The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-04-18 22:18:40

Masjid Kuno di Jawa Tengah

Masjid Kuno di Jawa Tengah

BADAN ARSIP DA PERPUSTAKAAN
PROVINSI JATENG

CB-D.12
8-1016/3163-2010

Drs. Bambang Sugiharto, M.Pd(Ed) ~~,..; ~'~~t
Budi antosa, S.Sos

Drs. udaryanto
~oko Dwi Nugroho, SE

rn~"'Jlta •

. fa jid adalah salah satu sarana pelibadatan yang sangat penting
ehidupan umat Islam. Masjid yang menempati posisi penting bagi
lam tersebut maka banyak bangunan rnasjid dibuat cukup indah dan
. Keindahan masjid dapat dilihat dari segi keindahan arsitektur, ragam
- maupun legenda pendilian.
Keberadaan bangunan masjid khususnya di Jawa Tengah tersebar
. rbagai daerah dan perkembangannya telah berlangsung lama. Kondisi
_.at budaya masyarakatJawa telah mempengaruhi bentuk keanekaragaman
jid tersebut. Penelimaan budaya lakal dalam bentuk bangunan masjid
mbuktikan Islam tidak identik dengan kekerasan dalam penyebarannya,
tetapi Islam marnpu rnengakamadir budaya lakal dalam penyebarannya.
Sifat penyebaran Islam tersebut terkait erat dengan jasa dan peran para
'aHsango yang mengembangkan Islam di tanah Jawa.
Keberadaan Masjid Kuna Jawa Tengah cukup banyak tersebar.
Koleksi lepas dari masjid kuna yang indah, unik dan tidak temilai harganya
ersebut diantaranya terdapat di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.
Oleh karena itu, melalui penulisan ini diharapkan dapat menjadi infarmasi
keberadaan masjid kuna yang!ersebar di Jawa Tengah.

_ala A'..............,. Kebudayaan D!n Pariwisata-
aura Tengah

ering dipahami hmwa berfokus pada tiga unsur utama
~'lldt1la.mgnya, yaitu: peristiwa, tokoh, dan tempat. Namun masih

ang sering dilupakan, yaitu artefak sebagai bukti' historis
1 terjadi. Sebagai bukti historis, artefal< manjadi sangat
I;%:::::::~ rncakrlanya; mengingat tanpa bukti yang konkrit sebuah peristiwa
diimajinasikan secara faktual. Hanya saja adakalanya artefak
ulit dimaknai dan/atau dipahami secara kontekstual, lebih-Iebih
anoan awam yang bekal pemaknaannya kurang. Disinilah esensi
'c::sr:am menjadi tampak, mengingat di dalam kesehariannya artefak tidak
ah juga merupakan koleksi museum. Itulah sebabnya, sebagai
l~::.xl..ga pelayanan publik, museum tidak saja bertug(\.s mengumpulkan-
~-~_"";-'rnpandan merawat- melestarikan tetapi juga berkewajiban mengkaji
mengkomunikasikan hasil kajian agar keberadaan koleksinya dapat
@'arulIni'oleh,masyarakatluas.
Demikian pentingnya arti pengkajian koleksi museum bagi
rn2tSVlifakat maka Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendukung perlunya
gkajian dan penerbitan hasH kajian-kajian koleksi museum dilakukan
berkesinambungan. Tahun 2008 ini Museum Jawa Tengah

iii

Ranggawarsita melakukan tiga kajian koleksi dan satu transkripsi -dan
transliterasi naskah klasik untuk diterbitkan menjadi buku-buku yang
berjuduI:

1. Pakinangan, koleksi Museum Jawa Te~gah Ranggawarsita

2. Masjid - masjid Kuna di Jawa Tengah
3. Museum Ranggawarsita Sebagai Media Pembelajaran Berbasis

kompetensi di SDl¥i, SMP/MTs dan SMA/Ma; dan

4. Transkripsi dan traliterasi Serat Babad Cina
Terbitnya buku-buku ini menyusul terbitan-terbitan sebelumnya

tentu saja belum mampu memenuhi ketercukupan keutuhan masyarakat,
baik dari sisi oplah maupun pokok bahasannya, namun kesungguhan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di dalam mengupayakan penyebarluasan
informasi kajian koleksi museum sebagai pusaka warisan budaya kepada
masyarakat akan senantiasa dilakukan dari tahun ke tahun. Dengan harapan
terbitnya buku-buku ini mampu menambah bobot bagi upaya pelestarian
nilai-nil-ai luhur budaya, upaya membentuk karakter, dan memperkokoh
jatidiri bangsa.

Akhimya kami memberikan apresiasi kepada semua pihak yang
telah mendukung terbitnya buku-buku, kajian koleksi museum ini. Terima
Kasih

Pada kesempatan ini, karni menyampaikan ucapan terima kasih
kepada semua.

IV



Sambutan
Kepala Museum Jawa Tengah
Ranggawarsita

Seraya mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT, penuEs buku
ngkajian koleksi museum dapat paripuma sesuai rencana. Tahun 2008 ini,
. useum Jawa Tengah Ranggawarsita mengkaji beberapajenis koleksi dan
nerbitkannnya menjadi empat judul buku, satu di antaranya diterbitkan
ngan judul "Masjid-masjid Kuna di Jawa Tengah"

Keberhasilankegiatan pengkajian sampai dengan penerbitan
n lisanjudul ini tidak lepas dari usaha keras tim yang bertugas di lapangan

kerjasamanya dengan pihak-pihak yang terkait, khususnya dengan para
gelola masjid kuna di berbagai tempat di Jawa Tengah. Dewasa ini,

nya upaya melakukan renovasi bangunan lama, termasuk di antaranya
1id, kehilangan makna dan jatidirinya sebagai bangunan warisan budaya.

o h sebab itu, mendokumentasi, mengkaji, dan memperkenalkan kepada

arakat.
Upaya memperkenalkan keberadaan, mengkaji, dan menerbitkan

rn masjid kuna di Jawa Tengah melalui tulisan ini, diharapkan agar
::: erasi muda lebih memahami, memiliki rasa kebanggaan, dan memiliki

handarbeni terhadap peninggalan budaya pendahulunya. Selanjutnya
buh perasaan untuk berpartisipasi dalam rangka pelestarian dan

v

useum

~

oharnot<?, M.Pd. -
NIP. 131636836

vi



Daftar lsi

AKATA Hal
~.""'lYII>UTAN KEPALA DINAS KEBUDAYAAN
1
PARIWISATA PROVINSI JAWA TENGAH
Jr1l1YIIJUTAN KEPALA MUSEUM JAWA TENGAH 111

GGAWARSITA v
AFfAR lSI vii
AFfARFOTO ix
AFfAR GAMBAR '
X111
lPENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Pennasalahan 1
C. Tinjauan Pustaka 2
Tujuan 3
Ruang LingkUp 7
Metode Pengumpulan Bahan Penulisan 8
9
ABll ISLAMDIJAWATENGAH
Masa Awal Islam di Jawa Tengah 11
11
. Penyebaran Islam di Pedalaman 13
Perkembangan Islam di Jawa Tengah di Era Global 15

vii

BAB III MASJID KUNA DI JAWA TENGAH 17
A. Deskripsi MASJID KUNA DI JAWA TENGAH 17
17
1. Masjid Agung Kabupaten Dema~ 31
2. Masjid Mantingan, Kabupaten Jepara 38
3. Masjid P. Abinowo, Pekuncen, Kabupaten Kendal 50
4. Masjid Ki Ageng Selo, Kabupaten Grobogan 63
5. Masjid Kauman Gogodatem, Bringin, Kabupaten. Semarang 84
6. Masjid Santren, Muntilan Kabupaten Magelang 98
7. Masjid Santren, Bagelen, Kabupaten Purworejo

B. RAGAM IDAS MASJID KUNA 107

BAB IV ANALISIS LINGKUNGAN DAN ADAPTASI 121
ARSITEKTUR MASJID KUNA 121
123
A. Lingkungan 127
B. Bangunan Tradisional Jawa 128
C. Bangunan Pra Sejarah 130
D. Bangunan Hindu
E. Analisis Bangunan Masjid Kuna

BAB V PENUTUP 139
A. Kesimpulan 139
B. Saran 142

PUSTAKA 143

Vlll



aftar Foto

Hal

- 0: 1 Masjid Agung Demak awal Abad 19 18
20
0:2 Candra sengkalan berbentuk kura - kura
23
LO: 3 Bentuk Luaf Masjid Agung Dernak
25
0:4 Sokoguru Sunan Kalijaga 25

0: 5 Wuwungan Ruang Uta-rna Masjid Agung Demak 27
27
f 0: 6 Miyab Masjid Agung Demak
30
0:7 Maksuro Masjid Agung Demak 34

0: 8 Menara Masjid AguQg Demak 35
36
:9 Ruang Utama Masjid Mantingan
37
:10 Rl:lang Samping Masjid Mantingan Jepara
39
0: 11 Migrab Masjid Mantingan Jepara
42
0: 12 SeJ:"ambi Masjid Manting-an lepara 43

0: 13 Masjid Sunan Abinowo Khusus wanita Tarnpak. Depan 44

Kab. Kendal

0: 14 Sebelah-Kiri Mahkota Masjill untuk Wanita.

