rbuka. Serambi tersebut berukuran 18 x 10 m sehingga memiliki
enak berbentuk empat persegi p(j1jang. Ruang serarr1bi dapat
icapai dengan menaiki 11 tangga.
Atap bangunan seran1bi berbentuk limasan. Atap serambi
'topang oleh 24 buah tiang yang tebuat dari kayujati. Tiang tersebut
erdiri di atas umpak berbentuk limas an terpenggal yang tclah diberi
:at hitam. Lantai ruang serambi terbuat dari lnarmer bcrwarna putih
SUo
Foto: 12
Serambi Masjid Mantingall, Jepara
mpat sesuci atau 'Vudhu
pat sesuci atau tempat wudhu di Masjid Mantingan ada dua
""_~>u.J. Tempat wudhu wanita berada dekat pewastren. Adapun tenlpat
dhu pria berada di sebelah utara masjid. Masing-masing tempat
u mempunyai ukuran berukuran 3 m x 5 m. Tenlpat ruang
u telah diberi kTan air.
37
,"
4. Kolam
Bangunan kolam terletak di depan tempat wudhu. Ukur
kolam 2 m x 5 m dan mempu~yai kedalaman sekitar 20 em. Ole
karena kolam" tersebut berada di depan tempat wudhu, maka seti
orang yang akan dan selesai wudhu maka orang tersebut akan lew
kolam tersebut
3. Masjid P. Abinowo, Pekuncen, Kabupaten Kendal
a. Lokasi
Masjid P. Abinowo berada di Desa Pekuneen, Keeamata[
Penggandon, Kabupaten Kendal. Jarak 10kasi masjid dengan Ib
Kota Kabupaten sekitar 12 Km. Adapun jarak lokasi masjid da
jalan raya Kendal - Jakarta sekitar enam kilometer. Lokasi masji
dari jalan raya tersebut melalui jalan pedesaan yang sudah euku
halus namun lebar jalan keei]. Kiri kanan jalan pedesaan masi
ditumbuhi aneka pepohonan dan hamparan sawah.
Bangunan Masjid P. Abinowo sendiri berada d
perkampungan dengan kondisi tanah agak tinggi dibanding tanah d'
sekitarnya. Sebelah Selatan areal kompleks masjid terlihat hamparar
sawah dan perbukitan yang masih eukup hijau. Enam kilometer da .
Masjid P. Abinowo ke arah Selatan terdapat gua tempat P. Abinow
bennunajat. Suasana perkampungan sekitar masjid masih jauh dar·
hingar-bingarnya keramaian kota. Kesederhanaan masyarakat masil
terlihat dengan penampi Ian keluguan dan keramah tamahannya.
38
Foto: 13
Masjid Sunan Abinowo, Pekuncen, Kab. Kendal
b. Legenda dan Sejarah
Kapan berdirinya Masjid Jami' Sunan Abinowo tidak
diketahui dengan jelas. Hal ini dikarenakan kurangnya data. Data
yang ada hanya berupa gentong tempat air dan penjelasan dan
juru kunci, sisilah dari Sunan Abinowo atau Pangeran Abinowo.
Berdasar penuturan dari juru kunci, gentong keramat tersebut pemah
dikembalikanke Masjid Agung Demak pada masa R. Fatah, namun
secara gaib kembali lagi ke lokasi semula.
Data pada sisilah yang ada terlihat bahwa Pangeran Abinowo
merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya VI atau Lembu Peteng.
Keberadaan dari Pangeran Abinowo di Kendal kurang diketahui
denganjelas. Berdasar tutur cerita yang beredardi masyarakat beliau
hidup pada pada masa kerajaan Pajang. Namun sumber lainnya
menyebutkan bahwa keberadaannya di Kendal setelah beberapa
39
sisi Selatan dinding pondasi kompleks masjid. Ukuran juga hampir
sarna dengan tangga masuk dan depan. Tangga masuk tersebut lurus
menuju arah pintu makam.
Bangunan yang ada dikompleks masjid, hanya dua bangunan
tama masjid, serambi depan dan halaman, makam serta tempat
.stirahat tamu makam. Sedangkan tempat wudhu dan sesuei ada
ua yaitu berada di pojok luar pagar keliling kompleks masjid sisi
Selatan dan sisi Utara. Adapun keberadaan sumur sebagai sumber air
erada dekat tempat sesuei di pajak Selatan pagar keliling kompleks
asjid.
1. Bangunan Utama Masjid
Bentuk Luar Masjid
Bangunan masjid Bangunan Masjid Sunan Abinowo berdiri
di atas sebuah pondasi. Tinggi pondasi sekitar 60 ern.. Bentuk
bangunan Masjid Sunan Abinowo ada dua. Hal ini dikarenakan
Masjid Sunan Abinowo terdiri dua bangunan masjid yang
dijadikan satu. Masjid sebelah kanan yang berada agak menjorok
ke Barat dari kompleks masjid diperuntukkan untuk jamaah pria
dan masjid sebelah kiri diperuntukkan untuk wanita.
Bentuk bangunan masjid untuk pria dari luar tampak
erbentuk rumah tradisional Jawa beratap susun tiga. Bagian
depan terdapat seratnbi. Sedangkan masjid untuk wanita dari luar
tampak berbentuk rUll1ah tradisional Jawa beratap susun dua.
\1asing-masing kemuneak masjid diberi memolo atau mahkota
ang terbuat dati logam tipis. Menurut penuturan juru kunei,
ahuJu kemuneak masjid terbuat dari terakota atau tanah liat.
41
Foto: 14
Sebelah Kiri Mahkota Masjid untuk Wanita
Sebelah Kanan Mahkota Masjid Untuk Pria
Pada Masjid Sunan Abinowo, Pekuncen, Kab. Kendal
Bangunan masjid dan· atapnya telah mengalami beber
reriovasi dan pengantian. Diantaranya adalah dinding kelil
kayu telah diganti dengan tembok batu batao Atap susun satu
dua masjid khusus pria masih terbuat dari sirap. Adapun un
atap masjid khusus wanita telah diganti dengan genting.
Bagian Dalam Masjid P. Abinowo Khusus Pria
Ruang utama masjid berdenah bujur sangkar. Ruang utan
memiliki luas 15 m x 15 m atau 225 m2. Ruangan ini terdapa
empat tiang atau dikenal dengan sokoguru. Sokoguru adal
tiang penopang bangunan utama atau atap brunjung. Sokogurz
terbuat dari batang kayu jati berdian1eter 30 em yang telah d"
cat hijau. Sokoguru tersebut mempunyai delapan sisi. Jarak antar
sokoguru empat meter. Keempat Sokoguru di atas berdiri di ata
umpak batu andesit berbentuk setengah bulatan. Diameter umpak
45 em dan tinggi umpak dari lantai,28 em. Umpak tersebut telah
diberi cat keemasan.
42
Foto: 15
Umpak Masjid P. Abinowo Kab. Kendal
Ruang utan1a Masjid P. Abinowo berdinding tembok berspesi
dan berlantai keramik putih. Dahulu dinding ruang utama terbuat
dari papan. Dinding ruang utama sisi Dtara terdapat tiga pintu.
I'v1asing-masing berllkuran tinggi 2,10 em dan lebar 120 em.
Kusen dan daun pintu telah di cat hijau. Daun pintu terdapat kaca
buranl.
Dinding sisi Selatan terdapat satu pintu dengan ukuran yang
hampir sanl.a dengan pintu lainnya. Pintu tersebut rnenllju ke
ruang masjid khusus \vanita. Dinchng sisi Selatan juga terdapat
jendela. Dann jendela tcrbuat dari kayu dan kaca buram.
Dinding sisi Barat terdapat satu pintu dengan ukuran tinggi 2,10
em dan lebar 120 enl. Kuscn dan daun pintu telah dieat wama
hijau. Pintu tcrsebut merupakan pintu menuju gudang masjid.
Gudang tersebut untuk menempatkan barang-barang iventaris
masjid.
43
Dinding sisi Timur terdapat bga buah plntu. Ketiga pin
tcrsebut berukuran tinggi 2,10 em dan Jebar 120 em. [(usen d ~
dalln pintu telah dieat warna hijau.
Dinding scbelah Utara terdapat ~ga pintu. Ukuran pintu sa
dengan pintu lainnya. Pintu sebclah Utara dipakal untuk tl1CnujL
ruan g teras utara.
Bangunan ruang utama Masjid P. Abinowo khusus pn_
terdapat beberapa ruang yaitu: Migrab, Ruang ShoJat rU~ln;
kotbah, dan ruang gudang.
Migrab atau ruang untuk sholat In1am. Bagian ini bcrac\
di scbclah barat dan tepat l11clnbagi dua bagian bagian utam.·
masjid. Bcntuk bangunan ruang nllgrab menjorok ke lnar dar
hangunan utama. Atap rllang migrab bcrbcntuk rei ling berukuran
tinggi 250 em x lebar 180 ern x panjang 120 em.
~.: <~.'. j~r.tr}:;·~; ~~c~r:::' ~~';.
