Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 81 bangunan cagar budaya 3. Rusak: Warga melintasi bangunan cagar budaya Milik Bank Mandiri yang tinggal setengah bangunan di Jalan Suari, Kawasan Kota Lama, Semarang, Jateng, Tribun news.com Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu langkah dalam mengantisipasi permasalahan yang terjadi dalam upaya pencegahan perusakan bangunan cagar budaya yang ada di kota Semarang. Menurut Piaget, anak pada usia 7 tahun akan memasuki tahap operasional konkret, di mana anak sudah mampu berpikir rasional, seperti penalaran untuk menyelesaikan suatu masalah yang konkret (aktual). Namun, bagaimanapun juga dalam kemampuan berpikir mereka masih terbatas pada situasi nyata (kompasiana.com). Pada tahap tersebut merupakan langkah yang tepat untuk menawarkan solusi pencegahan secara dini terhadap kerusakan cagar budaya yang ada di kota Semarang. Media edukasi berupa buku ilustrasi merupakan salah satu media yang komunikatif dalam penyampaian pesan kepada anak secara verbal maupun
82 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase visual. Buku ilustrasi merupakan pengembangan buku dari versi konvensional yakni buku teks. Buku Ilustrasi menawarkan perpaduan konteks bahasa dengan konteks visual yang mampu menyelaraskan pikiran anak-anak dalam mengimajinasikan sekaligus menelaah makna. Dalam pengembangan desain buku ilustrasi yang ditawarkan nantinya akan menyajikan konsep yang informatif, edukatif dan komunikatif. Bangunan cagar budaya yang akan ditampilkan dalam konsep buku ilustrasi dibatasi pada bangunan cagar budaya yang menjadi ikonik dan menunjukkan kearifan lokal budaya yang ada di kota Semarang. Diharapkan dengan penelitian ini mampu menjadi Khasanah dalam pengembangan media edukasi berbasis local genius yang dapat bermanfaat bagi pemerintah dan masyarakat sebagai upaya pencegahan sejak dini dan semangat pelestarian cagar budaya bagi generasi muda. Menilik dari paparan latar belakang di atas maka disusunlah rumusan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana wujud media edukasi berbasis local genius tentang cagar budaya kota Semarang? 2. Bagaimana konsep pengembangan desain buku ilustrasi berbasis local genius cagar budaya kota Semarang? 3. Mengapa desain buku ilustrasi sebagai media edukasi berbasis local genius cagar budaya kota Semarang?. Penelitian seputar cagar budaya kota secara umum beberapa kali pernah dilakukan dan dipublikasikan dalam bentuk jurnal ilmiah. Berikut merupakan beberapa penelitian yang sudah pernah dilakukan terkait dengan cagar budaya, media edukasi dan buku ilustrasi sebagai berikut:
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 83 Riya Yanuarti, 2007, Perlindungan Hukum Terhadap Karya Arsitektur Cagar Budaya Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta (Studi Kasus Perlindungan Arsitektur Cagar Budaya Di Kota Semarang). Septina Alrianingrum, 2010, Cagar Budaya Surabaya Kota Pahlawan Sebagai Sumber Belajar (Studi Kasus Mahasiswa Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Negeri Surabaya). Volare Amanda Wirastari, Rimadewi Suprihardjo, 2012, Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Berbasis Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus: Kawasan Cagar Budaya Bubutan, Surabaya). Agus Budi Wibowo, 2014, Strategi Pelestarian Benda/ Situs Cagar Budaya Berbasis Masyarakat. Kukuh Priyo Sembodo, 2016, Perancangan Buku City Guide Wisata Cagar Budaya Kota Surabaya Menggunakan Teknik Ilustrasi Pensil Warna Guna Meningkatkan Daya Tarik Wisatawan. Budaya rupa merupakan produk hasil dari sistem budaya yang erat kaitannya dengan aktivitas dalam sistem sosial. Budaya rupa nusantara sangat bervariasi di antaranya memiliki wujud dua dimensi dan tiga dimensi. Wujud rupa yang syarat dengan makna. Ketika beberapa budaya saling berhadapan, maka ada tiga kemungkinan proses yang terjadi, yaitu: perlawanan (konfrontasi), saling menyerap (asimilasi) hingga muncul yang baru, dan menyesuaikan diri (adaptasi). Penyesuaian diri akan terjadi bila satu budaya lebih kuat daya penyesuaiannya sehingga yang baru disesuaikan dengan mencangkokkan pada yang ada atau yang menyesuaikan diri dengan yang baru bila fisik tak berdaya. Namun demikian, roh budaya akan mampu beradaptasi. Adakalanya ungkapan simbol dan ekspresi dalam budaya rupa menyesuaikan diri
84 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase namun isi jati roh tetap bertahan (Mudji Sutrisno, 2012 : 36). Titik awal gambaran penelitian yang sedang diajukan dapat dilihat dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh peneliti. Pada tahun 2013, peneliti melakukan penelitian berupa perancangan media game tentang cagar budaya kota Semarang dengan tema “Perancangan Game Cagar Budaya Kota Bagi Anak Usia 6- 12 Tahun, Sebagai Upaya Sosialisasi Peninggalan Sejarah (Studi Kasus: Bangunan Lawang Sewu Di Kota Semarang)“ dengan fokus kajian satu cagar budaya yang ada di kota Semarang. Penelitian ini menjadi dasar dalam pengamatan mengenai media edukasi yang akan disampaikan kepada masyarakat kaitannya dengan cagar budaya. Peneliti juga pernah melakukan publikasi ilmiah dalam seminar nasional pada tahun 2013 sebagai pemakalah dengan judul Rancang Bangun Desain Game Cagar Budaya Kota Semarang Bagi Anak Usia 9-10 Tahun Sebagai Bagian Dari Media Edukatif Nasional Dan Wujud Sosialisasi Peninggalan Sejarah dengan fokus kajian berupa game dengan topik enam cagar budaya yang ada di kota Semarang.
