itu. Saya tertawa. Bahkan ingin tertawa lebar. Tapi, jahitan di perut yang
panjaaaang ini masih basah. Kalau dibuat tertawa masih sakit. Dan lagi, jangan-
jangan kalau teralu banyak tertawa, jahitannya bisa mrotoli.
Leak Kustiya, redaktur pelaksana Jawa Pos yang pendiam, tapi humornya
sering cerdas, menimpali Margiono. “Yang bahaya kalau jatuhnya di dekat pasar
loak,” tulisnya. Sekali lagi, saya harus menahan tawa. Mas Goenawan Mohamad,
pendiri majalah TEMPO yang juga amat humoris, menambahkan: “Ha ha. Saya
justru takut hati baru itu jatuh di rumah Gong Li.” Gong Li adalah artis yang paling
terkenal dan konon juga paling cantik di antara artis Hongkong. “Lebih berbahaya
daripada jatuh di dekat pasar loak,” tambahnya.
Humor khas Surabaya datang dari Jamhadi, kontraktor yang membangun
gedung Jatim Expo dan asrama mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember
Surabaya. “Kalau sampai jatuh di rumah Gong Li, sih itu bukan jatuh. Tapi njatuh,”
tulisnya. Kata njatuh, bagi orang Surabaya lucu sekali. Tapi, mungkin tidak bisa
dipahami di luar Surabaya.
Masih banyak SMS yang masuk di sekitar jatuh-menjatuh itu. Tapi, empat
itulah yang saya pilih sebagai yang paling lucu. Diam-diam saya sudah bisa menjadi
juri lomba humor di hari kelima setelah operasi saya. Saya juga lega bahwa hati saya
yang baru tenyata tidak mengubah selera humor saya.
Dan memang, begitu saya berdiri, tidak ada suara benda jatuh. Padahal,
kalau toh jatuh, apa juga bersuara?
Keceriaan saya hari itu padam manakala masuk SMS dari keluarga saya di
desa, 16 km dari Kota Magetan. Dia marah. “Nyawa kok dibuat guyonan,” tulisnya.
Dia marah karena seharusnya saya tidak berhenti berdoa minta keselamatan
dan kesembuhan dari Tuhan. Tidak guyon seperti itu. “Kita di sini tidak henti-
hentinya berdoa, Mas Dahlan sendiri guyon. Tidak pantas,” tambahnya.
Lalu, saya SMS ke Ir Agus Mustofa, penulis buku Takdir Bisa Diubah yang
laris itu. “Apakah ada perintah untuk memperbanyak doa?” tanya saya. Soalnya,
saya tidak pernah membaca ada ajaran seperti itu. Bahkan, seperti yang sudah saya
%+
utarakan di bab terdahulu, sedikit-sedikit berdoa seperti kita ini malas berusaha,
malas menggunakan pemberian Tuhan yang amat penting itu: otak.
“Tidak ada perintah memperbanyak doa,” balas Agus segera. “Yang ada
hanyalah ’Mintalah kepada- Ku, pasti Aku kabulkan’,” tambahnya. “Yang
diperintahkan beberapa kali adalah perbanyaklah mengingat Tuhan (zikir) dan
perbanyaklah berbuat baik,” ujar Agus.
Ada alasan lain mengapa saya memilih sumeleh kepada Tuhan daripada
sedikit-sedikit minta sesuatu kepada-Nya. Saya pernah belajar ilmu mantiq (logika)
sewaktu di Madrasah Aliyah Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran, Magetan.
Pesantren keluarga kami sendiri. “Berdoa itu,” menurut ilmu mantiq, “pada
dasarnya adalah memerintah Tuhan”. Misalnya, doa ini: Ya Tuhan, masukkanlah
saya ke surga. Bukankah, menurut ilmu itu, sama dengan kita memerintah Tuhan
agar memasukkan kita ke surga? Bukankah kata “masukkanlah” itu “kata
perintah?”. Hanya, dikemas secara halus dalam wujud yang bernama doa? Mengapa
kita selalu memerintah Tuhan untuk memasukkan kita ke surga? Mengapa tidak
kita sendiri berusaha sekuat tenaga, misalnya, dengan jalan banyak beribadah
(termasuk kerja keras)?
Ilmu inilah yang juga saya bawa ke praktik manajemen. Kalau ada karyawan
yang sedikit-sedikit mengeluhkan atasannya, biasanya saya menasihatinya
berdasar ilmu mantiq itu. Tentu sebelum mengucapkan kata-kata tersebut saya
berpesan agar jangan membicarakan istilah saya ini dengan orang lain. Orang yang
tidak pernah belajar ilmu mantiq bisa salah paham.
Kata saya kepada karyawan yang suka mengeluhkan atasannya itu: “Kita ini
bisa dan sering memerintah...., mengapa memerintah atasan yang masih bernama
manusia saja tidak bisa?” Takut juga saya mengisi “titik-titik” itu. Takut orang salah
paham. Padahal, guru ilmu mantiq saya dulu, KH Hamim Tafsir, tidak pernah takut
mengatakan apa adanya.
Saya harus mengenang guru saya itu. Dia sudah terpaksa jadi kiai ketika
masih amat remaja. Ini karena enam kiai utama di pesantren kami (yang tidak lain
paman-paman ibu saya) dibunuh orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Demikian
%*
juga guru-guru terkemuka lainnya, termasuk guru yang didatangkan pesantren
kami dari Mesir. Mereka dimasukkan sumur hidup-hidup, lalu ditimbuni batu. Itu
tahun 1948, ketika meletus peristiwa Madiun yang terkenal dalam sejarah itu.
Sejak itu, pesantren kami yang sangat maju dan terkemuka mengalami
kemunduran.
Saya lantas memanfaatkan ilmu mantiq itu dalam praktik manajemen.
Intinya: seorang bawahan, kalau memang cukup cerdas, harus bisa membuat
atasannya memenuhi keinginannya. Tidak harus selalu keinginan atasan yang
berlaku. Semua itu tinggal soal cara. Soal kemampuan kita memanajemeni atasan.
Kalau seorang bawahan tidak mampu melakukan itu, berarti bukan bawahan yang
cerdas. Saya tidak akan menaikkan karir bawahan yang seperti itu. Jadi, bawahan
itu sebenarnya juga boleh me-manage atasan. Bukan hanya atasan yang bisa me-
manage bawahan. Sekali lagi, ini soal cara. Kepada Tuhan, kita menggunakan cara
yang disebut berdoa. Kepada atasan, mungkin dengan gaya “bermohon atau minta
petunjuk atau mengiba atau apa sajalah”. Yang penting, keinginan kita yang kita
yakini benar bisa dipenuhi oleh atasan.
Banyak manajer saya yang kemudian tidak mudah mengeluhkan
“ketidakmampuan atasannya”. Dia mencari jalan beraneka cara untuk mencoba
bisa me-manage atasannya dengan bijak. Demikian juga tidak lagi banyak staf yang
mengeluhkan rekan kerjanya. Mengeluh berarti tidak cerdas.
Bukankah kepada sesama rekan staf, kita bisa menggunakan gaya “minta
tolong”. Bahkan, kepada bawahan pun kata “minta tolong” akan lebih efektif
daripada kata “saya perintahkan” -meski atasan berhak memerintah bawahan. Jadi,
kepada Tuhan kita berdoa, kepada atasan kita bermohon, kepada sesama kita
minta tolong, dan kepada bawahan... teserahlah mau pakai yang mana. Tentu tidak
pas kalau kepada bawahan Anda mengatakan, “Saya berdoa kepadamu mudah-
mudahan engkau mau membersihkan kamar kecil itu lebih bersih lagi.” Tapi, saya
sering juga menggunakan gaya ini kalau hati sudah amat jengkel melihat kamar
kecil yang kotor.
%"
Di kantor-kantor Grup Jawa Pos, saya memang melarang pembuatan kamar
kecil khusus di ruang pimpinan. Ini agar pimpinan juga menggunakan kamar kecil
umum. Bukan saja agar sesekali bertemu bawahan di forum itu, tapi juga agar bisa
ikut mengontrol kebersihan kamar kecil umum.
Ilmu mantiq ternyata banyak membantu saya dalam menjalankan praktik
manajemen. Dan saya dengar di kurikulum madrasah aliyah sekarang ini, tidak ada
lagi mata pelajaran ilmu mantiq itu.
Saya sendiri kini masih terus berpikir bagaimana saya bisa me-manage liver
baru saya. Saya sudah bermohon kepadanya untuk jangan sekali-kali kangen akan
daging babi. Tapi, kalau dia lebih pintar dan mampu me-manage saya agar saya mau
memenuhi keinginannya, itu baru persoalan. Saya membayangkan dia memang
pernah belajar kungfu, tapi saya berharap liver baru saya itu belum pernah belajar
ilmu mantiq untuk mengalahkan saya.
%#
Perawat Sekaligus Menjadi Polisi
Penjaga Virus
6 September 2007
KELUAR dari ICU tidak berarti merdeka. Justru harus lebih hati-hati. Ini
karena ruang biasa tidak dilengkapi peralatan monitor yang serbaotomatis.
Padahal, terlalu banyak kasus kegagalan transplantasi liver terjadi justru pada
minggu pertama setelah keluar dari ICU. Yakni, ketika pasien terkena infeksi.
Kini ancaman kegagalan transplantasi liver bukan lagi seperti dulu. Bukan
lagi akibat badan menolak kedatangan liver baru. Untuk mengatasi penolakan itu,
kini sudah ada obat yang sangat modern. Obat yang menyinkronkan liver baru dan
organ-organ lain yang lama.
Infeksilah yang banyak mengakibatkan kegagalan. Bahkan, kemungkinan
infeksi pun kini sudah bisa diturunkan maksimal karena adanya cara baru.
Termasuk yang diterapkan kepada saya. (Akan ada uraian tersendiri untuk ini di
bab-bab berikutnya. Termasuk bab mengapa liver saya sakit. Apa sebabnya.
Mengapa tidak bisa ditanggulangi.)
Untuk menjaga jangan sampai terjadi infeksi itulah, monitoring dilakukan
ketat. Kalau toh terjadi, bisa diketahui secara dini, sejak masih dalam bentuk gejala.
Karena itu, suhu badan diukur tiap dua jam. Demikian juga tekanan darah dan
denyut jantung. Kebetulan, suhu badan saya sangat menggembirakan. Selalu
antara 35,5 sampai 36,7 derajat Celsius. Sangat prima. Tidak sekali pun dalam
minggu pertama itu suhu badan saya naik di atas angka itu. Ini pertanda bahwa
infeksi tidak terjadi di dalam tubuh saya.
Memang, semua orang yang masuk ruang saya harus taat akan peraturan ini.
Lalu, ada “polisi” keras yang menjaganya: Robert Lai. Semua harus menggunakan
masker penutup mulut dan hidung. Jangan sampai orang yang menjenguk
menularkan virus yang sangat membahayakan.
%$
Tiap pagi, saya juga di USG. Bukan takut hamil, tapi khawatir jangan-jangan
ada yang tidak beres pada sambungan-sambungan pembuluh darah lama dan baru.
Juga untuk melihat apakah ada genangan air atau darah di dalam rongga perut
saya. Termasuk untuk melihat apakah ada masalah pada ginjal saya.
Hasil USG tiap hari itu menunjukkan tidak ada tanda-tanda kegagalan
penyambungan liver baru saya. Maka, pada hari kelima, USG tidak lagi dilakukan.
Lega rasanya meski baru lega tahap satu. Pada hari pertama di luar ICU, paru saya
juga dironsen. Ini untuk melihat apakah ada genangan air atau dahak di paru-paru.
Hasil ronsen itu juga menggembirakan. Paru-paru bersih.
Tapi, saya harus minum obat penyinkron liver baru. Biasa juga disebut obat
antirejection. Anti penolakan terhadap liver baru. Obat ini berupa kapsul kecil-kecil
tiga butir, diminum dua kali sehari. Namanya afk. Obat ini memang punya efek
samping yang kuat. Yakni bisa membuat gula darah dan tekanan darah naik. Karena
itu, sebelum makan, harus diukur dulu tekanan darah dan gula darah. Setelah
makan, diukur lagi. Ujung jari saya di-”ceklik” beberapa kali sehari untuk
mengeluarkan sedikit darah. Untuk dites kadar gulanya. Pada hari pertama, gula
darah saya 17 (sebelum makan). Ini sangat-sangat tinggi. Bukan karena pankreas
saya tidak berfungsi, melainkan karena afk tadi. Karena itu, sebelum makan, saya
disuntik dulu untuk menurunkannya.
Pada hari ketiga, gula darah saya sudah normal. Sekitar 4 sampai 6,5
(sebelum makan). Karena itu, pada hari berikutnya, tidak diperlukan lagi
pemeriksaaan gula darah. Sewaktu saya kemukakan kekhawatiran saya akan
tingginya gula darah itu, dokter meminta saya tidak waswas. “Itu hanya karena efek
obat. Bukan karena fungsi pankreas yang jelek. Pankreas Anda sempurna,” kata
dokter.
Tekanan darah saya juga tinggi jika dibandingkan dengan sebelum operasi.
Bangun tidur bisa mencapai 90/140. Tapi, ini juga karena pengaruh obat saja. Siang
sedikit, sampai malam, selalu antara 80/120 sampai 85/130. “Kita akan terus
memonitornya,” ujar dokter. Sedangkan denyut jantung sangat normal, antara 76
%%
sampai 85. “Banyak juga yang sukses operasinya, tapi tidak kuat jantungnya,” ujar
seorang suster. Untuk itu pun, tidak perlu takut karena ada obatnya.
