Judd Stevens adalah seorang psikoanalis yang dihadapkan pada kasus paling
gawat dalam hidupnya.
Jika dia tidak berhasil mengetahui jalan pikiran seorang pembunuh, dia akan
ditangkap dengan tuduhan membunuh, atau dirinya sendiri akan terbunuh....
Dua orang yang paling dekat dengan Dr. Stevens tewas terbunuh. Mungkinkah
pembunuhnya salah seorang pasiennya? Seseorang yang kacau karena mentalnya
tak kuat menahan beban masalah hidupnya? Seorang penderita neurosis?
Seorang gila? Sebelum si pembunuh beraksi lagi, Judd Stevens harus bisa
menanggalkan topeng wajah tak berdosa yang dikenakannya dan menelanjangi
gejolak-gejolak emosinya yang paling dalam, ketakutan dan kengeriannya,
dambaan dan nafsunya, dan dengan demikian menampilkan...
WAJAH SANG PEMBUNUH
Sanksi Pelanggaran Pasal 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang
Perubanan atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau
memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda pating banyak Rp
100.000.000,— (seratus juta rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau
menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 50.000.000,— (lima puluh
juta rupiah).
Sidney Sheldon
WAJAH SANG PEMBUNUH
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1999
THE NAKED FACE by Sidney Sheldon © 1970 by Sidney Sheldon
WAJAH SANG PEMBUNUH Alih bahasa: Anton Adiwiyoto GM 402 96.034
Hak Cipta Terjemahan Indonesia: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jl.
Palmerah Selatan 24-26, Jakarta 10270 Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama, anggota IKAPI, Jakarta, Maret 1979
Cetakan kedelapan: Maret 1995 Cetakan kesembilan: Oktober 1996 Cetakan
kesepuluh: Oktober 1998 Cetakan kesebelas: September 1999
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
SHELDON, Sidney
Wajah Sang Pembunuh / Sidney Sheldon ; alih bahasa, Anton Adiwryoto. -
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1990.
328 him.: IS cm
Judul asli: The Naked Face
ISBN 979 - 403 - 034
I. Fiksi Amerika . i. Judul. II. Adiwiyoto,
8x0.3
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab
percetakan
Untuk wanita-wanita dalam t Jorja
Mary — dan — Natalie
1
Sepuluh menit sebelum pukul sebelas siang langit menurunkan hujan salju yang
lebat, yang segera menyelimuti kota. Salju yang lembut mengubah jalan-jalan
Manhattan yang sudah membeku menjadi berwarna kelabu. Angin Desember
yang sedingin. es menghalau penduduk yang habis berbelanja untuk Hari Natal
bergegas-gegas pulang ke apartemen atau rumah masing-masing.
Di Lexington Avenue seorang laki-laki kurus jangkung berjas hujan plastik
warna kuning berjalan tergesa-gesa di tengah arus orang banyak. Jalannya cepat,
tapi tidak seperti pejalan kaki lainnya yang bergegas-gegas untuk melarikan diri
dari hawa dingin. Kepalanya terangkat tinggi, dan tampaknya dia tidak
mempedulikan beberapa orang lewat yang menabraknya.
Ya, kini dia sudah bebas setelah mengalami masa pencucian yang lama. Dan kini
dia pulang ke rumah untuk mengatakan kepada Mary bahwa semua sudah
selesai. Masa lampau sudah mati dan dikubur, dan masa depan mereka gemilang
penuh warna keemasan. Dalam pikirannya terbayang
betapa muka istrinya akan berseri-seri setelah dia
menyampaikan berita ini. Ketika dia sampai ke sudut 59th Street, lampu
penyeberangan ganti menjadi merah. Dia pun
berhenti bersama orang banyak yang tidak sabar. Tidak berapa jauh dari
tempatnya seorang Sinterklas Bala Keselamatan berdiri di atas sebuah ketel
besar. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku mencari-cari uang kecil,
persembahan untuk dewa keberuntungan. Saat itu dia merasakan seseorang
menampar panggungnya. Tamparan yang tiba-tiba dan sangat keras ini
mengguncangkan tubuhnya. Rupanya ada pemabuk yang mencoba bersikap
ramah.
Atau Brace Boyd. Bruce tidak menyadari kekuatannya sendiri, dan punya
kebiasaan yang kekanak-kanakan untuk menyakitinya. Tapi sudah setahun lebih
dia tidak pernah lagi menemui Bruce.
Laki-laki berjas hujan kuning ini mulai menoleh untuk melihat siapa yang
memukulnya, tetapi dia merasa heran karena lututnya lemas dan menekuk.
Perlahan-lahan, di luar kemauannya, tubuhnya roboh ke trotoar. Rasa sakit di
punggungnya mulai meluas. Bernapas pun terasa sulit sekali.
Dia sadar bahwa orang banyak terus berjalan melangkahi mukanya, seakan-akan
digerakkan oleh kehidupan di dunia mereka sendiri. Pipinya mulai terasa beku
karena menempel ke trotoar yang dingin. Dia tahu bahwa dia tidak boleh
berbaring di situ. Dia mencoba membuka mulutnya untuk minta tolong, namun
yang keluar justru cairan berwarna merah yang panas membanjir ke salju.
Dia tertegun melihat darahnya sendiri mengalir di trotoar menuju ke got. Rasa
sakitnya kini semakin menyiksa. Tetapi dia tidak begitu mempedulikannya,
sebab tiba-tiba dia teringat akan kabar baiknya.
Ya, kini dia bebas. Dia akan memberi tahu Mary bahwa dia sudah bebas.
Matanya dipejamkan karena lelah terus-menerus melihat langit putih yang
menyilaukan, Kini salju yang turun sudah berubah menjadi hujan air es, tetapi
dia tidak merasakan apa-apa lagi.
Carol Roberts mendengar suara pintu ruang penerima tamu terbuka dan menutup
kembali. Dua orang laki-laki masuk. Sebelum Carol melihat pun, dia sudah bisa
menebak siapa mereka.
Yang seorang berumur kira-kira empat puluh lima tahun. Tubuhnya besar,
tingginya satu meter sembilan puluh dan berotot kekar. Kepalanya besar.
Matanya berwarna biru baja dan cekung, mulutnya keras.
Laki-laki satunya lebih muda. Mukanya tajam, sensitif. Matanya coklat dan
tajam. Kedua laki-laki ini sangat berlainan, tapi menurut pandangan Carol
mereka tidak ubahnya seperti saudara kembar.
Mereka adalah polisi. Itulah yang bisa ditebak oleh Carol.Waktu mereka berjalan
mendekati meja tulisnya, Carol bisa merasakan keringatnya mulai membasahi
ketiaknya.
Pikiran Carol kalut sekali. Seketika pikirannya melayang ke mana-mana,
memikirkan segala hal yang bisa membuatnya celaka. Chick? Tapi sudah lebih
dari enam bulan kekasihnya ini tidak pernah lagi membuat kerusuhan. Sejak
malam itu, ketika
Chick melamarnya dan berjanji akan keluar dari
gang anak-anak muda.
Sammy? Dia di Angkatan Udara dan sedang bertugas di seberang lautan. Dan
seandainya ada sesuatu menimpa diri kakaknya, pasti bukan kedua binatang ini
yang dikirim untuk menyampaikan berita.
Tidak, mereka pasti datang untuk menangkapnya. Dia memang membawa ganja
dalam dompet, dan ada orang yang mengadukannya. Tapi mengapa harus
berdua? Carol mencoba meyakinkan dirinya bahwa polisi tidak bisa
mengusiknya lagi. Dia sudah bukan lagi pelacur kulit hitam dari Harlem yang
bisa didesak-desak.
Ya, dia sudah bukan pelacur lagi. Sekarang dia resepsionis yang bekerja untuk
psikoanalis terbesar di Amerika. Tetapi ketika kedua laki-laki ini semakin
mendekat, rasa panik Carol meningkat.
Kenangan masa lampau yang pahit masih sangat membekas pada ingatannya.
Bertahun-tahun dia bersembunyi di dalam apartemen yang penuh sesak dan bau,
sementara penegak hukum kulit putih merenggutkan ayah, kakak perempuan
atau saudara sepupunya.
Namun pergolakan pada pikirannya tidak kelihatan pada air muka Carol. Sekilas
pandang kedua detektif hanya melihat seorang gadis Negro yang masih muda
dan cantik, mengenakan rok yang potongannya bagus. Suaranya tenang dan
resmi.
"Apa yang bisa saya bantu untuk Anda?"
Kemudian Letnan Andrew McGreavy, detektif
yang lebih tua, melihat keringat yang makin meluas di bawah ketiaknya. Secara
otomatis dia mengingat-ingat ini sebagai informasi yang penting untuk
digunakan di masa yang akan datang. Resepsionis Dokter pikirannya tegang.
McGreavy mengeluarkan dompet dengan lencana yang tersemat pada bagian
luarnya.
"Letnan McGreavy, Seksi Sembilan Belas." Dia menunjuk kepada pamernya.
"Detektif Angeli. Kami dari Bagian Pembunuhan."
Pembunuhan? Otot pada lengan Carol mulai berdenyut-denyut dengan
sendirinya. Chick! Dia pasti membunuh orang. Dia melanggar janji kepadanya
dan kembali ikut gang. Dia ikut merampok dan menembak orang, atau—apakah
dia yang tertembak? Apakah dia mati? Itukah sebabnya mereka datang untuk
memberitahukan ini kepadanya?
Carol merasakan keringatnya mengalir semakin deras. Tiba-tiba dia menyadari
keadaannya. McGreavy melihat ke mukanya, tapi Carol tahu benar bahwa polisi
ini memperhatikan keringatnya. Baik dia sendiri maupun orang seperti
McGreavy tidak memerlukan kata-kata. Seketika mereka saling mengenal begitu
mereka bertemu. Mereka sudah saling mengenal selama ratusan tahun.
"Kami ingin bertemu dengan Dokter Judd Stevens," kata detektif yang lebih
muda. Suaranya lemah lembut dan sopan, sesuai dengan rupa lahiriahnya. Untuk
pertama kalinya Carol mem
perhatikan bahwa detektif ini membawa bungkusan kertas cokfat yang tidak
begitu besar, diikat
dengan tali.
Hanya sesaat waktu yang diperlukan untuk meresapkan kata-katanya. Jadi ini
bukan persoalan Chick. Atau Sammy. Atau ganja.
"Maaf," kata Carol, hampir tidak bisa menyembunyikan kelegaannya. "Dokter
Stevens sedang bersama pasien."
"Ini hanya akan makan waktu beberapa menit," kata McGreavy, "Kami ingin
mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya." Dia berhenti bicara sebentar.
"Kami bisa menanyai dia di sini, atau di markas polisi."
Carol memandang kedua jpolisi sesaat, tidak mengerti. Mengapa dua orang
detektif dari Bagian Pembunuhan ingin menanyai Dokter Stevens? Apa pun
perkiraan polisi, Dokter tidak mungkin melakukan kesalahan. Carol sudah
mengenal baik dokter ini. Berapa lama? Empat tahun. Perkenalan mereka
diawali pada suatuvmalam di pengadilan...
Waktu itu pukul tiga pagi, dan cahaya lampu di ruang pengadilan membuat
setiap orang kelihatan pucat serta tidak sehat. Ruang pengadilan ini sudah tua
dan tidak terurus, penuh dengan busuknya bau ketakutan yang terkumpul selama
bertahun-tahun seperti menumpuknya cat yang mengelupas.
Nasib Carol waktu itu sungguh sial sekali, sebab yang mengadili dia Hakim
Murphy lagi. Baru dua minggu yang lalu dia berhadapan
dengan hakim ini, dan dibebaskan dengan hukuman percobaan. Pelanggaran
pertama. Artinya, itu pertama kalinya bangsat-bangsat menangkapnya. Kali ini
dia sadar bahwa hakim akan menjatuhkan hukuman kepadanya.
Perkara yang diajukan sebelum perkaranya sudah hampir selesai. Seorang laki-
laki jangkung dan tampak berwatak tenang berdiri di muka hakim dan
mengatakan sesuatu tentang kliennya, laki-laki gemuk yang tangannya diborgol
dan sekujur badannya gemetar.
Carol menaksir pasti laki-laki jangkung yang tenang ini seorang pembela,
seorang tukang ngomong. Wajahnya yang penuh rasa percaya diri sudah
menunjukkan hal itu. Mujur benar laki-laki gemuk ini punya pembela seperti
dia. Sedangkan dia sendiri tidak dibela oleh siapa pun.
Akhirnya Carol mendengar namanya dipanggil. Dia berdiri, merapatkan lutut
supaya tidak gemetar. Petugas pengadilan mendorong Carol maju ke depan.
Seorang juru tulis menyerahkan berkas tuduhan kepada hakim.
Hakim Murphy melihat kepada Carol, kemudian ke kertas di hadapannya.
"Carol Roberts. Menjual diri di jalan, gelandangan, memiliki mariyuana dan
melawan waktu ditangkap.Tuduhan yang terakhir omong kosong belaka. Polisi
mendorongnya, dan dia menyepak kemaluannya. Bagaimanapun juga, dia warga
negara
"Beberapa minggu yang lalu kau di sini bukan,
Carol?"
Carol membuat suaranya kedengaran tidak pasti. "Saya rasa itu benar, Yang
Mulia." "Dan aku memberimu hukuman percobaan." "Benar, Tuan." "Berapa
umurmu?"
Seharusnya dia tahu mereka akan bertanya.
"Enam belas. Hari ini ulang tahun saya yang keenam belas. Selamat ulang tahun
kepadaku," kata Carol. Kemudian tangisnya meledak, terus tersedu-sedu sampai
tubuhnya terguncang-guncang.
Seorang laki-laki jangkung yang kelihatan pendiam sedang berdiri dekat meja di
tepi ruangan, mengumpulkan beberapa helai kertas dan memasukkannya ke
dalam tas. Waktu Carol menangis tersedu-sedu, laki-laki ini mengawasinya
sebentar. Kemudian dia bicara kepada Hakim Murphy.
Hakim mengumumkan bahwa sidang ditunda untuk istirahat, dan kedua laki-laki
ini masuk ke kamar hakim. Lima belas menit kemudian petugas pengadilan
mengawal Carol masuk ke kamar hakim. Di dalam, laki-laki yang pendiam ini
sedang bercakap-cakap dengan hakim.
"Kau gadis yang mujur, Carol," kata Hakim Murphy. "Kau akan diberi
kesempatan sekali lagi. Pengadilan menyerahkan kau kepada penjagaan pribadi
Dokter Stevens."
Jadi laki-laki jangkung ini bukan tukang ngomong—dia seorang dukun. Carol
tidak peduli
seandainyapun orang yang membawanya ini adalah Jack the Ripper. Yang
penting dia keluar dari ruang pengadilan yang bau sebelum mereka tahu itu
bukan hari ulang tahunnya.
Dokter membawa Carol ke apartemennya. Sepanjang perjalanan dalam mobil
Dokter mengajak Carol mengobrol. Diberinya Carol kesempatan menguatkan
harinya dan berpikir. Akhirnya mobil dihentikan di muka gedung apartemen
modern di 71 st Street yang menghadap ke East River. Di gedung ini ada penjaga
pintu dan operator lift. Mereka menegur Dokter dengan sikap biasa saja. Dari
sikap mereka orang bisa menarik kesimpulan bahwa Dokter sudah biasa pulang
pukul tiga pagi bersama pelacur umur enam belas tahun.
Belum pernah Carol melihat apartemen yang sebagus ini. Ruang duduknya
bercat putih, dilengkapi dengan dua buah sofa panjang berlapis kain tweed. Di
antara kedua sofa ada sebuah meja kopi besar berlapis kaca tebal. Di atas meja
ada papan catur besar, buah caturnya ukiran Venesia.
Lukisan modern bergantungan di dinding. Di ruang tengah ada monitor televisi
jarak dekat yang menunjukkan pintu masuk ke lobi. Di sudut ruang duduk ada
bar dari kaca buram, dengan rak berisi gelas dan guci kristal. Melalui jendela,
Carol bisa melihat jauh di bawah beberapa perahu kecil sedang menyusuri East
River.
"Pengadilan selalu membuat saya lapar," kata
Judd. "Mari kita makan untuk merayakan tahunmu."
Diajaknya Carol ke dapur. Di situ Carol bisa melihat Dokter dengan pandainya
masak dadar telur Meksiko, kentang goreng Prancis, kue panggang Inggris,
selada, dan kopi.
"Ini salah satu keuntungan menjadi bujangan," katanya. "Saya bisa memasak
kapan saja saya mau."
Jadi dia seorang bujangan tanpa teman wanita di rumah. Kalau dia cukup cerdik,
ini bisa menjadi tambang emas, pikir Carol. Setelah dia selesai melahap
makanannya, Dokter mengantarkannya ke kamar tamu.
Kamar tidur untuk tamu dindingnya bercat biru. Di situ ada sebuah tempat tidur
besar dengan seprai biru berbintik-bintik. Di dekatnya ada sebuah lemari pakaian
Spanyol yang rendah terbuat dari kayu hitam dan pegangannya dari perunggu.
"Kau bisa tidur di sini," kata Dokter. "Saya akan mencarikan piyama untukmu."
Waktu melihat berkeliling dalam kamar yang begitu bagus, Carol berpikir, Carol
sayang, kau dapat rezeki nomplok! Laki-laki ini mencari perempuan kulit hitam.
Dan kaulah yang terpilih untuk memberikan kesenangan kepadanya.
Carol membuka pakaian dan menghabiskan waktu setengah jam berikutnya di
kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dia hanya memakai handuk untuk
membungkus tubuhnya yang montok dan berkilat-kilat. Di atas tempat tidur
dilihatnya piyama milik Dokter yang disiapkan untuknya.
