Tabel 2. Sosiomatrix kelas X5 Tahun 2010/2011
Dari matriks tersebut, dapat dibuat sosiogram tipe attraction
sebagai berikut:
Keterangan:
- = siswa putra
- = siswa putri
- = menunjukkan arah pilihan ketertarikan
(attraction)
- = menunjukkan arah saling memilih/saling tertarik
(mutual attraction)
- Nomor dalam lingkaran adalah nomor kode siswa dan
diikuti oleh asal daerahnya
84
Sosiogram 1. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction
kelas X5 pada kriteria tetap menjadi teman sekelas
1. Pola Interaksi Tipe Attraction dan Mutual Attraction
Dari sosiometri di atas, pola hubungan interaksi terlihat jelas
antarindividu atau etnis. Kriteria pemilihan disini adalah tetap
menjadi teman sekelas. Setiap peralihan semester, distribusi kelas
diubah sesuai prestasi yang dicapai siswa. Terlihat di sini
pemilihan menyebar ke semua teman, artinya pemilihan bukan
berdasarkan kesamaan etnis mereka.
Sehubungan dengan bentuk/pola hubungan sosial
berdasarkan kriteria pemilihan ketertarikan untuk bekerjasama
antar siswa, ada beberapa konfigurasi/pola yang menyatakan erat
tidaknya hubungan sosial yang terjadi. Di kelas ini terdapat 21
siswa dengan 9 putra dan 12 putri. Jumlah tidak terpilih atau
dikatakan sebagai terisolir adalah 1(satu) siswa. Ada 21 tipe
hubungan attracted dan 14 mutual attractions. Dari hubungan-
hubungan tersebut terbentuk konfigurasi/pola triangles sebanyak
4; quadranless 12, triangles mutual attractions 5; quadranless
mutual attractions 3; pentagon 1; stars 15 dan sisanya adalah chain.
Dari hubungan interaksi ini, dari siswa putra terlihat EBS
nomor 1 dari Jakarta dan nomor 21, IFR dari Sulawesi Utara,
sebagai bintang dengan jumlah masing-masing 8 (delapan)
pemilih, dan nomor 3, FAM dari Gorontalo dengan jumlah 5
pemilih. Sementara bintang dari siswa putri adalah GRA, nomor 6
dari Jawa Tengah dengan 7 pemilih, AGH nomor 8 dari Jawa
Tengah, ARA nomor 13 dari Jawa Timur, NMR nomor 14 dari
Sunda, AIS nomor 18 dari Jakarta dengan masing-masing 6 (enam)
pemilih, dan SFU nomor 2 dari Sulawesi Tengah, SNA nomor 18
dari Jawa Tengah mendapat 5 pemilih. Menurut (Moreno, 2014)
85
yang menjadi bintang adalah yang memiliki paling sedikit 5
pemilih.
Ada beberapa kriteria yang membuat EBS dari Jakarta
terpilih sebagai bintang dengan perolehan pemilih terbanyak.
Pertama, adalah karena dari segi struktur sosial kelas, EBS adalah
ketua kelas. Kedua, dari segi intelektualitas, dia cerdas, dan dari
sifat, suka menolong dan menyenangkan teman. Dengan melihat
kondisi ini, maka dapat dikatakan bahwa sebagai ketua kelas yang
memimpin kelompok tersebut, sosok EBS menjadi idola ditambah
lagi anaknya cerdas. Seperti yang dikatakan oleh IRD dari Jakarta,
teman sekelasnya:
EBS itu ketua kelas kita dulu. EBS itu orangnya kocak,
lucu, suka menolong, pintar lagi. Ada apa-apa juga, kita
kan ke dia.
Senada yang dikatakan oleh SFU dari Sulawesi Tengah, dan
teman-teman yang lain:
EBS lucu, suka menyenangkan teman, pintar, suka
menolong, dia ketua kelas kita. Kocak orangnya.
Selanjutnya IFR dari Sulawesi Utara merupakan peringkat
kedua sebagai bintang. Memang dari pengalaman dan pemahaman
orang-orang selama ini, orang Sulawesi Utara terkenal dengan
karakternya yang supel, tidak memilih-milih teman, suka bergaul
dengan siapa saja, dengan kalangan dari mana saja. Pemilihan IFR
ini berdasarkan karakteristik dan pribadi IFR yang sangat supel.
Komentar teman sekelas IRD mengenai siapa IFR:
Rame, lucu, tidak menonjolkan diri kalau dia pintar,
dia itu word maker, pintar bergaul, pintar
menempatkan diri. Dia itu anak Gorontalo yang pakai
logat Jakarta.
86
EBS dan IFR pada saat ini, setelah mereka di kelas XI, adalah
pengurus OSIS yang sangat berperan.
Dari pemilihan siswa sebagai bintang tersebut dapat
diinterpretasikan bahwa para siswa memilih teman tidak
berdasarkan asal/etnis, karena melihat sebaran asal daerah siswa
terpilih sangat bervariasi, dan juga yang memilih bukan karena
berasal dari daerah yang sama dengan yang terpilih. Tetapi mereka
memilih berdasarkan kesukaan mereka terhadap sifat, kepribadian
dan kecerdasan teman. Kedudukan EBS di kelas adalah ketua kelas,
Oleh karena itu EBS menjadi bintang yang tertinggi karena
kedudukan yang dimilikinya yang membuat ia banyak dihubungi
teman-temannya di setiap keperluan yang menyangkut kebutuhan
di kelas. Ditambah juga karena sifatnya yang disukai teman-
temannya.
Terlihat juga sebaran pilihan hampir kepada seluruh teman
di kelas. Dengan jumlah 11 bintang dari 21 siswa dalam kelas
tersebut, yakni lebih dari 50%. Dapat disimpulkan bahwa rasa
kebersamaan terjalin dengan sangat baik. Dari alasan yang
dikemukakan, pemilihan teman adalah berdasarkan sifat pribadi
dan kecerdasan yang dimiliki. Tidak ada yang menuliskan
alasannya karena berasal dari daerah yang sama. Sebaran pilihan
hampir merata.
a. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction terhadap
siswa putri
Berikut adalah sosiogram pola hubungan attraction dan
mutual attraction terhadap siswa putri yang terjadi di kelas X5.
87
Keterangan:
- = siswa putra
- = siswa putri
- = menunjukkan arah pilihan ketertarikan
(attraction)
- = menunjukkan arah saling memilih/saling tertarik
(mutual attraction)
- Nomor dalam lingkaran adalah nomor kode siswa dan
diikuti oleh asal daerahnya
-
Sosiogram 2. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction
terhadap siswa putri
Terlihat dari sosiogram di atas, secara keseluruhan siswa
putri semuanya terpilih untuk bisa tetap menjadi teman sekelas,
dengan jumlah pemilih yang berbeda-beda. Pemilihan tersebut
didominasi oleh GRA nomor 8 dari Jawa Tengah yang mendapatkan
tujuh pemilih dan menyusul AGH (nomor 6) yang juga dari Jawa
Tengah, ARA dari Jawa Timur, NMR dari Jawa Barat, dan AIS dari
Jakarta dengan masing-masing 6 pemilih.
GRA menjadi bintang dengan alasan pintar, enak diajak
bicara, nyambung, dan punya hobi sama. Dari 7 teman yang
memilihnya, 5 di antaranya yang juga di pilihnya, yakni dari
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah. Artinya terbentuk
pola mutual attraction di antara mereka. Namun pola ini sangat
lemah, karena apabila GRA tidak ada, kelompok ini akan bubar.
88
Sosiogram 3. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction
kelompok GRA (6) dari Jawa Tengah
Selanjutnya AGH (8) dari Jawa Tengah dengan 6 pemilih, dua
dari siswa putra, yakni dari Jakarta dan Gorontalo, sementara
pemilih dari siswa putri ada 4, yakni dari Gorontalo. Jawa Tengah,
Tangerang dan Sulawesi Selatan.
Sosiogram 4. Pola Interaksi tipe attraction kelompok AGH (8)
Komentar teman kelas mengenai siapa AGH:
AGH dari Jawa Tengah, anaknya cantik, pendiam,
nggak terlalu banyak omong, pintar, diidolai banyak
teman, ya mungkin karena dia cantik dan pintar.
Hanya kadang dia kalo nggak mood, yaa bisa sampe
seharian nggak moodnya.
89
Namun, kelompok AGH juga adalah kelompok dengan pola
yang lemah. Tidak ada pengikat kelompok. Jadi, bila AGH tidak ada,
kelompok ini juga tidak akan ada.
Terpilih berikutnya adalah ARA (13) dari Jawa Timur dengan
6 pemilih. Yang memilih ARA dari pihak putra adalah MIP dari Jawa
Tengah dan MHR dari Bangka Belitung. Sementara pemilih dari
siswa putri, adalah Khus dari Sulawesi Selatan, SFU dari Sulawesi
Tengah, NMR dari Jawa Barat, dan NMU dari Jawa Timur. Alasan
pemilihan pada umumnya menuliskan bahwa ia pintar, pendiam,
enak diajak ngobrol, nyambung dan punya hobi yang sama.
