terdiri dari beberapa unsur yang saling fungsional antara satu
dengan lainnya, yaitu guru, siswa, dan manajemen sekolah. Setiap
aktor memerhatikan status dan peran sebelum mereka bertindak
dan beperilaku. Status aktor, apakah ia sebagai guru, siswa atau
manajemen sekolah, memiliki perilaku yang diharapkan untuk
diperankan.
Pada dasarnya proses-proses pendidikan yang
sesungguhnya adalah interaksi kegiatan yang berlangsung dalam
ruang kelas. Kiprah interaksi di kelas secara khusus berusaha
memantapkan penanaman nilai-nilai dari masyarakat. Namun,
berkaitan dengan pertemuan dan interaksi siswa yang terjadi, di
MAN Insan Cendekia bukan hanya berlangsung di kelas, tapi juga
terjadi di asrama dan di tempat lain dalam lingkungan sekolah
sebagai satu kesatuan kehidupan sosial, maka penanaman nilai-
nilai kebersamaan juga diatur untuk medan sosial yang lebih
bervariasi tersebut. Artinya, sistem sosial juga berjalan di masing-
masing medan sosial tersebut. Untuk itu, tata tertib tidak hanya
dibuat untuk diberlakukan dalam lingkungan madrasah, namun
juga di luar lingkungan madrasah.
Interaksi sosial adalah bentuk umum proses-proses sosial,
dan karena bentuk-bentuk lain dari proses sosial hanya merupakan
bentuk-bentuk khusus dari interaksi, maka interaksi sosial dapat
dinamakan proses sosial itu sendiri. Interaksi sosial adalah kunci
semua kehidupan sosial, tanpa interaksi sosial tak akan mungkin
ada kehidupan bersama. Interaksi sosial merupakan syarat utama
terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan
hubungan yang dinamis, yang menyangkut hubungan
antarindividu, antara kelompok-kelompok manusia, maupun
antara individu dengan kelompok manusia.
Unsur-unsur pembentuk masyarakat dalam struktur sosial
saling berhubungan satu dengan yang lain dan fungsional. Artinya
34
bila terjadi perubahan salah satu unsur, unsur yang lain akan
mengalami perubahan juga. Unsur pembentuk masyarakat adalah
individu yang ada sebagai anggota masyarakat, tempat tinggal atau
suatu lingkungan kawasan yang menjadi tempat di mana
masyarakat itu berada dan juga kebudayaan serta nilai dan norma
yang mengatur kehidupan bersama tersebut.
Tiap unsur tersebut akan membentuk sistem atau pola
hubungan yang menjadi roh dari struktur tersebut sekaligus
menunjukkan dinamika sosial yang terjadi di dalamnya. Hubungan
antar individu menghasilkan pola-pola hubungan yang ada, dalam
bentuk status dan peran masing-masing. Hubungan antara individu
dan kelompok akan memunculkan proses sosialisasi dan juga pola
interaksi yang ada. Sementara hubungan antara manusia dengan
lingkungannya akan menimbulkan kebudayaan baik yang bersifat
material maupun kebudayaan nonmaterial. Pola hubungan-
hubungan yang terjadi dari berbagai unsur kehidupan masyarakat
ini akan menjadi ciri dari masyarakat tersebut sendiri yang
mungkin berbeda dengan masyarakat lainnya.
Demikian halnya dalam lembaga sosial yakni madrasah,
hubungan interaksi antarsiswa, antara guru dan siswa, serta
antarguru dikelola dengan menggunakan norma dan aturan yang
disepakati untuk ditaati untuk menjaga kelangsungan interaksi.
Madrasah sebagai lembaga sosial budaya untuk memperoleh
pendidikan mempunyai aturan-aturan yang harus ditaati. Setiap
individu dalam lingkup sekolah harus berperilaku sesuai dengan
norma dan aturan-aturan tertentu sehingga proses pendidikan
berjalan dengan baik, dan tujuan pendidikan tercapai. Keempat
unsur utama tersebut berperan dalam interaksi sosial, saling
berhubungan membentuk suatu mekanisme interaksi
antarmanusia.
35
F. Pola Interaksi Antarindividu
Teori tentang hubungan antarindividu bermula pada
hubungan primary dyads (Moreno, 2014) atau “pertemuan” dua
individu, yakni suatu hubungan konkrit yang paling mendasar
terhadap semua hubungan antarmanusia. Pertemuan yang
dimaksud di sini adalah pertemuan dua atau lebih individu, tapi
bukan hanya sekedar bertemu muka, namun hidup dan
berpengalaman hidup bersama, dengan membawa peran masing-
masing dengan hak masing-masing. “Pertemuan” dua manusia
tersebut disertai dengan semua kekuatan dan kelemahan masing-
masing, dan saling menyadari tujuan mereka. Seseorang yang
bertemu dengan yang lain dapat membentuk kelompok secara
alami dan memulai kehidupan bermasyarakat.
36
BAB 3
FOKUS DAN PENDEKATAN KAJIAN
MAN Insan Cendekia Gorontalo merupakan tempat penulis
melakukan pengamatan. Sekolah tersebut merupakan sekolah
yang menunjukkan ciri-ciri masyarakat yang multietnis. Siswa dan
gurunya berasal dari berbagai etnis di Indonesia yang hidup dalam
satu lingkungan yang terorganisir. Mereka berasal dari berbagai
daerah, mulai dari pulau Sumatra hingga Papua, yang
menunjukkan keanekaragaman etnis. Keanekaragaman dan
perbedaan etnis yang ada di madrasah ini membentuk suatu
komunitas yang langgeng, tidak ada konflik yang mencuat, seperti
yang selama ini terjadi di sekolah-sekolah lain. Sekolah ini di bawah
naungan Departemen Agama, merupakan sekolah madrasah
unggulan sebagai lokomotif kemajuan madrasah pada umumnya,
dan menjadi sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas, tidak
saja secara regional, nasional bahkan internasional.
Siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo, kelas X5 dan XI IPA 2
tahun ajaran 2010/2011, yang berasal dari berbagai etnis sebagai
sumber kajian utama. Kepala MAN ICG, para wakil pimpinan
Madrasah, guru dan staf, (3) pembina asrama, (4) petugas kantin,
(5) orang tua siswa baik yang anaknya telah selesai, maupun yang
masih belajar.
A. Fokus Kajian Penulisan
Tulisan ini menggambarkan pola pengelolaan dan berbagai
bentuk pola interaksi sosial antarsiswa yang terjadi di MAN Insan
Cendekia Gorontalo sebagai implikasi dari pengelolaan tersebut.
Pengkajian pola pengelolaan memperlihatkan pola interaksi sosial
37
antarsiswa yang terbentuk, mengungkap pengetahuan tentang
proses-proses sosial di kalangan siswa, sehingga tergambarkan
segi dinamis masyarakat dan kebudayaannya. Berbagai perubahan
dan perkembangannya adalah akibat dari interaksi sosial yang
terjadi diantara siswa, baik individu maupun kelompok.
Tulisan ini berfokus pada pembentukan pola interaksi
antarsiswa, yakni interaksi sosial yang terjadi yang merujuk pada
hubungan sosial siswa. Unsur pembentuk interaksi sosial adalah
struktur sosial, tindakan sosial, relasi sosial dan impression
management. Unsur yang dikaji dalam struktur sosial adalah relasi-
relasi sosial. Indikator yang diukur untuk mengetahui struktur
sosial di sini adalah status, peranan atau tindakan, nilai-nilai,
norma, dan institusi sosial. Impression management adalah aturan
dan disiplin yang dibuat sekolah atau nilai atau norma yang berlaku
dalam institusi sosial, di mana struktur sosial tersebut
diberlakukan di sekolah, dan nilai dan norma yang dianut oleh
masing-masing siswa.
Pola pengelolaan terbentuk oleh proses sosial yang berjalan
yang dikendalikan oleh norma dan nilai serta disiplin dan aturan-
aturan yang disepakati. Pengelolaan ini, berupa hubungan sosial
yang terjadi di antara para siswa yang terukur dan terwakili
melalui tipikal-tipikal hubungan ketertarikan (attraction) dan
penolakan (rejection/repulsion).
Attraction adalah suatu tipe atau jenis hubungan yang
berjalan berdasarkan ketertarikan, dapat terjadi hanya dari satu
individu tertarik kepada siswa lain, juga dapat saling tertarik
(mutual attraction) antara dua siswa. Hubungan ini dapat terlihat
dari pilihan-pilihan individu terhadap individu lain berdasarkan
kesukaannya, kesenangannya, dan lain-lain.
38
Rejection/repulsion adalah suatu jenis hubungan interaksi
yang berjalan berdasarkan penolakan. Hubungan ini dapat terjadi
hanya dari satu pihak menolak pihak lain, dapat saling menolak
(mutual rejection/repulsion) antara dua individu, juga dapat terjadi
hanya pada satu individu saja yang menolak individu lain namun
terterima oleh individu tersebut. Hubungan ini dapat dilihat dari
adanya rasa tidak senang, kurang suka, tidak ingin bekerjasama,
dan lain-lain terhadap individu lainnya.
Data pokok yang dikumpulkan dalam penulisan ini terpusat
pada pola interaksi yang terjadi antarsiswa, yaitu melihat proses
interaksi dari Horton antara lain adanya daya tarik, solidaritas,
kemampuan memahami orang lain, pernyataan emosi, persamaan
minat (Salim, 2006), konsistensi sikap dan lain-lain yang
didapatkan melalui sosiometri. Berikutnya, data akan terungkap
melalui proses sosial yang terjadi, yakni melalui: hubungan
keseharian para subjek, penilaian antarsubjek dan jenis-jenis
hubungan yang terjadi di antara mereka, yang mewakili tipikal-
tipikal di atas. Informan utama adalah siswa MAN Insan Cendekia.
Data pendukung didapatkan dari guru, staf, seluruh dokumen
sekolah dan sumber-sumber lain yang berhubungan.
B. Pendekatan Sosiometri
Pendekatan sosiometri digunakan untuk melihat pola
interaksi antarsiswa dengan latar belakang kehidupan keseharian
di lingkungan sekolah dan asrama. Metode ini berguna untuk
melihat konseptualisasi adanya struktur dalam jaringan sosial
yakni dalam komunitas sosial multikultural. Sosiometri digunakan
untuk melihat kehidupan kelompok kecil, terutama berkaitan
dengan peranan individu dalam kelompok dan pengaruh kelompok
terhadap individu. Sosiometri digunakan untuk menemukan,
39
menuliskan dan mengevaluasi status sosial, struktur sosial, dan
perkembangan proses dan gejala-gejala, dengan jalan mengukur
besarnya penerimaan dan penolakan antar individu dalam
kelompok. Struktur pokok yang segera dapat diketahui
berdasarkan sosiometri adalah adanya siswa populer, tokoh dan
siswa yang terasing dalam kelompoknya. Dengan kata lain, metode
ini digunakan untuk mengetahui bagaimana pola interaksi serta
besarnya sikap menerima atau menolak diantara siswa dalam
kelompok sosial di madrasah. Posisi tiap siswa diukur, terutama
pada situasi perubahan yang terjadi dalam kelompok sebagai
akibat dari tumbuhnya berbagai kepentingan.