Dia tertawa mengerti dan membiarkan piyama tetap di tempatnya. Handuk
dilemparkannya, lalu dia berjalan ke ruang duduk. Dokter tidak ada di situ. Carol
menjengukkan kepalanya ke balik pintu ruang belajar. Dokter sedang duduk
menghadapi meja tulis besar, dengan lampu antik tergantung di atasnya.
Ruang belajar Dokter penuh dengan buku yang memenuhi rak dari lantai sampai
ke langit-langit. Carol berjalan ke belakang Dokter dan mencium lehernya.
"Mari kita mulai, Sayang," bisik Carol. "Saya sudah tidak kuat lagi
menahannya." Dia merapatkan tubuhnya ke tubuh Dokter. "Tunggu apa lagi?
Kalau kita tidak segera mulai, saya bisa gila."
Sesaat Dokter memandang Carol dengan matanya yang kelabu tua. "Kau belum
cukup mendapat kesulitan?" Dia bertanya dengan suara lembut. "Bukan salahmu
kalau kau dilahirkan sebagai orang Negro. Tapi siapa yang menyuruh kau
menjadi anak putus sekolah, pengisap ganja, dan melacurkan diri pada umur
enam belas tahun?"
Carol terbelalak, keheranan. Apakah dia telah salah omong? pikirnya. Mungkin
untuk merangsang berahinya, dokter ini harus mencam-bukinya dulu. Atau
mungkin dia suka main-main sebagai pendeta cabul. Dia akan berdoa di atas
kemaluannya yang hitam, mengampuni dosanya, dan kemudian menidurinya.
Carol mencoba sekali lagi. Dia mengulurkan
tangan ke antara pangkal paha Dokter dan mengelusnya sambil berbisik,
"Ayolah, Sayang, bangunlah."
Dokter Stevens melepaskan diri dengan sikap lembut dan mendudukkan Carol di
kursi. Belum pernah Carol sebingung itu. Dokter ini tidak punya tampang
homoseks, tapi, siapa tahu di zaman sekarang ini....
"Apa kegemaranmu, Sayang? Katakan apa yang paling kausukai dan saya akan
menuruti kehendakmu."
"Baiklah," kata Dokter. "Mari kita omong-omong." "Maksudmu—mengobrol}"
"Betul."
Mereka pun bercakap-cakap. Sepanjang malam. Bagi Carol ini malam paling
aneh yang pernah dilewatkannya. Dokter Stevens berbicara melompat-lompat
dari satu soal ke soal lainnya, menyelidiki, mengujinya. Dokter menanyakan
pendapatnya mengenai Vietnam, pemukiman Negro, dan kerusuhan mahasiswa.
Setiap kali Carol mengira bahwa dia sudah tahu apa yang dikehendaki Dokter,
Dokter sudah mengganti bahan percakapan lagi.
Banyak sekali yang mereka bicarakan. Banyak di antaranya yang belum pernah
didengar oleh Carol, di samping persoalan yang sudah sangat dikenalnya.
Berbulan-bulan kemudian Carol masih sering berbaring dengan mata nyalang,
menco-
ba mengingat-ingat percakapan yang mengubah dirinya.
Ya, mana gerangan mantera ajaib yang berhasil mengubah dirinya? Tapi Carol
tidak bisa menemukannya) sebab akhirnya dia sadar bahwa sama sekali tidak
ada mantera ajaib. Yang dilakukan Dokter Stevens sederhana saja. Dia hanya
mengajaknya bicara. Benar-benar mengajaknya bicara. Tak seorang pun pernah
berbuat begitu sebelumnya. Dokter ini memperlakukannya sebagai manusia
yang sederajat, yang pendapat dan perasaannya benar-benar diperhatikan.
Dan seketika pada malam itu tiba-tiba Carol menyadari ketelanjangannya, lalu
dia cepat-cepat masuk untuk memakai piyama. Dokter mengikutinya ke
kamarnya dan duduk di tepi tempat tidur, dan mereka meneruskan bercakap-
cakap.
Mereka membicarakan Mao Ze Dong, hula hop, dan pil anti hamil. Mereka juga
berbicara tentang memiliki ayah dan ibu yang tidak pernah menikah. Carol
menceritakan kepadanya segala hal yang belum pernah diceritakannya kepada
siapa pun dalam hidupnya. Segala hal yang selama ini terpendam dalam bawah
sadarnya.
Dan ketika pada akhirnya dia tertidur, Carol merasakan dirinya sudah kosong
sama sekali. Rasanya dia seperti habis menjalani operasi besar, dan bisa yang
ada di dalam tubuhnya sudah dialirkan ke luar semua.
Paginya, sesudah sarapan, Dokter memberinya uang seratus dollar.
Carol ragu-ragu menerimanya. Kemudian akhirnya dia berkata, "Saya bohong.
Kemarin bukan hari ulang tahun saya."
"Saya tahu." Dokter Stevens tersenyum. "Tapi kita tidak akan mengatakannya
kepada Hakim." Nada suaranya berubah. "Kau boleh menerima uang ini dan
pergi dari sini. Tak ada yang akan mengganggumu, sampai saat kau ditangkap
polisi lagi." Dia berhenti bicara sebentar. "Saya butuh resepsionis. Saya rasa kau
bisa menjadi resepsionis yang baik."
Carol memandang Dokter dengan rasa tidak percaya. "Dokter keliru. Saya tidak
bisa steno atau mengetik."
"Kau bisa kalau sekolah lagi."
Carol memandangnya sesaat. Kemudian dengan sungguh-sungguh dia berkata,
"Itu belum pernah saya pikirkan. Kedengarannya hebat sekali."
Carol sudah tidak sabar lagi, ingin segera kabur dari apartemen Dokter dan
memamerkan lembaran ratusan dollar-nya kepada teman-temannya di Toko
Fishman di Harlem. Di situlah kelompoknya biasa kumpul-kumpul. Dia bisa
bersenang-senang selama seminggu dengan uang yang didapatnya.
Dia berjalan masuk ke Toko Fishman, seakan-akan tidak pernah pergi ke mana-
mana. Dilihatnya wajah-wajah kasar yang biasa, dan percakap an kotor yang
memekakkan telinga. Dia sudah kembali ke lingkungannya lagi. Tetapi dia selalu
memikirkan apartemen Dokter. Bukan perabotannya yang membuat perbedaan.
Apartemennya begitu—bersih. Dan tenteram.
Ya, apartemen Dokter Stevens seperti pulau kecil di dunia lain. Dan Dokter
sudah menawarkan paspor untuk memasukinya. Apa ruginya kalau dia
menerima tawaran Dokter? Dia bisa mencoba untuk iseng-iseng saja. Untuk
membuktikan bahwa Dokter keliru, bahwa dia takkan berhasil.
Tapi Carol sendiri merasa heran ketika dia masuk sekolah di waktu malam.
Kamarnya yang lama ditinggalkan. Kamar yang dilengkapi dengan wastafel
karatan, cermin pecah, dipan reyot, dan tirai jendela hijau yang dekil ini punya
peranan tersendiri. Di situlah dia memainkan sandiwaranya.
Di situ dia bisa menjadi putri cantik anak jutawan dari Paris, London, atau
Roma. Laki-laki yang menidurinya pangeran tampan yang kaya, dan setengah
mati ingin mengawininya. Dan setelah laki-laki ini puas dan meninggalkannya,
khayalannya pun mati. Sampai kesempatan berikutnya,
Carol meninggalkan kamar dengan semua pangerannya tanpa menoleh-noleh
lagi, dan kembali hidup dengan orangtuanya. Dokter Stevens memberinya
tunjangan selama dia sekolah. Dokter juga hadir waktu pembagian ijazah,
matanya bersinar-sinar karena bangga.
Sekarang ada orang yang percaya kepadanya.
Dia seorang yang berarti. Siang hari dia bekerja,
dan malamnya mengambil kursus sekretaris. Setelah tamat dari kursus ini, dia
bekerja pada Dokter Stevens dan mampu menyewa apartemen sendiri.
Selama empat tahun Dokter Stevens selalu memperlakukannya dengan sopan,
sama seperti sikap yang ditunjukkannya pada malam pertama perkenalan
mereka. Mula-mula Carol mengira akan mendengar komentar Dokter yang
mengingatkan mengenai keadaan dirinya dulu dan sudah menjadi apa dia
sekarang. Tetapi ternyata jauh dari itu, dan akhirnya dia sadar bahwa Dokter
selama ini melihat dirinya sebagaimana keadaannya sekarang.
Yang dilakukan Dokter hanya membantu dia mencapai cita-citanya. Kapan saja
Carol mempunyai kesulitan, Dokter selalu menyediakan waktu untuk
membicarakannya. Akhir-akhir ini dia bermaksud menceritakan kepada Dokter
apa yang terjadi antara dia dengan Chick. Dia akan menanyakan pendapat
Dokter, apakah dia perlu mem-beritahu Chick. Tapi maksudnya ini belum juga
disampaikan. Dia ingin Dokter Stevens merasa bangga akan dirinya. Dia akan
melakukan apa saja untuk Dokter yang baik hati ini....
Dan sekarang kedua polisi dari Bagian Pembunuhan ingin menanyai Dokter
yang begitu baik hati kepadanya.
McGreavy menjadi tidak sabar. "Bagaimana, Nona?" Dia bertanya.
"Saya mendapat perintah untuk tidak meng-
ganggunya kalau dia sedang bersama pasien," kata Carol. Dia melihat perasaan
yang terpancar dari mata McGreavy. "Akan saya telepon dia."
Carol mengangkat telepon dan menekan bel interkom. Setelah sunyi selama tiga
puluh detik, terdengar suara Dokter Stevens melalui telepon. "Ya?"
"Ada dua orang detektif ingin bertemu dengan Dokter. Mereka-dari Bagian
Pembunuhan."
Carol bersiap-siap kalau-kalau mendengar perubahan pada suara Dokter...
kegugupan... ketakutan. Tapi tidak ada yang lain dalam suaranya ketika dia
berkata, "Suruh mereka menunggu." Hubungan telepon pun putus.
Rasa bangga menjalari perasaan Carol. Mereka mungkin bisa saja membuat
dirinya panik, tapi tidak mungkin bisa membuat Dokter kehilangan
ketenangannya. Dia mengangkat mukanya dengan berani. "Anda dengar sendiri
apa katanya."
"Berapa lama lagi pasiennya di sana?" tanya Angeli, detektif yang lebih muda.
Carol melihat ke jam di atas meja tulis. "Dua puluh lima menit lagi Isi pasiennya
yang terakhir untuk hari ini."
Kedua detektif saling bertukar pandang.
"Kami akan menunggu," kata McGreavy sambil menghela napas.
Mereka duduk di kursi. McGreavy memperhatikan Carol. "Rasanya-saya sudah
mengenalmu, katanya.
Tapi Carol tidak mudah terkecoh. Orang ini
sedang memancing-mancing penyelidikan. "Anda
sudah tahu bagaimana kata orang," jawab Carol.
"Kami semua kelihatannya mirip."
Tepat dua puluh menit kemudian, Carol mendengar pintu samping kantor Dokter
yang menuju ke gang terbuka. Dan beberapa menit kemudian pintu masuk ke
kantor Dokter terbuka. Dokter Judd Stevens keluar. Dia ragu-ragu sebentar
waktu melihat McGreavy.
"Kita sudah pernah bertemu," kata Dokter. Tapi dia tidak ingat di mana.
McGreavy mengangguk pasif. "Yah.. saya Letnan McGreavy." Dia menunjuk
pamernya. "Detektif Frank Angeli."
Judd dan Angeli berjabatan tangan. "Silakan masuk."
Dokter mengajak kedua detektif masuk ke kantornya, dan pintu ditutup. Carol
melihat kepada mereka, mencoba memikirkan ada persoalan apa gerangan.
Detektif yang bertubuh besar rupanya tidak.senang kepada Dokter Stevens. Tapi
mungkin itu sudah wataknya. Carol hanya yakin kepada satu hal. Pakaiannya
harus dikirim ke tukang cuci.
***
Kantor Dokter Judd Stevens diberi perabotan seperti ruang duduk dalam rumah
di pedalaman Prancis. Tidak ada meja tulis. Yang ada hanya kursi malas empuk,
meja di sudut, dan lampu
antik beberapa buah. Di ujung ruangan ada pintu samping menuju ke gang.
Lantai ruangan dihampari dengan permadani Edward Field yang indah, dan di
sebuah sudut ada sebuah sofa berlapis kain sutra. McGreavy memperhatikan di
dinding tidak ada diploma satu pun. Tapi sebelum datang ke situ dia sudah
mengecek dulu. Kalau mau, Dokter Stevens bisa memenuhi dinding kantornya
dengan diploma dan sertifikat.
"Ini pertama kalinya saya masuk ke kantor psikiater," kata Angeli, sangat
kagum. "Ingin sekali ,saya punya rumah seperti, ini."
"Ini membuat pasien saya merasa tenteram," kata Judd menerangkan dengan
enaknya. "Dan jangan keliru, saya psikoanalis." "Maaf," kata Angeli. "Apa
bedanya?" "Bedanya kira-kira lima puluh dollar per jam," kata McGreavy.
"Pengetahuan patner saya tidak begitu banyak."
Patner. Secara tiba-tiba Judd teringat kembali. Patner McGreavy mati tertembak
dan McGreavy sendiri luka waktu ada perampokan di toko minuman keras
empat tahun yang lalu—ataukah lima tahun yang lalu?
Waktu itu penjahat bernama Amos Ziffren ditangkap karena melakukan
perampokan. Pengacara Ziffren mengajukan pembelaan dengan mengatakan
kliennya tidak bersalah karena menderita penyakit jiwa. Judd dipanggil sebagai
saksi ahli untuk memeriksa Ziffren. Dia mendapat hasil pemeriksaan bahwa
Ziffren menderita kegilaan
yang sangat parah. Atas kesaksian Judd, Ziffren
dibebaskan dari hukuman mati dan dikirim ke
rumah sakit jiwa.
"Sekarang saya ingat Anda siapa," kata Judd. "Perkara Ziffren. Anda mendapat
tiga peluru, dan patner Anda terbunuh."
"Saya juga ingat kembali siapa Anda," kata McGreavy. "Anda yang
membebaskan pembunuhnya."
"Sekarang Anda ada keperluan apa?"
"Kami perlu sedikit informasi, Dokter," kata McGreavy. Dia mengangguk
kepada Angeli. Angeli mulai membuka ikatan bungkusan yang dibawanya.
"Kami ingin Anda mengenali benda yang kami bawa," kata McGreavy. Kata-
katanya diucapkan dengan hati-hati, tanpa menunjukkan perasaan apa pun.
Angeli sudah membuka bungkusannya. Dia mengangkat sehelai jas hujan plastik
berwarna kuning. "Anda pernah melihat ini sebelumnya?"
"Kelihatannya seperti milik saya," kata Judd keheranan.
"Memang, ini milik Anda. Nama Anda tertulis di dalamnya."
"Itu Anda temukan di mana?"
"Menurut Anda, kira-kira kami menemukannya di mana?" Sikap kedua orang ini
sudah tidak seramah tadi. Air muka mereka sudah berubah sama sekali.
Judd memperhatikan McGreavy sesaat. Kemu
dian dari meja rendah yang panjang dia mengambil pipanya, terus diisi dengan
tembakau. "Saya rasa sebaiknya Anda menerangkan saja ada apa ini
sebenarnya,,, katanya dengan tenang.
"Tentang jas hujan ini, Dokter Stevens," kata McGreavy. "Kalau ini benar milik
Anda, kami ingin tahu bagaimana ini jatuh ke tangan orang kin."
"Tentang itu tidak ada yang luar biasa. Tadi pagi gerimis waktu saya datang ke
sini. Mantel hujan saya sedang dicuci, jadi saya memakai jas hujan plastik
kuning ini. Biasanya jas ini hanya saya pakai kalau saya pergi memancing. Salah
seorang pasien saya tidak membawa jas hujan. Karena hujan salju sangat lebat,
saya meminjamkan jas hujan ini kepadanya." Dia berhenti bicara, tiba-tiba
kelihatan kuatir. "Apa yang terjadi dengan dia?"
"Terjadi dengan siapa?" tanya McGreavy.
"Pasien saya—John Hanson."
'Tunggu," kata Angeli lunak. "Anda tepat mengenai sasaran. Tuan Hanson tidak
bisa mengembalikan jas hujan ini sendiri, karena dia mati."
Judd terperanjat.."Mati?" "Ada orang yang menikam punggungnya," kata
McGreavy.
Judd melihat kepadanya dengan pandangan tidak percaya. McGreavy
mengambil jas hujan dari tangan Angeli dan membaliknya. Judd melihat
robekan lebar pada belakang jas hujan.
Belakang jas hujan ini juga berbekas darah berwarna merah kehitaman. Kepala
Judd mendadak pusing.
"Siapa orang yang ingin membunuh dia?"
"Kami berharap Anda bisa mengatakannya kepada kami, Dokter Stevens," kata
Angeli. "Siapa lagi yang lebih tahu daripada psikoanalis-nya?"
Judd menggeleng-gelengkan kepalanya tidak berdaya. "Kapan ini terjadinya?"
McGreavy menjawab pertanyaannya. "Pukul sebelas siang tadi. Di Lexington
Avenue, kira-kira satu blok dari kantor Anda. Beberapa puluh orang pasti
melihat dia jatuh. Tapi mereka ingin segera pulang untuk menyiapkan pesta Hari
Natal, jadi mereka biarkan saja dia menggeletak di salju dan kehabisan darah
sampai mati."
Judd berpegangan pada tepi meja, buku-buku jarinya kelihatan memutih.
"Pukul berapa Hanson berada di sini tadi pagi?" tanya Angeli.
