The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by asepiwah2021, 2023-07-05 10:44:29

KTI ORASI ILMIAH Asep Iwa

KTI ORASI ILMIAH Asep Iwa

KARYA TULIS ILMIAH SYSTEMATIC LITERATUR REVIEW (SLR) MODEL QUALITY ASSURANCE DALAM PENYELENGGARAAN PELATIHAN BERBASIS E-LEARNING Dr. ASEP IWA HIDAYAT, M.Pd WIDYAISWARA AHLI UTAMA PPSDM REGIONAL BANDUNG KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA JAKARTA, MEI 2023


KATA PENGANTAR Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa, karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan Karya Tulis Ilmiah Widyaiswara berjudul : SYSTEMATIC LITERATUR REVIEW (SLR): MODEL QUALITY ASSURANCE DALAM PENYELENGGARAAN PELATIHAN APARATUR BERBASIS E-LEARNING, sebagai syarat Orasi Ilmiah Widyaiswara. Terlaksananya penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis banyak mendapat bimbingan, bantuan, masukan dan saran ataupun ide-ide dari berbagai pihak yang berkompten dalam bidangnya. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak. Karya Tulis Ilmiah ini, disusun dengan segala upaya untuk meraih yang terbaik, namun kami menyadari masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu penulis menunggu saran perbaikan untuk menjadikan Karya Tulis Ilmiah ini menjadi lebih baik. Sumedang, Agustus 2022 Penulis


DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................ KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN................................................................................ A. Latar Belakang Penelitian .......................................................................... B. Pertanyaan Penelitian................................................................................. C. Tujuan Penelitian ....................................................................................... D. Manfaat Penelitian ..................................................................................... BAB II KERANGKA TEORI.......................................................................... A. Sistem Penjaminan Mutu Internal Lembaga .............................................. B. Sistem Penjaminan Mutu……………………………………. .................. BAB III METODE KAJIAN ........................................................................... A. Metode Reviu............................................................................................. B. Strategi Penelusuran................................................................................... C. Kerangka Pikir .......................................................................................... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... A. Tahapan Perencanaan B. Tahapan Pelaksanaan C. Tahapan Analisis, Sintesis dan Diskusi BAB V KESIMPULAN DAN SARAN........................................................... A. Kesimpulan B. Saran Daftar Pustaka Lampiran-Lampiran


1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Lembaga pelatihan merupakan salah satu lembaga yang berperan sebagai penyelenggara pengembangan kompetensi sumber daya manusia. Untuk menjadikan lembaga pelatihan yang efektif, perlu dikelola secara professional. Terkait dengan tuntutan penyelenggaraan pelatihan yang efektif, efisien dan berkualitas, pembelajaran dalam pelatihan merupakan sebuah proses untuk mencapai peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Kegiatan pengembangan kompetensi melalui pelatihan, mengalami perubahan paradigma pembelajaran dari metode pembelajaran tradisional atau yang bersifat klasikal kearah metode pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dengan metode pembelajaran jarak jauh, salah satu konsepnya adalah e-learning. Proses pembelajaran elektronik atau e-pembelajaran (Inggris: Electronic learning disingkat E-learning) adalah cara baru dalam proses pembelajaran. Elearning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning juga dapat mengefektifkan jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah lembaga pelatihan. E-learning merupakan salah satu bentuk metode pembelajaran yang dipersepsikan bersifat student centered. Pemanfaatan e-learning diharapkan dapat


2 memotivasi peningkatan kualitas pembelajaran dan materi ajar, kualitas aktivitas dan kemandirian peserta, serta komunikasi antara widyaiswara dengan peserta maupun antar peserta pelatihan. Dengan berbagai kelebihan dalam proses pembelajaran e-learning, terdapat juga kelemahan sebagai permasalahan, antara lain : a. Layanan jaringan atau koneksi internet yang lambat dan tidak handal menimbulkan permasalahan utama dalam kegiatan pembelajaran. b. Keterbatasan fasilitas komputer yang belum memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas. c. Masih lemahnya sumber daya manusia baik tenaga pengajar maupun peserta dan juga pengelola/penyelenggara pelatihan yang menguasai pengetahuan dan keterampilan dalam teknologi informasi secara khusus internet. d. Belum optimalnya Manajemen pembelajaran e-learning atau Learning Management system (LMS). e. Berbagai permasalahan terkait metode dan didaktif pembelajaran, serta permasalahan interaksi sosial. Dengan melihat permasalahan di atas maka pelatihan berbasis e-learning yang diselengarakan lembaga pelatihan agar dapat berjalan secara efektif dan efisien perlu melakukan sistem penjaminan mutu yang baik. Penjaminan mutu merupakan sebuah sistem yang menentukan kebijakan, merencanakan, mengontrol,


3 dan mengembangkan kualitas mutu suatu produk, jasa/layanan (Bhat & Cozzolino, 1993). Penjaminan mutu merupakan salah satu upaya dalam mengendalikan mutu penyelenggaraan pelatihan e -learning di lingkungan lembaga pelatihan. Agar progran pelatihan yang diselenggarakan dapat tercapai sesuai dengan tujuan dan sasaran mutu yang telah ditentukan oleh lembaga pelatihan, maka diperlukannya satuan/unit penjaminan mutu untuk membantu penyelenggara agar seluruh kegiatan dapat terkendali dengan baik sesuai harapan semua pihak yang berkepentingan. Maksud penjaminan mutu adalah sebagai bahan perbaikan mutu/kualitas dalam menyelenggarakan pelatihan secara berkelanjutan. Sedangkan tujuannya agar penyelenggaraan pelatihan dapat mencapai tujuan dan sasaran mutu yang diharapkan berjalan secara efektif, efisien serta mencapai hasil yang optimal. Secara umum Penjaminan mutu (Quality Assurance) adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan sehingga konsumen, produsen, dan pihak-pihak yang berkepentingan memperoleh kepuasan. (1) Sistem Penjaminan Mutu adalah suatu sistem manajemen untuk mengarahkan dan mengendalikan suatu organisasi/institusi dalam penetapan Kebijakan, Sasaran, Rencana dan Proses/prosedur mutu serta pencapaiannya secara berkelanjutan (continous improvement). (2) Sistem Penjaminan Mutu adalah suatu sistem manajemen yang menjamin kesesuaian antara proses dengan output yang dihasilkan yang akan memberikan kepuasan stakeholders. (3) Sistem Penjaminan Mutu merupakan sistem manajemen yang terdiri dari struktur organisasi, tanggungjawab, proses-proses, prosedur dan sumber daya yang digunakan untuk mencapai standar yang ditentukan berdasarkan persyaratan dan kebutuhan stakeholders dan organisasi


4 (4) Sistem Penjaminan Mutu adalah Sistem manajemen yang mengikutsertakan seluruh karyawan dari tingkatan organisasi, dengan penerapan konsep pengendalian kualitas dan metode statistik untuk mencapai kepuasan pelanggan dan yang mengerjakannya Penjaminan Mutu diharapkan dapat : (1) Membantu organisasi mengukur kinerja secara lebih sistematis (2) Membantu organisasi mengelola prosesnya secara lebih baik searah dengan sasaran organisasi (3) Memberikan jaminan pada tiap personil bahwa sistem telah sesuai (4) Menjamin bahwa setiap proses berjalan sesuai rencana Berdasarkan studi pendahuluan dapat diindentifikasi permasalahan terkait penjaminan mutu dalam pelatihan e-learning, yang bersumber dari beberapa Jurnal internasional dan jurnal nasional, sebagai beikut : (1) Sumber daya manusia penyelenggara pelatihan e-learning dan pengelola Satuan Penjamin Mutu Internal, belum memadai dari segi kompetensi. (2) Sarana dan prasarana pelatihan e-learning yang belum memenuhi standar mutu dan belum memadai, perlu pemanfaatan teknologi informasi. (3) Kegiatan penjaminan mutu masih dalam pelatihan e-learning masih terkendala dengan anggaran, sering terjadi efisiensi sehingga anggaran belum optimal. (4) Instrumen penjaminan mutu dalam pelatihan e-learning yang digunakan masih monoton dan manual. (5) Laporan Kegiatan penjaminan mutu terkait pelatihan e-learning belum sepenuhnya dijadikan dasar untuk melakukan perbaikan kualitas dalam penyelenggaraan pelatihan.


