))
Shao bergegas mengangkat kepala saya. Dia menahan tangis. Robert Lai juga
mengusap-usap matanya. Demikian juga istri saya.
Lalu Prof Shao menarik napas panjang. “Ya, sudah. Tidak bisa dicegah. Saya
akan izinkan. Tapi, obat yang saya siapkan nanti harus diminum,” katanya melemah.
Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata.
Besok paginya, dari rumah sakit saya langsung ke bandara. Saya pakai kursi
roda selama dalam perjalanan pulang. Dengan diungkapkannya data soal kadar
HBV-DNA saya, ternyata saya belum prima. Saya harus lebih hati-hati.
***
Kian hari kondisi saya kian baik. HBV-DNA saya juga menurun drastis.
Seminggu kemudian sudah menjadi 1,5 juta. Sebulan kemudian sudah normal.
Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Juga sudah
terhindar dari ancaman tiba- tiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya.
Apalagi, sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di
Singapura. Yakni, mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan
cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya.
Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan. Sakit saya sudah
terlewat parah. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu, buying-time. Tapi,
setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara
terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen. Termasuk
mempertimbangkan untuk transplantasi.
*++
Yang Pro dan Yang Anti-Transplan
Bertinju Sengit dalam Pikiran
15 September 2007
KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya, sebenarnya masih
ada jalan agar terhindar dari transplantasi. Juga terhindar dari potong-limpa.
Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari
sekali) itu tidak berhasil “memingsankan” virus hepatitis B saya, tapi belakangan
sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari. Agar virus yang tidak
mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu “tidur nyenyak” saja di dalam liver. “Bangun”-
nya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis.
Kalau toh obat itu juga tidak berhasil, masih ada obat lain yang lebih mahal.
Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama
obatnya). Obat tersebut harus disuntikkan tiap dua hari sekali selama sembilan
bulan. Harga obatnya saja, untuk sekali suntik, sekitar Rp 1,1 juta. Selain
Octreotide, masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya
selama sembilan bulan berturut-turut. Nama generiknya Thymalfasin atau
Thymosin Alpha-1. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali.
Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat
mengenai keampuhan obat- obat itu. Tapi, bagi pasien yang ingin sembuh dan
punya uang, pasti tergoda untuk mencobanya.
Sayang, saya tahunya sudah sangat terlambat. Baru dua tahun lalu saya
mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. Yang Anticavier saya ketahui dari
dokter di Singapura. Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao. Semua
saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. Dan bahkan ketika sirosis saya
sudah berkembang ke kanker. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Karena itu, meski telat, saya tetap memakai obat-obat tersebut. Setidaknya, bisa
membantu saya buying time. Mengolor waktu. Untuk memberikan kesempatan
*+*
bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar. Termasuk mulai
mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: transplantasi liver.
Waktu itu, kata “transplantasi” sebenarnya masih jauh dari pikiran. Masak
saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan
lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak
ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)?
Tapi, saya harus tetap rasional. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang
sangat berharga itu: otak. Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur
alternatif. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. Baik yang kejawen
maupun yang dibungkus religius. “Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ,” kata
teman saya.
Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya
bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. Termasuk sunatullah bahwa
kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis, dia akan punya kemungkinan terjangkit
hepatitis. Kalau sudah kena hepatitis, pasti akan mengarah ke sirosis. Dan kalau
sudah sirosis, pasti akan menjadi kanker.
Karena itu, kosa kata “transplan” sudah mulai masuk di bawah sadar. Meski
bentuknya masih pertanyaan “masak harus sampai transplan?”, tapi itu juga berarti
secara tidak sadar kata “transplan” sudah mulai masuk dalam proses internalisasi
ke pikiran saya. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai
pada kata akhir: siap transplan.
Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang “hanya”), transplantasi
masih bisa ditunda. Meski sirosis tidak bisa disembuhkan, tapi mungkin masih bisa
diperlambat.
Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang
“hanya”). Sebab, masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya, selain kemoterapi.
Yakni, dengan memotong bagian yang terkena kanker, di-RFA (radio frequency
ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization).
Masalahnya, liver saya sudah “dikeroyok” sirosis dan kanker, sehingga tidak
mudah untuk mengatasi kankernya. Misalnya, mau dipotong bagian yang ada
*+"
kankernya. Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya
mengeras. Permukaan liver yang mengeras itu, kalau dipotong, akan menyebabkan
pendarahan hebat yang bisa membunuh saya. Pendarahan di liver sangat tidak
mudah untuk dihentikan, sekalipun oleh dokter yang paling pintar.
Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. Sebab,
untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya, dokter harus memasukkan sejenis
metal berbentuk kail yang punya beberapa mata kail. Kail itu ditembuskan ke
dalam liver melalui perut. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata
kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya, sebelum masuk ke
sel kanker. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan.
Karena itu, diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode
TACE. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. Bedanya, obat kemonya
tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi, melainkan diinjeksikan langsung ke
sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui
pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral).
Dengan bantuan fluoroscopy, sejenis sinar rontgen, kateter itu lantas
didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih
dan sari makanan dari jantung) yang di hati.
Setelah obat kemonya menembus sasaran, dokter lantas memasukkan lagi
obat lain, melalui kateter yang sama, untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver
yang melewati sel kanker saya. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke sel-
sel kanker itu. Dengan begitu, diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan
tak lama kemudian mati.
Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. Itu sudah
termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas
sayatan yang di paha. Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang
karena khawatir luka sayatan itu terbuka, sehingga terjadi pendarahan. Kalau itu
terjadi, akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke
pembuluh darah besar di paha.
*+#
Jadi, kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker
kok masih dibilang “hanya”), transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di
atas.
Namun, persoalannya, akibat sirosis itu, bagian-bagian tubuh saya yang lain
ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. Bahkan,
kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. Kalau sampai
tahun lalu, yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan, empedu, dan limpa
saya. Kalau saya biarkan, barangkali ginjal, selaput perut, jantung, dan paru saya
juga segera rusak.
Limpa saya saja sudah membesar. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada
limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal
(terpental) masuk ke limpa.
Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. Lama-lama, kalau
pinggang saya kena bola atau kena sodok, limpa bisa pecah: mati. Tidak pecah pun,
limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. Padahal, darah putih
berfungsi, antara lain, menguburkan sel-sel darah merah yang mati. Sel darah
merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus “dikuburkan”.
Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara “memakan”-nya. Pekerjaan
mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa.
Tapi, karena limpa saya terus membesar, sel-sel darah putih yang baik pun
ikut dikubur oleh organ itu. Makanya, saat itu jumlah darah putih saya terus
menurun. Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. Jadi, ke mana
bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada
tubuh saya.
Karena darah putih yang sangat kurang itu, saya akan sangat gampang
terkena virus. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. Seharusnya kadar darah
putih saya minimal 200. Saat itu tinggal 60-an. Kalau turun 10 poin lagi, saya sudah
tak bisa bertahan dari infeksi. Padahal, saat itu, platelet saya juga terus menurun.
Sehingga, sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja:
*+$
dari mulut, hidung, telinga, bahkan dari lubang kemaluan. Semua itu gara-gara liver
yang sirosis.
Ada yang lebih berbahaya lagi. Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini,
darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises
esofagus). Akhirnya, dinding- dindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah.
Setiap saat bisa pecah. Misalnya, hanya karena terkena benda tajam seperti keripik
atau tulang ikan atau roti kering. Karena itu, saya pernah takut makan ikan. Takut
tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan, lalu melukai dan menusuk balon-
balon itu. Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil.
Jadi, meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan
berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis, proses
kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. Kecuali liver saya segera
baik. Dan, untuk itu, cuma ada satu jalan: transplantasi liver.
Maka, status kata “transplan” pun meningkat dalam pikiran saya. Dari
sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama. Lalu, bulatlah tekad
saya: ganti liver.
“Tapi, kalau gagal gimana?” tanya kubu yang anti-transplan di tim saya.
“Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal?” tambahnya.
Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur)
sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju
transplantasi. Kuat secara psikologis. Bukan secara rasional-teknis-medis.
Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam
setiap mengambil keputusan. Bahkan, saya sering merenungkan (yang sampai
sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: khusyuk itu
gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi,
mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai, ketika memulai
sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah
menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala
agamakah? Gejala psikologiskah?
*+%
Saya bukan ahli psikologi. Juga bukan ahli agama. Tapi, sudah pasti
pertimbangan yang lebih didominasi perasaan, saya kalahkan. Secara tidak formal,
saya memang membentuk dua tim. Satu yang punya pendapat jangan transplan.
