T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 102
Ada juga yang memahami bentuk kata kerja masa lalu
itu dalam pengertiannya yang sebenarnya. Sayyid Quthub tidak
menutup kemungkinan memahaminya sebagai siksa yang
memang sedang dan telah mereka rasakan di kubur.
Thabāthabā’ī memahaminya dalam arti siksa yang sedang
mereka alami di alam Barzakh/kubur. Ulama ini menulis bahwa:
“Api yang dimaksud adalah api alam barzakh di mana para
pendurhaka disiksa, yaitu masa antara kematian dan kebangkitan
dari kubur, bukannya api neraka di alam akhirat. Ayat ini
merupakan salah satu dalil adanya alam barzakh (yakni siksa
serta kenikmatan di sana). Pandangan ini dapat diperkuat
dengan penggunaan ( )فَــــfā yang mendahului ( )أُ ْد ِخلُ ْواudkhilu
karena huruf tersebut menggambarkan singkatnya waktu antara
apa yang disebut sebelumnya, dalam hal ini penenggelaman
mereka, dan apa yang disebut sesudahnya, yaitu dimasukkannya
mereka ke neraka.
َوقَا َل نُ ْو ٌح َّر ِب ََّل تَذَ ْر َع َلى اَّْلَ ْر ِض ِم َن ا ْل َٰك ِف ِر ْي َن َد َّيا ارا
Dan Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau
biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di
atas bumi.(Nuh: 26)
Ayat yang lalu menjelaskan mengapa kaum Nabi Nuḥ
a.s. disiksa Allah, kini ayat di atas kembali melanjutkan uraian
tentang doa Nabi Nuḥ a.s. sebelum jatuhnya siksa itu. Memang,
kita boleh berkata bahwa seyogyanya ayat yang berbicara
tentang jatuhnya siksa itu ditempatkan setelah selesainya uraian
tentang doa Nabi Nūḥ atas kaumnya sehingga benar-benar
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 103
terlihat bahwa siksa jatuh karena permohonan Nabi agung itu.
Agaknya, penempatan ayat yang lalu sebelum ayat di atas untuk
mengisyaratkan bahwa tanpa doa Nabi Nūḥ a.s. pun, mereka
akan mengalami siksa sebab siksa itu adalah buah amal-amal
buruk mereka sendiri. Siksa itu pasti mereka rasakan, baik Nabi
Nūḥ a.s. berdoa maupun tidak berdoa.
Kalimat (‘ ) َع َلى ا ْْلَ ْر ِضalal-ardh/di atas permukaan bumi
dapat dipahami dalam arti wilayah tempat pemukiman kaum
Nabi Nuḥ a.s. dan dapat juga dalam arti seluruh persada bumi –
timur, barat, utara dan selatan. Sementara ulama yang merujuk
ke Perjanjian Lama memahami topan dan banjir besar yang
terjadi pada masa Nabi Nūḥ itu melanda seluruh penjuru. Tetapi,
bila merujuk kepada al-Qur’ān, kita tidak menemukan informasi
yang pasti menyangkut jangkauan banjir itu.
Kata ( )دَ ّيَا ًراdayyaran terambil dari kata ( (دَارdar/rumah. Ad-
dayyar adalah siapa yang menempati rumah. Ada juga yang
memahaminya terambil dari kata ( (الدَّ ْو َرانad-dauran yang
berarti bergerak berkeliling. Apa pun alasannya, yang jelas
maksud kata tersebut di sini adalah seorang pun.
اِ َنّ َك ِا ْن تَذَ ْر ُه ْم يُ ِض ُّل ْوا ِع َبا َد َك َوََّل َي ِل ُد ْٓوا اََِّل َفا ِج ارا َك َّفا ارا
Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal,
niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan
mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak
tahu bersyukur.(Nuh: 27)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 104
Nabi Nuḥ a.s. dalam doanya di atas menegaskan bahwa
anak-anak orang-orang kafir itu akan menjadi kafir dan durhaka
pula. Sementara ulama menyatakan bahwa hal itu diketahui
Nabi Nūḥ a.s. melalui informasi Allah. Hal tersebut tidak harus
demikian, apalagi di sini justru Nabi Nūḥ yang
“menyampaikannya” kepada Allah. Penyampaian Nabi Nuḥ a.s.
itu berdasar pengalaman beliau ratusan tahun hidup di tengah
generasi masyarakatnya. Ketika itu terbukti betapa besar
pengaruh orangtua dalam mendidik anak-anaknya sehingga jika
orangtua yang demikian mantap kekufurannya dibiarkan hidup
dan mendidik anak-anaknya, tentulah sang anak tidak akan jauh
berbeda dari orangtua yang mendidiknya. Dengan demikian,
kita dapat berkata bahwa ucapan Nabi Nuḥ a.s. yang direkam
ayat di atas merupakan salah satu isyarat tentang besarnya
pengaruh orangtua dalam mendidik dan membentuk kepribadian
anak. Ini sejalan pula dengan informasi Rasūl s.a.w. yang
menyatakan bahwa “Setiap anak dilahirkan atas fitrah
(kesucian). Lalu, kedua orangtuanyalah yang meyahudikannya
atau memajusikannya, atau mengkristenkannya.” Di sisi lain,
pengaruh gen orangtua yang dominan pun diisyaratkan oleh
kisah keluarga Nabi Nuḥ a.s. Putra sang Nabi itu yang rupanya
lebih banyak dipengaruhi oleh gen ibunya yang kafir pada
akhirnya menjadi seorang anak durhaka sehingga ikut
tenggelam bersama para pendurhaka lainnya.
َر ِب ا ْغ ِف ْر ِل ْي َو ِل َوا ِل َد َّي َو ِل َم ْن َد َخ َل بَ ْي ِت َي ُم ْؤ ِمناا َّو ِل ْل ُم ْؤ ِمنِ ْي َن َوا ْل ُم ْؤ ِم َٰن ِت َوََّل تَ ِز ِد ال هظ ِل ِم ْي َن
ِاََّل تَ َبا ارا
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 105
Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun
yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang
yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau
tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain
kehancuran.(Nuh: 28)
Setelah Nabi Nūḥ a.s. berdoa agar para pendurhaka
dibinasakan Allah demi keselamatan generasi berikut
sebagaimana terbaca pada ayat-ayat yang lalu kini beliau berdoa
untuk orang-orang yang taat. Dan karena konteksnya adalah
permohonan ampun, beliau memulai dengan diri beliau sendiri
guna menunjukkan bahwa diri beliau pun tidak dapat luput dari
kekurangan.
Awal surah ini menampilkan nasihat dan tuntunan Nabi
Nuḥ a.s. kepada kaumnya agar mereka beriman sehingga Allah
tidak menjatuhkan siksa atas mereka. Akhir surah berbicara
tentang penyiksaan kaum Nabi Nuḥ a.s. setelah terbukti
keengganan mereka beriman. Uraian akhir surah ini serta doa
keselamatan bagi yang taat dan kebinasaan bagi yang durhaka,
merupakan penegasan tentang uraian awalnya. Demikian
bertemu awal surah dan akhirnya. Maha Benar Allah dan
sungguh serasi firman-firmanNya. Wa Allāhu A‘lam.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 106
Kelompok 6
Sholahuddin Alby
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 107
SURAT AL JIN
Al Jin Ayat 1-28
قُ ْل أُو ِح َي ِإلَ َّي أَنَّهُ ا ْستَ َم َع نَ َف ٌر ِم َن ا ْل ِج ِن َف َقالُوا ِإنَّا َس ِم ْعنَا قُ ْرآ انا َع َجباا (َ )1ي ْه ِدي ِإ َلى
ال ُّر ْش ِد َفآ َم َّنا ِب ِه َو َل ْن نُ ْش ِر َك بِ َربِ َنا أَ َح ادا (َ )2وأَ َّنهُ تَ َعا َلى َج ُّد َر ِب َنا َما اتَّ َخذَ َصا ِح َب اة َوََّل
َولَ ادا (َ )3وأَ ّنَهُ َكا َن َيقُو ُل َس ِفي ُه َنا َع َلى ّل َّلاِ َش َط اطا (َ )4وأَ َّنا َظ َن َّنا أَ ْن َل ْن تَقُو َل ا ْْ ِل ْن ُس
َوا ْل ِج ُّن َعلَى ّل َّلاِ َك ِذ ابا (َ )5وأَ ّنَهُ َكا َن ِر َجا ٌل ِم َن ا ْْ ِل ْن ِس َيعُوذُو َن بِ ِر َجا ٍل ِم َن ا ْل ِج ِن
فَ َزا ُدو ُه ْم َر َهقاا (َ )6وأَنَّ ُه ْم َظ ّنُوا َك َما َظ َن ْنتُ ْم أَ ْن لَ ْن َي ْب َع َث ّل َّلاُ أَ َح ادا (َ )7وأَ َّنا لَ َم ْسنَا
ال َّس َما َء َف َو َج ْد َنا َها ُم ِلئَ ْت َح َر اسا َش ِدي ادا َو ُش ُهباا (َ )8وأَ ّنَا ُك َّنا َن ْقعُ ُد ِم ْن َها َمقَا ِع َد ِلل َّس ْمعِ
َف َم ْن يَ ْستَ ِمعِ ا ْْل َن يَ ِج ْد َلهُ ِش َها ابا َر َص ادا (َ )9وأَ َّنا ََّل نَ ْد ِري أَ َش ٌّر أُ ِري َد ِب َم ْن فِي ا ِْلَ ْر ِض أَ ْم
أَ َرا َد بِ ِه ْم َر ُبّ ُه ْم َر َش ادا (َ )10وأَ َنّا ِم ّنَا ال َّصا ِل ُحو َن َو ِمنَّا ُدو َن ذَ ِل َك ُك ّنَا َط َرا ِئ َق ِق َد ادا ()11
َوأَ َنّا َظ َن َّنا أَ ْن لَ ْن نُ ْع ِج َز ّل َّل َا ِفي ا ِْلَ ْر ِض َو َل ْن نُ ْع ِج َزهُ َه َر ابا (َ )12وأَ َّنا لَ َّما َس ِم ْعنَا ا ْل ُه َدى
آ َمنَّا ِب ِه َف َم ْن يُ ْؤ ِم ْن بِ َربِ ِه فَلَا َي َخا ُف بَ ْخ اسا َوََّل َر َه اقا (َ )13وأَ َّنا ِم ّنَا ا ْل ُم ْس ِل ُمو َن َو ِم ّنَا
ا ْلقَا ِس ُطو َن َف َم ْن أَ ْس َل َم َفأُولَ ِئ َك تَ َح َّر ْوا َر َش ادا (َ )14وأَ َّما ا ْلقَا ِس ُطو َن َف َكانُوا ِل َج َهنَّ َم َح َطباا
(َ )15وأَ َّل ِو ا ْستَ َقا ُموا َع َلى ال َّط ِريقَ ِة َِلَ ْس َق ْي َنا ُه ْم َما اء َغ َدقاا (ِ )16ل َن ْف ِت َن ُه ْم ِفي ِه َو َم ْن
يُ ْع ِر ْض َع ْن ِذ ْك ِر َر ِب ِه يَ ْسلُ ْكهُ َعذَا ابا َصعَ ادا (َ )17وأَ َّن ا ْل َم َسا ِج َد ِّٰ َّللِ فَلَا تَ ْد ُعوا َم َع ّل َّلاِ
أَ َح ادا (َ )18وأَ َنّهُ َل َّما َقا َم َع ْب ُد ّل َّلاِ َي ْد ُعوهُ َكا ُدوا يَ ُكونُو َن َعلَ ْي ِه ِلبَ ادا ( )19قُ ْل إِ َّن َما أَ ْد ُعو
َر ِبي َوََّل أُ ْش ِر ُك ِب ِه أَ َح ادا ( )20قُ ْل ِإ ِني ََّل أَ ْم ِل ُك لَ ُك ْم َض ًّرا َوََّل َر َش ادا ( )21قُ ْل ِإ ِني َل ْن
