Akhirnya ayah Teri mengetahui hal ini. .Dia masuk ke pondoknya sambil
berteriak-teriak dalam bahasa Polandia, dan menyuruh ibu Teri keluar. Pintu
dikuncinya, dan dengan ikat pinggang dia mulai memukuli Teri. Setelah puas
memukuli, Teri i diperiksanya* . untid nuwu
Judd memperhatikan Teri ketika dia berbaring sambil menceritakan riwayatnya
itu, wajahnya hampa dari perasaan............... ....^..-w i^^ii
"Itulah terakhir kalinya saya meiibpfcAyabrdan;
Ibu."
"Kau melarikan diri?" tanya Judd. Teri memutar badannya di atas sofa terkejut.
"Apa?"
"Setelah kau diperkosa ayahmu...."
"Melarikan diri?" kata Teri. Dia mendongak-kan kepalanya dan tertawa gelak-
gelak. "Saya merasa senang. Saya terpaksa pergi karena diusir flm."
Judd mulai menyetel tape recorder untuk merekam pembicaraan. "Apa yang
ingin kaubica-rakan?" Dia bertanya.
"Persetubuhan," kata Teri. "Mengapa kita tidak menganalisa jiwamu saja dan
menyelidiki mengapa kau begitu jujur."
Judd tidak mengacuhkan kata-kata Teri.
"Mengapa kau berpendapat bahwa kematian Carol mungkin ada hubungannya
dengan soal seks?"
"Sebab segala hal mengingatkan saya kepada seks, Manis." Teri menggeliat dan
roknya naik makin tinggi. "Turunkan rokmu, Teri." Teri memandanginya dengan
mata tidak berdosa. "Maaf.... Sayang sekali kau tidak ikut pesta ulang tahun
yang hebat pada malam Minggu, Dok."
"Coba ceritakan."
Teri ragu-ragu, dan suaranya mengandung kesedihan yang tidak seperti biasanya.
"Kau tidak akan benci kepada saya?"
"Saya sudah mengatakan kau tidak perlu minta
persetujuan kepada saya. Persetujuan yang kaubu-tuhkan hanya dari dirimu
sendiri. Benar atau salah hanyalah aturan yang kita buat sendiri, supaya kita bisa
ambil bagian dalam permainan bersama orang lain. Tanpa aturan, takkan ada
permainan. Tapi jangan lupa—aturan hanya buatan manusia."
Sejenak sunyi. Kemudian Teri berbicara. "Pestanya sungguh meriah. Suami saya
mendatangkan band."
Judd menunggu.
Teri memutar badannya untuk melihat kepadanya. "Kau yakin tidak akan
kehilangan penghargaan terhadap saya?"
"Saya ingin menolongmu. Kita semua pernah melakukan perbuatan yang
memalukan. Tapi itu bukan merupakan bukti bahwa kita akan terus berbuat
begitu."
Teri memperhatikan Judd sebentar, kemudian berbaring di sofa. "Apakah saya
pernah menceritakan bahwa saya curiga suami saya, Harry, impoten?"
"Ya," jawab Judd. Teri terus-menerus menceritakan soal ini.
"Dia belum pernah benar-benar melakukannya sejak kami menikah. Dia selalu
mengemukakan dalih.... Yah—" Mulutnya dikerutkan dengan perasaan sedih.
"Nah... pada malam Minggu itu saya bersetubuh dengan anak-anak band
sementara Harry melihat." Teri mulai menangis. ,.
Judd memberikan sehelai tisu dan tetap duduJ* memperhatikan Ten.
Tidak ada orang yang pernah memberikan sesuatu kepada Teri tanpa meminta
imbalan yang berlipat ganda sesudahnya. Waktu mula-mula pergi ke Hollywood,
Teri bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran drive-in. Upahnya sebagian
besar dipakai untuk membayar les drama picisan.
Seminggu kemudian pelatihnya mengajak Teri tinggal bersamanya- Teri
disuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan latihan diberikan
kepadanya di tempat tidur. Beberapa minggu kemudian Teri sadar bahwa dia
takkan mendapat peranan dalam drama mana pun juga. Maka pelatih drama ini
ditinggalkannya, dan dia bekerja sebagai kasir di toko obat dalam sebuah hotel
di Beverly Hills.
Seorang direktur perfilman muncul pada malam Natal untuk membelikan hadiah
bagi istrinya. Dia memberikan kartu nama kepada Teri dan menyuruh dia agar
meneleponnya. Seminggu kemudian Teri mengikuti tes untuk main film. Dia
sangat kikuk dan tidak terlatih, tapi punya tiga hal yang menguntungkan
baginya. Wajah dan tubuhnya sensasional, kamera menyukainya, dan direktur
studio memeliharanya.,
Pada tahun pertama Teri Washburn muncul dalam peranan kecil pada selusin
film. Dia mulai mendapat surat penggemar. Peranannya semakin besar. Pada
akhir tahun pelindungnya meninggal karena.serangan gantung, dan Teri takut
jangan-jangan, studio memecatnya. Tapi ternyata direktur yang baru memanggil-
nya, dan mengatakan bahwa dia punya rencana besar untuknya. Dia mendapat
kontrak baru, kenaikan gaji, dan apartemen yang lebih besar dengan kamar tidur
mewah. Lama-lama Teri bisa berperan dalam film kelas B. Karena filmnya laris,
maka akhirnya Teri Washburn mulai membintangi film kelas A.
Semua ini sudah lama berselang. Kini Judd merasa kasihan kepada Teri yang
sedang berbaring di sofa, berusaha menahan sedu-sedannya.
"Kau mau minum?'* tanya Judd.
"Tid-dak," kata Teri. "Saya tidak apa-apa." Dia mengeluarkan saputangan dari
dalam tasnya dan membersitkan hidungnya. "Maaf," katanya, "saya bertingkah
seperti orang tolol." Dia bangkit dan duduk di sofa.
Judd tetap duduk sambil berdiam diri, menunggu Teri bisa menguasai
perasaannya.
"Mengapa saya menikah dengan orang-orang seperti Harry?"
"Itu pertanyaan yang sangat penting. Kau punya gagasan apa sebabnya?"
"Mana saya tahu?" teriak Teri. "Kau psikiater. Kalau saya tahu mereka begitu,
tentunya kau tahu saya tidak akan menikah dengan mereka, bukan?"
"Bagaimana pendapatmu?"
Teri terbelalak, terkejut dengan pertanyaan itu. "Jadi kau tetap mengira saya
akan mau?" Dia berdiri dengan muka menunjukkan kemarahan. "Kau anjing
busuk! Kaukira saya senang bewetu-buh dengan anak-anak band?"
"Kau senang?"
Dengan kemarahan menyala-nyala Teri meng- I angkat sebuah tempat bunga,
dan dilemparkannya kepada Judd. Tempat bunga itu hancur menghantam meja.
"Itu cukup sebagai jawaban?"
"Tidak. Harga pot itu dua ratus dollar. Saya akan memasukkannya ke dalam
rekeningmu."
Teri memandangi Judd dengan rasa tidak berdaya. "Apakah saya benar-benar
menye-nanginya?" bisiknya.
"Katakan saja."
Suara Teri bahkan makin pelan. "Saya pasti sakit," katanya. "Ya, Tuhan, saya
sakit. Tolonglah saya, Judd. Tolonglah saya!"
Judd berjalan menghampirinya. "Kau harus membantu saya untuk memberikan
pertolongan kepadamu." Teri mengangguk, membisu. "Sekarang saya ingin kau
pulang. Pikirkanlah bagaimana perasaanmu, Teri. Bukan waktu kau melakukan
hal-hal itu, tapi sebelumnya. Pikirkan mengapa kau ingin melakukannya. Setelah
kau mendapatkan jawabannya, kau akan memahami banyak sekali tentang
dirimu.
Teri melihat kepada Judd sesaat, kemudian ketegangan wajahnya mengendur.
Dia mengeluarkan saputangan dan membersit hidungnya lagi. ".Kau orang yang
hebat, Charlie Brown," katanya. Dia mengambil dompet dan sarung tangannya.
"Sampai jumpa lagi minggu depan."
"Ya," kata Judd. "Sampai jumpa lagi minggu depan." Dia membuka pintu ke
gang, dan Teri keluar.
Judd tahu jawaban untuk problem Teri, tapi membiarkan saja agar Teri bisa
menemukannya sendiri. Teri harus tahu bahwa dia tidak bisa membeli cinta,
bahwa cinta harus diberikan secara sukarela. Dan dia takkan bisa menerima
kenyataan bahwa cinta bisa diberikan secara sukarela sebelum yakin bahwa
dirinya pantas menerima cinta itu.
Sebelum hal itu dia mengerti, Teri akan terus berusaha membeli cinta dengan
satu-satunya alat pembayar yang dia miliki: tubuhnya. Judd bisa memahami
penderitaan yang dirasakan Teri, rasa putus asa dan kebencian kepada diri
sendiri. Judd sangat kasihan kepadanya.
Tapi satu-satunya cara untuk menolong Teri hanyalah dengan bersikap resmi dan
tidak terlalu akrab. Dia tahu bahwa bagi semua pasien dia seperti orang yang
sombong, jauh dari kesulitan mereka, dan memakai kebijaksanaan dari
kahyangan. Tapi ini adalah bagian yang vital untuk kepentingan terapi.
Sedangkan pada- kenyataannya, Judd sangat prihatin memikirkan problem
semua pasiennya. Mereka pasti akan merasa takjub kalau tahu bahwa iblis yang
mengejar-ngejar mereka sering kali muncul dalam mimpi buruk Judd sendiri.
Sebelum menjadi psikoanalis, Judd harus berpraktek dulu selama dua tahun
sebagai psikiater.
Selama enam bulan pertama dalam prakteknya ini j
Judd terus-menerus menderita sakit kepala. Se- ] mua gejala yang diderita
pasiennya dialaminya 1 sendiri. Setelah hampir setahun berlalu, barulah 3 dia
bisa belajar menyalurkan dan mengontrol < emosinya.
Setelah menyimpan rekaman Teri Washburn : dan menguncinya, Judd segera
mulai memikirkan kesulitannya sendiri. Dia berjalan menghampiri telepon dan
menghubungi bagian informasi. Ditanyakannya nomor telepon markas polisi
Seksi Sembilan Belas.
Operator telepon menghubungkannya dengan Kantor Detektif. Judd mendengar
suara bas McGreavy di telepon. "Letnan McGreavy."
"Tolong sambungkan dengan Detektif Angeli."
"Tunggu sebentar."
Judd mendengar suara gemeretak waktu McGreavy meletakkan telepon di meja.
Sesaat kemudian terdengar suara Angeli. "Detektif Angeli."
"Di sini Judd Stevens, Saya ingin tahu apakah Anda sudah mendapat informasi."
Sesaat terasa ada keragu-raguan. "Saya sudah mengecek," kata Angeli dengan
hati-hati.
"Anda hanya perlu menjawab dengan 'ya' atau 'tidak'." Hati Judd berdebar-debar.
Rasanya berat benar untuk mengajukan pertanyaan berikutnya. "Apakah Ziffren
masih di Matteawan?"
Rasanya lama sekali baru Angeli menjawab. "Ya. Dia masih di sana." .'•"iifcfeii
Gelombang kekecewaan melanda Judd. "Oh. Begitu." "Menyesal sekali."
"Terima kasih," kata Judd. Perlahan-lahan dia meletakkan telepon.
Jadi kemungkinan yang masih ada tinggal Harrison Burke. Harrison Burke,
penderita paranoid yang sudah parah dan yakin bahwa semua orang akan
membunuhnya. Apakah Burke memutuskan untuk mengambil tindakan lebih
aulu?
John Hanson meninggalkan ruang praktek Judd pukul sepuluh lima puluh menit
pada hari Senin, dan dibunuh beberapa menit kemudian. Judd harus menyelidiki
apakah pada saat yang sama Harrison Burke pun berada di kantornya. Dia
mencari nomor telepon kantor Burke, kemudian memutar telepon.
"International Steel." Suara yang mengangkat teleponnya kedengaran jauh,
resmi, dan otomatis.
"Tolong hubungkan saya dengan Tuan Harrison Burke."
"Tuan Harrison Burke.... Silakan tunggu sebentar...."
Judd berharap yang mengangkat teleponnya adalah sekretaris Burke. Tapi kalau
sekretarisnya kebetulan sedang keluar sebentar dan Burke sendiri yang
mengangkat telepon itu....
"Kantor Tuan Burke." Yang menjawab suara
wanita. , . . , "
"Ini Dokter Judd Stevens. Bisakah Anda memberi saya sedikit keterangan?"
"Oh, ya, Dokter Stevens!" Suaranya terdengar 1 mengandung rasa lega,
bercampur dengan kese- J dihan. Dia pasti tahu bahwa Judd adalah psikoa-1
nalis yang merawat Burke. Apakah gadis ini 1 mengharapkan sekali
pertolongannya? Apa yang j dilakukan Burke sehingga sekretarisnya merasa
tidak senang?
"Ini tentang rekening Tuan Burke...." Judd memulai.
"Rekeningnya?" Si sekretaris kedengaran terperanjat.
Judd cepat-cepat meneruskan. "Resepsionis saya—sudah tidak di sini lagi, dan
saya mencoba membereskan pembukuan. Saya melihat ada rekening atas nama
Tuan Burke untuk pertemuan pukul setengah sepuluh hari Senin yang lalu.
Tolong Anda periksa agendanya untuk hari itu."
'Tunggu sebentar," kata si sekretaris. Sekarang suaranya mengandung rasa tidak
senang. Judd bisa membaca pikirannya. Majikannya terancam penyakit gila, dan
dokternya hanya mengejar uang saja. Beberapa menit kemudian sekretaris Burke
bicara lagi.
"Saya kuatir resepsionis Anda membuat kekeliruan, Dokter Stevens," katanya
pedas. "Tuan Burke tidak mungkin datang ke kantor Anda pada hari Senin pagi."
"Anda yakin?" desak Judd. "Pada buku resepsionis saya tertulis—sembilan tiga
puluh sampai...."
"Saya tidak peduli apa yang tertulis di buku-
nya, Dokter." Sekarang dia benar-benar marah, kesal karena Judd keras kepala.
"Pada hari Senin itu Tuan Burke rapat staf sepanjang hari. Rapat mulai pukul
delapan."
"Apakah tidak mungkin dia meninggalkan rapat barang satu jam?"
"Tidak, Dokter," jawab sekretaris Burke. "Tuan Burke tidak pernah
meninggalkan kantornya di siang hari." Suaranya mengandung tuduhan. Kau
tidak tahu bahwa dia sakit? Apa yang kaulakukan untuk menolongnya}
"Perlu saya sampaikan kepada Tuan Burke bahwa Anda menelepon?"
"Tidak perlu," kata Judd. "Terima kasih." Dia ingin menambahkan kata-kata
untuk meyakinkan, untuk menghibur, tapi tidak ada yang bisa dikatakannya.
Telepon diletakkan.
Yah, begitulah. Dia menemui jalan buntu; Kalau bukan Ziffren atau Harrison
Burke yang mencoba membunuhnya—maka tidak ada lagi orang yang punya
motif sehingga ingin membunuhnya. Dia kembali ke awal lagi. Seseorang— atau
beberapa orang—membunuh resepsionis dan salah seorang pasiennya.
Kecelakaan tabrak lari mungkin hanya kecelakaan belaka, tapi mungkin juga
disengaja. Pada saat peristiwa itu terjadi, rasanya seperti disengaja.
Tapi benarkah demikian? Kalau diteliti lebih saksama, Judd mengakui kepada
dirinya sendiri bahwa dia terpengaruh oleh beberapa peristiwa pada hari-hari
terakhir ini. Dalam kondisi perasa-
annya sekarang, dengan mudah dia bisa mengang- I gap kecelakaan biasa
menjadi sesuatu yang mengandung kejahatan.
Kini jelaslah sudah bahwa tak seorang pun] mempunyai motif untuk
membunuhnya. Hubungannya dengan para pasien baik sekali, dan hubungan
dengan teman-temannya cukup hangat. Sepanjang pengetahuannya dia belum
pernah menyakiti siapa pun juga.
Telepon berdering. Seketika Judd mengenali suara Anne yang serak-serak basah.
"Anda sibuk?"
"Tidak. Saya masih cukup punya waktu."
Tidak ada nada prihatin pada suaranya. "Saya membaca di surat kabar bahwa
Anda tertabrak mobil. Saya bermaksud menelepon Anda kemarin-kemarin, tapi
tidak tahu harus ke mana."
Judd membuat suaranya kedengaran gembira. "Tidak begitu serius. Untuk
pelajaran supaya saya tidak berjalan seenaknya."
"Surat kabar memberitakan bahwa itu kecelakaan tabrak lari." "Ya."
"Apakah mereka menemukan orang yang melakukannya?"
"Tidak. Mungkin hanya anak-anak muda yang ingin keluyuran." Dengan sedan
besar hitam tanpa menyalakan lampu depan.
"Apakah Anda yakin tentang hal itu?" tanya Anne.
Pertanyaan ini mengejutkan Judd. "Apa maksud Anda?"
"Saya sendiri tidak begitu mengerti." Suaranya kedengaran tanpa kepastian. "Ini
hanya karena —Carol telah dibunuh. Dan sekarang—kejadian ini.
Jadi dia pun menarik satu kesimpulan.
"Ini —ini rasanya seperti ada orang gila lepas dan berkeliaran."
"Kalau memang ada," Judd memberikan keyakinan, "polisi pasti akan segera
menangkapnya."
"Apakah Anda terancam bahaya?"
Hati Judd terasa hangat. "Tentu saja tidak."