Angket yang dibuat berisi pertanyaan-pertanyaan tentang
pihak-pihak lain yang disukai dengan menyertakan alasan yang
menyertai pilihan tersebut. Penulis juga memberi sejumlah
pertimbangan rasional berdasarkan komponen-komponen yang
dianggap sebagai turunan konsep-konsep kebudayaan yang
menjadi seting sosial para siswa. Kajian terhadap proses interaksi
sosial ditujukan kepada bentuk perilaku pergaulan siswa.
Pada bagian ini penulis menganalisis interaksi siswa, di
dalam maupun di luar kelas, karena interaksi siswa juga berjalan di
luar teman sekelas, yakni di asrama dan pada kegiatan-kegiatan
lainnya. Penjabarannya berdasarkan struktur tipikal dalam
kelompok, yakni attraction, mutual attraction, rejection, dan mutual
rejection.
Penjabaran hasil analisis matriks sosiometri digambarkan
berdasarkan hasil angket siswa dalam kelompok kecil, yakni kelas.
Analisis ini dimodifikasi dari langkah-langkah yang dilakukan oleh
Moreno, dalam menggambarkan pola hubungan antarsiswa di
sekolah dengan komposisi kultur yang jamak. Dengan cara seperti
ini terlihat hubungan multikultural dikalangan siswa dalam
kelompoknya.
40
Pertama-tama penulis jabarkan matriks yang
memperlihatkan ketertarikan atau penolakan antarsiswa dalam
kelompoknya di kelas. Dari sini terlihat gambaran data yang
selanjutnya dijabarkan dalam sebuah sosiogram hubungan relasi
antarsiswa. Berdasarkan pilihan-pilihan siswa terhadap teman-
teman di kelasnya. Gambaran informasi yang lengkap tentang
jumlah pemilih teman yang terpopuler, gambaran lengkap
spektrum pemilihan antar teman dan kecenderungan setiap
pemilih, terlihat dalam analisis ini. Dari hal tersebut, diketahui
sebaran frekuensi siswa yang memilih teman-temannya secara
umum, sehingga diketahui pemusatan frekuensi sebaran dengan
mempertimbangkan berbagai rasionalisasi tentang pola-pola
penyebaran yang dilakukan. Selanjutnya juga diketahui gambaran
tentang figur-figur yang terpopuler (bintang) yang dapat diambil
sebagai titik awal dalam menganalisis hubungan aktual
antarkelompok sosial yang terjadi di kelas. Dari sini terlihat adanya
hubungan tarik menarik antar sesama teman.
41
BAB 4
MADRASAH ALIYAH NEGERI INSAN CENDEKIA
GORONTALO
Pada bab ini, penulis mendeskripsikan wilayah latar dan
subjek kajian, gambaran tentang MAN Insan Cendekia di mana
interaksi sosial berjalan, dengan masing-masing ruang publiknya
hingga gambaran tentang siswa MAN Insan Cendekia.
A. Profil MAN Insan Cendekia Gorontalo
1. Tinjauan Historis MAN Insan Cendekia
Pada tahun 1996, beberapa pakar pendidikan yang
bergabung dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(BPPT) merintis sekolah bermutu dengan mendirikan SMU Insan
Cendekia di Serpong untuk wilayah Indonesia bagian Barat, dan
setahun berikutnya di Gorontalo untuk wilayah Indonesia bagian
Timur. Sampai saat ini sudah berdiri diberbagai provinsi lainnya di
Indonesia.
Ide dasar pendiriannya adalah (1) adanya kenyataan bahwa
masyarakat di perdesaan selalu tertinggal pendidikannya dengan
masyarakat di perkotaan, (2) pendidikan yang bernafas Islam
selalu kalah bersaing dengan sekolah umum, dan ada anggapan
bahwa sekolah Islam adalah sekolah kedua. Misi lain pendirian
sekolah tersebut adalah berupaya mengangkat masyarakat muslim
yang merupakan penduduk mayoritas di Indonesia, dengan
harapan ketika masyarakat ini tersentuh, maka akan muncul
percepatan dalam pembangunan di Indonesia.
42
Sekolah ini didirikan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT) yang saat itu dipimpin oleh Prof. DR. Ing. B.J
Habibie, yang menginginkan ada sekolah menengah tingkat atas
Islam yang memiliki nilai plus, yakni yang mampu melahirkan
calon pemimpin masa depan yang menguasai ilmu pengetahuan
dan teknologi, mempunyai daya juang tinggi, kreatif, inovatif,
proaktif, dan mempunyai landasan iman dan taqwa yang kuat
sebagai insan-insan pembangunan. Melalui Program Penyetaraan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Science and Technology Equity
Program-STEP), madrasah ini didirikan. Pada saat itu sekolah ini
dikenal dengan istilah sekolah magnet (magnet school), dengan
filosofi bahwa sekolah ini diharapkan mampu menarik sekolah-
sekolah lain di sekitarnya untuk berpacu dalam prestasi, dan lebih
giat memacu diri untuk mempersiapkan anak bangsa menatap
masa depan (Sumber: Profil MAN Insan Cendekia Gorontalo).
2. Visi, Misi, Target dan Strategi MAN ICG
Visi MAN IC Gorontalo mewujudkan sumber daya manusia
yang berkualitas tinggi dalam keimanan dan ketakwaan,
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta mampu
mengaktualisasikannya dalam masyarakat. Misinya adalah (1)
menyiapkan calon pemimpin masa depan yang mempunyai
landasan iman dan takwa yang kuat, menguasai ilmu pengetahuan
dan teknologi, mandiri, kreatif, inovatif, proaktif dan mempunyai
daya juang tinggi, (2) meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
profesional tenaga pendidik dan kependidikan sesuai
perkembangan dunia pendidikan, (3) menjadikan Madrasah Aliyah
Negeri Insan Cendekia Gorontalo sebagai lembaga pendidikan
berstandar internasional yang bertata kelola baik dan mandiri, (4)
mewujudkan MAN Insan Cendekia Gorontalo sebagai Model
Madrasah dalam pengembangan pendidikan bagi lembaga
pendidikan lainnya.
43
MAN ICG menargetkan (1) terciptanya kehidupan religius di
lingkungan madrasah yang memperlihatkan perilaku ikhlas
mandiri, sederhana, ukhuwah, dan kebebasan berkreasi, (2)
diperolehnya prestasi akademik yang baik bagi lulusan MAN IC, (3)
diterimanya lulusan MAN IC di Perguruan Tinggi yang berkualitas
baik di dalam maupun di luar negeri (>90% setiap tahun).
Strategi yang digunakannya dalam mencapai target tersebut
adalah (1) menjaring calon siswa sederajat SMP, diutamakan
lulusan MTs dan pondok pesantren, melalui seleksi nilai rapor
kelas VII, VIII dan IX untuk mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa
Inggris, dan Bahasa Indonesia, dan Surat Keterangan Hasil Ujian
Nasional (SKHUN), (2) seluruh calon siswa mengikuti tes bakat
skolastik dan tes akademik oleh lembaga profesional, (3)
mengembangkan proses pembelajaran yang mengacu pada
penguasaan dasar ilmu pengetahuan dan teknologi “basic
knowledge of science and technology” dan kemampuan memimpin
“leadership life skills” atas dasar asah, asih, asuh. (4) menyiapkan
tenaga kependidikan yang profesional dengan menerapkan “merit
system” atau penghargaan berbasis kinerja pada lembaga standar
unggulan internasional dalam bidang kesejahteraan, (5)
menciptakan suasana kehidupan yang kreatif, inovatif, apresiatif,
sehat, senang, dan religius, (6) mengadakan kerjasama dengan
pihak terkait, baik di dalam maupun di luar negeri, (7) mengadakan
pelatihan secara berkala bagi para guru dan karyawan (8)
memberikan kesempatan kepada guru dan karyawan untuk
mengikuti pendidikan formal S1/S2/S3 baik didalam maupun di
luar negeri, (9) menyediakan perpustakaan yang memadai, (10)
mengembangkan wawasan IPTEK dengan melakukan studi
banding, (11) mengembangkan proses pembelajaran yang inovatif
dan adaptif untuk antisipasi dan partisipasi dalam era otonomi dan
globalisasi (Sumber: Profil MAN Insan Cendekia Gorontalo dan
Standar Acuan Manajemen MAN Insan Cendekia Gorontalo 2008).
44
3. Keadaan Lingkungan, Sarana Prasarana dan Fasilitas MAN
ICG
Berdiri di atas lahan seluas 7,2 Ha, terletak jauh dari pusat
keramaian. Ketika memasuki areal sekolah, pohon-pohon besar
yang tumbuh teratur memperindah suasana. Gedung-gedung yang
tertata rapi, lapangan sepak bola dengan hamparan rumput yang
luas menyambut kedatangan pengunjung. Melalui pintu gerbang,
terdapat pos penjagaan tempat para pengaman sekolah menerima
tamu untuk didaftarkan dan dilaporkan keberadaannya.
Sebagai sekolah yang menjaga kualitas luarannya, segala
fasilitas yang mendukung kearah pelaksanaan pelayanan
pendidikan yang efektif dan mampu memberi pelayanan maksimal
kepada siswa disediakan. Sarana dan prasarana pendukung utama
proses pembelajaran sangat lengkap dan mutakhir.
B. Deskripsi Siswa MAN Insan Cendekia
Pembahasan pada bagian ini memberikan gambaran umum
tentang siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo. Gambaran umum
tersebut dimaksudkan untuk menjadi titik tolak dalam memahami
interaksi yang berjalan.
1. Prinsip dan Pertimbangan Umum Penerimaan Siswa Baru
Penerimaan siswa berdasarkan hasil tes seleksi, dan dibuka
untuk siswa yang berasal dari MTs dan SMP seluruh Indonesia. Hal
ini ditanggapi positif oleh calon-calon siswa, terbukti dari tahun ke
tahun jumlah pelamarnya semakin meningkat, dan penyebaran
calon merata di seluruh Indonesia.
Jumlah siswa baru yang ditampung seluruhnya setiap tahun
adalah 120 siswa dengan 60 siswa putra dan 60 siswa putri, yang
disebar ke dalam 5 kelas. Masing-masing kelas diisi 12 putra dan
45
12 putri untuk di tingkat awal. Alasan penerimaan dengan jumlah
tersebut adalah berdasarkan kapasitas asrama yang juga seimbang.