Sebelah-Kanan Mahkota Masjid untuk P~apada

Masjid-Sunan Abinowo, PektlocenKai>. Kendal

Foto~ IS Umpak Masjid.:p. AbinowoKab~ Kendal.

Folo: 16 Seeclan Kiri pintu ke Gudang, S6belan Teng;lh Migrab

-dan sebelah Kanan 'fempat KotbahMasjidP Abinowo,

Kab. Kendal .

Foto: 17 Tempat Kotbah Masjid P. Abinowo Kab. Kendal 45
Foto: 18 Masjid P. Abinowo Kab. Kendal. 47
FolO: 19 Tempat Wudhu dan MCK Masjid P. Abinowo,
49
Kab. Kendal 49
Foto: 20 Tempat Wudhu Pria Masjid P. Abinowo Kab. Kendal
Foto: 21 Tempat Pendidikan di Kompleks Masjid P. Abinowo 49
50
Kab Kendal
Foto: 22 Masjid Ki Ageng Selo, Kab. Grobogan 52
Foto: . 23 Prasasti Pemugaran Masjid Ki Ageng Selo 55
56
Kab. Grobogan 57
. Foto: 24 Sokoguru Masjid Ki Ageng Selo Kab. Grobogan 59
FolO: 25 Migrab MasjidKi Ageng Selo Kab. Grobogan 61
Foto: 26 Tanda Sof pada Sketsel 62
FolO: 27 Umpak pada Masjid Ki Ageng Selo Kab. Gr~obogan 64
Foto: 28 Tiang Serambi Ditopang oleh Umpak
Foto: 29 Bagian Dalam tempat Wudhu 72
Foto: 30 Masjid Kauman, Gogodalem, Bringin, Kab. Semarang
Foto: 31 Kontruksi Lambang gantung Masjid Kauman, 73

Bringin Kab. Semarang 75
Foto: 32 Sokoguru Masjid Kauman, Gogodalem,
76
Bringin Kab. Semarang
Foto: 33 Umpak Kayu Masjid Kauman, Gogodalem, 76

Bringin Kab. Semarang 77
Foto: 34 Tangga pada sokorowo Masjid Kauman, Gogodalem,
80
Bringin Kab. Semarang
FolO: 35 Atap Brunjung dan pasak tiang Masjid Kauman, 82

Gogodalem, Bringin Kab, Semarang 85
Foto: 36 Lubang Angin di Migrab Masjid Kauman, Gogodalem,

Bringin Kab. Semarang
Foto: 37 T(olam Air Masjid Kauman, Gogodalem,

Bringin Kab. Semarang
Foto: 38 TPQ At Taqwa di Kompleks Masjid Kauman,

Gogodalem, Bringin Kab. Semarang
Foto: 39 Masjid Kyai Krapyak I Dusun Santren Gunungpring,

Muntilan, Kab Magelang

x

Mahkota Bangunan Utama Masjid dan Pengimamam 89

Sokoguru Masjid Krapyak I Dusun Santren Gunungpring,

Muntilan, Kab Magelang 90

_ Migrab Masjid Santren, Kab. Magelang 92

Tiang Serambi Masjid Krapayk Ditopang dengan Umpak

Tempat Berwudhu Masjid Santren, Kab. Magelang 93

Tempat Berwudhu Masjid Santren, Kab. Magelang 94

- Kolam air Depan Masjid 96

Kolam Air Samping Masjid 96

Halaman Masjid untuk Parkir Pengunjung 97

MI Ma'arif, Gunungprihg, Muntilan. Kab. Magelang 97

9 Masjid Santren Bagelen, Kab. Purworejo 98

Mahkota Bangunan Utama Masjid 101

Sokoguru dan Umpak Masjid Santren,

Bagelen. Kab. Magelang 102

Migrab Masjid Santren, Bagelen Kab. Purworejo 104

Pembatas Sholat Wanita 105

Tiang Serambi Masjid Santren Bagelen. Kab. Purworejo 106

Tempat Sesuci Masjid Santren Bagelen, Kab. Purworejo 107

: -6 Kaligrap. di atas pintu masuk Masjid Kauman,

Gogodalem, Kec. Bringin, Kab Semarang 110

Kaligrafi di Masjid Ki Ageng Selo 111

. -8 Kaligrafi Kata Bahasa Jawa pada Maskuro Masjid 112

. -9 Hiasan Lung pada lubang antara Atap

Masjid Ki Ageng Selo 113

: 6 Hiasan Lung pada Mimbar Masjid P. Binowo Kendal 113

: 61 Hiasan Lung di Minbar Masjid Santren Kab. Magelang 114

: 6 Kaligrafi Prasasasti pada Sokorowo

Masjid Santren Bagelen, Purworejo 114

: 3 Hiasan Wajikan pada Balok Penghubung Sokoguru 115

Hiasan Wajikan pada Mimbar Masjid Abinowo, Kendal 115

- 65 Hiasan Tlancapan di Masjid Santren Bagelen,

Kab. Purworejo 116

: 66 Hiasan Tlancapan Ujung Balok Tiang

di Masjid Santren Bagelen, Kab. Purworejo 116

Xl

Foto: 67 Hiasan Patran pada Lisplang Atap Masjid -Santren-,

Kab. Magelang 11-7

Foto: 68 Hiasan Patran pada Mimbar Masjid Santren

Kab. Magelang 117

Foto.: 69 Hi-asan Padma pada umpak Masjid Agung, Demak 117

Foto: 70- Hiasan Padma .pada Umpak Masjid Santren, Magelang 117
~'Foto: 71 Hiasan- Kebenan pada Pagar Masjid Santren ,

Gunung Pring, Kab. Magelang 118

Foto: 72 Hiasan Kura-kura pada Atap Masjid Agung Demak 119

Foto: 73 Hiasan Gajah distilir Koleksi Museum Jawa Tengah

Ranggawarsita 120-

Foto: 74 -Hiasan Angsa Omamen Masji-d Mantingan, Kab. Jepara 120

I Foto~ 75 Kemuncak Masjid Agung Demal<: 131

Ii

[,

"
II

..

xii

Gambar: 19 Masjid Tajug Tawon Goni 135
Gambar: 20 Masjid Tajug Semar Sino.gsong 135
!Gambar: 21 Masjid Tajug Semar Sinongsong Lambang Gant~ng 135
.Gambar: 22 Masjid Tajug Sinom Semar Tinandu ·136
Gambar: 23 . Masjid Tajug Lawakan Lambang Teplok 136
Gambar: 24 Masjid Tajug Tiang Satu Lambang Teplok 136
Gambar: 25 Masjid Sederhana 138

XlV

.-

PENDAHULUAN

lakang.
baran dan perkembangan Islam di Jawa Tengah melalui
. sarana dan pra sarana. Salah satu sarana yang ada adalah
~"'r;f.~. Iasjid adalah sarana tempat ibadah yang cukup penting bagi
--............ ~.~4.4.&.L.I.. Di Jawa Tengah, keberadaan masjid tersebar di berbagai
. pesisir Utara sampai dengan pendalaman. Di antara masjid
anyak pula yang telah berumur ratusan tahun, bemilai sejarah
emiliki kekhasan kekunaan tersendiri. Kekhasan dari kekunaan

masjid dapat dikatakan merupakan bentuk kesinambungan
ri zaman dan masa keemasan sebelum pengaruh Islam masuk
aitu zaman pra sejarah, Hindu dan Budha.
__",,·.&.&"ng dengan perjalanan waktu yang terus bergulir, bangunan

,

ilihat dari sejarah, bentuk masjid maupun ragam hias yang
~L·1.LJi.......,.,-.L_..,.. bangunan masjid telah menarik. untuk diketahui. Aneka

ntuk bangunanmasjid ada yang bercirikan lckal atau mendapat
h budaya dan lingkungan alam setempat dan ada pula bangunan

g telah mendapat pengaruh asing baik dari Arab, Cina maupun
cpa.

1

•Keberadaan dan sejarah masjid tersebut diberbagai fempat telah

terekam dalam berbagai cerita, legenda dan naskah seperti Babad
Tanah Jawi, -Kisah legenda Ki Ageng Sela, Legenda Bagelen dan lain

.,

sehagainya. Semua itu, merupakan tinggalan budaya yang tak tell1ilai
harganya dan sedikit dapat menguak takbir pembangunan sebuah masjid
dan perkembangan Islam di Inasyarakat, -khususnya di Jawa Tengah..

Bangunan masjid seperti halnya ;feligi lainnya seperti candi, pura,
gereja maupun v-ihara adalah merupakanliving monumel1(yaitu bangunan
yang tetap .dipeI'gunakan sesuai dengan fungsi utarna bangunan tersebut
dibuat. Masjid sebagai living lnonUllzent bagi umat Islam terdapat
ajaran yang -menyatakan bahwa suatll ternpat atau bangunan yang telah
diikrarkan menjadi masjid maka bangunan tersebut tak boleh beralih
fungsi 'selain untHk tenlpatibadah.

