The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku saku yang bisa digunakan di ICVCU

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mathnoor43, 2022-07-18 07:09:15

SMART E-BOOK ICVCU BY YUDI

Buku saku yang bisa digunakan di ICVCU

Keywords: ICVCU

SMART E-BOOK ICVCU

Yudi Eko Saputra, SST.,Ns

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT,
karena atas rahmat dan hidayah NYA sehingga
penyusunan Smart E-Book ini dapat penulis selesaikan.
E-Book ini dibuat untuk mempermudah rekan sejawat
perawat dalam memberikan Asuhan Keperawatan kepada
pasien terkhusus pada Ruangan ICVCU.

Penulis menyadari sepenuhnya penyusunan E-
Book ini masih sangat kurang dari kesempurnaan. Untuk
itu Penulis mohon kiranya masukan dan saran dari
pembaca demi kesempurnaan E-Book ini. Akhir kata
semoga E-Book ini dapat bermanfaat dan dijadikan
pegangan dalam melayani pasien.

Penulis

Yudi Eko Sautra, SST.,Ns

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul.....................................................................i
Kata Pengantar....................................................................ii
Daftar Isi.............................................................................iii
BAB I Pengkajian Keperawatan..........................................1
BAB II Asuhan Keperawatan.............................................19
BAB III Pemeriksaan Kesadaran... ...................................78
BAB IV Perhitungan Dosis Obat.......................................81
BAB V Prosedure..............................................................96
BAB VI Balance Cairan...................................................111
Daftar Pustaka................................................................114
Riwayat Penulis...............................................................115

iii

BAB I
PENGKAJIAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN GANGGUAN SISTEM
KARDIOVASKULER

A. KOMPONEN PEMERIKSAAN FISIK KEPERAWATAN
KARDIOVASKULER

Data Objektif Data Subjektif

 Pemeriksaan Anamnesis
Fisik
 Keluhan Utama
 Pemeriksaan  Riwayat
Diagnostik
Kesehatan Saat
 Inspeksi Ini, Dahulu, &
 Palpasi Keluarga
 Auskultasi  Kebiasaan
 Laboratorium
 Ekg,

Ekhokardiografi,
Rongent Thoraks

1

B. PENDAHULUAN
 Lakukan hand hygiene
 Perkenalkan diri
 Identifikasi pasien dengan minimal 2 pengenal
(nama & tanggal lahir)
 Jelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan
 Tanyakan kesediaan (informed consent)
 Posisikan pasien 45 ͦ
 Jaga privasi (pasang tirai dan buka pakaian pasien
seperlunya)

C. ANAMNESIS
 Gangguan kardiovaskuler dapat terjadi tanpa
kelainan fisik, sehingga anamnesis sangat penting
untuk penegakkan diagnosis
 Keluhan utama yang sering ditemukan yaitu
dispnea, nyeri dada, palpitasi, sinkop dan edema
 Keluhan yang paling sering dirasakan pada pasien
dengan gangguan sistem kardiovaskuler yaitu :

Dyspnea :
 Peningkatan upaya bernafas
 Ortopnea (terjadi saat berbaring), dispnea

paroksimal nokturnal (sesak napas mendadak
yang membangunkan pasien dari tidurnya)

2

Nyeri Dada :
 Perasaan tidak nyaman yang dirasakan pada

dada yang dapat menyebar ke lengan, leher dan
rahang

Palpitasi :
 Perasaan tidak enak pada denyutan jantung
 Dirasakan seperti dipukul – pukul, berdetak

keras, tidak teratur, atau meloncat - loncat

Sinkop :
 Hilangnya kesadaran akibat hipoperfusi serebral

Edema :
 Akumulasi kelebihan cairan dalam ruang

interstisial
 Terlihat jelas pada tungkai bawah atau sakrum

 Riwayat Kesehatan
 Riwayat Kesehatan Saat Ini : Sejak kapan
keluhan dirasakan, berapa lama keluhan
dirasakan, faktor yang menimbulkan,
memperparah dan memperingan keluhan ?
 Riwayat Kesehatan Masa Lalu : Tanyakan
masalah yang pernah dialami, apakah pernah

