POLA KELOMPOK SOSIAL SISWA
Mengungkap Alur Interaksi Antarsiswa
di Sekolah
HANISAH HANAFI
POLA KELOMPOK SOSIAL SISWA
Mengungkap Alur Interaksi
Antarsiswa di Sekolah
Copy right ©2020, Bildung
All rights reserved
POLA KELOMPOK SOSIAL SISWA
Mengungkap Alur Interaksi Antarsiswa di Sekolah
Hanisah Hanafi
Editor: Dewi Kusumaningsih & Nur Rochman Fatoni
Desain Sampul: Danis HP
Lay out/tata letak Isi: Tim Redaksi Bildung
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Pola Kelompok Sosial Siswa Mengungkap Alur Interaksi Antarsiswa di
Sekolah/Hanisah Hanafi/Yogyakarta: CV. Bildung Nusantara, 2020
xvi + 138 halaman; 15 x 23 cm
ISBN: 978-623-6658-35-2
Cetakan Pertama: Oktober 2020
Penerbit:
BILDUNG
Jl. Raya Pleret KM 2
Banguntapan Bantul Yogyakarta 55791
Telpn: +6281227475754 (HP/WA)
Email: [email protected]
Website: www.penerbitbildung.com
Anggota IKAPI
Bekerja sama dengan AMCA (Association of Muslim Community in Asean)
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau
memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa seizin tertulis dari
Penerbit dan Penulis.
iv
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat limpahan
rahmat dan karunia-Nya, akhirnya buku ini telah selesai penulis
susun. Buku ini adalah rangkuman hasil penelitian penulis dalam
penyelesaian pendidikan penulis pada strata 3. Penelitian ini
dilakukan di MAN Insan Cendekia Gorontalo, di kota Gorontalo
pada tahun 2010 yang lalu. Walaupun telah berlalu sekian lama,
namun kondisi dan gambaran dan proses pelaksanaan pendidikan
kurang lebih masih sama dan masih berlaku, sehingga manajemen
pelaksanaan madrasah dan pola interaksi yang terjadi kurang lebih
masih sama.
Tulisan ini berada pada kajian sosial masyarakat majemuk di
madrasah sebagai suatu sistem sosial dengan melihat pola
pengelolaan dan pola interaksi antarsiswa yang terbentuk. Pola
interaksi yang terbentuk di MAN ICG adalah pola hasil pengelolaan
yang sengaja dibentuk untuk menjalin kebersamaan dan saling
toleransi antar siswa, mengingat mereka berasal dari berbagai
wilayah di Indonesia. Sebagai sebuah sistem sosial, madrasah
memiliki unsur yang saling fungsional satu sama lain, yaitu guru,
siswa, staf dan manajemen madrasah sebagai pengelola yang
memiliki peran sesuai dengan perilaku yang diharapkan untuk
dimainkan.
Di MAN ICG, hubungan antarsiswa berperan membentuk
jaringan yang berpola dan memberikan dampak terhadap perilaku
para aktor. Pola jaringan tersebut terbentuk berdasarkan peran
siswa dan mereka berinteraksi sesuai dengan perilaku dan
karakter yang diharapkan untuk dimainkan. Karakter yang
diharapkan dimainkan adalah karakter yang secara teknis dikelola
oleh madrasah untuk mengubah siswa dan masyarakatnya pada
v
perilaku dan ideologi tertentu. Perubahan tersebut mengarah pada
ideologi multikulturalisme, yang bebas konflik.
Selama ini, pemahaman orang tentang masyarakat yang
majemuk bahwa kemajemukan masyarakat sebagai persoalan
besar dalam kehidupan negara-bangsa karena masing-masing
kelompok sukar untuk mengadakan interaksi dan relasi. Mereka
senantiasa dihadapkan pada persoalan disintegrasi, sementara
masyarakat yang secara kultural dan agama yang homogen lebih
menunjukkan integrasi yang kuat dan senantiasa dalam keadaan
stabil.
Gambaran masyarakat majemuk secara kultural terjadi di
Madrasah Insan Cendekia Gorontalo. Masyarakat MAN ICG adalah
masyarakat yang majemuk dari sisi kultur, namun homogen dari
sisi agama. Ddengan perbedaan kultur tersebut, pihak pengelola
memahami kebutuhan masyarakatnya dengan menerapkan pola
pengelolaan yang berorientasi pada integrasi dan relasi.
Pengelolaan diatur sedemikian rupa guna membentuk masyarakat
yang serasi. Para siswa bukan hanya terikat karena kesamaan
agamanya, keserasiannya dalam kebutuhan-kebutuhan praktis,
namun juga adanya bobot yang lahir dari hubungan ikatan itu
sendiri. Di dalam ikatan itu para siswa diberi tempat, status dan
peran, diakui dan memiliki identitas. Disinilah terbentuk ikatan
yang berkembang di dalam organisasi madrasah. Kelompok formal
atau organisasi ini yang para anggotanya memiliki ikatan yang
sama memiliki solidaritas, kesetiaan dan loyalitas yang tinggi.
Pengungkapan berbagai bentuk relasi (interaksi) sosial
antaretnis yang terjadi yang berbeda kebudayaannya di madrasah
adalah sekaligus berpotensi pula memahami keanekaragaman
etnis dan budaya di Indonesia. Pengkajian proses interaksi sosial
yang terjadi, mengungkap pengetahuan tentang proses-proses
sosial di kalangan siswa sehingga diketahui segi dinamis
vi
masyarakat dan kebudayaannya. Pola interaksi sosial antarsiswa
yang terbentuk menjadi penanda bekerjanya gerakan
multikulturalisme sebagai suatu komunitas yang majemuk.
Walaupun komunitas madrasah ini adalah komunitas yang
terikat oleh kesamaan agama, seperti yang dikatakan oleh (Radjab,
2000) bahwa orang yang terikat pada sesama umat agama, atau
daerah yang sama bukan semata-mata karena adanya keserasian
dalam hubungan pribadi dan kebutuhan-kebutuhan praktis, tetapi
juga ada bobot yang lahir dari ikatan itu sendiri.
Kajian ini berada pada ranah interaksi yang lebih
bervariasi, dengan lingkup madrasah dan asrama sebagai lembaga
sosial. Pertemuan dan interaksi lebih padat, dan juga lebih dari 10
etnis yang saling berhubungan dengan tingkat sosial dan bahasa
yang berbeda-beda, juga pemahaman akan sesuatu hal yang saling
berbeda. Namun mereka homogen dalam agama. Di buku ini
terungkap adanya norma dan nilai-nilai yang diterapkan kepada
para siswa yang membentuk sikap multikultural di antara mereka
atau dengan kata lain bahwa terbentuk suatu etos multikultural
yang beroperasi pada tingkat mikro melalui pola interaksi yang
berjalan di dalamnya.
Para siswa mengadopsi nilai-nilai madrasah menjadi nilai-nilainya
sendiri. Jadi sosialisasi mempunyai kekuatan integratif yang sangat
tinggi dalam mempertahankan kontrol sosial dan keutuhan
masyarakat. Tata tertiblah yang merupakan nilai-nilai yang
dihayati bersama yang diadopsi oleh para siswa untuk menjalani
interaksi diantara mereka. Terjadinya kesenjangan
antarsiswa/etnis dapat dilebur ke dalam kebersamaan melalui
pengadopsian nilai-nilai bersama tersebut. Nilai-nilai yang dibuat
oleh madrasah yang merupakan nilai bersama, yang disepakati
bersama dan dijalankan bersama menjadi standar umum
kebudayaan di asrama. Berdasarkan nilai-nilai yang telah dipahami
vii
dan dijalani bersama, terbentuklah pola interaksi antarsiswa yang
mencerminkan nilai kebersamaan di atas perbedaan yang mereka
bawa masing-masing.
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 1: Jumlah siswa MAN ICG dan sebaran daerah pada 2011 46
Tabel 2: Sosiomatrix kelas X5 Tahun 2010/2011 84
Tabel 3: Sosiomatrix kelas XI IPA 2 Tahun 2010/2011 107
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Pertemuan siswa dan keluarga di pendopo pada
Gambar 2. hari Ahad 48
Gambar 3.
Belajar bersama di kamar 49
Gambar 4.
Gambar 5. Siswa putra berjalan berkelompok menuju
Gambar 6.
Gambar 7. Gedung Pendidikan 50
Gambar 8. Siswa putri menuju masjid untuk sholat 51
Gambar 9.
Suasana makan malam siswa putra 52
Suasana makan siang siswa putri 53
Kegiatan mencuci piring siswa putri pada malam
hari 54
Kegiatan tahfiz Al-Quran siswa putri 79
Kegiatan tahfiz Al-Quran siswa putra 80
x
DAFTAR SOSIOGRAM
Sosiogram 1. Pola interaksi tipe attraction dan mutual 84
attraction kelas X5 pada kriteria tetap
Sosiogram 2. menjadi teman sekelas
Sosiogram 3.
Sosiogram 4. Pola untuk tipe attraction dan mutual 88
Sosiogram 5. attraction terhadap siswa putri
Sosiogram 6.
Sosiogram 7. Pola untuk tipe attraction kelompok GRA (6)
Sosiogram 8.
Sosiogram 9. dari Jawa Tengah 89
Sosiogram 10.
Sosiogram 11. Pola untuk tipe attraction kelompok AGH
Sosiogram 12. (8) 89
Pola untuk tipe attraction kelompok ARA
(13) 90
Pola untuk tipe attraction antar siswa putri 92
Pola interaksi kelompok putri dengan 92
hubungan yang sangat erat
Pola hubungan attraction dan mutual 94
attraction terhadap siswa putra
Pola hubungan attraction dan mutual 95
attraction antar siswa putra.
