Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 31 Gambar 7 Motif ukir pada seragam batik PemKab. Jepara Sumber: Dokumentasi Agus (2016) 6. Motif ukir pada pintu gerbang perkantoran PemKab. Jepara Pintu gerbang atau gapura juga menjadi media komunikasi tentang keberadaan motif ukir. Gapura dengan ukiran relung terdapat di beberapa instansi di antaranya dinas Pariwisata, Museum Kartini, SMPN 1 Welahan, Pendopo Kab. Jepara, dan Masjid Agung Jepara. Berikut beberapa pintu gerbang dengan hiasan ukiran relung. (a) (b)
32 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase (c) (d) Gambar 8 (a) Gapura dinas pariwisata, (b) gapura pendopo Kab. Jepara, (c) gapura Masjid Agung Jepara, (d) gapura SMPN 1 Welahan. Sumber: Dokumentasi Agus (2016) H. Pengembangan Desain Motif Ukir 1. Pengembangan Berbasis Motif Relung Berdasarkan apa yang sudah diungkapkan dan acuan berpikir di atas maka untuk pengembangan desain motif ukir Jepara direncanakan akan memerlukan beberapa tahapan yang secara terjelaskan dalam bagan berikut ini: Gambar 9 Bagan pengembangan desain Langkah pertama, mengidentifikasi motif ukir sehingga menemukan secara ikonik dari bentuk motif ukir. Ke dua mengembangkan ikonik motif ukir dengan Penggaya an Stilasi deformasi Ikonik Bentuk Relung dan bentuk daun pengembang an visualisasi Aplikasi Desain Media
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 33 cara melakukan penggayaan/stilasi/deformasi hingga dianggap cukup mantap untuk mencapai tahap ke tiga yaitu visualisasi desain motif ukir Jepara. Berdasarkan hasil pengembangan maka di perlukan aplikasi media yang mampu menguatkan identitas Jepara sebagai kota ukir. Di sisi lain, pengembangan desain motif ukir dapat diterapkan sebagai brand promosi dalam kancah internasional. Brand promosi selalu hadir di setiap agenda/event, pameran yang dilaksanakan di dalam dan luar negeri, sehingga kesan kuat dan citra positif dapat melekat pada masyarakat luas akan kualitas produk.
34 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar 10 Bentuk motif relung menjadi ikon motif ukir Jepara Sumber: Dokumentasi Agus (2016)
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 35 2. Pengembangan Berbasis Digi-Motif Bentuk desain motif ukir berbasis relung digunakan sebagai studi visual, sehingga pengembangan desain motif ukir untuk mengaktualisasikan Jepara sebagai kota ukir yang diharapkan mampu menciptakan brand promosi, city brand Jepara world carving center. Gambar 11 Alternatif pengembangan Digi-motif dan rancangan aplikasi media I. Penutup Jepara yang memiliki potensi besar di bidang seni ukir dapat dilihat dari masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat dan R.A. Kartini. Desain motif ukir hingga saat ini selalu mengalami perubahan, yang jelas tidak bisa lepas dari
36 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase peran masyarakatnya. Keberadaan seni ukir sebagai ikon diaplikasikan ke dalam berbagai media sehingga mampu mewujudkan Jepara sebagai kota ukir. Penguatan seni ukir ini tidak hanya pada mebel atau bangunan, namun mewujud dalam aksi tindakan wisata yang satu sama lain bersinergi. Keberadaan desain motif ukir dan pengaplikasiannya dapat dilihat dari beberapa desain dan media di antaranya logo Kab. Jepara, logo Pilbup KPU Jepara, logo pariwisata Kab. Jepara, media umbul-umbul, dan gapura di beberapa instansi pemerintah. Keseluruhan dianggap bagian dari upaya mewujudkan Jepara sebagai kota ukir. Desain motif ukir berbasis relung diharapkan mampu menciptakan tentang city brand Jepara world carving center. 1. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan pendekatan multidisiplin guna mengetahui selera pasar terhadap bentuk motif ukir Jepara. 2. Perlu penelitian lebih lanjut tentang citra estetik motif ukir Jepara sebagai desain dan wujud ekspresi artis.
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 37 A. Pendahuluan Masyarakat senantiasa mengembangkan kesenian sebagai ungkapan dan pernyataan rasa keindahan yang merangsangnya sejalan dengan pandangan, aspirasi, kebutuhan, dan gagasan-gagasan yang mendominasinya. Upaya pemuasan akan keindahan ditentukan secara budaya dan terpadu pula dengan aspek-apek kebudayaan lainnya. Keindahan diatur oleh seperangkat nilai dan asas budaya yang berlaku dalam masyarakat. Lazimnya, inti nilai dan asas tersebut jarang berubah, kecuali jika pada masanya perangkat nilai dan asas tersebut tidak lagi berfungsi secara berselaras atau sulit diterima akal para pendukungnya (Soegeng Toekio, 2007: 1). Hal ini tidak mustahil karena pernyataan keindahan itu berkaitan dengan keberadaan dan keyakinan masyarakat pendukungnya; berkait pula dengan pernyataan budaya masyarakatnya. Keberadaan dan keyakinan masyarakat membentuk lingkungan budaya. Aktivitas dan budaya rupa tradisi selalu berada dalam lingkungan budaya yang pada akhirnya menjadi bingkai budaya (culture frame). Lingkungan budaya sebagai bingkai budaya yang (Studi Kasus Relief Masjid Mantingan Jepara Jawa Tengah) SURYA MAJAPAHIT DAN KONSEP KOMUNIKASI VISUAL
38 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase merangkai bentuk, fungsi, dan makna budaya rupa adalah dalam rangka mempelajari seni. Lingkungan budaya berpengaruh terhadap karakter, bentuk, fungsi, dan makna karena memiliki jalinan erat dengan pola pikir yang dianut sebagian masyarakat (Tjetjep dalam Soegeng Toekio, 2007: 4). Jika kita menengok pada perjalanan budaya rupa di Nusantara pada setiap periode zaman memiliki karakter budaya rupa yang berbeda-beda. Budaya rupa yang menunjukkan saling keterhubungan dari setiap periode. Periode prasejarah memiliki keterhubungan dengan periode Hindu-Buddha, demikian pula periode Hindu-Buddha memiliki keterhubungan dengan periode Islam. Proses berkesinambungan dalam bingkai budaya. Itulah sebabnya, karakter bentuk, fungsi, dan makna yang diusung sebuah budaya rupa dapat menjadi cermin dari pola pikir yang dianut sebagian masyarakat. Sebaliknya pola pikir tentunya ikut merangkai karakter bentuk, fungsi, dan makna karya yang dihasilkan. Saking eratnya budaya rupa yaitu aktivitas kreasi dan artefak dengan kerangka budaya, bingkai budaya banyak tradisi yang hidup di masa sekarang sulit lepas dari keberadaan dengan lingkungan budaya asalnya, meski pengaruh dari segala disiplin ilmu dan sistem budaya telah berubah (Soegeng Toekio, 2007: 4). Surya Majapahit atau Matahari Majapahit adalah lambang yang kerap ditemukan di reruntuhan bangunan yang berasal dari masa Majapahit. Lambang ini mengambil bentuk Matahari bersudut delapan dengan bagian lingkaran di tengah menampilkan dewa-dewa Hindu. Simbol tersebut membentuk diagram kosmologi yang disinari jurai Matahari atau lingkaran Matahari
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 39 dengan bentuk jurai sinar yang khas. Karena itulah, para ahli arkeologi menyebutnya "Surya Majapahit" dan diduga simbol ini berfungsi sebagai lambang negara Majapahit. (Diantika PW, Suara Merdeka, 23 Juli 2012). Berkembangnya kebudayaan bercorak Hindu bahkan sebagian besar masih meneruskan tradisi kebudayaan aslinya dari zaman prasejarah. Kebudayaan asli ini sampai datangnya agama Islam masih ada yang bertahan. Islam di nusantara yang mewujud dalam kekuasaan sesuai dengan kepentingan strategi politik dan kebudayaannya berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tradisi kebudayaan lama selama tidak bertentangan dengan asas ajaran Islam. Sikap Islam tidak mendesak kebudayaan pra-Islam untuk diganti dengan yang baru. Sebaliknya, kebudayaan lama justru dikembangkan sesuai dengan kebutuhan baru. Tidak sedikit budaya rupa yang mengandung nilai budaya lama masih terpelihara, bahkan mencapai bentuk klasiknya pada zaman Islam. Simbol budaya lama yaitu Surya Majapahit tetap menjadi kekuatan, menjelma dalam tanda visual salah satunya adalah di dalam perwujudan relief Masjid Mantingan. Islam Nusantara telah mewujud menjadi kesatuan dan kekuatan tersendiri, ketika dihadapkan pada budaya rupa yang secara khas dan unik memiliki kedudukan pengucapan berkesenian. Islam Nusantara dalam bingkai budaya rupa mungkin merupakan suatu persoalan yang kadang kala memerlukan musyawarah bersama di kalangan cendekiawan, ulama, dan budayawan. Ketegangan yang muncul berkaitan dengan budaya rupa adalah wujud dan nilai-nilai tradisi itu dengan pegangan
