The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by novie.nusakambangan, 2022-07-25 23:37:11

PROBEM SOLUSI MAGANG GURU TKJ

TESIS

Keywords: elfridaku

88

yang pertama kali tahu tentang perkembangan teknologi yang ada, karena industri
yang langsung berkaitan langsung dengan konsumen.

Penguasaan kompetensi profesional guru yang seusia standar
kompetensional guru TKJ sebagian guru menyatakan bahwa mereka baru
memiliki 70 persen dari total standar kompetensi guru, mereka mengatakan
demikian karena untuk secara teori mereka menguasai namun untuk
pengaplikatifan dan pengembangnya masih kurang. hal ini tergantung pada
individu masing masing guru dan lingkungan SMK tempat guru bekerja, selain
itu juga banyaknya kompetensi yang harus dikuasai dan di dalamnya menurut
mereka belum spesifik. sebagai contoh dalam penguasaan jaringan wireless area
network untuk perangkatnya saja banyak jenis dan pengaplikasiannya juga
berbeda, misal untuk sistem operasi berbasis open source saja sangat banyak
varians atau turunannya, sedangkan guru ketika semasa kuliah menerima
pemahaman tersebut tergantung dari dosen, dan itu akan dibawa guru sekolah
untuk disampaikan ke peserta didik, ketika sampai ke peserta didik sudah tidak
sesuai dengan kebutuhan. sehingga perlu adanya minat untuk belajar terus. dengan
adanya industri yang terlibat dalam penyusunan kurikulum di SMK menjadi
jembatan untuk mengatasi ketimpangan antara kebutuhan industri sebagai
penerima pekerja dan SMK sebagai penyedia lulusan. contoh kasus yang kedua
dalam sharing data atau yang kita kenal berbagi data, berbagai data intinya sama
namun akan lebih berbeda kalau berbagi datanya menggunakan cloud computing
karena sudah menggunakan logika pemrograman, sedangkan berbagai data yang

89

dapat dilaksanakan secara langsung baik lewat local area network maupun

hardisk maupun flasdisk.

Uraian tersebut menyatakan bahwa kompetensi profesional guru TKJ di

SMK Negeri di Kabupaten Cilacap masih dalam level menengah sekitar hal ini

disebabkan jarang mengikuti kegiatan pelatihan yang ditunjukan pada tabel 4.1,

4.11, dan pernyataan dari responden guru magang, hal ini sejalan dengan Suharno

(2018) menyatakan bahwa permasalahan magang guru di industri selama ini

terletak pada ketidak seimbangan antara kemampuan teori dan praktik yang

dikuasai oleh guru, dan belum diterapkan dengan benar, hal ini ditunjukan dari

data BPS tentang hasil uji kompetensi guru produktif tahun 2016 bahwa hanya

ada 22,6 % guru yang dinyatakan kompeten, sisanya dikategorikan rendah, hal ini

disebabkan kurangnya pelatihan yang diikuti oleh guru produktif
“ Guru magang 1 mengatakan bahwa penguasaanya masih berada
pada 70 persen hal ini disebabkan kompetensi profesional guru
sangat banyak untuk dapat memenuhinya memerlukan proses
pembelajaran selain itu perkembangan teknologi komputer juga
berkembang pesat dan bervariasi sehingga dirinya tidak bisa kalau
harus menguasai secara keseluruhan. Menurut guru magang 1
dengan adanya standar kompetensi guru itu sangat bermanfaat
karena sebagai tolak ukur untuk mengetahui keprofesionalannya.
dengan adanya standar kita bisa meningkatkan kemampuan
masing masing sehingga ada upgrade knowledge yang tiap tahun
selalu ada perubahan.”

Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi sekolah

menengah kejuruan (SMK) dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya

manusia yang dikhususkan kepada menteri pendidikan dan kebudayan ada enam

instruksi. Keenam instruksi tersebut adalah: membuat peta jalan SMK,

menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai

90

kebutuhan pengguna lulusan (link and match), meningkatkan jumlah dan
kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan SMK, meningkatkan kerja
sama dengan kementerian/ lembaga, pemerintah daerah, dan dunia usaha/industri,
hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu Upaya meningkatkan kompetensi guru
produktif SMK, Sunardi & Sudjimat (2016) menyimpulkan bahwa guru produktif
di SMK dituntut untuk memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan
IPTEK dan kebutuhan industri, sehingga program magang guru di industri sangat
efektif untuk meningkatkan profesional guru yang ditandai dengan pembelajaran
terhadap peserta didik sesuai dengan tuntutan industri, dan magang sendiri
berfungsi sebagai standar ukuran nilai pengembangan karir bagi guru.

Pendidikan kejuruan ini diharapkan mampu melahirkan para tenaga ahli
yang berkompeten dalam bidangnya.untuk ,mewujudkannya diperlukan guru yang
tau dengan industri. guru yang sudah mengerti industri otomatis sudah pernah
melaksanakan magang atau bekerja di industri, tujuannya untuk menghilangkan
gate antara dunia pendidikan dengan dunia industri.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) seringkali berpesan agar pemerintah fokus
menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas sehingga
Indonesia bisa melakukan lompatan kemajuan dan mengejar ketertinggalan
dengan negara-negara lain. Menurut prediksi, pada tahun 2040 Indonesia akan
memiliki 195 juta penduduk usia produktif; dan 60 persen penduduk usia muda di
tahun 2045 yang harus dikelola dengan baik agar menjadi bonus demografi demi
terwujudnya Indonesia Emas pada 100 tahun kemerdekaan. “ Kita harus mampu
membalikkan piramida kualifikasi tenaga kerja yang saat ini mayoritas masih

91

berpendidikan SD dan SMP menjadi sebuah tenaga kerja yang terdidik dan
terampil,” tutur Presiden Jokowi dalam Rapat Terbatas tentang pendidikan dan
pelatihan vokasi beberapa waktu lalu. Tenaga kerja yang berdaya saing dan
terampil salah satu di antaranya dilahirkan dari pendidikan dan pelatihan vokasi
yang bermutu dan relevan dengan tuntutan dunia usaha dan industri yang terus
menerus berkembang. Sekolah hendaknya menyiapkan lulusan nya agar mampu
bersaing di industri, untuk mewujudkannya perlu diadakan perbaikan sumber daya
manusia dari gurunya terlebih dahulu, karena guru sebagai media penghubung
antara industri dengan peserta didik, sehingga kompetensi yang dibutuhkan oleh
industri dapat diajarkan ke peserta didik, diharapkan peserta didik nantinya sesuai
dengan kebutuhan industri hal ini sejalan dengan penelitian Meisanti (2020)
menyimpulkan bahwa guru berhasil bila pembelajaran yang diberikannya mampu
mengubah perilaku pada sebagian besar peserta didik ke arah yang lebih baik.
Teknologi juga membawa pembaharuan yang cepat sehingga guru harus mampu
memahami teknologi agar siswa diarahkan kepada kemajuan berbasis internet.

Program ini, pada umumnya dilaksanakan dengan dua pendekatan program
yaitu program penerapan model di Industri bagi guru produktif melalui berbagai
metode pembelajaran dikelas teori atau praktik.dalam bentuk pelatihan (off
training) dalam bentuk magang melalui pengiriman guru kejuruan
kedalam“dunia nyata”. Program magang merupakan pendekatan/strategi yang
diterapkan dalam pendidikan nonformal yang menggunakan prinsip learning by
doing, belajar sambil melakukan.

92

Peserta magang diharapkan dapat belajar langsung diperusahaan atau dunia
usaha/industri sehingga dapat dijadikan program persiapan bekerja (pre-service
training) bagi perusahaan. Selanjutnya, Guru SMK tersebut diharapkan dapat
menyerap dan menularkan ilmu yang didapat di DU/DI.Program ini, pada
umumnya dilaksanakan dengan dua pendekatan program yaitu program penerapan
model di Industri bagi Guru Kejuruan melalui berbagai metode pembelajaran di
kelas teori atau praktik. dalam bentuk pelatihan (off training) dalam bentuk
magang melalui pengiriman guru kejuruan ke dalam “dunia nyata”. Program
magang merupakan pendekatan/strategi yang paling awal yang diterapkan dalam
pendidikan nonformal yang menggunakan prinsip learning by doing, belajar
sambil melakukan hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yag menyatakan
bahwa kegiatan magang industri bagi guru produktif memerlukan tempat sebagai
tujuan magang yang nantinya mampu mengupdate kompetensi, mengamati secara
nyata kompetensi seperti apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja tersebut ( Sunardi,
2016).

Sistem magang industri guru produktif teknik komputer dan jaringan di
SMK Negeri 1 Binangun dan SMK Negeri 1 Cilacap memiliki perbedaan, di
SMK Negeri 1 Binangun magang guru di industri dilakukan dengan cara
melakukan kerjasama dengan industri yaitu PT Telkom Witel Purwokerto,
sedangkan pada SMK Negeri 1 Cilacap kuota dari pemerintah. Perbedaan
keduanya adalah apabila dengan jalan menjalin kerjasama pihak sekolah bebas
mengirimkan guru untuk magang ke industri sedangkan kuota dari pemerintah
menunggu kebijakan yang ada.

93

“Kepala Sekolah N 1 Binangun menyatakan bahwa pihaknya
berupaya menjalin kerjasama dengan PT Telkom Purwokerto
untuk merubah sedikit mindset kompetensi guru dari jaringan
komputer ke fiber optik, apabila dikemudian hari ada
perkembangan teknologi baru kita juga harus mengikuti
perkembangan yang ada”

Peserta magang diharapkan dapat belajar langsung di perusahaan atau dunia
usaha/industri sehingga dapat dijadikan program persiapan bekerja (pre-service
training) bagi perusahaan. Selanjutnya, Guru SMK tersebut diharapkan dapat
menyerap dan menularkan ilmu yang didapat di industri. Untuk menyusun
sistem penyelenggaraan program bantuan magang yang baik maka diperlukan
suatu petunjuk teknis sebagai acuan bagi semua pihak yang terlibat dalam
pelaksanaan program magang bagi Guru SMK di industri.

Guru yang sudah melaksanakan magang mereka berpendapat bahwa
sebenarnya mereka sangat berkeinginan untuk magang, namun semua kembali
terhadap pihak sekolah karena berhubungan dana yang dimiliki sekolah untuk
memberangkatkan magang. Dengan fenomena tersebut diartikan bahwa Setelah
sekolah mendapat instruksi dari pemerintah dan menjalin MOU dengan
perusahaan untuk pelaksanaan magang industri untuk guru produktif dalam
pelaksanaan yang diinstruksikan oleh pemerintah maka seluruh biaya akan
ditanggung oleh pemerintah dan jika yang mengadakan sekolah maka sekolah
yang akan membiayai dalam pelaksanaan industri guru. Hal ini disebabkan
sekolah belum merencanakan mengenai anggaran dalam pelaksanaan magang
industri guru produktif dan hanya masih menunggu program pemerintah saja.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sajidan (2017) menyatakan bahwa

94

masih ada beberapa SMK yang belum merencanakan untuk mengalokasikan

dananya dalam pelaksanaan magang industri guru.

