bentuk segitiga dengan ragarn hias beraneka, diantaranya;
motif kawung, geometris, pilin, bunga, sayap, pararrgt belah
ketupat, tumbuhan dan beberapa motif geometris. Bercirikan
warna latar putih kecoklat-coklatan atau putih ecru, warrra
pelengkap coklat tua dan hitam.
T.Motif Semen
Ragam hias semen termasuk non geometris yaitu lar atau
sayap dari burunggarrda. Ragam hias semen burung garuda
yang dipakai dalam pola batik kadangkala berbentuk burung
secara utuh atau ke dua sayapnya terlihat atau bahkan hanya
satu sayap saja. Ragam hias ini sering disebut dengan lar.
(Hoop,1982:180).
Gambar:63
Batik Motif Semen
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna) 137
Di banyak tempat, motif semen diperkaya dengan
beberapa isen-isen berupa cecek renteng, tebu sakeret dan
galaran, serta motif lain seperti; burung, untu walang, sulur
dan daun. Ciri warna yang dimilikinya yaitu warna latar putih
kecoklatan, warrra pelengkap coklat tua.
8. Motif Pisang Bali
Motif Pisang Bali menggambarkan lukisan atau ukiran
sesisir pisang dari pulau Bali(Hamzuri, 7987:57). Sedangkan
Bali merupakan sebuah nama pulau di Indonesia.
Gambar:64
Batik Motif Pisang Bali
Sumber: Museum ]awa Tengah Ronggowarsito
Warna latar putih, warna pelengkap hitam dan coklat.
Ragam hias dominan pisang Bali, pisang merupakan salah satu
dari nama jenis buah-buahan.
138 Gaya Ragam Hias Bstik (Tirjauan Simbol dan Maknn)
c. BatikSurakafia
7. Motif Parang Barong
Keberadaan motif Parang Barong berkaitan dengan
kedudukan sosial khususnya seorang raja.
Motif tersebut termasuk motif lama yang berkembang
sejak abad XI. Pada saat upacara jumenengnn, di Keraton
Surakarta.
Raja yang bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun,
Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono Ingkang Kaping XII
berbusana .farang Barong dilengkapi asesoris pakaian dari
bludru hitatrf,; p"rhiurur, *.g - *"gu" atau kalung, bintang
atau bros serta makuto kanigoro.
Motif parang memiliki isen-isen yang diseb ut mlinjon. Kain
ini berwarna latar putih, warna pelengkap coklat tua dan hitam.
C. Pemakaian Motif Batik
Penggunaan motif kain batik sangat dipengaruhi oleh
aktivitas masyarakat seperti ritual, seremonial, historis kultural
dan historis kultur al. Penggunaan batik yang berkaitan dengan
aktivitas ritual dan ceremonial sebagian besar beroriantasi pada
tata cara pemakain batik yangada di lingkungan keraton. Hal
ini dikarenakan masyarakat masih menganggap bahwa keraton
adalah pusat dari kebudayaan ]awa.
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilat Makna) 1.39
Gambar:65
Pemakaian Batik Motif Barong
Pada Raja Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng
Susuhunan Pakoe Buwono Senapati Ing Ngalaga
Ngabdurahman Panatagama Ingkang Kaping XII
Sumben Busana Keraton Surakarta 2004
Pengaruh aktivitas masyarakat dalam memilih motif batik:
1. Ritual
Berdasarkan pengamatan dilapangan banyak sekali
dijumpai upacara ritual tertentu yang mensyaratkan motif batik
tertentu dalam pelaksanaannya. Semua itu dilakukan dengan
tujuan agar masyarakat mendapatkan keselamatan dan terbebas
dari malapetaka. Berbagai upacara tersebut seperti Labuhan di
keraton Solo maupun Yogyakarta yaitu upacara persembahan
140 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)
pakaian bekas Sultan atau Raja ke Pantai Selatan (Parang
Kusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu dan Dlepih Wonogiri.
2. Seremonial
Berdasarkan pengamatan dilapangan banyak sekali acara
atau upacar seremonial menggunakan motif batik warna
tertentu dalam pelaksanaannya terlebih lagi di lingkungan
keraton. Upacara seremonial tersebut seperti:
a. Gerebeg:,
Upacara yang merupakan bentuk senkretisme antara
penghormatan arwah leluhur dengan pemberian sesaji berupa
gunungan dan pembuktian raja atas nikmat atau kemakmuran
y angdiberikan oleh Tuhan berbentuk so dagah serta diisi petuah-
petuah aBama Islam.kepada masyarakat para anggota keraton
terutama raja dan pembesar istana hadir dengan menggunakan
batik. Pada saat itu raja memakai batik motif Parang Rusakatau
Parang Barong.
