38 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 38 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Kotler (dalam Foster, 2008), menyatakan bahwa “promosi mempunyai lima peringkat utama yaitu: iklan (advertising), penjualan secara langsung (direct selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat (public relations) dan penjualan tatap muka (personal selling).” Gambar 2.7. Pentingnya Promosi Sumber: https:// anandadesita.wordpress.com/ author/ anandadesita/ 5. Pelayanan Pelayanan sangat dibutuhkan dalam rangka menciptakan kepuasan konsumen. Pelayanan kepada pelanggan adalah segala bentuk aktivitas atau service yang dapat membantu dan memudahkan konsumen sehingga konsumen mendapatkan kepuasan dalam berbelanja. Pelayanan yang dapat diberikan kepada pelanggan bisa berupa sapaan, tindakan, fasilitas alternatif pembayaran, pemasangan perlengkapan, layanan garansi, layanan konsultasi, pemanfaatan fasilitas pelengkap, dan sebagainya. Peritel harus dapat menyesuaikan jenis layanan yang akan ditawarkan dengan unsur lain dalam bauran ritel yang dimilikinya. Jenis-jenis pelayanan dalam bauran ritel yang dapat ditawarkan ole peritel diantaranya adalah; a. Waktu layanan; b. Pengiriman barang; c. Penanganan komplain pelanggan; d. Penerimaan pesanan melalui berbagai media; e. Penyediaan tempat parkir; f. Penyediaan ATM, kamar mandi, ruang tunggu dan fasilitas fisik lain; g. Penyediaan fasilitas tarik tunai; h. Berbagai sistem pembayaran; dan i. Pemberian layanan purna jual. Variasi jenis layanan yang diberikan peritel kepada konsumen akan menjadi ciri khas pembeda dengan peritel lain serta bisa menciptakan dan meningkatkan kepuasan dan loyalitas konsumen. Dunne Lusch dan Griffin (dalam Foster, 2008), menyatakan bahwa “pelayanan yang berkualitas tinggi dapat menggunakan program relationship retailing yang di dalamnya termasuk desain menarik untuk menarik, memelihara,
RETAIL 39 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 39 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL dan meningkatkan customer relationship”. Menurut Dunne, Lusch dan Griffith (2002) “pelayanan kepada konsumen dilakukan pedagang eceran untuk memberikan kemudahan kepada konsumen potensial dalam berbelanja atau mengenal tempat barang/ jasa yang disediakan, kemudahan pelaksanaan transaksi pada saat konsumen berusaha melakukan pembelian, kepuasan pelanggan terhadap jasa atau barang setelah transaksi”. Pelayanan yang diberikan kepada pelanggan dapat diklasifikasikan sebagi berikut; a. Pre transaction Service, pelayanan kepada konsumen yang diberikan sebelum kegiatan transaksi jual beli, seperti information aids (bantuan informasi) dan convenience hours (saat yang menyenangkan). b. Transaction service, pelayanan kepada konsumen yang diberikan saat transaksi jaul-beli, seperti fasilitas credit, cara pembayaran, pembuatan parcel, pembungkusan hadiah, perakitan, dan lain-lain. c. Past transaction service, pelayanan kepada konsumen yang diberikan setelah transaksi jual-beli seperti penanganan keluhan pelanggan, retur barang, perbaikan, pengiriman, penyediaan suku cadang, dan sebagainya. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan pelayanan konsumen adalah karakteristik toko, persaingan, jenis barang dagangan, image toko, kebijakan penetapan harga serta biaya pelayanan. 6. Fasilitas Fisik Fasilitas fisik merupakan faktor penting untuk dapat menguasai pangsa pasar yang ditargetkan dengan menciptakan citra perusahaan yang baik bagi para konsumennya. Toko harus lebih menonjolkan elemen-elemen yang dapat meningkatkan image toko dan daya tarik konsumen. Fasilitas fisik mempunyai peran yang penting untuk menciptakan positioning toko ritel bagi konsumen. Fasilitas fisik dibagi menjadi tiga bagian, yaitu; a. Lokasi Toko Dalam memilih dan menetapkan lokasi toko ritel, hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah; 1) Lokasi toko yang merupakan wilayah perdagangan atau wilayah operasional sehingga bisnis tersebut bisa berjalan dan berkembang. 2) Ukuran toko yang meliputi besar dan bentuk toko yang menjamin kelancaran berlangsungnya kegiatan toko baik dalam pengadaan barang maupun pelayanan jual-beli sehingga produktifitas tempat yang tersedia bisa maksimal. 3) Layout toko yang terkait dengan arus lalu lintas konsumen, lokasi dan jumlah departemen, luas dan lokasi counter pelayanan konsumen, area penyimpanan, serta suasana di sekitar toko. Terdapat tiga tipe dasar lokasi yang dapat dipilih dalam menentukan lokasi toko ritel, yaitu; 1) Pusat perbelanjaan a) Strip Shopping Center; dan b) Malls.
40 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 40 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 2) Lokasi di kota a) Kompleks perumahan; dan b) Kompleks perkantoran. 3) Freestanding location a) Legal; dan b) Illegal. Sugiarta (2011) menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lokasi toko yaitu; 1) Target Market Peritel harus menentukan konsumen yang akan menjadi pasar sasarannya dengan melihat unsur-unsur geografis, demografis, maupun psikografis sebelum memilih lokasi usaha. 2) Kemudahan Akses Kemudahan konsumen potensial dalam mengakses toko baik saat datang maupun pulang dari toko, termasuk kemudahan mengakses lahan parkir. 3) Density (Kepadatan Penduduk) Dilakukan riset terhadap jumlah populasi atau penduduk yang ada dalam area coverage yang akan dilayani kebutuhan dan keinginannya. Apakah sudah mencukupi sehingga toko ritel bisa berjalan dan berkembang serta sesuai dengan format ritel yang aka dijalankan. 4) Keamanan Lingkungan Usaha Tingkat keamanan lingkungan sekitar agar terhindar dari segala gangguan keamanan dan demi kelangsungan usaha. 5) Usaha Penunjang (Supporting Business) Ada tidaknya bisnis lain yang bisa mendukung secara positif bisnis ritel yang akan didirikan misalnya ATM, bank, cafe, klinik, area bermain sehingga memungkinkan konsumen datang ke suatu area dengan beberapa kebutuhan sekaligus. 6) Tingkat Persaingan (Competitor) Ada tidaknya pesaing untuk usaha sejenis yang akan maupun sudah menjalakan usaha di area tersebut, sekaligus kemudahan pesaing baru untuk bisa masuk ke depannya. 7) Kemudahan Perijinan (License) Kemudahan pengurusan perijinan yang diperlukan mulai pemerintahan tingkat bawah (RT/ RW) hingga pemerintah pusat atau kementerian. b. Tata Letak Toko Penataan area toko dalam mempersembahkan keamanan dan kenyamanan bagi konsumen saat berbelanja. Terdapat tiga jenis tata layout toko, yaitu; 1) Grid Lay out Lay out toko sederhana dengan penataan rak berjajar lurus dan berbaris. Lay out ini sering kita temui di minimarket, supermarket, dan hypermarket. 2) Free-Form Layout/ Boutique Lay out Lay out toko berpola lengkung yang bersifat bebas dan fleksibel menye-
RETAIL 41 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 41 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL suaikan luas ruangan dan jenis barang yang diperjual belikan. 3) Guided Shopper Flows Lay out toko yang menjadikan pelanggan mengikuti alur yang disediakan dan memungkinkan semua area toko dilewati. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun lay out toko ritel adalah; 1) Mengarahkan konsumen berkeliling toko; 2) Memudahkan konsumen berkeliling toko; dan 3) Memudahkan konsumen dalam menemukan barang. c. Desain Toko Desain toko diperlukan dalam memberikan kenyamanan kepada pembeli saat berbelanja. Desain sebuah toko terbagi atas desain eksterior dan desain interior. Desain eksterior mencakup 1) store front; desain ekterior yang menggambarkan perwajahan atau ciri khas toko. 2) Marquee; simbol perusahaan baik berupa tulisan dan gambar maupun dalam bentuk tiga dimensi. 3) Pintu masuk. 4) Jalan masuk. Desain interior adalah penampilan bagian dalam toko yang meliputi penerangan, pewarnaan, dan pengatura suhu ruangan. Interior toko didesain agar pengunjung merasa aman dan nyaman berada di dalam toko. C. Manajemen Bisnis Ritel Manajemen bisnis ritel adalah strategi atas bisnis ritel terhadap keseluruhan faktor dan sumber daya yang mempengaruhi kegiatan perdagangan barang dan jasa kepada konsumen. Terdapat berbagai bidang manajemen yang terdapat dalam bisnis ritel. Bisnis ritel minimal harus memiliki manajemen untuk bidang sumber daya manusia, pemasaran, dan keuangan. 1. Manajemen Sumber Daya Manusia Bisnis ritel memerlukan sumber daya manusia untuk melakukan aktivitas pembelian, penawaran barang, dan melakukan pelayanan kepada pelanggan. Manajemen sumber daya manusia bisnis ritel melakukan pengelolaan sumber daya manusia mulai dari perencanaan sumber daya manusia, termasuk dalam merekrut, menyeleksi, melatih, mengawasi, mengevaluasi, dan memberikan kompensasi, penghargaan, promosi dan mutasi pegawai. Keuntungan kompetitif dapat diperoleh oleh sebuah bisnis ritel atas penerapan manajemen sumber daya manusia, karena; a. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan bisnis ritel merupakan komponen dalam biaya operasional ritel, sehingga efektifitas dan efisiensi pengelolaan karyawan akan menambah keuntungan yang diperoleh. b. Kompetensi karyawan dalam menyeleksi barang dagangan, menata, melakuka administrasi, menyediakan informasi dan bantuan kepada konsumen memberikan kesan dan image tersendiri bagi konsumen yang datang. c. Pengelolaan sumber daya manusia yang baik akan mewujudkan kinerja operasional karyawan ritel yang efektif dan efisien sehingga menghasilkan keuntungan potensial bagi ritel yang sulit atau bahkan tidak dapat ditiru oleh pesaing.
