The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Berkah Jaya Motor, 2024-02-06 22:04:41

Seni dan Teknologi sebuah Kolase

book

Keywords: seni;teknologi

SENI DAN TEKNOLOGI SEBUAH KOLASE


UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4 Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi. Pembatasan Pelindungan Pasal 26 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap: i. penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual; ii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan; iii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran. Sanksi Pelanggaran Pasal 113 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah). 2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).


Agus Setiawan SENI DAN TEKNOLOGI SEBUAH KOLASE


Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Agus Setiawan Editor: Lailatul Marhamah Desainer: Siska Wulandari Sumber Gambar Kover: www.canva.com Penata Letak: Lailatul Marhamah Proofreader: Tim Mitra Cendekia Media Ukuran: xviii, 190 hlm, 14,8x21 cm ISBN: 978-623-176-294-8 Cetakan Pertama: November 2023 Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. Anggota IKAPI : 022/SBA/20 PENERBIT MITRA CENDEKIA MEDIA Kapalo Koto No. 8, Selayo, Kec. Kubung, Kab. Solok Sumatra Barat – Indonesia 27361 HP/WA: 0812-7574-0738 Website: www.mitracendekiamedia.com E-mail: [email protected]


v Kata Pengantar | ix Prakata | xvii BAGIAN I SENI: CARA PANDANG DALAM KAJIAN | 1 SENI UKIR DAN IDENTITAS KOTA UKIR | 2 A. Pendahuluan | 2 B. Sejarah dan Sosial Budaya | 9 C. Sejarah dan Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Jepara | 10 D. Jepara sebagai Kota Ukir | 13 E. Desain sebagai Warisan Budaya | 18 F. Motif Ukir dan Identitas Kota | 21 G. Keberadaan Motif Ukir untuk Identitas Kab. Jepara | 24 H. Pengembangan Desain Motif Ukir | 32 I. Penutup | 35 SURYA MAJAPAHIT DAN KONSEP KOMUNIKASI VISUAL (Studi Kasus Relief Masjid Mantingan Jepara Jawa Tengah) | 37 A. Pendahuluan | 37 B. Relief, Tanda Visual dan Surya Majapahit | 46 C. Keberadaan Relief Masjid Mantingan | 51 D. Konsep Surya Majapahit | 56 E. Tanda Visual Surya Majapahit dalam Relief Masjid Mantingan | 63 F. Konsep Landscape dalam Relief Mesjid Mantingan | 72 DAFTAR ISI


vi | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase G. Penutup | 75 BUKU ILUSTRASI CAGAR BUDAYA BERBASIS LOCAL GENIUS | 77 A. Pendahuluan | 77 B. Metode Pengembangan Buku Ilustrasi | 85 C. Desain dan Cagar Budaya | 87 D. Media Pembelajaran dan Local Genius | 89 E. Local Genius dalam Buku Ilustrasi | 91 F. Konsep Prototipe Buku Ilustrasi | 93 G. Buku Ilustrasi Cagar Budaya Berbasis Local Genius | 94 H. Penutup | 97 BAGIAN II TEKNOLOGI: PENERAPAN KAJIAN SENI | 99 LITERASI VISUAL dan MEDIA APRESISASI KARYA SENI | 100 A. Pendahuluan | 100 B. Literasi dan Literasi Visual | 105 C. Metode Literasi | 107 D. Literasi Visual | 110 E. E-Galeri: Wujud Media Penyediaan Literasi Visual | 113 F. Penutup | 120 PERAN MEDIA WEB INTERAKTIF DALAM BUDAYA KULINER | 122 A. Pendahuluan | 122 B. Kegiatan | 126 C. Sekilas Kabupaten Kudus | 128


Daftar Isi | vii D. Kudus dan budaya Kuliner | 134 E. Ekonomi Kreatif, Media dan Web Interaktif | 139 F. Pengembangan Media Web Interaktif sebagai Sarana Informasi | 142 G. Penutup | 146 TATA KELOLA PAMERAN BERBASIS PROJECT LEARNING | 148 A. Pendahuluan | 148 B. Project Based Learning, Pameran dan Tata Kelola | 154 C. Roadmap | 157 D. Pamungkas: Pameran Berbasis Project | 158 E. Karya Akhir Semester sebagai Karya Pameran | 158 F. Tata Kelola Pameran dalam Pembelajaran Apresiasi Karya | 165 G. Penutup | 170 Daftar Pustaka | 173 Indeks | 185 Profil Penulis | 189


viii | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase


ix Kesenian merupakan bagian unsur kebudayaan atau subsistem dari kebudayaan secara menyeluruh. Bila memperhatikan konsep kesejajarannya, maka seni dapat dijadikan pedoman hidup dan kehidupan masyarakat pendukungnya dalam melakukan aktivitas sehari-hari hingga dalam kegiatan berkarya kreasi-inovasi. Pedoman hidup dan kehidupan dalam berkesenian melekat pada model kognisi (pengetahuan), sistem bermasyarakat, nilai simbolik, dan fungsi penerapan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam Masyarakat dalam berkesenian dapat melakukan melalui pelestarian, penggalian, pengembangan, dan penciptaan agar para generasi muda dapat mengerti, memahami, Tut Wuri Handayani, hingga dapat melestarikan dan mengembangkan sesuai fungsi, kebutuhan, dan keinginan. Agar kesenian kita tidak hilang ditelan masa dan arus global, maka diperlukan perhatian bersama dalam mempertahankan melalui cara pelestarian. Setiap kelompok masyarakat tentu memiliki seni dan budayanya sesuai dengan ciri dan kebutuhan masyarakat tersebut. Kesenian masa lalu yang masih ada merupakan cara pelestarian kesenian prasejarah atau dari nenek moyang. Masyarakat masih memerlukan kesenian untuk kegiatan peristiwa penting sebagai kegiatan ritual untuk persembahan. Ini merupakan cara pelestarian berkesenian sebagai bentuk: (1) kesenian sebagai produk tradisional yang dilakukan secara turunmenurun; (2) mempertahankan karakter kesenian masa lalu; (3) secara visual maupun spiritual, kesenian tetap seperti KATA PENGANTAR


x | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase peninggalan dulu; (4) adanya kegiatan berkesenian agar karya besar nenek moyang tersebut tidak hilang; (5) kesenian tetap dilakukan dari generasi ke generasi; (6) kesenian tetap di uriuri (dilestarikan) tanpa mengurangi nilai-nilai luhur. Selain pelestarian, kesenian di suatu daerah dapat dilakukan melalui proses penggalian. Cara ini dilakukan melalui penggalian hasil seni dan budaya lama yang telah tenggelam atau menghilang untuk diangkat kembali. Penggalian ini merupakan kangen terhadap produk kesenian lama untuk dibangkitkan kembali. Adanya program penggalian kesenian ini dimaksudkan agar generasi baru dapat menikmati dan mengetahui produk berkesenian zaman dulu dengan produk berkesenian sekarang. Maksud diadakannya penggalian kesenian masa lalu ini adalah untuk: (1) pencarian kesenian yang telah lama hilang, (2) nostalgia kesenian yang lama telah hilang, (3) diadakan penggalian kesenian agar menjadi produk tradisi, (4) memunculkan kesenian yang lama menghilang untuk dibangkitkan kembali, dan (5) kesenian lama sebagai jadi diri dan citra suatu daerah. Kesenian juga dapat dilakukan melalui cara pengembangan yaitu mengolah yang telah ada menjadi kesenian baru. Hadirnya pengembangan kesenian dimaksudkan agar masyarakat tidak jenuh melakukannya dan menikmatinya. Cara ini dilakukan melalui penyegaran dengan cara mengolah kesenian lama menjadi kesenian baru, walaupun masih membawa nafas lama. Ciri-cirinya kesenian yang mengacu pada teknik pengembangan ini antara lain: (1) adanya sesuatu yang baru tetapi yang memiliki karakter masa lalu; (2) bersumber dari kesenian yang telah ada (tradisi) menjadi kesenian yang berbeda; (3) memadukan beberapa


