The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Jejak Langkah Rusdi Tagaroa_book

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bulax9009, 2022-12-22 23:43:10

Jejak Langkah Rusdi

Jejak Langkah Rusdi Tagaroa_book

Keywords: Rusdi

ganisasinya. Mereka yang tak ada keperluan pun kangen sekadar ngobrol
akrab.
Setelah melepas bujangnya, tidak sering kami bertemu, hanya sese-
ka-li waktu dia ke Lombok, atau pun saat aku mengikuti kegiatan di sepu-
taran Jakarta. Hari Minggu sore, jam setengah lima, dalam perjalanan
menghadiri aqiqah cucu sahabat, kutanya istriku tentang perkembangan
kabar Rusdi.
“Ada rencana untuk pindah rumah sakit”, jawabnya, setelah membu-
ka grup WA.
Di tengah acara aqiqah, kuterima kabar terbaru kondisi Rusdi lewat
pesan WA dari Amri. Innalilahi wa inna ilaihi rojiun, selamat jalan kawan,
sampai ketemu, …. n Sulis, Penggawa Koslata


98 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

22

Skripsi untuk Kritik

Tempat itu jauh dari keramaian kota. Bila malam, keadaannya lebih
sunyi. Kami menyebutnya Panjitilar Negara. Tempat semedi Mas Rusdi.
Kala itu, sekitar akhir 1988, sudah dua pekan lebih aku bergelut dengan
buku- buku (terutama buku buku yang dilarang Rezim Orba) dan ber-
bagai diskusi yang melelahkan, tapi mengasyikkan. Di sana, ada juga
Rudi Hidayat dan Budiono yang kadang ikut dalam percakapan. Yang
pasti, aku dan Mas Rusdi yang lebih banyak waktu bersama. Memasak
dan mencuci juga berdua. Urusan masak nasi, Mas Rusdi jagonya. Bila
aku yang terpaksa memasak nasi, keseringan jadi bubur, karena keban-
yakan air.
Jangan ditanya apa masakannya. Sebagai anak kos, ya, standar-standar
saja, seadanya. Yang penting: ada tempe, tahu, dan sambel terasi. Juga
mie instan dan telur. Mantab..! Bila begadang dan kelaparan, kami makan
kerak- kerak nasi dan kerupuk. Pastinya, seru dan asyik. Ya, keadaan inilah
yang merakit kedekatan dan persaudaraanku dengan Mas Rusdi.
Bahwa tahun 1988 adalah awal kedatangan rombongan kami (aku,
Didik, Dharmawan, Yusuf, Thaha, alm Rashid, Yongyong, Saleh, Murji-
naningsih, Titik Andayani, Ana, dll) dari situbondo dan sekitarnya ke
Mataram. Saat itu, kami disambut oleh KPMS (Keluarga Pelajar Maha-
siswa Situbondo), diantaranya, Ketua Mas Wahid Wahab, Dadang Her-
mawan, Majelis, Ayiek, Rudi Hidayat, Mas Rusdi dan lainnya yang ber-
markas di kos Jalan Gunung kerinci, Mataram. Dan sebenar nya, KPMS
inilah yang mendatangi sekolah-sekolah, termasuk SMAN 1 Situbondo
dan SMAN 2 Situbondo, dalam rangka memperkenalkan dan mempro-
mosikan kampus Universitas Mataram (Unram). Hasilnya, banyak yang
“terjerat” kuliah di Unram. Dari situlah, selanjutnya, aku dan kawan
kawan KPMS dekat bagai saudara.

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 99

Suatu saat, aku “dikompori “ Mas Rusdi, ditantang menulis karya
ilmiah. “Mahasiswa itu bersekolah dengan budaya membaca dan hasil
karya tulisan ilmiah, serta direalisasikan dengan tindakan nyata dalam
kebaikan,” katanya. Kebetulan, saat itu sedang ada LKTI (Lomba Karya
Tulis Ilmiah) di Fakultas Hukum. Temanya, kalau tidak salah, “Hukum
dan Demokrasi.” Akhirnya, aku bertiga, bersama Tina dan Likum, ber-
gabung menjadi sebuah tim. Pembimbingnya, siapa lagi, kalau bukan
Mas Rusdi.
Setelah beberapa pekan persiapan, dan presentasi dihadapan dewan
juri, kami berhasil meraih juara Pertama. Permulaan yang baik, dan
semakin memberikan semangat untuk berkreasi dalam kebaikan.
Kami maju lagi mengikuti LKTI tingkat Universitas Mataram (Un-
ram). Naskah yang kami ajukan ke panitia “Perlawanan Petani Rumput
Laut Kuta, Lombok Tengah.” Meskipun tidak juara (mungkin dianggap
terlalu politis), kami sangat puas. Target kami memang bukan juara,
melainkan menyuarakan kepedihan petani rumput laut yang terancam
kehilangan lahan. Apalagi, saat itu, mahasiswa juga lagi heboh ber-
demonstrasi menolak penggusuran petani rumput laut di Kuta, Lombok
Tengah. Lahan mereka akan dialhkan untuk pengembangan pariwisata,
oleh Lombok Tourism Development Corporation (LTDC).
Tak cuma berdemonstrasi, mahasiswa Unram, bersama Forum Ko-
munikasi Mahasiswa Mataram (FKMM), juga mengajukan surat protes
kepada Bupati Lombok Tengah. Rektor Unram, dan Gubernur NTB. Seti-
daknya, untuk saat itu, petani rumput taut, Kuta, Lombok Tengah masih
bisa bekerja tanpa digusur.
Tantangan
Begitu pula, saat menyusun skripsi, aku kembali tertantang un-
tuk tidak hanya sekedar menulis skripsi pada umumnya. Skripsi, kata
Mas Rusdi, merupakan karya ilmiah yang bebas dan sebagai kritik atas
kekuasaan pemerintahan Orde Baru. Pikirku, inilah skripsi yang menarik
dan membuka cakrawala pemikiran kritis. Kemudian, dibawah arahan
Mas Rusdi, kuajukan judul “ Kekuasaan Jenderal Suharto dan Militer
dalam Pemerintahan Era Orde Baru”. Alhasil, seperti yang kuduga, judul

100 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

ditolak dosen pembimbing. … seelah judul baru diterima setelah baha-
sanya diperlunak menjadi “Refleksi Penegakan Hukum Dalam Era Orde
Baru”. Atas bimbingan dan arahan Mas Rusdi, aku lulus ujian skripsi
dengan nilai “A”.
Mas Rusdi dan Rudi Hidayat adalah kakak beradik yang unik. Mereka-
lah yang memperkenalkan aku kepada kawan- kawan Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) di Mataram dan sekitarnya. Seingatku, pertama, aku
dibawanya ketemu Mas Catur Kukuh dan Mbak Upik; Alm. Bhai Hakimu-
din, Mas Suhardi LP3ES NTB, Mas Djodi Wuryantoro (Alm), aktivis Ma-
lari, yang kebetulan tinggal didekat kos saya di Jalan Gunung Kerinci.
Tak urung, aku jadi sering berdiskusi dengannya. Termasuk juga perke-
nalanku dengan wartawan senior kompas Pak Dirman Toha saat itu di
tempat Bhai Hakimudin di cakranegara. Dan banyak lagi kawan kawan
LSM dan Media juga seniman dan lainnya.
Gerakan Anti Pembodohan
Demonstrasi mahasiswa terus berlanjut. Tak hanya isu nasional, isu
daerah dan isu internal kampus pun jadi sasaran aksi demonstrasi maha-
siswa. Gerakan mahasiswa sepertinya sudah menjadi rutinitas. Hampir
setipa momentum penting, seperti memperingati Hari Hak Asasi Ma-
nusia, UUPA, Proklamasi, dan lainnya selalu di peringati dengan demo
mimbar bebas. Begitu pula kegiatan di luar kampus, mulai dari pembe-
laan kasus petani rumput laut di Kuta, Lombok Tengah; penggusuran di
Pemongkong, Gili Trawangan dan lainnya. Semuanya tidak terlepas dari
peran penting Mas Rusdi sebagai Suhu yang dituakan.
Ketua Presidium SMUM pertama 1991/1992, Agung Bawantara; dan
yang kedua, aku sendiri pada 1992/1993. SMUM juga memiliki struktur
Komisi Advokasi. Melalui HMP2K, SMUM melakukan riset dan diskusi, se-
mentara WMPM mengadakan “Training Advokasi dan Pemahaman Dina-
mika Pembangunan.” Selain itu, mahasiswa Unram / SMUM mengadakan
berbagai diskusi dan seminar dengan mendatangkan tokoh tokoh seperti
Ir. Indro Tjahjono, Dr. Hariman Siregar (Aktivis Malari), Dr. Adnan Buyung
Nasution dari YLBHI, Dr. Sri Bintang Pamungkas (Man of The Year dari
Majalah FH Unram Djatiswara), dan WS. Rendra (menerima HFA Award
bidang HAM dari SMUM), dan lain sebagainya.

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 101

Selepas dari mahasiswa, dan sejak Mas Rusdi hijrah ke Jakarta dan
Banten, aku jarang bertemu, meski aku juga hijrah ke Jakarta juga.
Namun setidaknya aku pernah menjenguknya dan menginap dirumah
kosnya di Lenteng Agung, Jakarta, ketika Mas Rusdi baru menikah de-
ngan Encop Sofia. …seteah pindah ke Serang, aku juga pernah mengun-
junginya. Sebaliknya, Mas Rusdi juga beberapa kali berkunjung ke ru-
mahku di Jakarta. Dari tangannya, terkadang aku bisa menikmati buah
kelor kalentang kesukaanku. Di luar itu, kami sering juga berjumpa di
berbagai acara diskusi atau saat ultah Indemo Malari, Prodem, Kantor
Veteran , TIM, lautze, tempat Alm. Agus Lenon, kantor Bulak di Kaliba-
ta, kantor Mas Suhardi, LP3ES, dan banyak lagi lainnya.
Setelah Mas Rusdi dan Budi Laksono mendirikan Media Damar Ban-
ten, beliau sering juga menyemangati aku dan kawan kawan untuk
mengirim artikel dengan kajian kritis. Alhamdulillah, beberap kali aku
menulis artikel, dan dimuat di media damarbanten.com.
Mas Rusdi juga memberi semagat ketika kami sampaikan rencana
mendirikan organisasi yang bebas dan melawan kemapanan. Lalu, ber-
sama Mas Rusdi Tagaroa, kami: Aku, Lalu Pharmanegara, Agus K Saputra,
Budi laksono, Prio Handoko, Djoko Sawolo bersama sama mendirikan
FAUM ( Forum Alumni Universitas Mataram) pada 02 Juni 2021 di Ja-
karta. Forum ini merumuskan sekte epistimology pemikiran Mataram,
gagasan Pharmanegara yang selalu beliau dukung
Kegiatan FAUM ini diawali dengan berbagai webinar untuk kemasla-
hatan umat, menggalang pemikiran yang lebih memanusiakan manusia
seutuhnya, lahir dan batin.
Baru baru ini, pada Reuni Unram, tanggal 05 Juni 2022, di Shera-
ton Gandaria Jakarta, aku masih sempat jumpa dengan Mas Rusdi dan
kawan kawan. Beberapa kali juga aku bersama Mas Rusdi dan kawan-
kawan grup WAG Pul Kumpul juga mengadakan reuni kecil, kumpul wisa-
ta bermalam di Cipanas, Puncak, Kabupaten Bogor, untuk silaturahmi
melepas kangen, tertawa riang. Mas Rusdi selalu ngopi dan merokok,
kebiasaan sejak mahasiswa.
Sampai Mas Rusdi wafat dan dimakamkan tanggal 21 Agustus 2022 di

102 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

Serang Banten, aku dan kawan kawan mengantarnya menuju Pelukan
Cinta Ilahi. Dan diulang tahunnya yang ke 59, tanggal 28 Agustus 2022,
kami bertahlil di rumahnya, di Serang.
Kami merasa sangat kehilangan kawan, kakak, dan guru seperjuang
an. Selama ini, beliau selalu penuh ide dan semangat untuk menghidup-
kan FAUM dengan berbagai masukan materi diskusi, menyangkut ber-
bagai persoalan struktural yang dihadapi rakyat tertindas
Rencana Allah Yang Kuasa adalah segalanya.

Innalillaahiwainnailaihirojiun.
Al Fatihah
Aamiin Yaa Rabb n Mochammad Syafiq



Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 103

23

Membingkai
Gerakan Perlawanan Rakyat

Rusdi memanggil semua teman dan sahabat terbaiknya berkumpul.
Membuka kembali pengalaman hidup, kisah-kisah bersama menantang
ketidakadilan, suka- duka dalam aksi lantang para kaki-telanjang, di
tengah hamparan lumpur, di bawah terik panas. Berkumpul menemukan
inti perlawanan sejati.
Rusdi sendiri, sekitar dua bulan lalu, menyatakan lelah. Tapi, ia juga
memiliki keyakinan. Ya, hanya keyakinan yang membuatnya tetap
tegak berdiri. Sakit dibiarkannya. Sakit disambutnya dengan tawa. Sakit
tidak dirasakannya.
Rusdi memanggil saat ia dipanggil menghadapNya. Dalam alunan doa
terbaik, teman dan sahabat-sahabatnya mengurai pelajaran-pelajaran
kehidupan selama bersamanya. Saya hanya salah satu diantara banyak
teman dan sahabatnya itu.
Rusdi manusia sederhana dan sabar, tapi sungguh tanpa ampun keti-
ka dia menantang ketidakadilan. Penindas akan dibuat tak bisa berka-
ta-kata lagi,Habis dilumat kalimat Rusdi yang lugas, tajam dan tegas.
Dari kisah-kisah kehidupan teman dan sahabatnya, saya tahu, Rus-
di manusia idiologis. Membangun keyakinannya, yang ia dapatkan dari
situasi ketidakadilan rakyat dan menegaskan diri sebagai bagian per-
juangan hak rakyat. Di Mataram, ia memupuk keyakinannya dari situasi
ketidakadilan buruh migran, kasus-kasus perampasan tanah, dan peng-
hancuran sumberdaya alam.