Sosiogram 5. Pola Interaksi tipe attraction kelompok ARA (13)
Dari kelompok ARA ini, terbentuk juga kelompok pola
pentagon dengan tipe mutual attraction yang cukup kuat yang
beranggotakan seorang putra, yakni nomor 5 dari Jakarta, dan dari
putri nomor 2 dari Sulawesi Tengah, nomor 6 dari Jawa Tengah, 14
dari Jawa Barat, dan ARA sendiri dari Jawa Tengah. Namun
kelompok yang terdiri dari siswa putri tetap solid.
NMR (14) dari Sunda, Jawa Barat juga mendapat 6 pemilih,
yaitu GRA dari Jawa Tengah, RHM dari Sulawesi Utara, ARA dari
Jawa Timur, AIS dari Jakarta, SNA dari Jawa Tengah dan IFR dari
90
Sulawesi Utara. Dua kelompok yang terakhir ini juga merupakan
kelompok yang lemah.
Walaupun ada aturan dan tata tertib yang membatasi
pergaulan antara siswa putra dengan siswa putri yang sangat ketat,
namun pada kenyataannya terjadi juga pilihan inter-sexual (pilihan
lintas jenis kelamin) di antara mereka. Seperti terlihat pada
sosiogram tersebut, SFU (nomor 2) adalah suku Bugis dan juga
Gorontalo yang tinggal di Sulawesi Tengah, dipilih oleh 3 teman
putranya, yaitu EBS dan DAP dari Jakarta dan MHR dari Bangka
Belitung untuk tetap menjadi teman sekelas.
Dari ketiga sosiogram 3, 4, dan 5 di atas, terlihat siswa nomor
4 dari Tangerang terisolir, dalam artian kerjasama tidak akan
berjalan dengannya. Pada sosiogram 2 terlihat nomor 4 dipilih oleh
satu orang, yaitu nomor 10 dari Sulawesi Utara, namun nomor 4
tidak memilihnya. Artinya pola ini tidak bisa berjalan atau sangat
lemah.
Setelah menelusuri mengapa nomor 4 terisolir, diketahui
bahwa dia sangat pendiam, penyendiri, sering menarik diri, dan
tidak terlalu menikmati bekerja dan belajar bersama atau
berkelompok. Hasil wawancara dengan teman-teman sekelasnya
bahwa dia suka mencari perhatian, sifat kekanak-kanakannya
sering muncul, manja sama guru yang ternyata tidak disenangi oleh
yang lainnya. Melihat latar belakang keluarganya, nomor 4 berasal
dari keluarga yang kurang dibandingkan dengan semua teman
sekelasnya. Kedua orang tuanya adalah buruh tani, sementara
orang tua yang lainnya adalah pegawai BUMN, dosen, guru, dan
wiraswasta. Hal ini yang memungkinnya juga menjadi sangat
penyendiri dan pendiam.
91
b. Pola hubungan attraction dan mutual attraction antarsiswa
putri
Sosiogram 6. Pola interaksi tipe attractian dan mutual attraction
antarsiswa putri
Melihat semua pola interaksi ini, mempresentasikan sebuah
hubungan interaksi sosial dalam bentuk formal dan informal yang
sangat kuat karena mereka saling memilih. Hubungan dalam
bentuk formal yakni belajar kelompok, dan bentuk hubungan
informal, yakni curhat, bermain dan jalan bersama.
Kelompok-kelompok berikut yang merupakan kelompok
yang sangat erat adalah kelompok dengan pola triangle (segitiga)
dan square (segi empat) dan pentagon (segi lima) berikut ini:
Sosiogram 7. Pola interaksi kelompok putri dengan hubungan
yang sangat erat
92
Dari sosiogram di atas terlihat ada 3 pola mutual attraction
yang berbentuk triangle yang sangat kuat. Pola hubungan yang
terbentuk oleh mereka ini adalah pola hubungan yang kuat sekali
yang tidak mudah terpisah karena masing-masing mempunyai
hubungan sosial yang baik dan karena mereka saling memilih (tipe
hubungan mutual attraction). Berikutnya, kelimanya membentuk
lagi 2 pola interaksi yang juga sangat kuat dalam bentuk pentagon,
yakni nomor 6, 14, 17 dan 16; dan 6, 14, 18 dan 17. Bila salah satu
diantara mereka tidak ada, kelompok tersebut masih solid dan bisa
berjalan dalam bentuk pola interaksi triangle.
Bila melihat asal daerah mereka, semuanya berasal dari
Jawa, namun alasan mereka saling memilih bukan berdasarkan
kesamaan asal daerah, namun karena sifat yang menyenangkan,
pintar, dan memiliki hobi yang sama. Kelompok yang sangat kuat
dan solid adalah kelompok yang terbentuk oleh nomor 6 dari Jawa
Tengah, 14 dari Jawa Barat, 16 dari Jawa Timur, 17 dari Jakarta, dan
18 dari Jawa Tengah. Bila salah satunya tidak ada, kelompok ini
masih bertahan.
Bisa disimpulkan, dari pola interaksi tersebut, semua siswa
dalam kelompok kelas ini memiliki sifat yang multikultural, mereka
berasal dari etnis yang beragam dan kelas sosial yang berbeda,
yang saling membentuk pola interaksi yang bervariasi tanpa
melihat asal daerah. Pola-pola interaksi yang terbentuk antarsiswa
putri ini adalah pola interaksi yang erat dengan intensitas yang
cukup kuat dan bahkan ada yang sangat kuat.
93
c. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction terhadap
siswa putra
Sosiogram 8. Pola Hubungan attractian dan mutual attraction
terhadap siswa putra
Dari sosiogram di atas, terlihat pemilihan teman putra untuk
bisa diajak bekerja bersama didominasi oleh EBS dari Jakarta dan
IFR dari Gorontalo dengan masing-masing 8 pemilih. Yang memilih
EBS untuk tetap menjadi teman sekelas adalah dari Sulawesi
Tengah, 3 siswa Gorontalo, 2 siswa Sulawesi Utara, Jakarta dan
Jawa Tengah masing-masing 1 siswa. Sementara yang memilih IFR
yang berasal dari Sulawesi Utara adalah dari Jakarta 2 siswa,
Gorontalo 3 siswa, Sulawesi Utara, Tangerang, dan Jawa Tengah
masing-masing 1 siswa.
Bila melihat pemilihan kedua teman ini, sebenarnya
pola/konfigurasinya kurang baik karena bila keduanya, EBS dan
IFR, yang berkedudukan sebagai pusat tidak ada, maka kelompok
ini tidak akan ada/bubar, karena pemilihan hanya satu arah yang
berarti sangat lemah. Pemilihan terhadap kedua bintang ini hanya
berjalan dalam pola attracted, yakni dipilih, bukan saling memilih.
94
d. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction antar
siswaputra
Selain itu, hanya ada 4 hubungan mutual attraction di pihak
siswa putra. Untuk jelasnya pola hubungan tersebut peneliti
jabarkan dalam sosiogram berikut:
Sosiogram 9. Pola attractian dan mutual attraction antarsiswa
putra
Kelompok kerjasama pada siswa putra hanya terjadi dalam
pola chain. Pola tersebut adalah pola interaksi yang erat dan cukup
kuat, namun terbuka, artinya, bahwa hubungan mutual attraction
terjadi hanya antara dua individu yang saling memilih, dan diikat
oleh seorang diantaranya untuk membuat ikatan lain dengan
individu lainnya. Pola ini disebut dengan pola interaksi chain
terbuka. Pola tersebut dapat dilihat pada sosiogram berikut:
95
Sosiogram 10. Pola interaksi chain tipe mutual attraction pada
siswa putra
Empat siswa putra lainnya, yakni nomor 5 dari Jakarta, 9 dan
19 dari Gorontalo, dan 20 dari Jawa Tengah terisolir. Mereka
memilih teman untuk bekerjasama, namun mereka tidak dipilih.
Berarti kriteria kerjasama tidak bisa atau sulit berjalan di antara
mereka. Hubungan yang terjadi hanya antara Fad (3) dari
Gorontalo dengan Imam (15-Jakarta), antara Fad (3-Gorontalo
dengan MHR (12-Bangka Belitung), antara Fad (3) Gorontalo
dengan EBS (1-Jakarta), IFR (21-Gorontalo) dengan EBS (1-
Jakarta).
e. Pola interaksi antara siswa putri dengan putra
Dari pola interaksi kelompok yang terbentuk, terjadi juga
pencampuran antara siswa putra dengan putri, walaupun ada
aturan yang tidak memperkenankan siswa putri dan putra untuk
saling dekat. Hubungan ini lebih banyak, yakni ada 6 hubungan, bila
dibandingkan dengan hubungan mutual attraction antara putra,
yang hanya ada 4 hubungan. Hubungan mutual attraction antara
siswa putri dan putra tersebut dapat dilihat pada sosiogram
berikut:
96
Sosiogram 11. Pola interaksi tipe mutual attraction antara siswa
putri dengan putra
Dari sosiogram tersebut, terlihat ada satu pola yang
berbentuk square tipe mutual attraction yang terbentuk antara 2
siswa putra dan 2 siswa putri. Pola ini kuat bila mereka lengkap.
Namun bila salah satu diantara mereka tidak ada, hubungan ini
berubah menjadi pola chain terbuka. Mereka berasal dari Jakarta,
Gorontalo dan 2 siswa dari Sulawesi Utara.