يُ ِجي َر ِني ِم َن ّل َّلاِ أَ َح ٌد َولَ ْن أَ ِج َد ِم ْن ُدونِ ِه ُم ْلتَ َح ادا ( )22إََِّل َبلَا اغا ِم َن ّل َّلاِ َو ِر َساََّل ِت ِه َو َم ْن
يَ ْع ِص ّل َّلاَ َو َر ُسولَهُ َف ِإ َّن لَهُ َنا َر َج َهنَّ َم َخا ِل ِدي َن فِي َها أَ َب ادا (َ )23حتَّى ِإذَا َرأَ ْوا َما
يُو َع ُدو َن َف َس َي ْع َل ُمو َن َم ْن أَ ْض َع ُف َنا ِص ارا َوأَقَ ُّل َع َد ادا ()24قُ ْل ِإ ْن أَ ْد ِري أَ َق ِري ٌب َما
تُو َع ُدو َن أَ ْم َي ْج َع ُل لَهُ َر ِبي أَ َم ادا (َ )25عا ِل ُم ا ْل َغ ْي ِب َفلَا يُ ْظ ِه ُر َعلَى َغ ْيبِ ِه أَ َح ادا ( )26إََِّل
َم ِن ا ْرتَ َضى ِم ْن َر ُسو ٍل َف ِإ َّنهُ يَ ْسلُ ُك ِم ْن َب ْي ِن َي َد ْي ِه َو ِم ْن َخ ْل ِف ِه َر َص ادا (ِ )27ل َي ْعلَ َم أَ ْن قَ ْد
أَ ْب َلغُوا ِر َساََّل ِت َر ِب ِه ْم َوأَ َحا َط بِ َما َل َد ْي ِه ْم َوأَ ْح َصى ُك َّل َش ْي ٍء َع َد ادا ()28
“(1) katakanlah (hai Muhammad): telah di wahyukan kepadamu
bahwasannya; telah mendengarkan sekumpulan jin (akan al-
Qur’an) lalu mereka bekata: sesungguhnya kami telah
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 108
mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan. (2) yang memberi
petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman
kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan
seseorangpun dengan Tuhan kami, (3) dan bahwasanya Maha
Tinggi kebesaran Tuhan kami, dia tidak beristri dan tidak (pula)
beranak, (4) dan bahwasanya orang yang kurang akal daripada
kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas
tehadap Allah. (5) dan sesungguhnya kami mengira, bahwa
manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan
yang dusta terhadap Allah. (6) dan bahwasanya ada beberapa
orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu
menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (7) dan
sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana
persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah) bahwa Allah
sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul)pun. (8)
Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia)
langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang
kuat dan panah-panah api., (9) dan sesungguhnya kami dahulu
dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk
mendengarkan (beritamya) tetapi sekarang barangsiapa yang
(mencoba) mendengarkannya tentu akan menjumpai panah api
yang mengintai. (10) dan sesungguhnya kami tidak mengetahui
(dengan penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki
bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki
kebaikan untuk mereka. (11) Dan sesungguhnya di antara kami
ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang
tidak demikian halnya. Kami menempuh jalan yang berbeda-
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 109
beda. (12) Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami
sekali-kali tidak akan melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di
muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri
daripada-Nya dengan lari. (13) Dan sesungguhnya kami tatkala
mendengar petunjuk (Al-Qur’an) kami beriman kepadanya.
Barangsiapa beriman kepada Tuhannya maka ia tidak takut
akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan
penambahan dosa dan kesalahan. (14) Dan sesungguhnya di
antara kami ada orang-orang yang taat dan ada orang-orang
yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat maka
mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. (15)
Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran maka
mereka menjadi kayu api bagi neraka jahanam. (16)Dan
bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan
itu (agama Islam) benar-benar kami akan memberi minum
kepada mereka air yang segar. (17) Untuk kami beri cobaan
kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari
peringatan Tuhannya niscaya akan dimasukan ke dalam azab
yang amat berat. (18) Dan sesungguhnya masjid-masjid itu
adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah
seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.
(19) dan bahwasannya tatkala hamba Allah (Muhammad)
berdiri menyembah-Nya, hampir saja jin-jin itu desak mendesak
mengerumuninya. (20) Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya
menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu
pun dengan-Nya. (21) Katakanlah: Sesungguhnya aku tidak
kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatnpun kepadamu dan
tidak suatu kemanfaatan. (22) Katakanlah: Sesungguhnya aku
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 110
sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiu dari (azab)
Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat
berlindung selain daripada-Nya. (23) Akan tetapi (aku hanya)
menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan
barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka
sesungguhnya baginyalah neraka jahanam, mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. (24) Sehingga apabila mereka
melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka
akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan
lebih sedikit bilangannya. (25) Katakanlah: Aku tidak
mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat
ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu masa
yang panjang?. (26) (Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang
ghaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun
tentang yang ghaib itu. (27) Kecuali kepada Rasul yang
diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-
penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (28) supaya
Dia mnegetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah
menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya)
ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka dan Dia
menghitung segala sesuatu satu persatu.”
Qiraat
قُ ْرآنًاIbnu Katsir dan hamzah membaca waqaf
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 111
َوأَنَّا, َوأَنَّا َل َم ْسنَا, َوأَنَّ ُه ْم َظ ُّنوا, َوأَنَّهُ َكا َن ِر َجال, َوأَ ّنَا َظ َن َّنا, َوأَ َّنهُ َكا َن يَقُو ُل, َوأَ َنّهُ تَ َعا َلى
َوأَ ّنَا ِم ّنَا, َوأَ َّنا لَ َّما َس ِم ْعنَا ا ْل ُهدَى, َوأَنَّا َظ َن َّنا, َوأَنَّا ِمنَّا ال َّصا ِل ُحو َن, َوأَ َّنا ََل نَدْ ِري, ُُك َّنا َن ْقعُد
ا ْل ُم ْس ِل ُمو َن
Ibnu Amir, Hafsh, Hamzah, Kisa’i, Khalah membaca fathah
hamzah pada semua lafal tersebut, sementara ulama lain
membaca kasrah.16
ُ َي ْسلُ ْكهNafi’, Ibnu Katsir, Abu Amr dan Ibnu ‘Amir membacanya
َُن ْسلُ ْكه
َوأَ َّنهُ لَ َّما َقا َمNafi’ membacanya َو ِإ َنّهُ لَ َّما َقا َم
قُ ْل إِ ّنَ َماImam Ashim dan Hamzah membaca قُ ْل إِ ّنَ َماsementara
imam-imam yang lain membaca َقا َل إِ َّن َما
َربِي أَ َمدًاNafi’, Ibnu Katsir, Abu Amr membaca َربِ َي أَ َمدًا
لَدَ ْي ِه ْمHamzah membaca لَدَ ْي ُه ْم
Mufrodat
نَفَر ِم َن ا ْل ِج ِنSekumpulan jin, yang jumlahnya berkisar antara tiga
sampai sepuluh jin.
َش َط ًطاBerdusta melebihi batas dengan mengatakan bahwa Allah
memiliki istri dan anak.
َح َر ًسا َش ِديدًاpenjagaan yang ketat oleh malaikat.
16Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir jilid 15, Depok: Gema Insani, 2014, h.
171.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 112
ِش َها ًبا َر َصدًاPara malaikat siap untuk melempari setan-setan agar
mereka tidak mendekat untuk mencuri berita langit.
َعلَى ال َّط ِري َق ِةYakni agama Islam.
َما ًء َغدَ ًقاYaitu harta yang berlimpah.
َع َل ْي ِه ِل َبدًاKetika berkumpul berdesak-desakan hanya untuk
mendengarkan bacaan Nabi.
َوأَقَ ُّل َعدَدًاMemiliki sedikit penolong, baik dari kalangan orang-
orang muslim atau orang-orang kafir.
Asbab Nuzul
Ayat 1
Ketika jin tidak lagi dapat menguping kabar dari langit,
mereka mencari tahu kesan kemari apa penyebabnya. Beberapa
diantara mereka akhirnya bertemu Nabi ketika sedang salat dan
melantunkan ayat Al-Qur’an. Mereka yakin itulah penyebabnya,
mereka pun akhirnya beriman. Turunnya ayat ini berkaitan
dengan peristiwa ini.
‘Abdullah bin ‘Abbas RA bercerita, “Suatu hari Nabi
bersama beberapa sahabat pergi menuju pasar Ukaz, saat itu
setan sudah tidak lagi dapat menguping berita-berita langit.