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 85 Gambar 34 B. Metode Pengembangan Buku Ilustrasi Metode pengembangan yang dipakai pada tema penelitian ini yakni menggunakan metode pengembangan berupa prototipe sebagai model acuan penyampaian buku ilustrasi yang akan dibuat. Dapat dilihat pada bagan sebagai berikut : Metode pengembangan yang digunakan dalam topik penelitian ini yakni menggunakan metode pengembangan purwa rupa (prototype) sebagai model acuan penyampaian komik interaktif yang akan dibuat. Dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:
86 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar 35 Model Pengembangan Alur Prototype Buku Ilustrasi Berikut ini penjelasan secara detail mengenai prosedur penelitian yang dilakukan dalam tahapan ini: 1. Analisis Kebutuhan Pada tahap ini peneliti menganalisis dan mengidentifikasi permasalahan yang ada melalui pengumpulan data dan analisis kebutuhan sebagai sarana penunjang penelitian dalam bentuk data primer dan data sekunder untuk kemudian disaring dan diolah menggunakan metode pendekatan berbasis local geius. a. Penyaringan Elemen Media Pada tahapan ini dilakukan dikotomi elemen media yang cocok digunakan untuk disampaikan dalam pengembangan penelitian pengenalan bangunan cagar budaya yang sudah ada sebelumnya. Media buku ilustrasi dengan menggunakan metode pendekatan berbasis local genius akan diujicobakan kelayakannya dalam sosialisasi dan kampanye pengenalan cagar Analisis Kebutuhan Penyaringan Elemen Media Implementasi Buku Ilustrasi Pengujian Prototipe Buku Ilustrasi Evaluasi
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 87 budaya kepada masyarakat (anak-anak khususnya). b. Implementasi Buku Ilustrasi Tahapan ini peneliti melakukan uji coba pada elemen media yang dipilih. Implementasi berupa prototipe buku ilustrasi dibuat dengan mengacu pada pendekatan berbasis local genius. c. Pengujian Prototipe Buku Ilustrasi Tahapan ini merupakan tahapan kelanjutan dari pengaplikasian media secara prototipe di mana pada tahap ini dilakukan sosialisasi/kampanye kepada masyarakat (anak-anak pada khususnya) untuk mengetahui reaksi dan interaksi anak pada sosialisasi pengenalan sejarah bangunan cagar budaya di Semarang menggunakan media komunikasi berupa prototipe buku ilustrasi. d. Evaluasi Tahapan ini merupakan tahap pengujian jika ditemukan kekurangan dari kegiatan kampanye terkait dengan buku ilustrasi tersebut, maka akan dilakukan perbaikan sampai diperoleh acuan model penyampaian yang pas melalui buku ilustrasi yang informatif, komunikasi dan menarik C. Desain dan Cagar Budaya Orang dalam mewujudkan karya atau mengeluarkan pendapat perlu suatu rancangan. Penjelajahan yang menunjukkan pola pikir manusia, sebagai ilmu pengetahuan. Lingkup desain sebagai ilmu adalah khusus pada hal-hal berkaitan dengan rancangan mulai dari ide, teknik hingga wujudnya. Strategi untuk mencapai apa yang ingin diwujudkan tercapai atau terwujud. Herbert
88 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Simon dalam Widagdo mengatakan bahwa desain adalah Sains yang dikendalikan oleh logika dan hukum buatan manusia dalam membuat artefak yang berguna (Burhan, 2006: 190). Desain adalah hasil proses perancangan sebuah objek yang dilakukan melalui tahapan tertentu dan melalui pertimbangan yang melibatkan berbagai parameter yang melekat pada objek desain tersebut menuju pada pemberian ujud atau bentuk yang memenuhi kaidah-kaidah dan nilai yang berlaku pada kurun waktu tertentu (Widagdo, 2005: 152). Desain adalah ujung akhir dari suatu proses interaksi antar berbagai komponen kegiatan ekonomi, perilaku, sosial, tradisi. Desain yang berupa benda, ruang, dan bangunan yang berfungsi untuk kegiatan hidup manusia, sampai ujudnya sudah melalui berbagai proses pengolahan yang melibatkan berbagai pihak dalam kurun waktu dan kerangkan pikir tertentu (Widagdo, 2005: 189. Desain bermula dari kesadaran manusia membuat alatalat (Mayall Bockus dalam Mike Susanto, 2003: 80). Desain merupakan bidang ketrampilan, pengetahuan, dan pengalaman manusia yang mencerminkan keterkaitannya dengan apresiasi dan adaptasi lengkungannya ditinjau dari kebutuhan-kebutuhan kerohanian dan keberadaannya. Secara khusus desain dikaitkan dengan konfigurasi, komposisi, arti, nilai dan tujuan dari fenomena buatan manusia. Aspek desain mempertimbangkan bahan, fungsi, keefektifan, lingkungan di mana produk tersebut akan dioperasikan serta akibat produk tersebut terhadap manusia (Beakley, 1974: 369-370). Desain merupakan proses kreatif yang melibatkan konsep untuk mewujudkan suatu karya yang
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 89 memiliki nilai guna dan estetik demi membantu dan memenuhi segala kebutuhan manusia (Setiawan, 2017: 5). Warisan budaya tertulis dalam Pasal 1 dari The World Heritage Convention yang isinya memetakan warisan budaya fisik menjadi tiga, yaitu monumen, kelompok bangunan, dan situs. Adapun, warisan budaya yang bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya sebab memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan (Undang-Undang Nomor: 11 Tahun 2010) (10) (World Heritage Unit dalam Setiawan dan Annas, 2017, 35). Lebih lanjut berkaitan dengan pemanfaatan cagar budaya sebagai edukasi yang menyangkut tentang pewarisan budaya. Pewarisan budaya (transmission of culture) merupakan tindakan proses mewariskan budaya dari satu generasi ke generasi masyarakat berikutnya melalui proses pembudayaan. Sesuai dengan spirit dan budaya sebagai milik bersama masyarakat, maka unsur kebudayaan itu menyatu dalam individu masyarakat dengan jalan diwariskan atau dibudayakan melalui tindakan proses belajar budaya. Tindakan proses pewarisan budaya dilakukan melalui proses enkulturasi (pembudayaan) dan proses sosialisasi (belajar atau mempelajari budaya) (Setiawan dan Annas. 2017: 35). D. Media Pembelajaran dan Local Genius Menurut Munir dalam bukunya yang berjudul Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi mengatakan
90 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase bahwa media pembelajaran dapat diartikan sebagai perantara sampainya pesan belajar (message learning) dari sumber pesan (message resource) kepada penerima pesan (message receive), sehingga terjadi interaksi belajar mengajar. Sumber pesan atau disebut juga komunikator biasanya pengajar/guru, sedangkan penerima pesan atau komunikan biasanya peserta didik. Media pembelajaran meliputi segala sesuatu yang dapat membantu pengajar dalam menyampaikan materi pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan motivasi, daya pikir dan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran yang sedang dibahas atau mempertahankan perhatian peserta terhadap materi yang sedang dibahas. Ilustrasi menurut definisinya adalah seni gambar yang dimanfaatkan untuk memberi penjelasan atas suatu maksud atau tujuan secara visual. Ditinjau dari segi fungsinya, Supriyono (2010: 169) berpendapat bahwa fungsi ilustrasi adalah untuk memperjelas teks dan sekaligus sebagai eyecatches. Menurut Supriyono, ilustrasi yang efektif umumnya memiliki kriteria sebagai berikut (1) komunikatif, informatif, mudah dipahami; (2) menggugah perasaan dan hasrat. Ide baru, orisinal, bukan merupakan plagiat; (3) memiliki daya pukau yang kuat; (4) foto atau gambar memiliki kualitas baik (teknik pembuatan dan nilai seni). Menurut Peter Hunt (1996: 110) buku ilustrasi adalah buku yang di dalamnya terdapat kombinasi antara teks lisan dan gambar ilustrasi yang memberikan asumsi bahwa gambar berkomunikasi lebih langsung daripada kata-kata, di mana gambar memudahkan pembaca memahami isi bacaan serta memberikan daya imajinasi.
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 91 Istilah local genius pertama kali dikenalkan oleh Quaritch Wales, yang dijelaskan sebagai “the sum of the cultural characteristics which the vast majority of people have in common as a result of their experience in early life”, (keseluruhan ciri-ciri kebudayaan yang dimiliki bersama oleh masyarakat atau bangsa sebagai hasil pengalaman mereka di masa lampau). Menurut dia local genius adalah kemampuan kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan itu berhubungan. Akibatnya terjadilah suatu proses akulturasi, di mana kebudayaan setempat menerima pengaruh kebudayaan asing. Sehingga pengertian ini diperoleh dari pengamatannya atas hubungan yang terjadi pada waktu kebudayaan Indonesia menerima pengaruh dari kebudayaan India. Hal ini terlihat dari Indonesia bagian barat yang menerima secara penuh, sehingga terlihat seperti meniru kebudayaan India. Akan tetapi sebaliknya, di Indonesian bagian timur kebudayaan India hanya sebagai perangsang bagi perkembangan setempat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kebudayaan setempat (prasejarah) tetap mampu mempertahankan salah satu unsur kebudayaan, yaitu ragam hias geometris. Dan kemampuan inilah yang disebut dengan local genius (Ayatrohaedi, 1985). E. Local Genius dalam Buku Ilustrasi Lokal genius merupakan istilah yang pertama kali dikenalkan oleh Quaritz Wales, yang dimaksudkan sebagai “The sum of the cultural characteristics which the vast majority of people have in common as a result of their experience in early life”, (keseluruhan ciri-ciri kebudayaan yang dimiliki bersama oleh masyarakat atau bangsa
92 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase sebagai hasil pengalaman mereka dimasa lampau). Di mana menurut dia lokal genius merupakan kemampuan kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu di mana kebudayaan itu berhubungan. Bangunan cagar budaya di kota Semarang dalam konteks lokal genius merupakan salah satu aset kebudayaan yang diciptakan dan merupakan peninggalan pada masa penjajahan di Indonesia pada kota tersebut. Akulturasi bangunan banyak dipengaruhi oleh hunian masyarakat asing yang singgah masa tersebut yakni bangsa Arab, Bangsa Eropa, Bangsa Jepang dan Bangsa Tionghoa. Peninggalan tersebut merupakan beberapa wujud bahasa rupa yang diciptakan pada masa itu yang memiliki nilai estetis yakni dari segi bangunan dan nilai historikal sejarah yang tersimpan di dalamnya. Wujud akulturasi budaya dalam bentuk keindahan bangunan yang diciptakan dari segi historikal merupakan salah satu hal yang menarik untuk diangkat dan dikenalkan kepada anak selaku generasi muda yang ke depannya diharapkan mampu untuk melestarikan bangunan tersebut. Buku ilustrasi merupakan salah satu media yang mampu menggambarkan dan mengajak anak untuk tertarik mengenal bangunan cagar budaya di Semarang. Pengenalan buku ilustrasi merupakan salah satu wujud bahasa rupa yang berwujud statis yang mampu memberikan kelebihan yakni mudah untuk dipahami dan ditelaah juga mudah dibawa ke mana saja. Buku ilustrasi menawarkan banyak gambar cerita yang mampu menyajikan tampilan visual yang menarik untuk anak dan tidak melelahkan untuk dibaca.
