l tel
f€-
q,k-+
b-
d
F
{
.?-i
':.= E.
.. )--mr---rin tA h llf.t'tinSi l;i*+rl 7:n1;rh lFi
ilin;r; it+n; [i; [[,r;rn ; l;rn l(-: hrr; f r7;r;r;r*
, :" ,l,lrr.q+rr;t lr^tn 7:n1;rh
GAYA RAGAM HIAS BATIK
(Tinjauan Malcna dan Simbol)
Editor:
Drs. Puji Joharnoto M.Pd.
Drs. Djoko Wicaksono, M.A.
Tim Penulis:
Drs Wahono
Budi Santosa S.Sos.
Dra. Suhartati
Ago.g Kristiyanto S.Sos.
Rohayati B.BA
Madenur
Fotografi:
Ngatimin
Pemerintah Daerah Propinsi ]awa Tengah
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Museum Jawa Tengah "Ronggowarsito"
2004
GAYA RAGAM HIAS BATIK
(Tinjauan Malcna dan Simbol)
Editor:
Drs. Puji ]oharnoto M.Pd.
Drs. Qoko Wicaksono, M.A.
Tim Penulis:
Drs Wahono
Budi Santosa S.Sos.
Dra. Suhartati
Agung Kristiyanto S.Sos.
Rohayati B.BA
Madenur
Fotografi:
Ngatimin
ISBN: 979 9579 52x
sti
PRAKATA
Batik merupakan perkembangan seni di Jawa, khususnya
di Jawa Tengah, sedangkan mengenai motif merupakan
perkembangan dari paduan berbagai pengaruh kebudayaan
dari luar.
Batik dibuat di berbagai daerah, dan setiap daerah
mempunyai keunikan dan ciri khas masing-masing,baik dalam
ragam hias maupun tata warnanya. Namun demikian dapat
dilihat adanya persamaan dan perbedaan antar batik dari
berbagai daerah. Melihat perbedaan dalam hal dan gaya selera
dari berbagai dagrah sangatlah menarik, sehingga mendorong
tim penulis untuk mencoba memperkenalkan batik lebih dekat.
Koleksi batik Museum Jawa Tengah Ronggowarsito cukup
banyak jumlahnya, sehingga tidak mungkin tampil semua,
secara geografis terwakili daerah pesisiran dan pedalaman.
Daerah pesisiran meliputi; Pekalongan, Batang, Rembang,
sedangkan untuk daerah pedalaman; Surakarta, Klaten dan
Banyumas. Tulisan ini banyak ditunjang dengan foto-foto agar
dapat terlihat secara visual.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu atas tersusunnya
tulisan ini.
Akhirnya atas segala kekurangan dan kelemahan dalam
tulisan ini diharapkan untuk kesempurnaan di masa akan
datang. Mudah-mudahan buku ini dan menambah
pengetahuan tentang batik
Semarang, Agustus 2004
Penulis
lu
SAMBUTAN
KEPALA DINAS PENDIDIKAN DAN
KEDUDAYAAN
PROVINSI JAWA TENGAH
Assalamu' alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, saya menyambut baik diterbitkannya sebuah buku koleksi
yang berjudul;
"Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Makna dan
Simbol)".
Saya menilai positif disusunnya naskah buku tentang
batik yangdiharapkan dapat dijadikan sumber data informasi
yang berguna bagi masyarakat khususnya generasi muda.
Melalui buku ini generasi muda mendatang akan dapat
mengkaji, mempelajari dan memahami salah satu kekayaan
budaya bangsa, sehingga dapat mengenal sejarah budaya
bangsanya sendiri dalam upaya pelestarian nilai-nilai luhur
budaya bangsa.
Masyarakat dan budaya bangsa selalu berkembang dan
mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan peradaban
manusia, yang dapat mengakibatkan pergeseran dan
perubahan nilai budaya atau kehidupan masyarakat.
Sehubungan dengan itu, maka sebagian dari kebudayaan
tradisional akan semakin kurang diminati dan tidak dihayati
oleh masyarakat dari generasi ke generasi. Tanpa adanya upaya
pelestarian antara lain melalui penggalian, pencatatan,
pendokumentasian, dan penyebarluasan informasi, maka
generasi yang akan datang tidak akan dapat mengenal sejarah
budaya bangsanya sendiri.
Denqan disusunnya buku ini diharapkan dapat meniadi
sumber informasi tertulis yang dapat memberikan gambaran
kepada generasi muda khususnya peminat/pemerhati budaya
bangsa.
Saya sangat menghargai karya dan kreativitas museum
dalam upaya melestarikan budaya melalui penerbitan buku ini,
semoga bermanfaat bagi kita semua.
Wasalamu' alaikum salam Wr.Wb
September 2004
idikan dan Kebudayaan
isnu Yuwono, M.M
521266
VI
SAMBUTAN
KEPALA MUSEUM IATENG RONGGOWARSITO
Assnmu'alaikum Wr. Wb.
Museum sebagai wadah penyimpanan benda-benda
warisan bu daya,sarana pendidikan dan rekreasi dituntut untuk
d arpat proaktif dalam mengkomunikasikan koleksinya kepada
pengunjung. Tidak hanya menantikan datangnya pengunjung
ke museum, namun museum harus dapat memperluas
jungkauan penyebar luasan informasinya kepada masyarakat
secara luas, salah satunya adalah penerbitan buku.
Tujuan utama penerbitan sebuah buku adalah untuk
meningkatkan pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai luhur
warisan budaya dalam rangka memperkokoh jati diri bangsa.
Pada kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga
tersusunnya buku ini.
Harapan kami dengan terbitnya buku ini akan menambah
irformasi tentang koleksi museum, khususnya tentang koleksi
batik, yang akhirnya dapat menumbuhkan partisipasi
masyarakat dalam rangka pemanfaatan dan pelestarian nilai-
nilai luhur budaya bangsa, yang selanjutnya dapat menjadi
unsur perekat bagi persatuan dan kesatuan bangsa.
W nssamu' alaikum Wr. Wb.
Semarang, Agustus 2004
Kepala Museum Jawa Tengah
onggowarsito
b. Agus Dono Karmadi
P.1,30932236 +
DAFTAR ISI
PRAKATA Hal
SAMBUTAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN DAN iii
KEBUDAYAAN PROVINSI JAWA TENGAH
SAMBUTAN KEPA LA MUSEUM JAWA TENGAH vll
ix
RONGOWARSITO xi
xii
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I. PENDAHULUAN
A.Latar Belakang.
B. Permasalahan
C. Tujuan
D. Ruang Lingkup
E. Paradigma ...........
F. Metode Pengumpulan Bahan Penulisan ........
G. Sistematika ..........
BAB II. IDENTIFIKASI WILAYAH PENELITIAN 1,1
PENGKAIIAN
1,1
A. Letak geografis
B. Penduduk ............ 14
C. Mata Pencaharian ............ 17
D. Religi 20
22
E. Mitologi ...............
lx
Bab III. TRADISI MEMBATIK DI NUSANTARA 31
A. Sejarah Batik 31.
B. Proses Pembuatan Batik 49
C. Pekerja Batik 72
76
D. Perdagangan Batik 80
E. Cara Berdagang
Bab TV. GAYA RAGAM HIAS BATIK 85
A. Pengertian Gaya Ragam Hias Batik 85
B. Deskripsi Data Koleksi Batik 90
1. Gaya ragam hias batik Pesisiran.
91.
2. Gaya ragam hias batik pedalaman............. 124
C. Pemakaian Motif Batik .. 739
Bab V. ANALISIS RAGAM HIAS BATIK 145
152
A. Makna Ragam hias Batik
B. Analisis Motif dan Warna Batik
Bab VI. PENUTUP 1.59
PUSTAKA 1.62
DAFTAR TABEL
Tabel I Banyaknya Hari Hujan di Wilayah Sekitar 13
Tabel II Pengkajian .............. 13
Tabel III
Tabel IV Banyaknya Curah Hujan di Wilayah
Tabel V
sekitar Pengkajian ..............
Kepadatan Penduduk Wilayah Pengkajian 1,6
Penduduk Berumur 10 tahun ke atas yang 18
bekerj a dan mata-pencahariannya ..............
Banyaknya Pondok Pesantren Kyai, Ustad 27
dan Santri
xl
DAFTAR GAMBAR I
Bab III:
Gambar 1 Replika Arca Pradnya Paramita ..................
Gambar 2 Arca Vasudara .........
Gambar 3 Batik Rivaiyah.. ltl
Gambar 4 Rumah Peribadatan Khas Cina di Lasem.. 42 I
Gambar 5 Selendang Motif Naga
...............: 44s304!1I
Gambar 6 Batik Motif Jlamprang .............:.... s4
Gambar 7 Batik Motif Semen Klawek
54 I
Gambar 8 Canting I
Gambar 9 Canting Cap dengan pegangan .................. 55
56
Gambar L0: Canting Cap Motif Kawung 58
59
Gambar 11: Gawangan
61.
Gambar 12: Wajan
67
Gambar 13: Kuas........ 69
Gambar 14: Malnm Batik -/Ja
74
Gambar 15: Dingklik 75
79
Cambar 16: Perajin Wanita mempola kain .........
Gambar 17: Kain Tembokan
Gambar 18: Wanita Pembatik
Gambar 19: Wanita Penjual Batik
Gambar 20: Perajin Pria mewarnai .........