Mereka juga dilempari bola-bola api jika mencoba menguping.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 113
Ketika bertemu kawan-kawannya, mereka ditanya, ‘Apa yang
terjadi dengan kalian?’ ‘Kami tidak dapat lagi menguping
berita-berita langit, ada banyak bola api yang mengejar bila
kami mencoba menguping.’ Jawab mereka. Kawan-kawan
mereka berkata, ‘jika begitu, pasti ada sesuatu yang terjadi,
cobalah kalian pergi ke timur dan barat; cari tahu apa yang
menyebabkan kalian tidak lagi dapat menguping berita langit!’
berangkatlah setan-setan itu. Beberapa mereka mengarah ke
Tihamah (Mekah) untuk menemui Nabi yang ketika itu beliau
sedang berada di Nakhlah hendak menuju ke pasar Ukaz. Saat
itu beliau dan para sahabat menunaikan slaat Subuh. Ketika
mendengarkan lantunan Al-Qur’an, mereka menyimak dengan
seksama, mereka lalu berkata, ‘Demi Allah! Pasti inilah yang
membuat kita tidak lagi dapat menguping berita-berita langit.’
Demikian lah mereka menyampaikan hal ini kepada kawan-
kawan mereka. Mereka juga bercerita, ‘Wahai kawan-kawan,
kami baru saja mendengar bacaan yang menakjubkan (Al-
Qur’an) yang memberi petunjuk menuju jalan yang benar, kami
pun beriman kepadanya. Kami tidak akan lagi
mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.’ Allah lalu
menurunkan ayat ini kepada Nabi. Allah benar-benar
mewahyukan kepada beliau perkataan jin.”17
Tafsir Ayat 1-7
17Muchlis M. Hanafi, Asbabun Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-
Qur’an, Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2015, h. 451.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 114
Allah SWT telah memerintah Rasul-Nya (Muhammad
SAW) untuk mengatakan dan mengumumkan kepada umat
manusia baik yang beriman maupun yang kafir, bahwa Allah
telah mewahyukan kepada berita tentang sekumpulan jin yang
berjumlah tiga sampai sepuluh telah mendengarkan bacaan Al-
Qur’annya. Kejadiaan ini terjadi pada saat Rasulullah dan para
sahabat sedang melaksanakan salat subuh.
Oleh karena itu Allah menurunkan surat ini, surat Al-
Jinn yang dimuali dengan firman-Nya, “Katakanlah (hai
Muhammad), telah diwahyukan kepadamu bahwasannya telah
mendengarkan sekumpulan jin (akan Al-Qur’an),” yaitu
umumkanlah kepada umatmu, bahwa Allah telah mewahyukan
kepadamu tentang sebuah kejadian yaitu sekumpulan jin telah
mendengar bacaanmu kemudian mereka kembali menemui
kaumnya dan berkata, “sesungguhnya kami telah mendengarkan
Al-Qur’an yang menakjubkan” mereka merasa takjub dengan
kefasihan Al-Qur’an dan maknanya yang dalam. Al-Qur’an
yang akan memberi petunjuk kepada kebenaran dalam
keyakinan, perkataan dan perbuatan. “lalu kami beriman
kepadanya, dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan
seorangpun dengan Tuhan kami” dalam ayat ini terdapat
sindiran terhadap orang-orang yang dungu yang sezaman
dengan Rasulullah selama sebelas tahun. Beliau membacakan
Al-Qur’an kepada mereka ketika di Mekah, akan teteapi mereka
justru mendustakannya bahkan membenci beliau, mereka tetap
bertahan dalam kemusyrikan.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 115
“Dan bahawasannya orang yang kurang akal daripada
kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas
terhadap Allah,” ayat ini merupakan perkatan jin, maksudnya
mereka mengatakan perkataan yang melampaui batas terhadap
Allah, mereka berdusta kepadaAllah dengan mengatakan bahwa
Allah memiliki istri dan anak, seperti perkataan orang-orang
musyrik, Yahudi, dan Nasrani. “Dan sesungguhnya kami
mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan
mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah,” mereka
mengatakan bahwa mereka tidak akan mengatakan apa-apa atas
nama-Nya kecuali kebenaran. Mereka juga berkata kepada Allah
dengan perkataan yang tidak pernah dikatakan oleh-Nya tetapi
mereka menyandarkan kepada-Nya, padahal Mahasuci Allah
dari semua tuduhan mereka tersebut. Mereka berkata, “dan
bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia
meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin,
maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”
Mereka memberitahukan kabar yang yang sangat
menakjubkan bahwa ada beberapa oarang laki-laki manusia dari
bangsa Arab dan non-Arab, apabila mereka melewati sebuah
lembah atau bukit yang menakutkan maka mereka akan
meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari golongan
jin dengan mengatakan “Aku berlindung kepada para penghuni
lembah ini (jin) dari gangguan para pengikutnya!” maka jin-jin
tersebut hanya semakin menambah besar dosa manusia tersebut
dengan meminta perlindungan kepada mereka, maksudnya dosa
dan kezaliman. Padahal mereka tidak menginginkan ada bangsa
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 116
manusia yang mengagungkan mereka seperti ini sehingga
manusia harus meminta perlindungan kepada mereka.
Sesungguhnya mereka (jin) mengira sebagaimana kalian
mengira, bahwa Allah tidak akan pernah mengutus seorang
utusan. Maksudnya adalah, mereka (jin) memberitahukan
kaumnya seraya berkata “sesungguhnya mereka (manusia)
mengira sebagaimana kalian kira, bahwa Allah tidak akan
mengutus seorang utusan yang akan memberi peringatan kepada
manusia akan azab Allah dan mengajarkan kepada mereka
(manusia) sesuatu yang akan menyempurnakan serta
menggembirakan mereka di dunia dan di akhirat.18
Tafsir Ayat 8-15
Pada ayat-ayat ini Allah memberitakan bahwa setelah
Nabi diutus maka para jin tidak mendapat kesempatan untuk
mencuri berita dari langit, bahkan langit telah dijaga ketat jika
da jin yang mencoba menempati tempat duduknya dahulu maka
dilemparnya dengan bintang yang dapat membakarnya.
Perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah diutusnya
Nabi tidak diketahui oleh para jin. Dan sesungguhnya kami
tidak mengetahui dengan adanya penjagaan yang demikian ketat
itu apakah keburukan yang dikehendaki bagi siapa yang di bumi
ataukah Tuhan pemelihara dan pendidik mereka menghendaki
18Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Tafsir Al-Aisar, Jakarta: Darus Sunnah Press,
2006, h. 655.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 117
bagi mereka penghuni bumi ini kebaikan yang besar. Sebagian
ulama berpendapat bahwa uccapan ini adalah ucapan setan yang
bagaikan menyatakan: kami tidak mengetahui apakah Allah
menghendaki (dengan penjagaan yang ketat) jatuhnya siksa bagi
penghuni bumi ataukah menghendaki diutusnya Rasul untuk
mereka.19
Para jin itu menguraikan keadaan anggota masyarakat
mereka dengan menyatakan, “Dan sesungguhnya di antara
kami ada orang-orang saleh yang bertakwa lagi mantap
kesalehannya dan di antara kami ada juga yang tidak demikian
halnya, ada yang kesalehannya terbatas ada juga yang sama
sekali tidak saleh bahkan ada yang mengajak kepada
kedurhakaan. Sungguh kami bermacam-macam: adalah kami
yakni makhluk yang tercipta dari api itu, menempuh jalan-jalan
yang berbeda akibat perbedaan pandangan dan kecenderungan
kami. Dan sesungguhnya kami menduga, yakni mengetahui dan
percaya, setelah berpikir dan melihat ayat-ayat Allah serta
menyadari kelemahan kami, bahwa kami sekali-kali tidak akan
dapat melawan Allah untuk melepaskan diri dari kekuasaan-Nya
di bumi manapun kami berada dan sekali-kali tidk pula dapat
melawan-Nya dengan lari ke tempat lain di langit atau di
manapun untuk menghindar dari ketetapan-Nya
Pada ayat selanjutnya bagaikan menyatakan bahwa dan
sesungguhnya kami tatkala mendengar dari Nabi Muhammad
19M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah jilid 15, Jakarta: Lentara Hati, 2002, h.
378.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 118
petunjuk yang sempurna, yakni Al-Qur’an kami langsung
beriman kepadanya tanpa ragu atau menimbang-nimbang
karena jelasnya petunjuk itu maka barangsiapa yang senantiasa
beriman kepada Tuhannya serta selalu memperbaharui imannya
maka ia tidak takut akan pengurangan pahala amal-amalnya
dan tidak takut pula kesulitan akibat penambahan dosa dan
kesalahan.
Boleh jadi, dengan pernyataan di atas ada yang menduga
bahwa semua jin (baik yang mendengar langsung atau tidak
mendengarnya) kesemuanya telah patuh kepada Allah. Untuk
menampik dugaan itu, para jin melanjutkan keterangan nya
dengan berkata bahwa dan sesungguhnya di antara kami
masyarakat jin ada orang-orang muslim, yakni yang benar-
benar taat dan patuh kepada Allah, dan ada pula para
penyimpang, yakni mereka yang telah sangat jauh dari
kebenaran lagi sangat mantap kekufurannya. Barangsiapa yang
patuh, maka mereka itu telah bersungguh-sungguh memilih arah
yang mengantar ke jalan kebeneran. Mereka itulah yang selalu
bersikap adil dan melakukan perbaikan dan akan masuk ke
surga. Adapun para penyimpang dari jalan kebenaran, maka
mereka itu yang sungguh jauh kebejatannya adalah orang-orang
yang aniaya lagi perusak dan mereka bagi api neraka jahanam
adalah bahan bakarnya.20
Tafsir Ayat 16-24
20M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah jilid 15, Jakarta: Lentara Hati, 2002, h.
380.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 119
Ayat ini menjelaskan bahwasanya jikalau para makhluk
atau orang-orang kafir dari kalangan jin dan manusia mau
berjalan lurus diatas keimanan dan tauhid serta ketaatan kepada
Allah dan Rasul-Nya (ketika mereka dilanda kekeringan dan
paceklik), maka benar-benar kami akan memberi minuman
kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak), tujuan
pemberian rezeki itu adalah untuk kami uji mereka padanya
yakni melalui rezeki yang melimpah tersebut. Siapa yang lulus
dalam ujian tersebut dengan memperhatikan tuntunan Allah, ia
akan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat dan barangsiapa
yang gagal akibat berpaling dari peringatan Tuhan yang telah
menganugrahi-nya rezeki yang banyak itu niscaya akan
dimasukan ke dalam azab yang amat berat, yakni amat berat
dari saat ke saat semakin berat sehingga ia tidak dapat menahan
sakitnya.
Penggunan kata ( ) َما ًءair untuk makna rezeki karena air
adalah sumber hidup. Masyarakat Mekah serta Arab yang sering
tidak diguyur hujan menjadikan air lambang kesejahteraan.
