The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by novie.nusakambangan, 2022-07-25 23:37:11

PROBEM SOLUSI MAGANG GURU TKJ

TESIS

Keywords: elfridaku

38

yang harus dimiliki guru dan diinformasikan kepada para peserta didiknya di
SMK, sehingga mutu pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia
industri/usaha dapat tercapai.
3) Pola Magang.

Pola magang industri bagi guru SMK biasanya menggunakan pola
kemitraan atau yang sering dikenal dengan istilah kerjasama yang tujuannya
mendekatkan dan mempermudah mendapatkan kepercayaan industri kepada SMK
maka perlu dibangun payung hukum yang lebih besar melalui MoU Induk dengan
lembaga pemerintah setingkat Provinsi, baru dilanjutkan dengan MoU tingkat
Sekolah. Program bisa berjalan apabila pihak SMK selalu mengambil inisiatif
dengan cepat dan cermat, didukung oleh organisasi yang terintegrasi, serta dengan
effort (usaha) yang lebih keras diawal program, hal ini merupakan strategi untuk
mendapatkan kepercayaan industri secara menyeluruh (Suyanto. R, 2016).
4) Tempat Pelaksanaan Magang.

Kegiatan magang industri bagi guru produktif memerlukan tempat sebagai
tujuan magang yang nantinya mampu mengupdate kompetensi guru. Sunardi
(2016) mengatakan bahwa Jika magang guru SMK dilakukan di dunia
kerja/industri, maka guru dapat mengamati secara nyata kompetensi seperti apa
yang dibutuhkan oleh dunia kerja tersebut. Di samping itu, magang industri juga
dapat meningkatkan kompetensi guru itu sendiri, sehingga dapat mengajarkan
kepada siswanya dengan lebih baik.

39

5) Penyelenggaran Magang.
Berdasarkan (APINDO, 2015) adapun proses untuk menyelenggarakan

program pemagangan di-tempat kerja adalah sebagai berikut:
a) Mengembangkan program pemagangan.

Departemen sumber daya manusia bekerja sama dengan departemen teknis
lainnya mengantisi-pasi kebutuhan akan tenaga kerja dimasa yang akan dating.
b) Mendiskusikan tentang pengetahuan/kompetensi/ keterampilan yang

dibutuhkan. Berkonsultasi dengan pusat pelatihan kerja (BLK, LPK,
Sekolah Tinggi, atau Perguruan Tinggi).
c) Mengembangkan program-program pemagangan berdasarkan kebutuhan
perusahaan, dan bila memungkinkan, untuk mengikutsertakan institusi
pelatihan dan perwakilan dari serikat pekerja. Berkonsultasi dengan badan
yang berwenang mengeluarkan sertifikasi profesi (LSP) sebagai standar
kompetensi dan akreditasi dari program pemagangan.
d) Berkonsultasi dan berkoordinasi dengan Dinas yang membidangi
ketenagakerjaan untuk membantu dalam proses awal.
Nanda (2019) merekomendasikan bahwa magang guru perlu ada penetapan
dukungan kebijakan dari para pemangku kepentingan, Kegiatan magang perlu
direncanakan secara matang dengan anggaran yang tersendiri serta Monitoring
dan Evaluasi magang dilakukan bersama, baik oleh SMK dan industri dalam
rangka meningkatkan profesionalitas guru.
Pelaksanaan magang guru di industri memerlukan beberapa syarat yang
harus dipenuhi oleh peserta magang. Magang yang akan dibahas dalam penelitian

40

ini adalah magang yang dilakukan oleh guru. Adapun persyaratan magang bagi
guru adalah sebagai berikut :
a) Guru berstatus PNS atau NON PNS.
b) Sehat jasmani dan rohani.
c) Usia maksimal 48 tahun.
d) Mempunyai sertifikat TOEFL 450.
e) Pendidikan S1 sesuai dengan mata pelajaran yang diampu.
f) Guru produktif pada kompetensi keahlian tertentu.
g) Mendapatkan rekomendasi dari atasan langsung.
h) Surat Keterangan bahwa yang bersangkutan belum pernah dihukum/ sedang

menjalani hukuman disiplin.
c. Pelaksanaan Magang.

Kebijakan magang guru memang bukan serta merta keinginan pemerintah.
Namun haruslah disertai dengan niatan tulus dari sang pendidik itu sendiri.
Keinginan untuk move on, out of the box dan keluar dari zona nyaman di sekolah
adalah modal dasar bagaimana seorang guru dapat melaksanakan magang guru
secara utuh, bukan hanya sebatas kewajiban formil administratif belaka,
melainkan sebuah tuntutan kewajiban diri untuk meningkatkan profesionalisme
seorang guru. Usep (2017) merekomendasikan hendaknya magang guru di
industri dibuat penetapan dukungan kebijakan dari pemangku kegiatan magang
misalkan SMK maupun pemerintah.

Sekolah mempunyai instrumen yang cukup lengkap dan valid serta sah
dalam mengimplementasikan kebijakan magang guru. Bahkan, sebelum magang

41

guru secara gamblang dijabarkan dalam inpres Instruksi Presiden (Inpres) Nomor
9 Tahun 2016, instrumen akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional tentang
standar pendidik dan tenaga kependidikan terdapat keharusan satu sekolah untuk
melaksanakan magang guru. Adanya Evaluasi diri sekolah (EDS), Renstra, dan
RKAS adalah instrumen yang dapat dijadikan landasan kuat untuk melaksanakan
kebijakan tersebut. Implementasinya sekolah dapat memberikan kelonggaran
pelaksanaan kegiatan pembelajaran sehingga guru dapat melaksanakan kewajiban
mengajar sistem blok, 3 hari di sekolah dan 3 hari di dunia usaha/industri. Sekolah
dengan mitra kerja dunia usaha/industri yang ada dapat menginventarisir dunia
kerja mana yang bersedia memberikan kesempatan pelaksanaan magang guru. Ini
penting untuk dipahami bahwa tidak semua mitra kerja bersedia dijadikan tempat
magang guru karena berbagai alasan.

Pelaksanaan magang guru sejatinya adalah tanggung jawab guru itu sendiri
untuk senantiasa meningkatkan kompetensi diri secara berkesinambungan sesuai
perkembangan teknologi dan informasi serta tuntutan dunia kerja/industri.
Namun, jika pelaksanaan ini dibiarkan hanya menjadi tanggung jawab pribadi
dengan tidak disertai perangkat sistem monitoring dan evaluasi akan menjadi
“lepas kontrol”, dan akan berlangsung hanya sekedar melaksanakan. Pendapat
bahwa magang guru hanya akan menjadi kebutuhan formal administrasi sekolah.
Magang mandiri pihak sekolah bekerja sama dengan pihak pengawas secara
bersama-sama melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan
kegiatan ini. tugas dan fungsi pengawas pada satuan pendidikan tingkat menengah
kejuruan tidak hanya memberikan pengawasan terhadap pelaksanaan

42

pembelajaran di sekolah, namun juga diharapkan dapat memberikan dukungan
motivasi, dan penilaian kinerja dan peningkatan kompetensi berkelanjutan
seorang guru yang tengah melaksanakan kegiatan magang guru (Usep, 2017)
1) Kompetensi guru magang.

Kompetensi guru yang diperlukan untuk menghasilkan lulusan berkualitas
tinggi dan sesuai dengan harapan DUDI, adalah: 1) kompetensi guru dalam
menangkap rambu-rambu harapan perusahaan; 2) Kompetensi guru untuk
menterjemahkan harapan DUDI tersebut ke dalam bentuk kurikulum, silabus,
RPP dan proses pembelajaran yang akan menghasilkan skill lulusan yang
diharapkan oleh DUDI; 3) Kompetensi guru untuk merancang ulang sistem
pembelajaran yang selaras dengan sistem kerja perusahaan. Konsekuensinya
diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan ketiga point kompetensi di atas
dandiperlukan perubahan tupoksi guru, tidak hanya mengajar, tetapi harus mampu
memperbaharui terus kurikulum dan proses pembelajaran dalam konteks
pemenuhan standar industri (Zarkasih, E. 2018)
2) Budaya Industri.

Tuntutan tentang peningkatan kualitas lulusan pendidikan vokasi terus
berkembang seiring perkembangan dunia industry, apalagi sudah memasuki era
Revolusi Industri 4.0. Pendidikan dan proses belajar di pendidikan vokasi harus
dirancang agar menyerupai tempat kerja di dunia industri dan atau dunia usaha,
baik peralatannya, sarana prasarana pendukungnya, keterampilan penggunaan alat
kerja dan mesin produksi, maupun budaya kerjanya.

43

Budaya Kerja itu bukan hal yang bersifat instan maka perlu dimulai sejak
dini dan dalam waktu yang cukup lama serta didukung oleh lingkungan sekitar.
Di sekolah bisa diaplikasikan selama 2 tahun dan didukung dengan lingkungan
keluarga juga sebagai penguat, sehingga bisa menjadi bagian dari kehidupan
siswa pendidikan vokasi dan secara perlahan mampu membentuk karakter atau
kepribadian.

Budaya kerja di industri diawali dari kegiatan dan nilai nilai yang dimiliki
oleh pemimpin dari industri tersebut. Kemudian kegiatan dan nilai nilai tersebut
secara tidak sadar diikuti dan dilaksanakan oleh pegawai pegawai sehingga
menjadi budaya di industri tersebut. (Fathurohman, 2018). Kebudayaan kerja
dalam perusahaan dapat juga dipengaruhi oleh Enviroment (Lingkungan),
Kompensasi, Standar dan Kebijakan, Individu atau Orang, Leadership serta
Organization itu sendiri.

Gambar 2. 1. Komponen pendukung terciptanya budaya kerja.
(Sumber : Robbinson , 1996)

3) Standar peralatan industri.
Prosser & Quidley (1950) menyatakan bahwa pendidikan kejuruan akan

efektif jika peralatan, mesin dan tugas kerja sesuai dengan lingkungan dimana

44

lulusan akan bekerja. Dukungan peralatan yang relevan atau sesuai dnegan standar
industri akan meminimalis gap teknologi dan kompetensi dengan dunia kerja dan
bisa dijadikan standar penjamin mutu pendidikan.

