The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2022-10-15 20:00:48

Ganti Hati

Dahlan Iskan

Keywords: ganti,hati,dahlan,iskan

 

 

GANTI HATI

Dahlan Iskan

Pengalaman Pribadi
Menjalani Transplantasi Liver

 

Harus Turun Mesin, karena Organ-
Organ Saya Rusak Parah

27 Agustus 2007

Pagi ini, hari ke-20 saya hidup dengan liver baru. Kelihatannya akan baik-
baik saja. Tidak ada tanda- tanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur
(Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon
presiden), yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004.

Kadar protein dalam darah saya yang tidak pernah bisa normal, kini menjadi
sangat baik. Salah satu unsur penting di protein itu, albumin, sejak liver saya diganti
sudah mencapai angka 3,6. Selama lebih dari 10 tahun saya hidup dengan kadar
albumin yang hanya 2,7. Padahal, normalnya paling tidak 3,2.

Rendahnya kadar albumin membuat tubuh saya tak mampu membuang
kelebihan air, baik dalam bentuk keringat maupun kencing. Sehingga air yang
berlebih ikut darah beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh saya jadi “gemuk”.

Karena itu, kalau ada orang memuji badan saya terlihat lebih gemuk dan
segar, dalam hati sebenarnya saya menderita. Sebab, saya tahu, tubuh saya tidak
sedang gemuk, tapi bengkak!

Begitu liver diganti dan albumin normal, badan saya langsung susut. Tapi
tidak kuyu, melainkan sebaliknya: lebih segar.

Dua hari pertama pascatransplantasi, kencing saya bisa mencapai 10 liter
sehari. Sebagian karena memang banyak cairan yang masuk ke badan, sebagian lagi
karena air yang tadinya beredar bersama darah, sudah bisa dipisahkan oleh
albumin dan dikirim ke kandung kemih.

Platelet atau trombosit saya, yang seharusnya minimal 200, pernah tinggal
55. Dengan platelet serendah itu, saya terancam mengalami perdarahan dari mana
pun: mulut, hidung, lubang kemaluan, telinga, dan mata.

Untuk menyelamatkan saya dari ancaman itu, dokter lantas memotong limpa
saya hingga sepertiga. Setelah limpa dipotong, platelet saya naik sampai 120.

 "

 

Sayangnya, itu tidak lama. Perlahan-lahan angka itu menurun secara konstan.
Terakhir tinggal 70. Hampir sama dengan sebelum limpa saya dipotong.

Tapi, setelah liver saya diganti, platelet saya langsung naik. Tiga hari lalu
angkanya sudah mencapai 260. Normalnya, antara 200 sampai 300.

Mengapa saya memutuskan ganti liver? Tidakkah takut gagal? Mengapa liver
saya sakit? Separah apa? Bagaimana jalannya penggantian liver? Bagaimana
mempersiapkan diri? Bahkan sampai ke doa apa yang saya ucapkan? Semua akan
saya tulis untuk berbagi pengalaman dengan pembaca.

26 Agusutus 2007

Cerita ini mungkin akan agak panjang (bisa 50 hari). Bukan karena saya mau
berpanjang-panjang, tapi karena redaksi membatasi saya untuk menulis hanya
sekitar 1.000 kata di setiap seri.

Berikut saya mulai dengan seri pertama ini. (Nama-nama dokter, rumah
sakit, sengaja baru akan disebutkan di bagian-bagian akhir tulisan):

***
Di umur 55 tahun ternyata saya harus “turun mesin”. Begitu parahnya
kerusakan organ-organ di dalam badan saya sampai harus pada keputusan
menambal seluruh saluran pencernaan saya, memotong sepertiga limpa saya, dan
mengganti sama sekali organ terbesar yang dimiliki manusia: liver.
Turun mesin total itu harus diatur sedemikian rupa karena mesin yang sama
harus tetap menjalankan tugas sehari-hari, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Maka, saya pun mulai membuat jadwal turun mesin. Dimulai yang paling
membahayakan agar yang penting nyawa bisa selamat dulu.
Ternyata saya memang terancam meninggal dunia dari tiga jenis penyakit.
Yang pertama adalah yang bisa membuat saya meninggal mendadak kapan saja
tanpa penyebab apa pun. Tiba-tiba bisa saja saya muntah darah dan tak tertolong
lagi. Ini karena seluruh saluran pencernaan saya, mulai tenggorok sampai perut
sudah penuh dengan varises yang menor-menor karena sudah matang dan siap

 #

 

pecah. Ibarat kumpulan balon-balon kecil berwarna merah, yang kulitnya sudah
tipis seperti balon yang ditiup terlalu keras. Kapan meletusnya bisa setiap saat.
Saat meletus itulah orang akan muntah darah dan tak tertolong lagi.

Penyakit kedua, yang bisa membuat saya meninggal dalam hitungan bulan
adalah jumlah darah putih saya yang terus merosot. Mengapa? Karena limpa saya
sudah membesar tiga kali lipat dari ukuran normal. Limpa yang tugasnya antara lain
mengubur sel-sel darah merah yang mati (dengan darah putih yang diproduksinya),
tidak mampu lagi berfungsi baik. Platelet saya yang seharusnya antara 200-300,
hari itu tinggal 60. Itu pun dalam posisi terus menurun. Pada penurunan beberapa
poin lagi, saya akan menderita perdarahan dari mana saja: bisa dari hidung, dari
telinga, dari mulut, atau dari mata. Limpa sendiri bisa juga pecah karena sudah tidak
kuat lagi akibat terus membesar.

Yang ketiga, ya liver saya sendiri, yang ternyata sudah amat rusak. Setelah
liver saya dibuang setahun kemudian, tampaklah nyata bahwa liver saya sudah
seperti daging yang dipanggang terlalu masak. Padahal, seharusnya mulus seperti
pipi bayi. Ini yang bisa membuat saya meninggal dunia dalam hitungan dua-tiga
tahun. Bahkan, sebenarnya liver itu yang membuat limpa saya membesar dan
membuat seluruh saluran darah di sepanjang pencernakan saya penuh dengan
balon-balon darah yang siap pecah.

Maka, satu per satu harus saya selesaikan. Saya mulai dari mengatasi agar
tidak terjadi muntah darah. Lalu, setengah tahun kemudian memotong limpa saya.
Dan, terakhir 6 Agustus lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-56 saya, saya
lakukan transplantasi liver: membuang liver lama, diganti dengan liver baru.

Semua proses itu memakan waktu hampir dua tahun. Ini karena saya tetap
harus menjalankan aktivitas, baik sebagai pimpinan Grup Jawa Pos maupun
sebagai CEO perusahaan daerah Jatim yang lagi giat-giatnya membangun tiga
proyek besar: pabrik conveyor belt, gedung ekspo, dan shorebase.

Semua tahap itu saya jalani dengan keputusan yang mantap, tanpa keraguan
sedikit pun mengenai kegagalan hasilnya. Banyak teman yang bertanya mengapa
saya bisa tegas membuat keputusan yang begitu membahayakan hidup saya. Saya

 $

 

 jawab bahwa percaya sepenuhnya dengan takdir -sesuai dengan tafsir yang saya
yakini, yakni mirip dengan uraian buku Saudara Agus Mustofa Takdir Itu Bisa
Berubah.

Faktor lain adalah bahwa rupanya, kebiasaan saya membuat keputusan
berani, keputusan besar dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut
memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk
diri sendiri. Lalu, keyakinan bahwa saya mampu me-manage hal-hal yang rumit
selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata
ada di dalam tubuh saya.

Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian
meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan
harus sumeleh. Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah
sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan
akan ke mana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot
melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir.

Tentu ada penyebab lain: Banyak keluarga saya mati muda, sehingga saya
pun seperti sudah siap sejak kecil bahwa saya juga akan mati muda. Ibu saya
meninggal dalam usia 36 tahun (muntah darah). Kakak saya, yang digelari agennya
Nurcholish Madjid di Jatim untuk urusan pembaharuan pemikiran Islam, meninggal
dalam usia 32 tahun (muntah darah). Dia sering memarahi saya, mengapa masih
kecil sudah belajar filsafat/tasawuf dan mengapa sering pergi ke pondok salaf. Tapi,
tahun depannya saya masih tetap ke pondok salaf Kaliwungu, 25 km sebelah barat
Semarang.

Paman saya dan pakde saya juga meninggal muda. Penyebabnya juga sama:
muntah darah. Muntah darah sebenarnya bukan penyebab, tapi begitulah orang di
desa mengatakannya, karena tidak tahu bahwa semua itu berawal dari persoalan
liver.

Tapi, ada juga sedikit harapan bahwa saya bisa berumur panjang: Bapak saya
meninggal dalam usia 93 tahun. Kakak tertua saya yang amat baik, Khosiyatun,

 %

 

yang juga ketua umum Aisyiah Kaltim, kini berumur hampir 70 tahun dan masih
aktif mengajar di SD swasta di Samarinda. Entahlah, saya ikut yang mana.

Tiga Jam Jelang Operasi Masih
Ditawari ’Take Over’ Koran

27 Agustus 2007

Mudah-mudahan rencana operasi kali ini tidak gagal lagi. Yu Shi Gan Xian
Sheng (nama saya di Tiongkok), besok mendapat giliran operasi. Itu kata seorang
dokter di rumah sakit ini pada Minggu 5 Agustus 2007 kepada saya. Dia memakai
istilah “mudah-mudahan tidak gagal lagi” karena memang sudah beberapa kali saya
diberi tahu dapat giliran operasi, tapi selalu tertunda karena liver yang datang tidak
cocok untuk mengganti liver saya.

Kali ini kelihatannya cocok. Golongan darahnya sama. Juga sudah dinilai
akan memenuhi syarat untuk ditransplantasikan ke saya. Harapan bahwa kali ini
tidak gagal lagi kian besar setelah sore harinya, petugas cukur datang ke kamar
saya. Dia harus mencukur rambut yang ada di badan saya, sebagai salah satu syarat
dilakukannya operasi besar. Tugasnya sore itu ringan sekali karena hanya perlu
mencukur rambut di sekitar kemaluan. Saya tidak punya rambut di dada atau di
paha.

Saya lalu membayangkan bagaimana dengan pasien yang punya bulu dada
lebat dan cepat tumbuh kembali. Misalnya, seperti yang banyak dimiliki pasien dari
negara-negara Arab.

Saya juga membayangkan bagaimana kalau bulu dada itu cepat tumbuh,
sementara luka akibat sayatan yang panjang di situ belum menyatu kembali. Tapi,
bayangan-bayangan saya itu lenyap karena tiba-tiba tukang cukur menyatakan

 &

 

tugasnya sudah selesai. Sebentar dan sederhana sekali tugasnya untuk saya malam
itu.

Meski itulah malam menghadapi operasi besar, saya tidak punya
kekhawatiran apa-apa. Malam itu saya tidur nyenyak sebagaimana biasa. Tidak
punya perasaan galau sedikit pun, meski saya akan menjalani penggantian organ
terbesar dalam tubuh seorang manusia. Sore sebelum tidur, saya potong rambut.
Pendek sekali, nyaris gundul. Saya ingin agar setelah operasi kelak, kalau mau cuci
rambut lebih gampang.

Bangun pagi 6 Agustus 2007, saya bertanya kepada perawat kira-kira
operasinya jam berapa. Setidaknya jam berapa harus berangkat ke ruang operasi.
Perawat belum bisa menjawab. Memang jadwal transplantasi besar seperti ini tidak
gampang dibuat.

Karena itu, saya lantas mandi lebih bersih daripada biasanya. Saya tidak
ingin ada kuman yang menempel di badan saya yang akan menjadi penyebab infeksi
setelah operasi. Tentu ini kurang masuk akal, karena dalam proses operasi ada
prosedur sterilisasi di badan saya. Yakni, seluruh badan saya akan diolesi cairan
antiinfeksi yang biasanya berwarna merah kecokelatan itu.

Pagi itu saya sudah tidak boleh makan apa pun. Perut harus kosong sejak
malamnya. Namun, sekitar pukul 09.00 perut saya masih harus dibesihkan dari
kotoran dengan cara dimasuki cairan bening sekitar seperempat liter melalui
pantat. Kurang dari lima menit kemudian saya lari ke toilet karena semua isi perut
seperti mau keluar.

Setengah jam kemudian dilakukan lagi hal yang sama. Di toilet saya lihat tak
ada lagi benda apa pun yang keluar kecuali air bening yang dimasukkan tadi. Maka
saat itu dianggap perut saya sudah bersih. Beberapa sahabat penting saya di
Tiongkok datang. Terutama Mr Guo yang sejak 10 tahun lalu mengangkat saya
sebagai adik kelima, dan saya mengangkatnya sebagai kakak ketiga. Kakak pertama
adalah seorang pensiunan jenderal polisi yang juga tinggal di kota ini.

Pukul 09.30 saya diberi tahu tentang kepastian operasi. “Bapak harus masuk
ruang operasi pukul 14.00,” kata seorang perawat. Alhamdulillah, kata saya dalam

 '

 

hati. Kalau tidak, bagaimana dengan rambut yang telanjur dicukur? Apa saya akan
minta ditempelkan lagi?

Prioritas saya kemudian adalah menghubungi kantor, kakak saya yang di
Samarinda, adik saya yang di Madiun, dan beberapa pemegang saham. “Saya akan
operasi jam 14.00 nanti,” tulis saya di sms.