42 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 42 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 2.8. Tugas dan Wewenang Manajemen Sumber Daya Manusia Sumber: https:// www.finansialku.com/ manajemen-sumber-daya-manusia/ Menurut Utami (2017) terdapat beberapa pilihan struktur organisasi, yang ditunjukkan dalam bagan berikut; a. Bagan organisasi fungsional Struktur organisasi ini disusun berdasarkan bagian atau fungsi yang dijalankan perusahaan, misalnya bagian penjualan, pembelian, keuangan, sumber daya manusia, keuangan, pemasaran, dan lain-lain. b. Bagan organisasi berdasarkan produk Struktur organisasi berdasarkan jenis barang dagangan yang dijual oleh bisnis ritel. c. Bagan organisasi berdasarkan geografis Struktur organisasi berdasarkan wilayah geografis yang dilayani oleh ritel. d. Bagan organisasi kombinasi Struktur organisasi yang merupakan perpaduan antara bentuk fungsional, geografis, dan produk yang dijual. Struktur organisasi dibedakan menurut jenis ritel dan ukuran perusahaan, yaitu; a. Organisasi ritel tunggal; b. Organisasi regional; dan c. Organisasi perusahaan dari rantai regional. 2. Manajemen Pemasaran Manajemen pemasaran sebuah bisnis ritel bertanggung jawab dalam merencanakan, mengorganisasi, memberikan pengarahan, dan mengendalikan strategi pemasaran demi eksistensi perusahaan. Strategi pemasaran ritel menurut Utami, Christina (2017) meliputi a. Target pasar ritel Ritel yang berhasil adalah ritel yang memiliki orientasi manajemen pemasaran yang fokus dalam menentukan dan memenuhi kebutuhan dan
RETAIL 43 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 43 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL keinginan konsumen sasaran dengan lebih efektif dan efisien dibanding pesaing. Menentukan target pasar adalah hal yang harus dilakukan pertama kali dengan menentukannya berdasarkan faktor demografis, geografis, psikografis, dan perilaku konsumen. Proses berikutnya setelah target pasar adalah menentukan bauran ritel, yaitu kombinasi elemen-elemen produk, harga, lokasi, personalia, promosi, tampilan toko dalam menjual barang dan jasa ke konsumen akhir yang menjadi target pasarnya. b. Format ritel Format ritel adalah gabungan ritel berdasarkan pada sifat atau ciri barang dan atau jasa yang ditawarkan, kebijakan penentuan harga, jenis pelayanan, program promosi, desain toko, lokasi toko, maupun teknik pemasarannya. Manajemen dapat menentukan ritel dengan format minimarket, supermarket, hypermarket, specialty store, service retailing, e-retailing, dan sebagainya. c. Keunggulan bersaing yang dapat dipertahankan Bisnis ritel harus memiliki keunggulan bersaing yang dapat dipertahankan, yaitu keuntungan dari persaingan yang dpat dipertahankan dalam jangka panjang. Menurut Utami, Christina (2017) terdapat tujuh hal yang penting bagi bisnis ritel dalam rangka mengembangkan keuntungan bersaing yaitu; a. Loyalitas konsumen Aaker (1997) dalam Utami, Chistina (2017) menyatakan “adanya beberapa tingkatan kesetiaan pelanggan yaitu switcher, habitual buyer, satisfied buyer, likes the brand, dan committed buyer”. Switcher adalah pelanggan dengan ciri membeli produk dengan pertimbangan harga sehingga tidak memiliki loyalitas terhadap toko. Habitual buyer adalah pelanggan yang puas dengan kinerja suatu merek dan tidak berminat untuk berpindah ke merek lain jika memerlukan pengorbanan. Satisfied buyer adalah pelanggan yang puas terhadap suatu merek dan bersedia melakukan pengorbanan untuk berpindah ke merek lain. Likes the brand yaitu pelanggan yang benar-benar menyukai suatu merek dan menjadikan toko ritel sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhannya. Committed buyer adalah pelanggan yang merasa bangga saat menggunakan suatu merek dan bersedia merekomendasikan atau mempromosikan kepada pihak lain. b. Lokasi Pemilihan lokasi yang strategis merupakan keputusan penting terkait penggunaan sumber daya jangka panjang yang mempengaruhi pertumbuhan bisnis ritel masa sekarang maupun masa yang akan datang. Lokasi ritel harus strategis dari sisi geografis, demografis, sosio-ekonomis. c. Manajemen Sumber Daya Manusia Karyawan ritel mempunyai peranan penting dalam memberikan layanan konsumen, membangun loyalitas konsumen, dan membangun image sebuah bisnis ritel. d. Sistem distribusi dan informasi Kesuksesan ritel juga tergantung pada efisiensi dalam mengembangkan
44 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 44 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL sistem distribusi dan informasi. Sistem informasi dan distribusi produk yang terintegrasi dengan teknologi akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas bisnis ritel. e. Barang dagangan yang unik Kemenangan dalam persaingan dapat dicapai dengan mengembangkan produk-produk private label atau store label yaitu produk yang dikembangkan dan dipasarkan oleh ritel dan hanya tersedia di ritel tersebut. Private label memberikan keunggulan bagi pebisnis ritel, yaitu (1) Keuntungan penjualan private label lebih besar dibanding merek milik produsen atau prinsipiil.; (2) Private label hanya dapat dibeli di ritel tersebut dan cabangnya dan tidak ditawarkan di ritel pesaing.; (3) Pebisnis ritel bebas dalam mengatur display dan promosi produk private label. f. Hubungan dengan pedagang Pebisnis ritel harus membangun dan memperluas hubungan atau jaringan dengan distributor, supplier, dan pebisnis lain sehingga akan mendapatkan hak ekslusif baik dalam pengiriman maupun ketersediaan produk. g. Layanan konsumen Layanan yang prima untuk konsumen akan menjadi keunggulan bersaing selain penentuan harga rendah. Konsumen juga memerlukan layanan tambahan, misalnya ketersediaan area parkir, toilet, ATM, jasa pengiriman, dan sebagainya. Dalam bisnis ritel terdapat empat tipe pertumbuhan yaitu; a. Penembusan Pasar (market penetration) Merupakan strategi pertumbuhan toko ritel dengan menarik target pasar yang belum berbelanja ke toko dengan cara membuka toko baru maupun dengan memperpanjang jam operasional toko. Strategi ini juga dilakukan dengan penjualan silang yaitu penjualan suatu departemen ditambah dengan penjualan barang dari departemen lain. b. Perluasan Pasar (market expansion) Merupakan strategi pertumbuhan ritel dengan mengambil segmen pasar baru dengan format ritel yang tetap. c. Perkembangan Format Ritel Strategi pertumbuhan ritel dengan menawarkan format ritel baru, menggabungkan format ritel yang berbeda pada target pasar yang sama. d. Diversifikasi Strategi pertumbuhan ritel dengan memperkenalkan format ritel baru secara langsung pada segmen pasar yang belum digarap sebelumnya. 3. Manajemen Keuangan Manajemen keuangan adalah proses atau kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan fungsi pengumpulan dana dan pengalokasian serta pelaporan keuangan untuk sebuah usaha ritel. Manajemen bertanggung-jawab dalam penggalian sumber dana serta pemanfaatan dalam menyediakan sumber daya yang diperlukan usaha ritel. Dana yang diperoleh sebuah usaha ritel bisa berasal dari;
RETAIL 45 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 45 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL a. Sumber internal Modal dari sumber internal adalah modal yang diperoleh dari dana pribadi pemilik perusahaan, dana cadangan laba yang tidak dibagi serta modal saham dan laba ditahan bagi usaha ritel yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). b. Sumber eksternal Modal dari sumber eksternal adalah modal yang diperoleh perusahaan dari pihak-pihak di luar perusahaan, baik perorangan, supplier, lembaga keuangan perbankan, maupun lembaga keuangan non perbankan. Modal eksternal bisa berupa hutang dagang, hutang bank, wesel bayar, hutang obligasi, hutang hipotek, dan sebagainya. Manajemen keuangan harus melakukan perencanaan keuangan mencakup proyeksi kebutuhan dana, proyeksi penjualan, proyeksi keuntungan, maupun proyeksi arus kas. Berdasarkan proyeksi tersebut ditentukan alternatif sumber dana maupun pengalokasiannya dalam rangka pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan. Pengalokasian dana perusahaan baik yang berasal dari internal maupun eksternal adalah digunakan untuk pembiayaan pengelolaan aset. Aset adalah harta kekayaan perusahaan yang pemanfaatannya akan menghasilkan nilai ekonomis atau keuntungan. Aset usaha ritel meliputi persediaan barang dagangan, perlengkapan, peralatan, gedung, dan kendaraan yang digunakan. Gambar 2.9. Ilustrasi tugas dan wewenang manajemen keuangan Sumber: https:// philmckinney.com/ design-thinking-and-innovation-a-real-life-example/ Secara umum usaha ritel memiliki aset yang terbagi atas; a. Aset lancar; yaitu aset yang jangka waktu pemakaiannya tidak lebih dari satu tahun periode. Contoh dari aset ini adalah kas, simpanan bank, persediaan barang dagangan, piutang, dan perlengkapan. b. Aset tetap; yaitu aset yang bisa dipakai dalam jangka waktu lebih dari satu tahun periode. Contoh dari aset ini adalah peralatan display, gedung, mesin
46 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 46 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL dan peralatan transaksi, kendaraan, dan tanah. c. Aset berwujud; yaitu aset yang memiliki keberadaan fisik, dapat dipegang, disentuh, dan terlihat. Contoh dari aset ini adalah segala perlengkapan dan peralatan yang dipakai dalam aktivitas bisnis. d. Aset tidak berwujud; yaitu aset yang tidak memiliki keberadaan fisik, tidak dapat dipegang, tidak dapat disentuh, dan tidak terlihat. Contoh dari aset ini adalah good will (nama baik perusahaan), hak merek, hak cipta, hak paten, maupun perizinan. Beberapa indikator keuangan yang digunakan dalam bisnis ritel adalah a. Penjualan bersih Penjualan bersih mengacu berapa omset penjualan produk yang diperoleh dengan memperhitungkan adanya retur penjualan dan potongan/ diskon yang diberikan. Meskipun nilai penjualan kotor suatu usaha tinggi namun jika perusahaan memberikan diskon yang banyak kepada konsumen, atau kemungkinan tingkat retur penjualan maka akan mengakibatkan nilai penjualan bersih rendah. Potongan harga yang berikan kepada konsumen dapat berupa rabat, tarra, rafaksi, potongan tunai dan lain-lain. b. Beban operasional Sebuah usaha ritel harus membayar berbagai biaya yang terkait langsung dengan usahanya. Biaya tersebut diantaranya adalah biaya tenaga kerja, biaya sewa tempat, biaya listrik, biaya air, biaya kerusakan dan kehilangan barang, biaya perlengkapan (kemasan produk, alat tulis kantor, dan lainlain), biaya penyusutan peralatan dan sebagainya. Manajemen keuangan harus memperhitungkan prosentase pengeluaran biaya operasional dibanding penjualan yang diterima. c. Beban nonoperasional Usaha ritel juga harus membayar biaya-biaya yang tidak terkait langsung dengan usahanya seperti biaya bunga pinjaman atas pemanfaatan modal pinjaman. d. Margin laba kotor (gross profit margin) Laba kotor (gross profit) merupakan penjualan bersih yang dikurangi dengan harga pokok penjualan. Harga pokok penjualan adalah harga pokok barang atau produk yang dijual dari suatu usaha ritel. Semakin rendah harga pokok penjualannya, maka semakin tinggi tingkat margin laba kotor. Margin laba kotor diperoleh dengan membandingkan antara laba kotor dengan nilai penjualan bersih. Margin Laba Kotor =
RETAIL 47 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 47 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Semakin tinggi prosentasegross profit margin, maka semakin menguntungkan usaha ritel tersebut. e. Margin laba bersih Laba bersih (net profit) adalah seberapa besar keuntuangn (setelah pajak) yang didapat perusahaan, yaitu laba kotor yang dikurangi dengan semua beban operasional maupun non operasional yang dikeluarkan. Margin Laba Bersih = Semakin tinggi prosentase net profit margin, maka semakin menguntungkan usaha ritel tersebut. f. Tingkat Pengembalian Modal (Return On Investment/ ROI) Tingkat pengembalian modal menunjukkan seberapa besar kontribusi keuntungan bersih suatu periode dalam mengembalikan nilai investasi perusahaan sehingga akan memberikan gambaran mengenai berapa jangka waktu yang dibutuhkan sehingga nilai investasi akan kembali. ROI merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari modal yang diinvestaikan atau dengan kata lain seberapa besar investasi yang telah dilakukan dapat dikembalikan dalam bentuk keuntungan. ROI mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutup investasi yang dikeluarkan. Rasio ini mengukur jumlah rupiah laba bersih (setelah pajak) yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah investasi yang dikeluarkan. Semakin besar rasionya semakin baik dan menguntungkan. g. Return On Equity (ROE) ROE merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih atas modal sendiri yang disetorkan oleh pemilik modal atau investor. Semakin besar rasionya semakin baik dan menguntungkan. h. Return On Assets (ROA) ROA merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dengan menggunakan seluruh aktiva yang miliki.
