The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sejarah dan Nilai Kepahlawanan Kota Magelang

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-04-25 21:44:41

Sejarah dan Nilai Kepahlawanan Kota Magelang

Sejarah dan Nilai Kepahlawanan Kota Magelang

BADAN ARSIP DAN PERPUSTAI(MN
PROVINSI JATENG

}-D.12

)g-1641 /3941-20 10

Sefrg I{exjaratwn
Oifung Kawlorafim fan 1{ryur5a{a{aan

A€sW Covr: (Drt Su"fiafiorc, frLe[

&wj- /6yl /,lgy, ^Jok)

SETARAH DAN NILAI KEPAHLAWANAN

KOTA MAGELANG

,.#:

Oleh:
Prof.Dr. Wasino, M.Hum.
Nina Witasari, S.S.,M.Hum.

M. Sokeh, S.Pd.

Dra.fuus S, M.A
Dra. Endah Sri Hartatik

Drs. Suhartono, M.Pd.
Endah Marwanti, S.Sos.
Drs. Harto Juwo[o, M.Hum.

Drs. Sulistiyono

SEICSIKESF^IM

BIDAI{G SE.IARAEI DAI\ KEPURBM

DINA,S KEBUDAYAAN DAI{ PARTWISATA
PROPINSI JAWA TENGAEI

SEMGzoog

beonn ARPU$ PRov.,IATEilo
DI SEHIERAI{O

No.Daft" 9Ll l-212t'o
Tanggal I g.+ntL-2.rtb

I(ATAPENGAIYTAR

Puji syu}ur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
rlun rahmat hidayah dan karunia-Np yang dilimpahl€n kepada
kltn, sehingga penyusunan buku yang berjudri "SEIARAH DAIiI

Nll,AI KEPAHLAWANAN KOTA MAGELANG" dapat

Iorsclesaikan. Buku ini menrpakan hasil kegiatur Seksi Kesejarahan
llidang Kesejaratran dan trGpurbakalaan Dinas Kebudayaan dan
l'ariwisata Provinsi Jawa Tengah yang di biayai melalui dana APBD
l'rovinsi Jawa Tengah sebagaimana tercanhrm dalarn 9o9/DPA-
:rtxr8 tahun anggaran 2oo9.

Buku ini merupakan salah satu usaha penanganan Warisan
lludaya yang ada di Jawa Tengah dalam rangfu menunjang

perlindungan, pelestarian, peugembangan dan penyebarluasan arti,
makna dan fungsi Peniqggalan Sejarah kepada masyaralrat luas
dalam rangka pengembangan Wisata Budaya yang sedang kita
galakkan.

Buku ini tersusun berkat kerjasama dan bantuan dari pihak-
pihak terkait diantaranya para Kepala Dinas Kebudalraan dan
Pariwisata IGbupaten/ Kota se Jawa Tengah, Nara Sumber, rekan-
rekan Seksi Kesejarahan Bidang Kesejarahan dan Kepurbakalaan
dll, Sehingga pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih
atas bantuan dan kerjasamanl.a bulu ini dapat terselesaikan sesuai

rencana.

Sekalipun penulisan buku ini telah diupayakan secara maksimal
baik isi maupun kualitas, tenhr masih terdapat kekurangan. Unhrk

itu saran, masukan dan laitik yang konstruktif d.ari para pembaca

sangat diharapkan demi perbaikan dan penyempurnaan penulisan
untukkegiatan-..

SgamLlbfa X{Eetang

kegiatan di masayang akan datang.
Semoga buku yang sederhana ini bermanfaat bagl kita semua.

Semarffig, 2oo9

Bidang Kesej arahan dan Kepurbakalaan
Kebudayaan dan Pariwisata
insiJawaTengatr

PembinaTKI
5St+r65 15 I tg S8o7z8 r984og 1oo3

sgan$lbfawrlry

I(EPAII\ DINAS KEBI.IDAYAAIY DAIII

PARTVISATA PROVINSI JAVYA TENGAH

SAMBUTAN

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Dengan penuh rasa syukur s6aySaEmJAenR5AraHmbDutAbI{aiNkILatAasI

rlltorbitkannya buku berjudul

KI{PAHLAWANIAI{ KOTA MAGEI^A}.IG' melalui kegiatan Seksi

Konejarahan Bideng Kesejarahan dan Kepurbakalaan Dinas

Kohudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah sebagaimana

torcantum dalam gog/ DPA - zooS melaluiAPBD Provinsi Jawa

'lbngah tahun Anggaran 2oo9.

iniBuku diterbitkan dengan harapan dapat memberikan

gambaran dan informasi kepada masyarakat tentang }rhasanah
budaya bangsa Indonesia khususnya mengenai obyek peninggalan
rcjarah, sekaligus unhrk lebih memacu usaha-usaha penggalian,

pcnyelamatan dan pemeliharaan benda-benda peninggalan sejarah

dan bangunannya di Jawa Tengah.

Dengan diterbitkannya bulru ini kiranya dapat pula dijadikan

earana brgr usaha pengembangan dan pemasaran

SgamfrKna*kgckng

obyek-obyek wisata dalam rangka menunjang pelaksanakaan

pembangunan bidang sosial budaya di Jawa Tengah.

Wassalamu'allaikum Wr. W'b

ffi Semar&trg, 2oo9

KepalaDinas
pdayaan dan Padwisata

insiJawaTengah

NIP. 1316r lzil/ r958r 2L2 1986o g to24

DAFTARTABEL

l. Tabel 2.L Kecamatan dan Kelurahan
...ryang terdapat di Kota Magelang
2. Tabel 2.2 15
3. Tabel 2.3
Luas Wilayah Magelang,r,,!r,,r,,,,,, 16
4. Tabel 4.I
Angka Kelahiran dan Kematian .r..,! 22
5. Tabel 4.2.
6. Tabel 4.3 Penduduk Timur Asing (Cina) 48

Tabel 5.1. dan ErOpa r.r t rr. r rr r r rt t r rr r r r r r r r r r r ! r r r. r.

Pejabat dan Unit Admi nistrasi
,r,,rPemerintahan Hindia Belanda
87

Nama-Ilama Sekolah yang dibangun

zaman Penjajahan Belanda !,,!,,r...! 100

Struktur Pemerintahan

pada Masa Pendudukan Jepang .r. 109



DAT'TARGAIVIBAR

l. Gambar2.L Prosentase Luas

Penggunaan Lahan . r !. t t r. t r r t. r r.. r r ! ! r. t r r r. 18

2, Gambar2.2 Piramida Penduduk Magelang r,!...rr.,,r,r 2L

3. Gambar 2.3. Banyaknya Sekolah, Guru
24.dan Murid Sekolah ... ! r r r. r. r r r !. r r r r r. t r ! r r r t. r

1, Gambar2.4. Banyaknp Samna Kesehatan rr!.ri,!,!,,,, 25
5. Gambar 3.1.
Yoni yang terdapat pada
6. Gambar3.2. prasasti Mantyasih ..r.trr.r..rrrrrtrrrrrrrrrrrr 37
7. Gambar 3.3.
8. Gambar 4.L IGntor Burgemeester rr.trrrrtr.rrrr.!rrrrrr.. 4L
9. Bagan 4.2
Peta wilayah Magelang !.r.rr..,r,....,rr.rr.. 42
10. Gambar 4.3.
11. Gambar 4.4. Masjid Kota Magelang rr.!r.r.!r.rtrrrr.rrr,!!. 46
L2. Gambar4.5.
13. Gambar 4.6. Peta Jalan Peninggalan Belanda rrrr,!.r... 93
L4. Gambar 4.7. Peta Kota Kota Magelang.rrrrrr,r.r,,rrr!. . 9l+
15. Gambar 5.1. Suasana Kota Taman Kolonial ,,!,,r..,,rr., 95
16. Gambar 5.2. Plengkung Saluran Irigasi.....,!!r,,rr,.!. 96

Gedung Mowia r.rr.rrtrrr...rtr..!!r!.rrrr.rrr. 97

PaStUfah .. ! r r r r r. r.! r. r r.r r r r ! !rt ! rrr r !rrrr ! r r t rr.. 9!)

Peta Kota Magelang ! r r r r r t... r !. !.t ! r ! r r r ! r r ! r r 105

Skemalbagan system 108
pemeri ntahan pendudukan Jepang

di Magelangtr.rrr...!!trrrrrrtrr!!rr.rrr!..rrrt.r.

,fgem61<^okWfu

LT. Gambar 5.3. Tugu Gunung Tidar ,r.!rr!!r.rrt.!rtr,!!r 153

18. Gambar 6.1. SlametSuwondo

Waktu Masih Muda ..!rrr!!.r.rr.rrrrrrrrr L56

19. Gambar6.2. SlametSuwondo Masa Sekarang .!r 161

20. Gambar3.3. Dw'tjOSewOjO r. . ! r r ! r r ! r r . r r r r r r ! r ! ! r r r ! r r t r 165

2L. Gambar3.4. Boediardjo Marskal TNI

dan Menteri Penerangan r,.r.,.!r,,r, L67

DAFTARISI

Halaman

HALAMAN JUDUL....i..r..................................................... i
IATA PENGAI{TAR.................1.......................e .................. iii

DAFTAR TABEL .................................................................. v

DAFTAR GAI\{BAR.....o........................................................ vii

DAFTAR ISI ..............................c......r.....o...............ooc........... ix

BAB I PENDAHULUA}I.........t..............o..o..............o.........c L
A. Latar Belakang .............o..................r............co.....
1

B. Rumusan Masalah .......c...........................o.......... 3
C. Sgjarah Kota sebagai Sejarah Lokal .......c.......... 4
D. Manfaat Pengkajiafl ...........o.............o.... o.... o.....co.
5
E. Metodologi Pengkajiafl ..................o.............o..... 7
BAB II GAI\,IBARAI{ UMUM KOTA MAGEI-AI{G ......... 13
A. Fisik dan Administrasi Kota ............ o.... c ... ....6 r3
B. Penduduk ............o...................e ......................o...o 2(}
,e
C. Pendidikafl ................................!.r........r........... o.. c
-1 ,
D. Kgsehatan........................................i............o......
24

E. Agam?,........................... o...... o................................ 25

BAB III MAGELAI{G SEBELUM PENJA.IAHAN............ 2T
A. .Asal-usul Magelang ..........................................
zT
B. Sumber Prasasti ...... o............................. go
C. Zaman Mataram Islam dan Nama Magelang ... 88