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 93 F. Konsep Prototipe Buku Ilustrasi Konsep prototipe buku ilustrasi merupakan pendukung sosialisasi cagar budaya ini hanya memiliki satu mode tampilan yakni tampilan statis. Tampilan statis menawarkan kepada anak secara kognitif untuk lebih menyerap materi buku ilustrasi dengan pengamatan objek lebih mendalam sehingga pesan yang disampaikan akan lebih mudah untuk dipahami. Menurut artikel online deepublish.com (27/03/2018) menyatakan, membuat buku dengan ilustrasi akan memotivasi pembaca untuk lebih cermat dalam memahami keseluruhan isi dalam membuat buku. Berikutnya, penambahan ilustrasi dalam buku teks dapat berguna untuk memperjelas isi tulisan. Dalam memperjelas isi tulisan, ilustrasi berguna sebagai pendukung uraian yang memberikan gambaran konkret dan jelas. Dalam konteks ini buku dengan ilustrasi merupakan sarana komunikasi yang tepat untuk anak yang secara harfiah tidak membuat mata anak lelah dalam membaca tulisan akan tetapi menarik antusiasme anak dalam mengembangkan daya imajinasi mereka lewat gambaran ilustrasi buku. Buku yang merupakan media statis sangat mungkin sekali untuk dibawa ke mana pun serta mudah dalam penggunaannya. Di samping itu, Baldinger (1986:120) menyebutkan bahwa ilustrasi dalam buku dapat menjadi tanda untuk mengomunikasikan permasalahan tanpa menggunakan kata-kata. Selain itu, ilustrasi juga memiliki fungsi untuk menerangkan konsep dan menonjolkan isi buku. Permasalahan dalam pengenalan cagar budaya akan lebih terselesaikan dengan adanya buku ilustrasi sebagai media pendamping anak.
94 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Dalam perancangan buku ilustrasi ini, acuan peneliti yakni mengadaptasi konsep penyajian buku ilustrasi berjudul “Perancangan Buku Ilustrasi Ensiklopedia Mengenai Teh Hitam Ciwidey” yang dibuat oleh Mirna Livianisa dari ITB (Institut Teknologi Bandung). Konsep yang diadaptasi yakni model layout dan penggayaan yang ada di dalamnya. Konsep gambar sketsa drawing yang diedit menjadi bentuk grafis digital. Konsep ini akan menciptakan media sosialisasi/ kampanye pengenalan cagar budaya yang ilustratif, menarik, informatif, komunikatif serta mudah dipahami. Gambar 36 Referensi Perancangan Buku Ilustrasi (Kiri) Dan Konsep Prototipe Isi Buku Ilustrasi yang Akan Dikembangkan (Kanan) G. Buku Ilustrasi Cagar Budaya Berbasis Local Genius Merujuk pada sub bahasan sebelumnya maka topik pengenalan historikal sejarah bangunan cagar budaya yang akan dirancang sebagai konten prototipe buku ilustrasi yakni: 1) Bangunan Cagar Budaya Masjid Besar Kauman, 2) Bangunan Cagar Budaya Gereja Blenduk, 3) Bangunan Cagar Budaya Klenteng Sam poo Kong, 4) Bangunan Cagar Budaya Lawang Sewu dan 5) Bangunan Cagar Budaya Stasiun Tawang. Cagar budaya dibatasi
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 95 pada lima bangunan bersejarah cagar budaya Semarang dengan pertimbangan lama tempuh proses produksi pembuatan buku ilustrasi, di mana apabila berjalan dengan lancar maka akan bisa dikembangkan lagi, sedangkan jika menemui kendala saat proses produksi maka bisa dijadikan batas patokan sejauh mana pengembangan prototipe buku ilustrasi bisa dibuat. Gambar 37 Wujud Tampilan Prototipe Buku Ilustrasi Cagar Budaya Semarang
96 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Dalam penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa hal yang menjadi penghambat tercapainya tujuan penelitian, baik hambatan dari segi konsep/sketsa buku ilustrasi maupun dalam hal storytelling cerita buku ilustrasi. 1. Dari Segi Konsep Untuk menciptakan sebuah buku ilustrasi menarik dan informatif dibutuhkan ide/gagasan konsep cerita yang bagus dan sesuai dengan tema penelitian yakni pengenalan historikal bangunan cagar budaya kota Semarang. Gagasan atau ide yang sudah disepakati bersama akan dituangkan menjadi sketsa buku ilustrasi. Hambatan yang diterima yakni bagaimana menyampaikan cerita dalam bentuk ilustrasi dalam bentuk yang ringkas dan tidak membuat lelah anak dalam membaca buku ilustrasi tentunya dengan misi komunikasi pesan yang ingin disampaikan tercapai. Peneliti di sini harus melakukan revisi beberapa kali naskah dan sketsa yang dihasilkan yang harapannya tidak hanya bagus tetapi juga menarik ketika akan disampaikan. 2. Dari Segi Storytelling Cerita Buku Ilustrasi Untuk menghasilkan buku ilustrasi yang komunikatif, informatif dan menarik dibutuhkan waktu lebih yang cukup menyita dan proses yang lama. Solusi untuk masalah tersebut yakni menggunakan teknik gambar manual yang kemudian diproses finishing digital. meskipun terlihat agak sedikit kasar tekstur gambarnya namun secara keseluruhan tampilan yang digambarkan terkesan unik dan menarik.
Seni: Cara Pandang dalam Kajian | 97 H. Penutup Hasil analisa menggunakan bahasa rupa berbasis pendekatan lokal genius, mendorong untuk penciptaan proses pengembangan konsep gambar sesuai dengan konsep buku ilustrasi yang diusung. Penerapan buku ilustrasi sebagai sarana kampanye pengenalan bangunan cagar budaya diharapkan akan memberikan sensasi baru dalam membaca buku yang menghibur tanpa kesan formal yang menjenuhkan. Akhir kesimpulan dapat disimpulkan dengan mengimplementasikan konsep buku ilustrasi pengenalan bangunan cagar budaya Kota Semarang harapannya mampu memberikan media pendamping dalam pengenalan bangunan cagar budaya sekaligus menanamkan nilai semangat pelestarian bangunan cagar budaya. Buku ilustrasi dengan tema cagar budaya ini dapat dikembangkan dalam beberapa media baru yang lebih kompleks, misalnya sebagai berikut: 1. Pengembangan media aplikasi yakni bukan hanya media statis seperti buku ilustrasi cetak akan tetapi bisa dikembangkan menjadi versi e-book digital. 2. Pengembangan konsep visual, storytelling dan penggayaan layout yang lebih menarik dan kreatif 3. Topik dan tema penelitian ini bisa dikembangkan lagi menjadi penelitian lanjutan yakni menambah tema cagar budaya lainnya yang akan dikenalkan dengan berkoordinasi lagi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Dinas Pendidikan kota Semarang.
