l)alam bahasa jawa Kuno nama Glang, gelang berarati
ltrrgkaran, mandala dengan lingga ditengahnya (Gunung Tidar
ynlrg menjadi paku titik pulau Jawa). Berkaitan dengan nama
Mdngasih I yang berangka tahun L7 Juli 905 menyebutkan
narna Mantyasih dan Glangg?ng, tetapi desa Mantyasih baru
tlltetapkan menjadi daerah Sima Kapatihan dalam prasasti
Mantyasih I yang berangka tahun 11 April 907 M, k tolak desa
Mantyasih menjadi daerah penting (perdikan desa), karena :
'., Penduduk Mantyasih banyak yang memberikan bantuan
dan partisipasi sewaKu Raja Balitung melangsungkan
perkawinan.
rL, Penduduk Mantyasih mempunyai kewajiban melakukan
kebaKian (memelihara, memperbaiki) bangunan suci atau
Candi sebanpk 5 (lima) buah yang berada disekitar
daerahnya.
,-, Penduduk Mantyasih dibawah pimpinan para Patih, telah
mampu mengamankan wilayah sekitarnya dan jalan lintas
Dieng-Ponorogo yang rnelewati Mantyasih.
Gambar 3.1
Yoni yang terdapat pada prasasti Mantyasih
Surnber: Dokumentasi Tim
8gara61<ok Magekng
Berdasarlen data terebut diatas maka hari jadi Magelang dapat
ditelusuri atau diteliti berdasarlon prasasti Foh 17 Juli 905M
dan Prasasti MantyasihApril90T M.
C. ZA]IIAN HATARA]I ISLAM DAN NA]IIA
]IIAGELANG
Kedu merupakan wilayah di Jawa Tengah yang memiliki
potensi sejarah purbakala cukup penting dan bervariatif
terutama Magelang karena meninggalkan tinggalan masa lalu
yang fenomentel yaitu candi Borobudur, prasasti dan beberapa
monumen masa revolusi kemerdekaan. Sedangkan nama Kedu
sendiri berasal dari kata okedung" yang artinya tempat yang
dalam. Kondisi ini dibuktikan dengan geografis dan
geomorfologis wilayah ini yang terletak diantara gunung-
gunung yang menjulang tinggidiantara sisi-sisinya yaitu gunung
Sindoro dan Sumbing yang berada di bagian barat dan gunung
Merapi dan Merbabu di bagian timur dan bagian selatan dan
utara gunung Ungaran, Telomoyo dan Menoreh serta di tengah-
tengahnya ada gunung Tidar. Sedangkan nama Magelang sendiri
berasaldari kata mahagelang yang merupakan simbol geografis
wilayah Magelang yang dikelilingi oleh gunung-gunung yang
besar tersebut sehingga membentuk seperti sebuah gelang.
Cerita lain tentang legenda nama Magelang tersebut
berasal dari usaha Panembahan Senopati pada masa Mataram
Islam yang merupakan seorang raja yang sakti, arif dan
bijaksana berniat membuka hutan di Kedu yang pada saat
tersebut dikenal angker untuk prajurit dan rakyatnya menjadi
sebuah desa perdikan karena kota Mataram telah padat
penduduknya. Raja pada saat itu tidak berangkat sendiri tetapi
mengutus patih Mandaralo dan prajuritnya untuk membabat
hutan tersebut, usaha tersebut tidak berhasil karena hutan Kedu
dikuasahi oleh r{a jin sakti yang bernama Gandarwo Kedu.
Prajurit Mataram dibuat sakit dan meninggal tetapi ada
beberapa yang masih hidup dititipkan patih Mandaraka kepada
WfirbhWt*J
lrnrrr.rrggung Mertuyudo sementara patih pulang ke Mataram
nr,l,rporkan kejadian tersebut kepada sang raja. Kejadian ini
lrrnnrlorong Senopati ditemani patih Mandaraka untuk
lrusemedi di tepi pantai selatan mohon petunjuk dan bantuan
rlarl Tlrhan Yang Maha Esa dan Ratu pantai selatan. Ratu pantai
lelatan memberi penangkal kepada Senopati untuk
rrrnrrgalahkan jin Gandarwo Kedu yang merupakan salah satu
anak buah Ratu kidulyang murtad dan tiba saatnya kembali lagi
ka pantai selatan. Penangkal tersebut oleh Senopati diberikan
penguasa
kapada Mandaraka untuk mengalahkan jin sakti
Irutan Kedu. Peperangan diantara kubu tidak dapat
larhlndarkan baik dari pihak Mataram maupun dari pihak hutan
Kadu. Diantara prajurit dan punggawa Mataram yang gugur
Enlnra lain adalah Tumenggung Mertoyudo, Tumenggung
lilngoranu dan putera Senopati yang bernama Pangeran
Xrlnclng. Dalam usaha mengingat peristiwa dan jasa-jasa dari
,unggawa yang gugur tersebut maka ada tempat di wilayah itu
sama
rf ll kenal dengan nama tokoh tersebut yaitu daerah
Marloyudan, Singaranom dan Krincing( Sumartono, 1988: 3)
lhda waktu meringkus raja jin Gandarwo Kedu tersebut prajurit
Mrlaram membuat taktik melingkar seperti gelang yang
hartemu (temugelang) dan karena hal tersebut maka wilayah
lurebut kemudian oleh Mandaraka diberi nama "Magelang".
Apabila ditinjau dari sumber sejarah nama Magelang itu
tandlrl tidak dapat dipisahkan dengan nama Meteseh, yaitu
rtbuah dukuh kecil yang berada di pinggir barat dari kota
Mrgelang. Dukuh tersebut pada masa Mataram kuno
marupakan tempat yang memegang peranan penting karena
morupakan tempat ditemukannya prasasti Mantyasih yang
marupakan desa perdikan dari masa raja Balitung. Terlepas dari
prnlnggalan yang menyebut desa Mantyasih yang diartikan
lama dengan Meteseh, nama Magelang itu sendiri berasal dari
ktta "glanglang"'galang atau glam". Akar kata glanglang dari
[hng atau gelang (bahasa Jawa) berarti lingkaran atau
flahng= pertemuan. Sedangkan galang berarti Iandasan, dasaL
penyangga, galangan, sinar dan cemerlang. Dalam bahasa Bali
galang bulan berarti terang bulan(?). Pada masa sekarang di
Magelang Kota tepatnya kecamatan Magelang terdapat dukuh
Gelangan dan dukuh Magelang kelurahan Magelang kecamatan
Magelang Utara. Sehingga dapat di duga bahwa nama kota
Magelang itu sendiri berkaitan erat dengan dua tempat tersebut
yaitu dukuh Gelangan dan dukuh Magelang. (Sukarto,
K.A,1988:5-6)
Baik cerita rakyat, babad dan sumber tertulis tersebut maka '
dapat disimpulkan akan beberapa versi dari asal mula nama
Magelang tersebut antara lain adalah Pertama, berdasarkan
Iegenda buku ramalan Jayabaya, Ronggowarsito dan Sabdo
Palon: dinyatakan bahwa adanya pendudukan orang Keling di
Jawa Tengah atas perintah Raja Roem, Turki, orang Keling ini
mempunyai kebiasaan menggunakan hiasan "gelang" pada
cuping hidunya, maka orang luar menyebut daerah itu
Magelang, awalan ma berasal dari kata mawa yang berarti
mamakai. Kedua, muncul legenda dari zaman awal kerajaan
Mataram pada zaman Panembahan Senopati tahun 1575 M.
Diceritakan bahwa peran tentara kerajaan Mataram dalam usaha
menangkap Jin Sepanjang yang pada waktu itu menguasai
daerah Kedu, menggunakan siasat pagar betis, dikurung
merapat seperti gelang. Jadi dari siasat memakai pagar betis:
memakai lingkaran seperti gelang dan istilah orang Jawa
memakai Mawa Gelang lalu terjadi sebutan Magelang. Ketiga,
berdasarkan tinjauan geografis dari Ir. R.C.A.F.J. Nessel van
Lissa, seorang burgemeester (Walikota Magelang)
menyatakan bahwa pada gambar peta magelang selalu Nampak
ditengah-tengah pusat daerah Kedu dan dikelilingi oleh gunung
Menoreh, Sumbing, Sindoro, Perahu, Unggaran, Telomoya,
Merbabu, dan Merapi. Maka orang dapat menerima bahwa nama
Magelang berasal dari kata MAHA GELANG atau Gelang yang
beslr (Gloote Ring)(Soekimin, L978: L-2).
Sgarafrt<ok X@ckng
Gambar S.2
Kantor Burgemeester
Sumber: Koieksi Disporabudpar Kota Magelang
Wilayah Magelang dalam catatan sejarah masuk dalam
wllny.rh Kedu. Wilayah inipada awal perkembangan Islam dibawah
kekrrasaan local Kedu. Bersama-sama dengan pengusas Bagelen
(lnkirrang Purwareja) memiliki hubungan baik dengan
frArrrrrrrtlahan Senapati sejak Hadiwijaya berkuasan di Kerajaan
Itafrurg. Pada masa Kerajaan Mataram Islam wilayah Magelang
lprrrr,rsrrk di dalam kekuasaan kerajaan besar di tanah Jawa ini.
imlnk bcrdirinya Kerajaan Mataram di bawah Panembahan
terro;r,rli, daerah Kedu (termasuk di dalamnya Magelang) dikuasai
olelr Mataram yang berpusat di Kota Gede, Yogyakarta.
llk nrllakan bahwa penguasa Kedu memilikihubungan baikdengan
Malar;rm dan tetap setia kepada panembahan Senapati. (Graaf &
lh. l'lgeaud , L974:287).
Sgarafrl<ok MEehng
Gambar B.g
Peta wilayatr Magelang yang dikelilingi gunung-gunung
-.-....r4. .:
Sumber: Perpustakaan Kota Magelang
Pada tahun 1755 dengan ditanda tanganinya perjanjian
Giyanti Kerajaan Mataram pecah menjadi dua, yakni Kesultanan
Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta. Dalam sejarah orang Jawa
peristiwa ini dikenal sebagai zaman Palihan Nagari, zaman
pembagian kerajaan menjadi dua. Pembagian ker{aan menjadi
dua sebagai titik penyelesaian konflik dan perang saudara antara
Pakubuwana III dan Mangkubumi yang melibatkan VOC. Dalam
Perjanjian tanggal 13 Februari tahun itu, wilayah Kedu menjadi
wilayah "negara agung" dari Kesultanan Yogyakarta selain
Bagelen, Pajang dan wilayah barat daya Semarang. Dalam stelsel
pembagian wilayah, nama "negara agung" berarti daerah di luar
kota ker{aan tempat tanah jabatan dari para bangsawan dan
pejabat kerajaan. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa
banyak bangsawan dan pejabat kerajaan di Yogyakarta memiliki
hubungan kekuasaan dengan rakyat di wilayah Magelang.
(Suhartono,dkk., tanpa tahun, : 1 13).
SglaraL K,ok U^grk J
BAB IV
ZAMAN PENJAIAHAN BELANDA
A. AWAL KEKUASAAN BELAT{DA DAN
TERBENTUKNYA MAGELANG
Sebelum datangnya kekuasaan Belanda, wilayah Kedu
(lermasuk di dalamnya Magelang) termasuk dalam wilayah
XeraJaan Mataram. Magelang merupakan salah satu wilayah
lanaha jabatan dari penguasa Mataram. Kondisi demikian
harlangsung hingga akhir abad XVIII.
Perubahan politik terjadi pada awal abad XIX. Tahun
lll08, Tanah Jawa secara resmi dikuasi oleh Pemerintahan
lllndla Belanda di bawah Gubernur Jenderal Herman Wilhelm
l)aendels. Sebagai mana diketahui bahwa penguasa ini
rttamerintah dengan keras. Pengangkatannya sebagai
gubernur jenderal di Hindia Belanda terkait dengan
hubungan-hubungan politik antar negara di Eropa pada akhir
rbad XVIII dingga awal abad XIX. Sejak tahun L795, negeri
Falada berada di bawah kekuasaan Perancis. Sehubungan
dangan sentralisasi kekuasaan yang semakin besar, maak
Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya , Louis Napoleon
rebagai penguasa di Negeri Belanda pada tahun 1806. Pada
lahun 1808, Louis mengirim Daendels ke Batavia untuk
tnanJadi gubernur jenderal (1808-1811). Salah satu tugas
llaendels terpenting adalah memperkuat pertahanan Jawa
rabagai basis untuk melawan Inggris di Samudra Hindia.
Dl bawah pemerintahan Daendels, tanah Jawa memasuki
hre baru dalam tatanan pemerintahan. Tokoh ini dikenal
rabagai seorang pemuja prinsip-pinsip pemerintahan yang
tavolusioner. Dia membawa Jawa suatu perpaduan antara
remangat pembaharuan dan metode-metode keditaktoran.
(Rleklefs, 2005:245) Dalam menjalankan pemerintahannya, ia
Iterusaha memberantas sistem feudal dalam masyarakat Jawa
yang sempat diperkuat semasa VOC. Untuk mencegah
penyalahgunaan kekuasaan, bupati mulai dibatasi hak-haknya,
terutama yang menyangkut kekuasaan tanah dan pemakaian
tenaga rakyat. Tindakan ini tidak hanya akan mengurangi
pemerasan oleh penguasa terhadap rakyatnya, tetapi juga
!ebih sejalan dengan prinsip kebebasan berdagang.
(Kartodirdjo, 1999 : 291).
Kebijakan Daendels dalam memberantas feudalisme ini
mengalami hambatan karena beberapa hal. Pertama,
Kebiasaan yang berlaku hingga zaman VOC bahwa bupati
berperan penting dalam perdagangan. Pada masa VOC mereka
difungsikan sebagai perantara sehingga mereka memperoleh
keuntungan, antara lain berupa prosentase tanam
(cultuurprocenten), yakni prosentase tertentu dari harga
taksiran penyerahan wajib dan penyerahan paksa
(contingenten) yang dipungut dari rakyat. Kedua, dalam
struktur feudal, kedudukan bupai sangat kuat, sehingga setiap
tindakan perubahan tidak dapat berjalan tanpa kerjasama
dengan mereka. Kepemimpinannya berakar kuat dalam
masyarakat sehingga tidak mudah menggeser kedudukannya.