Satunya lagi yang pro-transplan. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya
berlawanan.
Tim yang pro-transplan mengemukakan, memang transplantasi Cak Nur
gagal. Tapi, penyebabnya kan jelas: virus Citomegali. Virus yang munculnya hanya
dalam kasus transplantasi.
Tapi, bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih
parah daripada kondisi saya saat ditransplan. Artinya, mungkin telanjur sangat
parah. Kita tidak tahu pastinya. Dan “kubu anti- transplan” di tim saya juga tidak
tahu mengapa Cak Nur gagal.
“Pak Dahlan pun, kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta
(pembuluh darah balik yang utama di liver), mungkin juga akan lebih sulit,” kata
pro-transplan. Atau, kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak. Atau, ketika air sudah
memenuhi rongga perut (ascites). Atau, ketika membran selaput dada sudah kena
infeksi.
Tapi, kubu “anti-transplan” di tim saya masih punya alasan lain. “Katakanlah
transplantasinya berhasil. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi?” katanya
seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang pro-
transplan.
Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit
virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu
jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi?
“Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. Seperti kata
dokter di Singapura itu. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun
lagi? Dengan obat-obat yang kian maju?” tanya tim yang anti-transplan.
Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan. Lalu,
ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: sama-sama bisa bertahan lima tahun,
mengapa harus berjudi dengan transplan?
*+&
Sebagai dewan juri yang harus adil, saya melihat tim pro-transplan
sempoyongan. Sampai mau terlempar dari kanvas. Tapi, tali ring
menyelamatkannya: Tapi, apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima
tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk? Harus selalu dikemo, di-
TACE, keluar-masuk rumah sakit, tidak bisa makan enak, tidak bisa bekerja dengan
baik? “Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu?”
serang tim pro-transplan tiba- tiba.
Kedua tim masih akan terus bertinju. Tapi, bel sudah menunjukkan bahwa
waktu sudah habis. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO.
“Saya mantap dengan transplan,” kata saya.
Semua diam. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan.
“Memang peran pasien sendiri amat menentukan. Kalau kita paksakan transplan
tapi pasien tidak mantap, juga tidak boleh. Kemantapan tekad pasien akan menjadi
kunci suksesnya. Begitu pasien ragu-ragu, kita sudah tiba pada kesimpulan
transplantasi akan gagal,” katanya.
“Ya. Saya mantap transplan. Dengan segala risikonya,” kata saya.
*+'
Ingin Naikkan Albumin, Berburu
Banyak Ikan Kutuk
16 September 2007
SETELAH hati mantap melakukan transplantasi, barulah saya menentukan
langkah. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. Kehebatan dokter, kesediaan
donor, dan ketepatan rumah sakitnya. Dari situ baru kami tentukan tempatnya.
Tiga faktor itu saya sebut sebagai “persyaratan mutlak”. Lalu masih ada sejumlah
“persyaratan keinginan”. Misalnya, kedekatan dengan Indonesia, kedekatan
budaya, dan kedekatan bahasa.
Saya sudah terbiasa, dalam setiap akan mengambil keputusan, menjalankan
satu proses yang disebut problem solving. Satu proses untuk melakukan
pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. Lalu mengalikan bobot dan nilai.
Hasil perkalian tertinggi, itulah pilihan terbaik. Saya pernah disekolahkan untuk itu
di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih
jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO.
Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. Saya
ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos
dengan wartawan lain. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan ’10 rukun iman’
atau ’Ten Commandments” yang saya tentukan. Itulah salah satu sumbangan ilmu
manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. Tentu hal ini tidak diajarkan di
fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Mungkin tidak akan diakui sebagai
salah satu teori jurnalistik, tapi saya tidak peduli.
Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving
atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. Maka, tim
menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia, Amerika, Jepang,
Singapura, Belanda, dan Tiongkok. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama.
Kita pelajari track record-nya. Juga, terutama, umurnya. Saya ingin dokter yang
*+(
berpengalaman, tapi masih muda. Tangan anak muda, menurut logika saya, akan
lebih firm ketika memegang pisau bedah. Saya memang sangat pro anak muda. Saya
percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang.
Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. Umurnya masih 52 tahun dan
badannya tinggi tegap. Penampilannya meyakinkan. Urat-uratnya kukuh,
mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik.
Pengalamannya juga luar biasa. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500
kali. Bahkan, sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak, rekor
transplantasi tanpa transfusi darah, rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3
tahun), transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). Dia memperoleh pendidikan
khusus untuk ini di Jepang. Boleh dikata, dialah dokter Tiongkok yang paling jago di
bidang transplantasi liver.
Tapi, masih ada satu yang meragukan. Padahal, yang saya ragukan ini masuk
dalam ’persyaratan mutlak’. Artinya, mau tidak mau harus dipenuhi. Kalau hanya
masuk ’persyaratan keinginan’, barangkali bisa diabaikan. Apa itu? Tempat! Apakah
di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana
terkenal joroknya?
Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada.
Yakni, di satu kota di belahan utara Tiongkok. Untuk Indonesia kota ini tidak
populer, tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. Berkali-kali saya ke kota
itu. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu.
Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. Khususnya tower yang
baru. Sangat bersih dan terawat. Alat-alatnya juga amat modern. Dan, reputasinya
yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Saya sendiri
pun lantas mengunjunginya. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama.
Hati saya mantap sekali.
Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah
dia? Inilah tugas Robert berikutnya. Dan, dia selalu berhasil menjalankan misinya.
Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan
*+)
transplantasi liver. Saya mengenal baik kotanya, mengenal baik budayanya, dan
sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya.
Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa
Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat
terbesarnya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa
sedikit-sedikit berbahasa Mandarin.
Memang, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari
negara-negara Arab, bisa saja mempekerjakan juru bahasa. Namun, tidak akan
semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. Bahkan, karena hampir selalu
berbahasa Mandarin, saya sering tidak dianggap orang asing. Apalagi sosok saya
yang sosok Asia. Bahwa kulit saya agak hitam, banyak juga orang dari wilayah
selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya.
Robert juga langsung memesan kamar terbaik, yang ada ruang tamunya,
dapurnya, saluran internet- nya. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan
internet. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun, membeli mobil,
mencari sopir, pembantu rumah tangga, dan juru masak. Dia tahu belum tentu
transplantasi bisa dilakukan segera. Problem transplantasi adalah di kesediaan
donor. Masa menunggu tidak bisa ditentukan.
Keluarga saya, dan juga Robert, tinggal di apartemen. Saya tinggal di rumah
sakit. Istri saya tidur di ruang tamu. Untuk membunuh waktu saya memutuskan
meneruskan belajar bahasa Mandarin. Dua kali sehari. Pagi 2 jam, sore 2 jam. Guo
Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP
setempat.
Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. Lalu dia sumpek sendiri
membayangkan sulitnya. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD
yang dia bawa. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di
Makkah. Yakni, ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam
salat tarawih di Masjidilharam. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di
Makkah saat akhir Ramadan.
**+
Kalau akhir pekan, saya pamit ke kota lain. Saya tahu tidak ada operasi pada
Sabtu dan Minggu. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. Saya
boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan.
Maksudnya, kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya, tiba-tiba ada donor), saya
bisa kembali segera.
Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. Karena itu, saya
sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di
dekat jantung. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan, sudah
lebih siap.
Suatu saat saya ke Kota Dalian, satu jam penerbangan dari kota ini. Di salah
satu plaza di sana, ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. Kita
bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. Saya lupa akan
selang infus di lengan saya. Saya main squash cukup lama. Keesokan harinya lengan
saya sakit sekali. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng
sekali.
Suatu malam saya tidak bisa tidur. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar
saya berteriak-teriak sepanjang malam. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah
kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya?
Paginya dia berteriak-teriak lagi. Saya mencoba menengoknya. Tahulah saya
bahwa dia masih diikat di ranjang. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. Ternyata
dia berontak karena ada janji, pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas. Tapi, ternyata
tidak. Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus
diikat. Siangnya, saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. Ini saya ketahui
setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab. Dia memang tidak bisa
berbahasa Inggris. Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu
waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai.
Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya, tapi tidak diizinkan. Yang
tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. Mungkin untuk menghemat
pulsa, mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat
dia.
***
Ketika penunggunya lagi pergi, dan melihat saya bisa bicara Arab, dia minta
tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga.
Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh
penunggunya. Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi
nomor telepon.