104 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

Di Surabaya dan di Jakarta, saya bertemu dengan Rusdi secara intens
ketika keyakinan dalam dirinya sudah terbentuk, dan saya pun banyak
belajar darinya. Tak urung, diskusi tanpa henti membawa kami fokus
pada isu dan masalah kemiskinan struktural. Kecermatannya menganal-
isis peta ekonomi politik kekuasaan dan masalah pertanian rakyat, saya
nilai sangat mumpuni.
Saya akumulasi pengetahuan dan aksi pendekatan berbasis hak,
sementara Rusdi membingkainya dalam gerakan perlawanan rakyat.
Lalu, kami menyatukannya dalam ambisi gerakan sosial, dalam ling-
karan jaringan aksi yang lebih luas selama lebih dari 25 tahun lebih,
tanpa henti, sampai datang hari terakhirnya.
Baru pagi ini, kisah kehidupan bersama Rusdi bisa ditulis. Sakit, sakit
memang sudah Dilewati,tapi sakit kali ini menghentikannya. Lelah itu
berakhir. Namun demikian, soal ‘keyakinan’ itu akan tetap hidup dalam
paham, pikiran, dan daya juang para teman dan sahabat-sahabatnya.
Saya, setidaknya untuk diri sendiri, akan menjaganya.
Ya Allah, ampunilah salah dan dosanya.
Al fatihah. Doa terbaik untukmu Rusdi Tagaroa n Andik Hardiyanto


Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 105

24

Sang Perintis Itu Telah Berpulang

Tidaklah berlebihan kiranya, jika saya mengatakan, bahwa kawan
Rusdi Tagaroa adalah “Sang Perintis”, pembuka jalan kebangkitan perl-
awanan rakyat dan mahasiswa di Nusa Tenggara Barat.
Perkenalan saya dengan kawan Rusdi, tidak terlepas dari cerita pan-
jang, tentang awal mula pengorganisasian dan konsolidasi mahasiswa
se-Indonesia. Sebelum saya berkunjung ke Mataram, di akhir tahun 80-
an, kami sudah bertemu beberapa kali dengan kawan Rusdi, di beberapa
pertemuan aktivis mahasiswa, di beberapa kota, di Pulau Jawa, terma-
suk di “Rumah Juang Rode” Yogyakarta.
Pertemuan paling intens dengan kawan Rusdi, terjadi ketika saya
bersama Bung Webby Warouw (Mahasiswa UGM), menyambangi Kota
Mataram, Lombok, untuk membangun jaringan antara mahasiswa Yogja-
karta dengan mahasiswa Mataram.
Saya menemuinya di sebuah rumah kontrakan di Mataram. Seperti
biasa, sambutan pertama dengan senyuman khas yang tidak pernah
berubah.Mas Rusdi orangnya sangat humble. Walau pertama kali ber-
jumpa, serasa sudah bertahun-tahun berkawan.
Tidak menunggu lama, kopi panas dan rokok kretek menemani di-
skusi hangat siang itu. Kawan Rusdi sangat antusias memaparkan kondi-
si mahasiswa dan rakyat di NTB. Tersirat ada kegelisahan yang dalam,
karena mahasiswa Mataram dan rakyat NTB belum bergerak dengan
pengorganisasian yang baik. Diskusi semakin menukik pada bagaimana
memulai mengorganisir mahasiswa dan rakyat untuk bangkit melawan

106 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

kekuasaan otoriter Suharto kala itu. Banyak pelajaran kami dapatkan
dalam silaturahmi bersama kawan-kawan di NTB, yang difasilitasi oleh
kawan Rusdi.Kita tahu bersama, bahwa gerakan mahasiswa dan gerakan
rakyat embrionya dibangun di masa tahun 80-an.
Hampir tiga bulan saya bersama kawan Rusdi di Mataram, bertemu
kawan-kawan aktivis mahasiswa di Universitas Mataram, dan beberapa
perguruan tinggi lainnya. Selama di NTB, pertanyaan besar kita setiap
kali diskusi, adalah mengapa gerakan mahasiswa sebelumnya selalu ga-
gal, atau tepatnya dengan mudah digagalkan oleh rezim Soeharto?
Itulah pertanyaan kita semua, di seluruh kota di Indonesia. Kita lihat
gerakan mahasiswa awal tahun 70-an -- yang merilis thema gerakan anti
korupsi, dengan tokoh hebat seperti Arief Budiman-- mati suri sebelum
membesar.
Tahun 1974, yang terkenal dengan peristiwa Malari, dipimpin oleh
Bang Hariman Siregar --dengan dukungan puluhan ribu mahasiswa-- ha-
nya berakhir chaos, dan dengan mudah dilumpuhkan oleh Suharto, dan
menyeret Bang Hariman Siregar ke pengadilan, kemudian penjara. Ma-
lari pun diberangus.
Pada gerakan mahasiswa tahun 1977/1978, yang dipelopori oleh De-
wan Mahasiswa Seluruh Indonesia, dan merupakan gerakan mahasiswa
terbesar pada tahun 70-an, kita bisa menyaksikan mahasiswa dengan
bangga menggunakan jaket almamater berteriak menantang rezim
otoriter Suharto.
Gerakan Mahasiswa ini memperlihatkan independensi mahasiswa da-
lam menuntut keadilan di negeri ini. Hasilnya, gerakan ini dipatahkan
secara represif dan membawa para tokohnya ke pengadilan dan dipen-
jara. Gerakan ini banyak menginspirasi gerakan mahasiswa tahun 80-an,
karena semua tokoh-tokoh mahasiswa yang diadili kemudian pledoinya
diterbitkan; yang paling kita ingat pledoi: “Indonesia Di Bawah Sepatu
Lars’, pledoi yang ditulis oleh Sukmadji Indro Tjahyono, Ketua Dewan
Mahasiswa ITB. Pledoi yang kemudian di cetak menjadi buku itu beredar
secara ilegal dikalangan aktifis mahasiswa 80-an.

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 107

Awal 80-an juga terdapat gerakan mahasiswa yang mengambil ta-
gline, “Tolak NKK-BKK”. Kebijakan ini diambil oleh rezim Orde Baru
dengan tujuan melumpuhkan lembaga kemahasiswaan yang dianggap
sebagai motor gerakan mahasiswa.
Diskusi kami bersama kawan Rusdi, kemudian masuk pada per-
tanyaan pentingnya, mengapa gerakan mahasiswa sebelumnya “mudah
dilumpuhkan”, itulah topik diskusi yang tidak pernah kami simpulkan
sampai saya kemudian kembali lagi ke Yogja. Tapi ada titik terang yang
kami sepakati berkaitan dengan pertanyaan di atas, yaitu ketika kita
bertanya, mengapa gerakan mahasiswa tahun 1966 berhasil?
Pertanyaan itu tentu menyentak kita pada waktu itu, Gerakan Ma-
hasiswa Tahun 66 berhasil menumbangkan Soekarno. Kita berfikir suk-
sesnya gerakan mahasiswa pada waktu itu karena kuatnya konsolidasi
internal mahasiswa. Tapi, dari beberapa kajian kita kemudian paham
bahwa keberhasilan gerakan mahasiswa tahun 66 karena adanya aliansi
dengan tentara. Sementara gerakan mahasiswa setelahnya tampil den-
gan kekuatan sendiri, tanpa dukungan kekuatan yang lain. Sehingga kita
menyebut bahwa Pemuda Mahasiswa Indonesia Pantang Menyerah Tapi
Pecundang.
Bisa disimpulkan, gerakan mahasiswa itu bisa menjadi kuat jika
beraliansi dengan kekuatan politik diluar dirinya, seperti “suksesnya”
gerakan mahasiswa tahun 66. Pertanyaan selanjutnya, yang belum kita
simpulkan bersama kawan Rusdi adalah, bersekutu dengan siapakah Ma-
hasiswa Indonesia agar menjadi kuat dalam memperjuangkan cita-cita
idealismenya?
Pertanyaan ini kami simpan bukan sebagai wacana diskusi, tetapi
sebagai dorongan untuk mulai membangun aliansi-aliansi dengan kekua-
tan politik yang ada. Sampai kemudian, setelah beberapa tahun kita
menemukan kesimpulannya, bahwa “Bersama rakyat, pemuda; maha-
siswa akan kuat, dan tak bisa dikalahkan”.
Itulah kenangan saya bersama kawan Rusdi Tagaroa, yang takkan ter-
lupakan. Kawan Rusdi telah banyak menyumbangkan ide, gagasan dan
tindakan nyata, melalui pengorganisasian, penyadaran dan pencerahan,

108 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

kepada banyak kelompok aktivis gerakan mahasiswa dan rakyat. Yang
kemudian membesar menjadi gerakan yang terorganisir dengan baik
dan solid, sebagimana gerakan aktivis mahasiswa dan rakyat, yang kita
saksikan di NTB saat ini.
Kawan Rusdi telah menggagas dan melahirkan beberapa organisasi
perjuangan dan perlawanan mahasiswa dan rakyat di NTB. Diantara-
nya menggagas terbentuknya Forum Komunikasi Mahasiswa Mataram
(FKMM), dan mengantarkan gerakan aktivis mahasiswa dan rakyat NTB,
menjadi salah satu gerakan demokratisasi yang diperhitungkan secara
nasional di Indonesia.
Selamat jalan Sang Pembuka Jalan, bagi lahirnya kesadaran, pencer-
ahan, keberanian dan perlawanan, Sumbangsihmu tidak hanya akan
dikenang oleh mahasiswa dan rakyat di Mataram-NTB, tapi juga bagi
mahasiswa dan rakyat Yogyakarta, dan berbagai kota dan daerah lainn-
ya di Indonesia.
Selamat jalan kawan Rusdi Tagaroa. Rest in peace, rest in heaven,
doa kami mengiringimu.-
Palu, 31 Agustus 2022.
n Atha Mahmud, Pemimpin Umum Majalah Mahasiswa “KEADILAN”
(FH-UII) 1985-1987, Pemimpin Umum Majalah Mahasiswa UII “HIM-
MAH” 1987-1989, Anggota Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta
(FKMY)





Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 109

25

Penghormat Kehidupan

Mas Rusdi selalu tampil sederhana ketika menyemangati kami ber-
tiga : Agung Bawantara, Bambang Mulyantono, dan Awing Wahyono,
presentasi Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di Arena Budaya Unram,
topiknya ketimpangan pembangunan di Indonesia Bagian TimuR (IBT).
Kami mengangkat topik tinjauan ke depan: pola pengembangan peter-
nakan di IBT, berisi permasalahan dan gagasan. Bicara data, gagasan
dan contoh foto hasil survei lapangan, semua disampaikan kepada de-
wan juri, dan semua pertanyaan dijawab dengan baik. Selama persen-
tasi kami, Mas Rusdi duduk tenang melihat dan mendengarkan. Setelah
presentasi kami dekati, Mas Rusdi bicara,”ide dan gagasan itu sebaiknya
ditulis, dan lebih baik kalau diuji dan dipertanyakan di depan dewan
juri”. Terima kasih atas pemberian semangatnya, setelah berhari-hari
menyiapkan karya tulis dan presentasinya, yang akhirnya diumumkan
sebagai pemenang pertama,
Setelah lulus dan bekerja, saya jarang bertemu dengan orang hebat
ini, selain hanya mendengar cerita dari teman-teman tentang keseder-
hanaan dan kecerdasannya.
Saya bekerja di lembaga penelitian virus hepatitis di Mataram, yang
kelak menjadi pusat data studi e pidemologi virus hepatitis di Indo-
nesia dan satu-satunya pabrik diagnostik di Indonesia untuk penyakit
menular, seperti hepatitis B dan C, HIV, Malaria, Demam Berdarah dan
tes kehamilan.
Karena berhasil membuat diagnostik ini, penelitian banyak dilaku-
kan, dan biayanya menjadi lebih murah. Lembaga penelitian ini mem-
punyai sampel penelitian dari Sabang sampai Merauke, dari pulau Alor
sampai pulau Sangihe Talaud. Ada hasil penelitian yang unik dan menar-

