T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 52
diragukan. Didalam penutup surat Allah menganjurkan supaya
selalu bertasbih mengagunkan nama Allah.15
15Salim bahreisy, terjemah tafsir ibnu katsier, pt. Bina ilmu: surabaya, hal.
203
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 53
Kelompok 4
Muhammad Iqbal Hidayat
Abdul Muiz
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 54
SURAT AL MA’ARIJ
Al Ma’arij ayat 1-20
ا ْل َم َعا ِرجِ ()3 ِذي َدا ِف ٌع (ِ )2م َن ّل َّل ِا تَ َسْعأَُر َل ُج اَسْلا َِئملَ ٌلا ِئبَِك َعةُذَا َواٍبل ُّر َوواقِ ُحعٍ ِإ َل(ْي ِهِ )1ف ِل ْيل َكيَا ْ ِفو ٍِمري َكَنا َنَل ْي ِم َْقس َدالَ ُرهُهُ
َفا ْص ِب ْر َص ْب ارا ()4 َخ ْم ِسي َن أَ ْل َف َسنَ ٍة
َج ِميلاا (ِ )5إ ّنَ ُه ْم َي َر ْو َنهُ َب ِعي ادا (َ )6و َن َراهُ َق ِريباا (َ )7ي ْو َم تَ ُكو ُن ال َّس َما ُء َكا ْل ُم ْه ِل ()8
َوتَ ُكو ُن ا ْل ِجبَا ُل َكا ْل ِع ْه ِن (َ )9وََّل َي ْسأَ ُل َح ِمي ٌم َح ِمي اما ( )10يُبَ َّص ُرو َن ُه ْم َي َو ُّد ا ْل ُم ْج ِر ُم لَ ْو
َي ْفتَ ِدي ِم ْن َعذَا ِب يَ ْو ِمئِ ٍذ ِب َب ِني ِه (َ )11و َصا ِح َبتِ ِه َوأَ ِخي ِه (َ )12و َف ِصي َلتِ ِه ا َلّتِي تُ ْؤ ِوي ِه
(َ )13و َم ْن ِفي ا ِْلَ ْر ِض َج ِميعاا ثُ َّم يُ ْن ِجي ِه (َ )14كلَّا ِإنَّ َها َل َظى (َ )15ن َّزا َع اة ِلل َّش َوى
( )16تَ ْد ُعو َم ْن أَ ْدبَ َر َوتَ َو َّلى (َ )17و َج َم َع َفأَ ْو َعى ( )18إِ َّن ا ْْ ِل ْن َسا َن ُخ ِل َق َهلُو اعا
( )19إِذَا َم َّسهُ ال َّش ُّر َج ُزو اعا (َ )20و ِإذَا َم َّسهُ ا ْل َخ ْي ُر َمنُو اعا ( )21إََِّل ا ْل ُم َص ِلي َن ()22
الَّ ِذي َن ُه ْم َع َلى َصلَا ِت ِه ْم َدا ِئ ُمو َن (َ )23وا َّل ِذي َن ِفي أَ ْم َوا ِل ِه ْم َح ٌّق َم ْعلُو ٌم (ِ )24لل َّسا ِئ ِل
َوا ْل َم ْح ُرو ِم (َ )25وا َّل ِذي َن يُ َص ِد ُقو َن ِبيَ ْو ِم ال ِدي ِن (َ )26وا َّل ِذي َن ُه ْم ِم ْن َعذَا ِب َر ِب ِه ْم
ُم ْش ِفقُو َن ( )27إِ َّن َعذَا َب َربِ ِه ْم َغ ْي ُر َمأْ ُمو ٍن (َ )28وا ّلَ ِذي َن ُه ْم ِلفُ ُرو ِج ِه ْم َحا ِف ُظو َن
(ِ )29إََّل َع َلى أَ ْز َوا ِج ِه ْم أَ ْو َما َم َل َك ْت أَ ْي َمانُ ُه ْم فَ ِإنَّ ُه ْم َغ ْي ُر َملُو ِمي َن (َ )30ف َم ِن ا ْبتَ َغى
َو َرا َء ذَ ِل َك َفأُو َلئِ َك ُه ُم ا ْل َعا ُدو َن (َ )31والَّ ِذي َن ُه ْم ِِلَ َمانَاتِ ِه ْم َو َع ْه ِد ِه ْم َرا ُعو َن ()32
َوا َّل ِذي َن ُه ْم بِ َش َها َدا ِت ِه ْم َقا ِئ ُمو َن (َ )33وا ّلَ ِذي َن ُه ْم َع َلى َصلَا ِت ِه ْم يُ َحا ِف ُظو َن ( )34أُولَ ِئ َك
ِفي َج َّنا ٍت ُم ْك َر ُمو َن (َ )35ف َما ِل ا َّل ِذي َن َك َف ُروا ِقبَلَ َك ُم ْه ِط ِعي َن (َ )36ع ِن ا ْليَ ِمي ِن َو َع ِن
ال ِش َما ِل ِع ِزي َن ( )37أَيَ ْط َم ُع ُك ُّل ا ْم ِر ٍئ ِم ْن ُه ْم أَ ْن يُ ْد َخ َل َجنَّةَ نَ ِعي ٍم (َ )38كلَّا إِنَّا َخ َل ْق َنا ُه ْم
ِم َّما َي ْع َل ُمو َن (َ )39فلَا أُ ْق ِس ُم بِ َر ِب ا ْل َم َشا ِر ِق َوا ْل َمغَا ِر ِب إِ ّنَا لَ َقا ِد ُرو َن (َ )40ع َلى أَ ْن
نُبَ ِد َل َخ ْي ارا ِم ْن ُه ْم َو َما َن ْح ُن ِب َم ْسبُو ِقي َن (َ )41ف َذ ْر ُه ْم يَ ُخو ُضوا َويَ ْل َعبُوا َحتَّى يُلَاقُوا
َي ْو َم ُه ُم ا ّلَ ِذي يُو َع ُدو َن ( )42يَ ْو َم يَ ْخ ُر ُجو َن ِم َن ا ِْلَ ْج َدا ِث ِس َرا اعا َكأَ َّن ُه ْم إِ َلى نُ ُص ٍب
يُوفِ ُضو َن (َ )43خا ِش َع اة أَ ْب َصا ُر ُه ْم تَ ْر َهقُ ُه ْم ِذ َلّةٌ ذَ ِل َك ا ْل َي ْو ُم ا َّل ِذي َكانُوا يُو َع ُدو َن ()44
1. seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan
menimpa, 2. orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat
menolaknya, 3. (yang datang) dari Allah, yang mempunyai
tempat-tempat naik. 4. malaikat-malaikat dan Jibril naik
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 55
(menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya
limapuluh ribu tahun. 5. Maka bersabarlah kamu dengan sabar
yang baik. 6. Sesungguhnya mereka memandang siksaaan itu
jauh (mustahil). 7. sedangkan Kami memandangnya dekat
(mungkin terjadi). 8. pada hari ketika langit menjadi seperti
luluhan perak, 9. dan gunung-gunung menjadi seperti bulu
(yang berterbangan), 10. dan tidak ada seorang teman
akrabpun menanyakan temannya, 11. sedang mereka saling
memandang. orang kafir ingin kalau Sekiranya Dia dapat
menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, 12.
dan isterinya dan saudaranya, 13. dan kaum familinya yang
melindunginya (di dunia). 14. dan orang-orang di atas bumi
seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat
menyelamatkannya. 15. sekali-kali tidak dapat, Sesungguhnya
neraka itu adalah api yang bergolak, 16. yang mengelupas kulit
kepala, 17. yang memanggil orang yang membelakang dan yang
berpaling (dari agama), 18. serta mengumpulkan (harta benda)
lalu menyimpannya. 19. Sesungguhnya manusia diciptakan
bersifat keluh kesah lagi kikir. 20. apabila ia ditimpa kesusahan
ia berkeluh kesah, 21. dan apabila ia mendapat kebaikan ia
Amat kikir, 22. kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,
Asbabun Nuzul Surat al-Ma’aarij ayat 1-2
1. Seseorang Telah meminta kedatangan azab yang akan
menimpa, 2. Orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat
menolaknya, (al-Ma’aarij: 1-2)
Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dan Ibnu Abi Hatim, yang
bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Firman Allah, sa’ala saa-
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 56
ilum bi’adzaabiw waaqi’ (Seseorang Telah meminta kedatangan
azab yang akan menimpa) (al-Ma’aarij: 1) turun berkenaan
dengan An-Nadlr bin Al-Harits yang berkata dengan sinis: “Ya
Allah, sekiranya (ucapan Muhammad untuk mengutamakan ‘Ali
lebih daripada kami) itu benar-benar dari-Mu, turunkanlah
kepada kami hujan batu dari langit.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari
as-Suddi bahwa ayat ini (al-Ma’aarij: 1) turun di Mekah,
berkenaan dengan an-Nadlr bin al-Harits yang berkata dengan
sinis: “Ya Allah jika betul (al-Qur’an) ini, dialah yang benar
dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit.”
(perkataan Nadlr ini termaktub pula dalam surat al-Anfaal ayat
32). Hujan batu sebagai azab dari Allah itu pun diturunkan pada
Perang Badar.
Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari
al-Hasan bahwa ketika turun ayat ini(al-Ma’aarij ayat 1) turun,
orang-orang bertanya: “Kepada siapa azab tersebut diturunkan ?
”Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (al-Ma’aarij ayat 2)
yang menegaskan bahwa azab tersebut diturunkan kepada kaum
kafir.
Tafsir Al Ma’arij ayat 1-22
(1)َسأَ َل َسائِ ٌل بِ َعذَا ٍب َوا ِق ٍع
Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal
terjadi. (Al-Ma'arij: 1)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 57
Di dalam ayat ini terkandung lafaz yang tidak disebutkan
karena terbukti dengan adanya huruf ba yang menunjuk ke
arahnya.Jadi, seakan-akan lafaz itu keberadaannya diperkirakan.
Bentuk lengkapnya ialah seseorang meminta agar disegerakan
datangnya azab yang bakal terjadi, semakna dengan apa yang
disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
َو َي ْستَ ْع ِجلُو َن َك بِا ْلعَذا ِب َولَ ْن ُي ْخ ِل َف ّل َّلاُ َو ْع َد ُه
Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan,
padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. (Al-
Hajj: 47)
Yakni azab-Nya pasti terjadi.