Kepada kakak saya yang di Samarinda, saya bicara langsung melalui telepon.
Saya harus hati-hati menjelaskannya. Itu kakak saya yang amat baik hatinya. Dia
pernah menyerahkan seluruh gajinya sebagai guru SD untuk biaya sekolah dan
hidup saya selama lebih dari lima tahun. Itu sebagai tanggung jawabnya karena dia
harus pergi meninggalkan kami tanpa ibu di Magetan untuk pergi ke Kaltim, ikut
paman saya. Dia merasa kasihan saya hidup dengan Bapak yang tidak punya
penghasilan tetap. Apalagi, masih ada satu adik lagi yang masih kecil. Di Kaltim dia
harus mengajar di dua sekolah agar masih punya penghasilan untuk hidupnya
sendiri.

“Mbakyu, nanti sore saya harus operasi,” kata saya. “Operasi apa?” tanyanya.
Saya tidak berani menjelaskan apa adanya, khawatir mengganggu pikirannya.

“Saya akan operasi, agar tidak sampai terjadi seperti yang mengakibatkan
ibu dan Mbak Sofwati meninggal muda,” kata saya.

Mbak Sofwati adalah kakak saya yang meninggal umur 32 tahun setelah
muntah darah. Padahal, dia kami jagokan sebagai tokoh keluarga. Orangnya pintar
dan karirnya bagus. Saat mahasiswa, dia jadi ketua Korps Himpunan Mahasiswa
Islam Wanita Jatim.

“Ya, saya doakan semoga berhasil,” katanya datar. Dia tidak saya beri tahu
betapa berisikonya penggantian liver ini.

Dalam waktu sekejap sms pemberitahuan operasi itu rupanya menyebar,
sampai ke anak perusahaan. Mulai Aceh sampai Jayapura. Juga beredar di antara
teman-teman. Ini saya ketahui dari sms yang segera mengalir ke telepon saya.

Semua mengirimkan doa untuk keberhasilan operasi saya. Bahkan, SMS dari
Bambang Sujiyono, seniman Surabaya itu, sangat dramatik. Dia kaget saya kok tiba-
tiba memberitahunya akan operasi besar. Dia menangis dalam SMS-nya.

 (

 

“Allah,” tulisnya, “Selamatkan nyawa rekan saya ini. Kalau perlu, tukar
dengan kematian saya.” Bambang memang orang yang sangat humanis. Dia sendiri
dalam keadaan sakit jantung.

Saya balas tangisannya itu dengan tegar dan setengah guyon. “Mas
Bambang, di rumah sakit ini hampir tiap hari juga dilakukan operasi penggantian
 jantung,” tulis saya.

“Juga operasi penggantian ginjal dan organ yang lain,” tambah saya. Lalu dia
tidak emosional lagi. Dia justru bertanya berat mana transplantasi ginjal dibanding
liver. “Transplantasi ginjal itu sekarang sudah dianggap biasa. Liver paling sulit,”
 jawab saya.

Sekitar pukul 10.30 saya terima sms dari Jakarta. Seorang teman lama
menawarkan agar saya membeli tabloidnya yang mengalami kesulitan. Dia bilang,
tabloid itu akan sukses kalau di tangan saya. Saya balas sms itu, agar dia menunggu
keputusan saya beberapa minggu lagi.

Setengah jam kemudian, teman lama yang lain, juga kirim sms. Isinya: apakah
saya berminat mengambil alih koran berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta? Saya
 jawab: saya perlu informasi lebih lengkap, dan dia saya minta kirim email.

Tanpa tahu bahwa saya segera memasuki meja operasi yang bisa memakan
waktu 12 jam dan entah apa hasilnya, seorang direksi saya di Jakarta menanyakan
lewat sms apakah dokumen tender listrik yang disiapkan sudah saya tanda tangani.

Sesaat sebelum saya berganti baju dengan baju operasi, saya masih sempat
membalas sms itu: tidak perlu saya yang tanda tangan. Saya lantas memberi tahu
siapa yang bisa menggantikan tanda tangan saya. Lalu petugas pembawa baju
operasi saya datang membuka bungkusan sterilnya.

 )

 

Banyak Yang Doakan Panjang-
Panjang, Saya Berdoa Pendek

28 Agustus 2007

PUKUL 12.00 Senin (6/8) siang itu saya sudah diminta melepas baju saya,
pertanda waktu operasi sudah akan tiba. Diganti baju kertas biru muda. Kepala
saya juga dipasangi topi kertas dengan warna yang sama. Saya pun sudah siap
mental segera menuju ruang operasi di lantai 13.

Tapi, SMS masih terus mengalir masuk. Teman-teman Jawa Pos, entah siapa
yang punya inisiatif, lagi berkumpul di rumah saya di belakang Graha Pena
Surabaya. Mereka akan melakukan sembahyang dan doa bersama. Saya segera
menelepon Misbahul Huda, Dirut Percetakan Temprina, yang akan menjadi imam
pada acara itu. Saya minta suara teleponnya dibesarkan. Agar, semua yang hadir di
rumah saya bisa ikut mendengar kata-kata saya. Setelah telepon siap, saya
bertanya kepada yang hadir: apakah ada pertanyaan? “Saya siap menjawab
pertanyaan apa pun,” kata saya.

Salah seorang di antaranya bertanya apakah saya dalam kondisi siap. Saya
 jawab, saya siap sekali. Ada yang bertanya, kira-kira operasinya berlangsung
berapa jam? Saya jawab sekitar 12 jam. Memang begitulah yang dikatakan dokter
kepada saya, berdasarkan pengalaman mereka.

Ada lagi beberapa pertanyaan dan harapan yang disampaikan dengan penuh
suasana prihatin. Untuk membuat agar suasana mereka tidak sedih, saya tutup
pembicaraan saya dengan kata-kata, “Sampai jumpa minggu depan.” Maksud saya,
kira-kira saya perlu waktu satu minggu untuk bisa bicara lagi dengan teman-teman
itu: satu hari operasi (pasti saya tidak bisa bicara), tiga hari di ICU (juga pasti belum
bisa bicara), dan dua hari memulihkan badan. Genap satu minggu, saya pikir, saya
sudah akan bisa bicara lagi. Setelah tidak ada pertanyaan, telepon saya tutup.

  *+

 

SMS terus mengalir masuk. Dari Madiun menceritakan bahwa keluarga
tasawuf sathariyah lagi berkumpul untuk ber-zikir-pidak, yakni mendengungkan
kata “hu” bersama-sama sebanyak 99.000 kali. Tentu dengan sistem borongan.
Artinya, kalau yang mengucapkan lebih banyak orang, waktu yang diperlukan tidak
perlu teralu lama. Dengungan “hu” adalah hasil compression (untuk meminjam
istilah software komputer) dari kalimat syahadat. Kalau di-decompression, kata
“hu” itu akan menjadi kalimat panjang: aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah,
dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusam Allah. Mungkin, kalau harus
mengucapkan kalimat yang begitu panjang sebanyak 99.000 kali dirasa akan
memakan waktu yang lama sekali, sehingga perlu di-compress menjadi satu
dengungan “hu” saja. Siapa menyangka bahwa zikir pun sejak dulu sudah di-
compress seperti itu.

Tapi, sistem compression zikir seperti inilah yang banyak dikecam aliran
tasawuf lain dan terutama oleh kalangan syariah formal. “Kalimat syahadat kok
dipadatkan,” kata mereka. Ini seperti juga Bung Karno yang dikecam telah
menyelewengkan kemurnian Pancasila yang dia temukan sendiri. Yakni, ketika
Bung Karno meng-compress Pancasila yang panjang itu menjadi satu kata yang
simpel dan pas: gotong royong.

SMS juga masuk dari teman-teman Kristen dan Katolik. Mereka
mengirimkan doa-doa yang saya ketahui diambilkan dari Alkitab. Ibu Eric Samola,
istri mendiang Pak Eric Samola, yang dulu punya inisiatif mengambil alih Jawa Pos
dari keluarga The Chung Shen, mengirimkan doa paling panjang.

Tokoh Buddha Surabaya juga mengirim SMS dan memberitahukan bahwa
hari itu berkumpul lebih 1.000 penganut Buddha di shi mian fo (Buddha empat
wajah) di Kenjeran. Mereka akan berdoa terus selama saya dioperasi. Karena itu,
dia minta dikabari kalau operasi sudah selesai. Kalau tidak, doanya

tentu tidak akan dihentikan. Saya berpesan kepada istri agar jangan lupa
memberi tahu mereka nanti. Tempat ibadah itu memang saya yang meresmikan
beberapa tahun lalu.

  **

 

Teman-teman dari penganut aliran kebatinan Sapta Dharma juga mengirim
SMS, bahwa siang itu 200-an tokohnya berkumpul di Pujon, Malang. Mereka
melakukan doa berdasar kepercayaan mereka untuk keberhasilan operasi saya.
Demikian juga penganut aliran Sai Baba, mengirimkan doa panjang yang biasa
diucapkan Sai Baba di India sana.

Pukul 14.00 kurang 15 menit, kereta brankar sudah datang dengan
beberapa orang yang berbaju biru muda. Itulah petugas ruang operasi. Saya harus
segera berbaring di kereta itu. Sebenarnya saya bisa berjalan sendiri ke ruang
operasi. Badan saya sangat sehat. Tapi, peraturan tidak membolehkannya.

Saat saya sudah berbaring di kereta, Pak Mustofa, akuntan terkemuka
Surabaya, telepon minta bicara. Ternyata, dia lagi makan siang dengan para
pengusaha teman saya di Hotel Shangri-La Surabaya. Lalu, saya beri tahu bahwa
saya sudah tidak punya waktu bicara. Saya sudah di atas kereta yang siap
berangkat ke ruang operasi. Pak Alim Markus, yang rupanya ikut makan siang,
memaksa bicara untuk memberi dorongan semangat agar saya kuat memasuki
ruang operasi. Alim Markus juga pernah tiba-tiba sakit yang amat membahayakan
hidupnya. Tapi, semangatnya untuk sembuh luar biasa. Saya sering mengatakan
padanya, semangatnya itulah yang ikut mendorong saya punya semangat yang
sama.

Istri saya terus komat-kamit. Rupanya berdoa dengan serius. Anak laki-laki
saya sibuk memotret. Saudara angkat saya, Mr Guo dan sahabat karib saya Robert
Lai dari Singapura, memegangi tangan saya. Kereta pun didorong keluar dari ruang
saya di lantai 11 untuk dibawa ke lift naik ke lantai 13. Ketika melewati kamar
pasien dari Jepang, dia terlihat mengepalkan tangan ke arah saya, tanda ikut
memberi semangat.

Tak sampai 5 menit saya sudah tiba di lobi lantai 11, di depan lift yang akan
membawa saya ke lantai 13. Ada lima lift di situ. Dua lift ukuran normal, tiga lift
ukuran besar untuk mengangkut kereta pasien. Lift terbuka, tombol 13 dipencet,
panah naik menyala. Zoom! Tibalah saya di lantai 13.

  *"

 

Istri, anak, saudara angkat saya, dan Robert Lai mengantar ke lantai 13, tapi
hanya bisa sampai di pintu tertentu. Setelah itu semua harus melepaskan tangan
dari tubuh saya. Mata istri saya kelihatan sembap. Juga mata Robert Lai.

Robert Lai adalah orang yang rajin berpesan kepada siapa pun, agar saat
mengantar saya ke lantai 13 nanti, jangan ada yang menangis. Juga jangan ada yang
mengeluarkan air mata. Tapi, saya lihat dia sendiri ternyata terisak-isak ketika
melepas saya untuk dibawa petugas ke tempat yang dia tidak bisa lagi menyertai
saya.

Sambil menahan tangis, dia akhirnya berteriak: “jia you!” tiga kali. “Jia”
artinya tambah. “You” artinya bensin. Tapi, “jia you” dalam bahasa Mandarin berarti
“semangatlah!” .

Lalu pintu ditutup. Saya tidak bisa lagi melihat istri, anak, Saudara Guo, dan
Robert Lai. Tinggal saya dan beberapa petugas yang terus mendorong kereta itu ke
ruang operasi.

***
Kereta didorong amat cepat. Rupanya saya harus segera tiba di ruang
operasi, karena sedikit agak terlambat dari jadwal. Saya amati lorong-lorong apa
saja yang dilewati kereta ini. Oh, harus menyeberang ke gedung sebelah, rupanya.
Gedung rumah sakit ini memang terdiri atas dua tower, masing-masing berlantai
15. Di lantai 12 sampai 14, ada lorong untuk menyeberang dari gedung kiri ke
gedung kanan. Saya akan dioperasi di gedung kanan.
Seluruh lantai 13 adalah ruang operasi. Rumah sakit ini, dalam waktu
bersamaan, bisa melakukan 30 operasi penggantian organ. Mulai ganti ginjal, mata,
 jantung sampai ganti liver seperti saya.
Dalam perjalanan sepanjang lorong-lorong itu saya menyadari bahwa saya
tadi belum sempat berdoa. Saya harus berdoa. Saya tidak mau ada kesan bahwa
saya sombong kepada Tuhan. Tapi, segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri
saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia
cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas
berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya

  *#

 

berdoa. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: untuk apa kamu saya beri
otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku?