110 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

ik, ternyata virus hepatitis B bisa dikelompokkan menjadi 4 sub-type
besar yaitu adr, ayw, adw, dan ayr , data menunjukkan sub-type ini
mengelompok pada suku-suku yang ada di Indonesia. Ketika dipetakan
terlihat bahwa penyebaran virus hepatitis B di Indonesia sesuai dengan
asal usul nenek moyang kita ketika bermigrasi. Hal ini sesuai dengan
sebuah penelitian tentang penyebaran genetik penduduk Indonesia
yang sesuai dengan migrasi penduduk Indonesia zama dahalu. Ini bisa
diartikan bahwa virus hepatitis B sudah ada sejak zaman dahulu dan
penyebaran virus dibawa nenek moyang kita ketika melakukan perpin-
dahan penduduk. Berbeda-beda subtypenya, tetapi tetap virus hepatitis
B, seperti halnya Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda tetapi tetap satu
jua. Hal ini bisa mengurangi perdebatan, siapa yang menularkan, siapa
tertular dan kenapa menular, persoalannya sudah ada lama dan baru
sekarang terkuak fenomenanya.
Menghormati Virus
Waktu yang lama itu terasa singkat ketika kami bertemu dalam
Litbar menulis bareng alumni Faterna Unram, kata Ida, “Mas Awing
menghilang lama kata Mas Rusdi”, pertemuan ini mengantarkan saya
bertemu lagi dengan sosok yang sudah lama saya kagumi dalam diam.
Bersama Syafiq, Danu, Hasbi, Ida, Erna dan Galuh bertemu Mas Rusdi
di padepokannya yang penuh pohon jati. .Ada cerita Mas Rusdi sakit
akibat penyakit Hepatitisnya, dan virus hepatitis B yang sudah diidap
sejak kuliah. Sedih juga mendengarnya, dan bertambah sedih karena
dia tidak mau berobat. Ketika saya tanyakan kenapa tidak mau berobat,
Mas Rusdi hanya tersenyum saja.
Saya pun hanya bisa menduga-duga. Apa karena ada virus di dalam
tubuhnya, lalu dengan berobat maka virus itu akan terbunuh, dan itu
akan menyakiti makhluk hidup? Ya, itulah yang ada di dalam pikiran
saya. Beliau ini konsisten dengan etika untuk menghormati kehidupan.
Tapi fenomena yang menarik ini bisa dijelaskan melalui ilmu etika se-
bagai cabang dari ilmu filsafat.
Suatu hari berkumpulah para Dosen etika yang bergabung dalam
Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia (Hidesi), mereka membahas
topik berat pasca pandemi covid19 yaitu “Etika dan hormat kepada
kehidupan”. Awalnya ada keresahan saat masa pandemi, dunia ter-

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 111

goncang karena virus covid19, bagaimana secara etika menyikapi virus
ini. Persoalannya adalah kehidupan Si(apa)? Apa hanya mencakup ke-
hidupan manusia atau mencakup kehidupan organisme lain seperti vi-
rus. Pertanyaannya, bagaimana menyikapi dalam kontek menghormati
kehidupan?
Teori pertama yang diajukan adalah Antroposentris. Secara literal,
Antroposentris berarti manusia (antropos) dan pusat (entris). Secara
ontologis, antoposentris berarti manusia memilih status khusus dalam
keberadaannya yang lebih superior dari entitas-entitas lain. Dalam kon-
tek ini, bahwa satu-satunya subyek moral adalah manusia, karena ha-
nya manusia yang memiliki nilai, sedangkan makhluk lain hanya dalam
kemampuan melayani manusia. Dengan kata lain, hormat kepada ke-
hidupan hanya wajib bagi kehidupan manusia. Lantas, bagaimana den-
gan kehidupan organisme lain selain manusia? Kehidupan mereka dijaga
dan dihormati hanya sejauh bernilai bagi manusia. Jika tidak berguna
atau bahkan membahayakan bagi kehidpan manusia, maka tidak imper-
atif etis untuk menghormatinya. Teori pertama ini, kemungkinan besar
akan ditolak Mas Rusdi karena antroposentris dianggap perpanjangan
tangan keangkuhan manusia di tengah semesta yang luas dan menam-
pung banyak segala jenis kehidupan.
Teori kedua yang ditawarkan adalah Biosentrisme. Etika biosentrime
ini mengasumsikan bahwa semua makhluk adalah subyek moral. Sebab,
yang memilki nilai bukan hanya manusia, melainkan seluruh organisme.
Secara moral, manusia tidak lebih superior daripada organisme lainnya.
Semua makhluk hidup memiliki moral yang sama. Karena itu, menurut
biosentris, hormat kepada kehidupan seharusnya tidak hanya wajib ke-
pada manusia, tetapi juga kepada kehidupan organisme lain, selain
manusia. Mungkin teori ini akan mudah diterima oleh Mas Rusdi, sang
pemikir itu. Tetapi tantangannya adalah mungkin kita bisa hormat pada
kehidupan hewan dan tumbuhan, namun apakah kita masih memberi
hormat terhadap kehidupan virus yang dapat membahayakan tubuh
kita?
Pilihanya menjadi sangat rumit dan dilematis. Kita akan mening-
gal demi menghormati kehidupan organisme lain atau kita tetap hid-
up, tetapi menghianati prinsip etis biosentrisme. Kita harus pilih yang

112 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

mana. Dengan kata lain kalau kita mengidap virus, apakah kita mau
berobat atau tidak.
Setia Etika
Para peneliti dalam bidang Imunologi dan biologi molekular --yang
bertahun-tahun meneliti tentang kehidupan virus-- berpandangan bah-
wa semua diagnostik, obat dan vaksin untuk melawan virus dibuat ber-
dasarkan etika menghormati kehidupan virus. Semua prinsip didasarkan
bagaimana virus hidup di inangnya yang dengan cepat bereplikasi jum-
lahnya. Oleh karena itu, dibuat sistim agar virus tidak bisa menempel
pada inangnya sehingga tidak bisa hidup untuk berepilkasi, bukan mem-
bunuhnya. Perkataan terakhir ini pernah saya ceritakan pada Mas Rus-
di, bahwa penyakit virus selalu ada obatnya, walau menunggu waktu
karena harus ada penelitiannya.
Selang beberapa hari setelah perjumpaan terakhir itu, saya men-
dengar Mas Rusdi mau berobat ke rumah sakit, tapi apa daya Tuhan
berkehendak lain, Tuhan memilih utuk memanggil selama-lamanya.
Penghormatan untuk Mas Rusdi Tagaroa, orang yang selalu setia de-
ngan etikanya, selalu hormat kepada kehidupan secara konsisten. Kami
memnghormatimu seperti engkau hormat kepada kehidupan. n Awing
Wahyono, Jakarta.



Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 113

26

Rusdi Suheng Al Bantani

Albert Einstein dalam kejumudan, atau lebih tepatnya bersimpuh
dalam kegelisahan batas nalar manusia, mencapai suatu titik bahwa en-
ergi itu kekal. Dia dapat berpindah (berubah) dalam bentuk lain meski-
pun cangkangnya musnah, dan klimak konsepsi materialistis sesunguhn-
ya adalah nisbi atau nihilisme. Secara sarkasme, antara ada dan tiada
hanyalah kesepakatan atas dangkalnya akal manusia.
Pun demikian Rusdi Tagoroa, akrab dipanggil Suheng. Meski telah
tiada, dia ada dalam bentuk energi lain. Berkecamuk dalam pergula-
tan ide, konsepsi klasik tentang kapitalisme-sosialisme, demokrasi, so-
sio ekonomi-politik, dan dengan berbagai perintilannya: HAM, gender,
migran, urban, kemiskinan, dan lain-lain, maka kita dapat mengetahui
cara pandang Suheng, ketat pada ontologis dan radik.
Dalam beberapa kesempatan diskusi atau seminar tentang kemi-
skinan, bagi Suheng, atau setidaknya dalam anggapan saya, kemiskinan
adalah persoalan struktural akibat ketimpangan dalam penguasaan SDA,
modal, sosio politik-ekonomi, dll; dan obyek ansich (kemiskinan seperti
sebuah “ikan dalam aquarium” atau “akrobat angka-angka”), sehing-
ga instrumen kebijakan yang lahir hanyalah “pendekatan-pendekatan”,
tidak dipandang sebagai subyek, humanis dan keberpihakan yang me-
mang seharusnya dilakukan negara kepada rakyatnya, bukan charity,
apalagi politik balas budi.
Itulah Suheng. Pemikir adalah bekerja untuk berpikir, bukan tukang,
atau istilah kerennya “teknokrat”. Cogitu ergo sum—“Aku berpikir maka
aku ada”, bukan “Aku ada maka aku berpikir”.
Hegemoni mainstream kadang meletihkan. Berpikir ontologis dan

114 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

radik sesuatu yang telah terkapar dengan stigma “paradigma lama”.
Ekonomi “the real is cash flow”. Hukum sudah menjadi industri, semen-
tara keadilan hanyalah pernik-pernik dari sebuah ornamen yang rapuh.
Politik bukan lagi pertarungan gagasan dan tindakan besar, namun
hanyalah kalkulasi angka pemilih, baik dengan uang, sentimen SARA,
atau memanipulasi masyarakat yang gampang euforia dan latah dengan
framing konyol para politisi. Suheng dengan “kegelisahannya”, secara
terukur, tidak terkesan “genit intelektual”, apalagi “narsis”; jauh dari
sifat “sok paling tahu”; dengan konsisten memproduk ide dan gagasan
untuk melawan, atau lebih tepatnya berusaha untuk mengubah pola
pikir (mindset) yang telah dianggap “given” dalam kontek kekinian.
Padepokan Syi’ar
Dalam pandangan saya, satu-satunya kelemahan Suheng adalah ke-
tika menyampaikan gagasannya secara lisan (verbal). Dia bukan orator.
Penyampaiannya terkadang kurang terstruktur dan sistematis. Boleh
jadi karena dia bukan akademisi yang baik. Diksi premisnya menjadi
sebuah hipotesis sangat terkesan datar-datar saja. Audien atau lawan
bicaranya selalu diasumsikan telah mempunyai literasi yang cukup un-
tuk memahami gagasannya. Namun, semua itu akan berbalik seratus
delapan puluh derajat manakala Suheng menyampaikan gagasannya
dalam bentuk tulisan. Nuansanya berubah seperti seorang petarung be-
bas: pukulan, tendangan bertubi-tubi, bantingan dan pitingannya susah
untuk dielakkan dan dilepaskan. Singkat kata, diksinya begitu progresif
dan revolusioner.
Saat mahasiswa, saya begitu “cupu” untuk berdialektika dengan
“para senior”. Suheng masih terdengar sayup dan jauh dari pandangan
saya. Intensitas pergulatan ide dengan Suheng dimulai sejak tahun 2004,
hingga beliau berpulang dalam haribaan Allah SWT, 21 Agustus 2022,
persis selama 18 tahun. Namun, alam bawah sadar saya telah terpatri
sejumud serpihan puzlle gagasan yang begitu besar. Dan tentu saja,
persamaan titik taut termanifestasi dalam skala mikro sebatas kapasitas
saya.
Pada 6 Agustus 2022, saya berkunjung ke ‘Padepokan Koloni Lebah,
sebuah padepokan dengan halaman yang cukup luas ditumbuhi pohon
jati menjulang yang enggan gemuk, sementara di ujung paling belakang,

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 115

terdapat sebuah mushola bercat putih. Kulihat, Suheng duduk dilantai,
persis di bawah pintu mushola.
“Di sini, aku bermaksud membuat pusat informasi dan kajian ten-
tang tokoh-tokoh Islam dalam mengembangkan syiar Islam di Banten,”
ujarnya. “Tidak perlu seperti Islamic Center, gedungnya saja besar tapi
minim informasi, tidak ada transformasi ide dan gagasan Islam, Rah-
matin lil alamin. Disini kita mendiskusikan kajian tokoh-tokoh itu, ten-
tang tauhid, sufi, tarekat dan filsafat Islam, yang sampai saat ini masih
hidup, berkembang dan mempengaruhi khazanah keilmuan di Banten
ini, Indonesia, bahkan dunia, seperti Syeh Nawawi al-Bantani dan masih
banyak yang lain”.
Menjawab pertanyaanku, Beliau menjelaskan khasanah keilmuan
tentang perkembangangan konsepsi tauhid, fiqh, sufi, dan tarekat den-
gan periodesiasi ulama-ulama besar jaman dahulu yang tidak aneh dan
jamak kita dengar, termasuk penganutnya di daerah-daerah Indonesia
dengan beberapa kyai kesohor, khususya daerah Banten begitu linear
hingga keturunan-keturunannya, berkelindan paham tentang konsepsi
tauhid, fiqh, sufi dan tarekat yang mendirikan pesantren di beberapa
wilayah Banten, termasuk nama sekolah dan mesjidnya.
Tangisan Langit

Pada uraian akhir tentang Banten itu, saya tertegun. Begitu detail.
Saat itu, Otak saya melayang dengan begitu naif, dan terpikir sekilas
bangunan kubus berbalut kain hitam di bawah kolong langit nun jauh di
sana. Bagaimana mungkin mushola ini bisa menjadi tempat mentrans-
formasi sebuah gagasan besar ke-Islaman, karena tempat nun jauh di
sana itu eksis atas kehendak atau konsepsi Ilahiah? Perbandingan antara
“bumi-langit”, tidak apple to apple. Kenapa saya tidak terpikir per-
bandingannya dengan institut-institut itu.
Seolah tahu jalan pikiranku, Suheng menambahkan penjelasannya.
“Kamu jangan berimajinasi terlalu jauh. Informasi dan hasil kajiannya
bisa diakses dengan monitor yang cukup besar, dan diletakan pada ba-
gian depan mushola. Selebihnya, anak-anak digital mensosialisasikan-
nya melalui medsos,” tegasnya. Sontak, saya pun larut dan terpukau
dengan premis, dan output sesungguhnya yang begitu simpel.

