samping obat sakit kepala, gelisah, gangguan irama
jantung, kematian jaringan dan sesak nafas.
NOREPINEPHRINE SYRING PUMP
Program dosis : mcg/kg.BB/mnt
Pengenceran : x 1000 = 80 mcg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Norepinephrine :
Monitoring BP : Hipotensi, Urine Output
Monitoring efek samping
H. PERDIPINE/ NICARDIPINE
Perdipine/ nicardipine adalah obat yang
digunakan untuk menangani hipertensi. hipertensi atau
tekanan darah tinggi dapat meningkatkan beban kerja
jantung dan pembuluh darah. Jika hipertensi tidak
diobati, kondisi ini dapat mengakibatkan otak, jantung,
pembuluh darah dan ginjal tidak dapat perfungsi
secara normal. Gangguan pada organ – organ tersebut
dapat mengakibatkan risiko terjadinya serangan
jantung, gagal jantung.
Nikardipine merupakan jenis obat antagonis
kalsium. Obat ini bekerja dengan cara menghambat
dan mengendalikan pergerakkan kalsium kedalam sel
jantung melalui pembuluh darah, sehingga
meningkatkan pasokan darah dan oksigen menuju
jantung, serta mengurangi beban kerja jantung.
87
Sediaan 1 ampul mengandung 10 mg. Efek obat :
pusing, mual, kram otot, sakit ulu hati, konstipasi, nyeri
lengan punggung dan lengan, gangguan pernafasan
dan detak jantung, pembengkakan pada kedua tungkai
atau kaki.
PERDIPINE/NICARDIPINE SYRING PUMP
Program dosis : mcg/kg.BB/mnt
Pengenceran : x 1000 = 200 mcg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Norepinephrine :
Monitoring BP : Hipotensi, EGC :
Gangguan irama jantung
Monitoring efek samping
I. MORPHINE
Morphin adalah jenis obat yang masuk ke dalam
golongan analgesik opium atau narkotik. Obat ini
digunakan untuk mengatasi rasa sakit yang terbilang
parah dan berkepanjangna atau kronis, seperti
misalnya pada nyeri kanker stadium lanjut. Morfin
bekerja pada saraf otak sehingga tubuh tidak
merasakan rasa sakit, morfin sangat menyebabkan
ketergantungan. Efek samping : mengantuk, pusing,
sakit kepala, mual, sembelit, sulit BAK, gangguan tidur,
88
mulut terasa kering dan tubuh berkeringat. Sediaan 1
ampul 10 mg.
MORPHIN SYRING PUMP
Program dosis : mcg/kg.BB/mnt
Pengenceran : x 1000 = 200 mcg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Morphin :
Monitoring TTV, EGC
Monitoring efek samping
J. NITROGLYCERIN
Trinitrat dari gliserol ini sebagai mana juga nitrat
lainnya berkhasiat relaksasi otot pembuluh, bronchia,
saluran empedu, lambung, usus dan kemih. Berkhasiat
vasodilatasi berdasarkan terbentuknya nitrogenoksida
(NO) dari nitrat di sel – sel dinding pembuluh.
NO ini bekerja merelaksasi sel – sel ototnya,
sehingga pembuluh terutama vena mendilatasi dengan
langsung. Akibatnya, TD turun dengan pesat dan aliran
darah vena yang kembali ke jantung (preload)
berkurang. Penggunaan oksigen jantung menurun dan
bebannya dikurangi. Arteri koroner juga diperlebar,
tetapi tanpa efek langsung terhadap miorkard. Efek
samping : sakit kepala, pusing berdebar – debar, pucat
dan keringat dingin. Sediaan 1 ampul 10 mg.
