yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian,
dan kompetensi profesional.
Mutaqin, Z., & Ratnaningsih, D. R. (2016) menyimpulkan bahwa Pertama,
kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik
yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Kedua, kompetensi
kepribadian adalah kepribadian pendidik yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan
berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Ketiga,
kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik berkomunikasi dan berinteraksi
secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat. Keempat, kompetensi profesional
adalah kemampuan pendidik dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas
dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memperoleh
kompetensi yang ditetapkan. Untuk dapat menetapkan bahwa seorang pendidik
24
sudah memenuhi standard profesional maka pendidik yang bersangkutan harus
mengikuti uji sertifikasi
2. Magang.
Peningkatan profesional guru produktif SMK dilakukan melalui
pengembangan profesional berkelanjutan yang dapat berupa: (1) praktik
pengalaman industri, (2) uji kompetensi keteknikan, (3) pelatihan di tempat kerja,
adalah sebuah program, untuk (4) aktif di asosiasi profesi, (5) pemberian
tunjangan profesi, (6) melanjutkan pendidikan akademik, dan (7) pembiayaan
kegiatan peningkatan profesionalitas. Dalam pelaksanaan magang mestinya
diperlukan perencanaan yang matang supaya kegiatan magang berjalan maksimal,
dan guru magang selama di industri juga fokus kepada kegiatan ,magang.
Usep (2017) menjelaskan bahwa magang guru produktif merupakan
kegiatan dimana guru harus dihadapkan secara langsung pada kegiatan praktik di
industri dan penempatannya pun ditentukan instruktur magang di lapangan, jadi
magang guru berguna untuk menggali pengalaman guru untuk dapat
mempraktekkan kegiatan produksi secara langsung di industri, program ini
bertujuan meningkatkan keterampilan guru guru agar dapat mengajarkannya ke
peserta didik.menyimpulkan proses magang guru di industri dikelola dengan
baik, dimulai dari persiapan magang, pemetaan magang industri, sosialisasi
kepada guru, pembekalan, sinkronisasi kurikulum berdasarkan kebutuhan industri,
pembiayaan, monitoring dan evaluasi.
Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki performansi pekerja pada
suatu pekerjaan yang sedang menjadi tanggung jawabnya, atau satu pekerjaan
25
yang ada kaitannya dengan pekerjaan. Supaya efektif, pelatihan biasanya harus
mencakup pengalaman belajar (learning experience), aktivitas-aktivitas yang
terencana (be a planned organizational activity), dan didesain sebagai jawaban
atas kebutuhan-kebutuhan yang berhasil diidentifikasi. Istilah pelatihan sering
disamakan dengan istilah pengembangan. Pengembangan (development)
menunjuk kepada kesempatan-kesempatan belajar (learning opportunities) yang
didesain guna membantu pengembangan para pekerja. Kesempatan yang
demikian tidak terbatas pada upaya perbaikan performansi pekerja pada
pekerjaannya yang sekarang (Gomes, 2003).
Kebijakan pemerintah yang tertuang bahwa siswa SMK gratis iuran SPP,
Apabila guru melaksanakan magang di luar daerah memerlukan biaya yang tidak
sedikit, dari pihak sekolah masih merasa berat untuk memberikan fasilitas penuh
kepada guru berupa biaya hidup dan akomodasi full, sedangkan alokasi dana
bantuan operasi sekolah (BOS) hanya bisa digunakan untuk pelatihan yang
penyelenggaraanya sudah kerjasama dengan Dinas terkait, apabila pelatihan
tersebut diluar anggaran hanya mengcover biaya perjalanan. Untuk biaya sehari
hari di industri dibebankan kepada guru sehingga seharusnya guru hanya fokus
mengikuti pelatihan konsentrasi terbagi ke yang lain (Juknis BOS, 2019).
