The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by purinugroho77, 2022-03-22 01:38:16

Sidney Sheldon - Wajah Sang Pembunuh

Sidney Sheldon - Wajah Sang Pembunuh

serta keluarga La Cosa Nostra.
Dia membunuh John Hanson karena kekeliruan. Angeli melaporkan kepadanya
apa yang terjadi. Maka DeMarco kembali ke kantor Judd dan menemukan Carol.
Kasihan Carol, sungguh malang nasibnya.
Carol tidak bisa memberikan pita rekaman Nyonya DeMarco, sebab dia tidak
mengenal Anne dengan nama ini. Seandainya DeMarco menahan kesabarannya,
dia akan bisa membantu
Carol mengetahui siapa yang dimaksudkannya. Tapi itu memang merupakan
bagian dari penyakitnya. DeMarco tidak bisa bertoleransi dengan rasa frustrasi,
dan karena kemarahannya yang menggila maka Carol mati. Secara mengerikan.
DeMarco jugalah yang menabrak Judd dengan mobil. Kemudian dia kembali ke
kantor Judd untuk membunuhnya, bersama Angeli. Dulu Judd heran mengapa
mereka tidak mendobrak pintu saja dan membunuhnya. Kini dia tahu apa
sebabnya.
Karena McGreavy yakin bahwa Judd bersalah, maka mereka memutuskan agar
kematian Judd seperti bunuh diri yang dilakukan karena penyesalan. Ini akan
menyebabkan penyelidikan polisi dihentikan.
Dan Moody... kasihan Moody. Ketika Judd memberitahukan nama kedua detektif
yang menangani perkaranya, dia mengira reaksi Moody ditujukan kepada
McGreavy—padahal sebenarnya tertuju kepada Angeli. Moody sudah tahu
bahwa Angeli terlibat dengan La Cosa Nostra, dan setelah mengingat ini....
Judd melihat kepada DeMarco. "Apa yang akan menimpa Anne?"
"Jangan kuatir. Saya sendiri yang akan mengurus dia," kata DeMarco. Angeli
tersenyum. "Yah." Wd marah sekali, tapi merasa tidak berdaya. "Saya
melakukan kesalahan dengan mengawini
orang di luar keluarga," kata DeMarco murung. "Orang luar tidak bisa
memahami seperti apa adanya. Tidak bisa memahami."
Mereka melalui dataran rendah yang hampir tandus sama sekali. Kadang-kadang
di kejauhan kelihatan ada pabrik, yang merupakan bintik-bintik samar dengan
latar belakang kaki langit.
"Kita hampir sampai," kata Angeli.
"Kerjamu bagus sekali," kata DeMarco. "Kau harus disembunyikan jauh-jauh di
suatu tempat, sampai suasana panas mereda. Kau ingin pergi ke mana?"
"Saya menyukai Florida."
DeMarco mengangguk setuju. "Tidak ada kesulitan. Di sana kau akan tinggal
bersama anggota keluarga"
"Saya kenal banyak pelacur yang cantik di sana," Angeli tersenyum.
DeMarco membalas senyumannya melalui kaca spion. "Kau akan kembali
dengan sekujur badan berwarna coklat."

