T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 202
Mengenai langit, Allah berfirman, “Apabila langit terbelah.”
(al-Insyiqaaq: 1).“Dan dibulakan langit, maka terdapatlah
beberapa pintu.” (an-Naba: 19). “Dan (ingatlah) hari (ketika)
langit pecah belah mengeluarkan kabut putih.” (al-Furqaan:
25).
Mengenai gunung, Allah berfirman: “Dan mereka bertanya
kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah, Tuhanku
akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-
hancurnya.” (Thaahaa: 105).
Titik kesamaan antara angin pada tiga ayat pertama
dengan malaikat pada ayat keempat dan kelima adalah daya dan
kecepatan gerak.41
Dalam firman berikutnya disebutkan:
َف ِإذَا ال ُّن ُجو ُم ُط ِم َس ْت
Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan. (Al-Mursalat:
8)
Maksudnya, sinarnya lenyap. Seperti yang disebutkan
dalam ayat lain melalui firman-Nya:
َو ِإذَا النُّ ُجو ُم ا ْن َك َد َر ْت
dan apabila bintang-bintang berjatuhan. (At-Takwir: 2)
dan firman Allah Swt.:
َو ِإذَا ا ْل َكوا ِك ُب ا ْنتَثَ َر ْت
dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. (Al-Infitar: 2)
Adapun firman Allah Swt.:
َوإِذَا ال َّس َما ُء فُ ِر َج ْت
dan apabila langit telah dibelah. (Al-Mursalat: 9)
41 Al-Munir
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 203
Yaitu belah, pecah, dan semua bagiannya turun serta
semua sisinya melemah.
َوإِذَا ا ْل ِجبَا ُل نُ ِس َف ْت
dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu.
(Al-Mursalat: 10)
Yakni dilenyapkan sehingga tiada bekasnya sama sekali,
semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui
firman-Nya:
َويَ ْسئَلُو َن َك َع ِن ا ْل ِجبا ِل فَقُ ْل يَ ْن ِسفُها َر ِبي نَ ْسفاا َف َيذَ ُرها َقا اعا َص ْف َصفاا ََّل تَرى ِفيها
ِع َوجاا َوَّل أَ ْمتاا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka
katakanlah, "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat)
sehancur-hancurnya." (Thaha: 105)
Dan firman Allah Swt.:
َو َي ْو َم نُ َسيِ ُر ا ْل ِجبا َل َوتَ َرى ا ِْلَ ْر َض با ِر َزةا َو َح َش ْرنا ُه ْم فَ َل ْم نُغا ِد ْر ِم ْن ُه ْم أَ َحداا
Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami
perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu
datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami
tinggalkan seorang pun dari mereka. (Al-Kahfi: 47).42
Tafsir Ayat 11-15
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa
makna uqqitat ialah dikumpulkan. Ibnu Zaid mengatakan, dan
ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain
melalui firman-Nya:
يَ ْو َم َي ْج َم ُع ّل َّلاُ ال ُّر ُس َل
42 Ibnu Katsir
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 204
(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul. (Al-
Maidah: 109).
Dan Mujahid mengatakan, bahwa makna uqqitat ialah
ditangguhkan. Menurut As-Sauri, dari Mansur, dari
Ibrahim, uqqitat artinya dipersiapkan seakan-akan menurutnya
dianggap semakna dengan apa yang disebutkan dalam firman-
Nya:
َوأَ ْش َرقَ ِت ا ِْلَ ْر ُض ِبنُو ِر َربِها َو ُو ِض َع ا ْل ِكتا ُب َو ِجي َء بِال َّن ِبيِي َن َوال ُّش َهدا ِء َوقُ ِض َي بَ ْي َن ُه ْم
بِا ْل َح ِق َو ُه ْم ََّل يُ ْظلَ ُمو َن
Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan
cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku
(perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah
para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara
mereka dengan adil, sedangkan mereka tidak dirugikan. (Az-
Zumar: 69)
Allah Swt. berfirman, bahwa sampai kapankah para
malaikat yang menjadi utusan itu ditangguhkan perkaranya,
yaitu sampai hari kiamat.
