RETAIL 67 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 67 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL pengambilan keputusan yang merupakan tanggung jawab dan wewenang Lower Management. c. Tingkatan informasi untuk perencanaan taktis dan pengambilan keputusan yang menjadi area kerja Middle Management yang membutuhkan informasi dari tingkat perencanaan operasional maupun luar lingkungan perusahan sebagai dasar pembuatan rencana taktis perusahaan seperti penetapan ragam dan tingkat harga jual. d. Tingkatan informasi untuk perencanaan strategis, kebijakan dan pengambilan keputusan. Tujuan dan arah perusahaan ditentukan oleh Top Management sehingga informasi terkait kinerja perusahaan dan keadaan lingkungan luar perusahaan perlu dimiliki demi perkembangan perusahaan. Struktur tingkatan Sistem Informasi Ritel dapat dilihat dalam gambar berikut : Gambar 4.3.: Struktur Tingkatan Sistem Informasi Ritel Sumber: Dokumen Pribadi 2. Elemen-Elemen SIM Ritel Elemen-elemen yang dibutuhkan suatu SIM Ritel adalah: a. Perangkat keras (hardware); b. Perangkat lunak (software); c. Database; d. Manual procedur; dan e. Operator. Terdapat beberapa alternatif sistem teknologi yag dapat digunakan dalam membangun Sistem Informasi Ritel yaitu : a. Teknologi Electronic Cash Register System dan b. Teknologi PC-based POS System. Alternatif sistem teknologi di atas dapat dikombinasikan menjadi beberapa Top Management Middle Management Lower Management Staff/ Clerk
68 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 68 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL konfigurasi diantaranya: a. Stand Alone; b. Register to Register System (Master to Slave System–POS LAN); c. Register to Register to PC System (Mater-Slave System to Cluster System); d. Register to PC Communication System (Master-Slave POS LAN Communication System/ POS WAN) 3. Arus Informasi dalam Bisnis Ritel Arus informasi secara lengkap dalam transaksi bisnis ritel dijelaskan dalam gambar di bawah ini: Gambar 4.4 Aliran Informasi dan Barang Dagangan Sumber: Levy & Weitz, 2004 Berikut ini adalah sistem informasi dari proses transaksi penjualan; a. POS (Point of Sales) merekam informasi pembelian seorang konsumen dan mengirimkan ke pembeli sebagai bahan untuk melakukan perencanaan pembelian berikutnya. b. Pedagang ritel menerima informasi pembelian untuk menyiapkan pesanan, serta mengirimnya ke vendor atau pramuniaga dengan sistem pertukaran data elektronik (Electronic Data Interchange/ EDI) antara komputer pedagang ritel dengan vendor. Proses pemesanan barang juga dapat dilakukan secara otomatis seperti transaksi melalui market place. c. Syarat pembayaran, tanggal pengiriman, maupun layanan purna jual dan hal lain atas pembelian atau pesanan barang dagangan ditentukan melalui komunikasi antara pembeli dengan vendor atau penjual.
RETAIL 69 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 69 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL d. Teknis pengiriman dari vendor ke toko dan data kesiapan persediaan dikoordinasikan melalui komunikasi antara pembeli dengan pusat distribusi. e. Pengiriman dan pemeriksaan persediaan dilakukan oleh manajer toko dengan melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pusat distribusi. 4. Data base Bisnis Ritel POS (Point of Sales) akan menyimpan data pembelian dalam gudang data yang disebut dengan data base atau basis data dan dapat diakses oleh beberapa pihak sesuai wewenangnya, semisal kasir, supervisor, manajer, dan lain-lain. Gambar 4.5 Gudang Data Ritel Sumber: Levy & Weitz, 2004 Sebagaimana yang ditunjukkan pada sumbu horizontal pada gambar 4.5. tersebut, data dapat diakses menurut kelompok barang, kategori barang, departemen, dan tingkat agregasi SKU barang dagangan, vendor atau penjual, maupun semua barang dagangan. Pada sumbu vertikal, dapat diakses data menurut tingkat toko, divisi maupun perusahaan secara keseluruhan. Pimpinan atau manajer perusahaan yang membutuhkan informasi perusahaan ritel secara umum dapat melihat data dari aspek semua barang dagangan, divisi atau perusahaan secara keseluruhan. Analisis operasional bisnis ritel membutuhkan informasi dari database dalam membuat berbagai keputusan pemasaran terkait pengembangan usaha maupun pengadaan barang dagangan. Data base pelanggan juga bermanfaat dalam memutuskan dan melakukan strategi promosi dan riset pasar. Pertukaran data elektronik merupakan sistem pertukaran data bisnis antara pedagang ritel dengan vendor melalui sistem “computer-to-computer” baik dalam sistem intranet maupun ekstranet. Ritel dengan multisaluran yang sukses dalam rangka pengendalian
70 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 70 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL lingkungan informasi, harus menciptakan sistem keamanan sehingga konsumen, pemasok, kolega perusahaan, maupun pihak lain terjamin keamanan atas informasi dan data mereka. Kebijakan keamanan sistem informasi harus memenuhi beberapa hal berikut: a. Keautentikan. Sistem harus memastikan bahwa sistem telah melakukan verifikasi atas informasi yang masuk bahwa informasi tersebut benar. b. Otorisasi. Sistem harus memastikan adanya kebijakan perizinan atau otorisasi bagi pihak yang terhubung dan berperan dalam proses pengambilan keputusan. c. Integrasi. Sistem harus memastikan bahwa informasi yang diterima dengan yang dikirim tidak mengalami perubahan secara illegal. 5. Arus Logistik Barang Logistik dalam bisnis ritel merupakan keseluruhan proses perencanaan, pengadaan, penyimpanan, dan penggunaan persediaan barang dalam operasional perusahaan. Terdapat aktivitas pengangkutan dan penyimpanan barang dagangan beserta informasi terkait termasuk perpindahan hak kepemilikan semenjak barang dari supplier hingga sampai di tangan konsumen. Kegiatan logistik tersebut menggambarkan arus barang dagangan diantaranya: a. Arus barang dagangan dari produsen ke distributor; b. Arus barang dagangan dari distributor ke toko ritel; dan c. Sebagai alternatif, barang dagangan bisa langsung ke toko tanpa melewati distributor. Distributor melaksanakan berbagai fungsi terkait persediaan barang dagangan yang meliputi; pengangkutan, penerimaan barang, pemeriksaan, penyimpanan dan crossdocking, sehingga siap didisplay dan melakukan pemesanan barang dagangan. Pembayaran biaya pengiriman tergantung kesepakatan dengan produsen atau supplier. Ritel harus mampu mengelola harga pokok pembelian yang rendah dengan mengelola biaya pengangkutan secara lebih efisien. Perlu dilakukan kerja sama dengan perusahaan pengangkutan dan memperkuat posisi tawar dengan produsen maupun supplier. Arus persediaan barang dagangan dari produsen ke distributor melalui beberapa tahap sebagai berikut: a. Penerimaan dan pemeriksaan. Barang yang datang akan dilakukan penerimaan dengan melakukan pengisian bukti penerimaan barang setelah dilakukan pemeriksaan apakah barang yang diterima sudah sesuai dengan pesanan atau faktur yang diterima dalam hal jenis, jumlah, dan spesifikasinya. b. Penyimpanan dan crossdocking. Distributor akan melakukan penyimpanan atas barang yang diterima untuk menjamin keamanan dan kualitas barang. Terdapat tiga jenis distributor yaitu: distributor tradisional, distributor yang crossdocking, dan suatu kombinasi dari dua jenis distributor tersebut. Persediaan barang dagangan yang siap untuk didisplay di area penjualan, perlu diberikan tanda yang didalamnya memuat identifikasi produk, harga, program promo, yang memudahkan pelanggan untuk menemukan barang dagangan tersebut. 6. Pengembangan Sistem Informasi Ritel
RETAIL 71 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 71 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Berikut adalah tahap-tahap dalam pengembangan Sistem Informasi Ritel yang dapat dilakukan dengan menentukan hal-hal berikut; a. Jenis dan skala usaha; b. Lingkup dan prioritas sistem informasi yang dibutuhkan; c. Volume data yang akan diproses; d. Frekuensi transaksi data yang akan diproses; e. Jenis dan jumlah peralatan mekanisasi yang dibutuhkan; f. Format struktur database; g. Jenis dan format laporan atau informasi yang dibutuhkan; h. Jadwal pengembangan program-program aplikasi Sistem Informasi Ritel; i. Jadwal pelatihan dan implementasi; dan j. Evaluasi. Dalam Sistem Informasi Ritel kegiatan identifikasi barang yang meliputi nama barang, spesifikasi barang, kelompok dan departemen, supplier, harga beli, harga jual, tingkat keuntungan, masa kedaluwarsa, manajemen persediaan, sistem pembelian dan penjualan megang peran yang sangat penting. Laporan keuangan pada bisnis retail yang merupakan output dari Sistem Informasi diantaranya adalah. a. Informasi data processing untuk manajemen tingkat operasional yaitu laporan penjualan per kasir. b. Informasi bagi tingkat perencanaan taktis berupa laporan penjualan per barang atau kelompok barang. c. Informasi bagi tingkat perencanaan dan pengendalian strategis berupa laporan perhitungan laba/ rugi, laporan rekapitulasi hutang/ piutang, laporan neraca, dan laporan arus kas. 7. Implementasi Sistem Informasi Bisnis Ritel Di sini dipaparkan beberapa tampilan contoh dari Sistem Informasi Ritel. Beberapa informasi (data supplier, pelanggan, persediaan barang dagangan, piutang dagang, hutang dagang, arus kas, penjualan, pembelian, retur penjualan, retur penjualan, dan output laporan) terekam dalam sebuah sistem POS toko pusat dan cabang. Data tersebut bisa dilihat pada gambar berikut. a. Tampilan menu yang dalam Tefa POS SMKN 1 Malang Gambar 4.6 Tampilan Menu SIM Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) b. Tampilan Data Item Produk sesuai cabang yang diinginkan
72 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 72 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 4.7 Tampilan Menu Daftar Item Produk Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) c. Tampilan Menu Penjualan Gambar 4.8 Tampilan Menu Penjualan Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) d. Tampilan menu kasir
RETAIL 73 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 73 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 4.9 Tampilan Menu Kasir Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) e. Tampilan menu retur penjualan Gambar 4.10 Tampilan Menu Retur Penjualan Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) f. Tampilan Menu Pembelian
74 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 74 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 4.11 Tampilan menu Pembelian Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) g. Tampilan Menu Retur Pembelian Gambar 4.12 Tampilan menu Retur Pembelian Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) h. Tampilan Menu Persediaan
RETAIL 75 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 75 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 4.13 Tampilan Menu Persediaan Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) i. Tampilan Menu Akuntansi Gambar 4.14 Tampilan menu Akuntansi Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) j. Tampilan Menu Laporan
76 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 76 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 4.15 Tampilan Menu Laporan Persediaan Barang Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) Gambar 4.16 Tampilan menu Laporan Piutang Dagang Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi)
RETAIL 77 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 77 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 4.17 Tampilan menu Laporan Hutang Dagang Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) k. Tampilan Menu Pengaturan Gambar 4.18 Tampilan menu Pengaturan Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi)
78 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 78 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL l. Output Tefa POS SMKN 1 Malang Gambar 4.19 Tampilan Daftar Supplier Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) Gambar 4.20 Tampilan Daftar Pelanggan Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi)
RETAIL 79 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 79 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 4.21 Tampilan Persediaan Barang Dagangan Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) Gambar 4.22 Tampilan Laporan Penjualan Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi)
80 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 80 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 4.23 Tampilan Laporan Laba Rugi Tefa POS SMKN 1 Malang Sumber: Sri Lestari (Dokumen Pribadi) LEMBAR PRAKTIKUM CAKRAWALA JD.ID BUKA TOKO PERDANA TANPA PRAMUNIAGA Kamis, 02 Agustus 2018/ 22:33 WIB Setelah membuka 20 toko ritel tanpa pramuniaga di Tiongok, JD.ID mulai melakukan ekspansi dengan membuka toko sejenis di Indonesia. Toko pertama beroperasi di Pantai Indah Kapuk (PIK) Avenue, Jakarta Utara dengan luas areal 270 Lakukan kegiatan berkut! 1. Bentuklah kelompok yang beranggotakan 4 orang. 2. Lakukan wawancara mengenai Sistem Informasi yang ada di Koperasi Siswa/ Business Centre/ Teaching Factory yang ada di sekolah kalian. 3. Susun laporan wawancara. 4. Presentasikan laporan wawancara di depan kelas!