. ..~
Foto: 16
Sehel{/h Kiri, Pinlu ke Gudang, Sehelah Tengah, !'v1igrah, dan
Sebelah Kon{[n Temp{/[ Ko/bah !v!asjid P Abinowo, Kendal
44
Ruang Sholat. Ruang sholat ini adalah merupakan ruang
~1l.,I~~~ dari bagian ruang utama inasjid. Ruang tersebut tidak ada
1Iio'I"'"-~u.u,ugian ruang untuk sholat pria atau wanita. Semua orang
.:= akan melaksanakan sholat akan menempati ruangan ini.
Ruang Kotbah. RUjng kotbah berada di sisi kanan dari
clmaman. Ruang seperti ceruk gua berbentuk segi panjang.
g tersebut berundak. Jumlah undakan ada empat buah.
,~~~. ruang ini terbuat dari keramik warna biru.
Fungsi ruang ini dahulu untuk tempat kotbah imam. Namun
arang ini tempat kotbah telah dibuatkan tersendiri. Tempat
ah dibuat dari kayu dengan ukiran cukup indah.
Foto: 17
Tempat Kotbah Masjid P Abinowo, Kab. Kendal
Bagian Dalam Masjid P. Abinowo Khusus Wanita
Ruang utama Masjid P. Abinowo khusus wanita berdenah
bujur sangkar. Ruang utama memiliki luas 9 m X 9 m atau 81 m2.
Ruangan ini terdapat empat tiang atau dikenal dengan sokoguru.
45
Sokoguru terbuat dari batang kayu jati berdiameter 30 em yart
telah di cat hijau. Sokoguru tersebut mempunyai delapan si
Jarak antar sokoguru empat'llleter. Keelnpat Sokoguru di at
berdiri di atas umpak batu andesit berbentuk setengah bulat
Diameter umpak 45 em dan tinggi umpak dari Iantai 28 em.
Ruang utama Masjid P. Abinowo khusus wanita berdindin_
tembok berspesi dan berlantai tegel semen. Dahulu, dindin=:
ruang utama terbuat dari papan. Pintu utama berada di dindinc
sisi Timur dengan ukuran tinggi 2,10 COl dan lebar 120 CI
!(usen dan daun pintu tcrbuat dari kayu. Kayu tersebut telah d
cat hijau. Pintu ke dua berada di pojak sebelah Barat dinding sis'
Utara
Dinding sisi Timur tcrdapat Inbang Zoster. Losier terbuat
dari pasir dan selnen. Ukuran loster panjang satumeter tinggi
setengah lneter. Fungsi loster adalah keluar masuk udara ke
ruang utama.
Dinding sisi Sclatan terdapat jendela. Jendela terbuat dali
kayu. Jendela tersebut berukuran sekitara 120 Cl1l dan tinggi 60
em. Jendela ini jarang dibuka.
Dinding sisi Barat, tidak terdapat pengimaman, karena
tempat pengimaman hanya terdapat ruang utama masjid khusus
pria. Dinding sisi Barat hanya terdapat jendela yang ukurannya
sarna dengan jendela di sisi Selatan.
Ruang utarna Masjid P. Abinowo khusus wanita berfungsi
sebagai tempat sholat wanita. Di samping itu, ditempat terscbut
sering dilakukan dzikir para pengunjung Inasjid atau rnakanl.
Pada sisi Utara ruang utaIlla khusus wanita terdapat gentong air
dari zan1an dinasti Ming atau abad 15. Gentong tersebut telah di
46
semen dengan lantai. Keberadaan gentong di Masjid P. Abinowo
mempunyai legenda tersendiri. Selain itu, air gentong tersebut
dipercayamenlpunyai kebarokalmn tertentu.
Depan Masjid P. Abinowokhusus wanita terdapat ruang
terbuka. Ruang tersebut merupakan teras masjid. Ruang teras
tersebut berukuran panjang sembilan meter dan lebar tiga meter.
Teras Masjid P. Abinowo khusus wanita ditopang oleh pilar
yang berbentuk kurawal. Jumlah kurawal ada tiga. Ukuran pilar
tersebut tiga meter. Tepat di depan teras terdapat anak tangga
menuju ruang teras. Jurnlah anak tangga tiga buah. Anak tangga
terbuat dari tegel semen.
Foto: 18
Masjid P. Abinowo Khusus Wanita Tampak Depan
47
2. Serambi •
Bangunan serambi Masjid P. Abinowo, khusus pria berbent
limasan. Ukuran serambi panjang 15 m x lebar 6 m. Sisi Til11
serambi terdapat pagar dari tembok dilapisi keramik warna bit
Pagar te111bok tersebut terdapat tiga pintu masuk dengan lebal' 2.:
m. Pintu 111asuk menuju serambi terdapat daun pintu terbuat da
kayu yang telah di cat. Bentuk daun pintu berupa jeruji kayu.
Depan seranlbi Masjid P Abinowo terdapat atap teras. Rua
teras 11lcrupakan ruang terbuka. Jarak teras dengan dindl1L
tCDlbok serambi tiga I11cler. Tepat di depan teras terdapat anti
tangga untuk Inusuk ke Inasjid
3. rrempat. sesuci ntau \Vudhu
Tempat sesuci aluu telnpat wudhu di Nlasjid P. Abinow
lllcrniljki dl1a ternpat. Tcnlpat tcrscbut bcrada di luar tcnlbo
keliling kOll1pleks lllasjid. SilUl tCl11pat wudhu dan IvIandi Cue
dan Kakis (1v1"CK) berad~ di scbclah Timur rnasjicl, sisi Selatan.
Satu tClnpat wudhu khusus pria bcrada di sebelahUtara.
TC111pat \vudhu dan MCK, terdapat bak air yang terbuk'
dengan tinggi 75 em. SUlnbcr air unluk sarana wudhu dan !v1CK
berasal dari SUlTIUr. SUJDUr tcrsebut beracla dalanl sutu bangunan
tempat \vudhu dan MCK.
48
Foto: 19 Foto: 20
Tempnt ~Vudhlt danA1CK Tempat Wud/Ill Pria
lV1asjid P. AbiflOWO, Kab. Kendal !l-fasjid P. Abino\vo, Kab. Kendal
Foto: 21.
Tempat Pel1didikan tli Kompleks Alasjid P. Abinowo, Kab. Kendal
TClllP3t I)endidikan
Lokasi tcnlpat pcndidikan bcrada di luar kOfl1pleks Masjid P.
Abinowo. Bangunan ten1pat pendidikan berbentuk scperti bentuk
umllnl sckolah. Ukuran rUlnah sekitar 18m x 8m. Dinding
49
tempat pendidikan terbuat dan bata berplester edngan atap dari
genting tanah liat. Tempat pet1didikan tersebut dipergunakan
untuk menimba ilmu agama warga masyarakat sekitar.
4. Masjid Ki Ageng Selo .
a. Lokasi
Kompleks masjid Ki Ageng Selo terletak dj Desa Suselo atau
Selo, kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Kompleks
Masjid Ki Ageng Selo berada di sebelah Timur pusat Kota Grobogan
dcngan jarak sekitar 13 Km. Adapun jalan menuju ke lokasi Masjid
Ki Agcng Selo dari ja]an raya Purwodadi - Blora sekitar dua
kilometer melewati jalan kampung.
Sarana transportasi menuju ke lokasi cukup tersedia. AJat
angkutan tersebut sepcrti roda en1pat, ojek maupun angkutan
tradisional. Khusus angkutan tradisional seperti dakar terscdia ell
Pasar Tawangharjo atau di ujung jaJan masuk ke lokasi, tepatnya di
tepi jalan raya Purwodadi - Blora.
Foto: 22
Masjid Ki Ageng Selo, Kab. Grobogan
50
[ B~Alf ARPUS PROVo JATENG]
,geuda dan Sejarah
Keberadaan Masjid Ki Ageng Selo terkait erat dengan
orang tokoh lendaris yaitu I(i A~eng Selo. Cerita legenda Ki Ageng
elo yang mampu menangkap petir tidak asing bagi masyarakat
J wa Tengah, khususnya sekitar Purwodadi. Selain dikenal mampu
enangkap petir, Ki Ageng Selo juga merupakan seorang yang
enurunkan raja-raja di tanah Jawa, khusunya raja di Surakarta dan
ogyakarta. Kisah Ki Ageng Selo menangkap petir diwujudkan
laIn ragam hias ukiran pada Lawang Bledek. Lawang Bledek
ersebut kemudian dihibahkan ke Masjid Agung Demak.
Ki Ageng Selo sebenamya adalah sebutan seseorang yang
emama Raden Bagus Sogom. Oleh karena beliau menetap di
Dukuh Selo maka pada waktu itu, masyarakat menyebut beliau
enga Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo sendiri sebenarnya putra dari
Ki Ageng Getas Pendowo buah perkawinannya dengan N awangsih.