“ Kepala SMK Negeri 1 Binangun mengatakan” Kita berupaya
menjalin kerjasama dengan PT Telkom Purwokerto untuk merubah
sedikit mindset kompetensi guru dari jaringan komputer ke fiber
optik, apabila dikemudian hari ada perkembangan teknologi baru
kita juga harus mengikuti perkembangan yang ada”
Kepala SMK Negeri 1 Cilacap menyatakan “Pihak SMK sudah
melaksanakan magang dari pemerintah jauh sebelum penawaran
dari Telkom karena lebih baik anggaran digunakan untuk
prasarana terlebih dahulu, jadi kami menolak pensawaran tersebut”

Industri mengatakan dari pihak industri kami berupaya
memberikan kuota sebanyak banyaknya, tapi semua itu melihat
dengan kapasitas, jika dilihat dari jumlah sekolah yang akan
mengirimkan, dan pembiayaan, karena sepenuhnya keputusan ada
pada sekolah yang mengirim. dan ada kesepakatan yang jelas
antara sekolah dengan industri apabila mau mengirimkan guru
untuk magang.

a. Penerapan K3

Faktor yang paling utama yang harus diperhatikan untuk memulai suatu

pekerjaan yaitu keselamatan dan kesehatan kerja, oleh karena itu untuk

pencegahan terjadinya kecelakaan kerja di suatu bengkel atau perusahaan industri

harus menerapkan dan memperketat factor keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Setiap bengkel atau industri mengharapkan terjadinya kecelakaan kerja adalah 0

%, oleh karena itu pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja bagi

karyawan sangatlah penting karena bertujuan untuk menciptakan sistem

keselamatan dan kesehatan kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga

kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mengurangi

kecelakaan, Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, menyatakan

bahwa secara khusus perusahaan berkewajiban memeriksa kesehatan badan,

95

kondisi mental dan maupun fisik pekerja yang baru maupun yang akan
dipindahkan ke tempat kerja baru, sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang
diberikan kepada pekerja serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Peralatan keselamatan dan kesehatan kerja dibandingkan antara bengkel
praktek di sekolah dengan industri sangat jauh bedanya karena kebanyakan
fasilitas K3 sangat minim di sekolah, penyebabnya adalah harganya yang mahal
sehingga sekolah tidak terlalu lengkap untuk memberikan fasilitas K3 tersebut.
Faktor tersebut yang menyebabkan guru tidak terbiasa bahkan tidak mengetahui
dari segi pemakaian dan fungsinya. Selama ini guru hanya mengetahui melalui
youtube, tidak secara langsung, dan ketika pembelajaran pun sering diabaikan
oleh guru jadi ketika guru berada di industri menjadi sebuah permasalahn yang
menyebabkan pihak industri perlu pengawasan khusus kepada guru tentang
penggunaan peralatan K3.

Materi pembelajaran K3 di sekolah hanya diberikan ketika kelas X
sehingga ketika di jenjang berikutnya sering diabaikan hal ini disebabkan karena
adanya tuntutan materi untuk ujian nasional sehingga guru saat ini hanya
menargetkan ujian. Solusi yang mesti dilakukan adalah seharusnya guru diberikan
pelatihan tentang penggunaan peralatan K3 sesuai standar industri, sehingga guru
dapat menyampaikan ke peserta didik dan menerapkan secara terus menerus, jadi
pembiasaan juga. Dari wawancara terhadap guru menyatakan bahwa selama
magang di awal mereka banyak menerima teguran tentang K3 hal ini disebabkan
guru sering mengabaikan K3. Berikut ini yang disampaikan para guru magang:

“ Selama mengajar di sekolah dia melupakan point penting yaitu
kesehatan keselamatan kerja (K3) alasannya itu sudah cukup

96

diajarkan ketika di kelas X pada mata pelajaran komputer dan
jaringan dasar selain itu juga peralatan K3 yang ada di sekolah
belum standar industri dan ada yang tidak dimiliki sekolah.
Penerapan keselamatan kerja belum sesuai standar industri mengakibakan
permasalahan dalam pembelajarn praktikum, hal ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang menyatakan bahwa penerapan K3 belum layak akan
menimbulkan terhambatnya terhambatnya proses pembelajaran pada praktikum
(Fadillah, T. M., dkk, 2019).

b. Budaya Industri.
Irwanto (2020) menyatakan Budaya kerja positif dunia industri di sekolah

akan menghasilkan pembelajaran teori dan praktis yang efektif dan lulusan yang
berkualitas dan siap untuk bekerja di industri. Penjelasan tersebut apabila
dikaitkan dengan budaya kerja di SMKN 1 Binangun dan SMK Negeri 1 Cilacap
sebenarnya sudah diterapkan. Hal ini terlihat pada sikap para guru yang
komunikatif, aktif dan kreatif serta kompetitif.

Wawancara dengan perwakilan PT TELKOM memaparkan bahwa pihaknya
mulai menerapkan budaya kerja yang disebut The Telkom Way 135 Untuk
mengantisipasi tantangan pada lingkungan bisnis dan menjaga keunggulan
kompetitif dari dalam maupun luar perusahaan. Memang tidak mudah
menerapkan budaya kerja baru kepada karyawan PT TELKOM. Maka dari itu PT
TELKOM memulainya dengan beberapa pendekatan yaitu dari awareness sampai
understanding. Pendekatan dilakukan agar karyawan-karyawan PT TELKOM
merespon baik dengan adanya perubahan budaya kerja ini. Selain dengan
pendekatan PT TELKOM memberikan reward kepada divisi yang sudah

97

mendemonstrasikan The Telkom Way 135 dengan tepat dan cepat, meskipun kita
tahu bahwa penciptaan iklim kompetitif di dalam internal perusahaan merupakan
bentuk efektif dalam mewujudkan budaya organisasi yang diinginkan perusahaan.
Karena ketika kompetisi dimulai maka masing-masing divisi pasti akan memiliki
semangat untuk menunjukan bahwa divisinya yang paling baik, ditambah lagi
dengan diberikannya reward atas hasil kerja keras mereka. Penjelasan guru yang
magang di PT Telkom menjelaskan bahwa job atau project yang mereka kerjakan
tiap tim saling berkompetisi untuk mencapai target, jadi disini guru magang
diajarkan bagaimana cara memanfaatkan peluang bisnis sampai pelanggan, dan
antar guru magang yang satu dengan yang lain diajarkan saling mensuport.

Budaya industri di Jerman dipaparkan dari guru yang magang bahwa di
jerman budaya industri menekankan to the point atau langsung tidak bertele tele.
Sistem kerja di jerman mengajarkan ketika guru sedang magang harus fokus
terhadap pekerjaan, meninggalkan urusan di luar pekerjaan seperti whatsapp,
facebook. Jadi ada pemisahan waktu yang tepat ketika guru yang sedang magang
dan istirahat.

“ Guru magang 3 mengatakan kebiasaan atau budaya yang mesti
dibiasakan adalah budaya kerja di Jerman disana sangat
menghargai waktu, jadi ketika kerja tidak ada kegiatan lain baik
itu social media dan yang tidak penting, tingkat produktivitas
tinggi, jadi ketika kita tidak menerapkan dan sering mendapatkan
teguran “

98

3. Evaluasi magang.
Dari perencanaan, pelaksanaan magang yang sudah diuraikan selanjutnya

dibuat evaluasi yang meliputi:

a. Perekrutan guru magang.
Pelaksanaan magang industri guru produktif Teknik Komputer dan Jaringan

berdasarkan penunjukan kepala sekolah, menimbukan beberapa permasalahan
diantaranya guru yang bersangkutan hanya melaksanakan tahapan magang atau
dengan istilah berdasarkan surat perintah dari sekolah, sehingga guru tidak tahu
bagaimana secara administratifnya, bahkan persyaratan. Guru yang ditunjuk tidak
tahu apa alasan guru untuk melaksanakan magang di industri karena itu
merupakan hak kepala sekolah selaku top management di sekolah dan
menimbulkan kecemburuan bagi guru lain. Solusi utuk mengatasi permasalahan
ini kepala sekolah sebenarnya sudah membuat peta kompetensi guru produktif
Teknik Komputer dan Jaringan, sehingga kepala sekolah benar benar mengetahui
kelemahan dan kelebihan masing masing guru dan membuat upaya peningkatan
kompetensi profesional lebih lanjut namun hal tersebut tidak disampaikan kepada
guru produktif Teknik Komputer dan Jaringan, hal ini sejalan dengan Usep (2017)
menjelaskan bahwa magang guru produktif merupakan kegiatan dimana guru
harus dihadapkan secara langsung pada kegiatan praktik di industri dan
penempatannya pun ditentukan instruktur magang di lapangan, jadi magang guru
berguna untuk menggali pengalaman guru untuk dapat mempraktekkan kegiatan
produksi secara langsung di industri, program ini bertujuan meningkatkan
keterampilan guru agar dapat mengajarkannya ke peserta didik.menyimpulkan

99

proses magang guru di industri dikelola dengan baik, dimulai dari persiapan
magang, pemetaan magang industri, sosialisasi kepada guru, pembekalan,
sinkronisasi kurikulum berdasarkan kebutuhan industri, pembiayaan, monitoring
dan evaluasi.

b. Waktu Magang.
Pelaksanaan magang dari di dua SMK Negeri antara satu sampai dengan

dua bulan belum dapat dikategorikan maksimal, namun ada prioritas menambah
waktu magang bagi sekolah yang sudah menjalankan kerjasaman dengan lindustri.
Secara umum waktu pelaksanaan magang industri guru produktif TKJ belum
dapat maksimal, hal ini sejalan dengan penelitian Yangming Jing & Jianying
Zhang (2019) menyatakan bahwa proses magang yang diselenggarakan dalam
waktu yang singkat atau pendek akan memberikan hasil kurang optimal. Point ini
dpat dijadikan pertimbangan kedepannya waktu magang guru ditambah lagi
supaya maksimal.

c. Kuota Magang.
Pola magang industri guru produktif TKJ antara SMK Negeri 1 Binangun

dan SMK Negeri 1 Cilacap memiliki perbedaan yaitu pola magang mandiri
berupa pihak SMK melakukan pembukaan kerjasama dengan industri secara nyata
melalui kelas industri, yang tujuannya menyinkronkan kurikulum SMK dengan
kebutuhan industri. Permasalahan yang dihadapi ketika sekolah melaksanakan
magang mandiri diantaranya; 1) Tidak semua industri mau membuka kerjasama
dengan SMK, 2) Biaya yang diperlukan sangat besar, solusi yang diharapkan dari

100

pihak ini adalah pihak industri betul betul memperhatikan SMK perihal magang
industri, namun dengan pola kemitraan ini industri akan memberikan kuota
prioritas, alangkah baiknya sekolah berupaya menggandeng industri dalam
pelaksanan kegiatan magang. Marsono (2019) menyimpulkan bahwa perlu adanya
kolaborasi antara SMK dengan pihak dunia usaha dunia industri untuk efektivitas
pelaksanaan magang sehingga perlu adanya kerjasama dari segi persiapan,
perencanaan, pemantauan dan evaluasi magang industri
d. Penerapan Kesehatan dan keselamatan kerja guru magang.