RETAIL 81 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL JELAJAH INTERNET Dalam rangka lebih memahami materi Sistem Informasi Ritel, kunjungi https:// zahiraccounting.com/ id/ . CAKRAWALA m² yang merupakan gerai pertama pertama di Asia Tenggara yang menyediakan berbagai produk kebutuhan konsumen. Konsep belanja tanpa pramuniaga dan sistem pembayaran non tunai ini JD.ID dikembangkan dengan sistem belanja berbasis Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Sistem mengenali identitas konsumen melalui teknologi pemindai wajah, dan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) digunakan untuk mengetahui produk yang dibeli konsumen, serta pelayanan pembayaran secara nontunai dengan kartu kredit atau debet. Zhang Li, Presiden Direktur JD.ID mengatakan bahwa hal tersebut adalah pengalaman belanja baru dan JD.ID terus melihat peluang untuk membuka spot sejenis di Indonesia. Dikutip dari: https:// industri.kontan.co.id/ news/ jdid-buka-toko-perdana-tanpapramuniaga Kamis, 02 Agustus 2018/ 22:33 WIB
82 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Sistem Informasi Manajemen merupakan suatu kesatuan teknik atau metode terorganisir yang digunakan untuk mendapatkan, mengumpulkan, dan mengolah informasi yang akan digunakan untuk kepentingan manajemen. Sistem informasi berperan penting dalam menunjang kegiatan operasional bisnis, membantu pengambilan keputusan oleh pihak manajemen, dan menunjang keunggulan strategi kompetitif sebuah organisasi bisnis. Perusahaan dapat memiliki keunggulan strategis saat menggabungkan semua data yang dimiliki terkait bisnis dalam sebuah basis data yang terhubung dengan browser web. Penggunaan basis data memungkinkan perusahaan untuk bisa berbagi informasi dengan rekan bisnis maupun pelanggannya dengan cukup mengakses melalui browser web sehingga arus informasi lebih cepat dan perusa haan mencapai posisi yang strategis. Data merupakan sekumpulan fakta atau informasi berupa kata, simbol, angka, gambar yang diperoleh melalui pengamatan, survei, maupun studi pustaka baik langsung ke sumber primer maupun skunder. Database atau basis data adalah kumpulan berbagai data dan informasi yang tersimpan dan tersusun di dalam komputer dan atau berbasis teknologi internet secara sistematik yang dapat dilakukan pemeriksaan dan pengolahan dengan suatu program sehingga menghasilkan informasi sesuai kebutuhan. Sistem Informasi Ritel (SIM Ritel) adalah suatu sistem informasi berbasis teknologi terpadu dengan sistem mekanisasi pengolah data sebagai penyedia informasi terkait operasional perusahaan ritel. RANGKUMAN PENILAIAN AKHIR BAB Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Apa yang kalian ketahui tentang Sistem Informasi Manajemen? 2. Siapakah yang memerlukan Sistem Informasi Manajemen? Jelaskan! 3. Apa yang dimaksud dengan data dan database? Apa hubungannya dengan Sistem Informasi? 4. Jelaskan manfaat adanya database? 5. Berikan contoh data kualitatif dan kuantitatif dalam sebuah bisnis ritel! 6. Jelaskan elemen dari Sistem Informasi Manajemen Ritel! 7. Menurut Anda, apa perbedaan sistem informasi ritel dengan sistem informasi organisasi lain? 8. Data apa sajakah yang ada dalam sebuah sistem informasi bisnis ritel? Sebutkan! 9. Bagaimana tahap pengembangan sistem informasi ritel? 10. Menurut Anda apakah bisnis ritel tradisional juga memerlukan sistem informasi? Berikan alasannya!
RETAIL 83 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL REFLEKSI Setelah mempelajari bab ini Anda tentunya telah memahami tentang Sistem Informasi Manajemen dan Sistem Informasi Ritel. Dari materi tersebut mana yang menurut Anda paling sulit untuk dipahami? Coba Anda diskusikan dengan teman sebangku atau tanyakan kepada bapak atau ibu guru pengajar, sehingga Anda akan memiliki dasar pengetahuan untuk mempelajari materi-materi yang selanjutnya.
RETAIL 61 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Promosi-Media-Ritel Setelah mempelajari materi tentang media promosi dalam bisnis ritel, peserta didik dapat mendeskripsikan media promosi dalam bisnis ritel dengan jelas. TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI BAB V MEDIA PROMOSI DALAM BISNIS RITEL KONSEP PROMOSI BAURAN PROMOSI STRATEGI PROMOSI PTOMOSI DALAM BISNIS PETA KONSEP MEDIA PROMOSI DALAM BISNIS RITEL BAB V MEDIA PROMOSI DALAM BISNIS RITEL
62 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Dalam proses penjualan eceran, terdapat tujuh langkah yang hendaknya dilakukan yaitu; 1. Mendekati dan menyapa konsumen; 2. Menentukan kebutuhan dan keinginan konsumen; 3. Menawarkan barang ke konsumen; 4. Menangani keberatan konsumen, baik mengenai harga, produk, situasi toko, sistem pembayaran, sistem pengiriman, layanan purna jual, atau ketidaktertarikan atas barang yang ditawarkan; 5. Penyelesaian penjualan; 6. Mengajak konsumen untuk melakukan pembelian kembali di waktu yang akan datang; dan 7. Kegiatan tindak lanjut. Dalam rangka mendukung proses penjualan agar optimal, dibutuhkan strategi ptomosi agar volume penjualan dan keuntungan yang diperoleh dapat meningkat. Promosi merupakan unsur dari strategi pemasaran yang berperan penting bagi kelangsungan usaha suatu ritel. PENDAHULUAN Gambar 5.1. Kegiatan dalam suatu bisnis ritel Sumber : https:// www.pawoon.com/ mengenal-bisnis-retail-dan-klasifikasi/
RETAIL 63 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 63 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL A. Konsep Promosi Promosi merupakan salah satu elemen bauran pemasaran (marketing mix) yang berperan penting dalam kegiatan pemasaran produk suatu perusahaan. Menurut Kotler (2009), “promosi adalah bagian dan proses strategi pemasaran sebagai cara untuk berkomunikasi dengan pasar dengan menggunakan komposisi bauran promosi “promotional mix”. Menurut Buchori Alma (2011), “promosi adalah sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang meyakinkan calon konsumen tentang barang dan jasa”. Promosi adalah segala bentuk strategi pemberian informasi yang bersifat persuasif agar konsumen melakukan pembelian. Tujuan dari kegiatan promosi, diantaranya adalah: 1. Modifikasi tingkah laku. Promosi bertujuan untuk mengubah dan memperkuat pendapat serta tingkah laku calon pembeli, serta menciptakan kesan yang baik tentang perusahaan sehingga konsumen termotivasi untuk melakukan pembelian produk yang ditawarkan. 2. Memberi tahu Promosi bertujuan dalam memberitahu pasar sasaran tentang perusahaan dan produk yang dijual. Berbagai program promosi sangat diperlukan pada tahap pembukaan toko ritel sebagai langkah perkenalan ke masyarakat sehingga mereka mengenal, mengetahui, dan memahami toko ritel beserta produk dan layanan yang diberikan. Hal tersebut juga berlaku dalam perkenalan produk baru. 3. Membujuk Tujuan promosi salah satunya adalah mendorong calon konsumen untuk melakukan pembelian dengan lebih mengutamakan terciptanya kesan yang positif di benak calon konsumen. 4. Mengingatkan Produk yang sudah beredar lama di pasaran yang sudah berada pada tahap kedewasaan tetap membutuhkan promosi agar konsumen tetap mengingatnya dan produsen tetap bertahan di benak konsumen. 5. Memberikan informasi. Tujuan promosi adalah untuk memberikan informasi kepada calon konsumen mengenai merek, spesifikasi, keunggulan, harga, dan berbagai layanan yang diberikan atas produk yang ditawarkan. Toko ritel melakukan promosi untuk memberikan informasi kepada pasar sasaran mengenai jenis produk yang dijual, program promosi, dan layanan yang diberikan atau disediakan. 6. Meningkatkan penjualan. Kegiatan promosi bertujuan untuk meningkatkan volume penjualan melalui berbagai teknik advertising, personal selling, sales promotion, dan publicity. 7. Menstabilkan penjualan. Kegiatan promosi dilakukan perusahaan agar tidak terjadi penurunan yang signifikan atas volume penjualannya. 8. Memposisikan produk. Perusahaan melakukan promosi untuk menjalankan strategi positioing product dengan menginformasikan keunggulan produknya dibandingkan produk pesaing melalui teknik periklanan.
