Buku Pendidikan Pancasila
Buku Pendidikan
Kewarganegaraan
Buku Pendidikan
Kewarganegaraan
Buku ini merupakan hasil dari kumpulan makalah Mahasiswa
PGMI Semester II STAI AL FITRAH SURABAYA Prodi
PGMI yang disusun untuk memenuhi Ulangan Akhir Semester
Mata Kuliah Kewarganegaraan.
Dosen Pengampu:
Tuti Marlina, S.Pd.I, M.Pd
Penyusun:
A’izzani Sri Wilujeng Abadi
Buku Pendidikan Pancasila
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Puja dan puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT,
yang telah mencurahkan taufik, hidayah, inayah, serta rahmat dan
anugerah-Nya sehingga penyusunan “Buku Pendidikan
Kewarganegaraan” ini dapat terselesaikan.
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, sebagai figur yang patut dicontoh dan
diteladani sekaligus pencerah dari kegelapan dunia, semoga kita
mendapatkan syafa’atnya di Hari Kiamat nanti.
Dalam penulisan Buku ini, penyusun telah berusaha
menyusun dengan sebaik-baiknya. Namun penyusun telah
menyadari akan adanya keterbatasan sebagai manusia biasa yang
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penyusun memerlukan
adanya kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
menyempurnakan buku ini.
Adapun Buku ini di susun untuk memenuhi tugas Ujian Akhir
Semester Mata Kuliah Pancasila Sekolah Tinggi Agama Islam Al
Fithrah Surabaya Tahun 2019/2020.
Selain itu adanya buku ini merupakan bentuk wujud
kepedulian penyusun terhadap generasi muda agar senantiasa
iii
Buku Pendidikan Pancasila
dapat belajar dan memahami betul tentang Kewarganegaraan. Tak
hanya difahami, namun juga diimplementasikan dalam bentuk
perbuatan, untuk menunjang keberlangsungan Negara Indonesia
di masa depan.
Penyusun sangat berharap Buku ini dapat bermanfa’at bagi
semua pihak.
Surabaya, 2 September 2020
Penyusun
iv
Buku Pendidikan Pancasila
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................iii
DAFTAR ISI ..................................................................................... v
IDEOLOGI PANCASILA SEBAGAI DASAR BANGSA DAN
NEGARA INDONESIA ................................................................... 1
A. Pancasila Sebagai Ideologi Negara Indonesia ......................... 1
B. Ideologi Pancasila Sebagai Dasar Negara Indonesia............... 6
C. Perbedaan Konsistensi das sollen dan das sein ....................... 9
IDENTITAS NASIONAL..........................................................12
A. Pengertian Identitas Nasional.................................................12
B. Dimensi Identitas ................................................................... 14
C. Faktor Pendukung dan Pembentuk Identitas Nasional..18
D. Identitas Nasional Dalam UUD 1945..............................24
KONSTITUSI...................................................................................26
A. Pengertian Konstitusi..............................................................26
B. Pentingnya Konstitusi Bagi Negara........................................28
C. UUD 1945 Sebagai Konstitusi Negara Indonesia...................32
D. Wujud Perilaku Konstitusi ................................................... 46
HAK DAN KEWAJIBAN WARGANEGARA............................51
A. Hak dan Kewajiban Warga Negara ....................................... 51
B. Hak daan Kewajiban Dalam UUD 1945 ............................... 53
C. Hubungan Bangsa, Negara dan Warga Negara ..................... 60
DEMOKRASI ................................................................................. 65
v
Buku Pendidikan Pancasila
A. Makna Demokrasi dan Prinsip-Prinsipnya ............................ 65
B. Demokrasi Indonesia ............................................................. 71
C. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia .................................... 72
D. Pendidikan Demokrasi........................................................... 77
MENGIDENTIFIKASI DAN MENAFSIRKAN RULE OF LAW
....................................................................................................... 85
A. Pengertian dan Hakikat Rule Of Law......................................85
B. Prinsip-Prinsip Formal Rule Of Law.......................................88
C. Komitmen Melaksanakan Rule Of Law..................................90
NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA....................93
A. Indonesia Sebagai Negara Hukum dan
Prinsipnya................................................................................93
B. Hubungan Negara Hukum dengan HAM...............................101
C. Penegakan Negara Hukum di Indonesia.................................103
GEOPOLITIK................................................................................108
A. Pengertian Geopolitik.............................................................108
B. Teori Kekuasaan dan Geopolitik Indonesia............................111
C. Wawasan Nusantara Sebagai Geopolitik Indonesia................114
KETAHANAN NASIONAL INDONESIA...................................121
A. Unsur Ketahanan Nasional Indonesia.....................................121
B. Pendekatan Astagatra Dalam Pemecah Masalah....................132
C. Potensi Ancaman bagi Ketahanan di Era Global....................135
PLURALITAS STRATEGIS INTEGRASI MASYARAKAT
INDONESIA....................................................................................140
A. Pengertian Pluralitas Masyarakat Indonesia...........................140
vi
Buku Pendidikan Pancasila
B. Pengertian Stategis Integrasi..................................................148
C. Pengertian Strategis Integrasi Indonesia................................156
STUDI KASUS MASALAH KEWARGANEGARAAN............ 158
A. Pengertian Masalah Kewarganegaraan...................................158
B. Landasan Makalah Kewarganegaraan.....................................160
C. Kasus Masalah Kewarganegaraan...........................................162
DAFTAR PUSTAKA......................................................................164
vii
Buku Pendidikan Pancasila
IDEOLOGI PANCASILA SEBAGAI DASAR
BANGSA DAN NEGARA INDONESIA
A. Pengertian Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara
Indonesia
1. Pengertian Pancasila
Pancasila merupakan rangkaian kesatuan dan kebulatan yang tidak
terpisahkan karena setiap sila dalam Pancasila bersifat sistematis-
hierarkis, yang berarti bahwa kelima pancasila itu meunjukan suatu
rangkaian urutan-urutan yang bertingkat-tingkat, dimana setiap sila
mempunyai tempatnya sendiri di dalam rangkaian susunan
kesatuan itu sehingga tidak dapat dipisahkan.1
a. Secara Etimologis
Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta yaitu panca yang artinya
lima dan syla yang artinya sendi, alas dasar Pancasila berarti
berbatu sendi lima atau memiliki lima unsur, kata Pancasila
diambil dari kepustakaan Budha yang bermakna lima aturan
(larangan) atau five moral principles, yakni larangan
membunuh, larangan mencuri, larangan berzina, larangan
berdusta, dan larangan minum minuman keras. Setelah
Majapahit runtuh, berkembanglah agama Islam, dengan
pengaruh ajaran agama Budha masih dikenal di masyarakat
1 Ronto, Pancasila sebagai Ideologi dan Dasar Negara (Jakarta: PT Balai Pustaka,
2012), 1. 1
Buku Pendidikan Pancasila
Jawa yang dikenal dengan ma lima atau m 5 atau 5 larangan
moralitas.2
b. Secara Historis
perumusan pancasila diawali pada sidang BPUPKI. Hasil dari
sidang BPUPKI adalah:
1) Tanggal 29 Mei 1945 Mr. Muhammad Yamin berpidato
tentang dasar Negara
2) Tanggal 1 Juni 1945, Ir Soekarno mengusulkan agar dasar
Negara diberi nama “Pancasila” dan usulan tersebut diterima
secara bulat leh sidang BPUPKI
3) Tanggal 22 Juni 1945 sembilan tokoh nasional mengadakan
pertemuan dan menghasilakn “Piagam Jakarta”3
c. Secara Terminologis
Sehari setelah merdeka, untuk melengkapi alat-alat
perlengkapan Negara sebagaimana lazimnya Negara-negara
yang merdeka, maka PPKI segera mengadakan sidang, yakni
pada tanggal 18 Agustus 1945 yang mengesahkan UUD 1945
sebagai UUD Negara Republik Indonesia yang terdiri dari
pembukaan, pasal-pasal. Pasal-pasal UUD 1945 yang berisi 37
pasal, 1 aturan peralihan terdiri 4 pasal 1 aturan tambahan
2 Ibid, 9. 3
3 Ibid, 9.
Buku Pendidikan Pancasila
terdiri dari 2 ayat dan penjelas. Dalam pembukaan UUD 1945
pada alenia ke empat terdapat rumusan Pancasila.
Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan
berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indnesia. Lima
sendi utama penyusunan Pancasila adalah Ketuhanan yang
Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan
Indonesia, Kerakyatan yang dipinpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan ini
tercantum dalam alenia ke empat pembukaan (Preambule)
UUD 1945.4
Secara kautalitas Pancasila sebelum disahkan menjadi
dasar filsafat Negara nilai-nilainya telah ada dan berasal dari
bangsa Indonesia sendiri yang berupa nilai-nilai adat-istiadat,
kebudayaan dan nilai-nilai religius. Kemudian para pendiri
Negara Indonesia mengangkat nilai-nilai tersebut dirumuskan
secara musyawarah mufakat berdasarkan moral yang luhur,
antara lain dalam siding-sidang BPUPKI pertama, sidang
Panitia Sembilan yang kemudian menghasilkan Piagam
Jakarta yang memuat Pancasila yang pertama kali, kemudian
dibahas lagi dalam sidang BPUPKI yang kedua. Setelah
kemerdekaan Indonesia sebelum sidang resmi PPKI Pancasila
4 Ibid, 10. 4
Buku Pendidikan Pancasila
sebagai calon dasar filsafat Negara dibahas serta
disempurnakan kembali dan pada tanggal 18 Agustus 1945
disahkan oleh PPKI sebagai dasar filsafat Negara Republik
Indonesia.5
2. Pengertian Ideologi
Istilah ideologi berasal dari kata idea yang berarti gagasan,
konsep, pemikiran dasar, cita-cita. Dan logos yang berarti ilmu.
Maka secara harfiyah ideologi berarti ilmu pengertian-pengertian
dasar. Dalam pengertian sehari-hari idea disamakan artinya dengan
cita-cita, yang dimaksud adalah cita-cita bersifat tetap yang harus
dicapai, sehingga cita-cita yang bersifat tetap itu sekaligus
merupakan dasar, pandangan atau faham. Dengan demikian
ideologi mencakup pengertian tentang ide-ide, pengertian dasar,
gagasan dan cita-cita.6
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ideologi didefinisikan
sebagai konsep bersistem yang dijadikan azas pendapat yang
memberikan arah dan tujuan untukkelangsungan hidup. Ideologi
juga diartikan paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu
progam sosial politik.7
Beberapa pakar atau pemikir mebdefinisikan ideologi sebagai
berikut:
5 Kaelan, Pendidikan Pancasila (Yogyakarta: PARADIGMA, 2004), 103.
6 Ibid., 113.
7 Satrio Wahono, dkk, Pendidikan Pancasila (Jakarta: Akademika, 2017), 93.
5
Buku Pendidikan Pancasila
a. Sastrapratedja, ideologi adalah seperangkat gagasan atau
pemikiran yang berorientasi pada tindakan dan diorganisasikan
menjadi suatu sistem yang teratur.
b. Soerjanto, ideologi adalah hasil refleksi manusia berkat
kemampuannya menjaga jarak dengan dunia kemampuannya.
c. Mubyarto. Ideologi adalah sejumlah doktrin, kepercayaan, dan
symbol-simbol sekelompok masyarakat atau suatu bangsa yang
menjadi pegangan dan pedoman kerja atau perjuangan untuk
mencapai tujuan masyarakat atau bangsa itu.8
Dari pengertian pancasila dan ideologi diatas dapat disimpulkan
bahwa pengertian ideologi pancasila sebagai dasar bangsa dan
negara adalah konsep bersistem yang dijadikan azas pendapat yang
memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup bangsa
Indonesia yang sesuai dengan pancasila.
B. Ideologi Pancasila sebagai Dasar Bangsa dan Negara Indonesia.
Secara kuasalitas pancasila sebelum disahkan menjadi dasar
filsafat Negara, nilai-nilainya telah ada dan berasal dari bangsa
Indonesia sendiri yang berupa adat istiadat, kebudayaan dan nilai-nilai
religius. Kemudian para pendiri Negara Indonesia mengangkat nilai-
nilai tersebut dirumuskan secara musyawarah mufakat berdasarkan
8 ibid. 94-95. 6
Buku Pendidikan Pancasila
moral yang luhur, antara laindalam sidang-sidang BPUPKI pertama,
sidang Panitia Sembilan yang kemudian menghasikan Piagam Jakarta
yang memuat pancasila yang pertama kali, kemudian dibahas lagi
dalam sidang BPUPKI kedua. Setelah kemerdekaan Indonesia
sebelum sidang resmi PKI Pancasila sebagai calon dasar filsafat
Negara dibahas serta disempurnakan kembali dan akhirnya pada
tanggal 18 Agustus 1945 disahkan oleh PPKI sebagai dasar filsafat
Negara Indonesia.9
Pancasila sebagai dasar Negara merupakan suatu azas kerohanian
yang melipti suasana kebatinan atau cita-cita hukum sehingga
merupakan suatu sumber nilai norma serta kaidah, baik yang tertulis
(UUD 1945) maupun yang tidak tertulis (konveksi).10 Pancasila
sebagai suatu ideologi bangsa dan Negara Indonesia pada hakekatnya
bukan hanya merupakan suatu hasil renungan atau pemikira seseorang
atau kelompok orang seperti ideoogi-ideologi lain di dunia. Pancasila
diambil dari nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia, nilai-nilai
kebudayaan, serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup
masyarakat Indonesia sebelum membentuk suatu Negara. Unsur-
unsur tersebut kemudian diangkat dan dirumuskan oleh para pendiri
Negara sehingga pancasila berkedudukan sebagai ideologi bangsa dan
Negara Indonesia berakar pada pandangan hidup dan budaya bangsa
9 Ibid., 103.
10 Nurdiaman, Pendidikan Kewarganegaraan Kecakapan Berbangsa dan Bernegara
(Bandung: Pribumi Mekar, 2007), 9. 7
Buku Pendidikan Pancasila
dan bukannya mengangkat atau mengambil ideologi dari Negara lain.
Selain itu pancasila bukan merupakan ide-ide atau perenungan dari
seorang saja, yang hanya memperjuangkan suatu kelompok atau
golongan tertentu, melainkan pancasila berasal dari nilai-nilai yang
dimliki oleh bangsa. Dengan demikian pancasila pada hakikatnya
berlaku untuk seluruh lapisan serta unsur-unsur bangsa secara
keseluruhan. Oleh karena itu cirri khas pancasia memiliki kesesuaian
dengan bangsa Indonesia. Pancasila sebagai ideologi berarti pacasila
dijadkan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.11
Perbedaan ideologi pancasila dengan ideologi-ideologi lain yang
berkembang di belahan dunia:
1. Kapitalsme, ideologi ini meyakini bahwa modal dapat melakukan
berbagai usaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Ada
kekuatan tersembunyi yang dapat mengatur pasar sehingga pasar
harus memiliki kebebasan dari investasi pemerintah, dalam hal ini
pemerintah hanya bertugas untuk mengawasi semua pekerjaan
yang dilakukan rakyatnya. Tokoh besar dlam berkembangnya
ideologi ini adalah Adam Smith.
2. Komunisme, paham ini berpendapat bahwa segala sesuatu hal
yang terjadi dalam suatu Negara akan dikuasai mutlak oleh Negara
tersebut.
11 Ibid., 11-12. 8
Buku Pendidikan Pancasila
3. Liberalisme, ideologi ini didasarkan pada pemahaman akan
kebebasan adalah nilai politik yang palng utama, pada dasarnya
harapan dari dikembangkannya ideologi ini adalah untuk
mencapai masyarakat yang bebas, dengan ciri utamanya adalah
kebebasan berfikir untuk setiap imdividu.