Pola interaksi berikutnya adalah pola chain terbuka dengan
tipe mutual attraction, yakni antara nomor 6 dari Jawa Tengah,
nomor 5 dari Jakarta, nomor 12 dari Bangka Belitung, nomor 2 dari
Sulawesi Tengah, dan nomor 1 dari Jakarta.
Dengan melihat sebaran pilihan teman antara siswa putra
dan putri, bisa dikatakan bahwa pemilihan teman untuk tetap
menjadi teman sekelas adalah mereka tidak memilih berdasarkan
daerah asalnya. Konfigurasi pemilihan teman dekat yang bisa
diajak bekerja bersama, kecenderungannya menyebar ke etnis
yang berbeda. Mereka tidak memilih berdasarkan asal suku/etnis,
namun memilih berdasarkan sifat, kebiasaan dan kecocokan
dengan pribadi masing-masing. Ada juga yang memilih teman
karena kecerdasannya dengan alasan bisa saling membantu dalam
belajar. Ada yang memilih teman sebagai tempat curhat, orangnya
97
seru, lucu, dan enak diajak bicara. Walaupun ada yang memilih
teman sesama asal, namun alasan pemilihan bukan karena asal
usulnya.
Bila melihat kembali sosiogram kelas X5 yang terbentuk,
maka dapat dikatakan bahwa secara keseluruhan pola interaksi
yang terbentuk sangat bervariasi, mulai dari triangle, square,
pentagon, dan pola dengan delapan individu. Tipe hubungan
kelompok yang unik adalah mutual attraction, karena melibatkan
hampir seluruh isi kelas, yakni 15 siswa putra dan putri. Hubungan
tersebut peneliti sederhanakan dan dapat dilihat pada sosiogram
berikut:
Sosiogram 12. Pola Hubungan mutual attraction kelas X5
Hubungan ini melibatkan 6 siswa putra dan 9 siswa putri.
Siswa putra berasal dari Jakarta, Gorontalo, Bangka Belitung, dan
Sulawesi Utara, sementara siswa putri berasal dari Sulawesi Utara,
Jawa Tengah, Gorontalo, Tangerang, Jawa Barat, Jakarta, dan
Sulawesi Selatan. Pola hubungan ini sangat terikat dan saling
terkait antara satu dengan lainnya, sehingga membentuk jaringan
yang tertutup. Konfigurasi pola interaksi ini mempunyai hubungan
sosial yang baik dan intensitas hubungan yang kuat. Kecuali satu
orang yang berasal dari Jakarta, yakni nomor 15, berada pada
posisi terbuka.
98
Tiga dari siswa putra terisolir, yakni dua dari Gorontalo dan
satu Jawa Tengah. Sementara itu, dari siswa putri juga ada tiga yang
terisolir, yakni dari Sulawesi Tengah, Jawa Tengah dan Sulawesi
Selatan. Dengan melihat asal daerah para siswa yang terisolir yang
menyebar ke beberapa daerah, mereka tidak terpilih untuk bisa
tetap menjadi teman sekelas bukan karena alasan asal daerah
mereka. mereka memilih namun tidak dipilih.
Secara keseluruhan, ikatan kerjasama antar siswa di kelas ini
sangat solid. Mereka mampu menjaga hubungan pertemanan
antaretnis tanpa memilih berdassarkan asal usul teman.
2. Pola Interaksi Tipe Rejection dan Mutual Rejection Kelas
X5
Selanjutnya adalah pola interaksi tipe rejection dan mutual
rejection kelas X5. Pola ini adalah pola menolak dan saling menolak.
Dari sosiomatriks sebelumnya, dapat dibuat sosiogram tipe
rejection dan mutual rejection sebagai berikut:
Keterangan:
- = siswa putra
- = siswa putri
- = menunjukkan arah pilihan menolak (rejection)
- = menunjukkan arah saling menolak (mutual rejection)
- Nomor dalam lingkaran adalah nomor kode siswa dan
diikuti asal daerahnya
99
Sosiogram 13. Pola interaksi tipe rejection dan mutual rejection
kelas X5 pada kriteria tetap menjadi teman sekelas
Dari sosiometri di atas, pola hubungan interaksi terlihat jelas
antarindividu atau etnis. Kriteria pemilihan adalah menolak untuk
tetap menjadi teman sekelas. Secara umum, kelompok kelas ini
merupakan kelompok yang bisa dikatakan solid. Dikatakan solid
karena diantara 21 siswa, hanya ada 2 siswa yang kurang terterima
untuk tetap menjadi teman sekelas.
Dari 21 siswa kelas X5 ini, hanya 1 siswa yang memberi
jawaban sebanyak 5 siswa yang tidak diinginkannya untuk bekerja
bersama, yakni siswa putri nomor 16 dari Jawa Tengah. Yang tidak
diinginkannya adalah dari Sulawesi Tengah, dari Jawa Tengah,
Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Selatan. Siswa yang lain
hanya memilih temannya sebanyak 3, 2 dan 1, bahkan ada 4 siswa
yang tidak memilih sama sekali.
a. Pola interaksi tipe rejection dan mutual rejection terhadap
siswa putri
Sosiogram 14. Pola interaksi tipe rejection dan mutual rejection
terhadap siswa putri kelas X5
100
Dari pola interaksi yang terbentuk di atas, terlihat pemilihan
pola rejection lebih banyak dan terpusat kepada 2 siswa putri.
Kedua siswa tersebut adalah VNF dari Jawa Tengah dan RHM dari
Sulawesi Utara. Hal ini sesuai dengan pola yang tebentuk pada pola
interasi tipe attraction sebelumnya. Sehubungan dengan
bentuk/pola hubungan sosial berdasarkan pemilihan penolakan
untuk bekerjasama, ada beberapa konfigurasi/pola yang
terbentuk. Pola tersebut dapat dijabarkan satu persatu sebagai
berikut:
Sosiogram 15. Pola Interaksi tipe rejection dan mutual rejection
terhadap VNF
Dari konfigurasi yang terbentuk, terlihat VNF DAPlak oleh 11
temannya, 7 dari siswa putri dan 4 dari siswa putra. Mereka berasal
dari Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Gorontalo, dan Sulawesi
Utara. Satu diantara siswa putri yang juga DAPlak oleh VNF sendiri,
yakni dari Sulawesi Utara. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa, kini VNF tidak lagi berada di MIPrasah
tersebut, karena dianggap tidak mampu lagi mengikuti pelajaran
dan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Seperti yang dikatakan oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang
Kesiswaan:
101
VNF sekarang sudah tidak ada lagi, sudah
dikembalikan ke orang tuanya. Setelah melakukan
berbagai pelanggaran, poin pelanggarannya
terakumulasi pada batas tertentu, sehingga dia harus
keluar dari sini, dipindahkan ke sekolah lain di Jawa.
RHM nomor 10 dari Sulawesi Utara juga termasuk yang tidak
diinginkan untuk menjadi teman sekelasnya oleh 7 temannya,
yakni dari Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, Jakarta, Bangka Belitung,
dan Jawa Timur. Seperti yang terlihat pada sosiogram berikut.
Siswa putri yang sama sekali tidak diinginkan untuk menjadi teman
sekelasnya yang juga ditolaknya adalah SFU dari Sulawesi Tengah,
dan VNF dari Pati, Jawa Tengah.
Sosiogram 16. Pola Interaksi tipe Rejection dan mutual rejection
terhadap RHM
Pendapat mengenai RHM dari Sulawesi Utara, dikemukakan
oleh guru Bimbingan Konseling kelas XI:
RHM itu anaknya agak ngototan, sebenarnya dia itu
kami arahkan ke kelompok IPS karena cenderung
lebih ke IPS, tapi dia tidak mau. Memang nilainya
hampir seimbang antara ke IPA dan ke IPS. Sekarang
dia di IPA. Kami hanya ingatkan bahwa dia harus lebih
giat lagi kalau mau bertahan di IPA.
102
Karakter RHM menurut teman sekelasnya adalah:
RHM itu rame anaknya, hanya saja dia centil,
bawaan dari daerahnya kali, soalnya rata-rata
teman putri yang dari sana begitu, centil, manja.
Emosinya masih labil, sering kebawa marah, sedikit
sensitif. Jadi kita agak gimana gitu ya?
Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa penolakan
terhadap RHM yang berasal dari Sulawesi Utara, adalah karena
sifat dan perilaku yang tidak sesuai dengan sifat-sifat yang mereka
harapkan dari seorang perempuan. Dengan sifat-sifat yang dimiliki
oleh RHM, teman-temannya menolaknya untuk bekerja bersama-
sama, baik dari siswa putra maupun siswa putri. Hanya 3 siswa
yang menerimanya untuk menjadi teman sekelas, yang kebetulan
juga dipilihnya. Mereka adalah EBS nomor 1 dari Jakarta, ISN
nomor 11 dari Gorontalo dan IFR nomor 21 dari Gorontalo, yang
juga dipilihnya.
b. Pola interaksi tipe rejection dan mutual rejection antarsiswa
putri kelas X5
Sosiogram 17. Pola Interaksi tipe Rejection dan mutual rejection
antar siswa putri
Bila melihat secara sepintas sosiogram di atas, hanya satu
siswa putri yang tidak menentukan teman yang ditolaknya atau
rejected, yaitu nomor 8 dari Jawa Tengah. Melihat kembali
sosiomatriks pada halaman 173, nomor 8 memang tidak
103
menentukan teman yang diinginkannya untuk menjadi teman
sekelas. Namun dia dipilih oleh 6 orang temannya.
Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, bahwa nomor 8
dari Jawa Tengah ini menurut teman-temannya adalah anak yang
pendiam dan benar-benar pendiam, tidak banyak omong tapi
pintar dan diidolai oleh banyak temannya. Karena itulah peneliti
dapat mengatakan mengapa dia tidak menentukan teman yang
diinginkannya.
Sesuai pola interaksi pada tipe attraction dan mutual
attraction, bahwa nomor 4 dan nomor 10 tidak dikehendaki untuk
diajak bekerja sama, maka pada tipe rejection dan mutual rejection
antar siswa putri ini pula mereka paling banyak ditolak oleh teman-
temannya. Masing-masing mendapat 6 dan 5 penolak.
c. Pola interaksi tipe rejection dan mutual rejection terhadap
siswa putra
Sosiogram 18. Pola Interaksi tipe Rejection dan mutual rejection
terhadap siswa putra kelas X5
Terlihat pada sosiogram di atas, nomor 9 dari Gorontalo
mendapatkan rejection atau penolakan untuk menjadi teman
sekelas dengannya sebanyak 5 siswa, 3 dari siswa putra dan 2 dari
putri. Satu dari siswa putra tersebut yang juga ditolaknya, yakni
dari Bangka Belitung, artinya terjadi mutual rejection (saling
104
menolak) diantara mereka, atau tidak akan terjadi kerjasama
diantara mereka jika mereka disatukan. Asal daerah siswa yang
lain yang menolaknya adalah dari putra, nomor 5 dari Jakarta,
nomor 15 juga dari Jakarta, dan dari siswa putri yakni nomor 4 dari
Jawa Tengah dan 10 dari Sulawesi Utara.
Pola interaksi yang terjadi pada tipe rejection ini adalah pola
triangle sebanyak 3 pola yang tidak kuat. Artinya mungkin saja
terjadi penolakan namun tidak saling menolak (mutual rejection),
kecuali antara nomor 12 dari Bangka Belitung dengan nomor 9 dari
Gorontalo dan antara nomor 12 dengan nomor 10 dari Sulawesi
Utara, yang saling menolak.
Komentar teman sekelas tentang nomor 12 adalah:
Luas pengetahuan agamanya, pintar. Pesandiwara
yang baik, menurutnya bercanda tapi… gimana ya.
Jadinya hambar. Tapi dia itu terkadang agak lama
ngertinya. Kadang ada sesuatu yang kita pahami
bersama, ternyata dia tangkapnya berbeda.
d. Pola interaksi tipe rejection dan mutual rejection antarsiswa
putra
Sosiogram 19. Pola Interaksi tipe rejection dan mutual rejection
antarsiswa putra
Dari sosiogram di atas, terlihat nomor 9 dari Gorontalo yang
menerima penolakan dari 5 temannya. Nomor 9 ini lahir di
105
Gorontalo dan telah lama tinggal di Luwuk. Alasan mereka menolak
adalah banyak omong, sensitif, agak aneh, ingin menang sendiri,
egois dan kasar. Nomor 3 dan 19 dari Gorontalo, dan 21 dari
Sulawesi Utara tidak menerima penolakan dari teman-temannya,
dan juga tidak menolak teman-temannya.
Dari keseluruhan pola interaksi yang terjadi di kelas X5 ini
dengan masing-masing tipe hubungan attraction dan rejection
dapat disimpulkan bahwa keinginan untuk tetap sekelas lebih
banyak terjadi antarsiswa putri dengan berbagai tipe hubungan
keterikatan yang erat, bahkan sangat erat. Sebaliknya, pola
interaksi yang terjadi antarsiswa putra kurang solid, karena
beberapa hubungan hanya terjadi dalam hubungan chain, artinya
terikat hanya antara 2 siswa putra. Pola hubungan antara siswa
putri dan putra lebih kuat, karena membentuk beberapa pola
pentagon yang cukup erat, walaupun kemungkinan akan terputus
apabila ada diantara mereka dalam pola tersebut yang tidak hadir.
B. Pola Interaksi Siswa Kelas XI IPA 2 Tahun 2010/2011
Jumlah siswa di kelompok kelas XI IPA 2 ini adalah 17 dengan
10 putri dan 7 putra. Sebaran asal daerah sangat bervariasi; 2 siswa
berasal dari Jawa Timur, yang satu diantaranya lahir dan besar di
Timor Leste, 3 siswa dari Jawa Tengah, 6 siswa dari Jawa Barat, 3
siswa dari Jakarta, 1 siswa dari Sulawesi Selatan (Bugis), 2 siswa
dari Gorontalo, dan 1 dari Mimika, Papua. Strata kehidupan dan
pekerjaan orangtua para siswa pada umumnya bergerak di bidang
swasta, wirausaha dan PNS. Tempat tinggal orang tua/daerah asal
mereka pada umumnya di kota kabupaten dan kota.
Matriks berikut adalah sosiomatriks kelas XI IPA 2,
berdasarkan jawaban atas salah satu pertanyaan positif dalam
angket, dengan kriteria bekerja sama dengan 5 pilihan teman. Kali
106
ini kriteria pertanyaannya adalah kerja sama dengan pertanyaan
positif: ”Siapakah teman sekelas anda yang anda inginkan untuk
bekerjasama dalam berbagai hal? Berikan alasannya.”
Tabel 3. Sosiomatriks kelas XI IPA 2 tahun 2010/2011
Dari sosiomatriks tersebut dapat dibuat sosiogram yang
menggambarkan pola interaksi yang terjadi diantara para siswa
kelas XI IPA 2.
Sosiogram 20. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction
kelas XI IPA 2
107
1. Pola Interaksi Tipe Attraction dan Mutual Attraction
Sosiogram di atas memperlihatkan sebaran pilihan hampir
kepada seluruh siswa. Siswa putra nomor 6 yakni MHA menjadi
bintang dengan mendapat pemilih sebanyak 6, 5 dari putra dan 1
dari putri. Nomor 6 berasal dari Lumajang, Jawa Timur, mendapat
pemilih dari Jakarta, Papua, Gorontalo, Jawa Barat dan Betawi. Ada
1 siswa putri, nomor 8 (NLL) dari Betawi yang terisolir atau tidak
terpilih untuk bekerja sama. Sebenarnya nomor 8 ini juga memilih
teman yang bisa diajaknya untuk bekerja sama, namun mereka
adalah teman sekelasnya dahulu, bukan teman sekelas yang
sekarang pada saat pengumpulan data. Selanjutnya peneliti
jabarkan masing-masing pola interaksi putri dan putra.
a. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction terhadap
siswa putri
Sosiogram 21. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attration
terhadap siswa putri
Sosiogram di atas memperlihatkan sebaran pilihan terhadap
siswa putri dengan kriteria pemilihan kerjasama. Ada 3 siswa putri
yang mendapatkan pemilih terbanyak yakni 5. Mereka adalah AZR
108
(nomor 10) dari Jakarta, HDF (nomor 11) dari Jawa Timur, dan ISK
(nomor 15) dari Jawa Barat. Pemilihnya berasal dari Betawi,
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi
Selatan. Alasan pemilihan AZR dari Jakarta adalah karena tekun,
teliti, pintar, kreatif, dan bisa diajak bekerja sama. Menurut pemilih
HDF adalah karena dia jago, baik, penuh motivasi, rajin,
bertanggung jawab. Sementara itu, IIM dari Jawa Barat dipilih
dengan alasan baik, bisa diajak kompromi dan kerja sama, kreatif
dan rajin. Di sini juga terlihat ada siswa putra, yaitu ARM (nomor
5) dari Gorontalo yang memilih teman putrinya, nomor 14 dari
Jawa Tengah untuk dapat diajak bekerja sama. Namun pemilihan
ini hanya berjalan dalam 1arah, yaitu tipe attraction.
b. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction
antarsiswa putri
Pola interaksi tipe ini pada umumnya kurang kuat karena
hanya berjalan dalam satu arah, yakni hanya tipe attraction. Ada 1
pola interaksi triangle tipe attraction yang searah, yakni antara
nomor 9 dari Betawi, nomor 11 dari Jawa Timur dan nomor 12 dari
Jawa Barat. Pola interaksi ini merupakan hubungan yang cukup
erat dengan intensitas yang cukup kuat.
Pola interaksi berikutnya adalah pola triangle tipe attraction
yang berpusat pada satu orang, yakni terpusat pada IRU (nomor
17) dari Jawa Barat. Pola interaksi tersebut adalah antara DFD
(nomor 13), ISK (nomor 15), dan 17, yang ketiganya berasal dari
Jawa Barat. Berikutnya hubungan antara 13, 17 dan 16 dari
Sulawesi Selatan; HDF (nomor 11) dari Jawa Timur, 17 dan MKM
(nomor 16) dari Sulawesi Selatan; dan yang terpusat pada nomor
16 dari Sulawesi Selatan nomor 11 dari Jawa Timur dan IIM (nomor
14) dari Jawa Tengah.
109
Pola interaksi dengan pola pentagon tipe attraction terdiri
dari 2 pola, yaitu antara 9 dari Betawi, 10 dari Jakarta, 11 dari Jawa
Timur, 17 dan 15 dari Jawa Barat. Pola interaksi ini cukup kuat dan
solid. Bila diperhatikan secara keseluruhan, pola interaksi kriteria
kerja sama antarsiswa putri kelas XI IPA 2 ini sangat erat dan solid,
kecuali siswa nomor 8 dari Betawi yang terisolir.