Tapi, angka-angka itu angka Arab. Dia mendiktekannya ke suster dengan
bahasa Inggris yang amat tidak jelas. Tapi, setiap kali nomor itu dihubungi selalu
gagal nyambung. Dia mulai kesal dan uring- uringan. Akhirnya saya rayu dia untuk
memberikan cuilan kertas itu. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu
digit. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. Suster tidak
tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. Saya menyarankan agar menambah
“nol” di pijitan terakhir. Titik, dalam huruf Arab, berarti nol. Ternyata nyambung.
Luar biasa senangnya.
Sambil menunggu dan menunggu, saya terus menjaga kondisi. Badan saya
harus sehat. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. Para suster
bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit. “Saya memang tidak sakit. Saya
hanya perlu transplantasi liver,” gurau saya kepada mereka.
Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. Karena flu saja bisa
mengurangi potensi kesuksesan transplantasi. Saya juga harus menjaga agar
protein di darah saya, terutama albumin, tidak terus merosot. Untuk menambah
protein banyak sumbernya. Mulai daging, putih telur sampai ikan. Tapi,
meningkatkan albumin luar biasa sulitnya.
Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan
apa saja yang bisa menaikkan albumin. Tidak ketemu. Di Tiongkok, yang biasa
menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin, juga
tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. Satu-satunya sumber
albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. Di Kalimantan disebut
ikan gabus. Dalam bahasa Inggris dikatakan “ikan kepala ular”, karena bentuknya
seperti ular yang amat pendek.
**"
Saya menghubungi guru besar Unibraw, Malang, Prof Eddy Suprayitno. Satu-
satunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. Setelah
penjelasannya meyakinkan, mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap
hari. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. Entah sudah
berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk.
Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan
penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. Yang saya tahu
kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana, sebagaimana umumnya guru besar di
Indonesia.
Di Tiongkok, peneliti seperti itu jadi kaya raya. Satu orang yang meneliti satu
jenis tanaman liar yang disebut ’tear drop’ (di desa saya dulu disebut manikan,
sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. Sebab,
buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. Seorang peneliti padi yang
dulu hidup di desa selama 20 tahun, kini menjadi pemegang saham perusahaan
pembibitan dengan aset triliunan rupiah.
Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. Jadi amat berharga. Tapi,
karena saya akan tinggal lama di Tiongkok, tentu saya akan kesulitan membawa
kutuk ke sana. Lalu muncul di pikiran, masak tidak ada kutuk di Tiongkok. Maka
saya mencari kutuk di sana. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk
mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang, di Nanjing, di Wuhan, di Harbin, di
Dalian, di Qingdao, dan seterusnya. Tapi, saya tidak menemukannya.
Di Nanchang, teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak
ikan kutuk. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. Ketika
saya ke Nanchang, dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan.
Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. Bapak teman
saya, dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti, menjelaskan panjang lebar
bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu.
Saya berterima kasih padanya. Saya mengatakan “benar”, itulah ikan yang
saya cari. Tapi, sebenarnya bukan. Bentuknya memang persis kutuk, tapi bukan
kutuk. “Kutuk Tiongkok” ini lebih hitam. Karena itu, di sana disebut “hei yu” -”hei”
**#
artinya hitam, “yu” artinya, Anda bisa menduga sendiri. Kandungan daging “hei yu”
tidak sama dengan kutuk di Jawa.
Di Kalimantan lebih lengkap. Kutuk, yang di sana disebut ikan gabus, sangat
banyak. “Hei yu” juga banyak. “Hei yu”, yang kalau di Kalimantan disebut ikan
tomang, juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. Tapi,
dagingnya hambar. “Hei yu” di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan
asin. Sedangkan ikan gabus yang manis, enak sekali dimasak bumbu bali, dimakan
dengan nasi kuning.
Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. Padahal,
mempertahankan albumin menjadi amat penting. Dalam keadaan normal, liver bisa
memproduksi albumin. Tapi, karena liver saya rusak, sungguh sulit mengatasinya.
Akhirnya, agar badan tetap sehat, saya memutuskan untuk selalu makan banyak.
Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. Badan saya harus sehat menghadapi
operasi besar. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk
disembelih: Harus sehat dan gemuk.
**$
Datang Tawaran Liver Hidup dari
Orang Muda asal Bandung
17 September 2007
SAYA hampir kehilangan momentum. Kedatangan saya untuk antre
transplantasi liver ini agak terlambat, meski belum fatal. Sebulan setelah saya
menunggu, keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan
donor. Tapi, mestinya, saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah
mendaftar sebelum itu.
Pasien asing banyak yang gelisah. Dulu-dulunya, waktu menunggu sering
tidak sampai sebulan. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. Apalagi di
lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada, sebagai persiapan
transplantasi yang sudah dekat. Tapi, ternyata terhalang aturan baru itu.
Saya memutuskan sabar menunggu. Tapi, setelah dua bulan tidak juga ada
tanda-tanda akan mendapat donor, saya ingin pulang dulu dua hari. Kali ini untuk
menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. Saya merasa punya tanggung jawab
yang belum saya penuhi.
Sebagaimana juga di Kaltim, saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar.
Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya, mengingat krisis
listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Krisis listrik di Kalbar lebih
parah daripada di Kaltim. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN
menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak.
Untuk menunjukkan keseriusan, saya langsung membeli tanah 20 hektare di
lokasi yang paling cocok untuk itu. Juga melakukan perundingan dan
penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok.
Namun, beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk
pembangunan PLTU itu, tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya
bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat.
**%
Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama
sekali. Dan lagi, saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. Saya hanya ingin
ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar, sebagai awal dari membangun Kalbar lebih
lanjut. Provinsi itu sangat kasihan. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek
besar. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik.
Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. Tapi,
pemenang tendernya, sampai tulisan ini dibuat, tidak ada tanda-tanda fisik mulai
membangun PLTU. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. Jelek sekali
nasib Kalbar. Juga nasib (tanah) saya. Memang, suatu ketika, kira-kira dua tahun
lalu, peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut.
Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. Dia juga
menanyakan apakah tanah kami akan dijual. Tentu saja tidak. Kami bukan spekulan
atau jual beli tanah. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU.
Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda
konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. Tapi, setidaknya saya bertanggung jawab
untuk mewujudkan sesuatu di sana. Terutama sebagai ungkapan terima kasih
kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar.
Karena itu, saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan
untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. Yakni, mengolah hasil pertanian
rakyat yang selama ini harganya selalu hancur- hancuran di musim panen. Proyek
itu harus berjalan. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu
yang mulai bekerja di proyek ini. Saya harus datang ke sana untuk membuat
keputusan yang terpenting.
Saat saya menyelesaikan urukan Kalbar itulah, sebenarnya ada donor yang
potensial. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke
Indonesia. Tapi, saya sudah di atas pesawat. Tapi, beruntung bahwa ternyata donor
potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya.
Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. Orang-orang Pakistan mulai
mencari jalan sendiri. Yakni, mendatangkan donor dari negaranya. Yakni, donor
orang hidup. Mereka mencari salah satu keluarganya, atau sukarelawan, yang mau
**&
menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. Ini mungkin
karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh
utuh lagi.
Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah, lalu livernya
dipotong separo. Pada saat yang sama, si calon penerima (resipien) liver juga
dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. Setelah itu,
potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si
penerima.
Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver
atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan
cepat. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. Karena itu, sekali orang kehilangan
ginjal, ya sampai meninggal, ginjalnya tetap satu. Beda dengan donor liver. Hari ini
separo livernya didonorkan, besok pagi sudah tumbuh lagi. Dan dalam tempo tiga
minggu sampai maksimal sebulan, liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali.
Dengan begitu, seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah
sakit. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi, dia sudah boleh latihan
berdiri dan berjalan. Seminggu berikutnya dia sudah bisa beraktivitas lagi. Tapi,
memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di
perutnya masih basah.
Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini
pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan, potongan
itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal. Karena
itu, di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas, livernya
dibagi dua. Jadi, satu liver untuk dua pasien. Di Tiongkok, umumnya masih satu
liver untuk satu pasien. Termasuk saya.
Menjelang transplantasi, Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu
untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. Dia
menjadi amat yakin itu juga akan berhasil. Lalu mengajak salah satu pendonor ke
kamar saya.
**'
“Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu,” kata Robert sambil
menepuk bahu anak muda Pakistan itu. “Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya
ajak ke sini,” tambahnya.
Anak itu sendiri, yang bahasa Inggrisnya bagus sekali, lantas menceritakan
mengapa mau melakukan itu, mengapa berani, dan bagaimana kondisinya sampai
saat itu. “Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm, sekarang sudah menjadi 16
cm lagi. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula,” katanya. Lalu dia
menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat
pembedahan.