C. Perbedaan Konsistensi das sollen dan das sein.
1. Pengertian das sollen dan das sein
Das sollen dan das sein itu tidak sama. Das sollen itu adalah
peraturan hukum yang bersifat umum, sedangkan das sein adalah
suatu peristiwa konkret yang terjadi di masyarakat. Das sollen dan
das sein ditemukan dalam penelitian hukum. Das sollen adalah apa
yang seharusnya hukum sebagai fakta hukum yang diungkapkan
para ahli hukum dalam tataran teoritik (law in the books), yakni
hukum dalam bentuk cita-cita bagaimana seharusnya; sedangkan
das sein lebih kepada hukum sebagai fakta yang senyatanya, yaitu
hukum yang hidup berkembang dan berproses di masyarakat (law
in action).12
2. Pancasila sebagai dasar Negara secara das sollen dan das sein
Pancasila sebagai dasar negara secara das sollen dan das sein,
yakni pada Sila ke-4 “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
12 Anik Prihatini “Pancasila sebagai das sollen dan das sein” dalam
https://www.kompasania.com/anikprihatini/pancasila-secara-das-sollen -dan-das-sein
diakses 07 Maret 2020 9
Buku Pendidikan Pancasila
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan” Amanat atau
nilai yang terkandung dalam sila ke-4 ini adalah bahwa kedaulatan
berada di tangan rakyat (nilai demokrasi) dengan melalui
demokrasi tidak langsung (adanya lembaga perwakilan).
10
Buku Pendidikan Pancasila
Nilai ini mengutamakan kepentingan negara dan bangsa diatas
kepentingan pribadi dan golongan, namun tetap menghargai
kepentingan pribadi dan golongan tersebut. Selain itu, nilai lain
yang terkandung dalam sila ini adalah asas musyawarah mufakat
dalam merumuskan sesuatu atau menyelesaikan suatu persoalan.
Sila ke-5 “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.
Amanat atau nilai yang terkandung dalam sila ini adalah adanya
suatu nilai keadilan dari segi sosial yang mencakup berbagai aspek
kehidupan manusia yang berhak dimiliki oleh seluruh rakyat
Indonesia. Keadilan yang berhak diperoleh tersebut meliputi
berbagai hal, diantaranya untuk memperoleh kehidupan yang
layak, kebebasan memeluk agama, memperoleh pendidikan, serta
keadilan dan persamaan di muka hukum. Nilai keadilan ini erat
kaitannya dengan hak asasi manusia serta hak dan kewajiban warga
negara. Dalam pelaksanaannya, nilai-nilai ini telah ditegaskan
secara jelas dalam pasal-pasal UUD NRI 1945, yaitu mengenai
Hak Asasi Manusia. Kebijakan-kebijakan dalam rangka
mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat pun sudah ada,
namun demikian, pelaksanaannya belum merata atau menyeluruh
hingga meliputi semua daerah di Indonesia. Contohnya saja
mengenai pendidikan, dimana biaya pendidikan masih menjadi
momok bagi masyarakat yang kurang mampu. Adanya berbagai
bantuan pendidikan yang ditawarkan pemerintah maupun swasta
10
Buku Pendidikan Pancasila
terkadang belum dapat diakses oleh masyarakat khususnya yang tinggal
di daerah-daeralh pedalaman. Akibatkan, masih banyak anak-anak usia
sekolah di Indonesia yang belum dapat menikmati pendidikan dengan
semestinya.13
13 Ibid., 11
Buku Pendidikan Pancasila
Identitas Nasional
A. Pengertian Identitas Nasional
Pengertian kepribadian suatu identitas sebenarnya pertama kali
muncul dari para pakar pesikologi. Manusia sebagai individu sulit
dipahami manakala ia terlepas dari manusia lainnya. Oleh karena itu
manusia dalam melakukan interaksi dengan individu
lainnyasenantiasa memiliki sesuatu sifat kebiasaan, tingkah laku
serta karakter yang khas yang membedakan manusia tersebut dengan
manusia lainnya. Namun demikian pada umumnya pengertian atau
istilah kepribadian sebagai suatu identitas adalah keseluruhan atau
totalitas dari faktor-faktor biologis, pesikologis, dan sosiologis yang
mendasari tingkah laku individu. Tingkah laku tersebut terdiri atas
kebiasan, sikap, sufat-sifat serta karakter yang berada pada
seseorang sehingga tersebut berbeda dengan orang yang lainnya.
Oleh karena itu kepribadian adalah tercermin pada keseluruhan
tingkah laku seseorang dalam hubungan dengan manusia lain.14
Istilah identitas berasal dari kata bahasa inggris “identity”. Identity
itu sendiri berarti sebagai ciri atau tanda. Identitas berarti ungkapan
nilai-nilai budaya suatau bangsa yang bersifat khas dan
14 Prof Dr. H. Kaelan, M.S, Pendidikan Kewarganegaraan, (PARADIGMA:
Trihanggono, Sleman, Yogyakarta), 39
12
Buku Pendidikan Pancasila
membedakannya dengan bangsa lain. Dalam identitas itu sendiri
terdapat ciri-ciri yang bersifat fisik dan non-fisik. Non-fisik
contohnya yaitu, masyarakat papua yang berkulit hitam dan
masyarakat cina yang berkulit putih.
Kata nasional sendiri merupakan identitas yang melekat pada
kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-
kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, dan bahasa. Sedangkan
menurut Sartono Kartodirjo “nasio” (nation) menunjuki kepada
suatu bangsa yang bersatu berdasar kepada perbedaan yang ada. Jadi
kata nasional itu sendriri adalah pemersatu perbedaan dalam suatu
bangsa.
Kata identitas nasional yaitu suatu ciri yang dimiliki oleh suatu
bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa itu dengan bangsa
lain. Ciri itu bisa ditentukan dengan proses historis terbentuknya
suatu bangsa itu. Sehingga pada akhirnya identitas nasional itu tidak
akan bisa dilepaskan dari jati diri bangsa atau sering kita katakan
sebagai kepribadian bangsa. Identitas nasional tidak serta merta
tumbuh atau ada dalam suatu bangsa. Identitas nasional sendiri juga
di pengaruhi oleh berbagai faktor.15
Dalam kehidupan bernegara identitas nasional sangat penting dan
tidak boleh hilang dari kehidupan bangsa. Sehingga diperlukan cara
15 Moh. Faizin Ahwan. M. Pd. I, Civic Educacion, (JAUDAR PRESS: Jl. Jemur
Wirosari Lebar 61, Wonocolo, Surabaya), 11
13
Buku Pendidikan Pancasila
untuk mempertahankannya. Ada banyak cara yang dilakukan untuk
hal tersebut melalui media budaya. Budaya adalah suatu hal yang
paling utama dalam identitas nasional karena budaya sendiri menjadi
suatu ciri khas yang membedakan dari bangsa atau negara lain. Jadi
proses mempertahankan identitas nasional melalui budaya akan
efektif. Disamping mengembangkan budaya di negara sendiri bisa
juga memperkenalkannya ke negara lain.
B. Dimensi Identitas Nasional
Jikalau kepribadian sebagai suatu identitas dari suatu
bangasa, maka persoalannya adalah bagaimana pengertian suatu
bangsa itu. Bangsa pada hakikatnya adalah sekelompok besar
manusia yang mempunyai persamaan nasib dalam proses
sejarahnya, sehingga mempunyai persamaan watak atau karakter
yang kuat untuk bersatu dan hidup bersama serta mendiami suatu
wilayah tertentu sebagai suatu “kesatuan nasional”. Para tokoh besar
pengetahuan yang mengkaji tentang hakikat kepribadian bangsa
tersebut adalah dari beberapa disiplin ilmu, yaitu antropologi,
psikologi, dan sosiologi. Tokoh-tokoh tersebut antara lain
Marghareth Mord, Ruth Benedicht, Ralph Linton, Abraham
Kardiner, dan David Riesmant.