Peralatan keselamatan dan kesehatan kerja di sekolah dibandingkan antara
bengkel praktek di sekolah dengan industri sangat jauh bedanya karena
kebanyakan fasilitas K3 sangat minim di sekolah, penyebabnya adalah harganya
yang mahal sehingga sekolah tidak terlalu lengkap untuk memberikan fasilitas K3
tersebut. Faktor tersebut yang menyebabkan guru tidak terbiasa bahkan tidak
mengetahui dari segi pemakaian dan fungsinya. Selama ini guru hanya
mengetahui melalui youtube, tidak secara langsung, dan ketika pembelajaran pun
sering diabaikan oleh guru jadi ketika guru berada di industri menjadi sebuah
permasalahn yang menyebabkan pihak industri perlu pengawasan khusus kepada
guru tentang penggunaan peralatan K3.

Materi pembelajaran K3 di sekolah hanya diberikan ketika kelas X
sehingga ketika di jenjang berikutnya sering diabaikan hal ini disebabkan karena
adanya tuntutan materi untuk ujian nasional sehingga guru saat ini hanya
menargetkan ujian. Solusi yang mesti dilakukan adalah seharusnya guru diberikan
pelatihan tentang penggunaan peralatan K3 sesuai standar industri, sehingga guru

101

dapat menyampaikan ke peserta didik dan menerapkan secara terus menerus, jadi
pembiasaan juga. Dari wawancara terhadap guru menyatakan bahwa selama
magang di awal mereka banyak menerima teguran tentang K3 hal ini disebabkan
guru sering mengabaikan K3. Berikut ini yang disampaikan para guru magang:

“ Selama mengajar di sekolah dia melupakan point penting yaitu
kesehatan keselamatan kerja (K3) alasannya itu sudah cukup
diajarkan ketika di kelas X pada mata pelajaran komputer dan
jaringan dasar selain itu juga peralatan K3 yang ada di sekolah
belum standar industri dan ada yang tidak dimiliki sekolah”.
Penerapan kesehatan keselamatan kerja di sekolah baik secara peralatan
maupun pengetahuan perlu dibenahi hal ini demi kemajuan praktik dan
keselamatan baik guru, siswa, dan proses pembelajaran tidak terhambat dan tidak
terjadi kecelakaan kerja, Fadillah, T. M., dkk (2019) menyatakan bahwa
penerapan keselamatan kerja belum sesuai standar industri mengakibakan
permasalahan dalampembelajarn praktikum, hal ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya yangmenyatakan bahwa penerapan K3 belum layak akan
menimbulkan terhambatnya terhambatnya proses pembelajaran pada praktikum.

e. Kompetensi Guru di Industri.
Pada pelaksanaan magang guru teknik komputer dan jaringan selama

magang di Pt Telkom instruktur lapangan menyatakan bahwa pada dasarnya
kompetensi guru teknik komputer dan jaringan sudah cukup namun sudah
ketinggalan dengan teknologi saat ini, hal ini bisa dilihat ketika diadakanan tanya
jawab tentang kabel jaringan masih ada guru yang pengetahuannya masih
menggunakan kabel tembaga, padahal transisi dari tembaga ke fiber optik sudah
berjalan sekitar 3 tahun, sehingga pengetahuan dan skill guru teknik komputer dan

102

jaringan memang perlu diperbaharui sesuai dengan tuntutan industri.tuntutan
perkembangan teknologi jaringan sekarang sudah semakin pesat, untuk
kompetensi keahlian teknik komputer dan jaringan saja sekarang yang dibutuhkan
industri sudah berbeda jauh dengan apa yang diajarkan guru di sekolah.

“ Instruktur mengatakan bahwa Kompetensi guru magang
mencukupi secara teoritis, tetapi untuk prakteknya masih kurang,
ketika dikonfirmasi guru mengatakan bahwa peralatan tersebut
berbeda dan menjawab tidak dimiliki oleh sekolah”
Kompetensi guru produktif masih perlu ditingkatkan seusia dengan
perkembangan teknologi yang terbaru, hal ini disebabkan guru sebagai media
penyaluran infromasi dari industri ke peserta didik dan garda terdepan dunia
pendidikan, diharapkan perlu aadanya peningkatan kualitas kompetensi guru
prodktif yang sesuai dengan perkembangan teknologi. hal ini senada dengan
penelitian sebelumnya yang menyimpulkan bahwa tuntutan era 4.0 bagi dunia
pendidikan, guru sebagai garda terdepan dunia pendidikan harus melakukan
perubahan dimulai dari lima kompetensi yang harus dipersiapkan guru memasuki
era Revolusi Industri 4.0 (Wahyuni, 2018).
f. Peralatan industri.
Kegiatan magang ini dapat memberikan evaluasi terhadap sekolah, selama
guru mengikuti kegiatan magang guru dapat mengetahui dan belajar kekurangan
peralatan yang dimiliki sekolah, hendaknya apa yang menjadi temuan guru
magang disampaikan kepada pihak sekolah yang tujuannya dijadikan bahan
evaluasi dalam pemenuhan sarana prasarana sesuai standar industri.
Peralatan praktik di sekolah masih perlu dibenahi, ditambah, diupdate sesuai
dengan teknologi jaringan yang saat ini digunakan. Sarana praktik yang sesuai

103

standar industri mampu mengurangi gap antara dunia pendidikan dengann dunia
industri, hal ini sesuai dengan teori Prosser & Quidley (1950) menyatakan bahwa
pendidikan kejuruan akan efektif jika peralaatan, mesin dan tugas kerja sesuai
dengan lingkungan dimana lulusan akan bekerja. Dukungan peralatan yang
relevan atau sesuai dengan standar industri akan meminimalis gap teknologi dan
kompetensi dengan dunia kerja dan bisa dijadikan standar penjamin mutu
pendidikan.

C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan hanya di SMK Negeri di Kabupaten Cilacap yang

membuka program keahlian teknik komputer dan jaringan, dan industri yang
diambil masih di wilayah karesidenan banyumas, dikarenakan sedang dalam masa
pandemi COVID 19, sehingga belum maksimal. Keterbatasan kedua narasumber
tidak mau mengungkapkan fakta secara mendalam dan waktu yang diberikan
narasumber juga terbatas.

BAB V
PEN U TU P

PENUTUP

A. Kesimpulan.
Berdasarkan pembahasan disimpulkan bahwa

1. Perencanaan program magang industri guru produktif TKJ meliputi
penunjukkan guru magang dipilih oleh kepala sekolah, waktu magang
selama 30 hari, ada dua pola magang yaitu dari pemeritah dan MOU,
industri yang menyelenggarakan magang PT Telkom dan kerjasama
pemerintah dengan Jerman, pembiayaan sepenuhnya ditanggung oleh
sekolah yang mengirimkan guru magang, evaluasi dalam perencanaan
magang belum ada petunjuk teknis pelaksanaan magang hendaknya dibuat
program rencana kegiatan magang yang disampaikan terhadap guru
magang.

2. Pelaksanaan magang menunjukkan bahwa kompetensi praktik guru
produktif TKJ dalam bidang jaringan, penerapan K3 belum sesuai standar
industri.

3. Evaluasi dari kegiatan magang hendaknya pihak industri menambah kuota
magang, dan pihak sekolah melengkapi peralatan, membuat rencana tindak
lanjut dari kegiatan magang.

104

B. Implikasi
Berdasarkan hasil penelitian dengan judul ” Manajemen Magang Industri

Guru Produktif Teknik Komputer dan Jaringan” diharapkan berimplikasi sebagai
berikut:

105

106

1. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai acuan untuk perencanaan guru
magang di pihak sekolah.

2. Hasil penelitian digunakan untuk menjelaskan pelaksanaan magang yang
ada di SMK.

3. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai evaluasi kegiatan magang industri.
C. Saran.
1. Proses penunjukan guru magang hendaknya dibuat penjadwalan yang jelas

dan peta kompetensi di sampaikan kepada guru yang akan magang,
sehingga guru magang mengetahui alasan ditunjuk magang.
2. Waktu pelaksanaan magang disesuaikan dengan jadwal kegiatan sekolah
dan perlu diadakan guru pengganti.
3. Industri mempermudah memberi akses kepada SMK untuk memberikan
kesempatan magang.
4. Guru harus mulai membiasakan diri dengan standar yang ada di industri
terutama penggunaan peralatan dan pihak sekolah melengkapai kekurangan
peralatan yang ada.
5. Pihak sekolah mengadakan penilaian terhadap guru magang secara real,
bukan pelaporan. Tujuannya apakah sudah ada perubahan kompetensi
profesional guru, cara mengajar, dan sikap guru.
6. Peneliti selanjutnya melanjutkan penelitian supaya responden mau terbuka
menyampaikan permasalahan.

107

DAFTAR PUSTAKA

Adilzada Sharzadin, I. U., Nazym Syzdykova, Bayan Shaushekova, Umitzhan
Kossybayeva, Aidos Mukhatayev, & Sayat Kurymbayev. (2019).
Teaching internship in math teacher education. IJET, 14, 57-70.

Alemdar, M., Cappelli, C. J., Criswell, B. A., & Rushton, G. T. (2018). Evaluation
of a Noyce program: Development of teacher leaders in STEM
education. Eval Program Plann, 71, 1-11. doi:
10.1016/j.evalprogplan.2018.06.005

Andersen, S., Rod, M. H., Holmberg, T., Ingholt, L., Ersboll, A. K., & Tolstrup, J.
S. (2018). Effectiveness of the settings-based intervention Shaping the
Social on preventing dropout from vocational education: a Danish
non-randomized controlled trial. BMC Psychol, 6(1), 45. doi:
10.1186/s40359-018-0258-8 ects. Int J Med Inform, 112, 21-33. doi:
10.1016/j.ijmedinf.2017.12.016

Arieska, P. K., & Herdiani, N. (2018). Pemilihan Teknik Sampling Berdasarkan
Perhitungan Efisiensi Relatif. Jurnal Statistika Universitas
Muhammadiyah Semarang, 6(2).