Bagaimana dengan penerima livernya? “Bapak itu juga mulai baik. Liver saya
yang di sana, yang semula hanya 11 cm, hari ini sudah 17 cm,” katanya sambil
menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali, baik yang
masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain.
Saya amat yakin dengan jalan itu. Saya juga memutuskan akan
melakukannya. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. Saya
harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan
waktu. Kalau saya menunggu terlalu lama, bisa jadi fungsi liver saya akan keburu
memburuk. Dan, karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya,
sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase)
ke mana-mana. Saya butuh melangkah cepat.
Mulailah saya melihat ke istri, anak-anak, dan keponakan-keponakan.
Ternyata, tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. Beberapa
teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok
darahnya. Tapi, jalan tidak buntu. Tanpa kami cari, seseorang dari Jakarta
menghubungi kami. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung
yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. Darah maupun rhesus-nya cocok
sekali dengan saya. Umurnya masih 32 tahun. Badannya yang tinggi tegap sangat
sehat.
Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali
menyelamatkan nyawa saya. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya
**(
sendiri? Dia bilang, dia sudah menghitung risikonya. Mengapa dia begitu berani?
Karena, dia bilang, dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat
menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan.
Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. Semula
kami memperkirakan harus membantu kehidupannya. Ternyata, dia cukup berada.
Rumahnya baru, tidak kecil, di kompleks perumahan yang cukup mewah. Mobilnya
juga masih gres dari merek yang tidak murah. Handphone- nya pun Communicator
seri terbaru. Anak keduanya baru bisa berjalan. Sikap istrinya, di luar dugaan:
Sangat mendukung keputusan suaminya.
Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya
yang mulia itu. Tapi, saya sendiri juga masih berpikir, haruskah sampai
mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan
risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan
transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati?
Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati. Saya punya filsafat tersendiri
dalam menyikapi umur. Yakni, filsafat “intensifikasi umur”. Umur pendek tidak apa-
apa asal penggunaannya sangat intensif. Sikap ini muncul, barangkali karena saya
melihat kok ibu saya, kakak saya, paman-paman saya berumur pendek. Saya kurang
melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali.
Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan
mengorbankan orang lain. Terutama Robert Lai. “Dia tidak akan jadi korban. Dia
juga akan memiliki kembali livernya secara utuh,” kata Robert. Saya masih
keberatan, tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu
untuk siap berangkat ke Tiongkok. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun
harus berangkat.
Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah,
ada kabar bahwa saya mendapatkan donor. Transplantasi pun dilakukan dengan
cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati
baru made in 1985-an secara utuh.
**)
Istri Khawatir Saya Meninggal
dengan Wajah Menghitam
18 September 2007
SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. Padahal,
dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. Juga bengkak
di badan. Menyembunyikan membesarnya payudara. Yang tak kalah penting, saya
berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya.
“Empat tahun saya bekerja dengan Anda. Sedikit pun saya tidak merasakan
bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya,” ujar Hadi Ismoyo, manajer di
perusahaan minyak milik Pemda Jatim. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga
saya harus banyak belajar, diskusi, rapat, dan negosiasi.
“Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak
kegiatan masyarakat,” tulis Lusye, pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. “Kalau tahu
seperti ini, saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini,” ujar
Gunawan, direktur di perusahaan minyak kami.
Ya, saya memang berhasil menyembunyikan semuanya. Tapi, saya
sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. Kalau ada yang bertanya tentang
penyakit saya, selalu saya jawab apa adanya. Cuma, memang tidak banyak yang
bertanya. Kalau ada yang bertanya pun, seperti para manajer di Perusda PT PWU
Jatim, jawaban saya jujur, tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan.
Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan, itulah kuncinya.
Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU, saya
jelaskan semua penyakit saya. Juga bahaya- bahayanya. Mereka memang ngeri
mendengarnya, tapi juga tertawa-tawa. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti
biasa. Yang harus dimarahi, ya dimarahi. Yang harus dipuji, ya dipuji. Tetap saja
persoalan rumit-rumit, harus dipecahkan. Padahal, persoalan Perusda tidak hanya
soal bisnis, tapi juga politis.
*"+
Tapi, sebenarnya, saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah.
Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. Terutama di dahi
dan sekitar mata. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. Saya
akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. Tapi, bagaimana caranya?
Atau pakai make up saja. Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan
metroseksual?
Tak pelak lagi, banyak orang yang mulai rasan-rasan, menggosipkan wajah
saya. Gosip yang tidak menyenangkan. Untunglah, saya sudah sering digosipkan
sehingga sudah agak kebal. Tapi, ini gosip yang benar. Dan, memprihatinkan. Gosip
itu bukan lagi masih menyangkut fisik, tapi sudah masuk ke tataran psikis.
Terutama psikis istri saya. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang
prinsip agama.
Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. Lalu memberikan
komentar yang sudah sering saya dengar itu. Ada nada sedih ketika mengucapkan
itu. Sedih bercampur perasaan malu. Karena itu, kadang dia hanya memperhatikan
wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. Pandangannya penuh
keprihatinan. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. Pertama, khawatir akan
kesehatan saya. Kedua, merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan
wajah yang menghitam.
Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan
wajah yang menghitam, tandanya tidak diterima oleh Tuhan. Tuhan murka
padanya. Kalau sampai itu terjadi pada saya, alangkah malunya istri saya. Apalagi
dia aktif di kegiatan keagamaan. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai
Tuhan. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. Dosa sebagai lelaki, dosa
sebagai atasan yang kejam, dosa sebagai pribadi yang sombong, dosa sebagai suami
yang amat sibuk, dosa orang kaya yang pelit, dan tentu masih banyak sekali sisi
negatif yang bisa dihubung- hubungkan.
Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan
wajah menghitam. Ada yang menilai, itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai
Tuhan. Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. Yakni, dosa karena dia
*"*
telah menyekulerkan Islam. Yakni, ketika memelopori pembaharuan pemikiran
dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. Sampai-sampai disebutkan Cak
Nur lagi mendirikan neo-Islam. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur
tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad.
Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. Saya bukan intelektual. Bukan
budayawan. Bukan sarjana. Bukan ahli agama. Saya memang pernah mau didapuk
jadi kiai di pesantren saya, tapi saya menolak. Ini karena saya sadar bahwa saya
turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu. Kebetulan yang dari jalur
laki-laki masih kanak-kanak. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami
kehilangan dua generasi sekaligus. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara,
paman- paman ibu saya), dan anak-anak mereka yang sudah dewasa, dibunuh PKI
dalam peristiwa Madiun, pada 1948. Tapi, saya harus tahu diri bahwa kalau dia
sudah dewasa, dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu.
Saya lantas memilih ’uzlah’ -menyingkir, menjauh, dan merenungkan masa
depan. Bukan karena ngambek, tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti
yang dicontohkan bapak saya. Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu
kelak, yang mungkin tidak kalah besarnya. Apalagi saya juga baru gagal dalam
pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung,
kalah dengan Yusuf Rahimi, tokoh dari Ambon.
Saya mengambil kesimpulan, tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi
politisi. Karena itu, saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama
sekali.
Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an.
Ketika Pak Eric Samola, direktur utama Jawa Pos saat itu, jatuh sakit, saya tidak
mau menggantikannya sebagai Dirut. Padahal, sakitnya beliau amat berat sehingga
tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. Beliau terkena
stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname
bertahun-tahun.
Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama, tanpa
menyandang jabatannya. Saya tetap direktur saja. Karena hal itu sudah
*""
berlangsung tiga tahun, lantas muncul kesulitan teknis. Banyak dokumen bank
yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan. Tidak bisa hanya direktur
seperti saya waktu itu. Tapi, saya tetap tidak mau jadi Dirut. Jangan sampai saya
minta jadi Dirut. Apalagi, sampai harus dengan cara sikut sana-sini.
Bahwa ada kesulitan di bank, tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali
tidak lazim. Inilah gunanya ilmu mantiq (logika), pikir saya. Saya ciptakan sendiri
jabatan baru, meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). Agar saya
bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur, tapi saya ini CEO. “CEO
yang tidak ada SK dan legal formalnya. He he...” kata saya dalam hati. Tapi, bank
percaya. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil
keputusan. Maka lahirlah “jabatan CEO”.
