The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan Cerita Pendek

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Literasi SMAN 68 Jakarta, 2023-11-13 19:19:19

Cerita Pasti

Kumpulan Cerita Pendek

Keywords: cerpen

196 menyengat yang tiba-tiba menyeruak masuk memenuhi indra penciumannya. "Bagaimana jika ia tak menyukai penampilan Kakek?" Tampak kegusaran di wajah Kakek, menambah kerutan pada wajahnya. "Oh, ayolah, Kek. Mengapa ia tak menyukai penampilanmu? Apa alasannya?" "Lihat, jas ini sudah tak pas di tubuhku. Dan kau lihat kulit wajahku sudah mengendor." Jelas Sang Kakek sambil menunjuk pada jas putih yang sedikit, serius hanya sedikit, menenggelamkan dirinya dan juga kulit wajah yang tak sekencang milik Asher. "Tapi, itu adalah Kakek. Jika ia mencintai Kakek, ia akan menyukai segala hal yang melekat pada diri kakek. Dan lagipula dia pasti juga sama keriputnya seperti kakek" balas Asher cepat. "Benarkah dia keriput sepertiku?" Apakah itu sebuah pertanyaan? Asher membatin, ia sedikit terguncang mendapatkan pertanyaan tak masuk akal seperti ini. "Ya, kakek! Aku berani jamin." ucap Asher mantap, "Dan aku juga yakin rambutnya juga menipis dan berwarna putih, lalu ia bergigi ompong. Jadi Kakek tidak usah mencemaskan hal itu oke?" ucap Asher mencoba memberikan motivasi. "Jika kau bohong?"


197 "Jika aku bohong?" Asher mengulang pertanyaan Kakeknya, "hm, jika aku bohong. Aku akan. Em, setiap delivery order yang aku lakukan akan di-cancel secara sepihak?" lanjut Asher ragu. "Konyol. Tapi baiklah Delivery order-mu akan di-cancel jika kau berbohong." Setelah mengucapkan itu Kakek Asher masih memperhatikan penampilannya. Ia memastikan tidak ada cela yang terlewatkan. Ia ingin agar pujaan hatinya terkesan dengan penampilannya. Hingga tak menyadari jika pemuda penggila sepeda itu tengah cemas sampai-sampai harus bersusah payah hanya demi meneguk ludahnya sendiri. Pemuda itu takut jika benar delivery order-nya akan ditolak seumur hidup. Jika itu sampai benar terjadi, bagaimana ia akan menjalani hidup? Karena demi apapun, Asher termasuk orang yang tidak suka menghabiskan waktu di luar. Ia lebih memilih menyelesaikan tugas atau pekerjaannya sambil menunggu orderan miliknya diantar oleh driver. "Ash, tolong ambilkan buku moomin itu" Permintaan dari Si Tua menyadarkan Asher dari lamunannya. "Moomin?" tanya Asher bingung "Buku kuning itu" "Oh! Yang itu! Yang bergambar ba–" "Peri." "Pe … ri?" Ash tertawa terpingkal ketika mengulang kata Peri. Dan wajahnya memerah ketika ia membayangkan sepasang sayap di punggung peri itu mengepak dengan cepat, memaksa tubuh Sang Peri untuk terangkat dan terbang.


198 "Itu tidak lucu, Ash. Jangan tertawa. Atau kau akan dimarahi olehnya. Mengerti?" Kakek Asher memberikan peringatan. Asher yang tertawa hingga wajah memerah pun segera melipat ke dalam bibir seksi miliknya, menahan tawa. Dengan segera ia memberikan buku bersampul ba–peri itu kepada Sang Kakek. "Kakek akan ke taman belakang sekarang. Kakek akan menemuinya. Dan apakah minuman itu masih hangat? Jika tidak. Tolong buatkan yang baru. Katakan pada ibu dan bibimu, maaf kakek merepoti mereka." Asher pun mendatangi bibinya dan mengatakan permintaan Sang Kakek. "Bi, tolong buatkan yang baru? Ini sudah dingin. Kakek ingin yang hangat. Oh, ya. Kakek juga menitipkan ucapan maaf karena telah merepotkan." "Kakekmu itu ada-ada saja. Seperti menyuruh orang lain sampai mengucapkan maaf," tanggap Bibi Asher yang lalu berjalan menuju dapur menghampiri Ibu Asher. "Bagaimana Kakek?" tanya pemuda manis berkulit tan, Chandra. "Kakek banyak bernostalgia mengenang temannya, dan ia akan menemui teman lamanya," jawab Asher sambil mengambil keripik yang terdapat di bungkusan yang tengah Chandra pegang. Chandra hanya ber-oh ria. "Oiya, Ayah kenal dengan pemilik rumah belakang?" tanya Asher pada sesosok pria yang tengah sibuk bermain kartu dengan pria lain seusiannya.