5 (6) Sistem penyelenggaraan pelatihan e learning yang berdampak pada kesiapan dan kemampuan pengelola dan fasilitas yang belum memadai sehingga penyelenggaraan pelatihan tidak optimal. Dengan melihat permasalahan tersebut di atas dan hal tersebut menjadi alasan memilih tema tentang Quality Assurance dalam penyelenggaraan e-learning, maka perlu ada penelitian dan pengembangan lebih lanjut terhadap penjaminan Quality Assurance (mutu pelatihan). Dengan harapan ada perbaikan dalam penyelenggaraan program pelatihan yang mengacu pada peraturan terbaru Lembaga Adminsitrasi Negara Republik Indoensia serta lebih berkualitas di masa yang akan datang, khususnya pelatihan yang diselenggarakan berbasis e-Learning. Di sisi lain, penelitian yang saat ini relevan dengan kondisi pandemic covid-19 adalah penelitian yang menghindari sekecil mungkin terjadinya kontak fisik secara masal tetapi tidak menghilangkan esensi dan kualitas hasil penelitian. Akhir-akhir ini telah mulai ramai digunakan kembali bentuk penelitian yang memanfaatkan literatur terpercaya untuk dijadikan referensi, sekaligus kesimpulan penelitian. Bentuk penelitian serupa itu salah satunya dikenal dengan sebutan Systematic Literatur Review (SLR). Sebagaimana salah satu pendefinisiannya sebagai berikut. (1) Systematic Literatur Review (SLR istilah yang digunakan untuk merujuk pada metodologi penelitian atau riset dan pengembangan yang dilakukan untuk mengumpulkan serta mengevaluasi penelitian yang terkait pada fokus topik tertentu (Lusiana and M. Suryani, 2014)


6 (2) SLR bukan metode penelitian tunggal sehingga dalam dunia penelitian dianggap sebagai metode yang hasilnya paling trustable, bahkan setingkat lebih tinggi daripada hasil penelitian dengan metode eksperimen. Oleh karena itu, penelitian dengan metode ini banyak dimanfaatkan oleh para penentu kebijakan karena hasil-hasil yang disajikan lebih komprehensif dan tidak hanya dari satu sudut pandang. (3) An SLR is defined as a process of identifying, assessing, and interpreting all available research evidence with the purpose to provide answers for specific research questions (Kitchenham and Charters, 2007). Jadi, Systematic Literature Review merupakan metode riset yang dilakukan dengan cara mencari dan menelaah secara sistematis literatur – literatur yang relevan dengan tema kajian. Dengan melihat permasalahan tersebut di atas, maka perlu ada penelitian dan pengembangan lebih lanjut terhadap Quality Assurance pelatihan berbasis E-Learning. Dengan harapan ada perbaikan penyelenggaraan program pelatihan yang mengacu pada peraturan terbaru Lembaga Adminsitrasi Negara Republik Indoensia serta lebih berkualitas di masa yang akan datang. Selanjutnya oleh peneliti dijadikan tema dalam Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) Orasi Ilmiah Widyaiswara dengan Judul “Systematic Literatur Review: Model Quality Assurance dalam Penyelenggaraan Pelatihan Berbasis eLearning.”


7 B. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian atau Research Question dibuat berdasarkan kebutuhan dari topik yang dipilih. Berikut ini Research Question yang diajukan dalam penelitian ini (1) Bagaimana model Quality Assurance dikembangkan dalam melakukan pelatihan berbasis e-learning yang diselenggarakan pusat-pusat pelatihan umum pada tahun 2010 – 2021? (2) Model Quality Assurance apa sajakah yang paling unggul dan relevan dengan kondisi pelatihan e-learning saat ini ? (3) Bagaimana perspektif pengembangan model Quality Assurance dalam Penyelenggaraan Pelatihan Berbasis e-Learning? C. Tujuan Penelitian Dari pertanyaan penelitian yang diajukan, peneliti menetapkan tujuan utama penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut. (1) Mendeskripsikan dan menganalisis gambaran hasil penelitian mengenai model Quality Assurance pelatihan berbasisis e-learning, terkait (a) Kebijakan dan perencanaan Quality Assurance; (b) Implementasi Quality Assurance; dan (c) monitoring, evaluasi, serta dampak Quality Assurance.


8 (2) Mendeskripsikan dan menganalisis gambaran hasil penelitian mengenai model Quality Assurance pelatihan berbasis e-learning yang unggul dan relevan dengan kondisi objektif kekinian (3) Merekomendasikan alternatif pengembangan model Quality Assurance, sebagai upaya peningkatan mutu dan solusi terhadap permasalahan dalam penyelenggaraan pelatihan berbasis e-Learning. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini secara umum diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran berdasarkan Systematic Literatur Review (SLR) serta bukti-bukti empiris nantinya tentang bagaimana usaha dalam membangun model Quality Assurance dengan melihat pada aspek tuntutan kebutuhan pengembangan kompetensi, serta masalah-masalah yang dihadapinya dalam meningkatkan Quality Assurance layanan pelatihan dalam rangka membangun peningkatan kompetensi sumber daya aparat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak-pihak yang berwenang atau yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan kebijakan, untuk membangun model Quality Assurance dalam Penyelenggaraan Pelatihan Berbasis e-Learning. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini secara khusus adalah:


9 (1) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada peneliti serta para pejabat struktural dan fungsional untuk memahami Quality Assurance dalam Penyelenggaraan Pelatihan Berbasis e-Learning. (2) Memberikan sumbangan disain pemikiran berupa model Quality Assurance dalam Penyelenggaraan Pelatihan Berbasis e-learning sesuai kebutuhan. (3) Bermanfaat bagi Stakeholders penyelenggaraan pelatihan selaku pemegang otonomi, untuk meningkatkan tanggung jawab dan peran sertanya dalam upaya perbaikan Quality Assurance dalam penyelenggaraan pelatihan berbasis e-learning. (4) Kontribusi terhadap upaya membangun model Quality Assurance, setidaknya dapat memperkaya teori, konsep dan wawasan dalam menumbuhkembangkan budaya mutu dengan Quality Assurance lembaga, dalam pelatihan berbasis e-learning. (5) Diharapkan nantinya menjadi masukan berharga bagi para pengambil kebijakan baik lembaga-lembaga Pengembangan kompetensi Sumber Daya Manusia serta Lembaga Admnistrasi Negara (LAN) secara khusus untuk pelatihan e-learning


10 BAB II KERANGKA KONSEP A. Konsep e-Learning 1. Definisi e-learning Perkembangan teknologi terutama sistem komputer melalui jaringan semakin meningkat. Dalam hal ini intemet merupakan jaringan publik dalam mendukung komunikasi publik. Keberadaannya sangat diperlukan baik sebagai media informasi maupun komunikasiyang dilakukan secara bebas. Salah satu pemanfaatan internet pada sistem pembelajaran jarak jauh melalui belajar secara elektronik atau yang lebih dikenal dengan istilah e-learning. Secara umum terdapat dua persepsi dasar tentang e-learning yaitu: 1. Electronic based e-learning adalah pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, terutama yang berupa elektronik. Artinya, tidak hanya internet, melainkansemua perangkat elektronik seperti film, video, kaset, OHP, Slide, LCD, projector, dan lain-lain. 2. Internet Based, adalah pembelajaran yang menggunakan fasilitasinternet yang bersifat online sebagai instrument utamanya. Artinya, memiliki persepsi bahwa e-learning haruslah menggunakan internet yang bersifat online, yaitu fasilitas komputer yang terhubung dengan internet. Artinya pembelajar dalam mengakses materi pembelajaran tidak terbatasjarak ,ruang dan waktu, bias dimana saja dan kapan saja (any whare and anytime).