Ada beragam unsur identitas yang secara normatif mampu
menjelaskan ciri khas suatu bangsa, yaitu antara lain letak geografis,
14
Buku Pendidikan Pancasila
adat-istiadat, nilai, bahasa. Sedangkan dimensi identitas nasional
antara lain:
1. Budi pekerti, yaitu gambaran alamiah pola perilaku yang
terwujud dalam kehidupan sehari-hari, seperti:taat agama,bersikap
ramah, sopan santun (berakhlakul karimah), suka tolong-menolong
(gotong-royong), saling hormat-menghormati, saling menjaga hak
kewajiban sertamentradisikan musyawarah dalam mencari
penyelesaian.
2. Simbol-simbol, yaitu segala bentuk simbol yang menggambarkan
identitas suatu negara dan diatur secara khusus dalam suatu produk
hukum atau perundang-undangan. Simbol-simbol tersebut antara
lain berupa lagu kebangsaan, bendera, bahasa, dan lain sebagainya.
3. Instrumen poperti, yaitu sarana manusia untuk mencapai tujuan
yang ingin dicapai, seperti: masjid, gereja, candi, pura, pakaian adat,
kapal laut, pesawat terbang, dan lain sebagainya.
4. Tujuan bersama, yaitu sebuah harapan dan cita-cita bersama
bangsa menuju kemajuan yang kompetitif dan bermartabat. Dalam
konteks ke-Indonesiaan, yaitu bertujuan mewujudkan suatu
masyarakat yang adil dan makmur berdasar Pancasila dan UUD
1945 dalam wadah NKRI yang merdeka, berdaulat, bersatu, dalam
15
Buku Pendidikan Pancasila
suasana yang aman, tentram, tertib serta dinamis dalam lingkungan
pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib, dan damai.16
Setiap bangsa memiliki idiologi dan pandangan hidup yang lainnya,
diambil dari nilai-nilai yang tumbuh, hidup dan berkembang di
dalam kehidupan bangsa yang bersangkutan. Demikianlah halnya
dengan Pancasila yang merupakan idiologi dan pandangan hidup
bangsa Indonesia digali dari tradisi dan budaya yang tumbuh, hidup
dan berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia sendiri sejak
kelahirannya dan berkembang menjadi bangsa yang besar seperti
yang di alami oleh dua kerajaan besar tempo dulu, yaitu kerajaan
Sriwijaya dan Majapahit.
Setelah berproses dalam rentang perjalanan sejarah yang panjang
sampai kepada tahap pematangannya oleh para pendiri negara pada
saat akan mendirikan Negara Indonesia merdeka telah berhasil
merancang Dasar Negara yang justru bersumber pada nilai-nilai
yang telah tumbuh, hidup, dan berkembang dalam kehidupan
masyarakat dan bangsa Indonesia yang kemudian diformalisasikan
dan disistematiskan dalam rancangan Dasar Negara yang diberi
nama Pancasila.17
16 M. Anis Bachtiar, Pancasila dan Kewarganegaraan, (UIN Sunan Ampel: Jl. A.
Yani No. 117 Surabaya), 159
17 Ibid... 165
16
Buku Pendidikan Pancasila
Pancasila sebagai wujud kesepakatan nasional merupakan hasil
eksplorasi nilai-nilai yang bersumber dari adat-istiadat, budaya,
keberagaman, pemikiran, dan pandangan hidup seluruh komponen
bangsa yang ada di bumi nusantara dan meliputi kemajemukan
dalam suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Dalam konteks
ini, maka Pancasila merupakan sistem nilai kebangsaan secara
totalitas yang sudah final dan harga mati.
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa indonesia adalah jati
diri dan kepribadian bangsa yang merupakan kristalisasi dari nilai-
nilai yang hidup dan berkembang dalam budaya masyarakat
Indonesia sendiri dengan memiliki sifat keterbukaan sehingga dapat
mengadaptasikan dirinya dan terhadap perkembangan zaman di
samping memiliki dinamika internal secara selektif dalam proses
adaptasi yang dilakukannya. Dengan demikian nilai generasi
penerus bangsa dapat memperkaya nilai-nilai Pancasila sesuai
dengan tingkat perkembangan dan tantangan zaman yang
dihadapinya terutama dalam meraih keunggulan IPTEK tanpa
kehilangan jati diri. Sebab itu, dalam pendidikan Pancasila dan
kewarganegaraan (Pancasila and civic education), identitas ini
sangat penting. Kerena dengan pendidikan ini dapat lebih mengerti
tentang Negara dan bangsanya serta hal-hal lain yang berkaitan
dengan keutuhan, kesatuan, dan persatuan bangsa berdasarkan pada
wawasan nusantara, Pancasila dan UUD 1945 yang seharusnya di
17
Buku Pendidikan Pancasila
pertahankan, bukan malah dirong-rong dan di hancurkan atau
bahkan diubah dengan idiologi-idiologi lain seperti Liberalisme,
Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, Markisme dalam segala
bentuk eksistensisnya, yang pada hakikatnya tidak sesuai dengan
kondisi Bangsa Indonesia yang mempunyai kepribadian bangsa
dengan kemajuan suku, budaya, agama, dan bahasa.
C. Faktor-faktor Pendukung dan Pembentuk Identitas Nasional
1. Faktor Pendukung
Bangsa Indonesia sebagai salah satu bangsa dari masyarakat
internasional, memiliki sejarah serta prinsip dalam hidupnya yang
berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Bangsa Indonesia
berkembang menuju fase nasionalisme modern, diletakkanlah
prinsip-prinsip dasar filsafat sebagai suatu asas dalam hidup
berbangsa dan bernegara. Para pendiri bangsa menyadari akan
pentingnya dasar filsafat ini, akan melakukan suatu penyelidikan
yang dilakukan oleh badan yang akan meletakkan dasar filsafat
bangsa dan negara yaitu BPUPKI. Prinsip-prinsip dasar itu
ditemukan oleh para pendiri bangsa tersebut yang diangkat dari
filsafar hidup atau pandangan hidup bangsa Indonesia, yang
kemudian diabstraksikan menjadi suatu prinsip dasar filsafat negara
18
Buku Pendidikan Pancasila
yaitu Pancasila. Jadi dasar filsafat suatu bangsa dan negara berakar
pada pandangan yang bersumber kepada kepribadiannya sendiri.18
Dapat pula dikatakan bahwa Pacasila sebagai dasar filsafat
bangsa dan negara Indonesia pada hakikatnya bersumber kepada
nilai-nilai budaya dan keagamaan yang dimilikiolrh bangsa
Indonesia sebagai kepribadian bangsa. Jadi filsafat Pancasila itu
bukanmuncl secara tiba-tiba dan dipaksaan oleh suatu rezim atau
penguasa melainkan melalui suatu fase histiris yang cukup panjang.
Pancasila sebelum dirumuskan secara formal yuridis dalam
pembukan UUD 1945 sebagai dasar filsafat negara Indonesia, nilai-
nilainya telah ada pada bangsa Indonesia, dalam kehidupansehari-
hari sebagai suatu pandangan hidup, sehinga materi Pancasila yang
berupa nilai-nilai tersebut tidak lain adalah dari bangsa Indonesia
sendiri.
2. Faktor Pembentuk
Setiap Negara mempunyai ciri khas yang merupakan identitas
dari Negara tersebut. Sehingga tak jika Identitas Nasional antar satu
Negara dengan Negara lain kerap kali berbeda. Identitas Nasional
bisa berasal dari identitas banyak bangsa (kesukubangsaan)
didalamnya, yang selanjutnya disepakati sebagai identitas Nasional.
Identitas-identitas yang telah disepakati dan diterima oleh suatu
18 Ibid... 47
19
Buku Pendidikan Pancasila
Negara akan menjadi Identitas Nasional Bangsa. Identitas Nasional
atau Identitas kebangsaan bersifat buatan, sekunder, etis, dan
nasional. Ada beberapa faktor melatar belakangi terbentuknya
identitas bersama suatu bangsa.
a. Primordial
Kata Primordial berasal dari kata Primus (pertama) dan Ordidri
(mulai menenun).primordial bisa berarti mula-mula, petamakali,
pokok atau yang paling dasar. Jadi, Primordil adalah sesuatu hal
yang telah dibawa sejak lahir (askriptif), bersifat alamiah, kua, dan
langgeng. Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya primordial
adalah: adanya sesuatu yang dianggap istimewa oleh warga
masyarakat tertentu serta adanya nilai-nilai yang dijunjung tinggi.