BAB IV. ZAI{AN PENJA.IAHAI{ BEI-AI{DA ..........o......... 4g

A. Awal Kekuasaan Belanda dan

B. TerbentuknyaKotaMagelang ......................o.... 4g
C. Magelang dan Perang Diponegoro....................
Dari Tanam Paksa hingga Politik Etis............... 49
6+

$iara61<okMEchy

BABV. DARI PEI\TDUDUIG}.IJEPAI{G

HINGGAREVOLUSI FISIK...,.............................. 1oB

A Pendudulurr Jepang di Magelang

(tg+Z-L945) .... ....................... ... ........ ......... ............ 1O3

B. .Pengarrbilalihan Kekuasaan................................ LL4
C. Insiden Bendera Merah Putih

di HOtgl Nitaka ............................................. ......... 115
.D. Melucuti SenjataJepang ...................................... L2L
E.
F. Menghadapi Inggns danNica ............................... L22
MenghadapiAgresi BeIanda..................................
$6

BAB VI. SEKELIIMIT BIOGRAFI PBI^A,'KU SE.IARAII

I\{AGEIAI{G.......................................................... 155
A. Slamet SUwOndO.........................................r.......... 155
B. .Wazir ....................................................................
L62
C. Sakin...................... o............................................... 163
D. .Dn'ijOsewOjO ......................................................... L64
E. BOedihardjO...o....................................................... L66

BABVII PENUTUP..................o..................o.......................... L6g

A. SimpUlaII' .............................o.............................o..D L6g
B. Safan-Safan ............................o.............................. L71

DAFTARPUSTAKA L73
IAI\{PIRAI{ L77

Sgam|l<ohW'@

BAB I

PE\IDAHI.ILUA\[

A. LATARBELAKANG

SeJarah merupakan bidang kajian yang tidak berhenti

rapanJang kehidu pan manusia. Sejarah memiliki arti penting tidak
hanya kepentingan teoritisnya, tetapijuga manfaat praktis yang
blas dlpetik, terutama dengan mengambil nilai positif berupa
kcarlfan masa lalu yang dapat digunakan sebagai cermin dan
pcdoman perilaku bagi manusia masa sekarang. Untuk itu setiap
gcnerasl membutuhkan kehadiran sejarahnya.

Setlap sejarah yang benar adalah sejarah masa kini. Demikian

dluangkapkan oleh filusuf sejarah terkenal Benedeto Crocee
dalam salah satu pemikitan filosofisnya. Oleh karena itu setiap
generasi akan menulis sejarahnya sendiri. Pemikiran itu

tampaknya relevan dengan pemikiran keilmuan secara umum,

bahwa teori yang pada masa lalu dianggap benar bisa saja
dlanggap salah karena sudah ditemukan teori baru yang dapat
menyanggah postulat-postulat yang dikemukakan dalam teori

lama,
Demikian pula dengan penulisan sejarah Indonesia. Tulisan

yang dahulu pernah dianggap mapan pada masa penjajahan
Belanda harus dibongkar setelah Indonseia merdeka. Setelah
Indonsis merdeka, para Sejarawan harus mengubah tulisan
seJarah dari sejarah yang semula berperspektlf Neertandocentris
atau Eropacentris. Tulisan sejarah dengan perspektif semacam itu

tldak layak Iagi karena banyak menekankan peranan bangsa
Eropa dibandingkan dengan peranan orang Indonsia sendiri.

Orang Indonesia baru muncul dalam tulisan sejarah ketika itu jika
terkait dengan orang-orang Eropa, misalnya ketika mereka
menjadi buruh perkebunan, raja yang mengadakan perjanjian

dengan Belanda, atau tokoh yang melakukan perlawanan

terhadap pejabat Kolonial Belanda dan sebagainya.

Sgata6'l<,oh@tt rg

Menyadari hal tercebut, maka para sejarawan Indonesia sejak

tahun L957, dalam Konggres sejarah di Yogyakarta memandang
perlu penulisan kembali sejarah orang dan Bangsa Indonesia.

Dalarn tulisan baru ini percpektif sejarah hendak diganti dari
perspektif Nerlandocentris menjadi lndonesra-centris. Dalaln

perspeKif ini, peranan orang Indonesia akan diteklankan sebagai
dramaffes perso nae utama dibandingkan dengan peranan orang

Barat. Namun demikian bukan berarti menghilangkan objektivitas

daalm penyampaian fakta sejarah.

SemanEat baru dalam penulisan sejarah itu sernakin

mengEema sejak tahun 1970-an. Pemerintah Indonesia, terutama
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memfasilitasi penulisan

sejarah Nasional. Penelitian-penelitian sejarah Indonesia
dilakukan oleh sejurnlah pakar nnulai dari pakar sejarah kuno

hingEa sejarah kontennorer. Salah satu hasil yang rnonurnental
adalah lahirnya buku obabon" Sejarah Nasional Indonesia yang
enam jllid tersebut.

Sejak terbitnya buku tersebut, kritik dan tanggapan tidak
henti-hentinya. Salah satu kritik adalah tidak terakomodasi-nya
sejumlah sejarah daerah untuk masuk dalam sejarah nasional

tersehut. Selain itu kritik ditujukan terhadap konsistensi dan

kredibiltas tulisan sejarah kontemporer pada jilid enam.

Fada saat ini Dirjen Sejarah dan Purbakala, Departemen
Kebudayaan dan Pariwisata sudah rnenyusun kembali sejarah

Indonesia. Jumlah jilid yang akan dihasilkan lebih banyak karena
rentang waktu sejarah yang ditulis juga lebih Iama dan cakupan
materinya juga lebih luas dibandingkan dengan sejarah Nasional

Indonesia yang ditulis sebelumnya.

Meskipun buku sejarah Indonesia selalu ditulis dengan

ketebalan yang lebih banyalg maka dapat dipastikan tidak akan
mencakup sejarah pada wilayah yang lebih kecil, seperti propinsi

dan Kota. Sehubungan dengan hal itu, maka untuk dapat

menampilkan sejarah masa lalunya, tiap-tiap daerah baik propinsi

maupun Kota sebaiknya menulis sejarah lokalnya sendiri. Hal itu

juga sejalan dengan era baru dalam tatanan peemrintahan

Indonesia yang menuju pada otonomi daerah.

Sgarufr'l<ohW@

Dalam otonomi daerah, penulisan sejarah lokal menjadi

mendesak untuk dilakukan.
Sejarah Magelang ditulis juga terpengaruh arus pemikiran

kesejarahan yang berkembang. Pada tahun 1983 pernah ditulis
Magelang Berjuang oleh Mukhardi. Dalam tulisan itu dijabarkan
tentang peranan rakyat Magelang dalam melawan imperialisme

dn kolonialisme. Dimulai dari per-juangan Diponegoro,

menyambut kemerdekaan, perlawanan terhadap Jepang pada
awal transisi kemerdekaan, dan perjuangan menghadapi agresi
mlllter Belanda. Tulisan itu memang banyak dimanfaatkan untuk

menyusun buku ini. Tentu saja dengan dicocokkan dengan

sumber-sumber Iain yang relevan dan sejaman. Pendek kata
buku itu cukup mewarnai laporan penelitian yang dijadikan buku
oleh tim dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah

dalam kegiatan pengkajian sejarah dan nilai kepahlawanan

lokal/regional Kota Magelang.
Di Magelang juga pernah diterbitkan buku kecil tentang Hari

Jadi Kota Magelang. Buku kecil itu merupakan sebuah

rekonstruksi tentang asal mula Kota Magelang. Untuk itu buku ini

Jzuagma amnesnejabdei liunmspirkaesdi adtaalnagmanmebnaenlugssuarisBeajarraathdMi TagaenlaanhgJpaawdaa,

khususnya di Kota Magelang.

Meskipun telah ditulis beberapa buku tentang Kota

Magelang umumnya bersifat sepotong-sepotong. Belum ada
kajian yang komprehensif tentang sejarah Kota Magelang.

Berdasarkan realitas ini, kajian dalam tulisan ini ingin

menyajikan sejarah Magelang dari zaman Kuna hingga zaman
modern, masa revolusi kemeredekaan secara kronologis dan
utuh.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan

yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana perjalanan
sejarah Kota Magelang dari masa Kuna hingga Revolusi Fisik
(Revolusi kemerdekaan). Dari problematika besar ini diajukan

Sgamfil<,^okWerg

sejumlah pertanyaaan penelitian, sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran umum Kota Magelang pada saat ini?
2. Bagaimana Kehidupan Masyarakat Magelang sebelum

kedatangan bangsa Barat baik dari perspektif sejarah
masyarakatnya rnaupun berdasarkan kajian ilmiah

kesejarahan?

3. Bagaimana dampak kehadiran Bangsa Barat, terutama

Belanda terhadap tatanan kehidupan Masyarakat

Magelang?

4. Kapan munculnya Kota Magelang seca!'a definitif sebagai

Kota Pemerintahan?

5. Bagaimana kondisi masyarakat Magelang pada masa

Pendudukan Jepang?

6. bagaimana peranan rakyat Magelang dalam menyambut

kemerdekaa n da n Revolusi Fisik tahun 1945- 1 950?

C. SEIARAH KOTA SEBAGAISEJARAH TOKAL

Sejarah Kabuten Magelang dalam kategori sejarah

termasuk sejarah lokal. Sejarah lokal memiliki arti khusus, yaitu

sejarah dengan lingkup spasial di bawah sejarch nasional,

misalnya sejarah Indonesia. Berdasarkan hierarkhi ini, maka

sejarah lokal barulah ada setelah adanya kesadaran adanya

sejarah nasional (Taufik Abdullah, 2004:3). Meskipun adanya

hierarki demikian bukan berarti semua sejarah lokal harus

memiliki keterkaitan dengan sejarah nasional. Sejarah lokal bisa

mencakup peristiwa-peristiwa yang memiliki kaitan dengan

sejaran nasional dan peristiwa-peristiwa khas loka! yang tidak

ada kaitannya dengan peristiwa yang lebih luas, seperti

nasional, regional, atau internasional. Pendek kata, sejarah lokal

berkaitan dengan aspek geografis di bawah lingkup nasional,

sepeSrtei cparroapiunmsiu, mKotbaa,takosta*l,odkeasla", dan seterusnya. sejarah lokal
dalam penelitian

ditentukan oleh sejarawan sendiri. Selain batasan di atas, lokal

abdisma ibnesirtararttiifwmiaoladyearhn,gemoigsraalnfiysay,a*npgatnetraleipUatsardaarJiakwetae"ntautaanu

$iam6'l<okWrfry

"wllayah sepanjang lembah Bengawan Solo'. Hal penting yang

perlu diperhatikan adalah, pengkajian sejarah etnis tidak bisa

dlkategorikan sebagai "sejarah lokal". "Sejarah Minangkabau"

sebagai wilayah masih mungkin, artinya sejarah Sumatera

Barat, tetapi dalam pengertian eettnnisis*,sneajamraahnyMainbaunkgaknablaaug'i
pengertian
saeJarah Iokal. Dalam

dapat menyebabkan kita harus mengkaji sejarah sepanjang
pantai Barat Sumatera, mulai Aceh, Sibolga, sampai ke

Bengkulu, Jambi, dan menyeberang ke Selat Malaka, dan Negeri

Sembilan. Pendek kata daerah-daerah yang didiami oleh etnis

Mlnangkabau.