199 "Maksudmu?" tanya Ayah tanpa memandang Asher dan masih fokus pada kartu dalam gengamannya. "Itu, Kakek mengatakan bahwa dirinya dekat dengan anak pemilik rumah itu," jelas Asher. Kini Ayahnya tak lagi fokus bermain kartu, ia jatuhkan seluruh kartu di tangannya dan memfokuskan atensinya kepada sang putra. "Hei! Aku hampir me–" "Kakekmu berbicara begitu?" Protes Paman Asher terpotong ketika Ayah Asher bertanya memastikan. Dan Asher mengangguk sebagai jawaban. Ayahnya tak langsung menjawab. Dari sorat mata yang seolah menerawang, Asher tau bahwa Ayahnya tengah berusaha menarik berbagai ingatan dari masa lalu. "Ayah tidak begitu tahu. Dulu sekali Ayah dan Kakekmu sering berziara ke sebuah makam. Tapi Ayah terlalu kecil saat itu, belum bisa membaca dan tak tahu itu makam siapa, sampai suatu hari keluarga dari pemilik makam datang dan melarang kami untuk datang. Tapi dari sana Ayah jadi tahu jika itu adalah makam dari pemuda yang mendiami rumah belakang. Ia mati muda dan jika tidak salah itu terjadi sehari sebelum pernikahan kakek dan nenekmu." "A... Apa?" Asher tentu tersentak kaget. Tubuhnya menegang mendengar jawaban atas pertanyaannya. Karena dalam satu jawaban itu Asher menemukan fakta baru. "Dan kami tak pernah lagi berziarah. Dan penyebab kematian dari pemuda itupun masih simpang siyur. Ada kabar yang mengatakan bahwa pemuda itu terbentur di dalam kamar mandi dan pendarahan di otak, dan ada yang mengatakan pencuri


200 memasuki rumah dan menusuknya, bahkan ada yang mengatakan jika ia memiliki gangguan jiwa yang menyebabkannya bunuh diri." Asher masih terdiam mencerna informasi yang baru saja dia dapatkan. Otak encernya mendadak menjadi lamban. Kakek mencintai temannya. Temannya adalah pemilik rumah di belakang. Pemilik rumah itu seorang pemuda. Pemuda. Ia– "Ash, kenapa?" Tanya Chandra yang menyadari perubahan ekspresi dari sepupunya. tewas di usia muda. Tapi Kakek mengatakan bahwa temannya akan– "Ini minumnya sudah jadi, cepat beri ke Kakekmu," ucap Ibu Asher menyodorkan nampan kepada anak sulungnya, Asher. Namun Sang Sulung masih diam di posisi duduknya dengan tatapan kosong. Asher linglung. menemui di taman belakang. Bagaimana bisa– Setelah menyadari sesuatu Asher dengan tergesah berlari ke taman belakang. Meninggalkan ruang tengah dengan buru-buru. Tak menghiraukan teriakan jengkel dari Chandra karena keripiknya yang tumpah akibat Asher menyenggolnya. Asher