Beberapa faktor tersebut kerap menjadi pegangan atau dasar
dalam pembentukan kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat
yang pada akhirnya menyatukan masyarakat sebagai suatu Bangsa
dan Negara. Negara yang terbentuk dibelahan dunia adalah Negara
yang terdiri dari masyarakat heterogen, dalam artian terdiri dari
banyak suku kebangsaan. Jarang sekali dapat Negara yang relativ
homogen.dalam kondisi tersebut, Negara baru perlu membentuk
adanya Identita Kebangsaan atau Identitas Nasional sebagai wadah
persatuan dan kesatuan dari konsekuensi primodial. Sebab, faktor
primordial tidak hanya berpengaruh positif bagi pembentukan
20
Buku Pendidikan Pancasila
Bangsa dan Negara, tetapi juga berponsi negatif yang bisa cenderung
membawa disentegrasi sosial karena sulitnya proses asimilasi pada
kelompok masyarakat yang terdiri dari banyak suku bangsa itu.
Faktor pembentukan identitas kebangsaan Indonesia bukanlah faktor
primordial, tetapi faktor historis. Kesatuang bangsa Indonesia tidak
bersifat alamiah tetapi historis. Persatuan bangsa Indonesia tidak
bersifat etnik melainkan etis.19
Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan Heterogenis atau
Kebhinekaan Kebudayaan pada masyarakat suku-suku bangsa yang
pada hakikatnya berbeda (multikultural), menjadi suatu kelompok
besar atau suatu keseluruhan yang lebih utuh dengan cara
melenyapkan perbedaan tanpa menghilangkan identitas
kesukubangsaan masing-masing menjadi suatu bangsa.
b. Sakral
Faktor sakral dapat berupa kesamaan agama yang dipeluk oleh
masyarakat atau idiologi doktriner yang diakui oleh masyarakat
yang bersangkutan. Agama dan ideologi merupakan faktor sakral
yang dapat membentuk bangsa negara. Faktor sakral ikut
menyumbang terbentuknya nasionalisme baru. Misalnya: Faktor
persamaan agama Khatolik mampu membentuk beberapa Negara di
Amerika Latin, Persamaan terhadap Agama Islam mampu
19 Fachri aly, Golongan Agama dan Etik Kekuasaan (Jakarta: Risalah Duta, 1993),
169
21
Buku Pendidikan Pancasila
membentuk beberapa Negara di Timur Tengah, Uni Soviet diikat
oleh persamaan idiologi Komunis, Amerika dengan Idiologi
Liberalnya, indonesia yang terikat oleh persamaan idiologi pancasila
dan lain-lainnya.
c. Tokoh
kepemimpinan dari para tokoh yang disegani serta dihormati oleh
masyarakat juga berpotensi besar menjadi salah satu faktor yang
menyatukan Bangsa dan Negara. Masyarakat menganggap seorang
pemimpin sebagai penyambung lidah mereka, yang akan
menyalurkan aspirasi mereka, persatu rakyat, serta simbol dari
persatuan sebuah Bangsa. Ada beberapa contoh dari para tokoh
tersebut adalah Mahatma Ghandi dari India, Nelson Mandela dari
Afrika Selatan, dan Ir. Soekarno dari Indonesia.
d. Bhinika Tunggal Ika
Pada dasarnya prinsip Bhinika Tunggal Ika adalah kesediaan
bangsa untuk bersatu dalam perbedaan (unity in diversity). Yang
dimaksud bersatu dalam perbedaan kesediaan adalah kesediaan
warga bangsa untuk setia kepada lembaga yang disebut Negara dan
Pemerintahannya, tanpa mengabaikan keberagaman yang dimiliki
warga bangsa tersebut.
22
Buku Pendidikan Pancasila
Kesetiaan yang pertma adalah kepada Identitas Primordialnya,
dan yang kedua adalah kesetiaan terhadap identitas Nasionalnya.
e. Sejarah
Latar belakang yang sama diantara warga masyarakat tentang
sejarah mereka dapat menyatuka warga masyarakat dalam satu
bangsa. Persamaan antara latar belakang sejarah mengenai
pengalaman masa lalu, adanya persamaan nasib, seprti sama-sama
menderita karena penjajahan, tidak hanya melahirkan solidaritas
tetapi juga melahirkan tekad, cita-cita dan tujuan yang sama antar
anggota masyarakat tersebut.
f. Perkembangan Ekonomi
Perkembangan ekonomi (Industralisasi) akan melahirkan
spesialisasi pekerjaan dan profesi sesuai dengan kelahirannya dan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Semakin tinggi tingkat kebutuhan masyarakat, maka akan saling
menimbulkan ketergantungan diantara jenis pekerjaan. Setiap orang
akan saling bergantung dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Karena pada hakikatnya manusia tidak dapat memenuhi
kebutuhannya sendiri. Ia senantiasa membutuhkan bantuan orang
lain dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalahnya.
23
Buku Pendidikan Pancasila
Semakin besar angka ketergantungan antar anggota masyarakat
dalam perkembangan ekonomi, maka akan semakin besar solidaritas
persatuan yang ditimbulkan antar sesamanya. Faktor ini berlaku
pada masyarakat industry maju seperti Amerika Utara dan Eropa
Barat.
g. Kelembagaan
Lembaga pemerintahan dan politik juga merupakan salah satu
faktor yang dapat mempersatukan bangsa. Lembaga-lembaga
tersebut mempertemukan dan melayani warga tanpa membeda-
bedakan asal-usul dan golongan sosial dalam masyarakat. Semuanya
sama rata.contoh dari kelembagaan adalah: Pengadilan, partai
politik, birokrasi, dan angkatan bersenjata.
D. Identitas Nasinoal Idonesia sebagaimana Terkandung Dalam
UUD 1945
Sebagaimana dipahami dalam pengertian negara salah salah satu
unsurnya adalah wilayah, sebagai ruang untuk hidup dan kehidupan
rakyat sebagai unsur subjek negara. Sebagaimana terkandung dalam
UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 25A, bahwa “..
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara
kepulauan yang beriri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas
dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang. Terminologi
24
Buku Pendidikan Pancasila
Nusantara adalah merupakan local wisdom bangsa Indonesia yang
pada zaman kerajaan Majapahit dikenal.
Kata “Nusantara” merupakan sebutan lain istilah Indonesia
terutama sebelum secara yuridis formal diproklamasikan pada
tanggal 17 Agustus 1945. Secara harfiah istilah ‘Nusantara’ terdiri
atas dua kata yaitu nusa yang berarti kepulauan, dan antara yang
berarti kedudukan yang diampit oleh dua benua yaitu Asia dan
Australia serta diampit oleh dua samudra yaitu samudra Hindia dan
samudra Pasific. Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelago)
menempati posisi silang dunia yang strategis, sesuai dengan prinsip
archipelago memandang pulau-pulau itu merupakan suatu kesatuan
yang utuh, dimana laut berfungsi menghubungkan satu pulau dengan
pulau yang lainnya sehingga menjadi satu kesatuan wilayah Negara
Kesatuan republik Indonesia.
25
Buku Pendidikan Pancasila
KONSTITUSI
A. Pengertian Konstitusi
Istilah konstitusi berasal dari bahasa Prancis (constituer) yang
berarti membentuk. Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksudkan
ialah pembentukan negara atau menyusun dan menyatakan suatu
negara.20
Secara etimologis antara kata “konstitusi”, “konstitusional”, dan
“konstitusionalisme” inti maknanya sama, namun penerapannya
berbeda. Konstitusi adalah segala ketentuan dan aturan mengenai
ketatanegaraan (Undang-Undang Dasar dan sebagaimya), atau
Undang-Undang Dasar suatu negara. Dengan kata lain, segala
tindakan atau perilaku seseorang maupun penguasa berupa kebijakan
yang tidak didasarkan atau menyimpangi kontitusi, berarti tindakan
(kebijakan) tersebut adalah tidak konstitusional. Berbeda dengan
konstitusionalisme, yaitu suatu paham mengenai pembatasan
kekuasaan dan jaminan hak-hak rakyat melalui konstitusi.21
Jika kita mendengar kata konstitusi maka yang akan terpikirkan
dalam benak kita adalah Undang-Undang Dasar (UUD), yang
merupakan suatu peraturan dan ketentuan-ketentuan yang telah
20 Dahlan Thaib, Teori dan Hukum konstitusi, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada,
2013), 6.