~a\vangsih adalah putri dari Ki Ageng Tarub buah perkawinannya
dengan Nawang Wulan. Lika-liku perkawinan Ki Ageng Tarub
<.
dengan Nawang wulan 'Lelah pula melahirkan legenda yang juga
terkenal di Tanah Jawa yaitu legenda Joko Tarub. Ki Ageng Tarub
sencliri sebenarnya putra dari Prabu Brawijaya.. Oleh karena itu,
Ki Ageng Selo merupakan cicit dari Prabu Brawijaya V atau Raja
~ajapahit terakhir. Akhir hayat Ki Ageng Selo tinggal di Dukuh
Selo, narnun wafatnya tidak diketahui dengan pasti
Menurut bapa1<: Abdur Rochim seorang juru kunci makam ..
dan Masjid Ki Ageng Selo, pembangunan masjid dan cungkup
makam Ki Ageng Selo tidak diketahui dengan jelas. Namun demikian
pemugaran pembangunan masjid dan cungkup makam Ki Ageng Selo
sebenarnya jauh dari masa hidupnya. Hal ini terbukti dengan adanya
51
prasasti terbuat dari kayu. Prasa~i tersebut menyebutkan bangunan
masjid dipugar pada Kamis tanggal 24 Maulud tahun Wawu 1801.
Bangunan tersebut dibuat pada masa Patih Pakubuwono IX yang
bemama Kanjeng Raden Hadipati Sosronagoro.
Foto: 23
Prasasti Pemugaran
Masjid Ki Ageng Selo Kab. Grobogan
Prasasti tentang pemugaran Masjid Ki Ageng Selo berbunyi sebagai
berikut:
" Hingkang Hawit saking kepareng dalem hing sangandhap sampeyang
dalem hengkang sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono hing Ngalogo
Ngabdulrachman Sayiddin Panatagama hingkang kaping songo Surakarto,
kumandhurring Ordhe Nederlan Sinleyo, komandur mawi bintanging
Ordhe frantosefuing Nagari Nedeherlan. Pepatih dalem Panjenengan dalem
Kanjeng Bandoro Raden Hadipati Sosronagoro ridderring Ordhe Nederlan
Sinleyo karso hamulyokaken kagengan dalem masjid hing Selo, naliko hing
dinten Kamis tanggal kaping 24 Wulan Mulud hing tahun Dal ongko 1815
utawi tanggal 15 Desember 1885"
52
Artinya:
" Yang diawali dari berkenaan beliatl dibawah ini Beliau Paduka Kanjeng
Susuhunan Pakubuwono Ngalogo Ngabdulrahman Sayiddin Panataagama
yang ke 9, Komandan dengan berbintang Masa peralihan di Negara Belanda,
Patih Beliau yang di mulyakan Kanjeng Bendoro Raden Adipati Sosronegoro,
dengan kepemilikan yang dimulyakan beliau Masjid di Selo, pada hari kamis
tangal24 bulan mulut tahun~ 1815 atau tanggal 15 Desember 1885.
. Arsitektur Bangunan Masjid
Kompleks Masjid secara keseluruhan berada dalam satu
kompleks makam Ki Ageng Selo. Luas secara keseluruhan kompleks
tersebut berdiri di atas tanah dengan ukuran 56 m x 50 m atau seluas
2.800 m2. Status kepemilikan tanah maupun bangunan kompleks
masjid dan makam Ki Ageng Selo adalah milik Keraton Surakarta.
Seeara garis besar kompleks Masjid dibagi menjadi dua yaitu
kompleks bangunan masjid dengan ukuran 28 m x 50 atau 1400
m2 dan kompleks makam dengan ukuran 28 m x 50 atau 1400 m2.
Antara Kompleks bangunan Masjid dan Kompleks Makam di beri
pembatas pagar dari batu bata setinggi sekitar 160 em.
Adapun batas kompleks masjid dengan lingkungan
perkampungan di beri pagar. Pagar tersebut terbuat dari batu bata
dengan tinggi sekitar 160 cn1. Kompleks Masjid dan Makam Ki
Ageng hanya mempunyai satu pintu gerbang berbentuk Gapura
Bentar. Gapura tersebut tepat di tengah pagar depan masjid. Ukuran.
Gapura sekitar empat meter.
Kompleks bangunan Masjid terdiri dari bangunan utama atau
tempat utama beribadah, serambi depan, tempat sesuei atau tempat
\vudhu, dan halaman Bangunan Masjid serambi. Bangunan Masjid
dan serambi berdiri eli atas sebuah pondasi yang berbentuk persegi
panjang dan pejal atau massive yang agak tinggi. Pembuatannya
53
dengan eara tanah digali sekitar 40em - 50 em, kemudian diberi
tembok dari batu sungi dengan tin.gi di atas tanah sekitar 50 crn.
Setelah terwujud keliling pondasi kemudian ditimbun tanah seeara
penuh. Oleh karena itu pada saat bangunan masjid didirikan terihat
tinggi di atas permukaan tanah. Adapun tempat sesuci berdiri di atas
pondasi yang rata dengan tanah.
1. Bangunan Utama Masjid
1.1 Bentuk Luar Masjid
Bentuk luar sebuah bangunan ditentukan oleh pembagian
ruang dalam, ukuran serta fungsinya. Selain itu, dipengaruhi pula
latar belakang falsafah kehidupan si pembuatnya. Oleh karena itu
bentuk sebuah bangunan terkadang memiliki arti bagi kehidupan
masyarakat.
Bentuk bangunan Masjid Ki Ageng Selo berupa tumpang
susun tiga. Atap tersebut dibentuk oleh kerangka berdasarkan
kontruksi yang disebut lambang teplok .
1.2 Bagian Dalam Masjid
Bangunan utama berukuran sekitar 12 m x 12 m. Dinding
bangunan utama terbuat dari papan kayu jati tua. Tinggi dinding
kayu sekitar tiga meter kayu ruang utama diberi variasi jendela.
lendela tersebut diberi jeruji dari kayu berjumlah tujuh buah.
lendela sisi barat berjumlah empat namun jarang dibuka. Sisi
samping kiri dan kanan berjumlah delapan namun sayang
keberadaannya yang berfungsi sebagai sirkulasi udara terhalang
54
oleh bangunan baru di masing-masing sayap bangunan masjid.
•Adapun yang masih berfungsi dengan baik hanya satu di masing-
maslng SIS1.
Foto: 24
Sokoguru Masjid Ki Ageng Selo
Ruang utama bagian dalam terdapat beberapa tiang.
Kontruktif tiang bangunan dibuat saling berhubungan dan saling
menopang. Atap bangunan ditopang oleh empat tiang atau dikenal
dengan sokoguru. Sokoguru tersebut terhuat dari balok kayu jati
berbentuk persegi dengan ukuran 20 em x 20 em dan tinggi enam
meter. Sokoguru tersebut berfungsi untuk menyangga atap susun
atau tumpang yang paling atas atau brunjung.
Selain sokoguru juga terdapat tiang penunjang yang disebut
sokorowo. Sokorowo tersebut menunjang atap-atap di bawah
brunjung. Sokorowo berjumlah 12 buah dengan ukuran 20'
em x 20 emdan tinggi lima meter. Kontruksi sokorowo dengan
sokoguru saling berhubungan. Sebagai penguat antar soko diberi
pantek atau paku dan kayu.
55
Lantai ruang tengah terbuat dari tegel semen be
em x 20 em dan ditutup dengan karpet dengan bergambar :::::;11'-
Karpet ini selain berungsi sebagai penutup lantai juga be:::a.
sebagai garis shof untuk sholat.
Bangunan ruang utama Masjid Ki Ageng Selo terdapat
ruang yaitu: Migrab atau ruang untuk sholat imam; Ruang ~__I
untuk sholat wanita; Ruang utama sholat pria.
Migrab atau ruang untuk sholat imam Bagian ini
di sebelah Barat dan tepat membagi dua bagian bagian ....,~_
masjid Ruang sholat imam berbentuk eeruk dengan
tasnya melengkung. Ukuran migrab yaitu 1,25 m x 2 m. T -
lubang migrab 2,10 m namun demikian tinggi atap me .:
pada ujungnya.
Pada dinding depan terdapat lubang persegi seldtar 2
dan sisi samping kiri dan kanan terdapat dua lubang beru~,-.....,"-,--
20 em dengan jarak masing-masing 50 em.
Foto: 25
Migrab Masjid Ki Ageng Sela
56
Ruang Sholat khusus wanita. Luas ukuran tempat ini sekitar
4 m x 12 m. Ruang ini terletak di sebelah Selatan dari bangunan
utama atau sebelah kiri. Ruang pembatas sholat untuk wanita
ini terbuat dari papan atau sk~tsel berukuran tinggi sekitar 175
em. Papan pembatas ini dapat di bongkar pasang sehingga ruang
tersebut bila diperlukan untuk sesuatu hal dapat dibongkar.
Foto: 26
Tanda So!pada Sketsel
Papan pembatas ruang sholat khusus wanita terdapat sebuah
jendela berukuran 40 em x 50 em. Bagian tengah jendela terdapat
tiga jeruji dari kayu. Jeruji tersebut membagi dengan rata lubang
jendela. Papan pemisah tersebut juga terdapat tulisan berbahasa
Arab yang berbunyi Shof. Shof dalam bahasa Indonesia berarti
barisan. Jadi, fungsi tulisan tersebut adalah untuk memberi tahu
kepada para jamaah sholat apabila sedang sholat berjamaah
barisan sholat mengikuti tanda tulisan tersebut sehingga barisan
sholat menjadi lurus.