40 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase agama. Tokoh budayawan memiliki kecenderungan lebih mempertahankan ciri-ciri tradisi masyarakatnya. Hal menarik dalam konsep komunikasi visual Surya Majapahit yang tetap dimunculkan pada nilai-nilai Islam. Peran Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam Di Jawa menggunakan budaya rupa sebagai sarana media dakwah. Budaya rupa tersebut dapat dilihat dari perwujudan relief, ornamen, wayang, dan masjid. Adapun wujud budaya rupa dapat dilihat pada Masjid Mantingan adalah relief yang menggambarkan stilasi makhluk hidup. Unsur-unsur visual tertata membentuk komunikasi visual yang mampu menggambarkan makna visual. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat di ambil perumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana wujud Surya Majapahit sebagai tanda visual? Bagaimana konsep komunikasi visual Surya Majapahit dalam relief masjid? Kajian yang berkaitan dengan pemaknaan visual Surya Majapahit secara umum pernah dilakukan pada penelitian-penelitian sebelumnya. Seperti pada penelitian berikut: Irfa’ina Rohana Salma yang berjudul Kajian Estetika Desain Batik Khas Mojokerto “Surya Majapahit”, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nilai-nilai keindahan dan kekhasan pada karya desain batik Mojokerto. Kajian tersebut mendapatkan hasil bahwa karya desain batik Mojokerto memiliki nilai-nilai keindahan yang unik sebagai motif batik yang digali dari artefak Majapahit (Surya Majapahit) yang dikomposisikan dengan motif daun, bunga, padi dan kapas. Bambang Supriyadi yang berjudul Kajian Ornamen Pada Masjid Bersejarah Kawasan Pantura Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ornamen-
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 41 ornamen pada masjid di kawasan pantura Jawa tengah yaitu Masjid Agung Demak dan masjid menara kudus. Hasil kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa Masjid Agung Demak dan masjid kudus meskipun keduanya sama–sama berada di Pantura namun masjid-masjid tersebut memiliki persamaan dan perbedaan karakter ornamen dan saling berpengaruh dalam hal motif yang digunakan. Seperti motif bentuk cakra yang merupakan lambang kerajaan Majapahit (surya Majapahit) yang hanya dapat ditemukan pada Masjid Agung Demak. Dari kedua masjid tersebut dapat mewakili karakteristik ornamen masjid di Pantura Jateng karena kedua masjid merupakan masjid tertua dan bersejarah. Achmad Sjafi’i, “Studi Tentang Aspek Simbolis Pada Relief Mesjid Mantingan”, Skripsi, Yogyakarta: STSRI “ASRI” (1983). Laporan penelitian lebih terfokus pada relief yang terdapat pada Mesjid Mantingan. Secara metode menggunakan penelitian kualitatif. Tetapi penelitian tersebut masih terbingkai pada hipotesis (seharusnya tidak perlu ada) “ada hubungan antara makna simbolis relief dengan fungsi mesjid”. Hasil penelitian menjelaskan bahwa relief Mesjid Mantingan mempunyai simbol-simbol Hindu-Islam. Disinggung juga mengenai panel-panel berukir bolak-balik (dwimuka), namun kurang adanya penjelasan secara detail. Pembahasan relief Mesjid Mantingan yang tampak, secara identifikasi dan klasifikasi pada aspek simbolis belum seluruhnya mengungkapkan “motif-motif tersembunyi” pada relief tersebut. Penelitian di atas lebih mengarah pada pembuktian hipotesis tentang adanya pengaruh Hindu-Islam, sehingga pembahasan makna relief belum diungkapkan secara mendalam. Kerangka tafsir
42 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase berdasarkan teori simbol presentasionalnya Susane K. Langer dalam Problem of Art dengan kaca mata yang mengarah pada eksistensi seni murni (seni Patung). Tulisan Achmad Sjafi’i dipandang cukup relevan dengan penelitian penulis, karena relief Mesjid Mantingan sebagai cikal-bakal ukiran di Jepara. Agus Setiawan “Ornamen Mesjid Mantingan di Jepara Jawa Tengah”, Tesis, Surakarta: ISI Surakarta (2009). Fokus pada penelitian ini lebih mengungkapkan keberadaan ornamen Mesjid sebagai hiasan dan ajaran, karakteristik seni Islam, pemuatan unsur budaya (Hindu, Cina, Islam, dan lokal genius), dan makna mendalam terhadap motif ornamen Mesjid Mantingan dengan pendekatan historis dan estetika Jawa. Agus Setiawan membahas motif stilasi dan maknanya, sedangkan penelitian ini membahas relief masjid dan tanda visual Surya Majapahit sebagai konsep komunikasi visual. Pada dasarnya tulisan Agus setiawan dapat sebagai rujukan perbendaharaan data terkait dengan motif seni ukir Jepara. Abdul Khadir, Risalah dan Kumpulan Data Tentang Perkembangan Seni Ukir Jepara (1979). Buku ini berisi tentang perkembangan seni ukir Jepara antara tahun 1879 sampai tahun 1979 dengan disertai contoh-contoh hasil seni ukir Jepara mulai dari yang klasik sampai modern. Penjelasan tentang perkembangan seni ukir yang mempunyai latar belakang sejarah Mesjid dan Makam Mantingan dapat memberikan pengayaan kajian bentuk motif seni ukir Jepara. SP. Gustami, Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara (2000). Buku ini lebih terfokus pada pembahasan seni kerajinan mebel ukir Jepara dari pendekatan
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 43 multidisiplin. Hasil penjelasannya terdapat tiga tokoh wanita penting yang mendorong perkembangan ukiran Jepara. Di antaranya Ratu Shima periode Hindu, Ratu Kalinyamat Periode Islam dan R.A Kartini periode kolonial. Pendekatan historis dipadu dengan pendekatan antropologis, estetis, dan juga metode perbandingan. Pengungkapan tulisan ini secara tidak langsung menjadi landasan pemikiran terkait keberadaan motif seni ukir Jepara. Kusen, Kreativitas dan Kemandirian Seniman Jawa Dalam Mengolah Pengaruh Budaya Asing: Studi Kasus Tentang Gaya Seni Relief Candi di Jawa antara Abad IX-XVI Masehi (1985). Buku ini menguraikan tentang gaya relief candi di Jawa yang menunjuk beberapa relief pada candi kemudian di analisis menurut komponen relief dan susunan komponen relief. Di sisi lain, aspek kreativitas dan kemandirian seniman Jawa terhadap faktor di luar diri seniman dengan faktor diri seniman. Diungkapkan juga bagaimana seniman Jawa dalam menerima budaya luar dalam mewujudkan ukiran. Khusus relief Mesjid Mantingan yang diukir bolak-balik, menjadi salah satu bahan kajiannya. Pengungkapan tulisan ini secara tidak langsung menjadi landasan pemikiran dalam kajian yang memfokuskan pada bentuk motif seni ukir Jepara. Kajian historis yang menunjukkan hubungan Mesjid Mantingan dan Ratu Kalinyamat di antaranya tulisan Chusnul Hayati, Dewi Yulianti, Sugiyarto dengan judul Peranan Ratu Kalinyamat di Jepara Pada Abad XVI (2000) dan Tulisan Hartojo dan Amen Budiman dengan judul Kompleks Makam Ratu Kalinyamat MantinganJepara: Segi-segi Sejarah dan Arsitektur (1982). Kedua buku ini menjelaskan peranan Ratu Kalinyamat di Jepara