2. Daerah Asal Siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo
Jumlah siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo saat ini, untuk
wilayah kajian penelitian ini, dari kelas X sampai XII, tahun ajaran
2010/2011 sebanyak 318 siswa. Di kelas X sebanyak 120 siswa, di
kelas XI sebanyak 105 siswa dan di kelas XII sebanyak 93 siswa.
Seiring berjalannya waktu, beberapa siswa pindah ke sekolah lain
dengan alasan tidak mampu berpisah dengan orang tua, atau juga
karena dikeluarkan karena tidak mampu mengikuti sirkulasi
kegiatan yang sangat ketat, dan tuntutan target yang menurut
beberapa orang sangat tinggi. Dengan jumlah 318 tersebut, sebaran
siswa berdasarkan asal sekolah/provinsi sebagai berikut:
Tabel 1. Jumlah siswa MAN ICG dan sebaran asal daerah pada
Pebruari 2011
No Asal Sekolah Jumlah Persentasi
1 Gorontalo 88 28%
23%
2 Jakarta, Tangerang dan Banten 73 15%,
10%,
3 Jawa barat 47 7%,
4,8%,
4 Jawa Timur 32 2,5%
2,1%
5 Sulawesi Selatan 22 1,9%
1,9%
6 Sulawesi Tengah 15 1,9%
7 Sulawesi Utara 8 1,2%
0,7%
8 NTB dan NTT 7
9 Jawa Tengah 6
10 Kalimantan 6
11 Maluku, Papua 6
12 Sumatra 4
13 Bali 2
Jumlah 318 100%
46
3. Kegiatan Sehari-hari Siswa
Kegiatan sehari-hari para siswa telah di atur dalam
kurikulum yang berlaku di madrasah ini; yakni kurikulum
akademik dan tata tertib keasramaan. Para siswa diberi
kesempatan setiap hari Ahad untuk ke luar meninggalkan
lingkungan sekolah untuk berjalan-jalan atau berbelanja, atau
pulang ke rumah bagi yang mempunyai rumah di Gorontalo. Jadwal
untuk ke luar bergantian antara siswa putra dan putri. Bila Ahad ini
putri mendapat giliran, maka Ahad depan siswa putra yang
mendapat jatah keluar. Pada umumnya mereka ke luar
berkelompok. Disini terjadi pemilihan teman berjalan bersama
terlihat. Ada yang ke luar hanya berdua ada juga yang bertiga. Ada
yang ke luar dengan teman sekelas, namun tidak sedikit juga yang
bergabung dengan kelas lain tapi tetap masih dalam satu tingkatan.
Tujuan mereka pada umumnya ke kota, ke mal berbelanja atau ke
rumah orang tua salah satu siswa.
Lokasi sekolah jauh dari perumahan penduduk dan
keramaian dan tidak ada kendaraan umum yang lalu lalang di sana.
Satu-satunya kendaraan umum yang ada adalah bentor (sejenis
kendaraan roda tiga hasil modifikasi dari kendaraan bermotor
roda dua yang bisa memuat 3-4 penumpang). Itupun adanya hanya
pada hari Ahad pagi, saat para siswa mendapat jadwal ke luar.
Beberapa siswa putra mendapat kunjungan orang tua dan
keluarga lainnya. Yang tidak mendapat kunjungan, utamanya siswa
yang berasal dari luar Gorontalo, bergabung dengan teman-
temannya yang mendapat kunjungan. Selain itu, ada yang hanya
tinggal di kamar, atau berjalan-jalan berkelompok di seputar
sekolah, atau bersama-sama berbelanja penganan kecil di koperasi
dan berkumpul di pendopo, di bawah pohon, di teras masjid,
bersenda-gurau sambil menyantap penganan yang dibelinya.
47
Halaman sekolah dijadikan tempat berkumpul keluarga dan
teman-teman. Di depan rumah jabatan wakil kepala madrasah, ada
sebuah pendopo yang kira-kira berukuran 8 x 8 m yang
dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul keluarga. Terlihat
beberapa kelompok keluarga berada di sana. Ada juga keluarga
yang memanfaatkan teras kantor yang agak berteduh dari sengatan
sinar matahari, dan yang lain di bawah pohon. Ada yang membawa
penganan dan di makan bersama dengan anaknya dan beberapa
siswa lain yang bergabung, ada juga yang hanya sekedar duduk-
duduk bercerita, bersenda gurau dengan saudara-saudaranya,
seperti terlihat pada gambar-gambar berikut:
Gambar 1. Pertemuan siswa dan keluarga di pendopo pada
hari Ahad
48
Pada malam hari, setelah shalat Isha, kegiatan siswa
terkonsentrasi di kamar, belajar hingga pukul 22.00.
Gambar 2. Belajar bersama di kamar
Azan subuh berkumandang pada pukul 04.25. Terlihat
dari jauh dari masing-masing asrama, siswa berjalan menuju
masjid, siswa putri lengkap dengan mukenah yang telah
terpasang, dan putra lengkap dengan baju koko, peci dan
sarung. Jalan menuju mesjid untuk masing-masing putra dan
putri terpisah. Sehingga antara putra dan putri tidak bertemu.
Demikian pula pintu masuk masjid untuk putra dan putri
dipisahkan.
Seusai shalat subuh, dilanjutkan dengan kultum hingga
pukul 05.15. Setelah selesai, mereka menuju asrama masing-
masing untuk mandi dan mempersiapkan diri untuk belajar
di kelas. Pada pukul 06.00 sarapan telah siap di kantin dan
bagi yang tidak berpuasa hari itu segera menuju kantin. Siswa
sarapan, namun tidak serempak. Siswa datang sesuai dengan
kesiapan mereka. Pelayanan sarapan hingga pukul 06.30.
Selanjutnya mereka menuju gedung pendidikan, tetap
terpisah antara putra dan putri. Walaupun nantinya akan
bertemu di gedung pendidikan dan di kelas.
49
Pada pukul 06.40 terdengar pengumuman melalui
pengeras suara dalam bahasa Inggris yang mengingatkan
untuk segera ke gedung pendidikan untuk memulai
pembelajaran. Menuju gedung pendidikan, siswa berbaris
berkelompok berdasarkan kelompok kelas mereka namun
tetap terpisah antara putra dan putri. Upacara berlangsung
selama 15 menit hingga pukul 07.00. Pembelajaran pada hari
itu di mulai pada pukul 07.00.
Gambar 3. Siswa putra berjalan berkelompok menuju
gedung pendidikan
Pembelajaran di hari-hari lain, di mulai pada pukul
06.45 dan berakhir pada pukul 15.15. Istirahat selama 15
menit yaitu pada pukul 09.45 hingga pukul 10.00. Beberapa
siswa nampak ke luar dari kelas, untuk hanya sekedar
melepaskan kepenatan sambil mengunyah snack dan
minuman yang mereka bawa, sementara yang lain tetap
tinggal di kelas bersenda gurau, namun tidak berisik. Pukul
10.00 kembali pengumuman dikumandangkan untuk
melanjutkan pelajaran. Pada pukul 12.15 azan dhuhur
berkumandang, pembelajaran dihentikan. Siswa putri
berjalan menuju asrama untuk mengambil alat shalat, dan
50
putra langsung ke masjid. Masing-masing putra dan putri
berjalan terpisah. Setelah shalat dhuhur, siswa berjalan
menuju kantin untuk makan siang hingga pukul 12.45.
Pukul 12.50 pengumuman untuk melanjutkan
pembelajaran dikumandangkan lagi melalui pengeras suara.
Pembelajaran berlangsung hingga pukul 15.15 saat shalat
azar akan dimulai. Mereka segera menuju asrama mengambil
alat shalat dan bergegas ke masjid. Setelah shalat ashar, siswa
kembali ke asrama masing-masing untuk melakukan kegiatan
mandiri.
Gambar 4. Siswa putri menuju masjid untuk shalat
Di asrama, para siswa segera mengganti pakaian, ada
yang langsung mandi, ada juga yang baring-baring di tempat
tidur masing-masing untuk melepaskan penat, dan yang lain
masih ada yang membuka buku mengerjakan tugas-tugas
pelajaran yang masih tersisa sambil mendiskusikannya
dengan teman-teman yang lain, ada juga yang ke luar untuk
berolahraga atau hanya sekedar jalan-jalan, kumpul dengan
teman lain, belanja makanan kecil dan keperluan lainnya di
koperasi.
51
Pukul 17.15 – 17.30 mereka kembali ke asrama untuk
mandi dan persiapan shalat magrib. Sebelum shalat, para
siswa melakukan tahfiz alquran, mengulang hafalan dan
penyetoran hafalan di gedung Islamic center. Bagi yang
berpuasa hari itu, berbuka puasa di kantin lalu ke masjid
untuk shalat berjamaah. Setelah selesai shalat magrib, kultum
dalam bahasa Arab dan Inggris yang dilakukan oleh siswa. Hal
ini dilakukan bergiliran. Sama halnya pada usai shalat subuh
selama 15 menit. Juga dilanjutkan dengan kegiatan
qiraatulkutub (tafsir, nahwu sharaf, fiqh) yaitu kegiatan
membaca Al Quran dengan kajian tafsir, tata bahasa dan
hukum Islam. Kegiatan praktik ibadah tahfiz alquran, bahasa
Arab dan Inggris, muhadasah (percakapan), dan pemberian
mufradat (kosakata) dilakukan sesuai jadwal. Selanjutnya
pada pukul 18.30 siswa ke luar dari masjid untuk makan
malam di kantin.
Gambar 5. Suasana makan malam siswa putra di kantin
Pada kegiatan makan malam, para siswa bebas memilih
untuk duduk di kursi manapun dan tanpa didampingi oleh
guru asuh. Di sini terlihat lagi pola pembentukan interaksi
siswa agar siswa dapat berinteraksi kepada seluruh
52
temannya. Diskusi-diskusi kecil terjadi, tidak terdengar suara
gaduh, lebih banyak yang segera menyelesaikan makan
malamnya dan bergegas kembali ke masjid.
Gambar 6. Suasana makan siang siswa putri di kantin
Setiap meja makan berisi sepuluh kursi untuk siswa dan
satu kursi untuk guru asuh, yang juga dimanfaatkan sebagai
tempat berdiskusi. Pada pertemuan di meja makan ini, setiap
siswa mempunyai kesempatan untuk mendiskusikan
permasalahannya kepada guru asuh untuk dipecahkan.
Biasanya diskusi berlangsung di ruang makan di satu meja
makan besar, pada saat jam makan malam. Biasanya konflik-
konflik kecil antarsiswa diselesaikan di meja makan ini.