Sosiogram 22. Pola interaksi tipe attraction antarsiswa putri
Pola interaksi tipe mutual attraction siswa putri terjadi pada
2 kelompok dengan pola chain. Kelompok pertama adalah antara
ANT (nomor 9) dari Betawi dan 17 dari Jawa Barat. Kelompok
kedua adalah antara AZR (nomor 10) dari Jakarta, ISK (nomor 15)
dari Jawa Barat dan ILH (nomor 13) dari Jawa Barat, serta HDF
(nomor 11) dari Jawa Timur. Pola tersebut dapat dilihat pada
sosiogram 21 berikut:
110
Sosiogram 23. Pola interaksi tipe mutual attraction siswa putri
c. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction terhadap
siswa putra
Sosiogram 24. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction
terhadap siswa putra
Pola interaksi terhadap siswa putra ini berlangsung dalam
tipe attraction dan mutual attraction. Pada kelompok kelas ini,
walaupun ada aturan yang memisahkan antara siswa putra dan
putri, ada 2 siswa putri, yakni ANT (nomor 9) dan AZR (nomor 10)
yang memilih temannya siswa putra untuk bekerja sama. Tapi pola
ini hanya bertipe attraction.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa yang menjadi
bintang pada siswa putra adalah nomor 6 (MHA) dari Jawa Timur
dengan perolehan pemilih sebanyak 6 siswa, 5 dari siswa putra dan
111
1 dari siswa putri. Mereka berasal dari Jakarta, Papua, Gorontalo,
dan Jawa Barat. Kelompok ini sangat lemah, karena apabila MHA
tidak ada, kelompok ini akan bubar. Lagipula, pola interaksi ini
termasuk dalam tipe attraction, yakni pilihan satu arah. Pola
interaksi tersebut dapat dilihat pada sosiogram berikut.
Sosiogram 25. Pola interaksi tipe attraction terhadap MHA (6)
sebagai bintang
d. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction
antarsiswa putra
Pola interaksi yang terbentuk antarsiswa putra di kelas XI
IPA 2 ini berbentuk triangle, square dan pentagon yang bertipe
attraction dan mutual attraction. Di antara siswa putra ini, ada
siswa yang tidak terpilih dan hanya memilih, yakni AYL (nomor 7)
dari Jawa Barat. Itupun memilihnya hanya pada satu temannya,
yakni pada MHA (nomor 6) yang juga dari Jawa Barat.Pola interaksi
tersebut dapat dilihat pada sosiogram berikut:
112
Sosiogram 26. Pola interaksi tipe attraction dan mutual attraction
antar siswa putra kelas XI IPA 2
Hubungan tersebut disederhanakan dan dapat dilihat pada
sosiogram berikut:
Sosiogram 27. Pola interaksi tipe attraction antarsiswa putra
kelas XI IPA 2
Pola interaksi tipe attraction yang terbentuk adalah pola
triangle dan square. Pola triangle adalah antara LMH (nomor 1)
dari Jakarta, AFM (nomor 3) dari Jawa Barat dan ARM (nomor 5)
dari Gorontalo. Pola triangle berikutnya adalah antara nomor 1, 5
dan 6 (MHA) dari Jawa Timur. Sebenarnya kedua pola triangle ini
terbentuk dari pola square diantara mereka. Disini, LMH (nomor 1)
dari Jakarta dan JIK (nomor 2) dari Papua tidak mendapat pemilih.
Selanjutnya adalah pola interaksi tipe mutual attraction. Tipe
ini membentuk 2 pola triangle yang membentuk 1 pola quadranles.
113
Anggotanya adalah nomor 1 dari Jakarta, nomor 2 dari Papua,
nomor 5 dari Gorontalo dan nomor 4 dari Gorontalo. Namun, bila
nomor 4 tidak ada, maka terbentuk pola interaksi chain antara
nomor 1, 2 dan 5. Pola ini sangat kuat, karena mereka saling
memilih. Terlihat di sini nomor 4 dari Gorontalo mendapatkan 4
pemilih dari yang dipilihnya. Nomor 3 dari Jawa Barat, hanya
membentuk tipe chain dengan nomor 4 dari Gorontalo.
Sosiogram 28. Pola interaksi tipe mutual attraction antarsiswa
putra kelas XI IPA2
2. Pola Interaksi Tipe Rejection dan Mutual Rejection di Kelas
XI IPA 2
Pola interaksi tipe rejection dan mutual rejection di kelas XI
IPA 2 ini hanya terjadi pada 2 siswa putra, JIK (nomor 2) dari Papua
dan AYL (nomor 7) dari Jawa Barat. Nomor 2 dari Papua ditolak
oleh IIM (nomor 14) siswa putri dari Jawa Tengah dengan alasan
anaknya malas. Sementara AYL (nomor 7) dari Jawa Barat yang
ditolak oleh WST (nomor 4) dari Gorontalo dengan alasan tidak
akrab, jadi kerja tidak akan maksimal.
114
Sosiogram 29. Pola interaksi tipe rejection kelas XI IPA 2
Hal ini menarik, karena secara umum tidak terjadi lagi
penolakan antarsiswa. Menurut analisis penulis, hal ini berarti
bahwa setelah menjalani masa adaptasi selama satu tahun lebih,
para siswa telah mulai saling memahami satu sama lain, menerima
keberadaan orang lain yang berbeda dengan dirinya, dan mampu
mengontrol sikap dan saling toleransi.
Bila dibandingkan dengan pola interaksi tipe rejection pada
kelas X5, kelas ini lebih menampakkan sikap multikulturalnya.
Walaupun masih ada siswa yang menolak temannya, tapi alasan
penolakan hanya pada sifat pribadi, bukan karena alasan etnis yang
berbeda. Pada kelas X5, yang baru satu semester saling mengenal,
masih banyak yang memperlihatkan sikap saling menolak, namun
tidak menunjukkan kebencian atau bahkan mengarah ke konflik.
Mereka menolak karena alasan pribadi, bukan karena perbedaan
etnis.
Hal ini sesuai yang dikatakan oleh, pembina asrama putri
kelas X:
Di awal mereka masuk, di tiga bulan pertama, pada
umumnya anak-anak masih saling mencari siapa
temannya, jadi masih ada rasa saling menjaga jarak.
Makanya setiap tiga bulan penghuni kamar kami
rotasi lagi, agar mereka segera berusaha saling
mengenal lebih banyak. Di saat itu kami bekerja
115
keras menjaga mereka agar tidak ada terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan. Setelah itu aman, mereka
sudah mampu beradaptasi, dan memahami teman-
temannya.
Juga yang dikatakan oleh beberapa siswa:
Hanya di awal semester pertama saja, sekitar 3 – 4
bulan kami masih mengelompok sesama asal daerah.
Setelah saling mengenal dengan teman-teman dari
daerah lain, kami malah tidak berkelompok lagi
dengan mereka, sudah membaur dengan teman-
teman dari daerah lain. Enak bu, banyak teman.
116
BAB 7
PENUTUP
Tulisan ini berada pada kajian sosial masyarakat majemuk di
madrasah sebagai suatu sistem sosial dengan melihat pola
pengelolaan dan pola interaksi antarsiswa yang terbentuk. Pola
interaksi yang terbentuk di MAN ICG adalah pola yang berdasarkan
hasil pengelolaan. Sebagai sebuah sistem sosial, madrasah
memiliki unsur yang saling fungsional satu sama lain, yaitu guru,
siswa, staf dan manajemen madrasah sebagai pengelola. Unsur-
unsur tersebut berperan sesuai dengan perilaku yang diharapkan
untuk dimainkan.
Hubungan antarsiswa berperan membentuk jaringan yang
berpola dan memberikan dampak terhadap perilaku para aktor.
Pola jaringan tersebut terbentuk berdasarkan peran siswa dan
mereka berinteraksi sesuai dengan perilaku dan karakter yang
diharapkan untuk dimainkan. Karakter yang diharapkan
dimainkan adalah karakter yang secara teknis dikelola untuk
mengubah siswa dan masyarakatnya pada perilaku dan ideologi
tertentu. Perubahan tersebut mengarah pada ideologi
multikulturalisme, yang bebas konflik. Mengapa demikian?
Selama ini, pemahaman orang sesuai dengan pandangan
Geertz dan Furnivall tentang masyarakat yang majemuk bahwa
kemajemukan masyarakat sebagai persoalan besar dalam
keidupan negara-bangsa karena masing-masing kelompok sukar
untuk mengadakan interaksi dan relasi. Menurut (Geertz, 2000),
negara-bangsa yang plural senantiasa dihadapkan pada persoalan
disintegrasi, sementara masyarakat yang secara kultural dan
agama yang homogen lebih menunjukkan integrasi yang kuat dan
senantiasa dalam keadaan stabil.