Kemudian keduanya berdiam diri, kikuk. Banyak yang ingin dikatakan, tapi
Judd tidak bisa mengatakannya. Dia tidak boleh salah menafsirkan sikap ramah
sebagai sesuatu yang lebih dari rasa cemas seorang pasien terhadap keselamatan
dokternya. Anne tipe orang yang akan memberikan perhatian kepada siapa saja
yang mendapat kesulitan. Tidak lebih dari itu. "Kita akan bertemu hari Jumat?"
tanya Judd. "Ya." Suaranya mengandung nada yang aneh. Apakah Anne akan
mengubah keputusannya.
"Baiklah, kita sudah membuat janji," kata Judd cepat-cepat. Tapi tentu saja itu
bukan janji untuk kencan. Itu hanya merupakan janji pertemuan
dalam bisnis.
"Ya. Sampai jumpa, Dokter Stevens.
"Sampai jumpa, Nyonya Blake. Terima ku* atas telepon Anda. Terima kasih
banyak.
Judd meletakkan telepon. Lalu dia memikirkan Anne. Dalam hati dia bertanya-
tanya apakah suami Anne sadar bahwa dia laki-laki yang sangat beruntung.
Seperti apa kira-kira suami Anne? Dari pembicaraan Anne yang tidak seberapa,
Judd bisa membayangkan seorang laki-laki yang menarik dan penuh pengertian.
Dia pasti seorang yang sportif, cerdas, usahawan yang berhasil, yang
menyumbangkan uangnya untuk kemajuan seni. Kedengarannya suami Anne
tipe laki-laki yang j bisa disukai Judd sebagai sahabat. Dalam keadaan yang
berbeda.
Apa gerangan problem Anne, yang menyebabkan Anne takut membicarakannya
dengan suaminya sendiri? Atau bahkan psikoanalisnya? Melihat j watak Anne,
problemnya pasti rasa bersalah yang sangat besar karena hubungan gelap
sebelum atau setelah dia menikah. Judid tidak bisa membayangkan Anne
melakukan hubungan gelap untuk mengejar kesenangan. Mungkin dia akan
menceritakan problemnya Jumat yang akan datang. Pada pertemuan mereka
yang terakhir kalinya.
Sisa sore itu berlangsung dengan cepatnya. Judd menerima pasien yang janji
pertemuannya tidak bisa dibatalkan. Setelah pasien terakhir meninggalkan ruang
prakteknya, Judd mengambil rekaman Harrison Burke pada terapinya yang
terakhir. Pita rekaman diputarnya, dan sambil mendengarkan sekali-sekali Judd
membuat catat-
Setelah selesai, tape recorder dimatikannya. Tidak ada pilihan lain lagi. Besok
pagi dia hams menelepon atasan Burke, untuk memberitahukan kondisi
pasiennya ini. Judd melihat ke jendela, dan terkejut ketika menyadari bahwa hari
sudah mulai malam.
Kini sudah hampir pukul delapan. Sehabis memusatkan perhatian kepada
pekerjaannya, tiba-tiba dia merasakan tubuhnya pegal-pegal dan lelah. Tulang
rusuknya sakit dan lengannya mulai berdenyut-denyut nyeri. Dia sebaiknya
segera pulang dan berendam dalam air panas.
Semua pita rekaman disimpannya, kecuali rekaman Burke yang dikunci dalam
laci meja. Dia akan menyerahkan pita ini kepada psikiater pengadilan. Setelah
memakai mantelnya dan sudah separuh jalan menuju ke pintu, tiba-tiba telepon
berdering.
Judd menghampiri telepon dan mengangkatnya. "Dokter Stevens."
Tapi tidak ada jawaban dari orang yang meneleponnya. Judd mendengar bunyi
napasnya saja, berat mendengus-dengus. "Hallo?"
Tidak ada jawaban.
Judd meletakkan telepon. Sejenak dia berdiri membisu, mengerutkan dahi. Salah
sambungs pikirnya menarik kesimpulan. Semua lampu kantor dimatikannya.
Semua pintu dikunci, kemudian dia berjalan ke lift.
Penyewa ruang perkantoran /ainnya sudah
pulang dari tadi. Waktu itu masih belum terlalu malam, para pekerja yang
mendapat giliran tugas malam belum lagi datang. Kecuali Bigelow, penjaga
malam, dalam gedung itu tidak ada orang lain saru pun.
Judd berjalan ke lift dan menekan tombol. Lampu tombol tidak menyala. Dia
menekan sekali lagi. Lampu tetap tidak menyala.
Saat itu semua lampu di gang padam.
7
Judd berdiri di muka lift, gelombang kegelapan melandanya. Dia bisa merasakan
jantungnya melemah, kemudian mulai berdenyut makin cepat. Rasa takut tiba-
tiba mencekamnya. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku untuk mencari-
cari korek api.
Korek apinya tertinggal di kantor. Mungkin di lantai bawah ada lampu menyala.
Perlahan-lahan dan dengan hati-hati, dia berjalan meraba-raba ke pintu yang
menuju ke tangga. Pintu didorongnya membuka. Tangga gelap-gulita.
Jauh di bawah, dia melihat cahaya senter bergerak naik ke tangga. Sambil
berpegangan pada Pagar, Judd mulai melangkah turun dalam gelap. Demi
melihat cahaya senter dia merasa lega. Pasti »tu Bigelow, si penjaga malam.
"Bigelow!" teriaknya. "Bigelow! Ini Dokter Stevens!"
Suaranya bergema ke mana-mana, dipantulkan oleh tembok gedung. Orang y*ng
™m°r* "enter terus naik tangga tanpa mengeluarkan suara, makin tinggi. 'Siapa
itu?" tanya Judd.
Yang menjawab hanya gema suaranya sendiri, Dan tiba-tiba Judd tahu siapa
yang sedang menaiki tangga. Para pembunuhnya. Sekurang-kurangnya mereka
berdua. Seorang mematikan listrik dari pusarnya di lantai bawah, sementara
yang seorang lagi memblokir tangga untuk mencegah dia melarikan diri.
Cahaya senter semakin dekat, hanya dua atau tiga tingkat di bawahnya, dan naik
dengan cepat. Sekujur badan Judd dingin karena takut. Jantungnya mulai
berdetak cepat sekali, dan kakinya terasa lemas.
Cepat-cepat dia berbalik dan naik tangga kembali menuju kantornya. Dia
membuka pintu dan berdiri memasang telinga. Bagaimana kalau ada orang
menunggunya di gang yang gelap?
Bunyi langkah kaki naik tangga kini terdengar makin kencang. Mulut Judd
terasa kering. Dia nekat, lari sepanjang gang yang gelap-gulita. Setelah sampai
ke pintu lift, dia mulai menghitung pintu-pintu kantor.
Waktu sampai ke kantornya, Judd mendengar pintu tangga membuka. Kunci
terlepas dari jarinya yang gemetar dan jatuh ke lantai. Judd merasa kalut sekali
dan meraba-raba lantai mencarinya. Akhirnya kunci itu ketemu juga. Pintu ke
ruang resepsionis dibukanya. Dia masuk, dan pintu dikunci kembali di
belakangnya. Tak seorang pun bisa membuka pintu kalau tidak menggunakan
kunci khusus. Dari gang di luar, Judd bisa mendengar bunyi
langkah kaki makin mendekat. Dia masuk ke ruang kantornya sendiri dan
memutar tombol lampu. Tidak menyala. Dalam gedung sama sekali tidak ada
aliran listrik.
Pintu dalam dikuncinya, kemudian dia menghampiri telepon. Dia meraba-raba
telepon dan memutar nomor operator. Tiga deringan panjang berbunyi,
kemudian terdengar suara operator. Hanya itulah hubungan Judd dengan dunia
luar.
Judd bicara perlahan. "Operator, ini keadaan darurat. Ini Dokter Judd Stevens.
Saya ingin bicara dengan Detektif Frank Angeli di markas polisi Seksi Sembilan
Belas. Tolong segera!" "Tunggu sebentar. Nomor Anda?" Judd memberikan
nomor teleponnya kepada operator. "Segera saya sambungkan." Judd mendengar
suara seseorang mencoba membuka pintu dari gang ke kantornya. Mereka tidak
bisa masuk dari situ, sebab di luar tidak ada tombolnya. "Cepat, Operator!"
"Sabar, tunggu sebentar," terdengar jawaban yang tenang dan tidak tergesa-gesa.
Terdengar suara berdering di telepon, kemudian operator telepon polisi bicara.
"Seksi Sembilan Belas."
Hati Judd melonjak. "Detektif Angeli," katanya. "Ini penting sekali!" "Detektif
Angeli... silakan tunggu sebentar." Di luar di gang, sesuatu sedang terjadi. Judd
1-71
bisa mendengar orang berbisik. Seorang yang lain menyusul orang yang
pertama. Apa yang mereka rencanakan?
Suara yang sudah dikenal terdengar di telepon. "Detektif Angeli tidak ada. Ini
pamernya, Letnan McGreavy. Bisakah...."
. "Ini Judd Stevens. Saya ada di kantor. Lampu padam semua dan ada orang
berusaha mendobrak masuk ke kantor untuk membunuh saya!"
Di ujung sana terasa ada kesunyian yang mencekam. "Dengar, Dokter," kata
McGreavy. "Mengapa Anda tidak datang saja ke sini dan kita bisa bicara...."
"Saya tidak bisa ke sana," Judd hampir berteriak. "Ada orang berusaha
membunuh saya!"
Sekali lagi sunyi. McGreavy tidak percaya, dan tidak akan menolongnya. Di
luar, Judd mendengar pintu dibuka. Kemudian terdengar suara orang di kantor
resepsionis. Mereka sudah masuk ke kantor resepsionis! Mustahil mereka bisa
masuk tanpa kunci. Tapi dia mendengar mereka bergerak, berjalan mendekati
pintu kantornya.
Suara McGreavy terdengar lagi di telepon, tapi Judd mendengar pun tidak.
Sekarang sudah terlambat. Dia meletakkan telepon ke tempatnya. Sekarang
takkan ada bedanya walaupun seandainya McGreavy mau datang. Para
pembunuh sudah berada di sini! Benang kehidupan sangat tipis, untuk
memutuskannya hanya dibutuhkan waktu sedetik. Rasa takut yang
mencekamnya berubah menja-
di kemarahan yang menyala-nyala. Dia tidak mau
dibantai seperti Hanson dan Carol. Dia akan melawan. Tangannya meraba-raba
dalam kegelapan di sekelilingnya mencari senjata yang bisa digunakan. Asbak...
pembuka surat... tak ada gunanya. Pembunuhnya pasti membawa pistol. Rasanya
seperti mengalami mimpi buruk. Dia akan dibunuh tanpa alasan oleh pembunuh
tak berwajah.
Judd mendengar mereka makin dekat ke pintu dalam, dan dia sadar hidupnya
hanya tinggal satu atau dua menit lagi. Tapi kemudian dengan tenang dia
menyelidiki pikirannya sendiri yang terakhir, seakan-akan dia pasiennya sendiri.
Dia memikirkan Anne, dan rasa kehilangan yang menyakitkan memenuhi
hatinya. Dia memikirkan semua pasiennya, dan memikirkan betapa mereka
membutuhkannya. Termasuk Harrison Burke.
Teringat kembali oleh Judd bahwa dia belum sempat memberi tahu atasan Burke
tentang keadaannya. Dia menyimpan pita rekamannya di tempat yang bisa....
Hatinya terlonjak. Mungkin dia punya senjata untuk melawan!
Judd mendengar tombol pintu diputar. Pintunya dikunci, tapi tidak terlalu suik
untuk membukanya. Pintu masuk ke kantor dalam sangat tipis. Cepat-cepat dia
meraba-raba dalam gelap, berjalan ke meja tempat dia menyimpan pita rekaman
Burke.
Terdengar pintu berderak karena orang yang di luar mencoba mendorong paksa.
Kemudian dia
mendengar suara orang mengorek-ngorek kunci. Mengapa mereka tidak
mendobrak pintu saja)
pikirnya. Jauh di dalam benaknya dia merasa bahwa jawaban pertanyaan ini
sangat penting, tapi sekarang dia tidak punya waktu untuk memikirkannya.
Dengan tangan gemetar dia membuka laci yang berisi pita rekaman. Kardus
tempatnya direnggutkan, kemudian dia berjalan ke tape recorder dan mulai
memasang pita itu. Kemungkinan berhasil memang sangat tipis, tapi hanya
itulah satu-satunya kesempatan yang dimilikinya.
Judd berdiri sambil memusatkan perhatian, mencoba mengingat-ingat
percakapannya dengan Burke. Tekanan pada pintu makin kuat. Judd cepat-cepat
berdoa dalam hati.
"Maaf karena lampunya padam," kata Judd keras-keras. "Tapi saya yakin mereka
akan bisa memperbaikinya dalam beberapa menit, Harrison. Mengapa kau tidak
berbaring saja dan rileks?"
Suara di pintu tiba-tiba berhenti. Judd sudah selesai memasang pita pada tape
recorder. Ditekannya tombol on. Tapi tidak terjadi apa-apa. Tentu saja! Semua
aliran listrik dalam gedung mati. Dia mendengar mereka mulai mengorek-ngorek
kunci lagi. Rasa putus asa dan takut mencekamnya.
"Nah, begitu lebih baik," katanya keras-keras. "Berbaringlah yang enak saja."
Dia mencari-cari korek api di meja, menemu-
kan dan menyalakan sebatang. Batang korek api yang menyala didekatkan ke
tape recorder. Ada tombol yang bertuliskan battery. Dia memutar tombol ini,
kemudian menekan tombol on lagi. Saat itu terdengar bunyi berdetak pada
kunci, dan kelihatannya orang yang di luar itu hampir berhasil. Pertahanannya
yang terakhir sudah tidak ada lagi!
Dan saat itu pula suara Burke terdengar lantang dalam ruangan. "Hanya itu yang
kaukatakan? Kau bahkan tidak mau mendengarkan bukti saya! Bagaimana saya
tahu kau bukan salah seorang dari mereka?"
Judd kaku seperti patung, tidak berani bergerak. Jantungnya gemuruh seperti
halilintar.
"Kau tahu benar saya bukan salah seorang dari mereka," kata suara Judd dari
pita rekaman. "Saya sahabatmu. Saya berusaha menolongmu.... Coba ceritakan
buktimu."
"Mereka mendobrak masuk ke rumah saya semalam," kata suara Burke. "Mereka
datang untuk membunuh saya. Tapi saya terlalu pintar bagi mereka. Sekarang
saya tidur di ruang belajar, dan saya memasang kunci ekstra pada semua pintu.
Maka mereka tidak bisa mendekati saya."
Suara di luar tidak kedengaran lagi. Suara Judd dalam pita rekaman terdengar
lagi. "Kau melaporkan pendobrakan rumahmu kepada
polisi?"
"Tentu saja tidak! Polisi berkomplot dengan
mereka Mereka mendapat perintah untuk me-nembak saya. Tapi mereka tidak
bisa berbuat bezit» kalau di sekeliling saya ada orang lain. Maka saya tetap
berada di tengah orang banyak» "Sara gembira kau menyampaikan informasi
ini"
"Apa yang akan kaulakukan?" "Saya mendengarkan baik-baik semua yang
kaukatakan," kata suara Judd. "Saya—" saat itu otak Judd memberi peringatan.
Kata-kata selanjutnya adalah—"merekam semua kata-katamu."
Cepat-cepat dia mematikan tape recorder, "—mengingat-ingat semua kata-
katamu,? katanya keras-keras. "Dan kita akan melakukan yang sebaik-baiknya
untuk mengatasi ini." . Judd berhenti bicara. Dia tidak bisa memutar tape
recorder lagi, sebab dia tidak tahu suara akan mulai berbunyi dari mana. Harapan
satu-satunya hanya orang yang di luar sudah merasa yakin bahwa Judd sedang
bersama pasien di ruang prakteknya. Kalaupun seandainya mereka percaya,
apakah itu akan mencegah maksudnya?
"Kasus seperti ini," kata Judd, makin meningkatkan suaranya, "hanyalah
persoalan biasa saja, Hamson." Dia berseru menyatakan rasa tidak
L k r'Saya harap lamPu lekas-lekas menyala lembah. Saya tahu sopirmu
menunggu di depan. Mungkm dia heran, apa yang terjadi di sini, TuddT u ^ atas
**tuk memeriksanya/' bi a men7 11 ^ dan mendengarkan. Dia mendengar suara
orang berbisik-bisik di luar
Apa yang mereka putuskan? Dari kejauhan P!n. i' tprdenear suara lengkingan
sirene makin
y jalan terdengar suara lengking;
mendekat. Suara bisikan berhenu. juuu mcma-
„ t^linza baik-baik untuk mendengarkan suara sang -ji j
pintu ditutup, tapi tidak mendengar apa-apa.
Apakah mereka masih di luar, menunggu? Lengkingan sirene makin kencang.
Mobil yang membunyikan sirene berhenti di muka gedung perkantoran.
Dan tiba-tiba semua lampu menyala.
8
"Minum?"
McGreavy menggelengkan kepala dengan wajah muram, memperhatikan Judd.
Judd menuangkan scotch untuk kedua kalinya, sementara McGreavy mengawasi
tanpa komentar. Tangan Judd masih gemetar. Setelah kehangatan minuman keras
menjalari tubuhnya, Judd mulai merasakan ketegangannya mengendur.
McGreavy sampai ke kantor Judd dua menit setelah lampu menyala kembali.
Dia datang bersama seorang sersan polisi yang tampak bebal. Sersan itu duduk
sambil mengisi buku catatannya.
McGreavy bicara. "Mari kita ulangi sekali lagi, Dokter Stevens."
Judd menghela napas panjang dan mulai bercerita lagi. Suaranya dibuat setenang
mungkin dan perlahan. "Saya mengunci kantor dan berjalan ke lift. Lampu gang
padam. Saya mengira mungkin lampu di lantai bawah menyala, dan saya mulai
berjalan menuruni tangga."