Ketiga, dalam menjalankan tugas pemerintahan, Daendels
sendiri yang harus mempertahankan Pulau Jawa terhadap
serangan Ingggris. Sehubungan dengan hal itu, maka jalur
transportasi darat di Jawa harus dibangun, antara lain
pembuatan jalan yang menghubungkan daerah-daerah diJawa
dariAnyer sampai Panarukan yang kemudian dikenal sebagai
Jalan Raya Pos (Grote Posfweg). Untuk keperluan
pembangunan proyek besar ini dibutuhkan tenaga rakyat,
sehingga kerja wajib (verplichte-diensten) dipertahankan.
Selain itu penyerahan paksa secara wajib juga masih berlaku.
Dengan demikian semasa Daendels sesungguhnya sistem
penguasaan tradisional masih berlangsung terus. (Kartodirdjo,
1999:2910292).
Tindakan Daendels yang amat keras dan menindas itu
IIsalah satunya melahirkan konflik dengan Kesultanan
Yogyakarta. Hamengkubuwana melakukan perlawanan
Sgata6'l<ohWfu
ydng berakibat dimasukkannya wilayah Kedu ke dalam wilayah
kckusaan Hindia Belanda. Kedu akhirnya masuk dalam system
grcmbagian wilayah Hindia Belanda yang sedang dikembangkan
oleh Daendels.
Sebagaimana diketahui bahwa Daendels membagi wilayah
fawa ke dalam daerah perfeKur (perfectuur geweest). Daerah
lrrl dikepalai oleh seorang kepala perfect (kepala daerah). Suatu
porfectuur mewakili beberapa kabupaten. Kapubaten ini
rncrupakan wilayah yang berada ditangan kekuasaan penguasa
glrlbumi bernama bupati yang telah ada sejak zaman Mataram.
l,ara bupati ini tetap dipertahankan, dipimpin oleh orang Jawa
tlan memimpin secara Iangsung atas penduduk pribumi.
Sementara itu para perfect dipegang oleh orang Eropa (Belanda)
tlan berada di Kota-kota besar di antara kumpulan kabupaten
tcrsebut. Para bupati ini semula diangkat sebagai pegawai
kerajaan, sehingga loyalitasnya tetap kepada raja yang
rnt:ngangkat-nya. Daendels berusaha memikat dan mengikat
para bupati seraya melakukan pengawasan ketat kepada
rnereka. Ia bermaksud menggaji mereka dengan uang tidak
dcngan tanah bengkok seperti sebelunnya, tetapi belum sampai
terlaksana sudah terjadi peperangan dengan Inggris yang
herakibat dikuasainya wilayah Jawa, termasuk Magelang oleh
lnggris.
Pada bulan Mei 1811, kedudukan Daendels sebagai
gubernur jenderal di Jawa digantikan oleh Jan Willem Jansens.
Akan tetapi tokoh ini tiak dapat bertahan lama, karena pada
langgal 1 Agustus 1806, enam puluh kapal Inggris muncul d
llatavia yang kemudian pada tanggal 26 Agustus berhasil
rrrcrebut Kota Batavia dan daerah-daerah sekitarnya. (Ricklefs,
/005:248).
Taldulq@ Batavia ke tangan preukan Irggris diiluti dengan
gruqangl@n Sranford Raffiess sebagai GubemurJenderal diJana (1811-
l8r5). Raffiess adalah seomng penentang "despotisnrc' sebagnimana
l}rcndels. Enerinlahan Raffiess didreaden pada prirrifprnsip liberal,
yakni pollUk kolonhl1Bng hendak rneunJrrdlGn kebebasan dan lapdian
lrukum. Unhik mdalsanalon ileologi libenl prp dianutlp Raffiess
berusaha merombak struKur tradisional dan feudal untuk diganti
dengan sistem baru dan digantikan dengan system yang legal
rasional. Perubahan semacam itu amat sulit tanpa adanya
perubahan mental dan budaya yang umumnya masih tradisional
dan feudal. Akibatnya kebijakan Raffless ini banyak mengalami
kegagalan karena perubahan mental memerlukan waktu yang cukup
panjang, pada hal masa kekuasaannya sangata terbatas.
( lG rtod i rdjo, L999 :292-293).
Perlu dicatat bahwa semula yang disebut Kota Magelang hanya
merupakan sebuah desa. Desa ini berada dalam wilayah
pemerintahan Kedu (di zaman Daendels disebutpedecf dan di masa
selanjutnya disebut karesidenan). Desa ini secara geografis dibatasi
oleh desa Potrobangsan di sebelah Utara, desa Samban di sebelah
Timur, desa Cacaban disebelah Selatan dan Sungai Progo disebelah
Barat. Di dalam desa itu terdapat beberapa kampung: Dukuh,
Tulung, Boton, Kopen, Boton Balong, dan Meteseh. Dari desa
kemudian dikembangkan menjadi kota.
Gambar 4.L
Masjid Kota Magelang
ffi, ffi1l1ffi
Sumber: Dokumen Tim Peneliti
sgnahKoraMagekng
fl
Magelang diposisikan menjadi wilayah kekuasaan yang
Icblh besar baru pada awal abad )o(, ketika Magelang dlkuasi
oleh Inggris. Ketika itu Magelang dikembangkan menjadi
wlltrlah kabupaten. Mas Ngabehi Danukromo diangkat sebagai
llrrpati yang pertama di wilayah ini. Beliau merintis berdirinya
kola Magelang dengan membuat alun-alun, bangunaR ternpat
kedtaman Bupati, dan Masjid Kauman, Ialu berdasarkan SK
Krrrnlsaris lenderal tanggal L4 Maret 1817 No 24 maka pada
lnJrun 1818, Magelang dijadikan ibukota Karesidenan Kedu.
Kabupaten Magelang lalu dijadikan kota Gemeente, dan
Itemudian menjadi Kotamadya (Adiwlratmoko, 1978: 5).
Sebagai kota kareridenan, fasilitas umum terutama yang
ntenunjang kepentingan penduduk Eropa dibaRgun. Tentu saja
llaltgunan perkantoran untuk pegawai berbangsa Eropa menjadi
;lr lorltas utama. Kantor keresidenan dan kediaman residen
ntrlnladi hal yang utama dalam pemukiman baru. Selain itu juga
rllhaneun rumah sakit yang lokasinya di sekitar kediaman
terlden. Semula rumah sakit ini terbuat dari bahan yang tidak
ft€nnanent, yaitu bambu, Akan tetapi pada tahun 1819, atas
tf ltlthrralnntqauhnGbuabreurnduer nlegnadnebraial yvaanseDbeesr aCrafpe1llCeIn.0r0u0mr-a. hDirseakksiti
lt€tntrangunan dipercayakan kepada Kolonel J.C. Schultze.
Iielallr bangunan tersebut juga dibangun pada tahun 1817
rplrttah tangsi (kazerne) yang semula juga dari bahan bambu,
ylttg kemudian dibuat dari bahan permanent. Tangsi itu mampu
ffipltdrnpung 18 sampai 20 orang. Dari data itul terlihat bahwa
lt€nluklman utama yang dlbangun adalah pemukiman residen
reltagal simbol penguasa Belanda di Kedu dan untuk menopang
lrekuasaannya itu bangunan untuk militer menjadi penting.
llka diidentifikasi, sampai dengan meletusnya perang
lllgxtnegoro ( 1830) di Kota Magelang terdapat bangunan-
ItEngunan penting. Bangunan itu adalah rumah kediaman
letltlen, rumah bupati Magelahg, rumah dokter ahlibedah,
t tttttah mantra cacar, dan rumah orang Eropa lain yang
lllnlrnnya terbuat dari bambu atau papan. Rumah-rumah orang
Ft;ra antara lain yang berprofesi sebagai controleur hasil
Sgiarafr'fuk Magehry
bumi, dan rumah-!'umah opsir rniliter. Dari data yang berhasil
dihimpun, memang di Kota ini masa itu masih banyak rumah-rumah
tidak permanent, dari bambu, papan, dan sebagaian lagi dari bata
dan bambu atau papan.
Tabel 4.L
Penduduk fimur Asing (Cina) dan Eropa di Kota Magelang tahun
1818-1884
Tahun Eropa Arab Cina Jumlah
LPJ
1818 13 4 L7 7 L9L9 L943
18z3 22 L2 34 27 L75L 18rz
34 29 6g 45 1959 zo67
r83r S6 z8 6+ 37 215O 225L
1834
Sumber: Naskah Ketik Perpustakaan Kota Magelang
Ditinjau dari etnisitasnyd, masyarakat magelang menjelang
Perang Diponegoro terbagi dalam tiga kategori, yaitu pendudnk
pribuffii, timur asing (Arab dan Cih?), dan Eropa. Jumlah penduduk
pribumi sulit diidentifikasi, tetapi jumlah penduduk Cina dan Eropa
dapat dilacak datanya. Adapun jumlah masing-masing penduduk
tersebut terlihat dalam table 4.L.
tserdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa penduduk asing dl
Kota Magelang dari tahun 1818 hingga 1834 cenderung
meningkat. Peningkatan paling banyak terjadi pada penduduk dari
etnis CinEr, kemudian kebangsaan Eropa, dan yang terakhir Arab.
Peningkatan jumlah penduduk oranE Cina tampaknya terkait
denga n perkem nba nga eksloitasi nperkebu na swasta
SEarafrl<,^ok Mg&ng
frilrrf rn€tnang telah berkembang di wilayah kedu sejak awa!
nlr.rd XIX. Peningkatan jumlah penduduk Eropa tentu terkait
rlr:rrgan ekploitasi kolonial yang memrlukan pengawasan
lnr hadap wilayah jajahan.
Peningkatan jumlah penduduk asing, terutama Eropa
rll Kota Magelang memerlukan srana pendukung, salah satunya
edalah kesehatan. Sehubungan dengan hal itu maka mulai
rllhadlrkan dokter (bedah), mantri cacar, dan ahli kesehatan
lelnnya. Kehadiran tenaga medis di Magelang selain untuk
kopentingan bangsa Eropa, juga dapat dimanfaatkan penduduk
prlbumi. Di wilayah Kedu, termasuk Magelang, penyakit yang
rnowabah pada waktu itu memang cacar. Dari penduduk selGar
/t10.000 jiwa yang meninggal karena penyakit cacar sekitar
),152 orang. Pada tahun 1821, di wilayah Kedu timbul wabah
pnrryakit Kolera Morbus yang ditularkan dari Semarang. Khusus
rll Kota Magelang relatif aman karena sebelumnya telah
rllvoksinasi sebagai pencegahan. (naskah ketik di Perpustakaan
Koln Magelang).
I. MAGELANG DAN PERANG DIPONEGORO
Sejarah Magelang tidak dapat dipisahkan dari sejarah
frarang Diponegoro. Magelang menjadi saksi sejarah tempat
;terrllng dalam perang besar di Jawa yang berlangsung dari
letrun 1825-1830 tersebut. Wilayah Magelang sebagaisalah satu
lern;lat yang memungkinkan Diponegoro mengatur siasat untuk
ltrnlnwan Belanda, tetapi di lain pihak juga menjadi pusat
palrrcrintahan militer Belanda untuk menaklukkan sang
f nnucran beserta para bengikutnya.
l. Perang Meluas darl Magelang ke Seluruh Jawa
l)alam perang Diponegoro, ulama dan rakyat Magelang
Irrprnherikan dukungan baik moral maupun material. Akibatnya
Helarrda mengalami kesulitan untuk menaklukkan peperangan
lnl. tlntuk itu Belanda dengan sangat serius untuk dapat
ttrernadamkan api peperangan yang dikobarkan oleh
Bangsawan Jawa ini. Salah satu strateginya adalah
dimemindahkan pusat pemerintahan Belanda Vorstenlanden
dan sekitarnya dari Surakafta ke Kota Magelang. Ketika itu
Belanda berargumentasi bahwa posisi Magelang amat strategis.
Wilayah Kedu ini merupakan jalur penghubung antara Semarang
sebagai pusat pemerintahan dan Surakarta sebagai pusat
wilayah Selatan. Untuk memadamkan dukungan rakyat terhadap
perlawanan Diponegoro, maka pemindahan pusat kekuasaan ke
Magelang adalah suatu yang rasional. Magelang lokasinya
sangat strategis karena berada di titik tengah antara daeah
pusat di Semarang dengan daerah Selatan Jawa Tengah. Selain
itu potensi ekonomi sebagai daya dukung keuasaan dan militer
juga cukup memadai. Wilayah Kedu merupakan wilayah subur
yang cukup banyak menghasilkan bahan pangan, terutama
beras.
Perang Diponegoro sendiri disebabkan oleh ketidak-
puasaa n bebera pa elemen masya rakat Yogyaka rta da n Magela ng
atas kekuasan Belanda di Jawa. Para bangsawan mengalami
kekecewaaan, terutama akibat kebijakan sewa menyewa tanah
yang berubah-ubah yang mengakibatkan kerugian di kalangan
bangswan. Para ulama resah karena makin kuatnya westernisasi
di lingkungan sekitarnya yang dapat merusak tatanan moral
masyarakatnya. Sementara itu rakyat, terutama petani sangat
menderita karena eksploitasi Kolonial baik oleh pemerintah
maupun swasta Barat.
Melihat kondisi lingkungan istana yang makin meburuk
akibat pengaruh Belanda, Pangeran Diponegoro, meskipun
seorang bangsawan lebih banyak mengasingkan diri di Desa
Tegal Rejo, di rumah neneknya. Di Tegalrejo inilah kepribadian
Pangeran Dipnegoro sebagaiseorang bangsawan yang soleh dan
sebagai seorang pemimpin rakyat terbentuk. Di tempat ini beliau
dapat menyaksikan sendiri, betapa berat penderitaan rakyat
desa sehari-hari.
Menurut tradisi, rakyat petani mempunyai kewajiban
bekerja rodi, kerja tanpa upah untuk para bangsawan pemilik
tanah yang digarap petani. Setelah ada ondernemiig asing yang
SSamfrl<ok Magefang
nrr.nyr,wa tanah para bangsawan, maka para petani ini haus
lrr.hr,l;,t rodi ganda, selain kepada bangsawan juga kepada si
Irr,rrr rrrcnyewa tanah. Disamping itu sejak adanya onderneming
rn,rh.l tanah persewaan rakyat semakin terdesak sehingga makin
lr.nrlx:rsulit kehidupan rakyat petani, Sementara itu hidup
pnl,rrri yang sulit ini masih dibebani lagi oleh beraneka ragan
grirl,rk yang memberatkan. Rakyat Jawa yang menderita sering
rrrr,rrrlkhayalkan dan mengharapkan datangnya seorang Ratu Adil
Irrrr akra yang akan mendatangkan keadilan dan perbaikan
Irlrlrrp bagi mereka. Dimata petani, tampilnya P. Diponegoro
nrr,l.rwan penjajah asing Belanda dianggap sebagai Erucakra.
llrrl,rh sebabnya mengapa rakyat kecil petani mendukung
*..nr t,rrtak perjuangan P. Diponegoro.
