96 pulang ke rumah. Namun, ketika ia hendak memasuki kawasan parkiran di area sekolahnya itu, ia melihat Reeisha sedang kebinggungan, dan segera menemui Reeisha “Rei, lagi cari apa?” ucap Keenan, yang secara tidak langsung kehadiranya mengejutkan Reeisha. “Gua lagi cari dompet gua, soalnya tadi gua buru-buru, gak sadar ternyata tas gua resletingnya kebuka, duh, gimana gua pulang nih, uang gua semuanya di dompet,” ucap Reeisha kepada Keenan, sambil terus mencari dompetnya yang hilang. “Yaudah, bareng gua aja, tapi jangan kepedean, gua cuman kasian sama lo, gak lebih.” Ucap Keenan dan segera mengajak Reeisha untuk berjalan menuju mobilnya. Sesampainya di rumah Reeisha, Keenan dikejutkan oleh satu sosok wanita, yang ia duga merupakan ibu dari Reeisha, yang sedang menyapu halaman. Namun, ketika ia memperhatikan wajah wanita tersebut dengan jelas, ia terkejut karena wajah wanita itu sangat mirip dengan ibunya, seperti pinang dibelah dua. “Ibu, kenalin ini teman kelas aku, namanya Keenan.” Ucap Reeisha, sambil mempersilahkan ibunya dan Keenan untuk saling berkenalan. “Kamu anaknya, Ocha yah?” tanya ibu Reeisha kepada Keenan, seketika membuat Keenan kaget dan jantungnya berdetak tak berkaruan. “Iya, kok tante bisa tau?” Tanya Keenan kembali, karena ia sangat penasaran, tentang semua hal yang menyangkut bundanya.
97 “Mari, bicara didalam saja nak,” ucap ibu Reeisha Ibu Reeisha, mempersilahkan Keenan untuk duduk, dan menyuruh Reeisha untuk membuatkan minum untuk Keenan. “Jadi gini nak, Ocha atau lebih tepatnya bundamu, adalah saudara kandung saya, kita adalah kembar identik yang lahir dengan hanya beda 5 menit, Ocha lahir terlebih dulu, kemudian saya pun lahir setelahnya. Namun, ketika kita beranjak dewasa, dan memiliki kehidupan rumah tangga masing-masing, kita satu sama lain sangat jarang berhubungan,” lanjut ibu Reeisha bercerita, “Bahkan hampir tidak ada komunikasi di antara kita, terlebih lagi saya mengetahui sifat ayahmu yang sangat tempramental, dan selalu melarang bundamu untuk berkunjung atau berkumpul bersama keluarga, itulah sebabnya, saya tidak pernah bertemu dengan bundamu lagi, sekitar 16 tahun yang lalu. Tiba-tiba saya mendengar kabar, jika bundamu meninggal.” Ucap Ibu Reeisha panjang, dan lebar kepada Keenan. “Saya masih sedikit binggung, mengapa tante mengetahui bunda saya meninggal, kan tante sudah tidak berhubungan lagi? Dan juga mengapa tante langsung mengetahui kalo saya anak dari Bunda Ocha,” tanya Keenan yang masih merasa janggal, akan penuturan saudari bundanya tersebut. “Oh itu, jadi, seminggu sebelum bundamu meninggal, kami sudah bertemu satu sama lain, dan mulai kembali membangun hubungan, tetapi hanya kita berdua yang tau. Karena, ia harus merahasiakannya dari ayahmu, Seiring berjalannya waktu, bundamu selalu bercerita, dan curhat tentang rumah tangganya
98 kepada saya. Ia pun curhat, perihal kecurigaannya terhadap ayahmu. Kemudian, saya menyuruh bundamu untuk tetap berpikir positif, tetapi, itulah Ocha, tetap saja keras kepala, dan lebih menggunakan firasatnya. Semua hal tentang rumah tangganya, selalu ia ceritakan kepada saya, begitupun sebaliknya, dan alasan saya mengetahui kamu adalah anak Ocha, karena dia pernah menunjukkan foto kamu kepada saya.” Jelas Ibu Reeisha menceritakannya kepada Keenan. Seketika, pikiran Keenan dipenuhi oleh kepingan-kepingan puzzle yang sudah mulai tersusun sedikit demi sedikit, banyak pertanyaan dalam benaknya yang masih menuntut pernyataanpernyataan lebih. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 petang, sehingga ia harus pulang kembali ke rumah, dan menemui Tara. Keenan tiba di rumah besarnya itu, ia pun langsung mengambil ponselnya, dan segera menelpon Tara, kakak kelasnya dulu yang sekarang telah menjadi pegawai di perusahaan milik ayahnya. “Halo bang, gimana kalo ketemuannya sekarang aja, gua benerbener penasaran. Lo izin aja ke ayah, bilang mau anterin gua ke mall.” Ujar Keenan kepada Tara. “Oke, gua siap-siap,” jawab Tara singkat lewat telepon. Setelah sekitar 15 menit berlalu, akhirnya mereka pun bertemu, sesuai kesepakatan awal, yaitu di lapangan basket, dekat rumah Keenan. Mereka pun melihat sekeliling, untuk memastikan bahwa tempat tersebut aman. “Sebelum lu denger cerita gua, janji ya, jangan bertindak gegabah dan konyol,” tegas Tara kepada Keenan
99 “Iya, cepetan cerita.” Kata Keenan kepada Tara. Namun, dengan perasaan yang tidak enak menghantui pikirannya. “Jadi gini, ayah lu, atau pak Dimas itu punya pacar, jauh sebelum dia menikah dengan bu Ocha, dia sangat sayang sama pacarnya, bahkan berencana untuk menikahi pacarnya. Namun, hal yang sangat tidak terduga pun terjadi, dia dijodohkan oleh kedua orangtuanya untuk menikahi bu Ocha, dan orangtuanya mengancam jika tidak menerima perjodohan ini, ahli waris utama sebagai penerus perusahaan akan langsung otomatis jatuh ke tangan Patrick, sebagai anak yang kedua, dan yang paling kompeten dalam memimpin perusahaan. Karena keegoisan pak Dimas, ia pun menerima perjodohan tersebut, dan akhirnya pak Dimas dan bu Ocha menikah,” ucap Tara, namun ketika ingin melanjutkan kembali perkataannya, Keenan pun menyela ucapan Tara. “Kok lu bisa tau cerita ini semua bang?” sela Keenan. “Sabar, nanti gua ceritain di akhir. Lanjut, dari awal pernikahan mereka sama sekali gak dibumbui dengan perasaan cinta. Apalagi pak Dimas, dia malah tambah mesra sama pacarnya, dan disitu gua merasa kalo bu Ocha tuh sangat kasian, lu bayangin perjuangan bunda lu dulu, menikah selama 16 tahun dengan pak Dimas, tanpa ada perhatian sedikit pun dari pak Dimas. Selama itu juga pak Dimas gak cerita tentang pacarnya ke bu Ocha, alasannya juga gua kurang tau, mungkin dia takut kalo bu Ocha mengetahui itu semua, beliau akan menceritakan perbuatan suaminya ke orang tua pak Dimas. Nah, dari situ akar permasalahan dan kecurigaan muncul,” ucap Tara. “Bang, lo cerita jangan setengah-setengah.” Ujar Keenan, yang mulai sedikit meninggikan nadanya.
