46 “gimana ya jer, gue bingung mau ngedatea kayak gimana” bingung rajash sambil memikirkan cara. “nih gue ada saran” kata reygan sambil tersenyum. “apa?” jawab mereka serentak sambil menatap reygan dengan penuh harapan. “kan sebentar lagi prom, lo belum ada partner kan. Konsep ngedate lo, ngajakin sheila jadi partner buat prom nanti, gimana??” “NICE BANGET GAN!” spontan zidan dan jeremia. “tumben ya hari ini otak lo ada benernya, biasanya miring banget. Tapi makasih ya rey, nanti gue traktir pizza kalo ngedate gue berhasil” balas rajash. “oke, gue uah yakin banget cara gue bakal berhasil” Dan agenda hari ini adalah first date with sheila. Iya mereka berdua ngedate, untuk pertama kalinya. Kalau ditanya emangnya rajash udah sembuh? Jawaban nya pasti gini ‘ngeliat sheila aja gue langung sembuh’. Sore menjelang malam, rajash dengan kemeja birunya sudah siap menjemput sang bidadari untuk first date malam ini. Rajash juga sudah siap dengan bunga mawar putih yang sangat harum ini di terima oleh seorang anindya sheila swastamita. Begitu mendapat chat masuk dari sheila, bahwa perempuan itu sudah siap. Rajash pun berpamitan dengan sang bunda agar agenda rajash malam ini berjalan dengan lancar. “bun, rajash jalan dulu ya. Doain biar lancar” ucap rajash sambil mengedipkan matanya. Bunda hanya tertawa kecil, melihat putranya sedang dimabuk cinta masa remaja. “iya nak, semoga lancar ya”
47 “hehe makasih bun, aku jalan dulu ya” “iyaa, hati hati ya.” Rajash segera memanaskan mesin mobilnya dan hendak pergi menuju rumah sheila dengan perasaan yang sangat bahagia hari ini. Begitu sampai didepan rumah sheila, betapa terkejutnya dia, melihat bidadari cantik dengan dress biru tua yang sangat cocok untuknya. Entah harus berkata apa lagi rajash malam ini. Semua kata kata manis miliknya sudah tidak bisa dia keluarkan karna dirinya sangat terpaku dengan kecantikan sheila malam ini. “baru gue ajak ngedate, gimana kalau dia terima ajakan gue buat prom nanti.. bisa mati konyol gue” batin rajash. “you are absolulety perfect tonight” “lo juga jash” “lo juga, tampan malam ini” Malam ini bintang-bintang di angkasa menjadi saksi ats keberhsilan date mereka berdua malam ini. Rajash rasanya sangat dimabuk sheila malam ini, begitu sempurnanya sheila mengenakan dress dengan warna biru tua yang sangat cocok dengan kepribadiannya yang sangat lemah lembut. “intinya apa, rajash” “intinya, will you be my partner at prom?” “maaf, jash gue ngga bisa” seketika rajash merasa hancur, harapan nya datang ke prom dengan wanita yang sangat ia cintai tertolak begitu saja.. “nggak bisa nolak maksudnya” ucap sheila sambil tertawa karna sudah tidak tahan melihatwajah sedih rajash malam itu. Setelah malam itu, rajash menjadi orang paling bahagia setiap harinya. Mengingat kata kata sheila yang menerima ajakan pergi prom bersama membuat dirinya salting setengah mati. Dan tiba
48 saatnya acara prom malam ini. Rajash yang sudah siap dengan jas hitam nya, tidak lupa ia memakai parfum yang ia beli beberpa hari yang lalu, dengan rambut yang sangat rapih dan wajah yang angat bahagia, dan tidak sabar akan bertemu dengan sheila malam ini. Ia sudah membayangkan betapa cantiknya sheila mengenakan gaun putih untuk prom malam ini. Aish membayangkan saja sudah membuat rajash gila. Sesampainya di sekolah, ia disambut oleh teman-teman dekatnya tak lain adalah jeremi, zidan dan reygan. “boleh juga lo malem ini” ledek jeremia sambil merangkul rajash. “cie yang nanti prom sama sheila” wajah rajash memerah bak buah tomat. Untuk pertama kalinya teman-teman nya melihat rajash yang salting sampai pipinya merah begini. Acarapun dimulai tapi sampai sekarang rajash tak kunjung menemukan keberadaan sheila saat ini. Dan saat pesta dansa berlangsung ia juga tidak menemukan sheila, rajash reflek badmood malam ini, meskipun teman teman nya sudah mengajaknya untuk bersenang senang. Tapi tetap saja rajsh lebih memperioritaskan sheila malam ini. Tiba tiba saja seluruh lampu ruangan di aula mati total, terkecuali lampu sorot yang masih hidup dan menyorot daerah pintu masuk. Pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik yang tak lain itu adalah sheila, rajash tersenyum lalu mengajak sheila untuk berdandsa berdua malam ini. “halo manis, mau berdansa denganku?” ajak rajash dengan tawanya. “tentu tuan” begitu juga dengan sheila, dua duanya bisa mengimbangi satu sama lain. Malam ini semua pandangan
49 tertuju pada sheila dan rajash, betapa sempurnanya mereka berdua malam ini. Dan seisi ruangan pun dipenuhi oleh tepuk tangan untuk mereka berdua. “sayang sekali kita sudah tiba di penghujung acara, sedih rasanya setelah ini kita akan berpisah” ucap MC sambil melanjutkan acara malam itu. “tapi tenang aja, kita masih ada 1 penampil lagi. Dan penampil ini yang kalian tunggu tunggu banget loh. Langung kita panggil aja kali ya, ini dia.. rajash!!” suara tepuk tangan yang sangat mengelegar diseluruh ruangan aula SMA Mandala. Rajash menaiki panggung dengan sebuah gitar yang ia genggam. Malam ini adalah puncaknya rajash, dimana ia akan mengungkapkan perasaan nya malam ini. “selamat malam semua, perkenalkan gue rajash. Pertama tama gue mau berterimakasih sama panitia karna udah bolehin gue buat tampil malam ini. Sebelumnya gue mau cerita, gue itu punya temen perempuan, dia itu cantik banget. Bukan cuma cantik, dia juga baik. Bahkan bunda gue sendiri aja ngasih lampu ijo ke gue sama dia. Kita sempet pisah, tapi akhirnya kita ketemu lagi, dan gue bersyukur banget bisa kenal sama dia. Anindya sheila swastamita, makasih udah hadir dalam hidup gue, dan gue nyanyiin ini buat lo” Rajash memainkan gitarnya dengan sangat santai, suaranya juga tidak kalah merdunya dari suara gitarnya malam ini. Her laugh you’d die for, her laugh you’d die for The kind that colors the sky Heart intangible, slips away faster And he’s got swirls of passion in at nigth
50 As much and hard as he tries to hide I can see Rigth to hide, see right through Rajash memejamkan matanya pelan.. Oh.. why can’t we for once Say what we want, say what we feel? Oh, why can’t you for once Disregard the world and run to what you know is real.. Take a chance with me.. Take a chance with me.. Sampai di ujung lagu, kata kata terakhir dari rajash malam itu. “sheila, take a chance with me..” seluruh ruangan rasanya seperti dikuasai oleh rajash malam ini. Semua tamu undangan serentak teriak, ‘ terima!” ”yes, I want to take a chance with you”
51 Pertemuan Kembali Gading Sihol Yobel Simanjuntak Bulan purnama menyinari pantai pasir putih dengan sinarnya yang lembut, menciptakan jejak berkilau di atas ombak. Di tepi pantai, Syifa duduk sendirian di bawah pohon kelapa, melihat ke kejauhan. Hembusan angin sepoi-sepoi menyentuh rambut cokelatnya yang berkibar. Syifa telah menghabiskan berbulan-bulan di pulau kecil ini, menjalani penelitian tentang kehidupan di laut. Dia tumbuh di pantai dan memiliki ketertarikan yang mendalam tentang lautan. Namun, di balik senyumnya yang selalu ceria, ada rasa sepi yang tidak terkendali. Syifa selalu merindukan masa lalunya, masa di mana dia pernah merasa cinta sejati. Suatu malam, saat Syifa sedang duduk di tepi pantai, suara gitar menggema di malam yang sunyi. Di kejauhan, dia melihat bayangan seorang pria memetik senar gitarnya di bawah pohon kelapa. Itu adalah melodi yang dulu dikenali Syifa. Dengan langkah hati-hati, dia mendekati musisi misterius itu. Bayangan itu berhenti memetik gitarnya dan mendongak. Syifa menangkap sorot mata yang penuh kejutan. Pria itu adalah Stefan, cinta pertamanya yang menghilang begitu lama. "Andre? Apakah benar itu kamu?" seru Syifa, suaranya dipenuhi oleh perasaan campur aduk.