Karena itu, saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa.
Saya tidak mau serakah. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan, kapan saya
menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: otak? Maka saya
putuskan akan berdoa se-simple mungkin.

Tapi, masih ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Apakah saya harus
berdoa dengan biasa saja atau harus sampai menangis? Kalau doa itu saya
sampaikan biasa-biasa saja, apakah Tuhan melihat saya sedang serius memintanya?
Tapi, kalau harus saya ucapkan sampai menangis dan mengiba-iba, apakah Tuhan
tidak akan menilai begini: lihat tuh Dahlan. Kalau sudah dalam posisi sulit saja dia
merengek-rengek setengah mati. Tapi, nanti akan lupa kalau sudah dalam keadaan
gembira! Saya tidak ingin Tuhan memberikan penilaian seperti itu.

Apalagi, saya juga tahu bahwa sistem file di kerajaan Tuhan tidak
membedakan doa yang dikirim secara biasa, secara khusus maupun secara tangis-
menangis. Tuhan punya sistem file-Nya sendiri, entah seperti apa.

Waktu terus berjalan. Perdebatan di hati saya belum selesai. Padahal, kereta
sudah hampir sampai di ruang operasi. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut
keyakinan saya. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya
sendiri: Tuhan, terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya
harus mati, matikanlah. Kalau saya harus hidup, hidupkanlah! Selesai. Perasaan
saya tiba-tiba lega sekali. Plong. Kereta pun tiba di depan ruang operasi.

  *$

 

Sudah Tiga Jam Dimatikan, Belum
Juga Di-”Garap”

29 Agustus 2007

Ketika memasuki ruang operasi, saya tertegun. Ruangnya sangat bersih,
kinclong (karena didominasi stainless steel), dan modern. Begitu masuk, yang
terdengar adalah musik soft-rock berbahasa Mandarin yang lagi digemari anak
muda sekarang.

Belakangan saya tahu judul lagu tersebut adalah Mei Fei Se Wu yang artinya
“bulu mata menari- nari”, yang dibawakan oleh penyanyi top Hongkong Zheng Xiu
Wen. Suara musik itu cukup keras sehingga suasananya ingar-bingar. Rupanya,
sambil menunggu kedatangan saya, beberapa petugas muda menyenangi lagu itu.
Suasananya pun menjadi seperti di sebuah disko, bukan seperti di sebuah tempat
yang menyeramkan.

Mata saya terus beredar dari dinding ke dinding. Dari alat ke alat. Saya ingin
tahu apa saja yang ada di ruang itu agar, kalau operasi berhasil, saya bisa
menuliskan deskripsinya secara baik.

Dokter belum pada datang, karena memang pada tahap ini semua pekerjaan
masih urusan perawat. Beberapa perawat membicarakan saya. “Ini orang asing, kita
harus pakai bahasa apa?” ujar salah seorang di antara mereka. “Dia orang
Indonesia, tapi bisa berbahasa Mandarin,” jawab yang lain.

Maka saya sela pembicaraan mereka: Ya, saya bisa bahasa Mandarin sedikit-
sedikit. Mereka merasa lega, lalu memberikan beberapa perintah mengenai posisi
badan saya. Harus bergeser sini dikit dan harus naik sedikit. Lalu, lengan saya
diperiksa seperti akan memasang selang. Melihat tangan saya sudah dipasangi
selang selama 3 bulan lebih, perawat memutuskan tidak mau pakai itu. Maka, dia
minta lengan kanan saya dimasuki jarum untuk memasukkan beberapa zat kimia ke

badan saya.

  *%

 

Musik soft-rock masih terus ingar-bingar. Beberapa perawat mengikuti
suara musik itu dengan suara mulutnya tanpa kata-kata. Rupanya dia sangat
menikmati lagu itu. Perawat yang lain mulai memasukkan cairan tertentu ke lengan
saya. Hanya dalam beberapa saat, saya tidak lagi mendengar suara musik itu. Juga
tidak mendengar apa-apa lagi. Saya sudah dimatikan untuk persiapan operasi. Saya
baru akan dihidupkan lagi, nanti, 18 jam kemudian.

***
Sejak saya masuk ruang operasi pukul 14.00, istri, anak, dan sahabat saya
Robert Lai kembali ke kamar saya di lantai 11. Tepatnya kamar 1102. Di kamar ini
mereka menantikan perkembangan operasi saya. Perawat akan selalu
mengabarkan apa pun yang terjadi di ruang operasi.
Sementara menunggu kabar, Robert yang sudah 11 bulan menemani saya ke
mana pun pergi memutuskan untuk membersihkan kamar saya. Rumah sakit ini,
terutama gedung baru ini, memang sudah sangat bersih. Tapi, Robert ingin kamar
saya lebih bersih lagi. Tidak boleh ada virus atau sumber virus yang akan
membahayakan pascaoperasi saya. Sudah diketahui bahwa virus pascaoperasi
adalah pembunuh paling utama bagi pasien yang baru melakukan transplantasi
organ.
Rumah sakit juga sudah memberi kami buku panduan mengenai bagaimana
menjaga agar tidak terkena virus. Buku itu berbahasa Mandarin, lalu kami
terjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar seluruh keluarga saya memahami isinya.
Penerjemahan ini sangat bermanfaat karena banyak sekali pasien dari negara-
negara Arab dan Pakistan yang kemudian minta kopinya kepada kami.
Kamar saya di lantai 11 terdiri atas dua ruang. Ada ruang tidur pasien
dengan kamar mandi khusus dan ruang pakaian. Lalu, ada satu ruang tamu yang
besar di sebelahnya. Di ruang tamu ini ada satu set TV besar, dispenser air mineral,
satu set sofa, lemari es besar, dan satu set dapur kering. Di dapur kering ini ada
microwave, rice cooker, water boiler, dan keran panas dingin.
Di ruang tamu ini ada kamar mandi dan toiletnya. Istri saya tidur di ruang ini.
Yakni, di sebuah kursi yang kalau siang bisa untuk menambah kapasitas sofa, tapi

  *&

 

kalau malam bisa dipanjangkan menjadi tempat tidur biasa. Di belakang sofa, ada
satu meja makan dari kaca besar untuk makan bersama. Tapi, kami tidak makan di
situ. Meja ini saya pakai untuk “kantor dalam pengasingan”. Kami pasang komputer,
laptop, printer, dan internet. Saya memang dapat menggunakan internet kecepatan
tinggi di ruang saya ini.

Dari kamar inilah saya bisa membaca semua laporan perusahaan, mengirim
dan menjawab e-mail, dan tak jarang juga mengadakan rapat. Terutama rapat
dengan partner-partner usaha yang dari Tiongkok. Misalnya, saya harus panggil
partner yang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kalimantan
untuk mencari jalan agar proyek selesai sesuai dengan jadwal. Sebab, krisis listrik di
daerah itu sudah tidak ketulungan.

Di dinding-dinding kamar tamu yang kosong, lantas saya pasangi asesori.
Dinding sebelah kanan saya tempeli peta Tiongkok yang besar sehingga mudah
bagi saya untuk melihat negara ini secara keseluruhan. Di dinding satunya saya
pasang peta Indoensia. Lalu, di belakang meja besar saya pasangi white board.
Bukan saja untuk rapat, juga untuk saya pakai belajar bahasa Mandarin.

Sambil menunggu giliran operasi yang tidak menentu waktunya, saya
memang memutuskan untuk meneruskan belajar bahasa Mandarin. Sehari empat
 jam: pagi dua jam, sore dua jam. Saya mendatangkan guru dari IKIP di kota ini. Tiga
orang guru secara bergantian mengajari saya bahasa Mandarin.

Saya juga beli proyektor yang saya hubungkan dengan laptop yang software-
nya Mandarin. Ini saya pakai untuk latihan menulis cerita dalam bahasa dan tulisan
Mandarin. Lalu, dari kursi di sebelah saya, guru saya tinggal melihat sorotan
proyektor. Lalu, memberikan koreksi mana yang saya salah dalam menggunakan
kata-kata, atau salah memilih huruf.

Sampai sehari sebelum operasi saya masih “masuk kelas”, seperti besok tidak
akan terjadi apa-apa. Ada juga sedikit tebersit perasaan, untuk apa ya saya susah-
susah belajar begini. Toh, kalau operasi gagal, besok saya sudah tidak akan bisa lagi
memanfaatkan hasil belajar saya ini. Malaikat toh akan bertanya kepada saya di
akhirat sana dengan (eh, pakai bahasa apa, ya?) bahasa malaikat sendiri.

  *'

 

Tapi, ketika saya berada di ruang operasi, semua peralatan yang ada di
kamar ini dibersihkan. Buku- buku, koran-koran, dan kertas-kertas yang selama ini
di mana-mana diangkut ke apartemen. Semua kursi dan meja dicuci. Tempat tidur
saya lebih-lebih lagi, disterilkan. Lantainya menjadi mengilap. Bersih dan kinclong.

Dua jam setelah operasi bersih-bersih itu, perawat masuk memberikan
kabar bahwa sampai menjelang pukul 17.00 itu saya belum dioperasi. “Hah?”
gumam Robert seperti tidak percaya. Berarti sudah hampir tiga jam saya di ruang
operasi dan sudah dalam keadaan dimatikan, tapi belum juga di- ”garap”.

“Livernya baru akan datang sekitar pukul 17.00,” ujar perawat itu.

  *(

 

Tunggu Operasi, Suasana seperti
Siaran Langsung Sepak Bola

30 Agustus 2007
Setelah diberi tahu bahwa liver yang akan dipasangkan di dalam tubuh saya

ternyata baru akan tiba sekitar pukul 17.00, Robert Lai terperangah. “Tiwas kita
sudah tegang selama tiga jam. Ternyata belum diapa-apakan,” katanya. Robert
lantas menerjemahkan informasi dalam bahasa Mandarin itu kepada istri dan anak
saya.

“Berarti, baru 10 menit lagi livernya tiba?” tanya istri saya sambil melihat ke
 jam dinding.

Dia lantas memperhatikan pintu masuk rumah sakit dari lantai 11, dari
dalam kamar saya. Istri saya ingin melihat masuknya ambulans yang mungkin
membawa liver yang akan dipasangkan ke dalam tubuh saya. Dia punya khayalan,
bahwa kalau ada suara “nguing...nguing...” masuk ke rumah sakit, pastilah itu suara
ambulans yang membawa liver.

Dari ruang tamu di kamar saya itu, siapa pun memang bisa melihat apa yang
terjadi di luar sana. Dinding kamar tersebut terbuat dari kaca. Di seberang kamar
itu terlihat gedung pertama rumah sakit yang tingginya 17 lantai. Bangunannya
dari luar mirip hotel.

Di atas gedung itu, di bagian tengahnya, terdapat tambahan tiga lantai bulat.
Lantai paling atas rata. Di situlah helikopter yang membawa pasien darurat atau
helikopter yang membawa liver yang urgen mendarat. Istri saya juga
memperhatikan puncak gedung tersebut, siapa tahu livernya dibawa dengan
helikopter.

Dari kamar itu juga terlihat simpang susun jalan layang yang melingkar-
lingkar di depan rumah sakit. Lalu, terlihat juga pemandangan sungai yang bersih
yang dipakai untuk arena mainan anak-anak serta keluarga. Dari kamar tersebut,

  *)

 

kalau Sabtu dan Minggu malam, sering bisa melihat pemandangan indah. Yakni,
mengudaranya kembang api berjam-jam di berbagai tempat.

Itu pertanda malam tersebut banyak pesta perkawinan. Kalau sudah ada
pesta kembang api seperti itu, kami biasanya mematikan lampu kamar, agar warna-

warni kembang apinya lebih jelas.
Istri saya kali ini tidak memperhatikan semua itu. Dia lebih memfokuskan

perhatian ke bawah, melihat keluar masuknya ambulans di pintu gerbang depan
sana. Dia mengira salah satu ambulans yang masuk pada jam-jam itu pastilah yang
membawa liver yang akan menggantikan liver saya yang sudah rusak.

Anak lelaki saya, katanya, jam-jam itu sibuk membalas SMS yang masuk.
Semua seperti tidak sabar menanyakan perkembangan operasi saya. Tentu mereka
tidak diberi tahu bahwa operasinya belum jadi dilaksanakan pada pukul 14.00.
Mereka hanya diberi jawaban “Belum ada kabar baru dari kamar operasi”.

Lamanya tidak ada “kabar baru” itu rupanya semakin membuat teman-
teman di Indonesia kian tegang. Ketegangan selama menunggu berlangsungnya
operasi digambarkan oleh Yoto, Dirut grup anak perusahaan Jawa Pos di Papua,
seperti ini: Kami tiap 10 menit SMS ke Mas Azrul (Posko di Tiongkok) atau ke Mbak
Nany Wijaya (Posko di Surabaya). Kami seperti sedang mendengarkan siaran
langsung sepak bola lewat radio, tapi dalam keadaan musuh selalu mengancam ke
gawang kita!

Semua itu saya nilai wajar karena operasi penggantian liver tidaklah
gampang. Apalagi, kegagalan transplantasi liver di Tiongkok yang dialami tokoh
seperti Nurcholish Madjid mendapat pemberitaan yang sangat besar. Kegagalan
tersebut, dan kengeriannya, seperti baru terjadi beberapa minggu lalu.