48 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 48 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Semakin besar rasionya semakin baik dan menguntungkan. i. Net Present Value (NPV) Net Present Value adalah nilai bersih sekarang yang merupakan present value kas bersih dengan present value investasi selama umur investasi Jika diperoleh NPV positif proyek diterima, dan jika NPV negatif proyek ditolak. j. Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan indikator tingkat efisiensi suatu investasi dengan membandingkan laju pengembalian (rate of return) dengan laju pengembalian investasi jenis lain misalnya deposito bank. Jika rate of return investasi lebih besar dari rate of return investasi lain maka proyek layak dijalankan dan sebaliknya. k. Perputaran aset (asset turnover) digunakan untuk mengukur tingkat produktivitas harta yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan. Rasio perputaran aset juga digunakan untuk melihat tingkat kemampuan perusahaan dalam menciptakan penjualan dengan menggunakan seluruh aset yang dimiliki. Perputaran Aset = Semakin tinggi tingkat perputaran menunjukkan bahwa aset usaha ritel memiliki produktivitas yang tinggi. l. Solvabilitas Tingkat kesehatan keuangan perusahaan juga dilihat dari tingkat solvabilitas yaitu kemampuan keuangan perusahaan dalam memenuhi kewajiban atau hutang-hutang yang dimiliki. Perusahaan harus bisa mengelola dana pinjaman baik jangka pendek maupun jangka panjang yang diperoleh serta bisa melunasi tepat waktu tanpa mengganggu aktivitas bisnis. Tingkat solvabilitas diperoleh dengan membandingkan nilai kewajiban atau hutang dengan nilai aset yang dimiliki. Rasio solvabilitas diantaranya: a. Debt to Asset Ratio Melihat kemampuan perusahaan dalam melunasi semua kewajiban dengan membandingkan total kewajiban dengan total aktiva. Debt to Asset Ratio = b. Debt to Equity Ratio Melihat kemampuan perusahaan dalam melunasi semua kewajiban dengan membandingkan total kewajiban dengan total modal bersih (ekuitas) setelah dikurangi dengan pelunasan semua kewajiban. Debt to Equity Ratio =
RETAIL 49 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 49 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL c. Tangible Assets Debt Coverage Melihat kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban jangka panjang dengan membandingkan total kewajiban jangka panjang dengan total aset atau aktiva tetap berwujud yang dimiliki perusahaan. Tangible Assets Debt Coverage = LEMBAR PRAKTIKUM Bentuk kelompok yang beranggotakan empat orang siswa. Lakukan wawancara pada sebuah bisnis ritel yang ada di sekeliling anda, dan lengkapi tabel berikut! 1. Nama Kelompok; 2. Nama Usaha Ritel; 3. Bidang Usaha; dan 4. Bidang-Bidang manajemen. KET. MANAJEMEN PUNCAK MANAJEMEN PERSONALIA MANAJEMEN KEUANGAN MANAJEMEN PEMASARAN TENAGA OPERASIONAL NAMA TUGAS & TANGGUNG JAWAB WEWENANG CAKRAWALA Lima Pekerjaan Yang Bermanfaat Untuk Mengembangkan Bisnis Dalam menjalankan suatu bisnis, sebagian pebisnis langsung terjun dalam mengelola bisnisnya, namun banyak yang melakukan persiapan untuk mengelola sebuah bisnis degan bekerja terlebih dulu untuk mengumpulkan ilmu dan modal agar lebih mapan. Jika diawali dengan mencari pengalaman dengan bekerja dahulu sebelum berbisnis, berikut lima pekerjaan yang dapat dilakukan dalam Liputan6.com yang dikutip dari Entrepreneur, Selasa (13/ 08/ 2019) yaitu;
50 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL CAKRAWALA 1. Ritel Pengalaman bekerja di ritel diperlukan untuk memahami seluk-beluk mengelola bisnis, pengelolaan alur barang dan jasa, bertukar ilmu dengan bagian customer service dan kasir utuk mengetahui bagaimana cara melakukan melayani konsumen dan menghadapi keberatan atau komplain. 2. Industri makanan Dalam industri makanan, dapat diperoleh pengalaman tentang pengelolaan dan penyimpanan makanan, rasa makanan, penyajian makanan, menjaga antrian pengunjung, serta memastikan makanan tetap lezat meskipun dimasak dengan waktu yang cepat. 3. Tenaga Penjualan Bekerja sebagai sales ternyata bisa memberikan ilmu menjual produk sebanyak-banyaknya, bisa berkomunikasi dengan baik kepada konsumen, mengerti keinginan, bagaimana cara mengakomodasi kebutuhan konsumen bahkan merekomendasikan produk pada mereka sehingga bisa menjadi bekal untuk mengembangkan produk agar lebih baik dan sempurna. 3. Customer Service Bekerja sebagai customer service adalah belajar bagaimana melatih kesabaran dalam menghadapi konsumen, siap mendengar kritik, komplain bahkan makian dari konsumen yang tidak puas, handal menyiapkan jawaban yang bisa membuat konsumen tenang dan menunggu perbaikan produk atau fasilitas. 4. Manajemen Bekerja sebagai kepala divisi akan diperoleh pengetahuan dan ketrampilan bagaimana mengelola bisnis dan mekanisme teknis bisnis karena seluk-beluk bisnis sesungguhnya diketahui oleh kepala divisi dan sub manajer. JELAJAH INTERNET Dalam rangka menambah pengetahuan dan wawasan Anda mengenai manajemen bisnis ritel juga dapat mempelajari secara mandiri melalui internet. Di sana Anda akan dapat memperoleh penjelasan melalui text maupun video, adapun salah satu website yang dapat Anda kunjungi untuk menambah wawasan serta pemahaman tentang manajemen bisnis ritel adalah sebagai berikut: https:// www.etpgroup.com/ id/ memahamiritel-omni-channel/
RETAIL 51 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RANGKUMAN Manajemen adalah suatu ilmu, seni, dan proses dalam mengatur atau mengelola suatu kelompok maupun organisasi dalam memenuhi tujuan yang sudah direncanakan atau disepakati bersama dengan cara memanfaatkan sumber daya yang ada. Manajemen bisnis ritel adalah strategi terhadap keseluruhan faktor-faktor yang berpengaruh dalam perdagangan langsung barang dan jasa kepada konsumen. Tingkatan manajemen meliputi manajemen puncak, manajemen tingkat menengah, dan manajemen lini pertama. Empat fungsi yang utama manajemen, yaitu: planning, organizing, directing, dan controlling. Bauran ritel atau disebut dengan retail mix adalah kombinasi elemenelemen produk, harga, lokasi, personalia, promosi dan presentasi atau tampilanuntuk menjual barang dan jasapada konsumen akhir yang menjadi target pasar. Komponen bauran ritel (retailing mix) menurut Utami (2010) antara lain: “produk, harga, promosi, pelayanan, dan fasilitas fisik”. Manajemen sumber daya manusia bisnis ritel melakukan pengelolaan sumber daya manusia mulai dari perencanaan sumber daya manusia, termasuk dalam merekrut, menyeleksi, melatih, mengawasi, mengevaluasi, dan memberikan kompensasi, penghargaan, promosi dan mutasi pegawai. Manajemen pemasaran sebuah bisnis ritel bertanggung jawab dalam merencanakan, mengorganisasi, memberikan pengarahan, dan mengendalikan strategi pemasaran demi eksistensi perusahaan. Manajemen bertanggung-jawab dalam penggalian sumber dana serta pemanfaatan dalam menyediakan sumber daya yang diperlukan usaha ritel. TUGAS MANDIRI Buatlah sebuah artikel dengan tema manajemen bisnis ritel tradisional dan modern. Lakukan kajian pustaka dan pengamatan untuk melengkapi isi artikel Anda. PENILAIAN AKHIR BAB Jawablah pertanyaan berikut dengan benar! 1. Apakah yang kalian ketahui tentang pengertian manajemen bisnis ritel? 2. Jelaskan pentingnya penerapan dari prinsip manajemen pembagian kerja dan kesatuan dalam bisnis ritel. Berikan contoh penerapannya! 3. Apa yang terjadi jika tidak ada fungsi perencanaan dalam sebuah manajemen bisnis ritel? 4. Menurut Anda apa penyebab tutupnya bebarapa usaha ritel seperti Seven7 dan Giant akhir-akhir ini banyak yang tutup? Berikan analisa anda!