11 Kedua persepsi tersebut ditunjang oleh berbagai pendapat paraahli yang berbeda. Beberapa ahli yang mendukung pendapat e-learning sebagai electronic based diantaranya Elliott Masie, cisco and comellia (2000) menjelaskan, e-learnin adalah pembelajaran dimana bahan pembelajaran disampaikan melalui media elektronik seperti internet, intranet, satelit, TV, CDROM, dan lain-lain, jadi tidak harus internet karena internet salah satu bagian dari e-learning.Pendapat ini didukung oleh Martin Jenkins and Janet Hanson, Generic center (2003) bahwa e-learning adalah proses belajar yang difasilitasi dan didukung melalui pemanfaatan teknologi informasi komunikasi. Para ahli yang mendukung pemahaman e-learning sebagaimedia yang menggunakan internet diantaranya e-learning adalah ''penggunaaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan".(Rosenberg (2001) E-learning atau internet enable learning menggunakan metode pengajaran dan teknologi sebagai sarana dalam belajar. E-learning tersusun dari dua bagian, yaitu 'e' yang merupakan singkatan dari 'electronica' dan 'learning' yang berarti 'pembelajaran'.Jadi e-learning berarti pembelajaran dengan menggunakan jasa bantuan perangkat elektronika. Jadi dalam pelaksanaannya, e- learning menggunakan jasa audio, video atau perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya. Dengan kata lain e-learning adalah pembelajaran yang dalam pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, videotape, transmisi satelite atau komputer. (Tafiardi, 2005) Sejalan dengan itu, Onno W. Purbo (dalam Amin, 2004) menjelaskan bahwa istilah "e" dalam e-learning adalah segala teknologi yang digunakan


12 untuk mendukung usaha- usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet. Internet, satelit, tape audio/video, tv interaktif, dan CD-ROM adalah sebagian dari media elektronik yang digunakan. Pengajaran boleh disampaikan pada waktu yang sama (synchronously) ataupun pada waktu yang berbeda (asynchronously). Secara lebih singkat william Horton mengemukakan bahwa (dalam Sembel, 2004) e-learning merupakan kegiatan pembelajaran berbasis web (yang bisa diakses dari internet). Tidak jauh berbeda dengan itu Brown, 2000 dan Feasey, 2001 (dalam siahaan, 2002) secara sederhana mengatakan bahwa e-learning merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitas yang didukungoleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya. Selain itu, ada yang menjabarkan pengertian e-learning lebih luas lagi. Sebenarnya materi e-learning tidak harus di distribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal maupun intemet. Interaksi dengan menggunakan internetpun bisa dijalankan secara on-line danreal-time ataupun recara off-line atau archieved. Distribusi secara offline menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar di kembangkan sesuai kebutuhan dan di distribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnyapembelajar dapat memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat dimana dia berada.


13 2. Karakteristik, Manfaat Dan Fungsi e-learning Karakteristik e-learning ini antara lain adalah: a. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik. Sehingga dapat memperoleh informasi dan melakukan komunikasi dengan mudah dan cepat, baik antara pengajar dengan pembelajar, ataupembelajar dengan pembelajar. b. Memanfaatkan media komputer, seperti jaingan komputer (computer networks) atau (digital media). c. Menggunakan materi pembelajaran untuk dipelajari secara mandiri (self learning materials). d. Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh pengajar dan peserta, kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya. e. Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran dan juga untuk mengetahui hasil kemajuan belajar, atau administrasi pendidikan serta untuk memperoleh informasi yang banyak dariberbagai sumber informasi. 3. Manfaat e-learning E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan/materi pelajaran. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran atau kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Selain itu, pengajar dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalamweb untuk di akses oleh peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, pengajar dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik


14 untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula (Website Kudos, 2002, dalam Siahaan). Secara lebih rinci, manfaat e-learning dapat dilihat dari 2(dua) sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan pengajar : 1) Sudut peserta didik Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Menurut Brown, 2000 (dalam Siahaan) ini dapat mengatasi peserta yang: a) Belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah-daerah miskin untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diberikan oleh sekolahnya, b) Mengikuti program pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) untuk mempelajari materi yang tidak dapat diajarkan oleh orang tuanya, seperti bahasa asing dan ketrampilan di bidang komputer, c) Merasa phobia dengan sekolah atau peserta didik yang di rawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolahtapi berminat melanjutkan pendidikannya, maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang berada di luar negeri, dan d) Tidak tertampung di sekolah konvensional untuk mendapatkan pendidikan. 2) Sudut pandang Pengajar Menurut soekartawi (dalam Siahaan) beberapa manfaat yang diperoleh


15 pengajar adalah bahwa pengajar dapat : a) Lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, b) Mengembangkan diri atau merakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yangdimiliki relatif lebih banyak, c) Mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan pengajar juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang, d) Mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal- soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan e) Memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik. Selain itu, manfaat e-learning dengan penggunaan internet, khususnya dalam pembelajaran jarak jauh antara lain : 1. Pengajar dan peserta dapat berkomunikasi dengan mudah dan cepat melalui fasilitas internet tanpa dibatasi oleh tempat, jarak dan waktu. Secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi bisa dilakukan. 2. Pengajar dan peserta dapat menggunakan materi pembelajaran yangruang lingkup (scope) dan urutan (sekuensnya) sudah sistematisterjadwal melalui internet. 3. Dengan e-learning dapat manjelaskan materi pembelajaran yang sulit dan


16 rumit menjadi mudah dan sederhana. Selain itu, materipembelajaran dapat disimpan dikomputer, sehiagga peserta dapat mempelajari kembali atau mengulang materi pembelajaran yang telah dipelajarinya setiap saat dan dimana saja sesuai dengan keperluannya. 4. Mempermudah dan mempercepat mengakses atau memperoleh banyak informasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang dipelajarinya dari berbagai sumber informasi dengan melakukan akses di internet. 5. Internet dapat dijadikan media untuk melakukan diskusi antara pengajar dengan peserta, baik untuk seorang pembelajar, atau dalam jumlah pembelajar terbatas, bahkan missal. 6. Peran peserta rnenjadi lebih aktif mempelajari materi pembelajaran, memperoleh ilmu pengetahuan atau informasi secara mandiri, tidak mengandalkan pemberian dari pengajar, disesuaikan pula dengan keinginan dan minatnya terhadap materi pembelajaran. 7. Relatif lebih efisien dari segi waktu, tempat dan biaya. 8. Bagi pembelajar yang sudah bekerja dan sibuk dengankegiatannya sehingga tidak mempunyai waktu untuk datang kesuatu lembaga pendidikan maka dapat mengakses internet kapanpun sesuai dengan waktu luangnya. 9. Dari segi biaya, penyediaan layanan internet lebih kecil biayanya disbanding harus membangun ruangan atau kelas pada lembaga pendidikan sekaligus memeliharanya, serta menggaji para pegawainya. 10. Memberikan pengalaman yang menarik dan bermakna bagipeserta karena dapat berinteraksi langsung, sehingga pemahamanterhadap materi akan lebih bermakna pula (meaning full), mudahdipahami, diinga dan mudah pula untuk


17 diungkapkan. 11. Kerja sama dalam komunitas online yang memudahkan dalam transfer informasi dan melakukan suatu komunikasi sehingga tidak akan kekurangan sumber atau materi pembelajaran. 12. Administrasi dan penpengajarsan terpusat sehingga memudahkan dalam melakukan akses atau dalam operasionalnya. 13. Membuat pusat perhatian dalam pembelajaran. 4. Fungsi e-learning Setidaknya ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu (dalam siahaan, 2002) : a. Suplemen (tambahan) Dikatakan berfungsi sebagai suplemen, apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didikyang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuanatau wawasan. b. Komplemen (pelengkap) Dikatakan berfungsi sebagai komplemen, apabila materi e- learning diprogramkan untuk melengkapi matei pembelajaran yangditerirna peserta di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai komplemen berarti materi e-learning diprogramkan untuk menjadi materi enrichment (pengayaan) atau remedial


18 bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Sebagai enrichment, apabila peserta didik dapat dengan cepat menguasai/memahami materi pelajarun yang disampaikan pengajarsecara tatap muka diberikan kesempatan untuk mengakses materi e-learning yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi plajaran yang disajikan pengajar di kelas. Sebagai remedial, apabila peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami materi petajaran yang disampaikan pengajar secara tatap muka di kelas. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan pengajar di kelas. c. Substitusi (pengganti) Tujuan dari e-learning sebagai pengganti kelas konvensional adalah agar peserta didik dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahan sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari. Ada 3 (tiga) alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat diikuti peserta didik: 1. Sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), 2. Sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet,atau bahkan 3. Sepenuhnya melalui internet.