Kata Pengantar | xi kesenian yang sepadang, sehingga menjadi kesenian baru; (4) memodifikasi kesenian yang telah ada menjadi bentuk lain; (5) menjadikan kesenian tradisi dengan warna baru. Menghadirkan kesenian baru dapat juga dilakukan melalui cara penciptaan, yaitu membuat produk kesenian benar-benar baru yang sebelumnya belum ada. Kesenian ini dapat berupa seni kontemporer atau seni modern yang mengarah pada segmentasi kawula muda. Ciri-ciri kesenian yang termasuk kelompok penciptaan ini antara lain: (1) produk kesenian baru, tetapi tetap melekat pada budaya kita; (2) produk kesenian baru yang mengacu pada seni dan budaya setempat; (3) produk kesenian lebih bervariatif yang lebih menonjolkan kedaerahan; (4) produk kesenian yang berfungsi lebih mengarah pada kebutuhan praktis; dan (5) produk kesenian sebagai konsumsi untuk pendukung pariwisata. Apa pun bentuknya, manusia dalam berkesenian diperlukan kreativitas agar hasil produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah baik estetikanya maupun nilai tambah kehidupan masyarakat. Bila kita memperhatikan pemikiran Richard Florida seorang profesor di Rotman School of Management di University of Toronto dalam mengembangkan seni perlunya adanya 3T yaitu: (1) Talenta, yaitu dalam menghasilkan karya seni diperlukan daya saing yang tinggi melalui Sumber Daya Manusia (SDM) bertalenta yang memiliki bakat dan memiliki berbagai kekayaan gagasan kreatif; (2) Toleransi, adanya suatu daerah memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap gagasan-gagasan kreatif yang kontroversial berwawasan beda. Adanya toleransi dalam kebebasan berekspresi dalam berkarya seni sehingga tercipta karya yang kreatif dan inovasi; (3) Teknologi, adanya teknologi membawa


xii | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase perubahan dan peranan seni yang sangat strategis dalam mempercepat dan meningkatkan kualitas ekonomi bisnis. Adanya teknologi menjadikan pekerjaan manusia yang digantikan teknologi, sehingga manusia lebih banyak waktu dalam berkreasi dalam menggali ide hingga menciptakan kreasi-inovasi baru. Masyarakat dalam berkarya seni diperlukan referensireferensi untuk mempercepat proses berkarya, seperti Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat dalam menciptakan Apollo 11 hingga Armstrong bersama timnya bisa mendarat di Bulan pada tahun 1969. Hal ini berkat komikus Georges Remi yang dikenal nama Herge pada tahun 1954 membuat dan menerbitkan komik Tintin tentang manusia hidup di bulan sebagai inspirasinya. Begitu juga adanya kampung warna-warni di Indonesia sebagai tempat pariwisata yang terinspirasi oleh kakek Huang dari Taiwan sebagai mantan tentara yang resah pada desa di mana ia bertempat tinggal akan digusur oleh pemerintah setempat. Mantan tentara tersebut protes dengan cara melakukan hal yang positif, yaitu setiap harinya mulai pukul tiga pagi melakukan aktivitas melukis dinding rumah dan tembok sekitar tempat tinggalnya berobjek hewan dan tanaman dengan cat yang berwarna-warni. Desa di mana tempat tinggal si kakek ini menjadi terkenal karena banyak wisatawan yang berkunjung ke sini sehingga akhirnya pemerintah setempat tidak jadi menggusurnya hingga dijadikan tempat pariwisata. Peristiwa tersebut mengingatkan pada Tom Kelley sebagai general manager IDEO di perusahaan desain terkemuka di Amerika mengemukakan, “Orang tidak selalu melakukan hal yang benar, kadang melalui lompatan yang diperlukan untuk memperpendek siklus dalam menggali ide baru”.


Kata Pengantar | xiii Melalui kreativitas dan inovasi dalam menciptakan karya seni, seorang kreator dapat menghasilkan karya yang hebat punya greget, sehingga orang menggeleng-gelengkan kepala karena keheranan luar biasa. Orang kadang tidak menyangka kalau pengambilan ide dari budaya lokal genius menjadi karya yang hebat dan karya luar biasa yang benarbenar baru. Karya yang hebat tentu membuat reaksi di penghayat (yang melihat) mengacungkan jempol. Seorang kreator yang hebat pada menangkap ide yang sederhana namun adanya kejelian dan ketelitiannya dalam menangkap suatu objek, sehingga dapat mewujudkan karya yang dapat diterima, dimengerti, dan dipahami oleh masyarakat. Karya yang inovatif berkarakter budaya lokal genius yang dihadirkan oleh inovator tersebut dapat digunakan alat penghambat budaya Barat yang terus berimbas ke negeri ini. Sebuah karya seni dikatakan memiliki unsur budaya lokal adalah sebuah karya yang mampu menampilkan sebuah sentuhan ekspresi budaya Nusantara yang ada di Indonesia. Untuk menciptakan karya seni bernafas Nusantara dapat dilakukan dengan cara pelestarian, penggalian, pengembangan, dan penciptaan. Dalam perkembangannya, produk kesenian mempengaruhi gaya hidup masyarakat sebagai identitas citra produk yang terpola pada diri di pemakai terhadap nilai-nilai atau simbol yang dikemas pada rekayasa visual, verbal, dan kontekstual dalam karya seni. Produk kesenian yang melekat pada gaya hidup masyarakat dapat disebabkan oleh: (1) kepribadian, merupakan karakteristik individu dalam menentukan sikap karismatik yang cerminkan di setiap individu, karena kepribadian ditentukan pada hati nurani seseorang atau kelompok masyarakat dalam melakukan aktivitas berkesenian yang dianggapnya baik; (2) konsep diri,


xiv | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase merupakan gambaran hubungan antara minat seseorang terhadap kesenian yang dianggap dapat mewakili jati dirinya, sehingga memandang dirinya dianggap lebih mendalami kesenian dibandingkan orang lain karena pengaruh barang seni yang jarang orang lain memilikinya; (3) Sikap, merupakan keadaan jiwa berkesenian seseorang dalam memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang dipengaruhi oleh suasana bernuansa tradisi, modern, kebiasaan, dan lingkungan sosial berkesenian; (4) Pola seseorang atau kelompok masyarakat melakukan kegiatan atau aktivitas berkesenian yang dianggap sempurna, memiliki nilai lebih, dan prestise, serta gaya hidup yang lakukan cenderung mengarah kepada ideologi kesenian yang dimilikinya; dan (5) Persepsi merupakan tanggapan seseorang atau sekelompok masyarakat dalam menginterpretasikan informasi kesenian dalam bentuk visual dan verbal yang mempengaruhi dirinya menjadi beda, mereka beranggapan memiliki nilai lebih dari orang lain. Lebih dalam lagi disampaikan oleh Agus Setiawan dalam buku ini berjudul “Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase” yang mengulas tentang seni ukir yang memiliki nilai historis, nilai filosofis, hingga nilai ekonomis, serta pandangan terhadap cagar budaya yang berhubungan dengan teknologi dan media. Karya ilmiah dalam bentuk buku berbasis penelitian ini menjadi catatan positif bahwa ternyata masih adanya insan akademisi yang sempat menulis disela-sela mengajar. Turut berbangga hati karena beliau dapat menginformasikan dan menularkan keilmuannya dalam bentuk tulisan kepada para pembaca yang senang dan peduli terhadap budaya Nusantara. Melalui karya verbal ini menjadikan motivasi pada teman


