The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sejarah dan Nilai Kepahlawanan Kota Magelang

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-04-25 21:44:41

Sejarah dan Nilai Kepahlawanan Kota Magelang

Sejarah dan Nilai Kepahlawanan Kota Magelang

ini ditetapkan sebagai Kota Praja yang pemerintahan sendiri

sebagai pemerintahan kota. Pada tahun L929, seiring dengan

terbitnya Staatsblad van Nederlandchs Indie no 394, Kota

Magelang berhak mengatur'rumah tangganya sendiri.

Berdasarkan perubahan-perubahan ini, maka di Magelang
terdapat dua pemerintahan, yaitu pemerlntahan Kota dan

Pemerintahan kabupaten. Pemerintahan Kota hanya mengurus

penduduk kota di ibukota Keresidenan Kedu. Sementara itu
daerah-daerah di luar itu di wilayah Magelang diperintah oleh

bupati. Pemerintahan Kota ini dominan dipengaruhi tata

pemerintahan Eropa karena banyak orang-orang dan pegawai
Pribumi Eropa yang tinggaldi Kota tersebut.

Tabel 4.2
Pejabat dan Unit Administrasi Femerintahan Hindia Belanda di

Jawa pada akhir abad )GX dan awal abad )O(

Unit Pejabat Pejabat
administrasi Belanda Pribumi

Propinsi Gubernur Bupati

I I I

Keresidenan Residen Wedana

I I I

Kabupaten Asisten Camat

I I I

Distrik Asisten Kepala Desa

I I

Subsistrik Kontrolir

I

Desa

Sumber: Sediono M.P Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi,
1984: 36

Jika dicermati, maka Pemerintahan pada masa Kolonial

dibagi menjadi dua tipologi, yaitu pemerintahan Eropa

(Europesche Bestuur) da n Pemeri nta ha n Pri bu m i (Indlandsche

Bestttur). Di Daerah pemerintahan Eropa dipimpin oleh residen

dibantu oleh pejabat Eropa yang lebih rendah, yaitu asisten

residen. Residen berkuasa pada wilayah di tingkat keresidenan

(recidency), dan asisten residen berkua'sa pada tingkat

afdeeling (bagian). Tiap-tiap afdeeling terbagi dalam satu atau

beberapa kabupaten yang dikuasai oleh penguasa pribumi

bernama bupati.

StruKur pemerintahan di wilayah Hindia Belanda pada

tingkat wilayah dapat dilihat dalam tebel di atas. Berdasarkan

tabel 4.2 terlihat bahwa di wilayah Magelang terdapat dualisme

pemerintahan, yaitu pemerintahan Eropa dan pemerintahan
pribumi. Pe4erintahan pribumi hanya sebagai bagian dari
pemerintahan Barat. Para pejabat pribumi harus tunduk pada

tata aturan administrasi Kolonialyang legal rasional. Di bawah ini
akan dijelaskan tentang tudas dan fungsi pemerintahan pribumi

dari kabupaten hingga desa.

lGbupaten dipimpin oleh kepala disebut bupati. Kabupaten
Magelang yang merupakan bagiann dari Keresidenan Kedu juga
dipimpin oleh seorang bupati. SeJakzaman penjajahan Belanda,

bupati semakin dibatasi wewenangnya, tidak memiliki

wewenang sebagai kepala daerah, tetapi sebagai pegawai negeri

pemerintah Kolonial Belanda. Sejak tahun 1910, Pemerintah
Hindia Belanda memastikan bahwa semua administrasi

pemerintahan di wilayah Hindia Belanda bersifat sama.

Kedudukan bupati dipertegas kembali dengan peraturan

pemerintah yang dimuat dalam Regeering Almanak tahun t9L2.

Bupati adalah seorang pribumi berasal dari der{ad tinggi
(penting). Sesuai dengan derajad mereka, para bupati
menggunakan predikat-predikat jabatan adipati dan

tumenggung. Untuk yang disebut pertama mempunyai pangkat
militer Belanda letnan kolonel, sedangkan yang kedua mayor.

Sekarang kepada beberapa bupati kadang-kadang diberi titel

pangeran. Para bupati dengan predikat tumenggung

menggunakan payung berwarna setengah putih dan hijau dengan

tiga Iapisan emas dlplnggirnya. Sementara yang berpredikat

adipati menggunakan payung kebesaran putih dengan tiga lapisan

emas dipinggirnya. Untuk peng-hargaan kesetiaan atau

penghargaan/acara yang luar biasa kepada mereka bisa diberikan

payung kuning.

Para bupati adalah perantara yang menghubungkan

pemerintah Eropa penduduk pribumi. Mereka melaksanakan

pemerintahan langsung atas penduduk pribumi di wilayah

kabupaten mereka, dan dibebani dengan tugas (urusan)

kepolisian, pengelolaan dan pengaturan kegiatan

pertanian/perkebunan dan secara umum bertanggung jawab
pelaksanaan semua kewajiban-kewajiban yang diletakkan
diantara penduduk dan terhadap pemerintah (gubernemen).
Mereka diangkat oleh gubernur jenderal, tetapi kecuali dengan

syarat-syarat kecakapan, kerajinan' kejujuran dan setia, sedapat
mungkin diangkat sebagai penggantinya adalah keturunan dari

bupatiyang terakhir.

Setiap bupati menguasai wilayah kabupatennya, dan yang
bisa hanya terdiri dari satu afdeling atau lebih, dan pada setiap
afdeling dipekerjakan (diangkat) seorang patih. Melalui patih ini
bupati menyampaikan perintah-perintahnya kepada para kepala

yang lebih kecil (pejabat-pejabat di bawahnya), dan harus

menjamin terlaksananya perintah-perintah tersebut. Para bupati

merupakan pimpinan (puncak) tertinggi dari pemerintahan

pribumi. Para bupati yang ada di Magelang secara formal harus

mengikuti aturan Pemerintah Hindia Belanda tentang kedudukan,

haIg dan kewajibannya.

Pada dasa warsa ketiga abad )O( para bupati mengendarai
mobil. Secara khusus mobil bupati dibedakan dengan mobi!
pejabat lain. Tanda pembedaan pada mobil para bupatiditentukan
pada Staatsblad 7929, No. g6Z. Berdasarkan Surat Edaran
Seketaris Jendral 29 November 1913 No.2744 (Bijblad 8629),

diperlukan penilaian kelayakan bagi para kandidat bupati,

kekecualian untuk wilayah Vorstenlanden, jtl<a mereka berasal

dari orang yang berder{ad rendah. Disamping itu jua pernah

Sg:arafil<ok xkge{ang

berpengalaman menjadi kepala disffiik atau patih selama 2 tahun,

dan memahami dan bisa bercakap bahasa Belanda. Tidak

diperlukan adanya ujian penpringan, tetapi dengan syarat yang

ketatyaitu tunfutan kecakapan calon bupati.
Untuk beaya pefialanan dan penginapan para bupati diatur

dalam Bijblad No. 7986, Staatsblad 1914 No. 52 dan 1921 No.
422. Untuk gaji, tunjangan2 dan beaya (tunjangan) jabatan

khusus dapat dilihat dalam Staamblad 1928 No. 38. Dengan

pemberian kebebasan (otonomi) Inlands& Besfinr yang dimulai

berdasarkan Staotsblad 1918 No. 674, L921, No. 310 dan 779,

1922 No. 438, t923 No. 276, 1928 No. 344, maka telah terbuka
kemungkinan unhrk menyerahkan berbagai kewenangan dan

penyelenggaraan urusan kepada afdeling2 dan kabupaten2, yang

selama ini dijalankan oleh pegawai-pegawai pemerintah Eropa
atau pegawai tingi pribumi. Dalam Staa*blad 1928 No. 344

ditentukan bahwa penyerahan kewenangan2 yang tertera dalam
Inlandsch Ontuoogdings-besluit (Staahblad L92L No. 310) juga

dapatterjadi di kabupaten2 diJawa Timur dan Jawa Tengah.
Parc bupati diberi rumah (dinas) atas beaya negam. BupaU

Magelang juga mendapatkan frsilhs rumah dinastersebut. Rumah

dinas bupati di ibukota kabupaten. Sebagai kelengkapan

tradisionalnya, bubati meniru raja-raja Mataram dengan memiliki

alun-alun di depan lodipatennya.
Pada seUap karesidenan dipetrantukan (angkat) seorang

patih, yang bisa sebagai wakil (meurakili) dalam banyak hal, dan

melalui patih ini bupati menyampailcn perinhh-perintahnya

kepada para kepala )rang lebih kecil (pejabat2 di bawahnya), dan
harus menjamin terlaksananya perintah-perintah tersebut.

Dalam menjalanlon pekerjaan dinas sehar-hari, seorang
bupati dibantu oleh sejumlah staf lobupaten yang dipimpin oleh
seorang patih. Patih ini tidak sama dengan patih di kerajaan yang
berfungsi sebagai perdana menteri, tetapi sekedar sebagai
pimpinan administrasi. Patih dapat disejajarkan dengan wakil
bupati dan atau sekretaris daerah pada masa sekarang. Melalui

lembaga kepatihan inilah, administrasi kabupaten dijalankan.

Patih berfrrngsi sebagai wakil (mewakili) dalam ban)tak hal, dan
melalui patih i ni bupati men)rErm paika n perintah-perintahnya kepada
para kepala yang lebih kecil (pejabat-pejabat di bawahnya), dan

harus menjamin terlaksananya perintah-perintah tersebut

(RA,t93o).
Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah pada dasa warstt

ketiga abad XIX, Pemerintah Belanda semakin memperbaiki tata
pemerintahan kabupaten. Pemerintahan kabupaten, termasuk

Magelang terdapat badan-badan pemerintahan )ang befungsi

mendukung pelaksanaan pemerintahan kabupaten tersebut.
Menurut Regensclnp Ondonnantie Undangz Kabupaten yang
tern&ng dalam Staa*blad tgz4, no. Zg; Staa*blad 7925, no. 398;
Staatsblad tgz6 No. 254, gZB dan Se6; Staahblad t9z8 No. z dan
548; Staamblad. tgzg, No. gt5 dan gg5 badan-badan pemerintahan

lobupaten adalah:

1. PemerintahanlGbupatenterdiridari

a. DeuanKabupaten
b. Badan pengawas ( college geummitterden)
c. Bupati,

atau

a. Dewan lGbupaten
b. Bupati

2. Dewan Kabupaten (Regenschapsraad). Pasal 5 (dirubah dalam

SEabblad 1925 No. 2. 398)

a. hda undang-undang kelembagaan ditentukan iulmlah

anggota bagi setiap kabupaten, da jumlah ini juga

ditunjukJ<an (tentuan) melalui pemilihan.

b. Angota-anggota png lain diangkat oleh Gubernur, setelah

pengajuan oleh Bupati

c. Anggota2 dewan itu menurut ondonansi terdiri dari:
1. Warga (penduduk) Belanda
2. Fendudukpribumi nonBelanda

3. Warga asing non-Belanda
d. Anggota pendudukpribumi merupakan moyoritas

Sgiarufilhh X@e{ang

Anggota dewan kabupaten tidak dapat disatukan dengan

jabatan (tidak boleh rangkap jabatan dengan):

a. Wakil ketua atau anggota Dewan Hindia Belanda (Raan

van Nederlandsch Indie

b. Algemeen Secretaris

c. Kepala departemen pemerintahan umum
d. Gubernur atau residen

e. Sekretaris dewan provinsi.

Ketua dewan kabupaten adalah bupati. Apabila bupati
berhalangan, Patih bertindak sebagai penggantinya, yaitu

sebagai ketua Dewan. Bupati berkewajiban (bertugas)

melaksanakan keputusan2 dari Dewan kabupaten dan badan

pengawas. Apabila kepuitusan itu bertentangan dengan

peraturan provinsi dan kepentingan umum, maka keputusan itu

bisa diskors atau ditiadakan, atau bupati tidak perlu

melaksanakanya.
Dewan kabupaten memiliki wewenang terhadap pegawai

negeri di Iingkungan kabupatennya. Dewan kabupapten

mengangkat sejumlah pegawai negeri di lingkungan

kabupatennya. Termasuk yang menjadi wewenang dan
tanggungjawabnya adalah mengatur pengajian pegawai-
pegawai kabupaten. Jika bupati memandang terjadi

pelanggaran sesuai dengan ketentuan kepegawaian dapat
memberhentikan dan mensekors pegawai-pegawai yang

berdinas di kabupaten.