Selain masjid sebagai living 11l0nUlnent, masjid sebagai bangunan
religi, hila telah memenuhi l<riteria atau persyaratan benda eagar budaya
n1aka bangunan tersebut da-pat dikatakan pula lnuseU111 in situ. Masjid
Kuna, sebagai bangunari living Inonunlenl dan -InUSeU111 in situ, maka
diperlukan keterlibatan upaya pelestarian - berbagai llnsur Inasyarakat
dan instansi-instansi ter-kait.

B. Permasalahan.
13erdasarkan -latar belakang tersebut di .atas, permasalahan yang dikaji
-adalah:
1. -Bagaimana -bentuk-bentuk masjid k-una yang ada di 1aw-a Tengah?
2. Bagaimana bentlik ragam 1rias yang ada cli masjid k-una?
3. "Bagaimana bentuk.adaptasl bangunan masjid terhad'!P bangunan

tradisign,al?

2

__... __30 Pustaka
ses penganalisisan permasalahin akan berjalan dengan baik

~........'... a diketahui pengertian-pengertian dasar dari permasalahan yang
............;..;...:::;,.~~at. Selain itu, penggunaan kerangka pemikiran dari para ahli

nelusuran pustaka terkait dengan pemasalahan yang ada akan
~.....~.... ,-,ah nilai hasil akhir tulisan. Terkait dengan tersebut, maka

p •an masjid, dan arsitektur yang menjadi titik utama dalam
'pejmtlahasan tulisan sangat penting untuk diketahui.

ta masjid berasal dari sebuah kata dari bahasa Arab yaitu sajada.
~JalJ[a dalam bahasa Indonesia berarti tempat untuk persujudan. Oleh

da kebiasaan dari sebagian orang suku Jawa bahwa pembunyian
-ata a diubah menjadi e, maka di masyarakat Jawa Tengah dalam
tIei~a.ulan sehari hari dalam bahasa Jawa kata masjid terkadang disebut
GeiJg~lD kata mesjid. Penggunaan kata yang berbeda-beda oleh orang

rsebut tetap tidak merubah arti yaitu tempat untuk sujud atau
ti luas kata n1asjid tersebut berarti tempat untuk melakukan

da awalnya, pengertian umum dalam agama Islam tentang masjid .
mengandung makna gedung atau bangunan apapun. Hal ini

......,,~j~kan berbagai ucapan Nabi Muhammad SAW yang diantaranya
dalam Hadits Ibnu Majah dengan nomor Hadits 745 yang

"""._llI.,..........nyi "AI ardi kulluhu masjidu....'''. Artinya, "semua permukaan
InillDJ' masjid (tempat sujud)..... Untuk memperkuat bahwa masjid pada

abi dapat tidak berbentuk bangunan juga dapat dilihat dalam.

IIU<~,-,~'Jt lainnya. Hadits Ibnu Majah (529- 530) serta Hadits Nasai dalam
...........~ Bain nomor hadits 248 terdapat suatu peristiwa sebagai berikut

eseorang dari desa sedang sholat kemudian menahan kencing tetapi
uu.r::uo..' kuat akhirnya kencing di tempat. Pada saat itu para sahabat hampir

3

marah karena tempat ibadahnya telah dikencingi. Melihat sahabat hampir
marah Nabi mencegahnya dan tetap membiarkan orang desa tersebut
untuk kencing. Dicegahnya para sahabat untuk menghardik orang desa
tersebut dimaksudkan Nabi agar orang tersebut tidak lari, sehingga
air kencingnya tidak mengalir ke mana-mana. Setelah menyelesaikan
hajatnya, orang desa tersebut dinasihati tak boleh kencing di masjid,
kemudian Nabi memerintahkan sahabatnya untuk menuangkan air
dibekas air kencing. Air tersebut langsung meresap dalam tanah.

Kesederhanan tempat ibadah padajaman Nabi tidak berarti Nabi tidak
mempunyai tempat untuk beribadah atau tidak dikenal bangunan tempat
untuk beribadah. Hal Ini terbukti bahwa beliau juga mempergunakan
Ka'bah sebagai bangunan untuk aktivitas ibadah. Selain itu pula Behau
juga mendirikan bangunan untuk masjid. Masjid pertama yang dibangun
Nabi Muhammad adalah Masjid Nabawi' .

Pengertian bangunan yang dipergunakan untuk tempat ibadah umat
Islam di Jawa Tengah, secara umum dibagi menjadi tiga yaitu lnasjid,
langgar dan lnushola. Batasan pengertian masjid dalam kehidupan
religius umat Islam di Jawa Tengah, berarti tempat atau bangunan untuk
melaksanakan ibadah terutama Inenjalankan kewajiban sholat wajib
lima waktu dan melaksanakan kewajiban sholat Jum'at berjamaah pada
waktu hari Jum'at. Sedangkan pengertian langgar adalah suatu tempat
atau bangunan hanya terbatas untuk aktivitas religius umat Islam dan
tanpa dipergunakan untuk aktivitas ibadah sholat Jum'at.

Sementara itu, pengertian mushola adalah bangunan tempat
beribadah umat Islmn yang pergunaannya hampir sarna dengan langgar.
Jadi, pengertian suatu bangunan disebut masjid tidak dilihat dari besar
kecilnya bangunan tetapi apakah bangunan tersebut dipergunakan untuk
melaksanakan ibadah sholat Jum' at atau tidak.

4

gunan tempat ibadah umat Islam atau masjid di Jawa Tengah
dari penggunaannya terdiri dari masjid Jami', dan masjid
rr.aaJ asah. Masjid Jami' sesuai dengan ~mbentukan kata maka terdiri
. ~ata Inasjid dan j ami' . Arti masjidseperti pengertian yang terdahulu,
5le{iaJJl~~Jcan kata Jami' yang berasal dari bahasa Arab Jamaah berarti
~mVlulan. Gabungan arti kedua kata tersebut maka pengertian masjid
pmru" .dak jauh berbeda dengan arti masjid itu sendiri yaitu bangunan
";'-"' dipakai untuk sholat Jum' at yaitu sholat berjamaah yang wajib
c.:1li:AaKUlKan pada hari Jum' at. Sedangkan pengertian masjid madrasah
selain dipergunakan untuk tempat beribadah sholat Jum' at,
tersebut dipergunakan untuk tempat madrasah atau proses belajar

--.-....,_ dar (Tim redaksi, 1999: 7).

~_.~entara itu, tcmpat ibadah umat Islam atau masjid di Jawa Tengah
~~Q.L dari letak di lingkungannya terdiri dati Masjid Agung, Masjid

tau masyad, dan masjid pesantren. Munculnya Pembangunan
i beberapa tempat di Jawa terkait dengan terrkait erat dengan
~_.....;a..o.A'Io4oU:. dari Sultan Agung, seorang Raja Mataram Islam yang berkuasa
~iian Jawa. BeHau memerintahkan bahwa setiap kota hendaknya

sebuah Masjid Agung sebagai tempat kumpulnya umat
ri segala penjuru kota tersebut untuk beribadah. Setiap desa
" njurkan untuk mendirikan sebuah Masjid Desa. Oleh karena
ana-mana baik itu di perkotaan, maupun pedesaan di Jawa,
a Jawa Tengah banyak terdapat masjid.
....D'I"o..,r""rtian Masjid Makam atau masyad adalah masjid yang didirikan
- mpleks pemakaman (Tim redaksi, 1999: 7). Biasanya, masjid
.. "an sebagai penghargaan kepada seseorang yang telah wafat
.a telah berjasa terhadap kepentingan umat Islam. Selain itu

rana peleng~ap bagi para peziarah yang ingin sholat.

5

Pengertian Masjid Pesantren adalah masjid yang didirikan di
lingkungan pesantren. Penggunaan masjid i.i biasanya terdiri dari orang
atau masyarakat di lingkungan pesantren tersebut.

Aneka ragam rnasjid yang ada di atas tentunya terkait dengan
arsitektur masjid. Adapun kata arsitektur berasal dari bahasa Yunani
yang terdiri dari dua kata yaitu arkhos-arehi yang berarti pernimpin,
penguasa dan tekton-teet berarti pekerja. MenurutEnsiklopedi Indonesia,
pengertian arsitektur secara umUIn adalah seni merencana bangunan
bagi rnanusia yang bemaluri, mencari keamanan dan kenyaman diri
demi kesejahteraan jiwa dan raganya, serta memenuhi kepuasan diri
mencipta suatu keindahan. (Osrifual Oesman, 2008: 386)

Conway dan Roenish membe11 pengertian yang lebih baku yaitu
ilmu dan seni membangun. lImu membangun n1enekankan pada kajian
yang objektif dan rasional terhadap lingkungan, kejelasan struktur dan
konsep yang melandasi perancangan bangunan (Osrifual Oesman, 2008:
386 -387)

Sebagai pembanding pengertian arsitektur, dalarn Encyclopedia
Britania disebutkan bahwa arsitektur adalah seni dan teknik bangunan
yang diciptakan untuk keperluan manusia yang berbudaya. Terkait
arsitetur dengan manusia berbudaya, Arnor Rapoport melihat bahwa
arsitektur adalah merupakan gejala budaya dasar, sejak awal lahir dari
kebutuhan pokok manusia dalam mencari ternpat untuk bemaung.Lebih
mendalam lagi, ia menerangkan bahv/a arsitektur adalah suatu hasil
kebudayaan dari perilaku manusia berhubungan dengan lingkungannya
atau adaptasi terhadap lingkungan dan sosial budaya (Osrifual Oesman,
2008: 386 -387)

Ada enam unsur yang mempengaruhi wujud arsitektur suatu
bangunan sebagai hasil kebudayaan. Enam- unsur itu adalah: (1)

6

graft, (2) geologi, (3) Iklim. (4) sosial kemasyarakatan, (5) agama

•kepercayaan, dan (6) latar belakang sejarah.