b. Upacara Perkawinan
Secara umum upacara perkawinan adat Jawa Tengah
banyak mengacu pada tata cara adat perkawinan yang ada di
keraton maka tak heran motif batik yang dipakai seperti motif
batik yang umum dipakai di lingkungan kraton. Motif batik
yang dipergunakan dalam berbusana saat upacara perkawinan
misalnya motif Sidomukti, Sidoasih
3. Estetika
Pemakaian motif batik yang didasarkan dengan estika hal
ini berkaitan erat dengan rasa keindahan yang dimiliki oleh
masing-masing pemakai serta dipengaruhi pula oleh norma-
norma yang berkembang di masyarakat. Perkembangan yang
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna) 1,l1
nampak sekarang ini terlihat di berbagai daerah bahwa
pemakaian batik tidak hanya berdasar nilai - nilai filosofi dari
sebuah motif saja akan tetapi nampak pula berdasar atas motif
dan keserasian warna pada kain batik. Kecenderungan ini
nampak berbagai pendapat saat wawacara dengan seorang
pemakai batik sebagai berikut:
" Saya memakai batik ini tidak tahu makna ntau arti dari sebuah
motif batik tapi saya suka corak atau motif batik ini dan warna
nya yangknlem"
Pengakuan ini juga diperkuat oleh seorang pengusaha
batik di Banyumas sebagai berikut:
" . . . P ar a pengusaha knlau tidak kr eatif untuk memo difiknsi motif
batik makn bntik aknn ditinggal penggemarnyn"
Pernyataan tersebut nampaknya terbukti di daerah
Pekalongan yaitu adanya kreasi motif-motif baru dengan
desain warna yang beraneka ragam maka industri batik cukup
berkembang dan digemari oleh masyarakat. Sedangkan
pengusaha yang tetap membuat dengan motif tertentu seperti
motif Banyumasan tampak makin terpuruk usahanya.
Hal ini diungkapkan seorang Iuragan Batik di Banyumas
sebagai berikuU
" ... sebaginn besar pemakai batik motif Banyumasan hanyalah
kaum tua sedangkan kaum mudanya lebih tertarik dengan motif-
motif gaya Pekalongan yang bernneka ragflm cornk dan
lDzrnznya".
Ungkapan pedagang di Banyumas tersebut tidak jauh
berbeda dengan pedagang di Solo sebagai berikut:
"Banyak orang membeli batik untuk keperlunn hajatan,
sedangkan anak muda membeli hanya karenn mode"
142 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilar Makta)
Ungkapan lain pemakai batik berkaitan dengan estetika
diungkapkan seorang responden di Rembang yaitu:
" .... Saya memakai batik karena indah motifnya, bahan dari
sl4tra, warna juga bagus sehingga cocok untuk menghadiri acara
pesta".
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Shnbol dan Makna) 1'43
144 Gaya Ragam Hias Batik (Tiniauan Sitfuol ilan Makna)
BABV
ANALISIS RAGAM HIAS BATIK
A. Makna Ragam Hias Batik
Manusia adalah mahklukbudaya. Budaya manusia penuh
dengan simbol-simbol sehingga budaya manusia penuh
diwarnai dengan simbol. Gerzt melihat simbol- simbol pada
manusia bagai jaring laba-laba yang saling kait mengkait dan
ingin berusaha menguraikan maknanya. Simbol itu sendiri
bersifat abstrak yang maknanya diberikan oleh orang yang
menggunakan simbol tersebut. Simbol dalam sebuah kainbatik
dapat berbentuk warna maupun pola ragam hiasnya.
Pendeskripsian motif pokok kain batik tertentu dalam
kaitan dengan agama atau kepercayaan tertenfu akan membuat
motif batik beserta wamanya mempunyai nilai dan makna yang
tinggi. Sebagai contoh motif Sidomukti yang dipakai saat
upacara perkawinan. Motif tersebut melambangkan agar
pasangan pengantin mempunyai kebahagian yang kekal dan
mempunyai harapan masa depan yang baik
Kemunculan ragam hias, warna batik dan maknanya
tersebut dipengaruhi oleh:
1,. Letak geografis
Letak daerah penghasil batik telah melahirkan ciri khas
motif dan warna batik. Batik yang berada di pesisir berlainan
dengan batik asal pedalaman. Di daerah pesisir, motif dan
warna batik banyak dipengaruhi oleh motif luar yaitu motif-
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilan Makna) 1.45
motif yar.g dibawa oleh para pedagang manca yang singgah
untuk berdagang. Berdasarkan catatan sejarah para pedagang
yang membawa pengaruh motif hias batik adalah pedagang
cina, India, Arab, pedagang Belanda dan Inggri d11.
Ciri-ciri motif pesisir terlihat lebih naturalis dengan aneka
ragam warna. Sedangkan batik pedalaman, ragam hias motif
batik lebih bersifat simbolis dengan warna gelap.
2. Keadaan alam dan tata kehidupan
Masyarakat pesisir setiap hari yang dipandang hanya
birunya laut dan deru ombak laut, ikan, udang, pelangi yang
sering muncul di wakfu hujan serta aneka warna bunga maupun
fauna menyebabkan motif batik banyak menampilkan motif
keadaan alam sekitar secara natural. Sedangkan di daerah
pedalaman banyak menampilkan alam pegunungan, dan pohon
hayat dengan bentuk simbolis.