98 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase
99 BAGIAN II TEKNOLOGI: PENERAPAN KAJIAN SENI
100 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase A. Pendahuluan Kegiatan apresiasi terhadap karya seni bagi kalangan mahasiswa merupakan bagian penting dalam menumbuhkan iklim berkarya. Di sisi lain, kegiatan apresiasi karya juga mempengaruhi kemampuan seseorang dalam proses memaknai sebuah objek karya seni rupa yaitu dalam hal khusus yang dimaksudkan adalah desain visual. Metode-metode perlu dikembangkan guna mencapai kualitas pemahaman dan pemaknaan sebuah karya seni. Sehingga karya yang diciptakan memiliki dasar konsep yang matang dan kualitas estetik yang mampu meningkatkan pemahaman makna serta taraf hidup manusia yang bermartabat. Metode yang bersinggungan dengan medan penciptaan dan penghayatan yaitu melalui literasi visual. Literasi merupakan wujud simbol dan sistem serta tata bunyi yang memiliki kandungan makna, sehingga literasi dimengerti merupakan suatu kompetensi dasar yang mencakup empat aspek kemampuan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis (Anggraini 2016: 264). Berangkat dari arti literasi di atas perlunya membudayakan berliterasi di antaranya untuk mencapai kemampuan menyimak dalam artian menghayati sebuah karya, kemampuan berbicara dalam artian mampu LITERASI VISUAL DAN MEDIA APRESISASI KARYA SENI
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 101 melakukan sebuah kritik, kemampuan membaca dalam artian mampu mendeskripsikan dan pemahaman makna, kemampuan menulis dalam artian mampu mengungkapkan konsep-konsep berpikir dan interpretatif. Membudayakan berliterasi dalam dunia pendidikan khusus yang dimaksudkan dalam pemikiran penulis adalah literasi visual untuk meningkatkan jiwa apresiasi mahasiswa terhadap hasil karya mahasiswa untuk mencapai mutu kualitas pembelajaran yang tercermin dalam sebuah proses. Maka, perlu digalakkan pemahaman dan kegiatan tentang budaya membaca dan menulis. Bersinggungan dengan kekaryaan mahasiswa, maka budaya literasi visual perlu digalak. Manusia bukan tergantung dalam kemahiran baca tulis sebagai acuan tolok ukur dalam menilai kemampuan dan kompetensi seseorang, maka pada akhirnya terdapat berbagai istilah untuk pembahasan menyangkut berbagai hal macam literasi yang lebih dimengerti sebagai suatu kemampuan atau penguasaan bidang tertentu. Di antara salah satu bentuk literasi yang memiliki pengaruh besar dalam interaksi manusia dengan lingkungannya adalah literasi visual atau visual literasi (Sidhartani 2016:156). Hasil pengamatan selama ini mahasiswa desain komunikasi visual Udinus belum sampai pada kesadaran literasi visual. Budaya membaca dan menulis terhadap karya-karya yang dipamerkan belum menjadi iklim bagi mahasiswa desain komunikasi visual. Tidak dipungkiri bahwa belum terbentuknya iklim literasi visual, berdampak pada ketidaktahuan bagaimana mahasiswa dalam mempertanggungjawabkan atas karya yang mereka ciptakan. Karya tidak cukup hanya dipajang dan
102 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase disaksikan dalam kurun waktu yang terbatas. Keberadaan karya dalam kurun waktu penyajian yang terbatas harus mampu memancing budaya membaca dan menulis, serta terciptanya ruang dialog yang saling mengisi. Beberapa aspek belum terbentuknya iklim berkarya dan berapresiasi di kalangan mahasiswa yaitu pertama kegiatan pameran terlihat sebatas seremoni dan pemajangan karya dalam kurun waktu terbatas, belum termanifestasikan dalam wujud pertanggungjawaban secara menyeluruh. Karya-karya terbaik belum terjamah yang sebenarnya dapat dioptimalkan sebagai referensi visual dan bahan tulisan serta kebijakan dalam perancangan karya yang berkelanjutan. Berpijak dari beberapa aspek yang di uraikan di atas sehingga penelitian ini berupaya mengembangkan sebuah metode literasi visual untuk penyediaan media apresiasi karya seni mahasiswa desain komunikasi visual Udinus untuk meningkatkan iklim dan kualitas keilmuan dalam bidang desain komunikasi visual. Penjabaran latar belakang permasalahan mendapatkan pentingnya metode literasi visual untuk penyediaan media apresiasi karya seni mahasiswa sehingga perlu dirumuskan bagaimana bentuk metode literasi visual dalam upaya membangun iklim apresiasi karya seni di kalangan mahasiswa serta peningkatan kualitas berkarya dalam kalangan mahasiswa. Fatah (2016) dengan judul “Perilaku Literasi Visual di Kalangan Pencinta Komik di Surabaya”. Tulisan ini mengungkap perihal perkembangan media hiburan yang saat ini begitu pesat. Salah satu media hiburan yang popular dan digemari oleh berbagai lapisan masyarakat adalah komik. Komik dipandang tidak hanya sebagai
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 103 media hiburan saja, tetapi dampak positif yang didapatkan adalah pembaca memiliki kemampuan literasi visual. Lebih lanjut Fatah mengungkapkan bahwa Literasi visual merupakan kemampuan dalam memanipulasi berbagai bentuk visual di kalangan anggota Komunitas Komik Bungkul Surabaya. Fokus penelitian ini yaitu mengetahui gambaran perilaku literasi visual di kalangan pencinta komik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam perilaku berpikir secara visual para anggota komunitas sering merasakan berpikir secara visual ketika mereka membaca buku terutama berbagai buku hiburan. Dalam perilaku belajar secara visual ketika menggunakan gambar sebagai media pembelajaran mereka sering menggunakan berbagai gambar yang dimengerti oleh orang yang mereka terangkan untuk menerangkan (34%). Sedangkan perilaku komunikasi secara visual mereka paling sering menggunakan media gambar-gambar komik sebagai alat untuk berkomunikasi mereka (38,8%). Siti Anggraini (2016) dengan judul Budaya Literasi Dalam Komunikasi. Tulisan ini menjelaskan budaya literasi Era serba digital, visual, dan serba praktis era elektronik, kalau diantisipasi bisa menurunkan tingkat literasi (kemampuan baca). Dengan budaya membaca menjadi mudah menjadi kritis dan tidak mudah termakan isu-isu yang dikembangkan oleh sekelompok orang untuk kepentingan tertentu. Sejumlah Negara yang dikenal memiliki budaya baca tinggi sudah lebih cepat mengantisipasinya. Sebagai contoh, Jepang, Industri buku cetak di sana tidak mengalami penurunan signifikan. Orang tetap asyik membaca lewat bacaan cetak ataupun elektronik.
104 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Miftah, Rizal, and Anwar (2016) dengan judul “Pola Literasi Visual Infografer Dalam Pembuatan Informasi Grafis (Infografis)” Penelitian ini menjelaskan bahwa kegiatan infografer House of Infographics dalam menafsirkan objek visual merupakan rangkaian proses aktivitas yang diawali dari keterampilan ataupun strategi yang dilakukan oleh para infografer dalam membaca objek visual, hal ini dapat dilihat dari pemahaman mereka terhadap konsep visual, grafis dan estetika, selain itu pemahaman terhadap komponen objek visual juga dibutuhkan agar para infografer nantinya dapat membuat komposisi karya yang baik dan sesuai dengan pengaturan dari masing-masing komponen yang akan membentuk. Pola membaca objek visual yang dimiliki oleh para infografer merupakan hasil dari berbagai faktor yang mempengaruhi aktivitas kehidupan dan lingkungan sekitarnya, dan proses ini tentunya akan terus berlangsung sesuai dengan konsep belajar long life learning. Makin sering infografer diberikan stimulus visual maka, makin bertambah pula pengalaman indra penglihatannya, sehingga pada akhirnya hal tersebut mampu menambah kualitas karya yang dihasilkan nantinya.
