The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan Cerita Pendek

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Literasi SMAN 68 Jakarta, 2023-11-13 19:19:19

Cerita Pasti

Kumpulan Cerita Pendek

Keywords: cerpen

146 ”Donor apa? Lo kira gw ga denger?” ”Leen, udah ya?” ”Menurut lo gw gapernah curiga gitu, denger lo batuk batuk tiap malem? Lo pergi terus tiap hari gapernah ngabarin mau kemana? Bilangnya sama Niel tapi gw tanya dia katanya dia ga sama lo.” “Leen, udah ya” “William. Kasih tau aja ya adek kamu?” “Mama apaan sih! Mama udah janji!” “Janji apaan William?!” Seketika ruangan itu penuh dengan teriakan mereka. Eileen, William, dan orang tua mereka. Eileen yang hanya ingin mengetahui kebenaran tentang William, dan William keras kepala tidak mau memberi tahu Eileen. “Yaudah stop! Gw kasih tau, kalo lo bener bener mau tau ya Leen. Kanker gw balik! Puas?” ... “Apaan sih?! Kok lo gapernah ngasih tau gw ini? Semua orang tau kecuali gw gitu?” “Iya. Maaf ya Leen. Ganti topik aja ya? Udah ya Leen? Kan lo udah tau sekarang.” “Ganti topik gimana? Gw ini saudara lo William. Saudara kandung. Lebih parah lagi, gw kembaran lo! Bisa bisanya hal sepenting ini, gw gatau?!”


147 “Inilah alasan kenapa gw gamau ngasih tau lo! Udah lah! Gw udah capek, udah biarin gw aja ya?” ”Lo perlu donor kan? Donor apa? Apapun itu, gw siap. Gw mau jadi donor.” “Gausah donor donor segala, udah ya Leen? Gw udah bulet dari 3 tahun yang lalu dengan keputusan gw.” “Hah.. 3 tahun?” William lalu langusng keluar dari ruangan. William tidak mau menghidupi masa lalunya dimana kembaranya sendiri mengemis ngemis ke dirinya untuk menjadi donor. Eileen lalu mengejar William sampai ke taman rumah mereka. “William! Dengerin dulu!” Teriakan Eileen terdengar sampai ke dalam rumah mereka. “Eileen, stop. Gw capek. Gw emang dasarnya udah gamau lagi berjuang leen. Gw hidup juga ga berguna, nanti kalo lo donor terus apa? Balik lagi ni kanker? Hidup gw diperjuangin ga guna Leen, malah nyusahin semua orang, nyusahin mama papa, nyusahin keluarga, dan paling penting nyusahin lo. Emang lo mau tiap hari bolak balik ke rumah sakit? Tiap hari di telfon, kabarnya ”William kondisinya kritis”. Emang lo mau harus hidup hati hati seumur hidup lo cuman gara gara operasi yang belom tentu berhasil di jangka panjangnya? Gamau kan? Yaudah, just let me go Leen.” ”William! Minimal dengerin aku dulu!” Suara tangisan Eileen terdengar jelas di telinga William. ”Eileen, just stop.”


148 “Dasar Egois!” “Egois?” “Liam, lo itu orang paling penting di hidup gw, kalau gw harus ngorbanin waktu gw, energi gw, bahkan hidup gw buat lo, gw mau Liam. Gw mau. Gw rela, dan bakal Gw lakuin! Kalo lo merasa hidup lo ga penting dan lo mau berhentiin ini semua, berarti lo egois! Lo penting di hidup gw. Berapa kali lagi sih harus gw kasih tahu, seberapa pentingnya lo di hidup gw sampai lo percaya sama gw?” “…” William hanya bisa terdiam mendengar perkataan saudara kembarnya itu. “Li, gw mau jadi donor. Gw rela beneran. Gw ga peduli seberapa hati hati gw harus jaga pola hidup gw nantinya, yang penting sekarang lo selamat.” “Leen. Maaf ya. Tapi, gw gabisa membahayakan lo kayak gitu.” “William! Apa apaan sih! Liam! Jangan pergi dulu..!” Teriakan Eileen terdengar oleh William, namun William tetap jalan menjauh dari Eileen. Eileen tidak bisa berbuat apa apa, Eileen terjatuh berlutut dan hanya bisa menangis sepanjang malam. William tidak sekalipun melihat kebelakang, walaupun hatinya berat meninggalkan saudara kembarnya, namun William tahu, jika ia melihat kebelakang pasti hatinya akan luluh melihat Eileen yang menangis. Hari berikutnya, William seharian berada di tempat tidur rumah sakit. Kesehatanya semakin menurun, hari demi hari. Apalagi interaksinya dengan Eileen kemarin ternyata menguras terlalu


149 banyak energi. Semua dokter sudah mencoba untuk membujuk William untuk menerima donor dari Eileen, namun hari demi hari, William tetap menolak tawaran itu. Pilihanya sudah bulat, dan akhirnya para dokter pun menyerah. Sudah 3 hari berturut turut William tidak melihat Eileen menjenguknya di rumah sakit, hanya orang tuanya saja dan beberapa temannya. Rasa menyesal di hati William hanya bertumbuh hari demi hari, namun William juga takut untuk berbicara dengan Eileen. Hari demi hari demi hari berlalu, rutinitas hidup William hanya bangun, mandi, makan, minum obat, chemotherapy, minum obat, tidur. Hidupnya membosankan dan William sudah siap untuk melepaskan semua itu. Sampai suatu malam, Eileen pergi menemui William. “Boleh masuk ga?” William, setengah sadar karena obat yang diminumnya tidak sadar bahwa orang yang mengatakan itu adalah Eileen. “Lo beneran masih se keras kepala itu?” ”Oh, Eileen.” ”Iya. Eileen. Sekarang jawab gw.” ”Leen. Udah ya? Aku udah siap buat pergi. Dulu waktu kanker ku udah pergi, tetep aja setiap hari aku jalanin itu sakit. Aku udah gakuat lagi buat berjuang Leen. Emang udah waktunya aku pergi. Boleh ya?” ”Bisa bisanya lo ngomong gitu.” Ucap Eileen sambil menangis


150 “Leen. Udah ya? Boleh ya? Relain aku? Permintaan terakhir aku, boleh ya?” “Tau ah.” Eileen mendekati tempat tidur William dan duduk di sampingnya. Mereka tidak berbicara ataupun melihat sesama, tidak seperti biasanya. Namun, kali ini, tidak seperti pertengakran mereka sebelumnya dimana mereka diam diaman selama berhari hari. Ruangan yang sunyi ini, terasa sangat nyaman bagi mereka. Walaupun tidak ada kata yang terucap, mereka berdua tahu apa yang dipikirkan satu sama lain. Akhirnya, mereka berdua tertidur. ... ”Pagi, Li.” Tidak ada jawaban. ”Li?” Tidak ada jawaban ”Liam...?” Tidak ada jawaban. Eileen melihat ke tempat tidur William dan sadar bahwa William sudah tidak ada di tempat tidur itu. Eileen lari keluar untuk menemui mama dan papanya, dan akhirnya disitu Ia tahu, bahwa William sudah benar benar meninggalkannya. Eileen diberikan suatu surat dari dokternya William. Surat itu berasal dari William. Dengan air mata perlahan lahan turun dari mata Eileen menuju pipinya, Eileen membuka surat itu dan membacanya.


151 “Hai kembar. Maaf ya aku udah ninggalin kamu sendiri. Harusnya kan gw jadi belahan jiwa lo, eh malah gw yang ilang. Maaf ya, gw gapernah ngasi tau lo tentang kanker gw yang balik, maaf juga ya gw gabolehin lo donor. Gw minta maaf banget buat semuanya. Maaf ya sekali lagi. Duh, sedih banget ya. Kok berat banget ya rasanya ninggalin bumi ini? Padahal awalnya gw bikin keputusan buat ga minta donor gampang banget. The more I look at you, the more I realize how much I cherished this world. Lo satu satunya harapan gw buat maju Leen. Tapi, yaa, tau lah ya outcome nya gimana. Maju terus ya Leen. Jangan buat ini jadi hal yang jatuhin lo. Gw tau susah, tapi coba ya? Buat gw? Gw tau kok lo pasti bisa. I know you can. I love you Eileen, my beloved twin sister, and I will always be with you, even if its not in the physical world. - Love, William.”