Yustiana (2020) menyatakan bahwa strategi utama revitalisasi diantaranya
membangun relevansi lulusan dengan pasar tenaga kerja sehingga diperlukan
adanya penjaminan mutu yaitu standar proses pembelajaran dan sertifikasi
keahlian berbasis industri. Sehingga guru pengampu mata pelajaran produktif
dituntut untuk belajar kembali melalui magang di industri yang bertujuan guru
26
memiliki tambahan keahlian yang sesuai dengan perkembangan ilmu dan
teknologi yang ada di industri.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2010 melaksanakan
program penyelarasan pendidikan dengan dunia industri. Ada sembilan kendala
yang menjadi faktor ketidakselarasan pendidikan dengan dunia industri yang bisa
dijadikan solusi kerjasama. Sembilan faktor tersebut ditulis dalam fishbone
diagram dari Kemendikbud, diantaranya:
a. Kemampuan pengajar dalam hard skill dan soft skill.
b. Metode pembelajaran yang masih tradisional.
c. Kurangnya sarana dan prasarana, terutama fasilitas dan peralatan praktik
yang masih kurang menjadi kendala
d. Ketidaksesuaian kurikulum. Disebutkan bahwa dari hasil survey yang
dilakukan, pendidikan formal belum sepenuhnya memberikan bekal bagi
lulusannya untuk dapat bekerja sesuai dengan bidang keahlian. Diharapkan
Dunia Industri dapat berpartisipasi dalam penyusunan kurikulum sehingga
didapat hasil yang sesuai dengan yang dibutuhkan.
e. Kurangnya info dari industri untuk pendidikan. Selama ini terasa ada
kesenjangan antara dunia Pendidikan dengan Dunia Industri. Dalam hal ini,
dunia industri diharapkan bisa memberikan kesempatan bagi para Pengajar
untuk magang di Industri sebagai bahan pembelajaran dan sebagai informasi
lowongan pekerjaan yang dibutuhkan untuk peserta didik mereka.
f. Minimnya Kesempatan Magang. Sistem pengajaran yang masih banyak
terfokus terhadap teori mengakibatkan minimnya pengetahuan pelajar
27
terhadap dunia kerja sesungguhnya. Kerjasama dunia industri dengan
memberikan kesempatan terhadap pelajar untuk magang akan menjadi
penyeimbang antara teori yang mereka dapatkan di dunia pendidikan untuk
bisa diaplikasikan ke dalam dunia industri.
g. Kurangnya soft skill dari guru magang dan Rendahnya soft skill yang
dimiliki guru magang menjadi penyebab tidak bisa menghadapi tantangan
yang ada dalam dunia kerja. Kelemahan dalam bidang soft skill diantaranya
motivasi, komunikasi, kerja keras dan kepercayaan diri sehingga sering
terjadi ketidakcocokan antara kebutuhan industri dengan kompetensi guru
produktif, hal ini disebabkan ketidakseimbangan teori dengan praktik yang
diterima semasa di sekolah yang di sebabkan materi yang diajarkan belum
sesuai persyaratan industri, hal ini disebabkan karena guru dalam
memberikan materi belum diadaptasikan dengan kebutuhan industri
sehingga kualitas guru produktif dipandang rendah, pernyataan tersebut
menyimpulkan bahwa perlunya guru melaksanakan magang di industri.
Suharno (2018) menyimpulkan bahwa perencanaan pengembangan guru
untuk melaksanakan kegiatan magang di industri yang dimaksudkan supaya
guru dapat beradaptasi dengan lingkungan industri, sehingga akan
menambah profesional guru, hal ini bertujuan ketika sudah selesai
melaksanakan magang dapat mengaktualisasikan keterampilannya ke
peserta didik di sekolah sesuai dengan tuntutan industri.menunjukan
permasalahan ketidakcocokan antara kompetensi lulusan baru dan
persyaratan industri.
28
h. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi
Sekolah Menengah Kejuruan dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya
Saing Sumber Daya Manusia Indonesia. Komitmen Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan dalam mewujudkan amanat ini yaitu terus
menguatkan pendidikan menengah kejuruan dalam menyiapkan generasi
muda Indonesia yang produktif dan berdaya saing internasional.
i. Penyiapan lulusan sekolah menengah kejuruan yang terampil tidak lepas
dari penyediaan guru yang berkualitas ditinjau dari aspek penguasaan materi
bidang studi, keterampilan mengajar, kewirausahaan, dan keterampilan
dalam bidang kejuruan yang diampunya. Upaya meningkatkan kompetensi
guru produktif SMK, Sunardi & Sudjimat (2016) menyimpulkan bahwa
guru produktif di SMK dituntut untuk memiliki kompetensi yang relevan
dengan perkembangan IPTEK dan kebutuhan industri, sehingga program
magang guru di industri sangat efektif untuk meningkatkan profesional guru
yang ditandai dengan pembelajaran terhadap peserta didik sesuai dengan
tuntutan industri, dan magang sendiri berfungsi sebagai standar ukuran nilai
pengembangan karir bagi guru.
a. Arti Penting Magang Guru.