Pola interaksi chain tipe mutual attraction
pada siswa putra 96
Pola interaksi tipe mutual attraction antar
siswa putri dan putra 97
Pola hubungan mutual attraction kelas X5 98
xi
Sosiogram 13. Pola interaksi tipe rejection dan mutual
Sosiogram 14. rejection kelas X5 pada kriteria tetap menjadi
Sosiogram 15.
Sosiogram 16. teman sekelas 99
Sosiogram 17.
Sosiogram 18. Pola interaksi tipe rejection kepada siswa
Sosiogram 19.
Sosiogram 20. putri kelas X5 100
Sosiogram 21.
Sosiogram 22. Pola interaksi tipe rejection terhadap VNF 101
Sosiogram 23.
Sosiogram 24. Pola interaksi tipe rejection terhadap RHM102
Sosiogram 25.
Pola interaksi tipe rejection antar siswa
putri 103
Pola interaksi tipe rejection terhadap siswa
putra kelas X5 104
Pola interaksi tipe rejection antarsiswa 105
putra
Pola interaksi tipe attraction dan mutual
attraction kelas XI IPA 2 107
Pola interaksi tipe attraction antar siswa
putra 108
Pola interaksi tipe attraction antar siswa
putri 110
Pola interaksi tipe mutual attraction siswa
putri 111
Pola interaksi tipe attraction dan mutual
attraction terhadap siswa putra 111
Pola interaksi tipe attraction dan mutual 112
attraction terhadap MHA (6) sebagai
bintang
xii
Sosiogram 26. Pola interaksi tipe attraction antar siswa putra
Sosiogram 27.
Sosiogram 28. kelas XI IPA 2 113
Sosiogram 29.
Pola interaksi tipe attraction siswa putra kelas
XI IPA 2 113
Pola interaksi tipe mutual attraction 114
antarsiswa putra kelas XI
Pola interaksi tipe rejection kelas X 115
xiii
DAFTAR ISI
Pengantar v
Daftar Tabel ix
Daftar Gambar x
Daftar Sosiogram xi
Daftar Isi xiv
BAB 1 Pendahuluan 1
A. Multikulturalisme 1
B. Realitas Multikultur di Sekolah 5
BAB 2 Multikulturalisme di Sekolah 11
A. Perspektif Multikulturalisme 11
B. Interaksi Antaretnik dalam Perspektif Multikultural di 25
Sekolah
C. Sekolah sebagai Organisasi Sosial 25
D. Disiplin Sekolah 27
E. Hubungan antara Struktur, Nilai, Norma dan Peran Sosial 31
F. Pola Interaksi Antarindividu 36
BAB 3 Fokus dan Pendekatan Kajian 37
A. Fokus Kajian Penulisan 37
B. Pendekatan Sosiometri 39
BAB 4 Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Gorontalo 42
A. Profil MAN ICG 42
xiv
B. Deskripsi Siswa MAN ICG 45
BAB 5 Pola Pengelolaan Siswa Man ICG 56
A. Sistem Manajemen dan Organisasi 56
B. Pembinaan Kesiswaan 67
C. Kurikulum Kegiatan Kesiswaan 74
D. Manajemen Keasramaan 76
E. Program Asrama 81
F. Pembinaan Disiplin 82
BAB 6 Pola Interaksi Antar Siswa 83
A. Pola Interaksi Siswa Kelas X5, 2010/2011 83
B. Pola Interaksi Siswa Kelas XI IPA2, 2010/2011 106
BAB 7 Penutup 117
DAFTAR PUSTAKA 128
GLOSARIUM 130
INDEKS 135
BIODATA PENULIS 136
xv
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Multikulturalisme
Masyarakat Indonesia pada level sosio-struktural dikenal
sebagai masyarakat multikultural dengan elemen-elemen sosial
pendukungnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Sensus
Penduduk 2010 menyebut ada 1.331 kelompok suku di Indonesia.
Sekitar 1.000 bahasa daerah, dan lima agama besar serta ribuan
aspirasi kultural yang berkembang. Indonesia juga dikatakan
multikultural bila dilihat dari sudut adanya komunitas masyarakat
yang hidup di perdesaan, perkotaan, pegunungan, lembah, daratan,
dan pantai yang dapat hidup berdampingan. Watson memaknai
masyarakat multikultural sebagai masyarakat yang di dalamnya
berkembang banyak kebudayaan (Salim, 2006).
Dalam konteks bangsa Indonesia, multikulturalisme lebih
dari syarat untuk sebuah masyarakat plural, karena benar-benar
paling majemuk di dunia. Negara manapun di dunia ini yang
mempunyai masyarakat plural, belum ada yang mampu
menandingi banyaknya budaya yang ada di Indonesia.
Masyarakat multikultural tumbuh diawali dengan adanya
kesadaran bahwa hidup manusia dalam masyarakat dan
kebudayaan adalah bersifat pluralis. Keragaman yang ada tidak
hanya berpotensi untuk saling memahami dan menghargai antar
satu dengan yang lainnya namun juga berpotensi untuk
berkembangnya konflik. Setiap kebudayaan dan masyarakat
mempunyai cara hidupnya sendiri-sendiri yang dipahami dari
konteks kebudayaan dan masyarakat yang bersangkutan (Salim,
2006). Dalam masyarakat multikultural, masing-masing budaya
1
memiliki sifat otonom sehingga secara keseluruhan tampak
sebagai bentuk masyarakat multietnis.
Interaksi aktif antara masyarakat dan budaya dalam
kehidupan sehari-hari terjadi pada masyarakat multikultural. Ada
nuansa kesetaraan dan keadilan dalam unsur-unsur budaya yang
berbeda tersebut. Prinsip keanekaragaman, perbedaan,
kesederajatan, persamaan, penghargaan pada demokrasi, hak asasi
dan solidaritas merupakan prinsip multikulturalisme yang
dijunjung tinggi (Hawasi, 2005; Salim, 2006). Dengan demikian
masyarakat multikultural adalah suatu konsep untuk merujuk
pada perspektif hubungan sosial yang sangat beragam dan masing-
masing budaya bersifat otonom.
Dikatakan sebelumnya, bahwa keanekaragaman membawa
perbedaan dan dapat berujung konflik. Namun, bukan berarti
konflik terjadi selalu disebabkan oleh perbedaan.
Multikulturalisme baik pada tingkat lokal, nasional, maupun global,
pada umumnya mengedepankan prinsip keadilan dan persamaan.
(Sparingga, 2003) menekankan bahwa untuk mewujudkan prinsip
multikulturalisme tersebut, yang dibutuhkan bukan pembauran
tapi pembaruan, bukan koeksistensi tapi proeksistensi, bukan
eksklusi tapi inklusi, dan bukan separasi tapi interaksi.
Dalam dunia yang semakin terbuka, perjumpaan dan
pergaulan antar etnis semakin mudah dan terbuka pula. Kenyataan
ini menimbulkan kesadaran akan perbedaan dalam berbagai aspek
kehidupan. Perbedaan bila tidak terkelola dengan baik, akan
menimbulkan konflik. Namun, kenyataan ini menimbulkan
kesadaran perlunya dan pentingnya dialog. Oleh karena itu,
tuntutan pengembangan multikulturalisme menjadi menguat di
Indonesia setelah di berbagai daerah terjadi pergolakan antar
etnis, ras, dan konflik kepentingan dan rasa keadilan. Persoalan-
2
persoalan mengenai pengintegrasian berbagai etnik ke dalam
kerangka persatuan nasional selalu diperbincangkan.
Adanya ratusan etnik dan budaya yang berbeda, yang bahkan
di antaranya sangat kontras, sehingga potensi ke arah konflik
sangatlah besar. (Koentjaraningrat, 2009) mengatakan bahwa nilai
budaya sebagai suatu rangkaian konsep yang hidup dalam alam
pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai apa yang
dianggap penting dan remeh dalam hidup, sehingga berfungsi
sebagai pedoman dan pendorong perilaku, yang tidak lain
mengenai sikap dan cara berfikir tertentu pada warga masyarakat
yang merupakan masalah besar dalam persatuan antaretnik. Nilai
budaya inilah yang mendorong dan berperan dalam
mengendalikan kehidupan kelompok etnik tertentu, memberi ciri
khas pada kebudayaan etnik. Nilai–nilai budaya yang berbeda pada
tiap etnik akan menimbulkan sikap dan cara berfikir yang berbeda
pula. Demikian juga dalam perilaku yang diambil meskipun dalam
masalah yang sama. Perbedaan ini berpotensi menimbulkan
konflik terutama pada masalah-masalah yang timbul dengan
adanya interaksi antaretnik. Namun, adakalanya perbedaan yang
dihayati dengan sungguh-sungguh malah akan melahirkan
persatuan.
Pada masa lalu kekuatan pengikat keanekaragaman itu
adalah politik sentralisasi yang berpusat pada kekuasaan
pemerintah yang otoritan. Pada masa kini, apabila konsepsi
multikulturalisme digarap lebih jauh, selain keragaman tersebut,
juga persoalan mayoritas-minoritas, dominan-tidak dominan yang
juga mengandung kompleksitas persoalan. Pembauran antaretnik
terus menerus berlangsung terutama di daerah-daerah urban. Di
satu sisi digalakkan upaya peningkatan nasionalisme guna
mengurangi etnosentrisme, namun di sisi lain tumbuh subur
pemujaan etnik. Pemujaan akan karakteristik yang dimiliki
3
individu yang selalu menganggap dirinya yang terbaik. Bersamaan
dengan itu, timbullah stereotype terhadap etnis yang lain.