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt.
melalui firman-Nya:
َفلا تَ ْح َس َب َّن ّل َّلاَ ُم ْخ ِل َف َو ْع ِد ِه ُر ُس َلهُ ِإ َّن ّل َّلاَ َع ِزي ٌز ذُو ان ِتقا ٍم يَ ْو َم تُ َب َّد ُل ا ِْلَ ْر ُض َغ ْي َر
ا ِْلَ ْر ِض َوال َّسماوا ُت َوبَ َر ُزوا ِّٰ َّللِ ا ْلوا ِح ِد ا ْل َق َّها ِر
Karena itu, janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan
menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya: sesungguhnya
Allah Mahaperkasa, lagi mempunyai pembalasan, (yaitu) pada
hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian
pula) langit, dan mereka semuanya (di padang mahsyar)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 205
berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi
Mahaperkasa. (Ibrahim: 47-48)
Yaitu hari keputusan. Hal yang sama disebutkan dalam
surat ini, yaitu:
ِليَ ْو ِم ا ْلفَ ْص ِل
Sampai hari keputusan. (Al-Mursalat: 13)
Kemudian Allah Swt. bertlrman. menceritakan betapa
hebatnya hari kiamat:
َو َما أَ ْد َرا َك َما يَ ْو ُم ا ْلفَ ْص ِل َو ْي ٌل يَ ْو َم ِئ ٍذ ِل ْل ُم َك ِذ ِبي َن
Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu? Kecelakaan
yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang
mendustakan. (Al-Mursalat: 14-15)
Artinya. kecelakaanlah bagi mereka karena akan
tertimpa azab Allah di hari kemudian. Dalam pembahasan yang
lalu telah kami sebutkan sebuah hadis yang mengatakan bahwa
Al-Wail adalah nama sebuah lembah di dalam neraka Jahanam.
tetapi predikatnya tidak sahih.
Ini untuk memberi rasa takjub kepada manusia terhadap
kegentingan hari itu “Sampai hari agung apakah urusan-urusan
yang berkaitan dengan para rasul ditangguhkan?” Urusan-urusan
itu adalah mengadzab orang-orang yang mendustakan mereka,
mengagungkan orang-orang yang membenarkan mereka,
memampakkan apa yang diancamkan kepada umat-umat
manusia, menakut-nakuti mereka akan ‘ardh (makhluk
dihadapkan di depan Tuhan), hisab, penyebaran buku-buku
amal, dan penimbangan amal. Yang dimaksud dengan itu adalah
membuat genting keadaan hari itudan pengagungan perkaranya.
Itu adalah hari Kiamat.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 206
Kemudian Allah menjawab bahwa mereka akan
menampakka diri pada hari keputusan itu dihadapan para
makhluk. Disana, manusia diputuskan berdasarkan amal
perbuatan mereka, lalu mereka dipisah-pisah ke surga dan
neraka.43
Kemudian, Allah mengagungkan hari itu untuk kedua
kalinya, lalu Dia berfirman,
“Dan tahukah kamu apakah hari keputusan itu?” (al-
Mursalat: 14)
Artinya, apa yang memberitahumu mengenai hari keputusan,
alangkah dahsyat dan mengerikannya. Maksudnya, itu adalah
hal yang menakutkan, tidak diketahui sifatnya, dan tidak bisa
diukur besarnya.
Kemudian, Allah melanjutkan dengan kegentingan yang ketiga.
Allah berfirman,
“Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan.”
(al-Mursalaat: 15)
Celakalah bagi mereka akan adzab Allah besok, pada
hari itu yang disertai dengan kegentingan-kegentingan bagi
orang-orang yang mendustakan Allah, para rasul dan kitab-
kitab-Nya. Al-Wail adalah ancaman kebinasaan. Tidak benar
kalau ia adalah lembah di neraka jahannam, sebagaimana
pendapat Ibnu Katsir.
Kegentingan hari Kiamat ini berulang dalam surah ini
dalam sembilan tempat untuk menambah penguatan dan
43 Ibnu Katsir
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 207
penetapan. Sebagaimana telah tersebut dalam surah ar-
Rahman.44
Ayat 16-21
أَلَ ْم نُ ْه ِل ِك اِل َّو ِلي َن
Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang
dahulu. (Al-Mursalat: 16)
Yakni yang mendustakan para rasul dan menentang apa yang
disampaikan oleh mereka.