"Pukul sepuluh."
"Berapa lama pembicaraan Anda dengan dia, Dokter?"
"Lima puluh menit."
"Setelah selesai dia terus pergi?"
"Ya. Ada pasien lainnya yang menunggu."
"Apakah Hanson keluar melalui ruang penerima tamu?"
"Tidak. Pasien saya masuk melalui kantor resepsionis dan pergi melalui pintu
itu." Judd
menunjuk ke pintu samping yang menuju ke gang. "Dengan cara demikian
antara pasien tidak saling bertemu."
McGreavy mengangguk. "Jadi Hanson dibunuh beberapa menit setelah
meninggalkan tempat ini. Mengapa dia datang menemui Anda?"
Judd ragu-ragu. "Maaf. Saya tidak bisa membicarakan hubungan antara dokter
dengan pasien."
"Tapi dia dibunuh orang," kata McGreavy. "Mungkin Anda bisa membantu kami
menemukan pembunuhnya."
Pipa Judd sudah padam apinya. Dengan tenang dia menyalakannya kembali.
"Sudah berapa lama dia datang menemui Anda?" Kali ini yang bertanya Angeli.
Kerjasama yang biasa antara pasangan polisi.
"Tiga tahun."
"Apa kesulitannya?"
Judd ragu-ragu. Dia teringat kembali kepada wajah John Hanson pagi tadi.
Gembira, selalu tersenyum, ingin segera menikmati kebebasan yang baru
diperolehnya. "Dia homoseks."
"Perkara homoseks lagi," kata McGreavy kesal.
"Dia dulu homoseks," kata Judd. "Sekarang Hanson sudah sembuh. Pagi tadi
saya mengatakan kepadanya bahwa dia sudah tidak perlu datang menemui saya
lagi. Dia sudah siap untuk kembali kepada keluarganya. Dia punya istri dan dua
orang anak."
"Homoseks berkeluarga?" tanya McGreavy.
"Banyak yang begitu."
"Mungkin salah seorang teman mainnya tidak ingin melepaskan dia. Mereka
bertengkar. Pacarnya ini marah dan menikam punggungnya."
Judd berpikir. "Itu mungkin," katanya sambil merenung. "Tapi saya tidak
percaya."
"Mengapa tidak, Dokter Stevens?" tanya Angeli.
"Sebab sudah lebih dari setahun Hanson tidak memerlukan kontak homoseks
lagi. Saya rasa yang lebih mungkin seseorang mencoba merampoknya. Hanson
bukan orang yang suka bertengkar."
"Homoseks yang berani kawin," kata McGreavy dengan suara berat. "Hanya satu
hal yang tidak cocok dengan teori perampokan. Dompetnya sama sekali tidak
disentuh, padahal uang di dalamnya lebih dari seratus dollar." Dia
memperhatikan reaksi Judd.
Angeli berkata, "Kalau kita mencari orang gila, mungkin akan lebih mudah."
"Belum tentu," Judd menyanggah. Dia berjalan ke jendela. "Lihatlah orang
banyak di sana. Satu di antara dua puluh orang pernah gila, sekarang gila, atau di
masa yang akan datang harus masuk rumah sakit jiwa."
"Tapi bukankah orang gila...?"
"Dia tidak perlu secara lahiriah kelihatan gila," Judd menerangkan. "Untuk
setiap kasus kegilaan yang nyata, sekurang-kurangnya ada sepuluh yang
diagnosanya tidak bisa ditemukan."
McGreavy memperhatikan Judd dengan rasa tertarik yang tidak ditutup-tutupi.
"Anda tahu benar tentang watak manusia bukan, Dokter?"
"Yang namanya watak manusia itu tidak ada," kata Judd. "Seperti halnya dengan
watak binatang, sesungguhnya juga tidak ada. Cobalah cari persamaan antara
kelinci dengan harimau. Atau tupai dengan gajah."
"Berapa lama Anda berpraktek sebagai psiko-analis?" tanya McGreavy. "Dua
puluh tahun. Mengapa?" McGreavy mengangkat bahu. "Anda laki-laki yang
tampan. Saya berani bertaruh banyak pasien yang jatuh cinta kepada Anda,
bukan?"
Pancaran mata Judd dingin. "Saya tidak mengerti tujuan pertanyaan Anda."
"Jangan pura-pura, Dok. Anda pasti tahu. Kita sama-sama laki-laki yang
berpengalaman. Seorang laki-laki homoseks masuk ke sini, dan ternyata dokter
tempat dia mengadukan kesulitannya masih muda dan tampan." Nada suaranya
berubah menjadi ramah, "Masa Anda tidak tahu, apakah Hanson tergerak
berahinya bila melihat Anda, padahal dia selama tiga tahun berobat kepada
Anda?"
Judd melihat kepadanya tanpa menunjukkan perasaannya. "Jadi itu pemikiran
yang ada di kepala Anda sebagai laki-laki berpengalaman, Letnan?"
McGreavy tetap tenang. "Itu bisa terjadi. Dan saya masih bisa menyebutkan-
kemungkinan-
kemungkinan lain yang bisa terjadi. Anda tadi mengatakan bahwa Anda telah
memberi tahu
Hanson agar tidak usah bertemu lagi dengan dia. Mungkin dia merasa tidak
senang. Dia sudah bergantung kepada Anda selama tiga tahun. Anda bertengkar
dengan dia."
Muka Judd gelap karena marah.
Angeli mencoba mencairkan ketegangan. "Anda mungkin bisa memikirkan
seseorang yang punya alasan kuat untuk membenci dia, Dokter? Atau seseorang
yang mungkin dibencinya?"
"Kalau memang ada," kata Judd, "saya akan mengatakannya kepada Anda. Saya
merasa mengetahui segala-galanya yang bisa diketahui tentang John Hanson.
Dia laki-laki yang periang. Dia tidak pernah membenci siapa pun, dan saya tidak
"tahu apakah ada orang yang membencinya."
"Mujur benar dia. Anda pasti dokter yang hebat sekali," kata McGreavy. "Kami
akan membawa arsip mengenai dirinya yang ada pada Anda."
"Tidak bisa."
"Kami bisa mendapatkan surat perintah dari pengadilan."
"Terserah Anda. Dalam catatannya, Anda tidak akan mendapatkan apa-apa yang
bisa membantu Anda." "Jadi, apa salahnya kalau Anda memberikannya saja
kepada kami?" tanya Angeli.
"Itu bisa merugikan istri dan anak-anak Hanson. Anda melangkah di jalan yang
salah. Pada
akhirnya nanti akan Anda temukan bahwa Hanson dibunuh oleh orang yang
tidak dikenalnya."
Saya tidak percaya," McGreavy memotong.
Angeli membungkus kembali jas hujan itu dan mengikatnya. "Kami akan
mengembalikan ini kepada Anda setelah kami selesai melakukan beberapa tes
lagi."
"Ambil saja," kata Judd.
McGreavy membuka pintu yang menuju ke gang. "Kami akan menghubungi
Anda, Dokter" Dia berjalan ke luar. Angeli mengangguk kepada Judd dan keluar
mengikuti McGreavy.
Judd masih tetap berdiri dengan pikiran kacau ketika Carol masuk. "Semua
beres?" Carol bertanya ragu-ragu.
"Seseorang membunuh John Hanson."
"Membunuh dia?"
"Dia ditikam," kata Judd.
"Ya, Tuhan! Mengapa?"
"Polisi tidak tahu."
"Ngeri benar!" Carol melihat mata Dokter memancarkan rasa sakit. "Ada sesuatu
yang bisa saya lakukan, Dokter?"
"Tolong tutupkan saja pintu kantor, Carol. Saya akan pergi mengunjungi Nyonya
Hanson. Saya ingin menyampaikan berita ini sendiri."
"Jangan kuatir. Saya akan mengurus segala-galanya," kata Carol.
"Terima kasih."
Dan Judd pun pergi.
Tiga puluh menit kemudian Carol sudah selesai
membenahi semua arsip. Dia sedang mengunci laci meja tulisnya ketika pintu
gang terbuka. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, dan gedung sudah
tertutup. Carol mengangkat mukanya ketika laki-laki yang masuk ke kantor itu
tersenyum dan berjalan menghampirinya.
Wajah Mary Hanson seperti boneka. Mungil, cantik, serba habis. Secara
lahiriah dia lembut, ciri wanita Selatan yang lemah-gemulai. Tapi bila dilihat
lebih mendalam, dia keras seperti batu granit. Judd bertemu dengan dia
seminggu setelah suaminya memulai terapi. Mary histeris, marah-marah karena
suaminya menjalani terapi ini. "Mengapa Anda tidak senang suami Anda
menjalani analisis?"
"Saya tidak ingin teman-teman mengatakan saya kawin dengan orang gila," kata
Mary kepada Judd. "Katakan supaya dia menceraikan saya saja. Sesudah itu dia
boleh berbuat sesuka hatinya."
Judd menerangkan bahwa perceraian dalam keadaan semacam itu bisa
menghancurkan John sama sekali.
"Tidak ada lagi yang bisa dihancurkan," pekik Mary. "Kalau saya tahu dia banci,
apakah saya mau kawin dengan dia? Dia perempuan."
"Pada setiap laki-laki selalu terdapat kadar kewanitaan," kata Judd. "Demikian
juga pada setiap wanita selalu terdapat kadar kelaki-lakian. Dan dalam persoalan
suami Anda, ada problem
psikologis yang sangat sulit untuk dipecahkan. Tapi dia mau berusaha, Nyonya
Hanson. Saya rasa Anda dengan anak-anak patut membantunya."
Lebih dari tiga jam Judd memberi penjelasan dengan sabar kepada Mary.
Akhirnya dengan segan Mary setuju untuk menunda perceraiannya. Bulan-bulan
berikutnya Mary menjadi tertarik, dan kemudian ikut terlibat dalam perjuangan
suaminya.
Sebenarnya Judd sudah membuat ketentuan tidak mau merawat sepasang suami-
istri bersama-sama. Tapi Mary mendesak ingin menjadi pasien, dan ternyata
kemudian itu bahkan banyak membantu. Mary mulai memahami dirinya sendiri,
dan menyadari segi kegagalannya sebagai seorang istri. Setelah itu kemajuan
John ke arah kesembuhan menjadi jauh lebih cepat.
Dan sekarang Judd datang berkunjung untuk memberitahukan bahwa John
dibunuh tanpa alasan. Mary memandangnya, tidak bisa mempercayai apa yang
dikatakannya. Dia yakin bahwa itu hanyalah lelucon yang mengerikan. Tapi
akhirnya dia mulai menyadari kebenarannya.
"Dia tidak akan kembali lagi kepadaku!" jeritnya. "Dia tidak akan kembali lagi
kepadaku!"
Mary mulai menarik-narik pakaiannya dengan histeris, seperti binatang yang
terluka. Pada saat itu anak kembarnya yang berusia enam tahun masuk. Setelah
itu suasana menjadi kalut sekali. Judd berhasil menenangkan kedua anak itu, dan
mengantarkan mereka ke rumah seorang tetangga. Kemudian Nyonya Hanson
diberinya obat penenang, dan dokter keluarga diteleponnya.
Setelah yakin tidak ada lagi yang bisa dilakukan, Judd pergi. Dia masuk ke
mobilnya, dan mobil dijalankan tanpa tujuan. Pikirannya tenggelam dalam
renungan.
Hanson sudah berjuang mati-matian, dan pada saat kemenangannya.... Ini benar-
benar kematian yang sia-sia. Mungkinkah dia diserang oleh seorang homoseks?
Bekas pacarnya yang frustrasi karena Hanson meninggalkannya? Tentu saja hal
itu mungkin terjadi, tapi Judd tidak percaya.
Letnan McGreavy mengatakan bahwa Hanson dibunuh satu blok dari kantornya.
Kalau si pembunuh seorang homoseks yang marah kepadanya, dia pasti
mengajak Hanson bertemu di suatu tempat yang sunyi. Mungkin untuk
membujuk Hanson agar kembali kepadanya, atau menyesali tindakan Hanson
meninggalkannya, baru kemudian membunuhnya ketika dia gagal
membujuknya. Dia tidak mungkin langsung menikam punggungnya di jalan
yang ramai dan kemudian kabur.
Di sebuah tikungan jalan Judd melihat boks telepon umum. Tiba-tiba dia teringat
kepada janjinya untuk makan malam bersama Dokter Peter Hadley dan istrinya,
Norah. Suami-istri ini sahabatnya yang paling karib, tapi saat ini dia tidak ingin
bertemu dengan siapa pun.
Judd menghentikan mobil di pinggir jalan, lalu
masuk ke boks telepon dan memutar nomor
Hadley. Norah yang menjawab teleponnya. "Kau terlambat! Kau di mana?"
"Norah," kata Judd, "malam ini aku terpaksa membatalkan janji denganmu."
"Tidak bisa!" kata Norah dengan suara melengking. "Di sini ada gadis berambut
pirang yang sexy dan ingin sekali bertemu denganmu."
"Kau bisa mempertemukan kami lain kali," kata Judd. "Sekarang aku benar-
benar tidak bisa. Tolong sampaikan permintaan maafku kepada Peter."
"Biasa, dokter!" Norah mendengus. "Tunggu sebentar, kupanggilkan
sahabatmu."
Peter bicara di telepon. "Ada yang tidak beres, Judd?"
Judd ragu-ragu. "Hanya terlalu lelah hari ini, Peter. Akan aku ceritakan
kepadamu besok pagi."
"Kau rugi tidak jadi bertemu dengan gadis Skandinavia yang asyik. Maksudku
cantik."
"Akan kutemui lain kali," Judd berjanji. Dia mendengar suara bisikan yang
tergesa-gesa, kemudian Norah bicara lagi di telepon.
"Dia akan makan malam di sini pada perayaan Natal, Judd. Kau mau datang?"
Judd ragu-ragu. "Kita bicarakan lain kali saja, Norah. Aku menyesal sekali tidak
bisa datang malam ini." Telepon diletakkan. Ingin sekali dia mendapatkan cara
yang tepat untuk menghentikan usaha Norah sebagai mak comblang. Judd
menikah waktu masih duduk di tingkat
terakhir di perguruan tinggi. Elizabeth mengambil jurusan ilmu pengetahuan
sosial. Orangnya hangat, cerdas, dan penang. Mereka berdua sama-sama masih
muda, saling mencintai, dan penuh rencana yang hebat untuk anak-anak mereka
kelak. Dan pada Hari Natal pertama setelah mereka menikah, Elizabeth dengan
anaknya yang masih dalam kandungan tewas pada kecelakaan mobil.
Setelah kematian istrinya, Judd mencurahkan perhatiannya pada pekerjaan.
Akhirnya dia menjadi salah seorang psikoanalis yang terkemuka. Tapi dia masih
tidak tahan merayakan Hari Natal bersama orang lain. Dia sadar bahwa itu salah,
tapi dia merasa bahwa Hari Natal milik Elizabeth dan anaknya.
Pintu boks telepon dibuka. Dia baru tahu bahwa ada seorang gadis berdiri di
luar, menunggu untuk memakai telepon. Gadis ini masih muda dan cantik,
memakai sweater ketat dan rok mini serta jas hujan berwarna terang. Dia
melangkah ke luar. "Maaf," katanya.
Gadis itu tersenyum hangat kepadanya. "Tidak apa-apa."
Dia melihat air muka gadis itu berubah menjadi sayu. Sudah sering dia melihat
air muka seperti ini. Rasa kesepian berusaha mencari jalan untuk menembus
benteng yang tanpa disadarinya telah didirikannya.
Seandainya Judd sadar bahwa dia memiliki sesuatu yang menarik hati wanita,
perasaan ini
terpendam jauh dalam bawah sadarnya. Dia tidak pernah menganalisa apa
sebabnya. Baginya ini lebih merupakan hambatan daripada segi yang
menguntungkan, yang membuat para pasien wanita jatuh cinta kepadanya.
Kadang kala ini bahkan menimbulkan kesulitan.
Dia meninggalkan gadis ini dengan anggukan ramah. Si gadis berdiri dalam
hujan, mengawasi Judd masuk ke mobil dan menjalankannya pergi.
Mobil dibelokkan ke East River Drive dan menuju ke Merritt Parkway. Satu
setengah jam kemudian dia sudah sampai ke Connecticut Turnpike. Salju di New
York kotor seperti lumpur, tapi badai salju yang sama dengan ajaibnya
mengubah pemandangan di Connecticut seindah kartu pos bergambar.
Dia terus menjalankan mobil melalui Westport dan Danbury, dengan sengaja
pikirannya dipusatkan ke jalan yang dilalui. Setiap kali pikirannya kembali
kepada John Hanson, dipaksanya otaknya memikirkan persoalan lain.
Dalam gelap dia terus menembus daerah pedesaan Connecticut. Beberapa jam
kemudian setelah pikirannya lelah, barulah dia membelokkan mobilnya untuk
pulang.
Mike, penjaga pintu yang bermuka merah, biasanya memberikan sambutan
ramah kepadanya. Tapi waktu itu dia kelihatan penuh pikiran dan seperti seorang
yang belum pernah kenal. Ada kesulitan rumah tangga, pikir Judd. Biasanya
Judd bercakap-cakap dengan Mike mengenai anak laki-
lakinya yang sudah remaja dan anak perempuannya yang sudah menikah. Tapi
malam ini Judd tidak ingin bercakap-cakap. Judd hanya minta supaya Mike
memasukkan mobilnya ke garasi.
"Baik, Dokter Stevens," Mike rupanya akan menambahkan sesuatu, tapi
mengurungkan niatnya.
Judd masuk ke gedung apartemen. Ben Katz, manager apartemen, sedang
berjalan di lobi. Dia melihat Judd, melambaikan tangan dengan gugup, lalu
cepat-cepat menghilang ke dalam apartemennya.