52 Andre tersenyum dan bangkit berdiri. "Syifa, benar sekali. Aku tidak pernah berhenti berpikir tentangmu sejak kita terakhir bertemu." Kemudian, mereka duduk di bawah pohon kelapa dan berbagi cerita tentang hidup masing-masing selama bertahun-tahun mereka berpisah. Syifa mengungkapkan bahwa dia di sini untuk meneliti tentang kehidupan di laut dan dia juga mengungkapkan betapa ia selalu merindukan cinta mereka. Andre menjelaskan bagaimana hidup telah membawanya pada perjalanan yang tak terduga. Awal mula perpisahan mereka dimulai dari Andre yang harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa Ayahnya, sosok panutannya, harus meninggalkannya di dunia yang suram ini diumur 20 tahun. Umur-umur di mana Andre membutuhkan orang terdekatnya untuk mendukungnya. Ia adalah anak tunggal, dan Ibunya sudah meninggalkan rumah dari umurnya masih 5 tahun. Jadi, Andre harus menumpang di rumah tantenya. Hal ini membuat Andre merasa tidak berguna dan takut kalau masalahnya akan membuat hubungannya dengan Syifa tambah buruk. Akhirnya, dia menghilang tanpa aba-aba. Andre sekarang dapat menceritakannya dengan senyuman. Walau jika diingat-ingat memang menyakitkan. Di pulau kecil ini, Andre berencana untuk rehat dari dunia luar dan fokus pada dirinya. Dan tak disangka, bertemu dengan Syifa adalah pertemuan yang menenangkan.
53 Syifa senang. Senang melihat Andre yang sekarang lebih menyayangi dan menghargai hidupnya. Namun, sesaat ia mengingat bahwa besok ia harus pulang, senyumnya memudar. “Andre, aku sangat senang melihatmu di sini. Aku juga sangat senang melihat kamu bisa senyum dengan bebas sekarang.” “Tapi, besok aku harus pulang,” ucap Syifa dengan suara lebih kecil. “Kamu mau ke mana, Syif?” tanya Andre. “Aku harus pulang ke Bandung, ya mengurusi beberapa hal tentang analisisku ini,” jawab Syifa dengan mata memandang ke laut. “Kamu melalukan hal yang baik, Syif.” “Aku mendukungmu,” ucapan tertulus yang pernah dikatakan Andre. Syifa tersenyum. Namun, sayang sekali untuk meninggalkan cinta pertamanya dengan begitu saja. Syifa tidak mau meninggalkan Andre. Memikirkan bahwa akan hilang kontak untuk kedua kalinya membuatnya meragukan keputusannya untuk pulang besok. “Aku boleh minta nomor teleponmu?” tanya Andre. “Boleh!” jawab Syifa dengan semangat.
54 Mereka bertukar nomor telepon dan Syifa berpamitan. Ini adalah hari di mana Syifa akan terbang kembali ke bandung. Hatinya masih tidak rela meninggalkan Andre. Saat Syifa sudah memantapkan hatinya, tiba-tiba ada yang memanggilnya. “Syifa!” teriak Andre. Andre lari menghampiri Syifa. Syifa hanya terdiam melihat Andre menghampiri dirinya. Lalu, Andre memeluk Syifa. Memeluk erat dan tak bersuara hingga tiga pulu detik berlalu. “Kamu hati-hati. Semangat dan selamat untuk kerjaan kamu yang sekarang. Aku mau kamu tahu kalau aku selalu dukung kamu, apapun itu,” ungkap Andre tulus. “Terima kasih, Andre. Kamu juga semangat dan istirahat ya. Aku akan selalu merindukanmu,” balas Syifa. Mereka akhirnya meninggalkan satu sama lain. Syifa meneruskan pekerjaannya dan Andre menemukan dirinya. Sudah tiga bulan berlalu, tidak ada satu pun notifikasi dari Andre. Selama tiga bulan itu, jujur Syifa menunggu. Namun, ia mencoba mengerti bahwa sekarang Andre sedang istirahat. Istirahat sepenuhnya. Suatu hari, di ponsel Syifa terdapat notifikasi dari seorang anonim. Seseorang itu berkomentar di jurnal yang dibuat Syifa mengenai ‘Pola Hidup Beroriesntasi Laut’ dengan “Akhirnya
55 ketemu, aku sudah cukup beristirahat. Ayo kita bertemu.” Syifa langsung tahu siapa orang itu. Dan langsung menjawab, “Aku tunggu kamu di tempat kita bertemu pertama kali.” Di sebuah toko roti, Syifa sudah menunggu kehadiran sosok yang sangat ia tunggu-tunggu. Sepuluh menit sudah berlalu, dia berpikir, “Apakah Andre lupa tempat mereka pertama kali bertemu?” Memang sudah lewat tujuh tahun sejak mereka bertemu. Suara lonceng pintu berbunyi. Sosok yang Syifa tunggu-tunggu akhirnya datang. Mereka berpelukan. Tujuh tahun penantian tidak sia-sia. Mereka belajar waktu mereka berpisah adalah waktu dimana mereka tumbuh dengan caranya masing-masing. Mereka bertemu di waktu yang tepat. Sekarang, mereka siap menerima segalanya dengan apa adanya.
56 Awal dari Kehidupan Amara Hana Aprilia Kurniawan Amara, anak tunggal perempuan yang terlahir dari keluarga utuh dan berkecukupan. Salah satu kelebihan itu berubah menjadi kekurangan saat Amara tahu bahwa orang tuanya sudah “berpisah” Orang tua Amara selalu berpikir Amara tidak tahu bahwa mereka sudah tidak saling menyayangi karena mereka memutuskan untuk tetap mempertahankan rumah tangga mereka demi Amara. Selama ini kedua orang tua Amara selalu terlihat baik-baik saja dan terlihat masih saling menyayangi di depan Amara, mereka berdua menutupi kebenarannya kepada Amara. Mereka tidak ingin Amara mengetahuinya karena mereka takut bahwa kebenaran itu akan membuat Amara sedih. Orang tua Amara paling sering bertengkar pada saat Amara tidur, mereka pikir saat itulah waktu yang tepat untuk bertengkar karena Amara tidak akan mengetahuinya. Padahal Amara beberapa kali melihat dan mendengar langsung pertengkaran mereka. Pertama kali Amara melihat dan mendengar langsung pertengkaran orang tuanya, Amara berpikir itu hanya perdebatan biasa, namun setelah itu Amara menjadi lumayan sering melihat dan mendengarkan pertengkaran orang tuanya.
57 Flashback On “Jujur aku capek kalau kita harus selalu berpura-pura baik-baik saja di depan Amara, Amara sudah besar. Dia pasti mengerti keputusan kita,” tegas Ibu Amara dengan nafas memburu. “Aku tidak bisa, Ran. Aku tidak tega jika Amara harus mengetahui kita ini sudah tidak saling cinta. Biarkan kita tetap seperti ini dulu, kau urus urusanmu akupun mengurus urusanku sendiri dan urusan Amara kita urus bersama,” jawab Ayah Amara. “Baiklah jika itu keinginanmu, tapi aku mau jika suatu saat Amara mengetahui kebenaran ini. Kita harus jujur kepadanya dan segera mengambil keputusan,” tegas kembali Ibu Amara. Tanpa mereka mengetahui, Amara mendengarkan percakapan itu. Sejak saat itulah Amara mengetahui bahwa orang tuanya telah “berpisah.” Amara memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu atas kebenaran tersebut karena ia bingung bagaimana cara membicarakannya kepada kedua orang tuanya dan Amara pun belum siap jika harus kehilangan kedua orang tuanya. Flashback off Kringgggggg…… “Dikarenakan bapak dan ibu guru akan melaksanakan rapat. Kalian sudah diizinkan untuk pulang ke rumah masing-masing ya.” Guru Amara
58 “Asiiiiik. Baik, Bu.” Dreeeet Dreeeet…… “Aduh…. Ko ayah tidak menjawab teleponku yaa,” Amara terheran Amara sudah menelpon ayahnya 7 kali, namun tetap tidak ada jawaban dari ayahnya. “Aku pulang naik ojek aja deh,” putus Amara Amara turun dari motor lalu menuju ke depan pintu rumahnya dengan wajah senang karena ia pulang lebih awal. Ekspresinya berubah ketika ia mendengar suara teriakan ibunya dari luar rumah. Amara berhenti sejenak di depan pintu untuk mendengarkan apa yang ibunya katakan. “Kalau Amara melihat kamu sama perempuan itu gimana? Kan kamu yang memutuskan untuk menyembunyikan ini semua dari Amara,” pekik ibu Amara. “Tidak mungkinlah, Amara sedang sekolah lagipula aku dan dia hanya membeli keperluan untuk di kantor,” selak ayah Amara. Sebelum mendengar orang tuanya melanjutkan perdebatan mereka, Amara segera membuka pintu rumahnya karena ia berpikir mungkin ini waktu yang tepat untuk membuat kedua orang tuanya jujur, lagipula ia sudah siap jika orang tuanya
59 bercerai karena setelah ia pikirkan keadaan seperti ini hanya membuat kedua orang tuanya tersakiti. Sreeeet…. Orang tua Amara langsung menengok dan terkejut saat melihat ternyata Amaralah yang membuka pintu rumah mereka. Suasana pun menjadi hening. Kedua orang tua Amara hanya menatap Amara dengan ekspresi kebingungan. Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran orang tua Amara. Akhirnya ayah Amara memberi pertanyaan untuk memecahkan keheningan itu. “Eh, kamu sudah pulang, Nak? Kok tidak minta jemput sama Ayah?” tanya ayah Amara Amara menjawab, “Sudah, Yah. Hari ini guru sedang rapat jadi aku dihimbau untuk pulang lebih cepat. Aku sudah menelepon Ayah berulang kali tapi Ayah tidak menjawabnya.” Ayah Amarapun langsung mengeluarkan hp miliknya pada kantong celana yang ia pakai untuk memastikan perkataan Amara. Ternyata benar, ada 7 panggilan tak terjawab dari Amara. “Maaf, Nak, hp ayah sedang di silent,” ungkap ayah Amara
60 Amara pun tidak menjawab tapi ia berjalan maju dan duduk diantara kedua orang tuanya. Amara menarik nafas panjang untuk menguatkan dirinya sendiri agar bisa memulai pembicaraan kembali. “Ayah, Ibu. Amara mau jujur. Selama ini Amara mengetahui kalau Ayah dan Ibu masih bersama hanya karena Amara. Sejujurnya Amara sedih sekali saat tahu kenyataan itu, tapi Amara lebih sedih kalau Ayah dan Ibu tidak hidup bahagia,” ucap Amara sambil menangis Mendengar perkataan Amara mata orang tua Amara mulai berkaca-kaca lalu bergeser lebih dekat kearah Amara. Amara melanjutkan perkataanya, “Yah, Bu. Amara tidak apaapa jika Ayah dan Ibu bercerai daripada harus bertahan tapi tidak hidup bahagia. Amara mohon jangan menyakiti diri kalian sendiri hanya untuk Amara. Amara merasa bersalah, maafkan Amara yang belum bisa menjadi dewasa ya, Yah, Bu.” “Ini semua bukan salah kamu ataupun Ibu, Amara. Ini semua salah Ayah, Ayah yang meminta Ibu untuk menutupi ini semua padahal Ayah tahu kalau anak Ayah pasti berpikir dewasa,” sesal ayah Amara. “Maafin Ayah dan Ibu ya, Amara karena Ayah dan Ibu kamu harus punya beban pikiran. Setelah ini Ibu janji gaakan sembunyiin apapun lagi dari Amara, Ibu janji akan minta pendapat Amara tentang keputusan yang akan Ibu buat, dan Ibu janji akan membicarakan masalah ini dengan Ayah.