Arikunto, S. (2019). Prosedur penelitian.

Astuti, A. P., Aziz, A., Bharati, D. A. L., & Sumarni, S. S. (2018). Desain
Aplikasi Web Magang Untuk Menunjang Learning Management
System Kegiatan Praktik Mengajar di abad Revolusi Industri 4.0.
Paper presented at the Prosiding Seminar Nasional & Internasional.

Baltacı, A. (2017). Nitel veri analizinde Miles-Huberman modeli. Ahi Evran
Üniversitesi Sosyal Bilimler Enstitüsü Dergisi, 3(1), 1-14.

Bhakti, C. P., & Maryani, I. (2017). Peran LPTK dalam Pengembangan
Kompetensi Pedagogik Calon Guru. JP (Jurnal Pendidikan): Teori
dan Praktik, 1(2), 98-106.

Braun, V., Clarke, V., Boulton, E., Davey, L., & McEvoy, C. (2020). The online
survey as a qualitative research tool. International Journal of Social
Research Methodology, 1-14.

Breimer, L. (2017). The internship - constructive solutions are required.
Lakartidningen, 114.

Creswell, J. (2015). Riset pendidikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
riset kualitatif dan kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

108

Creswell, J. W. (2015). Penelitian kualitatif & desain riset: memilih diantara lima
pendekatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Danutirta, S. S. (2018). Pengelolaan Kelas Industri Di SMK N 2 Klaten. Hanata
Widya, 7(6), 30-44.

Darmalaksana, W. (2020). Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka dan Studi
Lapangan. Pre-Print Digital Library UIN Sunan Gunung Djati
Bandung.

Darmawan, D. (2017). Penerapan Model Pelatihan On The Job Training
(Magang) Dalam Pelatihan Otomotif Yang di Selenggarakan Oleh
Balai Pelayanan Pendidikan Nonformal Provinsi Banten. Jurnal
Eksistensi Pendidikan Luar Sekolah (E-Plus), 2(2).

Davis, L. C., Sander, A. M., Bogaards, J. A., & Pappadis, M. R. (2018).
Implementation of resource facilitation to assess referral needs and
promote access to state vocational rehabilitation services in people
with traumatic brain injury. Neuropsychol Rehabil, 28(7), 1145-1160.
doi: 10.1080/09602011.2016.1247729

Djalali, S., Tandjung, R., Rosemann, T., & Markun, S. (2017). Improvements in
primary care skills and knowledge with a vocational training program
- a pre-post survey. Adv Med Educ Pract, 8, 541-549. doi:
10.2147/AMEP.S127130

Effendy, A. A., Sudarso, A. P., Nurhadi, A., Arifianto, C. F., & Kartono, K.
(2020). Peningkatan profesionalisme guru dan pengembangan sdm
dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 pada guru smk mulia
buana parung panjang bogor. Abdi Laksana, 1(2).

Emzir. (2008). Metodologi penelitian pendidikan kuantitatif & kualitatif. Depok:
PT RAJAGRAFINDO PERSADA.

Fadilah, A. A. (2019). Manajemen Pembelajaran Pada Pelatihan Persiapan
Program Magang Ke Jepang Di Lembaga Pelatihan Kerja (Lpk)
Wakashio Gakkou Batang. Universitas Negeri Semarang.

Fadillah, T. M., Suherman, A., & Ariyano, A. Standar Kesehatan Dan
Keselamatan Kerja (K3) Industri Pada Pembelajaran Praktik
Pemesinan Di SMK. Journal of Mechanical Engineering Education,
6(1), 112-117.

Falloon, G. (2020). From digital literacy to digital competence: the teacher digital
competency (TDC) framework. Educational Technology Research
and Development, 1-24.

109

Fitrihana, N. (2018). Rancangan pembelajaran teaching factory di SMK Tata
Busana. Home Economics Journal, 2(2), 56-64.

GHALBY, A. Tingkat Pengetahuan K3 (Keselamatan Dan Keamanan Kerja)
Mahasiswa Pendidikan Kimia Di Laboratorium Kimia. Jakarta: FITK
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA.

Ghosh, A., Kapila, D., & Ghosh, T. (2017). Improvements in primary care skills
and knowledge with a vocational training program: a medical student's
perspective. Adv Med Educ Pract, 8, 633-635. doi:
10.2147/AMEP.S148900

Ghufron, G. (2018). Revolusi Industri 4.0: Tantangan, Peluang, Dan Solusi Bagi
Dunia Pendidikan. Paper presented at the Seminar Nasional dan
Diskusi Panel Multidisiplin Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada
Masyarakat 2018.

Gunawan, I. (2013). Metode penelitian kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara, 143.

Gupta, A. (2017). Critical Reflection of the Pre-Service Teachers for the School
Internship under the Revised Guidelines of NCTE 2014. AEIJMR, 1-5.

Gusnardi1, I. M. (2019). Educational institution performance measurement_based
on miles and huberman models_using balanced scorecard approach.
QUALITY_Access to Success, 20, 32-41.

Hajar Mustinah Ariyanto, R. (2019). Upaya Peningkatan Kompetensi Profesional
Guru Di Smk Negeri 1 Surabaya. Inspirasi Manajemen Pendidikan,
7(3).

Handayani, S., Azizah, D. N., & Indahsari, E. L. (2019). The Implementation
evaluation of teaching factory learning model on APT productive
learning at SMK Negeri 2 Subang. Paper presented at the 5th UPI
International Conference on Technical and Vocational Education and
Training (ICTVET 2018).

Hartanti, L. E. P., Abraham, J., Sumanto, K., Prasetyo, I., & Susanto, E. (2019).
BUMN dan Unika Atma Jaya Bersinergi: Sandwich Pendampingan
Karir Berkelanjutan dalam Program Magang Bersertifikat. Proceeding
Indonesian Carrier Center Network (ICCN) Summit 2019, 1(1), 228-
336.

Hidayat, T. S. (2018). Upaya Menjalin Kemitraan Dengan Dunia Industri Di Smk
Muhammadiyah 1 Bantul Dan Smk Muhammadiyah 1
Bambanglipuro. Hanata Widya, 7(6), 60-70.

110

Hughes, J., Morrison, L., & Dobos, L. (2018). Re-making teacher professional
development. Stud Health Technol Inform, 256, 602-608.

Hunter, N., Smith, C. C., & Reynolds, E. E. (2018). Become an effective resident
teacher and team leader in 10 tried-and-true steps. J Grad Med Educ,
10(5), 488-490. doi: 10.4300/JGME-D-17-00937.1

Ixtiarto, B. (2016). Kemitraan Sekolah Menengah Kejuruan Dengan Dunia Usaha
Dan Dunia Industri (Kajian aspek Penhgelolaan Pada SMK
Muhammadiyah 2 Wuryantoro Kabupaten Wonogiri). Jurnal
Pendidikan Ilmu Sosial, 26(1), 57-69.

Jatmoko, D. (2017). Peran Guru Profesional Dan Alat Praktik Smk Teknik
Kendaraan Ringan Terhadap Kesiapan Kerja Siswa Di Dunia Industri
Otomotif. Auto Tech: Jurnal Pendidikan Teknik Otomotif Universitas
Muhammadiyah Purworejo, 9(2).

Karwan, D. H. (2018). Kemitraan dalam revitalisasi pendidikan menengah
kejuruan gerakan Mewujudkan SMK berorientasi kebutuhan industri:
Aura.

Khaeruddin Said, M. (2019). Pengembangan Profesi Guru Pada Kurikulum 2013:
Zahen Publisher.

Kota, M., Kudo, H., & Okita, K. (2018). Relationships between motives to
become a physical therapist, delayed graduation, and perceptions of
school and internship learning among physical therapy students. J
Phys Ther Sci, 30(1), 136-139. doi: 10.1589/jpts.30.136

Kristiawan, M., & Rahmat, N. (2018). Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui
Inovasi Pembelajaran. Jurnal Iqra': Kajian Ilmu Pendidikan, 3(2),
373-390.

Kurniawan, D. A., Astalini, A., & Sari, D. K. (2019). An evaluation analysis of
students’ attitude towards physics learning at senior high school.
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 23(1), 26-35.

Lativa Hartiningtyas, P., dan Hakkun Elmunsyah. (2016). Meningkatkan
kompetensi pedagogik dan profesional guru SMK melalui
pemberdayaan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB). SNP.

Lestari, S. P. (2019). Relevansi Kurikulum Program Produktif Kompetensi
Keahlian Teknik Otomasi Industri Smkn 4 Bandung Terhadap
Kebutuhan Dunia Industri. Universitas Pendidikan Indonesia.

Levitt, H. M., Bamberg, M., Creswell, J. W., Frost, D. M., Josselson, R., &
Suárez-Orozco, C. (2018). Journal article reporting standards for

111

qualitative primary, qualitative meta-analytic, and mixed methods
research in psychology: The APA Publications and Communications
Board task force report. American Psychologist, 73(1), 26.

Linda Darling - Hammond, M. E. H., and Madelyn Gardner,, & Espinoza, w. a. f.
D. (2017). Effective teacher professional development. Learning
Policy Istitute.

Marasigan, N. V. (2018). Predicting Internship Success of Pre-Service Teachers.
International Journal of Recent Innovations in Academic Research,
2(7), 112-124.

Mardhiyyah, S. A. (2019). Student Teacher Internship Experience in SeaTeacher
Project Batch 8 Chiang Rai, Thailand. Paper presented at the The
International English Language Teachers and Lecturers Conference.

Maureen Grady, Charity Cayton, Ronald V. Preston, & Rose Sinicrope. (2019).
Co-planning Strategies for Mentor Teachers and Interns. Theory &
Practice in Rural Education (TPRE), 9, 79-91.

Mufida Nofiani*, T. J. (2018). Efektivitas Pelaksanaan Program Magang
Pembelajaran terhadap Kemampuan TPACK (Technological
Pedagogical Content Knowledge) Mahasiswa Calon Guru Biologi
FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 1.

Mukminin, A., Kamil, D., Muazza, M., & Haryanto, E. (2017). Why teacher
education? Documenting undocumented female student teachers'
motives in Indonesia: A case study. The Qualitative Report, 22(1),
309.

Mulyadi, Y. (2018). Evaluasi Program Magang Pada Penyelenggaraan Pendidikan
Smk Dengan Model (3+ 1) Program Keahlian Kehutanan Di Smk
Negeri 1 Pagelaran €“Cianjur (Implementasi Model Cippo). Jurnal
Evaluasi Pendidikan, 9(1), 84-96.

Mustofa, M. (2017). Evaluasi program praktik pembelajaran di sekolah (program
magang iii) untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan
kompetensi profesional calon guru PAI.

