The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by E_BOOK SMK BATIK 1 SURAKARTA, 2023-01-27 00:59:07

Pengelolaan Bisnis Ritel Jilid 1

Kompetensi Keahlian BDP

Keywords: Ritel

94 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 94 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 2. Pengertian Transaksi Gambar 6.3 Transaksi Sumber: https:// www.ruangguru.co.id/ pengertian-transaksi-dalam-suatu-perusahaan/ Dalam kegiatan perdagangan, transaksi dikenal sebagai persetujuan jual beli antara penjual dengan pembeli. Menurut Skousen (dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014) “transaksi adalah pertukaran barang dan jasa antara (baik individu, perusahaan-perusahaan dan organisasi lain) kejadian lain yang mempunyai pengaruh ekonomi atas bisnis”. Menurut Bastian (dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014) “transaksi adalah pertemuan antara dua belah pihak (penjual dan pembeli) yang saling menguntungkan dengan adanya data/ bukti/ dokumen/ pendukung yang dimasukkan ke dalam jurnal setelah melalui pencatatan”. Transaksi adalah suatu kejadian atau kegiatan ekonomi yang dapat dinilai dengan satuan uang dan mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan baik harta, hutang, maupun modal. Setiap bukti transaksi harus dilakukan pencatatatan, diolah, dan diarsipkan oleh bagian administrasi sehingga tersusun sebuah laporan keuangan karena transaksi usaha akan mempengaruhi posisi keuangan suatu usaha. Kegiatan tersebut bertujuan agar pimpinan perusahaan dapat mengetahui perkembangan perusahaan, melakukan evaluasi, serta penyusunan rencana dan strategi untuk periode yang akan datang. a. Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Transaksi Dalam transaksi, terdapat pihak-pihak yang terlibat yaitu; 1) Wiraniaga (Tenaga Penjual) Gambar 6.4 Sales (Tenaga Penjual) Sumber: https:// riaupos.co/ 212587-berita-boom-akhir-tahun-beli-mobil-honda-bisa-dapat-tv-hingga-iphone. html


RETAIL 95 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 95 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Wiraniaga merupakan ujung tombak kegiatan pemasaran produk pemasaran yang berperan dalam melakukan komunikasi yang efektif hingga tercapai kesepakatan jual beli. Keuntungan dari adanya fungsi penjualan adalah; a) Menciptakan transaksi penjualan; b) Mencari dan mendapatkan konsumen; c) Memberikan informasi tentang produk dan perusahaan kepada calon pembeli; d) Memberikan pelayanan dalam transaksi jual beli; dan e) Melakukan pemindahan hak milik produk. 2) Pelanggan (Pembeli) Gambar 6.5 Pelanggan (Pembeli) Sumber: https:// nova.grid.id/ read/ 051853408/ kenali-7-tipe-orang-saat-belanja-kamu-termasuk-tipeyang-mana?page=all Pelanggan adalah konsumen baik individu maupun sebuah instansi yang melauka pembelian barang secara berulangkali. Pelanggan merupakan aset terbesar perusahaan dan investasi perusahaan karena pelanggan yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap produk dan perusahaan akan membantu perusahaan dalam mempromosikan produk ke calon pelanggan lain melalui teknik mulut ke mulut. 3) Supplier (Pemasok) Gambar 6.6 Supplier Partners Sumber: http:// djakartatoday.com/ 2018/ 01/ 23/ intaz-supplier-bahan-makanan-pt-pelni/


96 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 96 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Pemasok atau supplier adalah pihak yang menyediakan barang yang diperlukan suatu perusahaan sehingga dapat menjalankan kegiatan operasionalnya. Bentuk dari supplier diantaranya adalah; a) Pedagang Besar Pedagang besar adalah pedagang yang membeli barang dalam partai besar dan menjualnya ke pengecer, pedagang besar lain, organisasi, atau produsen. b) Agen Individu atau badan perwakilan resmi suatu produsen dan hanya menjual barang merek tertentu berdasarkan kontrak kerja sama dengan produsen yang meliputi wilayah operasional, harga jual, besaran komisi, hak dan kewajiban, jangka waktu kontrak, dan lain-lain. c) Fasilitator Individu atau badan yang bergerak dalam bidang yang menunjang kegiatan transaksi jual-beli, seperti lembaga keuangan, perusahaan transportasi, pergudangan, asuransi, dan lain-lain. b. Jenis Transaksi Transaksi yang terjadi pada suatu perusahaan luas dan beragam bentuk bukan, jenis, maupun pihak yang terkait. Berikut adalah jenis-jenis transaksi jika dilihat dari beberapa sudut padang. 1) Berdasarkan Ruang Lingkupnya a) Transaksi Internal Transaksi internal adalah transaksi yang terjadi antar pihak yang ada di dalam suatu perusahaan, seperti pimpinan memberikan memo kepada seorang karyawan, penyusutan nilai aktiva tetap, pemakaian perlengkapan, dan kejadian internal lain yang mengakibatkan adanya perubahan kekayaan perusahaan. b) Transaksi Eksternal Transaksi eksternal adalah transaksi yang terjadi dengan pihak luar perusahaan baik supplier, kansumen, kreditur, debitur, fasilitator, dan yang lainnya sehingga terjadi transaksi seperti pembelian, penjualan, pembayaran utang-piutang, pembayaran biaya, pembayaran jasa, dan sebagainya dalam rangka menjalankan operasional perusahaan sehingga tujuan perusahaan tercapai. 2) Jenis-Jenis Transaksi Berdasarkan Bidangnya a) Transaksi Modal Trasaksi modal adalah transaksi yang mengakibatkan adanya perubahan nilai modal baik mengalami peningkatan atau penurunan. Contoh transaksi modal antara lain: (1) Pemilik menyetorkan uang sebagai modal usaha, atau menyerahkan peralatan, tanah dan lainnya dalam rangka menjalankan operasional perusahaan. (2) Pemilik mengambil sebagian uang atau barang milik perusahaan untuk kepentingan pribadi (prive).


RETAIL 97 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 97 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL b) Transaksi Usaha Gambar 6.7 Transaksi Usaha Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014: 23) Transaksi usaha adalah transaksi yang terkait dengan kegiatan utama perusahaan dalam rangka mencapai keuntungan yang ditargetkan, misalnya toko elektronik memiliki kegiatan utama berupa kegiatan jual-beli barang-barang elektronik. Transaksi usaha dari toko elektronik tersebut berupa pendapatan dari hasil penjualan barang elektronik, pembelian barang elektronik, dan pembayaran biaya karyawan. 3. Pengertian Administrasi Transaksi Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014) “administrasi transaksi adalah kegiatan untuk mencatat perubahan-perubahan posisi keuangan sebuah perusahaan yang dilakukan secara kronologis dengan metode tertentu, sehingga hasil pencatatan dapat dikomunikasikan kepada pihak lain”. Administrasi transaksi adalah kegiatan pencatatan, pendistribusian, pengarsipan, dan pelaporan atas transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan. Perusahaan yang menerapkan administrasi transaksi secara tepat akan mendapatkan manfaat berikut; a. Mempermudah perusahaan menghubungi pihak yang terlibat dalam kegiatan operasional perusahaan seperti supplier, konsumen, fasilitator dan yang lainnya; b. Memperkecil risiko kehilangan atau penyelewengan oleh pihak-pihak terkait; c. Mempermudah layanan purna jual dengan adanya bukti transaksi yang merupakan hasil kesepakatan antara penjual dengan pembeli; dan d. Memudahkan pemilik perusahaan dalam melakukan evaluasi dan memantau perkembangan perusahaan melalui laporan keuangan.


98 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 98 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL a. Unsur-Unsur Administrasi Transaksi Kegiatan administrasi transaksi melibatkan unsur-unsur berikut dalam implementasinya; 1) Manusia Sebagai unsur terpenting dan utama kegiatan perusahaan termasuk kegiatan administrasi transaksi, karyawan dalam hal ini harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan sesuai dengan tuntutan perusahaan dan perkembangan teknologi. Karyawan harus selalu melakukan upgrade pengetahuan dan ketrampilan sehingga bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal. 2) Material Material adalah harta kekayaan perusahaan baik yang berwujud maupun tidak berwujud yang digunakan untuk menjalankan operasional perusahaan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan yang ditentukan. Harta perusahaan tersebut berupa perlengkapan kantor, peralatan kantor, gedung, serta uang. 3) Metode Metode merupakan teknik dan prosedur atau tahap yang harus dijalankan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tujuan perusahaan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Gambar 6.8 Unsur-Unsur Administrasi Transaksi Sumber: Dokumen Pribadi B. Sop Perusahaan Menurut Sutrisno & Suherman (2007) “Standard Operational Procedure (SOP) adalah aturan yang diterapkan oleh perusahaan dalam menangani berbagai kegiatan yang terjadi di perusahaan”. Menurut Moekijat (2008) “Standard Operational Procedure (SOP) adalah urutan langkah-langkah (atau pelaksanaan-pelaksanaan pekerjaan), dimana pekerjaan tersebut dilakukan, berhubungan dengan apa yang dilakukan, bagaimana melakukannya, bila mana melakukannya, dimana melakukannya, dan siapa yang melakukannya”.


RETAIL 99 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 99 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Kemudian menurut Tjipto Atmoko (2011), “Standard Operational Procedure (SOP) merupakan suatu pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instansi pemerintah berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif dan prosedural sesuai tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan”. Standard Operational Procedure (SOP) adalah langkah prosedural yang ditetapkan suatu perusahaan atau instansi yang harus dilakukan dalam menangani suatu pekerjaan atau kegiatan. Standard Operational Procedure yang baik adalah SOP yang mampu menciptakan efisiensi dan efektfitas pekerjaan, bisa menjadi pedoman karyawan dalam melaksanakan tugas dengan mudah, mempermudah pengawasan, serta evaluasi hingga penentuan kebijakan tindak lanjut yang perlu diambil. Tujuan diperlukannya Standard Operational Procedure bagi suatu perusahaan, adalah; 1. Untuk menjaga konsistensi tingkat performance kinerja karyawan dan menjamin keamanan dan kenyamanan; 2. Sebagai pedoman pelaksanaan tugas atau pekerjaan tertentu; 3. Untuk menghindari kesalahan, ketidakefisienan pekerjaan, dan penyelewengan; 4. Merupakan ukuran untuk menilai kualitas layanan; 5. Menjamin penggunaan sumber daya perusahann secara efisien dan efektif; 6. Memperjelas alur tugas, wewenang, dan tanggung jawab setiap karyawan; 7. Sebagai dokumen bahan evaluasi; dan 8. Sebagai dokumen bahan pelatihan. Perusahaan akan menerima beberapa manfaat dengan adanya Standard Operational Procedure adalah; 1. Menjaga konsistensi pelaksanaan suatu kegiatan; 2. Kejelasan peran dan posisi setiap bagian; 3. Kejelasan prosedur kerja dan tanggung jawab pihak terkait; 4. Menjamin keterlaksanaan proses kerja sebagaimana ditentukan; 5. Menjelaskan hubungan di antara proses kerja yang ada; 6. Meminimalisasi kesalahan proses kerja; 7. Membantu mengidentifikasi kesalahan prosedur kerja; 8. Memudahkan penelusuran atas suatu penyimpangan sekaligus langkah perbaikannya; dan 9. Membantu kegiatan evaluasi. Prinsip Standard Operational Procedure (SOP), meliputi. 1. Konsistensi. SOP harus dilaksanakan secara konsisten kapan, dimana, dan oleh siapapun; 2. Komitmen. Penerapan SOP memerlukan komitmen yang tinggi dari semua pihak; 3. Perbaikan berkelanjutan. Penerapan SOP harus terbuka terhadap perbaikan yang berkelanjutan sehingga diperoleh prosedur yang efisien dan efekif; 4. Mengikat. Penerapan SOP harus mengikat semua pihak dalam pelaksanaan tugasnya; 5. Peran penting dari semua unsur. Setiap karyawan memiliki peran penting