Selain obat anti penolakan itu, saya juga harus minum beberapa obat lainnya.
Tapi, kali ini saya tidak bertanya obat apa saja itu, apa kegunaannya, dan apa efek
sampingnya. Kali ini saya serahkan saja sepenuhnya pada keahlian dokter. Padahal,
dulunya saya amat cerewet kalau diberi obat. Saya harus tahu persis apa-siapanya.
Bahkan, sering saya cek lagi kebenarannya lewat internet. Tapi, kali ini saya
putuskan “tidak akan jadi dokter untuk diri saya sendiri”. Pertama, karena saya
memang bukan dokter. Kedua, banyak juga yang logika saya ternyata salah.
Misalnya, bayangan saya akan transplantasi liver sama sekali berbeda dengan
kenyataan dalam praktiknya.
Apalagi keadaan badan saya terus membaik sehingga saya semakin percaya
saja pada keputusan dokter.
Mengingat indikator-indikator badan saya sudah begitu baik, pada hari
keenam, obat sinkronisasi itu dikurangi 30 persen. Kini tinggal dua kapsul kecil
sekali minum, dua kali sehari. Obat ini merupakan obat terpenting dalam menjaga
keberhasilan transplantasi liver. Untuk meminumnya, ada petunjuk khusus
mengenai waktunya. Kalau sudah ditetapkan jam enam pagi dan malam, harus
tetap seperti itu. Tidak boleh terlambat. Juga tidak boleh dipercepat. Apalagi lupa,
sama sekali tidak boleh. Bagaimana kalau lupa juga? Tetap, tidak boleh lupa. Dalil
“manusia itu tempatnya salah dan lupa” tidak berlaku di sini.
Agar tidak lupa itulah, diciptakan sistem kontrol. “Trust is good, but control
is better,” ujar Robert Lai, ahli hukum dari Singapura lulusan Inggris itu. Dia orang
yang amat disiplin. Sudah sebelas bulan ini selalu menemani saya pergi ke mana
pun. Untuk mewujudkan prinsip yang dipegangnya itu, dia memutuskan
menempatkan perawat khusus di kamar saya. Selama 24 jam sehari. Yakni, perawat
yang khusus melayani kepentingan saya selama 24 jam. Terutama menjaga
ketepatan waktu minum obat, menjaga kebersihan pakaian, handuk, air, dan kamar.
Juga memandikan saya.
%&
Rumah sakit ini punya semacam unit usaha yang menyediakan jasa perawat
khusus seperti itu. Orangnya umumnya sudah agak tua, sabar, dan punya
keterampilan sebagai perawat. Mereka memang para pensiunan perawat yang
masih ingin terus bekerja. Karena itu, untuk mengukur tekanan darah, suhu badan,
dan pekerjaan sejenis itu, perawat khusus tersebut yang melakukan.
Perawat itu disiplinnya bukan main. Kalau sudah waktunya minum obat, apa
pun harus kalah. Tepat jam enam, dia memaksa saya minum obat. Tidak kurang satu
menit pun atau lebih satu menit pun. Petunjuk itu memang sudah diberikan jauh-
jauh hari sebelumnya sehingga saya juga tahu pentingnya kedisiplinan
meminumnya.
Kehadiran perawat khusus seperti itu amat penting karena belum tentu
keluarga kita mengetahui detail mengenai pengobatan. Dia sudah hafal jenis-jenis
obat yang disediakan dan jam-jam penggunaannya. Dia akan melakukan cek ulang,
apakah obat yang diberikan lengkap atau tidak. Salah atau tidak.
Jasa mereka itu juga penting karena ternyata banyak juga pasien yang tidak
ditunggui keluarganya. Saya lihat beberapa orang Jepang, masuk ke ruang operasi
tanpa satu pun ada anggota keluarga yang mengantarkannya.
Mengingat begitu banyak pasien ganti liver yang pernah mereka rawat,
pengalaman para perawat khusus ini sangat banyak. Dia menjadi seperti perawat
spesialis pasien ganti liver. Dia tahu persis gejala-gejala yang baik dan gejala-gejala
yang kurang baik dalam perkembangan pasien. Dan bagi saya, dia juga guru bahasa
Mandarin. Sebab, dia memang hanya bisa berbahasa Mandarin, bahkan dengan
logat yang sangat daerah. Berarti 24 jam saya bisa belajar Mandarin secara tidak
langsung.
Perawat itu juga menjadi polisi penjaga virus. Dia yang juga ikut mengawasi
orang keluar masuk kamar. Yang tidak pakai masker, dia tegur. Robert memang
menugaskan itu khusus kepadanya. “Kalau ada dokter masuk yang tidak pakai
masker, tentu Anda tidak berani menegur. Jangan ditegur. Tapi, Pak Dahlannya
yang kamu pasangi masker,” pesan Robert kepadanya. Robert, meski bahasa
%'
pertamanya adalah Inggris, bisa bicara Mandarin dan beberapa bahasa daerah di
Tiongkok. Untungnya, tidak pernah ada dokter yang tidak disiplin.
Bahkan, Melinda dan suaminya sampai membuka sepatu ketika masuk ruang
saya. Semula Melinda dan suaminya hanya ingin menengok saya karena kebetulan
lagi di Tiongkok. Tahu kalau saya segera operasi, dia memtuskan menunggu saya
sampai beberapa hari setelah operasi. Bahkan, dia ikut melakukan “operasi
nonteknik” pada malam menjelang operasi.
Ketika saya beri tahu tidak perlulah masuk kamar sampai copot sepatu, bos
Pakuwon Jati itu mengatakan, “Kamar ini harus lebih bersih daripada sepatu saya.”
Saya tahu sepatunya amat mahal dan tentu juga amat bersih. Tapi, dia tetap copot
sepatu. “Saya tidak mau dituduh sebagai pembunuh Pak Dahlan,” katanya. “Dia lao
da saya. Masak saya harus jadi pembunuh saudara tua saya,” tambahnya.
%(
Boleh Tak Mengaku, 25 Juta Orang
Menghadapi seperti Saya
7 September 2007
MENGAPA saya harus menjalani transplantasi liver?
“Karena sudah ada kanker di liver saya dan sudah mulai menyebar ke
beberapa tempat meski semuanya masih di dalam liver.”
Mengapa ada kanker di liver saya?
“Karena liver saya sudah tidak normal, sudah mengecil, mengeras, dan rusak.
Istilahnya, sudah mencapai tahap terjadi sirosis.”
Mengapa liver saya bisa sirosis?
“Karena saya mengidap virus hepatitis B, yang gagal saya usir atau saya
matikan. Virus itu menjadi aktif dan merusak liver karena kondisi badan saya sering
sangat lelah. Saat badan lemah, virus yang semula tidur saja di dalam liver punya
kesempatan melakukan aksinya tanpa perlawanan yang berarti dari badan saya
yang sedang lemah.”
Mengapa sering lelah?
“Masak itu ditanyakan. Bikin saya malu. He... he....”
Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya?
“Karena liver saya tidak kebal ketika virus untuk pertama kalinya datang dan
masuk ke dalam liver saya.”
Kenapa badan saya tidak kebal?
“Karena saya tidak pernah menjalani vaksinasi antihepatitis B saat saya
masih bayi/kecil.”
Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi?
“Karena tidak tahu.”
Kenapa tidak tahu?
%)
“Karena tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan. Juga karena
negara waktu itu masih sangat miskin dan pemerintah sibuk mengurus politik atau
rebutan posisi.”
Soal pemerintah tidak perlu ditanyakan lebih lanjut. Tapi, kenapa Anda tidak
berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan?
“Karena miskin sekali. Keluarga saya, hampir semuanya, petani atau buruh
tani.” Kenapa miskin? “Karena tidak berpendidikan.” Kenapa tidak berpendidikan?
“Karena miskin!”
***
Itu bukan kata-kata juru penerang PKK yang setelah zaman reformasi tidak
lagi berperan aktif, tapi akan sangat baik kalau dipakai menyadarkan ibu-ibu untuk
memvaksinkan bayinya agar kebal terhadap virus hepatitis B.
Sebab, sekitar 10 persen penduduk kita terkena hepatitis B. Soal jarang yang
mengakui, itu soal lain. Artinya, sekitar 25 juta orang sedang menghadapi masa
depan seperti saya. Padahal, belum tentu semuanya mendapatkan kesempatan
sebaik saya: bisa menjalani transplantasi liver. Kalau toh banyak yang mampu,
belum tentu operasinya bisa berhasil.
Kesempatan menjalani transplantasi juga kian kecil. Tiap negara kini
cenderung melindungi rakyatnya sendiri sehingga, seperti yang dilakukan Tiongkok
saat ini, liver yang ada harus diprioritaskan untuk penduduk Tiongkok sendiri. Ini
sangat wajar karena persoalan seperti ini akan bisa jadi isu nasional di negara
tersebut. “Di Tiongkok sendiri kini terdapat 120 juta orang yang mengidap
hepatitis B,” ujar Deputi Menteri Kesehatan Tiongkok Hao Yang saat melakukan
kampanye vaksinasi hepatitis B pekan lalu seperti yang disiarkan China Daily 1
September barusan. Hao Yang lantas mengutip angka dari Samuel So, direktur
Asian Liver Centre di Stanford University AS, bahwa 40 persen di antara segala
macam penularan virus terjadi dari ibu ke anaknya.
Maka, pencegahan sangat penting. Di Tiongkok, seluruh bayi sejak 1982
harus tiga kali divaksin antihepatitis. Tiap suntik harga obatnya sekitar Rp 75.000.
Seluruhnya ditanggung negara.
&+
***
Meski ilmu pengetahuan semakin maju dan keterampilan dokter juga kian
sempurna, tapi kalau sumber donor untuk liver makin terbatas, bagaimana?
Bukankah kesempatan untuk menjalani transplantasi di masa depan kian langka?
Termasuk bagi yang mampu transplantasi sekalipun? Bukankah lantas antrean
untuk dapat giliran transplan kian panjang? Dan kian lama?
Saya sendiri perlu empat bulan menunggu. Dalam keadaan harus terus siap.
Penantian yang tidak jelas harus berapa lama. Yang juga berarti terus berjalannya
argometer biaya. Empat bulan harus tinggal di luar negeri dan dengan keluarga
yang harus mondar-mandir tentu bukan hal yang sederhana. Padahal, sekali lagi,
kita tidak akan pernah tahu harus menunggu sampai berapa lama. Artinya, juga
tidak akan tahu masih harus berapa banyak lagi uang yang disiapkan.
Dengan logikanya yang sederhana, istri saya sering nyeletuk. Suatu
celetukan yang mungkin juga mencerminkan rasa jenuh karena begitu lamanya
menunggu. “Begini sulit ya mempertahankan satu nyawa. Kok di Timur Tengah itu
tiap hari orang dengan gampang menghilangkan nyawa,” katanya.
Istri saya lantas menyebut banyaknya orang Timur Tengah yang antre di
rumah sakit ini. “Bukankah di sana banyak sumber liver? Dari mereka yang begitu
banyak meninggal muda itu? Dan pasti lebih pas karena dari ras yang sama?”
celetuk istri saya.
Tentu tidak sesederhana itu. Ada soal yang bagi orang Islam lebih prinsip.
Yakni apakah boleh, secara Islam, mendonorkan organ tubuh? Apakah boleh organ
dari orang yang baru meninggal diambil untuk menyelamatkan orang lain?
Soal itu di masa depan tidak hanya akan jadi isu agama. Tapi juga isu
keadilan. Isu yang akan lebih mendominasi masa depan dunia. Bisa jadi, kelak, akan
ada aturan bahwa suatu negara tidak boleh mendonorkan organ kepada penduduk
suatu negara yang negara itu atau penduduknya melarang melakukan donor organ.
Misalnya, Indonesia tidak mendukung digalakkannya donor organ atau penduduk
Indonesia mengharamkan donor organ, maka di masa depan orang Indonesia tidak
boleh menerima sumbangan organ dari warga negara lain.
&*
Kini sudah terasa gejalanya. Dimulai dari munculnya kebijakan
memprioritaskan penduduk negaranya sendiri. Alasan keadilan lantas
memperkuatnya.
Kesadaran seperti itu akan membuat banyak negara ikut mengubah
peraturannya. Tiongkok sudah mengubahnya empat bulan lalu. Orang asing tidak
akan gampang lagi mendapatkan donor dari penduduk setempat.
Begitu banyak orang Tiongkok sendiri yang memerlukan transplantasi. Yang
terkena hepatitis B saja mencapai 120 juta orang, sudah sama dengan separo
penduduk Indonesia. Kalau mereka tidak terlayani karena miskin, tidak kuat bayar,
maka akan menjadi isu kesenjangan sosial. Akan menjadi isu politik yang sensitif
bagi Tiongkok yang lagi gencar-gencarnya memerangi kesenjangan sosial.
Belum lagi, kini, orang kaya di Tiongkok bertambah-tambah dengan
drastisnya. Mereka tentu akan semakin mampu dalam ikut “memperebutkan”
donor yang kian terbatas.
Singapura sudah lebih dulu membuat aturan seperti itu. Bahkan, melarang
sama sekali liver orang Singapura untuk orang non-Singapura. Sebab, di Singapura
sendiri antara kesediaan liver dan yang memerlukannya jauh lebih banyak yang
terakhir.