201 pun melupakan minuman lemon madu yang telah ibu dan bibinya buat. Saat ini pikiran Asher hanya berfokus pada keadaan Sang Kakek, 'Dia berjanji akan datang menemuiku lagi di taman belakang.' 'Ya, dia tadi memberi tahuku.' Asher merasa bodoh, mengapa ia baru sadar. Bagaimana bisa kakeknya berkomunikasi dengan orang lain jika semenjak dirawat di rumah sakit pria tua itu sama sekali tidak menggunakan handphone genggam. Degup jantungnya berpacu dengan cepat, karena berlari terburuburu. Dan semakin bertambah cepat dan terasa menyesakan ketika Asher melihat punggung lebar kakeknya bersandar pada penyanggah kursi. Langkahnya terasa berat namun ia paksakan untuk mendekat. Asher berjongkok di depan tubuh Kakeknya. "Kakek?" panggil Asher menepuk bahu kanan di depannya dengan tangan yang sudah mulai gemetar. "Ji-ka kakek masih ingin tidur. Ja…jangan disini, Kek." ucap Asher berusaha agar getar dalam suaranya tak terdengar. Tak ada jawaban. Mata yang selalu memandangnya dengan bangga masih tertutup dengan rapat. "Kakek?" panggilnya lagi kini dengan menggoyang tubuh Kakeknya. Tentu tidak terlalu keras karena ia tak ingin melukai pria tua kesayangannya ini. Masih tak ada jawaban dan pergerakan apapun.


202 Mata Asher memanas. Ia berusaha membasahi kerongkongannya yang mendadak kering dengan meneguk ludahnya sendiri. Dengan takut-takut jari telunjuk kanannya yang sudah gemetar hebat ia arahkan ke bawah hidung mancung milik Kakeknya. Satu. Dua. Tiga. Asher menghitung dalam hati detik yang terlewat. Empat. Lima. Enam Tidak ada hangat yang menyentuh dingin tangannya. Air mata Asher menetes. Tubuh Asher melemas, ia terjatuh ke belakang dari posisi jongkoknya. Tangan kanannya terkepal di depan dadanya. Asher berusaha untuk tidak terisak. Ia berusaha untuk menghentikan getaran pada jari-jari tangannya. "Ash, minum –" "I-Ibu" ucap Asher dengan nada tercekat. Prak Tanpa Asher jelaskan Ibu Asher sudah lebih dulu paham apa yang terjadi. Asher adalah anak yang jarang menangis. Namun kini anak sulungnya itu menatap dirinya dengan nanar, air matanya mengucur dengan bebas membasahi pipi. Itu artinya ... "Sayang! Ayden!" teriak Sang wanita memangil suaminya.


203 Ayah Asher datang dengan segera. Melihat kondisi istri dan putra sulungnya, pria itu tau apa yang terjadi dengan segera Ayah Asher memanggil Chandra dan Ayahnya untuk membantunya membopong tubuh tak berjiwa itu. Karena mustahil jika Sang Ayah meminta bantuan kepada putranya yang sedang terguncang. Melalui ekor mata miliknya, Ayah Asher memberi isyarat kepada Sang Istri untuk menenangkan Asher. Buk Sebuah buku kuning terjatuh tepat di depannya. Dengan ragu dan berusaha menahan getar pada jemarinya, Asher mencoba mengambil buku itu. Buku itu terjatuh dengan posisi terbuka, dan lembaran yang terbuka itu dapat Asher ingat dengan jelas apa isinya, Apakah kita bisa bersama? Namun kini tulisan itu sudah terdapat balasan Bisa. Aku dan Kamu. Asher Kendrick dan Natara Avonlea. Kita bersama dikeabadian. Yang Asher yakini tulisan tangan dari Sang Kakek. Setelah pemakaman dan segala ritual selesai dilakukan. Seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah tua itu, tepatnya di ruang tengah untuk membacakan surat wasiat.


204 Selama Pengacara membacakan wasiat, pikiran Asher mengawang ke masa lalu, masa-masa di mana ia menghabiskan waktu bersama dengan Kakeknya. Asher adalah cetak biru Kakeknya. Semua orang selalu berucap ia begitu mirip dengan Sang Kakek. Maka jika diingat-ingat obrolan cucu dan kakek di depan cermin tempo hari itu bukanlah sekedar basa-basi, karena memang benar Asher seolah mewarisi 100% gen dari Kakeknya. Dan tak jarang akan ada yang berkomentar 'Tak salah jika cucumu juga bernama Asher Kendrick' Ya, nama si muda sama dengan nama yang lebih tua, Asher Kendrick. Asher hanya tahu ia diberikan nama yang sama dengan Kakeknya karena nama itu memiliki makna yang bagus. Sampai akhirnya Asher mendapatkan surat khusus yang diberikan oleh Pengacara. Untuk Asher Kecil Tak terasa kau kini sudah tumbuh menjadi pemuda gagah. Kau benar-benar mirip sepertiku. Asher Kendrick. Nama yang diberikan Kakek Buyutmu kepadaku. Nama itu memiliki makna yang bagus. Dan saat kelahiranmu pun, seluruh anggota keluarga mengharapkan adanya kehadiran Asher lain. Ah ya, seluruh anggota keluarga begitu memuja dan menghormati Kakeknya. Asher Kendrick bukan tipe yang suka mendominasi namun pembawaan dirinya begitu mengayomi.


