83 eLearning Consultant, EDI Faculty Universal College Of Learning (UCOL), NEW ZEALAND [email protected] Analisis Resume Artikel dan Sintesis Studi ini menguatkan betapa pentingnya sistem penjaminan mutu pembelajaran berbasis e learning. Penelitian dilakukan pada kegiatan pembelajaran di Universal College Of Learning (UCOL), NEW ZEALAND yang LMS nya disematkan pada situs blackboard di UCOL dalam sistem e campus. Konservasi terhadap LMS dilakukan dengan memperhatikan Performance; Features; Reliability; Conformance; Durability; Serviceability; Aesthetics; Perceived Quality. Unsur-unsur tersebut harus senantiasa terjaga kualitasnya dalam sebuah LMS. Pengembangan QA terhadap sistem pembelajaran e learning secara khusus dilakukan dengan menjaga kualitas LMS yang ada di universitas tersebut. Secara tidak langsung penelitian ini menyampaikan bahwa QA suatu sistem e learning hendaklah dimulai dari QA LMS yang dimiliki sistem e learning tersebut. Pengembangannya dapat dilakukan pada sejumlah prosedur seperti: Information Repository; One-Way Communications; Online Exercises; TwoWay Communications; Learning Objects a. Analisis dan Sintesis Jurnal Planning Quality Assurance Model Penulis mendapatkan kelompok jurnal no. 3, 4 dan 8, yang dipandang recommended untuk dijadikan pertimbangan dalam memperkaya rekomendasi terhadap planning quality assurance model antara lain :
84 Sebuah pelatihan berbasis web (atau e-learning) haruslah terjamin kualitasnya. Bentuk penjaminan mutu suatu pelatihan adalah memberikan penilaian terhadap perencanaan indikator-indikator berikut ini. a. Objek pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu memotivasi dan memacu mahasiswa untuk belajar secara aktif; b. Objek pembelajaran diintegrasikan dalam Learning Management System - LMS c. Penyajian materi pembelajaran variatif berbentuk teks, audio, video, maupun gabungan berbagai unsur media tersebut. d. Materi pembelajaran disajikan dalam potongan-potongan kecil yang dapat ditayangkan satu layar penuh dengan masa tayang yang singkat e. Interaksi antara pembelajar dengan fasilitator dilaksanakan secara asinkronus dan sinkronus. f. Bila dijadikan acuan, ISO 19796-1, dapat dimanfaatkan kategori penilaiannya untuk melihat kualitas e-learning. g. Sistem aplikasi sejenis Analytical Hierarchy Process – AHP dapat dipergunakan sebagai tools dalam penilaian perencanaan Quality Assurance suatu pelatihan b. Analisis dan Sintesis Jurnal pelaksanaan Quality Assurance Model Penulis mendapatkan kelompok jurnal nomor 1, 2 dan 5, yang dipandang recommended untuk dijadikan pertimbangan dalam memperkaya rekomendasi terhadap pelaksanaan quality assurance pelatihan berbasis e learning. Penulis mencoba melakukan sintesis sebagai berikut.sebagai berikut.
85 Kegiatan pelaksanaan penjaminan mutu sebagai tools pengawalan mutu lembaga pelatihan saat ini, sudah menjadi andalan dalam memastikan mutu kegiatan pelatihan oleh sebuah lembaga pelatihan. Pelaksanaan penjaminan mutu yang dituangkan dalam tiga kegiatan masih dapat diandalkan sebagai upaya pengawalan mutu. Ini artinya tiga kegiatan pelaksanaan quality assurance pelatihan yang berupa: • penetapan standar mutu acuan; • penetapan prosedur operasional baku; dan • monitoring dan evaluasi masih diandalkan untuk mengawal mutu pelatihan oleh sebuah lembaga pelatihan. Penjaminan mutu tersebut perlu didukung komponen yang menjadi indikator penetapan standar mutu, penetapan prosedur operasional, dan indikator monitoring dan evaluasi. Indikator tersebut menjadi penciri bagaimana pelaksanaan penjaminan mutu dapat dikawal sebaik mungkin oleh pelaksana kegiatan pelatihan secara mandiri dengan cara mengacu pada indikator-indikator yang ditetapkan. c. Analisis dan Sintesis Jurnal Evaluate Quality Assurance Model Penulis mendapatkan kelompok jurnal nomor 6, 7 dan 9, yang dipandang recommended untuk dijadikan pertimbangan dalam memperkaya rekomendasi terhadap evaluate quality assurance pelatihan berbasis e learning. Penulis mencoba melakukan sintesis sebagai berikut:
86 Pelatihan bagi aparatur sebagai alternatif pencapaian pendidikan dalam rangka peningkatan kompetensi akan menjadi wahana pembelajaran bermutu manakala dievaluasi layaknya mengevaluasi penyelenggaran pendidikan formal di perguruan tinggi. Karena itu model evaluasi yang handal menjadi kebutuhan mendesak bagi penyelenggaraan pelatihan. Apalagi pelatihan tersebut mengandalkan bentuk elearning sebagai kakuatan penyelenggaaraan pelatihan berkualitas di kala tatap muka menjadi sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan. Evaluasi pelatihan dengan mempertimbangkan 8 standar nasional pendidikan menjadi rekomendasi serius untuk diandalkan kemungkinannya diterapkan. Mengevaluasi pelatihan dengan memanfaatkan instrumen evaluasi diri juga patut menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi kualitas pelatihan berbasis e-learning. d. Analisis dan Sintesis Jurnal Development Quality Assurance Model Penulis mendapatkan kelompok jurnal nomor 8, 10 dan 11 yang dipandang recommended untuk dijadikan pertimbangan dalam memperkaya rekomendasi terhadap development quality assurance pelatihan berbasis e learning. Penulis mencoba melakukan sintesis sebagai berikut. Penulis menilai pengembangan Model Quality Assurance dalam pelatihan berbasis e-learning, sebagaimana telah dilakukan oleh sejumlah peneliti pada beberapa artikel jurnal ilmiah yang ditetapkan diambil oleh penulis, beberapa di antaranya layak untuk dikembangkan dan direkomendasikan sebagai model pengembangan Quality Assurance dalam pelatihan berbasis e-learning. Misalnya, pada model AHP penulis melihat model ini representatif sebagai model penjaminnan mutu dalam
87 e learning. Sebab, hierarki model merupakan proses berpikir dan bekerja menggunakan tool digital, seperti LMS, digital distance learning, dan lain-lain. Terhadap jurnal-jurnal tersebut di atas penulis memberi sintesis bahwa Development Quality Assurance Model suatu pelatihan berbasis e-learnig diperlukan oleh sebuah lembaga pelatihan. Model itulah yang akan mengawal ke mana arah pelatihan. Model ini bisa diadaptasi dalam hal goal oriented based. Sebab, sebuah lembaga pelatihan tentulah memiliki visi dan corak yang membentuk karakteristik keunggulan dibandingkan lembaga pelatihan lainnya. Model QFD lebih lengkap lagi, bahkan QFD sangat memperhatikan keinginan customer dengan menghitbahkan diri bahwa lembaga pendidikan (baca: pelatihan) sebagai rumahnya mutu (House of Quality). Pada bagian akhir suatu penelitian, model ini juga tidak luput dari kegiatn penilaian (evaluasi) sebagai bentuk quality assurance dengan memanfaatkan aplikasi setingkat excell. Bagian ini menjadi bagian paling penting dari kajian yang dilakukan penulis dalam bentuk penelusuran literatur (systematic literature review). Penulis melakukan sintesis terhadap beberapa literatur yang telah disaring sebagai literatur acuan dalam memberikan alternatif gagasan pengembangan ide. Gagasan besar yang akan diusung penulis untuk sebuah quality assurance internal suatu pelatihan berbasis e-learning seyogyanya dimulai dari memikirkan seperti apa perencanaannya, bagaimana melaksanakannya, dan apa alat evaluasinya. Dengan melihat kembali gambar skema kerangka pikir kajian ini, bagian diskusi dan pembahasan merupakan kegiatan mengisi kotak berwarna biru untuk
88 kemudian diusulkan menjadi sebuah gagassan pengembangan yang digambarkan pada kotak berwarna hijau dari skema kerangka pikir kajian yang dilakukan penulis. Dari sisi perencanaan, penting bagi penulis untuk mempertimbangkan indikator-indikator perencanaan yang berupa: merancang objek pembelajaran; menyiapkan LMS, meyakinkan pemateri menyajikan materinya secara variatif menggunakan teks, audio, video maupun gabungan ketiganya; memastikan terjadi interaksi pembelajaran yang efektif. Sebuah pertimbangan baik dengan memperhatikan aplikasi AHP sebagai tools management penilaian perencanaan Quality Assurance suatu pelatihan. Dari sisi pelaksanaan kegitan, penulis mendapatkan kesimpulan bahwa model penjaminan mutu (QA) pelatihan masih menjadi andalan dalam mengawal mutu pelatihan dibandingkan bila harus bersandar pada instrumen akreditasi lembaga pelatihan. Ini artinya, meskipun akreditasi masih tetap dipakai sebagai kegiatan penjaminan mutu lembaga pelatihan, bila mengacu pada penelitian tentang efektivitas pelatihan oleh lembaga pelatihan masih kalah kekuatannya dengan kegiatan penjaminan mutu internal. Kegiatan besar quality assurance internal pelatihan setidaknya menyusun perencanaan tentang : penetapan standar mutu acuan; penetapan prosedur operasional baku; dan monitoring dan evaluasi. Dari sisi pertimbangan evaluasi, penulis sangat setuju dengan pertimbangan komponen 8 standar nasional pendidikan sebagai acuan evaluasi pelaksanaan kegiatan pelatihan. Walau bagaimana, pelatihan adalah sebuah kegiatan pendidikan, dan pelaksanaan pendidikan di Indonesia akan lebih memiliki nilai kebermanfaatan dan berhasil guna manakala standar nasional pendidikan
89 diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan. Karena itu, cara mengevaluasi kegiatan pelatihan dalam kerangka QA akan lebih terstandardisasi bila memanfaatkan 8 standar nasional pendidikan. Pada bagian sintesis akhir dari SLR ini, penulis mendapatkan model Quality Function Deployment (QFD) dalam Quality Assurance (QA) di Perguruan Tinggi yang dipandang linier dengan kepentingan penyelenggaran QA pelatihan pada lembaga pelatihan. Bila ini diterapkan di lembaga pelatihan maka QFD yang diadaptasi menjadi pilihan tepat dalam melakukan penjaminan mutu dalampelatihan berbasis e-learning. Gagasan besar dari kajian ini penulis sampaikan setelah melihat tiga rangkaian kegiatan suatu pelatihan yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya serta pengembangan.