100 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 100 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL dalam setiap prosedur yang ditetapkan; dan 6. Terdokumentasi dengan baik. Seluruh prosedur harus didokumentasikan sehingga bisa menjadi referensi bahan evaluasi, serta penyempurnaan. Gambar 6.9 Alur Transaksi Bisnis Ritel Sumber: https:// accuratesalescenter.com/ program-accurate-untuk-perusahaan-dagang-trading/ 1. Alur Transaksi dan Standar Prosedur Operasional Administrasi Pembelian Tunai Transaksi pembelian merupakan kegiatan untuk memperoleh barang dan atau jasa dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat, yang mana pedagang dan produsen akan mendapatkan nilai keuntungan tertentu. Konsumen membeli produk untuk dikonsumsi secara langsung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pedagang membeli produk untuk dijual kembali kepada penjual lain atau konsumen agar mendapatkan keuntungan. Kemudian produsen, membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan operasional usaha seperti bahan baku, perlengkapan, dan peralatan. Berikut adalah alur transaksi dan Standard Operational Procedure atas transaksi pembelian tunai; a. Adanya permintaan pembelian dari bagian penjualan atau bagian produksi dengan bukti surat atau nota permintaan pembelian. Terdapat tiga cara dalam menentukan barang yang akan dibeli yaitu; 1) Intuitif; melakukan prediksi atas jenis dan jumlah barang yang dibutuhkan konsumen. 2) Penelitian pasar, yaitu perusahaan melakukan penelitian pasar terkait barang yang dibutuhkan konsumen dengan cara melakukan observasi, survei, wawancara, atau kajian berdasarkan data-data sebelumnya. 3) Perhitungan stok barang; jumlah persediaan barang yang direkam dalam kartu persediaan jika mencapai jumlah tertentu harus dilakukan permintaan pembelian. b. Melakukan survei pasar Survei pasar dilakukan untuk memilih supplier terbaik dalam hal kualitas pelayanan, harga, dan jaminan kualitas maupun kuantitas produk melalui pemasangan iklan, mencari informasi ke perusahaan kolega, melihat


RETAIL 101 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 101 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL iklan produk, mendatangi pusat perbelanjaan, mengunjungi media sosial produsen atau distributor, maupun mendatangi kantor dinas perdagangan dan perindustrian. c. Menerima surat penawaran dari calon supplier. Perusahaan calon supplier terpilih akan mengirimkan surat penawaran yang berisi penawaran harga, persyaratan dalam pembelian, pembayaran, dan pengiriman. d. Perusahaan menentukan pilihan produsen/ agen/ grosir yang akan menjadi suppliernya. memilih calon supplier yang mampu secara rutin menyediakan pasokan barang. Perusahaan harus mempertimbangkan kesediaan konsistensi penyediaan barang, tingkat harga, kualitas produk, dan kualitas layanan termasuk layanan purna jual. e. Bagian pembelian menyusun daftar pembelian barang dan surat pesanan yang diotorisasi oleh manajer pembelian dan pimpinan perusahaan. f. Bagian pembelian membuat surat perjanjian yang ditandatangani pimpinan bersama supplier. g. Bagian penerimaan barang menerima barang disertai nota kontan dan surat jalan yang kemudian dilakukan pemeriksaan apakah kualitas, spesifikasi, dan kuantitas barang. Bagian penerimaan barang membuat bukti transaksi berupa bukti atau nota penerimaan barang. Jika sesuai dengan pesanan dan nota kontan, maka barang akan dimasukkan ke gudang dan mencatatnya dalam kartu gudang. Namun jika tidak sesuai, maka barang akan diretur ke pemasok disertai salinan laporan penerimaan barang. h. Bagian kasir melakukan pembayaran transaksi pembelian sesuai SOP pengeluaran kas dengan membuat bukti pengeluaran kas. i. Nota kontan, bukti penerimaan barang, dan bukti pengeluaran kas diserahkan ke bagian akuntansi untuk dilakukan pencatatan transaksi. Alur dan SOP transaksi pembelian tunai secara ringkas dapat dilihat dalam diagram berikut; Gambar 6.10 Alur Transaksi Pembelian Tunai Sumber:Dokumen Pribadi


102 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 102 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 2. Alur Transaksi dan Standar Prosedur Operasional Administrasi Pembelian Kredit Pembelian kredit adalah pengadaan barang yang pembayarannya dilakukan di waktu yang akan datang sesuai kesepakatan. Seperti halnya pembelian tunai, pembelian kredit juga memiliki alur transaksi dan SOP yang harus dilakukan, yaitu; a. Adanya permintaan pembelian dari bagian penjualan atau bagian produksi dengan bukti surat atau nota permintaan pembelian. b. Melakukan survei pasar Survei pasar dilakukan untuk memilih calon supplier terbaik dalam hal kualitas pelayanan, harga, jaminan kualitas produk. c. Menerima surat penawaran dari beberapa calon supplier. Calon supplier terpilih akan mengirimkan surat penawaran yang berisi penawaran harga, syarat pembelian, pembayaran, dan pengiriman sehingga informasi yang diperoleh lebih jelas. d. Perusahaan menentukan pilihan produsen/ agen/ grosir yang akan menjadi suppliernya. memilih supplier yang mampu secara rutin menyediakan pasokan barang. Perusahaan harus mempertimbangkan kesediaan konsistensi penyediaan barang, tingkat harga, kualitas produk, dan kualitas layanan termasuk layanan purna jual. e. Bagian pembelian menyusun daftar pembelian barang dan surat pesanan yang diotorisasi oleh manajer pembelian dan pimpinan perusahaan. f. Bagian pembelian membuat surat perjanjian yang ditandatangani pimpinan bersama supplier. g. Bagian penerimaan barang menerima barang disertai faktur dan surat jalan yang kemudian dilakukan pemeriksaan kualitas, spesifikasi, dan kuantitas barang. Bagian penerimaan barang membuat bukti transaksi berupa bukti atau nota penerimaan barang. Jika sesuai dengan surat pesanan dan faktur, maka barang akan dimasukkan ke gudang dan dicatat dalam kartu gudang. Namun jika tidak sesuai, maka barang akan dikembalikan disertai dengan salinan laporan penerimaan barang kepada penjual. h. Faktur dan bukti penerimaan barang diserahkan ke bagian akuntansi untuk dilakukan pencatatan transaksi. Alur dan SOP transaksi pembelian kredit secara ringkas dapat dilihat dalam diagram berikut;


RETAIL 103 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 103 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 6.11 Alur Transaksi Pembelian Kredit Sumber:Dokumen Pribadi 3. Alur Transaksi dan Standar Prosedur Operasional Administrasi Penjualan Tunai Penjualan tunai adalah penjualan yang penerimaan pembayarannya dilakukan secara langsung terjadi pemindahan kepemilikan barang dari penjual ke pembeli. Alur penjualan tunai ini sangat sederhana karena risiko kerugian yang mungkin terjadi sangat minim. Alur transaksi dan SOP penjualan tunai secara sederhana adalah sebagai berikut. a. Transaksi penjualan berawal dari pengiriman surat penawaran kepada calon pembeli baik didahului oleh surat permintaan penawaran atau tidak. b. Adanya permintaan yang diterima secara lisan baik langsung maupun tidak langsung maupun permintaan secara tertulis melalui surat pesanan dari calon pembeli. c. Negosiasi dilakukan dengan calon pembeli yang dibuktikan dengan notulen. d. Pembuatan dan penandatanganan surat perjanjian. e. Pembuatan nota kontan dalam beberapa rangkap sesuai kebijakan perusahaan dengan benar dan teliti. f. Menerima pembayaran setelah melakukan pencocokan nota kontan dengan copyannya. Jika sesuai, pembayaran diterima dan jika tidak, lakukan konfirmasi ke pembeli. g. Mengecek jumlah dan fisik uang yang diterima dan membuat bukti penerimaan kas berupa kuitansi kemudian menyerahkannya ke pembeli. h. Bagian gudang menyiapkan barang sesuai dengan nota kontan yang diterima baik dari segi kualitas, spesifikasi produk, maupun kuantitasnya dan kemudian mencatatnya dalam kartu gudang dan dilakukan pengiriman ke konsumen dengan cepat dan tepat sebagai bentuk pelayanan prima dengan melampirkan surat jalan.


104 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 104 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL i. Bagian penjualan membuat laporan penjualan tunai. j. Nota kontan dan kuitansi diserahkan ke bagian akuntansi untuk dilakukan pencatatan transaksi. Alur dan SOP transaksi penjualan tunai secara ringkas dapat dilihat dalam diagram berikut; Gambar 6.12 Alur Transaksi Penjualan Tunai Sumber:Dokumen Pribadi 4. Alur Transaksi dan Standar Prosedur Operasional Administrasi Penjualan Kredit Penjualan secara kredit mengandung risiko kerugian yang tinggi akibat kemungkinan ada pelanggan yang melanggar perjanjian dengan keterlambatan pembayaran maupun tidak membayar. Oleh karena itu, penjualan kredit harus diikuti dengan penerapan standar operasional prosedur yang ketat. Alur transaksi dan SOP penjualan kredit adalah sebagai berikut. a. Transaksi penjualan berawal dari pengiriman surat penawaran kepada calon pembeli baik didahului oleh surat permintaan penawaran atau tidak. b. Adanya permintaan yang diterima secara lisan baik langsung maupun tidak langsung maupun permintaan secara tertulis melalui surat pesanan dari calon pembeli. c. Negosiasi dilakukan dengan calon pembeli yang dibuktikan dengan bukti pertemuan berupa notulen. d. Penjual menyerahkan form aplikasi kredit kepada pembeli dan menerima form aplikasi kredit yang telah diisi oleh calon konsumen. e. Bagian kredit mengecek form aplikasi kredit yang telah dilampirkan bukti pendukung. f. Petugas survei melakukan survei kepada calon konsumen disertai form bukti survei. g. Petugas survei menyerahkan form aplikasi kredit dan bukti hasil survei kepada manajer kredit untuk memperoleh otorisasi kredit yang dilengkapi dengan bukti hasil survey.