Rasa kecewa kaum bangsawan, kaum ulama dan rakyat
yrrrrt; meluas itu dapat diibaratkan sebagai timbunan mesiu yang
erwaktu-waktu bisa meledak, tinggal menunggu siapa yang
rrrt,rryalakannya. Penyalanya adalah api Peristiwa Tegalrejo
lnrrqgal 20 Juli 1825 yang mengawali perlawanan umum
lnrlradap Belanda yang berlangsung hampir lima tahun.
Peristiwa Tegalrejo tersebut terjadi. Diawali oleh kericuhan
borll pembuatan jalan raya melalui desa Tegalrejo, tanpa
rr.pt:ngetahuan P. Diponegoro yang berdiam dirumah neneknya.
f 'entbuatan jalan itu bahkan menerobos melalui makam leluhur
l1 lliponegoro. Karena itu P. Diponegoro menentang pembuatan
lnl,rrr tersebut. Tentangan ini di nilai oleh pemerintah Belanda
tt,lrtrgai pemberontakan, sehingga kemudian dikirim pasukan ke
lrt;.rlrejo untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Usaha
lrr,rrangkapan itu tidak berhasil, pasukan Belanda lalu membakar
Irrrlris rumah nenek Pangeran Diponegoro.
Berita peristiwa Tegalrejo cepat tersiar luas dan menggugah
rtlrrangat dan solidaritas bangsa. Rakyat petani dengan
pt,r'senjataan primitif yang ada padanya, beramai-ramai
lrrlrrggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro. Hal ini juga
rlll.rkukan oleh kalangan bangsawan dan para bupati di daerah-
rl,rlrah. Para ulama banyak yang bersimpati dan bergabung
Sgarah Kofa Magekng
dengan perjuangan Pangeran Diponegoro. Dari lingkungan
istana Yogyakarta ada 70 orang keturunan Sultan Yogyakarta
yang bergabung dengan Pangeran Diponegoro, seperti
Pangeran Mangkubi dan Pangeran Ngabehi Djojokusumo.
Sedangkan dari kalangan ulama yang ikut bergabung dalam
perjuangan ini terdiri dari Kyai Mojo dari Surakarta dan Kyai
Muhammad Bakri dari Tegalrejo.
Pangeran Mangkubumi di kemudian hari menjadi tangan
kanan Pangeran Diponegoro, sedangkan Pangeran Ngabei
menjadi Panglima Perang, Kyai Mojo menjadi penasehat utama
dibidang keagamaan dan Kyai Muhammad Bakri menjadi
komandan pasukan Bulkiyo, yaitu pasukan elite Diponegoro.
Semua pasukan-pasukan ini terbentuk dari spontanitas rakyat.
Setelah tersusun teratur pasukan-pasukan induk Diponegoro
ini diberi nama Pasukan Penilih, Bulkiyo, Turkiyo, Arkiyo dan
lain-lain. Para prajurit ini memakai sorban yang warnanya
berbeda-beda menurut kesatuannya masing-masing. Setiap
kesatuan memiliki panji-panji dan setiap kepala pasukan dibei
gelar Basah (Bahasa Turki).
Sebagian batalyon dilengkapi senjata api yang dibuat
sendiri di hutan-hutan. Badan-badan kelaskaran juga ikut
berperang dengan bambu runcing dan keris. Diponegoro
menggunakan taKik perang gerilya untuk menghadapi
Belanda. Salah satu kemangan yang di petik dalam perang ini
adalah ketika pasukan Diponegoro dibawah pimpinan Mulya
Sentika dapat membinasakan bala bantuan Belanda di desa
Pisangan yang membawa uang 50.000 dari Semarang (dok.
Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Magelangl982).
Sebagian masyarakat dan pemuda Magelang di bawah
pimpinan para kNyeassi eikl duatlabmergtuelrisaaknnmyeane*.n..tdanagri
Belanda. Hal ini ulama dan
diakui
oleh
adanya perang yang terjadi tahun 1826-1830 sehingga hasil
kerja pemerintah Belanda selama 12 tahun di daerah Kedu
terancam kerusakan". Pada masa ini dibangun jalan-jalan
setapak.
Perlawanan rakyat Magelang dipimpin Kyai Langgeng
Sgamfrl<okWtfry
yeng makamnya terdapat di daerah Cacaban dan sekarang
letkenal dengan Taman Kyai Langgeng. Pemerintah Belanda baru
rla;lat melanjutkan pembangunannya setelah perang selesai.
Kaltrenangan Belanda ini didapat dengan cara licik yaitu dengan
ntclnlpu Pangeran Diponegoro di rumah kediaman Residen Kedu
ulah lenderal De Kock.
Jenderal De Kock mengirimkan bala bantuan pasukan
rebanyak 200 orang dari Semarang untuk memperkuat pasukan
Balanda di Yogyakarta dibeiwah pimpinan Kapten Kumsius.
Paeukan ini membawa uang bekal sebanyak f 50.000 (lima puluh
tlbu gulden). Ketika pasukan Belanda ini tiba di Logorok (dekat
Plrangan) yaitu suatu tempat antara Yogya dan Magelang, kira-
klra 11 km dari Yogyakarta, disergap oleh pasukan DiponeEoro
yeng berkekuatan 150 orang dibawah pimpinan Mulyo Sentiko.
Pasukan Belanda berhasil dihancurkan sehingga seluruh
persenjataan, uang dan pakaian seragamnya berhasil dirampas.
Sola ln itu d i Sema ra 19, Bela nda j uga meng hada pi
pemberontakan yang dilancarkan oleh rakyat Semarang. Dalam
kondlsi Belanda yang kritis seperti ini Bupatl Semarang Kyai
Adlpati Suro Adimenggolo bersama puteranya Raden Saleh alias
R.A Notodingrat, mereka merupakan dua bangsawan yang
progresif dan terpelajar secara diam-diam juga bersimpatl
terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro. Tetapi hubungan
mereka dengan Pangeran Serang tercium oleh Belanda dan
mengakibatkan kedua pejuang tersebut di asingkan ke Ambon
oleh Belanda. Perjuangan mengusir Belanda tidak berhenti begitu
raJa dengan diasingkannya pemimpin mereka. PerjL.langan inl
dllanjutkan oleh Pangeran Syukur yang merupakan putera dari
tlupati Semarang. Kondisi pertahanan Belanda yang rawan di
Semarang ini mendapat bantuan dengan datangnya pasukan dari
Sumeh€p, Pamekasan dan Surabaya"
Belanda mendatangkan bala bantuan pasukan dari Bone
dlbawah pimpinan Jenderal Van Geen untuk menghadapi
ancaman dari Pangeran Serang. Tanggal 15 September Van Geen
berhasil mematahkan perlawanan Pangeran Serang dalam
pertempuran sengit di Demak. Perternpuran Iain teriadi
Sgarafilbfa MEelang
di Pleret, ibukota lama kerajaan Mataram di zaman Sultan
Amangkurat I. Pertempuran sengit terjadi sehingga kota Pleret
sampai dua kali berganti tangan. Serangan pertama terjadi tangga I
16 April 1826 dipimpin langsung oleh Jendral Van Geen dan
serangan ini dapat dipukul mundur. Pada tangga! t2 Juni 1826
Belanda melakukan serangan yang kedua terhadap Pleret secara
besar-besaran. Pasukan Belanda yang datang dari Jogja
menyerang Pleret dari sebelah Barat dan Utara sedangkan
pasukan Mangkunegoro menyerang Pleret dariTimur dan Selatan
dengan 3400 prajurit. Oleh pasukan Diponegoro dibawah
pimpinan Kerto Pengalasan memperta.hankan Pleret secat0leh
pasukan Diponegoro dibawah pimpinan Kerto Pengalasan
mempertahankan Pleret secara mati-matian. Setelah Pleret jatuh
pasukan Belanda melakukan pembunuhan secara besar-besaran
teerhadap rakyaat yang sudah tak berdaya. Pada bulan Agustus
1826 Pangeeran Diponegoro mehindahlon daerah operasinya ke
Delanggu (antara Jogja dan Suralorta).
Jenderal De Kock mendapatkan Iaporan dari Delanggu
segera memimpin konfrensi dengan para perwira untuk
mempertahankan Delanggu dari pasukan Diponegoro. Pada saat
itu Delanggu telah terhimpun pasukan besar yang terdiri atas
7000 pasukan Susuhunan, 350 infantri KNIL dibawah pimpinan
Mayor Solle W'ljn dan 12 pucuk pasukan meriam serta 150
prajurit piekenier (barisan bertombak). Di desa Kalitan Jendral
Van Geen mendatangkan bantuan untuk memperkuat pos
Belanda dengan 90 kavaleri, 50 infantri, 50 piekenier dan 2
meriam howitser. Guna mempertahankan Delanggu dari
serangan Belanda disini telah berkumpul Jendral-jendral,
Pangeran-pangeran, keluarga Susuhunan dan para Adipati
Surakarta" Pangeran Diponegoro menggunakan taKik perang
geri[a. Selagi pasukan lemah hindari pertempuran frontal
dengan musuh, selagi musuh lengah diserang dan dihancurkan.
Taktik inijuga dilakukan oleh Muljo Sentiko dalam menghadapi
Belanda. Pada awal pertempuran paukan Diponegoro berhasil
mengepung Yogyakarta dan mengakibatkan hubungan antara
kota lain menjadi terputus. Situasi ini mengakibatkan Belanda
frrrarrnllalkndHaanmmenegnkguubnugwsoi nkoe dalam benteng dengan membawa
V (Sultan Menol yang masih anak-
arrok). Dalm kondisi terjepit seperti ini Belanda minta bantuan
lorrlara dari Mangkunegoro di Surakarta untuk menembus
pengepungan dari pasukan Diponegoro.
Belanda dalam kondisi seperti ini kembali lagi meng-
gunakan taktik devide et impera yaitu dengan memecah belah
hwan untuk dikuasainya. Dari sini pangeran Diponegoro
ralaln menghadapi Belanda juga harus menghadapi
;tarlawanan dari bangsa sendiri yang masuk taktik belanda
tepertl, pasukan Mangkunegoro, Pakubuwono, Madura dan
llugts. Perlawanan rakyat yang mendukung Diponegoro tidak
hrnya terjadi di Yogyakarta saja, tetapi juga terjadi di Kedu,
Fagelen, Banyumas, Pekalongan, Semarang, Pati,
HoJonegoro, Madiun dan Pacitan. Pertempuran sengit untuk
mangusir Belanda ini juga terjadi di daerah Kedu seperti di
lelahap, Prapag, Sadegan, Muntung, Bandongan, Bara (dekat
Eorobudur) dan lain-lai n. Kota Magelang juga pernah
dlkepung pasukan pengikut Pangeran Diponegoro.
Kota Magelang yang sejak semula menjadi kota pusat
oporasi pasukan Belanda dipertahankan mati-matian. Di
drorah Kedu ini Belanda berhasil memperoleh bantuan dari
l)nnuningrat (Bupati Magelang) dan Bupati Menoreh (Ario
tumodilogo). Untuk membantu pertahanan di Magelang,
Harlden Kedu pernah mengajukan usul kepada atasannya agar
orang-orang Tionghoa yang berpihak kepada Belanda
dlporsenjatai. Semangat perlawanan rakyat daerah Kedu
remakln menggelora sewaktu di daerah ini datang dua orang
prngeran pengikut Pangeran Diponegoro, yaitu Pangeran
Abubakar dan Pangeran Adiwinata beserta pengikutnya yang
krbanyakan terdiri dari ulama dan santri. Pertempuran sengit
dl daerah Kedu terjadi di dekat desa Kalijengking (Dinojo). Di
latttpat ini pasukan Bulkiyo pimpinan Muhamad Usman
Allbasah menyerbu pertahanan Belanda sehingga terjadi
Srertempuran sengit seorang Iawan seorang. Dalam
pertcmpuran ini banyak tentara Belanda tewas, diantaranya
seorang Letnan dan bupati Magelang Danuningrat yang pro-
Belanda. Dalam peristiwa ini banyak senjata Belanda jatuh ke
tangan pasukan Bulkiyo. Dlsamping bupati Magelahg, bupati
Menoreh Aria Sumodilogo juga ikut terbunuh. Kekalahan
Belanda di daerah ini menyebabkan kerawanan pertahanan
Belanda di Magelang, sehingga Belanda terpaksa menarik
pasukan-pasukan yang berada di pos-pos luar kota seperti
Parakan, Prap?g, Pucuhg, Sodongoh, Sadegof,, Borobudur, dan
Kalijengking masuk ke kota Magelang.
Tahun 1825-1826 perlawanan rakyat yang mendukunE
Fangeran Diponegoro sernakin meluas. Pertempuran sengit
tKearjsaudriaDne(m2a6k-5(-31-98"21682),5)d,i di Pleret (16-4 dan 9-6-1826), di
Lengkong (30-7-1826) dan di
Delanggu (18-8-1826).
Pada tanggal 28 Agustus 1826, sekitar jam 12.00 tengah
hari, serangan umum terhadap Delanggu dimulai. Pasukan
Pangeran Diponegoro dibagi dalam tiga kolone, menyerang
Delanggu dari arah selatan, barat dan timur laut. Arah
datangnya serangan Pangeran Diponegoro ini tidak diketahui
pihak Belanda, sehingga pasukan Belanda secara mendadak
dapat diserang dari belakang, Serangan mendadak Pangeran
Diponegoro ini membuat pasukan Belanda panik dan kocar-
kacir pertahanannya. Pasukan pertahanan Belanda yang lari
pertama-tama adalah pasukan Susuhunan kemudian disusul
pasukan Belanda sendiri. Mayor Sollewijn, komandan pasukan
Belanda, tertembak mata kirinya dan jatuh dari kudahyd,
sementara anak buahnya semakin merosot moral bertempur-
nya. Apalagi setelah jam 4 siang persediaan peluru mereka
semakin menipis. Sementara itu rakyat telah membakar desa-
desa di sekitar Delahggu, sehingga kedudukan Belanda dl
Delanggu nyaris terkepung. Satu-satunya jalan keluar adalah
menerobos ke utara atau ke selatan, ke Kalitan (6 pal) atau ke
Klaten (11 pal). Yang dipilih akhirnya ke Kalitan (dekat
Kartasura), karena di Kalitan ini ada pos pertahanan Belanda.