Sistem ini dianggap sangat efektif menghindarkan siswa dari
konflik yang lebih besar. Tapi, pada kenyataannya jarang
sekali siswa yang mengemukakan permasalahannya di areal
ini. Peneliti menanyakan ke beberapa siswa, jawabannya
adalah mereka tidak ingin bila permasalahan mereka
diketahui banyak orang. Mereka lebih banyak
membicarakannya secara pribadi dengan guru asuh, pembina
asrama, guru bimbingan konseling, guru kelas mereka, atau
menyelesaikannya sendiri.
53
Setelah makan, siswa mengangkat sendiri peralatan
makannya ke tempat yang telah disiapkan. Membuang
sampah ditempat sampah kemudian menyimpan piring,
sendok dan gelas secara terpisah di tempat yang telah
disediakan. Siswa yang bertugas mencuci piring, sebanyak 10
siswa, segera ke belakang, ke tempat cuci piring untuk
menyelesaikan tugasnya, dibantu oleh petugas dapur. Yang
lain segera kembali ke masjid untuk melaksanakan kegiatan
qiraatulkutub (tafsir, nahwu sharaf, fiqh) kegiatan praktik
ibadah, tahfiz alquran (pengulangan/setoran), kegiatan
bahasa (Arabic and English), muhadasah, dan pemberian
mufradat.
Setiap malam siswa putra dan putri secara bergantian
mendapat giliran mencuci piring. Jadwal mencuci piring telah
dibagikan dan ditempelkan di dinding dapur. Kelompok
mencuci ini tediri dari kelas X, XI dan XII. Pengelompokan ini
guna membina hubungan interaksi antara yunior dan senior.
Gambar 7. Kegiatan mencuci piring siswa putri pada malam
hari
54
Selama kegiatan mencuci ini, tidak terdengar suara
mereka bercakap-cakap atau bercerita. Mereka mencuci
piring hingga azan Isha berkumandang, selesai atau tidak,
mereka segera meninggalkan cuciannya dan segera menuju
masjid untuk shalat Isha berjamaah. Selanjutnya cucian
diselesaikan oleh petugas dapur. Setelah shalat Isha, pukul
19.30 para siswa kembali ke asrama untuk belajar mandiri
dan istirahat malam.
55
BAB 5
POLA PENGELOLAAN SISWA MAN ICG
Pada bab ini, mengungkap pola pengelolaan siswa di MAN
ICG yang berimbas pada berbagai fenomena interaksi simbolik
antarsiswanya yang membentuk pola hubungan. Pola pengelolaan
MAN ICG yang merupakan bagian memengaruhi interaksi
komunitas sekolah, yakni instrumen input yang terjadi dalam
proses pengelolaan MAN ICG, termasuk kurikulum yang
diberlakukan di MAN ICG, manajemen keasramaan, kurikulum
kegiatan kesiswaan, dan tata tertib yang mengatur kehidupan
keseharian para siswa. Penyelenggaraan dan pengelolaan MAN ICG
sesuai dengan amanat pemerintah yang tertera dalam Undang-
Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
yang menuntut kesamaan eksistensi antara sekolah umum dangan
madrasah.
A. Sistem Manajemen dan Organisasi
1. Struktur Penyelenggaraan dan Pengelolaan Madrasah
a. Penyelenggara
Penyelenggara MAN IC adalah Departemen Agama RI dalam
hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Implementasi
penyelenggaraan MAN IC selanjutnya dilaksanakan oleh Direktorat
Pendidikan Madrasah dan Kanwil Depag sesuai batas kewenangan
yang melekat pada masing-masing. Direktorat Pendidikan
Madrasah melaksanakan tugas Direktorat Jenderal Pendidikan
Islam dalam menyelenggarakan MAN IC khususnya pada bidang
56
penyediaan anggaran, pengelolaan mutu, dan kebijakan umum
terkait dengan penetapan MAN IC sebagai Madrasah Program
Khusus Berstandar Internasional.
Selanjutnya fungsi penyelenggara adalah sebagai (1)
pembina dan pengembang kurikulum, (2) pembina dan
pengembang sarana dan prasarana pendidikan, (3) pembina dan
pengelola tenaga pendidik dan kependidikan, tenaga teknis, dan
administrasi umum. Struktur organisasi MAN Insan Cendekia
Gorontalo untuk tahun 2012 tersusun sebagai berikut:
Diagram 1. Struktur Organisasi MAN ICG 2012
Pengelola Madrasah adalah Kepala Madrasah bersama staf.
Pengelolaan Madrasah dilaksanakan oleh mereka dan dalam
penetapan kebijakan operasional umum bermitra dengan Komite
Madrasah. Struktur Wakil Kepala Madrasah yang berjumlah empat
orang masing-masing (1) akademik, (2) kesiswaan dan
keasramaan, (3) humas dan pengembangan SDM, dan (4) sarana
dan prasarana.
Wakil Kepala Bidang Akademik mambawahi institusi
penelitian dan pengembangan (litbang), laboratorium dan
perpustakaan dan mempunyai tugas membantu Kepala Madrasah
57
di bidang kependidikan. Wakil Kepala Bidang Kesiswaan dan
Keasramaan mempunyai tugas membantu Kepala Madrasah
menyusun program pembinaan kesiswaan. Selanjutnya di bidang
keasramaan, wakil kepala madrasah bidang keasramaan
membantu Kepala Madrasah dalam menyusun program
pembinaan keimanan dan ketakwaan siswa, menyusun program
pembinaan disiplin dalam kehidupan berasrama.
Wakil Kepala Madrasah bidang Humas dan Peningkatan
SDM, membantu Kepala Madrasah melakukan komunikasi dengan
orang tua, lembaga terkait, dunia usaha, maupun alumni dalam
membantu keberadaan, perkembangan prestasi dan menyerap
masukan untuk pengembangan madrasah. Selain itu ia juga
mengatur dan melaksanakan hubungan dengan orang tua siswa,
membina hubungan kerjasama dengan komite madrasah,
menerima dan menjaring informasi yang penting dari luar dan
menyebarluaskan secara efektif kepada yang berkepentingan,
membina program komunikasi antar bagian dalam lingkungan
madrasah, dan menyusun program komunikasi dengan pihak luar.
Wakil Kepala Bidang Sarana Prasarana, membantu Kepala
Madrasah dalam menyusun rencana kebutuhan sarana prasarana
dan kehumasan, melaksanakan pengadaan sarana dan prasarana
madrasah, menyusun laporan pemanfaatan sarana prasarana
secara berkala, dan menyusun laporan pelaksanaan kegiatan
sarana prasarana secara berkala.
1) Ketenagaan
a) Guru mata pelajaran. MAN IC menetapkan standar minimal
guru yang akan mengajar. Pengukuran standar guru dimulai
dengan rekrutmen yang bermutu yang menggunakan
standar mutu sumber daya manusia MAN IC dengan
mengikuti tiga macam tes yaitu (1) tes akademik, (2) tes
psikologi, dan (3) microteaching.
58
b) Guru bimbingan penyuluhan dan bimbingan karir. Guru
Bimbingan Penyuluhan dan Bimbingan Karir membantu
Kepala Madrasah dalam menyusun program dan
melaksanakan bimbingan penyuluhan atau bimbingan karir.
Bimbingan dan konseling di MAN ICG adalah pelayanan
bantuan untuk siswa, baik secara perorangan maupun
kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal
dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan
belajar dan bimbingan karir melalui berbagai jenis layanan
dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang
berlaku.
c) Kepala tata usaha. Kepala tata usaha madrasah mempunyai
tugas melaksanakan ketatausahaan madrasah dan
bertanggung jawab kepada Kepala Madrasah.
2. Sistem Pembelajaran
Secara umum, sistem pembelajaran terdiri atas beberapa
model yakni: (1) Moving Class, yang merupakan pola pembelajaran
dinamis yang bertujuan untuk lebih membangun nuansa/atmosfir
akademik siswa dengan tuntutan materi dan kompetensi yang
harus dimiliki oleh siswa, dan berlaku untuk mata pelajaran yang
memerlukan tempat, bahan, atau suasana khusus, (2) Praktik
lapangan, merupakan pelaksanaan pembelajaran di alam, (3)
Pelayanan team teaching terhadap siswa; merupakan pelayanan
pembelajaran secara tim dari setiap rumpun atau kelompok mata
pelajaran, 4) sistem kolaborasi mata pelajaran, dilaksanakan
bersama antarbeberapa mata pelajaran.
3. Disain Silabus Pembelajaran
Untuk mencapai kualitas sistem pembelajaran, disain silabus
mengacu pada KTSP Depag dan pendalaman materinya mengacu
pada Cambridge kurikulum, khususnya mata pelajaran
59
matematika, fisika, kimia dan biologi. Setiap guru bidang studi
bersama dengan tim teachingnya mengembangkan silabus dan
materi pembelajaran.
4. Jadwal Pembelajaran
Berbeda dengan jadwal kegiatan belajar siswa pada sekolah
umum lainnya yang dimulai pada pukul 07.15 dan berakhir pada
pukul 14.00, jadwal kegiatan belajar siswa MAN ICG dimulai dari
pukul 06.45 dan berakhir pada pukul 15.15. Jadwal kegiatan belajar
mereka dibagi menjadi dua kelompok, yakni jadwal kegiatan
sekolah dan jadwal kegiatan asrama.
5. Sistem Penilaian
Pengembangan sistem penilaian didasarkan pada visi dan
misi, serta profil kompetensi lulusan MAN ICG. Hal ini dimaksudkan
untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran dengan
keadaan dan kebutuhan MAN ICG. Pelaksanaan penilaian
berhubungan dengan setiap bagian proses pendidikan, yang
mencakup semua proses belajar dan mengajar. Kegiatan penilaian
tidak terbatas pada karakteristik siswa saja, tetapi juga mencakup
karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan
administrasi sekolah.
Sistem penilaian memperhatikan prinsip-prinsip penilaian
yakni menilai semua kompetensi dasar, yang meliputi ranah
kognitif, afektif, dan psikomotor kriteria ketuntasan minimal dari
setiap bidang studi, dan jenis tagihan yang harus dikerjakan siswa
berupa portofolio.
Aspek afektif diukur melalui pengamatan dan kuesioner.
Kompetensi lulusan berdasar pada keimanan dan ketaqwaan
kepada Allah SWT, nilai-nilai etika dan estetika, dan nilai-nilai
demokrasi, toleransi, dan humaniora. Pada aspel kognitif, siswa
diharapkan menguasai ilmu, teknologi dan kemampuan akademik
60
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hasil
penilaian ditindaklanjuti melalui program remedial atau program
pengayaan. Pada aspek psikomotor, siswa diharapkan memiliki
keterampilan berkomunikasi (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris
dan Bahasa Arab), memiliki kecakapan hidup, dan mampu
beradaptasi dengan lingkungan sosial, budaya dan alam, baik lokal,
regional maupun global. Selain itu, siswa juga diharapkan sehat
jasmani dan rohani, memiliki kemampuan kewirausahaan
(entrepreneurship) yang bermanfaat untuk melaksanakan
tugas/kegiatan sehari-hari, terutama untuk membantu
tugas/aktivitas belajar.