Judd berhenti sebentar, teringat kembali olehnya rasa takut yang tadi dialaminya.
"Saya melihat seseorang naik tangga membawa senter.
Saya berseru memanggilnya. Saya kira dia Bigelow, penjaga malam. Tapi
ternyata bukan." "Siapa dia?"
"Tadi saya sudah bilang," kata Judd, "saya tidak tahu. Mereka tidak menjawab."
"Mengapa Anda yakin mereka datang untuk membunuh Anda?"
Jawaban marah sudah hampir disemburkannya, tapi Judd bisa menahannya.
Pnting sekali membuat supaya McGreavy percaya kepadanya. "Mereka
mengikuti saya ke kantor."
"Anda berpendapat ada dua orang yang mencoba membunuh Anda?"
"Paling sedikit dua," kata Judd. "Saya mendengar mereka berbisik-bisik."
"Anda tadi mengatakan, waktu Anda masuk ke kantor resepsionis Anda
mengunci pintunya. Benar?"
"Ya."
"Dan setelah Anda masuk ke ruang praktek Anda, pintu yang menuju ke kantor
resepsionis pun Anda kunci pula."
"Ya."
McGreavy berjalan menghampiri pintu yang menghubungkan kantor resepsionis
dengan ruang praktek Judd. "Apakah mereka mencoba mendobrak pintu ini?"
"Tidak," Judd mengakui. Dia teringat tadi merasa sangat heran karenanya.
"Baik," kata McGreavy. "Kalau Anda mengunci kantor resepsionis yang menuju
ke gang,
untuk membukanya dari luar diperlukan kunci khusus."
Judd ragu-ragu. Dia tahu ke mana arah pembicaraan McGreavy. "Ya,*'
jawabnya.
"Siapa lagi yang punya kunci untuk membuka pintu ini selain Anda."
Judd merasakan mukanya memerah. "Carol."
Suara McGreavy terdengar ramah. "Bagaimana mengenai orang yang tugasnya
membersihkan kantor? Bagaimana mereka bisa masuk?"
"Kami membuat persetujuan khusus dengan mereka. Carol datang pagi-pagi
sekali seminggu tiga kali dan membukakan pintu bagi mereka. Mereka selesai
membersihkan ruangan sebelum pasien pertama datang."
"Itu rasanya merepotkan. Mengapa mereka tidak bisa masuk ke kantor ini,
padahal mereka bisa masuk ke semua kantor lainnya."
"Sebab arsip yang saya simpan di sini sifatnya rahasia. Saya lebih suka repot
begitu daripada membiarkan orang asing masuk ke sini waktu tidak ada siapa
pun."
McGreavy melihat kepada Sersan, ingin meyakinkan apakah dia menuliskan
semua dalam buku catatan. Setelah yakin, dia kembali memandang Judd. "Waktu
kami masuk ke kantor resepsionis, pintunya tidak dikunci. Kuncinya utuh—tidak
ada tanda-tanda bekas dicongkel." Judd diam saja.
McGreavy meneruskan. "Anda baru saja mengatakan bahwa yang punya kunci
untuk membu-
ka pintu ini Anda sendiri dengan Carol. Ku n yang dipegang Carol ada pada
kami. Coba pikirkan lagi, Dokter Stevens. Siapa lagi yang punya kunci pintu
ini?" "Tidak ada lagi."
"Kalau begitu, menurut pendapat Anda bagaimana orang-orang ini masuk?"
Tiba-tiba Judd mengerti. "Mereka membuat duplikat kunci Carol setelah
membunuhnya."
"Itu mungkin," McGreavy sependapat. Bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Kalau mereka membuat duplikat kunci Carol, kami pasti akan menemukan
bekas parafin pada kuncinya. Saya akan minta laboratorium membuat tes."
Judd mengangguk. Dia merasa sudah membuat satu kemenangan, tapi rasa
puasnya tidak bertahan lama. "Jadi menurut pendapat Anda," kata McGreavy,
"dua orang laki-laki—sementara ini kita anggap tidak ada wanita yang terlibat—
membuat duplikat kunci supaya bisa masuk ke kantor dan membunuh Anda.
Benar?"
"Benar," kata Judd.
"Lalu tadi Anda mengatakan pula bahwa waktu Anda masuk ke ruang praktek
Anda, pintu Anda kunci. Betul?"
"Ya," kata Judd.
Suara- McGreavy hampir terdengar lemah-lembut. "Tapi kami menemukan
bahwa pintu itu pun tidak dikunci." ••'
"Mereka pasti juga punya kunci untuk membu-
"Lalu setelah mereka bisa membuka pintu, mengapa mereka tidak membunuh
Anda?" "Saya sudah mengatakan. Mereka mendengar
suara dari tape recorder dan____"
"Kedua pembunuh yang kejam ini sudah bersusah-payah memadamkan lampu,
menjebak Anda di sini, berhasil masuk ke kantor Anda, dan kemudian lenyap
begitu saja tanpa mengusik sehelai rambut pun dari kepala Anda?" Suaranya
mengandung penghinaan.
Judd merasakan kemarahannya bangkit. "Apa maksud Anda?"
"Akan saya jelaskan, Dokter. Saya berpendapat tidak ada seorang pun datang ke
sini, dan saya tidak percaya ada orang yang mencoba membunuh Anda."
"Anda tidak perlu percaya kepada saya," kata Judd marah. "Bagaimana tentang
lampu yang padam? Dan bagaimana tentang penjaga malam, Bigelow?" "Dia
ada di lobi."
Jantung Judd berhenti berdenyut sebentar. "Mati?"
"Dia belum mati ketika mempersilakan kami masuk. Ada korsleting pada
sekering pusat. Bigelow pergi ke lantai bawah berusaha memperbaikinya. Dia
baru saja selesai memperbaiki ketika saya datang."
Judd memandang ke arah McGreavy dengan tertegun. "Oh," katanya akhirnya.
"Saya tidak tahu apa yang Anda mainkan,
Dokter Stevens," kata McGreavy. "Tapi sejak saat ini jangan ganggu saya lagi."
Dia berjalan ke pintu. "Dan saya minta, jangan panggil saya lagi—saya yang
akan memanggil Anda."
Sersan menutup buku catatannya dan mengikuti McGreavy keluar.
Pengaruh minuman keras sudah tidak terasa lagi. Kini Judd merasa jiwanya
sangat tertekan. Dia tidak tahu lagi tindakan apa selanjutnya yang harus diambil.
Dirinya ada di dalam teka-teki yang tidak ada jawabannya.
Ya, dia merasa seperti anak-anak dalam cerita yang berteriak "serigala". Tapi di
sini serigalanya hantu yang kejam dan tidak kelihatan, dan setiap kali McGreavy
datang mereka rupanya sudah lenyap tanpa bekas. Hantu ataukah.... Ada satu
kemungkinan lain. Kemungkinan ini begitu mengerikan, sehingga dia tidak bisa
memaksa dirinya untuk mengakui. Tapi dia harus mengakui kemungkinan ini.
Dia harus menerima kemungkinan bahwa dirinya penderita paranoid.
Pikiran yang sangat tertekan bisa melahirkan ilusi yang kelihatannya nyata
sekali. Dia bekerja terlalu keras. Selama bertahun-tahun dia tidak pernah
mengambil cuti. Kematian Hanson dan Carol bisa menjadi katalisator yang
menyebabkan pikirannya kalut, dirinya terjerumus ke jurang emosi sehingga dia
menilai kejadian berikutnya secara berlebih-lebihan dan meleset dari kebenaran»
Fend en ta paranoid hidup di dunianya sendiri dan kejadian sehari-hari yang
biasa dianggap sebagai bahaya yang selalu mengancam. Sekarang ambillah
misal kecelakaan mobil yang lalu. Kalau itu memang usaha untuk
membunuhnya dengan sengaja, tentunya orang yang mengemudikan mobil itu
akan turun dan menyelesaikan tugasnya.
Juga kedua orang yang datang ke kantornya malam ini. Dia tidak tahu mereka
membawa pistol atau tidak. Tidakkah seorang penderita paranoid akan mengira
mereka datang untuk membunuhnya? Lebih logis untuk menarik kesimpulan
bahwa mereka pencuri biasa. Buktinya setelah mendengar suara orang di dalam
kantor, mereka segera kabur.
Tentunya kalau mereka pembunuh, mereka akan membuka pintu yang sudah
terbuka kuncinya dan membunuhnya. Bagaimana dia bisa mengetahui mana
yang benar? Kini dia tahu bahwa minta tolong kepada polisi tidak ada gunanya
lagi. Tidak ada yang bisa dimintai pertolongan.
Sebuah gagasan mulai terbentuk. Gagasan yang lahir dari rasa putus asa dan
kenekatan. Walaupun demikian, semakin lama dia memikirkannya, gagasan ini
makin masuk akal. Dia mengambil buku petunjuk telepon dan mulai membuka-
buka halaman kuning.
9
Pukul empat sore berikutnya Judd pergi meninggalkan kantornya. Dia naik
mobil menuju ke sebuah alamat di West Side bawah. Ternyata yang ditujunya
sebuah gedung apartemen tua yang sudah hampir runtuh.
Waktu menghentikan mobilnya di muka gedung bobrok ini, Judd mulai merasa
menyesal. Mungkin dia salah alamat. Tapi kemudian dilihatnya ada papan merek
pada jendela di apartemen lantai satu:
Norman Z. Moody Detektif Swasta Dijamin Memuaskan
sak ton
Judd turun dari mobil. Udara sangat dingin dan berangin, dan menurut ramalan
cuaca hujan salju akan turun. Dia berjalan cepat-cepat melintasi trotoar yang
berlapis es, masuk ke serambi gedung.
Ruangan serambi berbau campuran antara masakan basi dengan air kencing.
Judd menekan tombol bel listrik yang bertuliskan "Norman Z.
Mood
Dia n men n
Moody-1'*, dan sesaat kemudian bel berdering. Dia melangkah masuk dan
menemukan apartemen nomor 1. Tulisan yang tertera di pintunya:
Norman Z. Moody Detektif Swasta Tekan Bel dan Masuk
Judd menekan bel dan masuk.
Moody jelas sekali orang yang tidak mau membuang-buang uang untuk membeli
barang mewah. Kantornya seperti sarang tikus. Segala macam barang tetek-
bengek memenuhi setiap bagian ruangan. Di sebuah sudut berdiri penyekat
ruangan. Jepang yang sudah cabik-cabik. Di dekatnya ada sebuah lampu India,
dan di muka lampu ada meja Denmark modern yang tergores-gores. Surat kabar
dan majalah ada di mana-mana.
Pintu ke ruangan dalam terbuka, dan Norman Z. Moody muncul. Tinggi
badannya sekitar satu meter enam puluh dua, dan beratnya pasti seratus lima
puluh kilogram. Kalau berjalan seperti bola yang menggelinding, mengingatkan
Judd kepada patung Buddha yang hidup. Mukanya bulat, ramah, dengan mata
biru pucat yang lebar dan bening. Kepalanya botak sama sekali, dan bentuknya
seperti telur. Umurnya sulit ditebak.
'Tuan Stevenson?" Moody menegurnya.
"Dokter Stevens," kata Judd.
"Mari duduk, mari duduk," kata si Buddha dengan aksen Selatan.
Judd melihat berkeliling mencari tempat duduk. Dia memindahkan setumpuk
majalah binaraga dan majalah porno yang sudah tua dari kursi berlapis kulit
yang sudah robek-robek, dan duduk dengan hati-hati.
Moody duduk di kursi goyang yang sangat besar. "Nah, baiklah! Apa keperluan
Anda?"
Judd sadar bahwa dia membuat kesalahan. Melalui telepon dengan hati-hati dia
memberikan nama lengkapnya kepada Moody. Nama yang selama beberapa hari
terakhir ini mengisi setiap halaman depan surat kabar. Dan dia berhasil
mendapatkan satu-satunya detektif swasta dalam kota yang bahkan mendengar
namanya saja belum pernah. Dia mulai memikirkan suatu dalih untuk pergi
meninggalkan detektif ini.
"Siapa yang memberikan rekomendasi tentang diri saya?" tanya Moody.
Judd ragu-ragu, tidak ingin menyinggung perasaannya. "Saya mendapatkan
nama Anda dari halaman kuning buku telepon."
Moody tertawa. "Saya tidak tahu harus berbuat apa tanpa halaman kuning,"
katanya. "Penemuan terbesar sesudah arak jagung." Dia tertawa lagi.
Judd bangkit berdiri. Sudah jelas dia berhadapan dengan orang sinting. "Maaf,
saya mengambil waktu Anda, Tuan Moody," katanya. "Saya akan memikirkan
ini lebih masak lagi sebelum saya...."
"Tentu, tentu. Saya mengerti," kata Moody. "Walaupun demikian Anda harus
membayar untuk janji pertemuan ini."
'Tentu saja," kata Judd. Dia memasukkan tangan ke sakunya dan mengeluarkan
beberapa lembar uang. "Berapa?"
"Lima puluh dollar."
"Lima puluh...?" Judd menelan ludah dengan marah, menghitung beberapa helai
uang dan menguiurkannya kepada Moody. Moody menghitung uang ku dengan
cermat.
'Terima kasih banyak," kata Moody.
Judd berjalan ke pintu, merasa seperti orang bodoh.
"Dokter...."
Judd menoleh. Moody tersenyum kepadanya dengan ramah, sambil memasukkan
uang ke dalam saku rompinya. "Karena Anda sudah memberi saya lima puluh
dollar," katanya lem ah-J embut, "lebih baik Anda duduk dan menceritakan
kepada saya apa kesulitan Anda. Saya selalu mengatakan tidak ada yang lebih
meringankan daripada mengeluarkan semua yang menyesakkan dada."
Ironis sekali, kenyataan bahwa kata-kata ini keluar dari mulut orang gemuk yang
sinting ini. Judd hampir-hampir tertawa karenanya. Selama hidupnya Judd
membaktikan dirinya untuk mendengarkan orang mengeluarkan semua yang
menyesakkan dada.
Dia memperhatikan Moody sejenak. Apa ruginya? Mungkin membicarakan
kesulitannya dengan orang lain akan membantu meringankan penderitaannya.
Perlahan-lahan dia kembali ke , kursinya dan duduk.
"Anda kelihatan seakan sedang menanggung beban dunia, Dok. Saya selalu
mengatakan empat bahu lebih baik daripada dua."
Judd tidak yakin akan tahan mendengarkan beberapa buah pepatah lagi yang
akan diucapkan Moody.
Moody memperhatikannya. "Apa yang mendorong Anda untuk datang ke sini?
Wanita, atau uang? Saya selalu mengatakan kalau Anda menghindari wanita dan
uang, berarti Anda sudah memecahkan sebagian besar problem dunia." Moody
melihat kepadanya, menunggu jawaban.
"Saya—saya rasa ada orang mencoba membunuh saya."
Mata Moody yang biru berkejap-kejap. "Anda merasa?"
Judd tidak mengacuhkan pertanyaannya. "Mungkin Anda bisa memberitahu saya
nama orang yang mengambil spesialisasi menyelidiki hal semacam itu."
"Tentu saja saya bisa," kata Moody. "Norman 2. Moody. Yang terbaik di negeri
ini." Judd menghela napas putus asa. "Mengapa tidak Anda ceritakan saja
kepada saya, Dok?" Moody memberi saran. "Mari kita lihat apakah kita berdua
bisa mempelajarinya sebentar."
Mau tidak mau Judd tersenyum. Kedengarannya hampir persis sama dengan
yang biasa dikatakannya. Silakan tiduran saja dan katakan apa yang ada dalam
pikiran Anda. Baiklah, mengapa tidak?
1 %Q
Judd menghela napas panjang, lalu menceritakan kepada Moody semua
peristiwa pada hari-hari yang terakhir ini. Waktu berbicara, Judd lupa bahwa
Moody ada di hadapannya. Dia benar-benar bicara kepada dirinya sendiri,
mengatakan hal-hal membingungkan yang telah terjadi. Tapi Judd hati-hati
sekali, tidak mengatakan kepada Moody mengenai kecemasan terhadap
kewarasan jiwanya sendiri. Setelah Judd selesai bercerita, Moody
memperhatikannya dengan wajah gembi-
"Anda rupanya punya problem -yang rumit juga. Mungkin memang ada orang
yang mencoba membunuh Anda, atau Anda takut jangan-jangan Anda menjadi
penderita schizophrenia."
Judd memandangnya dengan rasa heran. Skor satu nol untuk Norman Z. Moody.
Moody meneruskan. "Anda mengatakan ada dua orang detektif yang sedang
menangani kasus ini. Anda ingat nama mereka?"
Judd ragu-ragu. Dia merasa enggan terlibat terlalu dalam dengan orang ini. Yang
diingininya hanya keluar cepat-cepat dari tempat itu. "Frank Angeli," jawabnya,
"dan Letnan McGreavy."
Seketika air muka Moody kelihatan hampir berubah sama sekali.
"Alasan apa kira-kira yang menyebabkan orang harus membunuh Anda, Dok?"
"Saya tidak tahu. Sepanjang pengetahuan saya, saya tidak punya musuh satu
pun."
rapa musuh di sekelilingnya. Saya selalu mengatakan musuh memberikan sedikit
garam kepada roti kehidupan."
Judd menahan diri supaya air mukanya tidak berubah. "Punya istri?" "Tidak,"
jawab Judd. "Apakah Anda homoseks?" Judd menghela napas. "Dengar, saya
sudah diinterogasi oleh polisi dan...."
"Yah. Tapi Anda sudah membayar kepada saya untuk membantu Anda," kata
Moody tidak peduli. "Meminjamkan uang kepada orang lain?" "Hanya rekening
bulanan yang biasa." "Bagaimana tentang para pasien Anda?" "Bagaimana
tentang mereka?" "Baiklah. Saya selalu mengatakan kalau Anda mencari kulit
kerang, pergilah ke pantai. Pasien Anda semua orang gila. Benar?"