Muzani, M. R., Sutadji, E., Mustakim, S. S., Ali, S. b. P. H., & Khasanah, F.
(2019). School and Industries Collaboration on Implementing
Vocational Education Internship Program: Best Practice in
Indonesia. Paper presented at the 1st Vocational Education
International Conference (VEIC 2019).

Nanda, G., & Ningrum, T. A. (2019). Pengelolaan Magang Guru SMK Paket
Keahlian Teknik Sepeda Motor Berbasis Kemitraan.

112

Naomi, C. (2017). Penerapan Pelatihan Magang Dalam Meningkatkan
Kompetensi Mengajar Calon Instruktur Di Lembaga Pendidikan
Komputer Informatika Indonesia (Lpkii) Kota CimahI. Universitas
Pendidikan Indonesia.

Nilasari, S. (2020). Pendidikan di era revolusi industri 5.0 terhadap disiplin kerja
guru. Paper presented at the Prosiding Seminar Nasional Program
Pascasarjana Universitas PGRI Palembang.

Nuraeni, R. (2019). Pendekatan experiential learning pada pendidikan dan
pelatihan program keahlian dan sertifikasi bagi guru smk/sma keahlian
ganda pelaksanaan in 1 (tatap muka). Jurnal TEDC, 11(3), 278-285.

Nurtanto, M., Ramdani, S. D., & Nurhaji, S. (2017). Pengembangan Model
Teaching Factory Di Sekolah Kejuruan. Paper presented at the
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP.

Nuryani, D., & Handayani, I. (2020). Kompetensi Guru Di Era 4.0 Dalam
Meningkatkan Mutu Pendidikan. Paper presented at the Prosiding
Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas Pgri Palembang.

Pawellangi, M. R. (2017). Pengembangan model pendidikan dan pelatihan
(diklat) berkelanjutan berdasarkan pemetaan hasil uji kompetensi
guru bidang keahlian TIK pada SMK. Universitas Negeri Malang.

Rachman, C. H., Yoto, Y., & Widiyanti, W. (2017). Peran industri dalam
meningkatkan mutu pendidikan melalui kerjasama internship
program/magang bagi guru (studi kasus SMK PGRI 3 Malang). Jurnal
Pendidikan Dasar dan Menengah (JUPEDASMEN), 3(2).

Rahim, F. R., Suherman, D. S., & Murtiani, M. (2019). Analisis Kompetensi Guru
dalam Mempersiapkan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi
Informasi Era Revolusi Industri 4.0. JURNAL EKSAKTA
PENDIDIKAN (JEP), 3(2), 133-141.

Rahmawati, F., Handayani, S., Wahyono, H., Mukhlis, I., & Sumarsono, H.
(2019). Pelatihan Metode Penelitian Untuk Meningkatan Kinerja
Guru-Guru SMKN 1 kota Batu. Jurnal KARINOV, 2(3), 157-160.

Ritchie, A., Gwadz, M. V., Perlman, D., De Guzman, R., Leonard, N. R., &
Cleland, C. M. (2017). Eliminating Racial/Ethnic Disparities in AIDS
Clinical Trials in the United States: A Qualitative Exploration of an
Efficacious Social/Behavioral Intervention. J AIDS Clin Res, 8(1).
doi: 10.4172/2155-6113.1000648

Robinson, D. B., Robinson, I., & Foran, A. (2019). Teachers as Learners in the
(Literal) Field: Results from an International Service Learning

113

Internship. Brock Education: A Journal of Educational Research and
Practice, 28(2), 64-81.

Royani, I. (2020). Peningkatan Kompetensi Guru Menuju Era Revolusi Industri
5.0. Paper presented at the Prosiding Seminar Nasional Program
Pascasarjana Universitas Pgri Palembang.

Rusydi Ananda. (2018). Profesi pendidikan dan tenaga kependidikan. Medan:
Lembaga Peduli Pengembangan Pendidikan Indonesia (LPPPI) Jl.
Seser Komplek Citra Mulia Blok D. 14 Medan.

Salamah, U., & Mufidah, N. (2019). Pengembangan Profesionalisme Guru
Melalui Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Akademik. Paper
presented at the Proceeding International Conference on Islamic
Education (ICIED).

Saleh, A. A. (2019). OptimalisasiI supervisi pendidikan terhadap peningkatan
kualifikasi dan kompetensi guru untuk peningkatkan kualitas
pendidikan Indonesia.

Sauri, S. (2010). Membangun karakter bangsa melalui pembinaan profesionalisme
guru berbasis pendidikan nilai. Jurnal Pendidikan Karakter, 2(2), 1-
15.

Schnoes, A. M., Caliendo, A., Morand, J., Dillinger, T., Naffziger-Hirsch, M.,
Schweitzer, A. D., & Sarkany, D. (2020). The Importance of the
Clinical Internship for the Radiologist. Acad Radiol. doi:
10.1016/j.acra.2020.05.028

Sedana, I. M. (2019). Guru Dalam Peningkatan Profesionalisme, Agen Perubahan
Dan Revolusi Industri 4.0. Jurnal Penjaminan Mutu, 5(2), 179-189.

Silverman, J., & Shiller, J. (2020). Exploring implicit bias to evaluate teacher
candidates' ethical practice in the internship. Journal of Practitioner
Research, 5(1), 2.

Soepraptono, S., Jalinus, N., & Rizal, F. (2019). Relevansi Kompetensi Mata
Pelajaran Produktif dengan Kompetensi Industri Program Keahlian
Teknik Kendaraan Ringan. Jurnal Pendidikan Teknologi Kejuruan,
2(3), 75-79.

Stedman, J. M., McGeary, C. A., & Essery, J. (2018). Current patterns of training
in personality assessment during internship. J Clin Psychol, 74(3),
398-406. doi: 10.1002/jclp.22496

114

Subekt, H., Taufiq, M., Susilo, H., Ibrohim, I., & Suwono, H. (2018).
Mengembangkan literasi informasi melalui belajar berbasis kehidupan
terintegrasi stem untuk menyiapkan calon guru sains dalam
menghadapi era revolusi industri 4.0: Revieu literatur. Education and
Human Development Journal, 3(1).

Suharno, S., Pambudi, N. A., Widiastuti, I., & Harjanto, B. (2019). Apprenticeship
Implementation of Productive Teacher at Vocational School in
Indonesia. Paper presented at the 5th UPI International Conference on
Technical and Vocational Education and Training (ICTVET 2018).

Sukmadinata, S. (2005). Metode Penelitia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sulfemi, W. B. (2019). Kompetensi Profesionalisme Guru Indonesia dalam
Menghadapi MEA.

Sunardi, S., & Sudjimat, D. A. (2016). Magang Industri Untuk Meningkatkan
Relevansi Kompetensi Profesional Guru Produktif Smk. Teknologi
dan Kejuruan: Jurnal teknologi, Kejuruan dan Pengajarannya, 39(2).

Susilawati, L. (2018a). Penerapan supervisi multi metode untuk mengoptimalkan
guru smks assalaam mengimplementasikan hasil kegiatan magang di
du/di kepada guru produktif lainnya melalui learning community.
Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 3(7), 79-88.

Susilawati, L. (2018b). Penerapan Supervisi Multi Metode Untuk
Mengoptimalkan Guru SMKS Assalaam Mengimplementasikan Hasil
Kegiatan Magang DUDI Kepada Guru Produktif Lainnya Melalui
Learning Community. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 3(7),
79-88.

Sutiana, D., & Mulyasa, E. (2019). Manajemen pembinaan kinerja guru dalam
peningkatan pembelajaran mata pelajaran kejuruan. Kajian
Manajemen Pendidikan, 2(2), 117-124.

Sutijono, S., Kustono, D., Sutikno, T., & Sutrijono, S. (2016). Automotive
teachers industrial internship to obtain vocational school graduates
demanded by the industry. Russian Journal of Agricultural and Socio-
Economic Sciences, 58(10), 77-84.

Suwardana, H. (2018). Revolusi industri 4. 0 berbasis revolusi mental. JATI
UNIK: Jurnal Ilmiah Teknik Dan Manajemen Industri, 1(2), 109-118.

115

Tohardi, A. (2017). Model penelitian kebijakan kualitatif” Tohardi”. JPASDEV:
Journal of Public Administration and Sociology of Development, 1(1),
58-77.

Triyani, O., & Firdaus, M. (2017). Implementasi Program CSR Darmasiswa
Chevron Riau PT. Chevron Pacific Indonesia Pekanbaru Dalam
Meningkatkan Kualitas Pendidikan. Riau University.

Usep, U. (2017). Pengelolaan Magang Guru Produktif Smk Paket Keahlian
Teknik Sepeda Motor Berbasis Kemitraan. Jurnal Administrasi
Pendidikan UPI, 24(1), 173-181.

Wahana, T. B. (2019). Studi Pelaksanaan Magang Industri bagi Guru Produktif
SMK.

Wijaya, I. (2018). Professional Teacher: Menjadi Guru Profesional: CV Jejak
(Jejak Publisher).

William Jr, D. M., & Pramoolsook, I. (2020). Consistency Verification between
Qualitative Entries and Quantitative Ratings in the Teaching
Evaluation Forms of Filipino Pre-service Teachers. International
Journal of Learning, Teaching and Educational Research, 19(2).

Yogaswara, Y. (2019). Analisis Penerapan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja
(K3) Pada Siswa SMKN 1 Cimahi Jurusan Otomasi Industri.
Universitas Pendidikan Indonesia.

Yulianisa, Y., Rizal, F., Oktaviani, O., & Abdullah, R. (2018). Tinjauan
keterampilan abad 21 (21st century skills) di kalangan guru kejuruan
(studi kasus: SMK NEGERI 2 SOLOK). CIVED (Journal of Civil
Engineering and Vocational Education), 5(3).

Yustiana, M. (2020). Pembinaan untuk Mengoptimalkan Hasil Kegiatan Magang
Guru Produktif SMK Negeri 3 Magelang Melalui Learning
Community. Syntax, 2(1).

148

LAMPIRAN

LAMPIRAN

149

1. Hasil wawancara

LAPORAN WAWANCARA DENGAN GURU MAGANG 1

Hari/ Tanggal : Jumat/ 11 Desember 2020

Pukul 09.00

Tempat Gazebo SMK

Narasumber Lukman

Pewawancara Novie

Tema Problem dan Solusi Magang

Hasil wawancara

Lukman, guru teknik komputer dan jaringan jaringan di SMK Negeri 1
Binangun yang sudah mengikuti kegiatan magang industri di PT Telkom Witel
Purwokerto, beliau merupakan guru mata pelajaran Teknologi Layanan Jaringan.
Standar kompetensi profesional guru produktif yang saat ini ada, beliau
menyatakan bahwa penguasaanya masih berada pada 70 persen hal ini
disebabkan kompetensi profesional guru sangat banyak untuk dapat
memenuhinya memerlukan proses pembelajaran selain itu perkembangan
teknologi komputer juga berkembang pesat dan bervariasi sehingga dirinya tidak
bisa kalau harus menguasai secara keseluruhan. Menurut lukman dengan adanya
standar kompetensi guru itu sangat bermanfaat karena sebagai tolak ukur untuk
mengetahui keprofesionalannya. dengan adanya standar kita bisa meningkatkan
kemampuan masing masing sehingga ada upgrade knowledge yang tiap tahun
selalu ada perubahan.

