The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan karya ilmiah kasek SMKN 3 Denpasar

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by gungwi65, 2022-03-30 03:49:17

Triska Berkiprah

Kumpulan karya ilmiah kasek SMKN 3 Denpasar

Keywords: Karya Ilmiah

3. Penyiapan siswa: memilih siswa yang akan
berwirausaha atau bekerja, membentuk kelompok
kewirausahaan, melatih siswa materi
kewirausahaan, melibatkan orang tua siswa dalam
program kewirausahaan

4. Menyiapkan sarana dan prasarana pendukung:
menginventaris sarana pendukung yang diperlukan,
menyiapkan modal usaha, menyiapkan sarana
promosi baik daring maupun luring,

5. Menetapkan target masing-masing unit tefa/UP
6. Menetapkan SOP masing-masing unit tefa/UP
7. Menetapkan produk semua unit tefa/UP beserta

harga jualnya
8. Menetapkan mekanisme pengelolaan masing-

masing unit tefa/UP
9. Mengundang/ Melibatkan konsultan dari SMK yang

sudah BLUD dan Pemda
10. Mengundang Industri sebagai mentor
11. Menyiapkan kelengkapan tefa/UP
12. Mempromosikan tefa/UP melalui media daring dan

luring
13. Menyiapkan website promosi
14. Menyiapkan aplikasi penjualan online beserta

mekanismenya
15. Membuat contoh produk masing-masing unit
16. Melaksanakan pemantauan program setiap bulan.
17. Membuat laporan harian, mingguan, bulanan,

tahunan

Busana dan Tata Kecantikan Kulit dan Rambut. Memiliki
guru sebanyak 87 orang, pegawai 20 orang dan siswa
sebanyak 1766 orang. Berdiri dalam areal seluas
30.000m2 di kawasan pariwisata Sanur Denpasar Bali.
Didukung dengan sarana dan prasarana yang relatif
lengkap, lingkungan sekolah yang asri serta nyaman
untuk proses belajar mengajar baik teori maupun
praktek. SMK Negeri 3 juga sebagai sekolah rujukan,
menyandang predikat sekolah adiwiyata mandiri dan
bersertifikat ISO 9001:2015 yang masih aktif sampai
dengan saat ini.
Memperoleh akreditasi A untuk semua kompetensi
keahlian dan memperoleh penghargaan sebagai
20(duapuluh) SMK terbaik se Indonesia pada tahun
2019, menjadikan warga sekolah harus terus bekerja
keras mempertahankan dan meningkatkan prestasinya
agar tetap menjadi sekolah kejuruan bidang pariwisata
pilihan di Bali. Namun demikian berdasarkan analisis
situasi, analisis lingkungan internal/eksternal, analisis
SWOT, analisis BCG dan hasil evaluasi diri sekolah
diperoleh hasil pada beberapa komponen yang perlu
ditingkatkan. Salah satu komponen tersebut adalah
dalam kesiapan sumber daya manusia baik guru
maupun pegawai pada kompetensi kewirausahaan
masih kurang. Hal ini bisa dicermati dari kemampuan
sekolah menjual produk yang dihasilkan masih sangat
rendah. Selain hal tersebut SMK Negeri 3 Denpasar juga
menjadi sekolah piloting dalam mengimplementasikan

pegawai dan siswa, disamping juga sebagai salah satu
sumber pendapatan BLUD nantinya.

Program pengembangan kewirausahaan
(teknopark) juga bertujuan agar kompetensi siswa
meningkat, pelibatan industri yang lebih optimal, serta
diharapkan dapat mendukung pembiayaan sekolah. Saat
ini berdasarkan data yang ada dukungan program
kewirausahaan berkisar 2% bisa mendukung program
sekolah, dengan program pengembangan ini diharapkan
ke depan secara bertahap bisa dikembangkan sampai
10% atau lebih.

Program pengembangan kewirausahaan
(teknopark) ini juga merupakan bagian integral dari
Program Pengembangan Sekolah 2020-2025 yang
dirancang berdasarkan hasil evaluasi diri sekolah (EDS),
analisis SWOT dan analisis BCG. Selanjutnya ditetapkan
program-program utama, yaitu.
1. Program pernikahan (hubungan sekolah dengan

Industri)
2. Peningkatan manajemen sekolah
3. Peningkatan mutu lulusan yang kompeten
4. Pemenuhan sarana dan prasarana
5. SMK sebagai pusat belajar,
6. Pengembangan kewirausahaan (teknopark).

Dari beberapa program tersebut, pada proposal
pengembangan sekolah ini akan diangkat sebagai salah
satu program. yaitu Program Pengembangan
Kewirausahaan (teknopark) di SMK Negeri 3 Denpasar.

dari sekolah selain tujuh usaha teaching factory yang
sudah ada.

Kewirausahaan (teknopark) di SMK Negeri 3
Denpasar terdiri dari beberapa teaching factory yang
mengacu pada kompetensi keahlian yang dimiliki
sekolah, antara lain.

Gambar 6: Gambar Unit Usaha yang dikembangkan
1. Kulineri/restoran, melayani penjualan aneka makanan

Indonesia dan minuman.
2. Catering, melayani pesanan prasmanan dan nasi kotak.

5. Beauty Salon, melayani perawatan dan penataan rambut,
perawatan kulit dan massage.

6. Jasa hotel (Edotel), Cleaning Service, melayani tamu
menginap dan pertemuan/rapat,

7. Laundry, melayani segala jenis laundry. Ketujuh
Teaching factory tersebut saat ini sudah berjalan, namun
belum optimal sesuai dengan yang diharapkan sebagai
salah satu sumber pendanaan sekolah. Atas dasar hal
tersebut diperlukan sebuah program terobosan yang
terukur dan terarah agar program kewirausahaan
(teknopark) dapat terlaksana sesuai harapan sehingga
bisa menjadi salah satu sumber pendanaan pendukung
sekolah ke depannya.

Adapun langkah-langkah umum dalam 25 hari
yang dilaksanakan adalah :
1. Penyiapan SDM / PTK, Pengelola, dalam kegiatan ini

dilaksanakan penetapan tugas guru dan pegawai
serta pengelola melalui Surat Keputusan Kepala
Sekolah sehingga tugas-tugas menjadi jelas. SDM
pengelola unit tefa dibimbing oleh industri yang
sesuai bidangnya sebagai mentor.
2. Penyiapan grup siswa di masing-masing unit,
kegiatan ini bertujuan agar proses tefa melibatkan
siswa sebanyak mungkin sehingga siswa
mempunyai pengalaman kerja secara langsung
menangani konsumen sekaligus meningkatkan
kompetensi kewirausahaan siswa (entrepreneur).

4. Menetapkan target masing-masing unit, setiap
usaha atau bisnis yang baik haruslah menetapkan
target sehingga bisa dijadikan alat ukur
keberhasilan usaha yang dilakukan. Dalam kegiatan
ini ketujuh unit tefa menetapkan targetnya masing-
masing, baik dalam jangka 25(duapuluh lima) hari,
setahun dan empat tahun. Dengan menetapkan
target maka masing-masing unit akan mempunyai
motivasi untuk mencapai target atau melampaui
target yang sudah ditetapkan.

5. Menetapkan SOP masing-masing unit, kegiatan ini
dilaksanakan untuk bisa menghasilkan produk yang
ajeg sehingga setiap kali memproduksi hasil
produksi mempunyai standar yang sama sehingga
bisa menjadi brand produk masing-masing. SOP
juga dijadikan acuan dalam menjalankan usaha
masing-masing unit, sehingga semua personal yang
terlibat memiliki acuan kerja yang jelas.

6. Menetapkan produk masing-masing unit, kegiatan
tefa diharapkan menghasilkan produk-produk yang
inovatif, baru dan sesuai dengan keinginan pasar,
untuk itu diperlukan langkah menetapkan produk
apa yang akan dibuat sehingga bisa laku dipasaran
tetapi unik dan mempunyai ciri khas tersendiri
yang berbeda dari produk lainnya.