Pegawai negeri yang ada di Kota Magelang terdiri dari

pegawai daerah dan pegawai pusat. Semua pegawai kabupaten,
termasuk pegawai-pegawai Negara (pusat) dan provinsi yang

ditempatkan di kabupaten, berada dibawa perintah bupati.

Semua pegawai-pegawai Negara (pusat) dan provinsi yang

ditem patka n di ka bu paten,digaji da ri kas ka bu paten.

3, Kondisi Kota Magelang

Setelah ditetapkan sebagai Kota Pr{a, ibu kota ini terus

dibenahi. Pemerintah kota berusaha mengatur agar keadaaan

Sgarahl<okMgerJ

kota tertata dengan balk. Beberapa informan mengatakan
bahwa pada masa Kolonlal Belanda, kota Magelang sangat
bersih dan lndah. Kotanya masih tampak hijau asri, gedung-
gedung belum begltu banyak dengan kendaraan yang masih

terbatas.
Kota Magelang memlllkl stasiun kereta api kota. Mulai dari

stuiun ini, rel kereta api berdarllpingan dengan jalan besar

sampaidengan staslun pasar Magelang. Stasiun kereta kota dan

jalan raya merupakan sarana komunikasi penting yang

menghubungkan penduduk kota Magelang dengan wilayah luar

Kota Magelang. Melalul sarana transportasi ini mobilitas

penduduk ke luar masuk Kota Magelang dapat berlangsung.
Bagan 4.2

Peta Jalan Peninggalan Belanda

Sumber: Dinas Parhryisata Kebudayaan dan Olah Raga
Kota Magelang

,11arufr?<ok Mgekng

I

Ganrbat 4.9
Peta Kota Kota Magelang Masa Kolonial Belanda

Sumber: Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Olah Raga
Kota Magelang

Magelang dijadikan kota militer. Sebagai kota militer,
tangsi diperlu?s, blok-blok untuk opsir mulai dari blok E

sampai Blok H untuk Bintara dibangun. Sementara itu
lapangan lembah Tidar dijadikan lapangan kapal terbang

mititer dan lapangan untuk latihan menembak. Hal inilah
yang menyebabkan banyak orang Belanda merasa nyaman

tinggal di Magelang, sehingga Belanda terus membangun

sarana-sarana perkotaan. Menara air minum dibangun

dengan megah ditengah-tangah kota pada tahun L920,
perusahaan listrik mulai beroperasi tahu L927, jalan-jalan

arteri diperkeras dan diaspal (wawancara : Rohm?t, 19-3-

2008).

$prafi?<okMge.J

Gambtr 4.4
Suasana Kota Zaman Kolonial

Sumber : Dokumen Dinas Pariwisata Kebudayaan,
Pemuda dan Olatrraga

3. Irigasi

Irigasi merupakan aspek penting dalam kebijakan
Politik Etis. Di Magelang juga dilakukan pembangunan
sarana irigasi. Hanya saja di wilayah perkotaan, irigasi
diutamakan pembangunan saluran air untuk kepentingan

MCK penduduk perkotaan. Sementara itu di Iuar kota

digunakan untuk mengairi sawah.

&ghrufi|<okmgerJ

Gambar 4.s
Plengkung Saluran Irigasi

Sumber: Dokumentasi Tim

Jika diamati, bekas-bekas saluran air peninggalan Kota
Magelang masa Kolonial masih tersisa. Di sebelah selatan

stasiun terdapat jalan simpang empat. Dari sana terlihat saluran
air kota melintas di atas jalan raya. Saluran air ini bak mengikat

daerah-daerah perkantoran hingga wilayah pemukiman

penduduk kota. Saluran itu dibawahnya diberi lengkungan
sehinga kelihatan seolah-olah jalan raya menembus jalan

rumput hijau yang rapi. Orang Magelang menyebut wilayah itu
sebagai "Plengkung". Ke arah selatan, kira-kira sekitar 500 m

kemudian juga terdapat plengkungn yang juga merupakan
saluran air. Saluran air atas ini akan terus kelihatan hingga

sampaijalan Pungkuran. Di Jalan Pungkuran itu saluran air terus
menerobis hingga kompleks kabupaten, kompleks kauman,

melalui samping Masjid Besar, menerobos jalan besar terus

melalui gedung Mosvia. Dari belakang gedung Mosvia, saluran
air itu melompati jalan lagi dengan plengkung juga di kampung

Tengkon. Saluran berlanjut melalui kampung Kemiri Kerep

menuju kaki Gunung Tidar. Dari situ saluran menuju

daerah luar perkotaan dan berfungsi sebagai saluran irigasi untuk
mengairi persawahan dl sebelah tenggara Kota Magelang.

4. Pendidlkan

Kebijakan yang diterapkan dalam kerangka Politik Etis juga
berpengaruh terhadap wilayah Magelang. Dalam bidang pendidikan,
seorang tokoh yang cukup penting dalam implementasi Politik Etis
adalah Abendanon. Di bawah pejabat ini, pada tahun 1900 dilakukan
penyusunan kembali Sekolah Para Kepala (Hoofdenschoolen) yang
telah ada di Magelang bersama-sama dengan Hoofden schoolen di

Bandung dan Probolinggo. Penyusunan kembali itu menghasilkan
sekolah yang nyata-nyata direncanakan untuk menghasilkan

pegawai pemerintahan yang diberi nama baru OSVIA
(Opleidingscholen uoor indlandsche ambtenaarenr sekolah

pelatihan untuk para pejabat pribumi). Lembaga pendidikan ini

kemudian berkembang menjadi Mosvia.

Gedung Mosvia r"rf,fifiln*X untuk kantor polisi

Sumber: Dokumentasi Tim

Sga',ah 70fa Magekng

Sekolah Osuia merupakan sekolah bergengsi. Masa

pendidikannya berlangsung selama Iima tahun, dengan bahasa

Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Sekolah itu terbuka bagi

semua orang Indonesia yang telah menyelesai-kan Sekolah

Rendah Eropa. Calon-calon muridnya tidak harus berasal dari

kalangan elite bangsawan. Pada tahun 1927 masa pendidikannya

di ku rang i menjadi tiga tahun (Rickleft, 2005 : 330).

Sebagai wilayah yang dikuasai Belanda secara langsung,
,keberadaan pendidilon penduduk apakah penduduk Eropa
maupun pribumi dikembangkan. Selain pendidikan untuk para

pejabat, pendidikan umum juga tersedia di kota ini, bahkan telah
Etis.ada sebelum dilaksanakan Politik
Laporan-laporan

pemerintah Kolonial Belanda banyak yang mengindikasikan
berkembangnya lembaga pendidikan untuk rakyat di Kota

Magelang. Akan tetapi pada tataran awal lembaga sekolah itu

diperuntukkan bagi anak-anak Eropa. Sebelum abad )O(, sekolah

yang dibangun adalah sekolah untuk anak-anak orang Eropa atau

sekolah khusus bagi anak-anak orang Ambon, Manado, Ternate

dan pribumi Iain yang beragama Kristen. Surat dari Direktur

Pekerjaan Umum, Van Bosse, nomor: 2sz&lAtanggal 17 Pebruari

1891 menyebutkan bahwa ia menyetujui untuk bangunan sekolah
dasar klas-l bagi 100 siswa di Magelang. Selain itu juga dikatakan

bahwa dengan penyediaan sekolah Ambon di Magelang bagi

sekolah dasar klas-2 negeri, tidak ada bangunan baru yang perlu

didirikan. Akan tetapisekolah itu cocok bagi penggunaan barunya.

Dari surat ini juga dapat disimpulkan bahwa sekolah dasar itu

mencakup 3 ruang dengan ukuran 9 X 6,30; 6,65 X 6,30 dan 8 X 6

meter. Biaya yang diperlukan unhtk perbaikan mencapai f 2507.

Sgam6l<.ohWhy

()irrnbar 4.7
Pasturan

Sumber: Dokumentasi Tim

Direktur Pekerjaan Umum menganjurkan kepada residen
beberapa hal untuk pengembangan sekolah di Magelang, yaitu:

1. membangun sebuah sekolah dasar klas-1 untuk 100

siswa;

2. sekolah dasar yang ada dengan 2 ruang diperluas
sehingga klas ini cocok bagi 220 siswa dan

diperuntukkan bagi sekolah dasar klas-2

3. sekolah Ambon difungsikan bagi kantor pengairan dan

kantor pengairan bagisekolah pribumi klas-2.

Informasi dalam Besluit no 8 tanggal 22 Met 1891

menunjukkan bahwa pada tahun itu telah ada lembaga sekolah

untuk anak orang Eropa di Magelang. Dalam besluit itu
2disebutkan bahwa penyelenggaraan sekolah dasar klas ini

sejak tanggal 1 Mei 1891 dijalankan dengan menyewa rumah

pribadi dengan harga f 165 per bulan yang dibuka berdasarkan

pasal 2 sub a keputusan tanggal 8 April 1891 nomor 3.
Penyewaan terhadap bangunan itu disebabkan bangunan

SEarah Kofa Magekng

sekolah sedang mengalami prcses pembangunan.

Sebagai tindak Ianjut dari keberadaan sekolah Eropa tersebut
dibangunlah gedung sekolah untuk anak-anak orang Eropa di
Magelang. Dalam besluit tanggal 4 agustus 1891 terlihat adanya

persetujuan dari pejabat pusat di Bogor (Buitenzorg) untuk

Memberikan wewenang sesuai dengan gambar yang disodorkan

untuk membangun sebuah sekolah dasar Eropa bagi 200 omng siswa

di Magelang (karesidenan Kedu) dengan ketentuan bahwa dalam

kegagalan lelang umum yang dilakukan bagi proyek ini, pelaksanaan

akan dilakukan dengan menyewa gedung dan material yang
diperlukan tetapi tidak ada di gudang negara alon dibeli. Biapnya
dalam proyek tersebut menurut anggaran yang disodorkan

fditaftirlon sebanyak f 18.252 uang tunai dan f 450 peralatan; atau

seluruhnya L8.702. Dengan catatan bahwa pengeluaran )rang
munculdari pasal iniakan dibebankan pada pasal 350 darianggaran

tahun 1891.

Sampaidengan akhir Pemerintah l(olonial Belanda di Magelang

telah dibangun sejumlah sekolah. Sekolah itu ada png dibangun
dan diperuntukkan bagi bangsa Eropa, Cina, dan ada pula png
dibangun untuk kepentingan sekolah bagi penduduk pribumi.

Sekolah-sekolah itu ada pula yang dibangun oleh yayasan s,wasta

sepertiyayasan Kristen dan Taman Sis-ura. Tabel 4.3 menunjukkan

nama sekolah dan lokasinya sekarang.

Tabel4.3
Nama-nama Sekolah yang dibangun zaman Fenjajahan Belanda

dan Lokasinya masa Sekarang

Namasekolah Lokasi sekarang

1. Mulo (Gub) SMP neseri t
2. Chr, Mulo
3. Ambonsche School SMP Kristen 1
4. HIS SMP Magelang L,2,6,7
5. ELS Eerste SMP negeri 4
Kantor Pengadilan negeri

Sgamirbhx@'@

6, EtS TWeede TK Pertiwi dan lGntor PKK

7. EI.S derde Kota Magelang
Balai Pelajar Plengkung
8. EIS mldBubel
SD Kristen 2 Poncol 01. A
9. H.J.s Bfbel lGJuron
10. H.J.s BiJbel Jambon Yani 30 Magelang)
SD Cacaban IV
11. Chn Schakel School Perumahan inspeksi pajak
L2. lGth. Schakel School SD Kristen 1 Kemiri
13. Chr. Hulshoudschool JI. Prawiro Kusuman

L4. Holl. Chinese Shool JI. Kartini (dulu Kantor
15. Maleise-Chinese School
16. Ambasch Leergang Penerangan)
L7. Standaft School SKKP Kristen, Jl. Tidar
SMP Kristen 3
18. Vervolgschool (CVO) STM negeri Magelang
19. Kopschool
20. Pawiyatan (klas 3) Selatan balai Desa Kota
2L. Volkshool (klas 3)
22. Setya Hredaya (SHO) (Paten)
SD Rejowinangun
OnderwUs SD Cacaban 1
SD Cacaban 1 (selatan)
23. Taman Siswa Balai Kesehatan Paten
24. Adi Dharma Paten Tegal

25. Sekolah Cina Gedung Tembakau

(Tionghwa Hwee Kwan) Asrama Pa. De Steur

26. Mosvia Magelang
SD/SMP Sedar Nasional

Kantor Polresta 97L

Magelang

Sumber: Naskah Ketik Perpustakaan Kota Magelang

Sgarailhk Xkgetang

Jika dilihat dari tabel 4,3 terlihat bahwa di l(ota Magelang telah

banyak dibangun lembaga sekolah. Lembaga tersebut jelas
berpengaruh terhadap sumber daya manusia setelah Indonesia
merdeka. Tidak salah jika setelah merdeka banpk orang Magelang

yang telah berpendidikan maju.