205 Tiap masalah dalam keluarga, Kakeknya yang dijadilan hakim tertinggi, bukan karena ia yang tertua dan dituakan. Namun karena Kakeknya begitu bijaksana dalam pengambilan keputusan. Dan ya kepercayaan bagi banyak orang, jika nama merupakan salah satu faktor membangun watak seseorang. Dan disanalah ide pemberian nama itu lahir. Awalnya aku menolak. Bukan karena aku hanya ingin ada satu Asher dan tak ingin ada yang menggantikanku. Bukan. Tapi aku hanya takut jika kau akan menjadi aku yang lain. Asher lain yang menyedihkan. Aku takut kau mengalami apa yang kurasakan. Menjalani sisa hidup dengan hati yang kosong. Tapi tiba-tiba saja, ia muncul dalam mimpiku. Ia tak berbicara, ia hanya tersenyum dengan begitu manis. Namun anehnya bagiku itu adalah sebuah petunjuk. Bahwa selama hidup, aku begitu beruntung karena bisa merasakan dicintai oleh seseorang dengan begitu tulus dan murni hingga ujung usianya. Dan aku ingin kau pun merasakan indahnya perasaan mencintai dan dicintai seseorang hingga akhir hayat. Jadi, begitulah alasan sebenarnya mengapa nama Asher juga bisa menjadi milikmu. Karena kekasihku, Natara Avonlea. Aku yakin kalian sudah tahu siapa itu Natara Avonlea. Benarkan? Tolong sampaikan ucapan maafku kepada yang lain. Tentu aku meminta maaf bukan karena aku mencintai Tara, karena itu bukanlah suatu kesalahan. Tetapi, aku meminta maaf


206 karena sudah menyembunyikan hal ini dari kalian begitu lama. Ya, Kek. Kami sudah tahu siapa itu Natara Avonlea. Kau sudah mempersiapkan kematianmu bahkan jauh sebelum aku ada, sebelum ayah menikah, bahkan sebelum ayah dilahirkan. Kau sudah menentukan di mana kau akan dikebumikan, di samping yang terkasih. Bahkan kau sudah memilih tulisan dalam nisan seperti apa. Kau benar-benar sudah mempersiapkannya. Jadi bagaimana mungkin kami tak menyadarinya. Kau bahkan tak usah memohon maaf, Kek. Aku tahu itu adalah hal yang berat untuk kau sampaikan. Bukan merasa berat karena hal itu suatu hal tercela atau aib, tapi pasti susah bagimu menceritakan sesuatu yang kembali membuatmu terluka karena mengenang kepergiannya. Ash, aku menitipkan rumah ini kepadamu. Tolong jaga rumah ini. Entah mengapa aku memiliki firasat yang kuat bahwa di sini kau akan menemukan kebahagianmu. Tapi, jika kau merasa keberatan, maka kau boleh menjualnya. Dan juga katakan pada Ayahmu. Kakek sudah lama memaafkannya untuk kejadian malam natal. Dan sampaikan juga permohonan maafku karena saat itu belum bisa mengontrol emosi kala itu. Asher mengernyit alisnya. Mencoba mengingat-ingat kejadian yang Kakeknya maksud.