Pihak sekolah menunjuknya untuk mengikuti kegiatan magang selama
satu bulan di PT Telkom, kesempatan ini merupakan kesempatan terbaik karena
dengan magang Akan menambah kompetensi yang terbaru yang nantinya
akan disampaikan ke peserta didik yang tujuannya mengurangi GAP antara dunia
industri dengan dunia SMK., sebagai guru lukman merasa dituntut untuk
selalu mengupgrade kompetensinya namun kesempatan itu sangat langka
walau semua guru di sekolahnya masuk dalam kriteria, namun semua itu kembali
kepada pihak kepala sekolah dalam hal penunjukan. Banyak dari guru yang
memenuhi kriteria magang karena sudah melaksanakan micro teaching, bahkan
sudah ada yang mendapatkan kesempatan pelatihan training of trainer sekaligus
sertifikasi industri dan beberapa kompetensi yang lain, namun tujuan magang
adalah memperkuat kekurangan guru.

Lukman mengatakan bahwa “ Motivasinya melaksanakan magang
adalah Mengetahui perkembangan teknologi dan menyampaikan ke peserta
didik serta belajar langsung kompetensi yang dibutuhkan di industri demi

150

menyiapkan lulusan yang bisa diserap industri, secara materi sama kompetensi
yang diajarkan disekolah dengan di industri namun peralatannya berbeda,
sehingga dengan magang dia mampu mempelajari peralatan terbaru yang ada di
industri dan mengajarkannya ketika selesai magang.

Lukman mengatakan bahwa budaya di industri dengan di SMK sama,
yang membedakan karena dirinya tidak terbiasa menerapkan, dari segi
komunikasinya dengan guru lain dan instruktur dia mengatakan baik dan saling
bekerjasama dalam menyelesaikan pekerjaan, hanya dia harus mulai melatih
berkompetitif.

Lukman mengakui selama mengajar di sekolah dia melupakan point
penting yaitu kesehatan keselamatan kerja (K3) alasannya itu sudah cukup
diajarkan ketika di kelas X pada mata pelajaran komputer dan jaringan dasar
selain itu juga peralatan K3 yang ada di sekolah belum standar industri dan ada
yang tidak dimiliki sekolah, selain itu tuntutan dari kompetensi mata pelajaran
apabila dibandingkan dengan waktu kurang jadi hal tersebut yang dijadikan
alasan kenapa K3 dilewatkan, karena tidak terbiasa menggunakan peralatan K3
lukman mengatakan bahwa dirinya pernah melakukan kesalahan satu kali dan
diberikan punishment.

“ Kegiatan magang sudah selesai sampai saat ini dari pihak sekolah
belum melakukan evaluasi atau sekedar perintah untuk mengimplementasi
kepada rekan rekan di sekolah. Namu dia mengajak teman teman yang bersedia
untuk belajar bersama, harapan lukman terhadap pelaksanaan magang
hendaknya mengetahui job description terlebih dahulu, karena selama magang
semua serba mendadak.

151

2. Hasil Wawancara 2

LAPORAN WAWANCARA DENGAN GURU MAGANG 2

Hari/ Tanggal : Rabu/ 09 Desember 2020

Pukul 09.00

Tempat Lab Komputer

Narasumber Bimo

Pewawancara Novie

Tema Problem dan Solusi Magang

Bimo guru teknik komputer dan jaringan jaringan di SMK Negeri 1 Binangun

mengajar mata pelajaran Admnistrasi Infrastruktur Jaringan, dia sudah mengikuti

kegiatan magang industri di PT Telkom Witel Purwokerto. Bimo menyatakan
bahwa “Standar profesional guru sangat penting, sebagai tolak ukur untuk

mengetahui keprofesionalannya. Karena menjadi guru bukanlah sebuah

pekerjaan yang mudah, fungsi standar kompetetnsi ini menjamin agar pendidikan
benar-benar dapat dilaksanakan dengan baik oleh guru.” Keetika ditanya sejauh

mana dia menyatakan bahwa dia baru mencapai 70 persen hal ini disebabkan hal

ini disebabkan kompetensi teknik komputer dan jaringan sangat banyak dan

jumlah jam mengajat juga banyak.

Pihak sekolah menunjuknya untuk mengikuti kegiatan magang selama
satu bulan di PT Telkom, kesempatan ini merupakan kesempatan terbaik karena
dengan magang menyesuaikan kompetensinya agar mampu mengembangkan
dan menyajikan materi pelajaran yang aktual dengan menggunakan berbagai
pendekatan, metoda, dan teknologi pembelajaran terkini serta berhasil
mengantarkan peserta didik memasuki dunia kehidupan sesuai dengan kebutuhan
dan tantangan pada zamannya namun kesempatan itu sangat langka walau
semua guru di sekolahnya masuk dalam kriteria, namun semua itu kembali
kepada pihak kepala sekolah dalam hal penunjukan. Banyak dari guru yang
memenuhi kriteria magang karena sudah melaksanakan micro teaching, bahkan
sudah ada yang mendapatkan kesempatan pelatihan training of trainer sekaligus
sertifikasi industri dan beberapa kompetensi yang lain, namun tujuan magang
adalah memperkuat kekurangan guru tapi semua akan mendapatkan giliran
berangkat magang menurut informasi dari kepala sekolah dan juga tergantung
dari kapasitasi idnsutri dalam menerima guru magang..

Bimo mengatakan bahwa “ Motivasinya melaksanakan magang
adalah untuk meningkatkan kompetensi. Artinya ya memang itu sebagai bentuk
tuntutan profesi, mengkolaborasikan apa yang ada di idnustrti ke
dalampembelajaran disekola, mengetahaui kemajuan teknologi yang
dipakai oleh industri yang nantinya disampaikan ke peserta didik serta
belajar langsung kompetensi yang dibutuhkan di industri demi menyiapkan
lulusan yang bisa diserap industri, secara materi sama kompetensi yang diajarkan
disekolah dengan di industri namun peralatannya berbeda, sehingga dengan

152

magang dia mampu mempelajari peralatan terbaru yang ada di industri dan
mengajarkannya ketika selesai magang.

Bimo mengatakan bahwa budaya di industri dengan di SMK sama, yang
membedakan karena dirinya tidak terbiasa menerapkan, dari segi komunikasinya
dengan guru lain dan instruktur dia mengatakan baik dan saling bekerjasama
dalam menyelesaikan pekerjaan, hanya dia harus mulai melatih berkompetitif.

Bimo mengatakan bahwa dirinya selama mengajar di sekolah dia
melupakan point penting yaitu kesehatan keselamatan kerja (K3) alasannya itu
sudah cukup diajarkan ketika di kelas X selain itu juga peralatan K3 yang ada di
sekolah belum standar industri dan ada yang tidak dimiliki sekolah da dia juga
mengakjui bahwa dirinya pernah melakukan kelalian penggunaan peralatan
safety dan mendapatkan hukuman dari instruktur hal ini disebabkan karena tidak
terbiasa dan tidak punya peralatan tersebut.

“ Kegiatan magang sudah selesai sampai saat ini dari pihak sekolah
belum melakukan evaluasi atau sekedar perintah untuk mengimplementasi
kepada rekan rekan di sekolah mungkin kareana sedang pandemi, harapan
kesekolah adanya penambahan transport dan kepada industri job description
disampaikan terlebih dahulu.

153

3. Lampiran hasil wawancara 3

LAPORAN WAWANCARA DENGAN GURU MAGANG 3

Hari/ Tanggal : Jumat/ 11 Desember 2020

Pukul 09.00

Tempat Lab Komputer

Narasumber Wawan Kurniawan

Pewawancara Novie

Tema Problem dan Solusi Magang

Hasil wawancara .

Wawan merupakan guru di SMK Negeri 1 Cilacap yang mengajar mata pelajaran
administrasi infrastruktur Jaringan, beliau sudah mengikuti magang di Lucas Nuelle
dan Frank Bangert di Jerman. Beliau lolos dalam tahapan seleksi yang diberikan
pemerintah, jadi kegiatan magang yang dilakukan adalah kerelaan dari diri guru itu
sendiri untuk mengikuti seleksi, pihak sekolah hanya memfasilitasi persyaratan dan
perizinan, setelah dia magang dia mengetahui manakah dari standar kompetensi
guru yaitu sebagai tolak ukur untuk mengetahui keprofesionalannya. dengan adanya
standar kita bisa meningkatkan kemampuan masing masing sehingga ada upgrade
knowledge yang tiap tahun selalu ada perubahan.

Wawan mengatakan juga bahwa kemampuan profesionalnya batu 70 persen hal ini
karena dia sendiri fokus ke jaringan ,alasannya dengan jaringan dia bisa
mengajarkan kepada peserta didik selain bekerja juga berwirausaha dengan
membuka jasa internet setelah lulus. struktur kurikulum teknik komputer dan
jaringan sangat banyak sehingga memerlukan kekhususan untuk menekuni, selama
ini kita hanya sebagai pengguna teknologi saja.

Wawan menyampaikan bahwa” tujuan saya mengikuti magang diantaranya;
mengembangkan potensi kompetensi saya, mengetahui perkembangan education
yang terbaru, sehingga dapat dijadijakan referensipengembanagn mengajar;
mengetahui teknologi yang saat ini semakin berkembang.

Ketika mengikuti seleksi magang kuota magang pemerintah, wawan mengatakan
sebenarnya tidak semua guru berhak, tergantung pada niat guru itu sendiri dan
mentalnya , otomatis harus merelakan meninggalkan keluarga dan tunjangan profesi
serta tunjangan penghasilan dipotong, dan otomatis juga berkaitan dengan waktu
yang lama.kriteria kelolosan yang mengetahui hanya pihak pemerintah saya hanya
menjalani saja dengan baik dan bekal apa yang saya miliki.

Wawan memaparkan bahwa sebenarnya struktur kurikulum kita sudah bagus, hanya
perlu penambahan atau fokus, ke sesuatu hal, selama saya mengunjungi sekolah dan
terjun ke industri kalau saya amati kita terlalu luas sehingga menurut saya lebih baik
kita menekuni satu kompetensi bukan semua, dari segi peralatan dan kebebasan

154

bereksplorasi selama di industri berbeda jauh dengan ada disekolah.