"Salah," jawab Judd singkat. "Mereka orang yang punya problem."
"Problem emosional yang tidak bisa mereka pecahkan sendiri. Adakah
kemungkinan salah seorang di antara mereka mempunyai problem yang
bersangkutan dengan diri Anda? Bukan karena alasan yang sebenarnya, tapi
mungkin orang yang mengkhayalkan punya dendam terhadap Anda." .
"Itu mungkin. Kecuali satu nal. Sebagian besar oasien saya ada di bawah
perawatan saya selama setahun atau lebih. Dalam waktu selama ,tu saya
bisa mengenal mereka dengan baik, sama seperti orang lain yang bergaul akrab
selama itu." "Apakah mereka tidak pernah marah kepada
Anda?" tanya Moody dengan nada polos.
"Kadang-kadang. Tapi kita tidak mencari orang yang marah, bukan? Kita
mencari penderita paranoid yang suka membunuh, yang sekurang-kurangnya
sudah membunuh dua orang dan beberapa kali berusaha membunuh saya." Dia
ragu-ragu sebentar, kemudian memaksa dirinya meneruskan. "Kalau saya punya
pasien seperti itu dan tidak tahu, maka Anda sedang berhadapan dengan psi-
koanaiis paling tolol yang pernah hidup di dunia."
Beberapa saat lamanya mereka saling berpandangan.
"Saya selalu mengatakan, 'Yang pertama harus didahulukan/ " kata Moody
dengan gembira. "Yang pertama harus kita lakukan adalah menyelidiki apakah
benar ada orang ingin melenyapkan Anda, ataukah Anda gila. Betul begitu,
Dok?" Dia tersenyum lebar, supaya kata-katanya tidak menyinggung perasaan.
"Bagaimana caranya?" tanya Judd.
"Gampang," kata Moody. "Problem Anda ialah Anda berdiri di tempat hinggap
—base pertama dan memukul bola yang dilambungkan ke arah Anda, tapi Anda
tidak tahu apakah ada orang yang melambungkan bola ini. Mula-mula sekali kita
harus mengetahui apakah sedang ada permainan bola. Kemudian kita akan
menyelidiki siapa-siapa pemainnya. Anda punya mobil?"
"Ya."
Judd sudah melupakan maksudnya meninggalkan Moody dan mencari detektif
swasta lain. Kini dia sadar bahwa di balik wajah polos dan badannya yang
gendut, Moody sebenarnya mempunyai otak yang cerdas serta kemampuan van
g luar biasa.
"Saya rasa saraf Anda terlalu tegang," kata
'Moody. "Saya ingin Anda mengambil liburan sebentar."
"Kapan?"
"Besok pagi."
"Itu tidak mungkin," Judd protes. "Saya mempunyai janji dengan pasien yang
jadwalnya...."
Moody tidak peduli. "Batalkan saja."
"Tapi apa perlunya...."
"Apakah saya harus mengatakan kepada Anda bagaimana Anda sebaiknya
melakukan urusan Anda sendiri?" tanya Moody. "Setelah Anda meninggalkan
tempat ini, saya ingin Anda langsung pergi ke agen pariwisata. Mintalah agar
mereka memesankan tempat untuk Anda di..."—dia berpikir sebentar—
"Grossinger. Itu sebuah tempat yang indah di puncak Pegunungan Catskills....
Apakah ada bengkel di gedung apartemen tempat tinggal Anda?" "Ada."
"Oke. Suruh mereka mereparasi mobil Anda untuk perjalanan ini. Anda pasti
tidak ingin mobil Anda mogok dalam perjalanan."
"Apakah ini tidak bisa saya lakukan minggu depan saja? Besok pagi saya penuh
dengan...."
"Setelah Anda memesan tempat, kembalilah ke kantor dan teleponlah semua
pasien Anda. Katakan kepada mereka bahwa Anda punya keperluan mendadak,
dan Anda akan kembali minggu
OO
depan."
"Saya benar-benar ndak bisa," kata Judd. "Lagi pula ini...."
"Lebih baik Anda juga menelepon Angeli," Moody meneruskan. "Saya tidak
ingin polisi mencari-cari Anda sementara Anda pergi."
"Mengapa saya harus melakukan ini?" tanya Judd.
"Untuk melindungi uang Anda yang lima puluh dollar. Ah, ya, saya jadi teringat.
Saya akan butuh uang sebanyak dua ratus dollar lagi sebagai panjar. Ditambah
lima puluh dollar sehari dan ganti pengeluaran."
Moody mengangkat tubuhnya yang besar dari kursi goyang. "Saya ingin Anda
berangkat besok pagi-pagi benar," katanya, "supaya bisa sampai di atas sana
sebelum gelap. Anda bisa berangkat kira-kira pukul tujuh pagi?"
"Saya... saya rasa bisa. Saya akan menemukan apa setelah sampai di sana?"
"Kalau Anda mujur, sehelai kartu skor." Lima menit kemudian Judd naik ke
mobilnya dengan kepala penuh pikiran. Dia mengatakan kepada Moody bahwa
dia tidak bisa pergi meninggalkan pasiennya dengan pemberitahuan
yang begitu mendadak. Tapi dia sadar bahwa itu harus dilakukan. Dia sudah
menyerahkan nasibnya ke tangan detektif swasta. Ketika dia mulai menjalankan
mobil, matanya menangkap tulisan* pada papan merek di jendela Moody.
Dijamin Puas
Mudah-mudahan dia benar, pikir Judd murung.
Persiapan perjalanan bisa dilakukan dengan lancar. Judd mampir ke agen
pariwisata di Madison Avenue. Mereka memesankan kamar untuknya di
Grossinger. Dia juga diberi peta jalan dan bermacam-macam brosur berwarna
tentang Pegunungan Catskills.
Kemudian Judd menelepon agen teleponnya sendiri, meminta mereka
menghubungi semua pasiennya untuk membatalkan pertemuan sampai
pemberitahuan yang akan datang. Dia menelepon markas polisi Seksi Sembilan
Belas dan minta bicara dengan Detektif Angeli.
"Angeli sedang cuti sakit," kata suara yang tidak dikenal. "Anda ingin nomor
telepon rumahnya?"
"Ya."
Beberapa menit kemudian Judd bisa bicara dengan Angeli. Dari suara Angeli,
rupanya dia sedang sakit selesma.
"Saya memutuskan untuk pergi «Juar kota .j selama beberapa hari," kata Judd.
Saya akan
berangkat besok pagi. Saya ingin mengetahui bagaimana pendapat Anda?"
Sejenak sunyi sementara Angeli berpikir. "Mungkin ini gagasan yang baik. Anda
akan pergi ke mana?"
"Saya ingin bermobil pergi ke Grossinger."
"Baiklah," kata Angeli. "Jangan kuatir. Saya akan menjelaskan kepada
McGreavy." Dia ragu-ragu. "Saya mendengar apa yang terjadi di kantor Anda
semalam.'*
"Maksud Anda mendengar dari McGreavy," kata Judd.
"Apakah Anda bisa melihat orang yang mencoba membunuh Anda?" Jadi
akhirnya Angeli percaya kepadanya. 'Tidak."
"Sama sekali tidak ada yang bisa membantu kami menemukan mereka? Warna
kulit, umur,
tinggi badan?"
"Menyesal sekali," jawab Judd. "Waktu itu gelap."
Angeli mendengus. "Oke. Saya akan terus mencari. Mungkin saya sudah
mendapat kabar baik setelah Anda kembali. Hati-hatilah, Dok-
"Baik," jawab Judd penuh rasa terima kasih. Dia pun meletakkan telepon.
Kemudian dia menelepon majikan Harrison Burke, dan dengan singkat
menerangkan keadaan Burke. Tidak ada pilihan lain kecuali membereskan
persoalan ini secepat-cepatnya. Lalu Judd
menelepon Peter, menerangkan bahwa dia harus ke luar kota selama seminggu.
Dia minta kepada Peter agar mengatur apa yang perlu untuk Burke, Peter
menyanggupinya, dan setuju dengan rencana liburannya. Sekarang semua beres.
Yang paling mengganggu pikiran Judd ialah dia tidak bisa bertemu dengan Anne
pada hari Jumat. Mungkin dia tidak akan melihat Anne lagi untuk selama-
lamanya.
Waktu naik mobil kembali ke apartemennya, Judd memikirkan Norman 2.
Moody. Dia sudah punya gagasan tentang apa kira-kira yang akan dilakukan
Moody. Dia disuruh oleh Moody memberi tahu semua pasien bahwa dia akan
pergi. Dengan cara ini Moody memasang perangkap, dengan Judd sendiri
sebagai umpannya. Kalau salah seorang pasiennya benar-benar pembunuh -kalau
memang ada pembunuh—maka pembunuh ini akan masuk ke dalam perangkap.
Moody menyuruhnya meninggalkan alamat tempatnya berlibur pada agen
teleponnya dan juga pada penjaga pintu gedung apartemen. Dia mengusahakan
benar-benar supaya setiap orang tahu ke mana Judd akan pergi.
Waktu Judd menghentikan mobil di muka gedung apartemen, Mike sudah siap
menyambutnya. .
"Saya akan pergi melancong besok pagi, Mike, Judd memberi tahu Mike.
"Tolong antarkan mobil ke bengkel supaya direparasi dan diisi tangkinya."
"Akan saya urus, Dokter Stevens. Pukul berapa mobil akan Anda perlukan?"
"Saya akan berangkat pukul tujuh pagi."
Judd merasakan Mike mengawasinya ketika dia berjalan ke dalam apartemen.
Setelah masuk ke apartemennya, Judd mengunci semua pintu. Tidak lupa semua
jendela diceknya dengan cermat. Kelihatannya semua beres.
Dia menelan dua butir pil codeine, membuka pakaian dan mandi dengan air
panas. Badannya direndam dengan air panas, dan dia merasakan ketegangannya
mulai lenyap dari punggung dan lehernya. Dia berbaring rileks dalam bak
mandi, berpikir.
Mengapa Moody mengingatkan jangan sampai mobilnya mogok di jalan?
Karena kemungkinan besar dia bisa diserang di jalan yang sunyi di Pegunungan
Catskills? Dan apa yang bisa dilakukan Moody seandainya benar dia diserang?
Moody tidak mau menerangkan rencananya—kalau memang dia punya rencana.
Makin lama dipikirkan, judd makin yakin bahwa dia sedang berjalan ke sebuah
perangkap. Moody mengatakan bahwa 'perangkap ini dipasang untuk menjebak
orang-orang yang akan mengejar Judd. Tapi tidak peduli berapa kali dia
memikirkannya, kesimpulannya selalu sama: bahwa perangkap ini dibuat untuk
menjebak Judd sendiri.
Tapi mengapa? Apa keuntungan yang akan diperoleh Moody kalau dia
terbunuh? Ya, Tuhan!
pikir Judd. Aku mengambil sebuah nama secara untung-untungan dari Buku
Petunjuk Telepon Manhattan, dan aku yakin dia ingin agar aku terbunuh! Aku
penderita paranoid/
Judd mulai merasakan matanya terpejam. Pil dan mandi air panas sudah mulai
memberikan pengaruh sebaik-baiknya. Dia bangkit dari bak mandi dengan badan
lemas. Hati-hati sekali dia menyeka bagian tubuhnya yang luka dengan handuk
tebal sampai kering. Kemudian dipakainya sepasang piyama.
Sebelum naik ke tempat tidur, jam listrik disetelnya agar berdering pada pukul
enam. Pegunungan Catskills, pikirnya. Sebuah nama yang bagus.
Dan dia pun terlelap tidur. Tidurnya nyenyak sekali, seperti orang yang
kehabisan tenaga.
Pada pukul enam pagi jam berdering. Seketika Judd terbangun. Begitu dia
bangun, pikirannya langsung bekerja meneruskan pikiran sebelumnya. Aku tidak
percaya kepada rentetan kebetulan dan aku tidak percaya salah seorang pasienku
adalah seorang pembunuh. Maka, kalau aku bukan penderita paranoid, aku akan
menjadi penderita paranoid.
Dia perlu konsultasi dengan psikoanalis lainnya, tidak boleh ditunda-tunda lagi.
Sebaiknya dia telepon Dokter Robbie saja. Dia tahu itu berarti
kariernya sebagai psikoanalis akan berakhir, tapi itu tidak bisa dicegah lagi.
Kalau dia memang menderita paranoid, dia harus dimasukkan ke rumah sakit
jiwa.
Apakah Moody sudah curiga bahwa dia berhadapan dengan orang yang otaknya
kurang waras?] Itukah sebabnya dia menyarankan untuk ambili liburan? Bukan
karena Moody percaya ada orang yang akan membunuhnya, melainkan karena i
melihat gejala keruntuhan saraf pada dirinya.
Mungkin keputusan yang paling bijaksana adalah mengikuti saran Moddy, dan
pergi ke Pegunungan Catskills selama beberapa hari. Seorang diri, tanpa beban
apa pun yang memberat*! nya, dia akan bisa mencoba menilai dirinya dengan
tenang. Dia bisa mencoba memikirkan kapan otaknya mulai tidak beres, kapan
dia mulai kehilangan pegangan dengan kenyataan. Kemudian, setelah kembali,
dia akan menemui Dokter Robbie dan menyerahkan diri di bawah perawatannya.
Judd merasa sangat berat mengambil keputusan ini. Tapi setelah keputusan yang
menyakitkan itu diambil, Judd merasa lebih tenang. Dia pun berpakaian. Ke
dalam kopor kecil dimasukkannya pakaian ganti cukup untuk lima hari,
kemudian kopor itu dijinjingnya ke lift.
Eddie belum lagi mulai bertugas, dan dia harus menjalankan lift sendiri. Judd
turun ke bengkel di lantai bawah. Sesampainya di sana dia melihat berkeliling
mencari Wih, pekerja bengkel. Tapi
Wilt tidak dilihatnya. Bengkel kosong, tidak ada seorang pun di situ.
Judd melihat mobilnya diparkir di sebuah sudut, dekat tembok. Dia berjalan
menghampirinya. Kopornya diletakkan di tempat duduk belakang, lalu dia
membuka pintu depan dan duduk di belakang kemudi. Ketika Judd menarik
kunci kontaknya, tahu-tahu seorang laki-laki muncul di sebelahnya. Jantung
Judd berhenti berdetak sesaat.
"Anda tepat dengan rencana." Ternyata itu Moody,
"Saya tidak tahu Anda akan melepas kepergian saya," kata Judd.
Moody memandangnya dengan muka berseri-seri. Wajahnya yang mirip wajah
malaikat menyunggingkan senyuman. "Saya tidak bisa berbuat yang lebih baik
dan saya tidak bisa tidur."
Tiba-tiba Judd merasa berterima kasih karena taktik yang diambil Moody untuk
mengatasi keadaan. Moody tidak menyebutkan kenyataan bahwa Judd
berpenyakit jiwa. Dia hanya memberikan saran dengan cerdiknya agar Judd
bermobil ke pedalaman dan istirahat. Baiklah, sekurang-kurangnya Judd bisa
berpura-pura bahwa segala-galanya berjalan normal.
"Saya mengambil kesimpulan bahwa Anda benar. 4Saya akan bermobil ke
pegunungan dan melihat kalau-kalau bisa mendapatkan karcis untuk menonton
bola."
"Ah, Anda tidak perlu pergi ke mana-mana
untuk mendapatkan itu," kata Moddy. "Itu semua sudah diurus."
• Judd melihat kepadanya dengan pandangan hampa. "Saya tidak mengerti."
"Ini sederhana saja. Saya selalu mengatakan kalau orang ingin menemukan dasar
dari apa pun, dia harus mulai menggali."
"Tuan Moody...."
Moody menyandar ke pintu mobil. "Anda tahuJ apa yang saya anggap
membingungkan dalam problem Anda, Dok? Rupanya seperti setiap lima menit
orang mencoba membunuh Anda — barangkali. Sekarang barangkali ini
membuat saya terpesona. Kita tidak punya pegangan apa pun ¦; sebelum
mengetahui apakah Anda berpenyakit gila, atau benar-benar ada orang yang
berusaha i mengubah Anda menjadi mayat."
Judd melihat kepada Moody. "Tapi Pegunungan Catskills...," katanya lemah.
"Ah, Anda tidak perlu pergi ke Pegunungan J Catskills, Dok." Moody membuka
pintu mobil. , "Silakan turun di sini."
Kebingungan, Judd turun dari mobil.
"Ketahuilah, semua itu hanya iklan belaka, j Saya selalu mengatakan kalau orang
ingin menangkap ikan hiu, maka dia harus menuangkan I darah dulu ke air."
Judd memperhatikan muka Moody. "Saya kuatir Anda takkan sampai ke
Pegunungan Catskills," kata Moody dengan lem ah-lem- I
but. Dia berjalan memutari tutup mesin mobil, memutar kuncinya dan tutup
mesin dibukanya.
Judd berjalan ke sisinya. Tiga batang dinamit direkatkan dengan plester pada
distributor. Dua utas kawat tipis dihubungkan dengan kontak mesin.
"Dipasangi dinamit," kata Moody.
Judd melihat kepadanya, sangat heran. "Tapi bagaimana Anda...."
Moody nyengir. "Saya sudah bilang, saya tidak bisa tidur. Saya datang ke sini
sekitar tengah malam. Saya menyuap penjaga malam supaya pergi bersenang-
senang, dan saya menunggu dalam gelap. Untuk menyuap penjaga malam saya
mengeluarkan uang dua puluh dollar," dia menambahkan. "Saya tidak ingin
Anda kelihatan seperti orang murahan."
Judd tiba-tiba merasa kagum kepada laki-laki gendut ini. "Anda melihat orang
yang memasangnya?"
