The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by purinugroho77, 2022-03-22 01:38:16

Sidney Sheldon - Wajah Sang Pembunuh

Sidney Sheldon - Wajah Sang Pembunuh

berderit yang agak keras.
Kucing yang tadi mengeong lagi, menjawab deritan pintu. Dia sudah melupakan
tempat berteduh yang dicarinya. Di dalam gedung gelap-gulita.
"Kau membawa senter?" tanya McGreavy kepada Angeli. 'Tidak." "Sialan!"
Mereka terus beringsut dengan hati-hati ke dalam kegelapan. Judd memanggil
lagi. "Tuan Moody! Ini Judd Stevens."
Tidak ada suara, kecuali deritan papan lantai yang diinjak ketiga orang itu ketika
mereka melintasi ruangan. McGreavy mencari-cari dalam sakunya dan
mengeluarkan korek api. Dia menyalakan sebatang dan mengangkatnya. Cahaya
dari batang korek api tidak terlalu kuat, kuning berkedip-kedip dalam tempat
yang kelihatan seperti sebuah gua besar dan kosong. Api korek segera mati.
"Cari tombol lampu," kata McGreavy. "Itu batang korek api yang terakhir."
Judd bisa mendengar Angeli meraba-raba tembok mencari tombol lampu. Judd
terus berjalan ke depan. Dia tidak bisa melihat kedua detektif itu.
"Moody!" Dia memanggil.
Dia mendengar suara Angeli dari seberang ruangan. "Ini dia tombolnya."
Terdengar suara tombol diputar. Tapi tidak terjadi suatu apa pun.
"Sekering pusatnya pasti dimatikan," kata McGreavy.
Judd membentur tembok. Ketika tangannya diulurkan, jarinya menyentuh
tombol pintu. Tombol berputar dan pintu ditarik. Pintu yang besar terbuka, dan
angin dingin menerpanya.
"Saya menemukan pintu," dia berseru.
Pintu dilewatinya, dan tetap dengan hati-hati Judd berjalan ke depan. Dia
mendengar pintu menutup di belakangnya, dan jantungnya mulai berdebar-debar
sangat kencang. Di situ lebih gelap lagi. Seakan-akan dia melangkah masuk ke
dalam kegelapan yang hitam.
"Moody! Moody...."
Sunyi, kesunyian yang sangat mencekam. Moody harus di sini, di suatu tempat.
Kalau Moody tidak di sini, Judd tahu apa pendapat McGreavy nanti. Dia pasti
akan dianggap seperti anak-anak yang berteriak serigala lagi.
Judd maju selangkah lagi, dan tiba-tiba merasakan ada daging dingin menyentuh
mukanya. Dia menarik mukanya dengan panik, merasa bulu
kuduknya berdiri. Saat itu barulah dia menyadari adanya bau darah dan kematian
yang sangat menyengat di sekelilingnya. Kegelapan yang me-ngerikan
mengepungnya menunggu untuk mengurungnya.
Sekujur rubuh Judd merinding karena takut. Jantungnya berdebar sangat
kencang, sehingga dia sulit bernapas. Dengan jari gemetar dia mencari-cari
korek api dalam saku mantel. Korek api ditemukan, lalu dinyalakannya
sebatang.

Dalam cahaya korek dia melihat mata mati yang besar tepat di mukanya. Sesaat
dia terperanjat, tapi kemudian sadar bahwa yang dilihatnya sapi yang sudah
disembelih dan digantung dengan pengait.
Sekilas dilihatnya bangkai binatang lainnya samar-samar bergantungan pada
pengait. Juga dilihatnya ada pintu di sudut, sebelum nyala korek api mati.
Mungkin pintu ini menuju ke kantor. Moody mungkin di sana, menunggunya.
Judd maju makin jauh masuk ke dalam gua hitam menuju ke pintu. Dia
bersentuhan lagi dengan daging binatang yang sudah disembelih. Cepat-cepat
dia mundur menghindar dan terus berjalan dengan hati-hati menuju ke pintu
kantor. "Moody!"
Dalam hati Judd bertanya-tanya apa gerangan yang menahan Angeli dan
McGreavy. Dia terus Sn v m?mSSaik*n bangkai binatang sembe-ttd^r? Untung.
Raknya seakan-akan dia ng dlPer^mkan oleh orang yang selera
humornya gila dan mengerikan. Tapi siapa atau mengapa dia tidak tahu, di luar
jangkauan imajinasinya. Waktu mendekati pintu, dia bertabrakan Jagi dengan
bangkai yang digantung.
Judd berhenti untuk mendapatkan keseimbangannya kembali. Batang korek api
yang terakhir dinyalakannya. Di mukanya, menyeringai sangat mengerikan,
dilihatnya tubuh Norman Z. Moody tergantung pada besi pengait. Nyala korek
api pun padam.
14
Para pemeriksa mayat sudah menyelesaikan tugasnya dan pergi. Mayat Moody
sudah dibawa dan semua orang sudah pergi kecuali Judd, McGreavy, dan
Angeli. Mereka duduk di kantor manajer yang tidak begitu besar. Dalam ruangan
kantor ada beberapa kalender dengan foto wanitai telanjang, meja tulis tua,
sebuah kursi putar, dan dua buah lemari arsip. Lampu menyala dan pemanas
listrik dihidupkan.
Manajer perusahaan, seorang bernama Paul Moretti, dicari dan diambil dari
pesta menjelang j Natal untuk menjawab beberapa pertanyaan. Dia menerangkan
- karena ini akhir pekan, maka dia . mengizinkan pegawainya pulang pada
tengahi hari. Kantor ditutup pada pukul dua belas tiga puluh dan sepanjang
pengetahuannya waktu itu tidak ada seorang pun di situ.
Tuan Moretti jelas sekali sedang mabuk. Maka setelah McGreavy tahu bahwa
dia tidak bisa banyak menolong, dia segera diantar pulang.
Judd hampir-hampir tidak menyadari apa yang terjadi dalam ruangan kantor.
Pikirannya selalu tertuju kepada Moody, betapa periang dan betapa
penuhnya dia dengan gairah hidup, dan betapa kejamnya dia dibunuh. Judd juga
menyalahkan dirinya sendiri. Kalau dia tidak melibatkan Moody, detektif swasta
kecil yang gemuk ini pasti masih hidup sekarang.

Waktu itu hampir tengah malam. Untuk kesepuluh kalinya Judd menceritakan
panggilan telepon Moody, dengan rasa kesal dan kelelahan. McGreavy tetap
memakai mantel luarnya, duduk sambil mengunyah cerutu dan
memperhatikannya. Akhirnya dia bicara. "Anda sering membaca cerita
detektif?"
Judd memandangnya dengan heran. "Tidak. Mengapa?"
"Akan saya katakan apa sebabnya. Saya rasa Anda terlalu hebat sehingga
rasanya seperti hal yang tidak nyata, Dokter Stevens. Sejak semula saya sudah
berpendapat Anda terlibat dalam semua ini. Dan saya juga sudah mengatakan
kepada Anda. Lalu apa yang terjadi? Tiba-tiba Anda berubah dari pembunuh
menjadi sasaran yang akan dibunuh. Mula-mula Anda menyatakan bahwa ada
mobil menabrak Anda dan...."
"Memang ada mobil menabraknya," Angeli mengingatkan.
"Polisi kroco saja bisa memecahkan soal itu." McGreavy memotong. "Itu bisa
saja diatur oleh orang yang bersekongkol dengan Dokter." Dia kembali
menghadapi Judd. "Selanjutnya Anda menelepon Detektif Angeli dengan
dongengan
bahwa ada dua orang masuk ke kantor untuk membunuh Anda.*'
"Mereka memang masuk ke kantor," kata Judd.
"Tidak, mereka tidak masuk," potong McGreavy. "Mereka menggunakan kunci
khusus." Nada suaranya makin keras. "Anda mengatakan bahwa kunci untuk
masuk ke kantor hanya ada dua—milik Anda dan Carol Roberts."
"Itu benar. Saya juga sudah bilang—mereka membuat duplikat kunci Carol."
"Saya tahu apa yang Anda katakan. Saya sudah menyuruh orang melakukan tes
parafin. Tidak ada orang yang membuat duplikat kunci Carol, Dokter." Dia
berhenti bicara untuk memberi kesempatan Judd meresapkan kata-katanya. "Dan
karena kunci Carol kami yang pegang—maka yang masih ada kunci Anda,
bukan?" Judd melihat kepada McGreavy, terdiam. "Setelah saya menolak teori
adanya orang gila yang berkeliaran, Anda menyewa detektif dari halaman
kuning. Dan dia dengan mudahnya menemukan bom yang dipasang pada mobil
Anda. Hanya saya tidak melihatnya, sebab barangnya sudah tidak di tempatnya
lagi. Kemudian Anda memutuskan sudah tiba waktunya untuk melemparkan
mayat lagi «kepada kami. Maka Anda main sandiwara dengan Angeli tentang
panggilan telepon untuk menemui Moody, yang mengetahui tentang orang gila
misterius yang ingin membunuh Anda. Tapi apa kemudian yang
terjadi? Kita sampai ke sini dan menemukan dia tergantung pada pengait
daging." Muka Judd merah karena marah. "Saya tidak tahu-menahu apa yang
terjadi.'*
McGreavy melihat kepadanya lama sekali, dengan pandangan keras. "Anda tahu

satu-satunya alasan mengapa Anda belum ditahan? Karena saya belum
menemukan motif teka-teki ini. Tapi saya akan menemukannya, Dokter. Saya
berjanji untuk menemukannya." Dia bangkit berdiri.
Tiba-tiba Judd teringat. "Tunggu dulu!" katanya. "Bagaimana tentang Don
Vinton?"
"Ada apa tentang dia?"
"Moody mengatakan bahwa dialah orang yang mendalangi semua ini."
"Anda kenal dengan orang yang bernama Don Vinton?"
"Tidak," jawab Judd. "Saya-saya kira dia dikenal oleh polisi."
"Saya belum pernah mendengar," McGreavy menoleh kepada Angeli. Angeli
menggelengkan kepala.
"Oke. Kirim edaran untuk menemukan Don Vinton. Sebar ke FBI, Interpol, dan
kepala polisi di semua kota besar Amerika." Dia memandang Judd. "Puas?"
Judd mengangguk. Siapa pun yang mendalangi semua ini, pasti sebelumnya
sudah pernah tercatat dalam tindak kriminal entah di kantor polisi yang mana.
Pasti tidak sulit mengenalinya.
Lalu dia kembali memikirkan Moody, pepatah
yang biasa diucapkannya dan otaknya yang* cerdas. Moody pasti dibuntuti
orang sampai ke situ. Tidak mungkin dia memberi tahu orang lain tentang
tempat pertemuan mereka, sebab Moody sudah menekankan ini harus
dirahasiakan. Tapi sekurang-kurangnya, walaupun Moody telah dada, sekarang
mereka tahu nama orang yang dicari. PraemonitHSy praemunitas. Diperingatkan
lebih dulu sama dengan dipersenjatai lebih dulu.
Pembunuhan Norman Z. Moody dimuat di halaman depan semua surat kabar
keesokan harinya. Judd membeli surat kabar dalam perjalanan ke kantornya.
Secara singkat namanya disebut-sebut sebagai seorang saksi yang menemukan
mayat bersama polisi. Tapi McGreavy bisa menahan cerita keseluruhannya dari
pers. McGreavy memainkan kartunya dengan cermat sekali. Dalam hati Judd
bertanya-tanya apa gerangan pendapat Anne.
Waktu itu hari Sabtu, hari di mana Judd mendapat giliran tugas di klinik. Dia
sudah mengatur agar orang lain yang menggantikan tugasnya di situ. Sementara
dia sendiri pergi ke kantornya, naik lift sendiri, dan memeriksa terlebih dahulu
apakah tidak ada orang yang bersembunyi menunggunya di gang. Walaupun
demikian dia tidak tahu berapa lama lagi dia bisa hidup demikian, sadar bahwa
setiap saat pembunuh bisa beraksi untuk menghabisinya.
Pagi itu enam kali dia bermaksud mengangkat
telepon untuk menanyakan tentang Datf Vmton kepada Detektif Angeli, tapi
setiap kaK dia berhasil mengekang kesabarannya. Angeli pasti akan
meneleponnya kalau sudah mengetahui sesuatu.

Apa gerangan motif Don Vinton untuk membunuhnya? pikir Judd tidak
mengerti. Bisa jadi dia pasien yang pernah dirawat oleh Judd berta-huntahun
yang lalu, waktu dia baru mulai berpraktek. Seseorang yang merasa direndahkan
atau disakiti oleh Judd dengan suatu cara. Tapi Judd tidak bisa mengingat-ingat
bahwa dia mempunyai pasien yang bernama Vinton.
Pada siang hari dia mendengar ada orang mencoba membuka pintu gang menuju
kantor resepsionis. Ternyata yang datang Angeli. Judd tidak bisa membaca apa
pun dari air mukanya, kecuali bahwa Angeli kelihatan semakin pucat dan payah.
Hidungnya merah, dan dia bersin terus. Dia berjalan masuk ke dalam ruang
praktek Judd dan terperenyak ke atas kursi.
"Sudah mendapat jawaban mengenai Don Vinton?" tanya Judd penuh harap.
Angeli mengangguk. "Kami menerima jawaban dengan teletype dari FBI, kepala
polisi di semua kota besar Amerika Serikat, dan interpol."
Judd menunggu, menahan napas.
"Tidak satu pun dari mereka pernah mendengar tentang Don Vinton," Angeli
meneruskan.
Judd melihat kepada Angeli tidak percaya, dan tiba-tiba semangatnya menjadi
merosot. "Tapi itu
mustahil! Maksud saya—pasti ada seseorang yang mengenalnya. Orang yang
bisa melakukan semua ini tidak mungkin kalau tidak pernah mempunyai catatan
hitam di kepolisian."
"Begitu juga kau McGreavy," jawab Angeli kelelahan. "Dokter, saya dengan
anak buah semalaman mengecek semua orang yang bernama Don Vinton di
Manhattan dan distrik lainnya* Kami bahkan sampai menyelidiki New Jersey
dan Connecticut."
Angeli mengulurkan sehelai kertas bergaris dari sakunya, dan menunjukkan
kepada Judd.
"Kami menemukan sebelas orang yang bernama Don Vinton di buku telepon
yang mengeja namanya dengan 'ton'. Empat yang mengeja namanya dengan 'ten',
dan dua yang mengejanya dengan 'tin'. Kami bahkan mencobanya sebagai satu
nama. Kami mempersempitnya menjadi lima kemungkinan dan mengecek
mereka satu per satu. Satu orangnya lumpuh. Seorang dari mereka menjadi
pastor. Satu seorang wakil presiden direktur sebuah bank. Satu lagi seorang
petugas pemadam kebakaran yang sedang bertugas waktu kedua pembunuhan
terjadi. Tinggal satu yang terakhir. Dia punya toko binatang piaraan, dan
umurnya sudah hampir delapan puluh tahun."
Judd merasakan kerongkongannya kering. Tiba-tiba dia menyadari betapa
tergantungnya dia kepada informasi ini. Tentunya Moody tidak akan
memberikan nama itu kalau dia tidak yakin benar. Dan Moody tidak mengatakan

bahwa Don Vin-
ton seorang pembantu pembunuhan. Moody mengatakan Don Vinton ini yang
mendalangi semuanya.
Sulit dimengerti bahwa polisi tidak mempunyai catatan tentang orang seperti itu.
Moody dibunuh karena dia berhasil menemukan kebenaran. Dan sekarang
karena Moody sudah disingkirkan, Judd sama sekali sendirian. Jaring labah-
labah makin erat melibatnya.
"Saya menyesal sekali," kata Angeli.
Judd memandangi detektif ini. Tiba-tiba dia teringat bahwa Angeli semalaman
tidak pulang. "Saya sangat menghargai usaha Anda," katanya penuh rasa terima
kasih.
Angeli mencondongkan badannya ke depan. "Anda yakin benar tidak keliru
mendengar kata-kata Moody?"
"Ya."
Judd memejamkan matanya memusatkan pikiran. Dia juga bertanya kepada
Moody apakah dia yakin benar tentang siapa yang mendalangi ini semua. Suara
Moody terngiang kembali di telinganya. Yakin sekali. Anda sudah pernah
mendengar tentang Don Vinton f Don Vinton f
Judd membuka matanya. "Ya," katanya mengulangi.
Angeli menghela napas. "Kalau begitu kita menemui jalan buntu." Dia tertawa
pahit. "Bukan bermaksud menyindir." Dia bersin.
"Sebaiknya Anda kembali ke tempat tidur."
Angeli berdiri. "Yah, saya rasa memang sebaiknya demikian."
Judd ragu-ragu. "Berapa lama-Anda menjadi pamer McGreavy?"
"Ini perkara kami yang pertama. Mengapa?"
"Apakah Anda berpendapat dia bisa memfitnah saya sebagai orang yang
melakukan pembunuhan?"
Angeli bersin lagi. "Saya rasa Anda mungkin benar,- Dokter. Sebaiknya saya
kembali ke tempat tidur." Dia berjalan ke pintu.
"Mungkin saya punya petunjuk," kata Judd.
Angeli berhenti dan menoleh. "Petunjuk apa?"
Judd menceritakan kepadanya tentang Teri. Dia menambahkan bahwa dia juga
akan mengecek beberapa laki-laki yang dulu pernah menjadi pacar John Hanson.
"Kedengarannya takkan banyak hasilnya," kata Angeli terus terang. "Tapi saya
rasa itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali."
"Saya sudah kesal dan lelah dijadikan sasaran. Saya akan mulai melawan. Saya
akan memburu mereka."
Angeli memandangnya. "Dengan' apa? Kita sama saja dengan memerangi
bayangan."