Kendala komunikasi yang saya alami dari segi bahasa, walau menggunakan bahasa
inggris tetapi kemempauan bahasa inggris saya masih kurang sehingga ketika akan
berkomunikasi tidak bisa langsung.kendala berikutnya selama di sekolah kita tidak
memiliki peralatan sesuai standar industri dan kebebasan untuk bereksplorasi
terhadap peralatan.

Wawan mengatakan kebiasaan atau budaya yang mesti dibiasakan adalah budaya
kerja di Jerman disana sangat menghargai waktu, jadi ketika kerja tidak ada kegiatan
lain baik itu social media dan yang tidak penting, tingkat produktivitas tinggi, jadi
ketika kita tidak menerapkan dan sering mendapatkan teguran. Kalau di sekolah dia
tidak memungkiri ketika sedang mengajar kegiatan social media selalu
dilakukan.dan apabila kita tidak sesuai tuntutan job maka tambahan uang saku
dipotong.

Setelah magang wawan mengatakan bahwa dia hanya melakukan diseminasi di
perkumpulan guru TKJ di kabupaten cilacap, dan itupun tidak semua guru bisa
hadir,

155

4. Lampiran hasil wawancara 4

Hari/ Tanggal : LAPORAN WAWANCARA DENGAN KS 1
Pukul Jumat/ 06 Desember 2020
Tempat 09.00
Narasumber Ruang Kepala Sekolah
Pewawancara Sri Utami, S.Pd.MM
Tema Novie
Problem dan Solusi Magang

Hasil wawancara

Ibu Utami adalah kepala SMK Negeri 1 Binangun sejak tahun 2019,
merupakan kepala sekolah yang berani menjalin kerjasama industri terkait
peningkatan kompetensi profesional guru teknik komputer dan jaringan melalui
magang industri. Beliau memaparkan tentang kompetensi guru nya sebagai berikut
“Kompetensi guru TKJ saat ini belum bisa diukur secara nasional , semua guru tkj
sudah mengikuti uji kompetensi asesor, tapi tidak menjamin dengan lulusnya akan
sesuai dengan industri, dengan tuntutan industri saya berupaya meningkatkan
kompetensi guru tkj baik secara profesional maupun keilmuan lainnya yang
relevan dengan industri, sehingga masih sangat kurang sesuai dengan tuntutan
zaman sesuai perkembangan IT. perkembangan dalam bidang jaringan saat ini
yang sedang marak adalah teknologi fiber optik, sehingga kita berupaya menjalin
kerjasama dengan PT Telkom Purwokerto untuk merubah sedikit mindset
kompetensi guru dari jaringan komputer ke fiber optik, apabila dikemudian hari
ada perkembangan teknologi baru kita juga harus mengikuti perkembangan yang
ada.

Utami menyatakan bahwa” Dalam mengirimkan guru kami buat analisis atau
peta kompetensi guru. Peta penguasaan kompetensi guru itu ada nama-nama guru
di sampingnya itu ada kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai kemudian kita
adakan evaluasi. Guru A misalkan bobotnya mampu gak, gitu. Mampu, sangat
mampu mungkin, kurang mampu, cukup mampu, atau tidak mampu sama sekali,
nanti kita punya prioritas. Guru ini perlu di diklatkan atau perlu dimagangkan.
selain itu juga mengadakan Microteaching yang fungsinya selain magang guru ,
yang merupakan kegiatan mengajar dimana segala sesuatunya dikecilkan atau
disederhanakan untuk membentuk/ mengembangkan keterampilan mengajar.
Sasaran pengajaran melalui laboratorium microteaching adalah terbentuknya profil
guru yang memiliki sikap tut wuri handayani serta mempunyai perangkat
keterampilan belajar mengajar yang spesifik praktis.Training of Trainer bertujuan
untuk menjadikan seseorang siap menjadi Trainer (Pengajar) baik secara teknis
maupun non non teknis. Pendekatan yang tepat dalam ToT dilakukan melalui
experiencetial learning, dimana peserta training mengalami pengalaman sebagai
Trainer secara langsung selama pelatihan, dan mendapatkan feedback dari peserta
dan evaluasi dari Fasilitator Trainer

156

Utami juga mengatakan bahwa dia akan berupaya meng-upgrade
kompetensinya sesuai yang ada sekarang, perkembangan teknologi sekarang.
Kemudian kompetensi baik sikap pengetahuan, sikap kerja di industri seperti apa,
pengetahuannya, skill nya, tujuannya tidak ada guru yang kompetensinya rendah
minimal merata. Selain itu Manfaatnya meningkatkan kompetensi guru sesuai
dengan kondisi yang ada perkembangan ilmu dan teknologi , memotivasi guru
untuk selalu berkembang, kompetensinya. Kemudian yang berikutnya
membudayakan, budaya untuk belajar sepanjang hayat, hal tersebut bisa
ditunjukan bahwa gurunya setelah kepemimpinannya untuk ur teknik komputer
dan jaringan sudah memiliki sertifikat asesor, sertifikasi sesuai industri dan ada
yang berangkat magang secara bertahap.

Utami mengatakan saat ini untuk teknik komputer jaringan sudah
mengadakan magang industri melalui kerjasama dengan PT Telkom Witel
Purwokerto mengadakan MOU terkait magang dengan melali kelas industri Fiber
Optik. Kegiatan magang yang disepakati selama 45 hari, karena bergiliran dengan
SMK lain. Jadi permohonan sudah atas dasar kesepakatan bersama.

Permasalahan yang dihadapi menurut utami adalah keterbatasan waktu,
fasilitas di industri untuk melayani guru kami yang magang, guru juga tetap
mengajar karena tidak mungkin diberikan ke guru lain karena tenaga pengajar di
produktif teknik komputer dan jaringan sedikit, walau mengajar secara daring,tapi
pihak sekolah memberikan solusi untuk kegiatanmengajar dilakukan dimalam
hari.

Harapan setelah magang ini ada perubahan mindset guru, tentang cara mengajar,
perilaku, kompetensi kearah yang lebih baik.

157

5. Lampiran Hasil wawancara 5

LAPORAN WAWANCARA DENGAN KEPALA SEKOLAH

Hari/ Tanggal : Kamis/ 03 Desember 2020

Pukul 09.00

Tempat Ruang Kepala Sekolah

Narasumber Hendarto, S.Pd.MPd

Pewawancara Novie

Tema Problem dan Solusi Magang

Hasil wawancara

Hendarto merupakan kepala SMKN 1 Cilacap yang sudah melaksanakan
magang guru teknik komputer dan jaringan melalui kuota dari pemerintah beliau
menyatakan bahwa Profesional guru di SMK Negeri 1 Cilacap yang teknik
komputer dan jaringan sudah lumayan, karena dari guru tersebut yang sudah
melaksanakan magang, studi banding luar negeri juga sudah dilaksanakan.

Hendarto mengatakan bahwa kerjasama membuka kelas industri bukan hanya
satu cara gurunya dapat magang, karena kemarin pihak kami menolak penawaran
dari PT Telkom karena menurut pendapatnya pihak SMK sudah melaksanakan
magang sebelum penawaran dari Telkom karena lebih baik anggaran digunakan
untuk prasarana terlebih dahulu. Tetapi meng-upgrade kompetensinya sesuai yang
ada sekarang, perkembangan teknologi sekarang. Kemudian kompetensi baik sikap
pengetahuan, sikap kerja di industri seperti apa, pengetahuannya, skill nya,
semuanya ya jadi intinya gitu.sering, termasuk pelatihan pelatihan, setelah adanya
pandemi jadi berkurang, yang sudah berlalu untuk pemngembagan kompetensi tkj
cenderung mengikuti pemgembangn tkj yang ada di industri, karena kompetensi tkj
terlalu luas , jadi perlu difokuskan guru ke industri. setelah pandemi kita tetap
berambisi mengirimkan guru untuk magang di industri, karena setiap industri
mempunyai spesialisasi sendiri sendiri

Hendarto menyatakan bahwa guru teknik komputer dan jaringan dari empat
orang guru 3 sudah memiliki sertifikat asesor P1, dan kegiatan pelatihan yang lain.
Hendarto Mengatakan pihak sekolah dalam menunjuk guru untuk mengikuti seleksi
magang berdasarkan prestasi yang dimiliki guru, jadi sudah sesuai kemampuan guru
walau pada intinya semua guru berhak namun kita memiliki skala prioritas dan juga
kerelaan guru yang bersangkutan. Permasalahan magang diantaranya keterbatasan
waktu, kadang kadang ya magang di sekolah sedang ada semesteran, ulangan kan
gitu ya.kesedian dari guru itu sendiri untuk meninggalkan keluarga dan kehadiran
terkait tunjangan profesi guru. Solusinya dikembalikan kepada guru yang
bersangkutan apakah mau magang atau tidak, untuk pembelajaran itu sendiri guru
tetap mengontrol peserta didik melalui pembelajaran daring baik via whatsapp,
moodle maupun google classroom., Permasalahan magang ini hendaknya
pemerintah dan industri memberikan kuota guru untuk magang ditambah .

158

Hendarto mengatakan setelah guru magang akan dilihat bagaimana perubahan
pada guru setelah magang, apakah perubahan yang positif ataukah tidak ada
perubahan.

159

6. Lampiran hasil wawancara 6

LAPORAN WAWANCARA DENGAN INDUSTRI

Hari/ Tanggal : Selasa/ 01 Desember 2020

Pukul 09.00

Tempat Pt Telkom

Narasumber Bp Ariyanto dan Ibu Nia (Instruktur Lapangan dan Humas

Pewawancara PT Telkom)

Tema Novie

Problem dan Solusi Magang

Hasil wawancara

Ariyanto dan Nia (Instruktur Lapangan dan Humas PT Telkom) dalam

kegiatanmagang industri, sebagai Humas Pt Telkom Nia memenjelaskan

prosedur megang gru adalah sebagai berikut Pengajuan kerjasama antara pihak

sekolah dan industri PT Telkom tentang kelas industri, Sinkronisasi Kurikulum

antara SMK dengan industri, Microteaching, Pelatihan Training on Trainer dan

Sertifikasi Guru, Peresmian pembukaan kelas industri, Magang guru. adalah

MOU antara sekolah dengan DUDI, Ijazah S1 guru magang, Surat penunjukan

guru magang, Sertifikat Microteaching, Sertifikat TOT dan Sertifikasi industri .

Ariyanto selaku instruktur lapanganmenjelaskan bahwa m seharusnya guru

mengikuti microteaching terlebih dahulu, kemudian mengikuti training of trainer

dan sertifikasi industri sesuai prasyarat yang akan diambil dalam magang.