152 Perasaan Rahasia Ratna Putri Rahman Malam dingin menyelimuti kota bandung. Seorang perempuan berjalan di tengah gelapnya malam yang sunyi dan sepi. Dia sangat senang dengan keaadaan yang sepi dan sunyi itu. Seorang laki-laki dengan tinggi badan hampir mencapai 180cm itu berlari menuju sekolah, dia berlari sangat cepat dan terburuburu karena dalam hitungan menit gerbang sekolah akan segera di tutup. Laki-laki itu bernama Zayn dia adalah seorang ketua basket, selain menjadi ketua basket dia juga menjadi ketua geng motor yang sangat famous di seluruh SMA yang ada di kota Bandung. Dengan rambut yang sedikit berantakan dan alisnya yang tebal serta hidung yang mancung banyak sekali perempuan yang menyukainya. Berbeda dengan Zayn, Laura adalah anak yang sedikit pemalu dan tidak terlalu suka berintraksi dengan orng lain, dia juga suka menyendiri. Bahkan dia tidak memiliki teman di sekolahnya. Jam pulang sekolah pun tiba Laura bergegas merapikan barangbarangnya dan bersiap untuk pulang. Di saat anak-anak SMA seumurannya berjalan dengan teman-temannya Laura berjalan sendirian dia sudah terbiasa berjalan sendirian dia juga menyukai hal itu. Suatu pagi saat Laura ingin berangkat sekolah dia berpas-pasan dengan Zayn dan teman-temanya. Laura selalu menghindari Zayn karena dia pikir Zayn adalah anak yang bandel dan suka


153 membuat onar hal itu yang membuat Laura tidak menyukai Zayn. Berbeda dengan Zayn dia justru sangat menyukai Laura sejak lama tapi Zayn tidak pernah menunjukan hal itu. Menurutnya Laura adalah perempuan tercantik yang ada di dunia dan Laura adalah orang yang sangat unik yang berbeda dari perempuanperempuan lainnya. Sekolah Nusa Bangsa mengadakan acara super camp acara tahunan yang selalu diadakan di sekolah itu. Di acara itu muridmurid kelas 12 di pisahkan menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok di isi dengan anak perempuan dan laki-laki yang berisi dari 10 orang. Zayn dan teman-temanya sekelompok dan yang mengejutakan adalah Laura juga sekelompok dengannya itu membuat Zayn senang tetapi berbeda dengan Laura dia sangat kesal harus sekelompok dengan Zayn. Hari keberangkatan anak-anak SMA Nusa Bangsa pun tiba. Di dalam bus Zayn dan teman-tamanya sibuk bercanda dan sangat berisik ditengah keberisikan itu Laura menyibukan diri dengan membaca buku walaupun sedikit kesal dengan Zayn dan temantemannya itu. “bisa tidak jangan terlalu berisik, aku tidak bisa fokus baca.” Zayn pun tidak menghiraukannya yang semakin membuat Laura kesal. Laura pun menutup kupingnya dengan bantal kecil yang ada di lehernya. Zayn yang melihat hal itu tersenyum kecil lalu menyudahin candaanya dengan teman-temannya itu agar Laura bisa membaca dengan fokus dan tenang.


154 Di hutan yang rindang mereka mendirikan tenda. Laura mencoba membangun tendanya dengan sekuat tenaganya tetapi dia sangat kesulitan. Zayn melihat kesulitan laura lalu mencoba membantunya tapi seketika Laura langsung menolak pertolongan dari Zayn tanpa mendengarkan perkataan Laura Zayn tetap menolongnya untuk membangun tendanya Laura. Laura sedikit melunak dan dia menerima pertolongan dari Zayn. “Terimakasih” “Sama-sama” Malam pun tiba waktunya menyalahkan api unggun, siswa-siswi Nusa Bangsa mengelilingi api ungun dan mulai bersenangsenang bernyanyi bersama bercerita dan banyak hal yang di lakukan ketika api unggun di nayalahkan. Laura yang kurang suka keramaian memilih untuk berjalan-jalan disekitaran hutan, awan yang tebal diselimuti udara yang dingin membuat malam menjadi sangat kaku. Dia sangat suka dengan suasana yang tenang dan tidak terlalu ramai, dia berjalan menjelajahi sekitaran hutan tanpa sadar dia melewati area aman yang sudah di beri tanda oleh panitia. Di depan api unggun Zayn dan yang lain bernyanyi dan bercanda gurau, dia memeperhatikan sekitar untuk memastikan kalo ada Laura disana tapi dia tidak menemukan sosok Laura disana, dia bergegas pergi dari tempat api unggun mencari keberadaan Laura. Laura nyasar di hutan yang besar, dia panik dan tidak tau arah pulang. Dia mencoba meneriakin nama teman-temannya. Tidak ada satupun jawaban dari teman-temannya. Dia sudah pasrah


155 dan sangat takut dia berpikir dia tidak akan bisa pulang dan akan terjebak di dalam hutan selamanya, tetapi tiba-tiba ada suara yang meneriakinya. “Laura…” Laura pun bangkit dari duduknya dan membalas teriakan dari suara itu. “Tolong aku. Aku disini.” Zayn pun bergegas kesumber suara yang dia dengar dengan sangat terburu-buru dan panik dia akhirnya menemukan sosok perempuan yang dia cintai. “Aku menemukan mu.” “Tolong aku, aku takut” “Jangan takut ada aku disini.” Zayn memberikan jaketnya kepada Luara dan mereka langsung berjalan menuju tempat camp mereka, sesampainya disana Zayn membiarkan Laura beristirahat dan dia menunggu di luar tenda untuk menjaganya. Udara yang dingin dengan campuran embun pagi Laura membuat dua gelas teh panas, dengan sangat kaku dia berusaha untuk berterimakasih kepada Zayn dengan menyodorkan teh panas buatannya. “Terimakasih telah menyelamatkan ku tadi malam.” “Sama-sama santai aja kali gausah kaku gitu.”


156 Tanpa banyak bicara Laura pun pergi dari camp Zayn dengan sangat malu. Zayn pun tersenyum dan meminum teh buatan orang yang dia cintai itu dengan perasaan yang bahagia. Super camp ini menjadi sangat istimewa untuk Zayn karena dia bisa sedikit lebih dekat dengan Laura walupun perasaannya menajdi rahasianya dia tetap senang ketika berdekatan dengan Laura walaupun tanpa interaksi. Menurutnya berdekatan dengan Laura saja sudah lebih dari cukup.


157 Berlibur Berenang Bersama Keluarga Raudythia Nujla Rizky P. Di hari jumat malam sabtu,keluarga sedang berkumpul dan menikmati makan bersama,sekalian merencakan acara buat berlibur bersama-sama sekeluarga. Dimalam itu,kami pun masi memilih tempat buat berlibur,dan pada akhirnya kami sudah mendapatkan tempat yaitu ragunan,pada akhirnya pun tidurr karena sudah dapat tempat untuk berlibur. Keesokan harinya,keluarga kaget karena mendapatkan info sodara meninggal, dan akhirnya kami memutuskan untuk batalkan berlibur dan di tunda untuk berlibur di esok hari, di hari minggu. Kami pun pulang di waktu sore hari,sekeluarga punn bersih² pada mandii, dan sehabis mandii kami pun melaksanakan solat maghrib bareng keluarga ada jugaa yang solat di masjid sebagian keluarga. Sehabis solat kami pun kembali makann malam bersama keluarga dan merencanakan acaraa berlibur di hari mingguu,sekeluarga pun masih membicarakan acara berlibur besok. Dan akhirnya kami pun memilih untuk berlibur berenang di depok sekeluarga, tapi mama masih ragu dikarenakan tidak bisa


158 berenang, tetapi kata ayah kolam renang di sana ada yang tidak dalem ketinggian nya sekitar setengah meter. Dan mamah pun akhirnya setuju dengan berlibur berenang sekeluarga di hari minggu,dan keluarga pun istirahat tidur bersiap untuk besok berlibur. Dan pagi harinya kami sekeluarga pun menyiapkan segala kebutuhan untuk di sana, setelah itu kami pun rapi rapi,ayah menyiapkan mobil untuk kita berangkat. Kami pun menuju tempat tujuan dan kami bersenang-senang sepanjang jalan, kami berhenti dulu di pom bensin untuk mengisi bensin, dan ayah pun melanjutkan perjalananya. Sesampainya di kolam renang depok, kami pun berganti baju untuk berenang,setelah itu kami pun mulai berenang dan bersenang-senang di kolam. Aku dan kedua kakak ku mencoba ke kolam yang dalam tinggi nya, mama tidak bisa berenang dan mama pun hanya menjaga adik adik ku dan berenang di kolam yang dalemnya setengah meter. Di tengah keseruan kita akupun mengajak keluarga ku untuk makan siang, dan kami semua makan bersama dan berbincang tentang keseruan kami. Setelah makan kami pun menurunkan nasi sejenak dan lanjut berenang senang setelah pukul 15.00 kami pun memutuskan untuk menyelesaikan keseruan di kolam renang. Dan kami ganti baju untuk melanjutkan perjalanan pulang, setelah semua selesai ayah pun ke parkiran mengambil mobil.