52 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENILAIAN AKHIR BAB 5. Apakah penetapan harga rendah akan selalu memenangkan persaingan dari sebuah bisnis ritel? Jelaskan pendapat anda! 6. Berikan contoh dari penerapan penetapan harga berdasarkan nilai yang dipersepsikan! 7. Berikan contoh dari jenis pelayanan kepada konsumen menurut Dunne Lusch dan Griffin! 8. Apa saja lingkup tugas dari manajemen sumber daya manusia sebuah bisnis ritel? 9. Berikan contoh dari empat tipe pertumbuhan bisnis ritel! 10. Diketahui total investasi awal sebuah usaha ritel senilai Rp 500.000.000,00, jika keuntungan bersih per tahun diperkirakan sebesar Rp. 60.000.000,00 maka hitunglah tingakt ROI dan tentukan berapa tahun kira-kira investasi awal tersebut akan kembali! REFLEKSI Setelah mempelajari bab kedua ini Anda tentunya telah memahami tentang ruang lingkup manajemen dan manajemen bisnis ritel. Dari materi tersebut mana yang menurut Anda paling sulit untuk dipahami? Coba Anda diskusikan dengan teman sebangku atau tanyakan kepada bapak atau ibu guru pengajar, sehingga Anda akan memiliki dasar pengetahuan untuk mempelajari materi-materi yang selanjutnya.
RETAIL 53 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI BAB III KESEHATAN, KESELAMATAN, DAN KEAMANAN KERJA RUANG LINGKUP K3 K3 DALAM BISNIS RITEL KESEHATAN, KESELAMATAN, DAN KEAMANAN KERJA 1. Konsep K3 2. Kecelakaan Kerja 3. Peraturan tentang K3 1. Rambu-Rambu K3 2. Peralatan dan Perlengkapan K3 3. Alat Pelindung Diri 4. Kecelakaan dalam Bisnis Ritel PETA KONSEP Setelah mempelajari materi baba ini, siswa dapat mendeskripsikan ruang lingkup Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan peraturan-peraturan Kesehatan dan Keselamatan Kerja secara benar, serta menjabarkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam bisnis ritel secara rinci. Kesehatan, Keselamatan, Keamananan, Kerja, Bisnis ritel BAB III KESEHATAN, KESELAMATAN, DAN KEAMANAN KERJA
54 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENDAHULUAN Gambar 3.1. Lambang K3 Sumber: hima-k3.ppns.ac.id Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), merupakan salah satu aspek perlindungan bagi tenaga kerja yang diatur dalam Undang-Undang. Setidaknya ada tiga aIasan mengapa K3 harus diimplementasikan dalam jenis pekerjaan apa pun yaitu pertama, perlindungan hidup dan kesehatan di tempat kerja merupakan hak mendasar setiap pekerja. Kedua aspek hukum tanggung jawab pemerintah dan pengusaha untuk menjamin bahwa lingkungan kerja aman dan sehat. Ketiga adalah aspek ekonomis yaitu untuk mencegah kerugian akibat cedera dan sakit pekerja, kerusakan aset, dan image negatif dari masyarakat. MATERI PEMBELAJARAN A. Ruang Lingkup Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja 1. Konsep Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja Gambar 3.2. Tema Peringatan Bulan K3 Nasional Tahun 2020 Sumber: https:// www.picuki.com/ tag/ rspku Kesehatan kerja adalah kondisi kesehatan yang meliputi jasmani, rohani, dan sosial dari pekerja dengan berbagai upaya pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan akibat pekerjaan, lingkungan kerja, dan penyakit umum.
RETAIL 55 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 55 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Menurut Undang-Undang Pokok Kesehatan RI No. 9 Tahun 1960, BAB I pasal 2, “keadaan sehat diartikan sebagai kesempurnaan keadaan jasmani, rohani, dan kemasyarakatan”. Keselamatan kerja adalah keselamatan terkait tempat, lingkungan, peralatan, dan cara kerja dalam proses pekerjaan. Sasaran keselamatan kerja adalah semua tempat kerja. Tujuan keselamatan kerja adalah; a. Melindungi pekerja dan selain pekerja di tempat kerja; b. Menjamin pemanfaatan sumber produksi secara aman dan efisien; c. Menjamin proses produksi secara aman; dan d. Mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit akibat pekerjaan. Unsur-unsur penunjang keselamatan kerja adalah sebagai berikut: a. Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja; b. Adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja; c. Ketelitian dalam bekerja; serta d. Melaksanakan prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan kesehatan kerja. Keamanan kerja adalah unsur penunjang yang mendukung terciptanya suasana kerja yang aman secara materiil maupun nonmateriil. Unsur-unsur penunjang keamanan yang bersifat materiil diantaranya adalah baju kerja, helm, kaca mata, sarung tangan, sepatu, dan lain-lain sedangkan unsur penunjang keamanan yang bersifat nonmateriil adalah; a. Buku petunjuk penggunaan alat; b. Rambu-rambu dan isyarat bahaya; dan c. Himbauan-himbauan. Kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja adalah upaya perlindungan tenaga kerja agar selalu dalam keadaan sehat dan selamat selama bekerja di tempat kerja. Kesehatan dan keselamatan kerja adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kesehatan dan keselamatan dalam bekerja untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja serta menciptakan kenyamanan kerja suatu perusahaan. K3 juga berfungsi untuk melindungi semua sumber produksi agar dapat digunakan secara efektif. Sasaran Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah; a. Menjamin operator dan orang lain aman; b. Menjamin proses produksi aman dan lancar; dan c. Menjamin penggunaan peralatan secara aman. 2. Kecelakaan Kerja Dalam rangka menerapkan Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja, para pekerja harus diberikan pelatihan mengenai jenis-jenis bahaya yang ada yang meliputi; a. Bahaya Jenis Kimia Jenis bahaya yang berasal dari berbagai bahan kimia yang berpotensi merusak kesehatan jika terhirup atau terjadi kontak seperti gas kimia beracun, uap bahan kimia, dan abu sisa pembakaran bahan kimia. b. Bahaya Jenis Fisika Jenis bahaya yang berasal dari berbagai hal yang berhubungan dengan fisika dan berpotensi merusak kesehatan dan keselamatan jika terjadi kontak. Contohnya adalah;
56 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 56 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 1) Temperatur udara yang ekstrim (terlalu dingin atau terlalu panas); 2) Kebisingan suara; dan 3) Udara kotor. c. Bahaya Jenis Pekerjaan Bahaya yang berasal dari jenis pekerjaan yang dapat merusak kesehatan dan mengancam keselamatan jiwa pekerja. Contohnya adalah; 1) Minimya penerangan di lokasi kerja yang dapat merusak penglihatan; 2) Pekerjaan pengangkutan barang dengan tenaga manusia yang mengakibatkan cedera; dan 3) Penggunaan mesin atau peralatan dengan Alat Pelindung Diri yang kurang lengkap atau tidak sesuai standar operasional prosedur yang aman dapat mengakibatkan pekerja mengalami cedera. Kecelakaan kerja dapat terjadi akibat: 1) Mesin; 2) Alat angkutan; 3) Peralatan kerja yang lain; 4) Bahan kimia; 5) Lingkungan kerja; dan 6) Penyebab yang lain. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam pelaksanaan K3, adalah: 1) Lingkungan Kerja Kondisi lingkungan kerja harus memadai dan menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja maupun orang lain yang berada di tempat tersebut baik terkait suhu, ventilasi, penerangan, maupun situasi kerja. 2) Alat Kerja dan Bahan Kesiapan, kelengkapan, dan jaminan keamanan pengoperasian atas alat kerja dan bahan yang digunakan perusahaan dalam melakukan kegiatan operasional. 3) Metode Kerja Harus ada standar operasional prosedur yang ditetapkan dalam melakukan suatu pekerjaan sehingga tujuan pekerjaan tercapai secara efektif dan efisien dengan tetap terjaga keselamatan dan kesehatan kerjanya. Keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebuah instrumen yang melindungi perusahaan, pekerja, lingkungan hidup, serta masyarakat sekitar area potensi bahaya akibat kecelakaan kerja. Tujuan utama dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah mencegah, dan mengurangi risiko kecelakaan kerja. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara perusahaan harus melengkapi pekerjanya dengan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai dengan tingkatan bahaya serta risiko dari pekerjaaan untuk menjaga keselamatan pekerja dan orang lain yang berada disekitarnya. Beberapa jenis peralatan dan perlengkapan keselamatan kerja yang sering dipakai di sebuah perusahaan diantaranya adalah;
RETAIL 57 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 57 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 1) Rompi Reflektor: 2) Helm Pengaman; 3) Kacamata Pengaman; 4) Sepatu Pengaman; dan 5) Sarung Tangan Pengaman. 3. Peraturan Yang Mengatur K3 a. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja Bab I Tentang Istilah-Istilah Bab II Ruang Lingkup Bab III Syarat-Syarat Keselamatan Kerja Bab IV Pengawasan Bab V Pembinaan Bab VI Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bab VII Kecelakaan Bab VIII Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja Bab IX Kewajiban Bila Memasuki Tempat Kerja Bab X Kewajiban Pengurus Bab XI Ketentuan-Ketentuan Penutup b. Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 Kesehatan Kerja diatur dalam Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 Bagian 6 tentang Kesehatan Kerja, Pada pasal 23 yang berisi: 1) Kesehatan kerja diselenggarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal; 2) Kesehatan kerja meliputi perlindungan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja, dan syarat kesehatan kerja; dan 3) Setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja. c. Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 Kewajiban penerapan Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja (K3) tertuang dalam UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 pasal 86 dan 87. Pasal 86 1. Setiap pekerja/ buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas: a. Keselamatan dan kesehatan kerja; b. Moral dan kesusilaan; dan c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilainilai agama. 2. Untuk melindungi keselamatan pekerja/ buruh guna mewujudkan produktifitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. 3. Perlindungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 87 1. Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.
58 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 58 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 2. Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. B. Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam Bisnis Ritel 1. Rambu-Rambu K3 Dalam rangka mencegah terjadinya kecelakaan kerja baik bagi pekerja maupun pelanggan, bisnis ritel harus memasang rambu-rambu dan K3 yang diperlukan, diantaranya; a. Rambu-rambu lantai/ Floor Sign Perusahaan wajib memasang floor sign atau tanda peringatan pada lantai yang basah atau sedang dibersihkan. Fungsi dari floor sign sebagai papan tanda peringatan agar orang yang akan melintas berhati-hati karea lantai lici atau basah membahayakan bagi orang yang akan melintas. Gambar 3.3 Rambu-Rambu Lantai Sumber: https:// news.ralali.com/ fungsi-floor-sign/ b. Rambu-Rambu Listrik Tegangan Tinggi Rambu-rambu ini untuk mengingatkan pekerja atau orang yang berada di tempat tersebut berada di area listrik bertegangan tinggi dan berbahaya. Beberapa bahaya atau kecelakaan kerja yang bisa muncul adalah hilang kesadaran, kejang otot, luka bakar, hingga gagal jantung dan kematian jika tersengat arus listrik bertegangan tinggi tersebut.