89
NITROGLYCERIN SYRING PUMP
Program dosis : mcg/mnt
Pengenceran : x 1000 = 200 mcg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Nitroglycerin :
Monitoring BP : Hipotensi
Monitoring efek samping
Dosis (mcg) cc/Jam Dosis (mcg) cc/jam
5 1,5 40 12
10 3 45 13,5
15 4,5 50 15
20 6 60 18
25 7,5 70 21
30 9 80 24
35 10,5 90 27
100 30
K. HEPARIN
Heparin adalah obat kategori antikoagulan untuk
mengatasi dan mencegah penggumpalan darah yang
disebabkan oleh kondisi atau tindakan medis tertentu.
Heparin bekerja dengan cara menghambat kerja
protein yang berperan dalam proses pembekuan
darah, sehingga pembentukan bekuan darah bisa
dicegah. Perlu diingat obat ini tidak bisa mengurangi
90
ukuran bekuan darah yang sudah terbentuk, heparin
digunakan dalam pengobatan trombosis vena dalam
(deep vein thrombosis), emboli paru, atau atrial fibrilasi,
digunakan juga untuk mencegah terjadinya
penggumpalan darah setelah operasi, selama
hemodialisa atau selama transfusi.
Besarnya dosis heparin yang diberikan akan
disesuaikan dengan kondisi medis, berat badan, serta
respons tubuh pasien terhadap pengobatan, yang
dilihat dari pemeriksaan waktu pembekuan yang
dinamakan activated partial thromboplastin time
(aPTT). Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat
sebelum pemberian heparin : riwayat alergi, tidak
mengkomsumsi minuman beralkohol selama
pengobatan (meningkatkan resiko perdarahan), tidak
merokok selama pengobatan (menurunkan efektivitas
obat), kaji adanya riwayat penyakit. Sediaan obat
dalam 1 vialnya 25000iu (5cc).
HEPARIN SYRING PUMP
Program dosis : iu/mnt
Pengenceran : = 500 iu/cc
Rumus : cc/jam
Misalkan Instruksi 20000iu/24 jam
Maka : = 833iu/jam
: = 1,6cc/jam (Setting SP)
91
Nursing Point Heparin :
Monitoring BP : Hipotensi, EGC :
Gangguan irama jantung
Monitoring efek samping (Perdarahan,
alergi dan tanda syock)
L. MIDAZOLAM/SEDACUM
Midazolam adalah obat antikonvulsan yang biasa
digunakan sebelum operasi. Obat ini menimbulkan
efek menenangkan dengan cara meningkatkan
aktivitas zat kimia alami dalam tubuh yang disebut
asam gamma-aminobutirat (GABA), midazolam juga
dapat digunakan untuk pasien ICU/ICVCU yang
memerlukan pemasangan alat bantu napas atau
ventilator. Sediaan Ampul 5cc mengandung 15mg.
MIDAZOLAM/SEDACUM SYRING PUMP
Program dosis : mg/jam
Pengenceran : = 0,3mg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Midazolam/Sedacum :
Monitoring BP : Hipotensi,
Monitoring efek samping (alergi)
M. EPINEPHRINE/ADRENALIN
Epinephrine/ Adrenalin merupakan obat kategori
agonis alfa dan beta adrenergik mengatasi syok
anafilaktik dan menangani kondisi henti jantung (pada
92
tindakan resusitasi jantung paru) bekerja dengan cara
melemaskan otot-otot saluran pernapasan dan
meningkatkan ketegangan pada pembuluh darah
sehingga dengan cepat untuk memicu kerja jantung,
meningkatkan tekanan darah, melegakan pernafasan,
meredakan ruam, mengurangi pembengkakan di
wajah, bibir, dan tenggorokan. Sediaan Ampul 1cc
mengandung 1mg.
EPINEPHRINE/ADRENALIN SYRING PUMP
Program dosis : mg/jam
Pengenceran : = 0,02mg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Epinephrine/Adrenalin :
Monitoring BP : Hipertensi
Monitoring efek samping (alergi)
N. OMEPRAZOLE
Omeprazole merupakan obat kategori
penghambat pompa proton untuk menangani/
pengobatan tukak lambung, gastroesofageal refluks
disease (GERD), infeksi Helicobacter pylori, atau
sindrom Zollinger-Ellison. Sediaan Serbuk Vial
mengandung 40mg.