Kabar pertama dari ruang operasi masuk pukul 22.00. “Kita diminta naik ke
lantai 13. Kepada kita akan ditunjukkan sesuatu,” kata Robert kepada istri dan anak
saya dalam bahasa Melayu yang agak sulit dimengerti. “Go!” tambahnya.

Maka, Robert, istri, anak, dan saudara angkat Guo naik lift ke lantai 13.
Mereka menunggu di depan lift untuk menerima instruksi berikutnya. Tak lama
kemudian, pintu lorong tempat saya dimasukkan menuju ruang operasi sore tadi

  "+

 

terbuka. Sejumlah dokter membawa barang berdarah dan meletakkannya di lantai.
“Ini liver bapak yang sudah kami keluarkan,” kata seorang dokter.

Melihat “barang” tersebut, istri saya langsung lemas dan terduduk. Sesaat
kemudian, dia bersujud di dekat seonggok daging berdarah itu. Anak saya

memotretnya dari berbagai sudut. “Waktu bersujud itu, Anda mengucapkan doa
apa?” tanya saya beberapa hari kemudian. “Doa apa saja yang bisa saya ucapkan,”
ungkapnya.

Lalu, dokter menjelaskan bagaimana keadaan liver saya yang sudah
dikeluarkan itu. Digulang- gulingkannya. Lalu, menyayat-nyayatkan pisau di
beberapa tempat untuk melihat dalamnya. “Masya Allah,” kata anak saya. “Seperti
daging yang dipanggang kematangan,” ujarnya. Liver itu sudah begitu rusaknya.

Dokter lantas mengiris lagi bagian lain. Dibenggangkannya irisan itu dengan
 jarinya yang masih terbungkus sarung karet. “Itu lihat. Ada kanker di dalamnya,”
kata dokter sambil jarinya menuding ke arah benda yang dimaksud. “Jepret,” anak
saya memotret lagi bagian itu.

Liver lama tersebut memang tidak boleh dibawa. Hanya boleh difoto.
Mengapa? Liver itu masih akan dimasukkan ke laboratorium untuk dianalisis lagi
lebih teliti. Bukan hanya mengenai apa saja yang ada di dalamnya, melainkan juga
untuk melihat sudah ada berapa kanker yang muncul. Dan, yang lebih penting,
apakah kankernya telanjur menyebar atau tidak. Sebab, menurut hasil MRI
sebelumnya, di dalam liver saya sudah ada tiga kanker yang besar (ukuran 6 cm, 4
cm, dan 2 cm). Lalu, masih ada dua lagi calon kanker baru. Dan, tentu mungkin
masih akan terlihat anak-anak dan cucu-cucunya.

Tapi, bagaimana persisnya keadaan liver lama saya itu, masih harus
menunggu hasil penelitian. Kami baru akan diberi tahu sekitar seminggu kemudian.
“Liver ini kami bawa kembali,” ujar dokter sambil kembali membungkusnya.

Pintu ditutup lagi, para dokter meneruskan lagi pekerjaannya,
menyelesaikan operasi terhadap saya.

  "*

 

Pukul 24.00, berita berikutnya disampaikan. Operasi sudah selesai. “Pak Yu
Shi Gan (baca: i-se-kan) akan segera dibawa ke ICU untuk menunggu siuman di
sana,” jelas seorang dokter kepada Robert.

“Pukul berapa akan siuman?” kata Robert. “Kira-kira 6 jam lagi,” ujar dokter.
Itu berarti saya baru akan siuman sekitar pukul 07.00 keesokan harinya.

Keluaga saya sudah lebih tenang. Demikian pula dengan seluruh rekan yang
memonitor perkembangan operasi dari Aceh sampai Papua. Dari foto mereka
ketika mendengarkan penjelasan itu, terlihat jelas bahwa wajah-wajah mereka
sudah tidak tegang. Bahkan sudah tersenyum-senyum.

Semua disampaikan anak saya kepada teman-teman yang menanyakan
perkembangan operasi saya. Suatu berita yang menggembirakan. “Suasananya
lantas seperti mendengar siaran radio pertandingan sepak bola, di mana lawan
sudah tidak memborbardir gawang kita lagi. Bahkan, sepertinya pemain kita anti
menyerang terus. Kita lantas seperti sedang menantikan terjadinya gol- gol ke
gawang lawan,” tulis Yoto di SMS-nya dari Papua.

Keluarga di Samarinda, Madiun, dan Surabaya diberi tahu perkembangan itu.
Kabar selesainya operasi juga dikirim ke umat Buddha yang terus bersemedi di
Kenjeran, Surabaya. Diteruskan juga ke warga Sapto Dharmo di Pujon. Mereka
sudah bisa menghentikan peribadatannya.

Malam itu, istri dan anak saya langsung bisa tidur. Robert kembali ke
apartemen. Saudara ketiga Guo pulang ke rumahnya. Saya tergolek menunggu
siuman di ruang ICU di lantai 12. Di situlah berbagai jenis kabel dan selang
menempel dan menancap di tubuh saya, seperti untuk sementara menggantikan
nyawa saya.

  ""

 

Begitu Sadar, Teriak “Saya Hidup”,
tapi Tak Terucap

31 Agustus 2007

Begitu Sadar, Teriak “Saya Hidup”, tapi Tak Terucap Suasana orang yang lagi
mau siuman selalu saja begini: Mula-mula terdengar dulu pembicaraan orang-orang
yang berada di sekitar kita. Tapi, mata tidak mau membuka. Seperti orang yang
ngantuknya luar biasa. Apalagi seperti saya, yang baru saja dibius selama 18 jam.
Suara-suara itu tambah lama tambah jelas. Ingin sekali mata melihat siapa saja yang
bersuara itu, tapi tetap saja tidak punya kemampuan membuka kelopak mata
sendiri.

Sesaat kemudian, napas terasa sesak. Seperti orang yang lagi kekurangan
oksigen. Perasaan lantas seperti setengah berharap, setengah putus asa. Berharap
karena ternyata masih bisa bernapas, putus asa karena jumlah oksigen kok seperti
tidak segera cukup dan seperti mengancam kehidupan. Rasanya kok seperti mau
mati karena kekurangan udara.

Saya yang sudah pengalaman beberapa kali dibius (meski dulu tidak sampai
18 jam seperti saat penggantian liver kali ini), sadar bahwa saya ini sedang dalam
proses dari tidak sadar ke sadar. Saya yakin bahwa saya segera mengatasi
persoalan sesak napas itu. Tapi, kok sulit sekali ya? Maka, saya tetap berusaha
sekuat tenaga. Saya lantas memberikan isyarat kepada perawat dengan tangan
saya. Antara sadar dan tidak, saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya seperti
sedang memutar keran. Maksud saya, ini permintaan agar keran oksigen
diperbesar.

Tapi, mungkin perawat tidak melihat isyarat di tangan saya. Saya gerak-
gerakkan terus jari-jari saya dengan gerakan seperti memutar keran. Mungkin juga
yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Perasaan saya saja bahwa saya sedang
menggerak-gerakkan jari, tapi sebenarnya tidak ada jari yang bergerak sama sekali.

  "#

 

Bahkan, sebenarnya, barangkali juga tidak ada oksigen yang dialirkan ke hidung
saya. Begitulah kalau sadar dan tidak sadar bercampur jadi satu.

Lama-lama, rasa sesak itu berkurang. Lalu, menjadi lega. Napas bisa ditarik
dengan normal seperti biasa. Mata pun lama-lama bisa membuka. Agak berat

memang, tapi ingin sekali membuka mata sebentar agar bisa melihat sekeliling.
Kelihatanlah samar-samar bahwa saya sedang di ICU. Di ruang perawatan khusus
setelah menjalani penggantian liver. Kesadaran ini datang tujuh jam setelah
operasi.

“Saya hidup,” komentar spontan yang muncul, tapi tak terucapkan. Saya
hidup. Operasi tidak gagal. Saya hidup.

Tentu saya amat bersyukur. Tapi, syukur saya tidak sampai mengabaikan
rasa hormat saya kepada mereka yang telah belajar keras di universitas dan
menggunakan akalnya secara sungguh-sungguh hingga melahirkan ilmu
pengetahuan yang sangat maju. Saya bersyukur kepada Tuhan sekaligus hormat
kepada ilmuwan.

Setelah senang karena masih hidup, barulah saya sadar bahwa begitu banyak
instrumen yang ada di sekitar tempat saya berbaring. Kabel-kabel, selang-selang,
dan saluran infus seperti bertaut-tautan. Suara tat-tit-tat-tit dari mesin-mesin
elektronik di sekitar saya mendominasi pendengaran saya.

Rasa-rasa tidak enak mulai muncul satu per satu. Mula-mula rasa dada
penuh dengan cairan lendir. Cairan itu harus segera bisa keluar sebagai dahak.
Kalau tidak, akan membahayakan paru-paru. Begitulah bunyi petunjuk yang saya
baca sebelum operasi. Untuk mengeluarkan lendir itu, saya harus berbuat seperti
membatukkan diri keras-keras. Cara demikian juga saya ketahui dari buku
petunjuk. Bahkan, sejak beberapa hari sebelum operasi, perawat sudah melatih
cara berbatuk yang bisa mengeluarkan dahak. Waktu latihan, saya meraskan tidak
ada kesulitan. “Apa sih sulitnya batuk?” kata saya dalam hati. “Uhuk! Uhuk!” Selesai.
Perawat menyatakan saya berhasil menjalani latihan dengan tingkat kelulusan
summa cum laude.

  "$

 

Tapi, latihan dan kenyataan ternyata sangat berbeda. Dalam praktik,
ternyata saya sulit sekali lulus. Sudah saya usahakan batuk semirip-miripnya batuk
waktu summa cum laude, tapi tidak juga berhasil. Sebagian mungkin karena saat itu
saya sudah tidak lagi punya tenaga sebaik saat latihan. Setelah hampir dua hari

tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut, tenaga pun rupanya ikut hilang.
Namun, saya juga takut akan bahaya dahak itu terhadap paru-paru. Saya berusaha
terus membatukkan diri. Sebatuk-batuknya.

Akhirnya broll! Dahak yang amat banyak bisa keluar. Napas terasa amat
lega. Ketika saya tanya mengapa begitu sulit saya mengeluarkan dahak itu, perawat
mengatakan bahwa itu normal saja. “Apakah saya terlalu meremehkan saat
latihan?” tanya saya. “Tidak,” kata perawat. Saya tahu, itu hanya untuk
menyenangkan hati saya. “Bagi perokok lebih sulit lagi mengeluarkan dahak itu,”
ujar perawat lebih lanjut.

Meski sudah berhasil mendapatkan dua jenis kelegaan (bisa bernapas
normal dan bisa mengeluarkan dahak dalam jumlah besar), tapi masih banyak yang
membuat badan saya sangat tidak nyaman. Karena di lubang hidung masih ada dua
selang yang dimasukkan sampai ke perut saya. Dalam dunia kedokteran, kedua
selang itu dikenal dengan sebutan sonde.

Dua selang kecil itu punya tugas sendiri-sendiri. Yang satu untuk membuang
sisa makanan dari lambung saya. Yang lain untuk mengirimkan makanan langsung
ke usus saya. Mengapa langsung ke usus? Sebab, pertama, saya belum bisa makan
sendiri. Kedua, karena pembuluh darah di esofagus (jalan makan yang
menghubungkan mulut dengan lambung), peritonium (selaput dinding perut), dan
usus saya masih rawan pecah sehingga perlu dilindungi. Ketiga, karena liver baru
saya belum bisa “cari makan” sendiri. Sehingga perlu ada yang “mencarikan.”

Selain itu, masih ada empat selang lain yang menancap di leher saya. Satu
selang masuk lewat lubang yang sengaja dibuat di bagian depan leher. Tiga lainnya
masuk lewat pembuluh darah besar di leher kanan.

  "%

 

Satu selang yang dimasukkan lewat leher depan -di antara tulang belikat-
gunanya untuk mengalirkan napas bantuan dan membersihkan kelebihan lendir di
paru-paru (broncho toilet).

Saya diberi napas bantuan karena sampai beberapa jam pascaoperasi, saya

kan belum bisa bernapas sendiri. Sehingga perlu dibantu. Agar “bantuan” itu bisa
cepat sampai ke paru-paru, maka diambillah jalan pintas, yakni lewat tenggorokan.

Dan karena belum bisa bernapas sendiri, maka sisa lendir di paru-paru pun
tidak bisa saya keluarkan sendiri dengan cara batuk atau berdahak, seperti yang
sudah diajarkan perawat.

Sedangkan tiga selang lainnya masuk lewat pembuluh darah besar, yang
dalam istilah kedokteran disebut dengan tri lumen atau central IV (baca : ai vi) line.
Gunanya untuk mengalirkan semacam infus yang mengandung protein dan kalori
tinggi. Infus jenis ini memang harus lewat pembuluh darah besar, tidak boleh lewat
pembuluh darah di tangan seperti biasanya orang diinfus. Sebab, konsentrasinya
sangat tinggi sehingga bisa merusak dinding pembuluh yang dilewati. Dinding
pembuluh darah utama yang leher lebih kuat sehingga cukup kuat untuk dilewati
infus jenis ini meski sampai tiga bulan secara terus-menerus.

Fungsi lain tri lumen adalah untuk memasukkan obat-obat injeksi yang harus
lewat pembuluh darah dan mengambil sampel darah. Dengan begitu, bila perawat
ingin mengambil sampel darah atau menyuntikkan obat, tak perlu lagi dengan
menusuk-nusuk tangan saya.