44 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase yang memiliki keterhubungan dengan kerajaan Demak dan situs peninggalan yang berupa makam dan mesjid. Dijelaskan pula tentang situs peninggalannya yang memiliki seni hias yang memiliki keunikan berupa motif yang distilasi. Pada tulisan Hartojo dan Amen Budiman mengungkapkan beberapa ornamen mesjid dengan cara mengidentifikasi motif-motif tersebut melalui identifikasi tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekitar mesjid maupun tanaman yang dianggap dari Cina. Pengungkapan tulisan ini sangat membantu dalam memahami keterhubungan Ratu Kalinyamat dengan Mesjid Mantingan dan membantu mengidentifikasi lebih lanjut terhadap motifmotif lain yang belum teridentifikasi. Budaya rupa merupakan produk hasil dari sistem budaya yang erat kaitannya dengan aktivitas dalam sistem sosial. Budaya rupa nusantara sangat bervariasi di antaranya memiliki wujud dua dimensi dan tiga dimensi. Wujud rupa yang syarat dengan makna. Ketika beberapa budaya saling berhadapan, maka ada tiga kemungkinan proses yang terjadi, yaitu: perlawanan (konfrontasi), saling menyerap (asimilasi) hingga muncul yang baru, dan menyesuaikan diri (adaptasi). Penyesuaian diri akan terjadi bila satu budaya lebih kuat daya penyesuaiannya sehingga yang baru disesuaikan dengan mencangkokkan pada yang ada atau yang menyesuaikan diri dengan yang baru bila fisik tak berdaya. Namun demikian, roh budaya akan mampu beradaptasi. Adakalanya ungkapan simbol dan ekspresi dalam budaya rupa menyesuaikan diri namun isi jati roh tetap bertahan (Mudji Sutrisno, 2012 : 36). Berdasarkan apa yang diungkapkan di atas, budaya rupa dalam Islam Nusantara adalah sebuah proses
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 45 berkelanjutan yang di dalamnya terjadi proses perlawanan, saling menyerap, hingga penyesuaian. Sebagai contohnya adalah budaya rupa sebagai sarana media dakwah dalam hal ini adalah peninggalan para Walisongo dalam konteks nusantara. Nusantara merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan yang membentang dari Sumatera sampai Papua. Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16) untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dianut Majapahit. Setelah sempat terlupakan pada awal abad ke-20 istilah ini dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu nama alternatif untuk Negara merdeka pelanjut Hindia-Belanda yang belum terwujud. Ketika nama Indonesia (berarti Kepulauan Hindia) disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia. Akibat perkembangan politik selanjutnya, istilah ini kemudian dipakai pula untuk menggambarkan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan Australia, termasuk Semenanjung Malaya namun biasanya tidak mencakup Filipina. Adapun pengertian yang lain, Nusantara merupakan badanan bagi Kepulauan Melayu (Malay Archipelago), satu istilah yang popular pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, terutama dalam literatur berbahasa Inggris (Justus M. Van Der Kroef, 1951: 166-171). Penelitian terdahulu berkaitan dengan pemaknaan visual Surya Majapahit yang telah dilakukan menjadi titik awal gambaran penelitian yang diusulkan. Gambaran secara umum konsep penelitian yang dilakukan
46 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase berkaitan dengan tanda visual Surya Majapahit dalam relief masjid sebagai tanda, lambang komunikasi visual dapat dilihat pada roadmap kerangka penelitian berikut: Gambar 12 B. Relief, Tanda Visual dan Surya Majapahit Istilah relief diambil dari bahasa Inggris, atau relievo dalam Bahasa Itali, dalam bahasa Indonesia adalah peninggian, yaitu kedudukannya lebih tinggi dari latar belakangnya, karena peninggian-peninggian itu ditempatkan di atas suatu dataran (Sahman, 1992: 91). Menurut kamus umum bahasa Indonesia, relief adalah pahatan yang menampilkan perbedaan bentuk dan gambar dari permukaan batu di sekitarnya, gambar timbul (pada candi dan sebagainya). Relief pada dasarnya merupakan seni pahat, yaitu suatu lukisan timbul atau ukir-ukiran pada suatu papan atau dinding yang digambari dengan cara ditatah (Asmito, 1988: 124). Relief sering kali menggambarkan suatu kisah atau cerita yang
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 47 dapat bersumber dari karya sastra karangan para pujangga maupun dari kitab suci agama Hindu dan Budha. Seni relief merupakan ungkapan perasaan dan pikiran yang dituangkan pada suatu bidang datar melalui susunan garis, bidang atau bentuk, warna, tekstur dan ruang atas hasil pengamatan dan pengalaman estetis seseorang, yang menampilkan bentuk dekoratif, sehingga hasilnya seperti lukisan yang timbul dari permukaan. Relief sebagai salah satu fenomena karya seni yang terdiri dari unsur garis, bentuk, bidang, ruang, dan lain sebagainya itu tidak lain adalah simbol atau tanda yang dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi medium yang mampu menyampaikan makna tertentu. Menurut Cleaver dalam (Rondhi, 2008: 69), di dalam seni rupa terdapat tiga macam simbol yaitu: (a) simbol faktual, merupakan simbol yang paling dangkal karena hanya melukiskan objek secara harfiah, (b) simbol konvensional, mempunyai makna yang lebih dalam karena mengandung nilai-nilai budaya masyarakat pemiliknya, (c) simbol subjektif adalah jenis simbol yang maknanya tergantung pada subjek penciptanya. Sehingga dari uraian tersebut menjelaskan bahwa simbol merupakan lambang yang diciptakan oleh masyarakat atau seniman yang memiliki makna penting dan mendalam (Andi Usman, 2009). Surya Majapahit (Matahari Majapahit) adalah lambang yang kerap ditemukan di reruntuhan bangunan yang berasal dari masa Majapahit. Lambang ini mengambil bentuk Matahari bersudut delapan dengan bagian lingkaran di tengah menampilkan dewa-dewa Hindu. Lambang ini membentuk diagram kosmologi yang disinari jurai Matahari khas "Surya Majapahit (Bullough Nigel,1995). Variasi lain dari Surya Majapahit berupa
48 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Matahari bersudut delapan dengan gambar dewa Surya di tengah lingkaran tengah mengendarai kuda atau kereta perang. Ukiran Surya Majapahit biasanya dapat ditemukan di tengah langit-langit Garbhagriha (ruangan tersuci) dari beberapa candi seperti Candi Bangkal, Sawentar, dan Candi Jawi. Ukiran Surya Majapahit juga kerap ditemukan pada stella, ukiran Halo atau Aura, pada bagian belakang kepala arca yang dibuat pada masa Majapahit. Ukiran ini juga ditemukan di batu nisan yang berasal dari masa Majapahit, seperti di Trowulan. Surya Majapahit atau Matahari Majapahit adalah lambang yang kerap ditemukan di reruntuhan bangunan yang berasal dari masa Majapahit. Lambang ini mengambil bentuk Matahari bersudut delapan dengan bagian lingkaran di tengah menampilkan dewa-dewa Hindu. Simbol tersebut membentuk diagram kosmologi yang disinari jurai Matahari atau lingkaran Matahari dengan bentuk jurai sinar yang khas. Karena itulah, para ahli arkeologi menyebutnya "Surya Majapahit" dan diduga simbol ini berfungsi sebagai lambang negara Majapahit. (Diantika PW, Suara Merdeka, 23 Juli 2012). Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif. Keberadaannya mampu menggantikan sesuatu yang lain, dapat dipikirkan, atau dibayangkan. Semula cabang ilmu ini berkembang dalam bidang bahasa, kemudian berkembang pula dalam bidang desain dan seni rupa (Tinarbuko, 2003). Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang artinya tanda. Sedangkan semiotika/semiologi adalah studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja (Fiske, 2004).