Demikianlah pasukan Belanda akhirnya meninggalkan
Delanggu dengan meninggalkan korban dan sejumlah senjata
ttrmasuk L2 pucuk meriam. Delanggu akhirnya dapat dikuasai
mpenuhnya oleh pasukan Pangeran Diponegoro.
Disayangkan, setelah kemenangan Delanggu ini, terjadi
prrbedaan pendapat antara Kyai Modjo dan Pangeran
Dlponegoro. Kyai Modjo menghendaki agar serangan perlu
+ ltgera dilanjutkan untuk menyerang Surakarta. Inilah
momentum yang tepat, semangat tempur pasukan Diponegoro
Idang tinggi sedangkan moril pasukan Belanda sedang
llltrosot. Tetapi Pangeran Diponegoro tidak sependapat dengan
Itungan Kyai Modjo yanE lebih bersifat militer taktls itu.
apat Pangeran Diponegoro lebih bersifat politEs, la tidak
u serangan ke Surakartan sebab tindakan demikian berarti
n memperluas front, menghadapi lawan sesama bangsa.
Kyai Modjo, penasehat Pangeran Diponegoro, terus
ndesak perlunya serangan diter,uskan ke Surakarta. Setelah
lan berlalu, akhirnya Fangeran Diponegoro menerima usul
I Modjo tersebut. Tetapi sementara itu situasi telal"r berubah,
nda telah berhasil melakukan konsolidasl dan tentara bala
tuan dari Semarang yang besar telah memperkuat
hanan di Surakarta. Dalam suatu pertempuran yang sengit
tanggal 15 Oktober 1826 di Gowok, dekat Surakarta,
kan Pangeran Diponegoro menderita kekalahan berat.
m pertempuran ini Pangeran Diponegoro menderita luka-
sehingga perlu segera dibawa mundur dari medan
puran.
Tlpu Muslihat De Kock
Polltlk De Kock dalam menghadapi perlawanan Diponegoro,
dasarnya mirip dengan politik Belanda di tempat lain di
rE, menggunakan politik devide et impera atau politik
h belah dan adu domba sesama bangsa Indonesia.
ukan pasukan Belanda di Surakarta diperkuat oleh dua
lrn yaitu Surakarta dan Mangkunegoro. Dalam
hadapi perlawanan Diponegoro, jenderal De Kock sengaja
brngkltkan pertentangan masa lampau antara Surakarta
buwono III) dengan Yogyakarta (Hamengkubuwono I),
SgarufiI<okW{ry
juga pertentangan antara Mangkunegoro (Mas Said) dengan
Yogyakarta (Hamengkubuwono I). Hal ini dilakukan Belanda
dengan maksud menjadikan kedua kerajaan (Surakarta dan
Mangkunegoro) menjadi kawan untuk menghadapi perlawanan
Diponegoro di Yogyakarta.
Kekuatan Belanda di Surakarta mempunyai tugas dan
peranan strategis dalam memutus hubungan induk pasukan
Diponegoro di Yogyakarta dengan pasukan pendukungnya di
Jawa Timur. Pemusatan pasukan Belanda di Magelang juga
mempunyai tugas dan peranan strategis untuk mernutuskan
hubungan indukpasukan Diponegoro di Yogyakarta dengan
pendukung Diponegoro di daerah Banyumas, Kedu, Pekalongan,
Semarang, Pati, dan Rembang. Selanjutnya langkah kedua yang
ditempuh De Kock adalah membangun sistem benteng yang
dikenaldengan nama benteng sfelsel Sistem benteng stelsel ini
bertujuan untuk mematahkan strategi perang gerilya
Diponegoro dengan cara mendirikan benteng pada setiap daerah
penting yang berhasil direbut Belanda. Dengan strategi ini,
Belanda berhasil mendirikan 200 benteng yang tersebar
diseluruh wilayah Jawa yang bergola( barat Banyumas, dan ke
timur hingga Kertosono.
Langkah strategis yang diamil ambil Belanda dalam
menghadapi Diponegoro selanjtnya adalah Belanda berusaha
menanggalkan satu demi satu pembantu-pembantu pimpinan
Diponegoro.yang penting. Hal inidilakukan Belanda dengan cara
membujulg memberi imbalan, berupa jabatan, pangkat dan
harta. Ta ktik yang dilakukan Belanda ini dikemudian hari berhasil
mengoyahkan iman dari beberapa pengikut Diponegoro,
sehingga meninggalkan Diponegoro berjuang sendiri. Di bidang
strategi De Kock berusaha mempertinggi taKik tempur dan mutu
pasukan. Hal ini dilakukan dengan cara membentuk pasukan
khusus, pasukan anti-gerilya yang diberi nama Pasukan
Pemburu.
3. MenurunnyaPerlawanan
Tahun L827 adalah tahun yang menentukan jalannya
Fflrng Dlponegoro. Dalam periode tahun 1825-1826
Elpnrgoro berhasil memenangkan berbagai pertempuran.
ttfpldalam 1827 kemampuan Diponegoro diuji, apakah ia bisa
E||mpartahankan kemenangannya itu atau tidak. Pukulan berat
mr yang dialami Diponegoro pada tahun ini adalah
rang Pangeran Notoprojo dan Pangeran Serang dengan
0nng anak buahnya pada tanggal 2L-6-L827 ke pihak
. Pangeran Serang yang begitu militan melawan Belanda
rang dan di Madiun, pada akhirnya termakan juga oleh
bujukan manis Belanda. Dengan pasukannya itu
n Serang kemudian berbalik melawan Diponegoro.
Itu pendukung Diponegoro di daerah timur kehilangan
ll. Meski tahun 1827 dipandang sebagai titik balik
perahg, namun dibebarapa daerah secara terpisah-
pula tlmbul perlawanan yang seru. Perlawanan rakyat
hrladl pada bulan November L827 di daerah Rajegwesi
ro) dan Rembang merupakan pergolakan rakyat yang
hcbat dan hampir merenggut kembali kemenangan dari
n Belanda.
wanan di dua daerah tersebut dipimpin oleh Raden
ung Sosrodilogo yang merupakan putera mantan
I Rrregwesi dan menjabat perwira pasukan kraton
kfrta, Pada bulan Maret L928 perlawanan Sosrodilogo
dlpatahkan, dalam keadaan luka-luka pasukan ini terus
Iolanda dan akhirnya pasukan ini dapat menggabung-
tllrt dengan pasukan induk Diponegoro di Jawa Tengah.
h mematahkan perlawanan Sosrodilogo, perhatian
dlpusatkan pada sistem benteng yang mengirinEi induk
n Dlponegoro ke daerah minus antara Kali Progo kearah
dfn sungai Bogowonto kearah barat. Pada tahun 1828
remakin mengintensifkan serangan ke dua daerah
dengan taktik mendekati dan membujuk para
ln pasukan Diponegoro agar mau menyeberang ke pihak
I
Ff Or bu la n Aprll 1828, bujukan Belanda itu berhasil
Hlkrt Pangeran Notod in ing rat putera Pa ngera n
Mangkubumi beserta istri dan ibunya. Dengan peristiwa ini
Belanda berharap Pangeran Mangkubumi yang notabenenya
sebagai pembantu utama Pangeran Diponegoro rnBU:
menyeberang ke pihaknya. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh
Pangeran Mangkubumi, meskipun usianya sudah lanjut beliau,
tetap bersikukuh berjuang bersama Pangeran Diponegoro.
Bulan Mei 1828 berikutnya Pangeran ario Papah yang
merupakan tokoh perlawanan rakyat dari Surakarta selatan juga
bergabung dengan Belanda, dan diikuti oleh Sosrodilogo pada
bulan Oktober. Dengan bergabungnya Sosrodilogo ini ke pihak
Belanda, Sosrodilogo diangkat menjadi perwira dengan pangka[
Mayor.
Gugurnya Gusti Basah pad awal bulan Agustus 1928r
menjadikan pukulan yang berat atas diri Pangeran Diponegoro.
Hal ini dikarenakan Gusti Basah merupakan Seorang Pangli
komandan pasukan kawal Diponegoro yang setia, pemberani
dan gigih dalam mengusir Belanda. Sebelum meninggal, belia
berpesan kepada Diponegoro teman dekatnya agar Sentol
Prawiridirdjo diangkat menjadi Panglima menggantikan dirinya
Sentot Prawirodirdjo diangkat menjadi Panglima perang dalam
usianya yang ke 20. Pengangkatan ini bukan semata-ma
karena pesan dari Gusti Basah saja, tetapi juga kare
pertimbangan prestasi, kecakapan dan kewibawaan Sentot ya
telah dibuktikannya dalam berbagai pertempuran.
Sentot membuktikan kecakapannya sebagai seora
taktikus dalam peftempuran di Kroya (sebelah barat Purworejo
pada tanggal 1 Oktober 1828. Dalam pertempuran ini ratusa
pasukan Belanda berhasil ditawan dan ditewaskan. Dianta
pasukan Belanda tersebut terdapat Perwira Belanda dan pati
Brebres yang pro terhadap Belanda dan merampas 400 pucu
senjata. Dalam pertempuran yang berlangsung ini Mayo
Bunkens erhasil meloloskan diri. Kemenangan Sentot ju
terjadi pada tanggal 20 Desember L828, ketika menyeran
benteng Belanda di Nanggulan (darat daya Daerah Istim
Yogyakarta). Meskipun tidak berhasil merebut benten
pertahanan Belanda, tetapi Sentot berhasil menimbul
Sgam|lbk@etang
her rrr;ran yang besar di pihak Belanda.
Kyai Mojo sebagai penasehat utama Pangeran Diponegoro,
la rrrncoba melakukan perundingan dengan pihak Belanda pada
shhlr tahun 1828. Dalam perundingannya yang ketiga di Klaten
parln bulan November, Kyai Mojo dikhianati oleh Belanda.
Ielrkon kawalnya disergap dan Kyai Modjo ditangkap dan
rllllrrong ke Minahasa. Pada tahun 1829 situasi pasukan Belanda
rerrrakln terjepit. Belanda memperketat kepungannya terhadap
;nlrkun Diponegoro diwilayah antar sungai Bogowonto dan Kali
Ftugo. Dalam pertempuran yang terjadi disermo, Bagelen pada
larggol Agustus 1829, Diponegoro kehilangan komandan
ttxlnlan-nya Syekh Muhammad NgusmanAli Basah. Komandan
pmukon Bulkiyo ini telah gugur dalam pertempuran di Sermo.
Flrgllma Mangkubumi yang lama telah bertahan menghadapi
htt;rrkan Belanda, pada tang gal 27 September 1829 menyerah
ftula actelah dibujuk puteranya sendiri yang telah terlebih dulu
lnt gnbung dengan Belanda.
Akhirnya pukulan terberat yang mengobrak-abrik sendi-
tlrdl perlawanan Diponegoro adalah ketika Sentoto
Hrwlrodird;o, seorang panglima perang andalan pangeran
Elponegoro ikut bergeran Diponegoro ikut bergbung dengan
fuhnda pada tanggal 24 Oktober 1829. Dimata Belanda sentot
ldrleh sosok seorang Panglima perang Diponegoro yang
dltrkut.l. Keberanian dan kecerdikan sentot dalam memimpin
prtlerrrpuran dikagumi dan disegani Belanda. Belanda mengakui
hlhwn menundukkan Sentot di pertempuran sangat sulit, oleh
Itterr,r ilu Belanda mencoba menundukkan sentot dengan
tlntegl lain. Tanggal 1l Februari 1829lendera! De Kock pernah
lilelrrll.; surat kepada Sentot, guna mengajaknya mau berdamai
dlttuarr Belanda.
lrrtnlot bersedia bersedia bergabung ke pihak Belanda
dtttgnrr beberapa syarat, antara lain: agar pasukannya tidak
dlltttharkan dan Sentot tetap memimpin pasukannya. Anggota
pttuknrrnya tetap diperbolehkan memakai sorban, bebas
frrttlplorrkan ibadat agama dan pasukannya diberi 500 pucuk
trttfelo. Belum sebulan Diponegoro ditinggalkan Sentot, telah
Sgarafilhk Xkgetang
menyusul berita duka. Pada bulan September 1829 Pangeran Bei
panglima perang Diponegoro yang ulung meninggal dunia dalam
medan pertempuran di dekat Temon. Ia gugur bersama dengan
dua orang puteranya.
Akhir tahun 1829 ditutup dengan menyerahnya
lGrtopangalasan tokoh pemimpin perlawanan rakyat yang gigih
di daerah Pleret. Dan tahun baru 1830 diawali oleh peristiwa
penangkapan putera Diponegoro yang bernama Dipokusumo
dan tertangkapnya patih Diponegoro oleh Belanda.
4. Magelang Tempat Perundingan
Menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro yang
tangguh ini, Belanda pernah mencoba membujuk Pangeran
Diponegoro dengan berbagai macam janji tetapi selalu gagal.
Belanda juga pernah menempuh dengan cara keji dan kasar.
Pada awal bulan Agustus 1829 putera Pangeran Diponegoro
yang bernama Diponegoro Anom ditangkap oleh Belanda.
CCommisaris Jenderal Du Bus pernah mengancam Diponegoro
akan membunuh puteranya apabila Diponegoro tidak
menyerahkan diri. Karena ancaman tersebut tidak
menggoyahkan hati Diponegoro ia memutuskan untuk
menempuh cara lain yang Iebih hina lagi. Pada tanggal 21
September 1829 diumumkan suatu"Hadiah Khianat" dengan isi
sebagai berikut:"Barang siapa berhasil menangkap Pangeran
Diponegoro dalam keadaan hidup atau mati, akan memperoleh
hadiah uang f 50.000 (lima puluh ribu gulden), gelar, jabatan,
pangkat dan tanah yang !uas". Tetapicara inipun gagaldilakukan
Belanda, karena tidak ada seorang pun rakyat yang tergiur untuk
mengkhianati Pangeran Diponegoro.