3. Kepercayaan dan adat-istiadat
Pengaruh Hindu ]awa sangat mempengaruhi motif batik,
khususnya di daerah pedalaman. Motif-motif tersebut banyak
yang digambarkan dalam bentuk simbolis seperti: semen, lar
dll. Sedangkan pengaruh agama Islam terlihat pada motif hias
batik yang banyak di daerah pesisir. Bentuk ragam hias motif
tersebut adalah tulisan arab atau bentuk fauna yang telah
dihilangkan sebagian bentuk tubuhnya atau bentuk binatang
yang telah distilir dengan tumbuh-tumbuhan.
4. Kontak dengan daerah pembatikan
Adanya berbagai daerah pembatikan yang dipengaruhi
oleh lingkungan alam dan kepercayaan, kemudian daerah
tersebut mengadakan kontak dan mengadakan hubungan maka
menimbulkan ragam hias baru
146 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dat Makna)
Berdasarkan pengamatan pada motif hias batik diperoleh
berbagai motif hias pokok dan pengisi bidang pokok seperti:
a. Motif non geometis
1.. Ayam lantan
Dalam perlambangan Eropa ayam jantan dihubungkan
dengan matahari yaitu pada saat matahari terbit. Matahari terbit
merupakan tanda peralihan waktu dari malam ke siang dan
saat itulah ayam jantan berkokok membangunkan orang dari
tidurnya dan melakukan aktivitas kembali kehidupannya.
Di Indonesia, perlambangan ayam jantan juga dikaitan
dengan keberadaan matahari. Pada saat matahari akan terbit
yang ditandai dengan kokokan ayam jantan bagi masyarakat
di pedesaan dipakai sebagai tanda bagi kaum muslim untuk
mengerjakan sholat subuh.
Perlambangan ayam jago selain berkaitan dengan
matahari terkadang juga dikaitkan dengan lambang kekuatan
dan keberanian. Hal ini tampak dari arena adu ayam yang
kadang-kadang masih berlangsung di Jawa, terlebih lagi di Bali.
Pada saat pertarungan ayam jantan tersebut tampak adanya
kekuatan, keberanian dan kegagahan seekor ayam jantan.
Motif ayam jantan tersebut banyak terdapat pada ragam
hias batik dari Bayumasan.
2. Burung Garuda
Burung Garuda mempunyai kedudukan yang istimewa
dalam agama Hindu. Dalam agama Hindu, burung garuda
merupakan kendaraan Wisnu dan merupakan perlambang
dunia atas.
Pola ragam hias burung Garuda ini dalam perkembangan-
nya terutama saat Islam masuk, motif tersebut distilasi dengan
Gaya Ragau Hias Batik (Thtjatat Sinrbol ilat Makna) 1.47
tumbuhan atau hanya digambar sayap atau sayap dengan ekor
saja. Motif tersebut sering dikenal dengan nama motif lar.
Motif burung garuda tersebut banyak terdapat pada kain
dari daerah pedalaman seperti Solo, Klaten.
3. Burung Merak
Burung merak pada zaman Hindu merupakan lambang
kendaraan dewa perang Skanda Putera Syiwa dan Prawati.
Burung tersebut juga banyak hidup di kawasan hutan di pesisir.
Burung Merak tersebut sering muncul dalam seni yang
berkembang di Cina dan burung Merak tersebut diangap
sebagai lambang kebaha gian.
Motif burung Merak banyak terdapat di daerah pesisiran
seperti Lasem, Pekalongan, Batang.
4. Burung Phoenik.
Jenis burung Phoenik bentuknya hampir menyerupai
burung Merak. Perbedaan yang tampak pada burung Phoenik
ini adalah mempunyai ekor yangpanjang dan bergelombang.
Oleh karena kemiripan dengan burung Merak tersebut maka
kesulitan untuk membedakan dengan burung Merak. Burung
Phoenik tersebut banyak terdapat di Cina sehingga motif
burung Phoenik pada batik yang ada di daerah pesisir
kemungkinan berasal dari Cina. Burung Phoenik diangap
sebagai lambang kebahagian
Motif-motif burung Phoenik dikenal dengan motif lokcan
atau paksi. Motif tersebut tersebar di daerah Lasem, Pekalongan,
Batang, dan daerah penghasil batik di pesisir.
5. Naga.
Binatang Naga dalam jaman Hindu banyak menghiasi
karya seni. Naga melambangkan dunia bawah dan lawan dari
148 Gaya Raganr Hias Batik (Tinjauan Simbol ilar Makna)
burung Garuda yang merupakan lambang dunia atas. Btlrrttrk
naga yang hampir mirip dengan ular menyebabkan kesulitart
membedakan keduanya.