100 “Sebentar gua cape ngomong terus, lanjut, karena kecurigaan bu Ocha sudah memuncak dan tidak terbendung lagi, ia pun memutuskan untuk membuntuti serta melacak keberadaan pak Dimas. Dan hebatnya, dugaan bu Ocha tidak melesat sedikit pun, pak Dimas langsung kepergok oleh bu Ocha, sedang tidur di sebuah hotel mewah bersama pacarnya. Pak Dimas yang tidak memiliki rasa kemanusiaan pun, langsung memaki, serta menertawai kedatangan bu Ocha, bu Ocha yang sangat merasa kecewa, tanpa berpikir panjang langsung mengancam pak Dimas, dengan akan menceritakan semua sikap, dan perlakuannya terhadap dirinya kepada ayah mertuanya. Setelah bu Ocha keluar dari kamar hotel itu, pak Dimas langsung menelpon tangan kanannya, untuk membunuh bu Ocha, dan lu mau tau siapa tangan kanannya?” ucap Tara sambil terus waswas terhadap sekitarnya. “Siapa bang?” ucap Keenan ragu, karena firasatnya mengatakan bahwa papa Adnan yang membunuh bundanya. Mengapa Keenan bisa menuduh dan mencurigai papa Adnan adalah pembunuhnya, karena pada saat mengetahui bundanya meninggal, hanya keluarga Adnan yang tidak datang melayat, bahkan mereka tidak mengucap belasungkawa. Dan setiap kali dirinya berpapasan dengan papa Adnan, Ahyner menunjukkan sikap yang tidak biasa, seperti gelisah, ketakutan, dan selalu menghindar. Maka dari itu, Keenan yang kondisinya masih labil menuduh papa Adnan, sebagai penghianat. “Boom, dan dugaan lu benar, yaitu bokap dari sahabat lu, Adnan, pak Ahyner yang menjadi tangan kanan pak Dimas untuk membunuh bu Ocha, dengan iming-iming jabatan dengan posisi
101 direktur utama, pak Ahyner langsung menyetujui pembunuhan berencana itu. Kenapa gua sebut sebagai pembunuhan berencana, karena pak Dimas sudah mempunyai rencana jauh sebelum kepergok bu Ocha, jadi dia merencanakan, semisalnya bu Ocha menegetahui itu semua, dan mengancamnya, ia akan langsung menghabisi nyawa istrinya itu.” Ucap Tara, sambil menatap raut Keenan yang sangat sudah ingin meledak, dan kecewa dengan ayahnya. “Iblis, itu satu kata yang tersemat buat ayah gak berguna seperti dia, bahkan memanggil dia ayah aja, gua gak sudi.” Ucap Keenan, masih dengan emosi yang sangat tidak stabil setelah mendengar kebenaran itu. “Dan satu hal lagi bang, lo tau cerita ini semua dari mana dan apakah lu bener-bener bisa bertanggung jawab atas cerita lo ini?” selidik Keenan. “Jadi, semua cerita ini gua dapet, karena waktu itu gua denger secara langsung, pak Dimas dan pak Ahyner ngobrol tentang kematian bu Ocha, di toilet kantor khusus direksi dan owner. Binggungkan kenapa gua bisa masuk situ, jadi waktu itu gua lagi di suruh anter berkas dari divisi keuangan untuk di tandatangani oleh pak Ahyner, karena setelah gua nganter berkas ke ruangan pak Ahyner, perut gua mules, Alhasil, gua langsung masuk aja ke toilet khusus itu. Setelah mau keluar, sayup-sayup gua denger bunyi tapak sepatu orang yang mau masuk ke toilet itu. Maka dari itu, gua mengurungkan niat untuk keluar dari bilik toilet. Karena mungkin pertanda dari yang maha kuasa, gua mendengar dan menyimak semua obrolan pak Dimas dan pak Ahyner tanpa
102 kelewatan satu bagian sedikit pun, dari awal sampai akhirnya gua keluar toilet,” lanjut dimas, “Oh iya, satu hal lagi, kenapa gua bisa tau kisah cinta pak Dimas dan Bu Ocha, karena beliau sendiri yang menceritakan ke gua, dan menyuruh gua untuk melaporkan seluruh gerak-gerik mencurigakan dari pak Dimas, kalo tentang pacar pak Dimas, gua jujur tau karena pak Dimas yang suruh gua untuk menuruti semua perkataan pacarnya, dan mengancam untuk membunuh gua dan keluarga gua, kalo sampai gua membocorkan rahasia besar itu kepada bu Ocha.” Sambung Tara dengan sangat jelas, bahkan saking jelasnya, membuat Keenan sangat terpukul dengan keras, seperti jatuh ke dasar jurang yang paling dalam. “Bang, lo pegang semua bukti kejahatan dia? Gua mau langsung jeblosin dia ke kantor polisi,” ujar Keenan, karena sudah tidak bisa membendung emosinya lagi. “Lo jangan gegabah Ken, kan gua tadi udah bilang, tunggu tanggal mainnya aja, gua udah siapin rencana yang ampuh dan tidak terduga.” Kata Tara kepada Keenan, untuk meyakinkan Keenan. Setelah menceritakan semua rencananya kepada Keenan, Keenan pun mengganguk dan menyetujui rencanya yang di buat oleh Tara. Teka-teki penuh misteri menyangkut kematian bundannya pun, sudah di ketahui dengan jelas kebenarannya oleh Keenan. Setelah berhari-hari, setelah Tara menceritakan semua kekejaman dan kekejian yang dilakukan oleh Ayahnya, dia pun
103 dengan sabar menunggu momen tersebut, Dan bak tersambar petir, seketika ayahnya pun di tangkap oleh polisi dan lebih tragisnya di perusahaan milik ayahnya sendiri. Seketika, semua orang langsung terkejut, bahkan tak menduga atas kebenaran yang sebenarnya terjadi. Dan pemberitaan mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh Ayahnya, langsung membuat saham perusahaanya turun dengan angka yang lumayan signifikan. Dengan cekatan, paman dari Keenan, yaitu Patrick, langsung mengambil alih seluruh kendali di perusahaan itu. Dengan masih menghormati Keenan, sebagai cucu pertama yang menyandang status ahli waris perusahaan itu, ia pun meminta izin kepada Keenan untuk memimpin perusahaan tersebut sementara, sampai sekiranya Keenan sudah mampu dan bersedia memimpin perusahaan tersebut. Setelah berhari-hari mendekam di sel tahanan, Keenan pun menjenguk ayahnya untuk terakhir kalinya, karena ia memantapkan hatinya untuk memutuskan hubungan dengan ayah biologisnya itu. “Halo Ayah tercinta, gimana rasanya mendekam di penjara? Asik bukan, semoga dengan ditetapkannya hukuman 20 tahun penjara, bisa setimpal sama kejahatan yang telah anda lakukan,” ucap Keenan sambil tertawa puas. “Dasar anak kurang ajar, jangan harap kamu dapat tahta di perusahaan, dan satu hal lagi, jika benar kamu yang melakukan hal ini semua, jangan harap mendapatkan maaf dari saya,” maki Dimas kepada Adnan dengan nada yang sangat tinggi.
104 “Cih, menyebut anda sebagai ayah saja saya tidak sudi, apalagi harus minta maaf. Oh iya, mengenai hak ahli waris, pasti ini kan yang anda tunggu-tunggu, Kakek menulis warisan baru, bahwa saya adalah ahli waris yang utama dan sah, dan anda tidak mendapatkan sepeser pun harta warisan.” Ungkap Keenan, sambil menertawakan ekspresi ayahnya yang sebentar lagi akan “meledak. “Dasar anak haram! mati saja kamu,” geram Dimas kepada Keenan, sambil membenturkan kepalanya ke kaca pembatas dengan tujuan untuk memecahkan kaca itu, dan menghajar anaknya habis-habisan. Tetapi, semuanya terlambat karena kini Dimas sudah dibawa oleh penjaga lapas, untuk masuk kembali ke dalam sel. Akhirnya, seluruh kebenaran pun terungkap, Keenan sudah mulai bisa menerima semua hal yang terjadi di hidupnya dengan ikhlas dan bersikap dewasa. Satu hal yang harus ia tanamkan dalam dirinya adalah untuk tidak egois, dan Keenan pun membuka lembaran baru untuk hidupnya, karena ia ingat janjinya kepada bundanya, untuk tetap melanjutkan kehidupannya, meskipun nanti bundanya tidak berada lagi di sisinya.
105 Keinginan Mohamad Refa Al Gifahri Di sebuah kota kecil bernama Kepala Bujur, hiduplah seorang pemuda bernama Abyan. Abyan merupakan penggemar berat sepak bola dan sangat mencintai tim nasional sepak bola (Timnas). Setiap hari ia dengan antusias membaca berita terkini tentang olahraga, permainan dan prestasi tim nasional, mencobamengikuti semua detail permainan mereka. Namun orang tuanyamempunyai harapan berbeda terhadap masa depan Abyan. Mereka memimpikan Abyan menjadi seorang dokter yang sukses. Sejak kecil, harapan itu sudah mereka tanamkan pada Abyan. Setiap kali dia berbicara tentang negaranya atau pertandingan yang akan datang, mereka akan menganggukkan kepala dengan antusias. Abyan kesulitan mendapatkan dukungan dari orangorang terdekatnya. Meski kecintaannya pada sepak bola dekat dihatinya, ia tahu bahwa impian orang tuanya terbatas. Suatu hari nanti, tim nasionalnya akan memainkan pertandingan penting yang akan menentukan masa depan liga utama. Abyan kaget sekaligus bersemangat. Itu adalah pertandingan yang tidak ingin dia lewatkan. Ia ingin datang ke stadion, merasakan keseruannya dan mendukung timnas secara langsung. Namun, saat Abyan mengutarakan keinginannya kepada orang tuanya, mereka menolak memberikan izin. Mereka memberinya alasan bahwa ia harus fokus pada studinya dan segera mulai menjadi dokter.