93
OMEPRAZOLE SYRING PUMP
Program dosis : mg/jam
Pengenceran : = 0,8mg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Omeprazole :
Monitoring efek samping (alergi)
O. LANOXIN/FARGOXIN
Fargoxin adalah obat golongan agen inotropik
glikosida jantung yang digunakan untuk mengatasi
gagal jantung serta denyut jantung tidak beraturan
(fibrilasi atrium kronis) obat ini bekerja memengaruhi
mineral tertentu di dalam sel-sel jantung. Ketika
diberikan fargoxin akan membantu menurunkan
ketegangan pada jantung dan mengembalikan denyut
nadi normal. Sediaan dalam 1 ampul 2 cc mengandung
0,5mg digoxin. Cara pemberiannya 1 ampul (0,5mg)
dilarutkan dengan 10cc D5%/Nacl0,9% di injeksi
selama 10 menit (Pelan-pelan).
Nursing Point Fargoxin :
Monitoring BP : Hipotensi
Monitoring efek samping (alergi)
Monitoring adanya muntah
Monitoring EKG :Bradikardia
94
P. PROTOKOL PEMBERIAN INSULIN (SYRING PUMP)
INSULIN SYRING PUMP
Program dosis : iu/mnt
Pengenceran : = 1 iu/cc
Rumus : cc/jam
Bila GDS > 300 g/dL : 6 iu /Jam
Bila GDS 200 – 300 g/dL : 3 iu /Jam
Bila GDS < 200 g/dL : 1,5 iu /Jam ganti cairan Nacl
0,9% dengan Dextrose 5 %
Q. PROTOKOL PEMBERIAN INSULIN BILA PASIEN
HIPERKALEMIA (KALIUM > 6 mmol/L)
1. Berikan Injeksi Novorapid 10 iu/ IV
2. Berikan Dextrose 40% 2 Flash
3. Berikan via Infuse Pump Novorapid 10 iu dalam
cairan infus Dextrose 10% (500ml) setting 10 tts/
mnt
R. RUMUS PEMBERIAN OBAT VIA KOLF
Rumus : / tts/mnt
Faktor tetes
: Makro (otsuka 15tts/ml,
terumo 20tt/mnt) Mikro
(60tts/mnt)
95
BAB V PROSEDURE
A. PROTOKOL TROMBOLISIS/FIBRINOLISIS
PENGERTIAN Intervensi klinis yang ditujukan untuk
reperfusi jaringan miokardium dengan
memperbaiki aliran darah pada
pembuluh darah yang tersumbat
KEBIJAKAN Melayani pasien dengan kegawatan
jantung dengan tepat dan cepat,
dengan masa kegawatan kurang dari
12 jam
PERSIAPAN 1. Informed Consent
2. Pasang Infus 2 Line
3. Pasang Dauer Kateter
4. Siapkan Defibrilator & Tim
Resusitasi (standby)
INDIKASI 1. ST Elevasi (AMI) atau LBBB baru
2. Stroke Iskemik Akut
3. Oklusi Arteri Perifer
4. Trombosis Vena Dalam
5. Emboli Paru
Obat harus diberikan segera setelah serangan, TIDAK
BOLEH lebih dari 12 jam
DOSIS 1,5 juta unit dilarutkan dalam 50 atau
100 cc D5% atau Nacl 0,9%, cara
melarutkan : semprotkan pelarut ke
dinding botol, putar pelan – pelan
jangan dikocok, obat diberikan selam
60 menit, gunakan syring pump/ infuse
pump
96
EKG & LAB 1. EKG sebelum diberikan treptokina
KONTRA se (0)
INDIKASI
2. EKG segera setelah trombolitik
EFEK selesai (60)
SAMPING
3. EKG 30 menit setelah trombolitik
selesai (90)
4. EKG 12 lead/hari
5. Cek ulang PT/ APTT, Fibrinogen,
CK, CKMB 24 jam setelah
trombolisis
1. Obat ini hanya diberikan sekali
