*$)
Banyak Faktor Keberhasilan, tapi
Jangan Buru-Buru Merasa Sehat
24 September 2007
MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari
ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya?
Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. Mau yang
religius atau yang ilmiah. Kalau mau pendek dan tampak religius, jawabnya ini:
semua itu berkat tangan Tuhan. Selesai. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Siapa
yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk
ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. Mereka mengatakan semua ini
karena Allah. Hanya satu-dua yang mengatakan, “Semua ini karena Allah dan
kepintaran para dokternya.”
Tapi, kalau jawabnya itu, saya tidak perlu lagi menulis. Tapi, saya ingin
menulis. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan
semangat karena tidak dipuji sama sekali. Saya ingin memujinya.
Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya
seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin
mengundang makan malam seorang suci. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan
makanan yang lezat-lezat. Waktu mau makan, sang suami meminta sang suci
membacakan doa. “Terima kasih, Tuhan, Engkau telah menyediakan makanan yang
lezat- lezat ini.” Ucap sang suci mengakhiri doanya. Selama makan sang istri
merengut saja. Setelah sang suci pulang, si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi
kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan
makanan ini?
Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu.
Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya
kunci sukses. Saya mencoba merincinya sebagai berikut: *%+
Keahlian dan pengalaman dokternya.
Kecanggihan peralatannya.
Kemajuan obat-obatannya.
Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya.
Keberadaan donor yang sangat prima.
Kondisi badan saya yang masih baik.
Faktor mana yang terpenting, rasanya sulit menentukan. Tapi, kalau ada
waktu membahasnya lebih dalam, pasti juga akan diketahui ranking-nya.
Soal keahlian dokter, di Indonesia pun tidak akan kalah. Saya pernah
menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele.
Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura. Tapi, kesempatan untuk
memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. Baik karena langkanya
donor maupun minimnya peralatan. Bagaimana bisa punya pengalaman
transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa
mendonorkan organnya?
Mengenai kecanggihan peralatan, rumah sakit ini tergolong yang terbaik di
dunia. Bahkan, ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS, Korea, Jepang, dan
di rumah sakit ini. Saya tidak diberi tahu alat yang mana. Tersedianya peralatan
yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan keinginan
pemimpinnya. Untuk Indonesia, dua-duanya belum bisa banyak dinanti. Begitulah
nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain.
Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan
obat baru bukan main cepatnya. Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti
sekarang, mungkin juga banyak halangannya. Untuk kegagalan transplantasi liver
karena rejection, sekarang jumlahnya hampir nol. Obat sinkronisasi liver baru
dengan organ lain sudah amat sempurna.
Bahkan, obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat
minim. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah.
Sebab, obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek
samping di dua sektor itu. Kebetulan, saya tidak memiliki bakat darah tinggi
maupun gula darah. *%*
Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya
komplikasi juga akan menyulitkan. Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan
gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU. Tapi mulai lemas
di hari-hari berikutnya. Ini karena jantungnya memburuk.
Itulah sebabnya, saya membuat keputusan justru harus melakukan
transplantasi ketika saya masih sehat. Maksud saya ketika organ-organ lain saya
masih baik. Kalau saja terlambat mengambil keputusan, akan lain hasilnya.
Mendapatkan donor yang prima pun, antara lain, juga ditentukan oleh
kondisi pasien. Misalnya, kalau saja saya tidak sabar menunggu. Mungkin akan
mendapat juga donor, tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan
saya sekarang. Atau, kalau saya sabar, tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi
menunggu lebih lama, tentunya donor seperti apa pun akan diterima. Toh semua
donor sudah diperiksa kualitasnya. Bahwa ada kualitas I atau II, itu tentu ada kelas-
kelasnya.
Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan
berhasil, antara lain, saya sudah menghitung semua faktor di atas. Tentu, semua itu
tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. Hanya saya dan tim
saya yang tahu.
Teman-teman, juga para pemegang saham, mungkin banyak yang pesimistis.
Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah
darah, sudah bengkak, dan wajah sudah menghitam. Mereka juga melihat tanda-
tanda nonfisik yang saya lakukan. Misalnya, saya tiba-tiba mengundang teman-
teman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi. Kadang saya
sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak
salah. Tapi kalau sudah telanjur marah, masak bisa diralat? Yah, saya sering juga
kemudian minta maaf, tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka.
Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum), saya berikan
uang. Ada yang cuma Rp 5 juta, ada yang sampai Rp 100 juta. Tergantung perasaan
saya seberapa saya merasa bersalah. Rupanya, bagi-bagi uang ini terdengar juga
oleh pensiunan karyawan yang lain. Lantas, dia menghubungi saya lewat SMS: saya
*%"
menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. “Boleh nggak sekarang saja
dimarahi. Asal kemudian ikut diundang,” katanya.
Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz
(orang yang hafal Quran). Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga
bulan sekali di rumah saya.
“Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah?” komentar
seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya. Apalagi saya juga
menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang
sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali.
Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan
menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. “Apakah yang Anda lakukan
ini ada hubungannya dengan sakit Anda?” tanya seorang pemegang saham.
Sambil menunggu saatnya transplantasi pun, buku yang saya baca adalah
buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi
liver. Sampai-sampai tim saya bilang, “Mbok jangan baca buku yang begituan.”
Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyarat- isyarat bahwa saya
akan gagal dan meninggal.
Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. Terutama:
mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada
maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin.
Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan
terlambat ambil keputusan transplantasi. Ini menambah kuat tekad saya untuk
melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat.
Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. Transplantasi pertama
dilakukan di Beijing. Berhasil. Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai
acara, termasuk talk show dan jumpa fans di kota- kota yang jauh. Padahal, dia
melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. Kankernya sudah
telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain.
Akhirnya, dia harus transplantasi lagi di kota ini. Juga berhasil. Tapi, kanker
sudah lebih menyebar lagi. Akhirnya meninggal dunia. *%#
Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu.
Karena itu, sepulang dari Tiongkok nanti, saya akan mampir dulu di Singapura
beberapa hari. Kebetulan, istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek
Group, Madame Ho Ching, juga minta agar saya menjalani review di negaranya. Itu
bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. Singapura memang
punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. Bahkan, untuk
transplantasi “separo hati”, Singapura sudah amat berpengalaman. “Saya yang akan
atur,” tulis Madame Ho Ching dalam email- nya kepada saya.
*%$
Setelah Transplantasi, Kian Tidak
Jelas Hitungan Umur Saya
25 September 2007
UMUR berapakah saya sekarang?
Tepatnya saya tidak tahu. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini.
Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. Yakni
di balik pintu lemari kayu yang kasar. Ditulis dengan kapur lunak, diambilkan dari
kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. Itu bukan lemari pakaian karena
kami tidak perlu lemari untuk pakaian. Baju kami, sekeluarga, tidak lebih dari
sepuluh. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding. Juga
karena kami tidak bisa beli lemari. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk
menyimpan apa saja: kaleng bekas, piring seng untuk makan, cobek (mangkuk
terbuat dari tanah), dan leper (tempat mengulek sambal, terbuat dari tanah), dan
sebangsanya. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada.
Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. Tidak ada kursi atau
meja makan. Kami makan sambil duduk di lantai. Lantai itu terbuat dari tanah
karena tidak mampu menyemennya. Kalau mau makan, barulah dihamparkan tikar.
Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo
pantat saja yang di atas tikar. Di atas tikar itu juga kami tidur. Paginya, ketika tikar
dilipat, sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. Jangan gusar. Bau
kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. Inilah
keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyak-
banyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa
merusak lingkungan. Dari segi ini, lantai tanah sangat ramah lingkungan -
setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya. Kalau musim hujan,
gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya.
*%%
Sejak masih ngompol, saya sudah harus bisa menyapu lantai. Tiap pagi, itulah
tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. Karena lantai itu akan
menimbulkan debu, sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. Saya
sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. Juga menyenanginya -terutama saya
punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol
untuk mengamuflasekannya. Meski akan menghabiskan air lebih banyak, tapi bisa
mengurangi rasa malu.
Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini), apa pun dijual. Sawah warisan yang
hanya secuil, alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan, dan juga lemari satu-
satunya itu. Maka, pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal
lahir saya.
Di desa, orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. Yang selalu diingat
hanya hari dan pasarannya. Karena itu, bapak ingat saya lahir Selasa Legi. Tapi,
Selasa Legi yang tanggal berapa, bulan berapa, tidak ingat. Untuk apa diingat?
Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun? Bahwa orang itu ternyata bisa
diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. Yang biasa
diulangtahuni adalah orang mati. Pakai selamatan dan tahlilan. Kami hafal semua
kapan meninggalnya siapa. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena
berarti akan ada selamatan.
Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari
kelahirannya, itu dilakukan setiap 35 hari sekali. Misalnya, setiap Selasa Legi. Tapi,
keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. Kami keluarga santri.
Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai
sekarang), salatnya pakai doa kunut, wiridannya pakai tahlil, nyekar ke kuburan,
salat id tidak mau di lapangan. Namun, kami juga ikut Kejawen: Bersih desa,
wayangan Murwad Kolo. Anehnya, aliran tarikat kami Syatariyah, bukan
Naqsyabandiyah. Kalau bulan Syura, kami selamatan Rebo Wekasan, yang aslinya
milik aliran Syiah. Pada selamatan ini, kiai kami menaruh gentong (tempat air yang
besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. Ke dalamnya dimasukkan rajah -
kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet, entah apa bunyinya. Setelah kenduri,
*%&
kami antre minum airnya. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai
sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis. Itulah peringatan
meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein, putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah,
yang berarti cucu Rasulullah.
Lebih aneh lagi, aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi. Bahkan,
saya ingat, gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai
itu: Bulan bintang. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965, sepupu-sepupu
saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser.
Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah. “Lihat dia dari keluarga
Masyumi,” kata seorang tokoh. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan
Muhammadiyah. “Dia tahlil,” kata yang lain. Saya sendiri tidak peduli, saya ini orang
apa. Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. Lagi pula, kini,
suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. Perbedaan dua golongan itu sudah kian
cair.
Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. Yakni setelah Pangeran
Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. Para panglima perangnya melarikan
diri, antara lain ke timur, ke Banjarsari di selatan Ponorogo. Lalu beranak-pinak dan
ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung:
Takeran. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin.
Karena saya dari jalur wanita, ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. Ibu
harus ikut bapak saya. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu, tapi kemudian
kawin dengan ibu saya. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa, 6 km dari pusat
keluarga itu. Jadi keluarga tani, kemudian jatuh ke buruh tani.
Sampai tamat SMA, saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu
juga tidak pernah bertanya ke bapak. Hidup di desa, waktu itu, tidak ada
administrasi yang memerlukan tanggal lahir. Ketika sudah amat dewasa dan saya
bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan, jawabnya tegas: Selasa
Legi. Tapi, bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? “Waktu itu,” kata bapak saya
sambil berpikir keras, “ada hujan abu yang sangat hebat.” Maksudnya ketika
*%'
Gunung Kelud meletus. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100
km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan.
Tentu, saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. Bagi
saya, tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Saya putuskan sendiri
saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. Itulah tanggal lahir yang secara resmi
saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. Tanpa dukungan surat kenal lahir.
Tapi sudah diakui di banyak negara. Buktinya, saya tidak dianggap memalsukannya.
Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan
hanya itu. Bapak saya kemudian menyebut, ketika Gunung Kelud meletus, saya
sudah mulai bisa merangkak!
Kini, setelah ganti liver, kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. Badan
saya berumur 56 tahun, tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. Apakah harus
dijumlah lalu dibagi dua? Atau masing- masing diberi bobot dan nilai? Lalu, bobot
dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat
memengaruhi saya kalau ambil keputusan?
Untuk apa juga saya pikirkan. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya
jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. Untunglah, saya belum
pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. Ulang
tahun saya adalah Selasa Legi. Titik.
Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan
menjadi “keluarga besar Dahlan Iskan”. Dan, rasanya bisa. Sampai 1,5 bulan setelah
ganti hati ini, kondisi saya terus saja membaik. Semua parameter darah normal.
Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat.
Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat. Habis jalan jauh pun tidak
berkeringat. Kini, begitu habis makan, langsung berkeringat. Juga setelah sedikit
senam atau joging. Saya memang harus banyak senam, terutama yang bisa
membuat dada saya mekar lagi. Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata
dalam proses mengecil. Ini karena liver lama saya juga mengecil. Jadi tulang- tulang
iga ikut bergerak ke dalam, berusaha menyesuaikan dengan ruang yang
*%(
dilindunginya. Antara hati dan tulang iga, secara alamiah, memang tidak boleh ada
ruang kosong. Ketika hati mengecil, tulang iga menyesuaikannya.
Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. Tahunya ketika anak
wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan
transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan, “Hampir tidak ada kesulitan apa
pun”. Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil.
Akibatnya, ketika dokter mau “memasang” liver baru di ruang yang
ditinggalkan liver lama, ruangnya agak terasa kesempitan. Sehingga menaruhnya
jadi agak sulit. Sesak. Liver baru masih dalam ukuran normal, bukan? Itulah
sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa “bernafas” dengan
lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan
saya.
*%)
Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya
(Sebuah Penutup)
26 September 2007
ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin
itu karena saya kerja terlalu keras. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini:
Jangan kerja terus seperti itu. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan!
Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates, teman di Batam yang lahir di
Padang itu, saya jadi merasa bersalah. Ternyata, saya kurang pandai menjelaskan
bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras, tapi karena saya terkena virus
hepatitis B. Memang, setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian
kanker, sebaiknya tidak kerja keras lagi. Tapi, itu bukan berarti akan
menyembuhkan sakitnya, melainkan memperlambat saja perkembangannya.
Tentu memperlambat juga amat baik. Hanya, saya tidak memilih itu karena
saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. Saya memilih berumur
pendek tapi bermanfaat, daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak.
Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke teman- teman dengan istilah:
intensifikasi umur.
Tentu kalau masih ada pilihan lain, saya akan memilih yang terbaik. Misalnya,
ya berumur panjang, ya bermanfaat.
Tentu, saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini
banyak orang takut bekerja keras. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang
gigih.
Kalau saya akan dijadikan contoh jelek, jangan dikaitkan dengan kerja keras,
melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. Misalnya, jangan sampai terkena
virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan!
***
*&+
Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah
sakit di Tiongkok hebat. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya
bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya.
Kepada para dokter itu, saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat. Belajar
manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. Manajemen dan
pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita, secara umum, lebih baik. Terutama yang
swasta. Memang, belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang
lebih modern, tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura,
bahkan di Malaysia sekalipun. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap
itu. Ini karena, meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern, carry over
problems masih terbawa. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja
berubah.
Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha
Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya
menilai belum. Tapi, petugas menilai “sudah amat bersih”. Saya bisa memahami itu
karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya
sekalipun.
Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar
belakang ekonominya. Biasanya, saya hanya memberikan contoh dengan cara
mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. Lama-lama
standar kebersihannya berubah. Tapi, memang perlu waktu dan kesabaran.
Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan
semangat untuk majunya. Karena mereka sangat unggul di situ, saya yakin tidak
lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura, lebih
cepat daripada waktu yang kita perlukan.
Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya
rumah sakit swasta. Sampai sekarang, semua rumah sakit masih milik pemerintah.
Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada
dokter praktik di sana. Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit. *&*
***
Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya
itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya, itu sudah
meliputi semua pengeluaran. Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran
saya. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang.
Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun, saya akan jual kalau
harus melakukan transplantasi ini. Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu
sakit: Menjual apa pun, termasuk alat- alat tukang kayunya, dan satu-satunya.
Kalau waktu itu tidak menjual rumah, itu karena tidak akan ada orang yang mau
membeli rumah lantai tanah di pelosok desa.
Dari seluruh pengeluaran, yang terbanyak adalah untuk pendukungnya.
Misalnya, transportasi lokal, akomodasi, dan konsumsi saya sekeluarga, wira-wiri
saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok, dan sebagainya. Biaya itu juga sudah
termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005.
Jadi, biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan.
Misalnya, membatasi keluarga yang harus wira-wiri. Di Tiongkok juga jangan
tinggal di hotel, tapi cari apartemen murah saja. Itu pun sewa saja. Misalnya, sewa
enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan).
Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya. Naik
kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas
Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). Makan dengan masak
sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. Satu orang dan yang lain
tidak akan sama. Kalau semua biaya itu ditotal, untuk kasus saya ini, biaya
operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya.
***
Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh.
Tapi, juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. Imunisasi yang sekali
suntik Rp 70.000 memang mahal. Tapi, apa artinya dibanding yang harus saya
keluarkan ini?
Saya ingat kata kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati matian
bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. Waktu tua
*&"
menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak
yang gagal.
Kebetulan, saya tidak gagal. Dan lagi, saya kerja keras tidak semata-mata
untuk mencari kekayaan. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa
bermaksud kerja keras. Atau sekadar hobi. Mainannya ya kerja keras itu. Seperti
Pak Moh. Barmen, tokoh olahraga di Surabaya. Mainannya ya mengurus sepak bola
itu.
Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia dan
kekayaan hanya datang membuntutinya.
***
Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru, tapi juga dengan tanda
baru di kulit perut saya. Yakni, tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz),
bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. Boleh juga dibilang sayatan
dari satu titik di tengah ke tiga arah. Tapi, simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak
sempurna. Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun.
Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Jelek wujudnya, tetap mahal citranya.
Kini saya punya dua Mercy. Yang satu, yang di rumah, adalah Mercy seri 500
keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar. Satunya lagi “Mercy” di
kulit perut saya. Jelek, tidak tahu seri berapa, tapi kira-kira sama harganya.
(TAMAT)