Awal bulan ini, diberitakan antrean transplantasi di Singapura sudah sampai
10 tahun. Artinya, mendaftar sekarang baru akan dapat liver 10 tahun lagi. Karena
itu, setiap saat selalu ada pasien antre yang dicoret dari daftar antre. Mengapa?
“Sudah tidak layak antre. Selama penantian, kondisi badannya sudah semakin
buruk,” ujar dr Tong Ming Chuan, saah seorang direktur program jantung- paru
Singapura. “Tiga di antara empat orang yang dicoret dari daftar antre itu tak lama
kemudian memang meninggal,” ujar dr Tong sebagaimana disiarkan The Strait
Times 2 September lalu.
Kini, panjang antrean itu ratusan orang di Singapura. Sebanyak 555 orang
antre untuk transplan ginjal dan 16 orang antre liver. Di antara lima orang yang
antre transplan jantung, tinggal satu yang masih memenuhi syarat dalam daftar.
Tapi, itu tidak berarti bisa cepat dapat giliran. Sebab, donor jantung lebih sulit.
&"
“Donor liver atau ginjal bisa berupa separo organ tersebut. Tapi, donor jantung
harus satu jantung utuh. Ini berarti pendonornya harus meninggal,” katanya.
Di antara 555 orang itu terakhir, yang 139 orang juga sudah tidak memenuhi
syarat lagi untuk transplan. Di antara 139 itu pun, diperkirakan yang 22 orang
sudah akan meninggal tidak lama lagi. Sudah terlalu terlambat untuk transplan.
Kalau toh dipaksakan, peluang berhasilnya tipis. Sayang donornya. Mendingan
diberikan kepada pasien yang kans berhasilnya lebih besar. Khusus untuk yang
antre liver saja, tahun lalu enam orang meninggal karena perkembangan sakit
livernya lebih cepat daripada waktu antrenya.
Kini, siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati ternyata bisa
ditentukan oleh dokter.
Karena itu, Singapura akan melangkah lebih jauh. Peraturan baru sedang
disiapkan. Kalau selama ini organ hanya diambilkan hanya dari orang yang sudah
menyatakan organnya boleh didonorkan, nanti akan dibalik. Menjadi: hanya orang
yang menyatakan keberatan saja, yang organnya tidak bisa jadi donor. “Peraturan
ini juga akan berlaku bagi penduduknya yang beragama Islam,” katanya. Selama ini,
aturan transplan selalu dikecualikan bagi yang muslim. Ini terkait dengan
keyakinan agama. Kini kekhususan itu tidak ada lagi.
Artinya, organ semua orang Singapura secara otomatis boleh diambil setelah
dia mati, kecuali yang keberatan saja. Ini seperti prinsip ushul-fikh (kaidah aturan):
semua yang tidak dilarang berarti dibolehkan. Singapura akan menggunakan
prinsip ushul-fikh itu.
Begitu seriusnya problem defisit donor itu, sehingga Tiongkok juga akan
mengubah peraturan di bidang kedokteran tentang “kapan seseorang dinyatakan
meninggal”. Ini setelah awal Agustus kemarin diperdebatkan di forum para ahli
transplantasi di Beijing. Satu perdebatan yang amat teknis- medis di sekitar saat
kematian datang. Yakni saat-saat kematian batang otak. Saya sendiri tidak paham
istilah-istilahnya. Yang jelas, kalau peraturan lama yang dipakai menentukan
tibanya saat kematian, akan banyak sekali organ yang sudah terlanjur “ikut mati”.
Ini akan tidak bisa dimanfaatkan untuk amal jariyah berikutnya. Maka, aturan
&#
menentukan saat kematian itu akan dibuat lebih awal, sebagaimana yang sudah
disepakati di banyak negara maju.
Saya jadi berpikir dan diskusi lagi dengan diri sendiri. Saat kematian ternyata
bisa diajukan atau dimundurkan walau hanya sesaat. Bagi yang paham ayat Al Kitab
mengenai kematian (idza jaa-a ajal luhum...) tentu satu pekerjaan tersendiri untuk
mendiskusikannya. Terutama apakah yang dimaksud dengan ajal di situ.
&$
Tersenyum ketika Dioperasi seperti
Menikmati Kemiskinan
8 September 2007
JELASLAH bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang
melatarbelakangi, saya menderita sakit liver. Apakah saya menyesali dilahirkan di
keluarga miskin? Sama sekali tidak. Kemiskinan kami adalah kemiskinan struktural.
Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan saya. Bahkan hampir di
semua kampung saya. Di kapupaten saya. Juga di negara saya. Kemiskinan rame-
rame. Kami bisa menikmatinya bersama-sama.
Jadi, jangan sampai ada yang menyangka bahwa kami sangat menderita.
Tidak. Kami miskin bukan karena harta habis untuk main judi atau untuk mabuk-
mabukan atau untuk narkoba. Kami memang tidak punya harta.
Kalau toh kami boros, kurang hemat, itu pun jangan disalahkan. Keborosan
kami adalah “keborosan- religius”. Juga “keborosan-yang-beradab”, yakni boros
untuk melestarikan adat-istiadat.
Kami harus banyak keluar biaya untuk selamatan Lebaran, kupatan,
mauludan, rejeban, megengan, rebowekasan, dan seterusnya, tapi semua itu kami
niati untuk ibadah -entah apakah seharusnya pakai selamatan segala. Kami sangat
menyenangi selamatan. Terutama saat kami masih kecil. Itulah saatnya kami bisa
makan nasi. Bukan gaplek. Itulah saatnya kami bisa makan telur. Bukan hanya
sambal atau garam. Itulah saatnya kami, kalau nasibnya baik -yakni dapat ambeng
yang baik-, bisa memperebutkan daging ayam secuil. Satu bentuk selamatan di
serambi masjid yang amat kami tunggu-tunggu. Karena itu, kami hafal benar kapan
akan ada mauludan atau megengan. Bahkan sudah kami nantikan sejak berhari-hari
sebelumnya.
Kami juga harus slametan nyepasari, mitoni, sunatan, wetonan, dan
seterusnya. Tapi, itu juga kami perlukan sebagai wujud donga-katon (doa yang
dipersonifikasikan). Karena itu, harus ada sayur kluwih untuk menandakan bahwa
kita ingin rezeki yang linuwih (berlebih). Juga harus ada cakar ayam untuk lambang
&%
doa kuat melangkah. Pokoknya, semua kami wujudkan dalam makanan seperti
seolah-olah kami bisu.
Setiap kupatan, kami juga harus munjung ke kiai kami. Sesepuh kami.
Punjungan itu berbentuk makanan yang paling istimewa. Ibu membuat lontong
yang untuk merebusnya saja diperlukan waktu 24 jam. Agar lontong masak
sempurna dan tidak basi sampai seminggu pun. Daun pembungkusnya harus daun
pisang raja agar harumnya khas. Sayurnya harus lima macam, salah satunya harus
opor ayam. Ibu pandai sekali bikin opor ayam. Tapi, kami hanya boleh makan sedikit
kuahnya. Dagingnya untuk punjungan. Ibu sudah menyiapkan ayam itu sejak enam
bulan sebelum kupatan. Tentu, kami tidak mungkin mampu membeli ayam. Sering
ibu harus membeli dulu satu telur. Lalu dititipkan ke tetangga untuk bersama-sama
ditetaskan di situ. Lalu dipeliharanlah ayam tunggal itu. Sampai tiba saatnya harus
dipotong untuk dihaturkan kepada kiai kami yang sebenarnya sudah kaya.
Bapak sangat menjunjung tinggi adat itu. Kiai kami bukan sembarang kiai.
Kiai kami adalah guru- tarikat kami. Guru yang oleh bapak dipercaya sebagai
wasilah dalam term filsafat ahl-dzikr. Tidak ada ahl-dzikr lain di dunia ini kecuali
kiai kami itu. “Ahl-dzikr hanya satu di dunia,” kata bapak saya. Ini karena menurut
tata bahasa Arab (nahwu), kata ahl di situ menunjukkan bentuk tunggal (ism
mufrad). Ternyata, semua aliran tasawuf punyai klaim yang sama untuk kiai mereka
sendiri. Tapi, bapak saya tidak tahu itu. Tahunya ya hanya tasawuf Sathariyah. Dan
meyakini bahwa kiainya, KH Imam Mursyid Muttaqien, adalah sang “ahl dzikr” nan
tunggal.
Misalnya saja, bapak kedatangan tamu yang dulu sesama abdi dalem di
rumah kiai tersebut. Tentu, bapak bicara seenaknya dan penuh guyon dengan
tamunya. Tapi, begitu si tamu mengatakan kedatangannya hari itu diutus sang kiai,
sikap bapak otomatis berubah. Bapak akan langsung bersila, menunduk, dan
ngapurancang di depan teman sesama abdi dalem itu. Bapak langsung
menggunakan kata-kata kromo inggil (bahasa Jawa level tertinggi) dalam
percakapan dengan temannya itu. Bapak langsung merasa sedang berhadapan
&&
dengan kiainya sendiri. Bapak adalah idola kami dalam bersikap tawadluk -hormat
kepada sesepuh.
Saya pernah bertugas mengantarkan punjungan yang aromanya sangat
harum itu. Kami berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk sampai ke rumah sesepuh
kami itu. Di jalan, kami bisa mengira-ngira nikmatnya makanan yang akan kami
antar itu karena kami sudah merasakan rasa kuahnya. Meski kiai tersebut masih
paman ibu saya sendiri, kami dilarang untuk masuk sampai ke dalam rumahnya.
Kami hanya boleh mengantar sampai teras samping rumah pendapa itu.
Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan
mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya itu.
Saya, waktu kecil, memang hanya punya satu celana pendek dan satu baju,
tapi saya masih punya satu sarung! Jangan remehkan kemampuan sarung ini. Dia
bisa jadi apa saja. Mulai jadi alat ibadah, mencari rezeki, alat hiburan, fashion,
kesehatan, sampai jadi alat memeras atau menakut-nakuti.
Sarung inilah pakaian yang, meski hanya satu potong kain, fleksibelnya
bukan main. Kalau saya lagi mencuci baju, sarung itu bisa saya kemulkan di bagian
atas badan saya. Kalau saya lagi harus mencuci celana, sarung itu bisa jadi bawahan.
Kalau kami lagi cari sisa-sisa panen kedelai di sawah orang kaya, sarung itu
bisa jadi karung.
Kalau saya lagi ingin mendalang (waktu kecil saya suka sekali mendalang,
dengan wayang terbuat dari rumput dan gamelan dari mulut teman-teman), sarung
itu saya bentangkan dengan tiang pendek di kiri kanannya: jadilah dia kelir.
Kalau lagi musim angin dan kami ingin bermain-main dengan angin itu,
sarung kami bentangkan di atas kepala: jadilah dia layar.
Kalau saya lagi lomba terjun ke sungai dari atas jembatan, saya ikat ujung
sarung itu: jadilah dia semacam payung parasit.
Kalau perut lagi lapar sekali dan di rumah tidak ada makanan sama sekali,
saya ikatkan kuat-kuat sarung itu di pinggang: jadilah dia pengganjal perut yang
andal.
&'
Saya belum menemukan bentuk pakaian lain yang fleksibelnya melebihi
sarung. Kalau sembahyang, jadilah dia benda penting menghadap Tuhan. Kalau lagi
kedinginan, jadilah dia selimut. Kalau lagi mau nakut-nakuti anak kecil, jadilah dia
pocongan.
Kalau sarung itu robek (biasa waktu dipancal kaki saat tidur kedinginan atau
saat kena duri bambu saat mencuri tebu), sarung itu masih bisa dijahit. Kalau di
tempat jahitan itu robek lagi, masih bisa ditambal. Kalau tambalannya pun sudah
robek, sarung itu belum akan pensiun. Masih bisa dirobek- robek: bagian yang
besar bisa untuk sarung bantal, bagian yang kecil untuk popok bayi.
Sakit bisa dinikmati. Miskin pun bisa dinikmati. Apalagi suasananya sering
diciptakan demikian. Misalnya saja, kisah tentang bagaimana Khalifah Umar
menemukan orang miskin yang anaknya menagis terus karena lapar. Untuk
meredam tangis si anak, ibunya pura-pura merebus sesuatu. Padahal, yang direbus
itu adalah batu. Cerita yang demikian jadi kebanggaan. Juga cerita sufi tentang
bagaimana orang sakti yang kalau lapar cukup mengganjal perutnya dengan batu.
Atau bagaimana nabi hanya memakan kurma dua biji setelah seharian berpuasa.
Lapar itu sering luar biasa nikmatnya.
Orang miskin punya jalan sendiri untuk menikmati kemiskinannya, seperti
juga orang kaya punya cara sendiri menikmati kekayaannya. Kadang, orang kaya
merasa iba kepada orang miskin. Padahal, sering juga orang miskin merasa kasihan
kepada orang kaya. Banyak orang desa yang merasa kasihan kepada Tommy
Soeharto yang akhirnya harus menderita. Mereka tidak tahu bahwa Tommy masih
kaya raya.
Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya. Jangankan terkena
kanker atau sirosis atau hepatitis. Mati pun dianggap, kalau memang sudah
garisnya, harus diterima apa adanya. Karena itu,ayat yang menyatakan “kalau
sudah tiba waktunya, tidak bisa diundur sekejap pun atau dimajukan sedikit pun”
menjadi amat populer. Melebihi popularitas ayat yang mengajarkan “carilah rezeki
di bumi Tuhan ini”.