106 Abyan merasa putus asa. Impian dan kecintaannya terhadap sepak bola seolah hancur karena tekanan orang tuanya. Namun, ia sadar bahwa ia tidak bisa terus hidup dalam keputusasaan. Abyan tahu dia harus mencari solusi untuk masalah ini. Setelah berpikir beberapa hari, Abyan memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuanya. Dia duduk bersama mereka dan menjelaskan Abyan telah menunjukkan dedikasi dan keseriusan dalam studinya selama ini, dan mereka melihat potensi besar dalam diri putra mereka. Meski tetap berharap Abyan bisa menjadi seorang dokter, mereka juga percaya bahwa kecintaan Abyan terhadap sepak bola adalah bagian penting dari dirinya. Setelah berbincang dengan Abyan, orang tuanya akhirnya memberinya izin untuk menonton pertandingan timnas di stadion. Abyan merasa lega sekaligus bahagia. Dia tahu bahwa ini adalah langkah pertama untuk menghormati kecintaannya pada sepak bola. Meskipun orang tuanya masih berharap dia mengejar karir medis, mereka juga berjanji untuk mendukungnya semaksimal mungkin dalam perjalanan sepak bolanya. Dengan semangat baru dan dukungan dari orang tuanya, Abyan kembali fokus pada studi dan sepak bola. Dia belajar menggunakan waktunya dengan bijak, menjaga keseimbangan antara belajar dan bermain sepak bola. Abyan berjanji pada dirinya sendiri akan terus berlatih dan meningkatkan kemampuannya dalam sepak bola. Dalam perjalanan hidupnya, Abyan menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikorbankan. Ia belajar menyeimbangkan keinginan dan harapan orang tuanya dengan kebahagiaan dan impiannya. Abyan terinspirasi untuk mengikuti passionnya dan melanjutkan studinya. Dengan waktu
107 dan usaha, Abyan akhirnya menjadi seorang dokter sukses, sekaligus menjadi salah satu pendukung setia tim sepak bola nasionalnya. Sosok Abyan menjadi inspirasi bagi banyak orang, mengajarkan pentingnya mengikuti keinginan dan impian sambil tetap menghargai harapan orang tua. Abyan membuktikan bahwa dengan tekad dan dukungan, kita bisa meraih apa pun yang kita impikan. Betapa pentingnya sepak bola baginya. Abyan menjelaskan bagaimana kecintaannya pada olahraga memberinya semangat dan kebahagiaan, membuatnya tetap hidup. Tak hanya itu, beliau juga menjelaskan betapa dirinya menghargai pendidikan dan akan menggunakan waktu dan tenaganya dengan bijak untuk terus maju di kedua bidang tersebut. Orang tuanya mendengarkannya dengan cermat. Mereka melihat tekad dan semangat di mata Abyan. Mereka memahami bahwa kebahagiaan anaknya juga memegang peranan penting
108 Kehidupan Diri Sendiri Muhammad Arya Bimasena Di Pagi yang cerah ketika hari sabtu, kumulai hariku dengan penuh semangat dan ceria. Kenalin namaku Arya, aku seorang siswa dari SMA Negeri 68 Jakarta yang berusia 17 tahun, aku kelas XI Jurusan IPA.setiap pagi ketika baru datang. Setiap paginya Pukul 05:00 pagi ku bangun dari tempat tidur ku, merapikan tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi, setelah mandi aku pun langsung mengambil air wudhu dan langsung sholat subuh. Lalu aku mempersiapkan sarapan pagi dan seperti biasanya aku selalu minum susu dan roti. Setelah itu aku siap siap untuk berangkat sekolah.Sebelum ke luar rumah aku pamit dulu kepada orangtuaku, setelah itu mengenakan sepatu sekolahku di luar rumah, lalu aku pergi kesekolah menggunakan motor diantar oleh ibuku.Sekitar 10 menit aku dan ibuku berada di perjalanan lalu sampailah aku dan ibuku sekolah, dan akupun mencium tangan ibuku, dan berpamit untuk kekelas. Kumulai kembali hari ini dengan kegiatan belajar di sekolah dengan semangatnya,Disekolah aku sering bercerita dengan teman-teman dikelas, teman dekatku disekolah, bel jam pertama pun dimulai, jam pertama kami yaitu belajar bahasa Indonesia disana aku memperhatikan guru saat menerangkan pelajaran, mengerjakan tugas atau latihan dari guru.
109 Bel pun berbunyi ke 5 kali, ketika pukul 10.00, itu pertanda bahwa kami harus beristirahat, lalu bunyi bel yang berbunyi 2 kali yang itu pertanda bahwa kami harus masuk kelas dan belajar, selanjutnya jam pun menuju angka 12.00 itu adalah jadwal sholat dhzuhur kelas kami, akupun segera bergegas ke mushola sekolah untuk menunaikan sholat, setelah sholat akupun kembali lagi ke kelas. Bel berbunyi ke 8 kali, ini pertanda bahwa kami pulang. "Yessss..." itulah kata-kata yang selalu terlontar dari mulut kami saat mendengar bel berbunyi ke 8 kali. Kami akhiri proses belajar kami. Lalu mengenakan tas sekolah, berdoa dan setelah itu bersalaman dengan guru untuk pulang, dan keluar kelas untuk memakai sepatu sekolah kami yang berada di luar, segera ku ke gerbang sekolah untuk menunggu ibuku menjemputku. Sewaktu jam 14.00 hari sudah mulai siang dan cukup panas harinya, akhirnya sekitar 10 menit ibu ku pun datang menjemput ku, lalu kami pun kembali kerumah, sesampainya dirumah aku pun mengganti pakaian sekolah ku dan melepas sepatu, setelah itu aku pun makan siang dan beristirahat, setelah beristirahat. Tiba-tiba handphone ku pun berbunyi, ternyata ada sms dari teman dekat ku dirumah dia bernama Nicholas, dia bilang "ya, temenin aku ke gramedia ya" lalu aku pun langsung kerumahnya, setelah itu kami langsung ke gramedia, disana ia sibuk mencari buku yang akan dibelinya dan aku hanya
110 membaca - baca bukunya saja, karena tidak ada buku yang ingin aku beli.Setelah selesai mencari buku, kami pun bergegas kembali kerumah, sesampainya dirumah kami pun beristirahat dikamar ku, bercerita tentang kegiatan di sekolah pada hari itu, setelah itu teman ku meminta untuk diantarkan pulang dan akupun mengantarnya pulang, dan akupun kembali kerumah, sesampai dirumah akupun segera mengambil air wudhu dan segera sholat ashar. Hari sudah menunjukkan jam 17.00 aku pun segera menuju ke kamar mandi untuk mandi, setelah mandi akupun membereskan buku yang akan di pelajari esok di sekolah, waktu pun menunjukkan pukul 18.00 aku pun segera mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat mahgrib, selepas sholat mahgrib aku pun mengaji sendiri di rumah, terkadang bersama ayah ku. Setelah selesai sholat dan mengaji, aku pun belajar dan mengerjakan pr yang telah diberi guru ketika disekolah tadi, waktu pun semakin berlalu, menunjukkan pukul 21.00 dan aku pun telah mengantuk dan segera membersihkan kaki lalu kembali ke kamar membersihkan kasur dan membaca do'a tidur lalu aku pun tidur.Pada pukul 05.00 aku pun terbangun dan segera melaksanakan sholat subuh, setelah sholah subuh aku pun menonton tv, lalu membersihkan rumah.
111 Ketika hari minggu, aku pun diajak pergi oleh kakak ku, dia mengajak ku ke Ragunan , dan aku pun mau dan tidak menolak karena di tempat itu katanya banyak macam - macam hewan, lalu akupun bersiap-siap untuk pergi ke tempat itu, setelah bersiap, kami pun langsung bergegas kesana, kami belum ada yang tau dimana letak Ragunan tersebut, kami pun mencari alamatnya melalui peta di handphone, akhirnya tempat itu pun ketemu dan kami mencoba menanyakan pada satpam yang bekerja disitu, dan satpam itu berkata bahwa tempat ini masih ditutup dan kalau mau masuk harus bayar 4.000.00 per kepala dan akhirnya kami pun masuk dan ber foto- foto di tempat itu dan bermain Ragunannya, setelah itu kami pun pulang kerumah. Setelah sampai dirumah, handphone ku pun berbunyi ternyata ada telfon dari temanku yang bernama Nicholas itu, dia mengajak ku untuk ke bermain, lalu dia pun menjemput ku dan kami segera menuju kesana.