Jenis ujian adalah berbagai tagihan, seperti ulangan atau
tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa yang merupakan
tagihan yang dituntut kepada siswa. Jenis-jenis tagihan tersebut
ialah: (1) ulangan semester/tes blok, dilakukan dengan
menggabungkan beberapa kompetensi dasar dalam satu waktu, (2)
kuis, isiam atau jawaban singkat yang menanyakan hal-hal yang
prinsip, (3) ulangan harian, dilakukan siswa pada akhir
pembelajaran kompetensi tertentu, (4) tugas individu, diberikan di
waktu-waktu tertentu dalam berbagai bentuk (klipping, paper
dsb.), (5) tugas kelompok, digunakan untuk menilai kometensi
kerja kelompok, (6) laporan kerja praktik, dilakukan pada mata
pelajaran yang membutuhkan praktikum dengan mengamati suatu
gejala dan dilaporkan, (7) portofolio, merupakan folder atau
dokumen yang berisi contoh hasil karyaa siswa, yang menurut
siswa berarti, merupakan karya terbaik, favorit, sangat sulit
dikerjakan tapi berhasil, dan memiliki nilai kenangan, penilaian
dengan metode pengumpulan informasi atau data secara
sistematik, atas hasil pekerjaan seseorang.
Laporan perkembangan belajar (profil belajar) siswa
dilaporkan secara periodik (tiap bulan, tiap triwulan, tiap
61
semester) kepada orang tua siswa. Guru menelaah semua hasil
pencapaian belajar siswa di akhir semester. Nilai rapor adalah
rangkuman semua nilai hasil tagihan (ujian blok, tugas-tugas,
ulangan harian, dan nilai-nilai harian lainnya) selama semester
berlangsung. Standar kenaikan kelas minimal rata-rata 65 yang
merupakan nilai murni siswa yang diperoleh dengan kejujuran
sesuai dengan ketentuan dalam tata tertib akademik. Dalam tata
tertib MAN ICG pasal 6 dinyatakan apabila tidak jujur selama
ulangan, akan diberi nilai nol). Di sini MAN ICG melaksanakan
komitmennya untuk menghasilkan manusia yang bermutu.
Menurut (Tilaar, 2003) bahwa salah satu karakteristik manusia
bermutu adalah manusia berwatak yaitu manusia yang jujur, dapat
dipercaya dan suka bekerja keras.
Hal ini juga terlihat pada saat ulangan harian, para siswa
tidak diawasi oleh guru atau petugas seperti di sekolah lain bila
sedang melaksanakan ulangan. Keadaan kelas tenang, semua siswa
sibuk mengerjakan kertas ulangannya, tanpa ada yang menoleh
kiri-kanan, hingga mereka selesai mengerjakannya.
Konsekuensi dari proses pembelajaran tuntas adalah hanya
siswa yang sudah berkompeten yang berhak untuk naik kelas.
Penentuan kenaikan kelas dan penentuan jurusan ditetapkan
berdasarkan dua hasil tes, yakni psikotes yang dilaksanakan oleh
BPPT dan tes sumatif.
Siswa dinyatakan naik kelas (kelas X ke kelas XI) bila
memenuhi kriteria (1) maksimal memiliki 3 (tiga) mata pelajaran
yang belum kompeten, (2) tidak ada nilai ≤ 40, (3) rata-rata nilai
seluruh mata pelajaran ≥ nilai kriteria minimal setiap mata
pelajaran ketuntasan kompetensi minimum terendah (60.00);
yaitu dari nilai ketuntasan minimum mata pelajaran yang
ditetapkan). Demikian pula untuk kenaikan kelas XI ke kelas XII,
62
dengan tambahan kriteria: tidak ada mata pelajaran ciri khas
program studi yang tidak kompeten.
Penentuan program studi dimulai di kelas XI semester ganjil
dengan berdsarkan pilihan siswa (minat), kemampuan akademik,
dan potensi siswa. Untuk masing-masing program studi, IPA dan
IPS, tidak terdapat mata pelajaran yang tidak kompeten dari 4
(empat) mata pelajaran ciri utama masing-masing program studi
dan rata-rata nilai mata pelajaran ciri khas tersebut lebih dari
standar kompetensi minimal mata pelajaran pada program
tersebut.
6. Program Pengembangan Kurikulum
Program bimbingan akademik didesain sedemikian rupa
agar mampu mengoptimalkan tingkat pengertian dan pemahaman.
Bentuknya berupa responsi, turorial, bimbingan khusus/intensif
dan klinik mata pelajaran.
Program responsi merupakan penguatan konsep dan
pengayaan materi pelajaran tertentu yang terintegrasi dalam jam
kurikuler yang bertujuan untuk meningkatkan penguasaan konsep
dan melatih keterampilan siswa memecahkan masalah. Jam reguler
responsi ditempatkan setelah jam pelajaran pokok, yakni setelah
shalat dzuhur. Program tutorial merupakan kegiatan
pembimbingan khusus bagi siswa yang belum mencapai standar
ketentuan (masih lemah), dan juga diperuntukkan bagi siswa yang
mencapai nilai tinggi untuk mengikuti olimpiade. Program ini
dilaksanakan di asrama siswa atau guru atau di rumah dinas guru.
Berikutnya, program intensif yang khusus diberikan kepada kelas
XII yang bertujuan mempersiapkan siswa mengikuti ujian akhir
nasional dan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi berkualitas
di dalam dan luar negeri. Klinik mata pelajaran diberikan kepada
siswa untuk memperbaiki hasil pembelajarannya baik di kelas
63
dalam jam pelajaran sekolah maupun di luar jam sekolah, yaitu
sore hari.
Untuk memberikan pengalaman menulis karya ilmiah bagi
siswa, muatan lokal diprogramkan, dengan dua kegiatan yakni
penulisan karya ilmiah remaja (KIR) dan penulisan buku
sederhana. Program muatan lokal ini dapat memberikan
pengalaman awal dalam menulis dan meneliti sehingga siswa telah
mempunyai budaya menulis dan meneliti. Hasil menulis siswa
dipublikasikan pada pameran yang diorganisir oleh para siswa
sendiri setiap tahun. Ada dua hal penting yang sangat menunjang
kualitas lulusan dari kegiatan ini, yakni siswa telah terampil
menulis karya ilmiah yang kompetitif dan muncul nilai wirausaha
siswa dalam mengembangkan kreativitas melalui pameran buku
yang mereka kelola. Telah banyak karya siswa yang dijadikan
koleksi perpustakaan MAN ICG.
7. Bimbingan dan Konseling (BK)
BK adalah pelayanan bantuan untuk siswa, baik secara
perorangan maupun kelompok, agar mandiri dan berkembang
secara optimal seperti bimbingan pribadi, sosial, bimbingan
belajar, bimbingan karier. Tujuan pembimbingan ini adalah
membentuk siswa memiliki sikap religi, mandiri, mau belajar,
mampu berkomunikasi, bersosialisasi serta memiliki kepatuhan
dinamis terhadap norma dan aturan, mampu memahami
lingkungan asrama dan sekolah, memiliki kompetensi untuk
mengaktualisasikan potensi, mampu merencanakan karier yang
prospektif.
Target pembimbingan ini dibedakan di setiap tingkatannya.
Pada kelas X, target yang diharapkan mencapai tingkat kematangan
dalam keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, bersikap
mandiri secara emosional, intelektual dan sosial, berkomunikasi
64
efektif dengan teman dan berapresiasi secara produktif, dan
bersikap positif terhadap aturan.
Target untuk kelas XI, mencapai tingkat kematangan dalam
(a) beriman kepada Allah SWT, (b) kemandirian dalam aspek yang
lebih luas, (c) memahami lingkungan asrama dan kehidupan sosial
lainnya, (d) berkomunikasi dengan sistem di luar sekolah, (e)
melaksanakan aturan dan norma dengan pemahaman.
Target untuk kelas XII mencapai (a) tingkat kematangan
dalam beriman kepada Allah SWT, (b) kematangan dalam pilihan
karier yang prospektif, (c) kematangan dalam sistem etika dan
nilai, (d) kematangan dalam kesiapan belajar, (e) mampu
menetapkan pilihan sekolah lanjutan.
8. Pola Pembinaan Guru-Siswa (Guru Asuh)
Guru asuh adalah juga guru mata pelajaran yang sudah
mengambil sebagian tugas guru bimbingan konseling. Dengan
demikian guru asuh dan guru BK saling membantu dan melengkapi.
Pola pembinaan guru kepada siswa dilatarbelakangi oleh (a)
beragamnya asal siswa yang sangat membutuhkan penyetaraan
penguasaan akademik, sebagaimana yang diperlukan dalam
persiapan melanjutkan ke perguruan tinggi dan pengetahuan
agama yang benar sebagai bekal hidup keberagamaannya, (b)
Rasio guru-siswa di MAN IC adalah 1 : 10, sehingga sangat
memungkinkan dilakukan bimbingan secara individual, (c) siswa
Insan Cendekia tinggal di asrama sangat sulit berkomunikasi
dengan orang tua sehingga sosok pengganti orang tua sangat
dibutuhkan keberadaannya mengingat sempitnya waktu mereka
untuk saling bertemu dan berkomunikasi.
Pengertian pola pembinaan tersebut adalah pada
hakekatnya bimbingan guru kepada siswa tertentu (“guru asuh”
dan “siswa asuh”) merupakan hubungan “orang tua” dan “anak”
65
yang diharapkan dapat “mengganti” peran orang tuanya selama
siswa dan guru tinggal bersama di kampus Insan Cendekia.
Hubungan ini tidak sekedar hubungan orang tua dan anak, yang
hanya bertugas memberi nasehat dan mengawasi perilaku siswa,
tetapi hubungan tersebut lebih mendekati pada hubungan
“counselor-counselee”. Dengan demikian hubungan guru asuh dan
siswa asuh diharapkan dapat menciptakan suasana akrab dan
keterbukaan.
Tujuan pola pembinaan ini adalah siswa akan memahami diri
dalam arti mengetahui kekurangan dan kelebihannya (minat, bakat
dan kemampuannya), mengatasi sendiri kesulitan yang dialami,
dan merencanakan masa depannya sesuai minat, bakat dan
kemampuannya. Dengan demikian guru mata pelajaran yang
menjadi guru asuh tidak hanya sekedar membantu siswa asuh
dalam menemukan identitas dan konsep dirinya, namun bagi guru
iu sendiri, akan timbul rasa memiliki dan rasa tanggung jawab
terhadap kehidupan kampus Insan Cendekia.
