The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E book ini membahas tafsir tahlili juz 29 secara online dan gratis

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ahmad muhib, 2020-10-02 06:50:57

Tafsir Tahlili Juz 29 E Book Anyflip

E book ini membahas tafsir tahlili juz 29 secara online dan gratis

Keywords: #ebook #tafsir #juz29

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 152

)٢٣( ‫ثُ َّم أَ ْد َب َر َوا ْستَ ْكبَ َر‬

Ayat ini mengungkapkan bahwa Al wahid berpaling dari
kebenaran dan menyombongkan diri dengan memalingkan muka
dari menatap kebenaran tersebut dan sambaring menunjukan
keangkuhannya sama sekali tidak mau tunduk dan patuh kepada
kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.32

)٢٥( ‫) ِإ ْن َٰهذَا ِإََّل َق ْو ُل ا ْل َب َش ِر‬٢٤( ‫فَقَا َل ِإ ْن َٰهذَا ِإََّل ِس ْح ٌر ُّي ْؤثَ ُر‬

Ayat ini menegaskan bahwa Al Walid lalu berkata,
bahwa Al Quran ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari
(dari orang terdahulu). Andai kata benar tuduhan Al Walid
bahwa Al-Quran itu perkataan manusia biasa, tentulah orang
lain selain Muhammad sanggup pula menyusun seperti itu atau
membuat tantangan yang lebih bagus lagi dari itu. Padahal
dikalangan bangsa Arab banyak sekali terdapat tokoh-tokoh
sastrawan yang fasih lidahnya bersyair dan berpidato.

)٢٦( ‫َسأُ ْص ِل ْي ِه َسقَ َر‬

Dan dalam ayat ini digambarkan bahwa Allah akan
memasukan Al Walid kedalam neraka saqar. Artinya Allah
melemparkan dia kedalam neraka Jahannam. Dan saqar adalah
salah satu nama neraka

)٢٨(ۚ ‫) ََّل تُ ْب ِق ْي َوََّل تَذَ ُر‬٢٧( ‫َو َما أَ ْد َٰر َك َما َسقَ ُر‬

32 Muhammad Sonhadji, Alquran dan tafsirnya (Yogyakarta: PT. Dana
Bhakti Wakaf, 2013) hal 462

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 153

Dalam ayat ini digambarkan pula betapa sifat neraka
saqar itu. Perkataan “wa ma adra ka” dalam Bahasa arab
menunjukan besar dan sangat dahsyatnya masalah yang
dipertanyakan. Apakah yang engkau ketahui tentang saqar? Dan
pasti tidak seorang pun mengetahuinya dan mencapai hakekat
sebenarnya kecuali dengan keterangan yang diberikan oleh
wahyu.

Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak mengembalikan.
Artinya setiap tubuh manusia yang dibakrnya tidak satupun
yang tersisa dari daging dan tulang. Dan dikembalikan lagi
tubuh yang telah hangus itu menjadi baru dan segar tetapi
kemudian di bakarnya lagi sampai hangus untuk kedua kalinya
dan seterusnya.

)٣٠( ‫) َع َل ْي َها تِ ْس َع َة َع َش َر‬٢٩(ۚ ‫لَ َّوا َحةٌ ِل ْل َب َش ِر‬

Dan ditegaskan pada ayat ini bahwasanya neraka saqar
itu pembakar kulit manusia. Artinya Saqar itu membakar hangus
kulit manusia sampai hitam warnanya. Arti kata “Lawwahah”
sebenarnya adalah “yang mengubah kulit menjadi hitam”. Lebih
hitam dari kegelapan malam. Ayat ini memberi informasi dan
menegaskan bahwa Saqar itu dijaga oleh 19 malaikat yang
dikepalai oleh Malik.

Al Mudatsir Ayat 31 – 37

‫َو َما َج َع ۡل َنآ أَ ۡص َح َٰـ َب ٱل َنّا ِر إََِّل َملَ َٰـٓ ِٕٮ َك اۙة َو َما َج َع ۡلنَا ِع َّدتَ ُہ ۡم إََِّل ِف ۡتنَةا ِللَّ ِذي َن َك َف ُرواْ ِليَ ۡستَ ۡي ِق َن‬
‫ٱ َلّ ِذي َن أُوتُواْ ٱ ۡل ِكت َٰـ َب َو َي ۡز َدا َد ٱ ّلَ ِذي َن َءا َمنُ ٓواْ إِي َم َٰـ ان ۙا َوََّل َي ۡرتَا َب ٱلَّ ِذي َن أُوتُواْ ٱ ۡل ِكت َٰـ َب‬
‫َوٱ ۡل ُم ۡؤ ِمنُو َنۙ َو ِل َيقُو َل ٱ َّل ِذي َن ِفى قُلُوبِ ِہم َّم َر ٌض َوٱ ۡل َك َٰـ ِف ُرو َن َماذَآ أَ َرا َد ٱّٰ َّللُ ِب َہ َٰـذَا َمثَل ۚاا َكذَٲ ِل َك‬

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 154

‫ ِذ)ۡك ِإَرَنّ ََٰہىا‬٣)‫ل‬٤٣ََِّ‫(إ‬٧‫َدم)أَ َرَوِبنٱلَ َيكتَإُِّقَصََّۡبَّدل َمحِأَُه ۡإَِوۚوذَآيَ َتوَأأَََم َّاۡخس َرفَ ِهَر( َى‬٣ۡ ‫ ُوك‬٣‫ُءۚ ِ)ل َِلو ِإ ََۡممذانأَ َيۡدۡعبََشَلآَرُم َء(ُِجمنُن‬٣‫اَّلٓ ۡي‬٦‫نر)يَ( َو َشٱ‬٣ِ ‫م َش‬٢َ ‫ٓ)َُءوٱَنۡلَِذوقَييَ َۡماہرِ ِادر ِل ۡىل( َب‬٣‫اَشا‬٥َّ‫ر)ن( َكيَل‬٣ِ‫بََم‬١‫ِلَْيُِۡللبَِۡحض ََشد ُّلِرىٱّٰٱَّ(لۡللُ ُك‬

Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari
malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu
melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya
orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya
orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-
orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mu’min itu tidak
ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada
penyakit dan orang-orang kafir [mengatakan]: "Apakah yang
dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu
perumpamaan?" Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang
yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara
Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain
hanyalah peringatan bagi manusia. (31) Sekali-kali tidak, demi
bulan, (32) dan malam ketika telah berlalu, (33) dan subuh
apabila mulai terang. (34) Sesungguhnya Saqar itu adalah
salah satu bencana yang amat besar, (35) sebagai ancaman
bagi manusia. (36) [yaitu] bagi siapa di antaramu yang
berkehendak akan maju atau mundur . (37)

Mufrodat Lughowiyyah

‫إِ ََّل َملَـٰٓ ِٕٮ َكة‬ : kecuali malaikat
supaya menjadi jelas
‫ِليَ ۡستَۡي ِق َن‬ :

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 155

‫ٱ َّل ِذي َن أُوتُواْ ٱۡل ِكتَـ َب‬ : kaum yahudi dan nasran
‫َويَ ۡزدَادَ ٱ ّلَ ِذي َن َءا َمنُ ٰٓواْ إِي َمـ ً۬ ًنا‬ : orang yang beriman dari kalangan
ahli kitab
: keraguan atau kemunafikan
‫َّم َر ً۬ض‬ : peringatan atau nasihat
: sanggahan kepada orang yang
‫ِذ ۡك َرى‬

‫َك َّّل‬
mengingkarinya

Asbabun Nuzul Ayat 31

Pada suatu haru Abu jahal berkata, “wahai kaum
Quraisy, Muhammad menduga bahwa pasukan Allah yang akan
menyiksa kalian di neraka adalah berjumlah sembilan belas
sementara kalian lebih banyak jumlahnya. Apakah seratus dari
kalian tidak bisa mengalahkan seorang dari mereka?” lalu Allah
menurunkan ayat ini.

Tafsir

Allah berfirman “ Dan tidaklah Kami jadikan penjaga
Neraka itu melainkan dari malaikat”, yakni Zabaniyah yang
keras lagi kasar. Ini adalah jawaban terhadap orang-orang
musyrik. Ketika jumlah penjaga Neraka disebutkan, maka Abu
Jahal berkata “Wahai kaum Quraisy, tidakkah sepuluh orang
dari kalian mampu mengalahkan seorang dari mereka”. Maka
Allah berfirman “ Dan tidak kami jadikan penjaga Neraka itu

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 156

melainkan dari Malaikat” yakni yang bertubuh kekar, tidak
dapat dilawan dam tidak terkalahkan.

Allah tidak menjadikan para penjaga neraka dan
malaikat yang bertugas menyiksa kecuali malaikat-malaikat
yang kasar lagi keras. Dia tidak menjadikan mereka orang-orang
yang mungkin dapat dikalahkan. Siapa yang bisa mengatasi
malaikat, siapa yang mampu mengalahkan mereka. Mereka
adalah makhluk yang paling kuat, paling kokoh, dan
palingperkasa. Makhluk yang paling konsisten memegang hak
Allah dan marah karena Allah.

Kata malaikah teerambil dari kata la’aka yang berarti
mengutus. Malaikat adalah makhluk-makhluk Allah yang
diciptakan dari cahaya dan yang dapat berbentuk dengan aneka
ragam bentuk. Ayat ini menjelaskan bahwa para penjaga neraka
adalah para malaikat yang telah diciptakan oleh Allah
sedemikian rupa. Sehingga tidak mungkin mereka dapat
dikalahkan oleh makhluk-makhluk lainnya, termasuk manusia,
walaupun mereka merasa dirinya kuat.

Allah menyebutkan jumlah penjaga neraka yaitu
sembilan belas tidak lain hanya sebagai ujian kepada manusia.
Alasannya agar orang-orang kafir mempercayai bilangan itu dan
meremehkannya dengan menampakkan perlawanan untuk
melawan malaikat-malaikat tersebut setelah itu akan bertambah
siksaan bagi mereka.

Allah menyebutkan penjaga neraka sembilan belas juga
supaya Ahli Kitab (Yahudi Nasrani) meyakini dan mengetahui

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 157

bahwa rasul ini adalah benar. Dia datang sembari menuturkan
apa yang cocok dengan kitab samawi mereka yang diturunkan
kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Di dalamnya
bahwa jumlah para penjaga Neraka Jahannam adalah sembilan
belas supaya keimanan orang-orang Mukmin dan pembenaran
mereka menjadi bertambah ketika mereka melihat kecocokan
ahli Kitab dengan mereka dan menyaksikan kebenaran kabar
Nabi mereka, Nabi Muhammad SAW.

Firman Allah “Dan tidak ada yang mengetahui tentara
Tuhanmu melainkan Dia sendiri.” Merupakan jawaban dari
Allah atas pertanyaan-pertanyaan seputar bilangan yang
menyebutkan tentang penjaga neraka. Bahwa sesungguhnya
untuk urusan jumlah bilangan malaikat penjaga Neraka hanya
Allah lah yang paling dan berhak tahu.