Konsekuensi yang paling nyata bahwa perbedaan sosial
sebagai unsur penyokong kemajemukan kultural adalah perbedaan
cara pandang atas satu hal yang sama yang sangat berpeluang
membuat interaksi sosial antar anggota kelompok yang berbeda
menjadi sulit terlaksana. Kualitas interaksi sosial memiliki peran
yang sangat signifikan dalam aspek kehidupan perseorangan
maupun kolektif, demikian yang dikemukakan Lippman (Salim,
2006). Konflik sosial dalam masyarakat merupakan proses
interaksi yang alamiah, karena masyarakat tidak selamanya bebas
konflik. Hanya saja, persoalannya menjadi lain jika konflik sosial
yang berkembang dalam masyarakat tidak lagi menjadi sesuatu
yang positif, tetapi berubah menjadi destruktif.
Dalam proses interaksi antaretnik diperlukan sikap yang
dapat mengeliminir segala upaya yang memanfaatkan budaya
sebagai instrument bagi agenda-agenda di luar domain budaya.
Solidaritas dibangun dengan kesadaran bahwa seseorang berada
dalam satu budaya bukan karena suatu pilihan yang harus
ditentukan. Sikap terbuka terhadap kebudayaan lain adalah sesuai
dengan prinsip multikultural. Terbuka terhadap kebudayaan lain
berarti bersedia menerima kebudayaan tersebut. Oleh karena itu
dalam proses interaksi antaretnik tersebut diperlukan sebuah
toleransi yang tinggi dalam kerangka nasionalisme kebangsaan,
sebuah ideologi transetnis yang menjadi cita-cita bersama.
Toleransilah yang berada pada konsep adaptasi budaya yang
menjadi sebuah jalan keluar yang bijaksana dan bebas konflik.
Kemajemukan dan adaptasi antaretnik pada umumnya
terjadi di daerah perkotaan, khususnya di kota-kota besar sebagai
wilayah urban. Dalam perkembangan masyarakat akhir-akhir ini,
telah terjadi perubahan besar-besaran terutama diakibatkan oleh
4
migrasi dan urbanisasi, yang mempertemukan suku-suku dengan
budaya masing-masing. Mereka tinggal dan berbaur dalam satu
wilayah tertentu sehingga menjadi suatu komunitas yang
heterogen. Dengan berbaurnya mereka, terjadilah interaksi dan
pencampuran atau tukar-menukar budaya. Seiring dengan
perkembangan jaman dan tuntutan kebutuhan yang semakin
kompleks, kemajemukan dan adaptasi tidak hanya terjadi di kota-
kota besar melainkan juga di kota-kota kecil bahkan di daerah-
daerah pedesaan. Pengaruh kehidupan multikultural sangat terasa
pada komunitas publik ini.
B. Realitas Multikultur di Sekolah
Di sektor formal, kemajemukan juga tidak jarang terjadi,
bahkan pada tingkat satuan pendidikan yang terkecil, yakni
sekolah. Sekolah yang merupakan suatu tempat berkumpulnya
orang-orang dari berbagai tempat dan berbagai etnis, membentuk
suatu jaringan hubungan relasional yang saling berinteraksi dalam
konteks pendidikan. Pada umumnya, satu sekolah memiliki warna
yang beragam dan didominasi oleh etnis tertentu di mana sekolah
tersebut berada. Dari interaksi yang berjalan di antara mereka,
lambat laun etnis yang tidak dominan akhirnya melebur ke etnis
yang dominan.
Fenomena kemajemukan tersebut tampak dalam praktek
penyelenggaraan sekolah di segala jenis dan jenjang pendidikan.
Namun yang terlihat kemajemukan etnisnya dan keragaman
elemen-elemen sosialnya, baik siswa maupun gurunya hanya pada
beberapa sekolah tertentu, yakni pada sekolah-sekolah yang
dikategorikan sebagai unggulan yang diminati oleh semua
kalangan. Sekolah yang memenuhi syarat kebutuhan pendidikan
yang unggul dan yang mampu berkompetisi. Sekolah-sekolah
5
tersebut adalah sekolah yang telah memenuhi target tingkat
nasional bahkan internasional dan mendapat kepercayaan
masyarakat.
Salah satu sekolah tersebut adalah MAN Insan Cendekia
Gorontalo. Sekolah ini memperlihatkan keragaman suku para
siswa maupun gurunya. Mereka berasal dari hampir seluruh
propinsi di Indonesia. Mereka berkumpul dan hidup bersama
dalam satu kesatuan yang terkordinasi. Di sini tidak terlihat adanya
dominasi etnis yang biasanya berlangsung seperti pada sekolah-
sekolah lain, atau seperti pada lingkup masyarakat pada umumnya.
Fenomena kemajemukan sangat terlihat di sekolah ini. Siswa
dan gurunya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Setiap
tahun ajaran, sekolah ini menerima masing-masing 120 siswa,
dalam 5 kelas. Jadi dalam satu tahun ajaran terdapat 360 siswa.
Siswa dari berbagai etnis bergabung di sekolah tersebut, mulai dari
beberapa propinsi di Sumatra, seluruh propinsi di Jawa, Jakarta,
Nusa Tenggara Timur dan Barat, Bali, Kalimantan, Sulawesi,
Maluku dan Papua.
Jumlah guru sebanyak 40 orang. Dua puluh satu guru bidang
studi termasuk Kepala Sekolah berasal dari Jawa Timur, Jawa
Tengah dan Jawa Barat, enam orang berasal dari Jakarta, dan
sisanya berasal dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan
Gorontalo. Penerimaan guru juga diseleksi mulai dari administrasi,
tes potensi intelektual dan akademik serta tes kesehatan.
Sekolah ini memberi fasilitas asrama bagi seluruh siswanya.
Demikian juga bagi guru-guru yang berasal dari luar wilayah
Gorontalo. Mereka mendapatkan rumah tinggal di dalam kompleks
sekolah. Dengan demikian, siswa dan guru hidup bersama dalam
satu wilayah interaksi.
6
Bila melihat kemajemukannya, sekolah ini memiliki
komunitas budaya yang lebih beragam bila dibandingkan dengan
komunitas masyarakat pada umumnya dalam satu wilayah. Hampir
seluruh etnis dan budaya yang ada di Indonesia berkumpul,
bersatu dalam satu wilayah interaksi ini. Pengaruh kehidupan
multikultural sangat terasa dalam komunitas ini.
Berbagai bentuk dan sifat pergaulan antar siswa dalam
lingkungan madrasah ini memiliki sifat yang menunjukkan ke arah
multikultural. Menariknya lagi, madrasah ini mampu mengelola
keberagaman tersebut dengan tanpa menimbulkan bias-bias
negatif. Bahkan dengan pengelolaannya yang sedemikian rupa,
madarasah ini menjadi madrasah yang unggul melebihi sekolah-
sekolah umum lainnya. Siswanya selalu unggul dalam bidang
akademik, terbukti dari prestasi-prestasi yang diraih oleh siswa-
siswa pada kompetisi-kompetisi, lomba-lomba dan olimpiade ilmu
pengetahuan baik di tingkat regional, nasional maupun
internasional. Para siswa juga unggul di keimanan dan ketaqwaan.
Pembinaan keagamaan yang diterapkan di madrasah ini mengacu
pada visi sekolah, yakni membentuk sumber daya manusia yang
berkualitas tinggi dalam keimanan dan ketaqwaan. Pembinaan ini
merupakan pondasi utama dari keilmuan para siswa.
Selama ini, madrasah selalu dikesampingkan oleh
masyarakat dalam memilih sekolah untuk anaknya. Bisa dikatakan,
madrasah tidak pernah menjadi tujuan para orang tua untuk
menyekolahkan anaknya. Namun, lain halnya dengan madrasah
aliyah Insan Cendekia. Bila melihat antusiasme peminat dan
pendaftar yang sangat besar, dan usaha-usaha yang dilakukan oleh
para orang tua calon siswa agar terjaring masuk di sekolah ini,
pandangan akan madrasah menjadi berubah. MAN IC ini setelah
sepuluh tahun kiprahnya ditetapkan sebagai MAN IC Program
7
Khusus Berstandar Internasional berkat prestasi-prestasi yang
telah diraihnya.
Karena menjadi sekolah favorit, yang menggaung ke seluruh
Indonesia, akhirnya sekolah ini mendapatkan siswa dari Sabang
hingga Merauke. Walaupun seleksi penerimaannya sangat ketat,
tidak mengurungkan niat orangtua maupun siswa untuk berlomba
masuk ke Madrasah ini. Akibatnya, Madrasah ini memiliki siswa
dari Aceh, bebrapa provinsi di Sumatera, Kalimantan Jawa, Bali
Sulawesi dan Papua, bahkan ada dari Dili, Timor Timur.
Keberagaman etnis dan suku sangat terlihat di Madrasah ini.
Selanjutnya, melihat keberagaman etnis yang ada, madrasah
ini menggambarkan komposisi atau konfigurasi masyarakat
majemuk (plural society). Dalam pengelolaannya, pihak sekolah
sangat memerhatikan hal tersebut dengan menerapkan norma dan
aturan yang mengontrol kehidupan bersama di dalamnya. Norma
dan aturan yang dibuat tersebut berfungsi sebagai kontrol sosial
yang memengaruhi perilaku interaksi individu di dalamnya. Dalam
pembinaan kehidupan dan interaksi sehari-hari, komunitas
dikontrol oleh suatu aturan yang berpola untuk mencapai tujuan
bersama. Sekolah merupakan satu alat ampuh untuk melakukan
kontrol sosial. Fungsi sekolah memengaruhi alam kesadaran para
siswa untuk selalu konsekuen mengamalkan kriteria penafsiran
norma dan nilai yang ditekankan oleh sekolah (Idi, 2011).