RETAIL 105 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 105 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL h. Jika diperoleh persetujuan kredit dalam bentuk penandatangan form aplikasi kredit oleh manajer kredit, maka dilanjutkan dengan transaksi penjualan. i. Membuat surat perjanjian yang ditandatangani oleh pihak pembeli dan penjual. j. Pembuatan faktur dalam beberapa rangkap sesuai kebijakan perusahaan dengan benar dan teliti. k. Bagian gudang menyiapkan barang sesuai dengan faktur yang diterima baik dari segi kualitas, spesifikasi produk, maupun kuantitasnya dan kemudian mencatatnya dalam kartu gudang dan dilakukan pengiriman ke konsumen dengan cepat dan tepat sebagai bentuk pelayanan prima dengan melampirkan surat jalan. l. Bagian penjualan membuat laporan penjualan kredit. m. Faktur dan bukti pengiriman barang diserahkan ke bagian akuntansi untuk dilakukan pencatatan transaksi. Alur dan SOP transaksi penjualan kredit secara ringkas dapat dilihat dalam diagram berikut; Gambar 6.13 Alur Transaksi Penjualan Kredit Sumber:Dokumen Pribadi 5. Alur Transaksi dan Standar Prosedur Operasional Administrasi Penerimaan Kas Kas merupakan harta perusahaan yang paling liquid atau paling lancar karena dapat ditukarkan dalam waktu yang cepat dan pemindahan kepemilikan dapat terjadi tanpa bukti pemindahan hak milik. Uang tunai sangat mudah diselewengkan sehingga harus dilakukan perlindungan yang ketat sesuai standar operasional prosedur masing-masing perusahaan. Berikut ini adalah alur transaksi penerimaan kas dengan SOP yang harus dilakukan;


106 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 106 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL a. Transaksi penerimaan kas berawal dari transaksi yang mengakibatkan perusahaan menerima uang seperti investasi pemilik, penjualan secara tunai, penerimaan piutang, penerimaan pendapatan, dan lain-lain. b. Mengecek bukti penerimaan kas dan mencocokkan dengan rangkapannya. c. Melakukan penghitungan nilai transaksi dengan benar dan teliti, serta menerima pembayaran. d. Memeriksa jumlah dan keaslian uang yang diterima dengan menggunakan alat verifikasi uang. Apabila pelanggan melakukan pembayaran dengan menggunakan cek, maka dilakukan pemeriksaan atas keabsahan cek dengan melakukan konfirmasi ke bank tertarik. e. Membuat kuitansi sebagai bukti penerimaan kas. f. Bukti kuitansi diserahkan ke bagian akuntansi untuk dilakukan pencatatan transaksi. Gambar 6.14. Alur Transaksi Penerimaan Kas Sumber:Dokumen Pribadi 6. Alur Transaksi dan Standar Prosedur Operasional Administrasi Pengeluaran Kas Pengeluaran uang tunai harus dilakukan pengawasan yang ketat dengan standar operasional prosedur yang benar-benar dijalankan oleh semua pihak. Berikut ini adalah alur transaksi pengeluaran kas dengan SOP yang harus dilakukan; a. Transaksi pengeluaran kas berawal dari transaksi pembayaran biaya, pembelian secara tunai, pembayaran hutang, dan yang lainnya. b. Menerima nota kontan, faktur, atau bukti pembayaran lain dan mencocokkan dengan rangkapannya. c. Apabila cocok, maka persiapkan dan isi bukti pengeluaran uang berupa kuitansi atau bukti pengeluaran bank, kemudian supplier atau pihak yang membawa bukti pembayaran diminta untuk menandatanganinya. d. Melakukan pembayaran dengan menerbitkan cek atau dengan mengeluarkan uang tunai. e. Menerima bukti transaksi pengeluaran bank atau kuitansi yang telah ditandatangani oleh pihak yang menerima uang.


RETAIL 107 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 107 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL f. Kuitansi atau bukti pengeluaran bank diserahkan ke bagian akuntansi untuk dilakukan pencatatan transaksi. Gambar 6.15 Alur Transaksi Pengeluaran Kas Sumber:Dokumen Pribadi C. Bukti Transaksi Setiap transaksi perusahaan membutuhkan bukti transaksi dalam kegiatan pencatatan sehinga dapat disusun laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Bukti transaksi harus dibuat karena merupakan dasar pencatatan dan pelaporan akuntansi sekaligus sebagai upaya pencegahan terjadinya penyelewengan dan persengketaan di waktu mendatang. Bukti transaksi harus kuat dan legal dengan mencantumkan pengakuan dari pihak lain yang berwenang berupa tanda tangan dan atau stempel dari organisasi yang bersangkutan. Bukti transaksi jika dilihat dari asalnya terbagi dalam dua jenis, yaitu: 1. Bukti Transaksi Internal Yaitu bukti atas transaksi yang terjadi yang melibatkan antar bagian internal suatu perusahaan. Contoh bukti transaksi internal adalah memo tentang nilai penyusutan aktiva tetap, pemakaian perlengkapan, penghapusan piutang dan yang lainnya. Gambar 6.16 Memo Sumber: https:// pakdosen.co.id/ contoh-bukti-transaksi/


108 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 108 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 1. Bukti transaksi eksternal yaitu bukti atas transaksi yang terjadi dengan melibatkan pihak dari luar perusahaan, baik pihak konsumen, supplier, kreditur, dan sebagainya. Contoh dari bukti transaksi eksternal adalah; a. Faktur Faktur atau invoice adalah bukti transaksi jual-beli kredit yang dibuat pihak penjual dan diserahkan ke pihak pembeli sehingga faktur merupakan bukti penjualan atau pembelian secara kredit. Faktur biasanya dibuat rangkap dua, yang asli diberikan kepada pihak pembeli sebagai bukti pencatatan pembelian secara kredit sedangkan rangkapnya dipegang oleh pihak penjual sebagai arsip sekaligus bukti pencatatan penjualan secara kredit. Informasi yang harus dimuat dalam faktur antara lain: 1) Nama dan alamat pihak penjual; 2) Nomor faktur; 3) Tanggal faktur; 4) Nama dan alamat pihak pembeli; 5) Tanggal pemesanan; 6) Tanggal pengiriman; 7) Syarat pembayaran; dan 8) Keterangan mengenai barang seperti jenis dan spesifikasi barang, kuantitas, harga satuan, dan jumlah harga. Bagi pihak pembeli faktur yang diterimanya merupakan faktur pembelian, sedangkan bagi pihak penjual merupakan faktur penjualan. Gambar 6.17 Faktur Penjualan Sumber: https:// jurnalmanajemen.com/ faktur-penjualan/


RETAIL 109 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 109 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL b. Nota Kontan Nota kontan adalah sebuah bukti transaksi jual-beli secara tunai yang dibuat pihak penjual dan diserahkan ke pihak pembeli. Lembar pertama atau asli akan diberikan kepada pembeli dan lembar kedua akan disimpan oleh penjual sebagai bukti transaksi atas penjualan barang secara tunai. Informasi yang harus dimuat dalam faktur antara lain: 1) Nama dan alamat penjual; 2) Nomor nota kontan; 3) Nama dan alamat pembeli; 4) Tanggal pemesanan; 5) Tanggal pengiriman; dan 6) Keterangan mengenai barang seperti jenis barang, kuantitas, harga satuan, dan jumlah harga Gambar 6.18 Nota Kontan Sumber: Dokumen Pribadi c. Kuitansi (Official Receipt) Kuitansi merupakan bukti transaksi penerimaan sejumlah uang tertentu yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak yang menerima uang dan diserahkan kepada pihak yang melakukan pembayaran. Terdapat dua bagian kuitansi yaitu bagian yang diserahkan kepada pihak yang melakukan pembayaran dan bagian lain yang disebut dengan sus atau bonggol sebagai bukti sementara pengeluaran uang.


110 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 110 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Sesuai dengan UU RI tentang Bea Materai sebagai penguat atau legalitas dari kuitansi, maka untuk nilai tertentu harus dibubuhi materai. Terdapat dua jenis nilai nominal materai yaitu 3000 dan 6000, dengan ketentuan penggunaan sebagai berikut; 1) Transaksi senilai Rp. 250.000,00 sampai dengan Rp. 1.000.000,00 dibubuhkan materai 3000; 2) Transaksi dengan nilai lebih dari Rp. 1.000.000,00 dibubuhkan materai 6.000; dan 3) Transaksi dengan nilai kurang dari Rp. 250.000,00 tidak perlu dibubuhkan materai. Dalam membuat bukti kuitansi harus diperhatikan hal-hal berikut; 1) Tidak diperbolehkan menandatangani kuitansi kosong; 2) Sebaiknya diberikan tanda akhir tulisan di akhir uraian atau penjelasan untuk mengantisipasi adanya pihak-pihak yang akan menyalahgunakannya; 3) Tempat & tanggal sebaiknya ditulis dekat dengan nama dan tanda tangan penerima uang; 4) Menulis nama penerima uang secara lengkap disertai jabatan dan stempel instansi bila diperlukan; dan 5) Apabila menggunakan materai, maka tanda tangan si penerima uang harus mengenai materai yang ditempelkan. Berikut adalah informasi yang harus tertera kuitansi yaitu; 1) Nomor urut kuitansi; 2) Nama dan jabatan serta organisasi pihak yang melakukan pembayaran; 3) Nilai uang dalam huruf; 4) Tujuan pembayaran; 5) Tempat dan tanggal pembayaran; 6) Nilai uang dalam angka; 7) Nama dan tanda tangan penerima uang; dan 8) Cap atau stempel dari instansi pihak penerima uang. Gambar 6.19 Kuitansi Sumber: Dokumen Pribadi


RETAIL 111 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 111 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL d. Nota Debet Nota debet adalah bukti adanya retur pembelian yang dibuat oleh pihak pembeli dan dikirimkan ke pihak penjual. Retur pembelian terjadi saat terdapat ketidaksesuaian atau kerusakan atas barang yang telah dibeli. Berikut adalah informasi yang harus tertera dalam nota debet, yaitu; 1) Nama dan alamat pihak pembeli; 2) Nama dan alamat pihak penjual; 3) Nama, tanda-tangan, jabatan, dan stempel perusahaan pihak yang membuat nota debet; 4) Nomor nota debet; 5) Keterangan yang meliputi nomor urut, kode barang, nama barang, spesifikasi barang, jumlah barang, harga satuan, total harga, dan jumlah. 6) Tempat dan tanggal penerbitan nota debet. Gambar 6.20 Contoh Nota Debet (Debit Memo) Sumber: https:// guruakuntansi.co.id/ bukti-transaksi/ e. Nota kredit Nota debet adalah bukti adanya retur penjualan yang terjadi yang dikeluarkan oleh pihak penjual sekaligus sebagai bukti persetujuan pihak penjual atas permohonan pengurangan harga yang diminta pihak pembeli ketidaksesuaian atau kerusakan barang yang diterima pembeli. Berikut adalah informasi yang harus tertera dalam nota kredit, yaitu; 1) Nama dan alamat pihak penjual; 2) Nama dan alamat pihak pembeli; 3) Nama, tanda-tangan, jabatan, dan stempel perusahaan pihak yang membuat nota kredit; 4) Nomor nota kredit; 5) Keterangan yang meliputi nomor urut, kode barang, nama barang, spesifikasi barang, jumlah barang, harga satuan, total harga, dan jumlah; dan 6) Tempat dan tanggal penerbitan.


112 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 112 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 6.21 Contoh Nota Kredit Sumber: https:// guruakuntansi.co.id/ bukti-transaksi/ f. Cek (Cheque) Cek adalah surat perintah tidak bersyarat nasabah yang memiliki simpanan dalam bentuk giro kepada bank untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada seseorang atau badan yang namanya tertera atau kepada pembawa sesuai denga tanggal yang tertera. Terdapat dua bagian dari sebuah cek, yaitu lembar utama yang akan diserahkan kepada pihak penerima sebagai alat pembayaran dan struk atau bonggol cek sebagai lampiran bukti transaksi pengeluaran kas kuitansi. Dasar hukum yang mengatur cek terdapat dalam Pasal 178 sampai dengan 229 KUH Dagang dan juga terdapat tambahan penjelasan dalam Surat Edaran Bank Indonesia tentang aturan normatif cek. Beberapa hal yang harus diperhatikan dan tercantum dalam cek adalah; 1. Tulisan “Cek”’ harus tercantum dalam teks; 2. Kalimat perintah pembayaran yang tidak bersyarat; 3. Nama dan logo bank yang harus melakukan pembayaran atau disebut tertarik; 4. Tempat pembayaran; 5. Tanggal dan tempat penarikan cek; 6. Nama jelas, tanda tangan basah, dan dilengkapi stempel perusahaan pihak yang mengeluarkan cek atau penarik; 7. Nama pihak yang akan menerima pembayaran (untuk cek atas unjuk); dan 8. Jumlah uang dalam bentuk angka dan huruf.