19 3. Factor yang perlu dipertimbangkan dan syarat-syarat dalam memanfaatkan e-Learning Faktot yang Perlu Dipertimbangkan dalam Memanfaatkan e-learning untuk pembelajaran jarak jauh adalah memilih internet untuk kegiatan pembelajaran. Memilih internet ini ada beberapa tahap yang harus dilakukan yaitu 1. Analisis kebutuhan (need analysis) Pemanfaatan e-learning sangat tergantung pada pengguna dalam memandang atau menilai e-learning tersebut. Digunakannya teknologi terscbut jika e-learning itu sudah merupakan kebutuhan. Untuk menentukan apakah seseorang ataulembaga pendidrkan membutuhkan atau tidak e-learning itu, maka diperlukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan ini untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan yang muncul, yaitu apakah fasilitas pendukungnya sudah memadai, apakah didukung oleh dana yang memadai; dan apakah ada dukungan dari pembuat kebijakan. Jika berdasarkan analisis kebutuhan itu diputuskan bahwa e-learning diperlukan, maka perlu membuatstudi kelayakan (fasibility study). Ada beberapa komponen penilaian dalam studi kelayakan yang perlu dipertimbangkan, antara lain: a. Secara teknis, apakah jaringan internet bisa dipasang beserta infrasruktur pendukungnya, sepeti jaringan komputer, instalasi listrik, saluran telepon, dan sebagainya. b. Sumber daya manusianya yang memiliki pengetahuan dan kemampuan atau ketetampilan (skill dan knowledge) yang secara teknis bisa mengoperasikannya.


20 c. Secara ekonomis apakah kegiatan vang dilakukan dengan e-learning ini menguntungkan atau tidak, apakah akanmembutuhkan biaya yang besar atau kecil. d. Secara sosial, apakah sikap (attitude) masyarakat dapat menerimanya atau menolak terhadap penggunaan e-learningsebagai bagian dari teknologi dan omunikasi. Untuk ituperlu diciptakan sikap (attitude) yang positif terhadap e- learning, khususnya. Dan teknologi informadi dan komunikasi pada umumnya, agar bias mengerti potensi dandampaknya bagi pembelajar dan masyarakat. 2. Rancangan Pembelajaran Dalam menentukan rancangan pembelajaran perlu dipertimbangkan beberapa hal, antara lain: a. Course content and learning unit analysis (Analisis isi pembelajaran), seperti ruang lingkup (scope) dan urutan (sequence) materi pembelajaran, atau topik yang relevan. b. Learner analysis (analisis pemberajar), seperti : latar belakang pendidikan, usia, status pekerjaan, dan sebagainya. c. Learning context analysis (analisis berkaitan dengan pembelajaran), seperti : kompetensi pembelajaran yang akandan ingin dibahas secara mendalam pada rancangan ini. d. Intructional analysis (analisis pembelajaran), seperti : materi pembelajaran yang akan dikelompokkan menurut kepentingannya, menyusun tugas-tugas dari yang mudah hingga yang sulit, dan seterusnya. e. state instructional objectives (tujuan pembelajaran) yang disusun


21 berdasarkan hasil dari analisis pembelajaran. f. contruct criterion test items, (penyusun tes) yang didasarkan dari tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. g. select instructional strategt (strategi pemilihanpembelajaran) yang dapat ditetapkan berdasarkan fasilitas yang ada. 3. Tahap Pengembangan Pengembangan e-learning dilakukan mengikuti perkembangan fasilitas teknologi informasi dan komunikasiyang tersedia. selain itu, pengembangan prototype materi pembelajaran dan rancangan pembelajaran yang akan digunakan pun perlu di pertimbangkan dan di evaluasi secara terus menerus. 4. Pelaksanaan Prototype yang sudah lengkap dapat dipindahkan ke jaringan Komputer (LAN). Untuk itu pengujian terhadap prototype hendaknya terus menerus dilakukan. Dengan pengujian ini akan diketahui berbagau hambatan yang dihadapi,seperti berkaitan dengan management course tool, apakah materi pembelajarannya memenuhi standar materi pembelajaranmandiri (self learning materials). 5. Evaluasi Sebelum dilakukan evaluasi, program terlebih dahulu diuji coba dengan mengambil beberapa sample orang. Dari uji coba ini baru dilakukan evaluasi. Prototype perlu di evaluaidalam jangka waktu relative lama dan secara terus menerus untuk diketahui kelebihan dan kekurangannya. Proses dari kelima tahapan tadi di perlukan waktu yang relative lama dan dilakukan berulang kali,


22 karena prosesnya terjadi secara terus menerus. Masukan dari pembelajar atau pihak lain sangat di perlukan untuk perbaikan program tersebut. 4. Syarat-Syarat pemanfaatan E-Learning Menurut Newsletter of ODLQC, 2001 (dalam siahaan) syarat- syarat kegiatan pembelajaran elektronik (e-learning) adalah : 1. Kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringandalam hal ini internet. 2. Tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkanoleh peserta belajar, misalnya CD-ROM atau bahan cetak 3. Tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantupeserta belajar apabila mengalami kesulitan. 4. Adanya lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-learning 5. Adanya sikap positif pendidik dan tenaga kependidikan terhadapteknologi komputer dan internet 6. Adanya rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari diketahui oleh setiap peserta belajar 7. Adanya sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta didik 8. Adanya mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara. Berbeda dengan yang telah diungkapkan di atas, dalam Sembel,2004, lebih menyoroti dari tenaga-tenaga ahli yang perlu ada untuk“menghidupkan” sebuah e-learning adalah :


23 a) subject Matter Expert (sME), merupakan nara sumber dari pembelaiaran yang disampaikan. b) Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi e-learning dengan memasukkan metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah, dan lebih menarik untuk dipelajari. c) Graphic Designer (GD), bertugas untuk mengubah materi teks menjadi bentuk grafis dengan gambar, wama, dan layout yang enak dipandang, efektil dan menarik untuk dipelajari. d) Learning Management system (LMS), bertugas mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan peserta, antarpeserta dengan peserta lainnya, sertahal lain yang berhubungan dengan pembelajaran, seperti tugas,nilai, dan peringkat ketercapaian belajar peserta. 5. Model Pembelajaran e -learning Dalam implementasi pembelajaran, terdapat model penerapan elearning yang bisa digunakan,yaitu : a. Selective Model Model selektif ini digunakan jika jumlah computer di sekolah/lembaga pendidikanyang sangat terbatas (misalnya hanya ada satu unit computer). Di dalammodel ini, pengajar harus memilih salah satu alat atau media yang tersedia yang dirasakan tepat untuk menyampaikan bahan pelajaran. Jika pengajar menemukan bahan e-leaming yang bermutu dari internet,maka dengan terpaksa