116 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

Obor itu masih trengginas menyala, namun bambunya telah mulai
rapuh tergerus jelaga. 16 Agustus 2022, Suheng-ku berbaring di Rumah
Sakit. Suaranya begitu pelan. Meski begitu, Suheng tetap memberikan
semangat kepada kami yang membesuknya. Tentu saja, dengan gimik
kepalan tangan. Lalu, beberapa saat kemudian, Suheng meminta ijin.
“Aku istirahat dulu ya,” ucapnya lirih.
Minggu, 21 Agustus 2022, sekitar pukul 15.30 WIB, di rumah sakit
yang berbeda, Suheng melepaskan nafas terakhirnya. Alam semesta
bersedih. Perjalanan menuju rumah abadinya diiringi tangisan langit,
hujan lebat.
Selamat jalan Suhengku. Kami tetap mengenangmu, dan mendo-
akanmu. Roda kehidupan harus tetap berjalan. Kita semua akan menu-
ju “ke sana”. Serpihan-serpihan gagasan dan tekadmu masih melekat
paripurna dalam lubuk hati yang paling dalam. Implementasinya, tentu
saja, tergantung pada kapasitas, peran dan ruang gerak yang tersedia
pada masing-masing individu. Semoga menjadi amal jariyah. Insya Allah
husnul Khotimah. Amin. n Danu I Nugraha


Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 117

27

Kejar Ijazahmu, Jangan Tiru Saya

Assalamuálaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Saya mengenal Mas Rusdi (Almarhum) saat saya masih sekolah SD di
Kota kecil, Situbondo.
Mas Rusdi adalah sahabat Kakak saya ketika masih sekolah SMP &
SMA di Situbondo. Mas Rusdi dan kawan-kawan Kakak saya sering ber-
main, bahkan bermalam di rumah orang tua. Sebegitu akrabnya mer-
eka, sampai-sampai ibu saya memberikan julukan “5 Di” untuk persa-
habatan mereka, terdiri dari sosok Kakak saya, Rudi (Alm), Edi (Alm),
Rusdi (Alm), Budi, dan satu “Di” lainnya yang saya lupa namanya.
Mas Rusdi lulus SMA (IPA) sekitar tahun1981, namun baru masuk
kuliah di Universitas Mataram (Unram) pada tahun 1983. Mas Rusdi
inilah yang mengawali anak-anak Situbondo kuliah di UNRAM, termasuk
saya yang masuk tahun 1987.
Kisah bagaimana bisa kuliah ke Mataram, yang saya dengar, cukup
menarik. Sebenarnya Mas Rusdi tak berencana untuk kuliah di UNRAM.
Yang ada dalam benaknya adalah merantau, dan tidak tahu arah tujuan.
Dalam perjalanan ke Mataram, Mas Rusdi nunut truck. Nah, dari sopir
truck itulah Mas Rusdi banyak mendapat informasi yang sangat mem-
bantunya, hingga pada akhirnya, Mas Rusdi kuliah di Fakultas Ekonomi
(FE) Unram. Kenapa memilih FE, padahal latar belakangnya IPA? Saya
tak tahu.
Meski tak sempat ikut wisuda di UNRAM, namun banyak pihak
mengakui kualitas keilmuan dan pemikirannya. Hal itu dapat dilihat
dari bagaimana proses pengajuan skripsi dan debatnya dengan dosen

118 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

pembimbing, hingga pada akhirnya, Mas Rusdi memilih untuk tidak
menyelesaikan skripsinya. Dia berprinsip, ijazah hanyalah lembaran
kertas sebagai persyaratan administrasi untuk mencari kerja atau ke-
butuhan lain. Bukan ukuran sebuah kompetensi yang sebenarnya. Walau
begitu, Mas Rusdi selalu menyarankan, “Tetap cari dan dapatkan ijazah
itu. Jangan niru saya.”
Tentang tambahan nama “Tagaroa” di belakang nama Mas Rusdi,
saya sama sekali tidak tahu. Semoga ada rekan yang bisa bantu tentang
bagaimana ceritanya sampai ada tambahan nama tsb dibelakang nama
aslinya. Selamat jalan Mas Rusdi. n Dadang Hermawan



Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 119

28

Jangan Warnai Pacarku

Tidak terpikirkan kalau tawamu di tanggal 6 Agustus adalah tertawa
terakhir
Tidak terpikirkan, saat itu adalah saat terakhir aku mengambilkan
makanan untukmu….
Tidak terpikirkan, saat itu adalah terakhir kalinya Abah syafiq menase-
hatinmu untuk berobat ke dokter…
Tidak terpikirkan, saat itu terakhir kali kami memohon kepada dirimu
untuk berobat ke dokte, sebagaimana saran Abah Syafiqr tentang apa saja
yang harus di cek di rumah sakit….
Tidak terpikirkan bahwa saat itu saat terakhir kau omelin aku gara-gara
kelalaianku nggak pinter baca petunjukmu…
Tidak terpikirkan juga, saat itu adalah saat-saat terakhir aku memiliki
seorang kakak sebaik dirimu, kakak yang selalu mau mendengar ocehanku,
obrolanku yang receh dan kadang omelanku juga; seorang kakak yang
rendah hati, selalu ada untuk siapapun yang membutuhkan, dan yang selalu
memberikan support dan semangat kepadaku untuk berbuat sesuatu, ….
Ya, semua kembali berpulang pada Yang Maha Berkehendak, Maha Pe-
nentu Segalanya, dan semua yang sudah menjadi QadarAllah,…. Kami semua
sayang kepadamu Mas, tapi Allah Ta’ala lebih sayang kepadamu. Innalillahi
wa inna ilaihi Rojiun , Allahumaghfirlahu warhamhu wa’aafini wa’fu anhu,
lahul faatihah….
34 tahun tidak terasa shilaturrahmi kami terjalin . Pertama kali kami ber-

120 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

temu di tahun 1988-1989. Saat itu, aku baru menginjakkan kaki di Universi-
tas Mataram. Aku mengenal Mas Rusdi lewat seorang teman yang sama-sama
berasal dari daerah yang sama dengan Mas Rusdi. Kesan pertama ketika ber-
temu dengan Mas Rusdi adalah sosok yang misterius: sorot matanya tajam,
rambutnya gondrong, dan batang rokok yang sangat jarang terlepas dari
jari-jari tangannya. Tapi, setelah kami terlibat obrolan-obrolan dan diskusi
yang ringan dan receh , aku baru tahu, beliau adalah seorang yang tidak
pelit untuk tersenyum dan tertawa, tidak pelit untuk memberikan masukan,
support dan trik-trik jitu, tidak pelit untuk berbagi cerita pengalaman, dan
tidak pelit untuk berbagi buku.
Ya, tidak sedikit buku-buku yang Mas Rusdi berikan semasa aku bersta-
tus mahasiswa . Bukan buku-buku peternakan yang sesuai dengan disiplin
ilmuku, tapi buku- buku tentang gerakan politik , tentang gender, dan
banyak lagi . Beliau memberikannya satu persatu dan selalu menanyakan,
bukunya sudah dibaca atau belum. Dan saya selalu menjawabnya dengan
tertawa, ha,ha,haaa….
Aslinya, beliau sangat paham tentang diriku yang moody. Bagiku, mem-
baca buku tidak seperti aku makan nasi atau cemilan yang setiap hari tak
pernah terlepas dari pikiranku, ha,ha,haaaa,… Tapi, ya, karena selalu dit-
anya terus , seperti halnya Mas Bulak yang saat ini, selalu dan nggak pernah
bosan menanyakan tulisanku. Akhirnya, aku mulai paksakan membaca satu
per satu buku-buku tersebut, walau bacaan itu kadang terasa berat dan
susah masuk diotakku, ha,ha,haaaaaa….
Berkat support Mas Rusdi, dengan buku-bukunya dan obrolan-obrolann-
ya --ketika aku tergabung di Senat Mahasiswa-- aku berhasil menyelengga-
rakan seminar tentang perspektif gender dalam beberapa sudut pandang.
Pastinya, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri. Pertama, sebagai Sie Kepu-
trian di Senat Mahasiswa, aku berhasil mengyelenggarakan seminar terse-
but. Kedua, seminar itu tercatat sebagai seminar pertama, bahkan baru kali
itu Sie Keputrian menggelar seminar yang membahas tema gender. Besar
kepalaku, he,he,heee,…. Dan yang lebih membahagiakan, saat itu, Mas Rus-
di memberikan selamat dengan pesan khusus. “Ayoo jangan hanya ini aja,
harus berlanjut,” kompornya. Walah, pesannya singkat, tapi abot (berat)
banget, he,he,heee,….

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 121

Tak bisa dipungkiri, berkat buku-buku dan obrolan-obrolan bersama Arief
Mahmudi; Mas Rusdi juga mendorongku untuk bergabung dalam Komunitas
Solidaritas Perempuan bersama Yane, Dik Yuni dan kawan-kawan lainnya.
Obrolan-obrolan itu juga membuatku percaya diri untuk menerima tanggu-
ng jawab sebagai Gender Specialist saat aku bekerja di PNT GTZ NTB.
Silaturrahim kami terus berlanjut meskipun aku jarang sekali bergabung
dalam diskusi Mas Rusdi dan kawan-kawan lainnya. Terus terang, aku sering
kali menghindar bila diajak berdiskusi. Aku merasa, diskusi mereka berat
dan ada pesan dan wanti-wanti dari ibuku yang selalu memonitor gera-
kanku. Ibu sudah kayak intelijen saja, ha,haa,.… Walau demikian, silatura-
him kami tetap terjalin dengan versi yang berbeda. Ya, disela-sela kesibu-
kan beliau, kami sempatkan untuk saling mengunjungi. Kadang, Mas Rusdi
dan Arief datang di kos-kosanku, dan kadang aku yang datang menjenguk
Mas Rusdi, apalagi kalau Arief mengabarkan Mas Rusdi sakit. Ya, Arief sudah
seperti adik bagi Mas Rusdi. Saat mereka tinggal di Mataram, Arief lah yang
selalu ada saat Mas Rusdi sedih, sakit ataupun bahagia.
Pernah suatu ketika, aku, Arief, Mas Rusdi dan beberapa kawan berk-
mpul. Kalau nggak salah di rumah Mas Tjatur, di Jalan Swara Mahardika,
Mataram. Ketika itu, Mas Rusdi senang melihatku bermain gitar, dan men-
dendangkan lagu “Merpati Putih”. Beliau langsung bilang, “Cari lagi lirik
lagu dan sama chord-nya, biar lengkap, bagus lagu itu Er.” Ketika itu, saya
enteng saja menjawab, “Jangan-jangan Masku lagi kasmaran nih.“ Respon-
snya? Mas Rusdi dan Arief hanya tersenyum dan tertawa, sambil bilang, “
Kamu ada-ada aja.”
Sayangnya, saat itu, aku nggak pinter main gitar. Baru belajar sih, dan
hanya sepenggal lagu saja yang saya ingat. Jadinya, ya, permintaan tidak
serius kutanggapi. Angel, ha,ha,haa…
Di lain waktu, saat aku mempunyai teman dekat baru, Mas Rusdi usul,“
Bagaimana kalau kita warnain dia?” Tentu saja, aku tidak setuju, dan halus
menolaknya. “Enggaklah Mas, biarkan dia punya warna sendiri. Aku bisa
puyeng kalau dia diwarnain Mas Rusdi. Bisa-bisa, aku dipaksa menjadi “san-
sak” partner diskusi yang abot-abot (berat-berat), seperti halnya Mas Rusdi
ke Arief . Wis biar Arief aja Mas,” jawabku, selengekan.

122 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

Jawaban nyeleneh itu membuat Mas Rusdi tertawa lepas, sesuatu yang
jarang terjadi padanya. Lalu, kami pun kembali pada obrolan yang rin-
gan-ringan . Ya, tidak jarang aku dan Arief diajak ngobrol sama Mas Rusdi
dengan obrolan-obrolan yang terkesan ringan, tapi sebenarnya pesan mo-
rilnya berat.
Nggak terbesit sedikit pun, saat aku menikah di Surabaya, Mas Rusdi
hadir bersama Arief. Dan pastinya, kami bangga dan bahagia melihat Mas
Rusdi hadir. Menjelang berfoto bersama, Mas Rusdi menyerahkan bingkisan
ke kami sambil berpesan, “Bingkisan ini nggak bernilai rupiah, tapi jangan
sampai hilang ya. “…. Pemberian itu membuatku serasa ingin menangis.
Dengan hadirnya saja sudah membuatku terharu , apalagi sampai menyem-
patkan diri mencari dan membawa sesuatu, hk.hkkk….

