The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan karya ilmiah kasek SMKN 3 Denpasar

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by gungwi65, 2022-03-30 03:49:17

Triska Berkiprah

Kumpulan karya ilmiah kasek SMKN 3 Denpasar

Keywords: Karya Ilmiah

Percayalah, C
Bahwa Tuhan telah merencanakan
setiap pertemuan-pertemuan hebat sejak jauh-jauh hari.
Dengan maksud yang kini belum kita mengerti,
dengan maksud yang masih harus kita cari dan pahami.
Termasuk pertemuan Anda dengan buku ini.Hari ini.

Selamat Berkelana!

GERAKAN MENULIS BUKU INDONESIA

TRISKA BERKIPRAH

Drs. A A Bagus Wijaya Putra, M.Pd

Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014

Tentang Hak Cipta
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan
Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu)
tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta
rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f,
dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta



TRISKA BERKIPRAH

Copyright © Drs. A A Bagus Wijaya Putra, M.Pd

Penulis: Drs. A A Bagus Wijaya Putra, M.Pd
Editor: Nama Editor
Penata Letak: Nama Penata Letak
Penata Sampul: Nama Penata Sampul

Cetakan Pertama, (Bulan, Tahun)
vi + hal; 13 x 19 cm
ISBN: -

GERAKAN MENULIS BUKU INDONESIA
Diterbitkan oleh CV KEKATA GROUP
Anggota IKAPI
Jalan Sumbing Raya No. 27 B, Mojosongo, Kec. Jebres
Surakarta, Jawa Tengah 57127

Dicetak oleh
Percetakan CV Kekata Group
Isi di luar tanggung jawab percetakan

Katalog Dalam Terbitan
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
All Right Reserved
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
Seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

KATA PENGANTAR/SEKAPUR C
SIRIH/PRAKATA S

Asung Kertha Wara Nugraha dipanjatkan
kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang
Maha Esa, karena atas perkenanNyalah buku ini bisa
tersusun sesuai dengan harapan.

Buku ini merupakan beberapa kumpulan tulisan
muli dari profile sekolah, best praktice serta hasil
penelitian tindakan sekolah juga proposal
pengembangan sekolah dalam mewujudkan
kemandirian sekolah menuju BLUD.

Ucapan terimakasih disampaikan kepada seluruh
kolega, sahabat utamanya seluruh keluarga besar SMK
Negeri 3 Denpasar atas kerjasama yang sudah baik serta
dukungan motivasinya sehingga buku ini bisa
diselesaikan.

Masih banyak kekurangan dalam penulisan buku
ini, untuk itu kritik, saran dan masukkan sangat
diharapkan demi kesempurnanya.

Akhir kata semoga buku ini ada manfaatnya buat
civitas SMK khususnya kelompok Pariwisata sebagai

DAFTAR ISI

PRAKATA .............................................................................. v
1. SEJARAH DAN PROFILE SMKN 3 DENPASAR.. 1
2. PPS. TEACHING FACTORY........................................16
3. PTS. SUPERVISI GURU ...............................................63
4. BUDAYA SEKOLAH ....................................................80

1. SEJARAH DAN PROFILE
SMKN 3 DENPASAR

I. PROFILE SMKN 3 DENPASAR

Latar Belakang

Mutu dalam pendidikan bukanlah barang melainkan
layanan, dimana mutu harus dapat memenuhi
kebutuhan, harapan dan keinginan semua
pihak/pemakai/pelanggan yang difokuskan pada
peserta didik. Mutu pendidikan berkembang seirama
dengan tuntutan kebutuhan hasil pendidikan yang
berkaitan dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang
melekat pada wujud pengembangan kualitas sumber
daya manusia. Di lain pihak pengelolaan sekolah yang
efektif yang berorientasi pada mutu pendidikan
memerlukan suatu komitmen yang penuh kesungguhan
dalam peningkatan mutu. Komitmen tersebut harus
didukung oleh dedikasi yang tinggi terhadap mutu
melalui penyempurnaan proses yang berkelanjutan oleh
semua pihak yang terlibat. Akan tetapi, seringkali hasil
pendidikan mengecewakan masyarakat yang terus
mempertanyakan relevansi pendidikan dengan
kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan

segi kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak
mulia, serta keterampilan yang dimiliki.
Wawasan Wiyata Mandala pada prinsipnya merupakan
cara pandang sekolah sebagai lingkungan pendidikan
dan lingkungan pembelajaran, yang pada hakekatnya
mengandung prinsip kerjasama untuk mencapai tujuan
pendidikan. Pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk
menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar
hidup lebih sejahtera, baik sebagai individu maupun
secara kelompok sebagai warga masyarakat, bangsa
maupun antarbangsa. Makna Wawasan Wiyata Mandala
sebagai suatu pandangan atau tinjauan mengenai
lingkungan pendidikan/pengajaran, mempunyai makna
yang sangat dalam dan strategis sebagai lingkungan
pendidikan yang bermakna mempersyaratkan sekolah
untuk : 1) memiliki sarana dan prasarana yang
mencukupi, 2) memiliki tenaga edukatif berpribadi
teladan, terampil serta berpengalaman/berwawasan
luas, 3) terciptanya lingkungan aman, bersih, tertib,
indah, sejuk dan segar, 4) tumbuhnya partisipasi,
kerjasama, dan dukungan masyarakat sekitar, 5) adanya
hubungan harmonis secara timbal balik antara orang tua
dengan para warga sekolah, 6) terciptanya disiplin para
warga sekolah mentaati segala peraturan dan tata tertib
sekolah,
7) adanya hubungan kekeluargaan para warga sekolah
yang akrab dan harmonis, 8) tumbuhnya semangat
peserta untuk maju dan bekerja keras.

senantiasa diperlukan bagi pelaksanaan pembangunan

dapat terwujud.
Dalam Pembukaan Undang–undang Dasar 1945 alinea
keempat ditegaskan “… Melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan

untuk memajukan kesejahteraan umum ,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia…”. Dari kutipan

kalimat dalam pembukaan UUD 1945 tersebut
terkandung makna bahwa kemajuan pendidikan bagi
bangsa Indonesia sangatlah penting. Untuk mencapai
kemajuan di bidang pendidikan Kementrian Pendidikan

Nasional (Kemendiknas) telah banyak membuat
kebijakan berupa undang–undang maupun peraturan
pemerintah yang bertujuan untuk peningkatan kualitas

pendidikan di Indonesia. Berkenaan dengan itu,
pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dimana
pada pasal 1(1) dinyatakan bahwa :

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan Negara.
Sedangkan pada bab VI dijelaskan pula bahwa jalur
pendidikan diselenggarakan melalui jalur pendidikan

menengah terdiri dari pendidikan menengah umum dan

pendidikan menengah kejuruan.
PP. No. 19 Tahun 2005 pasal 2(1) menyatakan lingkup
Standar Nasional Pendidikan meliputi: (1) standar isi,
(2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4)

standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar
sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7)
standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian

pendidikan. Standar Nasional Pendidikan sebagaimana
dikemukakan pada hakekatnya menjadi arah dan tujuan
penyelenggaraan pendidikan. Dengan kata lain, Standar
Nasional Pendidikan harus menjadi acuan sekaligus

kriteria dalam menetapkan keberhasilan
penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan
pendidikan.

Tujuan penyelenggaraan Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK ) adalah untuk meningkatkan keterampilan siswa
dan untuk menyiapkan mereka sebagai tenaga kerja
tingkat menengah yang terampil, terdidik dan

profesional serta mampu mengembangkan diri sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
( Kepmendiknas nomor 053/V/2001, tentang pedoman

Penyusunan Standar Pelayanan Minimal
Penyelenggaraan Persekolahan Bidang Pendidikan
Dasar dan Menengah) .