90 C. Pembahasan pertanyaan penelitian QR 1, model yang dikembangkan dalam konteks Quality Assurance (QA) yang diselenggarakan. Berdasarkan dari kajian yang dilakukan penulis dalam bentuk penelusuran literatur (systematic literature review). Penulis melakukan sintesis terhadap beberapa literatur yang telah disaring sebagai literatur acuan dalam memberikan jawaban model model quality assurance internal (QA) yang diselenggarakan. Model yang diperoleh dan relevan menjawab QR 1 tersebut antara lain : 1. Considerations For Quality Assurance Of E-Learning Provision Deskripsi singkat dokumen ini membahas tentang konsideran (pertimbanganpertimbangan) untuk melaksanakan penjaminan mutu e learning setidaknya harus melakukan penjaminan terhadap: Distance education courses; Online courses (Synchronous online courses Asynchronous courses); Online programmes; Blended/hybrid courses; OER (open educational resources); MOOCS (massive open online courses). Dokumen ini menjadi panduan bagi penyelenggara e learning untuk senantiasa melakukan QA terhadap : Panduan tersebut menginspirasi penulis untuk menemukan gagasan kreatif terkait penjaminan mutu bagi pelaksanaan pembelajaran dalam pelatihan yang diselenggarakan lembaga pelatihan berbasis e learning dengan mempertimbangkan QA terhadap: Distance education courses; Online courses (Synchronous online courses Asynchronous courses); Online programmes; Blended/hybrid courses; OER (open educational resources); MOOCS (massive open online courses).
91 2. The Feasibility Of Quality Function Deployment (Qfd) As An Assessment And Quality Assurance Model QFD menjadi pilihan paling tepat dalam melakukan assessment dan quality assurance. Temuan utama studi ini membuktikan kelayakan QFD sebagai alat evaluasi dan penjaminan mutu di pendidikan tinggi, dan sebagai model yang kompak dan holistik untuk penjaminan mutu yang mencakup banyak model terfragmentasi yang tersedia. Jurnal ini salah satu yang mengusung QFD sebagai tools penjaminan mutu. 3. A Rubric To Evaluate Learning Management Systems Learning Management System (LMS) memiliki peran sentral dalam penyelenggaraan pembelajaran berbasis e learning. Karena itu, menjamin LMS diperlukan guna menjaga kualitas pembelajaran selama e learning berlangsung. Jurnal ini mengetengahkan rubrik untuk mengevaluasi kualitas LMS yang digunakan lembaga pendidikan termasuk rubrik terhadap LMS Moodle yang sering digunakan 4. Design Of Learning Evaluation Model For Distance Education Jurnal ini makin memperkaya wawasan penulis tentang sejumlah desain yang ada terkait model evaluasi pembelajaran jarak jauh (distance learning). Hal ini sejalan dengan kebutuhan penulis tentang referensi yang mendukung terhadap kelancaran kegiatan pelatihan yang diselenggarakan dengan jarak jauh menggunakan model e-learning.
92 5. Quality Assurance In E-Learning: PDPP Evaluation Model And Its Application Secara khusus, penjaminan mutu diperlukan untuk pelaksanaan pembelajaran selama e learning berlangsung. QA tersebut mencakup persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan asesmen pembelajaran. Hal ini menjadi sorotan khusus pada pengampu pembelajaran (guru/ widyaiswara, instruktur). Jurnal ini menawarkan model PDPP sebagai aplikasi penjaminan mutu selama pembelajaran berlangsung. D. Pembahasan pertanyaan penelitian QR 2, model yang paling unggul dan relevan dengan kondisi pelatihan. Artikel yang di analisis terkait model unggulan yang menjadi rujukan penulis di antaranya sebagai berikut. 1. Model Penjaminan Mutu Konten Pembelajaran (SPADA di Perguruan Tinggi); Panduan yang dikeluarkan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan pada Kemenristek Dikti (2019) merupakan salah satu dari empat buku Panduan Penjaminan Mutu yang terdiri atas: Panduan Penjaminan Mutu Konten, Panduan Penjaminan Mutu Proses Pembelajaran, Panduan Penjaminan Mutu Evaluasi, dan Panduan Penjaminan Mutu Sistem ini mengawali dicanangkannya Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT) yang merupakan upaya bersama perguruan-perguruan tinggi di Indonesia untuk bahu-membahu menyajikan layanan pendidikan tinggi berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia.
93 Panduan ini diberi nama Panduan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA) sebagai Panduan Penjaminan Mutu Konten bagi Perguruan Tinggi dalam menyelenggarakan pembelajaran on line (e-learning). Kelebihan dari model ini, Penjaminan mutu lembaga pendidikan dapat dilakukan secara akuntabel dengan mengadopsi salah satu model atau melakukan adaptasi berbagai model sedangkan kelemahannya adalah tidak terungkap apakah model ADDIE dan Model Dick and Carey juga representatif untuk penjaminan lembaga pelatihan. Sebagai kesimpulannya, pembelajaran adalah sistem, yang berfokus pada keterhubungan antara konteks, konten, belajar dan mengajar. 2. Penggunaan Analytical Hierrachy Process dalam Penilaian Kualitas Sistem ELearning Berbasis ISO 19796-1; Penelitian pada jurnal ini menjawab tentang pesatnya perkembangan penggunaan e-learning, khususnya menjawab kebutuhan akan adanya pengukuran kualitas sistem e-learning. Pada penelitian ini, dibuat sistem/aplikasi yang mampu mengukur kualitas sistem e-learning. Sistem yang dibuat juga memberikan fasilitas bagi stakeholder untuk memberikan bobot prioritas tiap proses dalam penilaian kualitas sistem e-learning. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode penilaian dalam aplikasi yang dibuat mampu mengakomodasi prioritas stakeholder dalam pengembangan sistem e- learning, sehingga perbaikan kualitas sistem e-learning dapat dilakukan secara lebih terarah dan efisien. Kelebihan, Sistem e-learning harus diyakini baik kualitasnya, salah satunya berbasis ISO. AHP diyakini dapat memberikan output gambaran kualitas suatu sistem e-learning. Sedangkan kelemahannya Tidak dijelaskan apakah AHP diyakini dapat memberikan output kualitas e-learning untuk
94 kegiatan pelatihan. Sebagai kesimpulannya Bobot prioritas tersebut kemudian diolah dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process). Keluaran sistem ini berupa total nilai kualitas dan rekomendasi perbaikan yang disusun sesuai dengan prioritas stakeholder. 3. Self Evaluation of Quality Assurance System; Model Quality Function Deployment (QFD); Artikel ini mengupas tentang manfaat dan penerapan Quality Function Deployment (QFD). QFD adalah metodologi yang membantu menerjemahkan kebutuhan pelanggan ke dalam persyaratan desain untuk memastikan bahwa output, baik berupa produk maupun proses, memenuhi kebutuhan ini. Kelebihan QFD adalah pada dasarnya adalah proses perencanaan dengan pendekatan kualitas untuk desain, pengembangan, dan implementasi produk baru yang didorong oleh kebutuhan dan nilai pelanggan. Hal ini cocok dikembangkan dan diterapkan untuk Quality Assurance Internal pelatihan. Sedangkan kelemahan Metode ini paling banyak dikembangkan pada dunia bisnis, sehingga apabila diterapkan dalam konsep manajemen pelatihan memerlukan beberapa penyesuaian. Berdasarkan dari kajian yang dilakukan penulis dalam bentuk penelusuran literatur (systematic literature review). Model-model tersebut di atas dilakukan kajian lebih lanjut melalui kegiatan expert judgment, yang dilakukan melalui zoom meetings, pada tanggal 4 Maret 2022, menghadirkan praktisi dan pakar pendidikan juga pakar dalam ahli penjaminan mutu, untuk menentukan model yag dijadikan sebagai literatur acuan dalam memberikan jawaban model yang paling unggul dan
95 relevan dengan kondisi pelatihan pengembangan model Quality Assurance yang tepat untuk pelatihan berbasis e-learning Penulis memandang sejumlah model ungggulan untuk QA patut dipertimbangkan untuk pengembangan model. Misalnya, pada konsideran terhadap QA pembelajaran yang yang difasilitasi melalui penggunaan TIK harus melakukan penjaminan pada : Distance education courses; Online courses (Synchronous online courses Asynchronous courses); Online programmes; Blended/hybrid courses; OER (open educational resources); MOOCS (massive open online courses). Ini menjadi masukan khusus bagi penulis bahwa objekobjek tersebut selain harus ada pada pembelajaran berbasis on line juga harus dijaga QA-nya. Karena itu unsur-unsur tersebut harus menjadi pertimbangan khusus asesor dalam menilai kualitas pelatihan berbasis e learning yang diselenggaarakan lembaga pelatihan. Model lain yang relevan dan dapat diadaptasi dan dijadikan pengembangan model Quality Assurance yang tepat untuk pelatihan berbasis e-learning adalah Quality Function Deployment (QFD). Artikel ini mengupas tentang manfaat dan penerapan Quality Function Deployment (QFD). QFD adalah metodologi yang membantu menerjemahkan kebutuhan pelanggan ke dalam persyaratan desain untuk memastikan bahwa output, baik berupa produk maupun proses, memenuhi kebutuhan ini. Kelebihan QFD adalah pada dasarnya adalah proses perencanaan dengan pendekatan kualitas untuk desain, pengembangan, dan implementasi produk baru yang didorong oleh kebutuhan dan nilai pelanggan. Hal ini cocok dikembangkan dan diterapkan untuk