Jumlah siswa asuh dalam satu kelompok asuh adalah
maksimal 10 siswa, yang terdiri dari kelas X, XI dan XII.
Pengelompokan diatur sedemikian rupa sehingga para anggotanya
bukan berasal dari kelas daerah asal yang sama. Dari sini terlihat
sistem pengelolaan yang mengarah kepada pembentukan sikap
multikultural.
9. Program Laboratorium
Program laboratorium merupakan program kokurikuler
atau pendukung utama keberhasilan proses pembelajaran intra
kurikuler yang memiliki laboratorium. MAN ICG memiliki
laboratorium fisika, kimia, biologi, bahasa, komputer, ITC dan Self
Access.
66
10. Perpustakaan
Perpustakaan MAN ICG dikelola dengan satu sistem
manajemen terpusat seperti yang umum digunakan oleh
perpustakaan perguruan tinggi di negara-negara maju. Seluruh
kegiatan administrasi dan layanan pengguna didukung dengan
teknologi komputer dan informasi dengan sistem online.
Perpustakaan MAN ICG melakukan kajian untuk mengetahui
apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan para pengguna (user
need) juga meluas kepada kajian perilaku (user behaviour). Unit
perpustakaan membuat 4 fokus kajian perilaku pengguna, yaitu:
perilaku informasi, perilaku penemuan informasi, perilaku
pencarian informasi, dan perilaku penggunaan informasi. Di sini
proses interaksi berjalan dalam medan interaksi perpustakaan.
Namun interaksi antar siswa tidak terlalu tampak. Pada umumnya
siswa berada di perpustakaan hanya membaca dan mengerjakan
tugas masing-masing.
B. Pembinaan Kesiswaan
Pembinaan kesiswaan adalah usaha, tindakan, atau kegiatan
yang diselenggarakan oleh sekolah secara efektif dan efisien untuk
mengoptimalkan potensi siswa agar tumbuh dan berkembang
secara utuh dalam berbagai aspek kehidupannya, baik di sekolah
maupun di luar sekolah sehingga terbentuk individu siswa yang
sesuai dengan tujuan pendidikan di MAN IC pada khususnya dan
tujuan pendidikan nasional pada umumnya. Sistem pembinaan
kesiswaan MAN IC adalah model pembinaan kesiswaan yang
tertata secara formal dan didesain secara kelembagaan sehingga
segala bentuk kebijakan baik dalam tahap perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, maupun pengevaluasian selalu
dirumuskan secara kelembagaan dan resmi di bawah
pertanggungjawaban Kelapa Madrasah.
67
Tujuan umum pembinaan kesiswaan yaitu untuk menunjang
pencapaian tujuan pendidikan MAN IC pada umumya dan
menunjang keberhasilan belajar siswa pada khususnya. Tujuan
khusus pembinaan kesiswaan yaitu (1) memantapkan kemampuan
intelektual siswa dalam menunjang keberhasilan mengikuti
program kurikulum, (2) menumbuhkembangkan sikap
kepemimpinan dan kemampuan berorganisasi siswa untuk
membina kehidupan bersama guna meningkatkan ketahanan
sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan, (3) menumbuhkan
sikap positif pada diri siswa untuk ikut serta dalam kegiatan
pendidikan dan pengajaran di lingkungan pendidikan guna
meningkatkan pengamalan wawasan wiyata mandala yang telah
dimiliki siswa, (4) memperluas wawasan keilmuan pada siswa, (5)
meningkatkan ketrampilan berbahasa siswa, (6) meningkatkan
apresiasi seni dan budaya, (7) meningkatkan kesegaran jasmani
dan rohani siswa, (8) memperluas wawasan keagamaan, membina
sikap beragama, serta meningkatkan keterampilan dakwah
keagamaan, dan (9) membina kehidupan siswa di lingkungan
pendidikan MAN IC.
Jalur penegakan disiplin bertujuan untuk memberi
pembinaan dan penanganan masalah yang berhubungan dengan
kedisiplinan siswa baik di kelas maupun di asrama. Jalur ini
berbentuk sosialisasi Tata Tertib Siswa, pembinaan kedisiplinan,
penanganan terhadap pelanggaran tata tertib, kontrol terhadap
kedisiplinan siswa antara lain dengan merazia barang-barang yang
dilarang. Sasarannya adalah seluruh siswa MAN IC.
Kedua, jalur latihan kepemimpinan dan berorganisasi.
Pembinaan kesiswaan di jalur ini memberi bekal pengetahuan
maupun pengalaman kepada siswa untuk memimpin dirinya,
orang lain dan lingkungannya dalam mengikuti kegiatan sekolah
dan kehidupan sosial sesuai dengan ketentuan yang telah
68
ditetapkan untuk mencapai keberhasilan pendidikan siswa di
sekolah, di masjid, di asrama, atau secara umum untuk menunjang
tercapainya tujuan pendidikan di MAN IC. Tujuan jalur ini adalah
memberi bekal pengetahuan dan pengalaman kepada siswa untuk
memimpin dirinya, orang lain dan lingkungannya serta
berorganisasi dalam rangka mengoptimalkan peran sertanya
dalam memperlancar pelaksanaan program MAN IC. Sasarannya
adalah kepada seluruh siswa MAN IC. Salah satu kegiatan yang
dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah latihan dasar
kepemimpinan yang diperuntukkan bagi seluruh pengurus OSIS
dan pengurus inti majelis permusyawaratan kelas (MPK).
Ketiga, jalur kegiatan pelajar. Pembinaan ini berusaha
memberi penyaluran minat, bakat, perluasan wawasan, serta
kemantapan iman dan taqwa melalui bentuk-bentuk kegiatan yang
direncanakan dan dilaksanakan di luar program kurikuler untuk
menunjang pencapaian tujuan pendidikan MAN IC. Tujuan jalur ini
adalah memperluas wawasan siswa tentang keilmuan dan
kemampuan berbahasa, membentuk pribadi yang beriman dan
bertaqwa dengan memiliki ciri-ciri kepribadian muslim yang
berwawasan ke Islaman dan keterampilan berdakwah, dan
menyalurkan minat dan bakat siswa, meningkatkan daya tahan
tubuh dan prestasi, serta daya kreasi dan menumbuhkan suasana
refresing melalui kegiatan seni dan olehraga agar dapat
mendukung keberhasilan belajarnya. Sasaran pembinaan adalah
seluruh siswa kelas X dan XI. Jenis kegiatan pembinaan adalah
muhadharah, paskibra, English club, Karya Ilmiah Remaja, hadrah,
sepakbola, basket, Mekatronika, PMR, band, jurnalistik, teater dan
lain-lain. Wujud hasil kegiatan ini adalah beberapa siswa telah
mahir dalam berda’wah, setiap shalat 5 waktu dipimpin oleh siswa,
pada kegiatan penghafalan Al Qu’ran, kelompok siswa dipimpin
dan dibantu oleh salah satu senior yang sudah mahir.
69
Kegiatan-kegiatan tersebut di bawah koordinasi Unit
Kegiatan Siswa (UKS) dimaksudkan agar siswa dapat menyalurkan
bakat dan hobinya di sekolah. Kegiatan ini di bawah pengawasan
wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan UKS dengan dibantu
pembina masing-masing UKS dan pelatih UKS. Kegiatan ini
dilakukan seminggu sekali untuk tiap UKS. Jumlah dan jenis UKS
tergantung minat siswa. Kegiatan ini dilaksanakan di luar jam
kurikuler, yakni pada sore hari pukul 16.00 sampai pukul 17.30
sesuai jadwal dan hari yang ditetapkan. Pada hari Sabtu dimulai
pukul 13.00 sampai pukul 17.30. pelaksanaannya di lingkungan
sekolah dan asrama, seperti di lapangan sepakbola, lapangan
basket, gedung serba guna, ruang musik, dll.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyalurkan bakat dan
hobi siswa di pelbagai kegiatan, memfasilitasi dan memvariasikan
kegiatan siswa dengan kegiatan yang positif dan terarah. Juga
memberikan kegiatan edukatif yang rekreatif dan aplikatif,
sehingga siswa dapat menerapkan teori-teori/pengalaman di kelas
dengan senang.
Keempat, jalur pembinaan peningkatan kemampuan
intelektual dan wawasan keilmuan. Jalur ini adalah pembinaan
kesiswaan yang berusaha menggali potensi akademik siswa
terutama pada bidang sains melalui pembinaan secara terprogram
dan bekerjasama dengan pihak-pihak yang berkompeten di
bidangnya, untuk menunjang pencapaian tujuan pendidikan MAN
IC.
Latar belakang pendidikan siswa MAN ICG berbeda-beda.
Sekitar 80% siswa berasal dari Madrasah Tsanawiyah dan sisanya
berasal dari sekolah umum yang tersebar di Indonesia. Agar tidak
terjadi perbedaan yang mendasar, maka pihak madrasah
mengadakan matrikulasi pada mata pelajaran matematika, fisika,
kimia, biologi selama satu bulan terhadap siswa baru. Program ini
70
dilaksanakan untuk menyamakan konsep-konsep dasar dan
pengenalan pemakaian alat laboratorium juga untuk memetakan
kemampuan awal siswa.
Pada awalnya siswa dites entry behavior mereka, kemudian
dilaksanakan matrikulasi sebagai treatment selama sebulan.
Setelah selesai, di tes lagi untuk mengetahui kemampuan siswa
setelah treatment dan akhirnya hasilnya digunakan untuk
menentukan kelas. Kelas X1 dan X2 diatur menurut urutan ranking,
dan kelas X3 – X5 diacak.
Desain di atas mengindikasikan bahwa stratifikasi sosial
telah mulai dibentuk. Pengelompokan yang dilakukan oleh pihak
sekolah mengarah pada strata kemampuan/prestasi siswa. Kelas
X1 dan X2 adalah para siswa yang berpotensi ke jurusan IPA. Di sini
siswa dibentuk dengan mutu pengelolaan dan sistem yang sangat
bagus yang dijalankan oleh lembaga beserta pelaksana yang
berkualitas di lapangan. Sistem ini telah distandarisasi sehingga
dijadikan acuan pengembangan ke depan dan lebih mudah
diterapkan pada lembaga lainnya.
Sebelumnya, siswa yang terjaring adalah siswa-siswa yang
unggul di sekolahnya dengan ketentuan yang telah ditetapkan,
seperti yang tertera pada awal laporan penelitian ini, kemudian
diseleksi lagi dengan berbagai macam tes dengan penjaringan
secara nasional. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa siswa
yang tertampung di MAN ICG adalah pada umumnya para siswa
yang memang berada pada tingkat prestasi yang unggul dan
pengetahuan agama yang cukup.