RETAIL 113 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 113 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 6.22 Bagian-Bagian Cek Sumber: https:// www.ilmu-ekonomi-id.com/ 2017/ 03/ 5-jenis-jenis-cek.html Terdapat beberapa jenis cek yang terdapat di Indonesia, yaitu; a. Cek Atas Nama Yaitu cek yang diterbitkan atas nama seseorang atau badan hukum yang namanya tertulis di dalam cek. Dalam cek atas nama, kata “atau pembawa” yang ada di belakang nama yang tertera dicoret. Gambar 6.23 Cek Atas Nama Sumber: https:// docplayer.info/ 47070078-Ketentuan-bank-indonesia-dan-kuhd-tentang-pengunaan-cekdan-bilyet-giro-dalam-sistem-pembayaran-non-tunai.html


114 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 114 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL b. Cek Atas Unjuk Cek ini diterbitkan untuk pihak yang membawa atau menunjukkan cek. Dalam cek atas unjuk tidak tertulis nama seseorang atau badan hukum sebagai pihak yang akan menerima pembayaran, siapa saja yang menunjukkan cek dapat menguangkannya atau menukarkan di bank yang ditunjuk. Gambar 6.24 Cek Atas Unjuk Sumber: http:// www.kuliah.info/ 2015/ 05/ pengertian-persamaan-perbedaan-cek-dan.html c. Cek Silang Cek Silang atau cross cheque adalah cek yang diberi dua tanda silang di bagian pojok kiri atas yang menunjukkan adanya perubahan fungsi yang semula fungsinya sebagai alat pembayaran tunai menjadi non tunai dengan cara pemindahbukuan. Gambar 6.25 Cek Silang Sumber: https:// docplayer.info/ 47070078-Ketentuan-bank-indonesia-dan-kuhd-tentang-pengunaan-cek-dan-bilyetgiro-dalam-sistem-pembayaran-non-tunai.html


RETAIL 115 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 115 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL d. Cek Mundur Cek mundur adalah cek yang diberi tanggal pencairan mundur dari tanggal penerbitannya. Semisal jika seseorang menerima cek pada tanggal 15 September 2019, namun dalam cek tersebut tertulis tanggal 27 September 2019 maka penerima cek baru bisa mencairkan cek tersebut pada tanggal 15 Mei 2019. Gambar 6.26 Cek Mundur Sumber: https:// ilmudasar.id/ pengertian-cek/ e. Cek Kosong Cek kosong adalah cek yang dananya tidak tersedia di dalam rekening giro penarik. Misalnya, nasabah Nn. Isna menarik cek senilai Rp 50.000.000,00 sesuai yang tertulis di dalam cek tersebut, akan tetapi dana yang tersedia di rekening giro tersebut hanya ada Rp. 45.000.000,00 sehingga terdapat kekurangan dana sebesar Rp. 5.000.000,00 apabila nasabah menariknya. g. Bilyet giro Bilyet giro adalah surat perintah kepada bank untuk melakukan pemindahbukuan sejumlah uang tertentu dari rekening nasabahnya ke rekening penerima yang namanya ditulis dalam bilyet giro pada bank yang sama atau berbeda. Terdapat beberapa persamaan cek dan bilyet giro, yaitu; 1) Keduanya adalah merupakan uang giral; 2) Mempunyai jangka waktu kedaluwarsa yang sama yaitu selama 70 hari; 3) Bahan perhitungan pada lembaga kliring; dan 4) Keduanya merupakan perintah kepada bank untuk melakukan pembayaran kepada pihak lain. Namun, cek dan bilyet giro juga memiliki beberapa perbedaan, yaitu; 1) Cek dapat diuangkan secara langsung dengan uang tunai, sedangkan bilyet giro tidak dapat; 2) Pembayaran cek oleh bank dapat dilakukan dengan atas nama maupun atas unjuk, sedangkan pemindah bukuan nilai bilyet giro hanya dapat dilakukan atas nama;


116 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 116 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 3) Cek terdapat biaya materai, bilyet giro bebas bea materai; 4) Cek berfungsi sebagai surat perintah pembayaran uang tunai dari nasabah kepada bank orang yang ditunjuk atau pembawa cek. Bilyet giro berfungsi sebagai surat perintah pemindahbukuan rekening dengan nilai tertentu dari nasabah kepada bank kepada orang yang namanya tercantum di bilyet giro dan mempunyai rekening pada bank tertentu; 5) Sebelum diberi tanggal penerbitan cek tidak dapat diuangkan, sedangkan bilyet giro dapat diserahkan ke bank sebelum tanggal efektif, jika tanggal efektif tersebut lebih awal dari tanggal penerbitannya; dan 6) Dalam cek hanya tercantum tanggal penerbitan, sedangkan dalam bilyet giro tercantum tanggal penerbitan dan tanggal efektif. Di dalam bilyet giro harus tercantum hal berikut sebagai syarat formal; 1) Kata “Bilyet Giro” dan nomor bilyet giro; 2) Nama dan logo bank yang harus melakukan pemindahbukuan (tertarik); 3) Kalimat perintah yang jelas dan tanpa syarat untuk memindahbukukan dana atas beban rekening penarik; 4) Tanggal penulisan bilyet giro; 5) Nama dan nomor rekening pemegang bilyet giro; 6) Nama bank penerima; 7) Nilai uang dalam angka; 8) Nilai uang dalam huruf; 9) Tempat dan tanggal penarikan; dan 10) Tanda tangan, nama jelas dan atau dilengkapi dengan cap atau stempel dengan persyaratan pembukaan rekening. Gambar 6.27 Bilyet Giro Sumber: https:// ilmudasar.id/ pengertian-cek/ h. Rekening Koran Rekening koran adalah bukti transaksi atas mutasi kas di bank yang disusun oleh bank untuk nasabahnya sebagai dasar penyesuaian antara saldo kas menurut catatan perusahaan dengan saldo kas menurut catatan


RETAIL 117 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 117 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL bank. Di dalamnya terdapat tanggal dan sandi transaksi, nilai saldo awal, mutasi debet, mutasi kredit, dan saldo akhir bulan serta memuat ringkasan transaksi. Pihak bank mengeluarkan rekening koran dan mengirimkan ke nasabah setiap bulan untuk melaporkan semua transaksi organisasi atau perusahaan terkait dana yang disimpan di bank selama periode tertentu. Hal tersebut diperlukan untuk memudahkan perusahaan saat melakukan rekonsiliasi antara catatan bank dengan catatan perusahaan. Perbedaan antara rekening koran dengan buku tabungan adalah bahwa kalau buku tabungan untuk nasabah perorangan yang mana nasabah akan mendatangi bank untuk mencetaknya, sedangkan rekening koran untuk nasabah corporate (organisasi) yang akan dikirim pihak bank ke nasabah setiap bulan. Gambar 6.28 Rekening Koran Sumber: https:// twitter.com/ jagoakuntansi/ status/ 392913697498079233


118 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL LEMBAR PRAKTIKUM Lakukan kegiatan berkut! 1. Bentuklah kelompok yang beranggotakan 3 orang. 2. Susun naskah drama dari kegiatan dalam alur transaksi dengan ketentuan; a. Kelompok 1 dan 2: Alur transaksi pembelian tunai b. Kelompok 3 dan 4: Alur transaksi pembelian kredit c. Kelompok 5 dan 6: Alur transaksi penjualan tunai d. Kelompok 7 dan 8: Alur transaksi penjualan kredit e. Kelompok 9 dan 10: Alur transaksi penerimaan kas f. Kelompok 11 dan 12: Alur transaksi pengeluaran kas 3. Siapkan bahan dan alat yang diperlukan. 4. Presentasikan simulasi kegiatan dalam alur transaksi. Aspek Penilaian: NO. ASPEK PENILAIAN SKOR PENILAIAN 1 Kebenaran alur transaksi 25 2 Kelengkapan alur transaksi 25 3 Menarik 25 4 Kerja sama tim 25 CAKRAWALA 10 Langkah Otomatisasi kerja kantor dengan Digitalisasi Dalam mekanisme tata kelola kerja kantor perusahaan akan dihadapkan pada sebuah sistem pengawasan terpusat yang harus dibangun untuk mencapai efektivitas dan efisiensi proses administrasi. Sistem administrasi kantor dengan mode digitalisasi yang merupakan serangkaian prosedur dan kebijakan yang menjadi alat objek otomatisasi mekanisme kantor dapat dilakukan untuk mempermudah dan memperlancar jalannya mekanisme kerja kantor secara optimal dan terkontrol. Terdapat sepuluh langkah otomatisasi kerja kantor dengan sistem digitalisasi yaitu; 1. Digitalisasi rekam data 2. Digitalisasi penyimpanan data/ pengarsipan 3. Digitalisasi cetak data 4. Digitalisasi pengiriman/ transfer data 5. Digitalisasi pemakaian data bersama/ sharing data 6. Digitalisasi proses jual beli 7. Digitalisasi agenda meeting/ rapat/ pertemuan 8. Digitalisasi absensi karyawan 9. Digitalisasi pengaturan jam kerja 10. Digitalisasi proses penggajian karyawan Dikutip dari: https:// tukarpikiran.net/ 10-langkah-otomatisasi-kerja-kantordengan-digitalisasi/


RETAIL 119 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL JELAJAH INTERNET Dalam rangka meningkatkan pemahaman tentang konsep administrasi transaksi di era milenial, kunjungi https:// www.logiframe.com/ id/ mengenallebih-jauh-tentang-sistem-dan-konsep-erp/ Transaksi adalah suatu kejadian atau kegiatan ekonomi yang dapat dinilai dengan satuan uang dan mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan baik harta, hutang, maupun modal. Administrasi transaksi adalah kegiatan pencatatan, pengarsipan, dan pelaporan atas transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan. Standard Operational Procedure adalah langkah prosedural yang ditetapkan suatu perusahaan atau instansi yang harus dilakukan dalam menangani suatu pekerjaan atau kegiatan. Standard Operational Procedure yang baik adalah SOP yang mampu meciptakan efektivitas dan efisiensi pekerjaan, bisa menjadi pedoman karyawan dalam melaksanakan tugas dengan mudah, menghemat biaya, memudahkan pengawasan, serta menjadikan koordinasi yang baik antara bagian dalam perusahaan. Dalam sebuah bisnis ritel minimal harus terdapat SOP untuk transaksi penjualan tunai, penjualan kredit, pembelian tunai, pembelian kredit, penerimaan kas, dan pengeluaran kas. Setiap transaksi perusahaan membutuhkan bukti transaksi dalam kegiatan pencatatan sehinga dapat disusun laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Bukti transaksi terbagi atas bukti transaksi internal dan eksternal. Bukti transaksi internal diantaranya adalah memo, sedangkan yang termasuk bukti transaksi eksternal diantaranya adalah nota kontan, faktur, kuitansi, nota debet, nota kredit, cek, bilyet giro, dan rekening koran. RANGKUMAN


120 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Perhatikan penjelasan berikut! Pada taggal 2 Februari 2020 PT. RAJIN melakukan pembelian barang ke PT. SUMBER secara tunai berupa; 1. 2 karton buku tulis SIDU 38 @ Rp 490.000,00 2. 4 karton kertas HVS A4 SIDU 70 gram @ Rp. 200.000,00 3. 3 karton kertas HVS F4 SIDU 70 gram @ Rp. 215.000,00 Barang diterima oleh PT. RAJIN pada tanggal 4 Februari 2020 dengan ketentuan biaya pengiriman ditanggung oleh PT. SUMBER. Diminta; Buatlah bukti transaksi yang harus dibuat oleh PT. RAJIN pada tanggal 2 dan 4 Februari 2020! Penilaian: NO. ASPEK PENILAIAN SKOR PENILAIAN 1 Orisinalitas jawaban 50 2 Kebenaran jawaban 25 3 Kelengkapan jawaban 25 REFLEKSI Setelah mempelajari bab administrasi bisnis ritel ini Anda tentunya telah memahami tentang konsep administrasi transaksi, alur dan SOP transaksi pembelian tunai, pembelian kredit, penjualan tunai, penjualan kredit, penerimaan kas, pengeluaran kas, serta penyusunan bukti transaksi. Dari materi terseut mana yang menurut Anda paling sulit untuk dipahami? Coba Anda diskusikan dengan teman sebangku atau tanyakan kepada bapak atau ibu guru pengajar, sehingga Anda akan memiliki dasar pengetahuan untuk mempelajari materi-materi yang selanjutnya. PENILAIAN AKHIR BAB TUGAS MANDIRI Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Apa yang kalian ketahui tentang administrasi, transaksi, dan administrasi transaksi? 2. Menurut sumbernya transaksi terbagi dalam jenis transaksi internal dan eksternal. Berikan penjelasan dan contoh dari masing-masing jenis transaksi! 3. Mengapa dalam transaksi perlu dibuatkan bukti? Jelaskan alasannya! 4. Bagaimana agar transaksi yang ada dalam suatu perusahaan tidak terjadi penyimpangan? 5. Bagaimana SOP pengeluaran kas yang benar? 6. Apa yang dilakukan jika saat memeriksa barang terdapat barang yang rusak atau tidak sesuai dengan pesanan? 7. Apa saja yang harus dicantumkan dalam menulis dalam sebuah kuitansi? 8. Menurut Anda apa perbedaan antara nota kontan dengan faktur? 9. Apakah pembawa atau pemegang cek selalu bisa menerima uang dalam bentuk tunai? Berikan penjelasan! 10. Apa perbedaan antara buku tabungan dengan rekening koran? Jelaskan!