24 pengajar hanya dapat menunjukkan bahan pelajaran tersebut kepada peserta sebagai bahan demonstrasi saja. Jika terdapat lebih dari satu computer di sekolah/kelas, maka peserta harus diberi kesempatan untuk memperoleh pengalaman langsung. b. Sequential Model Model ini di gunakan jika jumlah computer di sekolah / kelas terbatas (misalnya hanya dua atau tiga unit computer). para peserta dalam kelompok kecil secara bergiliran menggunakan computer untuk mencari sumber pelajaran yang dibutuhkan. Peserta menggunakan bahan e-learning sebagai bahan rujuakan atau untukmencari informasi baru. c. Static Station Model Model ini digunakan jika jumlah komputer di sekolah / kelas terbatas, sebagaimana halnya dalam sequential model. Di dalam model ini, pengajar mempunyai beberapa sumber belajar yang berbeda untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama. Bahan e-learning digunakan oleh satu atau dua kelompok peserta untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kelompok peserta lainya menggunakan sumber belajar yang lain untuk mencapai tujuanpembelajaran yang sama. d. Laboratory Model Model ini di gunakan jika tersedia sejumlah komputer di sekolah / laboratorium yang dilengkapi dengan jaringan internet, dimana peserta dapat mengguunakannya secara lebih leluasa (satu peserta satu komputer). Dalam hal ini, bahan e-learning dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran mandiri. Setiap model e-learning yang dapat digunakan dalam pembelajaran


25 diatas masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahan- Pemilihannya tergantung infrashrktur telekomunikasi dan peralatan yang tersedia disekolah. Bagaimanapun upaya pernbelajaran dengan pendekatan e-learning ini perlu terus dicoba dalam rangka mengatasi perrnasalahan-permasalahan yang dihadapi dimasa yang akan datang. 6. Pendekatan Pedagogik dalam e-learning Teknologi komunikasi secara umum dapat dikategorikan sebagai asynchronous dan synchronous. Asynchronous merupakan aktivitas yang menggunakan teknologi dalam bentuk blogs, wikis, and discussion boards. Dalam bentuk ini partisipan dapat mengembangkan ide atau saling bertukar ide atau informasi tanpa keterkaitan antara partisipan satu dengan partisipan lainnya pada waktu yang sama, sebagai contoh penggunaan e-mail termasuk asynchronous dimana pesan dapat dikirim atau diterima tanpa keduanya harus berpartisipan pada waktu yang bersamaan. Dalam hal ini seorang pengirim pesan atau informasi tertentu kapan saja yang diperlukan. Pada sisi lain penerima pesan tidak diharuskan mengakses pesan atau informasi tersebut pada waktu yang bersamaan. Synchronous menunjukkan pada pengkategorian aktivitas pertukaran ide atau informasi yang mengharuskan partisipan menggunakan waktu yang bersamaan. Face to face discussion merupakan salah satu contoh bentuk komunikasi synchronous. Aktivitas synchronous mempersyaratkan seluruh partisipan saling berkomunikasi atau berhubungan antara satu dengan yang lain seperti sesi online atau virtual classroom atau meeting.


26 Meskipun aktivitas pembelajaran melalui perangkat e-leaming menekankan sistem komunikasi online, tidak bearti proses ini sama sekali meniadakan unsur-unsur hubungan pedagogis antara pengajar dan peserta. Bilamana ini terjadi, maka dikhawatirkan proses pembelajaran menjadi kehilangan makna esensialnya. Karena pembelajaran merupakan kegiatan yang kompeherensip, mencakup berbagai dimensi baik kognitif psikomotorik dan afektif. Melalui situs wilkipedia (2018) dikemukakan beberapa pendekatan pedagogi yang diterapkan dalam e-learning,yaitu : a. Intructional design, dimana pembelajaran lebih terfokus pada kurikulum yang dikembangkan dengan menitik . beratkan pada pendekatan pendidikan kelompok atau pengajar secara perorangan. b. Social-constructivist, merupakan pendekatan pedagogi yang kebanyakan aktivitasnya dilakukan dalam bentuk forum-forum diskusi, blogs, wiki dan aktivitas-aktivitas kolaboratif online. c. Laurillard's conversational model, merupakan salah satu bentuk pendekatan pedagogi yang menitik beratkan pada penggunaan bentukbentuk diskusi langsung secara luas. d. Cognitive Prespective, menitik beratkan pada proses pengembangan kognitif melalui kegiatan pembelajaran. e. Emotional prespective, lebih difokuskan pada pengembangan dimensidimensi emosional pembelajaran, seperti motivasi, engagement, modelmodel permainan, dan lain-lain. f. Behaviour perspective, menitik beratkan pada keterampilan dan perilaku


27 yang dihasilkan dari proses belajar. Model pembelajaran dalam bentuk ini misalnya bermain peran (role playing ) dan penerapannya di dalam aktivitas-aktivitas nyata lapangan. g. Contextual perspective, di fokuskan pada penataan factor instrumental dan social lingkungan yang dapat mendorong terjadinya proses belajar. Bentukbentuk nyata model ini seperti interaksi dengan orang lain, model-model kolaboratif dan sebagainya. 7. Aplikasi e-learning Adapun jenis aplikasi e-learning dalam pembelajaran jarak jauh antara lain : a. Berbasis Open Source 1. Moodle Istilah moddle singkatan dari Modular object oriented Dynamic Learning Environment yang berarti tempat belajaryang dinamis dengan menggunakan model berorientasi pada objek atau merupakan paket lingkungan pendidikan berbasisweb yang dinamis dan dikembangkan dengan konsep berorientasi pada objek. 2. Atutor Aplikasi e-learning yang berbasis open source selain moodle adalah atutor. Atutor adalah Web based open source learning control management system (LCMS) di desaindengan aksessibilitas dan kemampuan adaptasi. Atutor merupakan paket software yang diproduksi untuk kegiatan belajar berbasis internet. Pengajar dapat cepat memasang, memaketkan


28 dan mendistribusikan materi pembelajaran, dan mengadakan kursus online-nya sendiri. b. Audio dan video conferencing serta Videobroadcasting 1. Audio Conferencing Audio conferencing adalah interaksi atau konferensi langsung dalam bentuk audio (suara) antar dua orang atau lebih yang berada dalam tempat berbeda, bahkan dapatmelibatkan pembelajar yang banyak pada lokasi yang tersebar dan berbeda. Teknologi yang digunakan adalah sarana teiephoil. Dalam pelaksanaan audio conferencing dibutuhkan perangkat tambahan (audio conferencing bridge)yang dapat mengurangi gangguan (noise) maupun interaksi pada system. 2. Video Conferencing Teknologi multimedia video broadcasting dapat memungkinkan seluruh pembelajar melihat, mendengar, dan bekerja sama secara langsung. Sesuai namanya, videoconferencing memberikan visualisasi secara langsung dan lengkap kepada seluruh pembelajar dengan multimedia(video, audio dan data). Video conferencing distance learning memungkinkan interaksi antara dua orang atau lebih, dua kelas atau lebih pada tempat yang berbeda dan waktu yang bersamaan dengan menggunakan system multipoint. Interaksi terjadi antara pembelajar dengan pengajar, pembelajar dengan pembelajar lain, pembelajar dengan materi pembelajaran dan pembelajar dengan sumber-sumber informasi


29 (information resources) pada lokasi yang berbeda dan dilakukan secara langsung (real time) dengan komunikatif seperti pada kelas konvensional yang menerapkan tatap muka langsung. Materi pembelajaran pada video conferencing distance learning disajikan dalam bentuk suara (audio), gambar (visual), maupun teks, secara terpisahatau bersamaan (simultan). Adapun aplikasi video conferencing dalam dunia pendidikan dan proses pembelajaran antara lain : a) Pertemuan (meeting) Pengajar dengan pembelajar videoconferencing memberikan kemampuan untuk menjelaskan pembelajaran dengan sangat hidup dan interaktif tanpa harus menghabiskan biaya dan waktu yang banyak untuk melakukan sesuatu pada tempat yang sama. b) Seminar jarak jauh (Teleseminar) Teleseminar adalah seminar yang diselenggarakan melalui teleconference. Teleconference ini menjangkau beberapa tempat pada waktu yang bersamaan.setiap tempat dihubungkan dengan media video conferencing, sehingga seminar dapat diikuti oleh pembelajar dari beberapa tempat sekaligus. pembicara seminar pun dapat menyampaikan materi seminar dari mana saja selama dia memiliki akses ke sistem video conferencing yang digunakan untuk teleseminar tersebut.