"Mudah-mudahan."
Rocky Vaccaro tertawa.
Di kejauhan, di sebelah kanan, Judd melihat beberapa buah bangunan pabrik
yang mengepulkan asap ke udara. Mereka sampai ke jalan kecil yang menuju ke
pabrik. Angeli memutar kemudi ke kanan dan menjalankan mobil terus sampai
ke tembok yang tinggi.
Pintu gerbangnya tertutup. Angeli membunyikan klakson. Seorang laki-laki yang
memakai jas
hujan dan tutup kepala muncul di balik pintu gerbang. Setelah melihat DeMarco
dia mengang-guk, lalu membuka pintu gerbang. Angeli menjalankan mobil
masuk, dan pintu tertutup di belakang mereka. Mereka sudah sampai ke tujuan.
Di markas polisi Seksi Sembilan Belas, Letnan McGreavy ada di kantornya. Dia
sedang meme-riksa sebuah daftar bersama tiga orang detektif, Kapten Bertelli
dan dua orang agen FBI.
"Ini daftar keluarga La Cosa Nostra di Timur. Semua Sub-Capo dan Capo
Regime. Yang menjadi hambatan, kita tidak tahu Angeli berhubungan dengan
yang mana."
"Berapa lama kita bisa memeriksa semuanya?" tanya kapten Bertelli.
Salah seorang agen FBI berbicara. "Di sini terdapat lebih dari enam puluh nama.
Sekurang-kurangnya kita perlu waktu dua puluh empat jam, tapi...." Dia berhenti
bicara.
McGreavy menyelesaikan kalimatnya. "Tapi dua puluh empat jam dari saat
sekarang Dokter Stevens sudah tidak bisa kita selamatkan."
Seorang polisi muda berpakaian seragam berjalan cepat-cepat ke pintu yang
terbuka. Dia ragu-ragu ketika melihat orang begitu banyak.
"Ada apa?" tanya McGreavy.
"New Jersey tidak tahu apakah ini penting, Letnan. Tapi Letnan sudah menyuruh
melaporkan apa saja yang kelihatan agak mencurigakan. Seorang operator
mendapat panggilan telepon dari seorang wanita dewasa yang minta dihubung-
kan dengan markasTtesar kepolisian. Dia mengatakan keadaan bahaya, tapi
kemudian teleponnya
putus. Operator menunggu, tapi tidak ada panggilan lagi."
"Dari mana datangnya panggilan ini?"
"Sebuah kota bernama Old Tappan."
"Dia memberikan nomornya?"
"Tidak. Dia meletakkan telepon begitu cepat."
"Hebat," kata McGreavy kesal.
"Sudahlah," kata Bertelli. "Mungkin hanya wanita tua yang melaporkan kucing
hilang."

Telepon McGreavy berdering, panjang dan nyaring. Dia mengangkat telepon.
"Letnan McGreavy."
Yang lain memperhatikan dengan muka tegang.
"Baik! Katakan kepada mereka jangan melakukan tindakan apa-apa sebelum
saya datang ke sana. Saya berangkat sekarang juga!"
Dia meletakkan telepon.
"Patroli Jalan Raya baru saja melihat mobil Angeli menuju ke selatan, ke Route
206, tepat di luar Millstone."
"Mobil patroli ini mengambil arah yang berlawanan. Pada waktu mereka sempat
memutar, mobil itu sudah lenyap. Saya mengenal daerah ini. Tidak ada apa-apa
di situ, kecuali beberapa buah pabrik."
Dia menoleh menghadapi salah seorang agen FBI. "Anda bisa memberi saya
secepat-cepatnya daftar nama pabrik di sana dan siapa pemiliknya?" "Bisa."
Agen FBI ini meraih telepon.
"Saya akan pergi ke sana, kata McGreavy. "Hubungi saya setelah Anda
mendapatkannya."
Dia menoleh kepada anak buahnya. "Mari berangkat!" Dia terus keluar. Ketiga
detektif dan agen FBI satunya mengikuti.
Angeli menjalankan mobil melewati pondok penjaga dekat pintu gerbang,
langsung menuju kelompok bangunan aneh yang menjulang tinggi ke langit.
Ada cerobong asap terbuat dari batu bata dan saluran air raksasa, bentuknya
seperti binatang purbakala.
Mobil terus dijalankan menuju pipa-pipa besar dan ban berjalan, lalu direm
berhenti. Angeli dan Vaccaro turun dari mobil. Vaccaro membuka pintu belakang
di sisi Judd. Dia mengacungkan pistol. "Keluar, Dokter!"
Perlahan-lahan Judd turun dari mobil, diikuti oleh DeMarco. Seketika mereka
dikelilingi suara hingar-bingar dan angin kencang. Di muka mereka kira-kira
sejauh delapan meter ada pipa yang sangat besar. Pipa ini suaranya
menggemuruh, berisi udara yang dimampatkan dan menyedot apa saja yang
mendekati mulutnya yang terbuka.
**bii salah satu pipa terbesar di seluruh negeri," DeMarco membual,
memperkeras suaranya supaya terdengar. "Anda ingin melihat bagaimana cara
kerjanya?"
Judd melihat kepadanya tidak percaya. Kini DeM arco mengambil peranan lagi
sebagai tuan rumah yang sempurna, melayani tamunya. Tidak
—bukan sekadar memainkan peranan. Dia bersungguh-sungguh. Itulah yang
mengerikan.
DeMarco akan membunuh Judd. Dan baginya itu hanya transaksi bisnis biasa.
Sesuatu yang harus dibereskan, seperti membuang sepotong perkakas yang tidak