7. Evaluasi, kegiatan evaluasi dilaksanakan untuk
meninjau kembali setiap periode tertentu program-
program atau langkah-langkah yang telah dilakukan

pembanding antara produk yang dibuat dengan
produk di industri, sekaligus memperoleh
pengetahuan baru tentang pembuatan dan
pengelolaan produk. Kunjungan ini juga untuk
menjalin kerjasama (MOU) untuk pengembangan
usaha ke depannya.
9. Menyiapkan kelengkapan masing-masing unit,
kegiatan ini bertujuan untuk melengkapi sarana
pendukung untuk pengembangan usaha tefa
selanjutnya, selain itu sarana tersebut juga akan
digunakan oleh siswa untuk melakukan praktek
secara reguler, sehingga alat-alat tersebut memiliki
fungsi sebagai alat praktek dan sebagai sarana
berusaha.
10. Membuat sampel produk / jasa, kegiatan ini
menjadi kegiatan yang paling penting dalam proses
usaha yang dilaksanakan, pembuatan sampel
produk ini akan meningkatkan semangat tim
pengelola untuk selalu meningkatkan kualitas
produknya. Pembuatan sampel produk ini juga akan
dipromosikan baik secara luring maupun daring,
sehingga ke depan produk ini diharapkan dikenal
dan banyak dipesan konsumen.
11. Menyiapkan website promosi, kegiatan ini
dimaksudkan untuk membuat rancangan website
yang akan digunakan dalam pengenalan produk-
produk tefa yang dihasilkan.
12. Menyiapkan aplikasi penjualan online, selain

maupun daring sehingga produk dikenal secara
luas.
14. Melaksanakan pemantauan program, kegiatan ini
ditujukan sebagai upaya memantau semua produk
yang ada agar mutu dan standarnya sesuai dengan
yang diharapkan, sehingga kepuasan konsumen
terjaga.
15. Menetapkan mekanisme pengelolaan, mekanisme
pengelolaan juga penting agar setelah menghasilkan
pendapatan tidak menimbulkan masalah, semuanya
harus ditetapkan dalam bentuk mekanisme
sehingga transparan dan semua pengelola merasa
mendapatkan keadilan.
16. Mencari informasi BLUD dari SMK yang sudah
BLUD, kegiatan ini dilaksanakan untuk memperoleh
gambaran yang lebih jelas bagaimana langkah-
langkah sekolah menjadi BLUD, dengan informasi
yang diperoleh selanjutnya disosialisasikan kepada
manajemen sekolah untuk persipan sekolah menuju
BLUD
17. Menyiapkan produk, kegiatan ini dilaksanakan
untuk menyiapkan produk yang lebih banyak untuk
dipasarkan lebih lanjut.
18. Mempromosikan di website, promosi di website
merupakan cara yang relatif mudah dilakukan
sehingga bisa dilihat oleh semua orang melalui
internet. Tujuannya adalah mengenalkan produk
secara lebih luas dan menyiapkan order.

20. Membuat laporan, kegiatan terakhir adalah
membuat laporan impelementasi sebagai laporan
kepada Mitras DUDI melalui Binus. Laporan ini
sekaligus mengakhiri kegiatan 25 hari program
pengembangan sekolah yang sudah direncanakan.

Selanjutnya akan dijelaskan langkah-langkah
pengembangan setiap unit usaha yang dikembangkan
antara lain :

1. Kulineri/restoran, melayani penjualan aneka makanan
Indonesia dan minuman.
Latar belakang adanya Tefa Triska Restoran
adalah untuk meningkatkan produktifitas, dan kualitas
hasil kerja lulusan pendidikan kejuruan, tentunya harus
melalui proses yang nyata seperti siswa
mengembangkan ide bisninnya dan mengelola sendiri di
sekolah melalui teaching factory. Salah satu jenis
teaching factory yang dikembangkan oleh SMK Negeri 3
Denpasar adalah usaha yang bergerak di bidang
Restoran . Berdasarkan perencanaan di awal, di rintislah
sebuah nama usaha Restoran yaitu “Triska Resto &
Cafe”.
Diharapkan nantinya , melalui teaching factory
ini, peserta didik dapat mengembangkan jiwa
enterpreuner dan memotivasi diri untuk menghasilkan

2. Melatih siswa untuk menjadi individu mandiri dan
mampu mempraktekkan ide-idenya sehingga
diharapkan muncul produk-produk baru;

3. Siswa lebih bersemangat mengembangkan
kompetensi siswa.

Triska Restoran merupakan salah satu unit dari Tefa
Program Keahlian Tata Boga yang yang menyediakan
produk makanan dan minuman dan juga jasa pelayanan.
Adapun jenis produk yang dijual adalah bakso butoijo
seharga Rp 10.000,00/porsir, moringa mi seharga Rp
10.000,00/porsir, berbagai jenis varian nasi goreng dan
nasi bubuh Bali seharga Rp 7.500,00/porsi serta
berbagai minuman baik minuman panas dan dingin
seharga Rp 5.000,00/porsi. Aneka jus rata-rata Rp
10.000,00.

2. Catering, melayani pesanan prasmanan dan nasi kotak

Latar belakang adanya Tefa Triska Catering
adalah untuk meningkatkan produktifitas, dan kualitas
hasil kerja lulusan pendidikan kejuruan, tentunya harus
melalui proses yang nyata seperti siswa
mengembangkan ide bisninnya dan mengelola sendiri di
sekolah melalui teaching factory. Salah satu jenis
teaching factory yang dikembangkan oleh SMK Negeri 3
Denpasar adalah usaha yang bergerak di bidang
catering. Berdasarkan perencanaan di awal, di rintislah
sebuah nama usaha catering yaitu “Triska Catering”.

1. Mampu memberi kesempatan siswa agar lebih kreatif
dan inovatif serta mampu mengaplikasikan ilmu yang
diperoleh sekolah;

2. Melatih siswa untuk menjadi individu mandiri dan
mampu mempraktekkan ide-idenya sehingga
diharapkan muncul produk-produk baru;

3. Siswa lebih bersemangat mengembangkan
kompetensi siswa di bidang Tata boga.

Triska Catering merupakan salah satu unit dari
Tefa Program Keahlian Tata Boga yang menerima
pesanan baik makanan maupun minuman meliputi:
1. Nasi bungkus
2. Nasi kotak
3. Snack box
4. Prasmanan untuk berbagai acara seperti acara rapat,

ulang tahun dan sebagainya

3. Pastry dan Bakery, melayani aneka jenis roti, Salah satu
brand produk kue/pastry yang dibuat adalah Coojin.
Latar belakang adanya Tefa Triska Bakery
adalah untuk membekali peserta didik dengan
keterampilan, pengetahuan dan sikap agar mampu
menerapkan disiplin ilmu yang telah mereka dapatkan
selama mengikuti proses pembelajaran di SMK Negeri 3
Denpasar, dan dapat bersaing di pasar kerja industri
khususnya di bidang Pastry dan Bakery dan secara

1. Mampu membantu siswa agar lebih kreatif dan
inovatif serta mampu mengaplikasikan ilmu yang
diperoleh sekolah;

2. Melatih siswa untuk menjadi individu mandiri dan
mampu mengaktualisasikan dirinya untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya di masa depan;

3. Meningkatkan dan mengembangkan kompetensi
siswa di bidang Tata Boga.

Triska Pastry dan Bakery merupakan salah satu
unit dari Tefa Program Keahlian Tata Boga yang menjual
produk Pastry dan Bakery meliputi:
1. Roti manis ( Sweet Bread) dengan aneka isian

seperti: pisang, coklat, keju, selai stroberi, selai
blueberi, enten kelapa.
2. Cake tape injin
3. Butternut pumpkin cake
4. Coo’jin
5. Moringa cookies
6. Ginger cookies
7. Moringa cheese stick

Adapun produk yang dijual di atas menggunakan
berbagai bahan, diantaranya adalah tape ketan hitam
(Injin) dan daun kelor sebagai ciri khas produk. Alasan
menggunakan tape ketan hitam (injin) yaitu, karena
tersedianya tape ketan hitam yang cukup banyak dari
sisa hasil produksi minuman Brem Bali.

anti kanker, mengandung berbagai macam vitamin dan
mineral yang dibutuhkan tubuh.