"Kalau saksi memberikan deskripsi seseorang sebagai tertuduh, polisi bisa
menyuruh seorang pelukis menggambar gabungan dari semua deskripsi. Betul?"
Angeli mengangguk. "Itu namanya identi-Ut." 'l mulai berjalan mondar-mandir
gelisah.
"Saya akan menjelaskan kepada Anda identi-kit pribadi orang yang mendalangi
semua ini."
"Bagaimana bisa? Anda belum pernah melihatnya. Siapa pun bisa saja dituduh
sebagai pelaku-nya.
"Tidak, tidak bisa," Judd memberi koreksi. "Kita mencari seseorang yang sangat,
sangat istimewa."
"Seorang yang gila?"
"Gila hanyalah istilah umum. Tidak memiliki arti medis. Yang disebut
kewarasan hanyalah kemampuan otak menyesuaikan diri dengan realitas. Kalau
otak tidak bisa menyesuaikan diri, mungkin kita bersembunyi dari realitas, atau
kita meletakkan diri di atas kehidupan. Di situ kita menjadi manusia super yang
tidak perlu mengikuti aturan."
"Orang yang kita cari ini merasa dirinya manusia super?"
"Tepat. Dalam situasi yang berbahaya kita mempunyai tiga pilihan, Angeli.
Melarikan diri, mengambil jalan tengah, atau menyerang. Orang mi ternyata
memilih menyerang."
"Jadi dia orang yang sakit ingatan?"
"Tidak. Penderita sakit ingatan jarang sampai melakukan pembunuhan. Ruang
lingkup konsentrasinya sangat terbatas. Kita sedang menghadapi seseorang yang
lebih penuh komplikasi. Mungkin dia seorang somatik, hipofrenik, skizoid,
siklddf atau kombinasi dari itu semua. Mungkin juga kita berurusan dengan
seorang fngut-penderita amnesia sementara yang didahului dengan tindakan
irrasional. Tapi yang penting, rupanya lahiriah dan sikapnya kelihatan seratus
persen normal bagi orang lain."
"Jadi kita tidak punya modal apa pun untuk bisa meneruskan penyelidikan?"
"Anda keliru. Kita mempunyai modal banyak sekali untuk meneruskan
penyelidikan. Saya bisa memberi Anda deskripsi fisik orang ini," katai Judd. Dia
menyempitkan matanya, memusatkan pikiran. "Don Vinton mempunyai tinggi
badan yang melebihi ukuran orang biasa, dengan proporsi tubuh yang bagus dan
potongan seorang atlet. Dia selalu rapi dan cermat dalam segala hal j yang
dilakukannya. Dia juga punya bakat artistik. Tapi dia bukan pelukis, penulis,
ataupun pemain musik."
Angeli terbelalak, mulutnya ternganga. Judd meneruskan. Kini dia bicara lebih
cepat, mulai bersemangat. "Dia tidak menjadi anggota klub sosial atau organisasi
apa pun juga. Kecuali kalau dia yang menjadi pemimpinnya. Dia orang yang

biasa memerintah. Dia tidak kenal belas kasihan, dan dia pun bukan penyabar.
Dia selalu memikirkan yang hebat-hebat. Misalnya dia tidak pernah mau terlibat
dalam pencurian kecil-kecil' an. Kalau dia pernah terlibat tindak kriminal, pasti
kejahatan yang dilakukannya menyangkut perampokan bank, penculikan, atau
pembunuhan."
Makin lama judd makin bersemangat. Gambaran dalam otaknya makin jelas.
"Setelah dia
berhasil ditangkap, akan ketahuan bahwa dulu dia mungkin ditolak oleh salah
satu orangtuanya ketika masih anak-anak."
Angeli menyela. "Dokter, saya tidak ingin menebak-nebak apa yang Anda
deskripsikan. Menurut pendapat saya orang ini mungkin seorang pecandu obat
bius yang sinting, yang...."
"Tidak. Orang yang kita cari tidak menggunakan obat bius." Suara Judd sangat
yakin. "Akan saya katakan yang lain lagi tentang dia. Dia senang olahraga yang
memerlukan ketangkasan dan kerja sama, sepak bola atau hockey. Dia tidak
tertarik pada catur, permainan kata-kata, atau teka-teki."
Angeli memandanginya tidak percaya. "Yang kita cari lebih dari satu orang,"
katanya menyanggah. "Anda sendiri yang mengatakan begitu."
"Saya memberikan deskripsi Don Vinton," kata Judd. "Orang yang menjadi otak
semuanya uii. Akan saya katakan lagi sesuatu tentang dirinya. Dia punya tipe
Latin." "Mengapa Anda berpendapat begitu?" "Karena melihat metode yang
dipakainya dalam membunuh. Pisau—air keras—bom. Dia orang Amerika
Selatan, Italia, atau Spanyol," Judd menghela napas. "Itulah dia identi-kit Anda.
Itulah deskripsi orang yang melakukan tiga pembunuhan dan sedang berusaha
membunuh saya."
Angeli menelan ludah. "Bagaimana Anda bisa mengetahui semua ini?"
Judd duduk dan mencondongkan badan ke arah Angeli. "Ini profesi saya."
"Dari segi mental, memang benar. Tapi bagaimana Anda bisa memberikan
deskripsi fisik orang yang belum pernah Anda lihat?"
"Saya menarik kesimpulan berdasarkan perbandingan. Seorang dokter bernama
Kretschmer berhasil menemukan bahwa delapan puluh lima persen penderita
paranoid mempunyai potongan tubuh yang prima, atletis. Orang yang kita cari
ini jelas penderita paranoid. Dia orang yang selalu berangan-angan tinggi.
Seorang megalomaniak yang merasa dirinya di atas hukum."
"Kalau begitu mengapa dia tidak dikurung lama berselang?"
"Karena dia memakai topeng?"
"Apa maksud Anda, Dokter?"
"Kita semua memakai topeng, Angeli. Sejak kita meninggalkan masa kanak-
kanak, kita sudah diajar untuk menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya.

Kita sudah diajar untuk menutup-nutupi kebencian dan ketakutan kita." Suara
Judd penuh wibawa. "Tapi di bawah tekanan, Don Vinton akan menjatuhkan
topeng dan memperlihatkan wajahnya yang telanjang."
"Begitu."
"Egonya merupakan titik kelemahannya. Kalau egonya terancam—benar-benar
terancam—dia akan menunjukkan aslinya sebagai penderita paranoid. Sekarang
dia sudah terdesak ke tepi tebing. Tidak sulit untuk menjerumuskannya sama
sekali ke jurang." Judd ragu-ragu sebentar. Kemudian
dia meneruskan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. "Dia orang
yang punya "Punya apa?"
"Mana. Itu istilah yang dipakai oleh orang primitif yang senang memaksakan
pengaruhnya kepada orang lain, karena dorongan iblis dalam dirinya. Dia orang
yang mempunyai kepribadian sangat kuat."
"Anda tadi mengatakan bahwa dia bukan pelukis, penulis, ataupun pemain
musik. Bagaimana Anda bisa mengetahui itu?"
"Dunia penuh dengan seniman yang sekaligus menderita penyakit jiwa. Mereka
hampir semua bisa mengatasi kehidupan tanpa kekerasan, karena pekerjaannya
memungkinkan mereka melepaskan semua yang terkandung dalam dirinya.
Orang yang kita cari ini tidak mempunyai media untuk menyalurkan keinginan-
keinginan atau melepaskan tekanan-tekanan dalam jiwanya. Maka dia seperti
gunung berapi. Satu-satunya cara untuk melepaskan tekanan dalam jiwanya itu
hanyalah dengan meletus: Hanson —Carol—Moody."
"Maksud Anda semua ini hanya merupakan kejahatan tanpa tujuan atau motif,
yang dilakukan hanya untuk...."
"Bagi dia bukan tanpa tujuan atau motif. Bahkan sebaliknya...." Otak Judd
berputar cepat sekali. Beberapa bagian dari teka-teki mulai terpasang pada
tempatnya. Dia menyumpahi dirinya sendiri karena sebelumnya terlalu buta atau
takut, sehingga tidak melihatnya.
"Sayalah satu-satunya orang yang diburu Don Vinton—sasaran utama," Judd
meneruskan. "John Hanson dibunuh karena dikira diri saya. Setelah mengetahui
kekeliruannya, si pembunuh datang ke kantor saya untuk mencoba lagi. Saya
kebetulan tidak ada di tempat, tapi dia menemukan Carol di situ." Suara Judd
penuh kemarahan.
"Carol dibunuh supaya tidak bisa mengenalinya?*'
"Tidak. Orang yang kita cari bukan seorang vang sadis. Carol disiksa karena dia
menginginkan sesuatu. Katakanlah misalnya suatu bukti kejahatan. Dan Carol
tidak mau—atau tidak bisa—memberikan yang diinginkannya itu."
"Bukti macam apa?" Angeli mendesak.
"Saya tidak tahu," kata Judd. "Tapi itu kunci dari segala-galanya. Moody

menemukan jawabannya, dan itulah sebabnya mereka membunuhnya."
"Ada satu hal yang rasanya masih tidak masuk akal. Kalau mereka membunuh
Anda di jalan, mereka pun takkan mendapatkan bukti yang diinginkan. Ini tidak
cocok dengan teori Anda yang lain," kata Angeli,
"Bisa. Marilah kita misalkan bukti ini terdapat pada salah satu rekaman saya.
Bukti ini sendiri tidak ada artinya apa-apa, tapi kalau saya gabungkan dengan
fakta yang lain, barulah bukti ini merupakan ancaman bagi mereka. Maka
mereka mempunyai dua pilihan. Merebutnya dari saya, atau melenyapkan diri
saya supaya tidak bisa menceritakannya kepada orang lain.
"Mula-mula mereka mencoba melenyapkan diri saya. Tapi mereka keliru
membunuh Hanson. Kemudian mereka akan melakukan pilihan yang kedua.
Mereka berusaha merebutnya dari Carol. Setelah ini gagal, mereka memutuskan
untuk memusatkan perhatian pada usaha membunuh saya. Di sinilah peranan
kecelakaan mobil. Mungkin saya dibuntuti ketika menyewa Moody, dan
selanjutnya dia pun ganti diikuti. Ketika.Moody menemukan fakta yang
sebenarnya, mereka pun membunuhnya."
Angeli memandang Judd, wajahnya berkerut-kerut karena berpikir keras-keras.
"Itulah sebabnya maka si pembunuh takkan berhenti berusaha sebelum saya
mati," Judd menarik kesimpulan dengan tenang. "Akibatnya ini menjadi
permainan maut, dan orang yang saya sebutkan deskripsinya tadi tidak mau
menerima kekalahan."
Angeli memperhatikannya, menimbang semua kata-kata Judd.
"Kalau Anda benar," kata Angeli akhirnya, "Anda membutuhkan perlindungan."
Dia mengeluarkan pistol dinasnya, membuka tempat pelurunya untuk melihat
apakah pistolnya berisi.
"Terima kasih, Angeli. Tapi saya tidak memerlukan pistol. Saya akan melawan
mereka dengan senjata saya sendiri."
Terdengar suara pintu luar dibuka seseorang.
"Anda menunggu kedatangan seseorang?"
Judd menggeleng. "Tidak. Siang ini saya tidak menerima pasien."
Dengan pistol masih di tangan, Angeli berjalan tanpa suara ke pintu yang
menuju ke kantor resepsionis. Dia melangkah ke samping dan membuka pintu
lebar-lebar. Peter Hadley berdiri di muka pintu, air mukanya menunjukkan rasa.
terkejut dan takut.
"Kau siapa?" bentak Angeli.
Judd berjalan ke pintu. "Tidak apa-apa," kata j Judd cepat-cepat. "Dia teman
saya."
"Hei! Ada apa di sini?" tanya Peter.
"Sony," Angeli minta maaf. Dia menyimpan pistolnya- j§S^I

"Ini Dokter Peter Hadley—ini Detektif Ange-
"Klinik psikoanaiis sinting apa-apaan pula ini?" tanya Peter.
"Ada sedikit kesulitan di sini," Angeli mene- j rangkan. "Kantor Dokter Stevens
habis... kebo-bolan dan kami berpikir siapa pun yang melaku- I kannya mungkin
akan kembali lagi."
Judd meneruskan percakapan yang dimulai j oleh Angeli. "Ya. Mereka belum
menemukan j yang dicari."
"Apakah ini ada hubungannya dengan pembunuhan Carol?" tanya Peter.
Angeli berbicara sebelum Judd bisa menjawab. "Kami tidak yakin, Dokter
Hadley. Untuk sementara ini Dinas Kepolisian meminta agar Dokter Stevens
tidak membicarakan perkara itu." j
"Saya mengerti," kata Peter. Dia melihat kepada Judd. "Janji makan siang
bersama kami masih berlaku?"
Judd sadar bahwa dia telah melupakannya. "Tentu saja," katanya cepat-cepat.
Dia menoleh kepada Angeli. "Saya rasa kita sudah membicarakan segala-
galanya."
"Saya rasa juga begitu," Angeli sependapat. "Sungguh Anda tidak
memerlukan...?" Dia menunjukkan revolver-nya. Judd menggeleng. "Terima
kasih." "Baiklah kalau begitu. Hati-hatilah," kau Angeli.
"Baik," kata Judd. "Saya akan berhati-hati."
Judd banyak termenung-menung selama makan siang, dan Peter tidak
mendesaknya. Mereka hanya membicarakan perihal sahabat mereka sendiri,
pasien yang - sama-sama mereka rawat. Peter mengatakan kepada Judd bahwa
dia sudah berbicara dengan atasan Harrison Burke. Secara diam-diam mereka
sudah mengatur agar dilakukan pemeriksaan mental terhadap Burke. Dia akan
dikirim ke tempat perawatan pribadi. Waktu mereka minum kopi, Peter berkata,
"Aku tidak taliu kesulitan apa yang sedang kau-
alami, Judd. Tapi kalau aku bisa menolong...." Judd menggelengkan kepala.
"Terima k&siht
Peter. Ini kesulitan yang harus kuatasi sendiri.
Akan kuceritakan semua kepadamu kalau sudah
beres."
J eter ragu.
"Aku harap semoga segera beres '* t dengan nada gembira. Kemudian dia ra"*
"Judd-apakah kau terancam suatu baha* >> "Tentu saja tidak," jawab Judd. "
Kecuali kalau memperhitungkan seorane Va giJa membunuh, yang sudah
melakukan § pembunuhan dan bertekad menjadikan Judd k bannya yang
keempat. 0r~
l

15
Setelah makan siang, Judd kembali ke kantornya. Dia meningkatkan
kewaspadaan, yang belakangan ini menjadi begitu akrab dengan dirinya, yakni
mengecek segala-galanya demi keselamatan dirinya.
Dia harus melindungi semua yang masih berarti. Kemudian dia mulai
mendengarkan rekaman lagi. Didengarkannya baik-baik apa saja yang mungkin
bisa memberikan petunjuk. Rasanya seperti mendengarkan kembali badai kata-
kata. Suara yang terdengar penuh dengan kebencian... kejahatan... ketakutan...
kasihan kepada diri sendiri... rasa superioritas... kesepian... kekosongan... rasa
sakit....
Setelah waktu tiga jam berlalu dia hanya menemukan satu nama yang bisa
ditambahkan ke dalam daftarnya: Bruce Boyd, laki-laki yang terakhir kalinya
hidup bersama dengan John Hanson. Judd memasang rekaman John Hanson lagi
pada tape recorder.
".. saya rasa saya jatuh tinta P*da pandangan pertama. Dm P'1'"*
cantik yang pernah saya lihat.
"Dia patner yang pasif atau dominan, Jobnfi "Dominan. Itulah salah satu di
antara banyak hal yang membina saya tertarik kepadanya. Dia sangat kuat.
Bahkan kemudian setelah pacaran, kami biasa bertengkar karena kekuatannya." )
"Mengapa?"
"Bruce tidak menyadari bahwa dia sangat knot. Dia biasa berjalan mendekati
saya dari belakang dan memukul punggung saya. Maksudnya sebagai tanda
kasih sayang, tapi suatu hari dia hampir mematahkan tulang punggung saya.
Saya sampai ingin membunuh dia. Kalau berjabat tangan, remasannya seakan-
akan bisa meremukkan jari tangan orang yang dijabatnya. Dia selalu pura-pura
menyesal, tapi sebenarnya Bruce suka menyakiti orang. Dia tidak memerlukan
cambuk. Dia sangat kuat..."
Judd mematikan tape recorder dan duduk sambil berpikir. Pola homoseks tidak
cocok dengan konsep tentang si pembunuh. Tapi ada segi lain, yaitu Boyd ada
hubungan dengan Hanson. Dia juga seorang yang sadis dan mementingkan diri
sendiri.
Diperhatikannya dua nama dalam daftarnya: Teri Washburn, yang membunuh
pacarnya ketika dia di Hollywood tapi tidak pernah menyebut-nyebutnya; dan
Bruce Boyd, pacar John Hanson yang terakhir. Kalau memang salah seorang di
antara mereka—yang mana?
Teri Washburn tinggal di aoartemen sewaan di
Sutton Place. Seluruh apartemen didekorasi de* ngan warna merah jambu:
dinding, perabotan, tirai. Banyak hiasan yang sangat mahal tersebar di mana-
mana dalam kamar, dan di dinding bergantungan lukisan impresionis Prancis.