Pemisahan ruang sholat khusus wanita dengan ruang sholat
pria didasari oleh pemahaman ajaran Islam bahwa tata eara'
57
sholat berjamaah wanita dan pria tidak boleh dieampuf dal
satu barisan dan harus dipisahkan. Pisahan tersebut juga didas
pula adanya pemahaman istilah muhrim yaitu wanita dan pn
yang bukan muhrim dilarang ~ersentuhan. Muhrim dalam lsI
berarti antara wanita dan pria masih ada hubungan darah de
atau wanita dan pria telah terjadi hubungan pernikahan sehingg
diperbolehkan bersentuhan badan.
j~jaran tata eara sholat dalam Islam yang diterangkan dala
Hadits Nasai disebutkan bahwa apabila seorang wanita sedan;:;-
sholat berjamaah maka ia berada di belakang seorang putra.
Ruang Sholat Pria. Ruang khusus sholat pria berukuran
m x 12 m. Ruang sholat ul1tuk pria merupakan ruang terluas da ~
mang utama bangunan masjid. Ruang ter$ebut memiliki ruang
terluas karena pemkai ruang utama masjid yang paling banyak
adalah jamaah putra. I<eadaan tersebut didukung bahwa saat
dilaksanakan sholat lum' at, jamaah sholat lum' at ~IJng banyak
datang adalah kaum laki-Iaki sedangkan kaum wani.t..a. hanya
sedikit. Hal ini dikarenakan bahwa dalam ajaran Isla:n laki-laki
muslim mempunyai kewajiban melaksanakan kewajiban sholat
JUln' at seeara berjamaah. Adapun bagi kaum \vanita muslin1ah
tidak mempunyai kewajiban untuk mendatangi sholat Jum' at
berjamaah.
Bagian ruang khusus sholat pria terlihat adanya empat
sokoguru. Sokoguru tersebut menopang brunjung masjid.
Sokoguru masjid berdiri ditopang oleh umpak. Umpak tersebut
berbentuk limasan terpenggal dan dicat dengan warna hitam.
58
Foto: 27
Umpak pada Masjid Ki Ageng Seio, Kab. Grobogan
d. Seranlbi
Bangunan serambi Masjid Ki Ageng Selo, pada awal
pendirian hanya satu buah namun dalam perkembangannya serambi
masjid dibuat menjadi dua bagian. Masing - masing serambi
berukuran sekitar 6 nl x 12 m.
Bangunan serambi masjid pada awal pendirian berlokasi
tepat di depan bagian utama masjid. Bangunan tersebut tepat
111enyambung dengan bagian ruang utama masjid. Adapun serambi
'/
tambahan terdapat di depan dari serambi pertama.
Bangunan ·serambi apabila dilihat dari luar berbentuk
limasan. Bangunan ini merupakan mang terbuka beratap. Atap
bangunan berupa genteng dari tanah liat. Menurut penuturan juru
kunci, atap n1asjid dan serarrlbi dahulu terbuat dari papan kayu.
59
Foto: 28
Tiang Serambi Ditopang oleh Umpak
Tepat di depan antara tiang tengah teras serambi terdapat
~ga masuk berundak atau trap yang terdiri dari tiga anak tangga
trap dengan panjang sekitar empat meter. Tangga masuk tersebut
uat dari keramik.
empat sesuci atau Wudhu
Tempat sesuci atau tempat wudhu di Masjid Ki Ageng Selo
hulu ha~ya berupa kolam kecil atau' semacam padasan. Semula
rada eli sisi Selatan. Namun demikian, bekas kolam tersebut
karang ini sudah tidak tampak lagi, dan telah tertutup oleh banguan
. Bangunan baru tempat sesuci berada di sayap kiri untuk kaum
. anita dan sayap bagian kanan untuk kaum pria.
61
Foto: 29
Bagian Dalam tempat Wudhu
Bangunan sesuci ini dilengkapi pula kamar mandi dan WC.
Adapun sumber air diambil dad sebuah sumur di dekatnya. Cara
pengambilannya masih mempergunakan kerekan timba dan n1esin
penyedot air. Sumur di kompleks Masjid ini merupakan salah satu
s,umur da.ri.be.be.~~~~~~~~'-'\.~~~~~~'-~~~~~~<:::::".~~~~~l='~-n:~:;::z:~
juru kunci, sumber mata air atau sumur hanya terdapat di komp
masjid dan beberapa sumur di sekitaIllya saja. Keterbatasan sunl
mata air menyebabkan sumur yang ada di sekitar kompleks Mas."
Ki Ageng Selo dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Selo dan De
sekitamya sebagai sumber mata air utama untuk keperluan sehari-
hari. Hal ini dikarenakan Desa Selo sendiri dan desa-desa sekitarny
merupakan daerah krisis air.
62
f. Iialaman
Halaman Masjid Ki Ageng berukllran sckitar 775 m2.
I-Ialaman tersebut dimanfaatkan ~ebagai lahan parkir 'pengujung
maupun tempat aktifitas kegiatan yang cliselengqarakan oleh takmir
masjid. I-Ialan1an Masjid dahulu n1asih tanah liat, kemudian n1elalui
rapat takmir dan keluarga Keraton Solo, halaman masjid diberi
batako segi enam.
'Bagian depan dali serambi berdiri dua pohon yang cukup
besar dan tua serta lindang. Satu pohon berdiri di pajak kiri depan
serambi dan satu pohon Jagi berdiri di pajak kanan serambi.
Keberadaan kedua pohon tersebut menjadikan suasana sejuk dan
teduh eli Jingkungan kompleks masjid.
~. Masjid Kallman Gogodalenl, Bringin, Kab. Semarang
a. Lokasi.
Masjid Kauman terletak eli Desa Gogodalem, Kecamatan
Bringin, Kabupaten Semarang. Dcsa tersebut terletak 20 Km
ke arah Tenggara dari pusat pemerintahan Kabupaten Sernarang,
Ungaran. Menuju Desa Gogodalcm dari jalan raya Semarang - Solo
melewati jalan berkelok-kelok, naik turun pengunungan, butan
karet, persawahan dan pedesaan dengan udara yang sejuk. Suasana
kehidupan pedesaan yang jauh dari keramaian ibukota menghiasi
kanan-kiri jalan. Jalan menuju ke 10kasi terscbut sudah baik dan
tersedia cukup banyak, baik kendaraan umum maupun ojek.
63
.,.'
....
Foto: 30
Masjid Kauman, Gogodalem, Bringin, Kab. Semarang
Tepat di dekat Balai Desa Gogodalem, depan hutan karet.
terdapat jalan kecil, cukup dilewati satu mobil. Aspal jalan tersebul
telah mengelupas dan banyak krikil dan batu-batuan berserakan di
jalan. Kanan-kiri jalan menuju Dukuh Kauman masih ditumbuhi
pepohonan yang cukup rindang dan suasana kehidupan pedesaan
yang masih bersahaja. Di samp'ing kiri jalan tersebut juga terdapat
jurang yang cukup dalam. Setelah berjalan sekitar 1,5 kmmaka
sampailah di ujung jalan masuk Dukuh ~auman Desa Gogodalem.
Di tempat itulah berdiri Masjid Kauman Gogodalem.
b. Legenda dan Sejarah
Keberadaan Masjid Kauman terkait tokoh masyarakat yang
cukup disegani di daerah Bringin dan sekitamya. Tokoh tersebut
adalah Eyang Mertongasono. Beliau seorang pengembara dan
64 penyebar Islam berasal dari daerah Lamongan Jawa Timur. Beliau
memiliki dua anak yaitu Raden Bagus Merotwongso dan Raden Ayu
Dewi Suni. '
Eyang Mertowongso saat mengembara, singgah di suatu
hutan belantara. Hutan tersebut nantinya disebut Dukuh Selo Miring.
.Pada saat mengawali pembukaan hutan untuk dijadikan Dukuh,
beliau bermunajat atau berdoa kepada Allah agar dapat berjalan
dengan lancar dan selamat sehingga dapat menjadi perdukuhan.
Setelah membuka kawasan hutan belantara, beliau juga
mendirikan mushola. Mushola tersebut awalnya hanya dipergunakan
untuk beribadah keluarga. Namun seiring dengan perkembangan
ka\vasan tersebut menjadi perdukuhan, mushola dipergunakan
banyak orang untuk aktivitas keagamaan.
Banyaknya orang datang untuk sholat beIjamah dan
mengadakan aktivitas keagamaan maka hal tersebut telah menjadi
pembicaraan orang. Kabar bahwa di Dukuh Selo terdapat tempat
untuk menuntut ilmu agama tersiar ke berbagai dukuh di sekitarnya
bahkan sampai ke daerah Kaliwungu, Kendal. Akibat hal ini, Raden
Ahmad atau Nitinegoro dari Kaliwungu bermaksud mengirimkan
putranya bemama Raden Satrean menimba Hmu agama Islam dan
berguru bahwa di Dukuh Selo Miring.