berguna lagi. Tapi sebelumnya DeMarco ingin membuat Judd merasa terpesona
lebih dulu.
"Mari, Dokter. Ini sangat menarik."
Mereka berjalan menuju pipa. Angeli memimpin di depan, DeMarco di sisi Judd,
dan Rocky Vaccaro berjalan di belakang mereka.
"Pabrik ini memberi masukan penghasilan kotor lebih dari lima juta dollar
setahun," kata DeMarco dengan bangga. "Seluruh operasinya berjalan secara
otomatis."
Ketika mereka semakin mendekati pipa, suara gemuruh semakin meningkat
pula, bunyinya hampir tidak tertahankan lagi. Seratus meter jauhnya dari mulut
pipa hampa udara ada mesin pemotong kayu raksasa. Mesin ini panjangnya
enam meter dan tingginya satu setengah meter, dengan setengah lusin pisau
pemotong yang sangat tajam. Kayu utuh yang akan dijadikan balok dibawa
dengan ban berjalan ke alat pemotong. Udara penuh dengan serbuk gergaji yang
beterbangan campur air hujan, semua disedot masuk ke mulut pipa.
"Tidak peduli sebesar apa kayunya," kata DeMarco bangga, "mesin ini akan
memotongnya sampai bisa masuk ke dalam pipa ukuran tiga puluh enam inci
ini."
DeMarco mengeluarkan sepucuk pistol Colt 38 berlaras pendek dari sakunya dan
memanggil, "Angeli!"
Angeli menoleh.
"Selamat jalan ke Florida." DeMarco menarik pelatuk, dan tampak ada lubang
merah pada bagian depan kemeja Angeli.
Angeli melihat kepada DeMarco dengan rupa keheranan, seakan menunggu
penjelasan teka-teki yang baru didengarnya. DeMarco menarik pelatuk lagi.
Angeli tersungkur ke tanah. Lalu DeMarco mengangguk kepada Rocky Vaccaro.
Laki-laki yang bertubuh besar ini mengangkat tubuh Angeli, meletakkannya di
atas bahu. Kemudian dia berjalan mendekati pipa.
DeMarco menghadapi Judd. "Angeli tolol. Setiap polisi di negeri ini mencarinya.
Kalau mereka menemukan dia, dia akan memberitahukan sarang saya kepada
mereka."
Pembunuhan terhadap diri Angeli yang dilakukan dengan darah dingin sudah
cukup memberikan kejutan kepada Judd. Tapi kejadian berikutnya bahkan lebih
mengerikan lagi. Judd memperhatikan dengan rasa ngeri ketika Vaccaro
membawa mayat Angeli ke mulut pipa raksasa.
Tekanan yang sangat -kuat menarik tubuh Angeli, dan dengan cepat
menyedotnya ke dalam. Vaccaro harus berpegangan pada sebatang handel besi
pada mulut pipa supaya tidak ikut tersedot oleh tekanan udara yang sangat kuat.
Untuk terakhir kalinya Judd melihat sekilas