64 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 64 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 9. Membentuk citra produk. Promosi bertujuan untuk membangun image atau citra produk di benak konsumen. 10. Berbagai teknik yang digunakan dalam kegiatan promosi disebut dengan bauran promosi atau promotional mix yaitu kombinasi teknik advertising, personal selling, sales promotion, dan publicity yang diterapkan dalam mencapai target penjualan. Gambar 5.2 Promotional Mix Sumber:Dokumen Pribadi B. Bauran Promosi 1. PERIKLANAN (ADVERTISING) Pengertian periklanan menurut Fandy Tjiptono (2015) mengatakan bahwa: “Iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung yang didasari pada informasi tentang keungulan atau keuntungan suatu produk, yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa menyenangkan yang akan mengubah pikiran seseorang untuk melakukan pembelian”. Sedangkan menurut Lee dan Johnson yang dialih bahasakan oleh Munandar dan Priatna (2007). “Periklanan adalah komunikasi komersiil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail (pengeposan langsung), reklame luar ruang, atau kendaraan umum”. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa periklanan adalah semua bentuk komunikasi atau presentasi nonpersonal yang bersifat komersiil melalui berbagai media dengan tujuan untuk memberikan informasi spesifikasi dan keunggulan suatu produk atau mempromosikan gagasan kepada calon konsumen sehingga tertarik untuk membeli produk. Sasaran dari teknik periklanan adalah konsumen akhir. Menurut Fandy Tjiptono (2015) iklan dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai aspek, yaitu;
RETAIL 65 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 65 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL a. Dari aspek isi pesan 1) Product advertising, yaitu iklan yang berisi informasi tentang spesifikasi dan keunggulan suatu produk baik berupa barang atau jasa suatu perusahaan. Terdapat dua jenis product advertising yaitu: a) Direct-action advertising, yaitu iklan tentang suatu produk yang dirancang untuk mendapatkan tanggapan dan mendorong adanya permintaan dalam jangka pendek dari pemirsa atau calon konsumen. b) Indirect-action advertising, yaitu iklan tentang suatu produk yang dirancang untuk menumbuhkan permintaan konsumen dalam jangka panjang. 2) Institutional advertising, yaitu iklan yang berisi informasi tentang suatu usaha bisnis atau perusahaan bisnis untuk membangun goodwill serta image positif perusahaan di benak masyarakat atau pemirsa. Institutional advertising terbagi atas: a) Patronage advertising, yakni iklan yang berisi informasi tentang usaha bisnis suatu. b) Iklan layanan masyarakat (public service advertising), yakni iklan yang berisi informasi kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan yang bertujuan menunjukkan bahwa pemilik iklan adalah warga negara yang baik. b. Dari aspek tujuan; 1) Pioneering advertising (informative advertising), yaitu iklan yang bertujuan untuk menciptakan permintaan awal suatu produk. 2) Competitive advertising (persuasive advertising), yaitu iklan yang bertujuan mempengaruhi pilihan konsumen terhadap merek tertentu. 3) Reminder advertising, yaitu jenis iklan yang bertujuan mengingatkan atau melekatkan suatu merek produk di benak konsumen. c. Dari aspek pemilik iklan. 1) Vertical cooperative advertising, yaitu iklan bersama yang dikelola dan dibiayai para anggota saluran distribusi, seperti produsen, pedagang besar, agen, dan pengecer. 2) Horizontal cooperative advertising, yaitu iklan bersama yang dikelola dan dibiayai oleh beberapa perusahaan sejenis.
66 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 66 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 5.3 Periklanan Sebuah Bisnis Ritel Sumber: https:// www.slideshare.net/ RSO-Batch3/ retail-store-persentation-mas-made Menurut Fandy Tjiptono (2015) sebuah iklan mempunyai sifat-sifat berikut: a. Public Presentation. Setiap orang atau pemirsa akan menerima pesan yang sama tentang produk yang diiklankan. b. Persuasiveness. Pesan yang sama dalam iklan dapat disampaikan secara berulang-ulang untuk memperkuat penerimaan informasi. c. Amplifed Expresiveness. Iklan mampu mendramatisasi perusahaan dan produknya melalui gambar dan suara untuk membangun dan mempengaruhi perasaan masyarakat. d. Impersonality Iklan merupakan komunikasi satu arah (monolog) yang bersifat tidak memaksa agar khalayak memperhatikan dan menanggapinya secara langsung. Tujuan dari suatu kegiatan periklaan menurut Terence A. Shimp (2003), adalah: a. Informing (memberi informasi), iklan memberikan informasi suatu merek produk berikut spesifikasi dan keunggulannya sehingga konsumen menyadarinya serta memfasilitasi penciptaan citra merek yang positif. b. Persuasing (mempersuasi), iklan yang efektif akan dapatmempersuasi atau mempengaruhi calon konsumen untuk membeli barang atau jasa yang diiklankan. c. Reminding (mengingatkan), iklan menjaga agar merek suatu prosuk tetap diingat oleh konsumen.perusahaan tetap segar dalam ingatan para konsumen, bahkan bisa meningkatkan minat konsumen terhadap merek yang sudah ada dan melakukan pembelian terhadap sebuah merek yang sebelumnya tidak ada keinginan untuk membelinya. d. Adding Value (memberikan nilai tambah). Iklan memberikan nilai tambah pada merek suatu produk dengan mempengaruhi persepsi konsumen sehingga bisa menjadikan sebuah merek dipandang lebih elegan, bergengsi, dan lebih unggul dibanding produk pesaing.
RETAIL 67 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 67 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL e. Assisting (mendampingi), iklan berperan sebagai pendamping penerapan teknik promosi lain dalam proses komunikasi pemasaran. Contohnya, iklan digunakan digunakan untuk mengomunikasikan adanya potongan harga, bonus, kupon dan undian. Rot Zoill melalui Rendra Widyatama (2007) menjelaskan empat fungsi periklanan, yaitu; a. Fungsi Precipitation. Iklan mempercepat perubahan kemampuan konsumen dalam melakukan pengambilan keputusan melalui pemberian informasi tentang suatu produk serta penumbuhan dan peningkatan kesadaran atas suatu produk. b. Fungsi Persuasion. Iklan mempengaruhi dan membujuk pemirsa dengan memberikan informasi mengenai ciri-ciri dan keunggulan produk. c. Fungsi Reinforcement (meneguhkan sikap); Iklan berfungsi untuk memperkuat keputusan pembelian calon konsumen. d. Fungsi Reminder. Iklan berfungsi mengingatkan konsumen atas suatu merek produk. Kelebihan dari strategi periklanan adalah; a. Dapat menjangkau banyak calon konsumen yang tersebar secara geografis dengan biaya rendah. b. Produsen atau penjual memungkinkan mengulang pesan serupa yang berkali-kali, dan calon pembeli dapat membandingkan pesan yang diterima dari beberapa pesaing. c. Teknik promosi untuk membangun citra dalam jangka panjang untuk suatu produk, perusahaan maupun penjual. d. Dapat meningkatkan penjualan dengan cepat Sedangkan kelemahannya adalah; a. Biaya mahal, membutuhkan tampilan visual, audio, animasi, personil, keahlian, dan seni untuk menciptakan iklan yang bagus dan menarik. b. Tidak melibatkan komunikasi langsung dengan calon pembeli sehingga kurang dapat membujuk seperti personal selling. c. Pesan yang disampaikan kepada calon konsumen hanya berupa pesan satu arah. d. Tidak ada keharusan para pemirsa atau pembaca untuk memperhatikan tayangan iklan.