30 c) Silabus online d) The word wide web (WWW) Kehadiran situs web bagi suatu organisasi pada era digital dan internet sebagai pintu masuk menemukandan mengenal untuk memperoleh informasi suatuorganisasi di lingkungan dunia maya. e) Elektronik mail (e-mail) atau surat elektronik E-mail merupakan surat elektronik yang menyediakan suatu infrastuktur komunikasi baru. e-mail umumnya digunakan untuk menukar pesan tertulis, mengirim dan menerima dari jaringan telekomunikasi seseorang. Seseorang pengguna e-mail di sediakan sebuah mailbox elektronik dengan sebuah alamat. Sebuah pesan sering kali berupa sebuah catatan atau memo. Tetapi juga berupa dokumen kerja seperti spreadsheet, atau grafik. Bentuk catatan dalam sebuah e- mail melalui penggunaan mailbox elektronik di intemet,untuk memperoleh informasi. f) Voice mail Sistem voice mail menyimpan pesan suara yang diubah dalam bentuk digital. Pesan suara dikirim dalam bentuk diktat kepada penerima telephon mailbox. Pesan suara secara digit disimpan pada keduanya dengan alat penyimpan, seperti disk magnetic. Ketika penerima mendapatkan kembali pesan dari mailbox, pesan diubahkembali pada bentuk suara asli. Pesan suara diatur dengan menekan serangkaian tombol telephon. Penerima pesan dapat mengulangi atau meneruskan pesan atau mengirimkan


31 melalui mailbox lain. g) Telekonferensi dan system pertemuan elektronik h) Pengirim pesan kilat (instant messenger) Pengirim pesan kilat (instant messenger) berfungsi untuk memudahkan berkomunikasi tidakterbatas waktu, ruang dan orang, dilakukan kapan saja, dimana saja, dengan siapapun. Disebut pesan kilat karena pesan dikirim hanya hitungan detik dan dapat langsung terbalas. Bentuk pesan yang dikirim dapatberupa teks, suara atau video. 3. Video broadcasting Video broadcasting merupakan salah satu teknologi e- learning interaktif yang bersifat satu arah (komunikasi linear). Penggunaan program e-learning dengan program video broadcasting lebih banyak digunakan dibandingkan dengan audio conferencing. Hal ini trejadi karena sifat videobroadcasting yang audio visual. Dalam prinsip belajardiungkapkan bahwa belajar akan lebih berhasil jika melibatkan banyak indera. Sasaran pesertanya dalam jumlahyang besar (massal) dan menyebar (dispersed). sebagai media transaksinya umumnya menggunakan media satelit. Pembelajar mengikuti program pembelajaran melalui video broadcasting dengan cara melihat dan mendengar pesawat televise yang terhubung kestasiun (broadcaster) tertentu melalui antenna penerima biasa atau antennaparabola yang dilengkapi decoder khusus.


32 c. Sertifikat pada e-learning Penggunaan e-learning membutuhkan jaminan akan kerahasiaan informasi (confidentiality), keutuhan dan keasrian informasi (integrity), keabsahan pengiriman informasi (authentication) dan pengakuan terhadap informasi yang dikirim sehingga tidak ada data yang disangkal, hal ini merupakansyarat yang mutlak dalam system e-learning. E-learning hanya digunakan oleh orang yang berhak. Namun, masih banyak kendala dan tantangan yang perlu mendapatkan perhatian. Pada system e-learning seringkali terjadi penyalahgunaan sehingga dapat mencemarkan nama baik seseorang atau penyelenggara program e-learning. Untuk menghindari penyalagunaan itu, seperti pemalsuan, maka digunakan senifikat digital dengan memanfaatkan infrastruktur kunci public, certification Authority (CA) adalah sebuah lembaga atau badan yang bertanggung jawab terhadap pengoperasian infrastruktur kunci public dan pengelolaan sertifikat digital. 8. Kelebihan dan Kelemahan E-learning a. Kelebihan E-Learning E-learning dapat dengan cepat diterima dan kemudian diadopsi adalah karena memiliki kelebihan/keunggulan sebagai berikut (Effendi, 2005) : 1) Pengurangan biaya 2) Fleksibilitas. Dapat belajar kapan dan dimana saja, selamaterhubung dengan


33 intemet. 3) Personalisasi. Peserta dapat belajar sesuai dengan kemampuan belajar mereka. 4) Standarisasi. Dengan e-learning mengatasi adanya perbedaan yang berasal dari pengajar, seperti : cara mengajarnya, materi dan penguasaan materi yang berbeda, sehingga memberikan standarkualitas yang lebih konsisten. 5) Efektivitas. Suatu studi oleh J.D Fletcher menunjukkan bahwa tingkat retensi dan aplikasi dari pelajaran melalui metode e- learning meningkat sebanyak 25% dibandingkan pelatihan yang menggunakan cara tradisional. 6) Kecepatan. Kecepatan distribusi materi pelajaran akan meningkat, karena pelajaran tersebut dapat dengan cepat disampaikan melalui internet. Sedangkan menurut ( Bates dan Wulf, 1996 ) kelebihan e-- learning yaitu: a) Meningkatkan interaksi pembelajaran (enchance inter activity) Pembelajaran jarak jauh online yang dirancang dan dilaksanakan secara cermat dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta dengan materi pembelajaran, pesertadengan pengajar, dan antara peserta dengan peserta lainnya. Pesertayang terpisah dari peserta lainnya dan juga terpisah dari pengajarakan merasa lebih leluasa atau bebas mengungkapkan pendapat atau mengajukan pertanyaan karena tidak ada peserta lainnyayang secara fisik mengamatinya. b) Mempermudah interaksi pembelajaran dimana dan kapan saja (time and placeflexibility) Peserta dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar kapan saja sesuai


34 dengan ketersedianan waktunya dan dimanapun diaberada, karena sumber belajar sudah dikemas secara elektronikdan tersedia untuk di akses oleh peserta melalui online learning (kerka, 1996;Bates,L995; wulf, 1996). Begitu pula dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada pengajar begitu selesai dikerjakan, tanpa harus menungu sampaiada janji untuk bertemu dengan pengajar, dan tidak perlu menunggu sampai ada waktu luang pengajar untuk mendiskusikan hasil pelaksanaan tugas apabila dikehendaki. c) Memiliki jangkauan yang lebih luas (potential to reoch a globalaudience) Pembelajaran jarakjauh online yang fleksibel dari segi waktu dan tempat, menjadikan jumlah peserta yang dapat dijangkau kegiatan pembelajaran melalui online learning semakin banyakdan terbuka secara luas bagi siapa saja yang membutuhkannya.Ruang, tempat dan waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, seorang dapat belajar melalui interaksinya dengan sumber belajar yang telah dikemas secara elektronik dan siap diakses melalui online learning. d) Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities) Fasilitas yang tersedia dalam teknologi online learning danberbagai software yang terus berkembang turut membantu mempermudah penembangan materi pembelajaran elektronik. Demikian penyempurnaan atau pemutaakhiran materi pembelajaran yang telah dikemas dapat dilakukan secara periodic dengan cara yang lebih mudah sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuannya. Disamping itu, pemutaakhiran penyajian


35 materi pembelajaran dapat dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta maupun atas hasil penilaian pengajar selaku penanggung jawab atau Pembina materi pembelajaran. b. Kelemahan Atau Kekurangan E-Leurning Walaupun demikian pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan antara lain: 1) Kurangnya interaksi antara pengajar dan peserta atau bahkan antar peserta itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya volues dalam proses belajar dan mengajar. 2) Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis. 3) Proses belajar dan mengajamya cenderung ke arah pelatihan bukan pendidikan yang lebih menekankan pada aspek pengetahuan atau psikomotor dan aspek afektif. 4) Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut menguasai teknik pembelajaran yang menggunakan internet. 5) Peserta yang tidak mempunyai motivasi belajar tinggi cenderunggagal. 6) Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer). 7) Keterbatasan ketersediaan softwere (perangkat lunak) yang biayanya masih relatif mahal.