61 Bagaimanapun keputusan Ibu dan Ayah, Amara harus tau kalau Ibu dan Ayah sayang sekali dengan Amara,” lirih Ibu Amara. Air mata mereka pun tambah deras. Ayah dan Ibu Amara pun langsung membawa Amara ke dalam dekapan mereka. Mereka pun menyalurkan kesedihan dan rasa penyesalan mereka dalam dekapan itu. Malam itu, sebelum kedua orang tua Amara tertidur, “Maafin aku ya, Ran. Karena permintaanku yang bodoh itu jadi ngebuat Amara lebih sedih. Sebenarnya aku minta itu karena aku belum siap bercerai dengan kamu, tapi sekarang Aku sudah siap jika kamu sudah mau pisah denganku. Maafin aku karena permintaanku ini buat kamu tersakiti dan tidak bahagia,” ucap Ayah Amara dengan penuh penyesalan. “Sudah aku maafkan, Ji. Maafin aku juga kalau selama ini banyak kurangnya. Mungkin bercerai adalah satu-satunya jalan agar kita berdua menjadi lebih bahagia,” ungkap Ibu Amara. Di sisi lain, Amara tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Padahal, ia siap apapun keputusan kedua orang tuanya. Keesokan harinya, orang tua Amara pun memutuskan untuk memberitahu Amara atas keputusan mereka berdua. Amara pun tidak apa-apa dengan keputusan orang tuanya karena Amara tahu bahwa keputusan itulah yang terbaik untuk keluarganya saat ini.
62 Dia Yang Ku Benci Harnishel Kaur Hallo, semuanya aku Seema perempuan belasteran India yang dikenal dan biasanya dipanggil dengan nama Ema atau Ima. Aku adalan seorang mahasiswa disalah satu jurusan yang ada di Universitas Gajah Mada (UGM) yang sangat terkenal di Indonesia. Aku memiliki tubuh yang tinggi dengan ukuran badan yang langsing, kulit putih, hidung yang mancung, mata yang besar dengan bulu mata yang lentik. Aku memiliki 2 teman bernama Heersha dan Aafreen, aku juga sering menghabiskan waktu bersama mereka bertiga. Mereka adalah teman-teman yang paling mendukung dan mengerti aku. Selain itu mereka yang selalu menemani dan juga selalu ada saat aku butuh mereka untuk bercerita tentang masalah yang sedang aku hadapi. Aku bercerita kepada mereka kalau sekarang ini aku sedang mencintai seorang lelaki yang dulu ku benci. Dia sama dengan aku yaitu lelaki belasteran India yang memiliki ciri tubuh tinggi dan kekar, kulit hitam manis, dengan hidung yang mancung, mata yang besar dengan bulu mata yang juga lentik. Aku membencinya saat ia masih kecil, karena dia sangat bandel, jail, dan pecicilan jadi aku benci banget sama dia. Tapi, walaupun dia bandel saat masih kecil ada saatnya dia juga memiliki sisi baik yaitu saat dia mau membantu orang yang kesusahan atau pun perlu bantuan. Posisinya sekarang aku sangat bingung, kenapa aku malah bisa amat sangat suka sama orang yang dulunya pernah ku benci.
63 Kejadian utama yang membuatku bisa bertemu dan sampai bisa aku jadi sangat menyukainya. Aku dan lelaki yang dulu aku benci memiliki pertemuan yang tidak terduga di kampus. Awalnya aku tak mengenalinya dan aku juga gak nyangka kalau kami berdua itu satu kampus tapi berbeda jurusan. Kami dipertemukan dalam proyek kuliah karena kami ada didalam satu organisasi yang sama, yang membuat kami sampai harus bekerja bersama. Awalnya, aku sangat enggan, tetapi seiring berjalannya waktu, kami mulai mendekat satu sama lain. Walaupun, itu demi proyek kampus yang sedang kami jalankan bersama. Ketika aku dan dia terus bekerja bersama dalam proyek kuliah, pertemuan-pertemuan kami jadi semakin lebih sering. Kami mencoba mulai mengenal satu sama lain lebih dalam, berbicara tentang mimpi, cita-cita, dan pengalaman hidup bersama. Aku menyadari bahwa di balik sikap bandelnya, dia itu memiliki kepribadian yang menarik dan sisi baik yang kuat dan aku sangat menyukai itu. Ini semakin membingungkan untuk ku. Selama perjalanan kami membuat proyek itu, kami selalu menghadapi berbagai rintangan dalam proyek kuliah itu, tetapi kami juga menemukan dukungan bersama. Hubungan ini yang membuat kami menjadi semakin dekat, dan kami berdua merasa seperti memiliki kecocokan yang mendalam. Aku merasa cinta yang tumbuh di dalam diriku ini begitu kuat, tetapi aku juga takut untuk membuka hatiku sepenuhnya setelah pernah merasakan benci yang mendalam terhadapnya. Aku yang mencoba untuk selalu merenungkan pro dan kontra, dan merenungkan apakah dia bersedia memberikan cinta yang sama seperti yang sedang aku rasakan.
64 Aku menceritakan semua yang terjadi kepada kedua teman ku biasanya ditempat yang rahasia atau hanya kami bertiga seperti ditaman belakang kampus ataupun dirumah persembunyian yang kami punya. Mereka mendengarkan ceritaku dengan penuh perhatian dan memberikan nasihat bijak. Heersha selalu berbicara tentang mendengarkan hati, sementara Aafreen lebih pragmatis atau cenderung berfikir praktis, sempit dan instant. Kehadiran mereka membuatku merasa lebih yakin, namun tetap bingung dengan perasaanku yang terus berkembang terhadap lelaki tersebut. Dengan dukungan teman-temanku, aku berusaha mencari jawaban atas pertanyaan dalam hatiku, mencoba memahami perasaanku yang begitu kompleks. Tetapi, pertentangan batin ini membuat hidupku semakin rumit. Seiring berjalannya waktu, Ema dan lelaki tersebut semakin terlibat dalam proyek kuliah mereka. Mereka menghadapi rintangan yang mungkin menghentikan mereka, tetapi setiap rintangan itu membuat mereka semakin kuat bersama. Malam-malam di perpustakaan yang dipenuhi diskusi dan kerja keras menjadi saksi perasaan yang tumbuh di antara mereka. Namun, Ema masih merasa terpecah. Ketika proyek kuliah mencapai puncaknya, Ema dan lelaki tersebut merasa semakin dekat. Proyek ini telah menjadi bagian dari perjalanan mereka, menciptakan ikatan yang kuat antara mereka berdua. Namun, aku masih belum yakin dengan apa yang harus dilakukan dengan perasaanku yang begitu kuat. Malam sebelum presentasi terakhir proyek, kami duduk bersama diperpustakaan, menyelesaikan detail terakhir. Mata mereka bertemu, di antara keheningan, mereka merasakan kehangatan emosi tidak dapat diabaikan. Saat itu, kami tahu bahwa harus menghadapi
65 kebenaran tentang perasaan kami satu sama lain. Pada akhirnya mereka saling mengungkapkan tentang perasaan yang ada dalam lubuk hati selama ini. Setelah kami mengungkapkan perasaan satu sama lain, kami berdua mungkin sadar bahwa meskipun perasaan cinta tumbuh, masih ada banyak rintangan yang menghadang. Kami bisa mencapai pemahaman bersama bahwa saat ini bukan waktu yang tepat atau bahwa hubungan ini bisa saja akan menghadapi tantangan yang lebih sulit dari yang sudah kami alami. Aku dan dia tetep dekat dan memberi senyum hangat kalau bertemu layaknya teman sejati dan juga bisa dipercaya dalam segala hal untuk profesionalisme. Kami juga berjanji bahwa akhir dari semua ini adalah pembelajaran yang tepat untuk perjalanan yang sudah dilewati bersama. Dari semua perasaan cinta tapi, yang ini adalah kisah cinta yang terbaik yang pernah ada dan yang pernah ku alami dalam hidup. Walaupun, awalnya sangat sakittapi lama kelamaan aku mulai bisa menerima keputusan yang kita ambil. Jika takdir memang mendukung, kami bisa saja dipertemukan kembali di kehidupan selanjutnya.