"Tidak. Dinamit sudah dipasang sebelum saya datang ke sini. Pada pukul enam
pagi tadi saya rasa tidak ada lagi orang yang akan datang melihat, maka saya
memeriksanya." Moody menunjuk ke arah dua utas kawat. "Kawan-kawan Anda
benar-benar cerdas dan cerdik. Mereka memasang peledak kedua, supaya
dinamit juga akan meledak kalau Anda membuka tutup mesin selebar-lebarnya.
Demikian juga dinamit akan meledak kalau Anda memutar kunci kontak.
Dinamit yang dipasang di sini cukup untuk melenyapkan separuh bengkel."
judd riba-riba merasakan
perutnya mulas Moody memandanginya dengan rasa kasihan.
"Bergembiralah," katanya. "Lihatlah kemajuan vang kita capai. Kita sudah
mengetahui dua hal. Yang pertama, kita tahu bahwa Anda tidak gila> Dan yang
kedua../'—senyum lenyap dari wajahnya-"kita tahu bahwa seseorang ingin sekali
membunuh Anda, Dokter Stevens."
10
Mereka duduk dalam apartemen Judd, bercakap-cakap. Moody yang gendut
duduk di sofa besar. Hati-hati sekali Moody mengumpulkan bagian-bagian bom
yang sudah dijinakkan dalam bagasi mobilnya sendiri.
"Apakah tidak lebih baik Anda membiarkannya saja di situ supaya polisi bisa
memeriksanya?*' tanya Judd.
"Saya selalu mengatakan bahwa hal yang paling membingungkan di dunia ini
ialah terlalu banyak informasi."
"Tapi itu bisa merupakan bukti bagi Letnan McGreavy bahwa saya tidak
bohong." "Benar begitu?"
Judd memahami pendapat Moody. $isa saja McGreavy menuduh Judd sendiri
yang memasang dinamit itu pada mobilnya. Walaupun demikian Judd masih
bingung bahwa ada detektif swasta yang menahan buku dari polisi Dia
berpendapat b«hwa Moody seperti sebuah gunung es yanj besar. Sebagian besar
dari pribadinya ^ bawah permukaan, di balik topeng seorang desa yang bodoh.
Tapi kini ketika mendengarkan Moody berbicara, Judd merasa senang sekali.
Dia tidak gilai dan dunia tidak tiba-tiba penuh dengan kebetulan 1 yang
mengerikan. Ternyata memang ada pembunuh yang sedang berkeliaran.
Pembunuh yan» sebenar-benarnya. Dan entah karena alasan apa,] pembunuh itu
memilih Judd sebagai sasarannya.]
Ya, Tuhan, pikir Judd, alangkah mudahnya* ego kita bisa dihancurkan. Beberapa
menit yang ] lalu hampir saja dia yakin bahwa dirinya penderita 1 paranoid. Dia
berutang budi banyak sekali kepada Moody.
"... Anda dokter," kata Moody. "Saya hanyalah orang kebanyakan. Saya selalu
mengatakan kalau ingin madu, orang harus mencari sarang lebah."
Judd mulai bisa memahami bahasa Moody. "Anda menginginkan pendapat saya
mengenai orang atau orang-orang yang kita cari."
"Itulah dia," kata Moody dengan muka berseri-seri. "Apakah kita sedang
berurusan dengan seseorang yang gila membunuh yang lepas dari rumah gila...."
Rumah sakit jiwa, pikir Judd secara otomatis. "... ataukah lebih dari itu?" "Lebih
dari itu," kata judd seketika. "Mengapa Anda berpendapat begitu, Dok?"
"Pertama, dua orang masuk ke kantor saya semalam. Saya mungkin bisa saja
mempercayai teori adanya seorang gila, tapi dua orang gila bekerja bersama-
sama adalah hal yang mustahil."
Moody mengangguk sependapat. "Saya mengerti. Teruskan."
"Kedua, otak yang tidak waras mungkin bisa memiliki obsesi, tapi selalu bekerja
dengan satu pola tertentu. Saya tidak tahu mengapa John Hanson dan Carol
Roberts dibunuh. Tapi, kalau saya tidak salah, saya dimaksudkan sebagai korban
yang ketiga dan terakhir."
"Mengapa Anda berpendapat bahwa Anda dimaksudkan sebagai korban yang
terakhir?" tanya Moody sangat tertarik.
"Sebab," jawab Judd, "kalau seharusnya ada pembunuhan lain, maka ketika
pertama kalinya mereka gagal membunuh saya, mereka akan meneruskan
membunuh siapa saja yang ada dalam daftarnya. Tapi kenyataannya tidak
demikian. Mereka memusatkan perhatian untuk berusaha membunuh saya."
"Ketahuilah," kata Moody senang sekali, "Anda punya bakat untuk menjadi
detektif."
Judd mengerutkan dahi. "Ada beberapa hal yang tidak masuk akal."
"Apa misalnya?"
"Pertama, tentang motifnya," kata Judd. "Saya tidak kenal dengan siapa pun
yang...."
"Kita akan kembali membicarakannya nanti. Apa lagi?"
"Kalau orang ini benar-benar ingin sekali membunuh saya, maka waktu mobil
menabrak saya, yang perlu dilakukan sopirnya hanya kembakjagi dan melindas
saya. Waktu itu saya ,aruh pingsan.
"Ah! Di situlah peranan Tuan Benson." Judd melihat kepadanya dengan
pandangan hampa.
Tuan Benson adalah saksi kecelakaan Anda,*' Moody menerangkan. "Saya
mengetahui namanya dari laporan polisi, dan menemui dia setelah Anda
meninggalkan kantor saya. Untuk naik taksi saya mengeluarkan uang tiga dollar
lima puluh sen. Oke?**
Judd mengangguk, tidak bisa mengeluarkan suara.
"Tuan Benson—dia adalah pedagang kulit berbulu. Dia menjual mantel yang
bagus-bagus. Kalau Anda ingin membelikan sesuatu untuk pacar, saya bisa
mengusahakan korting. Oh, ya, j pada hari Selasa malam terjadinya kecelakaan,
dia ] keluar dari gedung perkantoran tempat saudara iparnya bekerja. Dia pergi
ke sana untuk mengantarkan pil, sebab saudaranya, Matthew, yang menjadi
pedagang Kitab Suci sedang kena flu. 1 Saudara iparnya ini yang akan
membawa pil j pemberian Tuan Benson pulang."
Judd menahan kesabarannya. Walaupun seandainya Norman Z. Moody ingin
terus duduk di j situ dan menyebutkan Pernyataan Hak-hak Azasi j Manusia
selengkapnya, dia akan mendengarkan, j "Setelah Tuan Benson mengantarkan
pil itu, dia j keluar dari gedung tepat ketika mobil itu sedang meluncur ke arah
Anda. Tentu saja pada waktu itu i dia tidak tahu bahwa itu adalah Anda."
"Mobil itu meluncur agak ke samping, dan dari tempat Tuan Benson
kelihatannya mobil itu slip. waktu melihat bahwa mobil menabrak Anda, dia
mulai berlari untuk melihat kalau-kalau bisa menolong. Mobil waktu itu sedang
mundur untuk menabrak Anda sekali lagi. Sopirnya melihat Tuan Benson, dan
mobil di larikannya cepat-cepat seperti kelelawar keluar dari neraka."
Judd menelan ludah. "Jadi kalau Tuan Benson tidak kebetulan lewat...."
"Yah," kata Moody perlahan, "Anda boleh mengatakan bahwa kita tidak akan
bertemu. Anak-anak yang di mobil itu tidak main-main. Mereka memang ingin
membunuh Anda, Dok."
"Bagaimana tentang serangan ke kantor saya? Mengapa mereka tidak
mendobrak pintu?" Moody terdiam sesaat, berpikir. "Itu membingungkan,"
katanya kemudian. "Mereka bisa saja mendobrak pintu dan membunuh Anda
dengan siapa pun yang bersama Anda, kemudian lari tanpa ada yang melihat.
Tapi waktu mengira Anda tidak sendirian, mereka pergi. Ini tidak cocok dengan
lain-lainnya."
Beberapa saat Moody duduk sambil menggigit bibirnya. "Kecuali kalau...."
katanya. "Kecuali kalau apa?"
Pancaran spekulatif kelihatan pada wajah Moody. "Saya masih bingung...." Dia
menghela napas.
"Sementara Ini baiklah jangan dikatakan dulu.
Saya punya sedikit dugaan, tapi rasanya tidak masuk akal sebelum kita
menemukan motirnva."
judd mengangkat bahu tidak berdaya. *'Sava j tidak kenal dengan siapa pun yang
punya motif j untuk membunuh saya/'
Moody berpikir sesaat. "Dok. mungkinkah Anda punya rahasia yang Anda
beritahukan kepada pasien Anda. Hanson, dan Carol Roberts? Sesuatu yang
hanya diketahui oleh Anda beru-
p?"
Judd menggeleng. "Rahasia yang saya miliki hanya rahasia profesi tentang
pasien saya. Dan tidak satu pun dari riwayat kasus mereka yang mungkin akan
menyebabkan pembunuhan. Tak seorang pun di antara pasien saya menjadi agen
rahasia, mata-mata asing, atau buronan polisi. Mereka hanya orang biasa saja—
ibu rumah tangga, usahawan, pegawai bank—orang-orang dengan problem yang
tidak dapat mereka atasi sendiri."
Moody memandangi Judd dengan tenang. "Jadi Anda yalun benar dalam
kelompok kecil Anda tidak ada orang yang gila membunuh?"
Suara Judd tegas sekali. "Positif. Kemarin mungkin saya tidak begitu yakin.
Terus terang, saya mulai berpikir bahwa saya menderita paranoid dan Anda
hanya menghibur saya."
Moody tersenyum kepadanya. "Pikiran itu melintas pada otak saya juga,"
katanya, "Setelah Anda menelepon saya untuk mengadakan janji pertemuan,
saya melakukan pengecekan terhadap
diri Anda. Saya menelepon dua orang dokter sahabat baik saya. Anda
mempunyai reputasi sebagai psikoanalis yang terkemuka."
Rupanya panggilan 'Tuan Stevenson" hanya bagian dari topeng Moody sebagai
orang kampung yang bodoh.
"Kalau kita pergi kepada polisi sekarang," kata Judd, "dengan apa yang kita
ketahui, sekurang-kurangnya kita bisa meminta mereka mulai mencari siapa
yang mendalangi semua ini.*'
Moody memandanginya agak keheranan. "Anda berpendapat begitu? Yang kita
ketahui sekarang belum cukup banyak untuk melangkah ke situ bukan, Dok?"
Memang benar.
"Saya tidak akan putus asa," kata Moody. 'Saya rasa kita mendapat kemajuan
pesat. Kita sudah mempersempit medan penyelidikan dalam waktu singkat."
Nada frustrasi terasa pada suara Judd. 'Tentu saja. Pembunuhnya pasti salah
seorang yang tinggal di benua Amerika ini."
Sesaat Moody duduk sambil menatap langit-langit. Akhirnya dia menggelengkan
kepala. "Keluarga," katanya sambil menghela napas.
"Keluarga?"
"Dok—saya percaya kepada Anda ketika Anda mengatakan mengenai baik
semua pasien Anda. Kalau Anda mengatakan mereka tidak mungkin melakukan
perbuatan ini, saya harus percaya kepada Anda. Itu sarang lebah Anda sendiri,
dm
Anda-lah yang menjaga madunya." Dia mencondongkan badannya ke depan.
"Tapi coba katakan kepada saya. Kalau Anda menerima pasien, apakah Anda
menginterviu keluarganya?"
Tidak. Kadang-kadang keluarganya bahkan tidak tahu bahwa dia mendapat
perawatan psikoanalisis.**
Moody menyandar kembali, kelihatan puas. "Nak, kalah dia,** katanya.
Judd melihat kepadanya. "Anda berpendapat bahwa anggota keluarga salah satu
pasien berusaha membunuh saya?"
"Mungkin."
"Mereka pun tidak punya motif, sama seperti si pasien sendiri. Lebih tidak
mungkin."
Moody bangkit berdiri dengan susah-payah. "Anda tidak mungkin
mengetahuinya, bukan, Dok? Baiklah, akan saya katakan apa yang ingin saya
lakukan. Berikan kepada saya daftar semua pasien yang Anda temui selama
empat atau lima minggu terakhir ini. Apakah Anda bisa memenuhi permintaan
saya?" Judd ragu-ragu, "Tidak," akhirnya dia berkata. "Hubungan dokter dengan
pasien yang harus dirahasiakan? Saya rasa sudah tiba waktunya Anda
menyimpang sedikit. Jiwa Anda sedang terancam."
"Saya rasa Anda mengikuti jalan yang salah. Apa yang sudah terjadi tidak ada
hubungannya dengan pasien saya atau keluarganya. Kalau salah seorang anggota
keluarga pasien ada yang gila, itu
«kan segera diketahui dalam ptmoananna,- juvUI menggelengkan kepala. "Maaf,
Tuan Moody. Saya harus melindungi pasien.'*
"Anda tadi mengatakan bahwa dalam arsip Anda tidak ada yang penting."
'Tidak ada yang penting bagi kita."
Judd memikirkan beberapa hal yang terdapat dalam arsip. John Hanson mencari
kelasi di bar yang ramai di Third Avenue. Teri Washburn main cinta dengan
anak-anak band. Evelyn Warshak, pelacur berumur empat belas tahun....
"Maaf," kata Judd lagi. "Saya tidak bisa memperlihatkan arsip saya kepada
Anda."
Moody mengangkat bahu. "Oke," katanya. "Oke. Kalau begitu Anda harus
melakukan sebagian dari tugas saya."
"Apa yang harus saya lakukan?"
Keluarkan semua rekaman wawancara Anda dengan pasien selama bulan
terakhir ini. Dengarkan baik-baik setiap rekaman. Tapi kali ini Anda tidak
mendengarkan selaku seorang dokter—dengarkanlah rekaman itu dengan Anda
berlaku sebagai seorang detektif. Carilah apa saja yang kedengarannya agak
aneh."
"Itu sudah saya lakukan. Memang itu tugas saya.
"Lakukan sekali lagi. Dan tetap waspada. Saya tidak ingin kehilangan Anda
sebelum kasus ini ¦ bisa dipecahkan."
Moody mengambil mantelnya dan mulai memakainya, penampilannya kelihatan
seperti gajah
yang sedang menari balet. Biasanya gerak-gerik orang gemuk agak lamban, pikir
Judd. Tapi rupanya itu tidak berlaku bagi Tuan Moody.
"Anda tahu apa yang paling istimewa dari seluruh persoalan ini?" tanya Moody
setelah berpikir sejenak.
"Sebelumnya Anda sudah menarik kesimpulan, bahwa ada dua orang yang ingin
membunuh Anda. Mungkin lebih masuk akal kalau hanya satu orang yang ingin
melenyapkan Anda—tapi mengapa harus dua orang?"
"Saya tidak tahu."
Moody memperhatikannya sesaat, menimbang-nimbang. "Ya, Tuhan!" Akhirnya
dia berkata. "Ada apa?"
"Mungkin ini hanya dugaan gila. Tapi kalau saya tidak salah, mungkin lebih dari
dua orang yang ingin membunuh Anda."
Judd menatap Moody tidak percaya.
"Maksud Anda ada sekelompok orang gila ingin membunuh saya? Itu tidak
masuk akal."
Air muka Moody makin lama kelihatan makin memancarkan kegembiraan.
"Dokter, mungkin saya bisa menebak siapa wasit dalam permainan bola ini." Dia
melihat kepada Judd, matanya bersinar-sinar. "Saya belum tahu pasti apa
sebabnya—tapi mungkin saya tahu siapa orangnya." v.ffSiapa?" Moody
menggelengkan - kepala.
"Anda akan mengirim saya ke rumah gila kalau saya mengatakan ini. Saya selalu
mengatakan kalau orang ingin menembakkan mulutnya, dia harus tahu lebih
dulu bahwa mulutnya berisi. Baiklah, saya akan melakukan latihan dulu agar
mengenai sasaran yang tepat. Kalau ternyata nanti saya berada pada jalan yang
benar, Anda akan saya beritahu."
"Mudah-mudahan Anda tidak keliru," kata Judd dengan sungguh-sungguh.
Moody memandanginya sesaat. 'Tidak, Dok. Kalau Anda masih sayang kepada
jiwa Anda— berdoalah semoga saya keliru." Dan Moody pun pergi. Judd naik
taksi ke kantor. Waktu itu hari Jumat siang, dan kesempatan berbelanja tinggal
tiga hari sebelum Natal. Jalan penuh dengan orang yang pergi berbelanja.
Mereka semua mengenakan pakaian tebal untuk' menahan angin dingin yang
meniup dari arah Sungai Hudson.
Jendela toko-toko kelihatan meriah dan terang-benderang, penuh dengan pohon
Natal yang lampunya dinyalakan dan patung ukiran Kelahiran Sang Bayi. Damai
di bumi. NataJ. Dan Elizabeth, dengan anak dalam kandungannya.
Suatu hari kelak—kalau dia selamat—dia akan mencapai kedamaiannya sendiri,
membebaskan dirinya dari masa lampau yang sudah mati dan melangkah ke
masa datang. Dia tahu bersama Anne dia bisa.... Judd dengan tegas
menghentikan
lamunannya. Mengapa dia harus mengkhayalkan wanita yang sudah menikah,
yang akan segera pergi dengan suaminya yang tercinta?
Taksi berhenti di muka gedung perkantoran. Judd turun dan dengan gelisah
melihat ke sekelilingnya. Tapi apa yang dicari-carinya? Dia tidak tahu apa
senjata yang akan digunakan si pembunuh, dan siapa orang yang akan
menggunakannya.