Baru setelah lima tahun lebih, setelah beliau sendiri yang minta, saya mau
jadi Dirut. Sebutan CEO telanjur melekat. Lalu keterusan sampai sekarang. Bahkan,
saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan ’jabatan’) CEO lebih fleksibel
lagi di grup yang saya pimpin. Bisa saja Dirut sebagai CEO, direktur sebagai CEO
(Dirutnya bukan CEO), bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur
bukan CEO). Lebh dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. Meski saya bukan
direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi
Wonoatmodjo), saya yang tetap jadi CEO. ’Chairman yang CEO’.
Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO. Banyak hal sudah
harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. Apalagi Ratna Dewi juga amat
mampu. Sama dengan saya. Setidaknya sama- sama hanya tamatan SMA. Dia SMA
di kota Surabaya (Petra), saya SMA di Desa Takeran, Magetan (aliyah).
Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. Pernah ada tamu
dari India yang ingin bertemu dengannya. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat
direktur keuangan. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur
keuangan keturunan India. Maklum namanya Ratna Dewi. “Kami tidak menyangka
kalau dia seorang Tionghoa,” kata tamu itu sambil tertawa ngakak. Kami sendiri
tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi, sehingga kalau ada tamu yang
menanyakan, “Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi”, staf-staf kami sering
*"#
bengong. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. Bukan “Bu Wenny”, tapi “Cik
Wenny”.
Gosip bahwa “saya segera meninggal dengan wajah hitam” juga beredar di
kalangan pesantren saya sendiri. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena
kurang taat beragama. Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur.
Terutama karena saya ’uzlah’, lari dari tanggung jawab menjadi kiai. Mereka tidak
tahu kalau ’uzlah’ itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya.
Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. Padahal, saya dan
Cak Nur jauh sekali derajatnya. Cak Nur seorang intelektual, doktor lulusan
Chicago, ahli agama, bisa banyak bahasa, termasuk Prancis dan Parsi, Inggris, dan
Arab. Saya hanya seperti itu tadi. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk
menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh.
Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama
sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah.
*"$
Prihatin atas Keprihatinan terhadap
Wajah Hitam Saya
19 September 2007
“SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam,” kata saya kepada
istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa
malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya
memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu
perkumpulan yang amat besar dan aktif. “Saya nanti akan seperti Cak Nur,” tambah
saya.
Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang
Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan
Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran
Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam.
Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat
perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya
perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang
menilai Cak Nur seperti itu.
Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa “wajah hitam” Cak Nur sebenarnya
tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi
murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan
Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering
mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah
saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja.
Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah
memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis.
Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu,
yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker.
*"%
Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah.
Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah.
Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya
wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara
yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa
siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan.
Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata
juga menjadi kekuning- kuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak
berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu
genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak
tangan.
Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai
tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si
pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain - misalnya, karena terlalu larisnya.
Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi khotbahnya ya hanya yang
diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terus-
menerus.
Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong.
Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah
membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai
komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun,
bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya
putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat
bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing.
Orang antre untuk menyaksikannya.
Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri
komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah
mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh
Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam
*"&
dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya?
Wallahu a’lam.
Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis.
Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin
memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu,
apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian
terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas?
Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan
antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat
ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke
ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan
mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun.
Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah
mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan.
Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri
kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian.
Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah
ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah
dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh
oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat?
Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus
untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan
wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan
siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu
sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya
(perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana
membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika
masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya
meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah
tersenyum. *"'
Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima
penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang.
Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal
dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia
ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan
tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya
adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi,
kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran.
Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah
penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja
bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang
benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terus- menerus
dikampanyekan.
Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya
Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru
lagi. Dulu kita masih meraba-raba “abad apa gerangan yang akan menggantikan
abad informasi?”. Kita pernah mengalami berturut-turut, “zaman batu”, “zaman
besi”, “zaman cocok tanam”, “zaman industri”, “zaman teknologi”, dan “zaman
informasi”. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman
baru yang akan kita masuki adalah “zaman biologi”.
Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan.
Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi
seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih
lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan
ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai
pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal
dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar.
Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak
perlu sakit. Sehat terus menerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun
*"(
barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan
kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran.
Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya
berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1
jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat
raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan
lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita
bayangkan.
Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran
agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan
bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. “Akan” di situ tidak lama
lagi. Kata “akan” mungkin kurang tepat. Yang tepat “segera”.
Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai
Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti.
Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari
lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian
Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya.
Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci,
amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah
mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi
ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu.
Cerita itu sama melekatnya dengan istilah “memanjatkan doa” yang sering
kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan
apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi
seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e-mail, dan SMS ini kita masih
mengirim doa dengan menggunakan teknik “memanjat”. Alangkah lambatnya doa
itu akan sampai.
Tentu kata “memanjat” hanya simboliasi atau penyastraan. Dan lagi, Tuhan
toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan, yang di-e-
mail kan, atau yang di compress kan seperti yang dilakukan golongan tasawuf
*")
Shatariyah. Tapi, penggunaan term “panjat” juga mencerminkan ketertinggalan kita
dalam menggunakan teknologi yang tersedia. Pak Nuh, mantan rektor ITS yang kini
menteri informasi, bisa malu.
Transplantasi Berhasil, Istri Gembira
karena Wajah Berubah
20 September 2007
KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto
itu akan dimuat di edisi buku), setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. Orang
di desa saya akan langsung mengatakan, “Pasti ini karena disantet”. Begitu jugalah
dulu penilaian terhadap ibu saya. Juga terhadap kakak saya.
Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti
ketika menyantet saya, si penyantet membeli hati sapi dulu. Lalu memanggangnya.
Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Karena maraknya pandangan
santet di masyarakat kita, maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan
rasionalitasnya.
Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan
sempit. Yang suka marah- marah, termasuk di mimbar Jumat. Kalangan ini, kalau
melihat hati seperti itu, akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka
padanya. Bahkan, bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa
Arab ’sadat qulbuha’ (sudah keras hatinya), agar mirip dengan ayat Quran yang
sangat terkenal, “... fasadat qulubuhum”.
Kalangan ini sudah kritis lagi, karena emosi lebih besar daripada rasio.
Bahkan, lupa bahwa kata dalam bahasa Arab ’qalb’ (kalbu) artinya bukan hati -
dalam pengertian liver. Liver bahasa Arabnya ’kabid’. Lupa bahwa ’qalb’ itu artinya
jantung. Ini memang agak kacau. Direktur Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi
*#+
(Udi), orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Group Jawa Pos,
pernah saya Tanya arti ’qalb’. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab
saya. Begitu saya tanya, Udi spontan menjawab: qalb artinya hati!
Lantas saya tanya lagi. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung?
Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan, dalam bahasa Mandarin disebut
xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya.
“Saya tadi salah. Memang qalb itu artinya jantung. Sedang liver adalah......” kata Udi
yang juga sastrawan itu. Bayangkan, Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius
oleh sesuatu yang salah, tapi sudah memasyarakat.
Memang, kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu
menerjemahkan kata ’liver’ (bahasa Inggris) menjadi ’hati’ dalam bahasa Indonesia?
Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi ’hati’.
Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. Kalau diubah, nanti bisa banyak sekali
konsekuensinya. Misalnya kata ’patah hati’ harus diubah menjadi ’patah liver’. Atau
’patah jantung’ (broken heart).
Jadi, sebaiknya, urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan
keyakinan keagamaan, apalagi ketakhayulan. Kalau toh dikaitkan, harus dalam
rangka dzikir, bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa
cerdasnya. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyak-
banyaknya. Padahal, orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja
otaknya. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. Kita tidak boleh
memubazirkan rezeki dari-Nya itu. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke
doktrin, kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu.
Maka, kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan
transplantasi liver ini, antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. Dia
tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan
wajah menghitam.
Memang setelah 1,5 bulan transplantasi, wajah saya yang sudah dua tahun
menghitam, kini kembali ... hitam. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya.
Bukan hitam karena sirosis. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti
*#*
hitamnya kereta api (duile!), meski hitam banyak yang antre. Imbuhan kata terakhir
itu bukan asli ciptaan saya. Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam
kongres para pemilik kulit keruh, untuk sedikit mengangkat derajat mereka.
Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. Meski begitu, saya masih sering
memijit-mijitnya. Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun
terakhir, setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa
cepat kembali. Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat, bukan lagi dekoknya cepat
kembali, bahkan tidak bisa dekok sama sekali. Dulu, setiap memijat kaki, selalu
berharap ada mukjizat atau keajaiban. Tapi, setiap kali saya memijit kaki, setiap itu
pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific
ini.
Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya:
jangan-jangan bengkak lagi. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. Tapi, pada
keadaan ’tidak membenci kaus kaki’ itu, justru saya tidak terlalu memerlukannya.
Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung.
Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya.
Masih tetap besar, tapi sudah mulai mengencang. Dokter bilang, lama-lama juga
akan kembali normal. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih
senang dengan payudara saya yang asli. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan
payudara seperti gadis yang menginjak remaja.
Limpa saya, yang meski sudah dipotong sepertiga, tapi masih dua kali lipat
lebih besar dari limpa asli, lama-lama juga akan kembali normal. Demikian juga
saluran pencernakan yang telanjur ’dilaminating’. Tidak perlu lagi dilaminating
kedua atau ketiga.
Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya, seorang
teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin, Sumsel, sana: “Apakah
bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal?” tulisnya di SMS. “Untung, dulu
tidak jadi minta dikembalikan. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya
ke dekat payudara,” tambahnya.
*#"
Saya makin sembuh, suasana pengajian di rumah juga lebih ceria. Berbeda
dengan saat para karyawan berkumpul untuk berdoa di rumah menjelang saya
operasi. Saat itu suasananya murung. Minggu lalu diadakan acara pengajian dan
hafalan Alquran sehari penuh hingga tarawih. Para hafidz (penghafal) Alquran di
Surabaya memang aktif berkumpul sebulan sekali di tempat berpindah- pindah.
Tiap tiga bulan sekali di rumah saya
Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. Dulu, begitu tidak pastinya
penyembuhan sakit saya, saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang.
Bahkan, tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat.
Kecuali yang amat penting.
Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang
diucapkan Cak Nur. Yakni, ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana
berislam yang baik dan enak. “Bekerjalah yang sungguh-sungguh,” kata Cak Nur.
Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). Di akhir ayat
yang mengisahkan soal ini, tertulis “Bekerjalah, wahai keluarga Daud, sebagai
tanda syukur kepada-Ku”. Bersyukur dengan cara bekerja keras. Itulah juga yang
akan saya tiru. Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan
meneruskan kerja keras. Apalagi, seperti dikatakan Cak Nur, bekerja adalah
tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar
(minta ampun).
Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. Juga sudah sering
mengucapkan istighfar. Tinggal, begitu sembuh, kerja keras lagi.
*##
Liver Ganti, Khawatir Berubah Tak
Bisa Menulis Baik
21 September 2007
KARENA yang diganti ini adalah hati, apakah perasaan saya tidak berubah?
Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. Sejak sebelum dilakukan
transplan sampai sesudahnya. Gara-garanya, literatur yang mengatakan bahwa
banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan.
Tim saya juga mengatakan begitu. Ada yang menerima informasi bahwa
kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. Liong Pangkiey, pemilik
pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu, kirim SMS bahwa temannya
ganti ginjal. Setahun kemudian, badannya menjadi berbulu. Ini karena donornya
dari India.
Bahkan, keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya.
Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. Karena masih keturunan Arab,
tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. Operasi itu sukses
sekali. Anaknya tumbuh dewasa, kemudian berumah tangga. Anehnya, setelah
istrinya melahirkan, anaknya seperti Tionghoa. Kulitnya putih bersih.
Suatu saat, si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih
kecil yang seperti anak Tionghoa itu. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya
setelah lebih dari 10 tahun transplantasi. Ketika di rumah sakit, si kecil pergi ke
taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab.
Waktu senja sudah tiba, si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. Tapi, si kecil
tidak mau. Bahkan sampai menangis. Saat menangis itulah, si paman memaksa
menggendongnya pergi. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak.
Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu,
polisi turun tangan. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak
*#$
penduduk setempat. Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. Akhirnya, urusan
selesai.
Saya sendiri, ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor,
membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. Kali ini
menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung di Kota Shenyang.
Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan Shanghai-
Shenyang. Turun pesawat, langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani
transplantasi.
Wanita itu biasanya pemurung, tidak mau keluar rumah, penakut, dan
introvert. Tapi, beberapa bulan setelah operasi, dia mulai menyenangi internet,
mengendarai mobil, dan banyak omong. “Bahkan kalau naik mobil suka ngebut,”
ujar suaminya seperti diberitakan China Daily. Yang lebih mengherankan lagi,
wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal. Koran tersebut juga
menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya. “Saya menjadi agak
khawatir pada istri saya,” kata suaminya.
Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama.
Kalau itu sampai terjadi, apakah yang paling saya takutkan?
Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. Karena
itu, seminggu setelah operasi, saya sudah minta laptop. Saya memaksakan diri
untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini. Sebagian agar tidak ada catatan di
otak saya yang hilang, sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa
menulis dengan baik.
Kini giliran saya bertanya kepada pembaca: Apakah ada perubahan dalam
gaya penulisan saya? Memang, ada seorang teman yang setengah bertanya dan
setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang. Secara
terbuka, di koran lagi. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu, ketika masih jadi
pemimpin redaksi Jawa Pos, sering menugasi wartawan agar mewawancarai tokoh-
tokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. Tidak semua orang bisa menulis baik.
Karena itu, harus wartawan yang menuliskan ceritanya. Karena itu, saya harus fair.
Ketika saya sendiri mengalami itu, saya harus mau menuliskannya. *#%
Tapi, mengapa tidak disertai foto-foto? “Bukankah Anda dulu mengajarkan
setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita?” tanya
Edy Aruman, mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa.
Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang
disertakan dalam tulisan ini. Mengapa? Ada dua tujuan. Pertama, saya akan
mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin
deskripsi. Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan
mengabaikan diskripsi. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele, tapi
sebenarnya penting. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, begitu saya
mengajarkan, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu
kejadian. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan
sendiri kejadian itu. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi
pembaca. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Inilah salah
satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus
jurnalistik audio visual.
Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus
pendek. Kalimat pendek, begitu saya mengajar, akan membuat tulisan menjadi
lincah. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. Semakin
pendek sebuah kalimat, semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal.
Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Kutipan itu -direct
quotation-juga harus pendek-pendek. Mengutip kata seorang sumber berita dalam
sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan
khotbah. Tapi, dengan selingan kutipan-kutipan pendek, tulisan itu bisa membuat
pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita.
Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto
akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku. Foto-foto seputar
operasi, termasuk foto-foto liver saya yang lama.
Sebenarnya, masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke
dunia jurnalistik. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu, namun
penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. Saya tidak puas
*#&
dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin
redaksi. Padahal, ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di
alam kebebasan mutlak seperti sekarang. Dalam alam demokrasi seperti ini,
tanggung jawab justru lebih besar. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih
dipentingkan.
Misalnya mengenai cover both side, pemberitaan yang berimbang. Maka,
saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software check-
list. Setiap kali reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke
redaktur untuk diedit. Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer
itu, reporter harus menekan tombol “kirim”. Nah, saat menekan tombol “kirim”
itulah, saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang
harus diisi si reporter. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda?
Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. Kalau “belum”, dia
tidak akan bisa menekan tombol “kirim”. Lalu, pertanyaan sudah berimbangkah
berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara?
Dan seterusnya. Setiap pertanyaan disertai kolom isian. Kalau tidak mengisinya, si
reporter tidak bisa menekan tombol “kirim”. Kalau kelak ada reporter yang menipu
dengan cara mengisi kolom yang salah, tanggung jawabnya jelas.
Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat. Lalu, Jawa
Pos-lah yang pertama menerapkannya. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke
dunia jurnalistik berikutnya, tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. Maka,
saya bisa menyumbangkan ilmu manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan
“rukun iman” Jawa Pos. Lalu, menyumbangkan software untuk prinsip cover both
side yang penting itu. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan
sumbangan “ilmu tauhid” ke dalam bisnis dan manajemen. Sumbang-menyumbang
dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain, apa salahnya dilakukan. Untuk kemajuan.
Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver
ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. Kalau tidak, berarti juga ada
kemunduran dalam kemampuan saya menulis. Dan jangan-jangan, itu karena saya
ganti liver. *#'
Setiap membicarakan persiapan transplantasi, tim saya ternyata juga sering
menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi. Tentu
dengan nada penuh humor. Melinda Teja, bos Pakuwon Jati itu, misalnya.
“Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli
seorang gay,” gurau Melinda. “Kalian yang laki-laki harus waspada,” tambahnya.
“Saya justru khawatir kalau itu liver Laura,” ujar yang lain. “Kita harus segera
carikan pekerjaan yang cocok,” tambahnya. Laura yang dimaksud adalah “lanang
ora, wedok ora” (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan).