Binatang Naga ini banyak menghiasi pula seni dari negcri
Cina sehingga pada saat bangsa Cina mendarat di pesisir
banyak memberi aneka ragam hias bermotifkan naga. Mtltif
Naga ini melambangkan laki-laki dan sebagai pelindung dari
gangguan binatang. Motif tersebut tampak pada motif batik
dari Pekalongan.
6. Angsa dan Bebek
Motif angsa merupakan simbol kemurnian atau kesucian.
Dalam mitologi Cina, bebek dan angsa merupakan simbol
kebahagian, perkawinan, dan kesetiaan. Motif tersebut sering
dijumpai pada motif batik di Pekalongan.
7. Kupu-kuptr
Motif kupu-kupu dianggap sebagai lambang umur
panjang serta lambang kesenangan dan musim panas.
8. Motif Lidah Api
Api melambangkan kekuatan sakti yang dapat
mempengaruhi watak manusia. Ragam hias motif lidah api
merupakan simbol kekuatan sihir, lambang semangat dan
penerangan hati manusia. Motif tersebut dalam kain batik
banyak terdapat pada bidang Papan atau pinggir.
Motif lidah api banyak berfungsi sebagai motif pengisi
bidang pokok. Motif batik tersebut terdapat di daerah pesisir
dan pedalaman.
9. Gunung dan Pemandangan alnm
Pada umumnya ragam hias pemandangan alam dapat
Gaya Ragan Hias Batik (Thtjauan Simbol dar Makna) L49,
dikelompokan ke dalam tiga kelompok yaitu:
Daratan : fumbuh-tumbuhan dan binatang berkaki empat
Udara : garuda, burung, kupu matahari, binatang dan
mega.
Air : Ular ikan, dll
Alam semesta dengan segala isinya dengan pucaknya
berupa gunung rnelambangkan kesatuan, keagungan dan ke-
Esaan. Motif pemandangan ini juga melambangkan kesuburan
sedang gunung dipercaya sebagai tempat dewa bersemayam
dan mempunyai kekuatan tertinggi.
Motif gunung tersebut banyak dijumpai di daerah
pedalaman seperti motif yang ada di Surakarta, Klaten serta di
Banyumas.
70, Cakra
Roda simbol kuno dari matahari merupakan senjata
pamungkas yang melambangkan kesucian dan kebersihan
untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Motif ini selain dijumpai
di daerah pesisir terutama di Pekalongan, juga di pedalaman.
Di Pekalongan dapat terlihat jenis motif ]lamprang dan di
daerah pedalaman terdapat pada motif Nitik
1.1. Awan
Awan mendung merupakan pengaruh Cina sebagai
lambang gunung yang tinggi
b. Motif Geometris
1. Segi tiga
Motif segi tiga biasa disebut tumpal atau untu walang.
Pada awalnya deretan segitiga sama kaki kemudian
berkembang dan dipadukan dengan ragam hias non geometris.
L50 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Sinfuol ilan Makna)
Motif tersebut menggambarkan kehidupan dan keagunl',.ur.
Bentuk tumpal tersebut kadang-kadang menyerupai [rt'rrlrrk
pohon dan sering disebut pohon hayat.
2. Lingkaran
Lingkaran adalah lambang permulaan semua cip taan. J atl i,
lingkaran juga merupakan lambang keagungan dan kekuas.liln.
Penggambaran motif lingkaran dipola dan divariasi sept'rti
lingkaran yang bersinggungan, lingkaran yang saling
berpotongan. Motif tersebut dapat terlihat dalam berbagai motil'
kawung, nitik, maupun jlamprang dan keberadaannya tersebar
di daerah pesisir maupun di pedalaman.
3. Szanstika qtsu Banji
Bentuk motif swastika dapat berkembang menjadi motif
meander. Motif tersebut di kalangan orang Cina dikenal dengarrr
motif Banji. Swastika tersebut merupakan lambang perputaran
matahari, sumber keuatan dan kesuburan serta diangap
membawa tuah. Pada kain batik motif tersebut terdapat pada
bidang papan. Sedangkan motif meanderbanyak ditempatkan
atau difungsikan sebagai motif pinggir suatu batik. Motif
berbentuk swastika banyak terdapat di daerah pesisir
4. Pilin
Motif pilin merupakan lambang keteraturan dan
keharmonisan. Motif tersebut dapat terlihat pada motif parang
yang ada di daerah pesisir dan di pedalaman. Dalam
perkembangannya motif tersebut telah divariasi dengan motif
tumbuhan.
5. Garis-garis
Garis merupakan lambang keteraturan dan keharmonisan.
Gaya Ragam Hins Batik (Thjaratt Sirubol dan Makna) 151
Caris-garis vertikal melambangkan kejujuran. ;
I
B. Analisis Motif dan Warna Batik
Arti suatu ragam hias tidak mudah diterangkan dengan
sepatah kata. Sering arti suatu motif mempunyai berbagai segi
tergantung darimana melihatnya.
Munculnya motif dalam sebuah karya batik pada diri
seorang perajin batik ada dua sebab yaitu dipelajari dan tanpa
dipelajari.