Sementara itu, hubungan arsitektur dengan masjid, sangat terkait
n -ep religi. Religi menurut Koentjaraningrat adalah salah satu unsur

udayaan (Koentjaraningrat, 1984: 75). Sedangkan menurut beberapa
. konsep religi dapat dibagi beberapa komponen yaitu (1) emosi
- gamaan; (2) sistem keyakinan; (3) sistem ritus dan upacara; (4)
I..,--... ~atan ritus dan upacara; (5) Vmat agama (Koentjaraningrat, 1984:

:\1elihat hubungan di atas, maka aneka ragam masjid merupakan
.iXUCUJ bentuk perwujudan nyata dari emosi religi manusia. Oleh karena

. d reIigi tersebut bersifat sakral dan menyangkut ketenangan jiwa
:= mendalam, maka unsur pembangunan masjid berbagai unsur '
rti teknik atau perhitungan bangunan maupun segi keindahan dan
~"""AL&nan dilakukan secara matang. Selain itu, penempatan n1asjid juga

itungkan kondisi lingkungan sosial budaya masyarakat sehingga
~[Ja{ dimanfaatkan umat dengan baik.

an

ngkajian dan penyusunan naskah tentang masjid kuna eli Jawa
bertujuan untuk mewujudkan visi dan misi museum yaitu

__a peduli budaya. Disamping itu, juga bertujuan:
a pengunjung museum mendapatkan informasi yang lebih
ndalam terhadap peninggalan Islam berupa bangunan masjid
a di Jawa Tengah.
ndokumentasikan tentang bangunan masjid kuna di Jawa Tengah,

...- .L.l.~gga dapat dipergunakan bahan studi lebih lanjut
,.;. ,,~I.~ginformasikan keberadaan sebagian masjid kuna di Jawa Tengah

7

dan koleksinya yang ada di Museum Jawa Tengah Raggawarsita
kepada masyarakat. Hal ini sesuai ~engan salah satu tugas museum
yaitu salah satu wahana untuk studi dan mencerdaskan kehidupan
bangsa.
4. Mengantisipasi adanya perubahan budaya terhadap tata sosial di
masyarakat sehingga para generasi muda tak terlindas arus globalisasi
dengan cara memanfaatkan hakekat sebuah koleksi museum dalam
kehidupan di masyarakat.
5. Memberikan informasi tentang masjid kuna yang ada di Jawa Tengah
sehingga dapat dijadikan salah satu objek wisata religi.

...',.,.

E. Ruang Lingkup

Materi yang akan dibahas dalam pengkajian ini adalah peninggalan

masjid-masjid kuna di Jawa Tengah. Bangunan masjid tersebut tersebar

di wilayah pesisir utara dan wilayah pendalaman Jawa Tengah. Fokus

utama bangunan masjid .di pesisir utara adalah bangunan masjid di

Demak, dan Jepara. Keberadaan masjid di tempat tersebut sangat penting

sebagai bahan studio Hal ini dikarenakan, di tempat tersebut lah pertama

kali muneul kerajaan Islam di tanah Jawa. Selain itu, bangunan tersebut

terus mengilhami bentuk-bentuk bangunan dan raganl hias masjid di

berbagai tempat.

Keberadaan masjid di kota tersebut yang sudah cukup terkenal, tidak

terasa lengkap pula apabila tanpa didukung dengan masjid-masjid keeil

yang muneul di pedesaan. Pada waktu itu, keberadaan nlasjid tersebut

yang jauh dari pusat sentral Islam terkadang umumya hampir sarna

atau bahkan lebih dahulu ada daripada masjid-masjid besar di dua kota

. di atas. Selain itu, terkadang masjid keeil tersebut berdirinya terkait

8

peran para wali atau tokoh penyebar agama saat mengembara
yebarkan Islam di pedesaan. Sebagai pembanding keberadaan
jid tersebut, maka diambil data Masjid Kauman Desa Gododalem,
4,.~..~~jid Ki AgengSelo di Purwodadi dan Masjid Pangeran Abinowo di
'w~"ILlcen Kabupaten Kendal.
eiring dengan perkembangan dan penyebaran Islam di kawasan
~C1alaman maka untuk mengungkap keberadaan masjid-masjid kuna

a Tengah maka diambil pula data masjid kuna di Magelang dan
oreja serta data-data masjid kuna lainnya yang tersebar di kawasan
~..~.,u..u..lan melalui studi pustaka.

31JelO~e Pengumpulan Bahan Penulisan
arian data dilakukan dengan berbagai Inacam cara yaitu
i, wawancq.ra, dokumentasi dan studi pustaka. Observasi
knik pengumpulan data secara langsung ke objek penelitian.
nggali data yang lebih akurat maka dipergunakan pula teknik

~:i\~nc(l.fa. Wawancara adalah salah satu teknik penggalian data
elibatkan peneliti dan informan dengan mempergunakan

~"'-"'.o..&~. \ awancara yang telah dipersiapkan. Wawancara dilakukan
truktur artinya responden dapat menjawab pertanyaan sesuai

~""""""'YUl,"'~ dan informasi yang mereka ketahui.
,_-....o.o-..:tanaan pencarian data dilapangan juga dilakukan dalam bentuk

--...........-...:.J.'-·:a.au4Ji. Cara tersebut dilakukan melaksanakan pencatatan dan
;:e!:::1J!re~mn entang objek yang diteliti sehingga memperoleh keterangan

~~. ng lebih al(urat.
u taka dalam penelitian ini juga dipergunakan guna

::::J:rnl]ialn2"~ data dan analisis penelitian. Studi pustaka ini dilakukan
-<'~!,"""" ......&._L&~ mpulkan bahan dan menelaah buku-buku dan laporan

9

terkaitan keberdaan suatu masjid di Jawa Tengah.
Melalui metode-metode tersebut di atas, diharapkan dapat terkump

data yang lebih lengkap. Data tersebut kemudian diolah, dianalis
dan akhirnya dapat berwujud suatu tuIisan yang sesuai dengan ya
diharapkan.

I10 HAnAN ARPUS PROVo JATENG]

ISLAM •
DI JAWA TENGAH'

K.etle-;r:ldlaan Islam di' Jawa Tengah melalui proses panjang dan
'!Rat::! t)~'3.2:laI- ara dalam penyebarannya. Kondisi tersebut menyebabkan

enentukan tahun berapa munculnya Islam di Jawa Tengah.
bertambah lagi apabila wilayah Jawa Tengah dikaitkan
~~-, lLletJerada n geografisnya. Geografis wilayah Jawa Tengah berada
rlintasan sosial budaya, ekonomi dan aneka suku bangsa
aupun bangsa manca. Selain itu, penyebutan administrasi
ndiri pada waktu awal masuknya Islam belum ada sehingga

tersendiri dalam penentuan batasan wilayah

al Islam di Jawa Tengah
~.~~ a\val masuknya Islam di Jawa Tengah, wilayah administrasi

a belum seperti sekarang ini, Jawa Barat, Jawa Tengah maupun
. ur belum ada dan dikenal batas wilayah yang diakui adalah

pak secara alam yaitu daerah pesisir utara, pesisir selatan dan
alaman. Pesisir adalah daerah yang ada eli sepanjang tepi .

se<langkan pedalaman adalah daerah yang ada jauh dati pantai,
di daerah dataran tinggi. Pesisir Utara kondisi alam laut
11

dengan ombak keeil dan pantai landai menyebabkan banyak aktivitas
perdagangan dilakukan. Oleh karena itu, di sekitar pesisir Utara banyak

•muneul kota-kota pelabuhan, seperti Gresik, Tuban, Rembang, lepara,

Semarang, sampai Sunda Kelapa. Adapun pesisir Selatan, kurang begitu
ramai aktivitas perdagangan karena kondisi alam laut di pesisir Selatan
memiliki ombak yang besar sehingga menyulitkan kapal untuk berlabuh.
(Djamil, 2007: 7)

Kota pelabuhan di pesisir Utara adalah awal pern1ulaan daerah
Islam m~suk. Hal ini dikarenakan p~da waktu itu sarana transportasi
utama adalah transportasi laut diantaranya kapal. Islam yang dibawa
oleh kaum pedagang baik dati semenajung Arab, Gujarot, maupun Cina
telah mendarat di berbagai pelabuhan sehingga daerah pesisirlah yang
menjadi awal persinggungan Islam. Mereka telah berinteraksi pula
dengan budaya masyarakat lokal.

