I lrrrtlu yaitu Trimurti. Kuswadji Kawindrosusanto
r r r r, r r y cbutkan bahwa Coklat atau merah lambang Dewa Brahma
,rl,rtr lambang keberanian, Biru atau hitam lambang Dewa
Wisnu atau lambang ketenangan dan kuning atau putih
lrrrrrbang Dewa Syiwa (Yahya, 1985, 11).
4. l'cngaruh Agama Islam
Agama Islam secara tidak langsung memberi pengaruh
lr,r'lradap kehidupan suatu masyarakat dan kebudayaan di
Irrtlonesia. Pengaruh agama tersebut tampak juga terhadap seni
lr,r tik. Melalui rasa jiwa seni yang tinggi pada diri para seniman,
rrj,rran Islam yang memberlakukan ketentuan dengan ketat
r liolah sedemikian rupa sehinggga dapat dinikmati masyarakat
rlt,rrgan senang hati.
Keahlian seniman tersebut tampak terlihat dari hasil karya
rlt'rrgan gaya ornamentis dan kaligrafis yang diambilkan dari
l r t r ruf-huruf Arab maupun pengolahan bentuk mahkluk hidup
y.rng disamarkan dengan motif suluran. Bentuk gaya
ornamentis seperti manusia, pohon beringin, rumah, dan
liunungan disamarkan menjadi bentuk tumbuhan.
Gaya-gaya berfilosofi Hindu seperti kawung, motif pada
t',rrrdi diolahmenjadi motif yanglebihnatural. Gaya motif batik
It'rsebut banyak tersebar di daerah Lasem, Pakalongan, Batang
tlll.
t)uyn Ragan Hias Batik (Titjatat Sinbol dan Makna) 37
Gambar:3
Batik Rivaiyah
Sumber: Dirjenbud, Depdiknas 2000
5. Penyebaran Batik di beberapa Kota.
Perkembangan batik tak lepas dari peran sebuah kerajaan
baik sejak kerajaan Hindu maupun Mataram Islam. Dalam
kerajaan telah ada dikotomi tentang seni yaitu seni untuk raja,
seni untuk priyayi agung serta seni untuk kswula a/lf. Dikotomi
tersebut telah melekat pada diri masyarakat sehingga timbul
anggapan bahwa seni keraton merupakan seni yang paling
indah dan menjadi anutan masyarakat walaupun kemungkinan
seni tersebut merupakan hasil seni pinggiran dari kawula alit
yang kemudian diklaim sebagai hasil karya raja atau berasal
dari dalam lingkungan istana. Sebagai ungkapan terima kasih
atas penciptaan karya seni dan kelestarian seni dalam kalangan
istana, maka daerah penghasil tersebut oleh raja dimungkinkan
mendapat penghargaan berupa tanah perdikan yaitu daerah
yangbebas pajak (Yahya, 1985: 15).
Gaya Ragam Hias Batik (Titjauan Simbol dan Mahm)
Sementara itu, guna memenuhi kebutuhan dan kelestarian
lr,rtik di kalangan istana, Raja seringkali memerintahkan para
pt'rtrjin untuk membuatkan batik dengan motif-motif tertentu.
A l<ibat perintah raja ini, maka tak heran di lingkungan keraton
,rlau istana muncul perajin batik. Hubungan yang cukup
Irirrmonis antara kalangan istana dengan perajin yar.g berada
rli luar istana menyebabkan seni batik cukup berkembang
tlcngan subur dan teknik pembuatannya tersebar keberbagai
tlaerah seperti Banyumas, Solo, Klaten, Pekalongan, Lasem,
llatang, dan lainJain.
t. Batik diBanyumas
Asal-usul batik di Banyumas tidak ada keterangan yang
pasti. Berdasarkan informasi pengamat kebudayaan di
I larnyumas, Batik Banyumasan berasal dari adany a kademnngan-
kndemangnn atau kadipnten di daerah Banyumas dan para
pengungsi dari kerajaan Mataram
Selain para demang,para pengikut Pangeran Diponegoro
guna mencukupi kebutuhan pakaian maka mereka juga
rnembuat batik. Keahlian membatik di lingkungan keraton
clisebarkan dan dihidupkan di daerah Banyumas. Akibat hal
ini tampak adanya motif-motif yangmenyerupai motif dari Solo
atau Yogyakarta.
Seperti halnya sebuah kerajaan, kekuasaan kademnngan
atau kadipaten dllbaratkan sebagai raja kecil di daerah. Oleh
karena itu, para bangsawan atau kaum ningrat pun ada yartg
berkeinginan menciptakan batik tulis untuk memenuhi
kebutuhan pakaian keperluan di lingkungannya.
Keluarga Ningrat yang menaruh perhatian pada seni batik
adalah Pangeran Aria Gandasubrata, Bupati Banyumas (7973 -
7e33).
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Maknn)
Perkembangan batik Banyumasan semakin maju dan
dikenal dunia luar ketika seorang misionaris Belanda yang
bernama van Osterom masuk ke daerah Banyumas
memperkenalkan batik Banyumasan di kalangan bangsa
Belanda atau orang manca. Untuk memenuhi minat batik bagi
bangsa Belanda atau orang manca, motif-motif batik
dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan keinginan mereka.
Biasanya batik tersebut ada tulisan juragan batiknya. Gaya
batiknya menyerupai batik gaya Solo -Yogya, namun diberi
warna tambahan terutama warna merah dan biru.
b. Batik Solo
Keberadaan Kota Solo tak lepas dari peran sebuah
keraton. Daerah Keraton pada zanrtatt Belanda disebut daerah
Vorstenlanden. Sebagai keraton, maka di tempat tersebut
merupakan pusat segala tradisi, adat - istiadat dan kebudayaan
Hindu Jawa. Oleh karena itu keraton dapat disebut pusat
pemerintahan, agama, dan kebudayaan.
Salah satu bentuk kebudayaan tercermin dalam tradisi
membatik. Keberadaan tradisi membatik itu sendiri seiring
dengan berkembangnya keraton. Tradisi membatik ini
dikenalkan sejak kecil bagi kaum wanita keraton. Selain wanita,
para abdi juga banyak belajar membatik. Tradisi yang cukup
baik tersebut tak lepas dari peran raja untuk melestarikan seni
batik di kalangan keraton maupun rakyat jelata. Bentuk Peran
raja adalah adanya peraturan dalam pemakaian batik untuk
acara - acaratertentu serta adanya perintah raja untuk membuat
motif tertentu bagi kalangan Keraton. Akibat perintah raja
tersebut menjadikan pembatik muncul dimana-mana di sekitar
Keraton dan mempengaruhi pemakaian pakaian bagi rakyat
jelata.
Gaya RagamHias Batik (Tinjaran Simbol ilat Makta)
, lltrl ih Klilen
Asal usul batik Klaten erat kaitannya dengan keberadaan
l. r, r, r I t r r r Surakarta. Sejak dahulu daerah Klaten khususny aBayat
rrrlrrrpakan sentra batik. Pesanan batik dari kalangan keraton
r r r,r r r I )rrn kawula alit dari Solo banyak dibuat di daerah tersebut.
il. lltlik Lasem
Asal - usul batik Lasem tidak ada keterangan yang pasti.
r\l,.,rrr tetapi keberadaan Batik Lasem erat kaitannya dengan
rl,rl,rrrgnya bangsa asing terutama bangsa Cina. Menurut data
rrr'f ,trtrh, orang Cina mendarat pertama kali di Indonesia berada
r lr L,rsem kemudian mereka ke Kudus, Demak dan seterusnya.
llr,r:r.rnya, mereka menetap di perkampungan tertentu yang
r lrl..t'nal Kampung Pecinan.
Gambar:4
Rumah Peribadatan khas Cina di lasem
Sumber: Dinas Pariwisata Rembang. 41
Gaya Ragam Hias Batik (Thjauar Simbol dar Makna)
Di Lasem, Kampung Pecinan tersebut banyak di jumpai
rumah-rumah tua berpagar tembok tinggi dan kokoh dengan
bercorak khas Cina. Di balik tembok yang kokoh itulah mereka
melakukan aktivitas membuat batik dengan pekerjanya
sebagian dari penduduk pribumi dan mereka menjadi juragan
batik.
Akibat aktivitas perbatikan dikuasai oleh kaumCina maka
di Lasem ada dua jenis batik yaitu batik dengan selera Cina
dan batik dengan selera pribumi.
e: Batik Pekalongan
Asal - usul keberadaan batik di Pekalongan tidak
diketahui secara pasti namun demikian yang jelas di daerah
tersebut keberadaan batik tak lepas dari pengaruh beberapa
pihak di antaranya Cina, bangsa Arab keraton Solo-Yogya,
Belanda maupun Jepang.