3

dirawat, apakah menderita hipertensi,
hiperkolesterol, diabetes dan/ atau demam
reumatik?
 Riwayat Keluarga : Tanyakan masalah
kesehatan yang pernah dialami keluarga
 Kebiasaan : Tanyakan kebiasaaan hidup
seperti merokok, komsumsi obat tertentu, pola
hidup stres
D. PEMERIKSAAN FISIK
 Observasi umum ; Perhatikan penampilan umum
pasien, apakah pasien terlihat :
 Kesulitan bernafas
 Sianosis
 Pucat
 Edema
 Tangan ; Periksa adanya :
 Splinter haemorrages (garis – garis
perdarahan pada kuku) Indikasi endokarditis
infektif

4

 Clubbing finger. Lakukan Schamroth’s
window test indikasi penyekit jantung
kongenital

5

 Periksa adanya : Warna biru kehitaman
(sianosis) indikasi hipoksia, suhu kulit teraba
dingin indikasi penurunan co, hipovolemia

 Tar Staining, pada pasien perokok indikasi
faktor resiko KV

6

 Pengisian kapiler (capilary refil time) Lebih 2
detik indikasi hipovolemia atau perfusi
perifer tidak efektif

 Tekanan Darah & Nadi
 TD ≥ 140/90 mmHg indikasi hypertensi
 TD ≤ 90/60 mmHg indikasi hypotensi
 Hitung tekanan nadi (TDS – TDD) : sempit
indikasi stenosis aorta, lebar indikasi
regurgitasi aorta
 Nadi : Kaji frekuensi, irama dan kekuatan. Jika
teratur, frekuensi dapat dihitung 30 detik,
kemudian dikalikan 2

7

 Radio – radial delay : Palpasi kedua nadi
radialis bersamaan, jika normal akan berdenyut
bersamaan. Jika ada keterlambatan denyut
indikasi koarktasio aorta

 Collapsing pulse : Pastikan pasien tidak
mengalami nyeri bahu, palpasi nadi radialis
kemudian angkat lengan vertikal diatas kepala
pasien. Jika kolaps indikasi regurgitasi aorta

8

 Wajah dan Mata
 Konjungtiva. Minta pasien menarik kelopak
mata bawah, jika pucat indikasi anemia
 Arkus senilis/kornea. Terlihat kekuningan/
keabuan disekitar iris indikasi
hiperkolesterolemia

 Xanthelasma. Terlihat gumpalan lemak pada
kelopak mata indikasi hiperkolesterolemia

9

 Bibir dan muut : Mukosa kering indikasi
dehidrasi, mukosa mulut atau lidah kebiruan
indikasi sianosis sentral

 Leher
 Jugular venous pressure (JVP) : Posisikan
pasien 45 ͦ , minta pasien menoleh ke kiri,
identifikasi denyut vena jugularis di lekuk
suprasternal atau dibelakang otot SCM (sterno
cleidomastoid muscle), ukur ketinggian
vertikal antara pulsasi dan sudut sternum, JVP
meningkat indikasi hipervolemia, gagal
jantung kanan, regurgitasi trikuspid

10

 Hepatojugular reflux : Tekanan area hepar
(kuadran kanan atas) , amati peningkatan JVP,
positif jika meningkat ≥ 4 cm indikasi gagal
jantung kanan, regurgitasi trikuspid

 Thoraks
 Inpeksi adanya thorakotomi (minimally valve
surgery), sternotomi (CABG/ valve surgery)
klavicula (pacemaker)
 Deformitas bentuk dada, seperti pectus
excavatum, pectus carinatum

11

 Point of maximum impuls (Denyut Apeks) :
palpasi impuls jantung, tentukan lokasi apeks
dengan meletakkan jari pada dada, luas pulsasi
berdiameter 1 – 2 cm atau satu jari, pelebaran
atau pergeseran pulsasi indikasi cardiomegaly

 Thrill : Palpasi pada empat area katup,
rasakan adanya getaran indikasi palpable
murmur

 Auskultasi 4 area dengan diafragma stetoskop :
Mitral (ICS 5 midklavikula kiri) Trikuspid (ICS
4 sternallis kiri) Pulmonal (ICS 2 sternalis kiri)
Aorta (ICS 2 sternalis kanan), ulangi auskultasi
dengan bel stetoskop