Kenapa mereka malam ini? pikir Judd. Ataukah ini hanya karena kegelisahanku
saja? Dia masuk ke dalam lift.
Eddie, operator lift, mengangguk. Selamat sore, Dokter Stevens."
"Selamat sore, Eddie."
Eddie menelan ludah dan membuang muka malu-malu.
"Ada apa?" tanya Judd.
Eddie cepat-cepat menggeleng dan tetap membuang muka.
Ya, Tuban, pikir Judd. Calon pasienku tambah lagi. Gedung apartemen ini tiba-
tiba saja penuh dengan mereka.
Eddie membuka pintu lift dan Judd keluar. Dia mulai melangkah menuju
apartemennya. Karena tidak mendengar suara pintu lift menutup, dia menoleh.
Eddie sedang memandangnya. Waktu
Judd mau bicara, Eddie cepat-cepat menutup pintu lift. Judd pergi ke
apartemennya, membuka pintu dan masuk.
Semua lampu dalam apartemennya menyala. Letnan McGreavy sedang
membuka sebuah laci dalam ruang duduk. Angeli keluar dari kamar tidur. Judd
sangat marah. "Sedang apa kalian di sini?" "Menunggu Anda, Dokter Stevens,"
jawab McGreavy.
Judd berjalan menghampirinya dan menghempaskan laci hingga menutup,
hampir menjepit jari McGreavy. "Bagaimana kalian masuk ke sini?"
"Kami punya surat perintah penggeledahan," kata Angeli.
Judd memandangnya tidak percaya. "Perintah penggeledahan? Untuk apartemen
saya?"
"Anda boleh tidak menjawab pertanyaan kami," sela Angeli, "tanpa didampingi
pengacara. Juga perlu Anda ketahui bahwa apa saja yang Anda katakan bisa
digunakan sebagai bukti yang memberatkan Anda."
"Anda ingin memanggil pengacara?" tanya McGreavy.
"Saya tidak perlu pengacara. Saya sudah bilang, saya meminjamkan jas hujan
kepada John Hanson pagi tadi, dan saya tidak melihatnya lagi sampai Anda
membawanya ke kantor saya sore tadi. Saya tidak mungkin membunuh dia.
Sepanjang hari saya melayani pasien. Nona Roberts bisa memberi kesaksian."
McGreavy dan Angeli bertukar pandang.
"Di mana Anda setelah meninggalkan kantor sore tadi?" tanya Angeli.
"Mengunjungi Nyonya Hanson."
"Itu kami tahu," kata McGreavy. "Sesudah itu?"
Judd ragu-ragu. "Saya berkeliling-keliling dengan mobil."
"Ke mana?"
"Saya pergi ke Connecticut." "Di mana Anda berhenti untuk makan malam?"
tanya McGreavy. "Saya tidak berhenti. Saya tidak lapar." "Jadi, tidak ada orang
yang melihat Anda?" Judd berpikir sesaat. "Saya rasa tidak ada." "Mungkin
Anda berhenti untuk mengisi bensin di suatu tempat," Angeli memberi saran.
"Tidak," kata Judd. "Saya tidak berhenti untuk mengisi bensin. Mengapa harus
diketahui ke mana saya pergi malam ini? Hanson dibunuh tadi pagi."
"Apakah Anda kembali ke kantor lagi setelah meninggalkannya sore tadi?" tanya
McGreavy dengan suara tenang. "Tidak," kau Judd. "Mengapa?" "Kantor Anda
ada yang mendobrak." "Apa? Oleh siapa?"
"Kami tidak tahu," kata McGreavy. "Saya ingin Anda ikut kami ke sana untuk
melihat-lihat. Anda bisa mengatakan kepada kami kalau-kalau ada sesuatu yang
hilang."
"Tentu saja," jawab Judd. "Siapa yang melaporkan?"
enjaga malam," kata Angeli. "Anda menyimpan sesuatu yang berharga di kantor,
Dokter? Uang? Obat bius? Atau sesuatu yang lain?"
"Uang sedikit," kata Judd. "Tidak ada obat bius. Tidak ada yang pantas untuk
dicuri. Ini tidak masuk akal."
"Betul," kata McGreavy. "Mari kita berangkat!"
Di dalam lift Eddie melihat kepada Judd dengan pandangan minta maaf. Judd
membalas pandangannya dan mengangguk tanda mengerti.
Tentunya polisi tidak bisa mencurigai dirinya telah mendobrak kantornya
sendiri. Rupanya McGreavy bertekad mencelakakannya karena ke-matian
pamernya dulu. Tapi itu kan sudah lima tahun yang lalu! Mungkinkah selama ini
McGreavy terus-menerus murung dan menyalahkannya? Menunggu kesempatan
untuk melakukan pembalasan?
Ada sebuah mobil preman milik polisi diparkir dekat pintu masuk. Mereka naik
mobil dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan mereka berdiam diri.
Setelah sampai ke gedung perkantoran, Judd tanda tangan pada register di lobi.
Bigelow, penjaga kantor, melihat kepadanya dengan pandangan aneh. Ataukah
itu hanya perasaannya saja?
Mereka naik lift ke lantai lima belas, kemudian berjalan di gang ke kantor Judd.
Polisi berpakaian seragam berdiri di muka pintu. Dia mengangguk kepada
McGreavy dan menepi. Judd mengambil kunci dari sakunya.
"Pintu tidak dikunci," kata Angeli. Dia membuka pintu dan mereka masuk, Judd
yang paling depan.
Ruang resepsionis porak-poranda. Semua laci ditarik ke luar, dan segala macam
kertas berserakan di lantai. Judd terbelalak keheranan, terkejut karena keadaan
dalam kantornya kacau-balau.
"Menurut Anda, apa kira-kira yang mereka cari, Dokter?" tanya McGreavy.
"Saya tidak tahu," kata Judd. Dia berjalan ke pintu dalam dan membukanya,
McGreavy mengikuti di belakangnya.
Dalam kantornya dua meja terbalik. Sebuah lampu pecah menggeletak di lantai,
dan darah membasahi permadani.
Di ujung ruangan tubuh Carol Roberts menggeletak, tangan dan kakinya
terkembang. Dia dalam keadaan telanjang bulat. Tangannya diikat dengan kawat.
Kelihatan ada bekas-bekas air keras disiramkan ke muka, buah dada, dan antara
pangkal pahanya. Jari tangan kanannya patah. Mukanya hancur dan tidak mudah
dikenali lagi. Pada mulurnya tersumpal sapu tangan.
Kedua detektif itu memperhatikan Judd ketika dia melihat ke mayat Carol.
"Anda kelihatan pucat," kata Angeli. "Duduklah!"
Judd menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang beberapa kali.
Pada saat dia berbicara, suaranya bergetar karena marah. "Siapa-siapa yang
melakukan semua ini?"
"Itulah yang harus Anda katakan kepada kami,
Dokter Stevens," kata McGreavy.
Judd melihat kepadanya. "Tidak ada orang yang ingin melakukan ini kepada
Carol. Dia tidak pernah menyakiti siapa pun dalam hidupnya."
"Saya rasa sudah tiba waktunya Anda mulai menyanyikan lagu lain," kata
McGreavy.Tidak ada orang yang ingin menyakiti Hanson, tapi ternyata dia
ditikam punggungnya. Tidak ada orang yang ingin menyakiti Carol, tapi
nyatanya tubuhnya disiram air keras dan disiksa sampai mati." Nada kata-
katanya menjadi keras. "Dan Anda mengatakan tidak ada orang yang ingin
menyakiti mereka. Anda ini sebenarnya bagaimana—tuli, bodoh, atau buta?
Gadis ini bekerja pada Anda selama empat tahun. Anda seorang psiko-analis.
Anda mencoba mengatakan bahwa Anda tidak tahu atau tidak peduli kehidupan
pribadinya?"
"Tentu saja saya tahu," kata Judd kesal. "Dia punya pacar, dan dia akan
menikah...." "Chick. Kami sudah bicara dengan dia." "Tapi tidak mungkin dia
berbuat begini. Dia anak yang baik dan mencintai Carol."
"Kapan terakhir kalinya Anda melihat Carol dalam keadaan hidup?" tanya
Angeli.
"Saya sudah mengatakan. Ketika saya meninggalkan tempat ini untuk menemui
Nyonya Hanson. Saya minta kepada Carol agar dia menutup kantor." Suaranya
terputus dan dia menelan ludah, lalu menarik napas panjang.
"Anda berencana menerima pasien lagi hari ini?" "Tidak."
"Anda berpendapat ini mungkin dilakukan oleh seorang maniak? tanya Angeli.
"Ini pasti perbuatan seorang maniak, tapi— biarpun seorang maniak yang
melakukannya, pasti punya suatu motif.
"Itulah yang saya pikirkan,kata McGreavy.
Judd melihat ke tempat tubuh Carol tergeletak. Kini tubuhnya seperti boneka
yang rusak, tidak dipakai lagi dan dibuang. Sungguh menyedihkan sekali.
"Berapa lama lagi dia akan dibiarkan begitu? tanya Judd marah.
"Sekarang juga dia akan dibawa," kata Angeli. "Pemeriksa mayat dan anak-anak
dari Bagian Pembunuhan sudah menyelesaikan tugasnya."
Judd menoleh kepada McGreavy. "Anda membiarkan dia seperti ini supaya saya
melihat?"
"Yah," kata McGreavy. "Saya akan mengajukan pertanyaan lain. Adakah sesuatu
di sini yang sangat diinginkan seseorang sehingga dia—" dia menunjuk kepada
Carol— "mengalami peristiwa seperti ini?
'Tidak."
"Bagaimana tentang catatan mengenai pasien Anda?" Judd menggeleng. "Tidak
ada apa-apanya."
"Ah, Anda rupanya tidak begitu suka bekerja sama dengan kami bukan,
Dokter?" tanya McGreavy.
"Anda tidak berpendapat bahwa saya sangat menginginkan Anda menemukan
siapa yang melakukan perbuatan ini?" Judd balik bertanya. "Kalau ada sesuatu
dalam arsip saya yang bisa membantu penyelidikan, saya pasti akan mengatakan
kepada Anda. Saya mengenal baik semua pasien. Tidak seorang pun di antara
mereka yang mungkin membunuh Carol. Ini pasti dilakukan oleh orang luar."
"Bagaimana Anda bisa yakin bahwa ini tidak dilakukan oleh orang yang ingin
mendapatkan arsip Anda?"
"Arsip saya tidak disentuh-sentuh." McGreavy melihat kepadanya dengan rasa
tertarik yang makin besar. "Bagaimana Anda tahu?" dia bertanya. "Anda bahkan
belum melihatnya."
Judd berjalan ke dinding di ujung ruangan. Kedua detektif itu memperhatikan
dia menekan suatu bagian pada bawah dinding. Dinding pun terbuka, dan
tampak rak yang dibuat dalam tembok. Rak ini penuh dengan pita rekaman.
"Saya selalu merekam setiap pembicaraan dengan pasien," kata Judd. "Saya
menyimpan pitanya di sini."
"Tidak mungkinkah mereka menyiksa Carol untuk memaksanya mengatakan di
mana tempat penyimpanan pita rekaman itu?"
"Isi rekaman pita ini tidak ada yang mungkin berguna bagi orang lain. Pasti ada
motif lain dalam pembunuhan ini."
Judd melihat ke mayat Carol lagi. Amarahnya tak tertahankan, tapi dia merasa
tidak berdaya. "Anda harus menemukan siapa yang melakukan perbuatan ini!"
"Saya memang akan terus berusaha sampai pembunuhnya tertangkap," kata
McGreavy. Dia melihat kepada Judd.
Di muka gedung perkantoran tempat Judd berpraktek, jalan lengang dan angin
dingin bertiup. McGreavy menyuruk Angeli mengantarkan Judd pulang.
"Saya masih ada urusan yang harus diselesaikan," kata McGreavy. Dia menoleh
kepada Judd. "Selamat malam, Dokter."
Judd mengawasi polisi yang bertubuh tinggi besar ini berjalan meninggalkan
mereka.
"Mari kita berangkat," kata Angeli. "Saya beku kedinginan."
Judd duduk di depan di sisi Angeli, dan mobil pun dijalankan.
"Saya harus memberi tahu keluarga Carol," kata Judd.
. "Kami sudah ke sana."
Judd mengangguk lemas. Dia masih ingin menemui mereka sendiri, tapi itu bisa
menunggu.
Sejenak keduanya terdiam. Dalam hati Judd bertanya-tanya, apa gerangan
urusan McGreavy di malam selarut itu.
Seakan bisa membaca pikiran Judd, Angeli berkata, "McGreavy polisi yang
baik. Dia berpendapat seharusnya Ziffren mendapat hukum
an di kursi listrik karena membunuh pamernya."
"Tapi Ziffren gila."
Angeli mengangkat bahu. "Saya percaya, Dokter."
Tapi McGreavy tidak percaya, pikir Judd. Dia ganti memikirkan Carol. Teringat
olehnya kecerdasan serta bakti dan kebanggaan gadis ini kepada pekerjaannya.
Renungannya terganggu oleh kata-kata Angeli, dan ternyata mereka sudah
sampai ke depan gedung apartemen tempat tinggalnya.
Lima menit kemudian Judd sudah berada dalam apartemennya. Tidur sudah
tidak terpikirkan lagi olehnya. Dia menuang brendi dan membawanya ke ruang
belajar. Teringat kembali olehnya waktu Carol masuk ke situ dulu. Tubuhnya
telanjang bulat dan dia amat cantik. Waktu itu Carol merapatkan tubuhnya yang
hangat dan menggiurkan ke tubuhnya.
Waktu itu sikapnya dingin saja dan menjauh. Sebab dia tahu hanya dengan cara
itu dia bisa menolong Carol. Carol tidak tahu sama sekali dorongan apa yang
menyebabkan dia tidak mau main cinta dengannya. Ataukah dia tahu?
Dia mengangkat gelas brendinya dan menghabiskan isinya.
Keadaan di kamar mayat sama saja seperti kamar mayat di mana-mana. Yang
berbeda pada kamar mayat ini, di atas pintu ada daun mistletoe yang dipasang
sebagai hiasan Natal. Ada seorang yang terlalu bersemangat menyambut hari
besar,
pikir McGreavy atau mungkin juga selera humor orang ini keterlaluan.
McGreavy tidak sabar menunggu di gang, sampai otopsi selesai
dilakukan.Waktu pemeriksa mayat melambai kepadanya,dia segera masuk ke
ruang otopsi yang serba putih.
Pemeriksa mayat mencuci tangannya di wastafel besar yang putih. Dia seorang
yang bertubuh kecil. Suara dan gerak-geriknya seperti burung. Suaranya tinggi,
dan gerakannya serba cepat. Dia menjawab semua pertanyaan McGreavy dengan
cepat, lalu cepat-cepat pula pergi.
McGreavy tetap di situ selama beberapa menit, merenungkan apa yang baru saja
diketahuinya. Kemudian dia ke luar, ke udara malam yang dingin, untuk mencari
taksi. Tak ada taksi satu pun. Sialan! Rupanya mereka semua sedang berlibur di
Bermuda. Bisa-bisa dia harus berdiri terus di situ sampai badannya membeku.
Tiba-tiba sebuah mobil polisi lewat. McGreavy menghentikannya dan
menunjukkan tanda pengenalnya kepada polisi kroco yang memegang kemudi.
Dia memberi perintah supaya polisi itu mengantarkannya ke markas Seksi
Sembilan Belas. Ini melanggar peraturan, tapi peduli amat. Malam masih
panjang dan dingin;
Waktu McGreavy berjalan masuk ke markas seksi, Angeli sudah menunggunya.
"Mereka baru saja selesai melakukan otopsi pada mayat Carol Roberts," kata
McGreavy.
"Dia sedang hamil." Angeli memandangnya keheranan. "Dia sedang hamil tiga
bulan. Sudah terlambat untuk melakukan pengguguran tanpa risiko, tapi
kandungannya belum kelihatan."
"Itu ada sangkut-pautnya dengan pembunuhnya?"
"Pertanyaan yang bagus," kata McGreavy. "Misalnya dia dihamili oleh pacarnya
dan mereka bermaksud menikah—lalu kenapa repot-repot harus
menggugurkannya? Mereka bisa menikah dan punya anak beberapa bulan
kemudian. Hal seperti itu terjadi setiap hari. Sebaliknya, misalnya dia dihamili
oleh pacarnya dan pacarnya ini tidak mau menikahinya itu pun bukan hal yang
luar biasa. Carol bisa saja punya anak walaupun tanpa suami. Itu terjadi dua kali
sehari sepanjang tahun."
"Kita sudah bicara dengan Chick. Dia ingin mengawini Carol."
"Saya tahu," kata McGreavy. "Maka itulah sebabnya kita harus mencari
kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin terjadi. Seorang gadis kulit
hitam mengandung. Dia memberitahukan keadaannya kepada ayahnya, dan si
ayah membunuhnya."
"Dia pasti gila."
"Atau sangat cerdik. Saya lebih suka berpendapat bahwa dia sangat cerdik.
Cobalah tinjau dari segi ini: misalkan Carol pergi menemui si ayah dan
memberitahukan kabar buruk ini, dan menga-
takan kepadanya bahwa dia tidak mau menggugurkan kandungannya. Dia ingin
memiliki anaknya. Mungkin dia akan menggunakan keadaannya itu untuk
memaksa ayahnya agar mengawininya....
"Tapi mungkin juga orang yang menghamili Carol tidak bisa mengawininya,
sebab dia sendiri sudah punya istri. Atau mungkin dia orang kulit putih.
Katakanlah misalnya seorang dokter yang terkenal dan prakteknya sangat laris.