207 Oh! Insiden itu! Peristiwa lama yang selalu diungkit tiap tahun. Dimana semasa kecil Ayah Asher mengotori sebuah lukisan dengan cream kue natal. Berniat untuk segera membersihkan noda cream di lukisan, namun bukannya bersih, gambar itu malah rusak. Sudah sampai disini saja surat dariku. Jangan menangisiku, karena aku yakin, aku telah bertemu dengan pemilik hatiku. Maka, jalanilah hidupmu dengan bahagia. Sekian surat dari Asher Besar Asher tersenyum kecil saat dirinya membaca penutup surat dari Kakeknya 'Asher Besar'. Ia teringat semasa kecil, ia selalu mengikuti kemanapun kakeknya pergi, entah Kakeknya itu hanya berjalan santai di sore hari atau bahkan ketika kakeknya berkumpul dengan teman-temannya. Tiap kali orang-orang memanggil Kakeknya, Asher selalu ikut menengok, ya karena nama mereka sama. Maka di sanalah muncul ide brilliant dari sang Paman untuk menambahkan kata 'Kecil' di belakang namanya sebagai pembeda. Namun, tentu saja Asher saat itu merasa tak terima, karena hanya dirinya sendiri yang diberi tambahan kata di akhir namanya, sedangkan Sang Kakek tidak. Dan karena itupula Kakeknya dengan suka rela menambahkan kata 'Besar' dibandingkan harus dicap sebagai pengkhianat oleh cucunya sendiri.


208 "Tuan Muda Asher, ini kunci brankas di lemari mendiang Tuan Asher," ucap Pengacara memberikan sebuah kunci "Untukku?" tanya Asher sedikit ragu "Ya, dia memberikan ini kepada anda. Katanya amanah terakhir." "Apakah harus saat ini juga?" "Tuan Asher tidak mengatakannya. Tapi bukankah lebih cepat lebih baik?" "Em, baiklah. Terimakasih." Ucap Asher meraih kunci itu. "Saya pamit jika begitu." Tak terasa 2 bulan telah berlalu, dengan banyaknya pertimbangan sana sini, Asher memutuskan untuk menetap dan mendiami rumah pemberian Sang Kakek. Dan tugas pertamanya hari ini adalah membuka brankas dan memenuhi amanat terakhir Si Asher Besar. Sebab setelah pembacaan surat wasiat, Asher bersama anggota keluarga kembali ke kota. Asher tak sanggup jika harus berada lebih lama lagi di rumah tua ini. Ia memerlukan waktu untuk menenangkan pikirannya dari kekalutan. Dan di sinilah Asher berada. Tubuh tegapnya sudah berdiri di depan pintu kamar Sang Kakek. Dengan jantung berdegup, Asher buka pintu kayu itu. Aroma perfume terakhir yang dirinya semprotkan ke tubuh Kakeknya menyapa indra penciuman. Membuat kenangan siang itu kembali memenuhi kepalanya.


209 Bayangan mengenai apa yang dilakukan oleh kedua Asher itu berputar dengan begitu apik. Berputar dengan jelas. Meski Sang Kakek sudah meminta Asher untuk berbahagia, namun tetap saja ia merasakan kehilangan. Asher mengusap sudut matanya yang sudah menumpuk airmata. Setelah cukup dirasa untuk bernostalgia Asher mendekat menuju lemari pakaian yang dimaksud. Di bawah pakaian yang tergantung, sebuah brankas tua berwarna biru Asher dapati. Dengan perlahan Asher memasukan kunci logam yang diberikan oleh Sang Pengacara. Asher tak menyadari jika selama memasuki kunci dan memutar kunci brankas itu dirinya menahan napas dan ia baru menyadarinya ketika ia menghembuskan napas lega saat pintu brankas terbuka. Dengan hati-hati Asher membuka lebih lebar pintu brankas itu. Disana terdapat sebuah kotak beludru berwarna merah dan sebuah bingkai foto berukuran 8R. Dibandingkan penasaran dengan isi kotak beludru, Asher lebih penasaran dengan bingkai kayu antik berwarna coklat muda. Ia ambil bingkai itu dengan hati-hati. Dilihatnya bingkai itu secara seksama dan ia dikejutkan dengan foto yang ada di dalamnya. Foto itu berisikan seorang yang amat mirip dengannya, yang tentu saja itu bukan dirinya dan bukan itu pula yang membuat dirinya terkejut. Melainkan, seorang pemuda mungil yang berada di samping Kakeknya.