Al Mudatsir Ayat 38 - 56
‫) ِفى َجنَّ َٰـ ٍت يَتَ َسآ َءلُو َن‬٣٩( ‫) ِإََّ ٓل أَ ۡص َح َٰـ َب ٱ ۡل َي ِمي ِن‬٣٨( ٌ‫ُك ُّل نَ ۡف ِۭ ِس بِ َما َك َس َب ۡت َر ِهينَة‬
‫) َقالُواْ َل ۡم َن ُك ِم َن ٱ ۡل ُم َص ِلي َن‬٤٢( ‫) َما َس َل َڪ ُك ۡم ِفى َسقَ َر‬٤١( ‫) َع ِن ٱ ۡل ُم ۡج ِر ِمي َن‬٤٠(
‫) َو ُكنَّا نُ َك ِذ ُب‬٤٥( ‫) َو ُڪ َّنا َن ُخو ُض َم َع ٱ ۡل َخآ ِٕٮ ِضي َن‬٤٤( ‫) َو َل ۡم َن ُك نُ ۡط ِع ُم ٱ ۡل ِم ۡس ِكي َن‬٤٣(
‫) َف َما لَ ُه ۡم‬٤٨( ‫) فَ َما تَنفَعُ ُه ۡم َش َف َٰـ َعةُ ٱل َّش َٰـ ِف ِعي َن‬٤٧( ‫) َحتَّ َٰ ٓى أَتَ َٰٮ َنا ٱ ۡليَ ِقي ُن‬٤٦( ‫ِب َي ۡو ِم ٱل ِدي ِن‬
‫) َب ۡل‬٥١( ‫) َف َّر ۡت ِمن قَ ۡس َو َر ِۭ ِة‬٥٠( ٌ‫) َكأَ َّن ُه ۡم ُح ُم ٌر ُّم ۡستَن ِف َرة‬٤٩( ‫َع ِن ٱلتَّ ۡذ ِك َر ِة ُم ۡع ِر ِضي َن‬
َ‫) َكلَّ ۖا َبل ََّل يَ َخافُو َن ٱ ِۡلَ ِخ َرة‬٥٢( ‫يُ ِري ُد ُك ُّل ٱ ۡم ِرى ِم ۡن ُہ ۡم أَن يُ ۡؤتَ َٰى ُص ُح افا ُّمنَ َّش َر اة‬
ُۚ‫) َو َما َي ۡذ ُك ُرو َن ِإََّ ٓل أَن يَ َشآ َء ٱّٰ َّلل‬٥٥( ‫) فَ َمن َشآ َء ذَ َڪ َر ُهۥ‬٥٤( ٌ‫) َڪلَّ ٓا ِإ َّنهُۥ تَ ۡذ ِك َرة‬٥٣(

)٥٦( ‫ُه َو أَ ۡه ُل ٱلتَّ ۡق َو َٰى َوأَ ۡه ُل ٱ ۡل َم ۡغ ِف َر ِة‬

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah
diperbuatnya, (38) kecuali golongan kanan, (39) berada di
dalam surga, mereka tanya menanya, (40) tentang [keadaan]

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 158

orang-orang yang berdosa, (41) "Apakah yang memasukkan
kamu ke dalam Saqar [neraka]?" (42) Mereka menjawab:
"Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan
shalat, (43) dan kami tidak [pula] memberi makan orang
miskin, (44) dan adalah kami membicarakan yang bathil,
bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, (45) dan
adalah kami mendustakan hari pembalasan, (46) hingga datang
kepada kami kematian". (47) Maka tidak berguna lagi bagi
mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at.
(48) Maka mengapa mereka [orang-orang kafir] berpaling dari
peringatan [Allah]?", (49) seakan-akan mereka itu keledai liar
yang lari terkejut, (50) lari daripada singa. (51) Bahkan tiap-
tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan
kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka. (52) Sekali-kali
tidak. Sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat.
(53) Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Qur’an
itu adalah peringatan. (54) Maka barangsiapa menghendaki,
niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya [Al Qur’an].
(55) Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya
kecuali [jika] Allah menghendakinya. Dia [Allah] adalah Tuhan
Yang patut [kita] bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi
ampun. (56)

Mufrodat Lughowiyyah

‫ َر ِهينَة‬: tergadaikan pada Allah dengan amalnya

‫ أَ ۡص َحـ َب ٱۡليَ ِمي ِن‬: orang yang diberi kitab amal mereka

dengan tangan kanan

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 159

‫َج َنّـ ً۬ت‬ : surga
‫َسقَر‬ : neraka jahannam
‫ٱل َّشـ ِف ِعي َن‬ : para malaikat dn nabi serta orang shalih
: orang yang berpaling dari peringatan
‫ُم ۡع ِر ِضي َن‬ : kertas yang tersebar
ً‫ُص ُح ً۬فًا ُّمنَ َّش َر ً۬ة‬

Asbabun Nuzul ayat 52

Ibnu Mundzir meriwayatkan dari as-Su’di, dia berkata
“orang-orang berkata, jika Muhammad benar, hendaklah di
bawah setiap kepala orangdari kami ada lembaran yang di
dalamnya tertulis pembebasannya dan dia aman dari neraka.
Lalu turunlah ayat 52 ini”.

Tafsir

Dalam ayat 38 merupakan pernyataan kepada manusia
seluruhnya dalam kaitan dengan kebebasan memilih. Seakan-
akan Allah SWT menyatakan “hai manusia,kamu sekalian bebas
untuk memilih jalan, maju atau mundur, kanan atau kiri. Tetapi
hendaknya diketahui bahwa keadaan kamu kelak, di hari
kemudian,akan ditentukan oleh pilihanmu masing-masing,
karena kamu semua, menyangkut apa yang telah dilakukan akan
tergadai. Dan karena sesuatu yang digadaikan boleh jadi berhasil
ditebus dan mungkin boleh juga gagal.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 160

Setiap diri ditindak sesuai dengan amal perbuatannya.
Dia tergadaikan oleh amalnya. Pada hari kiamat, dia tergantung
dengan amal perbuatan yang ia lakukan. Jika amalnya baik
maka akan bias menyelamatkan dan membebaskannya. Jika
buruk maka akan mencelakakannya.

Di ayat selanjutnya diterangkan bahwa terdapat
pengecualian yaitu golongan ashhabul yamin, yaitu orang-orang
mukmin yang menerima kitab amal mereka dengan tangan
kanan. Karena sesungguhnya mereka tidak tergadaikan dengan
dosa-dosa mereka. Namun mereka terbebaskan dengan amal
perbuatn bagus mereka. Mereka di surga menikmatinya.
Sebagian dari mereka bertanya kepada sebaian yang lainnya
mengenai keadaan para pendosa di neraka. Dan para penghuni
neraka menjawab bahwa adzab ini terjadi karena empat hal yang
di sebutkan di surat muddatstsir ayat 43 – 47 ini. Mereka di
dunia tidak pernah menjalankan shalat fardlu. Mereka tidak
menyembah Allah yang disembah oleh orang-orang mukmin
yang mengerjakan shalat. Mereka tidak berbuat baik kepada
manusia lain. Merka tidak member makan orang fakir miskin
yang membutuhkan. Mereka sering berkumpul dengan orang-
orang yang melakukan kebatilan. Serta mereka tidak
mempercayai nabi Muhammad dan ajaran beliau tentang adanya
hari kiamat.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 161

Kelompok 9
Najmuddin Zulfaqor
Naufal Syarif Haidar

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 162

SURAT AL QIYAAMAH

Surat Al Qiyaamah adalah surah ke 75 dalam Al Qur’an.
Surat ini terdiri atas 40 ayat, dan tergolong dalam surah
makiyyah, surat Al Qiyaamah diturunkan setelah surat Al
Qari’ah. Disebut surat Al Qiyaamah karena pada ayat pertama
terdapat kata Al Qiyaamah (hari kiamat). Tema besar surat ini
adalah mengungkap kedahsyatan hari kiamat. Dan
menggambarkan suasana yang sangat mengerikan dan
menegangkan bagi siapa saja, terlebih saat manusia
dibangkitkan. Hal ini sekaligus sebagai jawaban bagi orang-
orang yang mengingkari dan mendustakan hari kiamat.

Penetapan Hari Kiamat dan Tandanya
Al Qiyaamah ayat 1-15

‫بسم الله الرحمن الرحيم‬
‫) أَيَ ْح َس ُب ا ْْ ِل ْن َسا ُن أَ ّلَ ْن َن ْج َم َع‬2( ‫) َوََّل أُ ْق ِس ُم بِال َّن ْف ِس ال َّل َّوا َم ِة‬1( ‫ََّل أُ ْق ِس ُم بِ َي ْو ِم ا ْل ِق َيا َم ِة‬
)5( ُ‫) َب ْل يُ ِري ُد ا ْْ ِل ْن َسا ُن ِل َي ْف ُج َر أَ َما َمه‬4( ُ‫) َب َلى َقا ِد ِري َن َع َلى أَ ْن نُ َس ِو َي بَ َنانَه‬3( ُ‫ِع َظا َمه‬
‫) َو ُج ِم َع ال َّش ْم ُس‬8( ‫) َو َخ َس َف ا ْل َق َم ُر‬7( ‫) َف ِإذَا َب ِر َق ا ْلبَ َص ُر‬6( ‫َي ْسأَ ُل أَ َّيا َن َي ْو ُم ا ْل ِق َيا َم ِة‬
‫) إِ َلى َر ِب َك يَ ْو َم ِئ ٍذ‬11( ‫) َكلَّا ََّل َو َز َر‬10( ‫) َيقُو ُل ا ْْ ِل ْن َسا ُن يَ ْو َم ِئ ٍذ أَ ْي َن ا ْل َم َف ُّر‬9( ‫َوا ْل َق َم ُر‬
ٌ‫) َب ِل ا ْْ ِل ْن َسا ُن َع َلى َن ْف ِس ِه َب ِصي َرة‬13( ‫) يُنَ َّبأُ ا ْْ ِل ْن َسا ُن يَ ْو َم ِئ ٍذ ِب َما قَ َّد َم َوأَ َّخ َر‬12( ‫ا ْل ُم ْستَ َق ُّر‬

)15( ُ‫) َولَ ْو أَ ْل َقى َمعَا ِذي َره‬14(
(1) Aku bersumpah dengan hari Kiamat. (2) dan aku
bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya), (3)
apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan
mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? (4) bahkan Kami
mampu menyusun kembali jari-jemari dengan sempurna. (5)

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 163

tetapi manusia hendak membuat maksiat terus-menerus. (6) dia
bertanya, “kapan hari Kiamat itu?” (7) maka apabila mata
terbelalak (ketakutan) (8) dan bulan pun telah hilang
cahayanya, (9) lalu matahari dan bulan dikumpulkan. (10) pada
hari itu manusia berkata, “kemana tempat lari?” (11) tidak!
Tidak ada tempat berlindung. (12) hanya kepada Tuhan tempat
kembali pada hari itu. (13) pada hari itu diberitakan kepada
manusia apa yang telah dikerakannya dan apa yang
dilakukannya. (14) bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya
sendiri. (15) dan meskipun dia mengemukakan alsan-alasannya.

Prbedaan Qiraat

‫ أَيَ ْح َس ُب‬Imam Ashim, Ibnu Amir dan Hamzah membaca ‫أيَ ْح َس ُب‬
dengan fathah huruf ba, sedang ulama yang lain nya membaca
kasroh huruf ba.

‫ َب ِر َق‬i mam Nafi’ membaca kasrah huruf ra.