seumur hidup
2. Tidak diberikan pada pasien
terinfeksi streptococcus (batuk,
pilek dalam 2 minggu terakhir)
3. Riwayat Stroke Hemoragik
4. Stroke Iskemia >3 jam sampai 3
bulan
5. Tumor intrakranial
6. AVM (kelainan struktur vaskuler
serebral)
7. Diseksi Aorta Akut
8. Cedera kepala/ wajah dalam 3
bulan terakhir
9. Perdarahan internal aktif
10. Gangguan sistem pembekuan
darah
11. Melena
1. Perdarahan mayor : 0,3 s/d 0,5%
(stroke perdarahan, melena)
2. Perdarahan minor : 3,1 s/d 3,9%
97
PROSEDUR (mimisan, hematuria)
3. Jika perdarahan timbul dari
tusukan lakukan penekanan pada
daerah tusukan selama 30 menit,
obat tidak boleh distop. Jika tidak
berhenti lebih dari 30 menit, obat
distop
4. Aritmia : terjadi karena efek aliran
darah yang kembali pada koroner
(injuri reperfusi) irama bervariasi :
VES, VT, Irama junction
- VT tidak stabil : kardioversi
- VT stabil : amiodarone
- VT tanpa nadi : CPR +
defibrilasi 360 joule
5. Tekanan darah turun : bila tekanan
darah turun 30 mmHg, obat boleh
dilambatkan, lalu loading Nacl
0,9% atau RL 2 – 4 cc/KgBB
dalam 15 menit
6. Bila terjadi perdarahan setelah
selesai streptase, cek ulang DL,
PT, APTT, Fibrinogen, INR,
Resusitasi cairan : kristaloid,
koloid dan darah
1. Prosedur tindakan
a. Target door to drug < 30
menit
b. Larutkan 1,5 juta unit
streptokinase (streptase)
dalam 50 atau 100 cc D5%
98
KOMPLIKASI atau Nacl 0,9%
DAN c. Semprotkan pelarut ke dinding
PENANGANAN botol, putar pelan – pelan,
jangan dikocok karena akan
menimbulkan buih
d. Obat diberikan selama 60
menit menggunakan infuse
pump/ syringe pump
2. Prosedur observasi dan tindak
lanjut :
a. Perhatikan TTV pasien (lihat
monitor)
b. Perhatikan efek samping
pemberian terapi trombolitik
c. EKG segera setelah
pemberian terapi trombolitik
selesai
d. EKG 30 menit stelah
pemberian terapi trombolitik
selesai
e. EKG 12 lead perhari
f. Cek ulang PT, APTT,
Fibrinogen, CPK, CKMB, 24
jam setelah pemberian terapi
trombolitik
1. P (Perdarahan) : Beri protamin 1
Ampul/ IV
2. A (Alergi) : Gatal, Beri
Dexamethasone 1 Ampul/ IV
3. H (Hipotensi) : Guyur Nacl 0,9%
200cc, Pasang Dobutamin SP
99
mulai 5 mcq/kgBB/mnt, Posisi
kepala diturunkan
4. A (Aritmia) : VT, VF Lakukan DC
Shock, Bradikardia Beri SA 2
Ampul/ IV, diulang tiap 15 menit ≥
60x/menit maksimal 12 Ampul
DIIT POST 1. Setelah fibrinolisis/ trombolisis
FIBRINOLISIS/ puasakan pasien selama 6 jam
TROMBOLISIS 2. Berikan diit lunak atau bubur
saring
B. PRODSEDURE VENTILATOR
MENYIAPKAN ALAT BANTUAN VENTILASI MEKANIK
VENTILATOR
PENGERTIAN 1. Ventilator adalah suatu alat yang
digunakan untuk membantu
sebagian atau seluruh proses
ventilasi ( pertukaran gas paru)
untuk mempertahankan oksigenasi.