159 Di perjalanan pulang ternyata di sore hari jalanan macet, dan tiba tiba di tengah jalan ban mobil ayah bocor, kebetulan di dekat situ ada bengkel. Sambil menunggu ban mobil di tambal kita pun sekeluarga memutuskan untuk makan malam, kami sekeluarga pun makan malam sambil menceritakan keseruan hari ini. Dan seteleh selesai makan kita pun kembali ke bengkel untuk melihat mobil nya, dan ternyata kata tukang bengkel nya ban mobil nya harus di ganti, dan kami sekeluarga pun menunggu lagi. Seteleh selesai menambal ban nya kami pun melanjutkan perjalanan pulang, sepanjang jalan kami pun bernyanyi nyanyi dan bersenang-senang. Sesampainya di rumah kami pun kami mengeluarkan pakaian kotor kami, setelah itu kami pun beristirahat, untuk menyegarkan badan agar tetap sehat. Dan ternyata aku pun masuk angin, aku minta tolong mama untuk memijat badan aku, aku merasa tidak enak badan, ternyata kakak ku juga kurang enak badan. Aku dan kakak ku pun minum obat, mama pun memijat ku dan kakak kedua ku memijat kakak pertama ku, sambil di pijat kami bercerita tentang keseruan kita kemarin.


160 Melukis Cinta Di Antara Bintang Tere Neryssa Elaspree Siregar Di sebuah desa yang tenang, aku, Ethan, hidup dalam kehidupan yang dihiasi dengan keindahan seni yang membahagiakan. Pada suatu hari, takdir mempertemukanku dengan Elleigh, seorang seniman yang penuh semangat dan begitu pandai melihat keindahan dunia di sekitarnya. Hidupku berubah menjadi lukisan berwarna-warni ketika kami jatuh cinta pada satu sama lain. Setiap hari kami habiskan dengan bahagia, membangun kenangan indah di antara perbukitan hijau dan matahari terbenam yang melukiskan cinta kami. "Elleigh, kau tahu? kamu membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih indah," kataku sambil tersenyum, menyampaikan rasa syukurku. “hahaha, lucu sekali kata-katamu Ethan!” ucapnya sambal tertawa. Tawanya bagaikan melodi indah di kupingku. Indah sekali. Aku sangat senang berada di momen ini dan berharap waktu bisa berhenti sejenak agar kami bisa berdua selalu. Namun, kegelapan mulai menyelinap saat Elleigh mulai merasakan kelelahan dan gejala aneh yang datang dalam hariharinya. "Ethan, aku takut ada sesuatu yang tidak beres. Aku tidak ingin mati, Ethan. Masih banyak hal-hal yang belom bisa kugapai. Masih banyak orang-orang yang aku kecewakan di dunia ini." ucapnya dengan mata yang penuh kekhawatiran. Diagnosa penyakit langka menghantam kita seperti badai yang tak terduga, merobek dunia bahagia yang kami bangun bersama.


161 "Kita akan melaluinya bersama, Elleigh. Aku di sini untukmu," ujarku, memberikan semangat kepadanya sebanyak mungkin. Hari-hari berubah menjadi kunjungan ke rumah sakit, senyum-senyum kecil di antara situasi yang sulit, dan lukisanlukisan indah yang menceritakan ketabahan Elleigh. "Ini memang sulit, Ethan, tapi aku bersyukur bisa menghadapinya bersamamu," ucap Elleigh, tatapannya penuh cinta. Pada malam yang sunyi di bawah langit berbintang, Elleigh memintaku untuk membawanya keluar kamarnya untuk memandang langit. “Aku baru saja menonton televisi! Katanya malam ini akan ada bintang jatuh. Antar aku ke lantai paling atas, aku ingin membuat beberapa keinginan” ucapnya dengan lembut. Bagaimana bisa aku menolak permintaannya? Tentu saja aku bersedia untuk mengantarnya melihat bintang jatuh itu. Malam pun tiba, aku mengantarnya ke lantai paling atas. Sesampainya di tempat tujuan, kami memandang langit yang penuh bintang, menunggu sang meteor untuk lewat. “AH ITU DIA!!” Seru Elleigh. Betul saja, bintang itu melewati langit yang penuh bintang. Elleigh langsung membuat harapan dengan serius. Aku mencobanya juga. Keinginan yang aku buat sederhana kok. Aku ingin selalu bersama Elleigh. Tanpa sadar, Elleigh meraih tanganku dengan lemah. Senyumnya yang hangat dan lembut menghiasi wajahnya yang pucat. “Kamu tau kah kenapa aku sangat menyukai cahaya bintang?” Tanya Elleigh. Aku menggelengkan kepalaku. Tentu


162 saja aku tidak tahu, aku ini fotografer, bukan penggemar astronomi. “Bintang adalah benda langit yang sangat indah. Ia memiliki cahayanya sendiri. Tanpa cahaya dari bintang, langit yang kita lihat sehari-hari akan terlihat membosankan. Tetapi, saat ada perubahan pada inti, bintang mengalami supernova, atau ledakan. Seindah apapun bintang tersebut, pasti akan ada saatnya untuk meledak. Sama seperti kita manusia. Semua manusia yang ada di muka bumi ini memang indah, tapi bukan berarti kita akan tinggal selamanya di bumi ini. Akan ada waktunya masing-masing untuk pergi.” Ujarnya sambal tersenyum manis “AH, selain itu, namaku Elleigh yang berarti sinar atau cahaya, walaupun cahaya itu bisa berarti cahaya apa saja, aku lebih suka berpikir bahwa cahayaku adalah cahaya bintang, hehehe.” Aku hanya terdiam mendengarnya. Apa yang dikatakannya benar, tapi, aku tidak ingin Elleigh pergi dariku. Aku tidak ingin ditinggalkan "Hey Ethan, hidup mengalami pasang surut, kita punya cerita untuk diceritakan. Tapi, aku mencintaimu, apa pun yang terjadi. Aku mencintaimu di sekarang sampai akhir kehidupannku " katanya dengan suara lembut. Aku mencium keningnya, namun dalam hatiku, aku merasakan kepedihan yang tak terucapkan. “Aku mencintaimu tidak peduli apa pun bahkan di saatsaat terendahmu, aku tidak akan pergi ke manapun.” Balasku dengan mata penuh air mata


163 Beberapa hari berlalu, dan Elleigh perlahan-lahan melepaskan napas terakhirnya di dalam pelukanku. Rumah sakit yang sunyi ini, menjadi saksi perpisahan yang sulit. Kehilangan Elleigh membuat hatiku remuk. "Selamat jalan, Elleigh. Hidupku selalu cerah karenamu. Cintaku padamu tidak akan pernah berhenti." ucapku, membiarkan kata-kata itu melayang di udara. Keputusanku untuk melanjutkan hidup tanpa kehadiran fisik Elleigh adalah pilihan sulit. Aku memilih untuk merayakan cinta kami melalui karya-karyanya yang indah. "Ini untukmu, Elleigh. Kamu akan selalu menjadi inspirasiku," ujarku, berbicara kepadanya yang kini hadir dalam setiap karya seniku. Pameran foto dan pertunjukan seni menjadi bentuk penghormatan untuk berbagi kisah cinta kami dengan dunia. Meskipun hatiku masih penuh duka, aku yakin bahwa Elleigh akan selalu hidup dalam seninya dan kenangan yang ditinggalkannya. Di antara lukisan dan bunga yang mekar, cinta kami tetap abadi. Aku melanjutkan hidup dengan mengenang Maya, membawa semangatnya ke dalam setiap langkahku. Kisah cinta kami, seperti legenda yang diceritakan di antara matahari terbenam dan bintang-bintang malam, akan terus bersinar hingga akhir waktu. "Sampai kita bertemu lagi di dunia yang lebih indah, Elleigh" ucapku, menatap langit yang penuh bintang dengan harapan.