Gambar 21: Batik Motif Hokokai
Bab IV: 89
Gambar 22: Batik Pribumi 9l
Gambar 23: Batik Motif Largemak
Gambar 24: Batik Motif Boketan pohon 93
Gambar 25: Batik Motif Buntal Truntum 94
Garnbar 26: Batik Motif Buketan Angsa 95
xii
( i,rrrrlrirr'27: Ilatik Motif Tumpal 96
( i,rrrrlrirr 2tJ: Batik Motif Tanahan Krokotan 97
( l,rrrrlrlr 2c): Batik Motif Burung Cenderawsih............... 98
( i,rrrrbar 30: Batik Motif Burung Cenderawasih............. 99
( l,rrnbar 31: Batik Motif Parang Iago .........
( i,rnrlrirr 32: Batik Motif Bledak 100
( l,rrrrbar 33: Batik Motif Mega Mendung 102
103
( lirn-rbar 34: Batik Motif Kawung Sulur 1.04
( lnrnbar 35: Batik Motif Terang Bulan 1.07
( larnbar 36: Batik Motif Hokokaido............... 1.07
( lambar 37: Batik Motif Wijaya Kusuma
109
( lambar 38: Batik Motif Truntum. 110
( lambar 39: Batik Motif Locantalki................ 712
( iambar 40: Batik Motif Gribigan
113
(lambar 41: Batik Motif Kupu Seberang 7L4
(lambar 42 Batik Motif Jlamprang 11,6
(lambar 43: Batik Motif Burung Phoenik
Gambar 44: Batik Motif Pribumi 777
Gambar 45: Batik Motif Bunga Krisan......
Gambar 46: Batik Motif Naga .. 118
Gambar 47: Batik Motif Laseman
1,79
120
121.
Gambar 48: Batik Motif Bang Biru......... 122
Gambar 49: Batik Motif Cocohan t23
Gambar 50: Batik Motif Kawung Batang
Gambar 51: Batik Motif Truntum Lar........... 724
125
Gambar 52: Batik Motif Kopi susu......... 126
Gambar 53: Batik Motif Gambang Sulung 127
Gambar 54: Batik Motif Blaburan Kanthil 128
Gambar 55: Batik Motif Sidoluhur Banyumasan........... 129
Gambar 56: Batik Motif Parangkusumo
Gambar 57: Batik Motif Kawung Kembang 130
131
xul
Gambar 58: Batik Motif Gondosuli Putih L32
Gambar 59: Batik Motif Puger 133
JSaigdoom..u..ly..o................. 133
Gambar 60: Batik Motif 135
Gambar 6l-: Batik Motif 136
Gambar 62: Batik Motif Sidomukti ............... 137
Gambar 63: Batik Motif Semen 138
Gambar 54: Batik Motif Pisang Bali ..........
1.40
Gambar 65: Pemakaian Batik Motif Parang Barong
Pada Raja S.D.I.S-K.S
xlv
BAB I
PENDAI{ULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu warisan budaya masyarakat Jawa Tengah
acJalah seni batik kain. Secara fungsional seni batik yang dikenal
rlc'wasa ini, tidak dapat dipisahkan dengan "rrTlai" kain dalam
ke'hidupan masyarakat. Kain di samping digunakan untuk
rnelindungi badan dari pengaruh iklim, cuaca serta serangan
rlari binatang kecil, juga dapat menunjukkan tingkat peradaban
dan budaya dari masyarakat pendukungnya. Hal ini tercermin
ri alam berbagai kain batik dengan motif-motifnya. Motif-motif
tcrsebut terkandung ide-ide, gagasan, norma-norma, nilai etika
rlan estetika yang secara umum menggambarkan keadaan
[r rrdaya masyarakat pendukungnya.
Setiap daerah yang mengerjakan pembatikan satu dan
yang lain mempunyai keunikan atau kekhasan masing-masing.
Keunikan tersebut dapat dilihat dalam ragam hias maupun tata
warnanya. Keunikan tersebut dipengaruhi berbagai hal seperti
sistem kepercayaan, tata kehidupan maupun alam sekitarnya.
Kain batik sebagai warisan budaya tersebar di berbagai
claerah di Indonesia, khususnya |awa Tengah. Di Jawa Tengah
tt.rdapat beberapa sentra penghasil batik, diantaranya dapat
rlijumpai di kawasan pesisir utara Pulau Jawa, seperti:
l'ckalongan, Batang, Lasem. Di samping wilayah pesisir pantai
utara, wilayah pedalaman atau wilayah bagian selatan Pulau
J,rwa juga dijumpai sentra penghasil Batik seperti: Solo,
()nya Ragam Hias Batik (Tfujaunr Sinbol dan Maknn)
Yogyakarta, Klaten, dan Banyumas
Batik di daerah tersebut sampai sekarang masih banyak
diproduksi. Namun demikian keberadaan seni batik tersebut
di beberapa tempat mengalami kemunduran dan bahkan
menuju kepunahan. Batik gaya Banyumasan misalnya yang
pada tahun sekitar 7970-an terdapat 80 pengusaha dan ratusan
perajin batik. Pada saat ini yang masih bertahan tidak lebih dari
sepuluh orang pengusaha. Ketidakrnampuan bertahan tersebut
diantaranya dipengaruhi oleh upah kerja yang rendah, yaitu
berkisar 6000 rupiah sampai 8500 rupiah per hari. Di sisi lain
serbuan batik dari daerah lain dengan motif batik yang lebih
variatif menambah keterpurukan batik Banyumas. Akibatnya
batik Banyumasan hanya bertahan di sekitar Banyumas saja.
Seni membatik di Jawa Tengah terutama batik tulis
semakin terdesak lagi apabila dikaitkan dengan kemajuan
industri tekstil. Hal ini dikarenakanbentuk danmotif batik tulis
banyak diproduksi oleh mesin dan cap. Hasil industri ini
dikenal dengan Batik printing atau batik cap.
Seperti umufirnya warisan budaya lainnya di Indonesia,
di tengah-tengah arus globalisasi dan kemajuan zaman, perajin
seni batik menghadapi permasalahan. Permasalahan yang
timbul karena upah buruh, persaingan industri batik dengan
rekayasa teknologi, ekonomi serta kurangnya apresiasi
masyarakat terhadap nilai keadiluhungan seni batik. Di sisi lain
juga jarena kurangnya informasi dan promosi makna dan
keindahan seni batik hasil budaya bangsa.
B. Permasalahan
Museum Propinsi Jawa Tengah Ronggowarsito memiliki
berbagai jenis koleksi yang menarik. Oleh sebab itu, tepat bila
dijadikan objek wisata budaya dan kajian budaya.
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Sinfuol dar Makra)
Batik yang ada di Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
nrcrupakan jenis koleksi yang menarik. Aneka ragam koleksi
kuin batik yang tersimpan di dalamnya berasal dari berbagai
tlaerah di ]awa Tengah. Batik - batik tersebut bila dilihat secara
t't'rmat tampak perbedaan motif batik antara daerah satu
tlt'rrgan daerah yang lain. Melalui keaneka-ragaman motif batik
It.rsebut akhirnya mampu menarik minat dan dimanfaatkan
olt.h pengunjung, pengelola museum maupun peminat budaya.
l)i sisi lain menimbulkan rasa untuk mengungkap makna yang
It'rkandung dalam ragam hias batik tsb.
Berdasarkan kenyataan tersebut, pengelola Museum Jawa
'l't'ngah Ronggowarsito perlu memberikan pemahaman yang
it,las kepada pihak pengunjung dan peminat museum tentang
rrrakna gayaragam hias serta warna batik. Permasalahan yang
,rkan dikaji dalam tulisan ini adalah:
l. Bagaimana Motif atau ragam hias batik pada koleksi
Museum Jawa Tengah Ronggowarsito;
2. Makna apakah yang tertuang pada ragam hias dan berbagai
j. warna batik di Jawa Tengah;
Apa yang mempengaruhi pembatik dalam pembuatan motif
batik?
('. Tujuan
Pengkajian dan penyusunan naskah gayaragamhias batik
rrrilik koleksi Museum Jawa Tengah Ronggowarsito bertujuan
rrrrtuk meningkatkan fungsi museum dalam kehidupan
r r r,rsyarakat sehingga dapat:
l. Mcmberi informasi data koleksi yang lebih lengkap;
2, Meningkatkan pemahaman petugas museum terhadap
koleksi batik Jawa Tengah;
,1, Mt'mpermudah memberi bantuan informasi pada
littya llagtutr Hias Batik (Tinjauat Sinfuol dan Makta)
masyarakat yang ingin dan tertarik terhadap seni batik dan
pengelolaan serta pelestariannya.
4. Mengungkapkan makna ragam hias batik dalam rangka
pelestarian pengkajian dan pengembangannya.
D. Ruang Lingkup
Lingkup pembahasan dan penekanan materi pengkajian
adalah gaya ragam hias dan warna batik pada koleksi batik
;4ang ada di Museum Jawa Tengah serta dikaitkan dengan batik-
batik yang tersebar di Jawa Tengah yaitu sekitar Kabupaten
dan Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, Kabupaten
Rembang-Lasem, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Klaten dan
Kota Surakarta.
Pada pengkajian ini, pembahasan yang dipakai adalah
pendekatan deskripsi analitis dengan "pendekatan tekstual".