Setelah sampai di kantornya, Judd mengunci pintu luar. Dia berjalan ke rak
tempat menyimpan pita rekaman, dan membukanya. Rak disusun secara
kronologis, dan diberi nama setiap pasien. Dia memilih rekaman yang paling
baru, dan membawanya ke tape recorder.
Hari itu semua pertemuan dengan pasien dibatalkan. Maka dia bisa memusatkan
perhatian untuk mencoba mencari petunjuk. Mungkinkah ada teman atau
keluarga pasiennya yang terlibat? Dia merasa bahwa saran Moody terlalu
berlebih-lebihan. Tapi dia sangat menghargai Moody, sehingga tidak bisa
mengabaikan sarannya begitu saja.
Waktu memasang pita rekaman pertama, Judd teringat terakhir kalinya dia
menggunakan tape recorder int. Benarkah baru semalam? Ingatan ini datang
kembali dengan rasa ngeri yang tajam menikam. Seseorang berusaha
membunuhnya di ruangan ini, tempat mereka membunuh Carol.
„Tiba-tiba Judd sadar bahwa dia belum memikirkan pasiennya yang di rumah
sakit, tempat dia
bekerja sekali seminggu. Mungkin karena pembu-
nuhan terjadi di lingkungan tempatnya berpraktek, bukan di rumah sakit.
Walaupun demikian....
Dia berjalan ke bagian rak yang diberi tanda KLINIK. Beberapa pita rekaman
diperiksanya, kemudian dia memilih setengah lusin. Pita yang pertama
dipasangnya pada tape recorder.
Rose Graham.
"... hanya kecelakaan, Dokter. Nancy sering menangis. Dia memang anak yang
cengeng. Jadi kalau saya memukulnya, itu demi kebaikannya sendiri, bukan f"
"Apakah Anda pernah berusaha menyelidiki mengapa Nancy sering menangis?"
Suara Judd bertanya.
"Karena dia manja. Ayahnya sangat memanjakannya, kemudian pergi
meninggalkan kami. Nancy selalu berpikir bahwa dia anak Papa. Tapi seberapa
besar kasih sayang Harry sebenarnya kalau dia kabur begitu saja f"
"Anda dengan Harry tidak pernah menikah, bukan?"
"Yah... Ini sudah biasa, saya rasa Anda juga sudah tahu. Rencananya kami akan
menikah" "Berapa lama Anda hidup bersama?" "Empat tahun."
"Setelah Harry meninggalkan Andai selang berapa lama Anda mematahkan
lengan Nancy?"
"Kira-kira seminggu, saya rasa. Saya tidak bermaksud mematahkannya* ini
hanya karena dia tidak mau berhenti menangis, maka sayaakhim'vd mengambil
rel tirai dan mulai memukuli\dmi^
"Apakah Anda berpendapat bahwa Harry lebih mencintai Nancy daripada
mencintai Andar
"Tidak. Harry tergila-gila kepada saya." "Kalau begitu menurut Anda mengapa
dia meninggalkan Anda f*9
"Karena dia laki-laki Anda tahu laki-laki itu apa? Binatang! Kalian semua!
Seharusnya semua laki-laki dibantai seperti babi!" Dia tersedu-sedu.
Judd mematikan tape recorder dan merenungkan Rose Graham. Wanita ini
seorang penderita psikosomatik, dan dua kali dia memukuli anaknya yang
berumur enam tahun sampai hampir mati. Tapi pola pembunuhan yang terjadi
tidak cocok dengan kegilaan Rose Graham.
Dia memasang rekaman pasiennya di klinik berikutnya.
Alexander Fallon.
"Polisi mengatakan Anda menyerang Tuan Champion dengan pisau, Tuan
Fallon."
"Saya hanya melakukan yang diperintahkan kepada saya"
"Seseorang menyuruh Anda membunuh Tuan Champion?*
"Dia menyuruh saya membunuhnya?"
"Dkr
"Tuhan."
"Mengapa Tuhan menyuruh Anda membunuhnya?**
"Karena Champion orang yang jahat. Dia seorang aktor. Saya melihat dia di
panggung. Dia
mencium wanita ini. Aktris ini. Di muka banyak penonton. Dia menciumnya
dan..." Sunyi.
"Teruskan."
"Dia menyentuh—buah dadanya" "Itu membuat Anda marah?" "Tentu saja. Itu
membuat saya sangat marah. Anda tidak mengerti apa artinya? Dia tahu di mana
titik nafsu aktris ini. Waktu keluar dari teater, saya merasa baru keluar dari
Sodom dan Gomora. Mereka harus dihukum." "Jadi Anda memutuskan
membunuh dia?" "Saya tidak memutuskan. Tuhan yang memutuskan. Saya
hanya melakukan perintah" "Apakah Tuhan sering bicara kepada Anda?" "Hanya
kalau ada tugas yang harus saya lakukan. Dia memilih saya sebagai alat-Nya,
sebab saya suci. Anda tahu apa yang menyebabkan saya suci? Anda tahu apa
yang paling menyucikan di dunia ini? Membunuh yang jahat!"
Alexander Fallon, umur tiga puluh lima, pembantu pemanggang roti sebagai
kerja sambilan. Dia dikirim ke rumah sakit jiwa selama enam bulan, kemudian
dilepaskan. Mungkinkah Tuhan menyuruh dia membinasakan Hanson, seorang
homoseks, dan Carol, bekas pelacur, dan Judd, pelindung mereka? .
Judd menarik kesimpulan bahwa itu tidak mungkin. Proses pemikiran Fallon
terjadi secara singkat, dalam kejutan sesaat yang terasa me-
nyakitkan. Sedangkan pembunuhan yang sudahi
terjadi rupanya direncanakan oleh suatu organtsa- i si yang rapi.
Dia memutar beberapa buah rekaman lagi dari 1 klinik. Tapi semua tidak ada
yang memiliki pola \ yang dicarinya. Tidak. Tidak mungkin si pembu- \ nuh
salah seorang pasien klinik.
Dia memeriksa arsip rekaman pasiennya di tempatnya berpraktek lagi, dan
sebuah nama i menarik perhatiannya.
Dia memasang rekamannya pada tape recorder.
Skeet Gibson.
"Pagi, Dockie. Anda senang denganhari indah yang sengaja saya ciptakan untuk
Anda?" "Hari ini rupanya Anda sedang merasa gembi-
"Kalau saya lebih gembira lagi, mereka mungkin akan mengurung saya. Apakah
Anda melihat pertunjukan saya semalam?"
'Tidak. Menyesal sekali, saya tidak sempat." "Saya benar-benar hebat. Jack
Gould menyebut saya 'pelawak yang paling dicintai di dunia?. Pantaskah saya
membantah pendapat seorang jenius seperti Jack Gould? Seharusnya Anda
mendengar sambutan penonton! Mereka bertepuk sampai seperti orang lupa
daratan. Anda tahu hal itu membuktikan apa?"
"Bahwa mereka bisa membaca kartu 'tepuk tangan'i" t*j>
"Anda cerdik, benar-benar setan, Anda. Itulah
yang saya sukai—pengerut kepala yang pu selera humor. Yang terakhir saya
temui orang membosankan. Berjenggot lebat, dan benar-benar membuat saya
sebal.**
"Mengapa?"
"Karena dia wanitai**
Tertawa keras.
"Kali ini saya bisa mengalahkan Anda, bukan? Sekarang serius, salah satu alasan
mengapa saya begitu gembira ialah karena saya baru saja menaruh uang sejuta
dollar—hitunglah: sejuta dollar—untuk menolong anak-anak di Biafra." "Tidak
heran kalau Anda begitu gembira." "Tentu saja. Ceritanya dimuat pada halaman
depan semua surat kabar di seluruh dunia." "Apakah itu penting?" "Apa maksud
Anda, 'Apakah itu penting?' Berapa orang yang bisa menaruh uang sebanyak itu?
Tiuplah puputmu, Peter Pan. Saya gembira mampu menaruh uang sebanyak itu."
"Anda selalu mengatakan 'menaruh'. Apakah maksud Anda 'memberikan'?"
"Menaruh uang—memberikan—apa bedanya? Orang menaruh uang sejuta dollar
—memberikan sejuta dollar—dan mereka menjilat pantatnya.... Saya sudah
mengatakan bahwa hari ini ulang tahun perkawinan saya?" "Belum. Selamat
ulang tahun." "Terima kasih. Lima belas tahun yang hebat. Anda belum pernah
bertemu dengan Sally. Lante ing cantik yang pernah berjalan di bumi Tuhan
ini. Saya benar-benar mujur dengan perkawinan kami. Anda tahu seperti apa
kesulitan dengan ipar biasanya? Nab, Sally punya dua saudara laki-laki, Ben dan
Charley. Saya sudah menceritakan kepada Anda tentang mereka.
"Ben penulis untuk pertunjukan TV saya, dan Charley jnenjadi produser. Mereka
berdua orang jenius. Sampai saat ini saya sudah tujuh tahun di udara. Dan kami
selalu termasuk sepuluh terbesar menurut Nielsen. Saya cukup cerdik untuk
mengawini anggota keluarga seperti itu, huh?
"Wanita pada umumnya menjadi gemuk dan ceroboh setelah berbasil menjerat
suami. Tapi Sally—semoga Tuhan memberkatinya—sekarang bahkan lebih
langsing daripada waktu kami menikah. Gadis yang hebat!.... Punya rokok?"
"Ini. Saya kira Anda sudah berhenti merokok?9
"Saya hanya ingin menunjukkan kepada diri saya sendiri bahwa saya memiliki
kemauan keras, maka saya berhenti merokok. Sekarang saya merokok karena
saya ingin.... Kemarin saya membuat kontrak baru. Saya benar-benar sangat
menguntungkan mereka. Apakah waktu saya sudah habis?" "Belum. Apakah
Anda merasa gelisah, Skeet?" "Terus terang, Manis, saya merasa dalam kondisi
yang sangat sempurna sehingga tidak tahu untuk apa saya datang ke sini lagi."
"Tidak ada kesulitan lagi?" "Saya? Dunia ini kulit kerang saya, dan saya
Diamond Jim Brady. Saya harus meneruskan resepnya kepada Anda. Anda
benar-benar menolong saya. Anda sahabat saya. Dengan uang seperti yang Anda
dapatkan, mungkin saya him membuat usaha sendiri, huh?.... Saya jadi teringat
kepada cerita orang yang pergi ke seorang psikoanalis, tapi dia begitu kalut
sehingga hanya berbaring di sofa dan tidak mengatakan apa-apa. Setelah satu
jam si pengerut kepala berkata, 'Ongkosnya lima puluh dollar.' Nah, demikian
berlangsung terus selama dua tahun dan orang ini tetap tidak mengatakan apa-
apa. Akhirnya suatu hari orang ini membuka mulutnya dan berkata, Dokter—
boleh saya bertanya?' 'Tentu saja,' jawab si Dokter. Dan orang ini bertanya,
'Anda butuh patner?' " Tertawa keras.
"Anda mau memberikan suntikan aspirin atau apa?"
"Tentu saja. Anda merasa sakit kepala lagi?"
"Tidak ada yang tidak bisa diatasi, Kawan.... Terima kasih. Tapi itu akan
membantu."
"Menurut pendapat Anda apa yang menyebabkan sakit kepala ini?"
"Hanya ketegangan bisnis pertunjukan yang biasa saja.... Tadi siang kami
melakukan pembacaan naskah."
"Itu yang membuat Anda tegang?"
"Saya? Persetan, tidak f Kenapa saya harus tegang? Kalau leluconnya jelek, saya
mengernyitkan dahi dan mengedipkan mata kepada penon-
173
ton, dan mereka pun mau menelannya. Tidak peduli sejelek apa pun
pertunjukannya, si Skeet selalu berbau harum seperti bunga mawar."
"Mengapa Anda mengira bahwa A nda sakit kepala setiap mingguf**
"Sialan, mana saya tabu? Yang jadi dokter kan Anda. Anda yang mengatakan
kepada saya. Saya tidak membayarmu supaya duduk saja selama satu jam
mengajukan pertanyaan yang tolol. Ya, Tuhan, kalau menyembuhkan sakit
kepala biasa saja tidak bisa, mengapa mereka membiarkan orang tolol seperti
kau berkeliaran mengacaukan hidup orang? Di mana kau mendapat ijazah
doktermu? Di sekolah dokter hewan? Saya tidak akan mempercayakan kucing
saya kepadamu. Kau dukun palsu!
"Satu-satunya alasan mengapa mula-mula saya \ datang ke sini hanya karena
saya diberaki Sally, i Hanya dengan cara itu saya bisa menghindari dia. Kau tahu
bagaimana definisi neraka? Kawin dengan sundal kurus kering jelek selama lima
belas tahun. Kalau kau mencari orang lebih j banyak untuk ditipu, ambillah
kedua iparku yang tolol: Ben dan Charley. Ben, penulis saya, tidak bisa
membedakan pangkal dan ujung pada pen- j si!—dan saudaranya bahkan lebih
tolol....
"Mudah-mudahan keduanya segera mampus. Mereka ingin mencelakakan saya.
Kaukir a saya suka padamu? Kau orang yang busuk! Kau orang sombong sialan,
duduk di situ dan melihat ke bawah kepada setiap orang. Kau. sendiri tidak
punya kesulitan, bukan f Kau tahu apa sebabnya?
Sebab kau tidak ada di dunia yang nyata. Kau ada di luarnya. Yang kaulakukan
hanya duduk sepanjang hari mencuri uang dari orang sakit. Nah, saya yang akan
menghancurkanmu, Bangsat. Kau akan saya laporkan kepada AM A..." Tersedu-
sedu.
"Ingin sekali saya tidak membaca naskah sialan ini." Sunyi.
"Nah—tenang saja. Sampai minggu depan, Sayang."
Judd mematikan tape recorder. Skeet Gibson, pelawak Amerika yang paling
disukai, sebenarnya harus sudah dimasukkan ke rumah sakit jiwa sepuluh tahun
yang lalu. Kegemarannya memukuli gadis panggung muda yang berambut
pirang dan berkelahi di rumah minum.
Skeet bertubuh kecil, tapi dia bekas petinju bayaran dan tahu benar cara
menyakiti orang. Salah satu olahraga yang paling disukainya ialah masuk ke bar
yang ramai, memancing seorang homoseks masuk ke kamar kecil dan
memukulinya sampai pingsan.
Beberapa kali Skeet ditangkap polisi, tapi perkaranya selalu dipetieskan.
Bagaimanapun juga, dia pelawak yang paling dicintai di Amerika. Penyakit gila
Skeet cukup parah sehingga bisa membunuh, dan kalau marah dia sanggup
membunuh orang.
„n demikian Judd berpendapat bahwa n L Sak cukup berdarah dingin sehingga
mau SSun Was dendam. Dan Judd vak» EL di situlah letak kuna perbannya Siap,
.* „,„„ berusaha membunuhnya, bukan
mm tuea yang wluJ n_, , . .
«rdoroog oleh panasnya nafsu Pembunuh uu melakukan usahanya secara
metodis dan dengan darah dingin. Benar-benar seorang gila. Tapt bukan orang
gua yang terdorong oleh
11
Telepon berdering. Ternyata agen teleponnya. Mereka bisa menghubungi semua
pasien, kecuali Anne B lake. Judd mengucapkan terima kasih kepada operator
dan meletakkan telepon.
Jadi hari ini Anne akan tetap datang. Pikiran Judd merasa terganggu karena
kebahagiaan tak beralasan yang disebabkan oleh ingatan akan bertemu dengan
Anne. Dia harus ingat bahwa Anne hanya datang karena dia memintanya, selaku
dokter. Judd duduk sambil memikirkan Anne.... Betapa sedikitnya yang dia
ketahui tentang diri Anne....
Dia memasang pita rekaman Anne pada tape recorder dan mendengarkannya. Itu
rekaman kunjungan Anne yang pertama.
"Sudah merasa enak. Nyonya Blake. Ya, terima kasih"
"Cukup rileksi"
"Ya."
"Tapi tangan Anda mengepali^ "Mungkin saya sedikit tegang. Karena apa t"
Lama sekali sunyi.
"Ceritakan tentang kehidupan rumah tangga Anda. Anda menikah selama enam
bulan." "Ya."
"Teruskan."
"Saya menikah dengan laki-laki )'ar7S hebat. Kami tinggal di sebuah rumah
yang indah."
"Seperti apa rumahnya?"
"Seperti rumah di pedalaman Prancis... tempat yang sangat indah. Ada jalan
taman yang panjang memutar menuju ke rumah. Tinggi di puncak atap ada ayam
jago perunggu yang lucu, ekornya sudah hilang. Saya rasa ada pemburu yang
menembaknya sudah lama berselang. Tanah kami kira-kira seluas lima are,
sebagian besar ditanami pohon. Saya senang berjalan-jalan di sekitar tanah kami.
Rasanya seperti hidup di pedesaan."
"Anda senang alam pedesaan??
"Senang sekali."
"Suami Anda juga?*'
"Saya rasa dia juga suka."
"Biasanya orang tidak akan membeli tanah seluas lima are di pedalaman kalau
tidak mencintai alam pedesaan."
"Dia mencintai saya. Dia membelinya untuk saya. Dia sangat dermawan"
"Mari kita bicara tentang dia."
Sunyi.
"Apakah dia tampan?" "Anthony tampan sekali" Judd merasakan tikaman
kecemburuan yang tak beralasan, dan menyimpang dari profesinya.
"Anda berdua serasi secara fisik?" Pertanyaan ini seperti ujung lidah menyentuh
gigi yang sakit. "Ya."
Judd bisa membayangkan seperti apa Anne di tempat tidur: menyenangkan,
penuh sifat kewanitaan dan penyerahan. Ya, Tuhan, pikirnya, jangan teruskan
bahan percakapan ini.
"Anda ingin punya anak?"
"Oh, ya."