Standar perlatan praktik sesuai standar industri bertujuan memberikan
panduan kepada SMK tentang peralatan dengan teknologi yang terbaru yang
sedang digunakan, pemenuhan standar industri akan menghantarkan kualitas
lulusan yang kompeten di bidangnya.
4) Penerapan Kesehatan Keselamatan Kerja.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah suatu kondisi dalam
pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun
bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.
Keselamatan adalah kondisi aman seseorang dalam melakukan pekerjaan. Kondisi
aman tersebut bisa berasal dari internal maupun eksternal. Lingkungan internal
adalah kemampuan seseorang dalam menjaga dirinya, dan lingkungan eksternal
adalah bahaya yang terjadi dari luar (Munandar, et. al., 2014). Keselamatan kerja
merupakan salah satu cara untuk melindungi para karyawan atau pekerja dari
bahaya atau ancaman kecelakaan kerja selama bekerja. Keselamatan kerja
bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan mendukung
pencapaian tujuan suatu pekerjaan.

APD berperan sebagai pembatas antara pengguna dengan lingkungan kerja.
Hal itu, sering dirasakan adanya suatu beban tambahan pada pemakainya yang
mengganggu kenyamanan mereka untuk melaksanakan pekerjaan dan ketidak
nyamanan. Desain ergonomis yang baik dapat membantu untuk meminimalkan

45

hambatan-hambatan dan dapat membantu untuk memastikan kondisi kerja yang
aman dan sehat melalui penggunaan yang benar dari APD (Reza, et. al., 2017).
Penerapan keselamatan kerja di tempat praktik pemesinan SMK belum layak dan
mengacu pada standar industri dan menyebabkan terhambatnya proses
pembelajaran pada praktikum (Fadillah, T. M., dkk, 2019).
5) Standarisasi dunia usaha/industri tempat magang guru.

Industri mitra kerja tempat magang guru sebaiknya kita tahu bahwa terdapat
berbagai kelas/golongan industri. Adapun persyaratan secara detail jenis dan
kelompok industri secara lengkap diantaranya: kesesuaian dengan kompetensi
keahlian yang diampu oleh guru produktif, mempunyai peralatan kerja yang
lengkap, standar keselamatan kerja yang memadai, jumlah konsumen serta omset
hariannya yang stabil, serta ragam jenis pekerjaan yang dihadapi setiap harinya,

Program ini memiliki kaitan erat dengan bagaimana seorang guru dapat
mengikuti kegiatan magang, memperoleh pengalaman konkrit di lapangan,
penanganan berbagai kompleksitas permasalahan di lapangan. Harapannya,
dengan pengalaman nyata di lapangan, seorang guru magang dapat lebih
mengenal, memahami dan berpengalaman memiliki pengalaman langsung
bagaimana menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi di dunia
kerja, untuk selanjutnya guru akan melakukan transfer pengetahuan dan
keterampilan yang diperolehnya di dunia kerja kepada siswa di sekolah.

Magang memberikan harapan guru untuk memahami bagaimana
pengelolaan di kedua bengkel tersebut, untuk kemudian dapat membuat

46

kesimpulan / menyatukan ide pokok/ keunggulan pada masing-masing bengkel
yang kemudian dapat ditransfer kepada peserta didik di sekolah.
d. Evaluasi Magang.

Tahap akhir dari pelaksanaan guru magang adalah penilaian atas kompetensi
guru magang setelah melaksanakan kegiatan magang. Yang menjadi pertanyaan
adalah bagaimana sistem penilaiannya, indikator apakah yang akan dijadikan
penilaian, siapa yang dapat melaksanakan / penguji dari guru magang, Hingga
saat ini belum ada petunjuk teknis tentang hal ini. Namun, kita dapat
menyiasatinya dengan penilaian sepenuhnya kewenangan pihak pembimbing
dunia usaha/industri. Rachman, C. H. (2017) menyimpulkan bahwa evaluasi
kegiatan magang bertujuan untuk mengetahui kompetensi guru setelah dikirim
magang kearah yang lebih baik yang diperoleh dari laporan magang guru,
penilaian dari industri serta uji sertifikasi kompetensi.

Implementasi dari program magang ini yang sangat berpengaruh dalam
kualitas SDM, sehingga tujuan SMK untuk mencetak tenaga kerja yang terampil
dan berkompeten akan muncul dari kompetensi guru yang sudah terlatih. Usep
(2017) merekomendasikan bahwa upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk
meningkatkan mutu pendidikan tidak akan banyak berarti tanpa dukungan guru
produktif yang profesional dan berkualitas.
3. Dunia Usaha Dunia Industri.

Undang – Undang Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Perindustrian menyatakan
bahwa Industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan
baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang

47

yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri.
Dunia usaha adalah usaha yang terus mengalami perkembangan dari masa ke
masa. Setiap orang dalam menjalankan sebuah usahanya, biasanya akan mencari
jalan untuk selalu memperoleh sesuatu yang lebih menguntungkan dari
sebelumnya.

Industri mempunyai dua arti, yang pertama dapat berarti himpunan
perusahaan-perusahaan sejenis. Misalnya industri kosmetik yang berarti himpunan
perusahaan-perusahaan penghasil produk-produk kosmetik. Kedua, industri dapat
pula merujuk ke suatu sektor ekonomi yang didalamnya terdapat kegiatan
produktif yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah
jadi. Pembangunan ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh
perubahan dalam struktur dan corak kegiatan ekonomi.

Winardi (1998) Industri adalah usaha untuk produktif terutama dalam
bidang produksi atau perusahaan tertentu yang menyelenggarakan jasa-jasa
misalnya transport atau perkembangan yang menggunakan modal atau tenaga
kerja dalam jumlah relatif besar. Dumairy (1996) Perluasan dan peningkatan
sektor industri mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan
alokasi investasi (penanaman modal). Dengan adanya tuntutan peningkatan laju
pertumbuhan ekonomi yang tinggi di sektor industri diharapkan dapat menuju
sasaran-sasaran yang akan dicapai yaitu dalam rangka menunjang pembangunan
pada umumnya yang dapat menghasilkan devisa bagi negara. Pembangunan
industri itu sendiri dilakukan secara terencana dan bertahap agar industri dalam
struktur perekonomian dapat bertahan dengan baik.

48

Sadono (2017) menyimpulkan bahwa penciptaan kawasan perindustrian
ditujukan untuk pembangunan industri di daerah guna mempertinggi daya tarik
dari daerah tersebut, dengan harapan akan diperoleh manfaat sebagai berikut : (1)
menghemat pengeluaran pemerintah untuk membuat prasarana, (2) untuk
membuat efisiensi yang lebih tinggi dalam aktivitas industri-industri, dan (3)
untuk membuat perubahan daerah yang lebih cepat serta memaksimalkan fungsi
pembangunan daerah dalam keseluruhan pembangunan ekonomi. Aspek yang
lebih utama lagi yang mendorong usaha membuat lokasi perindustrian yaitu
besarnya keuntungan mungkin yang bakal didapat beragam industri jika sarana
yang sekian disiapkan pada mereka.
4. Teknik Komputer dan Jaringan.

Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) merupakan
model pendidikan kejuruan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi.
Teknik komputer dan jaringan saat ini keberadaannya sudah mulai terlihat di mata
publik, dimana kompetensi keahlian ini merupakan jurusan yang sudah mendekati
ilmu praktisi yang langsung dapat diimplementasikan di lingkungan dunia kerja
profesional. Menjalani kompetensi keahlian teknik komputer dan jaringan tidak
semudah yang dibayangkan oleh beberapa peminat khususnya calon siswa yang
mendaftar pada jurusan ini.

Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian
Pendidikan dan Kebudayan Nomor : 06/D.D5/KK/2018 tentang Spektrum
keahlian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau Madrasah Aliyah Kejuruan
(MAK) yang pertama menetapkan Spektrum Sekolah Menengah Kejuruan yang

49

memuat bidang keahlian, program keahlian dan kompetensi keahlian merupakan
bagian yang tidak dipisahkan. Pada bidang Teknologi informasi dan Komunikasi
memuat dua program keahlian yaitu Teknik Komputer dan Informatika (TKI) dan
Teknik Telekomunikasi. Pada bidang keahlian TKI terbagi menjadi empat
kompetensi keahlian yaitu; 1) Multimedia, 2) Rekayasa Perangkat Lunak (RPL),
3) Teknik Komputer dan Jaringan, 4) dan Teknik Jaringan Akses Telekomunikasi.
Penelitian ini fokus pada kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.

Tujuan Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan adalah membekali
peserta didik dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar kompeten, dengan
kegiatan :
a. Mendidik peserta didik dengan keahlian dan keterampilan dalam program

keahlian Teknik Komputer dan Jaringan agar dapat bekerja baik secara
mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan
dunia industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah;
b. Mendidik peserta didik agar mampu memilih karir, berkompetisi, dan
mengembangkan sikap profesional dalam program keahlian Komputer dan
Jaringan;
c. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan
sebagai bekal bagi yang berminat untuk melanjutkan pendidikan. Kurikulum
yang digunakan di Teknik Komputer dan Jaringan menggunakan Kurikulum
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).
Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor : 321/
Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Kerja Nasional pada kompetensi

50

keahlian Teknik Komputer dan Jaringan : Jabaran kompetensi guru kejuruan ini
mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007
tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Pada bagian
lampiran peraturan tersebut dinyatakan bahwa untuk guru SMK standar
kompetensi dan penjabarannya hanya untuk kelompok mata pelajaran normatif
dan adaptif, sedangkan untuk guru SMK kelompok mata pelajaran produktif
belum dirumuskan. Maka jabaran kompetensi guru kejuruan perlu dirumuskan.

Jabaran kompetensi guru kejuruan ini merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 karena
jabaran ini adalah isi dari Tabel 3 Standar Kompetensi Guru Mata Pelajaran di
SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK, Kompetensi Profesional Nomor
20, yaitu Kompetensi Inti Guru: “Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola
pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.” Pada kolom
Kompetensi Guru Mata Pelajaran tertulis: “Jabaran kompetensi butir 20 untuk
masing-masing guru mata pelajaran disajikan setelah tabel ini.”