RETAIL 121 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Persediaan Barang Dagangan–Harga Pokok Penjualan–Sistem-Metode Setelah mempelajari materi tentang pengelolaan persediaan dalam bisnis ritel, peserta didik dapat menganalisis pengelolaan sediaan (inventory) dalam bisnis ritel dengan benar, dan melakukan pengelolaan sediaan (inventory) dalam bisnis ritel secara tepat. TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI BAB VII PENGELOLAAN PERSEDIAAN DALAM BISNIS RITEL KONSEP PERSEDIAAN BARANG MANAJEMEN PERSEDIAAN (INVENTORY) PENCATATAN DAN PERHITUNGAN PERSEDIAAN PENGELOLAAN PERSEDIAAN DALAM BISNIS RITEL PETA KONSEP LAPORAN PERSEDIAAN BARANG BAB VIII PENGELOLAAN PERSEDIAAN DALAM BISNIS RITEL


122 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Persediaan merupakan jantung bagi usaha ritel, sehingga dibutuhkan implementasi manajemen persediaan dalam membantu pengelolaan persediaan di perusahaan dan efektif tidaknya perusahaan dapat dinilai dari bagaimana pengelolaan persediaannya. Persediaan barang dagangan sangat menentukan reputasi sebuah bisnis ritel dan bahkan bisa menimbulkan pengaruh yang berlipat pada berbagai hal. Perkembangan bisnis ritel dengan diawali munculnya bisnis ritel yang dikelola secara tradisional, yang kala itu penggunaan mesin kasir sudah merupakan penggunaan teknologi yang paling canggih. Namun, saat ini pengelolaan usaha ritel menjadi lebih modern dan efisien sesuai dengan perkembangan jaman melalui Sistem Point Of Sale (POS) yang berbasis pemanfaatan teknologi internet. Seiring berbagai perkembangan pemanfaatan teknologi tersebut menunjukkan bahwa manajemen persediaan sangat dibutuhkan oleh para peritel. PENDAHULUAN Gambar 7.1. Ilustrasi Pentingnya Persediaan bagi Usaha Ritel Sumber : http:// 8thinktank.co.id/ acumatica/ keuntungan-manajemen-inventori-bagi-perusahaan-retail/ A. Konsep Persediaan Barang 1. Pengertian Menurut Zaki (2008), “persediaan barang merupakan sebuah istilah dari persediaan barang yang digunakan untuk menunjukkan barang-barang yang dimiliki agar dapat dijual kembali atau juga digunakan agar bisa memproduksi barang-barang yang akan dijual”. Menurut Munandar  dalam buku Marihot Manullang dan Dearlina Sinaga (2005), “persediaan merupakan sejumlah barang-barang atau bahan-bahan yang menjadi sebuah objek usaha pokok perusahaan”. Sedangkan menurut John J Wild, K R.  Subramanyam dan Robert F Halsey  (2004), “persediaan  (inventory)  adalah bentuk harta perusahaan yang mempunyai nilai jual dalam aktivitas operasi normal perusahaan”. Jadi, persediaan adalah harta lancar yang dimiliki dalam rangka menjalankan operasional perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dan mencapai tujuan. MATERI PEMBELAJARAN


RETAIL 123 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 123 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Persediaan barang dagang merupakan unsur utama dalam perusahaan dagang dengan nilai yang cukup besar dan melibatkan modal kerja yang besar pula. Ketersediaan persediaan barang dagang dari sisi kualitas, kuantitas, dan keragamannya akan menjamin terpenuhinya kebutuhan konsumen, sehingga konsumen mendapatkan kepuasan dalam berbelanja. Konsumen yang memperoleh kepuasan dalam berbelanja akan kembali lagi dan menjadi pelanggan yang setia bagi toko ritel. Hal tersebut merupakan investasi bagi keberlangsungan usaha kedepannya dan sebaliknya, jika ketersediaan persediaan barang tidak terpenuhi maka berakibat terganggunya perkembangan usaha. Oleh karena itu, persediaan barang dagang harus dilakukan pengelolaan yang sebaik-baiknya. Persediaan barang dagang yang cukup, mendatangkan manfaat bagi perusahaan ritel yaitu; a. Memenuhi kebutuhan konsumen dengan tepat sesuai permintaan pasar yang ada. Saat terjadi permintaan yang berlebih dari para pelanggan, perusahaan dapat memenuhi permintaan tersebut dengan persediaan yang disimpan di gudang, sehingga pelanggan merasa puas dengan selalu terpenuhinya permintaan yang dibutuhkan. b. Meminimalisasi risiko keterlambatan datangnya barang yang dibutuhkan perusahaan. Dengan adanya persediaan yang mencukupi, apabila terjadi keterlambatan pengiriman barang dari supplier, perusahaan tetap bisa memenuhi permintaan konsumen sehingga tidak akan menganggu jalannya operasional perusahaan. c. Terjaminnya stabilitas dan kelancaran kegiatan operasioal perusahaan. Tersedianya persediaan yang diperlukan akan menjamin kelancaran operasional perusahaan. 2. Jenis Persediaan Terdapat beberapa jenis persediaan yang dimiliki sebuah perusahaan yaitu; a. Bahan baku Yaitu persediaan barang bagi perusahaan yang bergerak di bidang industri yang akan diolah lagi menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Jumlah persediaan bahan baku yang diperlukan perusahaan tergantung dari jumlah produk yang akan dihasilkan, sifat musiman produksi, pemasok bahan baku, serta tingkat efisiensi produksi. b. Barang dalam proses Barang dalam proses atau barang setengah jadi adalah barang yang masih memerlukan proses produksi lagi untuk menjadi barang jadi. Persediaan barang dalam proses yang dibutuhkan sangat dipengaruhi oleh jangka waktu produksi. Perputaran persediaan bisa ditingkatkan dengan memperpendek lama produksi melalui penyempurnaan teknologi rekayasa atau dengan membeli bahan yang dibutuhkan, tidak membuatnya sendiri. c. Barang jadi Yaitu output proses produksi dalam bentuk final sehingga langsung


124 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 124 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL dapat diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Jumlah persediaan barang jadi yang diperlukan tergantung pada hasil koordinasikan antara bagian produksi dengan bagian penjualan. Dalam bisnis ritel jenis persediaannya merupakan barang jadi yang merupakan persediaan barang dagangan yaitu persediaan barang yang dibeli dari supplier atau produsen untuk dijual kembali kepada konsumen tanpa merubah bentuk. Perusahaan ritel tidak mengubah bentuk dari persediaan barang dagangan, namun seringkali melakukan perubahan pada ukuran dan kemasan. B. Manajemen Persediaan (Inventory) 1. Konsep Manajemen Persediaan Seorang retailer harus memastikan toko memiliki cukup barang yang didisplay untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Retailer harus memastikan persediaan baik itu yang di area display maupun gudang aman dari segi kualitas dan kuantitas. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat persediaan barang dagang suatu perusahaan ritel yang harus dipertimbangkan oleh manajemen persediaan, yaitu; a. Ketersediaan jumlah dana, Besar kecilnya dana mempengaruhi prioritas pembelian persediaan, sehingga ada jenis barang yang dibeli dan ada yang ditunda terlebih dahulu. b. Lead time, waktu tunggu mulai dari pemesanan barang sampai barang diterima. Semakin pendek lead time semakin kecil persediaan yang harus tersedia. c. Frekuensi penjualan, barang fast moving memerlukan jumlah persediaan yang besar. Dalam rangka melakukan pengelolaan persediaan barang secara efektif dan efisien serta mampu memenuhi permintaan pasar secara optimal baik dalam kondisi biasa maupun fluktuasi, sangat diperlukan perencanaan dan pengendalian persediaan dalam pengelolaannya. Perusahaan memiliki bidang yang bertugas untuk mengatur persediaan barang mulai dari cara mendapatkan, penyimpanan, sampai persediaan tersebut dimanfaatkan atau dikeluarkan yaitu manajemen persediaan. Manajemen persediaan memiliki peran penting dalam perkembangan bisnis ritel yaitu: a. Pengelolaan persediaan barang yang tepat dapat memaksimalkan kepuasan pelanggan. Ketersediaan setiap produk dapat mengantisipasi kehabisan saat terjadi penjualan tinggi. b. Meminimalisir biaya persediaan akibat kelebihan, kekurangan produk ataupun ketidaktepatan ragam produk yang tersedia. c. Membantu toko dalam mencapai tingkat perputaran penjualan yang tinggi. d. Mengatur persediaan serta membantu menjaga kualitas dan kuantitas poduk.