68 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 68 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 5.4 Iklan Media Cetak Sumber: https:// www.youtube.com/ watch?v=FcEqZBY14-k Langkah-langkah dalam keputusan iklan meliputi; a. Menentukan tujuan iklan (Mission); b. Menetapkan jumlah anggaran iklan (Money); c. Mengembangkan isi pesan iklan (Message); d. Menentukan media dan mengukur efektivitas (Media); dan e. Melakukan evaluasi efektivitas iklan (Measurement). Periklanan yang dilakukan oleh berbagai pihak baik itu seperti produsen, distributor, atau pengecer dilaksanakan melalui media-media antara lain yaitu: a. Media elektronik, seperti televisi, radio, internet, dan lain-lain; b. Media cetak, seperti surat kabar, tabloid, majalah, kartu, brosur, katalog, kalender, dan lain-lain; c. Media luar gedung, seperti billboard, poster, banner, sign, dan lain-lain. d. Media lainnya seperti hadiah kecil, seperti korek api, jam, kipas kertas, payung, baju kaos, dan lain-lain. Dalam memilih media periklanan, harus memperhatikan reputasi media, prestise media, dan isi dari media Menurut Widyatama (2007), menurut media yang digunakan iklan dibagi menjadi: a. Iklan lini atas (above the line). Iklan yang menggunakan media yang bersifat lebih universal atau massal, dimana semua pemirsa dari berbagai kalangan akan menerima pesan yang sama dan serentak. Media yang digunakan adalah televisi, radio, surat kabar, dan berbagai media sosial berbasis internet. b. Iklan lini bawah (below the line) Iklan yang menggunakan media yang bersifat lebih khusus untuk area atau kalangan pemirsa tertentu sebagai pelengkap dari iklan lini atas. Media yang digunakan diantaranya adalah spanduk, poster, leaflet, baliho, point of purchase, kartu nama, stiker, dan lain-lain.
RETAIL 69 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 69 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Pebisnis ritel dapat memilih dua jenis periklanan yang akan digunakan yaitu : a. Product-Oriented Advertising Periklanan yang isinya berorientasi atau lebih menitikberatkan pada sebuah merek produk atau brand name terutama general product, karena konsumen sudah mengenalnya dan konsumen sangat dipengaruhi oleh brand name tersebut. Peritel memberikan harga diskon atau obral atas beberapa produk yang dijual untuk menarik kedatangan konsumen ke toko. Gambar 5.5 Contoh Product Oriented Advertising Sumber: Dokumen Pribadi b. Institutional Advertising Periklanan yang isinya menitiberatkan pada nama besar toko atau peritel, menciptakan dan meningkatkan kesadaran konsumen atas keberadaan suatu toko ritel. Peritel akan membangun image dan nama baik toko melalui jenis iklan ini. Gambar 5.6 Contoh Institusional Advertising Sumber: https:// www.sumselloker.com/ 2019/ 05/ loker-crew-store-alfamart.html
70 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 70 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 2. PENJUALAN PERORANGAN (PERSONAL SELLING). Dalam membangun pilihan dan menumbuhkan keyakinan konsumen diperlukan promosi dengan teknik penjualan perorangan. Menurut Tjiptono (2015), “personal selling adalah komunikasi langsung (tatap muka) antara penjual dan calon pelanggan untuk memperkenalkan suatu produk kepada calon pelanggan dan membentuk pemahaman terhadap produk sehingga mereka kemudian akan mencoba membelinya”. Personal selling adalah suatu teknik promosi melalui komunikasi langsung dengan calon konsumen yang memungkinkan adanya interaksi aktif dua arah dengan tujuan untuk memperkuat keputusan dan meningkatkan terwujudnya penjualan produk. Personal selling memungkinkan interaksi pribadi secara langsung antara dua orang atau lebih sehingga penjual dapat mengamati kharakteristik, keinginan, dan kebutuhan calon konsumen dengan cepat. Personal selling memungkinkan terjalinnya berbagai jenis hubungan antara penjual dengan calon konsumen, mulai dari hubungan sebatas antara penjual dengan konsumen, hubungan persahabatan, atau bahkan juga menimbulkan hubungan yang berujung kurang baik sehingga calon konsumen tidak mau lagi berkunjung ke toko atau membeli suatu produk. Biasanya calon konsumen merasa perlu mendengarkan dan memberi reaksi, dan penjual mengucapkan terima kasih atas kesempatan dan kunjungan dari konsumen. Gambar 5.7 Personal Selling Sumber: https:// www.bepacedu.com/ personal-selling-responsibility/ Langkah-langkah dalam proses penjualan melalui personal selling menurut Kotler (2009) adalah sebagai berikut : a. Memilih dan menilai prospek. Wiraniaga harus memilih calon pelanggan dan mengidentifikasi calon konsumen yang dapat menjadi pelanggan potensial. b. Prapendekatan. Sebelum mengunjungi calon konsumen, wiraniaga harus belajar banyak tentang organisasi atau instansi (apa yang dibutuhkan organisasi dan siapa yang terlibat dalam pembelian) dan pembelinya (kharakteristik dan gaya pembelian).
RETAIL 71 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 71 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL c. Pendekatan. Wiraniaga harus mengetahui bagaimana cara melakukan pendekatan dan menjalin hubungan yang baik di awal pertemuan. d. Presentasi dan Demo. Wiraniaga menjelaskan spesifikasi dan keunggula produk kepada pembeli. e. Menangani Keberatan. Dalam mengatasi komplain atau keberatan dari konsumen, wiraniaga harus menggunakan pendekatan positif dengan mendengarkannya untuk menggali semua keberatan. Wiraniaga hendaknya meminta konsumen untuk menjelaskan semua keberatan, menyampaikan terima kasih, dan menyampaikan permohonan maaf. Penjual harus bisa menjadikan keberatan konsumen sebagai peluang dan alasan konsumen untuk melakukan pembelian. f. Tindak Lanjut. Wiraniaga harus melakukan tindak lanjut dalam meningkatkan kepuasan konsumen dengan memberikan layanan purna jual yang ada sehingga bisa meningkatkan kesetiaan pelanggan. Tujuan personal selling menurut Kotler dan Keller (2008), adalah: a. Mencari calon pelanggan. Mengidentifikasi keinginan calon konsumen dan menjadikannya sebagai pelanggan. b. Menentukan sasaran. Merupakan teknik dalam menentukan pelayanan bagi calon pelanggan dan pelanggan yang sudah ada. c. Mengomunikasikan. Memberikan informasi tentang produk, layanan, dan program atau kebijakan dari kepada calon konsumen. d. Menjual. Melalui kegiatan pendekatan, pemberian informasi, menjawab pertanyaan, mengatasi keberatan wiraniaga yang akan diakhiri dengan transaksi jual-beli. e. Melayani. Melayani konsumen seperti bantuan teknis, mengonsultasikan masalah ke pihak terkait, layanan pembiayaan dan pengiriman, serta layanan pelengkap lain. f. Mengumpulkan informasi. Mengumpulkan informasi berdasarkan observasi, survei, dan informasi dari konsumen berdasarkan komunikasi yang dilaksanakan sebagai data dalam riset pasar. Manfaat dari teknik personal selling adalah; a. Menumbuhkan perhatian pelanggan yang relatif tinggi, karena penjual dengan calon pembeli melakukan komunikasi tatap muka sehingga calon pembeli sulit untuk menghindari pesan penjual. b. Memungkinkan penjual menyampaikan pesan sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan pelanggan yang datang. c. Komunikasi yang terjadi menghasilkan umpan balik, sehingga penjual dapat mengetahui apakah presentasi penjualannya efektif atau tidak. d. Memungkinkan penjual mengomunikasikan sejumlah besar informasi teknis dan lebih lengkap dibanding teknik promosi lain.
72 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 72 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Terdapat tiga bentuk personal selling menurut Djasmin Saladin dan Yevis Merti Oesman (2002), yaitu; a. Field Selling, yaitu wiraniaga melakukan penjualan di luar perusahaan dengan mendatangi calon konsumennya. Field selling meliputi: 1) Penjualan langsung yaitu penjualan dimana wiraniaga mendatangi calon konsumen di tempatnya di rumah atau kantor atau dalam suatu acara untuk menjual produknya. 2) Penjualan otomatis yaitu penjualan tanpa layanan tenaga manusia dengan menggunakan layanan mesin otomatis selama 24 jam. 3) Jasa pembelian yaitu penjualan yang dilakukan oleh badan usaha yang menyediakan jasa seperti; sekolah, rumah sakit, dan bank. b. Retail Selling, yaitu Penjualan yang melayani konsumen yang datang ke toko atau perusahaan. c. Executive Selling, merupakan hubungan bisnis yang dijalin oleh pemimpin perusahaan dengan pemimpin perusahaan lainnya atau dengan pemerintah untuk melakukan kegiatan penjualan. Teknik personal selling memiliki beberapa kelebihan, diantaranya adalah; a. Terjadi interaksi dua arah yang mana kemampuan penjual dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan calon pembeli sangat menentukan tingkat pengaruh dari pesan yang disampaikan. b. Pesan yang disampaikan wiraniaga menyesuaikan dengan situasi yang sedang dihadapi serta kharakteristik dan kebutuhan konsumen. c. Personal selling dapat mengurangi adanya gangguan komunikasi dengan calon konsumen. d. Keterlibatan dalam proses keputusan, wiraniaga dalam personal selling dapat menjadi partner dan pihak yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Kelemahan dari personal selling meliputi: a. Inkonsistensi pesan yang disampaikan penjual kepada konsumen dapat menjadi image buruk bagi perusahaan karena perbedaan pengetahuan dan kemampuan serta cara dan gaya yang dipakai dalam menyampaikan pesan. b. Memungkinkan munculnya konflik antara tenaga penjual dan manajemen karena wiraniaga cenderung bebas dan fleksibel dalam melakukan komunikasi dengan pembeli. c. Memerlukan biaya tinggi, karena tidak semua wiraniaga mampu melakukan penutupan penjualan secara efektif dan efisien. d. Membutuhkan waktu yang relatif lebih lama. e. Berpotensi menimbulkan konflik antara wiraniaga dengan pembeli seperti membohongi konsumen atau tidak menepati janji sehingga merugikan perusahaan.