$1amfr'{$tatv@ekng

BAB V
DARI PENDUDUKAN JEPANG HINGGA

REVOLUSI FISIK

Sejarah perJuangan kemerdekaan Indonesia tidak terlepas
dari pendudukan Jepang. Suatu zaman yang sangat pendek (3,5
tahun), tetapi telah mengubah cara berpikir Bangsa Indonesia.
Cara berpikir itu adalah keberanian untuk mengatakan bahwa
bangsa Timur tidak Iebih rendah dari Bangsa Barat. Cara pandang
ini disosialisasikan dengan Iatihan ketentaraan dan kepolisian di
kalangan masyarakat Indonesia. Mdeskipun tidak Iebih kejam
penindasannya kepada bangsa Indonesia, tetapi efek posltifnya

adalah membangkitkan semangat perjuangan dan nilai
kepahlawanan di kalangan anak muda negeri ini, termasuk

Magelang.

Bekal yang diberikan oleh Jepang berupa Iatihan fisik dan
keberanian melahirkan semangat baru mendukung kemerdekaan

yang di proklamamirkan Sukarno-Hatta 17 Agustus t945.

Keberanian itu ditunjukkan dalam bentuk pengambil alihan

kekuasaan, perlawanan terhadap Jepang maupun Belanda yang
melakukan agresi ke wilayah Jogjakarta dan sekitarnya. Bagian ini
akan membahas benag merah antara pendudukan Jepang dan
semangat kepahlawanan pada masa revolusi fisik atau perang
kemerdekaan.

A. PENDUDUKAN JEPANG DI MAGEL/ANG (I.942'

194s)

Jepang berhasil mengalahkan kekuasaan colonial Hindia
Belanda dengan didukung kekuatan militer dan taktik serangan

kilat (Blitrkreig). Dengan kekalahan ini secara otomatis mulai
berkuasa di pulau Jawa. Jepang melakukan invansi kedaerah-

daerah di seluruh pulau Jawa. Di daerah Jawa Tengah dan lawa

Timur serangan berlangsung dengan cepat. Gerakan

8gam61<^ok MEekng

invansi diJawa Tengah dipimpin oleh Yamamoto, Matsumoto dan

3Kaneuyi. Tanggal Maret L942 pasukan Jepang berhasil

menguasai Purwodadi. Dari Purwodadi kekuatan pasukan Jepang
dibagi menjadi dua kelompok. Pasukan peftama dipimpin oleh

Yamamoto bergerak melalui jalur Sumberlawang menuju

Surakarta. Pasukan kedua dipimpin oleh Kaneuyi bergerak

melewatijalur Godog menuju Boyolali, Kedua pasukan ini bertemu
di Kalten untuk mengatur serangan Invansi

Invansi yang di laku kan Jepang berhasil menguasai Jogjaka rta
dengan cepat. Dari Jogjakarta pasukan dibagi menjadi dua lagi.
Pasukan pertama dipimpin oleh Matsumoto maju melewatidaerah
Magelang-Temanggung-Banyumas. Pasukan yang kedua dipim pin
oleh Yamamoto dan IGneuyi yang ditugaskan menguasai daerah

selatan Jawa Tengah (lihat peta).

Magelang berhasil dikuasai Jepang tanggal 6 Maret t942,

setelah Surakarta dan Jogjakarta dapat dikuasai pada tanggal 5
Maret t942. Ketertarikan Jepang terhadap Magelang dipicu karena

potensi sumber daya alam yang dimiliki, yaitu; (1) Magelang

merupalon pusat produksi hasil peftanian (padi), sayuran, buah-
buahan, tembakau, (2) Sebagai pusat administrasi pemerintahan
kotamadya Magelang dan Kabupaten Magelang, (3) terletakantara

jalur transportasi utama daerah-daerah yang memiliki

perekonomian yang cukup baik di daerah dalm bidang pertanian,

(4) merupakan pusat pemerintahan lGresidenan Kedu yang

meliputi daerah kabupaten Temanggung, Wonosobo, Purworejo

dan Magelang sendiri. Kemudian Jepang membangun tempat
latihan militer (pendidikan) pasukan PE[A, sebanyak 2 batalyon
alau Daidan. Dai lciDaidan berkedudukan diGombong dan DaiNi
Daidan berkedudukan di Magelang dengan nama Iengkap Kedu

Dai Ni Daidan atau Batalyon II Kedu (Wiyono, 1991: 30). Dari

kelurahan mereka dikirim ke Kecamatan kemudian dikumpu!-kan di

kawedanan, kemudian di berangkatkan dari pendopo kabupaten

Purworejo, menuju tempat pendidikan di tangsi Tuguran,

Magelang (Wiyono, dkk, 1991: 29).
Kebijakan pendidikan yang dikeluarkan Jepang pada masa

Sgarafil<ok Mgtfonl

tiga prinsip pokok yrulu.

A Pendidlk,ur rltl,rl,r kt,rnbali atas dasar persamaan dan kesamaan

untuk st.hnrrlr kr,krrrrpok etnis dan kelas sosial (berbeda dengan

masa cokrrrt,rl l-lt:landa yang membedakan pendidikan

berdasarkrul rtrs)

@ Secara sistcrn,rtis pr:ngaruh Belanda dihapuskan dari sekolah-

sekolah sedarrctka n unsu r-u nsu r kebudayaan Indonesia dijadikan
landasan utarna.

A Semua lembaga pendidikan dijadikan alat untuk memasuk-kan

doktrin gagasan kemakmuran bersama Asia Tenggara di bawah
pimpinan Jepang (AB. Lapian, 1988: 87).

()ambar 5.1
l)cta Kota Magelang

)'t* i'rtil'rA{ *l JtrFI rft#l{, A V i\trt d\ ill}t\'i*ilttfi} T'+,{,#f S*t
lt n I rI}|tAtl Ath* t((t I r[l ltllA{l['th[- r[F*{:t

Sumber: Koleksi DisporaBudpar

Sgarak Kofa Magekng

Guna menarik simpati rakyat Indonesia selain dibidang

pendidikan kemiliteran pemerintah Jepang juga melakukan

usaha-usaha politis dengan cara:

1. Dalam siaran radio Tokyo setiap malamnya terdapat

siaran bahasa Indonesia yang diawal dan diakhir acara
diisi dengan memperdengarkan Iagu Indonesia Raya.

2. Adanya tawaran beasiswa bagi pemuda-pemudi

Indonesia yang berminat diTokyo

3. Dalam bidang ekonomi diberlakukan penguasaan

pasaran barang-barang melalui politik dumping yaitu
barang-barang industriJepang yang dijual lebih murah
daripada harga didalam negeri Indonesia.

4. Membebaskan para tawanan politik atau pemimpin

Indonesia yang dulu dipenjarakan Belanda.

5. Di bidang kepartaian pemerintah Jepang segera

mengambil tindakan pembubaran dan melarang dan
berdirinya partai-partai politik. Hanya ada tiga partai
politik yang di'ljinkan untuk tetap berdlri pada masa
itu. Partai-partai tiu antara lain:

a. Gerakan 3A (Nippon Cahaya Asia, Nippon

Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia) tanggal 29
April 1942.

b. Putera (Pusat Tenaga Rakyat), yang dibentuk
dengan tujuan memusatkan segala potensi
masyarakat Indonesia untuk membant perang

Jepang.

c. Jawa Hokokai, melaksanakan sesuatu dengan iklas

untuk menyumbang segenap tenaga

6. Melakukan kerjasama dengan golongan agama (ulama

dan kiai). Hal ini dapat terlihat dengan diizinkannya

golongan islam mendirikan sebuah partai yang

bernama Masyumi.

Potensi ekonomiyang dimiliki oleh Magelang ini membuat
Jepang menjadi berkecukupan dengan menguasai daerah
pangan dan hasil tambang. Daerah-daerah sumber pangan

Sgarufil<ofaWd*J

meliputi daerah : Kal langkrlk, KaJoran, Windusari (di lereng gunung

Sumbing), Sawangan dan Pakls (lereng gunung Merbabu),
Ngablak dan Grabag (lereng gunung Andong), Telomoyo,

Muntilan, dukuh Sambung dan Salam (lereng gunung Merbabu).
Sedangkan daerah pertambangan meliputi :

1. Paslr, terdapat dldaerah selatan Mungkid, Muntilan,

Dukuh, Srumbung, Ngluwar, Secang dan Salam.

2. Batu Tlas, terdapat dl dukuh Srumbung, Salam, Pakis dan

Kallangkrlk,

3. Mangan, dl Borobudur dan Sleman,

4. Marmer, di Salaman.

5, Pasir besi dan pasir kuarsar tendapffit di Bandortgam,

Candlmulyo dan Ngluwar.

6, Emas, terdapat didaerah Bandongan dan Candimulyo
(Tuntje Tnunay, 1996: 193).

Kondisi perekonomian yang sulit diperburuk dengan adanya

blockade ekonomi Belanda terhadap Republik Indonesia. Blockade

ini berupa larangan masuk barang-barang dan makanan maupun

persenjataan ke Indonesia baik melalui darat maupun laut.

Kesulitan yang diderita penduduk Magelang antara lain adanya

peredaran Oeang Republik Indonesia (ORI) oalsu yang

dikeluarkan oleh Belanda (Priadji, 1995; 75). Penduduk Magelang

apabienduduk Magelang apabila ingin mencari barang-barang

kebutuhan sehari-hari terpaksa harus membeli di daerah lain

seperti Ambarawa, Semarang, Salatiga dengan harga yang lebih

mahal.

Di bidang perdagangan tidak bisa berjalan dengan baik
dikarenakan menipisnya persediaan barang yang tidak sesuai
dengan permintaan dan nilaitukar uang yang digunakan. Rakyat
mengunakan kain doni untuk dijadikan pakaian. Pada masa
pendudukan Jepang selain membawa dampak buruk, juga

memberikan dampakyang positif bagi rakyat Magelang yaitu:

a. Pengenalan teknik bercocok tanam padi yang baru.
Dengan mendirikan sekolah pertanian di daerah

Mertoyudan dalam rangka peningkatan hasil produksi

pertanian.

b. Melatih kedisiplinan dan rasa nasionalisme rakpt Magelang

dalam usaha merebut kemerdekaan.

1. Bentuk Pemerintahan Pendudukan Jepang di

Magelang

Bentuk pemerintahan Jepang didasarkan garis koamndo

militer. Bagan 5.2 menunjukkan garis komando itu dari tingkat

kabupaten/kota hingga desa.

Gambar 5.2
Skema/bagan system pemerintahan pendudukan Jepang di

Magelang

Ken
(Kabupaten/Kota)

+
Gun
(Kawedanan)

+

Son
(Kecamatan)

Meskipun berbentuk komando, namun Jepang menggunakan

sistem pemerintahan desentralisasi di Magelang. Dimana

pemerintahan diberi otonomi untuk mengatur pemerintahan dan

mengambil kebijakan sendiri asal tidak bertentangan dengan

pemerintah pendudukan pusat Jepang. Magelang merupakan daerah

kabupaten dengan kota Magelang sebagai ibukota lGbupaten.
Pada masa pendudukan Jepang kedudukan pemerintahan
sinai taidtakituberupbaehm, teetrainpitahhanysaedtiinggaknatit
namanya. Pada

kabupaten

telah diganU menggunakan nama Jepang menjadi Ken, sehingga
Magelang berubah namanya menjadi Magelang Ken. Daerah
IGwedanan dltambah Gun, dan kecamatan Son

Tabel 5.1
StruKur Pemerlntahan pada Masa Fendudukan Jepang

Lembaga Pemerintahan Pimpinan

Ken (Pemerlntahan setingkat Kabu paten) Kencho
Gun (Pemerlntahan seting kat lGwedanan) Guncho
Son (Pemerl nta ha n seti ng kat Kecamatan) Soncho
Ku (Pemeri ntahan seting kat Kelurahan/Desa) Kuncho

2. Kebijakan Pemerintahan Jepang terhadap

Magelang Ta hu n 1942-L945

Pemerintah pendudukan Jepang menggunakan politik

perang (kriegwierscafht). Salah satu cara yang dilakukan adalah

dengan melaksanakan "politik beras'. Masyarakat Jawa
merupakan penghasil beras, yang mana posisi ini sangat

diperlukan untuk mensuplai kebutuhan konsumsi militer Jepang.