Tafsir

Allah SWT bersumpah atas nama hari kiamat, kata laa
(tidak) entah berfungsi sebagai pembicaraan, sebagai kata
sambung atau sebagai kata tambahan. Allah juga bersumpah
atas nama jiwa yang selalu mencela pemiliknya atau jiwa lain
atas kelalaian nya dalam meninggalkan ketaaatan dan amal
kebaikan yang lain, bahwa kalian akan dibangkitnkan dan
dihisab pada hari kiamat .

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 164

Jawaban sumpah ini terhapus, karena telah ditunjukkan
oleh kalimat sesudahnya. Bersumpah atas nama sesuatu adalah
isayarat pengagungan dan penghargaan atas sesuatu tersebut.
‘jiwa’ di dalam ayat ini adalah nama jenis mencakup jiwa
seluruh umat manusia setiap jiwa yang pertengahan, bukan jiwa
yang tenang (muthma’innah) atau jiwa yang selalu menyuruh
kepada (al ammarah bis suu’) adalah jiwa pencela (lawaamah),
seskali ia mencela tindakan meninggalkan ketaatan dan sesekali
ia mencela atas hilangnya suatu yang ia senangi, jika jiwa telah
tenang maka ia akan menjadi murni dan jernih.

Manusia kafir dan lainnya akan bertanya dengan nada
keheranan, pengingkaran, cemoohan dan sombong, “kapankah
hari kiamatitu?” Barangsiapa tidak beriman kepada kebangkitan
ia akan mengerjakan dosa bahkan yang paling besar, akan
bersegera menikmati berbagai kesenangan tanpa memperdulikan
apa yang ia lakukan. Manusia: adalah nama jenis, yaitu anak
cucu adam. Tetapi (ini adalah pengalihan dari pembicaraan
sebelumnya untuk menetapkan perkara lain) pada kenyataanya
manusia ingin memenangkan syahwatnya dan selalu melakukan
perbuatan dosa, yakni kefasikan atau kekafiran nya, dan
berbagai peristiwa pada hari kiamat.

Tanda-tanda kiamat ada tiga: Apabila mata terbelalak
dan menjadi linglung karena dahsyatnya kengerian kiamat,
cahaya bulan telah hilang dan tidak akan kembali lagi
sebagaimana ia kembali setelah gerhana di dunia, kemudian
cahaya matahari dan bulan seluruhnya telah pudar atau hilang,

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 165

sehingga tidak ada lagi silih bergantinya siang dan malam yang
menunjukan tatnan alam dan seluruhnya telah berubah.

Tidak (kata pencegahann dan penghalangan), tidak ada
tempat lari dan tempat berlindung dari Allah pada hari itu.
Hanya kepada Allah tuhan kalian tempat kembali dan tempat
berlalu, berada di dalam surga atau neraka. Pada hari itu,di saat
penghamparan dan perhitungan akan di beritahukan kepada
ummat manusia atas seluruh amal perbuatan yang telah di
kerjakan nya, yang baik maupun yang buruk, yang lama maupun
yang baru, yang pertama maupun yang terakhir, dan yang besar
maupun yang kecil.

Ayat-ayat yang bertujuan menetapkan keberadaan hari
kiamat ini menunjukan keagungan Allah SWT dan kekuasaan-
NYA yang luar biasa. Ia maha kuasa untuk menghimpun tulang
belulang yang telah tercerai berai di berbagai tempat, juga
anggota tubuh yang telah berserakan di berbagai lokasi. Hala ini
dalam jangkauan akal manusia sangatlah mustahil. Akan tetapi,
bagi pengetahuan dan kekuasaan-NYA hal yang demikian itu
sangatlah mudah dan ringan, tidak mustahil, bahkan pasti terjadi
secara nyata. Keterkejutan menghadapi berbagai kenyataan
merupakan hal yang sulit bagi jiwa, dimana seseorang akan di
kejutkan dengan sejarah panjang hidupnya yang ia torehkan
selama di dunia, selanjutnya yang akan ia hadapi adalah bencana
atau syurga yang selalu penuh kenikmatan dan karunia ilahi.
Tiadak ada kesempatan bagi manusia untuk menolak atau
mengemukakan alasan atas suatu yang telah dilakukan nya.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 166

PEnjagaan Al Qur’an
Al Qiyaamah ayat 16-19

‫) َف ِإذَا قَ َرأْ َنا ُه َفاتَّ ِب ْع‬17( ُ‫) ِإ َّن َع َل ْينَا َج ْم َعهُ َوقُ ْرآنَه‬16( ‫ََّل تُ َح ِر ْك ِب ِه ِل َسا َن َك ِلتَ ْع َج َل بِ ِه‬
)19( ُ‫) ثُ َّم إِ َّن َع َل ْينَا َب َيا َنه‬18( ُ‫قُ ْرآنَه‬

(16) jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk
membaca Al Qur’an) karena hendak cepat-cepat menguasai
nya. (17) sesunggunya Kami yang akan mengumpulkannya (di
dadamu) dan membacakannya. (18) Apabila Kami telah selesai
membacakannya makan ikutilah bacaannya itu. (19) kemudian
sesungguhnya Kami yang akan menjelakannya.

Asbabun Nuzul

Dari Ibnu Abbas RA Iaberkata; ketika wahyu turun
kepada Rasulullah SAW, beliau menggerakkan lidahnya karena
ingin cepat menghafalnya. Maka kemudian Allah
SWT menurunkan ayat ini. (HR. Bukhori).

Dan dari Ibnu Abbas RA bahwasanya Rasulullah
SAW mengalami turunnya wahyu kepada beliau ini berat,
karena itulah sebabnya Rasulullah sering menggerak-gerakkan
lidah dan kedua bibir beliau untuk mengikuti pembacaan wahyu
itu. Karena beliau juga ingin cepat menghafalnya. Maka
kemudian Allah SWT menurunkan ayat 16. Ibnu Abbas
RA berkata: maksudnya adalah sesungguhnya atas tanggungan
Kami (Allah) lah mengumpulkannya di dalam dadamu
(NabiMuhaamad) dan mengungkapkannya. Kemudian Firman-
Nya, ayat 18. Ibnu Abbas menjelaskan; maksudnya adalah

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 167

ketika Kami (Allah) menurunkan wahyu-Nya kepadamu (Nabi
Muhammad), maka ikutilah bacaan itu, yaitu dengarkan dan
simak. Kemudian firman-Nya ayat 19. Ibnu Abbas menjelaskan
bahwa Allah-lah yang akan memberikan kemampuan kepada
Nabi SAW membacanya. Maka Rasulullah SAW setelah turun
ayat ini apabila Jibril datang, beliau mendengarkannya dan
menyimaknya. Dan apabila Jibril pergi maka Nabi pun
membacanya sebagaimana yang telah dibacakan Jibril kepada
beliau. (HR. Bukhori dan Muslim)

Tafsir
Di turunkannya Al Quran dengan perantara wahyu ke

dalam hati Nabi SAW. Merupakan Perkara agung yang tidak
tertandingi oleh perkara apapun di dunia. Karenanya, nabi
SAW. Begitu serius dalam menerima wahyu, menghafalnya dan
memahaminya. Adapun orang yang mukjizatnya. Faktor
penyebab pengingkaran terhadap kebngkitan: cinta dunia dan
meninggalkan amal perbuatan untuk akhirat. Umat manusia di
akhirat kelak terbagi menjadi dua golongan: golongan kaum
mukminin dan kaum musyrikin yang selalu mengawasi akan
turunnya bencana dan adzab terhadap mereka.

Sungguh menjadi wewenang kami untuk mengumpulkan
Al-Qur’an di dadamu, sehingga tidak ada satupun yang hilang
dari ingatanmu, kamijuga yang berwenang untuk menetapkan
bacaannya di dalam lisanmu dengan cara yang benar, apabila
kami menyempurnakan pembacaannya kepadamu melalui lisan
Jibril a.s, maka dengarkanlah dan simaklah, kemudian bacalah

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 168

sebagaimana telah dibacakan kepadamu . ulang-ulangi
bacaannya hingga meresap di dalam otakmu. Al-Qur’an kata
bentuk masdar sama seperti qiraah.

Kemudian setelah menghafal dan mambacanya, kami
tafsirkan kepadamu apa yang ada di dalamnya meliputi perkara
yang halal dan haram. Kami jelaskan atau terangkan kepadamu
bagian yang masih sulit kamu pahami drinya. Kami ilhamkna
maknanya kepadamu sebagaimana yang kami kehendaki dan
kami syari’atkan. Artinya, Kami-lah yang bertanggung ajwab
menjelaskan dan menjadikan mu menghafalnya.

Keempat ayat ini mengandung tiga hal: menghimpun
Al-Qur’an di dalam dada dan menghafalkannya pada ayat
pertama dan kedua, membacakan dan mempermudah
pelaksanaan bacaan sebagaimana diturunkan pada ayat ketiga,
kemudian menafsirkan nya pada ayat keempat.

Kondisi Kaum Musyrikin pada Hari Kiamat
Al Qiyaamah Ayat 20-40

)21( َ‫) َوتَذَ ُرو َن ا ْْل ِخ َرة‬20( َ‫َكلَّا بَ ْل تُ ِح ُّبو َن ا ْل َعا ِج َلة‬

(20) Tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia, (21) Dan
mengabaikan (kehidupan) akhirat.

Qiraat

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 169

‫ تُ ِحبُّو َن ا ْلعَا ِجلَةَ َوتَذَ ُرون‬Ibnu katsir, Abu Amr, dan Ibnu Amir
membaca dua kata fi’il Mudhari’ dengan huruf ya. Al Baqun
membaca dua kata tersebut dengan huruf ta.

Tafsir

Kata ّ‫ كّ َل‬menurut para mufassir, maknanya benar,
artinya, kalian benar-benar menyukai kehidupan sekarang dan
meninggalkan akhirat. Maksudnya. mereka menyukai kehidupan
dunia dan berbuat untuknya, meninggalkan akhirat dan
berpaling darinya.

Zamakhsyari berkata, artinya sanggahan kepada
Rasulullah akan kebiasaan tergesa-gesa, pengingkaran
ketergesaan itu atas diri Nabi dan anjuran untuk tenang dan
berhati-hati. Allah menguatkan hal itu agar mengikuti firman
Allah.

َ‫ بَ ْل تُ ِحبُّو َن ا ْل َعا ِج َلة‬bahkan kamu mencintai kehidupan dunia.

Jadi kata kalla pada ayat ini sebagian ulama mengartikan
sebagai benar-benar dan kata sanggahan (tidak). Adapun
maksud yang benar terdapat pada makna sanggahan karena surat
ini turun untuk menyanggah orang-orang musyrik atas ketidak
percayaannya tentang hari kebangkitang atau hari kiamat.

Karena orang-orang musyrik cinta dunia seperti pada
ayat Tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia, Dan
mengabaikan (kehidupan) akhirat. (Al Qiyaamah: 20-21)
mereka tidak mempercayai adanya kehidupan setelah kehidupan

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 170

dunia ini, kecintaan terhadap dunia melalaikan mereka atas
akhiratnya, dalam hal ini banyak ayat yang menyinggung
bahwa kehidupan dunia

‫ُزيِ َن ِللَّ ِذي َن َكفَ ُروا ا ْل َح َياةُ ال ُّد ْن َيا َو َي ْس َخ ُرو َن ِم َن الَّ ِذي َن آ َمنُوا َوالَّ ِذي َن اتَّقَ ْوا َف ْو َق ُه ْم يَ ْو َم‬
)212( ‫ا ْل ِق َيا َم ِة َوّل َّلاُ َي ْر ُز ُق َم ْن يَ َشا ُء ِب َغ ْي ِر ِح َسا ٍب‬

Artinyaa: Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam
pandangan orang-orang yang kafir, dan mereka menghina
orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang
bertakwa itu berada diatas mereka pada hari kiamat. Dan Allah
memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa
perhitungan. (QS. Al Baqarah:212).