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada
kami Bisyr ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Abu
Usamah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari 'Al-
A'masy, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari
Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Seseorang
peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. (Al-
Ma'arij: 1) Bahwa orang tersebut adalah An-Nadr ibnul Haris
ibnu Kaldah.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan makna firman-Nya: Seseorang peminta
telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. (Al-Ma'arij:
1) Bahwa demikianlah permintaan orang-orang kafir akan azab
Allah, padahal azab Allah itu bakal terjadi menimpa mereka.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 58
Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid
sehubungan dengan makna firman-Nya: Seseorang peminta
telah meminta. (Al-Ma'arij: 1) Seseorang berdoa, meminta agar
azab yang bakal terjadi di akhirat itu diturunkan.
Mujahid mengatakan bahwa hal ini seperti yang
disebutkan di dalam firman-Nya:
ال ّلَ ُه َّم ِإ ْن كا َن َهذَا ُه َو ا ْل َح َّق ِم ْن ِع ْن ِد َك َفأَ ْم ِط ْر َعلَ ْينا ِحجا َرةا ِم َن ال َّسما ِء أَ ِو ائْتِنا ِب َعذا ٍب
أَ ِلي ٍم
Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini dialah yang benar dari sisi
Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau
datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Al-Anfal: 32)
Ibnu Zaid dan lain-Lainnya mengatakan di dalam
firman-Nya: Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab
yang bakal terjadi. (Al-Ma'arij: 1) Yaitu sebuah lembah yang
terdapat di dalam neraka Jahanam, kelak di hari kiamat mengalir
azab darinya.Tetapi pendapat ini lemah dan jauh dari makna
yang dimaksud, dan pendapat yang sahih adalah yang pertama
tadi karena sesuai dengan konteksnya.
Firman Allah Swt:
(2) َوا ِق ٍع ِل ْل َكافِري َن
yang bakal terjadi untuk orang-orang kafir. (Al-Ma'arij: 1-2)
Yakni disiapkan dan disediakan untuk orang-orang kafir.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 59
Ibnu Abbas mengatakan bahwa azab yang waqi' ialah
azab yang pasti datang.
(2) لَ ْي َس َلهُ َدا ِف ٌع
Yang tidak seorangpun dapat menolaknya. (Al-Ma'arij: 2)
Artinya, tiada yang dapat menolaknya bila Allah
menghendakinya. Karena itu, disebutkan dalam firman
berikutnya:
(3) ِِم َن ّل َّلاِ ِذي ا ْل َم َعا ِرج
(Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik.
(Al-Ma'arij: 3)
As-Sauri telah meriwayatkan dari Al-A'masy, dari
seorang lelaki, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan makna firman-Nya: yang mempunyai
tempat-tempat naik. (Al-Ma'arij-. 3) Yaitu tempat-tempat naik.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu
Abbas, bahwa zil-ma'arij artinya Yang memiliki ketinggian dan
keutamaan-keutamaan.Mujahid mengatakan bahwa zil-ma'arij
artinya tempat-tempat naik ke langit.Qatadah mengatakan
bahwa makna yang dimaksud ialah Yang mempunyai
keutamaan-keutamaan dan nikmat-nikmat.
Firman Allah Swt.:
(4) تَ ْع ُر ُج ا ْل َملا ِئ َكةُ َوال ُّرو ُح إِ َل ْي ِه
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 60
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan.
(Al-Ma'arij:4)
Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah,
bahwa ta'ruju artinya naik.Adapun ruh, menurut Abu Saleh
mereka adalah makhluk Allah yang mirip dengan manusia,
tetapi mereka bukan manusia.Menurut kami, dapat pula
ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud adalah Malaikat
Jibril.
Dengan demikian, berarti ungkapan ini termasuk ke
dalam bab " 'Ataf Khas kepada 'Am." Dapat pula ditakwilkan
dengan pengertian isim jenis dari arwah Bani Adam, karena
sesungguhnya arwah Bani Adam itu apabila dicabut dari
jasadnya, ia naik ke langit, sebagaimana yang ditunjukkan oleh
hadis Al-Barra, dan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah melalui
Al-Minhal, dari Zazan, dari Al-Barra secara marfu'. Hadisnya
cukup panjang menerangkan tentang pencabutan roh yang baik.
Antara Lain disebutkan di dalamnya:
""فَلَا َي َزا ُل يُ ْصعَ ُد ِب َها ِم ْن َس َما ٍء إِ َلى َس َما ٍء َحتَّى يَ ْنتَ ِه َي بِ َها ِإ َلى ال َّس َما ِء ال َّسا ِب َع ِة
Maka terus-menerus malaikat membawanya naik dari suatu
langit ke langit lain, hingga sampailah ia di langit yang
padanya ada Allah.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui tentang
kesahihan hadis ini. Sebagian perawinya masih diperbincangkan
kesahihannya, tetapi hadis ini terkenal dan mempunyai syahid
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 61
(bukti) yang menguatkannya dalam hadis Abu Hurairah
terdahulu yang diketengahkan melalui riwayat Imam Ahmad,
Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah melalui jalur ibnu Abud
Dunia, dari Muhammad ibnu Amr ibnu Ata, dari Sa'id ibnu
Yasar, dari Abu Hurairah. Sanad hadis ini dengan syarat
Jamaah, kami telah mengetengahkan teksnya dalam tafsir firman
Allah Swt.:
يُثَ ِب ُت ّل َّلاُ الَّ ِذي َن آ َمنُوا بِا ْل َق ْو ِل الثَّا ِب ِت فِي ا ْل َحيا ِة ال ُّد ْنيا َوفِي ا ْْل ِخ َر ِة َويُ ِض ُّل ّل َّلاُ ال َّظا ِل ِمي َن
َو َي ْفعَ ُل ّل َّلاُ َما َيشا ُء
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan
ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat;
dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan
memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim: 27)
Adapun firman Allah Swt.:
(4) فِي يَ ْو ٍم َكا َن ِم ْق َدا ُر ُه َخ ْم ِسي َن أَ ْل َف َس َن ٍة
dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (Al-Ma'arij:
4)
Ada empat pendapat sehubungan dengan makna ayat
ini.Pendapat pertama mengatakan bahwa makna yang dimaksud
ialah perjalanan antara ' Arasy yang besar sampai dasar yang
paling bawah, yaitu dasar dari bumi lapis ketujuh; perjalanan ini
memerlukan waktu lima puluh ribu tahun.Ini menggambarkan
tentang ketinggian 'Arasy bila diukur dari titik sumbu yang
berada di bagian tengah bumi lapis ketujuh.Demikain pula
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 62
luasnya 'Arasy dari satu sisi ke sisi yang lainnya sama dengan
perjalanan lima puluh ribu tahun. Dan bahwa 'Arasy itu dari
yaqut merah, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abu
Syaibah di dalam kitab Sifatul 'Arasy.
Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan ayat ini
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu
Salamah, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim,
telah menceritakan kepada kami Hakkam, dari Amr ibnu
Ma'mar ibnu Ma'ruf, dari Laits, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan makna firman-Nya: dalam sehari yang
kadarnya lima puluh ribu tahun. (Al-Ma'arij: 4) Maksudnya,
batas terakhirnya dari bagian bumi yang paling bawah sampai
kepada bagian yang tertinggi dari langit yang ketujuh adalah
jarak perjalanan lima puluh ribu tahun.
Firman Allah Swt.:
(5) َفا ْص ِب ْر َص ْب ارا َج ِميلا
Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. (Al-Ma'arij:
5)
Yakni sabarlah engkau, hai Muhammad, dalam
menghadapi kaummu yang mendustakanmu dan permintaan
mereka yang mendesak agar diturunkan azab yang engkau
ancamkan terhadap mereka, sebagai ungkapan rasa tidak
percaya mereka dengan adanya azab itu. Sebagaimana yang
disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 63
يَ ْستَ ْع ِج ُل بِ َها ا َّل ِذي َن ََّل يُ ْؤ ِمنُو َن بِها َوا َلّ ِذي َن آ َمنُوا ُم ْش ِفقُو َن ِم ْنها َويَ ْع َل ُمو َن أَ ّنَ َها ا ْل َح ُّق
Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta
supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang
beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa
kiamat itu adalah benar (akan terjadi). (Asy-Syura: 18)
Karena itulah dalam firman berikutnya dari surat ini disebutkan:
(6) ِإ َّن ُه ْم يَ َر ْونَهُ َب ِعي ادا
Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil).
(Al-Ma'arij 6)
Yaitu kejadian azab itu mustahil, orang-orang
kafir menganggap bahwa hari kiamat itu mustahil
terjadinya.
(7) َو َن َرا ُه قَ ِريباا
Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi). (Al-
Ma'arij: 7)
Orang-orang yang beriman meyakini bahwa hari kiamat
itu sudah dekat, sekalipun mereka tidak mengetahui kapan
kejadiannya, karena hanya Allah sajalah yang
mengetahuinya.Akan tetapi, sesuatu yang pasti terjadi dapat
diungkapkan dengan kata sudah dekat, mengingat kejadiannya
merupakan suatu kepastian yang tidak dapat dielakkan
lagi.Allah Swt. berfirman bahwa azab itu pasti akan menimpa
orang-orang kafir.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 64
(8) َي ْو َم تَ ُكو ُن ال َّس َما ُء َكا ْل ُم ْه ِل
Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak (Al-
Ma'arij: 8)
Ibnu Abbas, Mujahid, Ata, Sa'id ibnu Jubair, Ikrimah,
dan As-Saddi serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang
mengatakan bahwa langit menjadi seperti minyak yang
mendidih.
(9) َوتَ ُكو ُن ا ْل ِج َبا ُل َكا ْل ِع ْه ِن
Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan).