Tujuan pokok penyerbuan Jepang ke Indonesia untuk

mengeksploitasi sumber daya ekonomi daerah yang diduduki.
Pedesaan tanahnya sangat subur dengan jumlah pendudukyang

sangat besar, dianggap mempunyai potensiyang dapat berguna

bagi kelangsungan perang dan kemakmuran Jepang di masa

selanjutnya.

Jepang ingin memprioritaskan pulau Jawa untuuk

memenuhi kebutuhan beras Jepang. Jawa ditetapkan sebagai

pemasok beras untuk pulau-pulau diluar Jawa dan medan

pertempuran pada masa pendudukan Jepang. Dalam rangka

pelaksanaannya Jawa sebagai bagian dari Asia Timur Raya
mengemban dua tugas yaitu; untuk memenuhi kebutuhan
sendiri untuk bertahan dan mengusahakan produksi bahan

SgamfrlhhMgthg

makanan untuk kepentingan perang. Beberapa bulan setelah

kedatangan Jepang ke Jawa, Jepang melaksanakan politik beras

pada bulan Agustus 1942-April 1943 yang berisi:

1. Padi berada dibawah pengawasan Negara, dan hanya
pemerinta yang diizinkan melakukan seturuh proses

pngutan dan penyaluran padi.

2. Para petani harus menjual hasil produksi merani harus
menjual hasil produksi mereka kepada pemerintah

sebanyak dua kuota yang ditetukan dengan harga yang

ditetapkan.

3. Harga beras dan gabah ditetapkan oleh pemerintah

(Nagazumi, 1988: 88).

Zaman penjajahan Jepang, petani menyebut jaman ini
sebagai jaman penyetor padi. Dimana rakyat diwajibkan

menyetor beras sebanyak 100 kg ouZntaumk amneknuciunktuaplai nk"e.bJuetuphaanng

perang, ini juga biasa sisebut
rnenerapkan politik desentralisasi. Untuk memperlancar
kebijakan ekonominya, Jepang terus mengumandangkan

propaganda mengenai pelipatgandaan hasil pangan melalui

radio, surat kabar, penerbitan atau pemutaran film. Dalam

pelaksanaannya pemerintah Jepang memberikan

tanggungjawab mengumpulkan semua kebutuhan ekonomi pada

pemerintah daerah. Setelah terkumpul kemudian dilaporkan

kepada pimpinan pusat (Marwati Djoned dan Nugroho

Notosusanto, 1993: 49).

.lepang juga rnemberikan perhatian terhadap masalah sosial

ekonomi kemasyarakatan dengan melakukan beberapa

perubahan yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dimana

organisasi pedesaan secara langsung dihubungkan dengan

dunia luar dalam pengertian politik, ekonomi, spiritual

(Kurasawa dalam Nagazumi, 1988: 83). Selama pendudukan

Jepang, kepala desa dan para pembantunya diperlakukan sedikit

lebih baik seperti wakil pemerintah pusat, dan menjalankan

perintah dari atas untuk keuntungan pengusaha penjajahan

(Kurasawa dalam Nagazumi, 1988: 83-84).

Seorang kepala desa dan perangakatnya pada masa

SgnafrlhhMagekng

pendudukan Jepang dlperlakukan sebagai alat pemerintah pusat,,
alat penguasa sehlngga mereka menjalankan perintah dari atas

untuk kepentlngan Jepang. Mereka diberi tugas untuk

melaksanakan kebfakan-kebijakan pemerintah pendudukan
Jepang dltlngkat pedesaan. Tugas mereka antara lain:

a. Mengumpulkan berasdari warga desa.
b. Merekrutmmusha.
c. Merekrut para pemuda atau pemudi untuk mendapat

didlkan mlllter guna keperluan perang Jepang

(Soemarmq 20001:51).

Perubahan straUllkasi sosial berlangsung dimasyarakat

dimana orang Jepang menduduki kelas tertinggi. Kelas berikutnya

oleh orang-orang Eropa,kemudian orang Indonesia. Kelas

terbawah adalah oritllg<rrang Belanda dan sekutunya (orang-
orang Cina). Penduduk kehrrunan Cina di Muntilan dibenci oleh

Jepang lorena dlanggapsebagai kakitangan belanda ppada masa
dimana kebiasaan yang dilakukan orang Jepang setiap hari harus

diikuti. Di magelang setiap hari ada kewajiban yang harus

dilakukan yaitu mengiluti kebiasaan orang Jepang. Kewajiban itu

antara lain:

A Setiap puknl 7 Wgi diharuskan menghadap ke Timur
menghadap matahari (member hormat kepada Dewa

Matahari).

A Mehksanakan Upacan Tehno Heika menghadap arah

timur laut (member hormat kepada kaisar Jepang)

(wawancara: elang h Rachmat, lTApril 2007).
Pada waktu jepang menduduki Magelang hampir tidak ada

pembangunan, kecuali membuat stadion Tidar png dikerjakan

sectra gotong royong oleh seluruh masyarakat, pegawai, pejabat
dan anak-anak sekolah beserta para romusha (Soekimin Adi

Wiratmoko, tanpa tahun: 11). Pulau Jawa sebagai pulau yang
padat penduduknya memungkinkan pengerahan tenaga secara

besa r- besa ra n. Tenaga-Enaga in i d isebut ro m u sh a. Pada m u la nya
tenaga ini bersifat srkarela, tetapi karena kebutuhan yang terus

meningkat di seluruh Asia Tenggara, pengerahan tenaga yang

bersifat sukarela menjadi paksaan. Romusha ini

Sgarafi l<ote lrEcfarg

dikirim ke luar Jawa bahkan luar nusantara seperti Birma,

Muangtai, Vietnam dan Malaya. Di Magelang romusha direkrut
oleh Kepala Desa, untuk membangun prasarana perang Jepang

seperti:

a Membangun gua-gua perlindungan, didaerah

Windusari.

a Jalan bawah tanah, di daerah Jambon.
a Memperbaiki landasan udara dibukit Tidar yang rusak

karena politik bumi hangus Belanda.

a Merusak jalan raya sebagai cara memperlambat musuh.
o Pembangunan rugraf (lubang jebakan sekaligus lubang

persembunyian)

A Membangun asrama bagi siswa sekolah di Magelang

(Wawancara : Sabar, 18 April, 2007).
Romusha di Magelang dijanjikan mendapat bayaran setiap

hari, tetapi pada kenyataanya nihil. Kelelahan fisik yang
dirasakan oleh romusha tidak pernah dihiraukan oleh

pemerintah Jepang. Dengan kondisi ini mereka rentan terhadap
wabah malaria, desentri dikarenakan tidak bisa menghindarkan

diri dari serangan nyamuk (Manruati Djoned dan Nugroho

Notosusanto, 1993: 39). Mayat romusha ini dibiarkan tergeletak
di jalanan tanpa ada yang mengurus. Penderitaan tidak hanya
diterima oleh para pemuda, tetapijuga para wanita. Oleh orang
Jepang mereka d'rjadikan Jugunianfu (gundik), sebagai hasrat
pemuas seksual pasukan Jepang.

Pemuda Magelang selain direkrut menjadi romusha

sebagian dari mereka juga dididik kemiliteran untuk membantu
Jepang dalam perang yang sedang dilakukan. Mereka mendapat

Iatihan kemiliteran dan beberapa dari mereka yang terpilih
ditawari utnuk ikut dalam pasukan militer Jepang seperti:

gHEIHO, PETA, KEIBODAN, SEINENDAN.

PASUKAN Heiho ditempatkan dalam organisasi militer
Jepang baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut.

O PETA , berasal dari golongan rakyat PETA , berasal dari

golongan rakyat yang bertugas untuk mengamankan

SgamilbkMgerJ

Magelang. Pasukan ini disebut juga dengan home

difence army yakni pasukan untuk mempertahankan

aInidro.nPeselambbueknatnukuantnukPeEkTspAediinsiimdiliidtearsdai rlkuaarntaantaahs

diterbltkannya Osamu Serei No. 44 oleh pemerintah
pendudukan Jepang (Nugroho Notosusanto dalam

A Soemarmor 2001: 58).

KEIBODAN, laki-laki yang berbadan sehat, kuat,
berkelakuaan baik, untuk membantu tugas dari

kepollsian.

A SEINENDAN, diambil dari kalangan pelajar, sebagi baris

belakang untuk mengamankan pertahanan dalam

peran9.

Seluruh pemuda di Jawa, secara otomatis dididik

kemiliteran dan dimasukkan dalam organisasi Djawa seinendan

dengan melakukan latihan-latihan fanatis dan indoctrinasi

Jepang secara efektif. Di Magelang didirikan sekolah-sekolah

Jepang yaitu:

a) Sekolah calon guru (shrhan gakko)
b) Sekolah menengah pertama (Tsu Gakko)
c) Sekolah pertanian (no-gakko)
d) Sekolah bahasa Jepang (zokyu nippono gakko)

3. Perjuangan Flelawan Pendudukan Jepang

Tanggal 6 Agustus 1945 bom atom d'tjatuhkan di Hirosima
menewaskan 78.000 orang. Kemusian disusul 9 Agustus bom
atom kedua dijatuhkan di Nagasaki, dan mengakibatkan Jepang
menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus
1945. Pada bulan-bulan mendekati jatuhnya penjajahan Jepang

Dpeni uMhategrejaladni gkepteagraangpaenmdiimkoptain-komtaelaMkaugkealanngkdeagniaStaemnauranntugk.

memberontak Jepang dengan cara: melakukan penyusupan

kedalam pemerintahan Jepang, mendirikan usaha berupa kedai
makan yang sering digunakan untuk menyelenggarakan rapat

dan pertemuan rahasia melawan pemerintah pendudukan

Jepang (Wiyono, dkk, 1991: 39).

Berita penyerahan Jepang kepada Sekuhr dan Proklamasi
diterima masyarakat Magelang dengan kebimbangan. Hal ini

disebabkan di kota Magelang sendiri tentara Jepang masih

berkuasa, sedang pemerintahan sipiljuga berjalan biasa seperti

tidak terjadi apa-apa. Pemuda Magelang yang tergabung
dalam"Barisan Pelopor" terdiri dari AIm. Dr. Mardjaban, W.

Sumowarsito, Adisunjojo, Sahid, Sulito, Kusman dan Abdulkadir,
langsung mengadalon perundingan pada tanggal 19 Agustus
L945, membicarakan mengenai langkah-langkah yang harus
dilakukan menghadapi perubahan politik yang mendadak itu
(ARSIP Sejarah Peristiwa Magelang, KODAM VII/DIPON EGORO).

Proklamasi kemerdekaan di Magelang diumumkan 13

September 1945. Proklamasi ini berdampak pada timbulnya
masalah baru yang menuntut untuk segera diselesaikan.

Permasalahan itu adalah, pemindahan kekuasaan dari Jepang

(kalau perlu dengan perebutan) dan usaha memperoleh senjata.

Tindakan pertama yang mereka ambil adalah melakukan
penempelan bendera merah putih secara serentak diseluruh

wllayah Magelang.

B. PENGAMBILALIHAN KEKUASAAI{

Pada tanggal 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan

Kemerdekaan Indonesia (PPKI) membentuk Komite Nasional

Indonesia (KNI) yang bertugas untuk menyelenggarakan
pemindahan kekuasaan pemerintah dari tangan Jepang ke
tangan Rebuplik Indonesia. Sedangkan Komite Nasional

Indonesia di tingkat karesidenan dipimpin oleh dr. Mardjaban,
den gan anggota ny terd i ri da ri Tartib Prawirodirdjo, Su mowa rsito
sebagai rketua KNI kabupaten Magelang dan Adi Sundjono
sebagai ketua KNI kota Magelang. Selain KNI di Magelang juga
dibentuk Badan Keamanan Rakyat dibawah pimpinan Daidancho
M. Sarbini. Dalam rapat rahasia KNI dan BKR di Gedung Pemuda
Jalan Poncol, diputuskan akan diselenggarakan pawai massa ke

kantor karesidenan guna mendesak Shuchokan

SgamLlahWchU

(Reisden) R.P. Suroso agar menyatakan dengan resmi karesidenan

Kedu sebagal baglan darl wllayah Rebuplik Indonesia. Ribuan

penduduk Magelang pada tanggal 3 September 1945 malam

mengadakan pawal obor menuju ke gedung karesidenan tempat

tinggal R.P. Soeroso. Dl depan massil penuduknya R.P. Soeroso

menyatakan secara resml bahwa laresidenan Kedu menjadi

bagian dari wllayah Indonesia.