ثُ َّم نُتْبِعُ ُه ُم اْل ِخ ِري َن
Lalu Kami iringkan (azab Kami terhadap) mereka dengan
(mengazab) orang-orang yang datang kemudian. (Al-Mursalat:
17).
Dari kalangan orang-orang yang serupa dengan mereka. Karena
itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:
َكذَ ِل َك نَ ْف َع ُل ِبا ْل ُم ْج ِر ِمي َن َو ْي ٌل َي ْو َم ِئ ٍذ ِل ْل ُم َك ِذبِي َن
Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang
berdosa. Kecelakaan besarlah pada hari itu bagi orang-orang
yang mendustakan. (Al-Mursalat: 18-19)
Demikianlah menurut Ibnu Jarir. Kemudian disebutkan
dalam firman selanjutnya seraya menyebutkan nikmat yang
telah dikaruniakan-Nya kepada makhluk-Nya dengan
berdalilkan penciptaan pertama yang menunjukkan kepada
kekuasaan-Nya yang mampu membangkitkan mereka hidup
kembali.45
44Al-Munir
45Ibnu Katsir
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 208
Sesungguhnya sunnah kami terhadap semua orang kafir
adalah sama. Sebagaimana pembinasaan kepada orang-orang
yang mendustakan kitab-kitab Allah dan para rasul-Nya yang
melalukan dosa, kami juga memperlakukan kepada setiap orang
musyrik adakalanya di dunia atau di akhirat.
Kehinaan dan adzab pada hari pembinasaan kepada
orang-orang yang mendustakan Allah, an para rasul-Nya, kitab-
kitab-Nya, dan hari akhir.
Kemudian, Allah menghina mereka dengan berbagai
nikmat dan anugerah yang diberikan kepada mereka, penjelasan
mengenai akibat-akibat kekuasaan ikahi kepada mereka sembari
menjadikan argumentasi awal mula penciptaan untuk
pengulangan pencipataan.46
Tafsir Ayat 20-23
أَ َل ْم نَ ْخلُ ْق ُك ْم ِم ْن َما ٍء َم ِهي ٍن
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? (Al-
Mursalat: 20).
Maksudnya, lemah lagi hina bila dibandingkan dengan
kekuasaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebagaimana yang telah
disebutkan di dalam surat Yasin melalui hadis Bisyar ibnu
Jahhasy yang menyebutkan:
»«ا ْب َن آ َد َم أَنَّى تُ ْع ِج ُزنِي َوقَ ْد َخ َل ْقتُ َك ِم ْن ِمثْ ِل َه ِذ ِه؟
Hai anak Adam, apakah yang menghalangi-Ku dari berbuat
terhadapmu, padahal Akn telah menciptakanmu dari sesuatu
yang hina seperti ini (air mani)?47
46Al-Munir
47 Ibnu Katsir
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 209
Kami himpunkan dia dalam rahim, yaitu tempat bagi air
mani laki-laki dan indung telur; dan memang rahim dijadikan
untuk itu dan dapat memelihara air mani yang ada di dalamnya.
Yakni sampai masa tertentu. enam bulan, atau sembilan bulan.
Tidakkah kalian melihat dan mengetahui bahwa Kami
telah menciptakan manusia dari air yang lemah dan hina, berupa
mani? Sisi lemah air mani adalah jelas kaitannya dengan
kekuasaan yang Maha Pencipta, Kami jadikan dan kumpulkan
di tempat yang pasti atau tempat yang terjaga dan terlindungi,
yakni rahim. Kemudian, Allah membiarkannya sampai pada
batas tertentu, yaitu pada masa hamil, mulai dari enam bulan
sampai sembilan bulan. Kami tentukan anggota-anggota
tubuhnya dan sifat-sifatnya.
Kami jadikan setiap keadaan sesuai dengan sifat yang
Kami inginkan. Sebaik-baik yang menentukan adalah Allah,
atau sebaik-baik yang menentukan adalah Kami, atau sesuai
dengan bacaan takhfif artinya Kami berkuasa untuk
menciptakannya, menggambarnya sesuai dengan kehendak
Kami. Sebaik-baik yang mempunyai kekuasaan adalah Kami, di
mana Kami menciptakan kalian dalam bentuk yang paling baik.