Begitulah cara Mas Rusdi menjalin silaturrahim dan merajut tali per-
saudaraan. Beliau selalu menyempatkan hadir jika itu bisa dijangkau . Saat
kami baru pindah ke Jakarta , beliau juga menyempatkan diri untuk men-
jenguk kami di apartemen tempat kami tinggal sementara. Saat itu, beli-
au menanyakan rencana kegiatanku. Waktu aku bilang pingin punya usaha
kuliner, beliau langsung memberikan masukan dan pandangannya tanpa aku
harus merengek atau memancing-mancing untuk meminta pendapatnya.
Beliau memberikan pandangan strategi- strategi penjualan dan pemasaran
produk. Beliau bahkan juga memberikan masukan tentang cara mengelola
modal awal. Tak Cuma itu, beliau juga memberikan contoh-contoh usaha
yang bisa berkembang dan usaha yang bisa bangkrut.
Medsos
Di ranah media sosial (Medsos), Mas Rusdi juga seringkali mengomentari
upload kegiatanku. Contohnya, saat aku meng-upload demplot pertanian
organik, budidaya dan pengelolan tanaman kebun (sayuran) di lahan sem-
pit, beliau langsung wapri dan nyeletuk. “Ayoo kapan ke Serang. Ajarin kita
yang di Serang.” Tidak hanya itu , dialog kami berlanjut lebih serius dengan
tekhnologi tepat guna Ya, seperti biasanya, Mas Rusdi memberikan gam-
baran dan pandangannya yang ternyata lebih luas dan detail dari apa yang
saya pelajari.
Tidak sedikit kenang-kenangan bersama beliau. Apalagi saat kami sa-
ma-sama di Jakarta , berkumpul bersama keluarga-keluarga besar: kelu-
arga Mas Bulak, keluarga Syafiq dan Mbak Wing, serta keluarga Ida Farida.
Beberapa kali kami kumpul-kumpul bersama, sampai-sampai kami punya
Wag PUL KUMPUL, ha,ha,ha,haaa…. Dan terus terang, kami tidak seman-

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 123

gat berkumpul bila Mas Rusdi nggak bisa ikut. Entahlah, kami berasa kurang
seru aja, dan kami selalu merasa bahagia kalau kumpul dan ngobrol bareng.
Mas Rusdi sering tertawa bahagia melihat aksi konyol dan banyolan Syafiq.
Bahkan Syafiq sering bilang, “Ayo Er, kita buat Mas Rusdi tertawa aja, jangan
biarkan Mas Rusdi mikirin negara terus, hahahaha…. Ya, Mas Rusdi memang
murah senyum, tapi sangat pelit tertawa ngakak, ha,haa..
Bagaimana kami tidak ingin Mas Rusdi tertawa dan bahagia? Mas Rusdi
sudah seperti kakak bagi kami, kakak yang selalu memberikan perhatian
kepada kami semua, dan juga seorang kakak yang tidak bisa mendengar
dan membantu ketika kami membutuhkan sesuatu.
Terakhir kali, kami bertemu di kebun Jati Mas Rusdi di Serang, Bant-
en. Esoknya, saya Wa Mas Rusdi, menanyakan alamat penjual sate bandeng
yang pernah beliau bawakan. Tanpa banyak komentar. Beliau minta alamat-
ku untuk dipesankan, dan diantar kie rumah. (Aku tak tahu kalau saat itu
beliau sedang sakit). Untungnya, saat itu, aku menolaknya, dengan sedikit
memberikan penjelasan begini, “Aku hanya butuh alamatnya dulu aja. Be-
linya, nanti kalau pas ke Serang lagi.”
Beberapa hari kemudian, kami kaget mendengar kabar, beliau masuk
rumah sakit dengan keadaan yang sangat lemas. Alhamdulillah atas ijin-
Nya, keesokan harinya kami (Aku, Syafiq, Mbak Wing dan Ida) sempat men-
jenguk beliau. Dan ternyata, itu merupakan pertemuan kami yang terakhir
kalinya.
Selamat jalan Kakakku, Rusdi Tagaroa, seorang kakak yang telah menjadi
panutan dan inspirasi bagiku; seorang kakak yang sangat sederhana dalam
penampilan, tapi dahsyat pemikirannya, seorang kakak yang telah member-
ikan contoh bagi kami tentang bagaimana pentingnya menjaga silaturrohim;
dan seorang kakak yang tak pernah pelit untuk berbagi, mengajarkan dan
memberikan pandangannya tentang banyak hal,….

Selamat Jalan Mas , InsyaaAllah jejak tapak tilasmu menjadikan barokah
dan tabungan pahala amal ibadah untukmu, menjadikan cahaya penerang-
mu menuju Sang Khaliq, dan menjadikanmu Husnul Khotimah, aamiin Alla-
humma aamiin. n Erna, Jakarta

124 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

29

Rusdi Tagaroa dalam Bait Puisi

Tidak ada kalimat yang sempurna untuk menjelaskan kenapa kita berada
di sana dalam sebuah perjumpaan untuk pertama kalinya. Sebab, ada kesan
yang lebih menarik dari pada sederet percakapan di tengah dingin udara
malam yang menusuk tulang. Bagaimana seorang laki-laki, yang kepalanya
sudah dipenuhi uban, masih mau “berlumpur” dengan persoalan pelik; konf-
lik sumber daya air, perampasan hak atas tanah, pencemaran lingkungan
dan eksploitasi alam; yang sedang dihadapi warga. Masalah-masalah itu
sulit diselesaikan tanpa dimulai dengan pendidikan advokasi dan serang-
kaian metodologi gerakan perlawanan yang dia sampaikan dalam sebuah
percik merah api unggun yang berpendar di tengah gelap malam di ujung
hutan.

Dalam perjumpaan berikutnya, laki-laki beruban itu memberi kesan
kembali; tidak mengenal lelah untuk memotivasi para pemuda untuk lebih
peduli pada lingkungannya dan pantang menyerah untuk merebut kembali
hak-hak warga yang terampas sebagai dampak kebijakan yang dinilai lebih
mengutamakan kepentingan para pemilik modal dari pada warga atas nama
investasi di daerah, atau kebijakan dengan logika pembangunan dalam kon-
trol kapitalisme global.

Saya merasa semakin dekat dengannya usai terlibat dalam penanganan
konflik sumber daya air yang melibatkan korporasi multi-nasional asal Peran-
cis di kabupaten Serang diujung tahun 2010. Mungkin, karena caranya yang
tidak terkesan menggurui dalam menyampaikan pesan; dan memposisikan
diri secara sejajar bersama orang-orang yang dekat dengannya, tanpa me-
mandang usia, Dia juga tidak gengsi untuk duduk di antara orang orang yang
masih belajar. Itulah sebabnya, dia bisa menjadi seorang sahabat sekaligus
guru yang sabar. Sebab, dia sendiri seorang pembelajar.

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 125

Namanya, Rusdi Tagaroa. Di dalam tubuhnya masih bergolak darah per-
lawanan dalam dialektika hidup yang dilakoni, antara kegelisahan seorang
pemikir dan ketenangan aktivis pergerakan menghadapi realitas ekonomi
politik yang menurutnya masih jauh dari ideal bagi visi sebuah negara ber-
nama Indonesia.
Kadang, kami bertemu hanya untuk mengisi malam dengan obrolan ri-
ngan dan melepas tawa di bawah gerimis yang bersahaja sebelum pulang
merebahkan tubuh diayun mimpi panjang, tentang kedaulatan sejati. Obro-
lan itu seputar cara menanam bunga sedap malam, atau membuat sarang
lebah di atas serbuan laron-laron yang berjatuhan dan tenggelam dalam
gelas kopi kami yang tinggal setengah.
Barangkali, tawa itu hanyalah pelarian, sebagai cara untuk menghindar
sementara dari pergulatan pemikiran dan amuk kegelisahan pada ketida-
kadilan dan kebijakan yang tidak bijak, atau hal lain yang menyebabkan
kami harus bertemu dan bertemu lagi.
Tetapi rupanya, saya tidak mengenalnya dengan baik meski sudah men-
ganggapnya sebagai keluarga, hingga hari dimana kehendak Tuhan ber-
bicara, bahwa dia sudah tiba pada batas usia. Dari para sahabatnya, saya
baru mendapati kenyataan, bahwa Rusdi Tagaroa adalah seorang pejuang
yang pantas dirindukan. Dia merupakan sosok yang sulit ditemukan dalam
melakukan pembelaan dengan tulus, memiliki kepedulian pada isu yang ja-
rang dipedulikan, seperti kemikinan dan buruh migran. Dan dia adalah sosok
yang setia pada perjuangan dan mencintai keluarga.
Saya ingin membisikan namanya sekali lagi, Rusdi Tagaroa. Dia lah, yang
dengan gagah berani menempuh jalan sunyi di tengah rayuan kekuasaan
yang memabukan, untuk menguatkan ingatan masa lalu saat menikmati
senja mendung bersama di dekat pelabuhan tua Kolonodale di tahun 2012,
“Tidak ada tempat untuk tidak berjuang” katanya, duduk di atas sebongkah
batu memunggungi ombak kecil yang bergerak tenang.
Engkau mengajari konsistensi dengan ketenangan yang tak terdefi-
nisikan, hingga mereka yang berkuasa ragu untuk bernegosiasi karena sikap
tegas dan kata kata perlawanan yang meluncur dari mulut lantangmu.

126 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

Maka, biarlah keheningan ini berbicara, mengiringimu pulang dengan
tenang pada Sang Pencipta pemilik jiwa bersama puisi yang ditulis di antara
do’a do’a dari begitu banyak sahabatmu yang merasa kehilangan, alfatihah:

GERIMIS DI BULAN AGUSTUS
:Mengenang Rusdi Tagaroa
Gerimis yang turun di beranda itu,
adalah nyanyian syahdu yang sebentar lagi tidak akan terdengar,
sebab hari akan kembali hingar seperti mesin terbakar.
Betapa singkat kegembiraan yang bisa kita rasakan,
sementara kenyataan hidup harus direnangi dengan susah payah,
untuk melawan arus yang mampu menghanyutkan kesadaran.
Engkau yang bergelut dengan isu kemiskinan,
dan melawan penindasan,
mencoba mencari jalan pembebasan itu,
telah tiba pada batas usia.
Kini engkau telah terbebas,
menuju kepulangan abadi
bersama gerimis di bulan Agustus
yang turun perlahan di langit langit hatiku,
mewariskan kata-kata perlawanan
yang tidak mudah menghilang
dari genangan kenangan.

Azis Noer
Padang, 1 September 2022
JEJAK SANG PENGEMBARA
:Karangan Bunga Untuk Rusdi Tagaroa
Rasanya, suara denting piring itu belum lagi hilang,
dan renyah tawa mu masih terdengar di atas meja makan,
sebelum percakapan tengah malam kita kembali dimulai,
tentang berita gizi buruk dan pesta pora pernihakan anak pejabat,
tentang khotbah keadilan yang hanya sebatas mitos,

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 127

atau kesejahteraan yang hanya ada dalam kertas kebijakan.
Rasanya, waktu-waktu yang kau miliki,

tidak cukup untuk menyulam segala pikiran yang terus datang,
seperti gelombang menuju daratan,

membawa keresahan yang menyelinap
di antara celah celah karang sikap keberpihakanmu yang kokoh.

Engau sembunyikan lelah,
menolak definisi tua dan tetap memilih berada di tengah laga den-

gan jiwa muda,
tetap merawat kewarasan untuk menghindari kemewahan,

menghimpun lirih lirih suara kaum termarjinalkan,
melafalkan kata-kata dalam bahasa gerakan,
terus memahat harapan dalam keheningan.
Tetapi siapa mengerti bahasa maut?
yang memiliki rahasia di dalam segala rahasia

jauh lebih lembut dari angin yang bertiup di celah celah gunung,
jauh lebih kelam dari kabut tipis yang mengambang di permukaan

telaga
sebelum akhirnya datang berkelebat mengatasi senyap

dan merobek hati orang-orang yang ditinggalkan.
Engkau telah dijemput sang maut,

meninggalkan segala rencana dan kegelisahan,
segala mimpi dan cinta seorang kekasih.
Kursi itu kini telah kosong dan dingin,
sendok di atas piring tidak lagi berdenting,

meja mengonggok tak lagi berbau keringat tangan mu.
hilang suara tawamu membeku dalam pusara.
sementara senyum di dalam figura,

memintal kisah tanpa kata-kata, menjalari waktu,
menempatkan namamu dalam kerinduan.
n Azis Noer
Padang, 1 September 2022

128 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

30

Mentor Hebat,
Manajer Payah

“Pohon rindang itu pada akhirnya daunnya harus layu berguguran
dan kulit kayunya sudah mulai mengelupas setelah bertahun- tahun
menjadi peneduh dan penyimpan air untuk kehidupan yang lain” ….
Sejak tahun 1988, saya sudah mengenal Bang Rusdi dengan cuk-
up baik. Menurut saya, berdasarkan teori The Four Temperament,
meskipun tidak sepenuhnya 100% tepat, sosok bijak dan bersahaja
tersebut termasuk sosok orang yang dikatagorikan memiliki kepribadian
“Plegmatis”. Secara mudah dapat dilihat bahwa biasanya tipe tersebut
memiliki sifat sangat bijak dan menghargai kedekatan antar manusia.
Sifat seperti ini juga sering disebut sebagai people person. Para pleg-
matis cenderung menjadi pemerhati, dan pandai menganalisis hubung-
an interpersonal antarmanusia, serta kejadian-kejadian disekitarnya.
Karakteristik orang bertipe plegmatis: pembawaannya tenang /
kalem, bijak dalam menghadapi sesuatu, sering menjadi penengah da-
lam suatu masalah, cenderung menghindari konflik, setia pada pasangan
dan keluarga, serta selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan
teman lama. Selain itu, dia juga senang berbagi, senang menjadi re
lawan, agak pasif dalam beberapa hal, cenderung tidak punya ambisi,
apabila bertengkar atau kehilangan kepercayaan akan sulit pulih, dan
sulit beradaptasi dengan kebiasaan baru yang frontal. Masih ada lagi,
dia juga mudah setuju dan mendukung keputusan orang lain meskipun
terkadang, karena didasari rasa tidak enak kepada orang tersebut. Orang
dengan tipe kepribadian ini, seringkali terjun pada profesi-profesi yang
berhubungan dengan pemikiran dan pelayanan-- seperti motivator atau
mentor-- perawat, guru, dosen, psikolog, konsultan atau pekerja sosial.