2. Breathing sirkuit adalah pipa
(tubing) dan rangkaian aksesoris
yang digunakan pada ventilator
sebagai sirkuit (alur) pemberian
bantuan ventilasi.
KEBIJAKAN Seluruh PPA harus bekerja sesuai
dengan standar profesi, pedoman /
panduan dan standar prosedur
operasional yang berlaku, serta sesuai
dengan etika profesi, etika rumah sakit
dan perundang undangan yang
100
berlaku.
TUJUAN 1. Sebagai acuan langkah langkah
PROSEDUR untuk tata cara pemasangan
breathing Pasang Infus 2 Line
2. sirkuit ventilator
1. Perawat cuci tangan
2. Hubungkan pipa inspiratory limb
yang sudah terpasang heater wire
ke humidifier. Selanjutnya pasang
probe housing pada ujung
inspiratory limb.
3. Sambungkan Y-piece pada probe
housing. Sambungkan expiratory
limb pada sisi Y-piece yang lain.
(Diantara dua tubing ekspiratory
limb dipasang water trap).
4. Hubungkan ekspiratory limb pada
expiratory valve.
5. Pasang flow sensor pada ujung Y-
piece, sambungkan pada flow
sensor connectors.
6. Hubungkan kabel heater wire
dengan humidifier.
a. Pastikan setiap ujung breathing
sirkuit tersambung dengan baik
dan kuat. Pastikan tidak ada
kebocoran, kemungkinan
breathing sirkuit dapat terlepas
atau tertekuk selama
pemakaian
b. Hubungkan ventilator (mesin
101
dan humidifier) dengan sumber
listrik.
c. Hubungkan ventilator dengan
sumber oksigen.
d. Hubungkan pipa inspiratory
limb yang sudah terpasang
heater wire ke humidifier.
Selanjutnya pasang probe
housing pada ujung inspiratory
limb.
e. Sambungkan Y-piece pada
probe housing. Sambungkan
expiratory limb pada sisi Y-
piece yang lain. (Diantara dua
tubing ekspiratory limb
dipasang water trap).
f. Hubungkan ekspiratory limb
pada expiratory valve. Pasang
flow sensor pada ujung Y-
piece, sambungkan pada flow
sensor connectors.
g. Hubungkan kabel heater wire
dengan humidifier.
7. Pastikan setiap ujung breathing
sirkuit tersambung dengan baik
dan kuat. Pastikan tidak ada
kebocoran, kemungkinan breathing
sirkuit dapat terlepas atau tertekuk
selama pemakaian.
8. Hubungkan ventilator (mesin dan
humidifier) dengan sumber listrik.
102
9. Hubungkan ventilator dengan
sumber oksigen dan sumber gas
bertekanan (air).
10. Nyalakan power switch on untuk
kompresor (jika menggunakan
kompresor eksternal).
11. Nyalakan power switch on untuk
ventilator.
12. Lakukan prosedur tes awal
pengoperasian / OVT (Operating
Verification Test) / kalibrasi untuk
memastikan alat berfungsi dengan
baik
13. Hidupkan pengatur suhu pada
chamber humidifier untuk
mendapatkan kelembaban dan
kehangatan suhu udara inspirasi
yang dikehendaki.
14. Lakukan tes paru dengan
menghubungkan sirkuit ventilator
ke test lung untuk mamastikan
pengesetan sesuai dengan yang
dibutuhkan.
15. Lakukan setting ventilator awal
atau sesuai dosis/advis dari dokter.
16. Perawat cuci tangan.
PROSEDUR PEMASANGAN VENTILATOR
PENGERTIAN Suatu tindakan memberikan support
pada usaha pernafasan dan ventilasi
alveolar, melalui ventilasi mekanik
103
TUJUAN 1. Untuk memfasilitasi fungsi
PPROSEDUR pulmonary pada kegagalan pusat
respirasi, seperti sedera batang
otak, overdosis narkotik, penyakit
neuromuskuler, gangguan
muskuluskeletal, dan gangguan
pulmonary.