96 Quality Assurance Internal pelatihan. Sedangkan kelemahan Metode ini paling banyak dikembangkan pada dunia bisnis, sehingga apabila diterapkan dalam konsep manajemen pelatihan memerlukan beberapa penyesuaian. Dari sintesis SLR ini, penulis mendapatkan model Quality Function Deployment (QFD) dalam Quality Assurance (QA) di Perguruan Tinggi yang dipandang linier dengan kepentingan penyelenggaran QA internal pelatihan pada lembaga pelatihan. Bila ini diterapkan di lembaga pelatihan maka QFD yang diadaptasi menjadi pilihan tepat dalam melakukan penjaminan internal. Model Quality Function Deployment (QFD) untuk lembaga pelatihan memuat komponen perencanaan: • merancang objek pembelajaran; • menyiapkan LMS; • meyakinkan pemateri menyajikan materinya secara variatif menggunakan teks, audio, video maupun gabungan ketiganya; • memastikan terjadi interaksi pembelajaran yang efektif. • memperhatikan aplikasi AHP sebagai tools management penilaian perencanaan Quality Assurance suatu pelatihan yang memuat instrumen dengan indikator perencanaan. QFD dijuluki sebagai “rumah mutu” (the house of quality) yang memiliki enam stage, yaitu Keinginan Konsumen (Bidang A); Perencanaan (Bidang B); Respon Teknis (Bidang C); Korelasi (Bidang D); Korelasi Teknis (Bidang E); dan Teknis (Bidang F)
97 Keinginan Konsumen (Bidang A) a. Mengumpulkan suara dari konsumen (dalam hal ini alumni peserta pelatihan), yang dapat dilakukan dengan berbagai teknik, seperti intervieu, kuesioner melalui surat, atau focused group discussion (FGD). b. Menyeleksi dan mengelompokkan suara dari konsumen ke dalam kategori, yaitu kategori utama (primer), sekunder, dan jika mungkin hingga katagori tertier. Penyusunan ini akan sangat memudahkan pada saat penyusunan respon teknis c. Menyusun keinginan konsumen ke dalam kolom keinginan (jaring-jaring rumah bidang A). Perencanaan (Bidang B) Pengisian perencanaan ini merupakan penulisan ulang beberapa kegiatan perencanaan sebagaimana dipaparkan pada komponen perencanaan. Respon Teknis (Bidang C) Respon teknis adalah bahasa teknis yang dipakai oleh lembaga pelatihan untuk menerjemahkan keinginan konsumen (peserta pelatihan) menjadi hal yang bersifat teknis bagi lembaga pelatihan. Korelasi (Bidang D) (a) Submatriks korelasi menunjukkan kekuatan hubungan antara keinginan konsumen (peserta) (Bidang A) dengan Respon Teknis (Bidang C). Pengisian submatrik ini sangat penting pada saat penentuan prioritas tindakan yang dilakukan oleh manajemen
98 (b) korelasi karakteristik teknis diterjemahkan kedalam beberapa target peningkatan kualitas sebagaimana tertera pada Tabel 4.1 kolom Rank. Korelasi Teknis (Bidang E) (a) Bagian korelasi teknis rumah mutu disebut atap dari rumah mutu ini. Isinya tentang hasil penjabaran karakteristik teknis menjadi indikator-indikator QA dari setiap pengembangan yang ingin dicapai oleh tim pengembang lembaga pelatihan. Demikianlah hasil kajian literature tentang model QFD ini, selanjutnya akan dikembangkan menjadi model gagasan penulis untuk model pengembangan QA pelatihan pada lembaga pelatihan. E. Pembahasan pertanyaan penelitian QR 3, pengembangan model Quality Assurance dalam Penyelenggaraan Pelatihan Berbasis e-Learning. Hasil diskusi dan pembahasan sebagaimana dipaparkan di atas melahirkan output model dari kajian SLR terhadap sejumlah jurnal sebagaimana dianalisis diatas. Pengembangan model Quality Assurance dalam Penyelenggaraan Pelatihan Berbasis e-Learning, dengan mengadaptasi dari hasil kajian dan penelitian beberapa jurnal yang dikemukakan di atas, khususnya jurnal yang membahas tentang: Quality Assurance; Model Perencanaan Quality Assurance (QA); Model Evaluasi Quality Assurance; dan Model Quality Assurance secara untuk kegiatan pelatihan berbasis E-Learning, maka penulis merekomendasikan: Model
99 Pengembangan QA Pelatihan melalui Adaptasi Model Quality Function Deployment (QFD). Dalam model QFD yang dikemukakan beberapa peneliti sebagaimana dipaparkan di atas, muncul satu konsep yang disebut “rumah mutu”, yaitu konsep QA dengan mengilustrasikan rumah berdasarkan stage, yang terdiri dari lima bidang (stage). Penulis melakukan adaptasi terhadap model tersebut dengan julukan “POJOK QA” (baca: QACorner). QA corner penulis analogikan sebagai sebuah kubus yang dibangun oleh empat dinding (penulis menyebutnya “bilik”). “Empat bilik” inilah yang menjadi representasi dari sistem Pan-Do-Check-Action (PDCA) sebagai kerangka pikir Model Quality Assurance (QA) secara internal untuk kegiatan pelatihan berbasis E-Learning pada lembaga pemerintah. A C B D QACorner Pengembangan dan adaptasi model QA ini, penulis tuangkan secara teknis dalam bentuk instrumen evaluasi diri (terlampir).
100 Demikian pengembangan model Quality Assurance dalam Penyelenggaraan Pelatihan Berbasis e-Learning, yang penulis kembangkan. Dengan harapan ini dapat menjadi referensi untuk menunjang efektivitas dan efisien penyelenggaraan pelatihan berbasis e-learning di masa yang akan datang. Model Quality Assurance yang dikembangkan ini, pada dasarnya model hybrid memanfaatkan teknologi digital berbasis on line sebagai tools pembelajaran secara bersamaan dengan pembelajaran tatap muka. Hal ini tidak menghalangi quality assurance yang direkomendasikan penulis dalam penelitian ini. Sebab, “pojok QA” yang dikembangkan penulis adalah “rumah mutu” yang mengawal penjaminan mutu suatu proses pembelajaran (baca: pelatihan) yang mengedepankan e-learning sebagai konsep pembelajarannya apapun dan bagaimanapun model pembelajarannya, termasuk model hybrid. Bahkan saat blended learning yang mengkombinasikan virtual dan tatap muka pada pelatihan dasar CPNS, pojok QA tetap bisa menjadi alat penjaminan mutu suatu pelatihan serupa itu. Pojok QA yang mengandalkan “empat bilik dalam pojok QA” direkomendasikan penulis sebagai instrumen evaluasi diri bagi penyelenggara pelatihan yang memanfaatkan teknologi pembelajaran berbasis e-learning sebagai tools pembelajarannya. Sepanjang model pembelajaran (pelatihan) itu memuat instrumen e-learning sebagian atau full (seutuhnya) maka empat bilik dalam pojok QA yang direkomendasikan penulis masih tetap up date untuk dipakai sebagai penjaga (guidance) benang merah kualitas pembelajaran dalam konteks pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga pelatihan. Penulis berkeyakinan instrumen
101 evaluasi diri yang memuat instrumen tentang harapan pengguna pelatihan; perencanaan; teknis pelaksanaan; dan evaluasi internal dapat diandalkan untuk menjaga dan mengkonservasi kualitas suatu pelatihan, baik sebagian maupun seluruhnya menggunakan e-learning. Sepanjang pengisian instrumen evaluasi diri pada “empat bilik dalam pojok QA” dilakukan dengan jujur, akuntabel, dan apa adanya maka penulis meyakini bahwa model yang direkomendasikan penulis ini dapat diterapkan di pelatihan elearning. Dengan menggunakan model yang cukup komprehensif mulai kelembagaan, program, tenaga pengajar, evaluasi, sampai ke penjaminan mutu dan juga evaluasi pasca pelatihannya. Selanjutnya penulis akan dikembangkan model Quality Assurance dalam e learning menggunakan aplikasi yaitu Sistem Infromasi Penjaminan Mutu e learning (SIPENTUEL) atau e-Learning quality Assurance Information System. Demikian akhir dalam kajian ini, penulis berusaha melakukan yang terbaik, namun penulis menyadari kajian ini, masih jauh dari sempurna. Oleh karena perlu pengembangan dan kajian/penelitian lebih lanjut agar didapatkan hasil yang maksimal dan berkontribusi bagi para pengambil kebijakan untuk mewujudkan pelatihan yang yang berkualitas, baik sekarang maupun untuk di masa yang akan datang.