Umar Ibn al-Khaththab berkata: “Di mana ada air di sana ada
harta, dan di mana ada harta di sana ada fitnah (cobaan).”21
Allah mewahyukan kepada Rasul bahwa semua masjid
adalah milik Allah, jika kalian akan memasukinya untuk
beribadah maka janganlah kalian beribadah di dalamnya
menduakan Allah dengan makhluk yang lain. Perlu diketahui
21M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah jilid 15, Jakarta: Lentera Hati, 2002, h.
383.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 120
bahwa syirik adalah perbuatan yang diharamkan dan orang yang
melakukannya akan dimasukkan ke dalam neraka. Karena akan
disebut tidak beradab apabila seseorang bersikap dualisme
ketika beribadah kepada Allah, menyembah-Nya dan
menyembah makhluk lain.
Ayat berikutnya merupakan lanjutan ucapan jin yang
menyampaikan kepada rekan-rekannya bagaimana keadaan Nabi
dan bagaimana mereka begitu antusias mengerumuni beliau.
Jadi ketika Nabi bangkit secara sempurna lagi bersungguh-
sunguh untuk berdoa dan melaksanakan salat atau berdakwah
menyampaikan ajaran Islam, hampir saja jin-jin itu desak
mendesak mengerumuninyadan berdesak-desakkan karena
takjub dan heran dengan apa yang mereka lihat dan dengarkan.
Katakanlah (wahai Nabi Muhammad) kepada siapa yang
berdesakan dan merasa aneh atau takjub melihatmu bahwa,
“Tujuan dari aa yang kulakukan itu bukanlah seperti yang kamu
duga,aku hanya menyeru dan beribadah kepada Tuhan
Pemelihara dan Yang selalu berbuat baik kepadaku dan aku
sekali-kali tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.
Tidak malaikat, tidak berhala, tidak juga manusia atau makhluk
apapun, itulah sikapku terhadap Allah.
Pada ayat 21 ada yang berkata mengapa Nabi tidak
memohon kepada Tuhannya agar para pendurhaka itu
dibinasakan saja. Maka Allah memerintahkan Nabi
menyampaikan ayat ini. Di sisi lain al-Qurthubi meriwayatkan
bahwa ayat ini turun berkenaan dengan permintaan kaum
musyrikin Mekah kepada Nabi agar beliau menghentikan
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 121
dakwahnya karena beliau telah dimusuhi masyarakat, kaum
musyrikin itu menjanjikan perlindungan kepada Nabi SAW.
Bisa juga dikatakan bahwa ayat sebelumnya
memerintahkan Nabi menjelaskan sikap beliau terhadap Allah,
sedangkan ayat ini Nabi diperintah untuk menjelaskan
kedudukan beliau di tengah manusia, yakni beliau adalah
manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan melampaui
kemampuan jenis manusia.22
Setalah menyatakan ketidaksanggupan beliau menolong
orang lain, kini beliau diperintah untuk menyatakan bahwa
terhadap dirinya beliau tidak mampu, ‘katakanlah;
sesungguhnya aku sekali-kali tidak seorangpun yang dapat
melindungiku dari siksa Allah jika Yang Mahakuasa itu hendak
menyiksaku dan sekali-kali tidak akan ada satupun yang
melindungiku yakni meolong dan menampik siksa atau kesulitan
yang dapat menimpaku dari Allah jika aku mendurhakai-Nya
dan sekali-kali tidak juga akum menemukan selain-Nya tempat
berlindung, menyingkir dan memperoleh upaya unutk
menghindar. Akan tetapi tugasku hanyalah penyamapaian
peringatan dari Allah dan penyampaian risalah-Nya yang
kuterima melalui wahyu. Jika itu kulaksanakan, aku mengharap
dapat memperoleh perlindungan-Nya. Siapa yang taat kepada
Allah dan Rasul-Nya sesungguhnya baginya surga, dia akan
berbahagia selama-lamanya, dan barangsiapa yang
22M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah jilid 15, Jakarta: Lentara Hati, 2002, h.
390.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 122
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginya
neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Adapun yang durhaka dan tidak sampai pada tingkat penolakan
prinsip ajaran, boleh jadi Allah mengampuninya sesuai
kebijaksanaan-Nya atau menyiksanya di neraka tetapi tidak
kekal di dalamnya.
Pada ayat selanjutnya, ulama mengaitkan nya dengan
kandungan makna akhir ayat sebelumnya yang berbicara tentang
kekekalan orang-orang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
di neraka. Kekekalan itu disebabkan kekufuran mereka, pada
ayat ini menjelaskan bahwa kekufuran itu akan berlanjut sampai
yakni berakhir ketika mereka melihat siksa yang dijanjikan
kepada mereka.
Ayat ini berbicara tentang orang-orang kafir dan bahwa
mereka terus akan durhaka, melecehkan Nabi dan ajarannya,
serta menganggap beliau lemah tidak memiliki banyak
pendukung sampai apabila mereka melihat dengan mata kepala
mereka sendiri siksa yang diancamkan kepada mereka dan itu
pasti akan terjadi sebagaimana diisyaratkan oleh kata “idza”,
maka ketika dan sejak itu mereka akan mengetahui siapakah
yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya,
apakah Nabi Muhammad ataukah para pendurhaka itu.
Tafsir Ayat 25-28
Kaum musyrikin apabila diancam dengan siksa, sering
kali melecehkan dan bertanya untuk tujuan mengejek, kapankah
datangnya ancaman itu. Oleh sebab itu, ayat ini memerintahkan
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 123
bahwa; katakanlah; aku tidak mengetahui sedikit dan dari
sumber aoapun apakah dekat yakni tidak lama lagi datangnya
siksa yang diancamkan kepada kamu itu ataukah Tuhanku
menjadikan baginya ataukah Tuhan menangguhkan kedatangan
siksa itu ke masa yang panjang? Aku tidak tahu tentang masa
datangnya, aku hanya yakin bahwa ia pasti akan datang. Yang
Mengetahui kepastian waktu kedatangan siksa itu hanyalah
Allah, Dia Maha yang Mengetahui ghaib yang mutlak apalagi
yang relatif, maka Dia tidak memperlihatkan secara nyata
menyangkut ghaib-Nya itu kepada satu makhluk pun. Kecuali
kepada yang diridhai-Nya. Itupun bukan semua yang diridhai-
Nya tetapi yang diridhai-Nya yakni Rasul, yang merupakan
malaikat atau manusia.
Jika Allah hendak memperlihatkan kepada Rasul ghaib-
Nya itu, maka sesungguhnya Dia Yang Maha Megetahui itu
mengadakan di mukanya dan di belakangnya yakni di seluruh
arah sang Rasul itu penjaga-penjaga berupa malaikat-malaikat
yang melindunginya dari berbagai gangguan setan dan bisikan
jahat.
Ayat di atas menguraikan pemeliharaan dan penjagaan
terhadap ghaib dan wahyu yang diturunkan kepada Rasul yang
menerimanya. Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Allah
melakukan penjagaan itu supaya Dia mengetahui dalam
kenyataan, setelah sebelumnya Dia telah mengetahui dalam
ilmu-Nya yang azali, bahwa sesungguhnya mereka yakni para
Rasul, telah menyampaikan risalah-risalah Ti=uhan mereka,
sedang sebenarnya Dia dengan ilmu dan kuasa-Nya melipui
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 124
secara terperinci apa yang ada pada diri mereka semuanya,
bukan hanya yang berkaitan dengan penyampaian risalah itu dan
Dia menghitung segala sesuatu yang wujud satu per satu, walau
sebutir pasir pun, tak satupun lupur dari pengetahuan-Nya.
Ayat ini menunjukan keterpelihraan wahyu sejak
diterima oleh Rasul dari malaikat yang mengantarnya sehingga
sang Rasul yakin bahwa itu adalah wahyu tanpa sedikit
perubahan dan tanpa beliau melupakan, menambah atau
menguranginya sekaligus menunjukkan tidak adanya
keterlibatan pihak lain dalam pengubahan makna atau lafaznya.
Ini karena tujuan dari penjagaan dan pemeliharaan Allah itu
adalah agar tercapai dalam kenyataan di lapangan tibanya
wahyu itu kepada manusia yang merupakan sasarannya.
Seandainya Rasul tidak terpelihara dalam segala hal yang dapat
mengakibatkan wahyu tersebut tidak sampai kepada sasaran atau
sampai tetapi mengalami perubahan, itu berarti gagalnya
penjagaan dimaksud dan itu mustahil karena yang
melakukannya adalah para malaikat yang didukung oleh Allah
SWT.23
Pada awal surat ini menguraikan bahwa para jin
mendengarkan dengan seksama ayat-ayat Al-Qur’an yang
dibacakan oleh Nabi Muhammad dan menguraikan pula
bagaimana jin tidak mampu mencuri berita langit. Akhir surat
23M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah jilid 15, Jakarta: Lentara Hati, 2002, h.