112 Berlibur Bersama Keluarga Kecilku Dava Raihansyah Disaat aku, adikku dan orang tuaku sedang menikmati makan malam dimeja makan. Setelah makan malam ayah dan ibuku membicarakan tentang libur akhir sekolah, ayah dan ibuku mengajak aku dan adikku untuk berlibur kepuncak bogor. Aku dan adikku berserta keluarga kecilku menyetujui untuk berlibur dan menghabiskan hari libur akhir sekolah dipuncak yaitu yang berada di bogor. Orang tuaku sudah memesan vila dipuncak bogor sebelum 3 hari kesana untuk kita tempati selama liburan disana, saya dan keluarga kecil ku memutuskan untuk berangkat kepuncak bogor dipagi hari supaya kami sekeluarga tidak terkena macet dijalan. Malam sebelum melakukan perjalanan saya beserta keluarga kecil ku menyiapkan atau prepare untuk membawa barang atau pakaian apa saja yang harus di bawa. Saya sendiri menyiapkan barang dan menaru di dalam ransel ku yang berisi pakaian ganti dan alat mandi. Setelah saya sudah selesai menyiapkan barang bawaan yang sudah saya siapkan pada malam hari, untuk berlibur disana, lalu saya menghampiri kamar adik-adik saya saat sudah dikamar adik saya disana ada ibu saya yang sedang membantu menyiapkan barang bawaan untuk adik saya dipuncak bogor. Setelah semuanya sudah menyiapkan kan barang bawaan yang akan dibawa untuk berlibur kepuncak bogor. Saya dan adik-adik saya bergegas untuk tidur dikarna kan saya beserta keluarga saya
113 akan berangkat dipagi hari agar tidak terkena macet dijalan dikarnakan ini hari libur akhir sekolah. Yang sudah pasti banyak sekali untuk berlibur kepuncak bogor. Telah tiba pada pagi harinya tepatnya pada pukul 04.00 pagi, ayah dan ibu membangunkan saya dan adik-adik saya untuk melaksanakan sholat subuh dimasjid yang berada di dekat sekitar rumah saya yang berjarak kurang lebih 300 meter dari rumah saya. Setelah sholat subuh saya berdoa agar diberi keselamatan diperjalanan maupun dimanapun untuk keselamatan keluarga saat sedang menuju kearah puncak bogor. Setelah sholat dan berdoa saya dan keluarga saya segera bersiap siap untuk berlibur menghabiskan libur akhir sekolah. Setelah selesai bersiap siap saya dan keluarga memasuki kendaraan beroda empat yang akan kami gunakan untuk menuju perjalanan kepuncak bogor, saat diperjalanan ayah saya menuju kesuatu tempat yaitu pom bensin untuk mengisi bensin dipertamina supaya kami sekeluarga agar di lancarkan perjalanan dan tidak kehabisan bahan bakar saat diperjalanan menuju puncak bogor. Saat ayah saya sedang mengisi bahan bakar untuk menuju kepuncak bogor, saya dan adik-adik saya meminta ijin kepada ayah ibu untuk membeli snack dan cemilan yang untuk di makan saat perjalanan ke puncak bogor. Setelah ayah selesai mengisi bahan bakar untuk perjalanan menuju puncak bogor. Kami sekeluarga melanjutkan perjalanan untuk menuju puncak bogor. Disaat sedang dalam perjalanan
114 kami sekeluarga melihat banyak sekali sawah dan pepohonan diperjalanan menuju puncak bogor. Saat pukul 08.00 didalam kendaraan saya dan adik-adik saya memakan makanan yang sudah saya dan adik saya beli diwarung sekitar tempat pengisian bahan bakar. Untuk mengisi perut dikarnakan saya dan adik saya belum sarapan dipagi harinya. Setelah memakan snack adik saya tetidur saat sedang dalam perjalanan, diperjalanan saya bermain game yang ada dihanphone saya. Setelah saya bermain game lalu saya tertidur. Saat sudah sampai disana tepatnya pada pukul 11.00 kami sekeluarga mampir sebentar untuk makan siang saat makan siang ayah dan ibu membahas untuk kami sekeluarga bermain permainan arumjeram dan berkunjung kecurug yang ada dipuncak bogor. Setelah makan siang kami sekeluarga segera mencari masjid terdekat yang ada disekitar tempat kami makan siang. Saat sudah selesai sholat kami melanjutkan untuk ketempat penginapan kami, saat sudah sampai dipenginapan kami sekeluarga segera merapikan barang bawaan yang sudah kami bawa saat dirumah. Saat barang bawaan sudah selesai dirapikan dibantu dengan ibu dan ayah, saya dan adik saya beristirahat sebentar sampai pada pukul 14.00 ibu dan ayah memutuskan untuk kita pergi ke curug cildmber yang ada dipuncak bogor. Saat sedang diperjalanan menuju curug cilember kami sekeluarga mampir sebentar untuk membeli snack diwarung yang ada disekitar jalan menuju curug cilember. Setelah membeli snack disekitar warung yang ada dicurug cilember, lalu
115 kami sekeluarga melanjutkan perjalanan untuk kecurug cilember. Setelah sampai dicurug cilember saya dan keluarga saya menikmati pesona air terjun yang ada dicurug cilember. Saat berada di air terjun kami sekeluarga mengambil beberapa foto yang untuk diabadikan momen kebersamaan yang sedang kita alami. Saya disana berenang bersama ayah saya sedangkan ibu dan adik-adik saya menikmati air terjun dipinggir dikarnakan untuk menjaga adik-adik agar tidak terjadi hal yang diinginkan. Setelah bermain dicurug cilember kami sekeluarga memutuskan untuk pulang dan mencari makan malam, setelah selesai makan kami sekeluarga memutuskan untuk pulang ketempat peginapan dan beristrirahat untuk melanjutkan perjalanan besok pagi untuk main arumjeram. Pada besok paginya tepatnya pada pukul 04.00 kami sekeluarga bersiap-siap untuk melaksanakan sholat subuh dimushola yang ada disekitar tempat peginapan kami. Setelah selesai sholat dan doa kami sekeluarga mencari sarapan disekitar tempat peginapan kami. Sesudah sarapan kami bersiap-siap untuk pulang dan main arumjeram yang ada dipuncak bogor. Setelah selesai bersiap-siap kami sekeluarga berangkat menuju tempat untuk kita mencoba permainan arumjeram. Saat sudah sampai ditempat permainan arumjeram kami sekeluarga memakai alat pelindung diri atau pelampung. Setelah sudah
116 memakai alat pelindung diri kami sekeluarga dipimpin oleh orang yang sudah profesional dalam hal arumjeram. Kami bermain arum jeram dengan sangat seru dan menyenangkan akan tetapi kami sulit untuk mengabadikan momen seru itu dikarnakan air yang deras dan juga banyak sekali bebatuan yang membuat perahu yang kami tumpangi bergeser membuat kami sekeluarga susah untuk megabadikan momem tersebut. Setelah selesai memainkan arumjeram kami sekeluarga bersiapsiap untuk pulang dan meniggalkan puncak bogor. Kami sekeluarga mengambil beberapa foto saat sudah selesai main arumjeram. Sehabis berfoto disana tepat pukul 13.00 keluarga saya berangkat untuk pulang meninggalkan puncak bogor. Ketika diperjalanan pulang orang tua saya pergi untuk membeli oleh-oleh, setelah membeli oleh-oleh keluarga saya melanjutkan perjalanan untuk pulang dikarnakan kita sudah menghabiskan libur akhir sekolah dipuncak bogor. Setelah sampai dari puncak bogor orang tua saya membereskan barang bawaan yang sudah digunakan selama kami berlibur dipuncak bogor dan setelah membereskan barang bawaan saya dan keluarga saya pergi untuk beristirahat setelah menghabiskan libur akhir sekolah dipuncak bogor. Besokkan harinya saya dan keluarga saya melanjutkan aktifitas seperti biasa setelah berlibur kepuncak bogor.
117 Di Balik Panggung Muhammad Hafizh Al-Farizhi “Heh, lo bisa main piano ya?”. Terdengar kalimat seperti itu pertama kalinya di telinga Candra. Candra, merupakan siswa yang baru saja masuk di jenjang SMA kelas 1 yang hendak bergabung di dalam ekskul musik di sekolahnya. Pada saat itu, sedang dibutuhkan seorang keyboardist untuk penampilan di sebuah acara sekolahnya. Candra merasa ragu akan hal itu, karena ia sebelumnya belum pernah berpengalaman menjadi bagian dari band/grup musik. “Oke kak, gue mau ikut untuk tampil di acara itu” ujar Candra. Candra sudah tidak ragu untuk ikut dengan kemampuan bermain piano yang sudah ia miliki sejak kelas 5 SD. Seiring berjalannya waktu sebelum hari saatnya tiba untuk tampil, Candra berlatih keras dengan pertama kalinya belajar mengiringi sebuah lagu tanpa melodi atau yang biasanya disebut rhythm. Sampai datanglah kakak kelas dari Candra yang merupakan bagian dari ekskul musik juga. “Hai! Aku Sarah! Salam kenal ya, Candra!” ujar perempuan itu yang merupakan kakak kelas yang dengan tepatnya ia juga memegang alat musik keyboard. “Wah, kamu juga bisa main keyboard yaa?” ujar Sarah dengan tatapan yang manis. “Iya kak, lumayan hehe” ujar Candra dengan ekspresi senyumnya. Waktu semakin dekat menuju hari acara penampilan, Candra mengatakan kepada Sarah kalau dia ada kesulitan dalam bermain rhythm atau chord. Secara perlahan Sarah mengajarkan Candra dengan intensif sehingga ia bisa lancar memainkannya.
118 Hari yang dinantikan oleh Candra pun tiba dengan suasana yang ramai, Candra dengan segala persiapannya menyiapkan diri dan meminta dukungan kepada Sarah agar dapat mengingatkan bila adanya kesalahan chord yang dimainkan oleh Candra. “Huhh,” rasa gugupnya yang hadir disertai keringat yang begitu luar biasa. “Ingat ya Ndra kamu pasti bisa,” ujar Sarah yang terus memberikan motivasi kepadanya agar percaya diri dan tidak gugup lagi. Sudah tiba saatnya Candra untuk naik panggung dan tampil dalam mengiringi lagu yang dinyanyikan oleh vokalis yang merupakan teman-teman ekskulnya. Candra bersemangat dan lancar dalam memainkannya sehingga penampilan ekskul musiknya dapat sukses dengan baik disertai banyak dukungan siswa/siswi bersorak ramai. Sarah sangat bangga kepada Candra dengan penampilannya yang memukau sekali sehingga banyak mendapatkan perhatian dari siswa/siswi di sekolahnya. “Terimakasih ya kak Sarah,” ujar Candra dengan senang hati disertai senyuman bangganya. “Sama-sama Ndra, semangat terus ya karena ini pasti bidang yang kamu minati dan kamu memilikinya” ujar Sarah dengan membalas senyumnya juga. Setengah semester telah dilalui Candra, ia mulai dikenali oleh warga sekolah dan mendapatkan seorang teman yang menjadi sahabat sejatinya bernama Barkah. Barkah merupakan siswa yang sekelas dengan Candra sekaligus juga ikut dalam ekskul musik namun divisi vokal. Barkah selalu mendukung dan
119 memberikan banyak motivasi kepada Candra di segala hal. Candra mulai sering untuk tampil di setiap acara sekolahnya di bidang musik, tak heran ia mendapatkan banyak relasi teman maupun guru. Candra sudah kelas 11 yang dimana sudah diakui memiliki kemampuan yang memadai di segala bidang musik, sampai suatu saat Candra diajak oleh kakak kelasnya untuk bergabung dalam pembuatan lagu yang mencakup aransemen drama musikal. “Hai! kenalin gue Hanif, salam kenal ya Candra” ujar Hanif yang merupakan seorang siswa kelas 12. “Halo kak Hanif! salam kenal juga ya gue Candra,” ujar Candra kembali dengan ramah. “Ada apa ya kak?” “Jadi begini, menjelang acara terbesar dari sekolah kita nanti akan ada drama musikal yang dimana gue membutuhkan kemampuan lu untuk sama-sama kita membuat sebuah aransemen drama musikal, Ndra. Gue akan sangat berterima kasih kalo lu bakal ikut gabung ya” ujar Hanif dengan ekspresi yang ingin sekali Candra menerimanya. “Sorry kak, kayaknya gue belum bisa karena gue belum pernah sama sekali nyoba untuk membuat sebuah aransemen. Walaupun gue ikut, yang ada nanti gue takut hasilnya akan ngecewain dan ga bisa mempertanggung jawabkannya kak,” “Ga masalah Ndra, gue juga kok jadi sama-sama kita coba yaa pasti bisa kok!”. Hanif mencoba untuk menyemangati Candra dan memastikan akan bisa terlaksana sampai hasil akhirnya nanti.