Judd mengenali dua lukisan Manet, dua lukisan Degas, satu lukisan Monet, dan
satu lukisan Renoir. Ketika Judd sedang asyik memandangi lukisan-lukisan itu,
Teri masuk ke dalam ruangan. Sebelumnya Judd sudah menelepon,
memberitahukan bahwa dia akan datang. Teri sudah siap menyambutnya. Dia
mengenakan gaun kamar berwarna merah jambu tanpa apa-apa lagi di baliknya.
"Kau benar-benar datang," kau Teri dengan gembira.
"Saya ingin bicara denganmu."
"Tentu saja. Mau minum?"
"Tidak, terima kasih." Kalau begitu saya saja yang minum untuk merayakan
kedatanganmu," kata Teri. Dia berjalan ke bar di sudut ruang duduk yang luas.
Judd memperhatikannya, dengan pikiran penuh.
Teri kembali membawa minuman dan duduk di sisi Judd di sofa merah jambu.
"Jadi akhirnya kau datang juga ke sini, Manis," katanya. "Saya tahu kau takkan
bisa bertahan terhadap si Teri kecil. Saya tergila-gila kepadamu, Judd. Saya akan
melakukan apa saja untukmu. Katakan saja. Kau membuat semua laki-laki yang
pernah saya kenal kelihatan seperti kotoran busuk." Dia meletakkan
minumannya, lalu meletakkan tangannya pada celana Judd.
Judd menyingkirkan tangan Teri.
"Teri," katanya. "Saya memerlukan bantuanmu."
Teri menafsirkan kata-kata Judd dari segi pemikirannya sendiri. "Saya tahu,
Sayang," katanya dengan suara seperti erangan. ."Saya akan membuatmu sangat
puas seperti yang belum pernah kaualami dalam hidupmu."
"Teri—dengar dulu I Ada orang mencoba membunuh saya!"
Mata Teri memancarkan rasa heran. Hanya sandiwara—ataukah benar-benar?
Judd masih ingat bagaimana permainan Teri pada salah satu pertunjukannya. Dia
memang pandai bersandiwara, tapi bukan aktris yang cukup berprestasi. Kali ini
reaksi yang ditunjukkannya ketika mendengar kata-kata Judd benar-benar tulus.
"Ya, Tuhan! Siapa—siapa yang ingin membunuhmu?"
"Mungkin seseorang yang ada hubungannya dengan salah seorang pasien saya."
"Tapi—ya, Tuhan—mengapa?" "Itulah yang sedang saya selidiki, Teri. Apakah
salah seorang temanmu ada yang pernah bicara tentang kematian... atau
pembunuhan? Mungkin sebagai permainan di pesta, sebagai gurauan?" Teri
menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." "Kau kenal dengan orang yang bernama
Don
Vinton?" Judd memperhatikan Teri dengan cemas.
"Don Vinton? Hmm. Mana aku kenal?" "Teri—bagaimana pendapatmu tentang
pembunuhan?"
Teri kelihatan agak gemetar. Judd memegangi pergelangan tangannya, dan dia
bisa merasakan urat nadi Teri berdenyut lebih cepat. "Apakah pembunuhan

membuat pikiranmu gelisah?"
"Saya tidak tahu."
"Coba pikirkan," Judd mendesak. "Apakah pikiran tentang pembunuhan
membuat kau gelisah?"
Denyut nadinya mulai tidak teratur. "Tidak! Tentu saja tidak."
"Mengapa kau tidak menceritakan kepada saya mengenai laki-laki yang
kaubunuh di Hollywood?"
Sekonyong-konyong Teri mengangkat tangannya, akan mencakar muka Judd
dengan kukunya yang tajam. Judd menangkap pergelangan tangannya.
"Kau anjing busuk! Itu sudah dua puluh tahun
yang lalu____ Jadi itulah sebabnya kau datang.
Keluar dari sini! Keluar!" Teri jatuh terduduk dan menangis histeris.
Sesaat Judd memperhatikannya. Teri bisa terdorong untuk membunuh. Wataknya
yang labil, tiadanya penghargaan kepada diri sendiri bisa membuat dia menjadi
sasaran empuk bagi siapa saja yang ingin memperalat dirinya.
Ya, Teri seperti segumpal tanah liat basah yang i tergeletak di comberan. Orang
yang mengambilnya bisa membentuk tuah liat itu menjadi patung! yang indah—
atau menjadi senjata pembawa maut. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang
mengambilnya paling akhir? Don Vinton? Judd berdiri. "Maaf," katanya. Dia
keluar dari apartemen merah jambu itu. Bruce Boyd tinggal di daerah perumahan
yang i sudah diperbaharui dekat taman di Greenwich] Village. Pintu rumahnya
dibuka oleh seorang pelayan Filipina yang memakai jas berwarna: putih. Judd
memberitahukan namanya dan diper-1 silakan menunggu di ruang tengah. Lalu
si pelayan menghilang.
Waktu sepuluh menit berlalu, kemudian lima belas menit. Judd menahan
kekesalannya. Mungkin dia seharusnya memberi tahu Detektif Angeli bahwa dia
akan datang ke rumah Boyd. Kalau teori Judd benar, usaha untuk membunuh
dirinya akan segera dilakukan lagi. Dan pembunuhnya akan berusaha keras agar
sasarannya berhasil.
Si pelayan muncul lagi. 'Tuan Boyd segera akan menemui Anda," katanya. Dia
mengantarkan judd naik ke ruang belajar yang mewah, kemudian mengundurkan
diri dengan diam-diam.
Boyd duduk menghadapi meja, sedang menulis. Dia laki-laki yang tampan
dengan muka tajam, hidung runcing, dan bibir penuh. Rambutnya berwarna
pirang dan keriting. Dia berdiri waktu Judd masuk. Tinggi badannya kira-kira
satu meter
delapan puluh, dengan dada dan bahu yang
bidang. . ^
Judd teringat akan identi-kit fisik si pembunuh yang pernah dia deskripsikan di

depan Angeli. Deskripsinya cocok dengan perawakan dan penampilan Boyd.
Judd semakin merasa menyesal karena dia tidak meninggalkan pesan untuk
Angeli.
Suara Boyd lemah-lembut, suara orang yang terpelajar. "Maaf karena
membiarkan Anda menunggu, Dokter Stevens," katanya dengan nada ramah.
"Saya Bruce Boyd." Dia mengulurkan tangannya.
Judd segera mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Boyd, dan secara
tiba-tiba Boyd memukul mulut Judd dengan sekeras-kerasnya. Pukulan ini sama
sekali tidak diduga-duga oleh Judd, dan akibatnya dia jatuh terjajar menabrak
lampu. Lampu dan tubuhnya secara bersamaan roboh ke lantai.
"Maaf, Dokter," kata Boyd, melihat ke bawah kepada Judd. "Kau tahu itu akan
kaualami. Kau anak nakal, bukan? Bangunlah, nanti saya ambilkan minuman."
judd menggeleng-gelengkan kepalanya yang terasa «pusing. Dia mencoba
mengangkat tubuhnya bangkit dari lantai. Ketika dia baru setengah bangkit,
Boyd menyepak perutnya dengan ujung sepatu. Judd roboh kembali ke lantai,
menggeliat-geliat kesakitan.
"Saya sudah menunggu-nunggu kedatanganmu," kata Boyd.
Judd mencoba memandang ke atas, ke aral tubuh rang menjulang tinggi,
walaupun gelombang kesakitan melandanya. Dia mencoba bicara tapi tidak bisa
mengeluarkan kata-kata.
'Tidak usah mencoba bicara," kata Boyd dengan nada kasihan. "Kau pasti merasa
sakit. Saya tahu mengapa kau datang ke sini. Kau ingin menanyakan perihal
Johnny."
Judd bermaksud mengangguk, tapi Boyd menendang kepalanya. Antara sadar
dan tidak dia mendengar suara Boyd seperti datang dari jauh, berom bak-om
bak.
"Dulu kami saling mencintai sebelum dia datang menemui kau. Kau membuat
dia merasa seperti orang yang tidak normal. Kau membuat dia merasa bahwa
cinta kami kotor. Kau tahu siapa yang membuatnya menjadi kotor, Dokter
Stevens? Kau."
Judd merasakan sesuatu yang keras menghantam tulang rusuknya, membuat
seluruh tubuhnya dijalari rasa nyeri yang luar biasa. Sekarang Judd melihat
segala-galanya dalam warna yang indah, seakan kepalanya penuh berisi warna-
warna bianglala.
"Siapa yang memberimu hak untuk mengatakan kepada orang lain bagaimana
caranya bercinta, Dokter? Kau duduk di kantormu seperti dewa, dan
menghukum semua orang yang tidak sependapat dengan dirimu/'
Itu tidak benar, Judd menjawab jauh dalam pikirannya. Sebelumnya Hanson
tidak pernah

ounya pilihan. Aku memberikan pilihan kepadanya. Dan dia tidak memilihmu.
"Sekarang Johnny sudah mati," kata si raksasa pirang yang menjulang tinggi di
atasnya. "Kau yang membunuh Johnny. Sekarang saya akan membunuhmu."
Judd merasakan tendangan lagi di belakang telinganya, dan dia mulai tidak
sadarkan diri. Bagian pikirannya yang sangat jauh seakan-akan bisa melihat
dirinya yang mati secara perlahan-lahan.
Bagian otak kecilnya yang terisolir terus berfungsi, memancarkan pola berpikir
yang lemah. Dia menyesali dirinya sendiri karena tidak lebih dekat lagi
menemukan kebenaran. Dikiranya si pembunuh berambut hitam dengan tipe
Latin, topi ternyata dia berambut pirang. Tadinya dia yakin si pembunuh bukan
seorang homoseks, dan kini ternyata dia keliru. Orang yang gila membunuh
sudah berhasil ditemukannya, dan sekarang dia akan mati karenanya. Judd jatuh
pingsan.
16
Bagian yang jauh dari pikirannya mencoba mengirimkan berita, mencoba
mengirimkan sesuatu yang sangat penting. Tapi jauh di dalam kepalanya ada
yang terasa memukul-mukul sangat sakit, sehingga dia tidak bisa menujukan
konsentrasi kepada masalah kulinya.
Di suatu tempat yang lebih dekat, dia bisa mendengar suara lengkingan
meninggi seperti suara binatang liar yang luka. Perlahan-lahan, dengan susah-
payah Judd membuka matanya. Dia berbaring di tempat tidur dalam sebuah
kamar yang asing. Di sudut kamar, Bruce Boyd sedang < menangis tersedu-sedu.
Judd mencoba duduk. Rasa nyeri dalam tubuhnya membanjiri ingatannya
dengan kenangan tentang apa yang baru saja menimpanya. Tiba-tiba dia
merasakan kemarahan yang amat sangat.
Boyd menoleh ketika mendengar Judd bergerak. Dia berjalan menghampiri
tempat tidur.
"Itu salah Anda sendiri," Boyd mengerang. "Kalau tidak karena Anda, Johnny
masih hidup dan selamat bersama saya."
bukan karena kehendaknya sendiri, I
i terdorong oleh instink membalas dendam yang sudah lama dilupakan dan
terpendam, Judd mengulurkan tangan ke arah leher Boyd. Jari-jari Judd
mencengkeram tenggorokan Boyd, mencekiknya dengan sekuat tenaga.
Boyd tidak bergerak untuk melindungi dirinya. Dia hanya berdiri saja, air mata
mengalir ke pipinya. Judd melihat ke mata Boyd, dan rasanya seperti melihat ke
dalam telaga di neraka. Perlahan-lahan dia melepaskan cekikannya.
Ya, Tuhan, pikirnya, aku seorang dokter. Aku diserang oleh orang yang sakit,
dan aku ingin membunuhnya.
Dia melihat kepada Boyd. Boyd kelihatan seperti anak-anak yang rusak dan liar.

Tiba-tiba Judd mulai menyadari apa yang akan diberitahukan oleh bawah
sadarnya: Bruce Boyd bukan Don Vinton. Seandainya dia Don Vinton, pasti
sekarang dia sudah mati. Boyd tidak mampu melakukan pembunuhan. Rupanya
pendapatnya benar bahwa Boyd tidak cocok dengan identi-kit si pembunuh.
Dalam kesadaran ini ada rasa senang yang ironis.
"Kalau tidak karena Anda, Johnny sekarang pasti masih hidup," kata Boyd
sambil terisak-isak. "Dia pasti di sini bersama saya dan saya bisa
melindunginya."
"Saya tidak menyuruh John Hanson meninggalkanmu," kata Judd dengan susah-
payah. "Itu kehendaknya sendiri." "Kau bohongi"
"Sudah ada yang tidak beres dalam hubungan J mu dengan John, bahkan
sebelum dia datangi menemui saya."
Lama sekali sunyi. Kemudian Boyd meneane-I
guk. "Ya. Kami—kami selalu saja bertengkar."
"Dia berusaha menemukan dirinya sendiri. Instingnya selalu mengatakan
kepadanya bahwa dia ingin kembali kepada istri dan anak-anaknya, jauh di
dalam hati sanubarinya, John ingin sekali menjadi orang yang normal, yang
heteroseksual."
"Ya," bisik Boyd. "Dulu dia terus-menerus mengatakan itu, tapi saya kira itu
hanya untuk menghukum saya." Dia memandang Judd. "Tapi suatu hari dia pergi
meninggalkan diri saya. Dia—pergi begitu saja. Dia tidak lagi mencintai saya."
Nada suaranya mengandung rasa putus asa.
"Dia bukan tidak mencintai Anda lagi," kata Judd. "Dia masih mencintai Anda
sebagai sahabat."
Kini Boyd melihat kepadanya, menatap wajah Judd.
"Anda mau menolong saya?" Matanya memancarkan rasa kalut, ketakutan.
"Tolonglah saya. Anda harus menolong saya."
Suara Boyd lebih mirip suara jerit kesakitan. Judd memandangi Boyd beberapa
saat lamanya. "Ya," kata judd. "Saya akan menolong Anda." "Apakah saya akan
bisa menjadi normal kembali?"
"Yang namanya normal sebenarnya tidak ada. Setiap orang mempunyai
kenormalannya sendiri-
sendiri, dan tidak ada dua orang yang mempunyai kenormalan yang sama."
"Anda bisa membuat saya menjadi heteroseksual?"
"Itu tergantung pada kekerasan kemauan Anda sendiri. Anda bisa menjalani
terapi untuk itu."
"Dan kalau itu gagal?"
"Kalau kelak kita ketahui bahwa Anda memang harus menjadi homoseksual,
sekurang-kurangnya Anda harus menyesuaikan diri dengan kodrat Anda."

"Kapan kita mulai?" tanya Boyd.
Dan tiba-tiba Judd tersentak menyadari kenyataan yang sebenarnya sedang dia
hadapi. Dia duduk di situ dan membicarakan tentang merawat pasien, padahal
mungkin dalam tempo dua puluh empat jam dia akan dibunuh. Dan dia tetap
belum menemukan siapa Don Vinton.
Kini dia sudah menyisihkan Teri dan Boyd, dua tersangka terakhir dalam
daftarnya. Dia masih tetap dalam kegelapan, seperti ketika dia baru memulai
penyelidikan. Kalau analisanya tentang si pembunuh benar, saat sekarang
kemarahan si pembunuh pasti sudah memuncak. Serangan berikutnya akan
segera datang. "Datanglah hari Senin," kata Judd. Waktu taksi membawanya
pulang, Judd mencoba menimbang-nimbang kemungkinannya untuk selamat.
Masa depannya'benar-benar gelap. Apa yang dimilikinya, y»ang sangat
diinginkan oleh Don Vinton? Dan siapakah Don Vinton?
Mengapa dalam arsip kepolisian tidak ada catatan kriminal tentang dirinya?
Mungkinkah dia memakai nama lain? Tidak. Moody jelas sekali mengatakan
"Don Vinton**.
Sulit sekali untuk memusatkan pikiran. Setiap gerakan taksi membuat tubuhnya
yang babak-belur terasa sakit luar biasa. Judd memikirkan pembunuhan dan
usaha pembunuhan yang sudah dilakukan selama ini, mencari suatu pola yang
bisa masuk akal.
Tikaman dengan pisau, membunuh dengan siksaan, "kecelakaan*' tabrak lari,
bom dalam mobilnya, cekikan. Tidak ada pola tertentu yang bisa diambil sebagai
kesimpulan. Hanya kekejaman, kekerasan orang gila.
Judd tidak bisa memikirkan dengan cara apa usaha pembunuhan berikutnya akan
dilakukan. Atau oleh siapa. Titik kelemahannya yang paling besar adalah kantor
dan apartemennya. Dia teringat kembali kepada nasihat Angeli. Semua pintu
pada apartemennya harus diberi kunci yang lebih kuat. Dia akan mengatakan
kepada Mike, penjaga pintu, dan Eddie, operator lift, agar selalu waspada.
Keduanya bisa dipercaya.
Taksi berhenti di muka gedung apartemen. Penjaga pintu membuka pintu taksi.
Dia orang yang sama sekali masih asing bagi Judd.
17
Dia seorang laki-laki yang bertubuh besar, bermuka bopeng, dan bermata hitam
yang cekung. Ada bekas luka yang memanjang di lehernya. Dia mengenakan
mantel seragam Mike yang terlalu sempit baginya.
Taksi berjalan pergi, dan Judd sendirian dengan orang ini. Tiba-tiba rasa sakit
yang diakibatkan karena tubuhnya yang babak-belur menyerangnya. Ya, Tuhan,
jangan sekarang! Dia mengatupkan giginya.
"Mana Mike?" Dia bertanya.

"Sedang berlibur, Dokter."
Dokter. Jadi orang ini tahu dia siapa. Dan Mike sedang berlibur? Dalam bulan
Desember?
Tampak senyuman kecil yang memperlihatkan rasa puas pada wajah orang ini.
Judd melihat ke kedua ujung jalan, tapi jalan benar-benar kosong. Dia bisa
mencoba lari, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Tubuhnya yang babak-belur
sakit semua. Bahkan untuk menarik napas pun sudah terasa sakit.
"Rupanya Anda habis mendapat kecelakaan." Suara orang ini sedikit lebih
ramah.
Judd membalikkan tubuh tanpa menjawab dan berjalan ke lobi gedung
apartemen. Dia yakin akan bisa minta tolong kepada Eddie.
Penjaga pintu mengikuti Judd ke lobi. Judd melihat Eddie di dalam lift,
membelakanginya. Judd mulai berjalan menuju lift, setiap langkah menambah
rasa sakit. Tapi dia sadar tidak boleh berhenti sekarang. Yang penting jangan
sampai orang ini bisa menangkapnya di waktu dia sendirian. Orang ini pasti
mengurungkan niatnya apabila ada orang yang bisa menjadi saksi di sekitar
mereka.
"Eddie!" Judd memanggil.
Orang yang berada di dalam lift menoleh.
Judd belum pernah melihat orang ini. Tubuhnya lebih kecil daripada tubuh
penjaga pintu, tapi wajah mereka hampir sama—kecuali orang ini tidak punya
bekas luka di lehernya. Jelas sekali kedua orang ini kakak-beradik.
Judd berhenti, terperangkap di antara mereka berdua. Tidak ada siapa pun lagi di
lobi.
"Naik," kata orang yang di dalam lift. Dia pun menyunggingkan senyum yang
memperlihatkan rasa puas seperti saudaranya.
Jadi inilah akhirnya, wajah-wajah maut. Judd yakin benar bahwa di antara
mereka berdua tidak ada yang merupakan otak dari semua peristiwa yang sudah
terjadi. Mereka hanya pembunuh bayaran. Apakah mereka akan membunuhnya
di lobi, atau lebih suka membunuhnya di apartemen? Di apartemen, pikir Judd.
Itu akan memberi
mereka waktu untuk melarikan diri sebelum may amy a ditemukan.
Judd melangkah menuju kantor manajer. "Saya harus menemui Tuan Katz
untuk...."
Orang yang lebih besar menghalangi jalannya. "Tuan Katz sedang sibuk, Dok,
katanya perlahan.
Orang yang di dalam lift berkata, "Mari saya antar Anda ke atas."
"Tidak," kata Judd. "Saya...."
"Lakukan apa katanya." Tidak ada emosi dalam suaranya.