395.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 125
ini menguraikan pemeliharaan Allah atas ghaib termasuk
wahyu-wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 126
Kelompok 7
Muhammad Rijal
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 127
SURAT AL MUZAMMIL
Al Muzammil Ayat 1-20
َٰۤياَيُّ َها ا ۡل ُم َّز ِم ُل ) (1قُ ِم الَّ ۡي َل ِاََّل قَ ِل ۡيلاا )ِ (2ن ۡص َف ۤٗه اَ ِو ا ْنقُ ۡص ِم ۡنهُ قَ ِل ۡيلاا ) (3اَ ۡو ِز ۡد َعلَ ۡي ِه
ََّوو)اََۡرقِ8ت َو(ِل َُمرا ۡلِقُّۡبيقُ ۡلااراَٰۡال ََم)ن ۡ6شتَ ِۡ(رر ِاِت ۡ ِيق َّنلااَ َلوـا ۡ)ل َكَ4م ۡ(غِف ِرِاىنَّا ِبالَنَََّّۤسل َهنُ ۡالِا َِٰلِقر ۡهَى َِاس ََۡبّ َعللَاحۡيا ُه َكَوَطقَ ِۡوفَ ۡوياَالاتَّّلاِخثَۡ)ذ ِق ۡهُي7لا( َاو َِكو)ۡيا ۡلاذ5ا(ُك ِر)اِ َّا9ن(ۡسنَاَمَواِشَرئَ ِۡبصَة َِبك ۡارّلَ َۡيوتَِلَعَبَٰلتَّ ِۡهلى َىاِ َلَم ۡااَي ِه َيَش ُّقُدتَۡۡبو َِتلُوۡ ۡي ۡولاطاـَانا
َوا ۡه ُج ۡر ُه ۡم َه ۡج ارا َج ِم ۡيلاا )َ (10وذَ ۡر ِن ۡى َوا ۡل ُم َك ِذ ِب ۡي َن اُو ِلى ال ّنَ ۡع َم ِة َو َم ِه ۡل ُه ۡم َق ِل ۡيلاا )ِ (11ا َّن
َل َد ۡينَ ۤا اَ ۡنـ َكاَاّل َّو َج ِح ۡي اما )َّ (12و َطعَا اما ذَا ُغ َّص ٍة َّو َعذَا ابا اَ ِل ۡي اما )َ (13ي ۡو َم تَ ۡر ُج ُف ا َّۡلَ ۡر ُض
َشا ِه ادا َع َل ۡي ُك ۡم َك َم ۤا اِنَّ ۤا اَ ۡر َس ۡلنَ ۤا ِالَ ۡي ُك ۡم َوا ۡل ِج َبا ُل َو َكا َن ِت ا ۡل ِج َبا ُل َك ِث ۡي ابا َّم ِه ۡيلاا )(14
اَ ۡخذاا َّو ِب ۡيلاا )(16 َر ُس ۡوَاّل ِف ۡر َع ۡو ُن ال َّر ُس ۡو َل اَ ۡر َس ۡل َن ۤا ِا َٰلى ِف ۡر َع ۡو َن َر ُس ۡوَاّل )َ (15فعَ َٰصى
َفاَ َخ ۡذ َٰنهُ
َف َك ۡي َف تَتَّقُ ۡو َن ِا ۡن َك َف ۡرتُ ۡم يَ ۡو اما َّي ۡج َع ُل ا ۡل ِو ۡل َدا َن ِش ۡي َبا )ۨ (17ال َّس َمآ ُء ُم ۡن َف ِط ٌر ْۢ ِب ٖ ؕه َكا َن َو ۡع ُد ٗه
َم ۡفعُ ۡوَاّل ) (18اِ َّن َٰه ِذ ٖه تَ ۡذ ِك َرةٌ ۚ َف َم ۡن َشآ َء اتَّ َخذَ ِا َٰلى َربِ ٖه َس ِب ۡيلاا ) (19اِ َّن َربَّ َك َي ۡع َل ُم اَنَّ َك
َوّل هلاُ يُ َق ِد ُر ا َّل ۡي َل ِم َن الَّ ِذ ۡي َن َم َع َ ؕك لَّثُ ۡلُنثَ ِتُى ۡحالَّ ۡيُص ۡ ِلوهُ َو َفتَاِن َ ۡبصفَ َٗعه َل ۡي َُكوۡمثُلُثََفاٗهۡق َر َو ُء َۡطوآا ِٕٮفَ َمةٌا تَقُ ۡو ُم اَ ۡدن َٰى ِم ۡن
َع ِل َم اَ ۡن َسيَ ُك ۡو ُن تَيَ َّس َر ِم َن ا ۡلقُ ۡر َٰا ِنؕ َوالنَّ َها َ ؕر َع ِل َم اَ ۡن
ِم ۡن ُك ۡم َّم ۡر َٰضىۙ َو َٰا َخ ُر ۡو َن َي ۡض ِربُ ۡو َن فِى ا َّۡلَ ۡر ِض َي ۡبتَغُ ۡو َن ِم ۡن فَ ۡض ِل ّل هل ۙاِ َو َٰا َخ ُر ۡو َن يُ َقاتِلُ ۡو َن
ِف ۡى َسبِ ۡي ِل ّل هلاِ ۖ َفا ۡق َر ُء ۡوا َما تَيَ َّس َر ِم ۡنهُ ۙ َواَقِ ۡي ُموا ال َّص َٰلوةَ َو َٰاتُوا ال َّز َٰكوةَ َواَ ۡق ِر ُضوا ّل هلاَ
قَ ۡر اضا َح َس انا ؕ َو َما تُ َق ِد ُم ۡوا َِّلَ ۡنفُ ِس ُك ۡم ِم ۡن َخ ۡي ٍر تَ ِج ُد ۡو ُه ِع ۡن َد ّل هل ِا ُه َو َخ ۡي ارا َّواَ ۡع َظ َم اَ ۡج ارا ؕ
َوا ۡستَ ۡغ ِف ُروا ّل هلاَ ؕ ِا َّن ّل هلاَ َغفُ ۡو ٌر َّر ِح ۡي ٌم )(20
1. Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!. 2. Bangunlah
(untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, 3.
(yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, 4. atau lebih
dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan
perlahan-lahan. 5. Sesungguhnya Kami akan menurunkan
perkataan yang berat kepadamu. 6. Sungguh, bangun malam itu
lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih
berkesan. 7. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 128
dengan urusan-urusan yang panjang. 8. Dan sebutlah nama
Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.
9. (Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia,
maka jadikanlah Dia sebagai pelindung. 10. Dan bersabarlah
(Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan
tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. 11. Dan
biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang
mendustakan, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan
berilah mereka penangguhan sebentar. 12. Sungguh, di sisi
Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan neraka yang
menyala-nyala, 13. dan (ada) makanan yang menyumbat di
kerongkongan dan azab yang pedih. 14. (Ingatlah) pada hari
(ketika) bumi dan gunung-gunung berguncang keras, dan
menjadilah gunung-gunung itu seperti onggokan pasir yang
dicurahkan. 15. Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang
Rasul (Muhammad) kepada kamu, yang menjadi saksi
terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul
kepada Fir‘aun. 16. Namun Fir‘aun mendurhakai Rasul itu,
maka Kami siksa dia dengan siksaan yang berat. 17. Lalu
bagaimanakah kamu akan dapat menjaga dirimu jika kamu
tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.
18. Langit terbelah pada hari itu. Janji Allah pasti terlaksana.
19. Sungguh, ini adalah peringatan. Barangsiapa menghendaki,
niscaya dia mengambil jalan (yang lurus) kepada Tuhannya. 20.
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau
(Muhammad) berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam,
atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula)
segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 129
menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa
kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia
memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang
mudah (bagimu) dari Al-Qur'an; Dia mengetahui bahwa akan
ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain
berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain
berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah
(bagimu) dari Al-Qur'an dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah
zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang
baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu
niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai
balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.
Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha
Pengampun, Maha Penyayang.
Mufrodat : ۡل ُم َّز ِم ُل
Berselimut
Api neraka yang menyala-nyala : َّو َج ِح ۡي ًما-
Uban : ِش ۡيبَا-
Asbabun Nuzul Surat Al Muzammil
Sholat malam ini mula-mula wajib, sebelum turun ayat
ke 20 dalam surat ini. setelah turunnya ayat ke 20 ini hukumnya
menjadi sunat.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 130
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu
berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau
seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula)
segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah
menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa
kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-
waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu
bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia
mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang
sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari
sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi
berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah
(bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang,
tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah
pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat
untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi
Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar
pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah;
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al-Muzammil: 20)
Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabarani dengan
sanad yang lemah, yang bersumber dari Jabir bahwa ketika
kaum Quraisy berkumpul di gedung Darun Nadwah, mereka
berkata satu sama lainnya: “Mari kita carikan bagi Muhammad
nama yang tepat dan cepat dikenal orang.” Mereka berkata:
Kaahin (dukun). Yang lainnya menjawab: “Dia bukan dukun.”
Yang lainnya berkata lagi: “Majnuun (orang gila).” Yang
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 131
lainnya menjawab: “Dia bukan orang gila.” Mereka berkata lagi:
“Saahir (tukang sihir)”. Yang lainnya menjawab: “Dia bukan
tukang sihir.” Kejadian ini sampai kepada Nabi saw sehingga
beliaupun menahan diri dengan berselimut dan berkerudung.
Maka datanglah malaikat Jibril menyampaikan wahyu, yaa
ayyuhal muzzammil (hai orang yang berselimut [Muhammad]
(Al-Muzammil: 1).
dan yaa ayyuhal muddatstsir (hai orang yang berkemul
[berselimut]) (al-Muddatstsir:1), Dalam riwayat lain
dikemukakan bahwa ayat ini (Al-Muzammil: 1) turun saat Nabi
saw sedang berselimut dengan selimut beludru.(diriwayatkan
oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibrahim an-Nakho’i
Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari
‘Aisyah. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir
yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dllbahwa setelah turun ayat
ini (Al-Muzammil: 1-4), yang memerintahkan agar kaum
Muslimin bangun untuk melaksanakan shalat selama kurang
lebih setengah malam pada tiap-tiap malam, para sahabat
melaksanakannya dengan tekun. Kejadian ini berlangsung
selama setahun sehingga menyebabkan kaki mereka bengkak-
bengkak. Maka turunlah ayat berikutnya (Al-Muzammil: 20)
yang memberikan keringanan untuk bangun malam dan
mempersingkat bacaan.24
24 ABABUNNUZUL: SHALEH AHMAD
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 132
TAFSIRAN AYAT 1-20
1. (Hai orang yang berselimut) yakni Nabi Muhammad. Asal
kata al-muzzammil ialah al-mutazammil, kemudian huruf ta
diidghamkan kepada huruf za sehingga jadilah al-
muzzammil, artinya, orang yang menyelimuti dirinya
dengan pakaian sewaktu wahyu datang kepadanya karena
merasa takut akan kehebatan wahyu itu. Pada ayat ini
banyak sekali perbedaan antara nabi kita nabi muhammad
dengan nabi-nabi yang lain bahwasanya ketika allah
memanggil atau menyerukan nama-nama nabi yang lain
deng nama aslinya ya musa, ya harun, ya ibrohim dan lain
sebagainya akan tetapi hanya sedikit allah sebutkan di dalam
al-qur’an memanggil nama nabi muhammad kebnyakan
allah memanggil nabi kita dengan sebutan ya ayuhannabiy,
ya ruslullah, ya khotamul anbiya dan lain sebagainya atau
dengan sebutan yang lain menurut quraish shihab
bahwasanya ini adalah panggilan mesra allah kepada
kekasihnya yaitu nabi muhammad25
2. (Bangunlah di malam hari) maksudnya, salatlah di malam
hari (kecuali sedikit.) dalam hal ini saya berpendapat yang
dilakukan nabi bukan hanya sholat tahajudakan tetapi
banyak solat yang di kerjakan nabi yaitu solat hajat witir dan
lain-lain
3. (Yaitu seperduanya) menjadi badal dari lafal qaliilan;
pengertian sedikit ini bila dibandingkan dengan keseluruhan
25Quraish shihab ; lentera hati
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 133
waktu malam hari (atau kurangilah daripadanya) dari
seperdua itu (sedikit) hingga mencapai sepertiganya,
4. (Atau lebih dari seperdua) hingga mencapai dua pertiganya;
pengertian yang terkandung di dalam lafal au menunjukkan
makna boleh memilih. (Dan bacalah Alquran itu)
mantapkanlah bacaannya (dengan perlahan-lahan) membaca
al-qur’an dengan semestinya yaitu dengan penuh harap allah
SWT.