 Bunyi jantung normal : Bunyi jantung S1
terjadi akibat penutupan katub
atrioventrikularis, terdengar lebih jelas pada
area trikuspid dan mitral, terdengar seperti
‘Lub’. Bunyi jantung S2 terjadi akibat

12

penutupan katub semilunari, terdengar lebih
jelas pada area aorta dan pulmonal, terdengar
seperti ‘Dub’
 Bunyi jantung tambahan : Bunyi jantung S3
terjadi akibat kelebihan beban volume ventrikel,
terdengar pada awal diastol, terdengar lebih
jelas pada area mitral seperti ‘Lub – Dub –
DUB’ (S1 – S2 – S3) ditemukan pada gagal
jantung atau regurgitasi mitral
 Bunyi jantung tambahan : Bunyi jantung S4
terjadi akibat tahanan terhadap pengisian
ventrikel karena menurunnya komplians paru
dan hipertropi ventrikel kiri, terdengar pada
akhir diastol, terdengar lebih jelas pada area
mitral, terdengar seperti ‘ LUB – Lub – Dub’
(S4 – S1 – S2), ditemukan pada penyakit
jantung hipertensif dan stenosis aorta
 Bising (Murmur) : terjadi akibat aliran turbulen
yang melewati katup yang abnormal, auskultasi
adanya bunyi mendesir atau meniup, auskultasi
dilakukan sambil meraba nadi karotis/ radialis
untuk menentukan murmur bersifat sistolik
atau diastolik

13

Murmur Sistolik Murmur Diastolik
Stenosis aorta Regurgitasi Aorta
Stenosis Pulmonal Regurgitasi Pulmonal
Regurgitasi Mitral Stenosis Mitral
Regurgitasi Trikuspidalis Stenosis Trikuspidalis
Prolapsus Mitral
Atrial Septal Defect (ASD)
Ventriculer Septal Defect (VSD)
Hypertropic Cardiomyopaty

 Kaki : Kaji adanya sacral oedema dan pedal
oedema indikasi gagal jantung kanan

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 EKG : Aritmia atau iskemia/infark miokard
 Pemeriksaan darah : glukosa darah indikasi
diabetes, enzim jantung (CK, CKMB, Tripoinin)

14

indikasi infark miokard, ANP (atrial natriuretic
peptide) indikasi gagal jantung kongestif
 Ekhokardiografi indikasi penurunan CO,
penurunan kontraktilitas
 Rongent Thoraks indikasi Cardiomegali
 Cardio Thoracic Ratio (CTR) : Perbandingan
diameter jantung dan thoraks, lebih dari 50%
indikasi Cardiomegali

15

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
 Bersihan jalan napas tidak efektif
 Pola nafastidak efektif
 Penurunan curah jantung
 Penurunan kapasitas adaptif intrakranial
 Nyeri akut
 Hipertermia
 Gangguan integritas kulit
 Gangguan mobilitas fisik
 Resiko infeksi
 Intoleransi aktivitas
 Hipervolemia
 Resiko penurunan curah jantung

16

G. ETIOLOGI DAN TANDA/GEJALA DIAG

PERUBAHAN IRAMA P
 Palpitasi 
 Bradikadia/ Takikardia 
 EKG Aritmia 



PERUBAHAN AFTERLOAD P
 Sesak Nafas (Dspnea) 
 Tekanan Darah Naik/Turun 
 Nadi Perifer Teraba Lemah 
 CRT >3
 Pucat/ Sianosis

GNOSIS PENURUNAN CURAH JANTUNG
PERUBAHAN PRELOAD
 Lelah
 Edema
 Distensi Vena Jugularis
 Murmur
 Hepatomegali
PERUBAHAN KONTRAKTILITAS
 Ortopnea
 Suara Jantung S4 dan S4
 Ejection Fraction (EF)

Turun

17

H. ALGORITMA PENEGAKAN DIAGNOS

SESAK NAFAS Ketidakefek
Obstruksi/Sputum Bersihan Jalan

Ronkhi? Gangguan Pe
Gas
Depresi pusat nafas atau
hambatan nafas Ketidakefekti
Nafas

