SMART E-BOOK ICVCU
Yudi Eko Saputra, SST.,Ns
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT,
karena atas rahmat dan hidayah NYA sehingga
penyusunan Smart E-Book ini dapat penulis selesaikan.
E-Book ini dibuat untuk mempermudah rekan sejawat
perawat dalam memberikan Asuhan Keperawatan kepada
pasien terkhusus pada Ruangan ICVCU.
Penulis menyadari sepenuhnya penyusunan E-
Book ini masih sangat kurang dari kesempurnaan. Untuk
itu Penulis mohon kiranya masukan dan saran dari
pembaca demi kesempurnaan E-Book ini. Akhir kata
semoga E-Book ini dapat bermanfaat dan dijadikan
pegangan dalam melayani pasien.
Penulis
Yudi Eko Sautra, SST.,Ns
ii
DAFTAR ISI
Halaman Judul.....................................................................i
Kata Pengantar....................................................................ii
Daftar Isi.............................................................................iii
BAB I Pengkajian Keperawatan..........................................1
BAB II Asuhan Keperawatan.............................................19
BAB III Pemeriksaan Kesadaran... ...................................78
BAB IV Perhitungan Dosis Obat.......................................81
BAB V Prosedure..............................................................96
BAB VI Balance Cairan...................................................111
Daftar Pustaka................................................................114
Riwayat Penulis...............................................................115
iii
BAB I
PENGKAJIAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN GANGGUAN SISTEM
KARDIOVASKULER
A. KOMPONEN PEMERIKSAAN FISIK KEPERAWATAN
KARDIOVASKULER
Data Objektif Data Subjektif
Pemeriksaan Anamnesis
Fisik
Keluhan Utama
Pemeriksaan Riwayat
Diagnostik
Kesehatan Saat
Inspeksi Ini, Dahulu, &
Palpasi Keluarga
Auskultasi Kebiasaan
Laboratorium
Ekg,
Ekhokardiografi,
Rongent Thoraks
1
B. PENDAHULUAN
Lakukan hand hygiene
Perkenalkan diri
Identifikasi pasien dengan minimal 2 pengenal
(nama & tanggal lahir)
Jelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan
Tanyakan kesediaan (informed consent)
Posisikan pasien 45 ͦ
Jaga privasi (pasang tirai dan buka pakaian pasien
seperlunya)
C. ANAMNESIS
Gangguan kardiovaskuler dapat terjadi tanpa
kelainan fisik, sehingga anamnesis sangat penting
untuk penegakkan diagnosis
Keluhan utama yang sering ditemukan yaitu
dispnea, nyeri dada, palpitasi, sinkop dan edema
Keluhan yang paling sering dirasakan pada pasien
dengan gangguan sistem kardiovaskuler yaitu :
Dyspnea :
Peningkatan upaya bernafas
Ortopnea (terjadi saat berbaring), dispnea
paroksimal nokturnal (sesak napas mendadak
yang membangunkan pasien dari tidurnya)
2
Nyeri Dada :
Perasaan tidak nyaman yang dirasakan pada
dada yang dapat menyebar ke lengan, leher dan
rahang
Palpitasi :
Perasaan tidak enak pada denyutan jantung
Dirasakan seperti dipukul – pukul, berdetak
keras, tidak teratur, atau meloncat - loncat
Sinkop :
Hilangnya kesadaran akibat hipoperfusi serebral
Edema :
Akumulasi kelebihan cairan dalam ruang
interstisial
Terlihat jelas pada tungkai bawah atau sakrum
Riwayat Kesehatan
Riwayat Kesehatan Saat Ini : Sejak kapan
keluhan dirasakan, berapa lama keluhan
dirasakan, faktor yang menimbulkan,
memperparah dan memperingan keluhan ?
Riwayat Kesehatan Masa Lalu : Tanyakan
masalah yang pernah dialami, apakah pernah
3
dirawat, apakah menderita hipertensi,
hiperkolesterol, diabetes dan/ atau demam
reumatik?