Sampai hari ini, saya belum merasakan perubahan apa-apa. Tapi, diri sendiri
kadang memang tidak bisa merasakan. Orang lainlah yang tahu. Kalau saja seperti
itu, tentu saya berharap segera diberi tahu. Jangan hanya dijadikan bahan gosip
semata.
Yang jelas sudah berubah adalah perut saya. Akibat sayatan pisau bedah
yang panjang, kulit perut saya tidak mulus lagi. Ada sederet bekas jahitan yang
kasar. “Rupanya, tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu,” ujar tim kami.
Karena itu, saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Ada cara yang
katanya cukup mujarab. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan
secara caesar. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. Yakni silicon scar treatment.
Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. Kalau
saja usaha itu tidak berhasil, anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali
berturut-turut.
*#(
Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis
B, Saingi Cucu
22 September 2007
TEPAT sebulan setelah transplantasi, dokter sudah mengizinkan saya
pulang. Jadi, 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke
Indonesia. Tapi, tim saya, terutama Robert Lai, minta saya lebih bersabar. Tim
Surabaya juga demikian. Bahkan, ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga
lebih baik. Dia tahu, kalau pulang, saya pasti langsung lupa diri. “Kalau selama ini
sudah sabar enam bulan, mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir
Budiyanto, perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh, ketika
menjenguk saya.
Dulu Budi itu, saya kira, seorang Kristen. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas
Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. Sebuah konotasi yang ternyata salah.
Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. “Apakah tidak ke gereja?”
tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. “Saya bukan Kristen,
Pak,” jawabnya. Oh, berarti dia Konghucu atau Buddha. Saya berpikir salah sekali
lagi. “Saya penganut Sapto Dharmo,” jawabnya. Bahkan, kemudian, saya tahu dia
salah satu tokohnya.
Makanya, ketika saya ajak omong Mandarin, dia tidak nyambung. Aneh. Dia
Tionghoa, bicaranya kromo inggil. Saya yang Jawa bicara Mandarin. Sejak itu, saya
selalu kromo inggil kepadanya. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. Sebab, di
rumah saya menggunakan bahasa Banjar. Kromo inggil pas sekali kalau dipakai
bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi, filsafat ojo dumeh dan hukum “timba
sing kudu nggoleki sumur”. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga
suatu saat kebentur kata forward. Nah, apa kromo inggil untuk forward?
Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. Begitu
seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-
*#)
jalan), pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. Fokus
pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah,
misteri kampung halaman. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata
“rumah” (house) dan mana kata “rumah” (home).
Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah.
Sebelum tiba hari pelaksanaan haji, biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja.
Semangat menjalani ibadah luar biasa. Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan
berkali-kali -meski “tawaf” di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya.
Sudah tawaf siang hari, mencoba sore hari. Sudah pagi hari mencoba malam hari.
Rasanya ingin terus dekat dengan Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad,
sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah. (Waktu saya menulis bahwa
Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan
raksasa Amerika yang bernama Blackstone, seorang pembaca mengirim SMS ke
saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?)
Karena itu, suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. Kemacetan manusia
selalu terjadi di sekitar hajar aswad. Mereka berebut menciumnya. Kadang dengan
cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. Saya tidak sampai hati melihat
pemandangan itu. Karena itu, meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah, saya
belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik. Saya tidak tega kalau harus berebut
seperti itu caranya. Maka, saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang
dalam. “Hati” dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver
saya. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. “Uda, Tuhan kita adalah Tuhan yang
cerdas,” kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya. Toh mencium hajar aswad
itu bukan rukun tawaf. Bahkan, Syayidina Umar pernah mengatakan, “Kalau bukan
karena Rasulullah pernah menciumnya, saya tidak akan sudi menciumnya”. Tentu,
suatu saat saya akan menciumnya. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik
untuk mengatur antrean itu.
Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji. Tapi, begitu pulang
dari Padang Arafah, apalagi begitu selesai salat Idul Adha, rasanya sudah amat
*$+
berbeda. Antiklimaks yang tajam. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang, luar
biasa tidak sabarnya.
Begitu juga pasien transplan liver. Begitu bisa jalan, pikirannya sudah
langsung fokus ke pulang. Maklum, sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini.
Sudah antiklimaks.
Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi.
Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. Mereka memang tidak perlu
khawatir. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat
pasien pascatransplan. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat
transplan di Tiongkok ini. Sedang kalau saya pulang, kalau terjadi apa-apa, rumah
sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya?
Walhasil, saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar
seminggu setelah Lebaran. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya
lakukan lagi tahun ini.
Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. Saya masih harus
menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B. Saya tersenyum
mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. “Sudah
umur 56 tahun baru imunisasi. Bersaing dengan Icha, cucu saya,” kata saya pada
suster yang akan menyuntik. Suster tertawa. Saya kembali tersenyum. Kecut. Hasil
tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. Tidak kejangkitan
hepatitis atau sel bibit kanker. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk
halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya
itu.
Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran
bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. Yakni pada hari saya mengungkapkan
mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. “Jam lima pagi sudah lima ibu
yang mendaftar,” kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di
Dewan Pembaca Jawa Pos. “Saya kaget. Kok tumben. Oh, agak siang sedikit, saya
baru tahu sebabnya. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos,” tambahnya.
*$*
“Departemen Kesehatan harus membayar Anda. Kampanye yang berhasil,” tulisnya
di SMS-nya.
Tentu, saya tidak mengharapkan bayaran itu. Saya sudah amat senang kalau
tulisan saya ini memberikan manfaat. Bahkan, saya berencana mendirikan lembaga
yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum
diimunisasi. Saya akan membiayai kegiatan itu. Saya perlu sejumlah tenaga yang
punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. Diam-diam, tekun, dan njlimet.
Karena teman-teman se-”angkatan” saya sudah pada pulang, tinggal saya
sendiri yang dari Angkatan April 2007. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya
kunjungi setiap hari. Saya harus mencari kawan baru. Berarti juga harus mau
menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada mereka. Saya
melakukannya dengan senang hati. Hati baru, tentunya. Saya ingin ikut
memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. Saya pun
merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum
saya. Saya merasa mereka beri semangat. Giliran saya memberikan semangat. Toh,
saya tidak harus membeli semangat.
Sebelum operasi, saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja
menjalani operasi. Atau ke keluarga mereka. Jawaban-jawaban itu tidak terlalu
memengaruhi psikologi saya. Tapi, begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan
di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di
pinggangnya, saya tertegun. “Oh, begini ya orang habis transplantasi,” pikir saya.
Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi. Jalannya thimik-
thimik pelan. Lengannya dipegangi oleh suster. Mulutnya, juga mulut susternya,
dipasangi masker.
Lalu, saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? “Tepat
seminggu yang lalu,” jawabnya. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan,
meski thimik-thimik. Meski badannya kelihatan lemah, wajahnya segar. Juga lebih
merah. Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi. Seminggu
sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu, Dahlan, hanya seminggu!
Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari! *$"
Dengan melihat contoh nyata itu, optimisme saya kian menyala-nyala. Saya
kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. Saya lebih semangat
makan, tanpa harus merasakan enak- tidaknya. Kalau badan saya lebih kuat, tentu
lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. Dia saja, yang badannya memang sudah
kurus dan umurnya sudah 62 tahun, seminggu sudah bisa jalan.
Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari
berikutnya. Kian hari kian cepat jalannya. Juga kian segar badannya. Pasien kedua
yang saya lihat pun begitu. Pasien ketiga juga sama. Pasien keempat, kelima, dan
seterusnya. Semua kurang lebih sama. Jadi, ajaib memang transplantasi ini. Bahkan,
pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh, sudah
tergeletak tidak bisa berjalan, napasnya sudah tersengal-sengal, seminggu setelah
operasi juga sudah bisa jalan.
Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. Serombongan besar orang Korea
memenuhi lantai 11. Ada pemandu wisatanya. Wisatawankah mereka? “Mereka
adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini,” kata seorang
perawat. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat. Untuk
menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa.
Tiba-tiba saya penasaran, ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu
sehatnya. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya.
Bahkan, tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak
masuk kamar saya. Agar bisa bicara lebih santai. Di kamar saya semangatnya
menjadi-jadi. “Lihat ini,” katanya sambil menyingkap bajunya. Terlihatlah di kulit
perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. Begitu jugalah saya nanti, pikir
saya.