Magang adalah program yang dilakukan di industri atau lembaga terkait
lainnya dalam rangka meningkatkan kompetensi profesional. Program magang
industri merupakan alternatif untuk meningkatkan kompetensi guru Magang guru
juga telah diatur dalam Inpres Nomor 9 Tahun 2016 yang diinstruksikan kepada
Kementerian Perindustrian untuk peningkatan kerjasama antara perusahaan
29
dengan SMK supaya memberikan kemudahan akses dalam pelaksanaan praktik
kerja lapangan (PKL) bagi siswa dan program kegiatan magang guru atau tenaga
pendidik. Guru sekolah kejuruan atau guru SMK membutuhkan pengalaman nyata
pada bidang keahliannya sehingga guru mampu memiliki bekal pengetahuan dan
pengalaman bagaimana dunia bisnis dan industri bekerja. Setelah melaksanakan
magang industri guru mempunyai gambaran tentang bidang usaha dan kompetensi
apa saja yang dibutuhkan di dunia usaha dunia industri serat memiliki pandangan
sebagai landasan pengembangan profesionalnya hal ini sangat relevan karena guru
di sekolah sebagai fasilitator kepada peserta didik, sehingga program ini mampu
menjembatani kesenjangan antara pembelajaran akademik dan pembelajaran
praktis di sekolah (Sutijono, 2016)
Sutijono (2016) menguraikan magang sangat efektif untuk meningkatkan
kinerja mengajar guru di sekolah. Melalui magang guru di industri. guru mampu
mendapatkan konsep teoritis dan praktis terkini pada bidangnya sesuai dengan
keadaan yang ada pada industri. Materi yang guru sampaikan di sekolah mampu
terkait dengan praktik kehidupan nyata. Magang guru yang dilakukan di industri
adalah magang berbasis kerja. Kegiatan magang guru mendapatkan pengalaman
dan terlibat secara langsung (ikut menyelesaikan pekerjaan di industri) yang
diarahkan oleh instruktur dari industri. Program magang industri guru tersebut
diharapkan guru mampu mendapatkan pengalaman kerja nyata di industri dan
mampu memperbarui pengetahuan serta keterampilan yang mereka miliki
sehingga pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah kejuruan mampu relevan
dengan kebutuhan industri.
30
Magang adalah suatu bentuk pendidikan keahlian profesional yang
menggabungkan antara teori dengan praktik sesuai dengan program penguasaan
program keahlian yang diperoleh secara langsung di dunia usaha dunia industri.
Diharapkan program magang ini dapat kecocokan antara materi yang diperoleh
selama kuliah dengan kebutuhan di industri. Magang sangat efektif untuk
meningkatkan kinerja mengajar guru di sekolah. Melalui magang guru di industri.
guru mampu mendapatkan konsep teoritis dan praktis terkini pada bidangnya
sesuai dengan keadaan yang ada pada dunia usaha dunia industri. Materi yang
guru sampaikan di sekolah mampu terkait dengan praktik kehidupan nyata.
Magang guru yang dilakukan di industri adalah magang berbasis kerja. Jadi guru
mendapatkan pengalaman dan terlibat secara langsung (ikut menyelesaikan
pekerjaan di industri) yang diarahkan oleh instruktur dari industri. Program
magang industri guru tersebut diharapkan guru mampu mendapatkan pengalaman
kerja nyata di industri dan mampu memperbarui pengetahuan serta keterampilan
yang mereka miliki sehingga pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah kejuruan
mampu relevan dengan kebutuhan industri, dengan guru yang memiliki bekal
pengalaman dalam penerapan keterampilan dan pengetahuan pada proses kerja
yang dilakukan. Solusi supaya guru mendapatkan bekal pengalaman dan
keterampilan dengan upaya mengirimkan guru untuk melaksanakan magang
industri. Pembelajaran di SMK dinilai mampu efektif menurut Prosser adalah jika
guru menguasai dan memiliki pengalaman dalam hal pengetahuan maupun praktik
kerja. Pembelajaran di sekolah kejuruan diharapkan mampu untuk menyesuaikan
dengan standar reformasi pendidikan yang ada saat ini sehingga antara proses
31
dalam pembelajaran mampu selaras dengan kebutuhan yang ada di dunia kerja,
(Sutijono, 2016).