102 BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Kajian ini berbentuk Systematic Literatur Review (SLR) dengan menerapkan alur revieu Prisma 2009 flow diagram sebagai kendali identificationscreening-eligibility-included/excluded terhadap jurnal dan karya tulis yang direview. Kajian yang menerapkan metode SLR telah mendapat pengakuan sebagai metode yang setara dengan metode penelitian pada umumnya. SLR membagai tahapapan penelusuran ke dalam 4 tahap, yaitu Planning (terkait dengan pengembangan review question dan plan method/protocol); Tahap Data Collection (pencarian strings, screening judul dan abstrak, filtering & assessment, data extraction); Tahap Analysis (Analisis deskriptif dan tematik), kemudian tahap Sintesis (diskusi). Penulis memulai kegiatan dengan menetapkan terlebih dahulu beberapa frasa kata kunci pencarian judul atau konten dari pembahasan suatu penelitian berbentuk tesis, desertasi, kajian jurnal, dan ulasan ilmiah dari search engine electronic database, Google Schoolar, [Neliti], dan Proquest. Diperoleh banyak judul untuk dianalisis. Penulis memanfaatkan Mendeley Reference Manager for Desktop sebagai aplikasi pengumpul literatur agar memudahkan pencarian pada jurnal pada proses analisis dan sintesis. Jawaban atas pertanyaan penelitian yang menjadi simpulan dari kajian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
103 1. Jawaban atas pertanyaan penelitian nomor satu adalah terdapat sejumlah model yang dikembangkan dalam konteks Quality Assurance (QA) yang diselenggarakan, di antaranya: Considerations For Quality Assurance Of ELearning Provision, The Feasibility Of Quality Function Deployment (Qfd) As An Assessment And Quality Assurance Model, A Rubric To Evaluate Learning Management Systems, Design Of Learning Evaluation Model For Distance Education Dan Quality Assurance In E-Learning: Pdpp Evaluation Model And Its Application. Kesemua model tersebut terdapat kelebihan dan kekurangan, implementasi model-model tersebut berdasarkan situasi dan kondisi masingmasing secara proporsional. Hal yang paling berperan dalam implementasi model tersebut adalah kompetensi sumber daya manusia dan sistem yang ada dalam lingkup lembaga pelatihan tersebut. 2. Jawaban atas pertanyaan penelitian nomor dua adalah model yang paling unggul dan relevan dengan kondisi pelatihan adalah Quality Function Deployment (QFD). Model ini menarik untuk dikaji lebih jauh mengingat konsep unggulannya yaitu “rumah mutu” (House of Quality) telah diterapkan di beberapa penyelenggara lembaga pelatihan. QFD telah berhasil digunakan oleh banyak organisasi kelas dunia dalam berbagai industri kendaraan, elektronik, aerospace, utilitas, rekreasi dan hiburan, keuangan, perangkat lunak, dan industri lainnya. QFD dijuluki sebagai “rumah mutu” (the house of quality) yang memiliki enam stage, yaitu Keinginan Konsumen (Bidang A); Perencanaan (Bidang B); Respon Teknis (Bidang C); Korelasi (Bidang D); Korelasi Teknis (Bidang E); dan Teknis (Bidang F). Karena QFD merupakan
104 tools TQM yang paling mendasar yang secara sistematis mengembangkan kebutuhan dan harapan pelanggan (customer internal). 3. Jawaban atas pertanyaan penelitian nomor tiga adalah kajian ini terkait upaya penulis melakukan pengembangan terhadap beberapa riset yang telah dilakukan berkenaan dengan Quality Assurance (QA) pelatihan berbasis ELearning. Sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan penelitian ketiga, yaitu perspektif pengembangan model sistem penjaminan mutu internal, sebagai gagasan yang dikembangkan dari kajian ini. Produk dari kajian ini yang paling utama adalah dokumen instrumen Quality Assurance System secara internal untuk kegiatan pelatihan berbasis e learning, yang diselenggarakan oleh lembaga pelatihan. Penulis berhasil melakukan pengembangan kajian dengan mengajukan satu model pengembangan QA, yaitu Pengembangan QA Pelatihan melalui Adaptasi Model Quality Function Deployment (QFD). Adaptasi model Quality Function Deployment (QFD) untuk lembaga pelatihan memuat komponen perencanaan dan komponen evaluasi quality assurance. Hal ini sekaligus menjadi produk dari kajian ini yang dituangkan dalam bentuk instrumen perencanaan dan instrumen evaluasi Quality Assurance Internal suatu pelatihan yang berbasis E-Learning. Selanjutnya penulis namakan adaptasi pengembangan QFD ini sebagai Quality Assurance Corner (QACorner), yaitu adaptasi dari istilah “rumah mutu” (House of Quality) yang dikembangkan pada penjaminan mutu model QFD pada pendidikan tinggi. QACorner ini merupakan pojok mutu bagi setiap lembaga pelatihan yang menyelenggarakan pelatihan berbasis e-learning. Pojok QA dibangun oleh empat bilik (Bilik A, Bilik B, Bilik C, dan Bilik D).
105 Bilik A – Dimensi Harapan Pengguna Pelatihan Bilik A merupakan dimensi harapan pengguna pelatihan, yaitu informasi terkait keinginan dan keluhan peserta pelatihan; pengelompokkan masukkan berdasarkan jenis primer, sekunder, atau tertier; dan pengelompokan masukkan responden tentang perencanaan, teknis pelaksanaan pelatihan, evaluasi pelatihan Bilik B – Perencanaan Bilik B merupakan dimensi perencanaan, yaitu informasi tentang komponen perencanaan Bilik C – Teknis Pelaksanaan Bilik C merupakan dimensi teknis pelaksanaan, yaitu informasi tentang teknis pelaksanaan terkait sumber daya pelaksanaan pelatihan Bilik D - Evaluasi Internal Bilik D merupakan dimensi evaluasi internal, yaitu informasi tentang evaluasi terhadap kesiapan unsur internal dalam pelaksanaan pelatihan. Selanjutnya penulis akan dikembangkan model Quality Assurance dalam e learning tersebut menggunakan aplikasi yaitu Sistem Infromasi Penjaminan Mutu e learning berbasis aplikasi (SIPENTUL) atau e-Learning quality Assurance Information System.
106 B. Saran Berikut disampaikan saran terkait kajian ini, sebagai berikut : 1. Sebaiknya model-model penjaminan mutu internal yang ada, dan terkait dengan kegiatan e learning terus dikembangkan secara proporsional dan professional, agar model tersebut menjadi efektif dan efisien. 2. Mengingat QFD merupakan tools TQM yang paling mendasar, yang secara sistematis mengembangkan kebutuhan dan harapan pelanggan (customer internal. Agar dioptimalisasikan berdasarkan situasi dan kondisi, disesuaikan dengan perkembangan jaman. Selanjutnya dengan dukungan tekonologi berbasis informasi. 3. Penulis mendapati bahwa pertanyaan dari setiap indikator instrumen perencanaan maupun evaluasi suatu pelatihan berbasis e learning, memiliki keragaman jenis maupun kualitas, tergantung pada karakteristik jenis pelatihan dan lembaga pelatihannya. Karena itu, penulis menyarankan: a. Pengelola lembaga pelatihan berbasis e learning, dapat secara flexible mengurangi atau menambahkan item dari instrumen perencanaan atau evaluasi yang menjadi kesimpulan kajian ini. b. Teknik penyampaian dan pengumpulan hasil jawaban instrumen dapat dikembangkan menggunakan aplikasi digital sesuai perkembangan dan kemampuan lembaga dalam melakukan digitalisasi quality assurance. c. Untuk penjaminan mutu terhadap pelaksanaan pelatihan berbasis e learning perlu dipertimbangan kualitas Learning Management System (LMS) yang terpadu, sistematis dan berkelanjutan dengan dukungan fasilitas dan sarana prasana yang berkualitas berbasis teknologi informasi.
107 d. Perlu ada kajian lebih lanjut di masa yang akan datang, agar lebih menunjang terwujudnya pelatihan berkualitas, yang efektif dan efisien dalam pengembangan kompetensi sumber daya manusia secara proporsional dan professional berbasis teknologi informasi, untuk penjaminan mutu untuk e learning, perlu dikembangkan model Quality Assurance dalam e learning menggunakan aplikasi yaitu Sistem Infromasi Penjaminan Mutu e learning berbasis aplikasi (SIPENTUEL) atau e-Learning quality Assurance Information System.
