170
3 Evaluasi Magang 11. Apa masalah yang terjadi ketika mengirimkan
permohonan izin guru untuk magang di industri
12. Apakah kuota yang diberikan DUDI untuk magang
guru mencukupi, dan bagaimana solusinya?
13. Apakah ada persyaratan khusus dari DUDI untuk
magang guru, bagaimana cara memenuhi syarat
tersebut?
14. Adakah masalah terkait MOU magang guru,
bagaimana cara mengatasi apabila ada DUDI yang
sudah MOU dengan SMK namun tidak bersedia
mengalokasikan kuota magang guru?
15. Bagaimana proses pembelajaran di Sekolah selama
guru magang di Industri?
16. Siapa yang menghandle tugas guru, selama guru di
industri?
17. Bagaimana pengaturan jadwal ketika guru
magang?
171
PEDOMAN WAWANCARA DENGAN DUDI
Uraian batasan atau aturan wawancara:
1. Wawancara dilakukan secara tatap muka
2. Jawaban ditulis sesuai keterangan yang diberikan informan.
3. wawancara dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara peneliti dengan
responden.
4. Tujuan dari kegiatan wawancara disampaikan terlebih dahulu.
A. Identitas Informan.
1. Nama lengkap :
2. Umur :
3. Jenis kelamin :
4. Pekerjaan :
5. Pendidikan terakhir :
6. Nama Industri :
B. Naskah Wawancara.
No Variabel Penelitian Pertanyaan
1. Keterlibatan pihak 1. Bagaimana proses yang harus dilakukan dalam
Industri dalam kegiatan pengajuan magang dari SMK kepada DUDI?
magang.
2. Apa yang harus dipersiapkan untuk surat
permohonan magang?
3. Bagaimana mekanisme magang yang akan
diberikan pihak industri ke guru SMK?
4. Bagaimana kriteria kesepakatan magang industri
antara DUDI dengan SMK?
5. Bagaimana kesepakatan pembiayaan magang?
172
6. Materi apa yang diajarkan industri ke guru
magang?
7. Berapa waktu yang disepakati untuk pelaksanaan
magang guru?
2. Kompetensi profesional 8. Menurut saudara, apakah kompetensi guru TKJ
guru TKJ di Industri. yang sedang magang sudah sesuai dengan
kompetensi yang dibutuhkan di Industri?
9. Kompetensi apa yang perlu diperbaiki agar sesuai
dengan kompetensi di industri?
10. Kompetensi apa yang menjadi unggulan atau
kelebihan guru magang?
11. Bagaimana penguasaan kompetensi guru dibanding
kebutuhan kompetensi DUDI?