Kata Pengantar | xv sejawat untuk mengikuti jejak menulis sesuai bidangnya masing-masing. Selamat berkarya dan berkarya terus. Malang, 3 Maret 2023 Dr. Pujiyanto, M.Sn1 1 Kepakaran dalam bidang Desain Media Promosi, Desain Kemasan, Semiotika Desain, Estetika Desain. topik unggulan yang tergabung dalam KBK Desain Pemanfaatan Teknologi Media dalam desain Budaya Nusantara sebagai inspirasi perancangan atau pengkajian Desain Berkelanjutan dan berorientasi Lingkungan Respon desain dalam lingkungan Industri Kreatif


xvi | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase


xvii Meluangkan waktu sejenak untuk merenung tentang bagaimana sebuah karya dan pemikiran dapat dipelajari oleh masyarakat. Sehingga keberadaan buku ini merupakan rentetan pemikiran dari tahun 2015 hingga 2019 yang sebagian besar sudah dituangkan ke dalam tulisan yang masih dianggap serpihan-serpihan ide yang tertuliskan. Sesuai kompetensi dalam bidang seni rupa seiring perkembangan zaman yang telah dirasuki oleh teknologi secara eksistensi, mau tidak mau harus ikut menyesuaikan dan terus berbenah. Buku ini terbagi menjadi dua termin yang dianggap sebagai “kolase” yaitu seni dan teknologi. Termin seni dapat dibaca pada kajian seni ukir dan identitas kota, Surya Majapahit dan konsep komunikasi visual. Adapun termin teknologi dapat dibaca pada kajian cagar budaya dan media pembelajaran, literasi visual, tata kelola pameran dan desain web dan budaya kuliner. Pada termin seni dalam buku ini lebih menekankan pada aspek kajian seni karena lebih menekankan aspek teks yaitu elemen pembentuknya. Adapun, aspek kontekstualnya pada ranah kebudayaan yang menyangkut makna dan identitas. Pada termin teknologi lebih kepada penerapan yang berakar dari praktik dan medan seni dan budaya itu sendiri. Keberadaan teknologi berupaya mengajak masyarakat untuk lebih mudah, lebih dekat, dan berpartisipasi terhadap kelangsungan, eksistensi atau kebertahanan suatu produk budaya. Singkat kata, bahwa lahirnya buku ini sangat memungkinkan untuk diperdalam pada berbagai sudut PRAKATA


xviii | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase tinjauan yang lain. Artinya pembaca dapat saja mengembangkan selancar pemikirannya dan mengembangkannya sendiri. Bahkan jika memungkinkan sampai pada temuan sudut pandang yang berbeda dan pada akhirnya terlahirlah buku lain yang sangat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan terutama dalam ilmu seni dan budaya. Gerakan literasi memang perlu dikuatkan. Harapan dari buku ini adalah menumbuhkan semangat literasi pada generasi milenial. Buku ini saya dedikasikan untuk ananda Arsanta Hasya Setiawan, Adhwa Rizwana Agfrista dan Artanabil Rayyan Setiawan serta istri tercinta Umi Tafrihatun. Semoga karya ini kelak mampu memotivasi dalam menyelami belantara roda kehidupan dengan penuh semangat dalam menggapai cita-cita dan harapan dunia akhirat. Semarang, 20 Februari 2023 Agus Setiawan


1 BAGIAN I SENI: CARA PANDANG DALAM KAJIAN


2 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase A. Pendahuluan Centre world carving adalah ungkapan yang paling tepat untuk Jepara. Jenis motif ukir yang terdapat di Jepara sangat banyak ragam bentuknya, itu merupakan kelanjutan dari bentuk-bentuk motif ukir sebelumnya. Seperti halnya seniman ukir membuat bentuk motif ukir baru maka akan memunculkan kembali bentuk motif ukir yang lama seperti unsur daun atau bentuk relungnya. Semuanya memperlihatkan warisan ketrampilan dalam mengukir baik dalam bentuk kasar maupun halus. Keistimewaan dari motif ukir yang terdapat di Jepara menunjukkan suatu bukti bahwa keberadaannya merupakan peninggalan sejarah dari penguasa-penguasa pada masa tertentu. Gustami mengungkapkan bahwa keterlibatan para tokoh dan pemimpin wanita dalam proses pembentukan seni kerajinan mebel ukir Jepara merupakan bukti keterkaitan pemimpin bangsa sebagai inspirator, inovator, dan penggerak untuk memacu bangkitnya semangat para seniman dan perajin dalam berkreasi (Gustami, 2000: 80). Jepara yang memiliki potensi besar dibidang seni ukir dapat dilihat dari masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat dan R.A. Kartini. Desain motif ukir hingga saat ini selalu mengalami perubahan, yang jelas tidak bisa lepas dari peran masyarakatnya. Motif ukir yang selalu SENI UKIR DAN IDENTITAS KOTA UKIR


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 3 dikembangkan oleh masyarakat setempat yang sampai sekarang masih dapat dijumpai di berbagai bentuk mebel ukir. Tampaknya peranan motif ukir bagi masyarakat Jepara sangat memberikan kontribusi yang sangat berarti dibidang kerajinan sebagai karya seni yang mampu menopang kehidupan sehari-hari, usaha-usaha pelestarian atau pengembangan terus dilakukan. Motif ukir yang diciptakan dianggap menjadi satu dari sekian dari hasil budaya dari masyarakat Jepara, keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Berbagai kenyataan historis menunjukkan adanya realitas yang dibentuk oleh dimensi ruang dan waktu. Ruang dan waktu ini telah digunakan seniman untuk membuat realitas. Realitas yang dimaksud adalah proses berkarya. Ketika kita ke kota Jepara, berkeliling melihat-lihat atau membeli produk mebel yang berukir. Kita akan terkagum-kagum dengan motif ukir yang diterapkan pada sebuah produk mebel ukir karena didukung dengan penempatan yang tepat atau barang kali karena kehalusan garap dari ukiran tersebut. Tetapi kita tidak tahu kapan dan di mana kegiatan tersebut di buat serta siapa pembuatnya, juga tidak dapat dimengerti di mana peranan motif ukir tersebut? Sebab kita seolah-olah terhipnotis kekaguman oleh kehadiran motif ukir yang menghias mengisi ruangruang kosong pada benda tersebut. Sementara banyak juga motif ukir yang diterapkan pada bangunan-bangunan seperti makam, masjid atau rumah-rumah Bila kita datang ke Jepara melihat hasil karya mebel ukir dan ketika kita memfokuskan pada bagian hiasan dari sekian banyak ragam bentuk motif ukir, maka motif ukir tersebut diterapkan guna menambah nilai dan kualitas pada karya mebel. Tidak hanya di mebel ukir,


4 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase tetapi juga dapat dilihat pada bangunan seperti masjid dan pendapa Kabupaten Jepara dan di ruang publik seperti taman kota, tugu di perempatan dan pertigaan jalan dan kawasan kabupaten Jepara, bahkan juga pada hiasan lampu hias kota kehadirannya dapat dianggap untuk memperindah kota Jepara. Di sisi lain, motif ukir Jepara juga diterapkan pada pakaian dinas dan sekolah. Motif ukir ini tidak berdiri sendiri secara utuh, keberadaannya menempel pada berbagai karya seni. Secara tidak langsung menunjukkan motif ukir Jepara sangat berperan. Motif ukir yang dihasilkan oleh masyarakat Jepara mampu memberikan citra bagi wilayah Jepara hingga menjadi “idiom” kota Jepara. Abdul Kadir (1979:12) sebutan Jepara sebagai kota ukir sudah menjadi idiom dan sering kita dengar bahkan sampai saat ini sudah mampu menembus pasar ekspor karena produk mebel ukirnya. Seperti halnya ungkapan ini, sesungguhnya, kata “Jepara” tak mungkin dipisahkan dari pengertian “kota Jepara” sebagai kota ukir. Sehingga perkataan ukiran Jepara seakan-akan sudah merupakan idiom. Kegiatan ukir-mengukir yang mampu bertahan berabad-abad lamanya di Jepara. Faktor itulah yang sering mengundang pada pendatang dari daerah bahkan Negara, untuk datang dan berkunjung ke Jepara untuk mendapatkan gambaran langsung tentang kemampuan masyarakat Jepara dalam hal ukir-mengukir. Hal yang menarik dari motif ukir Jepara di samping memiliki bentuk yang khas, ada indikasi perwujudan kekuatan pengembangan terhadap mewujudkan karya seni yang menjadi kebanggaan masyarakat Jepara. Tetapi dalam proses pengembangannya bisa dianggap bahwa masyarakat Jepara tidak tahu hasil-hasil kreatif dari para