Tiba-tiba terasa ada udara dingin masuk ketika pintu lobi terbuka. Dua orang
laki-laki dan dua orang wanita masuk bergegas-gegas. Mereka semua
mengenakan mantel tebal, berjalan sambil mengobrol dan tertawa-tawa.
"Ini lebih buruk daripada Siberia," kata salah seorang wanita.
Laki-laki yang memegangi lengannya berwajah gemuk, dengan aksen Barat
Tengah. "Bukan malam yang baik untuk orang atau binatang."
Kelompok ini berjalan menuju lift. Penjaga pintu dan operator lift saling
berpandangan tanpa mengucapkan apa pun.
Wanita yang seorang lagi bicara. Dia bertubuh mungil dan berambut pirang
dengan aksen Selatan
engan
Laki-laki yang kedua protes. "Kalian tidak akan melepas kami pergi sebelum
memberi kami minuman penghangat, bukan?"
"Ini sudah malam, George," kata wanita yang pertama.
'Tapi di luar udaranya dingin sekali. Kalian harus memberi kami minuman lebih
dulu supaya kami tidak mati beku." ^}
Laki-laki yang kedua memperkuat permintaan laki-laki yang pertama. "Hanya
minuman seteguk dan kemudian kami pergi."
"Yah...."
Judd menahan napas. Oh, tolonglah, Tuhan!
Si pirang menyerang. "Baiklah. Tapi hanya segelas minuman, kau dengar?"
Sambil tertawa-tawa, kelompok ini masuk ke lift. Judd cepat-cepat ikut masuk
bersama mereka. Si penjaga pintu berdiri kebingungan, melihat kepada
saudaranya. Yang di dalam lift mengangkat bahu, menutup pintu dan
menjalankan lift naik ke atas.
Apartemen Judd ada di lantai lima. Kalau kelompok ini turun sebelum dia, Judd
akan mendapat kesulitan. Kalau mereka turun sesudah dia, judd akan punya
kesempatan masuk ke apartemennya, membentengi dirinya, dan menelepon
minta pertolongan.
"Lantai berapa?"
Si pirang yang mungil tertawa. "Saya tidak tahu apa yang akan dikatakan suami
saya nanti apabila melihat saya membawa dua laki-laki asing ke
apartemen." Dia menoleh kepada operator lift "Lantai sepuluh."
Judd mengembuskan napas, dan baru sadar bahwa dari tadi dia menahan
napasnya. Dia cepat-cepat berkata, "Lima."
Operator lift melihat kepadanya dengan pandangan ramah dan mengerti. Sampai
ke lantai lima dia membuka pintu. Judd keluar. Pintu lift menutup.
Judd berjalan ke apartemennya, tersaruk-saruk kesakitan. Kunci dikeluarkannya,
pintu dibuka dan dia masuk. Jantungnya berdebar-debar. Maksimal dia

mempunyai waktu lima menit sebelum mereka datang untuk membunuhnya. Dia
menutup pintu dan bermaksud memasang kancing rantai. Kancing rantai putus di
tangannya. Dia melihat ke kancing rantai, dan ternyata rantainya sudah putus
karena gergaji. Kancing rantai itu dilemparkannya, dan dia berjalan ke telepon.
Rasa pusing tiba-tiba datang menyerangnya. Judd bertahan berdiri memerangi
rasa sakit dengan memejamkan mata, sementara waktu yang sangat berharga
berlalu. Dengan susah-payah dia meneruskan berjalan ke telepon, jalannya
terseok-seok.
Satu-satunya orang yang bisa diingatnya untuk ditelepon hanyalah Angeli, tapi
Angeli sedang sakit di rumahnya. Lagi pula apa yang akan dikatakannya? Di sini
ada penjaga pintu dan operator lift haru, dan saya rasa mereka akan membunuh
saya f
Dia mulai sadar bahwa dia sedang memegangi telepon, berdiri terpaku dengan
kepala pusing sehingga tidak bisa melakukan apa pun. Gegar otak, pikiraya.
Mungkin akhirnya aku mati juga karena dibunuh Boyd, pikirnya pula. Mereka
akan masuk dan menemukan dia seperti itu—tidak berdaya. Dia ingat akan
pancaran mata si penjaga pintu. Dia harus bisa mengalahkan mereka,
mengacaukan keseimbangan mereka. Tapi, ya, Tuhan—bagaimana caranya?.
Judd menyetel televisi kecil, sebuah monitor yang memperlihatkan keadaan di
lobi. Lobi kosong sama sekali. Rasa sakitnya kembali lagi, melandanya seperti
gelombang dan menyebabkan dia hampir jatuh pingsan. Dia memaksa
pikirannya yang sudah lelah terpusat kepada problem yang dihadapinya.
Dia dalam keadaan bahaya.... Ya... keadaan bahaya. Dia harus mengambil
tindakan segera. Ya.... Pandangannya menjadi kabur lagi. Dia memusatkan
pandangannya ke telepon. Keadaan bahaya....
Dia mendekatkan telepon ke matanya, supaya bisa membaca angka-angkanya.
Perlahan-lahan, dengan susah-payah karena menahan sakit, dia memutar sebuah
nomor. Pada deringan kelima sebuah suara menjawab. Judd bicara, suaranya
tidak jelas. Matanya menangkap gerakan pada monitor televisi. Kedua laki-laki
itu menyeberangi lobi dan berjalan menuju lift. Waktunya sudah habis.
Kedua laki-laki ini berjalan tanpa suara menuju apartemen Judd. Mereka
mengambil posisi di sebelah kiri-kanan pintu. Laki-laki yang lebih besar, Rocky,
mencoba membuka pintu pelan-pelan. Pintu terkunci. Dia mengulurkan sehelai
kartu plastik, dan dengan hati-hati memasukkannya ke lubang kunci. Kepada
saudaranya dia mengangguk, dan keduanya mengeluarkan revolver yang
memakai peredam suara.
Rocky membuka kunci dengan kartu plastik, kemudian perlahan-lahan membuka
pintu. Mereka masuk ke ruang duduk sambil mengacungkan pistol. Di depan
mereka ada tiga pintu tertutup. Judd entah berada di ruang yang mana!

Laki-laki yang lebih kecil, Nick, mencoba membuka pintu yang pertama. Pintu
ini terkunci. Dia tersenyum kepada saudaranya, menempelkan moncong pistol
ke lubang kunci dan menarik pelatuknya. Pintu terbuka, ternyata itu ruang tidur
Judd. Keduanya masuk ke dalam, memeriksa setiap sudut dengan teliti sambil
mengacungkan pistolnya ke segala penjuru kamar.
Tak ada seorang pun di dalam. Nick memeriksa kamar kecil sementara Rocky
kembali ke ruang duduk. Mereka tidak kelihatan tergesa-gesa. Mereka tahu
bahwa Judd ada di dalam apartemen, bersembunyi dan tidak berdaya. Gerakan
mereka yang lambat seakan disengaja, seolah-olah mereka sedang menikmati
saat-saat terakhir sebelum
membunuh. . , .
Nick mencoba membuka pintu yang kedua.
Pintu ini pun terkunci. Dia menembak lubang kuncinya, dan setelah pintu
terbuka dia masuk ke dalam. Ini adalah ruang belajar. Kosong. Mereka saling
melemparkan senyuman dan berjalan ke pintu yang terakhir.
Ketika mereka melewati monitor televisi, Rocky memegang lengan saudaranya.
Pada layar televisi mereka melihat tiga orang laki-laki terburu-buru masuk ke
lobi. Dua dari mereka mengenakan jas putih, mendorong usungan beroda. Laki-
laki yang ketiga membawa tas dokter.
"Sialan!"
"Tenang saja, Rocky. Rupanya ada orang sakit. Di gedung ini pasti ada seratus
apartemen."
Mereka melihat ke layar televisi terpesona, ketika kedua orang yang mendorong
usungan masuk ke dalam lift, disusul kemudian oleh orang yang ketiga. Pintu lift
tertutup.
"Beri mereka waktu beberapa menit," kata Nick. "Mungkin ada kecelakaan.
Artinya mungkin akan ada polisi."
"Benar-benar sial!"
"Jangan kuatir. Stevens tidak akan pergi ke mana-mana."
Pintu apartemen terbuka lebar. Dokter dengan kedua orang yang mendorong
usungan masuk. Cepat-cepat kedua orang yang di dalam apartemen Judd
memasukkan pistol masing-masing ke saku mantel. Dokter menghampiri
mereka. "Apakah dia
"Siapa?"
"Korban bunuh diri. Dia sudah mati atau masih hidup?"
Kedua orang itu saling memandang, keheranan. "Kalian tidak salah masuk
apartemen?"
Dokter berjalan melewati kedua orang itu dan mencoba membuka pintu kamar
yang masih terkunci. "Pintu ini dikunci. Tolong saya mendo-brak pintu ini."

Kedua kakak-beradik itu melihat dengan tidak berdaya ke arah dokter yang
sedang mencoba mendobrak pintu dibantu oleh dua orang pembawa usungan.
Ketika pintu berhasil dibuka, dokter segera masuk ke dalam. .
"Masukkan usungan!"
Dia menghampiri tempat tidur, tempat Judd berbaring.
"Kau tidak apa-apa?"
Judd melihat ke arah dokter, mencoba memusatkan pandangannya. "Rumah
sakit," Judd menggumam.
"Segera kami antar ke sana."
Kedua kakak-beradik dengan kebingungan memandangi kedua pembawa
usungan yang dengan cekatan memindahkan Judd dari tempat tidur ke usungan,
kemudian menutupinya dengan selimut.
"Mari kita .pergi," kata Rocky.
Dokter mengawasi kedua orang itu pergi. Kemudian dia menoleh kepada Judd
yang berbaring di atas usungan, mukanya pucat dan ketakut-an'
"Kau baik-baik saja, Judd?" Suaranya men dung rasa kuatir.
Judd mencoba tersenyum, tapi tidak ber* >jtt_i___" i__—____rv:^ i____:__• j •
¦ .
»asd
J JL ——U
'Hebat," katanya. Dia hampir tidak bisa roende ngar suaranya sendiri. "Terima
kasih, Pete "
Peter melihat ke bawah kepada sahabatnya kemudian mengangguk kepada kedua
pembawa usungan. "Mari kita berangkat!"
18
Kamar rumah sakit tempat Judd dirawat sekarang berbeda dengan ketika dia
dirawat karena mengalami tabrak lari. Tapi perawatnya tetap sama. Melihatnya
dengan pandangan tidak senang, sambil duduk di tepi tempat tidurnya. Perawat
inilah yang pertama kali dilihatnya ketika Judd membuka matanya.
"Nah, Anda sudah bangun," katanya ringkas. "Dokter Harris ingin menemui
Anda. Akan saya katakan kepadanya bahwa Anda sudah bangun." Dia berjalan
dengan langkah kaku meninggalkan ruangan.
Judd mencoba duduk, menggerakkan tubuhnya dengan hati-hati. Gerakan lengan
dan kakinya agak lambat, tapi semuanya masih utuh. Dia mencoba memusatkan
pandangannya ke sebuah kursi di seberang ruangan, berganti-ganti dengan mata
kiri dan kanannya. Pandangannya agaK kabur.
Ingin konsultasi?" „ ,„ uArris
Judd melihat ke atas. Dokter Seymour Hams ¦««Uh masuk ke kamarnya. bira>
"Nah," kata Dokter Harris dengan g

"ternyata kau salah seorang langganan kami yang terbaik. Kau tahu berapa
rekening untuk jahitan-mu saja? Kami akan memberimu potongan harga....
Bagaimana tidurmu, Judd?" Dia duduk di tempat tidur.
"Seperti bayi. Apa yang kauberikan?"
"Suntikan sodium luminol."
"Pukul berapa sekarang?"
"Tengah hari."
"Ya, Tuhan," kata Judd. "Saya harus keluar dari sini!"
Dokter Harris mengambil catatan dari papan klip yang dibawanya. "Apa yang
ingin kaubicara-kan lebih dulu? Gegar otakmu? Luka robekmu? Atau luka
memar?"
"Saya merasa baik-baik saja."
Dokter Harris menyingkirkan catatannya. Suaranya menjadi serius. "Judd,
tubuhmu babak-belur. Lebih dari yang kausadari. Kalau kau cukup pintar, kau
akan tetap tinggal di tempat tidurmu ini beberapa hari dan istirahat. Kemudian
kauambil liburan selama sebulan."
"Terima kasih, Seymour," kata Judd.
"Maksudmu ingin mengucapkan terima kasih, tapi—tidak, terima kasih. Saya
tidak bisa menerimanya."
"Ada sesuatu yang harus saya selesaikan."
Dokter Harris menghela napas.
"Kau tahu siapa pasien yang paling buruk di dunia? Dokter." Lalu dia mengganti
bahan percakapan, mengalah. "Peter di sini semalaman. Dia
menelepon setiap jam. Dia sangat kuatir memikirkan keadaanmu. Menurut Peter
semalam ada orang yang mencoba membunuhmu."
"Kau tahu sendiri bagaimana sifat dokter—terlalu berlebih-lebihan
imajinasinya."
Harris memandanginya sesaat. Lalu dia mengangkat bahu dan berkata, "Kau
psikoanalis. Saya hanya orang biasa. Mungkin kau tahu apa yang kaulakukan—
tapi saya tidak berani bertaruh satu sen pun tentang itu. Kau yakin benar tidak
mau istirahat di tempat tidur barang beberapa hari?"
"Saya tidak bisa."
"Baiklah, Macan. Kau saya izinkan meninggalkan rumah sakit besok pagi."
Judd ingin protes, tapi Dokter Harris memotong lebih dulu.
"Jangan membantah. Ini hari Minggu. Orang yang memukulimu juga perlu
istirahat."
"Seymour...."
"Satu hal lagi. Saya tidak senang kedengaran seperti nenek-nenek Yahudi, tapi
kau sudah makan akhir-akhir ini?"

"Tidak banyak," kata Judd.
"Oke. Saya akan memberi waktu dua puluh empat jam kepada Nona Bedpan
untuk menggemukkan badanmu. Dan Judd...."
"Ya?"
"Jaga dirimu baik-baik. Saya tidak ingin kehilangan langganan yang baik."
Dokter Harris pun pergi. Judd memejamkan mata untuk istirahat seben-
253
tar. Dia mendengar suara piring beradu. Dan ketika mengangkat mukanya, dia
melihat seorang perawat Irlandia yang cantik sedang mendorong troli berisi
hidangan.
"Anda sudah bangun. Dokter Stevens," dia tersenyum. "Pukul berapa sekarang?
** "Pukul enam."
Jadi dia tidur sepanjang hari.
Perawat itu memindahkan hidangan ke atas meja kecil yang ada di atas tempat
tidurnya. "Malam ini Anda mendapat hidangan istimewa— masakan kalkun.
Besok malam Natal."
''Saya tahu."
Judd tidak memiliki nafsu makan, tapi disantapnya juga hidangan yang disajikan
untuknya. Tiba-tiba dia sadar bahwa dia sangat lapar, dan makan dengan
rakusnya. Dokter Harris menutup semua sambungan telepon. Maka Judd
berbaring di tempat tidur, memulihkan tenaganya dan mengembalikan
kekuatannya yang ada dalam tubuhnya. Besok pagi dia akan membutuhkan
energi sebanyak-banyaknya.
Pada pukul sepuluh pagi keesokan harinya Dokter Seymour Harris menghambur
masuk ke kamar Judd. "Bagaimana keadaan pasien kesayangan?" Mukanya
berseri-seri. "Keadaanmu kini sudah hampir lumayan."
"Saya merasa sudah hampir sehat kembali," Judd tersenyum.
"Bagus. Kau akan mendapat tamu. Saya tidak ingin kau membuat tamumu
ketakutan."
Peter. Dan mungkin juga Norah. Rupanya akhir-akhir ini mereka menghabiskan
sebagian besar waktunya untuk menjenguknya di rumah sakit.
Dokter Harris meneruskan bicara. "Tamumu Letnan McGreavy." Semangat Judd
merosot. "Dia sudah tidak sabar ingin bicara denganmu. Sekarang dia dalam
perjalanan menuju ke sini. Dia ingin merasa yakin kau dalam keadaan terjaga."
Supaya dia bisa menangkapnya. Karena Angeli sedang sakit di rumah,
McGreavy bebas membuat bukti yang dapat dipakai untuk mendakwa Judd.
Setelah McGreavy menangkapnya, harapan tidak ada lagi. Dia harus melarikan
diri sebelum McGreavy sampai di rumah sakit.
"Tolong suruh perawat memanggilkan tukang cukur," kata Judd. "Saya ingin