Kalau hal seperti itu sampai terdengar ke luar, namanya akan hancur. Siapa yang
akan mau berobat kepada psikoanalis yang menghamili pegawainya yang
berkulit hitam dan terpaksa mengawininya?"
"Stevens seorang dokter," kata Angeli. "Ada selusin cara untuk membunuh Carol
tanpa membangkitkan kecurigaan."
"Mungkin ya," kata McGreavy. "Mungkin juga tidak. Tapi kalau ada sedikit
kecurigaan dan penyidikan bisa sampai kepada dirinya, dia akan mendapat
kesulitan besar untuk melepaskan diri. Misalkan dia membeli racun—ini pun
akan mudah diketahui dari catatan penjualan di apotek. Seandainya dia membeli
tali atau pisau—ini pun bisa dilacak. Tapi sekarang coba simak cara yang bagus
mi. Seorang gila masuk tanpa alasan dan membunuh resepsionisnya. Dia
menjadi majikan yang sangat sedih, dan minta kepada polisi agar menemukan
pembunuhnya."
"Kedengarannya seperti perkara yang tanpa landasan."
"Saya belum lagi selesai. Mari kita tinjau pasiennya, John Hanson. Dia pun
dibunuh tanpa
alasan oleh orang gila yang tidak dikenal. Baiklah, kau saya beritahu, Angeli.
Saya tidak percaya kepada istilah kebetulan. Dua kebetulan seperti itu dalam
sehari membuat saya gelisah.
"Maka saya bertanya kepada diri sendiri, apa gerangan hubungan antara
kematian John Hanson dengan Carol Roberts? Tiba-tiba saya merasa bahwa itu
bukan sekadar kebetulan semata-mata. .
"Misalkan Carol masuk ke kantornya dan memberitahukan kepada majikannya
ini bahwa dia akan menjadi ayah. Mereka bertengkar dengan serunya dan Carol
berusaha memerasnya. Carol mengatakan bahwa dia harus mengawininya, harus
memberinya uang—atau apa saja....
"John Hanson kebetulan sedang menunggu di kantor luar, mendengarkan.
Mungkin Stevens tidak tahu bahwa Hanson mendengar sesuatu, sampai dia
berbaring di sofa. Di situlah Hanson mengancam akan mengadukannya. Atau
berusaha memaksanya agar mau tidur dengannya."
"Semua itu hanya dugaan."
"Tapi semua cocok. Waktu Hanson pergi, Dokter menyelinap keluar dan
membunuhnya supaya tidak bisa bicara lagi. Kemudian dia harus kembali dan
melenyapkan Carol. Dia sengaja membuatnya supaya kelihatan seolah-olah
seorang gila yang melakukan itu semua. Kemudian dia pergi menemui Nyonya
Hanson, dan terus ke
Connecticut. Sekarang problemnya sudah berhasil dipecahkan. Dia bisa duduk
tenang sementara polisi jungkir-balik mencari orang gila yang sebenarnya tidak
ada.
"Saya tidak bisa menerima kesimpulan lni, kata Angeli."Kau mencoba membuat
perkara pembunuhan tanpa bukti konkret sedikit pun."
"Apa yang kausebut konkret tanya McGreavy. "Mayat dua orang masih kurang
konkret? Yang seorang wanita hamil, yang bekerja pada Stevens. Satunya lagi
salah seorang pasiennya, dibunuh hanya sejauh satu blok dari kantornya. Orang
ini datang kepada Stevens untuk mendapatkan perawatan karena dia homoseks.
Waktu saya minta ikut mendengarkan rekamannya, dia tidak memperbolehkan.
Mengapa? Siapa yang dilindungi oleh Dokter Stevens?
"Saya bertanya kepadanya, apakah orang yang mendobrak masuk ke kantornya
ini mungkin mencari-cari sesuatu. Dengan demikian mungkin kita bisa
menyusun teori bahwa Carol memergoki mereka, dan mereka menyiksanya
untuk menemukan sesuatu yang misterius ini.
'Tapi apa katanya? Tidak ada apa pun yang misterius. Rekamannya sama sekali
tidak berguna bagi siapa pun. Dalam kantornya sama sekali tidak ada obat bius.
Tidak ada uang. Jadi kita harus mencari orang gila terkutuk. Betul? Tapi sayang
sekali saya tidak mau dikelabui. Saya rasa yang kita cari Dokter Judd Stevens
sendiri."
"Saya rasa kau berusaha mencelakakan dia,"
kata Angeli perlahan.
Mata McGreavy memerah karena marah. "Sebab dia memang bersalah
melakukan kejahatan.
"Kau akan menangkap dia?"
"Saya akan mengulur talinya dulu," kata McGreavy. "Biar Dokter Stevens
gantung diri dengan tali yang saya berikan, dan saya bisa menggali semua
rahasianya. Saya harus yakin dulu, supaya setelah saya tangkap dia tidak
mungkin terlepas lagi."
McGreavy berbalik dan keluar.
Angeli memandangnya dengan otak penuh pikiran. Kalau dia hanya berpangku
tangan, kemungkinan besar McGreavy akan berusaha menahan Dokter Stevens.
Dia tidak boleh membiarkan itu sampai terjadi. Dalam hati dia bertekad akan
bicara kepada Kapten Bertelli keesokan harinya.
Paginya halaman depan semua surat kabar memuat berita utama tentang
penyiksaan Carol Roberts sampai mati. Judd ingin sekali meminta kepada
operator telepon untuk menghubungi semua pasiennya, membatalkan janji
mereka hari ku.
Dia belum tidur, dan matanya sangat berat karena mengantuk. Tapi setelah dia
memeriksa daftar pasien, dia melihat bahwa itu tidak bisa dilakukan. Dua orang
pasien akan kalut kalau pertemuan mereka ditunda. Tiga orang di antara mereka
pasti akan kesal sekali. Sedangkan lain-lainnya memang masih bisa diatasi.
Maka akhirnya dia memutuskan akan meneruskan prakteknya seperti biasa. Ini
sebagian untuk kebaikan pasiennya sendiri, dan sebagian lagi demi dirinya.
Kerja merupakan terapi yang baik sekali, untuk mencoba mengalihkan
pikirannya dari apa yang baru saja terjadi.
Judd datang ke kantor lebih awal daripada biasanya. Walaupun demikian gang
menuju kantornya sudah penuh dengan reporter surat kabar dan televisi, serta
wartawan foto. Dia tidak
bersedia menerima mereka, atau memberikan suatu pernyataan. Akhirnya dia
berhasil menyuruh mereka semua pergi.
Dibukanya pintu masuk ke kantornya perlahan-lahan, hatinya berdebar-debar.
Tapi permadani yang berlumuran darah ternyata sudah disingkirkan, dan segala-
galanya sudah dikembalikan lagi ke tempatnya semula. Kantor kelihatan normal
kembali. Hanya sekarang Carol sudah tidak bisa lagi masuk ke dalam, tersenyum
manis dan penuh gairah hidup.
Judd mendengar pintu luar terbuka. Pasiennya yang pertama sudah datang.
Harrison Burke seorang laki-laki yang sudah berambut putih tapi masih tetap
kelihatan gagah dan tampan. Dia merupakan prototip seorang eksekutif pada
sebuah perusahaan besar, dan itu memang benar. Dia wakil presiden pada
International Steel Corporation.
Waktu pertama kali Judd melihat Burke, dalam hati dia bertanya-tanya apakah
jabatan membentuk rupa seseorang, ataukah rupa orang yang menyebabkan dia
bisa menduduki suatu posisi dalam pekerjaan. Suatu hari kelak dia bermaksud
menulis buku tentang nilai wajah manusia. Bagaimana wajah seorang dokter
dalam merawat pasien, wajah pengacara di ruang pengadilan, wajah seorang
aktris... semua hanya gambaran permukaan, bukan nilai dasar.
Burke berbaring di sofa, dan Judd memusatkan perhatian kepadanya. Dulu
Burke dikirim kepada
Judd oleh Dokter Peter Hadley, dua bulan yane lalu. Dalam waktu sepuluh menit
saja sudah cukup bagi Judd untuk merasa yakin bahwa Harrison Burke seorang
penderita paranoid dengan tendensi ke arah pembunuhan.
Semua koran pagi memuat berita utama tentang pembunuhan yang dilakukan di
kantor ini semalam, tapi Burke tidak menyebut-nyebut persoalan itu. Itu ciri
khas dari kondisinya. Perhatiannya hanya terpusat kepada dirinya.sendiri.
"Dulu kau tidak percaya kepada saya," kata Burke. "Tapi sekarang saya punya
bukti bahwa mereka mengejar-ngejar saya.*
"Saya rasa kita sudah memutuskan untuk meninjau persoalan ini dengan pikiran
terbuka, Harrison," Judd menjawab dengan hati-hati. "Ingat, kemarin kita sudah
sependapat bahwa imajinasi bisa memainkan...."
"Ini bukan imajinasi!" teriak Burke. Dia bangkit dan duduk tegak, kedua
tangannya dikepalkan. "Mereka mencoba membunuh saya!"
"Mengapa kau tidak kembali tiduran saja dan mencoba menenangkan diri?" Judd
memberi saran dengan lemah-lembut.
Burke bangkit berdiri. "Hanya itu yang kaukatakan? Kau bahkan tidak mau
mendengarkan bukti pernyataan saya!" Matanya disipitkan. "Bagaimana saya
tahu kau bukan salah seorang dari mereka?"
"Kau tahu benar saya bukan salah seorang dari
mereka," kata Judd. "Saya sahabatmu. Saya berusaha menolongmu."
Dalam hati Judd merasakan kekecewaan seakan menikamnya. Kemajuan yang
dikira sudah mereka peroleh bulan yang lalu kini sudah lenyap semua. Kini dia
kembali berhadapan dengan penderita paranoid yang dulu, seperti waktu pertama
kali dia masuk ke kantornya dua bulan yang lalu.
Burke memulai kariernya di perusahaan International Steel sebagai pengantar
surat. Dalam waktu dua puluh lima tahun wajahnya yang tampan dan
pembawaannya yang supel membuatnya hampir mencapai puncak tangga
jabatan dalam perusahaan. Satu anak tangga lagi, dia akan sampai ke jabatan
sebagai presiden perusahaan. Tapi kemudian peristiwa yang mengerikan terjadi.
Empat tahun yang lalu istri dan ketiga anaknya tewas dalam kebakaran di rumah
mereka di Southampton. Burke waktu itu sedang berada di Kepulauan Bahama
dengan selirnya. Dia merasa sangat terpukul oleh tragedi ini, lebih dari yang bisa
dibayangkan orang. Karena dia dididik sebagai orang Katolik, maka dia tidak
bisa melepaskan diri dari rasa bersalah.
Dia pun mulai murung, dan makin lama makin menjauhi teman-temannya. Tiap
malam dia selalu berdiam di rumah, merenungkan siksaan yang diderita istri dan
anak-anaknya yang terbakar hidup-hidup—sementara itu pada bagian lain dalam
otaknya dia membayangkan dirinya tidur
lambat yang diputar terus-menerus dalam otaknya.
Burke menyalahkan dirinya sendiri sepenuhnya karena kematian keluarganya.
Seandainya dia ada di rumah, dia pasti akan bisa menyelamatkan mereka.
Pikiran ini lama kelamaan menjadi obsesi baginya. Dia merasa sebagai makhluk
buas yang jahat. Dia tahu, dan Tuhan juga pasti tahu. Tentu saja semua orang
pun tahu! Mereka pasti membencinya, sama seperti dia membenci dirinya
sendiri.
Memang mereka tersenyum kepadanya dan berpura-pura menaruh simpati, tapi
dia tahu mereka menunggu untuk menjebaknya. Tapi dia terlalu cerdik bagi
mereka. Dia tidak lagi makan di ruang makan untuk para eksekutif, dan mulai
makan siang di kantornya sendiri. Hampir setiap orang dihindarinya sebisa-
bisanya.
Dua tahun yang lalu perusahaan butuh presiden baru. Tapi Harrison Burke
dilewati begitu saja, dan perusahaan mengangkat presiden dari luar. Setahun
kemudian pos wakil presiden pun kosong, tapi lowongan ini pun diberikan
kepada orang lain.
Kini Burke punya bukti bahwa ada komplotan yang ingin melawan dirinya. Dia
mulai memata-matai semua orang di sekelilingnya. Di waktu malam dia
menyembunyikan tape recorder dalam kantor eksekutif lainnya. Enam bulan
yang lalu dia ketahuan. Hanya karena masa kerjanya yang
lama dan jabatannya yang tinggi saja maka dia
tidak sampai dipecat.
Presiden perusahaan berusaha ingin membantu dan mengurangi tekanan
jiwanya. Maka dia mulai mengurangi beban tanggung jawab yang dipegang
Burke. Tapi ini bahkan tidak menolong. Burke bahkan menjadi semakin yakin
bahwa mereka ingin mencelakakan dirinya. Mereka takut kepadanya, sebab dia
lebih pintar daripada mereka. Kalau dia menjadi presiden, mereka semua akan
kehilangan pekerjaan karena mereka orang yang tolol.
Burke mulai membuat kesalahan lebih banyak. Kalau dia ditegur karena
kesalahannya, dengan marah dia membantah telah membuat kesalahan ini.
Seseorang dengan sengaja telah mengubah laporannya, mengganti angka dan
statistik, berusaha mendiskreditkannya.
Tidak lama kemudian dia mulai berpikir bahwa bukan hanya orang dari
perusahaan saja yang ingin mencelakakannya. Ada juga mata-mata dari luar. Dia
merasa selalu dibuntuti di jalanan. Mereka menyadap teleponnya, membaca
surat-suratnya.
Dia takut makan, jangan-jangan orang meracunnya. Berat badannya menjadi
turun drastis sekali. Presiden perusahaan yang merasa sangat kuatir mengatur
pertemuan antara Burke dengan Dokter Peter Hadley. Dia mendesak Burke agar
memenuhi pertemuan ini.
Setelah berbicara selama setengah jam dengan
dia, Dokter Hadley menelepon Judd. Buku catatan Judd yang berisi janji
pertemuan dengan pasien sudah penuh, tapi Peter mengatakan bahwa kasus
Burke sangat gawat. Judd terpaksa menerima Burke, walaupun dengan rasa
segan.
Kini Harrison Burke berbaring di sofa yang berlapis kain sutera, kedua
tangannya masih terkepal.
"Coba ceritakan buktimu."
"Mereka mendobrak masuk ke rumah saya semalam. Mereka datang untuk
membunuh saya. Tapi saya terlalu pintar bagi mereka. Sekarang saya tidur di
ruang belajar, dan saya pasang kunci ekstra pada semua pintu. Maka mereka
tidak bisa mendekati saya."
"Kau melaporkan pendobrakan rumahmu kepada polisi?" tanya Judd.
"Tentu saja tidak! Polisi berkomplot dengan mereka. Mereka mendapat perintah
untuk menembak saya. Tapi mereka tidak bisa berbuat begitu kalau di sekeliling
saya ada orang lain. Maka saya tetap berada di tengah orang banyak."
"Saya gembira kau menyampaikan informasi ini," kata Judd.
"Apa yang akan kaulakukan?" tanya Burke penuh semangat.
"Saya mendengarkan baik-baik semua yang kaukatakan," kata Judd. Dia
menunjuk ke tape recorder. "Saya merekam semua kata-katamu. Jadi kalau
mereka sampai membunuhmu, kita
punya bukti tentang komplotan mereka."
Muka Burke berseri-seri. "Ya, Tuhan, bagus
sekali! Rekaman! Itu benar-benar akan membuat
mereka mampus!"
"Mengapa kau tidak berbaring lagi?" Judd menyarankan.
Burke mengangguk dan berbaring kembali di sofa. Dia memejamkan matanya.
"Saya lelah sekali. Sudah berbulan-bulan saya tidak tidur. Saya tidak berani
memejamkan mata. Kau tidak tahu bagaimana rasanya dikejar-kejar semua
orang."
Aku tidak tahu f Pikirannya melayang kepada McGreavy.
"Apakah pelayanmu tidak mendengar ada orang masuk?" tanya Judd.
"Saya belum menceritakan?" kata Burke. "Saya memecatnya dua minggu yang
lalu."
Judd mengingat-ingat kembali pembicaraan yang lalu dengan Harrison Burke.
Tiga hari yang lalu dia baru menceritakan tentang pertengkaran dengan
pelayannya. Kalau begitu pengertian Burke tentang waktu sudah kacau.
"Saya rasa kau belum pernah menceritakannya," kata Judd dengan tenang. "Kau
yakin dua minggu yang lalu kau memecat pelayanmu?"
"Saya tidak mungkin membuat kesalahan," Burke memotong. "Kaukira
bagaimana saya bisa menjadi wakil presiden pada salah sebuah perusahaan yang
terbesar di dunia? Tak lain dan tak bukan karena saya punya otak yang sangat
cerdas, Dokter. Jangan lupa."
"Mengapa kau memecat dia?" "Dia mencoba meracun saya." "Bagaimana
caranya?"
"Dengan sepiring ham dan telur. Dibubuhi arsenikum." "Kau mencicipi?" tanya
Judd. "Tentu saja tidak," Burke mendengus. "Lantas bagaimana kau tahu
makanan itu mengandung racun?" "Saya bisa mencium bau racun." "Kau
mengatakan apa kepadanya?" Air muka Burke memancarkan rasa puas. "Saya
tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya saya gebuki sampai setengah mati."
Rasa frustrasi melanda pikiran Judd. Kalau diberi waktu, dia yakin akan bisa
menolong Harrison Burke. Tapi waktu sudah hampir tidak ada lagi. Dalam
psikoanalisis selalu ada bahaya, yaitu di bawah kesempatan pelepasan isi hati
sebebas-bebasnya penutup tipis akan meledak terbuka. Semua nafsu dan emosi
primitif yang selama ini tersimpan akan terlepas semua, seperti binatang buas di
waktu malam.