RETAIL 59 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 59 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 3.4. Rambu-Rambu Listrik Tegangan Tinggi Sumber:Dokumen Pribadi c. Rambu-rambu tangga darurat Tangga darurat diperlukan jika terjadi kejadian mati lampu, kebakaran, maupun hal lain yang menyebabkan eskalator maupun lift tidak bisa digunakan. Posisi tangga darurat harus diketahui oleh karyawan maupun konsumen sehingga perlu dipasang rambu-rambu. Gambar 3.5.: Rambu-Rambu Tangga Darurat https:// www.synergysolusi.com/ tangga-darurat-tangga-kebakaran.html d. Rambu-rambu pintu darurat Begitu juga dengan pintu darurat, karywan dan konsumen harus mengetahui posisi pintu darurat jika terjadi hal-hal yang membahayakan, misalnya gempa bumi, kebakaran, dan lain-lain.
60 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 60 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 3.6 Rambu-Rambu Pintu Darurat https:// www.pulsk.com/ 124444/ e. Rambu-rambu titik kumpul Saat terjadi kejadian yang membahayakan, maka karyawan mauun konsumen dihimbau untuk menuju titik kumpul di tempat yang aman sehingga mudah dalam evakuasi atau penanganan selanjutnya. Gambar 3.7 Rambu-Rambu Titik Kumpul https:// www.tokopedia.com/ tripmastore/ rambu-rambu-lalu-lintas-titik-kumpul-assembly-point f. Rambu-Rambu Tempat Parkir Dalam rangka memberikan layanan yang prima kepada konsumen, toko ritel hendaknya menyediakan tempat parkir yang nyaman. Untuk itu konsumen perlu mengetahui tempat parkir yang telah disediakan sehingga memungkinkan parkir dengan aman dan nyaman. Gambar 3.8.Rambu-Rambu Tempat Parkir https:// batam.tribunnews.com/ 2016/ 08/ 26/ kadishub-batam-leat-jam-8-malam-jangan-mau-bayar-parkir-karena-ituilegal
RETAIL 61 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 61 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 2. Peralatan dan Perlengkapan K3 Dalam rangka mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan menjamin keamanan dan keselamatan kerja, terdapat beberapa peralatan dan perlengkapan yang harus ada di tempat kerja terutama dalam bisnis ritel, yaitu; a. APAR APAR (Alat Pemadam Api Ringan) atau fire extinguisher adalah alat yang digunakan untuk memadamkan api atau mengendalikan kebakaran kecil umumnya berbentuk tabung yang berisi bahan pemadam api bertekanan tinggi. APAR merupakan peralatan yang wajib disediakan oleh setiap perusahaan untuk mencegah kebakaran. Gambar 3.9 APAR Sumber: Dokumen Pribadi b. Detector kebakaran Toko ritel hendaknya menyediakan detector kebakaran atau fire alarm system untuk mendeteksi terjadinya kebakaran sehingga kebakaran bisa diatasi dengan lebih cepat dan tepat serta bisa meminimalisir kerugian.
62 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 62 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 3.10 Detector kebakaran Sumber: Dokumen Pribadi c. Hydrant Pemadam Kebakaran Hydrant pemadam kebakaran adalah sebuah alat atau terminal penghubung untuk bantuan darurat saat terjadi kebakaran. Hydrant pemadam kebakaran berupa alat yang terdapat di atas tanah yang menyediakan akses pasokan air untuk memadamkan kebakaran. Gambar 3.11. Hydrant Box Sumber: Dokumen Pribadi d. CCTV/ Closed Circuit Television CCTV diperlukan guna menjamin keamanan baik di dalam maupun di area sekitar toko sekaligus sebagai upaya mencegah pencurian atau kejahatan.
RETAIL 63 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 63 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 3.12 CCTV Sumber: Dokumen Pribadi e. Tangga darurat Dalam rangka mengantisipasi lift yang tidak bisa digunakan akibat rusak atau listrik mati, toko ritel harus menyediakan tangga darurat sekaligus sebagai jalan keluar darurat. Gambar 3.13 Tangga Darurat https:// bengkellas.madaniah.co.id/ harga-railing-tangga-darurat-kota-yogyakarta/ f. AC/ Air Conditioner Dalam rangka menjaga kenyamanan dan kesehatan kerja sekaligus menjaga kualitas produk yang dijual oleh toko ritel, maka hendaknya dipasang AC sesuai dengan kebutuhannya.
64 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 64 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 3.14 Air Canditioner Sumber: Dokumen Pribadi 3. Alat Pelindung Diri Pekerja dalam sebuah bisnis ritel hendaknya mengenakan Alat Pelindung Diri terkait dengan pelaksanaan tugasnya. Alat Pelindung Diri dalam bisnis ritel diantaranya adalah: a. Sepatu pengaman; pekerja yang melakukan pekerjaan di area licin; b. Helm; saat menggunakan forklift; c. Sarung tangan pengaman; d. Apron; e. Topi; f. Masker; dan g. Sepatu pengaman. Gambar 3.15 Alat Pelindung Diri departemen Fresh Sumber: Dokumen Pribadi 4. Kecelakaan Kerja dalam Bisnis Ritel Dalam bisnis ritel terdapat beberapa aktifitas yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja, yaitu; a. Pengoperasian Forklift Bahaya dari pengoperasian forklift yang mungkin adalah terjadinya kecelakaan yang melibatkan konsumen atau pekerja lain, forklift yang roboh saat mengangkat beban, terjatuhnya beban dari forklift, pekerja
RETAIL 65 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 65 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL yang tertimpa beban, dan tabrakan dengan forklift lain. Gambar 3.16.: Pengoperasian Forklift Sumber: Dokumen Pribadi Upaya pencegahan terjadinya kecelakaan kerja saat pengoperasian forklift adalah; 1) Pelatihan bagi operator forklift; 2) Perawatan forklift secara rutin; 3) Pemeriksaan forklift secara menyeluruh; 4) Operator menggunakan sabuk pengaman sebelum mengoperasikan forklift; 5) Pengoperasian forklift sesuai Standard Operational Procedure yang telah ditetapkan; 6) Mengangkut beban sesuai kapasitas yang telah ditetapkan. Kapasitas maksimal yang tertera pada load chart; 7) Mengoperasikan forklift sesuai dengan batas kecepatan yang ditetapkan; 8) Mengurangi kecepatan saat melewati tikungan, persimpangan, gundukan, jalan yang licin, area sempit, dan saat banyak pejalan kaki; 9) Tidak bercanda dan mengoperasikan forklift dengan ugal-ugalan serta tidak menggunakannya selain untuk mengangkat beban; serta 10) Penetapan jarak aman sekitar tiga meter antara forklift dengan pejalan kaki maupun dengan forklift lain.
66 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 66 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL b. Teknik Manual Lifting/ Handling Teknik manual lifting/ handling yang biasa dilakukan dalam memindahkan barang bisa menimbulkan bahaya atau kecelakaan kerja yaitu jika teknik manual lifting/ handling dilakukan secara tidak tepat maka akan mengakibatkan risiko cedera otot dan tulang, serta kelelahan. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan dalam teknik manual lifting/ handling adalah: 1) Mengidentifikasi risiko yang mungkin muncul dalam aktivitas manual handling; 2) Lakukan penggantian teknik manual handling dengan teknik pengangkatan mekanis; 3) Lakukan teknik manual handling dengan benar, diantaranya: a) Perhatikan garis kekuatan, artinya sikap tubuh dengan memosisikan kaki ke arah beban yang diangkat. Posisi kaki kudakuda meningkatkan kekuatan dalam mengangkat beban berat; b) Memposisikan beban dekat dengan tubuh dan tulang punggung harus tetap tegak saat mengangkat beban; c) Beban tetap dekat dengan pinggang saat benda dipindahkan; d) Bebas hambatan dan gangguan bagi pekerja dan tempat kerja; e) Saat menuruni tangga atau lorong gunakan teknik jalan dengan menyamping; f) Kepala tetap tegak dan pandangan lurus ke depan; dan g) Tidak mengangkat beban yang melebihi batas berat. Gambar 3.17 Cara Mengangkat Benda yang Benar Sumber: https:// twitter.com/ plkui/ status/ 559606820277190656
RETAIL 67 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 67 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL c. Hazard Communication Komunikasi bahaya atau hazard communication adalah suatu cara untuk menunjukkan bahwa suatu benda atau area mengandung suatu bahaya. Dengan adanya petunjuk atas adanya suatu bahaya maka setiap pekerja mengantisipasinya dengan langkah pencegahan seperti menggunakan Alat Pelindung Diri. Bahaya yang mungkin muncul saat terjadi kelalaian dalam hal hazard communication adalah terhirupnya bahan kimia beracun, bahan kimia yang mengenai mata, luka bakar akibat tumpahan atau percikan bahan kimia berbahaya. Upaya pencegahan dan penanganan yang dapat diambil adalah; 1) Setiap bahan kimia berbahaya harus disertai data Material Safety Data Sheet (MSDS) yang lengkap; 2) Memasang rambu-rambu K3 terkait bahan kimia dengan jelas dan dipahami oleh pekerja; 3) Menangani bahan kimia berbahaya sesuai petunjuk pada MSDS; 4) Memberikan pelatihan kepada karyawan mengenai risiko dan penanganannya; 5) Menyediakan perlengkapan dan peralatan yang diperlukan untuk membersihkan; 6) Membuat Standard Operational Procedure tertulis terkait penanganan tumpahan bahan kimia; 7) Menggunakan alat pelindung diri; dan 8) Menyimpan semua bahan kimia di tempat khusus dan aman. d. Alat Pelindung Diri (APD) Tidak menggunakan APD atau menggunakan APD yang tidak tepat bisa menimbulkan bahaya atau kecelakaan kerja. Perusahaan harus mengidentifikasi potensi bahaya yang ada di area kerja dan mewajibkan pekerja untuk menggunakan APD yang sesuai dengan potensi bahaya yang ada di area kerja. e. Penyusunan Palet atau Barang di Rak (Racking) Dalam mendisplay barang di rak toko maupun di gudang yang tidak tepat bisa mengakibatkan barang jatuh dan menimbulkan cedera bagi pekerja atau konsumen. Tindakan pencegahan terjadinya kecelakaan kerja dalam penyusunan palet atau barang adalah; 1) Tidak menggunakan palet yang rusak; 2) Tidak menyimpan barang yang bebannya berlebih di atas palet; 3) Menyimpan palet yang tidak dipakai di tempat khusus; 4) Meletakkan palet atau tumpukan barang di permukaan yang datar; 5) Barang yang lebih berat ditempatkan di posisi rak paling bawah atau menengah; 6) Tidak memanjat dan menggunakan tumpukan palet sebagai akses bekerja; 7) Memasang pengaman untuk mengantisipasi benda yang jatuh; 8) Palet atau barang disusun dengan rapi dan aman; 9) Secara berkala hendaknya dilakukan pemeriksaan kondisi rak oleh
68 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 68 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL orang yang kompeten; dan 10) Mengunakan Alat Pelindung Diri yang diperlukan seperti helm pengaman, sarung tangan, sepatu pengaman saat bekerja di area gudang. Gambar 3.18 Tumpukan Palet yang Tidak Membahayakan Sumber: Dokumen Pribadi f. Terpeleset dan Tersandung (Slip & Trip) Dalam kegiatan operasional ritel dimungkinkan terjadi kecelakaan terpeleset dan tersandung yang dapat menimbulkan cedera otot, cedera tulang, bahkan bisa berakibat fatal pada kematian. 1) Penyebab terpeleset diantaranya adalah adanya tumpahan cairan atau bahan kering, serta penggunaan alas kaki yang tidak tepat; dan 2) Penyebab tersandung adalah banyaknya hambatan di area pejalan kaki, kerusakan lantai, perubahan ketinggian lantai, serta kurangnya kualitas penerangan. Tindakan pencegahan terjadinya kecelakaan kerja dalam hal ini adalah;
RETAIL 69 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 69 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL a) Menghilangkan berbagai jenis kontaminasi atau penghalang pada lantai kerja; b) Menggunakan cara pembersihan lantai yang tepat seperti; (1) Spot cleaning; (2) Mopping; (3) Sweeping; (4)Wet vacuuming; dan (5)Dry vacuuming. c) Merencanakan rute operasi kerja yang terhindar dari hambatan; d) Memasang pelapis anti slip pada lantai; e) Memasang rambu-rambu sesuai potensi bahaya yang bisa terjadi di area kerja; f) Menjamin kualitas pencahayaan yang memadai; g) Melakukan pemeriksaan kondisi lantai kerja; h) Menutup kabel listrik atau selang yang menjadi hambatan dalam bekerja; dan i) Menggunakan alas kaki yang tepat dan anti slip. g. Penerapan Ergonomi di Area Gudang Bahaya dari penerapan ergonomi diantaranya adalah teknik pengangkatan beban, gerakan yang berulang-ulang dalam waktu lama, cara kerja yang salah sehingga menimbulkan gangguan otot. Solusi untuk mencegah kecelakaan kerja adalah; 1) Jika memungkinkan, gunakan peralatan meknis untuk mengangkat barang dengan beban berat; 2) Menjamin kualitas pencahayaan di area kerja; 3) Memberikan pelatihan ergonomis; 4) Melakukan uji beban yang akan diangkat; 5) Menggunakan kaki sebagai tumpuan dan menjaga punggung tetap tegak saat mengangkat barang; 6) Meminta bantuan rekan kerja atau menggunakan alat bantu; 7) Saat mengangkat beban, geser kaki ke arah yang diinginkan dan tidak memutar tubuh; dan 8) Menjaga kondisi lantai kerja dalam kondisi bersih, tidak licin, dan bebas hambatan.