Jadi memang bagi orang-orang musyrik dan orang-orang
kafir, mereka menyakini bahwa tidak ada kehidupan setelah
kehidupan di alam dunia ini, makanya mereka selagi masih
hidup di dunia akan melakukan apa saja demi menikmati
kehidupannya didunia sampai-sampai mereka lalai bahwa ada
kehidupan akhirat.

Kemudian Allah menjelaskan keadaan orang-orang
mu’min dan keadaan orang-orang kafir di akhirat. Allah
berfirman.

‫) تَ ُظ ُّن‬24( ٌ‫) َو ُو ُجوهٌ َي ْو َم ِئ ٍذ َبا ِس َرة‬23( ٌ‫) إِ َلى َربِ َها َنا ِظ َرة‬22( ٌ‫ُو ُجوهٌ يَ ْو َم ِئ ٍذ نَا ِض َرة‬
)25( ٌ‫أَ ْن يُ ْفعَ َل ِب َها َفا ِق َرة‬

Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri,
Memandang Tuhannya, Dan wajah-wajah (orang kafir) pada
hari itu muram, Mereka yakin bahwa akan ditimpakan

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 171

kepadanya malapetaka yang sangat dahsyat. (Al Qiyaamah:
22-25)

Wajah-wajah orang Mukmin di surga adalah indah,
cerah, bercahaya, dan bergembira. Mereka melihat Tuhannya
dengan nyata. Sementara wajah-wajah para pendosa di neraka
adalah muram, suram, sedih, dan meyakini bahwa akan turun
kepada mereka malapetaka yang agung yang mematahkan
tulang punggung. Terdapat perbedaan pendapat makna dari para
mufassir dalam mengartikan kata Naazhirotun pada ayat 23, ada
yang mengartikan menunggu, ada yang mengartikan melihat,
dan ada yang mengartikan mengharapkan.

Adapun yang mengartikan “menunggu” karena banyak
dalam Al Qur’an kata Nazhara namun tidak disertai dengan
huruf (‫ ) ِإ َلى‬seperti dalam potongan ayat 13 surat Al Hadiid.

‫ا ْن ُظ ُرو َنا َن ْقتَ ِب ْس ِم ْن نُو ِر ُك ْم‬

“Tunggulah kami! Kami ingin mengambil cahayamu”.

Al-Azhari berpendapat jikalau disertai huruf (‫ ) ِإلَى‬seperti
ucapan orang Nazhartu ilaa fullanin tidak lain adalah pandangan
mata. Zamakhsyari menafsirkan firman Allah SWT Nazhara
hanya mengharap Tuhannya saja dan tidak mengharap kepada
yang lain. Ini adalah makna yang bisa diambil dari
mendahulukan maf'ul atas fi'il dan fa'il, hal ini menunjukkan
makna pengkhususan, kemudian Zamakhsyari menguatkan
bahwa ayat tersebut menunjukkan arti keinginan dan harapan.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 172

Adapun hadits-hadits mutawtir menguatkan tentang
makna Nazhara pada ayat ini adalah melihat atau memandang
Allah. Bahwa orang-orang mu’min akan melihat allah di akhirat
kelak.

Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihaini
meriwayatkan dari Abu Said al Khurdi dan Abu Hurairah,
“Sesungguhnya para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah,
apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat?”
Nabi bersabda, “Apakah kalian merasa terganggu dengan
melihat matahari dan bulan ketika tidak ada mega yang
menghalangi keduanya?” Mereka menjawab, “tidak,” Nabi
bersabda, “Kalian akan melihat Tuhan kalian seperti itu.”

Setelah Allah memberikan gambaran keadaan orang-
orang mu’min dan orang-orang musyrik diakhirat kelak, Allah
berfirman,

‫) َوا ْلتَ َّف ِت‬28( ‫) َو َظ َّن أَ ّنَهُ ا ْل ِف َرا ُق‬27( ‫) َو ِقي َل َم ْن َرا ٍق‬26( ‫َكلَّا ِإذَا َب َل َغ ِت التَّ َرا ِق َي‬
)30( ‫) ِإلَى َر ِب َك يَ ْو َمئِ ٍذ ا ْل َم َسا ُق‬29( ‫ال َّسا ُق بِال َّسا ِق‬

Tidak! Apabila (nyawa) telah sampai ke kerongkongan, Dan
dikatakan (kepadanya), “Siapa yang dapat menyembuhkan?”
Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia),
Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), Kepada
Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. (Al Qiyaamah 26-30)

Qiraat

‫ َم ْن َرا ٍق‬Hafsh membaca dengan sakt (berhenti sejenak
seukuran dua harakat tanpa nafas) pada ‫ َم ْن‬kemudian langsung

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 173

membaca kata berikutnya. Al Baqun membaca dengan tidak
sakt atau idgham.

Tafsir

Allah menyanggah lagi kepada mereka (orang-orang
musyrikin) atas ketidak percayaan terhadapa hari kiamat, kata
tidak adalah sanggahan akan proritas dunia terhadap akhirat
yang mana atas proritas tersebut berakibat ketidak percayaan
akan hari kiamat. Dalam hal ini ayat diatas memberikan
gambaran untuk takut ketika memproritaskan dunia atas akhirat.
Ingatlah ketika ruh telah sampai kerongkongan atau ketika
keadaan sakaratul maut, apa yang telah dicari di dunia tidak
mampu menolong ketika sakaratul maut dan tidak ada yang bisa
menyembuhkan dari pada sakaratul maut yang amat sakit
tersebut. Dan mereka yakin ketika saat itu adalah sebuah
perpisahannya dengan dunia. Kematian adalah perjalanan awal
menuju alam akihirat yang kekal. Adapun ayat yang berarti Dan
bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan) adalah sebuah proses
setelah ruh dan jasad berpisah dimana jasad manusia akan di
masukkan keliang lahat.. Jadi ruh dan jasad adalah sebuah
esensi yang berbeda, ruh ketika terpisah dari jasad dia akan
kembali kepada Tuhannya sedangkan jasad akan dikubur dan
hancur di telan bumi.

Kemudian Allah SWT berfirman,

)33( ‫) ثُ َّم ذَ َه َب إِ َلى أَ ْه ِل ِه َيتَ َم َّطى‬32( ‫) َو َل ِك ْن َكذَّ َب َوتَ َو َّلى‬31( ‫فَلَا َص َّد َق َوََّل َصلَّى‬

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 174

Karena dia (dahulu) tidak mau membenarkan (Al-Qur'an dan
Rasul) dan tidak mau melaksanakan salat, Tetapi justru dia
mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran),
Kemudian dia pergi kepada keluarganya dengan sombong. (Al
Qiyaamah 31-33)

Perbuatan mereka dahulu menentukan bagaimana
sakaratul maut mereka, karena dahulu ketika hidup di dunia
mereka (orang-orang musyrik dan kafir) enggan membenarkan
apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad berupa Al Qur’an, tidak
mengimani bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah seperti
nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad, dan tidak mendirikan
shalat wajib sebagi bukti penyembahan atas Tuhan. Justru
mereka membuat sebuah kebohongan atas Raul dan berpaling
dari keimanan. Kemudian mereka pergi ke keluarganya dengan
rasa bangga, congkak, sombong, dan angkuh dalam berjalan
karena membanggakan hal yang mereka lakukan.

Jadi memang sudah wataknya dimana orang musyrik
berlaga sombong dan malah bangga ketika menghina Nabi
Muhammad, Al Qur’an, dan berpaling dari pada ajaran yang
benar yaitu Islam.

Kemudian Allah mengancam dengan menakut-nakuti,
sebagaimana firman Nya,

)35( ‫) ثُ َّم أَ ْو َلى لَ َك فَأَ ْو َلى‬34( ‫أَ ْو َلى َل َك فَأَ ْولَى‬

Celakalah kamu! Maka celakalah! Sekali lagi, celakalah kamu
(manusia)! Maka celakalah! (Al Qiyaamah 34-35)

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 175

Sebab Turunnya Ayat 34-35

Ibnu Jarir, Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu
Abbas berkata, “Tatkala turun wahyu, ‫ َع َل ْي َها تِ ْس َع َة َع َش َر‬ayat 30
surat Al Mudatsir.

Abu Jahal berkata kepada kaum Quraisy, “Ibu kalian
kehilangan kalian. Ibnu Abi Kabasyah memberitahu kalian
bahwa penjaga neraka Jahannam ada sembilan belas. Sementara
kalian banyak dan berani. Apakah sepuluh orang dari kalian
tidak mampu memukul seorang dari penjaga neraka Jahannam.
Allah mewahyukan kepada rasul-Nya agar mendatangi Abu
Jahal dan berkata kepadanya, “Celakalah bagimu, celakalah
bagimu.”

An Nasa’I meriwayatkan dari Said bin Jubair dia
bertanya kepada Ibnu Abbas mengnai firman Allah ‫أَ ْولَى لَ َك َفأَ ْو َلى‬
apakah itu sesuatu yang diucapkan oleh Rasulullah sendiri atau
diperintahkan oleh Allah? Ibnu Abbas berkata, “Nabi
mengucapkannya dari dirinya sendiri” kemudian Allah
menurunkan kalimat itu.33

Tafsir

Atas perbuatannya itu mereka akan celaka, ini adalah
ancaman yang tegas dari Allah atas mereka. sebagaimana
mereka berjalan angkuh dan sombong padahal mereka hanyalah
makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa kecuali atas

33 Wahbah Az Zuhaili, At Tafsirul Munir (Fii Aqidah wa Syari’ah wal
Manhaj) Jilid 15, Darul Fikri: Damaskus, 2009. Hal. 268.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 176

kehendak Tuhan. Adapun tujuan perkataan ini untuk penghinaan
dan ancaman.