Kecerdasan belajar ilmu agama dan ketaatan Raden Satrean
pada seorang kyai telah menyebabkan Eyang Mertongasono
berniat menjodohkan dengan putrinya yaitu Raden Ayu Dewi Suni.
Sebagai wujud ketaatan dan menghormati sang guru, Raden Satrean
menerimanya. Sementara itu, Raden Ayu Dewi Suni sebagai anak
yang patuh ke pada orang tuanya ia menyetujui. Pernikahan Raden
Satrean dengan Raden Ayu Dewi Ayu Suni dikarunia seoreang anak
yaitu Raden Bagustowongso.
65
Keramaian orang dan perkembangan santri yang semakil
banyak di Dukuh Selo Miring ~embuat Eyang Meltowongso
mengangkat wakil kyai untuk mengajar ihnu agama Islam. Oleh
karena Raden Satrean dianggap telah Dlenguasai ilmu agama Dlak3
Eyang Mertongasono mengangkat Raden Satrean untuk menjadi
badaZ atau wakil guru.
Semakin banyak santri yang belajar agama di Dukuh Sel
Miring, hal ini menyebabkan mushola tersebut kurang memenuhi
syarat untuk suatu kegiatan. Oleh sebab itu, Eyang Mertongasono
berniat untuk mendirikan masjid yang lebih besar. Sebelum
mendirikan masjid, beliau pergi ke arah Barat dari Dukuh Selo Miring
yang pada waku itu masih berupa hutan lebat. Maksud kepergian
Beliau ke arah Barat adalah untuk bemunajat kepada Allah minta
petunjuk pendirian masjid.
Setelah berrnunajat dalam suasana hening hutan yang lebat,
Beliau diberi petunjuk untuk menebang beberapa kayu jati· uotuk
dijadikan n1asjid. Petunjuk dari Allah tersebut kemudian dilaksanakan
dan Beliau menebang beberpa kayu jab yang cukup besar. Kayu-
kayu tersebut kemudian dijadikan rakit dan dihanyutkan ke sungai.
Ten1pat menghayutkan kayu diberi nama Gunung Sumirang.
Sebelum il1enghayutkan batangan kayu ke sungai Beliau
berucap:
" Gethek kayu rancakan, nengndi anggofunu lnandeg Zan
lninggir nwnyallg sisihe kali, nzengko kayune bakal arep tak
gawe Inesjid".
Perjalanan Eyang Mertongasono membawa kayu jati tidak
semulus yang direncanakan namun telah mengalami berbagai
66
•halangan dan cobaan. Peristiwa yang menyertai perjalanan membawa
kayu tersebut di antaranya saat rakit melewati suatu kedung atau
lokasi sungai dengan arus air berputar yang dalam dan luas. Rakit
kayu jati tersebut selalu berputar terns. Tempat peristi~a tersebut
oleh Eyang Mertongasono clisebut Bajang atau tak jadi berhenti.
Perjalan . di sungai terus berlangsung menyusuri sungai.
Kerindangan dan rimbunya pohon di kanan kiri sungai terus
menglnngi Eyang Mertongasono. Keadaan tersebut telah
menghambat perjalanannya, bahkan tutup kepala atau kopyah Beliau
tersangkut ranting. Akibat hal ini, Beliau menjuluki tempat tersebut
Kedung Kopyah.
Setelah mengalami berbagai hambatan ketika Eyang
Mertongasono membawa kayu dengan menyusuri sungai maka
sampailah rakit dari kayu jati yang akan dipergunakan untuk membuat
masjid berhenti di suatu tempat. Tempat tersebut disebut dengan
Kedung Laran. Disebut demikian karena tempat tersebut merupakan
akhir dari perjalanan yang penuh halangan atau dalam bahasa Jawa
laran yang berarti sakit. Tempat berhentinya rakit tersebut nantinya
didirikan masjid.
Di Kedung Laran, Eyang Mertongasono menetap beberapa
saat san1bil menentukan hari untuk mendirikan masjid yang tepat.
Untuk mengisi kekosongan waktu, Beliau bercocok tanam sampai ke
daerah Wiyu atau Gunung Singkal Wiyu. Saat bekerja menyangkul
dan mengolah tanah, beliau selalu dzikir kepada Alloh dan berharap'
diridhoi pekerjaannya. Namun dernikian, karenakesibukan mengolah
tanah, beliau lupa tujuan semula untuk mendirikan masjid.
Di tengah asyiknya mengolah tanah, beliau diingatkan oleh
Sunan Kalijaga yang sedang lewat mengembara ke arah selatan untuk
67
melaksanakan tujuan awalnya yaitu mendirikan masjid. Peringatan
Sunan Kalijaga dilakukan dengan cara Beliau n1engambil segumpal
tanah dan melembarkan eli hadapan Eyang Mertongasono. Tanah
tersebut menjadi sebongkah emas. ePeringatan tersebut mempunyai
arti manusia jangan sampai terpengaruh oleh emas atau harta dunia
-tetapi harus tetap ingat kepada harta akherat atau amalan untuk bekal
akherat.
'. Peringatan yang diberikan Sunan Kalijaga manyadarkan
- Eyang Mertongasono untuk melaksanakan tujuan -awal Beliau.
Akhi111ya, Eyang Mertongasono minta maaf dan memohon doa restu
kepada Sunan Kalijaga untuk mendirikan masjid di Kedung Laran.
Setelah beberapa waktu, masjid tersebut akhirnya dapat berdiri di
Kedung Laran.
Dalan1 perjalanan waktu, Masjid buatan Eyang Mertongasono
ramai dipergunakan sebagai tempat sholat serta menimba ilmu
agama Islam. Namun seiring bertambah usia Eyang Mertongasono
yang semakin uzdur dan, kurang sehat, hal inimembuat gundah
putra-putri beliau. Futra-putri beliau bermaksud untuk berbakti yaitu
merawat Beliau agar terjaga',kesehatannya serta meneruskan cita-
citanya untuk mengembangkan dan mengajarkanajaran Islam ke
pada murid-muridnya. Untuk itu, putra tertua Eyang Mertongasono
yaitu Raden BagusMertowongso bermaksud memindahkan masjid
ke Dukuh S~ntren tempat ia tinggal.
Pada saat Raden Bagus Mertowongso mengambil mustoko
masjid untuk dibawa ke Dukuh Santren. Pengarrlbilan mustoko
tersebut diketahui oleh adiknya yaitu Putri Ayu Dewi Suni.
Sebagai putri yang juga berkeinginan untuk berbakti kepada orang
tua dan mengembangkan ajaran Islam, ia mempunyai keinginan
68
pula untuk rnemindahkan masjic! ayahnya ke Dukuh Selo Miring
tempat ia tinggal. Maksud tersebut akhimya disampaikan kepada
ayahnya. Melihat keinginan putrinya yang mengebu-gebu, Eyang
Mertongasono akhimya mengijinkan, tetapi dengan syarat untuk
mengajak ternan dari kampungnya. Akhimya Raden Ayu Dewi
Suni pulang dan n1ernberitahukan kepada warga kampung untuk
memindahkan masjid di Kedung Laran ke Dukuh Selo Miring.
Setelah mengumpulkan warga kampung, mereka pergi
ke Kedung Laran untuk membongkar seluruh bangunan masjid.
Pembongkaran dapat diselesaikan dengan cepat dan lancar karena
dilakukan banyak orang. Pada saat pembongkaran bangunan, tidak
.ada sisa sedikitpun bangunan yang tersisa. Material bangunan
setelah terkumpul diangkut ke Dukuh Selo Miring. Namun dalarn
perjalanan, rombongan pengangkut bangunan masjid berpasan
dengan rombongan dari kakaknya yang juga berkeinginan untuk
memindah bangunan masjid.
Pertemuan kedua rornbongan kakak beradik tersebut yang
sarna-sarna rnerebutkan material masjid tersebut rnenyebabkan adu
mulut mempersoalkan material masjid. Dalam debat tersebut Raden
Bagus Mertowongso marah dan mengeluarkan sumpah. Sumpah
tersebut sampai sekarang rnasih dipegang teguh kedua warga Surnpah
tersebut kurang lebih sebagai berikut:
"Kamu adalah saudara muda, akan tetapi telah membuat kecewa hatiku maka
dari itu, mulai hari ini anak keturunan dari orang Santren jangan sekali-kali
menjalin pernikahan dengan anak turunmu dari Dukuh Selo Miring, sampai
tujuh keturunan"
Setelah selesai berdebat, kedua kakak beradik pulang ke
kampungnya masing-masing. Raden Ayu Dewi Suni tetap membawa
69
sebagian material masjid dari Kedung Laran, dan Raden Bagus
Mertowongso pulang dengan t\hgan hampa. Akhimya, Raden Ayu
Dewi Suni tetap dapat mendirikan masjid dad material masjid dati
Kedung Laran di Dukuh Sela Miring atau sekarang dikenal dengan
Masjid Kauman Gogodalem dan Raden Bagus Mertowongso
mendirikan masjid di Dusun Santren dengan sebuah mustoko masjid
dari masjid di Kedung Laran (Nazar, 2000: 5 - 45)
c. Arsitektur Bangunan Masjd
Keberadaan Masjid Kauman Gogodalem berada dalam
satu kompleks dengan makam. Luas secara keseluruhan kompleks
masjid berdiri di atas tanah milik kampung seluas kurang lebih 20 m
x25 m.