Hubungan interaksi antarsiswa berlangsung dalam bentuk
hubungan informal dan formal. Hubungan informal berlangsung
seperti ngobrol bareng, curhat, bermain, melakukan kegiatan
ekstra kurikuler dan lain-lain dan hubungan formal dilakukan
dengan menyelesaikan tugas kelompok di kelas atau di luar kelas,
mengerjakan proyek penelitian dan lain-lain.
8
Berdasarkan pernyataan pakar-pakar di atas dan latar
belakang yang telah dikemukakan, penulis mencoba mengkaji
secara lebih mendalam interaksi sosial dalam dunia pendidikan
yakni sekolah, yang dalam hal ini interaksi sosial antar siswa dalam
lingkungan pendidikan yang multikultural.
Tulisan ini berada pada ranah interaksi yang bervariasi, dan
lingkup sosial yang kecil, yakni dalam bidang pendidikan.
Pertemuan dan interaksi lebih padat, dan juga lebih dari 10 etnis
yang saling berhubungan dengan strata sosial dan bahasa yang
berbeda-beda, juga pemahaman akan sesuatu hal yang saling
berbeda. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis mengungkap
akan adanya suatu etos multikultural yang beroperasi pada tingkat
mikro yakni di bidang pendidikan di sekolah, dan terjadinya ikatan-
ikatan interaksi dalam komunitas tersebut.
Di kalangan masyarakat telah timbul kesadaran
multikulturalisme, namun kesadaran ini masih merupakan potensi
yang aktualisasinya tidak jarang terhalang oleh situasi sosial yang
melingkupinya (Salim, 2006). Kendala tersebut terlihat dari
interaksi sosial yang tidak cair antarindividu dan kelompok etnis
yang berbeda. Interaksi sosial antar individu atau kelompok
menjadi penanda bekerja atau tidaknya gerakan multikulturalisme
dalam suatu komunitas yang majemuk.
Upaya mengungkapkan berbagai bentuk interaksi sosial
yang terjadi antaretnis yang berbeda kebudayaannya di sekolah
adalah sekaligus berpotensi pula untuk memahami
keanekaragaman etnis dan budaya di Indonesia. Dengan mengkaji
proses interaksi sosial yang terjadi, diharapkan akan mengungkap
pengetahuan tentang proses-proses sosial di kalangan masyarakat
sehingga diketahui segi dinamis masyarakat dan kebudayaannya.
Berbagai perubahan dan perkembangan masyarakat adalah akibat
9
dari interaksi sosial yang terjadi diantara warganya baik individu
maupun kelompok.
Untuk melihat dinamika kehidupan multikulturalisme dalam
dunia pendidikan di sekolah, penulis mencoba mengkaji tentang
bentuk perubahan pola interaksi antarsiswa di sekolah. Secara
umum penulisan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh
etos multikultural yang dimobilisasi pada tingkat makro
beroperasi pada tingkat mikro yakni relasi interpersonal di
sekolah. Tujuan khusus penulisan ini adalah menggambarkan alur
dan perubahan pola interaksi siswa yang terbentuk berdasarkan
interaksi yang berjalan selama masa pendidikan di sekolah. Tulisan
ini akan membuka wawasan pembaca tentang adanya perubahan
pola interaksi siswa di sekolah. Pola interaksi terbentuk
berdasarkan manajemen sekolah, yang mengatur sirkulasi
keberadaan siswa di sekolah, yakni di kelas, di asrama dan di
tempat-tempat dimana terjadi percampuran individu siswa, yang
akhirnya menjadi penyebab pola interaksi tersebut berubah.
10
BAB 2
MULTIKULTURALISME
A. Perspektif Multikulturalisme
Multikultural berarti beraneka ragam kebudayaan. Akar kata
dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang
dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia.
Multikulturalisme adalah sebuah ideologi dan sebuah alat atau
wahana untuk meningkatkan derajat manusia dan
kemanusiaannya, maka konsep kebudayaan harus dilihat dalam
perspektif fungsinya bagi kehidupan manusia dan bagaimana
kebudayaan itu operasional melalui pranata-pranata sosial.
Menurut (Mahfud, 2011) secara etimologis
multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur
(budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu
terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam
komunitas dengan kebudayaannya masing-masing yang unik.
Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai sekaligus
merasa bertanggungjawab untuk hidup bersama komunitasnya.
(Banks & Banks, 2016) juga mendefenisikan
multikulturalisme yang lebih mengarah ke ranah pendidikan
bahwa sebagai sebuah konsep, gerakan, dan sebuah proses yang
berusaha untuk merefleksikan jender, etnik, ras, perbedaan budaya
masyarakat plural pada semua institusi, khususnya dalam seting
kependidikan, termasuk staf, norma, nilai, kurikulum, dan siswa.
Ringkasnya, bahwa multikulturalisme memberi penekanan pada
harapan akan perbedaan dan persamaan (keadilan, persamaan
hak, kejujuran) yang berjalan bersama-sama.
11
Konsep multikulturalisme mengagungkan perbedaan
bahkan menjaganya. Perspektif ini memandang hakikat manusia
sebagai sesuatu yang universal dan oleh karenanya manusia itu
dikatakan sama. Tetapi ketika bicara soal cara hidup (way of life),
aturan berfikir (rule of thinking), dan pendirian atau prinsip hidup
(state of mind), penganut multikulturalisme justru memandang
bahwa sungguh tidak adil kalau realitas keanekaan itu dinafikan
entah dengan cara apapun. Perbedaan dipandang sebagai
kesempatan untuk memanifestasikan hakikat sosial dan
sosiabilitas manusia dengan dialog dan komunikasi (Semendawai
& Laggut, 2003).
Watak masyarakat multikulturalis adalah toleran. Mereka
hidup dalam semangat peaceful co-existence, hidup berdampingan
secara damai. Setiap entitas sosial dan budaya masih tetap
membawa serta jatidirinya, tidak terlebur kemudian hilang, tetapi
juga tidak diperlihatkan sebagai kebanggaan melebihi
penghargaan terhadap entitas lain. Dalam perspektif
multikulturalisme ini, baik individu maupun kelompok dari
berbagai etnik dan budaya hidup dalam kohesi sosial (societal
cohesion) tanpa kehilangan identitas etnik dan kultur mereka
(Herdiansah, 2017). Masyarakat bersatu dalam ranah sosial tetapi
antarentitas tetap ada jarak. Jarak itu tetap dijaga dengan
komunikasi, dialog, dan toleransi yang kreatif.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa
multikulturalisme bertautan dengan doktrin tentang penyadaran
individu atau kelompok atas keberadaan berbagai budaya, yang
pada gilirannya mempunyai kemampuan untuk mendorong
lahirnya sikap toleransi, dialog, kerjasama antaretnik dan ras,
sebagai entitas yang memiliki hak-hak yang setara. Jadi bisa
dikatakan bahwa perspektif multikultural maupun
multikulturalisme sebenarnya menekankan pada pergantian cara
12
berpikir yang menggunakan hanya satu norma/kebudayaan
dominan untuk mengukur segala sesuatu, ke berpikir yang multiple
perspektif. Multikulturalisme bukan merupakan cara pandang yang
menyamakan kebenaran-kebenaran lokal, melainkan justru
membantu pihak-pihak yang saling berbeda untuk dapat
membangun sikap saling menghormati satu sama lain terhadap
perbedaan-perbedaan dan kemajemukan yang ada, agar tercipta
perdamaian.
Dengan demikian, multikulturalisme dapat dikatakan
sebagai sebuah kepercayaan yang menyatakan bahwa kelompok-
kelompok etnik atau budaya dapat hidup berdampingan secara
damai dalam prinsip co-existance yang ditandai oleh kesediaan
menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan tanpa
mempedulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun
agama dalam suatu interaksi yang damai.
B. Interaksi Antaretnik dalam Perspektif Multikultural
di Sekolah
Pendidikan dalam penyelenggaraannya melibatkan
beberapa aktor mulai dari tingkat pemerintah sampai ke
masyarakat, seperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas
pendidikan, kepala sekolah, guru, staf, siswa, orang tua siswa, dan
masyarakat sekitar sekolah. Mereka saling berinteraksi dalam
konteksnya masing-masing. Dalam melakukan interaksi sosial,
masing-masing melibatkan diri dengan yang lain, dengan
menggunakan simbol, makna, pengalaman hidup, pikiran dan
kemampuannya dalam melakukan peranannya (Wirawan, 2015).
Proses interaksi sosial yang terkait dengan aktifitas pendidikan
lebih banyak terjadi di sekolah. Apakah itu interaksi antara guru
13
dan siswa, antara guru dan staf, antarguru atau antarsiswa,
semuanya terjadi di sekolah setiap hari.
Sebagai sebuah organisasi, sekolah adalah sistem
perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, yang tahu
akan kebutuhannya dan mendistribusikannya, dan berfungsi
sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan
bangsa dan negara (Idi, 2011). Sekolah telah memenuhi
persyaratan fungsional yang dibutuhkan suatu sistem, seperti yang
dikemukakan Parsons, yaitu Adaptation/adaptasi (A), Goal
Attaintment/pencapaian tujuan (G), Integration/integrasi, dan
Latent pattern maintenance/pola pemeliharaan laten (L).
Sekolah adalah organisasi pendidikan, tempat
berkumpulnya sekelompok orang yang mempunyai tujuan yang
sama, saling berintegrasi dan bekerja untuk tujuan tersebut, yakni
kependidikan. Terbentuknya lembaga sosial itu berawal dari
individu yang saling membutuhkan kemudian timbul norma-
norma atau aturan-aturan yang dianggap penting dalam mengatur
kehidupan bermasyarakat di dalamnya. Setiap orang di dalamnya
saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain dalam konteks
pendidikan di sekolah; yakni ada aktor yang mengajar, ada yang
belajar, ada yang melayani administrasi, ada yang menyiapkan
makanan dan minuman, ada yang membersihkan dan ada norma
dan nilai yang disepakati untuk dijalani demi keberlangsungannya.