Tafsir Ayat 24-50
“Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan.”
(al-Mursalaat: 24)
Kehinaan dan adzab pada hari yang genting itu, yakni
hari Kiamat adalah bagi orang-orang yang mendustakan
kekuasaan Kami atas hal itu dan mendustakan anugerah-
anugerah dan kenikmatan-kenikmatan Kami.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 210
Ini adalah penghinaan dan ancaman dari dua sisi.
Pertama- Sesungguhnya nikmat, semakin besar nikmat itu,
maka mengufurinya adalah lebih jelek.
Kedua-Sesungguhnya Yang Mahakuasa untuk mencipatakan
pertama kali adalah berkuasa pula untuk mengulang
penciptaannya itu. Orang yang mengingkari dalil yang jelas ini
berhak mendapatkan penghinaan yang maksimal
Kemudian, Allah menghitung tiga nikmat yang terdapat
di cakrawala setelah menyebut nikmat-nikmat yang ada pada
diri manusia.48
Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:
أَ َل ْم نَ ْجعَ ِل اِل ْر َض ِك َفاتاا أَ ْح َيا اء َوأَ ْم َواتاا
Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul, orang-
orang hidup dan orang-orang mati. (Al-Mursalat: 25-26).
Ibnu Abbas mengatakan bahwa kifatan artinya
penyimpanan. Mujahid mengatakan bahwa mayat dikebumikan
hingga tidak terlihat. Asy-Sya'bi mengatakan bahwa bagian
dalam bumi untuk orang-orang mati kalian, sedangkan bagian
luarnya untuk orang-orang hidup kalian. Hal yang sama
dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah.
َو َج َع ْل َنا فِي َها َر َوا ِس َي َشا ِم َخا ٍت
dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi. (Al-
Mursalat: 27)
Yaitu gunung-gunung untuk menstabilkan bumi agar tidak
berguncang dan tidak pula bergetar.
َوأَ ْس َق ْينَا ُك ْم َما اء فُ َراتاا
48 Al-Munir
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 211
dan Kami memberimu minum air yang tawar? (Al-Mursalat: 27)
Maksudnya, tawar dan enak diminum dari langit atau dari mata
air yang menyumber dari bumi.
َو ْي ٌل َي ْو َم ِئ ٍذ ِل ْل ُم َك ِذ ِبي َن
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang
mendustakan. (Al-Mursalat: 28)
Yakni bagi orang yang merenungkan semua makhluk ini yang
menunjukkan kepada kebesaran kekuasaan Penciptanya,
sesudah itu dia tetap mendustakan-Nya dan kafir kepada-Nya.
Allah Swt. berfirman, menceritakan keadaan orang-
orang kafir yang mendustakan hari berbangkit, hari pembalasan,
dan adanya surga dan neraka. bahwa kelak di hari kiamat
dikatakan kepada mereka:
ا ْن َط ِلقُوا إِلَى َما ُك ْنتُ ْم بِ ِه تُ َك ِذبُو َن ا ْن َط ِلقُوا إِ َلى ِظ ٍل ِذي ثَلا ِث ُشعَ ٍب
Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu
mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang
mempunyai tiga cabang. (Al-Mursalat: 29-30).
Yaitu nyala api neraka apabila meninggi dan naik
disertai dengan asapnya, maka karena kuat dan kerasnya api
neraka sehingga seakan-akan mempunyai tiga cabang,
ََّل َظ ِلي ٍل َوَّل يُ ْغ ِني ِم َن ال َّل َه ِب
yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api
neraka. (Al-Mursalat: 31).
Naungan asap yang membarengi nyala api, ia tidak
melindungi, dan juga tidak menolak nyala api neraka, yakni
tidak dapat melindungi mereka dari panasnya nyala api neraka.