(Al-Ma'arij: 9)
Yakni seperti bulu yang beterbangan karena tertiup angin
kencang.Demikianlah menurut Mujahid, Qatadah, dan As-
Saddi. Ayat ini semakna dengan firman
Allah Swt. yang menyebutkan:
َوتَ ُكو ُن ا ْل ِجبا ُل َكا ْل ِع ْه ِن ا ْل َم ْنفُو ِش
dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
(Al-Qari'ah: 5)
Adapun firman Allah Swt.:
(10) َوَّل يَ ْسأَ ُل َح ِمي ٌم َح ِمي اما
Dan tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya,
sedangkan mereka saling melihat. (Al-Ma'arij: 10)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 65
Maksudnya, tiada seorang pun yang menanyai kerabatnya
tentang keadaannya, padahal dia melihatnya dalam keadaan
yang paling buruk karena dia sendiri disibukkan dengan keadaan
dirinya yang tak kalah buruknya.Al-Aufi telah meriwayatkan
dari Ibnu Abbas, pada mulanya sebagian dari mereka mengenal
sebagian yang lainnya, lalu mereka berkenalan di antara sesama
mereka, sesudah itu masing-masing menyelamatkan dirinya
sendiri. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya:
ِل ُك ِل ا ْم ِر ٍئ ِم ْن ُه ْم َي ْو َمئِ ٍذ َشأْ ٌن يُ ْغ ِني ِه
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang
cukup menyibukkannya. ('Abasa: 37)
Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam
ayat lain melalui firman Allah Swt.:
َيا أَ ُّي َها النَّا ُس اتَّقُوا َربَّ ُك ْم َوا ْخ َش ْوا يَ ْوماا ََّل َي ْج ِزي وا ِل ٌد َع ْن َو َل ِد ِه َوَّل َم ْولُو ٌد ُه َو جا ٍز
َع ْن وا ِل ِد ِه َش ْيئاا ِإ َّن َو ْع َد ّل َّلاِ َح ٌّق
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu
hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong
anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong
bapaknya sedikit pun.Sesungguhnya janji Allah adalah benar.
(Luqman: 33)
َوإِ ْن تَ ْد ُع ُمثْقَ َلةٌ ِإلى ِح ْم ِلها ََّل يُ ْح َم ْل ِم ْنهُ َش ْي ٌء َولَ ْو كا َن ذا قُ ْربى
Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain)
untuk memikul dosanya itu, tiadalah akan dipikulkan untuknya
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 66
sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya.
(Fathir: 18)
Semakna pula dengan firman-Nya:
فَ ِإذا نُ ِف َخ ِفي ال ُّصو ِر فَلا أَ ْنسا َب َب ْي َن ُه ْم يَ ْو َم ِئ ٍذ َوَّل يَتَسا َءلُو َن
Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian
nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula
mereka saling bertanya. (Al-Mu’minun: 101)
Dan sama dengan firman-Nya:
يَ ْو َم َي ِف ُّر ا ْل َم ْر ُء ِم ْن أَ ِخي ِه َوأُ ِم ِه َوأَ ِبي ِه َوصا ِح َبتِ ِه َوبَنِي ِه ِل ُك ِل ا ْم ِر ٍئ ِم ْن ُه ْم يَ ْو َم ِئ ٍذ َشأْ ٌن
يُ ْغ ِني ِه
pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan
bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, Setiap orang dari
mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup
menyibukkannya. ('Abasa: 37-34)
Adapun firman Allah Swt.:
يُبَ َّص ُرو َن ُه ْم َي َو ُّد ا ْل ُم ْج ِر ُم لَ ْو َي ْفتَ ِدي ِم ْن َعذَا ِب َي ْو ِمئِ ٍذ بِ َب ِني ِه َو َصا ِحبَ ِت ِه َوأَ ِخي ِه َوفَ ِصيلَتِ ِه
الَّ ِتي تُ ْؤ ِوي ِه َو َم ْن فِي اِل ْر ِض َج ِمي اعا ثُ َّم يُ ْن ِجي ِه َكلا
Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya)
dari azab hari itu dengan anak-anaknya, istri, dan
saudaranya.Dan kaum familinya yang melindunginya (di
dunia).Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 67
(mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.Sekali-
kali tidak dapat. (Al-Ma'arij: 11-15)
Yakni tidak dapat diterima darinya tebusan apa pun,
sekalipun dia datang dengan membawa semua penduduk bumi
dan semua harta benda yang paling disayanginya, walaupun
jumlahnya mencapai sepenuh bumi dalam bentuk emas, atau
anaknya yang sewaktu di dunia merupakan belahan hatinya.
Pada hari kiamat saat ia melihat peristiwa-peristiwa yang sangat
menakutkan, timbullah keinginan dirinya untuk menebus dirinya
dari azab Allah yang pasti menimpa dirinya itu. Akan tetapi, apa
pun tidak dapat diterima darinya.
Mujahid dan As-Saddi telah mengatakan sehubungan
dengan makna firman Allah Swt: dan kaum familinya. (Al-
Ma'arij: 13) Yaitu kabilah dan sanak familinya.Ikrimah
mengatakan, puak kabilahnya yang dia merupakan seseorang
dari mereka.
Asyhab telah meriwayatkan dari Malik sehubungan
dengan makna firman-Nya: dan kaum familinya. (Al-Ma'arij:
13) Bahwa yang dimaksud adalah ibunya.
Firman Allah Swt.:
(15) ِإ َّن َها َل َظى
Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak. (Al-
Ma'arij: 15)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 68
Ini menggambarkan sifat neraka dan panasnya yang tak
terperikan.
(16) نزا َعةا ِلل َّش َوى
Yang mengelupaskan kulit kepala. (Al-Ma'arij: 16)
Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan bahwa syawa
artinya kulit kepala.
Menurut riwayat Al-Aufi, dari Ibnu Abbas sehubungan
dengan makna ayat ini: Yang mengelupaskan kulit kepala. (Al-
Ma'arij: 16) Artinya, kulit kepala dan kepalanya.Mujahid
mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah daging yang
menutupi batok kepala.Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa
makna yang dimaksud ialah semua otot dan urat-uratnya.
Abu Saleh mengatakan sehubungan dengan makna
firman-Nya: Yang mengelupaskan kulit kepala. (Al-Ma'arij: 16)
Yakni jari jemari kedua tangan dan kedua kakinya.Ia
mengatakan pula sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa
yang dimaksud ialah daging kedua betis.
Al-Hasan Al-Basri dan Sabit Al-Bannani telah
mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Yang
mengelupaskan kulit kepala. (Al-Ma'arij: 16) Yaitu bagian-
bagian wajahnya yang terhormat. Al-Hasan telah mengatakan
pula bahwa api neraka itu membakar segala sesuatu yang ada
pada tubuh orang kafir, dan yang tersisa adalah hatinya, lalu
hatinya menjerit.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 69
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-
Nya: Yang mengelupaskan kulit kepala. (Al-Ma'arij: 16)
Maksudnya, mengelupaskan kulit kepalanya dan bagian
wajahnya yang terhormat serta tubuhnya dan semua jari
jemarinya.
Ad-Dahhak mengatakan bahwa daging dan kulit
terkelupas semuanya dari tulangnya masing-masing hingga tiada
yang tersisa pada tulangnya sesuatu pun dari dagingnya.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa asy-syawa artinya tulang-
tulang anggota tubuhnya.Nazza 'atari menurutnya berarti
menghancurkan tulang-tulangnya, kemudian kulit dan tubuh
mereka diganti dengan yang baru lagi.
Firman Allah Swt.:
(17-18) تَ ْد ُعوا َم ْن أَ ْدبَ َر َوتَ َو َّلى َو َج َم َع فَأَ ْو َعى
Yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling
(dari agama), serta mengumpulkan (harta benda), lalu
menyimpannya. (Al-Ma'arij: 17.-18)
Yaitu neraka memanggil anak-anaknya yang diciptakan
oleh Allah untuk menjadi isinya, dan telah ditakdirkan bagi
mereka bahwa selama di dunia mereka beramal untuk neraka,
maka kelak di hari kiamat neraka memanggil mereka untuk
memasukinya dengan lisan yang fasih lagi jelas.Kemudian
neraka memunguti mereka di antara ahli mahsyar, sebagaimana
burung memunguti biji-bijian.Demikian itu karena mereka
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 70
sebagaimana yang disebutkan oleh firman Allah Swt. termasuk
orang yang membelakang dan yang berpaling.Yakni hatinya
mendustakan dan anggota tubuhnya tidak mau beramal.
(18) َو َج َم َع َفأَ ْو َعى
serta mengumpulkan (harta benda), lalu menyimpannya. (Al-
Ma'arij: 18)
Yakni mengumpulkan harta sebagian darinya dengan
sebagian yang lain, lalu ia menyimpannya dan tidak mau
menunaikan hak Allah yang ada pada hartanya, baik nafkah
maupun zakat yang diwajibkan atasnya.
Di dalam sebuah hadis disebutkan:
"" َوََّل تُوعي َفيُوعي ّل َّلاُ َع َل ْي ِك
Janganlah kamu menyimpan harta, maka kelak Allah akan
menghisabkannya terhadap dirimu.
Disebutkan bahwa Abdullah ibnu Akim tidak pernah
mengikat tali pundinya atau tali karung makanannya, dan ia
mengatakan bahwa ia telah mendengar Allah Swt. berfirman:
serta mengumpulkan (harta benda), lalu menyimpannya. (Al-
Ma'arij: 18)
Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan, "Hai anak Adam,
engkau telah mendengar ancaman Allah, tetapi engkau tetap
menghimpun harta benda"
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 71
Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-
Nya: serta mengumpulkan (harta benda), lalu menyimpannya.
(Al-Ma'arij: 18) Bahwa orang tersebut gemar menghimpun harta
lagi getol mengerjakan dosa-dosa yang keji.
Allah Swt. menceritakan perihal manusia dan watak-
watak buruk yang telah menjadi pembawaannya.
(19) إِ َّن اْل ْن َسا َن ُخ ِل َق َهلُو اعا
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. (Al-
Ma'arij: 19)
Yang hal ini ditafsirkan oleh firman selanjutnya:
(20) إِذَا َم َّسهُ ال َّش ُّر َج ُزو اعا
Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. (Al-Ma'arij:
20)
Yakni apabila tertimpa kesusahan, ia kaget dan berkeluh
kesah serta hatinya seakan-akan copot karena ketakutan yang
sangat, dan putus asa dari mendapat kebaikan sesudah musibah
yang menimpanya.