108 DAFTAR PUSTAKA Anderson, G.(2006).Assuring quality/resisting quality assurance: academics’ responses to ‘quality’ in some Australian universities. Quality in Higher Education, 12 (2), 161-73. Becket & Brookes. (2008). Quality Management Practice in Higher EducationWhat Quality are Actually Ebhancing. Journal of Hopitality, Leisure, Sport & Tourism Education 7 (1), Bisschop Boele, E. (2007). Internal Quality Assurance in Higher Music Education. Crosby,Philip. 2015. Quality Assurance Consept. University of Texas publish. Corpus, et al. (2003). Higher Education Quality Assurance Journal of Philippine. Journal of Quality Assurance. 1 (1). Day, E. I. (2011). Quality Approaches in Higher Education. The Journal for Quality and Participation. 1 (1),. Dorothea, W. A. (2003). Manajemen Kualitas. Yogyakarta: GHALIA INDONESIA. Elliott Masie, Cisco, & Comellia (2000) argue that e-Learning is a type of learning that can communicate material through electronic media. Gaspersz, V. (2012). Three in one, Sistem Manajemen Kualitas, K3, Lingkungan (SMK4L), Peningkatan Kinerja Terus Menerus, contoh Aplikasi pada Bisnis dan Industri. Jakarta: PT Penebar Swadaya. Gerring, John. (2007). Case Study Reseach; Principles and Practices. UK: Cambridge University Press. Harry, M. J. (2004). International Journal of Applied Quality Management. International Management Journal. 2 (1), Hedwig, P. R. (2008). Model Sistem Penjaminan Mutu dan Proses Penerapannya di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
109 Herdiana, Dian. (2022). Masa Depan Model Pembelajaran eLearning di Indonesia: Masalah dan Peluang. Jurnal Tersedia : https://www.researchgate.net/publication/353906743_Masa_Depan_ Model_Pembelajaran_eLearning_di_Indonesia_Masalah_dan_Peluang . MHE- OECD. (2002). No. 2 Fabrice Henard and Soleine Leprince-Ringuet Programme On Institutional Management In Higher Education. - The Path To Quality Teaching In Higher Education. Jayakumaran, M. (2011). Total quality management in education. International journal of current research. 3 (3), Joe Mangino (USA). 2006. Quality Assurance /Quality Control And Verification. IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories. Jones, A. (2011). Quality Management Services. Quality Management Journal. 3 (4), Jung. et al. (2011). Quality Assurance dalam Pendidikan Jarak Asia: Pendekatan Beragam dan Budaya Umum. Journal of Quality Assurance. 12 (6), Kitchenham, B., & Charters, S. (2007). Guidelines for performing Systematic Literature Reviews in Software Engineering. EBSE Technical Report Version 2.3, EBSE-2007-. Lusiana and M. Suryani, Metode SLR untuk Mengidentifikasi Isu-Isu dalam Software Engineering, SATIN (Sains dan Teknol. Informasi), vol. 3, no. 1, 2014. Nasution, (2005). Total Quality Management. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Nesbit, J. C., Belfer, K., & Leacock T. L. (2004). LORI 1.5: Learning Object Review Instrument. Retrieved July 26, 2006, from http://www.elera.net Nurkholis. (2003). Manajemen Berbasis Sekolah, Teori, Model, dan aplikasi. Jakarta: PT Gramedia Widiasrama Indonesia.
110 Rosenberg, M.J. (2001) E-Learning: Strategies for Delivering Knowledge in the Digital Age. Vol. 9, McGraw-Hill, New York. Sallis, E. (2006). Total Quality Manajemen In Education (Alih Bahasa Ahmad Ali Riyadi). Yogyakarta: IRC IsoD. Sallis, E. (2010). Total Quality Management in Education. London: Cogan Page Limited. Search engine database: Google Scholar, [neliti] Repositori Studi Kebijakan Indonesia citation and reference manager : Mendeley Siahaan, 2003. E-learning (pembelajaran elektronik) sebagai salah satu alternative kegitan pembelajaran. Jurnal pendidikan dan kebuadyaan. Jakarta. Suhardan, D. dkk, (2009), Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta Syafaruddin (2012). Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta: Grasindo. T Loukkola, T Zhang.2010. Examining quality culture: Part 1-Quality assurance processes in higher education institutions Terry, G. R. (2009). Asas-Asas Manajemen. (Penerjemah Winardi). Bandung: PT Alumni Tjiptono, F. & Gregorius, C. (2017). Service. Quality. Satisfaction. Yogyakarta: Andi Offset. Willborn, W. (1994). Global Management of Quality Assurance Systems. Singapore: Mc. Grawhill. Yin Cheng, C. (2001). Paradigm Shifts in Quality Improvement in Education: Three Waves for the Future. China: National Institute of Education Research.
111 JURNAL-JURNAL: (1) THE EFFECTIVENESS OF E-LEARNING: AN EXPLORATIVE AND INTEGRATIVE REVIEW OF THE DEFINITIONS, METHODOLOGIES AND FACTORS THAT PROMOTE E-LEARNING EFFECTIVENESS Erna Signe Schack Noesgaard1 , and Rikke Ørngreen2 1Kata Foundation, Sønderborg, Denmark & 2ResearchLAB: IT and Learning Design, Dep. of Learning and Philosophy, Aalborg University, Copenhagen, Denmark (2) CONSIDERATIONS FOR QUALITY ASSURANCE OF E-LEARNING PROVISION Ebba Ossiannilsson Swedish Association for Distance Education, EDEN (3) PENJAMINAN MUTU: Konten (SPADA), Asesmen Dirjen Dikti 2019. (4) PENGGUNAAN ANALYTICAL HIERRACHY PROCESS DALAM PENILAIAN KUALITAS SISTEM E-LEARNING BERBASIS ISO 19796-1 *Andharini Dwi Cahyani, **Daniel O Siahaan, ***Sarwosri (5) E‐LEARNING QUALITY ASSURANCE: A PROCESS‐ORIENTED LIFECYCLE MODEL M'hammed Abdous Center for Learning Technologies, Old Dominion University, Norfolk, Virginia, USA). Quality Assurance in Education. (6) EVALUATING THE RELIABILITY AND IMPACT OF A QUALITY ASSURANCE SYSTEM FOR E-LEARNING COURSEWARE YT Sung, KE Chang, WC Yu - Computers & Education, 2011 – Elsevie. (7) QUALITY ASSURANCE DENGAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT: KONSEP IMPLEMENTASI PADA INSTITUSI PERGURUAN TINGGI Alfi Arif1 Jur. Akuntansi Universitas Jember (8) A RUBRIC TO EVALUATE LEARNING MANAGEMENT SYSTEMS Ramesh, Vyshnavi Malathi
112 Ramanathan, Chandrashekar Proceedings of 2013 IEEE International Conference on Teaching, Assessment and Learning for Engineering, TALE 2013 (9) DESIGN OF LEARNING EVALUATION MODEL FOR DISTANCE EDUCATION Liu, Gang Advances in Social Science, Education and Humanities, 2020. (10) QUALITY ASSURANCE IN E-LEARNING: PDPP EVALUATION MODEL AND ITS APPLICATION Zhang, Weiyuan; Cheng, Y. L. International Review of Research in Open and Distance Learning 2012, Vol 13, Issue 3, P 66-82 (11) DEVELOPMENT OF A QUALITY ASSURANCE SYSTEM FOR E LEARNING PROJECTS Mark Nichols eLearning Consultant, EDI Faculty Universal College Of Learning (UCOL), NEW ZEALAND [email protected]
113 OUTPUT MODEL QUALITY ASSURANCE DALAM PENYELENGGARAAN PELATIHAN BERBASIS E-LEARNING
114 OUTPUT MODEL PENGEMBANGAN QUALITY ASSURANCE PELATIHAN BERBASIS E-LEARNING Nama : POJOK QUALITY ASSURANCE (“POJOK QA” / “QA CORNER”) Output Model : Instrumen Evaluasi Diri Model Pengembangan Quality Assurance Berbasis E-Learning Uraian Model : A C B D Pojok QA dibangun oleh empat bilik (Bilik A, Bilik B, Bilik C, dan Bilik D) Bilik A – Dimensi Harapan Pengguna Pelatihan Bilik A merupakan dimensi harapan pengguna pelatihan, yaitu informasi terkait keinginan dan keluhan peserta pelatihan; pengelompokkan masukkan berdasarkan jenis primer, sekunder, atau tertier; dan pengelompokan masukkan responden tentang perencanaan, teknis pelaksanaan pelatihan, evaluasi pelatihan Bilik B – Perencanaan Bilik B merupakan dimensi perencanaan, yaitu informasi tentang komponen perencanaan Bilik C – Teknis Pelaksanaan Bilik C merupakan dimensi teknis pelaksanaan, yaitu informasi tentang teknis pelaksanaan terkait sumber daya pelaksanaan pelatihan Bilik D - Evaluasi Internal
115 Bilik D merupakan dimensi evaluasi internal, yaitu informasi tentang evaluasi terhadap kesiapan unsur internal dalam pelaksanaan pelatihan. Tata Kelola : Surat Keputusan kepala Lembaga Pelatihan Susunan Pengelola : Ketua Tim (merangkap anggota) Sekretaris Tim (merangkap angota) Bendahara Tim (merangkap angota) Anggota (perwakilan dari semua unsur departemen pada lembaga pelatihan) Pedoman Teknis QA : Terlampir Standar Mutu QA : Terlampir