Program magang seharusnya diperhatikan dengan baik dari pihak sekolah
maupun pihak industri dalam menjalin hubungan. Kemudahan akses yang dijalin
sekolah dengan industri berdampak positif dalam pelaksanaan program ini
Program magang industri sangat penting adanya bagi guru dalam meningkatkan
keterampilan dan strategi guru mengajar. Jika hal ini tidak dilaksanakan maka
banyak kendala yang dialami guru baik dalam perencanaan pembelajaran,
mengelola kelas, mendiagnosis kebutuhan dari pembelajaran di masa depan
hingga pada output dari siswa menuju dunia industri.
Suharno (2018) menyatakan bahwa Ketidakseimbangan teori dengan
praktek bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya gap antara sekolah dengan
industri. Terlihat juga bahwa keterlibatan industri dalam pendidikan vokasi
tergolong rendah. Sekolah telah merencanakan pemagangan guru, tetapi belum
terlaksana dengan baik. Pemagangan guru yang dilakukan selama ini masih
didominasi oleh penguasaan ilmu dengan sedikit latihan. Saran bagi pemerintah,
sebagai program, Pemagangan dirancang agar fleksibel dan mampu beradaptasi
dengan kebutuhan pengusaha dan pemagangan di seluruh perekonomian secara
keseluruhan magang kerja bagi guru produktif sangat banyak manfaatnya,
keuntungannya meningkatkan kompetensi guru dan kemajuan pendidikan di
Indonesia.
Pengembangan pengetahuan dan keterampilan guru SMK bertujuan
menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan melalui kegiatan
32
pengembangan diri, diantaranya magang di industri. Khan (2011) menyatakan
bahwa magang menjadikan guru mempunyai kemampuan dan keterampilan yang
diperlukan dalam kegiatan pembelajaran serta dapat merubah sikap dalam
menjalankan kinerja. Program magang merupakan kegiatan yang merubah dan
mengangkat citra dan martabat guru. Program ini didesain menguntungkan guru
baik segi ekonomis, maupun profesional sehingga diharapkan program magang
diikuti sebaik baiknya.
b. Perencanaan Magang.
Magang guru di industri bukan konsep baru, hal ini menjadi pilihan
alternatif dalam program pendidikan guru awal (ITE) sejak awal 1900-an, namun
hanya sebagian besar yang melaksanakan (Ledger & Vidovich, 2018)
menyimpulkan bahwa pengalaman belajar dilihat dari segi waktu struktur tujuan
yang dimodifikasi dalam sebuah model magang muncul dari sebuah kebijakan
pemerintah untuk menjalin kemitraan untuk meningkatkan kualitas guru.
Yustiana (2020) menyatakan bahwa strategi utama revitalisasi diantaranya
membangun relevansi lulusan dengan pasar tenaga kerja sehingga diperlukan
adanya penjaminan mutu yaitu standar proses pembelajaran dan sertifikasi
keahlian berbasis industri. Sehingga guru pengampu mata pelajaran produktif
dituntut untuk belajar kembali melalui magang di industri yang bertujuan guru
memiliki tambahan keahlian yang sesuai dengan perkembangan ilmu dan
teknologi yang ada di industri
Magang guru dapat meningkatkan relevansi kompetensi keahlian guru
produktif dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di
33
dunia usaha dan dunia industri saat ini. Guru dapat melihat secara nyata,
kompetensi lulusan seperti apa yang dibutuhkan oleh dunia usaha dan dunia
industri itu nantinya. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diharapkan
adalah orang-orang yang kompeten dan profesional di bidangnya. Mampu
bersaing dengan calon-calon tenaga kerja lulusan sekolah lainnya. Keberhasilan
pendidikan kejuruan diukur berdasarkan seberapa banyak lulusan dapat bekerja di
dunia usaha dan dunia industri maupun berwirausaha mandiri. Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di dunia usaha dan industri berjalan lebih
cepat daripada perkembangan Iptek yang ada di SMK. Perubahan tersebut
menyebabkan kompetensi keahlian yang diajarkan di SMK sering mengalami
kesenjangan dengan kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha dan dunia industri
sehingga lulusan SMK belum siap bekerja saat mereka lulus. Guru SMK yang
punya wawasan dan terampil dapat menyiapkan lulusannya kompeten sesuai
dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh setiap bagian di dunia usaha.
Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang
direfleksikan dalam kegiatan berfikir dan bertindak. Kompetensi juga merupakan
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang
telah menjadi bagian dari dirinya sehingga dia dapat melakukan perilaku-perilaku
kognitif, afektif dan psikomotor dengan sebaik-baiknya. Bagi guru yang telah
melakukan magang di dunia usaha atau dunia industri akan terasa bahwa masih
banyak kekurangan-kekurangan atau kelemahan-kelemahan yang harus dibenahi
oleh seorang guru dalam membelajarkan siswa.
34
Peningkatan kuantitas dan kualitas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
terus digalakkan. Aneka ragam kebijakan pemerintah untuk meningkatkan
kualitas lulusan SMK sehingga memiliki daya saing dan daya serap yang tinggi
terhadap pemenuhan tenaga kerja di dunia usaha/industri terus dilakukan.
Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing
Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia merupakan satu itikad baik pemerintah
dalam mengokohkan kembali substansi makna sekolah kejuruan sesungguhnya.
Tidak kurang dari 12 kementerian, termasuk didalamnya seluruh Badan Usaha
Milik Negara (BUMN, 34 Gubernur serta Badan Nasional Sertifikasi Profesi
(BNSP) untuk bersama-sama bertanggung jawab atas pemenuhan standar
kompetensi lulusan sekolah menengah kejuruan.
Kebijakan dalam instruksi presiden tersebut adalah pemerintah mewajibkan
guru produktif untuk melaksanakan kegiatan magang guru. Magang guru
diharapkan dapat menjembatani gap antara pembelajaran di sekolah kejuruan
dengan tuntutan dunia kerja di dunia usaha / industri. Melalui apprenticeship
teacher atau magang guru terutama untuk guru produktif SMK yang didesain
bersama industri karena secara historis bahwa “pendidikan kejuruan
sesungguhnya merupakan perkembangan dari latihan dalam pekerjaan (on the job
training) dan pola magang (apprenticeship)” (Evans & Edwin, 1978)
1) Penunjukan Guru Magang.
Prosedur pelaksanaan magang guru tidaklah rumit, sama halnya dengan
pengajuan ijin belajar guru. Namun dikarenakan saat ini magang guru sudah
35
memiliki landasan hukum yang kuat serta dimasukkan dalam perencanaan
anggaran sekolah, tentu kegiatan ini harus melalui proses pemetaan kompetensi
guru produktif, perencanaan dan pengaturan jam pembelajaran guru yang akan
mengikuti magang, serta pengajuan izin belajar di dunia kerja ke instansi Cabang
Dinas Provinsi Kabupaten/Kota yang disertai dengan pernyataan dari kepala
sekolah bahwa, pelaksanaan guru magang tidak akan mengganggu proses
mengajar guru di sekolah.