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 105 Gambar 38 B. Literasi dan Literasi Visual Literasi berdasarkan asal katanya, litterae berarti kumpulan huruf, maka literate dapat diartikan sebagai orang yang memiliki kemampuan atau kompetensi akan suatu pengetahuan, atau ia dapat membaca atau menulis, dan punya kemampuan untuk memanfaatkan pengetahuan tersebut. Pemahaman ini tentunya tidak lepas dari sejarah di mana pada awalnya jumlah orang yang memiliki kemampuan baca tulis masih sangat terbatas, dan orang-orang tersebutlah yang kemudian dianggap memiliki kompetensi yang lebih baik, sehingga dapat menyebarluaskan pengetahuannya kepada orang lain (Sidhartani 2016: 156) Pengertian Visual Literacy atau literasi visual ini secara umum dapat dipahami sebagai kemampuan untuk memahami suatu bentuk bahasa visual dan mengaplikasikan pemahaman tersebut untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Salah satu contoh sederhana dari penguasaan literasi visual ini adalah pada saat seseorang dapat memaknai dan
106 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase memahami pesan-pesan visual yang ditangkapnya sehingga dapat memberikan respons atau reaksi yang tepat dan sesuai terhadap pesan tersebut. Ini dapat mencakup pesan sederhana seperti simbol yang digunakan dalam fasilitas umum seperti larangan, petunjuk, dan sebagainya. Namun dalam fungsi yang lebih kompleks, literasi visual dibutuhkan untuk dapat memahami dan mengapresiasi sebuah karya seni (rupa), di mana hal ini juga akan memberikan pengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam berkreasi atau menciptakan sebuah karya visual (Sidhartani 2016: 156). Bamford dalam Sidhartani (2016: 156-157) lebih lanjut mengemukakan bahwa literasi visual mencakup kemampuan membaca dan menyusun sebuah pesan visual. Hal ini berarti bahwa literasi visual mencakup kemampuan seseorang untuk menerjemahkan dan menginterpretasikan makna dari sebuah pesan visual serta menyusun sebuah pesan visual yang bermakna. Sunarni (2018 : 2) mengungkapkan pengertian literasi visual dari beberapa pakar tentang literasi visual di antaranya Wileman mendefinisikan literasi visual sebagai kemampuan untuk membaca dan menafsirkan serta memahami informasi yang disajikan dalam gambar bergambar atau grafis. Sadik menggambarkan kemampuan untuk mengubah informasi menjadi gambar sebagai pemikiran visual. Brill, Kim dan Branch mengungkapkan bahwa keaksaraan visual adalah kemampuan untuk menafsirkan dan menghasilkan atau menentukan gambar sebagai bentuk untuk mengkomunikasikan gagasan dan konsep. Mereka menunjukkan bahwa pelajar yang berpendidikan visual harus dapat memahami objek yang terlihat dan
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 107 menciptakan objek yang terlihat statis atau dinamis. Roblyer dan Bennett menjelaskan bahwa seorang pelajar secara visual dapat membaca, menginterpretasikan, memahami, dan menghargai makna pesan visual. Berkomunikasi lebih efektif dengan menerapkan prinsip dan konsep dasar desain visual. Menghasilkan pesan visual menggunakan komputer dan teknologi serta mengonseptualisasikan solusi terhadap masalah. (Fatah n.d.) menuturkan gambaran literasi visual menurut para pakar di antaranya: menurut Braden & Hortin dalam Eisenberg literasi visual merupakan sesuatu kemampuan untuk berpikir, memahami, mempelajari, dan mengekspresikan semua hal yang ada di dalam diri seseorang dengan menggunakan gambar. Tiemensma mengungkapkan literasi visual merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan menerjemahkan berbagai jenis bacaan yang memiliki bentuk visual. Moore dan Dwyer mengungkapkan bahwa kemampuan literasi visual terdiri tiga konstruksi dasar yaitu Berpikir secara visual atau visual thinking, belajar secara visual atau visual learning, dan komunikasi secara visual atau visual communication. C. Metode Literasi Metode berarti cara tepat untuk melakukan sesuatu (Setiawan 2018:19). Metode merupakan alat, teknikteknik untuk mengumpulkan data, teknik analisis, dan teknik menulis laporan (Setiawan 2018:20). Pendapat Bernard yang dikembangkan Thohir cenderung menggunakan istilah metode, karena dianggap memiliki tiga tingkat yaitu: tingkat pertama adalah tataran epistemologis yang dimaknai untuk mengetahui sesuatu,
108 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase sehingga harus berpijak pada sejumlah pertanyaan berdasarkan prinsip-prinsip kefilsafatan yaitu dasardasar berpikir rasionalisme atau empirisisme. Adapun, segi metode ilmiah yang diterapkan apakah menggunakan paradigma positivisme, humanisme, atau interpretivisme. Tataran epistemologi yang harus dijelaskan lebih dahulu karena dianggap sebagai worldviews terhadap realitas. Berdasarkan hal di atas, maka diistilahkan sebagai metodologi (bukan metode). Tingkat kedua, istilah metode diposisikan ke tingkat umum. Isinya menyangkut pilihan strategis yang digunakan untuk memperoleh data, seperti melakukan peran serta, kajian kepustakaan, atau eksperimen. Sedang tingkat ketiga, metode dipahami sebagai cara menentukan strategi ke arah teknis seperti: jenis sampel apa yang dipilih, interview tatap muka atau lewat telepon dan sebagainya (Setiawan 2018:20). Adapun literasi seperti yang sudah disinggung di atas, dapat dipahami sebagai kemampuan secara individu dalam pengetahuan terkait tindakan kemampuan membaca atau menulis. Sehingga literasi berangkat dari pemanfaatan pengetahuan dalam kemampuan membaca atau menulis. Pentingnya manusia berliterasi untuk menjadi manusia yang bermartabat. Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa (Hadiansyah et al. 2017:3) Sehingga metode literasi dapat dimaknai sebagai cara dengan berbagai tingkatan dalam kemampuan membaca atau menulis yang didasarkan pada pengetahuan. Berbagai cara bersinggungan dengan literasi dalam mengasah pengetahuan yang terkait dengan
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 109 kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas. Clay menjabarkan tentang literasi, bahwa literasi terbagi dalam beberapa komponen literasi informasi yaitu literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Pada komponen pertama yaitu literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap berikutnya (Clay 2001). Berikut skema komponen literasi di bawah ini. Gambar 39 Komponen Literasi Sumber: Muhammad, (2016) Hardware Software Ethics & Etiquette To ols Print Presenta tion online Product ion Broadca st Print Online Type s Inform Persua Entertain de Purpo se Types of material s Dewey System Catalog & Indexes Research Process Media Technology Visual Literacy Information Literacy Library Literacy Basic Literacy Speaki ng & Listeni Reading & Writing Counting & Calculati Perceiving & Drawing
110 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase D. Literasi Visual Literasi Visual (Visual literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang tidak terbendung, baik dalam bentuk cetak, auditori, maupun digital (perpaduan ketiganya disebut teks multimodal), perlu dikelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan (Clay 2001). Visual literacy results from a system for expressing, recognizing, understanding, and learning visual messages that are negotiable by all people. (Hasil literasi visual dari sebuah sistem untuk mengekspresikan, mengenali, memahami, dan belajar pesan visual yang dinegosiasikan oleh semua orang) (Alberto and McIntosh; David Cihak 2007: 234). Nelson berbicara tentang apa itu literasi visual yang dikembangkan dari pendapat beberapa pakar (Moore and Dwyer, Wileman dan Eisenberg) yaitu: Visual literacy as a core model comprised of three main concepts: visual learning, visual thinking, and visual communication. They further describe these three concepts as the ability to construct meaning from visual experiences (visual learning), organize information based on the composition of images (visual thinking), and use symbols to express meaning (visual communication) (Nelson 2004: 6). Terjemahan literasi visual sebagai model inti terdiri dari tiga konsep utama: belajar visual, berpikir visual, dan komunikasi visual. Mereka lebih jauh menggambarkan ketiga konsep