&(
Kisah sedekah yang populer juga terkait dengan kemiskinan. Sangat sering
diajarkan bahwa sedekah tidak harus dengan harta. Menyingkirkan duri dari
tengah jalan pun sudah merupakan sedekah. Bahkan, tersenyum pun sudah
sedekah. Maka, marilah kita sering tersenyum. Mau dioperasi besar pun saya
tersenyum. Itulah sedekah yang sudah sejak kecil diajarkan -dan yang dulu satu-
satunya yang mampu kami lakukan.
Setelah Rutin Disuntik, Menyangka
Hepatitis Sudah Beres
9 September 2007
SAYA menerima kehadiran virus hepatitis B di liver saya sebagai takdir.
Kalau kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker, itu sebagai sunnatullah-
Nya -sudah seharusnya begitu. Jangan harap satu virus hepatitis B tidak akan
menjadi sirosis. Dan, jangan ada harapan sirosis tidak akan jadi kanker. Tidak ada
keajaiban di proses itu. Tidak ada mukjizat. Tinggal waktu saja yang berbeda.
Proses perkembangan itu lama atau cepat.
Karena namanya virus, pasti datangnya dari luar. Jadi, bukan keturunan atau
gen, seperti yang semula saya kira. Bahwa keluarga saya banyak yang demikian,
tentu itu karena gaya hidup di desa yang memang seperti itu. Makan bersama,
berebut lauk dari piring yang sama, cuci tangan dari kobokan yang sama. Semua
bisa saja jadi sarana penularan. Karena hidup seperti itu dilakukan sejak kecil,
kemungkinan penularannya juga tidak kecil.
Di Tiongkok, data terbaru menyebutkan hampir 10 persen penduduknya
terkena virus hepatitis. Ini berarti lebih dari 120 juta orang. Di Indonesia,
persentasenya saya kira hampir sama. Karena itu, penelitian terhadap hepatitis
intensif sekali di Tiongkok, karena menyangkut begitu banyak orang.
&)
Ke depan mestinya virus ini amat berkurang karena kesadaran melakukan
vaksinasi hepatitis kepada bayi sangat tinggi. Di Tiongkok sejak 1982. Di Indonesia
terutama sejak zaman Orde Baru.
***
Saya sendiri tahu kalau mengidap hepatitis B sejak sekitar 25 tahun lalu.
Yakni, ketika untuk kali pertama dalam hidup saya memeriksakan darah. Waktu itu
tiba-tiba badan saya panas sekali. Maka saya harus periksa darah. Diketahuilah
bahwa ada virus hepatitis B di liver saya. Sebelumnya, sejak kecil, kalau badan
panas yang dibiarkan saja: toh akan dingin sendiri.
Saat itu juga saya langsung mengambil langkah. Konsultasi dengan salah satu
dokter ahli penyakit dalam terbaik di Surabaya: Prof Mohamad Hassan (kini
almarhum). Dia mendengar ada obat yang masih baru sama sekali. Namanya
interveron. Kalau mau, saya boleh mencoba obat baru itu, karena memang
sebelumnya tidak pernah ditemukan obat untuk melawan virus itu.
Tapi, Prof Hassan mengingatkan bahwa harganya mahal sekali. Juga harus
disiplin tinggi karena obat itu harus disuntikkan 76 kali, setiap dua hari sekali. Kini
interveron sudah amat murah dibanding harga 25 tahun lalu. Tapi, Prof Hassan
juga memberitahukan bahwa kemungkinan berhasilnya juga tidak 100 persen, baru
25 persen. Ya, siapa tahu saya masuk yang 25 persen itu, katanya.
Saya pun menyetujuinya. Maka setiap dua hari saya suntik interveron.
Ketika pertama suntik saya harus ngamar di rumah sakit. Saya pilih RS Budi Mulia
di Jalan Raya Gubeng. Mengapa harus ngamar? “Akibat suntikan itu, suhu badan
bisa tinggi sekali. Kalau terjadi sesuatu yang membahayakan, Anda sudah berada di
rumah sakit,” katanya.
Obat itu berfungsi bukan membunuh virusnya, melainkan hanya
mengurungnya. Maksudnya, dengan dikurung seperti itu, virus tidak akan
merajalela. Sebab, memang belum ada obat ang bisa membunuhnya.
Pada hari dilakukan penyuntikan pertama, saya langsung siap-siap selimut
tebal. Kalau panas datang dan badan menggigil, saya sudah tidak bingung lagi. Saya
tunggu kedatangan “suhu tinggi” dan “rasa menggigil” itu sampai sore. Tangan
'+
sudah selalu siap memegang selimut kalau tiba-tiba harus segera menutupkan ke
tubuh saya. Saya tunggu sampai malam, ternyata si demam tidak datang juga.
Bahkan sampai besoknya pun.
Lalu saya boleh pulang. Saya bisa menyuntikkan interveron berikutnya di
mana pun saya mau. Bisa di kantor, di poliklinik, atau di praktik dokter. Saya
menyimpan interveron itu di termos khusus yang bisa saya bawa bepergian. Ke
mana-mana saya membawa termos itu berikut alat suntiknya.
Pernah suatu saat saya harus ke Ambon. Tentu saya bawa juga interveron
itu. Di Ambon ternyata sulit sekali mencari dokter yang mau menyuntikkannya. Di
sana umumnya dokter tidak tahu obat apa yang saya bawa itu. Sudah saya jelaskan
panjang lebar, tetap saja dia tidak mau. Memang seharusnya demikian. Kalau tidak
tahu, tidak boleh melakukannya. Yang jadi persoalan adalah bukan tidak mau, tapi
memang betul-betul belum tahu obat tersebut. Maklum, memang obat yang masih
sangat baru.
Pernah juga saya mengalami kesulitan yang sama saat berada di Batam.
Padahal, saya juga harus mengejar pesawat. Akhirnya saya minta disuntik di pos
kesehatan bandara Batam.
Setelah proses itu selesai, saya menjadi lengah. Saya menyangka, hepatitis
saya sudah beres. Saya tidak pernah lagi memperhatikannya. Saya tenggelam oleh
kesibukan dan kecerobohan saya sendiri.
Kini, saya dengar kualitas interveron sudah semakin baik. Sudah puluhan kali
lebih kuat daripada 25 tahun lalu -saat saya pertama menggunakannya. Barangnya
juga sudah lebih mudah didapat. Tiongkok juga sudah memproduksinya besar-
besaran. Harganya pun sudah jauh lebih murah dibanding ketika saya harus
membeli dulu. Murah untuk ukuran orang sakit liver, tapi tetap mahal untuk
kebanyakan orang.
Sejak minum interveron itu saya tidak pernah mencari tahu lagi apakah
sudah ada obat yang lebih jitu. Bahkan, saya sudah melupakan hepatitis saya.
Badan saya yang selalu fit, membuat saya terlalu percaya diri. Pujian bahwa saya
adalah orang yang “tidak punya udel” (tidak punya pusar, untuk menggambarkan
'*
punya kemampuan kerja kuda) membuat saya terlena. Saya terus kerja dan kerja.
Terbang dan terbang. Di dalam negeri dan ke luar negeri.
Sampailah pada Mei 2005. Hari itu saya terbang ke 19 kota hanya dalam
waktu 8 hari. Mulai Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-Guangzhou-
Wenzhou-Jinhua-Hangzhou-Nanchang- Guangzhou-Jakarta-Makassar-Ambon-
Makassar-Kendari-Makssar-Jakarta-Surabaya.
Istri saya, bersama Ibu Eric Samola, bergabung dengan saya di Makkasar
untuk sama-sama ke Ambon. Tiba di Ambon tidak mau sarapan, langsung ke kantor
harian Ambon Ekspress untuk rapat. Mengapa tidak mau sarapan? Setiap ke
Ambon saya punya cita-cita khusus: akan makan durian sebanyak-banyaknya.
Durian Ambon luar biasa enaknya. Apalagi kalau dimakan di pantai yang sangat
natural itu: pantai Ambon yang indah. Di mana itu? Kalau Anda turun dari pesawat,
keluar dari bandara, jangan belok kanan ke arah kota, tapi belok kiri ke arah
kampung. Aduh naturalnya!
Tapi, rapat masih diteruskan dengan mengajar. Dulu, setiap kedatangan saya
ke anak perusahaan selalu dimanfaatkan untuk pertemuan dengan wartawan. Saya
memang punya forum yang disebut “bengkel wartawan”. Di forum “bengkel” itulah
saya selalu diminta menularkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. Berarti
makan siang juga kelewatan.
Selesai forum bengkel, sudah tidak tahan lagi untuk segera makan durian.
Makannya tidak di pantai Ambon tidak apa-apa. Kebetulan di depan kantor, di
pinggir jalan depan Masjid Al Fatah, banyak penjual durian. Kenyanglah. Lupa
sudah makan siang. Malamnya, setelah makan malam dengan menu makanan lokal
yang disebut papeda, saya ke kantor lagi sambil seperti menangis. Papeda malam
itu merupakan makanan terpedas yang pernah saya alami setelah makanan yang
disebut suai yang ru di Chongqing, Tiongkok.
Mestinya, saya jangan makan papeda malam itu. Mestinya tetap saja makan
ikan laut. Ikan laut Ambon segarnya, manisnya, enaknya, bukan kepalang. Saya
selalu merindukannya. Tapi, sejak kerusuhan Ambon, saya tidak tahu lagi di mana
restoran yang terkenal itu membuka usaha.
'"
Perut saya mulai bergolak malam itu. Mungkin ikan-ikan Ambon cemburu
dan marah mengapa malam itu saya melupakannya. Lalu menyantet perut saya.
Meski perut mulas, tengah malam itu saya masih harus ke percetakan. Paginya,
pukul empat sudah harus berangkat ke Makassar. Rapat dengan harian Fajar yang
kini baru menyelesaikan membangun gedung Graha Pena Makassar. Rapat pun
buru-buru karena harus segera ke Kendari, rapat dengan harian Kendari Post yang
waktu itu juga lagi membangun Graha Pena Kendari. Di Kendari saya juga punya
cita-cita khusus: makan ikan bakar. Hari itu bumbunya juga pedas bukan kepalang.
Tiba di Surabaya, barulah saya bisa tidur dengan baik. Bangun tidur, tiba-tiba
saya mau muntah. Saya muntahkan saja, tapi kedua tangan saya menjadi penadah.
Sambil tangan menampung muntahan, saya lari ke toilet untuk membuang
muntahan yang ada di tangan. Tentu ada yang tercecer di lantai kamar. Dari yang
tercecer itulah saya lihat banyak onggokan berwarna hitam. Setelah onggokan itu
saya injak, ternyata warnanya merah: darah. Oh, ternyata saya muntah darah.
Tapi, badan saya rasanya baik-baik saja. Saya memang merencanakan ke
dokter, tapi besoklah. Setelah saya menghadiri coblosan pemilihan wali kota
Surabaya. Anak buah saya, Pimred Jawa Pos Arif Afandi, menjadi calon wakil wali
kota mendampingi calon Wali Kota Bambang D.H. Saya harus memilihnya sebagai
dukungan ke anak buah.
Barulah selesai coblosan saya ke Rumah Sakit Darmo Surabaya.
Perkembangan hasil pilkada itu, di mana Bambang-Arief terpilih, saya ketahui saat
saya berbaring di ranjang pasien.
Saya ternyata memang harus ngamar di rumah sakit. Dokter menyesalkan
saya, mengapa begitu muntah darah tidak langsung ke rumah sakit. Dokter bilang
saya beruntung. Bisa jadi muntah darah itu akan sangat fatal dan mematikan. Lalu
saya ingat kakak saya yang meninggal tidak lama setelah muntah darah. Juga ibu
saya. Paman-paman saya.
Pemeriksaan di Rumah Sakit Darmo menunjukkan betapa berbahayanya
sakit saya. Bahaya yang sama sekali tidak saya rasakan sebelumnya. Bahaya yang
'#
selalu kalah dengan semangat. Dalam istilah teman saya, penyakit tidak mau
mampir ke badan saya karena tidak akan dilayani akibat kesibukannya.
Ternyata semua itu menipu. Penyakit tetap datang dan diam-diam
menggerogoti onderdil saya. Sebuah kerusakan di dalam, yang tidak segera
diketahui di luarnya. Tahu-tahu saja sudah terlambat sekali.
Esofagus Ditambal atau Bilang Saja
Pencernaan Dilaminating
10 September 2007
KETIKA kartu suara pemilihan wali kota Surabaya dihitung, dokter RS
Darmo Surabaya juga mulai melihat dari mana asal darah yang saya muntahkan.
Saya dibius. Tenggorokan saya dimasuki alat yang ujungnya berkamera superkecil.
Tindakan ini dalam istilah kedokteran disebut dengan endoskopi. Yang
mengendoskopi saya ketika di RS Darmo Surabaya saat itu adalah dr Pangestu Adi
SpPD-KGEH, yang sudah sangat ahli dan senior di bidang itu.
Dari tenggorokan, alat itu masuk sampai ke lambung saya, melalui pipa
esofagus (yang menghubungkan mulut dengan lambung).