bercukur." Suaranya pasti kedengaran aneh, sebab Dokter Harris melihat
kepadanya dengan pandangan aneh pula. Ataukah ini karena sesuatu yang
dikatakan McGreavy kepada Dokter Harris mengenai dirinya.
"Baiklah, Judd." Dia pergi.
Begitu pintu menutup, Judd turun dari tempat tidur dan berdiri. Tidur selama dua
malam mendatangkan keajaiban kepadanya. Berdirinya memang masih agak
terhuyung-huyung, tapi sebentar lagi juga akan kembali seperti sedia kala.
Sekarang dia bisa bergerak dengan cepat. Untuk berpakaian hanya diperlukan
waktu tiga menit.
Judd membuka pintu sedikit. Dia harus yakin bahwa tidak ada orang yang akan
menghentikannya. Kemudian dia cepat-cepat berjalan ke tangga. Ketika dia
mulai menuruni tangga, pintu lift terbuka. Dilihatnya McGreavy keluar dari lift
dan berjalan menuju kamar yang baru ditinggalkannya.
McGreavy berjalan dengan cepat, diikuti oleh seorang polisi berpakaian preman
dan dua orang detektif. Cepat-cepat Judd menuruni tangga dan menuju pintu
masuk khusus untuk mobil ambulans. Sejauh satu blok dari rumah sakit dia
memanggil taksi.
McGreavy masuk ke kamar rumah sakit dan melihat ke tempat tidur yang tak
berpenghuni, kamar kecil pun kosong.
"Menyebar," katanya kepada para pengikutnya. "Mungkin kalian masih bisa
menyusulnya."
Dia mengangkat telepon. Operator menyambungkan permintaannya ke kantor
polisi.
"Ini McGreavy," katanya cepat-cepat. "Saya ingin pengumuman disebar.
Penting.... Dokter Stevens, Judd, laki-laki. Caucasia. Umur...."
Taksi berhenti di muka gedung perkantoran. Sejak saat sekarang di mana pun dia
berada dia tidak aman. Dia tidak bisa kembali ke apartemennya. Dia harus
menyewa kamar di sebuah hotel.
Kembali ke kantornya pun sama bahayanya, tapi itu harus dilakukan sekali ini
saja. Dia membutuhkan sebuah nomor telepon. Judd membayar taksi dan
berjalan ke lobi. Sedap otot dalam tubuhnya masih terasa sakit. Dia berjalan
secepat-cepatnya. Dia tahu benar bahwa waktunya sangat terbatas. Memang
tidak mungkin mereka akan langsung mengira bahwa dia kembali ke kantornya,
tapi dia tidak boleh mengambil risiko. Yang jadi pertanyaan sekarang, siapa yang
akan mendapatkan dirinya lebih dulu, polisi atau pembunuhnya.
Setelah sampai di kantornya, Judd membuka pintu dan masuk. Pintu dikuncinya.
Kantor prakteknya kelihatannya aneh dan suasananya tidak menyenangkan. Judd
sadar bahwa dia tidak bisa lagi merawat pasiennya di situ. Apabila itu dia
lakukan, sama saja dengan memasukkan mereka ke dalam bahaya yang sangat

besar.
Dalam hati dia sangat marah kepada Don Vinton yang telah mengacaukan
kehidupannya. Dia bisa membayangkan apa yang terjadi ketika dua pembunuh
bayaran kakak-beradik kembali dan melaporkan bahwa mereka gagal
membunuhnya. Kalau dia tidak keliru membaca watak Don Vinton, kemarahan
orang itu pasti sudah memuncak sekali. Serangan berikutnya bisa datang setiap
saat.
Judd menyeberangi ruangan untuk mendapatkan nomor telepon Anne. Sebab di
rumah sakit dia teringat kepada dua hal.
Beberapa pertemuan dengan Anne kebetulan mendahului pertemuan dengan
John Hanson.
Juga Anne dengan Carol sering mengobrol. Mungkin Carol tidak sengaja
memberikan informasi yang berbahaya kepada Anne. Kalau memang demikian,
Anne pasti terancam bahaya.
Judd mengambil buku catatan alamat dari dalam laci yang terkunci. Dicarinya
nomor telepon Anne, kemudian memutar telepon. Terdengar deringan tiga kali,
kemudian suara yang ramah berbicara.
"Ini operator. Anda minta nomor berapa?"
Judd memberikan nomor Anne. Beberapa saat kemudian operator berbicara lagi.
"Maaf, Anda salah memberikan nomor. Coba cek buku petunjuk Anda, atau
konsultasi dengan bagian informasi."
"Terima kasih," kata Judd. Telepon diletakkan. Sesaat dia duduk sambil
mengingat-ingat apa yang dilakukan agen teleponnya beberapa hari yang lalu.
Mereka bisa menghubungi semua pasien, kecuali Anne. Mungkin terjadi salah
tulis ketika mencatat nomor teleponnya.
Judd mencari-cari dalam buku petunjuk telepon, tapi tidak bisa menemukan
nama suami Anne maupun nama Anne sendiri. Tiba-tiba dia sadar bahwa dia
harus bicara dengan Anne. Disalinnya alamat Anne: Woodside Avenue 617,
Bayonne, New Jersey.
Lima belas menit kemudian Judd sudah berada di muka tempat persewaan mobil
yang bernama
Avis. Dia bermaksud menyewa mobil. Di belakang pagar ada papan merek yang
bertuliskan: "Kami yang kedua, maka kami berusaha lebih keras". Kalau begitu
kita sama, pikir Judd.
Beberapa menit kemudian dia menjalankan mobil keluar dari garasi. Dia
menjalankan mobil berkeliling blok, merasa puas karena tidak ada yang
membuntuti. Kemudian dia menuju ke Jembatan George Washington untuk pergi
ke New Jersey.
Setelah sampai di Bayonne, dia berhenti di pompa bensin untuk menanyakan

arah. "Tikungan pertama belok ke kiri, jalan ketiga." "Terima kasih."
Judd meneruskan perjalanan. Membayangkan akan bertemu dengan Anne lagi,
membuat denyut jantungnya berpacu lebih cepat. Apa yang akan dikatakan
kepadanya supaya Anne tidak merasa kalut? Apakali suaminya berada di rumah?
Judd membelok ke kiri menuju Woodside Avenue. Dia memperhatikan nomor-
nomor rumah. Dia berada di blok sembilan ratus. Rumah di kiri kanan jalan
kecil-kecil, tua dan sudah dimakan usia dan cuaca. Dia terus menjalankan mobil
ke blok tujuh ratus. Rumahnya bahkan makin kecil-kecil dan lebih tua lagi.
Anne pernah berkata bahwa dia tinggal di sebuah rumah yang indah dan
dikelilingi pohon-pohon. Di situ sama sekali tidak ada pohon. Ketika Judd
sampai di alamat yang diberikan
kepadanya, ia hampir-hampir duga apa yang akan dilihatnya.
Nomor 617 hanyalah tanah koson putnya sudah menghutan.
19
Judd duduk dalam mobil di muka tanah kosong, mencoba menghubung-
hubungkan kenyataan yang ditemukannya. Nomor telepon yang salah mungkin
hanya karena kekeliruan. Atau mungkin hanya alamatnya saja yang salah. Tapi
kalau kedua-duanya salah, rasanya tidak masuk akal. Jelas sekali Anne sengaja
berdusta kepadanya. Dan kalau Anne berdusta tentang tempat tinggalnya, nomor
teleponnya, dan siapa dirinya, tentang apa lagi dia berdusta.
Judd berusaha meninjau kembali mengenai apa yang diketahuinya tentang Anne
secara objektif. Dia hampir tidak mengetahui apa-apa tentang diri Anne. Anne
masuk begitu saja ke kantornya tanpa perjanjian sebelumnya, dan memaksa
ingin menjadi pasiennya.
Selama empat minggu dalam kunjungannya Anne berhasil tetap merahasiakan
apa kesulitannya. Kemudian tiba-tiba dia menyatakan bahwa kesulitannya sudah
bisa dipecahkan, dan pergi meninggalkannya. Pada setiap kun/ungaAnne selalu
membayar tunai, supaya tidak ada cara apa pun untuk melacaknya.
Tapi alasan apa yang menyebabkan Anne ingin menjadi pasien dan kemudian
lenyap begitu saja? Hanya ada satu jawaban. Jawabannya seakan menghantam
Judd, sehingga dia benar-benar merasa sakit.
Kalau seseorang mempunyai rencana untuk membunuhnya—ingin mengetahui
kebiasaan rutinnya di kantor—cara apa lagi yang lebih baik daripada berusaha
masuk sebagai pasien? Itulah yang dilakukan Anne di kantornya. Don Vinton
yang menyuruhnya. Anne menyelidiki apa yang ingin diketahuinya, kemudian
menghilang tanpa bekas.
Semua hanya sandiwara belaka! Dan Judd begitu mudah terkecoh, menelan
bulat-bulat apa yang dikatakannya. Pasti Anne tertawa gelak-gelak waktu
melapor kepada Don Vinton tentang orang tolol yang besar nafsu berahinya dan

menyebut dirinya psikoanalis, serta berpura-pura menjadi ahli jiwa manusia.
Ya, dia jatuh cinta setengah mati kepada wanita yang mempunyai maksud utama
mengusahakan agar dia bisa dibunuh. Di mana kemampuannya menilai watak
manusia? Tindakannya sungguh sangat menggelikan kalau sampai diketahui
oleh Perhimpunan Psikiater Amerika.
Tapi bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau seandainya Anne datang
dengan kesulitan yang sebenarnya, tapi memakai nama samaran karena takut
memberi malu kepada seseorang? Pada waktunya kesulitan ini sudah
terpecahkan
dengan sendirinya, dan Anne menarik kesimpulan bahwa dia tidak memerlukan
psikoanalis lagi.
Tapi Judd tahu bahwa kemungkinan ini terlalu dicari-cari. Ada faktor X dalam
diri Anne yang harus ditemukan. Dan Judd merasa yakin sekali, bahwa dalam
faktor yang belum diketahui ini terletak jawaban dari apa yang terjadi. Mungkin
juga Anne dipaksa melakukan sesuatu di luar kehendaknya.
Walaupun demikian, memikirkannya saja sudah menyebabkan Judd merasa
dirinya tolol. Dia berusaha membayangkan Anne sebagai gadis yang terancam
bahaya, dan dirinya sendiri sebagai ksatria berbaju besi yang akan menolongnya.
Benarkah Anne mengusahakan agar dia terbunuh? Bagaimanapun juga ini harus
diselidiki dulu.
Seorang wanita tua memakai gaun yang sudah lusuh dan koyak keluar dari
sebuah rumah di seberang jalan dan memandanginya. Judd memutar mobil dan
menjalankannya lagi menuju Jembatan George Washington.
Ada sederet mobil di belakangnya. Salah satu di antaranya mungkin mobil yang
membuntutinya. Tapi mengapa mereka harus membuntutinya? Musuhnya tahu di
mana bisa menemukan dia. Maka dia tidak bisa duduk berpangku tangan
menunggu mereka menyerang. Dia sendiri yang harus mulai menyerang,
memanfaatkan kelengahan mereka, memancing kemarahan Don Vinton agar
melakukan kesalahan besar dan bisa ditundukkan. Ini harus dilakukan sebelum
McGreavy menangkap dan mengurungnya.
Judd menjalankan mobil menuju Manhattan. Satu-satunya kunci untuk
memecahkan persoalan ini hanya Anne—dan Anne sudah lenyap tanpa jejak.
Lusa dia sudah kabur ke luar negeri.
Dan Judd tiba-tiba sadar bahwa dia masih mempunyai satu kesempatan untuk
menemukannya.
Malam Natal sudah tiba. Kantor Panam penuh sesak dengan para pelancong dan
calon pelancong yang menunggu, berebut tempat dalam pesawat yang akan
terbang ke segala penjuru dunia.
Judd berjalan ke loket menembus antrean orang vang menunggu untuk bertemu

dengan manajer. Gadis berpakaian seragam di belakang loket tersenyum
kepadanya dan menyuruh dia menunggu. Manajer sedang menelepon.
Judd berdiri saja mendengarkan potongan percakapan dari sana sini.
"Saya ingin meninggalkan India pada tanggal lima."
"Apakah Paris udaranya dingin?" "Saya ingin menjemput dengan mobil di
Lisbon."
Ingin sekali Judd naik pesawat terbang dan lari jauh-jauh. Tiba-tiba dia sadar
bahwa dia sangat kelelahan, baik fisik maupun emosinya. Don Vinton rupanya
mempunyai banyak anak buah, sedangkan dia hanya sendirian. Mungkinkah dia
akan bisa mengalahkan Don Vinton? "Bisakah saya menolong Anda?" Judd
menoleh. Seorang laki-laki yang kurus dan jangkung berdiri di belakang loket.
"Saya Friendly," katanya. Dia kelihatan seakan menunggu Judd memahami
kelakarnya. Judd tersenyum. "Charles Friendly. Apa keperluan Anda?"
"Saya Dokter Stevens. Saya sedang mencari pasien saya. Dia akan naik pesawat
yang terbang ke Eropa besok pagi."
"Namanya?"
"Blake. Anne Blake." Dia ragu-ragu. "Mungkin mendaftarkan namanya sebagai
Tuan dan Nyonya Anthony Blake."
"Kota mana yang ditujunya?"
"Saya—saya tidak tahu."
"Mereka memesan tempat pada pesawat pagi atau sore?"
"Saya bahkan tidak yakin apakah dia akan naik pesawat Anda," kata Judd.
Pancaran mata Tuan Friendly sudah tidak ramah lagi. "Kalau begitu sayang
sekali saya tidak bisa membantu Anda."
Tiba-tiba Judd merasa panik. "Ini penting sekali. Saya harus menemukannya
sebelum dia berangkat."
"Dokter, Pan-American tiap hari menerbangkan lebih dari satu pesawat ke
Amsterdam, Barcelona, Berlin, Brussels, Copenhagen, Dublin, Dusseldorf,
Frankfurt, Hamburg, Lisbon, London, Munich, Paris, Roma, Shannon, Stuttgart,
dan Wina. Demikian juga hampir semua perusahaan penerbangan lainnya. Anda
harus menghubungi setiap penerbangan satu per satu. Dan saya
265
ragu-ragu apakah mereka bisa menolong Anda, 'j kecuali kalau Anda tahu tujuan
dan waktu 1 pemberangkatannya." Air muka Tuan Friendly kelihatan tidak
sabar.
"Maaf...." Dia be r bal i k dan berjalan pergi. "Tunggu!" kata judd.
Bagaimana caranya menerangkan bahwa ini 4 mungkin kesempatan hidupnya
yang terakhir? 'i Mata rantai terakhir untuk menemukan orang yang berusaha
membunuhnya.

Friendly memandangnya dengan rasa tidak senang yang hampir tidak dapat
ditutup-tutupi lagi. "Ya?"
Judd memaksa dirinya tersenyum, dan kesal kepada dirinya sendiri karenanya.
'Tidakkah Anda mempunyai semacam sistem komputer sentral?" dia bertanya.
"Untuk bisa mengetahui nama semua penumpang dengan..-.."
"Hanya kalau Anda tahu nomor penerbangannya," kata Friendly, Dia berbalik
dan pergi, judd tertegun di muka loket, hatinya sakit
sekali. Keadaannya kini benar-benar terjepit dan
kritis. Dia kalah. Dia tidak bisa pergi ke mana pun
juga lagi.
Serombongan pastor Italia masuk. Mereka memakai jubah panjang dan topi
lebar hitam, kelihatan seperti orang dari zaman pertengahan. Mereka masuk ke
bagian penimbangan dengan membawa kopor, peti, dan keranjang-keranjang
yang berisi buah.
Sementara itu mereka bercakap-cakap dengan
suara keras. Rupanya mereka sedang mempero-lok-olokkan anggota rombongan
yang paling muda, anak laki-laki yang umurnya kelihatan belum lebih dari
delapan belas atau sembilan belas tahun.
Mungkin mereka akan kembali ke Roma sesudah berlibur, pikir Judd waktu
mendengar obrolan mereka. Roma... ke sanalah Anne akan pergi... Anne lagi!
Para pastor berjalan mendekati loket.
"£ molto bene di ritornare a casa."
"Si, d'accordo."
"Signore, per piacere, gnardatemi." "Tutto va bene" "Si, ma..."
"Diomio, dove sono i miei biglietti f" "Cretino, hai perdtito i biglietti." "Ah,
eecoli,"
Mereka memberikan tiket pesawat kepada pastor yang termuda, yang dengan
malu-malu mendekati gadis di belakang loket. Judd melihat ke pintu keluar.
Seorang laki-laki tinggi besar dengan mantel abu-abu berdiri di tengah pintu.
Si pastor muda berbicara dengan gadis di belakang loket. "Dieci. Dieci."
Si gadis melihat kepadanya dengan pandangan hampa. Pastor ini mengumpulkan
pengetahuan bahasa Inggris-nya dan berkata dengan hati-hati sekali, "Ten. Billet
ta. Teeket" Dia menyorongkan tiket ke arah si gadis.
Si gadis tersenyum gembira dan mulai meng-
urus tiket. Para pastor memuji-muji pengetahuan bahasa temannya, dan
menepuk-nepuk pUn~ gungnya.
Sudah tidak ada lagi perlunya tinggal di situ lebih lama. Entah kapan dia harus
menghadapi apa yang harus dihadapinya? Perlahan-lahan Judd berbalik dan
mulai berjalan meninggalkan rombongan pastor.