66 Bukan Hanya Aku Isma Alifah Menjadi orang dewasa adalah impian seorang anak kecil yang hanya tahu seberapa menyenangkan hidup tanpa bergantung dengan orang lain. Ternyata, menjadi orang dewasa tidak semudah pikiranku kala itu. Tidak terasa tahun begitu cepat berganti, sampai-sampai aku tidak menyadari usiaku di tahun ini. Begitu banyak hal-hal yang telah ku lewatkan di tahun-tahun sebelumnya. Oh, aku lupa untuk memperkenalkan diri terlebih dulu, namaku Isma Alifah. Tidak terasa saat ini usiaku telah memasuki tahun ke 17 . Hari ini, aku sedang menduduki salah satu bangku yang berada di kelas 11. Ya, benar sekali, aku sudah memasuki jenjang SMA. Aku menuntut ilmu di salah satu SMA Negeri terkenal di Jakarta, yaitu SMA Negeri 68 Jakarta. Mungkin orang-orang sudah tidak asing lagi dengan nama itu. Awalnya aku tidak menyangka akan masuk ke salah satu SMA favorit di Jakarta. Kedua orang tuaku akan mendukung apapun pilihan ku, sekiranya itu baik untuk diriku dan tidak menyusahkan orang lain. Mereka juga mengingatkan ku untuk selalu bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan. Kali pertama aku masuk dan belajar di sekolah ini, aku tidak mengerti dengan cara belajar yang berlaku di sekolah ku saat itu. Merasa seakan dituntut harus mengerti dengan alur yang berbeda dari sekolah sebelumnya. Aku mencoba untuk bisa beradaptasi dengan kondisi ku. Sampai pada akhirnya, aku bisa melewati semua dengan usahaku. Kini hampir 3 semester
67 lamanya aku belajar di sekolah ini. Jadi, hal-hal yang membuatku merasa berat seakan sudah terbiasa dengan adanya. Ada kalanya, dimana... Aku merasa sangat lelah setelah seharian beraktivitas tanpa henti di sekolah. Bertemu dengan banyaknya tugas dan berbagai mata pelajaran yang berbeda. Pastinya, hal ini tidak hanya dirasakan oleh diriku saja, mungkin teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Bahkan, orang yang pintar sekalipun akan merasa lelah setelah mengeluarkan energi dan pikirannya. Ya, meskipun aku tahu, sekolah tidak hanya tentang belajar atau mengajar. Di sekolah aku juga bertemu dengan teman-teman untuk berbagi cerita sambil tertawa. Bel sekolah sudah berbunyi sedari tadi. Aku yang hendak pulang ke rumah dengan raut wajah yang lelah, berusaha mengumpulkan sedikit semangatku untuk berjalan pulang. Saat sedang berjalan di koridor dan melewati beberapa kelas lainnya, teman-teman yang berbeda kelas denganku menyapa, “Ismaaa! Tumben baru pulang, biasanya sebelum bel udah pulang duluan.” Aku yang merasa terpanggil menoleh ke arah sumber suara dengan berkata, “Iya, baru selesai ngerjain tugas". Pembicaraan selesai dan aku melanjutkan jalanku dengan menuruni anak tangga. Sesampainya di rumah, ada Mamah ku yang sedang berdagang di depan rumah, “Ehh, perawan ku sudah pulang”, katanya dengan senyum yang lebar.
68 Hal itu pastinya membuat senyumku ikut melebar. Siapa yang tidak senang, setelah melewati hari yang melelahkan dan disebut dengan senyum yang manis dari manusia yang kita cintai? Jika ada, mungkin hati manusia itu sudah mati. Aku sudah berbaring di kamar beberapa saat yang lalu. Namun, anehnya aku tidak bisa memejamkan mata hanya untuk beristirahat sejenak. Tetapi, yang aku rasakan hanya lelah yang tak kunjung mereda. Aku memutuskan untuk keluar kamar dan mendapati sesosok pria yang sedang duduk dengan kopi hitam di sampingnya. Ya, itu adalah Bapak ku. Aku anak kedua dari empat bersaudara dan aku adalah anak perempua satu-satunya. Bisa dibilang aku sangat dekat dengan Bapak. Kita sering berbagi cerita dan tertawa bersama. Tapi, bukan berarti aku tidak dekat dengan Mamah. Aku hanya lebih sering berbagai cerita dengan Bapak. Matahari sudah berganti dengan bulan, itu tandanya malam sudah tiba. Aku ikut duduk bersama Bapak ku, dan ingin menceritakan rasa lelahku hari ini. Aku mengeluarkan semua keluhan di hadapan Bapak, “Huuuaaa, de cape, tugasnya banyak banget. Satu belom selesai malah dapet tugas lagi.” Kata ku dengan mata yang berkacakaca. Bapak hanya mendengarkan semua keluhan ku, dia menunggu sampai aku diam. “Emang yang cape lo doang?, gak usah banyak ngeluh. Kalo cape dan ngeluh terus, lo mau berhenti sekolah? Temen kelas lo
69 juga dapet tugas yang sama kan?” Kata Bapak ku, yang saat ini terlihat serius. Aku menanggapinya dengan anggukan kepala, yang mengartikan kata, “Ya”. Bapak melanjutkan perkataannya, “Nikmatin aje, namanye juga belajar pasti cape. Lo seharusnye bersyukur masih bisa sekolah dan belajar.” Setelah mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh Bapak, aku pikir ada benarnya juga. Dari perkataan Bapak ku tadi, Aku banyak mengambil pelajaran, bahwa kita harus lebih banyak bersyukur dan ikhlas dengan apa yang telah menjadi jalannya. Kata-kata itu sangat memotivasi ku dan selalu teringat di dalam benak ku.
70 Hujan di hatiku Keisya Anggraeni Gendhis yang menyukai hujan terus memandangi pemandangan di luar jendela kamarnya. Setiap tetes air hujan turun dengan lembut, menari di dedaunan dan mengalir menyusuri jalanan yang sepi. Dia merasa ada sesuatu yang ajaib pada hujan itu. Setiap kali hujan turun, dunia di sekitarnya seakan berubah. Suasana menjadi lebih sejuk, udara segar dan aroma tanah lembab memenuhi udara. Bagi Gendhis, hujan adalah momen terindah dalam hidupnya. Meskipun usianya masih muda, Gendhis sudah memiliki pandangan yang unik tentang hujan. Ghendis adalah seorang remaja putri yang berhati lembut dan penuh empati. Sifat lembut dan penuh empati semakin memperkuat ikatan antara dirinya dan alam. Dia selalu merasa terhubung dengan alam, dan hujan adalah salah satu cara alam berbicara kepadanya. Setiap kali turun hujan, Ghendis merasakan hatinya penuh kedamaian dan ketenangan. Ia merasa hidupnya menjadi lebih berwarna. Hujan juga memiliki arti khusus bagi Ghendis. Saat ia masih kecil, ibunya sering membacakannya cerita tentang hujan. Kata ibunya, hujan adalah cara alam menunjukkan rasa cintanya pada dunia. Setiap tetes hujan adalah cinta yang jatuh dari langit. Ghendis merasa bahwa hujan adalah cara Tuhan mengingatkan manusia akan keindahan dan anugerah kehidupan.
71 Suatu hari, Ghendis memutuskan untuk pergi keluar dan melihat hujan lebih dekat. Dia membawa jas hujan dan payung kecil. Langkahnya lambat di jalan basah. Tetesan air hujan menerpa wajahnya, memberinya perasaan sejuk dan menyegarkan. Ghendis merasakan bagian dari hujan. Saat Ghendis sedang berjalan, dia melihat seorang anak kecil berlarian di sekitar taman. Seorang anak tertawa dan bermain di genangan air. Ghendis tersenyum saat melihatnya. Dia teringat masa kecilnya, saat dia juga bermain di tengah hujan lebat. Hujan membawa kenangan manis dalam hidupnya. Hujan juga mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan hati Ghendis. Ketika dia merasa sedih atau kesepian, dia pergi ke taman dan berdiri di tengah hujan. Ia merasakan rintik hujan menyentuh wajahnya, menghapus air mata dan rasa sakit di hatinya. Hujan memberinya kekuatan untuk melanjutkan hidup dan melihat harapan di tengah kegelapan. Namun tidak semua orang mengerti kenapa Ghendis begitu terobsesi dengan hujan. Beberapa teman dan keluarganya menganggap itu aneh. Mereka tidak mengerti bagaimana pengaruh hujan terhadap Ghendis. Tapi Ghendis tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan. Baginya hujan adalah sahabat setia. Hujan adalah sumber kekuatan dan inspirasinya. Hujan terus menjadi bagian penting dalam kehidupan Ghendis. Ia sering menulis puisi tentang hujan, menggambarkan keindahan dan maknanya.