Gambar:5
Selendang Motif Naga
Sumber: Traditional Indonesian Textile 1992
42 Gaya Ragam Hias Batik (Tifiauan Sinfuol ilan Makna)
Gambar:6
Batik Motif )lamprang
Sumber: Tradisional Indonesia T extlle 1992
Sementara itu, berdasar catatan sejarah, bangsa Cina juga
lrcrnah berlabuh untuk melakukan perdagangan. Akibat
,rktivitas perdagangan tersebut juga menimbulkan akulturasi
lrrrdaya. Akulturasi budaya yang tampak pada batik adalah
,rtlirnya motif batik yang bergaya Cina yang dikenal dengan
Itl tik Encim. Pada batik ini terdapat tata warna khas Cina seperti
l,rta warna porselin, bunga mawar dll. Sombol-simbol Cina
st'perti naga, kupu-kupu, banji dll.
Selain Bangsa Cina yang mendarat di Pekalongan, Bangsa
A rab yang melakukan perdagangan juga tercatat pernah
lrt'rlabuh di Pekalongan. Kaum Arab yang dikenal dengan
I(aum Encik, juga mengembangkan seni batik di Pekalongan.
Itagi orang Arab, motif yang bercorak mahkluk hidup seperti
binatang tidak dikembangkan dalam pembuatan batik. Motif
yang tampak adalah Jlamprang atau motif yang bercorak
llcometris
()nyn Raganr Hias Batik (Thtjaunn Sinfuol clar Maktn) 43
Data sejarah membuktikan bahwa batik Pekalongan
terpengaruh dari keraton Solo - Yogya. Pada saat terjadi
penyerangan Mataram ke Batavia para prajurit keraton singgah
di pelabuhan Pekalongan. Para prajurit keraton yang tak asing
terhadap seni batik berusaha untuk mencukupi kebutuhan akan
pakaian batik bagi pasukannya. Akibat hal ini, di daerah
Pekalongan terdapat motif yang hampir sama dengan motif
yangada di Solo - Yogya, yaitu motif semen.
Gambar 7
Motif Semen Klawek
Sumber: Koleksi Museum ]awa Tengah Ronggowarsito
Pengaruh pendatang lain terlihat pada zarnar:. Belanda.
Pada zaffranitu, Pekalongan dijadikan sentral tempat produksi
utama Batik Belanda atau Batik lndo-Eropa. Pengusaha batik
keturunan Belanda seperti Ajf ]ans, Lien Metzelaar, Tina van
Zuylen dan Eliza Yan Zuylen penyumbang besar bagi
perkembangan Batik di Pekalongan. Ragamhias dan komposisi
pewarnaan batik dikreasikan dengan motif-motif yang
Gaya RagamHias Batik (Tinjaran Sinfuol ilar Makna)
I'r,r'kt'mbang di Eropa. sehingga hal ini dapat menimbulkan
li,ryir khas Pekalongan atau pesisiran.
Setelah Belanda kalah perang dengan Jepang, ternyata
pi,rya batik Pekalongan juga tak berhenti begitu saja namun
nr('nyesuaikan dengan pengaruh fepang. Pada saat itu lahir
lnliklawa Hokokai. Nama Hokokai diambil dari nama organisasi
pr'()paganda ]epang. Propaganda Jepang tersebut telah
rrrt'rrgindoktrinisasi penduduk yang berusia di atas L4 tahun
r lt'rrgan gaya ]epang. Pada saat itu BatikHokokai dlbuatdi pabrik
r r r i lik orang Indo-Eropa, Indo-Arab dan peranakan yangsudah
lr,rkenal sebelumnya. Sedangkan para pengusaha batik yang
litlr'rk mau menurut perintah Jepang akan ditangkap dan
-r I i ;renjara (Veldhuisen, 7993: 145 748)
l'. Kabupaten Batang
Kedekatan wilayah administratif antara Batang dengan
l't'kalongan menyebabkan sejarah tentangbatik di Batang juga
tidak jauh berbeda dengan sejarah batik di Pekalongan. Oleh
karena batik Pekalongan telah lebih dahulu terkenal maka batik
llatang kalah bersaing. Padahal kalau dilihat dari asal
pekerjanya, pembatik Pekalongan banyak berasal dari Batang,
tcrutama Batang sebelah barat. Sedangkan hasil batik yang ada
rli Batang juga banyak dijual di Pekalongan.
6. Zaman Keemasan Batik
Pertumbuhanbatik yang cukup baik di Indonesia tak lepas
peran Pemerintah Belanda dalam memberikan kebijakan
tentang pertekstilan. Kebijakan tersebut dimulai adanya
kebijakan impor tekstil dari India oleh VOC sekitar abad 17
dan 18 serta sering ditampilkannya pakaian batik dalam
p-rertemuan para bangsawan di Batavia pada tahun 1870 -an
(Veldhuis en, 1993: 26 -28).
Gaya Ragam Hias Batik (Tifiauat Sinfuol ilat Makna)
Peran pemerintah lain yang mendukung pertumbuhan
batik diwujudkan dengan adanya sarana dan prasarana antara
lain:
1. Pada tahun L922 di Bandung didirikan "Textiel Instituut en
Batik Proef-Station" (Lembaga Tekstil dan pusat penelitian
Batik).
2. Tahun 1930 di Yogyakarta Pemerintah mendirikan
"Consultatie Bureau Voor de Nyver heid Tevens Batik
Proefstation Voor ZuidMiddenJava" (Biro Konsultasi unfuk
Pusat Penelitian Batik di Jawa Tengah bagian Selatan).
Sementara itu, pada masa pemerintahan Republik
Indonesia, dukungan terhadap pertumbuhan batik terlihat
dengan didirikan "BalaiPenelitian Batik" pada tahun 1951, yang
kemudian balai tersebut diperluas dengan bidang kerajinan
pada tahun 1968, sehingga diubah menjadi nama "Balai
Penelitian Batik dan Kerajinan".
Perkembangan bertambah baik lagi terjadi sekitar tahun
1950 -an yaitu pada masa pemerintahan Sukarno. Pada saat
itu kelestarian batik dilindungi oleh negara. Cara yang
ditempuh adalah mempermudah para pengusaha batik untuk
memperoleh bahan batik, khususnya kain dengan harga yang
lebih murah dibanding harga pasaran. Hak impor kain atau
bahan baku hanya diberikan pada koperasi batik yang disebut
Gabungan Koperasi Batik indonesia (GKBI). Di daerah dibentuk
pula Persatuan Pengusaha Koperasi Primer atau PPBI.
Pada saat ada GKBI dan PPBI para perajinbatik diberbagai
tempat mengalami perkembangan yang cukup pesat bahkan
di berbagai tempat sentra batik terdapat home industry.
Akibatnya di kalangan rumah tangga muncul perajinbatik atau
pekerja batik. Proses produksi dapat dilakukan di rumah tangga
dan dapat pula disambi dengan pekerjaan lain terutama yang
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauar Sinfuol ilan Makna)
,lrl,rl..ukan oleh ibu-ibu atau kaum perempuan. Akibat
lr rrr1i1la rnya ekspor dan munculnya home industrybankdimana-
nr,rr,r rnaka permintaan pasar yang tinggi dapat terpenuhi.
l'erkembangan industri batik yang cukup baik tersebut
lr,r'r ryata tak bertahan lama yaifu saat zaman Soeharto berkuasa
rrr, k i [ :r r tahun 197 }-an, menghilangkan perlindungan terhadap
Ir r r ror bahan baku. Akibat hal ini harga bahan baku berupa kain
1
rrr,rkin melonjak tinggi dan ambruk pula GKBI dalam
rrrcnghadapi importir swasta yang mempunyai modal besar.
( )lt.h karena kekurangan bahan baku maka secara otomatis
;rt,rajin home industry juga gulung tikar.
Di samping ambruknya GKBI, munculnya industri batik
rlt.ngan cara batik printing atau cap serta munculnya tekstil
lrt'rmotifkan motif-motif batik yang dihasilkan mesin dengan
It'hnologi yang canggih membuat semakin terpuruknya industri
I rl tik secara tradisional.
Situasi pertumbuhan batik cerah kembali, saat adanya
,rnjuran atau aturan tak resmi untuk memakai batik pada saat
pertemuan - pertemuan resmi atau kenegaraan. Selain itu
pt:makaian pakaian batik yang dilakukan oleh para pejabat
tlalam kunjungan ke daerah-daerah secara tidak langsung turut
ptila mempengaruhi pemakaian untuk acara-acara tertentu.
Namun demikian, kondisi tersebut tak berlangsung lama
rlengan munculnya situasi nasional yaitu adanya semangat
reformasi yang melanda Indonesia. Daerah Industri batik yang
tampak terpengaruh adalah industri batik di sekitar Surakarta.
I'Ial ini dikarenakan di Surakarta sering terjadi situasi keamanan
yang tidak terkendali sedangkan pasar batik di Indonesia yang
paling ramai ada di Kota Surakarta. Oleh karena itu, pada saat
tersebut, perdagangan batik mengalami kemunduran karena
turunnya permintaan batik dalam pemasaran.