36 8) Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan bidang internet dan kurangnya penguasaan bahasa komputer. Disisi lain metode e-learning juga mempunyai Kendala atau hambatan dalam penyelenggaraannya, yaitu: 1) Investasi. Walaupun e-learning pada akhirnya dapat menghemat biaya pendidikan, akan tetapi memerlukan investasi yang sangat besar pada permulaannya. 2) Budaya. Pemanfaatan e-learning membutuhkan budaya belajar mandiri dan kebiasaan untuk belajar atau mengikuti pembelajaran melalui komputer. 3) Teknologi dan infrastruktur. E-learning membutuhkan perangkat komputer, jaringan handal, dan teknologi yang tepat. 4) Desain materi. Penyampaian materi melalui e-learning perludikemas dalam bentuk yang learner-centric. Saat ini masih sangat sedikit instructional designer yang berpengalaman dalam membuatsuatu paket pelajaran e-learning yang memadai. B. Sistem Penjaminan Mutu Pada era globalisasi sekarang ini, telah menjadi suatu kewajiban bagi institusi lembaga penyelenggara pelatihan, khususnya Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk menerapkan sistem jaminan mutu dalam menyelenggarakan kegiatan pelatihan yang secara khusus pada era sekarang ini


37 berbasis e-learning. Semakin meningkatnya nilai kesadaran masyarakat akan pentingnya pelatihan berbasis e-learning, maka semakin bertambah pula tuntutan dari stakeholders untuk mendapatkan pelatihan bermutu. Kebutuhan tersebut merupakan reaksi dan proaktif dari stakeholder pelatihan, dengan demikian untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut, penyelenggara program pelatihan berbasis elearning perlu menyusun sistem penjaminan mutu, agar memiliki daya saing diantara stakeholder yang bebas melakukan pilihan terhadap standar mutu tertentu. Penjaminan mutu dalam pelatihan berbasis e-learning merupakan bagian dari sistem yang lebih besar yaitu sistem manajemen mutu, dimana di dalamnya terdapat bagian-bagian yang terintegrasi dan saling mempengaruhi, yang salah satunya adalah sistem penjaminan mutu (Quality Assurance) dan komponenkomponen sistem manajemen mutu lainnya. Penjaminan mutu dalam pelatihan berbasis e-learning berfungsi sebagai alat bagi manajemen untuk memberikan bukti sehingga dapat membangun kepercayaan bahwa mutu dapat berfungsi secara efektif dan efisien sebagaimana dikemukakan menurut Adapun Joe Mangino, (2006: 84) memberikan definisi Quality Assurance (QA) sebagai berikut. Quality Assurance activities include a planned system of review procedures conducted by personnel not directly involved in the inventory compilation/development process. Reviews, preferably by independent third parties, should be performed upon a finalised inventory following the implementation of QC procedures. Reviews verify that data quality objectives were met, ensure that the inventory represents the best possible estimates of emissions and sinks given the current state of scientific knowledge and data available, and support the effectiveness of the QC programme. Sementara Gaspersz (2012: 2) mendefinisikan Penjaminan mutu (Quality Assurance) dalam pelatihan berbasis e-learning adalah “semua tindakan terencana dan sistematik yang diimplementasikan dan didemonstrasikan guna


38 memberikan kepercayaan yang cukup bahwa produk akan memuaskan kebutuhan untuk kualitas tertentu”. Dengan demikian, penjaminan mutu dalam e-learning dapat diartikan sebagai proses kegiatan pemenuhan serta penetapan standar mutu pengelolaan untuk mencapai sasaran serta tujuan yang telah disepakati secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga seluruh pihak yang berkepentingan baik konsumen, produsen, dan pihak lain yang memiliki kepentingan memperoleh kepuasan (kesesuaian harapan). Sedangkan tujuan utama dari jaminan kualitas dalam pelatihan berbasis elearning menurut lembaga IMHE, (2002: 37) adalah sebagai berikut. The main purpose of quality assurance is to help the institution contemplate a journey of constant improvement and regular evaluation for feedback. Although the influence of quality assurance on the quality of teaching is controversial, the implementation of mechanisms is likely to have an impact on the teaching performance of teachers and on the learning conditions of students. Tujuan utama dari jaminan mutu/kualitas dalam pelatihan berbasis elearning adalah untuk membantu lembaga mengarahkan ke arah perbaikan terus menerus dan proses evaluasi secara berkala untuk dijadikan umpan balik. Selain itu Tujuan Penjaminan Mutu, menurut Rinda Hedwig (dalam Arif Rohman dan Giri Wiyono, 2008:4) ‘sistem penjaminan mutu dalam pelatihan e-learning bisa dilakukan baik secara menyeluruh maupun dalam bentuk berjenjang’, menyeluruh berarti seluruh proses yang terkait di dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan/pengembangan sumber daya manusia berbasis on line seperti pendaftaran peserta, proses belajar mengajar (e-learning), hingga proses meluluskan lulusan yang dijaminkan mutunya berbasis e-learning. Sedangkan yang dimaksud dengan bertahap adalah lembaga diklat/lembaga pengembangan SDM dapat melakukan


39 penjaminan mutu dalam pelatihan e-learning hanya pada proses pembelajarannya saja. Sistem penjaminan mutu pelatihan berbasis e-learning bertujuan untuk memberikan manfaat baik bagi pihak internal maupun eksternal institusi lembaga diklat/pengembangan SDM. Berikut ini adalah tujuan penjaminan (Quality Assurance) dalam pelatihan e-learning : (1) Membantu institusi pendidikan/pengembangan SDM dalam perbaikan dan peningkatan secara terus-menerus dan berkesinambungan akan layanan pelatihan e-learning, yang diberikan melalui praktek yang terbaik dengan selalu melakukan inovasi yang bermanfaat berbasis teknologi informasi. (2) Membantu institusi pendidikan/pengembangan SDM dalam menyediakan dan memberikan informasi pada stakeholder pendidikan dan masyarakat sesuai sasaran dan waktu secara konsisten akan standar layanan pendidikan yang telah dicapai secara on line berbasis teknologi informasi untuk kegiatan pelatihan e-learning. (3) Membantu institusi pendidikan/pengembangan SDM dalam memberikan jaminan kepada para stakeholder pelatihan e-learning bahwa pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar nasional dan sesuai dengan keinginan mereka secara on line. Kepuasan berbagai pihak yang terkait dalam pelatihan e-learning merupakan sebuah tujuan utama dari diadakannya penjaminan mutu (quality assurance), sehingga sasaran yang telah ditetapkan dapat tercapai secara optimal. Adapun tujuan jaminan mutu pelatihan e-lerning agar semakin lebih baik dan bermutu, diperlukan pemahaman bersama secara komprehensif guna meningkatkan kemampuan dan mutu tenaga pendidik serta tenaga kependidikan dalam pelatihan e-learning. Dalam hubungan tersebut maka berbagai kegiatan pelatihan e-learning, yang dapat mengembangkan kemampuan mereka perlu terus dilaksanakan, baik bagi mereka yang bergerak dalam bidang kebijakan, maupun dalam pengelolaan kelembagaan pendidikan/pengembangan SDM, baik dalam tataran institusi, manajerial, maupun pada tataran teknis operasional, karena


40 semuanya pada akhirnya akan bermuara pada meningkatnya mutu pelatihan elearning secara nasional, yang tercermin dari output suatu lembaga pendidikan/pengembangan SDM. Penjaminan mutu merupakan suatu media yang bertujuan untuk membangun mutu organisasi untuk menggali kebutuhan dan keinginan stakeholder pendidikan dan diproses dalam organisasi dengan membangun SOP (standar operating procedur) dengan panduan SMM yang diharapkan hasil akhir proses tersebut memberikan kepuasan kepada stakeholdernya terutama pada stakeholders yang menggunakan pelatihan e-learning. Selanjutnya pada bagian ini penulis akan menekankan pada bagaimana penjaminan mutu (Quality Assurance) dalam pelatihan e-learning. Menurut Cheng (2001: 4) “education quality is not different from education effectiveness. Also, quality assurance often refers to the efforts for improving the internal environment and processes such that the effectiveness of learning and teaching can be ensured to achieve the planned goals”. Mengacu pada pendapat di atas, penjaminan mutu dalam pelatihan e-learning merupakan salah satu upaya yang dilakukan institusi dan atau lembaga untuk melakukan penjaminan terhadap mutu, dan upaya yang dilakukan tersebut adalah untuk menuju pada pelatihan e-learning, yang efektif dan efisien sehingga tercapai tujuan pelatihan e-learning yang direncanakan. Penjaminan mutu dalam pelatihan e-learning mengisyaratkan adanya proses efektivitas pembelajaran pada komponen-komponen lembaga pelatihan elearning berbasis teknologi informasi, yang salah satunya adalah efektivitas pembelajaran e-learning sebagai konsepsi yang komprehensif, meskipun pada hal