70 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 70 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 3.19 Penggunaan Hand Pallet Membantu dalam Proses Pemindahan Barang Sumber: Dokumen Pribadi Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, gudang juga membutuhkan program lockout/ tagout untuk mencegah peralatan atau mesin hidup secara tidak terduga dan tidak terkendali atau terlepasnya energi berbahaya dari peralatan yang bisa menimbulkan kecelakaan kerja. Perusahaan harus menegaskan standar operasional prosedur bahwa pekerja harus memastikan bahwa mesin dalam kondisi mati atau off saat tidak digunakan.
RETAIL 71 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 71 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 3.20 Pastikan Off Sumber: https:// pixabay.com/ id/ illustrations/ off-berhenti-tombol-ikon-kembali-1426739/
72 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL LEMBAR PRAKTIKUM Lakukan kegiatan berkut! 1. Bentuklah kelompok yang beranggotakan 4 orang! 2. Lakukan perencanaan observasi mengenai penerapan K3 yang ada di bisnis ritel lingkungan sekitarmu! 3. Lakukan observasi! 4. Susun laporan observasi! 5. Presentasikan laporan observasi di depan kelas! CAKRAWALA SEJARAH K3 DI INDONESIA Tahapan sejarah Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia adalah sebagai berikut: 1. Sejarah keselamatan kerja di Negara Indonesia (K3) dimulai setelah Belanda hadir ke Indonesia pada era ke-17. Permasalahan keselamatan kerja di wilayah Indonesia diperlukan untuk melindungi investasi dalam industri. Terdapat 120 buah ketel uap yang dipakai industri Indonesia sehingga terbitlah UndangUndang tentang Kerja Ketel Uap di tahun 1853; 2. Pada tahun 1898, jumlah ketel uap yang dipakai industri menjadi 2.277 buah; 3. Tahun 1890 dikeluarkan ketentuan mengenai pemasangan serta penggunaan jaringan listrik di wilayah Indonesia; 4. Tahun 1907, dikeluarkan ketentuan mengenai pengangkutan obat, senjata, petasan, peluru serta beberapa bahan yang bisa meledak serta berdampak pada keselamatan kerja. Veiligheids Reglement serta pengaturan khusus menjadi pelengkap ketentuan pengerjaannya dikeluarkan pada tahun 1905. Pengaturan tersebut direvisi pada tahun 1910 dimana pengawasan undangundang kerja dikerjakan oleh Veiligheids Toezich; 5. Tahun 1912 keluar larangan pemakaian fosfor putih; 6. Tahun 1916 dikeluarkan Undang-undang pengawasan kerja yang berisi kesehatan serta keselamatan kerja atau K3. Pada tahun 1927 lahir undangundang masalah dan di tahun 1930 pemerintah Hindia Belanda membuat revisi undang-undang ketel uap; 7. Tahun 1957 berdiri Instansi Kesehatan serta Keselamatan Kerja; 8. Tahun 1970 dibuat Undang-Undang no 1 tentang Keselamatan Kerja sebagai alternatif Veiligheids Reglement tahun 1920; 9. Tahun 1969 berdiri Ikatan Higiene Perusahaan, Kesehatan serta Keselamatan Kerja; 10. Tahun 1969 dibuat laboratorium keselamatan kerja; 11. Tahun 1957 diselenggarakan Seminar Nasional Higiene Perusahaan serta Keselamatan Kerja dengan topik Penerapan Keselamatan Kerja Untuk Pembangunan; dan
RETAIL 73 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 12. Pada bulan Februari 1990, Fakultas Kedokteran Unissula bekerja sama dengan Rumah Sakit Sultan Agung Semarang mengadakan symposium gangguan pendengaran karena kerja yang dibuka oleh Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Cosmas Batubara. Dikutip dari: https:// www.safetyshoe.com/ tag/ sejarah-k3-di-dunia-danindonesia/ CAKRAWALA JELAJAH INTERNET Kunjungi http:// hukum.unsrat.ac.id/ uu/ uu_1_70.htm untuk mempelajari UU No. 1 Tahun 1970 tentang K3! RANGKUMAN Kesehatan dan keselamatan kerja adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kesehatan dan keselamatan dalam bekerja yang berfungsi untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja serta menciptakan kenyamanan kerja suatu perusahaan. Terkait dengan penerapan K3, para pekerja harus diberikan edukasi mengenai jenis-jenis bahaya yang ada. Dalam rangka mencapai tujuan K3 perusahaan harus melengkapi pekerjanya dengan alat-alat keselamatan yang memadai. Kesehatan, Keselamatan, dan Keamana Kerja diatur dalam UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992, dan Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003. Dalam rangka menerapkan K3 dalam bisnis ritel harus dilengkapi dengan rambu-rambu K3 yang diperlukan, eralatan dan perlengkapan K3, Alat Pelindung Diri sehingga kecelakaan kerja dapat dicegah sejak dini.
74 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL TUGAS MANDIRI Menurut Anda apakah bisnis ritel sudah menerapkan K3 secara optimal? Apa saja bentuk penerapan K3 di bisnis ritel sekitar Anda? Buktikan dengan hasil pengamatan di bisnis ritel yang ada di daerah Anda! PENILAIAN AKHIR BAB Kerjakanlah soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar ! 1. Apa yang kalian ketahui tentang Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja? 2. Mengapa setiap perusahaan harus menerapakan K3? 3. Jelaskan peraturan yang mengatur K3! 4. Jelaskan hak dan kewajiban pekerja menurut UU No. 1 Tahun 1970! 5. Apa saja unsur penunjang dari keamanan kerja? 6. Jelaskan aspek yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam pelaksanaan K3? 7. Alat Pelindung Diri apa yang diperlukan dalam kegiatan bisnis ritel? 8. Kecelakaan kerja apa saja yang bisa terjadi dalam kegiatan bisnis ritel? 9. Apa fungsi dari rambu berikut! 10. Bahaya K3 apa saja yang terdapat dalam bisnis ritel? REFLEKSI Setelah mempelajari bab K3 ini Anda tentunya telah memahami tentang ruang lingkup Kesehatan, Keselamatan, dan Keamanan Kerja, Kecelakaan Kerja, Peraturan K3, Rambu-rambu Ke dalam bisnis ritel, peralatan dan perlengkapan dalam bisnis ritel, alat pelindung diri dalam bisnis ritel, dan kecelakaan kerja dalam bisnis ritel. Dari materi terseut mana yang menurut Anda paling sulit untuk dipahami? Coba Anda diskusikan dengan teman sebangku atau tanyakan kepada bapak atau ibu guru pengajar, sehingga Anda akan memiliki dasar pengetahuan untuk mempelajari materi-materi yang selanjutnya.