Pada tanggal 5 September 19+5 Femerintah Rebuplik

Indonesia mengangkat R.P. Soeroso menjadi Gubernur Jawa

Tengah. Sebagal reslden Kedu perhma diangkat Mr. Sujudi dari

Semarang. Tetapl pada kenyataannp R.P. Soeroso harus

merangkap jabatan sebagai Gubemur dan sebagai residen dan

tetap berdlam dlgedung residen Magelang. Hal ini dikarenakan Mr.

Sujudi tidak segera menduduki posnla di Magelang. meskipun

hanya sebentar kota Magelang pernah menjadi ibukota Propinsi

Jawa Tengah tempat keduduhn Gubernur. adian ini berulang

pada tahun1946 pada saat kanbr Gubemur Jawa Tengah yang

berkedudukan di Semarang dikuasai oleh Belanda dan selesainya

perang kemerdekaan.

Berdasarkan pernyataan RP. Soeroso pada tanggal 3

september 1945 dan penganEkatannya sebagai Gubernur Jawa
19{5Tengah pada tanggal 5 September
pengambilalihan

kekuasaan sipil di karesidenan kedu mulai dilakukan. Proses

pengambilalihan pemerintah sipil dan aparatrrya pada umumnya

berjalan tanpa kekerasan. Tetapi adakalanp cara srobotan pun

terpaksa dilakukan sepertinya penyerobotan terhadap pemancar

radio milik Kompetaidi kantortdpon Magelang.

C. ilTSIDEtI BETTDERA IIIERAH PUTIH DI

HOTEL NITAKA
Fertempumn laut lawa antara pasukan Jepang yang

menguasai pulau Jawa, dengan pasukan kolonial Hindia Belanda

yang berusaha mempertahankan pulau Jawa, dimana

pertempuran ifu dimenangkan oleh pasrkan Jepang. Akan tetapi

,Wt<oraW@

dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu tanggal 14 Agustus

L945, wilayah Indonseia termasuk Magelang terjadi kekosongan

kekuasaan.

Setelah proklamasi kemedekaan secara otomatis aparatur
pernerintah Sipil di Indonesia telah dikuasai sepenuhnya oleh
bangsa trndonesia. Di daerah seperti Magelang para Bemuda dan

pegawai negeri berhasil menEambil alih kekuasaan di kantor-

kantsr jawatan pemerintah. Pada bulan September L945 secara
de facto militen Jepang masih berfungsi karena rnereka masih
bersenjata lengkap. Nakamura Butai yang bermarkas di Jalan
Kartini masih lengkap persenjataany?, sedang Kenpetai (Polisi
Militen JepanE) yang bermarkas dl Jalan Tidar (sekarang SKKA
Kristen) masih terlihat menyeramkan. Dalam srJasana yanE
demikian itu pada tanggal 23 September L945 dirnarkas pemuda

lalan Poncol. Sekelompok pemuda mengadakan rapat dan
mengambil keputusan untuk rnengadakan aksi penempelan

plakat Merah Putih di kota Magelang,
Malam harinya para pemuda bekerja keras membuat plakat

merah putih dan menempalkan diberbagai tempat yang telah
ditetapkan, sehingga keesokan harinya dinding -dinding gedung
di sepanjang jalan raya telah dihiasi plakat Merah Putih" Dalam
aksi di Hotel Nitaka (sekarang gedung KOWIL9T KEDU) di jalan
Poncol yang menjadi markas RAPWI didingnya tak luput dari
tempelan Merah Putih. RAPWI (Recovery of Allied Prissoners of
War and Interness) merupakan badan Sekutu yang bertugas
mengurusi para tawanan tentara sekutu yang ditawan Jepang.
Pada pertengahan bualan September 1945 sekelompok kecil

orang-orang MPWI telah tiba di Semarang dan Magelang

mendahului pendaratan tentara sekutu. Di Magelang orang

RAPWI bermarkas di hotel Nitaka dengan dikawal oleh prajurit

Jepang bersenjata.

Tanggal 23 September 1945 kelompok pemuda

mengadakan rapat di markas Pemuda Indonesia Maluku (PIM),
di depan gedung Guesthous Zipur. Salah satu keputusan yang
diambil adalah para pemuda mengadakan penempelan plakat
Bendera Merah Putih diseluruh kota dari kelurahan Kramat

Sgata6l<,ok MEekng

yang pallng utrra hlngga kelurahan Tidar yang paling selatan
(Adiwiratmoko, 1998:7-9). Tanggal 24 September 1945 pukul
11.00 WIB seorang pemuda sedang melintas di depan Hotel
Nitale, mellhat scorang prajurit sedang menyobek plakat

bendera merah putlh yang ditempel di depan dinding hotel
NITAKA. Hotel lnl merupakan markas MPWI (Relief Action

Prisoners of War ang Intemess) nitu pasukan sekutu yang

bertugas menanganl para tahanan perang dan hasil rampasan

perang yang dUaga serdadu Jepang. Melihat hal itu ribuan

pemuda darl pelosok Magelang menyerbu hotel Nitaka dengan
bersenjatakan bambu runclng menunhrt prajurit yang menghina
bendera nasional dihukum (Pemda Kab. Magelang, t974: 53).

Kedua belah plhak mengadakan perundingan di Markas

Kompeitei (Polisl Mlllter Jepang) di jalan Tidar (gedung SMP
Wiyasa). Perundingan berlangsung antara pemimpin pejuang
(Pak Tarib) dengan komandan lOmpeitei (Kolonel Mamuru).
Perundingan ini pun gagal, karena pihak polisi merasa sudah

tidak mempunyai wewenang unfuk menghukum serdadu
Nippon, Jenderal Nakamura-lah yang berhak menangani

masalah ini, dan disini pun perundingan tetap tidak memuaskan
masyarakat Magelang terutama para pemuda (Pemda Kab.

Magelang, L9742 t3). Malam harinya tokoh pejuang

mempersiapkan segala sesratu unfuk pelaksanaan upacara
bendera pada esok hari. Nyonyah Raden Kolbiun menjahit
bendera merah putih yang berasal dari bendera Kepanduan
Bangsa Indonesia (KBI) di kampung Meteseh, dan menyiapkan
tiang bendera yang berupa tiang telfon milik kantor telfon
Magelang (Adiwiratmoko, 1S8: 5).

Pada tanggal 24 September 1945 siang hari sekitar jam

12.00 sekitar jam 12 siang, seonng prajurit Jepang yang
mengawal Markas RAPWI menyobeki plakat merah putih yang
ditempel didinding gedung itu. Perbuatan prajurit Jepang itu

dilihat oleh beberapa orang pemuda yang kebetulan melewati

gedung tersebut. Kemudian mereka melaporkan kejadian
tersebut pada kawan-kawannlm sehingga berita ini menyebar

.fgam61<okW{ary

luas ,dalam waktu singkat. Melihat kejadian tersebut para

pemuda rnenjadi marah karena tersinggung rasa kebangsaannya

sehingga terjadi perang mulut antara pemuda dengan prajurit

Jepang tersebut, Dengan spontanitas dan rasa kesetiakawan
yang besar para pemuda yang lain yang melihat kerumunan itu
Iangsung meneriakkan : "SIAP...', *SIAP...", maka dalam waktu

sekejap saja berbondong-bondong massa pemuda membanjiri

tempat itu. Massa raffit berteriak-teriak menuntut agar prajurit
yang menghina bendera nasional itu dihukum. Bermacam-

macam teriakan massa yang memprotes tindakan prajurit

Jepang itu sehingga situasi menjadi sangat runyam.

Melihat kondisi yang genting, pihak Jepang langsung

mendatangkan pasukan Kenpetai untuk melindungi markasnya
dari serbuan para pemuda. Dari sini pihak Jepang mencoba

mengajak berunding antara pimpinan pemuda dengan

perwakilan pasukan Kenpetei. Perundingan tidak mendapatkan

kesepakatan, sehingga kedua belah pihak sepakat untuk

meneruskan perundingannya ke Markas Kempeitai (Polisi Militer

Jepang) di Jalan Tidar. Sementara itu di depan Hotel Nitaka
sudah penuh dengan massa dan masih terus bertambah
memenuhi Jalan Ahmad Yani dan sekitar hotel. Setelah

mendengar pengumuman bahwa perundingan akan dilanjutkan

itke markaS Kompetai Tidar, massa menyambut dengan

teriakan-teriakan : "kita ikut", "kita ikut", omari kita ke Kompetai".

Rakyat dan pemuda kemudian mulai bergerak kearah

selatan melewatijalan alun-alun timur depan kentor pos sambil

berteriak-teriak mengajak "siapa yang merasa bangsa Indonesia

ikut". Massa terus bergerak melewati jalan pemuda sampai

perempatan pasar Rejowinangun membelok ke kanan menuju ke

markas Kompetai di Jalan Tidar. Perundingan diwakili oleh

pimpinan perjuangan Pak Tartib dengan Kolonel Mamuru dipihak

Jepang. Suasana menjadi tegang ketika serdadu-serdadu

Kompetai bersiaga dengan senjata bersangkur di sepanjang

markasnya. Beberapa delegasi masuk ke markas dan massa

menunggu dlluar, massa terus beftambah membawa senjata, seperti

, sabit, tongkat, bambu runclng, tombak dan sebagainp. Dengan
kondisi sepertl lnl cacl makl, berbagai hianaan antara pemuda

dengan Kenpetaltldak blsa dlhlndarkan lagi.

Perundlngan yang terJadl dl Markas ini temyata tidak membawa

hasil. Seorang pemlmpln pemuda mengkomando massanya menuju

Markas Nakamura Butal. Secara serentak para pemuda langsung

bergerak menuJu markas tersebut di Jalan IGftini. Tetapi para
pemuda lnl tadak langsung menuju ke Jalan Kaftini, mereka

berdemonstrasl dulu melalui jalan Pecinan, Jalan Poncol, Wates,

Tuguran, Pungkuran baru menuju ke markas Nakamura Butai. Dalam

perundingan ini plhak Indonesia diwakili oleh R. Panji Suroso (eks

Rediden Kedu) . Sambil menunggu hasil perundingan, diluar mass
Imnedraohnpeutsihiabelfr'te-rlak"-Hteirdiaukp meneriakan semboyan: *Hidup

Indonesia!!' 'Indonesia
Merdeka'_"Hidup Pak Roso"! ! ! dan Iain-lain.