Gayn Ragam Hias Batik (Titjauan Simbol ilat Makna)
Kondisi di atas diperburuk lagi oleh adanya tragedi Bom
Bali 2002 yang cukup membuat industri batik jatuh. Hal ini
diungkapkan oleh seorang pedagang di Klaten sebagai berikut:
" . . . .Sebelum adanya Bom Bali, perdagnngan batik di Pulau Bali
atau di Surakarta cukup menggembirakan. Satu bulan
dapat omset jutaan rupiah, tapi setelah tragedi Bali omset
penjualan turun dratis sebulan kurang dari satu juta
rupiah. Hal ini dikarenakan banyak turis asing yang
enggan datang ke Bali"
Setelah tragedi Bali berlalu, selama dua tahun terakhir ini,
Batik bergairah kembali terutama industri batik motif
Pekalongan atau pesisiran. Sedangkan untuk batik pedalaman,
tampaknya masih jalan ditempat.
Perkembangan industri Batik Pesisiran cukup
menggembirakan dikarenakan motif batik pesisiran lebih
bervariatif motif dan warnanya sehingga banyak diminati oleh
pembeli sedangkan batik motif pedalaman jalan ditempat
karena permintaan motif batik pedalaman hanya untuk
keperluan resepsi saja. Pendapat ini disampaikan oleh seorang
pemerhati batik di Pekalongan sebagai berikut:
"Batik Pekalongan lebih ekspresif dan aariatif dalam
motif-motif atau warnanyn sehingga lebih bnnyak pilihan
bagi pembeli dan pembeli dalnm membeli batik pesisiran
tidak untuk keperluan hajatan tetapi lebih untuk mode
sedangknn sekarang ini batik Solo jnlan di tempat karenn
perajinnya kurang kreatif dnn penjualannya kebanyakan
hanya untuk keperluan hajatan saja....."
48 Gaya Ragan Hias Batik (Tifiauat Simbol dan Makna)
ll. l'roses Pembuatan Batik
l . !'crlengkapan Membatik
Perlengkapan membatik khususnya batik tulis selama ini
lrrl,rk banyak mengalami perubahan. Oleh karena kekhasan
rl,rlam pengerjaanya maka apabila peralatan dan cara
1'r,rrgerjaannya diganti dengan peralatan yang modern maka
,rrli sebuah seni batik akan mengalami perubahan.
Peralatan yang dipakai seorang pembatik pada dasarnya
rlilragi menjadi dua yaitu peralatan pokok dan peralatan
l,rrnbahan.
t. Peralatan Pokok
Peralatan pokok batik adalah suatu peralatan membantik
y,r ng keberadaanya sangat vital dalam proses pembuatan motif
lr.rtik dalam sebuah kain. AIat membatik ini mengalami
;,t'rkembangan sebagai berikut:
l. Canting tulis.
Canting tulis adalah sebuah alat untuk melukis motif-
rrxrtif tertentu di atas sebuah kain. Bentuk canting terdiri dari
lradan atau awak-awak atau nyamplung , cuctrk atau cerat dan
tangkai yang terbuat dari bambu dengan ujung dipotong
rnemanjang yang disesuaikan dengan panjang dan lebar dari
nuak-awak. Awak-awnkberfungsi sebagai tempat lilin atau malam
t'air terbuat dari tembaga berbentuk silinder dengan bagian
bawah melebar dan memipih dengan panjang sekitar 3 - 4 cm
I iagian bibir atas berlubang berdiameter sekitar L,5 - 2cm, tinggi
sekitar 3- 4 cm. Ujung dari elips diberi cerat atau arctrkberlubang
tiengan panjang sekitar 1 - 2 cm dengan bentuk melengkung
l<c' bawah yang berfungsi untuk jalan keluar cairan malnm
Gtya Ragau Hias Batik (Titjatat Sinfuol dat Makna) 49
sehingga membentuk gambar. Ujung elips yang lain
dimasukkan ke lubang tangkai bambu kecil dengan panjang
sekitar8-L0cm.
Gambar:8
Canting
Sumber: Koleksi Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
Di daerah pengkajian ditemukan beberapa macam canting
tulis.
1. Berdasar fungsinya canting terdiri dua macam
a. Canting Reng-rengan
Disebut canting reng-rengan karena canting ini digunakan
untuk mengawali pembuatan pola dasar. Bentuk pola
dasar biasanya besar-besar dan tidak terlalu rumit,
sehingga digunakan canting yang berukuran besar.
Pengerjaanya disesuaikan dengan pola yang telah dibuat.
Reng - rengan itu sendiri berarti kerangka sehingga
pengerjaannya disebut mengengr eng.
50 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Sinfuol dan Makna)
t"
1r. Canting lsen atau canting terusan.
Disebut canting isen atau terusan karena canting ini
berfungsi untuk memberi isi pada atau pola dasar sesuai
dengan pola yang sudah ditentukan. Bentuk lubang
canting lebih kecil karena untuk mengerjakan pola-pola
yang rumit.
,1. Ilerdasar besar kecil cucuk canting tulis terdiri dari:
l. Canting cerat kecil
Canting cerat kecil biasanya dipakai untuk mengisi pola
atau bidang motif.
b. Canting cerat sedang
Canting cerat sedang biasanya dipakai untuk membuat
pola batik.
c. Canting cerat besar
Canting cerat besar di Pekalongan disebut canting popoknn
yang biasanya dipakai untuk membobok bagian kain yang
harus tetap ada sesuai dengan keinginan pembatik saat
memberi warna.
,]. Berdasar banyaknya cerat canting tulis terdiri dari:
a. Canting Cecekan
Canting Cecekan bercerat tunggal yar.g berfungsi untuk
membuat titik-titik kecil atau cecek dan garis-garis kecil.
b. Canting Loron atau CantingSlrlt
Disebut canting Loron atau Canting S6r6f karena
mempunyai cerat dua atau loro. Oleh karena berfungsi
untuk menarik dua garis maka kadang-kadang disebut
Canting S6r6t .S6rdt dalam bahasa Jawa berarti menarik.
Peletakan cerat di awak - awak disusun bertingkat.
c. Canting Telon atau CantingTelu
Disebut canting telon atau canting Teht karena canting
tersebut mempunyai tiga cerat atau dalam bahasa Jawa
()aya Ragam Hias Batik (Tilrjauan Sinbol dan Makrn) 51
berarti telu cucuk Fungsi canting telon adalah untuk
membuat tiga titik atau tiga garis. Peletakan cerat pada
awak-awak disusun dengan bentuk segi tiga.
d. Canting Prapatan
Jenis canting prapatan ini mempunyai cerat empat buah.
Fungsinya adalah untuk membuat empat titik kecil-kecil
yang berbentuk bujur sangkar sebagai pengisi bidang.
e. Canting Liman
Liman berasal dari kata lima. Oleh karena itu canting liman
berarti canting tersebut mempunyai lima cerat. Fungsinya
adalah untuk membuat empat buah titik kecil yang
berbentuk bujur sangkar dan satu titik lagi terdapat di
tengah bujur sangkar.
f. Canting Renteng
Renteng berarti rangkaian sesuatu yang berjejer. Canting
renteng berarti alat batik yang berfungsi untuk membuat
garis atau titik secara berjejer. ]enis canting ini biasanya
bercucuk genap, yaitu empat buah cerat atau lebih;
biasanya paling banyak enam buah cerat yang tersusun
dari bawah ke atas.
g. CantingByok
Canting Byokialahcanting yang bercucuk tujuh buah atau
Iebih. Oleh kerena jumlah cerat berjumlah tujuh maka
kadang-kadang dikenal pula dengan nama canting cecek
pitu ataucanting tujuh. Fungsi Canting Byokadalah untuk
membuat titik-titik sesuai keinginan.
2. Canting Cap.
Canting cap adalah alat membantik dari bahan tembaga
yang umumnya berukuran 20 cm x 20 cm atat24 x 24 cm atau
sesuai dengan keinginan maupun bentuk motif. Lempengan
Gaya Ragan Hias Bntik (Tinjarnt Sinfuol dnn Maktm)
lr,r rrbaga tersebut disusun berhimpitan sehingga membentuk
rrrrrliI tertentu. Pada bagian atas penera diberi pegangan yang
I'r'r'ltrngsi sebagai pegangan. Peneranya dibuat dua buah yaitu
rrrrlrrk sisi kain bagian atas dan satunya lagi untuk sisi kain
lr,r1,,ian bawah. Jadi kalau kedua penera tersebut disafukan akan
trrr,rupakan satu motif. Penera tersebut pada bagian atas
llrrlapat pegangan yang berfungsi untuk pegangan saat
n rr,rrerakan atau mencapkan pada kain. Dilihatbentuknya maka
r,rrrting cap dan penggunaanya maka tidak dapat disebut
trclrttah canting.
,1. ('tnting Cap Kayu
Selain canting cap dari tembaga terdapat pula canting cap
rl,rri kayu. Canting cap ini bentuknya seperti stempel yaitu
lr,r l.rngan kayu kecil dengan bentuk persegi empat atau silinder
y,rng bawahnya diberi pola motif tertentu. Cara membatiknya
y,ritu alat batik dicelupkan pada lilin cair kemudian diterakan
,rl,ru dicapkan ke kain. Oleh karena itu apabila dilihat dari
lrt'rrtuk alat dan cara membantiknya alat ini tak dapat disebut
t',rnting.
'1. Canting Elektris.