Dari gambar yang dipantulkan alat itu terlihat, betapa banyak gelembung
darah yang siap pecah di sepanjang esofagus saya. Ada yang kecil, banyak juga yang
besar. Gelembung-gelembung itu sebenarnya adalah pembuluh darah esofagus
yang karena tekanannya terlalu besar lantas menggelembung. Dalam istilah medis,
pembuluh darah esofagus yang menggelembung dinamakan varises esofagus.
Disebut varises karena memang mirip varises di betis.
'$
Hanya, karena dinding pembuluh darah esofagus lebih tipis, varises di bagian
itu lebih gampang meletus, pecah. Jika itu terjadi, pasien akan mengalami
pendarahan hebat yang sulit dikendalikan. Akibatnya bisa sangat fatal. Yakni,
pasien meninggal karena kehabisan darah.
Varises esofagus terjadi karena pembuluh darah utama yang masuk ke liver
menyempit akibat adanya sirosis. Karena pintu masuknya menyempit, tekanan di
pembuluh darah utama itu pun jadi meningkat. Karena tak segera diturunkan,
tekanan itu pun merembet sampai ke pembuluh darah esofagus dan limpa. Itu
sebabnya mengapa limpa saya juga ikut membesar sampai hampir tiga kali lipat.
Kata banyak dokter di Surabaya ketika itu, saya termasuk orang yang
beruntung. Karena tidak kolaps ketika beberapa gelembung varises di esofagus
saya pecah dan menyebabkan saya muntah darah dua hari sebelum endoskopi
dilakukan.
“Sebaiknya Pak Dahlan segera ke Singapura. Dalam kesempatan pertama,”
ujar Prof Dr dr Boediwarsono SpPD-KHOM yang merawat saya ketika itu. “Lebih
baik dilakukan di sana,” tambahnya.
Sampai saat itu, saya masih belum memahami sepenuhnya bahaya yang saya
hadapi. Maklum, rasa badan saya baik-baik saja. Baru dua minggu kemudian, ketika
ada acara di Singapura, saya mampir ke seorang ahli penyakit dalam yang terkenal
di RS Mount Elizabeth. Saya diperiksa di situ untuk mengetahui apa yang terjadi
sebenarnya dan tindakan apa yang harus dilakukan. Seminggu kemudian saya
diminta datang lagi untuk operasinya. Hari itu dia sudah telanjur banyak janji
dengan pasien lain. Padahal, operasinya perlu waktu dua jam sendiri.
Agar kedatangan saya ke Singapura minggu depannya lebih efektif, saya
bikin janji dengan investor Singapura yang bersama perusahaan daerah Jatim akan
membangun shore base di Lamongan. Sebelum operasi, saya punya waktu
membicarakan kelanjutan rencana proyek Rp 250 miliar itu. Dengan cara ini
perusahaan daerah tidak perlu keluar uang perjalanan dinas dan biaya-biaya lain.
Saya memang biasa begitu. Urusan perusahaan daerah selalu saya gabung dengan
'%
urusan saya pribadi. Sehingga selama lima tahun sebagai Dirut perusahaan daerah,
saya tidak pernah menggunakan uang perusahaan.
Minggu depannya, selesai rapat, saya ke rumah sakit. Langsung dibius dan
dioperasi. Sekali lagi, tenggorokan saya dimasuki alat yang bisa masuk sampai
pencernaan. Seperti pada endoskopi, ujung alat itu pun dilengkapi kamera.
Dengan bantuan kamera itu, tim dokter di Mount Elizabeth lantas
mereparasi esofagus saya. Antara lain dengan menuangkan semacam lem
berwarna putih ke gelembung-gelembung varises di esofagus saya. Tujuannya
untuk menambal bagian yang sudah meletus, sekaligus melapisi yang sudah siap
meletus. Dengan begitu, ketika meletus, darahnya tidak semburat ke luar lagi.
Teknis penambalan esofagus sebenarnya tidak sesederhana penjelasan saya
itu. Saya hanya menyederhanakannya. Bahkan, kepada keluarga saya, saya
menggunakan istilah yang lebih sederhana lagi: Saluran pencernaan saya
“dilaminating”.
Karena jumlah gelembung yang harus ditambal begitu banyak, proses
“laminating”-nya tak bisa hanya sekali. Dan, hari itu dokter hanya punya waktu
untuk mengatasi gelembung yang besar-besar, yang sudah meletus dan benar-
benar siap meletus. Selain itu, kalau yang “dilaminating” kebanyakan, beban bagi
tubuh saya akan terlalu berat.
Dengan hanya “melaminating” yang besar-besar, dokter berharap
gelembung yang kecil-kecil akan mengecil dengan sendirinya. Untuk memastikan
itu, saya diminta kembali dua bulan kemudian.
Sesuai jadwal, dua bulan kemudian saya balik ke Singapura. Rapat lagi sambil
meneruskan proses “laminating” berikutnya. Meski yang kecil-kecil tidak
membesar, dokter memilih yang aman. Gelembung-gelembung kecil yang tersisa
“dilaminating” semua. Hari itu, persoalan mendesak yang mengancam hidup saya
teratasi. Tepatnya, teratasi sementara.
Kenapa sementara? Ini karena penyebab terjadinya gelembung-gelembung
itu sendiri masih njegog di badan saya: sirosis. Kelak saluran pencernaan saya akan
tertekan lagi, bengkak lagi, dan menjadi gelembung-gelembung darah lagi. Berarti
'&
setahun kemudian saya masih terancam muntah darah lagi. Tapi, dengan
“laminating” ini, setidaknya saya bisa mengulur waktu.
Bulan berikutnya, ketika direksi perusahaan daerah sudah selesai
merundingkan draf perjanjian dengan pihak Singapura, saya putuskan untuk
menandatangi perjanjian setebal bantal itu. Saya juga sudah minta tolong agar
teman saya, Robert Lai, lawyer lulusan Inggris yang sudah biasa bikin perjanjian
dalam bahasa Inggris, untuk melihat, mencermati, dan memberikan koreksi mana-
mana yang akan membuat posisi perusahaan daerah lemah. Dia memberikan
banyak sekali koreksi. Lalu menyerahkan koreksi itu ke direksi perusahaan daerah
untuk dipikirkan lebih lanjut. Dia melakukannya secara gratis. Sudah beberapa kali
Robert membantu perusahaan daerah secara sukarela seperti itu.
Menjelang tanda tangan perjanjian itulah saya berkonsultasi dengan dokter
mengenai problem kesehatan saya yang berikutnya.
Misalnya, bagaimana mengatasi sirosis saya. Bagaimana agar tidak terancam
muntah darah lagi. Bagaimana agar kaki saya tidak bengkak lagi.
Lalu saya tunjukkan kaki saya yang mengembung dan membesar itu kepada
dokter yang merawat saya. “Bagaimana mengatasinya?” tanya saya.
Jawaban dokter itu sungguh di luar dugaan saya. “Beli saja sepatu yang lebih
besar,” katanya ketus. “Kalau sesak lagi?” tanya saya lagi. “Ya, beli lagi yang lebih
besar lagi!” jawabnya, enteng.
Jawaban itu memang seperti keluar dari mulut Asmuni-Srimulat. Tapi, saya
merenungkannya. Getir jawaban itu, tapi saya kunyah lama-lama. Semakin
dikunyah, memang semakin pahit rasanya. Seperti pahitnya butrawali, buah yang
dijadikan ukuran terpahit di Jawa. Lalu saya telan sedikit-sedikit lewat
tenggorokan saya yang sakit: beli sepatu yang lebih besar. Dan beli lagi yang lebih
besar lagi.
Begitu pahitnya kalimat dokter itu, membuat pencernaan seperti mulas dan
mau muntah. Lalu saya muntahkan sekalian kalimat dokter itu: Dalam wujud
muntah seperti darah. Merah rupanya, merah rasanya. Di atas muntahan itu seperti
terbaca peringatan keras: tidak ada obatnya, Dahlan, tidak ada obatnya!
''
***
Saya masih minta butrawali satu lagi: Bagaimana dengan sirosis saya?
Maksud saya apakah sudah ada obat untuk memperbaiki sirosis? Atau, dalam
bahasa orang awam, apakah ada jalan keluar untuk membuat liver yang sudah
mengeras di sana-sini itu kembali lunak? Dan jalan darah yang sudah banyak yang
buntu itu membuka lagi?
Dokter rupanya tidak punya banyak waktu. Juga tidak mau bertele-tele. Dia
seperti menganggap manusia ini benda yang tidak punya perasaan. Dokter
melemparkan jawaban pendek, langsung, tajam. Terasa seperti lemparan pisau
yang langsung mengarah ke liver saya. Menghunjam dalam sekali. Lalu menyayat-
nyayatnya. Berdarah-darah. Pedih. “Anda lakukan transplantasi saja. Mungkin
hidup Anda bisa lebih panjang lima tahun lagi,” katanya. “Sekarang Anda berumur
55 tahun. Tambah lima tahun menjadi 60. Cukuplah,” katanya.
OK. Lima tahun lagi, Dahlan, kau bisa dapat tambahan umur lima tahun lagi.
Tidak boleh lebih. Bisa sampai umur 60 cukuplah. OK.
Tapi, “Kenapa setelah transplantasi hanya bisa hidup lima tahun?” tanya
dokter itu pada saya. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. Saya sudah oke.
Tambah lima tahun sudah oke. Saya tidak mau dia memberi saya sekarung
butrawali. Tapi, dia jawab sendiri pertanyaan itu: karena liver barunya nanti
kemungkinan juga terkena hepatitis lagi, dan akan jadi sirosis lagi. Apalagi kalau
saat itu sudah ada kankernya, bisa jadi bibit kanker itu juga masuk lagi ke liver baru.
Berarti juga tidak ada jalan keluar untuk sirosis. Padahal, sirosis itu yang
menyebabkan saluran pencernaan bengkak dan membuat gelembung-gelembung
darah. Berarti juga, dua-duanya tidak ada jalan keluar. Tidak ada obatnya. Tidak
ada alternatifnya. Tidak ada pula keajaiban yang bisa diharapkan.
***
Dokter itu tidak kenal saya. Dia hanya tahu saya orang Surabaya. Dia tahu
itu karena hampir semua pasiennya mengatakan kenal saya. Dia lantas mengira
saya kerja di perusahaan periklanan. Satu perkiraan yang tidak terlalu salah. Ruang
praktiknya memang penuh dengan pasien dan sebagian besar orang Indonesia.
'(
Mungkin karena itu, di dinding pendek dekat meja resepsionis terdapat banyak
guntingan koran Indonesia yang memuat tentang ceramah dan wawancara dengan
dokter itu. Salah satunya adalah koran dari Grup Jawa Pos.
Saya sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan kata
transplantasi. Saya masih menganggap kata-kata transplan dari dokter tersebut
tidak terlalu meyakinkan. Saya tidak terlalu memikirkannya. Apalagi, ancaman
kematian tiba-tiba sementara sudah teratasi.
Karena badan normal-normal saja, saya juga hidup normal lagi. Artinya sibuk
lagi, terbang-terbang lagi. Hanya saya lebih care dibanding dulu. Saya terus
memonitor darah saya di laboratorium. Dua minggu sekali, setiap akan membuka
hasil lab, perasaan saya seperti anak sekolah yang sedang menerima rapor. Kadang
saya membuka hasil lab itu seperti membuka kartu remi yang tertutup di atas meja.
Pelan-pelan, sedikit-sedikit, takut angka-angka merahnya terlihat sekaligus.
')
Dokter Mengetuk Dada, Timbul Bunyi
seperti Tong Kosong
11 September 2007
SAYA pernah membenci kaus kaki. Setiap pulang dari bepergian, selalu saja
kaki saya seperti balon panjang yang ditiup tidak sempurna. Besar atas bawahnya,
dekok di tengahnya. Ini terjadi karena karet di kaus kaki tersebut menekan kaki
saya. Karena yang dijepit adalah daging kaki yang bengkak, maka tidak gampang
baliknya.
Pernah saya merasa penat. Yakni, saat habis makan malam dengan Wakil
Presiden H M. Jusuf Kalla dan lima menteri yang menyertainya. Waktu itu kami
makan di satu restoran kecil, namun istimewa. Saya tahu alamat restoran itu dari
Rajimin, bos Hotel J.W. Marriott Surabaya yang juga konsul kehormatan Hongaria.
Restoran itu ada di pojok Jalan Tianjin, Shanghai. Semua masakannya terbuat dari
kepiting. Mulai supnya, makanan kecilnya, sampai makanan penutupnya. Enaknya
luar biasa.
Pulang makan, saya mampir ke kios pijat kaki. Setelah melepas kaus kaki
saya, si ahli refleksi kaget. “Karet kaus kakimu terlalu kuat. Lihat. Sampai membuat
kakimu seperti ini,” katanya sambil melihat bagian kaki yang ’ambles’. Dia pun,
seperti saya, ternyata juga menyalahkan kaus kaki.
Padahal, yang salah adalah kakinya. Tepatnya, yang salah sebenarnya liver
saya yang tidak lagi mampu mengolah protein secara normal. Bahkan, kalau mau
yang paling tepat lagi disalahkan adalah saya sendiri: Mengapa tidak menjaga baik-
baik liver saya? Dua tahun lamanya saya membenci kaus kaki. Tapi juga tetap
memerlukannya. Sebab, kalau tidak pakai kaus kaki, perut saya langsung kembung.
Begitulah. Hubungan saya dengan kaus kaki menjadi sangat unik: Jenis
hubungan yang disebut love and hate -cinta dan benci. Dalam situasi terus
membenci kaus kaki seperti itulah, saya terus beraktivitas. Terbang berjam-jam.