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 49 Dua tokoh pelopor metode semiotika yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Peirce (1839-1914). Menurut Saussure semiologi didasarkan pada anggapan bahwa perbuatan dan tingkah laku manusia akan membawa sebuah makna, serta makna suatu tanda bukanlah makna bawaan melainkan dihasilkan lewat sistem tanda yang dipakai dalam kelompok orang tertentu (Sunardi, 2004). Sedangkan Peirce, berpendapat bahwa penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda, artinya manusia hanya mampu bernalar melalui tanda (Sunardi, 2004). Sebagai metode kajian semiotika telah memperlihatkan kekuatannya di dalam berbagai bidang seperti antropologi, sosiologi, politik, kajian media, cultural studies. Sedangkan sebagai metode pencitraan semiotika mempunyai pengaruh terhadap bidang-bidang seni rupa, seni film, arsitektur, termasuk desain komunikasi visual, dan pemasaran. (Piliang dalam Tinarbuko, 2008). Tiga studi utama dalam semiotika di antaranya yang pertama, semiotika dalam tanda yaitu studi tentang tanda yang mampu menyampaikan makna. Tanda dalam hal ini dimaknai sebagai konstruksi manusia dan hanya bisa dipahami dalam artian manusia yang menggunakannya (Fiske, 2004). Kedua, kode adalah studi yang mencakup cara berbagai kode dikembangkan guna memenuhi kebutuhan suatu masyarakat budaya. Ketiga, kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja, di mana tanda terkait dengan manusia yang menggunakannya. Ferdinand de Saussure merumuskan tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak bisa dipisahkan seperti halnya selembar kertas yaitu bidang penanda (signifier) atau bentuk dan bidang petanda
50 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase (signified): konsep atau makna. Berkaitan dengan piramida pertandaan ini (tanda-penanda-petanda), Saussure menekankan dalam teori semiotika perlunya konvensi sosial, di antaranya komunitas bahasa tentang makna satu tanda. Jadi, kesimpulan Yasraf berdasar rumusan Saussure adalah satu kata mempunyai makna tertentu disebabkan adanya kesepakatan sosial di antara komunitas pengguna bahasa tentang makna tersebut (Tinarbuko, 2003). Sementara itu, Charles Sanders Pierce, menandaskan bahwa kita hanya dapat berpikir dengan medium tanda. Manusia hanya dapat berkomunikasi lewat sarana tanda. Tanda dalam kehidupan manusia bisa tanda gerak atau isyarat. Lambaian tangan yang bisa diartikan memanggil atau anggukan kepala dapat diterjemahkan setuju. Tanda bunyi, seperti tiupan peluit, terompet, genderang, suara manusia, dering telepon. Tanda tulisan, di antaranya huruf dan angka. Bisa juga tanda gambar berbentuk rambu lalulintas, dan masih banyak ragamnya. Teori semiotika Pierce menurut Danesi (2010:36), yang mengartikan bahwa tanda terdiri atas representamen (sesuatu yang melakukan representasi) yang merujuk ke objek (yang menjadi perhatian representamen), membangkitkan arti yang disebut sebagai interpretan (apa pun artinya bagi seseorang dalam konteks tertentu). Hubungan antara representamen, objek dan interpretan bersifat dinamis. Merujuk teori Pierce, maka tanda-tanda dalam gambar dapat dilihat dari jenis tanda yang digolongkan dalam semiotik. Di antaranya: ikon, indeks dan simbol. Ikon adalah tanda yang mirip dengan objek yang diwakilinya. Dapat pula dikatakan tanda yang memiliki ciri-ciri sama dengan apa yang dimaksudkan. Indeks merupakan tanda
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 51 yang memiliki hubungan sebab akibat dengan apa yang diwakilinya, atau disebut juga tanda sebagai bukti. Simbol merupakan tanda berdasarkan konvensi, peraturan, atau perjanjian yang disepakati bersama. Simbol baru dapat dipahami jika seseorang sudah mengerti arti yang telah disepakati sebelumnya. Ikon, indeks dan simbol merupakan perangkat hubungan dasar antara bentuk, objek, dan konsep. Saat objek melihat bentuk maka muncullah suatu konsep. Proses ini merupakan proses kognitif yang terjadi dalam memahami suatu objek. Contohnya ketika kita menemukan simbol-simbol seperti keris yang dimaknai sebagai Simbol kesaktian, meja makan sebagai simbol keakraban keluarga (Barthes dalam Sunardi, 2004). Tabel 1 Trikotomi Ikon/Indeks/Simbol TANDA IKON INDEK SIMBOL Ditandai dengan Persamaan Hubungan Sebab-akibat Konvensi Contoh Gambar-gambar Patung-patung Asap-Api Gejala-Penyakit Kata-kata Isyarat Proses Dapat dilihat Dapat diperkirakan Harus dipelajari Sumber: Berger (2000 dalam Soubur, 2006, p.34) C. Keberadaan Relief Masjid Mantingan 1. Sekilas Tentang Masjid Mantingan Masjid Mantingan merupakan salah satu masjid kuno di Pesisir Utara Jawa Tengah. Sebagai peninggalan purbakala, masjid ini berada 5 km arah selatan dari pusat kota Jepara, yaitu di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Awal berdirinya Masjid
52 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Mantingan dapat diketahui melalui inskripsi candrasengkala ”Roepa-Brahmana-Warna-Sari” yang menunjukkan angka tahun Jawa 1481 Saka sama dengan 1559 Masehi. Artinya Masjid Mantingan diperkirakan berdiri pada tahun 1559 Masehi. Kesaksian Pelaut Belanda Abad XVII terjelaskan bahwa Masjid Mantingan pertama kali dilukiskan oleh pelaut Belanda pada abad XVII yang diperkirakan melakukan perdagangan maupun politik di Jepara. Jepara dalam sejarah pernah menampakkan sebagai kota yang sangat penting dan memperlihatkan kota yang makmur dalam kurun waktu tiga abad. Jepara sebagai pengekspor beras hingga abad XVII. Kondisi wilayah Jepara tergambar pemandangan yang paling mencolok adalah masjid di antara keramaian pelabuhan, bangunan-bangunan rumah dan pasar yang digambarkan sangat kumuh. Masjid tersebut tampak besar diperkirakan berasal dari zaman Ratu Kalinyamat, yaitu perempat ke tiga abad XVI (Setiawan 2009: 34). Wouter Schouten seorang musafir menggambarkan masjid yang memiliki atap lima tingkat dari abad XVII dan dibangun sebagai menara pagoda. Schouten juga menggambarkan kota Jepara dari laut dan menampakkan bangunan masjid yang memiliki lima tingkat dan memberikan keterangan di bawah gambar, tertulis “Der moren Tempel binnen de Stadt Japare”. (tempat ibadah orang Mor (orang Islam: penulis) itu di dalam kota Jepara) (Setiawan 2010:170). Pijper (1985: 22) menjelaskan lebih lanjut tentang bentuk masjid yang memiliki atap lima tingkat mengingatkan pada bangunan Cina dan di atasnya masih memiliki mata tombak. Sementara, Wouter Schouten
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 53 dalam (Pijper 1985: 23) di Jepara pada waktu yang tepat, karena seorang pengembara Belanda, (Nicolaus de Graaf), yang menggambarkan kota Jepara pada tahun 1686 mengatakan tentang masjid di Jepara, bahwa masjid itu serupa dengan masjid di Banten yang juga mempunyai atap lima tingkat. Pijper menyebutkan masjid di Jepara mengalami perubahan dari lima menjadi tiga tingkat. Bentuk masjid yang memiliki perubahan atap dari lima ke tiga tingkat diperkirakan adalah bangunan Masjid Mantingan yang keadaannya sampai saat ini masih memiliki atap tiga tingkat. Graaf (1987 : 95) memberikan keterangan bahwa Schouten (1660) menggambarkan masjid di Jepara dari loji Belanda, dan C. Deker seorang pelukis telah membuat klisenya yang dimuatnya dalam laporan perjalanannya dengan keterangan: ”tempat ibadah orang Mor (Islam) di Kota Jepara”. Masjid yang berbentuk persegi tanpa serambi itu dikelilingi air, seperti halnya masjid keraton di daerah kerajaan. Masjid yang memiliki bentuk atap yang tinggi dengan lima tingkat, dan sangat mudah dikenali dari laut. Tembok yang mengelilingi halaman masjid mempunyai pintu gerbang seperti yang terdapat di Kalinyamat. Gambaran masjid paling kuno di Jepara digambarkan oleh “Schouten dan C. Deker”. Tetapi masjid yang tergambarkan tidak secara detail. Ukir-ukiran pada dinding masjidnya tidak tervisualkan, hanya bentuk masjid yang mengagumkan dari sekian bentuk bangunan di sekelilingnya. Muncul kecurigaan apakah masjid yang digambarkan itu memang Masjid Mantingan? Setidaknya Masjid Mantingan adalah masjid tertua di Jepara yang dibangun pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat.