Sebuah motif batik diperoleh dengan belajar maka motif
itu telah diketahui berdasarkan contoh-contoh motif-moti f y ang
ada pada beraneka ragam hias benda budaya. Motif - motif
tersebut telah memiliki makna tertentu. Namun untuk motif
yang muncul karena mengalir begitu saja pada diri pembatik
kemungkinan mempunyai arti yang berbeda dengan arti yang
diberikan oleh orang lain walau bentuk dan coraknya hampir
menyerupai.
Berdasarkan sebab munculnya motif batik tersebut maka
motif - motif yang ada pada kain batik di Jawa muncul juga di
daerah seberang jauh dari pulau Jawa padahal kemungkinan
para perajin tersebut belum pernah melihatnya. Sebaliknya
motif-motif yang jauh di daerah seberang muncul pula di Pulau
Jawa dengan bentuk yang hampir sama hanya diberi variasi-
variasi tertentu saja. Bentuk motif yang sama dan jauh letaknya
tersebut muncul dengan tidak sadar dalam diri pembatik.
Dibalik berbagai ragam motif beserta warna sebuah kain
batik di Jawa tersebut, terdapat ekspresi seorang perempuan
lawayang dilawankan dengan keberadaannya dengan laki-laki
Jawa dan secara eksplisit pula terlihat sifat dualitik atau dua
yangperpasangan atau dua yang saling berlawanan.
Dilawa, selainberbagai makna dari motif danwarnabatik
1.52 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna)
yang telah ada dan dikenal oleh masyarakat, dibalik motif dan
warna kain batik terdapat struktur pemikiran mendasar
manusia yang melahirkan motif-motif tersebut. Pemikiran
mendasar tersebut adalah pikiran dualitik. Pikiran dualitik yang
ada dalam batik tampak bila dikaitkan dengan kehidupan sosial
masyarakat Jawa atau pikiran dualitik tersebut terdapat relasi
dengan kehidupan sosial masyarakat ]awa.
Sedangkan munculnya motif-motif batik yang umulnnya
dibuat oleh wanita tersebut merupakan ekspresi wanita Jawa
untuk menjaga keharmonisan atau keselarasan hidup dan
perwujudan kemampuan perempuan Jawa dalam menghadapi
permasalahan hidup dan tidak hanya menggantungkan
permasalahan hidup pada laki-laki.
Pemikiran mendasar manusia tersebut terbagi dalam dua
katagori yaitu kategori alam dan kebudayaan. Pemikiran
dualistik dengan kategori alam terlihat adanya jenis kelamin
laki-laki dan perempuan, warna batik yang cenderung gelap
dan warna batik yang cenderung terang. Motif flora dan fauna,
bentuk flora fauna di pesisir dan pedalaman dll.
Dalam kategori laki-laki dan perempuan sudah jelas
bahwa kedua jenis kelamin tersebut terdapat dalam alam
namun setelah terdapat aktivitas manusia berupa pembagian
kerja maka hal itu telah mulai terjadi perubahan dan masuk ke
kategori kebudayaan.
Pemikiran mendasar manusia dalam pembagian kerja
pada saat proses produksi batik dapat dilihat lagi dalam refleksi
adat-istiadat atau kehidupan perempuan Jawa dalam sehari-
hari. Adat-istiadat tersebut di antaranya muncul istilah
perempuan Jawa adalah konco wingking dari laki-laki atau
martabatwanita lebih rendah dari pada laki-laki. Sebagai konco
wingking, para perempuan Jawa banyak melakukan kegiatan
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauar Simbol ilat Makna) L53
di dapur dan memberesi urusan ke dalam dari kelu arga.
Sedangkan kaum laki-laki bertindak sebagai kepala keluarga
yang bertanggung jawab secara ekonomi atas pemenuhan
kebutuhan rumah tangga.
Keberadaan sifat dualitik terhadap kain batik dalam
hubungan dengan keberadaan perempuan dan laki-laki Jawa
terlihat lagi dalant proses produksi sampai penjualan batik serta
motif dan warna sebuah batik.
Dalam proses produksi yaitu tepatnya pada saat mempola
dan membatik terlihat terjadi pembagian kerja berdasarkan jenis
kelamin dengan tanpa disadarinya. Pada saat pengerjaan pola
dan membatik terlihat adanya peran perempuan Jawa yang
cukup penting dalam proses produksi. Pada tahap pekerjaan
tersebut membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang tinggi
apabila ingin mendapatkan hasil batikan yang berkualitas. Para
perempuan tersebut melakukan dengan senang hati walau
-terpaksa hanya mendapat upah yangrendah sekitar Rp 7000
Rp 8000 per hari.
Beban berat tersebut kadangkala juga menimpa seorang
perempuan yang berusaha ingin membuat keluarganya tentram
dan bahagia dengan mengerjakan batik di rumah setelah
mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan bertani.
Sementara itu, pekerjaan laki-laki dalam proses produksi
tampak dalam pekerjaan yang membutuhkan tenaga yang kuat
seperti mengangkut, mewarna atau mencelup kain dalam bak
pewarna.