Perkembangan bentuk canting tulis yang lebih modern
,rtlarlah Canting tulis elektris. Canting tulis elektris apabila
r li lihat bagian-bagiannya maka jenis alat membatik ini hampir
s.una dengan alat canting tradisional yaitu ada tempat untuk
nr()nampung lilin cair, cerat dan pegangan. Penggunaan alat
irri cara kerjanya dihubungkan dengan listrik
t)uya Rngam Hias Batik (Tinjauan Sinrbol dan Makta) 53
Gambar 9
Canting cap dengan Pegangan
Sumber: Koleksi Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
Gambar:10
Canting Cap, Motif Kawung dan Semen
Sumber: Koleksi Museum ]awa Tengah Ronggowarsito
54 Gaya Ragam Hias Batik (Tfujauan Sinfuol ilan Makta)
, l'r'r 1t11flvs1n Canting, sikat, kuss dll.
l't'nggunaan canting tulis dalam perkembangannya
, I r r , r r i.rsikan dengan alat kuas, sikat, sisir dan lain sebagainya.
',,rl,rlr satu cara penggunaan alat sikat misalnya yaitu sikat
, Irrr r,rsukkan dalam cairan lilin kemudian digesekkan pada sisir
,rl,rrr tiiterakan pada kain. Sementara itu kuas dipergunakan
kr rr r I r r memblok pola atau menutup pola tertentu sesuai dengan
l.r,rrrliinan.
h l'ualatan Tambahan
llerdasarkan pengamatan di lapangan, alat tambahan yang
,lrlirrnakan untuk membatik ada beberapa macam, /aitu:
l. ()truangan
Gambar:11
Cawangan
Sumber: Koleksi Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
r )rryt Ragnm Hirc Batik (Tinjauar Simbol dan Makna) 55
Sumber: Koleksi Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
l
56 Gaya RagamHias Batik (Tirjaran Simbol ilan Makna)
r
I tl ttglo
Untuk menjaga kestabilan suhu pemanas lilin, digunakan
,rl,rl khusus. Alat untuk perapian biasanya dibuat dari tanah
lr,rl yarng disebut Anglo. Anglo tersebut berbahan bakar dari
11 l,lllfl.
Pada saat ini penggunaan anglo telah mengalami
I'r'r'rrbahan yaitu diganti dengan kompor. Kompor adalah alat
lrlr'.rpianyang terbuat dari logam atau seng denganbahanbakar
rl,u'i minyak tanah. Seorang perajin yang mengganti kompor
I rr,r'pendapat sebagai berikut:
" .... dengan ffienggunakankompor kita tidak direpotknn untuk
ttgipasi api. Untuk membesarknn api kita cukup mengatur
:;umbukompor saja"
,1, l'apas
Tepas adalah alat yang dipakai untuk membesarkan bara
,r1ri di angglo. Bahan yang digunakan untuk membuat Tepas
irrlirlah bambu. Bambu dibelah tipis-tipis kemudian dibentuk
rl'srrai dengan keinginan. Ukuran pembuatan tepas tak ada
rrkuran yang baku tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan
kt'inginan. Pada ujung Tepas biasanya diberi pegangan dari
kulit bambu atau dari menjalin. Di dalam perkembangannya/
lrrngsi tepas diganti dengan kipas angin elektris.
,'t. Ktlfis
Alat ini terdiri dari tangkai yang terbuat dari kayu kecil
tlt'ngan bentuk silinder dengan panjang 15 - 30 cm. Pada
rrjLrngnya ada serabut kecil yang terbuat dari ijuk atau rambut
r;irrtetis dengan ukuran sekitar 0,5 - 1 cm. Alat ini berfungsi
rrrrtuk membuat batik gaya abstrak atau menutup blok yang
lrcsar. Alat yang menyerupai kuas ini disebut juga Jenggol,
()tqa Ragam Hias Batik (Tifiauan Simbol ilnn Makna)
namun ujung |enggol dibuat dari kumpulan atau unta
benang. Sedangkan di daerah Pekalongan alatberupa kuas
terbuat dari bambu dan ujungnya diikat dengan kain yang
disebut kowolon.
Gambar: L3
Kuas
Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
6. Lilin atsu Malam
Lilin berfungsi untuk menutup bidang atau pola batik
terhadap warna-warna yang tidak diinginkan. Pengerjaan
penutupan bidang atau pola batik tergantung jumlah warna
yang dinginkan. Kain Batik yang memiliki variasi tiga warna,
maka proses penutupan pola batik dilakukan tiga kali. Lilin
untuk membatik oleh masyarakat disebut malam. Bahan
pembuatan malam terdiri dari: Gondorukem, mata kucing,
parafin, lilin lebah, lemak serta damar.
58 Gayn RagamHias Batik (Tirjaran Sinbol dat Makra)
Gambar:14
Malam Batik
Sumber:Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
Mcnurut bahan malam yang dibuat maka malam terdiri dari:
l. Malnm alam
Mslam alam adalah mnlnm yang diambil dari alam yaitu
:i(rrang lebah atau tawon. ]enis malam dari lebah atau tawon
ya r-rg banyak dicari adalah mnlnm lebah atau tawon yang disebut
'l'nln dari palembang dan malam lebah Klanceng. Adapun
('aranya adalah sarang lebah atau tala tawon dipisahkan dari
tclor lebah dengan direbus.
'). Malambuatan
Malnm buatan yaitu malam yang dibuat di pabrik dengan
rnenggunakan bahan baku campuran, terdiri antara lain:
rrrinyak latung, gondorukem, parafin dll. Adapun jenis malam
irri seperti: Malnm Timur, Mnlnm Putih, Malam Kuning, Malam
Songkal dll.
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjaunn Sinfuol dan Makra)
Menurut sifat dan kegunaannya maka malnm terdiri dari:
7. Malam Tembokqn
Malam Tembokan berwarna agak kecoklatan, mempunyai
sifat kental dan dipakai untuk membatik tembokan atau
mbliriki. Oleh karena biasanya berguna untuk menutup blok
warna putih maka malam yang dipakai yaitu malam putih dan
malam kuning sertakeplak . Keplak yaitu salah satu jenis bahan
campuran untuk membuat malnm-
2. Malam Carik
MnlamCarik berwarna agak kekuningan dan mempunyai
sifat lentur, tidak mudah retak. Oleh karena kualitasnya baik
maka jenis ini dipakai untuk membuat batik halus atau kain
yang dipakai kain yang baik sejenis sutera.
3. Malam Gambar
Malnm Gambar berwarna kuning kepucatan dan
mempunyai sifat mudah retak. Oleh karena mudah retak maka
dipakai untuk membuat warna motif remekan atau efek warna
pada motif yang retak-retak.
4. Malam Biron
Biron berasal dari bahasa ]awa yang berarti biru. Malam
Biron dipakai untuk menyebut malam yang untuk menutup
warna biru. Malam jenis ini berwarna agak coklat tua.
7. Saringan malam
Saringan malam mempunyai fungsi untuk menyaring
malam panas yang banyak kotorannya. Malam cair apabila
disaring akan mempermudah mengalirnyamalam pada cucuk
canting saat digunakan untuk membatik.
60 Gaya RtganHias Batik (Tinjauan Simbol dar Makna)
Saringan malam berbentuk lingkaran mencekung dan
l,r'r bingkai serta mempunyai tangkai. Saringanbiasanya terbuat
r l,u'i logam dengan lubang kecil-kecil. Dipilih logam karena tak
rrrrrtlah putus atau meleleh jika dicelupkan pada malam yang
rrrcndidih.
li (.lemek
Clemek adalah alat penutup paha pembatik agar tidak
lr'r'l<.ena tetesan malam panas pada saat canting ditiup. Clemek
lrr,rsanyd terbuat dari kain dengan ukuran 50 - 100 cm.
't l)ingklik atau lincak
Dingklik ataulincak fungsinya sama yaitu sebagai tempat
tlrrrluk pembatik. Bahan pembuat dingklik dapat berupa kayu
nr.rupun plastik. Tinggi dingklik sekitar 15 - 30 cm. Adapun
lrt'ntuk dingklik dapat persegi panjang maupun bulat. Namun
rlcrnikian kadang-kadang pembatik tak mempergunakan
,lrrrgklik tetapi mereka beralaskan tikar.
Gambar: 15
Dingklik
Sumber: Museum jawa Tengah Ronggowarsito 61,
t irtyr Ragan Hias Batik (Tinjauan Sinrbol dan Makna)
2. Proses Membatik
a. Tahap Persiapan membatik
Seorang pembatik sebelum melakukan aktivitas membatik
ia akan mempersiapkan peralatan pokok dan peralatan
tambahan yang hendak dipakai dan kain yang akan dibatik.;
Peralatan tersebut yaitu:
7. Anglo ataukompor serta wnjnn
Alat alat tersebut harus sudah siap pada saat membatik.
Nyala api atau bara api harus dinyalakan sedemikian rupa
sehingga menghasilkan panas yang cukup guna mencairkan
malam. Malam ditunggu sampai cukup panasnya. Untuk
mengetahui kondisi panas malam yang tepat maka harus
disesuaikan dengan tebal tipisnya kain yang akan dibatik. Cara
yang dipakai yaitu canting yang telah diisi cairan malam
dicobakan terlebih dahulu pada tepi kain. Kalau kondisi malam
terlalu mendidih atau ketuaan pada saat malam diteteskan.