Pihak internal sekolah berusaha mencapai pembelajaran
yang berkualitas sehingga pihak eksternal seperti orang tua
percaya terhadap jaminan kualitas pelayanan terhadap siswa, baik
pelayanan dengan guru yang berkualitas, pelayanan sarana dan
71
prasarana yang lengkap, serta pelayanan dan pembimbingan yang
baik kepada siswa sehingga prestasi siswa dapat dimaksimalkan.
Ketercapaian multiple intelegency di MAN ICG bisa terwujud
dengan sempurna karena para siswa yang direkrut adalah calon
siswa pilihan. Secara alamiah mereka mempunyai talenta dan
mendapatkan karunia dari Allah SWT berupa potensi kecerdasan
di atas, dan lagi, mereka berada dalam lingkungan sistem
pendidikan yang sangat menjanjikan, yakni yang memadukan tiga
kecerdasan sekaligus: intelektual, emosional, dan spiritual.
Dari entry behaviour siswa baru yang demikian ini, dan
kurikulum dengan pelaksanaan yang strategis, kualitas guru yang
profesional, ditambah lagi sarana dan prasarana yang sangat
memadai dan sesuai dengan amanat UU nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menuntut kesamaan
eksistensi antara sekolah dan madrasah, maka madrasah ini
merupakan madrasah unggulan yang bertaraf internasional.
Dengan adanya kehidupan berasrama di MAN ICG,
memberikan nuansa baru bagi keberlangsungan kehidupan para
siswa baru. Keberlangsungan ini secara langsung memberi warna
baru bagi kehidupan para siswa terlebih lagi dengan tingkat
heterogenitas yang tinggi, dan lebih tinggi lagi disetiap awal tahun
dengan masuknya siswa-siswa baru. Perubahan pola kegiatan
belajar mengajar menghendaki tingginya partisipasi siswa yang
menuntut adanya kreatifitas siswa dalam mengelola segala apa
yang diperlukan oleh mereka, baik dalam pengelolaan waktu,
pengelolaan kegiatan, pengelolaan pemikiran (ide-ide) untuk
kemudian dapat direalisasikan dalam wujud kreatifitas nyata
dalam bentuk karya nyata.
Untuk itu, maka organisasi pelajar yakni OSIS diberi bekal
oleh pihak Madrasah untuk lebih mampu menghadapi
72
perkembangan lingkungannya sehingga merasa senantiasa berada
selangkah lebih maju dibandingkan masyarakatnya. Bekal tersebut
berupa latihan dasar kepemimpinan yang ditujukan kepada
seluruh pengurus OSIS dan pengurus inti MPK.
Sistem yang dibangun mencakup seluruh aspek aktifitas
siswa di kampus. Sebagai wadah aspirasi siswa, OSIS MAN Insan
Cendekia dengan berbagai divisi yang ada, merupakan sarana
untuk mengembangkan kreatifitas siswa, khususnya dalam
pengembangan ranah afektif dan psikomotor. Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan merupakan upaya pengembangan kualitas Imtaq
dan Ipteks para siswa.
Salah satu divisi yang mengatur kehidupan keseharian para
siswa adalah Divisi Kedisiplinan yang mencakup kegiatan apel pagi,
pengkoordinasian shalat berjamaah, rekapitulasi poin
pelanggaran, piket asrama putra dan putri, daur shalat Subuh dan
magrib, Mulahizhoh shalat Zhuhur dan Ashar, pangkas rambut
putra, publikasi tata tertib, Sadis Idol; penghargaan bagi siswa
berkomitmen menjalankan disiplin, dan inventarisasi alat
kedisiplinan OSIS (Standar Acuan Manajemen Madrasah Aliyah
Negeri Insan Cendekia Gorontalo, 2008).
Di MAN IC Gorontalo para siswa diberi keleluasaan untuk
mengembangkan dirinya melalui berbagai kegiatan seperti
olahraga, ekspresi seni, outbond training, wisata, dan pelatihan
pengembangan diri secara berkala. Dengan demikian para siswa
MAN IC Gorontalo memiliki kesiapan sejak dini untuk berkompetisi
di masa depan. Guru dan karyawan juga memperoleh kesempatan
yang sama untuk mengembangkan dirinya melalui kegiatan
pelatihan, seminar, olahraga, dan wisata keluarga.
73
C. Kurikulum Kegiatan Kesiswaan
Eksistensi MAN ICG sebagai salah satu ikon lembaga
pendidikan profesional bercorak modern, tidak dapat dipungkiri
memiliki posisi yang signifikan dan strategis dalam memberikan
kontribusi yang konstruktif bagi pembentukan sumber daya
manusia yang handal dan tangguh dalam kancah persaingan global
yang ssarat multidimensional. Sosok lembaga pendidikan yang
menyandang trade mark sebagai entitas yang tengah berproses
berjuang melahirkan kader-kader calon pemimpin bangsa masa
depan yang tangguh, mumpuni dan mampu memberi warna
kemaslahatan bagi masyarakat, bangsa dan ummat diantara
tuntutan perkembangan peradaban.
Berangkat dari perspektif tersebut, secara implisit tersirat
makna filosofis bahwa “kuat atau lemahnya suatu bangsa
ditentukan oleh seberapa subur tingkat pembinaan para generasi
muda yang ada di dalamnya.”
Tujuan pembinaan kegiatan kesiswaan ini adalah (1)
menanamkan sejak dini mindset berperikehidupan yang positive
thinking dan beretika, (2) membiasakan perilaku hidup sehat,
higienis dan berupaya selalu prima, (3) membiasakan perilaku
hidup yang senantiasa mencintai kerapian dalam setiap
penampilan diri dan aktifitasnya, (4) membiasakan perilaku yang
selalu menghargai waktu dalam setiap urusannya, (5)
menanamkan nilai berperilaku hidup yang saling menghargai dan
menghormati satu sama lain.
Fokus pada harapan terbentuknya performansi siswa MAN
ICG sebagai generasi muda yang paripurna menjadi agenda penting
yang telah menjadi bagian strategis dalam mekanisme pembinaan
kepribadian siswa di lingkungan MAN ICG. Indikator performansi
yang ditawarkan kali ini berangkat dari obsesi pembentukan
74
kapasitas siswa yang didasarkan pada 3 pilar profil siswa yang
diilustrasikan menjadi mainstream gagasan yang diharapkan
kemudian mampu menjiwai arah pengembangan kurikulum
kegiatan kesiswaan ini.
1. Profil Performansi Prima Siswa
Selain menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,
mempunyai kepribadian yang mantap dalam iman dan taqwa, juga
tercipta dalam diri siswa kebugaran/kesegaran dan penampilan
jasmani yang prima. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibuat
program khusus kurikulum kegiatan kesiswaan profil peformansi
siswa. Tujuan program ini ialah (a) mendorong dan memobilisasi
siswa agar dapat lebih memahami hakekat dan manfaat kebugaran
dan penampilan jasmani yang prima sebagai kebutuhan pokok, (b)
mengukur tingkat kebugaran jasmani dan penampilan prima siswa,
(c) mengetahui sejauh mana keberhasilan pelaksanaan tes dan
pemantauan program sebagai bahan evaluasi setiap semester,
apakah siswa berhak mengikuti setiap kegiatan tes blok atau tidak.
2. Profil Mandiri Dan Bertanggung Jawab
Profil ini membina kemandirian dan tanggung jawab siswa
terhadap fasilitas dan lingkungan madrasah. Kegiatannya berupa
pelibatan seluruh siswa untuk turut bertanggung jawab pada
pemeliharaan fasilitas madrasah. Pelibatan dilakukan dengan
membentuk kelompok kerja untuk bertanggung jawab secara
reguler merawat fasilitas madrasah.
3. Profil Berani Dan Percaya Diri
Tujuan pembinaan sikap percaya diri siswa adalah (a)
menumbuhkembangkan sikap berani dan percaya diri siswa baik
emosional, intelektual dan sosial, (b) membantu siswa memiliki
sikap berani dan percaya diri dalam belajar, baik secara individu
maupun kelompok, (c) membantu siswa untuk mampu
75
berkomunikasi, bersosialisasi, serta memiiki kepatuhan dinamis
terhadap norma dan aturan, (d) membantu siswa memiliki
kompetensi untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya,
dan (e) menumbuhkembangkan sikap percaya diri siswa yang
positif untuk ikut serta dalam kegiatan sosial di lingkungan
masyarakat.
D. Manajemen Keasramaan
Asrama merupakan aspek yang sangat penting dalam sebuah
kampus sekolah yang menggunakan sistem boarding school. Latar
belakang siswa yang heterogen, membuat kehidupan asrama lebih
berwarna sehingga membutuhkan pengelolaan yang sistematis.
Asrama dan sekolah merupakan satu kesatuan, tapi asrama
mempunyai pengaturan regulasi tersendiri.
MAN ICG memiliki 6 gedung asrama dengan masing-masing
memiliki 14 buah kamar tidur. Tiga asrama untuk siswa putra, dan
3 untuk siswa putri. Untuk pembinaan keasramaan MAN ICG
membentuk Struktur Organisasi dan Pembinaan Asrama yang
dipimpin langsung oleh kepala madrasah dan juga Wakil Kepala
Madrasah (Wakamad) Keasramaan, dengan 6 pelaksana, yakni
sekertaris administrasi, bendahara, koordinator Iman dan Takwa,
Koordinator Penggunaan Bahasa Asing, Koordinator Asrama Putra,
dan Koordinator Asrama Putri. Sementara itu, pembinaan asrama
juga mempunyai 6 orang pelaksana, yakni masing-masing Pembina
Asrama kelas X putra, kelas X Putri, kelas XI Putra, kelas XI Putri,
kelas XII Putra dan Kelas XII Putri.
Pembina asrama dibentuk untuk memudahkan koordinasi
dan penanganan siswa yang lebih kecil lagi lingkupnya juga
memudahkan para pembina dalam memobilisasi siswa. Pembina
asrama disini berfungsi sebagai fasilitator (musahhil);
76
menjembatani/menfasilitasi kepentingan siswa terhadap sekolah
dan sebaliknya, sebagai konselor (mursyid); membantu siswa yang
mempunyai masalah, baik pribadi maupun dengan teman, masalah
pelajaran, kesehatan, perilaku dan lain-lain. Pembina asrama juga
sebagai pendidik (murabbi), yakni membimbing dan mengawasi
belajar mandiri siswa di asrama, juga membimbing siswa dalam
pendidikan aplikatif keagamaan, seperti menutup aurat,
mengucapkan salam, bertutur sopan, berperilaku santun. Juga
mereka membimbing sikap kemoderenan, seperti disiplin, mandiri,
bertanggungjawab, berpola hidup bersih, dan lain-lain. Khusus
untuk siswa baru, dibimbing keterampilan hidup sehari-hari
seperti mencuci, menjemur pakaian, menyetrika, melipat, menata
ruang kamar dan lain-lain.