Standar kompetensi lulusan sekolah menengah kejuruan
(SMK) sesuai PP No. 19, pasal 26 ayat 3 tahun 2005
adalah untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,

mengembangkan dan mengamalkan kompetensi yang

dimilikinya untuk hidup mandiri, serta dapat mengikuti
pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
Selain itu pada Bab III pasal 4 UU SISDIKNAS dinyatakan
pula bahwa, prinsip-prinsip penyelengaraan pendidikan

adalah demokratis dan berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak azasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultur dan kemajemukan

bangsa, yang merupakan satu kesatuan yang sistematik
dengan sistem terbuka dan multimakna dalam proses
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat serta memberi

keteladanan, membangun kemauan dan
mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran, memberdayakan semua komponen

masyarakat.
Berkaitan dengan prinsip penyelenggaraan pendidikan,
keberhasilan pendidikan menengah kejuruan sangat
dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor

eksternal. Faktor internal antara lain berupa
ketersediaan sarana prasarana, kurikulum, kualitas
tenaga pendidik, dan keterlaksanaan proses belajar

mengajar. Sedangkan faktor eksternal antara lain
keterlibatan dunia usaha dan dunia industri, lingkungan
sekolah, keterlibatan orang tua dan masyarakat

terhadap kegiatan belajar mengajar. Kehadiran tenaga
pendidik yang berkualitas merupakan salah satu faktor
penentu dalam keberhasilan proses belajar mengajar.

pustakawan, laboran, teknisi, sumber belajar, dan tenaga
administrasi sekolah.Pasal 51 UU Sistem Pendidikan
Nasional No. 20/2003 menyatakan bahwa pengelolaan
satuan pendidikan dimulai dari pendidikan anak usia
dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah
dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal
dengan mengacu pada prinsip manajemen berbasis
sekolah/madrasah. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
merupakan konsep pengelolaan sekolah yang ditujukan
untuk meningkatkan mutu pendidikan di era
desentralisasi pendidikan. Hal ini dipertegas pula
dengan dikeluarkannya PP Nomor 19 tahun 2005 Pasal
49, yang menyatakan bahwa”Pengelolaan satuan
pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah
yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan,
partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas” serta PP
Nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan,
pada Pasal 1 yang menyatakan bahwa “Setiap satuan
pendidikan wajib memenuhi standar pengelolaan
pendidikanyang berlaku secara nasional”. Ini berarti
Manajemen Berbasis Sekolah memberikan banyak
kewenangan kepada sekolah untuk membuat keputusan
dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS
mensyaratkan adanya partisipasi masyarakat dan
transparansi yang tinggi dalam pertukaran (sharing)
informasi tentang sekolah. Masyarakat sekitar perlu
berpartisipasi dalam menentukan prioritas dan

dilaksanakan dan dapat terus dikembangkan serta
dinamis (sustainabilitas). Efektivitas manajemen
sekolah dalam penerapan peningkatan mutu pendidikan
akan menghasilkan output yang baik. Output dapat
berupa kinerja dan performa personal, prestasi siswa
secara akedemik dan non akedemik, dan peningkatan
mutu yang dilakukan secara terus menerus.
Dalam peningkatan mutu pendidikan, terkandung upaya
mengendalikan proses yang berlangsung di sekolah baik
kurikuler maupun administrasi, melibatkan proses
persiapan dan proses tindakan. Untuk
menindaklanjutinya diperlukan partisipasi semua pihak,
baik itu kepalasekolah, guru, staf administrasi, siswa,
orang tua dan pakar pendidikan. Upaya peningkatan
mutu pendidikan terus dilakukan di sekolah-sekolah.
Upaya-upaya tersebut dilandasi suatu kesadaran tentang
betapa pentingnya peranan pendidikan dalam
pengembangan sumber daya manusia dan
pengembangan watak untuk kemajuan masyarakat dan
bangsa. Harkat dan martabat suatu bangsa sangat
ditentukan oleh kualitas pendidikannya.
SMK Negeri 3Denpasar sebagai salah satu SMK
berprestasi di Bali maupun di Indonesia yang ditetapkan
oleh DITPSMK sejak tahun 2007 dalam penyelenggaraan
pendidikannya menerapkan Sistem Manajemen Mutu
(SMM) ISO 9001:2000 dari PT. URS International
Indonesia pada tahun 2007 dan pada tahun 2010 telah
memperbaharuistandarnya sebagai SMM ISO

memperhitungkan manajemen resiko, dimana
manajemen resiko ini belum dipersyaratkan dalam versi
sebelumnya. Dengan 8 (delapan) prinsip ISO yang
dipersyaratkan, SMKN 3 Denpasar secara bertahap
namun pasti selalu dapat menyesuaikan dengan
tuntutan jaman, sebagai sekolah terbaik di tingkat
nasional, sekolah berintegritas dan sebagai sekolah
Adiwiyata.

2. VISI, MISI, TUJUAN

VISI: Menjadi Lembaga Pendidikan Kejuruan Profesional,
Bermutu, Berwawasan Lingkungan, Berkarakter Luhur,
Siap bersaing di tatanan global.

MISI :
1) Meningkatkan profesionalisme dan kepercayaan
masyarakat terhadap Sekolah sebagai pusat

pemberdayaan kompetensi dan pengembangan
sumber daya lingkungan.
2) Memberdayakan seluruh komponen dan

lingkungan sekolah menuju Sekolah Rujukan
dengan cara mengoptimalkan manajemen
berbasis sekolah (MBS) dan

mengimplementasikan system manajemen mutu
ISO 9001:2008.
3) Menggerakkan seluruh warga sekolah untuk

kewirausahaan sesuai dengan minat, bakat yang
dimiliki setiap siswa, yang berkaitan dengan
kompetensi program keahlian.
5) Menumbuh kembangkan wawasan, sikap dan
perilaku yang berorientasi pada lingkungan
yang berkelanjutan melalui pendidikan
lingkungan bagi warga sekolah.
6) Meningkatkan perluasan kerjasama sekolah
dengan industri yang relevan baik dalam
maupun luar negeri.
7) Mengembangkan kurikulum integratif yang
berwawasan lingkungan hidup,
8) Membudayakan karakter luhur guna
menghasilkan lulusan yang siap bersaing di
tatanan Global
9) Berpartisipasi dalam kegiatan peduli lingkungan
di luar sekolah yang dilaksanakan oleh berbagai
instansi, baik pemerintah maupun swasta.

TUJUAN :
1) Terwujudnya peningkatan profesionalis medan
kepercayaan masyarakat terhadap Sekolah
sebagai pusat pemberdayaan kompetensi dan
pengembangan sumberdaya lingkungan.
2) Terwujudnya SMK Negeri 3 Denpasar sebagai
Sekolah Rujukan/Pusat Keunggulan melalui
manajemen berbasis sekolah (MBS) dan
mengimplementasikan sistem manajemen mutu

4) Terlaksananya pembinaan, pelatihan dan
bimbingan bidang keterampilan dan
kewirausahaan sesuai dengan minat, bakat yang
dimiliki setiap siswa, yang berkaitan dengan
kompetensi program keahlian.

5) Tumbuhnya wawasan, sikap dan perilaku warga
sekolah yang berorientasi pada lingkungan yang
berkelanjutan melalui pendidikan lingkungan
bagi warga sekolah.

6) Terwujudnya perluasan kerjasama sekolah
dengan industri yang relevan baik dalam
maupun luar negeri.

7) Terwujudnya kurikulum integrative sekolah
yang berwawasan lingkungan hidup,

8) Terwujudnya budaya / karakter luhur agar
lulusan siap bersaing di tatanan Global

9) Terealisasinya partisipasi warga sekolah dalam
kegiatan peduli lingkungan di luar sekolah yang
dilaksanakan oleh berbagai instansi, baik
pemerintah maupun swasta.