116 STANDAR MUTU QACorner Quality Assurance (baca: QACorner) 2. Bilik A – Harapan Pengguna Pelatihan No STANDAR 1 Menyerap keinginan dan keluhan alumni peserta pelatihan melalui interviu, kuesioner, surat, atau focused group discussion (FGD). 2 Mengelompokkan suara peserta pelatihan dalam kategori kategori utama (primer), sekunder, dan tertier 3 Menyusun keinginan alumni peserta pelatihan ke dalam kolom keinginan (Perencanaan, Teknis Pelaksanaan Pelatihan, Evaluasi Pelatihan) 3. Bilik B - Perencanaan No STANDAR 4 Merancang objek pembelajaran 5 Persiapan pemateri menyajikan materi pembelajaran menggunakan media variatif: teks, audio, video maupun gabungan ketiganya 6 Persiapan pemateri menyajikan materi pembelajaran yang interaktif dan efektif 7 Interaksi pembelajaran antara peserta pelatihan dengan fasilitator dilaksanakan secara asinkronus dan sinkronus. 8 Menyiapkan (tersedianya) aplikasi untuk interaksi pembelajaran tatap maya sinkronus 9 Budgeting pelatihan jelas sumbernya (APBN, PNBP) 10 Aplikasi Analytical Hierarchy Process (AHP) sebagai tools management penilaian perencanaan Quality Assurance 10.1 Adanya need analysis pelatihan (ToR, Hasil Evaluasi Pasca Diklat) 10.2 Adanya data dan peta kekuatan/ kesiapan penyelenggara pelatihan (jumlah personil, MoT, ToF, kesiapan infrastruktur) 10.3 Menyiapkan desain manajemen pembelajaran (learning management system – LMS) 10.4 Perencanaan persiapan proses pelatihan (administrasi pembelajaran, perencanaan ketidakterdugaan (unexpected), PIC, persiapan sarana prasarana pelatihan) 10.5 Perencanaan Evaluasi pelatihan (external evaluation dan self evaluation) 4. Bilik C – Teknis Pelaksanaan No STANDAR 11 Tersedianya manajemen pelatihan dalam bentuk prosedur dan peraturan 12 Tersedianya prasarana dan sarana pelatihan : ruang kelas, buku, jurnal, internet, jaringan listrik yang memadai, laboratorium bahasa, K3 13 Ketercukupan finansial pelatihan
117 No STANDAR 14 Kecukupan Widyaiswara/ Instruktur/ fasilitator: kualifikasi, sertifikasi, rasio 15 Kecukupan penyelenggara pelatihan: kualifikasi, sertifikasi, keahlian tambahan 16 Pelaksanaan penerimaan peserta secara akuntabel : persyaratan peserta, rekrutmen peserta, layanan hak peserta 17 Kesesuaian materi pelatihan dengan Kurikulum yang dipersyaratkan (RBPMD dan RP) selama pembelajaran 18 Terpenuhi jam pelajaran asinkronus dan sinkronus 19 LMS terisi dengan variasi konten yang dipersyaratkan : Bahan Ajar, bahan Tayang, Kuis, Tugas 20 Sistem informasi yang memadai : Internet, kuota untuk peserta/penyelenggara/widyaiswara/fasilitator, ICT hardware /software 21 Kegiatan pelulusan peserta : jadwal seminar, jadwal ujian, sertifikat kelulusan, sidang kelulusan, panitia kelulusan, jadwal penutupan/pembukaan 5. Bilik D – Evaluasi Internal (self evaluation) No STANDAR 22 Pemenuhan standardisasi pendidikan (pelatihan) : standar lulusan (peserta pelatihan), standar tenaga pelatihan, standar prasarana dan sarana, standar pengelolaan, standar isi pembelajaran (pelatihan), standar proses pembelajaran (pelatihan), standar pembiayaan 22.1 Peserta pelatihan E Learning mengetahui tatacara E Learning 22.2 Peserta pelatihan memperoleh layanan pembelajaran E Learning 22.3 Peserta pelatihan merespon pembelajaran dengan baik materi dari pengampu pelatihan 22.4 Peserta pelatihan mendapatkan kepuasan pembelajaran E Learning dari panitia 22.5 Peserta pelatihan mendapatkan kepuasan pembelajaran E Learning dari pengampu mata pelatihan (Widyaiswara, Instruktur, Fasilitator) 22.6 Tenaga Widyaiswara, Instruktur, Fasilitator memenuhi persyaratan kepelatihan (kualifikasi, sertifikasi, pengalaman) 22.7 Panitia/ Penyelenggaran memenuhi persyaratan kepelatihan ( kualifikasi, sertifikasi, jumlah, kompetensi tambahan) 22.8 Prasarana pelatihan memadai (ruang kelas, ruang panitia, ruang laboratorium, ruang pantry dan ruang makan, ruang kesehatan, ruang PIC dan operator) 22.9 Sarana pelatihan memadai (internet, jaringan listrik, kuota, komputer, perangkat komunikasi digital, LMS) 22.10 Desain manajemen pembelajaran (learning management system – LMS) 22.10.1 Konten (Content Quality) memiliki Kebenaran (kejujuran) dan Akurasi 22.10.2 Konten pembelajaran memiliki Keseimbangan presentasi dengan ide
118 No STANDAR 22.10.3 Konten pembelajaran memiliki kesesuaian dengan detail yang disajikan. 22.10.4 Memotivasi peserta pelatihan untuk belajar 22.10.5 Keselarasan tujuan pembelajaran (Learning Goal Alignment) dengan asesmen yang disiapkan dan karakteristik peserta didik 22.10.6 Desain presentasi (Presentation Design) menarik 22.10.7 LMS memiliki tingkat kemudahan untuk dimanfaatkan ulang (Reusability) 22.10.8 LMS Sesuai standar (Standards Compliance) 22.10.9 LMS dikelola dengan baik melibatkan penanggung jawab dan PIC 22.10.10 Setiap kegiatan asinkronus dan sinkronus terjadwal dengan baik 22.10.11 Petugas dan Widyaiswara/fasilitator/instruktur terampil menggunakan sarana sinkronus dan asinkronus 22.11 Finasial pelatihan dikelola dengan baik (sesuai SPJ APBD, APBN, PNBP) 22.12 Akuntabilitas pengeluaran pembiayaan pelatihan 22.13 Pengendalian dan pengawasan penggunaan anggaran
119 Intrumen QA/Uraian Evaluasi Diri : 1. Bilik A – Harapan Pengguna Pelatihan No Uraian Ada Tidak 1 Menyerap keinginan dan keluhan alumni peserta pelatihan melalui interviu, kuesioner, surat, atau focused group discussion (FGD). 2 Mengelompokkan suara peserta pelatihan dalam kategori kategori utama (primer), sekunder, dan tertier 3 Menyusun keinginan alumni peserta pelatihan ke dalam kolom keinginan (Perencanaan, Teknis Pelaksanaan Pelatihan, Evaluasi Pelatihan) 2. Bilik B - Perencanaan No Uraian Ada Tidak 4 Merancang objek pembelajaran 5 Persiapan pemateri menyajikan materi pembelajaran menggunakan media variatif: teks, audio, video maupun gabungan ketiganya 6 Persiapan pemateri menyajikan materi pembelajaran yang interaktif dan efektif 7 Interaksi pembelajaran antara peserta pelatihan dengan fasilitator dilaksanakan secara asinkronus dan sinkronus. 8 Menyiapkan (tersedianya) aplikasi untuk interaksi pembelajaran tatap maya sinkronus 9 Budgeting pelatihan jelas sumbernya (APBN, PNBP) 10 Aplikasi Analytical Hierarchy Process (AHP) sebagai tools management penilaian perencanaan Quality Assurance 10.1 Adanya need analysis pelatihan (ToR, Hasil Evaluasi Pasca Diklat) 10.2 Adanya data dan peta kekuatan/ kesiapan penyelenggara pelatihan (jumlah personil, MoT, ToF, kesiapan infrastruktur) 10.3 Menyiapkan desain manajemen pembelajaran (learning management system – LMS) 10.4 Perencanaan persiapan proses pelatihan (administrasi pembelajaran, perencanaan ketidakterdugaan (unexpected), PIC, persiapan sarana prasarana pelatihan) 10.5 Perencanaan Evaluasi pelatihan (external evaluation dan self evaluation)
120 3. Bilik C – Teknis Pelaksanaan No Uraian Ada Tidak 11 Tersedianya manajemen pelatihan dalam bentuk prosedur dan peraturan 12 Tersedianya prasarana dan sarana pelatihan : ruang kelas, buku, jurnal, internet, jaringan listrik yang memadai, laboratorium bahasa, K3 13 Ketercukupan finansial pelatihan 14 Kecukupan Widyaiswara/ Instruktur/ fasilitator: kualifikasi, sertifikasi, rasio 15 Kecukupan penyelenggara pelatihan: kualifikasi, sertifikasi, keahlian tambahan 16 Pelaksanaan penerimaan peserta secara akuntabel : persyaratan peserta, rekrutmen peserta, layanan hak peserta 17 Kesesuaian materi pelatihan dengan Kurikulum yang dipersyaratkan (RBPMD dan RP) selama pembelajaran 18 Terpenuhi jam pelajaran asinkronus dan sinkronus 19 LMS terisi dengan variasi konten yang dipersyaratkan : Bahan Ajar, bahan Tayang, Kuis, Tugas 20 Sistem informasi yang memadai : Internet, kuota untuk peserta/penyelenggara/widyaiswara/fasilitator, ICT hardware /software 21 Kegiatan pelulusan peserta : jadwal seminar, jadwal ujian, sertifikat kelulusan, sidang kelulusan, panitia kelulusan, jadwal penutupan/pembukaan 4. Bilik D – Evaluasi Internal (self evaluation) No Uraian Ada Tidak 22. Pemenuhan standardisasi pendidikan (pelatihan) : standar lulusan (peserta pelatihan), standar tenaga pelatihan, standar prasarana dan sarana, standar pengelolaan, standar isi pembelajaran (pelatihan), standar proses pembelajaran (pelatihan), standar pembiayaan 22.1 Peserta pelatihan E Learning mengetahui tatacara E Learning 22.2 Peserta pelatihan memperoleh layanan pembelajaran E Learning 22.3 Peserta pelatihan merespon pembelajaran dengan baik materi dari pengampu pelatihan 22.4 Peserta pelatihan mendapatkan kepuasan pembelajaran E Learning dari panitia 22.5 Peserta pelatihan mendapatkan kepuasan pembelajaran E Learning dari pengampu mata pelatihan (Widyaiswara, Instruktur, Fasilitator) 22.6 Tenaga Widyaiswara, Instruktur, Fasilitator memenuhi persyaratan kepelatihan (kualifikasi, sertifikasi, pengalaman) 22.7 Panitia/ Penyelenggaran memenuhi persyaratan kepelatihan ( kualifikasi, sertifikasi, jumlah, kompetensi tambahan)