Kemudian Allah memberitahu bagaiman maha kuasa nya
terhadap apa yang Ia kehendaki, dengan memberikan sebuah
perumpamaan, sebagimana firman Allah,
‫) ثُ َّم َكا َن َع َلقَةا‬37( ‫) أَلَ ْم َي ُك نُ ْطفَ اة ِم ْن َم ِنيٍ يُ ْم َنى‬36( ‫أَيَ ْح َس ُب ا ْْ ِل ْن َسا ُن أَ ْن يُتْ َر َك ُس ادى‬
‫) أَ َل ْي َس ذَ ِل َك ِبقَا ِد ٍر َع َلى أَ ْن‬39( ‫) َف َجعَ َل ِم ْنهُ ال َّز ْو َج ْي ِن الذَّ َك َر َوا ِْلُ ْنثَى‬38( ‫فَ َخ َل َق َف َس َّوى‬

)40( ‫يُ ْحيِ َي ا ْل َم ْوتَى‬
Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa
pertanggung jawaban)? Bukankah dia mulanya hanya setetes
mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), Kemudian (mani itu)
menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan
menyempurnakannya, Lalu Dia menjadikan darinya sepasang
laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat)
demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? (Al
Qiyaamah 36-40)

Qiraat
‫ يُ ْم َنى‬Hafsh membaca fi’il mudhari’ dengan huruf ya. Al
Baqun membaca dengan huruf ta.34

34 Muhsin Salim, Ilmu Qira’at Tujuh (bacaan Al Qur’an menurut
Tujuh Qira’at dalam Thariq Asy Syathibiyyah), YATAQI Pusat: Jakarta, 2008.
Hal 261.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 177

Tafsir

Mereka tidak mengira bahwa ada sebuah balasan atas
perbuatan yang mereka lakukan, sekecil apapun perbuatan baik
dan buruk pasti terdapat sebuah balasan dari Tuhan. Dan Allah
memberikan perumpamaan atas ke agungan dan kuasa Nya
bahwa Dia saja dapat menciptakan mereka dari setetes air mani
yang lemah dan hina yang di tumpahkan kedalam rahim
kemudian menjadi segumpal darah dan sepotong daging lalu
dia dibentuk, ditiupkan kedalamnya ruh lalu menjadi makhluk
lain yang sempurna. Dan dari setetes air tersebut Dia
menjadikan sepasang laki dan perempuan. Bukankah yang telah
menciptakan makhluk yang indah seperti ini adalah suatu yang
gampang bagi Allah, apalagi hanya membangkitkan makhluk
yang sudah berbetuk yang telah mati sangatlah mudah bagi
Allah yang Maha berkehendak dan Maha Kuasa.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 178

Kelompok 10
Rizki Hirzumaula
Muhammad Irham Maulana

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 179

SURAT AL INSAN

Kehidupan Manusia Menuju Kesempurnaan

Al Insan Ayat 1-3
‫) إِ َّنا َخ َل ْق َنا ا ْْ ِل ْن َسا َن ِم ْن‬1( ‫َه ْل أَتَ َٰى َعلَى ا ْْ ِل ْن َسا ِن ِحي ٌن ِم َن ال َّد ْه ِر َل ْم يَ ُك ْن َش ْيئاا َم ْذ ُكو ارا‬
‫) ِإ َنّا َه َد ْينَا ُه ال َّسبِي َل ِإ َّما َشا ِك ارا َوإِ َّما‬2( ‫نُ ْطفَ ٍة أَ ْم َشاجٍ َن ْبتَ ِلي ِه فَ َج َع ْل َناهُ َس ِمي اعا َب ِصي ارا‬

)3( ‫َكفُو ارا‬
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa,
sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat
disebut? (1). Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak
mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami
jadikan dia mendengar dan melihat (2). Sesungguhnya Kami
telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan
ada pula yang kafir (3).”

Mufradat/Kosakata
‫ َه ْل‬: telah.

‫ ِحين‬: sejumlah.
‫ الدَّ ْه ِر‬: sejumlah waktu yang terbatas.
‫ أَ ْم َشاج‬: campur-campuran.
‫ نَ ْبتَ ِلي ِه‬: kami menguji.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 180

‫ ال َّسبِي ُل‬: jalan untuk menegakkan bukti-bukti dan menurunkan
ayat.

Tafsir dan Penjelasan

Ayat pertama ini menegaskan tentang proses kejadian
manusia dari tidak ada menjadi ada, pada saat manusia belum
berwujud sama sekali. Disebutkan bahwa manusia berasal dari
tanah yang tidak dikenal dan tidak disebut-sebut sebelumnya.
Apa dan bagaimana jenis tanah itu tidak dikenal sama sekali.
Kemudian Allah meniupkan roh sehingga jadilah manusia
makhluk yang bernyawa.

Setelah mengisyaratkan tentang penciptaan manusia
yang sebelumnya pernah mengalami ketiadaan, ayat diatas
menjelaskan proses awal penciptaanya serta tujuanya.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan semua manusia anak
cucu Adam dan Hawa, kecuali Isa a.s, dari setetes mani yang
bercampur, yakni sperma laki-laki dan indung telur wanita, yang
tujuan Kami menciptakan adalah hendak mengujinya dengan
berbagai perintah dan larangan, maka karena itu Kami
menjadikanya mampu amat mendengar dengan telinganya dan
amat melihat dengan mata kepala dan hatinya agar ia
mendengar tuntunan Kami serta melihat dan memikirkan ayat-
ayat Kami.

Di samping menganugerahkan manusia potensi yang
sangat besar untuk mendengar dan melihat dengan mata kepala
dan mata hati, Allah juga menegaskan bahwa sesungguhnya
dalam rangka ujian itu Kami telah menunjukinya jalan yang

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 181

jelas dan lurus, yang tidak ada jalan lurus selainya. Lalu, di
antara manusia ada yang bersifat syukur atas nikmat dan
petunjuk Tuhanya dan ada yang sangat kafir menutupi
kebenaran dan mengingkari nimat-nikmat tuhanya.

Munasabah dan Kontekstualisai

Pada akhir surat al-Qiyamah diterangkan bahwa Allah
berkuasa menghidupkan orang yang telah mati. Pada awal surat
al-Insan ini, diterangkan bahwa Allah berkuasa menciptakan
manusia dari tidak ada menjadi ada. Allah menciptakan manusia
dari sel sperma laki-laki yang membuahi ovum. Hidup ini
adalah ujian, apakah manusia bersyukur atau kufur. Orang yang
kafir akan nikmat-nikmat-Nya, Allah akan menyiksanya dalam
neraka. Dan orang yang beriman dan mensyukuri nikmat-Nya,
maka Allah akan memasukkanya ke surga dengan segala
fasilitasnya.

Di dunia ini kita sebagai manusia hendaknya selalu ingat
akan tujuan Allah menciptakan kita agar kita selalu berada
dalam koridor ketaan kepada-Nya. Selalu mengedepankan akal
dan pikiran yang telah Allah berikan kepada kita sebagai
manusia untuk memilih jalan yang terbaik yang di ridhoi oleh
Allah SWT.

Balasan Orang-orang Kafir dan Orang-orang yang Berbuat
Baik pada Hari Kiamat

Al Insan ayat 4-12

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 182

‫) ِإ َّن ا ِْلَ ْب َرا َر يَ ْش َربُو َن ِم ْن َكأْ ٍس َكا َن‬4( ‫إِ ّنَا أَ ْعتَ ْدنَا ِل ْل َكا ِف ِري َن َسلَا ِس َل َوأَ ْغلَاَاّل َو َس ِعي ارا‬
‫) يُوفُو َن بِالنَّ ْذ ِر‬6( ‫) َع ْي انا يَ ْش َر ُب بِ َها ِع َبا ُد ّل َّلاِ يُ َف ِج ُرونَ َها تَ ْف ِجي ارا‬5( ‫ِم َزا ُج َها َكافُو ارا‬
‫) َويُ ْط ِع ُمو َن ال َّطعَا َم َعلَى ُح ِب ِه ِم ْس ِكيناا َويَ ِتي اما‬7( ‫َو َي َخافُو َن َي ْو اما َكا َن َش ُّر ُه ُم ْستَ ِطي ارا‬
‫) إِ َّنا َن َخا ُف ِم ْن‬9( ‫) ِإ َّن َما نُ ْط ِع ُم ُك ْم ِل َو ْج ِه ّل َّلاِ ََّل نُ ِري ُد ِم ْن ُك ْم َج َزا اء َوََّل ُش ُكو ارا‬8( ‫َوأَ ِسي ارا‬
‫) فَ َوقَا ُه ُم ّل َّلاُ َش َّر ذَ ِل َك ا ْل َي ْو ِم َولَ َّقا ُه ْم َن ْض َرةا َو ُس ُرو ارا‬10( ‫َر ِبنَا يَ ْو اما َعبُو اسا قَ ْم َط ِري ارا‬

)12( ‫) َو َج َزا ُه ْم بِ َما َص َب ُروا َج َّن اة َو َح ِري ارا‬11(

Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir
rantai, belenggu, dan neraka yang menyala-nyala (4).
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari
gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur (5),
(yaitu) mata air (dalam surga) yang darinya hamba-hamba
Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan
sebaik-baiknya (6). Mereka menunaikan nazar dan takut akan
suatu hari yang azabnya merata di mana-mana (7). Dan mereka
memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin,
anak yatim, dan orang yang ditawan (8). Sesungguhnya kami
memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan
keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan
tidak pula (ucapan) terima kasih (9). Sesungguhnya kami takut
akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu)
orang-orang bermuka masam penuh kesulitan (10). Maka
Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan
memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan
kegembiraaan hati (11). Dan Dia memberi balasan kepada
mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian)
sutra (12).”

Mufradat/Kosakata

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 183

‫ أَ ْعتَ ْد َنا‬: Kami persiapkan.

‫ َس َّل ِس َل‬: belenggu-belenggu yang diletakkan di kaki.
‫ َوأَ ْغ َّل ًَل‬: borgol-borgol yang diletakkan di tangan dan
dikumpulkan dileher mereka.
‫ ا ْْلَ ْب َرا َر‬: orang yang taat dan ikhlas.
‫ َكافُو ًرا‬: wangi-wangian terkenal. Dia mempunyai wangian yang
bagus.

‫ َي ْش َر ُب ِب َها‬: minum dari I’badullah (kekasih Allah).

‫ َي ْو ًما‬: adzab pada suatu hari.
‫ قَ ْم َط ِري ًرا‬: sangat masam, gelap, dan genting.

‫ َو َح ِري ًرا‬: sutra yang mereka pakai.

Qira’at

‫َس َّل ِس َل‬
Nafi dan Kisa’i membacanya dengan ‫ َس َّل ِسّ ًل‬dalam keadaan
washal dan menggantikanya dengan alif dalam keadaan waqaf.
Para ulama berbeda pendapat mengenai bacaan pada waktu
waqaf. Abu Amr mewaqafkan dengan alif, Imam Hamzah
mewaqafkan dengan tanpa alif dengan membaca sukun Lam.
Al-Bazzi, Ibnu Dzakwan, Hafsh mempunyai dua cara waqaf.
Pertama seperti Abu Amr, kedua seperti Imam Hamzah.
)‫ (كاس‬As-Susi dan Hamzah membaca Waqaf : ‫َكأْس‬

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 184

Sabab Nuzul

Pada ayat ke-8 dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa
kata asiran (orang yang ditawan). Dalam ayat ini yang ditawan
ialah kaum musyrikin yang disiksa. Karena Rasulullah Saw
tidak mungkin mempunyai tawanan kaum muslimin. Ayat ini
turun sebagai perintah kepada kaum muslimin agar
memperlakukan tawanan dengan baik dan memberi makanan
yang disukainya.

Tafsir dan Penjelasan

Ayat di atas merupakan pemberitahuan mengenai apa
yang diintaikan oleh Allah SWT kepada makhluk-Nya yang
kafir dan celaka. Kemudian Dia melanjutkan dengan apa yang
disiapkan untuk orang-orang mukmin yang taat. Sesungguhnya
orang mukmin yang ahli taat dan orang-orang yang ikhlas
melaksanakan hak Allah dengan konsisten dan menjauhi
maksiat-maksiat akan mendapatkan minuman khamar yang
dicampur dengan kafur putih dingin yang segar aromanya.
Mereka memperlakukan atau memancarkan mata air sesuai
dengan kehendak mereka, di manapun mereka ingin. Baik dari
istana, rumah, maupun tempat duduk mereka.