Pada kain maka cairan malam akan merembet atau merembas
kemana-mana. Kalau kondisi malam kurang panas atau
kemudaan maka cairan malam tidak tembus pada bagian
belakang kain. Sedangkan keadaan panas malam yang baik
adalah bila diteteskan pada kain, malam tidak merembes
kemana-mana dan tembus pada bagian belakang kain serta
bagian depan kain terdapat malam yang tebal.
2. Kain,
Bahan kain polos yang telah dipola harus dipersiapkan
dan telah ada di atas Gawangan dekat anglo. Gawangan berada
di depan pembatik dan anglo terdapat disisi kanan pembatik.
Orang yang pekerjaannya membatik disebut pengobeng.
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilan Makna)
h,'l'ahap membatik
Setelah semua peralatan pokok dan tambahan disiapkan,
:i('orang pembatik mulai melakukan pekerjaannya. Proses
rrrt.mbatik di Nusantara pada prinsipnya merupakan teknik
Irrtup celup atauresist dyed tehniques.
Berdasarkan pengamatan di lapangan maka terlihat
lrt'berapa cara membatik yaitu:
l. Ditulis
Dalam proses membatik dengan cara menulis, maka
ri(,orang pembatik pertama-tama memegang alat batik berupa
r',r rrting. Cara memegang canting yaitu semua jari-jari diletakan
plda tangkai canting dengan jari telunjuk berada di atas.
Aprabila canting telah terisi malam maka canting diusahakan
tlalam keadaan horis'ontal agar cairan lilin dalam awak-nwakatau
t t ynmplung tidak tumpah.
Setelah canting dipegang dengan benar maka canting
tlicelupkan pada wajan yang berisi cairan malnm mendidih.
Apabila bagian awak-awak ataunyamplung telah penuh barulah
t'anting diangkat dan siap untuk dituliskan pada kain. Namun
tlcmikian sebelum cairan malam dituliskan pada kain, maka
t'trcuk canting ditiup terlebih dahulu sampai terdengar suara
rrngin yali.g keluar dari nyamphmg atau tempat cairan malam.
Apabila tak terdengar suara angin gelembung udara maka
berarti lubang cucuk tersumbat dan perlu ditusuk dengan jarum
atau ijuk. Maksud peniupan cucuk canting adalah agar cairan
yang berada diujung cucuk tidak cepat menetes sebelum
ditempelkan pada kain mori dan untuk mengontrol lubang
ctrcuk tersumbat oleh malam yang telah mengental.
Cairan malam di canting yang telah siap dituliskan pada
kain maka telapak tangan kiri pengobeng dengan keadaan
()nya Ragam Hias Batik (Tinjauan Sinfuol dat Makna)
terbuka berada di balik kain. Telapak tangan tersebut
dimaksudkan sebagai alas bagi kain yang akan ditulis dan
dipakai untuk menggerakkan atau menggulung bagian kain
yang telah dibatik ke balik gaTt)angan. Kain yang akan ditulis
dimulai dari atas kemudian ke bawah dari bentangan kain yangl
berada di depan pengobeng Apabila cairan malam yang adaj
dalam canting telah habis dipakai membatik rnaka nya
diisi ulang kembali sampai akhirnya selesai dalam
batik.
2. Dicap
Alat yang dipergunakan dalam proses membatik den
cara cap adalah lempengan tembaga berbentuk cap yang ba
bawahnya terdapat gulungan tembaga dengan motif-mo
tertentu. Guna mempermudah pengerjaan, biasanya
dibuat dua buah dengan bentuk motif terdiri dari dua sisi
dari suatu motif yang saling berkelanjutan.
Cara pengerjaannya adalah di atas anglo diletak
grengseng datar, di dalamnya diletakan lempengan
yang berlubang-lubang ukuran 30 cm x 3m. Guna I
tembaga ialah agar panasnya merata sehingga malam
dihisap oleh kain kasar. Setelah cukup panas, p
memegang kedua penera kemudian ditaruh di atas kain
ada di atas meja dan diberi malam. Pemberian malam di
penera diusahakan tidak terlalu banyak. Pada saat pemba
mereka sangat memperhatikan sambungan sisi masin
motif yang dalam istilah batik disebut sanggit.Sisi bagian
harus ada hubungan dengan bagian sisi atas. Sisi bagian
harus ada hubungannya dengan motif yang ada di sisi
kanan.
Agar mnlam pada kain tak menempel di meja maka
64 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjnuat Sinbol dafl
dibalut kain blaco kemudian dibasahi dengan air dan ditaburi
pasir.
Cara menjalankan canting cap antara lain:
1. Sistem Tubruknn
Sistem menjalankan batik cap dengan cara menggeserkan
canting satu langkah ke kanan atau ke muka.
2. Sistem Onda - ende
Sistem menjalankan batik cap dengan cara menggeserkan
setengah langkah ke kanan atau ke muka
3. Sistem Parang
Sistem menjalankan batik cap dengan cara menggeserkan
canting setengah langkah ke kanan atau ke muka dengan arah
garis miring. Hasil cetakan disebut Batik Parang.
{. Sistem Berputar atau mubeng
Sistem menjalankan canting cap dengan cara
menggeserkan canting dengan membentuk lingkaran. Salah
satu sudut dari canting cap tetap terletak pada satu titik,
setengah langkah ke kanan atau ke muka.
5. Sistem ]alan bersama atatmlampah sareng.
Sistem menjalankan dua buah canting cap yang bermotif
berkelanjutan dengan cara berdampingan.
3. Dilukis
Alat yang dipakai dalam proses membatik dengan cara
melukis yaitu kuas, sisir maupun canting tulis. Membatik
dengan cara melukis merupakan perkembangan dari teknik
melukis. Pada proses ini tanpa membuat pola terlebih dahulu.
Gaya Ragattt Hias Batik (Tinjauan Simbol ilar Mnkna) 65
;#JmmmHpkCueeeoa:almnu:rtsa'gikbn-fgiaTyspkuataei:nkmIianpnIleka|ga;admimelnnabrnaajlrymakien,aaamerk.'idlabpkyiaaleu.rkmamc"nsaubeeia:rttuaputaikneik.uirs,mt"ji"ugXousgr"rn.ea-,rsorilu.n.rmuanGtendmunwgengeampagnrenusmklsanuiaueakynnnkiaasaaknkmnagamlbanpbeaueekmiunrsaaaet islonaarrkdtanaaaannnn_g
Pada dasarrtya Proses pembatikan melalui beberapa
langkah yaitu:
1. Membatikkerongka
domdmirekeaenenngnnggagagSnliyukeadpnuoeneartngainkgnasgmagn,aneraicpmstnaae_anubgmmtuatiaaanbrntigastpigttracibaekaamipgntao_agbrkrsaasaer.tbnnp-ngeaelmagtrkadnieenuargamjpast.aaoauunlrla.akkmli,ao.mewr;mroe;inibm;iga";abat"inakrntiriiln"kgaited"d.rdeersinngetgugbtaulauins.tn
o,o"r,or"#l:HJffi kuraig uf;f;, pot, motir batik sangat
au".rnp"ffi;ir;'^'"' engerjaannya' Di berbagai
ditersebut telah :yu.Ipola-polamouf bauk
daerah Kratenr;,
yubanyJak oL "*f:lll ;i:il #lT.,Xlll,i
yang telah ada pol
anatauperusahaan
tatil yang."tirf
mempunyai miha k Pembatik Yang tak
r*#'r1ffil'"fli1:,"rrri keinginannya. Cara membatik
tersebut disebut memola utuu orgr:romang.
66 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauart Sittrbol darr Makla)
Gambar:16
Wanita mempola kain
Sumber; MuSeum Jawa Tengah Ronggowarsito
Selain cara membatik dengan memakai pola, ada pula
membatik tanpa menggunakan pola. Biasanya pembatik dengan
tanpa pola sudah memiliki keahlian atau kemahiran pembatik.
Selain itu, pembatik juga sudah berpengalarrian dalam
menciptakan motif atau mengetahui motif-r,notif batik. Cara
membatik tanpa pola tersebut disebutngrujak atau ngurak atau
anjarang. Hasil batikan dengan cara mola dan ngrujak disebut
batikan kosongan. Batikan kosongan atau klowongan ini
nantinya merupakan kerangkan dari motif batik.
Untuk batik sogan bekas malam batikan dalam batik
klowongan akan menjadi warna soga atau coklat.
Pembatikan dengan cara cap maka pelaksanaannya tanpa
menggunakan pola karena motif batik telah ada dalam cap
tersebut
Gaya Ragam Hias Batik (Thjauan Sinbol dat Mahta) 67
.). N p iscn-iseni
3. Nerusi
58 Gaya Ragan Hias Batik (Tinjarran Simbol dan Makrra)
I Nembok
Warna sebuah batikan dapat bermacam sesuai dengan
kt'inginan. Untuk mendapat hasil warna pada sela - sela motif
lrokok batik maka langkah yang diambil adalah warna motif
y,rng tidak kita kehendaki ditutup dengan malam. Proses ini
tlalam istitah pembatikan disebut nembok.Oleh karena biasanya
Irirgian ini lebar maka dipakailah canting yang bercucuk besar.
