j. Jadwalkan perubahan posisi
setiap 2 jam atau sesuai kondisi
pasien
k. Berikan diet dengan kalori 30-35
kkal/kgBB/Hari dan protein 1,25-
1,5g/kgBB/Hari
l. Berikan suplemen vitamin dan
mineral (mis. vitamin A, C, Zink,
Asam Amino), sesuai indikasi
m. Anjurkan melaporkan tanda-
tanda kerusakan kulit
n. Anjurkan menghindari duduk
dalam jangka waktu lama
o. Ajarkan prosedur perawatan luka
p. Kolaborasi prosedur debridemen
(mis. enzimatik, biologis,
mekanis, autolitik), jika perlu
q. Kolaborasi pemberian antibiotik,
57
I. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE)
DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN
Gangguan mobilitas fisik b.d. Setelah dilakuk
kerusakan integritas struktur intervensi selam
tulang// perubahan ….jam maka
metabolisme// ketidakbugaran mobilitas fisik
fisik// penurunan kendali otot// meningkat, den
penurunan massa otot, kriteria hasil :
penurunanan kekuatan otot// 1. Pergerakka
kekakuan sendi// kontraktur// ektremitas
malnutrisi// gangguan meningkat
musculoskeletal// gangguan 2. Kekuatan o
neuromuscular// IMT diatas meningkat
persentil ke-75 sesuai usia// 3. Rentang g
program pembatasan gerak// (ROM)
nyeri// gangguan kognitif// meningkat
gangguan sensoripersepsi d.d. 4. Nyeri menu
mengeluh sulit menggerakkan 5. Kecemasa
) GANGGUAN MOBILITAS FISIK
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
kan 1. Identifikasi adanya nyeri atau keluha
ma fisik lainnnya
2. Identifikasi toleransi fisik melakukan
ambulasi
ngan 3. Monitor frekuensi jantung dan
tekanan darah sebelum memulai
an ambulasi
s 4. Monitor kondisi umum selama
melakukan ambulasi
otot 5. Identifikasi kesiapan dan
kemampuan menerima informasi
gerak 6. Identifikasi indikasi dan
kontraindikasi mobilisasi
7. Monitor kemajuan pasien/keluarga
urun dalam melakukan mobilisasi
an 8. Monitor kondisi kulit
58
ekstremitas, kekuatan otot menurun
menurun, rentang gerak (ROM) 6. Kaku send
menurun, nyeri saat bergerak,
merasa cemas saat bergerak, menurun
sendi kaku, gerakkan tidak 7. Gerakan ti
terkoordinasi, gerakan
terbatas, fisik lemah. terkoordina
menurun
8. Gerakan
terbatas
menurun
9. Kelemahan
menurun
di 9. Monitor komplikasi tirah baring (mis.