Proses persinggungan Islam dengan budaya lokal telah berlangsung
lama. Pada ll1asa keraj aan Ho .ling atau Keling, ke.mungkinan
persinggungan Islam dengan budaya lokal telah berlangsung. Hal
ini dapat didasarkan eerita yang melegenda di n1asyarakat. Legenda
tersebut (}.d!1lah Ratu Sima memberi perintah untuk merigembalikan
harta seseorang yang jatuh di jalan atau menguinumkan ke khalayak
umum tentang barang temuan dan barang siapa mengambil tidak haknya
akan dipotong tangannya, walaupun orang tersebut anaknya. Prinsip-
prinsip tersebut seperti ajaran Islan1. Melihat berita· ada seorang ratu
yang memiliki kharisma seorang raja ditaati warga seperti salah satu
prinsip ajaran Islam maka pemah ada utusan dari semenajung Arab yang
ingin-membuktikan tentang kejujuran dan ketaatan warga terhadap ratu.
Ternyata utus~n tersebut membuktikan benar bahwa rakyat Ratu Sima
sangat patuh terhadap perintah Ratunya. Kedatangan utusan tersebut

J2

_ ............._,_::..n...L.nan juga telah melakukan gerakan dakwah Islam.

nda di daerah di Rembang juga telah menuturkan bahwa

aran Islam di daerah tersebut pemah dilakukan sebelum zaman
yaitu seorang ulama dari ~amudra Pasai. Legenda yang

·~tenal di daerah tersebut adalah Legenda Dewi SitiKuliyah. Pada

daerah Rembang masih berada kekuasaan Raja Brawijaya.

tiyah dengan dakwahnya telah sedikit-demi sedikit mengajarkan

. tengah-masyarakat yang memeluh agama Hindu. Daerah.

ula hutan belantara telah dibuka menjadi daerah yang subur.

JS.e9.!low:an dan keran1aian daerah dengan ajaran agama bam tersebut

enjadi daya tarik masyarakat lain untuk datang. Keramaian
'\J.~~-......... daerah tersebut di dengar Raja Brawijaya sehingga ia berusaha

---'.~J..=;..n.ap Dewi Kuliyah. Dewi Kulyah sendiri tidak tinggal diam dan

...-,...........un.an perlawanan. Namun sayang, beliau gugur dalam berjuang.

bud, 1987: 36 - 41)

nsitas penyebaran Islam di Jawa Tengah semakin berkembang

mftlj-~ telah berdiri Kerajaan Islam ~ yaitu Kerajaan Demak

pertama

il,",'l'r~-;t"',,",,",,. Dukungan dari para wali yang terkenal dengan sebutan

-ongo menambah intensitas penyebaran Islam beltambah cepat dan

__,.........,datif terhadap budaya lokal. Da~rah penyebaran Islam meluas

.......-....,..,I.&.L. ke daerah Kerajaan Majapahit di Jawa Timur.

ebaran Islam di Pedalaman
Peran tokoh agama yang tergabung dalam Walisongo tidak disangkal

membawa perkembangan Islam di daerah pedalan1an. Jurnlah
. ongo berbagai sumber menyebutkan perbedaan akan tetapi yang
berbagai petilasan dan bangunan tinggalan mereka banyak tersebar
rbagai daerah eli Jawa tengah. Tinggalan tersebut seperti, .Masjid,

13

petilasan, pondok pesantren, perdukuhan ~an lain seb~ainya. Makam
para tokoh Walisongo yang di makarnkan di Jawa Tengah di antaranya
Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria.

Selain Waliyulloh yang tergabung dalam Walisongo, di Jaw
Tengah juga mengenal kaum penyebar agama Islam hampir setara·
keilmuannya dengan tokoh Walisongo. Tokoh tersebut seperti, Syeh
Siti Jenar, Ki Ageng Selo, Sunan Katong, Sunan Pandanarang dan lain
sebagainya. Mereka juga turut menghiasi pendirian masjid maupu
sarana peribadatan umat Islam di jawa Tengah.

Penyebaran Islam di pedalarnan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh
di atas dalarn prakteknya telah rnengakon10datif budaya lokal yang ada.
Sunan Kalijaga mengembangkan wayang miring untuk berdakwah.
Sunan Kudus menciptakan Wayang Golek Purwo serta aneka ragam
tembang agarnis seperti Suluk Gregetsaut. Sunan Giri menciptakan
gamelan laras Pelog. Penggunaan wayang dan gan1elan sebagai media
siar agama oleh para waH di atas, sampai sekarang tetap dilestarikan.
Bentuk siar tersebut dapat disaksikan dalarn upacara Grebeg Sekaten di
Solo maupun di Yogyakarta.

Penyebaran bertarnbah lancar dengan berdirinya kerajaan pajang
dengan penguasanya bemama Senapati Ingalaga Sayidinna Panataganza
yang berarti panglima perang dan ulama pengatur agama. Masa puncak
dari kerajaan Mataram Islam yang dipirnpin oleh Sultan Agung dengan
gelamya Sultan Agung Ing AlagaAbdurahman telah mernbuat kemajuan,
kelancaran dan penyebaran Islam di pedalaman. Kemakmuran rakyar
Mataram Islam tidak serta n1erta membuat Raja dan pen1besar Mataram
sombong, akan tetapi tetap menjalin hubungan dengan Kerajaan Demak
yang telah mulai redup. Sebagai salah satu c.ontoh bentuk bangunan
masjid yang didirikan masih meniru bentuk Masjid Demak. Bentuk

14

~~:sud Demak tersebut terus mengilhami bentuk-bentuk masjid yang
-...:....J;'U~J oleh kerajaan.



:P=.+D"rnbangan Islam di Jawa Tengah di Era Global
embangan Islam di Jawa Tengah mengalami kemajuan yang
rarti setelah Indonesia merdeka. Pada masa kemerdekaan

-.....,'~ "'ekarang ini peran umat Islam sangat menonjol dalam kancah
berbangsa dan bemegara. Sebagai umat yang terbanyak,

sangat ditunggu dan diharapkan untuk kemakmuran, kemajuan
negara. Impletasi umat Islam untuk mewujudkan hal tersebut

rkembangnya organisasi kemasyarakatan bercorak Islam seperti
Ulama (1926), Muhammadiyah (1912), Dewan Dakwah

donesia (1967), Persatuan Islam (1923) Lembaga Dakwah
onesia (1990), dan lain sebagainya. Aneka macam organisasi
: elah pula mempengaruhi warna kehidupan dan perkembangan
. bidang kehidupan seperti perekonomian, kesehatan, pendidikan,
n lain sebagainya. Bidang ekonomi misalnya, muncul bentuk

dengan mempergunakan prinsip perdagangan Islami
ngan munculnya bank syariah. Bidang kesehatan, misalnya
laan rumah sakit Islami seperti RS Sultan Agung, RS Roemani
sebagainya. Bidang pendidikan misalnya, pengelolaan sekolah
_ at pra sekolah sampai perguruan tinggi dengan memasukkan
ama Islam yang cukup memadai. Sekolah tersebut yaitu seperti
illO.a'-",;,'~ul Anfal, Madrasah Maarif, Universitas Sultan Agung, Sekolah
-~Il::.~ Islam, dan lain sebagainya. Bidang politik yaitu menculnya
t.et:tl2,£aJ' partai politik yang n1ewamai pemilu sekarang ini seperti Partai
AS.dz:r;t~_ ~'tan Bangsa (PKB), Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP),
eadilan Sejahtera (PKS, Partai Amanat Nasional (PAN), dan

15

lain sebagainya. Guna mendukung terwujudnya kehidupan beragama
yang kondusif pihak pemerintah jug, telah membentuk Departemen
agama yang mengatur kehidupan beragama sebagai wujud realisasi Sila

,-{; .

pertama Pancasila dan amanat dari Undang-undang Dasar 1945.
Peran umat Islam diharapkan terus berlangsung di era global.

. Kecenderul1gan dampak negatif dati globalisasi yang ada dapat ditangkal
dengan iman dan taqwa umat Islam, sehingga laju perubahan dan
perkembangan bangsa dapat berj alan dengan baik tanpa meninggalkan
identitas sebagai masyarakat yang agamis. Sebagai bukti hal tersebut
adalah pendirian berbagai sekolah dan perguruan Islam di .Jawa
Tengah.

16

MASJIDKUNA
DIJAWA TENGAH

UL~n..!l\..ll SI MASJID KUNA DI JAWA TENGAH

gungDemak

asj id Agung Demak berada di pusat keramaian Kota Demak

ah kota berjarak sekitar 25 KIn dari ibu kota Provinsi Jawa

__,,~~ _"'., Semarang. Secara administratif, Masjid Agung Demak

~~, -... 00ft.- • Desa Kauman, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak.