Gambar: L7
Kain Tembokan
Sumber: Museum ]awa Tengah Ronggowarsito
5. Mbliriki
Agar didapat hasil yang baik pada saat nemboki maka
dilakukan tahap mbliriki yaitu nerusi tembokan agar bagian
tersebut tertutup sungguh-sungguh.
c. Tahap Pemberian warna pada kain
Untuk mewujudkan warna batikan maka dilakukan
Gayn Ragan Hias Batik (Tirjauan Sinfuol ilat Makta) 69
l)('nc('lupan pada warna sesuai dengan keinginan. Bahan
pewarna tersebut dapat berasal dari tumbuhan dan bahan
kimia. Warna merah misalnya diambil dari buah Pace yang
banyak tersebar di daerah pesisir, warna coklat diambil dari
kulit pohon Gambir, daun Teh, kulit pohon Jambal, warna
Kuning dari tumbuhan Soga, Kunir, Warna hijau campuran.
jarak Kepyar dan Kunir dan masih banyak lagi jenis tumbuhan
pewarna lainnya yang tersebar di |awa.
Warna - warna yar.g dihasilkan oleh tumbuhan tersebut
dipengaruhi oleh asal daerah tumbuhan hidup. Warna merah
yang dihasilkan dari buah Pace di daerah pantai akan lain
dengan warna merah dari buah Pace yang ada di daerah
pegunungan atau pedalaman.
Ada berbagai macam cara perwarnaan pada kain batik
antara lain:
1. Celrryan
Celupan adalah pemberian warna kain yang telah dicap
klowong dan dicap tembok atau selesai ditulis dengan dengan
cara dicelupkan pada kolam yang beisi zat pewarna. Cara
tersebut dikenal dengan sistem medel atau wedel . Untuk kain
sogan kerokan, pengerjaan medel atau wedel dimaksudkan
untuk mendapatkan warna yang pertama. Umumnya wedel
menggunakan zatwarna Nila. Pengerjaan ini dilakukan secara
berulang-ulang sampai mencapai warna yang cukup tua.
Khusus batik-batik pesisiran seperti batik Pekalongan, batik
Lasem dan lain-lain, warna dasar tidak dhpedel tetapi sebagai
gantinya diberi warna yang lain seperti warna hijau, violet,
merah, kuning, oranye dan lain-lain. Oleh karena warna
tersebut tidak berubah sampai proses jadi maka warna yang
telah dibuat, ditutup dengan malam setiap proses penambahan
warna.
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)
' ('oletnn atau dulitan
Coletan atau dulitan adalah pemberian warna dengan
rr rt'rrguaskanzatpewarna tertentu pada bidang kain yang telah
r I i lra tas oleh garis-garis lilin. Fungsi dari mslam tersebut adalah
rrrt'mbatasi warna agar tidak merembes ke mana-mana. Di
rl.rerah sekitar Lasem cara ini kadang-kadang disebut dulitan
karena terpengaruh cara pewarnaan dari daerah Gresik.
,l Menggadung
Menggadurzg adalah pewarnaan kain batik dengan cara
tlisiram. Kain diletakkan terbuka rata di atas papan atau meja
kemudian disiram dengan larutan zat warna. Pewarnaan
tlengan menggaduns di Pekalongan untuk memberi warna pada
kain batik sarung atau batik Buketan.
I
d. Tahap Penghilangan Malam
Proses penghilan gan mnl nm yang menempel pada batik
dilakukan secara sebagaian atau keseluruhan. Pemprosesan
tersebut terdiri dari:
1. Mengerok
Mengerok yaitu menghilangkan malam sebagian dengan
cara melepaskan malam pada tempat-tempat tertentu dengan
cara menggaruk. Pengerjaan ini disebut ngerok atau ngerik. Di
Surakarta atau di Klaten proses ini dilakukan setelah kain
diwedel. Maksud pengerokan kain adalah untuk membuka kain
yang telah dimalam dan selanjutnya diberi warna sesuai dengan
keinginan, yaitu Soga atau warna coklat.
2. Lorodan )
Lorodan yaitu penghilangan malqm batik secara
keseluruhan dengan cara memasukkan ke dalam air panas
Gaya Ragam Hias Batik (Tifiauan Simbol dan Makna) 71,
sehingga malam lepas dari kain. Untuk kain jenis sutra atau
tetoran pencelupan dilakukan dengan minyak tanah atau
bensin. Warna yang telah dikehendaki dan tidakboleh tertindih
warna lain ditutup kembali dengan malam.Proses penghilangan
malam secara keseluruhan pada akhir proses pembuatan batik
disebut mbabar atau ngebyok Prcses ini banyak terdapat di
Banyumas dan Pckalongan.
3. Menggasak
Menggasak yaitu menghilangkan malam batik dari kain
pada bagian-bagian tertentu yang dianggap salah. Caranya
adalah melelehkan malam batik yang menempel. Alat yang
dipakai lempengan besi atau logam yang telah dipanaskan.
C. Pekerja Batik
Pada proses pembuatan batik banyak pekerj a yang terlibat.
Keterlibatan itu berlangsung sejak proses produksi batik hingga
pendistribusiannya. Orang-orang yang terlibat tersebut dapat
dibedakan berdasarkan jenis kelamin yaitu perempuan dan laki-
laki.
1. Pekerja batik Perempuan
Proses produksi batik tulis banyak dikerjakan oleh kaum
perempuan. Hal tersebut dapat terlihat pada tahap mempola
dan membatik. Pada tahap ini berdasarkan pengamatan di
lapangan sebagian besar dikerjakan oleh perempuan dan
hampir dapat dikatakan kaum laki-laki tak ada yang
mengerjakan. Namun demikian, setelah canting cap dikenal di
masyarakat kaum laki-laki juga terlibat dalam proses
pembatikan.
Pada tahap mempola dan.membatik banyak dilakukan
oleh kaum perempuan kemungkinan dikarenakan kaum
72 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauat Sintbol dan Makta)
[)erempuan lebih teliti, sabar dalam mengerjakannya. Hal ini
tliutarakan seorang juragan batik di Pekalongan sebagai berikut:
".... Yang banyak mempola dan membatik ini adalah kaum
perempufln, karena mereka lebih sabar dan teliti. Hal ini
diknr enaknn dalam membatik butuh ketelitian dan kesabar an. "
Hal ini dibenarkan oleh seorang pengamat batik di
l'ekalongan sebagai berikut:
" . . . . . setelah dikenal batik cap , knum laki-lnki mulai mengerjakan
membatik karena dalam batik cap membutuhkan tenaga yang
kuat dalam penger j aanny a"
Gambar:18
Wanita pembatik
Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
Secara umum pembatikan yang dilakukan oleh
L)erempuan ada yang dikerjakan ditempat pengusaha batik dan
lda yang dibawa pulang ke rumah sambil mengerjakan
pekerjaan rumah tangga lainnya. Seteiah sebuah kain batik
()aya Ragam Hias Batik (Tifiauan Sinrbol ilan Mnkna)
selesai dikerjakan/ proses penjualanbanyak pula dilakukan oleh
kaum perempuan. Hal tersebut terlihat diberbagai pasar tempat
menjual batik. Di pasar grosir batik di Pekalongan misahya
para penjual batik banyak dilakukan oleh kaum perempuan
dan hanya sedikit yang dijual atau ditunggui oleh kaum laki-
laki. Demikian pula Pasar Klewer di Solo, hampir semua
pedagang batik dikerjakan oleh kaum perempuan dan hanya
sebagian kecil kios pasar yang ditunggui oleh kaum laki{aki.
Gambar:1,9
Wanita Penjual Batik
Sumber: Traditional Indonesian Textiles L992
Secara umum laki-laki ya g menunggu atau menjual batik
di kios pasar atau toko dilakukan hanya sementara atau
mengganti kaum perempuan yang mungkin karena sesuatu hal
mereka tidak dapat menunggui atau menjual dagangannya.
Selain penjual di tempat kios, atau pasar/ pedagang batik
keliling pun banyrk y*g dikerjakan oleh kaum perempuan.
74 Gaya Ragam Hias Bstik (Thjauar Simbol dan Makna)
Gambar:20
Pekerja Pria Mewarnai
Sumber: Dirjenbud, DePdiknas 2000
2. Pekerja Batik Laki-laki
Proses produksi sebuah kain batik yang dikerjakan oleh
kaum laki-laki adalah pada tahap pencelupan. Berdasarkan
pengamatan di lapangan hampir sebagian besar pekerja dalam
proses pencelupan atau pewarnaan dilakukan oleh kaum laki-
laki. Hal ini dikarenakan datam proses ini tidak menrbutuhkan
ketelitian atau kesabaran tetapi membutuhkan tenaga yang kuat
untuk mengangkatbatik dalam ember Pewarna dan kemudian
men]emurnya.
Caya Ragam Hias Bstik (Titjmmt Silnbol dat Makna) 75
D. Perdagangan Batik
Perdagangan kain sudah ada jauh sebelum Belanda datang
di Nusantara. Ketika Belanda datang, mereka membentuk
Vereenigde Oost Indische Companie atau VOC untuk
memonopoli perdagangan di daerah jajahannya terutama Jawa.