Riwayat Keluarga : Tanyakan masalah
kesehatan yang pernah dialami keluarga
Kebiasaan : Tanyakan kebiasaaan hidup
seperti merokok, komsumsi obat tertentu, pola
hidup stres
D. PEMERIKSAAN FISIK
Observasi umum ; Perhatikan penampilan umum
pasien, apakah pasien terlihat :
Kesulitan bernafas
Sianosis
Pucat
Edema
Tangan ; Periksa adanya :
Splinter haemorrages (garis – garis
perdarahan pada kuku) Indikasi endokarditis
infektif
4
Clubbing finger. Lakukan Schamroth’s
window test indikasi penyekit jantung
kongenital
5
Periksa adanya : Warna biru kehitaman
(sianosis) indikasi hipoksia, suhu kulit teraba
dingin indikasi penurunan co, hipovolemia
Tar Staining, pada pasien perokok indikasi
faktor resiko KV
6
Pengisian kapiler (capilary refil time) Lebih 2
detik indikasi hipovolemia atau perfusi
perifer tidak efektif
Tekanan Darah & Nadi
TD ≥ 140/90 mmHg indikasi hypertensi
TD ≤ 90/60 mmHg indikasi hypotensi
Hitung tekanan nadi (TDS – TDD) : sempit
indikasi stenosis aorta, lebar indikasi
regurgitasi aorta
Nadi : Kaji frekuensi, irama dan kekuatan. Jika
teratur, frekuensi dapat dihitung 30 detik,
kemudian dikalikan 2
7
Radio – radial delay : Palpasi kedua nadi
radialis bersamaan, jika normal akan berdenyut
bersamaan. Jika ada keterlambatan denyut
indikasi koarktasio aorta
Collapsing pulse : Pastikan pasien tidak
mengalami nyeri bahu, palpasi nadi radialis
kemudian angkat lengan vertikal diatas kepala
pasien. Jika kolaps indikasi regurgitasi aorta
8
Wajah dan Mata
Konjungtiva. Minta pasien menarik kelopak
mata bawah, jika pucat indikasi anemia
Arkus senilis/kornea. Terlihat kekuningan/
keabuan disekitar iris indikasi
hiperkolesterolemia
Xanthelasma. Terlihat gumpalan lemak pada
kelopak mata indikasi hiperkolesterolemia
9
Bibir dan muut : Mukosa kering indikasi
dehidrasi, mukosa mulut atau lidah kebiruan
indikasi sianosis sentral
Leher
Jugular venous pressure (JVP) : Posisikan
pasien 45 ͦ , minta pasien menoleh ke kiri,
identifikasi denyut vena jugularis di lekuk
suprasternal atau dibelakang otot SCM (sterno
cleidomastoid muscle), ukur ketinggian
vertikal antara pulsasi dan sudut sternum, JVP
meningkat indikasi hipervolemia, gagal
jantung kanan, regurgitasi trikuspid
10
Hepatojugular reflux : Tekanan area hepar
(kuadran kanan atas) , amati peningkatan JVP,
positif jika meningkat ≥ 4 cm indikasi gagal
jantung kanan, regurgitasi trikuspid
Thoraks
Inpeksi adanya thorakotomi (minimally valve
surgery), sternotomi (CABG/ valve surgery)
klavicula (pacemaker)
Deformitas bentuk dada, seperti pectus
excavatum, pectus carinatum
11
Point of maximum impuls (Denyut Apeks) :
palpasi impuls jantung, tentukan lokasi apeks
dengan meletakkan jari pada dada, luas pulsasi
berdiameter 1 – 2 cm atau satu jari, pelebaran
atau pergeseran pulsasi indikasi cardiomegaly
Thrill : Palpasi pada empat area katup,
rasakan adanya getaran indikasi palpable
murmur
Auskultasi 4 area dengan diafragma stetoskop :
Mitral (ICS 5 midklavikula kiri) Trikuspid (ICS
4 sternallis kiri) Pulmonal (ICS 2 sternalis kiri)