210 Pemuda mungil itu tersenyum dengan begitu cerah, terlihat manis dan menawan. Membuat Asher enggan berkedip dan ingin terus menatap selembar kertas berwarna itu. Sadar, Ash! Dia kekasih Kakekmu! Eh? Benarkan dia Natara Avonlea? Asher membatin. Dan benar saja saat dibalik, terdapat ukiran kecil Asher Kendrick dan Natara Avonlea Dan di belakang bingkai itupun terdapat secarik kertas yang menempel. Pajang foto ini di ruang tengah Seketika Asher merasa merinding. Bukan merinding karena merasakan keberadaan makhluk tak kasat mata. Melainkan berkedik ngeri karena dalam secarik surat ini, Asher Besar memerintah tanpa basa basi apapun. Seolah itu adalah hal mutlak yang harus dipenuhi atau jika tidak ia akan murka. Dengan segera Asher bergegas menuju ruang tengah mencari sudut mana yang bagus untuk menaruh bingkai foto Kakek dan Kekasihnya. Asher pun merasa bahwa bingkai ini akan terlihat bagus jika digantung pada dinding. Dan setelah agak lama dan menghabiskan waktu sekitar 10 menit untuk berputar-putar di ruang tengah, Asher akhirnya memilih titik tengah yang berhadap langsung dengan pintu masuk sebagai spot terbaik.


211 Tak perlu waktu lama, Asher pun sudah siap dengan perkakas yang ia butuhkan. Tok ... Tok ... Tok ... Bukan! Itu bukan suara palu milik Asher. Suara itu berasal dari pintu belakang. "Ya sebentar!" teriak Asher dan mempercepat ketukannya palu pada paku di dinding dan memasang bingkai itu. Asher mundur beberapa langkah, memastikan bahwa bingkai yang digantungnya tidaklah miring. Tok ... Tok ... Tok ... Astaga! Mengganggu saja! Dengan wajah malas dan sedikit raut kemurkaan ia membuka pintu rumah. "Maaf, mengganggu. Aku adalah penghuni baru rum –" Asher tak fokus mendengarkan apa yang sedang tetangga barunya ini katakan. Karena demi Tuhan rasanya jantungnya sudah merosot jatuh ke lantai. "Natara?" "–kue ini– Ah, ya?" ucap gadis mungil itu terhenti, ketika namanya disebut. "Eh?! dari mana kau tahu namaku?" Gadis itu


212 bertanya dengan mata yang membulat menunjukan keterkejutannya. Another side ; 2 sosok berbeda usia itu tengah berbincang dengan begitu asyik di kursi taman belakang tempat di bawah pohon berdaun lebat. "Kau tahu aku memiliki seorang cucu, namanya –" "Asher Kendrick," potong Natara, "aku tahu, Ash. Aku tahu. Aku selalu memperhatikanmu tiap kali kau kembali ke sini bersamanya atau dengan anggota keluargamu yang lain" "Maafkan aku, Tara." "Maaf untuk apa? Aku malah bahagia, kau bisa menjalani hidup dengan baik dan dikelilingin oleh orang yang juga mencintai dan menyayangimu. Dan asal kau tahu tidak hanya kau, aku juga memiliki cucu," ucap si mungil dengan nada sombong. "Benarkah? Tapi bukankah kau anak tung–" "Caroline. Adik tiriku memiliki cucu. Dan ia memberikan nama yang sama denganku" "A–apa?" "Iya namanya Natara Avonlea. Katanya karena Caroline begitu merindukanku. Jadi ia memberikan namaku," "Apa ia mirip denganmu?" "Mungkin, tapi aku melihatnya 16 tahun lalu. Masih kecil. Tapi kurasa ia mirip denganku" "Tiba-tiba aku takut jika mereka akan ber–" Ucapan Asher terpotong ketika jemari halus milik Natara menyentuh masingmasing sisi wajahnya. Membuat mata tuanya bertemu dengan binar indah milik sang pujaan hati.


213 "Ash, meski nama dan rupa mereka sama seperti kita. Tapi percayalah mereka memiliki garis takdir sendiri. Biarkan semesta bekerja," ucap Natara diakhiri sengan senyum hangatnya. Meski Asher merasakan perbedaan suhu di kedua pipinya, namun dirinya tetap meraih kedua tangan milik Natara dan menggenggam telapak mungil itu dengan tangan keriputnya, lalu mengecup jari jemari Natara tanpa melepas kontak mata. END


214


Click to View FlipBook Version