54 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Berikut penggambaran masjid di Jepara pada abad XVII (Setiawan 2009: 36). Gambar 13 Penggambaran masjid bertingkat lima di Jepara Sumber: Setiawan (2009: 168) Gambar 14 Masjid di Jepara abad XVII yang dilukis oleh seorang pelaut Belanda. Sumber: Setiawan (2009: 169) Ali Safi’i menuturkan bahwa Masjid Mantingan dalam perkembangannya sudah beberapa kali mengalami pemugaran. Tahun 1927 kompleks Masjid Mantingan
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 55 dipugar. Keseluruhan dinding yang sebelumnya terlihat batu bata merah dengan penyusunan seperti pada bangunan kori Agung atau paduraksa yang terdapat di depan makam, telah ditutup dengan semen dan kapur (Wawancara, 18 Juni 2017). Berdasarkan Pemugaran dilakukan karena beberapa hal: 1) Masjid Mantingan masih difungsikan oleh masyarakat setempat; 2) dengan pertimbangan akan kebersihan dan memberikan kenyamanan bagi para jamaah meskipun telah dianggap merusak keaslian dan kegunaan masjid tersebut. Tahun 1978-1981, Masjid Mantingan kembali dipugar. Ditemukan enam panel berornamen di kedua belah sisinya (bolak-balik), sejumlah balok-balok batu putih dan juga suatu fondasi bangunan kuna. Setiawan menjelaskan, bahwa Masjid Mantingan secara geografis terletak di atas bukit dan secara konsep berorientasi ke arah mata angin (kosmis). Gambar 15 Denah kompleks Masjid dan Makam Mantingan di atas bukit. Sumber: Hayati dkk. dalam Setiawan (2009: 171)
56 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase 2. Relief di Masjid Mantingan Relief Masjid Mantingan adalah relief yang diukir dalam bentuk panel-panel terpisah menghiasi dinding masjid. Relief yang diwujudkan dengan bentuk-bentuk stilasi memiliki aspek komunikasi visual simbolik. Gambar 16 Letak ornamen pada Masjid Mantingan Sumber: Setiawan (2009: 77) D. Konsep Surya Majapahit 1. Sebagai Lambang Majapahit adalah salah satu kerajaan besar zaman dahulu yang berkembang di Nusantara pada tahun 1293 hingga 1500 Masehi. Keberadaan kerajaan majapahit mempunyai pengaruh besar di Asia tenggara. Kerajaan Majapahit tentunya banyak memberikan peninggalan-peninggalan bersejarah yang memiliki ciri atau tanda yang khas berdasarkan masanya. Seperti peninggalan masa kerajaan Surya
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 57 Majapahit, ragam hias Surya Majapahit memiliki ciri yang berbeda dengan ragam hias periode sebelum Majapahit dan sesudahnya. Surya Majapahit atau matahari Majapahit merupakan lambang yang ditemukan pada reruntuhan bangunan pada masa kerajaan Majapahit. Bentuk lambang Surya Majapahit diambil dari bentuk matahari yang memiliki delapan sudut dengan lingkaran di bagian tengah yang menampilkan sembilan Dewa Hindu atau yang sering disebut dengan Dewata Nawa Sanga. Posisi dewa-dewa diatur dengan posisi delapan arah mata angin dan satu bagian di tengah. Dewa yang berada di tengah adalah Siwa, timur Iswara, barat Mahadewa, utara Whisnu dan selatan Brahma, timur laut Sambhu, barat laut Sangkara, tenggara Mahesora, barat daya Rudra. Bentuk delapan jurai sinar matahari sebagai lambang dewa-dewa pendamping. Dewa-dewa tersebut di antaranya adalah : Dewa Kuwera Bertahta di utara, Dewa Isana di timur laut, Dewa Indra di timur, Dewa Agni di tenggara, Dewa Yama di selatan, Dewa Surya/Nrtti di barat daya, Dewa Varuna di barat, Dewa Bayu/Nayu/Vayu Di barat laut. Adapun bentuk variasi lain dari Surya Majapahit adalah matahari bersudut delapan dengan gambar dewa surya di tengah lingkaran yang menggambarkan sedang mengendarai kuda atau kereta perang.