Yang lebih istimewa dari tri lumen adalah bisa untuk memonitor kadar air
dalam tubuh (central venus pressure=CVP). Sebab, salah satu ujung tri lumen bisa
dihubungkan dengan alat monitor yang bisa menunjukkan perubahan kadar air di
tubuh saya setiap menit, secara otomatis.

Bahwa di tangan saya masih ada semacam pentil yang biasa dihubungkan
dengan selang infus, itu bukan disiapkan untuk cairan infus atau injeksi. Melainkan
untuk transfusi (tambah darah) bila diperlukan.

Ketidaknyamanan lain yang saya rasakan saat itu adalah adanya alat
pengukur tekanan darah yang dipasang di lengan kiri. Alat itu secara otomatis akan

  "&

 

mencengkeram lengan saya sangat kuat setiap setengah jam sekali. Angka-angka
tekanan darah otomatis keluar di layar monitor.

Itu belum semuanya. Karena masih ada sejumlah alat dan kabel yang
ditempelkan di dada kiri dan kanan untuk mengecek denyut jantung. Kabel itu juga

terhubung dengan layar monitor. Ujung jari tangan dan kaki juga dijepit dengan alat
yang dihubungkan dengan kabel ke layar yang lain lagi.

Lengan kanan saya juga sedang dipasang jarum untuk mengalirkan berbagai
 jenis infus. Ujung selang infus itu bercabang-cabang karena lima macam cairan dari
botol yang berbeda harus mengalir ke tubuh saya lewat satu jarum tersebut.

Melihat keruwetan di sekitar tubuh saya, saya mencoba untuk tidak merasa
terganggu. Saya berusaha tidak memikirkan itu. Saya justru teringat humornya
rekan Zainal Muttaqien, Dirut anak perusahan di Grup Kalimantan yang kini jadi
direktur Jawa Pos. Yakni mengenai susah payahnya seseorang untuk
menyelamatkan hidup (mungkin seperti saya ini), tapi meninggal oleh penyebab
yang amat sepele.

“Jangan sampai nanti meninggalnya justru hanya gara-gara kejatuhan
singkong di jalan raya.”

Apa kejatuhan singkong di jalan raya bisa membuat orang sampai
meninggal?

“Lha singkongnya satu truk. Lalu, truknya nabrak kita!”
Humor khas orang Surabaya. Humor ludrukan. Tapi, itu bisa mengalihkan
perhatian saya dari rasa ruwet dibeliti selang dan kabel. Setidaknya untuk
sementara.

***
Pagi tanggal 7 Agustus 2007 itu, sebenarnya, saya ingin menghitung berapa
banyak selang, botol, dan kabel yang saling berhubungan di tubuh saya. Ini agar
saya bisa menggambarkannya dengan baik kalau kelak harus menuliskannya untuk
pembaca. Namun, kesadaran saya dan tenaga saya tidak terlalu komplet pagi itu.
Orang yang baru siuman setelah dibius selama 18 jam tidak memiliki tingkat
konsentrasi yang sempurna.

  "'

 

Bahkan, saya tidak sepenuhnya mengerti apakah ketika saya mulai sadar itu,
waktunya sudah siang atau masih malam. Lama sekali saya menebak-nebak:
siangkah ini? Malamkah ini? Memang suasana ruang ICU sangat terang. Tapi, saya
ragu apakah itu terangnya matahari atau terangnya lampu? Saya berusaha melihat
 jauh ke dinding, ke arah jam besar dipasang. Tapi, pandangan saya lamur. Pertama,
sedang tidak menggunakan kacamata. Kedua, ya memang saya belum sepenuhnya
punya kemampuan normal.

Ingin sekali saya berusaha mengalihkan pandangan ke kiri atau ke kanan,
namun tidak bisa. Saya tidak mungkin bisa menoleh karena begitu banyak selang di
leher. Apalagi kalau harus mendongakkan kepala untuk melihat sumber terang di
belakang kepala saya. Tidak mungkin. Maka, saya tidak tahu apakah terang di balik
kepala itu karena dinding kaca atau karena ada lampu yang dipasang di situ.

Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui situasi waktu, ya hanya dengan
melihat jam di dinding sana itu. Tapi, sulit sekali untuk bisa melihat dengan jelas.
Kelopak mata berat sekali. Hanya secara timbul tenggelam saya melihat secara
kabur bahwa itu seperti jam 11.00-an. Tapi 11 malam atau 11 siang, saya sungguh
ragu dengan kemampuan saya memperkirakan.

Ketika saya lihat ada perawat mendekat, saya bertanya, “Ji dian?” Jawabnya,
“Jam sembilan”. Lalu, saya tanya lagi, “Wan shang, hai shi shang wu?” Dia jawab, jam
sembilan siang! Tahulah saya bahwa saat itu sudah pagi hari. Berarti sudah satu
malam saya tidak sadar sama sekali. Dan tahulah saya bahwa pandangan saya
benar-benar gak sempurna. Jarum yang menunjuk jam 9 saya kira menunjuk angka
11.

  "(

 

Tahan Tak Bergerak 24 Jam di ICU
karena Terbiasa 12 Jam di Jawa Pos

1 September 2007

SATU jam setelah sadar, saya melihat anak lelaki dan istri saya mendekat.
Oh, ini jam besuk ke ICU. Memang hanya dua orang dari pihak keluarga yang boleh
masuk ICU. Kecuali orang asing yang memerlukan penerjemah, maka ditambah
satu penerjemah.

Saya segera melambaikan tangan ke arah istri dan anak saya. Saya berusaha
untuk tersenyum sebagai ganti kata-kata bahwa saya baik-baik saja. Saya memang
tidak bisa omong jelas karena banyaknya selang di tenggorokan. Kalau saya

paksakan omong, bisa jadi tenggorokan saya akan terluka dan itu akan menyulitkan
diri saya sendiri akhirnya.

Anak saya menceritakan apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka
lakukan malam sebelumnya. Juga menyampaikan daftar nama yang mengirim
salam dan memberikan dukungan batin lewat SMS. Misalnya, informasi bahwa
malam itu santri Pondok Langitan berdoa bersama dipimpin langsung oleh Gus
Dulloh dan Gus Maksum, putra Kiai Faqih. Juga dari Panti Asuhan Yatim Piatu
Zainudin, Baluran, Sepanjang.

Istri saya diam saja seperti tertegun melihat ruwetnya jaringan kabel dan
selang di sekitar badan saya. Setelah memotret-motret secukupnya, mereka pamit.
Tinggal saya sendiri lagi menghadapi ketidaknyamanan keadaan.

Tapi, saya sadar sepenuhnya memang begitulah pascaoperasi. Saya tidak
mengeluh. Bagian ini juga harus saya jalani dan saya lewati sebagaimana saya harus
menjalani dan melewati proses pembiusan, pembukaan rongga dada, pembuangan
liver lama, dan pemasangan liver baru. Ini bukan operasi kecil. Ini operasi besaaar!
Kalau setelah operasi ada rasa sakit, pastilah demikian. Maka, saya nikmati saja
proses ini. Mengeluh hanya akan menambah penderitaan.

  ")

 

Yang berat adalah menahan diri untuk tidak menggerakkan badan sama
sekali. Apalagi harus selama 24 jam. Ini agar luka-luka akibat operasi dan
penyambungan pembuluh darah di liver tidak terganggu. Saya sudah bertekad
bagian ini pun harus bisa saya lewati dengan baik. Bahwa akan amat penat, ya itu

sudah risikonya. Saya anggap saja sebagai yoga yang panjang. Atau sebagai bagian
dari zikir-pidak di tarekat Sathariyah. Kalau saya bergerak untuk tujuan
mengenakkan badan sesaat, akibatnya bisa berupa penderitaan yang panjang.

Saya pernah menjalani dua operasi sebelumnya. Dua-duanya mengharuskan
saya, kalau bisa, tidak bergerak selama delapan jam. Saya berhasil menjalani itu
dulu. Maka, kalau kali ini saya harus tidak bergerak selama 24 jam pun, saya merasa
akan mampu melakukannya. Dan, ternyata memang bisa. Penatnya bukan main,
tapi itulah bagian yang harus dijalani untuk sukses. Saat mulai membangun Jawa
Pos dulu, tiap malam saya harus berdiri di ruang layout lebih dari 12 jam. Tiap
malam. Tujuh hari seminggu. 30 hari sebulan. 360 hari setahun. Kali ini saya juga
harus mampu memenuhi persyaratan untuk tidak bergerak selama 24 jam!

Sejak kecil pun, saya sudah belajar tahan menderita. Bukan saja oleh
kemiskinan, tapi juga oleh kerasnya sikap bapak saya. Misalnya, bapak melarang
saya untuk belajar naik sepeda. Mengapa?

“Kalau sepeda itu rusak, bagaimana kita bisa menggantinya?” katanya.
Karena itu, sampai kelas tiga SMA (aliyah), saya belum bisa naik sepeda. Saya
harus sekolah sejauh 6 km dengan jalan kaki. Satu jam berangkat dan satu jam
pulang. Kadang, kalau lagi ada pelajaran bahasa Inggris hari itu, saya tetap
berangkat dari rumah, namun belok ke sungai di tengah jalan. Saya cari ikan karena
takut dengan guru bahasa Inggris. Lama-lama, tiap pelajaran bahasa Inggris, saya
berada di sungai.
Akibatnya, saya tidak naik dari kelas 1 ke kelas 2. Rapor saya merah semua,
kecuali ilmu bumi yang mendapat angka enam. Bapak marah besar. Saya juga
merasa bersalah kepada kakak saya yang telah meninggalkan gajinya untuk saya
dan adik saya. Sejak itu, saya kelihatan agak pinter di kelas. Bahkan, kemudian

  #+

 

sering jadi ketua berbagai kegiatan. Juga sering ditunjuk sebagai inspektur upacara
pada tiap Senin.

Tapi, cita-cita saya bukan itu. Cita-cita saya adalah “bagaimana agar punya
sepatu”. Sampai kelas 2 SMA, saya belum punya sepatu. Tiap hari ke sekolah

dengan telanjang kaki. Maka, ketika kelas 3 SMA, saya bisa beli sepatu (sepatu kets
bekas yang ujung jempolnya sudah bolong dan bagian tumitnya sudah berserabut),
saya hemat benar pemakaiannya. Hanya tiap Senin sepatu itu saya pakai. Maka,
 jadilah saya inspektur upacara dengan sepatu di kaki. Banggakah saya? Ternyata
tidak. Karena dalam hati saya tersiksa. Sepatu itu menimbulkan rasa tidak nyaman
yang hebat, bahkan menimbulkan luka.

Karena itu, saya hanya tersenyum ketika melihat anak saya mempunyai
sepatu sampai lebih dari 300 dan semuanya branded alias bermerek. Dia memang
hobi mengoleksi sepatu. Kalau beli sepatu, dia tidak ingin kotak dan labelnya
dibuang. Dia juga tidak pakai sepatu itu. Hanya dia jejer di lantai rumah, untuk
dipandang setiap hari. Begitu penuhnya sehingga istrinya suatu saat bilang kepada
saya, “Sampai jalan masuk ke kamar tinggal satu galengan (pematang).”

Saya juga pernah dipukuli bapak dengan sapu. Mula-mula, saya menangis.
Tapi, saya pikir tidak ada gunanya. Saya diam dan menikmati pukulan itu. Sambil
merasa memang saya bersalah. Ternyata, bapak malah menghentikan pukulannya.
Ini gara-gara saya sering menggunakan alat-alat pertukangannya untuk ndalang.
Bapak sangat sayang pada alat pertukangannya. Kalau tidak lagi ada orang yang
minta memperbaiki rumahnya, ayah menggosok-gosok alat-alat itu sampai tajam.

Namun, suatu hari, anak-anak pasah itu (alat untuk menghaluskan kayu) saya
gandeng-gandeng, dalam posisi menumpuk. Kalau disentuh, akan timbul bunyi
“crek-crek”. Satu bunyi yang penting dalam memainkan wayang. Kecrek itulah,
yang saya pasang di kotak kayu. Saya duduk mendalang di sebelahnya. Kaki saya
dalam posisi akan sering menyentuh kecrek tersebut sehingga bisa menimbulkan
bunyi “crek-crek”. Begitulah, kelirnya terbuat dari sarung saya. Gamelannya adalah
mulut beberapa teman sepermainan. Wayangnya terbuat dari rumput. Dan,
kecreknya dari alat pertukangan ayah.

  #*

 

Ayah bukan hanya marah karena alat-alat cari uangnya dipakai secara salah,
tapi juga karena di kotak itu ternyata ayah menyimpan uang. Dan, uang itu ikut
saya ambil untuk saya belikan dawet. Padahal, meski hanya cukup untuk beli dawet
(minuman khas di desa), tapi itulah satu-satunya tabungan ayah.

Puluhan tahun saya menderita, kata saya dalam hati, kalau hanya akan
ditambah 24 jam di ICU ini, apalah beratnya.

Perawat ICU memuji ketahanan saya. Karena itu, tangan saya tidak perlu
diikat. Banyak pasien yang tangan dan badannya harus diikat karena selalu
berusaha untuk bergerak. Bahkan, ada yang mungkin tidak sadar, tangannya
berusaha mencabut selang-selang yang memenuhi tenggorokannya. Saya pilih
menjalani proses tidak bergerak dengan kesadaran sendiri daripada harus diikat
seperti itu.