Surat Kepala Badan Pengembangan SDM Pendidikan Dan Kebudayaan Dan
Penjaminan Mutu Pendidikan (PSDMK dan PMP) Nomor 290277/1/LL/2014
tanggal 25 November 2014 tentang Sertifikat Pendidik dan Kewenangan
Mengajar Guru Berdasarkan Kurikulum 2013 yang disebut guru mata pelajaran
untuk guru-guru dalam kelompok program peminatan adalah guru sesuai dengan
paket keahliannya. Oleh karena itu penyebutan guru mata pelajaran berdasarkan
Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 di dalam jabaran kompetensi guru kejuruan
untuk selanjutnya disebut dengan guru paket keahlian.

51

B. Kerangka Berpikir.
Nugrahani, F., & Hum, M. (2014) menyatakan bahwa kerangka berpikir

merupakan gambaran tentang bagaimana setiap variabel dengan posisinya yang
khusus akan dipahami hubungan, dan keterkaitannya dengan variabel yang lain,
baik langsung maupun tidak langsung.

Permasalahan dalam artikel yang peneliti ambil dalam studi pustaka dan
fenomena yang terjadi dalam kegiatan magang industri guru TKJ di SMK Negeri
Kabupaten Cilacap diantaranya kompetensi guru produktif TKJ masih rendah,
sarana dan prasarana praktik belum standar industri, terbatasnya industri yang
menerima guru magang. Ketiga permasalahan yang ada dijadikan acuan dalam
membuat perencanaan magang guru, setelah program tersebut direncanakan
dengan baik baru dilaksanakan. Program magang tidak terlepas dari permasalahan
dan solusi yang nangtinya akan dijadikan evaluasi dari kegiatan magang industri
yang disajikan dalam gambar dibawah ini.

Gambar 2. 2. Konsep Magang guru TKJ

BAB III
METODE PENELITIAN

METODE PENELTITIAN

A. Jenis Penelitian.
Penelitian magang industri menggunakan jenis penelitian kualitatif. Yang

dilakukan dengan setting atau latar alamiah langsung pada sumber data saat
mengamati atau mengumpulkan data. Pendekatan kualitatif yang peneliti lakukan
meliputi mengumpulkan data berdasarkan kata-kata ( dengan wawancara; dari
dokumen tertulis), gambar (foto), dan pengamatan (observasi) dari sejumlah kecil
individu dan tempat. Data tersebut dianalisis dan menginterpretasikan makna
yang lebih besar dari temuan.

Creswell (2015) menyatakan bahwa untuk memperoleh data yang tepat,
dalam penentuan partisipan sebagai sumber data penelitian berdasarkan pada
penilaian (purposeful sampling). Penggunaan teknik purposeful sampling karena
teknik ini membenarkan peneliti untuk menilai dan memilih partisipan dan tempat
untuk mempelajari atau memahami fenomena yang diteliti. Penilaian dan
pemilihan partisipan dan tempat penelitian didasarkan atas keyakinan atas
perbendaharaan informasi yang dimilikinya untuk membantu peneliti dalam
memahami fenomena atau peristiwa. Proses ini dilakukan dengan memilih guru
yang sudah magang, kepala sekolah, dan pihak industri yang nerhubungan dengan
kegiatan magang.

52

53

B. Tempat dan Waktu Penelitian.
1. Tempat Penelitian.

Penelitian berfokus pada pelaksanaan magang industri bagi guru produktif
TKJ di Kabupaten Cilacap yang meliputi dua SMK yaitu SMK Negeri 1
Binangun, dan SMK Negeri 1 Cilacap, dari kedua SMK tersebut yang sudah
melaksanakan magang industri bagi guru TKJ.
2. Waktu penelitian.

Penelitian dilaksanakan pada semester tiga pada bulan Oktober sampai
dengan Desember tahun 2020, penelitian diawali tahap persiapan, pelaksanaan,
dan penyusunan laporan.
C. Subjek dan Objek Penelitian.

Subjek penelitian adalah tiga guru produktif TKJ di SMK Negeri 1
Binangun dan SMKN 1 Cilacap yang sudah melaksanakan magang industri,
kepala sekolah selaku pemegang kebijakan pelaksanaan magang industri, dan
perwakilan dari pihak industri.

Objek penelitian adalah manajemen magang guru. penelitian ini difokuskan
terhadap bagaimana perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi magang industri guru
produktif TKJ di SMK Negeri Kabupaten Cilacap.
D. Teknik Pengumpulan data dan Instrumen.
1. Teknik Pengumpulan data.

LeComte (dalam Sutopo, 2002:58), teknik yang dapat digunakan untuk
mengumpulkan data, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu teknik yang bersifat
interaktif dan noninteraktif. Teknik interaktif antara lain meliputi: wawancara

54
mendalam (in-depth interviewing),dan observasi berperan (participant
observation).

Gambar 3. 1. Triangulasi dengan tiga sumber data
Sumber: Buku metode Penelitian Pendidikan ( Soegiyono: 2010).

Gambar 3. 2. Triangulasi dengan tiga teknik pengumpulan data.
Sumber: Buku metode Penelitian Pendidikan ( Soegiyono: 2010).

Teknik penelitian merupakan salah satu unsur yang sangat penting, pada
bagian ini menjelaskan tentang instrumen, dan pengamatan, wawancara, serta cara
lainnya. Lofland dan Lofland (1984) yang dikutip oleh Lexy J Moleong

55

menyatakan bahwa sumber data penelitian kualitatif adalah kata kata, tindakan,
dan dokumen. Teknik yang digunakan oleh peneliti adalah;
a. Teknik Observasi.

Observasi adalah proses pengumpulan data open ended (terbuka)
mengobservasi dan mengamati orang, kegiatan dan lingkungan dari subjek
penelitian (Creswell, 2015). Teknik peneliti terlibat dengan kegiatan pengamatan
aktivitas subjek sehari-hari.

Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini mencatat tentang
pelaksanaan magang guru produktif TKJ fokus pada permasalahan penelitian
yaitu mengamati: kondisi subyek penelitian, proses perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi magang industri, motivasi subjek penelitian mengikuti magang, hasil
dari kegiatan magang.
b. Teknik Dokumentasi.

Dokumentasi yang peneliti ambil dari dua SMK adalah data guru Teknik
komputer dan Jaringan yang sudah melaksanakan magang dan dunia usaha dunia
industri mana yang dijadikan tempat magang. Lincolin dan Guba (1985)
mengartikan rekaman sebagai setiap tulisan/pernyataan yang dipersiapkan oleh
atau untuk individu dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa/ kejadian.
Dokumentasi penelitian magang berupa foto kegiatan guru magang, surat tugas
guru magang, kesepakatan magang antara sekolah dengan industri.

Studi dokumentasi dalam penelitian ini untuk memproleh data gambaran
umum pelaksanaan magang guru TKJ di dua SMK Negeri di Kabupaten Cilacap
yang meliputi: 1) profil sekolah yang sudah melaksanakan magang, 2) data

56

peningkatan guru produktif TKJ, 3) data guru magang, 4) data tempat magang,
dan 5) hasil penilaian kinerja guru magang.

Sumber tertulis menggunakan studi literatur yang penelitian memerlukan
studi literatur, dengan kemajuan teknologi saat ini studi literatur semakin mudah.
Studi literatur dilakukan dengan me review sebuah buku, majalah, artikel maupun
jurnal. Studi literatur sangat diperlukan karena dengan studi literatur ini peneliti
dapat melihat atau membaca pengetahuan yang ada, hasil penelitian,
perkembangan teknologi dan dalam studi ini sebuah permasalahan akan diperjelas
(Zohrahayati, 2018). Jenis studi literatur yang penulis gunakan dalam penelitian
ini adalah review jurnal dari Scholar, Scopus dan garuda serta mendapatkan dari
beberapa buku.
c. Teknik Wawancara.

Penggunaan teknik pengumpulan data dengan wawancara (interview),
karena peneliti mengeksplorasi permasalahan yang harus diteliti dan
mengeksplorasi jawaban dari responden secara mendalam. Mengeksplorasi
jawaban digunakan untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari
responden dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang tidak dapat
ditemukan dalam sumber-sumber lain (Sugiyono, 2009)

Wawancara digunakan sebagai sumber utama dalam menjawab
permasalahan penelitian, hal ini digunakan untuk menguji kebenaran data yang
diperoleh dengan metode lain. Wawancara dalam penelitian dilakukan dengan
bertanya secara langsung terhadap subjek penelitian yaitu guru di SMK Negeri 1
Binangun dan SMK Negeri 1 Cilacap dan diambil sampel guru yang sudah

57

melaksanakan magang industri dan guru yang belum melaksanakan industri, serta
tanya jawab dengan kepala sekolah berkaitan dengan dukungannya dalam
program magang guru di industri. Pedoman wawancara yang digunakan terhadap
guru diantaranya; gambaran tentang magang industri, motivasi mengikuti magang,
kendala dalam kegiatan magang, adaptasi terhadap industri, perbedaan materi di
industri dengan kurikulm di SMK, manfaat yang bisa diambill dari kegiatan
magang, faktor pendukung magang, budaya di industri.
Tabel 3.1. Matrik manajemen magang industri.

No. Variabel Penelitian Sumber Metode Instrumen

Penelitian

1 Perencanaan Magang Kepala SMK Wawancara Pedoman
semi wawancara
Guru magang terbuka Dokumentasi
Wawancara Pedoman
DUDI semi wawancara
terbuka
2 Pelaksanaan Magang Guru magang Wawancara Pedoman
semi wawancara
DUDI terbuka

3 Evaluasi magang Kepala SMK
Guru magang
DUDI

2. Instrumen penelitian.
Instrumen penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri Instrumen

penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri dengan dibantu instrumen lain yaitu
pedoman wawancara, observasi. Peneliti sebagai instrumen utama karena hanya
peneliti yang dapat bertindak sebagai alat ada dan responsif terhadap realitas
karena bersifat kompleks. Bekal informasi awal, peneliti melakukan observasi dan
wawancara mendalam dengan guru yang sudah melaksanakan magang.

58

Tabel 3.2. Pedoman wawancara dengan guru.

No Variabel Pertanyaan penelitian

1 Perencanaan Magang. 1. Berapa besar pentingnya standar profesional
guru TKJ?
2 Pelaksanaan magang.
3 Evaluasi magang 2. Seberapa jauh anda menguasai standar
kompetensi profesional guru TKJ?