Aorta (ICS 2 sternalis kanan), ulangi auskultasi
dengan bel stetoskop
Bunyi jantung normal : Bunyi jantung S1
terjadi akibat penutupan katub
atrioventrikularis, terdengar lebih jelas pada
area trikuspid dan mitral, terdengar seperti
‘Lub’. Bunyi jantung S2 terjadi akibat
12
penutupan katub semilunari, terdengar lebih
jelas pada area aorta dan pulmonal, terdengar
seperti ‘Dub’
Bunyi jantung tambahan : Bunyi jantung S3
terjadi akibat kelebihan beban volume ventrikel,
terdengar pada awal diastol, terdengar lebih
jelas pada area mitral seperti ‘Lub – Dub –
DUB’ (S1 – S2 – S3) ditemukan pada gagal
jantung atau regurgitasi mitral
Bunyi jantung tambahan : Bunyi jantung S4
terjadi akibat tahanan terhadap pengisian
ventrikel karena menurunnya komplians paru
dan hipertropi ventrikel kiri, terdengar pada
akhir diastol, terdengar lebih jelas pada area
mitral, terdengar seperti ‘ LUB – Lub – Dub’
(S4 – S1 – S2), ditemukan pada penyakit
jantung hipertensif dan stenosis aorta
Bising (Murmur) : terjadi akibat aliran turbulen
yang melewati katup yang abnormal, auskultasi
adanya bunyi mendesir atau meniup, auskultasi
dilakukan sambil meraba nadi karotis/ radialis
untuk menentukan murmur bersifat sistolik
atau diastolik
13
Murmur Sistolik Murmur Diastolik
Stenosis aorta Regurgitasi Aorta
Stenosis Pulmonal Regurgitasi Pulmonal
Regurgitasi Mitral Stenosis Mitral
Regurgitasi Trikuspidalis Stenosis Trikuspidalis
Prolapsus Mitral
Atrial Septal Defect (ASD)
Ventriculer Septal Defect (VSD)
Hypertropic Cardiomyopaty
Kaki : Kaji adanya sacral oedema dan pedal
oedema indikasi gagal jantung kanan
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
EKG : Aritmia atau iskemia/infark miokard
Pemeriksaan darah : glukosa darah indikasi
diabetes, enzim jantung (CK, CKMB, Tripoinin)
14
indikasi infark miokard, ANP (atrial natriuretic
peptide) indikasi gagal jantung kongestif
Ekhokardiografi indikasi penurunan CO,
penurunan kontraktilitas
Rongent Thoraks indikasi Cardiomegali
Cardio Thoracic Ratio (CTR) : Perbandingan
diameter jantung dan thoraks, lebih dari 50%
indikasi Cardiomegali
15
F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Bersihan jalan napas tidak efektif
Pola nafastidak efektif
Penurunan curah jantung
Penurunan kapasitas adaptif intrakranial
Nyeri akut
Hipertermia
Gangguan integritas kulit
Gangguan mobilitas fisik
Resiko infeksi
Intoleransi aktivitas
Hipervolemia
Resiko penurunan curah jantung
16
G. ETIOLOGI DAN TANDA/GEJALA DIAG
PERUBAHAN IRAMA P
Palpitasi
Bradikadia/ Takikardia
EKG Aritmia
PERUBAHAN AFTERLOAD P
Sesak Nafas (Dspnea)
Tekanan Darah Naik/Turun
Nadi Perifer Teraba Lemah
CRT >3
Pucat/ Sianosis
GNOSIS PENURUNAN CURAH JANTUNG
PERUBAHAN PRELOAD
Lelah
Edema
Distensi Vena Jugularis
Murmur
Hepatomegali
PERUBAHAN KONTRAKTILITAS
Ortopnea
Suara Jantung S4 dan S4
Ejection Fraction (EF)
Turun
17
H. ALGORITMA PENEGAKAN DIAGNOS
SESAK NAFAS Ketidakefek
Obstruksi/Sputum Bersihan Jalan
Ronkhi? Gangguan Pe
Gas
Depresi pusat nafas atau
hambatan nafas Ketidakefekti
Nafas
Meningkatkat dengan Intoleransi Ak
aktivitas?