***
Sebenarnya, masih ada tiga selang lagi yang juga amat mengganggu. Selain
karena ukurannya yang cukup besar, juga lantaran ujung dua dari tiga selang-
selang itu dimasukkan ke dalam rongga perut saya melalui pinggang kanan dan kiri.
Ujung selang yang satunya dimasukkan ke kandung kemih melalui lubang
kemaluan. Ujung lain dari masing-masing selang itu masuk ke kantong plastik
penampung cairan yang digantungkan di pinggir ranjang pasien.
Dengan adanya selang yang di lubang kemaluan itu, selama di ICU, saya tak
perlu lagi merasa akan kencing. Sebab, begitu kandung kemih saya penuh, air
kencing saya keluar dengan sendirinya melalui selang, masuk ke kantong
penampungnya. Secara teratur, air kencing di kantong itu diukur dan dianalisis.
Jumlah dan warnanya menunjukkan normal tidaknya ginjal dan berfungsi atau
tidaknya organ penting itu.
Sama dengan yang di ujung kemaluan, selang yang di pinggang juga untuk
mengeluarkan cairan- cairan yang tidak dibutuhkan tubuh saya. Semua cairan itu
 juga ditampung di kantong plastik, lalu secara teratur diukur dan dianalisis.
Bedanya, selang yang di pinggang kanan berfungsi untuk mengeluarkan sisa
darah yang mungkin masih menetes dari luka bekas sayatan operasi di liver dan

  #"

 

kantong empedu baru saya. Karena itu, posisi ujung selangnya ada di dekat kedua
organ yang baru ditransplantasikan itu.

Selama saya di ICU, selang di pinggang kanan mengeluarkan cairan pekat
berwarna merah. Makin hari, cairan itu makin sedikit keluarnya. Dan akhirnya

berhenti karena luka-luka bekas sayatan operasi itu sudah “kering”. Tak lagi
berdarah.

Bersamaan dengan keluarnya sisa darah dari pinggang kanan, selang di
pinggang kiri juga mengeluarkan cairan kuning kemerahan. Cairan itu merupakan
kelebihan cairan di rongga perut yang bercampur dengan sisa darah operasi yang
tercecer dan berkeliaran.

Rongga perut memang harus bersih dari “barang asing”. Jika ada sesuatu
yang tidak terdaftar sebagai “penghuni rongga perut”, seperti ceceran darah, sel
tumor atau kanker, maka selaput dinding rongga perut -yang dalam istilah
kedokteran disebut dengan peritonium- akan bereaksi, protes, dengan cara
mengeluarkan lebih banyak cairan. Makin banyak cairan yang keluar, makin
berbahaya karena peritonium bisa pecah dan orangnya meninggal.

Liver dan empedu baru saya tidak termasuk dalam kategori “barang asing”
yang ditolak karena kedua organ itu kan sebenarnya penghuni rongga perut juga.

Sama dengan yang di pinggang kanan, cairan yang keluar dari pinggang kiri
saya pun makin hari makin berkurang warna merahnya. Ini berarti semua ceceran
darah sisa operasi sudah didorong keluar dari rongga perut.

Jumlahnya pun makin hari juga semakin sedikit. Ini pertanda tak ada lagi
kelebihan cairan di rongga perut saya. Sehingga selangnya pun bisa dicabut.

Hari-hari pertama di ICU itu memang harus saya lalui dengan amat
menderita, tapi saya berusaha tabah menjalaninya. Saya tidak mengeluh kepada
siapa pun. Saat dokter bertanya apakah ada masalah, saya bilang tidak ada. Bahwa
sebenarnya badan tidak enak, ya mesti saja. Tapi, bukankah memang harus
demikian? Bukankah ini operasi yang sangat besar? Yang tidak mungkin tidak sakit?

Tapi, sepanjang sakitnya masih masuk akal, saya bertekad untuk tidak
mengeluh. Kalau saya merasa kesakitan, saya tahu paling-paling hanya akan diberi

  ##

 

obat penghilang rasa sakit, painkiller. Itu berarti satu racun lagi akan dimasukkan
dalam tubuh saya. Saya gak mau itu. Apalagi seminggu sebelumnya saya baru saja
baca bahwa Australia melarang penggunaan painkiller tertentu karena terbukti
membuat pasien yang baru menjalani transplantasi liver meninggal dunia.

Sakit ini, meski sakit sekali, masih bisa saya rasakan. Yakni sakit akibat luka.
Yakni luka yang sengaja dibuat dengan pisau bedah di sepanjang dada dan perut
saya untuk mengeluarkan liver yang lama dan memasukkan liver yang baru. Tidak
mungkin setelah perut ditutup tidak menimbulkan rasa sakit.

Tapi, sakitnya, sekali lagi, bisa dirasakan. Dan, ketika kecil, saya sudah sering
mengalami rasa sakit seperti itu. Yakni ketika telapak kaki terkena cangkul. Waktu
kecil saya memang sering ikut jadi buruh tani, mencangkul di sawah, yang disiapkan
untuk menanam padi. Kadang, cangkul meleset dan mengenai telapak kaki.
Lukanya lebar, memutih, dan berdarah-darah. Tentu tidak ada obat. Biasanya
hanya kami siram dengan minyak tanah, lalu kami bebat dengan kain sobekan dari
kaus atau sarung. Kain yang tidak pernah dipertimbangkan bersih atau tidak
karena ya baru disobek saat itu juga. Kadang masih bercampur lumpur juga.
Sakitnya saat habis operasi ya kurang lebih seperti itu.

  #$

 

Sempat Berpikir Lebih Baik Mati
daripada Melanjutkan Kemo

2 September 2007

KALAU saya sangat tahan menerima penderitaan selama di ICU, bukan saya
 jagoan dalam menerima rasa sakit. Bukan. Saya pernah mengalami rasa sakit
sampai tidak tahan lagi menanggungkannya. Saya pernah mengalami rasa sakit
yang “sampai nggak bisa dirasakan”. Yakni, ketika setahun lalu harus menjalani
kemoterapi. Waktu itu diketahui (lewat scanner) bahwa di liver saya sudah ada
kankernya. Lalu kanker itu dicoba dibunuh dengan cara di-TACE. Lalu dikemo.

(Kelak akan saya jelaskan apa itu di-TACE).
Setelah dikemo itu, rasanya luar biasa tidak karuan. Yakni sakit, mual, mulas,

kembung, melintir-lintir, dan entah berapa jenis rasa sakit menjadi satu. Sampai-
sampai saya tak bisa memisah-misahkan bentuk sakitnya itu terdiri atas berapa
macam rasa sakit.

Dalam hal ini saya merasa kalah dengan Sara, salah satu manajer keuangan
saya. Dia muda, cantik, tinggi, dan diserang kanker. Dia harus menjalani kemo
berpuluh kali hingga kepalanya gundul. Kini dia kembali cantik dan sudah
melupakan penderitaan kemonya.

Sedang saya tidak tahan. Saya bilang kepada Robert Lai yang menunggui
saya di Singapura, kalau dalam satu hari itu tidak juga reda, saya pilih mati. Tidak
ada gunanya hidup dalam keadaan seperti itu. Saya minta mati saja, kata saya
kepadanya. Lalu dia lapor ke dokter. Saya diberi obat tertentu. Pasti painkiller.
Pelan-pelan rasa tidak karu-karuannya berkurang.

Tapi, saya kemudian memutuskan tidak mau lagi dikemo. Tidak tahan. Saya
akan cari jalan lain saja. Atau lebih baik mati saja. Toh saya sudah berumur 55
tahun. Sudah berbuat sesuatu yang lumayan. Juga sudah melebihi umur ibu saya,
atau umur kakak saya, atau umur paman-paman saya.

  #%

 

Ini bukan untuk menunjukkan bahwa saya pernah hampir putus asa,
melainkan untuk menunjukkan kekaguman saya kepada orang-orang yang mampu
menjalani kemo berkali-kali. Mereka jelas lebih hebat dari saya.

***

Hari pertama di ICU itu saya tidak merasa mengantuk. Hanya, mata terus
terpejam. Rasanya saya tidak punya kekuatan untuk membuka kelopak mata saya
sendiri. Sambil mata tetap terpejam pikiran saya jalan ke mana-mana. Ke Surabaya,
ke Medan, Bengkulu, Batam sampai ke Palu. Saya juga suka memperhatikan
kesibukan di ruang ICU itu. Memperhatikan dengan mata terpejam. Semua saya
catat dalam ingatan saya. Dasar bekas wartawan! Kata hati saya.

Memperhatikan apa saja yang terjadi di ICU itu membuat perhatian saya
terbagi. Ini baik. Karena tidak melulu tercurah ke rasa sakit. Perhatian saya menjadi
tidak hanya kepada banyaknya selang yang menancap di sekujur tubuh. Saya juga
bisa melupakan rasa penat akibat tekad saya sendiri untuk tidak akan
menggerakkan tubuh sedikit pun selama 24 jam. Yakni, agar tidak berakibat buruk
pada luka-luka operasi saya. Baik luka di kulit akibat sayatan pisau atau luka di
dalam akibat terjadinya penyambungan-penyambungan pembuluh darah.

Tak terasa sore pun tiba. Sore itu, satu selang yang dimasukkan lewat leher
kanan saya dicabut, dilepas. Agak lega sedikit. Tapi, masih ada dua selang yang
menancap di leher yang dilubangi itu. Agak lebih sore lagi, selang yang dimasukkan
ke rongga perut lewat lubang hidung juga dicabut. Lebih lega lagi. Saya terus
berharap, selang-selang itu satu per satu akan dilepas. Saya tidak mau bertanya
 jadwal melepaskan selang-selang sisanya. Khawatir berharap terlalu banyak. Saya
sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apa pun dan pada
siapa pun. Ini, menurut pendapat saya, baik. Karena akan membuat saya merasa
lebih bahagia. Setidaknya tidak akan membuat saya terlalu kecewa.

Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang
akan merasa bahagia kalau keinginannya tercapai. Orang akan merasa kecewa
kalau keinginannya tidak tercapai. Maka, ini saya, untuk mencapai kebahagiaan

  #&

 

sangatlah mudah: Jangan pasang keinginan terlalu tinggi. Jangan menaruh harapan
terlalu banyak.

Dulu pun saya hanya ingin Jawa Pos menjadi koran yang oplahnya separonya
dari Surabaya Post. Tidak perlu lebih besar dari itu. Waktu itu, rasanya tidak

mungkin mengejar Surabaya Post yang sudah merajalela kehebatannya.
Baru setelah ternyata mudah sekali membuat koran yang bisa sebesar 50

persennya Surabaya Post, meningkatlah keinginan untuk bisa sebesar Surabaya
Post. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap, sehingga menjadi seperti
Grup Jawa Pos sekarang.

Sebuah koran nasional dari daerah dengan oplah lebih dari 300 ribu
eksemplar per hari. Ini belum termasuk koran-koran Grup Jawa Pos yang terbit di
Jakarta dan di kota-kota lain di luar pulau. Bahkan, koran ini berkembang

sedemikian rupa hingga menjadi sebuah grup media yang membawahkan lebih dari
100 koran harian dan mingguan, delapan televisi lokal, pabrik kertas, dan power
plant.

Jadi, kalau ada yang menganalisis bahwa saya punya grand design untuk
membuat Jawa Pos seperti sekarang, tidaknya begitu kenyataannya.

Hanya desain-desain kecil yang saya buat. Tapi, saya wujudkan dengan
konstan. Dengan istikamah, dalam istilah Pesantren Miftahul Ulum Al Islami,
Kedungdung, pimpinan KH Ilyas Khotib, di Bangkalan, Madura. Saya punya prinsip
semuanya sebaiknya mengalir saja seperti air. Hanya, kalau bisa, alirannya yang
deras. Batu pun kadang bisa menggelundung, kalah dengan air yang deras.

Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. Hidupnya
lebih fleksibel. Karena tidak punya cita-cita, kalau dalam perjalanannya
menghadapi batu besar, ia akan membelok. Tapi, kalau orang berpegang teguh
pada cita-cita, bertemu batu pun akan ditabrak. Iya kalau batunya yang
menggelundung, lha kalau kepalanya yang pecah gimana? Cita-cita saya semula
hanya ingin punya sepatu, biar pun rombengan. Lalu ingin punya sepeda. Rasanya,
waktu pertama punya sepeda (juga bekas) bahagianya melebihi saat punya Jaguar.
Padahal, sepeda itu pernah putus as rodanya sehingga tidak bisa dinaiki. Bahkan,

  #'

 

dituntun pun tidak bisa. Terpaksalah saya menggendongnya. Menggendong dengan
bahagia.

Malamnya saya juga tidak mengantuk. Mungkin sudah kelamaan ditidurkan!
Yakni, 18 jam dibius. Malam itu saya menyaksikan kerja perawat di ruang ICU yang

luar biasa sibuknya. Perawat shift malam itu mulai bekerja pukul 19.00 dan baru
akan pulang pukul 07.00 keesokan harinya. Sepanjang malam mereka bekerja
tanpa istirahat sedikit pun. Ini karena tiap tiga perawat mengurus lima pasien ICU.
Semuanya baru saja menjalani penggantian organ tubuh. Ada yang ganti liver
seperti saya, ada yang ganti ginjal, ada yang ganti jantung. Tiap-tiap pasien
memerlukan begitu banyak obat, begitu banyak macam cairan infus, begitu banyak
alat deteksi yang terus-menerus harus dipantau, diganti, dan dicatat.