Bentuk dualitik yang berpasangan antara laki-laki dan
perempuan tampaknya sama dengan dualitik tentang adat-
istiadat kedudukan perempuan ]awa dalam kehidupan di
masyarakat. Di Jawa, seorang perempuan dijadikan sebagai
konco wingking yang hanya mengurusi kebutuhan rumah
Gaya Ragam Hias Batik (Tirrjaran Sinfuol dar Makta)
tangga. Sehingga jaman dahulu banyak dijumpai perempuan
hanya mengetahui urusan dapur saja dan membesarkan anak
saja. Semua yang berhubungan dunia luar dari rumah tangga
atau tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan rumah
tangga dipikul oleh laki-laki. Namun setelah jaman RA Kartini
serta kemajuan jaman yang menuntutpersamaan derajad yang
sama antara perempuan dan lakiJaki menyebabkan perbedaan
peran kedua jenis kelamin ini tak jauh berbeda.
Persamaan hak tersebut tampak juga dalam proses
pembuatanbatik. Setelah dikenal canting cap, maka pembagian
kerja khususnya mempola dan membatik, perempuan banyak
yang diganti oleh laki-laki. Pekerja pola yang dahulu banyak
dikerjakan oleh perempuan sekarang banyak muncul desainer
laki-laki. Pembatik cap yang membutuhkan tenaga yang kuat
dalam pengerjaannya banyak dikerjakan oleh laki-laki.
Selain pekerjaan lain yang berkaitan dengan batik berdasar
pembagian kerja, terlihat lagi pada saat penjualan batik. Hampir
dapat dikatakan penjual kain batik adalah kaum perempuan.
Keberadaan penjual batik berjenis perempuan tanpa disadari
oleh perempuan, pada diri mereka mempunyai daya tarik
tersendiri pada saat menjualnya khususnya bagi pandangan
kaum laki-laki.
Sementara itu,berbagai motif yangada juga secara umum
terlihat adanya pembagian dualistik dalam katagori alam dan
kebudayaan. Motif kategori alam terlihat adanya flora dan fauna
yang tumbuh di daerah pesisir dan di daerah pedalaman atau
pegunungan. Motif batik yang berada dalam katagori alam
muncul dalam bentuk natural. Artinya para pembatik membuat
motif batik berdasarkan apa yang mereka lihat. Sedangkan
motif kategori kebudayaan yaitu adanya bentuk flora atau fauna
yang telah distilir sehingga sudah tak sama dengan bentuk
Gaya Rngam Hias Batik (Tifiauat Sinfuol ilan Makna) L55
aslinya. Pembentukan stilir inilah yang merupakan hasil
kebudayaan manusia. Bentuk stilir dikatakan hasil kebudayaan
karena pada saat membuat, pembatik telah mengalami proses
pengaruh dari kebudayaan tertentu seperti religi dll. Contoh
dari motif tersebut adalah Motif Burung Phoenik. Dalam
kategori alamburung Phoenik digambar apa adanya sedangkan
dalam kategori kebudayaan burung Phoenik telah diubah
dengan bentuk burung tanpa kepala atau kepala burung
digambar dalam bentuk bunga. Perubahan tersebut
dikarenakan ada pandangan dari ajaran Islam yang tidak
memperbolehkan menggambar hewan secara utuh.
Warna yang terlihat secara umum pada batik juga terlihat
adanya pembagian dualitik yaitu warna terang di daerah pesisir
dan warna gelap terdapat di daerah pedalaman. Secara
tradisional pewarnaan kain batik dipengaruhi pula oleh
tumbuhhn yang hidup di pesisir dan pegunungan. Berdasarkan
penjelasan seorang pemerhati batik di Pekelongan
menyebutkan jenis tanah dan tumbuhan telah mempengaruhi
hasil pewarnaan batik. Tumbuhan yanghidup di daerah pesisir
lebihbanyak menghasilkan aneka warna dibanding tumbuhan
yang hidup di pedalaman atau pegunungan sehingga hal ini
menyebabkan warna batik di daerah pesisir lebih variatif
dibanding dengan warna di daerah pedalaman.
Perbedaaan warna yang mencolok antara warna batik di
pesisir dan pedalaman yaitu terang dan gelap tampaknya tidak
hanya dikarenakan faktor alam namun terdapat konsepsi di
kalangan masyarakat Jawa tentang mitologi yang beredar.
Mitologi tersebut dibedakan menjadi dua yaitu mitologi
yang berkembang di daerah pedalaman yaitu dikenal adanya
mitologi Nyai Loro Kidul dengan memakai warna hijau dan
mitologi Dewi Lanjar dengan memakai warna kuning serta
156 Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Sinfuol dnn Makna)
Mitotogi joko Tarub dengan bidadarinya berjumlah tujuh orang
yang turun dari langit melalui jembatan pelangi yang beraneka
warna.