2. Untuk mempertahankan
keseimbangan asam basa dalam
tubuh.
1. Persiapan alat :
a. Ventilator yang sudah disetting
awal.
b. Jackson rees yang terhubung
ke flow meter oksigen.
c. Suction steril.
d. Ventilator flow sheet.
2. Persiapan pasien :
a. Informed consent pasien atau
keluarga tentang pemasangan
ventilator.
b. Injeksi obat-obat sedasi,
analgetik, muskulrelaxant via
syring pump sesuai order/
advis medik.
c. Validasi tube cuff inflasi sesuai
dengan volum occlusiv minimal
dan kebocoran minimal,
mengauskultasi letak cuff pada
suprasternal.
3. Prosedur :
104
a. Monitor TTV pasien via EKG
Monitoring.
b. Berikan O2 100% via jackson
rees.
c. Hidupkan ventilator yang telah
tersambung dengan oksigen.
d. Setting TB dan jenis kelamin
pasien, tekan adult” untuk
pemasangan pada pasien
dewasa.
e. Setting ventilator : PCV/CMV
untuk pasien gagal nafas total.
Dan mode PSIMV atau AV
mode untuk pasien yang
memiliki usaha nafas.
f. Setting RR, TiO2, TV, dan MV,
PEEP serta PS (jika
digunakan) sesuai kebutuhan
pasien dan order medik.
g. Hidupkan sistem alaram, atur
upper dan lower alaram.
h. Paastikan sirkuit ventilator
bebas dari air/uap.
i. Pastikan panas adekuat dan
100% humidivikasi pada gas
inspirasi.
j. Sambungkan ventilator ke
ETT/Tube Tracheostomy,
awasi dan pantau respon/klinis
pasien.
k. Pantau P.peak, C.siat dan C.
105
Dinamis dan Plateau Peak
pada monitor ventilator.
l. Cek gas darah arteri 15 menit
setelah ventilasi diberikan.
m. Gantung/posisikan sirkuit
ventilator tubing untuk
mengurangi tarikan pada ETT
atau tracheostomy tube.
n. Atur kembali posisi pasien.
o. Dokumentasikan pemasangan
ventilator.
C. PROSEDURE PEREKAMAN EKG
1. Prinsip Dasar
a. Aktivitas listrik ditimbulkan oleh sel jantung sebagai
ion yang bertukar melewati memberan sel.
b. Elektroda yang dapat menghantarkan aktivitas
listrik dari jantung ke mesin EKG ditempatkan pada
posisi yang strategis di ekstremitas dan prekordium
dada
c. Energi elektrik yang sangat sensitif kemudian
diubah menjadi grafik yang ditampilkan oleh mesih
EKG. Tampilan ini disebut elektrokardiogram.
d. Kontraksi jantung direpresentasikan dalam bentuk
gelombang pada kertas grafik EKG, dan
dinamakan gelombang P, Q, R, S, dan T.
e. Bentuk gelombang ini ditunjukan pada defleksi
terhadap garis isoelektrik (garis yang menunjukkan
tidak adanya energi). Garis isoelektrik dapat
ditentukan dengan melihat interval dari T hingga P.
106
1) Gelombang P adalah defleksi positif yang
pertama dan merepresentasikan depolarisasi
atrium.
2) Gelombang Q merupakan defleksi negatif
pertama setelah gelombang P.
3) Gelombang R merupakan defleksi positif kedua
setelah gelombang Q.
4) Gelombang S merupakan defleksi negatif
setelah gelombang R.
5) Bentuk gelombang QRS biasanya dilihat
sebagai satu unit dan merepresentasikan
depolarisasi ventrikel.
6) Gelombang T mengikuti gelombang S dan
bergabung dengan kompleks QRS sebagai
segmen T. Gelombang T merepresentasikan
kembalinya ion ke dalam sisi (appropriate).