Firman Allah Swt.:
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 212
إِنَّ َها تَ ْر ِمي بِ َش َر ٍر َكا ْل َق ْص ِر
Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan
setinggi istana. (Al-Mursalat: 32)
Yakni percikan apinya beterbangan, yang besar dan
tingginya bagaikan istana. Ibnu Mas'ud mengatakan seperti
benteng-benteng pertahanan. Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah,
dan Malikdari Zaid ibnu Aslamtelah mengatakan bahwa makna
yang dimaksud ialah seperti akar-akar pohon. َكأَ َّنهُ ِج َما َلةٌ ُص ْف ٌر
Seolah-olah ia iringan unta yang kuning. (Al-Mursalat: 33)
Bahwa makna yang dimaksud ialah seperti iringan unta
yang berbulu hitam, menurut Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan
Ad-Dahhak serta dipilih oleh Ibnu Jarir.Diriwayatkan dari Ibnu
Abbas, Mujahid, dan Sa'id ibnu Jubair sehubungan dengan
makna firman-Nya: iringan unta yang kuning. (Al-Mursalat: 33)
Yaitu seperti tambang-tambang perahu. Diriwayatkan pula dari
ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: iringan
unta yang kuning (Al-Mursalat: 33) lempengan-lempengan
tembaga.
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada
kami Amr ibnu Ali. telah menceritakan kepada kami Yahya,
telah menceritakan kepadaku Sufyan, dari Abdur Rahman ibnu
Abis yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar ibnu Abbas
mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah
Swt.: Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar
dan setinggi istana. (Al-Mursalat: 32) Bahwa kami mengambil
sebuah balok kayu yang panjangnya lebih dari tiga hasta, lalu
kami memancangkannya untuk tiang bangunan maka itu kami
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 213
namakan qasr. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning. (Al-
Mursalat: 33) Yakni tambang-tambang perahu, lalu
dikumpulkan hingga bentuknya seperti (setinggi) orang yang
pertengahan tingginya.
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang
mendustakan. (Al-Mursalat: 34)
Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:
َهذَا يَ ْو ُم ََّل يَ ْن ِطقُو َن
Ini adalah hari yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari
itu). (Al-Mursalat: 35)
Artinya, mereka sama sekali tidak dapat berbicara.
َوَّل يُ ْؤذَ ُن َل ُه ْم َفيَ ْعتَ ِذ ُرو َن
dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar
mereka dimaafkan. (Al-Mursalat: 36).
Yakni mereka tidak mampu berbicara dan tidak
diizinkan berbicara mengungkapkan alasan mereka, bahkan
hujah telah ditegakkan atas mereka, dan keputusan Tuhan telah
ditetapkan atas diri mereka karena perbuatan zalim mereka,
karenanya mereka tidak dapat berbicara. Di padang mahsyar
keadaan bermacam-macam, dan Allah Swt. adakalanya
menceritakan suatu keadaan darinya dan adakalanya
menceritakan keadaan yang lainnya. Hal ini untuk menunjukkan
kerasnya kengerian dan keguncangan yang terjadi di padang
mahsyar pada hari itu. Karena itulah maka sesudah
menceritakan tiap fase dari keadaan-keadaan tersebut, Allah
Swt. berfirman: Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi
orang-orang yang mendustakan. (Al-Mursalat: 37)
Adapun firman Allah Swt.:
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 214
َهذَا َي ْو ُم ا ْل َف ْص ِل َج َم ْع َنا ُك ْم َواِل َّو ِلي َن فَ ِإ ْن َكا َن لَ ُك ْم َك ْي ٌد فَ ِكي ُدو ِن
Ini adalah hari keputusan (pada hari ini) Kami mengumpulkan
kamu dan orang-orang yang terdahulu. Jika kamu mempunyai
tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku. (Al-
Mursalat: 38-39).
Ini merupakan khitab atau pembicaraan dari Tuhan Yang
Maha Pencipta ditujukan kepada hamba-hamba-Nya. Dia
berfirman kepada mereka: Ini adalah hari keputusan; (pada hari
ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang yang
terdahulu. (Al-Mursalat: 38).
Yakni Dia mengumpulkan mereka dengan kekuasaan-
Nya dalam suatu lapangan yang amat luas, suara seruan
terdengar oleh mereka semua, dan pandangan mata mereka
dapat melihat mereka semuanya (tiada sesuatu pun yang
menghalang-halangi pandangan mereka).