"Guardate che ha fatto U Don Vinton."
Judd berhenti, tiba-tiba darah mengalir ke wajahnya- Dia berbalik dan
memandangi pastor bertubuh kecil gemuk yang tadi berbicara, dan memegang
lengannya.
"Maaf," kata Judd. Suaranya serak dan tidak menentu. "Anda tadi mengatakan
'Don Vinton'?"
Pastor ini memandang hampa kepadanya, kemudian menepuk-nepuk lengannya
dan beranjak mau pergi.
Judd mempererat pegangannya. "Tunggu!" katanya.
Pastor melihat gelisah kepadanya. Judd memaksa dirinya berbicara dengan
tenang. "Don Vinton. Yang mana dia? Tuniukkan dia kepada
o____*f '
saya.
P^nLTUa.pastor melih*t kepada Judd. ^^annvT^ ^ ™ melihat kePada
KelompoL ~ Hn americano matto" |j**a Italia D -tika ribu« berbicara dalam
f^fysedw!!1 Sudut matanya, Judd melihat °ket- Frie„dly8 memPerhatikannya
dari belakang uk* pintu loket dan mulai
melangkah mendekatinya. Judd berusaha menguasai rasa paniknya. Tangan
pastor dilepaskannya, kemudian mencondongkan badan ke arahnya dan berkata
pelan-pelan dan jelas, "Don Vinton."
Sesaat pastor bertubuh kecil ini melihat ke muka Judd, dan kemudian air
mukanya tampak gembira. "Don Vinton!"
Manajer makin mendekati dengan cepat, sikapnya penuh kebencian. Judd
mengangguk kepada pastor, mengisyaratkan agar pastor itu mulai menerangkan.
Pastor bertubuh kecil ini menunjuk kepada pastor termuda. "Don Vinton—'orang
besar'."
Tiba-tiba Judd menemukan jawaban teka-teki yang membingungkan ini.
20
"Pelan-pelan, pelan-pelan," kata Angeli dengar suara serak. "Saya tidak
memahami sedikit pun yang Anda katakan."
"Maaf," kata Judd. Dia menghela napas panjang. "Saya sudah mendapat
jawabannya!" Judd sangat lega mendengar suara Angeli di telepon, sehingga
gugup sekali dan kata-katanya sulit dimengerti. "Saya tahu siapa yang mencoba
membunuh saya. Saya tahu siapa Don Vinton."
Suara Angeli mengandung nada tidak percaya. "Kami tidak bisa menemukan
orang yang bernama Don Vinton."
"Anda tahu apa sebabnya? Karena itu bukan nama orang—itu sebuah istilah
panggilan untuk orang."
"Tolong bicara lebih lambat."

Suara Judd bergetar karena gembira. "Don Vinton bukan nama orang. Itu istilah
dalam bahasa Italia. Artinya 'orang besar'. Itulah yang akan dikatakan Moody
kepada saya. Bahwa Orang Besar yang berusaha membunuh saya."
"Saya tidak mengerti, Dokter."
"Dalam bahasa Inggris memang tidak ada
artinya," kata Judd. "Tapi kalau diucapkan dalam bahasa Italia—tidakkah ini
menunjukkan sesuatu? Organisasi pembunuh yang dipimpin oleh Orang Besar?"
Lama sekali tak seorang pun bicara dalam telepon. "La Cosa Nostra?"
"Siapa lagi yang bisa mengumpulkan kelompok pembunuh seperti itu dengan
senjata yang begitu hebat? Air keras, bom—pistol! Masih ingat saya mengatakan
bahwa orang yang kita cari kemungkinan besar orang Eropa Selatan? Dia orang
Italia!"
"Rasanya tidak masuk akal. Mengapa La Cosa Nostra ingin membunuh Anda?"
"Itu saya sama sekali tidak tahu. Tapi saya pasti benar. Saya yakin saya pasti
benar. Dan ini cocok dengan yang dikatakan Moody. Dia mengatakan ada
sekelompok orang yang ingin membunuh saya."
"Ini teori paling gila yang pernah saya dengar," kata Angeli. Dia berhenti bicara
sebentar dan kemudian meneruskan, "Tapi saya rasa itu mungkin."
Judd tiba-tiba merasa sangat lega. Seandainya Angeli tidak mau mendengarkan
kata-katanya, dia tidak bisa mengadu kepada siapa pun lagi.
"Anda sudah membicarakan ini dengan seseorang?"
"Belum," kata Judd.
"Jangan!" Kata-kata Angeli terasa mendesak. "Kalau Anda benar, hidup Anda
tergantung
271
kepada apa yang Anda ketahui ini. Jangan dekati kantor atau apartemen Anda."
"Baiklah," Judd berjanji, tiba-tiba dia teringat. "Apakah Anda tahu kalau-kalau
McGreavy mempunyai surat perintah untuk menangkap saya?"
"Ya." Angeli ragu-ragu. "Kalau McGreavy berhasil menangkap Anda, Anda
takkan sampai ke kantor polisi hidup-hidup."
Ya, Tuhan! Kalau begitu perhitungannya tentang McGreavy benar. Tapi Judd
tidak percaya McGreavy yang mendalangi semua ini. Ada
seseorang yang memerintah dia____Don Vinton, si
Orang Besar.
"Anda masih mendengarkan?"
Tiba-tiba mulut Judd terasa kering. "Ya."
Laki-laki yang memakai mantel abu-abu berdiri di luar boks telepon umum dan
memandangi Judd. Apakah ini laki-laki-yang tadi dilihatnya?
"Angeli...."

"Ya?"
"Saya tidak tahu siapa lain-lainnya. Saya tidak tahu seperti apa rupa mereka.
Bagaimana caranya agar saya tetap hidup sampai mereka tertangkap?"
Laki-laki yang berdiri di luar masih memandanginya.
Suara Angeli terdengar di telepon. "Kita langsung menghubungi FBI. Saya
punya kawan yang banyak memiliki koneksi. Dia akan mengatur agar
Anda dilindungi sampai Anda benar-benar aman.
Oke?'' Ada nada yang meyakinkan pada suara
Angeli.
"Oke," kata Judd penuh rasa terima kasih. Lututnya terasa sangat lemas.
"Anda sekarang di mana?"
"Dalam telepon umum di lobi bawah gedung Panam."
"Jangan pergi dari situ. Tetaplah berada di tengah orang banyak. Saya akan
segera datang."
Terdengar suara berdetik di ujung sebelah sana waktu Angeli meletakkan
telepon.
Dia meletakkan telepon kembali ke atas meja tulis kantor detektif, hatinya terasa
sangat sakit. Sudah bertahun-tahun dia berurusan dengan pembunuh, pemerkosa,
dan berjenis-jenis penjahat. Maka lama-kelamaan terbentuk kulit tanduk
pelindung, dan menyebabkan dia percaya kepada ha rga diri dan dasar
kemanusiaan seorang manusia.
Tapi polisi jahat lain lagi.
Polisi jahat adalah koruptor yang menyentuh setiap orang dalam angkatan
kepolisian, yang memperkosa segala-galanya yang diperjuangkan mati-matian
oleh polisi jujur.
Kantor polisi penuh dengan orang yang lalu-lalang dan suara orang bercakap-
cakap, tapi dia tidak mendengarnya. Dua orang polisi berpakaian seragam
melintasi ruangan dengan mengapit seorang pemabuk bertubuh raksasa. Polisi
yang seorang matanya lebam, dan yang seorang lagi menekankan saputangan ke
hidungnya yang berdarah. Lengan baju seragamnya robek. Polisi memang harus
menanggung risiko seperti ini sendirian.
Ya, mereka mempertaruhkan nyawa siang malam setiap hari sepanjang tahun.
Tapi beritanya tidak menjadi berita utama di surat kabar. Polisi jahat beritanya
dimuat di halaman pertama. Satu orang polisi jahat memcemarkan nama seluruh
temannya yang jujur. Polisi jahat ini tidak lain dari pamernya sendiri.
Dengan langkah gontai dia berjalan sepanjang gang menuju kantor Kapten. Dia
mengetuk pintu • sekali dan masuk.
Kapten Bertelli duduk dibelakang meja tulis yang di sana-sini hangus oleh api
puntung cerutu selama bertahun-tahun. Dalam ruangan kantornya juga ada dua

orang dari FBI, memakai j pakaian preman. Kapten Bertelli mengangkat
mukanya ketika pintu terbuka. "Bagaimana?"
Si detektif mengangguk. "Setelah dicek ternyata benar. Penjaga gudang
mengatakan bahwa dia datang dan meminjam kunci Carol Roberts dari lemari
bukti pada Rabu siang, dan mengembalikannya Rabu larut malam. Itulah
sebabnya tes parafin hasilnya negatif. Dia masuk ke kantor Dokter Stevens
dengan menggunakan kunci orisinal. Penjaga gudang tidak bertanya apa-apa,
sebab tahu bahwa dia menangani perkara ini."
"Anda tahu di mana dia sekarang?" tanya salah seorang dari FBI yang lebih
muda.
'Tidak. Kami menyuruh orang membuntuti dia, tapi kehilangan jejaknya. Dia
bisa berada di mana saja."
"Dia akan memburu Dokter Stevens," kata agen FBI satunya.
Kapten Bertelli melihat kepada kedua agen FBI itu. "Bagaimana kemungkinan
Dokter Stevens tetap hidup?"
Agen FBI ini menggelengkan kepalanya. "Kalau mereka menemukan dia
sebelum kita—dia tidak mungkin selamat."
Kapten Bertelli mengangguk. "Kita harus menemukan dia lebih dulu." Suaranya
berubah menjadi bengis. "Saya juga ingin Angeli bisa ditangkap. Saya tidak
peduli bagaimana cara kalian menangkapnya." Dia menoleh kepada si detektif.
"Pokoknya tangkap dia, McGreavy."
Radio polisi terus-menerus mengirimkan berita. "Kode Sepuluh... Kode
Sepuluh.... Semua mobil... ambil lima...."
Angeli mematikan radio. "Ada yang tahu saya menjemput Anda?" Dia bertanya.
"Tidak ada," jawab Judd meyakinkannya. "Anda belum membicarakan La Cosa
Nostra dengan siapa pun?" "Hanya dengan Anda." Angeli mengangguk, merasa
puas. Mereka menyeberangi Jembatan George Washington, dan menuju New
Jersey. Tapi segala-galanya sudah berubah. Sebelumnya Judd merasa sedih. Kini
dengan Angeli di sisinya, dia tidak lagi merasa seperti orang yang sedang diburu.
Dia ganti menjadi pemburu. Dan pikiran ini membuatnya merasa sangat puas.
Karena saran Angeli, Judd meninggalkan mobil sewaannya di Manhattan.
Kemudian dia ikut naik mobil polisi tanpa tanda milik Angeli. Kini Angeli
menjalankan mobil ke utara di Palisades Interstate Parkway, dan keluar di
Orangeburg. Mereka mendekati Old Tappan.
"Anda cerdik sekali bisa mengetahui apa yang terjadi, Dokter," kata Angeli.
Judd menggelengkan kepala. "Seharusnya saya sudah bisa menarik kesimpulan
begitu saya tahu orang yang terlibat lebih dari satu. Pasti yang melakukan
sebuah organisasi yang menggunakan pembunuh bayaran. Saya rasa Moody
sudah mencurigai apa yang sebenarnya ketika melihat bom di mobil saya.

Mereka bisa memakai segala macam senjata."
Dan Anne. Anne termasuk bagian dari operasi, dengan tugas mengusahakan
supaya mereka bisa membunuhnya. Walaupun demikian—Judd tidak bisa
membencinya. Tidak peduli apa yang dilakukannya, Judd tidak bisa
membencinya.
Angeli membelokkan mobil dari jalan besar. Dengan tangkasnya dia
menjalankan mobil di jalan kelas dua yang menuju daerah yang ditumbuhi
pohon-pohon.
"Teman Anda tahu kita akan datang?" tanya Judd.
"Saya.sudah menelepon dia. Dia sudah siap menyambut Anda."
tib!-l?h f^smipangan muncul dengan tiba-' Qan Angel, membelokkan mobil ke
situ. P1
jalan ini dia menjalankan mobil sejauh satu mil, kemudian menghentikannya di
muka pintu gerbang otomatis.
Judd memperhatikan ada kamera televisi kecil terpasang di atas pintu gerbang.
Terdengar suara berdetik. Pintu bergerak membuka, kemudian menutup lagi di
belakang mereka. Mobil terus dijalankan sepanjang jalan taman yang panjang
melingkar.
Dari celah pohon-pohon di mukanya, Judd melihat sepintas lalu sebagian atap
sebuah rumah yang sangat besar. Tinggi di puncaknya, berkilat-kilat kena sinar
matahari, bertengger seekor ayam jantan terbuat dari perunggu.
Ekor ayam jantan perunggu ini sudah hilang.
21
Di pusat komunikasi Markas Besar Kepolisian yang kedap suara dan terang-
benderang oleh lampu neon, selusin polisi melayani pesawat penghubung
telepon raksasa. Enam orang operator duduk pada tiap-tiap sisi panel. Setiap
laporan yang masuk dicatat dan dikirim ke atas, untuk disiarkan kepada seluruh
mobil patroli.
Laporan terus-menerus berdatangan. Mengalir siang dan malam, seperti sungai
tragedi dari warga kota metropolitan yang sangat besar. Laki-laki dan perempuan
yang ketakutan... sendirian... putus asa... mabuk... luka... dibunuh ....Ini seperti
lukisan Hogarth, tapi dilukis dengan kata-kata yang tajam penuh rasa sakit dan
bukan dengan cat.
Pada hari Senin sore itu suasana terasa lebih tegang dibandingkan biasanya.
Setiap operator telepon melakukan tugasnya dengan konsentrasi penuh.
Walaupun demikian perhatian mereka tidak lepas dari sejumlah detektif dan
agen FBI yangkeluar-masuk ruangan. Orang-orang kepolisian ini menerima dan
memberikan perintah, bekerja dengan tenang dan efisien menebarkan
jaring elektronis untuk menangkap Dokter J Stevens dan Detektif Frank Angeli.

Suasana semakin sibuk, seakan-akan mereka digerakkan oleh dalang boneka
yang gugup.
Kapten Bertelli sedang bercakap-cakap dengan Allen Sullivan, anggota Komisi
Kriminal Kota-praja. Ketika itu McGreavy masuk ke ruangan. Sebelumnya
McGreavy sudah pernah bertemu dengan Sullivan. Dia seorang yang tangguh
dan jujur. Bertelli memutus percakapannya dan menoleh kepada Detektif
McGreavy, air mukanya penuh tanda tanya.
"Keadaan terus berkembang," kata McGreavy. "Kita menemukan seorang saksi
mata, penjaga malam yang bekerja di gedung seberang kantor Dokter Stevens.
Pada hari Rabu malam ketika ada orang yang mendobrak masuk ke kantor
Dokter Stevens, penjaga malam ini baru saja memulai tugasnya. Dia melihat dua
orang laki-laki memasuki gedung. Pintu yang menghadap ke jalan terkunci, dan
mereka membukanya dengan kunci. Dia mengira mereka bekerja di situ."
"Kau mengetahui identitasnya?"
"Dia bisa mengenali potret Angeli."
"Rabu malam seharusnya Angeli tidur di rumah karena sakit flu."
"Benar."
"Bagaimana mengenai laki-laki satunya?" "Penjaga malam tidak begitu jelas
melihatnya." Seorang operator menghidupkan salah satu lampu berwarna merah
dan menoleh kepada
Kapten Bertelli. "Untuk Anda, Kapten. Dari Patroli Jalan Raya New Jersey."
Bertelli mengangkat telepon. "Kapten Bertelli di sini." Dia mendengarkan
sebentar. "Betul?.... Bagus! Kau bisa mendapatkan setiap unit yang dibutuhkan?
Pasanglah blokade jalan. Saya ingin daerah itu dikepung rapat. Jangan sampai
putus hubungan.... Terima kasih."
Dia meletakkan telepon dan berbalik menghadapi kedua rekannya. "Rupanya
kita masih mujur. Seorang anggota pasukan patroli di New jersey melihat mobil
Angeli di jalan kelas dua dekat Orangeburg. Dan kini Patroli Jalan Raya sedang
menyelidiki daerah itu."
"Dokter Stevens?"
^Dia dalam mobil bersama Angeli. Masih hidup. Jangan kuati r. Pasukan patroli
akan menemukan mereka."
McGreavy mencabut dua batang cerutu. Dia menawarkan sebatang kepada
Sullivan, tapi dito- j lak. Lalu dia memberikan sebatang kepada Bertelli j dan
memasukkan yang sebatang lagi di antara j bibirnya,
"Kita memiliki satu hal yang menguntungkan, j Dokter Stevens selalu mujur."
Dia menyalakan geretan dan menyulut kedua batang cerutu. "Saya j baru saja
menghubungi sahabatnya, Dokter Peter j Hadley. Dokter Hadley menceritakan
kepada saya bahwa ketika dia menjemput Dokter Stevens j di kantornya

beberapa hari yang lalu, dia juga
menemukan Angeli berada di sana dengan pistol di tangan. Angeli berbohong
dengan mengatakan
bahwa dia menunggu kedatangan pencuri. Menurut perkiraan saya, kedatangan
Dokter Hadley justru menyelamatkan jiwa Stevens."
"Bagaimana asal mulanya kau mencurigai Angeli?" tanya Sullivan.
"Awalnya ketika saya mendengar laporan bahwa dia memeras beberapa orang
pedagang," kata McGreavy. "Dan ketika saya mengecek laporan itu, semua
korban pemerasan tidak bersedia membuka mulut. Mereka ketakutan, tapi saya
tidak tahu apa sebabnya. Saya tidak mengatakan apa-apa kepada Angeli. Saya
hanya mengawasinya saja lebih cermat."
"Waktu pembunuhan Hanson terjadi, Angeli datang dan bertanya apakah dia bisa
menangani perkara ini bersama saya. Dia membual bahwa dia sangat
mengagumi saya, dan sejak dulu ingin menjadi patner saya. Saya tahu bahwa dia
pasti mempunyai tujuan. Maka dengan izin Kapten Bertelli, saya melayani
permainannya.
"Tidak heran dia begitu ingin menangani perkara ini, sebab dia ternyata ikut
terlibat! Waktu itu saya tidak yakin apakah Dokter Stevens terlibat dalam
pembunuhan Hanson dan Carol Roberts. Tapi saya memutuskan akan
memperalat dia, untuk membantu menjebak Angeli.
"Saya membuat perkara palsu untuk menjatuhkan Stevens, dan mengatakan
kepada Angeli
bahwa saya akan menangkap Dokter Stevens sebagai pelaku pembunuhan. Saya
berpikir kalau Angeli mengira dirinya tidak dicurigai, dia akan tenang dan
kehilangan kewaspadaan." "Apakah itu berhasil?"
'Tidak. Saya heran setengah mati karena Angeli berusaha keras agar Stevens
tidak ditahan."
Sulh'van melihat kepadanya, keheranan. 'Tapi mengapa begitu?"
"Sebab dia berusaha membunuh Stevens. Dia takkan berhasil melakukannya
kalau Stevens ditahan di sini."
"Waktu McGreavy mulai menambahkan tekanan," kata Kapten Bertelli, "Angeli
menemui saya dan mengatakan bahwa McGreavy berusaha memfitnah Dokter
Stevens."
"Sejak itu kami yakin bahwa kami pada jalan yang benar," kata McGreavy.
"Stevens menyewa seorang detektif partikelir bernama Norman Moody. Saya
mengecek Moody, dan mengetahui bahwa dulu dia pernah berurusan dengan
Angeli ketika klien Moody ditangkap oleh Angeli dalam perkara obat bius.
Moody mengatakan bahwa kliennya di fitnah. Sekarang saya menarik
kesimpulan bahwa kata-kata Moody pasti benar."