41 ini nilai efektivitas sering dinilai oleh kualitas dan kuantitas yang dicapai dengan pengalaman belajar peserta dan hasil akhirnya. Struktur menunjukkan bagaimana faktor-faktor utama penjaminan mutu dalam pelatihan berbasis e-learning seperti faktor widyaiswara, faktor kurikulum mata pelatihan, faktor-faktor kontekstual, faktor peserta terkait dengan pengalaman belajar peserta dan hasil pembelajaran dapat dilakukan penjaminan terhadap mutunya secara internal. Faktor-faktor struktur utama tersebut implementasinya penjaminan mutu, dalam pelatihan berbasisi e-learning, memiliki hubungan-hubungan yang secara terintegrasi, dapat saling mempengaruhi, (Cheng, 2001: 5) mengasumsikan bahwa yang menjadi komponen prosedur pola-hubungan penjaminan mutu dalam pelatihan e-learning adalah sebagai berikut. (1) Hasil belajar peserta pelatihan e-learning adalah produk dari interaksi antara karakteristik kurikulum, pengalaman belajar peserta dan karakteristik individu; (2) Pengalaman belajar peserta pelatihan berbasis e-learning dipengaruhi oleh kinerja widyaiswara, karakteristik kurikulum mata diklat, dan fasilitas yang ada di Learning Managemen System (LMS); (3) Pengajaran, evaluasi dalam pelatihan e-learning berdasarkan informasi dari kinerja widyaiswara, pengalaman belajar peserta dan outcome belajar dapat digunakan untuk memfasilitasi pengembangan kompetensi widyaiswara melalui evaluasi yang ada di Learning Managemen System (LMS). Pada pola-pola hubungan tersebut, lembaga pelatihan dapat melakukan upaya penjaminan mutu dalam pelatihan berbasis e-learning, mengacu pada salah satu pola hubungan dan atau secara keseluruhan, melalui fasilitas aplikasi Learning Managemen System (LMS). Dalam membangun penjaminan mutu dalam pelatihan berbasis elearning, agar semakin baik dan bermutu, diperlukan disain atau model yang


42 komprehensif guna meningkatkan fasilitas Learning Managemen System (LMS), kemampuan widyaiswara/pendidik serta tenaga pelatihan. Dalam hubungan tersebut maka berbagai kegiatan yang dapat peningkatan kualitas mutu pelatihan berbasis e-learning, perlu terus dilaksanakan, serta selanjutnya bagi mereka yang bergerak dalam bidang kebijakan, maupun dalam pengelolaan kelembagaan pelatihan, baik dalam tataran institusi, manajerial, maupun pada tataran teknis operasional, karena semuanya pada akhirnya akan bermuara pada meningkatnya mutu pelatihan berbasis e-learning, yang tercermin dari output suatu lembaga pelatihan atau lembaga pengembangan sumber daya manusia.


43 BAB III METODE KAJIAN A. Metode Reviu Kajian yang penulis lakukan menerapkan Systematic Literature Review, yaitu istilah yang digunakan untuk merujuk pada metodologi penelitian atau riset dan pengembangan yang dilakukan untuk mengumpulkan serta mengevaluasi penelitian yang terkait pada fokus topik tertentu. Systematic Literature Review yang sering disingkat SLR atau di-Indonesia-kan sebagai tinjauan pustaka sistematis adalah metode merevieu literaratur dengan cara mengidentifikasi, menilai, dan menginterpretasi seluruh temuan-temuan pada suatu topik penelitian dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian (research question) yang telah ditetapkan sebelumnya (Kitchenham & Charters, 2007). Metode SLR dilakukan secara sistematis dengan mengikuti tahapan dan protokol yang memungkinkan proses revieu literatur terhindar dari bias dan bersifat subyektif dari penelitinya. SLR intinya merupakan penyusunan literature review yang dilakukan melalui metode yang sistematis. Berbeda dengan penyusunan literatur yang umum dilakukan yaitu sumber diambil dari mana saja. Dalam SLR penyusunan literature review mengikuti beberapa tahapan seperti umumnya pada penelitian, sehingga artikel-artikel yang di review dalam SLR dapat diakui dan diterima sebagai rujukan penelitian.


44 Kegiatan kajian menggunakan SLR diawali dengan pengajuan pertanyaan penelitian (Question Research). Pertanyaan penelitian inilah yang akan menjaga benang merah review literatur agar tetap fokus. ID Research Question Motivation RQ1 Bagaiman model Quality Assurance dikembangkan dalam melakukan pelatihan berbasis e-learning ? Mengidentifikasi jurnal yang memuat publikasi model Quality Assurance paling signifikan dalam penjaminan mutu pelatihan berbasis e-learning RQ2 Model Quality Assurance apa sajakah yang paling unggul dan relevan dengan kondisi pelatihan e-learning saat ini ? Menganalisis jurnal yang teridentifikasi mempublikasi model excelent dan relevan dengan kebutuhan dan kondisi pelatihan e-learning saat ini RQ3 Bagaimana perspektif pengembangan model Quality Assurance dalam Penyelenggaraan Pelatihan Berbasis e-Learning? Melakukan sintesis dan diskusi terhadap model Quality Assurance terpilih untuk dikembangkan sebagai reinventing alternative model bagi kebutuhan penjaminan mutu dalam pelatihan berbasis e-learning SLR membagai tahapan penelusuran ke dalam 4 tahap, yaitu 1. Planning (terkait dengan pengembangan review question dan plan method/protocol); 2. Tahap Data Collection (pencarian strings, screening judul dan abstrak, filtering & assessment, dan data extraction); 3. Tahap Analysis (Analisis deskriptif dan tematik) dan 4. Tahap Synthesis (diskusi).


45 Beberapa ahli menyebut pula dalam tiga tahapan, yaitu Planning, Conducting, dan Reporting. Pada saat menyusun Systematic Literature Review, tahapan yang dilakukan diawali dengan penentuan perencanaan mencakup mengembangkan ulasan pertanyaan, metode dan protokol rencana. Selanjutnya langkah kedua dengan melakukan penelusuran data mencakup pencarian secara komprehensif terkait judul dan abtsrak, penyaringan dan penilaian artikel/jurnal yang sesuai dan melakukan ektraksi data. Tahap ketiga dengan melakukan analisis mencakup analisis deskriptif atau tematik dan tahap keempat melakukan sintesis dan diskusi Tahapan ini penting untuk dilakukan dalam Systematic Literature Review. Pada tahap penelusuran dan koleksi data, peneliti harus optimal dalam melakukan pencarian dan penelusuruan dengan cara mengakses berbagai sumber data dari search engine electronic database seperti Scopus, Google Schoolar, [Neliti], Proquest, atau yang lainnya. Data sumber juga bisa dicari dari beberapa publisher seperti Elsevier, Science Direct, Emerlad, Tylor and Francis, serta Spinger. Pada sebuah publisher, peneliti melakukan penelusuran dengan menentukan keywords dalam penelitian yang sedang ditempuhnya. Pada tahap koleksi data, peneliti melakukan screening logic. Tahap ini diawali dengan melakukan search strings terhadap sejumlah artikel (bisa sampai dengan 1000 artikel dari beberapa search engine electronic database seperti Google Schoolar, [Neliti], dan Proquest. Kemudian melakukan kompilasi data pada Mendeley atau excel atau manual menjadi lebih sedikit artikel. Berikutnya melakukan analisis dengan screening atau excluded terhadap judul dan abstrak


Click to View FlipBook Version