Di daerah pedalaman warna hijau dapat dikatakan
merupakan warna milik Nyai Loro kidul. Menurut kepercayaan
masyarakat pedalaman, warna hijau merupakan pantangan
dipakai pada tempat atau acara tertentu. Bila larangan tersebut
dilanggar maka akan tertimpa musibah. Akibat hal ini
diasumsikan kemungkinan juga telah memberi pengaruh
terhadap pewarnaan batik di daerah pedalaman. Oleh karena
itu di daerah pedalaman warna batik hanya terbatas pada wama
gelap seperti hitam, soga mupun coklat.
Sementara itu, untuk daerah pesisir, Dewi lanjar telah
dimitoskan masyarakat sekitar Pekalongan dan sering
memberikan bantuan kepada orang yang tertimpa kesulitan di
pasar-pasar dengan memakai warna cerah dan tidak ada
pantangan apapun bila memakai warna terang atau cerah. Oleh
sebab itu masyarakat pun bebas mewarnai kain batiknya.
Demikian pula mitologi yang berkembang di Lasem dan
sekitarnya yaitu mitologi Joko Tarub dengan bidadarinya yang
turun dari langit dengan memakai jembatan pelangi yang
beraneka warna.
Gaya Ragant Hias Batik (Tinjauan Sinfuol ilan Makna) 157
L58 Gayn Ragnm Hias Batik (Tinjatnn Simbol dan Makna)
BAB VI
PENUTUP
Ragam hias adalah merupakan hasil budaya yang sejak
masa pra sejarah dan berlanjut sampai masa kini. Ragam hias
tersebut banyak menghiasi berbagai benda-benda budaya. Di
antaranya kain batik.
Dalam motif batik tersebut terkandung unsur seni yang
menampilkan keindahan. Selain keindahan, banyak motif batik
diciptakan dengan maksud untuk keperluan bersifat religius
maupun seremonial. Berkaitan dengan kepentingan tersebut,
maka motif batik banyak memiliki makna simbol. Oleh karena
itu, penciptaaan motif batik diabdikan untuk kepentingan
spiritual yang lebih tinggi. Selain itu, motif batik diciptakan
karena dipakai sebagai media ekspresi dan komunikasi diri
pembatik bagi lingkungannya
Pengungkapan ekspresi dan pengkomunikasian apa yang
dimaksud oleh pembatik dalam bentuk berbagai motif batik
hal ini melahirkan makna dan simbol. Makna dan simbol dalam
motif tersebut dipengaruhi oleh banyak hal di antaranya: letak
geografis, alam sekitar beserta flora dan faunanya, kepercayaan
dan adat-istiadat maupun kontak atau hubungan dengan
daerah lain
Batik sebagai tradisi yang masih hidup dan tetap
dipertahankan keberadaannya mempunyai posisi penting
dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dibuktikan dalam
pemenuhan kebutuhan sandang sehari-hari maupun sebagai
pelengkap pada upacara tradisional di masyarakat umum serta
Gayn Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol ilan Makna) L59
di lingkungan keraton. Penggunaan kain motif batik dalam
kehidupan masyarakat umum misalnya upacara perkawinan
dengan memakai kain ba tik moti f S idomukt i, Sidomuly a, Sid o n sih.
Penggunaan khusus di lingkungan keraton misalnya: pakaian
dengan motif batik Parnng Barong khusus untuk raja sedangkan
parang yang lebih kecil untuk para kerabat istana. Peraturan
tersebut hanya berlaku di lingkungan keraton saja. Di luar
keraton, masyarakat dapat memakai dengan bebas berbagai
bentuk motif batik.
Sekarang ini, perajin batik membuat kain batik dengan
bentuk motif sesuai selera konsumen. Sehingga hal ini
menyebabkan motif batik tidak hanya sebagai media ekspresi
diri pembatik tapi juga merupakan tuntutan pemenuhan
sandang pangan perajin. Namun demikian tanpa disadari
bahwa perajin telah menciptakanberbagai variasi bentuk motif
kain batik yang bentuknya hampir mirip dengan aneka ragam
motif-motif yang tersebar di berbagai belahan bumi. Hal ini
muncul dikarenakan manusia memiliki pemikiran yang
universal yaitu pemikiran dualitik yang beroposisi atau dua
yang saling bertentangan atau dua yang saling berpasangan
seperti laki - perempuan, Laut - Gunung, F{ewan - tumbuhan
dll. Pemikiran tersebut selalu muncul tanpa disadari oleh
manusia.
Pemikiran dualitik tersebut muncul pula dalam bentuk
aneka ragam motif batik. Pada motif batik di Jawa terdapat
berbagai motif dan warna yang saling bertentangan atau saling
berpasangan yang menyebabkan masing -masing daerah
terdapat kekhasan.