2. SEJARAH SMKN 3 DENPASAR

SMK Negeri 3 Denpasar pada awal berdirinya tanggal 2

Pada awalnya SMTK Negeri Denpasar melaksanakan
proses pembelajaran di SKKA Negeri Denpasar
(sekarang SMKN 4 Denpasar) yang beralamat di Jalan
Drupa di Banjar Kedaton, Sumerta, Denpasar Timur, hal
tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan
dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia tanggal 31 Desember 1976 nomor :
0311/O/1975
Berdasarkan Surat Kawat No 05189/90/88.11-1700
ditetapkan sebagai Kepala Sekolah sementara adalah
Nyonya Anak Agung Sagung Wiratni Putra sedangkan
wakil kepala sekolah dijabat oleh I Gusti Ayu Putra,
Kepala Tata Usaha A A Rasmin dibantu oleh 31 orang
guru dan 4 orang pegawai dengan jumlah siswa 89 orang
terdiri dari 1 orang laki-laki dan 88 orang perempuan.
Jurusan yang dibuka Tata Boga, Tata Busana dan Tata
Graha.

Periode 1976 – 1978 kasek : A A Sagung Wiratni Putra
Pada periode ini jumlah siswa sudah mencapai 229
orang terdiri dari 216 perempuan dan 13 siswa laki-laki
dengan 10 rombongan belajar. Guru tetap 23 orang,
pegawai tetap 2 orang dan pegawai tidak tetap 4 orang.
Pada tahun 1978 terjadi perubahan tahun pelajaran dari
Januari menjadi Juli.Semula rencana lama pendidikan di
SMTK Negeri Denpasar 3 tahun tetapi mengalami
perubahan menjadi 4 tahun.

Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Propinsi Bali melalui Pelaksana Harian I Gusti Lanang
Oka pada tanggal 24 Juli 1979 nomor :
412/I.19.1/C1.4.79 dengan Berita Acara Serah Terima
tanggal 13 Agustus 1979 Nomor : 276/3.11/E/1979.
Mulai bulan Agustus 1979 mulai dipersiapkan
perpindahan lokasi baru di Jalan Tirtanadi No.19
Belanjong Sanur Kecamatan Denpasar Selatan
Kabupaten Badung dengan luas areal 3 Ha dilengkapi
dengan ruang praktek, ruang teori yang mengelompok
sesuai jurusan dan dilengkapi pula dengan sarana
pendukung lainnya.
Pada periode ini dilaksanakan pengenalan Sekolah
Kejuruan kepada masyarakat melalui acara TV dengan
judul “Mari Mencoba” (SMTK) dari tahun 1978 sampai
dengan 1988 rutin sebulan sekali.
Setiap tahun jumlah siswa semakin bertambah dan
tercatat pada tahun pelajaran 1984/1985 jumlah kelas
I,II,III,IV (21 kelas) dengan jumlah siswa 493 orang (laki-
laki 122 orang dan perempuan 371 orang), ditangani
oleh 24 orang guru tetap, 22 orang guru tidak tetap, 15
pegawai tetap dan 7 orang pegawai tidak tetap.

Periode 1986-1990 kasek : I Gusti Agoeng Nyoman Rai
Poetera
Pada tanggal 17 Pebruari 1986 berdasarkan Nota Dinas
dari Kepala Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi Bali
tanggal 22 Pebruari 1986 Nomor : 18/I.19.17/1986

Pada tahun pelajaran 1985/1986 terjadi perubahan
lama program pendidikan dari 4 tahun menjadi 3 tahun,
Jurusan Tata Graha dihapus menjadi Jurusan Pariwisata
dan dibuka Jurusan baru yaitu Jurusan Kecantikan.
Jumlah siswa pada tahun pelajaran 1985/1986 adalah
446 orang (160 laki-laki, 286 perempuan) dengan
jumlah rombongan belajar 23 kelas.
Guru tetap berjumlah 37 orang, Guru tidak tetap 16
orang, Pegawai tetap 19 orang dan Pegawai tidak tetap 5
orang.
Pada tahun pelajaran 1988/1989 jumlah siswa tercatat
595 orang (laki-laki 215 orang, perempuan 380 orang),
pada periode ini juga SMK Negeri 3 Denpasar secara
rutin mengisi siaran TV melalui kegiatan Pramuka.
Semakin tahun siswa baru semakin meningkat,
penambahan guru dan pegawai semakin meningkat
sehingga proses belajar mengajar dapat terlaksana
dengan lancar.

Periode 1990 – 2000 : kasek : I Gusti Ayu Putera
Pada bulan Januari 1990, Kepala SMTK Negeri Ny. I Gusti
Agoeng Nyoman Rai Poetra mulai memasuki masa
pensiun, selanjutnya berdasarkan Nota Dinas tertanggal
1 April 1990 dengan nomor : 371/III.C/2.IV/1990
diadakan pergantian Kepala Sekolah dari Ny. I Gusti
Agoeng Nyoman Rai Poetra digantikan I Gusti Ayu
Putera.Serah Terima Jabatan dilaksanakan tanggal 17
Januari 1991 Nomor : 45715/A2.14.2/C/1990.

Predikat Akreditasi Amat Baik diraih baik untuk Kepala
Sekolah maupun untuk Sekolah pada tahun 1996 dan
1998 berdasarkan M & E dari Dikmenjur /Dikdasmen.
Tahun 1998 SMK Negeri 3 Denpasar
ditetapkan/diangkat untuk kelompok Pariwisata
menjadi Sekolah Model/Contoh Level I VOCTEC
Australia (ADB-LOAN : 1319 – INO) oleh Direktorat
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sepanjang kepemimpinan I Gusti Ayu Putera jumlah
siswa semakin bertambah dan pada tahun pelajaran
2000/2001 tercatat jumlah siswa 685 orang (laki-laki
290 orang, perempuan 395 orang), Guru Tetap 64 orang,
Guru Tidak Tetap 6 orang, Pegawai 19 orang, Pegawai
tidak tetap 9 orang.
Periode 2001 – 2002 :Plt. Kasek Dra. Ni WayanRusni
Setelah Kepala SMK N 3 Denpasar I Gusti Ayu Putera
pensiun, digantikan oleh Pelaksana Tugas Plt. Kepala
Sekolah Dra. Ni Wayan Rusni, yang merangkap sebagai
pengawas SMK Negeri 3 Denpasar.

Periode 2003 – 2014 :kasek Dra. Ni LuhYulie Astini, BA,
M.Pd
Pada tanggal 23 Pebruari 2001 berdasarkan SK Meteri
Pendidikan Nasional RI No. 16/IV-a/2.IV/KEP/2001
Jabatan Kepala SMK Negeri 3 Denpasar dijabat oleh Dra.
Ni Luh Yulie Astini, BA.
KTU A A Gede Agung, Waka Kurikulum Drs. A A
Bgs.Wijaya Putra, Waka Kesiswaan Drs. I Dewa Bgs. Kt.

Inggris, sebagai sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf
Internasional (RSBI), sebagai sekolah Invest SBI, sebagai
sekolah Model, memiliki fasilitas Hotel Trainning,
kerjasama dengan sekolah di Australia, membina
sekolah aliansi.
Jumlah siswa semakin bertambah dan pada tahun
pelajaran 2013/2014 tercatat jumlah siswa 1303 orang.
Kurikulum mengalami perubahan dari kurikulum 1994
(KBK) menjadi Kurikulum KTSP (Kurikulum 2013).

Periode 2014-2015 :Plt. kasek Drs. I Gusti Ngurah
Wijaya, M.Pd
Pada bulan Juli 2014 Kepala SMK Negeri 3 Denpasar
memasuki masa pensiun, selanjutnya beliau digantikan
oleh Pelaksana Tugas (Plt) Drs. I Gusti Ngurah Wijaya
selaku Plt. Kepala Sekolah merangkap pengawas.
KTU A A Gede Agung, Waka Kurikulum Drs. A A
Bgs.Wijaya Putra, Waka Kesiswaan Drs. I Dewa Bgs. Kt.
Wartawan, Waka Humas Drs. I WayanYasa, Waka
Sarana/Prasarana Dra.Nyoman Kayun Emilawati.