Meningkatkat dengan Intoleransi Ak
aktivitas?
Penurunan
BJ S3 atau S4 Jantun

SA KEPERAWATAN PADA SESAK NAFAS

ktifan Batuk tidak efektif
n Nafas pCO2↑ PO2↓ pH abnormal

ertukaran Otot bantu nafas, ekspirasi
memanjang

ifan Pola HR meningkat>20% dari
s kondisi istirahat

Aktivitas Ortopnea, fraksi ejeksi
menurun

Curah Ket : Ya Tidak
ng
Validasi data tambahan

18

BAB II ASUHA

A. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE

DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN

Bersihan jalan napas tidak Setelah dilakuk
efektif b.d. spasme jalan intervensi selam
nafas// hipersekresi jalan ….jam maka
nafas// disfungsi bersihan jalan n
neuromuskuler// adanya jalan meningkat, den
nafas buatan// sekresi yang kriteria hasil :
tertahan// proses infeksi// 1. Batuk efekt
respon alergi d.d. batuk tidak meningkat
efektif, sputum berlebih, 2. Produksi
mengi/wheezing, ronkhi, sputum
dispnea, gelisah, frekuensi menurun
napas berubah 3. Mengi/whe
menurun
4. Ronki menu

AN KEPERAWATAN

) BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIF

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

kan 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman
ma dan upaya napas
2. Monitor pola napas (seperti
napas bradipnea, takipnea, hiperventilasi,
ngan kussmaul, cheyne-stokes, biot,
ataksik)
tif 3. Monitor kemampuan batuk efektif
4. Monitor adanya produksi sputum
(jumlah, warna, aroma)
5. Monitor adanya sumbatan jalan
napas
eezing 6. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
7. Auskultasi bunyi napas (mis.
urun gurgling, mengi, wheezing, ronkhi

19

5. Dispnea
menurun

6. Ortopnea
menurun

7. Gelisah
menurun

8. Sianosis
menurun

9. Frekuensi n
membaik

10. Pola napas
membaik

napas kering)
s 8. Monitor saturasi oksigen
9. Monitor nilai AGD
10. Monitor hasil x-ray toraks
11. Identifikasi kemampuan batuk
12. Monitor adanya retensi sputum
13. Monitor tanda dan gejala infeksi

saluran napas
14. Monitor input dan output cairan (mis.

jumlah dan karakteristik)
15. Atur interval pemantauan respirasi

sesuai kondisi pasien
16. Dokumentasikan hasil pemantauan
17. Pertahankan kepatenan jalan napas

dengan head-tild dan chin-lift (jaw-
thrust jika curiga trauma servikal)
18. Posisikan semi-fowler atau fowler
19. Berikan minum hangat

20



20. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
21. Lakukan pengisapan lendir kurang

dari 15 detik
22. Lakukan hiperoksigenasi sebelum

penghisapan endotrakeal
23. Berikan oksigenasi, jika perlu
24. Pasang perlak dan bengkok di

pangkuan pasien , buang sekretpada
tempat sputum (latihan batuk efektif)
25. Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan, informasikan hasil
pemantauan, jika perlu
26. Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari,
jika tidak kontraindikasi
27. Ajarkan teknik batuk efektif ; jelaskan
tujuan dan prosedur batuk efektif,
anjurkan tarik napas dalam melalui
hidung selama 4 detik, ditahan

21



selama 2 detik, kemudian keluarkan
dari mulut dengan bibir mencucu
(dibulatkan) selama 8 detik, anjurkan
mengulangi tarik napas dalam
hingga 3 kali, anjurkan batuk dengan
kuat langsung setelah tarik napas
dalam yang ke-3
28. Kolaborasi pemberian mukolitik atau
ekspektoran, bronkodilator, jika perlu
29. Manajeman ventilasi mekanik :
a. Periksa indikasi ventilator

mekanik (mis. kelelahan otot
napas, disfungsi neurologis,
asisosis respiratorik)
b. Monitor efek ventilator terhadap
status oksigenasi (mis. bunyi
paru, x ray paru, AGD, SaO2,
SvO2, ETCO2, respon subyektif

22



pasien)
c. Monitor kriteria perlunya

penyapihan ventilator
d. Monitor efek negatif ventilator

(mis. deviasi trakea, barotrauma,
volutrauma, penurunan curah
jantung, distensi gaster,
emfisema subkutan)
e. Minitor gejala peningkatan
pernapasan (mis. peningkatan
denyut jantung atau pernapasan,
peningkatan tekanan darah,
diaforesis, perubahan status
mental)
f. Monitor kondisi yang
meningkatkan komsumsi oksigen
(mis. demam, mengigil, kejang,
dan nyeri)