54 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL A. Pilihan Ganda Pilihlah salah satu jawaban yang kamu anggap paling benar! 1. Berikut ini merupakan layanan jasa dalam bisnis ritel, kecuali.... A. Penguangan cek B. Pembungkusan hadiah C. Tempat parkir D. Jasa pengiriman barang E. Service barang 2. Sistem bisnis e-retailing mulai dikenal sejak tahun A. 1960-an B. 1980-an C. 1990-an D. 2000-an E. 2010-an 3. Berikut ni adalah pengertian dari ritel yang benar, kecuali... A. Rangkaian aktivitas bisnis yang menyediakan barang untuk konsumen akhir. B. Aktivitas memasarkan barang dan jasa untuk konsumen akhir baik untuk kepentingan pribadi maupun keluarga. C. Penjualan barang dan jasa kepada konsumen akhir yang sifatnya pribadi, bukan bisnis. D. Kegiatan penjualan barang dan jasa kepada konsumen akhir yang sifatnya pribadi dan bisnis. E. Mata rantai terakhir dari sebuah saluran distribusi barang dan jasa. 4. Berikut ini yang bukan peran dari bisnis ritel adalah A. Ujung tombak perusahaan yang akan sangat menentukan laku tidaknya produk perusahaan B. Sumber informasi yang sangat berharga mengenai produk dan konsumen C. Menjaga harga jual tetap rendah agar mampu bersaing dalam memuaskan pelanggan D. Memudahkan konsumen dalam memilih atau membandingkan bentuk, kualitas, dan barang serta jasa yang ditawarkan E. Pencetus aturan kerja sama produsen dan distributor PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL
RETAIL 55 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 5. Berikut ini yang merupakan tugas dan tanggung jawab manajemen pemasaran ritel adalah A. Menentukan sumber pendanaan suatu bisnis ritel. B. Menentukan cara pembiayaan alokasi dana C. Promosi dan mutasi karyawan D. Pelatihan dan pengembangan ketrampilan karyawan E. Melakukan analisis peluang pasar 6. Kurangnya ventilasi udara sehingga menyebabkan sesak nafas, merupakan kecelakaan kerja yang disebabkan oleh A. Manusia B. Lingkungan C. Sumber bahaya D. Perbuatan bahaya E. Material/peralatan 7. Berikut ini yang bukan ritel waralaba (franchise) adalah A. Indomaret B. Alfamart C. Rajawali D. Hypermart E. Alfamidi 8. Berikut ini yang merupakan jenis rented-goods service retailing adalah A. Salon kecantikan B. Bengkel sepeda motor C. Indomaret D. Warung internet E. Pedagang kali lima 9. Kios, warung, depot, merupakan contoh dari bisnis ritel A. Berpangkalan tetap B. Berpangkalan tidak tetap C. Tidak berpangkalan D. Bertempat di daerah pedesaan E. Bertempat di daerah perkotaan
56 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 10. Program home shopping yang disampaikan melalui televisi merupakan bentuk non-store retailling A. Penjualan langsung one to one selling B. Penjualan langsung one to many selling C. Penjualan langsung bertingkat D. Penjualan otomatis E. Penjualan tidak langsung 11. Menjual produk yang sebagian besar merupakan bukan kebutuhan pokok, fashionable, bermerek, dengan 80% pola konsinyasi merupakan cirikhas dari A. Department store B. Supermarket C. Hypermatket D. Superstore E. Specialty store 12. Melaksanakan rencana yang disusun oleh manajemen tingkat atas merupakan salah satu tugas dari... A. Manajemen Tingkat Atas B. Manajemen Tingkat Menengah C. Manajemen Tingkat Bawah D. Tenaga Operasional E. Top Management 13. Dalam sebuah bisnis ritel perlu menentukan target bisnis dan sumber daya yang dibutuhkan. Aktivitas tersebut merupakan fungsi manajemen... A. Palling B. Organizing C. Actuating D. Controlling E. Coordinating 14. Saat sebuah bisnis ritel menjual berbagai jenis minuman, maka hendaknya juga menyediakan snack dan camilan. Hal tersebut merupakan bagian dari hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih produk yang akan dijual oleh sebuah bisnis ritel...
RETAIL 57 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL A. Variety B. Width or Breath C. Dept D. Consistency E. Balance 15. Usaha ritel membutuhkan strategi terpadu agar dalam pengambilan suatu keputusan tidak menyebabkan kerugian bagi perusahaan ritel yang disebut dengan... A. Bauran pemasaran B. Bauran promosi C. Bauran ritel D. Fungsi manajemen E. Strategi pemasaran 16. Dalam rangka memuaskan konsumen, bisnis ritel harus memperhatikan desain eksterior toko yang meliputi hal berikut, kecuali.. A. Store front B. Jalan masuk C. Marquee D. Pintu masuk E. Penerangan dan pewarnaan toko 17. Menurut Berman & Evans, penetapan harga jual ritel bisa dipengaruhi oleh empat pihak yaitu, kecuali... A. Pesaing B. Konsumen C. Pemerintah D. Pemasok E. Karyawan 18. Tipe pelanggan yang tidak memiliki loyalitas terhadap suatu toko ritel adalah... A. Switcher B. Habitual buyer C. Satisfied buyer D. Likes the brand E. Committed buyer
58 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 19. Saat Anda ingin mengetahui berapa tahun modal investasi pendirian bisnis ritel akan kembali, maka harus menghitung... A. Margin kotor B. Penjualan bersih C. Harga Pokok Penjualan D. Return On Investment E. Margin Bersih 20. Berikut adalah Alat Pelindung Diri yang biasanya dipakai di toko ritel adalah... A. Kacamata pengaman B. Sarung tangan C. Rompi reflektor D. Sepatu pengaman E. Helm pengaman 21. Berikut adalah beberapa bentuk kecelakaan kerja yang bisa terjadi di sebuah toko ritel, kecuali... A. Terpeleset B. Terkilir C. Sengatan serangga D. Kecelakaan dalam pengoperasian forklift E. Kebakaran 22. Berikut ini yang merupakan contoh dari data skunder adalah... A. Data harga pokok barang dari supplier B. Data konsumen hasil wawancara C. Data beban operasional toko dari bagian keuangan D. Data harga jual produk di komputer kasir E. Data kenaikan harga kantor BPS 23. Mencegah data ganda dalam berkas atau file perusahaan, merupakan manfaat pembuatan database yang disebut dengan... A. Redudansi B. Integritas data C. Independensi D. Keamanan E. Kemudahan
RETAIL 59 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 24. Berikut ini adalah data yang terdapat dalam sebuah sistem informasi bisnis ritel kecuali... A. Harga beli produk B. Harga jual produk C. Data pelanggan D. Data supplier E. Data pesaing 25. Sistem yang terdapat dalam suatu Point of Sales sebuah toko ritel merupakan elemen dari sistem informasi bisnis ritel... A. Perangkat keras B. Perangkat lunak C. Database D. Manual procedur E. Petugas pengoperasian sistem
60 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI BAB IV SISTEM INFORMASI BISNIS RITEL PETA KONSEP Setelah mempelajari materi tentang sistem informasi bisnis ritel, peserta didik dapat mendeskripsikan sistem informasi manajemen dan sistem informasi bisnis ritel dengan lengkap. SISTEM INFORMASI MANAJEMEN SISTEM INFORMASI BISNIS RITEL 1. Konsep Sistem Informasi Manajemen 2. Peranan SIM pada suatu perusahaan 3. Manfaat SIM 4. Data dan Data base SISTEM INFORMASI BISNIS RITEL 1. Konsep SIM ritel 2. Elemen SIM ritel 3. Arus Informasi Bisnnis Ritel 4. Data dan DAtabase Bisnis Ritel 5. Arus Logistik Barang 6. Pengembangan SIM Ritel 7. Implementasi Sistem Informasi Bisnis Ritel Sistem, informasi, data, ritel BAB IV SISTEM INFORMASI BISNIS RITEL
RETAIL 61 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENDAHULUAN Gambar 4.1. Proses Informasi Sumber: Dokumen Pribadi Semua perusahaan membutuhkan informasi sebelum melakukan pengambilan keputusan strategi bisnis yang akan dijalankan. Menurut Krismiaji (2015), “informasi adalah data yang telah diorganisasi dan telah memiliki kegunaan dan manfaat” sedangkan menurut Romney dan Steinbart (2015), “informasi adalah data yang telah dikelola dan diproses untuk memberikan arti dan memperbaiki proses pengambilan keputusan”. Informasi merupakan suatu data yang telah diambil dan diolah untuk menguji kebenaran dan kesesuian dengan tujuan penggunaan menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi penggunanya dalam memberikan argumentasi, peramalan, dan dalam mengambil keputusan. Perkembangan teknologi yang pesat di era digital menjadikan segala kegiatan juga berbasis digital. Manusia memasuki gaya hidup baru yang tidak bisa terlepas dari perangkat yang serba elektronik. Teknologi memberikan kemudahan bagi mausia dalam mejalankan aktivitas dan memenuhi berbagai kebutuhannya Sistem informasi yang terus berkembang dengan berbasis teknologi menujukkan bahwa sistem informasi memang sangat penting perannya dalam berbagai kegiatan perekonomian serta strategi penyelenggaraan pembangunan. Keberadaan sistem informasi berbasis tekonologi telah mampu mendukung kinerja, peningkatan efisiensi, efektivitas dan juga produktivitas organisasi . PENYIMPANAN DATA PENGOLAHAN INFORMASI MATERI PEMBELAJARAN A. Sistem Informasi Manajemen 1. Konsep Sistem Informasi Manajemen Menurut Romney dan Steinbart (2015), “sistem adalah rangkaian dari dua atau lebih komponen-komponen yang saling berhubungan, yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan”. Sistem adalah sekumpulan elemen atau unsur yang saling terkait dan bersinergi untuk mencapai suatu tujuan tertentu sedangkan informasi adalah data yang telah melalui proses pengolahan sehingga dapat dimanfaatkan bagi pihak yang membutuhkan. Menurut Krismiaji (2015), “sistem informasi adalah cara-cara yang diorganisasi untuk mengumpulkan, memasukkan, dan mengolah serta menyimpan data, dan cara-cara yang diorganisasi untuk menyimpan, mengelola, mengendalikan, dan melaporkan informasi sedemikian rupa sehingga sebuah orgnaisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.
62 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 62 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Sistem Informasi Manajemen merupakan suatu kesatuan teknik atau metode terorganisir yang digunakan untuk mendapatkan, mengumpulkan, dan mengolah informasi yang akan digunakan untuk kepentingan manajemen. Sistem Informasi Manajemen bertujuan dalam menyediakan informasi yang digunakan sebagai bahan dalam; a. Perhitungan, penganggaran, dan penentuan biaya operasional perusahaan; b. Perencanaan, pengendalian, evaluasi, dan perbaikan tindak lanjut; dan c. Pengambilan keputusan. Sistem Informasi Manajemen diperlukan untuk mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, pengendalian, dan mengevaluasi kinerja, serta pengambilan keputusan tindak lanjut. Gambar 4.2 . Ilustrasi Sistem Informsi Manajemen Sumber: http:// www.sistem-informasi.xyz/ 2017/ 08/ pengertian-sistem-informasi-manajemen.html 2. Peran SIM Bagi Perusahaan Sistem informasi berperan penting dalam menunjang kegiatan operasional bisnis, membantu pengambilan keputusan oleh pihak manajemen, dan menunjang keunggulan strategi kompetitif sebuah organisasi bisnis. Perusahaan dapat memiliki keunggulan strategis saat menggabungkan semua data yang dimiliki terkait bisnis dalam sebuah basis data yang terhubung dengan browser web. Penggunaan basis data memungkinkan perusahaan untuk bisa berbagi informasi dengan rekan bisnis maupun pelanggannya dengan cukup mengakses melalui browser web sehingga arus informasi lebih cepat dan perusa haan mencapai posisi yang strategis. Semua perusahaan bisnis akan selalu mengoptimalkan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya yang dimiliki sehingga akan memperoleh keuntungan yang lebih dibanding pesaing dan memenangkan persaingan.