tubuh Angeli melayang masuk ke pipa di tengah campuran serbuk gergaji dan
kayu. Sekejap
kemudian tubuhnya sudah lenyap. Vaccaro meraih handel penutup klep pada
mulut pipa dan menariknya, mematikan aliran udara. Kesunyian yang tiba-tiba
mencekam meliputi mereka.
DeMarco melihat kepada Judd dan mengangkat pistolnya. Ada pancaran aneh
pada air mukanya, dan Judd tahu bahwa bagi DeMarco membunuh 9 merupakan
pengalaman yang mengandung keagamaan. Baginya perbuatan membunuh
merupakan api suci yang membersihkan dosa. Saat itu Judd tahu bahwa
kematiannya sudah tiba.
Tapi Judd tidak mencemaskan keselamatannya sendiri. Dia marah karena orang
gila ini dibiarkan hidup, untuk membunuh Anne dan menghancurkan kehidupan
orang jujur lainnya. Judd mendengar suara geraman, erangan marah dan frustrasi
—dan sadar bahwa suara ini keluar dari mulurnya sendiri. Dia seperti binatang
yang terperangkap, ingin sekali membunuh orang yang menangkapnya.
DeMarco tersenyum kepadanya, seakan bisa membaca pikirannya.
"Saya akan menembak perutmu, Dokter. Kau akan mati dalam waktu yang lebih
lama. Tapi kau pun akan punya waktu untuk mencemaskan apa yang akan
menimpa Anne."
Ada satu harapan. Harapan yang sangat tipis. "Harus ada yang mencemaskan
keselamatan-|1iya," kata Judd. "Dia belum pernah memiliki laki-laki."
DeMarco memandang hampa kepadanya. Sekarang Judd berteriak, supaya
DeMarco mendengarkan. "Kau tahu apa alat vitalmu? Pistol yang ada di
tanganmu. Tanpa pistol atau pisau, kau perempuan."
Judd melihat air muka DeMarco mulai memancarkan kemarahan. m "Kau tidak
punya alat kelamin laki-laki, DeMarco. Tanpa pistol itu, kau hanya lelucon."
Lapisan merah mulai menutupi mata DeMarco, seperti bendera yang
memperingatkan datangnya malaikat maut. Vaccaro maju satu langkah ke depan.
DeMarco melambaikan tangan, menyuruh dia mundur.
"Akan kubunuh kau dengan tangan kosong," kata DeMarco sambil melemparkan
pistol ke tanah. "Dengan tangan ini!"
Perlahan-lahan, seperti binatang buas yang sangat kuat, dia mendekati Judd.
Judd mundur, menjauhi jangkauan DeMarco. Dia sadar bahwa secara fisik dia
takkan menang melawan DeMarco. Harapannya hanya satu, yakni bisa
mengacaukan pikiran DeMarco yang tidak waras, membuatnya tidak bisa
berfungsi. Dia harus terus menghantam titik terlemah DeMarco—kebanggaan
akan kelaki-lakiannya.
"Kau homoseks, DeMarco!"
DeMarco tertawa dan menerkamnya. Judd mengelak.