4. Pembuatan Busana, melayani pembuatan pakaian
dan lenan rumah tangga.
Fashion di Indonesia kini semakin berkembang
mengikuti arus modernisasi. Perkembangan ini
menjadikan masyarakat sebagai masyarakat yang
selektif di dalam menentukan gaya hidupnya. Gaya
hidup sangat erat hubungannya dengan fashion, karena
adanya fashion akan menunjang penampilan seseorang
agar lebih menarik dan menjadi trend center di
masyarakat. Produk fashion termasuk produk yang
dapat dikonsumsi dalam jangka panjang karena produk
ini digunakan dengan pemakainan normal satu tahun.
Produk fashion meliputi pakaian, sepatu, tas, aksesoris,
dan lain sebagainya.
Dengan melihat beranaka ragam jenis pakaian
yang dibutuhkan oleh masyarakat, yang melatar
belakangi adanya tefa “ Jepun Butik Triska “ untuk
membekali pesrta didik dengan keterampilan
pengetahuan dan sikap agar mampu mengaplikasikan
ilmu yang diperoleh selama proses pembelajaran di
SMK Negeri 3 Denpasar, dan dapat bersaing di pasar
kerja khususnya di bidang industri busana/fashion
Tujuan dilaksanakannya tefa Jepun butik Triska ini
dengan harapan mampu :
1. Meningkatkan jiwa wirausaha peserta didik;

4. Mengajarkan untuk melakukan pemasaran produk
melalui media promosi baik secara langsung (offline)
maupun online.

“Jepun Butik Triska” adalah salah satu Tefa Tata Busana
SMK Negeri 3 Denpasar hadir memberikan kontribusi
dengan produk yang ditawarkan meliputi:
1. Daster,
2. Tas Perca
3. Lenan Rumah tangga,
Adapun produk yang dijual di atas menggunakan
berbagai bahan, diantaranya adalah : bahan utama , kain
katun, rayon polos dan motif, Drill, oxford , kain perca
(limbah busana), kain blacu.
Sedangkan bahan tambahan /penunjang adalah kain
vliselin, benang jahit dan benang sulam, pita.

Pemanfaatan perca untuk pembuatan produk
tas pada Tefa jepun butik triska adalah untuk
memanfatkan limbah yang dihasilkan di jurusana
busana menjadi benda yang bermanfaat dan memilik
daya jual.

5. Beauty Salon, melayani perawatan dan penataan
rambut, perawatan kulit dan massage.
Kebutuhan akan jasa salon kecantikan tidak
pernah habis. Terutama wanita yang sedari dulu sudah
sangat sadar perlunya merawat kecantikan dari ujung
kaki sampai ujung kepala. Wanita dulu biasa melakukan

tubuh yang dapat dilakukan sendiri di rumah, namun
beberapa hal tetap harus dibantu orang lain misalnya
menggunting rambut, perawatan badan, luluran, dan
lain-lain. Selain itu pada dasarnya wanita senang
dimanjakan, sehingga walaupun bisa mencuci rambut
sendiri, luluran, perawatan kulit kepala, perawatan
wajah, atau gunting kuku mereka tetap saja ingin orang
lain mengerjakannya. Layaknya putri raja yang dilayani
dayang, begitulah perasaan wanita di salon.

Bukan saja kaum wanita namun pria pun tidak
mau ketinggalan. Bagi pria yang peduli akan
penampilannya maka sekedar gunting rambut dan pijat
saja tidak cukup. Pria saat ini menginginkan penampilan
bak model dan peragawan. Tampil dengan kulit wajah
halus, kulit tubuh lebih terawat, kuku yang rapi, serta
gaya rambut bak artis korea.

Untuk itu Salon Jegeg hadir memberikan
kontribusinya dalam mewujudkan keinginan konsumen
yang ingin tampil cantik dan menawan. Salon Jegeg
menawarkan jasa perawatan kulit dan rambut serta
produk kecantikan dan kesehatan seperti jamu, boreh
masker, tea rosela, massage oil, dan bodyscrub.

Tujuan dilaksanakannya tefa Jegeg Beauty Salon & Spa
Triska ini dengan harapan mampu :
1. Meningkatkan jiwa wirausah peserta didik.
2. Memanfaatkan bahan alami tradisional Indonesia di

sekitar kita

Tefa edotel merupakan salah satu bagian dari
unit usaha (teknopark) dari SMK Negeri 3 Denpasar.
Edotel adalah singkatan dari Educational Hotel yang
sudah berdiri sejak tahun 2007. Memiliki 16 kamar
dengan 2 kamar sweet dan 14 kamar standar.
Pengembangan tefa Edotel dilakukan dengan perawatan
rutin sekaligus tempat praktek siswa kompetensi
keahlian Perhotelan, untuk praktek house keeping dan
front office.
Target 25 hari :
1. Lengkapnya peralatan utama. Dalam hal ini,

peralataan yang dibutuhkan antara lain peralatan
penunjang kebersihan dikamar yang sudah
tercantum dalam RAB.
2. Seluruh area Edotel dan kondisi kamar dalam
keadaan rapi dan sesuai standar
Dalam hal ini, berfokus pada kondisi kamar, agar
room set up antara satu dengan lainnya sesuai
dengan standar hotel.
3. Melakukan dokumentasi
Setelah seluruh fasilitas sudah rapi dan bersih serta
set up kamar yang sudah sesuai, maka TEFA edotel
bekerja sama dengan lenscam Triska untuk
melakukan sesi foto seluruh area Edotel yang akan
digunakan untuk kebutuhan promosi
4. Mendapatkan Partner Industri
Dalam pengembangan Edotel untuk kedepan, tentu
membutuhkan bantuan dari pihak industri. Industri

dari lobby tersedia printer, Mesin EDC. Untuk
dikamar, peralatan yang sudah lama diganti ke yang
lebih baru atau modern.
2. Hotel memiliki brosur terbaru yang disertai harga
kamar. Dalam hal ini, sebelumnya akan dilakukan
penentuan harga kamar terlebih dahulu. Setelah itu,
mulai mendesign brosur yang akan digunakan dalam
melakukan promosi dan penjualan kamar hotel.
3. Memperbaharui website. Dalam hal ini, website juga
harus diperbaharui karena promosi akan lebih
banyak melalui online
4. Hotel siap dipromosikan melalui online dan offline
serta dibantu partner Industri. Setelah semua
lengkap dan siap, Edotel akan dibuka untuk umum
tentu dengan membuat promosi-promosi untuk
menyasar konsumen.

Latar belakang adanya Tefa Express Echo Clean
adalah untuk meningkatkan produktifitas, dan kualitas
hasil kerja lulusan pendidikan kejuruan, tentunya harus
melalui proses yang nyata seperti siswa
mengembangkan ide bisninnya dan mengelola sendiri di
sekolah melalui teaching factory. Salah satu jenis
teaching factory yang dikembangkan oleh SMK Negeri 3
Denpasar adalah usaha yang bergerak di bidang cleaning
service. Berdasarkan perencanaan di awal, di rintislah
sebuah nama usaha cleaning service yaitu “Express Echo

produk-produk kreatif. Agar mampu mewujudkan hal
tersebut dilaksankanlah TEFA dengan harapan :
1. Mampu memberi kesempatan siswa agar lebih kreatif

dan inovatif serta mampu mengaplikasikan ilmu yang
diperoleh sekolah.
2. Melatih siswa untuk menjadi individu mandiri dan
mampu mempraktekkan ide-idenya sehingga
diharapkan muncul produk-produk baru.
3. Siswa lebih bersemangat mengembangkan
kompetensi siswa di bidang Perhotelan

Express Echo Clean merupakan salah satu unit
dari Tefa Program Keahlian Perhotelan yang
menyediakan layanan jasa meliputi:
1. Membersihkan area umum
2. Membersihkan private area
3. Membersihkan area kering dan basah

7. Laundry, melayani segala jenis laundry.
Berdasarkan latar belakang tefa di bidang Laundry

adalah untuk mengembangkan keahlian siswa dibidang
kewirausahaannya, mengapikasikan langsung metode
yang sudah dipelajarai, mengenal dunia kerja secara
nyata pada siswa, mengajarkan untuk melakukan
pemasaran produk melalui media promosi baik secara
langsung (offline) maupun tidak langsung (online),
adapun siswa siswi yang akan melaksanakan usaha ini
adalah siswa siswi yang sudah memiliki pengalaman

Harapan terbentuknya Teaching factory yang
merupakan perpaduan dari pada konsep pembelajaran
berbasis kompetensi dan berbasis produksi (barang dan
jasa) adalah:
a. Terwujudnya tenaga terampil di bidang laundry

dengan pribadi unggul, mandiri, professional serta
berwawasan.
b. Siswa – siswi SMKN 3 Denpasar menjadi bertanggung
jawab dalam melaksanakan tugas yang dilandasi
kedisiplinan, kreatifitas, kecakapan dan dedikasi
kejujuran
c. Mengembangkan kerja sama dengan DU/DI yang
relevan.
d. Mengembangkan peluang usaha sesuai trend masa
kini.