Pendekatan teks di sini adalah seni batik dianggap sebagai teks
yang harus dibaca dan kemudian ditafsirkan seperti halnya
seseorang membaca sebuah teks yang pembacanya boleh
memberikan tafsir apa saja dengan bebas. Oleh karena itu,
pemaknaan "teks" tentang ragam hias batik tafsir seorang
pengkaji atau peneliti yang satu dengan yang lainnya dapat
berbeda. Yang penting adalah dukungan data yang mampu
memperkuat dan mendukung tafsir yang dikemukakannya
(Ahimsa Putra, 7999:404). Guna mencapai pengertian makna
motif dan warna batik secara mendalam juga dilakukan
pendekatan kualitatif .
E. Paradigma
Melihat motif hias pada kain, maka batik dapat
dikatakan bagian dari karya seni. Sebagai karya seni maka batik
dapat dilihat dari berbagai paradigma. Paradigma dalam tulisan
Gaya Ragam Hias Bntik (Thrjauan Sintbol ilat Makna)
rrr i irrlalah anggapan dasar, model dan konsep yang digunakan
,l,rliun memahami dan menafsirkan apa yang hendak dikaji.
( A lr i rrrsa Putra, 7999: 399)
tsatik dalam kajian ini tidak mutlak hanya berbicara
It,rrtlng seni yang penuh dengan nilai - nilai, estetika dan
kt,irrclahan saja namun dilihat pula dalam tataran paradigma
sr,rri itu sendiri.
Tataran paradigma kajian ini adalah karya seni dilihat
st,lragni teks. Teks yangdimaksud dalamkajianini adalah gaya
rr r lll rn hias yang tertuang dalam sebuah kain batik. Batik sebagai
kirryar seni yang dianggap sebagai teks dalam sebuah paradigma
t t t,r ka berusaha diungkap makna-makna dalam ragam hiasnya.
Batik seperti halnya karya seni yang lain adalah bentuk
r,kspresi diri dari si pembuatnya. Sedangkan ekspresi diri
H('s(lorang tersebut dipengaruhi oleh diri pelaku dan sosial
Irt rtla'rya yang melingkupinya. Namun demikian pada dasarnya
,rllrn pikir manusia memiliki dasar-dasar kesamaan dalam
I rt.rpikir. Untuk mengungkap dasar-dasar persamaan makna
st,llr ah ragam hias batik digunakan paradigma yang ada dalam
It,rromena kebahasaan. Hal ini dikarenakan antara karya seni
tlirtt bahasa terdapat kemiripan dalam kemunculannya.
Kcnriripan tersebut adalah seni dipandang sebagai sebuah
r,kspresi, wujud atau simbol dari pandangan-pandangan atau
lx'rasaan - perasaan manusia. Pandangan dan perasaan manusia
It,r'scbut kemudian ingin dikomunikasikan seperti halnya
lr,rhnsa.
Oleh karena aspek pengungkapan ekspresi dan
kortrnnikasi tersebut maka seni batik memiliki aspek langue
tl,tn pnrole seperti bahasa. Menurut F. de Sussure,lnngue adalah
klrlsanah tanda bahasa, suatu sistem lambang atau sistem
l, r r rrl ;r- tanda bahasa atau seperangkat hubungan di antara tanda-
t irtlt llngam Hias Batik (Tifiauat Simbol ilan Makna) 5
tanclu bahasa yang stabil atau dengan kata lain adalah sistem
Lursllr-unsur yang saling bergantunB, yang nilai masing-
masingnya ditentukan oleh keberadaan dari unsur-unsur lain
secara serentak. Singkatnya, langue merupakan keseluruhan
sistematis yang dibangun oleh aturan-aturan yang mendahului
dan melampaui tiap penutur individual dan yang terdiri dari
hubungan-hubungan antara unsur-unsur dan masing-masing
mempunyai fungsi diakritis sendiri. Fungsi diakritis yaitu
fungsi yangdidasarkan atas berjalannya waktu. Hal yang pokok
dalam aspek langue dari bahasa pada umumnya tidak disadari
atau tidak diketahui oleh pemakai bahasa itu sendiri. Walau
tidak disadari, bukan berarti bahwa aturan-aturan atau tata
bahasa tersebut tidak ada.
Sedangkan Pnrole adalah tuturan yang berada pada
individu. Jadi tutur individu yang satu dengan inividu yang
lain kemungkinan berbeda. Oleh karena itu Parole atau tutur
seorang dapat pula dianggap gaya atau style dalam
menggunakan bahasa (Cremers,7997:99 - L07)
Sementara itu, Batik sebagai seni dapat dilihat sebagai
sistem bunyi, seperti yang diungkapkan oleh Levi Strause
dalam melihat seni. Levi Strause melihat bahwa sistem bunyi
dalam bahasa pada dasarnya bersifat aposisi biner. Aposisi biner
menurut Levi Strause adalah akal manusia secara spontan dan
tak sadar menyusun segala tingkat realitas yar.g beraneka
ragam lewat logika aposisi yang saling bertentangan dan
bentuknya berpasangan seperti pria / wanita, gelap / terang,
alam/kebudayaan, siang/malam, gunung / laut, telanjang/
berpakaian dan seterusnya (Keesing:1992:776 - 717).
Berbagai ragam hias batik merupakan hasil kreativitas
manusia. Kreativitas berupa aneka ragam motif hias perorangan
manusia dalam pandangan Levi Strause adalah ilusi. Ilusi itu
Gaya Ragam Hias Batik (Tirjauan Sinfuol clar Mskna)
rrr,rrtliri Lrerarti sesuatu yang tidak sesuai dengan penginderaan
,rl,rtr hanya khayalan saja. Kreativitas tersebut merasang dan
lr,lirlr mengikuti "jejak-jejak" proses ciptaan seorang seniman
l,rirr rlan tidak pernah sendirian karena mau tak mau ia harus
rnt,rregaskan dirinya lain dengan seniman lainnya. Namun
tlt,nrikian seorang seniman tak pernah berjalan sendiri dalam
l)rosc.s penciptaan sebuah karya seni (Cremers,1997:205 -206).
!r. Metode Pengumpulan Bahan Penulisan
Sesuai dengan tujuan dari pengkajian, maka usaha
[rt,nulisan aktivitas pengkajian ini bersifat deskriptif analisis
trrt'rrgenai gaya ragam hias batik koleksi MuseumJawa Tengah
llorrggowarsito yang keberadaannya berasal dari berbagai
wilayah di Jawa Tengah.
Tahap-tahap pengkajian yang ditempuh untuk membahas
topik tersebut adalah:
l. Pengumpulan data:
n. Surztei Lapangan
Pendataan lapangan dilakukan dengan mengamati
Itrngsung objek atau koleksi yang menjadi sasaran. Objek atau
koleksi dalam pengkajian ini adalah koleksi kain batik yarrg
ada di museum Jawa Tengah dan keberadaaan kain batik itu
sendiri di wilayah sekitar asal koleksi tersebut yaitu Kabupaten
Banyumas, Kabupaten dan Kota Pekalongan, Kabupaten
Rembang - Lasem, Kota Surakarta dan Kabupaten Klaten.
Untuk mendapatkan data yang lebih akurat dipergunakan
pula wawancara dengan beberapa nara sumber serta informan.
b. Studi Kepustakaan
Untuk melengkapi kekurangan data lapangan, maka
Gaya Ragmt Hias Batik (Titjatnt Sinfuol ilan Makna)
dilakukan studi kepustakaan dengan cara menelaah buku-buku
dan laporan - laporan tentang pertekstilan maupun batik. Di
samping itu studi literatur digunakan sebagai dasar pemikiran
dalam menjawab permasalahan yang ada.
2. Analisis
Data yang diperoleh dari survei lapangan dan studi
kepustakaan kemudian diolah dan dianalisis bedasar kerangka
pemikiran yang ada.
Pada tahap akhir dilakukan penyimpulan atau uraian-
uraian dari berbagai data yang diperbleh pada tahap
pengumpulan data dan analisis.
G. Sistematika
Sistematika tulisan ini terdiri dari enam bab sebagai
berikut:
BAB I berisi tentang pendahuluan yang mencakup latar
belakang permasalahan penulisan; tujuan penulisan; ruang
lingkupnya meliputi koleksi batik Museum lawa Tengah
Ronggowarsito dan keberadaan batik-batik tersebut di wilayah
yang tersebar di Kabupaten dan Kota Pekalongan, Kabupaten
Batang, Kabupaten Rembang - Lasem, Kabupaten Klaten dan
Kota Surakarta; paradigma yang akan membahas batik; metode
pengumpulan bahan penulisan meliputi data di perpustakaan
dan data yang didapat di lapangan.
BAB II berisi tentang indentifikasi wilayah penelitian yang
meliputi letak geografis atau lingkungan alam, jumlah
penduduk, sistem mata pencaharian hidup yang meliputi
pekerja perempuan; sistem religi mencangkup tentang aktivitas
keagamaan dan religi masyarakat serta legenda atau mitos yang
berkembang di masyarakat.
8 Gnya Ragan Hias Batik (Thrjauan Sinfuol dnt Mnkna)
ll,rb lll berisi tentang tradisi membatik di Nusantarayartg
rr rllrpr rti scjarah dan perkembangan batik, proses produksi batik
r r rr,lrpr rIi perlengkapan batik, bahan sampai proses jadi. Pekerja
\',urli tcrlibat dalam batik, Perdagangan dan sistem
I rr,r't l,rganBan batik
llab IV berisi tentang gaya ragam hias batik yang
nr(,n('ilngkup ragam hias yang ada pada batik pesisiran dan
pr,tl,rlaman. Batik gaya pesisiran meliputi batik yang dihasilkan
rl,rri Kabupaten dan Kota Pekalongan, Kabupaten Batang,
K,rlr11p31sn Rembang-Lasem, dan Sedangkan batik gaya
pr,tl.rlaman dari Kabupaten Klaten, Kabupaten Banyumas dan
holl Surakarta.