58 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar 17 Tanda Visual Surya Majapahit Sumber: Agus (2017) Sebagai lambang bentuk Surya Majapahit dapat ditemukan pada beberapa tempat seperti langit-langit candi Panataran, di tengah langit-langit Garbhagriha dari candi seperti Candi Bangkal, Sawentar, dan Candi Jawi. Bentuk ukiran Surya Majapahit juga sering ditemukan pada stella, ukiran halo atau aurora, pada bagian belakang kepala arca yang dibuat pada masa Majapahit dan pada batu nisan yang berasal dari masa Majapahit di Trowulan. Gambar 18 Surya Majapahit pada Masjid Agung Demak Sumber: Diantika PW (2012: 13)
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 59 Gambar 19 Konsep Surya Majapahit pada Masjid Agung Demak. Sumber: Budi (2016: 1) Gambar 20 Batu nisan pada kompleks kubur Pitu Sumber: Tjondro Purnomo (2015: 1)
60 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Simbol Surya Majapahit juga ditemukan pada makam trowulan, makam tralaya yang berada di kota Mojokerto. Tempat tersebut merupakan kompleks pemakaman Islam pada zaman Majapahit. Surya Majapahit ditemukan pada nisan yang terdapat pada kubur Pitu. Beberapa nisan pada kubur Pitu berbentuk lengkungan kurawal yang mana bentuk ini identik dengan kesenian Hindu. Perpaduan bentuk dan pahatan pada batu nisan merupakan kombinasi antara unsur lama dan unsur pendatang, yaitu Islam yang mana dapat diketahui adanya akulturasi kebudayaan Hindu dan Islam. 2. Sebagai Konsep Komunikasi Visual Selain sebagai lambang, bentuk Surya Majapahit juga sering digunakan sebagai tanda komunikasi visual. Adapun simbol Surya Majapahit yang muncul sebagai tanda komunikasi visual adalah sebagai berikut: a. Motif Batik Penciptaan motif batik ini digunakan sebagai lambang identitas atau ciri khas dari batik daerah Mojokerto yang sering disebut dengan batik Majapahit. Bentuk motif yang digunakan dalam batik adalah simbol Surya Majapahit sebagai bentuk utama. Yang mana simbol surya Majaphit diambil dari artefak peninggalan kerajaan Majapahit yang sering ditemukan pada reruntuhan candi atau bangunan peninggalan Majapahit. Selain simbol Surya Majapahit sebagai bentuk utama dalam motif batik Majapahit juga digunakan simbol padi dan kapas sebagai motif pelengkap. Motif batik Majapahit didesain dengan melakukan stilasi pada gambar dengan tujuan
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 61 lambang dan makna dari Surya Majapahit sesuai dengan perkembangan agama, budaya, dan teknologi masyarakat saat ini. Bentuk dewa dalam Surya Majapahit distilasi dengan warna putih yang dimaknai sebagai kesucian dan lebih universal sehingga dapat diterima oleh semua agama dan masyarakat secara luas. Selain pada batik Majapahit, bentuk Surya Majapahit juga muncul dalam motif batik Surya Maja. Motif batik tersebut merupakan salah satu motif yang dirancang oleh tim IBM Mojokerto yang dijadikan sebagai motif khas milik masyarakat Mojokerto. Salah satu industri batik di Mojokerto, yaitu UKM batik Erna Sudinawan telah menggunakan motif batik ini, bentuk motif surya maja dibuat dengan mengombinasikan antara bentuk Surya Majapahit dengan motif merica bolon, beras tumpah, dan motif primitif lain. Motif batik tersebut dinamakan dengan surya maja karena mengacu dengan istilah dalam relief Surya Majapahit pada candi peninggalan Majapahit dan nama Mojo diambil dari nama kabupaten Mojokerto. Gambar 21 Batik Suryo Mojo Sumber: Marwati, dkk. (2013: 85)
62 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase b. Logo Trowulan Branding Trowulan dilakukan sebagai upaya untuk membangun imagewisata Trowulan kepada khalayak luas dengan melestarikan budaya lokal melalui keistimewaan dan keunikannya yang tergambar pada situs purbakala peninggalan kerajaan Majapahit, sehingga dapat meningkatkan sektor pariwisata Trowulan. Selain mampu untuk meningkatkan image dan awareness masyarakat, branding Trowulan juga akan menciptakan identitas yang dapat mewakili citra dari Trowulan. Identitas tersebut berupa logo Trowulan. Dalam perancangan identitas visual tersebut disesuaikan dengan konsep branding Trowulan, yaitu grandeur yang diartikan sebagai lambang kebesaran. Makna tersebut disesuaikan dengan Trowulan, yaitu kebesaran Majapahit dalam mempersatukan nusantara sehingga kebesaran (grandeur tersebut digunakan sebagai ungkapan besarnya pengaruh peninggalan Majapahit saat ini dalam wisata Trowulan. Oleh sebab itu bentuk visual yang muncul dalam identitas Trowulan adalah hal-hal menggambarkan karakteristik wisata Trowulan sebagai tempat wisata kepurbakalaan dari peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit. Dari hasil analisis dan proses penjaringan ide simbol terpilih yang mewakili karakteristik dan esensi Trowulan adalah candi, surya Majaphit dan pusaka. Bentuk Surya Majapahit muncul dalam logo Trowulan karena bentuk Surya Majapahit adalah salah satu ciri khas Trowulan.
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 63 Gambar 22 Logo wisata Trowulan Sumber: Wicaksono, Bahruddin, dan Dewanto (2015: 357) E. Tanda Visual Surya Majapahit dalam Relief Masjid Mantingan 1. Relief Masjid Mantingan Berbentuk Medallion Medalion adalah bentuk panel yang berbentuk lingkaran. Berdasarkan pengamatan dan kajian para peneliti, bentuk panil relief medalion salah satu bentuk panil yang sering menempel pada bangunan. Sama halnya relief pada periode Hindu-Buddha di Jawa selalu menghiasi bangunan suci. Munandar (2011: 226) mengungkapkan, bahwa panil dengan bentuk medalion hingga sekarang dapat diamati di tiga kepurbakalaan, yaitu di dinding ruang Goa Selamangleng, Kediri, Candi Kidal, dan Candi Induk Panataran.
64 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Medalion Masjid Mantingan dapat sepenuhnya disebut sebagai panil relief karena di dalam panil tersebut dipahatkan beragam bentuk yang saling mengait satu sama lain atau saling menjalin. Bentuk saling menjalin yang rumit telah membedakan medalion periode Hindu-Buddha yang lebih menampilkan sulur-suluran dan stilasi dari bentuk hewan. Tanda visual Surya Majapahit seperti yang sudah diungkapkan memiliki tanda yang secara nyata berbentuk lingkaran berada di tengah dan segitiga mengelilingi bentuk lingkaran, yang berjumlah delapan ini representasi dari bentuk delapan jurai sinar matahari. Secara konsep visual Surya Majapahit memiliki delapan pancaran sinar. Medalion relief pada Masjid Mantingan, berbentuk representasikan adanya tanda visual Surya Majapahit. Tanda visualtidak diwujudkan secara nyata, namun hanya sebagai pola pembentuk jalinan yang memancar. Perwujudan motif-motif disusun saling berkait dan dengan keyakinan penuh atas dasar motif yang tersusun dan pola yang diciptakan menyiratkan tentang tanda visual Surya Majapahit. Panil relief berdiameter 37 cm dipahat dengan motif jalinan dan motif bunga teratai dan bunga ceplok. Bunga teratai berada di tengah-tengah dikelilingi motif jalinan. Motif jalinan diwujudkan dengan bentuk batang memiliki bentuk ukel di setiap ujungnya. Relief dengan perwujudan motif jalinan dan ceplok Secara konsep diciptakan memiliki delapan titik dan motif teratai sebagai pusatnya. Berdasarkan pada wujud relief demikian menggambarkan bahwa tanda visual
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 65 Surya Majapahit terdapat pada motif ceplok, yaitu bunga teratai sebagai representasi titik pusat pancaran yang dikelilingi jalinan yang menyusun delapan titik pancaran. Perwujudan motif ceplok teratai memperlihatkan motif yang dianggap memiliki kedudukan penting. Gambar 23 Tanda Surya Majapahit sebagai pola perwujudan relief medalion. Sumber: Agus (2017)
66 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar 24 Tanda Surya Majapahit pada relief dengan pola berbeda Sumber: Agus (2017) Perwujudan relief medalion yang begitu kentara dengan tanda visual Surya Majapahit yaitu pada relief yang diwujudkan dengan garis melingkar dan garis pancaran (lihat gambar 25). Motif jalinan diciptakan dengan membentuk lingkaran dipadu dengan garis berbentuk huruf V sehingga perpaduannya menguatkan pada tanda visual Surya Majapahit. Tampaknya ada pengembangan pola pada tanda visual, yaitu garis melingkar diciptakan lebih lebar dari garis pancaran. Tanda visual pancaran diciptakan dengan saling mengait berwujud patran (daun).