Tahapan selanjutnya adalah mengirimkan surat permohonan melaksanakan
magang di dunia usaha/industri, barulah kemudian guru dapat melaksanakan
kegiatan magang. Dalam pelaksanaannya, guru magang haruslah menyiapkan
dokumen-dokumen pendukung diantaranya, daftar hadir, dokumentasi kegiatan
serta laporan jurnal kegiatan selama pelaksanaan. Sedangkan di akhir kegiatan,
guru magang diharuskan menuliskan laporan singkat tentang kegiatan magang
yang telah diselesaikannya dan guru pun berhak mendapatkan sertifikat kegiatan
magang yang diterbitkan oleh pihak dunia/usaha industri. Sertifikat dan dokumen
lain dari kegiatan magang guru dapat dijadikan menjadi bahan penilaian angka
kredit (PAK) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kebijakan magang guru dapat terlaksana secara utuh dan tidak terkesan
hanya sebuah formalitas menggugurkan kewajiban, serta berdampak nyata pada
peningkatan kompetensi dan daya saing tamatan SMK, magang guru haruslah
terintegrasi dalam satu sistem sekolah dengan pelibatan stakeholder pendidikan
lainnya. Pihak industri sebagai mitra kerja, hendaknya juga dilibatkan dalam
perencanaan, hingga evaluasi dan penilaian - khususnya tentang standar
36
kompetensi yang seharusnya dipenuhi oleh guru produktif. Jika keseluruhan
proses tersebut dilaksanakan secara utuh, terencana dan berkesinambungan, cita-
cita agar tamatan SMK yang kompeten dan berdaya saing tinggi bukanlah angan
belaka. Dan bagi guru yang telah melaksanakan magang, akan lebih percaya diri,
bersemangat untuk melakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi serta
keterampilan yang diperolehnya kepada siswa.
Setyorini, dkk (2016) menjelaskan tipe magang, yaitu Master Apprentice
74%, Mentor Apprentice 65%, Cognitif Apprentice 78%, dan Sandwich 94%.
Tipe magang yang paling banyak diinginkan oleh responden adalah tipe
sandwich. Di mana proses magang menitikberatkan pada penerapan teori yang
didapatkan pemagang di dalam kelas kemudian diterapkan di lapangan dengan
supervisi/bimbingan dari narasumber.
Purnamawati, P., & Yahya, M. (2019) mengatakan bahwa perusahaan dapat
merekrut sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan di perusahaan. Hal ini dapat
dilakukan dengan berkoordinasi dengan Dinas yang membidangi ketenaga-
kerjaan dan memperhatikan syarat-syarat yang berlaku mengenai pemagangan ( 2)
Beberapa perusahaan juga memiliki proses rekrutmen ini di bawah program CSR.
Yustiana, M (2020) menyimpulkan bahwa kepala sekolah dalam kegiatan magang
guru mempunyai wewenang untuk menunjuk guru untuk mengikuti magang di
industri berdasarkan mata pelajaran yang diampu dan penguasaan kompetensi
yang dimiliki yang sesuai dengan prasyarat dari industri yang dituju.
37
2) Waktu Magang.
Kegiatan magang guru di industri sepenuhnya merupakan kesepakatan yang
ada antara SMK dengan industri maupun industri dengan pengelola kebijakan.
Usep (2017) menyatakan pengelolaan magang guru produktif SMK paket
keahlian teknik sepeda motor berbasis kemitraan menyatakan bahwa prioritas
magang bagi guru produktif SMK di dunia industri/usaha merupakan sebuah
inovasi pendidikan, karena yang selama ini dijalankan sesuai dengan struktur
kurikulum SMK dan telah banyak dikaji oleh para peneliti lain yaitu peningkatan
relevansi antara SMK dengan industri melalui kegiatan Praktek Kerja Industri
(Prakerin) yang dilakukan oleh siswa selama tiga bulan. Namun sebaliknya
meningkatkan relevansi antara SMK dan dunia usaha dunia industri melalui
magang guru belum mendapat perhatian yang lebih.
Yangming Jing dan Jianying Zhang (2019) mengidentifikasi bahwa proses
magang yang diselenggarakan dalam waktu yang singkat atau pendek, hasilnya
kurang optimal. hal ini disebabkan keseluruhan kompetensi belum dapat
sepenuhnya dipahami oleh peserta magang. Marsono (2019) menyimpulkan
bahwa perlu adanya kolaborasi antara SMK dengan pihak dunia usaha dunia
industri untuk efektivitas pelaksanaan magang bagi siswa, perlu adanya kerjasama
dari segi persiapan, perencanaan, pemantauan dan evaluasi magang industri.
Magang guru produktif SMK di industri diharapkan dapat berjalan secara
efektif sehingga dapat meningkatkan profesionalitas guru produktif SMK di
dalam menjalankan tugasnya, terutama memperkenalkan iklim kerja dan
menyelaraskan standar kompetensi sesuai dengan tuntutan dunia industri/usaha