Berdasarkan uraian di atas, maka sejarah Magelang dapat

dlkategorikan sebagaisejarah lokal. Hal itu didasarkan pada dua

hal, pertama, secara administratif wilayah ini adalah wilayah

Kota, daerah administratif di bawah propinsi. Selain itu, wilayah

Magelang merupakan wilayah yang bercirikan sebagai daerah

pedesaan, meskipun di pusat-pusat pemerintahan seperti Kota,

d lstri k, da n keca mata n menu nj u kka n ci rri-ci ri kekotaa n.

Sebagai tulisan sejarah pada tingkatan wilayah yang
terbatas, maka penulisan sejarah Iokal secara konseptual

1.bertujuan untuk:

Mengumpulan dan mendokumentasian sumber-sumber

sejarah lokal

2. Menghasilkan karya sejarah ilmiah pada lingkup mikro
3. Memberi masukan materi mata pelajaran sejarah pada

kurikulum sejarah sekolah.

1. Menelusuri identitas budaya Iokal
5. Menunjang pengembangan pariwisata daerah

D. ]IIAFAAT PENGKAIIAN

Hasil pengkajian iniakan bermanfaat untuk:

1. Muatan LokalKurikulum Sekolah.

Pada saat ini di sekolah dasar hingga sekolah menengah

diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

SgarufilhkMEefang

(ffifsP). Kurikulum ini sebenamya sbagai kelanjutan dari
Kurikulum Be$asis Kompetensi (lGK). l(BK menekankan
pada rengajaran berbasis kontekstual atau Confr-,rtual

Teaching Leaming (CTL). Dalam pengajarcn sejarah
seperti ini" sejarah lokal berfungsi sebagai bahan
pengajaran yang berbasis kontekstual" Dalam

pernbelajaran kontekstual para pengajar sejarah diberi
keleluaffian untuk menggunakan rnateri-materi ajar yang
dekat dengan siswa. Kehadiran sejarah local, seperti ini

akan membanfu para Euru dalam penerapan pembelajaran
kontelesfi;al.

2, Jati Diri Lokal.

Dalam em globalisasi dan internasionalisasi orang sering
terrpru:bang-ambing dalam melihat posisi dirinya dalam eftt

inl. Sejarch lol<al dapat berfungsi menunjukkan jati diri

masyarakat Magelang dalam persErlngan di tingkat nasional
maupun ineffitasional.

m ini sebenarnya sebaEai kelanjutan dari

3. Mernbangla'tkan Pembangunan Daerah dalam Rangka

Ctonorni daetah.

Sejarah lokal dapat dijadikan cermin bagi mas)rElrakat
setempat untuk membangkitkan pembangunan daerah

dalarn rangka otonomi daerah. Melalui pemahaman masa
lampau yang benar, mereka dapat merencanakan rnasa
depannytl secam lebih tepat.

4Ir Menunjang Kepariwisahan,
l-lasil-hasil penelitian sejarah lokal dapat dikemas untuk

kepiluan konsumnsi pengembangan wisata. Revitalisasi

bangunan kuno, pernbuatan leaflet peristiwa sejarah, dan
semacamnya cuku p men u nja ng kepariwisataan.

4. Memberl inspirasi para seniman Magelang atau daerah

lain untuk menulis karya seni berlatar belakang

Sganfil<otu*try y

sejarah Magelang .
Karya sejarah lokal Magelang juga dapat digunakan untuk

memberikan inspirasi seniman untuk mengembangkan
karya seninya. Novel-novel sejarah akan menjadl lebih

hidup jika didukung dengan fakta-fakta sejarah yang

lengkap dan akurat. Demikian pula karya lukis tentang
tokoh dan peristiwa sejarah pada tingkat lokal akan
menjadi lebih baik jika informasi sejarah yang diberikan

lengkap.

5. Dalam kaitannya dengan kegiatan ini, dokurnentasi

sumber-sumber sejarah lokal Magelang akan

mempermudah peneliti selanjutnya dalam penelitian
sejarah di wilayah Magelang. Melalui inventarisasi dan
dokumentasi orang akan terbuka pemikirannya untuk

menkaji sejarah lebih mendalam sejarah daerah tersebut
secara khusus dan secara urnum mengkajinya dengan
mengkaitkannnya dengan daerah-daerah lain, termasuk
dalam skala nasional,

METODOLOGT PENGKAITAN

1. Ruang Lingkup

Penulisan sejarah Magelang memilikl paling tidak dua
makna dalam kajian metodologis, pertama sebagai
inventarlsasi dan dokumentasi sumber dan yanE kedua
makna historiogafi Magelang. Sebagal kegiatan

inventarisasi dan dokumentasi sejarah Magelang,
termasuk sumber-sumber sejarahnya. Melalui

inventarisasi dan dokumentasi akan dihasilkan bahan
untuk penelitian lebih lanjut tentang Sejarah daerah.

Melalul historiografi pada level lokal akan memberi warna
tentang masa Iampau daerah Magelang dibandingkan
dengan daerah lain yang lebih luas seperti Maratam,
Keresidenan Kedu, dan Propinsi Jawa TEngah.

SgaraLlhkW@

a. Lingkup Temporal (Waktu) i
I

Lingkup waktu dalam dokumentasi sejarah lokal

Kota Magelang ini difokuskan masa pra Kolonial,

terutama masa Hindhu dan Buddha, Masa

Perkernbangan Islam. Dan paling banyak adalah

rnasa penjajahan Belanda dan Revolusi
Kennerdekaalr. Selain itu juga dikupas rnasa

pendudukan Jepang sebaEai masa jeda menuju

Indonesia merdeka. '

b, Lingkup Spasial

f-ingkup spasia! dalam sejarah lokal adalah witrayah

Iokal, bukan nasional atau regional" Batasan !o!<al

memang membuka peluang perdebatan, sebab ada

peristiwa-peristiwa lokal yang memilik kaitan

dengan perlstiwa nasional dan ada peristiwa sejarah

lokal yang memang khas lokal. Dalam hal ini lingkup

sejanah lokal hanya mengacu pada batasan wllayah

admlnistratif atau geografis" Tauflk Abdullah (1985)

nneEmbatasi konsep lokal adalah wilayah administratif

tingkat Bropinsi atau yang sejajar dan wilayah

admimistratif di bawahnya" Dengan demikian lingkup

spasial sejarah lokal dapat rnencakup wilayah desa,

kecamatan, kawpdanan, Kota, hingga propinsi.
Lokalitas juga dilihat dari aspek geoErafis sepertl

pasisir, pedalaman, dan pegunungan. Selain itu juga

dapat dilihat dari pemerintahan, cirikhas budaya dan

sosial ekonominya.

Dalarn kajian ini lingkup umumnya adalah Kota

Magelang. Akan tetapi dalam pemilihan peristiwa

sejarah dan tokoh tidak mencakup seluruh wilayah

Magelang, tetapi hanya tokoh dan daerah tertentu

yang dianggap rnenonjol dalam periode sejarah

tertentu.

Sgarafrr<^raW@

2. Metode Penelitian

Sebagai sebuah lejian sejarah local, maka pengkajian ini
mengikrrti langkah-langloh pnelitian sejarah lokal sebagai
berikut:

a. Pemilihan Topik

Topik merujuk pada bahasan atau pokok kajian yang
akan diteliti. Topik sejarah lokal dipilih berdasarkan

beberapa pertimbangan antara Iain: kedekatan

ernosional dengan peneliti, kepentingan pemerintah

daerah, pefrimbangan ilmiah, dan sebagainya.

Dalam hal pemilihan sejarah Magelang dilakukam

karena didasarkan pada pertimbangan wilayah InE
belum banyak ditulis sejarahnya. Pada hal Magelang
!"nerupakan aset bangsa )rang memiliki sejarah yang

telah lama uslanya.

3. Pengumpulan Sumber
Sumber-sumber sejarah lokal meliputi :

a) SumberTerhrlis.

Surnber tertuis yang digunakan dalam kajian Eni terdiri

dari sumber primer dan sumber sekunder. Sumber
primer merupakan sumber yang berasal dart tangan
peftama, dari saksi mata, atau dari pelaku sejarah.

Sumber primer berupa sumber tertulis rnaupun sumber
lisan" Sumber tertulis dlgali di Arsip Nasional Jakarta,

Arcip Museum Mandala hffi, dan koleksi pribadi para

pelaku sejamh. Sementara itu sunnber primer lisan

dilakukan dengan melakukan wawancara dengan para

pelaku sejarah yang masih hidup. Selain ltu surnber
primer juga berasal dari sumber kebendaan yang

merupakan peningga lan sejatah.

Sumber sekunder terdiri dari sumber terUlis" Sumber

tertulis terdiri dari buku-buku yang menulis

Sgara|l<okW{ry

tentang Sejarah Magelang, draft tulisan, brosur, dan
sebagainya. Wawancara yang dilakukan oleh orang
lain yang sudah digunakan untuk penulisan sejarah

juga masuk dalam kategori sumber sekunden

Sementara itu foto yang disimpan oleh lembaga atau
perorangan yang dibuat sezaman masuk kategori
sumber primer. Sumber sekunder juga berupa hasil

penelitian terdahulu, koleksi historiAgrafi lokal

Magelang, informasi yang tertuang di internet,

skripSi, buku-buku Sejarah terbitan resmi terutama

dari Dinas yang mengurusi Kebudayaan dan

Pariwisata.

b) Sumber Lisan
Sumber lisan dapat dibagi menjadi dua, yakni tradisi

lisan dan sejarah Iisan. Tradisi lisan adalah

kesaksian Iisan yang disampaikan secara verbal dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi Iisan itu

dapat berbentuk cerita rakyat, syair, tembang,

mantra dan sebagainya. Tradisi lisan dalam hal ini
tidak termasuk saksi pandangan mata. Tradisi lisan
berfungsi untuk memberi penjelasan lebih lanjut
terhadap fakta-fakta sejarah yang dihasilkan dari
sumber tertulis.