dak kehilangan massa otot, sakit
asi punggung, konstipasi, stress,
depresi, kebingungan, perubahan
n fisik irama tidur, infeksi saluran kemih,
sulit buang air kecil, pneumonia)
10. Tempatkan pada kasur terapeutik,
jika tersedia
11. Posisikan senyaman mungkin
12. Pertahankan seprei tetap kering,
bersih dan tidak kusut
13. Pasang siderails, jika perlu
14. Posisikan tempat tidur dekat dengan
nurse station, jika perlu
15. Dekatkan posisi meja tempat tidur
16. Berikan latihan gerak aktif atau pasif
17. Pertahankan kebersihan pasien
18. Fasilitasi pemenuhan kebutuhan
59
sehari-hari
19. Berikan stocking antiembolisme, jika
perlu
20. Ubah posisi setiap 2 jam
21. Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan
alat bantu (mis. tongkat, kruk)
22. Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik,
jika perlu
23. Libatkan keluarga untuk membantu
pasien dalam meningkatkan
ambulasi
24. Persiapkan materi, media dan alat-
alat seperti bantal, gait belt
25. Jadwalkan waktu pendidikan
kesehatan sesuai kesepakatan
dengan pasien dan keluarga
26. Beri kesempatan pada
pasien/keluarga untuk bertanya
60
27. Jelaskan tujuan dilakukannya tirah
baring
28. Jelaskan tujuan dan prosedur
ambulasi
29. Anjurkan melakukan ambulasi dini
30. Ajarkan ambulasi sederhana yang
harus dilakukan (mis. berjalan dari
tempat tidur ke kursi roda, berjalan
dari tempat tidur ke kamar mandi,
berjalan sesuai toleransi)
31. Jelaskan prosedur, tujuan, indikasi
dan kontra indikasi mobilisasi serta
dampak imobilisasi
32. Ajarkan cara mengidentifikasi sarana
dan prasarana yang mendukung
untuk mobilisasi dirumah
33. Ajarkan cara mengidentifikasi
kemampuan mobilisasi (seperti
61
kekuatan otot, rentang gerak)
34. Demonstrasikan cara mobilisasi di
tempat tidur (mis. mekanika tubuh,
posisi pasien digeser ke arah
berlawanan dari arah posisi yang
akan di miringkan, teknik-teknik
memiringkan, penempatan poasisi
bantal sebagai penyangga)
35. Demonstrasikan cara melatih rentang
gerak (mis. gerakan dilakukan
dengan perlahan, dimulai dari kepala
ke ekstermitas, gerakan semua
persendian sesuai dengan rentang
gerak normal, cara melatih rentang
gerak pada sisi ekstermitas yang
parese dengan menggunakan
ekstermitas yang normal, frekuensi
tiap gerakan)
62
J. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE)
DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN
Resiko infeksi dibuktikan Setelah dilakuk
dengan penyakit kronis// efek intervensi selam
prosedur invasive// malnutrisi// ….jam maka tin
peningkatan paparan tingkat infeksi
organisme pathogen menurun, deng
lingkungan// ketidakadekuatan kriteria hasil :
pertahanan primer tubuh// 1. Kebersihan
ketidakadekuatan pertahanan tangan
tubuh sekunder meningkat
36. Anjurkan pasien/ keluarga
meredemonstrasikan mobilisasi
miring kanan/ miring kiri/ latihan
rentang gerak sesuai yang telah
didemonstrasikan
) RESIKO INFEKSI
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
kan 1. Monitor tanda dan gejala infeksi lokal
ma dan sistemik
ngkat 2. Batasi jumlah pengunjung
3. Berikan perawatan kulit pada area
gan edema
4. Cuci tangan sebelum dan sesudah
n kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien
5. Pertahankan teknik aseptik pada
63
2. Kebersihan