Vaccaro memungut pistol dari tanah. "Bos! Biar saya saja yang membereskan!"
"Jangan ikut campur!" DeMarco menggeledek. Kedua laki-laki ini berputar-
putar, mencari posisi yang enak. Kaki Judd terpeleset pada serbuk gergaji basah,
dan DeMarco menyerbunya seperti seekor banteng aduan. Kepalannya yang
besar menghantam sisi mulut Judd, membuatnya terkapar.
Judd pulih kembali dari rasa pusing karena pukulan DeMarco berikutnya, lalu
ganti menyerang. Wajah DeMarco dipukulnya. DeMarco undur ke belakang,
kemudian kembali menyerbu dan menghantamkan tinjunya ke perut Judd.
Tiga pukulan berturut-turut membuat Judd tidak bisa bernapas. Judd mencoba
bicara untuk memanas-manasi DeMarco, tapi hanya bisa megap-megap
kehabisan udara. DeMarco menjulang tinggi di hadapannya seperti burung buas
pemakan bangkai.
"Kehabisan napas, Dokter?" tanya DeMarco sambil tertawa. "Dulu saya petinju.
Sekarang saya akan memberi kau pelajaran. Saya akan mulai dari pinggang,
kemudian kepala dan matamu. Akan saya korek matamu keluar, Dokter.
Sebelum saya selesai, kau akan mengemis-ngemis minta ditembak."
Judd percaya akan kata-katanya. Dalam cahaya remang-remang dari langit yang
tertutup awan, DeMarco kelihatan seperti binatang buas yang sangat marah.
Sekali lagi dia menyerang, merobek pipi Judd dengan mata cincin yang besar.
Judd membalas, memukuli wajah DeMarco dengan kedua tangannya. DeMarco
bergerak pun tidak.
Kini DeMarco mulai memukuli pinggang Judd, tangannya bergerak cepat sekali
seperti mesin. Judd mundur, sekujur badannya nyeri semua.
"Kau masih belum jera, Dokter?" DeMarco mulai mendekatinya lagi.
Judd sadar bahwa tubuhnya takkan tahan menerima siksaan lagi. Dia harus terus
bicara. Hanya itulah satu-satunya kesempatan.
"DeMarco...." Judd megap-megap.
DeMarco berhenti dan Judd mengayunkan tinju kepadanya. Sambil tertawa
DeMarco merunduk, lalu menghantamkan tinjunya pada bagian di antara
pangkal paha Judd.
Judd membungkuk, merasakan sakit yang tidak terkira. Lalu dia roboh ke tanah.
DeMarco menduduki tubuh Judd dan mencekik lehernya.
"Dengan tangan kosong!" pekik DeMarco. "Kukorek matamu keluar dengan
tangan kosong." Dia menghantamkan tinjunya yang besar ke mata Judd.
Mereka melaju melewati Bedminster, menuju selatan melalui Route 206. Tiba-
tiba terdengar panggilan melalui radio. "Kode Tiga... Kode Tiga... Semua mobil
siap-siaga.... Unit Dua Puluh Tujuh New York.... Unit Dua Puluh Tujuh New
York...."
McGreavy meraih mikrofon radio. "Dua Puluh Tujuh New York.... Silakan

bicara!"
Suara Kapten Bertelli yang gugup terdengar melalui radio. "Kami sudah
menemukannya, Mac. Ada perusahaan pipa sejauh dua mil di
sebelah selatan Millstone. Milik Five Star Corpo-ration—yang juga memiliki
perusahaan pengepakan daging. Ini salah satu selubung yang dipakai Tony
DeMarco."
"Kedengarannya cocok," kata McGreavy. "Kami sedang menuju ke sana."
"Tinggal berapa jaraknya dari tempatmu?"
"Sepuluh mil."
"Semoga berhasil."
"Mudah-mudahan begitu."
McGreavy mematikan radio dan membunyikan sirene. Lalu ditekannya pedal
gas sampai habis.
Langit berputar-putar dalam lingkaran basah di atasnya, dan sesuatu
menghantamnya—menghancurkan tubuhnya. Judd mencoba melihat, tapi
matanya bengkak dan tidak bisa dibuka. Tinju menghantam tulang rusuknya, dan
dia merasakan sakitnya tulang yang berparahan.
Judd bisa merasakan napas DeMarco yang panas pada mukanya, cepat dan
terengah-engah. Dicobanya melihat DeMarco, tapi dia tertutup dalam kegelapan.
Dia membuka mulurnya, dan dipaksanya mengeluarkan kata-kata dengan lidah
besar membengkak.
"Kau lih... hatt," katanya tergagap-gagap, "saya ben... narr.... Kau hanya bisa—
kau hanya bisa memukul orang—kalau dia sudah jatuh...." * Napas terengah-
engah yang mengembus mukanya berhenti. Judd merasakan dua tangan
memegang badannya, menariknya agar berdiri.
"Kau akan mampus, Dokter. Dan saya melakukannya dengan tangan kosong."
Judd mundur menjauhi suara itu. "Kau bin... nat... tang," katanya, tersengal-
sengal. "Kau seorang psikopat.... Seharusnya kau sudah dikurung... dalam...
rumah sakit jiwa."
Suara DeMarco berat karena marah. "Kau bohong!"
"Itu kenyataan," kata Judd, terus mundur. "Otak... otakmu sakit.... Otakmu
akan... pecah dan kau akan menjadi... seperti bayi yang tidak mengerti apa-apa."
Judd terus mundur, tidak bisa melihat arah yang ditujunya. Di belakangnya dia
bisa mendengar dengungan pipa yang tertutup, menunggu seperti raksasa yang
sedang tidur.
DeMarco menerkam Judd, mencekik kembali lehernya.
"Akan kupatahkan lehermu!"
Jari DeMarco yang besar mencengkeram batang tenggorok Judd, mencekiknya.
Judd merasakan kepalanya mulai melayang-layang. Ini kesempatannya yang