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 129

Terbuka dan Sederhana
Bang Rusdi adalah pribadi yang terbuka, sederhana dan apa adan-
ya. Tidak heran, banyak kawan atau mahasiswa yang merasa nyaman
untuk mengajak diskusi dengan topik apapun atau hanya sekedar cur-
hat terkait masalah pribadi yang melilitnya. Terkadang saya berpikir,
bagaimana seorang Rusdi bisa memiliki pengetahuan yang begitu luas
dan progresif, padahal saya jarang melihatnya membaca buku-buku
tebal secara serius. Paling hanya membaca beberapa halaman atau be-
berapa bagian. Setelah itu, buku ditaruh di lemari atau bahkan sudah
tidak ada di tempatnya.
Saya paling senang kalau dia sudah selesai membaca buku. Bang Rus-
di akan bercerita terkait isi buku itu, meskipun terkadang saya tidak
mengerti konteknya karena content -nya terlalu berat atau isunya tidak
menarik bagi saya. Saya tahu koleksi bukunya “pernah” banyak dengan
berbagai judul dan topik, tapi buku-buku itu praktis akan segera ber-
pindah tangan kepada orang lain. Bahkan saya sering dibuat jengkel, ga-
ra-gara koleksi buku sayapun tak luput berpindah tangan kepada orang
lain. Bang Rusdi selalu bilang, “Buat apa punya koleksi buku banyak,
kalau hanya disimpan untuk diri sendiri, biarkan ilmu dan pengetahuan
itu mengalir dan berkelana di pemikiran orang-orang yang membutuh-
kan” (pelajaran 1).
Dengan prinsip seperti itu, saya menjadi tahu, mengapa dia begitu
mudahnya memberikan buku-bukunya kepada orang lain. Ppraktis, sela-
ma kami berpindah-pindah tempat kontrakan, tidak banyak buku-buku
pribadinya yang tersisa. Begitu pula barang-barang pribadinya. Kalau
dikemas, palingan hanya satu dos indo mie instan berisi buku dan tas
ransel hitam butut yang hanya muat 4-5 stel baju. Kalau toh ada tam-
bahan pakaian baru, biasanya berasal dari Rudi (adiknya), teman dekat
atau uang hasil simpanan kami. Beberapa kali saya bilang, “Bang, kan
sering ketemu orang, mengapa gak beli baju lagi?”.Seperti yang kudu-
ga, dengan cueknya dia bilang, “Baju dan penampilan itu gak penting,
toh yang kita pakai kan hanya satu stel, orang akan melihat dan meng-
hargai kita itu karena isi kepala dan komitmen kita!” (pelajaran 2).
Sehingga saya pun memahami, meskipun belakangan Bang Rusdi pernah
menjadi konsultan di Kementrian Desa atau projek lain, penampilannya
pun masih sederhana dan apa adanya seperti dulu.

130 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

Petualangan Memupuk Persahabatan
Pada tahun 1993, menjelang akhir kelulusanku, tentunya waktu luangku
cukup banyak. Kebetulan, Bang Rusdi juga tidak banyak “orderan” untuk
menulis atau membuat konsep program. Di rumah kontrakan, kami sering
berbincang, dan Bang Rusdi bilang, “Bahwa jaringan pertemanan dan jar-
ingan kerja itu perlu dipupuk dan dijaga. Tidak bisa kita hanya menunggu
mereka datang karena banyak sebab, untuk itu sebaiknya kitalah yang me-
ngunjunginya. Dengan pertemuan seperti itulah keberadaan masing masing
kita dan hubungan emosional kita akan selalu terjaga” (pelajaran 3). Jadi
tidaklah heran, sampai kapanpun, kebiasaan Bang Rusdi untuk bersila-
turahmi akan dilakukan terus dan banyak sahabat-sahabatnya yang masih
terus mengingatnya.
Kebiasaan jalan-jalan dan berkunjung itulah yang mengantar kami untuk
selalu meluangkan waktu -- biasanya pada hari Sabtu dan Minggu-- untuk
berkeliling ke rumah/indekos teman-teman atau ke tempat-tempat yang
nyaman dan enak untuk berkemah. Setiap hari Jumat, saya diingatkan oleh
Bang Rusdi untuk menyiapkan perbekalan: seperti tenda, tikar, senter/lam-
pu, tape kecil dan bekal secukupnya, dan tidak lupa juga mengidentifikasi
motor siapa yang lagi menganggur untuk bisa dipinjam.. Yang rutin kami
pinjam biasanya motornya Bulak, Yamaha Robot, motornya pak Suyono Su-
zuki A100, atau RX King miliknya SANTAI. Kalau hari Sabtu, setiap kehadiran
kami selalu mudah diduga, meminjam sepeda motor. Kabar baiknya, motor
yang kami pinjam biasanya sudah terisi bensinnya sehingga kami bisa ban-
yak mengunjungi tempat/lokasi. Banyak lokasi yang kami kunjungi, mulai
dari ujung Lombok Timur hingga Lombok Barat. Namun, ada spot yang pal-
ing kami suka untuk berkemah, yaitu di sekitaran Malimbu dan di Kawasan
hutan Sesaot Lombok Barat.
Di dalam keheningan malam berkemah, diiringi lagu-lagu Franky and
Jane, Iwan Fals, dan Vina Panduwinata, Bang Rusdi banyak berceri-
ta dan ngobrol, mulai dari perihal percintaan, gerakan hingga mem-
bayangkan masa depan. Dari banyak cerita itu, rupanya Bang Rusdi
adalah seorang melankolis. Sering kali nada suaranya tiba-tiba menjadi
parau bila bercerita tentang ibundanya atau kesulitan hidup teman-
teman aktivis NGO saat itu.
Sesekali, anggota kemah kami bertambah.Ada juga beberapa teman

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 131

yang ikut bergabung. Suasana tambah ramai, diwarnai dengan kelakar dan
cerita kehidupan masing-masing.
Kebijakan Aneh
Pengalaman saya ketika beraktifitas di Lembaga, bersama Bang Rusdi
(ber-LSM ria), terutama di NTB, relatif cukup panjang (1989-1998). Ban-
yak suka-duka yang harus kami lalui. Kami tidak hanya berpikir bagaimana
bisa menjalankan visi-misi Lembaga dengan baik, tetapi juga bagaimana
bisa survive untuk ke depannya. Saya mengikuti Bang Rusdi (setelah tidak
banyak terlibat diprogramnya Yayasan Tunas Alam Indonesia/SANTAI, tahun
1993), dimulai dari bergabung di Perserikatan Solidaritas Perempuan (SP)
Jakarta, dan Kelompok Kerja Gender Jaringan Timur (KKGJT). Dari organi-
sasi itulah saya belajar bekerja dan mengelola LSM/NGO.
Dari titik itulah, dengan dukungan Bang Rusdi, saya belajar advokasi dan
pengorganisasian rakyat untuk isu-isu lingkungan, petani, nelayan, pariwisa-
ta, anak (mulai dari YLKMP, KOSLATA dan SANTAI). Sejak itu juga, saya men-
genal isu gender, feminis dan trafficking TKI/TKW. Kemudian, dalam rangka
mengembangkan strategi advokasi dan memperdalam isu, kami mendirikan
Terminal 29 yang concern pada isu perempuan-trafficking.. Selanjutnya,
bersama Rudi, Joko “Donggo”, Nina (Siti Husnin, mantannya Mener) kami
mendirikan SANTABE untuk isu masyarakat adat, perempuan dan traffick-
ing TKI/TKW. Kemudian, karena alas an strategis untuk “Gerakan”, da-
lam perkembangannya, SANTABE, TRI PRAMANA dan KOSLATA beserta para
anggotanya dimerger menjadi KOSLATA, dimana Bang Rusdi sebagai direk-
turnya dan sekretariatnya berpindah- pindah, antara lain di Rembiga, BTN
Taman Indah hingga BTN Taman Baru.
Dalam urusan network, transfer knowledge, menyusun strategi, ide-kon-
sep --yang kemudian menjadi program—lembaga kami sangatlah luar bia-
sa, bahkan sangat progresif. Karena, selain ada Bang Rusdi di dalamnya
terdapat juga Pak Sulistiono, Pak Dwi Sudarsono, Bang Totok, Pak Junae-
di, saya, dan belakangan Pak Shaleh, dkk. Tetapi, kalau sudah berurusan
dengan manajemen --terkait penganggaran, gaji, pelaporan, operasional--
Bang Rusdi selalu angkat tangan. Selanjutnya, urusan seperti itu biasanya
akan diambil alih Pak Sulistiono, Pak Dwi Sudarsono, dan Pak Junaedi. Pada
awal-awal kami bekerja, ketika urusan logistik masih terbatas, maka
penyusunan anggaran dan efisiensi penggunaan dana merupakan keharu-

132 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

san. Namun, bagi Bang Rusdi hal itu tidak terlalu dianggap penting. Al hasil,
demi alasan mendukung Gerakan Mahasiswa, biaya rumah tangga kantor
menjadi membengkak karena banyaknya orang keluar-masuk kantor sambil
makan dan ngopi; belum lagi karena membantu aktivis yang lagi bokek ti-
dak bisa berkegiatan, membantu demonstrasi mahasiswa, dll. Praktis, pen-
danaan di Lembaga menjadi lumayan longgar dan boros. Konsekuensinya,
terkadang gaji Bang Rusdi, Dwi dan saya harus rela dikurangi. Maklum, Saat
itu, kami bertiga masih belum menikah dan tinggal di kantor.. Ada ungka-
pan dari bang Rusdi, yang kami juga setuju, bahwa, “Gerakan mahasiswa
dan masyarakat sipil itu harus didukung dan terus terkonsolidasi, maka
harus ada ruang atau tempat berkonsolidasi untuk pertarungan ide dan ga-
gasan serta gerak bersama, maka sekretariat inilah tempatnya!” (pelajaran
4).
Hal lain yang bikin saya kaget adalah, Bang Rusdi--entah dapat ide
darimana-- mengambil kebijakan, bahwa untuk honor/gaji staf diberikan
berdasarkan jumlah tanggungan keluarga. Bagi saya, keputusan itu rada
aneh, tapi saya dapat menerimanya. Bang Rusdi beralasan, ada salah satu
teman kami yang sudah menikah dan sudah memiliki anak. Dijeaskan kemu-
dian, adil itu tidak harus merata, tetapi adil itu harus diorientasikan pada
kebutuhan dan keadaan yang disepakati”. (pelajaran 5).
Penuh Empati dan Perhatian
Setiap orang pasti memiliki empati, dan pada umumnya empati diber-
ikan tidak hanya berlaku kepada keluarga saja, tetapi juga kepada sanak
saudara dan orang-orang terdekat. Namun hal itu tidak berlaku bagi Bang
Rusdi. Empatinya sering kal,i menurut saya, berlebihan apabila kita me-
lihatnya hanya sepintas saja. Sebagaimana karakter para plegmatis, Bang
Rusdi selalu ingin memberikan perhatian kepada orang-orang yang termar-
ginal atau yang mengalami kesulitan hidup. Perhatiannya tidak hanya pada
masalah-masalah besar di negara ini, tetapi keberpihakannya kepada orang
kecil pun tidak pernah luput dari pandangannya. Tidak hanya kepada ma-
hasiswa saja, tetapi juga kepada pedagang sayur keliling yang menjadi
langganan kami. Oleh karena itu, jangan heran, apabila, rumah kontrakan
kami, pagi-pagi sekali, sudah didatangi ibu-ibu yang menawarkan dagangan-
nya: seperti terong, cabe dan tempe.
Ibu itu juga bercerita tentang harga kebutuhan pokok yang semakin mahal,