badan
meningkat
3. Demam
menurun
4. Kemerahan
menurun
5. Nyeri menu
6. Bengkak
menurun
7. Vesikel
menurun
8. Cairan ber
busuk men
9. Sputum
berwarna h
menurun
10. Drainase
n pasien beresiko tinggi
6. Jelaskan tanda dan gejala infeksi
n 7. Ajarkan cara mencuci tangan yang
urun
benar
rbau 8. Ajarkan etika batuk
nurun 9. Ajarkan memeriksa kondisi luka/luka
operasi
10. Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi
11. Anjurkan meningkatkan asupan
cairan
12. Kolaborasi pemberian imunisasi, jika
perlu
hijau
64
purulen
menurun
11. Piuria men
12. Periode
malaise
menurun
13. Periode
menggigil
menurun
14. Letargi
menurun
15. Gangguan
kognitif
menurun
16. Kadar sel d
putih mem
17. Kultur dara
kultur urine
nurun
n
darah
mbaik
ah,
e
65
membaik
18. Kultur sput
membaik
19. Kultur area
membaik
20. Kultur fese
membaik
21. Nafsu mak
membaik
K. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE)
DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN
Hipervolemia fisik b.d. Setelah dilakuk
gangguang mekanisme intervensi selam
regulasi// kelebihan asupan ….jam maka
cairan// kelebihan asupan hipervolemia
natrium// gangguan aliran balik menurun denga
tum
a luka
es
kan
) HIPERVOLEMIA
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
kan 1. Jelaskan tentang definisi penyebab
ma (penurunan fungsi ginjal,
hipoalbuminemia, gagal jantung,
retensi natrium) gejala dan tanda
an edema (kenaikan BB drastis,
66
vena// efek agen farmakologis kriteria hasil :
(mis. Kortikosteroid, 1. Haluaran u
chlopropamide, tolbutamide,
vincristine, meningkat
tryptilinescarbamazepine) dd 2. Edema
ortopnea, dispnea, paroxysmal
nocturnal dypnea (PND), menurun
edema anasarka dan/atau 3. Asites men
edema perifer,berat badan
meningkat dalam waktu
singkat, jugular venous
pressure (JVP) dan/atau
central venous pressure (CVP)
meningkat, refleks
hepatojugular positif, distensi
vena jugularis, terdengar suara
nafas tambahan, hepatomegali,
kadar Hb/Ht turun, oliguria,
penurunan output urin, albumin
urin darah kurang dari normal, pitting
edema )
2. Jelaskan cara penanganan dan
pencegahan edema(mis. Timbang
nurun BB tiap hari, balans cairan, obat
diuretik,diet tinggi protein, diet
rendah garam, antihiprtensi)
3. Instruksikan pasien dan keluarga
untuk menjelaskan kembali
definisi,penyebab, gejala dan tanda,
penanganan dan pencegahan adema
4. Monitor status hidrasi (mis. Frekuensi
nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian
kapiler, kelembapan mukosa, turgor
kulit, tekanan darah)
5. Periksa tanda dan gejala
hipervolemia (mis. Ortopnea,
67
intake lebih banyak dari output
(balans cairan positif), kongesti
paru.
dypnea, edema, JVP/CVP
meningkat, refleks hepatohugular
positif, suara bafas tambahan)
6. Identifikasi penyebab hipervolemia
7. Monitor berat badan harian pada
waktu yang sama
8. Batasi asupan cairan dan garam
9. Tinggikan kepala tempat tidur 30-40º
10. Monitor BB sebelum dan sesudah
dialisis
11. Monitor hasil pemeriksaan
laboratorium adanya
hemokonsentrasi (mis. Hematokrit,
Na, K, Cl, berat jenis urine, BUN,)
12. Monitor status hemodinamik (mis.
MAP, CVP, PAP, PCWP, CO, CI)
13. Monitor tanda peningkatan tekanan
onkotik plasma (mis. Kadar protein
68
dan albumin meningkat)