117
Lain halnya fenomena yang terjadi di MAN ICG. Masyarakat
MAN ICG adalah masyarakat yang majemuk dari sisi kultur, namun
homogen dari sisi agama. Dari sinilah pihak pengelola memahami
kebutuhan masyarakatnya dengan menerapkan pola pengelolaan
yang berorientasi pada integrasi dan relasi. Pengelolaan diatur
sedemikian rupa guna membentuk masyarakat yang serasi. Para
siswa bukan hanya terikat karena kesamaan agamanya,
keserasiannya dalam kebutuhan-kebutuhan praktis, namun juga
adanya bobot yang lahir dari hubungan ikatan itu sendiri. Di dalam
ikatan itu para siswa diberi tempat, status dan peran, diakui dan
memiliki identitas. Disinilah terbentuk ikatan yang berkembang di
dalam organisasi madrasah. Kelompok formal atau organisasi ini
yang para anggotanya memiliki ikatan yang sama memiliki
solidaritas, kesetiaan dan loyalitas yang tinggi.
Pengungkapan berbagai bentuk relasi (interaksi) sosial
antaretnis yang terjadi yang berbeda kebudayaannya di madrasah
adalah sekaligus berpotensi pula memahami keanekaragaman
etnis dan budaya di Indonesia. Pengkajian proses interaksi sosial
yang terjadi, mengungkap pengetahuan tentang proses-proses
sosial di kalangan siswa sehingga diketahui segi dinamis
masyarakat dan kebudayaannya. Pola interaksi sosial antarsiswa
yang terbentuk menjadi penanda bekerjanya gerakan
multikulturalisme sebagai suatu komunitas yang majemuk.
Walaupun komunitas madrasah ini adalah komunitas yang
terikat oleh kesamaan agama, seperti yang dikatakan oleh (Radjab,
2000), bahwa orang yang terikat pada sesama umat agama, atau
daerah yang sama bukan semata-mata karena adanya keserasian
dalam hubungan pribadi dan kebutuhan-kebutuhan praktis, tetapi
juga karena adanya bobot yang lahir dari ikatan itu sendiri. Seperti
kelompok kecil yang berkembang di MAN ICG, Gotik (Gorontalo
cantik), gabungan beberapa siswa putri dari tiga angkatan, yang
118
berasal dari Gorontalo. Bobot yang lahir dari ikatan kelompok ini
ialah mereka menunjukkan diri sebagai kelompok dominan yang
menyatakan diri cantik yang terikat dan terbentuk di wilayah
mereka sendiri.
Kajian ini berada pada ranah interaksi yang lebih bervariasi,
dengan lingkup madrasah dan asrama sebagai lembaga sosial.
Pertemuan dan interaksi lebih padat, dan juga lebih dari 10 etnis
yang saling berhubungan dengan tingkat sosial dan bahasa yang
berbeda-beda, juga pemahaman akan sesuatu hal yang saling
berbeda. Namun mereka homogen dalam agama. Pertemuan antar
siswa bukan hanya dengan teman sekelas, namun juga teman
sekamar, teman kelompok tadarus, kelompok halaqoh tarbawiyah,
kelompok cuci piring, kelompok kerja bakti dan lain-lain. Bila Salim
menemukan bahwa terdapat konsistensi sikap di kalangan
orangtua dan anak tentang pergaulan multikultural, disini
terungkap adanya norma dan nilai-nilai yang diterapkan kepada
para siswa yang membentuk sikap multikultural di antara mereka
atau bisa dikatakan bahwa terjadi suatu etos multikultural yang
beroperasi pada tingkat mikro yakni di madrasah melalui pola
interaksi sosial yang berjalan di dalamnya.
Madrasah sebagai suatu sistem interaksi dipenuhi oleh
fenomena definisi situasi, interpretasi realitas, dan pemaknaan
terhadap kenyataan yang dihadapi. Realitas sosial termasuk MAN
ICG, dipahami sebagai kenyataan interaksional yang dipenuhi oleh
simbol. Secara teknis, yakni dalam proses belajar-mengajarnya,
dan secara formal, madrasah tidak berbeda dengan sekolah
lainnya. Namun di Indonesia madrasah tidak lantas dipahami
sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi,
yakni "sekolah agama", tempat dimana anak-anak didik
memperoleh pembelajaran hal-ihwal atau seluk-beluk agama dan
keagamaan.
119
Dalam pembinaan jiwa agama dan akhlak siswa, salah satu
yang ditekankan di dalamnya adalah pembinaan sikap toleransi
yang mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya
berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit,
bahasa, adat-istiadat, budaya, bahasa, serta agama, yang mengarah
kepada perspektif multikulturalisme. Perspektif ini memandang
hakikat manusia sebagai sesuatu yang universal dan oleh
karenanya manusia itu dikatakan sama. Namun, ketika
membicarakan masalah cara hidup (way of life), aturan berfikir
(rule of thinking), dan pendirian atau prinsip hidup (state of mind),
perbedaan dipandang sebagai kesempatan untuk
memanifestasikan hakikat sosial dan sosiabilitas manusia dengan
dialog dan komunikasi. Ini semua merupakan fitrah dan
sunnatullah yang sudah menjadi ketetapan Allah SWT. Landasan
dasar pemikiran ini adalah firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat
13:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan
kamu dari seorang laki-laki (Nabi Adam) dan
seorang perempuan (Siti Hawa), kemudian Kami
jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
agar kamu saling kenal mengenal. Sungguh, yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha
mengetahui, Maha Teliti”. (Al-Hujuraat, 13).
Berdasarkan ayat inilah sikap multikultural para siswa MAN
ICG dikembangkan, yang dituangkan dalam kurikulum dan tata
tertib dan disiplin madrasah. Pengelolaan kehidupan dalam
madrasah dengan dasar perbedaan asal daerah, adat istiadat, dan
120
suku dicerminkan dalam sikap toleransi antarsiswa. Dari sikap
tersebut, terbentuklah pola interaksi yang bernilai multikultu yang
menurut (Suparlan, 2003) acuan utamanya yaitu sebuah idiologi
yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam
kesedererajatan baik secara individu maupun secara kebudayaan.
Salah satu kriteria yang mencerminkan sikap multikultural
adalah kerja sama. Kerja sama dilakukan untuk membentuk
kesatuan pola pikir dan pola tindak. Artinya, dua pihak bekerja
bersama-sama karena memiliki gagasan yang sama, atau bekerja
sama dalam bentuk fisik. Kerja sama merupakan bentuk interaksi
sosial yang pokok dan juga merupakan proses utama. Hal ini
merupakan proses utama karena kerja sama menggambarkan
sebagian besar bentuk-bentuk interaksi sosial atas dasar bahwa
segala macam bentuk interaksi tersebut dapat dikembalikan pada
kerja sama. Kerja sama timbul karena orientasi individu terhadap
kelompoknya dan kelompok lain dan akan bertambah kuat apabila
ada ransangan yang membuat mereka tetap ingin mempersatukan
kelompoknya.
Di awal telah dikatakan bahwa di kalangan masyarakat pada
umumnya telah timbul kesadaran multikulturalisme, namun
kesadaran ini masih merupakan potensi yang aktualisasinya tidak
jarang terhalang oleh situasi sosial yang melingkupinya. Kendala
tersebut terlihat dari interaksi sosial yang tidak cair antarindividu
dan kelompok etnis yang berbeda.
Kajian ini melihat pola pengelolaan dan pola interaksi unsur
siswa sebagai salah satu aktor pada MAN ICG yang berasal dari
berbagai daerah di Indonesia. Dalam pengelolaannya, MAN ICG
membuat suatu acuan yang dapat menjamin mutu luarannya.
Keberhasilan yang diraihnya selama ini membuktikan pengelolaan
dan sistem yang diterapkan serta bermutunya pelaksana
pendukungnya.
121
Untuk menjamin mutu, MAN ICG membuat pedoman
pengelolaan yang distandarisasi yang menjadi acuan bersama yang
mendasari kreativitas, inovasi, baik individu maupun bidang-
bidang unit kerja. Pedoman tersebut berupa suatu standar acuan
manajemen (SAM) yang digunakan sebagai alat ukur pemerolehan
sertifikasi standar mutu sistem kerja baik dari lembaga
standarisasi nasional maupun internasional. Standar acuan ini juga
memberikan arah kebijakan yang jelas secara internal dalam
mengelola keberlangsungan MAN ICG, baik dalam tataran
perencanaan, organisasi personal dan sarana lainnya, tata laksana
kerja, serta evaluasi kerja lembaga (Standar Acuan Manajemen
Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Gorontalo, 2008). SAM
menjadi miniatur yang telah didokumentasikan dan menjadi
sistem penyelenggaraan MAN ICG yang dijadikan sebagai patokan
dan acuan bersama.
Muatan SAM MAN ICG ialah visi dan misi, target, garis-garis
besar MAN IC yang memuat konsep dasar, prasyarat, standar mutu,
standar kurikulum, standar pembinaan kesiswaan, standar
manajemen keasramaan, standar sistem manajemen dan
organisasi dan standar sarana dan prasarana. Dari muatan
tersebut, para pengelola di masing-masing unitnya memahami
muatan SAM dan mengimplementasikannya pada
penyelenggaraan pendidikan secara sistematis, dan berdampak
pada kualitas mutu yang terjamin.
Di awal masa pendidikan, interaksi antarsiswa masih saling
memberikan sinyal, tanda, persepsi, sikap dan tindakan tentang
sesuatu yang berhubungan dengan keberadaan dan kebersamaan
mereka, utamanya kebersamaan mereka di kelas dan di asrama.