RETAIL 63 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 63 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Penggunaan Sistem Informasi Manajemen berbasis teknologi informasi modern memungkinkan perusahaan lebih mudah dan cepat dalam mengolah, menyediakan, dan menggunakan informasi secara akurat dalam pengambilan keputusan bisnis. Digitalisasi informasi dapat meningkatkan daya saing dan kinerja perusahaan karena para pesaing juga akan melakukan hal yang sama dalam rangka mencapai keuntungan yang tinggi dengan meningkatnya pendapatan perusahaan atau terjadinya efisiensi biaya perusahaan. Teknologi informasi yang digunakan dalam menciptakan perusahaan berbasis sistem informasi harus yang sesuai dengan kharakteristik dan kepentingan suatu bisnis. a. Peran SIM dalam Proses Bisnis dan Operasional Sistem informasi untuk operasional suatu bisnis berperan dalam memproses transaksi yang terjadi, mengawasi alur transaksi, dan meningkatkan efisiensi dalam komunikasi dengan pihak intern maupun ekstern serta produktivitas semua elemen. 1) Transaction Processing Systems (TPS) TPS yang awalnya menggunakan sistem informasi secara manual dalam memproses data hingga kemudian berkembang dengan berbasis elektronik. TPS mencatat dan memproses data transaksi perusahaan, seperti penjualan, retur penjualan, pembelian, retur pembelian, penerimaan piutang, pembayaran hutang, pembayaran biaya-biaya, serta mutasi dan perubahan persediaan barang dagang. TPS menghasilkan berbagai informasi mengenai persediaan barang dagang, harga barang, konsumen, supplier, dan lain sebagainya. TPS menghasilkan bukti transaksi berupa nota kontan, faktur, nota debet, nota kredit, kuitansi, kartu persediaan, bukti pembayaran pajak, dan laporan keuangan. 2) Process Control Systems (PCS) Sistem informasi informasi berperan dalam proses operasional perusahaan pengendalian produksi dan keputusan pengendalian persediaan barang. Hal tersebut melibatkan process control systems (PCS) yang keputusannya mengatur proses produksi fisik dan pengadaan barang secara terkomputerisasi atau digital. 3) Office Automation Systems (OAS) OAS mengumpulkan, memproses, mengarsip, dan mendistribusikan data dan informasi melalui media elektronik. Contoh dari Office Automation (OA) adalah penggunaan program-program di komputer seperti ms word, ms excell, power point text, pengiriman data melalui email, teleconference, dan sebagainya. b. Peranan Pengambilan Keputusan SIM menyediakan informasi yang diperlukan manajemen dalam mengambil keputusan. Sistem ini terdiri atas beberapa tipe, yaitu: 1) Laporan yang spesifik dan rencana awal untuk para manajer dikerjakan oleh information reporting systems (sistem pelaporan informasi). 2) Dukungan ad hoc dan interaktif untuk pengambilan keputusan oleh manajer dikerjakan oleh decision support systems (sistem pendukung keputusan).
64 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 64 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 3) Informasi kritikal untuk manajemen tingkat atas ditetapkan oleh executive information systems (sistem informasi eksekutif). 4) Nasehat ahli dalam pengambilan keputusan operasional atau managerial ditetapkan oleh expert systems (sistem ahli) dan knowledge-based information systems (sistem informasi berbasis pengetahuan lainnya). 5) Dukungan langsung dan terus untuk aplikasi operasional dan managerial dari end users ditetapkan oleh end user computing systems. 6) Aplikasi operasional dan manajerial dalam mendukung fungsi bisnis ditetapkan oleh business function information systems. 7) Produk dan layanan jasa yang bersaing untuk mencapai keuntungan strategis ditetapkan oleh strategic information systems. Dalam dunia kerja, sistem informasi yang digunakan merupakan kombinasi dari berbagai macam sistem informasi yang terintegrasi yang menjalankan berbagai fungsi. c. Peranan Persaingan Keuntungan Strategis Sistem informasi sangat berperan dalam mencapai tujuan strategis perusahaan sehingga dapat bertahan dan sukses dalam jangka waktu lama dengan membangun strategi dalam menghadapi persaingan yang berupa; 1) Persaingan dari bidang industri yang sama; 2) Adanya pesaing baru; 3) Adanya produk subtitusi; 4) Kekuatan tawar-menawar dari pembeli; dan 5) Kekuatan tawar-menawar dari supplier. Perusahaan dapat menjalankan beberapa strategi bersaing berikut untuk memenangkan persaingan; 1) Cost leadership; yaitu menjadi produsen dengan biaya produksi rendah; 2) Product differentiation; melakukan pengembangan produk baru; dan 3) Innovation; melakukan inovasi usaha baik inovasi dalam hal produk, cara produksi, maupun sistem distribusi. 2. Manfaat Sistem Informasi Manajemen Sistem Informasi Manajemen bermanfaat membantu perusahaan dalam; a. Meningkatkan Efisiensi Operasional Penggunaan sistem informasi menjadikan operasional perusahaan lebih efektif dan efisien. Hal tersebut dapat menciptakan keunggulan perusahaan dalam pengelolaan biaya operasionalnya. Selain itu, dengan penggunaan sistem informasi manajemen yang modern, perusahaan dapat membuat rintangan dalam memasuki industri tersebut bagi para pesaing atau calon pesaing. Begitu juga dalam menciptakan hubungan yang bersifat mengikat dan lebih bernilai dengan konsumen maupun supplier. b. Memperkenalkan Inovasi Dalam Bisnis Sistem informasi manajemen memperkenalkan inovasi dalam bisnis, misalnya dengan munculnya e-money dengan berbagai layanan transaksi dan kemudahan yang bisa dimanfaatkan, ojek online, pemasaran online suatu market place, tiket online, dan sebagainya.
RETAIL 65 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 65 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL c. Membangun sumber-sumber informasi strategis Teknologi sistem informasi menjadikan perusahaan dapat membangun sumber informasi strategis berbasis teknologi yang menyediakan berbagai informasi yang sangat diperlukan dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional perusahaan untuk mendukung strategi bersaing perusahaan. 3. Data dan Data base Dari segi bahasa kata “data” ini diambil dari kata “datum” yang dalam bahasa Romawi memiliki arti “sesuatu yang diberikan”. Data merupakan sekumpulan fakta atau informasib berupa kata, simbol, angka, gambar yang diperoleh melalui pengamatan, survei, maupun studi pustaka baik langsung ke sumber primer maupun skunder. Data memerlukan pengolahan sehingga siap digunakan dalam bentuk informasi. Berdasarkan sumbernya data dapat dibedakan menjadi data primer dan juga data sekunder. Data primer atau data asli diperoleh dari sumber langsung yang merupakan objek penelitian sedangkan data sekunder atau tambahan diperoleh dari sumber tidak langsung seperti buku, jurnal, surat kabar, dan lain- lain. Berdasarkan sifat-sifatnya, data terbagi atas data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berbentuk pernyataan verbal, gambar atau juga bahkan simbol, sedangkan data kuantitatif berupa pernyataan dalam bentuk angka. Kemudian, data juga dapat dibedakan atas dasar waktu pengambilan atau pengumpulannya, yaitu data berkala dan data cross section. Data berkala merupakan data yang pengumpulannya dilakukan secara berkala dan data cross section pengumpulannya dilakukan pada waktu tertentu. Data sangat diperlukan dalam sebuah Sistem Informasi Manajemen karena memiliki fungsi sebagai berikut. a. Dasar pengambilan keputusan untuk memecahkan suatu masalah; b. Dasar suatu perencanaan atau penelitian; c. Dasar pelaksanaan suatu kegiatan; dan d. Bahan evaluasi. Data yang dimiliki suatu organisasi atau perusahaan dikumpulkan dalam sebuah gudang data atau disebut dengan database. Database atau basis data adalah kumpulan berbagai data dan informasi yang tersimpan dan tersusun di dalam komputer dan atau berbasis teknologi internet secara sistematik yang dapat dilakukan pemeriksaan dan pengolahan dengan suatu program sehingga menghasilkan informasi sesuai kebutuhan. Perusahaan membangun database dengan fungsi sebagai berikut; a. Melakukan pengelompokkan data dan informasi; b. Mencegah data ganda dan tidak konsistennya data yang ada; c. Memudahkan proses penyimpanan, akses, update, dan penghapusan data; d. Menjaga kualitas data dan informasi; e. Membantu proses penyimpanan data yang berukuran besar; dan f. Meningkatkan kinerja aplikasi yang memerlukan penyimpanan data.
66 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 66 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh dalam penggunaan sistem database: a. Mencegah redudansi basis data Database membantu meminimalisir adanya data ganda dalam file atau berkas yang berbeda. b. Menjaga integritas data Menjaga akurasi, aksesibilitas, konsistensi dan kualitas data. c. Menjaga independensi data Menjaga independensi data dengan adanya sistem keamanan yang memungkinkan pihak lain tidak dapat mengubah data meskipun data bisa diakses. d. Memudahkan berbagi data Software memudahkan berbagi data atau informasi dengan pengguna lainnya. e. Menjaga keamanan data Menjaga keamanan informasi dan data dengan adanya program untuk ijin akses bagi pengguna untuk data tertentu baik untuk ijin menggunakan data atau untuk mengubahnya. B. Sistem Informasi Ritel 1. Konsep SIM Ritel Manajemen ritel merupakan segala semua cara dan usaha yang dilakukan dalam mengelola bisnis ritel baik terkait keuangan, pemasaran, sumber daya, dan operasional bisnis ritel. Dalam bisnis ritel, arus data barang dagangan dan uang berputar sangat cepat sehingga diperlukan pengendalian dan pengawasan yang tepat. Salah satunya adalah dengan melakukan pencatatan data secara tertib dan teratur, serta menyediakan informasi dalam bentuk sistem pelaporan yang tepat dan akurat sehingga memberikan manfaat yang optimal bagi setiap pengambilan keputusan. Sistem Informasi Ritel (SIM Ritel) adalah suatu sistem informasi berbasis teknologi terpadu dengan sistem mekanisasi pengolah data sebagai penyedia informasi terkait operasional, manajemen, analisis maupun pembuatan keputusan dalam kegiatan bisnis ritel. Mengelola manajemen bisnis ritel yang beroperasi secara global merupakan sebuah tantangan, karena unit yang dijual bervariasi pada tiap negara, dan pasar asing yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan pasar domestik. Hal ini meningkatkan kompleksitas dalam pemeliharaan dan penyediaan barang dagangan sesuai kebutuhan yang terbagi dalam divisi barang dagangan. Untuk tujuan ini, biasanya dibutuhkan investasi pada sistem jika mengharapkan laju pertumbuhan penjualan akan terus meningkat. Secara umum struktur SIM Ritel sama dengan Sistem Informasi Manajemen lainnya yaitu; a. Tingkatan informasi untuk proses transaksi yang berfungsi sebagai inquiry response dan menjadi tanggung jawab staff atau clerk. b. Tingkatan informasi untuk perencanaan operasional, pengendalian dan