21 Tim penyusun kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Balai Pustaka, 1991), 521.
26
Buku Pendidikan Pancasila
dirumuskan oleh para founding people dari suatu negara. Di
indonesia sendiri memiliki Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945)
yang dibuat dan disusun oleh founding people negara Indonesia
dalam, yang merupakan karya yang sangat luar biasa. Harus diakui
bahwa UUD 1945 asli yang disusun oleh para founding people
merupakan hasil karya yang sangat luar biasa bagusnya untuk ukuran
zamannya. Ia mampu menggambarkan masa lalu dan masa depan
Indonesia yang dicitakan.22
Sebenarnya konstitusi memiliki pengertian yang lebih luas daripada
UUD. Hal itu dikarenakan konstitusi mempunyai bagian yang tertulis
yang dinamakan Undang-Undang Dasar dan bagian yang tidak
tertulis yang disebut dengan konvensi.23
Beberapa ahli hukum tata negara juga memiliki pengertian
konstitusi sama dengan undang-undang dasar. Para ahli hukum tata
negara yang berpendapat bahwa pengertian konstitusi adalah sama
dengan undang-undang dasar, diantaranya adalah .J. Wolhaff, Sri
Soemantri M., Jimly Asshiddiqie, J.C.T. Simorangkir.24 Sedangkan
para ahli hukum tata negara yang membedakan pengertian konstitusi
22 Moh Mahfud MD, Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi Isu, (Jakarta: Rajawali
Pers, 2012), 170.
23 Mohammad Tolchah Mansur, Pembahasan Beberapa Aspek Tentang Kekuasaan-
Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Negara Indonesia, (Jakarta: Pradnya Paramita,
1977), 150
24 Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, (Jakarta: Sinar
Grafika, 2011), 17. 27
Buku Pendidikan Pancasila
dengan undang-undang dasar diantaranya adalah Herman Heller, M.
Solly Lubis, Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim.
Berdasarkan penjelasan diatas, pengertian konstitusi dapat
disederhanakan rumusannya sebagai kerangka negara yang
diorganisir dengan dan melalui hukum, dalam hal mana hukum
menetapkan:
1. pengaturan mengenai pendirian lembaga-lembaga yang permanen;
2. fungsi dari alat-alat kelengkapan;
3. hak-hak tertentu yang telah ditetapkan.25
Konstitusi seabagai hukum tertinggi suatu negara yang mengatur
penyelenggaraan kekuasaan negara dan sebagai jaminan atas hak-hak
warga negara, konstitusi memuat beberapa ketentuan pokok,
diantaranya sebagai berikut:
1. Organisasi Negara
2. Hak-hak asasi manusia dan kewajibannya
3. Prosedur mengubah konstitusi
4. Konstitusi seabagai bagian dari social contract (kontrak sosial)
yang memuat aturan main dalam berbangsa dan bernegara.26
B. Pentingnya Konstitusi Bagi Negara
Konstitusi memiliki kemuliaan dan arti penting bagi kehidupan
suatu negara. Kemuliaan suatu konstitusilah yang menjadikannya
25 Dahlan Thaib, Teori dan Hukum konstitusi..., 12.
26 Erman Hermawan, Politik Membela yang Benar, Teori Kritik dan Nalar, (Jakarta:
Garda Bangsa, 2001), 58. 28
Buku Pendidikan Pancasila
sebagai fundamental law (hukum dasar) dan the higher law (hukum
tertinggi). Hal itu dikarenakan konstitusi dapat disamakan dengan
suatu piagam kelahiran suatu negara baru. Konstitusi memiliki arti
penting bagi negara karena tanpa konstitusi bisa jadi tidak akan
terbentuk negara. Konstitusi menjadi barometer kehidupan negara
yang sarat dengan bukti sejarah perjuangan para pahlawan. Dalam
sebuah konstitusi, tercakup pandangan hidup dan inspirasi bangsa
yang memilikinya. A. Hamid S. Attamimi menyatakan bahwa
konstitusi sebagai pemberi pegangan dan pemberi batas dan
sekaligus pegangan dalam mengatur bagaimana kekuasaan negara itu
akan dijalankan.27
Sebagaimana di kemukakan oleh A.A.H. Struycken dalam
bukunya berjudul Het Staatsrecht van Het Koninkrijk dre
Nederlander menyatakan bahwa undang-undang dasar sebagai
konstitusi tertulis merupakan dokumen formal yang berisi sebagai
berikut:
1. Hasil perjuangan politik bangsa di waktu yang lampau.
2. Tingkat tertinggi perkembangan ketatanegaraan bangsa.
3. Pandangan tokoh bangsa yang hendak diwujudkan baik untuk
waktu sekarang maupun yang akan datang.
27 Fajrudin, “Arti Penting Konstitusi dalam Sebuah Negara”, dalam al-Qishtas (Vol. 5,
No. 1, Januari-Juni, 2017), 120. 29
Buku Pendidikan Pancasila
4. Suatu keinginan di mana perkembangan kehidupan
ketatanegaraan bangsa hendak dipimpin.
Keempat hal yang termuat dalam konstitusi tersebut menunjukkan
arti pentingnya suatu konstitusi yang menjadi barometer kehidupan
bernegara dan berbangsa. Konstitusi juga memberikan arah dan
pedoman bagi generasi penerus bangsa dalam menjalankan suatu
negara. Konstitusi memiliki kedudukan istimewa dan menjadi
sumber hukum utama. Oleh karena itu, tidak boleh ada satu peraturan
perundang-undangan pun yang bertentangan dengannya.28
Prof. Djokosutono melihat pentingnya konstitusi dari dua segi.
Pertama, dari segi isi, karena konstitusi memuat dasar dari struktur
dan memuat fungsi negara. Kedua, dari segi bentuk, karena yang
membuat konstitusi bukan sembarang orang atau lembaga, mungkin
bisa seorang raja, raja dengan rakyat, badan konstitusi atau lembaga
diktator. Sudut pandang kedua memiliki kesamaan pengertian hukum
dalam arti sempit, dimana konstitusi dibuat oleh badan atau lembaga
yang berwenang.
Karl Loewenstein mengadakan suatu penelitian mengenai arti
penting suatu konstitusi tertulis (UUD) dalam suatu lingkungan
nasional yang spesifik, terutama kenyataannya bagi rakyat biasa,
sehingga membawa beliau kepada tiga jenis penilaian kosntitusi,
diantaranya adalah:
28 Zaini Ahmad, Ilmu Politik, (Serang: IAIN SMH Banten, 2013), 104.
30
Buku Pendidikan Pancasila
1. Konstitusi bernilai Normatif
Konstitusi dikatakan membawakan nilai normatif apabila
konstitusi itu telah resmi diterima oleh suatu bangsa, dan bagi
mereka konstitusi itu bukan saja berlaku dalam arti hukum tetapi
juga sebagai kenyataan (reality), yang artinya konstitusi itu bukan
hanya berlaku secara formal melainkan juga dilaksanakan dalam
praktek penyelenggaraan negara.
2. Konstitusi bernilai Nominal
Konstitusi dikatakan membawa nilai nominal jika konstitusi
itu secara hukum berlaku tetapi kenyataannya kurang sempurna,
sebab pasal-pasal tertentu dari konstitusi tersebut dalam
kenyataannya tidak berlaku dan tergeser oleh munculnya
kebiasaan ketatanegaraan.