Firman Allah Swt.:
َف ِإ ْن َكا َن َل ُك ْم َك ْي ٌد َف ِكي ُدو ِن
Jika kamu mempunyai tipu daya. maka lakukanlah tipu dayamu
itu terhadap-Ku. (Al-Mursalat: 39)
Ini merupakan ancaman yang keras dan peringatan yang
sangat tegas. Dengan kata lain, jika kamu mempunyai
kemampuan untuk dapat melepaskan diri dari genggaman
kekuasaan-Ku dan menyelamatkan diri dari hukum-Ku, maka
lakukanlah, karena Sesungguhnya kamu tidak akan mampu
melakukannya. Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui
firman-Nya:
َيا َم ْع َش َر ا ْل ِج ِن َوا ْْ ِل ْن ِس إِ ِن ا ْستَ َط ْعتُ ْم أَ ْن تَ ْنفُذُوا ِم ْن أَ ْقطا ِر ال َّسماوا ِت َوا ِْلَ ْر ِض َفا ْنفُذُوا
ََّل تَ ْنفُذُو َن إََِّل ِب ُس ْلطا ٍن
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 215
Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus
(melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak
dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan. (Ar-Rahman:
33)
Dan Allah Swt. telah berfirman:
َوَّل تَ ُض ُّرو َنهُ َش ْيئاا
dan kamu tidak dapat membuat mudarat kepada-Nya sedikitpun.
(Hud: 57)
Di dalam sebuah hadis disebutkan:
»« َيا ِع َبا ِدي ِإ َنّ ُك ْم لَ ْن تَ ْبلُغُوا َن ْف ِعي َفتَ ْنفَعُونِي َولَ ْن تَ ْبلُغُوا ُض ِري َفتَ ُض ُّرو ِني
Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kamu tidak akan dapat
berbuat sesuatu yang memberi manfaat kepada-Ku dan tidak
akan (pula) dapat berbuat sesuatu yang menimpakan mudarat
terhadap-Ku.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada
kami Ali ibnul Munzir At-Tarifi Al-Audi, telah menceritakan
kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan
kepada kami Husain ibnu Abdur Rahman, dari Hassan ibnu
Abul Mukhariq, dari Abu Abdullah Al-Jadali yang mengatakan
bahwa aku datang ke Baitul Maqdis. tiba-tiba aku bersua dengan
Ubadah ibnus Samit dan Abdullah ibnu Amr serta Ka'bul Ahbar,
mereka sedang berbincang-bincang di dalam Baitul Maqdis.
Ubadah mengatakan, bahwa apabila hari kiamat terjadi,
maka Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan
orang-orang yang kemudian dalam satu lapangan yang amat
luas. Tiada sesuatu pun yang menghalangi pandangan mereka
dan suara seruan terdengar oleh mereka semuanya. Lalu Allah
Swt. berfirman: Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 216
mengumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu. Jika
kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu
terhadap-Ku. (Al-Mursalat: 38-39) Pada hari ini tiada seorang
pun yang sewenang-wenang lagi pengingkar, dan tiada satu
setan pembangkang pun yang selamat dari azab-Ku.
Abdullah ibnu Amr mengatakan bahwa sesungguhnya
kami pernah mendengar hadis tentang hari itu. bahwa di hari itu
keluarlah leher neraka, lalu pergi hingga sampai di hadapan
manusia. kemudian berseru, "Hai manusia, sesungguhnya aku
dikirimkan untuk menangkap tiga macam orang. Aku lebih
mengetahui tentang mereka daripada seorang ayah kepada
anaknya dan daripada seorang saudara kepada saudaranya; tiada
suatu dosa pun dari mereka yang tersembunyi dariku, dan tiada
sesuatu pun dari mereka yang tidak kelihatan olehku. Yaitu
orang yang menjadikan Tuhan lain berserta Allah, tiap orang
yang sewenang-wenang lagi pengingkar, dan semua setan
pembangkang." Lalu leher neraka membelit mereka dan
mencampakkan mereka ke dalam neraka sebelum hisab
dilakukan dalam jarak masa empat puluh tahun.
Allah Swt. menceritakan perihal hamba-hamba-Nya
yang bertakwa, yaitu mereka yang menyembah-Nya,
menunaikan semua yang diwajibkan oleh-Nya, serta
meninggalkan semua yang diharamkan-Nya. Bahwa
sesungguhnya mereka di hari kiamat berada di dalam surga-
surga yang banyak mata airnya. Berbeda dengan keadaan orang-
orang yang celaka, mereka di hari kiamat berada di dalam
naungan yahmum, yaitu asap hitam yang busuk baunya.