RETAIL 73 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 73 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Prinsip-prinsip dasar personal seling adalah: a. Persiapan yang matang, seperti; 1) Menguasai pengetahuan produk; 2) Memiliki pengetahuan tentang kosumen dan calon konsumen; dan 3) Menguasai area penjualan. b. Memperoleh tempat pembeli Dalam mendapatkan pembeli, wiraniaga harus tetap berpedoman pada kebijakan perusahaan terkait saluran distribusi yang digunakan. c. Merealisasikan penjualan Untuk merealisasikan penjualan, personal selling perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) Melakukan pendekatan kepada pembeli; 2) Menentukan keinginan dan kebutuhan pelanggan; 3) Menawarkan barang dengan efektif; 4) Mengatasi komplain konsumen; dan 5) Melaksanakan proses transaksi penjualan d. Menimbulkan goodwill atau nama baik setelah penjualan terjadi. Transaksi penjualan yang telah dilakukan harus bisa memberikan kepuasan bagi pembeli sekaligus menghasilkan keuntungan bagi perusahaan sehingga memberikan pengaruh positif bagi kesinambungan dan perkembangan perusahaan. . 3. PROMOSI PENJUALAN (SALES PROMOTION). Menurut Fandy Tjiptono (2015), “promosi penjualan adalah bentuk persuasi langsung melalui penggunaan berbagai insentif yang dapat diatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera atau meningkatkan jumlah barang yang dibeli oleh pelanggan”. Promosi penjualan merupakan salah satu teknik promosi untuk jangka pendek dengan tujuan untuk menarik konsumen baru, mempengaruhi konsumen untuk mencoba produk baru, mendorong pembelian lebih banyak, menyerang aktivitas promosi pesaing, meningkatkan impulse buying, dan mengupayakan kerja sama yang lebih erat dengan pengecer. Dalam teknik promosi penjualan dilakukan berbagai cara untuk meningkatkan penjualan yang bersifat langsung dan jangka pendek seperti peragaan, pertunjukan, pameran dan demonstrasi dengan berbagai jenis sarana seperti kupon, perlombaan, potongan harga, hadiah, tester produk, bonus, harga banded, dan sebagainya. Pada umumnya teknik promosi penjualan dilakukan secara bersamasama dengan teknik promosi lain. Biaya yang harus dikeluarkan untuk program-program promosi penjualan relatif lebih murah dibanding iklan dan personal selling. Promosi penjualan juga lebih fleksibel implementasinya karena bisa disesuaikan dengan agenda perusahaan dan anggaran keuangan yang dimiliki. Gambar berikut menunjukkan berbagai teknik promosi penjualan.
74 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 74 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 5.8 Berbagai Teknik Sales Promotion Sumber: Dokumen Pribadi Kotler dan Keller (2009), mengelompokkan jenis promosi penjualan terdiri dari; a. Promosi konsumen (consumer promotion). Promosi penjualan untuk mendorong konsumen melakukan pembelian lebih banyak, menciptakan pengujian produk, dan mempengaruhi konsumen untuk beralih produk. Cara yang digunakan berupa pemberian sample produk, kupon, penawaran uang kembali, diskon, bonus, hadiah, premi, dan sebagainya. b. Promosi dagang (trade promotion). Promosi penjualan yang membujuk pengecer untuk menjual produk baru, menambah pembelian, dan mendorong pembelian di luar musim dengan cara memberikan diskon, bonus, hadiah, iklan bersama, kerja sama iklan dan display barang, dan sebagainya. c. Promosi wiraniaga (sale force promotion). Promosi penjualan yang mendorong wiraniaga agar mendukung produk baru dan mendorong wiraniaga untuk mendapatkan calon pelanggan yang lebih banyak. Cara yang bisa digunakan adalah dengan memberi bonus atau melakukan kontes. Tujuan promosi penjualan menurut Buchari Alma (2011) adalah; a. Menarik konsumen baru; b. Memberi reward kepada konsumen lama; c. Meningkatkan daya pembelian ulang dari konsumen lama; d. Mencegah konsumen beralih ke produk lain; e. Memperkenalkan suatu merek produk atau meningkatkan loyalitas; dan f. Meningkatkan volume penjualan dalam jangka pendek dalam rangka memperluas “market share” untuk jangka panjangnya.
RETAIL 75 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 75 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Promosi penjualan merupakan teknik promosi yang paling sering digunakan untuk menarik pelanggan baru, karena teknik ini memiliki beberapa sifat diantaranya; a. Insistent presence. Mengubah kebiasaan konsumen dalam mengonsumsi produk sehingga beralih ke produk perusahaan; dan b. Product demeaning. Memunculkan keraguan di benak konsumen jika teknik ini terlalu sering digunakan karena akan muncul anggapan bahwa produk tersebut merupakan produk yang berkualitas rendah. Ciri-ciri promosi penjualan menurut Kotler dan Keller (2009) adalah; a. Komunikasi. Promosi penjualan memberikan informasi suatu produk baru dan mampu menarik perhatian konsumen; b. Insentif. Memberikan penghargaan dan rangsangan yang bernilai bagi konsumen; dan c. Undangan. Mengundang calon konsumen untuk membeli produk pada saat itu juga. Promosi penjualan memiliki beberapa kelebihan yaitu; a. Mempererat hubungan dalam jangka panjang dengan retailer; b. Menghasilkan tanggapan penjualan yang lebih cepat dan terukur dibanding teknik periklanan; c. Menguntungkan produsen atau pengecer yang tidak memiliki anggaran periklanan besar seperti pemimpin pasar; d. Memungkinkan produsen untuk menyesuaikan variasi penawaran dan permintaan jangka pendek; e. Mendorong konsumen untuk mencoba produk baru; dan f. Membantu produsen menyesuaikan program untuk berbagai segmen konsumen. sedangkan kekurangannya adalah; a. Cenderung tidak menghasilkan pembeli baru yang berjangka panjang dalam pasar yang mapan; b. Meningkatkan angka penjualan, tetapi seringkali tidak menambah keuntungan bahkan menimbulkan kerugian; c. Sulit untuk mempengaruhi pengguna loyal suatu produk; d. Cenderung lebih banyak digunakan oleh produk yang belum terkenal; dan e. Dapat menyebabkan konsumen berganti produk. Dalam merumuskan program promosi penjualan secara menyeluruh, pelaku pemasaran harus membuat beberapa keputusan tambahan yaitu: a. Jumlah insentif; b. Jangka waktu; c. Total anggaran; d. Waktu promosi; e. Melaksanakan pengujian terhadap program promosi; dan
76 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 76 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL f. Laporan kegiatan promosi. Promosi penjualan berperan penting dalam bauran promosi, sehingga agar pemanfaatannya efektif dan efisien, maka tujuan promosi harus dirumuskan dengan tepat, program promosi penjualan harus disusun, dipilih media promosi yang tepat, perlu dilakukan tes pendahuluan, dan harus mengevaluasi hasil. Gambar 5.9 Salah Satu Teknik Sales Promotion di Teaching Factory SMKN 1 Malang Sumber: Dokumen Pribadi 4. PUBLISITAS (PUBLICITY). Publisitas (publicity) merupakan usaha untuk mempengaruhi calon konsumen secara non personal terhadap suatu produk dengan menampilkan berita tentang produk, perusahaan dan kegiatan perusahaan melalui berita yang bersifat komersial di berbagai media massa. Teknik publisitas sangat tepat sebagai teknik promosi pada tahap perkenalan karena dapat menjangkau dan memperkenalkan perusahaan dan produk konsumen sasaran yang tidak terjangkau oleh iklan dan personal selling. Khalayak umum akan memperoleh informasi mengenai perusahaan beserta produknya sehingga mengenal. Publicity menawarkan beberapa keunikan produk, informasi yang dapat dipercaya dengan berbagai cerita baru, peristiwa yang lebih nyata dibanding iklan. Penerapan teknik hubungan masyarakat harus terkoordinasi dan terintegrasi dengan promotional mix lain sehingga tujuan promosi dapat tercapai secara efektif dan efisien. Secara umum, periklanan dan personal selling merupakan teknik promosi utama yang implementasinya dilengkapi dengan teknik promosi penjualan, sedangkan kesan positif dari perusahaan dan produk yang dihasilkan ditampilkan melalui teknik publisitas. Publisitas memiliki sifat-sifat diantaranya adalah; a. Tingkat kepercayaan bagi konsumen tinggi, calon konsumen lebih mempercayai informasi publisitas dibanding iklan maupun personal selling;
RETAIL 77 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 77 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL b. Tujuan promosi melalui publisitas tidak disadari oleh konsumen; c. Publisitas mampu menjelaskan produk dalam bentuk cerita yang jelas; d. Tujuan promosi yang sebenarnya tidak disadari oleh calon konsumen. Calon konsumen lebih menganggap sebagai berita atau informasi semata; e. Dramatization, publisitas bisa menggambarkan dan mendramatisir spesifikasi dan keunggulan produk perusahaan dengan jelas dalam bentuk film, slide, atau cerita; dan f. Off-guard, khalayak akan membaca suatu berita dalam suatu media sehingga informasi tetang perusahaan beserta produknya juga terbaca. Kelebihan publisitas adalah: a. Kredibilitas yang tinggi; pembaca lebih mempercayai suatu berita dibanding iklan; b. Mampu menjangkau konsumen yang menghindari wiraniaga dan iklan; c. Efektif dalam menjangkau masyarakat lokal, etnis tertentu dan kelompok lain; d. Berkontribusi dalam peluncuran produk baru; e. Membantu repositioning product yang sudah mapan; f. Menumbuhkan minat terhadap suatu kategori produk; g. Mempengaruhi kelompok sasaran produk tertentu; h. Membantu produk yang menghadapi masalah publik; dan i. Membangun dan meningkatkan image perusahaan. Sedangkan kekurangannya adalah; a. Menumbuhkan kesadaran konsumen atas produk dan membangun merek baru membutuhkan kreatifitas tinggi dan waktu yang lama; b. Kontribusi terhadap tingkat keuntungan sulit diukur; dan c. Tidak mendukung penjualan secara langsung; Berikut ini adalah contoh dari publisitas yang dilakukan oleh sebuah bisnis ritel.