Secara garis besar kompleks Masjid dibagi menjadi tiga
yaitu bangunan masjid, makam dan maclrasah. Bangunan masjid
dengan ukuran sekitar 20 m x 15 atau 300 m2 dan kompleks makam
dengan ukuran sekitar 5 m x 10 atau 50 m2. Antara kompleks
bangunan Masjid dan kompleks makam diberi pembatas pondasi
atau tumpukan batu gunung. Kompleks makam berada di selatan
masjid dan sebelah barat masjid.
Sementara itu, bangunan madrasah memiliki luas sekitar 8
m x 8 m. Posisi bangunan ini berhempitan dengan bangunan utama
masjid dan makam.
Antara kompleks Masjid Kauman Gogodalem dengan
lingkungan perkampungan tidak ada pembatas pagar. Pembatas
kompleks masjid dengan perkampungan dibatasi oleh sebuah jalan
kampung. Jalan kampung tersebut berada di depan dan samping
kanan masjid. Jalan kampung. semula telah diaspal, namun sekarang
70
aspal telah mengelupas dan hanya terlihat lapisan tanah dan batu
kerikil. •
Kompleks bangunan Masjid terdiri dari bangunan utama atau tempat
utama beribadah, serambi depan, tempat sesuei atau tempat wudhu,
halaman.
Bangunan Masjid dan serambi berdiri eli atas sebuah pondasi
berbentuk persegi panjang dan pejal atau massive yang agak tinggi.
Pembuatannya dengan cara tanah digali sekitar 40 em - 50 em,
kemudian diberi tembok dari batu sungai dengan tinggi di atas tanah
sekitar 30 em. Setelah terwujud keliling pondasi, kemudian ditimbun
tanah seeara penuh. Oleh karena itu, pada saat bangunan masjid
elidirikan terlihat lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya. Adapun
tempat sesuei berdiri di atas pondasi yang rata dengan tanah.
1. Bangunan Utama Masjid
1.1 Bentuk Luar Masjid
Bentuk bangunan Masjid Kauman Gogodalem Keeamatan
Bringin, Kabupaten Semarang berbentuk tumpang susun tiga.
Atap paling atas disebut brunjung, atap kedua disebut penanggap
dan atap ketiga elisebut peningrap.
Atap bangunan paling atas atau brunjung elitopang oleh
empat tiang atau dikenal dengan sokoguru. Sokoguru tersebut
terbuat dari balok kayu jati berbentuk segi enam dengan uk Jr:l f1
inasing-masing sisi 10 em x 10 em dan tinggi hampir tuj uh
meter. Sokoguru berfungsi untuk menyangga atap susun atau
tumpang yang paling atas atau brunjung. Pengerjaan permukaan
sokoguru tidak halus. Hal ini kemungkinan karena keterbatasan
alat pertukangan. Pada pern1ukaan tiang masih terdapat bekas
71
goresan pahatan dari alat pemotong sehingga terlihat kasar.
•Penyangga atap masjid yang kedua atau penanggap pacta
Masjid Kauman Gogodalem ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi
menyatu dengan sokoguru.
Selain sokoguru, masjid Kauman Gogodalem memiliki
pula tiang penunjang atau sokoworo. Tiang tersebut berjumlah
delatan buah. Tiang tersebut berbentuk persegi panjang dengan
ukuran 20 em x 20 em dan tinggi sekitar tiga meter. Permukaan
sisi tiang tersebut juga beluul halus. Fungsi tiang penunjang atau
sokoworo adalah sebagai penyangga atap peningrap.
Foto: 31
Kontruksi Lambang gantung
Masjid Kauman, Bringin Kab. Semarang
Atap masjid berbentuk tumpang dibentuk oleh kerangka
berdasarkan kontruksi yang disebut lan-zhang teplok. Kontruksi
72
lambang teplok inilah yang membentuk atap brunjung. Pada
•puncak brunjung inilah diletakkan mustoko.
Bagian Dalam Masjid
Bangunan utama Masjid Kauman, Gogodalem terdiri dari
ruang utama sholat dan migrab. Bangunan utama berukuran
sekitar 8 m x 8 m. Dinding bangunan utama sudah diganti dengan
batu bata dan telah dikeramik. Menurut penuturan Bapak Mukri
yaitu seorang takmir masjid, dahulu dinding masjid terbuat dari
papan kayu jati tua. Penggunaan kayu bekas dinding masjid
diwujudkan sebagai papan etemit .
Foto: 32
Sokoguru Masjid Kauman,
Gogodalem, Bringin Kab. Magelang
Dinding tembok masjid diberi variasi jendela kaca bening.
berjumlah dua. Masing-masing jendela berukuran sekitar 2 m
x 1.25 m. Kedua jendela diletakkan di dinding sebelah Selatan.
Adapun dinding bagian depan terdapat dua jendela kaca bening
73
dan satu buah jendela kaea jenis nako berada di tengahnya.
•Jendela-jendela tersebut diletakan di kiri dan kanan pintu utama
masuk masjid. Ukuran masing masing jendela sekitar 90 em x
125 em.
Masjid Kauman Gogodalem ini memiliki satu pintu utama
dan dua pintu keeil. Pintu tersebut berada di depan. Pintu utama
berbentuk kupu tarung yaitu pintu dengan dua daun pintu yang
saling bertemu. Pintu tersebut terbuat kerangka kayu dan diberi
kaea bening. Masing masing pintu berukuran sekitar 90 em x
200 em. Adapun dua pintu keeil berada di ujung kanan dinding
depan masjid dan ujung kiri dinding depan masjid. Pintu tersebut
berukuran sekitar 70 em x 125 em. Kedua pintu tersebut terbuat
dari kayu jati dan merupakan ash peninggalan masjid di Kedung
Laran. Kedua pintu tersebut juga tidak diberi warna sehingga
masih terlihat tekstur kayunya.
Selain memiliki pintu di bagian depan masjid, Masjid
Kauman Gogodalem, juga memiliki tambahan pintu berjumlah
dua di dinding sebelah kanan masjid. Kedua pintu tersebut terbuat
dari papan kayu dengan ukuran 80 em x 125 em. Pintu tersebut
diletakkan di ujung dinding sebelah kanan dan kiri dinding
masjid sebelah kanan.
Lantai ruang utama terbuat dari keramik warna krem ukuran
40 em x 40 em. Lantai keramik ini merupakan hasil pekerjaan
renovasi bangunan akhir tahun 2007. Lantai ruang utama ini
sebelum dikeramik diberi lantai dari tegel semen. Agar para
jamaah masjid dapat nyainan beribadah, dalam perkembangannya
lantai tersebut ditutup dengan karpet hijau.
74
Foto: 33
Umpak Kayu Masjid Kauman,
Gogodalem, Bringin Kab. Magelang
Pada ruang utarna terletak ernpat sokoguru penyangga atap
Brunjung. Sokoguru tersebut berdiri di atas urnpak yang terbuat
dari kayu setengah bulatan. Cara rneletakkan tiang yaitu kayu
yang berbentuk setengah bola, diberi lubang segi enan1 sesuai
dengn bentuk balok soko guru. Kedalarnan lubang tersebut
sekitar lima sentimeter. Kayu sokoguru maupun umpak tidak
diberi perwarna namun tetap dibiarkan seperti wama tekstur
kayu. Melalui ruang utama ini, dapat pula melibat atap masjid
bagian brunjung. Pada lubang brunjung tersebut ditutup papan,
sehingga seperti bangunan loteng aau bangunan tingkat.
I IBADAN mus PROVo JATENG 75
Foto: 34
Tangga pada sokorowo Masjid Kauman,
Gogodalem, Bringin Kab. Magelang
Ruang pada brunjung dapat dinaikl dengan melalui tangga
dari kayu. Kayu tersebut disandarkan pada salah sokoguru sebelah
timur. Oleh karena keterbatasan mencari kayu tangga setinggi
delapan meter, tangga dibuat dengan cara disambung menjadi
dua bagian. Tangga tersebut mempunyai 12 anak tangga.
Foto: 35
Atap Brunjung dan pasak tiang
Masjid Kauman, Gogodalem, Bringin Kab. Semarang
76
Pada bagian bawah brunjung terlihat pula kontruksi
•sambungan balong-balok peyangga lain. Sambungan balok
tersebut disusun dengan tepat dan tereneana dengan sisten1 knock
down. Sehingga mudah dilepas apabila dibongkar. Sambungan
tersebut diperkuat dengan eara dipantek atau paku dati kayu
Migrab atau ruang untuk sholat imam Bagian ini berada di
sebelah barat dan tepat membagi dua bagian bagian utama masjid
Bentuk ruang seperti gua. Ukuran migrab yaitu 220 em x 120 ern.