Cara-cara yang dilakukan Belanda ini mencerminkan sikap
keputusasaan Belanda dalam menghadapi ketangguhan
perlawanan Diponegoro. Akhirnya tahun 1829 dan awal tahun
1830 merupakan masa-masa terberat dalam perjuangan
Diponegoro. Pada masa ini ketabahan metal dan fisik
Diponegoro benar-benar teruji. Pada tahun-tahu itu
pengepungan yang dilakukan Belanda berhasil menjepit
8y1ara6?<ok MJttong
116rUFrdkan pasukan Diponegoro di daerah lGli Progo dan Kali
Errgowonto. Jepitan ini setiap hari makin diperkeras dengan
Ir'ilUflldran-pengejaran yang dilakukan pasukan Belanda
I err hntlap pasukan Diponegoro.
Kolonel Cleerens, seorang perwira Belanda berhasil
mprrnrnui Pangeran Diponegoro pada tanggal 16 Februari 1930.
lterrgan kefasihan bahasa dan adat istiadat orang Jawa yang
rlltrrlllkl oleh Cleerens, ia berhasil meyakinkan Pangeran
lll;xrrrr:goro untuk datang ke Magelang guna berunding dengan
lrtrrk:ral De Kock. Untuk melancarkan strategi Belanda ini,
l.lFErans menjamin kekebalan Diplomatik bagi Pangeran
lll;xrnr:goro. Dalam artian selama perundingan Pangeran
Itl;xrnegoro dijamin keselamatannya dan kalau perundingan
lrtrnJrut gagal Pangeran Diponegoro diperbolehkan kembali
rhrrqnn selamat.
llcrdasarkan hasil pembicaraan dengan Cleerens tanggal 8
ilrrnt 1830 jam 12 siang, Pangeran Diponegoro yang diiringi 800
nrnlg pr{uritnya memasuki Magelang. Kedatangan Diponegoro
Ittl langsung disambut oleh lenderal De Kock dengan perwira
ttrlnya residen Kedu Valck. Pada waktu itu sedang dalam bulan
irrrradhan, Pangeran Diponegoro yang pada waktu itu sedang
lurm tidak mau berunding sebelum bulan Ramadhan berakhir.
hhma menunggu berakhirnya bulan Ramadhan, Diponegoro
llnUga! di kampong Meeteseh guna memusatkan diri pada ibadah
pu*anya. Beberapa hari sebelum perundingan terjadi Jenderal
Ite Kock memerintahkan Letkol Du Perron secara rahasia agar
Irtarnpersiapkan pasukannya dan menangkap Pangeran
I tlponegoro apa bila peru ndi ngan tersebut gagal.
Pangeran Diponegoro sesuai dengan rencana bersama
tfnrtnrgqlgkaultn2ya8dMataanregtk1e8g3e0d.unDgeKakroecsikdemnaenneMmaguei lPananggpearadna
lll;rorrcaoro di kamar kerjanya yang terletak di sebelah kiri
nrrng tamu depan. Di pihak Diponegoro yang datang antara
hllr, Diponegoro Muda, puteranya, dan Basah Mertonegoro,
Inanantunya. Di Pihak Belanda di wakili oleh: Jenderal De Kock
Sgarufr'lhk Mage{ang
dan residen Valck. Colonel Cleerens sengaja tidak hadir karena
perwira inilah yang menjanjikan kekebalan Diplomatik
terhadap Pangeran Diponegoro.
Dalam perundingan ini Jenderal De Kock sengaja
mendesakkan syarat-syarat apa sajakah yang diinginkan
Diponegoro agar mau bergabung dengan Belanda. Diponegoro
1)mengatakan persyaratannya yang terdiri dari:
Pangeran Diponegoro menghendaki satu Negara merdeka
2) dan berdaulat dibawah seorang Sultan.
Beliau menghendaki menjadi Amirulmukminin untuk
seluruh Jawa atau kepala umat Islam diJawa.
Setelah mendengar pernyataan Pangeran Diponegoro
tersebut, Jenderal De Kock segera memberi kode pada Letko!
Du Perron untuk menangkap Pangeran Diponegoro, setelah
pasukan pengawalannya dilucuti senjata oleh Belanda. Dari
sinilah Pangeran Diponegoro baru menyadari bahwa terjadi
pengkhianatan atas dirinya. Hari itu juga Pangeran Diponegoro
ditangkap, langsung ke Semarang dan kemudian di bawa ke
Jakarta. Dari Jakarta Pangeran Diponegoro di-asingkan ke
Manado dan terakhir ke Makasar, hingga wafatnya pada
tanggal 8 Januari 1855 (Moekhardi,1983: 13-32).
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa Kota Magelang
menjadi saksi sejarah dalam Perang Diponegoro. Perang
berkobar pada awalnya di daerah Magelang dan berakhirnya
juga di daerah Magelang pula. Rakyat Magelang berjuang
untuk bersatu padu membela pemimpinnya yang jujur dan
gagah berani. Meskipun Diponegoro tertangkap, jiwa dan
semangatnya tetap menggelora di kalangan masyarakat
Magelang.
C. DARI TAilAM PAKSA HINGGA POLITIK ETIS
1. Penerapan Sistem Tanam Paksa (1830-1870)
Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830)
merupakan pelajaran berharga bagi Pemerintah Kolonial
Belanda. Betapa tidak, perang itu telah menyita perhatian luar
Sgatail<"okmlhg
lrlnr,a pem€rintah Belanda, banyak tentara yang meninggal, dan
hn., negeri Belanda terkuras habis. Untuk mengatasi persoalan
hn,, negeri Belanda yang kosong tersebut muncul ide Brilian dari
krlr,rnes van den Bosch, seorang politkus beraliran konseratif.
lrlr []osch itu dikenal dengan nama Kultuurstlese/ yang dalam
hnhasa Indonsia menjadi Sistem Tanam Paksa.
Sistem ini nampaknya didasarkan pada prinsip umum yang
rarlt:rhana. Desa-desa Jawa berhutang pajak tanah (landrent)
kn3rirda pemerintah yang biasanya diperhitungkan sebesar 40olo
rlar'l hasil utama desa (umumnya beras). Dalam kenyataanya,
llkslran yang sesunggunya berada di bawah angka ini dan
;lomungutan pajak tersebut yang dibayar dalam bentuk uang
rorlng kali tidak dilaksanakan karena tidak memadainya
*lrnlnistrasi dan terjadinya kekurangan mata uang.
Dengan sistem Tanam Paksa, Bosch merencanakan bahwa
rallap desa harus menyisihkan sebagian tanahnya untuk
rlllnnami komiditi ekspor (khususnya kopi, tebu, dan nila). Hasil
komoditi tersebut kemudian dijual kepada pemerintah kolonial
tlorrgan harga yang sudah ditentukan. Dengan cara itu, maka
rloca akan dapat membayar hutang pajak tanahnya dari hasl
par(ln desa itu. Jika hasil penjualan dari panen kepada
;tarrreirintah lebih banyak dari pajak tanah yang harus
dlhayarnya, maka desa itu akan menerima kelebihannya. Akan
lctopljika kurang, desa tersebut masih tetap harus membayar
kak u ra ngan nya dari su m ber-su m ber la in. (Ricklefs, 2005 : 260).
Melalui sistem ini Bosch berpendapat bahwa kas negeri
Eplonda akan meningkat dan hutang-hutangnya dapat dilunasi.
Naqcri jajahan dipakai sebagai tempat untuk mengambil
kauntungan bagi negeri induk, atau seperti dikatakan Baud
rab,tgai '*gabus tempat Nederland mengapung', atau dengan
hrt n lar in Jawa sebagai sapi pera han. (Kartod i rdjo, 1999 : 305).
Sistem Tanam Paksa yang disampaikan Bosch didasarkan
prda prinsip wajib atau paksa dan monopoli. Prinsip pertama
dlpergunakan menurut model yang telah lama berjalan di
lrrlangan, yang terkenal dengan nama "Preangelstlesel',
tl a u pu n sistem ya n g d i g u na kan oleh V OC, u erplichte leuerientie
(penyerahan wajib). Dengan demikian Sistem ini akan
mendasarkan diri pada tatanan tradisional yang feodal dengan
menggunakan perantara struktur tatanan lama. Dalam Sistem
tanam paksa, prinsip 'liberal yang dikenalkan sebelumnya
ditinggalkan sama sekali. Prinsip kedua, dengan memberikan
hak monopoli kepada Nederlandsche Handels Maatschappij
(NHM) dalam produksi pengangkutan dan perdagangan hasil
ekspor Jawa.
Peraturan Tanam Paksa mengatur bahwa pungutan kepada
rakyat tidak dalam bentuk uang, tetapi berupa hasil tanaman
yang dapat diekspor. Seperlima dari tanah garapan yang
ditanami padi dari rakyat desa wajib ditanami tanaman tertentu
dengan menggunakan tenaga yang tidak melebihi tenaga untuk
menggarap tanah itu bagi penanaman padi. Bagian tanah yang
dipakai tanam paksa itu dibebaskan dari pajak tanah. Setiap
kelebihan dari hasil penjualan yang melebihi nilai pajak tanahnya
diserahkan kepada desa. Akan tetapi jika tefiadi gagal panen,
maka beban tanggung jawabnya berada di tangan pemerintah.
Untuk pengolahan hasil tanaman untuk ekspor, seperti tebu,
dikerahkan tenaga rakyat, mulai dari menanam hingga
pengangkutan ke pabrik. Rakyat yang dikerahkan itu bebas dari
pajaktanah pada saattanaman itu siap panen. Semua pekerjaan
lain perlu dibayar. Pekerjaan itu dilakukan atas rekrutan kepala
desanya dan dibawah pengawasan pegawai Eropa. (lGftodirdjo,
1999:305).
Antara teori dan praktek dari Sistem Tanam Paksa tidak
selalu sama. Terdapat variasi antara daerah satu dengan daerah
lain dalam merealisasikan system tersebut. Pemikirannya
bahwa akan diperoleh keuntungan oleh semua pihak yang
terlibat dalam Sistem Tanam paksa berubah menjadi bagian dari
kisah-kisah pemerasan yang lebih besar dalam sejarah
penjajahan. Para pejabat lokal, baik yang berkebangsaan
Belanda maupun Indonesia sering melakukan pemerasan
dengan memberi taksiran pajak tanah maupun banyaknya
komoditi ekspor bagi setiap desa lebih besar sehingga
memperoleh keuntungan Iebih yang masuk pada kantong
$iamfilbfaMEe[ang
f rlb.rdinya.
Dampak Sistem Tanam Paksa terhadap orang Jawa dan
urnng Sunda cukup beragam. Bagi kalangan elite bangsawan,
nrdsa Tanam Paksa merupakan masa yang benar-benar
rrrnnguntungkan. Kedudukan mereka menjadi lebih aman, dan
Irrnnurut aturan mereka memperoleh jabatan dengan secara
Iurun temurun. Mereka memperoleh prosentase keuntungan
yang besar dari penyerahan wajib Tanam yang mereka kelola.
Akan tetapi karena mereka sangat tergantung pada Pemerinatah
Ilolanda untuk kelanggengan kedudukan dan penghasilannya,
maka mereka harus melakukan pemaksaaan kepada para
patani. Mereka menjadi sasaran pengawasan dan campur
langan para pejabat Belanda. Mereka menjadi terpisah dari
masyarakatnya sendiri, terbebas dari sanksi-sanksi pribumi
rnbelumnya jika menyelewengkan kekuasaan, dan sama sekali
I ldak terpanggil untuk mela ksanakan modernisasi.
Dampak Tanam Paksa bagi rakyat kebanyakan sulit untuk
dlgenaralisasi, tetapi secara umum dikatakan sebagai masa
rullt. Ada variasi antara daerah dengan komoditas tanaman
lertentu dengan daerah tanaman dengan komoditas lain.
Penanaman gula dan nila yang ditanam di daerah persawahan
lolah mengambil lahan, tenaga kerja, dan air dari penanaman
padi sehingga di sejumlah tempat merugikan penduduk
retempat. Akan tetapi industri ini memberikan kesempatan
penduduk desa untuk menjadi karyawan upahan sehingga
menguntungkan mereka. Di sebagian daerah, seperti di
Pasuruan terjadi hubungan simbiosis yang menguntungkan
kedua belah pihak. Di mana-mana, pembayaran hasil-hasil
panen oleh pemerintah dan kesempatan yang luas untuk
menjadi buruh upahan telah meningkatkan jumlah uang yang
heredar di pedesaan. Hal ini telah memberikan rangsangan bagi
lumbuhnya per-dagangan. Sementara itu pertumbuhan
produksi telah mendorong munculya tenaga kerja yang ahli
dalam kegiatan-kegiatan non pertanian yang terkait dengan
perkebunan dan perpabrikan di daerah pedalaman. Terdapat
penanaman modal yang cukup besar dalam membangun
infrastruktur: pabrik, gudang, jalan, jembatan, sistem
pengatu ra n ai r, da n fasil itas-fasi I itas pela buha n.
. Meskipun terlihat keuntungan-keuntungan yang .dperoleh
dari Sistem tanam Paksa, khususnya setelah tahun 1840,
terdapat beban yang sangat serius yang menimpa sebagian
besar penduduk Iokal. Ada ketidak merataan pembagian
pendapatan paa penduduk desa. Orang yang paling menikmati
keuntungan dari sistem ini tentu para elite desa dan penguasa
atas desa, para pedaagng non pri (terutama Cina) atas
penguasaan mereka pada modal dan pajak (khususnya distribusi
candu), dan para pejabat dan pedagang Eropa. Tatanan lokal
tumbuh menjadi bertingkat-tingkat, karena ada elite yang
berpeluang memperluas tanah dan meningkatkan pendapatan
mereka, sementara ada teman sedesanya menjadi buruh tanpa
memilikitanah.
Bagi pemerintah Kolonial Belanda akibat Sistem Tanam
Paksa sangat jelas. Pemerintah Kolonial memperoleh
keuntungan yang sangat besar dan ajek. Sejak tahun 1831,
anggaran Kolonial di Indonesia telah seimbang, dan sesudah itu
hutang-hutang lama VOC dilunasi. Dari Indonesia dikirim uang
yang sangat besar sejak tahun L831-1877, perbendaharaan
negeri Belanda menerima uang sebanyak f 832. Kirman uang
dariTanah Jawa initelah membuat perekonomian Belanda stabil:
Hutang-hutang dilunasi, pajak-pajak diturunkan, pembangunan
kubu-kubu pertanahan, terusan-terusan, dan jaringan kereta api
di Belanda dibangun. (Ricklefs, 2005:256).