121 No Uraian Ada Tidak 22.8 Prasarana pelatihan memadai (ruang kelas, ruang panitia, ruang laboratorium, ruang pantry dan ruang makan, ruang kesehatan, ruang PIC dan operator) 22.9 Sarana pelatihan memadai (internet, jaringan listrik, kuota, komputer, perangkat komunikasi digital, LMS) 22.10 Desain manajemen pembelajaran (learning management system – LMS) 22.10.1 Konten (Content Quality) memiliki Kebenaran (kejujuran) dan Akurasi 22.10.2 Konten pembelajaran memiliki Keseimbangan presentasi dengan ide 22.10.3 Konten pembelajaran memiliki kesesuaian dengan detail yang disajikan. 22.10.4 Memotivasi peserta pelatihan untuk belajar 22.10.5 Keselarasan tujuan pembelajaran (Learning Goal Alignment) dengan asesmen yang disiapkan dan karakteristik peserta didik 22.10.6 Desain presentasi (Presentation Design) menarik 22.10.7 LMS memiliki tingkat kemudahan untuk dimanfaatkan ulang (Reusability) 22.10.8 LMS Sesuai standar (Standards Compliance) 22.10.9 LMS dikelola dengan baik melibatkan penanggung jawab dan PIC 22.10.10 Setiap kegiatan asinkronus dan sinkronus terjadwal dengan baik 22.10.11 Petugas dan Widyaiswara/fasilitator/instruktur terampil menggunakan sarana sinkronus dan asinkronus 22.11 Finasial pelatihan dikelola dengan baik (sesuai SPJ APBD, APBN, PNBP) 22.12 Akuntabilitas pengeluaran pembiayaan pelatihan 22.13 Pengendalian dan pengawasan penggunaan anggaran
122 PEDOMAN PENSKORAN INSTRUMEN a. Setiap uraian dari setiap indikator pernyataan memiliki bobot nilai. b. Isilah tabel pada setiap uraian dan indikator dengan membubuhkan angka 1 atau 2 atau 0 c. Semua nomor untuk kolom Ada bobotnya 1, kolom tidak bobotnya 0 KECUALI Nomor 18; 19; 20; 22.10.1 – 22.1011 untuk kolom Ada bobotnya 2, kolom tidak bobotnya 0 d. Semua jawaban direkap dan dijumlahkan nilainya e. Interpretasi skor dari raihan evaluasi diri dijelaskan sebagai berikut Interval Skor Interpretasi 49 - 63 baik sekali 36 - 48 baik 20 - 35 cukup < 19 Kurang baik
123 LAMPIRAN PEDOMAN TEKNIS QUALITY ASSURANCE CORNER Sistem penjaminan mutu bukan lagi menjadi hal yang asing dalam penyelenggaraan kinerja organisasi. menurut Cartn (1999:312) Quality assurance is all planned and systematic activities implemented within the quality system that can be demonstrated to provide confidence that a product or service will fulfill requirements for quality. Penjaminan mutu diartikan sebagai sutu proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga penerima layanan, pemberi layanan memperoleh kepuasan. Menurut Yorke (1999) tujuan penjaminan mutu adalah sebagai berikut: 1. Membantu perbaikan dan peningkatan secara terus menerus dan berkesinambungan melalui praktek-praktek yang terbaik dan mau mengadakan inovasi 2. Memudahkan mendapatkan bantuan baik pinjaman uang atau fasilitas atau bantuan lain dari lembaga yang kuat dan dapat dipercaya 3. Menyediakan informasi pada masyarakat sesuai sasaran dan waktu secara konsisten dan bila mungkin membnadingka standar yang telah dicapai dengan standar pesaing. 4. Menjamin tidak adanya hal-hal yang tidak dikehendaki. Pendekatan proses. Menggunakan metode PDCA yakni: 1) Plan, yaitu menetapkan tujuan dan proses yang diperlukan untuk menyerahkan hasil yang sesuai dengan persyaratan pelanggan 2) Do yaitu implementasi proses 3) Check, yaitu memantau dan mengukur proses terhadap kebijakan tujuan dan persyaratan bagi produk dan melaporkan hasilnya 4) Action, yaitu melakukan tindakan perbaikan secara berkelanjutanTahapan/cara dalam siklus penjaminan mutu diklat dalam upaya peningkatan mutu.
124 Secara umum tujuan penjaminan mutu internal adalah melaksanakan verifikasi kesesuaian antara pelaksanaan standar penjaminan mutu internal dalam rangka mendapatkan rekomendasi ruang peningkatan mutu dan menjamin akuntabilitas berdasarkan praktek baik temuan atau ketidaksesuaian antara penyelenggaraan dengan standar. Tujuan penjaminan mutu internal antara lain: 1. Untuk memeriksa kesesuian atau ketidaksesuaian pelaksanaan dari standar yang ditetapkan; 2. Untuk memeriksa proses dan hasil proses pencapaian mutu sehingga dapat ditentukan keefektifan pencapaian dari tujuan yang telah ditetapkan (Indikator Kinerja Kunci) 3. Untuk menyiapkan laporan kepada teraudit (auditee) sebagai dasar perbaikan mutu selanjutnya 4. Untuk memberikan kesempatan teraudit memperbaiki sistem penjaminan mutu 5. Untuk membantu organisasi dalam mempersiapkan diri dalam rangka audit eksternal atau akreditasi. Audit mutu internal merupakan suatu pemeriksaan yang sistematis dan independen untuk menentukan apakah kegiatan dalam uoaya mutu serta hasilnya telah dilaksanakan secara efektif sesuai dengan standar. Siklus audit mutu internal secara umum meliputi tahapan yang ditunjukkan di bawah ini: PERENCANAAN (PLAN) – PENETAPAN STANDAR MUTU Hal yang dilaksanakan dalam tahapan ini adalah: a. Penyusunan SK Tim Komite Penjaminan Mutu b. Mempelajari kebijakan SPMI c. Mempelajari Standar SPMI d. Mempelajarai tanggug jawab dan pelaksana standar e. Mempelajari manual /prosedur SPMI f. Mempelajari rencana kerja semesteran atau rencana kerja tahunan g. Mempelajari laporan realisasi rencana kerja semesteran atau rencana kerja tahunan.
125 h. Penyusunan dan Penetapan Standar Mutu PELAKSANAAN (DO)- PENERAPAN ATAU IMPLEMENTASI STANDAR MUTU Tahapan ini melakukan sosialisasi standar mutu serta pelaksanaan kegiatan dengan mengacu pada standar mutu yang telah ditetapkan.
126 EVALUASI (CHECK)- MENGECEK KESESUUAIN STANDAR MUTU DGN PENERAPAN Beberapa kegiatan ini adalah dalam audit kepatuhan/lapangan antara lain: a. Mengimplementasikan dengan menyebarkan instrument penjaminan mutu. b. Meminta pelaksana menjelaskan tahapan operasional atau intruksi kerja dan memeriksa apakah pekerjaan dilaksanakan sesuai instruksi kerja c. Bandingkan pelaksanaan kegiatan dengan standar yang ada d. Pilih satu kegiatan yang akan diikuti pelaksanannya dari awal sampai akhir e. Pilih salah satu dokumen, pelajari proses dan hasil yang diharapkan kemudian bandingkan dengan pekerjaan yang sesungguhnya. AKSI (ACTION) – PENENTUAN RENCANA TINDAK LANJUT AKSI (RTL) Tahapan ini melakukan kegiatan sebagai berikut : 1. Penyusunan laporan hasil audit Kriteria laporan hasil audit: a. Harus berdasarkan fakta b. Harus ringkas dan jelas c. Tidak memasukan opini d. Tidak memasukkan sebab-sebab ketidaksesuaian 2. Pemantauan tindak lanjut Bentuk tindak lanjut dari audit mutu internal antara lain rapat tinjauan manajemen dan pelaksanaan tindakan koreksi. Kaji ulang manajemen merupakan rapat dengan periode waktu tertentu yang bertujuan membahas tindak lanjut temuan yang dipimpin langsung oleh pimpinan. Sedangkan tindakan koreksi adalah tindakan untuk meniadakan sebabsebab ketidaksesuaian terhadap standar /rencana dan mencegah pengulangan ketidaksesuaian dikemudian hari dalam rangka peningkatan mutu secara berkelanjutan.