RETAIL 125 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 125 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Dengan memanfaatkan teknologi informasi modern yang terkomputerisasi dan berbasis internet dengan beragam versi, pengusaha dapat memanfaatkannya untuk mengawasi perusahaan dengan baik terkait persediaan maupun unsur lain yang ada dalam perusahaan. Terdapat beberapa keuntungan jika perusahaan menerapkan teknologi sistem informasi persediaan yang berbasis komputer dan internet, yaitu; a. Perusahaan dapat memperoleh informasi yang akurat mengenai jumlah, nilai dan posisi persediaan masing-masing barang karena sistem pencatatan dan pelaporan persediaan yang real time. Informasi tersebut merupakan informasi dasar dalam pengambilan keputusan manajemen persediaan terkait waktu dan jumlah pemesanan barang guna memenuhi kebutuhan operasional perusahaan. b. Terjaminnya keamanan persediaan dari kemungkinan kesalahan penghitungan, pencurian, penyelewengan, kerusakan, dan sebagainya. c. Pelayanan terhadap dapat berjalan dengan baik akibat pengelolaan sistem persediaan yang baik. d. Sistem informasi informasi yang berbasis teknologi internet memungkinkan pengawasan dan penggunaan data lebih cepat dan fleksibel. Perencanaan dalam manajemen persediaan harus dilakukan dengan tepat sehingga kegiatan operasional berjalan efektif. Gambar 7.2 Persediaan Barang Dagangan adalah Jantung Bisnis Ritel Sumber: Dokumen Pribadi 2. Pengendalian Persediaan Bisnis ritel seringkali menemui berbagai kendala yang terjadi karena aktivitas yang kompleks. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian persediaan untuk meminimalisasi kesalahan. Pengendalian persediaan adalah usaha perusahaan dalam menjamin ketersediaan persediaan barang yang dibutuhkan perusahaan, memperkecil risiko kelebihan atau kekurangan persediaan, perusahaan menanggung


126 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 126 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL biaya persediaan sekecil mungkin.sehingga kegiatan operasional berjalan lancar, efektif, dan efisien. Pengendalian persediaan harus dilakukan secara tepat dan seimbang. Bila jumlah persediaan terlalu besar (over stock) maka perusahaan akan menangung biaya penyimpanan dan keamanan yang tinggi serta kemungkinan adanya kerusakan sehingga terjadi pemborosan. Sebaliknya, bila jumlah persediaan barang terlalu kecil atau terjadi kekurangan persediaan (out of stock) dan terjadi keterlambatan waktu pengiriman juga akan menimbulkan biaya pemesanan dan pengiriman yang tinggi serta akan membuat konsumen melakukan pembelian barang di perusahaan lain. Berikut alasan perusahaan perlu melakukan pengendalian persediaan: a. Meminimalisasi risiko keterlambatan barang Pengendalian persediaan diperlukan untuk meminimalisasi risiko keterlambatan pengiriman barang, karena terdapat persediaan barang di gudang yang dapat digunakan untuk operasional terlebih dahulu sebelum barang yang dipesan datang. b. Menjamin kelancaran arus barang Persediaan yang terkendali daharapkan dapat menjamin lancarnya arus barang dan mempertahankan stabilitas operasional perusahaan sehingga selalu dapat memenuhi kebutuhan pasar. c. Pelayanan terbaik kepada pelanggan Jaminan ketersediaan barang-barang yang dibutuhkannya dapat meningkatkan kepuasan loyalitas konsumen. d. Menekan pengadaan barang Menekan pengadaan barang-barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar. Pengendalian persediaan memiliki fungsi sebagai berikut; a. Menetapkan jumlah barang yang harus tersedia. b. Sebagai penyangga keberlangsungan kegiatan operasional perusahaan. c. Meminimalisir risiko perubahan harga akibat inflasi dan kenaikan harga dari pemasok. d. Menghindari kekurangan atau kelebihan persediaan barang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen persediaan yang erat kaitannya dengan pengendalian persediaan dalam usaha retail, antara lain sebagai berikut: a. Waktu kedatangan barang pesanan Jangka waktu antara pemesanan dengan kedatangan barang harus diperhatikan untuk menyesuaikan jumlah persediaan minimum di gudang sebagai acuan pemesanan kembali. b. Jumlah barang yang disimpan Jumlah pesanan barang harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan agar tidak menimbulkan risiko kerugian. Jumlah pesanan yang terlalu banyak dibanding kebutuhan akan menimbulkan risiko kerusakan, risiko kehilangan, pemborosan biaya penyimpanan, kerugian perubahan


RETAIL 127 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 127 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL harga. Sebaliknya, jika jumlah pesanan lebih kecil dari kebutuhan bisa menimbulkan risiko kerugian berupa kekosongan barang sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas pelayanan pelanggan dan menurunnya loyalitas pelanggan bahkan bisa menimbulkan kehilangan pelanggan. c. Jumlah safety stock Safety stock adalah jumlah persediaan yang harus ada untuk menjamin ketersediaan saat terjadi sesuatu hal yang menghambat proses pengiriman barang. 3. Biaya Persediaan Pengadaan berbagai persediaan barang dalam bisnis ritel memerlukan pengeluaran berbagai biaya yang harus dipertimbangkan terkait manajemen persediaan. Biaya tersebut meliputi; a. Biaya pemesanan Biaya dikeluarkan terkait kegiatan pemesanan barang, mulai dari pemesanan hingga tersedianya barang di toko yang tergantung pada frekuensi pemesanan. Jenis-jenis biaya pemesanan diantaranya adalah; 1) Biaya komunikasi seperti biaya telepon, biaya faximile, dan suratmenyurat. 2) Pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi terutama untuk barang spesifikasi khusus dan berkualitas tinggi. 3) Biaya pengepakan. 4) Biaya pengiriman; biaya pengangkutan barang dari pemasok sampai ke gudang pembeli yang meliputi biaya upah bongkar muat, biaya transportasi, dan asuransi pengiriman. 5) Biaya pemeriksaan penerimaan. b. Biaya penyimpanan Biaya penyimpanan yang diperlukan dalam kegiatan penyimpanan barang yang meliputi; 1) Biaya untuk fasilitas penyimpanan, seperti biaya penerangan, biaya sewa gudang, biaya penggunaan alat, serta biaya listrik untuk pengatur suhu dan kelembapan. 2) Biaya keamanan; untuk menjamin keamanan produk seperti pembelian CCTV, gaji satpam, pembangunan pagar atau fasilitas pengaman. 3) Biaya keusangan; produk-produk fashion dan barang elektronik merupakan barang yang mudah usang dan tidak laku dijual. 4) Biaya modal; biaya yang muncul akibat hilangnya peluang keuntungan investasi di bidang lain. 5) Biaya stock opname dan laporan persediaan barang, semakin banyak jenis dan jumlah barang yang disimpan akan membutuhkan biaya penghitungan fisik dan laporan yang besar.


128 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 128 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 6) Biaya akibat pencurian, kerusakan, ataupun kehilangan. Risiko kehilangan dan kerusakan barang merupakan biaya yang tidak dapat diprediksi sebelumnya. 7) Biaya asuransi 8) Biaya penanganan dan penyusutan persediaan. Teknis penanganan persediaan tergantung pada kharakteristik produk termasuk nilai penyusutannya. 9) Biaya untuk pelaksana gudang. Semakin besar gudang dan semakin tinggi nilai produk, maka semakin besar pula biaya yang dikeluarkan. 10) Biaya akibat perubahan harga. Fluktuasi harga produk yang dipengaruhi oleh musim, tingkat permintaan barang akan menjadi beban perusahaan. c. Biaya kehabisan atau kekurangan persediaan barang. Meliputi; 1) Biaya kehilangan penjualan; 2) Biaya kehilangan pelanggan; 3) Biaya pemesanan khusus; dan 4) Biaya pengiriman khusus. d. Biaya persiapan Merupakan biaya yang muncul apabila perusahaan memproduksi sendiri barang yang dibutuhkan. Biaya persiapan meliputi; 1) Biaya mesin yang tidak dipakai; 2) Biaya tenaga kerja langsung bagian produksi barang; 3) Biaya surat-menyurat dan komunikasi; 4) Biaya persiapan peralatan dan perlengkapan; dan 5) Biaya penjadwalan produksi. Pengelolaan bisnis retail jangan sampai kehabisan ketersediaan barang. Oleh karena itu, diperlukan berbagai pengetahuan tentang penyebab kehabisan persediaan yang meliputi: a. Kesalahan dalam melakukan display produk dan keterlambatan pengisian kembali; dan b. Perencanaan yang buruk, pengisian stok, maupun pemajangan, serta yang hal-hal yang berkaitan dengan supplier, misalnya keterlambatan pengiriman. Kehabisan persediaan dapat mencerminkan buruknya manajemen persediaan suatu toko dan menyebabkan berbagai masalah besar, seperti berkurangnya kesetiaan pelanggan, munculnya biaya persediaan, dan kerugian atas menurunnya omset penjualan.


RETAIL 129 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 129 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Gambar 7.3. Biaya Persediaan Sumber: Dokumen Pribadi 4. Pengadaan Persediaan Barang Terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh manajemen toko ritel pada perencanaan pengadaan barang dagangan, yaitu (Utami: 2017); a. Prediksi penjualan Prediksi penjualan perlu dilakukan untuk setiap unit barang (SKU) sebagai pertimbangan pengelolaan persediaan barang dagangan seperti berikut; 1) Kategori Fast Moving Product, yaitu kategori untuk barang yang memeliki perputaran penjualan yang cepat atau barang laris; 2) Kategori Slow Moving Product, yaitu kategori untuk barang yang memeliki perputaran penjualan yang lambat atau barang kurang laku; 3) Produk tren (Fad Product), yaitu barang-barang yang memiliki daur hidup produk pendek karena trend yang ada di kalangan masyarakat; dan 4) Fashion Product, merupakan kategori barang yang memiliki daur hidup yang berulang pada periode tertentu. b. Tingkat inovasi, Manajemen pengadaan barang juga harus mempertimbangkan tingkat inovasi produk, yaitu; 1) Target pasar, toko hendaknya melakukan inovasi atas barang dan jasa yang ditawarkan sehingga bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan target pasarnya. 2) Persaingan, manajemen aktif menacri informasi mengenai produk yang dijual pesaing sehingga tidak kalah bersaing jika dilihat dari kekinian produk yang ditawarkan.


130 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 130 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 3) Citra toko, inovasi produk harus tetap memperhatikan citra toko yang dibangun. 4) Keuntungan, tingkat keuntungan dari penjualan produk menentukan jenis inovasi produk yang akan ditawarkan kepadakonsumen. c. Merek produk Manajemen toko ritel memiliki dua alternatif pilihan merek produk untuk dipertimbangkan dalam perencanaan pengadaan unit barang yaitu; 1) Merek Prinsipal Merek prinsipal adalah merek produk yang dihasilkan oleh produsen ada umumnya dan produknya sudah dikenal masyarakat. Keuntungan menjual produk prinsipal adalah; a) Memiliki brand awareness yang tinggi sehingga memperkecil biaya promosi dan biaya penjualan lain. b) Dapat meningkatkan citra toko. c) Sudah memiliki captive market sendiri. d) Aktivitas branding menjadi tanggung jawab dari prinsipal selaku pemegang merek. Sedangkan kelemahannya adalah; a) Prosentase keuntungan yang lebih kecil dibandingkan dengan menjualmerek toko. b) Adanya sejumlah aturan dari prinsipal terkait dengan penjualan produknya. c) Tidak menciptakan diferensiasi dengan toko ritel lain. 2) Merek Toko Merek toko (private label brand) adalah merek produk yang dimiliki suatu toko ritel dan hanya dijual di toko ritel tersebut beserta cabang-cabangnya. Keunggulan merek toko adalah; a) Memberikan keunikan pembeda dengan toko ritel lain; b) Persentase keuntungan lebih besar dibanding menjual merek prinsipal; dan c) Adanya kebebasan dalam melakukan aktivitas penjualan. Sedangkan kelemahannya adalah; a) Membutuhkan waktu dan biaya untuk membangun brand awareness; dan b) Membutuhkan usaha ekstra di dalam melakukan penjualan. c) Periode waktu Beberapa pertimbangan terkait periode waktu adalah; 1) Iklim cuaca Manajemen toko ritel harus mempertimbangkan pengadaan barang dagangan dengan mencermati kebutuhan konsumen terkait musim atau cuaca yang sedang berlangsung.