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 67 Gambar 25 Tanda Surya Majapahit sebagai pola perwujudan relief medalion Sumber: Puri (2017) Hal menarik dalam panil ini adalah bunga teratai diwujudkan tumbuh dari garis melingkar dan muncul tepat ditengah-tengah. Artinya garis melingkar dan bunga teratai menjadi bagian tanda visual yang sangat penting meskipun pada situasi pola budaya yang berbeda. Tanda visual lainnya, yaitu pada garis melingkar di setiap sudut dan pertemuan antar garis terdapat patran yang seolah-olah menggambarkan kekuatan pada posisi bunga teratai. Patran yang merepresentasikan arah gerak sinar memancar ke arah delapan arah mata angin. Adapun bunga teratai menjadi pusat segala arah sebagai pengendali segala penjuru mata angin. Apalagi tanda visual bunga teratai dalam kebudayaan sebelumnya memiliki kedudukan yang amat penting dalam tatanan simbol microcosmos dan macrocomos atau alam kecil dan alam besar.
68 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar 26 Tanda Surya Majapahit pada relief dengan pola berbeda Sumber: Puri (2017) Gambar 27 Pola jalinan yang rumit tetap merepresentasikan tanda visual Surya Majapahit. Sumber: Puri (2017) 2. Relief Masjid Mantingan Berbentuk Bingkai Cermin Relief berbentuk bingkai cermin memiliki panjang 59 cm dan lebar 37 cm. Secara struktur dibangun melalui susunan motif dari pola atau rangkaian yang terdiri dari motif tumbuh-tumbuhan yaitu: empat pohon kelapa, tujuh pohon pandan, satu pohon kamboja,
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 69 enam pohon bambu, satu tanaman teratai, satu motif singa, enam motif gunung, sekumpulan motif awan, dan motif batu karang. Motif pohon kamboja dan pohon pandan menggambarkan pohon hayat mengikuti bentuk gunung. Relief di atas memiliki keragaman motif tumbuh-tumbuhan. Gambar 28 Motif singa dikelilingi delapan motif gunung Sumber: Bastian (2017) Berdasarkan penempatan motif-motif yang terwujudkan di panel relief, tanda visual tergambarkan berupa stilasi motif singa, motif meru dengan pohon kamboja, motif meru dengan motif daun pandan, motif meru dengan motif batu karang, motif meru dengan motif teratai yang secara terstruktur membentuk pola Surya Majapahit. Struktur penempatan yang
70 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase sedemikian rupa membangun konsep komunikasi secara informasi dapat dipahami pada wujud konsep mandala. Motif gunung dengan peraga atributnya dan motif binatang yang distilasi. Gambar 29 Motif gajah dikelilingi delapan motif gunung. Sumber: Bastian (2017) Penggambaran berbeda pada relief di atas yaitu motif yang dijadikan pusat atau pengendali adalah stilasi gajah. Motif gajah tersebut dikelilingi delapan motif meru dengan berbagai atributnya. Artinya gajah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam memberikan pengetahuan akan keseimbangan. Motif gajah dalam berbagai kebudayaan dikaitkan dengan konsep kedewaan. Sama seperti relief bingkai cermin (lihat gambar 29) motif ini mengkomunikasikan konsep mandala berbentuk Surya Majapahit. Panel relief secara konsep menggambarkan pemahaman tentang estetika Islam, yaitu terdapat daya imajinasi pada motif singa yang digambarkan secara abstraksi dengan cara stilasi. Meru atau gunung diwujudkan dengan konsep terletak pada delapan arah mata angin. Jadi tanda visual Surya Majapahit
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 71 dipolakan dengan penempatan motif binatang yang distilasi berada di tengah-tengah sebagai sumber kekuatan dan pengendali kekuatan. Artinya motif binatang yang tergambar di tengah-tengah merupakan tanda visual motif yang memiliki kedudukan penting. Motif singa dapat dimaknai kekuatan, kepribadian yang kuat. Adapun, motif gunung dengan masing-masing motif tumbuhan mengelilingi dan menempatkan pada delapan titik. Gambar 30 Motif kuncup dikelilingi delapan motif gunung Sumber: Agus (2017) Konsep komunikasi mandala yang memusat memancarkan kekuatan ke segalah arah tergambar pada relief di atas. Motif bangunan kuncup yang menggambarkan kekosongan, kesucian, tingkat spiritual yang tinggi di tempatkan di tengah-tengah dikelilingi oleh tujuh motif meru di tambah satu motif candi. Dalam kebudayaan Jawa-Hindu, candi dianggap sebagai prototipe dari meru atau gunung. Candi sebagai tempat ibadah, tempat penghormatan kepada Dewa, juga sebagai pintu gerbang (candi bentar) sehingga dalam konsepnya digambarkan sebagai meru
72 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase atau gunung. Perwujudan candi dalam relief di atas dapat direpresentasikan sebagai meru. Konsep komunikasi yang tergambar pada relief di atas melalui tanda-tanda visual berupa bangunan kuncup, candi, dan meru dengan segala atributnya di antara motif kamboja, pandan, batu karang, dan sulursuluran secara terstruktur membentuk pola Surya Majapahit seperti tampak pada gambar di bawah ini. Gambar 31 Konsep Surya Majapahit bermotif bangunan kuncup, candi dan meru. Sumber: Agus (2017) F. Konsep Landscape dalam Relief Mesjid Mantingan 1. Konsep Landscape Landscape dalam arti Bahasa Indonesia berarti pemandangan, bentang alam (Anon n.d.). Pengertian Landscape yang banyak dipersepsikan oleh para ahli perancang dan para ahli kebun ialah penampakan asli dan aspek estetika (Naveh 1984). Landscape sebagai hubungan antara komponen biotik dan abiotik, termasuk komponen yang berpengaruh terhadap manusia, yang terdapat di dalam suatu sistem yang
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 73 menyeluruh dan membutuhkan analisa dan konsep yang terpadu (Kier 1979). Landscape adalah keharmonisan struktur dan proses yang ditandai dari sifat karakter sebagian permukaan bumi (Klink 2002). Menurut Suharto dalam Susanti (2000) Landscape mencakup semua elemen pada watak/karakter tapak, baik elemen alami (natural Landscape), elemen buatan (artificial Landscape) dan penghuni atau makhluk hidup yang ada di dalamnya (termasuk manusia). Sehingga dari beberapa pengertian tentang Landscape tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep Landscape merupakan suatu hal yang dirancang oleh manusia dan lingkungan, baik buatan maupun alamiah yang di dalamnya mencakup elemen-elemen yang ada di alam dengan memperhatikan aspek estetik untuk mendapatkan sebuah kenyamanan dan ketenangan. Berdasarkan pengertian Landscape di atas dapat dipahami bahwa Landscape adalah sudut pandang pengamatan terhadap alam yang di dalamnya tergambar kehidupan, kesan tumbuh, kedamaian, keharmonisan serta ketenangan yang dirancang dengan keteraturan dan pencapaian estetik melalui elemen-elemen alam yaitu kayu, angin, air, api, dan tanah dan makhluk hidup (manusia dan binatang). Sebagai pemahaman tentang bentuk Landscape dapat dilihat pada gambar 32 dan 33.
74 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar 32 Konsep Landscape dalam Lukisan Sumber: kreasialamLandscape.com Gambar 33 Konsep Landscape dalam dinding eksterior Sumber: kreasialamLandscape.com 2. Komunikasi Visual Landscape Konsep Landscape sering digunakan dalam sudut padang komunikasi visual dengan maksud memberikan pemahaman tentang kehidupan atau wawasan yang luas. Adapun, penerapan konsep Landscape sering kali diwujudkan dengan bentuk sulur-suluran, kombinasi tumbuh-tumbuhan dan binatang, kombinasi bangunan dan tumbuh-tumbuhan. Komunikasi visual Landscape banyak kita jumpai pada lukisan, batik, relief dan panel-panel ukiran. Bahkan, desain cover buku juga dapat diterapkan konsep
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 75 Landscape sebagai upaya cerminan dari isi buku yang ditulis. Penggambaran desain cover buku ini adalah salah satu bentuk visual dari perancangan publikasi buku “tea party”. Adapun tujuan publikasi buku mengenai teh ini dirancang adalah untuk menambah wawasan para pecinta teh, yang dilatarbelakangi dengan merambahnya penikmat teh di Indonesia namun kurang memiliki wawasan mengenai teh itu sendiri. Adapun konsep cover buku ini didesain sesuai dengan tema yang diangkat yaitu konsep floral menggunakan pattern berbentuk sulur-sulur tumbuhan (Sari, 2015). G. Penutup Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pada relief Masjid Mantingan menggambarkan adanya tanda visual Surya Majapahit yang mana bentuk tersebut diwujudkan dalam motif utama atau motif yang dianggap penting dan disertai dengan motif-motif pendukung. Di antaranya seperti pada motif Semeru dengan motif pendukungnya yaitu pohon KAMBOJA, daun pandan batu karang dan bunga teratai dengan motif singa yang distilasi berada di pusat. Selain itu juga berbentuk motif gajah yang dikelilingi delapan motif meru dengan berbagai atributnya dan motif bunga teratai yang dikelilingi motif pendukung bentuk batang memiliki bentuk ukel di setiap ujungnya. Motif-motif tersebut tergambar dalam relief bentuk medallion dan bentuk cermin. Secara terstruktur motif pada relief masjid tersebut membentuk konsep Surya Majapahit.