3. Standar kompetensi guru TKJ mana yang anda
kuasai?

4. Jelaskan, kenapa magang dijadikan salah satu
upaya untuk meningkatkan kompetensi
profesional guru TKJ?

5. Kriteria apa yang dipakai dalam penugasan
magang selama ini? Bagaimana ideal?

6. Apakah proses pengiriman guru magang sudah
adil?

7. Apa motivasi anda untuk mengikuti program
magang dan bagaimana realita?

8. Setelah anda magang industri adakah kesamaan
antara kompetensi yang anda ajarkan ke siswa
dengan yang dibutuhkan di Industri?

9. Kompetensi TKJ apa yang belum diajarkan di
SMK yang dibutuhkan di industri?

10. Selama magang bagaimana komunikasi anda
dengan rekan kerja?

11. Kendala apa yang anda temukan ketika
berkomunikasi dan solusi apa yang anda
lakukan?

12. Jelaskan budaya Industri yang mesti anda
penuhi selama magang?

13. Sanksi apa yang anda terima apabila melanggar
budaya industri?

14. Apakah prosedur K3LH mengajar berbeda
dengan prosedur K3LH magang?

15. Apakah ada permasalahan ketika anda harus
mematuhi SOP TKJ di Industri?

16. Setiap melakukan pekerjaan, apakah koordinasi
dilakukan dengan instruktur langsung atau
pekerja lain?

17. Selama magang, pekerjaan yang diberikan
apakah menambah kompetensi, jelaskan?

18. Bagaimana pemantauan dan evaluasi dari pihak
industri ketika magang hampir selesai?

19. Apa yang dilakukan pihak sekolah setelah anda
selesai magang?

20. Harapan apa yang anda inginkan dari kegiatan
magang industri bagi guru TKJ.

59

Tabel 3.3. Pedoman wawancara dengan kepala SMK.

No Variabel Pertanyaan penelitian
Penelitian
1. Bagaimana kompetensi profesional guru TKJ di SMK
1. Perencanaan Magang

anda ( SMK Negeri 1 Binangun dan SMK Negeri

Cilacap)?

2. Apa upaya anda (sebagai kepala sekolah) untuk

mengembangkan kompetensi profesional guru TKJ?

3. Apakah sekolah sering mengikutkan guru produktif untuk

program pengembangan diri?

4. Apakah guru SMK sudah memiliki sertifikat asesor,

kompetensi, pelatihan sesuai bidang keahlian?

2 Pelaksanaan Magang 5. Apakah bapak/ibu sudah pernah/akan menugaskan guru

TKJ magang di Industri?

6. Berapa kuota yang diberikan industri untuk magang guru

TKJ ?

7. Kriteria apa yang digunakan dalam menyeleksi guru

magang?

8. Berapa lama pelaksanaan magang industri guru TKJ di

SMK bapak/ibu?

9. Industri mana yang dijadikan tempat magang guru TKJ?

10. Apa tujuan program magang guru TKJ?

3 Evaluasi permasalahan 11. Apa masalah yang terjadi ketika mengirimkan permohonan

dan solusi magang izin guru untuk magang di industri

12. Apakah kuota yang diberikan DUDI untuk magang guru

mencukupi, dan bagaimana solusinya?

13. Apakah ada persyaratan khusus dari DUDI untuk magang

guru, bagaimana cara memenuhi syarat tersebut?

14. Adakah masalah terkait MOU magang guru, bagaimana

cara mengatasi apabila ada DUDI yang sudah MOU

dengan SMK namun tidak bersedia mengalokasikan kuota

magang guru?

15. Bagaimana proses pembelajaran di Sekolah selama guru

magang di Industri?

16. Siapa yang menghandle tugas guru, selama guru di

industri?

17. Bagaimana pengaturan jadwal ketika guru magang?

60

Tabel 3.4. pedoman wawancara dengan industri.

No Variabel penelitian Pertanyaan Penelitian

1 Perencanaan Magang 1. Bagaimana proses yang harus dilakukan dalam
pengajuan magang dari SMK kepada DUDI?

2. Apa yang harus dipersiapkan untuk surat
permohonan magang?

3. Bagaimana mekanisme magang yang akan
diberikan pihak industri ke guru SMK?

4. Bagaimana kriteria kesepakatan magang industri
antara DUDI dengan SMK?

5. Bagaimana kesepakatan pembiayaan magang?
6. Materi apa yang diajarkan industri ke guru

magang?
7. Berapa waktu yang disepakati untuk pelaksanaan

magang guru?

2 Pelaksanaan magang 8. Menurut saudara, apakah kompetensi guru TKJ
yang sedang magang sudah sesuai dengan
kompetensi yang dibutuhkan di Industri?

9. Kompetensi apa yang perlu diperbaiki agar sesuai
dengan kompetensi di industri?

10. Kompetensi apa yang menjadi unggulan atau
kelebihan guru magang?

11. Bagaimana penguasaan kompetensi guru dibanding
kebutuhan kompetensi DUDI?

3 Evaluasi permasalahan dan 12. Apakah terjadi permasalahan komunikasi antara

solusi magang guru magang dengan pekerja lain,?

13. Apakah guru magang bisa menyesuaikan dengan

kondisi kerja di industri?

14. Bagaimana interaksi guru magang dari SMK lain?

15. Apakah guru hadir tepat waktu?

16. Sejauh mana penerapan K3LH oleh guru magang?

17. Apakah guru menerapkan budaya industri sesuai

budaya/aturan Industri?

18. Bagaimana penampilan guru selama magang?

19. Bagaimana penerapan SOP kerja ketika guru di

Industri?

20. Ketika guru magang industri melakukan kesalahan

SOP, apa yang dilakukan pihak industri?

21. Bagaimana pemberian tugas kepada guru magang?

22. Permasalahan apa yang dihadapi industri ketika

memberikan job kepada guru magang?

23. Apakah ada evaluasi kegiatan magang?

24. Tindak lanjut apa yang dilakukan DUDI dalam

memberikan kesempatan magang?

61

E. Teknik Analisis Data.
Miles dan Huberman yang dikutip Sugiyono, mengemukakan bahwa

aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangusng
secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh. Analisis data
dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu Pemilihan teknik analisis data sangat
bergantung pada jenis data dan tujuan. Data utama dari penelitian diperoleh dari
wawancara terstruktur dan mendalam, analisis penelitian menggunakan analisis
data interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, yang meliputi
reduksi data, penyajian data, penarikan, dan pengujian kesimpulan. Pada saat
wawancara dengan informan, peneliti sekaligus menganalisis terhadap jawaban
responden, apabila jawaban dari responden dirasa masih kurang maka peneliti
akan melanjutkan sampai diperoleh data yang dapat dianggap valid.
1. Reduksi data.

Mereduksi data digunakan untuk memfokuskan hal-hal yang penting dan
hal yang pokok, data yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam hanya
diambil dari beberapa bagian yang penting dan yang sesuai dengan wawancara
terstruktur. Data penelitian diolah sesuai dengan daftar pertanyaan yang telah
disusun sesuai daftar pertanyaan terstruktur untuk memfokuskan pada tujuan
penelitian. Fokus penelitian dibatasi karena data yang diperoleh terlalu luas
kompleks dan rumit, sehingga reduksi data diperlukan untuk merangkum hal hal
yang pokok sesuai tema penelitian (Sugiyono, 2013).

62

2. Penyajian data
Gunawan (2013) menyatakan bahwa Setelah data wawancara selesai data

yang sudah direduksi langkah selanjutnya menyajikan data. Penyajian data
sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan penarikan
kesimpulan. Penyajian data berupa matrik, chart dan lain lain yang memudahkan
peneliti dalam menguasai data.

Penyajian Data meliputi data penelitian diolah dan digolongkan sesuai
dengan daftar pertanyaan yang dibutuhkan. Setelah disusun dalam bentuk
deskripsi secara naratif yang menggambarkan hasil dari penelitian yang dilakukan
berdasarkan hasil wawancara. Hasil penelitian didukung dengan hasil isian form,
pedoman wawancara, dokumentasi dan literatur sesuai dengan uraian hubungan
data yang diperoleh dari penelitian dengan data wawancara lainnya.
3. Penarikan dan pengujian kesimpulan.

Data diolah dan disajikan secara terstruktur langkah selanjutnya adalah
mengumpulkan data dan menguji kesimpulan. Kesimpulan diperoleh dari
pembahasan hasil penelitian yang sudah dikaitkan dengan hasil literatur.
Verifikasi data diperoleh dari jawaban wawancara yang diisi langsung oleh
narasumber.

63

Gambar 3. 3. Teknik Analisis Data Miles and Huberman.
Sumber: Nugrahani, F., & Hum, M. (2014).

F. Validasi Data.
Informasi dapat dijadikan sebagai data penelitian, harus diuji redibilitasnya,

agar dapat dipertanggungjawabkan dan digunakan sebagai titik tolak penarikan
simpulan (Nugrahani, F., & Hum, M. 2014). Validasi data dalam penelitian ini
dengan melakukan validasi pedoman wawancara kepada Kepala SMK, industri
dan akademisi.

Gambar 3. 4. Teknik Validasi Data.

(Sumber : Raco, J. 2018)

64

G. Prosedur Penelitian.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan studi

naratif sehingga tahapan-tahapan yang dilakukan peneliti sebagai berikut;
1. Penetapan Tema

Tema penelitian magang dipilih karena sebagian guru produktif nantinya
akan melakukan kegiatan magang industri, sehingga penelitian ini berfokus pada
pembahasan problem dan solusi ketika magang di industri. Dalam menentukan
penelitian, peneliti diberikan masukan oleh dosen pembimbing akademik,
pengampu mata kuliah metodologi penelitian dan seminar, setelah menentukan
tema penelitian , melakukan kajian penelitian terhadap pelaksanaan magang
industri di dua SMK yang menyelenggarakan kompetensi keahlian Teknik
Komputer dan Jaringan. Kajian yang diambil meliputi tidak seimbangnya antara
kurikulum di SMK dengan di industri dan kurangnya kompetensi guru produktif.