Gambar 5.1
Sekitar Balai Kota Masa Ferang Kemerdekaan

Sumber: Dokumen Bapak Suwondo
SgamLlhtaMgehng

has'ltlad hasil perundingan tersebut R.Panji Suroso mengumkan
kepada rakyat dalarn Pidatonya. Ia menjelaskan bahwa

perundingan tersebut tidak mencapai kata sepakat dan

hasfl pun tidak seperti yang diharapkan. Untuk itu Suroso

mMeh.himbau massanya untuk terus berjuang dan pantang

me kan harinp tanggal25 September 1945 R.PanjiSuroso

k rakpt beramai-ramai mendaki Gunung Tidar guna

tnen iharkan Sang Merah Putih di puncak Tidar. Ajakan ini

lang disambut baik oleh pemuda. Mereka berduyun-duyun
me Gunung Tidar dengan membawa Bambu runcingdan
se am lainnya. Sekitar jam 5 pagi upacara penaikkan

Merah Putih di puncak Gunung tidar telah dilakukan. Hak
di bahini ksudlon untuk memberitahukan
daerah tersebut
sudah njadi wilaph Indonesia dan mendahului pengibaran

a .ttla Jepang, dalam artian menurunkan kekuasaan Jepang di

upacara ini berlangsung secrra khidnnat, banyak
nd uk yang mengahadiri upacara ini meneteskan air mata.

me brharu akan perjuangan yang harus mereka hadapiuntuk
pai kemerdekaan ini bukanlah suatu hal yang mudah. Tapi
s izin dari Tuhan Yang Kuasa akhirnya kemerdekaan bisa

dicapi.

um sampai selesai penduduk menuruni lereng Tidar, tiba-

tiba h diberondong tembakan-tembakan dari serdadu Jepang
ya mecah kesunyian. Hal ini dikarenakan terjadi cekcok
a empat prajurit Jepang yang ingin menurunkan bendera

Melah h dari bukit Tidar. Secara spontan maksud dan langkah

sehipat serdadu tersebut mendapat perlawanan dari rakyat,
pertempurantidakdapatterelakaanlagi.
pat prajurit Jepang tersebut tak kuasa mengahadapi
amukan pemuda. Mereka lari masuk kedalam markasnya dan
dilalqrkan pengejaran oleh para pemuda. Dari peristiwa ini

mmlmfulkan semangat yang besar pada diri pemuda, meskipun

harya bersenjatakan tajam dan lemparan-lemparan batu, para

pernuda Udak lagi memiliki perasaan takut terhadap serdadu
bercenjata lengkap. Menghadapi serbuan para
Jepalg png

W6lhtaWfu

pemuda lnl paeukan lcnpeftai menjadi panik. Pasukan ini

memberondong para pemuda yang hanya berjarak 50 meter dari

markasnya dengan tembakan-bmbakan. Tak terlakan lagi 3 orang

pemuda gugur seketlka dan sebelas pemuda mangalami luka

parah. Sehlngga dalam perlsfiwa Udar ini menelan 5 orang pemuda

yang gugur. Mereka adalah: (gugur25September1945)
(gugur 25 September 1945)
1)Koesnl (gugur 25 September 19,15)
2) DJalus
3) SoeJoed

SIamet4) Samad Sastrodimedjo (gugur 27 September 1945)

5) (gugur 27 September 1945)

Akibat perlstlwa ini kesaUan Kenpetai di Magelang terpaksa

dipindahkan ke Ambarawa. Hal ini dimaksudkan untuk

menghindari balas dendam dari pemuda yang lebih besar Iagi.
Insiden Tidar ini tidak berhenti begitu saja, tetapi peristiwa ini
merupakan titik awal perjmngan parc pemuda untuk menentang

kemiliteran Jepang yang bemda di Indonesia.

Pada awal bulan oktober 1945 mulailah berkobar bedagai
pertempuran dari berbagai drerah untuk melucuti senjata dan

menentang pendudukan Jepang di Indonesia. Ini semua dilakukan

dengan tujuan untuk menegaH<an kedaulatan yang telah berhasil
direbutnya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bertagai

pertempuran yang bergeiolak untuk mengusir militer Jepang
antara lain terjadi diSurabrya pada tanggal 1 Oktober 1945; Solo
tanggal 3 Oktober 1945; Yogpkarta tanggal 6 OKober 1945,

Magelang tanggal 13 OlGober 1945 dan pertempuran itu akhirnya

memuncak di Semarang pada tanggal 14 OKober 1945.

D. MELUCUTI SETUIATAJEPANG

Berbagai peristiwa pertampuran yang terjadi di seluruh

wilayah Indonesia ini mempengaruhi besar terhadap situasi di
Magelang. keberanian para pemuda dari berbagai daerah ini

menggugah keberanian pernuda Magelang melakukan hala yang

sama dengan melucuti semua senjata dan mengusir

Jepang dari daerahnya. Dalam pelucutan senjata tersebut yang
menjadisasaran utama adalah Kepolisian Jepang. Kepolisisan ini
beranggotakan orang-orang Indonesia dan Jepang. Bagi orang

Indonesia yang mau diajak bekerjasama, merekalah yang
pertama kali melakukan pelucutan senjata terhadap teman-

temannya di kepolisian itu. Kegiatan ini menghasilkan 200 pucuk
senjata yang disimpan digudang Jepang Jal Kejuron No. 5.

Keberhasilan ini semakin membakar semangat pemuda

untuk terus maju menghadapi pasukan Jepang. Dengan 200
pucuk senjata tersebut berarti BKR telah memiliki kekuatan

untuk berhadapan dengan Jepang secara Iangsung.

E. MENGHADAPI INGGRIS DAN NICA

Tanggal 13 Oktober t945 merupakan masa yang

membahagiakan bagi rakyat Magelang dikarenakan mereka

telah berhasil melucuti senjata-senjata Jepang. Keberhasilan ini
seakan-akan melepaskan beban jiwa mereka yang terhimpit oleh

penjajahan Jepang, Tetapi kebahagiaan itu tiba-tiba musnah

dengan kedatangan Inggris dan NIC,A pada tanggal 18 Oktober
tr945 ke kota Magelang. Kedatangan pasukan NICA dan Inggris

ini mengakibatkan pecahnya pertempuran Tidar yang

menewaskan kedatangan pasukan NICA dan Inggris ini

men ga ki batka n peca hnya pertem puran Tidar ya n g menewaska n
sedikitnya 100 orang dan diantaranya 87 orang penduduk.

l. Latar Belakang

Pada tanggal 18 Oktober 1945 dibawah pimpinan Brigadir

Jenderal Bethell pasukan sekutu yang terdiri dari pasukan

Inggris mendarat di Semarang. Dimana pada saat yang

bersamaan sedang berlangsung pertempuran antara pemuda

Indonesia berusaha mengusir Jepang dari Semarang, yang

kemudian dikenal dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Dengan pendaratan pazukan sekutu di Semarang ini, secara
tidak langsung menguntungkan rnasyaralot Indonesia untuk

$pmfilbkMger7

mempercepat proses berakhirnya pertempuran melawan

Jepang.

Sebelum kedatangan pasukan sekutu ke Indonesia

pemerintah Rcbubllk lndonesia telah mengeluarkan pernyataan
bersedla bekerJa sama dengan pasukan sekutu di Indonesia asal
tidak ada pasukan Belanda atau alat kekuasaan Belanda yang

ikut dalam pasukan sekutu. Sikap politik yang ditempuh
pemerintah Indonesla lnl adalah dalam rangka perjuangan

diplomasl untuk mendapatkan simpati dan pengakuan sekutu

dan pengakuan dunla Internasional terhadap kemerdekaan

Indonesla. Letnan Jenderal Christison selaku Panglima pasukan

pendudukan Sekutu dl Indonesia menyadari bahwa ia tidak

memiliki pasukan cukup untuk menolak tawaran Indonesia. Dan

sebelum pendaratan itu dilakukan, melalui radio Singapura

sekutu menyatakan bahwa pemerintah Republik Indonesia tidak

akan diakhiri dan diharapkan Indonesia dapat melanjutkan

pemerintahan slpil di daerah-daerah yang tidak diduduki

pasukan Inggris. Selain itu pasukan Inggris juga tidak akan

mencampuri persoalan intern Indonesia serta membawa pihak
Indonesia dan Belanda ke meja perundingan untuk menciptakan
kerjasama yang baik. Pernyataan Cristhison ini dapat diartikan

sebagai suatu pernyataan de facto terhadap pemerintah

Rebuplik Indonesia.
Dengan pernyataan sekutu tersebut, kedatangan pasukan

sekutu di Semarang ini disambut baik oleh KRT. WonEsonegoro

sebagai Gubenur Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan berdasarkan

kesepalotan politik dengan pemerintah Rebuplik Indonesia
mengatakan bahwa, Pasukan sekutu bersedia mengakui

kedaulatan Negara Indonesia dan sebaliknya pemerintah

Indonesia bercedia membantu untuk mendapatkan berbagai

fasilitas perumahan dan bahan makanan. Maksud dari
kedatangan pasukan Inggris di Semarang ini adalah untuk

menjalankan tugas-tugas dari sekutu yang terdiri dari:

1) Menerima penyerahan Jepang terhadap sekutu
2) Membebaskan tawanan perang dan tahanan sekutu
3) Melucut tentara Jepang dan mengembalikan mereka

,flgarufi|<otaWtry

ke tanah airnya

4) Memelihara perdamaian dan kemudian menyerahkan

kepada pemerintah Sipil.

Berdasarkan kesepakatan yang terjadi antara inggris dan

IIBelanda dan pada saat Perang Dunia masih berkobar,
pemerintah Pelarian Hindia Belanda di Australia telah

merencanakan pembentukan Nedherland Indies Civil
Administration (NICA). Pasukan NICA ini merupakan bagaian
dari pasukan sekutu yang ditugaskan di Indonesia dan akan

menjelma menjadi pemerintahan Hindia Belanda. Sesuai dengan

pasal 4 dalam persetujuan Civil Affair Agreement tanggal 24
Agustus 1945 isi kesepakatan tersebut adalah *Pemerintah

sekutu akan menyerahkan pemerintah sipil kepada pemerintah

Hindia Belanda apabila tugas yang diberikan telah selesai".

Pada saat pelaksanaannya rencana tersebut mengalami
hambatan yang besar. Hal ini disebabkan, sebelum kedatangan

pasukan sekutu ke Indonesia dan setelah mendengar

penyerahan Jepang terhadap sekutu, Soekarno Hatta telah

memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Guna

menindaklanjuti peristiwa proklamasi, maka dibentuklah

pemerintahan Rebuplik Indonesia dan mengambil alih aparatur

pemerintahan sipil. Inilah yang menjadi problema pasukan

Inggris selaku pasukan sekutu dalam menjalankan tugasnya di

Indonesia.

Dalam pelaksanaannya pernyataan Cristhisonitu tidak
sesuai dengan yang diharapkan dengan persyaratan yang
diajukan pemerintah Rebuplik Indonesia. Pada awal bulan
OKober 1945 pendaratan pasukan sekutu di Jakarta ternyata

diboncengi oleh NICA, dan secara terbuka Belanda mendirikan

kantor markas tentaranya di Jakarta. Akibat memudarnya

kepercayaan pemuda Indonesia terhadap Inggris bahkan

mereka mencurigai Inggris untuk mengembalikan kolonialisme
di Indonesia, maka pemuda menempuh jalan kekerasan untuk

menentang pendudukan Inggris di Indonesia. Hal ini memicu
terjadinya berbagai insiden pertempuran di berbagai daerah

seperti Surabaya, Semarang dan Magelang.

2, Ingldcn Prilcmpurun

Tanggal 26 Oktober t9{5 pasukan Inggris tiba di
Magelang dengan mendudukl gedung-gedung penting

dikawasan Magelang Utara. Gedung itu adalah Kompleks

Kader School (klnl menJadl KODIKI-AT Kodam VII Diponegoro),

Hotel Nltaka (Kowll 97 Kedu), gedung susteran dan kompleks

perumahan mlllter dl Badaan. Di daerah Badaan, Inggris
mendirikan markas tentaranp (sekarang menjadikediaman

Gubernur AIGBRI Darat). Sejak zaman Jepang kompleks

Kader School telah diJadikan tempat untuk menampung orang-

orang sekutu yang menJadi tawanan Jepang. Di Jawa Tengah

Magelang menJadi pusat penampungan sekutu terbesar

bersama Semarang dan Ambanawa.

Kedatangan pasukan Inggris di Magelang disambut oleh

rakyat dengan rasa was-was dan kecurigaan. Dengan
semangat kebangsaan yang meluap-luap para pemuda

bersiaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang
terjadi dengan pasukan sekutu ini. Dalam pikiran mereka

terbesit pertanyaan: 'Benarkah pasukan Inggris datang kesin!

hanya untuk mengurus taryanan saja atau ada maksud-
maksud yang tersembunyi dibalik tugas yang diberikan

sebagai tentara sekutu??', Insiden ini pecah ketika pasukan

Gurkha melakukan tindakan provokatif dengan menggeledah

rumah-rumah penduduk pada tanggal 28 Oktober 1945.

Kondisi Magelang semakin panas dipicu oleh
penggeledahannya yang dilakukan oleh tentara Gurkha di

desa Ngentak menembak dan melukai dua orang pemuda.

Suasana semakin panas dengan didengarnya berita di
Surabaya meletus pertempuran antara pemuda dengan

Inggris pada tanggal 28 OlGober 1945 kemudian disusul di

Semarang pada tanggal 30 Oktober 1945. Keadaan ini

membulatkan tekad rakyat Magelang untuk mengusir Inggris
dari daerahnya dan berujung pada meletusnya pertempuran
takdi Magelang yang
3l OKober 1945. dapat dihindarkan lagi pada tanggal

9garufr?QkW@

3. MenakarKekuatan

Badan-badan perjuangan dan orjanisasi-organisasi
kepemudaan sejak awal kemerdekaan sudah terbentuk.