72 Puisi-puisi Ghendis tentang hujan seringkali memukau pembacanya dengan keindahan kata-katanya. Ia juga kerap memotret hujan, mencoba mengabadikan momen ajaib saat tetesan air hujan jatuh dari langit. Bagi Ghendis, hujan adalah keindahan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hujan adalah harapan di tengah kegelapan, cinta yang jatuh dari langit dan kekuatan untuk hidup. Hujan adalah cerminan hatinya yang lembut dan penuh empati. Di penghujung hari, Ghendis kembali ke kamarnya. Dia melepas jas hujannya yang basah dan duduk di depan jendela. Tetesan air hujan terus membasahi tanaman, mengairi bumi dan memberi kehidupan pada segalanya. Ghendis bersyukur atas kehadiran hujan dalam hidupnya yang telah mengajarinya kesadaran lebih dalam akan alam, cinta, dan harapan. Ghendis akan selalu menjadi sahabat hujan dan kisah cintanya dengan unsur alam ini tidak akan pernah berakhir
73 Badai Di Rumah Yang Tidak Pernah Berhenti Lovyen Rebekecya Ayah dan ibu. Kedua orang yang melahirkan kita. Kedua orang yang merawati dan membesarkan kita. Kedua orang yang mengasihi kita dengan kasih sayang yang tidak terbatas. Kedua orang yang mengajarkan ke kita cara bertumbuh menjadi pribadi yang baik. Kedua orang yang selalu ada buat kita. Ini merupakan jawaban teman-temanku saat ibu guru menyuruh kita untuk memberikan arti ayah dan ibu bagi kita. Aku iri dengan teman-temanku. Aku iri dengan jawaban mereka. Aku iri dengan betapa besar senyum mereka ketika sedang menjelaskan tentang ayah dan ibu mereka. Seandainya aku bisa merasa yang sama dengan mereka. Seandainya aku bisa merasa kedamaian rumahku ketika orang tuaku tidak bertengkar. Diberi perhatian, diberi kasih sayang yang mungkin aku tidak akan bisa rasakan lagi. Ketika aku coba mengingat terakhir kali ayah dan ibu bisa memberikan aku kasih sayang, semuanya merupakan sebuah blur bagiku. “Wilson? Bagaimana dengan jawabanmu? Halo, Wilson? Kamu tidak apa-apa?” ibu guru tanya kepadaku. “H-hah, oh iya maaf bu, lagi kurang konsen,” ku jawab. “Haha tumben Wilson tidak fokus, biasanya kamu yang paling perhatiin materi. Ya sudah tidak apa-apa, ayo sharing jawabanmu kepada teman-teman” jawab bu guru.
74 “Oh iya, baik bu.” Hatiku berdebar. Seluruh kelas mulai melihat kepada arahku. Semua menunggu jawabanku. Aku menjawab, “Ayah dan ibu adalah kedua orang yang membuatku pintar.” Semua orang terlihat bingung. “Kok jawabannya tentang kepintarannya sih?” kata mereka. Seperti mereka tidak menduga bahwa aku akan menjawab itu. Ibu guru pun terlihat bingung. Dalam seumur hidupku, ini pertama kali aku ingin kabur dari kelas dan lari dari semua tatapan teman-temanku yang terlihat terganggu dengan jawabanku. Tolong jangan lihat ke aku. Kenapa aku menjawab itu? Tapi jawaban apa lagi yang aku bisa katakan jika bukan jawaban yang buruk? Aku seharusnya tahu bahwa tanggapan temanteman akan seperti ini. Nafasku mulai tidak teratur. Terasa seperti aku akan tenggalam dalam semua tatapan yang di kelas ini. “Wah, jawaban Wilson ini sangat diluar ekspektasi, tapi juga sangat keren, tidak heran Wilson sangat pintar ya anak-anak?” bu guru menjawab. Fokus teman-temanku sekarang terhadap beliau. Syukurlah, mereka tidak menatapkan aku lagi. “Haha, mungkin kali ya bu” ku menjawab ibu guru. Mulai dari sekarang, aku tidak akan bicara tentang orangtua aku lagi. Tidak akan terulangi lagi. Tibalah waktu pulang sekolah, dan aku sedang membereskan bukuku. “Besok PR kita apa saja ya, Wilson?” tanya salah satu teman sekelasku.
75 “Besok ada PR pelajaran Matematika, dan ada ulangan harian Bahasa Indonesia, jadi jangan lupa bawa kertas folio ya,” ku jawab. Temanku mengangguk dan berterimakasih kepadaku. Aku membawa tasku dan meninggalkan kelasku. Sampai di rumah, aku disampiri oleh adikku, Jihan. Adik perempuanku yang terlihat kuat dan dewasa jika dilihat dari luar, namun lembut dan terlalu berharga untuk disakiti oleh siapapun. Jihan sudah ku anggap sebagai prioritas nomor satu semenjak ayah dan ibuku mulai sering bertengkar. “Kak! Coba tebak yang dapat nilai bagus di sekolah hari ini?” Jihan bertanya dengan ekspresinya yang terlihat ingin dipuji. Tidak semudah itu aku memujimu secara langsung, Ji. “Hmm, kalau nilai bagus, siapa lagi kalau bukan kakakmu?” aku jawabnya dengan tertawa. “Ih, kok kakak sih! Orang yang dapat nilai bagus kan aku!” jawab jihan dengan menunjukkan ekspresi wajahnya yang ngambek terhadapku. Ku tertawa lagi. Betapa sayangnya aku ke adikku. Seandainya kita tinggal di keluarga yang damai. “Iya, iya. Kamu yang dapat nilai bagus, Ji. Kakak sangat bangga. Kamu selalu rajin belajar, kamu pantas mendapatkan nilai itu. Makasih banyak ya,” ku menjawab agar membuat dia senang kembali. “Ih, tumben kakak bangga sama aku. Tapi sama aja, aku bakal ngambek sama kakak sampai besok. Titik. Kecuali kalau aku perlu bantuan kakak. Hehe,” jawab adikku yang cerdas ini. Aku mengangguk agar pertengkaran kecil ini bisa selesai dan bisa masuk ke rumah.
76 Rumahku yang luas, namun terlihat kecil karena banyaknya mebel. Rumahku yang seharusnya menjadi tempat yang memegang memori yang baik, namun bagiku, kebalikannya. “Wil, sini bantu ibu masak untuk makanan sore kita” suara ibuku menghampiri ku dari dapur. “Baik, bu!” Akupun membantu ibu menyiapkan makanan untuk nanti. Dengan muka yang serius, ibuku menanyakanku tentang hariku di sekolah. Biasanya aku menceritakan hariku kepada ibuku, namun karena kejadian tadi pagi, aku tidak. Meski otakku ingin menceritakannya, hatiku tidak bisa. Ku mengalihkan pertanyaan ibuku dengan menceritakan tentang cerita Jihan tentang nilai bagusnya. Makanan yang kita siapkan membuat seluruh ruangan di rumah wangi. Perutku bersuara, menandakan bahwa sudah waktu yang tepat untuk mulai melahap makanan di meja makan ini. Aku memanggil Jihan untuk datang makan. Kami pun duduk bersama di meja makan, terdiam, seperti sedang menunggu seseorang. Meskipun, sebenarnya aku tidak ingin menunggunya. Terdengar suara mobil dari luar. Itu menandakan bahwa ayah sudah pulang. Aku mulai melihat ekspresi Jihan, memastikan bahwa dia tidak merasakan yang sama seperti aku. Perasaan aku yang cemas dan khawatir dimana orangtua kita bisa tiba-tiba bertengkar kapan saja. Ayahku datang ke ruang makan, dan melihat makanan yang sudah disiapkan. “Bagus, selalu pulang malam,” kata ibuku. Jangan bu, kumohon. Jangan bertengkar lagi.
77 “Bu, ibu tidak capek complain terus? Ayah lagi capek, bu. Makan dulu, kasian anak-anak,” jawab ayahku. Ibuku diam. Ayahku pun diam. Aku dan Jihan bingung harus melakukan apa, seperti kami sedang terjebak di kegelapan, kegelapan dimana aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, namun tidak ada yang bisa mendengarkan teriakanku. Aku berinisiatif untuk memakan duluan. Jihan mengikutiku, lalu diikuti oleh kedua orangtua ku. “Bu, ayah, aku udah selesai, aku ke kamar untuk belajar ya,” ku berkata. Maaf Jihan, tapi aku tidak bisa mengendalikan perilaku aku yang bisa tiba-tiba teriak ini. Aku memasuki kamar aku yang gelap dan terisi oleh semua buku yang bisa dibayangkan. Aku mengirim Jihan pesan dari handphone ku yang berkata untuk masuk ke kamarku jika dia sudah selesai makan. Melihat jarum jam sekarang, aku mulai menyiapkan buku-buku yang aku akan pelajari malam ini. Aku pun memakai headset ku, sebuah alat yang sering ku gunakan sejak kecil untuk menutupi semua suara dari dunia realita ini. Semua suara buruk, suara teriakan, suara gelas pecah, headset ku menutupi semua suara itu. Beberapa menit saat ku mulai belajar, ku mulai mendengar suara teriakan tersebut. Memudar, tapi masih terdengar. Rasa takut di hatiku mulai terasa, namun masih ku coba untuk mengendalikannya. Semakin lama, semakin banyak suara teriakan. Suara teriakan ibuku yang selalu mengatakan kalimat ini setiap kali mereka bertengkar.