120 “Oke deh kak, gue bakal coba ikut ya kak tapi gue ngajak 1 temen gue yang menurut gue bisa juga untuk gabung di projek ini namanya Lilo”. Candra mulai bersemangat untuk memulai pengalaman barunya lagi yang penuh tantangan seru menurutnya, Lilo yang merupakan teman ekskulnya yang sering tampil juga yang memegang alat musik gitar. “Terimakasih banyak ya Candra, untuk jadwal kegiatan apa aja yang nanti bakal kita lakuin gue kasih tau menyusul ya!” “Siap kak!” Lilo merupakan seorang penulis berbakat yang diketahui Candra dengan segala prestasi musikalisasi puisinya membuat Candra terkagum. Setelah tema terpilih sesuai yang disyaratkan, mereka mulai bekerja keras mengulik. Candra menghabiskan berjam-jam untuk mengulik melodi-melodi indah yang akan mengiringi pertunjukan. Lilo menulis dan membuat lirik yang memukau dengan dialog-dialog yang penuh emosi. Hanif menciptakan gerakan-gerakan yang akan membuat penonton terpesona. Langkah pertama Candra dan Lilo dalam mempersiapkan membuat aransemen adalah mengulik terus menerus hingga syarat yang diinginkan ditemukan. Candra meminta dukungan kepada orang tuanya, Ibu Dini dan Bapak Rizal agar membantu mensukseskan proyek yang berharganya. Candra, Lilo dan Hanif mendapatkan relasi yang sekaligus berkenalan dengan seorang yang lihai di bidang film yang panggilannya “Om Adit”. Om Adit sangat berperan sekali dalam kegiatan rekaman yang nantinya akan dilaksanakan di puncak terakhir.
121 Tapi perjalanan mereka tidak semulus yang mereka bayangkan. Mereka menghadapi banyak tantangan. Salah satu di antaranya adalah mengatasi perbedaan pendapat mereka. Terkadang, mereka memiliki ide yang berbeda tentang bagaimana drama musikal itu seharusnya. Namun, mereka belajar untuk mendengarkan satu sama lain dan mencari solusi yang paling baik untuk drama musikal mereka. Saat hari pertunjukan semakin mendekat, ketegangan mereka semakin meningkat. Mereka tidak ingin mengecewakan penonton karena belum ada rekaman yang belum terlaksana. Kendala semakin banyak dengan bintang utama yang selalu tidak bisa hadir untuk sesi kegiatan rekaman. Mereka mengejar waktu tanpa henti, memperbaiki setiap detail sampai larut malam. Pada akhirnya, mereka sukses menghasilkan sebuah aransemen drama musikal yang diinginkan. Pertunjukan musikal drama itu menjadi sukses besar. Penonton terpesona oleh musik indah karya Candra, Lilo dan Hanif. cerita hebat Lilo, dan Hanif. Mereka merasakan betapa kerasnya kerja keras mereka telah membayar. Setelah pertunjukan, mereka menerima tepukan meriah dan pujian dari teman-teman sekelas dan guruguru. “GUYS! SELAMAT YA UNTUK KITA, GUE BERTERIMA KASIH BANYAK KEPADA KALIAN BERDUA YAA NDRA, LIL” ujar Hanif dengan senang riang gembira terharu akan karya bersamanya dapat sukses ditampilkan di drama musikal dari acara terbesar sekolahnya itu.
122 “SAMA-SAMA KAK! ujar Candra dan Lilo yang menangis karena karya tidak bisa menahan terharunya akan kerja keras bersama yang akhirnya sukses. “Semoga semua hal selama kita mengerjakan proyek ini banyak hikmah yang bisa kita dapatkan” ujar Lilo yang masih menangis juga. Prestasi ini membuat Candra, Lilo, dan Hanif semakin dekat. Mereka tahu bahwa kerja sama mereka adalah kunci kesuksesan. Mereka juga belajar bahwa dengan tekad dan semangat, mereka bisa mengatasi segala rintangan yang ada. Seiring berjalannya waktu, Candra, Lilo, dan Hanif terus berkolaborasi dalam berbagai proyek di bidang musik. Mereka tahu bahwa bersama, mereka bisa mencapai apa pun yang mereka impikan. Dan di panggung kecil SMA-nya, mereka menemukan harmoni dalam persahabatan mereka yang abadi.
123 Perubahan Muhammad Rafly Di sebuah desa kecil di pinggiran kota, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Fauzan. Fauzan adalah anak yang cerdas dan berbakat, namun ia sering merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Kehidupan di desa ini terasa monoton baginya dan ia merasa bahwa untuk memiliki masa depan yang cerah, diperlukan perubahan pada dirinya. Suatu hari, Fauzan berkesempatan bertemu dengan seorang pengusaha sukses yang menginspirasi para siswa di sekolahnya. Kisah inspiratif sang pebisnis merasuk jauh ke dalam benaknya dan membuat Fauzan semakin terobsesi untukmengubah dirinya. Ia ingin menjadi lebih percaya diri, lebih disiplin dan berani mengambil risiko. Fauzan menyadari jalan menuju perubahan tidaklah mudah. Ia mulai mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, seperti klub debat dan drama. Melalui klub debat, Fauzan berlatih berbicara di depan umum, hal yang selama ini ia takuti. Ia pun bergabung dengan klub drama untuk mengatasi kecemasan yang masih menghantuinya. Namun perubahan tidak terjadi dengan cepat. Fauzan kerap merasa cemas dan takut gagal. Ia merasa tertekan oleh ekspektasinya sendiri dan tekanan lingkungannya.
124 Meski menghadapi banyak kendala dan kegagalan, Fauzan tetap pantang menyerah. Dia bertekad untuk terus bergerak maju. Fauzan mulai membaca buku-buku pengembangan diri, membangun rasa percaya diri, dan mencari mentor yang bisa membantunya mencapai cita-citanya. Dia belajar menerima dirinya apa adanya dan mengatasi rasa takut yang menghambatnya. Seiring berjalannya waktu, Fauzan mulai menyadari adanya perubahan pada dirinya. Ia menjadi lebih percaya diri ketika berbicara di depan umum, lebih berani mengambil risiko, dan lebih disiplin dalam belajar. Prestasi akademisnya meningkat dan ia mulai mendapat pengakuan dari teman-teman dan gurunya. Fauzan pun menyadari bahwa perubahan yang dilakukannya bukan hanya tentang dirinya, tapi juga masa depannya. Ia menyadari bahwa selama ia memiliki kepercayaan diri dan mengembangkan keterampilannya, ia dapat mencapai impian yang selama ini diimpikannya. Ia mulai merencanakan masa depannya dengan lebih baik, mengeksplorasi minat dan bakatnya, serta mengejar impiannya. Fauzan tumbuh menjadi pemuda yang menginspirasi banyak orang di kampung. Ia menjadi contoh bahwa perubahan bisa terjadi, asal ada yang menunjukkan tekad dan bekerja keras. Dia mulai menyemangati teman-teman dan penduduk desa, berbagi cerita tentang perjalanannya menuju perubahan positif. Suatu hari, teman sekelas yang melihat perubahan besar pada diri Fauzan bertanya kepadanya: "Fauzan, apa rahasia
125 suksesmu?" Bagaimana kamu bisa menjadi lebih percaya diri dan berani seperti ini? Fauzan tersenyum dan berkata: "Rahasia kesuksesan saya adalah tekad dan kerja keras. Saya belajar menerima diri saya apa adanya dan menghadapi ketakutan saya. Saya juga mencari dukungan dari orang-orang terdekat saya dan mentor yang dapat membimbing saya. Dan yang terpenting, saya selalu mengingat tujuan masa depan saya. Inilah yang selalu membuat saya terus maju. dia berasal dari desa kecil, dia bisa memiliki masa depan cerah dengan keyakinan yang kuat dan semangat yang tak pernah padam. Fauzan menjadi cermin bagi banyak orang yang ingin mengubah dirinya. Perubahan bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan, namun dengan tekad dan kerja keras, seseorang dapat mewujudkan potensi yang dimilikinya. Dengan perubahan yang positif, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik. Fauzan membuktikan meski berasal dari desa kecil, ia tetap bisa meraih masa depan cerah dengan keyakinan dan semangat yang tiada habis
126 Semesta Menanti Naura Filzah Andhari Gustiawan ‘Semoga hari ini berakhir’ kalimat itu bukan merupakan harapan, melainkan tujuan. Tujuan keluarga yang jauh dari kata sempurna ini, berusaha untuk tetap hidup di hari yang terus berjalan. Sampai tak terasa hari berganti hari, bahkan tahun demi tahun pun dilalui keluarga Bu Dina dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan. Sang suami yang hanyalah sekedar tukang kuli bangunan, yang penghasilannya tak menentu. Hal itu tak jadi penghalang bagi Bu Dina dan Pak Rudi untuk selalu sayang kepada kedua anaknya yang tiap pagi meminta uang jajan dan ongkos untuk berangkat sekolah. Belum lagi tiap minggu harus dihadapkan dengan Bu Ranti yang selalu menagih hutang. “Haduh..Bu, Pak. Mau alasan apalagi hari ini? Saya sudah tebak deh atau memang gak ada usahanya kali ya? Eh tapi gimana juga kalau orangnya gak punya pendidikan tinggi kan emang susah dapet kerja dan penghasilan. Udahlah capek saya ngomonginnya, bosen juga berkunjung mulu kesini tapi gak ada hasilnya,” katanya sambil tertawa kecil mengangkat salah satu ujung bibirnya. “Kalau ada uang juga mungkin sudah ku lunasi sejak dulu bu, gak usah repot-repot kesini mengeluarkan kata-kata pun akan ku lunasi,” cerca Bu Dina dalam hati bila mengingat kata-kata Bu Ranti yang selalu menyindir kondisi keluarganya. Karena hal nya Bu Dina yang setiap harinya hanyalah tukang cuci pakaian.