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 133

pelanggan yang semakin berkurang karena lebih senang belanja di mall
daripada ke pedagang keliling, hingga ibu itu berkeluh kesah tentang bi-
aya sekolah dan kesehatan yang mahal. Praktis hampir 15 menit, ibu itu
berkeluh kesah, sementara bang Rusdi selalu mendengarkannya, dan ter-
kadang menimpali dengan bahasa ,yang saya kira, ibu itu terkadang sulit
memahaminya. Tapi saya yakin, ibu itu tahu kalau yang diomongkan ada-
lah hal baik. Saya beberapa kali bilang, “Bang, bahasanya jangan seperti
berdiskusi dengan mahasiswa!, apakah dia mengerti?”, begitu saran saya.
Tiba-tiba bang Rusdi menyela, “Kita tidak perlu memastikan dia mengerti
atau tidak, yang paling penting kita memiliki empati dan bersedia menden-
garkan cerita kesulitan hidupnya saja, hal itu sudah meringankan beban
hidupnya, apalagi kalau kita melakukan hal kecil yang berharga buat dia,
seperti menjadi pelanggannya saja sudah cukup bagi dia”. (pelajaran 6)
Banyak pelajaran dan perbuatan bang Rusdi yang konkrit yang
dilakukan melebihi tindakan heroic di atas panggung. Bahkan untuk hal
itupun harus berebut bahkan saling intrik dengan teman seperjuangan.
Menurut bang Rusdi, “Rasa empati dan perhatian yang kita lakukan,
semua adalah proses internalisasi dari pemikiran original yang ma-
suk ke dalam perasaan yang menjadikan tindakan konkrit, yang harus
mengedepankan kepentingan orang lain terutama kepada orang atau
kaum yang termarginal” (pelajaran 7).
Tindakan itu sangatlah mulia dan pasti banyak orang yang akan men-
gapresiasi, tetapi tidak banyak orang yang secara konsisten dalam kondisi
apapun tetap berkomitmen pada keyakinan itu. Termasuk saya.
Selamat jalan, dan damai di alam sana, Bang.
Semoga banyak orang yang terinspirasi dengan sikap dan cara hidupmu
selama ini.
Meninggalkan ‘kebaikan’ terasa membahagiakan dan mengharu-
kan yang tak kan habis untuk dikenang.
Mataram, 1 September 2022 n Arief Mahmudi


134 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

31

Sosok Sederhana dan Santun

Bulan September 2022 yang lalu, saya baru mendengar kabar dari teman
aktivis di Mataram, Mas Rusdi Tagaroa telah tiada karena sakit. Entah
sakit yang bagaimana, yang bersangkutan tidak menceritakannya. Rupan-
ya, saya orang terakhir yang mendengar kabar duka tersebut. Untuk ses-
aat saat, saya merenung dan berdo’a untuk Almarhum. Dalam renungan,
teringat kembali saat pertama kali saya mengenal Mas Rusdi.
Pada suatu ketika, seingatku pada tahun 1992, selaku direktur PKBI NTB,
saya mengikuti kegiatan-kegiatan diskusi dengan para senior aktivis LSM.
Sebagai anak bawang, saya banyak menyimak, mendengarkan dan mem-
pelajari dengan sungguh-sungguh perdebatan dan berbagai analisa yang
masuk akal. Hal itu membuat saya bersemangat untuk mengikuti berbagai
diskusi-diskusi selanjutnya. Salah satu yang begitu gigih berbicara adalah
Mas Rusdi. Meskipun pembawaannya kalem dan selalu tersenyum, namun
diskusi menjadi jelas dan penuh antusias. Yang kutahu, selain sebagai aktivis
lingkungan, Mas Rudi juga aktif dalam memperjuangkan hak-hak buruh mi-
gran. Sebagaimana diketahui, pada saat itu, NTB, khususnya Lombok, mer-
upakan pengirim terbesar tenaga kerja ke luar negeri setelah Jawa Barat.
Permasalahan besar buruh migran di Lombok telah membuat Mas Rusdi,
dengan Koslata dan bersama Solidaritas Perempuan, banyak mengadvokasi
kebijakan-kebijakan proburuh migran atau tenaga kerja indonesia.
Guru LSM
Mas Rusdi termasuk salah seorang yang bisa saya katakan sebagai
“guru”, khususnya dibidang ke LSM-an. Jujur saya katakana, bekerja
di PKBI, yang juga sebagai LSM, sepertinya lebih mudah karena banyak
dukungan dari pihak pemerintah. Selain itu, sebagai lembaga nasional,
tentu saja, PKBI mempunyai posisi tawar yang lebih apabila dibandingkan
dengan LSM lainnya. Bekerja mengadvokasi kebijakan pro rakyat kecil

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 135

adalah sebuah hal yang berbeda. Apalagi, pemerintahan di jaman Orba
sangat ketat mengawasi pergerakan LSM dan organisasi-organisasi lainn-
ya. Oleh karena itu, dengan kedatangan Mas Rusdi dan Mas Eko, secara
rutin ke kantor PKBI, membuat saya menjadi pintar untuk menganalisa
dan melihat secara jelas persoalan-persoalan berat yang dihadapi mas-
yarakat akibat dari ketidakadilan yang dibuat oleh penguasa. Dengan
adanya diskusi rutin tersebut, saya juga diperkenalkan dengan para ak-
tivis di luar NTB -- saat itu banyak kami lakukan melalui email-- sehingga
saya bisa bergabung dengan gerakan para aktivis, khususnya dari Jawa.
Dan menariknya, saya semakin berani berbicara.
Satu pengalaman tidak terlupakan, yaitu ketika saya mengikuti rapat
bersama para aktivis yang digelar di Solo. Baru selesai pembukaan dan
perkenalan, tiba-tiba datang beberapa tentara. Mereka membubarkan
acara dan berusaha mengakap peserta. Tak urung, semua peserta pun
bubar seketika, dan menyelamatkan diri masing-masing, termasuk saya
yang lari naik angkot ke Jogja bersama salah seorang teman yang saya
lupa namanya. Kemudian, dari Jogja, saya naik bus menuju Mataram.
Peristiwa itu mengingatkan saya kepada Mas Rusdi. Tanpa dia, saya tidak
akan tahu betapa berat perjuangan teman-teman aktivis saat itu.
Demikian juga ketika saya terlilit permasalahan besar dengan PKBI
dan perkawinan saya dengan dr. Kartono Mohammad. Hanya beberapa
orang yang masih mau “menyapa,’’ salah satunya adalah Mas Rusdi. Se-
mentara, teman-teman yang lain menghindar dengan alasan tidak ingin
ikut campur urusan rumah tangga orang. Bagi saya, ada satu atau dua
orang teman yang percaya penuh bahwa saya benar, itu sudah sangat
besar artinya bagi saya.
Setelah keluar dari PKBI, saya sibuk memperjuangkan hak-hak saya,
hingga saya menjadi pengacara dan mendirikan LBH APIK NTB. Sejak saat
itu, saya tidak pernah lagi mendengar kabar Mas Rusdi.
Selamat jalan Mas Rusdi. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang
terbaik sesuai amalan-amalan dan perjuangan yang Mas Rusdi berikan ke-
pada rakyat kecil yang tertindas. n Beauty ER


136 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

32

Bang Rusdi dan Tuduhan Eksploitasi
Perempuan

Lewat tulisan ini, aku tak hendak bercerita tentang kehebatan, ki-
prah dan prestasi Bang Rusdi. Karena saya tahu, semua orang yang me
ngenalnya pasti tahu itu. Aku hanya ingin sedikit saja menggoreskan ka-
limat-kalimat seputar kejadian- kejadian “receh” bersama Bang Rusdi.
Aku mengenal Bang Rusdi pada tahun 1994, ketika pertama kali ikut
bergabung di Forum Komunikasi Mahasiswa Mataram (FKMM). Kesan
pertamaku, Bang Rusdi sebagai sosok yang sedikit misterius. Raut wa-
jahnya teduh, senyumnya tipis. Ia lebih banyak memperhatikan dalam
diam. Dan yang pasti, aku sering melihatnya membaca buku, ditemani
sebatang rokok terselip diantara dua jarinya.
Setelah lebih mengenal, aku bisa merasakan, Bang Rusdi adalah so-
sok guru yang tidak pernah menggurui,. Beliau senantiasa memberikan
contoh dan panutan tanpa pernah menyuruh atau memaksa. Bang Rusdi
ingin orang melakukan sesuatu atas kesadarannya, bukan karena diper-
intah.
Sebagai mahasiswa baru --yang baru mengenal dunia gerakan maha-
siswa-- tentu saja aku gegar budaya melihat kesehariannya yang terli-
hat rada aneh. Hari-harinya tak lepas dari kegiatan membaca, berkum-
pul dengan para aktivis, yang sebagian besar laki-laki. Di awal, sungguh
aku tidak paham apa yang dibicarakan. Namun, lambat laun aku pun
mulai memahami. Tentunya setelah mulai ikut-ikut membaca buku dan
mengikuti diskusi.
Sebagai perempuan yang dibesarkan di lingkungan patriarki, kala itu,

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 137

aku sedikit heran melihat Bang Rusdi belanja sayur di pasar Pagesa
ngan. Berjalan kaki dari “Gedung SAKA” , rumah kontrak yang menjadi
base camp bagi kawan-kawan gerakan, di Jalan Jember 2, BTN Taman
Indah, Mataram.
Cekatan Memasak
Bang Rusdi memasak dengan cekatan, meski hanya terong bakar,
sambal tomat dan udang rebon segar digoreng kering. Bersama bebera-
pa mahasiswa, kami makan bersama. Momen itu tidak akan hilang dari
memoriku. Karena terbatasnya piring, diantara kami ada yang meng-
gunakan cawan, mangkok, cobek, piring yang sudah cuil, bahkan tutup
panci maupun nampan.
Sedikit malu ketika pertama kali ikut menikmati masakannya. Ada
perasaan aneh ketika aku yang perempuan harus dilayani.
Sampai suatu ketika, ada mbak-mbak satu rombongan dengan Cak
Paidi, dari Arek, datang ke gedung SAKA. Tidak ingin berpangku tangan,
aku segera menyeduh teh.
“Kamu eksploitasi perempuan ya, Rus?” celetuk salah seorang pe
rempuan (aku lupa namanya) ketika aku suguhkan teh ke hadapan me
reka.
“Enggak, tanya saja sendiri.” sahut Bang Rusdi sembari mengisap
rokok.
“Kamu nggak disuruh-suruh Rusdi kan?” tanya perempuan itu
langsung kepadaku.
“Enggak Mbak, aku memang mau mekakukan sendiri,” jawabku kaku,
tak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu.
“Jangan mau di ekploitasi!,” sahutnya sambil tertawa, sembari me-
lirik Bang Rusdi.
Sungguh aku merasa aneh. Apanya yang dieksploitasi ketika aku
membuatkan minuman teh untuk tamu?

138 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

Selanjutnya, rombongan dan Bang Rusdi terlibat dalam sebuah dis
kusi yang banyak menyebut kata gender.
“Apa sih ini, sebentar-sebentar jendar-jender, jendar-jender, kese-
taraan perempuan?” batinku bertanya. Dari situ, ada rasa penasaran.
Setelah beberapa kali mengikuti diskusi dan seringnya mendengar
pembahasan, setidaknya membuatku semakin paham makna diskusi
mereka. Lalu, secara perlahan, mulai tumbuh keinginan dari dalam di-
riku sendiri untuk berbuat tanpa disuruh.
Romantis
Kepopuleran Bang Rusdi dikalangan mahasiswa, terutama para ak-
tivis baru, terasa unik, dan menimbulkan kebanggaan. Rasanya belum
keren jadi aktivis bila belum dekat dengan beliau.
Suatu ketika, ada seorang kawan dengan bangga mengatakan, bah-
waa dia baru saja dapat kabar, Bang Rusdi akan menikah, seolah hanya
dia yang tahu kabar itu.
Kuceritakan jika sudah tahu tiga bulan yang lalu, bahkan sudah per-
nah bertemu dengan calon istri Bang Rusdi.
“Masak sih! Kalau memang pernah ketemu siapa calon istrinya?”
tanyanya penasaran. “Mbak Sofi,” jawabku
“Bener Mbak Sofi, ketemu dimana?” kejarnya.
“Bang Rusdi sama Mbak Sofi datang pas aku pelatihan di Jakarta.
Banyak tanya bagaimana pelatihannya dan kegiatan di Mataram. Eh,
tahu nggak? Ternyata Bang Rusdi itu romantis banget. Kulihat dia me-
megang tangan Mbak Sofi sambil menatap lembut,” ceritaku.
Secara pribadi, keromantisan Bang Rusdi kepadaku juga bisa aku
rasakan. Bagaimana tidak, bersama Mbak Sofi dan Bang Rusdi yang su-
per sibuk, kala itu, masih saja meluangkan waktunya datang menjenguk
seorang mahasiswa yang baru mengenal gerakan yang sedang mengikut
sebuah pelatihan.

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 139

Sebenarnya, apa yang dilakukan terlihat sangat remeh, tetapi bagi-
ku, itu so sweet. Ketika Bang Rusdi pamit pulang, aku menahan tangis.
Aku yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang ba-
pak (Beliau wafat saat umurku satu tahun). Saat itu, aku seolah mera-
sa dijenguk bapak sendiri. Ah, sudahlah, .... Aku menulis ini sambil
menangis, teringat kunjungannya saat itu.
Momen lain yang membekas, saat aku menghadiri Rakornas Program
Generasi Sehat Cerdas (GSC) oleh Kementerian Desa (Kemendes) PDTT
di Hotel Pangrango, Sukabumi 2017 . Ternyata saat itu Bang Rusdi men-
jadi staf ahli Direktur di Kemendes PDTT. Bang Rusdi banyak bertanya
aktivitasku, progres dan strategi kedepan. sambil memberikan masu-
kan yang luar biasa. Diujung pembicaraan, Bang Rusdi bertanya tentang
kedua anakku, yang kadang ku unggah di sosmed. Adiu, rasanya seperti
kakek yang sedang menanyakan cucunya; aku sangat bahagia.
Menjelang berpisah, aku sempat berfoto bersama Bang Rusdi. Saking
bahagianya, dengan spontan, kulingkarkan tangan di pinggangnya dan
aku pun dirangkulnya, Ya Allah, rasanya memori dua puluhan tahun se-
belumnya-- dikunjungi ketika ikut pelatihan semasih mahasiswa-- ter-
ulang kembali. Aku pun kembali menahan tangis, merasakan hangatnya
rangkulan seorang bapak.
Tanpa kusadari, ternyata, Bang Rusdi memantau aktivitasku lewat
medsos. Suatu saat, aku iseng memposting foto sedang mendongeng di
sebuah Sekolah Dasar (SD) di Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, NTB.
Kegiatan di foto itu sebenarnya hanya kegiatan sampingan, lebih
tepatnya iseng sebagai pintu masuk penyuluhan yang kulakukan untuk
mencegah merarik kodek (pernikahan usia dini). Banyak kasus pernikan
usia dini di wilayah itu, bahkan anak kelas empat sampai enam SD su-
dah menikah, tapi dua atau tiga bulan bulan kemudian, cerai. Akibat-
nya, angka putus sekolah sangat tinggi. Menyedihkan!
Rupanya, kegiatanku itu diam-diam dilaporkan Bang Rusdi ke Pak
dr.Hanibal, selaku Direktur program GSC. Akhirnya, kegiatanku di
tweet oleh Pak dr.Hanibal, dan jadi isu menarik.