Berkendaraan beratus-ratus kilometer. Di dalam negeri. Di luar negeri.
(+
Sampai suatu saat saya punya urusan di kota Tianjin, 100 km dari Beijing. Di
sini kebetulan ada kenalan dokter ahli liver yang hebat. Namanya Prof dr Shao.
Seorang wanita tepat seumur saya, yang mengepalai bagian liver di suatu rumah
sakit di sana. Dia dobel dokter. Dokter ilmu kedokteran Barat dan dokter ilmu
kedokteran Tiongkok. Dia juga doktor di spesialisasi liver, limpa, dan empedu. Saya
kepingin mencari pendapat pembanding. Benarkah tidak ada jalan keluar untuk
problem bengkak saya itu. Benarkah sirosis itu tidak bisa disembuhkan, minimal
dihentikan proses memburuknya.
Tentu, saya diminta Prof Shao untuk menjalani pemeriksaan ulang. Mulai
kencing, kotoran, darah, liver, limpa, paru, sampai prostat. Juga menjalani
pemeriksaan fisik yang dia lakukan sendiri. Yakni pemeriksaan secara kedokteran
Tiongkok. Dia ketuk-ketuk rongga dada saya dengan jarinya. Timbullah suara
seperti tong kosong. “Ini pertanda liver Anda memang sudah mengerut, mengecil,”
katanya. “Di rongga dada Anda sudah mulai ada ruang kosongnya,” tambahnya.
Setiap Prof Shao memeriksa fisik saya, selalu banyak dokter muda yang
diajaknya. Dokter-dokter muda itu menyimak dengan tekun apa saja dijelaskan
Prof Shao sehubungan dengan kondisi badan saya. Dia memang juga pengajar di
fakultas kedokteran yang terkait dengan rumah sakit itu.
“Lihat ini,” kata Prof Shao kepada para dokter muda itu. Sambil berkata
demikian, Prof Shao menyingkap baju saya sampai dada saya terbuka. Lalu, dia
memegang-megang payudara saya (eh, kalau milik laki-laki apa juga disebut
payudara?). “Lihat payudara dia ini. Juga membesar. Seperti payudaranya gadis
yang menginjak remaja. Orang yang terkena sirosis akan selalu seperti ini,” ujarnya.
Kenapa Prof Shao mengumpamakan payudara saya seperti payudara gadis
belia, karena proses pembesaran kelenjar susu lelaki yang menderita sirosis
memang mirip pertumbuhan payudara gadis yang beranjak remaja. Yakni dimulai
dengan rasa nyeri pada bagian putingnya saat tersentuh sesuatu. Perlahan-lahan
rasa nyeri itu berkurang, bersamaan dengan makin besarnya payudara. Seperti
umumnya gadis remaja, pembesaran payudara saya juga dimulai dari yang kiri, baru
kemudian yang kanan.
(*
Jika liver saya tidak keburu ditransplan, payudara saya akan terus membesar
menyerupai payudara wanita. Dalam istilah medis, pembesaran payudara yang
saya alami itu disebut dengan gynecomasty atau ginekomastia.
Lama sekali dia memegang-megang payudara saya. Tapi, bayangan saya
lebih kepada sirosis yang mengancam nyawa saya. Tidak hanya hari itu. Berkali-kali
Shao menjadikan payudara saya sebagai alat peraga untuk mahasiswanya. Saya
menerima saja. Bukan karena merasakan remasannya, melainkan itu memang
penting agar orang lain jangan sampai seperti saya.
Setelah selesai bagian dada, tangannya turun ke perut. Dia periksa perut
saya dengan dua tangannya. Dia pejamkan matanya seolah ingin merasakan benar
apa yang berubah dari perut saya senti ke senti. Dia goyang-goyang perut saya.
“Masih beruntung. Air belum masuk ke rongga perut,” katanya.
Prof Shao memang sangat khawatir air yang sudah memenuhi seluruh badan
saya juga sudah mulai mengalir ke rongga perut. Sebab, memang begitulah proses
yang akan terjadi berikutnya. Air akan “bocor” dan menggenangi rongga perut.
Karena itu, penderita sakit liver seperti saya akan berakhir juga dengan keadaan
perut membesar penuh air. Mula-mula perut akan seperti balon berisi air: Ginjur-
ginjur. Dalam istilah medis, keadaan itu disebut dengan ascites.
Semakin lama, jumlah air di perut akan semakin banyak dan memaksa perut
untuk membesar. Bersamaan dengan membesarnya perut, biasanya pembuluh-
pembuluh darah di permukaan perut juga ikut melebar sehingga tampak seperti
sarang laba-laba, tapi warnanya merah. Sesuai dengan tampilannya, para dokter
menyebut pelebaran pembuluh darah itu dengan istilah spider veins.
Pada tahap berikutnya, perut yang besar itu mengeras. Saya sudah berkali-
kali melihat perut orang sakit liver seperti ini dan biasanya sudah akan meninggal
kurang dari enam bulan. Begitu juga ibu saya dulu. Satu pemandangan yang saya
lihat ketika saya masih berumur 12 tahun dan terus hidup sampai saya sendiri
dalam posisi akan mengalaminya.
Saya sendiri beruntung karena sampai saat transplantasi, saya tidak
mengalami yang disebut ascites maupun spider veins itu.
("
“Ini harus dicegah sedini mungkin, sebisa-bisanya,” kata Shao kepada para
dokter muda tersebut. Tapi, itu pun sifatnya hanya usaha untuk buying time.
Dokter di Singapura berpendapat sama. Dia memberikan dua jalan:
Meminum obat agar kencing lancar dan meminta saya untuk tidak banyak minum.
Dua-duanya saya jalani. Sampai-sampai saya pernah merasa takut pada air minum.
Setiap mau minum, selalu terbayang bahwa sebagian air itu akan terus membuat
badan saya bengkak. Sebagian lain akan membuat perut saya membesar, ginjur-
ginjur, dan akhirnya mengeras.
Pada awalnya, saya agak terhibur dengan “pil pelancar kencing”. Tapi, lama-
lama satu pil tidak cukup membuat kencing saya mengalir lancar. Harus dua pil. Ini
pun lama-lama juga sudah kurang manjur. Terpaksa, saya terus mengurangi minum.
Beberapa bulan terakhir saya hanya berani minum satu liter saja sehari. Ini karena
kencing saya hanya sekitar 700 sampai 900 mililiter sehari semalam.
Di Tianjin, Prof Shao memberi saya obat Tiongkok yang sudah berwujud
cairan infus. Tiap hari saya diinfus dengan itu dan bengkak berkurang. Kencing
lancar sekali. Tapi, kalau infus dihentikan, tetap saja badan kembali bengkak. Shao
menjelaskan mengapa demikian kepada para dokter muda - beberapa di antara
mereka dokter muda dalam ilmu kedokteran Tiongkok.
Ketika saya banyak tanya mengenai khasiat dan bahaya setiap obat yang
diberikan kepada saya, Shao bergegas menatap wajah-wajah dokter muda. “Lihat
sahabat saya ini. Banyak bertanya. Kelak, semua pasien akan seperti ini. Kalian
harus bisa menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Pasien memang punya hak
untuk tahu,” ujar Shao sambil tangannya tetap di perut saya. Kadang tangannya
mampir lagi ke payudara saya. Ini karena di antara dokter muda hari itu, ada wajah
baru yang belum diberi tahu bagaimana payudara saya juga membesar seperti
gadis menginjak remaja.
Lain hari, saya ingin Prof Shao ganti mengajar saya. Sebelum hari yang
ditentukan itu tiba, saya beli kertas putih lebar. Lalu, saya tempelkan di dinding
kamar rumah sakit. Saya ingin dia menjelaskan secara gamblang rangkaian
penyakit saya. Saya juga beli spidol warna-warni untuk membedakan gambar aliran
(#
darah masuk dan keluar. Dia tersenyum melihat persiapan saya hari itu. “Wah, saya
harus mengajar berapa jam?” tanyanya bergurau. Pipinya yang padat, hidungnya
yang agak mancung, badannya yang tinggi, dan rambutnya yang ikal membuat
penampilannya sangat aristokrat. Apalagi kalau berat badannya bisa turun satu kilo
lagi. “Satu jam 10.000 yuan ya?” guraunya ketika menyebut uang setara Rp 11
jutaan tersebut.
Di dinding itu dia menggambar isi tubuh saya. Menjelaskannya sangat detail
dan terang-benderang. Dia pandai sekali mengajar. Pasti banyak mahasiswanya
yang senang. Saya juga belajar yang lain lagi: bahasa. Sebab, bahasa Mandarin yang
dia gunakan sangat teknis dengan logat yang sangat Tianjin. Kini tahulah saya
secara gamblang penyakit saya, terutama ancaman mati yang nyata di depan mata
saya. “Ini tidak ada obatnya,” katanya tegas. Muncul karakternya sebagai
pemimpin. “Kecuali istirahat total,” tambahnya. “Obat hanya memegang peranan
kurang dari 15 persen. Yang 85 persen lebih adalah perilaku pasien sendiri,”
ujarnya.
Prof Shao melarang saya banyak jalan, gerak, dan terlalu lelah. Tidak boleh
marah, kemrungsung, dan berada dalam situasi tergesa-gesa. Padahal, salah satu
hobi saya “mengejar” pesawat. Saya sering tidak sabar menunggu jadwal pesawat.
Kalau pesawat yang akan terbang ke suatu tujuan masih tiga- empat jam lagi,
biasanya saya cari pesawat ke jurusan yang lain dulu.
Saya juga tidak boleh merasa kesal. Tidak memikirkan banyak persoalan
sekaligus. Tidak boleh mikir yang berat-berat. Saya harus pensiun. Saya hanya
boleh memikirkan badan saya sendiri. Tidak boleh lagi mikir orang lain.
“Ibaratnya,” kata Prof Shao, “Rumah tetangga terbakar pun, Anda jangan
peduli.” Tegas sekali peringatannya. Terang sekali contohnya. Hanya mahasiswa
yang bodoh yang tidak bisa memahaminya. Dan saya ternyata termasuk
“mahasiswa”-nya yang amat bodoh.
($
Dokter Menegur Iba, Ingat Nasib
Ayahnya yang Redaktur
12 September 2007
BUKAN. Bukan bodoh. Semua penjelasan Prof Shao mengenai bahayanya
penyakit saya, saya mengerti sepenuhnya. Terang-benderang penjelasannya. Saya
pasti tidak bodoh. Hanya saya sadari, saya agak ndablek. Dan dia tahu perilaku saya
itu. Dia tahu keras kepala saya, sembrono saya.
Suatu saat, ketika saya kembali menemuinya setelah setengah bulan
menghilang, dia lama memandang saya. “Ke mana saja Anda? Kami di sini prihatin
sekali. Takut terjadi sesuatu pada Anda,” katanya dengan nada khawatir. Mungkin
juga jengkel.
“Saya baru datang dari Indonesia,” jawab saya. Dia setengah tidak percaya,
setengah gondok. “Lho, setelah dari sini dulu itu, Anda pulang ke Indonesia?
Kenapa? Apa kata saya tentang kebakaran rumah tetangga?” ujarnya. Dia lantas
menarik napas panjang sekali.
“Dahlan, Anda ini sudah gawat. Saya tidak mau kehilangan Anda,” katanya.
Berkata begitu, dia seperti setengah menegur setengah mengiba. Dia kembali
menarik napas panjang sekali. Matanya kelihatan berlinang. Dia keluarkan tisu di
sakunya. Dia usap air matanya.
Beberapa hari kemudian, dia bercerita kepada saya mengapa sampai hampir
menangis ketika menasihati saya. Ternyata, dia ingat bapaknya. Bapaknya seorang
redaktur surat kabar. Ibunya seorang hakim terkemuka. Bapaknya terus menulis
buku sepanjang malam. Lalu meninggal. Ternyata karena sakit liver. Dia tidak tahu
itu dan tidak memperhatikan itu. Padahal, dia dokter ahli liver. Waktu itu, katanya,
dia juga sedang belajar ekstrakeras selain kerja keras. Sebab, dia akan segera dapat
beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri. Tapi, semuanya gagal. Beasiswa tidak
jadi. Ayahnya pun pergi. Dia menangis lagi saat menceritakan itu.
(%
Dia lantas ingin merawat saya semaksimal mungkin agar tidak seperti
bapaknya. Saya sendiri juga kepingin agar tidak seperti ibu saya. Dia akan sangat
kecewa kalau saya sendiri tidak peduli dengan badan saya. Apalagi dari hasil
pemeriksaan total, dia lihat masih ada sedikit peluang. Hasil “laminating” yang
dilakukan di Singapura terhadap saluran pencernakan saya yang sudah penuh
varises sangat baik. Cukup untuk mengulur waktu beberapa bulan. “Laminating” itu
kurang lebih bisa bertahan setahun. Kalau toh ada tanda-tanda bengkak lagi, masih
bisa “dilaminating” sekali lagi.
Prof Shao lebih prihatin pada kadar platelet atau trombosit saya yang tinggal
60. Angka minimal untuk kadar trombosit seharusnya 150 (ini angka dalam standar
laboratorium di Tiongkok). Di negara lain, termasuk Indonesia, digunakan standar
minimal 150.000. Normalnya 150.000 sampai 400.000 per milimeter kubik darah.