Mereka orang mukmin menunaikan apa yang mereka
wajibkan kepada diri mereka sendiri, yakni nazar-nazar demi
mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan keharaman-
keharaman yang Allah larang. Mereka takut adzab pada suatu

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 185

hari, yakni hari kiamat yang kedahsyatan dan kegentinganya
meluas, tersebar di semua sisi kepada semua manusia, kecuali
orang-orang yang dikasihi oleh Allah SWT. Pada ayat 7 ini
menunjukan kewajiban memenuhi nazar. Sebab, takut akan
suatu hari disini menunjukan bahwa takut akan azab Allah
adalah penyebab menunaikan nazar.

Perlu digaris bahawi bahwa Allah menyifati mereka
dengan sifat takut akan kegentingan pada hari kiamat dalam dua
tempat. Allah membela mereka dari bencana hari yang masam,
memberi keamanan kepada mereka dari apa yang mereka
takutkan karena ketakutan mereka kepada Allah, dan memberi
makan hanya karena-Nya. Allah memberi mereka sebagai ganti
kemasaman pada orang-orang kafir keceriaan di wajah orang-
orang baik dan kegembiraan dalam hati karena mereka mencari
ridha Allah SWT. Allah memberi balasan kepada mereka orang
mukmin karena kesabaranya dalam menjalankan taklif. Surga
yang mereka masuki dan sutra yang mereka pakai, artinya Allah
memberi mereka rumah yang luas, kehidupan yang Makmur,
dan pakaian yang indah.

Munasabah dan Kontekstualisasi

Pada ayat-ayat yang lalu, Allah menyebutkan petunjuk-
Nya kepada umat manusia sehingga mereka menemukan jalan
kebaikan dan dapat membedakanya dengan jalan kejahatan.
Disebutkan pula dua kelompok manusia, yakni yang bersyukur
dan yang kafir. Pada ayat-ayat berikut ini, Allah menjelaskan
tentang balasan atau imbas yang akan diperoleh masing-masing

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 186

golongan itu. Kontekstualisai ayat diatas adalah bahwa yang
dinamakan perbuatan terpuji adalah perbuatan yang dilakukan
dengan tanpa pamrih dan hanya mengharapkan ridha dari Allah
Swt. Pekerjaan apapun yang kita jalani sehari-hari sebisa
mungkin diniatkan untuk mencari ridha Allah. Atau lebih
tepatnya menggunakan amaliyah dunia untuk mencapai ridha
Allah Swt.

Kenikmatan yang Diperoleh Orang Mu’min dalam Surga

Al Insan ayat 13-22
‫) َو َدانِ َيةا َع َل ْي ِه ْم‬13( ‫ُمتَّ ِك ِئي َن فِي َها َع َلى ا ِْلَ َرا ِئ ِك ََّل َي َر ْو َن فِي َها َش ْم اسا َوََّل َز ْم َه ِري ارا‬
‫) َويُ َطا ُف َعلَ ْي ِه ْم ِبآ ِنيَ ٍة ِم ْن فِ َّض ٍة َوأَ ْك َوا ٍب َكا َن ْت‬14( ‫ِظلَالُ َها َوذُ ِللَ ْت ُق ُطو ُف َها تَ ْذ ِليلاا‬
‫) َويُ ْسقَ ْو َن فِي َها َكأْ اسا َكا َن‬16( ‫) قَ َوا ِري َر ِم ْن ِف َّض ٍة قَ َّد ُرو َها تَ ْق ِدي ارا‬15( ‫قَ َوا ِري َرا‬
‫) َو َي ُطو ُف َع َل ْي ِه ْم ِو ْل َدا ٌن‬18( ‫) َع ْيناا فِي َها تُ َس َّمى َس ْل َسبِيلاا‬17( ‫ِم َزا ُج َها َز ْن َج ِبيلاا‬
‫) َوإِذَا َرأَ ْي َت ثَ َّم َرأَ ْي َت َن ِعي اما َو ُم ْل اكا‬19( ‫ُم َخ َّل ُدو َن ِإذَا َرأَ ْيتَ ُه ْم َح ِس ْبتَ ُه ْم لُ ْؤلُ اؤا َم ْنثُو ارا‬
‫) َعا ِل َي ُه ْم ِث َيا ُب ُس ْن ُد ٍس ُخ ْض ٌر َو ِإ ْستَ ْب َر ٌق َو ُح ُّلوا أَ َسا ِو َر ِم ْن ِف َّض ٍة َو َس َقا ُه ْم‬20( ‫َكبِي ارا‬

)22( ‫) ِإ َّن َهذَا َكا َن َل ُك ْم َج َزا اء َو َكا َن َس ْعيُ ُك ْم َم ْش ُكو ارا‬21( ‫َربُّ ُه ْم َش َراباا َط ُهو ارا‬
Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan-dipan,
mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan
tidak pula dingin yang menggigit (13). Dan naungan (pohon-
pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan
memetiknya semudah-mudahnya (14). Dan diedarkan kepada
mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 187

laksana kaca (15), (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak
yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya (16). Di dalam
surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang
campurannya adalah jahe (17). (Yang didatangkan dari) sebuah
mata air surga yang dinamakan salsabil (18). Dan mereka
dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda.
Apabila kamu melihat mereka. kamu akan mengira mereka
mutiara yang bertaburan (19). Dan apabila kamu melihat di
sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam
kenikmatan dan kerajaan yang besar (20). Mereka memakai
pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan
kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan
memberikan kepada mereka minuman yang bersih (21).
Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu
adalah disyukuri (diberi balasan) (22).

Mufradat/Kosakata

‫ ُمتَّ ِكئِي َن‬: duduk dengan tenang dan nyaman.

‫ َش ْم ًسا َو ََل َز ْم َه ِري ًرا‬: tidak panas dan tidak pula dingin.
‫ قُ ُطوفُ َها‬: buah-buahannya di dekatkan sehingga orang yang berdiri
dan berbaring dapat meraihnya.

‫ قَ َوا ِري َر‬: wadah kaca.
‫ َو ُم ْل ًكا َك ِبي ًرا‬: luas tidak ada batasannya.
‫ َش َرا ًبا َط ُهو ًرا‬: bersih dari campur-campuran.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 188

‫ َم ْش ُكو ًرا‬: terbalaskan tidak disia-siakan.

Qira’at

‫ َق َوا ِري َر‬, ‫َق َوا ِري َر‬

Nafi’ dan Kisa’i membaca kedua lafal tersebut dengan
tanwin, menggantinya alif dalam keadaan waqaf. Ibnu Katsir
membaca dengan tanwin pada lafal pertama, tanpa tanwin pada
lafal kedua. Membaca waqaf pada lafal pertama dengan alif,
pada lafal kedua dengan membuang alif dan menyukun ra’.

Abu Amr, Ibn Amir dan Hafsh membaca tanwin pada
lafal dua lafal tersebut. Mereka mewaqafkan lafal pertama
dengan alif , pada lafal kedua dengan membuang alif dan
menyukun ra’. hamzah membacanya dengan tanpa tanwin pada
dua lafal tersebut.

Asbab Nuzul

Pada ayat ke-20, dalam suatu riwayat dikemukakan,
ketika Umar bin Khattab menghadap Rasulullah Saw, kebetulan
beliau sedang tidur diatas tikar pelepah kurma sehingga
bekasnya pun kelihatan pada badan beliau. Umar menangis
melihat keadaan itu. Beliau bersabda: “mengapa engkau
menangis?” Umar menjawab: “Tuan telah menceritakan
kemegahanKisra (Persia) dan kerajaanya, Hurmuz dan
kerajaanya. Sementara tuan sendiri, ya Rasulullah, tidur diatas
tikar pelepah kurma, Rasulullah bersabda: “apakah engkau tidak
ridha, dunia bagi mereka, dan akhirat bagi kita?” kemudian

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 189

Allah pun menurunkan ayat ini yang berkenaan dengan
peristiwa tersebut, yang menjanjikan kenikmatan di hari akhir.

Tafsir dan Penjelasan

Di dalam kebun-kebun yang rindang dan Bersama
pasangan masing-masing, para penghuni surga duduk
bertelekan.kenikmatan itu tidaklah sempurna kalua tidak disertai
dengan hidangan. Karena itu ayat diatas menjelaskan bahwa:
Dan, disamping itu, senantiasa diedarkan juga oleh pelayan-
pelayan surgawi kepada mereka bejana-bejana minuman yang
terbuat dari perak namun terlihat isinya dari luar karena
beningnya. Kadar dan jenis suguhan itu telah mereka, yakni para
pelayan itu, ukur dengan sebaik-baiknya sesuai dengan selera
dan kadar yang diinginkan oleh yang disuguhi.

Kata akwab adalah bentuk jamak dari kuub, yaitu gelas
minum yang tidak memiliki pegangan. Ini agar lebih
memudahkan peminum. Tidak perlu diputar karena dimana saja
bibir menyentuh, minuman dengan mudah akan mengalir. Kata
qawarir adalah bentuk jamak dari qarurah yang dapat berarti
sesuatu yang sangat bening seperti kaca atau kristal. Ada juga
yang memahaminya dalam arti kaca. Pengulangan kata qawarir
untuk menegaskan keindahan dankesempurnaanya serta
menampik kesan kekurangan pada gelas-gelas minum itu, yang
boleh jadi timbul dalam benak, misalnya dia rapuh, kasar atau
kabur, dan lain-lain.

Kata salsabilan dipahami oleh banyak ulama dalam arti
sesuatu yang mengalir di kerongkongan dengan sangat mudah.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 190

Dengan demikian, ia berarti sangat mudah diminum. Bisa jadi
juga ia diserap dari Bahasa non-arab. Apapun maknanya, yang
jelas ia adalah sebuah mata air surgawi.

Setelah menjelaskan hidangan dan pelayan srta keadaan
dan tempat yang dilayani, ayat diatas menjelaskan perihal
pakaian mereka. Allah berfirman : Di atas badan mereka yakni
para pelayan itu, atau dan dilayani itu memakai pakaian sutra
halus berwarna hijau dan sutra tebal dan telah, yakni pasti akan,
dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak
masing-masing sesuai dengan kedudukanya.

Para ulama menjelaskan bahwa minuman suci disini
ialah minuman yang benar-benar istimewa, bukan saja karena
yang menyuguhkanya, tetapi juga karea minuman itu disamping
lezat juga tidak menimbulkan kotoran atau najis. Selanjutnya
yang lebih megagumkan lagi ialah bahwa ia berfungsi
menyucikan jiwa dari segala bentuk waswas dan kelemahan
serta mengantar yang minum tidak lagi menghendaki kecuali
apa yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Kata masykuran terambil dari kata syakara. Para pakar
Bahasa mengungkapkan bahwa tumbuhan yang tumbuh walau
dengan sedikit air, atau binatang yang gemuk walau dengan
sedikit rumput, keduanya dinamai syukur. Dari sini kemudian
mereka berkata bahwa Allah yang mensyukuri amal hamba-Nya
berarti antara lain Dia yang megembangkan, walau sedikit dari
amalan hamba-Nya dan melipatgandakanya. Pelipatgandaan itu
dapat mencapai 700 kali bahkan lebih dan tanpa batas.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 191

Munasabah dan Kontekstualisasi

Pada ayat-ayat yang lalu, Allah menjelaskan tentang
balasan atau imbalan yang akan diperoleh kelompok manusia
yang bersyukur karena mendapat taufik serta hidayah dari Allah,
dan yang kafir. Pada ayat-ayat berikut ini, disebutkan bebrapa
hal tentang rumah dan tempat tinggal, gelas atau cangkir
minuman yang serba mewah, serta pakaian dan perhiasan yang
gemerlapan yang semuanya merupakan balasan terhadap amal
kebaikan orang-orang beriman. Penyebutan emas dan perak
dikarenakan karena keduanya merupakan dua hal yang sangat
disukai manusia dan merupakan lambing kemegahan. Di
kehidupan dunia, manusia selalu dituntut untuk melakukan suatu
kebaikan, entah itu sekecil apapun. Karena sekecil apapun
perbuatan baik maupun buruk yang kita lakukan akan berbalik
kepada diri kita sendiri.