127 “Bu, sekolahku akan mengikuti Olimpiade Biologi Sekabupaten, dan Keyra pekan depan dipilih untuk ikut olimpiadenya bu,” ucap sang anak dengan senyumnya. “Wah, anak ibu pintar-pintar. Belajar yang giat dan selalu berdoa ya nak agar nanti dilancarkan,” sang ibu membanggakan anaknya. Ya, Keyra memang pintar, ia yang masih duduk dikelas 1 SMA itu punya tekad dan cita-cita yang tinggi, yaitu menjadi seorang dokter. Terkadang sempat terfikir olehnya kalau tak mungkin dirinya bisa menjadi seorang dokter, karena hanya untuk sekedar bayar SPP bulanan saja harus nunggak sampai dua atau tiga bulan baru bisa terlunasi. Tetapi walau begitu, Keyra pun tak putus asa. Sementara Kinara masih sibuk dengan persiapan ujiannya, karena dua bulan lagi ujian akan dihadapinya. Kinara berada dikelas 3 SMA, hanya terpaut dua tahun umurnya dengan Keyra. Pagi ini, Keyra berangkat untuk mengikuti Olimpiade Biologi. Tak ada uang saku lebih untuknya, melainkan hanya doa yang bisa ibu dan ayahnya berikan untuk anaknya. Serta kecupan dikening dari mereka yang membuatnya bersemangat pagi ini dan berangkat dengan penuh harapan untuk membanggakan mereka. Lumayan cerah cuaca pagi ini. Bu Dina pergi membantu berberes rumah dan mencuci pakaian tetangga. Sementara Pak Rudi hari ini diminta ikut kerja membangun sebuah swalayan. Sang suami berangkat menuju tempat yang akan dibangun itu. “Assalamualaikum,” sore harinya Nara pulang membuka pintu rumah. “Waalaikumsalam.. mana Keyra nya kak kok gak pulang bareng?,” tanya sang ibu ke Kinara yang tak lain kakaknya
128 Keyra. “Lho, ibu lupa ya? Keyra kan ikut olimpiade jadi pulangnya sore atau bahkan malam bu,” jawab Kinara menjelaskan. “Oh gitu ya ra, maklum saja ibu kan dulu gak mengenyam bangku sekolah seperti kalian, SD saja ibu tak tamat, jadi tidak mengerti yang seperti itu,” ujar sang ibu. “Tapi meski bagaimanapun ibu adalah ibu yang paling hebat yang ada di dunia ini bagi aku dan Keyra. Karena ibu, kami sekarang bisa mengenyam dunia pendidikan. Semoga nanti kami berdua bisa membalas pengorbanan ibu selama ini ya,” tutur Nara penuh harap. “Iya sayang, ibu selalu berharap dan berdoa agar kalian bisa lebih baik dari ibu dan ayah. Jangan mau jadi orang susah, makanya kalian sekolahnya harus yang giat supaya kelak hidup kalian akan tertata.” Cuaca sore ini lama-kelamaan mendung dan langit berawankan abu menandakan akan segera datangnya hujan. “Bu Dina, saya kesini mau ngasih tau kalau suamimu jatuh dari gedung lantai dua bu. Kebetulan saya tadi lewat ketempat kerja nya dan tadi mau dibawa kerumah sakit Carolus katanya,” ujar tetangganya dengan nafas yang terengah-engah memberitahu ke rumah nya. Nara dan Ibunya sontak terkejut dan langsung menuju ke rumah sakit yang dimaksud. Lama menunggu dokter yang memeriksa sang suami. Bu Dina tak henti-hentinya berdoa dalam hati, begitu pula dengan Nara yang cemas akan keadaan sang ayah. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan UGD itu. “Bagaimana kondisi suami saya dok?,” tanya Bu Dina dengan nada yang sangat cemas.
129 “Mohon maaf ibu.. Tuhan berkehendak lain. Terlalu banyak darah yang keluar dari kepala sehingga bapak tidak bisa bertahan, beliau telah tiada,” dokter itu berkata dengan sangat iba. Seketika itu pula tubuh Bu Dina terasa sangat lemas, air mata yang terbendung pun menetes, hingga ia tak sadarkan diri. Nara memapah ibunya, walau kondisi dirinya pun juga sama tetapi ia harus bisa tetap kuat melewatinya. Hari sudah malam, ya sudah jam 19.30. Keadaan rumah yang sederhana itu terlihat ramai. Keyra yang baru datang dari olimpiade dengan membawa piala terheran-heran mengapa rumahnya terlihat ramai lalu lalang orang kesana kemari. “Apakah memang orang rumah sudah tahu kalau dirinya mendapat juara satu hingga mereka melakukan syukuran?,” fikir Keyra dalam hati. Keyra pun langsung memasuki rumahnya, tapi justru yang dilihatnya sang ayah sudah terkujur kaku dibungkus kain kafan. Pucat pasi wajahnya ketika matanya melihat sang ayah sudah tiada bernyawa, semuanya seakan mimpi yang paling buruk. Tadi pagi menjelang keberangkatan olimpiadenya, sang ayah masih dengan senyumnya sambil mengecup keningnya dengan hangat. Keyra histeris menangis dan memeluk sang ayah yang belum sempat melihat pencapaian anaknya. Keadaan rumah sederhana itu kini ramai dengan tangisan dan doa, sampai hingga pagi hari lagi karena pemakaman dilaksanakan esok paginya.
130 Sepeninggal ayah tercinta, hari-hari mereka cukup berbeda karena belum terbiasa. Meski masih terpuruk dan merasa kehilangan namun mereka berusaha tegar dan harus tetap melakukan aktivitas sehari-harinya tanpa sang ayah. Dua minggu lagi ujian akan tiba, namun Kinara belum juga melunasi iuran ujian tentu karena keadaan keluarganya yang kini sangat sulit. Minta uang ke ibu tak mungkin dilakukannya, untuk sekedar makan sehari-hari saja kini sangat sulit. Kinara pun berbincang dengan adiknya bahwa ia berniat akan memutuskan pendidikannya dahulu mengingat kondisi ekonomi keluarganya yang masih terombang-ambing. Keyra sangat tidak setuju dengan usulan kakaknya karena Kinara sudah tinggal satu langkah lagi menuju kelulusannnya. Akhirnya Keyra pun memberikan tabungannya untuk tambahan iuran agar kakaknya bisa mengikuti ujian dan tidak putus sekolah. Setelah ujian tersebut telah terlaksana, Lusanya, hasil ujian pun telah dipampang di mading sekolah. Nara dengan susah payah berdesakan banyak orang di sekeliling mading, akhirnya bisa melihat hasil kelulusannya. Alhamdulillah dirinya dinyatakan lulus, bahkan ia ternyata mendapatkan nilai terbaik dari satu sekolah nya. Nara yang dari tadi cemas seketika bibirnya tersenyum lebar dengan tangisan bahagia atas pencapaian yang luar biasa.
131 Dan hal itu membuat dirinya mendapatkan tawaran beasiswa untuk masuk perguruan tinggi negeri sehingga Nara dapat mengambil jurusan yang diminatinya. Selama perkuliahan berlangsung dirinya memang cerdas dan sangat cepat menguasai materi. Dengan berjalannya waktu, Nara kini sudah menerima salah satu dari banyaknya tawaran pekerjaan. Lalu Keyra pun telah masuk keperguruan tinggi dengan beasiswa kedokteran seperti apa yang diimpikannya. Lalu hutang-hutang keluarganya juga telah terlunasi dan kehidupan keluarga mereka sudah sangat jauh lebih baik.