terakhir. Setiap insting dalam tubuhnya menjerit, menyuruhnya menangkap
tangan DeMarco dan menariknya supaya terlepas dari lehernya—supaya dia bisa
bernapas.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dengan dorongan kemauan yang luar biasa
Judd mengulurkan tangannya ke belakang, meraba-raba mencari handel penutup
klep. Judd merasakan
"oa
irinya mulai terseret menuju ketaksadaran, dan ada saat itulah tangannya
menemukan handel enutup klep.
Dengan sisa tenaga yang terakhir Judd membuka klep dan memutar tubuhnya,
supaya tubuh DeMarco lebih dekat dengan mulut pipa. Tiba-tiba udara yang
sangat kuat menarik mereka dengan suara gemuruh, berusaha menyeret mereka
ke dalam pipa.
Judd berpegangan sekuat tenaga pada handel penutup klep dengan dua tangan,
berusaha mati-matian menahan tubuhnya agar tidak tersedot oleh angin yang
sangat kuat. Dia merasakan jari DeMarco makin kuat mencekik lehernya, waktu
tubuh DeMarco tertarik ke arah mulut pipa.
Sebenarnya DeMarco bisa menyelamatkan dirinya. Tapi kemarahan yang
menggila membuat dia tidak bisa berpikir secara semestinya, dan tidak mau
melepaskan cekikannya. Judd tidak bisa melihat muka DeMarco, hanya bisa
mendengar suaranya. Suara DeMarco terdengar seperti pekikan binatang gila,
kemudian kata-katanya lenyap dalam angin yang menggemuruh.
Pegangan Judd mulai terlepas dari handel penutup klep. Dia akan ikut terseret ke
dalam pipa bersama DeMarco. Cepat-cepat dia berdoa, doanya yang terakhir.
Pada saat itu pula dia merasakan pegangan DeMarco terlepas dari lehernya.
Terdengar jeritan yang keras menggema, kemudian yang terdengar hanya deru
pipa. DeMarco sudah lenyap.
Judd berdiri kehabisan tenaga, tidak bisa bergerak, dan pasrah menunggu
tembakan yang dilepaskan oleh Vaccaro.
Sesaat kemudian terdengar letusan tembakan.
Judd berdiri tertegun, heran karena tembakan Vaccaro tidak mengenai dirinya.
Dengan kesadaran yang tumpul karena menahan rasa sakit, Judd mendengar
beberapa tembakan lagi. Kemudian terdengar langkah kaki orang berlari, dan
suara orang memanggil namanya. Terasa ada tangan memeluk tubuhnya dan
suara McGreavy berkata, "Ya, Tuhan! Lihadah mukanya!"
Beberapa tangan yang kuat mencengkeram lengannya, menyeretnya menjauhi
tarikan udara dari pipa yang bunyinya menderu-deru. Sesuatu yang basah
mengalir di pipinya. Dia tidak tahu apakah itu darah, air hujan, atau air mata—
dan dia pun tidak peduli.