Periode 2015- sekarang: kasek Drs.Anak Agung Bagus
Wijaya Putra, M.Pd
Pada tanggal 24 April 2015 terbitlah Surat Keputusan
Wali Kota Denpasar yang menugaskan Drs.Anak Agung

WakaSarana/Prasarana Dra. Ketut Sri Handayani, S.Pd,
M.Pd.
Prestasi yang dicapai tahun 2015 memperoleh predikat
Amat Baik untuk akreditasi sekolah, mampu
mempertahankan sertifikat ISO 9001:2008 dan menjadi
sekolah berintegritas yang ditetapkan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, serta menjadi 15 sekolah
terbaik versi Kemdikbud tahun 2015, menjadi sekolah
potensi Rujukan, piloting dalam pengembangan
Teaching Factory dan Techno Park, Blended Learning
serta TUK dan LSP.
Jumlah siswa pada tahun pelajaran 2016/2017 sebanyak
1370.
Terjadi perubahan pada pelaksanaan Praktek Kerja
Lapangan untuk siswa, dimana pelaksanaan PKL pada
kelas XI semester II selama 3-4 bulan yang sebelumnya
dilaksanakan di kelas XI semester I selama 4-6 bulan.

Prestasi Akademik dan Non-Akademik
Prestasi akedemis dan non-akedemis yang telah diraih
oleh siswa-siswi SMKN 3 Denpasar pada tingkat
kabupaten, provinsi maupun nasional.

2. PPS. TEACHING
FACTORY

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Peningkatan mutu Sekolah Menengah Kejuruan

(SMK) adalah suatu upaya yang harus dilaksanakan
terus menerus, mengingat adanya persaingan yang
sangat ketat di pasar tenaga kerja saat ini. Mutu tenaga
kerja tingkat menengah sangat ditentukan oleh mutu
pendidikan yang diselenggarakan. Mutu pendidikan
dapat ditingkatkan dengan cara menyediakan
lingkungan pembelajaran yang kondusif, efektif dan
efisien dan meningkatkan kualitas hubungan kerjasama
sekolah dengan dunia industri yang menjadi
pasangannya.

Upaya peningkatan kualitas pendidikan di
Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan
baru terus dilakukan oleh Kementerian Pendidikan.
Upaya itu antara lain melalui pengelolaan sekolah yang
baik, peningkatan hubungan kerjasama dengan industri
pasangan, peningkatan kompetensi sumber daya guru
dan tenaga pendidikan, pengembangan

dikemukakan oleh Hisrich dalam Suryana, yang
mengatakan bahwa kewirausahaan adalah proses
penciptaan sesuatu yang berbeda untuk menghasilkan
nilai dengan mencurahkan waktu dan usaha, diikuti
penggunaan uang, fisik, risiko, dan kemudian
menghasilkan balas jasa berupa uang serta kepuasan
dan kebebasan pribadi. Sementara itu, Zimmerer
mengartikan kewirausahaan sebagai suatu proses
penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan
persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki
kehidupan (usaha).

Istilah entrepreneur pertama kali diperkenalkan
pada awal abad ke 18 oleh seorang ekonom Perancis
yang bernama Richard Cantilon. Entrepreneur adalah
agent who buys means of producition at certain prices in
order to combine them. Etimologi kata wirausaha adalah
berasal dari kata “wira” dan “usaha”. “Wira” berarti
pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi
luhur, gagah berani dan berwatak agung. Kata “wira”
juga digunakan dalam kata “perwira”. Sedangkan
“usaha” berarti “perbuatan untuk mencapai sebuah
tujuan”. Jadi, secara etimologis/harfiah, wirausaha
adalah pejuang atau pahlawan yang melakukan
perbuatan untuk mencapai sebuah tujuan.

Seorang wirausaha adalah orang yang mampu
menciptakan dan merancang suatu gagasan menjadi
realita. Adapun sesuatu yang baru tersebut bisa dalam
bentuk (1) ada produk baru yang dikenalkan, (2) ada

suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam
memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk
memperbaiki kehidupan (usaha). Hal ini dijadikan acuan
karena situasi saat ini, dimana SMK Negeri 3 Denpasar
pada pengembangan jiwa kewirausahaan guru maupun
siswa masih kurang kreatif dan inovatif. Kendala-
kendala yang yang menyebabkan hal tersebut adalah 1)
masih terbatasnya waktu guru dan siswa untuk
berkreatifitas karena jam pembelajaran yang padat, 2)
sumber daya pengelola yang kurang kompeten, 3)
kurang loyalnya guru maupun siswa untuk berinovasi,
4) belum memiliki jiwa enterpreneur, 5) lokasi usaha
terletak di lingkungan sekolah sehingga masyarakat
tidak leluasa datang ke sekolah, 6) produk yang
dihasilkan belum mampu bersaing di pasaran, 7)
regulasi yang belum mendukung proses pelaksanaan.

Selain itu pengembangan kewirausahaan di SMK
Negeri 3 Denpasar belum menunjukkan hasil sesuai
dengan yang diharapkan, dimana sampai saat ini
pendapatan yang diperoleh dari hasil usaha (teknopark)
baru bisa mendukung sekitar 2% dari 10% atau lebih
yang diharapkan. Hal ini terjadi karena beberapa
penyebab antara lain: 1) produk atau jasa yang
dihasilkan belum mampu bersaing baik dari harga
maupun kualitas, 2) kompetensi sumber daya manusia
(SDM) yang menangani belum kompeten, 3) alat-alat
yang digunakan sudah out of date, 4) kurangnya promosi
5) belum melibatkan industri pasangan dalam

kewirausahaan (teknopark) yang merupakan bagian
integral dari Program Pengembangan Sekolah 2020-
2025 yang dirancang berdasarkan hasil evaluasi diri
sekolah (EDS), analisis SWOT dan analisis BCG dan di
perlukan juga langkah-langkah pengembangan
kewirausahaan (teknopark) lebih lanjut.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas,

dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1.2.1 Apakah program pengembangan kewirausahaan
(teknopark) di SMK Negeri 3 Denpasar?
1.2.2 Bagaimana langkah-langkah pengembangan
kewirausahaan (teknopark) di SMK Negeri 3 Denpasar
agar dapat meningkatkan pendapatannya?

1.3 Tujuan dan Manfaat Implementasi PPS

1.3.1 Tujuan
Mengacu pada visi, misi dan tujuan SMK Negeri 3
Denpasar serta latar belakang permasalahan dapat
dirumuskan tujuan sebagai berikut.

1.3.1.1 Untuk mengetahui Program Pengembangan
Kewirausahaan (teknopark) di SMK Negeri 3
Denpasar.

1.3.1.2 Untuk mengetahui langkah-langkah
Pengembangan Kewirausahaan (teknopark) di
SMK Negeri 3 Denpasar dan peningkatannya
setiap tahun.

1.3.2 Manfaat Implementasi PPS
Manfaat yang dari implementasi PPS ini adalah
1.3.2.1 Menambah wawasan bagi warga SMKN 3

Denpasar tentang upaya peningkatan
pendapatan kewirausahaan (teknopark)
1.3.2.2 Sebagai panduan dalam menginplementasikan
kewirausahaan di SMK Negeri 3 Denpasar
1.2.3.3 Sebagai bahan referensi bagi SMK lainnya yang
mempunyai program sejenis
1.3.2.4 Sebagai bahan masukkan bagi Dinas Pendidikan
akan pentingnya program kewirausahaan
(teknopark) di SMK.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kewirausahaan
Tentunya kita sering mendengar istilah

wirausaha atau entrepreneur. Istilah entrepreneur
pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke 18 oleh
seorang ekonom Perancis yang bernama Richard
Cantilon. Entrepreneur adalah agent who buys means of
producition at certain prices in order to combine them.
Etimologi kata wirausaha adalah berasal dari kata “wira”
dan “usaha”. “Wira” berarti pejuang, pahlawan, manusia
unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan
berwatak agung. Kata “wira” juga digunakan dalam kata
“perwira”. Sedangkan “usaha” berarti “perbuatan untuk
mencapai sebuah tujuan”. Jadi, secara
etimologis/harfiah, wirausaha adalah pejuang atau
pahlawan yang melakukan perbuatan untuk mencapai
sebuah tujuan.