164 Pertama Masuk Sekolah Tri Rachmat Meiyanda Setelah selesai pendidikan selesai SMP saya mencari sekolah menengah. Awalnya saya bingung untuk melanjutkan Pendidikan menengah atas atau kejuruan. Setelah di pikir-pikir dan mengobrolkan ke orang tua, akhirnya untuk memutuskan masuk ke Pendidikan menengah atas. Setelah beberapa hari berlalu, di mana hari pertama saya untuk masuk sekolah. Tibanya di sekolah saya berkumpul di lapangan untuk mendengarkan sambutan dari kakak osis dan ibu bapak guru. Di lapangan saya berkenalan dengan salah satu siswa dari sekolah SMP 59 yang Bernama alex. Pagi itu sangat cerah dan waktu sudah menunjukan pukul 08.00 pagi. Sambutan telah selesai kemudian tiba lah saatnya pembagian kelas. Saya mendengarkan pengumuman tersebut dan ternyata masuk ke kelas senja. Waktu 3 hari di gunakan untuk MPLS ( masa pengenalan lingkungan siswa ) dan saya pun masuk ke dalam kelas ternyata saya bertemu dengan teman smp saya dulu. Waktu pertama masuk kami di minta untuk perkenalkan diri, asal sekolah dan nama panggilan oleh kakak osis. Hari pertama sekolah kami di minta belajar mengenali lingkungan sekolah, seperti fasilitas sekolah nama guru dan stafstaf sekolah. Dan selajutnya kami di ajak untuk muter-muter


165 sekolah untuk mengetahui rungan-rungan, seperti lab biologi, lab Bahasa, lab kimia, lab fisika dan perpustakaan. Di hari ke dua, kami di minta untuk berkumpul di lapangan untuk di perkenalkan dengan sebagai ekstrakurikuler yang ada di SMA ini. Semua ekstrakurikuler mempromosikan eskul masing-masing dengan menunjukan penampilan perfom yang terbaik. Di hari ke 3 kami masih di kumpulkan di lapangan dan baris sesuai kelas masing-masing. Kami di minta untuk menampilkan perfom antar kelas, kelas saya pun maju untuk bernyanyi dan 1 atau 2 orang bermain gitar. Dan setelah menunjukan perfom semua kelas kami di suruh naik ke kelas masing-masing. Di kelas kami seru-seruan meskipun sering di kerjain dengan kakak osis, dari pengalaman itu lah kami di ajarkan untuk lebih mengenal lingkuan sekolah. Setelah masa pengenalan lingkungan siswa (MPLS) selesai, walau pun hanya tiga hari kami sudah merasa nyaman. Dan kami di suruh turun ke lapangan karena ada pembagian kelas yang sesungguhnya. Aku melihat nama ku di papan pengumuman dan ternyata saya masuk di kelas X-3. Seluruh siswa memasuki masing-masinng begitu pun dengan saya. Saya memasukin kelas X-3 dan ternyata sudah banyak temanteman saya yang sudah berkenalan satu sama lain. Dan tidak di sangka sekelas dengan teman SMP saya. saya pun berkenalan dengan yang lain.


166 Saya perhatikan teman-teman yang lain yang sedang asik bercanda. Saya dan teman sebangku saya memperhatikan dan tertawa karena kelucuan yang mereka lakukan. Dan ke esokan hari nya pembelajaran pun sudah di Mulai. Seiring berjalannya waktu ada satu mata Pelajaran ( Bahasa Indonesia) untuk membuat musikali puisi. Kelas saya pun untuk di suruh turun ke auvi dengan kelas sebelah yaitu X-2. Di auvi pun saya di minta untuk mewakili kelas saya bermain alat musik. Kelas sebelah pun tidak ada yang bisa bermain alat musik dan akhirnya saya yang mewakilkan kelas nya. Di situ lah saya melihat cewek yang saya tidak kenal dan dia pun melihat saya di situlah saya bertatap-tatapan dengan nya. Beberapa hari berlalu timbulah perasaan yang semua orang mungkin pernah merasakannya. Saya pun ke cewek itu lalu saya pun memberanikan diri untuk meminta instagramnya, saya pun tidak percaya kalo saya akhirnya di kasih juga Instagramnya. Dan saya pun memberanikan diri saya untuk mendekatinya dan seiring berjalannya waktu saya mencoba untuk mengungkapkan perasaan saya ke pada dia. Saya pun di minta untuk memberikan waktu untuk menjawab persaan saya. Dua hari kemudian dia menemui saya untuk menjawab perasaan saya ke padanya, dan dia pun menerima saya. saya pun begitu senang sudah di terima dengannya. Dan Kedepannya saya lebih bersemangat untuk sekolah dan lebih semangat lagi untuk belajarnya.


167 Tabah Valerine Fayola Riahta Br Sinukaban Dahulu kala, di sebuah kota kecil yang terletak di antara bukitbukit yang indah, hidup seorang gadis kecil bernama Sheileen. Dia baru berusia tujuh tahun, tetapi kehidupannya jauh dari kebebasan yang dinikmati oleh sebagian besar anak seusianya. Orangtua Sheileen, Vani dan David, sering bertengkar. Teriakan dan kemarahan mereka memenuhi rumah kecil yang sudah tua tempat Sheileen berusaha mencari ketenangan. Setiap mendengar suara teriakan Sheileen langsung pergi ke kamarnya, dan mengambil boneka beruang kesayangannya untuk memberikan ketenangan. Di suatu malam, “AKU MUAK SAMA KAMU!” teriak ibu setelah mendengar teriakan orangtuanya, Sheileen meraih teddy bear-nya erat-erat. "Kenapa mereka selalu bertengkar ya, Teddy?" gumamnya kepada boneka itu. "Aku rindu hari-hari kebersamaan kami, canda dan tawa yang memenuhi rumah." Tentu saja teddy bear itu tidak bisa menjawab, tetapi kehadirannya memberi sedikit kenyamanan pada Sheileen, yang merasa sendirian di tengah badai perdebatan orangtuanya. Kesulitan di rumah bukanlah satu-satunya beban yang harus Sheileen pikul. Di sekolah, dia harus menghadapi para perundung, yang merupakan segerombolan teman sekelasnya. Mereka sangat senang merundung dan mengejeknya karena pakaian lusuhnya dan perilaku yang pendiam. Kelompok atau


168 yang disebut “geng kece” itu dipimpin oleh seorang anak bernama Jake. Begitu banyak perbuatan tidak pantas yang telah mereka lakukan pada Sheileen. Mereka seringnya menguncinya dalam toilet dan mengejek penampilannya. Suatu pagi, ketika Sheileen berjalan ke sekolah dengan matanya yang sayu, Jake dan teman-temannya mendekatinya. Jake menyeringai dan berkata, "Lihat deh, kita punya 'putri penyihir' di tengah-tengah kita." Tawa sadis pun meledak dari teman-teman Jake. Sheileen merasa jantungnya berdegup keras, tapi dia mencoba untuk tetap tenang. "Kamu tidak perlu seperti itu," katanya dengan suara pelan. Tanpa merasa bersalah, Jake menendang tas Sheileen hingga ia terjatuh. "Apa, kamu mau berteman dengan boneka beruangmu, ‘Sheileen Putri Penyihir' " ejeknya. Tidak lama kemudian… Nayla, sahabat Sheileen, tiba-tiba muncul dan dengan suara tegas mengatakan, "Berhenti menyiksa Sheileen, Jake!" "Diam saja, Nayla! Kamu akan mendapat giliranmu," ancam Jake. Jake tidak peduli tentang omongan Nayla dan malah mendorong Sheileen hingga ia terjatuh dan melukai lututnya. Sheileen menangis, merasa terluka dan hina. Hari-hari terasa berat bagi