Orga n isasi-orga n isasi i ni terd i ri da ri seca ra sponta nitas mem bela

air seperti Badan Keamanan Rakyat, Tentara Rakyat Mataram,

Angkatan Muda Rebuplik Indonesia, angkatan Pemuda

Indonesia, Barisan Pemuda Indonesia yang secara spontanitas

membela air. Kesatuan semua barisan ini dibutuhkan guna

mencegah terjadinya masuknya penjajahan yang Iebih besar

lagi. Badan Keamanan Rakyat dibentuk berdasarkan keputusan
dari rapat panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada

tanggal 22 Agustus 1945.

Badan Keamanan Rakyat ini bukan tentara melainkan korps
pejuang bersenjata yang memiliki tugas formal untuk menjaga

dan memlihara keamanan bersama rakyrt. Para komandan

Badan Keamanan Rakyat ini kebanyakan berasal dari eks tentara
pelajar Pembela Tanah Air (Peta) pada masa Jepang. Komandan-

komandan tersebut antara lain: Sarbini, Soerjosoempeno,
Maryadi, Ahmad Yani, Sarwo Edhie dan lain-lain. Badan
Keamanan Rakyat ini bisa disebut juga sebagai embrio dari

tentara.
Ketika pertempuran meletus, Tentara Keamanan Rakyat

(TKR) masih dalam proses pembentukan. Meskipun secara
formal TKR telah didekritkan pembentukannya oleh Presiden
pada tanggal 5 OKober L945, tetapi untuk realisasinya masih
membutuhkan waktu. Realisasi tersebut baru terlihat pada
tanggal 20 Oktober 1945 baru dilakukan Pengangkatan Staf
Umum TKR yang bertugas untuk menyusun organisasi TKR oleh

Oerip Sumoharjo. Tanggal 5 November 1945 Oerip Sumohardjo

baru selesai menyusun dan mengumumkan kepangkatan-

kepangkatan yang ada dalam tubuh TKR.

Pada saat pasukan Inggris masuk di Magelang, pasukan
pemuda dari berbagai daerah mulai mengalir masuk ke

Magelang untuk memperkuat pertahanan pasukan pemuda di

daerah ini. Dari arah Yogyakarta pasukan pemuda dibawah

pimpinan Chu Dan Co (Komandan Kompi) Peta Soeharto, dari

8gna61<oh xtytf^ry

TRM dibawrh plmplnan Bung Tardjo, dari Purwokerto pasukan

BKR dlplmpln oleh Daldanco (Komandan Batalyon) Peta

Sudirman (yang kemudlan harl dlangkat menjadi Panglima Besar

TKR) dan darl Magelang sendiri mengalir pasukan Hisbullah

Sabillillah dlbawah plmplnan H.Alwi dan H. Syirod. Dengan

kekudtan pasukan pemuda mencapai 10 batalyon, tetapidengan

persenJataan yang sangat mlnim.

Peftempuran dl Magelang dilakukan tanpa mengenal taktik

dan kesatuan komando.Yang mereka lakukan hanya mengepung

dan menembak tentara Inggris saja. Sebagian besar dari mereka

tidak pernah mendapatkan pendidikan kemiliteran, hanya tekad

dan keberanlan yang mereka kedepankan untuk mengusir

tentara Inggrls. Darl pasukan pemuda ini hanya pemuda eks

Peta dan Helho saJa yang mendapatkan pendidikan kemiliteran

pada zaman Jepang tanpa adanya pengalaman dalam

pertempuran. Dari gambaran ini sangat berbeda jauh dengan

pasukan yang dimilikioleh tentara Inggris.

Inggris dibawah pimpinan Brigadir Bethell memiliki pasukan

profesionaldalam pertempuran seperti pertempuran di Burma

dalam menghadapi Belanda. Bethel sendiri merupakan seorang

artileris yang tanggurg, memiliki perwira yang terdidik dalam

sebuah tradisi militer. Brigade Bethel terdiri dari Batalyon
Infanteri Kumaon dan Resimen Anti Tank India ke-II yang

ditempatkan da Semarang. Sedangkan di Magelang dan

Ambarawa sendiri ditempatkan batalyon Gurkha sebanyak 500

personil dibawah pimpinan Letnan Kolonel H.G. Edwardes.

Dalam pertempuran di Magelang inggris mendatangkan bantuan

dari semarang dan ambarawa sebesar dua peleton infanteri

Gurkha dan sejumlah kecil pasukan anti tank dengan
persenjataan yang lebih lengkap bila dibandingkan dengan

pasukan Pemuda.

Kelebihan dari pasukan pemuda pada masa itu adalah
smeemmapnegrtaaht ajnukaanngkeymanegrdetiknagangibaunn!tuak membela dan
dan tanah air.

Pengabdian yang mereka lakulon ini benar-benar tanpa pamrih,

mereka merasa rendah diri bila dalam pertempuran

tidak ilut keluar rumah untuk berjuang. Meskipun hanya

l<an bambu runcing dan senjata tajam secara beramaF

ramal ilort mengepung Inggris diMagelang. Fara ibu-ibu dan gadis-

gdm tldak mau ketinggalan ikut berjuang, mereka dengan cara
ro)rong mendirilon dapur umum dan Palang Merah png

prr diseluruh lota Magelang. Sehingga para pemuda dalam

tittak pusing memikirkan perbekalan, dimana mercka

m disiU didirikan dapur umum secara cuma-cuma oleh

rakat skitar. l'hl ini berbanding terballk dengan pasukan
Inggris, meskipun persenjataan mereka lengkap tetapi

uarg mereka sudah mulai mengendur. Setelah Ferang

dunh $ berakhir rnereka sangat merindukan pulang ke kampung

Mru.mhalaman untuk bertemu dengan keluarganya. Ini semua
udahhn pemuda-pemuda dalam mengusir Inggris dari

4, puran Be r

babn-tembakan disebelah timur kota magelang mengawali
Frran png di*sul dengnn tembakan-tembakan diseluruh
k&" Ribuan pemuda png bersiaga diluar kota segera masuk ke
lffidahrn
unilk mengepung pertahanan Inggris di Hotel Nitaka,
l(om Badaan dan KaderSdool. Pasukan Inggris dengan prajurit
Gurl&anp bertahan dan berusaha memukul mundur setbuan

lan pemuda dengan hujan tembakan dan gempuran moftir.

Gmr$ran mortir ini meryghancurkan markas pemuda di jalan

Ternan ung dan markas pasulon pemuda di kabupaten. Berikut ini

r yang diperoleh dari Letjen Sarwo E Berikut ini memoir yang

di dari Letjen Sarwo Edhle selaku komandan BKR Punruorejo

),ang iktdalam peristiwa peftempuran di Magelang:

'""........pa*kan kami benkedudulon di gedung Kabupaten

tan dengnn kedudulon Inggris di Hotel Nitaka dan
$&ran......

*(armi berbhan ditempat lain, tidak maju pun tidak mundur.
Setiap usaha dari kami untuk menyeberang jalan, pasti akan

dihr&ni oleh tembakan gencar dari Inggris. Sudah ada

sejumlah pcmuda darl pasukan kami yang gugur waktu

henda k menyebera n gl Ja la n unh,rk menyerbu, jenazah mereka
terkapar dfialan sampal beberapa hari, karena tidak ada yang
beranl mengambllnya............

Kaml mendapatkan senJata mitraliur 23 di atas menara air di

alun-alun. Darl tempat ketinggian itu kami mendapatkan

keleluasaan pandangan untuk menembaki tempat kedudukan

Inggrls dl Susteran, Hotel Nitaka dan bahkan di Kader

School...........

Tetapl servaktu Inggris membalas dengan tembakan mortir

terpaksa kaml menurunkan kembali senjata tersebut.

Serangan mortir Inggris juga dihrjukan ke lobupaten. Dengan

jelas sap menyaksikan betapa atap kabupaten pecah hancur

terkena ledakan mortir.............'

lGdudukan pasukan Inggris sernakin terisolir dengan

kepungan-kepungan yang dilancarkan dari arah Yogyakarta dan
Semarang. TerbuKi dari bantuan paukan Inggris yang harus
didatangkan lewat udara karena dengan pertitungan melalui jalan

darat pasukan ini tidak mungkin bisa menerobos pertahanan
pemuda l/ang sangat rapat. lGrena sernakinsempitnya daerah
kelcrasan Inggris di Magelang mengakihtlen banyak perbelolan
Inggris yang jatuh ke tangan pemuda. lGsah peftempumn di
Magelang ini juga diceritakan oleh sumber Inggris dalam buku

'TheTwentyThird Indian DMsion', antara Iain berisi:

o........Pertempuran yang paling sengit terjadi di ekitar

kedudukan l(ompi A yang sejak permulaan telah terputus

hubungannya dengan pasukan-pasuhn lainnya dan walaupun

dibantu dengan serangan-serarqan udara fang gencir,

'perang'Jawa yang pertama baru dapat berhenti dengan

datangnya gelap malam. Sernentara itu Kompi A yang

Grkurung masih bertempur mati-mati,an dan makin terkurung

dilagi, sedangkan pasukan lainnya telah dipalaa meninggalkan

kedudukannya sebelah utara kota. Tentara

W*t<okWfry

Gurkha bertempur dengan gagahnya. Seorang kopral
penembak launcer terkurung bersama seksinya didalam

sebuah gedung yang tidak memenuhi syarat untuk
pertahanan dan berhasil memukul mundur gelombang

seranganyang bertubi-tubi selama tiga belas jam; bahkan

pernah satu kali para penyerang yang seperti kemasukkan
setan itu berteriakteriak dalam jarak hanya 10 yard, tetapi

seorang pr{urit penembak muncul dari sebuah jendela

terbuka dan berhasil memaksa para penyerang itu mundur
dengan tembakan otomatis yang gencar. Kopral lainnya
berhasil mempertahankan posnya selama tiga puluh enam
jam sebelum bantuan tiba......"

Sumber Inggris tersebut juga menceritakan bahwa

walaupun bantuan dari Semarang telah datang tapi kedudukan
Kompi A masih dalam kondisi yang tertekan. Hal ini diperparah
dengansemakin menipisnya persediaan peluru yang mereka
miliki, sepertiyang ditulis dibawah ini:

o..............persediaan peluru sudah semakin habis dan
berita yang diterima dariJakarta pada hari itu (1 November
1945), memberitakan bahwa batas waKu terakhir bagi
pasukan Magelang untuk dapat beftahan adalah pukul
L2.00, kecuali bila persediaan peluru dapat didrop dari

udara.........baru pada tengah hari persediaan amunisi dapat

diterjunkan di atas kota Magelang. Pembekalan Iewat udara

itu tidak berjalan dengan lancar sebab mendapat

perlawanan dari pihak Indonesia, bahkan dua pesawat udara

kembali ke Jakarta dengan beberapa Iusi lubang peluru
dibadannya. Dengan demikian jelaslah bahwa cerita

mengenai pertempuraan di Jawa tersebut bukan hanya

sekedar cerita belaka.......'

Guna mengatasi situasi kitis ini Inggris terpaksa meminta

bantuan pasukan Kidobutai Jepang dari Semarang, ini
merupakan suatu tindakan yang sebenarnya melanggar

ketentuan hukum yang berlaku. Inggris sengaja memanfaatkan

rasa dendam dtn kcmarahan Kldobutai kepada pemuda dengan

memanfaatkan raea dcndam dan kemarahan Kidobutai kepada

pemuda dalam pcftcmpuran Llma Hari di Semarang (14-19

Oktober 1945) dcngan memberi informasi bahwa di Magelang
pemuda telah membunuh serdadu-serdadu Jepang yelang

pemuda telah membunuh serdadu-serdadu Jepang yang

ditawannya. Semua lnl terpaksa dilakukan Inggris dikarenakan

di Semarang pasukannya Juga sedang terlibat pertempuran

dengan pemuda. Inggrls. Akibat informasi tidak benar yang

diberikan Inggrls kepada paukan Kidobutai Jepang

mengaklbatkan penduduk Magelang yang tak bersalah menjasi

korban amaukan keganasan emosi Jepang.