Dan, yang juga tak kalah penting adalah dibuatkan invoice-nya untuk

menagihkan kepada pasien. Maka setiap habis menggunakan bahan, harus dicatat
berapa harganya dan lalu di-invoice-kan. Ini penting sekali, bagi RS tentunya.
Sebab, kalau salah dalam meng-invoice-kan, berarti rumah sakit akan menderita.
Yakni, menderita kerugian.

Setiap ada kesempatan saya selalu memuji mereka. “Anda luar biasa sekali.
Satu malam suntuk bekerja tanpa istirahat,” kata saya. “Untung Anda masih sangat
muda. Kalau sudah tua, nggak mungkin bisa bekerja tanpa henti dengan
konsentrasi tinggi sepanjang malam,” kata saya. “Terima kasih,” jawabnya.

Saya tahu dia akan libur besoknya. Jadi masih lumayan. Berbeda dengan
muda saya dulu. Saya ingat waktu itu, waktu mulai membangun Jawa Pos dari
sebuah koran yang hampir bangkrut, saya harus bekerja sepanjang malam.
Besoknya tidak pakai libur. Bahkan, sudah harus bekerja sejak pagi lagi. Sampai
malam lagi. Begitu seterusnya. Tidak libur. Besoknya sepanjang malam lagi,
sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. Tujuh hari seminggu, 30 hari
sebulan, 360 hari setahun. Selama kira- kira 15 tahun berturut-turut.

Inilah yang membuat organ di dalam tubuh saya menderita. Liver saya kalah.
Dia sebenarnya sudah lama menangis-nangis minta diperhatikan. Sudah lama minta
untuk tidak diperlakukan seperti itu. Sudah lama komplain ke sana kemari. Namun,

  #(

 

karena tidak dipedulikan, lantas ngambek seperti ini. Lalu minta diistirahatkan
seterusnya.

Kesadaran Pulih, tapi Saya Tak
Mampu Sujud Syukur

3 September 2007

SAYA memperoleh kesadaran penuh pada malam kedua di ICU. Di tengah
malam yang sepi itu, tiba- tiba pikiran saya jernih sekali. Suara tat-tit-tat-tit mesin
yang memonitor organ-organ tubuh saya terdengar kian jelas. “Saya benar-benar
masih hidup,” kata hati saya. “Alhamdulillah. Puji Tuhan,” batin saya lagi.

Tiba-tiba saya terlibat diskusi lagi dengan pikiran sendiri mengenai apa
bentuk syukur yang harus saya lakukan. Sudah pasti saya belum punya kemampuan
bersujud. Tapi, sujud kan tidak harus dengan kepala? Kan bisa juga yang sujud hati?
Maka saya sujud dengan hati saya. Rasanya malah lebih ikhlas. Tidak ada yang lihat.
Sepi sekali ing pamrih. Sebentar tapi menenangkan batin.

Saya memang bertekad untuk tidak akan mendemonstrasikan rasa syukur
itu dalam bentuk yang ekstrem. Misalnya, dengan sepanjang-panjangnya
mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau bahkan sampai menitikkan air mata.
Atau memotong sapi untuk acara besar-besaran. Saya khawatir, semakin panjang
kalimat yang saya ucapkan, semakin saya “sudah merasa bersyukur”. Semakin
banyak orang yang saya undang untuk syukuran, semakin saya “sudah merasa
bersyukur banyak”. Saya akhirnya berkesimpulan akan bersyukur dengan cara
“memanfaatkan umur tambahan ini dengan seproduktif-produktifnya”.

Paginya, apa pun yang di ICU terlihat jelas dan terekam baik dalam ingatan.
Hari kedua di ICU itu, pagi-pagi, pimpinan rumah sakit yang juga kepala tim dokter

  #)

 

yang menangani penggantian liver saya datang menjenguk. Karena dia pimpinan,
yang menyertainya banyak sekali. “Ze me yang?” tanyanya sambil memegangi
tubuh saya menanyakan apa kabar dalam bahasa Mandarin. “Hen hao,” jawab saya.
Saya bilang bahwa saya baik-baik saja dan tidak punya keluhan apa pun.

Tentu itu basa-basi. Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya katakan.
Bukan mengenai keluhan saya, melainkan soal-soal lain yang membuat saya
penasaran. Yang membuat saya ingin segera tahu. Misalnya, apakah ada kesulitan
yang berarti untuk melakukan operasi tadi malam? Apakah liver saya yang lama
benar-benar telah rusak seperti yang diperkirakan? Atau sebenarnya masih baik,
yang akan membuat saya menyesal melakukan operasi?

Soalnya, ada juga sedikit kekhawatiran bahwa jangan-jangan setelah perut
dibuka, ternyata liver saya baik-baik saja. Jangan-jangan hasil scanner yang

menyatakan liver saya sudah rusak dulu itu hanya karena alat scanner-nya “salah
lihat”. Bukankah memang ada kasus-kasus “salah diagnosis” semacam itu?

Ada juga pertanyaan yang lebih penting yang ingin segera saya ketahui.
Benarkah sudah ada kanker di liver lama saya? Benarkah tanpa operasi ini
sebenarnya saya masih bisa hidup lima tahun lagi? Benarkah, seperti kata sebagian
dokter, bahwa sebenarnya saya tinggal punya kesempatan hidup enam bulan lagi?
Karena kanker sudah menjalar ke beberapa bagian di dalam liver saya?

Tapi, pertanyaan itu terlalu banyak untuk diajukan pagi itu. Juga terlalu dini.
Rasanya kurang pas kalau saya sudah bertanya sejauh itu. Bukankah pagi itu dokter
hanya mengunjungi saya untuk menunjukkan perhatian kepada saya? Untuk
menunjukkan rasa persahabatan yang tulus? Sebab, tanpa mengunjungi saya pun
dia sudah bisa baca dari laporan komputer mengenai perkembangan keadaan saya.

Maka, saya urung mengajukan pertanyaan-pertanyaan tadi. Masih ada waku
di lain hari. Toh, saya masih akan berhari-hari di rumah sakit ini. Bahkan, mungkin
masih berminggu atau (kalau operasi ini gagal) masih akan berbulan lagi.

Saya malah berubah pikiran dengan cepat. Saya justru bergegas menunjuk
ke perawat yang berdiri di arah kaki saya. “Dokter, perawat-perawat rumah sakit

  $+

 

ini luar biasa. Tadi malam mereka bekerja keras sepanjang malam, tanpa istirahat
sedikit pun,” kata saya kepada pimpinan rumah sakit itu.

Sang pimpinan tersenyum senang. Lalu dia mendekat ke arah perawat dan
memegang-megang pundaknya. Tidak ada kata-kata yang diucapkannya. Dan, saya

kira memang tidak perlu ada kata-kata apa pun. Tepukan tangan ke pundak anak
buah seperti itu sudah melebihi pujian yang diucapkan dengan ribuan kata.

“Terima kasih, Mr Yu memuji saya di depan pimpinan,” kata perawat itu
kepada saya setelah rombongan pimpinan berlalu. Di Tiongkok nama saya memang
Yu Shi Gan (baca: i-se-kan), sehingga cukup dipanggil nama depannya saja (Yu) yang
dikira nama marga saya.

Saya tidak basa-basi memuji para perawat itu. Saya memang benar-benar
ingin memujinya. Kerja yang luar biasa keras itu harus ada yang mencatatnya. Para

perawat itu tidak hanya harus membuat laporan yang baik, tapi mereka sendiri juga
harus dilaporkan. Terutama kebaikannya itu.

Para perawat itu bekerja dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab
kepada keselamatan pasien. Yakni, melakukan pekerjaan cepat, cermat dengan
ketelitian yang tinggi di waktu malam yang sepi. Kalau saja tidak teliti pun siapa
yang tahu?

Mereka juga bekerja dengan penuh tanggung jawab kepada rumah sakit.
Yakni, dengan cara tidak ceroboh mencatat harga-harga barang yang saya gunakan
malam itu: obat, infus, selang, jarum, tisu, sarung tangan, plester, dan seterusnya.
Setiap ada pemakaian bahan harus dicatat harganya dan dibuatkan invoice
penagihannya. Kalau tidak, rumah sakit akan rugi. Pemakaian barang seharga 1
yuan (sekitar Rp 1.100) pun harus dicatat rapi dan dibuatkan perhitungannya.
Jarum pun ada harganya, kapas secuil ada harganya. Apalagi selang, cairan infus,
dan obat-obatan.

Saya perlu memuji perawat tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih
saya yang tulus kepada mereka. Saya tidak mungkin memberinya uang. Saya kan
dalam keadaan telanjang! Mana bisa membawa dompet? Apalagi sudah menjadi
kebiasaan saya, membawa dompet pun belum tentu ada duitnya.

  $*

 

Saya perlu memujinya karena setelah hari itu saya tidak mungkin lagi bisa
bertemu mereka. Hari ini mereka dapat giliran libur. Besok sudah akan menjalani
kehidupan baru dengan pasien berikutnya lagi. Saya mungkin juga tidak berada lagi
di ICU karena pagi itu sudah bisa kembali ke kamar saya di lantai 11. “Terima kasih

Bapak telah memuji saya di depan pimpinan saya,” kata perawat itu. Wajahnya
kelihatan bersorak gembira. Seperti mendapatkan uang berjuta. Saya tidak akan
lupa wajahnya. Tidak akan lupa ekspresi kegembiraannya. Tidak akan lupa
keterampilannya. Dan kerja kerasnya.

***
Tiba-tiba anak saya laki-laki, Azrul Ananda, masuk ICU. Kali ini bersama
adiknya, Isna Fitriana, yang baru malam harinya tiba dari Surabaya. Hari itu
rupanya saya akan diserahterimakan.

“Bapak kan sudah aman. Dan Isna sudah di sini. Pagi ini saya kembali ke
Surabaya,” ujar Azrul. “DBL harus segera dimulai,” tambahnya. DBL (DetEksi
Basketball League) adalah liga basket SMP/SMA terbesar di Indonesia yang dia
prakarsai. Saya mengangguk karena rasanya memang tidak ada lagi yang perlu
dikhawatirkan. Perasaan saya baik-baik saja.

Rupanya, baru selama sakit ini saya punya komunikasi yang intensif dengan
anak-anak saya. Sebelumnya, saya ternyata jarang sekali berbicara dengan mereka.
Meski anak lelaki saya juga di Jawa Pos, saya membiarkan proses manajemen
berjalan apa adanya. Saya hampir tidak pernah bicara soal perusahaan kepadanya.
Keberadaan dia di Jawa Pos malah membuat hubungan saya sebagai bapak dan
anak menjadi seperti hubungan atasan dan bawahan. Karena dia bukan bawahan
langsung, berarti tidak perlu ada hubungan yang khusus.

Anak-anak saya memang sudah terpisah sejak mereka masih amat remaja.
Begitu tamat SMP, keduanya langsung ke USA, masuk SMA di sana. Bahkan, Azrul
sampai tujuh tahun di sana. Ikut orang tua angkatnya yang didapat melalui proses
undian. Karena itu, kami tidak pernah tahu di rumah siapa dia akan tinggal di AS.
Ternyata, Azrul dapat orang tua angkat yang sama sekali tidak diperkirakan. Yakni,

  $"

 

seorang bapak yang ternyata juga pemilik surat kabar daerah di Kansas. Namanya
John Mohn. Dia seorang master jurnalistik. Juga juragan koran.

John tidak punya anak laki-laki. Maka, Azrul dia anggap sebagai anak laki-
lakinya. Tiap hari dia ajak anak saya ke kantor korannya. Dia ajari fotografi. Dia

ajari jurnalistik. Bukan hanya penulisannya, tapi juga kemerdekaan dan filsafatnya.
Jadilah Azrul anak yang mencintai koran. Bukan karena saya, tapi karena bapak
angkatnya itu.

Saya sendiri sejak awal tidak ingin dia kerja di koran. Terlalu berat. Terlalu
menyiksa. Juga belum tentu menghasilkan kekayaan. Maka sejak tamat SMP saya
kirim dia ke AS agar bisa punya pilihan

lebih baik. Setidaknya agar bisa berbahasa Inggris. Tidak seperti bapaknya
yang hanya tamatan SMA (aliyah), yang nama-nama hari dalam bahasa Inggris pun

tidak hafal.
Jadi, kalau ada yang menganggap saya sejak awal menyiapkan anak saya

untuk di Jawa Pos, sungguh tidak demikian maunya. Saya justru mau anak saya
bekerja di luar negeri dulu. Lalu jadi pengusaha yang mandiri. Ketika hal ini saya
kemukakan kepada Azrul, dia balik bertanya: saya harus cari uang? Saya mau
 jurnalistik, katanya.

Apakah saya menyesal? Ya dan tidak. Tapi, ada juga yang menilai bahwa saya
harus bersyukur karena ada anak yang masih punya idealisme di bidang jurnalistik.
Menyikapi kedua penilaian itu saya pasrah saja. Yang terjadi, terjadilah.

Sepulang dari USA anak-anak saya praktis jadi dirinya sendiri-sendiri.
Termasuk tidak mau lagi tinggal bersama kami di rumah. Mereka pilih tinggal di
rumah sendiri. Mereka sudah terbiasa mandiri.