Sejarah Lisan merupakan informasi lisan dari

seorang informan pelaku atau saksi sejarah tentang
suatu peristiwa sejarah dalam kurun waktu dan
lokalitas tertentu.

Kedua sumber lisan itu dapat digali dengan

menggunakan metode wawancara. Perbedaan-nya

dengan sejarah lisan, wawancara dimaksudkan
untuk mengungkap peristiwa masa lalu sesuai
dengan yang dilakukan, dilihat dan didengar oleh

informan. Sementara itu dalam tradisi lisan,

informasi yang diperlukan dari seorang informan
adalah hal-hal yang mereka dengar dari generasi

Sgarafrt<ok MEekng

sebelumnya. Sumber-sumber utama sejarah lisan
berasal dari pa!'a pelaku sejarah, yaitu bapak Slamet

Suwondo, Wazir, dan Sakin .

c) Artifak

Artifak merupakan sumber sejarah dalam bentuk
benda-benda yang dihasilkan dan digunakan oleh
pelaku sejarah di rnasa lampau. Artefak yang dikaji

berupa bekas peninggalan irigasi, rumah residen,
pendopo bupati, monurnent perjuangan, jalan raya, rel

kereta ?pi, dan sebagainya.

4. Verifikasi

Setelah sumber sejarah berhasil ditemukan, langkah
selanjutnya adalah verifikasi atau kitik sumber" Verifikasi

rneliputi verifikasi otentisitas dan kredibilitas.

a). Otentisitas

Verifikasi otentisitas adalah verifikasi terhadap bentuk
sumber sejarah apakah merupakan sumber sejareh asli
ataukah turunan. Untuk menentukan otentisitas dapat
diajukan sejunnlah pertanvdofi, yaitu: (1) kapan sumber
ltu dibuat, (2) di mana sumber itu dibuat dan diternukan
(lokasi), (3) siapa yang membuat (kepengarangan) , (4)

dari bahan apa sumber itu dibuat (ana!isis), dan

sebaEainya.

b). Kredibilitas
Verifikasi kredibilitas digunakan untuk menilai

kesahihan informasi dalam suatu sumber sejarah" Ada
empat aspek dalam menilai apakah seorang saksi
rnemberikan informasi yang akurat, yaitu: kemampuan

menyatakan kebenaran, kemauan rnenyatakan

kebenaran, keakuratan pelaporan, dan adanya

dukunEan secara bebas atau external con'aboration
mengenai isi laporan yang disampaikan.

$iara61<nk MSerg

3. Interpretasi
Sumber sejamh yang telah rnengalami proses verifikasi bisa

digunakan sebagai sumber sejarah melalui proses
interpretasi. Interpretasi atau penaBiran meliputi dua

kegiatan, yaitu analisis dan sintesis.

a). Analisis

Secara harfiah, analisis berarti menguraikan. Pada fase

ini, seorcng peneliti sejarah berusaha menguraikan

suatu sumber sejarah menjadi bagian-bagian yang

masih ada tautannyEr.

b). Sintesis
Sintesis berarti menyatukan, Dalam kegiatan ini
berusaha di satukan, dan dihubung-hubungkan data-

data yang diseleksi sehingga memiliki keterkaitan dan
makna.

4. Penulisan

Setelah proses interpretasi data selesai dan ditemukan

falGa-fakta sejarch maka tahap selanjutnya adalah

penulisan hasil penelitian. Susunan tulisan dibuat secara

kronologis. Tulisan dibagi menjadi tujuh bab, yaitu:

Pendahuluan, Gambaran umum, Masa sebelum penjajahan,

Penjajahan Belanda, Pendudukan Jepang dan Revolusi

Fisik, Para pelaku sejarah Kota Magelang, dan Penutup.

Sgamfrl<ohmger7

BAB II

GAMBARAN UMUM KOTA MAGELANG

A. FISIK DAN ADMINISTRASI KOTA

l(ota Magelang merupakan salah satu kota penting di Jawa
Tengah, bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga strategis

letaknya. Kota Magelang merupakan titik tengah yang

menghubungkan antara lGta Yogyakarta dengan Semarang. l(ota
Magelang juga menjadi tempat percimpangan jalur antar kota di
Jawa Tengah selatan, seperti Temanggung, Wonosobo, Purworcjo,

Kebumen dan sebagainya. Jarak antara pusat kota Magelang

dengan Semarang yang menuju arah utara sejauh 75 krn.
Sementara itu kea rah Selatan, l(ota Yogyakarta sejauh 43 km. Ke

arah Barat daya, Purworejo jaraknya sejauh 43 km. Sedangkan kea

rah barat laut , menuju Temanggung hanla 22 km.. Berdasarkan

kondisi lokasi kota yang demikian, maka dapat dikaEkan bahwa

Magelang merupakan wilaph png strategis. Magelang memiliki

posisi simpang yang menghubungkan antar daerah di Jawa Tengah

bagian selatan. Hubungan antar daerah ifu pada saat ini dapat

dltempuh menggunakan kendaraan baik roda empat maunpu roda
dua. Angkutan umum berupa bus cukup tersedia dengan pusatnp di
terminal l(ota Magelang. Di masa lalu hubungan antar kota itu ada
yang dapat ditempuh melalui kereta api, terutama antara Semarang
Magelang dan magelang Yogyakarta. Akan tetapijenis angkutan ini
sudah tidak berfungsi karena samna relrya sudah baqnktertimbun

tanah dan persaingan dengan jalan darat cukup ketat yang

menyebkan jalur kereta api ini mati.
OIeh karena Iokasinya yang strategis ihr Magelang mengalami

perkembangan yang cukup pesat. Pusat-pusat pertokoan tampak

sangat ramai oleh maqBrakat Iokal maupun pendatang png

datang singgah di kota ini atau hanya sekedar lewat smbil

berbelanja. Ramainya kunjungan masyarakat dari berbagai daerah
itu direspons kreatif oleh pendudukMagelang.

$iamfi1<ohWSerg

Hal ini tampak dari tersedianya sejumlah fasilitas peftokoan,

sarana hibiuran, pom bensin, dan sebagainya.

Magelang dapat dikatakan sebagai tempat transit
pendatang yang hendak mengadakan perjalanan Ianjutan.
Untuk keperluan itu, maka sarana komunikasi penghubung

disediakan pemerintah kota berupa terminal bus. Terminal ini

semula berada di dalam kota, kini sudah terletak di luar kota
bagian timur sehingga bus dari Jogja ke Semarang atau
sebaliknya tidak memasuki kota tetapi melalui jalan lingkar
timur. Keberadaan jalan Iingkar timur melalui terminal ini pada
awalnya berhasil mengurangi tingkat kepadatan kendaraan di

dalam kota. Akan tetapi pada sat ini seiring dengan

pertumbuhan penduduk dan armada bus serta angkutan lain
yang lewat kodisinya juga semakin padat (Suhartono, dkk, tanpa

tahun:6).

Sebagai wilayah pemerintahan kota (dulu kotamadia),

hampir semua daerahnya adalah perkotaan. Sebagai sebuah
kota Magelang telah ada sejak zaman Belanda. Secara resmi

pemerintahan Kota terbentuk tahun 1906. Wilayah kota ditandai
dari aspek fisik yang penuh dengan sarana dan prasarana kota
sepertijalan kota yang bailg fasilitas air minum yang memadai,

penggunaan listrik, pusat pemerintahan, pusat perbelanjaan,
taman kota, fasilitas perbangkan, dan sebagainya. Meskipun
secara ideal, masyarakat kota seharusnya hidup dengan
dukungan sarana dan prasarana yang memadai, tetapi tidak
semua masyarakat Kota Magelang telah menerima semua
fasilitas itu. Sebagian dari wilayah masyarakat Magelang masih

merupakan masyarakat pedesaan. Kota hanya dapat d'tjumpai di

sepanjang jalan utama di tengah kota. Di daerah ini terdapat

pusat kegiatan perdagangan berupa pertokoan, baik took
swalayan maupun perokoan biasa. Sebagaian lain, kota

Megelang terdiri dari bangunan-bangunan pusat pemerintahan
dan sekolah dan pemukiman. Yang patut dicatat bahwa Kota
Magelang terdapat Akademi Militer Angkatan Darat. Lembaga

diniimedmableanmtuk kIiongtkau.ngDani twerisleanydairihyaAngKsMeoILlahi-noliahjukgotaa

Sg'amfi|<,ohWerl

IUtptt SMA falorit di Indonesia, yaihr SlulA Taruna Nusantara:

|(ota Magelang dengan luas wilayahnya 18,12 km , atau 24,038

hrktrr merupakan luas wilryah hutan negara yaiU lms Gunung
Tldm Gunung ljdar berada di tengah-tengah kota Magelang dan
mrrupakan pusat pendidikan Akademi miliEr. Secara geografis

Mrgclang terletak antara ltDlz'30" dan LLO t2'52" Bujur Timur

(rD rcrta 7.26'18, dan7"30'9'lintang Selatan (LS). l(ota Magelang

mrrupakan salah satu daerah Tingkat II di Provinsi Jawa Tengah
Img Erletak di tengah-tengnh kabupaten Magelang, dimana
rbdah utara berbatasan dengan kecamatan Secang, sebelah
Ilrtan berbatasan dengan kecamabn Merbyudan, sebelah Barat

brrbatasan dengan kecamatan Bandongan dan sebelah Timur

brrbatasan dengan kecamatan Tegalrejo.