Firman Allah Swt.:
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 217
َو َف َوا ِكهَ ِم َّما َي ْشتَ ُهو َن
Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang
mereka ingini. (Al-Mursalat: 42)
Yakni berbagai macam buah-buahan; apa pun yang mereka
ingini, pasti mereka dapati.
ُكلُوا َوا ْش َربُوا َه ِنيئاا بِ َما ُك ْنتُ ْم تَ ْع َملُو َن
(Dikatakan kepada mereka), "Makan dan minumlah kamu
dengan enak karena apa yang telah kamu kerjakan." (Al-
Mursalat: 43)
Dikatakan hal ini kepada mereka sebagai penghormatan dan
perlakuan yang baik kepada mereka.
Kemudian Allah Swt. dalam ayat berikutnya yang merupakan
kalimat baru menyebutkan:
إِ َّنا َكذَ ِل َك َن ْج ِزي ا ْل ُم ْح ِسنِي َن
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. (Al-Mursalat: 44).
Maksudnya, inilah balasan Kami terhadap orang-orang yang
telah berbuat baik.
َو ْي ٌل يَ ْو َم ِئ ٍذ ِل ْل ُم َك ِذ ِبي َن
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang
mendustakan. (Al-Mursalat: 45)
Adapun firman Allah Swt.:
ُكلُوا َوتَ َمتَّعُوا قَ ِليلا إِ ّنَ ُك ْم ُم ْج ِر ُمو َن
(Dikatakan kepada orang-orang kafir), "Makanlah dan
bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang
pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang
berdosa.” (Al-Mursalat: 46)
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 218
Khitab atau pembicaraan ini ditujukan kepada orang-orang yang
mendustakan hari kiamat dan perintah ini adalah perintah yang
mengandung arti peringatan dan ancaman. Karena itu Allah Swt.
berfirman: (Dikatakan kepada orang-orang kafir), "Makanlah
dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang
pendek " (Al-Mursalat: 46) Yaitu dalam masa yang pendek,
tidak lama. Betapa pun panjangnya usia di dunia, bila
dibandingkan dengan akhirat, amatlah pendek dan bukan apa-
apa.
ِإ َنّ ُك ْم ُم ْج ِر ُمو َن
sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa. (Al-
Mursalat: 46)
Kemudian kalian akan digiring ke dalam neraka
Jahanam, yang telah disebutkan di atas. Kecelakaan yang
besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
(Al-Mursalat: 47).
Semakna dengan firman-Nya:
نُ َم ِتعُ ُه ْم قَ ِليلاا ثُ َّم نَ ْض َط ُّر ُه ْم ِإلى َعذا ٍب َغ ِلي ٍظ
Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian
Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.
(Luqman: 24)
Dan firman Allah Swt.:
ِإ َّن ا ّلَ ِذي َن َي ْفتَ ُرو َن َعلَى ّل َّلاِ ا ْل َك ِذ َب ََّل يُ ْف ِل ُحو َن َمتا ٌع فِي ال ُّد ْنيا ثُ َّم ِإلَ ْينا َم ْر ِجعُ ُه ْم ثُ َّم
نُ ِذيقُ ُه ُم ا ْل َعذا َب ال َّش ِدي َد بِما كانُوا َي ْكفُ ُرو َن
"Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah tidak beruntung." (Bagi mereka)
kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kamilah
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 219
mereka kembali. kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa
yang berat disebabkan kekafiran mereka. (Yunus: 69-70)
Firman Allah Swt.:
َو ِإذَا قِي َل لَ ُه ُم ا ْر َكعُوا ََّل َي ْر َكعُو َن
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Rukuklah.” niscaya
mereka tidak mau rukuk. (Al-Mursalat: 48).
Yakni apabila mereka yang bodoh dari kalangan orang-
orang kafir itu diperintahkan agar menjadi orang-orang yang
salat bersama jamaah, mereka menolak dan bersikap sombong.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman
selanjutnya: Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi
orang-orang yang mendustakan. (Al-Mursalat: 49)
Adapun firman Allah Swt.:
َفبِأَيِ َح ِدي ٍث َب ْع َدهُ يُ ْؤ ِمنُو َن
Maka kepada ajaran manakah (selain Al-Qur'an) ini mereka
akan beriman? (Al-Mursalat: 50)
Yaitu bilamana mereka tidak mau beriman kepada Al-
Qur'an ini, maka perkataan apakah yang mereka imani?