“Caera Edu Laundry” merupakan salah satu unit dari Tefa
Program Keahlian Perhotelan yang menerima berbagai
jasa meliputi:
1. One day service
Pelayanan pencucian pakaian tamu dimana cucian
diserahkan atau dikumpulkan oleh petugas laundry
sebelum pukul 09.00 pagi dan akan dikembalikan
pada pukul 16.00 pada hari yang sama.

2. Express service
Pelayanan cepat, cucian / pakaian selesai dicuci
dalam waktu 2 sampai 3 jam. Untuk pelayanan ini

2. Membuat pelayanan yang inovatif yang layak dan
diterima oleh pasar

3. Membuat SOP yang jelas
4. Melakukan MOU dengan industri
5. Melakukan promosi secara Online dan Offline

6.1 Evaluasi
6.1.1 Faktor Penghambat dan pendorong

ketercapaian PPS
Beberapa faktor penghambat pelaksanaan program
pengembangan kewirausahaan di SMK Negeri 3
Denpasar adalah adanya tugas yang menumpuk di
akhir tahun anggaran yang semuanya harus
diselesaikan secara bersama-sama dengan tenggang
waktu yang sangat sempit. Selain hal tersebut
kemampuan sumber daya manusia yang masih
belum mampu menyesuaikan dengan tuntutan
kerja yang lebih efektif dan efisien.
Sementara faktor pendorong ketercapaiannya
adalah adanya bimbingan dari pembimbing Binus
dan bantuan sharing pengetahuan dan pengalaman
dari rekan-rekan kepala sekolah lainnya. Selain itu
loyalitas tim kerja di sekolah yang sangat baik
sehingga implementasi bisa diselesaikan dengan
hasil optimal dan tepat pada waktunya.
6.1.2 Rekomendasi
Direkomendasikan kepada rekan-rekan kepala
sekolah untuk mengimplementasikan PPS

7. KESIMPULAN

Berdasarkan paparan pada bab 1 sampai dengan
bab 6 dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
7.1 Pengembangan kewirausahaan (teknopark) di SMK
Negeri 3 Denpasar merupakan upaya sekolah untuk
meningkatkan kompetensi kewirausahaan warga
sekolah agar dapat meningkatkan kemandirian
sekolah dan secara bertahap menuju BLUD.
7.2 Pengembangan kewirausahaan(teknopark) di SMK
Negeri 3 Denpasar dilakukan melalui
pengembangan 7(tujuh) unit usaha yaitu: 1)
Kulineri/Tata Boga, 2) Catering, 3) Pastry dan
Bakery, 4) Penyewaan Kamar/Edotel dan Cleaning
Service, 5) Laundry, 6) Pembuatan Busana/Fashion,
7) Salon/Tata Kecantikan
7.3 Langkah-langkah pengembangan terdiri dari:
1)Penyiapan SDM Pengelola, 2) Penyiapan siswa, 3)
7.4 Pencapaian target selama 25 hari impelementasi
mencapai 100%, sehingga tercapai seluruh target
yang sudah ditetapkan.

3. PTS. SUPERVISI
AKADEMIK GURU

”MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM
PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
DAN PROSES PELAKSANAAN PEMBELAJARAN GURU DI
KELAS MELALUI TEKNIK SUPERVISI AKADEMIK
KEPALA SEKOLAH DI SMK NEGERI 3 DENPASAR DI
KOTA DENPASAR TAHUN PELAJARAN 2019/2020
TAHUN PELAJARAN 2019/2020”
Oleh
Drs. Anak Agung Bagus Wijaya Putra,M.Pd
Kepala SMK Negeri 3 Denpasar

ABSTRAK
Abstrak: Penelitian ini bertujuan meningkatkan
kemampuan guru dalam menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan pelaksanaan
proses pembelajaran guru dikelas, teknik supervisi
akademik kepala sekolah di SMK Negeri 3 Denpasar
Tahun Pelajaran 2019/2020. Jenis penelitian ini adalah
tergolong penelitian tindakan sekolah. Penelitian
dilaksanakan sebanyak 3 siklus. Subyek penelitian
adalah seluruh guru normatif dan adaftif yang tergolong

menjadi 84,35 % ada kenaikan sebesar = 18,18% dan
peningkatan pelaksanaan proses pembelajaran guru
dikelas setelah diberi pembinaan melalui teknik
supervisi akademik yaitu dari 66,25 % menjadi 87,99 %
ada kenaikan sebesar = 21,74% Dari analisis data di atas
bahwa pembinaan kepala sekolah melalui teknik
supervisi akademik terbukti efektif diterapkan dalam
meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan
pelaksanaan proses pembelajaran guru dikelas secara
berkelanjutan.
Kata Kunci ; Teknik Supervisi Akademik Kepala
Sekolah, Kemampuan Guru Dalam Menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) dan Pelaksanaan
Proses Pembelajaran Guru di Kelas.

A. Pendahuluan
Peran guru dalam proses pendidikan sangat penting. Hal
itu disebabkan karena guru merupakan “key person”
yang berhadapan langsung dengan siswa ketika kegiatan
proses belajar mengajar berlangsung. Guru harus dapat
menciptakan suasana yang kondusif agar siswa bersedia
terlibat sepenuhnya pada kegiatan pembelajaran,
sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
dapat dicapai secara efektif dan efisien. Kinerja guru
sangat berhubungan dengan kemampuan dan motivasi
dalam menjalankan tugas-tugasnya dengan baik dan
benar. Kemampuan dan motivasi guru dalam

nasional maupun daerah. Namun dari berbagai faktor
mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang
berarti. Dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya, guru
menyandang persyaratan tertentu sebagaimana
tertuang dalam UndangUndang Republik Indonesia
Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Dalam pasal 39 (1) dan (2) dinyatakan bahwa:
tenaga kependidikan bertugas melaksanakan
administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan,
dan pelayanan teknis untuk menunjang proses
pendidikan pada suatu pendidikan. Tilar (2009:104)
menyatakan bahwa kualitas pendidikan tergantung
banyak hal, terutama mutu gurunya. Menurut UU No, 20
tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam upaya mencapai
tujuan tersebut di atas, Guru memiliki peranan yang
sangat penting. Kedudukan Guru dan Dosen sebagai
tenaga professional bertujuan untuk melaksanakan
system pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan
pendidikan nasional .

Berkaitan tugas kepala sekolah, Nurtain (1989:
84-85) menegaskan bahwa kedudukan kepala sekolah

dan masyarakat. Sebagai pemimpin pengajaran, kepala
sekolah harus mampu menggerakkan potensi personel
sekolah meliputi kegiatan pengembangan staf dan guru,
melaksanakan program evaluasi terhadap guru dan staf.
Sebagai supervisor kepala sekolah memunyai tugas
memberikan bantuan teknis profesional pada guru-guru
dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi
pengajaran agar tujuan pembelajaran dapat dicapai
secara maksimal. Dalam menjalankan tugas sebagai
supervisor, kepala sekolah dapat memilih pendekatan
yang tepat sesuai dengan masalah yang dihadapi guru
dan perlu memper-hatikan tingkat kematangan guru.
Supervisi tidak didefinisikan secara sempit sebagai satu
cara terbaik untuk diterapkan disegala situasi melainkan
perlu memperhatikan kemampuan individu, kebutuhan,
minat, tingkat kematangan individu, karakteristik
personal guru, semua itu dipertimbangkan untuk
menerapkan supervisi. Sebagaimana disarankan oleh
Sergiovanni (1991: 282) sebagai berikut: ”Appropriate
supervisory strategies are viewed in light of teacher needs
and dispositions, time available to the principal, the task
at hand or purpose intended for supervision, and
professional com-petency level of teachers, teaching
modes and instructional strategies are additional
concerns.” Maknanya, strategi supervisi yang tepat
dilihat dari sudut pandang dan faktor kebutuhan guru,
waktu yang tersedia bagi kepala sekolah, tugas atau
tujuan su-pervisi dan tingkat kompetensi guru,

klinis, supervisi kolegial, supervisi kunjungan kelas
(supervisory visits to classroom), supervisi informal
(Oliva, 1984; Sergiovanni, 1991; Lovell & Wiles, 1988).
Tidak ada strategi, model, atau prosedur yang paling
baik dalam kegiatan supervisi, masing-masing
pendekatan mempunyai kelebihan disamping
kekurangannya. Dari beberapa pendekatan supervisi,
peneliti memilih supervisi kunjungan kelas. Pendekatan
kunjungan kelas dalam supervisi, kepala sekolah dapat
langsung me-ngetahui proses pembelajaran di kelas dan
dilakukan dialog antara guru dan kepala sekolah untuk
mengetahui keberhasilan dan kekurangannya
(Sahertian, 1989). Peningkatan kualitas pendidikan
tidak cukup hanya memperbaiki kualitas pem-belajaran
di kelas, mengingat masalah rendahnya kualitas
pendidikan disebabkan oleh banyak faktor. Upaya yang
sedang dilakukan pemerintah dalam hal ini Depdiknas
adalah menetapkan program sertifikasi guru di tingkat
sekolah dasar dan menengah bahkan untuk dosen di
perguruan tinggi. Adapun tujuan sertifikasi guru adalah
untuk meningkatkan mutu dan menentukan kelayakan
guru dalam melaksanakan tugas se-bagai agen
pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan
nasional (Dirjen PMP-TK, 2006). Untuk dapat
menjalankan tugas sebagai agen pembelajaran, guru
harus mempunyai seperangkat kompetensi. Kompetensi
adalah seperangkat kemampuan untuk melakukan
sesuatu jabatan, dan bukan semata-mata pengetahuan

Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah telah

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah kriteria
minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah

hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lingkup
Standar Nasional Pendidikan meliputi: 1).standar isi
adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi

yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi
tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata
pelajaran, dan RPP pembelajaran yang harus dipenuhi
oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan

tertentu. 2). standar proses adalah standar nasional
pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk

mencapai standar kompetensi lulusan. 3) standar
kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan
lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan. 4) standar pendidik dan

tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan
prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta
pendidikan dalam jabatan. 5) standar sarana dan

prasarana adalah standar nasional pendidikan yang
berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar,
tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan,

laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat
berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang
diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran,

efektivitas penyelenggaraan pendidikan. 7) standar
pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen
dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang
berlaku selama satu tahun; dan 8).standar penilaian
pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang
berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen
penilaian hasil belajar.

Dari 8 Standar Nasional Pendidikan di atas
yang sangat erat hubungannya dengan tugas guru dan
kepala sekolah adalah Standar Proses. Yaitu standar
yang berhubungan langsung dengan proses
pembelajaran di setiap satuan pendiidikan. Peraturan
Menteri Pendidikan Nomer 41 Tahun 2007 tentang
Standar Proses. Standar proses mencakup tentang:
1) Perencanaan proses pembelajaran, 2)
Pelaksanaan proses pembelajaran,
3) Penilaian hasil pembelajaran, dan 4) Pengawasan
proses pembelajaran. Perencanaan proses pembelajaran
berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Pengawasan Proses Pembelajaran dilakukakan oleh
Guru dan kepala Sekolah melalui Pemantauan, Supervisi,
Evaluasi , Pelaporan dan Tindak Lanjut. Kondisi ideal
yang diharapkan dalam pelaksanaan pembelajaran yang
dilakukan oleh seorang guru dalam melaksanakan
proses pembelajaran adalah dapat menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran dengan baik. Minimal seperti
yang telah di standarkan dalam standar proses dalam
SNP. Dengan tersusunnya rencana pembelajaran yang

agenda reformasi yang telah, sedang, dan akan
dilaksanakan. Reformasi pendidikan adalah
restrukturisasi pendidikan, yakni memperbaiki pola
hubungan sekolah dengan lingkungannya dan dengan
pemerintah, pola pengembangan perencanaan, serta
pola pengembangan manajerialnya, pemberdayaan guru
dan restrukturisasi model-model pembelajaran.
Reformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan
perubahan dalam sektor kurikulum, baik struktur
maupun prosedur penulisannya. Pembaharuan
kurikulum akan lebih bermakna bila diikuti oleh
perubahan praktik pembelajaran di dalam maupun di
luar kelas. Keberhasilan implementasi kurikulum sangat
dipengaruhi oleh kemampuan guru yang akan
menerapkan dan mengaktualisasikan kurikulum
tersebut. Tidak jarang kegagalan implementasi
kurikulum disebabkan oleh kurangnya pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan guru dalam memahami
tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Hal itu berarti
bahwa guru sebagai pelaksana kegiatan pembelajaran
menjadi kunci atas keterlaksanaan kurikulum di sekolah.
Dalam kurikulum 2013, guru diberi kebebasan untuk
mengubah, memodifikasi, bahkan membuat sendiri
silabus yang sesuai dengan kondisi sekolah dan
daerahnya, dan menjabarkannya menjadi persiapan
mengajar yang siap dijadikan pedoman pembentukan
kompetensi peserta didik. Upaya perwujudan
pengembangan RPP menjadi perencanaan pembelajaran

kenyataannya masih banyak guru yang belum mampu
menyusun rencana pembelajaran sehingga hal ini secara
otomatis berimbas pada kualitas output yang dihasilkan
dalam proses pembelajaran.
Kenyataan yang terjadi di lapangan, bahwa berdasarkan
hasil pemantauan kepala sekolah sejak menjabat
menjadi kepala sekolah masih banyak guru di SMK
Negeri 3 Denpasar di kota Denpasar yang belum mampu
menusun RPP dengan benar. Rata-rata kemampuan guru
pada tahun 2018 masih diperoleh 40% guru belum
kompeten pada aspek perencanaan pembelajaran.
Kelemahan guru dalam menyusun RPP khususnya masih
banyak terlihat pada ketidaksesuaian antara standar
kompetensi, kompetensi dasar (SK/KD) dan Indikator,
ketidak sesuaian antara materi dan metoda
pembelajaran yang digunakan, ketidaksesuaian antara
kegiatan pembelajaran dan dengan langkah-langkah
pembelajaran dan lain-lain. Hal inilah yang
menyebabkan guru tidak dapat melaksanakan
perencanaannya dengan baik pada proses pembelajaran
di kelas. Atas dasar permasalahan di atas maka perlu
dicari solusinya agar bagaimana guru-guru di SMK
Negeri 3 Denpasar dapat meningkatkan proses
pembelajaran di kelas dengan kemampuan dalam
menyusun perencanaan pembelajaran dengan baik dan
benar. Banyak cara yang dapat dilakukan kepala sekolah
dalam rangka melakukan pembinaan kepada guru dalam
rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

pelaksanaan supervisi akademik secara ilmiah, maka
perlu dilakukan penelitian tindakan sekolah ( PTS )
dengan judul : ” ”MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU
DALAM PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
(RPP) DAN PROSES PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
GURU DI KELAS MELALUI TEKNIK SUPERVISI
AKADEMIK KEPALA SEKOLAH DI SMK NEGERI 3
DENPASAR DI KOTA DENPASAR TAHUN PELAJARAN
2019/2020”

B. Kompetensi dan Profesionalisme Guru
Esensi sebuah pendidikan persekolahan adalah proses
pembelajaran. Tidak ada kualitas pendidikan
persekolahan tanpa kualitas pembelajaran. Berbagai
upaya peningkatan mutu pendidikan persekolahan
dapat dianggap kurang berguna bilamana belum
menyentuh perbaikan proses pembelajaran. Oleh karena
itu dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan
persekolahan Pemerintah, dalam hal ini Departemen
Pendidikan Nasional, mengembangkan berbagai
program yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran.
Di antara keseluruhan komponen dalam pembelajaran
guru merupakan komponen organik yang sangat
menentukan. Tidak ada kualitas pembelajaran tanpa
kualitas guru. Apapun yang telah dilakukan oleh
Pemerintah, namun yang pasti adalah peningkatan
kualitas pembelajaran tidak mungkin ada tanpa kualitas

anak didik dalam upaya pendidikan sehari-hari di
sekolah dan banyak menentukan keberhasilan anak
didik dalam mencapai tujuan. Undang-Undang Nomor 14
Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, menyebutkan ada
empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang
guru, yaitu kompetensi-kompetensi kepribadian,
pedagogik, professional, dan sosial.
Para pakar pendidikan telah banyak menegaskan bahwa
seseorang akan bekerja secara profesional apabila ia
memiliki kompetensi yang memadai. Maksudnya adalah
seseorang akan bekerja secara profesional apabila ia
memiliki kompetensi secara utuh. Seseorang tidak akan
bisa bekerja secara profesional apabila ia hanya
memenuhi salah satu kompetensi di antara sekian
kompetensi yang dipersyaratkan. Kompetensi tersebut
merupakan perpaduan antara kemampuan dan motivasi.
Betapapun tingginya kemampuan seseorang, ia tidak
akan bekerja secara profesional apabila ia tidak memiliki
motivasi kerja yang tinggi dalam mengerjakan tugas-
tugasnya. Sebaliknya, betapapun tingginya motivasi
kerja seseorang ia tidak akan bekerja secara profesional
apabila ia tidak memiliki kemampuan yang tinggi dalam
mengerjakan tugas-tugasnya. Selaras dengan penjelasan
ini adalah satu teori yang dikemukakan oleh Glickman
(1981). Menurutnya ada empat prototipe guru dalam
mengelola proses pembelajaran. Prototipe guru yang
terbaik,menurut teori ini, adalah guru prototipe
profesional. Seorang guru bisa diklasifikasikan ke dalam

memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi

guru yang berlaku secara nasional. Kompetensi guru
meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
professional. Di dalam permendiknas tersebut dirinci

kompetensi inti guru dan kompetensi guru dalam mata
pelajaran. Dalam kompetensi pedagogik, disebutkan
beberapa kompetensi inti yang harus dikuasai oleh

seorang guru mata pelajaran, diantaranya sebagai
berikut:
Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan
mata pelajaran yang diampu.