Tinggi lubang migrab 175 em. Bentuk ruang tersebut merupakan
renovasi masjid akhir tahun 2007. Sebelum direnovasi, ruang
migrab atau ruang imam untuk sholat mempunyai ukuran sekitar
1,20 em x 120 em. Ruang tersebut menyatu dengan dengan
tempat duduk imam berkotbah.
Foto: 36
Lubang Angin di Migrab
Masjid Kauman, Gogodalem, Bringin Kab. Magelang
Pada dinding selatan dan kanan ruang Mimbar terdapat
lubang angin. Bingkai lubangangin terbuat dari kayu berukuran
50 em. Pada bagian tengahnya terdapat jeruji berjumlah empat
buah. Bentuk kayu telah dibubut.
77
2. Serambi
Bangunan Masjid Kauman Gogodalem Bringin
dua buah serambi. Serambi per~ma berbentuk limasan. U~_.
serambi ini 6 m x 8 m. Serambi ini menyatu dengan bagi
masjid. Oleh karena serambi ini mempunyai dinding
kanan maka serambi ini tidak merupakan ruang terhuka.
Dinding serambi terbuat dari batu bata yang sudah dipt'tSlllrl
dengan semen. Adapun bagian muka serarrlbi tidak berd..u...".-.......
Hal ini dikarenakan ruang serambi masih bergandengan de _
serambi kedua masjid.
Serambi kedua Masjid Kauman Gogodalem meruJJ~'''''''''
perpanjangan dati serambi pertama. Ukuran serambi 3 m x
Bentuk serambi ini menyerupai teras dengan atap datar. Din
sebelah kiri merupakan kelanjutan dari dinding serambi pert~....
Dinding sebelah kanan sedikit terbuka dan terdapat pintu U.L..._"-""
menuju ke ruang untuk menempatkan Bedug kuna dan peral
f
masjid lainnya.
Pada bagian muka teras, dinding dari batu bata berples
hanya dibuat dengan tinggi sekitar satu meter. Oleh karena i
ruang serambi kedua ini dapat dikatakan merupakan rua;=
setengah terbuka.
Tepat membagi dinding bagian muka masjid terdap'
pintu masuk tanpa daun pintu. Pintu tersebut berukuran sekit
tiga setengah meter. Depan pintu masuk terdapat dua ana·
tangga berundak atau dua trap. Anak tangga berundak tersebut
mempunyai panjang sarna dengan panjang teras masjid yaitu
sekitar delapan meter.
Pintu masuk lain yang ada pada ruang serambi terdapat pada
78
ujung sebelah kanan dari dinding kanan masjid. Pintu samping
masjid ini berukuran sekitar satu meter. Pintu tersebut merupakan
penghubung dengan ruang sesuci yang terletak di sebelah kanan
masjid. •
Lantai serambi pertama maupun kedua terbuat dati keramik
ukuran 40 emx 40 em, berwama kecoklatan. Menurut penuturan
Bapak Mukri, lantai masjid maupun dinding masjid telah
mengalami beberapa renovasi. Adapun lantai masjid berbentuk
keramik adalah hasil direnovasi akhir tahun 2007, serta bersamaan
dengan pemasangan keramik lantai ruang utama dan keramik
wama bim pada dinding dalam ruang utama masjid.
3. Tempat Sesuci
Tempat sesuei atau Wudhu Masjid Kauman Gogogdalem
bcrada di samping kanan bangunan masjid. Letak bangunan
tersebut lebih rendah dati bangunan masjid. Ukuran bangunan
sekitar 5 m x 6 m. Dinding keliling tempat sesuei ini dikelilingi
tembok dari bata setinggi sekitar 160 em.. Oleh karena itu,
terkadang seseorang yang sedang beraktivitas sesuei dapat
terlihat dari luar. Adapun atap tempat sesuei terbuat dari genting
berbentuk peningrap atau teras dengan posisi agak miring.
Bangunan tersebut terbagi dua bagian yaitu tempat
penampungan air dan tempat berwudhu. Masing-masing tempat
diberi pembatas setinggi sekitar 160 em. Tempat penampungan
air berukuran 3 m x 6 m sedang tempat berwudhu 150 em. Bentuk
tempat penampungan air seperti blumbangan atau kolam air.
Adapun kedalaman kolam mair tersebut dari permukaan tanah
sekitar 175 em.
79
Air sesuci masjid' diambil dati sumber mata air
Canglaing. Sendang Cang~ing berada di sebelah B
Kauman. Jarak Sendang Cakring dan masjid sekit
Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Sen
dibuat oleh Wali Komplang. Wali Komplang in"
murid dati Eyang mertongasono. Adapun terjadi "
Cangkring bertepatan tanggal 14 bulan Sya'ban
Sampai sekarang, peristiwa terjadinya Sendang Cana
masyarakat Dusun Gogodalem sangat ditunggu-tungc
dikarenakan ada keyakinan pengambilan air pada mal
..... aimya mempunyai khasiat sebagai abat atau dapat dipe __~
sebagai tolak balalc
-"
.... Foto: 37
J Kolam Air Masjid Kauman,
Gogodalem, Bringin Kab. Semarang
Penampungan air dari sUlYlber Sendang Cangring di Masj'
Kauman, selain dipergunakan untuk sesuci bagi jamaah masj'
juga dimanfaatkan sebagai tempat mandi warga. Hal in(dilakuka
karena sebagian warga tidak memiliki tempat mandi. Oleh
80
kayu. Selain itu memiliki teras dengan lebar sekit
Pada bagian depan teras terdapat pagar terbuat
dengan tinggi 80 em dan di~ri lubang dengan jeruf ~::a. .
pilar dari semen.
Foto: 38
TPQ At Taqwa di Kompleks Masjid Kauman, Gogodalem,
Bringin Kab. Semarang
Tempat pendidikan Islam yang di miliki Warga D
Kauman Gogodalem diberi nanla Tempat Pendidikan Al Q
At Taqwa. Pendirian tempat pendidikan ini dimaksudkan un
melestarikan dan menghidupkan kembali suasana pesantren y -_
dahulu pernah ada. Hal ini dituturkan oleh Uztad Mukriyan
sebagai berikut:
" .. .. di Dukuh Kauman Gogodalem berdiri pondok pesantrer.
Santrinya datang dari berbagai tempat di Semarang, Sol
Salatiga dan lain sebagainya. Namun sekitar tahun 60 - 70 a
mulai merosot pamomya bahkan pesantrennya telah tutup.
82
Penuturan di atas diperkuat seorang Kyai sepuh bernama H ;.
Hisyam sebagai berikut:
I
" .....oleh karena kekurangan setrang guru mengaji, para santri
banyak yang pindah ke pondok pesantren lain. Sekarang santri '.
yang datang hanya beberapa orang sekitar. Namun demikian,
orang tua terutama ibu-ibu dari masyarakat sekitar pada waktu I
tertentu juga masih mengunjungi ke rumah atau Masjid Kaun1an
untuk mengaji". I'r.
Selain keterbatasan guru pengajar, kemunduran pesantren ,~
di Dusun Gogodalem disebabkan kekurangan dana pengelolaan.
Dahulu dana pengelolaan pesantren berasal dari infak sodaqoh ...1
yang dibawa oleh para santri. Santri yang akan mondok menjadi
murid pesantren membawa bahan makanan sebagai bekal hidup
dan sebagian untuk disodaqohkan ke pesantren atau keluarga
kyai. Namun sekarang dengan semakin harga kebutuhan pokok
semakin naik maka pengelola pesantren tidak dapat hanya
mengandalkan sodaqoh bahan makan saja.
Setelah mengalami kemunduran dalam pengelolaan pesantren
sejak era 60 - 70 an, Bapak Mukriyanto yang merupakan santri
asuhan dari Kyai Hisyam telah merintis tempat pendidikan Al
Qur' an. Perintisan Beliau sangat diharapkan oleh Kyai H Hisyam.
Hal ini dikarenakan bapak Mukriyanto adalah anak dari Dusun
Gogodalem.
Tempat pendidikan Islam rintisan Bapak Mukriyanto
sekarang ini telah memiliki murid sekitar 45 orang dan memilikj
guru 7 orang. Murid TPQ berasal dari Dusun setempat dan
masyarakat sekitarnya. Adapun pengajar TPQ berasal dari
berbagai latar belakang pendidikan. Pangajarnya ada yang
83
Apabila perjalanan dari arah Jalan raya Magelang - Yogya,
maka setelah melewati jalan dan suasana pedesaan kurang lebih
berjarak 1 lan, tepat di sampin@; sebuah sungai berdirilah cukup
megah Masjid Krapak tersebut.