Semakna dengan firman-Nya:
َفبِأَيِ َح ِدي ٍث َب ْع َد ّل َّلاِ َوآيا ِت ِه يُ ْؤ ِمنُو َن
maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman
setelah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya? (Al-
Jatsiyah: 6).
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada
kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar,
telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Ismail ibnu
Umayyah; ia pernah mendengar seorang lelaki Badui
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 220
mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah apabila
membaca surat Al-Mursalat, lalu bacaannya sampai pada firman
Allah Swt.: Maka kepada ajaran manakah (selain Al-Qur'an) ini
mereka akan beriman? (Al-Mursalat: 50).
Selanjutnya lelaki Badui yang meriwayatkan hadis ini
kepada Ismail ibnu Umayyah mengatakan.”Bila bacaanmu
sampai kepada ayat tersebut, hendaklah kamu ucapkan.”Aku
beriman kepada Allah dan juga kepada Al-Qur'an yang
diturunkan oleh-Nya'." Hadis ini telah kami kemukakan dalam
tafsir surat Al-Qiyamah. Demikianlah akhir tafsir surat Al-
Mursalat. Segala puji dan karunia hanyalah milik Allah, dan
hanya kepada-Nya kami memohon taufik dan pemeliharaan.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 221
Daftar Pustaka
Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, (Tafsir Al-Aisar), Jakarta: Darus
Sunnah Press, 2006.
Abu Fida Ismail bin Umar in Katsir al Quraisy, (Tafsir al-
Qur’an al-Azhim), Beirut: Dar Tayyibah Lin Nasyr Wa
Tawzi’.
Al Maragi Ahmad Mustafa. (Tafsir Al-Maragi), Semarang: CV.
Toha Putra. 1993.
Al-Quran Terjemah & Asbabun Nuzul. Penerbit Al-Hannan.
Az-Zuhaily Wahbah, (al-Tafsir al-Munir di al-aqidah wa al-
Syariah wa al-Manhaj), Damaskus: Darul Fikri 1998.
Apliaksi Asbabun Nuzul, Android.
Bahreisy, Salim. 1992. Terjemah tafsir Ibnu Katsier jilid 8.
Surabaya : PT. Bina Ilmu.
H.A.A. DAHLAN, K.H.Q. SHALEH, dkk. (Asbabun Nuzul
Latar belakang Historis Turunya Ayat-ayat al-Qur’an),
Bandung : CV. Penertbit Diponegoro.
HR. Bukhari Muslim, dalam Ringkasan Syarh Arbain Nawawi.
Kementrian Agama RI. 2010. AL-QUR’AN DAN TAFSIRNYA,
Jakarta: Kementrian Agama RI.
T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 222
M. Nur Fuad, Studi Surah Al-Qalam tentang Sistematika
Pendidikan Akhlak. Dalam Jurnal: An-Nida.
Mubarakfuri Shafiyurrohman, Shahih Ibnu katsir (tafsir oleh
Ibnu Katsir), Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2016.
Muchlis M. Hanafi, Asbabun Nuzul: Kronologi dan Sebab
Turun Wahyu Al-Qur’an, Jakarta: Lajnah Pentashihan
Mushaf Al-Qur’an, 2015.
Muhammad Sonhadji, Alquran dan tafsirnya, Yogyakarta: PT.
Dana Bhakti Wakaf, 2013.
Muhsin Salim, Ilmu Qira’at Tujuh (bacaan Al Qur’an menurut
Tujuh Qira’at dalam Thariq Asy Syathibiyyah),
YATAQI Pusat: Jakarta, 2008.
Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi. Mesir: Musthafa al-
Baaby al-Halabi wa auladuh, 1946.
Shihab M. Quraish. (Tafsir Al-Misabah : pesan, kesan dan
keserasian Al-Qur’an), Jakarta: Lentera Hati. 2002.
Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari Elektronik.
Tafsir Ibnu Katsir Elektronik.