169 Shaileen, tetapi dia terus bertahan, dia meyakinkan dirinya bahwa keadaan pasti akan membaik untuk dirinya. Setelah peristiwa itu, Sheileen berbicara dengan Nayla di tempat yang lebih sepi. "Terima kasih, Nay, sudah membantuku tadi," katanya. Nayla tersenyum dan menjawab, "Tentu saja, Sheileen. Kamu adalah temanku, dan aku akan selalu berada di sisimu." Hari demi hari berlalu, Musim dingin pun tiba. Sheileen menatap langit yang berturunan salju itu dan berdoa. Ia berharap di bulan ini keadaan akan membaik. Namun badai cobaan Kembali mendatangi gadis kecil itu, ketika angin dingin menusuk melalui kota, Sheileen jatuh sakit parah. Demam tinggi melanda tubuhnya yang kecil, dan orangtuanya, takut akan nyawa putrinya, segera membawanya ke rumah sakit. Saat mereka menunggu di ruang tunggu yang dingin dan penuh ketegangan, Sheileen dengan suara lemah berkata, "Ayah, ibu, aku takut." David, segera meraih tangan putrinya, menjawab dengan suara lembut, "Kami di sini, sayang. Kamu akan baik-baik saja, kami pasti akan menjagamu dengan baik." Selama masa-masa gelap ini, Sheileen memiliki satu sumber cahaya yang selalu ada dalam hidupnya, sahabatnya, Nayla. Saat Nayla datang berkunjung ke rumah sakit, dia duduk di sebelah tempat tidur Sheileen, dengan wajah tersenyum hangat dan berkata, "Sheileen, semangaat kamu pasti bisa lewatin ini"


170 Dengan mata berkaca-kaca, Sheileen tersenyum dan menggenggam tangan Sarah. "Terima kasih, Sarah. Kamu adalah teman terbaik yang bisa aku minta." Dalam beberapa tahun kondisi Sheileen perlahan membaik, dan dia mendapatkan kembali kekuatannya. Melihat putrinya begitu dekat dengan kematian telah memberi dampak mendalam pada Karen dan David. Perseteruan mereka yang konstan mulai memudar, mereka menyesal tidak memberi perhatian kepada anak sematawayang mereka. Orangtua Sheileen menyadari bahwa mereka telah mengabaikan kesehatan emosional putri mereka, dan mereka berjanji untuk lebih baik. Karen mengusap pelan rambut Sheileen dan berkata, "Maafkan ibu dan ayah, Sheileen. Kami akan lebih baik lagi dan lebih mendengarkanmu." Seiring berjalannya waktu, kisah hidup Sheileen memperlihatkan kepada mereka semua bahwa kekuatan sejati datang dari dalam, dari tekad untuk tidak pernah menyerah, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun. Dengan dukungan dari Sarah. Sheileen menghadapi setiap cobaan dengan kepala tegak dan membuktikan bahwa cahaya selalu ada di ujung terowongan yang gelap.


171 I AM Zhiland Islami Pasha T Waktu itu tahun 2012 saya masih ingat. Waktu itu saya melihat kakak sepupu saya yang lagi main gitar di ruang tamu bareng teman temanya. Ya kalo di inget inget saya masih kecil waktu itu masih 6 tahun karna saya penasaran dan ada rasa mau coba saya beraniin ngomong kek kakak saya. Lalu saya deketin kakak saya dan berbisik,” aning zhiland boleh ajarin main gitar kaya aning gak?” ohiya aning itu sebutan dari saya aslinya dia daniel namanya. Lalu kakak saya bilang “nih boy sini aning ajarin, kalo main gitar emang agak susah terus kalo mau main gitar jari zhiland bisa sakit” ya saya denger itu awalnya semakin penasaran emang bener apa yang diomongin. Lalu saya megang gitar lalu kakak saya kasih instruksi buat megang yang bener tuh gini genjreng di tangan kanan kiri buat main chord. Lalu kakak saya ngajarin chord C lalu saya coba teken disitu saya bener ngerasain sensasi agak sakit saat neken senar lalu saya bilang kek kakak saya “ah udh ning sakit zhiland gamau belajar lagi deh “ lalu kakak saya bilang “yah gimanesi boy justru kalo zhiland belajar gitar cewek mane yang gasuka ntar keliatan ganteng” dari kata itu saya kaya “oiya iya kalo dipikir pikir bisa main gitar keren juga.


172 Saya juga main kek kamar kakak saya disitu kaya ada banyak poster band saya pikir itu kertas apa ternyata kalo saya lihat disitu ada nama the beatles,nirvana,oasis,the rolling stones,led zeppelin dan masih banyak saya penasaran dan suka nanya ini apa ning? Ini kertas apa lalu kakak saya ngasih tau ini tuh band musik land kaya ngasih tau fokalnya siapa gitarisnya siapa dan dari semua itu saya tertarik sama salah satu gitaris namanya jimmy page dan kakak saya juga suka ngunjukin vidio di youtube saat mereka tampil menurut saya itu keren dan bikin saya termotivasi buat lebih buat belajar gitar. Yahh udh setaun belajar gitar kan Cuma tiba tiba kakak ada kegiatan diluar waktu itu yah emang kak juga emang ngeband jadi mau gamah gitar kakak yang biasa saya pinjem buat main gitar harus dibawa disitu padahal saya udah lumayan lancar main gitar udah tau chord udah tau dasar dasar main gitar sampai udah tau cari main melodi tiba tiba kak kaya harus bwa gitar buat kegiatan yah sampai situ saya udah gabisa main gitar lagi. Sampai saya smp udah gapernah megang gitar lagi ditambah kakak kerja diluar kota dan waktu itu beraniin diri bua minjem cheting kakak katanya gitar dipinjem sama temen buat dibawa kek kamboja waktu itu, kaya mikir yaudah lah gabakal lagi saya main gitar udah lupa juga chord chordnya tapi pas mau lulus smp iseng minta beliin gitar baru kek mama dan ga nyangka bakal dibeliin disitu seneng karna udah lumayan lama berharap punya gitar baru ahkirnya mama beliin. Dan jadi sekarang keseharian saya tiap ada waktu luang tiap malam main gitar terus saya pelajarin ulang walaupun udah lumayan lama dari tk sampe smp ga megang gitar dan saya mulai otodidak tapi saya tetep mau belajar lagi karna saya emang mau


173 keinginan bisa main gitar dari kecil dan pengen gitu jadi kaya alex turner hehe.. Ya mungkin kalo diceritaiin disinj sesingkat itu tapi banyak hal yang emang alesan saya buat belajar gitar bukan gitar aja sebenernya banyak alat musik lain yang saya bisa kaya drum hadro dan lain nya. Jadi kalau kalian punha keinginan untuk belajar dan mau bisa jangan nyerah pasti di awal tetasa berat entah itu males kurangnya ssranan dari orang lain tapi kalo kita punya kemauan terus berusaha jangan dengerin omongan orang lain saat berproes ikutin apa yang kalian mau selagi itu baik.


174 Awal Yang Baru Zihan Nur’Afifah Asher tak menyangka dengan membaca buku bersampul kuning itu, membawanya menemukan rahasia yang Kakeknya sembunyikan selama ini. Dan Asher tak mengira, bahwa itu akan menjadi awal baru untuk kisah asmaranya. "Ayah, mengapa membawa Kakek kesini? Apakah keadaannya sudah membaik? Dan kenapa harus ke rumah ini? Bagaimana jika penyakit Kakek kam–" "Ash, tenang dulu. Pelan-pelan. Ayah mengikuti keinginan Kakekmu. Ia –" "Tap–" "Kita tidak bisa tutup mata. Kita harus sadar bahwa umurnya tak lagi panjang dan ia pun menyadarinya. Ia ingin menghabiskan sisa waktunya di rumah tua ini. Tempat dimana ia tumbuh dewasa" "..." "Sudah, Ash. Sebaiknya kau temui kakekmu di halaman belakang." "Ia pasti menunggu kehadiranmu, Asher." Mendengar ucapan Paman dan Ayahnya mengenai Kakek yang menunggu dirinya, Asher pun melangkahkan sepasang kaki jenjangnya menuju halaman belakang. Tempat favorite Sang Kakek. Asher sempat bertanya mengapa taman yang hanya dibatasi pagar kayu yang tingginya tak melebihi 60 cm ini menjadi


175 tempat favorite Kakeknya. Dan Pria Tua itu hanya memberikan jawaban klise 'Taman ini menyimpan banyak kenangan' Pemuda kelahiran April itu menghentikan langkahnya, ketika netranya mendapati punggung lebar Kakeknya yang tak sekokoh dulu. Melihat tubuh yang telah layu itu membawa Asher kembali ke dalam memori lama. Pemuda tampan itu mengingat bahwa dirinya sering menemani sang Kakek menghabiskan sore di taman ini. Meski mereka tinggal di kota, namun di tiap kesempatan yang ada, Kakeknya akan datang kemari. Yang biasanya Si Tua ini lakukan hanyalah duduk diam sambil menatap kosong rumah seberang, rumah yang berhadapan langsung dengan taman belakang. Namun semenjak Asher menginjak remaja, Pemuda berkulit pucat itu sudah tak begitu sering menemani Kakeknya karena tumpukan tugas yang tiada henti. Dan juga sejak beberapa tahun lalu, kondisi kesehatan Kakek tidak memungkinkan untuk bepergian. Jadi pemandangan seperti ini sudahlah lama tidak Asher dapati. "Kakek?" Tersentak kaget, Kakek Asher langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara. "Ash? Kau sudah sampai?" tanyanya dengan senyum khas. Meski kulit sudah tak mampu lagi melawan gravitasi tapi