Setelah mendalami permasalahan yang ada di SMK dan membaca jurnal,
langkah berikutnya melakukan penelitian lapangan melalui wawancara dengan
responden untuk memperkuat latar belakang masalah. Penelitian awal dilakukan
terhadap ketua MGMP Teknik Komputer dan jaringan sekaligus guru yang sudah
melaksanakan magang industri, hal ini bermaksud untuk mengetahui kondisi
dilapangan secara langsung tentang permasalahan magang industri bagi guru
Teknik Komputer dan Jaringan.
2. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik diantaranya
wawancara terstruktur dan mendalam terhadap guru yang sudah melaksanakan

65

magang, guru belum melaksanakan magang, kepala sekolah. Pedoman wawancara
diisi oleh narasumber saat pelaksanaan wawancara menggunakan google form dan
pesan voice dikarenakan saat ini sedang pandemi COVID-19 tidak
memumgkinkan untuk tatap langsung, dan analisis dokumentasi diperkuat dengan
studi literatur mengambil jurnal dari Scholar, scopus dan lain lain serta beberapa
buku terkait penelitian magang. Pada penelitian kualitatif ini menggunakan human
instrument, yakni peneliti bertindak sebagai instrumen dan berhak menentukan
apakah data yang diperoleh kurang atau sudah mampu menjawab permasalahan
penelitian.
3. Analisis Data

Analisis penelitian ini menggunakan data dari awal sampai akhir hingga
didapatkan data penelitian yang tuntas baik dari segi data dokumentasi, literatur
maupun wawancara, sehingga analisis data penelitian ini menggunakan analisis
data interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Dimana penelitian
ini meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan serta pengujian kesimpulan.
Pada saat wawancara dengan informan, peneliti sekaligus menganalisa terhadap
jawaban responden, apabila jawaban dari responden dirasa masih kurang maka
peneliti akan melanjutkan terus sampai data diperoleh dianggap valid

66

Gambar 3. 5. Proses Penyusunan Laporan.\
(Sumber : Raco, J. 2018)

BAB IV
. HASIL PENELEITIAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN.
1. Data Sekolah Lokasi Penelitian.
a. SMK Negeri 1 Binangun.

SMK Negeri 1 Binangun berlokasi di wilayah kecamatan Binangun,
Kabupaten Cilacap yang berdiri sejak tahun 2008 dengan Nomor Surat Keputusan
Pendirian 421.5/249/33/2008 tanggal 19 Maret 2008. SMK Negeri 1 Binangun
beralamatkan di Jalan Lapangan Rt 04 Rw 02 Desa Jati Kecamatan Binangun
Kabupaten Cilacap, Telp. 08112613264, e-mail smkn1binangun @yahoo.co.id.

Kepala SMK Negeri 1 Binangun pertama adalah Trionolatih, S.Pd, M.Pd,
pada bulan Desember 2015, Dinas Pendidikan menugaskan Drs. Akhmad
Murwanto, M.Pd sebagai Yang Menggantikan Tugas (YMT) di SMK Negeri 1
Binangun sampai bulan April 2016. Pada Bulan April 2016 Dinas Pendidikan
menugaskan Parwoto, S.Pd, M.Pd. Kurang lebih 3 Tahun menjabat di SMK
Negeri 1 Binangun, kemudian pada tanggal 2 september 2019 secara resmi
diterbitkan SK baru kepala SMK Negeri 1 Binangun yaitu Ibu Sri Utami, S.Pd,
MM sampai sekarang.

Tahun pertama SMK Negeri 1 Binangun membuka 2 (dua) Jurusan yaitu
Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Komputer dan Jaringan. Kemudian pada
tahun 2017 menambah dua jurusan lagi yaitu Teknik Pemesinan

67

68

dan Multimedia, sekarang ini SMK Negeri 1 Binangun membuka 4 jurusan yaitu:

(1) Teknik Kendaraan Ringan, (2) Teknik Komputer dan Jaringan, (3) Teknik

Pemesianan, dan (4) Multimedia.

1) Profil Kepala Sekolah

Nama : Sri Utami, S.Pd. MM

NIP : 19750202 200003 2 005

Pengkat/gol : Pembina, IV/a

Jabatan : Kepala Sekolah

SK Pengangkatan : 821.3/365/2019

Pejabat yang mengeluarkan : Gubernur Jawa Tengah

Alamat : Wanareja RT 03 RW 02, Kec. Wanareja,

Kab.Cilacap

Telepon : 08122250040

2) Visi SMK Negeri 1 Binangun BERINTEGRASI DAN
“UNGGUL DALAM KOMPETENSI,

BERWAWASAN KONSERVASI”.

3) Misi SMK Negeri 1 Binangun

SMK Negeri 1 Binangun memiliki misi sebagai berikut:

a) Membentuk tamatan yang bertaqwa dan berkarakter.

b) Menyelenggarkan pendidikan yang berbasis teknologi terapan dan ekonomi

kreatif sesuai dengan kompetensi.

c) Mewujudkan budaya literasi dan konsevasi di lingkungan sekolah.

69

d) Meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan yang
profesional serta inovatif.

e) Mewujudkan lulusan yang kompeten dan mampu bersaing di pasar global.
4) Tujuan SMK Negeri 1 Binangun

Tujuan sekolah adalah hasil penyelenggaraan pendidikan yang akan dicapai,
yang dapat dijelaskan sebagai berikut,
a) Sekolah menghasilkan tamatan yang beriman, jujur, kreatif, inovatif,

berjiwa wirausaha dan berkepribadian tangguh.
b) Sekolah melaksanakan proses pembelajaran berbasis kompetensi yang

inovatif, kreatif, komunikatif, kolaboratif dan berbasis IT yang berbudaya
dan berwawasan lingkungan.
c) Sekolah melaksanakan proses pembelajaran yang disesuaikan dengan
kebutuhan dunia usaha dan dunia industri
d) Sekolah meraih nilai ”A” pada akreditasi nasional dengan
mengimplementasikan Penjamin Mutu Pendidikan (PMP).
e) Sekolah menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang relevan dan
memenuhi standar sarana dan prasarana pendidikan menengah kejuruan.
f) Sekolah melaksanakan kegiatan pengembangan diri dalam rangka
membentuk karakter peserta didik.
g) Sekolah menerapkan budaya etos kerja pendidik dan tenaga kependidikan
yang tangguh, disiplin dan profesional.
h) Sekolah meraih prestasi bidang akademik dan nonakademik pada tingkat
nasional dan internasional.

70

i) Sekolah mengembangkan budaya literasi, budaya sehat dan budaya sopan
santun.
Nilai Budaya yang dimiliki SMKN 1 Binangun tertanam dalam semboyan

“SIAP” yang merupakan akronim dari Santun, Inovatif, Aktif dan Produktif.
Memiliki makna sebagai berikut:
a) Santun memiliki arti mendidik siswa SMK Negeri 1 Binangun untuk

memiliki karakter santun yang bisa diterapkan baik di sekolah maupun di
masyarakat.
b) Inovatif memiliki arti membentuk siswa SMK Negeri 1 Binangun yang
memiliki gagasan atau ide yang baru sesuai kompetensi keahlian masing-
masing.
c) Aktif memiliki arti membentuk siswa SMK Negeri 1 Binangun yang giat
dalam aktivitas di sekolah maupun di lingkungan masyarakat
d) Produktif memiliki arti mampu membimbing siswa SMK Negeri 1
Binangun dalam menciptakan karya sesuai kompetensi yang dimiliki dan
jiwa wirausaha.

Tabel 4. 1. Data Guru SMK Negeri 1 Binangun

Jenis Guru Status Kepegawaian
GTT
PNS
20
Normatif Adaptif 15
7
Teknik Komputer dan Jaringan. 2 8
Teknik Kendaraan Ringan. 6 4
Teknik Pemesinan - 5
Multimedia 3 44
Jumlah 26

71

Jumlah guru PNS 26 orang dan guru tidak tetap provinsi sejumlah 44 orang.

Pembagian jenis guru terbagi menjadi tiga kelompok yaitu normatif, adaptif, dan

produktif. Guru produktif TKJ berjumlah sembilan orang yang disajikan dalam

tabel 4.2. dibawah ini.

Tabel 4. 2. Daftar guru TKJ SMK Negeri 1 Binangun

No Nama JK Status Mata
1 Junedi Haryanto, S.Kom
Kepegawaian Pelajaran

L PNS Administrasi Server Jaringan.

2 Novie Herawati, S.Kom P PNS Teknologi Layanan Jaringan

3 Amik Rosasi, S.Kom P Guru Honor Komputer dan Jaringan Dasar

Daerah 1 Teknologi Jaringan Berbasis
Luas
4 Tofan Budi Ariyanto, S.Kom L Guru Honor Adminitrasi Infrastruktur
Jaringan
Daerah 1 Administrasi Server Jaringan.

5 Prihatno Sugeng Nugroho, L Guru Honor Teknologi Layanan Jaringan

S.Pd Daerah 1 Adminitrasi Infrastruktur
Jaringan
6 Silvia Wahyu Palupi, S,Pd P Guru Honor Pemrograman Dasar

Daerah 1

7 Lukman Rian Affandi, M.Pd L Guru Honor

Daerah 1

8 Bimo Rahman Prasetyo, L Guru Honor

S.Kom. Daerah 1

9 Pradhesta Daneswara, S.Pd L Guru Honor

Daerah 1

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa jumlah guru produktif Teknik Komputer dan

Jaringan di SMK Negeri 1 Binangun berjumlah sembilan orang yang terdiri dari

tiga perempuan dan enam laki laki, yang memiliki status kepegawaian dua orang

PNS dan tujuh orang guru Honor Daerah I, yang tiap guru meiliki tugas dan

kompetensi sendiri sendiri.

72

Tabel 4. 3. Peta kompetensi guru TKJ SMK N 1 Binangun.