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 111 ini sebagai kemampuan untuk membangun makna dari pengalaman visual (pembelajaran visual), mengatur informasi berdasarkan komposisi gambar (berpikir visual), dan menggunakan simbol untuk mengekspresikan makna (komunikasi visual). 1. Literasi Visual Sebagai Tingkat lanjut literasi Media Adiputra mengategorikan pengertian literasi media menjadi tiga yaitu: pertama, literasi media adalah perspektif yang digunakan secara aktif ketika berhadapan dengan media untuk menginterpretasi makna pesan yang diterima. Orang membangun perspektif tersebut melalui struktur pengetahuan. Untuk membangun struktur pengetahuan diperlukan alat dan bahan mentah. Alat adalah kemampuan atau kecakapan yang harus dimiliki. Bahan mentah adalah informasi dari media dan dari dunia nyata. Akses atau konsumsi yang aktif atas media berarti orang memahami pesan dan secara sadar berinteraksi dengan pesan (media) tersebut. Kedua, literasi media seperangkat kecakapan yang berguna dalam proses mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan pesan dalam beragam bentuk. Literasi media digunakan sebagai model instruksional berbasis eksplorasi yang mendorong individu mempertanyakan secara kritis apa yang mereka lihat, dengar, dan baca. Ketiga, literasi media adalah sesuatu yang lebih luas dari sekadar mengonsumsi informasi. Seorang yang memahami media (media literate) berarti individu tersebut dapat pula memproduksi, menciptakan dan mengomunikasikan informasi dalam berbagai
112 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase bentuknya. Literasi media kemudian didefinisikan juga sebagai kecakapan untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi yang responsif terhadap perubahan bentuk pesan di dalam masyarakat. Manifestasi konkretnya adalah kemampuan individu tidak hanya dalam hal mengumpulkan informasi, melainkan juga memproduksinya sesuai dengan kondisi aktual dalam kehidupan bersama (Adiputra 2008:5-6). 2. Literasi Visual sebagai Tingkat Lanjut Literasi Teknologi Kata teknologi (technology) sendiri berasal dari bahasa Latin texere, yang berarti membangun atau mengonstruksi (to conctruct). Jadi teknologi seharusnya tidak hanya diartikan sebagai penggunaan alat atau mesin, meskipun dalam arti yang lebih sempit inilah yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari (Adiputra 2008:10). Rogers dalam Adiputra (2008:10) menjelaskan, bahwa teknologi adalah desain dari tindakan yang terencana yang mereduksi ketidakpastian dalam relasi sebab-akibat, yang melibatkan pencapaian hasil yang diharapkan. Setiap teknologi biasanya berkaitan dengan aspek hardware (terdiri dari obyek fisik atau materi) dan software (terdiri dari basis informasi bagi hardware). Jadi, teknologi komunikasi adalah: the hardware equipment, organizational structures, and social values by which individuals collect, process, and exchange information with other individuals. Indonesia termasuk ke dalam lima besar Negara pengguna media sosial terbesar di dunia masih tertatih dalam penguasaan etika berinteraksi dan
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 113 mengolah informasi di dunia maya (Anggraini 2016:269). Lebih lanjut, kemajuan teknologi informasi sangat pesat dalam beberapa dekade ini membawa dampak positif maupun negatif bagi remaja. Penggunaan internet, televisi, telepon seluler, smartphone, Facebook, Twitter, MySpace, Path, Instagram, Whatsapp, Blackberry, Massenger, dan lainnya tengah marak. Ini memungkinkan munculnya aktivitas komunikasi melalui media, short message service (SMS), Chatting, komentar dalam forum daring (online), blog, chatrooms, status updating seperti Twitter dan Facebook, dan bentuk online lainnya (Anggraini 2016:269). E. E-Galeri: Wujud Media Penyediaan Literasi Visual 1. E-galeri sebagai Literasi Media dan Literasi Teknologi Konsep galeri berbasis elektronik diupayakan sebagai wadah untuk menginventaris karya seni atau desain yang pernah terlahir dan berproses dalam ruang dialog seni dalam ajang apresiasi. Ruang dialog yang tersaji dalam aktivitas pameran sebagai wujud pertanggungjawaban perancang atas karya yang dirancangnya. Konsep galeri berbasis elektronik dirancang untuk memudahkan seseorang dalam mengakses dan publikasi, sehingga keberadaannya mampu merekam jejak perkembangan karya. Di sisi lain, penyajian karya yang dikemas dalam wadah egaleri dapat manfaatkan sebagai ajang apresiasi dan juga motivasi penciptaan atau perancangan. Karyakarya yang tersaji dapat digunakan sebagai bahan studi visual dan bahan referensi.
114 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Keberadaan e-galeri sebagai literasi media berangkat dari persoalan-persoalan tentang penyajian dan inventarisasi terhadap karya. Persoalan yang dapat dipahami bahwa ada keterbatasan ruang dan waktu dalam penyajian karya secara langsung dan juga ada keterbatasan ruang dalam upaya penyimpanan karya secara fisik. Bentuk fisik karya dan realitas ruang dialog seni menjadi catatan penting mengingat adanya interaksi atas karya dengan pengamat atau penghayat, perancang dengan pengamat, bahkan sesama pengamat. Ketika peristiwa penting atas karya terbatas pada ruang dan waktu, maka perlu adanya keberlanjutan yaitu karya dan peristiwa diwadahi dalam media dan teknologi yang nantinya sebagai bentuk tingkat lanjut yaitu kegiatan beliterasi media dan teknologi. Pengembangan e-galeri sebagai wujud literasi media dan teknologi harapannya adalah mampu menjadi sarana atau alat penyediaan media apresiasi karya dan penyediaan bahan yang dapat digunakan sebagai studi visual serta mendorong seseorang dalam kekaryaan. Artinya pengembangan e-galeri dapat sebagai sarana penyediaan sumber ide dalam penciptaan atau perancangan. Media dan teknologi dipadukan untuk mempermudah mahasiswa bahkan masyarakat mengenali, memahami, mengekspresikan, dan berpikir visual terkait hal-hal penciptaan dan perancangan. Adapun media yang dikembangkan dalam mendukung metode literasi visual bagi mahasiswa dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 115 Gambar 40 tampilan desain web galeri dkv Udinus Sumber: Agus Setiawan (2019) Desain web galeri DKV Udinus menyatu dengan dengan beranda DKV Udinus yang merupakan wadah informasi seputar kegiatan program studi Desain Komunikasi Visual. Adapun, galeri DKV Udinus lebih menekankan pada karya-karya yang pernah disajikan dalam ajang pameran tugas akhir, pameran angkatan, dan berbagai karya yang diajang pameran skala lokal maupun internasional. Pada konsep galeri DKV Udinus sudah dipetakan sesuai peminatan sebagai contoh karya-karya advertising, animasi, dan desain grafis.
116 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar 41 tampilan karya desain di dalam web galeri DKV Udinus Sumber: Agus Setiawan (2019) Pada visualisasi desain web galeri DKV Udinus di atas memperlihatkan karya disusun dalam pola tabel sehingga memudahkan mahasiswa untuk mengetahui contoh beberapa karya desain. Tampilan karya didukung dengan identitas berupa judul dan sub klasifikasi jenis karya. Gambar 42 Desain web bagian bawah berisikan logo universitas dan logo DKV Udinus serta alamat Sumber: Agus Setiawan (2019)
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 117 2. E-Galeri sebagai Sarana Penyediaan Apresiasi Karya Seni Media apresiasi perlu diupayakan mengingat perkembangan teknologi di era revolusi 4.0 tidak dapat terpisahkan dengan aktivitas masyarakat. Akses cepat dan mudah serasa menjadi kebutuhan yang diperlukan saat ini. Kehadiran teknologi komunikasi turut mendorong interaksi manusia dan aktivitas budaya terasa tanpa batas. Tidak ketinggalan pula perkembangan aktivitas berkesenian yaitu dalam ranah penikmatan dan penghayatan karya seni dapat dicapai langsung melalui media dan teknologi. Sebagai gambaran fungsi galeri berbasis digital dapat memberikan pemahaman atas peristiwa kekaryaan yang pernah terjadi yaitu ulasan-ulasan yang dimuat dalam kolom peristiwa atau berita sehingga masyarakat secara luas dapat memahami atas kualitas karya dan aktivitasnya. Penyampaian informasi atas informasi tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk apresiasi karya seni, di sisi lain keberadaan E-galeri sebagai media penyediaan apresiasi lebih tertuju pada publikasi.