Dari buku A.M. Djuliati (2000:155) terlihat bahwa dalam
rangka kebijakan Tanam Paksa, Pemerintah Kolonial Belanda
memerintahkan penanaman tebu di semua keresidenan di Jawa
Tengah, kecuali Yogyakarya, Surakarta dan Kedu. Dengan
demikian, ketika zaman Taman Paksa, Kedu bukanlah daerah
yang diwajibkan untuk menanam tanaman tebu pemerintah
yang diwajibkan. Alasannya, Surakarta dan Yogyakarta
merupakan wilayah yang tidak diperintah secara langsung oleh
pemerintah Kolonial Belanda dan diperintah secara langsung
oleh pemimpin pribumi sendiri, yakni para raja pecahan
Kcrajaan Mataram. Kedu tidak dimasukkan dalam surat perintah
lxrnanman secara paksa karena, terutama tanaman tebu
rrrerupakan usaha rakyat bersama para pengusaha gula (Cina,
LrwErT maupun Eropa) yang saling menguntungkan. Selain
,rldsan itu, Magelang sebelumnya merupakan basis Perang
l)lponegoro, sehingga trauma rakyat terhadap Belanda yang
rll.rnggap kejam masih tertanam dalam benak rakyat di daerah
lrrl. Untuk tidak membuka keresahan sosial, maka daerah
Mugelang (bagian dari Kedu) tidak dikenakan Tanam Paksa.
!,clair itu ternyata ada alasan yang lebih rasional, yaitu
pt:rtimbangan Gubernur Jenderal Baud karena rakyat Kedu harus
rrrcnyediakan pekerja paksa untuk benteng di Ambarawa
ucbanyak 750 orang per hari. Selain itu, tanah di Kedu kurang
rrrenguntungkan untuk tanaman tebu karena frekuensi hujan
*angat tinggi.
Meskipun tidak terkena tanam paksa tebu, bukan berarti
lldak dikenakan tanam paksa. Penduduk Magelang, sebagai
tragian dari Kedu juga terkena tanam paksa untuk penanaman
kopi dan tarum. Kopi merupakan tanaman di dataran tinggi dan
sudah mulaidibudidayakan sebelum masa Tanam Paksa. Semula
kopi ditanam secara bebas (manasuka) di pekarangan rumah
;rcnduduk yang dikenal sebagai paggerkoffic atau di kebun-
kebun di lingkungan desa (kampongkoffiil.
Mengingat prospek kopi yang begitu bailq pemerintah
rnenghendaki peningkatan tanaman kopi. Sejak tahun 1820
pcmerintah kolonial telah memerintahkan rakyat menanam kopi
rll kebun-kebun yang lebih luas. Tanah yang dipergunakan
ndalah tegal yang telah dibuka atau lahan khusus yang
rllpcrgunakan untuk tanaman kopi. Pengerjaan dan pengolahan
lrrh,rn dikerjakan oleh seluruh petani di desa tersebut.
',r:mcntera itu pemeliharaannya diserahkan kepada petani
pr.lrguasa tegal dan petani penguasa sawah desa yang masing-
rn,rr;ing beranggungjawab atas sejumlah pohon kopi.
Sejalan dengan kebijakan tanam paksa, padan tahun 1833
pr.rrrc.rintah mengintroduksikan tanaman kopi 2 juta pohon
'"r.lragai kopi pagar dan kopi hutan di Kedu. Kebijakan ini
ternyata tidak dilaksanakan oleh petani. Tindakan petani ini
sebagai bentuk perlawanan agar kopi mereka tidak masuk dalam
jaringan pengawasan pemerintah. Salah satunya adalah
kewajiban menjual semua hasil kopi kepada pemerintah. Atau
dengan kata lain pemerintah memegang monopoli penjualan
kopi.
Pemerintah tetap mewajibkan petani menanam kopi untuk
kepentingan pemerintah. Akibatnya petani harus menerima
kerja wajib ini sebagai beban yang tak terelakkan. Apalagi
setelah melihat kopi mlai berbuah sejak umur 2-14 tahun, petani
mulai menerima tanam paksa kopi. Tanaman initerus mengalami
perluasan secara ekstensif diwilayah Kedu.
Kerja wajib juga berlaku untuk tanaman tarum. Tarum
merupakan bahan baku indigo, yakni bahan pewarna kain untuk
Jawa dan bahan pewarna cat di Eropa. Penanam tarum ini mulai
dilaksanakan pada tahun 1840, di dsitrik Menoreh. Tanaman ini
memerlukan tenaga banyak dari rakyat Magelang. Pada awalnya
pemerintah menggunakan lahan 400-450 bahu untuk
kepentingan tanaman tarum ini. Kebijakan ini telah menyita
waktu dan tenaga kerja para petani.
Tanaman tarum telah menggeser tanaman padi. Akibatnya
para petani melakukan protes massal setelah penanaman tarum
berjalan dua tahun. Sekitar 800 petani membawa parang dan
sabit berbondong-bondong ke kantor residen pada tahun 1842.
Mereka tidak dapat bertemu dengan residen Hartman karena
sedang pergi ke Semarang. Bupati Magelang akhirnya menjadi
pelerai kemarahan massa dan menampuing keinginannya. Akan
tetapi para petani tetap bertahan di alun-alun ingin bertemu
langsung kepada residen. Keinginan petani itu akhirnya
dikabulkan oleh resdien yang datang pada malam hari, berjanji
akan mengurangi tanaman tarum. Para petani kemudian
membubarkan diri.
Masa Tanam Paksa memerlukan daya dukung infrastruKur.
Infruktur itu meliputijalan dan saluran irigasi. Dalam rangka ini
maka pemerintah Kolonial juga membangun jaringan
infrastru ktur u ntu k pengangkuta n dan i rigasi.
Irrlr,rstruktur yang sekarang masih tersisa di sekitar Magelang
arlrrllh adalah:
rr. Tahun 1833 memperpanjang jalan Jogja-Magelang
sampaike Pringsurat
b. Tahun 1842 melanjutkan jalan pos itu lewat Pingit ke
Ambarawa sehingga sekarang tersambung Jogja-
M agela n g -Am ba rawa -Sema ra n g
c. Tahun 1842 jalan Magelang-Salaman menjadi jalan
besar pos
d. Tahun 1843 membangun jembatan besar pada jalan pos
Jogja-Sernarang dan Magelang-Batas Bagelen.
e. Tahun 1851jalan besar pos Salaman-Purworejo
f. Tahun L857 pembangunan saluran kota dWater Leiding)
yang dicabangkan dari kali Elo dan Progo sebelah utara
Magelang
(J. Tahun 1862 semua berat kendaraan di Kedu telah diatun
(naskah Ketik Perpustakaan Kota Magelang)
I. Politik Kolonial Liberal
Kulturstelsel yang dipandang membesarkan kas negeri
llelanda, ternyata telah menimbulkan berbagai masalah. Tanda-
lnrrda tentang penderitaan di kalangan orang Jawa dan Sunda
tttulai tampak, khususnya di daerah penanaman tebu. Di
ffakalongan gtzi tanah begitu terkuras untuk tanaman ini
lohingga rangkaian penanaman padi terganggu, akibatnya
lnrJadi kekurangan beras. Harga beras menadi bergejolak di
nrdna-mana pada tahun 1830-an s.d 1840-an. Penduduk di
rtrf umlah tempat terjadi kelaparan. Kelaparan disebabkan
hr.,r:rakahan orang-orang yeng memgang kekuasaan, dan
kurang disebabkan oleh kelangkaan beras, sebab sering kali bras
lerscdia, tetapi para petani tidak mampu membelnya. Pada
lnhun 1844 terjadi gagal panen dan diikuti dengan kelaparan di
(.lrr:bon. Wabah-wabah penyakit bermunculan, khususnya tipus
hcrkembang di Jawa Tengah antara tahun 1849-1850.
liementara itu, pemerintah menetapakan kenaikan pajak tanah
rlnn pajak-pajak lainnya. Penduduk desa banyak yang
meninggalkan desa sehingga produksi padi semakin turun.
Krisis-krisi keuangan juga terjai pada NHM (Perusahaan
D6gang Belanda), maupun anggaran Belanja Kolonial diJawa.
Di Negeri Beanda muncul penentangan terhadap Sistem
Tanam Paksa di Jawa. Pemerintah mulai bimbang apakah
sistem itu perlu dipertahankan atau diganti. Pada tahun 1848,
untuk pertama kalinya lahir sebuah Konstitusi yang liberal
memberikan kepada Parlemen Belanda (Staten Genraal)
peranan yang lebih berpengaruh dalam urusan-urusan
jajahan. Di dalam parlemen oposisi bersatu. Para klas
menengah Belanda yang kaya akibat kegiaan ekonominya di
Jawa menuntut adanya perubahan. Mereka mendesak
diadakannya pembaharuan yang liberal di tanah jajahan,
pengurangan pemerintah dalam perekonomian negarara
jajahan secara drastic, pembebasan dari usaha pembatasan-
pembatasan atas perusahaan swasta di Jawa dan Sunda. Pada
tahun 1860, seorang mantan pejabat Kolonial, Eduard Douwes
Dekker (1820-1887) menerbitkan sebuah novel yang berjudul
Maxhauelaar dengan nama samaran Multatli. Buku ini
mengungkapkan dengan sangat tepat keaadaan pemerintaahn
kolonial yang lalim dan korup diJawa. Buku ini menjai seuuah
senjata yang ampuh dalam menentang rezim penjajahan pada
abad XIX diJawa.
Perdebatan politik di negeri Belanda membawa pengaruh
dihapuskannya Sistem Tanam Paksa secara gradual di Jawa.
Penghapusan peranan pemerintah dalam eksploitasi ekonomi
lawa dimulai tanaman-tanaman yang tidak mendatangkan
nkeu ntu na nga h i ngga ta na ma n ya ng bena r-bena r
menguntungkan. Penghapusan dimulai dari eksploitasi lada
(1862), cengkih dan pala (1860), nilai, teh, dan kayu manis
(1865) dan tembakau (1866). Kopi dan gula, terutama gula
merupakan tanaman yang paling menguntungkan dihapus
terakhir kali, pada tahun 1870 setelah dikeluarkannya undang-
undang gula- dalam aturan itu ditetapkan bahwa pemerintah
akan menark diri dari penanaman tebu selama 12 tahun, yang
dimulai tahun 1878. Penanaman kopi pemerintah juga
Sgarah 70fa Magekng
(llhapuskan secara gradual sejak tahun 1870-an, dan baru
lrr.rakhir pada tahun 1917 (untuk pangan), dan beberapa daerah
grr:sisir pulau Jawa pada bulan Juni 1919
Secara de jure, Sistem tanam Paksa berakhir tahun 1870
..r:lalan dengan Iahirnya Undang-undang Agraria yang membuka
l,rwa bagi perusahaan swasta. Sejak itu investasi swasta Barat
lx.kembang pesat di Jawa dalam terutama ditanamkan dalam
llrtlustri perkebunan. Dalam sistem baru, swasta yang
nrrrmainkan kegiatan usaha sedangkan pemerintah hanya
tr:bagai polisi dan penarik pajak.'
Bagaimana swasta barat dapat berkembang? Ada tiga faktor
pr:rryebab perkembangan swasta barat dalam perkebunan di
l,rwa, yaitu tersedianya tanah, tenaga kerja, dan investasi
nrodal, serta jarngan pemasaran hasil produksi. Perusahaan
r.wasta barat tidak bias memiliki tanah, tetapi dapat menyewa
lnrrah kepada pemerintah sampai 75 tahun, atau kepada pemilik
prlbumi selama 5 dan atau 20 tahun. Dijawa tenaga kerja kasar
r rrkup tersedia karena pendduuk Jawa telah berkembang pada
nr.rsa Tanam Paksa. Investasi modal mengalir dari Belanda, dan
nr!(tara Barat lain, termasuk Inggris dan Jerman. Perkembangan
prrrdagangan dan ekspor ke Eropa meningkat pesat sejalan
rlcrrgan dibukanya terusa Suez sejak tahun 1869 dan
pekembangan pelayaran dengan kapal uap (sebagian besar di
larrgan orang Inggris). Akibat perkembangan-perkembangan ini,
pntla tahun 1885 ekspor swasta dari Jawa mencapai 10 kali lipat
rlirrr ekspor pemerintah. Pada era ini banyak orang Eropa yang
lrr.rdatangan di Indonsia untuk mengadu untung di zaman baru,
nklhanya jumlah orang sipil Eropa di Jawa meningkat dengan
r r!f)rrt, yakni L7.285 pada tahun 1852 dan menjai 62.477 orang
patla tahun 1900. Periode liberal (1870-1900 merupakan periode
y.urg semakin hebat dalam eksploitasi sumber-sumber pertania
rll lawa maupn pulau -pulau lain di luarJawa.
Sama seperti periode Tanam Paksa, harapan bahwa sistem
lrrrru akan menyejahterakan rakyat Jawa gagal terwujud. Yang
rllrrrrtungkan dari Politik Kolonial liberal tentu adalah para
penrilik modal, pengusaha swasta Belanda. Selain itu adalah
Sgarafrlhh X@etang
para pedagang Cina dapat menikmati keuntungan dari zaman
liberal ini sampai awal abad )O(. Sementara itu pendapatan dari
para pedagang Indonesia, para perajin, dan buruh upahan
merosot tajam. Konsumsi beras perkapita juga jatuh, khususnya
setelah tahun 1855, tetapi perluasan produksi bahan pangan
(khususnya jagung dan singkong) membuat pasokan bahan
pangan cukup untuk dapat mencegah kelaparan, sekalipun
kelaparan melanda Banten tahun 1881-1881, dan Jawa Tengah
khususnya Semarang 1900- 1902.
Pada tahun 1880-an terjadi krisis besar yang berpengaruh
terhadap ekonomi orang Jawa maupun pengeksploitasi mereka.