Kini semua sudah berakhir.
Dia memaksa membuka sebelah matanya yang bengkak. Melalui celah yang
sangat sempit dan berwarna merah darah, samar-samar dia bisa melihat
McGreavy.
"Anne di rumah," kata Judd. "Istri DeMarco. Kata harus menyelamatkan dia."
McGreavy memandanginya, tidak bergerak-gerak. Judd sadar bahwa tidak ada
kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga
McGreavy, dan berkata perlahan-lahan dengan suara serak.
"Anne DeMarco.... Dia ada di... rumah... tolong dia!"
McGreavy berjalan ke mobil polisi. Diangkatnya mikrofon radio, lalu dia
mengirimkan perintah. Judd masih tetap berdiri terhuyung-huyung. Dia masih
merasa pusing karena pukulan DeMarco. Dibiarkannya angin dingin menerpa
tubuhnya. Di depannya, dia melihat sesosok tubuh menggeletak di tanah. Dan
dia tahu itu pasti mayat Rocky Vaccaro. Kita menang, pikirnya. Kita menang.
Judd terus-menerus mengulang perkataan ini dalam pikirannya. Tapi dia sadar
bahwa kata-kata ini tidak ada artinya. Kemenangan macam apa yang
diperolehnya? Dia pasti merasa dirinya manusia yang jujur dan beradab. Seorang
dokter, seorang penyembuh —tapi dia sudah berubah menjadi binatang buas
yang penuh nafsu membunuh.
Ya, dia mendorong orang yang sakit ke tepi tebing kegilaan, kemudian
membunuhnya. Sungguh beban yang sangat mengerikan untuk dipikul seumur
hidupnya. Dia memang bisa mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa itu
dilakukannya untuk membela diri. Walaupun demikian dia tahu—semoga Tuhan
mengampuni—bahwa dia merasa senang melakukannya.
Untuk itu dia tidak bisa memaafkan dirinya. Dia tidak lebih baik daripada
DeMarco, atau kakak-beradik Vaccaro, atau lain-lainnya. Peradaban hanyalah
lapisan yang sangat tipis, lemah
dan berbahaya. Kalau lapisan ini pecah, manusia kembali menjadi binatang—
kembali ke lumpur di jurang kebiadaban. Padahal sebelumnya dia sangat bangga
sudah berhasil naik dari jurang kebiadaban itu. fegs
Judd sangat kelelahan sehingga tidak mampu berpikir lagi. Sekarang yang
diinginkannya hanya mengetahui bahwa Anne selamat.
McGreavy berdiri di dekatnya. Aneh sekali, kini sikap McGreavy sangat ramah.
"Ada mobil polisi yang sedang menuju ke rumahnya, Dokter Stevens. Oke?"
Judd mengangguk penuh rasa terima kasih.
McGreavy memegang lengannya, membimbingnya menuju ke sebuah mobil.
Dia berjalan lambat-lambat, dengan susah-payah karena tubuhnya sangat sakit.
Waktu itu dia baru sadar bahwa hujan sudah berhenti.
Jauh di kaki langit awan yang mengandung hujan dihalau oleh angin Desember

yang dingin. Kini langit mulai terang. Di sebelah barat berkas sinar yang sangat
kecil muncul. Matahari mulai keluar dari balik awan, sinarnya makin lama
makin terang.
Dia akan mengalami Hari Natal yang sangat indah.
Ketika mereka bangkit bersiap-siap untuk pergi, Judd mengajukan permintaan
untuk dapat bicara-dengan Peter sendirian. Sementara Norah menunggu di luar,
Judd menceritakan kepada Peter tentang Harrison Burke.
"Saya menyesal sekali," kata Peter. "Ketika saya mengirim dia kepadamu
keadaannya memang sudah buruk sekali. Tapi saya masih berharap kau akan
bisa menolongnya. Tentu saja sekarang kau harus mengirim dia ke rumah sakit
jiwa. Kapan itu akan kaulakukan?"
"Segera setelah aku keluar dari sini," kau Judd. Tapi Judd sadar bahwa dia
berdusta. Dia tidak menghendaki Harrison Burke dikirim ke rumah sakit jiwa.
Tidak sekarang. Dia ingin mengetahui lebih dulu apakah Burke yang melakukan
kedua pembunuhan itu.
"Kalau ada sesuatu yang bisa saya lakukan untukmu, Kawan—telepon saja."
Dan Peter pun pergi.
Judd berbaring di tempat tidur, merencanakan langkah berikutnya. Tidak ada
motif yang masuk akal yang menyebabkan orang ingin membunuhnya. Maka ia
mengambil kesimpulan bahwa pembunuhan ini pasti dilakukan oleh orang yang
keseimbangan mentalnya rusak-orang yang<PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>5


Click to View FlipBook Version