Selain dilihat dari gaya ragam hiasnya juga dilihat pula
\v,r rrla batik yang dihasilkan masing-masing wilayah penghasil
I r,r I ik serta uraian makna gaya ragam hias.
Bab V berisi tentang analisis gaya ragam hias batik
n rr'rrcakup penganalisisan data - data yang diperoleh dari ragam
lri,rs batik.
Bab VI berisi tentang penutup mencakup tentang
lrr.simpulan dari pendeskripsian dan penganalisisan gaya
r',rllam hias batik.
1)rryn Rngnm Hias Bntik (Tinjatan Sinbol dnn Mnkna)
10 Gaya Rngam Hias Batik (T'iniatat Simbol dan Makna)
BAB II
IDENTIFIKASI WILAYAH PENGKAIIAN
A. Letak geografis
Letak geografis Wilayah Propinsi Jawa Tengah berada
lrada posisi6" 30'- 8".30'Lintang Selatan dan antara 208o 30'-
I [ [" 30' Bujur Timur. Jarak dari Barat ke Timur 263 km dan
tlirri Utara ke Selatan 226 km2. Propinsi Jawa Tengah secara
gtxrgrafis dan administrasi dibatasi tiga propinsi yaitu sebelah
harat, berbatasan dengan Jawa Barat dan di sebelah timur
tlengan Jawa Timur serta di sebelah Selatan, berbatasan dengan
l'ropinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, juga dibatasi
oleh lautan, yaitu laut Jawa di sebelah Utara dan Samudera
lndonesia di sebelah Selatan.
Menurut Stasiun Klimatologi Klas I Semarang, suhu udara
rata-rata di Jawa Tengah berkisar antara 18' C sampai 28" C.
Adapun rata-rata suhu air berkisar antara 14" C sampai 2T C.
Sedangkan kelembaban udara rata-rata bervariasi dari 77 '/"
sampai dengan 94%.
Secara geografi, wilayah |awa Tengah tersebut dapat
dibedakan antara wilayah pesisir dan pedalaman. Disebut
wilayah pesisiran karena wilayah tersebutberada dekat dengan
pantai yaitu Pantai Utara ]awa dan Pantai Selatan Jawa.
Bentangan dataran rendah di pesisir utara Jawa banyak
clialiri oleh sungai besar. Sungai besar tersebut berjumlah sekitar
28 buah dan puluhan lagi sungai kecil. Sungai - sungai besar
tersebut antara lain Sungai Sragi dan Sungai Kalibanger di
Cnya Ragam Hins Batik (Tinjauan Sinfuol clar Maktn) 1L
Pekalongan, Sungai iuana di Pati, Strngai Kaliori di Rembang.
Sementara itu, sungai - sungai yang mengalir menuju ke pesisir
selatan relatif lebih sedikit antara lain Sunga Bogowonto, Sungai
Progo dan Sungai Serayu. Wilayah - wilayah yang berdekatan
dengan pantai tersebut di atas mempunyai suhu udara rata-
rata relatif tinggi yaitu sekitar 25" -28" C. Wilayah pesisir utara
dalam pengkajian ini adalah Kabupaten dan Kota Pekalongan,
Kabupaten Batang dan Kabupaten Rembang.
Terbentangnya pantai utara maupun pantai selatan yang
cukup panjang yaitu sekitar 263krnmenyebabkan pandangan
yang cukup indah pada saat munculnya matahari atau stm rise
dan terbenarnnya matahari sun set. Pada saat tersebut muncul
warna merah keemasan yang cukup indah sehingga hal ini
menarik bagi para wisatawan untuk menikmati indahnya
panorama laut. Di Pantai Depok, Pekalongan, kaum remaja atau
keluarga terlihat ramai berkunjung untuk menikmati indahnya
pantai pada sore hari. Di Pantai Sigadu, Batang juga tak jauh
berbeda dengan di Pantai Depok. Sementara itu, di Rembang,
panorama indahnya pantai dapat dinikmati sepanjang jalan tepi
pantai sampai ke perbatasan ]awa Timur. Di tempat tersebut
di samping melihat panorama terbenam dan munculnya
matahari dan birunya laut serta nyiur pohon kelapa yang
melambai, masyarakat dapat pula melihat aktivitas para
nelayan dalam sehari-hari.
Di wilayah pedalaman kegiatan pengkalian ini meliputi
beberapa kabupaten dan Kota yaitu Banyumas, Klaten,
Surakarta. Daerah tersebut secara geografis banyak terdiri dari
dataran tinggi. Oleh karena berada di dataran tinggi maka suhu
udara cukup rendah yaitu sekitar 18" -26" C dengan curah hujan
cukup tinggi sampai 4699 mrn per tahun dengan hari hujan
mencapai 792hari.
Gnya Rngam Hias Batik (Tinjmmn Sinfuol clnn Mnkna)
Ilt'rdasar data statistik tahun 2001jumlah hari hujan dan
I ur',rl) hujan menurut stasiun meteorologi yang tersebar di
I ,r,l,r,r'a1'rtl wilayah sekitar pengkajian terlihat sebagai berikut:
Tabel I
ll.rnyaknya Hari Hujan Di Wilayah Sekitar Pengkajian
No Stasiun
I Purwokerto
Sl (lamer Bat
t l,irb. Surakarta
,l SMPK Rendole Pati
tl
lr
Srurrlrer: Stasiun Klimatologi I Semarang, 2003.
Tabel II
ll,rrryaknya Curah Hujan Di Wilayah Sekitar Pengkajian
Stasiun
ri Purwokerto
St (,amer Batan
l,.rb. Surakarta
SMI'K Rendole Pati
Htrrrrlrcr: Stasiun Klimatologi I Semararrg, 2003
I )i tempat dataran tinggi tersebutbanyak pula ditemukan
ctttrrlrt'r air. Sumber-sumber air tersebut banyak yang mengalir
ht. 1r,111111i utara atau dataran rendah atau kadang-kadangiuga
lltt'lttlrt'lttltk "embung-embung" atau waduk-waduk kecil
titttlt llrgttttt Hins Batik (Tinjaumr Sitrbol dat Makna) 13
seperti Waduk Melahayu di Brebes, Waduk Cacaban di Slawi
Rawa Pening di Semarang, Waduk Babalan di Kudus, Waduk
Gembong di Pati.
Pada musim hujan, oleh karena banyak aliran sungai ke
pantai utara, maka di sebagiankota yangberada di dekatpantai
sering terjadi bencana banjir. Kota yang terbiasa sebagai
langganan banjir yaitu Pekalongan, Batang, Semarang, Demak,
Rembang, Pali, d11. Pada musim hujan itu pula di wilayah
tersebut sering muncul fenomena alam yang tak kalah indahnya
/?itu pelangi. Pelangi tersebut muncul karena cahaya matahari
dibiaskan air sehingga membentuk gejala alam berupa setengah
lingkaran yang beraneka ragam warnanya.
B. Penduduk
Memahami keberadaan penduduk suatu wilayah adalah
hal yang sangat penting, sebab akan dapat mengetahui
dinamika dan nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat suatu
wilayah. Apalagi keberadaan dan keanekaragaman penduduk
dan latar belakang sosial akan banyak memberi gambaran
perkembangan masyarakat pendukung budayayang ada. Hal
ini dapat dijadikan landasan berpikir dan berpijak dalam
membuat berbagai perencanaan serta kebijaksanaan maupun
sumber informasi bagi masyarakat.
Kepadatan penduduk di suatu wilayah sangat terkait
dengan potensi wilayah. Hubungan keterkaitan tersebut
tampak di Kota Surakarta dan Pekalongan. Pada tahun 2003,
kepadatan penduduk Kota Surakarta berjumlah 488.900 jiwa
dengan luas 44,04 km2 atau 0.0009 per km2 dan kepadatan
penduduk Kota Pekalongan berjumlah 263.L90 ]iwa dengan
44.96 per km2. Kedua kota ini cenderung padat karena banyak
terdapat aktivitas perekonomian dan industri. Aktivitas
71 Gaya Ragam Hias Batik (Tifiauar Simbol dan Makna)
rr,r'(,kr)n()rrritrn di Kota Surakarta dapat terlihat di Pasar Klewer.
I
l)cnyut Pasar Klewer hampir tak pernah berhenti
,ir,1,,rl1ii1ng hari sebagai pusat perdagangan batik. Sehingga
rl,t1r111 rlikatakan hampir TS"hperputaran uang di Solo berada
rlt l'itsur Klewer.
Kc'padatan dan kesibukan penduduk terlihat jelas lagi di
lrrl,rrr-iirlan menuju Kota Solo pada saat akan dimulai aktivitas
ar,ltitri-hari sekitar jam 06.00 - 08.30 dan jam saat pulang kerja
Hckitar jam 15.00 - 17.30. Adapun penduduk yang melakukan
trtig,rasi tersebut adalah orang-orang yang tinggal di pinggiran
J,.olu atau kota-kota di sekitar Surakarta seperti Kabupaten
l'i r r kr r harj o, Wono giri, Karanga ny ar, Klaten maupun Boyolali.