(21) َو ِإذَا َم َّسهُ ا ْل َخ ْي ُر َمنُو اعا
dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. (Al-Ma'arij:
21)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 72
Yaitu apabila ia mendapat nikmat dari Allah Swt.,
berbaliklah ia menjadi orang yang kikir terhadap orang lain, dan
tidak mau menunaikan hak Allah yang ada padanya.
َس ِم ْع ُت: َح َّدثَ َنا ُمو َسى ْب ُن ُع َلي ب ُن َرباح، َح َّدثَ َنا أَبُو َع ْب ِد ال َّر ْح َم ِن:َقا َل ا ْْ ِل َما ُم أَ ْح َم ُد
قَا َل: َس ِم ْع ُت أَبَا ُه َريرة يَقُو ُل:أَ ِبي يُ َح ِد ُث َع ْن َع ْب ِد ا ْل َع ِزي ِز ْب ِن َم ْر َوا َن بن الحكم قَا َل
". َو ُج ْب ٌن َخا ِل ٌع، " َش ُّر َما فِي َر ُج ٍل ُش ٌح َها ِل ٌع:َر ُسو ُل ّل َّلاِ َص َّلى ّل َّلاُ َعلَ ْي ِه َو َس َلّ َم
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu
Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ali
ibnu Rabah, bahwa ia pernah mendengar ayahnya
menceritakan hadis berikut dari Abdul Aziz ibnu Marwan ibnul
Hakam yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu
Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
Sifat terburuk yang ada pada diri seorang lelaki ialah kikir yang
keterlaluan dan sifat pengecut yang parah.
Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Abdullah ibnul
Jarah, dari Abu Abdur Rahman Al-Muqri dengan sanad yang
sama, dan ia tidak mempunyai hadis dari Abdul Aziz selain dari
hadis ini.
Al-Ma’arij Ayat 22-44
) َوا َّل ِذي َن ِفي أَ ْم َوا ِل ِه ْم َح ٌّق23( ) ا ّلَ ِذي َن ُه ْم َع َلى َصلَاتِ ِه ْم َدا ِئ ُمو َن22( إََِّل ا ْل ُم َص ِلي َن
) َوالَّ ِذي َن ُه ْم26( ) َوا َّل ِذي َن يُ َص ِدقُو َن ِب َي ْو ِم ال ِدي ِن25( ) ِلل َّسا ِئ ِل َوا ْل َم ْح ُرو ِم24( َم ْعلُو ٌم
) َوا َلّ ِذي َن ُه ْم28( ) إِ َّن َعذَا َب َربِ ِه ْم َغ ْي ُر َمأْ ُمو ٍن27( ِم ْن َعذَا ِب َربِ ِه ْم ُم ْش ِفقُو َن
) ِإََّل َع َلى أَ ْز َوا ِج ِه ْم أَ ْو َما َملَ َك ْت أَ ْي َمانُ ُه ْم َف ِإ َّن ُه ْم َغ ْي ُر َملُو ِمي َن29( ِلفُ ُرو ِج ِه ْم َحا ِف ُظو َن
) َوا ّلَ ِذي َن ُه ْم ِِلَ َمانَاتِ ِه ْم َو َع ْه ِد ِه ْم31( ) فَ َم ِن ا ْبتَغَى َو َرا َء ذَ ِل َك فَأُو َل ِئ َك ُه ُم ا ْل َعا ُدو َن30(
) َوالَّ ِذي َن ُه ْم َع َلى َصلَا ِت ِه ْم33( ) َوا َّل ِذي َن ُه ْم بِ َش َها َداتِ ِه ْم قَا ِئ ُمو َن32( َرا ُعو َن
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 73
) فَ َما ِل الَّ ِذي َن َك َف ُروا ِق َبلَ َك ُم ْه ِط ِعي َن35( ) أُولَ ِئ َك ِفي َج ّنَا ٍت ُم ْك َر ُمو َن34( يُ َحا ِف ُظو َن
َ) أَ َي ْط َم ُع ُك ُّل ا ْم ِر ٍئ ِم ْن ُه ْم أَ ْن يُ ْد َخ َل َج َّنة37( ) َع ِن ا ْل َي ِمي ِن َو َع ِن ال ِش َما ِل ِع ِزي َن36(
) فَلَا أُ ْق ِس ُم بِ َر ِب ا ْل َم َشا ِر ِق َوا ْل َمغَا ِر ِب ِإنَّا39( ) َكلَّا إِ َنّا َخ َل ْق َنا ُه ْم ِم َّما َي ْعلَ ُمو َن38( َن ِعي ٍم
) َفذَ ْر ُه ْم َي ُخو ُضوا41( ) َعلَى أَ ْن نُبَ ِد َل َخ ْي ارا ِم ْن ُه ْم َو َما نَ ْح ُن ِب َم ْسبُوقِي َن40( َل َقا ِد ُرو َن
) َي ْو َم يَ ْخ ُر ُجو َن ِم َن ا ِْلَ ْج َدا ِث ِس َرا اعا42( َويَ ْل َعبُوا َحتَّى يُلَا ُقوا يَ ْو َم ُه ُم ا َلّ ِذي يُو َع ُدو َن
) َخا ِشعَ اة أَ ْب َصا ُر ُه ْم تَ ْر َهقُ ُه ْم ِذ ّلَةٌ ذَ ِل َك ا ْليَ ْو ُم الَّ ِذي َكانُوا43( َكأَ َنّ ُه ْم ِإلَى نُ ُص ٍب يُوفِ ُضو َن
)44( يُو َع ُدو َن
(22) kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, (23) yang
mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, (24) dan orang-orang
yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, (25) bagi orang
(miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-
apa (yang tidak mau meminta), (26) dan orang-orang yang
mempercayai hari pembalasan, (27) dan orang-orang yang
takut terhadap azab Tuhannya. (28) Karena sesungguhnya azab
Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari
kedatangannya). (29) Dan orang-orang yang memelihara
kemaluannya, (30) kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau
budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka
dalam hal ini tiada tercela. (31) Barangsiapa mencari yang di
balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui
batas. (32) Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat
(yang dipikulnya) dan janjinya. (33) Dan orang-orang yang
memberikan kesaksiannya. (34) Dan orang-orang yang
memelihara shalatnya. (35) Mereka itu (kekal) di surga lagi
dimuliakan. (36) Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera
datang ke arahmu, (37) dari kanan dan dari kiri dengan
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 74
berkelompok-kelompok. (38) Adakah setiap orang dari orang-
orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh
kenikmatan?, (39) sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami
ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). (40)
Maka aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki timur dan
barat, sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. (41)
Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari
mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. (42) Maka
biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-
main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada
mereka, (43) (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan
cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada
berhala-berhala (sewaktu di dunia), (44) dalam keadaan
mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan.
Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.
Tafsir Ayat 22-44
(22) ِإََّل ا ْل ُم َص ِلي َن
Sesungguhnya manusia itu bersifat hala': sangat gelisah
dan marah bila ditimpa kesusahan dan sangat kikir bila
mendapat kebaikan dan kemudahan. Kecuali, pertama, orang-
orang yang senantiasa mengerjakan salat dan tetap
melakukannya tanpa meninggalkan satu waktu pun. Mereka
mendapat perlindungan dan bimbingan dari Allah ke arah
kebaikan. Yaitu orang-orang mukmin. Mereka apabila
mendapatkan kebaikan, maka mereka bersyukur kepada Allah
dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Allah berikan, dan
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 75
apabila mereka mendapatkan kesusahan, maka mereka bersabar
dan mengharap pahala.
Sifat-sifat mereka ini disebutkan dalam ayat selanjutnya.
(23) الَّ ِذي َن ُه ْم َع َلى َصلَا ِت ِه ْم َدا ِئ ُمو َن
Sesungguhnya manusia itu bersifat hala': sangat gelisah
dan marah bila ditimpa kesusahan dan sangat kikir bila
mendapat kebaikan dan kemudahan. Kecuali, pertama, orang-
orang yang senantiasa mengerjakan salat dan tetap
melakukannya tanpa meninggalkan satu waktu pun. Mereka
mendapat perlindungan dan bimbingan dari Allah ke arah
kebaikan. Mereka senantiasa melakukan shalat pada waktunya
dengan memenuhi syarat dan penyempurnanya.
Mereka bukanlah orang yang tidak melaksanakannya
dan bukan pula orang yang mengerjakannya jarang-jarang atau
melakukannya secara kurang.
(24) َوالَّ ِذي َن فِي أَ ْم َوا ِل ِه ْم َح ٌّق َم ْعلُو ٌم
Kedua, orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian
tertentu untuk orang yang meminta, dan orang yang menjaga
kehormatan dirinya dari meminta-minta meskipun sebenarnya
membutuhkan.
(25) ِلل َّسائِ ِل َوا ْل َم ْح ُرو ِم
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 76
Kedua, orang-orang yang dalam hartanya terdapat bagian
tertentu untuk orang yang meminta, dan orang yang menjaga
kehormatan dirinya dari meminta-minta meskipun sebenarnya
membutuhkan.
) َوا َلّ ِذي َن ُه ْم ِم ْن َعذَا ِب َر ِب ِه ْم ُم ْش ِفقُو َن26( َوا ّلَ ِذي َن يُ َص ِدقُو َن ِب َي ْو ِم ال ِدي ِن
(28) ) إِ َّن َعذَا َب َربِ ِه ْم َغ ْي ُر َمأْ ُمو ٍن27(
Ketiga, orang-orang yang mempercayai hari pembalasan
lalu bersiap-siap dengan bekal untuk meng hadapinya dan
orang-orang yang takut kepada azab Tuhan mereka lalu
bertakwa dan menjauhi hal-hal yang menyebabkan datangnya
azab. Sesungguhnya tidak seorang pun yang dapat merasa aman
dari kedatangan siksa Tuhan mereka. Yakni beriman kepada apa
yang Allah dan Rasul-Nya beritakan, seperti kebangkitan dan
pembalasan, mereka meyakininya dan mempersiapkan diri
untuk menghadapinya. Beriman kepada hari pembalasan
mengharuskan pula beriman kepada para rasul dan apa yang
mereka bawa.