Baru ketika saya sakit ini, mereka sering menemani saya. Kami pun sering
dalam keadaan lengkap berada dalam satu ruangan: saya, istri saya, dan anak-anak
saya. Sekarang ditambah dengan menantu-menantu dan seorang cucu. Eh, seorang
cucu dan calon seorang cucu lagi.

Justru ketika sakit ini saya seperti menemukan keluarga saya. “Ternyata
saya punya anak,” gurau saya kepada keduanya. “Ternyata kita punya bapak, ya,”

  $#

 

kata Isna kepada kakaknya. Sambil tertawa cekikikan. Suasana yang sangat
mengurangi rasa sakit saya selama di ICU.

Lebih menggembirakan lagi, siang itu dua selang yang masuk ke rongga dada
lewat leher kanan saya juga dicabut. Lubang bekas selang-selang itu lantas ditutup
dengan plester. Dua hari kemudian lubang itu sudah menutup.

Kelak, ketika sudah berada di kamar biasa, saya masih sering meraba-raba
bekas lubang di leher itu. Saya masih punya pikiran jangan-jangan lubangnya masih
menganga.

Meski Keluar ICU, Jangan Anggap
Sudah Merdeka

4 September 2007

SEPANJANG sore sampai malam (hari kedua di ICU), perut saya mulai
merasa kembung. Sangat tidak enak. Oh, rupanya saya belum bisa buang air besar.
Juga belum bisa buang angin. Ini saya sadari setelah beberapa kali perawat
menanyakan soal yang kelihatannya sepele itu. Makanya perut seperti penuh
sekali. Penuhnya bukan hanya di perut, tapi seperti sampai dada. Sepanjang malam
saya tidak bisa tidur.

Itu membuat pikiran saya lari ke mana-mana. Termasuk ke liver baru saya.
Saya berkhayal sedang apakah dia? Lagi saling berkenalan dengan organ saya yang
lain, atau lagi pasang kuda-kuda untuk saling bermusuhan? Apakah liver baru itu
sedang tawar-menawar pekerjaan dengan organ lain? Apakah liver baru itu sedang
mengajukan syarat-syarat kerja sama? Misalnya, hanya akan mau bekerja sama
kalau tetap dibolehkan makan babi? Atau dia begitu baiknya sehingga akan ikut
saja peran apa yang harus dia jalankan?

Yang tak kalah penting adalah perbedaan umur yang mencolok antara liver
baru dan organ saya yang lain. Apakah tidak akan menimbulkan persoalan?

  $$

 

Misalnya, terjadi generation gap yang tajam? Bukankah liver baru itu belum sampai
berumur 25 tahun, apakah tidak akan mengajak balapan organ lain seperti jantung,
paru, dan ginjal? Kalau organ-organ lain saya sudah berumur 56 tahun, apakah
tidak akan terjadi konflik anak-bapak yang diakibatkan perbedaan zaman? Juga

perbedaan gaya hidup? Apakah tidak akan terjadi adu balap? Apakah jantung tua
saya kuat melayani balapan itu? Panjang sekali khayalan saya. Bukan khayalan yang
ilmiah. Khayalan orang yang tidak bisa tidur saja.

Paginya, hari ketiga di ICU, barulah saya “rasa” itu muncul. Saya panggil
perawat. Ternyata untuk urusan buang air besar ini ada perawat khusus. Dia
perawat yang berbaju biru, yang sudah lebih tua umurnya. Dialah yang memasang
tadah kotoran dan membersihkannya. Urusan buang hajat pun selesai. Setelah itu
tiba-tiba saya merasa seperti ingin buang angin banyak-banyak. Maka suara bom

pun bergelegaran. Semua dicatat oleh perawat. Pagi itu juga diputuskan saya boleh
keluar dari ICU. Rupanya keluar atau tidak dari ICU, salah satu ukuran yang
menentukan adalah ada atau tidaknya “rasa” tadi.

Kalau saja pagi itu saya belum punya “rasa”, akan dilakukan rekayasa. Perut
saya akan dimasuki cairan lewat pantat. Untunglah saya tidak perlu melalui
tahapan darurat itu. Mekanisme tubuh saya, dengan organ baru di dalamnya,
berjalan dengan normal. Semua berjalan natural.

Satu jam kemudian persiapan mengeluarkan saya dari ICU dilakukan. Selang
yang sudah 56 jam berada di lubang kemaluan saya dicabut. Agak sakit rasanya.
Tapi, kan tetap harus dicabut? Sakit tapi lega. Lega tapi memang sakit. “Kencing
pertama sampai ketiga nanti mungkin agak sakit,” kata perawat setelah berhasil
mencabut selang itu.

Kata-kata itu terus melekat di ingatan saya. Sampai-sampai timbul rasa takut
setiap merasa akan kencing. Tapi, sakitnya seperti apa kan belum dirasakan. Ya,
saya harus merasakannya, karena saya toh harus kencing. Ternyata rasa sakitnya
tidak seberat yang saya bayangkan. Atau barangkali karena saya sudah merasakan
yang paling sakit, sehingga sakit-sakit kelas seperti itu sudah saya anggap bukan
sakit lagi.

  $%

 

Lalu, selang yang masuk ke rongga perut melalui pinggang kanan juga
dicabut. Rasanya juga sakit, tapi sakit yang menimbulkan kelegaan. Alat untuk
mengukur tekanan darah juga dilepas. Kabel-kabel yang menempel di dada kanan
dan dada kiri dicabut. Juga kabel-kabel yang dihubungkan ke ujung- ujung jari.

Semuanya hilang sudah. Rasa plongnya bukan main. Apalagi, kalau saya ingat
banyak pasien yang keluar ICU masih dengan selang yang menancap di leher. Saya
pun sebenarnya sudah membayangkan akan keluar ICU dalam keadaan seperti itu.
Tapi, ternyata tidak. Saya bersyukur.

Sekitar pukul 10.00 saya sudah dipindahkan dari ranjang ICU ke kereta
angkut. Kereta ini dilengkapi sistem hidrolis. Ini untuk memudahkan memindah
badan saya dari ranjang ICU. Tidak perlu ada orang yang mengangkat, yang bisa
saja membuat badan saya berubah posisi dan menimbulkan bahaya bagi bekas-

bekas operasi. Dari kereta itu secara otomatis menjulur sebuah papan besi
menyekop ke bawah badan saya. Badan saya terbawa di atasnya. Kereta ini yang
membawa saya turun ke lantai 11, ke kamar lama saya yang sudah dibuat bersih
sebersih-bersihnya.

Dalam proses keluar dari ICU itulah saya baru tahu bahwa ruang ICU ini
amat-amat panjangnya. Memang seluruh lantai 12 adalah ICU. Tiap pasien dapat
satu kapling yang dibatasi dengan kaca terhadap pasien lain. Rumah sakit ini
memang bisa melakukan transplantasi organ sebanyak 30 orang dalam waktu
bersamaan. Berarti ruang ICU-nya memang harus banyak sekali.

Tiba di lantai 11, para perawat menyambut. Perawat yang sudah tiga bulan
lebih saya kenali dengan baik. Kini saya diserahterimakan dari perawat ICU ke
perawat ruang rawat inap. Mereka segera membuat lubang baru di lengan saya
untuk keperluan infus-infus berikutnya. Tiap hari saya masih harus diinfus
beberapa obat dan vitamin. Mula-mula tiga jam sehari. Lalu tinggal dua jam. Lalu
satu jam. Lalu tidak perlu infus sama sekali.

Pasien lain yang belum operasi menyambut kepulangan saya dari ICU.
Sebelah kamar saya, orang Jepang, melambaikan tangan. Dari kamar yang lain,
orang Arab Saudi, mengucapkan salam. Pasien dari Taiwan mengucapkan selamat

  $&

 

atas kesuksesan operasi saya. Saya sendiri sudah sering memberikan ucapan
selamat seperti itu kepada pasien yang baru menjalani operasi sebelum saya.

***
“Meski sudah keluar ICU, jangan Anda anggap sudah merdeka,” ujar Robert

Lai, teman saya itu. Dia lantas menakut-nakuti saya dengan kisah banyaknya pasien
yang sukses dalam menjalani operasi, tapi gagal menjauhkan diri dari virus dan
infeksi. Terutama di seminggu pertama keluar dari ICU.

Seorang kenalan dari Pakistan terkena infeksi setelah tiga hari keluar ICU.
Terpaksa perutnya dibuka lagi. Diadakan perbaikan lagi di dalamnya. Contoh
lainnya, ada pasien yang merasa kuat dan jalan sendiri ke kamar mandi. Dia terjatuh
dan harus masuk ICU lagi.

Masih sederet contoh tragedi seperti itu. Termasuk yang nekat pulang meski

baru satu bulan setelah operasi. Memang sudah diizinkan pulang. Tapi, harus balik
lagi ke Tiongkok tiga bulan kemudian. Yakni, untuk mengambil “barang” yang masih
dititipkan di dalam. Orang tersebut merasa sudah sangat normal. Lalu ke rumah
sakit di negaranya sendiri untuk mengeluarkan “barang titipan sementara” itu.
Sayangnya, proses tersebut tidak mulus. Dia terkena infeksi.

Setelah tidak bisa diatasi di negaranya, terpaksa balik lagi ke rumah sakit ini.
Tapi, keadaannya sudah sangat payah. Berbagai usaha sudah disiapkan, termasuk
akan dilakukan transplantasi liver lagi. Namun, dia harus menunggu kondisi
badannya membaik dulu. Kondisi yang ditunggu itulah yang tidak datang. Akhirnya
dia meninggal dunia di rumah sakit ini bulan lalu.

Saya mendengarkan baik-baik nasihat itu. Robert tahu saya sering maunya
sendiri. Tapi, kali ini dia kecele. Saya sudah bertekad akan taat peraturan setaat-
taatnya. Saya hanya minta kelonggaran dua saja. Pertama, boleh membuka,
membaca, serta membalas dan mengirim email. Kedua, boleh mulai menulis cerita
ini. Sebab, apa yang mau saya tulis ini semuanya sudah lengkap dan memenuhi
kepala saya.

Apa saja yang akan saya tulis, berapa seri tulisan itu nanti, tiap seri harus
dibuka dengan kalimat apa dan ditutup dengan cara bagaimana, semua sudah ada

  $'

 

di kepala. Kalau tidak segera saya tuangkan di komputer, tekanan darah bisa naik.
Itu membahayakan hasil operasi. Sebab, obat sinkronisasi liver baru saya punya
efek samping menaikkan tekanan darah. Kalau ditambah dengan penuhnya bahan
tulisan di otak saya, apakah tekanan darah tidak akan semakin tinggi?

“Itu logika Anda saja. Anda bukan dokter. Itu alasan Anda saja untuk
diperbolehkan menulis,” ujar Robert Lai. “Mana ada baru tujuh hari setelah
transplantasi liver sudah memeras otak untuk menulis begitu panjang?” sergahnya.
Saya mengakui Robert benar. Tapi, saya tetap bermohon untuk dapat dispensasi
melakukan dua pekerjaan itu.

  $(

 

Mulai Berdiri, Bergurau soal Liver,
Dimarahi Saudara di Desa

5 September 2007

JANGAN begini. Jangan begitu. Banyak sekali peringatan yang disampaikan
kepada kami sebelum pertama saya turun dari tempat tidur. Itu hari kelima setelah
operasi atau hari kedua setelah keluar dari ICU. Misalnya, jangan sampai langsung
berdiri. Bisa tiba-tiba pusing dan jatuh.

Harus duduk lebih dulu. Tenang beberapa saat untuk lihat-lihat keadaan.
Kalau tidak pusing, bisa diteruskan dengan turun dari tempat tidur dan mencoba
berdiri. Maklum, sudah lima hari saya terus dalam posisi berbaring. Juga lima hari

tidak makan. Meski ada cairan infus yang menggantikannya. Tidak sedikit kasus
pasien jatuh saat pertama mencoba berdiri. Harus ada orang yang memegangi.

Saya masih dapat peringatan tambahan. Tepatnya bukan peringatan, tapi
pertanyaan. Datangnya dari dalam diri saya sendiri. Kalau saya nanti berdiri,
apakah liver baru saya tidak jatuh? Apakah sambungannya sudah kuat? Tali apakah
yang dipakai untung menggantung liver baru itu? Setengah serius, setengah
bergurau. Saya memang suka bergurau. Kalau sedang tidak ada yang ditertawakan,
saya sering mencoba menertawakan diri sendiri.

Kekhawatiran-ngawur saya itu saya SMS-kan ke beberapa teman. Untuk
memberikan gambaran bahwa saya sudah bisa bergurau lagi. Sekaligus memberi
kabar baik mengenai kemajuan demi kemajuan yang saya peroleh. “Hari ini saya
sudah diharuskan mulai turun dari tempat tidur. Bahkan sudah harus latihan
berdiri. Tapi, saya lupa bertanya kepada dokter apakah tali yang dipakai
menggantung liver baru saya cukup kuat. Saya takut liver baru saya jatuh,” tulis
saya.

Jawaban dari beberapa teman berdatangan. Margiono, Dirut Rakyat
Merdeka yang lucunya bukan main, kontan membalas. “Ha ha... Kalaupun jatuh,
masih di perut. Masih mudah mencarinya,” kata Margiono yang pandai mendalang

  $)


Click to View FlipBook Version