78 “Kamu tuh udah gak sayang sama keluarga mu sendiri!” Kalimat ini seperti pisau bagi hatiku. Ibuku selalu mengatakan ini, sudah sepantasnya aku terbiasa dengan kalimat ini. Namun, hatiku serasa seperti luka yang sudah ditutup namun dibuka lagi, membuat luka itu terasa lebih sakit dari sebelumnya. Kapan aku bisa mempunyai keluarga yang damai? Yang saling menyayangi? Yang saling mendukung? Kapan? Kedua mataku mulai berkaca. Tidak. Aku tidak boleh membiarkan perasaan aku mengendalikan fokusku. Ku tarik napas, keluarkan, dan mencoba mulai fokus belajar lagi. “It’s going to be okay,” aku ingatkan diriku Muncul suara barang-barang terpecah sudah ada. Fokusku sudah mulai terbagi. Dan, ku ingat. “Oh. Jihan.” Apakah daritadi dia diluar? Bersama mereka, dan melihat semua itu? Terjebak di ruangan itu? Fokus ku semua teralih ke Jihan. Jihan tidak pernah tidak bersamaku ketika ayah dan ibu sedang bertengkar. Aku tidak mau dia menghadapi kejadian seperti aku lagi. Aku buru-buru keluar kamar, tidak memikir apapun. Memindai ruangan, aku tidak melihat Jihan. “Jihan kemana sih!?” Ku memasuki ruang makan itu yang penuh dengan pecahan piring. Masuk untuk mencari Jihan, tanganku tiba-tiba ditarik oleh ibuku. Seluruh tubuhku terasa seperti dunia terjatuh. “Ini anakmu, atau bukan!? Kenapa kamu tidak bisa jadi ayah yang baik, dan sekali-kali, menyayangi anakmu!” teriak ibu.
79 “Enak aja kamu, mulut kamu itu seperti api yang gak bisa padam, tahu ga sih? Datang ke rumah langsung di marahin! Emang kamu pernah kasih sayang ke anakmu? Omongin tentang orang doang, sendiri juga gitu!” jawab ayahku. Aku terdiam, merasa seperti aku kembali menjadi diriku yang berusia 10 tahun. Diriku yang tidak bisa melakukan apa-apa, terdiam, menangis, frustrasi didepan mereka sambil mereka lanjut bertengkar. “Jihan, Jihan, kamu dimana sih Jihan?” Ku mencoba mengalihkan pikiranku dengan mencari keberadaan Jihan sekarang. “Kak..” terdengar suara Jihan dari pojok ruang makan. Ku melihat Jihan dengan mukanya yang tidak bisa bergerak, terjebak, dan kakinya yang berdarah karena menginjak pecahan kaca. Aku tidak bisa membiarkan Jihan seperti ini lagi. Tidak. Sekali kejadian ini sudah cukup untuk Jihan. “CUKUP!” “Ibu, ayah, jika kalian tidak saling menyayangi lagi, cerai saja.” Aku tidak tahu mengatakan ini akan membuat rasa sakit di hatiku lebih sakit dari sebelumnya. “Ibu dan ayah selalu bertengkar, kalian gak pernah memberikan aku dan Jihan rasa sayang yang kita perlukan. Lihat apa yang kalian buat ke anak kalian sendiri. Kalian sampai melukakan Jihan! Anak kalian sendiri,” aku meneguk. Ku coba menahan air mataku dan rasa sakit hatiku ini, dan membawa Jihan ke dalam kamarku.
80 Ku obati kaki Jihan yang terluka. Seandainya aku juga bisa obati hati aku dan Jihan yang jauh lebih sakit. “Jihan, kamu tidak apa-apa?” aku bertanya kepada Jihan. “Tidak apa-apa, kak, tapi tadi aku lebih takut karena sendirian aja. Disitu aku merasa seperti badan aku membeku, dimana saking takutnya, aku akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa,” jawab Jihan. Aku dan Jihan berpelukan, dan dia pun tertawa. “Syukurlah, kamu masih bisa ketawa dan tidak terlalu terefek oleh ini.” Setelah beberapa saat, ibuku ketuk pintuku. “Wil, Ji, ibu dan ayah sudah pisah. Ayah sekarang tidak akan tinggal bersama kita lagi,” kata ibuku. Jihan terlihat kaget. Aku pun kaget, tapi sudah kuduga ini akan terjadi. “Ibu mau minta maaf ya, ke kalian berdua, untuk semua kesalahan ibu selama ini. Ibu tidak tahu bahwa kalian tidak pernah rasa tersayangi oleh ibu karena ibu dan ayah sering bertengkar. Maafin ayahmu juga ya, semua kesalahan kami,” ibu meminta maaf dengan matanya yang berkaca-kaca. Aku tidak sanggup melihat sisi ibu seperti ini. Ibuku yang biasanya keras, dan kuat ketika sedang menghadapi ayah, sekarang menangis di hadapan aku dan Jihan. Sekarang, aku bisa berharap bahwa rumah kita yang awalnya selalu ditutupi oleh badai, akan berubah dan menjadi matahari yang memberi cahaya kebahagiaan bagi keluarganya. akan mengetahuinya. Padahal Amara beberapa kali melihat dan mendengar langsung pertengkaran mereka.
81 Pertama kali Amara melihat dan mendengar langsung pertengkaran orang tuanya, Amara berpikir itu hanya perdebatan biasa, namun setelah itu Amara menjadi lumayan sering melihat dan mendengarkan pertengkaran orang tuanya. Flashback On “Jujur aku capek kalau kita harus selalu berpura-pura baik-baik saja di depan Amara, Amara sudah besar. Dia pasti mengerti keputusan kita,” tegas Ibu Amara dengan nafas memburu. “Aku tidak bisa, Ran. Aku tidak tega jika Amara harus mengetahui kita ini sudah tidak saling cinta. Biarkan kita tetap seperti ini dulu, kau urus urusanmu akupun mengurus urusanku sendiri dan urusan Amara kita urus bersama,” jawab Ayah Amara. “Baiklah jika itu keinginanmu, tapi aku mau jika suatu saat Amara mengetahui kebenaran ini. Kita harus jujur kepadanya dan segera mengambil keputusan,” tegas kembali Ibu Amara. Tanpa mereka mengetahui, Amara mendengarkan percakapan itu. Sejak saat itulah Amara mengetahui bahwa orang tuanya telah “berpisah.” Amara memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu atas kebenaran tersebut karena ia bingung bagaimana cara membicarakannya kepada kedua orang tuanya dan Amara pun belum siap jika harus kehilangan kedua orang tuanya. Flashback off
82 Kringgggggg…… “Dikarenakan bapak dan ibu guru akan melaksanakan rapat. Kalian sudah diizinkan untuk pulang ke rumah masing-masing ya.” Guru Amara “Asiiiiik. Baik, Bu.” Dreeeet Dreeeet…… “Aduh…. Ko ayah tidak menjawab teleponku yaa,” Amara terheran Amara sudah menelpon ayahnya 7 kali, namun tetap tidak ada jawaban dari ayahnya. “Aku pulang naik ojek aja deh,” putus Amara Amara turun dari motor lalu menuju ke depan pintu rumahnya dengan wajah senang karena ia pulang lebih awal. Ekspresinya berubah ketika ia mendengar suara teriakan ibunya dari luar rumah. Amara berhenti sejenak di depan pintu untuk mendengarkan apa yang ibunya katakan. “Kalau Amara melihat kamu sama perempuan itu gimana? Kan kamu yang memutuskan untuk menyembunyikan ini semua dari Amara,” pekik ibu Amara. “Tidak mungkinlah, Amara sedang sekolah lagipula aku dan dia hanya membeli keperluan untuk di kantor,” selak ayah Amara.