Setelah masa penjajakan berakhir, secara perlahan muncul pola
hubungan antarsiswa. Tidak semua keinginan, kepentingan,
kebutuhan, dan orientasi para siswa tercakup dalam pola tersebut.
122
Namun ketika pola interaksi itu terbentuk, maka pola tersebut
menjadi milik bersama dan menjadi rujukan oleh siswa dalam
berperilaku dan bertindak.
Pola interaksi tersebut berisi berbagai kesepakatan, yaitu
tentang disiplin, tata tertib, kerjasama, bermain, tugas sekolah,
tugas asrama, ibadah dan lain-lain yang mencakup interaksi
kehidupan keseharian para siswa. Dalam kesepakatan ini,
terkandung prinsip ketergantungan satu sama lain dalam
melaksanakan kegiatan sehari-hari di madrasah. Pola hubungan
tersebut juga menjadi pengontrol perilaku masing-masing yang
dilihat sebagai suatu sistem.
Seperti yang telah dikatakan pada bab sebelumnya, unsur
utama yang berperan dalam interaksi sosial antarmanusia, adalah
(1) struktur sosial (social structure); (2) tindakan sosial (social
action); (3) relasi sosial (social relations); dan (4) impression
management. Struktur sosial para siswa yang terbentuk adalah
kerangka dan keseluruhan jalinan yang menggambarkan kaitan
antar siswa dalam madrasah, yang tergambar dalam pola interaksi
yang terbentuk. Pola tersebut adalah perwujudan perilaku para
siswa yang mencirikan perbuatan yang terlihat, terdengar,
dirasakan dan disikapi atau diingat dan dibayangkan apa yang akan
terjadi yang dikontrol oleh sistem yang diberlakukan di madrasah
tersebut. Interaksi sosial antarsiswa yang terbentuk merupakan
proses dinamis yang menunjukkan kebiasaan berhubungan.
Tindakan sosial mereka merupakan seperangkat perilaku yang
dipengaruhi atau ditentukan oleh tampilan nyata atau yang
seharusnya terjadi, karena apa yang seharusnya terjadi, seperti apa
yang dibayangkan atau yang dikehendaki sehingga mudah diingat
oleh orang lain.
Pola interaksi antarsiswa yang menunjukkan ideologi
multikulturalismenya adalah berkat pengelolaan yang sedemikian
123
rupa yang berlandaskan pada aqidah yang diterapkan oleh pihak
madrasah kepada semua unsur di dalamnya dan melalui kurikulum
yang diberlakukan. Norma-norma budaya dan aqidah yang
diterapkan oleh dua pihak, yakni pihak pengelola dan siswa, untuk
memelihara dan melanggengkan interaksi, demi membangun
klaim identitas diri yang positif atau mencegah kesalahpahaman
karena stigma atau labeling. Hubungan interaksi antarsiswa,
dikelola dengan menggunakan norma dan aturan yang disepakati
untuk ditaati untuk menjaga kelangsungan interaksi. Unsur-unsur
utama tersebut berperan dalam interaksi sosial, saling
berhubungan membentuk suatu mekanisme interaksi antarsiswa.
Pola interaksi antar siswa yang pada angkatan pertama,
adalah pola interaksi yang sangat menggambarkan ideologi
multikulturalisme dengan kriteria ingin menjadi teman sekelas.
Ingin menjadi teman berarti ingin tetap berkumpul bersama. Pola
tersebut mencerminkan sikap toleransi yang tinggi dengan
terpilihnya semua siswa di dalam kelas untuk dapat dijadikan
teman sekelas dengan alasan-alasan yang mengindikasikan suatu
pemilihan yang telah terseleksi setelah menjalani kebersamaan
selama 1 semester. Sebelumnya, di masa penjajakan, sekitar 3 - 4
bulan pertama, para siswa masih berkumpul dengan sesama
asalnya atau sekolahnya. Jawa dengan Jawa, sesama Sulawesi
Selatan, sesama Gorontalo, membentuk kelompok walau mereka
tidak sekelas atau sekamar dalam asrama. Namun seiring
berjalannya waktu, mereka telah saling mengenal dan atas
pengelolaan pihak madrasah untuk selalu melebur, mereka
akhirnya membentuk pola interaksi baru yang lebih meluas,
apakah itu di kelas ataupun di asrama.
Pengelolaan siswa yang multietnis ini mulai diterapkan di
awal penerimaan calon siswa baru. Pengelompokan dan struktur
sosial mulai dibentuk. Pertama, calon siswa ialah, para siswa
124
unggul yang 80% berasal dari pesantren dan Madrasah
Tsanawiyah serta 20% dari SMP Umum. Kedua, calon siswa
diseleksi secara nasional dengan menggunakan tes skolastik
dengan capaian nilai minimal 900 dan tes akademik. Ketiga, setelah
lulus, para siswa di beri tes entry behaviour untuk mengetahui
kemampuan awal siswa, kemudian diberi treatment matrikulasi
bidang studi selama 1 bulan. Selanjutnya di tes lagi untuk
mendapatkan perbandingan hasil tes awal dan akhir. Hasil tes
tersebut digunakan untuk menentukan kelompok kelas X1 dan X2,
dan selanjutnya kelas X3, X4 dan X5 diacak. Keempat, hasil
matrikulasi dikaji lagi dengan menghubungkannya dengan nilai tes
blok siswa dan tes kenaikan kelasnya. Selain itu, matrikulasi juga
bertujuan untuk menyamakan konsep dasar dan pengenalan
pemakaian alat-alat laboratorium dalam mata pelajaran
matematika, fisika, kimia dan biologi. Para siswa dikelompokkan
berdasarkan kemampuan intelektual, dan kecenderungan arah
minat dan kemampuan, dan juga berdasarkan sebaran asal daerah
para siswa. Hal ini berarti struktur sosial, dan pola interaksi mulai
dibentuk di awal penerimaan.
Penghuni asrama juga dikelompokkan berdasarkan
tingkatan. Dalam satu gedung asrama terdiri dari 60 siswa se
angkatan, jenis kelamin sama, yang disebar ke dalam 15 kamar.
Dalam penentuan penghuni masing-masing kamar, diatur
sedemikian rupa agar dalam satu kamar terdapat seorang siswa
yang berprestasi/unggul, dan tidak terdapat etnis yang sama. Hal
ini dilakukan agar para siswa dapat saling mengenal satu sama lain
dan dapat saling membantu dalam belajar. Setiap 3 bulan sekali
penghuni kamar diubah dan diatur kembali agar tidak ada siswa
yang sekamar lagi dengan teman sebelumnya. Jadi, dalam setahun
setiap siswa mendapatkan 12 teman sekamar yang berbeda etnis,
budaya dan kebiasaan serta bahasanya. Dari sini pihak madrasah
telah mengelola dan memupuk rasa kebersamaan dan toleransi
125
antar siswa/etnis, dengan dipandu oleh tata tertib asrama dan
dibina oleh 1 orang pembina asrama. Pola interaksi di asrama telah
diatur sedemikian rupa sehingga rasa kebersamaan, penerimaan
akan perbedaan dan toleransi antar siswa tetap terbina.
Dalam proses interaksi antaretnik, para siswa tetap
dipengaruhi oleh sistem budayanya masing-masing, di pihak lain
tindakan-tindakan interaksi dan komunikasi antarsiswa tersebut
distimulasi oleh nilai-nilai dan norma (tata tertib) yang ada. Tata
tertib asrama yang ada atau nilai bersama (sharedvalues) tersebut
akhirnya menjadi standar umum kebudayaan di madrasah,
setidaknya merupakan mediator dalam memperlancar hubungan
antarsiswa/etnik. Menurut Parsons, sosialisasi terjadi ketika nilai-
nilai yang dihayati bersama dalam masyarakat diinternalisir oleh
anggota-anggota masyarakat itu (Raho, 2007). Para siswa
mengadopsi nilai-nilai madrasah menjadi nilai-nilainya sendiri.
Jadi sosialisasi mempunyai kekuatan integratif yang sangat tinggi
dalam mempertahankan kontrol sosial dan keutuhan masyarakat.
Tata tertiblah yang merupakan nilai-nilai yang dihayati bersama
yang diadopsi oleh para siswa untuk menjalani interaksi diantara
mereka. Terjadinya kesenjangan antarsiswa/etnis dapat dilebur ke
dalam kebersamaan melalui pengadopsian nilai-nilai bersama
tersebut. Nilai-nilai yang dibuat oleh madrasah yang merupakan
nilai bersama, yang disepakati bersama dan dijalankan bersama
menjadi standar umum kebudayaan di asrama.
Berdasarkan nilai-nilai yang telah dipahami dan dijalani
bersama, terbentuklah pola interaksi antarsiswa yang
mencerminkan nilai kebersamaan di atas perbedaan yang mereka
bawa masing-masing. Pemilihan teman berdasarkan sifat pribadi,
bukan berdasarkan kesamaan asal daerah memperlihatkan bahwa
para siswa telah melebur dan telah bersatu dalam satu kelompok
masyarakat yang multikultur.
126
Hal ini menandakan bahwa pola pengelolaan yang
diterapkan di MAN ICG telah membentuk suatu sikap menerima
segala perbedaan yang ada, dan membatasi pergaulan dengan
lawan jenis, sesuai nilai-nilai agama Islam yang dianutnya.