Sejak tahun 1870-an, penyakit daun kopi mulai menyebar di
sejumah besar kebun kopi, sehingga produksi kopi menurun
drastis. Yang lebih ngeri lagi, pada tahun 1882 terjadi hama tebu
yang menghantam Cirebon,. Dari sana hama ini kemudian
menyebar ke sejumlah bsar perkebunan tebu di Jawa, dan
mencapai ujung timur pulai ini tahun 1892. Industri gula Jawa
kemudian terpukul lagi ketika gula bit membanjiri pasar
Eropa.Depresi melanda daerah pedesaan secara umum dan
mencapai titik terendah tahun 1887-1888. Akibatnya
perdagangan ekspor dari lawa lumpuh total. Banyak pedagang
dan pemilik perkebunan mengalami kebangkrutan, sehingga
mereka jatuh tangan pada bank dan perusahaan-perusahaan
besar. Bahkan para pedagang candu, Cina yang kaya raya pun
ikut tertekan. Pada tahun 1889, hanya 4 dari 19 perusahaan
candu yang tidak bangkrut.
Krisis ekonomi tahun 1880-an juga berpengaruh terhadap
petaniJawa. Para petaniyang telah terganung oada pekerjaan di
perusahaan-perusahaan barat terdepak dari pekerjaannya.
Mereka hendak kembali ke seKor pertanian, sudah tidak
terbiasa, selain itu lahan pertaniannya Judah disewakan kepada
perusahaan perkebunan barat, terutama pabrk gula. Ketika
pabrik gula mulai menggeliat pada akhir abad IX, mereka
dengan mudah dipermainkan oleh pabrik gula Eropa dengan
upah yang terlalu rendah.
Berdasarkan uraian di atas, maka periode liberal juga
SgataLl<ohWtry
nr(!mbawa akibat buruk bagi penduduk pribumi. Begitu
lrrrruknya sehingga P. Brooshooft, wartawan surat kabar De
t,romotief di Semarang mengemukakan bahwa rakyat Jawa
Ir.lah mengalami kemunduran kemakmuran sehingga
ptrmerintah harus mengambil langkah-langkah kebijakan
rrntuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan jalan
nrenurunkan beban pajak kepada penduduk dan perbaikan
.,rrranEr infra struktur. (Ricklefs, 2005). Reaksi yang serupa
Irrga dilontarkan oleh C.Th. van Deventer seorang ahli hukum
ydng pernah tinggal di Indonesia (1880-97), pada tahun 1899
rnenerbitkan sebuah artikel yang diberi titel o&en eereschuld"
( suatu hutang kehormatan) dalam majalah de Gids. Dalam
lullsannya tersebut ia menyatakan bahwa negeri Belanda
bcrhutang kepada bangsa Indonesia atas semua kekayaan
yang pernah di peras dari Hindia Belanda. Untuk hal itu maka
quatu kewajiban pemerintah Belanda membayar hutang dalam
hentuk kebijakan kolonial yang memihak penduduk bumi
putera. Sementara itu Partai Protestan yang memperoleh
kemenangan dalam pemilihan umum di Belanda, pada tahun
Itl91 juga mengkritik kebijakan kolonial yang mengakibatkan
penderitaan penduduk Hindia Belanda. Mereka mendorong
Pemerintah Hindia Belanda agar melakukan politik yang lebih
rnemperhatikan kesejahteraan penduduk bumi putera.
(Rlclefs,2005).
Isu itu direspon oleh pemerintah kolonial dengan
rrrcngadakan penyelidikan tentang kemunduran kemakmuran
penduduk di pedesaan Jawa dalam suatu komisi yang dikenal
rlcngan mindere uteluaart commisie yang dilakukan pada
lahun 1904. (Djoko Suryo,1984). Berdasarkan laporan-
laporan tersebut maka dapat digambarkan bahwa kondisi
pcrekonomian daerah jajahan khususnya pedesaan Jawa pada
penghujung abad 19 menunjukkan ketimpangan. Salah satu
lndikator yang menonjol dari penurunan kemakmuran adalah
menurunnya konsumsi beras. Pada tahun 1880-an, konsumsi
trcras perkapita ppnduduk Jawa L20 kgl tahun, namun pada
lahun 1900 menurun menjadi 103 kg/ tahun. (Booth, 1989)
,sgaraif&f& Magckng
m&.-ryes Affi u$ r'H,*v, dAT'mi{s
Kemunduran tingkat kemakmuran penduduk di Jawa
disebabkan oleh beberapa hal antara lain adalah pesatnya
perkembangan perkebunan besar yang menyebabkan produksi
tanaman ekspor meningkat secara signifikan dibandingkan
pada masa sebelumnya, akan tetapi dilain pihak terjadi
penurunan jumlah produksi tanaman pangan apabila
dibandingkan dengan angka kenaikkan jumlah penduduk.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk pulau
Jawa berjalan lebih cepat daripada pertumbuhan bahan
pangan yaitu beras, sehingga konsumsi bahan pangan
perkepala menurun terutama sesudah tahun 1880. Sebab Iain
yang berhubungan dengan penurunan kemakmuran itu adalah
terjadinya penurunan harga komodite gula dan kopi di pasaran
internasional yang pada masa sebelumnya mendatangkan
keuntungan besar karena harganya tinggi. Penurunan harga
terutama gula (krisis gula), disebabkan oleh pemakaian gula
bit yang mulai memasuki perdagangan dunia dengan harga
yang relatif lebih murah. Krisis penurunan impor gula dari
Indonesia ini mendatangkan kemerosotan usaha perkebunan
tebu dan bank-bank yang mensponsorinya. Dampak yang
dirasakan penduduk adalah semakin menyempitnya
kesempatan kerja di sektor perkebunan karena pengusaha
perkebunan mengambil kebijakan menurunkan produksi
tanaman ekspor. Penurunan produksi perkebunan itu telah
menyebabkan kemerosotan pendapatan penduduk baik
berupa upah kerja dan sewa tanah di daerah perkebunan.
Kondisi ini diperburuk juga oleh impor beras dari luar negeri
yang mengakibatkan harga beras dalam negeri menurun,
impor lain adalah hasil kerajinan tangan di pasaran Iokal yang
turut menurunkan pendapatan penduduk sejak tahun L870.
Robert van Niel berpendapat bahwa pada dasarnya politik
kolonial liberal melindungi petani dari pengaruh ekonomi
uang, tetapi disisi lain kesejahteraan penduduk di pulau Jawa
justru mengalami penurunan karena ketidaksanggupan untuk
memperbaiki ketidakadilan sosial ekonomi dan bertambahnya
konsumsiyang dibutuhkan. (Van Niel, 1984).
SgamLl<ohWttry
Menurunnya tingkat kemakmuran penduduk di Jawa pada
rrkhir abdd ke 19 pada dasarnya disebabkan oleh beberapa
f,rktor. Pertama, pertumbuhan penduduk yang meningkat dan
Itrlak seimbang dengan kenaikan produksi pangan. Kedua,
',r.,lerr Tanam Paksa dan Kerja Paksa (heerendiensten) hasilnya
llrl,rk dapat dinikmati oleh penduduk, tetapi juga menimbulkan
kr.pincangan administrasi (korupsi, pemerasan, kecurangan
l,rrrr) oleh pejabat yang merugikan penduduk. Ketiga, pada
grt,riode abad ke 19 Jawa telah menanggung beban finansial
rurluk mengatur pemerintahan daerah Iuar Jawa (burden of
r t t t pi re). (Djoko Suryo, 1988).
Perubahan haluan politik dari politik konservatif ke politik
Kolonial Liberal juga berpengaruh terhadap wilayah Magelang
khrrsusnya dan Keresidenan Kedu pada umumnya. Dalam
.rrrrrsana politik baru, modal swasta mulai ditanamkan diwilayah
kt.rr:sidenan ini dalam bidang perkebunan swasta. Akan tetapi
,rrlir beberapa daerah yang tetap dipertahankan oleh pemerintah
rLrlam eksploitasinya melanjutkan Sistem Tanam Paksa. Usaha
pemerintah kelanjutan Tanam Paksa yang terus dilanjutkan
lrlrrgga awal abad XX adalah tanaman kopi di Ngasinan
Itrmerintah tampaknya ingin tetap menikmati sisa untung dari
ldndrnEro kopi itu, tetapi harus bersaing dengan swasta. Antara
lntn ditempuh dengan meningkatkan mutu kopi, serta lebih
rrrt:ningkatkan pendapatan petani kopi, misalnya dengan
lrcmberikan ganti rugi kepada rakyat atau desa yang tanahnya
lctap digunakan untuk penanaman kopi. (Soerojo, 2000:283).
Perkembangan perusahaan swasta di wilayah Magelang
ktrususnya dan Keresidenan Kedu umumnya cukup pesat. Pada
lrrhur 1869, di keresidenan ini mulai diijinkan perusahaan
twasta menyewa tanah untuk perkebunan kopiseluas 284 bahu,
gr.rda hal permohonannya 1000 bahu. Pada tahun 1874 telah
lnrdapat empat buah perkebunan kopi dan lima perkebunan
llmbakau. Pada tahun 1880 jumlah perkebunan kopi meningkat
rrrcnjadi 16 buah dan meliputi4.466 bahu. Selain itu terdapat 6
buah perkebunan tembakau dengan luas tanaman 5.285 bahu.
Sgiara|l<ofa Magefang
Sisanya masih ada kopiTanam Paksa seluas sekitar 15.000 bahu.
Masuknya perkebunan swasta di wilayah Keresidenan Kedu
membawa dampak pada kehidupan rakyat pada umumnya.
Meluasnya perkebunan swasta telah mengurangi persediaan
tanah bagi pertambahan penduduk. Akan tetapi hal ini dapat
diimbangi dengan semakin berkurangnya areal tanaman kopi
paksa pemerintah. Dampak yang lebih besar adalah dibidang
ketenagakerjaan. Dengan munculnya perkebunan swasta,
terdapat tiga pihak yang memperebutkan tenaga kerja di
pedesaan, yaitu petani sendiri, pemerintah untuk berbagai
kerjawajib dan pengusaha perkebunan swasta. Pengusaha
swasta berusaha memperoleh simpati dari tenaga kerja
pedesaan, yang ini berdampak meningkatnya posisi tawar
tenaga kerja pedesaan. Pengusaha swasta menaikkan upah
harian pada tahun L872 yang semula hanya 25-30 sen menjadi
40 sen.
Oleh karena persediaan tenaga kerja lokal tidak mencukupi,
maka perkebunan swasta sering mendatangkan tenaga kerja
dari luar. Dengan demikian perkembangan perkebunan swasta
masa itu telah meningkatkan mobilitas penduduk antar daerah.
Pengerahan tenaga kerja dilakukan oleh mandor yang
mengadakan hubungan dengan kelompok-kelompok pekerja
dari luar daerah.
Politik kolonial liberal telah melahirkan variasi peluang kerja
bagi petani. Petani yang yang tuna kisma dan memiliki Iahan
sempit memugkinkan memperoleh pendapatan di luar sektor
pertanian. Mereka bekerja sebagai buruh perusahaan dan
dibayar dengan uang. Dalam hal ini perkembangan peredaran
uang di pedesaan semakin besar. Akibatnya mendorong harga-
harga semakin tinggi.
Dampak negatif dari kehadiran perkebunan swasta adalah
terjadinya berbagai manipulasi sewa tanah. Djuliati Soerojo
(2000:287-288) mengemukakan bahwa banyak ditemukan
kasus-kasus penyelewengan kontrak sewa milik petani oleh
oknum-oknum Belanda maupun Cina. Kontrak sewa tanah
SEarah Kofa Magekng
l--
I rlrrlam jangka 5 tahun untuk menanam tembakau ternyata
rllgunakan untuk memberikan uang muka penanaman padi yang
rllpotong untuk membayar land rente. Petani harus
rrrrnyerahkan 50o/o padinya, dan membiarkan uang muka tidak
rllkcmbalikan sebagai hutang yang semakin membengkak.
l)trngan cara ini petanisemakin terjerat hutang si pengontrak.
Perkembangan perkebunan swasta selain memerlukan
lanah dan tenaga kerja juga memerlukan saran pendukung.
Itendukung terpenting adalah sarana transportasi. Sehubungan
rlengan hal itu, maka kehadiran perkebunan swasta masa politi
Kolonial Liberal juga mendorong Pemerintah Kolonial
membangun sarana transportasi. Jalan-jalan darat diperbaiki.
lalan Secang-Temanggung -Parakan-Wonosobo yang semula
rnerupakan jalan kecil dikembangkan menjadi jalan besar pos.
Magelang sendiri direncanakan akan dikembangkan sebagai
pusat lalulintas perekonomian di bagian selatan Jawa Tengah.
Prasarana transportasi semakin Iengkap dengan masuk-nya
Jaringan rel kereta api yang melintas wilayah Kota Magelang.
Pada akhir abad ke XIX dan NIS (Nederlandsch India Spoorweg
Mutschappg) membuat jalan kereta apidariJogja ke Magelang-
Wlllem I (Ambarawa)-Semarang-Parakan. Ijin pembukaan jalur
tram Secang ke Willem 1 dikeluarkan melalui surat keputusan
pemerintah tanggal 14 Oktober 1895 nomor 7. Sementara itu
untukjalur Magelang -Jogjakarta didasarkan pada keputusan 24
September dan 22 Oktober 1896 nomor 22 dan 4. Ijin
perpanjangan diberlakukan tanggal 17 Mei 1901, dan dimuat
dalam B'rjblad nomor 5263. Adapun isi dari Iembaran negara itu
adalah:
Biiblad no. 5263 JALAN TREM UAP. Persyaratan ijin bagi
pembukaan dan eksploitasi sebuah jalan trem uap di
Karesidenan Yogyakarta dan Kedu, yang membentang dari
ibukota Yogyakarta ke Magelang
Dalam pasal 1 Keputusan 14 Oktober 1895 nomor 7 kepada
NISM diberikan ijin untuk membuka dan mengeksploitasi
sebuah jalan trem uap di Karesidenan Yogyakarta dan
8gara61<okWthU
Kedu dari ibukota Yogyakarta menuju Magelang dengan (
persyaratan yang terlampir pada keputusan ini. Dengan )
persyaratan ini, ijin diterima oleh perusahaan itu yang I
catatan dibuat dalam keputusan 19 Oktober 1896 nomor 2,
Dalam kesepakatan lebih lanjut yang dibuat antara
pemerintah Hindia Belanda dan NISM tanggal L7 Oktober
dan 5 November 1896 (keputusan 24 September 1896
nomor 22 dan 22 Oktober 1896 nomor 4) sebaliknya
persyaratan yang disebutkan di atas dilengkapi dengan
sebuah pasal baru 13a dan diubah sejauh menyangkut pasal
L2, Persyaratan yang diubah dan dilengkapi ini berbunyi
sebagai berikut.