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 5 artis/seniman ukir apakah bentuk yang dihasilkan termasuk ke dalam bentuk yang mencirikan bentuk dari motif ukir Jepara, itulah yang menarik kalau melihat dari sisi warisan dan perkembangan bentuk motif ukir. Mike Susanto (2003:34) motif ukir terpengaruh dengan berbagai budaya yang terjadi pada etnis tertentu, namun akan terlihat memiliki kesamaan dalam pola dasarnya. Jika melihat hasil-hasil kerja kreatifnya, bentuk yang dihasilkan tetap mencerminkan lokal. Yang dimaksud adalah masih tetap membentuk karakter yang mencirikan visual dari bentuk-bentuk sebelumnya berdasarkan pengalaman masyarakat pendukungnya. Motif ukir Jepara pernah mengalami puncak kepopuleran, ketika motif ukir diterapkan pada produk mebel ukir yang dihasilkan oleh para pengrajin. Bahkan hampir semua produk mebel ukir yang dihasilkan dipenuhi dengan hiasan motif ukir. Ini merupakan sedikit peran motif ukir untuk memenuhi keinginan masyarakat guna menunjang keindahan rumah dengan segala produk mebel ukir. Dapat digambarkan motif ukir Jepara berperan besar dalam memajukan kota Jepara dalam proses adaptasi terhadap perubahan zaman yang terus berkembang. Pengembangan motif ukir dalam mencapai puncak kepopulerannya juga mengingatkan akan peran pemerintah yang sering menyerukan keindahan motif ukir. Dalam hal ini pemerintah sudah mengupayakan untuk memperkuat identitas Jepara sebagai kota ukir. Upaya yang sudah dilakukan di antaranya melalui perancangan komunikasi visual berbentuk tiga dimensi dan dua dimensi. Perancangan komunikasi visual tiga dimensi di tempatkan di bangunan, monumen, tugu,


6 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase gapura yang keberadaannya berada di seluruh wilayah kota Jepara. Adapun perancangan komunikasi visual dua dimensi diterapkan pada majalah, web, Spanduk, poster, baliho, dll. Berangkat dari latar belakang di atas terdapat hal yang menarik di antaranya pengembangan desain motif ukir yang tetap bertahan hingga saat ini oleh para seniman. Motif ukir Jepara mampu dilihat sebagai konstruksi sosial ke ruangan dalam hubungannya dengan identitas kultural dan tradisi. Motif ukir dijadikan identitas kota melalui wujud kreasi-kreasi motif ukir dan ditempatkan di berbagai sudut kota. Menggarisbawahi hal-hal yang telah dipaparkan di atas, maka representatif untuk dilakukan kajian lebih mendalam dengan judul ”Pengembangan Desain Motif Ukir Untuk Aktualisasi Identitas Jepara sebagai Kota Ukir”. Berdasarkan ketertarikan yang sudah dijabarkan di latar belakang, maka dapat di ambil perumusan masalah yaitu bagaimana pengembangan desain motif ukir Jepara? dan mengapa motif ukir diaktualisasikan sebagai identitas Jepara? Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya. Kegiatan penelitian ilmiah umumnya diawali dengan studi kepustakaan, untuk mendapatkan data-data dalam rangka membangun kerangka pemikiran sebagai konsep dasar penelitian. Salah satu tujuan dari studi pustaka merupakan langkah untuk memberikan posisi penelitian yaitu menunjukkan perspektif yang berbeda dengan penelitian sebelumnya dan mampu menunjukkan orisinalitas. Achmad Sjafi’i “Studi Tentang Aspek Simbolis Pada Relief Masjid Mantingan” menjelaskan bahwa relief Masjid


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 7 Mantingan mempunyai simbol-simbol Hindu-Islam. Disinggung juga mengenai panel-panel berukir bolakbalik (dwimuka), namun kurang adanya penjelasan secara detail. Pembahasan relief Masjid Mantingan yang tampak, secara identifikasi dan klasifikasi pada aspek simbolis belum seluruhnya mengungkapkan “motif-motif tersembunyi” pada relief tersebut. Bahasan di atas lebih mengarah pada pembuktian hipotesis tentang adanya pengaruh Hindu-Islam, sehingga pembahasan makna relief belum diungkapkan secara mendalam. Kerangka tafsir berdasarkan teori simbol presentasionalnya Susane K. Langer dalam Problem of Art dengan kaca mata yang mengarah pada eksistensi seni murni (seni Patung). Adapun rancangan penelitian ini yaitu melihat motif relief Masjid Mantingan sebagai sumber bentuk pewarisan. Abdul Khadir, Risalah dan Kumpulan Data Tentang Perkembangan Seni Ukir Jepara (1979). Buku ini berisi tentang perkembangan seni ukir Jepara antara tahun 1879 sampai tahun 1979 dengan disertai contoh-contoh hasil seni ukir Jepara mulai dari yang klasik sampai modern. Penjelasan tentang perkembangan seni ukir yang mempunyai latar belakang sejarah Masjid dan Makam Mantingan dapat memberikan memperkaya kajian bentuk ornamen. Adapun rancangan penelitian ini menjelaskan perkembangan seni ukir Jepara dari sisi pewarisan yang mengarah pada pembentukan identitas kota. SP. Gustami, Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara (2000). Buku ini lebih ke arah kerajinan mebel ukir Jepara menyangkut dari sudut estetika. Hasil penjelasannya terdapat tiga tokoh wanita penting yang mendorong perkembangan ukiran Jepara. Di antaranya diungkapkan sosok Ratu Kalinyamat yang memiliki peran penting


8 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase dalam pengembangan ukiran serta penyebaran agama Islam melalui kesenian. Ukiran yang terdapat pada dinding Masjid dan Makam Mantingan dimanfaatkan sebagai sarana dakwah dan penyebaran agama Islam. Pengungkapan tulisan ini secara tidak langsung menjadi landasan pemikiran terkait keberadaan ornamen. Rancangan penelitian ini terfokus pada kreasi-kreasi motif ukir sebagai identitas kota yang keberadaannya berada di ruang publik. Ibrahim Hemawan, dkk, Tinjauan Bentuk dan Konstruksi Mebel Jepara (2013) menjelaskan dalam desain mebel terdapat berbagai aspek yang saling terkait yaitu bentuk, konstruksi, kenyamanan, dan estetika. Menjelaskan sistem konstruksi khususnya yang di aplikasikan pada kursi sofa dan kursi makan buatan Jepara. Penelitian di atas merupakan penelitian yang mengkaji tentang Relief Masjid Mantingan, Perkembangan Seni Ukir, dan peran tokoh dalam perkembangan seni ukir Jepara. Namun rancangan penelitian pengembangan desain motif sebagai identitas kota belum banyak dikerjakan oleh peneliti lain. untuk itu, penelitian ini akan melengkapi penelitian–penelitian sebelumnya dalam rangka penguatan desain motif ukir sebagai identitas kota Jepara. Berdasarkan penelitian relevan di atas maka dapat digambarkan dalam bagan road map penelitian sebagai berikut:


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 9 Gambar 1 B. Sejarah dan Sosial Budaya Pewarisan budaya yang terwujud dalam desain motif ukir Jepara terus dilestarikan. Wujud pelestarian melalui pengembangan desain motif sudah mulai ditanamkan dari keluarga, pendidikan, hingga dalam wujud konstruksi pengetahuan dapat diupayakan dengan kehidupan nyata yaitu praktik industri mebel ukir dan peran seniman ukir. Motif ukir adalah potensi lokal yang kuat hingga mampu memberikan idiom Jepara sebagai Kota Ukir. Langkah peneliti dalam memberikan kontribusi untuk peningkatan identitas Jepara sebagai kota ukir adalah dengan melihat desain motif ukir Jepara sebagai bentuk warisan yang tetap dilestarikan. Diharapkan dari penelitian ini diperoleh penjelasan tentang konsep desain motif ukir dan eksistensi motif ukir yang mampu menjadikan identitas Jepara sebagai Kota Ukir. Dari uraian tersebut