Inya, salah satu bentuk tipologi sebuah kota di Jawa, yaitu

ng yang luas atau alon-alon sebagai.porosnya maka Masjid

mak ini berada di sebelah Barat dati Alon-alon.

mberian klasifikasi Masjid Demak yang semula merupakan

jid jami' menjadi jenis Masjid Agung atau Masjid Raya

_~~__ -" an terjadi berkaitan perubahan struktur pemerintahan di

lIJemalk.~ .'aitu munculnya Demak menjadi daerah Kasultanan. Seperti

k tipologi penempatan ruang pada masa kerajaan, seperti

daan majapahit, rnaka penernpatan tata ruang di depan

a alan-alan dan'Sebelah barat alon-alon ada tempat suci

17

yang dijadikan sentral peribada.an kerajaan dan masyarakat Oleh
karena itu, tempat peribadatan tersebut menjadi tempat suci agung
atau raya.

Kemiripan penyebutan Masjid Demak menjadi Masjid
Agung tersebut terlihat pada Masjid Agung di Kerajaan Mataram
Islam Keraton Solo maupun Keraton Yogyakarta.

Foto 1
Masjid Agung Demak Awal Abad 19
(Koleksi Museum Jawa Tengah Ranggawarsita)

Keberadaan masjid di pusat kota ll1enyebabkan masjid ini
mudah dijangkau para pengunjung, terlebih sarana transportasi dan
jalan sangat mendukung. Dukungan sarana tersebut tampaknya sudah
berlangsung lama yaitu adanya jalan raya tepat di depan masjid.
. Jalan tersebut dikenal dengan jalan Deandles karena dibangun
oleh pemerintah Belanda pada masa Gubenur Jendral Deandels.
Selain itu, sarana pendukung lain berupa alat transportasi. Alat
transporatasi yang berjaya jaman dahulu adalah kereta api. Jalan
18

- reta api dibangun oleh Belanda pada tahun 1889 melewati depan
asjid atau membelah alon-alon. Namun sayang, sarana transportasi

"ereta api tersebut telah hilang se~tar tahun 1980 an.

Sekarang ini, lokasi Masjid Agung Dcmak berhempitan
engan perkantoran, sekolah maupun perkampungan yang cukup

dat. Kondisi tersebut menambah manfaat dan arti pentingnya
uah masjid di tengah aktivitas masyarakat yang memerlukan
ana peribadatan.

egenda dan Sejarah
Sumber legenda dan sejarah Masjid Agung Demak terkait

dengan sejarah dan perkembangan Islam cti pulau Jawa terutama

awa Tengah. Sumber cerita dan dan sejarah dapat diperoleh

J Jui Iegenda atau tutur cerita yang banyak dijumpai di masyarakat

· . Selain itu sumber dari kitab babad terutama Kitab Babad Jawi
at membantu membuka takbir sejarak Kerajaan Islam di Demak
pun Masjid Agung Demak itu sendiri.
Mengenai tahun berapa berdilinya Masjid Agung Dernak
.Ii sampai kini belum diketahui dengan pasti. Secara umum,

~.:II&LJsiran para ahli terhadap keberadaan Masjid Agung Demak
~..~arkan pada candra sengkalan 1nemet, prasasti atan petunjuk-

n· uk dari kitab-kitab Babad.
Penafsiran yang dilakukan oleh para ahli diantaranya

,..........~arkan atas lawang bledek. Ukiran lawang bledek berupa naga
. ah petir yang dibuat oleh Ki Ageng Selo ditafsirkan berbunyi
a lnulat Salira wani. Berdasarkan candra sengkalan ini, maka

_ .........·. id Agung Demak ditafsirkan berdiri tahun 1388 <;aka atau tahun
_ asehi.

19

Foto: 2
Candra sengkalan berbentuk kura - kllra

Tafsiran lain dari para ahli adalah didasarkan dari hiasan kura-
kura yang terdapat di atas migrab. I-liasan kura-kutCl terscbut scring
ditafsirkan dengan angka 1401. ~aka atau tahun 1478 Masehi.

Bentuk Masjid Agung Denlak, pacla awalnya tidak semegah
Inl, kem.ungkinan merupakan bangunan keei1, terbuat dari kayu.
Penggunaan kayu sebagi bahan utalla dikarenakan daerah Denlak
pacta \vaktu itu masih merupakan hutan belantara serta berawa-ra\V3.
Selain ·itu, sangat jarang pula dijumpai bangunan yang terbuat darj
batu sungai. Batu yang dipakaipun kemungkinan hanya batl! batao
Hal ini diasumsikan bahwa, bangunan dari kayu mudah rusak dan
sering dipugar untuk diperbaiki.

Pcmbangunan Masjid Agung Demak djpcrkirakan
mengalami penyempumaan berkali··kaU. Berdasar Serat Kandha,
pada tahun 1429 ~aka atau tahun 150611507 Masehi, menyebutk,m
bahwa seorang Raja Demak pada tahun ketiga pCJl1crintahannya
berkenan menghadirj peresmian Masjid Demak. Menurut De Graaf

20

ja yang dimaksud adalah Sultan Trenggana.
ementara itu, menurut Babat Tanah Jawi, pada tahun 1710 M,

•Pakubowono I memperbaiki Masjid Agung Denlak dan nlengganti
fapnya. '
elain itu, penyempurnaan atau pembangunan masjid apabila
.dasarkan atas penyebutan nama dari tiang utmna atau sokoworo
aka dapat dirunut bahwa nama-nama wali tersebut yaitu Sunan
nang, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga
,::,gal di tanah Jawa sekitar 1404 M - 1466 M:
r aikan dan pemugaran masjid Agung Denak terus berlangsung
. ntaranya:
Tahun 1924 - 1926 dilakukan penggantian seranlbi, sirap
nambahan kontluksi kuda-kuda bagian atap masjid dan menara
cst.
Tahuo 1966 - 1969 penggantian instalasi listrik dan pagar
cpan, pembongkaran depan, pembuatan pagar keliling masjid,
mbongkaran dan pembangunan kenlbali serambi
Tabun 1973 - 1974, pembetonan masjid, penggantian sirap dan
habilitasi nlakam Sultan Trenggana
hun 1982 - 1988 pcmugaran masjid secara menyeluruh
gunan oleh Proyek Pelnugaran dan Pemeliharaan Peninggalan
Sejarah dan Purbalingga.

-tektur Bangunan NIasjid
Kompleks Masjid Agung Denlak secara keseluruhan berada
salu kompleks dengan makam. Luas secara keseluruhan

~"".LlI~ks tcrscbut berdiri di atas tanah sekitar 42.400 m2. Adapun
..-.....I....."" ..... Kompleks Masjid Agung Demak sendiri sekitar 1,5 Ha.

21

Kompleks Masjid Agung Demak dibatasi dengan tembok keliling
Sisi Tembok sebelah Timur terdajat pintu gerbang utama tanp
dilengkapi gapura. Pintu masuk juga terdapat di tembok sisi Utar
dan Selatan. Kedua pintu tersebut dilengkapi gerbang berbentuk
gapura padu rasa.

Kompleks bangunan Masjid terdiri dari bangunan utama ata
tempat utama beribadah, serambi depan, tempat sesuei atau tempat
wudhu, dan halaman Bangunan Masjid, menara, kolam, perkantoran
dan museum.. Adapun bangunan Masjid berada di tengah-tengah
halaman.

1. Bangunan Utama lVIasjid
Bentuk Luar Masjid

Bentuk luar sebuah bangunan ditentukan oleh pembagian
ruang dalam, ukuran serta fungsinya. Selain itu, dipengaruhi pula
latar belakang falsafah kchidupan si pembuatnya. Oleh karena itu,
bentuk sebuah bangunan terkadang memiliki arti bagi kehidupan
masyarakat.
Bangunan Masjid Agung Demak berdiri di atas sebuah pondasi
yang berbentuk persegi. Pembuatannya dengan eara tanah digali
selGtar 40 em - 50 em, kemudian diberi tembok da'ri batu sungai
dengan tinggi di atas tanah sekitar 60 em. Setelah terwujud
pondasi keliling kemudian ditilnbun tanah seeara penuh. Oleh
karena itll, pada saat bangunan lllasjid didirikan terlihat tinggi di
atas permukaan tanah.

22

Bentuk Masjid Agung Demak tampak dari luar terlihat
ratap tumpang susun tiga. Puneak atap Masjid Agung Demak
dapat Mahkota yang terbuat dari terakota dan terdapat tulisan

b berbunyi Allah.
Atap masjid terbuat dari bahan papan kayu. Atap tersebut
. enal dengan sebutan sirap. Sirap mempunyai ukuran panjang
ta-rata 30 em dan lebar 20. Pada bagian ujung bawah sirap
rbentuk segitiga. Dibalik papan sirap pada bagian atas sebelah
.. dan kanan terdapat tonjolan batang kayu keeil. Batang kayu
ersebut berfungsi untuk pengkait pada reng saat dipasang. Sirap
mah diganti pada saat pemugaran masjid tahun 1924 - 1936
dan pemugaran tahun 1975.