Tabel 2.1

lGcamatan dan l(elurahan png terdapat di l(ota Magelang

K MAGETANG MAGEI.ANG MAGELANG
NO TENGAH UTARA
Kemirirejo Potrcbsangsan
E SELATAN Cacaban Wates
Magelang Kedungsari
L 1 Jurangombo Selatan Panjang Kramat Selatan
U 2 Jurangombo Utara
R 3 Magersari Gelangan Kramat Utara
A 4 Rejowinangun Rejowinangun
H Selatan Utara
A 5 Tidar Selatan
N 6 Tidar Utarc

:Sumber Bagian Tata Pemerintah?o, Setda Magelang

Sgatsfil{ohMEImy

Secara administratif terbagi atas 3 lGcamatan 1rang terdiri dari

17 kelurahan/de.I dan 190 Rukun Warga dimana keseluruhan

kelurahan sudah merupakan desa sv\rasembada. lGcamatan )Eng
ada di Kota magelang adalah Magelang Selahn, Magelang Tengah

dan Magelang utala. I(rcamatan Magelang utarc brdiri atas enam

kelurahan ),iaihl: Jurangornbo selatan, Jumngomh utam, Magercari,

Rejowinangun selatan, Tidar selatan, dan Tidar uhra. Kmmahn
Magelang Tengah teldiri dari lima kelurahan, )qlhr: Kemirirejq

Cacaban, Magelang, Fanj?rg, Gelang?tr, dan Rejowonangun utara.

Kecamatan Magelang Utam terdiri atas lima kelurahan )ailfu:
htrobsangan, Watsn Kdungsari, l(mmat selahn, dan Kramat
uhra. (lihattabel 2.1)

Tabetr 2.2
Luas Wilayah Magelang

Kecamatanlkelurchan Luas Prosenhse

frlagelangSelabn Area(km, (o/o)
1. JurangomhSelatan 6,89
2. Jurangombo LJtara 2,26 38,01
3. Magersari 0r58 12,49
4. Rejowinangun Selatan 3,L7
5. Tidar Selatan 1r38 7,60
6. Tidar Utana 4,43 2,39
illagelangTengah L,27 7,00
1. Kemirireio 4,97 5r35
2. Cacaban 5,10 28,L7
3. Magelang 0,88 4186
4. Panjang 0,83 4,56
5" Gelangan L,25 5,88
4,25 1r90
0r81 4,49

8gam61<ohMgctry

6. Rejowinangun Utara 0r99 5r48

Magelang Utara 61 13 33,92

1. Potrobsngsan 1,30 7.L7

2. Wates L,L7 6,47

3. Kedungsari 1,33 7,36

4. Kramat Selatan L,46 8r05

5. Kramat Utara 0,86 4,77

Sumber: Magelang dalam Angka, 2008

Luas daerah terbesar di Magelang terdapat di kecamatan

Magelang Selatan sebesar 6,89 km,, kemudian daerah Magelang

Utara dengan luas 6,13 km,, dan daerah Magelang Tengah seluas

5,10 km,. Daerah itu dapat dirinci dalam tabel 2.2.
Dlllhat dari orbitasinya jarak antara Magelang dengan ibukota

Negara sekitar 560 km, jarak dengan ibukota provinsi Jawa Tengah
75 km, Jarak kota Magelang dengan kabupaten Temanggung 22

km, dan dengan kabupaten Wonosobo 62 km. Berdasarkan

panggunaan, Iuas lahan sawah sebesar tL,76 persen, luas Tegalan
0,74 persen, Iuas tanah untuk perkebunan5,49 persen, luas tanah
untuk lndustri 2,87 persen, Iuas tanah untuk kolam 0,37 persen,
lura tanah untuk perumahan/pekarangan73,09 persen dan untuk
lrln-laln 5,68 persen.

Gambar 2.1

Prosentase Luas Penggunaan lahan

Sumber: Kantor Statistik Kota Magelang, zooS

Berdasarkan hasil registrasi, penduduk pada tahun 2006
mencapai 118.546 jiwa dengan kepadatan penduduk berkisar
antara 6.548 per km'. Sedangkan pada tahun 20A7 jumlah
penduduk kota Magelang sebanyak 121.010 jiwa, terdiri dari

58.680 jiwa penduduk laki-laki dan 62.330 jiwa penduduk

perempuan. Laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,99 persen
dengan 33.235 keluarga, yang dihuni rata-rata empat orang

dalam satu keluarga. Sedangkan proporsi jumlah penduduk

terbanyak berdasarkan pada kelompok umur adalah t5-24 tahun

berdasarkan tingkat pendidikan terbanyak adalah lulusan
SLTA sebanyak 35.116, tingkat pendidikan terkecil adalah

lulusan Universitas sebanyak 8.568 orang. Berdasarkan mata
pencaharian terbanyak adalah bekerja sebagai buruh/karyawan

yaitu sebanyak 60.735jiwa atau 49,89 persen dari jumlah

penduduk keseluruhan. Prosentase terbesar dari buruh I

karyawan berturut-turut adalah bekerja di sektor industri 17,69
persen, jasa pemerintahan 17,2persen, bangunan 10,54 persen,
dan 1,07 persen pada seKor pertanian. Dari kondisidiatas, akan

baraklbat pada semakin beratnya tugas dan tanggungjawab
lhmerlntah Daerah untuk mewujudkan kesejahteraan yang

harkeadilan.

Fasilitas Pendidikan di kota Magelang cukup Iengkap. Hal ini
lnrllhat dari tersedianya 78 gedung Sekolah Dasar (SD) dengan
905 guru dan 15.266 murid. Pada jenjang SLTP tersedia 25 gedung
Snkolah dengan 750 guru dan 9.970 siswa. Di tingkat SLTA

lordapat 15 sekolah dengan 491 guru dan 5.544 siswa.

Pada tahun 2007 sarana keagamaan yang terdapat di kota
Magelang sebanyak 354 bangunan yang terdiri dari masjid dan

mushola sebesar 90,68 persen, gereja Kristen Katolik sebesar 9,04

pGrsen, dan vihara sebesar 0,28 persen. Untuk menjamin

knseJahteraan penduduk, pemerintah membangun berbagai
rdraRa kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat. Sarana
kosehatan tersebut antara lain rumah sakit baik swasta maupun

nogerl, puskesmas, Puskesmas pembantu dan tenaga kesehatan.

Berdasarkan pada kondisi Topografinya Kota Magelang berada

pada ketinggian 380 m di atas permukaan air Iaut. Dengan jenis
tanah yang sangat beragam yaitu litosol, regosol dan grumusol
barerta asosiasi perubahanya sefta berasal dari bahan induk yang

boranaka ragam diantaranya batuan endapan maupun vulkan,

rahlngga hal ini sangat berpengaruh terhadap kondisi Sumber
Daya Alam yang ada sekaligus berpengaruh terhadap potensi
Sumber Daya Buatan yang menjadi potensi unggulan daerah.

eurah hujan di kota Magelang pada tahun 2007 berkisar 7,79 mm
drn hari hujan terbanyak tercatat pada bulan November sebesar

78 harl.

Dl Kota Magelang terdapat sebuah bukit yang bernama

Gunung Tidar. Istilah gunung, dilihat dari ketinggiannya

trmpaknya kurang tepat karena hanya 50 m dari permukaan air

lrut dan lebih tepai disebut bukit.
Gunung Tidar bagi masyarakat Jawa memiliki arti penting. Di

,mtsa lalu gunung ini memiliki makna sebagai alat unfuk

monghllangkan kegoyahan suatu objek atau benda. Masyarakat

mamandang Gunung Tidar sebagai simbol untuk meredam

kogoyahan/kegoncangan karena gunung ini dipandang sebagai

paku pulau Jawa. Sebagai sebuah paku di tengah pulau Jawa,
maka diharapkan dapat mengendalikan gempa bumi di tanah
Jawa. Masyarakat menghubungkan peran Gunung Tidar sebagai

paku pulau Jawa, didasarkan pada Ietak gunung ini yang diyakini

berada tepatditengah pulau Jawa.
Pada saat ini makna dan fungsi gunung tidar telah berubah.

Gunung tidar berungsi untuk kepentingan pendidikan

kemiliteran. Gunung tidar kini sebagai tempat latihan bagi
pr{urit dan calon pr{urit, Tentara Nasional Indonesia dan

Kepolisian. Gunung tidar sebagai kawah candradimuka untuk
melahirkan orang-orang kuat yang mampu mempertahankan
keamanan dan pertahanan demi menjaga NKRJ. Dalam sejarah
Indonesia sudah banyak para petinggiTNl dan Polriyang dididik
dari lingkungan gunung Tidar ini.

Gunung tidar memiliki arti penting bagi masyarakat Kota

Magelang dan sekitarnya. Gunung tidar yang banyak ditumbuhi
pepohonan berfungsi menjaga keberadaan air tanah. Akibatnya

wilayah ini tersedia air yang cukup dan tidak mengalami

kekuarangan air. Pada musim kemarau, penduduk Magelang

tetap tersedia air dan pada musim hujan tidak mengalami banjir.
Gunung tidar yang terletak di tengah kota juga berfungsi

sebagai paru-paru kota. Hutan Iebat yang terawat di bukit ini
telah mampu mengendalikan kelebihan polusi udara akibat
bahan dioksida yang dikeluarkan kendaraan bermotor yang
melintas Kota lrlagelang. Itulah sebabnya Kota Magelang tetap

terasa sejuk dari dulu hingga sekarang.

B. PENDUDUK

Penduduk kota Magelang berjumlah 121.010 jiwa dengan
luas daerah mencapai 18,120 km.. Berdasarkan kemajuan

zaman, pertumbuhan penduduk juga semakin meningkat. Hal ini

dapat dilihat dari semakin banyaknya lahan pertanian yang
berubah menjadi lahan kering. Pada tahun 2007 jumlah
penduduk mengalami .peningkatan sebanyak 2.364 jiwa dari
tahun 2006 dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai

6.853 per km2. Peningkatan jumlah penduduk yang besar ini
dllkutl dengan peningkatan jumlah angkatan kerja yang besar
pula. Jumlah penduduk terbanyak berkisar antara usia 15
nmpal dengan 24 tahun.

Gambar 2.2
Piramida Penduduk Magelang

Sumber: Kantor Statistik Kota Magelang, 2oo8

Angka kelahiran di kota Magelang pada tahun 2007

monlngkat sebesar 525 jiwa daritahun 2006, dengan angka CBR
rcbesar 16,03 persen. Angka kelahiran tertinggi berada di

kcMagelang Selatan dengan CBR sebesar L7,84 persen,
komudlan disusul oleh kecamatan Magelang Utara dengan
rngka CBR sebesar 15,50 persen dan Kecamtan Magelang

Tengah dengan CBR 14,88 persenr:Sedangkan angka kematian

penduduk kota Magelang mengalaml,'penurunan dari tahun
2006. Terbukti dari data CDR dari tahun 2006 sebesar 7,92
menurun menjadi 7,88 pada tahun 2OA7. Dimana angka

kematian tertinggi berada di kecamatan Magelang Selatan

dengan angka CDR 8,19 persen, diikuti magelang Tengah

dengan 8,10 kemudian Magelang Utara dengan CDR sebanyak

7,24 prsen.