127 INSTRUMEN Quality Assurance (baca: QACorner) 6. Bilik A – Harapan Pengguna Pelatihan No Uraian Ada Tidak 22 Menyerap keinginan dan keluhan alumni peserta pelatihan melalui interviu, kuesioner, surat, atau focused group discussion (FGD). 23 Mengelompokkan suara peserta pelatihan dalam kategori kategori utama (primer), sekunder, dan tertier 24 Menyusun keinginan alumni peserta pelatihan ke dalam kolom keinginan (Perencanaan, Teknis Pelaksanaan Pelatihan, Evaluasi Pelatihan) 7. Bilik B - Perencanaan No Uraian Ada Tidak 25 Merancang objek pembelajaran 26 Persiapan pemateri menyajikan materi pembelajaran menggunakan media variatif: teks, audio, video maupun gabungan ketiganya 27 Persiapan pemateri menyajikan materi pembelajaran yang interaktif dan efektif 28 Interaksi pembelajaran antara peserta pelatihan dengan fasilitator dilaksanakan secara asinkronus dan sinkronus. 29 Menyiapkan (tersedianya) aplikasi untuk interaksi pembelajaran tatap maya sinkronus 30 Budgeting pelatihan jelas sumbernya (APBN, PNBP) 31 Aplikasi Analytical Hierarchy Process (AHP) sebagai tools management penilaian perencanaan Quality Assurance 10.6 Adanya need analysis pelatihan (ToR, Hasil Evaluasi Pasca Diklat) 10.7 Adanya data dan peta kekuatan/ kesiapan penyelenggara pelatihan (jumlah personil, MoT, ToF, kesiapan infrastruktur) 10.8 Menyiapkan desain manajemen pembelajaran (learning management system – LMS) 10.9 Perencanaan persiapan proses pelatihan (administrasi pembelajaran, perencanaan ketidakterdugaan (unexpected), PIC, persiapan sarana prasarana pelatihan) 10.10 Perencanaan Evaluasi pelatihan (external evaluation dan self evaluation) 8. Bilik C – Teknis Pelaksanaan No Uraian Ada Tidak 32 Tersedianya manajemen pelatihan dalam bentuk prosedur dan peraturan 33 Tersedianya prasarana dan sarana pelatihan : ruang kelas, buku, jurnal, internet, jaringan listrik yang memadai, laboratorium bahasa, K3 34 Ketercukupan finansial pelatihan
128 No Uraian Ada Tidak 35 Kecukupan Widyaiswara/ Instruktur/ fasilitator: kualifikasi, sertifikasi, rasio 36 Kecukupan penyelenggara pelatihan: kualifikasi, sertifikasi, keahlian tambahan 37 Pelaksanaan penerimaan peserta secara akuntabel : persyaratan peserta, rekrutmen peserta, layanan hak peserta 38 Kesesuaian materi pelatihan dengan Kurikulum yang dipersyaratkan (RBPMD dan RP) selama pembelajaran 39 Terpenuhi jam pelajaran asinkronus dan sinkronus 40 LMS terisi dengan variasi konten yang dipersyaratkan : Bahan Ajar, bahan Tayang, Kuis, Tugas 41 Sistem informasi yang memadai : Internet, kuota untuk peserta/penyelenggara/widyaiswara/fasilitator, ICT hardware /software 42 Kegiatan pelulusan peserta : jadwal seminar, jadwal ujian, sertifikat kelulusan, sidang kelulusan, panitia kelulusan, jadwal penutupan/pembukaan 9. Bilik D – Evaluasi Internal (self evaluation) No Uraian Ada Tidak 23 Pemenuhan standardisasi pendidikan (pelatihan) : standar lulusan (peserta pelatihan), standar tenaga pelatihan, standar prasarana dan sarana, standar pengelolaan, standar isi pembelajaran (pelatihan), standar proses pembelajaran (pelatihan), standar pembiayaan 22.14 Peserta pelatihan E Learning mengetahui tatacara E Learning 22.15 Peserta pelatihan memperoleh layanan pembelajaran E Learning 22.16 Peserta pelatihan merespon pembelajaran dengan baik materi dari pengampu pelatihan 22.17 Peserta pelatihan mendapatkan kepuasan pembelajaran E Learning dari panitia 22.18 Peserta pelatihan mendapatkan kepuasan pembelajaran E Learning dari pengampu mata pelatihan (Widyaiswara, Instruktur, Fasilitator) 22.19 Tenaga Widyaiswara, Instruktur, Fasilitator memenuhi persyaratan kepelatihan (kualifikasi, sertifikasi, pengalaman) 22.20 Panitia/ Penyelenggaran memenuhi persyaratan kepelatihan ( kualifikasi, sertifikasi, jumlah, kompetensi tambahan) 22.21 Prasarana pelatihan memadai (ruang kelas, ruang panitia, ruang laboratorium, ruang pantry dan ruang makan, ruang kesehatan, ruang PIC dan operator) 22.22 Sarana pelatihan memadai (internet, jaringan listrik, kuota, komputer, perangkat komunikasi digital, LMS) 22.23 Desain manajemen pembelajaran (learning management system – LMS) 22.10.12 Konten (Content Quality) memiliki Kebenaran (kejujuran) dan Akurasi
129 No Uraian Ada Tidak 22.10.13 Konten pembelajaran memiliki Keseimbangan presentasi dengan ide 22.10.14 Konten pembelajaran memiliki kesesuaian dengan detail yang disajikan. 22.10.15 Memotivasi peserta pelatihan untuk belajar 22.10.16 Keselarasan tujuan pembelajaran (Learning Goal Alignment) dengan asesmen yang disiapkan dan karakteristik peserta didik 22.10.17 Desain presentasi (Presentation Design) menarik 22.10.18 LMS memiliki tingkat kemudahan untuk dimanfaatkan ulang (Reusability) 22.10.19 LMS Sesuai standar (Standards Compliance) 22.10.20 LMS dikelola dengan baik melibatkan penanggung jawab dan PIC 22.10.21 Setiap kegiatan asinkronus dan sinkronus terjadwal dengan baik 22.10.22 Petugas dan Widyaiswara/fasilitator/instruktur terampil menggunakan sarana sinkronus dan asinkronus 22.24 Finasial pelatihan dikelola dengan baik (sesuai SPJ APBD, APBN, PNBP) 22.25 Akuntabilitas pengeluaran pembiayaan pelatihan 22.26 Pengendalian dan pengawasan penggunaan anggaran KETERANGAN (a) Kolom Ada dan tidak diisi 1 atau 0 (b) Setiap uraian pernyataan memiliki bobot nilai. Semua nomor untuk kolom Ada bobotnya 1, kolom tidak bobotnya 0 KECUALI Nomor 10.3; 22.10.1 – 22.1011 untuk kolom Ada bobotnya 2, kolom tidak bobotnya 0 (c) Semua jawaban direkap dan dijumlahkan nilainya A C B D QACorner
130 PORTOFOLIO 1. Nama : Dr. Asep Iwa Hidayat, S.Sos., M.Pd. 2. Jabatan : Widyaiswara Ahli Madya 3. NIP : 197301152008011012 4. Instansi : PPSDM Kemendagri Regional Bandung 5. Tempat/tanggal Lahir : Sumedang, 15 Januari 1973 6. Agama : Islam 7. Alamat Kantor : Jl. Sukajadi 185 Bandung
131 Jl. Kiarapayung KM 4,5 Jatinangor -Sumedang 8. Riwayat Pendidikan : a. Lulus SDN I DAM Garut, tahun 1986. b. Lulus SMPN 16 Bandung, tahun 1989. c. Lulus SMUN 10 Bandung, tahun 1992. d. Lulus D3 FISIP UNPAD Jur. Administrasi Keuangan Negara, tahun 1995. e. Lulus S1 STIA LAN RI Kampus Bandung, Program Administrasi Jurusan Manajemen Ekonomi Negara, tahun 1998. f. Lulus Program Pascasarjana (S-2) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Administrasi Pendidikan, tahun 2000. g. Lulus Program Doktor (S-3) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Administrasi Pendidikan, Tahun 2014. 9. Pengembangan Kompetensi yang pernah di ikuti NO. PENDIDIKAN NON FORMAL WAKTU KET. 1. Kursus Komputer LPK Kopma UNPAD tingkat operator Tahun 1993 Sertifikat Kursus Komputer Akuntansi dengan Dac Easy Accounting Tahun 1994 Sertifikat 2. Kursus Bahasa Inggris di LPK Progress Bandung Tahun 1995 Sertifikat 3. Pelatihan Bendaharawan (Brevet A) di Departemen Keuangan RI 3 April – 3 Mei 1995 Sertifikat 4. Pelatihan Akuntansi Usaha Kecil dan Koperasi di Pest. Daarut Tauhiid Bandung 25-26 Oktober 1997 Sertifikat 5 Seminar Sehari Peran Serta Iklum STIA LAN Bandung dalam Mendukung Implementasi Otonomi Daerah 9 April 2002 Sertifikat
132 6 Seminar Sehari Otonomi Daerah “Mewirausahakan Pemerintah Daerah Dalam Rangka meningkatkan PAD, PKDA LAN RI 4 Nopember 2002 Sertifikat 7 Penataran dan Lokakarya Dosen kewarganegaraan Ke-15 Se Jabar dan Banten 30-31 Desember 2002 Sertifikat 8 Diklat Perkoperasian Bagi Generasi Muda Se-Kota Bandung 13-17 Januari 2003 Sertifikat 9 Semiloka Pengembangan Karier dan Kesejahteraan Dosen PTS di Lingkungan Kopertis Wilayah IV Jabar Banten 23 Maret 2003 Sertifikat 10 Semiloka Penyusunan Konsep Acuan pembelajaran (silabi) Bidang ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan Kopertis Wilayah IV 26 Februari 2004 Sertifikat 11 Pentaloka Dosen Kewarganegaraan Se Jawa Barat dan Banten 20-21 Juni 2006 Sertifikat 12 Diklat Training officer Course (TOC) bagi Aparatur di Lingkungan Badan Diklat Depdagri dan Diklat Propinsi 18-22 Februari 2008 STTP 13 Diklat Manajemen Konflik 10-14 Maret 2008 STTP 14 Diklat Perancanaan dan Penganggaran APBN di Lingkungan Depdagri 24- 28 Maret 2008 STTP 15 Pelatihan Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris bagi Aparatur Depdagri (English for academic purpose) 31 Maret – 4 April 2008 Sertifikat 16 Diklat Penyusunan LAKIP 7 – 11 April 2008 STTP 17 Diklat POLDAGRI 14-18 April 2008 STTP 18 Workshop Multimedia sebagai sarana pembelajaran 21-25 April 2008 Sertifikat