"Jadi sejak semula Moody sudah tahu jawaban-
"Itu bukan semata-mata karena nasib mujur. Moody memang orang yang cerdas.
Dia sudah mengira bahwa Angeli kemungkinan terlibat dalam kasus Hanson dan
Carol Roberts. Ketika
dia menemukan bom di mobil Dokter Stevens, dia menyerahkan bom itu kepada
FBI dan meminta mereka mengeceknya.**
"Dia takut jangan-jangan Angeli akan bisa melenyapkan bukti ini kalau bom
diserahkan ke sini?"
"Dugaan saya begitu. Tapi seseorang membuat kesalahan dan salinan laporan
jatuh ke tangan Angeli. Sejak itu Angeli tahu bahwa Moody dapat
mencelakakannya. Pertama kalinya kami mendapat petunjuk yang sangat jelas
ialah ketika Moody menyebutkan nama 'Don Vinton'." "Istilah La Cosa Nostra
untuk 'Orang Besar'." "Yah. Karena suatu alasan, orang dari La Cosa Nostra
ingin membunuh Dokter Stevens."
"Bagaimana kau tahu Angeli mempunyai hubungan dengan La Cosa Nostra?"
"Saya menemui kembali pedagang yang diperas oleh Angeli. Ketika saya
menyebutkan La Cosa Nostra, mereka panik luar biasa. Angeli bekerja untuk
salah satu keluarga La Cosa Nostra. Tapi dia serakah, dan sebagai sambilan dia
melakukan pemerasan sendiri."
"Mengapa La Cosa Nostra ingin membunuh Dokter Stevens?" tanya Sullivan.
"Saya tidak tahu. Kami telah menyelidiki dari berbagai segi." Dia menghela
napas kesal. "Kami sial sekali. Angeli bisa melepaskan diri dari orang kami yang
membuntutinya. Dokter Stevens lari dari rumah sakit, sebelum saya bisa
memberikan peringatan mengenai Angeli dan memberikan erlindungan."
ampu di atas panel sebuah pesawat telepon L !«i Seorang operator menenma
laporan ? ™ia»garkan sebentar. "Kapten Bertelli." ^2.mengangkat telepon.
"Kapten Bertelli
^'mendengarkan sebentar tidak mengatakan apa-apa. Kemudi» telepon
diletakkan perlahan-lahan dan menoW. kepada McGreavy. Mereka kehilangan
feiak/'
22
Athony demarco mempunyai mana.
Judd bisa merasakan kekuatan kepribadiannya yang berkobar-kobar dari
seberang ruangan, datang bergelombang-gelombang dan melanda dengan
kekuatan luar biasa. Anne tidak berbohong ketika dia mengatakan bahwa
suaminya sangat tampan. Dia bahkan tidak membesar-besarkan kenyataan yang
sebenarnya.
wajah DeMarco seperti wajah orang-orang Romawi klasik dengan profil yang
sempurna. Matanya hitam, dan ada beberapa helai uban pada rambut hitamnya

yang justru membuat dia semakin tampan. Umurnya sekitar empat puluh lima
tahun, jangkung dan mempunyai potongan atletis. Gerakannya lincah dan
cekatan, penuh keindahan hewani. Suaranya dalam dan penuh daya magnet.
"Anda mau minum, Dokter}' Judd menggeleng, terpesona kepada laki-laki di
hadapannya. Semua orang bisa bersumpah bahwa DeMarco seratus persen
normal, laki-laki yang mempesonakan. Dia tuan rumah yang sempurna, yang
sedang menerima tamu w™1™* Mereka semua berlima, berkumpul dalam
ruang
perpustakaan yang mewah. Judd, DeMarco, Detektif Angeli, dan dua orang yang
mencoba membunuh Judd di apartemennya: Rocky dan Nick Vaccaro. Mereka
duduk melingkar mengeli-hngi Judd.
Judd memperhatikan wajah-wajah musuh yang mengelilinginya, dan dia merasa
puas. Akhirnya dia tahu siapa yang menjadi lawannya, atau orang-orang yang
dilawannya. Kalau memang istilah "perlawanan" merupakan kata yang benar.
Dia berjalan sendiri masuk ke perangkap Angeli. Bahkan lebih buruk lagi. Dia
menelepon Angeli, meminta dia datang menjemputnya! Angeli, Yu-das yang
membawanya ke situ untuk dibunuh.
DeMarco memperhatikan Judd dengan rasa tertarik. Mata hitamnya seakan-akan
menikam. "Saya banyak sekali mendengar tentang Anda," katanya.
Judd diam saja.
"Maaf karena kami membawa Anda ke sini dengan cara seperti ini, tapi ini perlu
kami lakukan untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda." Dia
tersenyum meminta maaf, wajahnya berseri-seri.
Judd tahu apa yang akan dihadapinya, dan pikirannya berputar dengan cepat.
"Apa yang Anda bicarakan dengan istri saya, Dokter Stevens?"
Suara Judd mengandung rasa terkejut. "Istri Anda? Saya tidak kenal dengan istri
Anda." DeMarco menggelengkan kepalanya sebagai
celaan. "Dia pergi ke kantor Anda dua kali seminggu dalam tiga minggu yang
terakhir ini."
Judd mengerutkan muka, berpikir. "Saya tidak mempunyai pasien yang bernama
DeMarco....'*
DeMarco mengangguk mengerti. "Mungkin dia memakai nama lain. Mungkin
nama gadisnya. Blake-Anne Blake."
Dengan hati-hati Judd menunjukkan keheranan. "Anne Blake?"
Kedua kakak-beradik Vaccaro makin mendekat.
"Jangan," kata DeMarco tajam. Lalu dia kembali menghadapi Judd. Sikapnya
yang ramah sudah hilang. "Dokter, kalau kau coba-coba mempermainkan saya,
saya akan melakukan hal yang takkan kaupercaya."
Judd melihat ke matanya dan percaya kepada yang dikatakannya. Dia sadar

bahwa jiwanya tergantung pada seutas benang. Dikuatkannya hatinya, supaya
suaranya tetap mengandung ketabahan. "Kau boleh melakukan sekehendakmu.
Sampai saat ini saya tidak tahu bahwa Anne Blake adalah istrimu."
"Mungkin itu benar," kata Angeli. "Dia...."
DeMarco tidak mengacuhkan Angeli. "Apa yang kalian bicarakan selama tiga
minggu?"
Mereka sudah sampai kepada kenyataan. Sejak saat Judd melihat ayam jantan
perunggu di atap, teka-teki yang terakhir sudah terjawab. Anne tidak
menjebaknya untuk dibunuh, Anne juga seorang korban, seperti dia sendiri.
Anne menikah dengan Anthony DeMarco, pemilik perusahaan konstruksi yang
sukses, tapi tidak tahu siapa sebenarnya DeMarco yang menjadi suaminya ini.
Kemudian sesuatu pasti terjadi, yang membuat Anne mulai curiga. Anne
mungkin curiga bahwa suaminya bukan seperti kelihatannya, dan terlibat dalam
sesuatu yang illegal serta mengerikan.
Karena tidak mempunyai tempat mengadu, Anne meminta tolong kepada
seorang psikoanalis. Dia meminta tolong kepada orang yang sama sekali asing,
orang yang bisa dipercaya. Tapi di kantor Judd, kesetiaan terhadap suami
menyebabkan Anne tidak bisa membicarakan ketakutannya.
"Kami tidak membicarakan hal apa pun," kata Judd dengan suara tenang.
"Istrimu tidak mau mengatakan apa kesulitannya."
Mata DeMarco yang hitam terpusat kepadanya, menyelidiki, menimbang-
nimbang. "Kau harus memberi keterangan yang lebih baik daripada itu."
DeMarco pasti merasa panik sekali ketika mengetahui istrinya menemui seorang
psikoanalis. Ya, Anne istri seorang pemimpin La Cosa Nostra! Tidak heran
DeMarco tidak segan-segan membunuh, berusaha mendapatkan arsip tentang
diri Anne.
"la hanya mengatakan kepada saya," kata Judd, "bahwa dia merasa tidak bahagia
karena, sesuatu, tapi tidak bisa membicarakannya."
"Kau saya beri waktu sepuluh detik," kata
DeMarco. "Saya mempunyai catatan tentang setiap menit yang dihabiskannya di
kantormu. Apa yang dikatakannya selama tiga minggu? Dia pasti mengatakan
kepadamu siapa saya sebenarnya."
"Dia mengatakan bahwa kau mempunyai perusahaan konstruksi."
DeMarco memperhatikan Judd dengan sikap dingin. Judd bisa merasakan titik-
titik keringat muncul di dahinya.
"Saya sudah membaca buku-buku mengenai analisis, Dokter. Pada umumnya
pasien mengatakan semua yang ada dalam pikirannya."
"Itu merupakan bagian dari terapi," kata Judd tegas. "Itulah sebabnya saya tidak
mengetahui tentang Nyonya Blake—tentang Nyonya DeMarco. Saya bermaksud

menghentikan terapi untuknya."
"Tapi kau tidak berbuat begitu."
"Saya tidak perlu berbuat begitu. Ketika dia datang menemui saya pada hari
Jumat, dia mengatakan akan bepergian ke Eropa."
"Anne mengurungkan maksudnya. Dia tidak ingin pergi ke Eropa bersama saya.
Kau tahu apa
sebabnya?" Judd memandangnya, benar-benar keheranan.
"Tidak."
"Karena kau, Dokter."
lantung Judd terlonjak sedikit. Dengan hati-hati dia menahan perasaannya,
supaya tidak kentara pada suaranya. "Saya tidak mengerti."
"Kau pasti mengerti. Semalam saya dan Anne berbicara panjang-lebar. Dia
merasa berbuat kesalahan dalam perkawinan kami. Dia merasa tidak bahagia
lagi hidup bersama saya, sebab dia jatuh cinta kepadamu, Dokter.**
Waktu berbicara, suara DeMarco hampir seperti bisikan yang lirih. Kemudian
dia meneruskan, "Saya ingin kau menceritakan apa yang terjadi ketika kalian
hanya berdua di ruang praktekmu dan dia berbaring di sofa."
Judd menguatkan hatinya, menahan gejolak perasaan yang melandanya. Jadi
Anne jatuh cinta kepadanya! Tapi apa gunanya itu bagi mereka sekarang?
DeMarco masih memandangnya, menunggu jawaban.
"Tidak terjadi apa pun. Kalau kau memang sudah membaca tentang analisis, kau
pasti tahu bahwa setiap pasien wanita mengalami transferensi emosi. Pada satu
atau lain waktu, mereka mengira jatuh cinta kepada dokternya. Tapi itu hanya
satu fase yang akan berlalu dengan sendirinya.'*
DeMarco memperhatikan Judd dengan cermat. Matanya yang hitam menatap
mata Judd, menyelidiki.
"Bagaimana kau tahu dia datang menemui saya?" tanya Judd, mencoba bertanya
dengan seenaknya.
Sesaat DeMarco melihat kepada Judd. Kemudian dia berjalan ke meja tulis
besar, dan mengambil pembuka surat yang berbentuk pisau belati yang sangat
tajam.
"Salah seorang anak buah saya melihat dia masuk ke gedung tempat kantormu
berada. Di situ banyak dokter kandungan. Mereka mengira mungkin Anne
merahasiakannya untuk memberikan kejutan kepada saya. Mereka mengikutinya
terus, dan ternyata dia masuk ke kantormu."
DeMarco berbalik menghadapi Judd.
"Memang benar itu merupakan kejutan buat saya. Mereka mengetahui bahwa dia
menemui seorang psikiater. Istfi Anthony DeMarco membocorkan urusan
pribadi kepada seorang pengerut kepala."

"Saya sudah bilang dia tidak...."
Suara DeMarco kedengaran melunak. "Com-missione menyelenggarakan rapat.
Dalam pemungutan suara mereka memutuskan agar saya membunuh dia, seperti
kami membunuh siapa saja yang menjadi pengkhianat."
Kini DeMarco berjalan mondar-mandir. Ini mengingatkan Judd kepada binatang
buas yang dikurung.
"Tapi mereka tidak bisa memberikan perintah kepada saya seperti kepada
serdadu kampung. Saya Anthony DeMarco, seorang Capo. Saya berjanji kepada
mereka, jika Anne benar-benar membicarakan urusan kami, saya akan
membunuh laki-laki yang diajaknya berbicara. Dengan kedua tangan ini."
DeMarco mengangkat kedua tangannya, yang satu menggenggam pisau belati
yang berk.lat-k.lat
karena tajamnya. "Dan kaulah yang diajaknya bicara, Dokter."
Kini sambil berbicara DeMarco berjalan mengelilingi Judd. Setiap kali DeMarco
berjalan di belakangnya, tanpa disadarinya sendiri Judd ber-siap-siap menunggu
serangan.
"Kau keliru kalau...." Judd mulai bicara.
"Tidak. Kau tabu siapa yang membuat kekeliruan? Anne.**
Dia memandangi Judd dari atas ke bawah dan sebaliknya. Kelihatannya dia
benar-benar sangat heran.
"Bagaimana sampai dia mengira bahwa kau laki-laki yang lebih baik daripada
saya?"
Kakak-beradik Vaccaro tertawa.
"Kau bukan apa-apa. Hanya orang biasa yang pergi ke kantor setiap hari dan
berpenghasilan —berapa? Tiga puluh ribu setahun? Lima puluh? Seratus?
Penghasilan saya lebih dari itu dalam seminggu."
Topeng DeMarco kini merosot dengan cepatnya, diberati oleh tekanan emosinya.
Bicaranya mulai pendek-pendek, letupan perasaan yang didorong oleh
kegugupan. Keburukan mulai menutupi wajahnya yang tampan.
Anne hanya melihat DeMarco ketika dia mengenakan topeng. Sedang Judd kini
melihat ke wajah telanjang seorang yang gila membunuh. "Kauberkasih-kasihan
dengan siputana kecil!" "Kami tidak berkasih-kasihan," kata Judd.
DeMarco mengawasinya, matanya menyala-nyala. "Dia tidak ada artinya
bagimu?"
"Sudah saya bilang. Dia hanya seorang pasien bagi saya."
"Oke," kata DeMarco akhirnya. "Kaukatakan itu kepada dia."
"Apa yang harus saya katakan kepadanya?"
"Bahwa kau sama sekali tidak peduli kepadanya. Saya akan memanggil dia ke
sini. Saya ingin kau bicara dengan dia, sendirian."