No Nama Guru Status Kegiatan Peningkatan Mutu

Asesor Pelatihan TOT Mikrote Sertifikat

Bidang aching pendidik

1 Junedi Haryanto, PNS 2020 Teknisi Fiber V v

S.Kom Jaringan optik &

Teknisi

Jaringan

Muda

2 Novie Herawati, PNS 2020 Internet Fiber V v

S.Kom Security Optik &

Teknisi

Jaringan

Muda

3 Amik Rosasi, GTT 2020 Fiber V

S.Kom Optik &

Teknisi

Jaringan

Muda

4 Tofan Budi GTT 2020 Fiber V

Ariyanto, S.Kom Optik &

Teknisi

Jaringan

Muda

5 Prihatno Sugeng GTT 2020 Fiber V

Optik &

Teknisi

Jaringan

Muda

6 Silvia wahyu, S.Pd GTT 2020 Vv

7 Lukman Riyan, GTT 2020 V

S.Pd

8 Bimo Rahman , GTT 2020 V

S.Kom

9 Pradesta daneswara, GTT 2020 V

S.Pd

Tabel 4.3 menjelaskan bahwa guru TKJ di SMK Negeri 1 Binangun ada

sembilan orang dan sudah melakukan kegiatan peningkatan kulaitas profesional

guru. Kegiatan tersebut berupa sertifikasi asesor kompetensi, pelatihan sesuai

bidang,Training of Trainer (TOT), mikroteaching dan sertifikasi pendidik yang

sekarang ini ditempuh melalui jalur Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dari tabel

tersebut menjelaskan bahwa guru yang memiliki sertfikat asesor sejumlah

sembilan orang, sertifikat pelatihan relevan dua orang, Training of Trainner lima

73

orang, Mikroteaching sembilan orang dan sertifikat pendidik tiga orang.
Berdasarkan analisa data tersebut ditunjuk dua orang untuk mengikuti magang
industri di PT Telkom Witel Purwokerto atas nama, Lukman Riyan Afandi, S.Pd
dan Bimo Rahman P, S.Kom.
5) Data Jumlah Kelas dan Rombongan Belajar.

Tabel 4. 4. Jumlah Rombongan Belajar SMK Negeri 1 Binangun.

No. Kompetensi Keahlian Tingkat
II
1. Teknik Kendaraan Ringan I III
6 Rombel 6 Rombel 6 Rombel
2. Teknik Komputer dan 5 Rombel 5 Rombel 5 Rombel
Jaringan 2 Rombel 2 Rombel 2 Rombel
2 Rombel 2 Rombel 2 Rombel
3. Teknik Pemesinan 15 Rombel 15Rombel 15 Rombel

4. Multimedia 45 Rombel

Jumlah

TOTAL

b. SMK Negeri 1 Cilacap.
SMK Negeri 1 Cilacap merupakan Sekolah Menengah Negeri di wilayah

kota Cilacap yang berdiri sejak tahun 1968 dengan Nomor SK Pendirian
Mendikbud No. 339/UKK3/1968 tanggal 07 Oktober 1968. SMK Negeri 1
Cilacap beralamatkan di Jalan Budi Utomo No. 10 Cilacap 53212, Kelurahan
Sidakaya Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap, Telp. 0282-533081, e-
mail [email protected]

74

Tabel 4. 5. Daftar kompetensi keahlian di SMK N 1 Cilacap.

Kompetensi Keahlian No. Tingkat III
I II 3 Rombel
1. Akuntansi 3 Rombel
2. Administrasi Perkantoran 3 Rombel 3 Rombel 2 Rombel
3. Penjualan 3 Rombel 3 Rombel 2 Rombel
4. Usaha Jasa Pariwisata 2 Rombel 2 Rombel 2 Rombel
5. Multimedia 2 Rombel 2 Rombel 2 Rombel
6. Tekn. Komp. & Jaringan 2 Rombel 2 Rombel 2 Rombel
7 Jasa Boga 2 Rombel 2 Rombel 2 Rombel
8 Perhotelan 2 Rombel 2 Rombel 16 Rombel
2 Rombel 2 rombel
Jumlah 18 Rombel 18 Rombel
TOTAL
54 Rombel

Tabel 4. 6. Data guru SMK N 1 Cilacap. Status Kepegawaian
No Kelompok Mata Pelajaran Total Guru PNS NON PNS
PT PTT PT PTT
A. Guru Normatif 25 18 7
B. Guru Adaptif 19 16 3
C. Guru Produktif
4 31
1. TKJ 4
2.MM 2 31
3.UPW 6
4.AK 7 2
5.AP 4
6.PM 3 51
7.JasaBoga 1
a. Perhotelan 1 52
D. Muatan Lokal 5
E. BP/BK 81 4
TOTAL
13

1

1

23

61 0 20 3

75

Tabel 4.6 menjelaskan bahwa jumlah guru tdi SMK Negeri 1 Cilacap
berjumlah 81 orang. Dari jumlah tersebut yang merupakan guru TKJ hanya empat
orang. Dari empat orang tersebut sudah mengikuti asesor kompetensi dan
berbagai pelatihan. dari empat orang guru yang sudah melaksanakan magang ada
satu orang atas nama Wawan Kurniawan, S.Pd.
2 Data Hasil Wawancara dan Jenis Dokumen.
a. Hasil wawancara

Hasil wawancara dengan guru magang diperoleh data yang ditunjukkan
dalam tabel berikut ini. Data wawancara diperoleh dari hasil catatatn dari kegiatan
wawancara dengan responden 1, 2 dan 3 atas nama Lukman, Bimo, dan Wawan.
Responden 4 adalah Kepala SMK N 1 Binangun, responen 5 adalah kepala
SMKN 1 Cilacap, dan responden 6 adalah perwakilan dari industri atau instruktur
magang dari pihalk PT Telkom. Ringkasan kegiatan wawancara yang disajikan
dalam tabel dibawah ini
b. Hasil catatan dokumen.

Moleong (1990:161) menjelaskan, bahwa semua dokumen yang berkaitan
dengan topik penelitian, dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, dan
bahkan untuk meramalkan data dalam penelitian. Dokumen yang peneliti kaji
adalah dokumen kegiatan peningkaan kompetensi guru berupa kegiatan
tranningof trainner, pelatihan, sertfikasi kompetensi dan kegiatan peningkata
peningkatan kompetensi guru produktif lainya yang relevan.

76

Tabel 4. 7. Data hasil wawancara dengan guru magang 1, 2, dan 3

No Hasil wawancara

1 Responden 1,2,3 menyatakan bahwa kompetensi profesional nya baru 70%
2 Responden 1,2,3 menyatakan bahwa proses perekrutan guru magang sepenuhnya hak

kepala sekolah.
3 Responden 1,2 menyatakan bahwa proses administrasi magang guru tidak mengetahui,

mereka hanya diberikan surat tugas saja
4 Responden 1,2, menyatakan bahwa guru tidak mengetahui persiapan kompetensi apa yag

nantinya mereka perdalam di industri.
5 Responden 1 menyatakan bahwa perlu ada spesifikasi khusus untuk guru TKJ, karena

guru TKJ terbagi menjadi beberpa jenis kompetensi.
6 Responden 1, 2, dan 3 menyatakan bahwa mereka memiliki speifikasi kompetensi yang

berbeda beda dlam hal jaringan.
7 Reponden 1, 2 mengatakan bahwa sebenarnya magang itu sangat penting dalam

pengembangan kompetensi apabila sesuai dengan minat dan motivasi dari guru.
8 Reponden 3 menyatakan bahwa kegiatan magang yang diikuti merpakan kuota dari

pemerintah dengan jalan seleksi yang ditunjuk oleh kepala sekolah.
9 Responden 1,2,3 mengatakan bahwa kemampuan prakti dalam bidang jaringan belum

sesuai dengan standar industri.
10 Responden 1,2 mengatakan bahwa persiapan atau bekal magang yang sudah dimiliki

adalah kegiatan mikroteaching.
11 Responden 1,2 mengatakan bahwa uji sertifikasi industri belum diikuti, sehingga tidak

mengetahui kegiatan secara rinci
12 Responden 1, 2 , dan 3 menyatakan bahwa budaya kerja disekolah dengan industri

berbeda, dan belum ada kebiasaan dalam penerapan budaya kerja industri.
13 Responden 3 mengatakan selama proses magang banyak permasalahan terutama

komunikasi dengan instruktur magang.
14 Responden 1, 2, dan 3 mengatakan bahwa peralatan praktik yang ada disekolah belum

sesuai dengan di industri.
15 Responden 1, 2, dan 3 mengatakan bahwa penerapan K3 di sekolah belum sepenuhya

diterapkan karena peralatan yang dimiliki belum sesuai standar industi sehingga
mendapatkan peringatan dari industri.
16 Responden 1, 2, mengatakan bahwa selama magang mereka tetap diberikan tugas
mengajar secara daring, namun untuk kegiatan praktikum siswa tetap mengalami
permasalahan.
17 Responden 1, 2 , dan 3 mengatakan bahwa belum ada tindak lanjut dari evaluasi
permasalahan dan solusi dari kegiatan magang.
18 Responden 1, 2 mengatakan bahwa kedepannya perlu ada petunjuk pelaksanaan magang
yang jelas atau job descripsi.
19 Guru magang 1 mengatakan bahwa seharusnya sekolah membuat peta kompetensi dari
kemampuan guru, dan sertifikasi industri yang dimiliki guru sebagai acuan penunjukan
magang.
20 Guru magang 2 mengatakan hendakanya ada pemantauan dari pihak sekolah selama
kegiatan magang.

77

Tabel 4. 8. Hasil wawancara dengan kepala SMK.

No Hasil wawancara

1 Responden 4 menyatakan bahwa kompetensi profesional guru TKJ di SMK N 1 Binangun
masih rendah.

2 Responden 5 menyatakan bahwa kompetensi profesional guru TKJ di SMK N 1 Cilacap
lumayan.

3 Responden 4 menyatakan bahwa SMK N 1 Binangun belum pernah mendapatkan kuota
magang dari pemerintah

4 Responden 5 menyatakan bahwa SMK N 1 Cilacap pernah mendapatkan kuota magang dari
pemerintah di Jerman.

5 Responden 4 menyatakan bahwa industri relevan dengan jurusan TKJ di Kabupaten cilacap
belum menerima guru magang.

6 Responden 4 menyatakan bahwa saat ini sedang berupaya menyelenggaakan magang
industri guru TKJ dengan jalan kemitraan atau MOU dengan PT Telkom terkait magang
guru.

7 Reponden 5 menyatakan saat ini berupaya ke prasarana terlebih dahulu, magang menunggu
perhatian dari pemerintah.

8 Responden 4 dan 5 menyatakan bahwa perekrutan guru magang sepenuhnya hak kepala
sekolah dengan mempertimbangkan kompetensi guru.