Selama empat bulan menunggu operasi, saya hanya sekali mendengar orang
meninggal. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. Dia seorang wanita
60-an tahun dari Pakistan. Konon, seorang anggota parlemen. Transplantasinya
sukses dan amat sehat. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. Mungkin
memang politisi yang sibuk. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa
sudah amat sehat. *$#
Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di
negerinya. Slang itu, berikut kantong plastik kecil, memang masih terus akan di situ
selama tiga bulan. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat. Agar tidak jadi
sumber infeksi. Bahkan, tiga bulan kemudian, waktu seharusnya dia kembali ke
Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya
dulu, dia tidak ke Tiongkok. Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga
ahli.
Beberapa saat setelah itu, dia bahkan pergi naik haji. Entah proses
pengambilan benda asing itu yang salah atau karena kegiatannya yang berlebihan,
dia terkena infeksi. Kian lama kian parah. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk
menyelamatkannya.
Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi, namun menunggu kondisi
badannya stabil. Yang ditunggu tidak segera tiba. Bahkan memburuk. Dan akhirnya
meninggal.
Saya harus belajar dari pengalaman itu. Saya tidak harus buru-buru pulang.
*$$
Sering Kaget Disapa Wanita Modis
dan Ceria dalam Lift
23 September 2007
DI masa menanti waktu pulang ini, saya kehilangan dua teman wanita yang
paling saya akrabi. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Satu dari Jepang, satunya
lagi dari Harbin, Tiongkok. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing
dan ngobrol berlama-lama. Terutama kalau istri saya pergi belanja. Apalagi mereka
senasib: juga hepatitis, sirosis, dan kanker hati. Kami biasa saling curhat.
Yang wanita Jepang amat modis. Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal.
Rambutnya disasak tinggi. Sepatunya seperti Cinderella. Dia sendirian. Tidak satu
pun keluarganya mendampingi. Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga
hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris.
Dua wanita itu juga amat mengesankan. Bicaranya, guraunya, dan
intelektualnya bisa nyambung dengan saya. Dua-duanya juga amat cantik -
terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu, saat keduanya masih
kira-kira berumur 30 tahun.
“Saya nanti tidak sesukses kamu,” kata wanita yang dari Jepang itu suatu
saat kepada saya. Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. Saya
memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. “Umur
saya sudah 72 tahun,” tambahnya.
Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. Bukan saja mengenai umurnya,
tapi juga kondisi badannya. “Perut saya sudah berisi air,” katanya. Kalau saja dia
masih muda, tentu orang akan mengira dia hamil. “Umur saya juga sudah 69 tahun,”
tambahnya. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula.
Saya memahami keadaannya. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah
satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. Tapi, saya tidak
menceritakan bagian ini padanya. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain
yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga. *$%
Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi. “Saya nanti pulangnya
mungkin paling belakangan,” katanya. “Kalian sudah pulang semua, saya akan masih
di sini. Sendirian,” katanya. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang.
Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat. Saya cepat akrab
dengan wanita Harbin ini, antara lain, karena saya pernah lama di sana: Belajar
bahasa Mandarin dengan cara home stay. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali
saya ke Harbin sesudah itu.
Benar saja, si Cinderella sangat berhasil operasinya. Pasti semakin modis dia
nanti. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal
pulang. “Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. Menjalani
perawatan di sana,” katanya seperti minta pengertian. Tentu kami tetap
menampakkan kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan
transplantasinya.
Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. Juga sukses. “Perut
saya yang mulai buncit dulu itu, sudah hilang,” katanya dengan meraba-raba
perutnya. Benar, saya lihat perutnya “sudah hilang”. Meski memang lebih lambat
mulai bisa turun dari tempat tidur, bicaranya sudah keras dan tegas. Juga sudah
bisa tertawa, meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya.
Saya sendiri akhirnya mendapat gelar ’yuan lao’ di rumah sakit ini. Penghuni
lama. Pasien yang kerasan di rumah sakit. Tidak buru-buru pulang. Karena ’yuan
lao’, saya sangat hafal pada perawat, pegawai, dan dokter di rumah sakit ini.
Mereka juga hafal pada saya.
Meski begitu hafal, saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita
yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi. Terutama pada jam-jam
pulang atau berangkat kerja. “Siapa ya wanita cantik ini,” sering saya bertanya
dalam hati. Eh, baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi
melayani saya.
Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju. Begitu selesai bertugas, para
perawat itu ganti pakaian seperti model. Bajunya, tatanan rambutnya, cara
membawa tasnya, sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju
*$&
perawat dengan topi putih. Dia sering menyapa, tapi saya seperti tidak kenal lagi
siapa dia.
Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. Setiap
masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Demikian juga ketika
pulang kerja. Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak
terbawa ke pasien.
Yang seperti itu tidak hanya perawat. Pesuruh dan tukang pel lantai pun
idem ditto. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya, pakaiannya baju-kerja
penyapu lantai. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. Tapi, begitu pulang,
sungguh membelalakkan mata. Bajunya you can see, celananya hot pants (maklum,
musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea. Mereka sama
sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai.
Sebaliknya, meski berangkat kerja dengan amat modis, ketika kerja tidak ogah-
ogahan.
Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. Kami sering diskusi soal
kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok. Mengapa orang di Tiongkok yang juga
banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia, harga dirinya lebih
baik. Bukan saja jarang lihat pengemis, juga kalau bertemu orang seperti tidak
punya rasa rendah diri. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Ini
yang disebut social-capital -modal sosial. Bank Dunia menyebutkan social-capital
ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial.
Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami
perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Yakni, satu moto:
“Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat”. Saya dan Zainal, dan banyak lagi yang
lain, akan bisa jadi model perjuangan itu. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh
sampai menjual harga diri dan jabatan. Dan, ketika sudah kaya (duille!) tidak
sewenang-wenang.
Saya ingat, meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah
TEMPO yang begitu ternama, saya belum punya sepeda, apalagi sepeda motor.
Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya,
*$'
Surabaya. Rumah separo tembok separo kayu. Yang kamar mandinya dipakai
bersama beberapa rumah tangga. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba
sendiri. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai.
Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo, saya
hanya punya uang Rp 75 di saku. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. Dari
Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25, lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50.
Selesai wawancara, saya diberi amplop. Saya tahu isinya pasti uang. Saya
menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Meski Tandes-
Kertajaya begitu jauhnya. Saya pulang dengan jalan kaki. Hampir dua jam. Karena
beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya.
Waktu harus pulang ke Kaltim, tentu banyak orang yang akan memberi saya
tiket. Tapi, saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu, agar murah. Lalu naik
kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. Belum
ada bus waktu itu. Saya khawatir dengan istri saya. Maka, saya bilang kepada sopir
agar boleh naik di kursi dekat sopir. “Istri saya hamil muda,” kata saya.
“Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat” akan membuat bangsa ini tidak
gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. Atau, bangsa yang kalau melihat orang
kaya yang muncul kecemburuannya. Bangsa yang mudah disogok dan
dipermainkan. Yang juga mudah dibayar untuk, misalnya, sekadar berdemo.
Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini, saya belajar
bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat. Saya kepingin
sekali meniru ini di Graha Pena. Petugas cleaning service tidak harus merasa
rendah diri. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung
konsekuensi biayanya. Kalau upaya meniru ini berhasil, penampilan Graha Pena
juga akan lebih “keren”. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya.
Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. Untuk membuat kota-kota di
Indonesia cantik, para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik.
Betapapun bersihnya sebuah kota, kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuh-
kumuh, nggak menarik jadinya. Maka, pemda yang menginginkan kotanya cantik
*$(
dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barang- barang ini
secara gratis: Baju, lipstik, eye shadow, sepatu, dan biaya ke salon.
Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. Kalaupun dilakukan, belum tentu
lipstiknya digunakan. Bisa- bisa dijual. Sebab, filsafat “Kaya Bermanfaat, Miskin
Bermartabat” belum menjadi budaya.
Tentu semua biaya seperti itu, kalau di rumah sakit ini, ditanggung sendiri.
Tapi, di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma
kepada pegawai bagian cleaning service-nya. Tentu tidak harus sampai pada hot
pants, tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis.
Salah satu kesimpulan saya, membangun kepercayaan diri begitu
pentingnya. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri. Mereka bisa
membedakan ’rendah diri’ dan ’rendah hati’. Sedangkan kita, kalau tidak mau
dibilang kurang ajar, sering terbelit filsafat ’unggah-ungguh’, ’sopan- santun’,
’tawaduk’, yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat
’rendah diri’.
Kembali ke dua wanita tadi (eh, kok ingat dia lagi sih?), ternyata ada baiknya
juga dia pulang lebih dulu. Kalau tidak, tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat
waktunya.