83 Sebelum mendengar orang tuanya melanjutkan perdebatan mereka, Amara segera membuka pintu rumahnya karena ia berpikir mungkin ini waktu yang tepat untuk membuat kedua orang tuanya jujur, lagipula ia sudah siap jika orang tuanya bercerai karena setelah ia pikirkan keadaan seperti ini hanya membuat kedua orang tuanya tersakiti. Sreeeet…. Orang tua Amara langsung menengok dan terkejut saat melihat ternyata Amaralah yang membuka pintu rumah mereka. Suasana pun menjadi hening. Kedua orang tua Amara hanya menatap Amara dengan ekspresi kebingungan. Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiran orang tua Amara. Akhirnya ayah Amara memberi pertanyaan untuk memecahkan keheningan itu. “Eh, kamu sudah pulang, Nak? Kok tidak minta jemput sama Ayah?” tanya ayah Amara Amara menjawab, “Sudah, Yah. Hari ini guru sedang rapat jadi aku dihimbau untuk pulang lebih cepat. Aku sudah menelepon Ayah berulang kali tapi Ayah tidak menjawabnya.” Ayah Amarapun langsung mengeluarkan hp miliknya pada kantong celana yang ia pakai untuk memastikan perkataan
84 Amara. Ternyata benar, ada 7 panggilan tak terjawab dari Amara. “Maaf, Nak, hp ayah sedang di silent,” ungkap ayah Amara Amara pun tidak menjawab tapi ia berjalan maju dan duduk diantara kedua orang tuanya. Amara menarik nafas panjang untuk menguatkan dirinya sendiri agar bisa memulai pembicaraan kembali. “Ayah, Ibu. Amara mau jujur. Selama ini Amara mengetahui kalau Ayah dan Ibu masih bersama hanya karena Amara. Sejujurnya Amara sedih sekali saat tahu kenyataan itu, tapi Amara lebih sedih kalau Ayah dan Ibu tidak hidup bahagia,” ucap Amara sambil menangis Mendengar perkataan Amara mata orang tua Amara mulai berkaca-kaca lalu bergeser lebih dekat kearah Amara. Amara melanjutkan perkataanya, “Yah, Bu. Amara tidak apaapa jika Ayah dan Ibu bercerai daripada harus bertahan tapi tidak hidup bahagia. Amara mohon jangan menyakiti diri kalian sendiri hanya untuk Amara. Amara merasa bersalah, maafkan Amara yang belum bisa menjadi dewasa ya, Yah, Bu.” “Ini semua bukan salah kamu ataupun Ibu, Amara. Ini semua salah Ayah, Ayah yang meminta Ibu untuk menutupi ini semua padahal Ayah tahu kalau anak Ayah pasti berpikir dewasa,” sesal ayah Amara.
85 “Maafin Ayah dan Ibu ya, Amara karena Ayah dan Ibu kamu harus punya beban pikiran. Setelah ini Ibu janji gaakan sembunyiin apapun lagi dari Amara, Ibu janji akan minta pendapat Amara tentang keputusan yang akan Ibu buat, dan Ibu janji akan membicarakan masalah ini dengan Ayah. Bagaimanapun keputusan Ibu dan Ayah, Amara harus tau kalau Ibu dan Ayah sayang sekali dengan Amara,” lirih Ibu Amara. Air mata mereka pun tambah deras. Ayah dan Ibu Amara pun langsung membawa Amara ke dalam dekapan mereka. Mereka pun menyalurkan kesedihan dan rasa penyesalan mereka dalam dekapan itu. Malam itu, sebelum kedua orang tua Amara tertidur, “Maafin aku ya, Ran. Karena permintaanku yang bodoh itu jadi ngebuat Amara lebih sedih. Sebenarnya aku minta itu karena aku belum siap bercerai dengan kamu, tapi sekarang Aku sudah siap jika kamu sudah mau pisah denganku. Maafin aku karena permintaanku ini buat kamu tersakiti dan tidak bahagia,” ucap Ayah Amara dengan penuh penyesalan. “Sudah aku maafkan, Ji. Maafin aku juga kalau selama ini banyak kurangnya. Mungkin bercerai adalah satu-satunya jalan agar kita berdua menjadi lebih bahagia,” ungkap Ibu Amara. Di sisi lain, Amara tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Padahal, ia siap apapun keputusan kedua orang tuanya.
86 Keesokan harinya, orang tua Amara pun memutuskan untuk memberitahu Amara atas keputusan mereka berdua. Amara pun tidak apa-apa dengan keputusan orang tuanya karena Amara tahu bahwa keputusan itulah yang terbaik untuk keluarganya saat ini.
87 Egois Hingga Hilang Michelle Martha A. M Aura dingin dan mencekam mengelilingi sekujur tubuhnya, seorang pemuda dengan paras tampan, selalu berhasil menarik seluruh atensi siswi-siswi yang berdiri di sepanjang koridor SMA Tunas Bangsa. Pemuda itu bernama Keenan Gevarinska yang akrab disapa dengan Ken. “Woi! Ken, udah jam segini baru datang?” tanya Adnan, sahabat Ken sejak bangku menengah pertama. Ia pun menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabatnya dan memilih untuk berjalan ke arah bangkunya, sambil menghela nafas yang nyaris tak terdengar oleh siapapun. Bel pun berbunyi pertanda seluruh pembelajaran di sekolah itu akan segera dimulai, tak terkecuali XI IPA 3 yang saat ini sedang ramai, karena akan ada satu siswi baru pindahan dari sekolah populer, yang masih satu wilayah dengan SMA Tunas Bangsa. “Perhatian! Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru pindahan dari SMA Kencana.” Ucap pak Bambang kepada seluruh murid, sambil mempersilahkan murid baru tersebut untuk memperkenalkan dirinya. “Halo semua, perkenalkan gua Reeisha bisa dipanggil Rei atau Sha, semoga kita bisa berteman baik, thanks.” Kata Reeisha sambil melirik kearah pemuda yang sedari tadi hanya menatapnya dengan tatapan yang dingin seolah tak berminat untuk berkenalan dengannya. Pak Bambang menyuruh Reeisha untuk mengisi bangku kosong yang tepat berada di sebelah pemuda tersebut.Selama jam pelajaran pertama berlangsung
88 hingga berakhir, tak ada tanda-tanda interaksi dari kedua orang tersebut, sampai pada akhirnya Reeisha yang membuka topik, untuk memulai percakapan dengan pemuda tersebut. Reeisha bertanya, “Nama gua Reeisha, nama lu siapa?” tuturnya kepada pemuda dingin itu. Pemuda itu hanya menatapnya sebentar, kemudian tak berminat menjawab pertanyaan dari Reeisha yang sekarang sudah menjadi teman sebangkunya. “Hai, Rei. Gua Adnan, salam kenal.” Sela, Adnan sambil menyodorkan tangannya ke arah Reeisha, dan disambut hangat oleh gadis itu. Keenan pun berdiri dari bangkunya, dan berniat untuk pergi meninggalkan kelas. Namun, selang beberapa detik, bahunya ditahan oleh Adnan, yang terlihat seperti orang kebinggungan. “Lepas!” ucap Keenan. Ia pun menepis kasar tangan sahabatnya dan akhirnya pergi meninggalkan kelas itu, Adnan sontak binggung terhadap perlakuan sahabatnya yang sangat aneh dan tidak seperti biasanya. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 03.30, yang dimana 10 menit lagi bel pulang sekolah akan berbunyi. Reeisha memutar tengkuknya menghadap ke belakang, dan bertanya kepada Adnan, “Nan, cowok yang di sebelah gua, siapa sih?” kata Reeisha kepada Adnan “Dia, emang sok dingin gitu atau emang sifatnya gitu?” Lanjut Reeisha.
89 “Gak kok, Keenan tuh orangnya emang keliatannya aja cuek dan dingin, kalau lu udah kenal dia dari lama, pasti lu akan tau sifat baik dan pekanya dia.” Ujar Adnan kepada Reeisha, sambil memikirkan mengapa sikap Keenan sangat acuh dan tak bersahabat dengan dirinya akhir-akhir ini, atau lebih tepatnya sudah seminggu ini, semenjak kematian bundanya sekitar 3 bulan yang lalu. Ia pun memikirkan, kesalahan apa yang telah ia buat, sehingga membuat Keenan acuh dan menjauh dari dirinya. Adnan yang khawatir oleh sahabatnya, tanpa berpikir lama, ia pun mengambil ponselnya di saku celananya dan menelepon Keenan dengan cepat. “Halo, lu kemana aja sih Ken, bolos terus kerjaannya, lu kalau ada masalah cerita sama gua, bro.” Ucap Adnan, “Gak usah sok peduli, lo tuh sama bokap lo sama aja, sama-sama penghianat.” Keenan pun menjawab dengan sengit dari seberang sana, “Jaga mulut lu Ken, jangan hanya karena lu sahabat gua, segampangnya aja lu ngomong.” Ucap Adnan, dengan tegas. Kemudian, ia pun langsung mematikan sambungan teleponnya dengan cepat, karena tersinggung atas perkataan Ken, dan langsung mengirim pesan kepada Keenan, untuk langsung bertemu dengannya nanti malam di taman belakang rumah Keenan. Waktu menunjukkan pukul 20.00 malam, Keenan yang sudah sangat muak dengan sahabatnya itu pun, langsung menemui Adnan di taman tersebut, namun orang yang mengajaknya untuk bertemu di taman, belum menunjukkan batang hidungnya
90 sedikit pun. Keenan mengirimkan sebuah pesan singkat melalui ponselnya kepada Adnan, “Penghianat kayak lo, mana mungkin berani nemuin gua,” kata Keenan. Tak lama terdengar deruman motor khas, tepat berada di belakang pemuda tersebut. Adnan yang sudah memakirkan motornya, tanpa aba-aba langsung meninju muka Keenan dengan keras, darah segar mengalir dari sudut bibir Keenan. Pemuda yang di tinju oleh Adnan, hanya menunjukkan ekspresi datar, sambil menyeringai perlakuan Adnan terhadap dirinya. “Cih, pengecut.” Ucap Keenan, dan langsung membalas meninju Adnan tak kalah keras, sontak membuat tepi bibir Adnan robek. Suara hantaman yang begitu keras, berhasil membuat Dimas, ayah Keenan melirik kearah taman belakang dari jendela rumahnya, dan bergegas untuk melerai keributan yang dibuat oleh para pemuda itu. “Hentikan! Kalian berdua sudah besar tidak tahu malu, masih ribut seperti ini, kamu juga Adnan, kenapa malam-malam datang ke sini?” ucap Dimas kepada para pemuda tersebut. “Om Dimas yang terhormat, tolong ajarin anaknya supaya lebih beradab ya, dan gak usah nuduh yang aneh-aneh sama papa saya.” Ucap Adnan, dengan nada yang tidak sopan. “Padahal emang kenyataan, bokap lo yang udah berhianat sama keluarga gua, ada keluarga lo peduli atau bahkan datang ke pemakaman bunda gua? Gak bisa jawab kan lo, dasar gak tau diri,” ujar Keenan dengan pedas. Ayah Keenan pun langsung menarik paksa anaknya untuk masuk ke dalam rumah besarnya itu, dan menyuruh Adnan untuk segera pulang.