176 lengkungan mata ketika tersenyum cukup terlihat jelas di wajah tua itu. Asher yang ditanya menggangguk sebagai jawaban. "Kakek kenapa di sini? Ini masih pukul 01.00 siang, Kakek tidak kepanasan?" Yang ditanya tak kunjung menjawab. Perhatian Si Tua tercuri lagi pada bangunan di depannya. Rumah yang sudah begitu lama tak berpenghuni, namun masih terawat dengan baik. Bahkan sepanjang ingatan yang Asher miliki, ia hanya beberapa kali melihat sang pemilik rumah, em, tapi sebenarnya Asher pun masih ragu apa benar mereka yang datang adalah pemilik rumah karena Asher tak mengetahui apapun mengenai rumah tersebut. Selain fakta bahwa rumah itu tak berpenghuni dan pesuruh hanya akan membersihkannya beberapa hari sekali. "Kakek sedang menunggu seorang teman." Setelah hening beberapa saat, pertanyaan Asher akhirnya terjawab. Kakeknya memberikan jawaban dengan senyum simpul. Namun tatapan matanya begitu sendu. "Opa Jay akan kemari?" tanya Asher yang dijawab dengan gelengan.


177 "Opa Doni? Kakek Jean?" Asher memberikan pertanyaan beruntun dan masih dijawab dengan gelengan "lalu siapa, Kek?" Asher menyerah. Tak tahu nama siapa yang harus disebutnya. Karena diantara semua teman, hanya mereka bertiga yang masih bertukar kabar dengan Kakeknya. "Kau tak mengenalnya" Asher mengernyitkan alisnya Bagaimana bisa ada teman kakek yang tak aku kenal? Tentu Asher merasa sedikit tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari birai yang lebih tua. Karena sedari kecil Asher selalu mengikuti kemanapun Kakeknya pergi. Bahkan ketika Pria itu menghadiri reuni akbar SMA, 11 tahun lalu, Asher dengan senang hati ikut mendampingi. Jadi cukup mustahil Asher tak mengenal teman Kakeknya. Uhuk ... Uhuk ... Suara batuk menyadarkan Asher dari lamunannya. Dengan sigap Asher mengusap lembut punggung ringkih itu. "Kek, kita ke dalam ya? Nanti sore kita ke sini lagi. Menunggu kedatangan teman kakek," "Tap–" "Teman kakek tak akan suka melihat kakek sakit karena menunggu dirinya. Jadi masuk dulu ya?" rayu Asher. "Ah, iya. Kau benar. Ia tak suka melihat ku sakit," ucap Sang Kakek penuh dengan nostalgia.


178 Tubuh bungkuk itu bangkit dengan bantuan tongkat berkaki tiga miliknya dan Asher berdiri di sampingnya siap berjaga jika-jika Kakeknya hilang keseimbangan. "Kau tahu, Ash? Ketika aku demam, ia menangis. Bukannya pusing karena suhu tubuhku yang tinggi, aku malah pusing karena menenangkannya agar ia berhenti menangis," suara paruh itu bercerita dengan diakhiri sebuah kekehan. "Dan bagian terlucu adalah ia tak mau mengakui jika ia menangisiku, ia akan berdalih bilang airmatanya tumpah karena serial kartun peri kesukaanya sedang menayangkan episode yang sedih. Padahal aku tahu, hari itu tidak ada jadwal tayang kartun kesukaannya." Jika tadi Asher melihat kesenduaan, maka kini binar terang di sepasang kontelasi malam milik Kakeknya begitu jelas terlihat. Hati Asher menghangat. Pemuda Taurus itu gembira. Ia bahagia karena sudah lama tak melihat Kakeknya berbicara dengan menggebu-gebu penuh gairah seperti ini. Sepanjang perjalanan menuju kamar, Asher mendengarkan segala hal mengenai teman Kakeknya yang tak ia kenali itu. Pria Tua itu mengenang bagaimana dengan suka rela ia memakan hotpot berkuah pedas, padahal dengan jelas ia tak menyukai makanan berbumbu cabai apapun, hanya demi menemani teman yang mood-nya sedang buruk kala itu. Sebenarnya jarak dari halaman belakang ke kamar Kakek tidak terlalu jauh, tidak sampai memakan waktu 2 menit. Namun


179 dengan kondisi tubuh Kakeknya kini, waktu 5 menitpun bisa dikatakan kurang. Kursi roda sudah Ayah Asher belikan namun enggan digunakan. Sebab Yang Tertua merasa bahwa dirinya masih mampu untuk menyongkong tubuhnya sendiri. Sudah banyak kisah nostalgia yang yang Asher dengarkan. Akhirnya, mereka pun sampai di depan pintu kayu bercat biru, pintu kamar Kakek. "Ash, minta ibu atau bibimu untuk siapkan perasan air lemon dengan madu," "Air lemon dengan madu?" "Ya, air lemon dengan madu. Yang hangat ya. Ia sangat menyukai minuman itu." "Ia? Oh, maksudnya teman kakek itu?" Asher hanya mendapatkan senyum sebagai balasan. "Sudah cepat sana katakan pada mereka, Asher Kecil" ucap Sang Kakek dengan nada bercanda. Asher Kecil Sudah lama rasanya ia tak mendengar panggilan itu. Karena Asher tak ingin lagi dipaggil dengan embel-embel 'Kecil' sejak di tahun pertama ia menginjak SMA. Sesudah memastikan bahwa panutannya berbaring di atas ranjang dengan nyaman. Asher pun bergegas menghampiri Ibu dan Bibinya di dapur. Tok ... Tok ...


180 Asher mengetuk pelan sebelum ia membuka pintu kayu itu. "Kek?" Dengan langkah hati-hati dan suara pelan, Asher memanggil. Namun ia tak mendapati jawaban. Hal itu membuat intensitas detak jantung Asher meningkat seketika. Apakah kakek ... Dengan cepat Asher menaruh nampan berisi teko dan gelas di nakas dekat ranjang dan langsung mengulurkan tangannya ke depan hidung bangir milik Kakeknya Hufh… Asher menghembuskan nafas lega ketika didapatnya udara hangat menyentuh jemarinya. Dengan sorot mata penuh syukur Asher menatap Panutannya yang tengah tertidur lelap sambil memeluk sebuah buku bersampul kuning. Asher ingin mengambil buku itu untuk ditaruhnya di atas nakas, awalnya. Namun, tiba-tiba rasa penasaran menghantamnya. Buku itu tidak asing. Asher tahu buku yang berisikan karakter gembrot berwarna putih itu sering kakeknya baca secara diamdiam. Dan akan langsung ditutup dan disembunyikan ketika Si Pemilik menyadari keberadaan seseorang di sekitarnya. Seolah tak ingin satupun orang yang mengetahui keberadaan benda itu.