RETAIL 131 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 131 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 2) Pola atau Trend Manajemen toko harus memahami setiap pola atau trend tertentu di masyarakat serta mengantisipasi lonjakan permintaan/ penjualan. Gambar 7.4. Alur Pengadaan Barang Sumber: https:// www.simplidots.com/ mengenal-istilah-ritel-distributor-principal/ C. Pencatatan dan Perhitungan Persediaan Barang 1. Sistem Pencatatan Persediaan Barang Terdapat dua sistem pencatatan persediaan barang dagangan, yaitu metode periodic atau fisik dan metode perpetual: a. Sistem Periodik atau Fisik ( Physical System) Sistem pencatatan fisik (periodik) adalah sistem pencatatan persediaan barang dagangan yang dilakukan secara berkala dalam suatu periode tertentu. Dalam sistem pencatatan periodik, nilai akun persediaan tidak mengalami perubahan. Pencatatan dalam jurnal saat ada transaksi pembelian dilakukan dengan menggunakan akun pembelian. Saldo persediaan yang tercantum adalah nilai persediaan barang pada awal periode. Perhitungan fisik persediaan dilakukan di akhir periode untuk mendapatkan nilai persediaan akhir. Pembelian bersih yang dilakukan dalam periode tersebut dijumlahkan dengan nilai persediaan awal sehingga diketahui total persediaan barang yang tersedia untuk dijual. Harga Pokok Penjualan diperoleh dengan menjumlahkan persediaan awal dengan pembelian bersih dan dikurangi dengan persediaan akhir. Sistem pencatatan periodik memiliki kelebihan sangat sederhana penerapannya sehingga mudah untuk dilakukan, baik saat transaksi pembelian maupun penjualan. Sistem pencatatan ini cocok digunakan untuk perusahaan dagang skala kecil dengan jenis barang yang tidak banyak. Umumnya lebih tepat diterapkan untuk barang yang tingkat


132 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 132 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL perputarannya relatif cepat dan mempunyai unit biaya yang relatif rendah. Namun, sistem periodik memiliki beberapa kelemahan diantaranya; 1) Kuantitas barang tidak dapat diketahui setiap saat; 2) Harus dilakukan perhitungan fisik (stock opname) untuk dapat menyusun laporan keuangan; 3) Harga Pokok Penjualan yang diperoleh dari perhitungan akhir periode belum tentu akurat, karena di dalamnya tidak hanya terdiri dari barang yang sudah terjual namun terdapat kemungkinan adanya barang yang hilang, rusak, atau menyusut; dan 4) Terkait aspek perencanaan dan pengawasan persediaan, penggunaan system ini kurang tepat. b. Sistem Perpetual atau Terus Menerus (Perpetual System) Sistem perpetual atau terus menerus adalah sistem pencatatan persediaan barang dagangan yang dilakukan setiap ada mutasi barang kaluar atau masuk. Dalam sistem perpetual, nilai akun persediaan barang akan diupdate setiap ada transaksi mutasi barang sehingga menunjukkan nilai yang real time. Semua transaksi pembelian, penjualan, retur pembelian, maupun retur penjualan yang terjadi dicatat pada akun persediaan barang. Jumlah fisik dan nilai persediaan dapat diketahui setiap saat, harga pokok penjualan diketahui setiap terjadi transaksi penjualan, dan saldo persediaan di akhir periode otomatis menunjukkan nilai persediaan akhir. Sistem pencatatan perpetual memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut; 1) Tingkat pengendalian yang tinggi, sistem ini mampu membantu manajemen dalam melakukan pengendalian persediaan, menyiapkan data persediaan yang tepat dan hasil pemeriksaan fisik dapat dibandingkan dengan mudah dengan data yang tercatat. 2) Kemudahan menemukan kecurangan akibat barang hilang atau dicuri dan langsung dapat dilakukan pencatatan dengan mendebit biaya persediaan. Namun kelemahannya adalah tidak menghemat waktu dan tenaga kerja, membutuhkan kartu persediaan untuk setiap jenis barang karena perusahaan harus lebih teliti untuk mencatat semua transaksi yang mempengaruhi persediaan barang. Sistem perpetual memerlukan kartu persediaan dalam pencatatan persediaan barang dagang setiap waktu. Berikut ini adalah salah satu bentuk dari kartu persediaan.


RETAIL 133 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 133 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Tabel 7.1 Kartu Persediaan KARTU PERSEDIAAN Kode Barang :..................... Nama Barang:..................... Gudang:...................... Rak :...................... TGL BARANG MASUK BARANG KELUAR SALDO Q P Total Q P Total Q P Total Mengetahui, (........................) Kepala Gudang 2. Konsep Harga Pokok Penjualan (Cost of Good Sold) Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah harga beli dan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang hingga siap untuk dijual. Harga Pokok Penjualan merupakan harga pokok barang yang telah dijual oleh sebuah toko dalam suatu periode tertentu. Dalam perhitungan Harga Pokok Penjualan, di dalamnya terdapat komponen berikut; a. Persediaan Awal Barang Dagangan Yaitu nilai persediaan yang tersedia di awal periode yang tercantum dalam saldo awal neraca saldo periode berjalan atau neraca awal tahun berjalan atau neraca akhir tahun sebelumnya. b. Persediaan Akhir Barang Dagangan Yaitu nilai persediaan barang dagangan yang masih tersedia pada suatu akhir periode. Jika pencatatan menggunakan sistem periodik, nilai persediaan akhir diketahui setelah dilakukan perhitungan fisik sedangkan jika menggunakan sistem pecatatan perpetual, persediaan akhir barang dagangan tercantum pada kolom saldo masing-masing kartu persediaan yang kemudian dimasukkan dalam laporan persediaan barang dagangan. c. Pembelian Bersih Pembelian bersih adalah seluruh nilai pembelian barang dagangan secara tunai maupun kredit yang ditambah dengan biaya angkut pembelian yang dikeluarkan, dikurangi dengan besarnya potongan pembelian yang diperoleh dan retur pembelian yang dilakukan dalam periode tersebut.


134 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 134 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Harga Pokok Penjualan = [(Persediaan Awal + Pembelian Bersih) – Persediaan Akhir] Pembelian Bersih = [Pembelian + Biaya Angkut Pembelian – (Retur Pembelian + Potongan Pembelian)] 3. Metode Perhitungan Persediaan Barang Secara umum terdapat tiga jenis metode perhitungan persediaan barang yaitu; FIFO, LIFO, dan average. a. Metode FIFO (First In First Out) First In First Out artinya masuk pertama keluar pertama, sehingga pada metode ini unit persediaan yang pertama kali masuk ke gudang atau diterima perusahaan akan dijual pertama. Asumsi dasar penerapan metode FIFO adalah bahwa aliran biaya masuk persediaan harus dipertemukan dengan omset penjualannya. Harga pokok per unit persediaan yang masuk di awal dipakai dasar dalam menghitung nilai harga pokok penjualan dan harga pokok per unit persediaan yang terakhir masuk digunakan sebagai dasar penentuan nilai persediaan akhir. Metode perhitungan FIFO sangat tepat dalam menghindari persediaan yang rusak akibat terlalu lama disimpan dan juga relevan dengan pencatatan persediaan sesuai harga terkini. Metode FIFO ini menghasilkan persediaan yang nilainya tinggi sejalan dengan trend harga yang cenderung mengalami kenaikan. Gambar 7.5 Ilustrasi metode FIFO Sumber: Dokumen Pribadi Metode FIFO merupakan metode yang paling umum digunakan dalam penghitungan nilai penilaian persediaan dengan beberapa kelebihan sebagai berikut; 1) Penyajian nilai persediaan barang di laporan keuangan merupakan nilai yang relevan (sesuai harga yang berlaku) 2) Penilaian persediaan barang menghasilkan nilai keuntungan yang lebih besar. Sedangkan kelemahan dari metode perhitungan FIFO adalah; 1) Nilai keuntungan yang besar mengakibatkan nilai pajak yang harus dibayarkan juga lebih besar.


RETAIL 135 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 135 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 2) Menghasilkan nilai laba yang kurang akurat. Contoh perhitungan persediaan; Berikut adalah data persediaan barang dagangan berupa gula lokal. 1) Tanggal 1 Januari 2019; Persediaan awal 100 kg @Rp. 10.000,00 2) Penjualan pada minggu pertama sebanyak 75 kg dengan harga jual @Rp. 11.000,00 3) Pada tanggal 10 Januari 2019 dilakukan pembelian sebanyak 150kg @ Rp. 10.100,00 4) Penjualan pada minggu kedua menghabiskan 60 kg dengan harga jual @ Rp. 11.200,00 5) Penjualan pada minggu ketiga menghabiskan 85 kg dengan harga jual @ Rp. 11.500,00 6) Pada tanggal 25 Januari 2019 dilakukan pembelian sebanyak 100kg @ Rp. 10.300,00 7) Penjualan pada minggu keempat menghabiskan 75 kg dengan harga jual @Rp. 11.500,00 Jika metode perhitungan yang digunakan adalah FIFO, maka hitunglah; 1) Nilai persediaan akhir 2) Nilai Harga Pokok Penjualan 3) Laba/ rugi bulan Januari 2019 Tabel 7.2. Kartu Persediaan Metode FIFO KARTU PERSEDIAAN Nama barang : Gula lokal Lokasi : A-1 TGL BARANG MASUK BARANG KELUAR SALDO Q P TOTAL Q P TOTAL Q P TOTAL 1/ 1/ 2019 - - - - - - 100 10.000 1.000.000 7/ 1/ 2019 75 10.000 750.000 25 10.000 250.000 10/ 1/ 2019 150 10.100 1.515.000 - - - 25 10.000 250.000 150 10.100 1.515.000 14/ 1/ 2019 25 10.000 250.000 115 10.100 1.161.500 35 10.100 353.500 21/ 1/ 2019 85 10.100 858.500 30 10.100 303.000


136 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 136 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 25/ 1/ 2019 100 10.300 1.030.000 30 10.100 303.000 100 10.300 1.030.000 31/ 1/ 2019 30 10.100 303.000 55 10.300 566.500 45 10.300 463.500 TOTAL 250 2.545.000 295 2.978.500 Berdasarkan kartu persediaan tersebut diperoleh hasil sebagai berikut; 1) Nilai persediaan akhir sebanyak 55 kg dengan harga pokok satuan R. 10.300 per kg dan total harga pokok sebesar Rp. 566.500,00 2) Nilai Harga Pokok Penjualan sebesar R. 2.978.500,00 3) Laba/ rugi bulan Januari 2019 Total penjualan; a) 75 kg x Rp. 11.000,00 = Rp. 825.000,00 b) 60 kg x Rp. 11.200,00 = Rp. 672.000,00 c) 85 kg x Rp. 11.500,00 = Rp. 977.500,00 d) 75 kg x Rp. 11.500,00 = Rp. 862.500,00 Rp. 3.337.000,00 Harga Pokok Penjualan Rp. 2.978.500,00 (-) Laba kotor Rp. 358.500,00 b. Metode LIFO (Last In First Out) LIFO (Last In First Out) artinya masuk terakhir keluar pertama, sehingga metode ini mengasumsikan unit persediaan barang yang dibeli pertama akan dikeluarkan terakhir dan unit yang dijual pertama adalah unit persediaan yang terakhir dibeli. Asumsi dasar penerapan metode LIFO adalah bahwa aliran keluar biaya persediaan merupakan kebalikan dari kronologi terjadinya biaya. Pada metode ini, harga beli terakhir dibebankan ke operasional dalam periode kenaikan harga, sehingga laba yang dihasilkan akan lebih kecil dan pajak yang harus dibayar juga akan menjadi lebih kecil. Metode LIFO tidak boleh digunakan lagi sesuai PSAK 14. Gambar 7.6 Ilustrasi metode LIFO Sumber: Dokumen Pribadi


RETAIL 137 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 137 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Berikut kelebihan dan kelemahan metode LIFO. Kelebihan metode perhitungan LIFO adalah; 1) Penilaian pendapatan lebih realistis karena barang yang dijual dibebani dengan yang harga terakhir; 2) Kemudahan dalam membandingkan biaya saat ini dengan pendapatan sekarang; 3) Apabila terjadi kenaikan harga, maka harga barang menjadi konservatif; 4) Laba operasional tidak terpengaruh oleh keuntungan atau kerugian akibat fluktuasi harga; dan 5) Menghemat pembayaran pajak. Kelemahan dari metode perhitungan LIFO adalah; 1) Berlawanan dengan alur fisik barang yang sesungguhnya; 2) Menimbulkan biaya pembukuan yang mahal karena lebih rumit; dan 3) Menghasilkan laba atau rugi yang ebih kecil. Contoh perhitungan persediaan; Berikut adalah data persediaan barang dagangan berupa Gula lokal. 1) Tanggal 1 Januari 2019; Persediaan awal 100 kg @ Rp. 10.000,00 2) Penjualan pada minggu pertama sebanyak 75 kg dengan harga jual @ Rp. 11.000,00 3) Pada tanggal 10 Januari 2019 dilakukan pembelian sebanyak 150kg @ Rp. 10.100,00 4) Penjualan pada minggu kedua menghabiskan 60 kg dengan harga jual @ Rp. 11.200,00 5) Penjualan pada minggu ketiga menghabiskan 85 kg dengan harga jual @ Rp. 11.500,00 6) Pada tanggal 25 Januari 2019 dilakukan pembelian sebanyak 100kg @ Rp. 10.300,00 7) Penjualan pada minggu keempat menghabiskan 75 kg dengan harga jual @ Rp. 11.500,00 Jika metode perhitungan yang digunakan adalah LIFO, maka hitunglah; 1) Nilai persediaan akhir; 2) Nilai Harga Pokok Penjualan; dan 3) Laba/ rugi bulan Januari 2019.