78 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 78 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL ALFAMIDI ‘PERMAK’ TEACHING Factory SMKN 1 Malang MALANG (Realita)-Program pendidikan ritel di SMK Negeri 1 Malang bukanlah hal baru. BERITA EKONOMI BISNIS Kategori : Breaking Kamis, 21 Februari 2019 | 18:19 WIB Program ini sudah berjalan sejak tahun 2017 lalu bersama PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk., perusahaan pengelola ritel Alfamart. Seiring tuntutan pasar, program ini pun terus dikembangkan. Kali ini, SMKN 1 Kota Malang menggandeng sister company Alfamart yakni PT Midi Utama Indonesia Tbk. (Alfamidi). “Alasan kami meng-upgrade kurikulum ritel maupun teaching factory SMKN 1 ini adalah karena bisnis ritel terus berkembang. Kalau dulu ada Alfamart dengan konsep minimarket sekarang ada pula Alfamidi yang masih saudaranya dengan konsep yang lebih luas dan lebih lengkap lagi,” terang Retno Utami, Kepala Sekolah SMKN 1 Malang. Salah satu perubahan yang paling menonjol dalam kurikulum ritel SMKN 1 Malang yang dilakukan dengan Alfamidi adalah adanya teori tentang bagaimana mengatur dan memajang barang dagangan yang bersifat segar seperti buah dan sayur (fresh food). Bahkan, dalam Teaching Factory yang juga sebagai laboratorium ritel SMKN 1 Malang ini pun bakal dilengkapi dengan buah dan sayur atau bahan makanan segar. “Ya, ini agar in-line dengan teori ritel yang diajarkan di kelas karena mengatur alur bahan makanan segar baik buah maupun sayur tidak semudah barang kemasan lain. Jadi mesti hati-hati dan beda perlakuannya,” terang Budi Santoso, Kepala Cabang Alfamidi Jawa Timur. Program kurikulum ritel merupakan program sosial perusahaan Grup Alfa baik Alfamart maupun Alfamidi yang concern di bidang pendidikan dan kewirausahaan. Di Alfamidi sendiri, program yang dinamakan Alfamidi “Kalau ada siswa lulusan kurikulum ritel ini ingin langsung bekerja, Alfamidi siap menerima tanpa test dengan grading (level) satu tingkat dibanding pelamar umum. Namun jika ingin berusaha sendiri, para siswa minimal sudah dibekali ilmu cara berdagang,” papar Budi. Budi berharap, para siswa-siswi yang mengambil program ritel dapat memanfaatkan dengan baik kesempatan tersebut untuk menimba ilmu ritel sebanyak-banyaknya. “Saat ini pemerintah tengah gencar mencanangkan program pendidikan vokasi dimana lulusan SMK diharapkan telah memiliki atau menguasai keahlian tertentu. Nah, kerja sama dengan Alfamart dan Alfamidi ini merupakan salah satu bentuk dari pendidikan vokasi,” terang Retno. Teaching factory Alfamidi di SMKN 1 Malang ini merupakan yang ke-21 secara nasional. Idr Sumber: http:// www.realita.co/ alfamidi-lsquopermakrsquo-teaching-factory- smkn-1-malang
RETAIL 79 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 79 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL C. Strategi Promosi Dalam merencanakan program promosi, manajer pemasaran khususnya bersama pimpinan harus melakukan beberapa hal berikut: 1. Merumuskan promosi dengan menentukan skala prioritas atas beberapa tujuan yang ditargetkan; 2. Mengidentifikasikan segmen pasar yang dituju dengan menentukan faktor geografis, demografis, dan psikografisnya melalui riset pasar; 3. Menyusun anggaran promosi berdasarkan kemampuan perusahaan; 4. Memilih berita. Informasi produk akan menjadi topik utama suatu berita jika produk masih pada tahap perkenalan, dan pada tahap berikutnya promosi dilakukan secara persuasif; 5. Menentukan bauran promosi (promotional mix). Teknik periklanan cenderung digunakan dalam menciptakan kesadaran calon konsumen atas suatu produk atau perusahaan. Personal selling memperjelas informasi dari teknik periklanan dengan menawarkan produk sesuai dengan keinginan pembeli. Teknik publicity dijalankan untuk menciptakan kesan positif terhadap produk dan perusahaan di pikiran calon konsumen. Kemudian, promosi penjulan dilakukan dengan menawarkan berbagai teknik yang menguntungkan calon pembeli jika mereka melakukan pembelian dalam jangka waktu dekat; 6. Memilih media promosi yang akan digunakan (media mix); 7. Mengukur efektivitas penggunaan media promosi; 8. Melakukan modifikasi program promosi dalam hal promotional mix, media mix, berita atau informasi yang akan dimuat, dan anggaran biaya promosi. Dalam mengembangkan promotional mix atau bauran promosi, perusahaan harus mempertimbangkan beberapa faktor berikut; 1. Sifat pasar, yang luas dan kharakteristik pasar secara geografis, demografis, dan psikografis. 2. Jenis produk, apakah produk yang akan dipromosikan merupakan barang konsumsi (convenience, shopping, atau specialty goods) atau barang produksi. 3. Strategi dorong dan tarik. Strategi dorongadalah strategi promosi yang menggunakan tenaga penjual dan trade promotion atau promosi perdagangan untuk mendorong penjualan produk melalui saluran distribusi yang dimiliki. Strategi ini mengoptimalkan peran grosir, pedagang besar, dan pengecer untuk memperkenalkan dan mempromosikan produknya ke konsumen sedangkan strategi tarik adalah strategi promosi yang menggunakan teknik periklanan dan promosi penjualan untuk mempengaruhi konsumen sehingga konsumen akan mencari produk yang dibutuhkan di saluran distribusi yang dimiliki perusahaan baik ke produsen secara langsung maupun melalui pengecer. 4. Tahap kesiapan pembeli. Teknik periklanan dan publisitas lebih berperan dalam membangun kesadaran dan pengetahuan calon konsumen; personal selling berperan dalam mempengaruhi pilihan dan memperkuat keyakinan, promosi penjualan berperan dalam tahap transaksi (kegiatan penutupan). Perusahaan dalam melakukan promosi dapat melakukan salah satu teknik
80 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 80 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL saja maupun dengan mengombinasikan berbagai teknik yang harus dikoordinasikan dengan strategi produk, harga, dan distribusi. Semua bauran pemasaran tersebut akan menjalankan misi perusahaan secara bersamasama dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pelaku pemasaran harus memilih saluran komunikasi dengan alternatif sebagai berikut; 1. Saluran komunikasi pribadi Komunikasi langsung dua orang atau lebih secara tatap muka atau melalui telepon dan surat. 2. Saluran komunikasi bukan pribadi Komunikasi secara tidak langsung tanpa adanya umpan balik dari komunikan. Media yang digunakan dalam kelompok ini adalah; a. Media utama meliputi media cetak, elektronik, maupun tampilan seperti billboard, papan reklame, spanduk. b. Suasana, yaitu rancangan lingkungan yang menumbuhkan keinginan untuk melakukan pembelian produk. c. Peristiwa, yaitu suatu peristiwa yang ditampilkan untuk mengomunikasikan pesan kepada konsumen melalui bagian hubungan masyarakat seperti pertunjukan, dan pameran. Terdapat empat metode yang secara umum digunakan dalam menetapkan besarnya anggaran biaya promosi yaitu: 1. Metode sesuai kemampuan. Penetapan anggaran biaya promosi sesuai kemampuan keuangan perusahaan; 2. Metode persentase penjualan. Penetapan aggaran biaya promosi sebesar persentase tertentu dari nilai penjualan atau dari harga jual per unit; 3. Metode mengimbangi pesaing. Anggaran biaya promosi ditetapkan sebanding dengan anggaran biaya promosi pesaing; dan 4. Metode sasaran dan tugas. Biaya promosi dianggarkan berdasarkan atas sasara yang ingin dicapai dengan promosi. D. Media Promosi dalam Bisnis Ritel Dalam rangka agar tujuan pemasaran dapat tercapai secara efektif dan efisien, pebisnis harus merencanakan penggunaan media promosi dengan tepat. Harus dilakukan perencanaan media yaitu proses mengarahkan pesan promosi ke khalayak sasaran pada waktu dan tempat yang tepat serta menggunakan saluran yang tepat. Perencanaan media melibatkan koombinasi dari tiga tingkat perumusan strategi yaitu strategi pemasaran, strategi periklanan, dan strategi media. Strategi pemasaran memberikan dorongan dan arahan dalam memilih strategi periklanan maupun media yang akan digunakan.