140 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

Menjelang kepergiannya, Bang Rusdi masih saja menunjukkan kero-
mantisannya. Seperti ketika melihat postinganku tentang bibit kayu
putih, bibit padi lokal, atau biji-bijian lainnya, Bang Rusdi langsung
menghubungiku, dan memmintaku untuk mengirimkannya ke alamat ru-
mahnya.
Ada satu penyesalanku hingga saat ini. Gara-gara salah cara menge-
mas, bibit kayu putih yang kukirim layu sebelum berkembang. Bibit itu
gagal hidup setelah ditanam di kebun Bang Rusdi di Serang, Banten.
Dengan sabar, Bang Rusdi memberikan tips mengenai cara penge-
masan tanaman yang tidak beresiko mati, bahkan memintaku mencoba
memasarkan bibit kayu putih secara online.
Aku sempat berpikir, sesibuk apapun, Bang Rusdi selalu saja sempat
memberikan perhatian kecil. Bagiku, Bang Rusdi benar- benar roman-
tis, dan tak ‘kan pernah kulupakan.
Selamat Jalan Bang Rusdi. Teriring selalu, doaku untukmu. n Dian



Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 141

33

Mengingat Perjalananmu, Papa.

Melewati malam dengan membungkam pikiran, aku kembali mengi
ngat sesosok dirimu, Ayahku. Kuingat masa kecil: engkau selalu disisiku,
menyanyikan lagu hingga membawaku tidur begitu pulas dalam pelu-
kanmu. Tapi kini, dengan memendam rasa pilu di hati-- yang teryengat
bagai tertusuk mata dengan besi panas membara nan berkilau-- aku
bisa mengingat percakapan-percakapan kita pada masa lampau.
Kicauan isu-isu yang terjadi merupakan pertanda --bagaikan lampu
mercusuar di malam yang penuh kabut-- akan percakapan yang akan
kita miliki di tengah malam sembari menikmai hidangan makan malam.
Engkau selalu memiliki berposisi teguh, tapi tetap terbuka terhadap
pemikiran yang lain, Di saat aku menyampaikan pandangan ang ber-
beda, engkau selalu menjelaskan secara sistematik tentang segala isu
tanpa merendahkan pandanganku. Engkau bagaikan sesosok penjaga
gerbang pemikiran. Segala jenis pikiran engkau adu, dan segala jenis
ideologi engkau bandingkan, Hanya pemikiran yang konstruktif dan
bermanfaatlah yang kau biarkan melewati gerbang itu, Dan disaat pe-
mikiranku tidak mampu melewati gerbang itu, engkau tidak sinis dan
diam. Engkau merangkulku, memgelaborasikan pikiran-pikiran orang
hebat dan memberikan jalan untuk kulalui demi bisa menerobos ger-
bang yang kau buat. Engkau bukanlah tipe seorang yang mendikte. Jauh
dari itu, engkau adalah orang yang mendorong, memberi arah, dan
menyemangati. Api pikiranmu begitu hangat dihatiku, dan aku pun puas
mengikuti perjalananmu
Perjalanan Terakhir
Aku mengikuti seluruh perjalanan menuju tempat peristirahatan
terakhirmu, dan menaburkan bunga di pusaramu. Aku juga melihat
bagaimana perjuanganmu melawan sakit dengan megesankan seolah ti-

142 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

dak sakit. Aku pun ingat, saat engkau sudah tidak kuat menyetir mobil,
engkau memintaku membawamu kemana-mana, Tapi, ketika datang
temanmu -- seolah tak sakit-- engkau keluarkan mobil dari pintu garasi
dengan sisa tenaga yang masih engkau punya, lalu membawa mobilmu
sendiri, tanpa meminta pendampingan dariku.
Di saat engkau merasa penyakit akutmu mulai menampakkan di
rinya, aku ingat, engkau memintaku untuk membeli obat untuk sekadar
mengurangi efek deritamu. Betapa kerasannya engkau untuk tetap ber-
juang meski badanmu sakit. Jiwamu benar-benar terasuki semangat
revolusi,
Dan tak akan pernah kulupakan, masa-masa menjelang akhir perju-
anganmu . Betapa banyaknya dirimu beristirahat dan tidur. Namun, bila
ada rapat, engkau membentakku karena tidak membangunkan dirimu
yang tengah tidur pulas.
Sekarang pun aku masih merasa pilu, mengingat engkau yang ber-
pura pura kuat. Di saat memasuki rumah sakit, engkau menampakkan
dirimu sealah hanya menderita sakit ringan walau sebenarnya sedang
berjuang antara hidup dan mati.
Walau demikian, engkau masih sempat memintaku membawa kakak
dan adikmu untuk jalan-jalan disekitaran Banten; dan sesaat menjelang
akhir masa hidupmu, engkau hanya memintaku untuk membantumu ti-
dur. Tapi, sungguh aku tak pernah menyangka, engkau malah tidur untuk
selamanya. Sedihku tak terelakkan.
Sirine mobil ambulan meraung disepanjang jalan, dari Rumah Sakit
Premier Bintaro menuju rumah kami di Serang, Banten. Ambulan begitu
cepatnya meluncur di jalanan, sementara aku dan Mama duduk bersim-
puh disamping jasad Ayahku.
Mama, yang selama ini kuanggap orang kuat selain Ayah, ternyata
shock dan runtuh hebat hingga tenggelam dalam tangis tiada henti.
Aku diam tanpa bisa berpikir. bagaikan melihat angsa berwana hi-
tam, melihat kejutan takdir yang datang satu minggu sebelum engkau

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 143

merayakan hari ulang tahunmu.
Lautan emosi terpendam di dalam diriku, bagai bumi diterpa tsuna-
mi. Sekuat tenaga kucoba ‘tuk meredam emosi jiwa, demi sanggup
menginjak daratan dengan tetap tegak. Sunyi hatiku, sunyi jiwaku.
Papa, benak ini telah terukir jiwamu, jiwa seorang Ayah yang banya k
mengajarkan makna hidup dalam kesahajaan, kerja berkomunitas yang
tak pernah padam, dengan kecintaan pada kaum olemah yang terjerem-
bab dalam lembah kemiskinan struktural yang telah menjadi pelantun
hidupku setiap hari. ... Papa, kini engkau sudah melangkah jauh, dan
tak bisa lagi kugapai.
Bisik-bisik angin membuai telinga, membangunkan asa.
Hari-hari ke depan akan menjadi hari panjang
Aku harus rela
Rela menyambut hari esok, tanpa dirimu di sisiku lagi.
Selamat jalan papa
Semoga negkau terus bahagia.

n Gautama Rahman Hadi



144 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

34

Kisah Aneh Tas Ransel dan Tas Kresek

Part 1.
Awal menjejakkan kaki di Kampus Cemara (universitas Mataram),
sangat beruntung saya mengenal sosok sederhana, namun senantiasa
menginspirasi. Tidak ada yang luar biasa dari penampilannya. Hanya
teman-teman yang telah bersentuhan yang bisa memahami kebesaran
hatinya. Bang Rusdi, begitu kami biasa memanggilnya.
Tiga tahun seatap bersamanya mungkin rentang waktu yang ter-
baik untuk belajar sekaligus yang tersulit dalam hidup saya. Gedung
Saka, begitu kami menyebut sekretariat, sekaligus tempat tinggal kami
d Jalan Bekasi, BTN Taman Indah, Kota Mataram.
Secara intelektual, mudah untuk mengunyah gagasan gagasan Beliau
karena selalu dikomunikasikan dengan sederhana. Namun, secara aktu-
al, karakter dan sikap beliau bukan hal mudah bagi saya untuk mene-
ladaninya, bahkan hingga beliau wafat
Masih teringat jelas, setiap beliau keluar daerah pasti pulang dengan
oleh-oleh setumpuk buku, lalu diletakkan begitu saja di atas lemari ke-
cil di kamar kami. Sebagai mahasiswa yang masih ‘unyu-unyu’ saat itu,
saya sangat senang karena sebagian besar buku itu pas buat saya yang
sedang belajar mengikuti jejak aktivis mahasiswa.
Begitu lugunya saya saat itu hingga terbersit pikiran,”Bang Rusdi kan
aktivis senior kok beli bukunya banyak yang ‘receh’receh’ kayak gini?”.
Kali berikutnya, Bang Rusdi membawa oleh-oleh setumpuk buku den-
gan isi yang sudah ‘naik kelas’ dari oleh-oleh sebelumnya. Saat sedang
khusyuk “mengunyah” buku-buku itu, tiba-tiba saya menyadari, ”As-

Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 145

taga, ternyata Bang Rusdi beli buku-buku selama ini memang sengaja
memilih yang cocok untuk junior sepertii saya. Oh my God,
Beliau nggak pernah sekalipun menunjukkan ‘jasa’ telah membe-
likan saya buku. Beliau nampaknya sudah sangat berbahagia ketika
buku-buku itu saya lahap dan membuat saya mulai berani bicara pada
diskusi-diskusi mahasiswa. Sekalipun saya lupa berterimakasih kepada
Beliau.
Terimakasih Bang…
There’s No “Me”
(Setetes embun dari Alm Bang Rusdi Tagaroa )
Part 2.
Suatu sore, seorang aktivis mahasiswa mampir, dan seperti biasa,
asyik ngopi dan berdiskusi. Ketika hendak pulang, ternyata ada agenda
lain, meminjam tas Bang Rusdi.
Saya ingat, waktu itu , Bang Rusdi punya dua tas ransel. Seminggu
sebelumnya, seorang aktivis sudah meminjam untuk pulang kampung
dan belum kembali. Sore itu, tas kedua Beliau, yang sepertinya masih
‘bau toko’ juga direlakan untuk dipinjam.
Saya agak heran karena sepertinya Bang Rusdi saat itu ada rencana
keluar daerah lagi. Ternyata Benar...!! Lepas Maghrib, Bang Rusdi nam-
pak merapikan baju-baju dan meletakkannya di kasur. Sekitar 1-2 jam
berselang, beliau nampak bersiap-siap lalu memasukkan pakaian yang
disiapkan itu ke dalam TAS KRESEK. Ya, TAS KRESEK ..!!
“Mau kemana Bang?” tanyaku.
“Ada deeh …. (tidak ingat). Antar ke Lembar (pelabuhan), ya”,
ujarnya.
“Siaaap Bang,” Sahutku tegas, sembari tertegun.
Akhirnya, kami berdua pun berangkat ke Pelabuhan Lembar dengan
motor ceketer(butut). Saya tidak begitu ingat saat kami di pelabuhan.
Yang pasti, saat menyaksikan beliau berjalan santai menapaki dermaga

146 Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram”

hingga masuk ke kapal sambil menenteng tas kreseknya, saya hanya bisa
kembali tertegun.
Peristiwa ini meninggalkan pelajaran berharga sekaligus tersulit se-
umur hidup saya, dan pastinya kita semua. Betapa indahnya jika kita
semua mampu meninggalkan “aku”. There’s no me. There’s no U.
There’s No “Me”
(Setetes embun dari Alm Bang Rusdi Tagaroa )
Part 3 (end)
Sebagai junior aktivis mahasiswa yang merasa ‘sok kiri’ saat itu, ada
dua istilah yang membuat saya penasaran karena sering gagal paham
meski sudah nanya berulang-ulang ke Bang Rusdi. Dialektika material-
isme dan false consciousness.
Sampai sekarang, kedua istilah itu tetap menarik buat saya, meski
memahaminya tidak lagi dalam konteks Marxian.
“Bang apa sih maksudnya dialektika materialisme? Kok saya bolak
balik baca tetap gak paham? tanyaku. Beliau tertawa terpingkal-ping-
kal. Mungkin saya belum cukup umur untuk dijelaskan. “Baca itu
skripsinya Boni (Setiawan),” ujarnya sambil menunjuk rak buku.
Begitu pula waktu saya tanya, “Apa maksudnya false consciousness?”
“Baca itu Gramsci ..,” tegas beliau. n Gatot



Jejak Langkah Rudi Tagaroa “Inspirator Gerakan Mahasiswa Mataram” 147


Click to View FlipBook Version