14. Monitor kecepatan infus secara ketat
15. Monitor efek samping diuretik (mis.
Hipotensi ortortostatik, hipovolemia,
hipokalsemia, hiponatremia)
16. Catat intake-output dan hitung balans
cairan 24 jam
17. Berikan asupan cairan sesuai
kebutuhan
18. Berikan cairan intravena jika perlu
19. Anjurkan melapor jika haluaran urin
<0,5mL/kg/jam dalam 6 jam
20. Anjurkan melapor jika BB bertambah
>1kg dalam sehari
21. Ajarkan cara mengukur dan
mencatat asupan dan haluaran
cairan
22. Ajarkan cara membatasi cairan
69
L. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE)
DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN
Intoleransi Aktivitas b.d. Setelah dilakuk
ketidakseimbangan antara intervensi selam
suplai dan kebutuhan oksigen// ….jam maka
tirah baring// imobilitas// toleransi aktivit
kelemahan// gaya hidup meningkat den
monoton dd mengeluh lelah, kriteria hasil :
dispnea saat/setelah aktivitas, 1. Saturasi
merasa tidak nyaman setelah oksigen
23. Kolaborasi penggantian kehilangan
kalium akibat diuretik
24. Kolaborasi pemberian continous
renal replacement therapy (CRRT),
jika perlu
25. Kolaborasi pemberian diuretik jika
perlu
) INTOLERANSI AKTIVITAS
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
kan 1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh
ma yang mengakibatkan kelelahan
2. Monitor kelelahan fisik dan
tas emosional
ngan 3. Monitor pola dan jam tidur
4. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan
selama melakukan aktivitas
5. Sediakan lingkungan nyaman dan
70
beraktivitas, merasa lemah, meningkat
frekuensi jantung meningkat 2. Kemudaha
>20% dari kondisi istirahat,
tekanan darah berubah >20% dalam
dari kondisi istirahat, gambaran melakukan
EKG menunjukan aritmia aktivitas se
saat/setelah aktivitas, hari menin
gambaran EKG menunjukkan 3. Kecepatan
iskemia, sianosis. berjalan
meningkat
4. Jarak berja
meningkat
5. Kekuatan t
bagian ata
meningkat
6. Kekuatan t
bagian baw
meningkat
7. Toleransi d
an rendah stimulus (mis. Cahaya, suara,
n kunjungan)
ehari- 6. Lakukan latihan rentang gerak pasif
ngkat dan/atau aktif
n 7. Berikan aktivitas distraksi yang
menenangkan
alan 8. Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur ,
tubuh jika tidak dapat berpindah atau
as berjalan
tubuh 9. Anjurkan tirah baring
wah 10. Anjurkan melakukan aktivitas secara
dalam bertahap
11. Anjurkan menghubungi perawat jika
tanda dan gejala kelelahan tidak
berkurang
12. Ajarkan strategi koping untuk
mengurangi kelelahan
13. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang
71
menaiki tan
meningkat
8. Keluhan le
menurun
9. Dispnea sa
beraktivitas
berkurang
10. Dispnea
setelah
beraktivitas
berkurang
11. Aritmia set
aktivitas
berkurang
12. Sianosis
berkurang
13. Warna kuli
membaik
ngga cara meningkatkan asupan
elah makanan.
aat
s
s
telah
it
72
14. Tekanan d
dan frekue
napas mem
15. EKG iskem
membaik
M. ASUHAN KEPERWATAN (NURSING CARE)
DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN
Resiko penurunan curah Setelah dilakuk
jantung dibuktikan dengan intervensi selam
perubahan afterload// ….jam maka cu
perubahan frekuensi jantung// jantung mening
perubahan irama jantung// dengan kriteria
perubahan kontraktilitas// :
perubahan preload 1. Kekuatan n
perifer
meningkat
darah
ensi
mbaik
mia
) RESIKO PENURUNAN CURAH JANTUNG
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
kan 1. Identifikasi tanda /gejala primer
ma penurunan curah jantung (meliputi
urah dispnea, kelelahan, edema,
gkat, ortopnea, paroxyxmal nocturnal
a hasil dyspnea, peningkatan CVP
2. Identifikasi tanda/gejala sekunder
nadi penurunan curah jantung (meliputi
peningkatan berat badan,
hepatomegaly, distensi vena
73
2. Ejection fra
(EF) menin
3. Stroke volu
index (SVI
meningkat
4. Palpitasi
menurun
5. Bradikardia
menurun
6. Gambaran
Aritmia
menurun
7. Lelah men
8. Edema
menurun
9. Distensi ve
jugularis
menurun
action jugularis, palpitasi, ronkhi basah,
ngkat oliguria, batuk, kulit pucat)
ume 3. Monitor tekanan darah (termasuk
) tekanan darah ortostatik, jika perlu)
4. Monitor intake dan output cairan
a 5. Monitor berat badan setiap hari pada
n EKG waktuyang sama
nurun 6. Monitor saturasi oksigen
ene 7. Monitor keluhan nyeri dada (mis.