RETAIL 81 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 81 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Dalam memilih jenis media promosi yang akan digunakan, terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan yaitu: 1. Jenis produk yang dipromosikan; 2. Editorial; 3. Sistem distribusi produk yang digunakan; 4. Kemampuan teknis media; 5. Karakteristik media; 6. Sasaran yang dapat dicapai; 7. Strategi periklanan pesaing; dan 8. Biaya promosi. Strategi pemilihan media promosi dijalankan melalui tahap-tahap berikut; 1. Menetapkan anggaran Anggaran promosi hendaknya ditentukan sesuai dengan kemampuan perusahaan dan target keuntungan yang diharapkan dari kegiatan promosi. 2. Menentukan segmen pasar yang dituju Segmen pasar yang akan dituju harus jelas agar karena masyarakat yang memiliki karakteristik sama cenderung bertindak dalam cara serupa pula. 3. Menentukan kharakteristik media Kharakteristik sebuah media promosi perlu dilakukan identifikasi atas halhal berikut; a. Jangkauan: Jumlah khalayak sasaran atau pemirsa sasaran promosi. b. Frekuensi: Frekuensi pemirsa menerima pesan promosi dalam suatu jangka waktu. c. Bobot: Jumlah iklan untuk mencapai jangkauan dan frekuensi yang dikehendaki dalam suatu periode. d. Keberlanjutan: Kelanjutan program periklanan terkait dengan alokasi anggaran. e. Biaya: Biaya yang harus dikeluarkan dalam pembiayaan periklanan. 1. Merumuskan tujuan dan isi iklan Perusahaan harus menentukan tujuan dari iklan yang akan ditayangkan, apakah untuk brand awarness, memberi informasi, atau mempengaruhi khalayak sasaran. Materi iklan yang akan disampaikan menentukan jenis media online atau offline yang akan digunakan. Isi iklan bisa berupa tulisan, gambar, suara, video, dan animasi yang mana hal tersebut akan mempengaruhi jenis media yang mendukung. 2. Memilih media dan sarananya Pelaku pemasaran harus memilih media yang tepat untuk digunakan baik berupa televisi, koran, majalah, radio, reklame luar ruang dan tempat transit, tanggapan langsung, hingga berbagai media sosial berbasis teknologi internet. Sarana yang dipakai berupa program-program siaran tertentu untuk penempatan iklan.
82 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 82 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 3. Pembelian media Tahap berikutnya adalah kegiatan promosi dengan dengan sumber daya yang dimiliki atau dengan menjalin kerja sama dengan perusahaan penyedia media periklanan. Gambar 5.10 Bebagai Jenis Media Promosi Sumber: https:// exodusadvertising.com/ 2015/ 07/ 09/ memilih-media-iklan-yang-tepat/ Dalam menentukan jenis media promosi yang akan digunakan, kita harus tahu kelebihan dan kelemahan berbagai media periklanan yang sering dipakai. 1. Televisi (TV) Kelebihan media televisi sebagi media promosi adalah; a. Jangkauan luas; b. Mudah dipahami karena merupakan kombinasi antara suara dan visual; c. Memiliki karakteristik audiens yang spesifik di setiap programnya; dan d. Merupakan media favorit bagi masyarakat umum. Sedangkan kekurangannya adalah; a. Biaya relatif tinggi; b. Pesan iklan berlangsung singkat (antara 30–60 detik); c. Masyarakat yang melihat iklan belum tentu merupakan segmen pasar dari produk yang diiklankan; dan d. Kecenderungan pemirsa untuk pindah channel saat penayangan iklan. 2. Radio Kelebihan radio sebagai media promosi adalah: a. Biaya relatif rendah; b. Kemudahan mengakses; c. Pesan yang disampaikan cukup bervariatif; d. Jangkauan cukup luas; e. Cukup segmented; dan f. Pendengar jarang melakukan pindah channel saat ada iklan.
RETAIL 83 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 83 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Sedangkan kekurangannya meliputi; a. Pendengar sering kurang fokus dalam mendengarkan pesan atau informasi dari radio; b. Kemungkinan adanya gangguan gelombang saat berada di area tertentu; dan c. Pilihan radio yang memiliki rating tinggi tidak banyak. 3. Koran/ Majalah Kelebihan koran atau majalah sebagai media promosi: a. Merupakan salah satu sumber informasi bagi masyarakat; b. Dapat dinikmati atau dibaca lebih lama dan berulang kali; c. Beberapa koran dan majalah memiliki daerah pemasaran yang cukup luas, lokal atau nasional; d. Koran atau majalah sering digunakan sebagai referensi belanja; e. Jadwal penayangan iklan lebih mudah ditentukan; dan f. Majalah bersifat sangat segmented. Sedangkan kekurangannya : a. Iklan cenderung mudah diabaikan karena konsumen fokus pada berita yang disajikan; b. Tidak bisa menjangkau semua lapisan masyarakat; c. Beberapa produk yang membutuhkan tampilan demo produk secara visual (gerak) kurang cocok diiklankan melalui koran atau majalah; dan d. Masyarakat cukup sekali dalam membaca koran atau majalah dengan waktu yang diperlukannya singkat. 4. Bilboard Bilboard memiliki kelebihan jika digunakan sebagai media promosi yaitu; a. Biaya yang dikeluarkan relatif murah; b. Sangat fleksibel pemasangannya; c. Lebih cepat dan efisien dalam menimbulkan brand wareness dibandingkan media iklan lain karena masyarakat memiliki potensi ingatan yang cukup tinggi setelah melihat iklan di Billboard; d. Biasanya bersifat direct selling; e. Berpotensi menimbulkan kreatifitas; dan f. Mudah diingat. Namun juga memiliki kekurangan : a. Jangka waktu pandang terbatas sehingga harus dibuat pesan yang singkat namun padat; b. Memiliki potensi pengrusakan dari oknum yang tidak menyukainya; dan c. Area jangkauan terbatas.
84 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 84 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 5. Poster/ Baliho/ Spanduk/ Umbul-Umbul Kelebihan poster/ baliho/ spanduk/ umbul-umbul sebagai media promosi adalah; a. Biaya yang diperlukan relatif murah; b. Dapat dibaca berulang kali; dan c. Bersifat fleksibel dan cocok untuk promo produk yang bersifat tentatif. Kekurangannya meliputi; a. Memiliki potensi pengrusakan dari oknum yang tidak menyukainya; b. Area jangkauan terbatas; dan c. Mudah rusak dan tidak tahan lama. 6. Media Online Media online merupakan media promosi berbasis digital dengan beberapa kelebihan sebagai berikut; a. Biaya yang dikeluarkan relatif tidak terlalu besar; b. Bersifat direct selling; c. Penyampaian langsung ke pasar sasaran yang dituju; d. Dapat dibaca atau dilihat berkali kali; e. Area jangkauan luas dan tidak terbatas; f. Tampilan pesan variatif dan menarik dalam bentuk multimedia; dan g. Tersedia berbagai sistem pembayaran iklan online sesuai kebijakan perusahaan. Namun juga memliki kekurangan sebagai berikut; a. Banyak media online yang kredibilitasnya rendah; b. Kenyamanan akses tergantung pada kualitas jaringan internet yang tersedia; dan c. Tidak bisa menjangkau semua lapisan masyarakat. Gambar 5.11 Berbagai Media Iklan Online Sumber: https:// winstarlink.com/ keberhasilan-kampanye-iklan-dalam-proses-pengambilan-keputusancalon-pelanggan/
RETAIL 85 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 85 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Berikut adalah contoh penerapan media promosi cetak yang sering digunakan bisnis ritel; 1. Handling mailer; 2. Shelftaker; Gambar 5.12 Contoh Shelftaker Sumber: Dokumen Pribadi 3. Spanduk/ Banner Out; 4. Banner; dan 5. Wobler. Gambar 5.13 Contoh Wobler Sumber: Dokumen Pribadi
86 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 86 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 6. POP/ Point Of Purchase Gambar 5.14 Contoh POP Sumber: Dokumen Pribadi 7. Skimmer kartonan Gambar 5.15 Contoh Skimmer Kartonan Sumber: Dokumen Pribadi 8. Dressup rak Gambar 5.16 Contoh Dreesup Rak Sumber: Dokumen Pribadi 9. Header gondola Gambar 5.17 Contoh Header Gondola Sumber: Dokumen Pribadi 10. Poster Gambar 5.18 Contoh Poster Sumber: Dokumen Pribadi 11. Hanging mobile Gambar 5.19 Contoh Hanging Mobile Sumber: Dokumen Pribadi
RETAIL 87 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL LEMBAR PRAKTIKUM Lakukan kegiatan berkut! 1. Bentuklah kelompok yang beranggotakan 4 orang! 2. Lakukan perencanaan pembuatan media promosi yang meliputi produk, tehnik promosi, media promosi, isi pesan promosi, biaya promosi, dan jadwal penyelesaian! 3. Buat media promosi! 4. Publikasikan melalui media offline dan atau online! 5. Susun laporan! 6. Presentasikan laporan observasi di depan kelas! Aspek Penilaian: NO. ASPEK PENILAIAN SKOR PENILAIAN 1 Orisinalitas 20 2 Kesesuaian 20 3 Estetika 20 4 Struktur laporan 20 5 Kerja sama tim 20 CAKRAWALA PRIVATE LABEL JADI STRATEGI RITEL MODERN HADAPI KOMPETISI DENGAN DAGANG-EL Peritel modern di Indonesia menerapkan strategi dengan melakukan penjualan produk dengan kemasan dan merek sendiri atau private label dalam menghadapi penurunan konsumsi dan daya beli di tengah-tengah masyarakat. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan bahwa “produk private label merupakan salah satu upaya peritel modern untuk mempertahankan konsumen setianya yang satu persatu mulai beralih ke platform dagang-el (e-commerce) dengan segudang promosi yang ditawarkan. Produk private label memungkinkan untuk dijual dengan harga yang lebih terjangkau dan berkualitas sama dengan produk sejenis. Peritel modern memilih dan menentukan produk yang paling disukai konsumen kemudian memesan ke produsen langsung. Produk private label yang ditawarkan oleh peritel modern sebagian besar adalah produk kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods/ FCMG) dan produk generik yang harganya relatif terjangkau, digunakan dengan segera, dan sedikit membutuhkan pertimbangan dalam keputusan pembelian. Konsumen sasaran dari produk private label adalah konsumen yang sensitif terhadap harga dan tidak memiliki loyalitas terhadap suatu merek.