Monopoli tersebtrt diawali dengan perjanjian dengan penguasa
mataram pada bulan Oktober 1.677. Raja Mataram adalah
penguasa semua Pulau Jawa terkecuali Batavia, Ommelanden
yaitu area yang bersebelahan melingkupi Batavia, dan yang
remotest bagian-bagian dari Pulau Jawa Barat. Pada saat
perjanjian tersebut, sebagai pertukaran dengan membeli beras,
VOC menerima kemutlakan hak-hakuntuk memasukan segala
macam kain termasuk kain berpola atau semacam batik
(Veldhuisen,7993:79)
Pada saat itu, produksi batik yang ada di ]awa masih
belum diperdagangkan secara komersial. Alasannya karena
para perajin membuatbatik hanya untuk kebutuhannya sendiri
sedangkan bagi para bangsawan lebih menyukai kain impor
dari India. Kemudian sekitar permulaan,abad 19 setelah kota-
kota perdagangan di Jawa seperti Batavia, Semarang mauplln
Surabaya meningkat penduduknya baik oleh karena mencari
pekerjaan maupun sebagai tempat berkumpulnya para
pedagang dari berbagai golongan dan dipakainya batik
disegala lapisan masyarakat maka mulailah batik diproduksi
untuk kepentingan komersial.
Menurut Thomas Stamford yang berbicara tentang sejarah
Pulau lawa, kain Batik di Jawa telah diproduksi dan
diperdagangkan sekitar 1800. Menurut Rafles yang menjabat
Gubernur Pulau Jawa sekitar 1811-1816 menuturkan bahwa
tekstil komersil diproduksi di Pulau lawa dengan metode
produksi seperti orang India dan mencoba untuk meniru jenis
75 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjmnt Sinfuol ilan Makna)
tcrtentu kain orang India yaitu menyerupai batik. Sebagai
pemenuhan tuntutan akan batik bagi masyarakat berbagai cara
clilakukan untuk kecepatan proses produksi
Batik-batik yang dihasilkan dari daerah Pantai Utara
seperti Pekalongan maupun Lasem ditukar tambah dengan
barang lain di Batavia. Pada saat itu, kelompok penting
pelanggan untuk batik ini adalah wanita-wanita Indo-Eropa.
l'ada saat itu kain batik berbentuk sarong dipakai di rumah
bahkan juga sebagai suatu alternatif rok formal, sebagai ganti
kerindtran katun berpola warna dari India (Veldhuisen,1993:
26).
Pada tahun sekitar 1800 pedagang Cina dan pedagang
Arab ya g berada di Pantai Utara Jawa memborong batik
buatan industri rakyat di daerah Pekalongan dan Lasem.
Ramainya perdagangan tersebut lebih semarak lagi dengan
robohnya industri tekstil dari India akibat masuknya industri
tekstil dari Eropa atau Inggris akibat adanya tekstil buatan
mesin.
Kedua kelompok pedagang tersebut aktif berdagang dari
bahan baku yang diperlukan untuk membuatbatik seperti kain
kapas putih, lilin, damar dan lain-lain serta pemberian
pinjamam uang untuk modal produksi (Veldhuisen,1993:28 -
291
Melalui suatu sistem pembayaran di muka, pedagang Cina
dan pedagang Arab bisa memaksa wanita-wanita untuk
rneningkatkan produksi batik. Penggunaan sistem ini
diantaranya kain sebagai bahan membatik diberikan oleh para
wanita pembatik dan setelah selesai dibatik barulah upah
diberikan. Upah kerja sistem ini sudah ditetapkan terlebih
dahulu saat menerima bahan kain polosan. Sistem yang kedua
adalah uang diberikan kepada wanita pembatik sebagai upah
Caya Ragam Hias Batik (Tinjauar Sinrbol dan Maktn) 77
membatiknya dan kain yang sudah selesai dibatik baru
diserahkan ke pemodal. Semua proses produksi tersebut
diawasi oleh pemodal dengan maksud kualitas tetap terjaga
dan memenuhi selera pemodal. Sistem inibagi pedagang sangat
menguntungkan tapi bagi pekerja batik kurang
menguntungkan karena pekerja tidak dapat memainkan harga
sebuah karya batik dan bahkan dapat dikatakan biaya tenaga
kerja hampir tidak tercakup di harga penjualan.
Perdagangan yang dilakukan oleh pedagang Cina dan
pedagang Arab tak hanya di kawasan pesisir utara saja
melainkan juga merambah ke daerah pedalaman yaitu kota-
kota di sekitar Surakarta dan Yogyakarta. Dengan munculnya
para pedagang tersebut menyebabkan pembatik yang bekerja
hanya untuk kepentingan sendiri atau mencukupi kebutuhan
kalangan keraton mulai diproduksi untuk usaha komersial dan
banyak muncul usaha-usaha batik. Akibat hal ini di pasaran
seperti Pasar Klewer sudah mengenal perdagangan batik.
Perdaganganbatik diJawabertambah ramai lagi pada saat
jalur kereta api di pesisir utara selesai dibuat sekitar tahun 1880.
Pembangunan jalur kereta api ke Timur dari Semarang-Joeana
mempermudah angkutan perdagangan batik Lasem untuk
dibawa ke Semarang. Melalui pelabuhan Semarang inilah batik-
batik diperdagangkan ke berbagai daerah di pelosok tanah air.
Oleh karena itulah di daerah ]ambi, Bengkulu dan lain-lain
dapat dijumpai Batik Laseman yang bermotif Locan
(Veldhuisen 1993: 39, 58).
Selain usaha perdagangan batik yang dilakukan oleh
pedagang Cina maupun pedagang Arab, muncul pula
pengusaha dari kalangan orang Belanda. Di antara pengusaha
batik tersebut adalah Mrs Van Oosterom. Mrs van Oosterom
mendirikan pabrik batik di Ungaran pada tahun 1845 untuk
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)
mencukupi kebutuhan batik kaum bangsawan Belanda maupun
di ekspor ke Eropa. Usaha Batik yang dilakukan Mrs. van
Oosterom di Ungaran diperluas lagi ke daerah Salatiga dan
Surakarta. Di daerah tersebut itulah Mrs. Van Oosterom
mendapat persaingan usaha batik. Selain memperluas usahanya
ke Surakarta ia juga memperluas dan mendirikan pabrik Batik
di Banyumas.
Untuk memperkenalkanbatik di dunia internasional Van
Oosterom ikut pameran kain tradisional di Nendherlan pada
tahun L867. Pada saat itu para pengunjung terkagum-kagum
terhadap batik dari Indonesia.
Gambar:21
Batik Motif Hokokai
Sumber: Museum Jawa Tengah Ronggowarsito
Usaha perdagangan batik sudah begitu ramai tampaknya
mulai agak tertekan dalam penjualan saat kedatangan Jepang
di Jawa. Pada saat itu, semua produk batik yang berbau Belanda
berusaha dihambat perkembangannya dan diajurkan kepada
Caya Ragam Hias Botik (Tinjauan Simbol dan Makna) 79
para pengusaha batik untuk memenuhi selera ]epang. Oleh
karena itulah para pengusaha seperi Mrs. van Oosterom pindah
ke Pekalongan dan mendirikan pabrik batik dengan corak
ragam hias sesuai motif dengan keinginan selera masyarakat
Jepang. Pada saat inilah muncul Batik Pekalongan dengan motif
]ava Hokokai. Batik itu tidak hanya untuk memenuhi
permintaan kain batik dengan corak nuasa pemandangan alam
masyarakat di Jepang saja tetapi juga untuk memenuhi sandang
bagi pemerintah jajahan Jepang (Veldhuisen,1993: 145).
E. Cara Berdagang
Perdagangan batik yang ada di Jawa terkait erat dengan
cara seorang pedagang dalam menjajakan barang dagangannya.
Cara menjajakan barang dagangannya juga terkait dengan
sebuah pasar.
Sebagian pedagang, khususnya pedagang kecil biasanya
membeli barang atau kulaknn ke sebuah pasar, juragan maupun
perajin batik. Mereka membeli batik dengan bentuk borongan
atau eceran. Pada saat Kulakan mereka kadangkala membeli
dengan cara menghutang terlebih dahulu maupun dengan
secara tunai. Adapun secara tunai kemungkinan mereka sudah
dipercaya oleh pihak si empunya batik. Sedangkan cara tunai
kemungkinan mereka belum dikenal atau belum dipercaya oleh
si empunya batik. Namun demikian, biasanya setelah berkali-
kali telah mengadakan transaksi jual beli mereka dipercaya
untuk membayar sebagian barang yang dibeli dan akan
melunasinya setelah barang ifu lunas atau pada saat mereka
kulakan kembali.
Setelah mereka mendapat barang dari hasil kulakan di
pasar, juragan atau pembatik langsung, barang-barang tersebut
kemudian dijajakan ke pembeli. Cara menjajakan yaitu dengan
80 Gaya Ragam Hias Batik (Titjatan Sinfuol dan Makna)
n)cmbuka toko maupun berjualan keliling, masuk desa keluar
r lcsa.