76 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Selain sebagai lambang bentuk Surya Majapahit juga sering digunakan sebagai aspek komunikasi visual seperti bentuk surya Majaphit yang digunakan dalam motif batik, dalam simbol logo dan motif yang tergambar dalam relief Masjid Mantingan. Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan maka penelitian ini mencapai saran bahwa relief Masjid Mantingan dapat dikembangkan pada perancangan desain berbasis relief yang diaplikasikan seperti pada kemasan makanan khas Jepara dan batik khas Jepara. Perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan pendekatan multidisiplin guna mengetahui budaya nusantara. Di samping itu perlu penelitian lebih lanjut tentang citra estetik relief Majid Mantingan sebagai desain dan wujud ekspresi artis sehingga dapat diterapkan pada desain motif batik, desain kemasan oleh-oleh khas Jepara, dan sebagai brand identitas kota Jepara.
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 77 A. Pendahuluan Cagar budaya merupakan salah satu potensi dan sumber daya kebudayaan bagi suatu bangsa. Cagar budaya banyak ditemui di berbagai sudut kota. Namun, pada dasarnya cagar budaya yang merupakan benda statis atau tidak bergerak dan tidak memiliki sifat yang abadi. Faktor alam dan lingkungan yang sering kali mengalami perubahan menjadikan cagar budaya mengalami kerusakan dan pelapukan yang tidak ayal akhirnya menjadi tanah (soiling proses). Indonesia merupakan salah satu negara bagian Asia Tenggara yang memiliki iklim tropis dengan tingkat kelembaban yang signifikan di mana rentan sekali menjadi ancaman bagi pelestarian bangunan cagar budaya. Meskipun cagar budaya terbuat dari bahan anorganik, akan tetapi tidak menutup kemungkinan seiring berjalannya waktu akan mengalami proses kerusakan atau pelapukan. ampai saat ini jumlah Cagar Budaya yang telah ditetapkan masih sangat rendah sudah barang tentu harus menjadi perhatian dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Jika masih banyak Cagar Budaya yang belum ditetapkan, maka dikhawatirkan Cagar Budaya tersebut akan terancam kerusakan akibat adanya konflik kepentingan misalnya adanya tekanan pembangunan, perluasan lahan, pemanfaatan lahan untuk permukiman, dan lain-lain. BUKU ILUSTRASI CAGAR BUDAYA BERBASIS LOCAL GENIUS
78 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Cagar Budaya yang sudah dipugar juga belum menunjukkan jumlah yang signifikan dibandingkan dengan Cagar Budaya yang mengalami kerusakan. Mengingat sebagian besar Cagar Budaya di Indonesia terletak di open air (udara terbuka) yang langsung bersentuhan dengan faktor air, cuaca (suhu, kelembapan, angin), maka bahan dasar yang digunakan untuk Cagar Budaya tersebut akan cepat mengalami proses kerusakan dan pelapukan. Masalah lain adalah masih banyaknya Cagar Budaya (termasuk di dalamnya Cagar Budaya bawah air) yang terancam hilang dan rusak, karena belum dilindungi secara hukum. Disadari sepenuhnya bahwa sistem pengelolaan terhadap Cagar Budaya diakui masih belum optimal, masing-masing instansi terkadang masih ego sektoral. Semua aspek manajemen mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengorganisasian, serta pengawasannya masih berjalan sendiri-sendiri. Sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, pengelolaan Cagar Budaya harus dilakukan oleh Badan Pengelola yang terdiri dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan masyarakat termasuk kalangan perguruan tinggi. Paradigma baru dalam pengelolaan Cagar Budaya di Indonesia adalah menggunakan Integrated Management System, yaitu sistem pengelolaan Cagar Budaya yang dilakukan secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan oleh seluruh pemangku kepentingan. Kelemahan lain adalah masih rendahnya kesadaran dan kepedulian sebagian masyarakat terhadap nilai penting Cagar Budaya. Hal ini dibuktikan dengan masih maraknya tindak pelanggaran terhadap upaya perlindungan Cagar Budaya di beberapa daerah, misalnya
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 79 pencurian, pemalsuan, pembawaan Cagar Budaya ke luar negeri secara ilegal, corat-coret pada batu-batu Candi. Ketidakharmonisan/kontradiktifnya antara UndangUndang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dengan produk perundang-undangan dari instansi terkait juga merupakan permasalahan sendiri dalam pengelolaan Cagar Budaya. Sebagai contoh, insentif pajak untuk perawatan Bangunan Cagar Budaya bertentangan dengan Peraturan Menteri Keuangan tentang kebijakan pajak. Keputusan Presiden tentang Panitia Nasional Benda-benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) juga bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. (kebudayaan.kemdikbud.go.id). Berdasarkan penelitian terakhir menyebutkan bahwa pada tahun 1990-an di Semarang terdapat 103 bangunan cagar budaya yang sudah ditetapkan. Akan tetapi, terdapat juga 300-an bangunan yang perlu dikaji untuk ditetapkan menjadi cagar budaya. Menurut Tjahjono Raharjo selaku ketua paguyuban Sasana Sobokartti sekaligus dosen arsitektur di sebuah perguruan tinggi swasta, mengatakan sebagian pemilik gedung tua bersejarah di kota lama Semarang, mengaku kesulitan untuk merawat bangunan miliknya (bbc.com). “Misalnya saya meninggal, ahli waris saya ingin membagi harta warisannya, di antaranya rumah itu. Nah, status cagar budaya itu menyulitkan, karena bangunan itu tidak dapat dijual, sementara ahli-ahli waris itu 'kan tidak semuanya orang mampu. Dia butuh uang itu.” (Tjahjono Raharjo, ketua paguyuban Sasana Sobokartti) Kendala dana dari pemilik bangunan cagar budaya juga merupakan salah satu permasalahan yang dialami
80 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase oleh pemilik bangunan cagar budaya di kota Semarang. Meskipun Pemerintah sudah mengambil sikap untuk mengatasi permasalahan yang ada pada bangunan cagar budaya akan tetapi masih belum signifikan dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan bangunan cagar budaya. Lambat laun bangunan cagar budaya yang termakan oleh generasi kerusakannya akan semakin bertambah parah. No Gambar Keterangan Sumber 1. Diduga sengaja dirobohkan, bangunan bersejarah bekas kantor redaksi surat kabar De Locomotief, yang terbit pertama kali pada 1851, dan dikenal sebagai pendukung politik Etis, mengalami kerusakan parah. bbc.com 2. Masalah pembongkaran Pasar Terongan telah dilaporkan ke Wali Kota Semarang, dan kemudian pembongkaran itu untuk sementara dihentikan, menyusul adanya penelitian terakhir yang mengukuhkan bahwa bangunan pasar itu termasuk bbc.com