10 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase dapat digambarkan skema kerangka berpikir sebagai berikut: Gambar 2 C. Sejarah dan Sosial Budaya Masyarakat Kabupaten Jepara 1. Sejarah Kabupaten Jepara Kabupaten Jepara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan dengan Laut Jawa di barat dan utara, Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus di timur, serta Kabupaten Demak di selatan. Wilayah Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yang berada di Laut Jawa. Kabupaten Jepara terletak di pantura timur Jawa Tengah yang bagian barat dan utaranya dibatasi oleh laut. Bagian timur wilayah kabupaten ini merupakan daerah pegunungan. Wilayah Kabupaten Jepara juga meliputi Kepulauan Karimunjawa, yakni gugusan pulau-pulau di Laut Jawa (wikipedia.org). Desain Motif ukir Masjid Mantingan Industry Mebel Ukir Seniman Ukir Pemerintah: 1. Dinas pendidikan dan kebudayaan 2. Dinas Pariwisata 3. Dinas tata Ruang kota dan pertamanan Strategi Strategi visual Identitas Jepara sebagai kota Ukir Pengembangan desain


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 11 Keberadaan kota Jepara memiliki sejarah yang panjang Awalnya, nama Jepara berasal dari kata-kata Edge. Edge Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti permukiman, tempat para pedagang menuju berbagai daerah. Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M) mencatat bahwa pada tahun 674 Masehi, musafir China bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kalinga (Kaling), atau juga dikenal sebagai Jawa atau Japa, dan diyakini berlokasi di Keling, Jepara timur hari ini. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Shima, raja yang dikenal sangat tegas. Menurut seorang penulis Portugis, Tomé Pires, dalam Suma Oriental, Jepara baru dikenal yang pada abad XV (1470 M) sebagai pelabuhan perdagangan kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada di bawah pemerintahan Demak. Kemudian, Aryo Timur digantikan oleh putranya bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun sebuah kota Jepara. Pati Unus dikenal sangat gigih melawan Portugis di Malaka yang menguasai rantai perdagangan di kepulauan. Setelah Pati Unus meninggal, ia digantikan oleh ipar Faletehan, yakni Fatahillah, yang berkuasa pada 1521- 1536. Kemudian tahun 1536 oleh sultan penguasa Demak, Trenggono, Jepara diserahkan kepada anak dan putri Ratu Retno Kencono dan Pangeran Ladies, suaminya. Akan tetapi, setelah kematian Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan, Jawa Timur, pada 1546, insiden perebutan takhta kerajaan Demak amukan berakhir dengan kematian Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada 1549. Kematian ini


12 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah pembunuhan Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari biara dan menjadi penguasa Jepara. Ia diresmikan oleh Ratu Kalinyamat, dengan gelar Nimas. 2. Keadaan Sosial Budaya Masyarakat Jepara Sejak jaman dulu, Jepara terkenal di tingkat lokal maupun di seantero dunia. Reputasinya telah menarik banyak kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan produksi dan pengolahan kayu, khususnya pembuatan mebel. Saat ini, Jepara telah menjadi salah satu sentra industri di mana pertumbuhan dalam satu sektor (pembuatan mebel kayu) telah menarik ribuan industri ukuran kecil dan menengah ke Kabupaten Jepara. Industri mebel Jepara telah memberikan pengaruh positif bagi perkembangan industri di sektor lainnya. Ruang pamer yang banyak terdapat di Jepara merupakan suatu mikrokosmos dari Keanekaragaman pilihan mebel, desain, ketrampilan, pedagang dan ekspedisi yang ditawarkan di pulau Jawa. Konsentrasi kegiatan industri inilah yang memicu peningkatan perekonomian yang cukup pesat di Jepara dan wilayah sekitarnya sehingga menarik dukungan politik setempat. Sebagai contoh, kebutuhan truk kontainer untuk mengangkut mebel ekspor mendorong pemerintah untuk memberlakukan status beberapa jalan utama di kabupaten sebagai jalan provinsi. Dengan demikian, sebagian besar wilayah di kabupaten dapat dijangkau oleh truk kontainer sehingga terjadi peningkatan perekonomian yang ditandai dengan datangnya lebih banyak orang. Hal ini memajukan


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 13 kegiatan perekonomian di Jepara. Upah minimum pekerja di Jepara disinyalir lebih tinggi dibandingkan dengan tempat lain di Provinsi Jawa Tengah (Schiller, 2000). Sektor industri mebel merupakan tiang penyangga utama perekonomian Kabupaten Jepara. Sektor ini dibedakan dalam kelompok industri besar, industri sedang, industri kecil dan kerajinan rumah tangga. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2005, industri besar adalah perusahaan dengan jumlah karyawan atau tenaga kerja 100 orang ke atas. Industri sedang adalah perusahaan dengan jumlah tenaga kerja antara 20-99 orang. Industri kecil adalah perusahaan dengan jumlah tenaga kerja antara 5-19 orang dan industri rumah tangga mempunyai tenaga kerja kurang dari lima orang. D. Jepara sebagai Kota Ukir 1. Latar belakang Jepara sebagai Kota ukir Ukiran Jepara sudah ada jejaknya pada masa Pemerintahan Ratu Kalinyamat (1521-1546). Pada 1549. Ratu mempunyai anak perempuan bernama Retno Kencono yang besar peranannya bagi perkembangan seni ukir. Di kerajaan, ada menteri bernama Sungging Badarduwung, yang datang dari Campa (Cambodia) dan dia adalah seorang pengukir yang baik. Ratu membangun Masjid Mantingan dan Makam Jirat (makam untuk suaminya), dan meminta Sungging untuk memperindah bangunan itu dengan ukiran. Sungging lalu memenuhi permintaan Ratu Kalinyamat. Hingga sekarang, ukiran itu bisa


14 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase disaksikan di masjid dan Makam Sultan Hadlirin yang terdapat 114 relief pada batu putih. Daerah Belakang Gunung konon terdapat kelompok ukir yang bertugas melayani kebutuhan ukir keluarga kerajaan. Kelompok ukir itu kemudian mengembangkan bakatnya dan tetangga sekitar ikut belajar dari mereka. Jumlah pengukir tambah banyak. Pada masa Ratu Kalinyamat kelompok mereka berkembang. Namun, sepeninggal Ratu Kalinyamat mereka stagnan. Dan kemudian berkembang lagi pada masa Kartini. Seni ukir Jepara hingga kini telah mengalami perkembangan yang cukup pesat karena memiliki ciri khas tersendiri, sehingga ukiran Jepara banyak digemari oleh masyarakat luas. dan bahkan merupakan salah satu bagian dari “nafas kehidupan dan denyut nadi perekonomian“ masyarakat Jepara. Guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia misalnya, dilakukan melalui pendidikan Sekolah Menengah Industri Kerajinan Negeri dan Akademi Teknologi Perkayuan dan pendidikan non formal melalui kursus-kursus dan latihan-latihan. Dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia ini diharapkan bukan saja dapat memacu kualitas produk, tetapi juga memacu kemampuan para pengrajin dan pengusaha Jepara dalam pembaca peluang pasar dengan segala tuntutannya. (Nangoy dan Sofiana, 2013) 2. Perkembangan Industri Ukir Jepara Ukiran adalah kerajinan utama dari kota Jepara. Ukiran dari kayu di Jepara ini untuk produksinya ada tempattempat yang lekat dengan para ahli pahat ukir Jepara