Tabel 2.3
Angka Kelahiran dan Kematian

Keterangan Tahun 2005 Tahun 2007
Kelahiran 3"287 3.337
Kematian 78 53
Perkawinan 160 163
Perceraian L2 18
Pengakuan Anak 2
1
Iumlah 3,5V3
3.538

Sumber : Magelang dalam Angk?, 2008

Jumlah akta kelahiran dan akte kematian yang diterbitkan
oleh Kantor Catatan Sipil kota Magelang pada Tahun 2A07
mencapai 3.390, yang terdiri dari 3.337 akta kelahiran dan 53
buah surat akta kematian. Akta kelahiran )rang diterbitkan

terdirl dari 113 akta kelahiran darl pernikahan WNI dengan
WNA dan 3.224 buah akta kelahiran dari orang Indonesia.
Selain kantor Cataatn Slpil juga menerbitkan 163 surat akta

t)erllikahan yang terdiri dari 61 alGa pernikahan antara WNI dan

WNA dan 102 aKa pernikahan orang Indonesia. Dari tabe!

tllbawah ini dapat dilihat semkin meningkatnya angka kelahiran
dan kematian penduduk kota Magelang tercermin dalam tabel

?.3.

Program pemerintah kota Magelang untuk rnengurangi
tlngkat kepadatan penduduk dilakukan program Keluarga
Borencana (KB). Pada tahun 2007 jumlah peserta KB aktif

mencapai 14.003 peserta dan pesefta KB baru sebanyak 1.195
pGserta. Metode kontrasepsi yang digunakan pesefta KB terdiri
darl IUD, Pil, Kondom, MOP, MOW IMPI-ANT dan Suntik. Metode
kontrasepsi suntik merupakan salah metode yang paling diminati
oloh para peserta KB. Jumlah peserta KB terbanyak berada di

kocamatan Magelang Selatan dengan 423 peserta, diikuti

kacamatan Magelang Tengah 419 peserta dan kemudian Magelang
Utara sebanyak353 peserta KB.

C. PENDIDIKAN

Dalam bidang pendidikan campur tangan pemerintah kota
Magelang sangat besar. Sikap pemerintah ini didukung pula oleh

tntusiasme warga masyarakat kota Magelang dalam

pcngembangan pendidikan. Kesadaran masyarakat akan
pGntlngnya pendidikan dapat terlihat dari berbagai fasilitas

pandldikan di kota Magelang yang cukup lengkap. Fasilitas

tgrcebut terdiri dari tersedianya 78 gedung Sekolah Dasar (SD)
dengan 905 guru dan 15.266 murid. Pada jenjang SLTPtersedia 25
gadung Sekolah dengan 750 guru dan 9.970 siswa. Di tingkat
SLTA terdapat 15 sekolah dengan 491 guru dan 5.644 siswa,
perpustakaan, maupun perpustakaan keliling.

SganilbfaW@

Garrbar g.g
Banyaknya Sekolatr, Guru dan Murid Sekolatr

Surnber: Kantor Statistik Kota Magel&trg, zoo8
Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya jumlah murid
usia sekolah Sekolah Dasa!'mengalami penurunan A,gzdari tahun
sebelumnya . L,49 persen penurunan juga terjadi pada siswa usia
SLTP, dan 26,39 persen penurunan terjadi pada siswa usia SLTA.
Penduduk kota Magelang rnempunyai kecendurungan pemikiran
bahwa dengan pendidikan yang cukup, akan membantu mereka
dalam menata kesejahteraan hidup mereka sendiri. Selain dengan
pengalaman yang dimiliki masyarakat Magelang selalu mendidik
dan menanamkan pentingnya sikap mandiri dalam kehidupan
anak-anaknya.

D. KESEHATAN

Salah satu fasilitas yang disediakan oleh pemerintahan kota
adalah sarana kesehatan. Keberadaan dan lelengkapan sarana

kesehatan ini sekaligus menjadi pembeda antara kota dengan

desa.

Sgarafr l<ok h{agekng

Peran pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan

maeyarakat salah satunya dapat dilakukan dengan perbaikan
kondlsl kesehatan masyarakat. Pemerintah Kota Magelang untuk
mcwuJudkan cita-cita ini membangun berbagai saran kesehatan

ytng mudah d'ljangkau oleh masyarakat dari berbagai lapisan

rorlal. Pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta

mambangun berbagai sarana kesehatan yang meliputi Rumah

rtklt umum, puskesmas-puskesmas, tenaga kesehatan yang

tcrampll dan terlatih, klinik-klinik persalinan, Balai pengobatan

d$. Pada tahun 2007 terdapat 2 rumah sakit milik pemerintah, 3

Ibuah Rumah sakit swasta, 1 Rumah Sakit Paru dan Rumah

SrkltJiwa.

Garnbar 9.4
Banyaknya Sarana Kesehatan

Sumber: IGntor Statistik Kota Magelilg, zooS

8gan61<otaWeA
BABATI AHFil$ FF"SV, JATEI{S

E. AGA]TIA

Penduduk kota Magelang hidup rukun dan damai dengan
berbagai agama yang ada dimasyarakat. Kebanyakan dari

mereka menganut agama Islam, terbukti dari banyaknya

tempat ibadah berupa masjid dan mussola yang ada ditengah-
tengah masyarakat Magelang. Jumlah penduduk Magelang
pada tahun 2007 kebanyakan menganut agama Islam dengan

jumlah penduduk sebesar 98.677 kemudian 10.859

orangmenganut agama Kristen, 10.508 orang menganut agam
Katholik, 596 orang menganut Budha dan 368 orang menganut
agama Hindu.

Kecamatan Magelang Tengah banyak dihuni oleh
masyarakat yang menganut gama Islam dengan jumlah
sekitar 35.816 jiwa, Magelang Selatan didiami oleh 33.613
pemeluk Islam dan 29.248 orang penganut Islam di

kecamatan Magelang Utara. Jumlah penduduk yang memeluk

agama Kristen terbanyak berada di kecamatan Magelang

Tengah dengan jumlah penganut sekitar 5.351 jiwa; diikuti

kecamatan Magelang Selatan dengan jumlah penganut sekitar

di2.539 jiwa; dan kecamatan Magelang Utara sebanyak 2.518

jiwa. 5046 penduduk kecamatan Magelang Tengah

menganut agma Katholik; 3.449 menganut agama Katholik di
kecamatan Magelang Selatan; dan 2.364 penganut katholik d

kecamatan Magelang Utara. 345 orang penganut agama

Budha berada di kecamatan Magelang Tengah; 137 orang

penganut Budha di kecamatan Magelang Selatan; LL4 orangdi

kecamatan Magelang Utara. Sedangkan penganut agama

Hindu terbanyak berada di Kecamatan Magelang Tengah

sebanyak 231 orang; 92 orang berada di Kecamatan Magelang

Selatan dan 45 orang penganut Hindu berada di kecamatan
Magelang Utara. Penduduk yang menikah pada tahun 2007
meningkatl, 52 persen disbanding tahun 2006, yang diikuti

pula oleh kenaikan kasus perceraian 5,41 persen.

Sgara|lhkXkqefug

BAB III

MAG E LANG SEBELU M PEITIAIAIIAN

Sebagai sebuah Kota (kota madia), Magelang memang

m€rupakan fenomena yang baru muncul pada zaman

penJaJahan Belanda. Seneida dengan pembentukan kota-kota

pGmerlntahan lain yang dinamakan Gemeente, Kota

Magelang merupakan gejala awal abad XX. Akan tetapi

rebagai sebuah pemukiman yang berpernerintahan, Magelang

trlah lama berdiri, jauh sebelurn Koloniallsme Betramda
barkuasa di tanah Jawa.Bagian ini akan dikupas temrhrtg

kondlsi Magelang sebeium datangnya Kolonialisme Belanda"

A. ASAL - I.ISUL MAGELAIUG

l. Cerita Ralryat

Salah satu cara masyarakat mencari tahu tentang asal-
urul daerah dengan membuat cerita rakyat. Kebena.ran isi
earlta rakyat memang bisa diragukan. Akan tetapi dengan
memahami cerita rakyat tentang suatu daerah akan terlihat
pandangan masyarakat tentang masa lampau daerahnya.

Pondek kata, cerita sejarah yang dibuat oleh suatu

masyarakat, seperti Magelang akan memberikan wawasan
tentang perspektif kelampauan berdasarkan kacamata
masyara kat daera h tersebut.

Cerita pertama terkait dengan informasi mengenai

penghuni pertama Magelang. Diceritakan bahwa pada zaman
dahulu kala mendaratlah di puncak sebuah gunung di pusat

lanah Jawa, seorang Syeh beserta tujuh pasang (pria dan

wanita) pengikutnya. Syeh tersebut bernama Syekh Bakir atau
Syeh Subakir yang berasal dari negeri atas angin dan sangat
rakti. Gunung yang mereka darati merupakan gunung yang
rangat angker dan dilingkupi dengan hutan yang lebat. Konon
gunung tersebut merupakan sebuah kerajaan dari semua jin di

,flgarafi?&kMgr@

tanah jawa dan Rajanya bernama Jin Semar. Oleh karena

angkemp, tidak ada manusia dan binatang yang berani datang
serta menetap ke wilayah itu. Syekh Bakir dan RombonEannya

merupakan orang pertama yang menapak{on I<aki di wilayah
gunung tersebut. Melihat keindahan alam di sana, Syeldh Bakir
tidak takut terhadap cerita tentang keangkeran gunung ihr,
bahkan berketatapan hati untuk tinggal menetap di wilayah
tersebut. lGEtapan hati tersebut disebabkan karena hatinya

merasa tenteram dan damaisejak menapakkan kakinya diwilayah
itu.