Denyut nadi Judd berdetak makin cepat. Dia akan diberi kesempatan untuk
menyelamatkan dirinya bersama Anne.
DeMarco menjentikkan jarinya, dan anak buahnya berjalan ke ruang tengah.
Lalu DeMarco kembali menghadapi Judd. Matanya yang hitam seakan tertutup
kabut. Dia tersenyum manis, topengnya terpasang lagi.
"Kalau Anne memang tidak tahu apa-apa, dia akan tetap hidup. Kau harus
meyakinkan dia bahwa dia sebaiknya pergi ke Eropa bersama saya."
Tiba-tiba Judd merasakan mulutnya kering. Tampak pancaran kemenangan pada
mata DeMarco. Judd tahu apa sebabnya. Dia meremehkan lawannya.
Itu kesalahan yang fatal.
DeMarco bukan pemain catur. Walaupun demikian dia cukup cerdik, dan tahu
bahwa dia memegang pion yang membuat Judd tidak berdaya. Anne. Langkah
apa pun yang akan diambil
Judd, Anne tetap dalam bahaya. Kalau dia membiarkan Anne pergi ke Eropa
bersama DeMarco, dia yakin bahwa jiwa Anne tetap terancam.
Pendeknya Judd tidak percaya bahwa DeMarco akan membiarkan Anne tetap
hidup. La Cosa Nostra takkan mengizinkan. Di Eropa DeMarco akan mengatur
terjadinya "kecelakaan". Sebaliknya, kalau dia mengatakan agar Anne jangan
pergi, dan Anne tahu apa yang akan menimpanya, Anne akan berusaha
mencegah—dan akibatnya seketika Anne akan dibunuh. Tidak ada cara untuk
melarikan diri, yang ada hanya pilihan antara dua perangkap.
Dari jendela kamar tidurnya di lantai dua, Anne mengawasi kedatangan Judd dan
Angeli. Sesaat dia merasa sangat gembira. Dia yakin Judd datang untuk
membawanya pergi, menolongnya dari situasi mengerikan yang sedang
dialaminya. Tapi kemudian dia melihat Angeli mengeluarkan pistol dan
memaksa Judd masuk ke dalam rumah.
Dalam empat puluh delapan jam yang terakhir Anne sudah mengetahui
kebenaran mengenai suaminya. Sebelum itu dia hanya merasakan kecurigaan
yang samar-samar, tidak jelas. Mula-mula dia bahkan tidak percaya, sehingga
dia mencoba menyingkirkan syak wasangkanya.
Kecurigaannya terhadap suaminya dimulai beberapa bulan yang lalu. Ketika itu
dia pergi ke Manhattan untuk menonton pementasan drama. Tapi dia pulang
lebih cepat, sebab pemain uta-
manya mabuk dan layar diturunkan pada tengah-tengah babak kedua.
Sebelumnya Anthony mengatakan kepadanya bahwa di rumah akan ada
pertemuan bisnis, tapi pasti sudah selesai sebelum Anne pulang.
Nah, ketika Anne pulang pertemuan masih berlangsung. Sebelum suaminya
yang terkejut sempat menutup pintu perpustakaan, Anne mendengar seseorang
berseru marah, "Saya memilih untuk memukul pabrik malam ini juga dan

membereskan bangsat-bangsat itu sekalian!"
Bunyi kalimat ini, rupa orang-orang asing yang bengis-bengis, dan kegugupan
Anthony melihatnya membuat Anne terkejut. Tapi Anne meneri- * ma
penjelasan suaminya, sebab dia ingin sekali merasa yakin bahwa penjelasan
suaminya benar. Dalam waktu enam bulan masa perkawinan mereka, DeMarco
bersikap lemah-lembut dan merupakan suami yang penuh pengertian. Kadang-
kadang DeMarco terlihat juga oleh Anne seolah-olah sedang menahan
kemarahan, tapi dengan cepat dia selalu bisa menguasai dirinya.
Beberapa minggu setelah peristiwa sehabis menonton drama itu Anne
mengangkat telepon, dan tidak sengaja ikut mendengar suara Anthony di telepon
yang berada di ruang kerjanya. "Malam ini kita mengambil alih pengiriman dari
Toronto. Kalian harus menyiapkan seseorang untuk mengurus penjaganya. Dia
bukan orang kita."
Anne meletakkan telepon, pikirannya terguncang. "Mengambil alih
pengiriman"... "mengurus
penjaganya"... kedengarannya mengandung bahaya, tapi mungkin juga hanya
isulah bisnis biasa saja.
Dengan hati-hati Anne mencoba menanyakan kepada Anthony tentang kegiatan
bisnisnya. Tiba-tiba seperti ada dinding baja yang memisahkan mereka. Anne
merasa berhadapan dengan orang asing yang penuh kemarahan, yang
menyuruhnya mengurusi pekerjaan rumah tangga dan jangan mencampuri
urusan bisnis. Mereka bertengkar dengan sengitnya, tapi malam berikutnya
Anthony memberinya kalung yang mahal dan minta maaf dengan lemah-lembut.
Sebulan kemudian insiden yang ketiga terjadi. Anne terbangun dari tidurnya
pukul empat pagi karena bunyi pintu dibanting. Dia memakai gaun kamar dan
turun untuk menyelidiki. Dia mendekati pintu, tapi terhenti ketika melihat
Anthony sedang berbicara dengan setengah lusin orang asing. Takut suaminya
marah kalau dia mengganggu, Anne diam-diam naik lagi dan kembali ke tempat
tidur. Ketika sarapan keesokan harinya dia bertanya kepada Anthony, apakah
tidurnya nyenyak semalam.
"Hebat. Saya terlelap pada pukul sepuluh dan tidak terbangun lagi."
Maka Anne sadar bahwa dia dalam kesulitan. Dia tidak tahu apa kesulitannya,
dan juga tidak tahu segawat apa. Yang diketahuinya hanyalah bahwa suaminya
berdusta, karena sesuatu alasan yang dia tidak tahu. Bisnis apa yang diurusnya,
sehingga dia harus menjalankannya secara diam-diam di tengah malam bersama
orang-orang yang bertampang bajingan? Dia tidak berani membicarakannya
dengan Anthony. Rasa panik mulai timbul. Dan dia tidak bisa membicarakannya
dengan siapa pun.
Beberapa malam kemudian, pada acara makan malam di klub, seseorang

menyebut-nyebut psikoanalis bernama Judd Stevens. Orang ini menceritakan
bahwa Judd Stevens seorang psikoanalis yang sangat terkemuka.
Dia ini pakarnya psikoanalis, dan orangnya sangat tampan. Tapi sayang
ketampanannya terbuang sia-sia—dia orang yang sangat berbakti kepada
pekerjaannya.
Anne mencatat namanya dengan hati-hati, dan minggu berikutnya pergi
menemui Judd.
Pertemuan pertama dengan Judd menyebabkan pikiran Anne sangat kacau. Anne
merasakan dirinya terseret ke dalam pusaran emosi, yang menyebabkan jiwanya
terguncang. Dalam kekalutannya Anne sampai hampir tidak bisa bicara kepada
Judd. Dia pergi dengan perasaan seperti anak sekolah yang jatuh cinta untuk
.pertama kalinya, berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan kembali menemui
Judd.
Tapi Anne kembali lagi untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa yang
sudah terjadi hanya sesuatu yang bersifat sementara saja. Tapi reaksinya pada
pertemuan yang kedua bahkan lebih kuat. Selama ini Anne membanggakan
dirinya sebagai wanita yang berakal sehat dan realistis—tapi kini sikapnya
seperti anak berumur tujuh belas tahun yang baru pertama kalinya mengenal
cinta.
Anne tidak bisa membicarakan perihal suaminya dengan Judd. Maka mereka
membicarakan bahan percakapan yang lain. Dan seusai setiap pertemuan, cinta
Anne kepada orang asing yang perasa dan hangat ini semakin kuat.
Walaupun demikian Anne sadar bahwa dirinya tidak mempunyai harapan, sebab
dia tidak mungkin bercerai dengan Anthony. Anne mengira ada sesuatu yang tak
beres dengan dirinya, karena setelah kawin selama enam bulan dia bisa jatuh
cinta kepada laki-laki lain. Dia memutuskan lebih baik tidak menemui Judd lagi
untuk selama-lamanya.
Kemudian serentetan peristiwa aneh mulai terjadi. Carol Roberts terbunuh, dan
Judd ditabrak lari. Anne membaca di surat kabar bahwa Judd juga berada di
lokasi mayat Moody ditemukan, di Gudang Five Star. Sebelumnya dia sudah
pernah melihat nama gudang ini.
Pada kepala surat sebuah faktur di meja tulis Anthony.
Dan kecurigaan yang kuat pun mulai terbentuk dalam pikiran Anne.
Rasanya sukar dipercaya bahwa Anthony terlibat dalam peristiwa mengerikan
yang terjadi akhir-akhir ini, tapi... Anne merasa seakan-akan sedang mengalami
mimpi buruk, dan tidak bisa
melepaskan diri. Dia tidak bisa membicarakan
rasa takutnya dengan Judd, dan tidak berani pula membicarakannya dengan
Anthony. Dipaksanya dirinya sendiri yakin bahwa kecurigaannya terhadap

Anthony tidak berdasar sama sekali; Anthony bahkan tidak tahu tentang diri
Judd.
Dan kemudian, empat puluh delapan jam yang lalu Anthony masuk ke kamarnya
dan mulai menanyakan kunjungannya ke kantor Judd. Mula-mula Anne marah
karena merasa dimata-matai suaminya. Tapi rasa marah ini dengan cepat berubah
menjadi rasa takut yang luar biasa. Demi melihat wajah suaminya yang
mengerikan karena penuh kemarahan, Anne tahu bahwa suaminya mampu
melakukan apa saja terhadapnya.
Bahkan juga membunuhnya.
Selama ditanyai, Anne membuat kesalahan yang sangat fatal. Anne mengatakan
kepada suaminya mengenai perasaan hatinya terhadap Judd. Seketika mata
Anthony berubah gelap, dan dia menggeleng-gelengkan kepala seperti orang
habis kena pukulan.
Setelah sendirian lagi, barulah Anne sadar bahwa Judd terancam bahaya yang
sangat besar. Anne juga tahu bahwa dia tidak bisa meninggalkan Judd. Dia
mengatakan kepada Anthony bahwa dia tidak mau pergi ke Eropa bersamanya.
Dan sekarang Judd berada di sini, dalam rumah ini. Tapi jiwa Judd terancam
karena dia.
Pintu kamar terbuka dan Anthony masuk. Sesaat Anthony berdiri
memperhatikannya.
"Kau mendapat tamu," katanya.
Anne masuk ke perpustakaan dengan memakai rok dan blus warna kuning,
rambutnya tergerai lepas ke bahu. Wajahnya kuyu dan pucat, tapi sikapnya tetap
tenang. Judd berada dalam perpustakaan, seorang diri.
"Halo, Dokter Stevens. Anthony mengatakan Anda berada di sini."
Judd merasa bahwa mereka sedang bermain sandiwara dengan penonton yang
tidak kelihatan dan berbahaya. Intuisinya mengatakan bahwa Anne juga
menyadari situasi mereka, dan Anne menyerahkan diri kepadanya. Anne
menunggu untuk mengikuti apa saja petunjuknya.
Tidak ada lain yang bisa dilakukan Judd, kecuali mencoba berusaha agar Anne
tetap hidup lebih lama.. Kalau Anne tetap tidak mau pergi ke Eropa, DeMarco
pasti akan membunuhnya di tempat ini juga.
Judd ragu-ragu, memilih kata-kata dengan hati-hati. Setiap patah kata sama
berbahayanya dengan bom yang dipasang dalam mobilnya.
"Nyonya DeMarco, suami Anda merasa kesal karena Anda mengurungkan niat
Anda pergi ke Eropa bersamanya."
Anne menunggu, mendengarkan, menimbang-nimbang.
"Saya bisa mengerti kekecewaan suami Anda. Menurut saya sebaiknya Anda
tetap pergi bersama dia," kata Judd, memperkeras suaranya.

Anne memperhatikan wajah Judd, mencoba membaca pancaran matanya.
"Bagaimana kalau saya tetap menolak?"
Seketika Judd merasa panik. "Anda tidak boleh berbuat begitu."
Anne takkan keluar dari rumah ini hidup-hidup! "
"Nyonya DeMarco," kata Judd dengan tenang, "suami Anda mendapat kesan
yang keliru bahwa Anda jatuh cinta kepada saya."
Anne membuka mulurnya bermaksud bicara, tapi Judd cepat-cepat meneruskan,
"Saya menerangkan kepadanya bahwa itu bagian yang wajar dari analisis—
hanya transferensi emosi yang bisa dialami oleh setiap pasien."
Anne mengikuti petunjuknya. "Saya tahu. Saya kuatir sejak semula saya
memang bodoh pergi menemui Anda. Seharusnya saya berusaha memecahkan
sendiri kesulitan saya."
Dari matanya Judd tahu bahwa Anne bersungguh-sungguh. Tampak jelas sekali
Anne sangat menyesal karena menyebabkan dia terancam bahaya.
"Saya sudah memikirkannya kembali." Anne meneruskan. "Mungkin liburan di
Eropa akan membawa kebaikan bagi saya."
Judd menghela napas lega. Anne rupanya sudah
mengerti. .
Tapi Judd tidak bisa menemukan cara untuk memberitahu Anne tentang bahaya
yang sebenar* nya. Ataukah Anne sudah tahu dengan sendi-
nya? Dan seandainyapun Anne tahu, adakah yang bisa dilakukan untuk
menyelamatkan diri?
Judd melayangkan pandangan ke jendela perpustakaan. Dipandanginya pohon-
pohon yang tinggi di tepi hutan. Anne pernah menceritakan kepadanya bahwa
dia sering berjalan-jalan di hutan ini. Mungkin saja Anne mengetahui jalan
keluar untuk melarikan diri. Kalau mereka bisa lari ke hutan.— Judd
merendahkan suaranya. Anne....
"Sudah selesai mengobrolnya ?" Judd berputar dan melihat ke belakang.
DeMarco rupanya secara diam-diam dan tanpa suara masuk ke perpustakaan. Di
belakangnya menyusul Angeli dan kakak-beradik Vaccaro. Anne berbalik
menghadapi suaminya. "Ya," katanya. "Dokter Stevens berpendapat seharusnya
saya pergi ke Eropa bersamamu. Rasanya ada baiknya saya mengikuti
nasihatnya." DeMarco tersenyum dan melihat kepada Judd. "Saya tahu saya
boleh percaya kepada Anda, Dokter," katanya.
Kini wajah DeMarco berseri-seri, mempesona-kan. Wajahnya seperti orang yang
sangat puas karena mendapat kemenangan mutlak. Kelihatannya seakan-akan
DeMarco mempunyai kemampuan mengubah-ubah dirinya, dari kekejaman yang
mengerikan menjadi kehangatan yang menarik hati.
Tidak heran kalau Anne bisa jatuh hati kepada laki-laki ini. Bahkan Judd sendiri

saat itu sangat
sulit mempercayai bahwa laki-laki tampan yang ramah, manis, dan lemah-
lembut ini sebenarnya seorang psikopat dan pembunuh berdarah dingin.
DeMarco berbalik dan berhadapan dengan istrinya. "Kita berangkat besok pagi-
pagi sekali, Sayang. Naiklah ke atas dan mulai berkemas-kemas."
Anne ragu-ragu. Dia tidak ingin meninggalkan Judd sendirian bersama orang-
orang ini. "Saya...." Dia memandang Judd tidak berdaya. Judd mengangguk
kepadanya.
"Baiklah," Anne mengulurkan tangannya. "Selamat berpisah, Dokter Stevens."
Judd menyambut tangan Anne. "Selamat berpisah."
Dan kali ini benar-benar selamat berpisah. Tidak ada jalan keluar lagi. Judd
memperhatikan ketika Anne berbalik, mengangguk kepada yang lain-lainnya
dan berjalan meninggalkan ruang perpustakaan.
DeMarco memperhatikan istrinya.
"Bukankan dia cantik?"
Ada pancaran aneh pada air muka DeMarco. Cinta, rasa senang memiliki—dan
sesuatu lainnya. Penyesalan? Untuk apa yang akan dilakukan kepada istrinya?
"Dia sama sekali tidak tahu tentang semua ini," kata Judd. "Mengapa kau tidak
membiarkannya saja? Lepaskan saja dia!"
Judd memperhatikan DeMarco seketika berubah lagi. Pesonanya seketika
lenyap, dan ruang-
an penuh dengan kebencian. Arus kebencian mengalir dari DeMarco kepada
Judd, tidak mengenai yang lainnya. Pada air muka DeMarco tampak pancaran
kegembiraan, hampir seperti kegembiraan orang gila. "Mari kita pergi, Dok-ter.
Judd melihat berkeliling dalam ruangan, menimbang-nimbang kemungkinan
untuk melarikan diri. Tentunya DeMarco tidak ingin membunuh dia dalam
rumahnya sendiri. Jika dia bermaksud melarikan diri, itu harus dilakukan
sekarang juga. Kalau tidak dia takkan mendapat kesempatan lagi.
Kakak-beradik Vaccaro mengawasinya seperti serigala lapar, mengharap Judd
akan melakukan gerakan. Angeli berdiri dekat jendela, dengan satu tangan dekat
pistolnya.
"Kalau saya takkan mau coba-coba," kata DeMarco perlahan, "kau sama saja
seperti kalau sudah mati—tapi kita akan melakukannya dengan cara saya."
Dia mendorong Judd ke arah pintu. Yang lain mengepungnya, dan mereka
berjalan menuju pintu keluar.
Setelah sampai ke atas, Anne menunggu dekat tangga. Diperhatikannya apa yang
terjadi di ruang depan di bawahnya. Dia mundur agar tidak ^hhaun ketika Judd
digiring ke pintu keluar.
m.vu JCepat"ccPal kembali ke kamarnya, dan

ml,v\ " icndcla' Mereka mendorong J^d
m*uk ^ mobil Angeli.
Ipjcepat Anne meraih telepon dan memutar
nomor operator. Rasanya lama sekali baru terdengar jawaban.
"Operator, hubungkan saya dengan polisi! Lekas—ini keadaan bahaya!"
Tangan seorang laki-laki diulurkan di muka Anne, menekan tombol pada hak
telepon. Anne terpekik dan memutar tubuhnya. Nick Vaccaro berdiri di
mukanya, tersenyum.
23
Angeli menyalakan lampu depan mobil. Ketika itu baru pukul empat sore, tapi
hari sudah cukup gelap. Matahari bersembunyi di balik awan hitam yang
berputar-putar, didorong oleh angin yang sedingin es. Mereka bermobil sudah
lebih dari satu jam.
Angeli memegang kemudi. Rocky Vaccaro duduk di sebelahnya. Judd duduk di
kursi belakang bersama Anthony DeMarco..
Mula-mula Judd selalu mengawasi jalan, kalau-kalau ada mobil polisi lewat. Dia
mengharapkan akan bisa menari perhatian polisi entah dengan cara apa. Tapi
Angeli menjalankan mobil melalui jalan yang hampir tidak pernah dipakai, dan
lalu lintas hampir sama sekali tidak ada.
Mereka mengitari pinggiran Morristown, mengambil Route 206 dan menuju ke
selatan. Di depan mereka ada padang tandus daerah New Jersey Tengah yang
jarang penduduknya. Langit yang kelabu tersibak dan hujan mulai turun.
Butiran-butiran es kecil mendera kaca depan mobil, suaranya seperti genderang
kecil yang
ditabuh orang gila.
"Lambatkan mobil," DeMarco memberi perintah. "Kita tidak ingin mendapat
kecelakaan,
bukan?"
Angeli menurut, mengurangi tekanan kakinya pada pedal gas.
DeMarco menoleh kepada Judd. "Di situlah kebanyakan orang membuat
kesalahan. Mereka tidak merencanakan setiap hal seperti saya."
Judd melihat kepada DeMarco, mempelajarinya dari segi klinis. Orang ini
menderita megalomania, di luar jangkauan akal sehat atau logika. Tidak ada cara
apa pun untuk membujuknya. Pada dirinya ada kesadaran moral yang hilang,
yang menyebabkan dia bisa membunuh tanpa rasa bersalah. Sekarang Judd
sudah mengetahui sebagian besar jawabannya.
DeMarco melakukan semua pembunuhan dengan tangannya sendiri, terdorong
oleh rasa kehormatan—balas dendam cara SicUia. Dia melakukan itu untuk
menghapus noda yang dikiranya diperbuat oleh istrinya, yang mengotori dirinya


Click to View FlipBook Version