Cara menjajakan barang di toko, biasaya dilakukan oleh
pcnjual dengan modal menengah ke atas dan memeliki lokasi
yang strategis seperti di tepi jalan besar, maupun ditempat yang
rr-rudah dijangkau oleh pembeli. Toko yang agak besar biasanya
pemilik toko memperkerjakan karyawan sebagai penjaga toko.
l'enjaga toko tersebut umumnya wanita walaupun kadangkala
rria juga melayaninya.
1
Pembelian di toko, seperti ditempat jual beli lainnya
berlangsung juga tawar-menar barang, namun juga ada yang
rnemberi harga barang yang pas tak boleh ditawar. Pada saat
lcrjadi tawar-menawar barang kalau penjaga toko ragu-ragu
.rkan tawaran harga, mereka akan tanya harga yang tepat ke
pemilik toko. Setelah terjadi kesepakatan harga penjaja akan
r nelepaskan barang tersebut.
Agar pembeli terpuaskan dalam berkunjung ke toko,
penjaga toko selain dibekali pengetahuan harga sebuah kain
batik, kadangkala bagi sebuah toko batik yang besar, dibekali
pula pengetahuan tentang motif-motif batik. Pengetahuan
tentang motif batik itu penting sekali karena kadangkala
pembeli mencari infomasi atau tanya tentang motif apa yang
diperlukan untuk upacara-upacara tertentu.
Sementara itu, untuk pedagang keliling dilakukan dengan
cara berjalan sambil menggendong dagangan batik. Pedagang
tersebut selain menjual kainbatik, biasanya juga menjual pakain
lain. Dagangan tersebut dibungkus kainbesar atau ditempatkan
tlalam tas dan ditawarkan dari rumah-ke rumah, dari desa ke
tlesa. Selain berjalan kaki, sebagian pedagang keliling ada pula
yang menjajakan dengan naik kendaraan. Oleh karena sering
keluar masuk desa, seorang pedagang keliling biasanya banyak
()aya Ragan Hias Batik (Tinjauan Sintbol ilan Makra) 81
dikenal masyarakat. Pedagang keliling batik ini umumnya
dilakukan oleh para wanita. Sasaran penjualan batik biasanya
ibu-ibu rumah tangga yan g ada di pedesaan. Mereka berangkat
pada pagi hari sekitar jam 08.00 dan pulang sekitar jam 16.00.
Seperti halnya kehidupan di pedesaan pada umunya,
pedagang keliling menawarkan barang penuh dengan
keakraban dan kekeluargaan. Obrolan - obrolan ringary canda
ria sering mewarnai transaksi jual beli. Kadangkala juga
diselingi minum teh atau makanan ringan yang disediakan tuan
rumah.
Motif-motif kain yang biasanya disukai kaum ibu-ibu
adalah motif yang bercorak wama agak gelap. Namun demikian
hal ini tak mutlak karenabanyak pula ibu-ibu khususnya yang
tinggal di daerah pesisir utara atau perkotaan mereka juga
menyukai warna yang cerah
Seperti halnya transaksi jual-beli lainya, pada saat
menawarkan dagangannya, pembeli bebas menawar harga
sebuah kain batik. Kalau terjadi kesepakatan maka batik
tersebut diberikan kepada pembeli. Cara pembayarannya juga
bervariasi tergantung kesepakatan pada saat tawar-menawar
yaitu dapat secara kredit maupun tunai. Umumnya bila secara
kredit harganya akan berbeda dengan tunai. Menurut seorang
penjual batik keliling, omset yang dijual relatif lakunya.
Kadang-kadangsatuhari dapatlaku 2 sampai 3 helai kainbatik,
namun kadangkala juga kurang dari jumlah tersebut.
Keuntungan yang didapat pedagang relatif yaitu Rp 5.000,-
sampai Rp 15.000,-. Namun kadang-kala, keuntungan tidak
begitu diperhatikan yang penting persaudaraan. Hal ini
dituturkan seorang pedagang di Klaten sebagai berikut.
" . . . mendet untung saking sadey an batik mboten pat ek penting
tapi ingknng luwih penting peseduluran .. .. "
82 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Sintbol dan Makna)
Selain melayani penjualan secara langsung pada pembeli,
pedagang keliling juga melayani pesanan batik sesuai dengan
permintaan pembeli. Apabila permintaan pembeli tidak ada
maka akan dibawakan besoknya atau sesuai dengan
kesepakatan pesanan. Pesanan tersebut kemungkinan juga
menunggu cukup lama yaitu menunggu barang habis atau
kulakan barang lagi. Seorang penjual akan kulakon lagi setelah
dirasa persediaanbarang dagangannya hampir habis atau pada
saat hari pasaran tiba.
Hari pasaran yang biasanya dipakai sebagai tempat
berkumpulnya para pedagang dan pembeli untuk melakukan
transaksi jual beli atau sebagai tempat kulakan para pedagang
di Jawa khususnya di daerah sekitar Klaten maupun Surakarta
yaitu Pasar Pahing, pasar Kliwon d11. Pasar tersebut sesuai
dengan hari-hari kalender Jawa akan ramai dikunjungi para
penjual maupun pembeli pada hari tersebut. Hari kalender
p asaran Jawa yaitu pahing, p on, w age, kliw on, I egi. Selain di pasar
tersebut, untuk daerah yang memiliki pasar-pasar yang agak
modern atau pusat grosir batik, seperti yang ada di daerah
Pekalongan maupun Batang para pedagang melakukan kulaknn
di tempat tersebut. Di tempat grosir batik tersebut itulah para
penjual batik keliling kulakan dan para pembeli dari berbagai
daerah luar kota membelibatik sebagai oleh-oleh untuk dibawa
pulang. Para pedagang kadangkala kulakan langsung ke
pengusaha batik. Seperti halnya di daerah Lasem para pedagang
kecil atau keliling kulakan kepada para juragan Batik yang
umumnya dikuasai oleh kaum Tionghoa.
Permintaan dan transaki jual beli batik akan meningkat
pada saat saat tertentu seperti menjelang lebaran atau tahun
baru. Hal ini seperti diungkapkan oleh seorang wanita penjual
batik di daerah |atinom Klaten sebagai berikut:
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna) 83
" .... Yen dhinten biasa batik ingkang laku namung
sekedhik, namung yen dhinten badhe riyoyo utawi bodhi,
-batik ingkang laku kathah, seminggu saged 10 15 kain
batik".
84 Gaya Rtgan Htds Batik (Titjauan Simbol dan Makna)
BAB IV
GAYA RAGAM HIAS BATIK
A.Pengertian Gaya Ragam Hias Batik
Gaya dalam kamus bahasa Indonesia berarti bentuk
(Shadly, 1990: 458). Sedangkan ragam berarti ;'enis atau macam-
rnacam (Shadly, 7990:719).Jadi, Gaya ragam hias batik adalah
bentuk berbagai jenis hiasan pada batik. Hiasan itu sendiri
:rdalah suatu gambar yang diciptakan oleh manusia atau
seniman. Gambar hiasan pada batik tersebut oleh Soepeno dapat
pula diartikan sebagai ornamen batik (Soepeno, 1953: 255).
Pengertian yang hampir serupa dengan ragam hias adalah
Motif hiasan. Motif hiasan adalah suatu pola atau corak hiasan
yang terungkap sebagai ungkapan ekspresi jiwa manusia
terhadap keindahan atau pemenuhan kebutuhan lain yang
bersifat budaya (Setiawan: 1988: 378). Sedangkan corak berarti
bunga atau gambar-gambar( ada yangberwarna) pada pakaian.
Corak dapat juga berarti berjenis-jenis warna pada warna dasar
tentang kain dsb (Sadli: 1990:593).
Menurut unsur-unsurnya, motif batik dibagi menjadi dua
bagian utama:
l. Ornamen motif batik
2. Isen motif batik
Ornamen motif batik dibedakan atas ornamen utama dan
ornamen tambahan atau pengisi bidang. Ornamen utama
.rdalah ragam hias yang menentukan nama motif tersebut.
Motif-motif itulah yang mempunyai makna. Sedangkan
()tya Ragam Hias Batik (Tinjatan Simbol dnn Mabn)
ornamen tambahan, tidak mempunyai arti atau jiwa dalam
pembentukan motifnya. Bentuk motif-motifnya dibuat lebih
kecil dan sederhana dari motif pokok dan hanya berfungsi
sebagai pengisi bidang. Gambar pengisi bidalg dapat berupa
burung, binatang daun, bunga.
Unfuk menghiasi pola secara keseluruhan antara ornamen
pokok dan pengisi bidang diberi isen-isen. Isen-isen tersebut
berupa titik-titik, garis-garis, maupun gabungan sering disebut
Isen motif batik.
. Isen-isen tersebut jumlahnya banyak sekali namun
demikian sekarang di antaranya tinggal namanya saja. Sapto
Soekmono melihat isen-isen tersebut berjumlah lima puluh
-enam jenis (Soesanto, 1985: 34 37). Lima puluh enam jenis
isen-isen tersebut adalah:
86 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Sinbol ilan Makta)