Perasaan beliau menjadi gundah dan terusik hati sejak anak
buahnya tiba- tiba merasa cemas dan jahrh sakit sampai akhirnya
meninggal satu persatu bahlon habis semua. Kejadian tersebut
mendorong beliau untuk bersujud dan mohon petunjuk Tuhan
Yang Maha Esa supa)ra dikuatkan hati dan mendapatkan jalan
pemecahan. Dari hasil berdoa tersebut Syeh Bakir diberikan
petunjuk untuk pulang ke tempat asalnya yaitu negeri atas angin

dan kembali lagi dengan membawa tombak pusaka sambil

membawa 40 pasang pengikut laki- laki dan perempuan ke gunung
tersebut. Kedatangannp tidak ke puncak gunung tersebut tetapi

berada ke arah sebelah timur yaitu ke dukuh Trunan yang

merupakan asal kata turunan (dalam bahasa Jawa artinya =

tempat turunnya). Tempat ini merupakan tempat pemukiman

beliau dan pengikutnya. Rasa penasaran dan keingintahuan beliau

atas musibah sebelurnnya akhirnya menyebabkan dia bersemedidi
puncakgunung untuk melakukan perlawanan dengan raja jin yang
menyebabkan anak buahnya meninggal tiba-tiba. Ferang antara

Syeh Bakir dan Raja jin Semar penguas gunung Tidar beserta
anak buahnya dimenangkan oleh Syeh Bakir dengan caftt

menancap-kan tombak pusaka diatas gunung. Jin Semar yang
kalah menurut cerita yang berkembang laritunggang langgang ke
gunung Srandil, sedanglon anak buahnya ke gunung Merapi,

Merbabu, Sumbing Sindoro, sungai Progo dan ke lautselatan.

Sepeninggal raja Jin dan pengikuhya suasana gunung

tersebut menjaditenteram dan lega hati sang Syeh karena segala

SgamLl<ofaMlrtry

uengguan sudah tidak terjadi kembali sehingga anak buahnya
rle;rat melanjutkan kehidupannya kembali. Keinginan Syeh Bakir
yang sebelumnya hanya dipendam dalam hati dapat terlaksana

rahlngga dalam bahasa jawa dapat dikatakan bahwa
"rakabahing panguneg-uneging ati wis udaf. Dalam rangka

rnemperlngati kejadian tersebut maka gunung tersebut akhirnya

rllborl nama gunung Tidar( dari kata ati dan udar). Nama

lrrucbut sampai sekarang menjadi ingatan kolektif dan ikon kota
Mrgelang. Sedangkan tombak yang ditanam di puncak gunung

lmobut sekarang masih ada dan dikenal dengan kuburan

prnJung dari Kyai Panjang( Suhartono dkk,Ttn; 105-107)
Secara geografis gunung Tidar tersebut berada diatas

ptrmukaan tanah setinggi 415 meter diatas permukaan laut.

Dom-desa yang yang ada di seputar gunung itu antara lain
rdalah desa Tidarwarun(388 meter), desa Kemirirejo pada

krtlngglan 382 meter dan desa Karet pada ketinggian 343 meter.

lotak gunung Tidar sendiri berada diantara dua sungai yaitu
rungal EIo dan sungai Progo. Desa-desa yang ada di seputar

rungal tersebut merupakan desa suci menurut pandangan orang

drhulu, dan itu merupakan bentuk bukti sebuah teori bahwa

plmuklman orang-orang masa lalu biasanya ada di dekat

tumber air dan mata air untuk menjalankan kehidupannya.

Dlramplng itu sungai merupakan sarana tranportasi yang

plntlng pada masa lalu selain lewat jalan darat.
Ada cerita Iain yang berkisar tentang keberadaan gunung

Ildar lnl yaitu sebagian masyarakat percaya bahwa gunung ini
morupakan "paku'atau titik tengah dari pulau Jawa, sehingga
trnpa paku tersebut maka pulau Jawa akan terombang-ambing

drn bergerak terus menerus kesana kemari. Mereka juga

parcaya kalau di tempat tersebut sebenarnya merupakan candi

ytng besarnya melebihi candi Borobudur dan karena

manlmbulkan perselisihan maka candi tersebut kemudian

dltlmbun tanah, kebenaran dari cerita tersebut perlu dikaji dan
Alhhhualam. Menurut penulis cerita tersebut kurang dapat

dlpercaya karena dalam sejarah tertulis bahwa

Sgarufi|<ok Mage{ang

masyarakat pada masa lalu tidak mungkin merusak bagunan
suci tetapijustru menghormatinya. Dalam agama Hindu gunung
biasanya digunakan sebgaai pusat atau titik tengah dari suatu
daerah atau mandala dan dewa Siwa yang dilambangkan

sebagai lingga ditancapkan di tengah-tengah suatu daerah

sebagai lambang/tanda kekuasaan dan simbol kemenangan.
Dewa Siwa juga dianggap sebagai dewa gunung, sehingga
gunung Tidar dianggap juga sebagai titik tengah pulau Jawa
dengan tanda paku tersebut berupa lingga dan disejajarkan
dengan cerita rakyat lain bahwa lingga tersebut merupakan

tombak saKi Syeh Bakir (Sukarto, 1988:17-19)

B. Sumber Prasasti

Sesuai dengan wilayahnya yang subur, pada masa lalu
Magelang merupakan wilayah pemukiman yang meninggalkan
berbagai temuan arkeologis, antara lain candi, prasasti, arca,

lingga, yoni dan lainnya. Temuan itu menunjukkan bahwa

daerah Magelang merupakan pusat peradaban manusia dan
pusat pemerintahan pada masa lalu. Dusun Meteseh yang

berada di kecamatan Magelang utara di halaman salah satu

warganya ditemukan lumpang batu yang oleh sementara ahli
'merupakan sarana untuk pelaksanaan upacara pada masa

Mataram kuno. Tradisi dan upacara yang tertuang dalam

prasasti masa Mataram kuno adalah penetapan desa perdikan

yang membutuhkan berbagai macam sajian yang

dipersembahkan kepada Sang Hyang Susuk Kalumpang.
Terjemahan dari istilah tersebut adalah Iumpang yang mulia.

Pdnyebutan lumpang dengan sebutan awal Sang Hyang berarti

bahwa Iumpang batu merupakan benda yang disucikan dan
dipuja pada masa lampau. Fungsi lumpang sendiri digunakan

sebagai tempat untuk menampung air suci guna upacara

penolak bala atau untuk menyembuhkan penyakit.

Penemuan benda purbakala juga tefiadi di halaman

samping dan depan gedung keresidenan Magelang, antara lain

berupa arca Nandi, Ganesa, Yoni. Lingga, durga dan lainnya.

menceritakan tentang suatu

lempat adalah prasasti Mantyasih (907M) yang rTenyebutkan

krrht:radaan desa/ dukuh perdikan yang diyakini sama dengan

Meteseh.

Kalau kita berbicara tentang kota MaEelang tentu kiranya

tldak terlepas dari penlnggalan kerajaan Mataram kuno yang

r;rrkup fenomental dan merupakan bangunan suci agama

lfudha yang sampai sekarang rnasih dapat knta nikmati yaltu

r;andl Borobudur. Candi besar tersebut dibangun pada walffiu

rnasa keemasan wangsa Cailendra berkuasa di tanah Jawa.

llalam tulisan Soekmono di ceritakan bahwa wanegsa lni ber-

kuasa di wilayah lni antara tahun 750-860 Masehl, Bamgummn*

bangunan suci agama budha didirikan untuk memuliakaru

dewa- dewa antara lain candi Kalasan ytsmg digunakan ur"rtuk

ffremuja Dewi Tara tahun 778 M. Pada prasasti Kelurak jugffi

dtgambarkan bagairnana raja membuat arca Majusnl yfing

dalam dirinya mengandung Budha, Dharrn& dan Samggha

u,( tJl/lsn Bra hma dan Maheswana). Inforrfiasi tentang

keberadaan candi Borobudun dapat diketahui dari rnasa
pemerintahan Ratu Pramodyatuardanl. Dalam prasastE

dltullskan bahwa Cri Kahulunan memberikan tanah dan sawah

untuk memelihana bangunan suci yang disebut Kannulan, oleh

sementara ahli kamulan ini identik dengan candi Borobudur
yang sudah didirikan pada rnasa pemerlntahan raja
M.Samaratungga pada tahun 824
Raja Sarnaratungga lmi
merupakan ayahanda dari Pramodya-wardani.
Pramodyawardani menikah denEan nakai Pikatan yamg

merupakan keturunan dari wangsa Sanjaya penganut agaffia

hlndu. Dalam tulisan sejarah masa kuno simbol toleransi antara

agama hindu dan budha dalarn dua dinasti ini terlihat pada

masa pemerintahan ratu Pramodyawardani dan Rakai Pikatan.

Bahkan ada yang n'renulis bahwa pada masa Framodyawardani

lnllah terjadi perkawinan antara wangsa yang berkuasa di Jawa

yaltu wangsa Sanjaya dan wangsa syailendra. Hal ini dibuktikan

dengan peninggalan candi- candi di seputar candi Prambanan
yang berciri Hindu, sementara tidak jauh dari complek candi

tersebut juga diternukan candi Kalasan dan Piaosan yang

bercirikan bangunan suci agama Budha.( Soekmonorl9SL:42-
46)

Selain berupa bangunan candi dan arcal Magelang juga
kaya akan peninEgalan sejarah yang berupa makam- makarn

para orang yang dianggap mempunyai sejarah dalam hidupnya

dan beberapa peristiwa. Makam tersebut sampai sekarang
masih diyakini masyarakat sebagai tokoh yang punya andil

besar terhadap keberadaan dari kota Magelang. Makam tokoh
tersebut antara lain adalah makam Kyai Subakir yang berada di
kelurahan Magersari, kecamatan Magelang selatan dan berada

dl puncak gunung Tidar. Tokoh ini oleh masyarakat Magelang

dipercaya sebagai orang yang pertama kalI rnembuka

pennukiman di gunung Tidar dan lembah- lembahnya,

Makam Kyai Bogem juga terletak dl kecamatan Magelang

utara tepatnya di kelurahan Panjang. Tokoh ini merupakan salah

satu dari empat hamba raja Mataram Panembahan Senopati
yang diutus untuk membuka hutan di bagian timur laut gunung

Tidar guna dUadikan pemukiman baru bagi kerajaan Mataram.
Makam yang ketiga adalah Kyai Sanggrah yang rnerupakan
demang pada masa kerajaan Pajang yang melarikan diri karena

perang" Demang tersebut beserta pengikutnya mendiami
daerah ini sarnpai tiga keturunan, oleh karena tempat hunian

tersebut sering digunakan oleh prajurit Mataram untuk sinEgah
maka makam tersebut dikenal dengan Sangrahan(berasal dari
bahasa jawa pesanggrahan= tempat istirahat).