23



g. Monitor gangguan mukosa oral,
nasal, trakea, dan laring

h. Atur posisi kepala 45 - 60º untuk
mencegah aspirasi

i. Reposisi pasien setiap 2 jam, jika
perlu

j. Lakukan perawatan mulut rutin,
termasuk sikat gigi setiap 12 jam

k. Lakukan fisioterapi dada, jika
perlu

l. Lakukan pengisapan lendir
sesuai kebutuhan

m. Ganti sirkuit ventilator setiap 24
jam atau sesuai protokol

n. Siapkan bag-valve mask di
samping tempat tidur untuk
antisipasi malfungsi mesin

o. Berikan media untuk

24



berkomunikasi (mis. kertas,
pulpen)
p. Dokumentasikan respon
terhadap ventilator
q. Kolaborasi pemilihan mode
ventilator (mis. kontrol volume,
kontrol tekanan atau gabungan)
r. Kolaborasi pemberian agen
pelumpuh otot, sedative,
analgesik, sesuai kebutuhan
s. Kolaborasi penggunaan PS atau
PEEP untuk meminimalkan
hipoventilasi alveolus.

25

B. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE

DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN

Pola napas tidak efektif b.d. Setelah dilakuk
depresi pusat pernapasan// intervensi selam
hambatan upaya napas (mis. ….jam maka po
Nyeri saat bernapas napas membai
kelemahan otot pernapasan)// dengan kriteria
gangguan neuromuskular// :
gangguan neurologis (mis. 1. Dispnea
elektroensefalogram [EEG] menurun
positif, cedera kepala, 2. Penggunaa
gangguan kejang)// penurunan otot bantu
energi// sindrom hipoventilasi// napas men
cedera pada medulla spinalis// 3. Pemanjang
kecemasan d.d. fase ekspir
dispnea/ortopnea, penggunaan menurun
otot bantu pernafasan, fase 4. Ortopnea
ekspirasi memanjang, pola menurun

) POLA NAFAS TIDAK EFEKTIF

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

kan 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman
ma dan upaya napas
ola 2. Monitor pola napas (seperti
k, bradipnea, takipnea, hiperventilasi,
a hasil kussmaul, cheyne-stokes, biot,
ataksik)
3. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
4. Monitor saturasi oksigen
an 5. Monitor nilai AGD
6. Monitor hasil x-ray toraks
nurun 7. Identifikasi adanya kelelahan otot
gan bantu napas
rasi 8. Atur interval pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
9. Dokumentasikan hasil pemantauan
10. Pertahankan kepatenan jalan napas

26

napas abnormal (mis. takipnea, 5. Pernapasa
bradipnea, hiperventilasi, pursed-lip
Kussmaul, cheyne-stokes), menurun
pernapasan pursed-lip,
pernapasan cuping hidung, 6. Pernapasa
ventilasi semenit menurun. cuping hidu
menurun

7. Frekuensi
napas mem

8. Kedalaman
napas mem

9. Ventilasi
semenit
membaik

an dengan head-tild dan chin-lift (jaw-
an thrust jika curiga trauma servikal)
ung 11. Posisikan semi-fowler atau fowler
mbaik 12. Fasilitasi mengubah posisi senyaman
n mungkin
mbaik 13. Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan
(mis. nasal kanul, masker wajah,
masker rebreathing atau non
rebreathing)
14. Gunakan bag-valve mask, jika perlu
15. Ajarkan melakukan teknik relaksasi
napas dalam
16. Ajarkan mengubah posisi senyaman
mungkin

27

C. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE)

DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN

Penurunan curah jantung b.d. Setelah dilakuk
perubahan irama jantung d.d. intervensi selam
palpitasi, bradikardia/takikardia, ….jam maka cu
gambaran EKG aritmia atau jantung mening
gangguan konduksi.// b.d. dengan kriteria
perubahan preload d.d. lelah, :
edema, distensi vena jugularis, 1. Kekuatan
central venous pressure (CVP) perifer
meningkat /menurun.// b.d. meningkat
perubahan afterload d.d. 2. Ejection
dispnea, tekanan darah fraction (E
meningkat/menurun, nadi meningkat
perifer teraba lemah, capillary 3. Stroke vol
refill time > 3 detik, oliguria, index (SVI
warna kulit puacat dan atau meningkat
sianosis.// b.d. perubahan 4. Palpitasi