Jadi dapat dikatakan bahwa sekolah adalah suatu sistem sosial
tempat berlangsungnya proses-proses pendidikan.
Interaksi sosial antaraktor yang berjalan dalam ranah
pendidikan tersebut menempatkan hubungan interaksi yang
bukan hanya berlangsung dalam konteks formal tetapi juga dalam
bentuk relasi informal. Bukan hanya berlangsung di dalam kelas,
namun juga berlangsung di luar kelas. Terkadang individu dalam
kelompok berinteraksi secara kooperatif. Mereka saling bekerja
14
sama, saling membantu, berbagi informasi, demi mencapai tujuan
bersama. Namun tidak jarang pula mereka saling bersaing,
mendahulukan tujuan individu dan menjatuhkan anggota lainnya.
Hubungan antaraktor atau relasi-relasi sosial inilah yang
menentukan struktur masyarakat di dalamnya. Hubungan ini
didasarkan kepada komunikasi yang berjalan. Oleh karena itu
komunikasi merupakan dasar dari existensi masyarakat.
Hubungan antarsiswa, antarguru, antarsiswa dan guru, atau relasi-
relasi sosial lainnya di sekolah, baik antarindividu maupun dengan
kelompok-kelompok dan antarkelompok, mewujudkan segi
dinamika perubahan dan perkembangan relasi sosial di dalamnya.
Artinya, dengan saling berinteraksi kehidupan sosial di sekolah
akan terus berjalan. Tanpa ada interaksi, maka tidak mungkin ada
kehidupan bersama juga tidak mungkin menghasilkan pergaulan
hidup ataupun aktifitas sosial, serta tidak mungkin tercapai tujuan
bersama.
Berkaitan dengan fungsi sekolah, interaksi yang berjalan di
sekolah merupakan perpanjangan dari proses sosialisasi anak di
lingkungan keluarga maupun masyarakat. Pendidikan merupakan
seni menanamkan definisi-definisi situasi yang berlaku pada kaum
muda dan sudah diterima oleh golongan penyelenggara (Idi, 2011).
Dengan demikian sekolah merupakan satu alat ampuh untuk
melakukan kontrol sosial. Inti dari studi tersebut mencoba
menerangkan tentang fungsi sekolah yang memengaruhi alam
kesadaran para siswa untuk selalu konsekuen mengamalkan
kriteria penafsiran norma dan nilai yang ditekankan oleh sekolah.
Individu atau unit-unit tindakan yang terdiri atas
sekumpulan orang tertentu, saling menyesuaikan atau saling
mencocokkan tindakan mereka satu dengan yang lainnya melalui
proses interpretasi. Dalam hal aktor yang berbentuk kelompok,
maka tindakan kelompok itu adalah tindakan kolektif dari individu
15
yang tergabung ke dalam kelompok itu. Bagi teori ini individual,
interaksi dan interpretasi merupakan tiga terminologi kunci dalam
memahami kehidupan sosial.
Pendidikan dan masyarakat multikultural memiliki
hubungan timbal balik (reciprocal relationship). Artinya, bila pada
satu sisi pendidikan memiliki peran signifikan guna membangun
masyarakat multikultural, di sisi lain masyarakat multikultural
dengan segala karakternya memiliki potensi signifikan untuk
memberhasilkan fungsi dan peran pendidikan pada umumnya.
Sekolah adalah bentuk institusi terdepan yang dapat dipakai
sebagai ajang proses pembenihan nilai-nilai budaya masyarakat
yang beragam. Sejak dini siswa telah dibiasakan mengembangkan
empati bagi keberadaan kebiasaan, perilaku dan pemikiran yang
berbeda. Selanjutnya, toleransi antar budaya dapat muncul sebagai
reaksi positif dari keberagaman tersebut. Upaya tersebut terjadi di
lembaga pendidikan sekolah yang berada di masyarakat
multikultural dan juga terjadi di sekolah yang komunitasnya adalah
komunitas multikultur.
Awal masuk sekolah, para siswa telah dihadapkan dengan
berbagai hal yang baru dan berbeda. Mereka bertemu dengan
teman sebaya, guru, dan unsur organisasi sekolah lainnya dalam
suasana dan lingkungan yang baru. Di sekolah, siswa berada dalam
suatu lingkungan sosial yang lebih luas dari pada lingkungan
keluarganya. Di sinilah diperlukan adanya proses sosialisasi agar
anak dapat menempati dan diterima dalam lingkungan yang baru.
Apalagi dengan lingkungan baru yang sangat beragam karakter,
etnis dan budaya di dalamnya.
Lebih khusus lagi bila sekolah tersebut adalah sekolah
berasrama (boarding school), yang memungkinkan siswa lebih
banyak berhubungan dan bersosialisasi dengan teman sebayanya.
16
Semua kegiatan hidupnya dijalankan bersama-sama dengan
lingkungan sosial barunya dengan segala perbedaan yang
dihadapinya. Jadi, proses adaptasi dan usaha penyesuaian diri akan
terjadi di antara para siswa, dan mengurangi kemungkinan
terjadinya benturan-benturan kecil. Benturan-benturan kecil
tersebut bila tidak diatasi dengan sikap menerima perbedaan, akan
berakibat konflik yang lebih besar. Di sinilah sikap empati dan
toleransi dibutuhkan guna menjaga keberlangsungan kehidupan
sosialnya yang baru, yakni pembentukan suatu standar umum
kebudayaan yang diterima oleh seluruh komunitas.
Sekolah berfungsi sebagai kontrol sosial. Seperti yang
dikatakan oleh Durkheim (Ballantine & Hammack, 2016) bahwa
“sekolah berperan dalam menyiapkan anak menjadi bagian dari
masyarakat. Bahwa pendidikan moral dapat digunakan untuk
mengurangi sifat egoisme anak dan menjadi pribadi yang memiliki
rasa tanggung jawab sosial.” Selanjutnya beliau mengatakan bahwa
“setiap perubahan dalam masyarakat adalah refleksi perubahan
dalam pendidikan. Sekolah sebagai perantara antara moral afektif
keluarga dan moral kerasnya kehidupan dalam masyarakat.
Disiplin adalah moral yang didapatkan di sekolah dan tanpa moral
kelas akan menjadi seperti rimba.”
Dalam konteks pembelajaran hidup bersama, terdapat
banyak sistem nilai yang berbeda, sebagian sangat fleksibel
berkaitan dengan persepsi individu dan sebagian lagi rigid,
khususnya sistem nilai kolektif. Hal tersebut berlaku juga dalam
bidang pendidikan di sekolah. Berbagai etnik bergabung dalam
satu wadah, bersatu dan berbaur dengan membawa ciri masing-
masing. Masing-masing kelompok mempunyai beberapa identitas
yang berkaitan dengan etnis, bahasa, kebiasaan dan lain
sebagainya. Interaksi sosial antarsiswa dari berbagai etnis tersebut
dalam lingkungan sekolah, menjadi sulit terlaksana apabila ada
17
perbedaan sosial, yakni adanya perbedaan cara pandang atas satu
hal yang sama. Perbedaan semacam ini sering disertai
berkembangnya stereotip satu kelompok etnis atas kelompok lain,
yakni berkembangnya suatu proses generalisasi yang dilakukan
secara tidak akurat tentang sifat ataupun perilaku yang dimiliki
oleh individu-individu anggota dari kelompok sosial tertentu
(Susetyo, 2010).
Juga seperti yang terjadi di MAN Insan Cendekia dan
diceritakan oleh Maman, siswa kelas X asal Gorontalo, bahwa ia dan
teman-teman yang lain saling beradu mulut bahkan hampir saling
memukul dengan siswa yang berasal dari Nusa Tenggara. Konflik
tersebut diawali dengan dipegangnya kepala siswa dari Nusa
Tenggara tersebut oleh Maman yang sebenarnya bermaksud akrab.
Namun ditanggapi berbeda oleh siswa asal Nusa Tenggara.
Memang menurut nilai dan norma yang dianut oleh siswa Nusa
Tenggara tersebut, menyentuh, atau memegang kepala orang lain
berarti memandang enteng, atau mengecilkan arti. Sementara
menurut pemahaman masyarakat Gorontalo, hal tersebut berarti
persahabatan dan keakraban.
Demikian juga halnya dengan kasus siswa dari Jawa Barat,
merasa dilecehkan ketika seorang teman dari Gorontalo
menyentuhnya dengan menggunakan kaki. Hal tersebut dianggap
lumrah bagi orang Gorontalo, namun dianggap sangat tidak sopan
bagi mereka. Akhirnya dari pengalaman tersebut timbullah suatu
prasangka bahwa secara umum etnis Gorontalo dalam bergaul
sangat tidak sopan. Benturan-benturan seperti inilah yang menjadi
awal dari kesenjangan hubungan antar etnik bila kesepahaman
antaretnik/ individu tidak segera ditolerir.
Pengalaman tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh
Blumer dan Mead bahwa manusia adalah individu yang berfikir,
berperasaan, memberikan pengertian kepada setiap keadaan, yang
18
melahirkan reaksi dan interpretasi kepada setiap rangsangan yang
dihadapi (Putradi, 2020). Kejadian tersebut dilakukan melalui
interpretasi. Aksi yang diterimanya dimaknai dan bereaksi sesuai
dengan nilai dan norma yang dianutnya masing-masing. Nilai yang
dianut oleh masing-masing etnis adalah berbeda terhadap sesuatu
yang sama. Seperti juga yang dikatakan oleh (Van Krieken et al.,
2006), bahwa dari perspektif interaksionis, aksi tidaklah
ditentukan oleh kekuatan dari luar, namun lebih banyak
ditentukan langsung dari makna yang aktor berikan terhadap
objek, kejadian, dan aktifitas-aktifitas mereka dan orang lain.