Sedangkan Aktivitas ekonomi terlihat adanya kesibukan
pusat-pusat grosir batik dan konveksi seperti pusat grosir
St,rrtono yang banyak dikunjungi oleh pedagang dari berbagai
[ota. Kesibukan ativitas perekonomian tersebut juga terkaita
tlt,rrgan keberadaan industri tekstil yang cukup subur
lrt'rkcmbang di Kota Pekalongan dan sekitarnya. Berdasarkan
tl,r ta di kantor perindustrian dan perdagangan Kota Pekalongan
tt'rlihat 1501 unit usaha industri tekstil dan telah menyerap
lr,traga kerja sekitar 15.039 orang. Industri tekstil yang ada di
Kota'r Pekalongan tersebut terbanyakbergerak di Industri Batik
rl.rrr pakaian jadi dengan masing-masing 610 unit usaha dan
730 unit (Kompas,30 ]uni 2004, hal. A).
Pada siang hari realitas kepadatan penduduk di Kota
l't'kalongan juah lebih besar daripada yang tercermin dalam
tlata statistik.
Kepadatan penduduknya juga tercermin dari mobilitas
;rt'rrduduk yangada di sekitar Kota Pekalongan seperti Batang
nrirupun Pemalang pada saat pagi hari ketika mereka pergi
lrt'kerja dan sore hari saat mereka pulang kerja.
I Jtyn Ragant Hias Batik (Tinjauan Sinfuol dan Makta) L5
Adapun data selengkapnya mengenai jumlah penduduk
dan luas wilayah dapat terlihat dalam tabel III sebagai berikut:
Tabel III
Kepadatan Penduduk Wilayah Pengkajian
N Kcta Lua Jusrfafr I(e1md*61
o Penduduk Penduduk
rerKm
1 Banyrrmas 1327 59 74fi324 1099 98
2 Rembane 1014.10 55474
5fi5n
3 Batans 788.95 665426 84343
4 Surakarta 44.03 4899m 77U6.50
E Pekalongan 44 96 263190 5853.87
6 Klaten 6E5 E6 11@486 7693.42
Sumber: BPS Jateng, 2003
Penduduk yang berada di wilayah pengkajian ini apabila
dilihat dari etnis maka terlihat berbagai jenis seperti Cina dan
Arab. Keberadaannya sudah cukup lama terutama di Kota
Rembang-Lasem dan Pekalongan atau wilayah pesisir lainnya
dibanding dengan kota-kota yang berada di pedalaman. Hal
ini terkait erat dengan keberadaan kota tersebut yang berada
di tepi pantai.
Sejak dahulu, kota - kota yang berada di dekat pantai
merupakan daerah yang pertama kali mendapat pengaruh
bangsa manca karena berhubungan langsung dengan bangsa
manca. Berdasarkan catatan sejarah, Kota Lasem yang berada
di dekat pantai merupakan kota pertama yang disinggahi
bangsa Cina sekitar tahun 1413 untuk mencari rempah-rempah.
Oleh karena aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh bangsa
manca terus berkembang maka mereka menetap di tempat
tersebut kemudian terjadilah perkampungan etnis tertentu
t6 Gaya Ragnm Hias Bntik (Tirlauan Sinfuol dm Maktta)
lr'lx'r'ti Ka'rmpung Pecinan, Kampung Arab atau Pekojan dll.
l)i perkampungan Cina terlihat ciri khas bangunan yang
lrr,r'lt'rnbok tinggi dan kokoh dengan gaya arsitektur Cina.
ll,rrrgtrnan-bangunan rumah Cina pada umumnya menyukai
wru'nfl yang mencolok seperti merah, kuning, maupun
kt,t'n1asan. Di samping ciri khas bangunannya, di
l)r,rkampungan Pecinan terlihat pula kehidupan religi yang
ut,rrrarak yaitu dengan ditandai banyaknya tempat peribadatan
r l,r rr trpacara-upacara keagamaan.
Selain bangsa Cina, datang pula bangsa Arab sekitar abad
ll]. Kedatangan mereka, semula berdagang dan sekaligus
nrt'nyiarkan agama Islam. Dalam rangka perdagangan dan
pt.nyiaran agama itulah mereka membentuk komunitas
lrt'rbentuk KampungArab yang dikenal pula dengan kampung
Koja atau Pekojan. Di Kampung Arab tersebut terlihat banyak
kchidupan sehari-hari yang diwarnai dengan nuansa
kt'agamaan.
Penduduk manca yang semula berada di kota sekitar
pantai kemudianmenyebar ke wilayahpedalaman. Di wilayah
pedalaman mereka juga melakukan kegiatan yang serupa di
wilayah pesisir seperti perdagangan dan penyiaran agama serta
nda yang membentuk komunitas seperti komunitas etnis Cina.
Iitnis Cina di berbagai wilayah terlihat mengusai perekonomian.
(luna kelancaran aktivitas perdagangannya, mereka melakukan
perkawinan dengan penduduk setempat. Hal ini dalam rangka
mengamankan status kepemilikan hak dan kekayaannya.
C. Mata Pencaharian Hidup
Penduduk ]awa Tengah memiliki aneka ragam mata
pencaharian. Mata pencaharian tersebut ternyata banyak
clisesuaikan dengan kondisi alam. Berdasar kondisi alam
Gaya Ragan Hias Batik (Tinjauan Sinfuol dan Makna) 17
tersebut terlihat bahwa sebagian besar mata pancaharian
penduduk Jawa Tengah adalah bertani. Namun demikian,
berdasarkan data statistik tahun 2001 tentang penduduk
berumur 10 tahun ke atas yang telah bekerja, diketahui bahwa
penduduk di daerah pengkajian ini mata pencahariannya
bervariasi. Mereka yang tinggal di desa, umumnya bermata
pencaharian bertani. Sebaliknya, mereka yang tinggal di kota
mengandalkan mata pencaharian hidup dari usaha
perdagangan dan industri.
Tabel IV
Penduduk berumur 10 tahun ke atas yang Bekerja dan Mata
pencahariannya.
IIo kh laJdurlilL.L Lr- !cirir fcdlr;r hiHi
EUtfrnr !l5cB24 7fr7.59 23r816 a28/|it2 13530+
2 !.cn b at 559523 lm410 LND75 23091
665i}26 m0.95 13-Brt tB25 +19{6
Srtrrrr i189400 5W59
4t+03 1491 6fr?S rlolxlE
4 9urrk utr 253190 t +96 4E54 7876
5 }t Lalonra 1109I86 655.56 31136 1.4%25
6 KIdrr 1n81 12&30
Sumber: BPS ]ateng, 2003
Berdasar tabel di atas, terlihatbahwa wilayah pengkajian
yang memiliki wilayah luas seperti Banyumas, Rembang,
Batang dan Klaten penduduknya bermata pencaharian petani.
Namun demikian, tidak sedikit pula yang selain bertani juga
bekerja sebagai pedagang dan di sektor industri. Hal ini dapat
terlihat di daerah Bayat, Kabupaten Klaten. Di daerah tersebut
para wanita yang menjadi buruh tani setelah selesai
mengerjakan sawah, mereka membatik. Demikian luga di
daerah lain seperti di Lasem, khususnya sekitar Kradenan,
Kauman. Setelah mengerjakan sawah atau atau ladang juga
memiliki aktivitas membatik. Kondisi ini juga terlihat di wilayah
Kabupaten Batang sebagian barat. Perlu diketahui bahwa Kota
Gaya Ragan Hias Batik (Tinjauar Simbol dan Makna)
l'r'ls,rlongan yang mendapat iulukan Kota Batik ternyata
,,r,lr,r1iii111besar pekerjanya berasal dari Kota Batang. Penduduk
rlr,r;,r cli Batang yang turut menyokong andil besar dalam
rcrkt'n-rbangan batik bagi Kota Pekalongan adalah Desa Denasri
I
Krrlorr maupun Mengkuneng. Di Desa Denastri mauPun
Mcngkuneng tersebut sebagian hasil batiknya dijual di Kota
l'r'knlongan.
Khusus untuk Kota Banyumas, oleh karena
porkembangan industri batik tidak begitu menggembirakan
nr.rka para perajin batik hanya sedikit sekali bahkan menurut
kt'tcrangan seorang pengusaha batik di Sukaraja menyebutkan
lrirlrwa sekitar tahun 7970 sampai tahun 1990 terdapat
1,t'r"rgusaha dan perajin batik sekitar 200 orang. Akan tetapi
;rrrnlah mereka sekarang dapat dihitung dengan jari, itu pun
para perajinnya sudah berusia lanjut. Memburuknya industri
lrirtik tersebut menyebabkan perajin tidak dapat
rrrcnggantungkan hidupnya dari membatik sehingga beralih
rnata pencahariannya. Hal ini dituturkan oleh juragan batik
st'bagai berikut:
"Generasi mudn seknrang tidak suka bekerjn sebngai peraiin
bntik. Merekn lebih sukn bekerjn sebngai buruh pabrik ntau
merantsu ke lakarta ynng lebih menjanjikan upahkerja. "
Sementara itu, berdasar tabel IV di atas pula terlihat bahwa
wilayah perkotaan seperti Kota Pekalongan dan Surakarta
terlihatbahwa mata pencaharian petani relatif sedikit dibanding
clengan sektor industri dan perdagangan. Di Surakarta terlihat
bahwa industri dan perdagangan menduduki angka yang relatif
tinggi dibanding sektor pertanian yaitu 74976 jiwa dan 57759
jiwa. Sentra industri batik terdapat di sekitar Pasar Kliwon,
Laweyan dan Kauman. Di Pekalongan juga sedemikian ruPa
perbandingannya yaitu 40.438 jiwa dan 37.136jiwa bahkan di
Caya Ragam Hias Batik (Tinjalan Sinfuol dan Makna) 19
wilayah Kecamatan Pekalongan selatan dapat dikatakan 90 %
dari 47.664 penduduknya menggantungkan hidupnya dari
industri batik (Kompas, 30 ]uni hal A: 2004). Oleh karena begitu
ramainya industri batik di kedua kota tersebut menyebabkan
sektor lain menjadi alternatif bagi penduduk dalam memilih
mata pencahariannya.