5. Korban Berlatuhan

Keganasan pasukan Jepang dengan bersenjatakan lengkap
ini menerobos masuk pertahanan pemuda didaerah bos masuk

dipertahanan pemuda didaerah Badaan sebelah utara sebanyak

tujuh truk. Sesampainya Badaan pasukan Jepang

Sesampainya di Badaan pasukan Jepang terbagi dalam

kelompok-kelompok kecil dan berjalan kaki menuju daerah

Potrobangsan, Badaan, Tulung, Dukuh dan Boton. Didaerah ini
mereka melakukan pengeledahan mencari pemuda. Ratusan
pemuda yang berhasil ditangkap kemudian ditawan di Badaan.
Bila mereka melihat pemuda yang bersenjata atau membawa

bambu runcing, secara spontan serdadu Jepang

memberondongnya dengan tem bakan-tembakan.
Keganasan Jepang terhadap penduduk Magelang antara lain

terliahat dalam peristiwa di Tulung. Ketika berkonbar

pertempuran rumah pak Lurah dijadikan dapur umum

diberondong juga oleh serdadu Jepang. Padahal di rumah ini
pernah dijadikan tempat pertemuan antaPadahal di rumah ini

pernah d'ljadikan tempat pertemuan antara pak Sarbini, Pak Yani
dan Pak Soeryosoempeno pada tanggal 1 November 1945. Hari
berikutnya setelah meletusnya pertempuran di rumah pak Lurah

ini sedikitnya terdapat 10 orang pemuda yang sedang

beristirahat.

Pada saat jam 12-an siang terdengar aba-aba tentar Jepang
disekitar rumah Pak Lurah. Dengan kagetnya para pemuda ini
berhamburan lari kebelakang rumah unturk menyelamatkan diri.
Narnun naasnya tujuh orang pemuda gugur dalam insiden ini
tertembak oleh peluru dan bayonet Jepang, sedangkan Pak
Lurah dan beberapa pemuda lainnya berhasil rneloloskan diri.

adian yang sama juga dialami oleh penduduk Potrobangsan,

Badaan, Dukuh dan Boton yang menewaskan 87 orang

penduduk setempat. Sedangkan jenazah mereka baru bisa

d ikebumi kan seha ri sete Ia h berakhi rnya pertem pu ran.
Tanggal 3 November 1945, merupakan hari berkabung bagi

rakyat Magelang, dalam kondisi cuaca yang mendung disertai
rintik-rintik hujan penduduk mengantarka iring-iringan jenazah
menuju makam Giri Loyo. Karena jumlahnya yang banyak proses
pemakaman ini belangsung sampai malam dengan nyala obor.
Berdasarkan data yang termuat pada harian Kedaulatan Rakyat

Yogyakafta tanggal 5 November 1945dapat dilihat jumlah

koi"ban yang meninggal kurang lebihh tujuh orang wanita, tiga
orang laki-laki berusia kira-kira 60-78 tahun, empat orang anak-
anak dan tiga orang pelajar SMP magelang (sekarang SMPN 1).

6. encatanSenjata

Bulan-bulan pertama proklamasi kemerdekaan rnerupakan
hari-hari yang sibuk dan menegangkan bagi Presiden Soekarno.

peBaru setengah hari tiba diJakarta, dari usahanya menghentikan
puran di Surabaya,malam harinya tanggal 31 Oktober ia

di telpon dari pimpinan tertinggi sekutu di Jakarta untuk

menghentikan pertempuran di Magelang. Pada tanggal 1

Novembar 1945 presiden terbang ke Semarang didampingi oleh

Menteri Penerangan Amir Syarifudin dan Sekretaris Negara

Pringgodigdo dengan maksud menemui Panglima Sekutu lawa

Tengah Brigadir Jendral Bethell. Tetapi dari arah Semarang
presiden langsung menuju Yogyakarta mengadakan

musyawarah dengan Kepala Staf Umum lendral Urip

Sumohardjo, Kepala Markas Besar Magelang M. Sarbini dan

$pmfi?<okxkjefary

beberapa tokoh Magelang lalnnya seperti Tartib Pawirodirdjo,

Legowo dan Sayutl Mellk. Pertemuan ini diadakan di Hotel

Merdeka dan dlhadlrl Srl Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri

Paku Alam VIII. Pertemuan ini membahas pertempuran yang

sedang terladl dl Magelang dan menghasilkan kesepakatan

untuk segera menghentlkan pertempuran. Setelah berunding

2dengan waktu yang cukup lama dengan Brigadir Bethell di

Semarang, akhlrnya tanggal November 1945 dicapai
persetujuan genJatan senJata yang terdiri atas 12 Pasal yang

terdiridarl:

1. Kedua belak plhak akan menaati suatu persetujuan

yang memuat garis-garis perjanjian dan aturan

terperlnci leblh lanjut akan segera disusun oleh suatu

Badan Penghubung (Kontak Komite) yang

beranggotakan 9 orang terdiri dari 5 orang Indonesia

dan 4 orang Inggris.

2. Sekutu akan tetap menempatkan pasukan secukupnya

di Magelang yang jumlahnya ditentukan oleh keputusan

Panglima. Pasukan ini bertugas melindungi dan

memberi makan dan mengurus evakuasi pasukan

RAPWI.

3. Pasukan Inggris akan menempati daerah tertentu yang

ditunjuk oleh Badan Penghubung, yang keamanannya
menjadi tanggung jawab bersama antara sekutu, polisi

dan TKR. Oleh karena itu orang Indonesia yang

memasuki daerah tersebut tidak boleh bersenjata.

Pendudukyang melakukan kejahatan diwilayah itu akan

ditangkap dan diserahkan kepada polisi Indonesia.

4. Orang-orang Jepang yang masih berada di Magelang
akan disingkirkan dan dikembalikan ke tempat

pengangsingannya di kota Semarang.

5. Jalan raya Magelang-Ambarawa terbuka oleh kedua

belah pihak dan tidak boleh diberi rintangan.

5. Pihak Indonesia bersedia member fasilitas kepada

MPWI.

7. Inggris akan segera melakukan pengangkutan

terhadap evakuasi MPWI dari Magelang dan jika

pekerjaan tersebut selesai pasukan itu akan ditarik dan

dlpindahkan.

8. Pihak sekutn tidak mau mengakui aKivitas NICA dalam
badan-badan yang ada dibawah perintah pasukannya.

Oleh karena itu setiap orang yang terbukti menjalankan

aktivitas NICA akan segera dikeluarkan dari aktivitas

ketentaraanya.

9. Pihak Indonesia bersedia mennberikan fasllitas telfon

yang cukup meliButi telekomunikasi antara rnarkas

besar sekutu di Magelang dan Semarang.

10. Semua perselisihan yang tidak dapat diputuskan oleh
Badan Kontak diserahkan kepada Gubernur Jawa

Tengah dan Panglima sekutu di Semarang untuk

memberikan keputusan bersama. Namun demikian

semua insiden yang akan terjadi menjadi

tanggungjawab kedua belah pihak dan merekalah yang
berkewajiban merundingkan guna mengambil tindakan

bersama.

11. Setiap waKu bila dipandang perlu, Badan Kontak
segera mengadakan perundingan untuk membahas

beberapa masalah yang terjadi. Keputusan-keputusan
yang akan dilaksanakan harus dilaporkan terlebih
dahulu kepada Panglima sekutu dan Gubernur Jawa

Tengah diSemarang.
12. Akhirnya kedua pejabat tinggi di Jawa Tengah tersebut

percaya bahwa perjanjian itu akan dipenuhioleh kedua
belah pihak dan mengharapakn tercapainya hubungan

dan kerjasama yang baik antara pihak-pihak yang

bermusuhan di Magelang (dok. Pemkab Magelang:

1es3).
Bila dilihat dari segi politik persetujuan ini menguntungkan,

tetapi sebaliknya bila dilihat dari segi kemiliteran justru
melemahkan kedudukan Indonesia. Persetujuan ini
menekanlon bahwa Presiden Soekarno atau Pemerintah

Indonesia lebih menekanlon perjuangan politik atau diplomasl

daripada Jalan pcrJuangan bersenjata. Kenyataan ini juga

tercermln darl ls! pldato Preslden Soekarno di radio yang

dilakukan setclah satu Jam penandantangan persetujuan

tersebut dan dlsusul oleh pldato Kepala Staf Umum TKR, menteri
Penerangan, Gubernur Jawa Tengah dan Panglima Bethell dari

Pihak Inggrls. Semua menyerukan agar taat kepada

pimpinannya dan menghentikan pertempuran, namun disana-
sini maslh terdengar tembakan dari kedua belah pihak.. Pidato
presiden Soekarno Itu berbunyi:

"saya tldak menyatakan bahwa saya tidak menghargai
semangat saudara-saudara. Saya mengetahui bahwa

saudara-saudara mendasarkan usaha saudara atas alas an

yang saya hargal. Tetapi ada cara Iain untuk mencapai
kepuasan hati saudara-saudara itu. Saya perintahkan disini,
supaya saudara-saudara menurut perintah ini. Hentikanlah
Pertempuran!". Dikuip dari harian Suara merdeka, Jakarta,

tanggal 3 November 1945.

Sedangkan yang dimaksud oleh Presiden Soekarno dengan

cara Iain ini adalah perjuangan melalui jalan Diplomasi dan

Politik. Dimana pemuda lebih suka menempuh melalui jalan
perjuangan bersenjata. Kenyataan membuktikan bahwa
kemerdekaan dan kedaulatan Negara bisa dicapai berkat kedua
cara perjuangan tersebut yang saling melengkapi. Berkat usaha

Presiden Soekarno ini keesokan harinya tanggal 2 Nopember

1945 pertempuran di magelang menjadi reda.

Sore hari di markas tentara Inggris di Badaan diadakan

pertemuan antara Presiden Soekarno, Bridjen Bethell, Pak Oerip

Soemoharjo dan para komandan pasukan pemuda. Dalam

pertemuan ini mereka berdialog seperti yang dikutip oleh Bung
Tardjo agar rakyat Indonesia dapat menentukan sendirijumlah
dan tempat tentara pendudukan Inggris. Tuntutan inipun ditolak

oleh Bridjen Bethell dengan alas an Inggrispun tidak bisa

menentukan jumlah pasukan TKRdan polisi.

ssamitakW@

7. fnggris ltlundur

Untuk meredakan kecurigaan pemuda Bridjen Bethell
menyatakan bahwa pendudukan sekutu si Jawa Tengah tidak
akan diperluas. Dan apabila tugasnya telah selesai mereka
akan menarik mundur pasukan dari Magelang dan Semarang
(dikutip dari harian warta Indonesia Semarang, tanggal 8
November 1945). Presiden Soekarno juga memberi jaminan

kepada rakyat tentara Inggris tak akan mendudukiYogyakarta.

Jaminan ini diberikan Presiden Soekarno setelah ia

mendapatkan persetujuan dari pimpinan sekutu di Indonesia.

Di Semarang dua orang penrira Inggris terbunuh.

Peristiwa ini dijadikan dalih untuk melakukan serangan besar-

bsaran terhadap pemuda di Semarang. Hal ini bnerakibat

pada meletusnya pertempuran di Semarang pada tanggal 21
November 1945 melawan Inggris. Dalam pertempuran ini
Inggris melancarkan serangan dari darat, laut dan udara.
Ditengah situasi yang gawat ini tiba-tiba pasukan Inggris di
magelang pada tengah malam ditarik mundur ke Ambarawa
dengan tujuan untuk membantu pertempuran di Semarang.
Pasukan Pemuda tak membiarkan begitu saja pasukan Inggris
mundur ke Ambarawa. Mulai saat itu konsentrasi pemuda di

Magelang dipindahkan ke Ambarawa untuk mengepung

pasukan Inggris di kota tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk

mengusir tentara Inggris dari Ambarawa.

F. IIIE]IGHADAPI AGRESI BELAilDA

Pada awal tahun 1946 pemerintah Rebuplik Indonesia

merintis perjuangan Diplomasi guna mendapatkan pengakuan
dari dunia Internasional. Dalam tahun ini dilakukan genjatan
senjata drngan menghasilkan perundingan Linggarjati. Pada

masa belanda sudah melakukan kecurangan, mereka

menggunakan waktu perundingan ini utuk melakukan erbagal
laUhan kemiliteran guna memperkuat pasukannya yang berada

di Indonesia. Setelah pasukannya dirasa siap melakukan

V*61<otaxqhA


Click to View FlipBook Version