Penurunan
BJ S3 atau S4 Jantun
SA KEPERAWATAN PADA SESAK NAFAS
ktifan Batuk tidak efektif
n Nafas pCO2↑ PO2↓ pH abnormal
ertukaran Otot bantu nafas, ekspirasi
memanjang
ifan Pola HR meningkat>20% dari
s kondisi istirahat
Aktivitas Ortopnea, fraksi ejeksi
menurun
Curah Ket : Ya Tidak
ng
Validasi data tambahan
18
BAB II ASUHA
A. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE
DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN
Bersihan jalan napas tidak Setelah dilakuk
efektif b.d. spasme jalan intervensi selam
nafas// hipersekresi jalan ….jam maka
nafas// disfungsi bersihan jalan n
neuromuskuler// adanya jalan meningkat, den
nafas buatan// sekresi yang kriteria hasil :
tertahan// proses infeksi// 1. Batuk efekt
respon alergi d.d. batuk tidak meningkat
efektif, sputum berlebih, 2. Produksi
mengi/wheezing, ronkhi, sputum
dispnea, gelisah, frekuensi menurun
napas berubah 3. Mengi/whe
menurun
4. Ronki menu
AN KEPERAWATAN
) BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
kan 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman
ma dan upaya napas
2. Monitor pola napas (seperti
napas bradipnea, takipnea, hiperventilasi,
ngan kussmaul, cheyne-stokes, biot,
ataksik)
tif 3. Monitor kemampuan batuk efektif
4. Monitor adanya produksi sputum
(jumlah, warna, aroma)
5. Monitor adanya sumbatan jalan
napas
eezing 6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
7. Auskultasi bunyi napas (mis.
urun gurgling, mengi, wheezing, ronkhi
19
5. Dispnea
menurun
6. Ortopnea
menurun
7. Gelisah
menurun
8. Sianosis
menurun
9. Frekuensi n
membaik
10. Pola napas
membaik
napas kering)
s 8. Monitor saturasi oksigen
9. Monitor nilai AGD
10. Monitor hasil x-ray toraks
11. Identifikasi kemampuan batuk
12. Monitor adanya retensi sputum
13. Monitor tanda dan gejala infeksi
saluran napas
14. Monitor input dan output cairan (mis.
jumlah dan karakteristik)
15. Atur interval pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
16. Dokumentasikan hasil pemantauan
17. Pertahankan kepatenan jalan napas
dengan head-tild dan chin-lift (jaw-
thrust jika curiga trauma servikal)
18. Posisikan semi-fowler atau fowler
19. Berikan minum hangat
20
20. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
21. Lakukan pengisapan lendir kurang
dari 15 detik
22. Lakukan hiperoksigenasi sebelum
penghisapan endotrakeal
23. Berikan oksigenasi, jika perlu
24. Pasang perlak dan bengkok di
pangkuan pasien , buang sekretpada
tempat sputum (latihan batuk efektif)
25. Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan, informasikan hasil
pemantauan, jika perlu
26. Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari,
jika tidak kontraindikasi
27. Ajarkan teknik batuk efektif ; jelaskan
tujuan dan prosedur batuk efektif,
anjurkan tarik napas dalam melalui
hidung selama 4 detik, ditahan
21
selama 2 detik, kemudian keluarkan
dari mulut dengan bibir mencucu
(dibulatkan) selama 8 detik, anjurkan
mengulangi tarik napas dalam
hingga 3 kali, anjurkan batuk dengan
kuat langsung setelah tarik napas
dalam yang ke-3
28. Kolaborasi pemberian mukolitik atau
ekspektoran, bronkodilator, jika perlu
29. Manajeman ventilasi mekanik :
a. Periksa indikasi ventilator
mekanik (mis. kelelahan otot
napas, disfungsi neurologis,
asisosis respiratorik)
b. Monitor efek ventilator terhadap
status oksigenasi (mis. bunyi
paru, x ray paru, AGD, SaO2,
SvO2, ETCO2, respon subyektif
22
pasien)
c. Monitor kriteria perlunya
penyapihan ventilator
d. Monitor efek negatif ventilator