Pelepasan secara lisan merupakan langkah pertama" dalam perawatan. Tapi
dalam kasus Burke, ini berbalik seperti bumerang. Pembicaraan mereka telah
melepaskan semua kebencian laten yang selama ini terkunci dalam pikirannya.
Dalam seuap pembicaraan kelihatannya Burke selalu mendapat kemajuan.
Selama ini dia sudah sependapat dengan Judd bahwa tidak ada komplotan
yang akan membuat dia celaka. Dia hanya bekerja
terlalu berat, dan emosinya terlalu lelah.
Judd merasa bahwa dia sudah berhasil menuntun Burke ke satu titik di mana dia
bisa mulai melakukan analisis lebih dalam serta menuju sasaran pokoknya, yaitu
menyerang akar dari problemnya. Tapi ternyata dengan cerdiknya selama ini
Burke terus-menerus berdusta. Dia hanya menguji Judd, berusaha menjebaknya,
untuk mengetahui apakah dia salah seorang dari mereka.
Harrison Burke laksana bom waktu yang bisa meledak setiap saat. Tidak ada
kerabat terdekat yang bisa dihubungi. Apakah Judd harus menghubungi presiden
perusahaannya, untuk memberitahukan apa yang dipikirkannya?
Kalau dia berbuat begitu, masa depan Burke pasti akan hancur. Burke pasti akan
dikirim ke rumah sakit jiwa. Apakah dia tidak keliru membuat diagnosa bahwa
Burke penderita paranoid yang bisa membunuh? Dia ingin mendapatkan
kesimpulan lain sebelum menghubungi presiden perusahaan Burke, tapi Burke
sendiri tidak bisa diajak bekerjasama. Judd sadar bahwa dia harus bisa
mengambil keputusan sendiri.
"Harrison, saya ingin kau berjanji," kata Judd.
"Janji apa?" tanya Burke waspada.
"Kalau mereka berusaha melakukan tipu muslihat kepadamu, cara yang mereka
lakukan adalah memancingmu agar melakukan suatu tindakan kekerasan, supaya
kau bisa ditangkap dan diku-
rung.... Tapi saya tahu kau cukup cerdik sehingga tidak mungkin terpancing.
Maka bagaimanapun juga mereka memancing kemarahanmu, saya ingin kau
berjanji untuk tidak berbuat apa-apa terhadap mereka. Dengan cara demikian
mereka tidak akan bisa mencelakakanmu."
Mata Burke bersinar-sinar. "Ya, Tuhan, kau benar," katanya. "Jadi itulah rencana
mereka! Nah, kita terlalu cerdik bagi mereka, bukan?"
Di luar, Judd mendengar pintu ruang penerima tamu membuka dan menutup. Dia
melihat ke jam tangannya. Pasien berikutnya sudah datang.
Judd mematikan tape recorder dengan tenang. "Saya rasa sudah cukup untuk hari
ini," katanya.
"Kau merekam semuanya dengan tape recorder?" tanya Burke ingin tahu.
"Setiap kata," kata Judd. "Tak ada orang yang akan mencelakakanmu." Dia ragu-
ragu sebentar. "Saya rasa hari ini kau tidak usah berangkat ke kantor. Mengapa
kau tidak pulang dan istirahat saja?"
"Saya tidak bisa," bisik Burke, suaranya mengandung rasa takut. "Kalau saya
tidak datang ke kantor, nama saya akan dicopot dari pintu dan diganti dengan
nama orang lain." Dia mencondongkan badannya ke arah Judd. "Hati-hati! Kalau
mereka tahu kau sahabat saya, mereka pun akan berusaha mencelakakanmu."
Burke berjalan ke pintu menuju gang. Dia membukanya sedikit, lalu mengintip
ke kedua
ujung gang. Kemudian dengan cepat dia menyelinap ke luar.
Judd termenung sebentar. Dia merasa sedih memikirkan apa akibat dari apa yang
harus dilakukan terhadap kehidupan Harrison Burke. Mungkin kalau Burke
datang kepadanya enam bulan lebih awal....
Tiba-tiba pikiran yang melintas secara sekonyong-konyong membuatnya
menggigil. Apakah Harrison Burke sudah menjadi pembunuh? Mungkinkah dia
terlibat dalam kematian John Hanson dan Carol Roberts?
Burke dan Hanson, kedua-duanya sama-sama
apasien. Kemungkinan besar mereka sudah pernah bertemu. Beberapa kali
selama bulan-bulan yang terakhir kedatangan Burke selalu disusul dengan
kedatangan Hanson. Dan Burke pernah terlambat lebih dari sekali. Bisa jadi dia
bertemu dengan Hanson di gang. Pertemuan mereka yang berkali-kali ini dengan
mudahnya bisa membangkitkan penyakit paranoid Burke. Burke bisa curiga
bahwa Hanson membuntutinya dan mengancam keselamatannya.
Sedangkan mengenai Carol, Burke melihat dia setiap kali datang ke kantor.
Apakah jiwanya yang sakit menyebabkan Burke selalu merasa terancam oleh
kehadiran Carol, dan perasaan ini hanya bisa dihilangkan dengan menghilangkan
nyawa Carol.
Berapa lama sebenarnya Burke menderita sakit jiwa? Istri dan ketiga anaknya
meninggal dalam kecelakaan kebakaran rumah. Kecelakaan? Benar-
kah itu hanya kecelakaan belaka? Entah dengan cara apa dia harus
menyelidikinya.
Dia berjalan ke pintu menuju ruang resepsionis dan membukanya. "Silakan
masuk!" katanya.
Anne Blake bangkit berdiri dengan anggunnya dan berjalan menghampiri Judd.
Senyum hangat menghiasi wajahnya. Sekali lagi Judd merasakan hatinya kacau,
seperti ketika pertama kalinya melihat wanita ini. Itulah pertama kalinya dia
merasakan reaksi emosi yang mendalam terhadap wanita, sejak kematian
Elizabeth.
Antara Anne Blake dengan Elizabeth sama sekali berbeda. Elizabeth berambut
pirang, bertubuh mungil, dan bermata biru. Anne Blake berambut hitam,
matanya ungu dengan bulu mata yang hitam dan panjang. Tubuhnya tinggi,
dengan lekuk-lekuk yang sempurna. Wajah Anne Blake menunjukkan bahwa dia
wanita yang cerdas. Kecantikannya anggun, seperti kecantikan wanita
bangsawan, yang menyebabkan seakan dia tidak bisa didekati. Tapi matanya
memancarkan kehangatan. Suaranya rendah dan lemah-lembut, sedikit parau.
Anne kira-kira berumur dua puluh lima tahun. Tidak bisa diragukan lagi, dia
wanita paling cantik yang pernah dilihat oleh Judd. Tapi bukan kecantikannya
yang menarik hati Judd. Ada suatu daya yang sulit diterangkan hakikatnya, yang
menarik Judd dengan kuat sekali kepadanya. Entah mengapa, rasanya seakan-
akan Judd sudah mengenal Anne selama hidupnya. Perasaan yang
disangkanya sudah lama mati tiba-tiba muncul kembali, dengan kekuatan yang
membuatnya sangat heran.
Anne muncul di kantor Judd tiga minggu yang lalu, tanpa janji pertemuan
sebelumnya. Carol menerangkan bahwa jadwal sudah penuh dan Dokter tidak
mungkin menerima pasien lagi. Tapi Anne dengan tenang bertanya apakah dia
bisa menunggu. Dia duduk di kantor luar selama dua jam. Akhirnya Carol
kasihan kepadanya, dan mengantarkan Anne kepada Judd.
Demi melihat Anne, seketika Judd merasakan reaksi emosional yang sangat
kuat. Begitu kuatnya perasaan itu, sehingga selama beberapa menit dia tidak bisa
menangkap apa yang dikatakan Anne. Dia ingat waktu itu dia mempersilakan
pasiennya duduk dan memperkenalkan namanya.
Namanya Anne Blake. Dia wanita yang sudah berumah tangga. Judd
menanyakan apa kesulitanya. Anne kelihatan ragu-ragu dan mengatakan dia
tidak begitu yakin. Bahkan dia tidak begitu yakin apakah dia punya kesulitan.
Seorang dokter kawannya mengatakan bahwa Judd psikoanalis yang paling
pintar. Tapi waktu Judd menanyakan siapa nama dokter itu, Anne kelihatan
tersipu-sipu. Jangan-jangan Anne hanya menemukan namanya dalam buku
petunjuk telepon, pikir Judd.
Judd mencoba menerangkan betapa penuh jadwalnya, sehingga tidak mungkin
menerima pasien baru. Ditawarkannya setengah lusin nama
psikoanajis yang cukup beken. Tapi dengan tenang Anne memaksa ingin dirawat
olehnya. Akhirnya Judd terpaksa menerima.
Di luar Anne kelihatan normal, kecuali sedikit rasa tertekan. Judd yakin bahwa
problemnya relatif sederhana, mudah dipecahkan. Dia telah melanggar aturannya
sendiri, yaitu menerima pasien tanpa rekomendasi dari dokter lainnya. Dia juga
terpaksa menggunakan waktu makan siangnya supaya bisa memberikan
perawatan kepada Anne.
Selama tiga minggu Anne datang dua kali seminggu. Dari pertemuan-pertemuan
ini Judd tidak mengetahui lebih banyak daripada yang diketahuinya pada
pertemuan mereka yang perta ma. Dia hanya tahu lebih banyak tentang dirinya
sendiri. Bahwa dia jatuh cinta untuk pertama kalinya sejak Elizabeth meninggal.
Pada terapi mereka yang pertama, Judd bertanya kepada Anne apakah dia
mencintai suaminya. Judd merasa benci kepada dirinya sendiri karena
mengharapkan jawaban tidak dari Anne. Tapi Anne menjawab, "Ya. Dia laki-laki
yang baik hati dan kuat sekali."
"Anda berpendapat dia merupakan pengganti tokoh ayah?" tanya Judd.
Anne memandangi Judd dengan matanya yang ungu. "Tidak. Saya tidak mencari
tokoh ayah. Di masa kanak-kanak kehidupan rumah tangga keluarga saya sangat
bahagia." "Di mana Anda dilahirkan?"
"Di Revere, kota kecil dekat Boston."
"Kedua orangtua Anda masih hidup?"
"Ayah masih hidup. Ibu meninggal karena serangan jantung ketika saya berumur
dua belas tahun."
"Apakah hubungan antara ayah dan ibu Anda baik?"
"Ya. Mereka saling mencintai."
Ini kelihatan pada dirimu, pikir Judd. Selama ini dia banyak menyaksikan rasa
sakit, penyimpangan kejiwaan, dan penderitaan. Melihat Anne di situ seperti
merasakan udara segar di musim semi.
"Anda punya saudara?"
"Tidak. Saya anak tunggal. Anak yang rusak karena dimanja." Anne tersenyum
kepadanya. Senyumnya ramah dan terbuka, tulus dan tanpa maksud apa-apa.
Anne bercerita kepadanya bahwa dia hidup di luar negeri bersama ayahnya, yang
bekerja di Kementerian Luar Negeri. Setelah ayahnya menikah lagi dan pindah
ke California, dia bekerja di kantor PBB sebagai penerjemah. Anne fasih
berbicara Prancis, Italia, dan Spanyol.
Dia bertemu dengan calon suaminya di Kepulauan Bahama ketika sedang
berlibur. Calon suaminya ini punya perusahaan konstruksi. Mula-mula Anne
tidak tertarik kepadanya, tapi dia seorang yang berpendirian teguh dan pandai
membujuk. Dua bulan setelah pertemuan mereka, Anne pun menikah dengan
dia. Sekarang mereka
hidup berumah tangga sudah selama enam bulan. Mereka tinggal di New Jersey.
Hanya itu saja yang bisa diketahui Judd mengenai diri Anne dalam enam kali
kunjungan. Dia masih belum tahu sedikit pun apa problem Anne. Dia punya
hambatan emosi, yang menyebabkan dia tidak bisa membicarakannya. Judd
teringat kembali kepada beberapa pertanyaan yang diajukan ke Anne pada terapi
pertama.
"Apakah problem Anda menyangkut suami Anda, Nyonya Blake?
Tidak ada jawaban.
Apakah hubungan Anda berdua serasi, secara fisik?" "Ya." Tersipu-sipu.
"Anda punya kecurigaan suami Anda memiliki hubungan dengan wanita lain?"
"Tidak." Marah.
Judd kebingungan. Dicobanya memikirkan cara pendekatan terbaik untuk
meruntuhkan tembok benteng pertahanannya. Dia memutuskan untuk memakai
teknik tembakan beruntun: dia akan menyinggung setiap kategori pokok sampai
menemukan apa yang dicarinya.
"Anda bertengkar karena soal keuangan?
"Tidak. Dia dermawan sekali."
"Problem dengan mertua atau saudara ipar?"
"Dia yatim-piatu. Dan ayah saya tinggal di California."
"Anda atau suami Anda pernah menjadi pecan-du obat bius?"
"Tidak."
"Anda punya kecurigaan suami Anda seorang homoseks?"
Anne tertawa kecil, hangat. "Tidak."
Judd terus mendesak, sebab itu memang harus dilakukannya. "Apakah Anda
pernah melakukan hubungan seks dengan wanita?"
"Tidak." Kurang senang kepada pertanyaannya.
Judd menyinggung soal minuman keras, sikap dingin dalam hubungan seksual,
kehamilan yang mungkin ditakutkannya—apa saja yang bisa dipikirkannya.
Setiap kali Anne hanya memandangi Judd dengan matanya yang cerdik, dan
menggelengkan kepala. Waktu Judd mencoba terus mendesaknya, Anne berkata,
"Sabarlah dengan diri saya. Biarlah saya melakukan dengan cara saya sendiri."
Dengan orang lain, Judd mungkin sudah putus asa. Tapi dia tahu bahwa dia
harus menolong Anne. Dan dia harus terus bertemu dengan wanita yang menarik
hatinya ini.
Judd membiarkan Anne bicara tentang bahan percakapan yang dipilihnya
sendiri. Anne sudah melancong ke selusin negara dengan ayahnya, dan bertemu
dengan berbagai orang yang mempesona. Pikiran Anne cerdas dan mempunyai
selera humor yang tak terduga-duga.
Ternyata mereka punya selera yang sama dalam hal bacaan, musik, dan drama.
Sikap Anne ramah dan hangat,tp judd tidak bisa menemukan
tanda-tanda yang paling kecil sekalipun bahwa Anne juga tertarik kepadanya.
Sungguh ironis. Selama bertahun-tahun bawah sadarnya mengatakan bahwa dia
ingin mencari wanita yang seperti Anne. Sekarang tiba-tiba wanita yang
didambakannya tiba-tiba muncul. Tapi dia harus membantu memecahkan
kesulitannya, dan mengirimkan wanita ini kembali kepada suaminya.
Kini ketika Anne masuk ke ruang prakteknya, Judd memindahkan kursinya ke
dekat sofa dan menunggu sampai Anne berbaring.
"Hari ini tidak," kata Anne perlahan. "Saya hanya datane untuk melihat kalau-
kalau saya bisa menolong."
Judd melihat kepadanya, sesaat tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Selama dua
hari'ini emosinya sangat tegang, sehingga simpati Anne yang tak terduga-duga
membuatnya terperanjat. Sambil memandang Anne Judd merasakan dorongan
impuls ingin menceritakan segala-galanya yang menimpa dirinya.
Ya, Judd ingin sekali menceritakan rasa takut yang mencekamnya, tentang
McGreavy dengan kecurigaannya yang sinting. Tapi Judd sadar tidak bisa
berbuat begitu. Dia dokter, dan Anne pasiennya. Masih ada yang lebih buruk
daripada itu. Dia jatuh cinta kepada Anne, padahal Anne istri orang yang bahkan
tidak dikenalnya.
Anne berdiri memandanginya. Judd mengangguk, tidak berani mengatakan apa
pun.
"Saya sangat suka kepada Carol," kata Anne. "Mengapa orang sampai hati
membunuhnya?"
Apakah polisi tidak bisa menduga} pikir Judd dengan perasaan getir. Kalau saja
Anne tahu!
Anne memandang curiga kepadanya.
"Polisi punya beberapa teori," kata Judd.
"Saya bisa memahami bagaimana perasaan Anda. Saya hanya datang untuk
mengatakan bahwa saya pun ikut merasa sedih. Bahkan saya tidak tahu pasti
apakah Anda ada di kantor hari ini.
"Tadinya saya memang tidak berniat membuka kantor," kata Judd. "Tapi—yah,
di sinilah saya sekarang. Karena kita berdua sudah di sini, mengapa kita tidak
bercakap-cakap sedikit tentang diri Anda?"
Anne ragu-ragu. "Saya tidak yakin apakah masih ada yang bisa dibicarakan."
Judd merasakan hatinya terlonjak. Ya, Tuhan, tolong jangan biarkan dia
mengatakan saya tidak akan melihatnya lagi.
"Saya akan pergi ke Eropa dengan suami saya minggu depan."
"Hebat sekali," kata Judd.
"Saya kuatir saya hanya membuang-buang waktu Anda, Dokter Stevens. Saya
minta maaf."
"Aduh, jangan minta maaf," kata Judd.
Dia merasakan suaranya menjadi serak. Anne akan meninggalkannya. Tapi tentu
saja Anne tidak mengetahui bagaimana perasaannya. Dia memang kekanak-
kanakan. Pikirannya sadar akan
hal ini, namun hatinya merasa sakit karena Anne akan pergi. Untuk selama-
lamanya.