➢ Memahami prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum.
➢ Menentukan tujuan pembelajaran yang diampu.

➢ Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang diampu.
➢ Memilih materi pembelajaran yang diampu yang
terkait dengan pengalaman belajar dan tujuan

pembelajaran.
➢ Menata materi pembelajaran secara benar sesuai
dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik

peserta didik.
➢ Mengembangkan indikator dan instrumen penilaian.
Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.

➢ Memahami prinsip-prinsip perancangan
pembelajaran yang mendidik.
➢ Mengembangkan komponen-komponen rancangan

Dalam kurikulum 2013, guru diberi kebebasan untuk
mengubah, memodifikasi, bahkan membuat sendiri atau
bersama-sama dengan guru-guru lain dalam mata
pelajaran yang sama, silabus yang sesuai dengan kondisi
sekolah dan daerahnya, dan menjabarkannya menjadi
persiapan mengajar yang siap dijadikan pedoman
pembentukan kompetensi peserta didik

C. Supervisi Akademik

Supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan
membantu guru mengembangkan kemampuannya
mengelola proses pembelajaran dalam pencapaian
tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan
upaya membantu guru-guru tanpa membedakan suku,
agama, ras, golongan, jenis kelamin, status sosial
ekonomi, dan yang berkebutuhan khusus dalam
mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan
pembelajaran. Menurut Neagley (Kementerian
Pendidikan Nasional, 2007:9) Pengembangan
kemampuan dalam konteks ini janganlah ditafsirkan
secara sempit, semata-mata ditekankan pada
peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar
guru, melainkan juga pada peningkatan komitmen
(commitmen) atau kemauan (willingness) atau motivasi
(motivation) guru, sebab dengan meningkatkan
kemampuan dan motivasi kerja guru, kualitas
pembelajaran akan meningkat. Menurut Sergiovanni

Gambar C.1.Tiga Tujuan Supervisi Akademik

1. Supervisi akademik diselenggarakan dengan maksud
membantu guru mengembangkan kemampuannya
profesionalnnya dalam memahami akademik,
kehidupan kelas, mengembangkan keterampilan
mengajarnya dan menggunakan kemampuannya
melalui teknik-teknik tertentu.

2. Supervisi akademik dilakukan untuk memonitor
kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Kegiatan
memonitor ini bisa dilakukan melalui kunjungan
kepala sekolah ke kelas-kelas di saat guru sedang
mengajar, percakapan pribadi dengan guru, teman
sejawatnya, maupun dengan sebagian peserta didik.

sungguh-sungguh (commitment) terhadap tugas dan
tanggung jawabnya.

Supervisi akademik berkaitan erat dengan pembelajaran
berkualitas, karena proses pembelajaran yang
berkualitas memerlukan guru yang profesional. Guru
sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran dapat
ditingkatkan profesionalitasnya melalui supervisi
akademik sehingga tercapai tujuan pembelajaran.
Menurut Sergiovanni (Kementerian Pendidikan
Nasional, 2007: 7), bahwa refleksi praktis penilaian
unjuk kerja guru dalam supervisi akademik adalah
melihat realita kondisi untuk menjawab permasalahan
pembelajaran di kelas, sehingga diperoleh informasi
mengenai kemampuan guru dalam mengelola kegiatan
pembelajaran. Dengan demikian, melalui supervisi
akademik guru akan semakin mampu memfasilitasi
belajar bagi peserta didik sehingga proses pembelajaran
menjadi berkualitas.

D. Metode penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah peningkatan
kemampuan guru dalam menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan pelaksanaan
proses pembelajaran guru di kelas. Berdasarkan hasil
observasi yang penulis lakukan bahwa kemampuan guru
di SMK Negeri 3 Denpasar dalam menyusun RPP masih
sangat rendah dan pelaksanaan proses pembelajaran

mendapatkan hasil yang diinginkan. Rancangan
Penelitian Tindakan Sekolah ( PTS ) menurut Kemmis
dan Mc.Taggar ( Depdiknas,2000 ) adalah seperti
gambar berikut :

Gambar D.1. Alur Penelitian Tindakan Sekolah
Penelitian tindakan sekolah ( PTS ) yang dilaksanakan
dalam tiga siklus dianggap sudah berhasil apabila terjadi
peningkatan kinerja guru dalam menyusun silabus dan
merancang RPP mencapai 75 % guru ( sekolah yang
diteliti ) telah mencapai ketuntasan dengan nilai rata
rata 75. Jika peningkatan tersebut dapat dicapai pada
tahap siklus 1 dan 2, maka siklus selanjutnya tidak akan
dilaksanakan karena tindakan sekolah yang dilakukan

Dalam analisis data teknik yang digunakan adalah ;
Teknik analisis data dilakukan terhadap kemampuan
guru merancang RPP guru sebagai data awal
kemampuan guru dan hasil observasi yang dilakukan
selama proses pembinaan akan dianalisis secara
deskriptif untuk mengukur keberhasilan proses
pembinaan sesuai dengan tujuan penelitian tindakan
sekolah ini.
1. Kuantitatif
Analisis ini digunakan untuk menghitung besarnya
peningkatan kemampuan guru merancang RPP dan
pelaksanaan proses pembelajaran di kelas melalui
teknik supervisi akademik kepala sekolah dengan
menggunakan prosentase ( % ).
2. Kualitatif
Teknik analisis ini digunakan untuk memberikan
gambaran hasil penelitian secara ; reduksi data, sajian
deskriptif, dan penarikan simpulan.

F. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Ketuntasan Hasil Pembinaan Kepala Sekolah

Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa
pembinaan melalui teknik supervisi akademik
memiliki dampak positif dalam meningkatkan
kemampuan guru dalam menyusun, merancang RPP
dan proses pembelajaran dikelas hal ini dapat dilihat
dari semakin mantapnya pemahaman guru terhadap
pembinaan yang disampaikan kepala sekolah (

saat mengajar dikelas terhadap pembinaan yang
disampaikan kepala sekolah ( pelaksanaan proses
pembelajaran guru dikelas dari siklus I, II, dan III )
yaitu masing-masing 66,26 % ; 74,04%,87,99%.

Dari analisis data di atas bahwa pembinaan
kepala sekolah melalui teknik supervisi akademik efektif
diterapkan dalam meningkatkan kinerja guru yang
berarti proses pembinaan kepala sekolah lebih berhasil
dan dapat meningkatkan capaian mutu sekolah
khususnya di SMK Negeri 3 Denpasar, oleh karena itu
diharapkan kepada para kepala sekolah dapat
melaksanakan pembinaan melalui teknik supervisi
akademik secara berkelanjutan. Berdasarkan analisis
data di atas, maka kemampuan guru dalam menyusun,
merancang RPP dan pelaksanaan proses pembelajaran
guru di kelas, ke arah perubahan yang positif, maka
kinerja guru tersebut dikatakan meningkat dan efektif
dalam meningkatkan capaian mutu sekolah di SMK
Negeri 3 Denpasar. Dengan demikian maka hipotesis
yang diajukan di atas dapat diterima.