Perintah Allah Kepada Nabi Muhammad dan Penjelasan
Keadaan Orang-orang Yang Taat dan Pembangkang Yang
Musyrik di Dunia

Al Insan Ayat 23-31
‫) َفا ْصبِ ْر ِل ُح ْك ِم َر ِب َك َوََّل تُ ِط ْع ِم ْن ُه ْم آ ِث اما أَ ْو‬23( ‫إِ ّنَا َن ْح ُن نَ َّز ْلنَا َعلَ ْي َك ا ْلقُ ْرآ َن تَ ْن ِزيلاا‬
‫) َو ِم َن اللَّ ْي ِل َفا ْس ُج ْد لَهُ َو َسبِ ْحهُ لَ ْيلاا‬25( ‫) َوا ْذ ُك ِر ا ْس َم َر ِب َك بُ ْك َرةا َوأَ ِصيلاا‬24( ‫َكفُو ارا‬
‫) َن ْح ُن‬27( ‫) إِ َّن َه ُؤََّل ِء يُ ِح ّبُو َن ا ْل َعا ِج َلةَ َويَذَ ُرو َن َو َرا َء ُه ْم يَ ْو اما ثَ ِقيلاا‬26( ‫َط ِويلاا‬
‫) إِ َّن َه ِذ ِه تَ ْذ ِك َرةٌ َف َم ْن َشا َء‬28( ‫َخلَ ْق َنا ُه ْم َو َش َد ْدنَا أَ ْس َر ُه ْم َو ِإذَا ِشئْ َنا بَ َّد ْل َنا أَ ْمثَالَ ُه ْم تَ ْب ِديلاا‬

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 192

‫) َو َما تَ َشا ُءو َن إََِّل أَ ْن َي َشا َء ّل َّلاُ ِإ َّن ّل َّلاَ َكا َن َع ِلي اما َح ِكي اما‬29( ‫اتَّ َخذَ إِلَى َربِ ِه َسبِيلاا‬
)31( ‫) يُ ْد ِخ ُل َم ْن يَ َشا ُء ِفي َر ْح َمتِ ِه َوال َّظا ِل ِمي َن أَ َع َّد َل ُه ْم َعذَا ابا أَ ِلي اما‬30(

(23) Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an
kepadamu (muhammad) secara berangsur-angsur (24) Maka
bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan
janganlah engkau ikuti orang yang berdosa dan orang yang
kafir di antara mereka, (25) Dan sebutlah nama Tuhanmu (pada
waktu) pagi dan petang. (26) Dan pada sebagian dari malam,
maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya
pada bagian yang panjang di malam hari. (27) Sesungguhnya
mereka (orang kafir) itu mencintai kehidupan (dunia) dan
meninggalkan hari yang berat (hari akhirat) di belakangnya.
(28) Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan
persendian tubuh mereka. Tetapi, jika Kami menghendaki, Kami
dapat mengganti dengan yang serupa mereka. (29) Sungguh,
(ayat ayat) ini adalah peringatan, maka barang siapa
menghendaki (kebaikan bagi dirinya ) tenu dia mengambil jalan
menuju kepada tuhannya. (30) tetapi kamu tidak mampu
(menempuh jalan itu ), kecuali apabila Allah kehendaki.
Sungguh, Allah maha menghendaki, mengetahui,
mahabijaksana. (31) Dia memasukkan siapapun yang Dia
kehendaki ke dalam rahmat-Nya (surga). Adapun bagi orang-
orang zalim disediakan-Nya azab pedih.

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 193

Kelompok 11
Muhammad Abdul Qoyyum
Muhammad Khalil Qardhawy

‫‪T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 194‬‬

‫‪AL MURSALAAT‬‬
‫‪Al Mursalaat Ayat 1-50‬‬

‫َوا ْل ُم ْر َسلَا ِت ُع ْر افا (‪َ )1‬فا ْل َعا ِص َفا ِت َع ْصفاا (‪َ )2‬وال َّنا ِش َرا ِت نَ ْش ارا (‪َ )3‬فا ْل َفا ِرقَا ِت َف ْر اقا‬
‫(‪ )4‬فَا ْل ُم ْل ِقيَا ِت ِذ ْك ارا (‪ُ )5‬ع ْذ ارا أَ ْو نُ ْذ ارا (‪ِ )6‬إنَّ َما تُو َع ُدو َن َل َوا ِق ٌع (‪ )7‬فَ ِإذَا ال ُّن ُجو ُم‬
‫ُط ِم َس ْت (‪َ )8‬وإِذَا ال َّس َما ُء فُ ِر َج ْت (‪َ )9‬وإِذَا ا ْل ِجبَا ُل نُ ِس َف ْت (‪َ )10‬وإِذَا ال ُّر ُس ُل أُقِتَ ْت‬
‫(‪ِِ )11‬لَيِ َي ْو ٍم أُ ِجلَ ْت (‪ِ )12‬ل َي ْو ِم ا ْل َف ْص ِل (‪َ )13‬و َما أَ ْد َرا َك َما يَ ْو ُم ا ْل َف ْص ِل (‪َ )14‬و ْي ٌل‬
‫يَ ْو َم ِئ ٍذ ِل ْل ُم َك ِذ ِبي َن (‪ )15‬أَلَ ْم نُ ْه ِل ِك ا ِْلَ َّو ِلي َن (‪ )16‬ثُ َّم نُتْ ِبعُ ُه ُم ا ْْل ِخ ِري َن (‪َ )17‬كذَ ِل َك َن ْفعَ ُل‬
‫بِا ْل ُم ْج ِر ِمي َن (‪َ )18‬و ْي ٌل َي ْو َمئِ ٍذ ِل ْل ُم َك ِذبِي َن (‪ )19‬أَ َل ْم نَ ْخلُ ْق ُك ْم ِم ْن َما ٍء َم ِهي ٍن (‪َ )20‬ف َج َع ْل َنا ُه‬
‫فِي َق َرا ٍر َم ِكي ٍن (‪ِ )21‬إ َلى َق َد ٍر َم ْعلُو ٍم (‪َ )22‬فقَ َد ْر َنا فَنِ ْع َم ا ْلقَا ِد ُرو َن (‪َ )23‬و ْي ٌل يَ ْو َمئِ ٍذ‬
‫ِل ْل ُم َك ِذبِي َن (‪ )24‬أَلَ ْم نَ ْج َع ِل ا ِْلَ ْر َض ِكفَاتاا (‪ )25‬أَ ْح َيا اء َوأَ ْم َواتاا (‪َ )26‬و َج َع ْل َنا ِفي َها‬
‫َر َوا ِس َي َشا ِم َخا ٍت َوأَ ْسقَ ْي َنا ُك ْم َما اء فُ َراتاا (‪َ )27‬و ْي ٌل َي ْو َم ِئ ٍذ ِل ْل ُم َك ِذبِي َن (‪ )28‬ا ْن َط ِلقُوا ِإ َلى‬
‫َما ُك ْنتُ ْم ِب ِه تُ َك ِذبُو َن (‪ )29‬ا ْن َط ِلقُوا ِإلَى ِظ ٍل ِذي ثَلَا ِث ُش َع ٍب (‪ََّ )30‬ل َظ ِلي ٍل َوََّل يُ ْغنِي ِم َن‬
‫ال ّلَ َه ِب (‪ِ )31‬إنَّ َها تَ ْر ِمي ِب َش َر ٍر َكا ْلقَ ْص ِر (‪َ )32‬كأَنَّهُ ِج َما َل ٌت ُص ْف ٌر (‪َ )33‬و ْي ٌل يَ ْو َمئِ ٍذ‬
‫ِل ْل ُم َك ِذبِي َن (‪َ )34‬هذَا يَ ْو ُم ََّل َي ْن ِطقُو َن (‪َ )35‬وََّل يُ ْؤذَ ُن َل ُه ْم َف َي ْعتَ ِذ ُرو َن (‪َ )36‬و ْي ٌل َي ْو َمئِ ٍذ‬
‫ِل ْل ُم َك ِذبِي َن (‪َ )37‬هذَا يَ ْو ُم ا ْلفَ ْص ِل َج َم ْع َنا ُك ْم َوا ِْلَ َّو ِلي َن (‪َ )38‬ف ِإ ْن َكا َن َل ُك ْم َك ْي ٌد فَ ِكي ُدو ِن‬
‫(‪َ )39‬و ْي ٌل َي ْو َم ِئ ٍذ ِل ْل ُم َك ِذبِي َن (‪ )40‬إِ َّن ا ْل ُمتَّ ِقي َن ِفي ِظلَا ٍل َو ُعيُو ٍن (‪َ )41‬و َف َوا ِك َه ِم َّما‬
‫يَ ْشتَ ُهو َن (‪ُ )42‬كلُوا َوا ْش َربُوا َه ِنيئاا ِب َما ُك ْنتُ ْم تَ ْع َملُو َن (‪ِ )43‬إ َنّا َك َذ ِل َك َن ْج ِزي‬
‫ا ْل ُم ْح ِسنِي َن (‪َ )44‬و ْي ٌل يَ ْو َم ِئ ٍذ ِل ْل ُم َك ِذبِي َن (‪ُ )45‬كلُوا َوتَ َمتَّعُوا قَ ِليلاا ِإ َّن ُك ْم ُم ْج ِر ُمو َن (‪)46‬‬
‫َو ْي ٌل يَ ْو َمئِ ٍذ ِل ْل ُم َك ِذ ِبي َن (‪َ )47‬وإِذَا ِقي َل لَ ُه ُم ا ْر َكعُوا ََّل َي ْر َكعُو َن (‪َ )48‬و ْي ٌل يَ ْو َمئِ ٍذ‬

‫ِل ْل ُم َك ِذ ِبي َن (‪َ )49‬ف ِبأَيِ َح ِدي ٍث بَ ْع َدهُ يُ ْؤ ِمنُو َن (‪)50‬‬
‫‪1. Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa‬‬
‫‪kebaikan, 2. dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan‬‬
‫‪kencangnya, 3. dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan‬‬
‫‪(rahmat Allah) dengan seluas-luasnya, 4. dan (malaikat-‬‬
‫)‪malaikat) yang membedakan (antara yang baik dan yang buruk‬‬
‫‪dengan sejelas-jelasnya, 5. dan (malaikat-malaikat) yang‬‬
‫‪menyampaikan wahyu, 6. untuk menolak alasan-alasan atau‬‬