Melihat rendahnya kadar platelet saya, Prof Shao lantas berpikir keras
mencari jalan untuk menaikkan kadar platelet saya. Tapi, caranya tidak lewat
injeksi karena hal itu hanya bisa bertahan dua-tiga hari. Setelah itu, platelet akan
turun lagi.
“Mungkin saya akan mengecilkan limpa Anda,” katanya. Limpa saya harus
dipotong? “Boleh dibilang begitu. Namanya diembolisasi,” ujarnya.
Dipotong seberapa banyak? “Sekarang, limpa Anda sudah membesar tiga kali
ukuran normal. Mungkin dikurangi sepertiganya dulu,” katanya.
“Limpa dipotong?” kata saya dalam hati. Saya minta waktu berpikir untuk
memutuskannya. Mengapa limpa harus dikecilkan?
Limpa adalah organ kecil -yang dalam keadaan normal hanya seukuran
genggaman kita- di bawah iga kiri. Tugasnya melawan infeksi, memproduksi sel
darah merah dan darah putih tipe tertentu, serta menyingkirkan sampah-sampah di
pembuluh darah. Yang disebut sampah di pembuluh darah, antara lain, adalah sel-
sel darah yang rusak.
Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan terdahulu, aliran darah ke liver
saya (baca: penderita sirosis) tidak bisa lancar. Akibatnya, darah mengalir balik ke
(&
limpa. Untuk menampung limpahan itu, limpa lantas “membesarkan diri”. Makin
banyak darah yang harus ditampung, semakin besar pula ukuran limpa.
Karena jumlahnya di luar batas normal, limpa pun memperlakukan sel-sel
darah yang numpuk itu sebagai sampah yang harus disingkirkan. Itu berarti sel-sel
darah yang “sehat” pun ikut disingkirkan.
Bagi limpa, luberan sel darah yang berlimpah itu memang menyulitkan.
Sebab, jika tidak dihancurkan, sel-sel sehat dan rusak itu akan mengerak dan
mengganggu fungsinya. Tapi, jika dihancurkan semua, darah akan kekurangan sel
darah merah, darah putih, dan platelet yang “sehat”. Padahal, orang yang
kekurangan sel darah merah akan mengalami anemia (kekurangan darah). Kalau
kekurangan darah putih, orang akan gampang terkena infeksi dan yang kekurangan
platelet akan mudah mengalami pendarahan. Tiga-tiganya bisa mengakibatkan
kematian.
Oh, ya saya lupa menjelaskan bahwa sebenarnya, bukan hanya kadar
platelet saya yang turun. Tapi juga sel darah putih dan sel darah merah saya. Untuk
menormalkan kadar sel-sel darah saya itulah, Prof Shao memutuskan perlunya
mengecilkan limpa saya.
Ini memang bukan langkah permanen. Sebab, selama liver saya sirosis, darah
yang tidak bisa masuk liver akan meluber dan menekan ke mana-mana, termasuk
ke limpa. Artinya, setelah dipotong pun, kelak limpa membesar lagi? Ya. Dan itu
akan membuat pletelet juga turun lagi. Kalau tahap itu sudah terjadi, limpa saya
masih bisa dipotong lagi, sekali lagi.
Limpa memiliki tiga saluran darah masuk utama. Kalau salah satu saluran itu
dimatikan, limpa akan mati sepertiga. Mematikan salah satu di antara tiga saluran
itulah, yang akan dilakukan Prof Shao. Kelak, kalau limpa sudah membesar lagi,
masih ada satu di antara dua saluran utama yang bisa dimatikan lagi. Tentu
pemotongan limpa itu tidak bisa dilakukan tiga kali karena sama artinya dengan
membuang limpa sama sekali. Tapi, dua tahap pemotongan limpa tersebut
dianggap cukup untuk mengulur waktu sampai lima tahun.
('
Saya tetap minta waktu memikirkannya. Saya kembali ke Indonesia lagi agar,
antara lain, bisa mampir ke Singapura. Saya ingin mendapatkan opini pembanding.
Saya harus kembali ke tanah air karena sudah terlanjur komit untuk
mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim. Dari Kaltim-lah, saya memulai karir
sehingga saya anggap Kaltim seperti daerah kelahiran sendiri. Setamat SMA, saya
memang ke Kaltim, ikut kakak sulung saya. Tujuan satu: agar bisa kuliah. Di Jawa
saya tidak mungkin bisa masuk universitas karena tidak punya biaya. Di Kaltim,
masuk univeristas masih gampang dan murah. Saya masuk Fakultas Tarbiyah IAIN
Sunan Ampel cabang Samarinda. Kampusnya di sebuah rumah panggung di Jalan
Panglima Batur IV. Sewaktu kuliah, saya sering melihat ke bawah. Karena lantai
papannya tidak cukup rapat, saya bisa menyaksikan apa yang terjadi di kolong yang
sering digenangi air. Sering ada suara “krosak” di kolong itu yang lebih menarik
perhatian saya daripada mata kuliah. Itulah suara biawak berkelahi. Biawak adalah
binatang seperti buaya, tapi hidup di darat. Sebagai tamatan aliyah, saya memang
tidak mendapat ilmu baru dari mata kuliah yang sudah saya pelajari semua di kelas
satu SMA itu.
Tahun-tahun belakangan Kaltim mengalami krisis listrik. Pemadaman terjadi
bergilir. Banyak kampung miskin terbakar karena saat lampu mati, mereka harus
menyalakan lilin. Nah, lilin itulah yang sering mengakibatkan kebakaran. PLN tidak
bisa banyak berbuat karena selalu rugi. Setahun PLN Kaltim bisa rugi hampir
setengah triliun rupiah (2005). Kaltim tidak bisa berharap banyak pada PLN.
Pembangkit-pembangkit listrik PLN sangat tidak efisien. Untuk menghasilkan satu
watt, diperlukan biaya Rp 2.000-an. Padahal, rakyat hanya dikenai tarif Rp 750.
Kalau tarif listrik dinaikkan, yang terjadi adalah demo. Jadi, sejak sebelum matahari
terbit pun, PLN sudah tahu bahwa hari itu perusahaannya akan rugi Rp 1.250 per
watt.
Maka, saya meyakinkan pimpinan-pimpinan daerah di sana, mulai gubernur
sampai DPRD, agar mau menyisihkan sebagian anggaran untuk investasi di listrik.
Membangun PLTU yang efisien, yang biaya produksi listriknya hanya Rp 500 per
watt. Kalau dijual Rp 750 per watt kepada masyarakat, PLN langsung untung.
((
Anggaran Kaltim yang besar karena sumber alamnya yang melimpah jangan habis
untuk kebutuhan konsumtif. Pemda setuju asal saya mau jadi direktur utama
perusahaan daerah di sana. Seperti yang saya lakukan di Jatim.
Proyek energi yang kelihatannya mulia itu ternyata juga memakan bukan
hanya dana saya, tapi juga energi saya. Dan, yang utama lagi memakan batin saya.
Meski tujuannya begitu hebat, logikanya begitu baik, dan hasilnya bagi PLN juga
begitu nyata (dari perusahan rugi akan langsung jadi laba), proses perizinannya
ternyata sangat panjang, melelahkan, dan menjengkelkan. Dua tahun baru beres.
Padahal, saya kenal direksi PLN-nya, kenal menteri-menteri di bidangnya, kenal
wakil presiden, dan bahkan presidennya. Memang, saya tidak pernah
memanfaatkan kedekatan saya itu untuk urusan tersebut. Sudah jadi prinsip saya
untuk tidak memanfaatkan keberadaan saya di pers untuk menekan seseorang.
Pernah suatu saat saya diajak ke Tiongkok oleh Wapres Jusuf Kalla. Di atas
pesawat, Wapres mengumpulkan menteri dan direksi PLN untuk membahas kasus
Kaltim itu. Ini bukan karena saya mengadu, tapi karena Chairul Tanjung yang
berinisiatif. Bos Bank Mega yang juga bos Trans TV itu yang prihatin dengan
keluhan saya. “Ini harus selesai. Kalau Dahlan saja mengalami hal seperti ini,
bagaimana yang lain?” katanya. Saya malu proyek sekecil itu saja sampai dibahas di
forum yang begitu tinggi. Tinggi level dan tinggi pula tempatnya. Di dalam pesawat
yang berada 36.000 kaki di atas permukaan laut.
“Urusan kecil begini kok panjang sekali, ya,” kata saya kepada Chairul
Tanjung. Sebagian karena malu, sebagian lagi sebagai ungkapan terima kasih atas
inisiatifnya.
“Ini memang rusan kecil bagi Anda. Tapi kalau tembok ini tidak dijebol, siapa
yang mau masuk jadi investor listrik,” kata bos Bank Mega yang namanya meroket
tahun-tahun terakhir ini. “Saya saja tidak mau. Saya baru mau masuk ke listrik kalau
urusan ini sudah selesai,” tambahnya.
Tentu sebenarnya juga bukan kecil bagi saya. Kecil yang saya maksud adalah
dari sudut pandang negara. Ini besar bagi saya, terutama risikonya. Risiko pada
keuangan saya dan pada kesehatan saya. Memang, saya akan dicatat sebagai
()
penjebol tembok kebuntuan listrik itu. Namun, bisa jadi, kepala saya juga pecah
ketika membenturnya. Tembok tersebut terlalu tebal.
Memang ada juga salah saya. Saya terlalu terpengaruh suasana di Tiongkok.
Ini gara-gara saya terlalu sering ke negeri itu dan melihat bagaimana antusiasnya
pemerintah kalau ada investor datang. Bayangan saya juga begitu sewaktu saya
memiliki semangat untuk ikut mengatasi krisis listrik di Kaltim. Pasti pemerintah di
segala lapisan akan senang. Kalau proyek tersebut berhasil, kan sama artinya
dengan menyumbang Rp 500 miliar tiap tahun kepada negara? Bayangan saya
pemerintah akan membuat segalanya lancar.
Kesalahan kedua saya, ketika setahun mengurus izin ini tidak berhasil
(karena sejumlah peraturan yang tidak mengizinkan PLN menandatangani kontrak
jangka panjang), saya setuju untuk kompromi. Yakni cukup mendapatkan kontrak
tahunan saja dari PLN. Kalau kontrak tahunan, PLN tidak melanggar peraturan.
Apalagi ada bank yang bersedia memberikan pinjaman meski kontraknya hanya
tahunan. Ternyata, ujung-ujungnya, bank tetap mensyaratkan kontrak jangka
panjang. Saya memahami aturan bank seperti itu. Saya juga memahami PLN tidak
boleh melanggar aturan. Yang tidak saya pahami adalah mengapa ada peraturan
yang menghambat kemajuan seperti itu. Kalau toh sudah telanjur ada karena masa
lalu yang kelam, mengapa tidak segera dicabut.
Maka, lagi-lagi kami harus mengurus izin kontrak panjang dengan PLN.
Tepatnya izin dari tiga lembaga, masing-masing dengan birokrasinya sendiri:
kementerian energi, kementerian BUMN, dan PLN. Di kementerian energi saya
tidak punya masalah. Di PLN hanya sedikit masalah. Tapi, saya buntu di kantor
menteri BUMN. Padahal, saya kenal Menteri Soegiharto. Bahkan, dia juga ikut
dalam rapat tingkat tinggi yang benar-benar tinggi itu.
Persoalan tersebut membuat saya harus mengabaikan peringatan keras Prof
Shao bahwa saya tidak boleh terbang, tidak boleh lelah, tidak boleh mikir, tidak
boleh marah, tidak boleh kesal. Saya ingat kata-kata Prof Shao bahwa walau terjadi
kebakaran di rumah tetangga pun, saya tidak boleh peduli. Tapi, yang kebakaran ini
)+
bukan rumah tetangga. Rumah saya sendiri: Kaltim. Juga rumah besar saya:
Indonesia. Indonesia yang begitu rumit peraturannya.
Saya harus pulang ke Indonesia untuk terus mengurus semua itu. Saya
menyesal telah berinisiatif mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim tersebut.
Menyesal luar biasa. Tapi sudah tidak bisa mundur lagi. Meski kondisi badan saya
sudah sedemikian parah, saya tidak bisa lari dari tanggung jawab itu.
Tidak pantas saya sebutkan di sini apa usaha yang saya lakukan untuk
mengatasi kebuntuan di kantor (Soegiharto, sebelum dicopot) menteri BUMN.
Yang penting, akhirnya sang menteri mengeluarkan surat persetujuan. Sebuah
persetujuan yang sudah sangat mahal; bukan saja karena prosesnya, tapi juga
akibatnya. Lambatnya proses ini telah membuat biaya investasi membengkak luar
biasa.
Tapi, ini sudah bukan lagi soal untung rugi. Ini soal krisis listrik yang harus
diatasi. Tiga-empat bulan lagi (akhir tahun ini), insya Allah Kaltim mulai bisa
mengatasi kelangkaan listrik. Liver baru saya mungkin juga akan ikut berbinar-
binar. Saya dengar setelah soal Kaltim itu selesai, berturut-turut banyak izin yang
ditandatangani PLN untuk investor-investor lain.
Dalam perjalanan pulang untuk mengurus listrik itu, saya bisa mampir ke
Singapura. Saya ingin bertanya ke dokter di Singapura, benarkah limpa saya harus
dipotong? Mengapa dokter di Singapura sama sekali tidak pernah menyinggung
soal limpa?