Wirausaha adalah orang yang mampu
menciptakan dan merancang suatu gagasan menjadi
realita. Berikut ini adalah pengertian dan definisi
wirausaha menurut beberapa ahli, diantaranya.
1. Syamsudin Suryana Wirausaha adalah seseorang

yang memiliki karakteristik percaya diri, berorientasi
pada tugas dan hasil, pengambil resiko yang wajar,
kepemimpinan yang lugas, kreatif menghasilkan
inovasi, serta berorentasi pada masa depan.

dalam pasar lewat penggabungan beberapa hal atau
sesuatu yang baru.

Adapun sesuatu yang baru tersebut bisa dalam
bentuk: Ada produk baru yang dikenalkan, Ada metode
produksi baru, Dibukanya pasar yang baru,
Diperolehnya sumber pasokan baru dari komponen
yang baru, Dijalankannya suatu organisasi baru pada
sebuah perusahaan

Wirausahawan adalah orang yang menjalankan
usaha atau perusahaan dengan kemungkinan
menanggung resiko seperti kerugian. Oleh sebab itu
seorang wirausaha harus memiliki kesiapan mental, baik
pada saat menghadapi keadaan yang merugikan maupun
saat ia mendapatkan untung besar. Karakter wirausaha
yang harus dimiliki oleh seorang yang ingin menjadi
wirausahawan agar sukses dalam menjalankan
usahanya. Diantaranya adalah
1. Kreatif: Kemampuan seseorang untuk menggunakan

sumber daya yang dimiliki untuk menghasilkan pola
pikir dan tindakan yang berbeda.
2. Inovatif merupakan proses menghasilkan sesuatu
gagasan atau penemuan baru yang dapat diterima
atau dijual ke masyarakat. Terkadang inovasi itu
berupa ide yang sederhana dan sepele, asal
merupakan sesuatu yang atau sesuatu yang lebih baik
dari yang sudah ada.
3. Berani, Seorang wirausaha harus memiliki sifat
berani dalam mengambil keputusan dan juga berani

5. Mampu berkomunikasi, Seorang wirausaha harus
mampu menyampaikan gagasan dan pesan baik
secara internal (kepada karyawan) maupun secara
eksternal kepada mitra usaha.

6. Kerjasama, kemampuan untuk menjalin hubungan
baik dengan beberapa pihak dalam menjalankan
usahanya. Itu artinya ia harus mampu bergandengan
tangan untuk melangkah bersama-sama.

7. Mandiri, seorang wirausaha adalah pribadi yang
mandiri, tidak menggantungkan masa depannya pada
orang lain.

8. Percaya diri, percaya pada kemampuan diri itu
sangat penting. Rasa percaya diri ini yang
menyebabkan ia mantap dalam melangkah dan
mewujudakan impiannya.

9. Jujur, jujur merupakan akar dari semua karakter.
Seberapa hebat kemampuan yang dimiliki oleh
seseorang, bila tidak memiliki kejujuran, maka
semua akan sirna, kepercayaan orang lain terhadap
diri kita akan hilang.

10. Pantang menyerah, karakter pantang menyerah
penting terutama saat menghadapi resiko
kegagalan. Dalam proses dinamika menjalankan
usaha banyak liku-liku yang dihadapi.

Karakter wirausaha menurut Bygrave ada sepuluh,
dikenal dengan 10 D, yaitu sebagai berikut.
1. Dream, memiliki keinginan untuk mewujudkan

4. Determination, melaksanakan kegiatan dengan
penuh perhatian, tanggung jawab dan pantang
menyerah

5. Dedication, memiliki dedikasi yang tinggi dan rela
berkorban

6. Devotion, tidak mengenal lelah, fokus dalam
memperhatikan bisnisnya

7. Details, mampu menganalisa secara rinci sampai ke
hal-hal kecil

8. Destiny, mampu merumuskan tujuan yang hendak
dicapai

9. Dollars, uang bukan semata-mata tujuan yang
hendak dicapai

10. Distribute, mampu mendistribusikan atau membagi
tugas, wewenang dan kepemilikan kepada orang
lain.

Kreativitas merupakan salah satu kunci utama
keberhasilan seorang entrepreneur. Kita bisa saja
memulai bisnis tanpa uang, tanpa jaringan, ataupun
tanpa kantor, selama memiliki kreativitas yang baik.
Sebaliknya, jika kreativitas itu sulit untuk singgah di
kepala kita, walaupun kita memiliki banyak modal uang,
jaringan, dan lain sebagainya belum tentu hal tersebut
bisa kita gunakan dengan maksimal dan mungkin malah
habis tanpa sisa. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa
menjadi seorang yang kreatif? Banyak orang yang
merasa dirinya adalah orang yang ‘terlahir’ tidak kreatif
dan sebagainya, namun sebenarnya menjadi kreatif

orang yaitu menganggap bahwa setiap produk, jasa,
layanan, metode, atau apapun itu bisa ditingkatkan
lagi kualitasnya.
2. Diskusi dan Interaksi sebuah diskusi dan interaksi
selain bisa mendapatkan banyak sekali ide juga bisa
mendapatkan masukan atas ide yang kita sampaikan.
3. Brainstorming Session, sebagai entrepreneur
umumnya kita tidak melakukan semuanya sendiri
namun tentu ada tim yang menemani kita. Dengan
melakukan sesi brainstorming atau adu ide anggota
tim akan banyak sekali ide-ide kreatif yang bisa
ditemukan.
4. Travelling dan Bertemu Orang Baru. Salah satu cara
yang bisa dilakukan agar bisa menjadi seorang
entrepreneur yang kreatif adalah dengan
menyempatkan diri untuk traveling, bertemu dengan
orang baru, atau pergi ke tempattempat baru.
5. Idea, Bank Idea bank merupakan wadah di mana kita
bisa mengumpulkan berbagai macam ide atau
pikiran-pikiran yang tidak sengaja terlewat,
kemudian kita catat dan kita simpan.
6. Tidak Menyerah. Menjadi Orang Kreatif Entrepreneur
yang tangguh adalah mereka yang tidak menyerah
untuk menjadi seorang yang kreatif. Jikalau memang
diri sendiri tidak bisa menghasilkan ide-ide baru, kita
bisa bersinergi untuk mewujudkan ide-ide cemerlang
orang lain.

Manfaat Wirausaha: Salah satu usaha yang

serta mengatur modal operasinya. Berikut ini adalah
manfaat menjadi seorang wirausaha.
1. Bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru dan

membantu orang lain. Dengan mendirikan sebuah
usaha seorang wirausahawan memberikan peluang
kepada masyarakat untuk mendapatkan kesempatan
kerja pada usaha yang diciptakannya.
2. Memiliki kebebasan mencapai tujuan usahanya.
Dalam konteks wirausaha, kebebasan adalah
bagaimana mengelola waktu, sumber daya manusia,
alat dan bahan serta tujuan yang ingin dicapai.
3. Tidak terikat waktu Menjadi seorang wirausaha tidak
akan pernah terikat waktu, apa yang akan kita
lakukan dan kerjakan semua tergantung dari kita
sendiri.
4. Memiliki kesempatan menunjukan kemampuan dan
potensi diri. Dengan memiliki sebuah usaha,
wirausahawan dapat menyampaikan pikiran dan
perilaku mereka sendiri.
5. Memperoleh manfaat dan laba yang maksimal
Menjadi wirausahawan memiliki kebebasan untuk
menentukan sendiri keuntungan atas investasi dalam
usahanya.