Pada masa pangeran Diponegoro melakukan aktivitas
perang melawan Belanda banyak diantara makam yang ada di
Magelang itu berhubungan dengan tokoh perang jawa tersebut,

diantaranya adalah Makam Kyai Selobranti di kelurahan

Rejowinangun Selatan Kecamatan Magelang Selatan. Tokoh ini

merupakan p!'ajurit kepercayaan pangeran yang berfungsi
untuk rnengawal beliau dan cukup setia terutama pada saat

melakukan perundingan dengan Belanda. Makam tokoh ini oleh

masyarakat disekitarnya dikeramatkan dengan dibuktikan

pengantin tidak diperkenankan melakukan iring-iringan

S3larafrlbkMgtfong

nrelewati makam tokoh ini. Ada dua makam lagi yang erat
krrltannya dengan pangeran Diponegoro yaitu makam Kyai
(,atahbarong dan Mbah Semboto_yang berada di dukuh Boton

Itnlong Kelurahan Magelang kecamatan Magelang utara. Kedua
Iokoh Ini dipercaya oleh masyarakat sebagai pembawa payung
kobesaran sang Pangeran dan cikal bakal kota Magelang. Tokoh
laln yang dianggap cukup menarik karena disebut juga dalam

prasasti yaitu Kyai Kedu yang terletak di gumuk(bukit kecil)

longls, di dukuh Dumpoh kelurahan Potrobangsan. Dalam

Srrasasti Mantyasih disebut desa Kdu dan desa Wadungpoh( kini
lrcrnama Dungpoh, Dumpoh). Cerita tersebut terpenggal dan
rllsayangkan karena tidak berlanjut dan tidak diketahui lagi oleh
;rcnduduk. Makam-makam yang berhubungan dengan tokoh di

Magelang cukup banyak dan belum diketahui dengan tepat
lnntang tokoh yang dimakamkan tersebut antara lain adalah

rrrokam KyaiTunggul Wulung, Kyai Langgeng, makam Candisari
rlon lain sebagainya. Ada kemungkinan yang dianggap makam
larsebut hanya eberupa epeninggalan/ petilasan yang berupa

henda-benda yang disucikan dari tokoh yang dimaksudkan
dalam cerita, misal tombak, keris, tempat sujud dan lainnya.

Sumber Prasasti yang dapat digunakan untuk mengetahui
hari jadi Magelang yaitu: Prasasti Poh, Mantyasih dan Gilikan.
Ketlga Prasasti ini ditulis diatas Iempengan tembaga dan disebut
Prasasti Tembaga. Tembaga Poh dan Mantyasih ditulis pada

rnasa pemerintahan Raja Mataram I (Hindu) yakni Sri Maharaja

l{ake Watukara Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahashambhu

(898 M-910 M). sedangkan tembaga Gilikan dalam

pemerintahan Mpu Sendok (sekitar 924 M). Prasasti ini berisi

l.antara lain:

Prasasti Mantyasih Tembaga terdiri dari 2 lempengan

tembaga berukuran panjang 49,3 dan Iebar 22,2 Cm.

Prasasti tersebut menyebutkan antara lain adalah pertama
menyebutkan nama Raja Rake Watuwara Dyah Balitung.
Kedua, menyebutkan angka tahun 829 saka bulan caitra

tanggal 11 paro Gelap, Paringkelan Tungle, Pasaran

S31arafr?<nk MEekry

Umanis, Hari Sanais Scarba (Sabtu), bintang

Purrwwabhadraw?, dewa Ajapad?, yoga Indra. Dalam bahasa

Jawa Kuno berbunyi Swasti Sakawa rsita 829

ffipurawwabhadrawanaksatra, ajapadadewata inddrayoga
dengan kata lain Hari sabtu Legi Tanggal 11 April 907 M.
Selain itu prasasti Mantyasih ini berisi juga tentang nama desa

Mantyasih yang ditetapkan oleh SRI MAHARAIA RAKE

WATUWARA DYAH BALITUNG menjadi desa perdikan (Daerah

Bebas Pajak) yang dipimpin oleh seorang patih, Dalam

pfttsasti Mantyasih menyebutkan pula Gunung Susundara dan

Wukir Sumbing yang sekarang dikenal dengan Gunung

Sindoro dan Gunung Sumbing serta ditegaskan alasan Desa

Mantyasih diresmikan dan diberikan penghargaan untuk
ditetapkan sebagai desa perdikan oleh raja Balitung. Alasan

raja memberikan desa perdikan pada desa Mantyasih yaitu :

@ Penduduk Mantyasih banyak mernberikan bantuan dan
partisipasi sewaktu raja Balitung melangsung-kan

perkawinan"

Penduduk Mantyasih mempunyai kewajiban melakukan
kebaktian (memelihara, memperbaiki) bangunan suci
atau candi sebanyak Iinna buah yang berada disekitar

daerahnya.

Penduduk Mantyasih dibawah pimpinan Patih telah
rnampu mengamankan wilayah sekitarnya dan jalan

lintas Dieng-Ponorogo yang melewati Mantyasih

(Fennkab. Magelailg, 1978. : L7 -18)"

Dengan disebutnya Wukir Susundoro dan Sumbing dalarn
pnasasti Poh dan Mantyasih yang letaknya disebelah barat

Metes€h, maka menambah keyakinan bahwa nama
Mantyasih dalam prasasti Poh dan prasasti Mantyasih

adalah Meteseh, kampung di kelurahan Magelang,

Mantyasih diresmikan dan ditetapkan menjadi daerah

perdikan oleh raja Balitung tanggal 11 April 907 M. Maka
berdasarkan keputusan peraturan Daerah kotamadya

Daerah Tingkat II magelang Nomor 6 Tahun 1989, secara

&gm$'K,okWfu

rcsmi hari jadi Magelang tanggal 11 April 907 M. Pada tanggal
I t April 1989 kota Magelang pertama kalinya memperingati hari

Jadlnya yang ke 1083 (Selayang pandang Daerah Tingkat II

Magelang.

) Prasasti Poh

Prasasti Poh (poh: pauh, rnanggd, magnifera) terdiri atas dua
lempengan ternbaga berukuran 50cm, Iebar 20,5crn. tergali di
desa Plembon, kal. Lempengan Gondangwingun Klaten" Isi
pokok prasasti ini adalah:

a) Menyebutkan Raja Sri Maharaja Rake Watukura Dyah

Balitung Sri Dharmodaya Mahasambhu.

b) Prasasti ditulis pada tahun 827 saka, bulan SrawailE,

tanggal 13 paro terang (suklapaksa), Faringkelan panlruan

,(sadwara), pasaran POn (pancawara) hari Budhasraftr

(saptawara)" Dalam bahasa jawa kuno benbunyi: Swasti

Sakawarsatita 82V srawanannanas-tithi travodasi

suklapaksa. Paniruan pon budhawara. Bertepatatan tangEal

L7 Juli 905 M.

c) Menyebut nama desa Poh yang ditetapkan raja Balitung

menjadi daerah Sima (desa perdikan) untuk keperluan

bangunan suci di pastika (paknan yang sinususk

muangkalanya sirnasanghyang caitya mahaywa silunglung
sang dewata lumahi pastika).

d) Menyebut nama desa mantyasih(baris 13 lempengan 1b),

nama desa Gelang (baris 6 lempengan 2b dan nama

Glanggang baris 5 lempengan 2a).

e) Menyebut nama-nam desa lainnya, nama para pejabat,

penduduk desa, pemberian hadiah (pasak-pasak) baik
kepada para pejabat tinggi maupun rakyat jelata. Juga
disebut sajian-sajian yang digunakan dalam upacara
menusuk sima (menetap-kan sebuah desa rnenjadi bebas

pajak).

3. Prasasti Gilikan

a. Menyebutkan sebidang tanah seluas 4 tampah yang

dijadikan punya (persembahan suci) untuk Bhatara di

Glam (lemah sawah punya sri maharaja Sima Bhatara I

Glam).

b. Kutukan kepada siapa saja yang berani menentang

keputusan raja (pemerintah).
c. Menyebut pejabat wahuta fiabatan setelah patih), patih

dan kepala desa (nama desa Gilikan).

d. Menyebut Samgat Lua Pu Gunottama dan Samgat

Famasaran Pu Sandhaya,

e, Kutukan (sapatha) kepada siapa saja yang berani
melanggar peraturan pemerintah (sbit vrrtangya) (

Dok. Disbudpar Magelang, 23-25: 1982).

Prasasi Poh menyebutkan nama desa Mantyasih, Glang, dan
Glanggang. Tembaga Mantyasih rnenyebutkan nama desa

IMantyasih dan Gilikan menyebutkan Bhatara di GIam.

Dimana ketiga prasasti tersebut menyebutkan nama desa:
Mantyasih, Gelang (sama dengan Glam), Glangglang. Melihat
kenyataan sekarang diperkirakan bahwa desa perdikan
Mantyasih dalam Prasastl Raja Balitung yang ditetapkan
menjadi Sima Kepatihan tetap dikenal dan menjadi Meteseh

sekarang"

Bukti dari Prasasti Mantyasih bahwa yang dimaksud itu
adalah kota Magelang meliputi: dalam prasasti ini ditulis nama

hutan Susundara dan Sumwing. selain itu juga disebutkan

nama desa Wadung Poh dan desa Kdu. Nama Wadung Poh
kernudian disingkat menjadi Dung Poh yang akhirnya berubah
menjadE Dumpoh. Demikian pula nama Kdu sekarang berubah

menjadi Kedu. Dalam prasasti ini juga disebutkan bahwa

Mantyasih dipimpin oleh 5 orang pejabat patih secara

bergantian. Dlsebelah barat laut kota Magelang (Mateseh)
sampai sekarang masih terletak desa kembang kuning dan

desa Guntun (Kel. Rejosari, Kec. Bandongan). Desa Kembang

Kuning dan Guntur itulah yang dimaksud dengan Kuning
IGgunturan dalam Prasasti Mantyasih (Soekimifi, 6: 1978).

Narna Galang (Glam) dan Glanggang berubah menjadi
Gelang atau Magelang sekarang (awalan Ma).

"\iam6'fbtaW@


Click to View FlipBook Version