5. (Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu
perkataan) atau bacaan Alquran (yang berat) yang hebat.
Dikatakan berat mengingat kewajiban-kewajiban yang
terkandung di dalamnya, wahyu al-qur’an makna berat
menurut pak quraish shihab yaitu al-qur’an yang berbobot
berat.
6. (Sesungguhnya bangun di waktu malam) maksudnya,
melakukan salat sunah di malam hari sesudah tidur (lebih
tepat) untuk khusyuk di dalam memahami bacaan Alquran
(dan bacaan di waktu itu lebih berkesan) lebih jelas dan
lebih mantap serta lebih berkesan, sesungguhnya allah
mengambil waktu malam biar nabi khusu dalam memahami
apa yang di baca dalam shalat nya.
7. (Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan
yang panjang) mempunyai banyak kesibukan, sehingga
kamu tidak mempunyai cukup waktu untuk banyak
membaca Alquran.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 134
8. (Sebutlah nama Rabbmu) katakanlah
bismillahirrahmanirrahiim di awal bacaan Alquranmu (dan
curahkanlah) kerahkanlah dirimu (untuk beribadat kepada-
Nya dengan ketekunan yang penuh) lafal tabtiilan ini adalah
mashdar dari lafal batula, sengaja didatangkan demi untuk
memelihara fawashil, dan merupakan lafal yang berakar dari
lafal tabattul.
9. Dialah (Rabb masyriq dan magrib, tiada Tuhan melainkan
Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung) artinya
serahkanlah semua urusan-urusanmu di bawah
perlindungan-Nya.
10. (Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan)
bersabarlah kamu di dalam menghadapi gangguan orang-
orang kafir Mekah (dan jauhilah mereka dengan cara yang
baik) tanpa keluh-kesah; ayat ini diturunkan sebelum ada
perintah memerangi mereka.
11. (Dan biarkanlah Aku) maksudnya biar Aku saja yang
bertindak (terhadap orang-orang yang mendustakan itu) lafal
al-mukadzdzibiin diathafkan kepada maf`ul atau kepada
maf’ul ma`ah. Maknanya Akulah yang akan bertindak
terhadap mereka; mereka adalah pemimpin-pemimpin kaum
Quraisy (orang-orang yang mempunyai kemewahan)
kemewahan hidup (dan beri tangguhlah mereka barang
sebentar) dalam jangka waktu yang tidak lama, dan ternyata
selang beberapa waktu kemudian, akhirnya mereka mati
terbunuh dalam perang Badar.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 135
12. (Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-
belenggu) merupakan bentuk jamak dari lafal niklun, artinya
belenggu-belenggu yang berat (dan neraka Jahim) yaitu
neraka yang apinya sangat membakar.
13. (Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan)
mengganjal di kerongkongan, itu adalah buah pohon zaqum
atau buah pohon dhari’ atau buah pohon ghislin atau berupa
duri api, apabila dimakan tidak dapat dikeluarkan dan pula
tidak dapat masuk ke dalam perut (dan azab yang pedih) di
samping azab yang telah disebutkan tadi, hal ini disediakan
bagi orang-orang yang mendustakan Nabi saw.
14. (Pada hari berguncang) karena gempa yang dahsyat (bumi
dan gunung-gunung, dan menjadilah gunung-gunung itu
tumpukan-tumpukan) tumpukan-tumpukan pasir (yang
beterbangan) menjadi debu yang beterbangan yang pada
sebelumnya kokoh bersatu. Lafal mahiilan berasal dari lafal
haala, yahiilu; bentuk asalnya adalah mahyuulun, kemudian
karena mengingat harakat dhammah dianggap berat atas
huruf ya, maka dipindahkan kepada huruf ha, sehingga
jadilah mahuwylun. Kemudian huruf wawu dibuang karena
mengingat kedudukannya yang zaidah, sehingga jadilah
mahuylun, selanjutnya harakat damah diganti menjadi
kasrah untuk menyesuaikannya dengan huruf ya, sehingga
jadilah mahiilun.
15. (Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian) hai
penduduk Mekah (seorang rasul) yakni Nabi Muhammad
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 136
saw. (yang menjadi saksi terhadap kalian) kelak di hari
kiamat, tentang kedurhakaan-kedurhakaan yang telah kalian
kerjakan (sebagaimana Kami telah mengutus, dahulu,
seorang rasul kepada Firaun) yakni Nabi Musa a.s.
16. (Maka Firaun mendurhakai rasul itu, lalu Kami siksa dia
dengan siksaan yang berat) atau azab yang keras.
17. (Maka bagaimanakah kalian dapat memelihara diri kalian
jika tetap kafir) di dunia (kepada hari) lafal yauman menjadi
maf’ul kedua dari lafal tattaquuna. Yakni memelihara diri
dari azab hari itu. Atau dengan kata lain, dengan benteng
apakah kalian memelihara diri dari azab pada hari itu (yang
menjadikan anak-anak beruban) lafal syiiban bentuk jamak
dari lafal asyyab; dikatakan anak-anak beruban, sebagai
gambaran tentang hari itu yang penuh dengan kengerian
yang sangat mencekam; hari yang dimaksud adalah hari
kiamat. Bentuk asal lafal syiiban adalah syuyban, dengan
memakai harakat damah pada huruf syin. Kemudian harakat
itu diganti menjadi kasrah demi untuk menyelaraskannya
dengan huruf ya yang jatuh sesudahnya, sehingga jadilah
syiiban. Dikatakan di dalam menggambarkan hari yang
penuh dengan malapetaka, yaumun yusyiibu nawaashial
athfaali, yakni hari yang dapat membuat ubun-ubun anak-
anak beruban. Ungkapan ini adalah ungkapan majaz atau
kata kiasan. Akan tetapi boleh juga makna yang terkandung
di dalam ayat ini dimaksud adalah makna hakiki bukan
majazi.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 137
18. (Langit pun menjadi pecah belah) menjadi retak dan pecah-
pecah (pada hari itu) mengingat beratnya hari itu. (Adalah
janji Dia) janji Allah swt. mengenai kedatangan hari itu
(pasti terlaksana) pasti terjadi.
19. (Sesungguhnya ini) yaitu ayat-ayat yang memperingatkan ini
(adalah suatu peringatan) suatu nasihat bagi semua makhluk.
(Maka barang siapa yang menghendaki niscaya ia
menempuh jalan kepada Rabbnya) menempuh jalan yang
menyampaikan kepada-Nya, yaitu melalui iman dan taat
kepada-Nya.
20. (Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasanya kamu
berdiri, salat, kurang) kurang sedikit (dari dua pertiga
malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya) jika dibaca
nishfihi dan tsulutsihi berarti diathafkan kepada lafal
tsulutsay; dan jika dibaca nishfahu dan tsulutsahu berarti
diathafkan kepada lafal adnaa. Pengertian berdiri atau
melakukan salat sunat di malam hari di sini pengertiannya
sama dengan apa yang terdapat di awal surah ini, yakni
sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya
(dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu) lafal
ayat ini diathafkan kepada dhamir yang terkandung di dalam
lafal taquumu, demikian pula sebagian orang-orang yang
bersamamu. Pengathafan ini diperbolehkan sekalipun tanpa
mengulangi huruf taukidnya, demikian itu karena mengingat
adanya fashl atau pemisah. Makna ayat secara lengkap, dan
segolongan orang-orang yang bersama kamu yang telah
melakukan hal yang sama. Mereka melakukan demikian
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 138
mengikuti jejak Nabi saw. sehingga disebutkan, bahwa ada
di antara mereka orang-orang yang tidak menyadari berapa
rakaat salat malam yang telah mereka kerjakan, dan waktu
malam tinggal sebentar lagi. Sesungguhnya Nabi saw. selalu
melakukan salat sunah sepanjang malam, karena demi
melaksanakan perintah Allah secara hati-hati. Para sahabat
mengikuti jejaknya selama satu tahun, atau lebih dari satu
tahun, sehingga disebutkan bahwa telapak-telapak kaki
mereka bengkak-bengkak karena terlalu banyak salat.
Akhirnya Allah swt. memberikan keringanan kepada
mereka. (Dan Allah menetapkan) menghitung (ukuran
malam dan siang. Dia mengetahui bahwa) huruf an adalah
bentuk takhfif dari anna sedangkan isimnya tidak
disebutkan, asalnya ialah annahu (kalian sekali-kali tidak
dapat menentukan batas waktu-waktu itu) yaitu waktu
malam hari. Kalian tidak dapat melakukan salat malam
sesuai dengan apa yang diwajibkan atas kalian melainkan
kalian harus melakukannya sepanjang malam. Dan yang
demikian itu memberatkan kalian (maka Dia mengampuni
kalian) artinya, Dia mencabut kembali perintah-Nya dan
memberikan keringanan kepada kalian (karena itu bacalah
apa yang mudah dari Alquran) dalam salat kalian (Dia
mengetahui, bahwa) huruf an adalah bentuk takhfif dari
anna, lengkapnya annahu (akan ada di antara kalian orang-
orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka
bumi) atau melakukan perjalanan (mencari sebagian karunia
Allah) dalam rangka mencari rezeki-Nya melalui berniaga
dan lain-lainnya (dan orang-orang yang lain lagi, mereka
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 139
berperang di jalan Allah) ketiga golongan orang-orang
tersebut, amat berat bagi mereka hal-hal yang telah
disebutkan tadi menyangkut salat malam. Akhirnya Allah
memberikan keringanan kepada mereka, yaitu mereka
diperbolehkan melakukan salat malam sebatas kemampuan
masing-masing. Kemudian ayat ini dinasakh oleh ayat yang
mewajibkan salat lima waktu (maka bacalah apa yang
mudah dari Alquran) sebagaimana yang telah disebutkan di
atas (dan dirikanlah salat) fardu (tunaikanlah zakat dan
berikanlah pinjaman kepada Allah) seumpamanya kalian
membelanjakan sebagian harta kalian yang bukan zakat
kepada jalan kebajikan (pinjaman yang baik) yang
ditunaikan dengan hati yang tulus ikhlas. (Dan kebaikan apa
saja yang kalian perbuat untuk diri kalian, niscaya kalian
akan memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan
yang jauh lebih baik) dari apa yang telah kalian berikan.