D.Religi
Berbicara mengenai religi, maka keadaan dan kehidupan
religi di wilayah pengkajian tak jauh berbeda dengan religi yang
berkembang pada umurnnya di Jawa Tengah. Secara umum,
masyarakat Jawa Tengah beragama Islam yaitu 85 % sehingga
suasana kehidupan sehari - hari bernuansa Islami.
Suasana kehidupan Islami tampak lebih kental di wilayah
pesisir utara Pulau ]awa. Hal ini tak lepas dari sejarah bahwa
letak wilayah yang berada dekat pantai menyebabkan mereka
banyak mendapat pengaruh dari bangsa manca khususnya
bangsa Arab. Sedangkan berdasar catatan sejarah, ternyata
wilayah pantai itulah tempat pertama kali kaum musyafir
muslim berdagang sambil menyiarkan agama. Oleh karena
itulah disepanjang pantai dan tak ketinggalan wilayah
pengakajian memiliki peninggalan budaya Islam yang cukup
terkenal seperti Petilasan Sunan Bonang di Bonang I-asem
Rembang. Rembang memiliki bangunan Islami, para penyebar
agama Islam tersebut juga ada yang membentuk
perkampungan Islam yaitu Kampung Kauman yang berarti
perkampungan kaum beriman. Kampung Kauman tersebut
biasanya berada di dekat Masjid Agung yang berada di pusat
Kota atau dahulu dikenal dengan nama Alun-alun.
Kehidupan yang religius di kantong-kantong Islam
tersebut di atas diperkuat lagi pusat-pusat pembelajaran Islam
Gaya Ragam Hins Batik (Titjatan Sinrbol dan Mabm)
l)('r'pa pesantren-pesantren yang tersebar di berbagai tempat.
ht'[reradaan dan kondisi pondok pesantren dapat teriihat dalam
l,rhcl sebagai berikut:
Tabel V
Banyaknya pondok pesantren Kyai, Ustad, dan Santri
No Kota Pondok Kyai Ustadz Santri
Pesantren
I Banyumas 73 891 7063
,) Rembang 73 144 475 23983
3 Batang 66 87 425
4 Surakarta 52 28 165 7470
5 Pekalonsan 71 448
6 Klaten t2 17 68 tu3
77 7552
77 4775
Srrmber: BPS Jateng, 2003.
Kehidupan agama y
lranya berkembang di d
sampai ke segala pelosok Jaw
wilayah pedalaman. Di da
bcrlangsung dengan baik da
kcyakinan dan unsur pra Islam
t,asih berlangsung. Hubungan seperti Hindu_Budha yang
.danya tempat peribadatan yang
ya"g baik ini auprt dilihat
gc,reja, pesantren, masjid dll.
aaa ai sekitar *;g; seperti
'dleanrgi9a7Bh,e6pr3daad%sa,amtrakahanusnjDl{2a0dt0aa1nBmlpaSenn2gc0ag0pi2ra,i2te1,m0226poarthibpugeerbirbueaajadhaiytua".n"rs'rdirtieuJr.adywiurai
lrerupa Pura dan Vihara sekltir O,gS "/o.
lcbi unsur Islam dan unsur yang
tsla
alaman akhirnya melahirkan
m yang menyeraP unsur Pra
Gnya Rngam Hias Batik (Thlauan Sinbol dan Makra) 2l
I lindu, Hindu-Budha maupun animisme. Akibat hal ini
memunculkan apa yang disebut oleh C. Geertz Wong abangan
dan santri . Wong abangnn adalah orang Islam yang tidak begitu
mentaati ajaran Islam, terutama mengenai sholat lima waktu
dalam sehari; berpuasa pada bulan Puasa. Naik haji bila telah
mampu. Mereka terkadang juga makan daging babi yang
dilarang oleh agama Islam. Sedangkan santri adalah orang Islam
yang taat dalam menjalankan ajaran Islam (Koentjaraningrat,
1984: 310).
C. Geertz juga membedakan varian agama Islam yaitu
Agama ]awi dan Agama Islam Santri. Sebutan pertama berarti
agama orang ]awa dan sebutan yang kedua berarti agama Islam
yang dianut orang santri (Koenjaraningrat, 7984:313). Varian
agama Islam Santri walaupun tidak sama sekali bebas dari
unsur-unsur animisme dan unsur Hindu Budha, ia lebih dekat
dengan dogma-dogma ajaran Islam yang sebenarnya.
Bentuk ngami lawi dlkenal pula dengan Kejawen yaitu
suatu keyakinan dan konsep Hindu - budha yang cenderung
ke arah mistik, yang tercampur menjadi satu dan diakui sebagai
agama Islam. Varian agamaJawi ini banyak terdapat di wilayah
pedalaman baik di wilayah Negari Agung yaitu wilayah yang
dekat dengan pusat keraton seperti Surakarta dan Klaten
maupun wilayah manca negara seperti sekitar Banyumas.
E. Mitologi
Mitos adalah cerita suci berbentuk simbolis yang
mengkisahkan serangkaian peristiwa nyata yang menyangkut
asal-usul dan perubahan-perubahan alam raya dan dunia,
dewa-dewi, manusia, pahlawan. Mitos-mitos tersebut sering
memiliki sifat suci. Mitos dapat pula dikatakan bukan cerita
sejarah atau bukan dunia nyata yang kita hadapi. Mitos
22 Gaya Ragam Hias Batik (Tirrjauat Simbol clan Makna)
n r(,n u njuk pada kejadian penting seperti asal-usul suatu barang
(Alirrs cremer/ 7997:138 -139.
Sementara itu Mitos menurutC. Levi Strause adalah suatu
w.rrisan bentuk cerita tertentu dari tradisi lisan yang
trrt.ngkisahkan dewa-dewi berdasarkan suatu tataran logis yang
It,r'kundung di dalam cerita mitos. Cerita mitos tersebutberada
r ll lum berbagai tingkatan masyarakat.
Di Jawa, berbagai macam mitos banyak berkembang di
rrr.rsyarakat dan cerita tersebut dipercaya. Di daerah pengkajian
Ir,rtlapat berbagai mitos yang berkembang, baik yang berada
tli pesisir utara maupun di pedalaman. Mitos yang berkembang
t li pantai utara di antaranya adalah Mitos Nawang Wulan yang
irrla di Pesisir Utara sebelah Timur tepatnya kota -kota di sekitar
l'lti dan Rembang.
l. Mitos Nawang Wulan
Seorang anak bernama Joko Tarub telah tumbuh menjadi
pria dewasa berparas tampan, serta baik budinya. Gadis-gadis
tli desa itu banyak yang mengidolakan dan ingin menjadi
pcndamping hidupnya. Tetapi Joko Tarub lebih memilih pergi
ke hutan untuk berburu, karena dia merasa belum menemukan
jodoh yang diidamkan. Ia melengkapi peralatannya seperti
panah, sumpit dan tombak. Selain gemar berburu, ia juga gemar
rnenuntut ilmu kebenaran atau tarekhat.
Pada suatu malam, saat ]aka Tarub tertidur di pusara
ayahnya, Ki Ageng Tarub. Ia mendapat impian mendapat
sumpitan dari logam dan berlapis emas. Saat bangun ia terkejut
telah ada sumpitan di sisinya. Bentuk sumpitan persis yang ada
dalam mimpinya.
Keesok harinya, ]oko Tarub yang suka berburu ingin
mencoba sumpitan barunya akan tetapi binatang yang ada di
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauat Sinfuol dan Maknn)
hutan tak dijumpai seakan-akan takut terhadap sumpit baru
tersebut. Kemudian sambil melepas penat dan menanti buruan,
ia duduk di bawah pohon yang rindang di tepi danau.
Belum lama istirahat, ia mendengar suara tertawa gadis-
gadis di tepi danau. Kemudian dicarilah suara tersebut dan
terkejut ternyata di tengah hutan terdapat tujuh bidadari cantik.
Joko Tarub menoekati mereka sambil mengendap - endap di
balik rerimbunan pohon dan mengambil salah satu selendang
bidadari tersebut.
Setelah selesai mandi, bidadari tersebut ingin terbang
kembali dengan jembatan pelangi yang beraneka warna.
Namun salah seorang dari mereka, ditinggal karena
selendangnya hilang. Bidadari yang tertinggal bersumpah
apabila ada orang yang menemukan pakaiannya bila laki-laki
akan dijadikan suaminya dan bila perempuan akan dijadikan
saudaranya.
Menyaksikan kejadian tersebut, Joko Tarub datang dan
menghibur serta memberikan sehelai kain untuk menutup
tubuhnya yang telanjang. Sedangkan.selendangnya tetap
disimpan.
Jaka Tarub Akhirnya menikah dengan bidadari tersebut
yang bernama Nawang Wulan. Kehidupan rumah tangganya
bahagia dan dikaruniai seorang anak.
Nawang Wulan mengurus rumah tangga dan anaknya,
]ako Tarub tetap bekerja sebagai biasanya yaitu berburu dan
menggarap sawah. Dengan kesaktiannya yang dimiliki oleh
Nawang Wulan, maka setiap menanak nasi, ia hanya
memerlukan sebutir padi sehingga padi yang ada di
lumbungnya tak habis-habis.