(29) َوا َلّ ِذي َن ُه ْم ِلفُ ُرو ِج ِه ْم َحا ِف ُظو َن
Keempat, orang-orang yang menjaga kemaluannya
sehingga tidak dikalahkan oleh nafsu syahwat mereka. Tetapi
terhadap istri-istri dan budak-budak yang mereka miliki mereka
tidak menjaganya. Sebab tidak ada cela bagi mereka untuk
menyalurkan nafsu syahwat kepada mereka. Maka, barangsiapa
mencari kesenangan kepada selain istri dan budak,
sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang melampaui
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 77
batas halal menuju yang haram. Oleh karena itu, mereka tidak
menaruhnya di tempat yang haram seperti zina, liwath
(homoseks), menaruhnya di dubur atau ketika istri haidh, dsb.
Mereka juga meninggalkan sarana-sarana yang haram yang
dapat mendorong mereka berbuat keji.
(30) إََِّل َع َلى أَ ْز َوا ِج ِه ْم أَ ْو َما َملَ َك ْت أَ ْي َمانُ ُه ْم َف ِإ َنّ ُه ْم َغ ْي ُر َملُو ِمي َن
Maksudnya, budak-budak belian yang didapat dalam
peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang
didapat di luar peperangan. Dalam peperangan dengan orang-
orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-
bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu,
dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan. Imam boleh
melarang kebiasaan ini.
(31) فَ َم ِن ا ْبتَغَى َو َرا َء ذَ ِل َك فَأُولَ ِئ َك ُه ُم ا ْلعَا ُدو َن
Yakni selain istrinya dan budaknya, seperti melakukan
zina, homoseks, lesbian dan sebagainya. Dari yang halal kepada
yang haram. Ayat ini juga menunjukkan haramnya nikah
mut†™ah (kontrak), karena keadaan wanitanya bukan istri
yang dimaksudkan dan bukan pula budak.
(32) َوا َّل ِذي َن ُه ْم ِِلَ َمانَا ِت ِه ْم َو َع ْه ِد ِه ْم َرا ُعو َن
Keenam, orang-orang yang memelihara amanat Tuhan,
amanat manusia dan tidak mengkhianati komitmen mereka
kepada Tuhan dan manusia. Ketujuh, orang-orang yang
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 78
melaksanakan persaksian dengan benar tanpa menyembunyikan
sesuatu yang diketahuinya. Dan, kedelapan, orang-orang yang
memelihara salat mereka dengan melaksanakannya sebaik
mungkin. Mereka memeliharanya, melaksanakan kewajibannya
dan berusaha memenuhinya.
Amanah di sini mencakup amanah antara seorang hamba
dengan Tuhannya seperti beban (kewajiban) agama dan beban-
beban yang menjadi tanggung jawabnya yang tersembunyi yang
hanya diketahui oleh Allah seperti titipan, maupun amanah
antara seorang hamba dengan hamba yang lain baik dalam hal
harta maupun sesuatu yang dirahasiakan. Baik janji antara dia
dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, maupun janji antara dia
dengan hamba-hamba Allah. Janji ini akan ditanya; apakah dia
memenuhinya atau tidak?
(33) َوالَّ ِذي َن ُه ْم ِب َش َها َدا ِت ِه ْم َقا ِئ ُمو َن
Mereka bersaksi sesuai yang mereka ketahui tanpa
menambah, mengurangi atau menyembunyikan, tidak memihak
kepada kerabat, teman dan lainnya, tetapi dia lakukan karena
mencari keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagaimana
firman-Nya,Wa aqiimusy syahaadata lillahۥ (artinya:
tegakkanlah persaksian karena Allah).
(34) َوا َّل ِذي َن ُه ْم َع َلى َصلَاتِ ِه ْم يُ َحافِ ُظو َن
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 79
Dengan melaksanakannya pada waktunya, terpenuhi
rukun dan syaratnya dan mengerjakan yang wajib dan
sunnahnya.
(35) أُولَئِ َك فِي َج َّنا ٍت ُم ْك َر ُمو َن
Orang-orang yang memiliki sifat-sifat terpuji di atas
berada di surga dalam keadaan terhormat dari sisi Allah. Yang
telah disebutkan sifatnya. Kesimpulan ayat ini dan ayat-ayat
sebelumnya, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati
orang-orang yang berbahagia dengan sifat-sifat yang sempurna
dan akhlak yang mulia, yaitu ibadah badan seperti shalat dan
konsisten di atasnya, ibadah hati seperti takut kepada Allah yang
mendorong melakukan semua perbuatan yang baik, Ibadah
harta, aqidah yang bermanfaat, akhlak yang utama,
bermu†™amalah dengan Allah dan dengan makhluk-Nya
dengan mua’malah yang terbaik seperti inshaf (adil),
memelihara janji dan rahasia, memiliki rasa I’ffah (menjaga diri
dari yang haram) secara sempurna dengan menjaga kemaluan
dari perkara yang dibenci Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
(36) َف َما ِل الَّ ِذي َن َك َف ُروا قِ َبلَ َك ُم ْه ِط ِعي َن
Mengapakah orang-orang kafir bergegas datang
kepadamu dan mengelilingi kamu dari arah kanan dan kirimu
dengan berkelompok-kelompok? Apakah setiap orang dari
mereka ingin setelah mendengar janji Allah dan rasul-Nya untuk
orang-orang Mukmin yang berupa surga--dimasukkan ke dalam
surga yang penuh kenikmatan?
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 80
(37) َع ِن ا ْليَ ِمي ِن َو َع ِن ال ِش َما ِل ِع ِزي َن
Dengan merasa bangga terhadap apa yang ada pada
mereka. Menurut keterangan sebagian ahli tafsir, ayat ini
berhubungan dengan peristiwa ketika Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam shalat dan membaca Al Quran di dekat ka'bah
lalu orang-orang musyrik berkumpul berkelompok-kelompok di
hadapannya sambil mengejek dan mengatakan, €œJika orang-
orang mukmin benar-benar akan masuk surga sebagaimana kata
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tentu kita yang akan
masuk lebih dahulu.€Maka turunlah ayat 38.
(38) أَيَ ْط َم ُع ُك ُّل ا ْم ِر ٍئ ِم ْن ُه ْم أَ ْن يُ ْد َخ َل َج َّن َة َن ِعي ٍم
sebab apa yang membuat mereka berkeinginan
demikian? Bukankah yang mereka siapkan hanya kekafiran dan
mengingkari Rabbul˜a’lamiin.
(39) َكلَّا إِ َّنا َخ َل ْق َنا ُه ْم ِم َّما يَ ْعلَ ُمو َن
Hendaknya mereka jangan berangan-angan masuk surga.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari air yang
hina. Keadaannya tidaklah sesuai dengan harapan mereka dan
mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan
meskipun mereka kerahkan kemampuan mereka.
Yang dimaksud dengan ayat ini ialah, bahwa mereka
(orang-orang kafir) diciptakan Allah dari air mani untuk
beriman dan bertakwa kepada-Nya, sebagaimana yang telah
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 81
disampaikan Rasul. Jika mereka tidak beriman dan bertakwa,
maka mereka tidak berhak masuk surga. Atau maksudnya,
karena mereka diciptakan dari air mani sehingga mereka lemah
tidak berkuasa apa-apa untuk memberikan manfaat kepada diri
mereka dan menghindarkan bahaya, tidak berkuasa mematikan,
menghidupkan dan membangkitkan.
فَلَا أُ ْق ِس ُم ِب َر ِب ا ْل َم َشا ِر ِق َوا ْل َم َغا ِر ِب ِإنَّا َل َقا ِد ُرو َن نُ َب ِد َل َخ ْي ارا ِم ْن ُه ْم َو َما َن ْح ُن
(40) بِ َم ْسبُوقِي َن
Aku bersumpah demi Tuhan Pemilik tempat terbit dan
terbenamnya hari, bintang dan petunjuk. Sesungguhnya Kami
mampu menghancurkan mereka dan mendatangkan pengganti
mereka yang lebih taat kepada Allah. Dan Kami tidaklah lemah
untuk melakukan penggantian itu(1). (1) Al-masyâriq (tempat
terbit) dan al-maghârib (tempat terbenam) di sini dapat
dimaksudkan sebagai tempat-tempat kerajaan Allah dengan
luasnya yang tak terhingga seperti diisyaratkan pada ayat 137
surat al-A'râf untuk menunjukkan belahan-belahan bumi yang
disebutkan pada ayat itu. Al-masyâriq dan al-maghârib dapat
pula diartikan sebagai tempat terbit dan terbenamnya matahari,
bulan, seluruh bintang dan planet, di samping juga untuk
menunjukkan semua kerajaan Allah. Gejala terbit dan
terbenamnya benda-benda langit disebabkan oleh perputaran
bumi pada porosnya dari barat ke timur. Oleh karena itu, benda-
benda langit tersebut tampak bergerak di kubah langit
berlawanan dengan perputaran tadi yaitu terbit di ufuk timur dan
terbenam di ufuk barat. Atau paling sedikit berputar dari timur
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 82
ke barat di sekitar bintang kutub utara--di belahan bola bumi
bagian utara, misalnya. Apabila jarak kutub bintang itu lebih
kecil dari lebarnya tempat peneropong, maka bintang tersebut
tidak terbit dan tidak terbenam, tetapi membentuk putaran kecil
di sekitar kutub utara. Oleh sebab itu ayat ini juga
mengisaratkan saat-saat di malam hari (lihat ayat 16 surat al-
Nahl).
Jadi, fenomena terbit dan terbenam menunjukkan adanya
perputaran bola bumi. Dan itu adalah nikmat terbesar yang
diberikan oleh Allah kepada semua makhluk hidup di planet ini.