132 Liburan Ke Bali Nicholas Febrian Simatupang Selama liburan sekolah yang dinantikan, saya dan keluarga memutuskan untuk menghabiskan waktu berlibur di pulau Bali. Rencana kami ini sudah kami persiapkan jauh hari sebelumnya. Perjalanan kami dimulai dengan penerbangan menggunakan pesawat Lion Air yang membawa kami ke Bandara Ngurah Rai. Begitu kami tiba, kami disambut oleh udara tropis yang hangat, menggambarkan kesan pertama kami tentang surga di bumi. Kami memilih menginap di sebuah hotel yang menawarkan pemandangan laut yang menakjubkan. Pemandangan matahari terbenam di pantai Jimbaran adalah salah satu momen yang sulit untuk kami lupakan. Setiap senja di sana seolah-olah menciptakan lukisan alam yang indah dan tenang. Hari-hari kami di Bali diisi dengan menjelajahi berbagai tempat wisata yang memukau, dan setiap momen itu berharga. Pertama-tama, kami mengunjungi beberapa tempat wisata yang sangat terkenal di Bali, seperti Tanah Lot, Ubud, dan Tirta Empul. Banyak hal menarik yang kami temui di tempat-tempat tersebut yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Di Tanah Lot, kami terpesona oleh keindahan pura yang menjulang di atas tebing dan matahari terbenam yang memukau. Sinar kuning dan merah menjalar di langit, menciptakan pemandangan yang begitu menakjubkan. Selanjutnya, saat kami berada di Ubud, kami tidak hanya disuguhi oleh panorama sawah terasering yang mempesona, tetapi juga memperdalam
133 pemahaman kami tentang budaya Bali dengan mengunjungi pasar seni dan galeri yang menakjubkan. Sedangkan di Tirta Empul kami menemukan arsitektur yang unik dengan adanya mata air pada area dalam pura. Di seluruh kawasan ini, kami tidak hanya menemui wisatawan lokal, namun juga banyak sekali wisatawan asing yang datang dari berbagai negara. Namun, kami tidak hanya menghabiskan waktu dengan mengagumi pemandangan alam yang luar biasa. Kami juga mencoba berbagai aktivitas yang mendebarkan seperti snorkeling, menyelam, dan berselancar di berbagai pantai yang berbeda di Bali. Setiap pengalaman itu memberikan kami kegembiraan dan kepuasan yang tak terlupakan. Bahkan, kami berani menaklukkan Gunung Batur dan mendaki ke puncaknya, di mana kami disuguhi oleh pemandangan matahari terbit yang spektakuler. Melihat cahaya matahari muncul perlahan-lahan di balik gunung, dengan langit yang berwarna-warni, adalah pengalaman magis yang tak terlupakan. Di sela-sela petualangan kami, kami juga menikmati makanan lezat Bali. Kami mencicipi hidangan khas seperti nasi campur dan sate lilit. Setiap suapan menggugah selera kami dengan perpaduan sempurna antara rasa, aroma, dan keindahan. Ciri khas masakan Bali terletak di kekayaan rempah yang digunakan selama proses memasak. Kebanyakan makanan Bali terkenal dengan proses pembuatannya yang lama agar rempah-rempah yang digunakan dapat meresap sempurna ke dalam masakan. Rasa inilah yang mampu meninggalkan kesan menarik di lidah para wisatawan yang merasakannya. Sembari makan, kami
134 duduk bersama di sekitar kolam renang hotel, tertawa, berbicara, dan berbagi cerita, menciptakan kenangan manis bersama. Seluruh perjalanan ini tidak hanya memberikan kami momenmomen luar biasa dan pengalaman yang mendalam, tetapi juga mempererat ikatan keluarga kami. Liburan bersama keluarga di Bali membawa kebahagiaan yang luar biasa dan kenangan indah yang akan selalu kami pandang dengan senyum dalam sisa hidup kami. Bali bukan hanya tentang pemandangan alamnya yang memukau, tetapi juga tentang kehangatan keluarga dan kenangan yang diukir dalam hati kami selamanya. Kami merasa rencana liburan ke Bali ini adalah hal yang tepat dan bersyukur karena kami memiliki kesempatan untuk melakukannya.
135 Momen Euforia Nugraha Putra Santosa Pagi itu, matahari terbit dengan hangatnya di langit biru yang cerah. Putra bersiap-siap dengan gembira untuk sebuah hari yang diantisipasi oleh semua warga desanya. Hari ini adalah Hari Kemerdekaan, hari di mana semangat patriotisme melingkupi seluruh negeri, dan Putra tidak bisa lebih setuju. Bersama teman-temannya, Farel dan Farhan, Putra merencanakan untuk merayakan Hari Kemerdekaan dengan penuh semangat. Mereka adalah sahabat sejak sekolah dasar, dan mereka selalu merayakan momen-momen istimewa bersama-sama. Mengenakan baju merah dan putih, tiga sahabat itu bersiap untuk pergi ke lapangan tempat perayaan kemerdekaan akan diadakan. Mereka membawa bendera kecil dan topi merahputih untuk menambah semangat merah putih di sekitar mereka. "Kita harus menang dalam lomba balap kelereng tahun ini!" kata Farel dengan antusias. Lomba-lomba tradisional selalu menjadi bagian terpenting dalam perayaan mereka. "Benar!" Setuju Farhan. "Dan kita juga harus menyanyikan lagu kebangsaan dengan lantang." Ketika mereka tiba di lapangan, semangat perayaan sudah terasa di udara. Anak-anak dari seluruh desa berkumpul dengan bendera merah-putih, dan lagu-lagu kebangsaan berkumandang. Momen ini selalu menjadi momen euforia yang menggetarkan hati semua orang.
136 Mereka mengikuti lomba balap kelereng dan dengan semangat berusaha memenangkan perlombaan. Meskipun tidak berhasil meraih juara pertama, mereka tetap tertawa dan bersenang-senang, menikmati momen bersama-sama. Kemudian, mereka ikut dalam lomba panjat pinang, dengan harapan bisa mencapai hadiah di atas. Mereka bergantian mencoba untuk mencapai puncak pohon pinang yang ditutupi oleh hadiah-hadiah menarik. Setelah beberapa usaha, Putra berhasil mencapai hadiah itu, dan semua teman-temannya bersorak dengan euforia. Sore hari, mereka berdiri dengan bangga di dekat panggung utama, menyanyikan lagu kebangsaan, dan mendengarkan pidato-pidato yang memperingati perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Momen ini adalah puncak dari momen euforia mereka. Setelah perayaan selesai, ketiganya pulang bersama sambil berbicara tentang makna kemerdekaan dan perjuangan para pahlawan. Mereka merasa terinspirasi untuk menjaga semangat kemerdekaan hidup dan terus bersatu sebagai satu bangsa. "Kita adalah generasi penerus," kata Putra. "Kita harus menjaga warisan kemerdekaan ini dan terus berkontribusi untuk bangsa kita." Farel dan Farhan mengangguk setuju. Mereka tahu bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membawa semangat patriotisme dan cinta pada tanah air mereka ke masa depan.
137 Momen euforia yang mereka alami hari itu adalah pengingat bahwa kemerdekaan adalah anugerah berharga yang harus dijaga dan dirayakan dengan rasa syukur dan semangat. Mereka berjanji untuk selalu menjaga dan merayakan momen kemerdekaan dengan gembira, setiap tahunnya. Di tahun sebelumnya Putra, Farrel, dan Farhan menjadi pasukan pengibar bendera, akan tetapi tahun ini mereka tidak dapat menjadi pasukan pengibar bendera karena tidak lolos seleksi, jadi mereka menghabiskan waktu nya di hari kemerdekaan tahun ini untuk mengikuti berbagai perlombaan yang ada di lingkungan rumahnya. Walaupun ada rasa kecewa karena tidak bisa menjadi pasukan pengibar bendera, tetapi mereka tetap senang dan gembira, Karena tetap bisa meriahkan hari kemerdekaan dengan mengikuti lomba. Mereka memutuskan untuk tahun depan mengikuti seleksi calon pasukan pengibar bendera kembali, supaya bisa mengibarkan bendera pusaka di tiang tertinggi dan dapat menjadi kebanggaan tersendiri karena bisa menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera. Selain mempersiapkan fisik yang prima mereka juga belajar akademik supaya seimbang, antara fisik dan otak sama sama hebatnya ketika mengikuti seleksi tidak gagal kembali dan banyak belajar dari yang sebelumnya. Segala perlengkapan sudah di persiapkan oleh mereka dari sekarang, mulai dari sepatu, kaos, celana untuk mempersiapkan diri dan melatih fisik kemudian mental yang
138 kuat, di dalam jiwa yang kuat terdapat mental yang hebat hehe begitulah kurang lebih. Dan ceritapun selesai mereka berjuang bareng bareng dan saling support satu sama lain, supaya apa yg mereka cita citakan dapat tergapai bersama, sudah senang bersama.