(mis. deviasi trakea, barotrauma,
volutrauma, penurunan curah
jantung, distensi gaster,
emfisema subkutan)
e. Minitor gejala peningkatan
pernapasan (mis. peningkatan
denyut jantung atau pernapasan,
peningkatan tekanan darah,
diaforesis, perubahan status
mental)
f. Monitor kondisi yang
meningkatkan komsumsi oksigen
(mis. demam, mengigil, kejang,
dan nyeri)
23
g. Monitor gangguan mukosa oral,
nasal, trakea, dan laring
h. Atur posisi kepala 45 - 60º untuk
mencegah aspirasi
i. Reposisi pasien setiap 2 jam, jika
perlu
j. Lakukan perawatan mulut rutin,
termasuk sikat gigi setiap 12 jam
k. Lakukan fisioterapi dada, jika
perlu
l. Lakukan pengisapan lendir
sesuai kebutuhan
m. Ganti sirkuit ventilator setiap 24
jam atau sesuai protokol
n. Siapkan bag-valve mask di
samping tempat tidur untuk
antisipasi malfungsi mesin
o. Berikan media untuk
24
berkomunikasi (mis. kertas,
pulpen)
p. Dokumentasikan respon
terhadap ventilator
q. Kolaborasi pemilihan mode
ventilator (mis. kontrol volume,
kontrol tekanan atau gabungan)
r. Kolaborasi pemberian agen
pelumpuh otot, sedative,
analgesik, sesuai kebutuhan
s. Kolaborasi penggunaan PS atau
PEEP untuk meminimalkan
hipoventilasi alveolus.
25
B. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE
DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN
Pola napas tidak efektif b.d. Setelah dilakuk
depresi pusat pernapasan// intervensi selam
hambatan upaya napas (mis. ….jam maka po
Nyeri saat bernapas napas membai
kelemahan otot pernapasan)// dengan kriteria
gangguan neuromuskular// :
gangguan neurologis (mis. 1. Dispnea
elektroensefalogram [EEG] menurun
positif, cedera kepala, 2. Penggunaa
gangguan kejang)// penurunan otot bantu
energi// sindrom hipoventilasi// napas men
cedera pada medulla spinalis// 3. Pemanjang
kecemasan d.d. fase ekspir
dispnea/ortopnea, penggunaan menurun
otot bantu pernafasan, fase 4. Ortopnea
ekspirasi memanjang, pola menurun
) POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
kan 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman
ma dan upaya napas
ola 2. Monitor pola napas (seperti
k, bradipnea, takipnea, hiperventilasi,
a hasil kussmaul, cheyne-stokes, biot,
ataksik)
3. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
4. Monitor saturasi oksigen
an 5. Monitor nilai AGD
6. Monitor hasil x-ray toraks
nurun 7. Identifikasi adanya kelelahan otot
gan bantu napas
rasi 8. Atur interval pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
9. Dokumentasikan hasil pemantauan
10. Pertahankan kepatenan jalan napas
26
napas abnormal (mis. takipnea, 5. Pernapasa
bradipnea, hiperventilasi, pursed-lip
Kussmaul, cheyne-stokes), menurun
pernapasan pursed-lip,
pernapasan cuping hidung, 6. Pernapasa
ventilasi semenit menurun. cuping hidu
menurun
7. Frekuensi
napas mem
8. Kedalaman
napas mem
9. Ventilasi
semenit
membaik
an dengan head-tild dan chin-lift (jaw-
an thrust jika curiga trauma servikal)
ung 11. Posisikan semi-fowler atau fowler
mbaik 12. Fasilitasi mengubah posisi senyaman
n mungkin
mbaik 13. Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan
(mis. nasal kanul, masker wajah,
masker rebreathing atau non
rebreathing)
14. Gunakan bag-valve mask, jika perlu
15. Ajarkan melakukan teknik relaksasi
napas dalam
16. Ajarkan mengubah posisi senyaman
mungkin
27
C. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE)
DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN
Penurunan curah jantung b.d. Setelah dilakuk
perubahan irama jantung d.d. intervensi selam