1. Pengaturan Penghuni Asrama
Karena beragamnya asal usul siswa, dan guna menciptakan
suasana yang lebih kondusif dan membangun rasa kebersamaan
sesama siswa, dan agar bisa saling membantu, dalam belajar, maka
setiap asrama dihuni oleh siswa satu angkatan.
Setiap awal tahun dilakukan pembagian penghuni kamar,
dan setiap tiga bulan sekali diatur kembali dan dilakukan
perpindahan kamar. Dasar pertimbangannya adalah (1)
menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk membangun rasa
kebersamaan dan keakraban bagi seluruh siswa di asrama tanpa
dibatasi oleh solidaritas angkatan, (2) membantu siswa baru agar
dapat beradaptasi hidup di asrama secara lebih cepat dan
terkontrol.
Dari sini terlihat pola pembinaan telah diatur dan telah
dipolakan sedemikian rupa agar solidaritas antar siswa dapat
tercapai dan berjalan sebagaimana mestinya manusia hidup dalam
kelompok yang beragam.
77
Setiap kamar dihuni oleh 4 siswa, diatur dengan ketentuan:
(1) dilakukan pengocokan untuk menentukan/mendapatkan nama
satu siswa yang berprestasi dari beberapa yang dinilai berprestasi
(sesuai dengan jumlah kamar setiap angkatan), tiga penghuni
kamar lainnya dan nomor kamar, (2) tiap kamar terdapat siswa
berprestasi, (3) anggota kamar yang lama tidak boleh bertemu
kembali dengan anggota kamar yang baru.
Setiap kamar juga diatur sedemikian rupa agar sesama etnis
tidak ditempatkan dalam satu kamar. Hal ini dilakukan agar
mereka dapat saling mengenal lebih dekat dengan suku lain, dan
sikap toleransi bisa dikembangkan.
2. Pembinaan Hidup Bersama
Pembinaan hidup dalam asrama diarahkan pada
pembentukan karakter siswa bagaimana hidup bersama. Para
siswa ditempa dan dikontrol mulai dari bangun tidur, hingga
kembali tidur pada malam hari. Dari jadwal kegiatan harian siswa,
bisa dikatakan bahwa seluruh kegiatan siswa berada dalam
pengawasan pembina asrama. Kegiatan dimulai pada dini hari,
pukul 04.00 hingga pukul 05.45; bangun tidur, MCK, sholat subuh,
wirid, doa, tadarus, asmaul-husna, dipantau kehadiran dan
keaktifan mereka. Selanjutnya, sarapan dan persiapan ke sekolah.
Sholat berjamaah merupakan kegiatan pembinaan unggulan
MAN ICG yang membina dan memupuk rasa kebersamaan,
kedisiplinan dan penanaman kebiasaan yang baik dalam hal
keimanan dan ketakwaan para siswa, yang dipantau langsung oleh
pengurus OSIS bagian kedisiplinan dengan mengadakan presensi
dan juga oleh pembina asrama.
Tadarus juga merupakan kegiatan para siswa yang memupuk
kebersamaan. Tadarus dilakukan setelah sholat subuh dan magrib
melalui halaqah-halaqah. Halaqah tadarus merupakan gabungan
78
siswa kelas X, XI dan XII, dengan memakai sistem sisterhood.
Kegiatan ini merupakan wahana melancarkan dan memfasihkan
kemampuan qira’ah/bacaan siswa. Selain itu juga sebagai wahana
sosialisasi diantara siswa dengan kakak/adik kelasnya serta
merupakan wahana melatih kepemimpinan.
Operasionalnya, sebelum dibentuk kelompok tadarus,
diadakan seleksi baca Al Qur’an secara menyeluruh kepada siswa
kelas X dengan tujuan untuk menentukan kemampuan baca
masing-masing siswa dan sebagai dasar pembentukan kelompok.
Untuk kelas XI dan XII, diadakan seleksi yang dilaksanakan oleh
guru-guru agama untuk menentukan calon tutor yang mampu dan
layak untuk membimbing masing-masing kelompok yang akan
dibentuk. Kelompok yang terbentuk yaitu kelompok siswa
berjumlah 4 sampai 5 siswa dan dibimbing oleh siswa kelas XII
yang memenuhi kualifikasi sebagai tutor. Juga ada kelompok
tadarus yang dibimbing oleh guru pembina asrama/guru agama.
Kelompok ini terdiri dari maksimal 5 siswa yang dibentuk
berdasarkan hasil seleksi baca Al-Quran yang dinilai belum mampu
membaca Al-Quran secara mandiri dan dibimbing oleh 1 orang
guru/ustadz.
Gambar 8. Kegiatan tahfiz Al Qur’an siswa putri
79
Halaqoh Tarbawiyah (pembinaan dengan sistem kelompok)
merupakan pembinaan yang juga memupuk kebersamaan siswa.
Pembinaan ini mempunyai tujuan antara lain agar (1) pendekatan
siswa lebih intensif dalam rangka pembinaan mental siswa agar
pencapaian program sekolah lebih efektif dan efisien, (2)
mempermudah mendeteksi kegiatan siswa dalam menjalankan
kedisiplinan, rutinitas ibadah, serta dapat mengetahui kemampuan
dan kelebihan yang dimiliki oleh siswa secara detail, (3)
meningkatkan ukhuwah islamiyah di kalangan siswa dengan cara
latihan mempraktekkan teori yang telah didapatkan dari sekolah
dan diaktualisasikan dalam proses kehidupan bermasyarakat di
lingkungan masing-masing, (4) mengetahui dengan mudah
permasalahan siswa yang segera membutuhkan jalan keluar untuk
memecahkannya secara dini dan untuk meminimalisir beban
mental yang dideritanya, (5) sebagai wahana kedekatan siswa
dengan pembimbing/musrif, di mana para siswa membutuhkan
perlindungan dan bimbingan serta kasih sayang dari orang tua,
dengan cara memberikan perhatian kepada mereka, maka
musrif/murobbi berperan sebagai orang tua mereka, sehingga
mereka merasa aman dan nyaman.
Gambar 9. Kegiatan tahfiz Al Qur’an siswa putra
80
Sebagai langkah strategis untuk mencapai tujuan di atas,
maka dibuat kelompok dengan jumlah 10 – 12 siswa dan komposisi
kemampuan siswa yang bervariasi, namun masih dalam level yang
sama. Masing-masing kelompok dibina oleh satu orang
pembimbing/murobbi/musrif. Dengan jumlah kecil tersebut,
diharapkan penanganan permasalahan dan beban psikologis siswa
dapat ditangani dengan cepat dan tepat (Standar Acuan
Manajemen Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Gorontalo,
2008). Pembagian kelompok diatur oleh para pembina asrama.
Para siswa dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin.
Kegiatan kerja bakti asrama juga merupakan kegiatan yang
memupuk rasa kebersamaan diantara para siswa. Kegiatan ini
secara berkala dilaksanakan di sekitar lingkungan asrama dengan
tujuan memberikan pendidikan tentang kebersihan dan ketertiban
kepada mereka. Setiap kamar diberi tugas untuk membersihkan
tempat-tempat yang sering digunakan siswa tetapi jarang
dibersihkan, seperti lobby, tempat jemuran, halaman depan
asrama dan lain-lain.
E. Program Asrama
Berikut adalah rangkaian program kegiatan keasramaan
MAN ICG
1. Pembentukan akhilak karimah/kepribadian santri,
melalui kegiatan kelompok, siswa asuh, kontak bina siswa,
khidmat, diskusi tematik dan taushiyah jum’at (untuk
siswa putri)
2. Kesiapan memasuki dunia global, melalui kegiatan
pengembangan keilmuan, qiraatulkutub, tahfiz Al Qur’an,
kajian nahwu Sharaf, tahsin dan qira’at Al Quran.
81
3. Program Bahasa, melalui kegiatan English and Arabic
days/weeks, kultum Arabic-English, pengayaan
ketrampilan berbahasa, muhadhoroh bulanan, muhadasah
dan pemberian mufrodat.
4. Pengembangan informasi melalui kegiatan majalah
dinding, internet gpa, film documenter dan perjuangan
Islam, perpustakaan kitab-kitab klasik dan komptemporer.
F. Pembinaan Disiplin
1. Penerapan Disiplin di MAN ICG
Pembinaan disiplin di MAN Insan Cendekia Gorontalo
dimaksudkan untuk menegakkan disiplin dengan berusaha
memberi pembinaan dan penanganan terhadap masalah-masalah
yang berhubungan dengan kedisiplinan siswa, baik di sekolah
maupun di asrama, dengan berpedoman pada buku tata tertib
siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo. Tata tertib siswa MAN Insan
Cendekia dibuat berdasarkan kesepakatan unsur pimpinan MAN
Insan Cendekia Gorontalo yang telah melalui berbagai
pertimbangan dari seluruh unsur yang terlibat di dalam pembinaan
kedisiplinan, mental, dan akhlak siswa siswi MAN Insan Cendekia
Gorontalo.
82
BAB 6
POLA INTERAKSI ANTARSISWA
Pada bab ini, penulis menggambarkan interaksi siswa
dengan masing-masing tipe interaksi, yakni: attraction, mutual
attraction, rejection, dan mutual rejection. Masing-masing
dijabarkan satu-persatu dan dengan mengambil satu kelas untuk
kelas X, dan satu kelas untuk kelas XI.
A. Pola Interaksi Siswa Kelas X5
Jumlah siswa di kelas ini adalah 21 dengan 9 siswa putra dan
12 putri. Sebaran asal daerah sangat bervariasi; 1 siswa berasal
dari Bangka-Belitung, 5 siswa dari Jakarta dan Tangerang, 1 siswa
dari Sunda, Jawa Barat, 4 siswa dari Jawa Tengah, 2 siswa dari Jawa
Timur, 1 siswa dari Sulawesi Selatan, 1 siswa dari Sulawesi Tengah,
4 siswa dari Gorontalo, dan 2 siswa dari Sulawesi Utara. Strata
kehidupan dan pekerjaan orangtua para siswa juga sangat
bervariasi, mulai dari buruh tani, wiraswasta, guru, pegawai negeri
hingga pegawai BUMN. Tempat tinggal orang tua/daerah asal
mereka mulai dari dusun hingga kota metropolitan, Jakarta.
Matriks berikut adalah sosiomatriks kelas X5, berdasarkan
jawaban atas salah satu pertanyaan positif dalam angket, dengan
kriteria tetap menjadi teman sekolas dengan pilihan.
Pertanyaannya adalah: ”Siapakah teman sekelas anda yang anda
inginkan tetap menjadi teman sekelas anda? Berikan alasannya.”
83