Anne membuka dompet dan mengeluarkan uang. Dia sudah biasa membayar
dengan uang tunai pada setiap kunjungannya. Sedangkan pasien lainnya semua
membayar dengan cek.
"Tidak usah," kata Judd cepat-cepat. "Anda datang ke sini sebagai sahabat. Saya
—merasa berterima kasih."
Judd melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukannya terhadap pasien lain.
"Saya ingin Anda datang ke sini sekali lagi," katanya.
Anne memandanginya dengan tenang. "Mengapa?"
Sebab aku tidak tahan berpisah denganmu begitu cepat, pikir Judd. Sebab aku
tidak akan bertemu lagi dengan wanita yang seperti kau. Sebab aku ingin sekali
seandainya kita bertemu dari dulu. Sebab aku cinta padamu.
Judd berkata keras-keras, "Saya rasa kita bisa—membuat satu kesimpulan.
Bicaralah sedikit $0: lagi untuk meyakinkan bahwa Anda benar-benar sudah bisa
mengatasi kesulitan Anda."
Anne tersenyum nakal. "Maksud Anda saya harus datang untuk ujian akhir?"
"Kurang lebih begitu," kata Judd. "Anda mau datang?"
"Kalau Anda menghendaki tentu saja saya mau datang." Anne berdiri. "Saya
belum pernah memberi Anda kesempatan untuk memahami saya lebih dalam.
Tapi saya tahu Anda dokter
yang hebat. Kalau suatu hari kelak saya memerlukan pertolongan, saya tentu
akan datang kepada Anda."
Anne mengulurkan tangannya, dan Judd menyambutnya. Jabatan tangannya erat
dan hangat. Sekali lagi Judd merasakan arus getaran yang mengalir di antara
mereka, tapi sangat heran karena Anne rupanya tidak merasakan apa-apa.
"Saya akan menemui Anda hari Jumat," kata Judd.
Judd memperhatikan Anne berjalan ke pintu samping menuju ke gang, kemudian
terperenyak ke kursi. Belum pernah dia merasa kesepian yang begitu dalam
selama hidupnya. Tapi dia tidak bisa duduk berpangku tangan di situ. Peristiwa
yang baru saja terjadi harus ditemukan jawabannya. Kalau McGreavy tidak bisa
menemukannya, dia sendiri yang harus menemukan, sebelum McGreavy
menghancurkan dirinya.
Ditinjau dari sisi negatifnya, McGreavy menaruh kecurigaan bahwa dia
melakukan dua pembunuhan. Padahal dia tidak bisa membuktikan bahwa dia
tidak melakukannya. Setiap saat dia bisa ditangkap. Kalau ini sampai terjadi,
berarti kehidupan profesinya akan hancur.
Kini dia juga jatuh cinta kepada wanita yang mempunyai suami, yang hanya
akan ditemuinya lagi satu kali....
Judd memaksa dirinya meninjau persoalan dari sisi positifnya. Tapi dia tidak
bisa menemukan suatu apa pun.
Sisa hari itu berjalan seakan dia berada di bawah air. Satu dua pasien
menyinggung-nyinggung tentang pembunuhan Carol. Tapi pasien yang
keadaannya lebih gawat hanya bisa memikirkan kesulitannya sendiri.
Judd mencoba memusatkan perhatian, tapi pikirannya terus melayang ke mana-
mana. Dia terus-menerus berusaha menemukan jawaban terhadap peristiwa yang
baru saja terjadi. Dia bermaksud memutar beberapa rekaman nanti, kalau-kalau
dia bisa menemukan sesuatu yang selama ini lolos dari perhatiannya.
Pada pukul tujuh pasien yang terakhir sudah keluar, Judd berjalan ke lemari
minuman dan menuangkan segelas scotch. Rasa minuman keras yang tanpa
campuran ini seperti menghantamnya, dan tiba-tiba dia teringat bahwa sejak pagi
belum makan.
Teringat akan makanan membuat Judd merasa sakit. Dia duduk terperenyak ke
kursi, memikirkan kembali kedua peristiwa pembunuhan. Menurut riwayat kasus
para pasien yang ada padanya, tak seorang pun pasien yang mungkin bisa
membunuh. Mungkin seorang pemeras berusaha mencuri pita rekaman.
Tapi biasanya pemeras memiliki sifat pengecut. Mereka hanya memanfaatkan
kelemahan orang lain. Seandainya Carol memergoki seorang pencuri yang
mendobrak masuk dan pencuri ini membunuhnya, pembunuhan pasti dilakukan
dengan cepat—dengan satu pukulan. Tidak mungkin pencuri ini menyiksanya
dulu. Pasti ada penjelasan lain yang lebih masuk akal.
Judd duduk di kantornya lama sekali, perlahan-lahan otaknya memikirkan
peristiwa yang terjadi dalam dua hari ini. Akhirnya dia menghela napas dan
menghentikan lamunannya. Dia melihat ke jam dinding dan terkejut karena
malam ternyata sudah tiba.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat saat Judd meninggalkan
kantornya. Waktu dia keluar dari lobi ke jalan, angin yang sedingin es
menghantamnya. Salju sudah mulai turun lagi.
Di langit salju yang seperu cabikan kapas berputar-putar, mengaburkan segala-
galanya. Kota kelihatan seperti lukisan di atas kanvas yang catnya belum kering
dan berleleran. Gedung pencakar langit dan jalan-jalan tampak seakan meleleh
menjadi cairan kelabu dan putih. Sebuah papan yang besar dan berwarna merah
putih di sebuah toko di seberang Lexington Avenue mengingatkan:
KESEMPATAN BERBELANJA TINGGAL 6 HARI SEBELUM NATAL
Natal. Judd cepat-cepat mengalihkan pikirannya dari Hari Natal dan mulai
berjalan.
Jalanan sudah lengang. Di kejauhan hanya kelihatan seorang pejalan kaki,
bergegas-gegas pulang untuk menemui istri atau kekasihnya. Judd mulai
memikirkan apa gerangan yang sedang dilakukan Anne. Mungkin dia di
rumahnya, sedang membicarakan peristiwa siang tadi dengan suami tercinta.
Atau mungkin mereka sudah di tempat tidur, dan.... Sudah, berhenti katanya
kepada dirinya sendiri.
Di jalan yang berangin tidak ada satu pun mobil yang lewat. Maka sebelum
sampai ke tikungan Judd mulai menyeberang seenaknya, menuju ke garasi
tempat dia memarkir mobilnya di siang hari.
Waktu dia sampai di tengah jalan, dia mendengar suara di belakangnya. Serta-
merta dia menoleh. Sebuah mobil sedan besar berwarna hitam tanpa lampu
meluncur ke arahnya, rodanya slip di atas lapisan salju. Mobil sudah dekat
sekali, tidak ada tiga meter jauhnya.
Pemabuk tolol, pikir Judd. Mobilnya slip dan dia bisa mencelakakan dirinya
sendiri. Judd melompat ke trotoar untuk menyelamatkan diri. Hidung mobil
meluncur ke arahnya, dan mobil digas. Judd sudah terlambat menyadari bahwa
mobil dengan sengaja mencoba menabraknya.
Yang terakhir diingatnya ialah sesuatu yang keras menghantam dadanya, dan
terdengar suara keras seperti halilintar. Jalan yang gelap tiba-tiba
terang-benderang oleh kembang api yang terasa meledak dalam kepalanya.
Seketika dalam saat yang singkat itu, tiba-tiba Judd mengetahui jawaban segala-
galanya.
Kini dia tahu mengapa John Hanson dan Carol Roberts dibunuh. Judd merasakan
kepuasan yang luar biasa. Dia harus menceritakannya kepada McGreavy.
Kemudian cahaya ini segera padam, yang masih ada tinggal kesunyian dan
kegelapan yang basah.
Dari luar, markas polisi Seksi Sembilan Belas kelihatan seperti gedung sekolah
bertingkat empat yang kuno dan sudah dimakan cuaca. Dindingnya terbuat dari
bata merah. Bagian depannya dilapis semen, dan bagian di bawah atapnya putih
karena kotoran burung dara beberapa generasi.
Seksi Sembilan Belas bertanggung jawab atas keamanan daerah Manhattan dari
59th Streer sampai 86th Street, dan dari Fifth Avenue sampai ke East River.
Telepon dari rumah sakit yang melaporkan kecelakaan tabrak lari sampai ke
markas polisi beberapa menit setelah pukul sepuluh. Laporan ini segera
diteruskan ke kantor detektif.
Malam itu Seksi Sembilan Belas sangat sibuk. Karena cuaca dingin, maka
kejahatan dari jenis pemerkosaan dan perampokan meningkat. Jalan yang
lengang berubah menjadi padang belantara yang membeku. Di situlah para
penjahat menunggu mangsanya, orang yang berjalan di daerah itu sendirian.
Hampir semua detektif sedang keluar untuk mengambil tindakan berdasarkan
laporan. Kantor detektif kosong, kecuali Detektif Frank Angeli dan seorang
sersan polisi. Keduanya sedang menginterogasi orang yang dicurigai melakukan
pembakaran dengan sengaja.
Waktu telepon berdering, Angeli yang mengangkatnya. Yang menelepon adalah
perawat rumah sakit kota, yang merawat pasien korban tabrak lari. Si pasien
minta bicara dengan Letnan McGreavy. McGreavy kebetulan sedang pergi ke
Bagian Arsip. Ketika perawat itu menyebutkan nama pasiennya, Angeli
mengatakan bahwa dia akan segera datang.
Angeli sedang meletakkan telepon ketika McGreavy masuk. Angeli cepat-cepat
menceritakan kepadanya tentang laporan dari rumah sakit. "Sebaiknya kita
segera pergi ke rumah sakit," kata Angeli.
"Dia bisa menunggu. Yang pertama-tama saya ingin bicara dengan kapten di
seksi tempat terjadinya kecelakaan."
Angeli memperhatikan McGreavy memutar nomor. Dalam hati dia bertanya-
tanya apakah Kapten Bertelli mengatakan kepada McGreavy tentang
pembicaraan mereka. Percakapan Angeli dengan Kapten Bertelli singkat saja
dan langsung ke pokok persoalan.
"Letnan McGreavy polisi yang baik," kata Angeli waktu itu, "tapi saya rasa dia
terpengaruh oleh apa yang terjadi lima tahun yang lalu."
Kapten Bertelli melihat kepadanya lama-lama dengan pandangan dingin. "Kau
menuduh dia mau memfitnah Dokter Stevens?"
"Saya tidak menuduhkan apa pun kepadanya, Kapten. Saya hanya berpikir
sebaiknya Kapten waspada terhadap situasi ini."
"Oke, saya akan tetap waspada." Dan percakapan mereka pun berakhir.
Pembicaraan telepon McGreavy memakan waktu tiga menit. Sementara itu
McGreavy meng-geram-geram dan membuat catatan. Angeli berjalan mondar-
mandir tidak sabar. Sepuluh menit kemudian baru kedua detektif ini naik mobil
dinas menuju rumah sakit.
Kamar Judd di lantai enam, di ujung gang yang panjang dan berbau khas rumah
sakit. Perawat yang menelepon ke markas seksi mengantarkan kedua detektif itu
ke kamar Judd.
"Bagaimana keadaannya, Suster?" tanya McGreavy.
"Dokter akan menerangkan kepada Anda," jawab perawat itu dengan tegas.
Kemudian dia meneruskan, "Ajaib juga orang ini tidak mati. Mungkin dia
menderita gegar otak, luka di bagian tulang iga dan lengan kiri."
"Apakah dia sadar?" tanya Angeli.
"Ya. Kami mendapat kesulitan besar menahannya di tempat tidur." Perawat
menoleh kepada McGreavy. "Dia terus-menerus mengatakan harus bertemu
dengan Anda."
Mereka pun masuk ke kamar pasien. Dalam
kamar ada enam buah tempat tidur, berisi pasien. Perawat menunjukkan tempat
tidur di sudut ruangan yang ditutup dengan tirai. McGreavy dan Angeli
mendekati tempat tidur itu dan melangkah ke balik tirai.
Judd berbaring di tempat tidur, bertelekan di atas sikunya. Kepala dan bahunya
bertumpu di atas bantal yang tinggi. Mukanya pucat, dan ada perban lebar pada
dahinya. Lengan kirinya disandang dengan kain yang berwarna putih.
McGreavy bicara. "Saya dengar Anda mendapat kecelakaan."
"Ini bukan kecelakaan," kata Judd. "Ada orang yang mencoba membunuh saya."
Suaranya lemah dan bergetar. "Siapa?" tanya Angeli.
"Saya tidak tahu, tapi semua cocok." Dia menoleh kepada McGreavy.
"Pembunuh-pembunuh itu tidak mengejar John Hanson atau Carol. Sayalah yang
mereka inginkan."
McGreavy memandanginya keheranan. "Mengapa Anda berpendapat begitu?"
"Hanson terbunuh karena dia memakai jas hujan saya yang berwarna kuning.
Mereka pasti melihat saya masuk ke gedung memakai jas hujan itu. Ketika
Hanson keluar memakai jas hujan saya, mereka mengira bahwa Hanson adalah
saya."
"Itu mungkin," kata Angeli, "Tentu," kata McGreavy. Dia menoleh kepada Judd.
"Dan setelah tahu bahwa mereka salah
membunuh orang lain, mereka masuk ke kantor. Pakaian Anda dibuka dan
mereka tahu bahwa Anda sebenarnya gadis kecil berkulit hitam. Maka mereka
marah sekali sehingga menyiksa Anda sampai mati."
"Carol dibunuh karena mereka menemukan dia di sana ketika datang untuk
membunuh saya," kata Judd.
McGreavy memasukkan tangannya ke saku mantel dan mengeluarkan catatan.
"Saya telah bicara dengan kapten polisi di seksi tempat terjadinya kecelakaan."
"Itu bukan kecelakaan."
"Menurut laporan polisi, Anda berjalan seenaknya."
Judd melihat kepadanya. "Berjalan seenaknya?" Dia mengulangi dengan suara
lemah.
"Anda berjalan di tengah jalan, Dokter."
"Tidak ada mobil satu pun, jadi saya...."
"Ada sebuah mobil," McGreavy memberi koreksi. "Hanya Anda tidak melihat
saja. Waktu itu hujan salju dan orang hampir tidak bisa melihat sama sekali.
Anda tiba-tiba saja berada di tengah jalan. Sopir menginjak rem, mobil slip dan
meluncur terus sehingga menabrak Anda. Kemudian dia panik dan kabur."
"Bukan begitu kejadiannya, dan lampu depan mobil tidak dinyalakan."
"Dan Anda berpendapat bahwa itu merupakan bukti bahwasanya orang yang
mengemudikan
mobil inilah yang membunuh Hanson dan Carol Roberts?"
"Ada orang berusaha membunuh saya," Judd mengulangi dengan keras kepala.
McGreavy menggelengkan kepala. "Itu tidak ada gunanya, Dokter."
"Apa yang tidak ada gunanya?" tanya Judd.
."Anda benar-benar mengira saya akan mulai mencari-cari pembunuh khayalan
sementara Anda mengalihkan pandangan orang dari diri Anda .sendiri?" Nada
suara McGreavy tiba-tiba berubah keras. "Anda tahu bahwa resepsionis Anda
hamil?"
Judd memejamkan mata dan meletakkan kepalanya ke bantal kembali. Jadi
itulah yang ingin dikatakan Carol kepadanya. Tadinya dia juga sudah setengah
menduga. Dan kini McGreavy mengira....
Dia membuka matanya. "Tidak," katanya lemah. "Saya tidak tahu."
Kepala Judd mulai berdenyut-denyut lagi. Rasa sakitnya datang kembali. Dia
menelan ludah untuk melawan rasa pusing yang akan menelannya. Ingin sekali
dia menekan bel untuk memanggil perawat, tapi dia tidak ingin memberikan
kepuasan kepada McGreavy.
"Saya sudah memeriksa semua arsip," kata McGreavy. "Apa yang akan Anda
katakan kalau saya bilang bahwa resepsionis Anda yang manis dan sedang hamil
dulu menjadi pelacur sebelum bekerja pada Anda?"
Kepala Judd rasanya semakin berdenyut-denyut, sakitnya kian tak tertahankan.
"Apakah Anda tahu itu, Dokter Stevens? Anda tidak perlu menjawab. Saya yang
akan menolong Anda menjawab pertanyaan saya. Anda tahu, sebab Anda sendiri
yang mengambilnya dari ruang pengadilan empat tahun yang lalu. Waktu itu dia
ditangkap karena tuduhan menjual diri. Nah, bukankah itu agak keterlaluan?
Seorang dokter yang terhormat menyewa pelacur sebagai resepsionis di kantor
kelas tinggi?"
"Tak seorang pun dilahirkan sebagai pelacur," kata Judd. "Saya berusaha
menolong memberi kesempatan hidup kepada anak berumur enam belas tahun."
"Dan di samping itu punya piaraan gadis kulit hitam?"
"Kau bangsat berpikiran busuk!"
McGreavy tertawa dengan sinis. "Ke mana Anda membawa Carol setelah
memungutnya dari pengadilan di waktu malam?"
"Ke apartemen saya."
"Dan dia tidur di sana?"
"Ya."
McGreavy meringis. "Anda hebat benar! Anda mengambil seorang pelacur muda
yang cantik dari pengadilan dan mengajaknya bermalam di apartemen Anda.
Apa yang Anda cari-teman main catur? Kalau benar Anda tidak tidur dengan
dia, kemungkinan besar Anda homoseks.
"Selanjutnya coba tebak siapa yang berhubung-
89
an dengan Anda? Ini tepat sekali. John Hanson. Sedangkan kalau Anda tidur
dengan Carol, kemungkinan besar Anda tidur terus dengan dia sampai akhirnya
dia hamil.