Fungsi atau Peran Wirausaha dalam
Perekonomian Nasional Wirausahawan adalah orang
yang mempunyai jiwa mandiri, motivasi tinggi, serta
berkemauan dan berkemampuan untuk mengubah
tantangan menjadi peluang. Dengan demikian,

produk baru. Dengan adanya produksi maka
kesempatan kerja menjadi Iebih terbuka dan hal ini
memberikan peluang bagus untuk mengurangi
tingkat penganguran.
3. Meningkatkan pendapatan nasional
4. Dengan munculnya produk-produk baru, baik
berbentuk barang maupun jasa, dapat memberikan
sumbangan bagi naiknya pendapatan nasional
melalui peningkatan jumlah produksi barang dan
jasa.
5. Mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial
6. Dengan munculnya banyak kesempatan
berproduksi maka kesenjangan antara masyarakat
yang berpenghasilan tinggi dan masyarakat yang
berpenghasilan rendah dapat dikurangi.
7. Mendorong terciptanya masyarakat adil dan
makmur.
8. Dengan makin banyaknya wirausahawan yang
dapat mengolah kekayaan alam, berarti akan
membuka peluang untuk meningkatkan
pendapatan masyarakat yang sekaligus akan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
9. Penghasilan berupa devisa
10. Wirausaha yang bergerak dalan produksi barang
dan jasa yang diekspor akan memiliki peran dalam
menghasilkan devisa. Dengan demikian,
perkembangan ekonomi nasional dapat dipercepat.
11. Pengadaan penanaman modal (Investasi) dalam

13. Penghasilan Berupa Pajak.
14. Wirausaha yang memiliki usaha maju dan besar

merupakan pembayar pajak yang besar pula. Pajak
yang dikumpulkan merupakan sumber penerimaan
negara yang bermanfaat bagi usaha memajukan
perekonomian nasional.
Perilaku kerja prestatif adalah perilaku yang selalu ingin
maju dan antusias. Orang yang prestatif juga
bersemangat dalam belajar, tidak mudah mengeluh dan
tidak cepat puas. Menurut Zimmerer, karakteristik
wirausaha yang berhasil karena bekerja secara prestatif
adalah 1) memiliki kemampuan memimpin, 2)
komitmen tinggi terhadap pekerjaannya, 3) bertanggung
jawab, 4) motivasi untuk lebih unggul, 5) kreatif dan
fleksibel, 6) mempertahankan minat kewirausahaan
dalam dirinya, 7) yakin pada diri sendiri, 8) berorientasi
pada masa depan, 9) mau belajar dari kegagalan, 10)
peluang untuk mencapai obsesi, 11) toleransi untuk
mencapai risiko ketidakpastian. Apabila karakteristik
prestatif di atas diterapkan oleh seorang wirausaha di
dalam bisnis, maka 1) wirausaha memiliki tekad kuat
berusaha tetapi bukan karena terpaksa, 2) wirausaha
akan mawas diri dan bertekad bulat untuk maju, 3)
wirausaha berpikir ada kemungkinan gagal, tapi ia tidak
gentar, 4) wirausaha ingin maju/ mandiri, walaupun
resiko tinggi, 5) wirausaha berpikir positif karena ingin
berkreatif. Sikap dan perilaku kerja prestatif menurut
Stephen Covey di dalam bukunya "First Thing's First" ada

untuk memecahkan masalah dengan imajinasi serta
adaptasi yang tepat).

Aspek perilaku kerja prestatif yang harus
diperhatikan oleh para wirausaha untuk mencapai
keberhasilan dalam mengelola usahanya adalah sebagai
berikut.
1. Kerja ikhlas, adalah bekerja dengan baik bersungguh-

sungguh dapat menghasilkan sesuatu yang baik
dilandasi dengan hati yang tulus, contohnya seorang
buruh pabrik yang bekerja dengan gaji pas-pasan,
namun tetap bekerja dengan baik.
2. Kerja mawas diri dapat diartikan tidak tergesa-gesa
dalam mengambil suatu tindakan, tidak mudah
terpancing oleh suasana dalam menerima suatu
kritikan maupun pujian, contohnya seorang
pemimpin perusahaan yang memiliki masalah
pribadi di rumah dengan keluarganya, tidak boleh
membawa masalah ke perusahaan.
3. Kerja cerdas adalah bekerja dengan menggunakan
pikiran yang tajam, cepat, tepat dalam menerima,
menanggapi, menentukan sikap dan berbuat,
contohnya seorang wirausaha harus memiliki
kemampuan mengkalkulasi, berkomunikasi dan
negosiasi.
4. Kerja keras berarti bekerja dengan menggunakan
sumber daya secara optimal contohnya seorang
penjual makanan keliling ke sekolah-sekolah.
5. Kerja tuntas adalah kerja yang tidak setengah-

2.2 Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)
Menteri pendidikan dan kebudayaan Muhadjir

Effendy mendorong provinsi untuk mengubah SMK bisa
menjadi BLUD, supaya bisa menjadi teaching
factory setelah menjadi BLUD. Jika menjadi BLUD maka
SMK bisa lebih fleksibel untuk mendapatkan bantuan
dana pihak industri tanpa melanggar aturan. SMK
menjadi BLUD sesuai dengan kewenangan yang bisa
ditetapkan oleh Gubernur karena SMA dan SMK di
bawah tanggungjawab provinsi, maka akan mengacu
pada Permendagri Nomor 79 Tahun 2018 tentang BLUD.
Dengan menjadi BLUD SMK atau SMA dapat melayani
jual-beli produk hasil karya siswa kepada publik. Hasil
jual beli tidak perlu disetorkan ke kas negara, sehingga
akan dikelola sendiri oleh SMA dan SMK.

Per 14 Desember 2018 menurut Kepala Dinas
Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Saiful Rachman,
menjelaskan bahwa sudah ada 20 SMK yang statusnya
berubah menjadi BLUD, dari 50 SMK yang telah
diajukan. Untuk sekolah negeri yang menjadi BLUD,
BLUD sebagai payung hukum supaya bisa mengelola
sendiri usaha yang ada di sekolah. Pendapatan tidak
akan masuk ke provinsi, tapi pendapatannya bisa
dikelola sendiri. Pengelolaan keuangan dari SMK akan
lebih mandiri, salah satunya sekolah dipersilahkan
menggaji kepala sekolahnya sendiri, pemberian gaji
didasarkan pada jumlah pendapatan dari sekolah
tersebut.

didelegasikan oleh kepala daerah. Dalam melaksanakan
tujuannya, BLUD juga diberikan fleksibilitas dalam
pengelolaan keuangan. Pengelolaan keuangan BLUD
merupakan bagian dari pengelolaan keuangan daerah.
Praktik bisnis yang sehat dimaksudkan bahwa
penyelenggaraan organisasi berdasarkan kaidah-kaidah
manajemen yang baik dalam rangka pemberian layanan
yang bermutu, berkesinambungan dan berdaya saing.

SMK dan SMA yang menerapkan BLUD harus
menyusun pelaporan dan pertanggungjawaban berupa
laporan keuangan, yang terdiri dari Laporan Realisasi
Anggaran (LRA), Laporan Perubahan Saldo anggaran
lebih, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas,
Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan Atas Laporan
Keuangan, yang akan di konsolidasikan dengan laporan
keuangan provinsi.