181 Demi membunuh rasa penasarannya, buku yang diambilnya dengan hati-hati itu, Asher buka secara perlahan. Pada lembar awal terdapat tulisan tangan memenuhi lembaran itu, seolah itu adalah cover atau judul buku itu I'm the one who light up the world Awalnya Asher kira ini adalah buku diary, jika dilihat dari ukurannya yang tidak terlalu besar. Namun ternyata dugaannya salah, ketika ia melihat lembaran selanjutnya ternyata buku itu berisikan gambar hitam putih dari berbagai objek. Ada lampu tidur, bunga mawar, teko, sepatu, kucing, televisi, pantai, burung, pegunungan dan sebagainya. Asher membuka lembar demi lembar. Hingga akhirnya sebuah lembar berhasil mencuri atensi Si Tampan. Tidak asing Pagar kayu, kursi taman di bawah pohon maple. Asher berpikir sejenak. Tak lama, ia pun membulatkan matanya. Ia menyadari bahwa itu adalah taman belakang rumahnya. Namun siapa lelaki ini? Dan siapa yang menggambarnya? Jika dilihat, gambar ini memberikan perspektif dari dalam ruangan. Apakah ini dibuat oleh penghuni rumah depan? Asher masih berpikir, hingga matanya jatuh ke sebuah tulisan kecil di pokok bawah,


182 Bagaimana dia bisa betah membaca berjam-jam? 20 Maret 19xx Apakah ini Kakek? Asher bertanya dalam hati sambil mencuri pandang ke arah Kakeknya. Karena Pria yang tengah pulas tertidur itu pun mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca. Asher buka lembar selanjutnya, tidak seperti gambar yang sebelum-sebelumnya. Pada lembar itu terdapat sebuah meja yang digambar dengan tidak utuh, seolah berhenti di tengah jalan. Pun dengan gambar apel di halaman sampingnya. Dan ketika Asher melihat ke bagian bawah lukisan terdapat tulisan kecil Tidak fokus 23 Maret 19xx Lalu di lembar selanjutnya Asher temukan lagi objek taman dan pemuda yang sama, namun pemuda dalam gambar melakukan suatu aktiviatas pada pohon maple. Gambar itu cukup indah dengan beberapa detail daun beruas pada pohon, namun satu kalimat tanya di bawah sukses membuat Asher tersedak menahan tawanya,


183 Membuang air kecil? 7 April 19xx Setelah puas menertawakan, Si Taurus kembali membuka lembar lainnya. Sama seperti sebelumnya, ada banyak objek yang digambar tak sampai utuh, bahkan ada yang masih dalam bentuk kerangka namun akan diselingi oleh gambar yang lagi-lagi adalah taman belakang rumahnya dan seorang pemuda dengan berbagai aktivitas, yang digambar secara utuh dan cukup detail. Selain itu gambar itu juga sama-sama dibuat dari dalam ruangan. Terlihat dari bingkai jendela yang dijadikan seolah sebagai garis tepi. Asher seakan tahu pattern dari sang Pelukis pun hanya memerhatikan lembar-lembar berikutnya secara sekilas. Sampai akhirnya atensinya kembali tercuri pada lembar di mana latar dan objek sama, tapi dari gambar itu terlihat bukan lagi dalam ruangan, Sang Pelukis sudah mendekat ke arah objek. Namun tetap sama, wajah si pemuda masih belum terlihat. Meski Asher yakin itu adalah kakeknya tapi tetap saja itu hanya sebuah dugaan. Dan disana Asher dapat membaca sebuah tulisan Aku tak tahu benar apa tidak. Tapi jika dugaanku benar, anggap saja ini hadiah dariku :p tapi kuberi nanti


184 24 April 19xx Lalu di halaman selanjutnya berisikan sketsa Pemuda yang tengah memakan semangka. Aku hanya melukis. Bukan terpesona. Kebetulan saja hanya ada dia. :p 27 April 19xx Membaca itu Asher pun tertawa kecil, karena dengan tulisan ini malah terlihat jelas bahwa Sang Pelukis tengah terpesona pada objek gambarnya namun tak ingin mengakuinya. Cinta remaja Semakin lama, sketsa itu semakin dekat. Wajah pemuda pun semakin jelas digambarkan dan membuat Asher semakin yakin bahwa pemuda dalam lukisan itu adalah Kakeknya. Mata yang melengkung ketika tersenyum dan noktah di bawah mata kanannya. Siapa lagi yang memilikinya? Tentu bukan dia yang di dalam lukisan itu. Bahkan ditahun itu ia belum di rencanakan untuk ada. Aneh! Ini aneh! Mengapa aku berdebar! Saat menggambar dari dekat! 17 Mei 19xx


185 Dan lembar selanjutnya tak lagi ada gambar benda mati atau makhluk hidup yang lain, semua diisi oleh sketsa wajah Kakeknya dengan berbagai ekspresi dan gaya. Perhatian Asher jatuh pada lembar dimana Kakeknya tengah mengipasi bibir dengan tangannya sendiri. Sudah tahu tidak bisa makan pedas tapi tetap dimakan. Tapi, tetap aku ucapkan terimakasih, Karena sudah membuatku tersenyum <3 23 September 19xx Deg Untuk beberapa saat jantung Asher seolah berhenti. Ia menyadari sesuatu. Apakah ini milik teman Kakek? Teman kakek yang begitu dekat dan tidak ku kenali? Teman kakek yang mungkin tinggal di rumah yang berhadapan dengan taman belakang rumahnya? Asher lanjut membuka lembar demi lembar, masih sama lembarlembar itu berisikan sketsa Si Tua semasa muda dan beberapa diantaranya berisikan tulisan Siapa suruh sok kuat?! Cepat sembuh! 25 Januari 19xx Kau bodoh!


186 16 Februari 19xx Kau keren ketika menggunakan kacamata baca 27 Maret 19xx Dan yang menarik perhatian Asher ada pada lembaran yang berisikan tulisan Jangan menatapku dengan wajah seperti ini. Itu tidak boleh 25 April 19xx Kalimat itu berada tepat di bawah gambar wajah Sang Kakek dengan wajah dan sorot mata memuja. Apa kakek jatuh cinta pada sahabatnya? Dan beberapa sketsa dengan ekspresi serupa pun berisikan tulisan Tolong jangan. Ini salah 7 Mei 19xx Asher mengerutkan alisnya Apakah ini sejenis cinta satu sisi, dimana yang satu merasakan cinta dan yang lain hanya mengganggap sahabat? Apa ini


187 alasan Kakek dan temannya tak pernah berjumpa? Tapi bukankah temannya juga mencintai kakek? Karena demi apapun, Asher berani bersumpah siapa saja yang melihat isi buku ini akan sepakat bahwa sang pelukis tengah terperangkap dalam pesona object yang digambarnya. Meski tanyanya belum terjawab, namun Asher masih setia membuka lembar demi lembar. Dimana dalam tiap lembar yang dibukanya, Asher berharap temukan jawab untuk tanyanya. Asher membeku beberapa saat, pada satu lembar yang mempertunjukan side profile kakeknya yang tengah menatap ke atas Aku juga mencintaimu. Aku mencintaimu. Tapi tidak bisa. Kita tidak bisa bersama 18 Juni 19xx Mengapa tidak bisa? Asher semakin dibuat bingung. Bukan ini yang ia harapkan. Bukan pertambahan pertanyaan. Asher ingin jawaban. Sketsa selanjutnya gambar Kakek Asher dengan stelan jas. Kau tampan 20 Juni 19xx


188 Lalu sketsa Kakeknya yang tengah minum dari botol Bagaimana bisa kau mengatakannya lagi dengan tenang, ketika kita sama-sama tau, kita tak bisa bersama? 23 Juni 19xx Ada apa? Kenapa? Kalian saling mencintai kan? Lalu kenapa? Asher semakin dibuat penasaran, ia masih berharap akan mendapatkan jawaban pada lembar selanjutnya. Namun, pada lembar berikutnya hanya berisi coretan abstrak. Boleh 'kah kita egois? 19 Juli 19xx Dilanjutkan dengan lembar yang lain Jadikan aku milikmu. Malam ini hanya ada kita. Aku dan kamu. Kita habiskan malam ini dengan penuh cinta. Biarkan akal sehat kita menghilang. Cukup untuk malam ini saja. 23 Juli 19xx Masih di lembar yang sama namun terdapat jarak yang memisahkan, seolah menandakan bahwa itu ditulis di waktu yang berbeda


189 Apakah kita bisa bersama? Dan pada akhirnya tanyanya tak menemukan jawaban. Itu adalah lembar terakhir yang terisi, dimana pada lembar selanjutnya hanya ada kekosongan. Namun Asher masih membolak balik lembar demi lembar dari depan ke belakang dan sebaliknya, berharap akan ada sesuatu yang terselip atau mungkin ada yang terlewat. Asher masih memerlukan jawaban. "Ash?" Suara paruh itu membuat tubuh atletisnya tersentak kaget "Kakek, maaf ak, aku–" Asher tergagap sambil menutup buku tua itu dengan tergesah-gesah. "Kau melihatnya?" tanya Kakek Asher dengan suara paruhnya "Ma, maaf, Kek. Ak–" "Tak apa. Mungkin sudah waktunya untuk diketahui." Setelah yang lebih tua mengucapkan kalimat itu keheningan hadir membuat gelak tawa anggota keluarga lain yang berada di luar dapat samar-samar terdengar di rungan ini. Tanpa suara Asher mengambil kursi dan duduk di samping ranjang Sang Kakek. "Kakek, apakah teman yang Kakek ceritakan adalah pemilik buku ini?" tanya Asher sambil memberikan buku bersampul kuning itu kepada sosok di depannya. Pria tua itu menerima buku itu dengan memberikan anggukan dan senyum kecil sebagai balasan dari pertanyaan cucu kesayangan itu.