Dalam memberan sel. Ini sama dengan
relaksasi dari serabut otot dan
menggambarkan repolarisasi ventrikel.
7) Interval QT merupakan waktu antara
gelombang Q dan gelombang T.
1. Indikasi
Infark miokardium dan tipe penyakit arteri koroner
lainnya, seperti angina, disritmia jantung, pembesaran
jantung, gangguan elektrolit (terutama kalsium dan
natrium), penyakit inflamasi pada jantung, dan efek
obat – obatan pada jantung seperti digitalis (lanoksin)
dan antidepresan trisiklik.
107
2. Alat Dan Bahan Yang Diperlukan
a. Mesin EKG
b. Kertas grafik EKG
c. Jelly
d. Tisu gulung
e. Kapas alkohol
f. Bengkok
3. Langkah Kerja
a. Tahap Pra Interaksi
1) Lakukan verifikasi instruksi untuk pemeriksaan
2) Cuci tangan
3) Siapkan Alat
b. Tahap Orientasi
1) Berikan salam, panggil klien dengan namanya
2) Jelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada
klien
3) Jawab pertanyaan klien
c. Tahap Kerja
1) Bantu klien dalam posisi supine. Posisi fowler
dapat digunakan untuk klien yang mengalami
masalah respirasi
2) Berikan privasi dan minta klien untuk
melepaskan pakaiannya, terutama dibagian
dada, pergelangan tangan dan mata kaki
3) Instruksikan klien untuk tetap berbaring, tidak
bergerak, batuk atau berbicara saat dilakukan
pencatatan EKG untuk mencegah terjadinya
artifact
108
4) Pasang elektroda pada tubuh klien dengan
terlebih dahulu memberikan jelly pada
permukaan elektroda :
a) Kabel RA (right arm, merah) dihubungkan
dengan elektroda pergelangan lengan
kanan
b) Kabel LA (left arm, kuning) dihubungkan
dengan elektroda pergelangan lengan kiri
c) Kabel LL (left leg, hijau) dihubungkan
dengan elektroda pergelangan kaki kiri
d) Kabel RL (right leg, hitam) dihubungkan
dengan elektroda pergelangan kaki kanan
e) V1 : di ruang interkostal 4 kanan, tepi
kanan sternum
f) V2 : di ruang interkostal 4 kiri, tepi kiri
sternum
g) V3 : di pertengahan V2 dan V4
h) V4 : di perpotongan antara linea
medioklavikularis kiri dengan ruang
interkosta 5 kiri
i) V5 : di perpotongan antara linea aksilaris
kiri dengan interkosta 5 kiri
j) V6 : di perpotongan antara linea aksilaris
media kiri dengan interkosta kiri
k) Hidupkan mesin EKG
l) Tekan tombol print otomatis
m) Matikan mesin EKG
n) Lepaskan elektroda dan bersihkan kulit dari
sisa jelly yang tertinggal
d. Tahap Terminasi
1) Evaluasi hasil kegiatan
109
2) Akhiri kegiatan
3) Cuci tangan
e. Dokumentasi
D. TATALAKSANA ALO (AKUT LONG OEDEMA)
Awasi saturasi O2 dengan memasang O2
Masker 10-15 L/mnt, Infus life line, ISDN 5mg
Sublingua (bisa dilanjutkan dengan pemberian dosis
SP), Inj. Furosemide 2 Ampul IV (bisa dilanjutkan
dengan pemberian dosis SP), Pasang Kateter Pantau
ketat Vital Sign.