Suatu hari saat Nawang Wulan belum selesai menanak
nasi, ia berangkat mencuci pakaian di sungai. Pada saat itu ia
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilan Mnkna)
lrrr1rt,51111 parda suaminya agar jangan membuka tutup periuk
n,t:,r s('l)olum ia datang. Namun oleh karena terdorong
Lr,rrrliirrtahuan Joko Tarub, mengapa lumbung padinya tidak
Ir,rlrrs wulaupun telah berkali-kali dimasak maka ia membuka
I r rl r rp pcriuk dan betapa kagetnya saat ia melihat di periuknya
It,ttry,r tcrdapat sebutir padi.
I'idak lama berselang, saat Nawang Wulan kembali dari
Inr,n('uci pakaian, ia membuka periuknya dan betapa kaget
lnrrryata periuknya tak terdapat nasi dan kemudian bertanya
Itrr(l,r suaminya apakah telah membuka tutup periuk nasi saat
[r pt,rgi mencuci di sungai. Akhirnya, Joko Tarub mengakui
It,l,r I r rnembukanya. Mulai saat itulah Nawang Wulan menanak
It,tsi seperti halnya manusia biasa. Akibatnya, padi yang ada
rl,rllrn lumbung menipis. Pada saat padi menipis itulah,
N,rwang wulan melihat selendangnya yang disimpan olehJoko
l',rrtrb ditemukan.
Dengan telah ditemukan selendang bidadari dan
Itrt'rnakainya, Nawang Wulan menemui suaminya untuk
lrcrpamitan untuk kembali ke khayangan dan menitipkan pesan
rrliil r menjaga anaknya.
Di sekitar daerah Rembang- Lasem, Pati sampai sekarang
rrr,rsih ada pandangan bahwa saat ada pelangi muncul, hal
Icrsebut menandakan ada bidadari yang turun dari kahyangan.
2. Mitos Nyi Lara Kidul
Dahulu di Jawa terdapat kerajaan besar yang dipimpin
t',ria yangbernama Prabu Mundangwangi.Ia raja yang tampan
pt.rkasa, dan berwibawa. Ia memiliki istri yang cantik bernama
l)cwi Rembulan. Perkawinan antara Raja dengan Dewi
l{t'mbulan dikaruniai seorang puteri bernama Dewi Kadita.
Prabu Mundangwangi selain memiliki permaisuri juga
(lrryn Ragam Hias Batik (Tinjatnn Shnbol dnt Makna)
memeliki selir yang cukup cantik iuga yaihr Dewi Mutiara. Dewi
Mutiara ini memiliki tabiat yang jelek seperti drengki dan tak
senang terhadap kedudukan Dewi Rembulan sebagai
permaisuri.Ia ingin menduduki sebagai permaisuri raja.
Oleh karena Raja tak dikaruniai anak laki-laki, ia cemas
dan selalu termenung. Siapa kelak yang akan mengganti raja'
Ia kemudian mendatangi penasehat raja yaitu Pandita Agung.
Pada saat mendatangi penasehatnya, ia mendapat petunjuk
bahwa nanti akan mendapat anak laki-laki namun dari istri selir.
Pembicaraan tersebut didengar oleh selirnya. Mendengar
penuturan penasehat raja tersebut hati selirnya gembira sekali
dan maksud untuk menyingirkan permaisuri sedikit terbuka.
Beberapa bulan kemudian, lahirlah bayi laki-laki dari istri
selir. Kelahiran bayi laki-laki tersebut disambut gembira seisi
kerajaan termasuk permaisuri dan anaknya. Namun di hati selir
raja, muncul rencana untuk melenyapkan permaisuri dan
anaknya.
Rencana pelenyapan permaisuri dan anaknya yang
dicintai rakyat tidak mudah dilakukan oleh karena itu ia
mendatangi dukun jahat untuk membantu melaksanakan
niatnya.
Pelaksanaan niat itu akhimya terlaksana yaitu dengan cara
menaburkan ramuan penyakit kulit ke dalam minuman
permaisuri dan anaknya. Akibatnya permaisuri dan anaknya
terkena penyakit kudis yang sangat menjijikkan. Berbagai
dukun telah didatangkan untuk menyembuhkan tapi semua
angkat tangan tidak dapat menyembuhkan
Untuk menjaga agar peristiwa tersebut tidak diketahui
oleh masyarakat, maka permaisuri dan anaknya dikucilkan dari
Iingkungan keluarga dan dibuang ke hutan' Dalam
pembuangan tersebut permaisuri meninggal dan Dewi Kadita
Gaya Ragam Hias Batik (Tiniauan Sinhol dan Makna)
rr,(lllr st'kali.
l'cristiwa tersebut didengar oleh pendeta penasehat raja.
Nrunur sayang penasehat raja telah berjanji pada Raja bahwa
lrr litlak boleh diganggu saat bertapa dan lagi pula telah tua.
l'r,ntlt.ta tersebut telah mengetahui bahwa peristiwa tersebut
rrkrlrirt perbuatan dukun jahat dan selir raja. Oleh karena telah
Irr,r ia mengutus penjaganya yang setia berupa harimau untuk
nrcrnl'reri pelajaran kepada dukun jahat dan selir tersebut.
I ),r ll rn pertempuran antara harimau dan dukun jahat, akhirnya
r I i nrcnangkan oleh harimau.
Sementara itu, Dewi Kadita yang telah ditinggal pergi
llrtrrrya berjalan ke arah Selatan dan akhirnya tiba di Pantai
St,la [an. Saat tiba di Pantai Selatan, ia bertemu pemuda tampan
rl,ur menyuruh untuk mengejar. Pengejaran tersebut akhirnya
s,rrnpai masuk ke laut. Setelah masuk ke laut secara ajaib
l. trc{isnya telah hilang dan bersih. Namun saat melihat kakinya
i,r terkejut karena telah berubah menjadi ikan.
Sampai sekarang mitos tersebut tetap ada dan berkembang
tli masyarakat. Di Yogyakarta dan Surakarta bahkan terdapat
ul)acara keselamatan seperti labuhan pada malam bulan 1
Asyuro. Pada masyarakat juga masih ada kepercayaan bahwa
Nyi Lara Kidul sebagai perwujudan Dewi Kadita yang selalu
rnemakai baju warna hijau. Oleh karena warna pakaian hijau
tlisenangi oleh Nyi Lara Kidul maka sering ada larangan bila
lrcrada di Pantai Selatan tidak boleh memakai baju warna hijau.
Apabila orang tetap memakai pakaian hijau atau melanggar
larangan tersebut maka akan mendapat petaka seperti
tenggelam atau hilang.
3. Mitos Dewi Laniar
Dewi Lanjar adalah penguasa Pantai Utara sekitar
Gaya Ragan Hias Batik (Titjauat Sinbol ilan Makrn)
Pekalongan. Menurut berbagai keterangan masyarakat
Pekalongan, Dewi Lanjar memiliki kerajaan di Pantai Utara.
Selain memiliki kerajaan yang besar dan megah ia juga
mempunyai usaha batik. Para pekerja cukup pandai dalam
membatik dan terdiri dari kaum manusia biasa maupun
mahkluk gaib.
Dewi Lanjar yang berupa makhluk gaib tersebut sering
menampakkan diri dengan maksud menolong orang yang
sedang tertimpa kesulitan. Penampakan dirinya dengan cara
menyamar seperti umumnya manusia yang memakai pakaian
warna hijau atau kuning. Hal ini pernah ditutur oleh seorang
penduduk Kota Pekolangan sebagai berikut:
"Suatu saat adn penjual di pnsar yang sepi pembeli bnhkan
dngangannya sering tak laku. Pada saat melamttn dan
membayangkan bilo ada pembeli atan pemberi modnl besar dia
aknn mendiriknn ttsaha batik dan menjndi kayn dengnn usnhn
tersebut. Tak lnmn kemudian datanglah seornng peremputtn
memakni pakainn hijnu dan menawarkan modnl. Setelah diberi
modnl akhirnyn penjttal tersebti ttsnhnnya mnju."
Kisah lain juga pernah dituturkan bahwa suatu saat ada
polisi berada di pos untuk mengatur lalu lintas. Pada saat
mengatur lalu-lintas ia melihat iring-iringan mobil.yang
mengangkut kain dan salah jalur. Melihat pelanggaran tersebut,
polisi tersebut mengejar namun kendaraan yar.g dikejar tidak
kelihatan dan ditanyakan ke beberapa orang yang berada di
jalan sekiranya kendaraan tersebut lewat. Ternyata orang yang
ditanya tersebut tidak melihat adanya kendaraan yang
beriringan membawa kain.
Peristiwa yang tidak masuk akal tersebut sering kali
muncul dan menganggap bahwa itu semua berkaitan dengan
Dewi Lanjar.
Gaya Rngam Hias Batik (Titjauan Simbol dan Makra)
Kepercayaan munculnya Dewi Laniar yang memberi
. blntuan dan pertolongan terhadap kaum tak mampu tersebut
firka sering diadakan upacara Labuhan untuk
tinya.