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 15 sebagai centre of production yaitu di Desa Mulyoharjo untuk pusat kerajinan ukir dan patung Jepara. Yang dimaksud di sini adalah ukiran yang berasal dari kayu yang bisa berasal dari kayu jati, mahoni, sengon dan lain-lain. Di kota Jepara hampir di seluruh kecamatan mempunyai mebel dan ukir kayu sesuai dengan keahliannya sendiri-sendiri. Hasil dari kerajinan ukir Jepara bisa bermacam-macam bentuk mulai dari motif patung, motif daun, relief dan lain-lain. Menurut Rini Inharyani selaku kasi perdagangan dalam negeri Kab. Jepara bahwa untuk mendukung eksistensi seni ukir Jepara maka perlu promosi keluar negeri, seperti yang selama ini pemerintah lakukan. Tindakan promosi ini sebagai upaya meningkatkan nilai ekspor di sisi lain, tetap mengenalkan mebel ukir yang selama ini mengalami penurunan. Permintaan konsumen cenderung minimalis tanpa adanya hiasan ornamen (wawancara, 4 Agustus 2016). Eksistensi seni ukir juga di petakan Gustami (2000), dalam membagi sejarah perkembangan industri mebel Jepara dalam empat periode waktu, sebagai berikut: a. Ratu Shima (Periode Hindu) Terdapat peninggalan (artefak) yang ditemukan di daerah Keling yang diduga sezaman dengan perkembangan pemerintahan Ratu Shima, di mana pada waktu itu memerintah dengan adil dan bijaksana. Kerajaan Ratu Shima dikelilingi oleh pagar dari bambu yang kuat. b. Ratu Kalinyamat (Awal Zaman Islam) Jauh sesudah kekuasaan Ratu Shima berlalu (sembilan abad kemudian), di Jepara lahir tokoh


16 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase perempuan lain, yaitu Ratu Kalinyamat. Beliau adalah sosok seorang patriot, pemberani, ahli seni dan strategi perang. Ratu Kalinyamat memiliki perhatian yang besar pada bidang seni kerajinan dan pertukangan di mana pada masa itu berkembang subur yang membawa dampak pada hubungan internasional yang terjalin baik pula. c. Raden Ajeng Kartini (Zaman Modern) Tiga abad sesudah surutnya pemerintahan Ratu Kalinyamat, lahirlah tokoh perempuan lain, yakni Raden Ajeng Kartini yang terkenal dengan masa emansipasi wanita, karena beliau menaruh perhatian besar pada bidang pendidikan, khususnya untuk kaum perempuan. Beliau melihat adanya ketidakadilan pada perempuan yang tidak boleh memperoleh pendidikan yang lebih baik dari seorang pria. Selain pada bidang pendidikan, beliau juga memberikan perhatian pada bidang seni kerajinan dan ukir serta pertukangan. R.A Kartini berhasil menciptakan seni ukir baru dan menyebarkannya ke berbagai daerah serta mempromosikan mebel ukir Jepara ke luar negeri. d. Tien Soeharto (Masa Orde Baru) Tien Soeharto dikenal sangat perhatian dalam bidang seni dan budaya, beliau membangun pusatpusat seni dan budaya di antaranya TMII. Karena kecintaannya pada dunia seni dan budaya, Tien Soeharto mempromosikan mebel ukir Jepara melalui penyediaan ruang Jepara di Istana Negara. Dalam masa itu, Jepara menjadi pusat industri


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 17 mebel ukir di Jawa Tengah khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Furniture Jepara mempunyai ciri khas yang menunjukkan bahwa ukiran itu asli dari Jepara atau tidak. Salah satu ciri khas yang terkandung di dalamnya adalah bentuk corak dan motif. Untuk motif sendiri bisa kita lihat dari: Daun Trubusan yang terdiri dari dua macam yaitu dilihat dari yang keluar dari tangkai relung dan yang keluar dari cabang atau ruasnya. Ukiran asli Jepara juga terlihat dari motif Jumbai atau ujung relung di mana daunnya seperti kipas yang sedang terbuka yang pada ujung daun tersebut meruncing. Dan juga ada buah tiga atau empat biji keluar dari pangkal daun. Selain itu, tangkai relungnya memutar dengan gaya memanjang dan menjalar membentuk cabang-cabang kecil yang mengisi ruang atau memperindah. Ciri-ciri Khas di atas sudah cukup mewakili sebagai identitas ukiran Jepara. Bentuk motif ukiran tersebut ada juga yang oleh para ahli pahat disisipkan di berbagai alat rumah tangga seperti contoh di kursi atau meja yang diberikan ukiran khas Jepara, juga yang lain misal figura foto yang diberi khas Jepara dengan ukiran. Peningkatan kualitas produk dan pengawasan mutu memang menjadi obsesi Jepara dalam memasuki pasar internasional, yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan luar negeri terhadap produk industri Jepara. Jepara yang dikenal sebagai penghasil mebel terbesar di Indonesia pada tanggal 17 Juli 2010 telah memecahkan rekor Indonesia dalam kegiatan mengukir kayu secara bersama-sama dalam satu tempat yang menghadirkan 502 orang , sehingga


18 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase MURI mencatatkan kabupaten ”Bumi Kartini” ini dalam buku rekornya yang ke 4391. (balaibudaya.com) Namun pelaku industri mebel dan kerajinan di Jepara dalam beberapa tahun belakangan ini cukup resah dengan eksistensi usahanya karena pesaing dari negara lain yang semakin kuat, serta masuknya industri di sektor lain di Jepara. Sampai saat ini, banyak perusahaan mebel di Jepara yang sudah merumahkan karyawannya lantaran semakin berkurangnya pesanan dari buyer. Sehingga para pengrajin ukir Jepara berharap dukungan pemerintah untuk mengembangkan industri ini untuk bersama-sama menjaga marwah Jepara sebagai kota ukir dan mebel, dengan memberikan fasilitasi kepada pelaku industri mebel Jepara dalam berbagai pameran skala internasional untuk mendongkrak pasar (amkri.org) E. Desain sebagai Warisan Budaya Menurut Frascara (2004:2), istilah desain grafis merujuk kepada proses perencanaan, memproyeksikan, koordinasi, memilih, dan mengorganisir serangkaian elemen-elemen tekstual dan visual untuk menciptakan komunikasi visual. Istilah desain juga digunakan dalam kaitannya dengan benda-benda yang diciptakan oleh proses itu. Sedangkan menurut Ambrose dan Harris (2009:12), desain grafis adalah seni visual kreatif yang mencakup banyak bidang ilmu di antaranya yaitu seni, tipografi, tata letak halaman (layout), teknologi informasi dan aspek kreatif lainnya. Banyaknya cakupan bidang ilmu tersebut mengakibatkan para desainer dapat mengkhususkan diri dan fokus pada sub bidang tertentu pada bidang ilmu desain grafis.


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 19 Istilah desain komunikasi visual merupakan pengembangan dari kata desain dengan menghubungkannya dengan suatu media yang bertujuan mengkomunikasikan pesan tertentu. Setiap bagian dari desain komunikasi visual muncul merupakan sarana komunikasi yang membawa pesan tertentu, dan untuk mendapatkan respons yang diinginkan. Inilah sebabnya mengapa salah satu tidak bias menilai kualitas desain hanya atas dasar tampilan visualnya. Aspek estetika yang mempengaruhi suatu karya desain tidak boleh mendistorsi tujuan utama desain komunikasi visual, yang berpusat pada menghasilkan respons tertentu dari masyarakat tertentu (Frascara, 2004:3). Dalam pembuatan sebuah desain yang baik dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan, maka perlu diperhatikan penyusunan unsur-unsur desain dan penggunaan prinsip-prinsip desain yang tepat. Unsurunsur desain mengacu pada "apa" yang digunakan dan prinsip-prinsip desain mengacu pada "bagaimana" Unsurunsur desain tersebut digunakan. Unsur-unsur desain meliputi: Garis, bentuk, ruang negatif, volume, nilai, warna, dan tekstur. Prinsip-prinsip desain meliputi: Keselarasan (Harmoni), Kesebandingan (Proporsi), Irama (Ritme), Keseimbangan (Balance), dan Penekanan (Emphasis) Penggunaan masing-masing prinsip spesifik untuk masalah individu yang harus dipecahkan. Setelah masalahnya adalah diteliti dan didefinisikan dengan baik, elemen dapat dipilih, dan prinsip dapat diterapkan (Hashimoto dan Clayton, 2009:1). Warisan budaya, menurut Davidson (1991:2) diartikan sebagai produk atau hasil budaya fisik dari tradisi-tradisi yang berbeda dan prestasi-prestasi