G. Kesimpulan
Berdasarkan analisis hasil penelitian dan diskusi dapat
disimpulkan sebagai berikut : Bahwa terjadi
peningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP
dan Pelaksanaan proses pembelajaran guru di kelas SMK
Negeri 3 Denpasar melalui teknik supervisi akademik
menunjukan peningkatan pada tiap-tiap putaran (Siklus)

4.BUDAYA SEKOLAH

1. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Perbaikan mutu sekolah dapat dilaksanakan melalui
pemahaman kultur sekolah, berfungsinya sekolah, aneka
permasalahan, dan pengalaman-pengalamannya dapat
direfleksikan. Oleh sebab itu, dengan memahami ciri-ciri
budaya (kultur) sekolah akan dapat diusahakan
tindakan nyata untuk peningkatan kualitas sekolah.
Adapun masalah penulisan ini adalah
(1) Apa dan bagaimana budaya (kultur) sekolah yang
kondusif?
(2) Aspek-aspek budaya (kultur) apa saja yang bersifat
positif dan negarif di SMK Negeri 3 Denpasar?
(3) Bagaimana rancangan tindakan pengembangan
kultur sekolah yang dapat ditempuh oleh sekolah untuk
meningkatkan kualitas sekolah?

Tujuan penulisan ini adalah
(1) menjelaskan konsep dasar kultur sekolah, komponen
kultur sekolah, karakteristik budaya (kultur) sekolah
yang kondusif dan proses pengembangannya.
(2) mengetahui aspek-aspek budaya (kultur) apa saja
yang bersifat positif maupun negatif di SMK Negeri 3
Denpasar.

Kultur sekolah yang kondusif adalah keseluruhan latar
fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah
yang secara produktif mampu memberikan pengalaman
baik bagi tumbuh kembangnya siswa yang diharapkan.
Aspek-aspek budaya (kultur) positif yang dimiliki SMK
Negeri 3 Denpasar antara lain adalah akreditasi A (skor
rata-rata 97), aspek akademik yang meliputi prestasi
guru, prestasi siswa, interaksi kepala sekolah dengan
guru untuk aspek sosial, interaksi walikelas atau guru
dengan orang tua siswa, interaksi guru dengan siswa
untuk aspek sosial, interaksi kepala sekolah dengan
komite sekolah atau orang tua siswa, dan interaksi
kepala sekolah dengan staf tata usaha untuk aspek
akademik. Selain aspek-aspek positif yang tersebut di
atas SMK Negeri 3 Denpasar juga mempunyai kultur
senyum, salam, sapa, semangat, sopan santun, dan
sportif.
Aspek-aspek negatif kultur sekolah di atas SMK Negeri 3
Denpasar masih perlu ditingkatkan antara lain kultur
atau budaya membaca, disiplin waktu, budaya bersih.
Dalam pengembangan kultur sekolah, perlu
memperhatikan saran semua pihak dan dibentuk tim
pengembang kultur sekolah dengan harapan kultur yang
terbentuk merupakan hasil kerja semua warga sekolah
yang harus ditaati dan dikembangkan oleh semua warga
sekolah. Bagi Pengawas dan Dinas Pendidikan sebagai
pengambil kebijakan, sangat diharapkan dalam
mengembangkan kultur sekolah terutama aspek

negatif. Setelah itu, baru menentukan indikator-
indikator yang mempengaruhi kultur tersebut. Langkah
berikutnya adalah memonitoring dan mengevaluasi
perubahan yang dilakukan untuk kemudian membuat
laporan dan memberikan tindak lanjut

1.2. Permasalahan
Ditinjau dari standar Isi, SKL, Proses, Penilaian,
Pengelolaan, Pembiayaan, PTK, Sarpras.
Ditinjau dari indikator sebagai SMK Rujukan
Prioritas : PTK dengan pendekatan Humanis
1.3. Strategi Pemecahan Masalah

a. Strategi Yang Dipilih
Menciptakan kultur sekolah yang kondusif

b. Tahapan Operasionalnya
1. Demokratis sebagai pilar utama
2. Transparansi / keterbukaan
3. Pelibatan semua personil

2. IMPLEMENTASI BEST PRAKTIS
Tinjauan Makna Budaya Sekolah Menurut Stolp (2003)
definisi budaya sekolah belum diperoleh kesatuan
pandangan. Terminologi budaya sekolah masih
disamakan dengan “iklim atau ethos”. Konsep budaya
sekolah masuk ke dalam pendidikan itu pada dasarnya
sebagai upaya untuk memberikan arah tentang efisiensi
lingkungan pembelajaran, lingkungan dalam hal ini
dapat dibedakan dalam dua hal (1) lingkungan yang

suatu proses (baca: pembelajaran) secara efektif dan
efisien (Zamroni 2000). Dengan demikian, penerapan
istilah kultur atau budaya pada organisasi dalam hal ini
termasuk lembaga pendidikan dapat dikatakan relatif
baru. Sebelumnya sekitar pada awal tahun 1960-an
digunakan istilah “Organizational Culture” yang sinonim
dengan “climate”atau suasana yang selanjutnya pada
tahun 1970-an istilah serupa “corporate culture” mulai
digunakan dan menjadi populer.
Kultur organisasi merupakan istilah yang mudah untuk
diucapkan tetapi sulit didefinisikan. Dalam
mendefinisikan kultur organisasi cendrung dimaknai
oleh anggota organisasi sebagai sistem yang dianut yang
membedakan suatu organisasi dengan organisasi
lainnya. Jones (1995) memberikan definisi kultur
organisasi dan karakteristik budaya organisasi. Menurut
Jones kultur organisasi adalah seperangkat nilai yang
mengontrol anggota organisasi dalam berinteraksi baik
dengan sesamanya maupun dengan orang-orang di luar
organisasi. Karakteristik kultur organisasi meliputi nilai-
nilai, kontrol koordinasi dan motivasi, etika, dan proses
disain organisasi. Nilai dalam hal ini dapat dikategorikan
atas nilai: idielogi, politik, ekonomi, sosial, budaya,
militer keamanan dan agama. Dari beberapa penjelasan
di atas dapat ditarik benang merah bahwa kultur
sekolah sebagai “pola nilai-nilai, norma, sikap, mitos dan
kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan
panjang suatu sekolah. Sekolah tersebut dipegang

dalam semangat, perilaku maupun simbol serta slogan
khas identitas mereka.
Menyimak pengertian di atas dapat dipahami bahwa
konsep budaya sekolah sebagai suatu pendekatan lebih
menekankan pada penghayatan segisegi simbolik,
tradisi, riwayat sekolah yang kesemuannya akan
membentuk keyakinan, kepercayaan diri dan
kebanggaan akan sekolahnya.
Elemen-Elemen Budaya Sekolah Sebagaimana telah
digambarkan dalam pengetian di atas bahwa budaya
sekolah terdiri dari sejumlah norma-norma, ritual,
keyakinan, nilai-nilai, sikap, dan kebiasaan yang
terbentuk dalam sekolah. Bentuk-budaya sekolah secara
intrinsik muncul sebagai suatu fenomena yang unik dan
menarik karena pandangan sikap, perilaku yang hidup,
dan berkembang dalam sekolah pada dasarnya
mencerminkan kepercayaan dan keyakinan yang
mendalam dan khas dari warga sekolah. Lebih khusus
lagi Hedley Beare mendeskripsikan unsur-unsur budaya
sekolah dalam dua kategori yakni unsur kasat mata dan
unsur yang tidak kasat mata.
Unsur yang kasat mata mempunyai makna jika
mencerminkan apa yang tidak kasat mata. Yang tidak
kasat mata itu adalah filsafat atau pandangan dasar
sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup
atau yang di anggap penting dan harus diperjuangkan
oleh sekolah dan itu harus dinyatakan secara konseptual
dalam rumusan visi, misi, tujuan, dan sasaran yang lebih

peraturan sistem ganjaran/ hukuman, (11) layanan
psikologi sosial, (12) pola interaksi sekolah dengan
orang tua, masyarakat dan yang materiil dapat berupa
fasilitas dan peralatan, artefak, dan tanda kenangan,
serta pakaian seragam.
Mardapi (2003) membagi unsur-unsur budaya sekolah
jika ditinjau dari usaha peningkatan kualitas pendidikan
adalah sebagai berikut.
a. Kultur Sekolah Positif Kultur sekolah positif adalah
kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan
kualitas pendidikan, misalnya kerja sama dalam
mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi, dan
komitmen terhadap belajar.
b. Kultur Sekolah Negatif Kultur sekolah yang negatif
adalah kultur yang kontra terhadap peningkatan mutu
pendidikan. Artinya, resisten terhadap perubahan dapat
berupa siswa takut salah, siswa takut bertanya, dan
siswa jarang melakukan kerja sama dalam memecahkan
masalah.
c. Kultur Sekolah Netral Kultur sekolah netral adalah
kultur yang tidak berfokus pada satu sisi namun dapat
memberikan konstribusi positif tehadap perkembangan
peningkatan mutu pendidikan. Hal ini bisa berupa arisan
keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa, dan
lain-lain.
Untuk dapat mengubah budaya sekolah pertama-tama
harus memahami budaya yang ada. perubahan budaya
yang ada dimaknai sebagai alternatif variasi interaksi