intensitas, lokasi, radiasi, durasi,
presivitasi yang mengurangi nyeri)
8. Monitor EKG 12 sadapan
termasukperubahan segmen ST dan
gelombang T
9. Monitor aritmia (kelaianan irama dan
frekuensi)
10. Monitor nilai laboratorium jantung
(mis. elektrolit, enzim jantung, BNP,
74
10. Dispnea
menurun
11. Oliguria
menurun
12. Pucat/sian
menurun
13. Paroxysma
nocturnal
dyspnea (P
menurun
14. Ortopnea
menurun
15. Batuk men
16. Suara jantu
S3/S4 men
17. Murmur jan
menurun
18. Hepatome
nosis NTpro-BNP)
al 11. Monitor fungsi alat pacu jantung
PND) 12. Periksa tekanan darah dan frekuensi
nurun nadi sebelum dan sesudah aktivitasi
ung 13. Periksa tekanan darah dan frekuensi
nurun
ntung nadi sebelum pemberian obat (mis.
egaly beta blocker, ACE inhibitor, calcium
channel blocker, digoksin)
14. Posisikan pasien semi-fowler atau
fowler dengan kaki ke bawah atau
posisi nyaman
15. Berikan diet jantung yang sesuai
(mis. batasi asupan kafein, natrium,
kolesterol, dan makanan tinggi
lemak)
16. Gunakan stocking elastis atau
pneumatik intermiten, sesuai indikasi
17. Fasilitasi pasien dan keluarga untuk
75
menurun
19. Tekanan d
membaik
20. Pengisian
kapiler
membaik
21. Central ven
pressure (C
membaik
darah modifikasi gaya hidup sehat
nous 18. Berikan terapi relaksasi untuk
CVP)
mengurangi stress, jika perlu
19. Berikan dukungan emosional dan
spiritual
20. Berikan oksigen untuk
mempertahankan saturasi oksigen
>94%
21. Anjurkan beraktivitas fisik sesuai
toleransi
22. Anjurkan beraktifitas fisik secara
bertahap
23. Anjurkan berhenti merokok
24. Ajarkan pasien dan keluarga
mengukur berat badan harian
25. Ajarkan pasien dan keluarga
mengukur intake danoutput cairan
harian
76
26. Kolaborasi pemberian antiaritmia,
jika perlu
27. Rujuk ke program rehabilitasi jantung
77
BAB III
PEMERIKSAAN KESADARAN KUALITATIF DAN
KUANTITATIF
A. SKALA KOMA GLASGOW
BAYI RESPON/SKOR ANAK/DEWASA
BUKA MATA
Spontan 4 Spontan
Terhadap 3 Terhadap
perintah/ suara perintah
Terhadap nyeri 2 Terhadap nyeri
Tidak ada 1 Tidak ada
respon respon
RESPON VERBAL
Bergumam/ 5 Terorientasi
mengoceh
Menangis lemah 4 Bingung
Menangis 3 Kata – kata yang
karena nyeri tidak teratur
Merintih karena 2 Tidak dapat
nyeri dimengerti
Tidak ada 1 Tidak ada
RESPON MOTORIK
Spontan 6 Mematuhi
perintah
Penarikan 5 Melokalisasi
karena nyeri
sentuhan
78
Penarikan 4 Penarikan
karena nyeri karena nyeri
Fleksi abnormal 3 Fleksi abnormal
Ekstensi 2 Ekstensi
abnormal abnormal
Tidak ada 1 Tidak ada
respon respon
Skor Total :
14 – 15 : Normal/Disfungsi ringan
11 – 13 : Disfungsi sedang sampai berat
10 atau kurang : Disfungsi berat
B. DEFINISI GANGGUAN KESADARAN
KESADARAN DEFINISI
Composmentis Waspada terhadap diri sendiri dan
Konfusi (bingung) lingkungan
Penurunan kewaspadaan, disorientasi
Delirium Disorientasi, ketakutan, iritabilitas,
Obtundation salah persepsi, halusinasi
(menumpul) Penurunan kewaspadaan, retradasi
psikomotor, mengantuk
Stupor Tidak responsif, bangun hanya
dengan stimulushebat dan berulang
Koma Tidak responsif dan tidak dapat
dibangunkan
Keadaan Koma yang berkepanjangan (>1
vegetatif bulan), hanya sedikit refleks batang
Mutisme akinetik otak dan motorik yang berfungsi
Koma yang berkepanjangan, terlihat
79
Keadaan terkunci waspada dan tonus motorik yang
(locked-in state) kaku
Paralisis total di bawah nukleus saraf
kranialis ketiga, fungsi mental dapat
normal atau tertanggu
80
BAB IV PERHITUNGAN DOSIS OBAT
A. DOBUTANIN
Dobutamin merupakan inotropik positif
cronotropik negatif (menaikkan blood pressure tanpa
menaikkan heart rate). Sediaan dobutamin 1 ampul
250mg, efek obat menstimulasi adrenoreseptor untuk
meningkatkan kontraktilitas miokard. Efek samping
dapat menyebabkan mual, muntah, aritmia, dan diare.