23

Bagian Dalam Masjid
Ruang utalTIa masjid berdeItah bujur sangkar. Ruang utama

memiliki luas 972 ill 2. Ruangan ini terdapat empat tiang atau
dikenal dengan sokoguru dan 12 sokorowo. Sokoguru adalah
tiang penopang bangunan utama atau atap brul~jllng. Menurut
Babat Tanah Ja\vi, sokoguru tersebut dibuat olch empat orang
walL Apabiladilihat dari bentuk masjid secara keseluruhan, yaitu
membujurke arahBaratdan Timur, makaterlihatbahwasokoguru
pacta bagian barat Barat sebelah kanan adalah sumbangan Sunan
Bonang dan sokoguru pada sebelah Barat bagian kiri adalah
sumbangan dcu-i Sunan Gunung Jati. Adapun Sokoguru pada
bagian Timur sebelah kanan adalah sumbangan Sunan Kalijaga
dan sokoguru pada bagian Timur sebelah kiri adalah sumbangan
Sunan Ampel salah satu sokoguru yaitu buatan Sunan Kalijaga
terbuat dari fated atau sisa kayu pcrtukangan yang tidak terpakai.
Menurut kisah yang beredar di masyarakat, tatal tersebut diikat
dengan rumput Ralvadan. lVlengenai asal-usul tcntang SOkOgUfU
seperti di atas oleh para ahli ada sHih pendapat. lial ini dikarenakan
masa hidup dari ke Clnpat \vali tersebut tidak bersamaan.

Sokoguru tcrsebut di atas terbuat dati balok kayu jati
berbentuk seHnder dengan ukuran keliIing sekitar 75 em.
Sokoguru tcrsebut berfungsi untuk ll1enyangga atap susun atau
tumpang yang paling atas atau brunjung. Ke elTIpat Sokoguru
tersebut, pada saat pernugaran tahun 1848 telah dibungkus kayu,
kemudian diikat dengan besi. Oleh karena itu wama tekstur ash
tiang buatan para wah tidak kelihatan lagi. Sokoguru tcrscbut,
sekarang- tidak sepenuhnya 111enyangga atap brunjung, tetapi
beban penyangga atap disalurkan ke sokorowo. Penya]uran

24

p dibuat dengan cara memasang kontruksi kuda-
lng-masing ujung ke empat sokoguru dihubungkan
alok kayu sehjngga metnbuat suatu ruang kosong atau
.....1I11l.\,'JITI_an. Ruang kosong di antara balok-balok tersebut dibcri
pap'ln.

Fnto: 4
Sokoguru Sunan Kal(iaga

Foto: 5 25

\Vuwl.mgan

Ruang Utama Masjid Agung Demak

IBA AN ARPU PROVo JATENG]

Sokorowo di ruang utama yang berfungsi sebagai penunjang
empat tiang utama berjumlah 12 buah. Sokoworo tersebut terbuat
dari batu bata bersemen dan dibalut dengan keramik. Sokorowo
berbentuk sehnder dan beruklJian keliling sekitar 75 em.
Sokorowo berdiri diatas umpak berbentuk setengah bola dengan
permukaan diberi wama kekuningan.

Kontruksi ti ang bangunan yang berfungsi sebagai penyangga
atap dibuat saling menopang dan berhubungan dengan sokorowo.
Sekarang, tiang bangunan masjid sebagian telah diganti dari
kayu jati. Kayu tersebut diarnbil dari hutan Jati Randublatung,
Kabupaten Blora. Adapun kayu jati hasi] renovasi tahun 1983
- 1988 diletakkan di Museum Masjid Agung Demak.

Ruang utama Masjid Agung Demak berdinding tembok
berplester dan berlantai marmer wama putih susu. Ukuran mamer
74 em x 74 em. Selain itu, ruang utama juga memiliki beberapa
pintu. Pintu masuk ke ruang utama berjumlah tiga buah. Pintu
tersebut terdiri satu pintu utama, dua pintu pengapit pintu utama.
Semua daun pintu terbuat dari kayu. Daun pintu utama terbuat
dari kayu berukir sedangkan empat pintu lainnya tidak berukir.
Pintu utama mempunyai ukuran 285 em dan tinggi 370 em. Pintu
utama dikenal dengan nama Lawang Bledek. Pintu utama yang
dipasang sekarang adalah tiruan dari lawang bledek. Lawang
Bledek asli buatan Ki Ageng Selo sekarang di simpan di Museum
Masjid Agung Demak.

Ruang utamajuga memiliki pintu dari sarnping. Jumlah pintu
tersebut ada ernpat buah. Dua buah pintu berada di sisi Timur,
satu buah di sisi utara dan sisi utara. Ukuran pintu hampir sarna
yaitu sekitar 275 em dan tinggi 350 eD).

26

Ruang utama memiliki jendela. Jumlah jendela ada sepuluh
uah. Dua buah jendela masing-masing berada di dinding

-ebelah timur, Selatan dan Utara. Adapun empat buah jendela
gi berada di dinding sebelah l!arat.
Bangunan ruang utama Masjid Agung Demak terdapat
eberapa ruang yaitu: Migrab, Maksuro dan Ruang Sholat.
Migrab atau ruang u~ntuk sholat imam. Bagian ini berada di
belah Barat dan tepat membagi dua bagian bagian utama masjid
entuk ruang seperti eeruk. Ukuran keliling migrab adalah enam
eter, tinggi dua dan tebal tembok 0,8 em. Pada dinding depan
.grab dipasang tegel porselin wama krem. Adapun atap migrab
rbentuk melengkung terbuat dari ten1bok berplester semen dan
. eri wama putih.

Foto: 6 Foto: 7
sjid Agung Demak Maksuro Masjid Agung Demak

27

Maksuroh atau tempat sholat khusus raja atau penguasa.

Ruang ini termasuk bangunan keeil berada di ruang utama
masjid. Bangunan maksuro berdiri dilandasan pasangan batu

bata dengan tinggi 30 em. Letak'maksuro berada di sebelah kiri

dari ruang pengimaman atau migrab. Maksuro Masjid Agung
Demak terbuat dari kayu jati berukir dan memiliki ukuran lebar
28 em, panjang 182 em dan tinggi 319 em. Pintu masuk maksuro
berada di sisi utara dengan ukuran lebar 67 em dan tinggi 156
em. Maksuro selain berfungsi sebagai sholat raja atau pembesar
kerajaan. Selain itu, Maksuro berfungsi pula sebagai tempat
berkhalwat atau menyepi untuk memohon petunjuk kepada
Allah.

Ruang Sholat. Ruang sholat ini adalah merupakan ruang

terluas dari bagian ruang utama masjid. Ruang ini selain
dipergunakan untuk sholat, terkadang juga dipergunakan untuk
melangsungkan akad nikah para warga masyarakat yang ingin
melaksanakan akad pemikahan di Masjid Agung Demak.

Pawestren. Ruang ini merupakan tempat sholat untuk

wanita. Ukuran ruang ini adalah 12 em x 3,5 m. Ruang ini
terdapat delapan tiang terbuat dari kayu. Sekarang, empat tiang
merupakan bangunan asH dan empat berikutnya merupakan hasil
renovasl.

2. Serambi

'.

Bangunan serambi Masjid Agung Demak merupakan
ruang terbuka. Serambi tersebut berukuran 30 m x 17 m. Bentuk
bangunan serambi beratap limasan. Atap masjid beratap sirap
dari kayu jati. Atap serambi ditopang oleh delapan buah tiang

28

...._ ...~U-. Tiang terbuat dari kalu jati dan berbentuk bujur sangkar.
,_~.-...... apan tiang utama serambi menurut legenda dibawa dari

on Majapahit. Oleh karena itu, tiang utama serambi dikenal
soko majapahit.

edelapan tiang utama serambi dihubungkan dengan pilar
mlah 24 buah. Pilar terbuat dari pasangan bata berspesi
~an bentuk bujur sangkar. Tiang serambi masjid berdiri di
mpak dari pasangan bata berbentuk limasan terpenggal.
cgi umpak 60 em.

rnpat sesuci atau Wudhu
Tempat sesuei atau tempat wudhu di Masjid Agung Demak
dua buah. Satu buah tempat wudhu diperuntukkan bagi
.-laki dan satu buah lagi diperuntukkan bagi wanita. Masing-
ing tempat wudhu berukuran 5 m x 10 m. Tempat wudhu
ebut berbentuk bak air terbuka dengan tinggi sekitar 125. Pada
para jamaah mengambil air wudhu, mereka dapat langsung

ngan1bil air dari bak dengan mempergunakan gayung maupun
gan memakai kran yang ada. Pada ruang ini juga terdapat
erapa kamar keeil.

~. Halaman
Halaman Masjid Agung Demak terdapat beberapa bangunan
g terkait erat dengan keberadaan sebuah masjid. Bangunan
gada yaitu menara, kolam dan jam matahari.