20 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase spiritual dalam bentuk nilai dari masa lalu yang menjadi elemen pokok dalam jati diri suatu kelompok atau bangsa. Dari gagasan ini, warisan budaya merupakan hasil budaya fisik (tangible) dan nilai budaya (intangible) dari masa lalu. Warisan budaya fisik (tangible heritage) sering diklasifikasikan menjadi warisan budaya tidak bergerak (immovable heritage) dan warisan budaya bergerak (movable heritage). Warisan budaya tidak bergerak biasanya berada di tempat terbuka dan terdiri dari atas: situs, tempat-tempat bersejarah, bentang alam darat maupun air, bangunan kuno dan/atau bersejarah, patungpatung pahlawan (Galla, 2001: 8). Warisan budaya bergerak biasanya berada di dalam ruangan dan terdiri dari: benda warisan budaya, karya seni, arsip, dokumen, dan foto, karya tulis cetak, audiovisual berupa kaset, video, dan film (Galla, 2001: 10). Pasal 1 dari The World Heritage Convention membagi warisan budaya fisik menjadi 3 kategori, yaitu monumen, kelompok bangunan, dan situs (World Heritage Unit, 1995: 45). Warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan (Undang-Undang Nomor: 11 Tahun 2010). Upaya pewarisan budaya salah satunya dengan pelestarian. Menurut Daud A. Tanudirjo (2003: 6), pelestarian adalah upaya memberi makna baru dan dalam masyarakat yang pluralistik pemberian makna itu dapat beragam, maka pelestarian warisan budaya harus dapat dibicarakan


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 21 bersama, dinegosiasikan dan perlu disepakati bersama pula melalui suatu dialog yang terbuka dan seimbang. Pewarisan budaya (transmission of culture) yaitu proses mewariskan budaya (unsur-unsur budaya) dari satu generasi ke generasi manusia atau masyarakat berikutnya melalui proses pembudayaan (proses belajar budaya). Sesuai dengan hakikat dan budaya sebagai milik bersama masyarakat, maka unsur-unsur kebudayaan itu memasyarakat dalam individu-individu warga masyarakat dengan jalan diwariskan atau dibudayakan melalui proses belajar budaya. Proses pewarisan budaya dilakukan melalui proses enkulturasi (pembudayaan) dan proses sosialisasi (belajar atau mempelajari budaya). Pewarisan budaya umumnya dilaksanakan melalui saluran lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, lembaga pemerintahan, perkumpulan, institusi resmi, dan media masa. Melalui proses pewarisan budaya maka akan terbentuk manusia-manusia yang memiliki kepribadian selaras dengan lingkungan alam, sosial dan budayanya di samping kepribadian yang tidak selaras (menyimpang) dengan lingkungan alam, sosial dan budayanya (Burhanuddin Arafah, 2003: 2). F. Motif Ukir dan Identitas Kota Ensiklopedi Indonesia, Motif adalah pangkal dari tema kesenian. Soepratno (1984:11) mengungkapkan motif adalah dasar untuk menghias sesuatu ornamen. Tukiyo berpendapat motif hias merupakan pokok pikiran dan bentuk dasar dalam perwujudan ornamen atau ragam hias, yang meliputi segala bentuk alami ciptaan Tuhan (binatang, tumbuh-tumbuhan, manusia, gunung, air, awan, batu-batuan dan lain-lain), dan pula hasil daya


22 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase kreasi atau khayalan manusia (bentuk, garis, motif hias kinara-kinari dan makhluk ajaib lainnya) (Syafii Tjetjep Rohendi Rohidi, 1987:4). (Syafii Tjetjep Rohendi Rohidi, 1987:4) kembali menegaskan bahwa motif hias merupakan unsur bagian dari ornamen yang membentuk serangkaian pola buat penciptaan pola. Pola hias merupakan unsur dasar yang dapat dipakai pedoman untuk menyusun sesuatu hiasan. Pola mengandung pengertian suatu hasil susunan dari motif hias tertentu dalam bentuk dan komposisi yang tertentu pula, misalnya motif hias kawung, pola hias Majapahit, Pajajaran, Mataram dan sebagainya. Bastomi (1982:15) menambahkan berkait dengan pengelompokan motif ada tiga macam yaitu tumbuh-tumbuhan, binatang, dan geometris. Adapun Tukiyo dan Sukarman (1981:12- 13) membedakan motif menjadi lima macam yaitu motif hias geometris, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, dan khayali. Kota adalah artefak yang dihuni. Kota sebagai lingkungan buatan manusia yang memperlihatkan karya besar dan kompleks, terdiri dari kumpulan bangunan (dan elemen-elemen fisik lainnya) serta manusia dengan konfigurasi tertentu membentuk satu kesatuan ruang fisik (physical-spatial entity) (Sandi Siregar (2003: 1). Menurut Kevin Lynch (1960: 3), memfokuskan pada kebutuhan pembentukan karakter kota yang dimulai dengan persepsi lingkungan, tanda pengenal dan kemudian citra kota. Menurut Kostof (1991 :9) kota adalah tempat kumpulan bangunan dan manusia (cities are place made up of buildings and people). Menurut E.N. Bacon (1974: 21) bahwa kota adalah artikulasi ruang yang memberikan suatu pengalaman ruang tertentu kepada


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 23 partisipator. Oleh karena itu, lingkup perhatian perancang kota akan lebih lengkap jika meliputi bangunan, setting dan karakter kota. Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa setiap kota dalam rancangannya tidak dapat lepas dari upaya memahami karakter kota, sehingga apa yang dimaksud karakter adalah persoalan yang menyangkut identitas. Secara epistemologi, kata identitas berasal dari kata identity, yang berarti (1) kondisi atau kenyataan tentang sesuatu yang sama, suatu keadaan yang mirip satu sama lain; (2) kondisi atau fakta tentang sesuatu yang sama di antara dua orang atau dua benda; (3) kondisi atau fakta yang menggambarkan sesuatu yang sama di antara dua orang (individualitas) atau dua kelompok atau benda; (4) Pada tataran teknis, pengertian epistemologi di atas hanya sekedar menunjukkan tentang suatu kebiasaan untuk memahami identitas dengan kata “identik”, misalnya menyatakan bahwa “sesuatu” itu mirip satu dengan yang lain (Alo Liliweri, 2007: 69). Istilah identitas memiliki pengertian yang beragam dan berkenaan untuk tujuan apa konsep identitas itu digunakan. Tilaar (2007: 118-120) dalam bukunya berjudul “Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa”, menguraikan hubungan antara identitas individu, identitas etnis terbentuk menjadi identitas bangsa. Menguraikan bahwa setidaknya terdapat empat konsep yang dapat berkembang: 1) identitas berarti identik dengan yang lain. Mengarah pada adanya kesamaan antara individu dengan individu lainnya; 2) identitas berarti menjadi diri sendiri, dilahirkan sebagai suatu individu yang memiliki jiwa sendiri yang terhubung dengan proses kemerdekaan; 3) Identitas berarti menjadi


24 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase identik dengan suatu ide. Ide yang melepaskan kekuasaan individu, dan ide dalam konteks ini adalah suatu yang transendental; 4) identitas berarti individu yang realistis yang hidup bersama individu lainnya. Identitas dalam pengertian ini lebih dari hanya menjadi diri sendiri yang tidak terlepas dari lingkungan budaya maupun lingkungan alamiah. identitas di atas mengisyaratkan bahwa identitas yang lahir dari “produk” sejarah dapat dikonstruksikan dan menyatakan sifatnya dapat berubah, terbentuk dan dibentuk berdasarkan ruang dan waktu. Kaplan (2006: 153) menegaskan hal tersebut dalam pandangannya terhadap identitas yang dilekatkan pada etnisitas mengatakan bahwa etnisitas merupakan sebuah konsep yang kompleks, memiliki ciri dan pandangan yang berbeda-beda di dalam mengartikan diri. Biasanya diasosiasikan dengan perilaku kebudayaan, contohnya, pada bahasa, adat istiadat, keyakinan, sejarah, pakaian dan budaya materi. G. Keberadaan Motif Ukir untuk Identitas Kabupaten Jepara Motif ukir yang menjadi andalan masyarakat Jepara telah menjadi kekuatan bagi perkembangan pemerintah sebagai ujung tombak perekonomian, sehingga timbul kekuatan untuk tetap melestarikan dan menguri-uri budaya seni ukir. Iana Cholidah mengungkapkan bahwa untuk melihat seni ukir Jepara dari sudut pariwisata maka kami dinas pariwisata tetap memunculkan motif ukir dalam logo pariwisata. Tindakan ini merupakan salah satu bentuk untuk menguatkan posisi Jepara yang memiliki