2.3 Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia
Nomor 79 Tahun 2018 Tentang Badan Layanan Umum
Daerah

Ketentuan Umum
Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud
dengan: 1. Badan Layanan Umum Daerah yang
selanjuinya disingkat BLUD adalah sistem yang
diterapkan oleh unit pelaksana teknis dinas/badan
daerah dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat yang mempunyai fleksibilitas dalam pola

kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan
bangsa. Praktek bisnis yang sehat adalah
penyelenggaraan fungsi organisasi berdasarkan kaidah-
kaidah manajemen yang baik dalam rangka pemberian
layanan yang bermutu, berkesinambungan dan berdaya
saing. Rencana Strategis yang selanjutnya disebut
Renstra adalah dokumen perencanaan BLUD untuk
periode 5 (lima) tahunan. Satuan Kerja Perangkat
Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah unsur
perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku
pengguna anggaran / pengguna barang. Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah selanjutnya disingkat
APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan
daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh
perintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan
peraturan daerah. Rencana Bisnis dan Anggaran yang
selanjutnya disingkat RBA adalah dokumen rencana
anggaran tahunan BLUD, yang disusun dan disajikan
sebagai bahan penyusunan rencana kerja dan anggaran
SKPD. Rencana lierja dan Anggaran SKPD yang
seianjutnya disingkat RKA SKPD adalah dokumen
perencanaan dari penganggaran yang berisi rencana
pendapatan, rencana belanja program dan kegiatan
SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar
penyusunan APBD. Dokumen Pelaksanaan Anggaran
yang selanjutnya disingkat DPA adalah dokurmen yang
memuat pendapatan, belanja dan pembiayaan yang
digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran.

diberikan oleh BLUD termasuk imbal hasil yang wajar
dari investasi dana, dapat bertujuan untuk menutup
seluruh atau sebagian dari biaya per unit layanan.
Pejabat Pengelola Keuangan Daerah lang selanjutnya
disingkat PPKD adalah Kepala SKPKD yang mempunyai
tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak
sebagai bendahara umum daerah. Unit Pelaksana Teknis
Dinas/Badan Daerah adalah unit pelaksana teknis yang
melaksanakan kegiatan teknis operasional dan/atau
kegiatan teknis penunjang tertentu selaku kuasa
pengguna anggaran/kuasa pengguna barang.
Pasal 2 BLUD bertujuan untuk memberikan layanan
umum secara lebih efektif, efisien, ekonomis, transparan
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas
keadilan, kepatutan dan manfaat sejalan dengan praktek
bisnis yang sehat, untuk membantu pencapaian tujuan
pemeriutah daerah yang pengelolaannya dilakukan
berdasarkan kewenangan yang didelegasikan oleh
kepala daerah. Kepala daerah bertanggung jawab atas
kebijakan penyelenggaraan pelayanan umum. Pejabat
Pengelola BLUD bertanggung jawab atas pelaksanaan
pemberian layanan umum terutama pada aspek manfaat
yang dihasilkan. BLUD merupakan kekayaan daerah
yang tidak dipisahkan dari pemerintah daerah. BLUD
merupakan bagian dari pengelolaan keuangan daerah.

3.METODE DAN ALAT ANALISIS

3.1 Analisis Situasional
3.1.1 Analisis Lingkungan Mikro
Analisis Lingkungan Mikro di SMK Negeri 3 Denpasar

diuraikan sebagai berikut.
1. Akreditasi memperoleh predikat A untuk semua

program keahlian (Akomodasi Perhotelan, Tata Boga,
Tata Kecantikan dan Tata Busana) dari BANSM tahun
2015 dan sudah diperpanjang masa berlakunya
sampai dengan tahun 2021, dengan predikat
akreditasi ini dapat dikatakan SMK Negeri 3
Denpasar sudah hampir memenuhi delapan standar
pendidikan.
2. Sudah tersertifikasi ISO 9001-2015 sejak tahun 2007
dan sampai saat ini masih berhak menyandang
sertifikat ISO 9001:2015 dari United Register System
(URS) dengan penerapan SMM Mutu ISO 9001:2015
ada jaminan bahwa manajemen di SMK Negeri 3
Denpasar sudah menerapkan standar Internasional
dengan menerapkan delapan prinsip manajemen
mutu.
3. SMK Negeri 3 Denpasar juga memiliki hubungan
kemitraan dengan industri nasional dengan platform
nasional/internasional sebanyak 90 IDUKA antara
lain hotel-hotel yang ada di wilayah Sanur, Kuta, dan
Nusa Dua, juga garmen, butik dan salon-salon
kecantikan yang ada di Kota Denpasar. Pada bidang

mengikuti pelatihan dalam sistem pengajaran
berbasis Student-Centre, dan saat ini ada 2 orang guru
memiliki dengan sertifikat level ASEAN untuk
kompetensi keahlian Perhotelan dan Tata Boga.
Selain itu juga memiliki 16 guru kejuruan yang sudah
menyandang predikat assesor Lembaga Sertifikasi
Profesi dari BNSP.
5. Dalam bidang sarana dan prasarana, memiliki
Standard dan advance Training Workshop yang
lengkap bersih, dan terawat baik untuk teori maupun
praktek.
6. Mendapat dukungan dari masyarakat sekitar dan
orang tua siswa, hal ini dibuktikan keikutsertaan
orangtua siswa untuk membantu pendanaan
pengembangan program-program sekolah. Memiliki
calon siswa/siswa dari daerah yang maju sehingga
dalam pembinaan dan proses pembelajaran dan
pengembangan kompetensi siswa relatif lebih
mudah.
7. Memiliki program/kegiatan Tefa/Unit Produksi dari
keempat kompetensi keahlian yang ada dan dari unit
lainnya yang digunakan untuk membantu
pembiayaan / operasional sekolah sekitar (2%).

Sementara dari segi kelemahan diuraikan, sebagai
berikut.

1. Baru satu industri yaitu Ramadha Sunset Road yang

50% dari 102 orang Tenaga pendidik dan
kependidikan belum semua memilki kemampuan
menggunakan software aplikasi pendukung.
4. Dalam bidang kewirausahaan, siswa belum
memperoleh pembelajaran yang berbasis
kewirausahaan secara maksimal. sementara kegiatan
Tefa/Unit Produksi belum optimal implementasinya
di lapangan
5. Hanya 30% dari 90 guru mampu menggunakan
bahasa Inggris dalam PBM dan Administrasi sekolah
belum menggunakan Sistem Informasi Manajemen
yang terintegrasi.

3.1.2. Analisis Lingkungan Makro
Hasil analisis Lingkungan Makro di SMK Negeri 3

Denpasar, yaitu berdasarkan peluang yang ada, antara
lain pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang semakin meningkat pesat untuk mendukung
proses pembelajaran. Perkembangan teknologi
informasi mempermudah transformasi lintas negara
untuk meningkatkan hubungan sekolah dengan
stakeholder di luar negeri. Dalam hal pencitraan positif
yang dilakukan menimbulkan animo masyarakat
meningkat masuk ke SMK Negeri 3 Denpasar. Di bidang
kerjasama dengan IDUKA, sekolah memiliki kerjasama
yang baik dengan Industri, dan respon industri sangat
positif kepada siswa dari SMK Negeri 3 Denpasar.
Kebutuhan akan tenaga kerja level menengah diperlukan

sekolah dalam melakukan inovasi untuk meningkatkan
layanan kepada siswa.

Di pihak lain, SMK Negeri 3 Denpasar juga
memiliki tantangan yang cukup besar, antara lain 1)
bencana alam (pandemi corona, gempa bumi, banjir,
Tsunami), 2) Krisis ekonomi dunia akibat pandemi Covid
19 juga menjadi tantangan bagi sekolah saat ini dan ke
depan, 3) Tingkat persaingan di era Globalisasi
menumbuhkan persaingan antar negara semakin tajam
dalam bidang ekonomi, industri, perdagangan, SDM yang
juga menjadi tantangan, 4) Budaya malas dan tidak
optimal dikalangan masyarakat, pengangguran dan
kemiskinan memicu gejolak sosial yang tidak dapat
dipungkiri menjadi tantangan bagi sekolah, 5)
Kemampuan SDM belum sejalan dalam mengikuti
pesatnya kemajuan teknologi, 6) ketidaksiapan
masyarakat akan kemajuan teknologi informasi
berakibat pada degradasi perilaku/penyalah gunaan
informasi (ekses negatif), 7) Mutu hubungan dengan
industri sebagian besar masih sebatas magang, belum
menyentuh rekruitmen serta masih ada
gap/kesenjangan antara kebutuhan industri dengan
tenaga kerja yang dipersiapkan SMK menjadi tantangan
tersendiri yang perlu dicarikan jalan keluarnya.
Berdasarkan analisis SWOT dengan mempertimbangkan
strategi SO, WO, ST dan WT diperoleh beberapa strategi
program untuk pengembangan sekolah sesuai tabel
tersebut di atas. Namun demikian dengan

Negeri 3 Denpasar memiliki hubungan yang sangat baik
dengan beberapa IDUKA sehingga sangat berpeluang
dalam pengembangan program kewirausahaan. Atas
dasar itulah proposal pengembangan sekolah ini
mengambil Pengembangan Kewirausahaan (Teknopark)
di SMK Negeri 3 Denpasar. Dalam pengembangan
kewirausahaan dalam proposal ini difokuskan pada
kompetensi keahlian yang ada di SMK Negeri 3
Denpasar, yaitu Tata Boga (Kuliner, Catering, Produk
Pastry), Perhotelan (Kamar hotel, Laundry dan Cleaning
service), Tata Busana (Pembuatan Busana dan Lenan
Rumah Tangga), Tata Kecantikan (Jasa Salon dan produk
Kecantikan).