Bila MAP < 70 dobutamin 5 mcq/kgBB/mnt, bila MAP <
70 maka gangguan perfingsi ginjal dan MAP < 30 maka
gangguan perfusi otak.
DOBUTAMIN SYRING PUMP
Program dosis : mcg/kg.BB/mnt
Pengenceran : x 1000 = 5000 mcg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Dobutamin :
Monitoring BP, HR, ECG : Aritmia
Monitoring efek samping : Mual, muntah,
sakit kepala, palpitasi dan tremor
B. DOPAMIN
Dopamine merupakan inotropik positif,
cronotropik positif, (menaikkan tekanan darah dan
menaikkan HR). Sediaan dopamin 1 ampul 5 atau 10
cc adalah 200mg, efek obat dapat merangsang saraf
simpatis dan merangsang reseptor beta 1 adrenergis
81
dan reseptor dopaminergik untuk shock yang
berhubungan dengan infark miokard dan CRF
(choronik renal failure). Efek samping dapat
menyebabkan mual, muntah, aritmia dan diare.
DOPAMIN SYRING PUMP
Program dosis : mcg/kg.BB/mnt
Pengenceran : x 1000 = 4000 mcg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Dopamin :
Monitoring BP, HR, ECG : Aritmia
Monitoring efek samping : Mual, muntah,
hipertensi
Monitoring tanda – tanda vasokonstriksi
yaitu akral dingin dan sianosis
C. CEDOCARD
Cedocard mengandung isosorbide dinitrat yang
merupakan vasodilator dan bekerja dengan
merelaksasi pembuluhdarah ke jantung, sehingga
suplai darah dan oksigen ke jantung meningkat, kontra
indikasi pada pasien dengan anemia, hipotensi, syok
kardiogenik, efek obat pusing dan sakit kepala. sediaan
1 ampul cedocard 10mg.
82
CEDOCARD SYRING PUMP
Program dosis : mcg/mnt
Pengenceran : x 1000= 200 mcg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Cedocard:
Monitoring BP : Hipotensi
Monitoring efek samping : Pusing, sakit
kepala
D. CORDARONE
Cordarone/ Amiodaron adalah obat antiaritmia
yang digunakan untuk mengobati dan mencegah
sejumlah jenis detak jantung yang tidak teratur seperti
VT (ventrikel takikardi), VF (ventrikel fibrilasi), AF
(atrium fibrilasi) dan SVT (supra ventrikel takikardi).
Amiodarone bekerja dengan menghambat signal listrik
tertentu di jantung yang menyebabkan irama jantung
menjadi tidak normal. Sediaan 1 ampul 3ml 150mg.
Efek samping gangguan fungsi hati, lemas, tidak nafsu
makan, sembelit, hipotensi, sakit kepala, pusing,
hipotiroidisme, gangguan tidur, dan sensitif terhadap
cahaya.