) PENURUNAN CURAH JANTUNG

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

kan 1. Identifikasi tanda /gejala primer
ma penurunan curah jantung (meliputi
urah dispnea, kelelahan, edema,
gkat, ortopnea, paroxyxmal nocturnal
a hasil dyspnea, peningkatan CVP
2. Identifikasi tanda/gejala sekunder
nadi penurunan curah jantung (meliputi
peningkatan berat badan,
t hepatomegaly, distensi vena
jugularis, palpitasi, ronkhi basah,
EF) oliguria, batuk, kulit pucat)
t 3. Monitor tekanan darah (termasuk
lume tekanan darah ortostatik, jika perlu)
I) 4. Monitor intake dan output cairan
t 5. Monitor berat badan setiap hari
pada waktuyang sama

28

kontraktilitas d.d. paroxysmal menurun
nocturnal dyspnea (PND, 5. Bradikardi
ortopnea, batuk, terdengar
suara jantung S3 dan atau S4, menurun
Ejection fraction (EF) menurun. 6. Gambaran

EKG Aritm
menurun
7. Lelah men
8. Edema
menurun
9. Distensi ve
jugularis
menurun
10. Dispnea
menurun
11. Oliguria
menurun
12. Pucat/sian
menurun

ia 6. Monitor saturasi oksigen
n 7. Monitor keluhan nyeri dada (mis.
mia
nurun intensitas, lokasi, radiasi, durasi,
ene presivitasi yang mengurangi nyeri)
8. Monitor EKG 12 sadapan
nosis termasukperubahan segmen ST dan
gelombang T
9. Monitor aritmia (kelaianan irama dan
frekuensi)
10. Monitor nilai laboratorium jantung
(mis. elektrolit, enzim jantung, BNP,
NTpro-BNP)
11. Monitor fungsi alat pacu jantung
12. Periksa tekanan darah dan frekuensi
nadi sebelum dan sesudah aktivitasi
13. Periksa tekanan darah dan frekuensi
nadi sebelum pemberian obat (mis.
beta blocker, ACE inhibitor, calcium

29

13. Paroxysm
nocturnal
dyspnea (P
menurun

14. Ortopnea
menurun

15. Batuk men
16. Suara jant

S3/S4
menurun
17. Murmur
jantung
menurun
18. Hepatome
menurun
19. Tekanan d
membaik
20. Pengisian

mal channel blocker, digoksin)
PND) 14. Monitor elektrolit yang dapat

nurun meningkatkan risiko aritmia (mis.
tung kalium, magnesium serum)
15. Monitor enzin jantung (mis. CK, CK-
egaly MB, Tropoinin T, Tropoinin I)
darah 16. Identifikasi stratifikasi pada sindrom
n koroner akut (mis. skor TIMI, Killip,
Crusade)
17. Posisikan pasien semi-fowler atau
fowler dengan kaki ke bawah atau
posisi nyaman
18. Berikan diet jantung yang sesuai
(mis. batasi asupan kafein, natrium,
kolesterol, dan makanan tinggi
lemak)
19. Gunakan stocking elastis atau
pneumatik intermiten, sesuai

30

kapiler
membaik
21. Central ve
pressure
(CVP)
membaik

enous indikasi
20. Fasilitasi pasien dan keluarga untuk

modifikasi gaya hidup sehat
21. Berikan terapi relaksasi untuk

mengurangi stress, jika perlu
22. Berikan dukungan emosional dan

spiritual
23. Berikan oksigen untuk

mempertahankan saturasi oksigen
>94%
24. Pertahankan tirah baring minimal 12
jam
25. Pasang akses intravena
26. Puasakan hingga bebas nyeri
27. Sediakan lingkungan yang kondusif
untuk beristirahat dan pemulihan
28. Siapkan menjalani intervensi
coroner perkutan, jika perlu

31


Click to View FlipBook Version