budaya sekolah. Pada prinsipnya upaya memperpendek
waktu antara penerapan sistem interaksi baru dengan
budaya yang konvensional dilakukan bila guru telah
merasa kondusif diterapkan sistem interaksi yang baru
itu sehingga sekolah memperolah nilai yang
dikehendaki.
Menurut Deal dan Peterson (2003), kekuatan yang bisa
diraih dari kultur sekolah adalah membangun sekolah
menjadi lebih hidup, semangat kooperatif, dan
penghayatan akan identitas sekolah. Interaksi antara
siswa, orang tua, guru, atau anggota komunitas adalah
inti nilai pemberdayaan kultur sekolah. Adapun
kepentingan menstandarkan perilaku anggota sekolah
merupakan tuntunan akademik. Harapan guru terhadap
respon siswa menghadapi perlakuan belajarnya agar
menjadi lebih etis misalnya mengendalikan waktu. Hal
tersebut dapat melihat dari pancaran matanya, cara
bicaranya, cara mengatur parkir kendaraan guru, siswa,
dan tamu, cara memasang hiasan di dinding-dinding
ruangan, sampai dengan persoalan-persoalan
menentukan seperti kebersihan kamar kecil, situasi
proses pembelajaran di ruang-ruang kelas. Demikian
pula, cara kepala sekolah memimpin rapat bersama staf
merupakan bagian integral dari sebuah kultur sekolah
(Depdiknas, 2004).
Peran Kultur Sekolah dalam Pembentukan Kinerja Guru
Dalam terminologi kebudayaan, pendidikan yang
berwujud dalam bentuk lembaga atau instansi sekolah

yang mana yang seharusnya dikembangkan atau
dibudayakan dalam proses pendidikan yang baerbasis
mutu itu.
Dengan demikian, sekolah menjadi tempat dalam
mensosialisasikan nilai-nilai budaya yang tidak hanya
terbatas pada nilai-nilai keilmuan saja, melainkan semua
nilai-nilai kehidupan yang memungkinkan mampu
mewujudkan manusia yang berbudaya. Dalam hal ini
masih menurut Djemari (2003) karekteristik peran
kultur sekolah berdasarkan sifatnya dapat dibedakan
menjadi tiga meliputi:
a. Bernilai Strategis Bernilai strategis adalah kultur yang
dapat berimbas dalam kehidupan sekolah secara
dinamis. Misalnya memberi peluang pada warga sekolah
untuk bekerja secara efisien, disiplin dan tertib. Kultur
sekolah merupakan milik kolektif bukan milik
perorangan, sehingga budaya sekolah dapat
dikembangkan dan dilakukan oleh semua warga sekolah.
b. Memiliki Daya Ungkit Kultur yang memliki daya gerak
akan mendorong semua warga sekolah untuk
berprestasi sehingga kerja guru dan semangat belajar
siswa akan tumbuh bilamana dipacu dan didorong
dengan dukungan budaya yang memiliki daya ungkit
yang tinggi misalnya kinerja sekolah dapat meningkat
jika disertai dengan imbalan yang pantas, penghargaan
yang cukup, dan proporsi tugas yang seimbang.
Demikian pula, siswa akan meningkat semangat
belajarnya bila mereka diberi penghargaan yang

untuk melaksanakan tugas dengan baik misalnya budaya
gemar membaca.
Budaya membaca di kalangan siswa akan dapat
mendorong mereka untuk banyak mengetahui tentang
berbagai macam persoalan yang mereka pelajari di
lingkungan sekolah. Demikian juga bagi guru mereka
semakin banyak pengetahuan yang diperolah, tingkat
pemahaman semakin luas, semua ini dapat berlangsung
jika disertai dengan kesadaran bahwa mutu/ kualitas
yang akan menentukan keberhasilan seseorang.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa
pendekatan budaya sesungguhnya menekankan pada
kedalaman yaitu unsur budaya dari organisasi itu, yang
memberi petunjuk, warna, dan gaya pada diri setiap
individu sekolah, yang pada akhirnya akan
mempengaruhi kinerja mereka. Lebih khusus lagi
budaya sekolah yang tercermin dalam bentuk mitos,
ritual, kebiasaan, simbolisme, kepercayaan, dan
sebagainya menjadi pengikat bagi setiap siswa yang
akan menimbulkan motivasi dan semangat belajar serta
kreativitas mereka.
Kinerja Guru Kebaradaan guru dalam proses belajar
mengajar di sekolah mempunyai peranan yang tidak
kecil dalam kelangsungan pendidikan di sekolah.
Membangun kekuatan pengajaran dan pendidikan di
sekolah sama halnya membangun kinerja guru. Upaya-
upaya meningkatkan kinerja guru pada proses
pembelajaran dirinya sangatlah penting terutama pada

Cara-cara pembelajran yang demokratis, menarik kreatif
inovatif akan sangat efektif untuk membentuk watak dan
karaktek peserta didik. Perlu juga ditekankan dalam
pembentukan watak dan karakter ini adalah masalah
kecerdasan emosional. Dengan demikian, pada setiap
palajaran dan proses pembelajaran tujuan tidak hanya
menguasai emosi diri sendiri dan emosi orang lain serta
mampu mengendalikannya. Kecerdasan semacam inilah
yang akan terwujud dalam keuletan, motivasi diri dan
tangguh dalam menghadapi tantangan. Sekolah yang
merupakan tempat mensosialisasikan nilai-nilai budaya,
tidak hanya terbatas pada nilai-nilai keilmuan tetapi
semua nilai kehidupan yang memungkinkan mampu
mewujudkan manusia yang berbudaya, dan ini dapat
dilihat dari kinerjanya, pengetahuan, cara berpikir,
sikap, perilaku dan cara memecahkan masalah yang
timbul. Dalam hal ini sebagaimana pendapat
Djoyonegoro (Suyanto dan Abbas 2001:148), berbagai
perbekalan yang diberikan di sekolah oleh guru pada
hakikatnya untuk meningkatkan tiga nilai dasar yaitu:
(1) membangun atau membentuk siswa yang memiliki
orientasi ke depan dengan ciri-ciri antara lain luwes,
tanggap terhadap perubahan, dan memiliki semangat
berinovasi, (2) senantiasa punya hasrat untuk
mengeksploitasi lingkungan dan kekuatan-kekuatan
alam, artinya tidak hanya tunduk pada nasib, sebaliknya
senantiasa berusaha memecahkan masalah dan
mengasai IPTEK, (3) memiliki orientasi terhadap karya

Di SMK Negeri 3 Denpasar, peningkatan prestasi dari
beberapa sektor jelas terlihat melalui penerapan kultur
sekolah di antaranya:
a. Prestasi Guru Adanya kultur sekolah yang diterapkan
di SMK Negeri 3 Denpasar menghasilkan guru prestasi
mulai dari tingkat kota sampai tingkat nasional. Terbukti
pada tahun 2006 s.d. 2008 di satuan pendidikan mulai
diberlakukan guru prestasi di tingkat satuan pendidikan.
Kemudian di tahun 2009, SMK Negeri 3 Denpasar
berhasil menghasilkan guru prestasi juara 2 di tingkat
kota, di tahun 2009 bertambah bertambah lagi berhasil
meraih juara 1 guru prestasi tingkat kota kemudian
melaju lagi menjadi juara 1 guru prestasi tingkat
provinsi.
b. Sertifikasi Guru Di bidang sertifikasi, guru SMK Negeri
3 Denpasar mengalami peningkatan yang signifikan. Hal
ini dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 1: Data
SMK Negeri 3 Denpasar Tersertifikasi Berdasarkan tabel
1 tampak bahwa jumlah guru SMK Negeri 3 Denpasar
ada 73 orang.
c. Kenaikan Pangkat Kenaikan pangkat guru SMK Negeri
3 Denpasar setiap tahunnya mengalami peningkatan
yang sangat signifikan. Tampak pada tabel berikut ini.
Tabel 2: Data Kenaikan Pangkat Guru SMK Negeri 3
Denpasar Pada tabel 2 tampak bahwa kenaikan guru
SMK Negeri 3 Denpasar mengalami kenaikan yang
sangat signifikan terbukti pada tahun 2009- 2010 yang
golongannya menjadi IV c dan IV b ada 1 orang. Selain


Click to View FlipBook Version