9 Responden 4 menyatakan bahwa kompetensi guru magang masih rendah sehingga tujuannya
dikirimkan magang supaay memperbaharui skill yang dimiliki guru.

10 Responden 4 menyatakan kuota guru magang menggunakan kesepakatan, namun dapat
menambah tergantung kondisi dan kemauan guru.

11 Responden 4 menyatakan bahwa waktu pelaksanaan magang adalah dua bulan, namun bisa
ditambah apabila dirasa masih perlu.

12 Responden 4 menyatakan pola magang mandiri memberikan keleluasaan bagi guru magang
untuk mengekplorasi sesuai standarindustri.

13 Responden 4 menyatakan bahwa kemitraan yang dilakukan adalah membuka kelas industri
PT Telkom

14 Responden 4 mengatakan bahwa tempat magang guru TKJ di PT Telkom Witel Purwokerto
15 Responden 4 mengatakan bahwa pola magang yag diselenggarakan adalah pola mandiri

dimana sepenuhnya pembiayaan ditanggung sekolah.
16 Responden 4 mengatakan bahwa pada pelaksanaan magang terdapat permasalahan yaitu

beban tugas guru yang banyak.
17 Respondne 4, 5 mengatakan bahwa setelah magang hendaknya ada perubahan postip dari

soft skill dan hard skill guru TKJ
18 Responden 4 dan 5 mengatakan bahwa evaluasi dari kegiatan magang ini hendaknya

pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap prograam magang industri guru produktif.
19 Responden 4 dan 5 belum dapat memberikan rewards dari guru magang.
20 Responden 4 dan 5 mengatkan dari kegiatan magang yang sudah dilaksanakan akan dikai

ulang permaalahan dan berupaya memebrukan evaluasi yang terbaik dari permasalahan
magang.

78

Tabel 4. 9. Hasil wawancara dengan industri.

No Hasl Wawancara
1 Responden 6 menyatakan bahwa pihak PT Telkom siap mejalin kerjasama dengan sekolah

dalam penyelenggaraan magang guru produktif TKJ.

2 Responden 6 mengatakan bahwa magang guru dapat dilaksanakan dengan ketentuan bahwa
sekolah wajib membuka kelas industri dari binaan PT Telkom, dan sudah ada sinkronisasi
kurikulum industri.

3 Responden 6 menyatakan bahwa syarat guru yang mengikuti magang sudah memenugi
beeberapa persyaratan diantaranya, sudah melaksanakan kegiatan mikroteaching, pelatihan
sertidfikasi Tranning of Trainer dan sertfikasi kompetensi sesuai prasyarat yang
diselenggarakan oleh Pt Telkom.

4 Responde 6 menyatakan b ahwa kriteria pelaksanaan magang sesuai dengan kesepakatan
antara sekolah dengan industri.

5 Responden 6 menyatakan bahwa pembiayaan guru magang sepenuhya ditanggung sekolah
pengirim.

6 Respoden 6 mengatakan kompetensi yang diajarkan selama guru magang adaah perubahan
materi yang terbaru teknologi yang ada di Telkom yaitu teknologi Fiber Optik.

7 Responden 6vmengatakan waktu magang antara 1 sampai dengan dua bulan tergangtung
kesepakatan sekolah dnegan industri.

8 Responden 6 mengatakan bahwa selama kegiatan magang melakukan pengamatn teradapo
guru, diketahui bahwa kompetensi guru secara teori sudah bagus namun kemampuan
praktikum kurang.

9 Responden 6 mengatakan bahwa permasalahagn yang paling mendasar dan perlu ditekankan
adalah penerapan K3 yang sering diabaika oleh guru.

10 Responden 6 mengatakan bahwa tidak ada perbedaan gender dalam kegiatan magang
11 Responden 6 mengatakan setelah guru magang menyelesaikan progress selalu ada evaluasi

tentang project yang dikerjakan.

79

Tabel 4. 10. Data kegiatan peningkatan kompetensi guru TKJ di SMK N 1
Binangun

No Nama Guru Status Kegiatan Peningkatan Mutu
Asesor
Pelatihan TOT Mikr Sertifik Magan
g
Bidang oteac at
Belum
hing pendidi

k

1 Junedi PNS 2020 Teknisi Fiber optik V V

Haryanto, Jaringan & Teknisi

S.Kom Jaringan

Muda

2 Novie PNS 2020 Internet Fiber V V Belum
Security Optik & V
Herawati, Belum Teknisi V Belum Belum
Jaringan V
S.Kom Belum Muda V Belum Belum
Fiber
3 Amik GTT 2020 PPG Optik & belum Belum
Teknisi
Rosasi, PPG Jaringan V Belum
Muda Belum Sudah
S.Kom Fiber Belum Sudah
Optik & Belum Belum
4 Tofan Budi GTT 2020 Teknisi
Ariyanto, Jaringan
S.Kom Muda
Fiber
5 Prihatno GTT 2020 Optik &
Sugeng Teknisi
Jaringan
6 Silvia GTT 2020 Muda
Belum

wahyu,

S.Pd

7 Lukman GTT 2020 Belum Belum V

Riyan,

S.Pd

8 Bimo GTT 2020 Belum Belum V

Rahman ,

S.Kom

9 Pradesta GTT 2020 Belum Belum V

daneswara,

S.Pd

Tabel 4.10 menunjukan bahwa pada tahun 2020, kegiatan peningkatan

kompetensi guru di SMK Negeri 1 Binangun baik yang mandiri maupun dari

80

sekolah meliputi beberapa hal, diantaranya diklat asesor kompetensi, pelatihan

kejuruan sesuai bidang keahlian, mikroteaching, trainning of trainner, sertifikasi,

dan magang. Data tersebut menunjukan dari sembilan orang guru baru dua yang

melaksanakan peningkatan kompetensi melalui magang, hal ini disebabkan oleh

kuota dari industri dan kemampuan sekolah untuk mengirimkan guru magang

hanya dua, yang kain dengan kegiatan pelatihan yang lain.

Tabel 4. 11. Data kegiatan peningkatan kompetensi guru TKJ di SMK N 1 Cilacap.

No Nama Guru Status Asesor Kegiatan Peningkatan Mutu
PNS 2020 Pela TOT Mikro Serti Magan
1 Wawan tiha Bida teachi fikat g
Kurniawan,
ST,MM. n ng ng pend
idik

Bel Belu Belu V Sudah
um m m

2 Bambang PNS Belum Bel Belu Belu Belu Belum

Irawan, S.Kom um m m m

3 Yonathan Arif GTT 2020 PPG Belu Belu Belu Belum

Jatmiko, S.Si mm m

4 Dianty Arnida, GTT Belum Bel Belu Belu Belu Belum

S.Pd um m m m

Tabel 4.9 Menunjukan bahwa pada tahun 2020 ini di SMK Negeri

Kabupaten Cilacap tidak mengadakan atau menugaskan pelatihan untuk

peningkatan kompetensi guru, hal ini disebabkan oleh kondisi pandemi COVID-

19, kegiatan peningkatan kompetensi guru selama in dilaksanakan secara offline,

kegiatan magang dilakukan pada tahun 2018 dan hanya satu orang yang sudah

melaksanakan magang.

81

B. PEMBAHASAN

1. Perencanaan Magang.

a. Penunjukan guru magang.

Dua SMK Negeri di Wilayah Kabupaten Cilacap yang menyelenggarakan

kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan sudah melaksanakan magang

industri yaitu SMK Negeri1 Binangun dan SMK Negeri 1 Cilacap, tetapi belum

semua guru pernah mengikuti kegiatan magang industri. berdasarkan informasi

dari kepala SMK Negeri 1 Cilacap pelaksanaan magang industri guru teknik

komputer dan jaringan biasanya atas kuota, permintaan dari pemerintah dan

industri, magang industri di SMK Negeri 1 Cilacap dari empat orang guru teknik

komputer dan jaringan di SMK Negeri 1 Kabupaten Cilacap hanya satu orang

guru yang melaksanakan magang industri di luar negeri yaitu di Jerman.

berdasarkan dari informasi kepala SMK Negeri 1 Binangun berupaya menjalin

kerjasama dengan industri sehingga dapat mengirimkan gurunya untuk magang di

industri di PT Telkom Purwokerto sebanyak dua orang dan kedepannya juga akan

menyusul dua orang lagi.

Tabel 4. 12. Data guru magang. Tempat Magang Alokasi Asal SMK
Waktu
No Nama Guru PT Telkom 1 Bulan SMK Negeri 1
Mata Pelajaran Binangun
Witel 1 Bulan
1 Lukman Riyan Efendi, S.Pd. SMK Negeri 1
(Teknologi Layanan Jaringan) Purwokerto 1 Bulan Binangun

2 Bimo Rahman Prastyo,S.Kom PT Telkom SMK Negeri 1
(Adminsitrasi Infrastruktur Jaringan) Cilacap
Witel
3 Wawan Kurniawan, ST,MM
(Adminsitrasi Server Jaringan) Purwokerto

Lucas Nuelle

dan Frank

Bangert di

Jerman

82

Tabel 4.10. menyebutkan bahwa peserta magang terdiri dari tiga orang guru
yang berasal dari dua SMK Negeri yang berbeda di wilayah Kabupaten Cilacap
yang menyelelenggarakan kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.
Guru memiliki masing masing spesifikasi dalam hal kompetensi di bidang teknik
Komputer dan Jaringan, guru tersebut ditunjuk oleh kepala sekolah masing
masing seperti yang dinyatakan oleh Lukman bahwa.