"Dan sekarang Anda berani berbohong dan menceritakan dongeng tentang orang
gila yang menabrak Anda dan kabur, dan berkeliling ke mana-mana membunuhi
orang?"
McGreavy berbalik dan meninggalkan ruangan, mukanya merah karena marah.
Angeli memperhatikan Judd, kelihatan cemas. "Anda tidak apa-apa?"
"Anda harus menolong saya," kata Judd. "Ada orang berusaha membunuh saya."
Suaranya terdengar seperti ratapan di telinganya.
"Siapa yang mungkin punya motif untuk membunuh Anda, Dokter?"
"Saya tidak tahu."
"Anda punya musuh?"
"Tidak."
"Anda pernah tidur dengan istri orang, atau gadis yang punya pacar?"
Judd menggeleng, dan seketika menyesal karena melakukan gerakan ini,
"Adakah warisan dalam keluarga Anda—sehingga kerabat yang ingin mendapat
warisan ini mungkin berniat menyingkirkan Anda?"
"Tidak."
Angeli menghela napas. "Baiklah. Jadi tidak ada motif yang memungkinkan
orang ingin membunuh Anda. Bagaimana tentang pasien Anda? Saya
rasa sebaiknya Anda memberikan daftarnya kepada kami, supaya mereka bisa
kami cek." "Saya tidak bisa berbuat begitu." "Yang saya minta hanya nama
mereka." "Menyesal sekali," Judd sudah mulai mendapat kesulitan untuk bicara.
"Seandainya saya dokter gigi atau dokter spesialis kaki mungkin saya bisa
memberikan daftar nama pasien kepada Anda. Tapi tidakkah Anda tahu? Pasien
saya semuanya orang yang punya problem kejiwaan. Hampir semuanya problem
yang serius. Kalau Anda mulai menginterogasi mereka, bukan hanya mereka
yang Anda hancurkan. Anda juga menghancurkan kepercayaan mereka terhadap
saya. Saya tidak akan bisa merawat mereka lagi. Saya tidak bisa memberikan
daftar nama mereka." Judd terbaring lemas, kehabisan tenaga. Bebe rapa saat
lamanya Angeli memandangi Judd sambil berdiam diri. Kemudian dia bertanya,
"Apa istilah bagi orang yang mengira bahwa semua orang akan membunuhnya?"
"Paranoid," jawab Judd. Dia melihat perasaan yang terpancar dari air muka
Angeli. "Anda tidak mengira saya...."
"Bayangkan seandainya Anda adalah saya," kata Angeli. "Seandainya saya
berbaring di situ sekarang, berbicara seperti Anda, dan Anda dokter saya. Apa
kesimpulan yang akan Anda tarik?"
Judd memejamkan mata karena rasa sakit yang luar biasa pada kepalanya.
Didengarnya suara
Angeli yang meneruskan bicara, "Saya ditunggu
McGreavy."
Judd membuka matanya. "Tunggu____Beri saya
kesempatan untuk membuktikan bahwa saya tidak bohong."
"Bagaimana?"
"Siapa pun yang mencoba membunuh saya pasti akan mencoba lagi. Saya ingin
ada orang yang menemani saya. Jadi kalau mereka mencoba lagi, dia bisa
menangkap mereka."
Angeli memandangi Judd.-
"Dokter Stevens, kalau benar-benar ada orang yang ingin membunuh Anda,
semua polisi di dunia takkan bisa mencegahnya. Kalau mereka tidak bisa
membunuh Anda sekarang, mereka akan berhasil membunuh Anda besok pagi.
Kalau mereka tidak berhasil membunuh Anda di sini, mereka akan bisa
membunuh Anda di tempat lain. Tidak peduli Anda raja atau presiden, atau
hanya orang biasa. Benang kehidupan sangat kecil. Untuk memutuskannya
hanya dibutuhkan waktu sedetik."
"Tidak ada—sama sekali tidak ada yang bisa Anda lakukan?"
"Saya bisa memberi Anda sedikit nasihat. Gantilah kunci pintu apartemen Anda.
Periksa setiap jendela apakah semua sudah dikunci dengan semestinya. Jangan
memasukkan siapa pun ke dalam apartemen, kecuali kalau Anda kenal baik
dengan orang itu. Jangan menerima tukang antar barang, kecuali kalau Anda
sendiri merasa memesan sesuatu."
Judd mengangguk, tenggorokannya' kering dan sakit.
"Di gedung apartemen Anda ada pintu dan operator lift," Angeli meneruskan.
"Apakah Anda bisa mempercayai mereka?"
"Penjaga pintu sudah bekerja di situ selama sepuluh tahun. Operator lift bekerja
di situ delapan tahun. Saya percaya penuh kepada mereka."
Angeli mengangguk-angguk.
"Bagus," katanya. "Mintalah agar mereka selalu waspada. Kalau mereka selalu
waspada, orang luar sulit bisa menyelinap ke apartemen Anda. Bagaimana
tentang kantor Anda? Apakah Anda akan memakai resepsionis baru?"
Judd membayangkan seandainya seorang asing duduk menghadapi meja tulis
Carol, duduk di kursinya. Dia merasakan kemarahannya bangkit. "Dalam waktu
dekat tidak."
"Anda bisa mempekerjakan resepsionis laki-laki," kata Angeli.
"Akan saya pikirkan."
Angeli berbalik akan pergi, kemudian berhenti.
"Saya punya gagasan," katanya ragu-ragu. "Tapi ini hanya untung-untungan."
"Apa?" Judd kesal karena suaranya penuh semangat.
"Orang yang membunuh pamer McGreavy yang dulu...." "Ziffren."
"Dia benar-benar gila?"
"Ya. Dia dikirim ke Rumah Sakit Matteawan yang khusus untuk penjahat
berpenyakit jiwa."
"Mungkin dia menyalahkan Anda karena menyebabkannya dikirim ke sana.
Saya akan mengecek tentang dirinya. Hanya untuk meyakinkan bahwa ia tidak
melarikan diri atau sudah dibebaskan. Telepon saya besok pagi-pagi." "Terima
kasih kata Judd dengan gembira. "Itu sudah menjadi tugas saya. Seandainya
nanti ternyata Anda sendiri yang melakukan pembunuhan, saya akan membantu
McGreavy menangkap Anda."
Angeli berbalik lagi akan pergi. Tapi dia berhenti sejenak.
"Jangan katakan kepada McGreavy bahwa saya mengecek Ziffren untuk
membantu Anda." 'Tidak."
Mereka saling tersenyum. Angeli pergi. Judd sendirian lagi.
Kalau tadi pagi situasinya sangat buruk, sekarang bahkan jauh lebih buruk lagi.
Judd sadar bahwa sebenarnya pagi ini juga dia bisa ditangkap karena dicurigai
melakukan pembunuhan—tapi ternyata ini tidak terjadi, yang disebabkan oleh
sifat McGreavy.
McGreavy ingin membalas dendam, sangat ingin membalas dendam. Maka dia
sabar menunggu sampai mendapat bukti yang terakhir. Mungkinkah peristiwa
tabrak lari yang dialaminya hanya kecelakaan belaka? Ketika itu memang jalan
berlapis salju dan
sangat licin. Secara kebetulan mobil sedan ini bisa slip dan meluncur ke arahnya.
Tapi kalau memang hanya kecelakaan, mengapa lampu depan mobil tidak
dinyalakan? Dan dari mana mobil yang datang secara begitu tiba-tiba?
Kini Judd yakin benar bahwa dirinya diincar oleh pembunuh—dan pembunuh
ini. akan mencoba lagi. Dengan kesimpulan ini, dia terlelap tidur.
Keesokan harinya pagi-pagi benar Peter dan Norah Hadley datang ke rumah
sakit untuk menengok Judd. Mereka mengetahui kecelakaan yang menimpa
sahabatnya dari berita pagi.
Umur Peter sebaya dengan Judd, tapi badannya lebih kecil daripada Judd dan
kurus sekali. Mereka berasal dari kota yang sama di Nebraska, dan sekolah
kedokteran bersama-sama.
Norah seorang wanita Inggris. Rambutnya pirang, dan payudaranya agak terlalu
besar untuk tinggi badannya yang satu meter enam puluh. Sifat Norah periang
dan menyenangkan. Setelah bercakap-cakap selama lima menit dengan dia,
orang akan merasa bahwa mereka seperti sudah lama saling mengenal.
"Rupamu mengerikan sekali," kata Peter, sambil memperhatikan Judd dengan
cermat.
"Itu yang saya sukai, Dokter. Sikap seorang dokter sejati terhadap pasien."
Pusing kepala Judd hampir hilang sama sekali. Rasa sakit pada tubuhnya juga
sudah berkurang, yang tertinggal hanya rasa pegal-pegal. Norah mengulurkan
seikat bunga.
"Kami membawakanmu bunga. Sayang," katanya. "Kasihan sekali, anak yang
baik." Norah mencium pipinya.
"Bagaimana terjadinya?** tanya Peter.
Judd ragu-ragu. "Ini kecelakaan tabrak lari."
"Kau mendapat kecelakaan beruntun, bukan? Saya sudah membaca tentang
Carol. Kasihan."
"Mengerikan sekali," kata Norah. "Saya suka sekali kepadanya."
Judd merasakan tenggorokannya seperti tercekik. "Saya juga."
"Apakah ada kemungkinan bangsat yang melakukannya bisa ditangkap?" tanya
Peter.
"Mereka sedang berusaha."
''Dalam koran pagi disebutkan bahwa Letnan McGreavy hampir bisa menahan
pelakunya. Kau tahu tentang hal itu?"
"Sedikit," jawab Judd ringkas. "McGreavy selalu mengupayakan agar aku bisa
mengikuti perkembangannya."
"Kau tidak akan tahu betapa hebatnya polisi sebelum kau benar-benar
membutuhkan mereka," kata Norah.
"Dokter Harris mengizinkan saya melihat hasil Rontgenmu. Beberapa luka
memar yang cukup parah—tapi tidak ada kemungkinan gegar otak. Satu dua hari
lagi kau sudah bisa keluar dari sini."
Tapi Judd tahu bahwa dia tidak boleh membuang-buang waktu.
Selama setengah jam mereka mengobrol mengenai hal-hal yang ringan-ringan.
Mereka hati-hati
sekali supaya tidak menyinggung-nyinggung ke-matian Carol Roberts. Peter dan
Norah tidak tahu bahwa John Hanson pasien Judd. Karena alasannya sendiri,
McGreavy merahasiakan bagian cerita ini supaya tidak bocor kepada pers.
mengkhayalkan memiliki kebencian terhadap di-rinya.
Yang mungkin bisa masuk ke dalam k ategon mi hanya dua orang, yaitu
Harrison Burke dan Amos Ziffren, orang yang membunuh pamer McGrea-vy.
Kalau Burke mempunyai alibi, maka dia akan memusatkan perhatiannya kepada
Ziffren. Tekanan jiwa yang dideritanya sedikit demi sedikit mulai berkurang. Dia
merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu. Tiba-tiba dia merasa tidak sabar lagi
ingin segera meninggalkan rumah sakit.
Dia pun menekan bel untuk memanggil perawat. Kepada perawat dia
mengatakan ingin bertemu dengan Dokter Harris. Sepuluh menit kemudian
Dokter Harris masuk ke kamarnya. Dokter Seymour Harris bertubuh kecil,
dengan mata berwarna biru yang bersinar-sinar dan beberapa helai rambut hitam
mencuat di pelipisnya. Judd mengenal dia sudah lama, dan sangat
menghormatinya.
"Nah! Sang Putri Tidur sudah bangun. Keadaanmu buruk sekali."
jud sudah bosan mendengar pertanyaan semacam itu
Mengapa tidak istirahat dulu di sini beberapa hari? Akan saya kirim beberapa
orang perawat sexy untuk menemanimu."
"Terima kasih, Seymour. Saya benar-benar harus segera meninggalkan tempat
ini."
Dokter Harris menghela napas. "Oke. Kau seorang dokter. Kalau saya sendiri,
saya tidak akan membiarkan kucing saya berkeliaran kalau keadaannya seperti
kau." Dia memandangi Judd dengan tajam. "Ada sesuatu yang bisa saya lakukan
untuk membantumu?"
Judd menggeleng.
"Akan saya suruh Miss Bedpan mengambilkan pakai an m u."
Tiga pulu|i menit kemudian gadis dari bagian penerima tamu memanggilkan
taksi untuknya. Dan pada pukul sepuluh lima belas, Judd sudah berada di
kantornya.
6
Pasiennya yang pertama, Teri Washburn sudah menunggu di gang. Dua puluh
tahun yang lalu Teri merupakan salah seorang bintang film terbesar di
Hollywood. Dalam sekejap mata kariernya jatuh, kemudian dia menikah dengan
seorang penebang pohon dari Oregon dan menghilang.
Sampai sekarang Teri sudah menikah lima atau enam kali. Kini dia tinggal di
New York dengan suaminya yang terakhir, seorang importir. Ketika Judd
berjalan di gang, Teri melihat kepadanya dengan marah.
"Wah...," katanya. Tapi Teri tidak jadi meneruskan kata-katanya setelah melihat
muka Judd. "Kau kelihatan babak belur seperti habis dipukuli orang."
"Hanya kecelakaan kecil. Maaf saya terlambat."
Dia membuka pintu dengan kunci dan mempersilakan Teri masuk ke kantor
resepsionis. Meja tulis dan kursi Carol yang kosong segera menyita
pandangannya.
"Saya membaca tentang Carol," kata Teri.
Suaranya kedengaran tajam. "Apakah itu pembunuhan karena seks?"
"Bukan," kata Judd pendek. Dia membuka pintu menuju ke ruang prakteknya.
"Beri saya waktu sepuluh menit."
Judd masuk ke ruang prakteknya. Setelah melihat daftar pasiennya untuk hari
itu, dia mulai memutar nomor telepon. Pertemuannya dengan pasien yang lain
akan dibatalkan. Tapi dia hanya bisa menghubungi tiga orang pasien. Dada dan
tangannya terasa sakit setiap kali dia bergerak, dan kepalanya mulai berdenyut-
denyut lagi.
Dari laci diambilnya dua butir Darvan, kemudian ditelannya dengan segelas air.
Lalu dia berjalan ke pintu menuju ruang resepsionis. Pintu dibuka, dan Teri
dipersilakan masuk. Dikuatkan-nya hatinya untuk menyingkirkan segala-galanya
dari pikirannya selama lima puluh menit ini, kecuali problem pasiennya. Teri
berbaring di sofa dengan rok tersibak ke atas, dan mulai bicara.
Dua puluh tahun yang lalu Teri Washburn adalah wanita yang sangat
menggiurkan. Bahkan sekarang pun tanda-tanda bekas kecantikannya masih
nampak. Matanya lebar, lembut, dan memancarkan pandangan polos. Di
sekeliling mulutnya yang lembut mulai kelihatan kerutan-kerutan, namun
kelihatan tetap indah. Buah dadanya masih bulat dan kencang di balik biusnya
yang ketat. Judd menduga Teri mendapat suntik? an silikon, tapi dia masih
menunggu Teri mencer^ takannya sendiri. Bagian tubuhnya yang lain ,uga
masih bagus, dan bentuk kakinya benar-benar indah.
Hampir semua pasien wanita Judd merasa bahwa mereka mencintainya. Tapi itu
sudah biasa, hubungan pasien—dokter yang bisa berubah menjadi hubungan
pasien—pelindung—kekasih. Walaupun demikian kasus Teri lain lagi. Sejak
detik pertama dia masuk ke ruang praktek Judd, Teri berusaha membuat affair
cinta dengan dokter yang tampan ini.
Teri berusaha merayu Judd dengan segala macam cara, dan dalam hal ini dia
seorang yang ahli. Akhirnya Judd memberinya peringatan, kalau Teri tidak bisa
menjaga tingkah lakunya dia akan dikirim kepada dokter lain. Sejak itu sikap
Teri berubah menjadi baik. Tapi dia terus berusaha mempelajari watak Judd,
berusaha menemukan titik kelemahannya.
Dulu seorang dokter Inggris mengirimkan Teri kepadanya, setelah terjadi
skandal tingkat internasional yang sangat buruk di Antibes. Seorang kolumnis
gosip Prancis menuduh Teri berakhir pekan dengan raja kapal Yunani yang
terkenal di kapal pesiarnya, dan ketika raja kapal yang menjadi tunangannya ini
terbang ke Roma untuk urusan bisnis, Teri tidur dengan ketiga saudara laki-
lakinya. Cerita ini segera dipetieskan. Si kolumnis mencabut tulisannya, dan
kemudian dipecat dengan diam-diam. Pada terapi yang pertama dengan Judd,
Teri membuat bahwa cerita itu memang benar-benar terjadi.
"Rasanya ajaib sekali," kata Teri ketika itu. "Saya merasa selalu membutuhkan
seks setiap saat. Saya tidak pernah merasa puas." Dia menggosok-gosok pahanya
dan makin menaikkan roknya, sambil melihat kepada Judd dengan pandangan
polos. "Kau tahu apa yang saya maksudkan, Sayang?" tanyanya.
Sejak kunjungannya yang pertama, banyak sekali yang diketahui Judd mengenai
diri Teri. Dia berasal dari sebuah kota tambang kecil di Pennsylvania.
"Ayah saya orang Polandia yang bodoh. Dia bersenang-senang dengan minuman
keras murah-an setiap malam Minggu dan memukuli ibu saya tanpa mengenal
belas kasihan."
Ketika berumur tiga belas tahun Teri sudah memiliki tubuh seorang wanita
dewasa dan wajah secantik bidadari. Dia tahu, bahwa dia bisa mendapat uang
dengan pergi ke balik penggalian bersama pekerja tambang.