akreditasi SMK Negeri 3 Denpasar dilaksanakan setiap 5
tahun sekali. Setiap 5 tahun sekali mengalami
peningkatan yang sangat signifikan. Dari tabel tersebut
tampak bahwa pada tahun 1987-2002 nilai pencapaian
akreditasi sekolah 87 atau kategori B. Pada tahun 2002-
2006, akreditasi sekolah memiliki nilai 92,97 atau
kategori A. Pada tahun 2006-2010, akreditasi sekolah
memiliki nilai 95 atau kategori A. Dengan demikian,
terdapat perubahan status sekolah yakni yang tadinya
pada tahun 2006-2007 bersatus KBK, kemudian tahun
2007- 2008 berstatus RSKM, dan tahun 2010 sampai
sekarang berstatus RSBI. 5. Pendekatan dalam Kultur
Organisasi Sekolah Kultur organisasi menggunakan dua
pendekatan: (1) variabel kultur dan (2) pembentukan
rasa. Pendekatan variabel kultur ialah pendekatan yang
menggunakan atribut-atribut kultur kunci dari
organisasi yang mempengaruhi hasil organisasi. Atribut
ini antara lain gaya kepemimpinan, iklim oganisasi, dan
konflik. Pendekatan pembentukan rasa ialah pendekatan
kultur sebagai esensi organisasi yaitu kultur yang
anggotanya memiliki kebersamaan interprestasi kolektif
terhadap realitas sosial. Kerangka interprestasi yang ada
dalam kultur organisasi bersama-sama membentuk
tema-tema ini mempengaruhi sikap dan nilai-nilai
anggotanya. Perilaku anggota dalam organisasi tersebut
diarahkan oleh kulturnya, sebagai contoh di dunia
pendidikan, sebagai pusat pengembangan kultur
profesional dengan membiasakan anggota organisasinya
sekolahnya, dan setiap guru bangga dengan profesinya
sebagai guru di sekolah yang bersangkutan. Prinsip yang
akan dikembangkan untuk mencapai ini adalah ing
ngarso sung tuludo. Siswa tidak mungkin berdisiplin,
kalau gurunya sendiri tidak disiplin, dan guru tidak akan
berdisiplin kalau kepala sekolahnya tidak disiplin
(Anonim 1994). Berdasarkan kultur di atas, jelas bahwa
tujuan tiap sekolah bukan hanya tempat mandapatkan
ilmu pengetahuan belaka tetapi sebagai pusat
pengembangan sikap dan budaya profesional. Budaya
profesional adalah perilaku yang taqwa dan
melaksanakan mutu yang mampu bersaing, tahu apa
yang harus dikerjakan, tahu mutu pelayanan, tahu dasar
kemampuan minimal yang harus dimiliki, dan
bagaimana cara mengerjakan dengan sebaik-baiknya,
tahu mengerjakan dengan mutu terbaik, tahu mengapa
dikerjakan dengan cara seperti itu, tahu melaksanakan
kegiatan adminstrasi secara efektif dan efisien
(produktif) dan mampu menampilkan sekolah yang
tertib, efektif, luwes, efisien dan rapi. Secara manajerial,
kepala INTEGRALISTIK No.1/Th. XXII/2011, Januari-Juni
2011, 71 sekolah yang bertanggung jawab tetapi secara
operasional menjadi tugas seluruh warga sekolah
termasuk pemangku kepentingan pendidikan.
Implikasinya, spirit dan nilai-nilai kebersamaan,
keterbukaan, disiplin diri, dan tanggungjawab, harus
senantiasa mewarnai pembentukan struktur organisasi
sekolah, penyusunan deskripsi tugas, prosedur kerja,
rasa, sifat, dan iklim (Depdiknas, 2004). Di samping itu,
dalam kegiatan menciptakan kultur sekolah tidak dapat
dipisahkan dengan upaya menegakkan budaya mutu.
Oleh Depdiknas (MPMBS, 2001) diungkapkan bahwa
budaya mutu harus memiliki elemen-elemen sebagai
berikut. 1. informasi kualitas harus digunakan untuk
perbaikan, tidak untuk menakut-nakuti, menegur,
apalagi mengadili kekurangan atau kelemahan bawahan
2. kewenangan seseorang harus sebatas deskripsi
tugasnya, sehingga jelas siapa berposisi apa,
bertanggungjawab kepada siapa, dan berhak
memerintah siapa 3. hasil kinerja harus diikuti rewards
atau punishments, dengan tujuan demi membangun
keseimbangan, meskipun tidak akan mudah
menetapkannya dengan berkeadilan. 4. kolaborasi dan
sinergi bukan kompetisi penuh, harus merupakan basis
kebersamaan untuk kinerja 5. setiap warga sekolah
merasa aman terhadap pekerjaannya, tidak was-was di-
PHK dan sejenisnya 6. atmosfer fairness harus
dimainkan, imbal jasa sepadan dengan kedudukan, nilai,
dan kualitas pekerjaan yang dilakukan oleh perorangan
atau kelompok 7. setiap warga sekolah merasa memiliki
sekolah dengan segenap komponennya. Apabila hal
tersebut di atas berhasil diwujudkan oleh kepala
sekolah, sebagian tugas dan tanggung jawabnya telah
terpenuhi dan sebagai bukti terciptanya budaya mutu
dalam kultur sekolah adalah terbentuknya warga
sekolah yang berperilaku profesional, bermartabat, dan
3. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
3.1 Simpulan
Kultur sekolah merupakan tradisi sekolah yang tumbuh
dan berkembang sesuai dengan spirit dan nilai-nilai
yang dianut sekolah. Tradisi itu mewarnai kualitas
kehidupan sebuah sekolah. Tradisi itu dilakukan dengan
menerapkan kultur sekolah. Kultur sekolah yang
kondusif mensyaratkan adanya partisipasi seluruh
warga sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan.
3.2 Rekomendasi
Direkomendasikan kepada kepala sekolah agar
menjadikan kultur sekolah dijadikan salah satu acuan
atau misi sekolah, karena kultur sekolah yang kondusif
akan mendukung pencapain visi sekolah yang pada
akhirnya mendukung pencapaian tujuan pendidikan
nasional.
PROFIL PENULIS C
Drs. Anak Agung Bagus Wijaya Putra, M.Pd. Lahir di
Puri Kelodan Bangli 45Km arah Timur Laut Kota
Denpasar, memulai karir menjadi Guru Matematika di
SMK Negeri 3 Denpasar sejak tahun 1993. Selain sebagai
guru juga menjadi wakil kepala sekolah bidang
Kurikulum selanjutnya menjadi kepala SMK Negeri 3
Denpasar sejak tahun 2015 sampai saat ini.
Dalam perjalanan sempat meraih beberapa prestasi
yang cukup membanggakan antara lain menjadi Kepala
Sekolah Berprestasi Tingkat Provinsi Bali Tahun 2018,
menjadi finalis penghargaan Widya Kusuma provinsi
Bali tahun 2018, mengantarkan SMK N 3 Denpasar
menjadi 20 SMK Pariwisata terbaik seIndonesia tahun
2019 dan mengantarkan SMKN 3 Denpasar menjadi
sekolah Revitalisasi dari tahun 2015 sd 2019.
Memperoleh predikat Lulus “sangat Memuaskan” pada
pelatihan peningkatan kompetensi Kepala Sekolah di
Universitas Bina Nusantara tahun 2020, Saaat ini masih
dalam perjuangan untuk menjadi SMK Pusat Keunggulan
tahun 2021 dan menyiapkan SMK N 3 Denpasar menjadi
Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).