3.2 Analisis Boston Consulting Group (BCG)

yang akan dikembangkan dikelompokkan menjadi 3 kelompok
yaitu: kelompok kuliner, kelompok jasa dan kelompok produk
kreatif. Yang termasuk dalam kategori Stars atau Bintang
adalah produk atau unit bisnis yang memiliki pangsa pasar
yang dominan dan pertumbuhan yang cepat serta
menghasilkan uang (pendapatan) yang besar. Ini berarti
produk-produk yang dihasilkan merupakan produk-produk
terkemuka yang diminati oleh pasar. Produk kreatif dan jasa
restoran sebagian berada di stars. Produk kreatif sebagian
berada di questions mark hal ini menggambarkan bagaimana
produk kreatif masih memerlukan upaya agar bisa ke cash cows
dan menghindari ke posisi dogs. Sedangkan restoran sebagian
berada di cash cows, hal ini masih layak untuk diteruskan
sebagai unit usaha.

Perusahaan membutuhkan banyak investasi untuk
mempertahankan posisi produk-produk tersebut dan untuk
mendukung pertumbuhan lebih lanjut serta mempertahankan
keunggulan-keunggulan atas produk tersebut agar dapat tetap
bersaing dengan produk kompetitor lainnya. Produk-produk di
kategori Bintang ini dapat berubah menjadi kategori Sapi perah
(Cash Cows) apabila mereka tetap dapat mempertahankan
keberhasilan mereka hingga tingkat pertumbuhannya
mengalami penurunan. Dalam analisis ini usaha jasa tampak
berada murni di posisi star hal ini cukup beralasan, karena saat
ini usaha jasa yang dibuka sangat dibutuhkan di pasar dengan
pertumbuhan yang cukup tinggi. Sedangkan usaha Restoran
sebagian berada di cash cows dan star, ini juga masih sangat
bagus posisinya untuk dikembangkan.

prospek pertumbuhan kedepan akan sangat terbatas.
Pendapatan yang didapat pada tingkat Cash Cows ini biasanya
digunakan sebagai pendanaan untuk penelitian dan
pengembangan produk-produk baru yang masih berada di
kategori Question Marks (Tanda Tanya) atau membayar
hutang-hutang perusahaan serta membayar dividen kepada
pemegang saham. Perusahaan disarankan untuk tetap
berinvestasi pada produk-produk dalam kategori Cash Cows ini
untuk mempertahankan produktivitas dan kualitas atau dapat
juga dijadikan pendapatan pasif bagi perusahaan. Dalam
analisis data usaha yang termasuk cash cows adalah usaha
restoran, walaupun tidak seluruhnya, karena sebagian pada
posisi stars.

Dogs (Anjing) : Dogs (Anjing) atau juga dikenal dengan
istilah hewan peliharaan, yang termasuk pada kategori Dogs ini
adalah produk atau unit bisnis yang memiliki pangsa pasar
rendah dan mengalami tingkat pertumbuhan yang rendah.
Produk-produk pada kategori ini biasanya hanya memberikan
kontribusi keuntungan yang sangat rendah atau bahkan harus
menderita kerugian. Produk atau bisnis unit kategori Dogs ini
umumnya merupakan beban bagi perusahaan karena dapat
menguras waktu manajemen dan sebagian besar sumber daya
perusahaan. Unit bisnis atau produk yang telah berada pada
kategori ini biasanya akan mengalami pengurangan, divestasi
ataupun likuidasi oleh manajemen perusahaan. Dalam analisis
yang dilakukan, usaha-usaha yang dibuka tidak ada di posisi
dogs, ini berarti usaha-usaha yang akan dilaksanakan tidak
terlalu beresiko sehingga sangat layak diteruskan.

pasarnya masih sangat rendah. Penghasilan (uang) yang
didapat umumnya tidak sebanding dengan biaya-biaya yang
dikeluarkan (lebih banyak pengeluaran daripada pendapatan).
Namun karena prospek pertumbuhannya sangat pesat
sehingga berpotensi untuk berubah menjadi Stars atau Bintang.
Manajemen perusahaan tersebut disarankan untuk tetap
berinvestasi pada produk atau bisnis unit yang berada dalam
kategori Question Marks ini karena pertumbuhan yang tinggi.
Dalam analisis usaha yang dibuka ada usaha yang tergambar
setengah pada posisi questions Mark yaitu produk kreatif. Hal
ini bisa dimaklumi karena produk kreatif yang dijual sangat
beresiko terhadap permintaan pasar, sehingga memerlukan
pemantauan dan upaya lebih lanjut agar usaha ini bisa diposisi
chas cows.

4.PERENCANAAN DAN FORMULASI STRATEGI PPS

4.1 Perencanaan Strategi PPS
Berdasarkan analisis lingkungan, analisis SWOT

dan analisis BCG tersebut pada bab 3 dipilih beberapa
strategi yang akan diimplementasikan dalam
penyusunan program pengembangan kompetensi siswa
melalui teknopark di SMK Negeri 3 Denpasar dengan
memilih strategi yaitu:
4.1.1 Strategi Jangka Pendek

1) Menyusun perencanaan program kewira-
usahaan (teknopark)

2) Pembentukan Tim Pengelola;
3) Melaksanakan pelatihan kewirausahaan guru,

siswa dengan melibatkan pakar dari industri;
4) Membuat sampel produk yang inovatif;
5) Menetapkan produk unggulan;
6) Menyiapkan rancangan promosi

4.1.2 Strategi Jangka Menengah
1) Menciptakan produk-produk kreatif melalui
tefa;
2) Bersinergi dengan industri untuk mendukung
program pengembangan kompetensi siswa dan
program Tefa;
3) Mengundang pakar industri sebagai guru tamu;
4) Mengundang pakar dari industri untuk
membantu menyusun materi ajar agar sesuai

7) Melaksanakan koordinasi dengan Pemda
Provinsi Bali tentang BLUD

4.1.3 Strategi Jangka Panjang
1) Meningkatkan peran tefa untuk mendukung

implementasi kewirausahaan menuju
kemandirian melalui program pembentukan
BLUD;

2) Pembentukan BLUD;
3) Melengkapi Sarana dan Prasarana;
4) Pengembangan program Kewirausahaan
menuju BLUD

Jangka Jangka
Menengah Panjang

Perencanaan Implementasi
Pengembangan
Gambar 2: Gambar Program Kewirausahaan

Selanjutnya strategi-strategi tersebut dijabarkan
dalam program dan kegiatan jangka pendek setahun dan
akan dievaluasi pada akhir tahun untuk penyempurnaan
/perbaikan programnya. Adapun program dan kegiatan
dalam mengimplementasikan strategi-strategi tersebut
antara lain:
1. Penyempunaan tim pengelola teknopark.


Click to View FlipBook Version