Lafal huwa adalah dhamir fashal. Lafal maa sekalipun bukan
termasuk isim makrifat akan tetapi diserupakan dengan isim
makrifat karena tidak menerima takrif (dan yang paling
besar pahalanya. Mohonlah ampun kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang) kepada orang-orang mukmin.
Kontekstualisasi dan Inti dari Surat Al Muzammil
Bahwasanya kita selaku hamba Allah dan umat dari
nabi muhammad harus bisa tegar dan kuat dalam segala hal,
karena dilihat dari surah ini bahwasanya allah memberi kita
kekuatan yang besar dari ciptaan allah yang lain, terutama sholat
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 140
malam yang kita anggap berat dan kami kira bahwasanya sholat
malam sangat penting bagi kita untuk membatu urusan kita di
dalam mengarungi kehidupan ini.
Lalu kita juga harus ingat bahwasanya al-qur’an
mempunyai bobot yang sangat berat sehingga gunug sekalipun
tidak kuasa menahan nya dan kita sudah di anggap mahluk yang
paling kuat untuk menerima wahyu dan Al-Qur’an melalui nabi
Muhammad SAW.
Diakhir surah allah memberikan alternatif bagi kita yang
super sibuk dan susah untuk melakukan ritual ibadah di malam
hari sekalipun itu sholat malam, ialah dengan berpuasa, zakat,
dan bersedakah kepada faqir miskin.
Lalu perbanyaklah teman dan jauhilah permusuhan
karena sabaik-baiknya manusia yang tidak membalas kejahatan
terhadapnya
Surah ini menurut para ulama surah ketiga yg isinya
tuntunan untuk lebih dekat dengan allah swt. Dengan cara
mendirikan shalat malam
Wallahu a’alam
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 141
Kelompok 8
Muhammad Fikri Haikal
Muhammad Fajar Siddiq
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 142
SURAT AL MUDATSIR
Al-Mudatsir Ayat 1-30
) َوال ُّر ْجا َز فَاا ْه ُج ْر٤( ) َوثِ َيابَا َك فَ َط ِها ْر٣( ) َو َر ّبَا َك َف َك ِبا ْر٢() قُا ْم َفأَ ْنا ِذ ْر١( َٰيأَيُّ َهاا ا ْل ُما َّدثِ ُر
) َفا َٰذ ِل َك يَ ْو َمئِا ٍذ٨( ) َفا ِإذَا نُ ِقا َر ِفاى النَّااقُ ْو ِر٧( ) َو ِل َر ِب َك فَا ْصا ِب ْر٦( ) َوََّل تَ ْمنُ ْن تَ ْستَ ْكثِ ُر٥(
)١١ۙ( ) ذَ ْر ِنا ْي َو َما ْن َخ َل ْقا ُت َو ِح ْيا ادا١٠( ) َعلَاى ا ْل َٰك ِفا ِر ْي َن َغ ْيا ُر َي ِسا ْي ٍر٩( َيّا ْو ٌم َع ِسا ْي ٌر
)ثُا َّم َي ْط َما ُع١٤( ) َّو َم َّه ْد ُّت لَ ٗه تَ ْم ِه ْي ادا١٣( ) َّو َب ِن ْي َن ُش ُه ْو ادا١٢( َّو َج َع ْل ُت لَ ٗه َماَاّل َّم ْم ُد ْو ادا
) ِإنَّا ٗه فَ َّكا َر َو َقا َّد َر١٧( ) َساأُ ْر ِهقُ ٗه َصاعُ ْو ادا١٦( ) َكلَّا ِإ َّن ٗه َكا َن َََّٰل َٰيتِ َنا َع ِن ْيا ادا١٥( أَ ْن أَ ِز ْي َد
) ثُا َّم َعا َب َس َوبَ َسا َر٢١( ) ثُا َّم َن َظا َر٢٠( ) ثُا َّم قُ ِتا َل َك ْيا َف َقا َّد َر١٩( ) َفقُ ِت َل َك ْي َف قَ َّد َر١٨(
) ِإ ْن َٰهاذَا ِإََّل قَا ْو ُل٢٤( ) فَقَاا َل ِإ ْن َٰهاذَا ِإََّل ِسا ْح ٌر ُيّا ْؤثَ ُر٢٣( ) ثُ َّم أَ ْد َبا َر َوا ْساتَ ْك َب َر٢٢(
)٢٨( ) ََّل تُ ْب ِقا ْي َوََّل تَاذَ ُر٢٧( ) َو َماا أَ ْد َٰر َك َماا َسا َق ُر٢٦( ) َسأُ ْصا ِل ْي ِه َسا َق َر٢٥( ا ْل َب َشا ِر
)٣٠( ) َع َل ْي َها تِ ْسعَةَ َع َش َر٢٩(ۚ َل َّوا َحةٌ ِل ْلبَ َش ِر
1.Wahai orang yang berkemul (berselimut)!. 2. bangunlah, lalu
berilah peringatan!. 3. dan agungkanlah Tuhanmu. 4. dan
bersihkanlah pakaianmu. 5. dan tinggalkanlah segala
(perbuatan) yang keji. 6. dan janganlah engkau (Muhammad)
memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih
banyak. 7. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah. 8. Maka apabila
sangkakala ditiup. 9. Maka itulah hari yang serbasulit. 10. bagi
orang-orang kafir tidak mudah. 11. Biarkanlah Aku (yang
bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah
menciptakannya, 12. dan Aku berikan baginya kekayaan yang
melimpah. 13. dan anak-anak yang selalu bersamanya. 14. dan
Aku berikan baginya kelapangan (hidup) seluas-luasnya. 15.
Kemudian dia ingin sekali agar Aku menambahnya 16. Tidak
bisa! Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami (Al
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 143
Quran) 17. Aku akan membebaninya dengan pendakian yang
memayahkan. 18. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan
menetapkan (apa yang ditetapkannya) 19. Maka celakalah dia!
Bagaimana dia menetapkan? 20. Sekali lagi, celakalah dia!
Bagaimana diamenetapkan? 21. Kemudian dia (merenung)
memikirkan 22. Lalu berwajah masam dan cemberut 23.
Kemudian berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri
24. Lalu dia berkata, "(Al Quran) ini hanyalah sihir yang
dipelajari (dari orang-orang dahulu) 25. Ini hanyalah
perkataan manusia." 26. Kelak, Aku akan memasukkannya
kedalam (neraka) Saqar 27. Dan tahukah kamu apa (neraka)
Saqar itu? 28. Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak
membiarkan 29. yang menghanguskan kulit manusia 30. Di
atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).
Mufradat Lughowiyah
ا ْل ُمدَّ ِث ُر: orang yang berselimut pakaiannya. Maksudnya
menutup diri dengan pakaiannya untuk tidur atau
untuk menghangatkan diri. Sedang disar adalah
nama bagi segala sesuatu yang dikenakan
أَ ْن ِذ ْر:Peringatkan kaummu akan azab Allah jika mereka tidak
beriman.
َك ِب ْر: Agungkanlah
َف َط ِه ْر: bersihkan dirimu dari perbuatan-perbuatan
tercela dan perbaikilah ia dari perbuatan-
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 144
perbuatan tercela dan perbaikilah ia dari hal-hal
yang buruk
َو ََل تَ ْمنُ ْن تَ ْستَ ْك ِث ُر: Janganlah kamu memberikan amalmu kepada
Tuhanmu, tetapi engkau mengharapkan yang
lebih banyak
نُ ِق َر: Ditiup
ال َنّاقُ ْو ِر : Sangkakala
َع ِس ْير: Sulit
َغ ْي ُر يَ ِس ْير : Keras, Tidak mudah26
ذَ ْر ِن ْي َو َم ْن َخ َل ْق ُت َو ِح ْيدًا: Biarkanlah Aku, tinggalkanlah aku sendiri
bersamanya, maka Aku akan menolongmu
darinya
َّم ْمدُ ْودًا : longgar, banyak. Walid mempunyai tanaman,
ternak,dan perdagangan.
ثُ َّم َع َب َس َو َب َس َر : kata ( ) َعبَ َسmengerutkan keningnya diantara dua
alis. ( ) َو َب َس َرmerengut ini lebih hebat dari pada
() َعبَ َس
Tafsir Ayat
)٢() قُ ْم َفأَ ْن ِذ ْر١( َٰيأَ ّيُ َها ا ْل ُم َّد ِث ُر
26 Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi. (Semarang: CV
Toha Putra, 2011) hal 213
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 145
Wahai nabi yang berselimut dengan pakaiannya.
Maksudnya, menutup diri dengan pakaian itu karena takut
melihat malaikat ketika wahyu turun pertama kali, bangkitlah,
berilah peringatan penduduk Makkah dan ancamlah mereka
dengan adzab jika mereka tidak islam.
)٤( ) َو ِثيَابَ َك َف َط ِه ْر٣( َو َر َّب َك فَ َك ِب ْر
Agungkanlah Allah yang menyifati dirinya dengan
kebesaran, dalam ibadahmu, ucapanmu dan semua keadaanmu.
Orang arab mengatakan orang yang berbuat dosa, tidak
memenuhi janji Allah dengan mengatakan, “Orang itu
pakaiannya kotor”. Jika dia menjaga diri dan berbuat baik, orang
arab mengatakan, “Orang itu suci pakaiannya.” Kedua makna
itu benar. Sesungguhnya kesucian indrawi atau kebersihan,
biasanya berbarengan dengan kesucian maknawi. Kebalikannya
adalah benar. Adanya kotoran menunjukan dengan pasti
banyaknya dosa. Ayat ini menunjukan keagungan Allah dari apa
yang diucapkan oleh para penyembah berhala, kebersihan,
pebaikan akhlak dan menjauhi maksiat27
)٥( َوال ُّر ْج َز َفا ْه ُج ْر
Ibnu Abbas berkata bahwa makna َوال ُّر ْج َز فَا ْه ُج ْرadalah
berhala-berhala. Artinya jauhilah berhala-berhala, sedangkan
Mujahid, Ikrimah, Qatadah, Az-zuhri berkata bahwa maknaال ُّر ْج َز
adalah patung-patung. Adapun Ibrahim an- Nakha’I dan adh-
27Wahbahaz-Zuhaily, Tafsir al-Munir. Diterjemahkan oleh Abdul
Hayyie al-Katanidkk,(Jakarta: GemaInsani, 2014) hal 225
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 146
dhahhak berkata bahwa makna َفا ْه ُج ْر َوال ُّر ْج َزadalah tinggalkan
maksiat. Berdasarkan masing-masing perkiraan makna diatas,
intinya Allah melarang beliau bersentuhan dengan sedikit pun
dari hal itu, bakberhala, patung, dosa-dosaa ataupun maksiat.