3. Konstitusi bernilai Semantik
Suatu konstitusi mempunyai nilai semantik jika konstitusi
tersebut secara hukum tetap berlaku, namun dalam
kenyataannya adalah sekedar untuk memberikan bentuk dari
temapat yang telah ada, dan dipergunakan untuk melaksanakan
kekuasaan politik. Jadi, konstitusi hanyalah sekedar istilah saja
sedangkan pelaksanaannya hanya dimaksudkan untuk kepentingan
31
Buku Pendidikan Pancasila
pihak penguasa.29
Berdasarkan uraian diatas, dapat dinyatakan arti penting
konstitusi dalam negara, sebagai barometer kehidupan berbangsa
dan bernegara, serta memberikan arahan dan pedoman bagi
generasi penerus dalam menjalankan suatu negara. Pada
prinsipnya, semua agenda penting kenegaraan serta prinsip-prinsip
dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara telah
tercakup dalam konstitusi.30 Selain itu konstitusi adalah dokumen
nasional yang bersifat mulia dan istimewa sekaligus merupakan
dokumen hukum dan politik. Konstitusi juga berisi kerangka dasar,
susunan, fungsi dan hak lembaga negara, pemerintahan, hubungan
antara negara dan warganya, serta pengawasan jalannya
pemerintahan.
C. UUD 1945 Sebagai Konstitusi Negara Indonesia
Seperti yang telah disebutkan diatas bahwasannya konstitusi
dibagi menjadi dua, pertama konstitusi tertulis (undang-undang
dasar), kedua konstitusi tidak tertulis (konvensi). Karena sifatnya
yang tertulis, maka undang-undang dasar tidak mudah berubah.
Secara umum menurut E.S.C. Wade dalam bukunya Constitutional
Law, undang-undang dasar menurut sifat dan fungsinya adalah suatu
naskah yang memaparkan kerangka dan tugas-tugas pokok dari
29 Muhammad Rakhmat, Konstitusi dan Kelembagaan Negara, (Bandung: Logoz
Publishing, 2014), 7-8.
30 Dahlan Thain, Teori dan Hukum Konstitusi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001),
65.
32
Buku Pendidikan Pancasila
badan-badan pemerintahan suatu negara dan menentukan pokok-
pokok cara kerja badan-badan yang ada didalamnya.31
1. Konstitusi Tertulis (UUD)
Dalam penjelasan UUD 1945 disebutkan bahwa ia bersifat
singkat dan supel. UUD 1945 hanya memiliki 37 pasal, adapun
pasal-pasal yang lain hanya memuat aturan peralihan dan aturan
tambahan. Hal ini memilik makna:
a. Telah cukup bila UUD 1945 hanya memuat aturan-aturan
pokok. Yakni hanya membuat gari-garis bessar intruksi
kepada pemerintah dan penyelenggara negara.
b. Sifatnya yang supel (elastic) dimaksudkan bahwa kita
senantiasa harus ingat bahwa masyarakat itu harus
berkembang, dinamis. Artinya negara akan terus berkembang
seiring dengan perubahan zaman.
Berdasarkan uraian diatas, maka sifat-sifat UUD 1945 adalah
sebagai berikut:
a. Suatu hukum positif yang mengikat pemerintah ataupun
warga negara
b. Bersifat singkat dan supel, yakni memuat aturan-aturan
pokok yang setiap kali harus dikembangkan sesuai dengaan
perkembangan zaman
31 Budiardjo Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT Gramedia, 1981), 95-96.
33
Buku Pendidikan Pancasila
c. Memuat norma-norma, aturan-aturan serta ketentuan-
ketentuan yang harus dilaksanakan secara konstitusional.
d. Sebagai peraturan hukum positif yang tertinggi, dan sebagai
alat kontrol terhadap norma-norma hukum positif yang lebih
rendah.32 Setiap tindakan dan kebijakan pemerintah sebagai
penyelenggara negara harus sesuai dan berpedoman pada
UUD 1945.33
2. Konstitusi Tidak Tertulis (Konvensi)
Konvensi ialah aturan-aturan dasar yang timbul dan
terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara meskipun
sifatnya tidak tertulis. Diantara sifat-sifat konvensi adalah
sebagai berikut:
a. Merupakan kebiasaan yang berulang kali dan terpelihara
dalam praktek penyelenggaraan negara.
b. Tidak bertentangan dengan UUD dan berjalan sejajar.
c. Diterima oleh seluruh rakyat.
d. Bersifat sebagai pelengkap, sehingga memungkinkan sebagai
aturan dasar yang tidak terdapat dalam UUD.
Contoh dari konvensi adalah sebagai berikut:
a. Pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah mufakat.
Menurut pasal 37 ayat (1) dan (4) UUD 1945, segala
32 Kaelan, Pendidikan Kewarganegaraan, (Yogyakarta: Paradigma, 2016), 107-109.
33 Arum Sutrisni Putri, ”UUD 1945 Sebagai Konstitusi Negara”, dalam Kompas.com,
diakses pada 23 Maret 2020. 34
Buku Pendidikan Pancasila
keputusan MPR diambil berdasarkan suara terbanyak. Akan
tetapi karena sistem ini mengurangi rasa jiwa kekeluargaan
sebagai pribadi bangsa, maka keputusan diambil dengan cara
musyawarah mufakat dan ternyata hampir selalu berhasil.
Pemungutan suara ditempuh saat musyawarah mufakat tidak
bisa dilaksanakan. Hal ini pun merupkan wujud cita-cita yang
terkandung dalam pokok pikiran kerakyatan dan
permusyawaaratan/perwakilan.
b. Pidato kenegaraan Presiden RI setiap tanggal 16 Agustus di
dalam sidang DPR.
c. Pidato Presiden yang disampaikan sebagai keterangan
pemerintah tentang RAPBN pada minggu pertama bulan
januari setiap tahunnya.
Ketiga hal terebut merupakan secara tidak langsung realisaasi
dari UUD (sebagai pelengkap). Namun perlu digaris bawahi pula
bilamana konvensi ingin dijadikan rumusan yang bersifat tertulis,
maka yang berwenang adalah MPR dan rumusan ini nantinya
tidak menjadi UUD tetapi sebagai ketetapan MPR (TAPMPR).34
3. Sejarah UUD 1945 Sebagai Konstitusi Negara Indonesia
a. Republik Pertama : UUD 1945 (18 Agustus 1945-27
Desember 1949)
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang pertama
34 Ibid., 109-110. 35
Buku Pendidikan Pancasila
adalah UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus
1945, berlaku secara nasional sampai dengan tanggal 27
Desember 1949. Naskah Undang Undang Dasar Pertama
tersebut disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI). Penyusunan naskah Rancangan Undang-
Undang Dasar 1945 dimulai dari pembentukan BPUPKI yang
dilantik pada tanggal 28 Mei 1945. Pembentukan badan ini
merupakan realisasi janji Pemerintah Jepang akan
memberikan kemerdekaan kepada Indonesia kelak kemudian
hari. BPUPKI mengadakan sidang-sidang yang dapat
dikelompokkan menjadi dua masa persidangan; Sidang pertama
mulai dari tanggal 29 Mei 1945-1 Juni 1945 dan masa persidangan
kedua tanggal 10 Juli-17 Juli 1945. Dari persidangan-persidangan
BPUPKI tersebut berhasil menyusun naskah komplit Rancangan
Undang-Undang Dasar meliputi :
1) Pernyataan Indonesia merdeka.
2) Pembukaan Undang-Undang Dasar
3) Undang-Undang Dasar teridiri atas pasal-pasal.35
Setelah BPUPKI menyelesaikan tugasnya, pemerintah
Jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI) yang bertugas untuk mempersiapkan segala
sesuatu yang berhubungan dengan kemerdekaan Indonesia.