)*
Waktunya Tiba, ketika Menggigit
Pisang Berlumur Darah
13 September 2007
SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin,
Tiongkok, tentang rencana pemotongan limpa saya?
“Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet, memang OK,” katanya. Dia juga
setuju kalau sampai platelet turun terus, ketahanan tubuh saya kian habis dan saya
akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. Ini juga sama
dengan penjelasan Prof Shao. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka
berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya
minimal 150) sekarang tinggal 60. Dan masih akan turun terus.
“Setiap orang tidak sama,” jawab dr Shao. “Ada yang pada angka 60 seperti
Anda sekarang sudah perdarahan,” tambahnya. “Tapi, ada juga yang baru
perdarahan ketika platelet-nya sudah 50,” katanya lagi. Kapan platelet saya akan
turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? “Tidak bisa diperkirakan begitu. Bisa
saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya,” katanya. “Perhatikan saja
lubang hidung Anda. Atau telinga. Atau kalau sedang sikat gigi,” tambahnya.
Meski setuju platelet saya harus dinaikkan, dokter Singapura ternyata tidak
setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa. “Dibuang saja sekalian,”
ujarnya. Uh! Dalam istilah medis, pembuangan limpa itu disebut dengan
splenectomy.
Mendengar kata “limpa dipotong” saja, saya sudah tidak senang. Ini malah
disuruh membuang. “Tidak apa-apa. Orang bisa hidup tanpa limpa,” tambah dokter
di Singapura itu. Memang, orang bisa hidup tanpa limpa. Tetapi, kan lantas tidak
terlalu tahan terhadap infeksi. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu.
Fungsi limpanya bagaimana? “Diganti obat,” jawabnya.
Pemotongan limpa, menurut dokter Singapura itu, sangat berbahaya. Bisa
timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian. Yakni, infeksi di
)"
selaput dada, infeksi di tempat limpa dipotong. “Singapura sudah lama tidak mau
lagi memotong limpa. Sudah lebih 15 tahun,” katanya. “Membuang limpa sama
sekali malah lebih safe,” tambahnya.
Penjelasannya, meski singkat, sangat masuk akal. Saya bisa menerima
sepenuhnya. Tapi, saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu. Tidak
mungkin, rasanya. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang
limpa. Nanti, dalam kesempatan saya ke Tiongkok lagi, saya akan menemui Prof
Shao untuk ’menguji’-nya. Itu, tentu, kalau masih sempat.
***
Saya memang harus ke Tiongkok lagi. Ada beberapa urusan. Urusan Jawa
Pos sendiri, urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim,
urusan perusahaan daerah Kaltim, dan urusan menepati janji. Saya sudah berjanji
kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Tiongkok. Untuk
melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak.
Sudah lama saya gemas, mengapa Indonesia sebagai negara penghasil
minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus
menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru
menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari
tahun ke tahun. Terakhir, pada 2005, sudah berada di bawah satu juta barel per
hari. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC.
Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu. Saya
ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa. Saya sering ke ladang
minyak di Tiongkok. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi
Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. Padahal, sumur-
sumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku. Minyak yang
didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. Tapi, semangat untuk
menggalinya luar biasa. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa
menghasilkan minyak lebih banyak.
Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai. Maka, saya ingin
mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. Saya janjian bertemu di Kota
)#
Dalian. Di bandara kota itu pukul 24.00, yakni saat pesawatnya mendarat dari
Shanghai.
Paginya saya masih di kota Tianjin, untuk bertemu Prof Shao. Kepada ahli
penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat
dokter di Singapura. “Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa. Di sana
cara itu sudah dianggap kuno,” kata saya. “Siapa bilang itu kuno?” sergahnya.
Suaranya meninggi. “Justru membuang limpa itu yang kuno sekali. Itu cara 60 tahun
yang lalu,” katanya.
Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat
membahayakan, dia tidak mengelak. “Tentu saya tahu. Tapi, juga tahu cara
menghindarinya,”’ katanya. Jawabannya tegas, mantap, dan percaya diri. Tinggal
saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana. Dua-duanya masuk akal.
Dua-duanya bisa diterima secara medis. Ini soal pilihan. Giliran saya sendiri yang
harus memutuskan.
Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: sudah berapa kali Prof Shao
melakukan pemotongan limpa? “Sudah banyak kali,” katanya. “Banyak itu berapa?
Berapa puluh?” tanya saya lagi. “Sudah lebih dari 500,” jawabnya mantap. Ya, sudah.
Saya pilih dipotong saja. Biar berkurang, tapi masih ada sisanya. Saya ingat usul-fikh
ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua, jangan dibuang
semua.
Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. Tapi, sore itu saya
harus ke Dalian, karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di
bandara kota itu. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam.
“Saya minta izin ke Dalian dulu. Rumah besar saya, Indonesia, akan terbakar,”
gurau saya kepada Prof Shao. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Menarik
panjang napasnya.
Tiba di Dalian sudah agak malam. Sudah waktunya makan malam. Saat
makan malam itulah saya kaget. Ketika saya menggigit pisang, sisa pisang itu
berlumur darah! “This is the time! Wo de shi jian dao le. Tibalah sudah waktu saya,”
)$
kata saya dalam hati. Saya menundukkan kepala sesaat. Memikirkan apa yang
harus saya perbuat.
Saya lari ke toilet. Berkumur. Merah airnya. Berkumur lagi dan berkumur
lagi. Ah, hilang merahnya. Satu jam kemudian saya berkumur lagi, tidak ada
darahnya.
Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya. Saat menyalami
kedatangan Dirjen Migas, saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya.
Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia
minyak. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan
Indonesia, dan karena itu saya antusias membantunya.
Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. Sorenya bermobil lagi ke
kota Shenyang. Malamnya terbang ke kota Harbin. Pagi-pagi bermobil 500
kilometer ke kota Daqing. Dirjen serius sekali melihat semua itu. “Mereka ini
benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak,” katanya. Malam hari
balik lagi ke Harbin. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia.
Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya.
“Lakukan sekarang!” kata saya begitu bertemu Prof Shao. “Apa?”
tanyanya. “Potong saja limpa saya,” kata saya. “Mengapa?” tanyanya lagi, kali ini
seperti tidak percaya. Juga gondoknya kepada saya meningkat. Dia sudah sering
mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. “Wo bu guan ni,” katanya.
Tapi, saya tahu dia baik. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya. “Tidak bisa
sekarang. Harus ada persetujuan istri Anda,” katanya. “Saya bisa usahakan
sekarang,” tegas saya.
Saya lantas menelepon istri saya. “Kalau nanti ada teman Jawa Pos
membawa formulir ke rumah, tanda tangani saja. Formulirnya dalam bahasa
Mandarin, kita nggak tahu maksudnya,” kata saya. Istri saya tidak bertanya banyak.
“Saya akan operasi kecil,” kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya.
Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. Yakni, untuk mengeluarkan
benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya. Saya langsung
)%
minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya. Setelah
ditandatangani istri saya, dikirim balik ke Tianjin.
“Ini persetujuan istri saya,” kata saya. “Ini apa?” tanyanya melihat tanda
tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Tiongkok. “Itu tanda tangan
istri saya. Bentuknya tidak penting. Tapi, doa di balik tekenan itu yang penting,”
kata saya ingin setengah memuji istri saya, setengah melucu.
Ternyata Prof Shao tidak tersenyum. Saya lupa kalau dia komunis, yang tidak
tahu apa itu doa.
Dengan datangnya persetujuan istri saya, saya mengira operasi pemotongan
limpa bisa dilakukan hari itu, atau besoknya. Ternyata harus tiga hari kemudian.
Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak. Hari itu baru selesai. Dan,
saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya. Jadi, tidak bisa
tanggal 6 Oktober 2006. Harus 8 Oktober.
Padahal, saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. Lalu, sebagaimana
dijelaskan Prof Shao, sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah
sakit. Setelah operasi, 8 jam saya tidak boleh bergerak. Lalu seminggu tidak boleh
turun dari tempat tidur. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit.
Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan
berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek
PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. Maksud saya, tanggal 5 sebulan
kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Langsung ke bandara untuk
pulang ke Surabaya. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim
dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. Saya tidak pernah
membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal.
Namun, dengan mundurnya tanggal operasi, waktu recovery saya tidak
cukup. Itulah sebabnya, saat upacara tersebut saya terlihat pucat. Keringat dingin
memang memenuhi badan saya. Hari itu, ketika saya di panggung, seharusnya
masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin.
)&
Baru Tahu Mengapa Dokter
Singapura Pilih Potong Limpa Saya
14 September 2007
ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa,
memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. Apalagi, suhu badan saya, pada
hari-hari pertama, naik sangat tinggi: lebih dari 38 derajat Celsius. Tapi, semua bisa
diatasi. Seminggu kemudian, suhu badan saya kembali normal dan stabil. Rasa sakit
setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver. Juga lebih lama:
seminggu penuh.
Selama seminggu itu pula Prof Shao dalam ketegangan. “Sudah lima hari saya
belum pulang. Saya tidur di rumah sakit, di kantor saya. Menunggui Anda,” ujar dr
Shao. “Sekarang Anda sudah stabil. Saya mau istirahat,” pamitnya. Penampilannya
memang agak lecek. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar.
Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata, kini ganti saya
yang amat terharu. Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak
bisa pulang. Saya juga tabik tak henti- hentinya. Tabik dengan cara Tiongkok. Ini
untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. Begitu
besar perhatiannya. Begitu tinggi tanggung jawabnya.
Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih
membuang saja limpa saya daripada memotongnya. Perawatan setelah
pemotongan ternyata begitu sulit. Kebalikannya, perawatan setelah pembuangan
limpa akan lebih mudah. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien
seumur hidup, itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya.
“Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak
pulang,” kata saya dalam hati.
Tiga hari setelah libur, barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah
sakit. Wajahnya masih tidak terlalu cerah, seperti orang sakit. Matanya yang
biasanya tajam, kali ini agak memerah. Bulu matanya yang hitam seperti bendera
)'
setengah tiang. Tahu sedang saya perhatikan, dia merasa risi. “Dua hari saya flu,”
katanya segera. “Semua gara-gara Anda,” tambahnya.
Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. Ternyata saya telah
menyiksanya. Rupanya, begitu kondisi saya stabil, ketegangan lima hari yang
mencekam dirinya hilang. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang.
“Jadi, tiga hari di rumah tidak bisa menikmati,” katanya seperti ingin
bergurau. Guraunya selalu ringan-ringan saja. Tidak pernah dikemukakan dengan
lepas. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya.
Tiga minggu kemudian, badan saya sudah terasa enak. Lalu ingat lagi acara
PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. Saya tahu tidak akan
diizinkan pulang. Tapi, saya harus pulang. Ini soal kebakaran rumah memang, tapi
yang terbakar rumah sendiri, bukan rumah tetangga.
Pagi-pagi Guo Qiang, anak saudara angkat saya Mr Guo, saya minta
menerjemahkan surat yang saya buat. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam
bahasa Mandarin yang indah. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof
Shao. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa
dipakai merayu.
Surat itu saya mulai dengan pujian. “Mungkin, Andalah dokter terbaik di
muka bumi ini,” tulis saya di pembukaan surat. Setengah memuji, setengah
memompa dadanya. “Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk
menunggui pasiennya?” saya menunjukkan fakta. Saya tidak mengada- ada, meski
fakta itu memang saya pakai merayu.
Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. Lalu minta maaf.
Baru pada bait ketiga saya ’memperkosa’-nya. Yakni, memasukkan kalimat-kalimat
merendah, tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. Saya juga
mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu.
Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu. Wajahnya
merah serius. Langkahnya cepat. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai
agak tertinggal di belakang. Pagi itu, yang mestinya melakukan kegiatan rutin,
langsung diubah untuk menemui saya. Dari ekspresi wajah dan body language-nya,
)(
Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama. Rayuan saya ternyata telah
diabaikannya. Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca
alinea yang ’memperkosa’-nya.
Bertatapan dengan saya, dia tidak langsung berkata-kata. Dia menatap
wajah saya dengan tatapan multi-arti: marah, kesal, dan gondok bercampur jadi
satu. Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu. Lama dia
tidak berkata-kata. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. Setelah
menarik napas panjang, barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa.
“Sudah saya duga,” katanya.
“Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa
saya kuat terbang jauh?” kata saya memecah kebekuan. Lalu saya menunjukkan
hasil lab. “HB saya 13, SGPT-OT saya mendekati normal, Plt saya sudah 120,
tekanan darah juga normal,” kata saya.
Prof Shao seperti kian gondok. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu
kedokteran. “Semua itu benar,” jawabnya. “Tapi, ada satu data yang saya
sembunyikan. HBV-DNA Anda masih 15 juta. Padahal, seharusnya di bawah 100
saja,” katanya.
Saya terpojok. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya.
Bahkan, saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Kami
terdiam lama. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata. Melihat itu, dokter-
dokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu kepadanya. Mata saya juga
mulai berlinang. Saya dalam posisi sulit. Saya terjepit antara keharuan dan
romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. Tanggung
jawab yang juga tidak kecil. Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. Tanggung
jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. Lalu muncullah keteguhan dalam
hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu.
Maka, saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao. Turun dari
tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. Ini sebagai tanda bahwa saya
minta maaf yang dalam, tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan
pulang. Dia tahu saya tidak pura-pura. Saya sudah hampir menubruk kakinya. Prof