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 195

memberi peringatan. 7. Sungguh, apa yang dijanjikan
kepadamu pasti terjadi. 8. Maka apabila bintang-bintang
dihapuskan, 9. dan apabila langit terbelah, 10. dan apabila
gunung-gunung dihancurkan menjadi debu, 11. dan apabila
rasul-rasul telah ditetapkan waktunya. 12. (Niscaya dikatakan
kepada mereka), “Sampai hari apakah ditangguhkan (azab
orang-orang kafir itu)?” 13. Sampai hari keputusan. 14. Dan
tahukah kamu apakah hari ke-putusan itu? 15. Celakalah pada
hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). 16.
Bukankah telah Kami binasakan orang-orang yang dahulu? 17.
Lalu Kami susulkan (azab Kami terhadap) orang-orang yang
datang kemudian. 18. Demikianlah Kami perlakukan orang-
orang yang berdosa. 19. Celakalah pada hari itu, bagi mereka
yang mendustakan (kebenaran). 20. Bukankah Kami
menciptakan kamu dari air yang hina (mani), 21. kemudian
Kami letakkan ia dalam tempat yang kokoh (rahim), 22. sampai
waktu yang ditentukan, 23. lalu Kami tentukan (bentuknya),
maka (Kamilah) sebaik-baik yang menentukan. 24. Celakalah
pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). 25.
Bukankah Kami jadikan bumi untuk (tempat) berkumpul, 26.
bagi yang masih hidup dan yang sudah mati? 27. Dan Kami
jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri
minum kamu dengan air tawar? 28. Celakalah pada hari itu,
bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). 29. (Akan
dikatakan), “Pergilah kamu mendapatkan apa (azab) yang
dahulu kamu dustakan. 30. Pergilah kamu mendapatkan
naungan (asap api neraka) yang mempunyai tiga cabang, 31.
yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 196

neraka.” 32. Sungguh, (neraka) itu menyemburkan bunga api
(sebesar dan setinggi) istana, 33. seakan-akan iring-iringan
unta yang kuning. 34. Celakalah pada hari itu, bagi mereka
yang mendustakan (kebenaran). 35. Inilah hari, saat mereka
tidak dapat berbicara, 36. dan tidak diizinkan kepada mereka
mengemukakan alasan agar mereka dimaafkan. 37. Celakalah
pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). 38.
Inilah hari keputusan; (pada hari ini) Kami kumpulkan kamu
dan orang-orang yang terdahulu. 39. Maka jika kamu punya
tipu daya, maka lakukanlah (tipu daya) itu terhadap-Ku. 40.
Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan
(kebenaran). 41. Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada
dalam naungan (pepohonan surga yang teduh) dan (di sekitar)
mata air, 42. dan buah-buahan yang mereka sukai. 43.
(Katakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan rasa
nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.”
44. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. 45. Celakalah pada hari itu,
bagi mereka yang mendustakan (kebenaran). 46. (Katakan
kepada orang-orang kafir), “Makan dan bersenang-senanglah
kamu (di dunia) sebentar, sesungguhnya kamu orang-orang
durhaka!” 47. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang
mendustakan (kebenaran). 48. Dan apabila dikatakan kepada
mereka, “Rukuklah,” mereka tidak mau rukuk. 49. Celakalah
pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran)! 50.
Maka kepada ajaran manakah (selain Al-Qur'an) ini mereka
akan beriman?

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 197

Tafsir Ayat 1-6
Aku bersumpah dengan angin yang berturut-turut seperti

rambut kuda ketika hilang satu persatu dengan angin yang
mengirimkan topan untuk apa yang aku perintahkan, yakni
nikmat atau bencana dan dengan angin yang menyebarkan awan,
memisah-misahnya di cakrawala langit sebagiamana kehendak
Allah SWT. Ini adalah pendapat yang paling jelas sebagaimana
pendapat Ibnu Katsir, Ibnu Juzzi, pengarang kitab at-Tashil li
Ulumit Tanzi. Al- Qurthubi berkata, mayoritas mufassir
berpendapat bahwa makna al-Mursalat adalah angin.

Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-
Mursalat adalah malaikat yang diutus membawa wahyu Allah,
berupa perintah dan larangan-Nya dengan baik dan ma’ruf.35

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada
kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Sahl
Al-Marwazi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hasan
ibnu Syaqiq, telah menceritakan kepadaku Al-Husain ibnu
Waqid, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Abu
Saleh, dari Abu Hurairah sehubungan dengan makna firman-
Nya: Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa
kebaikan. (Al-Mursalat: 1) Yakni malaikat-malaikat.

Telah diriwayatkan pula dari Masruq, Abud Duha,
Mujahid dalam suatu riwayatnya, As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu
Anas. Dan diriwayatkan dari Abu Saleh, bahwa ia mengatakan
sehubungan dengan makna mursalat, yaitu para rasul. Tetapi
menurut riwayat lain yang juga darinya disebutkan para

35 Wahbah Azzuhaili, “Tafsir al-Munir: Fi Aiqdah Wa Syariah Wa
Manhaj”, daar alFikr, Damaskus 2009, Hal. 305

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 198

malaikat. Hal yang sama dikatakan oleh Abu Saleh dalam lafaz
al-'asifat (para malaikat penggiring angin), an-nasyirat (para
malaikat penyebar hujan), al-fariqal (para malaikat pembeda hak
dan batil), dan al-mulqiyat (para malaikat penyampai wahyu).

As-Sauri telah meriwayatkan dari Salamah ibnu Kahi!,
dari Muslim Al-Batin, dari Abul Abidain yang mengatakan
bahwa aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas'ud tentang makna
mursalat 'urfan, artinya angin. Hal yang sama dikatakan olehnya
sehubungan dengan makna firman-Nya: dan (malaikat-malaikat)
yang terbang dengan kencangnya, dan (malaikat-malaikat) yang
menyebarkan (rahmat Tuhannya) dengan seluas-luasnya. (Al-
Mursalat: 2-3).

Sesungguhnya makna yang dimaksud ialah angin. Hal
yang sama dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan
AbuSaleh menurut riwayat yang bersumber darinya. Tetapi Ibnu
Jarir bersikap diam sehubungan dengan makna firman-Nya:
Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan.
(Al-Mursalat: 1)

Bahwa apakah makna yang dimaksud adalah malaikat-
malaikat yang diutus membawa kebaikan, ataukah yang seperti
rambut kuda yang sebagian darinya mengiringi sebagian yang
lain, ataukah yang dimaksud adalah angin apabila bertiup sedikit
demi sedikit? Tetapi ia memastikan bahwa yang dimaksud
dengan 'asifat adalah angin yang bertiup dengan kencang, sama
dengan pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud dan para
pengikutnya. Dan di antara orang yang berpendapat sama
sehubungan dengan 'asifat 'asfa ialah Ali ibnu Abu Talib dan
As-Saddi; tetapi bersikap diam terhadap an-nasyirat, apakah

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 199

makna yang dimaksud adalah para malaikat ataukah angin, sama

dengan sebelumnya.

Diriwayatkan dari Abu Saleh, bahwa an-nasyirati

nasyran ialah hujan. Tetapi pendapat yang jelas menyebutkan

bahwa al-mursalat adalah angin, seperti yang disebutkan dalam

firman-Nya:

‫َوأَ ْر َس ْل َنا ال ِريا َح َلوا ِق َح‬

Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-

tumbuhan). (Al-Hijr:22)

Dan firman Allah Swt.:

‫َو ُه َو الَّ ِذي يُ ْر ِس ُل ال ِريا َح بُ ْشراا بَ ْي َن يَ َد ْي َر ْح َم ِت ِه‬

Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita

gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya. (Al-A'raf: 57).

Demikian pula al-'asifat artinya angin. Dikatakan 'asafatir riyahu

artinya angin telah bertiup dengan kencangnya sehingga

menimbulkan suara. Begitu pula an-nasyirat artinya angin yang

menggiring awan di ufuk langit menurut apa yang dikehendaki

oleh Tuhannya.36
)‫ (والعاصفات‬adalah malaikat yang diberi tugas untuk

meniupkan angin dengan kencang. )‫ (والناشرات‬adalah malaikat

yang diberi tugas untuk menggiring awan atau menebarkan

sayap-sayap mereka di udara ketika turun menyampaikan

wahyu. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dan

setelahnya adalah kelompok para Nabi yang diutus

menyampaikan wahyu yang merealisasikan semua kebaikan

yang mana kondisi mereka dalam keadaan berat mencapai

36 Abu Fida Ismail bin Umar in Katsir al Quraisy “Tafsir al-Qur’an al-
Azhim”, Dar Tayyibah Lin Nasyr Wa Tawzi’, Beirut

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 200

puncaknya, lalu dakwah mereka menyebar, memisahkan antara
orang mukmin dan orang kafir, orang yang mengakui dan
mengingkari serta menyampaikan peringatan dan tauhid kepada
manusia semua dan kepada kelompok tertentu.
Tafsir Ayat 4-6

Kemudian, Allah bersumpah dengan malaikat yang turun
membawa perintah Allah kepada para rasul agar dapat
membedakan antara kebenaran dan kebatilan, hidayah dan
kesesatan, halal dan haram, menyampaikan wahyu kepada para
Nabi sebagai penolak alasan dari Allah kepada para makhluk-
Nya dan memberikan peringatan akan adzab-Nya, jika mereka
menyalahi perintah-Nya. Ada yang mengatakan yang dimaksud
dengan al-Fariqaati dan al-Mulqiyaati adalah termasuk angin
juga.37

Yakni para malaikat, menurut Ibnu Mas'ud. Ibnu Abbas,
Masruq, Mujahid, Qatadah. Ar-Rabi' ibnu Anas, As-Saddi, dan
As-Sauri. Tidak ada perbedaan di sini, karena sesungguhnya
para malaikat turun dengan membawa perintah Allah kepada
rasul-rasul-(Nya) untuk membedakan antara perkara yang hak
dan perkara yang batil, antara petunjuk dan kesesatan, dan
antara perkara halal dan haram. Dan para malaikat itu
menyampaikan wahyu kepada para rasul yang di dalamnya
mengandung alasan terhadap makhluk dan sekaligus peringatan
bagi mereka akan siksa Allah jika mereka menentang perintah-
Nya.38

37 Al-Munir
38 Ibnu Katsir

T a f s i r T a h l i l i J u z 2 9 | 201

Tafsir Ayat 7
Ini adalah alasan dari sumpah-sumpah itu. Artinya,

sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian, seperti
datangnya hari Kiamat, peniup sangkakala, kebangkitan fisik,
pengumpulan orang-orang dulu dan orang-orang belakangan di
suatu tempat serta pembalasan setiap orang yang beramal
dengan amalnya, baik atau buruk, ini semua adalah terjadi dan
ada dengan pasti.39

Inilah objek dari sumpah-sumpah di atas, yakni
sesungguhnya apa yang telah dijanjikan kepadamu yaitu
terjadinya kiamat, peniupan sangkakala, dibangkitkannya semua
makhluk dan dihimpunkan-Nya semua orang yang terdahulu
dan yang terkemudian dalam suatu lapangan untuk menerima
pembalasannya masing-masing; jika baik, maka balasannya
baik; dan jika buruk, maka balasannya buruk pula semuanya itu
pasti terjadi dan tidak terelakkan lagi.40

Tafsir Ayat 8-10
Jika cahaya dan sinar bintang telah dihapuskan, langit

dibuka, dibelah, retakdan lemah sisi-sisinya serta gunung-
gunung dicabut dari tempatnya, dan pergi, terbang di angkasa,
tidak ada zat dari gunung itu, tidak pula bekasnya yang tersisa.
Tempatnya rata di bumi.
Mirip dengan ayat ini mengenai bintang-bintang adalah, “Dan
apabila bintang-bintang berjatuhan.” (at-Takwir: 2). “Dan
apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (al-Infithaar: 2).

39 Al Munir
40 Ibnu Katsir


Click to View FlipBook Version