139 Aku Dan Mimpi Putri Yunita Aku adalah remaja yang terlahir dari keluarga sederhana serta sangat keras bagi ku, banyak mengajarkan ku pentingnya hidup mandiri tanpa sedikit-sedikit membutuhkan pertolongan orang lain orang tuaku mendidik ku layaknya seorang lelaki padahal aku seorang perempuan, dari kecil tubuhku tidak kaget dengan namanya ikat pinggang, sapu lidi ,guyuran air, tangan yang keras serta kasar. Saat pagi hari ini mentari bersinar dengan terik, Remaja itu bergegas beranjak dari kasurnya setelah sepanjang malam diisi dengan mimpi yang ia harapkan jadi kenyataan. Sabrina, seorang remaja yang Kini duduk di bangku kelas 11, sedari kecil memiliki mimpi untuk menjadi seorang dokter. Dokter memiliki peran penting salah satunya merawat dan menyembukan orang sakit ayah dan ibu ku selalu menjadi pendukung pertama terbesarku tentang mimpi ini, ayah pernah Bercerita bahwa dulunya kakak juga memiliki mimpi yang sama seperti diriku, tapi Karena kondisi ekonomi saat itu sulit dan faktor lainnya, kakak tidak bisa menggapai mimpinya, Itulah mengapa ayah sangat mendukungku. Beliau pasti ingin yang terbaik untuk buah hatinya tak ingin kegagalan itu terulang kembali. Menjadi dokter bukanlah suatu hal yang mudah untuk digapai, pintar saja tidak cukup, tapi yang paling penting mau berusaha dan pantang menyerah, soal kepintaran belakangan dulu, yang penting niat dan mau mencobanya ada, pasti bisa,
140 kata-kata motivasi dari ayah jika aku mulai putus asa dengan mimpiku aku kan terus berjuang demi mimpi yang aku gapainya. Pada kelas 9 saya sering merenung tentang mimpiku untuk masa depan. Bagaimana mimpiku akan membentuk perjalanan hidupku dan memberi arah pada langkah-langkahku dan tujuan untuk masadepan, serta berusaha mewujudkan mimpiku tersebut. Tempat imajinasi dan harapan berpadu, Saat aku melihat ke depan mimpiku bertindak sebagai pemandu yang membantu aku menggambarkan gambaran tentang apa yang ingin aku capai dalam hidup. Mimpiku bukan hanya tentang mencapai kesuksesan materi, tetapi juga tentang menjalani hidup yang bermakna dan memenuhi hati. Langkah pertama dalam meraih mimpiku adalah mengidentifikasi apa yang sebenarnya aku impikan. Aku belajar untuk merenung dalam-dalam dan menggali apa yang membuatku bersemangat, apa yang ingin aku capai, dan bagaimana aku ingin membentuk dunia yang ada di sekitarku. Impian bisa bersifat pribadi, seperti kesuksesan dalam karier atau menciptakan keluarga yang bahagia, atau bisa juga bersifat lebih luas, seperti berkontribusi pada masyarakat atau alam semesta. Saat kelas 10 ada salah satu teman yang bernama salwa yang menawarkanku Olimpiade Biologi yang tanpa berpikir panjang aku meng = iya kan olimpiade dan bertanya-tanya apa yang di perlukan dan apa saja yang perlu di siapkan teman saya menjawab kepada saya “ agar mempersiapkan diri dan belajar dengan giat saja ”. Saat sepulang sekolah aku bergegas untuk
141 menginformasikan berita ini kepada ayah dan ibu ku untuk mengizinkanku agar mengikuti olimiade tersebut lalu ibu dan ayah menyetujui untuk aku mengikuti olimpiade tersbut, lalu aku bergegas unntuk belajar soal-soal yang diberikan kepada guru saat mengajar. Keesokan hari nya sebelum berangat sekolah meminta ibu dan ayah aku untuk memberikan doa agar olimpiade aku bejalan dengan lancar, setelah sampai sekolah saya bertemu dengan citra dan bertanya kapan olimpiadenya dimulai salwa menjawab “olimpiadenya akan segera mulai dan aku sudah mempersiapkan tempat untukmu masuklah” aku berterima kasih banyak ke padamu lalu aku masuk ke ruangan tersebut, saat olimpiade tersebut segera mulai aku pun berdoa agar dipermudah. Keesokan harinya saat pengumumman telah diumumkan aku bergegas untuk mencari informasi tersebut yang terletak di dinding informasi, aku menemukannya sebelum aku melihat hasil nilainya aku sempat berdoa agar nilai yang ku dapat tidak buruk, setelah selesai berdoa aku pun melihat nilai nya dapat dan mengejutkan ternyata nilai yang ku dapat sangat lah memuaskan tiba-tiba salwa menghampiriku dan bertanya “bagaimana dengan hasilnya” aku pun menjawab “hasilnya cukup memuaskan, terima kasih ya salwa ini semua berkatmu” lain kali aku akan balas kebaikan mu.
142 Maaf ya, Eileen Rachel Theofanny Simanjuntak 2009 “Maaf bu, namun anak ibu terdiagnosa leukimia” Kata kata itulah yang akan menguncang hidup keluarga William selamanya. 2009, William berumur 11 tahun, dia mempunyai 1 saudara kandung, yaitu saudara kembarnya Bernama Eileen. Saat mengetahui bahwa William mempunyai Leukimia, Eileen merasa bahwa hidupnya hancur. Eileen sangat sayang dengan William, dan memikirkan bahwa ada kesempatan untuk Eileen kehilangan saudara kembarnya, itu membuat dunia Eileen hancur. Tiap hari, Eileen menemani William di rumah sakit, bahkan sampai bolos dari sekolah. William tidak tega melihat saudarinya mengorbankan hari harinya, waktunya, hanya untuk menemani William di rumah sakit. 2011 Kondisi William memburuk. Hari demi hari, kondisi William memburuk, yang membuatnya memerlukan donasi sumsum tulang. Eileen adalah donor yang tepat, namun William sendiri yang tidak mengizinkan dokter untuk mengambil sumsum tulang Eileen. Akhirnya, para dokter sudah mencari ke semua tempat untuk donasinya, namun tidak menemukan donor yang tepat. Tiap hari, Eileen yang melihat kondisi kembarnya
143 memburuk tidak kuat lagi, dan akhirnya pada suatu malam, Eileen menemui William. ”Bang, boleh ya? Eileen donasi ya?” ”Ngga boleh! Pokoknya kita tunggu dokter aja ya” ”Kondisi abang udah parah, dokter udah gatau lagi mau gimana kalau ga ada donor. Boleh ya? Eileen ga takut kok, Eileen berani.” Akhirnya, setelah dibujuk oleh Eileen sendiri, William dengan berat hati setuju dengan operasinya. Untungnya operasi tersebut berhasil dan William bebas dari kanker setelah dua tahun berjuang. 2017 *BRUK* “Liam? Liam!” … “.... Maaf.” Semua suara yang melalui telinganya seketika hilang dan yang terdengar hanyalah suara dokter. Saat itu juga, William mendengar “Sekarang kankernya lebih parah, dan William perlu perawatan yang lebih intens dari pada waktu itu bu, dan juga tanpa donor yang tepat, William hanya punya 3 tahun lagi untuk hidup
144 Saat dia mendengar kata kata itu, semua harapan dan mimpinya seketika pecah di hadapannya. Tetapi terlihat senyuman di muka William, tapi senyuman itu terasa palsu. “Perlu banget 3 tahun? Gausah donor lah ya. Capek kayak dulu lagi nanti.” Kata kata itu mengguncang pikiranya. ... ”Ma, Pa, jangan kasih tau Eileen ya.” 2018 “William, mau kemana?” “Gatau, bosen di rumah.” “William, kan kamu tahu, kamu harus banyak istirahat.” ”Iya, iya ma” Walaupun sudah dilarang oleh mamanya untuk keluar, William tetap bersiap siap untuk keluar rumah. William sebenarnya tidak tahu mau kemana, karena William sendiri jarang keluar rumah. Sejak didiagnosa oleh dokternya, kalau keluar rumah, destinasi William hanya satu, yaitu rumah sakit. Dengan kurang dari dua tahun lagi waktu William untuk hidup, William tidak mau sisa waktunya dihabiskan di rumah berbaring di tempat tidur, ataupun 24/7 di rumah sakit. William sampai di salah satu toko buku di area tempat tinggalnya. William sangat suka membaca, maka tempat pertama yang ia kunjungi adalah toko buku. Biasanya jika
145 sedang banyak pikiran William sering berkunjung ke toko buku, itu membuatnya lebih tenang dan bisa membuat pikiranya lebih jernih. William berada di toko buku itu sekitar 2 jam, dia melihat buku buku mulai dari fantasi, romansa, horor, dan buku buku lain yang ada di toko itu. Waktu menunjukan pukul 17:00, William memutuskan untuk membeli 2 buku dan pulang ke rumah. Hari demi hari, kondisi William memburuk sedikit demi sedikit, namun ia tetap memasang senyum lebar di depan Eileen. Merahasiakan kondisi William dari Eileen tidak mudah, namun dia akan melakukan segala hal yang bisa dilakukan supaya Eileen tidak tahu. William tidak mau saudaranya kembarnya berkorban lagi untuk dia, seperti yang terjadi di masa lalu. Namun pada akhirnya, semua kebohongan pasti akan terbongkar bukan? ”Apaan sih ma? Kan mama udah setuju dari awal, aku gamau donor!” ”Mama tau William, tapi kalau kamu kayak gini terus, yang ada makin sakit!” “Aku tahu ma! Yaudahlah, biarin aja, udah deh, males aku bahas ini.” “Bahas apaan..?” Seketika Eileen masuk kedalam ruangan itu. Ketegangan di udara menjadi semakin intens. Sepertinya ini akhir dari kebohongan dan rahasia William. ”Gapapa kok, Leen. Udah, kamu ke atas duluan aja ya.”