Kalau bumi tidak berputar pada porosnya maka setengah
bagiannya akan terkena sinar matahari selama setengah tahun
dan setengan bagian lainnya tidak terkena sinar matahari sama
sekali. Dengan demikian, tidak akan ada kehidupan seperti
sekarang ini. Kalau kita coba membatasi fenomena terbit dan
terbenam hanya pada matahari saja, tanpa bintang dan planet
lainnya, maka ini menunjukkan banyaknya tempat terbit dan
terbenam di bumi yang tidak ada habisnya dari hari ke hari pada
setiap tempat di muka bumi ini. Bahkan pada setiap saat yang
berlalu di bola bumi ini. Pada setiap saat matahari terbenam
pada suatu titik dan terbit pada titik lain yang berlawanan. Ini
semua berkat ketelitian aturan Allah dan mukjizat kekuasaan-
Nya (Lihat juga catatan kaki ayat 5 surat al-Shâffât dan ayat 17
surat al-Rahmân). Ini merupakan sumpah Allah Subhaanahu wa
Ta'aala dengan tempat-tempat terbit dan terbenamnya matahari,
bulan dan bintang, karena di sana terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah yang menunjukkan bahwa Dia berkuasa
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 83
membangkitkan dan berkuasa mengganti mereka dengan kaum
yang lebih baik.
(42) فَذَ ْر ُه ْم يَ ُخو ُضوا َويَ ْلعَبُوا َحتَّى يُلَاقُوا يَ ْو َم ُه ُم الَّ ِذي يُو َع ُدو َن
Biarkanlah mereka tenggelam dalam kebatilan dan
bersenang-senang dengan kehidupan dunia mereka sampai
mereka menjumpai hari mereka yang azab itu dijanjikan. Jika
telah tetap kebangkitan dan pembalasan, namun mereka masih
tetap mendustakan juga dan tidak mau tunduk kepada ayat-ayat
Allah, maka biarkanlah mereka tenggelam dan bermain-main
dalam kesesatan.
Karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyediakan
untuk mereka pada hari itu siksaan dan bencana akibat sikap
mereka itu.
(43) َي ْو َم َي ْخ ُر ُجو َن ِم َن ا ِْلَ ْج َدا ِث ِس َرا اعا َكأَنَّ ُه ْم إِ َلى نُ ُص ٍب يُو ِف ُضو َن
Yaitu hari ketika mereka bergegas keluar dari kubur
mereka menuju ke arah seseorang yang memanggil. Mereka
seolah bersegera menuju sesuatu selain Allah yang disembahnya
di dunia. Saat itu pandangan mereka tertunduk. Mereka tidak
mampu mengangkatnya. Mereka dipenuhi oleh kehinaan.
Dahulu mereka pernah dijanjikan dengan datangnya hari ini,
tetapi mereka mendustakannya. Selanjutnya Allah Subhaanahu
wa Ta'aala menyebutkan keadaan manusia ketika mereka
menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 84
Ada pula yang menafsirkan nushubâ dengan benderaâ,
yakni mereka seakan-akan pergi dengan segera kepadanya.
Mereka pergi untuk berdiri di hadapan Allah Rabbul˜aalamiin.
(44) َخا ِش َعةا أَ ْب َصا ُر ُه ْم تَ ْر َهقُ ُه ْم ِذ َّلةٌ َذ ِل َك ا ْليَ ْو ُم ا َّل ِذي َكانُوا يُو َع ُدو َن
Hal itu, karena kehinaan dan kecemasan menguasai hati
mereka sehingga penglihatan mereka pun ikut tertunduk,
gerakan pun berhenti dan suara pun terdiam.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 85
Kelompok 5
Syaifudin Zuhri
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 86
SURAT NUH
Tafsir Surat Nuh
اِ َّنآ اَ ْر َس ْلنَا نُ ْو احا اِ َٰلى قَ ْو ِم ٖ ٓه اَ ْن اَ ْن ِذ ْر قَ ْو َم َك ِم ْن َق ْب ِل اَ ْن َّيأْ ِت َي ُه ْم َعذَا ٌب اَ ِل ْي ٌم
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya
(dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum
datang kepadanya azab yang pedih. (Nuh: 1)
Nabi Nuh AS adalah Rasul pertama di muka yang diutus
oleh Allah Swt. Kaum Nuh adalah kaum yang pertama kali
melakukan kesyirikan di muka bumi. Melalui ayat ini, kita
mendapatkan informasi bahwa Allah Swt. mengabarkan kepada
kita bahwa Nabi Nuh diutus kepada kaumnya untuk memberi
peringatan akan siksa-Nya. Peringatan itu dimaksudkan agar
mereka kembali ke jalan yang benar sebelum azab itu
ditimpakan kepada mereka. Jika mereka bertaubat dan
beristigfar maka siksaan itu batal ditimpakan kepada mereka.
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, berhala yang
mereka sembah adalah kadang dengan nama Wadda, Suwaa’,
dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr. Awalnya
mereka adalah orang shalih. Tetapi setan berhasil
mempengaruhi mereka secara halus untuk mengkultuskan orang
shalih itu. Awalnya hanya berbentuk gambar, kemudian datang
generasi selanjutnya dibuatlah patung, dan datang generasi
selanjutnya akhirnya patung itu disembah dan muncullah
kesyrikan pertama kali di muka bumi.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 87
قَا َل َٰي َق ْو ِم اِنِ ْي لَ ُك ْم َن ِذ ْي ٌر ُّمبِ ْي ٌن
Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku! Sesungguhnya aku
ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu.
(Nuh: 2)
Dalam ayat ini sangat jelas perintah Allah kepada Nabi
Nuh, yakni diperintahkan untuk berdakwah dengan menjelaskan
peringatan itu secara jelas dan gamblang. Ini juga menjadi salah
satu metode dakwah jika ingin terjung ke lapangan, tentu
dengan semua resiko yang harus dihadapi. Seorang da’i harus
tegas dan jelas ketika memberikan peringatan.
اَ ِن ا ْعبُ ُدوا ّل هلاَ َواتَّقُ ْو ُه َواَ ِط ْيعُ ْو ِۙن
(yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan
taatlah kepadaku,(Nuh: 3)
Ayat ini sangat jelas memerintahkan agar Nabi Nuh
mengajak kaumnya agar hanya menyembah kepada Allah dan
bertakwa kepada-Nya. Respon dari ajakan itu adalah dengan
meninggalkan semua yang diharamkan oleh Allah dan
meninggalkan maksiat.
Selanjutnya Allah memerintahkan untuk taat kepada-
Nya, yaitu taat kepada apa saja yang Dia perintahkan dan
menjauhi apa yang Dia larang.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 88
َي ْغ ِف ْر َل ُك ْم ِم ْن ذُنُ ْو ِب ُك ْم َويُ َؤ ِخ ْر ُك ْم ِا َٰٓلى اَ َج ٍل ُّم َس ًّمى ِا َّن اَ َج َل ّل هلاِ ِاذَا َج ۤا َء ََّل يُ َؤ َّخ ُۘ ُر لَ ْو ُك ْنتُ ْم
تَ ْعلَ ُم ْو َن
niscaya Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan
menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai pada
batas waktu yang ditentukan. Sungguh, ketetapan Allah itu
apabila telah datang tidak dapat ditunda, seandainya kamu
mengetahui.”(Nuh: 4)
Orang yang bertakwa kepada Allah pasti akan diampuni
dosa-dosanya. Tapi ada yang menarik di sini, karena Allah
menggunakan kata ( ) ِم ْنsebagian, artinya sebagian dari dosa-
dosa kalian. Dalam kitab tafsir disebutkan bahwa, Kata min di
sini, ada yang mengatakan sebagai tambahan. Tetapi pendapat
yang mengatakan sebagai tambahan tersebut dalam itsbat
[penetapan] hanya sedikit sekali. Darinya muncul ungkapan
bahasa Arab: “Qad kaana min matharin.”
Ada juga yang berpendapat kata min itu berarti ‘ain,
dengan pengertian: Dia akan memberikan ampunan atas dosa-
dosa kalian. Dan pendapat tersebut menjadi pilihan Ibnu Jarir.
Dan ada yang berpendapat kata tersebut dimaksudkan
untuk menyatakan sebagian [tab’idh]. Artinya mengampuni
dosa-dosa besar kalian yang Dia menjanjikan siksaan kepada
kalian jika kalian melakukannya. Ketakwaan adalah sebab
diampuninya dosa. Sebaliknya, tanpa ketakwaan di dalam jiwa,
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 89
Allah akan mengazabnya. Maka berbahagialah orang yang taat
kepada Allah dan Rasul-Nya.
َقا َل َر ِب اِنِ ْي َد َع ْو ُت َق ْو ِم ْي َل ْيلاا َّو َن َها ار ۙا
Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku
telah menyeru kaumku siang dan malam (Nuh:5)
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, “Yakni aku tiada
hentinya menyeru mereka siang dan malam karena menjalankan
perintah-Mu dan mencari pahala ketaatan kepada-Mu.”
Pekerjaan dakwah Nabi Nuh AS adalah siang dan malam. Hal
ini meunjukkan dakwah Nuh tanpa mengenal waktu, di mana
saja, kapan saja, dan semua situasi dan kondisi dimanfaatkan.
Jalan Nabi dan Rasul itu sangat berat, dan inilah jalan yang
paling banyak ditinggalkan oleh manusia. Bahkan saat ini
banyak orangtua yang mendidik anaknya hanya dunia-oriented.
Padahal berdakwah itu tidak harus berceramah, yang penting
mengajak manusia kepada Allah dengan profesi kita, apa pun
itu.
فَ َل ْم يَ ِز ْد ُه ْم ُد َع ۤا ِء ْٓي ِاََّل فِ َرا ارا
Tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka,
justru mereka lari (dari kebenaran)(Nuh: 6)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 90
Sehingga dakwah Beliau tidak ada faedahnya, karena
faedah yang diharapkan dari dakwah adalah tercapainya maksud
atau sebagiannya.
َو ِا ِن ْي ُك ّلَ َما َد َع ْوتُ ُه ْم ِلتَ ْغ ِف َر لَ ُه ْم َج َعلُ ْٓوا اَ َصابِعَ ُه ْم فِ ْٓي َٰاذَانِ ِه ْم َوا ْستَ ْغ َش ْوا ِث َيا َب ُه ْم َواَ َص ُّر ْوا
َوا ْستَ ْك َب ُروا ا ْس ِت ْكبَا ار ۚا
Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka
(untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka
memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan
bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan
sangat menyombongkan diri.(Nuh: 7)
Kata ( )أَ َصابِعashābi‘ adalah bentuk jama‘ dari kata()أصبع
ushbu‘, yakni jari-jari. Sebenarnya, mereka menyumbat telinga
mereka dengan ujung anak jari, tetapi agaknya ayat ini
menggunakan kata jari-jari untuk melukiskan betapa enggan
mereka mendengar dan betapa keras upaya mereka menutup
pendengaran mereka masing-masing sampai mereka
menggunakan seluruh jari-jari mereka, bukan hanya satu jari
atau bahkan ujung jari, dan itu pun dengan memasukkan jari-jari
ke dalam telinga sehingga mereka mengharap tidak ada celah
masuk buat suara.