Dengan demikian siswa melakukan reaksi terhadap aksi yang
diterimanya dari siswa lain berdasarkan makna atau hasil evaluasi
terhadap objek atau lawan interaksinya.Kesadaran adalah proses
berpikir manusia, dan pada titik ini fenomenologi bersentuhan
dengan interaksionisme simbolik yang juga memerhatikan esensi
interaksi berdasarkan proses berpikir manusia. Sebagaimana
pandangan Mead bahwa pikiran (mind) dan diri (self) muncul dan
berkembang dari proses interaksi sosial dalam masyarakat, dan
karena itu menjadi fenomena social (Maliki, 2012). Blumer
mempertegas bahwa pikiran selalu menunjuk objek (fisik dan
nonfisik), dan objek tersebut saling disesuaikan dalam tindakan
bersama saat berinteraksi (Poloma, 2007). Ketika manusia
membentuk dan merancang objek, memberinya arti, menilai
kesesuaiannya dengan tindakan, dan mengambil keputusan
berdasarkan penilaian tersebut, itulah disebut penafsiran atau
bertindak berdasarkan simbol.
Sekolah, sebagai suatu lembaga pendidikan mengemban
tugas untuk melaksanakan upaya-upaya mengalihkan nilai-nilai
budaya masyarakat dengan mengajarkan nilai-nilai yang menjadi a
way of life masyarakat dan bangsanya. Sekolah juga berfungsi
untuk mempertahankan dan mengembangkan tatanan sosial dan
kontrol sosial dengan mempergunakan program asimilasi dan
19
nilai-nilai sub-group yang beraneka ragam, ke dalam nilai-nilai
dominan yang dimiliki dan menjadi pola panutan bagi sebagian
masyarakat. Dengan kata lain, sekolah berfungsi sebagai alat
pemersatu dari berbagai pandangan hidup yang dianut para siswa.
Selain itu, sekolah juga sebagai alat pelestari nilai-nilai budaya
etnik. Jadi, interaksi yang berjalan diantara aktor di dalam sekolah
akan terkontrol oleh nilai-nilai dan norma yang telah diatur sebagai
alat dan pandangan hidup mereka.
Sekolah sebagai organisasi yang menghimpun masyarakat
dari berbagai budaya etnik, dalam perkembangannya akan
bersinggungan dengan konsep hidup bersama, walaupun masing-
masing budaya berdiri secara otonom, sehingga tampak seperti
masyarakat yang multietnis atau polietnis. Untuk dapat mencapai
kehidupan bersama dalam kesetaraan, sekolah berperan
menerapkan suatu sikap yang menghindari bias dan dominasi
kultural.
Jadi dalam proses interaksi antaretnik, individu dipengaruhi
oleh sistem budayanya masing-masing, di pihak lain tindakan-
tindakan interaksi tersebut distimulasi oleh nilai-nilai dan norma
yang ada. Norma yang ada atau nilai bersama (sharedvalues)
tersebut yang akhirnya menjadi standar umum kebudayaan,
setidaknya merupakan mediator dalam memperlancar iklim
hubungan antaretnik. Menurut Parsons, sosialisasi terjadi ketika
nilai-nilai yang dihayati bersama dalam masyarakat diinternalisir
oleh anggota-anggota masyarakat itu (Raho, 2007). Anggota
masyarakat mengadopsi nilai-nilai masyarakat menjadi nilai-
nilainya sendiri. Jadi sosialisasi mempunyai kekuatan integratif
yang sangat tinggi dalam mempertahankan kontrol sosial dan
keutuhan masyarakat.
Pada umumnya sekolah sering melupakan salah satu aspek
dalam pendidikan yaitu memupuk interaksi sosial edukatif
20
antarsiswanya. Biasanya sekolah hanya terfokus pada aspek
peningkatan kualitas akademiknya saja karena hal tersebutlah
yang menjadi ukuran utama keberhasilan sekolah di mata
masyarakat. Padahal aspek interaksi juga sangat mendukung
keberhasilan sekolah tersebut walau hasilnya tidak terlihat secara
langsung.
Kajian ini berada pada tatanan sosiologi pendidikan, yang
mempersoalkan pertemuan dan percampuran dari lingkungan
sekitar kebudayaan sedemikian rupa melalui interaksi
antaraktornya sehingga terbentuk perilaku tertentu dari sekolah
atau lingkungan pendidikan. Dalam hal ini perlu diberikan suatu
penekanan bahwa dari aspek sosiologis, dalam lembaga, kelompok
sosial dan proses sosial terdapat hubungan yang saling terjalin, di
mana dalam interaksi sosial tersebut individu memperoleh dan
mengorganisasikan pengalamannya. Sementara dari segi
pedagogisnya, bahwa seluruh individu dan masyarakat, kelompok
sosial dan proses sosialnya berlangsung di sekitar sistem
pendidikan yang selalu bergerak dinamis.
Program pendidikan antarsiswa atau antarkelompok ini
bergantung pada struktur sosial siswa-siswanya. Ada tidaknya
golongan minoritas diantara mereka memengaruhi hubungan
kelompok-kelompok tersebut (Idi, 2011). Setiap siswa di sekolah
menunjukkan perbedaan etnisnya, adat istiadat, dan kedudukan
sosialnya masing-masing. Berdasarkan perbedaan tersebut
timbullah kelompok mayoritas dan minoritas di kalangan mereka.
Kelompok dalam sekolah dapat dikategorikan berdasarkan status
sosial orang tua siswa, hobi/minat siswa, intelektualitas, jenjang
kelas, agama, dan asal daerah.
Status sosial orangtua siswa sangat memengaruhi pergaulan
siswa. Pada umumnya anak pejabat akan cenderung bergaul
dengan teman selevel. Hal ini terjadi pada pergaulan di luar dan di
21
dalam sekolah. Mereka enggan bergaul dengan anak buruh atau
petani. Kalaupun ada, jumlahnya sangatlah sedikit.
Kesamaan minat/hobi mendorong rasa kebersamaan di
antara para siswa. Siswa yang senang berolahraga akan
membentuk kelompok dan intensif bergaul dengan siswa yang juga
senang olahraga. Demikian juga pada kegiatan ekstra kurikuler
lainnya di sekolah, misalnya kelompok ilmiah remaja, pramuka,
musik, palang merah remaja, dan lain-lain. Para siswa akan
membentuk jalinan ikatan emosional dengan siswa lain yang sama-
sama mengambil kegiatan ekstra kurikuler yang sama.
Berikutnya, intelektualitas. Ada juga peluang terjadi
kelompok berdasarkan tingkatan intelektualitas para siswa.
Namun hal ini jarang terjadi. Kecuali bila pihak sekolah yang
mengelompokkan siswa berdasarkan hal tersebut. Biasanya
beberapa sekolah mengelompokkan siswa dengan memberi label
kelas unggulan atau kelas internasional. Namun kadang juga
menimbulkan kesenjangan sosial. Kalaupun ada terjadi, siswa yang
pintar pada umumnya lebih banyak menghabiskan waktunya di
perpustakaan daripada di kantin atau di tempat lain. Kehidupan
mereka di sekolah lebih banyak dihabiskannya dengan kegiatan
akademik, dan mereka tidak berbaur dengan kelompok kelas
lainnya.
Kelompok berikutnya adalah kelompok berdasarkan agama.
Kegiatan perayaan dan peribadatan sering mempertemukan
mereka dalam kebersamaan dan kepemilikan. Namun hal ini bukan
merupakan faktor dominan di kalangan siswa. Juga hal tersebut
tidak terjadi di sekolah-sekolah agama, seperti MAN Insan
Cendekia.
Kelompok jenjang kelas merupakan kelompok yang paling
dominan yang terjadi di sekolah. Pada umumnya kelompok dalam
22
kelas yang sama lebih nyaman bergaul dengan teman-teman
seangkatannya.
Selanjutnya adalah kelompok asal daerah. Kesamaan asal
daerah memberikan peluang bagi terbentuknya kelompok di
sekolah. Pada umumnya siswa dalam satu sekolah sebagian besar
berasal dari daerah yang sama. Namun kenyataan yang dijumpai di
MAN Insan Cendekia, para siswa berasal dari hampir seluruh
provinsi di Indonesia. Pada awalnya, kelompok yang terbentuk di
sana adalah kelompok etnis, namun seiring berjalannya waktu dan
saling mengenalnya para siswa, maka kelompok-kelompok etnis
mulai berkurang dan terjadi pembauran yang terdiri dari berbagai
daerah. Hal ini diduga disebabkan sifat umum siswa di usia remaja
yang ingin mempunyai banyak kawan, atau pola pengelolaan
sekolah yang mengharuskan para siswa untuk berbaur tanpa
melihat asal usul mereka.
Ada juga siswa yang berkelompok dengan sesama daerah,
namun hal tersebut hanya pada waktu tertentu, atau yang
kebetulan telah bersahabat sebelum masuk ke MAN Insan
Cendekia, atau mereka sebelumnya berasal dari sekolah atau kelas
yang sama pada saat mereka masih di Sekolah Menengah Pertama.