118 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar 43 Kolom peristiwa sebagai wujud apresiasi atas aktivitas kekaryaan. Sumber: Agus Setiawan (2019) Gambar 44 Pameran poster DKV Udinus dalam ajang festival SXSW di Austin Sumber: Agus Setiawan (2019) 3. E-galeri sebagai Sarana Penyediaan Sumber Ide dalam Perancangan Adanya kegiatan literasi sudah berarti melakukan pendeskripsian atas indrawi untuk mencapai bahan
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 119 analisis dengan memadukan atas berbagai pengetahuan yang pernah diterima, sehingga simpulan atau keputusan dapat tercapai. Daya berpikir demikian didapat berdasarkan apa yang sudah pernah terlaksana atau terjadi untuk sesuatu yang bersifat rancangan dan keputusan. Mungkin pula itu bagian dari suatu kemampuan dalam menangkap hubungan keselarasan antar elemen-elemen yang terjadi dalam suatu momen tertentu. Karya-karya yang tersaji atas aktivitas pameran dapat mendorong seseorang untuk memiliki hasrat mencipta atau merancang kembali dengan mempertimbangkan aspek media, teknik, dan elemenelemen visual. Perancang mampu menangkap karya sebagai bahan renungan dan studi visual dalam mencapai kreativitas. Pengamatan dan penghayatan karya membuahkan hasil pengalaman artistik, sehingga dalam daya berpikir seorang perancang menemukan tentang karakteristik secara pribadi. Gambar 45 visual dalam penggalian sumber ide Sumber: Agus Setiawan (2019)
120 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar 46 Wayang Gatot Kaca sebagai sumber inspirasi perancangan ilustrasi Sumber: Agung, Yanuarsari, and Setiawan (2016:38) D. Penutup Konsep galeri berbasis elektronik diupayakan sebagai wadah untuk menginventaris karya seni atau desain yang pernah terlahir dan berproses dalam ruang dialog seni dalam ajang apresiasi. Ruang dialog yang tersaji dalam aktivitas pameran sebagai wujud pertanggungjawaban perancang atas karya yang dirancangnya. Konsep galeri berbasis elektronik dirancang untuk memudahkan seseorang dalam mengakses dan publikasi, sehingga keberadaannya mampu merekam jejak perkembangan karya. Di sisi lain, penyajian karya yang dikemas dalam wadah e-galeri dapat manfaatkan sebagai ajang apresiasi dan juga motivasi penciptaan atau perancangan. Karyakarya yang tersaji dapat digunakan sebagai bahan studi visual dan bahan referensi. Pengembangan e-galeri sebagai wujud literasi media dan teknologi harapannya adalah mampu menjadi sarana atau alat penyediaan media apresiasi karya dan penyediaan bahan yang dapat digunakan sebagai studi visual serta mendorong seseorang dalam kekaryaan.
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 121 Artinya pengembangan e-galeri dapat sebagai sarana penyediaan sumber ide dalam penciptaan atau perancangan. Media dan teknologi dipadukan untuk mempermudah mahasiswa bahkan masyarakat mengenali, memahami, mengekspresikan, dan berpikir visual terkait hal-hal penciptaan dan perancangan. Adapun saran dalam penelitian pengembangan institusi adalah: 1. Perlu penelitian lebih lanjut dengan yang lebih komprehensif tentang sejarah Desain Komunikasi Visual Udinus. 2. Perlu penelitian lebih lanjut tentang tata kelola seni bagi program studi Desain komunikasi visual.
122 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase A. Pendahuluan Kudus merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Jawa Tengah yang mempunyai luas wilayah paling kecil di Pulau Jawa bahkan di Indonesia. Kabupaten Kudus berbatasan langsung dengan Kabupaten Pati di sebelah timur, Kabupaten Demak dan Kabupaten Purwodadi di sebelah selatan dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Jepara di sebelah barat dan utara. Menurut para sejarawan, Kota Kudus dahulu berasal dari sebuah desa kecil di tepi Sungai Gelis yang bernama Desa Tajug. Susanto mengungkapkan, bahwa Kudus adalah daerah yang kaya akan situs sejarah dan budaya. Dua modal ini dapat dipadukan dan dikemas menjadi keunggulan lokal yang dapat menarik wisatawan. Namun potensi budaya-budaya lokal yang cukup banyak dan beragam tersebut tampaknya perlu untuk dilakukan pengemasan yang menarik sehingga mampu dijadikan sebagai aset wisata ziarah. Pada dasarnya sektor pariwisata akan selalu berkelanjutan dan tidak akan habis potensinya apabila dilakukan pengelolaan secara tepat (Budi Santoso dan Hessel Nogi S, tt: 10). Data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, yang dihimpun isknews.com, Rabu (29/7), menyebutkan, dilihat dari angkanya, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kudus, dalam tiga tahun PERAN MEDIA WEB INTERAKTIF DALAM BUDAYA KULINER
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 123 terakhir, menunjukkan penurunan. Pada 2012, jumlah wisatawan itu mencapai sebanyak 1.187.670 orang, kemudian pada 2013 turun menjadi sebanyak 1.114.269 orang, dan pada 2014 turun lagi menjadi sebanyak 1.026.328 orang. Media web interaktif sangat dibutuhkan, karena, belum ada media secara komprehensif tentang kuliner khas Kudus yang memberikan informasi secara lengkap khususnya yang membahas mengenai sejarah, bahan baku, keistimewaan dan cara sajian semua dikemas jadi satu kesatuan wadah informasi yang lengkap. Pemerintah Kabupaten Kudus sepanjang pengamatan sendiri hingga saat ini belum pernah mengeluarkan web interaktif yang berisikan makanan khas Kabupaten Kudus. Sedangkan pada media internet sendiri banyak dikemukakan makanan apa saja yang merupakan khas dari Kabupaten Kudus tetapi tidak dibahas secara lengkap, misal mengenai lokasi atau alamat tempat penjual makanan khas Kabupaten Kudus yang enak dan asli dari Kabupaten Kudus. Penelitian ini berupaya menginventarisasi, mendeskripsikan, dan melakukan pengemasan nilai-nilai budaya lokal terkait dengan kuliner khas Kudus, sebagai bahan untuk dikembangkan lebih lanjut dalam sebuah model pembelajaran dan penguatan ekonomi kreatif UMKM di Kabupaten Kudus. Dengan studi ini maka pengemasan nilai budaya yang dipadu dengan ekonomi kreatif dalam bidang kuliner diharapkan mendongkrak sektor kegiatan kepariwisataan yang berdampak positif di bidang sosial, ekonomi, dan budaya. kontribusi untuk menjadikan nilai-nilai budaya sebagai daya tarik utama dalam ekonomi kreatif kuliner
124 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase dapat teridentifikasinya nilai-nilai budaya lokal yang ada pada daerah tujuan wisata kuliner. Terutama lebih mengedepankan pada kearifan lokal dengan tetap memberdayakan masyarakat sebagai subyek dalam industri wisata kuliner. Kedua, diperolehnya model pengembangan ekonomi kreatif kuliner melalui pengemasan nilai-nilai budaya lokal, setelah melalui kesepakatan dengan pendukung budaya itu sendiri dan disesuaikan dengan pemakai budaya sebagai pengunjung wisata kuliner. Proses berikutnya adalah berimbas pada peningkatan ekonomi masyarakat sebagai pendukung budaya maupun sekaligus sebagai pelaku wisata. Keempat, dari segi ekonomi dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan dalam penentuan langkah-langkah pengembangan pariwisata pada daerah tujuan wisata kuliner di kabupaten Kudus dan di Indonesia pada umumnya. Penjabaran latar belakang permasalahan mendapatkan pentingnya kearifan lokal yang dikemas dalam bingkai teknologi sehingga perlu dirumuskan bagaimana media web Interaktif tentang kuliner khas Kudus dalam upaya menopang ekonomi kreatif UMKM di Kabupaten Kudus. Harjanto and Prasetyadi (2014) dengan judul “Perancangan Buku Panduan Wisata Kuliner Kota Surakarta”. Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mempermudah wisatawan yang berkunjung ke kota Surakarta untuk mengenali beragam kuliner kota Surakarta, sedangkan untuk wisatawan yang berada di kota Surakarta, buku ini mempermudah untuk mencari dan menemukan kuliner khas kota Surakarta tersebut. Buku ini dihadirkan dengan desain yang berbeda yaitu lebih fun dan berwarna, dengan dilengkapi peta lokasi,