palpitasi, bradikardia/takikardia, ….jam maka cu
gambaran EKG aritmia atau jantung mening
gangguan konduksi.// b.d. dengan kriteria
perubahan preload d.d. lelah, :
edema, distensi vena jugularis, 1. Kekuatan
central venous pressure (CVP) perifer
meningkat /menurun.// b.d. meningkat
perubahan afterload d.d. 2. Ejection
dispnea, tekanan darah fraction (E
meningkat/menurun, nadi meningkat
perifer teraba lemah, capillary 3. Stroke vol
refill time > 3 detik, oliguria, index (SVI
warna kulit puacat dan atau meningkat
sianosis.// b.d. perubahan 4. Palpitasi
) PENURUNAN CURAH JANTUNG
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
kan 1. Identifikasi tanda /gejala primer
ma penurunan curah jantung (meliputi
urah dispnea, kelelahan, edema,
gkat, ortopnea, paroxyxmal nocturnal
a hasil dyspnea, peningkatan CVP
2. Identifikasi tanda/gejala sekunder
nadi penurunan curah jantung (meliputi
peningkatan berat badan,
t hepatomegaly, distensi vena
jugularis, palpitasi, ronkhi basah,
EF) oliguria, batuk, kulit pucat)
t 3. Monitor tekanan darah (termasuk
lume tekanan darah ortostatik, jika perlu)
I) 4. Monitor intake dan output cairan
t 5. Monitor berat badan setiap hari
pada waktuyang sama
28
kontraktilitas d.d. paroxysmal menurun
nocturnal dyspnea (PND, 5. Bradikardi
ortopnea, batuk, terdengar
suara jantung S3 dan atau S4, menurun
Ejection fraction (EF) menurun. 6. Gambaran
EKG Aritm
menurun
7. Lelah men
8. Edema
menurun
9. Distensi ve
jugularis
menurun
10. Dispnea
menurun
11. Oliguria
menurun
12. Pucat/sian
menurun
ia 6. Monitor saturasi oksigen
n 7. Monitor keluhan nyeri dada (mis.
mia
nurun intensitas, lokasi, radiasi, durasi,
ene presivitasi yang mengurangi nyeri)
8. Monitor EKG 12 sadapan
nosis termasukperubahan segmen ST dan
gelombang T
9. Monitor aritmia (kelaianan irama dan
frekuensi)
10. Monitor nilai laboratorium jantung
(mis. elektrolit, enzim jantung, BNP,
NTpro-BNP)
11. Monitor fungsi alat pacu jantung
12. Periksa tekanan darah dan frekuensi
nadi sebelum dan sesudah aktivitasi
13. Periksa tekanan darah dan frekuensi
nadi sebelum pemberian obat (mis.
beta blocker, ACE inhibitor, calcium
29
13. Paroxysm
nocturnal
dyspnea (P
menurun
14. Ortopnea
menurun
15. Batuk men
16. Suara jant
S3/S4
menurun
17. Murmur
jantung
menurun
18. Hepatome
menurun
19. Tekanan d
membaik
20. Pengisian
mal channel blocker, digoksin)
PND) 14. Monitor elektrolit yang dapat
nurun meningkatkan risiko aritmia (mis.
tung kalium, magnesium serum)
15. Monitor enzin jantung (mis. CK, CK-
egaly MB, Tropoinin T, Tropoinin I)
darah 16. Identifikasi stratifikasi pada sindrom
n koroner akut (mis. skor TIMI, Killip,
Crusade)
17. Posisikan pasien semi-fowler atau
fowler dengan kaki ke bawah atau
posisi nyaman
18. Berikan diet jantung yang sesuai
(mis. batasi asupan kafein, natrium,
kolesterol, dan makanan tinggi
lemak)
19. Gunakan stocking elastis atau
pneumatik intermiten, sesuai
30
kapiler
membaik
21. Central ve
pressure
(CVP)
membaik
enous indikasi
20. Fasilitasi pasien dan keluarga untuk
modifikasi gaya hidup sehat
21. Berikan terapi relaksasi untuk
mengurangi stress, jika perlu
22. Berikan dukungan emosional dan
spiritual
23. Berikan oksigen untuk
mempertahankan saturasi oksigen
>94%
24. Pertahankan tirah baring minimal 12
jam
25. Pasang akses intravena
26. Puasakan hingga bebas nyeri
27. Sediakan lingkungan yang kondusif
untuk beristirahat dan pemulihan
28. Siapkan menjalani intervensi
coroner perkutan, jika perlu
31