Pasa I 1
Ijin bagi pembukaan dan eksploitasi sebuah jalan trem uap
dari Yogyakarta ke Magelang diserahkan kepada NISM
dengan persyaratan bahwa sejauh diperlukan dan maksimal
dalam waktu setahun setelah jalan trem itu dieksploitasi,
dimulai pengukuran bagi sambungan rel dari Magelang ke
Willem I. Pengukuran itu akan diteruskan dan maksimal
setahun setelah diakhiri, ijin atau konsesi bagi sambungan
rel ini akan diminta apabila terbukti setelah pengukuran ini
cukup memadai di mana eksploitasi seluruh jalur
IYogyakarta-Magelang-Willem akan menghasilkan modal
3,5 juta gulden. Ketika dalam waktu dua tahun setelah jalur
Yogyakarta-Magelang ini dieksploitasi oleh NISM ijin diminta
atau konsesi bagi pembukaan dan eksploitasi rel uap antara
Magelang dan Willem I, pemerintah setiap saat berwenang
untuk memperpanjang sambungan dari Magelang ke
Willem I, jika perlu sampai Semara frg, selain juga untuk
memberikan ijin atau konsesinya kepada pihak Iain.
Wewenang serupa dimiliki oleh pemerintah ketika ijin atau
konsesi yang diberikan bagi sambungan antara Magelang
dan Willem I tidak dimulai dalam batas waktu yang
ditetapkan untuk itu, kecuali ketika diterima masih terus
diperpa nja ng lag i .
Sgarak 1{ota Magekng
Pasal 2
I 4 i n riPasa
sa m pa denga L4 da persya rata n
umum, yang ditetapkan dalam keputusan tan ggal 9
Agustus 1893 nomor 23 (Lembaran Negara nomor 191)
dan peraturan umum dalam Lembaran Negara 1893
nomor 190 diberlakukan pada dinas jalan trem yang
dibuka berdasarkan ijin ini, juga persyaratan umum yang
dimaksudkan kemudian dan perubahan dan
pelengkapan yang dibuat dalam Peraturan umum atau
peratu ra n u m u m tenta ng pem bu ka? o, eksploitasi da n
penggunaan jalan trem uap bagi lalu-lintas umum di
Hindia Belanda, sejauh tidak bertentangan dengan
persyaratan dalam perijinan ini atau tidak terkait
denga n persyaratan tersebut.
Pasal 3
Jalan trem ini ditujukan bagi pengangkutan orang dan
barang.
Pasal 4
Sela in pem buata n tem pat persim pa nga n bag i rel ga nda,
untuk memastikan lalu-lintas yang amon, re! dan proyek
buatan Iainnya dibuka dengan rel tunggal.
Pasal 5
Lebar rel ditetapkan sebanyak I,067 meter. Bangunan
atas jalan trem memiliki tipe jalan kereta api negara
sekarang ini di Jawa dan proyek buatan akan dibangun
sehingga jalan trem dengan lokomotif dan material
beroda Iainnya milik kereta api negara bisa bergerak.
Konstruksi kendaraan beroda di jalan trem itu harus
demikian sehingga gerbong dan kereta yang bermuatan
bisa d ia ng kut pada ja la n trem denga n kereta
penumpang dan barang dalam dinas kereta api negara.
SEarah Kofa Magekng
Pasal 6
Kereta dari jalur trem itu harus dibawa oleh negara pada
stasiun Tugu diYogyakarta dengan rel milik dinas kereta api
negara. Karena sambungan, persyaratan sambungan,
penggunaan rel, kendaraan dan infrastruktur Iain
perusahaan harus bersepakat dengan Direktur Pekerjaan
Umum. Dengan tidak adanya kesepakatan ini, Gubernur
Jenderal akan memutuskan.
Pasal 7
Dengan pembukaan jalan trem ini, demi kepentingan petak
tanah dan perkebunan yang terletak di sepanjang jalan ini,
bersama dengan yang bersangkutan, pertimbangan dibuat
oleh NISM. Jika kesepakatan ini tidak tercapai, maka
pertimbangan dibuat sesuai dengan apa yang diputuskan
oleh.DireKur PU.
Pengetahuan Iain yang patut diketahui adalah bagaimana
kondisi pemerintahan pribumi pada masa Politik Kolonial
Liberal? Pemerintahan pribumi di magelang di pegang oleh
seorang bupati. Bupati ini memiliki kekuasaan yang sebenarnya
kepada rakyatnya. Para pengusaha swasta yang hendak
memperoleh sewa tanah dan tenaga kerja tetap memerlukan
penguasa pribumi ini karena ia memiliki jaringan kekuasaan
hingga tingkat desa. Para bupati yang merupakan puncak
kekuasaan pribumi tetap menunjukkan kebesarannya di
hadapan rakyat. Hal itu juga diperkuat oleh Pemerintah Kolonial
Belanda.
Para pejabat pribumi, bupati Magelang merupakan
penguasa yang menghubungkan antara rakyat Magelang dengan
penguasa Belanda (residen) dan pengusaha swasta, termasuk
persoalan pengadilan. Simbol tempat hubungan bupati dengan
partnernya terdapat di Pendopo. Akan tetapi sejalan dengan
makin kuatnya kekuaaan residen, posisi pendopo digeser oleh
ruamh dinas residen untuk urusan pemerintahan dan
Sgamit<ohWhy
landrat untuk urusan pengadilan. Residen Kedu dalam
suratnya tanggal 12 Juli 1880 no. 3017/1880 melaporkan
kepada gubernurJenderal Hindia Belanda sebagai berikut:
... setiap rumah bupatiterdapat sebuah pendopo, di mana
bupati memillki kesempatan untuk bertemu dengan
bawahan dan warganya, untuk membicarakan persoalan
dinas atau untuk mengajukan permohonan, keberatan
dan keluhan dan di mana dia bersama dengan para
pejabat yang membantunya seperti patih, mantri bupati
dan jurutulis kantor mengadakan rapat.
Di pendopo yang sama para pejabat Eropa dan pribumi
berkumpul apakah pada hari-hari Iaporan periodik atau
untuk membahas persoalan dinas dan mengingat tidak
ada gedung pemerintah lainnya yang me awarkan ruang
begitu luas, biasanya juga dilaukan pemborongan serta
penambahan pada saat pesta, pendeknya semua
pertemuan resmi dari pihak pemerintah ketika ruang
kantor tidak mencukupi. Di tempat-tempat di mana
landraad tidak memiliki sebuah ruangan yang cocok,
lembaga peradilan ini bagi bagi sidangnya akan
memanfaatkan sarana yang ada. Ini terjadi dengan
landraad di Magelang jika in tidak menimbulkan
keberatan karena rendahnya jumlah perkara, sidang
jarang diadakan dan selain itu ketua dan para anggotanya
semua adalah aparat pemerintah, sebelum dan setelah
sidang memanfaatkan pertemuan mereka untuk
membahas perkara dinas lainnya.
Tetapi dengan meningldnya perlom sidang, jumlah hari sidang
ditetapkan tiga hari per minggu dan kini ditambah hari sidang
keernpat, )ang segera akan disahkan. lGtua pengadilan adalah
seorang ahli hukum reng telah mencurahkan semua waktunla
bagi tugasrrya dan memimpijn sidang dari pagi sampai sore.
!(etika kin dipertimbangkan bahwa juga persidangan in{ dan
peradilan residen diadakan di tempat yang sama dan pada
pengadilan ini persoalanJuga berEmbah, jelas bahwa pendopo
kabupaten setiap saat kini akan digunakan oleh lembaga
peradilan dan jarang disediakan bagi aparat pemerintah.
Sementara itu juga bupati tidak lagi memiliki ruang kantor
dan bagian depan rumahnya sehingga dia tidak lagi bisa
menerima kunjungan sepanjang hari, yang tidak mungkin
dilakukan di belakang rumah dalam rumahtangga pribuffii,
karena tempat itu disiapkan bagi para wanita, Baru pada
petang hari setelah sidang peradilan selesai, bupati bisa
memanfaatkan pendoponya lagi.
Hari-hari melapor dan pertemuan para pejabat Eropa dan
pribumi sekarang dilakukan di beranda depan rumah
residen. Ketika saya harus berbicara dengan warga desa,
mereka berkumpul di bawah gerbang masuk rumah residen
sehingga saya menghampiri mereka. Untuk menyewa ruma-
rumah panjet belurn lama ini, saya telah menunjuk pendopo
bupati tetapi ketika saya bersama para pejabat saya pagi
hari berangkat ke sana, saya menjumpai tempat itu telah
digunakan oleh landradd, yang toh pimpinannya telah
diperingatkan. Patih dan juru tulis kabupaten berkantor di
sebuah ruangan kecil yang tertutup di gerbang masuk
pekarangan bupati.
Kondisi di atas menuntut penyelesaian segera yang hanya
bisa dicapai dengan menyediakan sebuah gedung tersendiri
demi kepentinganlandraad, setelah itu pendopo kabupaten
akan diserahkan kepadanya kembali. Sebuah gedung baru
dengan mempertimbang-kan kondisi yang ada memang
rnenimbulkan kesulitan karena biaya dan juga hasil yang
diharapkan belurn bisa dijamin. Karena ltu saya mencari
gedung yang ada, yang segera bisa disewa dan ini
ditemukan pada rumah Nyonya janda Thomson, yang
bersedia menyewakan rumahnya bagi tujuan itu seharga f
80 per bulan.
Rumah ini selain adanya ruangan di depan dan di beranda
belakailg, juga memiliki sebuah kamar luas yang sangat
cocok bagi sidang landraad, sidang pengadilan peralihan
WKn?{tdry
dan pengadllan reslden. Beranda belakang dan bangunan
samplng dlperuntukkan bagl ruang tunggu para saksi dan
terdakwa serta empat kamar di bagian dalam bisa
menampung para haklm, yang kini dengan sebuah ruangan
darurat dl kantor reslden masih teftolong, di mana tidak ada
cahaya yang masuk bagl par ajuru tulis dan tidak ada ruang
bagi almarl arslp.
Menurut surat tanggal 18 Juni 1880 nomor 4l yang
tembusannya terlampir, juga ketua landraad tersebut
menganggap gedung yang saya tunjukkan cocok bagi maksud
itu. Karena Itu perkenankan saya memberi Paduka
pertimbangan untuk menyisihkan dana f 80 per bulan bagi
penyewaan sebuah gedung yang disiapkan untuk sidang
landraad, pengadilan peralihan dan pengadilan residen di
Magelang serta bagi para hakim di tingkat landraad dan
pengasdilan residen.
Dari dokumen itu selain bercerita tentang perubahan wibawa
bupati yang digeser oleh kekuasaan Barat, juga masuknya model
peradilan baru, yaitu landraat. Jelas sekali model peradilan itu
sngat berpengaruh terhadap tata peradilan di Indonesia, termasuk
Magelang pada masa Pasca Kemerdekaan, bahkan hingga saat ini.
C. POLITIK KOLONIAT ETIS
Pada akhir abad XIX di tanah jajahan terjadi perdebatan
antara kaum penganut liberal dengan Etisi. Kaum liberal yang
berkuasa sejak 1870 mendapat kritik keras karena dianggap
gagal menyejahterakan rakyat. Kegagalan kaum politisi liberal
dalam menyejahteraan rakyart Indonesia telah melahirkan
Politik Kolonial Etis di Hindia Belanda pada awal abad XX. Politik
Kolonial etis didasarkan pada pemikiran van Deventer, tentang
tiga hal untuk menyejahterakan rakyat Jawa, yaiu pembangunan
pendidikan, pembangunan sarana irigasi, dan emigrasi
penduduk Jawa ke luar Jawa. Pada tahun 1901, Ratu
Wilhelmina (1890-1948) mengumumkan suatu penyelidikan
tentang tingkat kesejahteraan rakyat Jawa, dan dengan
demikian sejak saat itu politik etis secara resmi disahkabn. Pada
tahun 1902, Alexander W.F. Idenburg diangkat menjadi menteri
urusan daerah jajahan (1901-1905). , 1908-1909, 1918-1919).
Selama memgang jabatan ini dan jabatan Gubernur lenderal
(1909-1916), ia mempraktekkan pemikiran-pemikiran politik
etis. Untuk merealisasikan program politik etis diperlukan
sejumlah dana. Oleh lorena itu, hutang pemerintah kolonial di
Indonesia yang mencapai 40 juta gulden diambil alih oleh
Pemerintah Belanda, sehingga pemerintah Batavia dapat
meningkatkan pengeluaran tanpa harus dibebani hutang lagi.
1. PerubahanPemerintahan
Dalam bidang pemerintahan pada masa Politik Etis ini
mengakibatkan perubahan mendasar di Magelang. Perubahan
itu berupa dikel uarkan nya U ndang-undang Desentral isasi ta h u n
1903. Kedu yang semula merupakan keresidenan sejak
ditetapkannya masa pemerintahan Gubernur Jenderal van Der
Capellen (1819-1826) dibagi menjadi ke dalam wilayah-wilayah
((greagoeenetsst)h.aDpa)e,rayhaKiteuduMmaegliepulatinkga,buTp€atmena-knagbugpuartegn,
Wonosobo,Purworejo, Kutoarjo,Kebumen, dan lGranganyar.
Sejak saat itu wilayah karesidenan diberikan hak-hak otonomi
dan membentu k daerah-daerah (Su martono, 1988 : 10- 1 1).
Pembentukan daerah otonom Kedu baru dapat dilaksanakan
pada tahun 1907, dan keputusan itu dimuat dalam Staatsblad
no. t77 tahun t9o8. Berdasarkan keterangan ini, maka sampai
dengan awal abad )O(, wilayah yang sekarang merupakan Kota
Magelang masih merupakan bagian dari lGbupaten Magelang
atau masih menjadisatu dengan Kabupaten Magelang.
Desentralisasi pemerintahan juga berdampak Iahirnya
Magelang sebagai l(ota Praja (Staats Gemeente). Dalam
Staabblad no. 125 1906 diterangkan bahwa kota di dalam
Geweest (termasuk) Kedu sebagai Kota Otonom. Oleh Karena
Magelang merupakan ibu kota Kersidenan Kedu, maka Kota