110
BAB VI BALANCE CAIRAN
Balance Cairan = Intake – Output – IWL
“Intake = Makanan, Minuman (Oral/NGT) + Obat (Cairan
Infus, Injeksi) + Air Metabolisme
“Output = IWL + Muntah/ Perdarahan Cairan Drainage
Luka/ Cairan NGT Terbuka + BAB + BAK +
IWL (Insensible Water Loss)
IWL DEWASA
IWL (24 Jam) = 15 x KgBB
IWL (1 Jam) = 15 x KgBB/24
Hipertermi = [(10%CM)X (Suhu terukur -37 ͦ C)]
AIR METABOLISME DEWASA
MA = 5 cc/KgBB/hari)
IWL ANAK
IWL (24 Jam) = 30 – Umur (Thn) x BB
IWL (1 Jam) = 30 – Umur (Thn) x BB /24
Hipertermi = IWL + 200 (Suhu terukur – 36,8 ͦ C)
111
AIR METABOLISME ANAK
Usia Balita (1-3 tahun) = 8cc/KgBB/hari
Usia 5 -7 tahun = 8 – 8,5cc/KgBB/hari
Usia 7 – 11 tahun = 6 – 7 cc/KgBB/hari
Usia 12 – 14 tahun = 5 – 6cc/KgBB/hari
Kebutuhan Cairan :
Misal BB = 30 Kg
Maka : (10x4)+(10x2)+(10x1)= 40+20+10=70cc/Jam
Maka dalam 24 Jam =70x24=1680cc
Cara menghitung tetesan infus menggunakan
Infuse Pump
Faktor Tetes 1 cc = 20 tts (sesuaikan dengan infus set
yang digunakan)
Contoh :
Bila instruksi 12 tts/mnt
Maka, 12ttsx60 = 720tts/jam = 720 = 36cc/jam
20
Cara Mencari tetesan Mikro
Kebutuhan x 60 tts (mikro)
60
Jika Instruksi 35cc/jam, maka = 35 x 60 tts (mikro)= 35tts/mnt
60
Mencari jumlah jam
60x500 =14,3 Jam
60 35
112
MAP = +
Target TD setelah 2 jam pemberian therapy 20 – 25% MAP
20 – 25 % MAP X 3 = Sistole + 2 Diastole
113
DAFTAR PUSTAKA
Adam M (2015). Pengkajian Sistem Kardiovaskuler.
Jakarta. Rumah Sakit Universitas Indonesia
Aspiani. (2017). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien
Gangguan Kardiovakular. Jakarta. EGC
Dosen Keperawatan Medikal-Bedah Indonesia. (2017).
Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah.
Jakarta. EGC
PPNI, T. P. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia (SDKI) : Definisi dan Indikator Diagnostik
((cetakan III)) 1 ed.). Jakarta : DPP PPNI
PPNI, T. P. (2018). Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia (SIKI) : Definisi dan Tindakan
Keperawatan ((cetakan II)) 1 ed.). Jakarta : DPP
PPNI
PPNI, T. P. (2019). Standar Luaran Keperawatan
Indonesia (SLKI) : Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan ((cetakan II)) 1 ed.). Jakarta : DPP
PPNI
Tan & Kirana. (2022). Obat – Obat Penting. Jakarta. Alex
Media Komputindo Kelompok Kompas - Gramedia
Tim ICVCU. (2020). Protap ICVCU. Palu. RSUD Undata
114
RIWAYAT PENULIS
YUDI EKO SAPUTRA, SST.,Ns
Lahir di Palu, 25 November 1989.
Riwayat pendidikan: SMAN 2 Palu
(2007), D-III Keperawatan Akper
Pemkab Donggala (2010), D-IV
Keperawatan Gawat Darurat Poltekkes
Kemenkes Palu (2013) Pendidikan
Profesi Ners Poltekkes Kemenkes Palu (2019).
Riwayat Profesi: Sebagai perawat pelaksana di Ruangan
ICVCU RSU Anutapura Palu (2010-2022). Sebagai Tenaga
Staf di Akper Pemkab Donggala (2013-2017). Sebagai
perawat pelaksana di Ruangan ICVCU UPT RSUD Undata
Provinsi Sulawesi Tengah (2022-sekarang)
Smart E-Book ditulis untuk memberikan kemudahan
kepada perawat dalam melakukan pelayanan Asuhan
Keperawatan di Ruangan ICVCU UPT RSUD Undata
Provinsi Sulawesi Tengah.
115
116