"Suami Anda juga?" "Ya, tentu saja."
Lama sekali sunyi, hanya terdengar suara pita yang berputar. Kemudian,
"Nyonya Blake, Anda datang menemui saya karena Anda punya problem yang
gawat. Ini menyangkut suami Anda,
bukan?" au
Sunyi.
"Nah, saya menduga pasti demikian. Dari apa yang sudah Anda katakan kepada
saya tadi, Anda saling mencintai. Anda berdua saling setia, sama-sama ingin
mempunyai anak. Anda tinggal di rumah yang indah. Suami Anda sukses,
tampan, dan sangat memanjakan Anda. Anda baru menikah selama enam bulan.
Saya kuatir ini seperti lelucon usang: 'Apa problem saya, Dokter?'"
Sunyi lagi, kecuali bunyi pita yang berputar. Akhirnya Anne bicara.
"Ini... ini bagi saya sangat sulit dibicarakan. Saya mengira akan bisa
membicarakannya dengan orang lain, tapi..." Judd masih ingat benar, waktu itu
Anne
memutar tubuhnya di sofa agar bisa melihat] kepadanya dengan matanya yang
lebar.
"... ternyata lebih sulit. Ketahuilah"--sekarang Anne berbicara lebih cepat,
berusaha mendo- f b rak tembok pemisah yang menyebabkan dia terdiam—"saya
ikut mendengar sesuatu dan saya ] —soya dengan mudah bisa salah menarik
kesim- j pulan."
"Sesuatu yang ada hubungannya dengan kehi- j dupan suami Anda? Tentang
seorang wanita?" \ "Bukan." "Bisnisnya?** "Ya...."
"Anda merasa dia berdusta tentang sesuatu? Berusaha mengalahkan seseorang
dalam urusan bisnis?"
"Sesuatu seperti itu."
Sekarang Judd merasa mendapat landasan yang lebih kuat. "Dan itu
menyebabkan kepercayaan Anda kepadanya mulai goyah. Anda melihat sisi lain
dari pribadinya, yang sebelumnya tidak pernah Anda lihat."
"Saya—saya tidak bisa membicarakannya. Bahkan berada di sini saja
menyebabkan saya merasa tidak setia terhadapnya. Tolong jangan tanyakan apa-
apa lagi kepada saya hari ini, Dokter Stevens."
Dengan kalimat ini pembicaraan mereka berakhir. Judd mematikan tape
recorder.
Jadi rupanya suami Anne main kayu dalam urusan bisnis. Bisa jadi dia menipu
dalam urusan
pembayaran pajak. Atau menekan perusahaan lain sehingga bangkrut. Maka
cukup wajar kalau Anne merasa kalut karenanya. Anne wanita yang perasa.
Kepercayaan kepada suaminya pasti goyah.
Judd memikirkan suami Anne sebagai orang yang mungkin bisa menjadi
tertuduh. Dia punya usaha konstruksi. Judd tidak pernah bertemu dengan dia.
Tapi apa pun juga problem bisnis yang melibatkan diri suami Anne, Judd tidak
yakin bahwa itu ada hubungannya dengan John Hanson, Carol Roberts, atau
Judd sendiri.
Bagaimana dengan Anne sendiri? Mungkinkah wanita ini seorang psikopat?
Seorang yang gila membunuh? Judd bersandar ke kursinya dan berusaha
memikirkan Anne secara objektif.
Dia tidak mengetahui apa pun tentang Anne, kecuali yang dikatakannya sendiri.
Latar belakangnya mungkin tidak nyata, hanya karangannya sendiri. Tapi apa
untungnya kalau dia berbuat demikian? Kalau ini hanya permainan sandiwara
untuk menutup-nutupi pembunuhan, pasti harus ada motifnya.
Kenangan akan wajah dan suara Anne memenuhi pikiran Judd. Dia tahu bahwa
Anne tidak mungkin ada sangkut-pautnya dengan semua ini. Dia berani
mempertaruhkan nyawanya untuk membela kesimpulan ini. Ironi dari
kalimatnya membuat Judd tersenyum.
Dia bangkit dan mengambil pita rekaman Teri Washburn. Mungkin di situ masih
ada sesuatu yang lolos dari perhatiannya.
Akhir-akhir ini Teri mendapat waktu terapi tambahan atas permintaannya
sendiri. Apakah Teri mendapat tekanan baru yang belum dikatakan kepadanya?
Karena terlalu sibuk memikirkan soal seks, maka kemajuan Teri sulit diketahui
dengan cepat. Walaupun demikian—mengapa tiba-tiba saja Teri mendesak minta
sering bertemu dengannya?
Judd mengambil salah satu pita rekaman secara untung-untungan, dan
menyetelnya.
"Mari kita bicara tentang perkawinanmu, Teri. Kau sudah menikah sebanyak
lima kali."
"Enam, tapi siapa yang peduli f"
"Kau setia kepada suami-suamimu ?'
Tertawa.
"Kau membangkitkan nafsu saya saja. Tidak satu pun laki-laki di dunia yang
bisa memuaskan saya. Ini secara fisik."
"Apa yang kaumaksudkan dengan 'secara fisik'?'
"Maksud saya mengenai pembawaan fisik saya, keadaan jasmani saya. Saya
punya lubang yang gatal dan harus selalu disumbat setiap saat."
"Kau percaya itu?'
"Bahwa lubang saya harus selalu disumbat?"
"Bahwa secara fisik kau berbeda dengan wanita yang lain."
"Tentu saja. Dokter di studio mengatakan begitu kepada saya. Ini ada
hubungannya dengan suatu kelenjar atau apa." Dia berhenti sebentar. "Dt tempat
tidur dia payah."
"Saya sudah memeriksa semua catatanmu. Secara fisiologis tubuhmu normal
dalam segala-galanya."
"Persetan dengan catatan, Charley. Mengapa kau tidak membuktikan sendiri?'
"Kau pernah merasa mencintai seseorang, Teri?* "Saya rasa saya bisa jatuh cinta
kepadamu*** Sunyi.
"Jangan memandangi saya begitu rupa. Ini bukan salah saya. Saya sudah bilang,
ini karena pembawaan jasmani saya. Saya selalu kelaparan."
"Saya percaya. Tapi bukan jasmanimu yang kelaparan, melainkan emosimu."
"Saya tidak pernah bersetubuh karena emosi. Kau mau merangsang emosi saya?'
"Tidak."
"Lalu kau mau apa?' "Menolongmu."
"Mengapa kau tidak datang ke sini saja dan duduk di sisi saya?' "Waktu sudah
habis untuk hari ini."
Judd mematikan tape recorder. Dia teringat dengan dialog mereka ketika Teri
menceritakan mengenai kariernya sebagai bintang besar, dan pada waktu itu dia
bertanya mengapa Teri meninggalkan Hollywood.
"Saya menampar seorang konyol dalam pesta mabuk-mabukan," kata Teri waktu
itu. "Dan ternyata dia seorang Tuan Besar. Akibatnya dia mendepak saya keluar
dari Hollywood."
Judd tidak mendesak lebih jauh pada waktu itu, i sebab dia lebih tertarik kepada
latar belakang \ kehidupan rumah tangganya. Dan bahan perca-1 kapan itu pun
tidak pernah disinggung-singgung \ lagi.
Kini Judd merasakan keragu-raguan kecil me-j narik-nariknya. Seharusnya dulu
dia menyelidiki J lebih lanjut. Dia memang tidak pernah merasa i tertarik kepada
Hollywood, kecuali dengan rasa tertarik seperti yang dirasakan oleh Dokter
Louis j Leaker atau Margaret Mead kepada penduduk ask i Patagonia, misalnya.
Siapa yang tahu mengenai Teri Washburn, bintang film yang menggiurkan?
Norah Hadley seorang penggemar bioskop, j Judd pernah melihat koleksi
majalah film di rumahnya, dan menggoda Peter mengenai koleksi ini. Waktu itu
sepanjang sore Norah mati-matian mempertahankan Hollywood. Judd
mengangkat telepon dan memutar sesuatu
"Halo," kata judd.
"Juddl" Suara Norah sangat ramah dan hangat. "Kau menelepon untuk
mengatakan kau akan datang makan malam di sini." "Itu akan segera saya
lakukan/' "Sebaiknya begitu," kata Norah. "Saya sudah berjanji kepada Ingrid.
Dia cantik sekali."
Judd yakin bahwa Ingrid memang cantik. Tapi tidak seperti kecantikan Anne.
"Sekali lagi kau membatalkan kencan dengan dia, kita akan perang dengan
Swedia."
"Itu takkan terjadi lagi.**
"Kau sudah tidak teringat kecelakaan itu lagi?"
"Oh, ya."
"Itu sungguh peristiwa yang mengerikan.** Ada nada ragu-ragu dalam suara
Norah. "Judd... tentang Hari Natal. Aku dan Peter ingin sekali kau
merayakannya bersama kami. Ayolah!"
Judd merasakan dadanya sesak seperti dulu lagi. Tiap tahun mereka selalu
membujuk Judd. Peter dan Norah adalah sahabat Judd yang paling dekat.
Mereka amat khawatir mengenai Judd yang selalu melewatkan malam Natal
sendirian, berjalan di tengah orang yang tidak dikenal, membaurkan diri di
tengah orang banyak, memaksa dirinya terus bergerak supaya lelah dan tidak
bisa berpikir lagi.
Ya, setiap tahun Judd seperti mengulangi hari berkabung, membiarkan dirinya
dicekam kesedihan, sampai kesedihan mencabik-cabik tubuhnya. Kau terlalu
mendramatisir kesedihanmu, kata Judd kepada dirinya sendiri.
"Judd...."
Judd mendehem. "Maaf, Norah." Judd tahu bahwa Norah sangat memikirkan
keadaannya. "Mungkin Natal yang akan datang."
Norah berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
"Baiklah. Akan aku katakan kepada Peter." "Terima kasih."
Tiba-tiba Judd teringat maksudnya menelepon Norah.
"Norah—kau tahu siapa Teri Washburn?"
'Teri Washburn? Bintang film? Mengapa kau-tanyakan dia?"
"Saya—saya melihat dia di Madison Avenue pagi tadi."
"Dia sendiri? Sungguh?"
Norah kedengaran seperti anak-anak yang sangat gembira.
"Bagaimana rupanya? Tua? Muda? Kurus? Gemuk?"
"Kelihatannya dia masih cantik. Dulu dia bintang film yang cukup besar,
bukan?"
"Cukup besar? Teri Washburn bintang film yang terbesar dan dalam segala-
galanya, kalau kau tahu maksudku."
"Apa yang menyebabkan gadis seperti dia meninggalkan Hollywood?"
"Sebenarnya dia tidak meninggalkan Hollywood. Dia didepak ke luar."
Jadi Teri tidak bohong. Judd merasa lebih senang.
"Kalian para dokter selalu membenamkan kepala dalam pasir, bukan? Teri
Washburn terlibat dalam salah satu skandal paling panas di Hollywood."
"Benar?" kata Judd. "Apa yang terjadi?" "Dia membunuh pacarnya."
12
Hujan salju mulai turun lagi. Dari jalan sejauh lima belas lantai di bawahnya,
suara lalu lintas mengambang ke atas dan diperlunak oleh salju yang
beterbangan seperti kapas dalam angin dingin. Di kantor yang lampunya
menyala di seberang jalan dia melihat seorang sekretaris sedang menurunkan
tirai jendela, mukanya tampak samar-samar.
"Norah —yang kaukatakan benar?"
"Kalau sudah sampai kepada soal Hollywood, kau sedang berbicara dengan
ensiklopedi berjalan, Sayang. Teri hidup bersama dengan pimpinan Studio
Continental, tapi di samping itu Teri juga mempunyai simpanan seorang asisten
sutradara. Suatu malam Teri memergoki pacar gelapnya ini berbuat serong, maka
pacarnya ini d i tikamnya sampai mati. Pimpinan studio berusaha mati-matian
merahasiakan insiden ini, membayar banyak orang agar peristiwa ini bisa
dianggap sebagai kecelakaan. Sebagian dari persetujuan yang harus dipenuhi
ialah Teri harus meninggalkan Hollywood dan tidak kembali lagi untuk selama-
lamanya. Dan Teri memang tidak pernah kembali ke sana lagi."
Judd memandang hampa ke arah telepon.
"Judd, kau masih mendengarkan ?"
"Ya, saya masih mendengarkanmu.**
"Kau kedengaran aneh."
"Di mana kau mendengar semua-ini?"
"Mendengar? Ceritanya dimuat di semua surat kabar dan majalah film. Semua
orang tahu tentang peristiwa itu."
Kecuali dia!
"Terima kasih, Norah," kata Judd. "Sampaikan salamku kepada Peter.** Dia
meletakkan telepon.
Jadi itulah "insiden kecil" yang menyebabkan Teri harus meninggalkan
Hollywood. Teri Washburn membunuh orang, dan tidak pernah menceritakan
kepadanya. Dan kalau dia sudah pernah membunuh....
Judd mengambil catatan dan menuliskan 'Teri Washburn".
Telepon berdering.
Judd mengangkatnya. "Dokter Stevens...." "Hanya mengecek apakah Anda baik-
baik saja."
Yang meneleponnya Detektif Angeli. Suaranya masih parau karena pilek.
Judd merasa berterima kasih. Ada orang yang selalu mendampinginya,
"Ada sesuatu yang baru?"
Judd ragu-ragu. Rasanya dia tidak perlu merahasiakan tentang bom yang
dipasang di mobilnya.
"Mereka mencoba lagi." Judd menceritakan kepada Angeli tentang Moody dan
bom yang
dipasang pada mesin mobilnya. "Ini akan kinkan McGreavy," kata Judd menutup
ceritam
"Di mana bomnya sekarang?" tanya Angeli penuh rasa ingin tahu.
Judd ragu-ragu. "Sudah dibongkar."
"Sudah diapakanV tanya ngeli tidak percaya. "Siapa yang melakukan?"
"Moody. Katanya itu tidak penting."
"Tidak pentingl Dia kira Dinas Kepolisian ini untuk apa? Mungkin kami bisa
mengetahui siapa yang memasang bom ini dengan melihatnya. Kami punya arsip
tentang M.O."
"M.O.?"
"Modus operandi. Orang punya kebiasaan mengikuti pola tertentu dalam
pekerjaannya. Kalau mereka melakukan sesuatu dengan suatu cara pada
kesempatan pertama, kemungkinan mereka akan terus memakai cara itu—saya
tidak perlu menerangkannya kepada Anda."
'Tidak usah," kata Judd, tenggelam dalam pikirannya. Tentunya Moody juga tahu
tentang, hal itu. Adakah suatu alasan mengapa dia tidak ingin menunjukkan bom
kepada McGreavy.
"Dokter Stevens—bagaimana Anda sampai memakai Moody?"
"Saya menemukan namanya dalam halaman kuning." Bahkan untuk
mengatakannya saja kedengarannya sudah menggelikan.
Judd bisa mendengar Angeli menelan ludah. "Oh. Kalau begitu Anda sama
sekali tidak mengenal dia sedikit pun."
"Saya tahu dia bisa dipercaya. Mengapa?"
"Saat sekarang ini," kata Angeli, "saya tidak berpendapat Anda boleh
mempercayai siapa pun."
"Tapi Moody tidak mungkin mempunyai sangkut-paut dengan semua ini. Ya,
Tuhan! Saya mengambil dia dari buku petunjuk telepon, dan secara untung-
untungan."
"Saya tidak peduli bagaimana cara Anda mengambilnya. Ada sesuatu yang
berbau busuk di sini. Moody mengatakan bahwa dia memasang perangkap untuk
menjebak siapa saja yang mengejar-ngejar Anda. Tapi dia tidak menutup
perangkap walaupun umpan sudah dimakan, jadi kita tidak bisa menangkap
siapa pun. Kemudian dia menunjukkan kepada Anda sebuah bom dalam mobil
Anda, yang mungkin dipasang oleh dia sendiri. Dengan demikian dia berhasil
merebut kepercayaan Anda. Betul?"
''Saya rasa Anda bisa melihatnya dari segi itu," kata Judd. "Tapi...."
"Mungkin saja sahabat Anda itu, Moody, benar-benar jujur. Tapi mungkin juga
dia itu memperdayakan Anda, Saya ingin Anda tetap bersikap wajar tapi hati-
hati, sampai kita mengetahui segalanya."
Moody memperdayakannya? Ini sulit dipercaya. Walaupun demikian Judd masih
teringat akan keragu-raguannya dulu ketika dia berpendapat bahwa Moody
memasukkannya ke dalam perangkap.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Judd. "Bagaimana kalau Anda pergi ke
luar kota saja. Maksud saya benar-benar pergi ke luar kota." "Saya tidak bisa
meninggalkan pasien." "Dokter Stevens...."
"Lagi pula," Judd menambahkan, "itu takkan memecahkan masalah, bukan?
Saya bahkan tidak tahu, saya melarikan diri dari apa. Setelah kembali, saya
harus memulainya lagi dari awal."
Sunyi sesaat.
"Anda benar," kata Angeli kemudian. Lalu dia menghela napas dan bersin.
Penyakit pileknya cukup parah juga. "Kapan Anda akan mendengar kabar dari
Moody lagi?"
"Saya tidak tahu. Dia merasa mempunyai gagasan siapa yang mendalangi semua
ini."
"Pernahkah Anda berpikir bahwa siapa pun yang mendalangi semua ini bisa
membayar Moody jauh lebih banyak daripada yang Anda bayarkan kepadanya?"
Suara Angeli terasa mengandung tekanan. "Kalau dia meminta Anda
menemuinya, telepon saya. Satu atau dua hari ini saya masih harus istirahat di
rumah. Apa pun juga yang Anda lakukan, Dokter, jangan temui dia sendirian!"