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauor Simbol dat Makna) 29
\
I
1
ti
30 Gaya Ragattr Hios Batik (Tiniouan Simbol ilat Makna) i
I
BAB III
TRADISI MEMBATIK DI NUSANTARA
A. SEIARAH BATIK
'1. Pengertian Batik
Batik dalam arti sederhana adalah suatu gambar yang
lrt,rpola, motif dan coraknya dibuat secara khusus dengan
r r r(.l1Igunakan teknik tutup celup. Bahan yang digunakan untuk
It.krrik tutup adalah mnlam dan alatnya adalah canting tulis,
r',rrrting cap, kuas atau alat lainnya. Cara membuatnya dengan
rlitulis, dicap atau ditera dilukis pada kain (mori, katun, teteron,
Hute.ra dan lain-lain). Garis besar pengertian tersebut sesuai
tlt.ngan pengertian yang dikemukakan Shadily (1.980: 417)
st,bagai berikut"
" .... Batik adalah suatu cara untuk melukis di atas kain
(mori, katun, teteron katun, adakalanya kain sutera dll)
dengan cara melapisi bagian-bagian yang tidak berwarna
dengan lilin yang disebut jugamalnm (bahasa ]awa: lilin),
yang biasanya dibuat dari lilin lebah yang kuning
dicampur dengan parafin damar atau colophoniltm...."
".. .. Bilamana hendak dibatik tangan, kain itu dipasang
pada semacam rak dan bilamana hendak dibatik cap, maka
kain dibentangkan di atas meja yang sudah dilapisi semisal
kasa Batik tangan dilakukan dengan memakai canting (alat
penyendok lilin yangsudah dipanaskan di atas api. Batik
Cnya Ragan Hias Batik (Tirjauan Simbol ilar Maknn) 31
cap dilakukan dengan blok yar.g dibuat dari tembaga
bertangkai, yang setelah dibasahi dengan lilin cair yang
panas, ditempelkan pada kain. Kemudian kain yang telah
dilapisi lilin tersebut dicelupkan ke dalam zatwarnayang
dikehendaki dan dikeringkan".
Sementara itu, berdasarkan seminar Nasional tentang
Batik pada tanggal 12 Maret 7996 di ]akarta, telah dilakukan
standar nasional mengenai pengertian batik yaitu: seni kain
yangmenggunakan proses perintang lilin atau malam sebagai
bahan media untuk menutup permukaan kain dalam proses
pencelupan warna (Syafrina, 1996: 1).
Berdasarkan pengertian di atas maka apabila sebuah kain
bermotif pada saat proses pengerjaannya menggunakan lilin
atau malam maka kain tersebut dapat dianggap sebuah kain
batik. Sedangkan sehelai kain meskipun bercorak batik tidak
bisa disebut batik bila tidak menggunakan proses perintang lilin
atau malam dan kain tersebut hanya disebut kain bercorak batik
Dilihat dari asal katanya, kemungkinan kata batik berasal
dari aktivitas orang saat menggambar kain berbentuk titik.
Aktivitas membuat titik sebagai kata kerja menggunakan kata
matik. Mn sebagai awal artinya perbuatan mengerjakan sesuatu.
Perkembangan berikutnya kata mntik menjadi mbatik dan
akhirnya batik.
Pengertian kata Batik cukup populer di masyarakat
Indonesia khususnya masyarakat ]awa. Adapun orang yang
memperkenalkan kata Batik dalam dunia internasional tidak
diketahui dengan jelas namun berdasarkan catatan sejarah
seorang Belanda bernama Chastelein telah menggunakan
istilah "batex" ( batik) dalam laporannya pada tahun 1705 ke
Gubernur Belanda Rijcklof Van Goens (Veldhu isen, 1993: 22).
Sementara itu, bangsa Inggris dengan Gubernur
32 Gaya Ragam Hias Batik (Tirjatat Sinfuol ilat Makrn)
f lrrtlcralnya di Indonesia bernama Thomas Stamford Raffless
,,r,1..itnr tahun 1811-1816 menyebutkan pertama kali kata batik
, l, r ll rn laporannya saat melihat pola ragam hias pada kain yang
rrririp pola ragamhias kain di India. (Veldhuisen,7993:23 -26).
2. Asal Mula Batik
Masih banyak kesimpangsiuran dalam menentukan asal
rrrtrla batik di Indonesia. Menurut analisis beberapa ahli asal-
r rsrrl batik di Indonesia dari India, Cina, Bangkok, Persi maupun
lrrrkestan Timur. Seorang ahli bernama G.P. Rouffaer
tr rt'rryebutkan bahwa awal mula batik di Indonesia, khususnya
r li f awa berasal berasal dari India dibawa oleh para pedagang.
l'r'ndapat tersebut oleh para ahli lain diragukan kebenarannya.
Itr.rkaitan hal itu, seorang ahli batik, Kuswadji
Kirwindrosusanto, menerangkan bahwa orang yang
rrrt'ngatakan batik berasal dari India kemungkinan didasarkan
,rlas cara kerja dan kemiripan bentuk dari jenis alat yang
t lipergunakan, Di India batik dibuat dengan menggunakan kuas
,tltu jegul (Soesanto, 1985: 13).
Selain bentuk jenis alat yang dipergunakan, cara
l)('rwarnaan juga membedakan dengan pewarnaan patik di
l,rwa walaupun hasil pewarnaan hampir sama dengan batik
lrrtl ia. Bila di India pewarnaan menggunakan teknik tutup celup
tlt,ngan kanji atau beras ketan tetapi di Jawa menggunakan
tttrlnm. Hal ini dikarenakan daya tempel yang kuat bila
tlirendam cukup lama sehingga hasil warna tidak merembes
tli luar motif yang diinginkan. Adapun perwarnaan dalam
rrrcmbatik dengan menggunakan bahan alami seperti daun-
rlirrrnan dari nila, soga, mengkudu dan lain sebagainya
Selain ada pendapatbahwa batik dari India, ada pula yang
rr rt'nyebutkan bahwa Batik berasal dari Cina. Hal ini didasarkan
1)tyn Ragam Hias Batik (Thtjatan Sinfuol dar Makna)
atas temuan artefak sejenis batik dengan teknik tutup celup yang
berumur sekitar 2000 tahun SM. Batik yang ditemukan
menggunakan warna biru dan putih saja dan memperlihatkan
teknik pewarnaan yang cukup baik. Tampaknya teknik
pembuatannya hampir sama dengan yang ada di India.
Kemiripan teknik pembuatan batik di India dan Cina maupun
arti simbolis atau filosofinya tampak sangat melekat di kedua
negara tersebut terlebih lagi apabila dikaitkan dengan agama
Hindu dan Budha yang telah berkembang cukup subur serta
mempengaruhi kehidupan masyarakat.
3. Pengaruh Agama Hindu dan Budha.
Berkembangnya seni Batik tidak terlepas dari pengaruh
perkembangan agama Hindu terutama apabila dikaitkan
dengan motif batik. Hal ini ditegaskan oleh Sutjipto Wirjo
Suparto, bahwa sebelum pedagang dari India mengenalkan
batik di Nusantara, masyarakat Indonesia sudah mengenal
terlebih dahulu tentang batik. Namun demikian bukti artefak
batik tersebut sampai sekarang belum ditemukan.
Ketika budaya India yang dibawa oleh para pedagang dan
penyiar agama Hindu membawa pengaruh terhadap kehidupan
masyarakat nusantara, keberadaan batik makin berkembang.
Pada masa kerajaan Sriwijaya abad ke B dan Zarnan Mataram
Hindu terlihat perkembangan batik yang ditandai dengan
ditemukannya artefak prasasti maupun arca yang
membicarakan pakaian batik (Wibawa : 1.99 6: 1).
Salah satu prasasti yar.g membicarakan tentang batik
diantaranya adalah Prasasti Gandakuti. Prasasti Gandakuti
dikeluarkan oleh Aji Paduka Mpungku sang Pinakacatranning
Bhuwana berangka tahun 964C (7042M). Pada pasasti tersebut
terdapat uraian tentang dodot atau kain pada lempengan ke
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjaunn Simbol dan Makna)
t lrr,r yaitu yang berbunyi:
) .,t " . . . adodota ttmjun ijo kuniit sadangan nautagrnha pasilih galuh
Arlirrya:
',1,,t " ... memakai pakaian bercorak bunga tunjung hijau kunyit
sirdangan, bunga, pasilih galuh" (Wibawa: 1996:2).
Sementara itu, data artefak arca di )awa Tengah yang
tttt,mperlihatkan pakaian batik di antaranya dijumpai pada arca
Siwa di dekat candi Dieng maupun candi Prambanan. Motif-
r r rotif lainnya seperti Kawung, lereng dan lain-lain juga tersebar
rlilrerbagai arca di Jawa Timur.
Gambar 1
Replika Arca Pradnya Paramita
Sumber: Koleksi Museum jawa Tengah Ronggowarsito
Onya Ragam Hias Batik (Thjaran Sinfuol dan Maktm) 35
Sedangkan apabila dikaitkan dengan salah satu nama dari
suatu wilayah seperti Gringsing di Batang, maka kemungkinan
motif gringsing dapat dilacak dari motif-motif yang ada di arca
Vasudara yaitu dilihat dari motif padmasana atau tempat duduk
Vasudara.
Gambar:2
Arca Vasudara
Sumber: Koleksi Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
Keterkaitan antara agama Hindu dengan batik akan
tampak lagi bila dilihat dari konsepsi warna pada kain batik.
Warna batik klasik pada umumnya terdiri dari tiga warna yaitu
coklat yang identik dengan merah; biru yang identik dengan
warna hitam dan kuning atau coklat muda yang identik dengan
warna putih. Ke tiga warna tersebut merupakan konsepsi Dewa
35 Gaya Ragaru Hias Batik (Titjauan Sinrbol dan Makna)