Larangan ini tidak berarti bahwa rasulullah pernah terkait
dengan sedikit dari hal-hal yang disebutkan itu.
)٦( َوََّل تَ ْمنُ ْن تَ ْستَ ْك ِث ُر
Ibnu Abbas berkata bahwa maksudnya adalah janganlah
kamu memberikan sementara kamu mengharapkan lebih banyak
dari pada itu. Sedangkan Mujahid berkata bahwa maknanya
adalah jangan lemah untuk memperbanyak kebaikan. Adapun
Ibnu zaid berkata bahwa maknanya adalah janganlah kamu
menyebut-nyebut kenabianmu kepada manusia untuk
mengharapkan banyakhal dari mereka. Lalu kamu mengambil
ganti berupa dunia dari mereka. Dan pendapat yang paling kuat
adalah pendapat pertama, yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas.
Wallahua’lam28
)٧( َو ِل َر ِب َك َفا ْص ِب ْر
Ayat ini memerintahkan supaya Nabi Muhammad saw
bersikap sabar, karena dalam berbuat ta’at itu pasti banyak
rintangan dan cobaan yang dihadapi. Apalagi ketika berjihad
hendak menyampaikan risalah Islamiyah. Sabar dalam ayat ini
28SyaikhShafiyurrohman al-Mubarakfuri, ShahihIbnukatsir (tafsir oleh
IbnuKatsir) (Jakarta: PustakaIbnuKatsir, 2016) hal 512
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 147
juga berarti tabah menderita karena disiksa atau disakiti karena
apa yang disampaikan itu tidak disukai orang
)٩( ) َف َٰذ ِل َك َي ْو َم ِئ ٍذ يَّ ْو ٌم َع ِس ْي ٌر٨( َف ِإذَا نُ ِق َر ِفى النَّاقُ ْو ِر
Pada ayat ini dibayangkan tentang suasana kedatangan
hari kiamat. Jelasnya dihari itu orang-orang yang telah
menyakiti hati para rasul, juru dakwah karena mereka
menyampaikan ajaran Allah, akan mengalami suatu kesulitan
yang luar biasa. Tersentak mereka mendengar seruan kiamat
ditiup malaikat israfil. Karena itu Allah memerintahkan nabi
Muhammad saw supaya bersabar saja atas gangguan musuh
tersebut
Dan pada hari kiamat kelak semua yang mendapatkan
apa yang telah mereka amalkan, berupa kesenangan yang abadi
bagi orang yang beriman dan berjihad menegakkan keimannya
yang benar serta kecelakaan dan kesengsaraan bagi siapa yang
ingkar dan hidup atas keinginan itu.
)١٠( َع َلى ا ْل َٰك ِف ِر ْي َن َغ ْي ُر َي ِس ْي ٍر
Dalam ayat ini ditegaskan lagi bahwa tidaklah mudah
bagi orang-orang kafir itu menghadapi suasana hari kiamat yang
dahsyat dan menakutkan itu. Sebab pada hari itulah mereka
menerima segala hasil perbuatan mereka dari buku amalan
sebelah kiri sebagai tanda masuk neraka. Tiada lagi kebahagiaan
umat yang kafir itu pada hari tersebut. Semuanya serba susah
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 148
dan pedih, tidak seperti kesenangan yang pernah mereka nikmati
di dunia terdahulu29
)١١(ۙ ذَ ْر ِن ْي َو َم ْن َخ َل ْق ُت َو ِح ْي ادا
Disini terdapat ancaman keras terhadap kedurhakaan Al-
Walid ,keinkarannya yang besar dan kesombongannya, karena ia
mendapat kelapangan harta dan kehormatan Al-Walid
mengatakan “ Aku adalah orang terhormat, anak orang
terhormat. Tidak ada seorang arab pun yang menyamaiaku dan
tidak pula seorang arab yang menyamai orang tuaku” Allah
menghinakannya dan menghinakan pula julukannya, sehingga
dia memalingkan julukan itu demi tujuan yang mereka
maksudkan, yaitu unutuk menyanjung dan memujinya, menjadi
cacian dan celaan terhadapnya. Maka Allah menjadikan sebagai
satu-satunya orang yang dalam kejahatan dan kekejian.
)١٢( َّو َج َع ْل ُت لَ ٗه َماَاّل َّم ْم ُد ْو ادا
Telah aku berikan kepadanya harta yang banyak,
sehingga dia pun mempunyai tanaman, peternakan dan
perdagangan. Berkata Muqatil, dia mempunyai kebun yang
tidak pernah berhenti panennya baik di musim dingin maupun
musim panas. Berkata Ibnu abbas, dia mempunyai banyak harta
di antara mekah dan taif, baik berupa unta, kuda ,kambing
maupun kebun-kebun yang tidak pernah terputus buahnya di
musim dingin dan musim panas
29 Muhammad Sonhadji, Alquran dan tafsirnya (Yogyakarta: PT. Dana
Bhakti Wakaf, 2013) hal 454
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 149
)١٣( َّو َبنِ ْي َن ُش ُه ْو ادا
Juga anak-anak yang selalu hadir bersamanya di
Makkah. Mereka pernah beripisah dengan bapaknya, guna
mencari penghidupan atau mendapatkan rezeki, karena mereka
tidak perlu bepergian di muka bumi, sebab mempunyai banyak
harta. Dan Al walid pun menyukai mereka dan melihat
kehadiran mereka.
)١٤( َّو َم َّه ْد ُّت لَ ٗه تَ ْم ِه ْي ادا
Tamhid menurut orang-orang arab adalah melapangkan.
Misalnya dia melapangkan rezki bagi sianak. Dan aku
lapangkan baginya rezki, dan aku luaskan kehormatan.
Seharusnya dia bersyukur Kepada Allah atas nikmat yang
diberikan kepadanya. Tetapi dia sangat ingkar kepada tuhannya,
sehingga dia berpaling dari Dia dan sombong. Dia membalas
nikmat dengan kekafiran, dan membalas karunia dengan
keingkaran dan kedurhakaan.
)١٥( ثُ َّم َي ْط َم ُع أَ ْن أَ ِز ْي َد
Kemudian sesudah itu pun dia masih menginginkan agar
harta dan anaknya bertambah. Disini tersapai cacian terhadap
ketamakan dan keserakahannya untuk mengumpulkan harta
kekayaan dunia, sebagaimana keadaan manusia.30
)١٧( ) َسأُ ْر ِهقُ ٗه َصعُ ْو ادا١٦( َكلَّا إِ َنّ ٗه َكا َن َََّٰل َٰيتِ َنا َعنِ ْي ادا
30 Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi. (Semarang: CV
Toha Putra, 2011) hal 224
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 150
Aku tidak menambahinya. Dia menentang ayat-ayat Al-
Quran, mengkufuri apa yang kami turunkan kepada rasul kami
setelah dia mengetahui kebenaranaya itu. Ini menunjukan dalil
bahwa Walid adalah orang kafir yang menentang. Dalam dirinya
dia mengakui bahwa ayat-ayat Al Quran adalah dari sisi Allah,
tetapi dia mengingkari hal itu dengan lisannya demi memuaskan
kaumnya.
Oleh karena itu, dia berhak mendapatkan hukuman yakni
akan dibebankan kepadanya dan membuatnya menanggung
kesulitan adzab yang tidak ada kenyamanan di dalamnya, seperti
orang yang dibebani untuk menaiki puncak gunung teringgi
yang mengerikan. Tirmidzi meriwayatkannya dengan redaksi
( ) َصعُ ْودًاadalah gunung dari api yang bias dinaiki selama tujuh
puluh tahun. Kemudian turun lagi, demikian selamanya. 31
)٢٠( ) ثُ َّم قُتِ َل َك ْي َف قَ َّد َر١٩( ) َفقُتِ َل َك ْي َف قَ َّد َر١٨( ِإ ّنَ ٗه فَ َّك َر َوقَ َّد َر
Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya Al Walid
memikirkan dan memahami wahyu Allah yang telah
didengarnya. Tetapi dia berusaha pula hendak menyusun kata-
kata sendiri dengan maksud hendak menyela apa yang ada
dalam Al- Quran. Dia mereka-reka pula perkataan lain yang
bersifat menentang Al Quran, sehingga orang quraisy merasa
senang dengannya, merasa cocok keinginan mereka dengan Al
31Wahbahaz-Zuhaily, Tafsir al-Munir. Diterjemahkan oleh Abdul
Hayyie al-Katanidkk,(Jakarta: GemaInsani, 2014) hal 231
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 151
Walid. Dalam ayat 19 Allah mengutuk Al- Walid dengan kata-
kata “celaka dia” bagaimana dia menetapkan? Terkutuklah Al
Walid terkutuklah orang Quraisy yang berbuat seperti itu.
Maka celakalah Al Walid bagaimana dia menetapkan.
Kata-kata ini diulangi lagi oleh Allah. Begitu kerasnya kutukan
Allah kepada Al Wahid, karena dia telah menetapkan begitu saja
bahwa apa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad adalah sihir
)٢١(ثُ َّم نَ َظ َۙر
Kemudain Al walid memikirkan berulang-ulang kalau
ada sesuatu kesalahan dan susunan ayat Al-Quran itu sesuai
dengan keinginannya. Lalu dia teliti kembali boleh jadi ada titik
kelemahan ayat yang dapat dijadikan senjata pengkritik dan
pencela Muhammad SAW
)٢٢( ثُ َّم َعبَ َس َوبَ َس َر
Ayat ini mengungkapkan bahwa Al-Walid bermasam
muka dan cemberut. Sebab dia gagal mencari kelemahan al-
quran, dan tidak tahu lagi apa yang harus diucapkan untuk
mencelanya. Disini merupakan isyarat bahwa Al-walid dan
orang-orang yang ahli seperti dia sebenarnya dalam hati
kecilnya telah mengakui kebenaran Nabi Muhammad SAW.
Hanya saja sikap keras kepalanya mendorong dia untuk mencaci
dan mencela nabi. Andaikan ia mantap pada keyakinanya akan
kebenaran tersebut tentu dia mendapatkan yang ia inginkan. Dan
tidak mungkin dia berwajah cemberut yang melambangkan
perasaan yang tidak puas.