.1 Menara.
Menara merupakan bangunan yang terletak di depan masjid

29

sisi Selatan. Menara terbuat dari kontruksi baja. Ukuran menara
bagian kaki 4 m x 4m deng!ln tinggi 22 m. Menara dilengkapi
anak tangga yang terbuat dari papan kayu. Bagian puncak menar
terdapat kubah, yang terbuat dari logam dan terdapat pengera
suara.

Menara yang berdiri sekarang adalah bukan yang asli.
Bangunan menara asli terbuat dari kayu. Dahulu, seorang
muadzin pada saat mengumandangkan adzan ia akan naik
menara tersebut

Foto: 8

Menara Masjid Agung Demak

4.2 Kolam

Bangunan kolam terletak di sudut Tenggara serambi masjid.
Kolam ini mempunyai kedalaman kolam sekitar dua meter dari
permukaan tanah. Di tengah-tengah kolam terdapat bongkahan
30

batu sungai dan batu karang. Dahulu kolam ini merupakan
tempat wudhu dan pemah pula menjadi bagian dari pawestren

•laitu tempat wanita bersembayang. Keliling kolam diberi pagar

rantai besi.

!Vlantingan, Jepara
'asi

Kompleks Masjid Mantingan berada di Desa Mantingan,
atan Jepara, Kabupaten Jepara. Kompleks Masjid Mantingan
-~_~ di sebelah barat daya dari Ibu Kota Kabupaten Jepara dengan
rang lebih empat kilometer. Adapun jalan menuju ke lokasi
_~~=;..J" Y1antingan cukup lebar, sehingga ramai dilalui kendaraan
_ 'an menuju ke Kecamatan Pecangaan.

".......(l:;:~uda dan Sejarah
Kapan berdirinya Masjid Mantingan tidak diketahui
.elas. Akan tetapi berdasarkan prasasti yang berada di atas

"'---"1,=-"""''-4.#. terdapat cadra sengkalan. Prasasti tersebut tertulis dalam
__~~.. J wa dengan menggunakan huruf Jawa. Candra sengkalan
"'-"-~............~_ . Rupa Brahntana Warna Sari. Candra sengkalan tersebut

gka 1481 <;aka atau tahun 1559 Masehi. Berdasar angka
emungkinan masjid didirikan oleh Ratu Kalinyamat
nghormatan terhadap suaminya yang telah wafat. Oleh
. kemungkinan pembangunan masjid bersamaan dengan

n jirat makanl suaminya. Ratu Kaliyamat sendiri adalah
. S Itan Trenggana, seorang Raja Demak yang memerintah
Demak.......,:.LII-iJ·•........-a. 1504 - 1546. Nama Ratu Kaliyamat itu tersediri

buah nama julukan seorang ratu yang berkedudukkan

31

di Kaliyamatan. Adapun nama a~li Ratu Kaliyamat tidak diketahui
dengan pasti.

Bentuk asli dari bangunan Masjid Mantingan tidak diketahui
dengan pasti. Kemungkinan besar bentuk bangunan masih sederhana.
Seorang penulis bemama 1. Knebel sedikit memberikan sebuah
laporan perjalanan ke Mantingan bahwa sekitar tahun 1930, Masjid
Mantingan berdiri di atas sebuah bukit atau tempat tinggi berundak.

c. Arsitektur Bangunan Masjid
Kompleks Masjid Mantingan secara keseluruhan berada

dalam satu kompleks dengan makam Pengeran Hardiri. Kompleks
tersebut berdiri di atas tanah perkarangan berbukit. Kompleks Masjid
Mantingan memiliki luas sekitar 2.935 m2.

Kompleks bangunan Masjid Mantingan terdiri dari bangunan
utama atau tempat utan1a beribadah, serambi depan, tempat sesuci
atau tempat wudhu, dan halaman. Kompleks bangunan Masjid
Mantingan dengan komleks makam dibatasi tembok batu bata merah
bergaya bangunan Majapahitan atau tipe candi Jawa Timuran..

1. Bangunan Utama Masjid
1.1 Bentuk Luar Masjid
Bentuk luar bangunan Masjid Mantingan terlihat berbentuk
tajuk susun tiga. Pada puncak atap masjid terdapat mustoko
seperti halnya bentuk hiasan umum kemuncak masjid.
Pemandangan dari sisi samping luar terlihat bahwa pintu
Inasjid utamamenuju kompleks masjid tidak berada di tengah
atau tidak simetris dengan bangunan utama tetapi agak ke samping
kanan. Para pengunjung apabila ingin masuk ke kompleks harus

32

harus menaiki tangga yang cukup tinggi. Ketinggian kOlnp1cks
masjid dari tanah terendah atau jal8n raya sekitar tujuh l\leter.
Melalui pintu berbentuk bentar dLlri bLlta, pengunjung mnsjid
akan berhadapan dengan halatDan masjid. Jadi, pintll tcrscbut
tidak langsung berhaclapan dengan bagian depan Jnasjid

Sementara itu, bangunan masjid apabila dj1ihat dari depan
terlihat berdiri di atas tanah yang cukup tinggi. Ketinggian darj
halaman masjid hampir tiga meter. Oleh karena itu, apabila ingin
masuk ke masjid harus menapaki tangga yang cllkup tinggi di
depan sermnbi Masjid. Tangga tersebut mcmpunyai anak tangga

}t'lf. . .~··

(~".

Gambar: 1
Masjid IvJantingan Jepara

1.2 Bentuk Dalam Masjid Mantingan
Ruang utama masjid berdenah bujur sangkar. Ruang utanla

miliki ukuran 10 rn x 10 n1. Untuk men1asuki ruang utama
arah depan terdapat tiga pintu .. Pintu n1enuju ruang utama

~ terdapat di sisi selatan dan utara. Masing-masing berjumlah

33

tiga buah terb·uat dari kayu dengan ukuran sekitar 120 em x 240

em. Pintu tersebut telah dieat derfgan wama merah hati.

Foto: 9
Ruang Utama Masjid Mantingan, Jepara

Keliling di dinding ruang tengah terbuat dari tembok dengan
ketebalan hampir dua bata merah .. Pada bagian bawah keliling
tembok tersebut dilapisi tegel keramik berwama biro setinggi 5
em. Pada bagian barat ruang utama terdapat dua jendela. Jendela
tersebut mempunyai daun jendela dan terbuat dari kayu jati.
Jendela masjid sudah diberi cat wama merah hati. Satu jendel
berada di sebelah kiri migrab dan satu jendela lagi berada di
sebelah kanan rrll!?rab.

Di tengah ruang utama terlihat empat buah tiang. Tiane
tersebut disebut sokoguru yang menopang bagian brunjun
masjid. Sokoguru terbuat dari kayu jati berbentuk segi empat.
Tinggi sokoguru sekitar enam meter dan jarak antar soko tiang
empat meter. Sokoguru tersebut berdiri di atas umpak dari batu
34

berspesi. Umpak batu berbentuk limasan yang terpotong.Ulnpak
tersebut telah diberi cat warna.merah hati namun telah dieat
warna kekuningan.

Sokoguru selain menopang bagian brunjung atau atap tajug,
juga berfungsi menyangga wuwungan. Lantai wuwungan terbuat
dari papan kayu jati. Untuk menuju wuwungan tersebut, diberi
lobang ukuran satu meter kali satu meter. Untuk meneapai
wuwungan biasanya memakai tangga.

-Lantai masjid ruang utama terbuat dari tegel teraso eokl at
susu. dan diberi karpet. Karpet tersebut menutupi seluruh
permukaan lantai ruang tengah.

Foto: 10

Ruang Samplng Ma::,)id Mantingan, Jepara
Sebelah Selatan ruang utama terdapat talnbahan ruangan
rukuran 10 In x 3,28 m. Tembok ruang ini terbuat dari tembok·
utu bata berplester dengan tinggi seki tar 50 em. Memasuki

\

ng ini, orang hams melewati sebuah pintu terbuka dari arah
mUf. Ambang pintu berbentuk kurawal.

35

Foto: 11

Migrap Masjid Mantingan, Jepara

Bangunan [uang utan1a Masjid Mantingan terdapat beberapa
ruang yaitu: Migrab, dan Pewastren.

Migrab atau ruang untuk sholat imam. Bagian ini berada di
sebelah barat dan tepat membagi dua bagian bagian utama masjid
Bentuk ruang seperti eeruk. Ukuran keliling migrab adalah enam
meter, tinggi dua meter dan tebal tembok hampir 40 CIn. Bagian
atas migrab berbentuk melengkung setengah lingkaran. Bagian
keliling ruang rnigrab diberi lapisan batu mamer setinggi 50 em.
Pada bagian depan terdapat ornament ukiran dari padas.

Pawes(rell. Ruang ini merupakan ternpat sholat untuk
wanita.Ukuran ruang ini adalah 10 m x 3,5 In. Ruang pawestren
melniliki jendela tcrbuka dua buah serta memiliki sebuah pintu.
Pintu tersebut menghubungkan tempat bersuei untuk wanita.

2. Seranlbi
Bangunan serambi Masjid Mantingan merupakan ruang

36


Click to View FlipBook Version