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 125 foto, alamat, dan beberapa informasi menarik, membuat buku ini terlihat lebih menarik. Indrahti (2012) dalam buku berjudul Kudus dan Islam: Nilai-Nilai Budaya Lokal dan Industri Wisata Ziarah, Semarang: CV. Madina. Buku ini mengulas identifikasi, membuat model pengemasan, dan mengembangkan nilai moral serta kearifan lokal di beberapa wilayah di Kudus yang mempunyai relevansi dengan nilai-nilai berbasis ziarah. Oleh karena itu, buku ini merupakan upaya untuk mengkaji dan mengidentifikasi budaya, serta membuat rancangan pengemasan nilai budaya lokal yang bersinergi dengan kegiatan industri pariwisata ziarah. Pengembangan pariwisata selain membutuhkan sarana prasarana fisik, juga diperlukan penggalian nilai-nilai budaya lokal secara terpadu sebagai salah satu atraksi dan daya tarik kunjungan wisata. Berkaitan dengan wisata ziarah, maka budaya-budaya lokal yang perlu digali antara lain yang mempunyai relevansi dengan nilai-nilai moral maupun spirit keagamaan yang dibangun dalam tradisi wisata ziarah yang kaya makna serta kearifan lokal. Besra (2015) dengan judul “Potensi Wisata Kuliner Dalam Mendukung Pariwisata di Kota Padang”. Tulisan ini mengungkapkan keanekaragaman kuliner di Sumatera Barat membuat kuliner khas Minang menyimpan potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai jasa penunjang dalam pengembangan potensi wisata kuliner. Wisata kuliner menjadi salah satu alternatif di samping pilihan jenis wisata lainnya seperti wisata budaya, wisata alam dan wisata bahari yang sudah terlebih dahulu dikenal oleh wisatawan yang datang ke Sumatera Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengidentifikasi jenis-jenis dan potensi kuliner khas Minang yang ada di daerah Kota
126 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Padang Sumatera Barat, 2) Mengidentifikasi masalahmasalah yang dihadapi dalam mengembangkan kuliner khas Minang dalam menunjang potensi pariwisata di Kota Padang Sumatera Barat Penelitian. B. Kegiatan Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif. Menurut Sekaran (2010: 105-106) penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk memastikan peneliti untuk menggambarkan karakteristik dari variabel-variabel yang menjadi perhatian pada suatu situasi. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah untuk mendapatkan suatu profil atau gambaran yang lengkap dari aspek-aspek relevan mengenai sebuah gejala yang menarik, yang terjadi pada suatu individu, organisasi, industri, atau hal-hal lainnya. Terkait dengan paparan mengenai metode penelitian deskriptif di atas, maka metode deskriptif dipilih karena pada studi ini dilakukan upaya-upaya untuk mendapatkan profil lengkap dari potensi kuliner khas Kudus, yang selanjutnya digunakan untuk membuat sebuah model wisata kreatif. Secara lebih rinci, kegiatankegiatan yang diajukan yaitu 1. Melakukan identifikasi terhadap lingkungan internal dan eksternal tentang kuliner khas Kudus. 2. Melakukan identifikasi terhadap kajian awal terkait informasi dasar mengenai kuliner kas Kudus; yang meliputi: atraksi, transportasi intra dan antar daerah, infrastruktur, fasilitas dan layanan, event/festival dan aktivitas wisata. 3. Melakukan identifikasi terhadap Baur Pemasaran dari destinasi wisata kuliner Kabupaten Kudus.
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 127 4. Menyusun sebuah model destinasi pariwisata kreatif bagi Kabupaten Kudus. 5. Menciptakan Web Interaktif kuliner khas Kudus kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kudus, Sehingga dapat dilihat secara garis besar bagan penelitian secara utuh dalam tahapannya dalam tabel di bawah ini: Tabel 1 Bagan dari aspek yang diteliti dan Hasil yang dicapai Aspek yang diteliti Alur Target luaran yang dicapai Kuliner Khas Kudus Identifikasi jenis makanan dan oleh–oleh kas Kudus Makanan dan oleholeh khas Kudus Ditemukan sejarah dan kearifan lokal Pengembangan Media web Interaktif Ditemukan media sebagai media literasi tentang kuliner khas Kudus Ditemukan kearifan lokal dalam kuliner khas Kudus Hasil yang dicapai dari penelitian Desain Web Interaktif Kuliner Roadmap
128 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase Gambar 47 Roadmap C. Sekilas Kabupaten Kudus Visi Pemerintah Kabupaten Kudus yaitu "Kudus Bangkit Menuju Kabupaten Modern, Religius, Cerdas dan Sejahtera". Adapun, Misi dari pemerintahan Kabupaten Kudus yaitu: 1. Mewujudkan masyarakat kudus yang berkualitas, kreatif, inovatif dengan memanfaatkan teknologi dan multimedia. 2. Mewujudkan pemerintahan yang semakin andal untuk peningkatan pelayanan publik. 3. Mewujudkan kehidupan yang toleran dan kondusif. 4. Memperkuat ekonomi kerakyatan yang berbasis keunggulan lokal dan membangun iklim usaha yang berdaya saing. Pemerintah sebagai public service harus mewujudkan pelayanan dalam kepada masyarakat secara
Teknologi: Penerapan Kajian Seni | 129 optimal dalam wujud pelayanan prima dengan prinsip sistem yang efektif, melayani dengan hati nurani, dan usaha perbaikan yang berkelanjutan. Pelayanan prima juga harus mencerminkan karakteristik pelayanan umum yang sederhana, valid, kejelasan dan kepastian, keamanan, keterbukaan, efisien, ekonomis, keadilan dan ketepatan waktu. Tingkat kepuasan masyarakat dapat dilihat dari menurunnya jumlah pengaduan terhadap pelayanan yang diberikan oleh pemerintah. Tingkat kepuasan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang menangani, ketersediaan sarana prasarana pendukung yang modern. Salah satu pelayanan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus adalah pelayanan terhadap dokumen kependudukan. Kebutuhan terhadap dokumen kependudukan yang benar/valid merupakan hal yang sangat penting dan diperlukan bagi setiap individu (warga masyarakat). Namun di Kabupaten Kudus, pelayanan terhadap pemenuhan kebutuhan dokumen kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) sering kali menimbulkan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan Pemerintah Daerah selama ini. Pelayanan KTP/KK sudah dilaksanakan di tingkat kecamatan dalam upaya memberi kemudahan/percepatan pelayanan kepada masyarakat. 1. Sejarah Kota Kudus Sejarah Kota Kudus tidak terlepas dari Sunan Kudus. Karena keahlian dan ilmunya, maka Sunan Kudus diberi tugas memimpin para Jamaah Haji, sehingga beliau mendapat gelar “Amir Haji” yang artinya orang yang menguasai urusan para Jamaah Haji. Beliau
130 | Seni dan Teknologi, Sebuah Kolase pernah menetap di Baitul Maqdis untuk belajar agama Islam. Ketika itu di sana sedang berjangkit wabah penyakit, sehingga banyak orang yang mati. Berkat usaha Ja’far Shoddiq, wabah tersebut dapat diberantas. Atas jasa-jasanya, maka Amir di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah Wilayah, yaitu pemberian wewenang menguasai suatu daerah di Palestina. Pemberian wewenang tersebut tertulis pada batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan sekarang masih utuh terdapat di atas Mihrab Masjid Menara Kudus (Diskominfo 2017). Sunan Kudus memohon kepada Amir Palestina yang sekaligus sebagai gurunya untuk memindahkan wewenang wilayah tersebut ke pulau Jawa. Permohonan tersebut dapat disetujui dan Ja’far Shoddiq pulang ke Jawa. Setelah pulang, Ja’far Shoddiq mendirikan Masjid di daerah Kudus pada tahun 1956 H atau 1548 M. Semula diberi nama Al Manar atau Masjid Al Aqsho, meniru nama Masjid di Yerussalem yang bernama Masjidil Aqsho. Kota Yerussalem juga disebut Baitul Maqdis atau Al-Quds. Dari kata Al-Quds tersebut kemudian lahir kata Kudus, yang kemudian digunakan untuk nama kota Kudus sekarang. Sebelumnya mungkin bernama Loaram, dan nama ini masih dipakai sebagai nama Desa Loram sampai sekarang. Masjid buatan Sunan Kudus tersebut dikenal dengan nama masjid Menara di Kauman Kulon. Sejak Sunan Kudus bertempat tinggal di daerah itu, jumlah kaum muslimin makin bertambah sehingga daerah di sekitar Masjid diberi nama Kauman, yang berarti tempat tinggal kaum muslimin(Diskominfo, 2017).