83
Protokol Pemberian Cordarone/ Amiodarone
1. Pemberian awal : 2 ampul cordarone/ Amiodarone
300 mg dilarutkan dalam 50 cc Nacl 0,9% diberikan
selama 30 menit dengan setting syring pump 100
cc/ jam
2. Pemberian kedua : 2 ampul cordarone/ amiodarone
600 mg dilarutkan dalam 50 cc Nacl 0,9% diberikan
selama 6 jam dengan setting syring pump 10 cc/
jam (120mg/jam)
3. Pemberian ketiga : 2 ampul cordarone/ amiodarone
600 mg dilarutkan dalam 50 cc Nacl 0,9% diberikan
selama 18 jam dengan setting syring pump 5 cc/
jam (60 mg/jam)
4. Setelah selesai pemberian ketiga selama 18 jam
selanjutnya pemberian cordarone/ amiodarone
tablet 200 mg (Pemberian dosis sesuai dengan
instruksi dokter)
CORDARONE/AMIODARONE SYRING PUMP
Program dosis : mg/mnt
Pengenceran : = 6mg/cc (2 Ampul)
Rumus : cc/jam
Nursing Point Cordarone:
Monitoring BP : Hipotensi, HR :
Bradikardi, AV Blok
Monitoring efek samping
84
E. FUROSEMIDE
Furosemide adalah obat golongan diuretik yang
digunakan untuk membuang cairan atau garam
berlebih di dalam tubuh melaui urine dan meredakan
pembengkakan yang disebabkan oleh gagal jantung,
penyakit hati, penyakit ginjal atau kondisi terkait.
Furosemide juga dapat digunakan untuk penderita
hipertensi, obat ini juga dapat dikombinasikan dengan
diuretik lainnya seperti spironolactone, sediaan 1
ampul 20 mg. Efek samping pusing, vertigo, mual,
muntah, penglihatan kabur, diare dan konstipasi,
dehidrasi.
LASIX / FUROSEMIDE SYRING PUMP
Program dosis : mg/mnt
Pengenceran : = 4 mg/cc (10 ampul)
Rumus : cc/jam
Nursing Point Furosemide :
Monitoring BP : Hipotensi, Urine Output
Monitoring efek samping
F. DILTIAZEM (HERBESER)
Diltiazem adalah obat yang digunakan untuk
mengendalikan hipertensi dan mencegah nyeri dada
(angina). Diltiazem merupakan salah satu jenis obat
penghambat kanal kalsium atau antagonis kalsium
bekerja dengan cara melebarkan pembuluh darah,
85
sehingga menurunkan tekanan darah dan meringankan
beban kerja jantung segingga darah dapat mengalir
dengan mudah dan meningkatkan suplai darah dan
oksigen keseluruh tubuh, termasuk ke jantung.
Sediaan 1 flakon berisi 50mg. Efek samping kedua
tungkai bengkak, sakit kepala, pusing, hipotensi, mual,
muntah, diare, bronkitis dan AV blok.
DILTIAZEM (HERBESER) SYRING PUMP
Program dosis : mcg/kg.BB/mnt
Pengenceran : x 1000 = 1000 mcg/cc
Rumus : cc/jam
Nursing Point Diltiazem (Herbeser) :
Monitoring BP : Hipotensi, ECG : AV Blok
Monitoring efek samping
G. NOREPINEPHRINE
Norepinephrine adalah obat untuk menangani
tekanan darah rendah parah yang berpotensi
mengancam nyawa, kondisi ini dikenal dengan istlah
syok dan dapat menyebabkan penurunkan fungsi
organ – organ tubuh sampai tidak berfungsi sama
sekali. Dalam kondisi syok khususnya akibat sepsis
(reaksi tubuh terhadap infeksi yang parah),
norepinephrine diberikan agar pasokan darah menuju
organ tubuh tetap terjaga. Sediaan 1 ampul 4 mg. Efek
86