91 Bughh! Terdengar dengan renyah, sesampainya di rumah, Dimas langsung membenturkan kepala Keenan ke dinding dengan keras dan seketika Keenan merasakan pusing yang melanda kepalanya dengan hebat. “Kamu anak bodoh, jangan mencoreng nama baik keluarga kita, hanya karena bertengkar dengan orang rendahan seperti Adnan,” lanjut dimas berbicara, “Bundamu itu memang pantas mati, karena dia sudah membuat kesalahan yang begitu besar.” Tegas Dimas kepada Keenan, tak terima bundanya dihina seperti itu, Keenan pun geram dan ingin langsung menjotos wajah ayahnya, dengan reflek cepat Dimas langsung menepis tangan Keenan. “Berani sekali kamu ingin memukul saya, sudah hebat kamu dengan melawan saya seperti ini.” Pungkas Dimas, dan langsung berjalan menuju kamarnya. Keenan beranjak dari tempatnya, dan berjalan menuju kamarnya di lantai 2 dengan perasaan yang masih binggung, marah, dan benci terhadap situasi yang terjadi antara keluarganya dengan keluarga Adnan. Di kamar kebesarannya, Keenan termenung, sambil membayangkan masa-masa indahnya dirinya bersama bunda kesayangannya itu, dimana ia yang selalu di manja, dituruti keinginannya, dan selalu di berikan kasih sayang yang begitu besar oleh bundanya. “Sial, kenapa semuanya terjadi begitu cepat, gua gak terima, gua harus cari tau lebih dalam terhadap semua ini, termasuk
92 perlakuan ayah ke bunda, kenapa dia bisa sangat-sangat membenci bunda.” Ucap Keenan pelan. Matahari mulai menunjukkan sinarnya, dengan sambutan cahaya yang menyorot masuk ke dalam kamar Keenan. Keenan pun mulai mengerjapkan matanya, dan langsung bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, walaupun ia adalah anak yang tempramental akhir-akhir ini, tapi sebisa mungkin ia datang ke sekolah, karena ia selalu mengingat nasihat terakhir yang diberikan oleh bundanya. Keenan berangkat ke sekolah menggunakan mobil sedan hitam keluaran Jerman, yaitu Audi A6. Meskipun ayah Keenan sangat membenci mendiang istrinya, tetapi ia masih memberikan fasilitas mewah kepada anak semata wayangnya itu, karena menurutnya hanya Keenan lah, satu-satunya ahli waris utama dan penerus perusahaan miliknya. Sesampainya di sekolah, Keenan pun memarkirkan mobilnya, kemudian langsung berjalan menuju kelasnya, dan menghiraukan seluruh tatapan kagum dari semua orang. “Gila, Keenan ganteng banget sih, jadi pengen peluk deh,” ujar Rhaline, menghadang langkah Keenan. Keenan yang berada tepat di depan kakak kelasnya itu pun langsung berucap dingin, “Minggir dari hadapan gua, sekarang!” Rhaline menjawab perkataan yang dilontarkan oleh Keenan, “Duh! Pacar aku galak banget sih, jadi makin cinta.” Keenan tanpa berpikir panjang langsung menabrak bahu Rhaline dengan keras, dan lanjut berjalan menuju kelasnya.
93 Pelajaran pertama akan segera dimulai, Keenan yang hari ini suasana hatinya tetap dingin dan acuh, menatap sekilas bangku yang berada di sampingnya dengan lekat. “Anak baru itu, kayaknya gak masuk kali ya, masa bodo deh, ngapain segala gua pikirin hal-hal gak berguna kayak gitu,” ucap Keenan dalam benaknya. Tak lama, ia menatap sinis dan sengit kepada Adnan yang baru saja tiba di kelas, dan tak berselang lama, Reeisha juga datang dan langsung menuju bangkunya. Baru saja sampai di bangkunya, ia langsung duduk di sebelah Keenan, namun ketika baru saja duduk bersebelahan dengan pemuda tersebut, atmosfer dingin menyelimuti aura pemuda tersebut. Reeisha yang sudah tidak tahan dengan sikap sok dingin keenan, langsung bertanya kepada pemuda tampan itu, “Lu tuh sok dingin banget sih, sok gak berminat akan hal apapun, sok jadi orang yang pendiam, lu manusia atau” sengaja menggantung ucapan terakhirnya, dengan maksud agar manusia kulkas yang berada di sebelahnya itu berbicara. “Atau apa!” ucap Keenan cepat, dan Reisha pun menjawab, “Atau, jangan-jangan lu tuh siluman yang menjelma jadi manusia?” sontak perkataan tersebut, membuat Keenan senyum dengan ekspresi yang sulit diartikan oleh Reeisha. “Yakan, stress gajelas senyum-senyum aneh, fiks lu tuh bukan manusia asli, curiga gua, lu tuh anak alien.” Ucap Reeisha, sambil menatap Keenan dengan penuh selidik. Adnan hanya melihat interaksi singkat mereka, atau lebih tepatnya interaksi yang hanya dilakukan sepihak oleh Reeisha, karena Keenan tetap dingin dan menjawab hanya seperlunya
94 saja, bahkan pertanyaan yang baru saja ditanyakan oleh Reeisha pun hanya di anggap angin lalu. Bel istirahat berbunyi, menandakan selurah siswa dan siswi boleh melepas penat, boleh beristirahat untuk makan dan minum, maupun tidur dikelas, seperti yang sekarang Reeisha lakukan. Keenan yang berada di sebelah gadis yang sedang terlelap tidur itu, hanya menatap lekat perempuan itu. Ia berucap di dalam hatinya, “Reeisha kok dilihat-lihat lumayan mirip bunda, dari bentuk wajah, senyumnya, bahkan sikap riang dan tak terduganya sama persis, apa-apaan sih lo Ken, ngapain segala mikirin anak aneh ini.” Tak sadar bahwa perempuan yang di sampingnya sudah bangun, Keenan masih menatapnya dengan lekat sambil membayangkan kemiripan Reeisha dengan bunda tercintanya itu. “Woi! Kulkas, ngapain ngeliatin gua segitunya banget? Gua cantik yah? Jujur,” ucap Reeisha menyadarkan lamunan pemuda tersebut. “Dih, apaan sih gak usah kepedean,” ucap Keenan, sambil merotasikan bola matanya, karena jengah melihat tingkah laku teman sebangkunya itu. “Lo gak istirahat? Ke kantin gitu, kasian gak punya temen.” Ucap Keenan, dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat oleh Reeisha.
95 “Malas, cape gua ke kantin mending tidur, semalam gua habis kerja rodi, bantuin ibu bikin kue,” jawab Reeisha, dan melanjutkan kegiatan tidurnya itu. Setelah adanya interaksi tersebut, Keenan yang kini tengah berada di rooftop sekolahnya, semakin dibuat penasaran tentang Reeisha, termasuk alasan mengapa ia pindah ke sekolah SMA Tunas Bangsa, sedangkan asal sekolah gadis itu, yaitu SMA Kencana, masih satu wilayah dengan SMA Tunas Bangsa. Ketika sedang berpikir seperti itu, Keenan pun dikejutkan oleh ponselnya yang bergetar, dan ia lekas mengambil ponselnya, “Halo, ada apa bang Tara.” Ucap Keenan kepada Tara, melalui sambungan telepon miliknya. “Halo Ken, jadi setelah gua cari tahu lebih mendalam tentang kasus kematian Bunda lo, gua dapat informasi yang sangatsangat penting, dan harus gua ceritain semuanya ke lo, secara langsung.” Ucap Tara yang sudah lama mengetahui semua hal itu, namun ia harus menunggu waktu yang tepat untuk bercerita kepada Keenan, dan menurutnya ini adalah waktu yang tepat, kemudian Keenan tanpa berpikir lama, langsung menjawab, “Oke bang, kita ketemuan nanti malam, di lapangan basket depan komplek rumah gua, nanti gua kirim alamat lengkapnya.” “Oke,” ucap Tara, sekaligus menjadi akhir dari perbincangan mereka lewat telepon. Dengan segera, Keenan pun langsung mengirimkan lokasi tempat, yang akan menjadi tempat mereka untuk bertemu. Akhirnya, bel pulang sekolah pun berbunyi, dan seluruh murid pun mulai bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka masingmasing. Tak terkecuali Keenan, yang sangat bergegas untuk