Sebagai sebuah anggota komunitas sekolah, siswa tidak luput
dari masalah dalam interaksi antarkelompok. Masalah tersebut
antara lain adalah adanya gap antara kelompok. Persaingan dan
kecemburuan sering memicu konflik antarkelompok. Kelompok
minoritas cenderung sering diabaikan baik secara fisik maupun
kebijakan. Munculnya kelompok-kelompok geng motor, anak band
dan lain-lain adalah representasi dari kekuatan siswa dalam
pergaulannya di sekolah. Secara psikologis emosional, perkelahian
antar kelompok pelajar atau individu dapat dimaklumi karena pada
usia tersebut adalah masa perkembangan siswa mencari jati diri
sehingga cenderung tidak stabil dan emosional. Dari sinilah
23
sekolah harus mampu mengelola perbedaan dan melakukan
penyeimbangan dengan salah satunya adalah menanamkan nilai-
nilai toleransi antarsiswa.
Hubungan antara mayoritas-minoritas merupakan arus
utama perspektif teoritis hubungan antaretnik atau antarras.
Alasannya adalah interaksi seperti inilah yang sering menimbulkan
letusan kekacauan dalam masyarakat. Hubungan kelompok ini
seringkali diwarnai berbagai prasangka, konflik dan tidak jarang
berkembang menjadi bentrokan fisik atau kerusuhan massa.
Rasionalisasi dari versi analisis ini bahwa jika suatu masyarakat
memiliki ketidakseimbangan etnik, maka satu atau dua kondisi
laten tertentu akan saling bertemu. Secara umum, kasus-kasus
antaretnik seringkali ditandai oleh stratifikasi sosial yang kurang
memberi kemungkinan bagi setiap etnik untuk memenuhi
kebutuhan mereka, demikian (Liliweri, 2009).
Namun, kasus-kasus tersebut tidaklah terjadi bila dikontrol
oleh nilai-nilai dan norma sebagai mediator interaksi yang diatur
sebagai alat dan pandangan hidup mereka. Sejalan dengan respon
yang diterima, internalisasi nilai-nilai dan penyesuaian serta
pengubahan perilaku adalah upaya sosialisasi yang mengarah pada
keseimbangan etnik. Nilai-nilai dalam hal ini adalah kebudayaan
umum suatu masyarakat tempat proses sosial tersebut
berlangsung.
Mengingat beragamnya etnik yang ada dan demi menjaga
kestabilan dan keseimbangan (equilibrium), salah satu usaha pihak
sekolah MAN Insan Cendekia, selain menerapkan norma-norma,
aturan-aturan dan tata tertib sekolah baik tertulis maupun tidak
tertulis ialah dengan menerapkan hak asuh pertanggungjawaban
setiap guru terhadap sepuluh orang siswa sebagai pengganti orang
tua. Segala silang sengketa, konflik, diselesaikan bersama dengan
musyawarah atas bimbingan guru asuh tersebut. Kestabilan
24
tercapai dengan selalu menerapkan norma dan aturan yang dibuat
dan disepakati bersama.
C. Sekolah sebagai Organisasi Sosial
Secara umum, sekolah sebagai lembaga pendidikan, dan
sebagai organisasi sosial, mempunyai peran dan fungsi sosial
sebagai: (1) fungsi manifestasi pendidikan: membantu orang
mencari nafkah, menolong mengembangkan potesinya demi
pemenuhan kebutuhan hidupnya; melestarikan kebudayaan
dengan cara mengajarkannya dari generasi ke generasi;
merangsang partisipasi demokrasi melalui pengajaran
keterampilan berbicara dan mengembangkan cara berfikir
rasional; memperkaya kehidupan dengan cara menciptakan
kemungkinan untuk berkembangnya cakrawala intelektual dan
cinta rasa keindahan; meningkatkan kemampuan menyesuaikan
diri melalui bimbingan pribadi dan berbagai kursus; meningkatkan
taraf kesehatan melalui latihan dan olahraga; menciptakan warga
negara yang patriotik melalui pelajaran yang menggambarkan
kejayaan bangsa dan membentuk kepribadian yaitu susunan unsur
dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan
dari tiap individu, (2) fungsi latent lembaga pendidikan adalah,
mengurangi pengendalian orang tua melalui pendidikan sekolah, di
mana orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam
mendidik anak kepada sekolah; menyediakan sarana untuk
pembangkangan, di mana sekolah memiliki potensi untuk
menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat;
mempertahankan sistem kelas sosial, di mana pendidikan sekolah
diharapkan dapat mensosialisasikan kepada siswa untuk
menerima perbedaan prestige, privilege, dan status yang ada dalam
masyarakat (Idi, 2011).
25
Horton dan Hurt mengemukakan empat jenis sasaran
oraganisasi sekolah, yang meliputi titik tolak pandangan terhadap
organisasi sekolah (Idi, 2011).
Pertama, sasaran formal, dimana ruang lingkup sasaran ini
meliputi tujuan formal dari suatu organisasi. Wujud dari sasaran
ini tercantum dalam aturan-aturan tertulis, konstitusi dan segala
ketentuan formal yang melandasi orientasi organisasi. Melalui
struktur organisasi yang ada, tercermin adanya tugas dan
wewenang kepala sekolah, tugas guru dan staf administrasi
sekolah.
Kedua, sasaran informal, dimana tidak sepenuhnya bekerja
sesuai ketentuan formal. Sasaran informal merupakan interpretasi
dan modifikasi sasaran-sasaran formal dari seluruh anggota yang
terlibat langsung pada wadah organisasi. Sasaran tersebut
mencakup pula persepsi masing-masing individu dan menjadi
tujuan kegiatan pribadi dalam organisasi.
Ketiga, sasaran ideologis. Seperti tersirat dalam istilah
tersebut, sasaran ideologis bertalian dengan seperangkat sistem
eksternal atau sistem nilai yang diyakini bersama. Dalam hal ini
nuansa budaya pada pengertian sebagai suatu sistem
pengetahuanm gagasan dan ide yang dimiliki suatu kelompok
masyarakat dalam bersikap dan berperilaku dalam lingkungan
alam dan sosial tempat mereka bernaung.
Keempat, sasaran lain yang kurang begitu kuat. Penekanan
sasaran ini akan menonjol pada suatu proses aktivitas organisasi
yang tengah mempertahankan eksistensinya dalam situasi di luar
kondisi biasa.
Dari pendapat Horton dan Hurt tersebut, dapat dikatakan
bahwa sebagai organisasi, sekolah bukan hanya sekedar tumpukan
peran-peran struktural yang kaku, statis dan jalur kerja yang serba
26
mekanistis belaka. Tetapi mekanisme tersebut mengalami
dinamika aktualisasi melalui aneka ragam interpretasi para
anggota yang melatarbelakangi perilaku manusia dalam
mengemban peran dan status yang berbeda-beda dalam organisasi
sekolah. Manifestasi spesifik dari organisasi sekolah, pertama,
sekolah memiliki tujuan kelembagaan yang jelas, kedua, dalam
organisasi sekolah terdapat pola jaringan kerja dari sejumlah posisi
yang saling bertalian seperti guru, supervisor, administrator,
dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Madrasah sebagai lembaga pendidikan merupakan
organisasi sosial yang dibentuk dan bekerja secara birokratis.
Namun, secara sosiologis, sekolah sebagai organisasi sosial, dalam
pengelolaannya tetap dipengaruhi oleh kepribadian, sistem tata
nilai yang berlaku dan dianut, kultural ideologis, hubungan
interpersonal, dan lain-lain. Karena yang menggerakkan sekolah
adalah manusia yang cenderung berubah dan berkembang
berdasarkan kebutuhan dan lingkungan di mana sekolah berada,
maka kurikulum pendidikan sering mengalami perubahan karena
alasan sosiologis (Idi, 2011).
D. Disiplin Sekolah
Lembaga pendidikan diselenggarakan dengan tujuan
menumbuhkan dan mengembangkan anak sebagai makhluk
individu, sosial, susila, dan religius. Sekolah sebagai pengembang
proses pembelajaran mempunyai tujuan mengembangkan
pengetahuan siswa, kepribadian, aspek sosial emosional, dan
keterampilan. Selain itu sekolah juga bertanggung jawab dalam
membantu siswa yang bemasalah, baik dalam belajar, emosional,
maupun sosial sehingga mereka dapat bertumbuh dan
berkembang sesuai dengan potensi masing-masing.
27
Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara
perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa
untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib
yang berlaku di sekolah. Disiplin mencakup setiap macam
pengaruh yang ditujukan untuk membantu siswa menghadapi
lingkungannya. Dengan disiplin, siswa diharapkan bersedia tunduk
dan mengikuti peraturan tertentu dan menjauhi larangan tertentu.
Dengan demikian, disiplin yang diterapkan di sekolah bertujuan
untuk mengarahkan siswa untuk belajar hidup dengan
pembiasaan yang baik, positif, dan bermanfaat bagi dirinya dan
lingkungannya, baik pada masa bersekolah maupun setelah berada
dalam masyarakat nanti.
Kedisiplinan sebagai alat pendidikan adalah suatu tindakan,
perbuatan yang dengan sengaja diterapkan untuk kepentingan
pembelajaran di sekolah. Tindakan atau perbuatan tersebut dapat
berupa perintah, nasehat, larangan, harapan, dan hukuman atau
sanksi. Kedisiplinan sebagai alat pendidikan diterapkan dalam
rangka proses pembentukan, pembinaan dan pengembangan sikap
dan tingkah laku yang baik. Selain sebagai alat pendidikan,
kedisiplinan juga berfungsi sebagai alat menyesuaikan diri dalam
lingkungan yang ada. Dalam hal ini kedisiplinan dapat
mengarahkan seseorang untuk menyesuaikan diri terutama dalam
menaati peraturan dan tata tertib yang berlaku di lingkungan itu.
Oleh karena itu disiplin sangat dibutuhkan oleh setiap siswa.