88 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL CAKRAWALA JELAJAH INTERNET Dalam menjalankan strategi promosi produk private label, peritel modern harus memperkuat branding di setiap gerai yang dimiliki dan melakukan pengemasan produk dengan kemasan yang menarik, serta menjaga kualitas produk private label. Produk private label merupakan 100% produk lokal dan dipasok oleh UKM yang telah memenuhi syarat. Hal tersebut merupakan salah satu cara bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam memasarkan produknya yang secara kualitas sudah baik namun belum memenuhi persyaratan sehingga bisa meningkatkan omset penjualan dan menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas pangsa pasarnya. Dikutip dari: Bisnis.com, JAKARTA https:// ekonomi.bisnis.com/ read/ 20191203/ 12/ 1177400/ private-labeljadi-strategi-ritel-modern-hadapi-kompetisi-dengan-dagang-el Guna menambah wawasan tentang promosi dan media yang digunakan, kunjungi https:// www.indoworx.com/ jenis-iklan-online/ Promosi merupakan salah satu elemen bauran pemasaran (marketing mix) yang berperan penting dalam kegiatan pemasaran produk suatu perusahaan. Promosi bertujuan untuk memodifikasi tingkah laku, memberi tahu, membujuk, dan mengingatkan. Strategi yang dapat digunakan dalam promosi disebut dengan bauran promosi atau promotional mix yaitu kombinasi strategi yang paling baik dari variabel-variabel periklanan, personal selling, promosi penjualan, publisitas, serta alat promosi lain yang direncanakan untuk mencapai target penjualan. Periklanan adalah semua bentuk komunikasi atau presentasi nonpersonal yang bersifat komersiil melalui berbagai media dengan tujuan untuk memberikan informasi spesifikasi dan keunggulan suatu produk atau mempromosikan gagasan kepada calon konsumen sehingga tertarik untuk RANGKUMAN
RETAIL 89 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RANGKUMAN TUGAS MANDIRI membeli produk. Sasaran dari teknik periklanan adalah konsumen akhir. Personal selling adalah suatu teknik promosi melalui komunikasi langsung dengan calon konsumen yang memungkinkan adanya interaksi aktif dua arah dengan tujuan untuk memperkuat keputusan dan meningkatkan terwujudnya penjualan produk. Personal selling memungkinkan interaksi pribadi secara langsung antara dua orang atau lebih sehingga penjual dapat mengamati kharakteristik, keinginan, dan kebutuhan calon konsumen dengan cepat. Promosi penjualan merupakan salah satu teknik promosi untuk jangka pendek dengan tujuan untuk menarik konsumen baru, mempengaruhi konsumen untuk mencoba produk baru, mendorong pembelian lebih banyak, menyerang aktivitas promosi pesaing, meningkatkan impulse buying, dan mengupayakan kerja sama yang lebih erat dengan pengecer. Dalam teknik promosi penjualan dilakukan berbagai cara untuk meningkatkan penjualan yang bersifat langsung dan jangka pendek seperti peragaan, pertunjukan, pameran dan demonstrasi dengan berbagai jenis sarana seperti kupon, perlombaan, potongan harga, hadiah, tester produk, bonus, harga banded, dan sebagainya. Publisitas (publicity) merupakan usaha untuk mempengaruhi calon konsumen secara non personal terhadap suatu produk dengan menampilkan berita tentang produk, perusahaan dan kegiatan perusahaan melalui berita komersial di berbagai media massa. Teknik publisitas sangat tepat sebagai teknik promosi pada tahap perkenalan karena dapat menjangkau dan memperkenalka perusahaan dan produk ke pembeli potensial yang tidak dapat dijangkau dengan periklanan dan personal selling. Khalayak umum akan memperoleh informasi mengenai perusahaan beserta produknya sehingga mengenal. Baca ketarangan berikut dan kerjakan sesuai dengan perintah! Anda adalah SPG dari produk handphone merek “Sam Sam” yang bertugas melakukan personal selling. Tuliskan dialog percakapan yang akan Anda sampaikan dalam kegiatan personal selling.
90 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENILAIAN AKHIR BAB REFLEKSI Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Jelaskan tujuan dari kegiatan promosi! 2. Menurut Anda apakah semua tehnik promosi harus dijalankan secara bersamaan? Jelaskan! 3. Kapan Anda memerlukan tehnik periklanan dalam kegiatan promosi? 4. Berikan contoh dari; a. Informative advertising; b. Persuasive advertising; dan c. Reminder advertising 5. Mengapa tehnik personal selling sangat diperlukan dalam melakukan penjualan barang dan jasa? 6. Jelaskan langkah-langkah personal selling! 7. Jika Anda ingin mempromosikan produk “makanan khas Malang”, maka tehnik sales promotion apa yang akan Anda jalankan? 8. Apakah sales promotion itu hanya diperuntukkan bagi konsumen akhir saja? Jelaskan! 9. Berikan contoh tehnik publicity dalam promosi! 10. Jika Anda melakukan promosi suatu produk, media promosi online atau offline kah yang akan Anda gunakan? Setelah mempelajari bab promosi dalam bisnis ritel ini ini Anda tentunya telah memahami tentang konsep promosi, bauran promosi, strategi promosi, dan media promosi dalam bisnis ritel. Dari materi terseut mana yang menurut Anda paling sulit untuk dipahami? Coba Anda diskusikan dengan teman sebangku/ sekeliling Anda atau tanyakan kepada bapak atau ibu guru pengajar, sehingga Anda akan memiliki dasar pengetahuan untuk mempelajari materi-materi yang selanjutnya.
RETAIL 91 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI BAB VI ADMINISTRASI BISNIS RITEL PETA KONSEP Setelah mempelajari materi tentang administrasi bisnis ritel, peserta didik dapat mendeskripsikan administrasi bisnis ritel, menerapkan prosedur adminstrasi dan membuat administrasi bisnis ritel dengan benar. Administrasi, Transaksi, Bisnis Ritel ADMINISTRASI BISNIS RITEL Ruang Lingkup Administrasi Transaksi SOP Perusahaan Bukti Transaksi BAB VI ADMINISTRASI BISNIS RITEL
92 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL PENDAHULUAN Gambar 6.1. Pentingnya Administrasi Bisnis Sumber: https:// www.danafina.com/ akuntansi-sederhana-ukm/ Secara umum munculnya masalah dalam suatu usaha adalah akibat kurang terjaganya administrasi usaha sehingga mengganggu kelancaran operasional perusahaan. Banyak pengelola usaha kecil yang tidak melakukan pencatatan transaksi yang ada dalam usaha tersebut. Ketidakmampuan atau kesalahan kecil dalam pengelolaan dana yang dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan usaha sering tidak diperhatikan. Hal tersebut kesulitan pengelolaan oleh pihak manajemen dan munculnya berbagai penyelewengan serta kecurangan yang sulit terdeteksi. Oleh karena itu, permasalahan administrasi bisnis merupakan hal yang tidak bisa dianggap sepele terkait operasional dan pengembangan perusahaan. Penerapan administrasi bisnis tergantung pada kondisi perusahaan berikut sumber daya yang dimiliki. MATERI PEMBELAJARAN A. Ruang Lingkup Administrasi Transaksi Banyak perusahaan ritel yang hanya fokus megejar pencapaian keuntungan tanpa melakukan kegiatan administrasi atas transaksi yang dilakukan. Mereka tidak melakukan pencatatan transaksi karena merepotkan dan menganggap sebagai hal yang kurang penting sehingga tidak diketahui laporan keuangan atas kinerja perusahaan bahkan juga sulit mendeteksi saat ada kesalahan atau penyelewengan. Kondisi tersebut akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan perusahaan karena pihak manajemen mengalami kesulitan dalam menentukan dan menjalankan strategi bisnis.
RETAIL 93 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 93 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 1. Pengertian Administrasi Gambar 6.2. Kegiatan Administrasi Sumber: https:// forum.teropong.id/ 2017/ 01/ 19/ pengertian-administrasi-ciri-ciri-fungsi-tujuan-ruanglingkup-dan-peranan-administrasi/ Administrasi berasal dari bahasa Latin, ad (intensif) dan ministrare (melayani, membantu). Dalam bahasa Belanda dikenal dengan administratie, artinya adalah kegiatan tata usaha kantor atau kegiatan tata pembukuan. Administrasi merupakan kegiatan ketatausahaan yang berperan dalam mencapai tujuan suatu organisasi. Menurut The Liang Gie (dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014) pengertian administrasi secara luas adalah “serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekolompok orang dalam suatu kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu”. Di dalam administrasi terdapat unsur kegiatan, sumber daya manusia sebagai pelaku kegiatan serta tujuan organisasi yang akan dicapai. Implemetasi kegiatan administrasi terwujud melalui fungsi manajemen yang dijalankan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Menurut Dedi Sudirman (dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014) dijelaskan bahwa ruang lingkup dari kegiatan administrasi adalah. a. Menghimpun, yaitu menerima dan mengumpulkan informasi internal dan eksternal; b. Mencatat, yaitu mencatat semua transaksi atau berbagai informasi terkait operasional perusahaan; c. Mengolah, yaitu mengolah data dan informasi dengan teknik tertentu sehingga menjadi informasi baru yang lebih bermanfaat; d. Menggandakan, yaitu memperbanyak dalam bentuk hard copy maupun soft copy; e. Mengirim, yaitu menyampaikan informasi kepada pihak yang berkepentingan; dan f. Menaruh, yaitu mengarsip data dan informasi.