Pengelolaan tersebut menyadarkan siswa atas keberadaan
berbagai budaya, yang pada gilirannya mempunyai kemampuan
untuk mendorong lahirnya sikap toleransi, dialog, kerjasama
antaretnik dan ras, sebagai entitas yang memiliki hak-hak yang
setara. Jadi bisa dikatakan bahwa pola pengelolaan siswa
mengarah kepada perspektif multikulturalisme, yang menekankan
pada pergantian cara berpikir siswa selama ini yang menggunakan
hanya satu norma/kebudayaan dominan untuk mengukur segala
sesuatu, ke berpikir yang multiple perspektif.
127
DAFTAR PUSTAKA
Ballantine, J. H., & Hammack, F. M. (2016). The Sociology of
Education: A Systematic Analysis (7 th). Routledge.
Banks, J. A., & Banks, C. A. M. (2016). Multicultural Education: Issues
and Perspectives. Wiley.
Geertz, C. (2000). Available Light: Anthropological Reflections on
Philosophical Topics. Princeton University Press.
Hawasi. (2005). Aktualisasi Paradigma Multikulturalisme dalam
Budaya Indonesia yang Plural. Proceeding Seminar Nasional
PESAT.
Herdiansah, A. G. (2017). Politisasi Identitas Dalam Kompetisi
Pemilu Di Indonesia Pasca 2014. Jurnal Bawaslu, Vol.3(No. 2),
169–183.
Idi, A. (2011). Sosiologi Pendidikan; Individu Masyarakat dan
Pendidikan. Rjagrafindo Persada.
Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi (Edisi Revi).
Rineka Cipta.
Liliweri, A. (2009). Prasangka dan Konflik ; Komunikasi Lintas
Budaya Masyarakat Multikultur (Cetakan II). LKiS Yogyakarta.
Lubis, M. R. (2015). Sosiologi Agama: Memahami Perkembangan
Agama dalam Interaksi Sosial (1st ed.). Kencana.
Mahfud, C. (2011). Pendidikan multikultural. Pustaka Pelajar.
Maliki, Z. (2012). Rekontruksi Teori Sosial Modern. Universitas
Gajah Mada Press.
Standar Acuan Manajemen Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia
Gorontalo, (2008).
Moreno, J. D. (2014). Impromptu Man: JL Moreno and the Origins of
Psychodrama, Encounter Culture, and the Social Network.
Bellevue Literary Press.
Poloma, M. M. (2007). Sosiologi Kontemporer (Terjemahan oleh Tim
Penerjemah Yasogama-Ed 1) (1st ed.). PT. Raja Grafindo
Persada.
128
Putradi. (2020). Makna Tradisi Memuja Tahon dan Balit bagi Umat
Buddha Dusun Baru Murmas Desa Bentek Kecamatan Gangga
Kabupaten Lombok Utara. Sabbhata Yatra Jurnal Pariwisata
Dan Budaya, Volume 1(Nomor 1 Juli 2020).
Radjab, B. (2000). Masyarakat Indonesia: Tinjauan dan Dimensi
Pluralitas dan Peradaban. . . Jurnal Transformasi, Vol.1(No.3,
Oktober), 1 – 8.
Raho, B. (2007). Teori Sosiologi Modern (Terjemahan). Prestasi
Pustakaraya.
Salim, A. (2006). Stratifikasi Etnik: Kajian Mikro Sosiologi Interaksi
Jawa dan Cina. Tiara Wacana.
Semendawai, A. H., & Laggut, E. S. R. (2003). Otonomi Daerah dalam
Kehidupan Multikultural. Jurnal Transformasi, Vol.3(No 1
Januari-Maret), 40 – 50.
Sparingga, D. (2003). Multikulturalisme; dari Pembiaran dan Ko-
Eksistensi Menuju Pro-eksistensi. dalam Diskriminasi di
Sekililing Kita: Negara, Politik Diskriminasi dan
Multikulturalisme. Institut Dian/Interfidei.
Suparlan, S. (2003). Multikulturalisme dan Kebudayaan. Jurnal
Transformasi, Vol.3(No.1 Januari-Maret), 4–12.
Susetyo, D. P. B. (2010). Stereotip dan Relasi Antarkelompok. Graha
Ilmu.
Taylor, S. E., Sears, D. O., & Peplau, L. A. (2009). Psikologi Sosial
(Edisi ke D). Kencana.
Tilaar, H. A. . (2003). Kekuasaan dan Pendidikan. Indonesia Tera.
Van Krieken, R., Smith, P., Habibis, D., McDonald, K., Haralambos, M.,
& Holborn, M. (2006). Sociology: Themes and Perspectives (3rd
ed.). Pearson Education.
Wirawan, I. B. (2015). Teori-teori Sosial dalam Tiga Paradigma:
Fakta Sosial, Definisi Sosial, dan Perilaku Sosial (cetakan ke).
Prenada Media.
Yudhawati, R., & Haryanto, D. (2011). Teori-Teori Dasar Psikologi
Pendidikan. PT. Prestasi Pustakarya.
129
Adaptation GLOSARIUM
Attraction Upaya masyarakat dapat bertahan
Co-existance hidup dan harus mampu menye-
Entry behaviour suaikan diri dengan lingkungan dan
Equilibrum mengubah lingkungan agar dapat
sesuai dengan masyarakat. Adaptasi
Goal attainment menunjuk pada keharusan bagi
sitem-sistem sosial untuk meng-
hadapi lingkungannya.
Ketertarikan fisik dan emosional
Hidup bersama dalam suatu
komunitas
Keadaan pengetahuan atau kete-
rampilan yang harus dimiliki
terlebih dahulu oleh siswa sebelum
ia mempelajari pengetahuan atau
keterampilan baru.
Proses yang terjadi dalam tatanan
kehidupan bermasyarakat dalam
upaya membentuk harmoni atau
dalam mencapai keselarasan
interaksi sosial dalam suatu
masyarakat yang heterogen/multi
etnis.
Sebuah sistem harus mampu
menentukan tujuan dan berusaha
untuk mencapai tujuan yang telah
130
Identity dirumuskan bersama para anggota
Identity-confusion dalam sistem sosial.
Impression management
Perasaan diri seseorang yang
Integration ditentukan oleh serangkaian karak-
teristik fisik, psikologis, dan
interpersonal yang tidak sepenuh-
nya dimiliki oleh orang lain dan
berbagai afiliasi (misalnya, etnis)
dan peran sosial.
Ketidakpastian tentang identitas
seseorang, yang sering terjadi
selama masa remaja dan bisa juga
terjadi pada tahap kehidupan
selanjutnya.
Perilaku yang dimaksudkan untuk
mengontrol cara orang lain
memandang diri sendiri, terutama
dengan membimbing mereka untuk
mengaitkan sifat yang diinginkan
dengan diri sendiri. Biasanya,
diasumsikan bahwa orang berusaha
menampilkan citra diri yang disukai
sebagai cara untuk mendapatkan
penghargaan sosial dan meningkat-
kan harga diri.
Persyaratan untuk suatu tingkat
solidaritas minimal sehingga para
anggotanya akan bersedia untuk
bekerja sama dan menghindari
konflik yang merusak.
131
Interaksi sosial Hubungan timbal balik (sosial)
Latensi berupa aksi saling memengaruhi
Maintenance antara individu dan individu, antara
Masyarakat multikultural individu dan kelompok, dan antara
kelompok dan kelompok
Multikultural
Kebutuhan mempertahankan nilai-
Multikulturalisme nilai dasar serta norma-norma yang
dianut bersama oleh para anggota
dalam masyarakat.
Adanya keragaman budaya atau
multikultural yang terdapat di
dalam kehidupan masyarakat yang
berkaitan dengan nilai-nilai, sistem,
budaya, kebiasaan, serta politik
yang digunakan oleh mereka.
Istilah yang digunakan untuk
menggambarkan pandangan sese-
orang tentang berbagai kehidupan
di bumi, atau kebijakan yang
menekankan penerimaan keraga-
man budaya, dan berbagai budaya
nilai-nilai (multikultural) masya-
rakat, sistem, budaya, adat istiadat,
dan politik yang mereka pegang.
Pandangan terhadap keaneka-
ragaman kehidupan di dunia,
ataupun kebijakan kebudayaan
yang menekankan tentang peneri-
maan terhadap adanya keragaman,
132
Multiple perspektif dan berbagai macam budaya di
dalam realitas masyarakat
Mutual attraction menyangkut nilai-nilai, sistem
sosial, praktik budaya, adat-
Mutual rejection kebiasaan, dan filosofi.
Peacefull co-existance
Pluralis Pemahaman terhadap suatu hal
yang dilihat dari beragam sudut
Relasi social pandang sehingga menghasilkan
Rule of thinking banyak pertimbangan maupun
State of mind pendapat yang berbeda.
Memiliki ketertarikan fisik dan
emosional satu sama lain. Ketika dua
orang saling tertarik, mereka berdua
menyukai satu sama lain
Saling menolak satu sama lain.
Hidup damai berdampingan dengan
saling menghormati.
Sikap hidup manusia yang
mempertahankan kondisi kemaje-
mukan dengan apa adanya lengkap
dengan konsekuensi terjadinya
gesekan-gesekan antara isme yang
ada didalamnya.
Hubungan timbal balik antara
individu dengan individu lain yang
saling mempengaruhi.
Aturan berfikir
Pendirian atau prinsip hidup
133