Disiplin menjadi prasyarat bagi pembentukan sikap, perilaku dan
tata tertib dalam kehidupan, yang akan mengantar seorang siswa
sukses dalam belajarnya. Disiplin yang dimiliki oleh siswa akan
membantu siswa itu sendiri dalam tingkah lakunya sehari-hari,
baik di sekolah maupun di rumah. Siswa akan mudah
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapinya.
28
MAN Insan Cendekia menerima sekian banyak siswa yang
berasal dari berbagai latar belakang, baik budaya maupun struktur
sosial. Ada anak yang berangkat dari keluarga yang sudah terbiasa
berdisiplin dan ada pula, biasanya inilah yang paling banyak di
jaman sekarang, yang tidak memiliki kemandirian atau bahkan tak
mampu sama sekali mengurus dirinya sendiri. Segala sesuatunya
serba berantakan. Mulai dari bangun pagi, sholat, merapikan kamar
dan bahkan mengamankan barang miliknya sendiri pun tak
terbiasa. Yang beginilah yang biasanya akan menjadi tugas berat
bagi pembina asrama. Karenanya, beberapa faktor yang dapat
dijadikan kunci keberhasilan penerapan disiplin baik di sekolah
maupun di asrama memang harus diperhatikan benar, supaya apa
yang sudah direncanakan bisa terwujud.
Sekolah merupakan ruang lingkup pendidikan yang di
dalamnya ada proses mendidik, mengajar dan melatih. Sebagai
ruang lingkup pendidikan sekolah menjamin terselenggaranya
proses pendidikan yang baik. Kondisi yang baik bagi proses
tersebut adalah kondisi aman, tenang, tertib dan teratur, saling
menghargai, dan hubungan pergaulan yang baik. Hal tersebut
dapat dicapai dengan merancang peraturan sekolah, yakni
peraturan bagi guru-guru, dan bagi para siswa, serta peraturan-
peraturan lain yang dianggap perlu yang diimplementasikan secara
konsisten dan konsekuen. Apabila kondisi ini terwujud, sekolah
akan menjadi lingkungan kondusif bagi kegiatan dan proses
pendidikan dan potensi dan hasil siswa akan optimal. Disiplin
sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar karena
membantu proses kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan
hubungan sosial.
Disiplin lahir dan berkembang dari sikap seseorang di dalam
sistem nilai budaya yang telah ada di dalam masyarakat. Unsur
pokok yang membentuk disiplin adalah sikap yang telah ada pada
29
diri manusia dan sistem nilai budaya yang ada di dalam
masyarakat. Sikap atau attitude merupakan unsur yang hidup di
dalam jiwa manusia yang harus mampu bereaksi terhadap
lingkungannya, dapat berupa tingkah laku atau pemikiran. Adapun
sistem nilai budaya merupakan bagian dari budaya yang berfungsi
sebagai petunjuk atau pedoman dan penuntun bagi kelakuan
manusia.
Usia siswa pada sekolah menengah berada pada 13 - 18
tahun yakni pada usia yang cenderung memiliki sifat yang
bergejolak dan menantang. Diusia tersebut siswa sedang dalam
masa pencarian jati diri. Menurut (Yudhawati & Haryanto, 2011),
pada usia remaja mulai tumbuh dorongan untuk hidup, kebutuhan
akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Masa
ini adalah masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas
dijunjung dan dipuja. Pada usia ini, siswa mencapai hubungan yang
lebih matang dengan teman sebaya, mencapai peran sosial sebagai
laki-laki atau perempuan, menerima keadaan fisik dan
menggunakannya secara efektif, dan mencapai perilaku yang
bertanggung jawab secara sosial, memperoleh seperangkat nilai
sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam berperilaku.
Masa remaja ini ditandai dengan adanya kecenderungan
identity-identity confusion, sebagai persiapan ke arah kedewasaan
didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang
dimilikinya, dia berusaha membentuk dan memperlihatkan ciri-ciri
khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan
identitas diri ini, pada para remaja sering sekali ekstrim dan
berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya
sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan
identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa
setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok
sebayanya. Di antara kelompok sebaya, mereka mengadakan
30
pembagian peran, dan seringkali merasa patuh terhadap peran
yang diberikan kepada masing-masing anggota.
Karena itu, pada saat siswa berada di sekolah penerapan
disiplin di sekolah sangat menentukan arah kehidupan siswa
selanjutnya. Pada masa ini individu mulai menyadari bahwa ia
merupakan bagian dari lingkungan sosial di mana ia berada dan
bersamaan dengan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam
lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan, norma-norma dan
nilai-nilai sebagai dasar dan patokan dalam berperilaku.
Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan
norma yang berlaku dan nilai yang telah dianutnya yang telah
didapatkannya di sekolah dan lingkungan sekitarnya.
E. Hubungan antara Struktur, Nilai, Norma dan Peran
Sosial
Jika perilaku dalam masyarakat terstruktur, artinya
hubungan antara anggota-anggota masyarakatnya diatur oleh
aturan-aturan dan petunjuk-petunjuk. Nilai, yakni suatu keyakinan
tentang sesuatu yang baik dan yang diinginkan - memberi petunjuk
bagaimana berperilaku dan bagaimana diterjemahkan ke dalam
bentuk aturan dan norma. Norma adalah petunjuk dalam
berperilaku yang terterima pada situasi tertentu. Norma sosial
adalah suatu ukuran atau pandangan tentang sesuatu atau
sejumlah perilaku yang diterima dan disepakati secara umum oleh
warga suatu masyarakat (Lubis, 2015).
Struktur sosial dipahami sebagai suatu bangunan sosial yang
terdiri dari berbagai unsur pembentuk masyarakat. Struktur sosial
merupakan tata aturan relasi yang berpola tertentu sebagaimana
yang diharapkan untuk membimbing interaksi sosial. Konsep
struktur dan fungsi tersebut sangat penting, karena suatu aktifitas
31
akan jelas apabila dibuktikan memiliki fungsi guna memelihara
struktur sosial.
Norma sosial (social norms) sebagai salah satu penyangga
kebudayaan adalah aturan dan ekspektasi tentang bagaimana
anggota kelompok seharusnya (Taylor et al., 2009). Tindakan dan
perilaku manusia senantiasa diatur dan dibatasi oleh norma sosial
yang berlaku agar setiap tindakan anggota kelompok tidak
bertentangan dengan yang lain. Dengan kata lain, norma sosial
adalah sebagai pengendali segala kelakuan manusia dalam
kehidupan bermasyarakat yang biasa juga disebut sebagai
pengawasan sosial.
Struktur sosial yang ada di sekolah tersusun oleh adanya
relasi-relasi antara kepala sekolah dan wakil-wakilnya, guru, staf,
dan siswa, dengan masing-masing fungsinya. Seorang guru yang
setiap hari berinteraksi dengan siswanya, dipandu oleh aturan-
aturan tertentu yang melingkupi hubungan guru dan siswa.
Demikian pula para siswa setiap hari saling berinteraksi yang juga
diatur dan dipandu oleh norma-norma yang telah disepakati
bersama. Interaksi-interaksi tersebut masing-masing telah
mempunyai pola tertentu, dan pola-pola itulah yang membedakan
interaksi antarguru, antarsiswa, antara guru dengan keluarganya
atau teman-teman kerabatnya dan mempunyai pola yang berbeda
berdasarkan ruang dan waktu.
Terlepas dari posisi dan statusnya, beberapa norma berlaku
untuk setiap orang dalam suatu kelompok sosial. Di sekolah, semua
individu harus mematuhi aturan sekolah. Guru diharapkan
mengajar tepat waktu, menyiapkan bahan pelajaran dengan baik,
memberi nilai dan sebagainya. Sementara siswa diharapkan
menyerap pelajaran dengan baik, mencatat pelajaran, mengerjakan
tugas-tugas yang diberikan, mengikuti ujian dan lain-lain. Staf
32
administrasi harus siap melayani dan menyiapkan segala
keperluan akademik sekolah.
Peran sosial (social role) berarti seperangkat norma yang
berlaku untuk orang-orang dengan posisi tertentu, seperti guru
dan siswa (Van Krieken et al., 2006). Individu yang berperilaku
dalam masyarakat adalah seperti seorang aktor dalam memainkan
peran. Di teater, naskah drama akan menentukan tata panggung,
menentukan peran yang akan dimainkan dan menentukan apa
yang mesti dilakukan dan dikatakan oleh aktor. Demikian pula,
kultur memberi banyak aturan dan norma sosial untuk
berperilaku.
Struktur masyarakat dapat dilihat secara keseluruhan
sebagai hubungan sosial yang dipandu oleh norma-norma. Hal
utama masyarakat adalah institusi sosialnya - seperti keluarga,
pendidikan, sistem politik, dan lain-lain – yang merupakan aspek
utama struktur sosial. Suatu institusi dapat dilihat sebagai suatu
struktur yang dibuat dari hubungan antarperan atau antarnorma
(Van Krieken et al., 2006). Seperti yang terlihat dalam institusi
pendidikan yakni sekolah, peran sebagai kepala sekolah, guru, staf,
siswa laki-laki dan perempuan. Masing-masing institusi dapat
dilihat sebagai sistem yang terstruktur dalam lingkungannya atau
suatu subsistem pada sistem sosial yang lebih luas.
Emile Durkheim menekankan bahwa fungsi utama
pendidikan adalah sebagai penyebaran norma-norma dan nilai-
nilai masyarakat (Van Krieken et al., 2006). Beliau mengatakan
bahwa masyarakat tak dapat eksis kecuali pada kondisi semua
anggotanya cukup sama. Tanpa kesamaan esensial, kerja sama, dan
solidaritas sosial, kehidupan sosial takkan mungkin terjadi.
Berkaitan dengan fungsi sekolah, maka kelas merupakan
suatu sistem sosial, demikian argumentasi Parsons. Ruang kelas
33