35 Noor MS Bakry, Pancasila Yuridis Kengaraan, (Yogyakarta: Penerbit Liberty,
1994), 23. 36
Buku Pendidikan Pancasila
Pada sidang tanggal 18 Agustus PPKI berhasil mengesahkan
naskah Undang-Undang Dasar 1945 dari naskah Rancangan
Undang-Undang Dasar hasil kerja BPUPKI dengan adanya
beberapa perubahan. Terutama tentang dasar negara:
Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam
bagi pemeluk-pemeluknya sebagai mana termuat dalam
Piagam Jakarta, diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dari 18 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949
berlakulah Undang-Undang Dasar 1945. Menurut ketentuan
undang-undang dasar ini sistem pemerintahan Indonesia
bersifat presidensiil, dalam arti bahwa para menteri tidak
bertanggungjawab kepada badan legislatif, tetapi hanya
bertindak sebagai pembantu presiden.
Akan tetapi mulai bulan November 1945, berdasarkan
maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945,
Pengumuman Badan Pekerja 11 November 1945, dan
Maklumat Pemerintah tanggal 14 November 1945, tanggung
jawab politik terletak ditangan para menteri. Keadaan ini
merupakan awal dari suatu sistem pemerintahan parlementer
yang praktis dipertahankan sampai tahun 1949 pada masa
Undang-Undang Dasar 1945 dinyatakan berlaku kembali, melalui
Dekrit Presiden.
Jadi mulai 14 November 1945 sampai 27 Desember 1949
sistem pemerintahan yang diselenggarakan berlainan dengan
37
Buku Pendidikan Pancasila
sistem pemerintahan sebagaimana diatur dalam naskah
Undang-Undang Dasar 1945.36
b. Republik Kedua : Konstitusi RIS (27 Desember 1945-17
Agustus 1950)
Dalam kondisi Indonesia yang baru saja menyatakan
kemerdekaan, Belanda berkeinginan untuk berkuasa lagi di
Indonesia, melalui Agresi I tahun 1947 dan Agresi II tahun
1948. Karena perlawanan sengit bangsa Indonesia, Belanda
gagal menguasai Indonesia. Tahun 1949 diadakan
Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.
Salah satu hasil KMB yaitu mendirikan Negara Republik
Indonesia Serikat. Rancangan naskah Konstitusi Republik
Indonesia Serikat juga diputuskan dalam KMB dan disepakati
mulai berlaku pada tanggal 27 Desember 1949.
Dengan berdirinya Negara Republik Indonesia Serikat
(RIS), Negara Republik Indonesia (RI) secara hukum masih
tetap ada. Negara RI berubah status menjadi salah satu negara
bagian dari Negara RIS. Undang-Undang Dasar 1945 yang
semula berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia mulai
tanggal 27 Desember 1949 hanya berlaku dalam wilayah
Negara Bagian Republik Indonesia saja.
36 Budiardjo Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik..., 115-116.
38
Buku Pendidikan Pancasila
Negara RIS dengan Konstitusi RIS nya berlangsung
sangat pendek sekali karena memang tidak sesuai dengan
jiwa proklamasi kemerdekaan yang menghendaki negara
kesatuan, tidak menginginkan negara dalam negara, sehingga
beberapa negara bagian meleburkan diri lagi dengan Republik
Indonesia. Semangat kebersamaan ini nampak dengan
adanya Penetapan Presiden RIS tentang penggabungan
negara-negara bagian ke Republik Indonesia, yaitu:
1) Tanggal 9 Maret Negara bagian dan daerah Jawa Timur,
Jawa Tengah, Madura, Subang, dan Padang masuk ke
dalam Republik Indonesia.
2) Tanggal 11 Maret 1950, memasukkan Negara Pasundan
menjadi daerah Republik Indonesia.
3) Tanggal 24 Maret 1950, memasukkan Kalimantan Timur
dan Sumatera Selatan menjadi daerah Republik
Indonesia.
4) Tanggal 4 April 1950, Bangka , Belitung, Riau, Banjar,
Dayak Besar, Kota Waringin, Kalimantan Tenggara
masuk dalam daerah Republik Indonesia. Pada tanggal 19
Mei 1950 disusunlah Piagam Persetujuan antara
Pemerintah RIS yang sekaligus mewakili Negara bagian
Indonesia Timur menyatakan menyetujui membentuk
Negara kesatuan. Dan tindak lanjut dari Piagam
Persetujuan tersebut terbentuklah Negara Kesatuan
39
Buku Pendidikan Pancasila
dengan berdasar Undang-Undang Dasar Sementara 1950
tanggal 17 Agustus 1950.37
c. Republik Indonesia Ketiga UUDS 1950 (17 Agustus 1950-5
Juli 1959)
Perubahan ketatanegaraan dari Negara serikat menjadi
Negara kesatuan yang berdasar Undang-Undang Dasar
Sementara 1950 yang didalam Pembukaannya memuat dasar
negara Pancasila, akan tetapi pelaksanaan sistem
pemerintahannya menggunakan sistem kabinet parlementer
yang tidak cocok dengan jiwa Pancasila, sehingga kabinetnya
jatuh bangun, yang rata-rata umur tiap-tiap kabinet kurang
dari satu tahun. Dalam periode pemerintahan tahun 1950
sampai dengan tahun 1959 terjadi tujuh kali pergantian
kabinet, maka dapat dipastikan stabilitas nasional sangat
terganggu.
Seperti halnya dengan Konstitusi RIS tahun 1949,
Undang Undang Dasar Negara Kesatuan Republik
Indonesia tahun 1950 juga bersifat sementara. Sifat
kesementaraan ini disebutkan dalam Pasal 134, dimana
diharuskan Konstituante bersama-sama dengan Pemerintah
menyusun Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang
37 Noor MS Bakry, Pancasila Yuridis Kengaraan..., 34.
40
Buku Pendidikan Pancasila
akan menggantikan Undang-Undang Dasar yang berlaku saat
itu, yaitu UUDS 1950.
Berbeda dengan di masa berlakunya Konstitusi RIS tahun
1949 yang tidak sempat merealisasikan pembentukan
konstituante atau lembaga pembentuk undang-undang dasar,
di bawah UUDS 1950 sebagai realisasi dari Pasal 134,
Pemilihan umum berhasil dilaksanakan. Pemilihan umum
pertama di Indonesia diadakan pada tanggal 29 September
1955 untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dan
tanggal 15 Desember 1955 untuk memilih wakil-wakil rakyat
yang duduk di dalam Dewan Konstituante yang akan
membentuk Undang-Undang Dasar baru sebagai pengganti
Undang-Undang Dasar Sementara 1950. Konstituante sebagi
Dewan Penyusun Undang-Undang Dasar dalam sidangnya
sejak tahun 1956 sampai tahun 1959 belum berhasil membuat
undang-undang dasar baru, selalu mengalami kesulitan
kerena tidak pernah tercapai kesepakatan. Pihak-pihak yang
berbeda pendapat tidak pernah mencapai suara dari jumlah
anggota Konstituante. Untuk itu Presiden Soekarno mencari
jalan keluarnya dengan mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli
1959, yang berisikan, yaitu:
1) Menetapkan pembubaran Konstituante
41
Buku Pendidikan Pancasila
2) Menetapkan UUD 1945 berlaku lagi terhitung mulai
tanggal penetapan Dekrit, dan tidak berlakunya lagi
UUDS 1950.
3) Menetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya
pembentukan MPRS dan DPAS.
Dekrit ini mendapat dukungan sebagian besar rakyat
Indonesia, yang lebih penting lagi melalui Dekrit ini terjadi
perubahan ketatanegaraan Indonesia, naskah Undang-
Undang Dasar 1945 menjadi berlaku kembali sebagai hukum
tetinggi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.38
d. Republik Indonesia Keempat: UUD 1945 Orde Lama (1959-
1965)
Ciri-ciri periode ini ialah dominasi yang sangat kuat dari
presiden, terbatasnya peranan partai politik, berkembangnya
pengaruh komunis dan meluasnya peranan ABRI sebagai
unsur sosial politik. Undang-Undang Dasar 1945 memberi
kesempatan bagi seorang presiden untuk bertahan selama
sekurang-kurangnya lima tahun. Akan tetapi Ketetapan
MPRS No. III/MPRS/1963 yang mengangkat Soekarno
sebagai presiden seumur hidup telah membatalkan
pembatasan waktu lima tahun ini.
38 Ibid., 36. 42