Diungkapkannya oleh ayat-ayat di atas pengaduan Nabi
Nūḥa.s. yang bertujuan menggambarkan kepada generasi
sesudah beliau, khususnya kepada kita, bahwa beliau adalah
seorang yang mengembalikan segala sesuatu kepada Allah,
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 91
beliau berserah diri kepada-Nya setelah upaya maksimal yang
beliau lakukan. Memang, manusia hanya berusaha sekuat
kemampuannya sedang keberhasilan atau kegagalan kembali
kepada Allah s.w.t. berdasar hikmah-Nya dan karena itulah Nabi
Nūḥa.s. melaporkan hasil usahanya sambil menanti pertolongan
dan petunjuk-Nya lebih jauh.
ثُ َّم ِا ِن ْٓي اَ ْع َل ْن ُت لَ ُه ْم َواَ ْس َر ْر ُت لَ ُه ْم اِ ْس َرا ار ۙا.ثُ َّم ِا ِن ْي َد َع ْوتُ ُه ْم ِج َها ار ۙا
Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara
terang-terangan.(Nuh: 8) Kemudian aku menyeru mereka
secara terbuka dan dengan diam-diam, (Nuh: 9)
Nabi Nūḥ a.s. melanjutkan pengaduannya kepada Allah
dengan berkata: Wahai Tuhan, kemudian kendati telah terus-
menerus aku mengajak mereka beriman dengan berbagai cara
itu dan selalu saja mereka menolak dan menolak, aku tetap saja
mengajak mereka. Sungguh aku telah mengajak secara khusus
buat mereka dengan cara terang-terangan, yakni dengan suara
yang keras dan di hadapan umum kemudian pada kesempatan
lain sungguh aku telah menyeru buat mereka dengan
menggabung dua cara, yakni dengan terang-terangan dan juga
merahasiakan ajakanku, yakni mengajak orang per orang secara
diam-diam, siapa saja yang boleh jadi takut menampakkan
keimanannya.
فَقُ ْل ُت ا ْستَ ْغ ِف ُر ْوا َربَّ ُك ْم ِا َنّ ٗه َكا َن َغ َّفا ار ۙا
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 92
maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah
ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun,
(Nuh: 10)
Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun
kepada Tuhan Pemelihara kamu atas dosa-dosa kamu khususnya
dosa syirik, sesungguhnya Dia senantiasa Maha Pengampun
bagi siapa yang tulus memohon ampunan-Nya. Kalau kamu
benar-benar memohon ampunan-Nya.
َّويُ ْم ِد ْد ُك ْم ِباَ ْم َوا ٍل َّوبَنِ ْي َن َو َي ْجعَ ْل ّلَ ُك ْم َجنه ٍت َّو َي ْجعَ ْل لَّ ُك ْم. ُّي ْر ِس ِل ال َّس َم ۤا َء َعلَ ْي ُك ْم ِم ْد َرا ار ۙا
اَ ْن َٰه ارا
niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari
langit kepadamu, (Nuh: 11) dan Dia memperbanyak harta dan
anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan
mengadakan sungai-sungai untukmu.(Nuh: 12)
Nabi Nūḥ a.s. pada ayat di atas menyebut akan turunnya
hujan yang lebat bila mereka beriman dan memohon ampun. Ini
dapat dipahami sebagai isyarat tentang pekerjaan umum
masyarakat ketika itu, yakni bertani. Atau bisa juga kata tersebut
dipahami dalam arti tercurahnya aneka rezeki buat mereka, baik
melalui pertanian maupun perternakan atau apa saja.
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa ada kaitan antara
keimanan dan taqwa dengan curahan rezeki serta terhindarnya
kesulitan. Sebaliknya, ada juga kaitan antara kedurhakaan
dengan jatuhnya musibah dan hilangnya anugerah. Sekian
banyak ayat dan hadits Nabi s.a.w. yang menguraikan hakikat di
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 93
atas. Lihat misalnya QS. al-A‘rāf [7]: 96, atau QS. al-Jinn [72]:
16, dan lain-lain.
Sayyid Quthub berpendapat bahwa hakikat yang disebut
ayat di atas, yang mengaitkan permohonan ampun dengan
limpahan rezeki serta keterikatan antara kesalehan hati dan
konsistensinya, keimanan dengan kemudahan rezeki dan
tersebarnya kesejahteraan, merupakan kaidah yang berulang-
ulang disebut al-Qur’ān. Itu telah terbukti sepanjang masa.
Hanya saja, menurut ulama ini, kaidah tersebut berlaku pada
masyarakat umum, bukan pada pribadi-pribadi. Memang, bisa
saja ada umat yang memperoleh kesejahteraan material padahal
mereka tidak melaksanakan tuntunan syariat. Kesejahteraan itu
buat mereka adalah ujian, yang akan berakhir dengan
keruntuhan mereka. Ulama ini kemudian menunjuk dua
kekuatan besar pada masanya – Kapitalisme Barat dan
Komunisme Timur. Yang pertama meruntuhkan nilai-nilai
moral hingga mencapai tingkat kebinatangan dan meruntuhkan
nilai hidup sehingga hanya dinilai dengan dolar. Sedang, yang
kedua meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan hingga
menempatkan mereka pada posisi budak yang menjadikan
semua yang berada dalam wilayah kekuasaannya hidup dalam
ketakutan tidak dapat terjamin kelangsungan hidupnya.
Demikian lebih kurang Sayyid Quthub dan yang telah terbukti
kebenaran uraiannya dengan runtuhnya salah satu dari kedua adi
kuasa yang disebutnya. Kita menanti keruntuhan adi kuasa yang
lain, yang selama ini menerapkan standar ganda dalam
penilaiannya terhadap situasi yang mereka hadapi.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 94
َما لَ ُك ْم ََّل تَ ْر ُج ْو َن ِّٰ هللِ َو َقا ار ۚا
Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?(Nuh:
13)
Nabi Nūḥ a.s., yang menasihati kaumnya seperti terbaca
pada ayat-ayat yang lalu, melanjutkan nasihat beliau dengan
berkata: Mengapa kamu tidak mengharap bagi Allah
penghormatan? Padahal sungguh Dia telah menciptakan kamu
berfase-fase?. Dari nuthfah, ke ‘alaqah, ke mudhghah, dan
seterusnya dan pada setiap fase itu Dia melimpahkan rahmat dan
pemeliharaan-Nya kepada kamu.
Berbeda-beda pendapat ulama tentang makna ayat 13 di
atas. Ada yang memahaminya dalam arti “Mengapa kamu tidak
mengharapkan penghormatan Allah kepada kamu, yaitu dengan
jalan beriman kepada-Nya.” Dengan makna ini, ayat di atas
merupakan perintah untuk beriman dan taat kepada Allah dan
Rasul-Nya yang mengantar kepada harapan perolehan nikmat-
Nya. Memang, siapa yang mengharapkan “penghormatan
Allah”, ia harus beriman kepada-Nya serta beramal shalih dan
inilah yang mengantarnya berharap memperoleh ganjaran-Nya
yang juga merupakan salah satu bentuk penghormatan Allah
kepada-Nya.
َو َق ْد َخ َل َق ُك ْم اَ ْط َوا ارا
Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam
beberapa tingkatan (kejadian).(Nuh: 14)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 95
Sayyid Quthub menggarisbawahi bahwa tentulah
maksud kata athwāran dipahami oleh mitra bicara Nabi Nūḥ a.s.
Boleh jadi pemahaman mereka tentang fase-fase tersebut adalah
proses kejadian manusia sejak dalam perut ibu sebagai janin
yang bertahap dari pertemuan sperma dan ovum hingga lahir
sebagai manusia yang sempurna pembentukan fisiknya. Ini bisa
saja terjangkau oleh mereka jika itu disampaikan kepada mereka
atau jika mereka melihat janin yang gugur sebelum sempurna
kejadiannya. Bisa juga yang dimaksud dengan fase-fase tersebut
adalah perkembangan janin sebagaimana dikemukakan oleh
pakar-pakar embriologi, yakni bermula dari sel tunggal yang
sangat sederhana, kemudian berkembang sehingga menjadi
bagaikan binatang yang memiliki banyak sel, lalu berkembang
menjadi seperti binatang yang hidup di air, lalu menjadi seperti
binatang mamalia, lalu menjadi manusia. Ini tentu saja di luar
kemampuan kaum Nabi Nūḥ untuk menjangkaunya. Ini adalah
satu pertemuan baru. Bahkan, boleh jadi juga teks di atas dan
apa yang diuraikan dalam QS. al-Mu’minūn itu mempunyai
makna lain yang belum diungkap oleh ilmu pengetahuan.
اَ َل ْم تَ َر ْوا َك ْي َف َخ َل َق ّل هلاُ َس ْب َع َس َٰم َٰو ٍت ِط َبا اق ۙا
Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah
menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?(Nuh: 15)
Kata ( فِ ْي ِه َّنfihinna) berbentuk jama‘. Ini menunjuk
kepada سبع سمواتyakni tujuh langit yang juga berbentuk jama‘,
Secara harfiah, itu berarti Allah menjadikan bulan bercahaya
pada ketujuh langit itu. Makna ini tidak dipahami demikian oleh
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 96
banyak ulama tafsir. Mereka memahami penyebutan ketujuh
langit dalam arti salah satunya, yakni hanya langit yang terdekat
ke bumi,ayat tersebut lebih baik dipahami bahwa ketujuh langit
atau katakanlah alam raya ini atau katakanlah ada sekian banyak
bulan di alam raya ini, masing-masing memantulkan cahaya
yang diperolehnya dari bintang-bintang atau planet-planet yang
lain.