Nia memaparkkan Untuk pembiayaan guru itu sendiri sepenuhnya

ditanggung pihak sekolah pengirim dan untuk kegiatan selama di industri baik

itu peralatan safety disediakan dari kami selaku industri menggunakan sistem

tergantung kesepakatan antara pihak sekolah dengan industri. ada yang 1 bulan

ada juga yang dua bulan

Ariaynto memnjelaskan bahwa materi pertama adalah sistem

telekomunikasi terlebih dahulu yaitu penggunaan tembaga, tembaga kombinasi

dan fiber optik, sesuai perkembangan teknologi yang terkini, beliau juga

mengatkan kesulitan dalam mengarahkan karena belum memiliki modul, masih

banyak sekali perlu belajar, sehingga tidak terlalu lama untuk gambatran,

sebaiknya ada modul baru mengikuti magang.

Ariyanto menyatakan b ahwa kompetensi guru mencukupi secara teoritis,

untuk praktikum masih kurang, ketika di komfirmasi guru menhatakn bahwa

perlatan tersebut berbeda dan ad ahangmenajwanb tidak dimiliki oleh skolah.

Ariyanto menyatakan selama magang interkasi guru dengan sesama peserta

agang, dengan teknisi juga baik, disoplin guru juga bagus, dan mereka juga

mengikut budaya inbdustri di telkom yaitu siap berkompetitif daslam team.

Ariyanto menyatakan selama ini dia selalu mengarhkan dan selalu menekankan

tentang K3, namun guru tidak terbiasa dan ad ayang tidak tau cara menggunakan

perlatan tersebut, gtetapi hal itu bisa dimkoordinadsikan baik b aik dengan

arahan

Nia mengatakan dari pihak industri kamui berupaya memberikan kuota

160

sebanyak banyaknya, tapi semua itu melihat dengan kapasitas, jika dilihat dari
jumlah sekolah yang akan mengirimkan, dan pembiayaan, karena sepenuhnya
keputusan ada pada sekolah yang mengirim. dan ada kesepakatan yang jelas
antara sekolah dengan industri apabila mau mengirimkan guru untuk magang.

161

7. Lampiran kisi kisi penelitian.
Kisi- kisi Instrumen Pengumpulan Data Penelitian

Judul Penelitian: Problem dan Solusi Magang Industri Guru TKJ SMK
Negeri Kabupaten Cilacap

(Penelitian kualitatif pada dua kepala SMK Negeri di Kabupaten Cilacap).

Indikator Teknik Sumber Pertanyaan Kriteria
N Data Penelitian
o L LD TL
DR D
1. Guru
menguasai Dokumentasi PKG. 1. Bagaimana √
standar . kompetensi √
kompetensi profesional
profesional guru TKJ di
TKJ. SMK anda (
SMK
2. Guru Negeri 1
memiliki Binangun
sertifikat dan SMK
asesor, Negeri
kompetensi, Cilacap)?
atau yang
relevan 2. Apa upaya
dengan anda
profesi. (sebagai
kepala
sekolah)
untuk
mengemban
gkan
kompetensi
profesional
guru TKJ?

Dokumentasi 3. Apakah √
.
sekolah

sering

mengikutka

n guru

produktif

untuk

program

pengembang

an diri?

162

Indikator Teknik Sumber Pertanyaan Kriteria
N Data Penelitian
o L LD TL
DR D

4. Apakah √
guru SMK
sudah
memiliki
sertifikat
asesor,
kompetensi,
pelatihan
sesuai
bidang
keahlian?

3. Pihak sekolah Wawancara. Kepala 5. Apakah √

menugaskan Dokumentasi SMK bapak/ibu

guru TKJ . SK sudah

magang di Penunjukan pernah/akan

industri. / menugaskan

Surat tugas. guru TKJ

magang di

Industri? √
6. Berapa

kuota yang

diberikan

industri

untuk

magang

guru TKJ ?
7. Kriteria apa √

yang

digunakan

dalam

menyeleksi

guru

magang?

4. Pengalokasia Dokumentasi Surat tugas. 8. Berapa √

n waktu dan . lama

tempat pelaksanaan

magang dari magang

pihak SMK industri

163

Indikator Teknik Sumber Pertanyaan Kriteria
N Data Penelitian
o L LD TL
DR D
jelas.
guru TKJ di
SMK √
bapak/ibu?
9. Industri
mana yang
dijadikan
tempat
magang
guru TKJ?

5. Tujuan Wawancara. Kepala 10. Apa tujuan √
magang SMK. program
industri guru magang
TKJ terurai guru TKJ?
dengan jelas.

6. Kejelasan Wawancara. Kepala 11. Apa √
permasalahan Sekolah. masalah √
dan solusi yang terjadi √
magang guru . ketika
TKJ. mengirimka
n
permohonan
izin guru
untuk
magang di
industri

12. Apakah
kuota yang
diberikan
DUDI untuk
magang
guru
mencukupi,
dan
bagaimana
solusinya ?

13. Apakah ada
persyaratan
khusus dari
DUDI untuk

164

Indikator Teknik Sumber Pertanyaan Kriteria
N Data Penelitian
o L LD TL
DR D

magang √
guru,
bagaimana √
cara √
memenuhi √
syarat
tersebut?
14. Adakah
masalah
terkait
MOU
magang
guru,
bagaimana
cara
mengatasi
apabila ada
DUDI yang
sudah MOU
dengan
SMK
namun tidak
bersedia
mengalokasi
kan kuota
magang
guru?
15. Bagaimana
proses
pembelajara
n di Sekolah
selama guru
magang di
Industri?
16. Siapa yang
menghandle
tugas guru,
selama guru
di industri?
17. Bagaimana

165

Indikator Teknik Sumber Pertanyaan Kriteria
N Data Penelitian
o L LD TL
DR D

pengaturan
jadwal
ketika guru
magang?

Yogyakarta, November 2020

Keterangan LD : Layak Digunakan Berilah tanda checklist pada
LDR : Layak digunakan revisi instrumen diatas
Instrumen TLD : Tidak Layak Digunakan
Penyesuaian Perlu diperbaiki nomor Bandung, 01 Desember2020
Soal
Komentar Nama
dan saran Widi Linggih Jaelani,
Validator S.KOM.,M.T

166

8. Lampiran Pedoman wawancara

PEDOMAN WAWANCARA DENGAN GURU

Uraian batasan atau aturan wawancara:

1. Wawancara dilakukan secara tatap muka atau melalui google form.

2. Jawaban ditulis sesuai keterangan yang diberikan informan.

3. wawancara dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara peneliti dengan

responden.

4. Tujuan dari kegiatan wawancara disampaikan terlebih dahulu.

A. IDENTITAS INFORMAN.

1. Nama lengkap :

2. Umur :

3. Jenis kelamin :

4. Pekerjaan :

5. Pendidikan terakhir :

6. Unit Kerja :

7. Mengajar Mata Pelajaran :

B. NASKAH WAWANCARA

No Variabel Penelitian Pertanyaan

1 Kompetensi 21. Berapa besar pentingnya standar profesional guru

profesional guru TKJ?
22. Seberapa jauh anda menguasai standar

TKJ. kompetensi profesional guru TKJ?

23. Standar kompetensi guru TKJ mana yang anda

kuasai?

2 Pelaksanaan magang 24. Jelaskan, kenapa magang dijadikan salah satu

guru TKJ di industri. upaya untuk meningkatkan kompetensi
profesional guru TKJ?

25. Kriteria apa yang dipakai dalam penugasan

magang selama ini? Bagaimana ideal?

26. Apakah proses pengiriman guru magang sudah

167

adil?
27. Apa motivasi anda untuk mengikuti program

magang dan bagaimana realita?
28. Setelah anda magang industri adakah kesamaan

antara kompetensi yang anda ajarkan ke siswa
dengan yang dibutuhkan di Industri?
29. Kompetensi TKJ apa yang belum diajarkan di
SMK yang dibutuhkan di industri?
30. Selama magang bagaimana komunikasi anda
dengan rekan kerja?
31. Kendala apa yang anda temukan ketika
berkomunikasi dan solusi apa yang anda
lakukan?
32. Jelaskan budaya Industri yang mesti anda penuhi
selama magang?
33. Sanksi apa yang anda terima apabila melanggar
budaya industri?
34. Apakah prosedur K3LH mengajar berbeda
dengan prosedur K3LH magang?
35. Apakah ada permasalahan ketika anda harus
mematuhi SOP TKJ di Industri?
36. Setiap melakukan pekerjaan, apakah koordinasi
dilakukan dengan instruktur langsung atau
pekerja lain?
37. Selama magang, pekerjaan yang diberikan
apakah menambah kompetensi, jelaskan?
38. Bagaimana pemantauan dan evaluasi dari pihak
industri ketika magang hampir selesai?
39. Apa yang dilakukan pihak sekolah setelah anda
selesai magang?
40. Harapan apa yang anda inginkan dari kegiatan
magang industri bagi guru TKJ.

168

9. Lampiran Pedoman wawancara dengan kepala sekolah.

PEDOMAN WAWANCARA DENGAN KEPALA SMK

Uraian batasan atau aturan wawancara:

1. Wawancara dilakukan secara tatap muka

2. Jawaban ditulis sesuai keterangan yang diberikan informan.

3. wawancara dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara peneliti dengan

responden.

4. Tujuan dari kegiatan wawancara disampaikan terlebih dahulu.

A. Identitas Informan.

1. Nama lengkap :

2. Umur :

3. Jenis kelamin :

4. Jabatan :

5. Pendidikan terakhir :

6. Nama unit Kerja :

B. Naskah Wawancara.

No Variabel Penelitian Pertanyaan

1. Kompetensi 1. Bagaimana kompetensi profesional guru TKJ di
profesional guru SMK anda ( SMK Negeri 1 Binangun dan SMK
TKJ. Negeri Cilacap)?

2. Apa upaya anda (sebagai kepala sekolah) untuk
mengembangkan kompetensi profesional guru
TKJ?

3. Apakah sekolah sering mengikutkan guru produktif
untuk program pengembangan diri?

169

4. Apakah guru SMK sudah memiliki sertifikat
asesor, kompetensi, pelatihan sesuai bidang
keahlian?

2. Keterlibatan pihak 5. Apakah bapak/ibu sudah pernah/akan menugaskan
sekolah terhadap guru TKJ magang di Industri?
kegiatan magang.
6. Berapa kuota yang diberikan industri untuk
magang guru TKJ ?

7. Kriteria apa yang digunakan dalam menyeleksi
guru magang?

8. Berapa lama pelaksanaan magang industri guru
TKJ di SMK bapak/ibu?

9. Industri mana yang dijadikan tempat magang guru
TKJ?

10. Apa tujuan program magang guru TKJ?


Click to View FlipBook Version