"Anda membuat kesimpulan tanpa landasan," Judd menangkis, "fclanya karena
Moody mengambil bom dari mobil saya...."
"Masih ada yang lebih dari itu," kata Angeli. "Saya mempunyai dugaan Anda
salah mengambil orang."
"Saya akan menelepon Anda kalau mendengar kabar dari dia," Judd berjanji.
Telepon pun diletakkan.
Pikiran Judd benar-benar terguncang. Apakah Angeli terlalu besar rasa
curiganya? Tapi masuk akal juga apa yang dikatakan Angeli, bahwa Moody
berbohong kepadanya dalam hal bom semata-mata hanya karena untuk merebut
kepercayaan Judd. Dengan demikian langkah selanjutnya akan lebih mudah.
Yang perlu dilakukan Moody tinggal menelepon Judd dan mengajaknya bertemu
di tempat sunyi dengan dalih dia mempunyai suatu bukti untuknya. Kemudian....
Judd menggigil.
Mungkinkah dia membuat kesalahan dalam menarik kesimpulan tentang watak
Moody? Dia teringat akan reaksinya waktu pertama kali bertemu dengan Moody.
Menurut pendapatnya waktu ku Moody seorang yang tidak pintar dan tidak
terlalu cerdik. Kemudian dia sadar bahwa rupa lahiriahnya yang seperti orang
tolol hanya topeng untuk menyembunyikan otaknya yang sangat cerdas.
Tapi itu tidak berarti bahwa Moody bisa dipercaya. Walaupun demikian,... Judd
mendengar suara seseorang di balik pintu ruangan penerima tamu dan dia
melihat ke jam tangannya. Annel Cepat-cepat dia menyimpan semua pita
rekaman dan menguncinya. Lalu dia berjalan ke pintu dan membukanya.
Anne berdiri di gang. Dia mengenakan setelan
rok berwarna biru laut yang potongannya sangat bagus, dan topi kecil yang
kelihatan seperti bingkai di sekeliling wajahnya. Rupanya Anne sedang
melamun, tidak sadar dipandangi oleh Judd.
Cukup lama juga Judd mengamati Anne, meresapi kecantikannya. Dicobanya
menemukan ketidaksempurnaan, suatu alasan untuk meyakinkan dirinya bahwa
Anne tidak cocok untuknya —bahwa suatu hari kelak dia akan menemukan
wanita yang lebih serasi untuknya. Seperti rubah yang berpendapat bahwa
anggur rasanya masam, hanya karena tidak bisa meraihnya. Bapak psikiatri
bukan Freud—tapi Aesopus, yang mengarang fabel ini.
"Halo," kata Judd.
Anne mengangkat wajahnya, terkejut sesaat. Kemudian dia tersenyum. "Halo."
"Silakan masuk, Nyonya Blake."
Anne masuk ke ruang praktek, tubuhnya bersentuhan dengan Judd. Dia menoleh
dan memandang Judd dengan matanya yang berwarna ungu indah.
"Mereka sudah menemukan sopir yang menabrak lari?"
Wajah Anne memancarkan rasa prihatin, cemas, dan benar-benar memperhatikan
keadaan
Judd. , , , • •
Sekali lagi Judd merasa terdorong oleh keinginan gila untuk menceritakan
segala-galanya kepada Anne. Tapi dia masih sadar bahwa dia tiduk bisa
berbuat begitu. Paling-paling itu hanya merupakan tipu muslihat murahan untuk
merebut simpatinya. Dan kemungkinan yang lebih buruk, hal ini hanya akan ikut
melibatkan Anne ke dalam bahaya yang tidak diketahui.
"Belum." Judd mengisyaratkan agar Anne duduk di sebuah kursi.
Anne memperhatikan wajah Judd. "Anda kelihatan sangat lelah. Apakah Anda
harus kembali bekerja begitu cepat?"
Ya, Tuhan. Rasanya dia tidak tahan menerima simpatinya. Pada saat ini belum.
Dan bukan dari Anne.
Judd berkata, "Saya baik-baik saja. Hari ini semua janji dengan pasien saya
batalkan. Tapi agen saya tidak bisa menghubungi Anda."
Sejenak air muka Anne menunjukkan rasa sesal. Dia kuati r kedatangannya akan
mengganggu. Anne—mengganggu. "Saya menyesal sekali. Kalau Anda lebih
suka saya pergi...."
"Ah, jangan," kata Judd cepat-cepat. "Saya bahkan gembira Anda tidak bisa
dihubungi." Ini terakhir kalinya dia melihat Anne. "Bagaimana perasaan Anda?"
tanyanya.
Anne ragu-ragu. Dia kelihatan akan mengucapkan sesuatu, tapi kemudian
mengurungkan niatnya. "Perasaan saya agak kacau," katanya.
Anne melihat kepada Judd dengan pandangan aneh. Pada air mukanya terdapat
sesuatu yang bisa menyentuh perasaan yang sudah lama dilupakan, tapi hampir
bisa diingatnya kembali. Judd
merasakan kehangatan mengalir dari diri Anne, dan juga merasakan kerinduan
fisik yang sangat kuat....
Tiba-tiba Judd menyadari apa yang sedang dilakukannya. Dia tenggelam dalam
emosinya sendiri karena perasaan terhadap Anne. Saat itu dia merasa menjadi
orang tolol, seperti mahasiswa kedokteran yang baru duduk di tingkat satu.
"Kapan Anda berangkat ke Eropa?" Judd bertanya.
"Pada pagi Hari Natal."
"Hanya Anda dengan suami?" Judd benar-benar merasa dirinya tolol, sampai
bicaranya pun sekenanya saja.
"Anda akan pergi ke mana saja?"
"Stockholm, Paris, London, dan Roma."
Ingin sekali aku menunjukkan kota Roma kepadamu, pikir Judd. Dia pernah
tinggal di sana selama setahun, berpraktek di sebuah rumah sakit Amerika. Ada
sebuah restoran tua yang fantastis bernama Cybele dekat Taman Tivoli, tinggi di
puncak gunung. Di situ juga ada sebuah kuil kuno, tempat orang bisa duduk-
duduk di bawah sinar matahari sambil melihat ratusan merpati liar beterbangan
di atas tebing curam.
Dan Anne akan pergi ke Roma dengan suaminya.
"Ini akan merupakan bulan madu kedua," kata Anne. Ada ketegangan dalam
suaranya, begitu samar sehingga Judd hampir mengira bahwa itu hanya
khayalannya belaka. Telinga yang tidak terlatih takkan bisa menangkapnya.
Judd memperhatikan Anne lebih cermat. Di luarnya dia kelihatan tenang dan
normal, tapi di
balik itu Judd bisa merasakan adanya ketegangan. Kalau keadaan seperti ini
diibaratkan sebagai lukisan seorang wanita yang sedang dipenuhi rasa cinta dan
akan pergi ke Eropa untuk berbulan madu kedua, maka satu bagian dari lukisan
itu pasti ada yang hilang.
Tiba-tiba Judd tahu bagian mana yang hilang itu.
Tidak ada kegembiraan dalam diri Anne. Seandainya ada pun, maka
kegembiraan ini tertutup di balik bayangan perasaan yang lebih kuat.
Kesedihan? Penyesalan?
Judd sadar bahwa dia sedang memandangi Anne. "Berapa—berapa lama Anda
akan pergi?"
Senyum simpul tersungging pada bibir Anne, seakan-akan dia tahu apa yang
dipikirkan Judd.
"Saya tidak tahu pasti," jawab Anne murung. "Rencana Anthony tidak bisa
dipastikan."
"Begitu."
Judd melihat ke bawah memandangi permadani, sedih. Dia harus mengakhiri
semua ini. Harus dicegah jangan sampai Anne pergi dengan pendapat bahwa dia
seorang yang sangat tolol. Yang paling baik menyuruh Anne pergi sekarang
juga.
"Nyonya Blake...." Judd memulai.
"Ya?"
Judd berusaha supaya suaranya kedengaran tetap gembira. "Sebenarnya saya
menyuruh Anda kembali ke sini dengan dalih palsu. Sebenarnya
Anda sudah tidak perlu menemui saya lagi. Saya hanya ingin—ingin
mengucapkan selamat berpisah," kata Judd terbata-bata.
Sungguh aneh dan sangat mengherankan sekali, uba-tiba ketegangan kelihatan
lenyap dari diri Anne.
"Saya tahu," kata Anne perlahan. "Saya juga ingin mengucapkan selamat
berpisah." Ada sesuatu dalam suara Anne yang menyentuh perasaan Judd lagi.
Anne bangkit berdiri. "Judd...."
Anne menengadah, menatap mata Judd. Dan Judd bisa melihat pada mata Anne
bahwa ia pasti mengetahui perasaan hati Judd terhadap dirinya. Perasaan sama
yang mungkin juga dimiliki Anne. Keduanya tidak mungkin lagi menutup-
nutupi kenyataan yang ada di antara mereka. Judd melangkah mendekati Anne,
kemudian berhenti. Dia tidak boleh melibatkan Anne ke dalam bahaya yang
sedang mengelilinginya.
Waktu akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata, suara Judd kedengaran hampir
terkontrol sebaik-baiknya. "Kirimi saya kartu pos dari Roma."
Anne memandangi Judd lama sekali. "Jagalah dirimu baik-baik, Judd."
Judd mengangguk, tidak berani mengucapkan
apa pun. Dan Anne pun pergi.
Telepon berdering tiga kali, dan barulah Judd mendengarnya. Telepon
diangkatnya. "1 ¦ Anda Dok?" Yang meneleponnya cernya-
ta Moody. Suaranya seakan melompat dari tele- j pon, nyaring, dan penuh
kegelisahan. "Anda sendirian?" "Ya."
Ada nada aneh dalam kegelisahan Moody, yang tidak bisa dikenali oleh Judd.
Waspada? Takut?
"Dok—masih ingat saya pernah mengatakan kepada Anda bahwa saya
mempunyai dugaan siapa yang mungkin mendalangi ini?"
"Ya...."
''Saya ternyata benar."
Judd tiba-tiba merasakan sekujur badannya menggigil. "Anda tahu siapa yang
membunuh Hanson dan Carol?"
"Yah. Saya tahu siapa. Dan saya tahu mengapa. Anda sasaran berikutnya,
Dokter."
"Coba katakan...."
"Tidak melalui telepon," kata Moody. "Sebaiknya kita bertemu di suatu tempat
dan membicarakannya. Datanglah sendirian." DATANG SENDIRIAN! "Anda
masih mendengarkan?" tanya Moody. "Ya," jawab Judd cepat-cepat. Apa yang
dikatakan Angeli? Apa pun juga yang Anda lakukan, Dokter, jangan temui dia
sendirian. "Mengapa kita tidak bisa bertemu di sini saja?" tanya Judd, mengulur
waktu.
"Saya selalu dibuntuti orang. Saya sudah berhasil melepaskan diri dari orang
yang membuntuti saya. Sekarang saya menelepon dari Perusahaan Pengepakan
Daging Five Star. Letaknya di 23rd
Street, sebelah barat Tenth Avenue. Tidak terlalu jauh, Dok."
Judd masih belum percaya Moody memasang perangkap untuknya. Dia
memutuskan ingin menguji Moody. "Saya akan mengajak Angeli."
Suara Moody terdengar sangat tajam. "Jangan mengajak siapa pun. Datanglah
sendirian."
Itulah dia.
Judd membayangkan si Buddha kecil yang gemuk di ujung telepon sebelah sana.
Sahabatnya yang minta bayaran lima puluh doEar sehari ditambah pengeluaran-
pengeluaran ekstra, akan menyerahkannya kepada pembunuh.
Judd tetap menahan diri supaya suaranya tetap terkontrol. "Baiklah," katanya.
"Saya akan datang." Dia mencoba mengajukan pertanyaan terakhir. "Anda yakin
benar bahwa Anda tahu siapa yang mendalangi semua ini, Moody?"
"Sangat yakin, Dok. Anda sudah pernah mendengar tentang Don Vinton?" Dan
Moody meletakkan telepon.
Judd berdiri saja, mencoba menguasai perasaannya yang tiba-tiba bergejolak.
Dia mencari nomor telepon rumah Angeli, kemudian memutar teleponnya.
Telepon berdering lima kali, dan Judd merasa panik jangan-jangan Angeli tidak
di rumah. Beranikah dia menemui Moody sendirian?
Kemudian dia mendengar suara Angeli yang sengau. "Halo."
"Judd Stevens. Moody baru saja menelepon."
Suara Angeli kedengaran gugup. "Apa katanya?"
Judd ragu-ragu. Dia merasa harus setia karena alasan yang tidak dipahaminya,
dan—ya, dia juga merasa menyukai—orang gemuk yang merencanakan untuk
membunuhnya dengan darah dingin.
"Dia minta saya menemuinya di Perusahaan Pengepakan Daging Five Star.
Letaknya di 23 rd Street, dekat Tenth Avenue. Dia mengatakan agar saya datang
sendirian."
Angeli tertawa masam. "Saya berani bertaruh memang itu yang akan
dilakukannya. Jangan keluar dari kantor, Dokter. Saya akan menelepon Letnan
McGreavy. Kami berdua akan menjemput Anda."
"Baik," kata Judd. Dia meletakkan telepon perlahan-lahan.
Norman Z. Moody. Buddha yang periang dari halaman kuning. Tiba-tiba Judd
merasakan kesedihan yang sulit diterangkan. Dia menyukai Moody. Dan percaya
kepadanya.
Dan Moody menunggu untuk membunuhnya.
13
Dua puluh menit kemudian Judd membuka kunci pintunya untuk mempersilakan
Angeli dan Letnan McGreavy masuk. Mata Angeli masih merah dan berair..
Suaranya serak. Sesaat Judd merasa menyesal karena menyeretnya dari tempat
tidur dalam keadaan sakit. McGreavy hanya mengangguk sedikit, tidak kelihatan
marah.
"Saya sudah menceritakan kepada Letnan McGreavy tentang telepon dari
Norman Moody," kata Angeli.
"Yah. Mari kita selidiki segala omong kosong ini," kata McGreavy masam.
Lima menit kemudian mereka sudah naik mobil milik polisi, dan menuju West
Side dengan kecepatan penuh. Angeli yang menyetir. Hujan salju yang tidak
begitu lebat sudah berhenti. Cahaya matahari senja yang terakhir terhalang oleh
awan tebal yang melintas di langit Manhattan.
Terdengar suara halilintar di kejauhan, dan kilat yang sangat terang menyusul
ledakannya. Titik-titik air hujan mulai mendera kaca mobil. Mobil terus melaju.
Gedung-gedung pencakar langit
seakan melayang dengan cepat ke belakang dan lenyap di balik hawa dingin
yang menggigit.
Mobil membelok ke 23rd Street, terus ke barat menuju Sungai Hudson. Mereka
melewati tempat pengumpulan barang rongsokan, bengkel-bengkel, dan rumah
minum remang-remang. Kemudian mulai kelihatan bengkel reparasi yang besar-
besar, pangkalan truk, dan perusahaan pengangkutan. Ketika mereka mendekati
sudut Tenth Avenue, McGreavy menyuruh Angeli menghenti-! kan mobil di
pinggir jalan.
"Kita turun di sini," McGreavy menoleh kepada Judd. "Apakah Moody
mengatakan dia akan ditemani oleh seseorang?"
'Tidak."
McGreavy melepaskan kancing mantel luarnya. Pistol dinasnya dipindahkan dari
tempatnya ke saku mantel. Angeli mengikuti tindakannya.
'Tetap di belakang kami," perintah McGreavy kepada Judd.
Mereka bertiga mulai berjalan, menundukkan kepala karena terpaan hujan yang
ditiup angin kencang. Setelah berjalan setengah blok, mereka sampai ke sebuah
bangunan yang kelihatan sudah tua. Di atas pintu tertulis sebuah nama
perusahaan yang catnya sudah luntur:
PERUSAHAAN PENGEPAKAN DAGING FIVE STAR
Tidak ada mobil, tidak ada truk, dan tidak ada cahaya. Sama sekali tidak ada
tanda-tanda kehidupan.
Kedua detektif itu berjalan ke pintu, masing-masing dari sisi yang berlainan.
McGreavy mencoba membuka pintu. Pintu dikunci. Dia melihat berkeliling tapi
tidak menemukan bel. Mereka memasang telinga. Sunyi, yang terdengar hanya
suara hujan.
"Kelihatannya tempat ini sudah ditutup," kata Angeli.
"Rupanya begitu," kata McGreavy. "Hari Jumat sebelum Natal hampir semua
perusahaan tutup pada tengah hari."
"Pasti ada pintu untuk membongkar muatan."
Judd mengikuti kedua detektif itu, berjalan dengan hati-hati menuju ujung
bangunan. Mereka berusaha menghindari bercak-bercak lumpur di tanah yang
dilewati. Sesampai di lorong, mereka berhenti di mukanya. Di situ tidak ada
kegiatan apa pun. Mereka berjalan terus sampai ke beranda.
"Oke," kata McGreavy kepada Judd. "Berteriaklah!"
Judd ragu-ragu. Entah mengapa, dia merasa sedih karena mengkhianati Moody.
Kemudian dia mulai berteriak.
"Moody!"
Jawaban yang terdengar hanya ngeongan kucing yang sedang marah karena
kehujanan, dan mencari tempat kering untuk berteduh.
"Tuan Moody!"
203
Ada pintu dorong terbuat dari kayu yang besar I di ujung beranda. Pintu ini
rupanya biasa dipakai untuk mengeluarkan barang dari dalam untuk dimuat ke
truk. Tidak ada tangga ke beranda yang tinggi.
McGreavy mengangkat badannya ke atas, sangat tangkas untuk orang sebesar
dia. Angeli menyusul, kemudian Judd. Angeli berjalan ke pintu dan
mendorongnya. Pintu ternyata tidak dikunci. Pintu membuka dengan suara