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 25 sejarah dan budaya seni ukir yang cukup lama (wawancara, 4 Agustus 2016). Keberadaan seni ukir sebagai ikon diaplikasikan ke dalam berbagai media sehingga mampu mewujudkan Jepara sebagai kota ukir. Lebih lanjut Iana Choidah mengungkapkan terkait bentuk ukiran pada logo pariwisata adalah berupaya mem-branding sebagai kota ukir melalui kegiatan atau event pariwisata. Penguatan seni ukir ini tidak hanya pada mebel atau bangunan, namun mewujud dalam aksi tindakan wisata yang satu sama lain bersinergi misal wisata desa, penggarapan oleholeh khas baik dari produknya maupun kemasan harus mengandung unsur ikonik motif ukir Jepara (wawancara, 5 Agustus 2016). Keberadaan desain motif ukir dan pengaplikasiannya dapat dilihat dari beberapa desain dan media di antaranya logo Kab. Jepara, logo Pilbup KPU Jepara, logo pariwisata Kab. Jepara, media umbul-umbul, dan gapura di beberapa instansi pemerintah. Berikut wujud desain motif dan media yang digunakan untuk mendukung identitas Jepara sebagai kota ukir. 1. Motif Ukir dalam Logo Pemerintahan Jepara Gambar 3 Logo Kabupaten Jepara Sumber: upload.wikimedia.org


26 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar di atas berbentuk perisai bersudut lima, dan berisi lukisan yang diidentifikasikan sebagai berikut: a. Nama daerah “Jepara” ditulis dengan huruf latin (romawi), berwarna merah di atas dasar putih. b. Langit berwarna biru muda. c. Gunung berwarna biru tua. d. Bintang bersudut lima warna kuning emas. e. Menara berwarna putih. f. Pohon beringin warna hijau bersulur empat dan berakar lima. g. Ukir-ukiran relung motif Jepara asli berwarna coklat. h. Sebulir padi berbiji 17 berwarna kuning. i. Setangkai ranting dengan 8 buah kapok yang sedang merekah berkulit coklat dan isi putih. j. Bunga melati berwarna putih diikat dengan pita merah. k. Tanah dataran berwarna hijau muda. l. Laut berwarna biru dan bergelombang biru muda. Makna bentuk dan motif-motif dalam lambang di antaranya perisai bersudut lima, melambangkan perjuangan dan perlindungan. Gunung, melambangkan kesentosaan serta ketenangan dan merupakan salah satu sumber kesuburan. Bintang bersudut lima, melambangkan kepercayaan kepada tuhan YME sesuai dengan sila I dari Pancasila. Menara, melambangkan sebagian besar penduduk kabupaten Jepara yang memeluk agama Islam. Pohon beringin, melambangkan pengayoman dan persatuan sedangkan sulur 4 dan akar 5 mengandung arti angka tahun 45. Ukir-ukiran


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 27 relung motif Jepara asli, melambangkan hasil seni kerajinan yang spesifik, penuh kreasi dan terkenal sampai keluar negeri. Padi, melambangkan kemakmuran dalam bidang pangan, berbiji 17 mengandung arti angka tanggal 17. Kapok, melambangkan produksi daerah yang terkenal tinggi kualitasnya di pasaran dunia, sedangkan jumlah 8 buah angka bulan ke 8. Perpaduan antara butir padi berbiji 17, kapok 8 buah dan sulur 4 serta akar 5, merupakan rangkaian angka-angka yang mewujudkan saat yang bersejarah hari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bunga melati, diikat dengan pita merah melambangkan perjuangan dan kemajuan wanita serta menunjukkan tempat kelahiran pahlawan nasional r.a. Kartini. Tanah datar, melambangkan kesuburan daerah, merupakan potensi pertanian dan perkebunan untuk kemakmuran. Laut, melambangkan kebebasan, mengandung kekayaan alam yang melimpah ruah sebagai sumber mata pencaharian utama bagi para nelayan. Perpaduan antara langit, gunung, tanah dataran dan laut, menggambarkan kekayaan alam di daerah sebagai sumber kehidupan dan penghidupan rakyat. (seputarJeparaku.blogspot.com) 2. Motif ukir pada logo KPU Pemilukada Jepara Sebagai bentuk kesadaran terhadap Jepara sebagai kota ukir, lembaga KPU turut andil dalam menyemarakkan pemilukada. Pada tahun 2012 KPU telah mengadakan kompetisi tentang cipta desain logo KPU yang digunakan untuk Pilbup Jepara. Pesta demokrasi yang tidak lupa akan potensi daerah yang membanggakan bagi masyarakat Jepara. Kotak pemilu dipadukan dengan beberapa helai daun yang


28 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase menggambarkan bentuk ukiran tampak tumbuh dari sudut kotak pemilu. Berikut desain logo KPU yang dipadukan dengan motif ukir yang mampu mendukung keberadaan Jepara sebagai kota ukir. Gambar 4 Motif ukir pada logo KPU Pemilukada Jepara tahun 2012, 2016 dan 2017 3. Motif ukir pada Logo Pariwisata Jepara Logo pariwisata sudah mengalami beberapa perubahan yaitu mengolah kata Jepara menjadi logo type. Logo pertama lebih menekankan pada huruf P sebagai center of interest yang sedikit dimodifikasi dan dibentuk dengan unsur ukiran berbentuk ukel. Adapun logo pariwisata yang baru lebih menekankan pada


Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 29 huruf J sebagai center of interest. Huruf J di dirancang seperti sulur-suluran motif ukir Jepara yang menjadi andalannya. Tampak tiga helai daun disusun seolaholah tumbu dari tangkai. Logotype kedua dipadukan dengan unsur gelombang yang dianggap mencitrakan indahnya laut yang memesona. Berikut logo pariwisata yang pernah luncurkan untuk menguatkan image pariwisata yang tetap menunjukkan kekhasan Jepara sebagai kota ukir. Gambar 5 Perubahan logo pariwisata Jepara Sumber: id.wikipedia.org 4. Motif Ukir pada Media Promosi Pemerintah Kabupaten Jepara Aplikasi motif ukir pada media promosi menguatkan posisi Jepara sebagai kota ukir. Salah satu media adalah umbul-umbul yang didesain dengan motif ukir dan logo Kab. Jepara. Mendekati HUT RI, kehadiran umbulumbul di sepanjang jalan utama kota Jepara banyak terpasang. Media ini digunakan untuk menguatkan citra Jepara sebagai kota ukir. Berdasarkan pengamatan terhadap media ini dimaksudkan bahwa


30 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase gambar yang menunjukkan sebuah ukiran. Umbulumbul yang terpasang menunjukkan desain motif percandian bukan relung yang selama ini dianggap sebagai ciri khas Jepara. Gambar 6 Motif ukir pada media promosi Pemkab. Jepara Sumber: Dokumentasi Agus (2016) 5. Motif ukir pada seragam batik Pemerintah Kabupaten Jepara Tindakan dan kebijakan dari Pemkab Jepara untuk mengukuhkan Jepara sebagai kota ukir salah satunya adalah motif ukir relung dalam pakaian kedinasan. Desain motif ukir yang biasanya hadir dalam ukir kayu kini diaplikasikan dalam batik. Bentuk relung disertai dengan beberapa daun yang mengembang menyerupai bentuk kipas.


Click to View FlipBook Version