138 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 138 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Tabel 7.3. Kartu Persediaan Metode LIFO KARTU PERSEDIAAN Nama barang : Gula lokal Lokasi : A-1 TGL BARANG MASUK BARANG KELUAR SALDO Q P TOTAL Q P TOTAL Q P TOTAL 1/ 1/ 2019 - - - - - - 100 10.000 1.000.000 7/ 1/ 2019 75 10.000 750.000 25 10.000 250.000 10/ 1/ 2019 150 10.100 1.515.000 - - - 25 10.000 250.000 150 10.100 1.515.000 14/ 1/ 2019 60 10.100 606.000 25 10.000 250.000 90 10.100 909.000 21/ 1/ 2019 85 10.100 858.500 25 10.000 250.000 5 10.100 50.500 25/ 1/ 2019 100 10.300 1.030.000 25 10.000 250.000 5 10.100 50.500 100 10.300 1.030.000 31/ 1/ 2019 75 10.300 772.500 25 10.000 250.000 5 10.100 50.500 25 10.300 257.500 TOTAL 250 2.545.000 295 2.987.000 55 558.000 Berdasarkan kartu persediaan tersebut diperoleh hasil sebagai berikut; 1) Nilai persediaan akhir sebanyak 55 kg dengan rincian 25 kg @ Rp. 10.000, 5 kg @ Rp. 10.100,00, dan 25 kg @ Rp. 10.300 dengan total harga pokok sebesar Rp. 558.000,00 2) Nilai Harga Pokok Penjualan sebesar Rp. 2.987.000,00


RETAIL 139 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 139 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 3) Laba/ rugi bulan Januari 2019 Total penjualan; a) 75 kg x Rp. 11.000,00 = Rp. 825.000,00 b) 60 kg x Rp. 11.200,00 = Rp. 672.000,00 c) 85 kg x Rp. 11.500,00 = Rp. 977.500,00 d) 75 kg x Rp. 11.500,00 = Rp. 862.500,00 Rp. 3.337.000,00 Harga Pokok Penjualan Rp. 2.987.000,00 (-) Laba kotor Rp. 350.000,00 c. Metode Average (Rata-Rata) Metode average adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya per unit persediaan berdasarkan rata-rata tertimbang dari jumlah unit dan biaya per unit persediaan yang dibeli selama suatu periode. Cara perhitungannya adalah dengan membagi jumlah harga pokok semua barang yang tersedia untuk dijual dengan jumlah unit yang tersedia untuk dijual sehingga menghasilkan biaya rata-rata per unit. Harga rata-rata per unit tersebut digunakan untuk menghitung harga pokok penjualan dan persediaan akhir. Metode average merupakan perpaduan dari metode FIFO dan LIFO sehingga kelebihan dan kekurangan metode ini berada di antara metode LIFO dan FIFO. Gambar 7.7 Ilustrasi Metode Average Sumber: Dokumen Pribadi Contoh perhitungan persediaan; Berikut adalah data persediaan barang dagangan berupa gula lokal. 1) Tanggal 1 Januari 2019; Persediaan awal 100 kg @Rp. 10.000,00 2) Penjualan pada minggu pertama sebanyak 75 kg dengan harga jual @ Rp. 11.000,00 3) Pada tanggal 10 Januari 2019 dilakukan pembelian sebanyak 150kg @ Rp. 10.100,00


140 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 140 RETAIL MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL 4) Penjualan pada minggu kedua menghabiskan 60 kg dengan harga jual @ Rp. 11.200,00 5) Penjualan pada minggu ketiga menghabiskan 85 kg dengan harga jual @ Rp. 11.500,00 6) Pada tanggal 25 Januari 2019 dilakukan pembelian sebanyak 100kg @ Rp. 10.300,00 7) Penjualan pada minggu keempat menghabiskan 75 kg dengan harga jual @ Rp. 11.500,00 Jika metode perhitungan yang digunakan adalah Average, maka hitunglah; a. Nilai persediaan akhir b. Nilai Harga Pokok Penjualan c. Laba/ rugi bulan Januari 2019 Tabel 7.4. Kartu Persediaan Metode Average KARTU PERSEDIAAN Nama barang : Gula lokal Lokasi : A-1 TGL BARANG MASUK BARANG KELUAR SALDO Q P TOTAL Q P TOTAL Q P TOTAL 1/ 1/ 2019 - - - - - - 100 10.000 1.000.000 7/ 1/ 2019 75 10.000 750.000 25 10.000 250.000 10/ 1/ 2019 150 10.100 1.515.000 - - - 175 10.086 1.765.000 14/ 1/ 2019 60 10.086 605.160 115 10.086 1.159.890 21/ 1/ 2019 85 10.086 857.310 30 10.086 302.580 25/ 1/ 2019 100 10.300 1.030.000 130 10.661 10.251 31/ 1/ 2019 75 10.251 768.825 55 10.251 563.805 TOTAL 250 2.545.000 295 2.981.295 55 563.805 Keterangan: Harga Pokok tanggal 10/ 1/ 2019 diperoleh dari Rp. 250.000,00 + Rp. 1.515.000,00 25 kg + 150 kg


RETAIL 141 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL RETAIL 141 MATERI PEMBELAJARAN PENGELOLAAN BISNIS RETAIL Harga Pokok tanggal 5/ 1/ 2019 diperoleh dari Rp. 302.580,00 + Rp. 1.030.000,00 30 kg + 100 kg Berdasarkan kartu persediaan tersebut diperoleh hasil sebagai berikut; 1. Nilai persediaan akhir sebanyak 55 kg dengan harga pokok satuan Rp. 10.251,00 per kg dan total harga pokok sebesar Rp. 563.805,00 2. Nilai Harga Pokok Penjualan sebesar Rp. 2.981.295,00 3. Laba/ rugi bulan Januari 2019 Total penjualan; a. 75 kg x Rp. 11.000,00 = Rp. 825.000,00 b. 60 kg x Rp. 11.200,00 = Rp. 672.000,00 c. 85 kg x Rp. 11.500,00 = Rp. 977.500,00 d. 75 kg x Rp. 11.500,00 = Rp. 862.500,00 Rp. 3.337.000,00 Harga Pokok Penjualan Rp. 2.981.295,00 (-) Laba kotor Rp. 355.705,00 D. Laporan Persediaan Barang Laporan persediaan barang merupakan ringkasan dari kartu persediaan barang. Jika satu kartu persediaan memuat satu jenis persediaan, maka dalam laporan persediaan barang memuat semua jenis persediaan barang yang dimiliki suatu perusahaan yang memuat informasi saldo awal, mutasi persediaan, dan saldo akhir persediaan, serta keterangan kondisi barang jika diperlukan. Biasanya laporan persediaan diperlukan pada setiap akhir suatu periode sebagai bahan penyusunan laporan keuangan. Format dari laporan persediaan barang disesuaikan dengan kepentingan dan informasi yang diperlukan perusahaan. Berikut adalah contoh format laporan persediaan barang; Gambar 7.8 Contoh Laporan Persediaan Barang Sumber: https:// matematikaakuntansi.blogspot.com/ 2017/ 05/ contoh-format-laporan-persediaan-barangdagang.html


142 RETAIL PENGELOLAAN BISNIS RETAIL LEMBAR PRAKTIKUM Lakukan kegiatan berkut! 1. Bentuklah kelompok yang beranggotakan 4 orang. 2. Lakukan observasi terhadap pengelolaan persediaan barang dagang yang dijual di koperasi sekolah atau bisnis center atau teaching factory yang ada di sekolah kalian (sistem pencatatan dan metode perhitungan yang dipakai). 3. Lakukan perhitungan persediaan suatu jenis barang untuk jangka waktu transaksi satu minggu dalam bentuk kartu persediaan. 4. Buat laporan persediaan barang. Susun laporan. Presentasikan laporan observasi di depan kelasAspek Penilaian: NO. ASPEK PENILAIAN SKOR PENILAIAN 1 Orisinalitas 20 2 Kesesuaian 20 3 Estetika 20 4 Struktur laporan 20 5 Kerja sama tim 20 PRIVATE LABEL JADI STRATEGI RITEL MODERN HADAPI KOMPETISI DENGAN DAGANG-EL Di era belanja  online, konsumen masih akan tetap belanja ke toko ritel offline untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan dalam waktu yang singkat. Hal tersebut merupakan kesempatan bagi toko ritel offline untuk mendapatkan dan menambah pelanggan demi mengejar omset penjualan sekaligus menghadapi persaingan dengan ritel online CAKRAWALA


RETAIL 143 PENGELOLAAN BISNIS RETAIL CAKRAWALA Toko ritel offline harus memberikan pelayanan yang memuaskan setiap konsumen yang datang sehingga akan menjadi pelanggan yang setia. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan memastikan ketersedian barang yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen sehingga konsumen keluar dari toko selalu lengkap dengan barang belanjaan. Analis senior ABI Research Nick Finill menyatakan bahwa “toko-toko yang memiliki keterbatasan informasi seputar lokasi dan jumlah stok pada tingkat item individu tidak akan mampu melayani pelanggan mereka secara memadai atau berhasil menjalankan strategi ritel omnichannel yang kompetitif”.  Salah satu studi menunjukan bahwa pengecer dan grosir bisa kehilangan US$2,3 juta dalam penjualan setahun hanya karena kekurangan persediaan minuman ringan saja. Minuman ringan mewakili lebih dari 27% dari total portofolio penjualan, dan hampir 70% kehabisan stok di tingkat pengecer merupakan kategori minuman ringan.  Perkembangan teknologi dapat meningkatkan sistem inventaris, bahkan untuk mencapai tingkat akurasi hingga 100% yaitu dengan menggunakan teknologi alat kecerdasan buatan (AI) dan teknologi identifikasi frekuensi radio (RFID). Dalam rangka menghadapi persaingan dengan pengecer e-commerce dan pengecer offline lainnya, perlu segera menggunakan alat inventaris berbasis IoT dan AI.  Dikutip dari: WE Online, Jakarta - https:// www.wartaekonomi.co.id/ read231410/ analisa-inventorytingkatkan-pengalaman-belanja-konsumen-ritel.html Penulis: Yosi Winosa Guna meningkatkan pemahaman materi pengelolaan persediaan bisnis ritel, silakan kunjungi https:// zahiraccounting.com/ id/ blog/ cara-mengelolapersediaan/ . LEMBAR PRAKTIKUM


Click to View FlipBook Version