Foto: 39
. Masjid Kyai Krapyak I
Dusun Santren Gunungpring, Muntilan, Kab Magelang
b. Sejarah dan Legenda
Keberadaan Masjid Santren di Dusun Santren, Muntilan
Kabupaten Magelang tidak lepas dari legenda Seorang penyebar Islam
dikawasan Kedu yaitu Kyai Raden Santri. Kyai RC;lden santri sendiri
merupakan salah satu keturunan dari Kyai Ageng Pemanahan. Beliau
mempunyai dua saudara. Saudara pertama, Raden Sutowijoyo atau
Panembahan Senopati yaitu Raja Mataram I. Panembahan Senopati
berkuasa 1588 - 1601. Saudara kedua yaitu Pangeran Gagak Baning
atau Adipati Pajang. Beliau menjadi raja Pajang tahun 1588 - 1591.
85
Pada awal Kerajaan Mataram Islam berdiri, Pangeran Singo
serta menaklukan kadipaten-ka~ipatenyang ingin memisalU
dari kerajaan Mataram Islam. Atas keberhasilan dalam men~-__
kadipaten-kadipaten tersebut, Panembahan Senopati mem...-_._
penghargaan dan hadiah. Hadiah yang ditawarkan pada
adalah akan dijadikan Adipati. Namun demikian, hadiah te __'-'_
ditolaknya. Beliau lebih memilih untuk menyebarkan agama 1__...."
Pangeran Singosari dalam rangka menyebarkan agam .. _~I...
menggunakan nama samaran. Penyamaran tersebut dimaksu.......,;__
agar tidak diketahui identitas asli namanya sehingga memper"LJ.... __
dalam ffianjalankan dakwahnya. Nama samaran Beliau
berdakwah yaitu Raden~Santri.
Dalam berkelana untuk berdakwah, Raden Santri sin....=:
dan tinggal di beberapa Dusun. Saat singgah di Dusun Kes~_.....~
beliau sempat membuat mushola. Menurut cerita yang berkemb
di Inasyarakat, mushola tersebut dibangun selain diperguna
untuk sholat juga dipergunakan untuk menangkal banjir dan sun_
Klawing yang sering melanda Dusun tersebut.
Persinggahan Raden Santri terakhir dalan1 berdakw
dan sampai hayatnya beliau menetap di Dusun Santren, Muntil
Kabupaten Magelang. Di Dusun inilah Ra-den santri dikaru .
seorang Putra yaitu Krapyak Hanyokrowati atau dikenal deng
nama Simbah Kyai Krapyak 1. Adapun Inakam beliau berada di at
bukit Gunungpring Muntilan, Kabupaten Magelang
Sifat dan cita-cita Simbah Kyai Krapak I tak ubahnya dengar.
cita-cita ayah dan leluhumya. Sifat dan cita-cita ayah dan leluhumya
yaitu ingin menyebarkan agama Islam di tanah Jawa khususnya di
Jawa Tengah. Atas ketulusan untuk menyebarkan Islam di Tanah
86
Jawa tersebut, sang Raja memberi hadiah sebuah Masjid. Masjid
yang dihadiahkan mempunyai luas' sekitar 404 m2. Konon, hadiah
Masjid tersebut dibawa pulang oleh Kyai Krapyak I dibungkus
dengan selen1bar sapu tangan dan diletakkan di Dusun Santren pada
tahun 1618 M.
Bentuk fisik dari Masjid Santren, pada awalnya masih belum
lengkap dengan tempat wudhu. Adapun Blumbang atau kolam air
yang ada sekarang ini terdapat legenda tersendiri.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, kolam Air
yang dikenal dengan sebutan Blumbang Gede terjadi karena suatu saat
Panembahan Senopati kangen terhadap keponakan yang berdakwah
di ,dusun-dusun di wilayah Kedu. Beliau mengirimkan utusan untuk
memanggil Kyai Krapyak. Pada saat utusan Raja sampai di Dusun
Santm, mereka mendapati Kyai Krapak sedang bennunajad di
Masjid. Oleh karena sudah cukup lama menunggu dan tak sabar,
tanpa sepengetahuan Kyai Krapyak, utusan tersebut mengambil
pusaka milik Krapyak. Pusaka tersebut dibawa oleh utusan ke
Kerajaan. Setelah selesai bermunajad, Kyai krapyak terkejut tombak
pusakanya telah lenyap. Akhimya Beliau pergi ke keraton dan
mengadukan perihal hilangnya tombak pusaka ke pamannya yaitu
Pangeran Senopati. Mendengar pengaduan dan rasa kangen terhadap
keponakannya telah terobati, Pengeran Senopati mengembalikan
tombak pusakanya. Namun demikian dalam pengembalian tombak
tersebut Kyai Krapyak diberi syarat yaitu sesampai di Dusun Santren,
hendaknya Kyai Krapyak menyempumakan bangunan masjid
dengan membuat tempat wudhu. Syarat tersebut ditaatinya dengan
cara menancapkan pusaka di tanah sebelah barat masjid sehinngga
tempat tersebut menjadi kolam air.
87
c. Arsitektur Bangunan Masjid
Kon1pleks Masjid KrapYllk secara keseluruhan ber
dalam satu kompleks dengan n1akam dan sebuah sekolah Madra~
Tsaniwiyah. Luas secara keseluruhan kompleks masjid berdiri
atas tanah lebih dari 750 m2. Masjid ini sudah dua kali mengal
renovasi". Panjang masjid semula Inempunyai lebar 11 meter
panjang 15 meter.
Bagian depanKompleks Masjid Krapyak diberi pagar temb
berwama putih setinggi satu setengah meter dengan dua pintu mas
Pintu berbentuk bentar kecil. Lebar pintu berukuran sekitar li
meter berada di sebelah Barat. Adapun lebar pintu masuk sebe
Timur, ukuran pintu agak lkecil dibanding pintu sebelah Barat y
sekitar empat meter. Sebagai pembatas dengan makam yang ber
di sebelah Barat masjid, maka diberi p~la tembok dari bata setins
satu setengah meter. Pintu masuk ke makam hanya ada satu.
Sebelah Utara masjid tidak diberi pembatas karena te
diberdiri sebuah sekolah Islam yaitu Madrasah Tsaniwiyah Ma'
2 Muntilan. Adapun pelnbatas s,ebelah Timur masjid tidak di
pagar karena bebatasan langsung dengan sungai.
,Kompleks bangunan masjid terdiri dari bangunan ut.
atau tempat utama beribadah, serambi depan, tempat sesuci a
tempat wudhu, Kolam, halaman masjid, dan Madrasah,
1. Bangunan Utama Masjid
Bentuk Luar Masjid
Bangunan Masjid Krapyak berdiri di atas sebuah pond
yang yang cukup tinggi. Tinggi pondasi dari permukaan ta
adalah satu meter. Pondasi terbuat dari batu sungai yang ban~
88
rsebar di daerah Dusun Santren atau diambiI dari sungai yang
da di dekat masjid.
B.t='LJ/.lMM£J.9JO Kr0Dyak tampak darj Juar terJjhat berbentuk
nan rumah tradisional beratap stIsun dua. Bagian puncak
- fa jid Krapyak terlihat ada dua yaitu atap puncak bangunan
...........ou.u dan atap puncak bagian pengimaman. Masing-masing
-...~._..un ak tersebut terdapat mahkota yang terbuat dari Iogam
an terdapat tulisan Allah. Mahkota bangunan uatam masjid
Iu terbuat dari" tanah yang dibakar atau terakota.
Foto: 40
Mahkota Bangunan Utama Masjid dan Pengimamam
Atap atau masjid terbuat dari tanah, namuh berdasarkan
\
rita masyarakat, atap atau genting Masjid Krapyak dahulu
erbuat dari sirap kayu.
Bagian Dalam Masjid
Ruang utama masjid berdenah bujur sangkar.Ruang utama
memiliki luas 16 m x 16 m atau 256 m2. Ruangan ini terdapat .
empat tiang atau dikenal dengan sokoguru .. Sokoguru adalah
tiang penopang bangunan utama atau atap brunjung. Dahulu,
Sokoguru terbuat batang kayu jati yang utuh dengan tinggi sekitar
89
8 ill, namun sekarang, sokoguru Masjid Krapyak te
dengan tiang dari eor semen dan dilapisi kayu jati )
Sokoguru asli ditutup dengan ~or. Sokoguru tersebut ooiOC._
persegi dengan ukuran 35 em. Tiang penyangga dan blar...:~·_.
balok kayu penghubung lainnya yang semula dari bah
telah pula diganti dengan bahan eor semen.
Foto: 41
Sokoguru Masjid Krapyak
Sokoguru Masjid Krapyak ditopang oleh umpak yang te
dieat hitam. Umpak tersebut berbentuk trapesium terpeng_
dengan ukuran bagian bawah 42 em dan tinggi 64 em.
Ruang utama Masjid Agung Demak berdinding temb
berspesi dan berlantai traso wama putih susu. Ukuran tras
40em x 60em. Sebagian traso ditutup dengan karpet bergarnb
masjid. Selain itu, ruang utama juga memiliki beberapa pin
Pintu masuk ke ruang utama berjumlah tiga buah. Pintu terseb .
terdiri satu pintu utama, dua pintu pengapit pintu utama. Semu
pintu berjenis kupu tarung yaitu dua daun pintu yang saling
90