Di balik struktur kemunculan motif batik di Jawa
terrefleksikan pula sifat dualitik dalam kehidupan masyakat
jawa seperti ada pembagian tanggung jawab dalam rumah
L60 Gaya Ragan Hias Batik (Tiniauan Simbol dar Mnkna)
I
tangga yang dilakukan kaum laki-laki dan perempuan dan lain
sebagainya. Selain itu, terdapat pesanan pikiran yang
disampaikan lewat motif yang dibuat oleh kaum perempuan
bahwa perempuan |awa tidak hanya bertindak sebagai konco
wingking saja tetapi juga ingin membahagiakan dan
mengharmoniskan keluarga.
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauan Simbol dan Makna) t61:
PUSTAI(A
8P5,2002. lawa Tengah dalam Angka 2002, lawa Tengah in
Figure 2002. Semarang, Bappeda ]ateng.
Clemeers,Agus. L997. Antara Alam - alam Mitos. Memperkenalkan
Antropologi Struktural Claude Leai Strauss. Flores NTT: PN
Nusa Indah.
Dirjenbud, 2000. Mengenal Batik Pekalongan. jakarta:
Dirjenbud, Depdiknas.
Djoemena, Nian S., 1981. Ungkapan Sehelai Kain Batik. lts
Mystery and Meaning. Jakarta: Djambatan
Gillowa John, 1992. Trndisional itu Indah dnn Unik. Jakarta:
Depdikbud, Dirj enbud, Dirmus.
Hamsuri, 1gg4. Batik Klasik, Classical Batik.lakarta: djambatan.
2000. Warisan Tradisional itu lndah dan Unik. ]akarta:
Depdikbud, Dirj enbud, Dirmus
Hoop, A.N.I. Van Der, 1949. lndonesische Siermotieaen. Ragam
ragam Perhiasan Indonesia. Indonesian Ornamental Design
Bandung: Uitgeveb Door Het Koninklijk Bataviaasch.
Himsa-Putra, Heddy Shri A. 2000, Ketika Orang lauta Nyeni.
Yogyakarta: Galang Prss dan Yayasan Adhi Karya.
Keesing, Roger M,7992. Antropologi Budnya, Suatu Perspertif
Kont empor er . J akarta: Erlangga.
162 Gaya Ragan Hias Batik (Tirjarat Simbol dar Makta)
Koentjaraningrat, 7984. Kebudayaan lawa. Jakarta: PN
BalaiPustaka.
Kompas, 17 September 2000, Batik Hokokni, Cerita Singknt
Penjajahan lepang di lndoensia, Jakarta.
Kompas, 29 Februari 2004. Batik Belanda, Peninggalan Koloninl
di Indonesia. Jakarta.
30 ]uni 2004. lndustri T ekstil D i P ekal ongan, J akarta.
Pranata, Ardiyanto, 1997: The Development of Batik In
Indonesian Pesisiran Batik Fashion Trend from 1850 Until
today, Prepared for: Textiles in Tourism and Constructicln
Cultural Identity.
Riyanto, Daniel M. 2004. loko Tarub danBidadarL SeriPendidikan
Budaya. Jakarta: Pt Grasindo.
Riyanto, Didik. 1993: Proses Batik, BatikTttlis, Bntik Cap - Batik
Printing dnri Awal Persiapanbshan dan Alat sampaiFinishing.
Solo: CV Aneka.
Shadly, Hasan. 1990: Kamus Bahasa lndonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
Soedibjo, Mooryati, 2003. Busana Keraton Surakarta
Hadiningraf. ]akarta: PT Mustika Ratu lJtama, PTGramedia
Widiasarana Indonesia.
Soepeno, 1953. Kamus Populer. Surabaya: Kebudayaan Baru
Soesanto, 19985, Ornamentik Batik Tradisional pada Seni
Lukis Batik dekoratif di Kotamadia Surakarta antara tahun
7974 - 1983, Skripsi |urusan Seni Rupa UNS.
Gaya Ragam Hias Batik (Tinjauat Simbol dan Maknn) 163
F
Syafrtna, Fifin, L997: Pemanfaatan Teknik dan desain Batik
dalam Berbagai Media serta pemanfaatannya Sebagai
Komoditi Ekonomi, Jakarta: Fakultas Seni Rupa IKJ.
Veldhuisen, Harmen C. 7993: Batik Belanda 7840 -7940 Dutch
influence in BatikfromlaaaHistory nnd Stories. Jakarta: Gaya
Favorit Press.
Wibowo, Soni Prasetia Dkk, 7996: Batik Studi Etnografi
Matatentang Motif Hias Yogyakarla.Tugas akhir
kuliah
Etnografi, ]urusan Arkeologi. Fakultas Satra UGM.
Yahya, Amri. 1985; Sejarfu Perkembangan Seni Lukis Batik
lndonesia. Yogyakarta: Depdikbud, Javanologi.
Yusuf, Yusuf, 7991. Pernnnn Bntik Sepnnjang Masa: Pameran
Khusus. Depdikbud, Dirjenbud, Dirmus.
164 Gaya Ragaru Hias Batik (Tinjarar Sinfuol ilan Makta)
tl
I
I
il
UFT PGretakan g P.nerblt n lsBN 979 9579 52 X
UIhIIhUIES IPIRIESS