َّو َجعَ َل ا ْل َق َم َر ِف ْي ِه َّن نُ ْو ارا َّو َجعَ َل ال َّش ْم َس ِس َرا اجا
Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan
menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)?(Nuh:
16)
Firman-Nya ( ) َو َجعَ َل ال َّش ْم َس ِس َرا ًجاwa ja‘al-asy-syamsa sirāja. Dia
menjadikan matahari pelita setelah sebelumnya menyatakan
bahwa Dia menjadikan padanya bulan (sebagai) nur
mengisyaratkan adanya perbedaan antara matahari dan bulan.
Matahari dijadikan Allah (bagikan) pelita, yakni memiliki pada
dirinya sendiri sumber cahaya, sedang bulan tidak dijadikannya
(bagaikan) pelita kendati dia bercahaya. Ini berarti bulan
bukanlah planet yang memiliki cahaya pada dirinya sendiri,
tetapi bulan bukanlah planet yang memiliki cahaya pada dirinya
sendiri, tetapi ia memantulkan cahaya, berbeda dengan matahari.
َوّل هلاُ اَ ْْۢنبَتَ ُك ْم ِم َن اَّْلَ ْر ِض نَ َباتاا
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh
(berangsur-angsur),(Nuh: 17)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 97
Ayat di atas bagaikan menyatakan Dan Allah
menumbuhkan kamu dari tanah sehingga kamu tumbuh dengan
pertumbuhan yang menakjubkan. Pemilihan redaksi di atas,
menurut Al-Biqa‘i, untuk mengisyaratkan betapa mudah hal
tersebut bagi Allah, padahal dia (manusia) adalah penciptaan
dari tiada. Dia adalah permulaan sekaligus pembuatan sesuatu
yang baru, belum ada contoh sebelumnya. Bisa juga – masih
menurut Al-Biqa’i– ayat di atas dipahami mengandung iḥtibak,
yakni tidak menyebut sesuatu karena telah ada kata atau kalimat
yang mengisyaratkan. Pada ayat di atas, tidak disebut mashdar
dari kata anbata/menumbuhkan, yaitu inbatan/penumbuhan,
karena sudah ada kata nabatan/pertumbuhan yang merupakan
mashdar dari kata nabata. Di sisi lain, kata nabata/tumbuh tidak
disebutkan karena sudah ada mashdar dari kata nabata, yakni
inbatan. Dengan demikian, pada ayat di atas bagaikan
menyatakan: Allah telah menumbuhkan kamu dari tanah dengan
penumbuhan yang menakjubkan sehingga tumbuhlah kamu
dengan pertumbuhan yang luar biasa.
ثُ َّم يُ ِع ْي ُد ُك ْم ِف ْي َها َويُ ْخ ِر ُج ُك ْم اِ ْخ َرا اجا
kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya
(tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan
pasti.(Nuh: 18)
Pengukuhan terjadinya pengeluaran/kebangkitan itu
dengan kata ( )إِ ْخ َرا ًجاikhraj untuk mengisyaratkan betapa hebat
dan pasti terjadinya Kebangkitan itu.
َوّل هلاُ َج َع َل لَ ُك ُم اَّْلَ ْر َض ِب َسا اط ۙا
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 98
Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai
hamparan.(Nuh: 19)
Dijadikannya bumi sebagai hamparan bermakna
kemudahan memanfaatkannya serta kenyamanan yang dapat
diraih darinya. Bahwa bumi dijadikan hamparan bukan berarti
diciptakan datar. Kedatarannya tidak bertentangan dengan
penciptaannya dalam bentuk bulat atau lonjong (bulat panjang,
bulat telur). Kemanapun manusia melangkahkan kaki di bumi
ini, dia akan melihat bumi dan menemukannya terhampar, walau
dia pada hakikatnya lonjong. Kata ( ) َجعَ َلja‘ala digunakan al-
Qur’ān untuk menekankan manfaat yang dapat diperoleh dari
sesuatu yang dijadikan, berbeda dengan kata ( ( َخ َل َقkhalaqa yang
penekanannya pada kuasa Allah mencipta serta kehebatan
ciptaan itu.
ِلتَ ْسلُ ُك ْوا ِم ْن َها ُسبُلاا فِ َجا اجا
Agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang
luas.(Nuh: 20)
Kata ( )فِ َجا ًجاfijajan adalah bentuk jamak dari ( )فَجfajj,
yakni jalan yang luas.
َقا َل نُ ْو ٌح َّر ِب ِا َّن ُه ْم َع َص ْو ِن ْي َواتَّبَعُ ْوا َم ْن لَّ ْم َي ِز ْد ُه َمالُ ٗه َو َو َل ُد ٗ ٓه اََِّل َخ َسا ار ۚا
Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka
durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang
harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian
baginya.(Nuh: 21)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 99
Bahwa harta dan anak-anak para pendurhaka itu
menjadikan mereka bertambah rugi di akhirat karena dengan
harta mereka semakin menjauh dari Allah. Mereka
menggunakannya bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah,
tetapi untuk aneka kedurhakaan. Anak-anak yang mestinya
mereka didik dengan baik justru mereka abaikan dan beri contoh
yang buruk sehingga mereka tumbuh berkembang dalam
kedurhakaan yang menjadikan mereka memikul dosa yang
dilakukan anak-anaknya di samping beban yang mereka pikul
sendiri. Ini karena siapa yang memberi contoh atau mengajar
akan memperoleh balasan dan ganjaran amal yang dilakukan
oleh yang dia ajar atau diberi contoh sama dengan apa yang
diterima oleh yang dia ajar atau yang mencontohnya.
َو َم َك ُر ْوا َم ْك ارا ُكبَّا ار ۚا
Dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.
(Nuh:22)
Kata ( ) ُك ّبَا ًراkubbaran terambil dari kata ( ( َك ِب ْيرkabir yang berarti
besar. Pemilihan kata yang digunakan ayat di atas mengandung
makna yang amat-amat besar. Jika anda berkata ( ( ُكبَارkubar, itu
berarti amat besar. Lalu, jika anda ingin menggambarkan
kebesaran yang lebih hebat lagi, anda menggunakan kata yang
digunakan ayat diatas ( ) ُك َّبارkubbar.
َوقَا ُل ْوا ََّل تَذَ ُر َّن َٰا ِل َهتَ ُك ْم َوََّل تَ َذ ُر َّن َو ًّدا َّوََّل ُس َوا اعا ەۙ َّوََّل َيغُ ْو َث َو َيعُ ْو َق َو َن ْس ار ۚا
Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu
meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 100
pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan
jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.”(Nuh: 23)
Ulama berbeda pendapat tentang nama-nama yang
disebut oleh ayat 23 di atas. Mayoritas ulama memahaminya
dalam arti berhala-berhala terbesar yang disembah oleh kaum
Nabi Nuḥ a.s., lalu disembah pula oleh kaum musyrikin
Makkah. Konon, nama-nama tersebut pada mulanya adalah
nama putra-putra Nabi Adam a.s. yang shalih dan yang setelah
kematiannya mereka buatkan patung-patung untuk mereka puja
dan ini berkembang sehingga mereka mempertuhankannya. Dari
sinilah secara turun-temurun berhala-berhala itu disembah.
Tetapi, memahaminya bahwa berhala-berhala itulah yang
disembah oleh masyarakat Makkah sangatlah sulit diterima
karena dapat diduga keras bahwa banjir Nabi Nūḥ a.s. telah
memporakporandankan segala sesuatu termasuk berhala-berhala
itu. Apa yang disembah oleh kaum musyrikin adalah berhala-
berhala lain yang nama-namanya mereka sesuaikan dengan
nama-nama berhala-berhala kaum Nuḥ a.s. itu. Diduga berhala-
berhala itulah yang pernah disembah terdahulu. Namun tidak
dapat dipastikan apakah itu peninggalan kaum Nūḥ atau bukan.
َوقَ ْد اَ َض ّلُ ْوا َك ِث ْي ارا ۚە َوََّل تَ ِز ِد ال هظ ِل ِم ْي َن اََِّل َض َٰللاا
Dan sungguh, mereka telah menyesatkan banyak orang;
dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim
itu selain kesesatan. (Nuh: 24)
Doa Nabi Nuḥ a.s., sebagaimana yang tercantum dalam
ayat 24 di atas, beliau panjatkan setelah Allah menyampaikan
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 101
kepadanya tentang tertutupnya hati orang-orang zhalim untuk
menerima hidayah dan bahwa tidak seorang pun di antara
mereka yang akan beriman. Itu sebabnya beliau menyifati
mereka dengan azh-zhalimin, yakni orang-orang yang mantap
dan telah mendarah daging kezhaliman dalam kepribadiannya.
ِم َّما َخ ِط ْۤي َٰـ ِت ِه ْم اُ ْغ ِرقُ ْوا َفاُ ْد ِخلُ ْوا َنا ارا ەۙ فَلَ ْم َي ِج ُد ْوا لَ ُه ْم ِم ْن ُد ْو ِن ّل هلاِ اَ ْن َصا ارا
Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka
ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak
mendapat penolong selain Allah.(Nuh: 25)
Didahulukannya kalimat ( ) ِم َّما َخ ِط ْيئَا ِت ِه ْمmimma
khatha’atihim/disebabkan oleh dosa-dosa mereka bertujuan
membatasi sebab jatuhnya siksa itu. Memang, Nabi Nūḥ a.s.
berdoa, tetapi ayat ini bagaikan menyatakan bahwa mereka
disiksa bukan karena doa, ada atau tidak ada doa sama saja
karena siksa itu adalah akibat kedurhakaan mereka. Ini juga
mengesakan bahwa seseorang hendaknya tidak perlu
mendoakan bencana bagi orang lain. Dengan demikian, ayat di
atas tidak dapat dijadikan alasan untuk mendoakan keburukan
bagi orang lain.
Penggunaan bentuk kata kerja masa lampau pada kata
( )فَأُدْ ِخلُ ْواfa udkhilu/maka mereka dimasukkan bertujuan
memastikan hal tersebut karena hingga kini Fir‘aun beserta
pengikut-pengikutnya belum lagi dimasukkan ke neraka.
Mereka semua sedang menanti di alam Barzakh dan sedang
memperoleh panjar (advance payment) siksa tetapi belum
dimasukkan ke neraka