190 "Dia tinggal di rumah belakang?" "Iya, dia tinggal di sana. Dan kau tau? kami sering bertemu di taman belakang." Selain jawaban, Asher juga mendapati raut bahagia dari wajah layu itu. Tak dapat ditutupi bahwa Kakeknya bersemangat jika membicarakan teman misteriusnya. "Kakek mencintainya? Kalian saling mencintai?" Asher bertanya dengan hati-hati namun mantap. Meski tidak secara lisan dijawab namun Asher paham arti dari sebuah senyum yang mengembang hingga menciptakan lengkungan di kedua mata milik Kakeknya. "Lalu dimana dia sekarang?" Seolah salah menekan tombol. Senyum Sang Kakek memudar. "Sudah pergi." Sendu. Asher merasakan kesenduan dalam jawaban itu. Seketika rasa bersalah mengguyur hatinya. "Tapi, dia berjanji akan datang menemuiku lagi di taman belakang," lanjut pemilik suara serak dengan begitu optimis, terlihat dari senyuman yang kembali mengembang. "Benarkah?" "Ya, dia tadi memberi tahuku." "Kakek masih mencintainya?" Asher bertanya tapi belum sempat dijawab, Asher sudah kembali berbicara dengan sekali


191 tarikan napas, "ma, maksudku jika kakak masih mencintainya dan dia juga sama. Jika kalian bertemu aku rasa tak masalah jika kalian bersama. Ya selama dia juga single dan juga mencintai kakek sih. Pasti Ayah dan Paman mengerti" Mendengar penjelasan dari pemuda bersurai hitam legam di depannya, membuat pria ringkih itupun tertawa. Sesuatu kejadian langkah, cucunya yang cukup terkenal dengan ketenangannya kini berbicara bak kereta api. "Selalu. Kakek selalu mencintainya tanpa henti" jawab Kakek dengan penuh keyakinan dan kemantapan. "Lalu, nenek? Maaf, kek. Maksudku–" "Kakek dan Nenekmu menikah karena perjodohan. Nenekmu pun saat itu telah memiliki seorang kekasih sebelum bersama Kakek, begitupun aku. Aku memiliki orang yang aku cintai." Terdapat jeda sedikit lama, sepasang kontelasi malam itu seolah menerawang masa lalu. "Meski begitu kami sepakat untuk mencoba membangun rumah, menghormati pernikahan kami. Hingga hadir ayahmu. Tapi mau bagaimana? Kami hanya 2 orang yang memaksakan diri untuk menjadi satu. Kakek pun berpikir, nenekmu pantas untuk menemukan kebahagiannya, hidup bersama orang yang ia cintai dan mencintainya. Akhirnya kami memutuskan berpisah, beberapa tahun setelah Ayahmu lahir."


192 Asher hanya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia paham dan mengerti. Dan ia pun menjadi tahu, mengapa meski berpisah tetapi hubungan antara Ayah dan saudara tirinya (Anak dari Nenek dan suami barunya) baik-baik saja. Dan bahkan Asher juga sering disuruh untuk bermain bersama dengan Marka (Anak dari saudara tiri Ayahnya) semasa kecil. "Nenek tahu siapa yang kakek cintai?" "Entahlah. Kami tidak pernah membahasnya" "Apakah alasan kakek tidak menikahi lagi adalah karena Kakek masih mencintai dia?" Kakeknya memejamkan matanya singkat dan tersenyum menandakan bahwa apa yang ditanyakan Pemuda dengan tinggi 178 cm itu benar adanya. "Pukul berapa sekarang?" "Pukul 04.00 sore, Kek" "Sebentar lagi ia datang. Aku harus bersiap-siap." Ucap Kakek Asher dengan segera bangkit dari ranjang dan meraih tongkat berkaki tiga miliknya. Tentu saja Asher yang melihat itu dibuat kaget dengan pergerakan Kakeknya yang dilakukan dengan tergesah-gesah. "Kek, pelan-pelan. Kakek harus hati-hati. Biarkan aku yang mengambil apa yang kakek perlukan. Kakek disini saja" ucap


193 Asher meminta salah satu Pria Hebat dalam hidupnya ini duduk di atas ranjang. Asher langsung menuju lemari yang terdapat di sudut ruangan dan membuka lebar kedua pintu lemari itu. "Kemeja putih" Mendengarkan hal itu, Asher menelisik isi lemari dengan mata elangnya beberapa saat hingga akhirnya ia menemukan beberapa kemeja putih lalu menunjukannya pada sosok tua yang duduk nyaman di atas ranjang. "Yang itu." Kemeja putih yang berada di tengah menjadi pilihan. Asher pun menaruh kemeja itu di pundah kokohnya dan mengembalikan kemeja yang tak dipilih ke tempat semula. "Lalu?" "Jas dan celana putih, Ash" Di dalam lemari hanya terdapat satu jas putih yang sudah dipasangkan dengan celana putih dalam satu hanger. Jadi Asher tidak perlu lagi bertanya. “Ada lagi?” “Itu saja” Setelah memastikan tidak ada lagi potongan pakaian yang dicari, Asher pun menghampiri sang Kakek sekaligus membantunya untuk mengenakan pakaian yang sudah dipilih. Terdapat kelonggaran pada lingkar pinggang celana saat dikenakan, ini karena ukuran pinggang Sang Kakek menyusut.


194 Ya, semenjak beberapa tahun terakhir bobot tubuh pria itu menurun. Tidak ingin membuat Kakeknya bersedih, dengan cepat Asher menarik gasper miliknya dan melilitkannya di pinggang kecil itu. "Terimakasih, Ash" Asher hanya balas tersenyum. "Apakah kau bisa memasangkan bross dan pin yang ada di meja itu?" tanya Kakek Asher menunjuk sebuah kotak putih di atas meja rias. "Apapun untuk Kakek Tampanku yang akan bertemu dengan pujaan hatinya" goda Asher. Dengan sigap Asher mengambil bross yang dimaksudkan dan memasangkannya ke stelan yang sudah dikenakan Si Tua. Tak lupa Asher juga menyisiri rambut tipis milik Si Tua Tampan, katanya "Jangan sampai ia melihat botak di kepalaku" Jika Asher adalah Chandra, sepupunya (Anak dari keponakan Kakeknya). Mungkin Asher sudah tertawa terpingkal-pingkal mendengar kecemasan dari birai kering itu. "Nah, sudah" ucap Asher ketika semua sudah tertata rapi, "jadi tema kali ini beautiful in white?" tanya Asher sambil memerhatikan Kakeknya dari atas ke bawah. Dan hanya diberikan anggukan. Dengan perlahan Kakeknya berjalan ke arah kaca yang memantulkan secara utuh seluruh tubuhnya.


195 "Apakah aku terlihat gagah?" "Selalu" "Apakah penampilanku aneh?" "Tidak, Kek. Kau sangat menawan," jawab Asher mendekatkan dirinya dan berdiri tepar di samping Pria Tua itu. "Kau begitu mirip denganku, Ash." Yang tua berucap sambil memandang bayangan yang dipantulkan oleh cermin di depannya. Pantulan itu menunjukan dua sosok tampan berbeda usia. Aneh. Bukan nada antusias atau nada bangga yang ia dengar, malah gendang telinga Asher menangkap Kakeknya berucap dengan nada yang sendu, tidak seperti biasanya. Namun dengan cepat Pemuda pecinta kucing ini menegaskan bahwa ia hanya salah mendengar, karena sepengetahuannya, ia dan pria tua di sampingnya adalah Pasangan Kakek dan Cucu impian, jadi mustahil jika Kakeknya sedih karena kemiripan mereka. "Ya tentu saja! Kau adalah Kakekku!" seru Asher dengan bangga dan begitu antusias. "Oiya! Jangan lupakan perfume!" Dengan sigap Asher menuju meja rias yang terdapat tepat disebalah kanan cermin dan mengambil botol transparan yang berisikan cairan beraroma. Tanpa aba-aba Asher menyemprotkan perfume ke arah Kakeknya. "Sempurna!" ucap Asher puas. Menghiraukan sosok di depannya yang tengah mengibas-ngibas tangan akibat bau


Click to View FlipBook Version