” Dalam kegiatan magang saya hanya ditunjuk oleh kepala
sekolah, dan sebagai bawahan saya menuruti perintah tersebut”.
Perekrutan magang industri guru produktif TKJ di SMK Negeri di
Kabupaten Cilacap sepenuhnya dilakukan oleh kepala sekolah, hal ini sejalan
dengan penelitian terdahulu, Yustiana, M (2020) menyimpulkan bahwa kepala
sekolah dalam kegiatan magang guru mempunyai wewenang untuk menunjuk
guru untuk mengikuti magang di industri berdasarkan mata pelajaran yang diampu
dan penguasaan kompetensi yag dimiliki yang sesuai dengan prsyarat dari industri
yang dituju

b. Waktu magang.
Kegiatan magang dilakukan selama 30 hari. Masing masing industri

mempunyai spesifikasi pekerjaan yang berbeda. Dari hasil wawancara terhadap
tiga narasumber bahwa pihak sekolah mengikuti magang atas dasar perintah
kepala sekolah dan alokasi dari pemerintah. Kepala sekolah mengatakan bahwa

“ Kegiatan magang dilaksanakan selama 30- 60 hari dengan
pertimbangan kegiatan disekolah banyak, sehingga guru harus
membagi waktu dengan kegiatan sekolah, semoga kedepannya
waktu magang dapat disesuaikan dengan jadwal kegiatan
sekolah”

83

Pelaksanaan magang dari beberapa sekolah bervariasi dalam waktu
pelaksanaannya, tergantung dengan kesepakatan yang ada antara pihak industri
dengan sekolah. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan magang
kemitraan sekolah dengan industri dilaksanakan selama satu sampai dua bulan
dirasakan belum maksimal, hasil penelitian sejalan dengan penelitian terdahulu
pelaksanaan kegiatan magang guru di industri memerlukan waktu sekitar tiga
sampai dengan enam bulan, hal ini bertujuan supaya kegiatan guru dalam
melaksanakn magang optimal, dan memberikan hasil yang maksimal yang
nantinya dipergunakan untuk di ajarkan kepada peserta didik, pengalam yang ada
di industri semakin lama akan semakin baik, Yangming Jing & Jianying Zhang
(2019) menyatakan bahwa proses magang yang diselenggarakan dalam waktu
yang singkat atau pendek akan memberikan hasil kurang optimal.

c. Kuota magang.
Wawancara menyebutkan bahwa pada SMK Negeri 1 Cilacap kegiatan

magang industri yang merupakan permintaan atau program pemerintah, sekolah
tersebut menugaskan gurunya untuk mengikuti seleksi guru magang di Jerman
dengan durasi waktu 30 hari. Proses yang diikuti meliputi, pendaftaran, penyiapan
berkas, seleksi bidang akademik, pada saat guru magang atas kuota pemerintah
pihak sekolah hanya bisa memberikan izin, dan tidak bisa menambah kuota untuk
guru yang lain. dalam posisi ini keputusan sepenuhnya diserahkan kepada guru.

Menindaklanjuti program revitalisasi SMK sesuai dengan Keputusan
Presiden No. 9 2016, Link & Match dengan Industri dan Program SMK go to
Industri 4.0 serta mengurangi angka Pengangguran Lulusan SMK khususnya

84

jurusan teknik komputer dan jaringan ,dimana angka pengangguran Lulusan SMK
berkontribusi 14% terhadap angka pengangguran Nasional. Manfaat dengan
adanya kerjasama ini Untuk menyiapkan tenaga ahli jaringan Fiber Optik untuk
industri Digital Connectivity Telkom Group dan All Industri Telekomunikasi
diharapkan dengan adanya MOU seperti ini kebutuhan akan peluang tentang
industri dapat terjalin dengan baik. Keterkaitan dunia industri memang sangat
dibutuhkan SMK untuk menciptakan output yang kompetitif , handal dan berani
bersaing di era Revolusi Industri sekarang ini. dalam MOU tersebutkan yakni
adanya magang guru, magang siswa atau prakerin, penempatan kerja serta
melanjutkan ke jenjang lebih tinggi lagi yang akan difasilitasi PT Telkom, adanya
guru tamu, serta kegiatan CSR bekerjasama di sekolah.jadi pada SMK A
menyelenggarakan magang guru dengan jalan kerjasama dengan pihak industri.

Dua SMK Negeri di wilayah Kabupaten Cilacap yang dijadikan penelitian
adalah SMK Negeri 1 Binangun dan SMK Negeri 1 Cilacap yang sekarang sudah
melaksanakan program magang bagi guru teknik komputer dan jaringan, namun
kesempatan magang belum merata hal ini dilihat dari jumlah guru yang
melaksanakan magang dengan jumlah yang belum melaksanakan magang.
kegiatan ini merupakan suatu kebijakan sekolah dalam upaya meningkatkan
kompetensi keahlian guru TKJ, karena pihak sekolah juga memiliki alternatif lain
dalam upaya peningkatan kompetensi guru bisa melalui pelatihan. pada SMK
Negeri 1 Cilacap pelaksanaan magang hanya mengikuti atau sesuai permintaan
dari pemerintah dan industri, saat ini masih menyeleksi industri yang relevan
dengan kompetensi keahlian TKJ. Pihak sekolah hanya memberikan informasi

85

kepada guru bahwa ada seleksi dari pemerintah, karena pihak sekolah mempunyai
kebijakan bahwa utamakan permintaan industri dahulu dan juga sesuai dengan
kerelaan guru yang bersangkutan. Saat ini pihak sekolah baru sebatas memberikan
izin kepada guru.

Berdasarkan wawancara dengan Kepala SMK Negeri 1 Cilacap menyatakan
selama ini sekolahnya mengirimkan guru magang hanya berdasarkan permintaan
dari pemerintah saja, dan itu pun melalui proses seleksi yang ketat dan alokasi
yang diberikan juga sedikit untuk guru TKJ. Pihak sekolah pernah mendapatkan
penawaran guru magang namun dengan persyaratan bahwa sekolah tersebut harus
membuka kelas industri terlebih dahulu dengan perusahaan dengan biaya yang
mahal, jadi pada SMK Negeri 1 Cilacap mengirimkan magang hanya berdasarkan
kuota pemerintah, karena kepala sekolah berargumen bahwa peningkatan
kompetensi guru bukan hanya dengan magang seperti yang dikatakakan kepala
sekolah SMK Negeri 1 Cilacap.

“Pihak kami menolak penawaran dari PT Telkom karena menurut
pendapatnya pihak SMK sudah melaksanakan magang sebelum
penawaran dari Telkom karena lebih baik anggaran digunakan
untuk prasarana sambil menunggu kesempatan dari pemerintah”.
Hal ini berbeda dengan yang dikatakan kepala SMK Negeri 1 Binangun.
“Kita berupaya menjalin kerjasama dengan PT Telkom
Purwokerto untuk merubah sedikit mindset kompetensi guru dari
jaringan komputer ke fiber optik, apabila dikemudian hari ada
perkembangan teknologi baru kita juga harus mengikuti
perkembangan yang ada”.
Hal ini disebabkan selama ini belum pernah mendapatkan alokasi guru
untuk magang industri, jadi berupaya menggandeng kerjasama dengan industri
berupa kelas industri yang setelah membuka kelas industri tersebut sekolah dapat

86

mengirimkan gurunya untuk magang, mendapatkan pelatihan dan sertifikasi

industri yang diharapkan mampu menjembatani antara kebutuhan industri dengan

output siswa dari sekolah.

Utami menyatakan bahwa “ Saya selaku kepala SMK Negeri 1
Binangun berupaya mencari industri untuk menerima magang
guru TKJ, istilahnya jemput bola, kalau menunggu dari
pemerintah entah kapan, dan saya berkeinginan one class one
industry yang tujuannya guru TKJ dapat magang di industri yang
memiliki kompetensi berbeda.
Tabel 4.12 menunjukan bahwa kuota magang guru sesuai dengan

kesepakatan antara sekolah/ lembaga penyelenggara dengani ndustri yang

dijadikan tempat magang sehingg aperlu ada kerjasama yang baik, hal ini sejalan

dengan penelitian terdahulu Marsono (2019) menyimpulkan bahwa perlu adanya

kolaborasi antara SMK dengan pihak dunia usaha dunia industri untuk efektivitas

pelaksanaan magang sehingga perlu adanya kerjasama dari segi persiapan,

perencanaan, pemantauan dan evaluasi magang industri.

Tabel 4. 13. Pola pelaksanaan magang guru TKJ

No Nama SMK Nama Industri Pola Magang
1 SMK N 1 Cilacap
2 SMKN 1 Binangun Lucas Nuelle dan Frank Pemerintah Mandiri
Bangert di Jerman
PT Telkom Witel V-
Purwokerto
-V

2. Pelaksanaan magang industri guru produktif teknik koputer dan jaringan.

Standar profesional guru sangat penting digunakan sebagai tolak ukur untuk

mengetahui keprofesionalannya. menjadi guru bukanlah sebuah pekerjaan yang

mudah. Standar diatas sangat diperlukan dalam pelaksanaan pendidikan yang

berguna untuk menjamin agar pendidikan benar-benar dapat dilaksanakan dengan

baik oleh guru. Standar ini bukan hanya harus dipenuhi namun juga diwujudkan

87

penerapannya dalam bidang pendidikan khususnya pada proses pembelajaran,
membantu guru dalam menyampaikan materi yang berkualitas kepada anak
didiknya. dengan adanya standar kita bisa meningkatkan kemampuan masing
masing.

Standar kompetensi profesional guru teknik komputer dan jaringan sangat
penting karena profesi seorang guru dikatakan sudah profesional atau belum
diukur dengan standar kompetensi profesional guru. untuk mengukur standar
kompetensi profesional guru teknik komputer dan jaringan yang sesuai dengan
draft penjabaran dari peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan yang
dilakukan dengan cara uji kompetensi guru namun kenyataan banyak guru yang
hasil perolehan uji kompetensi guru tinggi ketika berada di lapangan atau
mengajar praktikum masih kurang kompeten. Standar pengukuran kompetensi
guru TKJ maupun kompetensi yang lain bisa dilihat dari sertifikat asesmen yang
dimiliki oleh seorang guru. dengan adanya standar kompetensi itu guru dapat
meningkatan kemampuan masing masing karena setiap tahun sebagai guru
produktif apalagi Itu harus selalu upgrade knowledge, karena perkembangan
teknologi komputer berubah sangat cepat.

Terbatasnya guru yang memiliki sertifikat dari industri menunjukan bahwa
guru sebagai media perantara atau transfer knowledge ke peserta didik belum
mampu memberikan kemampuan kepada peserta didik yang sesuai dengan
kebutuhan industri. perkembangan teknologi yang sangat cepat menuntut dunia
pendidikan harus segera menyikapi, salah satu cara menyikapi ketimpangan
tersebut sekolah harus mendekatkan dirinya ke industri, karena pihak industri lah


Click to View FlipBook Version